MASALAH TUHAN DALAM KESUSASTERAAN
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
MASALAH TUHAN DALAM KESUSASTERAAN
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Pujangga Baru
No. 10 • Th. XIII • April 1952
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: Figure Praying (1917), karya Max Pechstein
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
MASALAH TUHAN DALAM KESUSASTERAAN
Soal Tuhan adalah soal yang tiada habis-habisnya sejak dahulu. Untuk mendapat Tuhan terlebih dahulu orang menyiapkan diri dengan kepercayaan sebagai konsessi. Dengan tiada ini ia akan lenyap. Ke-percayaan adalah pula hal yang sangat luas, yang mana dengan tiada kejujuran akal sifatnya sebagai kepercayaan hilang- lenyap. Dan apabila kepercayaan bukan buahhasil akal yang mencari, sehingga dengannya seseorang tak perlu mencari lagi, dan akalnya terlepas dari suatu beban tsb. untuk mengambil beban yang baru, maka ia akan berubah roman bersama sendi-sendinya: kefanatikan. Dan sepanjang sejarah, orang-orang fanatik inilah yang diyadikan umpan di tiap medanpertempuran untuk kepentingan mereka yang berpikir, mereka yang sanggup menggerakkan massa dan akhirnya pula yang mengecap nikmat buah amal massa yang fanatik. Dan kefanatikan itu pula yang membuat orang jadi buta akal, yang cuma melihat satu sinar saja, dan itu pula yang ditujunya, hendak direguknya habis-habis, dan sebagaimana halnya dengan laron mencari api, dia terbakar kena apinya—kematian yang romantis. Dan kematian-kematian yang romantis ini selalu datang dan pergi sepanjang jaman, juga dalam buku-buku dalam tiap jaman.
Bagi mereka yang tidak atau tidak mau mengikuti perkembangan alam pikiran individu, memang merasa janggal rasanya bila membaca buku-buku yang antara lain dalamnya termaktub kalimat-kalimat yang seakan-seakan atau memang dengan sengaja meniadakan, mengejek atau mengingkari adanya Tuhan. Perkataan janggal adalah terlampau lunak untuk itu. Sebaiknya perkataan itu diganti dengan marah. Dan ini adalah soal yang gampang dimaklumi. Diktator Kebiasaan yang turun-temurun itu memang menghendaki agar semua dapat terangkum dalam kekuasaannya. Tapi sebagaimana juga dalam segala macam ketertiban kemasarakatan, maka dalam hal ini pun ada brandal-brandal yang menentang kediktatoran Kebiasaan. Dan separ-jang sejarah mereka ini adalah perintis jalan baru atau dia yang tcrkutuk dalam pengertian yang luas atau sempit, atau dia adalah ke-dua-duanya sekaligus.
Dengan kemajuan ilmupengetahuan dan kestatisan kepercayaan, maka Tuhan se-akan-akan mendapat tempat dua macam dalam jiwa manusia. Tuhan disatu tempat adalah Tuhan yang dikehendaki agar dipercaya, dianut, dipatuhi. Tuhan di tempat lain lagi adalah Tuhan sebagai obyek, sebagai sesuatu yang dikehendaki agar diurai, dipahami.
Jadi kita mengenal Tuhan didua tempat: Yang harus dipertayai dan Yang harus difahami. Yang Pertama adalah akibat—atau hendaknya sebagai akibat—dari yang kedua. Bila yang ada pada seorang hanya Yang Pertama belaka, ini tidaklah mengherankan. Ini adalah suatu soal tukangsulap yang mana seluruh jawaban sudah sedia. Yang kedua adalah soal pencarian, pengertian, perjuangan jiwa—tak ubahnya dengan seorang yang dengan tekun-nya mencari unsur-unsur yang baru yang belum pernah dikenal orang, atau mendapatkan obat baru yang belum pernah didapatkan orang, untuk kelangsungan sejarah kemanusiaan. Kebimbangan atau kesangsian yang sehat adalah lebih baik daripada kepercayaan atau keyakinan yang buta, dan yang hanya baik bagi golongan yang kehilangan akalnya.
Buat mereka yang memandang Tuhan sebagai titikmati yang tak boleh di-singgung-singgung, sesungguhnya tidak perlu benar mengutuki demokrasi yang mengakui hak-hak azazi pada manusia, yang mana dengan hak-hak ini pula Sokrates (dalam demokrasi antiknya) mengejek demokrasi yang memberinya hak untuk mengejenkna, tapi yang juga telah mempergunakan hak-haknya untuk meruntuhkan kekuasaan sophisme, dan jadi perintis baru dalam lapangan filsafat, dan se-bagai konsekwensi dari keberandalannya ia harus kehilangan nyawanya sendiri. Dan dengan tiada perintis-perintis sebagai ini, lapangan pemikiran—juga di lapangan ketuhanan—hanya terbatas pada selingkungan kata-kata belaka, dan kemudian pengertian akan tersepak kian-kemari. Orang akan terjerat dalam kekuasaan dogma-dogma melulu. Dan sesungguhnyalah: kematian diselingkungan kata-kata belaka adalah kematian yang selamanya mengikuti di belakang tiap perkembangan atau kemajuan. Dan kemampusan ini selamanya menjadi bahaya yang mengancam kedewasaan pikir manusia dari abad ke abad.
Keberanian menghadapi yang baru sangat diperlukan dalam masa perubahan: keberanian yang terbit dari hati yang jujur. Juga keberanian mengaji azas-azas pemikiran yang sesungguhnya jadi jalan untuk mengerti, memahami. Dengan tiada keberanian ini, jalan ke arah penindasan hak-hak azazi terbuka luas-luas.
Kemampusan diselingkungan kata-kata belaka ini sesungguhnya adalah kemampusan yang dimulai dari alampikiran manusia sendiri. Hanya keberanian yang sanggup menghindarkan kemampusan ini. Orang tahu, bahwa tiap istilah ber-geser-geser pengertiannya sepanjang waktu dan keadaan untuk mendapatkan kemasakannya sendiri. Tiap istilah, tiap pengertian, juga tiap pengertian tentang Tuhan.
Kesusasteraan sebagai pencerminan kehidupan kemasyarakatan, tentu saja mau-tak-mau mem-bawa-bawa masalah Tuhan ini di dalamnya. Di lapangan ini terdapat diuga dua tempat untuk Tuhan, yang mana seperti disebutkan di atas: Yang harus dipertayai dan kedua Yang harus difahami. Tuhan di tempat pertama, yang dianggap sebagai pemecah dari segala masaiah, adalah yang paling biasa dalam ke-susasteraan seperti halnya dalam kehidupan kemasarakatan. Tuhan di tempat kedua lambat-laun tapi pasti kini mulai merayap dalam kesusasteraan Indonesia. Suatu hal yang mesti dan harus terjadi. Dalam kehidupan masarakat Indonesia pun Tuhan yang harus dipertayai, disembah dan dipohoni, dalam kebimbangan orang terhadapnya. Ia menjadi sesuatu yang harus dipahami. Pengertian manusia terhadap sesuatu mendekatkan di... pada sesuatu itu sendiri Sekalipun sesuatu itu ada dalam berbagai nama. Dan pemujaan selamanya memberikan kesan, bahwa ada suatu penindasan rohani yang sebenarnya tidak perlu diperkuat dalam suatu ketertiban tertentu.
Pemujaan adalah sahabat karib kefanatikan yang biasanya bergandengan tangan dan tiap kesempatan dipergunakan mereka untuk membunuh akal: malakulmaut kemerdekaan berpikir dan kemajuan. Ke-dua-duanya akan mengakibatkan pembakaran hati mereka yang dihinggapi bila ke-dua-duanya itu tersinggung oleh barang keras atau lunak—barang yang tak dikehendaki. Tetapi keadaan dan waktu selamanya memberikan kemungkinan baru untuk tiap perkembangan, dan dalam hal ini rintangan dari pemuja-pemuja akan membangkitkan konflik kemasarakatan, yang berpangkal pada konflik pemikiran. Dan konflik-konflik semacam itu akan ada terus-menerus selama dalam masarakat itu sendiri masih ada semangat hidup pada anggota-anggota masarakatnya. Jumlah tidaklah jadi faktor yang menentukan, tapi pembuatan jalan ke arah keinsafan baru yang jadi pokok soal.
Tentu saja perintisan jalan ke arah keinsafan baru itu membutuhkan tunjangan dari keberanian yang berpangkal pada kejujuran; dan kejujuran yang disebabkan karena pemilikan pribadi sendiri kembali. Dengan tiada ini bahaya kematian diselingkungan kata-kata belaka sudah lama menerkamnya jadi kurban. Dan dalam masarakat ini telah begitu banyak mereka yang kehilangan kepribadiannya, kehilangan diri, telah menderita sakit keras dimakan kuman-kuman kefanatikan dan pemujaan.
Dalam kesangsian sehat yang mesti ditimbulkan oleh alampikiran yang dinamis, orang mencari pengertian-pengertian baru yang lebih berisi, yang lebih besar dan lebih sesu.ui dengan kehendak jiwanya buat diisikan pada kata-kata abstrak yang telah dibuat mati. Dan dalam hal ini masalah Tuhan termasuk di dalamnya. Dan pengertian-pengertian baru—termasuk ju ga tentang Tuhan—dengan sendirinya akan jauh berlainan sifatnya daripada pengertian-pengertian usang atau yang telah diusangkan yang diberikan oleh Kebiasaan.
Kalau suatu golongan telah mencemooh Tuhan ini bukanlah karena Tuhan itu sendiri, justru tiap orang yang berpikir ke arah itu tidaklah akan mendapat penyelasan yang memungkinkan ia berpuas-hati. Cemoohan ini adalah cemoohan yang dilemparkan oleh golongan kepada pengertian-pengertian yang diisikan pada nama itu oleh sang Kebiasaan. Dan bukan kejadian baru hal demikian. Pada waktu yang tertentu ada saja golongan baru yang berbuat demikian.
Sudah jadi kemestian bahwa orang mengertikan kata-kata abstrak dengan kemampuan rohaninya masing-masing. Dan buat suatu golongan masarakat yang masih banyak lagi membutuhkan kemampuan rohani ini mengertikan Tuhan sesuai dengan kebutuhannya yang ia sendiri tak mungkin dapat memenuhinya di dunia ini. Mereka mengertikan Tuhan menurut nafsunya masing-masing yang tak dapat dipuaskan di-dunia ini. Dan tidaklah mengherankan mengapa kadang-kadang Tuhan diartikan sesuatu yang maha-maha-kuasa, yang sanggup memuaskan segala nafsu kebinatangan mereka, nafsu yang takkan mungkin dipuaskan-dipuaskan-di dunia ini dalam seluruh hidup seseorang makhluk, nafsu yang tak lagi terangkum dengan kekuatan jasmaninya terutama. Dan karena itu bukanlah hal yang mengagumkan lagi bila golongan demikian menganggap Tuhan yang dipujanya sebagai kepala harem besar (atau sebutlah yang lebih ekstrem lagi: bordeel) dengan sorganya yang penuh bidadari, ideal hawanafsu sejati—sebagai komandan kempei (dengan nerakanya lengkap dengan tukangsiksa-tukangsiksa)—sebagai diktator (karena tak ada di antara keputusannya yang diambil secara parlementer, yang mana seluruh kekuasaan mutlak ada pada nya).
Teranglah bahwa golongan yang mengingkari Tuhan pada hakikatnya mengingkari pengertian yang diberikan pada nama tersebut. Pengertian seperti tersebut di atas terbit dari jiwa yang masih harus banyak lagi mengisi diri dengan kejujuran. Dan ini tak dapat diharapkan dapat terlaksana dari kalangan besar. Ini hanya bisa terjadi bila seseorang telah memiliki dirinya kembali, setelah dapat merenggutkan dirinya dari pegadaian Kebiasaan.
Dalam kesusasteraan, konflik pemahaman tentang Tuhan ini telah dimulai sejak dahulu dan tidaklah merupakan kejadian setempat, tetapi yang sesungguhnya adalah suatu pemberontakan scorang pengarang terhadap anggapan-anggapan biadab tentang Tuhan. Malahan seorang pujangga Islam Omar Kayyam di antara begitu banyak rubayyat-rubayyatnya ada pula me-nyinggung-nyinggung anggapan biadab itu. Juga dalam kesusasteraan Indonesia dewasa ini konflik pemahaman itu telah terba-wa kedalamnya. Dan pada suatu waktu tertulis juga oleh Hariadi S. Hartowarjo:
Aku jumpa Tuhan ditikungan. Kucabut keris terus kutikam. Atau juga oleh Idrus: Tuhan lama sudah bertukar dengan Tuhan baru.
Keingkaran terhadap pengertian Tuhan yang diakibatkan oleh hawanafsu rendah, tidaklah patut diikutirikan. Juga buku-buku kesusasteraan yang membawakan sekelumit dari kehidupan kemasarakatan semacam itu di dalamnya tak perlu benar dinamai buku-buku cabul atau buku yang merusak moral, atau yang lazim di waktu ini: hasil moral yang diamuk krisis. Kesusasteraan sebagai senjata yang utama untuk mereka yang tak punya kekuasaan sebagai kaum politisi, yang tidak punya uang sebagai kaum plotokrat, yang tak punya bedil seba-gai kaum militer, yang tak punya japamantera sebagai kaum tenung, adalah yang paling baik untuk memerangi nafsu-nafsu biadab dari massa. Dan ini bukanlah kejahatan. Bahwa ada golongan yang bertahan pada segala macam perbaikan memang ada dan tetap ada dalam masarakat mana pun juga. Dan itu tak patut mendapat perhatian.
Dengan demikian pertanyaan mengapa di masa ini banyak pengarang yang mencemooahkan Tuhan dapat disimpan kembali. Dan bila seseorang telah menyadari bahwa di hadapan diri sendiri dan alam tiap manusia adalah telanjangbulat, ia tidak akan kaget pabila pada suatu waktu nama Tuhan berpindah jadi Alam atau Kebenaran, justru yang jadi pokok soal adalah kepercayaan dan kepercayaan pada pendapat dan kebenaran pengertiannya bahwa dengan itu ia bisa menolong kemanusiaan atau se-tidak-tidaknya kepribadiannya sendiri. Perpindahan atau pergantian nama ini tidaklah mengganggu rasanya, karena seseorang akan tetap sebagaimana dirinya Sekalipun berganti nama seribu kali sehari.
Masalah Tuhan sesungguhnya tidaklah baru buat Indonesia. Konflik pemahaman terhadapNya sudah lama ada, juga dalam kesusasteraan. Hamzah Fansuri terpaksa memberikan jiwanya karena ini, berhubung kuatnya diktator Kebiasaan dalam menindas hak-hak azazi manusia. Dan tidak dapat dilupakan ialah Syekh Siti Jenar di masa parawali giat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan yang harus menebus pemahamannya tentang Tuhan dengan jiwa sendiri Lama setelah masal¡ah ini mace, tiba-tiba pada tahun 1949 muncul buku Akhdiat K. Miharja “Atheis”, yang karena keadaan masa yang menguntungkan, tidak perlu lagi mengurbankan jiwa pengarangnya, tapi cukup menggemparkan terutama di kalangan kaum agama. Bukan mengherankan lagi bila buku ini di'beberapa keluarga dianggap tabu—keluarga yang takut kehilangan janji-janji muluk dari Tuhannya, Tuhan yang dianggapnya sebagai sesuatu yang kelak akan memenuhi segala nafsu kebinatangan dan kebiadabaniya. Tak ubahnya dengan orang dahulu kehilangan ajimatnya, kehilangan dewa-dewanya yang sekarang dikeram dimusium.
(L & F Acy DUTA)
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.