TENTANG ANGKATAN
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
TENTANG ANGKATAN
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Pujangga Baru
No. 4 • Th. XIV • Oktober 1952
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Eight Heads (1922), karya M.C. Escher
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
TENTANG ANGKATAN
PILIHRASA (KEUZE) tiap waktu bergeser. Mobil-Mobil paling baru mengagumkan orang-orang mampu. Mobil dibeli. Dalam beberapa waktu kemudian mobil yang dibelinya bukan lagi satu-satu-nya di daerahnya. Kian lama kian banyak. Dan juga: kian lama kian besar kejemuan yang tadinya menimbulkar pilihrasanya itu. Akhirnya: Pilihrasa yang mendorongnya mengambil mobil itu lenyap. Lenyap dari tempat yang semula dan bergeser ke tempat yang lain. Pilihrasa tidakkan mati, selamanya ia ada, bergeser dari tempat ke tempat, selama dalam jiwa seseorang masih ada api.
Demikian juga terjadinya angkatan. Angkatan—satu ikatan jiwa, kesatuan semangat dalam rangkuman tempat, masa dan lingkungan yang sama. Angkatan bukanlah jumlah orang dalam tempat, masa dan lingkungan yang sama. Ini pengertian dalam kesenian dan bukan dalam kamus. Dan angkatan ini tetap ada, baik diakui mau-pun tidak. Tuduhan bahwa seorang Beethoven, Mozart, Dos Passos, Heine dan sebagainya bukanlah dibesarkan karena angkatan, adalah sesungguhnya. Kesamaan tempat, masa dan lingkunganlah yang mencetak persamaan visi, bahkan juga idee, Sekalipun tidak sama betul tetapi toh ada hubungan yang mempersenyawakan. Pertentangan antara satu dan lain anggota-anggota angkatan itu pada hakekatnya adalah proses isi-mengisi seperti sudah selayaknya terjadi dalam sejarah manusia atau gerombolan atau bangsa yang sedang hidup. Angkatan memang ada, diakui atau tidak. Visi dan cara berpikir orang-orang jaman Gilde di Barat tidaklah akan sama dengan orang-orang jaman kebangunan industri.
Menang enak mengejek orang dengan perkataan orang-natur, atau orang-sedikit-gecultiveerd seperti sapi-perah Friesland. Tetapi bukanlah bisa disangka! bahwa tiap-tiap orang adalah segumpal alam itu sendiri. Orang bisa mengambil batu dan memahatnya jadi patung yang baik, tetapi batu ini tetap bersifat batu, Sekalipun kepandaian memahat itu luarbiasa.
Masa, tempat dan lingkungan ini adalah pula alam, mencetak orang-seorang yang ada dalam rekamannya. Visinya adalah kristalisasi dari semua itu. Dan seniman adalah jurubahasa dari semua itu. Kesenian adalah bahasanya. Ciptaan-Ciptaan yang keluar daripadanya demikian juga. Kemudian: terjadi suatu angkatan.
Tiap masa membawa angkatannya. Dan angkatan ini bernama atau tidak, adalah tergantung pada banyak-sedikit, kuat-lembeknya kontras-kontras yang ada dalam masyarahat itu sendiri. Penamaan pada sesuatu angkatan adalah suatu ketegasan. Lebih dari itu: suatu tantangan. Pujangga Baru adalah suatu angkatan—angkatan yang lahir karena kejemuannya pada angkatan yang sudah-sudah yang hidup me-rangkak-rangkak.
Tiap angkatan punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing, yang mana kekuatannya merupakan daya-hidupnya. Kemudian kelemahannya adalah mautnya sendiri. Kelemahan suatu angkatan pada masanya biasanya tidak diinsafi sendiri olehnya. Sorak-sorai terlalu riuh sehingga orang tak sempat mengoreksi diri, dan kematian segera datang sebelum sempat orang melakukannya. Kematian ini selamanya dimulai dengan datangnya angkatan baru. Dia yang mengoreksi.
Tentu saja dapat dua angkatan menyumbangkan ciptaan pada masarakatnya dalam kurun waktu yang sama. Tetapi ini tidak akan sama mengenai isi, nilai, Ataupun teknik serta keadaan seluruhnya. Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 45 masih tetap bekerja dalam kurun waktu yang sama. Demikian juga pernah terjadi di Rusia dengan Angkatan Slavofiel dan Barat ini sesungguhnya bukan lagi merupakan golongan seperti banyak disangkakan orang, juga bukan sekolahana, tetapi adalah suatu angkatan.
Tentu saja ada sisa-sisa angkatan lama yang tidak mau ketinggalan dan mencoba mempergunakan apa yang dimiliki oleh angkatan baru. Tetapi ini bukanlah kejurusan lagi, . selama yang dipergunakannya bukan miliknya sendiri. Dan hidupnya kebiasaan demikian adalah berkah vacum pengertian seni pada penyelenggara-penyelenggara Ataupun peminat-peminat kesenian.
Kematian suatu angkatan sebenarnya telah dimulai sejak angkatan itu lahir. Kematian ini bersarang dalam kelemahannya. Tiap angkatan mempunyai kelemahan. Dengan tiada kelemahan ini ia akan hidup abadi seperti setan dan dewa-dewa dalam cerita. Angkatan baru mencoba mengisi kelemahan itu dengan kekuatannya. Adanya kelemahan dan adanya semangat mengisinyna, di sinilah sesungguhnya letaknya romantik hidup. Krisis yag menentukan kematian angkatan lama dan kelahiran angkatan baru adalah pula cerita tentang besar atau kecilnya romantik hidup yang ada pada angkatan baru itu.
Amerika mengenal angkatan-angkatan tertertu yang mana tiap angkatan punya rasasana tersendiri. Middle Generation dengan Lewis, Anderson, Cabell dan Mencken. Flapper Generation dengan Scott Fitzgerald. Lost Generation dengan Hemingway dan Dos Passos. Belanda pun mengenal angkatannya. Angkatan 80 dengan Perk dan Kloos. Rusia dengan Slavofiel dan Barat. Indonesia dengan Pujangga Baru dan 45.
Di Indonesia orang lihat perbedaan besar antara Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 45. Nama dari angkatan-angkatan itu tidaklah soal yang patut diperbincangkan. Tetapi kehadiran dari keduanya memang ada. Memang patut disesalkan bila ada yang mengatakan bahwa perbedaan itu tidak ada.
Angkatan Pujangga Baru adalah jurubahasa dari masa kolonial dengan orang-orang-nya yang besar dalam cetakan kecil penjajah. Bahkan pemimpin-pemimpin sekarang yang berkuasa di negara kita adalah pula anak-anak buatan kolonial dahulu, yakni orang-orang yang sejak lahirnya telah dibuat kecil oleh penjajah almarhum. Mereka ini tak punya contoh baik yang lun daripada yang dapat diterimanya dari penjajahnya. Kekecilan ini nampak benar waktu saat genting tiba: pemilihan antara dua. Berapa banyak di antara mereka yang jempalitan lari tunggang-langgang ke arah yang tiada terdapat penyelesaan. Ah, mereka adalah orang-orang yang telah dibuat kecil. Dan orang-orang perjuangan di jaman penjajahani ini adalih pula lain daripada orang-orang perjuangan untuk saat ini. Perjuangan di masa itu berarti: berani ngomong di depan umum, tidak sampai pada pembuatan perhitungan dengan penjajah itu sendiri, langsung dengan penjajah itu sendiri.
Orang-Orang Pujangga Baru sempat memiliki berbagai macam ilmu. Dan tak jarang diantaranya yang sungguh mendalami. Tetapi ini ilmu adalah ilmu mati, ilmu yang mereka sendiri jarang dapat mempergunakannya untuk dirinya, untuk perjuangannya. Dan bukankah sudah menjadi tontonan umum se-hari-hari intelektuil-intelektuil yang dibuat kecil oleh penjajah dan yang memiliki ilmu-ilmu yang mati tak banyak bisa berbuat sedang begini banyak yang harus dikerjakian! Sungguh, suatu angkatan hidup karena jiwa, karena semangat—jiwa dan semangat perjuangan untuk mencapai sesuatu yang mulia menurut anggapan nyya. Dan bukanlah Henriette Stowe Ataupun Walt Whitman pengarang yang berduyang dengan tulisannya untuk menghapus perbudakan, memperduyangkan kesejahteraan bangsanya serta persatuan negaranya! Dan ini dibuat oleh angkatan di alam merdeka. Pujangga Baru adalah angkatan yang menjijiki angkatan-angkatan lalu yang merangkak-merangkak. Tetapi ia pun punya kelen: ahannya: ia me-rengek-rengek minta hidup sedang hidup itu sudah lama dimilikinyya. Mereka belum hidup dalam hidupnyya. Semua yang dimilikinyya adalah benda-benda mati.
Rengekan minta hidup ini lama-lama menjemukan. Maka datanglah angkatan baru yang kemudian dinamai Angkatan 45. Angkatan ini-lah angkatan yang mulai hidup dan menulis bersama peperangan. Angkatan ini mau mereguk hidup se-puas-puasnya, mempergunakannya hidup yang telah disadarinya telah dimiliki, sudah jadi haknya. Renaissance yang sesungguhnya dimulai dengan sebutan Khairil pada Aku, tiada ubahinya dengan Italia dengan Dante-nya yang memulai dengan Aku adalah Satu dalam salah satu bait nyaniannya Divina Comedia. Aku menjadi sumber dari segala inisiatif. Perkataan demi menjadi tabu selain demi Aku. Tetapi peperangan membuat angkatan ini terempas dari bangkusekolahnya. Mereka hanya mempunyai hidup yang dapat dan harus dipergunakannya. Dan bukanlah suatu kesalahan yang patut disangsikan bahwa angkatan ini memang kurang memiliki ilmu.
Tetapi sesuatu yang sudah jadi miliknya adalah hidup, dan hidup itu dapat dipergunakannya.
Suatu angkatan bukanlah buatan satu-dua orang. Ia menjelma sebagai semangat, sebagai jiwa masa, tempat dan lingkungannya. Ia menjelma sebagai keharusan kemasyarakatan. Dan bila orang menamai Angkatan 45 buatan Khairil Anwar, ia ter-apung-apung dan tidak melihat dasar yang menjadikan bentuk sungai. Angkatan Pujangga Baru adalah angkatan pada masanya sendiri yang tidak bisa diulang untuk kedua kalinya. Ulangan hanyalah perbuatan yang sia-sia. Demikian pula dengan Angkatan 45. Menghukum atau mengadili kekurangan-kekurangan yang terdapat pada sesuatu angkatan adalah mengadili atau menghukum anasir-anasir kemasyarakatan yang menyebabkannya.
Dilahirkan di jaman perang Angkatan 45 tahun apa artinya penderitaan dan kekecewaan. Sebagai manusia yang normal, anggota-anggota angkatan ini pun menghendaki yang baik bagi bangsa serta masyarakatnya. Hanya cara, kemampuan serta hasilnya yang ber-lain-lainan, yang mana tak ada yang bisa menyalahkan. Divina Comedia pun gagal dalam isinya, tetapi sebagai hasil kesusasteraan ia adalah suatu miylpaal dari masanya. Demikian juga tulisan-tulisan Ronggowarsito. Dan tiap-tiap hasilseni dengan kelebihan dan kekurangannya adalah suatu kehadiran adanya masa, adanya masyarakat dengan manusianya, dengan rohaninya, dengan daerah dan jiwanya.
Tentu, Angkatan 45 ini akan menyibakkann diri buat angkatan mendaratang. Dan yang mendatang ini adalah yang kuasa mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada Pujangga Baru serta 45. Tak adanya keretaan untuk menyibakkann diri adalah perbuatan yang akan sia-sia belaka. Orang memang mempunyai sifat pelit. Ia tak mudah mau kehilangan kenang-kenangannya yang indah yang telah dirangkumnya dalam hidupnya. Bila tidak demikian takkan mungkin ada hari-hari besar dikalender. Orang suka bergayutan pada masa-masa gemilangnya. Inilah anasir-anasir reaksioner yang selamanya menjijikkkan angkatan mendaratang. Dan bertambah kuat orang orang bergayut padanya, bertambah reaksioner ia, bertambah sengit tantangan yang harus diterimanya. Suatu hal yang sudah selayknya. Dan kemudian hasil yang akan dicapai oleh angkatan mendatang sangat terikat pada kemampuan serta kekurangannya. Kekurangan! Tentu saja ada kekurangannya. Dan kekurangan di lain pihak ini yang melahirkan romantik hidup dan perjuangan di pihak mendatang. Tetapi, ah, tiap orang ini ber maksud baik, paling sedikit untuk dirinya sendiri. Dan itu tak perlu benar dijadikan alasan untuk menanamkan benih sakit dalam hati atau tubuh.
Sesungguhnya sesuatu angkatan cuma bisa diukur dari hasil-hasil yang dapat dicapainya. Dan sudah dapat dibayangkan bahwa angkatan mendatang adalah angkatan yang kuat, yang dapat mempergunakan se-gala-galanya yang dimilikinyia, ilmu, hidup serta kekuatan yang berguna untuk perjuangannya yang tegas serta tiada memiliki kebosanan untuk dapat merampas hartabenda yang di-citakannya. Bosanan! Bosanan sesungguhnya pembunuh angkatan-angkatan yang sudah-sudah dan juga sekarang ini sehingga selalu kita terhalang menjadi bangsa kuat. Sungguh tidak tepat bangsa Indonesia dilambangkan banteng, Sekalipun banteng tekel, yakni banteng yang tiada bertanduk. Lambang yang mendekati adalah buaya atau cicak yang dalam seluruh pergu-latannya setengah bekerja dan setengahnya lagi beristirahat.
Bosanan ini pun akan diisi oleh angkatan mendatang dengan ketekunan.
Demikianlah maka terjadi angkatan. Yang satu harus menyibakkan diri untuk yang lain karena keharusan kemasyarakatan dan bukan karena kehendak satu-dua orang.
Telah sering terdengar nyaring tuduhan bahwa Angkatan 45 telah mampus. Ini tidaklah patut disesali. Kalau ini belum terjadi juga, besoek atau lusa toh akan terjadi. Tetapi suatu angkatan tidak akan mati selama ia telah menyumbangkan hasilnya kepada sejarah. Kadang-Kadang ia tidak mati sebagai angkatan sebelum ada angkatan baru yang datang menggantikannya. Dan kemudian perjuangan mati-matian dari tunas muda yang membawa keyakinan baru serta pokok tua yang mau bergayut pada kegemilangannya sendiri sedikit-banyak akan terjadi. Tetapi selamanya angkatan baru yang menang.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.