Masalah Tuhan dalam Kesusasteraan
Mungkin, bagi mereka yang lelap di bawah telapak "Diktator Kebiasaan", Tuhan adalah sebuah simpul yang sudah selesai—sebuah kepastian yang tak butuh lagi tanya. Namun Pramoedya, dalam risalahnya di majalah Pujangga Baru tahun 1952 ini, menatap sungsang ke arah itu: ia melihat kesusastraan bukan sebagai mimbar pemujaan, melainkan sebagai kancah perlawanan seorang "brandal" terhadap iman yang membatu dan kefanatikan yang hanya menyisakan "kematian romantis" bagi para laron yang mencari api. Di tengah kegelisahan Indonesia yang baru tumbuh, ia membedah bagaimana nama Tuhan sering kali hanya diisikan oleh hawa nafsu manusia yang tak terpuaskan—menjadikan-Nya seolah komandan kempei atau kepala bordeel—sebuah potret jiwa yang merosot karena kehilangan kepribadian diri. Dari jejak Hamzah Fansuri hingga kegamangan Hasan dalam novel Atheis, buku ini adalah sebuah ziarah pemikiran yang tidak hendak menawarkan mukjizat penyelesaian, melainkan mengajak kita mengakui bahwa di hadapan kebenaran yang jujur, tiap manusia sebenarnya telanjang bulat. Sebuah catatan dari pinggir sejarah yang mengingatkan bahwa kesangsian yang sehat barangkali jauh lebih berharga daripada kepercayaan yang buta.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-14 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:a2baba75-cdbf-4b31-936f-4a532086d7d2 |