KIBARKAN TINGGI PANJI REVOLUSI!
D. N. AIDIT
KOLOFON
KIBARKAN TINGGI PANJI REVOLUSI!
oleh
D. N. AIDIT
Yayasan “Pembaruan”
Jakarta 1964
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KAUM BURUH SEMUA NEGERI, BERSATULAH!
PENGANTAR
KIBARKAN TINGGI PANJI REVOLUSI! adalah kumpulan pidato dan kuliah-umum Ketua CC PKI, Kawan D. N. Aidit, di Peking, Pyongyang dan Kanton dalam bulan September tahun 1963, ketika ia memimpin Delegasi PKI memenuhi undangan PKT dan PBK berkunjung di RRT dan RRDK, sebagai bagian dari rangkaian kunyungan delegasi tersebut ke Uni Sovyet, Kuba, RDD, RRT dan RRDK. Dalam buku ini kami sajikan pula pidato sambutan dari pihak tuanrumah, yaitu dari Kawan Kang Seng, Calon-Anggota Politbiro dan Anggota Sekretariat CC PKT; Kawan Peng Cen, Anggota Politbiro CC PKT; Kawan Cen Yu, Sekretaris Comite Kwantung dan Kawan Huh Suk Sun, Ketua Comite Pyongyang dari PBK, yang masing-masing disampaikan sesaat sebelum pidato atau kuliah-umum Kawan D. N. Aidit diucapkan.
Penerbitan buku ini tidak hanya merupakan lambang persahabatan dan persatuan yang semakin kokoh antara Indonesia, RRT dan RRDK, antara PKI, PKT dan PBK, tetapi juga sekaligus bisa menjadi bahan pelajaran yang penting di Sekolah-Sekolah Partai khususnya dan bagi para kader, anggota dan peniyinta PKI pada umumnya.
Kami yakin bahwa buku KIBARKAN TINGGI PANJI REVOLUSI! akan disambut sebagai senjata baru di tangan anggota-anggota PKI dan kaum revolusioner lainnya dalam perjuangan untuk memenangkan revolusi Indonesia sebagai bagian dari revolusi sosialis dunia, dalam perjuangan melawan imperialisme AS, yeodalisme dan revisionisme modern.
Depagitprop CC PKI
Jakarta 23 Mei 1964
REVOLUSI INDONESIA DAN TUGAS-TUGAS MENDESAK PKI
Terlebih dulu saya ingin menyatakan rasa terimakasih yang se-dalam-dalam-nya kepada para hadirin, kepada pimpinan Sekolah Partai Tinggi di bawah CC PKT ini, kepada para guru dan para mahasiswa yang telah mengundang saya untuk memberikan ceramah dan telah bersedia mendengarkan ceramah saya hari ini. (tepuktangan hangat).
Kenyataan diadakannya ceramah ini membuktikan bahwa kawan-kawan mempunyai perhatian dan kecintaan kepada perjuangan Rakyat Indonesia dan PKI, sebagaimana hanya kaum Komunis Indonesia dan Rakyat pekerja Indonesia mempunyai perhatian dan kecintaan yang mendalam terhadap Revolusi Tiongkok dan PKT. (tepuktangan riuh).
Adalah tugas kita yang tidak dapat dilalaikan untuk saling mengenal keadaan masyarakat, revolusi dan Partai kita masing-masing. Hanya dengan terus-menerus memperbaharui pengenalan kita, maka akan dapatlah kita senantiasa mermajakan rasa persatuan, rasa persahabatan dan solidaritet Marxis-Leninis kita. (tepuktangan riuh).
Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan salam hangat kaum Komunis yang sekarang jumlahna lebih dari 2,5 juta (tepuktangan riuh) dan Rakyat pekerya Indonesia kepada kawan-kawan sekalian. (tepuktangan).
Dalam ceramah yang saya beri judul “Revolusi Indonesia dan tugas-tugas mendesak PKI” saya hanya akan menge- mukakan beberapa segi yang sangat penting saja.
I. SEDIKIT TENTANG PERIODISASI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA
Sesuai dengan penyimpulan sementara dan berdasarkan pandangan bahwa perkembangan suatu masyarakat bukanlah ditentukan oleh ide-ide subyektif, tetapi oleh perkembangan cara produksi syarat-syarat kehidupan materil manusia, maka periodisasi sejarah perkembangan masyaraat Indonesia dalam garis besarnya dapat dikemukakan sbb.:
- Masyaraat komune primitif (sampai lk 500 s.M.).
- Masyaraat pemilikan budak (dari lk 500 s.M.—lk 500 M).
- Masyaraat feodal (dari 500 M—abad 17).
- Masyaraat feodal dan kolonial (dari akhir abad 17—akhir abad 19).
- Masyaraat kolonial dan setengah feodal (dari akhir abad 19 sampai 1945).
- Masyaraat merdeka dan setengah feodal (dari 1945—1949).
- Masyaraat setengah kolonial dan setengah feodal (dari 1949—......).
Untuk mengenal keadaan masyaraat Indonesia sekarang sebagai landasan penyusunan strategi dan taktik revolusi Indonesia, saya tidak akan membahas seluruh periodisasi sejarah perkembangan masyaraat Indonesia sejak jaman komune primitif. Cukuplah kiranya jika saya kemukakan 3 periode terakhir dari perkembangan masyaraat Indonesia. Ini pun hanya garis-garis besarnya saja.
a. Periode kolonial dan setengah feodal (dari akhir abad 19—Revolusi Agustus 1945)
Dalam periode ini Indonesia sepenuhnya dijajah oleh imperialisme Belanda dan selama perang dunia ke-II oleh fasisme Jepang yang melakukan penindasan politik dan penghisapan ekonomi dengan kejam. Cabang ekonomi yang vital dikuasai oleh modal monopoli asing. Bagi imperialis Belanda dan Jepang serta imperialis-imperialis lain, Indonesia sepenuhnya berfungsi sebagai tanah jajahan, yakni sebagai sumber bahan mentah, sumber tenaga murah, pasar hasil produksi negeri-negeri imperialis, tempat penanaman kapital, dan sumber umpan peluru perang-perang imperialis. Kebudayaan pada pokoknya diabdiikan pada imperialisme dan feodalisme di samping tumbuhnyya kebudayaan yang diabdiikan pada perjuangan Rakyat.
Sebagai akibat dari meluasnya export-kapital, kapitalisme masuk jauh ke-desa-desa. Hubungan-Hubungan ekonomi feodal di-rusak, sistim ekonomi tidak lagi ekonomi alamiah, melainkan ekonomi barang dagangan yang ber-angsur-angsur menjadi berkuasa. Sistim feudal tidak lagi berdiri sendiri dan hanya dapat hidup berkat sokongan imperialis. Feodalisme sudah tidak penuh, tinggal sisa-sisanya. Inilah keadaan setengah feudal.
Dalam periode ini semua klas, kecual tuantanah dan agen-agen imperialis, dirugikan oleh imperialisme. Pada permulaan periode ini lahirlah gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sejak itu peryuangan Rakyat Indonesia melayan kolonialisme Belanda dilakukan lewat berbagai bentuk organisasi peryuangan yang modern, seperti SS-Bond, VSTP, BO (Budi Oetomo), SI (Sarekat Islam), IP (Indiskhe Partij), ISDV (Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia) dsb. Bersamaan dengan lahir dan berkembangnya gerakan pembebasan nasional, maka lahir dan berkembanglah nasion Indonesia. Gerakan-Gerakan melawan serbuan-serbuan kolonialisme Belanda sebelum itu merupakan gerakan dari perlawanan Rakyat setempat, tetapi belum merupakan gerakan nasional.
Dengan lahirnya PKI (23 Mei 1920) sebagai sintese daripada Marxisme dengan gerakan klas buruh Indonesia, maka gerakan pembebasan nasional Indonesia telah menemukan intinya. Peryuangan Rakyat Indonesia untuk kemerdekaan semakin menghebat dan pada tahun 1926 teryadilah pemberontakan nasional yang pertama di bawah pimpinan PKI yang memberi pukulan kepada imperialisme Belanda. Kemudian setelah pemberontakan itu gagal, yang mengharuskan PKI bekerya di bawah tanah, lahirlah partai-partai politik nasionalis, seperti PNI (1927), dll. Presiden Sukarno dalam bukunya “Sarinah” a.l. menulis sbb.: “imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabularasa di kalangan kaum Komunis. PKI dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven-Digul. Untuk meneruskan peryuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia”.
Dengan inspirasi dari peryuangan Rakyat Indonesia yang revolusioner lahirlah dalam 1928 (28 Oktober) Sumpah Pemuda, yaitu kebulatan tekad pemuda Indonesia dari berbagai sukubangsa dan berbagai aliran politik, yang menya-takan bahwa mereka adalah berbangsa satu, berbahasa satu dan ber-tanahair satu, yaitu Indonesia. Peristiwa ini sangat penting bagi pertumbuhan nasion Indonesia dan merupakan jawaban yang tepat bagi politik pecah-belah kaum kolonialis Belanda.
Di bawah pendudukan fasis Jepang Rakyat Indonesia lanjutkan perjuangan revolusionernya dengan melakukan sabotase-sabotase di perusahaan-perusahaan dan melancarkan pemberontakan-pemberontakan tani, a.l. di Singaparna, Indramayu, Tanah Karo, dll. pemberontakan-pemberontakan di kalangan militer, a.l. di Blitar, dan perlawanan-perlawanan di kalangan inteligensia, mahasiswa, pemuda dan pelajar. Semakin mendalam penderitaan Rakyat, perjuangan semakin sengit. Dan setelah Jepang menyerahkan-kalah kepada negeri-negeri sekutu dalam perangdunia kedua, Rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan nasionalnya pada tgl. 17 Agustus 1945, dan mendirikan sebuah Republik.
b. Periode merdeka dan setengah feodal (dari 1945-1949)
Dengan proklamasi RI tgl. 17 Agustus 1945 Rakyat Indonesia telah merebut kekuasaan dari tangan kaum fasis Jepang. Dengan kekuasaan politik di tangan Rakyat Indonesia telah melakukan serentetan tindakan antiimperialis, seperti menyadikan perusahaan-perusahaan penting milik imperialis sebagai milik RI, menghapuskan pemerintahan dan badan-badan kolonial serta membentuk komite-komite nasional Indonesia (KNI) di pusat dan di-daerah-daerah, membentuk badan-badan keamanan Rakyat dari pusat sampai ke-desa-desa, dan di beberapa daerah membagikan tanah-tanah milik perkebunan imperialis kepada kaum tani, dsb.-nya.
Dengan tindakan-tindakan yang bersifat antiimperialis dan demokratis seperti itu dibidang politik dan ekonomi, maka di wilayah kekuasaan RI imperialisme tidak beroperasi secara langsung. Inilah kcadaan merdeka yang dilahirkan Revolusi Agustus (1945—1948), Meskipun kemerdekaan itu belum mantap dan belum terkonsolidasi. Beberapa bagian dari wilayah RI diduduki oleh tentara kolonial Belanda atau dikuasai oleh pemerintah-pemerintah boneka, agen-agen imperialisme Belanda. Rakyat Indonesia dalam periode ini terus melawan imperialisme Belanda di segala bidang untuk mem-pertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI. Dalam pada itu musuh pokok yang lain, yaitu klas tuantanan feudal boleh dibilang tidak mengalami pukulan selama revolusi berlangsung, sehingga keadaan setengah feudal pada pokoknya tidak berubah. Inilah sebab pokok mengapa Revolusi Agustus 1945 tidak dapat diselesaikan sampai keakarnya.
Kegagalan Revolusi Agustus 1945 a.l. disebabkan karena faktor-faktor sbb.
- Politik antiimperialis yang tidak konsekwenn, dengan terus-menerus melakukan kompromi, seperti terbukti dari persetuyuan Linggarjati dan Renville, dan kemudian disusul lagi dengan persetuyuan KMB yang lebih busuk;
- Tidak adanya politik antifeodal yang dengan tegas memukul tuantanan feudal dan menarik kaum tani ke dalam revolusi;
- Tidak jelasnya politik front persatuan dengan burjuasi nasional dalam revolusi burjuis demokratis di Indonesia;
- Tidak adanya pimpinan (hegemoni) klas buruh yang tunggal atas revolusi, Meskipun ini tak berarti bahwa pimpinan revolusi berada di tangan burjuasi.
Kegagalan revolusi Agustus 1945 membuktikan bahwa burjuasi Indonesia tidak mampu memimpin revolusi burjuis demokratis pada zaman imperialisme atau revolusi burjuis demokratis tipe baru. Di samping itu kegagalan itu juga membuktikan bahwa proletariat Indonesia ketika itu belum mampu memimpin revolusi burjuis demokratis tipe baru mencapai kemenangan penuh. Proletariat Indonesia telah mengambil peranan penting dalam Revolusi Agustus 1945, baik dibidang kekuasaan negara, termasuk angkatan bersenjata, Maupun di-bidang-bidang lain.
Seperti sudah diketahui dalam bulan September 1948 pemerintah Hatta yang reaksioner telah melancarkan teror putihnya terhadap PKI, yang dikenal sebagai peristiwa Madiun. Dalam perjuangan menghadapi teror putih ini PKI telah kehilangan banyak pemimpinnya. Telah pernah saya katakan bahwa “PKI berada dalam Revolusi Agustus dalam keadaan di mana belum menyimpulkan pengalaman”-nya mengenai front persatuan, di mana masih tetap tidak berpengalaman dalam pembangunan Partai dan tidak berpengalaman dalam perjuangan bersenjata“.
c. Periode setengah kolonial dan setengah feodal, atau belum merdeka penuh dan setengah feodal
Program PKI mengatakan, bahwa persetujuan KMB yang ditandatangani oleh pemerintah Hatta dan pemerintah Belanda pada tgl. 2 November 1949 menetapkan kedudukan Indonesia sebagai setengah jadzahan. Apa yang dinamakan penyerahan kedaulatan yang terjadi pada tgl. 27 Desember 1949, sesuai dengan persetujuan tsb. di atas, adalah persetujuan untuk menimbulkan lamunan di kalangan Rakyat Indonesia bahwa Indonesia telah diberi kemerdekaan yang penuh dan bahwa penyerahan kedaulatan itu adalah nyata, penuh dan tak bersyarat. Sedangkan sebenarnya dengan penandatanganan persetujuan KMB pemerintah Hatta telah merestorasi kekuasaan kaum imperialis Belanda atas ekonomi Indonesia.
Tetapi gerakan pembebasan nasional dan gerakan demokratis Rakyat Indonesia tidak dapat dibendung. Atas desakan massa Rakyat yang luas, maka dalam bulan April 1956 secara unilateral (sefhik) persetujuan KMB yang pincang dan khianat itu dapat dibatalkan dan kemudian juga “hutang” kepada Nederland dihapuskan secara unilateral oleh pemerintah Indonesia. Kemudian dengan kekuatan massa Rakyat yang lebih luas lagi ber-turut-turut telah diambil-alih dan dinasionalisasi perusahaan-perusahaan milik modal monopoli Belanda (1957) dan telah dimasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan RI (1963). Tapi tindakan-tindakan yang positif antiimperialis ini tidak berarti telah membawa pengubahan fondamental pada masyarakat Indonesia.
Sebagai bukti yang se-jelas-jelasnya dari keadaan Indonesia yang belum merdeka penuh ialah kenyataan belum merdekanya Indonesia di lapangan ekonomi. Kaum imperialis, terutama imperialis Amerika Serikat, masih dapat menguasai bahan-bahan mentah Indonesia, menggali kekayaaan pelikan Indonesia, dan menggunakan tenaga buruh Indonesia yang murah. Dengan demikian mereka menekan perkembangan industri nasional baik sektor negara Maupun milik burjuasi nasional.
Apa yang hingga kini tersedia tentang angka-angka seluruh penanaman modal asing ialah laporan White Engineering Corporation pada th. 1952 sbb.:
| Modal Belanda (sebelum pengambilalihan) | $ 1.470 juta |
| Modal Amerika Serikat | $ 350 juta |
| Modal Inggris | $ 262,5 juta |
| Modal Prancis dan Belgia | $ 105 juta |
| Modal Asing lainnya | $ 52,5 juta |
| Jumlah | $ 2.240 juta |
Menurut pidato Menteri Luarnegeri Nederland, Luns, di PBB, pada tahun 1948 modal Belanda yang telah diambilalih di Indonesia beryumlah lk. $1200 juta. Dengan demikian, seandainya angka Luns ini benar dan tidak ada investasi baru, maka penanaman modal asing di Indonesia sekarang beryumlah $ 2240 juta—$ 1200 = $ 1040 juta. Keadaan sebenarnya ialah bahwa modal imperialis, terutama modal kaum imperialis Amerika Serikat, belakangan ini semakin bertambah dengan investasi-investasi baru. Sejak tahun 1945 terdapat tambahan penanaman modal A. S. di perusahaan-perusahaan minyak bumi sbb.: Shell tambah $ 84 juta; Stanvac $40 juta; dan Caltex $ 47 juta. Sedangkan yang berupa “bantuan ekonomi” AS menurut duta besar AS Yones kepada Men's Association sejak tahun 1950 sudah beryumlah $ 639 juta. Menurut dugaan angka-angka yang tersedia ini adalah di bawah angka-angka yang sebenarnya. Seperti kawan-kawan ketahui penanaman modal asing di negeri-negeri seperti Indonesia dan “bantuan ekonomi” imperialis merupakan bentuk-bentuk dari neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme keras dilawan oleh Rakyat-Rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin, jadi juga oleh Rakyat Indonesia.
Dengan bantuan kaum komprador dan kaum kapitalis birokrat, kaum imperialis telah menggerowoti ekonomi sektor negara dan sampai taraf tertentu berhasil memasukkan jarum neo-kolonialisme dibidang ekonomi Indonesia lewat apa yang dinamakan “program stabilisasi ekonomi” menurut pola AS baik langsung Maupun lewat apa yang dinamakan DMI (Dana Moneter Internasional, IMF). Dengan demikian ekonomi Indonesia menjadi sangat tergantung pada sistim ekonomi dunia kapitalis. Setelah imperialisme Belanda diusir dari hampir semua la-pangan ekonomi dan dari Irian Barat, maka imperialisme AS telah menggantikan kedudukan imperialisme Belanda sebagai musuh Rakyat Indonesia yang nomor satu dan paling berbahaya.
Kenyataan di-desa-desa Indonesia menundukkan bahwa hubungan agraria masih bersifat feodal sedangkan kaum tani berada dalam keadaan tergantung pada tuantanah feodal, seperti terbukti:
Pertama, adanya hak monopoli tuantanah-tuantanah atas milik tanah yang dikerjakan oleh kaum tani yang tidak berta- nah.
Tujuan pokok dari perjuangan PKI dan kaum tani sekarang ialah melenyapkan hak monopolii atas tanah oleh tuantanah dan melaksanakan semboyan “tanah untuk pe- tani”. Hasil penelitian yang dilakukan oleh kader-kader gerakan tani di berbagai desa di Indonesia menundukkan derajat pemusatan a.l. sbb.:
| tuantanah | tanimiskin dan buruhtani | |||
|---|---|---|---|---|
| (penduduk) | (tanah) | (penduduk) | (tanah) | |
| Karangduren (Jember) | 6% | 31% | 64% | 17% |
| Leuwigajah (Batujajar) | 12.5% | 83.48% | 87.5% | 16.52% |
Kedua, pembayaran sewatanah dalam ujud barang kepada tuantanah yang merupakan 50% atau lebih dari hasil panen kaum tani, telah mengakibatkan kemelaratan ba- gian terbesar kaum tani.
Menghadapi penghisapan tauntanah ini gerakan revolu- sioner menuntut pembagian yang lebih baik bagi kaum tani, yang biasa dinyatakan dengan angka 6: 4, artinya paling sedikit 6 bagian untuk kaum tani yang menggarap dan paling banyak 4 bagian untuk yang memiliki tanah.
Ketiga, sistim sewatanah dalam bentuk kerja di tanah tuantanah telah menempatkan kaum tani dalam keduduk- an hamba, seperti melakukan kerja rodi dan bentuk-bentuk ker- japaksa lainnya.
Keempat, adanya tumpukan hutang-hutang yang menjerat ba- tangleher bagian terbesar kaum tani dan yang menempat- kan mereka dalam kedudukan budak terhadap pemilik-pemilik tanah dan terhadap lintahdarat-lintahdarat seperti bungapinjaman rata-rata 10—100% sebulan, atau bentuk ijon dengan rata-rata 25—50% daripada harga panen, dsb.
Sebagai hasil kombinasi perjuangan revolusioner kaum tani dan perjuangan kaum revolusioner dalam parlemen telah dihasilkan UUPBH (Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil) dan UUPA (undang-undang pokok Agraria). Pelaksanaan undang-undang tsb. sangat lambat dan mengalami banyak sabotase, Meskipun kedua undang-undang tsb. baru membatasi dan belum sampai menghapuskan penghisapan feudal di-desa-desa. PKI menyokong pelaksanaan kedua undang-undang sambil menerangkan kepada kaum tani program agraria PKI sendiri.
Dengan demikian masyarakat Indonesia dewasa ini masih bersifat setengah kolonial dan setengah feodal, atau juga sering kami nyatakan masyarakat yang belum merdeka penuh dan setengah feodal. Penggunaan perumusan “belum merdeka penuh” menunjukkan suatu pengertian bahwa disatu fihak Indonesia bukannya negeri yang tidak merdeka samasekali, dan difihak lain Rakyat terus berjuang untuk merebut kemerdekaan nasional yang penuh.
TENTANG SOAL-SOAL POKOK REVOLUSI INDONESIA
Setelah kita mengenal sifat masyarakat Indonesia, dapatlah kita membahas tentang soal-soal pokok revolusi Indonesia. Proses pengenalan PKI terhadap revolusi Indonesia berarti suatu proses pengenalan PKI terhadap soal-soal pokok revolusinya, yaitu terhadap sasaran, tugas, kekuatan-kekuatan, watak dan prespektif dari revolusi Indonesia. Hal ini mulai dirumuskan dalam kongres Nasional ke-V PKI, th. 1954. Makaitu sering dikatakan sebagai berikut: “... Dengan Kongres ini, Partai yang mulai meningkat dewasa sejak resolusi Ja-lan Baru menjadi Partai yang sepenuhnya dewasa karena telah menjawab semua masalah penting dan pokok daripada revolusi Indonesia dan telah mempunyai pengertian yang lengkap tentang teori revolusi Indonesia, sebagai perpaduan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia”. (Pelajaran dari Se-jarah PKI, hal. 16). (tepuktangan).
Kekuatan revolusi Indonesia terdiri dari semua klas dan golongan yang mengalami penindasan dari imperialisme dan feodalisme. Mereka ialah klas proletar (klas buruh), kaum tani, burjuasi ketiyil, burjuasi nasional dan elemen-elemen demokratis lainnya. Merekalah yang harus bersatu dalam satu front persatuan nasional yang berbasiskan persekutuan buruh dan tani dan dipimpin oleh klas buruh melawan imperialisme dan feodalisme. Sedangkan kekuatan pendorong atau kekuatan penggerak revolusi Indonesia adalah klas buruh, kaum tani, burjuasi kecil dan elemen-elemen demokratis lainnya yang dirugikan oleh imperialisme dan konsekwenn melawan imperialisme. Merekalah yang juga merupakan kekuatan progresif di Indonesia, karena mereka konsekwenn dalam revolusi yang antiimperialis dan antifeodal, karena mereka adalah Rakyat pekerya dan karena mereka dapat menerima Sosialisme. Sedangkan kekuatan pokok dari revolusi Indonesia ditinjau dari vitalnya dan besar jumlahnya adalah kaum tani.
Setelah jelas mengenai kekuatan revolusi, kekuatan pendorong serta kekuatan pokok revolusi dan kekuatan-kekuatan penghalangnya, maka dalam masyarakat Indonesia terdapat 3 kekuatan, yaitu kekuatan kepala batu (penghalang atau sasaran revolusi), kekuatan tengah dan kekuatan progresif, yang masing-masing mempunyai konsepnya terhadap revolusi Indonesia. Garis politik PKI dalam menghadapi 3 kekuatan itu ialah: dengan sekuat tenaga dan tak jemu-jemunya mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan memencilkan kekuatan kepala batu. Pelaksaan garis politik ini adalah sangat penting dalam mengbah imbangan kekuatan dalam masyarakat Indonesia. Hingga sekarang pelaksanaannya adalah sesuai dengan apa yang digariskan ini, yaitu kekuatan progresif bertambah besar, persatuan nasional bertambah kuat dan kaum reaksioner makin terpencil. Prinsip bersatu dan berduyang dengan burjuasi nasional dalam front persatuan nasional untuk melawan imperialisme dan feodalisme telah terwujud dalam kegiatan praktis para kader dan anggota PKI di berbagai bidang kehidupan dan perjuangan revolusioner di Indonesia.
Watak Revolusi Indonesia pada tingkat sekarang adalah burjuis demokratis dan bukan proletar-sosialis. Tapi revolusi burjuis demokratis Indonesia tidak lagi termasuk tipe lama, dan bukan merupakan bagian dari revolusi burjuis demokratis dunia yang sudah usang, ia sudah merupakan tipe baru dan menjadi bagian dari revolusi proletar sosialis dunia yang dengan konsekwenn melawan imperialisme. Revolusi Indonesia berwatak burjuis karena ia tidak menghapuskan hakmilik perseorangan atas alat-alat produksi, bahkan berkewajiban memberikan milik tanah kepada kaum tani dan memberikan dorongan untuk perkembangan pengusaha-pengusaha nasional dalam usaha melepaskan diri dari ketergantungan imperialis. Revolusi Indonesia bersifat demokratis karena melawan feodalisme dan menciptakan hak-hak demokratis bagi seluruh Rakyat.
Karena Revolusi Indonesia berwatak burjuis demokratis tipe baru, maka adalah menjadi tugas sejarah bagi proletariat untuk memainkan peranan kepeloporan-nya. Mengenai masalah ini sidang pleno I CC PKI dari Kongres Nasional ke-VII mengemukakan bahwa masalah adanya Partai pelopor tidak dapat ditentukan oleh kehendak subyektif satu orang atau oleh undang-undang. Meskipun secara obyektif Partai klas buruh memikul tugas untuk menjadi pelopor, namun kepeloporan ini tidak dapat didapat dengan gratis. Untuk dapat menjadi pelopor maka klas buruh dan PKI harus mengabdi kepada kepentingan Rakyat secara mutlak, melakukan perjuangan setia tanpa batas untuk kepentingan Rakyat, bersedia berkorban dan membela kepentingan Rakyat dengan keberanian yang luar-biasa. Dengan menarik pelajaran dari ajaran Kawan Mao Ce-tung tentang syarat-syarat untuk memainkan peranan pelopor dalam revolusi yang a.l.: jika “semboyan-semboyan politik dasar sesuai dengan perkembangan sejarah”, jika Partai telah “menjadi teladan dalam melaksanakan tujuan tsb”, jika “telah membentuk persekutuan yang tepat dengan sekutu-sekutu-nya dan mengembangkannya serta mengkonsolidasi-sinya”, jika telah “meluaskan Partai Komunis yang bulat dalam ideologi dan berdisiplin keras” (Mao Ce-tung, Selected Works Vol. I, p. 270), maka dapatlah dinyatakan bahwa akhir-akhir ini klas buruh Indonesia dan PKI telah memenuhi syarat-syarat tsb. (tepuktangan riuh). Sudah tentu syarat-syarat yang sudah dipenuhi ini harus terus-menerus diperkuat.
Setelah jelas watak revolusi Indonesia, maka nyatalah bahwa prespektif Revolusi Indonesia adalah Sosialisme dan Komunisme dan bukan kapitalisme. (tepuktangan). Hal ini tidak hanya ditandai oleh zaman kita sekarang sebagai zaman peralihan ke Sosialisme, tetapi secara kongkrit di Indonesia sedang dilangsungkan perjuangan revolusioner untuk memenangkan revolusi burjuis demokratis tipe baru atau revolusi demokrasi Rakyat atau juga revolusi nasional demokratis sebagai tahap pertama dari revolusi untuk kemudian dilanjutkan dengan revolusi sosialis atau tahap kedua dari Revolusi Indonesia. Gerakan revolusioner Indonesia yang dipimpin oleh PKI dewasa ini merupakan gerakan revolusioner yang komplit, yang bertugas untuk menyelesaikan dua tingkat revolusi, yaitu yang demokratis sebagai persiapan untuk yang sosialis, dan yang sosialis sebagai lanjutan daripada yang demokratis. (tepuk-tangan).
Bagi Rakyat Indonesia tidak ada jalan lain kecuali jalan ke Sosialisme. Jalan kekapitalisme sudah buntu, karena baik Rakyat pekerja Indonesia Maupun kaum imperialis tidak akan membiarkan ditempuhnya jalan ini. Rakyat pekerja Indonesia tidak membiarkannya, karena Rakyat pekerja mau ke Sosialisme. Kaum imperialis tidak membiarkannya, karena bagi mereka Indonesia yang setengah jadayahan atau neo-kolonialis adalah satu-satunya yang coycok. Kaum imperialis tidak akan membiarkan kaum kapitalis Indonesia berkembang secara bebas, karena perkembangan demikian berarti membiarkan lahirnya dan menjadi kuat-nya penyaing-penyaing yang tidak disukai. Oleh karena itu kaum kapitalis Indonesia hanya dianggap patut untuk menjadi komprador kaum imperialis. Menempuh jalan setengah jadayahan atau neo-kolonial, artinya meneruskan keadaan sekarang, juga tidak mungkin, karena seluruh Rakyat, khususnya Rakyat pekerja telah mendidih menghendaki adanya perbaikan keadaan, sedangkan perbaikan keadaan hanya mungkin jika menempuh jalan Sosialisme.
Untuk menempuh jalan ke Sosialisme, maka kewaji-ban PKI ialah menegakkan, memperkokoh dan mengkonsolidasi peranan kepeloporan proletariat dalam Revolusi Indonesia. Inilah jalannya agar revolusi nasional-demokratis Indonesia sekarang benar-benar menjadi bagian dari revolusi proletar sosialis dunia dan dengan demikian terjamin pula bahwa perspektif revolusi Indonesia adalah Sosialisme dan Komunisme.
Mengingat bahwa perspektif Revolusi Indonesia adalah Sosialisme maka jelaslah bahwa Indonesia termasuk dalam kekuatan baru yang sedang tumbuh, dalam the new emerging forces, bersama dengan negeri-negeri baru merdeka yang antiimperialis dan antikolonial lainnya, negeri-negeri kubu sosialis dan kekuatan progresif lainnya yang terdapat dise-luruh dunia. Tiap pertumbuhan dari salahsatu kekuatan baru tsb. harus didukung dan dibantu. Semboyan yang di-ajukan oleh Komintern dan disetujui oleh W. I. Lenin: “Kaum buruh semua negeri dan nasion-nasion tertindas, bersatu-lah!” kini telah menjadi kebutuhan kongkrit dari the new emerging forces untuk dikibarkan tinggi dalam perjuang-an untuk melawan the old established forces, yaitu kekuatan imperialis, kolonialis, neo-kolonialis dan kekuatan reaksioner lainnya di dunia. (tepuk tangan).
II. PEMBANGUNAN PARTAI SEJAK TAHUN 1951
Di dalam menghadapi situasi sesudah penandatanganan KMB di dalam Partai timbul dua macam pendirian. Pendirian yang pertama menghendaki agar Partai terus melaku kan perjuangan bersenjata melawan Pemerintah RI-KMB. Kawan-Kawan ini secara berat sebelah memahami situasi. Mereka hanya melihat bahwa kaum Komunis mendapat nama yang baik di kalangan Rakyat karena perannnya di dalam perjuangan bersenjata melawan imperialis Belanda dan bahwa banyak Komunis langsung memimpin pasukan-pasukan bersenjata melawan Belanda. Tapi mereka kurang memperhatikan situasi umum dalam negeri di mana revolusi sedang mengalami gelombang surut. Banyak golongan di luar PKI menaruh ilusi terhadap pengakuan kedaulatan lewat KMB, kebanyakan Partai politik menyetuji KMB. Difihak lain, secara organisasi keadaan Partai masih sangat lemah akibat teror putih peristiwa Madiun. Jumlah anggota Partai sedikit dan organisasi Partai di banyak daerah sedang lumpuh. Ditambah lagi bahwa ada elemen-elemen di dalam pimpinan Partai yang menentang pelaksanaan resolusi Jalan Baru mengenai peleburan Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia menjadi satu Partai Marxis-Leninis yaitu PKI. Belum lagi kenyataan bahwa mengenai soal-soal pokok revolusi Indonesia pun belum tercapai kesatuan pandangan di dalam Partai. Oleh sebab itu jelaslah bahwa garis kawan-kawan tersebut adalah garis subyektif yang avonturis dan jika dilaksanakan akan mengisolasi Partai dari massa.
Pendirian kedua berpangkal pada analisa situasi keseluruhan. Pertama-tama perlu bagi Partai mengumpulkan kembali barisannya yang sedang mengalami kerusakan, membulatkan pikiran dan menyimpulkan pengalaman-pengalaman Partai selama itu. Yang penting bagi Partai pada waktu itu adalah merebut dan mempertahankan kedudukan legalnya di dalam Republik Indonesia. Hal ini sepenuhnya mungkin karena tingginya prestise Partai dalam perjuangan melawan tentara kolonial Belanda dan sedang merosotnya martabat Hatta karena persetujuan KMB. Kedudukan legal Partai yang diperolehnya sesudah KMB adalah sesuatu yang direbutnya dengan senjata. Maka akan samasekali salah untuk melepaskannya dengan sukarela. Pendirian kedua ini pada akhirnya memperoleh dukungan mayoritet Partai dan kebenarannya dibuktikan oleh perkembangan politik selanyutnya.
Peristiwa penting bagi pembangunan kembali Partai adalah diadakannya Sidang Pleno CC pada permulaan tahun 1951 atas desakan sayap Leninis di dalam CC. (tepuktangan riuh). Dalam sidang ini sayap yang menentang Jalan Baru dikalahkan dan dibentuk Politbiro baru. Peranan penting dalam menyiapkan kemenangan sayap Leninis ini ialah dimainkan oleh majalah Partai Mimbar Revolusi sewaktu masih ilegal dan Bintang Merah. Politbiro baru bekerja keras untuk memberi pimpinan berdasarkan garis-garis Jalan Baru, dan berhasil menyusun Konstitusi PKI yang Marxis-Leninis. Bahan-Bahan tentang Konstitusi-Konstitusi dan pengalaman-pengalaman pembangunan Partai-Partai Komunis lainnya terutama PKT, sangat membantu bagi penyusunan Konstitusi tersebut. Dalam pada itu, justru karena dipadu pula dengan pengalaman-pengalaman kongkrit dari sejarah pembangunan PKI sendiri, maka Konstitusi itu dapat memegang peranan penting bagi pembangunan kembali PKI. Dalam bulan April 1951 Konstitusi itu disahkan oleh Sidang Pleno CC dan segera berlaku di seluruh Partai sebagai pegangan untuk aktivitet-aktivitet pembangunan Partai se-hari-hari. Diskusi-Diskusi dan kegiatan-kegiatan melaksanakan Konstitusi sangat mendorong perkembangan Partai, meningkatkan pengetahuan teori anggota-anggota Partai, menghidupkan demokrasi intern Partai, menghidupkan kritik-self-kritik dan memperkuat disiplin, ideologi dan kesatuan Partai.
Usaha-Usaha pembangunan Partai di-daerah-daerah pada tingkat pertama dilakukan oleh pembantu-pembantu CC yang terpercaya, mereka yang sehati dan sefikiran dengan CC, yaitu Komisariat-Komisariat CC (KCC-KCC) yang dikepalai oleh seorang Komisaris CC yang ditetapkan oleh CC, jadi tidak dipilih dari bawah. KCC diadakan untuk provinsi-provinsi Jawa Barat, Jawa-Tengah, Jawa-Timur, Sumatra Utara, Sumatra Tengah, Sumatra Selatan dan Sulawesi. Cara ini adalah tepat, karena dengan jalan ini CC mempunyai hubungan langsung dengan Comite-Comite-Seksi dan dengan ini juga CC mengenal langsung kader-kader yang memimpin Comite-Comite tersebut. Hal ini perlu ka-rena keadaan Partai di-daerah-daerah masih ruwet dan dikacaukan oleh elemen-elemen oportunis baik kanan Maupun “kiri”.
Dalam masa perbangunan kembali Partai ini, pengalaman PKI dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam keadaan terdapatnya kekacauhan dan keruwetan organisasi, politik dan ideologi dalam Partai, perlu pertama-tama sekali memperjuangkan persatuan yang kokoh dan kebulatan fikiran Marxis-Leninis dari badan pimpinan central (CC). Kemudian organisasi-organisasi bawah mulai dibangun kembali dari atas. Jika Comite-Comite organisasi-organisasi bawah Partai sudah berakar dan mulai berkembang, barulah demokrasi intern Partai dikembangkan secara ber-angsur-angsur.
Di dalam usaha untuk membangun Partai massa yang tersebar di seluruh negeri, PKI menghadapi berbagai masalah khusus yang timbul dari keadaan kongkrit negeri dan bangsa Indonesia. Pertama, ialah bahwa Indonesia merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa ribu pulau di mana PKI harus mendirikan organisasi-organisasi dan Comite-Comite Partai. Pemetaian masalah ini bukan hanya masalah menarik anggota-anggota dari Rakyat yang mendiami pulau-pulau itu, tapi juga pemetaian mengenai masalah transport dan komunikasi. Hingga sekarang soal ini merupakan problem yang besar, Walaupun berkat keuletan kader-kader PKI dapat terjaga hubungan yang kontinyu Sekalipun lambat. Dalam situasi inilah lebih-lebih lagi menonyol arti sangat pentingnya kebulatan ideologi seluruh Partai, sehingga Comite-Comite Partai dan kader-kader pimpinan di-daerah-daerah dapat bertindak dengan penuh inisiatif dan beriri sendiri dengan memegang teguh garis umum dan Program Partai. Di sinilah terletak makna khusus dari tugas membangun Partai di seluruh negeri yang mungkin hal ini tidak begitu menjadi soal bagi negeri yang terdiri dari daratan. Kedua, ialah masalah sukubangsa dan golongan keturunan asing. Seperti sudah saya jelaskan di muka, nasion Indonesia terdiri dari banyak sukubangsa yang ber-beda-beda bahasa, adat-istiadat dan tingkat perkembangan masyarakatanya, dan berbagai golongan keturunan asing, seperti Eropa, Arab dan Tionghoa. Masalah terpokok untuk berakar pada sukubangsa-sukubangsa adalah masalah tani. Dengan berpegang teguh pada program agraria PKI kader-kader Partai bekerja dan membangun organisasi Partai. Salahsatu faktor penting bagi peluasan Partai di kalangan berbagai sukubangsa ialah politik Partai memperjuangkan pelaksanaan haksama bagi semua sukubangsa. Berkat po-litik ini maka timbul dalam Partai yang mulai berakar di semua sukubangsa perlombaan yang sehat untuk memadukan segi-segi yang baik dan menguntungkan Rakyat pekerya dari masing-masing suku untuk bersatupadu dalam perjuangan melawan imperialisme menuju kemerdekaan nasional yang penuh. Dalam melaksanakan politik ini PKI juga melakukan perjuangan melawan kecenderungan sukubangsa-besarisme dan menentang sukubangsa-isme yang sempit, yang dua-duanya bersumber kepada ideologi burjuis.
Mengenai warganegara-warganegara keturunan asing, PKI menuntut dijalankannya politik haksama bagi warganegara-warganegara “asli” dan keturunan asing, dan menentang setiap diskriminasi rasial. Berhubung dengan kejadian kontra-revolusioner yang rasialis akhir-akhir ini, yang terutama merusak hartabenda orang-orang Tionghoa, PKI merumuskan lebih kongkrit lagi politiknya mengenai golongan-golongan keturunan asing. Politik ini ialah politik pengintegrasian revolusioner. Artinya, bahwa PKI mengintensifikan pekerjaaannya di kalangan golongan keturunan asing itu supaya mereka aktif turutserta dalam perjuangan revolusioner secara terorganisasi dalam PKI dan ormas-ormas revolusioner. Politik ini penting untuk memberantas sisa-sisa pengaruh rasialisme di dalam barisan proletariat sendiri, Maupun untuk membasmi gejala-gejala exclusivisme yang timbul di antara warganegara-warganegara keturunan asing itu. Politik ini juga merupakan jalan keluar bagi mereka, karena makin banyak di antara mereka yang menyelari bahwa rasialisme dan sovinisme “asli-aslian” itu tidakbisa dihadapi dengan sikap “tidak mau campur politik” tapi harus dihadapi dengan sikap “berpolitik aktif dan politik revolusioner”. Pengintegrasian revolusioner juga penting untuk menggagalkan politik “asimilasi” yang sebetulnyia berarti memaksa golongan keturunan asing untuk mengubah namanya, adat-istiadat dan tradisi kebudayaannya. Se-sungguhnnya, politik pengintegrasian revolusioner adalah politik untuk mengokohkan nasion Indonesia dalam arah sosialis, berlawanan dengan politik “asimilasi” burjuis tersebut yang sebetulnyia merupakan politik untuk mengembangkan nasion Indonesia dalam arah kapitalis.
Sejak PKI pada tahun 1952 melakukan beberapa kali gerakan perluasan anggota secara besar-besaran, memang tidak pernah hal itu dilakukan tanpa disertai pendidikan di dalam Partai untuk mempelajari program dan Konstitusi PKI bagi anggota-anggota baru, sedang anggota-anggota yang lama diwadayibkan untuk mempelajari secara sistimatis dokumen-dokumen Partai serta buku-buku teori Marxisme-Leninisme. Umpamanya gerakan di kalangan pimpinan PKI untuk mempelajari tulisan Lenin Komunisme Sayap “Kiri”, suatu Penyakit Kanak-Kanak pada tahun 1951 dan 1952 mempunyai peranan menentukan untuk membawa Partai keluar dari penyakit sektarismenya. Gerakan-Gerakan untuk mempelajari tulisan Kawan Mau Ce-tung Tentang Praktek, Tentang Kontradiksi dan Mengurus Secara Tepat Kontradiksi-Kontradiksi Di kalangan Rakyat mempunyai arti penting sekali bagi PKI untuk belajar menyimpulkan pengalaman-pengalamannya dan menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi di dalam Partai. (tepuktangan riuh). Begitu pula gerakan untuk mempelajari tulisan Kawan Liu Syao-ci Garis Massa sangat membantu kader-kader PKI untuk membangun Partai yang berakar pada massa. Dan masih banyak sekali contohnya.
Dengan Plan Tiga Tahun Pertama Mengenai Organisasi dan Pendidikan yang dimulai tanggal 17 Agustus 1956 dilaksanakan sistim pendidikan Marxisme-Leninisme yang baru, yang bersifat kesatuan untuk semua tingkat sekolah Partai. Sekolah-Sekolah dan kursus-kursus Partai diselenggarakan mulai dari tingkat central sampai ke-organisasi-organisasi basis, sedangkan pendidikan itu dengan rapat digabungkan dengan tugas-tugas Partai dalam masa yang tertentu. Dengan demikian pendidikan dalam Partai merupakan persiapan ideologi dan usaha untuk menghilangkan rintangan ideologis agar tugas-tugas Partai dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
Pada massa Plan Tiga Tahun Pertama diajarkan 4 mata pelajaran pada Sekolah-Sekolah dan Kursus-Kursus Partai pada semua tingkat, yaitu Sejarah Perkembangan Masyarakat, Soal-Soal Pokok Revolusi Indonesia, Soal-Soal Front Persatuan Nasional dan Soal-Soal Pembangunan Partai. Dalam Sekolah Partai Central masih ditambah satu matapelajaran lagi, yaitu Filsafat Materialisme Dialetik dan Histori.
Plan Tiga Tahun Kedua bernama Plan Mengenai Pendidikan dan Organisasi. Dalam masa Plan ini pendidikan lebih dintensifkan. PKI menekankan bahwa pembangunan organisasi penting, tapi pembangunan ideologi lebih penting lagi. Di semua tingkat Sekolah Partai diajarkan MDH. Hal ini sesuai dengan keperluan obyektif untuk mempersenjatai semua Komunis dalam menangkis serangan frontal kaum reaksioner dibidang ideologi. Sudah barangtentu, isi matapelajaran MDH ber-beda-beda sesuai dengan taraf Se-kolah Partainya. Umpamnya, di Sekolah-Sekolah Politik yang dise-lenggarakan oleh Comite Subseksi untuk kader-kader tingkat Comite Resort, pelajaran MDH dibatasi pada memperkenalkan pengertian-pengertian elementer mengenai azas-azas materialisme, dialektika dan materialisme histori. Antara lain, yang dипентingkan ialah watak klas dari filsafat, agar para siswa selalu dapat membedakan antara pendirian lawan dengan pendirian kawan dan dapat memegang teguh, pendirian klas buruh dalam menghadapi semua soal politik dan revolusi. Selanjutnya, pengertian mengenai azas materialisme yang dicerminkan dalam keharusan bertolak dari kenyataan, supaya dapat melawan idealisme dalam tindakan, melawan subyektifisme dalam pekerjaan revolusioner. Pengertian pokok mengenai dialektika dipusatkan pada memahami arti memandang segala sesuatu dalam gerakinya dan azas kon-tradiksi. Juga diterangkan arti praktek revolusioner bagi perkembangan teori revolusioner.
Selain matapelajaran MDH, di Sekolah Partai pada semua tingkat ditambahkan pula matapelajaran penting lain-nya yaitu Gerakan Buruh Internasional. Tujuan pertama-tama dari pemberian matapelajaran ini adalah untuk mempertebal pendidikan patriotisme dan internasionalisme proletar, untuk melawan nihilisme nasional dan sovinisme. Pendidikan ini sangat penting, lebih-lebih karena dalam rangka ker-jasama dengan burjuasi nasional dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh, tidak dapat di-hindarkan pengaruh ideologi burjuis terhadap klas buruh. Jika klas buruh mengendorkan kewaspadaan ideologinya, maka ia mudah hanyut dalam arus nasionalisme burjuis yang sempit atau sovinisme. Klas buruh harus menghadapi bahaya itu dengan pendidikan patriotisme yang sejati, patriotisme progresif, patriotisme proletar yang bersumber pada kecintaan kepada Rakyat pekerja, kepada Rakyat yang tertindas, Patriotisme semacam ini dengan wajar berpadu dengan internasionalisme proletar yang mendalam.
Internasionalisme proletar dari kaum Komunis Indonesia telah ber-kali-kali diuji oleh peristiwa-peristiwa dalam dan luar negeri. Diantaranya ialah soal pemberontakan kontra-revolusioner di Hongaria (tahun 1956) dan tindakan Sovyet membantu Pemerintah Buruh dan Tani Hongaria menindas kontra-revolusi itu. Kaum Komunis Indonesia dengan bulat menyokong tindakan Sovyet itu dan tidak ada ke-ragu'an sedikit pun. Kejadian lain ialah pelaksanaan PP-10 pada tahun 1959 yang ditujukan untuk menghancurkan pedagang-pedagang kecil keturunan Tionghoa dan merusak persahabatan RI-RRT. Hal ini dicetuskan lagi dalam aksi-aksi rasialis yang kontra-revolusioner bulan Mei tahun ini. Kita dapat mengatakan bahwa PKI lulus dari ujian itu. Para anggota PKI dengan teguh menghantam rasialisme, membela persahabatan RI-RRT. (tepuktangan riuh). Sikap ini samasekali tidak membawa kerugian bagi PKI, dan malahan sebaliknya. Dengan sikap itu PKI dapat mengajak seluruh nasion untuk menghantam kontra-revolusi yang rasialis itu dan pembangunan Partai makin maju.
Pengalaman-Pengalaman PKI dalam melaksanakan pendidikan Marxisme-Leninisme yang sistimatis ini menunjukkan sangat pentingnya untuk pada permulaan menitikberatkan pada pendidikan kader-kader tingkat CC dan CDB yang merupakan tulangpunggung bagi seluruh organisasi Partai. Kemudian pendidikan ini diluaskan ke tingkat-tingkat bawah dan dalam gerakan akhiran dari Plan Tiga Tahun Kedua titik-beratnya adalah pelaksanaan Sekolah-Sekolah Politik dan Kursus-Kursus Rakyat yang dilaksanakan oleh Comite-Comite organisasi basis.
Melalui Plan Tiga Tahun Pertama dapat dididik sejumlah besar kader dan aktivis, yaitu 301.884 orang, yang berarti lebih dari 30 kali lipat dari seluruh jumlah anggota dan calonanggota Partai pada tahun 1951.
Dalam rangka plan pendidikan diadakan pula seminar-seminar tentang beberapa masalah politik dan organisasi, konferensi-konferensi teori, gerakan-gerakan pembetulan fikiran yang diadakan untuk memberantas fikiran-fikiran atau kecenderungan-kecenderungan keliru yang mungkin timbul pada berbagai tingkat proses perjuangan, pembacaan roman-roman revolusioner dlsb.
Sebagai hasil dari pelaksanaan Plan-Plan pembangunan Partai dan terutama usaha-usahanya di lapangan pendidikan, maka Partai mencapai sukses terbesar semenjak tahun 1951, yaitu adanya kebulatan fikiran Marxis-Leninis di kalangan kaum Komunis Indonesia. Kebulatan fikiran ini tidak hanya mengenai soal-soal pokok revolusi Indonesia, tapi juga menge-nai semua politik dan kebijaksanaan yang dijalankan oleh CC, meliputi soal-soal dalamnegeri dan juga soal-soal luar negeri, baik mengenai politik luar negeri Maupun mengenai gerakan Komunis Internasional. Sudah barangtentu keadaan terus berkembang, perjuangan-perjuangan berjalan terus, masalah-masalah lama sudah diselesaikan, masalah baru bermunculan. Makaitu tidak boleh beranggapan bahwa kebenaran fikiran itu dapat dengan sendirinya bertahan. Kebenaran fikiran itu harus terus menerus dipupuk dan dijaga secara sedar dengan pendidikan ideologi yang terus-menerus.
Bekerja dengan Plan
Salahsatu pengalaman besar dalam pembangunan PKI ialah pengalaman bekerja dengan plan. Sejak tahun 1951 bekerja dengan plan mulai menjadi cara kerja yang lazim dalam Partai.
Pernah ada sementara kawan mempersoalkan apakah perlu untuk melakukan pekerjaan membangun Partai dengan ber-plan. Sebab, kata mereka, apa mungkin kegiatan revolusioner di-“plan”-kan? Pengalaman praktis pembangunan PKI sepenuhnya menunjukkan bahwa bekerja dengan plan, mem-“plan”-kan kegiatan revolusioner bukan saja perlu dan mungkin, tapi juga harus. Dari sudut teori pun cara bekerja dengan plan sepenuhnya tepat dan sesuai dengan Marxisme-Leninisme. Klas buruh belajar Marxisme-Leninisme untuk mengubah dunia. Ini berarti bahwa ia harus faham akan hukum-hukum perkembangan masyarakat, kekuatan-kekuatan sosial yang mendukung kemajuan dan kekuatan-kekuatan sosial yang menentang kemajuan. Ia harus mengetahui bagaimana mengorganisasi kekuatan-kekuatan sosial yang maju untuk mengalakhan kekuatan-kekuatan sosial yang reaksioner. Dan terutama perlu baginya untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal hukum-hukum perkembangan dirinya dan organisasinya. Bekerja dengan plan berarti dengan sedar menetapkan kemajuan-kemajuan Partai di lapangan ideologi, politik dan organisasi berdasarkan pengertiannya mengenai hukum-hukum itu. Pengalaman-Pengalamannya baik yang berhasil Maupun yang gagal membantu klas buruh untuk lebih baik dan lebih mendalam memahami hukum-hukum itu.
Keuntungan lain dari cara bekerja dengan plan ialah terlatihnya kader-kader untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersegi banyak, mengkombinasikan pekerjaan dari bermacam-bermacam bidang, mengkombinasikan pekerjaan ber-kobar-kobar dengan pekerjaan tekun, dan pada setiap waktu menentukan mana yang paling pokok untuk dikerjakan.
Di dalam bununya Apa Yang Harus Dikerjakan? Lenin dengan pedas mengkritik aliran-aliran dalam gerakan klas bu-ruh yang “membungkuk kepada spontanitet”, yang menganggap “taktik-sebagai-sesuatu-rencana menyalahi jiwa pokok Marxisme”. Lenin menandaskan bahwa perlu melakukan “peryuangan yang sengit menentang spontanitet” Ia menekankan bahwa kita akan menjadi petualang-petualang politik yang menyedihkan jika “kita tak dapat merencanakan taktik politik dan menyusun rencana organisasi yang diperuntukkan pekerjaan selama masa yang lama sekali dan bersamaan dengan itu, dengan proses pekerjaan ini sendiri, menjamin kesiapsediaan Partai untuk berada diposnya dan memenuhi kewajiabannya dalam setiap kemungkinan bilamana pun perjalanan kejadian-kejadian dipercepat”. (Lenin, Apa yang harus Dikerjakan? , Yayasan “Pembaruan”, hal. 233).
“Kita harus selalu melakukan pekerjaan se-hari-hari itu dan selalu bersiapsedia untuk se-gala-galanya, sebab sering sekali hampir tak mungkin meramalkan bila periode peletusan akan berganti dengan periode-periode ketenangan”. (Buku itu juga, hal. 234).
Bekerja dengan plan dan berduyang untuk pelaksanaan plan merupakan perjuangan melawan spontanitet. Plan menjamin bahwa kita “selalu melakukan pekerjaan sehari-sehari” dan membikin aktivitet Partai tidak mungkin terhenti oleh sebab-sebab apa pun. Plan mempunyai arti memobilisasi. Ketika di-daerah-daerah meletus pemberontakan kontra-revolutioner PRRI-Permesta pada th. 1958, banyak orang Komunis ditangkap dan dibunuh, organisasi-organisasi Partai mengalami kerusakan-kerusakan, tetapi organisasi PKI tidak patah, ia melakukan perlawan yang gigih terhadap kaum pembe- rontak dan meneruskan pembangunan Partai dengan berplan yang hasilnya ternyata sangat baik.
Memang ada satu kecenderungan yang harus kita lawan, yaitu kecenderungan yang ingin memisahkan pelaksanaan jatah-jatah plan dari perjuangan revolusioner. Kecenderungan ini menunjukkan tidak dimengertinya bahwa kita bekerja ber-plan untuk revolusi! Jika se-mata-mata mengejar terpenuhinya jatah-jatah plan secara formil saja, maka ini merupakan sikap birokratis. Sebaliknya, jika menganggap penjatahan plan sebagai rintangan bagi kemajuan kegiatan revolusioner, maka ini merupakan penundukan kepada spontanitet. Pengalaman-Pengalaman membuktik bahwa di-daerah-daerah di mana sikap-sikap keliru itu dilawan dan diatasi, Partai dapat mencapai kemajuan besar yang pesat dan dapat mengkonsolidasi diri. (tepuktangan).
Pada tanggal 17 Agustus 1963 ini seluruh Partai mulai melaksanakan plan nyaya yang ketiga yang besar, yaitu Plan 4 Tahun Mengenai Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi. Sebagaimana plan-plan yang terdahulu, plan ini pun adalah Plan Untuk Revolusi, maka jika jatah-jatah Plan terlaksana, ia akan memberi pengaruh sangat besar bagi kemajuan gerakan revolusioner di Indonesia. Di dalam plan ini tercakup tugas-tugas yang mendesak di lapangan pembangunan Partai.
Dalam rangka pelaksanaan segi Kebudayaan dari plan 4 tahun itu, PKI akan mengorganisasi gerakan besar-besar-an untuk meningkatkan taraf kebudayaan Rakyat pekerjia, terutama kaum Komunisnya. Ini meliputi kegiatan-kegiatan PBH, pendidikan-pendidikan umum tingkat SR sampai menengah, pendidikan-pendidikan khusus mengenai kesenian dan kejuruan, sampai kepada berbagai cabang akademi dan fakultas.
Makin majunya Partai membawa akibat makin ber-macam-macam pekerjaan yang harus dilakukan oleh kader-kader Partai. Supaya kader-kader kita dapat memenuhi tugas-tugas pekerjaan yang baru diperlukan peningkatan tingkat kebudayaannya secara teratur. Di samping itu, kader-kader Partai seringkali harus memecahkan soal-soal yang memerlukan pendidikan keahlian atau kejuruan yang tertentu. Oleh sebab itu taraf perjuangan sekarang menuntut untuk pada waktu sekarang juga mendidik kader-kader Komunis yang berpengetahuan umum dan khusus, yaitu mendidik kader-kader menjadi “Komunis dan ahli”. Inilah salahsatu tujuan penting dari Plan 4 Tahun.
Dalam rangka pelaksanaan segi Ideologi dari Plan 4 Tahun tugas kaum Komunis Indonesia adalah untuk mengerjakkan lebih intensif apa yang sudah dikerjakkan dalam Plan 3 Tahun Pertama dan Kedua. Dalam hal ini yang mendapat perhatian khusus ialah pendidikan guru-guru untuk sekolah-sekolah Partai dan pekerja-pekerja teori.
Selama Plan 3 Tahun Kedua PKI sudah mendirikan Sekolah Partai Central setaraf akademi yang masa-pelajarannya 3 tahun. Usaha ini adalah untuk memenuhi keperluan Partai akan pekerja-pekerja teori. Pengalaman-Pengalaman revolusioner praktis Partai bertambah dan berkembang dengan pesat sekali sedangkan penyimpulannya secara teori masih tertinggal. Salahsatu rintangan yang belum dapat diatasi ialah masih terbatasnya karya-karya klasik Marxisme-Leninisme yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab itu salahsatu jalan untuk mempercepat pendidikan pekerjaaan teori haruslah juga mempercepat penterjemahan dan penerbitan karya-karya klasik Marxisme-Leninisme ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam hal pendidikan ideologi pengajaran filsafat harus dipergiat dan diperdalam. Sebab musuh-musuh Komunisme dalam situasi politik di Indonesia sekarang tidak bisa lagi terus terang menyerang PKI dari sudut politik karena politik PKI sudah banyak yang diiyantumkan dalam dokumen-dokumen negara. Tapi mereka memperhebat serangannya dibidang ideologi. Tanpa penguasaan filsafat materialisme dialektik dan histori bahaya infiltrasi ideologi burjuis ke dalam barisan proletar akan lebih besar.
Pendidikan ideologi Marxisme-Leninisme kepada para seniman dan sastrawan juga merupakan tugas urgen dalam Plan 4 Tahun yad. Pada waktu sekarang, pengaruh Partai sangat meluas di kalangan seniman dan sastrawan itu, tapi pendidikan kepartaian masih kurang dijalankan. Dengan demikian karya-karya mereka belum dapat memadai kemajuan Partai di lapangan politik.
Dengan makin meluasnya konsep-konsep revolusioner dalam masyarakat Indonesia makin banyak orang progresif yang ingin mempelajari Marxisme. Plan 4 Tahun harus mengorganisasi usaha-usaha untuk membantu mereka. Dengan jalan ini Marxisme tidak hanya dipelajari di dalam Partai tetapi juga di luar Partai oleh orang-orang progresif dengan bantuan Partai. Proses ini diperlukan untuk secara berangsur-berangsur menjadikan Marxisme bukan saja milik Komunis tapi juga milik nasion Indonesia.
Mengenai segi Organisasi dari Plan 4 Tahun ditetapkan untuk melipatgandakan jumlah anggota Partai dan jumlah anggota organisasi-organisasi massa.
Tugas lain untuk mengkonsolidasi pembangunan Partai ialah perkuatan organisasi-organisasi Partai di-daerah-daerah yang berbatasan atau dekat dengan negeri-negeri tetangga. Indonesia masih dikelilingi oleh negeri-negeri yang dikuasai imperialis. Oleh sebab itu kegiatan subversif dijalankan terus-menerus terhadap Indonesia dan merupakan rintangan yang nyata bagi kemajuan gerakan revolusioner. Kekuatan organisasi Partai yang terkonsolidasi di-daerah-daerah perbatasan itu akan merupakan penghalang efektif terhadap kegiatan-kegiatan subversif itu.
Pekerjaan di kalangan massa juga merupakan pekerjaan yang harus terus dijalankan dan diintensifkan. Terutama pekerjaan di kalangan kaum tani. Hakekat revolusi kita adalah revolusi agraria. Walaupun pekerjaan Partai di kalangan kaum tani telah mencapai kemajuan besar, tapi hasil-hasil itu masih jauh daripada cukup. Partai harus mengintensifkan pekerjaan researkh di desa dan mempercepat pendidikan kader-kader tani. Titikberat dari peluasan keanggotaan Partai harus juga di kalangan kaum tani.
Faktor penting bagi kemajuan organisasi adalah metode memimpin yang tepat. Kongres Nasional ke-VI PKI sudah menekankan hal ini dan diperkuat lagi oleh Kongres Nasional ke-VII. Di dalam Sidang Pleno I CC bulan Februari 1963 masalah metode memimpin ini telah dibahas dengan lebih dalam yaitu, masalah memadukan seruan umum dengan tuntunan kongkrit dan memadukan pimpinan dengan massa. Ditekankan pula bahwa metode memimpin harus dirangkaikan dengan langgam kerya yang tepat, yaitu memadukan teori dengan praktek, berhubungan erat-erat dengan massa dan melaksanakan self-kritik. Dalam Plan 4 Tahun ini metode memimpin ini bukan saja harus dilaksanakan secara konsekwensi di dalam Partai tapi juga di dalam organisasi-organisasi massa.
Demikianlah secara singkat beberapa tugas yang mende- sak yang kami hadapi dalam pembangunan Partai. Tugas-Tugas ini berat dan harus dilaksanakan dengan keuletan dan keberanian yang besar. Pelaksanaan tugas-tugas ini akan mengembangkan PKI lebih luas dan lebih terkonsolidasi, akan membikin kader-kadernya pandai, berani dan berkebudayaan. Untuk pelaksanaan tugas-tugas ini PKI menuntut kepada kader-kadernya untuk memegang teguh tiga baik: baik bekerja, baik belajar dan baik moral. (tepuktangan). Dengan melaksanakan Plan 4 Tahun ini PKI akan menjadi lebih mampu untuk mengambil langkah-langkah yang penting dan besar menuyu kepada penyelesaian revolusi Indonesia. (tepuktangan).
III. PROGRAM PKI, MANIPOL DAN TAKTIK-TAKTIK PKI
Memahami persamaan dan perbedaan antara Program PKI dan Manifesto Politik RI (Manipol) adalah sangat penting bagi mereka yang mau memahami perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia dewasa ini. Pada satu fihak PKI mempunyai programnya sendiri yang telah disusun secara lengkap dalam Kongres Nasional ke-V PKI tahun 1954 beserta perubahan-perubahan yang bersifat penyemppurnaan yang diadakan dalam Kongres Nasional ke-VI (1959) dan Kongres Nasional ke-VII (1962), sedangkan difihak lain kaum Komunis Indonesia mempunyai Manifesto Politik, pidato Presiden Sukarno pada tgl. 17 Agustus 1959 serta perinciannya yang telah menjadi program bersama Rakyat Indonesia dan telah diputuskan oleh MPRS sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara RI.
Perjuangan Rakyat Indonesia yang gigih di bawah pimpinan PKI telah berhasil membawa massa yang luas untuk mengakui kebenaran Program PKI. Manipol lahir dari kancah perjuangan Rakyat Indonesia melawan imperialisme dan feodalisme. Program PKI adalah program antiimperialis dan antifeodal. Oleh karena itu dengan sendirinya ada hubungan yang sangat erat-erat antara Manipol dengan Program PKI. Selanjutnya perjuangan Rakyat Indonesia di bawah pimpinan PKI telah melahirkan pene-gasan-gasan terhadap isi Manipol dan menjaga keilmiahan penafsiran dan keteguhan pelaksanaannya.
Baik Program PKI Maupun Manipol, yaitu program bersama Rakyat Indonesia, menyatakan adanya 2 tingkat atau 2 tahap dari Revolusi Indonesia, yaitu tahap nasional-demokraisis dan tahap sosialis. Inilah pangkal persamaan mengan strategi umum Revolusi Indonesia. Selanjutnya Biarpun dengan perumusan yang berlainan mengenai soal-soal pokok revolusi Indonesia pada tingkat sekarang, yaitu mengenai sasaran, tugas, kekuatan, watak dan perspektif revolusi pada hakekaininya terdapat persamaan antara Program PKI dengan Manipol.
Dari dua kenyataan tsb. dapatlah diambil kesimpulan bahwa melaksanakan Manipol secara konsekwen, adalah sama halnya dengan melaksanakan Program PKI. Oleh karena itu, kaum Komunis Indonesia harus konsekwen dan menjadi teladan dalam melaksanakan Manipol.
Sudah barangtentu antara Program PKI dengan Manipol terdapat perbedaan tententu, sebagaimana halnya juga ada perbedaan-perbedaan tertentu antara program partai-partai politik lainnya dengan Manipol. Program PKI adalah program klas buruh untuk penyelesaian Revolusi Indonesia, sedangkan Manipol adalah Program Bersama (Program dengan klas-klas lain), dari seluruh Rakyat Indonesia untuk penyelesaian Revolusi Indonesia. Dari sini jelaslah bahwa perbedaan terpenting ialah dalam hal pimpinan revolusi. Program PKI dengan tegas menundukkan bahwa pimpinan Revolusi Indonesia bila ingin mencapai tujuannya harus berada di tangan ‘klas buruh’. Tidaklah dapat diharapkan bahwa masalah pimpinan klas buruh dapat dirumuskan dalam Manipol. Manipol hanya sampai menyatakan bahwa kaum buruh dan kaum tani merupakan sokoguru revolusi, dan tidak berkata apa-apa tentang klas mana yang mempunyai tugas sejarah memimpin revolusi.
Selanjutnya, dalam perumusan programatisnya PKI dengan terang membagi programnya dalam Program Umum dan Program Tuntutan, membedakan antara kedua bagian itu dengan tidak meninggalkan saling hubungannya. Program Umum adalah Program strategis, sedangkan Program Tuntutan adalah tuntunan pelaksanaannya atau perata jalan untuk tercapainya Program Umum. Tuntutan kabine gotongroyong berporoskan Nasakom adalah termasuk Program Tuntutan untuk selanjutnya mencapai tuntutan strategis: Pemerintah Rakyat atau Pemerintah Demokrasi Rakyat. Pelaksanaan Manipol di tangan orang yang tidak mengenal dan tidak memahami perbedaan dan saling hubungannya antara dua bagian itu akan menjadi kabur. Dengan memegang teguh kepada programnya PKI bisa te- rus memberi pengertian dan memimpin Rakyat dalam melaksanakan Manipol secara tepat dan konsekwenn.
Di tangan PKI dan Rakyat, Manipol adalah senjata untuk mempersatukan Rakyat Indonesia dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh dan demokrasi, untuk melawan imperialisme, feodalisme, kaum kapitalis birokrat dan kaum komprador.
Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa
Dalam memperjuangkan politik-politik Partai soal yang mengambil peranan penting ialah soal semboyan. Semboyan strategis dari sidang pleno ke-IV CC PKI tahun 1956 Bersatu untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar*nya telah memainkan peranan penting sekali dalam meluaskan pengertian yang tepat tentang soal-soal pokok revolusi Indonesia sebagai revolusi burjuis demokratis tipe baru. Sedangkan, semboyan taktik dari sidang pleno ke-V CC PKI tahun 1957 Ubah imbangan kekuatan untuk melaksanakan Konsepsi Presiden Sukarno 100% telah mengambil peranan penting dalam menyatuhkan kekuatan-kekuatan revolusioner untuk menuntut Pemerintah Koalisasi Nasional atau Kabinet Gotong Royong yang berporoskan NASA-KOM.
Untuk dapat memimpin perkembangan politik, PKI menjalankan garis umum: meneruskan penggalangan front nasional dan meneruskan pembangunan Partai untuk menyelaskan tuntutan-tuntutan revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar-akar nya. Berdasarkan garis umum ini kaum Komunis Indonesia mengibarkan Tripanji Partai, yaitu: 1) Panji Front Nasional; 2) Panji Pembangunan Partai dan 3) Panji Revolusi Agustus 1945.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Front Nasional pada waktu sekarang bagi kaum komunis Indonesia berarti memperhebat pekerjaan di kalangan kaum tani, bekerja baik di dalam organisasi Front Nasional dan memperkuat persatuan NASAKOM, yaitu persatuan antara golongan Nasionalis, Agama dan Komunis berdasarkan program bersama Manipol. Tanpa gerakan tani yang berkembang dan konsekwen tidak mungkin bisa ditiyiptakan front nasional anti imperialis yang luas dan konsekwen, tidak mungkin ada organisasi Front Nasional dan kerjasama NASA-KOM yang kuat.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Pembangunan Partai berarti meneruskan dan menyempurnakan pembangunan Partai di seluruh negeri, yang sepenuhnya terkonsolidasi di lapangan ideologi, politik dan organisasi. PKI hanya mungkin menunaikan tugas sejarahnya apabila PKI mempunyai se-jumlah besar kader yang dapat memadukan keakhlian dan kemahiran dengan wata dan semangat Komunisnya. Yang menentukan sukses-sukses Partai adalah kader, yaitu pelaksana-pelaksana paling sedar dari garis politik dan garis organisasi Partai.
Pengalaman pembangunan Partai menunjukkan bahwa bekerja dengan plan bukan saja perlu dan mungkin, bahkan juga harus. Bekerja dengan plan berarti dengan sedar menetapkan kemajuan-kemajuan Partai di lapangan ideologi, politik dan organisasi berdasarkan pengertian mengenai hukum-hukum perkembangan masyarakat, mengenai hukum perkembangan organisasinya, perkembangan dirinya sendiri.
Mengibarkan Panji Revolusi Agustus 1945 tinggi-tinggi berarti menarik sebanyak mungkin Rakyat Indonesia berkeliling di sekitarnya dan berduyuang untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus sampai ke-akarnya, yaitu hapusnya imperialisme dan feodalisme di Indonesia. Panji Revolusi Agustus memakukan arti penting daripada penggunaan pengalaman-pengalaman perjuangan selama Revolusi Agustus 1945. Pengalaman Revolusi Agustus 1945 memberi pelajaran-pelajaran bahwa dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, adalah sangat penting rol daripada peperangan gerilya. Tapi peperangan gerilya ketika itu akan lebih berhasil dan mencapai kemenangan, jika kita melakukan MKTBP (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan) ialah perjuangan gerilya di-desa-desa, aksi-aksi revolusioner di-kota-kota oleh kaum buruh, terutama buruh transport, dan bekerja baik dan intensif di kalangan kekuatan bersenjata musuh.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Revolusi Agustus 1945 sekaligus berarti melakukan kegiatan ditiga bentuk perjuangan, yaitu bekerja baik di kalangan tani di-desa-desa, di kalangan kaum buruh di-kota-kota, terutama buruh transport, dan memeperat hubungan angkatan bersenjata dengan Rakyat agar anak-anak kaum buruh dan tani yang bersenjata ini tidak bisa digunakan oleh kaum reaksioner untuk memusuhi Rakyat.
Dengan tujuan memobilisasi kekuatan seluruh bangsa PKI mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Bangsa, yaitu Panji Demokrasi, Panji Persatuan dan Panji Mobilisasi, yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Kongres Nasional ke-VII PKI. Pada mulanya semboyan Tripanji Bangsa dilancarkan untuk mengadakan perlawanan yang gigih terhadap berlakunya SOB yang sangat menekan kehidupan demokratis, untuk memperkokoh front nasional yang berporoskan Nasakom dan untuk memobilisasi massa Rakyat dalam perjuangan untuk membebaskan Irian Barat dan mengatasi krisis sandangpangan. Di bawah kibaran Tripanji Bangsa inilah PKI telah menyerukan semboyan: Berduyuang dengan satu tangan pegang bedil dan satu tangan lagi pegang pacul!
Mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Bangsa berarti memperkuat Partai untuk menyelesaikan tugas-tugas bagian dan mendekatkan Partai pada usaha penyelesaian tugas-tugas yang umum.
Dengan menghubungkan secara jelas antara Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa, maka tugas-tugas mana yang harus diselesaikan dalam rangka masing-masing Tripanji juga menjadi jelas.
Sekarang di bawah kibaran Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa kaum Komunis Indonesia mengajak massa Rakyat melaksanakan Tritugas Bangsa yang sangat mendesak, yaitu: (1) tugas mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai, (2) tugas menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dan (3) tugas melawan neo-kolonialisme. Maka iu biasa dinyatakan sbb.: Dengan mengibarkan dua Tripanji melaksanakan Tritugas. Tritugas ini juga sudah menjadi program aksi organisasi Front Nasional, sudah tercakup dalam Panca Program Front Nasional.
Kekuasaan Negara Indonesia dewasa ini
Setiap masyarakat mempunyai basis dan bangunan atas-nya yang sesuai. Basis masyarakat adalah susunan ekonominya Ataupun hubungan produksinya; sedangkan bangunan atas adalah segala institut, politik, hukum, filsafat dsb. dari masyarakat. Unsur terpenting dari bangunan atas adalah negara.
Susunan ekonomi (basis) masyarakat Indonesia sekarang masih kolonial dan setengah feodal. Tetapi di samping itu juga terdapat perjuangan Rakyat untuk melawan sistim ekonomi tsb., dan berjuang untuk ekonomi yang nasional dan demokratis. Dengan demikian terdapat 2 kekuatan, yaitu kekuatan dari sistim kolonial dan setengah feodal dan kekuatan dari yang berjuang untuk membangun ekonomi nasional dan demokratis.
Kenyataan-Kenyataan dari basis ini tercermin juga dalam bangunan atas, termasuk juga dalam kekuasaan negara, khusnya dalam kabinet. Dalam kekuasaan negara tercermin kekuatan yang melawan sistim ekonomi kolonial dan feodal berupa politik yang bersifat antiimperialis, antifeodal, antikapitalis birokrat dan antikomprador, di samping tercermin pula kekuatan politik yang membela imperialis, sisa-sisa feodalisme, kaum kapitalis birokrat dan kaum komprador. Pada dewasa ini terdapat pertentangan yang hebat antara 2 politik ini dalam kekuasaan negara RI.
Yang dimaksudkan dengan politik yang antiimperialis dan antifeodal adalah segala macam politik pemerintah
RI yang mewakili kepentingan Rakyat, seperti pembatalan KMB, pembebasan Irian Barat, Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil, Undang-Undang Pokok Agraria, politik membasmi DI-TII, “PRRI-Permesta”, pensahan Manipol dan Dekon, menentang “Malaysia” dll.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan politik yang membela imperialisme dan feodalisme ialah politik pemerintah RI, seperti membela penanaman modal asing, mendatangkan “Peace Corps” AS, menerima “program stabilisasi ekonomi” A. S. , melarang pemogokan, menyerang gerakan tani, dsb.
W. I. Lenin mengajar bahwa: “Negara adalah mesin untuk mempertahankan satu klas di atas klas yang lain”. (W. I. Lenin: Negara, Yayasan Pembaruan hal. 16). Dalam karyanya yang lain Lenin menunjukkan bahwa: “Negara adalah suatu organisasi kekuatan yang khusus: ia adalah suatu organisasi kekerasan untuk menindas sesuatu klas”. (W. I. Lenin: Negara dan Revolusi, hal. 33). Kekuasaan negara RI dewasa ini sebagaimana setiap kekuasaan negara yang lain, juga merupakan mesin dari golongan yang berkuasa untuk menindas golongan yang dikuasai.
Kekuasaan negara RI, ditinjau sebagai satu kontradiksi merupakan kontradiksi antara dua aspek yang saling berlawanan. Aspek pertama: aspek yang mewakili kepentingan-kepentingan Rakyat. Aspek kedua: aspek yang mewakili kepentingan-kepentingan musuh-musuh Rakyat. Aspek pertama diwujudkan oleh sikap dan politik yang maju dari Presiden Sukarno yang didukung oleh PKI dan golongan-golongan Rakyat lainnya. Aspek kedua diwujudkan oleh sikap dan politik dari kekuatan kanan atau kepala batu yang merupakan kekuatan lama yang masih bercokol.
Sekarang aspek Rakyat telah merupakan aspek pokok, dan memegang peranan memimpin dalam kekuasaan negara RI, artinya yang memimpin arah perkembangan politik dari kekuasaan negara RI. Sudah barangtentu aspek Rakyat telah mengalami proses perkembangannya sebelumnya kabinet Wilopo pada tahun 1952, ketika mulai lahir 2 macam politik dalam kabinet RI, yaitu politik yang revolusioner dan politik yang reaksioner, lahirlah benih aspek Rakyat, di samping ada aspek musuh Rakyat. Hingga kini kedua aspek telah mengalami proses perkembangannya masing-masing. Aspek Rakyat yang semula merupakan aspek yang bukan pokok telah berkembang menjadi aspek pokok, yang terbukti dengan makin tegasnya politik antiimperialisme dari RI dan dengan disahkannya Manifesto Politik RI sebagai Garis Besar Haluan Negara RI dan program bersama Rakyat Indonesia. Sedangkan aspek musuh Rakyat yang merupakan aspek bukan pokok dan tidak lagi dapat memimpin arah perkembangan kontradiksi tetapi masih menjadi aspek yang berdominasi, seperti akhir-akhir ini masih juga nekad untuk mensabot Dekon dengan menge- luarkan peraturan-peraturan ekonomi pada tgl. 26 Mei 1963 seba-gai bentuk “stabilisasi ekonomi” ala AS. Tetapi negara RI keseluruhannya sudah dipimpin oleh kekuatan-kekuatan yang mewakili kepentingan-kepentingan Rakyat, atau aspek Rakyat.
IV. PKI DAN GKI
Membicarakan GKI tidaklah mempunyai maksud lain daripada untuk memperkuat persatuan GKI atas dasar Marxisme-Leninisme.
Sebagaimana kawan-kawan mengetahui hakekat perbedaan pendapat yang tumbuh dewasa ini dalam GKI pada dasar-nya ialah berkisar pada masalah strategi dan taktik GKI dalam rangka revolusi sosialis dunia. Pernah saya kemu-kakan bahwa perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI itu timbul berhubung dengan cara bagaimana yang se-tepat-tepat-nya kita mengubur imperialisme. Tidak ada seorang Komunis yang tidak mau mengubur imperialisme dan tidak ada seorang Komunis yang mau memperpanjang umur imperialisme. Soalnya ialah bagaimana cara yang se-baik-baik-nya mengubur imperialisme itu. Tetapi cara yang keliru bisa memperpanjang umur imperialisme, berarti menguntungkan imperia-lisme. Jika yang sudah nyata keliru itu dibela mati-matian-an dan makin hari makin dibuktikan bahwa imperialisme ma-kin diuntungkan, itu soalnya sudah lain, sudah bukan da-lam rangka mengubur imperialisme lagi.
Adanya perbedaan pendapat dalam GKI di mana terda-pat lebih dari 90 Partai Marxis-Leninis dan yang dipimpin oleh ribuan anggota CC adalah wajar. Lebih-Lebih dengan masih banyaknya kawan-kawan yang suka mem-besar-besar-kan perbe-daan pendapat daripada mengutamakan persatuan penda-pat, yang tidak mengutamakan yang utama, yang tidak da-pat menahan diri kalau ada Partai Komunis lain berbeda pendiriannya mengenai hal-hal yang tidak pokok atau yang pokok tetapi yang penyelesaiannya masih dapat ditunda.
Sudah barangtenu keadaan demikian ini digunakan oleh kaum imperialis dan kaum revisionis untuk lebih mempertajam perbedaan pendapat itu, dan untuk sementara waktu mereka berhasil membikin retak GKI. Mengapa justru kaum imperialis dan kaum revisionis yang menjadi sumber dari keretakan GKI ini? Sebabnya ialah karena GKI merupakan penghalang utama bagi kaum imperialis, terutama imperialis Amerika Serikat. Kaum imperialis memusatkan segala enersinya untuk menghancurkan GKI. Jalan yang mereka tempuh ialah, kecuali menggunakan jalan yang biasa (kekerasan dan tipumuslihat), menggunakan kaum revisionis, terutama kaum revisionis modern Yugoslavia.
Seperti diketahui, serangan kaum imperialis dan kaum revisionis terhadap GKI mempunyai latarbelakang sejarah. Latarbelakang sejarahnya ialah sejak Marxisme mengungguli ilmu lainnya. Tepat apa yang dikatakan oleh W. I. Lenin, bahwa “kemajuan Marxisme serta kenyataan bahwa ide-idenya meluas dan mendapat tempat bertaut yang kokoh di kalangan klas buruh tidak boleh tidak menuju pada bertambah sering dan intensifnya serangan burjuis atas Marxisme, yang hanya semakin kokoh, semakin mengeras serta semakin kuat setiap kali ia dihancurkan oleh ilmu resmi.” (Marxisme dan revisionisme, Yayasan “Pembau- ruan,” halaman 6). Kini, ketika gerakan Komunis dunia telah menjadi kekuatan politik yang paling berpengaruh dari zaman kita, telah merupakan faktor yang menentukan dari kemajuan masyarakat, kaum imperialis dan kaum revisionis mengarahkan ujung tombaknya pada GKI.
Pengalaman sejarah sudah membuktikan bahwa persatu yang bisa bertahan lama harus mempunyai dasar yang kuat, dasar yang tidak tergoncangkan oleh perobahan keadaan dan tidak menjadi berkarat jika ia semakin tua. Manifes Partai Komunis adalah contoh yang hidup bagi kita. Dan khusunsya untuk GKI dewasa ini, sebagaimana sering dikemukakan PKI, teori Marxisme-Leninisme, Deklarasi 1957 dan Pernyataan 1960 adalah dasar di mana GKI berpijak. Ini berarti bahwa GKI harus bebas dari racun revisionisme dan harus konsekwen berpegang pada inti Marxisme-Leninisme, yaitu kecintaan pada Revolusi, dan tidak bisa lain harus melawan imperialisme di segala bidang. Di samping itu kita harus tidak henti-hentinya melawan dogmatisme, baik yang klasik Maupun yang modern, karena juga dogmatisme menghambat jalannya revolusi. Pengalaman kami di Indonesia menunjukkan bahwa selama ada perbedaan pendapat yang serius di kalangan GKI, maka hal ini, jika tidak tepat cara menghadapinya, bisa merupakan rintangan yang hebat dalam mengkonsolidasi persatuan nasional, karena sekutu-sekutu dalam perjuangan antiimperialis merasa tidak terjamin jika mereka menyandarkan diri pada kaum Komunis. Demikian pula merupakan rintangan hebat dalam usaha mengkonsolidasi persahabatan Republik Indonesia dengan negeri-negeri kubu sosialis. Kaum imperialis dan kaum reaksioner dalamnegeri sangat giat berusaha menimbulkan keraguan di kalangan Rakyat terhadap kubu sosialis, dan berusaha menimbulkan demoralisasi di kalangan sementara Rakyat pekerja.
Sebaliknya, jika tepat cara menghadapinya, adanya perbedaan-perbedaan pendapat dan polemik-polemik dalam GKI dapat membajakan barisan kaum Komunis. Dalam waktu yang relatif singkat PKI telah berkembang dan lebih terbaja dalam ideologi, organisasi dan politik. Kader-Kader PKI menjadi didorong dan semakin kritis mempelajari dan mengolah pengalaman-pengalaman dari GKI. Mereka semakin didorong untuk lebih dalam mempelajari teori Marxism-Leninis-me. Adalah garis PKI untuk memperkenalkan semua bahan-bahan dari GKI yang bisa didapat untuk dipelajari dan didiskusikan secara kritis dengan berpegangan pada sikap PKI sendiri dalam masalah GKI.
Sudah cukup kawan ketahui sikap PKI terhadap masalah-masalah dalam GKI dewasa ini. PKI adalah salahsatu dari Partai-Partai Marxis-Leninis yang pertama-tama mengusulkan supaya diadakan perundingan antara PKUS dan PKT. Oleh karena itu kami merasa gembira bahwa dalam bulan Juli yang lalu perundingan antara PKUS dan PKT tetah berlangsung dan bahwa perundingan ini tidak putus, tapi akan disambung lagi kemudian hari. Karena kami mengetahui seriusnya dan hakikinyia persoalan-persoalan, kami tidak mengharapkan yang lebih daripada ini.
Pengalaman hingga kini menunjukkan bahwa sikap bebas (independent) yang diambil oleh PKI, juga dalam menghadapi masalah-masalah GKI, adalah sikap yang dapat memperkuat kebulatan dalam PKI. Sikap bebas bukanlah sikap netral, tetapi sikap yang tegas berpegangan teguh pada Marxisme-Leninisme dan sikap yang mengambil peranan aktif dalam penyelesaian keretakan dalam GKI. Dengan mengibarkan tinggi-tinggi panji kebebasan Partai Marxis-Leninis, yaitu perwujudan daripada haksama dan bebas dalam keluarga Partai-Partai Komunis sedunia, maka dapatlah kami memelihara dan mengkonsolidasi kebulatan dalam Partai berdasarkan Marxisme-Leninisme, Walaupun betapa hebatnya pertentangan-pertentangan dalam GKI.
Sikap bebas telah mendidik para kader PKI untuk bersikap kritis dalam menghadapi berbagai masalah, telah menjauhkan PKI dari dogmatisme dan karena itu telah memberi dorongan yang kuat dalam usaha PKI meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, yaitu mengintegrasi-kan secara total kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia. PKI senantiasa menjaga persahabatan yang akrab dengan Partai-Partai sekawan lainnya dan tidak ingin menyampuri urusan intern Partai sekawan lainnya. Ini berarti bahwa dalam kegiatan sehari-seharinya PKI selalu menganjurkan pada anggota-anggotanya supaya senantiasa belajar pada Partai-Partai sekawan lainnya dan bersamaan dengan itu tidak menghendaki adanya Partai lain campurtangan dalam urusan intern PKI. Hal ini sepenuhnya sesuai dengan ketentuan hubungan antar-Partai-Partai Marxis-Leninis sebagaimana termaktub dalam Pernyataan 1960. Seperti diketahui kita bisa belajar pada Partai sekawan tidak hanya dari segi-segi positifnya, tetapi juga bisa dari segi-segi negatifnya. Dari guru yang jelek pun kita juga bisa belajar, yaitu belajar bagaimana jangan sampai seperti pak guru itu. (ketawa).
Adanya sikap PKI yang gigih melawan imperialisme dengan bersempoyan: “Kita cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan” berarti bahwa di atas se-gala-galanya perdamaian hanya akan dapat dicapai dan persatuan dalam GKI akan dapat diperkuat, jika ujung tombak perjuangan revolusioner diarahkan pada imperialisme, yang pada dewasa ini dikepalai oleh Amerika Serikat.
Pernyataan 1960 menekankan tentang pentingnya perjuangan melawan revisionisme modern Yugoslavia sbb.: “Partai-Partai Komunis secara bulat mengutuk oportunisme internasional macam Yugoslavia, suatu macam penjelmaan yang dikonsentrasi dari teori-teori revisionis modern. Setelah mengkhianati Marxisme-Leninisme dan menyatakan teori ini sudah usang, pemimpin-pemimpin Liga Komunis Yugoslavia mempertentangkan program revisionis antiLeninis mereka dengan Deklarasi 1957, mereka mempertentangkan LKY dengan seluruh gerakan Komunis Internasional, memisahkan negerinya dari kubu sosialis, menempatkannya pada kedudukan tergantung pada apa yang dinamakan ‘bantuan’ dari kaum imperialis Amerika dan kaum imperialis lainnya dan dengan demikian menimbulkan bahaya akan hilangnya hasil-hasil revolusioner yang dicapai oleh Rakyat Yugoslavia dalam perjuangan heroik. Kaum revisionis Yugoslavia melakukan kegiatan subversif terhadap kubu sosialis dan gerakan Komunis dunia. Dengan dalih politik berada di luar blok mereka menjalankan kegiatan-kegiatan yang merugikan persatuan semua kekuatan dan negeri-negeri yang cinta-damai. Penelanjangan seterusnya terhadap pemimpin-pemimpin kaum revisionis Yugoslavia dan perjuangan yang aktif untuk melindungi gerakan Komunis serta gerakan klas buruh terhadap ide-ide antiLeninis dari kaum revisionis Yugoslavia tetap merupakan tugas waji Partai-Partai Marxis-Leninis.“ (Pernyataan 1960, Y. ”Pembaruan“, halaman 57, 1960). Sengaja hal ini saya kutip lengkap karena justru bagian ini dari Pernyataan 1960 yang pada dewasa ini mempunyai makna yang sangat penting. (tepuktangan riuh sekali).
Pegalaman kaum Komunis Indonesia menunjukkan bahwa kaum revisionis modern Yugoslavia justru terus melakukan apa yang telah dikritik dengan keras dalam Pernyataan 1960 tersebut. Hal ini a.l. dapat dibuktikan dengan usahanya untuk menyebarkan ide jalan ketiga dan membelokkan perjuangan antiimperialis dari negeri-negeri yang sedang beryuang melawan imperialisme dan neo-kolonialisme. Seperti diketahui ide ini telah dilawan di Indonesia dengan mengibarkan tinggi-tinggi ide revolusioner tentang adanya dua kekuatan di dunia yang bertentangan, yaitu kekuatan baru yang sedang tumbuh melawan kekuatan lama yang masih bercokol. Adalah juga kaum revisionis Yugoslavia yang menghasut-hasut supaya di Indonesia tidak dibentuk kabinet NASAKOM, karena katanya kalau kabinet NASAKOM dibentuk Indonesia akan terisolasi, sebab: a) kabinet Nasakom tidak disetujui oleh negeri-negeri Barat, b) tidak disetujui oleh negeri-negeri non-aligned, dan c) tidak di-setujui negeri-negeri sosialis di Eropa Timur. Juga kaum revisionis Yugoslavialah yang menyetujui dibentuknya federasi “Malaysia”, yang ditentang keras oleh Rakyat Indonesia. Kaum revisionis Yugoslavia juga mengambil peranan aktif dalam mengacau dan meninibulkan pecahbelah dalam gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat Asia-Afrika.
Bahwa Yugoslavia semakin hari semakin merosot menjadi negeri yang mengabdi pada kepentingan blok kapitalis dapatlah diikuti dari fakta-fakta yang menyatakan bahwa bantuan ekonomi AS kepada Yugoslavia setiap tahun meliputi 1/3 dari jumlah anggaran belanjanya yang sampai tahun 1962 sudah berjumlah 3.500 juta dollar AS. Sejak tahun 1961 jadi sesudah Pernyataan 1960 Yugoslavia telah “meliberalisasi” perdagangan luarnegerinya yang menyebabkan suburnya perusahaan impor dan expor dan membikin produksi industri dalamnegeri lumpuh.
Maka itu tugas untuk dengan gigih menelanjangi kaum revisionis modern Yugoslavia seperti yang ditandaskan dalam Pernyataan 1960, adalah tugas yang harus terus kita lakukan.
Meskipun ada perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dan ada polemik-polemik dalam GKI, namun PKI telah berhasil untuk membikin keadaan yang pahit ini menjadi suatu yang positif. Kebulatan fikiran Marxis-Leninis dalam PKI terus diperkuat sebagai jaminan untuk kemenangan revolusi Indonesia dan untuk memperkuat GKI.
Langkah-Langkah yang telah diambil PKI adalah sbb.:
- PKI telah mendidik para kader dan anggotanya untuk tetap antusias belajar dari Partai-Partai sekawan, dari suk- ses-ses dan kegagalan-kegagalan mereka.
- Kader-Kader dan anggota-anggota PKI mempelajari pendapat-pendapat Partai-Partai sekawan dengan tujuan menarik pelajaran untuk mempercepat kemenangan revolusi Indonesia dan memperkuat GKI. Ini berarti mendidik para anggota bersikap kritis, rendah hati, percaya pada kekuatan sendiri dan ber-sungguh-sungguh mengenai urusan persatuan GKI.
- PKI akan terus berjuang melawan revisionisme baik yang klasik Maupun yang modern sebab berhenti melawan revisionisme berarti berhenti menempuh jalan revolusi. PKI juga akan terus berjuang melawan dogmatisme baik yang klasik Maupun yang modern, yaitu sikap yang tidak kritis terhadap pengalaman-pengalaman, kesimpulan-kesimpulan dan program-program Partai-Partai sekawan dewasa ini.
- PKI tidak henti-hentinya berjuang untuk kebulatan dan ketinggian martabat GKI, menjadi partisipan yang aktif dalam gerakan raksasa ini dan melaksanakan internasionalisme proletar dalam kata-kata dan perbuatan.
- PKI tidak henti-hentinya mengetok pintu hati pemimpin-pemimpin Komunis semua negeri yang mempunyai kesungguhan ingin memperkuat persatuan GKI, kerukunan gerakan Komunis berdasarkan Marxisme-Leninisme yang sekarang makin teruji, lebih kaya pengalaman dan lebih maju.
Dewasa ini tidak seorang pun Komunis yang dapat menghindarkan diri dari kenyataan adanya perbedaan pendapat yang serius dan hakiki dalam GKI dan tidak seorang pun Komunis bisa bersikap netral terhadap perbedaan-perbedaan pendapat itu. Berkat ketepatan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI, perkembangan PKI tidak dirugikan dan malahan sebaliknya. Hal ini dibuktikan oleh kenyataan makin berkembangnya PKI, makin meningkatnya taraf teori dan makin kuatnya semangat Marxisme-Leninisme dari para kader dan anggota PKI.
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka, selama menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dalam GKI kaum Komunis Indonesia menjadi lebih menyedari akan benarnya sikap bebas (independent) yang telah diambilnyia selama ini, sikap setia pada Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, sikap setia pada Deklarasi 1957 dan Pernyataan 1960, sikap membasi subyektivisme, sikap membasi revisionisme baik klasik Maupun modern dan membasi dogmatisme baik klasik Maupun modern, sikap menjunjung tinggi semangat optimisme realis dalam menghadapi kenyataan adanya perbedaan pendapat yang serius dan hakiki dalam GKI, dan bahwa semuanya itu adalah gejala sementara. (tepuktangan riuh).
Kawan-Kawan yang tercinta!
Demikianlah, kawan-kawan, uraian saya pada kesempatan ini. Maksud saya tidak lain ialah untuk memperkenalkan kepada kawan-kawan problem-problem dan tugas-tugas mendesak apa yang sedang dihadapi Rakyat dan kaum Komunis Indonesia dewasa ini. (tepuktangan).
Dari uraian saya di atas dapat kawan-kawan ketahui bahwa kami kaum Komunis Indonesia banyak belajar dari Revolusi Tiongkok, di samping juga belajar dari revolusi-revolusi negeri-negeri lain. Kami akan senantiasa dengan rendah hati belajar dari Revolusi Tiongkok dan dari revolusi-revolusi negeri-negeri lain. (tepuktangan)
Kami akan terus dengan rendah hati dan dengan jujur belajar Marxisme-Leninisme. Apalagi pada taraf peryuangan GKI dewasa ini Marxisme-Leninisme harus lebih banyak dipelajari supaya tahu benar-benar apa yang dimaksudkan oleh Marx dan Lenin mengenai ajaran-ajarannya. Hanya dengan demikian kita bisa menghindarkan diri dari menjadi pemalsu-pemalsu Marxisme-Leninisme atau menjadi politisi-politisi yang tak menentu, dan dapat tetap berada pada posisi Marxis-Leninis yang sejati. (tepuktangan).
Kaum Komunis Indonesia merasa bahwa mereka sudah berada di jalan yang benar, yaitu jalan mengintegrasikan secara total kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia. (tepuktangan).
Sampai batas-batas tertentu kami sudah berhasil meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme. Tetapi tidak mungkin hal ini sekarang sudah sempurna dan oleh karena itulah kami memegang teguh semboyan bekerja dan belajar kami, yaitu “Tahu Marxisme-Leninisme dan kenal keadaan”. (tepuktangan).
Sekian dan terima kasih. (tepuktangan riuh).
Peking, 2 September 1963.
BEBERAPA SOAL REVOLUSI INDONESIA DAN PKI
Kawan-Kawan yang tercinta!
Pada kesempatan saya berkunjung ke Peking kali ini saya diminta oleh Kawan-Kawan pimpinan PKT untuk memberikan ceramah dalam pertemuan besar ini, yang temanya saya pilih sendiri, yaitu “Bebberapa soal Revolusi Indonesia dan PKI”. Saya kira tema ini coycok, karena baik Revolusi Indonesia Maupun PKI sangat menarik perhatian Rakyat Tiongkok, baik Revolusi Indonesia Maupun PKI sangat dicintai oleh Rakyat Tiongkok. Saya tahu bahwa Rakyat Tiongkok suka mendengar segala sesuatu tentang Revolusi Indonesia dan tentang PKI. Revolusi Indonesia dan PKI sama menarik perhatian, sama dicintai dan sama disukai oleh Rakyat Tiongkok, sebagaimana halnya Revolusi Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok diperhatikan, dicintai dan disukai oleh Rakyat pekerja Indonesia (tepuk-tangan riuh). Pada kesempatan ini izinkanlah saya terlebih dahulu menyampaikan salam yang se-hangat-hangatnya dan dari lubuk-hati yang se-dalam-dalamnya kepada para hadirin dari CC PKI, dari lebih dari 2,5 juta Komunis Indonesia dan dari Rakyat pekerja Indonesia. (tepuktangan riuh). Rapat umum yang meriah dan bersemangat hari ini, yang diselenggarakan dalam Gedung Kongres Rakyat yang megah dan terkenal keindahannya ini, adalah rapat solidaritet yang terus meningkat tinggi dari Rakyat Tiongkok kepada Rakyat Indonesia yang sedang sengit berduyang melawan imperialisme yang dikepalai oleh Amerika Serikat serta melawan kaum reaksioner dalam negeri. (tepuktangan).
I. BEBERAPA SOAL TENTANG MASYARAKAT DAN REVOLUSI INDONESIA
1. Indonesia—Alam dan Penduduknya
Indonesia adalah negeri kepulauan yang terdiri lebih dari 10.000 pulau dengan 3.000 buah pulau lebih, kecil
dan besar yang didiami manusia. Pulau-Pulau ini terbentang antara dua benua, Asia dan Australia, dan menghubungkan dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Luas daerah daratannya hampir dua juta km-km, tidak seberapa jika dibandingkan dengan luas daratan Tiongkok (9,6 juta km-km lebih). Tapi pulau-pulaunya terserak sepanjang jarak yang sangat panjang. Jarak antara Sabang (ujung Indonesia yang paling Barat) dengan Merauke (ujung Indonesia yang paling Timur) adalah kira-kira sama dengan jarak antara ujung paling Barat dari pegunungan Tienshan dengan Syanghai. Sedangkan jarak dari Utara ke Selatan kurang lebih sama dengan jarak dari Berlin ke Aljazair.
Dilihat dari jumlah penduduknya yang 100 juta orang, Indonesia merupakan negeri besar yang kelima di dunia yaitu sesudah Tiongkok, India, Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Kepadatan penduduknya sangat tidak merata, dari 7 orang sampai 460 orang tiap-tiap kilometer persegi. Pulau Jawa paling padat penduduknya, kuranglebih ³⁄₄ dari seluruh penduduk Indonesia hidup di pulau itu.
Di Indonesia terdapat lebih dari 100 sukubangsa, mulai dari yang berjumlah puluhan juta sampai yang hanya beberapa ribu. Masing-Masing mempunyai bahasanya sendiri, di samping masih ada pula dialek-dialek dan tingkat kebudayaan-nya pun sangat ber-beda-beda. Tetapi yang sangat menguntungkan bagi perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia ialah bahwa semua menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia ini dasarnya adalah bahasa Melayu, yaitu bahasa sukubangsa Melayu yang di Indonesia merupakan sukubangsa ketiyil. Jauh sebelum penjajah-an Belanda bahasa Melayu ini berfungsi sebagai “lingua franca” dalam pergaulan antar-pulau dan antar-sukubangsa di Indonesia. Oleh sebab itu, dengan wajar bahasa ini menjadi bahasa persatuan di dalam proses perjuangan pembebasan nasional Rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Bahasa Indonesia tidak pernah menjadi bahasa kolonisator, bahasa itu bahkan dihambat pertumbuhannya oleh kaum penjajah Belanda. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digembleng dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional dan merupakan bahasa liberator. Di samping berbagai sukubangsa terdapat beberapa juta warganegara Indonesia dari keturunan asing seperti keturunan Tionghoa, Eropa, Arab dan India.
Masing-Masing mempunyai bahasa dan kebudayaannya sendiri di samping mengakui bahasa dan kebudayaan Indonesia sebagai kepunyaannya sendiri.
Pada zaman penjadahahan Belanda, kaum kolonialis Belanda melakukan politik pecahbelah dan adudomba antar-sukubangsa dan antara sukubangsa-sukubangsa dengan yang berketurunan asing. Bahkan pada zaman sekarang pun pengaruh politik pecahbelah dan adudomba kolonialisme itu masih ada. Politik itu di-kobar-kobarkan oleh kaum imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri dan antara lain meletus dalam pemberontakan-pemberontakan separatis pada tahun 1958 dan aksi-aksi kontra-revolusioner yang rasialis pada bulan Mei 1963 ini. Pengalaman-Pengalaman menundukkan bahwa separatisme dan rasialisme hanya bisa diatasi dan ditumpas asal ada politik yang tegas melawannya dan ada persatuan bulat dari seluruh nasion Indonesia. Politik haksama bagi semua sukubangsa, tidak perduli sukubangsa besar atau ketiyil, dan politik haksama bagi semua warganegara, tidak perduli keturunan “asli” atau keturunan asing, adalah satu-satunya politik yang dapat menjamin kesatuan nasion Indonesia. (tepuktangan riuh).
Tanah Indonesia sangat subur, lautannya banyak kekayaan dan buminya mengandung banyak pelikan. Tidak mengherankan bahwa Indonesia sering dinamakan orang “rangkaian zamrud di katulistiwa”. Tetapi akibat penjadahahan yang lama, Rakyat Indonesia sendiri tidak dapat menikmati kekayaan itu. Taraf hidup Rakyat pekerja Indonesia sangat rendah. Walaupun Indonesia sudah mencapai kemerdekaan politik, tapi ekonominya masih bersifat kolonial dan setengah feudal. Dalam kekuasaan negara pun kekuatan-kekuatan yang membela kepentingan-kepentingan imperialisme dan feudalisme masih bercokol.
Dalam pada itu, gerakan revolusioner Rakyat Indonesia telah mencapai kemajuan-kemajuan besar, terutama pada sepuluh tahun yang akhir ini. Keanggotaan PKI sudah mencapai lebih dari 2,5 juta, yang berarti lebih dari 2,5% dari jumlah penduduk. Organisasi-Organisasi massa revolusioner progresif maju dengan pesat. Di dalam SOBSI terorganisasi 3,2 juta kaum buruh dari kuranglebih 4 juta buruh yang terorganisasi. Sedangkan dewasa ini terdapat kuranglebih 7 juta buruh di Indonesia. Kemajuan dalam gerakan tani sangat menggembirakan. Dalam waktu yang singkat (kl. 1 tahun) BTI meningkatkan keanggotaannya dari 4,6 juta menjadi 6,3 juta. Keanggotaan Pemuda Rakyat berjumlah 1,5 juta, GERWANI 1,5 juta. Di samping itu ada lagi organisasi-organisasi progresif dari kaum sastrawan dan seniman, mahasiswa, sarjana dll. yang juga maju dengan pesat. Walaupun demikian akan keliru se kali jika menganggap bahwa tiada rintangan bagi perkembangan gerakan revolusioner. Kesulitan-Kesulitan banyak sekali, setiap kemajuan gerakan revolusioner dimbangi pula dengan hambatan-hambatan baru dari kaum reaksioner.
Situasi Indonesia memang rumit dan banyak kontradiksi. Pada satu fihak, penduduk di Indonesia, menurut statistik, 90% lebih beragama Islam, difihak lain pengaruh Komunisme berkembang terus. Pada satu fihak, konsep-konsep politik dalam dan luar negeri dari pemerintah Indonesia mengandung segi-segi positif dan maju, antiimperialis dan ingin bersatu dengan negeri-negeri sosialis dalam rangka mengembangkan “the new emerging forces”, tetapi pada fihak lain, terdapat juga segi-segi yang negatif dan reaksi- oner, misalnya tindakan-tindakannya dibidang keuangan dan ekonomi yang merugikan Rakyat (misalnya peraturan ekonomi 26 Mei 1963), berkompromi dan main mata dengan modal asing. Pada satu fihak, sudah terbentuk front persatuan nasional yang luas dan berkembang. Di Indonesia sudah ada organisasi Front Nasional yang menggabungkan semua partai politik, organisasi massa, semua angkatan bersenjata dan perseorangan yang anggotanya sudah lebih dari 20 juta dan yang mempunyai program bersama, yaitu Manifesto Politik yang antiimperialisme dan antifeodalisme. Komposisi pimpinan Front Nasional dari pusat sampai ke-organisasi-organisasi basisnya mencerminikan aliran-aliran politik NASAKOM. Tapi pada fihak lain, Walaupun sudah ada semuanya ini, sampai kini belum bisa terbentuk Pemerintah Gotongroyong di mana kaum Komunis mendapatkan kedudukan yang bertanggungjawab.
Memang situasi Indonesia tidak sederhana, jalan revolusi Indonesia bukan jalan-raya yang lurus. Sebagai negeri kepulauan, pantai-pantai Indonesia sangat panjang, sukar dijaga dari serbuan-serbuan militer dan dari kaum penye- lundup. Ditambah lagi, Indonesia dikelilingi oleh negeri-negeri imperialis atau negeri-negeri yang menjadi pangkalan-pangkalan kekuatan imperialis lewat berbagai pakta militer. Tapi kaum revolusioner Indonesia tidak pernah putusasa. Selama tahun-tahun ini mereka telah bekerja keras dan mencapai hasil-hasil ter-tentu. Semua kenyataan tersebut mendorong kaum revolusioner Indonesia untuk lebih rajin dan lebih pandai lagi belajar dari pengalaman-pengalaman kaya gerakan revolusioner sedunia dalam menempuh jalannya sendiri menuju penyelesaian revolusi Indonesia. (tepuktangan riuh).
2. Lintasan Sejarah Indonesia, Pertumbuhan Gerakan Nasional
Sebelum pedagang-pedagang Belanda yang pertama tiba di Indonesia, Rakyat Indonesia sudah mengalami perkembangan sejarah yang lama. Berbagai kerajaan feudal telah berkembang di atas wilayah Indonesia. Diantaranya yang terkenal adalah kerajaan Sriwijaya (abad 7-13) yang berpusat di Palembang (Sumatera Selatan), kerajaan Mataram I (abad 8 dan 9) dan kerajaan Majapahit (abad 14 dan 15). Dalam masa feudalisme ini, yang utama di Jawa sudah mulai berkuasa sejak awal tarikh Masehi, telah timbul ber-kali-kali pemberontakan tani. Pemberontakan-Pemberontakan ini telah melemahkan sistim feudal tapi belum dapat menghapuskannya.
Masa feudalisme ini juga ditandai oleh peperangan-peperangan di antara ber-bagai-bagai kerajaan feudal dan dalam keadaan keterpecahbelahan feudal inilah mulai datang pedagang-pedagang dari berbagai negeri Eropa, Portugal, Belanda, Inggris dan lain-lain pada abad 15 dan selanjutnya. Dalam persaingan yang sengit Belanda dapat mengungguli saingan-saingan nya. Perkumpulan dagang Belanda VOC (Persatuan Perkongsian Dagang Hindia Timur) bahkan tidak membatasi diri pada perdagangan tapi juga langsung merebut jajan dengan secara pandai dan licik mempergunakan pertentangan-pertentangan yang ada di antara penguasa-penguasa feudal.
Masa VOC merupakan periode penting dalam penimbunan primitif kapital di negeri Belanda. Kekayaan-Kekayaan luar-biasa didapat oleh saudagar-saudagar Belanda dengan segala ja-lan kekejaman seperti yang dikatakan oleh Karl Marx: “Sejarah ekonomi kolonial Belanda—dan negeri Belanda adalah nasion kapitalis yang terkemuka pada abad ke-17,—memperlihatkan pengkhianatan, penyuapan, penyemelihan dan kekejian-kekejian yang tiada taranya.” (K. Marx, Capital, Jilid I, FLPH Moscow, th. 1958, hal. 752).
Pada akhir abad ke-17 VOC dapat menguasai secara praktis seluruh wilayah, sehingga sejak itu Indonesia te-lah menjadi jajahan Belanda sepenuhnya. Pada masa itu penghisapan Belanda didasarkan atas penghisapan feudal yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu hubungan produksi yang berkuasa selama periode permulaan jajahan Belanda adalah hubungan produksi feodal. Masyarakat Indonesia pada waktu itu dapat dikarakterisasi sebagai masyarakat feodal dan kolonial.
Keadaan mulai berubah pada akhir abad ke-19 ketika kapitalisme Belanda memasuki tingkat imperialisme. Sebagai akibat dari meluasnya kapital export, kapitalisme masuk jauh dan dalam ke-desa-desa. Hubungan-Hubungan ekonomi feodal dirusak, ekonomi tidak sepenuhnya lagi ekonomi alamiah. Ekonomi barang dagangan ber-angsur-angsur menjadi berkuasa. Sistim feodal tidak lagi berdiri sendiri dan haya dapat hidup dengan sokongan imperialis. Penghisapan feodal atas kaum tani sudah berjalin dengan penghisapan kapital asing, kapital komprador dan lintahdarat yang berkedudukan menentukan dalam kehidupan sosial-ekonomi Indonesia. Indonesia yang feodal sudah menjadi Indonesia yang semi-feodal. Keadaan sebagai masyarakat kolonial dan setengah feodal ini berlangsung terus sampai meletusnya Revolusi Nasional pada bulan Agustus 1945. Masa penjajahan Belanda diganti dengan masa penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun ketika dalam Perang Dunia II kaum militeris Jepang menduduki Indonesia pada sejak Maret 1942 setelah kaum kolonialis Belanda menyerah dengan hampir tiada perlawanan. Dengan demikian Indonesia berubah dari negeri jajahan Belanda menjadi negeri jajahan Jepang. Tapi sifat masyarakatnya tidak mengalami perubahan apa pun, ke-cuali bahwa penghisapan Jepang adalah lebih kejam lagi.
Pada periode jajahan dan semi-feodal tersebut timbul perubahan-perubahan dalam susunan klas di Indonesia. Dengan didirikannya perusahaan-perusahaan imperialis pada akhir abad ke-19, maka lahirlah klas buruh di Indonesia. Dan semenjak klas buruh memasuki gelanggang politik, ia sudah memadukan perjuangan untuk pembebasan klasnya dengan perjuangan seluruh bangsa Indonesia untuk kemerdekaan nasional. Klas lain yang lahir sebagai akibat dihancurkan-nya ekonomi feodal dan mulai meluasnya ekonomi barang-dagangan ialah klas burjius nasional. Tetapi pertumbuhan industri nasional mengalami halangan yang berat dari saingan modal monopoli asing, sehingga sampai pada de-wasa ini burjuasi nasional Indonesia sangat sedikit ber-usaha di lapangan industri dan kebanyakan bergerak dalam perdagangan. Itulah sebabnya mengapa burjuasi nasional mempunyai kedudukan ekonomi yang lemah di Indonesia. Jadi, di Indonesia klas buruh lahir lebih dulu daripada burjuasi nasional. Hal ini nampak pula dalam peranan serta pengaruh masing-masing klas itu di dalam perjuangan pem-bebasan nasional.
Sejalan dengan peralihan kapitalisme ke tingkat monopo-li, ke tingkat imperialisme, kaum kolonialis Belanda melakukan peperangan kolonial besar-besaran pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Melalui peperangan ini mer-eka menyatukan seluruh Indonesia di bawah satu pemerintah kolonial yang terpusat dan dalam satu kehidupan ekonomi yang kolonial.
Perubahan-Perubahan yang telah terjadi dalam politik, ekonomi dan susunan klas sebagaimana yang diuraikan di atas, mempengaruhi pula sifat dan bentuk-bentuk perlawanan Rakyat Indonesia. Kesatuan ekonomi yang sudah terjelma, lahiri-nya klas buruh dan pertumbuhan hubungan-hubungan produksi ka-pitalis nasional menjadi dasar bagi tumbuhnya nasion Indonesia yang modern. Dulu, perlawanan Rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda terutama merupakan pemberontakan kaum tani, bersifat lokal dan seringkali dipimpin oleh wakil-wakil bangsawan feodal daerah yang meng-inginkan kembali nyia kekuasaan mereka. Sekarang, per-lawanan Rakyat menyatakan diri dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional dan mencakup semua klas yang di-rugikan oleh imperialisme dan feodalisme. Pada awal abad ke-20 muncullah organisasi-organisasi massa dan partai-partai politik yang menandakan kebangkitan nasional Rakyat Indonesia melawan penjajah. Gerakan, nasional ini berbeda de-ngan gerakan nasional yang dulu terjadi di Eropa pada masa pertumbuhan kapitalisme. Klas buruh Indonesia dan Partainya, PKI yang lahir pada tanggal 23 Mei 1920, se-jak semula satu dan takterpisahkan dari gerakan nasio-nal itu dan merupakan pelopor sayap kirinya gerakan itu. Pada bulan November 1926 terjadi pemberontakan nasional yang pertama di Indonesia di bawah pimpinan PKI. Walaupun pemberontakan ini dapat ditindas oleh kaum penjajah Belanda, tapi pemberontakan ini memberi pe-lajaran pada Rakyat Indonesia bahwa kekuasaan kolonial
Belanda bukan sesuatu yang kekal. Sangat penting pula bahwa perlawanan bersenjata yang pertama yang bersifat nasional ini dilakukan di bawah pimpinan PKI—Partai klas proletar Indonesia. Burjuasi Indonesia tidak pernah mempunyai “Revolusi 1911”nya seperti di Tiongkok.
Sebagai salahsatu puncak dalam perjuangan pembebasan nasional ini pecahlah dalam bulan Agustus 1945 Revolusi Nasional di Indonesia. Dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu Rakyat Indonesia mengambil kekuasaan politik di tangannya sendiri. Dengan kekuasaan politik itu Rakyat Indonesia melakukan tindakan-tindakan antiimperialis, seperti mensita perusahaan milik asing dan menjadikannya milik RI, menghapuskan pemerintahan perseorangan dan membentuk Komite-Komite Nasional serta Badan-Badan Keamanan Rakyat sampai ke-desa-desa, mem-bagi-bagikan di beberapa daerah tanah-tanah perkebunan modal asing kepada kaum tani, dan sebagainya. Jadi, dalam revolusi itu Rakyat Indonesia berjuang dengan gigih melawan musuhnya yang terpokok, yaitu imperialisme. Tetapi musuh pokok yang lain, yaitu klas tuan-tanah feodal, yang merupakan basis sosial terpenting bagi kekuasaan imperialisme, tidak digulingkan. Ini berarti, bahwa kaum tani, tenaga pokok revolusi Indonesia, tidak cukup dibangkitkan dan ditarik ke dalam revolusi. Jadi, Walaupun Indonesia dengan revolusi itu sudah merebut kemerdekaannya, tapi masyarakatnya masih tetap bersifat setengah feodal.
Dalam bulan September 1948 pemerintah yang dikepalai oleh Hatta melancarkan serangan untuk membasmi kaum Komunis. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Madiun atau Provokasi Madiun. Hampir semua anggota pimpinan PKI yang terpenting pada waktu itu terbunuh atau tertawan. Setelah PKI, tulangpunggung perlawanan terhadap imperialisme dipatahkan, maka mudahlah bagi Belanda untuk melancarkan perang kolonialnya pada bulan Desember 1948, yang bertujuan menaklukkan seluruh wilayah Indonesia. Pada bulan November 1949 pemerintah Hatta dan pemerintah Belanda menandatangani persetujuan KMB yang terkutuk. Dengan persetujuan itu maka secara formil kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda, tapi kekuasaan imperialis Belanda atas ekonomi direstorasi sepenuhnya. Dengan de-mikian KMB menetapkan kedudukan Indonesia sebagai setengah jadayahan.
Tapi Rakyat Indonesia tidak menghentikan perjuang-annya. Sesudah KMB ditandatangani mulailah perjuang-an sengit untuk membatalkannya. Pada tahun 1956 ter-capai kemenangan besar dengan dibatalkannya KMB se-cara unilateral oleh pemerintah Indonesia, pada tahun 1957 sebagai peningkatan perjuangan untuk membebas-kan Irian Barat semua perusahaan milik Belanda diambil-alih dan kemudian dinasionalisasi. Pada tahun 1963 Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan RI sesudah Rakyat Indonesia dengan kebulatan tekad menundukkan kesediaannya untuk merebut kembali Irian Barat dengan kekuatan senjata dan setelah pasukan-pasukan sukarelawan yang dikirim ke Irian Barat berhasil bersama-sama dengan gerilya Rakyat di daerah itu membebaskan berbagai kota dan daerah. Sokongan negara-negara sosialis dan Rakyat progresif seluruh dunia mempunyai peranan yang penting pula bagi suksesnya perjuangan pembebasan Irian Barat itu.
Dalam perjuangan melawan feodalisme juga tercapai kemajuan-kemajuan. Dalam per-undang-undangan misalnya diterima UU Perjanjian Bagi Hasil dan UU Pokok Agraria, yang satu mengatur pembagian hasil antara petani penggarap dan tuantanh, dan yang belakangan mengenai landreform ter-batas. Tapi perjuangan untuk melaksanakan kedua UU yang agak maju itu mengalami rintangan yang berat, ter-utama dari kaum reaksioner yang masih bercokol dalam aparat-aparat negara.
Perjuangan melawan imperialisme dan feodalisme kini masih terus berjalan. Pengaruh imperialisme baik dalam kekuasaan politik Maupun dibidang ekonomi masih cukup kuat. Bahkan sekarang imperialisme AS sudah menggan-tikan imperialisme Belanda sebagai musuh pertama Rak-yat Indonesia. Di samping itu, imperialisme Belanda masih tetap merupakan musuh yang berbahaya, sedangkan impre-sialis-sialis lain seperti Inggris, Jerman Barat dan Jepang juga giat melakukan penetrasinya. Kekuasaan tuantanh feodal pun pada pokoknyia masih berdiri dan merupakan salahsatu sokoguru kekuatan reaksioner dalannegeri. Ber-dasarkan analisa mengenai masyarakat dan revolusi Indo-nesia, Anggaran Dasar PKI menekankan bahwa revolusi Indonesia adalah revolusi yang makan waktu lama dan bersifat pelik. Untuk bisa memimpin revolusi ini PKI ha-rus menjalankan taktik membawa maju perjuangan revolusioner daripada Rakyat dengan pelahan dan berhati-berhati, tetapi pasti. Dalam pada itu, PKI harus tak henti-hentinya melawan dua kecenderungan di dalam tubuhnya sendiri, yaitu kecenderungan kapitulasi dan avonturisme.
Demikianlah secara singkat tinjauan tentang sejarah Indonesia dan pertumbuhan serta perkembangan gerakan pembebasan nasional di Indonesia. (tepuktangan riuh).
3. Soal-Soal Pokok Revolusi Indonesia
Walaupun Revolusi Agustus 1945 mengalami kegagalan, tapi pengalaman-pengalaman yang diperoleh klas buruh dan Partainya dalam revolusi ini luarbiasa banyak dan kayanya. Adalah benar sekali bahwa “satu-tahun revolusi adalah sama dengan puluhan tahun perkembangan biasa”. Walaupun PKI membuat kesalahan-kesalahan selama revolusi itu, tapi klas buruh dan PKI bukan saja mengambil bagian aktif dalam segala kegiatannya tapi juga berusaha memberi pimpinan kepada revolusi. Inilah yang membuat pengalaman-pengalaman Revolusi Agustus berharga sekali bagi PKI dan sumber bagi kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PKI kemudian.
Revolusi Agustus telah memberi pelajaran kepada kaum Komunis Indonesia apa sesungguhnya sifat Revolusi Indonesia, klas-klas apa yang menyokongnyna dan klas-klas apa yang menentangnyna. Revolusi Agustus memberi pelajaran mengapa harus ada front persatuan nasional untuk bisa mencapai kemenangan revolusi, siapa sekutu proletariat yang terpercaya, siapa sekutu yang bimbang, yang dalam keadaan tertentu bisa mengkhianati revolusi. Revolusi Agustus juga mengajar bahwa dalam revolusi, perjuangan bersenjata adalah bentuk perjuangan yang terpenting. Dan salahsatu pelajaran yang terpenting dari Revolusi Agustus ialah bahwa jika revolusi nasional dan demokratis di Indonesia hendak mencapai kemenangan, maka peranan pimpinan klas buruh adalah mutlak. Untuk mewuyudkan ini PKI harus dapat memadukan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, PKI harus meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme.
Dalam Kongres Nasional ke-V (1954) PKI telah merumuskan program umum dan program tuntutan bagi penyelesaian Revolusi Indonesia. Program PKI memuat garis strategi dan taktik PKI yang merupakan hasil dari perpaduan Marxisme-Leninisme dengan praktek perjuangan yang lama, hasil dari proses pengenalan terhadap Revolusi Indonesia sendiri sejak dari hari lahirnya PKI pada 43 tahun yang lalu dan khususnya selama Revolusi Agustus 1945. Dalam menyusun serta melaksanakan garis strategi dan taktik ini PKI betul-betul merasakan tepatnya kata-kata Lenin bahwa “hanya pertimbangan yang obyektif terhadap seluruh jumlah hubungan timbalbalik dari semua klas tanpa kecuali dalam masyarakat tertentu, dan akibatnya, pertimbangan tentang taraf perkembangan obyektif masyarakat itu dan tentang hubungan timbalbalik antara masyarakat itu dengan masyarakat-masyarakat lainnya, dapat dijadi-kan sebagai dasar bagi taktik yang tepat dari klas yang maju. Bersamaan dengan itu, semua klas dan semua negeri diperlakukan bukan secara statis, tetapi secara dinamis, yaitu bukan dalam keadaan tiada bergerak tapi dalam keadaan bergerak (yang hukum-hukumnya ditentukan oleh syarat-syarat kehidupan ekonomi klas masing-masing)”. (W. I. Lenin, Karl Marx, Yayasan “Pembaruan”, 1962, hal. 37).
Di masa lampau, PKI banyak dihinggapi penyakit ke kiri-kekirian, seperti sektarisme dan dogmatisme, dan pada masa Revolusi Agustus terkena oportunisme “kiri” dan kanan sekligus. Salahsatu sebab mengapa PKI belum dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya yang lampau ialah karena pengalaman-pengalaman itu belum disimpulkan. Baru dalam bulan Agustus 1948 ketika PKI mengadakan Konferensi dan koreksi terhadap garis-garis salah yang sudah dijalankannya selama itu, maka pengalaman-pengalaman mulai disimpulkan. Resolusi Jalan Baru Untuk Republik Indonesia yang disahkan oleh Konferensi itu menyimpulkan pengalaman-pengalaman PKI tentang front persatuan-nasional, pembangunan Partai dan perjuangan bersenjata. Resolusi ini menandakan bahwa PKI mulai meningkat dewasa. Kedewasaan PKI dibuktikan sejelas-jelasnya oleh Kongres Nasional ke-V PKI (1954) yang telah menjawab semua masalah penting dan pokok dari Revolusi Indonesia. Kemudian masalah-masalah penting dan pokok ini diuraikan dengan jelas dalam putusan CC bulan Juli 1957 yang berbentuk tulisan tentang Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia. Tulisan ini mengemukakan sifat masyarakat Indonesia, sasarann-sasarann pokok dan tugas-tugas revolusi Indonesia, kekuatan-kekuatan pendorong, karakter dan perspektif revolusi Indonesia.
Mengenai sasaran-sasaran (musuh-musuh) pokok revolusi Indonesia karena masyarakat Indonesia masih setengah jajahan dan setengah feodal, maka sasaran-sasaran itu adalah imperialisme dan feodalisme. Tugas-Tugas revolusi ialah menjalankan revolusi nasional untuk mengusir imperialisme dan menjalankan revolusi demokratis untuk menghapuskan sistim tuantanah. Kekuatan-Kekuatan pendorong revolusi ialah klas buruh, kaum tani, klas burjuis ketiyil dan elemen-elemen demokratis lainnya yang dirugikan oleh imperialis dan konsekwenn melawan imperialis. Sedangkan burjuasi nasional bisa mengambil bagian dalam revolusi. Karakter atau watak daripada revolusi Indonesia pada tingkat sekarang bukanlah proleter sosialis, tapi nasional demokratis atau burjuis demokratis. Sedangkan perspektif revolusi ialah Sosialisme dan Komunisme, bukan kapitalisme.
Dalam proses PKI memimpin perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia dengan berpangkal pada pengenalan atas soal-soal pokok revolusi Indonesia seperti yang tersebut di atas, PKI memperdalam pengetahuannya tentang revolusi Indonesia dan mengemukakan berbagai teori yang terbukti mutlak harus difahami dan dilaksanakan guna menjamin tercapainya kemenangan revolusi.
PKI mengemukakan teori dan terbukti kebenarannya bahwa di Indonesia sekarang ada tiga kekuatan, yaitu kekuatan progresif, kekuatan tengah dan kekuatan kepala-batu. Garis Partai terhadap tiga kekuatan ini ialah mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan mengisolasi kekuatan kepalabatu. Dalam bersatu dengan kekuatan tengah Partai juga mengadakan perjuangan. Partai bersatu dengan kekuatan tengah dalam melawan imperialisme dan feodalisme, tetapi Partai berduyang terhadapnya jika ia mau mengurangi kebebasan Partai dan kebebasan gerakan Rakyat pekerja atau jika ia bimbang dalam melawan imperialisme dan feodalisme.
PKI telah mengemukakan teori bahwa belajar dari perjuangan bersenjata selama revolusi 1945-1948 Partai tidak boleh menjiplak teori perjuangan bersenjata diluarnegeri, tetapi harus menjalankan metode mengkombinasi tiga bentuk perjuangan. Peperangan gerilya selama revolusi Agustus 1945 akan bisa meluas dan dikonsolidasi sehingga tuntutan-tuntutan revolusi Agustus dapat di-selesaikan sampai ke-akar-akarnya jika PKI ketika itu me-letakkan pemecahannya dalam pekerjaan mengkombinasi tiga bentuk perjuangan, yaitu perjuangan gerilya di desa (terutama terdiri dari buruh tani dan tanimiskin), aksi-aksi revolusioner oleh kaum buruh (terutama buruh transport) di-kota-kota yang diduduki oleh musuh dan pekerjaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata musuh. Teori ini sangat penting, ia merupakan teori untuk memenangkan perang gerilya di negeri kepulauan seperti Indonesia.
Pada dewasa ini tidak ada angkatan bersenjata musuh di Indonesia, yang ada adalah angkatan bersenjata RI yang lahir segera sesudah perang dunia II dalam perjuangan antifasis dan dalam revolusi yang berwatak nasional dan demokratis. Klas buruh dan PKI mempunyai andil besar dalam membangun angkatan bersenjata ini. Angkatan bersenjata RI bukanlah angkatan bersenjata yang reaksioner. Dilihat dari segi kelahirannya angkatan bersenjata RI mempunyai ciri antifasis, demokratis dan antiimperialis. Adalah juga kewajiiban PKI untuk meng-eratkan hubungan dwi-tunggal Rakyat dan angkatan bersenjata supaya dalam kejadian ana pun angkatan bersenjata atau bagian terbesarnya dapat berdiri tegak difihak Rakyat, difihak revolusi, seperti sudah terbukti dalam perjuangan Rakyat Indonesia melawan dan mengalahkan kontra-revolusi “PRRI-Permesta” belum lama ber-selang.
PKI mengemukakan teori bahwa untuk memenangkan Revolusi Indonesia anggota-anggota Partai dan massa Rakyat pe-kerja harus dijiwai oleh perpaduan patriotisme dan internasionalisme proletar. Kaum Komunis Indonesia harus memerangi nihilisme nasional dan sovinisme burjuis. Revolusi Indonesia tidak terpisahkan dari revolusi pro-leter dunia yang telah dimulai dengan Revolusi Sosialis Oktober Besar 1917, yang sekarang sedang maju dengan cepatnya. Revolusi Indonesia adalah bagian daripada perjuangan Rakyat-Rakyat sedunia untuk kemerdekaan nasional, demokrasi, perdamaian dan Sosialisme.
PKI mengemukakan teori bahwa untuk dapat memimpin perkembangan politik, Partai harus menyalankan garis umum meneruskan penggalangan front nasional dan meneruskan pembangunan Partai untuk menyelesaikan tun-tutan-tutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar-akarnya. Dengan perkataan lain, kaum Komunis Indonesia harus mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Partai, yaitu Panji Front Nasional,
Panji Pembangunan Partai dan Panji Revolusi Agustus 1945. Garis umum PKI untuk penggalangan front nasional ialah: menggalang persatuan antiimperialisme antara klas buruh, kaum tani, burjuasi ketil dan burjuasi nasional berbasiskan persekutuan buruh dan tani antifeodalisme dan yang dipimpin oleh klas buruh. Garis umum mengenai pembangunan Partai ialah: membangun Partai di seluruh negeri dan yang mempunyai karakter massa yang luas yang sepenuhnya terkonsolidasi di lapangan ideologi, politik dan organisasi. Garis umum PKI mengenai tun-tutan-tutan revolusi Agustus 1945 ialah menggunakan segala pengalaman perjuangan untuk memobilisasi massa yang luas dan menanamkan kesiaansiagaan menghadapi segala kemungkinan.
Teori-Teori tersebut disimpulkan oleh PKI berdasarkan pengalaman memadukan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia. Kesimpulan-Kesimpulan pokok itu dicapai berkat pengalaman PKI yang sudah lama, yang diperoleh dari perjuangan anggota-anggotanya yang gagah-berani, dari pengorbanan-pengorbanan jiwa yang telah di-berikan oleh ribuan Komunis Indonesia dan berkat ke-tekunanan kaum Komunis Indonesia belajar Marxisme-Leninisme. Teori-Teori itu sudah dipraktikkan dan terus dikembangkan dalam pelaksanaannya. Semboyan kaum Komunis Indonesia dalam bekerja dan belajar ialah “Tahu Marxisme dan kenal keadaan”. Hanya dengan jalan ini, jalan memadukan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia, jalan meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, PKI akan da-pat memimpin Rakyat Indonesia mencapai kemenangan revolusi. Makin baik Marxisme-Leninisme di-Indonesia-kan, makin berpadu Marxisme-Leninisme dengan massa Rakyat dan Revolusi Indonesia, maka akan makin ter-hindarlah PKI dari bahaya revisionisme, baik klasik mau-pun modern, dan bahaya dogmatisme, baik klasik Maupun modern, dan ini berarti makin majunya revolusi Indonesia. (tepuktangan riuh).
Beberapa Soal Mengenai Front Persatuan Nasional
PKI telah menyimpulkan, bahwa salahsatu sebab yang penting dari kenyataan bahwa Revolusi Agustus 1945 tidak mencapai tujuannya, ialah karena PKI pada waktu itu kurang memahami perlunya front persatuan nasional dan kurang pandai untuk membentuknya. Pada waktu itu kaum Komunis telah lalai mengadakan front nasional sebagai senjata revolusi nasional terhadap imperialisme. Walau-pun kemudian mereka mulai sedar akan pentingnya front nasional, akan tetapi belum faham sungguh-sungguh tentang cara membentuknya.
Kesimpulan ini mendorong kaum Komunis Indonesia untuk lebih giat, ulet dan tekun mengusahakan terbentuk-nya front nasional. Kongres Nasional ke-V menetapkan sebagai kewajiiban urgen yang pertama dari PKI ialah kewajiiban menggalang front persatuan nasional. Berdasarkan analisa terhadap klas-klas dalam masyarakat Indonesia, front persatuan nasional ini harus mencakup semua kekuatan nasional dari revolusi, yaitu kaum buruh, kaum tani, burjuasi ketiyil dan burjuasi nasional. Dalam pada itu, Kongres Nasional ke-V menekankan bahwa persekutuan kaum buruh dan kaum tani adalah basis dari front persatuan nasional. Karena kaum tani masih menderita dari sisa-sisa feodalisme yang berat, maka persekutuan itu hanya bisa terbentuk dan menjadi kokoh, jika kaum Komunis aktif memimpin perjuangan kaum tani melawan sisa-sisa feodalisme, mulai dari tuntutan-tuntutan bagian kaum tani sampai kepada tuntutan pokoknya—penghapusan milik feodal dan pembagian tanah.
Mengenai burjuasi nasional, Revolusi Agustus telah memberikan pengalaman penting bagi PKI tentang sifat bimbang klas itu. Dalam keadaan tertentu burjuasi nasional ikut dan bersikap teguh berfihak kepada revolusi seperti halnya pada permulaan Revolusi Agustus. Tetapi dalam keadaan lain ia bisa goncang dan mengkhianat seperti yang terjadi ketika pemerintah Hatta menjalankan provokasi Madiun. Burjuasi nasional ikut pula berkapitulasi kepada imperialisme dengan menyetujui perse-tujuan KMB yang khianat. Oleh karena itu, proletariat dan PKI harus senantiasa berusaha menarik burjuasi nasional kefihak revolusi. Tetapi mereka harus juga ber-jaga-jaga akan kemungkinan burjuasi nasional mengkhianati revolusi.
Sebagian yang lain dari burjuasi di Indonesia adalah burjuasi komprador. Burjuasi komprador langsung mengabdi kepentingan-kepentingan kaum kapitalis besar asing, maka ia bukan salahsatu kekuatan revolusi, tetapi sasaran revolusi.
Bagian lain lagi dari burjuasi yang juga merupakan musuh dan sasaran revolusi ialah kaum kapitalis birokrat. Dalam hal watak reaksionernya burjuasi birokrat Indonesia ada samanya dengan burjuasi birokrat di Tiongkok. Tapi pada saat sekarang belum terdapat pemusatan yang begitu tajam seperti di Tiongkok lama, ketika kaum kapitalis birokrat pada pokoknya berpusat pada empat keluarga besar. Burjuasi birokrat di Indonesia terutama berkembang setelah perusahaan-perusahaan milik Belanda diambilalih dan dijadikan perusahaan milik negara. Pada umumnya, orang-orang itu menjadi kapitalis dengan menggunakan kedudukannya dalam alat kekuasaan atau perusahaan negara atau hubungannya dengan pembesar-pembesar dalam alat kekuasaan atau perusahaan negara. Mereka menggunakan birokrasi dan di waktu lampau terutama menggunakan berlakunya keadaan bahaya (SOB) untuk mendapatkan dan memperkuat posisinya sebagai kapitalis.
Dengan ber-bagai-bagai cara yang licik mereka menyabot per-ekonomian negara dan berusaha “menswastakan” dan menguasai sendiri perusahaan-perusahaan negara. Sebagaimana dikatakan di atas peranan mereka sangat reaksioner, mereka adalah antidemokrasi, antiorganisasi Rakyat, antipersatuan nasional, berusaha mempererat hubungan dengan imperialis dan bekerjasama dengan kaum tuantanah untuk menindas kaum tani. Mereka mendirikan “serikat-serikat buruh”2 dan “organisasi-organisasi massa” yang pada hakekatnya tidak lain daripada serikat-serikat dan organisasi-organisasi majikan. Serikat-Serikat dan organisasi-organisasi ini ditujukan untuk menghancurkan organisasi-organisasi massa revolusioner, khususnya SOBSI. Tetapi di kalangan massa Rakyat pekerya serikat-serikat dan organisasi-organisasi dari kaum kapitalis birokrat ini sudah cukup terbuka dan dilawan dengan keras.
Dalam melaksanakan tugas menggalang front persatuan nasional di Indonesia klas buruh harus memelopori perjuangan seluruh Rakyat. Karena Indonesia merupakan negeri yang terbelakang perkembangan ekonominya, maka secara obyektif klas buruh Indonesia mempunyai berbagai kelemahan.
Kelemahan yang pertama ialah bahwa jumlahnya kecil jika dibandingkan dengan kaum tani. Untuk dapat mengatasi kelemahan ini perlu diadakan dan dipe-lihara persatuan klas buruh sendiri yang se-kokoh-kokohnya. Sebagaimana dikatakan oleh Kawan Dimitrov: “Di semua negeri di mana proletariat menurut perbandingannya kecil jumlahnya, di mana kaum tani dan lapisan burjuis kecil kota jumlahnya jauh lebih besar, maka menjadi lebih-lebih penting lagi untuk melakukan segala usaha guna membentuk front persatuan klas buruh sendiri yang teguh, supaya ia bisa menempati kedudukannya sebagai faktor pimpinan di dalam hubungan dengan semua Rakyat pekerja”. Dapat dikatakan bahwa pada dewasa ini di Indonesia terdapat front persatuan buruh. Pengaruh sosial demokrasi dan revisionisme kecil di kalangan kaum buruh Indonesia. Mayoritet mutlak dari kaum buruh yang terorganisasi menjadi anggota SOBSI yang progresif. Di samping itu terdapat pula front persatuan baik dalam bentuk-bentuk keorganisasian Maupun dalam bentuk aksi-aksi kongkrit antara SOBSI dengan berbagai organisasi buruh lainnya yang dipengaruhi aliran-aliran politik nasionalis dan agama-agama. Sudah barangtentu, karena reaksi akan terus berusaha untuk memecahbelah front buruh, maka kaum Komunis dan orang-orang progresif Indonesia lainnya harus terus-menerus bekerja untuk memperkuat dan mengkonsolidasi persatuan yang sudah tercapai.
Kelemahan yang kedua ialah bahwa klas buruh Indonesia masih muda usianya jika dibandingkan dengan proletariat di-negeri-negeri kapitalis yang maju. Dengan demikian pengalamannya dalam gerakan buruh adalah kurang sekali. Kelemahan ini hanya bisa diatasi jika klas buruh Indonesia rajin belajar dari pengalaman-pengalaman gerakan buruh internasional, terutama dari gerakan buruh yang sudah mencapai kemenangan, dan giat belajar teori Marxism-Leninisme. PKI sudah dan terus berusaha keras untuk mengatasi kelemahan ini. Sudah tentu tidak ada alasan samasekali untuk puas diri dan kewajiiban belajar itu adalah kewajiiban yang tiada habisnya.
Kelemahan ketiga ialah bahwa klas buruh Indonesia masih rendah tingkat kebudayaannya jika dibandingkan dengan burjuasi Indonesia. Kelemahan ini harus diatasi supaya klas buruh dapat lebih pandai memimpin semua klas dalam revolusi. Kemajuan klas buruh Indonesia dalam bidang kebudayaan dan pendidikan ini besar dan pesat. Bahkan dalam berbagai pekerjaan pemerintahan dan dewan-dewan perwakilan Rakyat, wakil-wakil proletariat menunjuk-kan keunggulannya dalam pengetahuan, penguasaan serta pemecahan macam-macam masalah politik dan ekonomi. Tapi ditinjau secara keseluruhannya, masih banyak usaha yang harus dilakukan klas buruh untuk mengejar ketinggalannya. Plan 4 tahun PKI yang dimulai pada 17 Agustus tahun ini dibidang kebudayaan akan memegang peranan penting untuk menyapai tujuan tersebut.
Kini pada pokoknya front persatuan nasional melawan imperialisme dan feodalisme sudah terwujud di Indonesia. Kader-Kader PKI telah bekerja keras di kalangan kaum tani, mempelajiari hubungan-hubungan agraria di desa dan memimpin kaum tani dalam perjuangannya melawan tuantanah. PKI sudah mempunyai program agraria yang tepat dan revolusioner yang menuntun perjuangan kaum tani itu.
Persatuan dengan burduasi nasional juga sudah tergalang. Terutama setelah PKI merumuskan politik-politik yang tepat dan mengatasi sektarisme dalam barisannya sendiri, maka burduasi nasional mulai kembali kefihak revolusi. Sebagaimana juga pengalaman di Tiongkok, ada dua prinsip yang mutlak harus dijalankan PKI dalam menggalang front persatuan dengan burduasi. Prinsip pertama ialah bersatu dan berjuang. Prinsip ini terutama terwujud antara lain dalam sikap PKI terhadap kabinet-kabinet yang dipimpin oleh kaum nasionalis dan yang antiimperialisme, yaitu bahwa PKI menyokong politik pemerintah yang maju tanpa reserve, mengkritik politiknya yang ragu-ragu supaya menjadi maju, dan menentang menteri-menteri yang politiknya merugikan Rakyat. Prinsip kedua ialah menjaga kebebasan PKI dalam rangka front persatuan nasional. Ini berarti bahwa persatuan dengan burduasi itu tidak akan menghalangi proletariat untuk mengorganisasi revolusi, mengembangkan Partai dan ormas-ormas revolusioner, dan juga bahwa proletariat berhak menyatakan pendiriannya sendiri. PKI memegang teguh prinsip kebebasan itu. Masa bekerjasama dengan burduasi di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Dalam masa ini kekuatan revolusioner bukannya makin susut, tapi justru makin berkembang. Kekuatan kontra-revolusioner sudah mengalami banyak pukulan. Bahkan antiKomunisme yang pada 5-6 tahun yang lalu didengung-dengungkan secara terang-terangan, kini secara resmi sudah dikutuk sebagai Komunisto-phobi yang antipersatuan. Peranan Presiden Sukarno adalah besar dalam usaha melawan Komunisto-phobi dan memperkuat persatuan nasional. Sudah tentu, antiKomunisme masih ada dan akan tetap ada selama imperialisme dan feodalisme belum lenyap di Indonesia. Tetapi kekuatan mereka sudah jauh merosot sebagai akibat pukulan-pukulan yang diberikan oleh kaum revolusioner.
Berdasarkan pengalaman persatuan dengan burjuasi nasional di Indonesia, PKI menyimpulkan bahwa burjuasi nasional dapat dengan mantap ditarik kefihak revolusi asalkan kekuatan progresif besar, terus berkembang, pandai memukul musuh dan politik serta taktik Partai tepat. Adapun dalam mengembangkan kekuatan progresif harus diutamakan di kalangan buruh dan tani.
Pengalaman PKI menggalang front persatuan nasional menundukkan bahwa kita harus jelas lebih dulu menganal isi klas dari front persatuan, basisnya-dan pimpinan klasnya. Sesudah itu usaha-usaha untuk menggalang front persatuan nasional ini harus dituangkan dalam politik-politik kongkrit dan diberi bentuk-bentuk khusus, yang lahir dalam kehidupan politik negeri sendiri. Misalnya, dalam perjuangan untuk pemerintah yang mencakup semua klas revolusioner, PKI mula-mula merumuskan tuntutanannya untuk pembentukan pemerintah koalisi nasional. Kemudian, sebagai hasil dari meluasnya pengertian front persatuan nasional dan perkembangan perjuangan massa, lahirlah konsepsi Presiden Sukarno bulan Februari 1957 mengenai Kabinet Gotong-royong. Dengan demikian isi dari pemerintah koalisi nasional sepenuhnya tercakup dengan tuntutan untuk Kabinet Gotong-royong. Sedangkan isi dari persatuan nasional dapat dicakup sepenuhnya dengan istilah kegotongroyongan nasional. Begitu pula lahirnya istilah NASAKOM yaitu istilah yang mencerminikan kerjasama yang luas dari aliran-aliran politik Nasionalis, Agama dan Komunis dengan platform antiimperialisme. Bagi kaum Komunis, pengertian front nasional tidak bisa lain daripada persatuan antara klas-klas revolusioner. Tetapi klas-klas itu menampakkan diri dalam kehidupan politik melalui partai-partai politik. Di Indonesia pun kepentingan berbagai klas baik yang reaksioner Maupun yang revolusioner menampakkan diri secara jelas melalui partai-partai politik. Berdasarkan tradisi perjuangan pembebasan nasional, di Indonesia terdapat tiga aliran politik besar yang melawan penjajan Belanda, yaitu aliran politik Nasionalis, aliran politik Agama, terutama Islam, dan aliran politik Komunis. Oleh sebab itu adalah wajar, bahwa persatuan nasional di Indonesia dapat dikatakan ada jika ketiga aliran politik itu bersatu dalam kerjasa sama NASAKOM. Dalam keadaan Indonesia sekarang semboyan kegotongroyongan nasional berporoskan NASA-KOM tidak mungkin mengaburkan isi-klas dari front persatuan nasional, karena persatuan itu terjadi atas dasar program antiimperialis yang jelas dan sampai batas-batas tertentu antifeodal. Masyumi dan PSI, dua partai yang pro-imperialis dan pro-feodal telah lenyap dari kehidupan politik Indonesia.
Konsep lain yang juga mencerminkan persatuan nasional dan persatuan NASAKOM ialah Pancasila (Lima prinsip) yaitu: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Peri kemanusiaan atau internasionalisme; 3) Kebangsaan atau patriotisme; 4) Kedaulatan Rakyat; 5) Keadilan sosial. PKI menyokong dan mempertahankan Pancasila, Sekalipun salah satu silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebabnya ialah karena Pancasila bukan pengganti filsafat dari yang mendukungnya tetapi Pancasila menyimpulkan aliran-aliran yang hidup dalam masyarakat. Oleh sebab itu, PKI menentang keras orang-orang yang mau menyadikan salahsatu sila dari Pancasila sebagai sila utama. Pancasila harus diterima sebagai keseluruhan dan sebagai keseluruhan ia adalah alat pemersatu. Hal ini juga ber-kali-kali ditegaskan oleh Presiden Sukarno, dan dikatakan juga oleh Presiden Sukarno bahwa jika Pancasila diperas, ia menjadi Eka Sila, yaitu Gotongroyong.
Di samping persekutuan buruh dan tani dan persatuan NASAKOM, persatuan nasional di Indonesia juga mendapat bentuk organisasi yaitu Front Nasional yang diketuai oleh Presiden Sukarno dan yang wakil-wakil ketuanya juga mencakup tokoh-tokoh NASAKOM. Front Nasional ini telah mensahkan Panca Program yang revolusioner, yang merupakan program tuntutan sebagai bimbingan aksi-aksi Front Nasional. Panca Program ini sejalan dengan Tritugas PKI dewasa ini. Tritugas PKI ialah: mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai, menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dan meneruskan perjuangan melawan neokolonialisme.
Pengalaman-Pengalaman yang saya uraikan di atas menggambarkan bahwa ide front persatuan nasional sudah berakar di kalangan massa dan PKI bekerja dengan ulet dan tekun untuk menggalangnya, dan banyak sekali bentuk-bentuknya untuk memperkuat dan mengkonsolidasinya. Dari sini jelaslah bahwa sesudah PKI memahami prinsip-prinsip front nasional, PKI berusaha menemukan bentuk-bentuknya yang efektif sesuai dengan kondisi-kondisi khas Indonesia.
PKI berpendapat bahwa front persatuan nasional adalah syarat mutlak bagi kemenangan revolusi. Kemajuan pekerjaan front persatuan nasional sangat membantu pekerjaan pembangunan Partai. Sebaliknya kemajuan pembangunan Partai sangat memudahkan pekerjaan front persatuan nasional. (tepuktangan).
Masalah kekuasaan Negara Republik Indonesia
Di atas sudah saya katakan, bahwa situasi Indonesia adalah rumit sekali. Kerumitan ini dapat diungkapkan jika cukup baik memahami hakekat kekuasaan politik di Indonesia.
Masalah terpokok dalam tiap-tiap revolusi adalah masalah kekuasaan negara. Bagi PKI dalil ini bukan merupakan kebenaran teori belaka, tetapi telah dialami kebenarannya dalam praktek melalui pengalaman-pengalaman yang pahit. Dalam masalah kekuasaan negara inilah PKI pernah membuat kesalahan serius pada waktu revolusi Agustus 1945-1948. Ketika itu telah terbentuk pemerintah yang Perdana Men-terinya scorang Komunis, yaitu Kawan Amir Syarifudin, yang juga merangkap menteri pertahanan. Di samping itu, masih ada anggota-anggota kabinet lainnya yang Komunis. Juga kaum kanan terdapat dalam kabinet itu. Dengan mem- pergunakan kesalahan politik PKI dalam melawan impe- rialis Belanda, kaum reaksioner berusaha menjatuhkan kabinet Amir Syarifudin dengan menarik menteri-menterinya. Da- lam menghadapi intrik kaum kanan ini, PKI kurang was- pada. Karena kurang mengerti hakekat kekuasaan negara, maka secara sukarela Kabinet Amir Syarifudin membubar- kan diri dan sebagai gantinya terbentuklah kabinet yang dipimpin Hatta. Kaum reaksioner mengerti benar bagai- mana menggunakan kekuasaan negara untuk kepentingan klasnya. Begitu kekuasaan terlepas dari tangan proletariat dan pindah ke tangan burjuasi komprador Hatta, maka pemerintah itu meneruskan garis berdamai dengan Belan- da dan mempersiapkan kontra-revolusi. Sebagaimana su- dah diuraikan di bagian lain, kontra-revolusi itu akhirnya dicetuskan dengan provokasi Madiun. Demikianlah, kesalahan PKI mengenai masalah kekuasaan negara telah dibayar dengan pengorbanan yang besar. Tetapi pelajaran dari kesalahan itu adalah mendalam sekali bagi PKI.
Bagaimana sekarang watak kekuasaan negara di Indonesia? Setelah penandatanganan KMB, pemerintah-pemerintah yang terbentuk pada waktu itu merupakan pemerintah-pemerintah komprador yang sepenuhnya mewakili kepentingan kaum imperialis dan feodal, Sekalipun di dalam pemerintah-pemerintah itu ada wakil-wakil politik dari burjuasi nasional, tetapi mereka menjadi tawanan kaum reaksioner dalam menyalankan politik kompromi dengan musuh revolusi, dengan imperialisme dan kakitangan-kakitangannya. Berdasarkan UUD RI Semetara yang berlaku sejak tahun 1951 Presiden Sukarno tidak mempunyai kekuasaan langsung di dalam pemerintah.
Sejak tahun 1951 PKI sudah mengajudkan tuntutan untuk pembentukan pemerintah koalisi nasional yang terdiri dari partai-partai, golongan-golongan dan orang-orang tak berpartai yang demokratis dan yang mau membataalkan KMB. Politik yang tepat untuk menarik kembali burjuasi nasional kefihak revolusi mendatangkan hasil-hasil yang pertama dengan terbentukna pemerintah Wilopo (PNI) dalam tahun 1952. Dalam kabinet Wilopo masih terdapat orang-orang kanan (Masyumi-PSI) tapi programnya agak demokratis, maka PKI menyokongnya. Sikap PKI yang positif terhadap kabinet ini menyebabkan kekuatan kepala batu mulai terpenyil dan terpukul sedangkan persatuan kekuatan tengah dan progresif makin berkembang.
Sejak kabinet Wilopo, maka pemerintah-pemerintah yang kemudian terbentuk pada pokoknya adalah lebih maju, peranan kaum kanan di dalam pemerintahan makin kurang. Hal ini nampak dengan jelas ketika terbentukna kabinet Burhanuddin Harahap, seorang tokoh Masyumi dan kemudian menjadi pemberontak kontra-revolusioner pada bulan Agustus 1955. Kabinet ini terang reaksioner dan ditentang oleh PKI. Berhubung dengan sudah teryadinya perubahan imbangan kekuatan ke kiri dan kemajuan front persatuan nasional, maka kabinet ini tidak dapat bertahan lama, umurnya tidak sampai setahun. Kabinet ini tidak mampu menggagalkan pemilihan umum, terpaksa melakukannya dan terpaksa menelan kekalahan bagi kombinasi Masyumi-PSI. Salahsatu perkembangan penting sebagai hasil dari kemajuan front persatuan nasional ialah meruncingnya pertentangan antara kaum revolusioner dengan Hatta, Masyumi dan PSI. Peruncingan ini memuncak dengan mundurnya Hatta dari kedudukan Wakil Presiden dan dengan diumumkannya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menyatakan Indonesia kembali kepada UUD 1945, yaitu Undang-Undang Dasar segera sesudah Republik Indonesia diproklamasikan. Menurut UUD 1945 ini Presiden langsung memimpin pemerintahan.
Perkembangan peristiwa berlangsung dengan ceapat sekali. Beberapa kali kaum reaksioner dalam negeri dengan mendapatkan sokongan kaum imperialis berusaha melakukan kudeta dan mencoba membunuh Presiden. Setelah usaha-usaha mereka digagalkan, mereka mencetuskan pemberontakan separatistis pada tahun 1958. Atas desakan dan dengan sokongan penuh seluruh Rakyat, pemerintah dengan tegas menindas pemberontakan tersebut.
Pada bulan November 1960 sidang MPRS mensahkan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol), yaitu pidato Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1959, sebagai garis-garis besar haluan Negara. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting bagi peryuangan revolusioner Rakyat Indonesia, karena ini berarti bahwa pengertian yang tepat tentang soal-soal pokok revolusi Indonesia diterima dan dijelmakan dalam dokumen resmi negara. Dengan demikian seluruh nasion Indonesia mendapatkan pengertian yang sama dan benar mengenai masalah-masalah penting dan pokok dari revolusi Indonesia. Garis-Garis besar haluan Negara ini menyelaskan bahwa yang menjadi sasaran-sasaran pokok (musuh-musuh pokok) revolusi Indonesia ialah imperialisme dan feodalisme; bahwa tugas-tugas revolusi Indonesia bukanlah mendirikan kekuasaan politik satu klas, satu golongan atau satu partai, tetapi kekuasaan politik seluruh Rakyat, kekuasaan gotong-royong, menentang otokrasi atau kediktatoran, baik militer Maupun perseorangan; bahwa kekuatan revolusi Indonesia bukanlah satu klas, satu golongan atau satu partai tapi seluruh Rakyat Indonesia yang antiimperialisme dan antifeodalisme dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya; bahwa watak (sifat) revolusi Indonesia adalah nasional-demokratis; dan bahwa haridepan (perspektif) revolusi Indonesia adalah Sosialisme, bukan kapitalisme. Dengan demikian Manipol sungguh-sungguh merupakan program bersama seluruh Rakyat Indonesia untuk menyelisaikan revolusi nasional-demokratis. Dengan adanya Ma-nopol, perjuangan kaum revolusioner melawan kaum kontra-revolusioner berwujud perjuangan kaum Manipolis melawan kaum antiManipol.
Pada bulan Maret 1963 ini Presiden Sukarno mengumumkan suatu dokumen penting lain, yaitu Deklarasi Ekonomi (Dekon). Tokoh-Tokoh NASAKOM mengambil bagian penting dalam menyusun Dekon ini yang meliputi tiga pokok. Pertama, Dekon menetapkan strategi dasar ekonomi Indonesia pada tahap revolusi sekarang ini, yaitu tahap revolusi nasional dan demokratis di mana yang menjadi tugas pokoknya ialah membersihkan atau mengikis habis sisa-sisa imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Kedua, Dekon menggariskan kebijaksanaan jangka pendek yang harus segera dilaksanakan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi dewasa ini. Ketiga, Dekon menetapkan syarat-syarat politik yang mutlak perlu bagi pelaksanaan Dekon itu sendiri, yaitu tercapainya kegotongroyongan nasional berporoskan NASAKOM melalui pengintegrasian antara Pemerintah dan Rakyat yang terorganisasi, baik dalam bidang administratif Maupun eksekutif. Dengan lain perkataan, pembentukan pemerintah gotongroyong berporoskan NASAKOM.
Dengan adanya Manipol dan Dekon, maka sesungguhnya konsep politik dan ekonomi yang progresif untuk menyeleisaikan revolusi Indonesia dengan resmi sudah menjadi haluan negara. Tetapi apa sebabnya dokumen-dokumen itu tidak dilaksanakan dengan konsekwenn, bahkan pelaksanaannya sering bertentangan dengan jiwa konsep-konsep itu? Untuk memahami masalah ini kita harus mengerti watak kekuasaan negara RI pada waktu sekarang.
PKI berpendapat bahwa kekuasaan Negara RI mengandung dua aspek, yaitu aspek yang pro-Rakyat dan aspek yang antiRakyat. Lahirmya aspek pro-Rakyat itu tidak dapat dipisahkan dari hasil-hasil yang dicapai oleh PKI dalam menjalankan metode mengkombinasi tiga bentuk perjuangan. Aspek pro-Rakyat inilah yang makin hari makin maju dan menyebabkan pemerintah RI mengambil berbagai tindakan yang revolusioner antiimperialis. Sedang aspek antiRakyat, yaitu aspek yang mewakili kepentingan-kepentingan imperialis, komprador, tuantanah dan kapitalis birokrat, dengan segala kekuatan berusaha menyabot semua tindakan progresif. Aspek inilah yang hingga sekarang masih berdominasi. Dalam keadaan demikian, maka perjuangan PKI mengenai kekuasaan negara ialah mendorong supaya aspek pro-Rakyat makin besar dan bisa berdominasi, se-dangkan kekuatan-kekuatan yang antiRakyat dikeluarkan dari ke-kuasaan negara. Inilah isi dari retuling yang dituntut oleh Rakyat, isi daripada tuntutan membentuk kabinet gotong-royong berporoskan NASAKOM.
Berhubung dengan dua aspek itu pula, Indonesia harus menyalankan revolusi dari atas dan dari bawah. Dari atas berarti bahwa PKI harus mendorong kekuasaan negara untuk melakukan tindakan-tindakan revolusioner guna mengadakan perubahan-perubahan dalam personalia dan aparatur Negara. Sedangkan dari bawah berarti membangkitkan, mengorganisasi dan memobilisasi Rakyat untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut. Dengan demikian PKI mengubah imbangan kekuatan antara kaum imperialis, kapitalis birokrat, komprador dan tuantanah disatu fihak dengan kekuatan Rakyat difihak lain.
Ada kawan-kawan bertanya: apakah konsep-konsep politik dan ekonomi yang maju itu bukan tipu muslihat burjuasi untuk memperdaya Rakyat pekerya? Pertanyaan demikian tidak mengherankan. Tetapi masalahnya ialah bahwa konsep-konsep progresif itu baru lahir setelah kekuatan progresif berkembang dan turut serta secara aktif menyusunnya. Dan adanya konsep-konsep resmi pemerintah itu sangat menguntungkan kaum progresif untuk mendidik, mengorganisasi dan memobilisasi massa Rakyat menuntut pelaksanaannya secara konsekwenn, dan untuk menelandangi semua percobaan menyelewengkannya. Oleh sebab itu semua konsep progresif dan tindakan maju yang dijalankan oleh pemerintah sekarang adalah pertama-tama hasil daripada perjuangan kekuatan progresif Indonesia. Penerimaan konsep-konsep klas buruh dan Partainya oleh seluruh nasion adalah juga mencerminkan kepemimpinan klas buruh dalam revolusi.
Ada kawan-kawan lain bertanya pula: apakah tuntutan PKI untuk membentuk kabinet gotongroyong berporoskan NASAKOM dengan melaksanakan retuling dibidang eksekutif itu tidak sama dengan teori “structural reform”? Tidak, samasekali tidak! PKI memang menyokong dan mendorong perubahan-perubahan struktural ketatanegaraan yang akan memperkuat kedudukan kaum progresif dalam kekuasaan negara. Umpamanya, PKI setuju dan menyokong sepenuhnya pembentukan DPA, DPRGR, MPRS, dsb, yang mencerminkan NASAKOM. Tapi ini merupakan tuntutan-tuntutan bagian atau aksi reform untuk menuju kepada tujuan strategis, yaitu pelaksanaan Manipol dan program umum PKI sepenuhnya. Di dalam anggaran dasar PKI dengan tegas dikatakan bahwa menurut PKI hanya pemerintah demokrasi Rakyat, yaitu pemerintah front persatuan nasional yang dibentuk atas dasar persekutuan kaum buruh dan kaum tani di bawah pimpinan klas buruh yang dapat mengubah Indonesia dari negeri setengah jajan dan setengah feodal menjadi negeri yang merdeka penuh, demokratis, makmur dan maju. Satu langkah penting untuk sampai kepemerintah yang demikian ialah tuntutan PKI yang dikemukakan dalam Sidang Pleno I CC Kongres ke-VII dalam bulan Februari 1963, yaitu pembentukan kabinet gotongroyong berporoskan NASAKOM yang berani mengubah sistim masyarakat dalamnegeri dengan mengorbankan kepentingan minoritet penghisap besar di kota dan di desa, yaitu kaum kapitalis birokrat, komprador dan tuantanah dan membela kepentingan Rakyat banyak. Jadi, tuntutan kabinet NASAKOM pada dewasa ini merupakan hal yang penting dalam rangka perjuangan menyapai tujuan strategis. Dalam pada itu kaum Komunis Indonesia berpendapat bahwa soal pembentukan kabinet NASAKOM adalah soal perimbangan kekuatan dan pada akhirnya soal revolusi bukan soal “structural reform”. (tepuktangan sangat riuh).
Mengubah imbangan kekuatan berarti dengan sekuat tenaga dan dengan tidak jemu-jemunya mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan memencilkan kekuatan kepalabatu. Sidang Pleno I CC Kongres ke-VII menyerukan kepada kaum Komunis untuk menyalankan garis itu dengan “lima lebih”: lebih berani, lebih pandai, lebih waspada, lebih gigih dan lebih tekun.
Sekianlah beberapa masalah sekitar kekuasaan Negara RI dewasa ini.
II. BEBERAPA PENGALAMAN DALAM PEMBANGUNAN PARTAI
1. Membangun PKI menjadi Partai Massa dan Partai Kader sekaligus
Dalam masa pendudukan fasis Jepang PKI sepenuhnya bekerja illegal. Dalam perjuangan melawan kaum fasis Jepang itu telah lahir Komunis-Komunis muda yang terdapat di kalangan massa bu. h, pemuda, pelajar, tani dan juga angkatan bersenjata yang dibangun kaum militeris Jepang dari pemuda-pemuda Indonesia. Pemuda-Pemuda Komunis ini merupakan elemen-elemen aktif dalam mempersiapkan proklamasi kemerdekaan dan dalam perjuangan melawan tentara Jepang dan Sekutu yang ingin menumpas perjuangan kemerdekaan itu. Tetapi mereka tidak mendapat pimpinan sentral yang se-baik-baiknya karena pada tahun 1942 Jepang telah melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap sejumlah besar kader pimpinan PKI. Dengan demikian PKI belum memiliki kesiapsiagaan dibidang organisasi, politik dan ideologi untuk menghadapi pencetusan Revolusi Agustus 1945.
Kelemahan dibidang organisasi, politik dan ideologi ini menimbulkan kesulitan untuk segera mencari persatuan dalam politik dan ideologi. Selama Revolusi 1945-1948 telah berdiri 3 buah Partai yang mendasarkan dirinya pada Marxisme-Leninisme. Oleh sebab itu dalam Konferensi Agustus 1948 yang mengkoreksi semua kesalahan PKI dibidang organisasi, politik dan ideologi, memutuskan untuk pertama-tama mengadakan fusi dari semua Partai yang berdasarkan Marxisme-Leninisme. Fusi itu dirancangkan akan diselesaikan dalam Kongres Partai berikutnya. Kongres itu tak dapat dilangsungkan karena didahului oleh provokasi Madiun. Tapi nama-baik PKI tidak dapat dirusak. Ketika Belanda melancarkan perang kolonialnya yang ke-II pada bulan Desember 1948, kaum Komunis yang berada dalam penjara sebagai akibat peristiwa Madiun, sebagian dilepaskan, sebagian melarikan diri. Tindakan mereka yang pertama-tama ialah mencari senjata dan berperang melawan tentara kolonial Belanda. Dengan tindakan ini mata massa terbuka terhadap kebohongan Hatta waktu provokasi Madiun se-akan-akan kaum Komunis mau menghancurkan Republik. Kaum Komunis yang organisasinya sedang rusak itu tidak dapat mencegah teryadinya kompromi KMB. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa kaum Komunis di-mana-mana berdiri digaris terdepan dalam pertempuran melawan Belanda dan langsung memimpin pasukan-pasukan gerilya. Ini mempunyai arti penting bagi perkembangan pembangunan Partai sesudah persetujuan KMB dan selanyutnya.
PKI dihadapkan kepada tugas memimpin revolusi di negeri yang terdiri dari ribuan pulau, yang berpenduduk
100 juta orang, yang sukubangsanya banyak dan yang kepadatan penduduknya sangat tidak merata. Untuk melaksanakan tugas memimpin itu PKI tidak bisa tidak harus memperhatikan kekhususan-kekhususan negeri dalam metode-metode pembangunan Partai. Pada tahun 1951 jumlah anggota dan calonanggota Partai tidak lebih dari 7910 orang, organisasinya kecil, sempit dan terutama hanya terdapat di Java dan Sumatera. Oleh karena itu, tidaklah mungkin melaksanakan tugas-tugas yang berat yang dihadapi Partai, jika Partai tidak dikembangkan besar-besaran.
Berhubung dengan itu, sangat pentinglah Konferensi Nasional PKI yang diadakan pada permulaan 1952. Di samping membahas persoalan-persoalan politik penting yang dihadapi Rakyat Indonesia ketika itu, seperti politik terhadap pemerintah Sukiman yang telah melakukan razzia terhadap kaum Komunis, politik terhadap gerombolan kontra-revolutioner DI-TII. Konferensi itu secara serius membahas perlunya merumuskan jalan-jalannya sendiri bagi revolusi Indonesia dengan berpegang pada ajaran Marxisme-Leninisme. Dalam hal ini Konferensi mencapai kesimpulan-kesimpulan penting mengenai soal metode mengkombinasni tiga bentuk perjuangan, soal menggalang front persatuan dengan burjuasi nasional, soal memperkuat ideologi Partai dan peluasan anggota serta organisasi. Khususnya mengenai organisasi Konferensi Nasional berkesimpulan akan perlunya melenyapkan sektarisme dan menyetujui rencana Politbiro untuk meluaskan keanggotaan dari 7.910 menjadi 100.000 dalam 6 bulan. Demikianlah langkah pertama pimpinan Partai untuk membangun PKI menjadi Partai massa.
Ada kawan-kawan yang meragukan apakah seharusnya Partai Komunis merupakan Partai massa. Mereka hanya menekankan bahwa PKI harus berkwalitet tinggi, yang diartikan bahwa anggota-anggota PKI harus “orang-orang hebat” yang “tidak sembarangan”, sedangkan peluasan anggota secara besar-besaran dianggap oleh mereka hanya sebagai kwantitet saja. Kawan-Kawan itu lupa bahwa kwalitet tidak terlepas dari kwantitet, bahwa Partai massa dapat sekaligus juga berarti Partai kader.
Pengertian Partai massa mengandung dua segi. Pertama, keanggotaan yang besar dan kedua, pengaruh yang luas dan mendalam di kalangan massa. Memang, supaya Partai dapat memimpin semua klas revolusioner melakukan po-litiknya, maka segi kedua adalah yang terpenting. Tetapi jelas pula bahwa hal itu tidak mungkin dicapai jika Partai tidak mempunyai kader yang cukup untuk melakukan propaganda yang luas di semua lapisan masyarakat, apalagi untuk memimpin berbagai organisasi massa di kalangan mereka itu. Pada waktu itu banyak kader harus merangkap macam-macam jenis pekerjaan, sampai timbul istilah “kader balsem” atau “kader tukang ‘borong”. (ketawa). Jadi kedua segi Partai massa itu tidak boleh dipertentangkan, tapi harus difahami sebagai satu kesatuan.
Keberatan lain yang diajudkan terhadap Partai massa ialah bahwa jumlah keanggotaan yang massal bisa mengaburkan perbedaan antara pelopor dengan massa, sehingga Partai tidak bisa berperanan sebagai Partai Lenin, Partai Tipe Baru yaitu sebagai detasemen terdepan, bentuk organisasi klas yang tertinggi dsb. Begitu pula masuknya massa anggota baru yang kebanyakan berasal dari burjuasi ketiyl bisa membawa ideologi mereka ke dalam Partai dan mencairkan atau menenggelamkan ideologi proletariat. Memang, bahaya-bahaya itu bukannya tidak ada dan kita melihat contohnya pada Partai-Partai Internasionale ke-II. Tapi jika kita sudah menyedari bahaya-bahaya itu dan mempunyai kewaspadaan yang tinggi, bahaya-bahaya bisa dihindari. Yang terpenting, ialah bahwa bersamaan dengan peluasan anggota dan organisasi, harus dilaksanakan pendidikan Marxisme-Leninisme dengan tak henti-hentinya dan konsekwenn. Dalam pada itu pendidikan teori ini dipadu dengan pendidikan dan latihan dalam perjuangan.
Ada kawan-kawan pula yang mengkhawatirkan bahwa pembangunan Partai massa memudahkan infiltrasiy cecunguk-cecunguk, sersi-sersi dan spion-spion imperialis dan kaum reaksioner lainnya ke dalam Partai. Kekhawatiran ini memang beralasan. Tapi usaha infiltrasi itu pun akan dilakukan jika Partai ketiyl. Kita harus percaya kepada massa, kepada semangat revolusionernya yang tinggi, kepada kejujuran mereka. Makin tinggi kesedaran politik massa anggota Partai, maka kewaspadaan pun akan makin tinggi.
Rencana peluasan keanggotaan yang diputuskan oleh Konferensi Nasional tersebut ternyata dapat dilaksanakan dengan hasil yang melebihi rencana, yaitu mencapai 126.671 anggota dan calonanggota ketika plan diperiksa pada akhir tahun 1952. Ini berarti bahwa dalam waktu kurang dari setahun keanggotaan meningkat menjadi 15 kali lebih. Apa sebabnya pertambahan itu demikian tepatnya? Dan pada umumnya apa syarat-syarat obyektif dan subyektif yang memungkinkan terbentuknya Partai massa di Indonesia dalam masa yang relatif singkat?
Syarat-Syarat obyektif di Indonesia yang menguntungkan bagi Partai massa ialah adanya semangat revolusioner yang mendalam pada semua lapisan Rakyat. Semangat revolusioner itu nampak pada tradisi pemberontakan Rakyat pada tahun 1926, pada Revolusi Agustus dan pada perjuangan melawan imperialis selanjutnya. Di dalam semua perjuangan revolusioner itu kaum Komunis Indonesia selamanya memainkan peranan penting dan berdiri digaris terdepan. Makaitu PKI terkenal sebagai Partai revolusioner pembela Rakyat pekerya dan musuh imperialis nomor satu. (tepuktangan).
Keadaan internasional juga menguntungkan. Pengaruh Revolusi Oktober dan perjuangan heroik Rakyat Sovyet selama perang dunia ke-II sangat besar dan membikin Rakyat Indonesia lebih berorientasi kepada Sosialisme. Pengaruh ide-ide Sosialisme lebih meluas lagi dengan berdirinya Negara-Negara Demokrasi Rakyat di Eropa Timur dan terutama dengan kemenangan gemilang Revolusi Rakyat di Tiongkok yang menghasilkan RRT. (tepuktangan).
Syarat lain yang menguntungkan ialah bahwa sebagai akibat penjajahan yang kejam maka di kalangan kaum buruh tidak terdapat golongan buruh ningrat, sehingga dalam pergerakan buruh di Indonesia tidak ada tradisi reformisme. Dengan demikian front persatuan buruh lebih mudah tergalang. Dengan adanya persatuan klas buruh yang kokoh terdapat teras yang mempersatukan semua kekuatan revolusioner lainnya dan memungkinkan klas buruh menempati kedudukan sebagai pelopor.
Demikianlah syarat-syarat obyektif bagi pembangunan kembali menjadi Partai massa.
Ditinjau dari segi syarat-syarat subyektif, yaitu dari keadaan Partai sendiri pada waktu itu, maka keadaan juga menguntungkan. Pembentukan Politbiro baru pada tahun 1951 menjamin adanya kebulatan pimpinan dalam Partai, yang merupakan syarat pertama dan syarat mutlak bagi pembangunan kembali Partai menjadi Partai Marxis-Leninis yang sejati. Syarat kedua, ialah adanya Konstitusi Partai yang Marxis-Leninis yang menjadi dasar untuk menyehatkan kehidupan organisasi Partai. Syarat ketiga, ialah Pro-gram Partai yang tepat yang dalam politik-politik kongkrit merumuskan tugas-tugas urgen yang harus segera diselesaikan oleh Rakyat Indonesia. Misalnya politik menggulingkan pemerintah Sukiman yang ultra-reaksioner, politik membasmi gerombolan teror DI-III, semboyan membatalkan KMB, dll. Politik yang tepat itu dapat menarik makin banyak massa di sekitar Partai. Syarat keempat, ialah perjuangan dalam Partai melawan sektarisme, kapitulasi-isme dan avonturisme. Dengan demikian Partai dapat menghim pun front persatuan nasional yang se-luas-luasnya dan menarik anasir-anasir termaju dari berbagai golongan Rakyat ke dalam PKI.
Pada Kongres Nasional ke-VI PKI (tahun 1959) disimpulkan bahwa pada pokoknya telah dilaksanakan tugas pembangunan Partai sebagaimana dikemukakan oleh Kongres Nasional ke-V. Dalam pada itu Kongres ke-VI menugaskan untuk mengkonsolidasi hasil-hasil yang sudah di-capai dengan “melanjutkan pembangunan Partai diseluru h negeri yang bersatu erat-erat dengan massa, yang terkonsolidasi dalam lapangan ideologi, politik dan organisasi”.
2. Arti Pendidikan Marxisme-Leninisme Bagi Pembangunan Partai
Di dalam Sidang Pleno ke-IV CC Kongres ke-V bulan Juli 1956 ditekankan bahwa “Persatuan di dalam Partai hanya mungkin jika didasarkan atas persatuan fikiran, persatuan ideologi, yaitu fikiran atau ideologi Marxisme-Leninisme. Hanya jika ada persatuan fikiran dari orang-orang Komunis, barulah ada persatuan yang sungguh-sungguh di dalam politik dan organisasi Partai Komunis, barulah ada persatuan di dalam aksi-aksi Rakyat yang dipimpin oleh Partai Komunis”. Kebenaran sederhana ini lebih-lebih berlaku bagi PKI ketika mulai usahanya untuk membangun Partai masa sa. Persatuan fikiran Marxisme-Leninisme itu hanya dapat diperoleh lewat pendidikan Marxisme-Leninisme di seluruh Partai.
Kongres Nasional ke-V Partai telah secara definitif membersihkan Partai dari penyelewengan oportunis “kiri” dan kanan. Tapi di kalangan anggota-anggota Partai masih terdapat ketidakdiyelaskan mengenai soal-soal Revolusi Indonesia, dan apalagi mengenai jalannya Revolusi Indonesia. Keadaan lebih dirumitkan karena peluasan keanggotaan
Partai sangat pesat sehingga yumlah anggota baru jauh lebih banyak daripada anggota lama. Pada saat Kongres Nasional ke-V (1954) yumlah calonanggota Partai kira 2 70% dari seluruh keanggotaan. Massa anggota ini berasal dari ber-macam 2 klas, lingkungan keluarganya juga ber-macam 2 dan tingkat kebudayaannya serta pengalaman revolusionernya sangat ber-beda 2. Tidaklah mengherankan bahwa mereka dapat membawa ke dalam Partai bermacam-macam ideologi non-proletar dan bisa timbul berbagai 2 macam subyektivisme. Oleh sebab itu masalah pendidikan Marxisme-Leninisme merupakan masalah yang sangat urgen dan menentukan bagi suksesnya pembangunan Partai selanyutnya. Sejak PKI pada tahun 1952 melakukan beberapa kali gerakan peluasan anggota secara besar 2an, memang tak pernah hal ini dilakukan tanpa di-sertai pendidikan, khususnya untuk mempelaji Program dan Konstitusi PKI bagi anggota 2 baru sedang anggota 2 lama diwajiibkan untuk mempelaji dokumen 2 Partai serta buku 2 teori Marxisme-Leninisme. Umpamanya gerakan di kalangan pimpinan PKI untuk mempelaji tulisan Lenin Komunisme Sayap “Kiri”, Suatu Penyakiit Kanak 2 pada tahun 1951 dan 1952 mempunyai peranan menentukan untuk membawa Partai keluar dari penyakit sektarisme. Gerakan mempelaji tulisan 2 Kawan Mao Ce-tung Tentang Praktek, Tentang Kontradiksi dan Mengurus Secara Tepat Kontradiksi 2 Di kalangan Rakyat mempunyai arti penting sekali bagi PKI untuk belajar menyimpulkan pengalaman 2nya dan menyelesaikan kontradiksi 2 di dalam Partai. Gerakan mempelaji tulisan Kawan Liu Sao-ci tentang Garis Massa sangat membantu kader 2 PKI untuk membangun Partai yang berakar pada massa, dan masih banyak sekali contoh 2 lainnya.
Sejak tanggal 17 Agustus 1963, PKI mulai melaksana-kan plan ke-III, yaitu plan kebudayaan, ideologi dan organisasi yang jangka waktunya 4 tahun. Plan 4 tahun ini adalah kelanjutan daripada 2 kali Plan Tiga Tahun sebelumnya, dan plan ini sangat mementingkan pekerjaan kebudayaan serta mengintensifkan pekerjaan ideologi dan organisasi. Dengan pelaksanaan plan 4 tahun yang baru ini PKI akan lebih mampu dan lebih mahir menghadapi tugas dan pekerjaan apa pun.
Dari pengalaman pembangunan Partai dapat disimpul-kan bahwa kaum Komunis Indonesia memiliki 3 ciri. pertama, bahwa kaum Komunis Indonesia dijiwai oleh perpaduan patriotisme dan internasionalisme proletar; kedua, bahwa dalam pembangunan Partai pendirian kita adalah, bahwa pembangunan organisasi penting, tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi; dan ketiga, bahwa kaum Komunis Indonesia harus teguh memegang prinsip Marxisme-Leninisme dan luwes dalam membawa-kannya. Ketiga ciri ini disedari dan menjadi milik kaum Komunis Indonesia khususnya dari pengalaman-pengalaman praktek sendiri membangun Partai.
Usaha-Usaha kaum Komunis Indonesia membangun dan memperkuat Partainya tidaklah dapat dipisahkan dari perkembangan Gerakan Komunis Internasional (GKI). Keadaan GKI sangat besar pengaruhnya pada pembangunan PKI. Disatu fihak, adanya perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dan hakiki dalam GKI adalah tidak baik. Keadaan akan lebih baik bagi GKI dan bagi PKI sendiri jika perbedaan-perbedaan pendapat dan polemik-polemik terbuka tidak ada. Tapi, dalam tahun-tahun belakangan ini tidak seorang pun Komunis yang dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa perbedaan pendapat yang serius dan hakiki ada di dalam GKI, dan tidak seorang pun Komunis bisa bersikap netral terhadap perbedaan-perbedaan pendapat ini.
Berkat ketepatan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI pembangunan PKI tidak dirugikan. Ini dibuktikan oleh kenyataan makin meluas dan makin ter-konsolidasinya PKI, makin meningkatnya taraf teori dan makin kuatnya semangat Marxisme-Leninisme dari anggota-anggota PKI. Adanya perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI mem-bikin kaum Komunis Indonesia lebih menyedari akan benarnya sikap bebas (independent), sikap tepat satu-satunya yang telah diambil selama ini, sikap setia pada Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, sikap setia pada Deklarasi 1957 dan Pernyataan 1960, sikap tidak kenal am pun terhadap subyektivisme, sikap tidak kenal am pun terhadap revisionisme klasik Maupun modern serta terhadap dog-matisme klasik Maupun modern. Adanya perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI dan adanya polemik-polemik terbuka telah men-dorong kaum Komunis Indonesia untuk lebih banyak belajar Marxisme-Leninisme dan untuk lebih kreatif dalam mentrapkannya. Aneh kedengarannya, tetapi adalah satu kenyataan bahwa berkat tepatnya dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dan hakiki dalam GKI, ba-risan Kaum Komunis Indonesia makin dibajakan, makin tumbuh sebagai Partai yang bebas (independent) dan dengan demikian makin dewasa. (tepuktangan sangat riuh).
3. Dari Gerakan Komunis Yang Besar Menjadi Organisasi Komunis Yang Besar
Salahsatu pengalaman besar dalam pembangunan PKI ialah pengalaman bekerja dengan Plan. Sejak tahun 1951, bekerja dengan Plan mulai menjadi cara kerja yang lazim dalam Partai. Pada permulaannya Plan-Plan itu beryangka pendek, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan. Mataplan-nya pun tidak banyak. Dengan bertambahnya pengalaman-pengalaman, maka makin banyak bidang-bidang aktivitet Partai dijadikan mataplan, sedangkan jangka waktu Plan diperpanjang. Sejak tahun 1956, sebagaimana sudah saya sebutkan di atas, PKI mulai dengan plan 3 tahun pertama mengenai organisasi dan pendidikan yang disusul dengan plan 3 tahun kedua mengenai pendidikan dan organisasi, dan sekarang Partai befada dalam gerakan awalan dari plan 4 tahun mengenai kebudayaan, ideologi dan organisasi.
Sebagai hasil peluasan anggota secara besar-besaran, maka pada Kongres Nasional ke-V (1954) PKI keanggotaan Partai telah bertambah hampir 20 kali lipat dibanding dengan tahun 1951. Imbangan jumlah calonanggota dengan anggota pada waktu Kongres itu adalah 3: 1. Pertumbuhan yang demikian cepatnya sudah tentu membawa beberapa kelemahan a.l. banyak sekali calonanggota Partai baru belum dapat terorganisasi sebagaimana mestinya, banyak organisasi-organisasi baru yang terbentuk yang tidak mempunyai pengalaman-pengalaman seperti Resort-Resort, Subseksi-Subseksi, Fraksi-Fraksi dll. Walaupun anggota-anggota baru itu sudah mendapat pendidikan permulaan dengan mempelajari Program dan Konstitusi PKI, tapi pendidikan teori Marxisme-Leninisme yang sistimatis belum diberikan. Oleh sebab itu pada permulaan tahun 1955 dapat dikatakan bahwa di Indonesia sudah terdapat gerakan Komunis yang besar dan gerakan ini masih harus dijadikan organisasi Komunis yang besar. Tugas ini sudah dapat dilaksanakan dengan selesainya Plan 3 Tahun pertama Partai. Dengan Plan ini organisasi-organisasi basis Partai sudah dapat diaktifkan, para kader sudah mendapat pendidikan teori lewat sekolah-sekolah atau kursus-kursus Partai. Pendidikan dalam peryuangan melawan kontra-revolusi me-megang peranan penting bagi pengkonsolidasian organisasi-organisasi Partai. Perlawanan terhadap gerombolan teror DITIII, melawan pemberontakan separatis “PRRI-Permesta” sangat mempertinggi militansi organisasi dan kader-kader Partai. Justru di-daerah-daerah itu pembangunan Partai mencapai kemajuan pesat. (tepuktangan).
4. Hubungan Pembangunan Partai dengan Garis Politik Partai
Adalah hal yang pasti bahwa kemajuan-kemajuan besar dalam pembangunan Partai yang kita capai tidak dapat dipisahkan dari garis politik Partai yang tepat. Bahkan dapat dikatakan bahwa kebenaran politik Partai merupakan faktor yang menentukan bagi suksesnya pembangunan Partai. Politik-Politik yang tepat yang mencerminkan kepentingan berbagai klas revolusioner dalam perjuangan melawan imperialisme dan feodalisme membikin makin banyak Rakyat dari berbagai lapisan berkumpul di sekitar Partai Komunis Indonesia dan memasuki barisan kita.
Masalah penting dalam mengkongkritkan politik-politik itu ialah masalah semboyan. Umpamanya, semboyan strategis dari Sidang Pleno CC ke-IV PKI bulan Juli 1956 Bersatu untuk menyeleesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai keakar-akarnya telah memainkan peranan yang besar sekali dalam meluaskan pengertian yang tepat tentang soal-soal pokok Revolusi Indonesia sebagai revolusi burjuis demokratis tipe baru. Dalam pada itu, semboyan taktis dari Sidang Pleno ke-V CC PKI tahun 1957 yang berbunyi Ubah imbangan kekuatan untuk melaksanakan Konsepsi Presiden Sukarno 100% telah memegang peranan besar untuk menyatukan kekuatan-kekuatan revolusioner untuk menuntut Pemerintah Koalisi Nasional atau Kabinet Gotong Royong yang berporoskan NASAKOM.
Kemajuan Partai dalam menggalang persatuan nasional juga penting bagi kemajuan pembangunan Partai. Makin luas dan makin kuat front nasional yang tergalang, maka makin banyak Rakyat dapat mengenal PKI dan berhim pun di sekitar PKI.
Dalam hal menjaga keselamatan Partai pekerjaan metode mengkombinasii tiga bentuk perjuangan bersifat menentukan. Ini pun akan menjamin kemajuan Partai yang tetap.
Sebaliknya, kemajuan pembangunan Partai menyedikan syarat lebih baik bagi pelaksanaan politik Partai. Sebab apabila Partai lemah dan sedikit anggotanya maka politiknya Sekalipun tepat tidak akan bisa dilaksanakan.
Begitu pula makin kuat Partai, makin mampu ia menggalang front persatuan nasional. Sebagai Partai yang kecil tidak akan digubris oleh klas lain. Untuk menyusun persekutuan buruh dan tani yang kuat sebagai dasar dari front persatuan nasional, PKI harus berakar betul di kalangan kaum tani, dan untuk ini diperlukan banyak kader. Kawan dan sahabat yang tercinta!
Demikianlah sekelumit tentang beberapa soal Revolusi Indonesia dan Partai Komunis Indonesia.
Apa maksud saya mengemukakan soal ini. Tidak lain ialah untuk lebih mempererat persahabatan akrab yang sudah ada antara Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok, antara PKI dan PKT. (tepuktangan sangat riuh). Untuk ini diperlukan saling mengenal yang lebih baik, tidak hanya saling mengenal masing secara dangkal atau hanya saling mengenal kulit masing, tetapi saling mengenal masing secara mendalam, saling mengenal isi masing. Ini berarti antara lain dan terutama kita harus saling mengenal masyarakat masing, saling mengenal Revolusi masing dan saling mengenal Partai Komunis masing. Saya berpendapat bahwa sudah waktunya dan diperlukan sekali pengetahuan yang demikian itu. Kedua Rakyat kita dan kedua Partai Komunis kita harus bekerja keras untuk maksud ini. (tepuktangan sangat riuh).
Sebagai penutup uraian ini saya serukan: Persahabatan abadi antara dua Rakyat yang jaya dan gagahberani, Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok, Hidup! (tepuktangan sangat riuh). Persahabatan abadi dan solidaritet internasional Marxis-Leninis antara PKI dan PKT, Hidup! (tepuktangan sangat riuh). Gerakan Komunis Internasional di bawah panji Marxisme-Leninisme dan Internasionalisme proletar yang jaya dan tak terkalahkan, Hidup! Sekian dan terimakasih. (ovasi).
Peking, 4 September 1963
REVOLUSI INDONESIA BAGIAN TAK-TERPISAHKAN DARI REVOLUSI SOSIALIS DUNIA
Oleh Comite PKT Provinsi Kwangtung saya diminta untuk memberi ceramah di hadapan para siswa Sekolah Partai ini. Saya mengucapkan banyak terimakasih atas ke-percayaan dan kehormatan yang kawan-kawan berikan ini. Saya merasa bahwa adanya permintaan-permintaan ceramah, baik di Peking Maupun di Kanton ini, merupakan tanda bahwa masing3 kita ber-sungguh-sungguh untuk saling mengenal yang lebih dalam sebagai syarat untuk lebih mempererat tali persahabatan yang sudah ada antara Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok, antara PKI dan PKT. (tepuktangan riuhi).
Sebelum saya meneruskan ceramah ini, sambutlah ter-lebih dahulu salam saya yang se-hangat-hangatnya atas nama lebih dari dua setengah juta Komunis Indonesia serta Rakyat pekerja Indonesia kepada pimpinan, para guru dan para siswa Sekolah Partai Provinsi Kwangtung. Saya mengucap-kan selamat kepada kawan-kawan siswa yang sudah belajar baik serta mengharap sukses-sukses lebih lanjut bagi pimpinan sekolah, para guru dan para siswa. (tepuktangan riuhi).
Sebagaimana barangkali sudah kawan-kawan ketahui, kun-jungan saya keluarnegeri kali ini adalah atas undangan CC PKUS dan CC PKT. Selain berkunjung ke Uni Sovyet dan RRT, saya dan sebagian dari anggota delegasi yang saya pimpin juga telah berkunjung ke Kuba dan Republik Demokrasi Jerman, dan seluruh delegasi juga sudah berkunjung ke Republik Rakyat Demokratis Ko-rea. Sampai hari ini delegasi PKI yang saya pimpin sudah kira-kira dua bulan diluarnegeri dan beberapa hari lagi akan meninggalkan Kanton kembali ke Indonesia. (tepuktangan riuhi).
Pernah seorang kawan diluarnegeri dengan maksud yang baik, bertanya kepada saya: Kawan Aidit dan pemimpin-pemimpin PKI lainnya sering terdengar berada diluarnegeri, baik di negeri sosialis atau di negeri kapitalis, apakah ini tidak berpengaruh buruk pada perjuangan PKI di dalam negeri? Saya jawab: Tidak. Selama keadaan dalam negeri Indonesia mengizinkan, ada baiknya pemimpin-pemimpin PKI dua atau tiga tahun sekali pergi keluarnegeri. Ada baiknya, saya katakan, karena dengan demikian kami dapat bertemu dan bertukar fikiran dengan pemimpin-pemimpin dan kader-kader Partai-Partai sekawan serta melihat sendiri apa yang dikerjakan oleh Partai-Partai sekawan di negerinya masing-masing, baik di-negeri-negeri sosisalis Maupun di-negeri-negeri kapitalis. Bagi saya pribadi ini berarti memasuki semacam Sekolah Partai, karena dari bertukar fikiran dengan pemimpin-pemimpin Partai-Partai sekawan dan melihat sendiri apa yang dikerjakan Partai-Partai sekawan, saya belajar, saya menjadi mengerti lebih-baik mengenai banyak persoalan, melihat lebih jelas segi-segi negatif dan positif dari pekerjaan kami sendiri di Indonesia, dan juga melihat segi-segi negatif dan positif dari pekerjaan Partai-Partai sekawan. Banyakanya bahan pertimbangan yang didapat dari mendengar dan dari melihat sendiri membikin kita lebih obyektif dalam pandangan, dalam menilai dan menetapkan sesuatu. Pandangan subyektif dalam menilai dan menetapkan hasil-hasil pekerjaan Partai-Partai sekawan adalah sangat berbahaya, bisa membulukan salah faham yang serius dan kesalahan besar dalam membikin analisa dan meaetap-kan politik. (tepuktangan riuh).
Misalnya mengenai Tiongkok sekarang. Saya mendengar banyak cerita tentang Tiongkok sekarang, ada yang menggambarkan se-olah-olah kesulitan-kesulitan yang dihadapi RRT dalam tahun 1959-1960-1961 masih belum teratasi dan malahan makin men-jadi-jadi, sehingga yang tinggal di Tiongkok ha- nya kemelaratan saja. Sudah tentu sebelum saya berkunjung ke Tiongkok kali ini, yaitu kali kelima, saya sudah tidak percaya pada omongan-omongan ini, karena saya mengikuti dengan agak baik perkembangan di RRT dan saya tahu dayajuang dan dayakreasi Partai Komunis dan Rakyat Tiongkok. (tepuktangan riuh).
Saya ke Tiongkok kali ini bukan untuk memeriksa apakah omongkosong itu benar atau tidak. Yang perlu bagi saya ialah bagaimana cara-cara PKT dan Rakyat Tiongkok mengatasi kesulitan-kesulitan besar itu. Untuk ini saya sudah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin PKT dan Pemerintah RRT, dengan kaum buruh, petani, pekerja ilmu dan kebudayaan, dan dengan orang-orang Indonesia yang berada di RRT, jadi orang-orang Indonesia yang saban hari ikut merasakan denyut nadi kehidupan Rakyat Tiongkok. (tepuk-tangan).
Kaum Komunis Indonesia mengetahui benar, bahwa Tiongkok selama tiga tahun ber-turut-turut mengalami kesulitan-kesulitan ekonomi berhubung dengan bencana-bencana alam yang di-alaminya. Dalam tahun 1959 sepertiga dari tanah garapan diserang bencana alam, dalam tahun 1960 lebih dari setengah dan dengan demikian mempengaruhi keadaan ekonomi RRT. Kami mudah memahami hal ini, karena Indonesia juga sering diserang bencana-bencana banjir atau kemarau, yang ketiy sekali jika dibanding dengan apa yang dialami Tiongkok, tetapi akibatnya sangat terasa pada perekonomian Indonesia.
Hanyalah kaum imperialis dan kaum reaksioner serta kaum revisionis yang gembira dengan kesulitan-kesulitan ekonomi RRT itu dan malahan bukan gembira saja, tetapi mengadakan kampanye fitnahan terhadap Tiongkok. (tepuk-tangan riuh).
Sahabat-Sahabat Tiongkok, seperti Rakyat Indonesia merasa prihatin dengan kesulitan Rakyat Tiongkok ketika itu, te-tapi kami pun yakin, bahwa kesulitan-kesulitan ini pasti akan dapat diatasi. (tepuktangan riuh).
Mengapa? Saya mendasarkan diri pada hasil-hasil yang telah dicapai oleh Rakyat Tiongkok sebelum itu, hasil-hasil yang di-capai dengan garis tepat yang diberikan oleh Partai Komunis Tiongkok, yaitu Garis Umum, Maju Melompat Besar dan Komune Rakyat. (tepuktangan dengan riuh).
Hasil-Hasil besar yang dicapai dalam tahun-tahun 1958-1960, yaitu tiga tahun dari perkembangan secara besar-besaran dengan Maju Melompat Besar, merupakan kekuatan materiil yang besar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang diakibatkan oleh bencana alam itu.
Antara tahun 1958-1960 dalam pertanian sudah dibangun ratusan waduk-waduk besar, ribuan dan puluhan ribu waduk-waduk ukuran sedang dan ketiyil. Pertanian telah mendapat 50.000 traktor dan alat-alat untuk irigasi dan pengairan dengan kapasitet lebih dari 4 juta tenaga kuda. Komune-Komune Rakyat terus diperkuat, yaitu bentuk organisasi sosial yang kuat, dan Komune Rakyat telah sepenuhnya mendemonstrasikan keunggulannya dalam mengorganisasi kaum tani dan melawan bencana-bencana alam itu. (tepuktangan riuh).
Di lapangan industri selama waktu yang sama, yaitu antara 1958-1960, kapasitet produktif industri dasar RRT telah berlipatganda, dalam pertambangan batubara, tenaga listrik, minyak, besi dan baja, kimia, bahan-bahan bangunan dan pembuatan mesin telah meningkat lebih dari dua kali. RRT juga telah berhasil meningkatkan kapasitet untuk menyediakan sendiri mesin-mesin dan alat-alat yang diperlukannya dan mencapai kemajuan3 dalam bidang ilmu dan penyelidikan. Justru dengan inilah RRT telah berhasil dalam dua tahun terakhir ini untuk memperkuat bagian-bagian yang perlu di-perkuat, meningkatkan kwalitet produksi dan dengan demikian melangkah lebih maju lagi dalam pembangunan sosialis berdasarkan berdiri di atas dua kaki sendiri. (tepuk-tangan riuh).
Tetapi di atas se-gala-galanya yang terpenting ialah persatuan Rakyat di seluruh negeri di bawah pimpinan PKT dengan Comite Centralnya yang dikepalai oleh Kawan Mao Cetung. Persatuan ini merupakan jaminan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan membangun Sosialisme. Partai Komunis Indonesia dan orang-orang progresif Indonesia gembira dengan hasil-hasil yang dicapai oleh Rakyat Tiongkok, karena Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok adalah kawan seperjuangan dalam melawan imperialisme dan memelihara perdamaian di Asia dan di dunia. (tepuktangan riuh sekali).
Rakyat Tiongkok menyokong sepenuhnya Tripanji Partai, yaitu Garis Umum untuk membangun Sosialisme, Maju Melompat Besar dan Komune Rakyat. (tepuktangan riuh).
Bagian-Bagian perdagangan RRT telah memenuhi dengan suk- ses plan pembangunan mereka baik untuk pertanian mau-pun untuk industri. Nilai dari barang-barang pertanian dan ba-rang-rang sampungan dalam bagian pertama tahun 1963 adal- lah 20% lebih tinggi dari tahun yang lalu dalam waktu yang sama. Dibidang industri, Syanghai, kota terpenting RRT dibidang industri, dicapai kelebihan nilai kasar 16,9% dalam enam bulan pertama tahun 1963, jika di-banding dengan tahun sebelumnya. Antara bulan Januari sampai Juni 1963 penduduk kota-kota Peking, Syanghai, Tiensin, Shenyang, Wuhan, Kanton, Sian, dan Cungking membeli dua kali lebih banyak daging dan telor dari tahun 1962 pada bulan-bulan yang sama.
Persediaan barang di pasar cukup, bahan makanan sekunder lebih dari cukup, kesehatan Rakyat baik, peredaran uang stabil dan harga barang terus menurun. (tepukta-ngan riuh).
Fakta-Fakta ini menunjukkan bahwa pada keseluruhan nyia keadaan ekonomi Tiongkok mengalami perbaikan-perbaikan Sungguhpun dua tiga tahun sebelumnya mengalami kesulitan-kesulitan. Berhubung dengan kemajuan-kemajuan ini kaum Komunis dan Rakyat pekerya Indonesia merasa gembira, karena bertambah kuatnya ekonomi Tiongkok, bertambah kuat pula kubu sosialis dan Gerakan Komunis Internasional dan ini sangat membantu gerakan-gerakan pembebasan nasional di Asia, Afrika dan Amerika Latin. (tepuktangan sangat riuh sekali).
Sebaliknya kaum imperialis, kaum reaksioner dan kaum revisionis sama sekali tidak gembira. Baru setahun yang lalu mereka menyangka bahwa RRT tidak akan bisa bangun dari kesulitan-kesulitan ekonomi yang dialaminya. Mereka salah hitung, mereka mengejek tentang pendirian RRT untuk bebas berdiri di atas kaki sendiri. Sekarang dengan politik yang dijalankan RRT itu ternyata bahwa RRT tetap berdaulat dalam politik dan bebas dalam ekonomi. Kaum Komunis dan Rakyat progresif Indonesia menyambut dengan hangat segala sukses yang sudah dan akan dicapai oleh RRT, dan yakin bahwa RRT akan mencapai lompatan-lompatan maju yang lebih besar lagi, akan mencapai ke-limpahan dalam produksi Komune Rakyat dan membangun Sosialisme dengan sukses. (tepuktangan riuh sekali).
Pada kesempatan ini saya kira ada baikna jika saya juga memperkenalkan beberapa aspek dari Revolusi Indonesia dan tugas-tugas mendesak dari PKI. Maksud saya tidak lain ialah, bahwa dengan ini perkenalan kawan-kawan menganai Revolusi Indonesia menjadi sedikit bertambah, dan dengan demikian kita memberi dasar yang lebih kuat pada persahabatan antara kedua Rakyat dan kedua Partai Marxis-Leninis kita. (tepuktangan riuh).
SEJARAH SINGKAT PERJIUANGAN RAKYAT INDONESIA DALAM ABAD KE-XX
Sejarah perjiuangan Rakyat Indonesia tidak terpisahkan dari sejarah perjiuangan klas buruh Indonesia, terutama sejak awal abad ke-20.
Pada akhiir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 sebagai akibat meluasnya ekspor kapital dari imperialisme
Belanda, tumbuhlah perusahaan-perusahaan imperialis di Indonesia, seperti pabrik gula, penggilingan dan pengolahan karet, pelabuhan-pelabuhan, lin-lin kereta api, bengkel-bengkel dll. Perusahaan-Perusahaan imperialis itu melahirkan klas buruh, klas yang kemudian memelopori perjuangan untuk kemerdekaan nasional melawan imperialisme.
Kapitalisme masuk ke-desa-desa dan merusak hubungan-hubungan ekonomi feodal. Sistim ekonomi tidak lagi merupakan ekonomi alamiah, melainkau ekonomi barangdagangan yang ber-angsur-angsur menjadi berkuaasa. Sistim feodal sudah tidak penuh lagi, Indonesia menjadi negeri jajahan yang setengah feodal.
Dengan tumbuhnya unsur-unsur kapitalis dalam masyarakat, secara ber-angsur-angsur tumbuhlah klas burjuis bumiputera. Bersarzaan dengan itu mulai lahirlah sejak awal abad ke-20 nasion Indonesia dan gerakan nasional Indonesia,
Sejak masa itu perjuangan Rakyat Indonesia mela- wan kolonialisme Belanda berlangsung dengan bentuk-bentuk organisasi perjuangan yang modern, seperti SS Bond, SB Kereta Api milik pemerintah (1905); VSTP, SB Kereta Api yang massal dan revolusioner (1908); BO (Boedi Oetomo), organisasi intelektuil burjuis yang pertama (1908); SI (Serikat Islam), organisasi burjuis dagang ber- dasarkan Islam yang massal (1912); IP (Indiskhe Partij), organisasi politik burjuis yang pertama (1912); ISDV (Indiskhe Sociaal Democratiskhe Vereniging) atau PSDH (Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia), organisasi po- litik proletariat yang pertama (1914), yaitu organisasi kaum Marxis yang pertama yang bertujuan menyebarkan cita-cita Sosialisme di kalangan Rakyat Indonesia.
PSDH tidak hanya bekerja di kalangan kaum buruh, tapi juga bekerja di kalangan kaum nasionalis, seperti IP (Indiskhe Partij) dan SI (Sarekat Islam). Dengan ber- dirinya PSDH telah dilakukan usaha-usaha permulaan untuk memadukan Marxisme dengan gerakan revolusioner Indo- nesia.
Serikatburuh-Serikatburuh dan organisasi-organisasi Rakyat lainnya tumbuh dengan cepat, seperti di kalangan buruh pegadaian, pekerjaan umum, guru dan lain-lain. Kebangkitan serikatburuh-serikatburuh di Indonesia dipelopori oleh kaum buruh atau pegawai pada jawatan-jawatan negeri. Serikatburuh-Serikatburuh di Indonesia tidak lahir karena penindasan kapitalisme saja, tetapi juga sebagai akibat penindasan nasional, yaitu penindasan imperialis. Dengan mendirikan Ikatan Jurnalis Hindia (Indiskhe Yournalisten Bond) tahun 1919, berkembanglah kegiatan pers revolusioner. Dalam kegiatan pers revolusioner ini dan dalam kegiatan lain golongan Tionghoa juga mengambil peranan penting.
Lenin dalam tulisannya yang beryudul Kebangkitan Asia (tahun 1913) mengatakan bahwa gerakan revolusioner di Indonesia dilakukan: pertama: oleh massa Rakyat, di mana diantaranya telah bangun gerakan nasionalis Islam, kedua: oleh kaum intelektuil yang dilahirkan oleh perkembangan kapitalisme dan ketiga: oleh orang-orang Tionghoa yang lumanyan jumlahnya yang membawa gerakan revolusioner dari Tiongkok.
Perlawanan kaum tani meningkat sampai berbentuk pemberontakan-pemberontakan, seperti antara lain Perang Kelambit di Jambi (1917), pemberontakan kaum tani di Cimareneh (1917), pemberontakan Sarekat Abang di Palembang (1918). Juga di Tapanuli (1918), di Kalimantan (1918) dan di Ternate (1919) tumbuh perlawanann dari kaum tani.
Kemenangan Revolusi Oktober di Russia tahun 1917 menjiwai lebih lanjut gerakan revolusioner di Indonesia. Karena kegiatan PSDH Rakyat pekerya Indonesia dengan segera mengenal W. I. Lenin sebagai empu revolusi proletar. (tepuktangan riuh).
Perjuangan klas yang makian tajam telah menyebabkan adanya perpecahan dalam PSDH antara kaum revolusioner dan kaum reformis. Kaum reformis yang merupakan minoritet akhirnya menelandangi diri dengan keluar dari PSDH, membikin organisasi tersendiri dan menggabungkan diri pada barisan kaum sosial-demokrat di Nederland yang menjadi cabang dari Internasionale II yang reformis.
Pada tanggal 23 Mei 1920, dalam Kongres ke-7 PSDH, telah diputuskan, setelah melalui perdebatan sengit dan lama, untuk mengubah nama PSDH menjadi PKI, singkatan dari Perserikatan Komunis di India atau Partij der Communisten in Indie, yang dalam Kongres PKI tahun 1924 menjadi Partai Komunis Indonesia.
Jadi, PKI lahir sebagai hasil perjuangan intern yang sengit antara pembela panji-panji revolusioner dengan kaum reformis, antara kaum Marxis pembela panji Komintern dan kaum revisionis. (tepuktangan riuh sekali).
Dengan lahirnya PKI sebagai sintese dari ajaran Marxisme dengan gerakan klas buruh Indonesia, maka gerakan pembebasan nasional Indonesia telah menemukan intinya. (tepuktangan). Peryuangan Rakyat Indonesia untuk kemerdekaan nasional semakin menghebat. Perkembangan PKI sejak masa itu sampai sekarang pada pokokaya dapat dibagi dalam empat periode:
Periode pertama ialah periode pembentukan Partai dan peryuangan melawan teror putih pertama (1920-1926).
Periode kedua ialah periode peryuangan di bawah tanah dan front antifasis (1926-1945).
Periode ketiga ialah periode Revolusi Agustus 1945 dan peryuangan melawan teror putih kedua (1945-1951).
Periode keempat ialah periode front nasional dan pembangunan Partai (1951—sampai sekarang).
Pada kesempatan ini saya hendak membatasi uraian saya pada peryuangan Rakyat Indonesia selama periode pertama dan periode ketiga dari perkembangan PKI, yaitu periode-periode di mana peryuangan Rakyat Indonesia mencapai puncak-puncak yang tinggi.
Selama periode pertama PKI telah mengambil bagian penting dalam mengibarkan semangat perlawanan dari Rakyat Indonesia, menanam kesedaran klas pada klas buruh dan Rakyat pekerja pada umumnya dan akhirnya memimpin pemberontakan nasional yang pertama di Indonesia, yaitu Pemberontakan November 1926. Nama PKI telah menjadi harum berkat kegiatan dan keikhlasan berkorban anggota-anggotanya dalam peryuangan melawan kolonialisme Belanda, Meskipun pemberontakan pada akhirnya menemui kegagalan.
Dengan kegagalan pemberontakan 1926 ini ternyatalah, bahwa hanya dengan simpati massa yang besar pada PKI dan perkembangan Partai yang cepat, dan ditambah lagi martabat Partai dan semangat berduyang para kader-kadernya cukup tinggi, tidak cukup bagi PKI untuk melaksanakan tugas-tugasnya. PKI pada waktu itu tidak mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan yang mungkin dipersatukan sehingga tidak dapat membentuk front nasional untuk samasekali mengisolasi kekuatan kolonialisme Belanda, bahkan mengaju kan semboyan-semboyan kiri seperti “Sosialisme sekarang juga”,
“Sovyet Indonesia”, “diktatur proletariat” dsb. Di samping itu PKI tidak dapat memperkuat diri di lapangan ideologi, politik dan organisasi sehingga tidak dapat melaksanakan pembangunan Partai, bahkan tidak dapat mendirikan elemen-elemen yang aktif dalam Partai sebagai tulangpunggungnya.
Hal ini terutama disebabkan karena PKI ketika itu belum dapat mengenal ciri-ciri dari sifat masyarakat Indonesia dan belum mempunyai teori tentang revolusi Indonesia.
Akibat kegagalan Pemberontakan November 1926 tidak kurang dari 13.000 orang ditangkap, diantaranya 4.500 dijatuhi hukuman penjara dan lebih dari 1.300 orang dibuang ke tanah-pembuangan Digul (Irian Barat). Tidak sedikit pemimpin-pemimpin penting menjalani hukuman gantung, seperti Egom, Dirja dan Hasan (Jawa Barat); Manggulung Sipatai dan Siganjil (Sumatra Barat) dan lain-lain. Ditandah-pembuangan Digul semangat Komunis tetap diyunjung tinggi. Sampai hembusan nafasnya yang penghabisan di Digul, Aliarkham, anggota CC PKI yang terkemuka ketika itu dengan gigih mengibarkan panji-panji: Berduyang dan belajar, tanpa belajar tak mungkin bisa berduyang. Oleh karena itulah Akademi Ilmu Sosial di bawah CC PKI yang didirikan dalam tahun 1959 diberi nama “Aliarkham”. (tepuktangan riuh sekali).
Setelah pemberontakan 1926 gagal dan PKI dipaksa bekerja dibawahtanah, lahirlah partai-partai politik nasionalis, Islam, seperti PNI (tahun 1927) dan NU (tahun 1926). Dalam bukunya “Sarinah” Presiden Sukarno menyatakan sbb.: “Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum Komunis. Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia.”
Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, adalah manifestasi dari kebulatan tekad pemuda Indonesia dari berbagai sukubangsa (semuanya lebih dari 100) dan berbagai aliran politik (pada pokoknya tiga: Nasionalisme, Agama dan Komunisme), yang menyatakan bahwa mereka adalah berbangsa satu, berbahasa satu dan bertanahair satu, yaitu Indonesia. Peristiwa ini sangat penting bagi pertumbuhan nasion Indonesia dan merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Rakyat yang heroik melawan kolonialisme Belanda.
Selama pendudukan fasis Jepang dalam perang-dunia II perjuangan Rakyat Indonesia, terutama dari kekuatan kiri di bawah pimpinan PKI, berlangsung dengan bentuk sabotase di-perusahaan-perusahaan dan obyek-obyek militer Jepang serta pemberontakan-pemberontakan tani, seperti di daerah Singaparna, Indramayu, Tanah Karo dsb., pemberontakan di kalangan mili-ter, antara lain di Blitar dan perlawanan di kalangan inte-legensia, mahasiswa, pemuda dan pelajar. Perjuangan antiJepang makin lama makin berkembang, dan ketika tersebar berita tentang kekalahan Jepang dalam perang dunia II, maka Rakyat Indonesia telah mengambil nasib-nya ke dalam tangannya sendiri dan memproklamasikan kemerdekaan nasionalnya dengan mendirikan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. (tepuktangan).
Selama periode ketiga dari perkembangan PKI, yaitu periode Revolusi Agustus dan perjuangan melawan teror putih kedua, teror pemerintah reaksioner Hatta, PKI me-ngalami periode revolusi dan kontra-revolusi. Pengalaman periode ini secara lengkap disimpulkan dalam Kongres Nasional ke-V PKI tahun 1954. (tepuktangan).
Mengenai penggalangan Front Nasional, Revolusi Agus-tus 1945 memberi pengalaman bahwa burduiasi nasional bersifat bimbang, dalam keadaan tertentu klas ini bisa ikut dan bersikap teguh memihak revolusi, tetapi dalam keadaan lain lagi bisa goncang dan mengkhianat. Dalam bersatu dengan burduiasi nasional, PKI tidak boleh meninggalkan kebebasannya dan tidak boleh melengahkan sekutu yang terpercaya dan merupakan kekuatan pokok revolusi, ya-itu kaum tani. (tepuktangan).
Mengenai Pembangunan Partai, Revolusi Agustus 1945 memberi pengalaman bahwa mutlak perlu adanya satu Partai Marxis-Leninis yang bersenjatakan teori Marxisme-Leninisme sebagai pedoman untuk beraksi dan bahwa kebenaran umum Marxismc-Leninisme harus diintegrasi-kan dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, untuk mengenal keadaan masyarakat Indonesia, ciri-ciri dan hukum-hukum Revolusi Indonesia.
Revolusi Agustus 1945 juga telah mengajar PKI bahwa dalam revolusi perjuangan bersenjata adalah bentuk perjuangan yang terpenting. Maju-mundurnya perjuangan bersenjata selama Revolusi Agustus 1945 sangat mempengaruhi maju-mundurnya pekerjaan Partai baik dibidang front nasional Maupun dibidang pembangunan Partai.
Untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI Rakyat Indonesia selama revolusi ini terus berjuang melawan imperialisme di segala bidang, tetapi terhadap musuh pokok yang lain, yaitu klas tuantanah feodal boleh dikata tidak dilakukan perjuangan, sehingga keadaan setengah feodal pada pokoknya tidak berubah. Inilah sebab pokok mengapa Revolusi Agustus 1945 tidak dapat diselesaikan sampai ke-akar-akar-nya.
Singkatanya, Revolusi Agustus 1945 yang berwatak nasional-demokratis tidak dapat diselesaikan sampai ke-akar-akar-nya terutama disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
Politik antiimperialis yang tidak konsekwen dengan terus-menerus mengadakan persetujuan-persetujuan kompromis dengan kaum imperialis.
Tidak adanya politik antifeodal yang konsekwen yang dapat menarik kaum tani kefihak revolusi.
Tidak jelasnya politik front persatuan dengan burjuasi nasional dalam revolusi nasional-demokratis di Indonesia.
Tidak adanya pimpinan (hegemoni) klas buruh yang tunggal atas revolusi, Meskipun ini tidak berarti bahwa pimpinan revolusi berada di tangan burjuasi.
Kegagalan Revolusi Agustus 1945 membuktikan bahwa burjuasi nasional Indonesia tidak mampu memimpin revolusi burjuis-demokratis pada zaman imperialisme atau revolusi burjuis-demokratis tipe baru. Selanjutnya kegagalan itu juga membuktikan bahwa proletariat Indonesia belum mampu memimpin revolusi burjuis-demokratis tipe baru mencapai kemenangan penuh. Proletariat Indonesia telah mengambil peranan penting dalam Revolusi Agustus 1945, baik dibidang kekuasaan negara, termasuk angkatan bersenjata, Maupun di-bidang-bidang lain.
Ketika dalam bulan September 1948 pemerintah reaksioner Hatta melancarkan teror putihnya terhadap kekuatan progresif, terutama PKI, yang dikenal sebagai Peristiwa Madiun, PKI tidak berhasil mengatasi provokasi reaksioner tersebut, sehingga telah kehilangan se-jumlah besar kader-kader pimpinan. PKI berada dalam Revolusi Agustus dalam keadaan di mana belum menyimpulkan pengalaman-pengalamannya mengenai front persatuan, tidak berpengalaman dalam pembangunan Partai dan tidak berpengalaman dalam perjuangan bersenjata.
Dari pengalaman Pemberontakan November 1926 dan Revolusi Agustus 1945 dapatlah ditarik pelajaran tentang betapa pentingnya teori revolusioner. Tanpa teori revolusioner atau dengan teori yang salah bisa menghambat perkembangan perjuangan Rakyat dan bisa membuat situasi yang baik bagi perkembangan Partai dan gerakan revolusioner menjadi merugikan Partai dan gerakan revolusioner. Sebaliknya dengan teori yang tepat dapat menyelamatkan Partai dan gerakan revolusioner dari keadaan sulit dan gawat, serta dapat mendorong gerakan revolusioner selangkah demi selangkah menuyu kekemenangan. Satu-Satunya jalan ialah untuk secara konsekwensi mengintegrasikan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, atau dengan jalan meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme. Ini berarti harus beryuang dengan sengit melawan dogmatisme, baik klasik Maupun modern, dan melawan revisionisme, baik klasik Maupun modern. (tepuk tangan riuh).
TUGAS MENYELESAIKAN REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS
Revolusi Agustus 1945 telah memberi pelajaran kepada kaum Komunis dan Rakyat Indonesia tentang apa sesungguhnya sifat masyarakat Indonesia, tentang sasaran-sasaran revolusi, tentang kekuatan-kekuatan revolusi dan kekuatan-kekuatan pendorongnya, tentang sifat revolusi dan tentang perspektif revolusi Indonesia.
Pengalaman-Pengalaman ini telah dapat disimpulkan dalam Kongres Nasional ke-V PKI pada tahun 1954 yang telah menjawab semua masalah penting dan pokok dari Revolusi Indonesia. Suatu program umum dan program tuntutan dari Revolusi Indonesia telah disusun yang menjelaskan garis strategi dan taktik PKI dalam menyelesaikan Revolusi Indonesia.
Kongres Nasional ke-V PKI telah menetapkan dua tugas urgen Partai, yaitu pertama, menggalang front persatuan nasional antiimperialis yang berbasiskan persekutu-an buruh dan tani antifeodal di bawah pimpinan klas buruh, dan kedua, meneruskan pembangunan Partai yang tersebar di seluruh negeri dan mempunyai karakter massa yang luas, yang sepenuhnya terkonsolidasi di lapangan ideologi, politik dan organisasi. (tepuktangan).
Dalam melaksanakan dua tugas urgen ini untuk memimpin perjuangan Rakyat, PKI mendasarkan diri pada pengenalannya terhadap soal-soal pokok Revolusi Indonesia.
Kontradiksi pokok di Indonesia dewasa ini ialah kontradiksi antara Rakyat Indonesia disatu fihak dengan kaum imperialis difihak lain, sedangkan kontradiksi terpokok dewasa ini ialah kontradiksi antara Rakyat Indonesia disatu fihak dengan imperialisme Amerika Serikat difihak lain.
Perkembangan gerakan revolusioner dan perkembangan Partai sesudah Kongres Nasional ke-V PKI (1954) didorong dengan adanya kegiatan PKI bekerja dengan plan, yaitu Plan Tiga Tahun Pertama mengenai organisasi dan pendidikan dari bulan Agustus 1956 sampai Agustus 1959.
Kongres Nasional ke-VI PKI yang dilangsungkan pada penutupan Plan Tiga Tahun Pertama, tahun 1959, telah mencatat kemajuan yang luarbiasa dari Partai dan gerakan massa berkat dipimpin oleh satu plan yang jangka waktunya agak panjang. Kongres tersebut telah merupakan kongres dari penggalang-penggalang front persatuan nasional dan pembangunan-pembangunan Partai. Ber-juta-juta Rakyat Indonesia ikut merasakan bahwa Kongres itu adalah juga kongres-nya sendiri. Bagi kaum Komunis Indonesia Kongres Nasional ke-VI telah merupakan “Kongres Persatuan Jaya”, karena ia mendemonstrasikan persatuan besar dari kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia. (tepuktangan).
Mengenai imbangan kekuatan dalamnegeri, Kongres Nasional ke-VI menyimpulkan bahwa kekuatan kepala batu sudah jauh incrosot dan bersamaan dengan itu kekuatan progresif sudah semakin besar, sedangkan kekuatan tengah pada pokokna tetap. Kewajiban PKI ialah terus mengembangkan kekuatan progresif dengan mengutamakan kekuatan massa buruh dan tani dan memenangkan sayap kiri di dalam kekuatan tengah, mendorong yang sudah maju, menarik yang bimbang dan membangkitkan yang terbelakang. Perkembangan selanjutnya sampai sekarang sesuai dengan garis ini. (tepuktangan).
Mengenai hubungan Partai dengan massa ditekankan pentingnya melaksanakan langgam kerja Partai yang tepat, yaitu: memadukan teori dengan praktek, berhubungan erat-erat dengan massa Rakyat dan melaksanakan self-kritik. Sedangkan semboyan belajar dan bekerja yang dikemukakan ialah: Tahu Marxisme-Leninisme, dan kenal keadaan. Hanya dengan demikian barulah terdapat kemungkinan bagi Partai untuk secara efektif dan kreatif mengintegrasikan kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, mengatasi penyeleweangan-penyeleweangan dogmatisme dan empirisme dan menemukan jalan untuk mengalahkan musuh-musuh Rakyat.
Peryuangan Rakyat untuk mendorong penyelesaian tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 yang dinyatakan oleh Kongres Nasional ke-VI dengan semboyan utama: Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotongroyong, masih tetap merupakan tuntutan utama dewasa ini.
Kongres Nasional ke-VII (Luarbiasa) PKI yang dilangsungkan pada akhir April 1962 menundukkan bahwa apa yang telah ditetapkan oleh Kongres Nasional ke-VI masih berlaku dengan menyatakan bahwa kemampuan Partai dan kedudukan berinisiatif dari Partai semakin diperkuat dan terus bertambah besar.
Dalam mencatat hasil-hasil tertentu yang telah dicapai dalam melaksanakan tugas penyelesaian tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945, Kongres Nasional ke-VII PKI yang bersemboyan utama: Demokrasi, Persatuan dan Mobilisasi menekankan bahwa selama belum ada pengubahan demokratis dalam sistim politik yang sepenuhnya mencerminkan kegotongroyongan nasional, maka pelaksanaan dari segala yang sudah dirumuskan secara resmi dengan baik bukan hanya tidak akan lancar, bahkan pasti mengalami kegagalan. Tuntutan pembentukan Kabinet Gotongroyong makin hari makin santer dan di kalangan tengah aliran yang menyetujuinya makin kuat, Meskipun kaum kepalabatu berusaha untuk menanamkan Komunisto-phobi di kalangan kaum tengah, terutama sayap kanannya.
Mengenai perjuangan pembebasan Irian Barat seluruh bangsa harus mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Bangsa yaitu Panji Demokrasi, Persatuan dan Mobilisasi, dan harus berduyang dengan tekad dan semboyan: “Satu tangan pegang bedil dan satu tangan lagi pegang pacul”, artinya siap untuk bertempur dan siap pula memperkuat garis belakang. Tekad dan semboyan ini akan terus berlaku selama Indonesia masih dilingkungi oleh kekuatan imperialis dan begundalnya.
Berdasarkan kenyataan beberapa tahun terakhir, Kongres tsb. menyimpulkan bahwa di Indonesia sedang tumbuh kapitalisme birokrat, ialah mereka yang menjadi kapitalis dengan menggunakan kedudukannya dalam alat kekuasaan atau perusahaan negara. Mereka menggunakan birokrasi dan pada waktu itu terutama dengan menggunakan keadaan bahaya sebagai perisai untuk mendapatkan dan memperkuat posisinya sebagai kapitalis. Sama dengan kaum imperialis, komprador dan tuantanah mereka adalah juga sasaran revolusi.
Untuk memperbaiki pekerjaan massa dari Partai Kongres Nasional ke-VII PKI menekankan tentang pentingnya pedoman “berjalan dengan dua kaki” yaitu mengkombinasikan pekerjaan ber-kobar-kobar dan tekun, mengkombinasikan semangat dengan pekerjaan se-hari-hari yang praktis, mendalam dan teliti, meliputi bidang organisasi, pendidikan, politik dan ideologi.
Sidang Pleno I CC PKI pada awal tahun 1963 menekankan tentang keharusan berduyang dengan semangat yang lebih berani mengganyang musuh-musuh Rakyat. Juga ditegas-kan bahwa sesudah imperialisme Belanda habis riwayatnya di Irian Barat, maka musuh Rakyat Indonesia yang nomor satu dan yang paling berbahaya ialah imperialisme Amerika Serikat.
Sedangkan mengenai imperialisme Belanda, yang masih merupakan musuh Rakyat Indonesia yang berbahaya, karena ia masih mempunyai investasi modal di Indonesia terutama dalam perusahaan minyak yang bergabung dengan modal Inggris, dan juga mempunyai hubungan politik lama yang pasti akan diperbaharui kembali.
Karena kurang konsekwenn dalam melawan feodalisme dan imperialisme, khususnya dibidang ekonomi, maka Indonesia terus berada dalam keadaan ekonomi yang makin sulit. Dalam perjuangan dibidang ekonomi Pleno CC tsb. menekankan tentang pentingnya semangat patriotisme, semangat percaya kepada kekuatan sendiri untuk membangun ekonomi nasional yang bebas dari imperialisme. Ekonomi nasional yang bebas hanya bisa dibangun jika konsekwenn dan berani melawan feodalisme dan imperialisme, dan untuk ini harus dibentuk pemerintah yang mampu melaksanakan politik yang berani ini. (tepuktangan).
GARIS UMUM PKI
PKI telah mengemukakan teori bahwa untuk dapat memimpin perkembangan politik, Partai harus menyalankan garis umum sbb.: Meneruskan penggalangan front nasional dan meneruskan pembangunan Partai untuk menyelesaikan tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar-akarnya.
Berdasarkan garis umum ini PKI mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Partai, yaitu: 1) Panji Front Nasional; 2) Panji Pembangunan Partai; 3) Panji Revolusi Agustus 1945.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Front Nasional pada waktu sekarang bagi kaum Komunis Indonesia berarti memperhebat pekerjaan di kalangan kaum tani, bekerja baik di dalam organisasi Front Nasional dan mengkonsolidasi kerjasama NASAKOM, yaitu kerjasama antara golongan nasionalis, agama dan Komunis, berdasarkan program bersama Manipol. Tanpa gerakan tani yang berkembang dan konsekwen antifeodal tidak mungkin bisa diciptakan front nasional antiimperialis yang luas dan konsekwen, tidak mungkin ada organisasi Front Nasional dan kerjasama NASAKOM yang kuat.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Pembangunan Partai berarti bahwa PKI hanya mungkin menunaikan tugasnya apabila PKI, di samping mempunyai anggota ber-juta-juta, juga mempunyai sejumlah besar kader yang dapat memadukan keahlian dan kemahiran dengan watak dan semangat Komunisnya. Sukses-Sukses Partai ditentukan oleh pelaksana-pelaksana yang paling sedar dari garis politik dan garis organisasi Partai.
Mengibarkan tinggi-tinggi Panji Revolusi Agustus 1945 berarti menarik sebanyak mungkin Rakyat Indonesia berkeli ling di sekitar panji-panji itu dan berjuang untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus yang berwatak nasional demokratis sampai ke-akar-akarnya. Panji Revolusi Agustus 1945 adalah juga panji yang di atasnya tertulis bahwa “kemerdekaan Indonesia direbut dan dipertahankan dengan perjuangan bersenjata”.
Untuk memobilisasi kekuatan seluruh nasion, PKI mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Bangsa, yaitu: Panji De-mokrasi, Panji Persatuan dan Panji Mobilisasi, yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Kongres Nasional ke-VII PKI.
Pada mulanya semboyan Tripanji Bangsa dilancarkan untuk mengadakan perlawanan yang gigih terhadap berlakunya SOB yang sangat menekan kehidupan demokratis, untuk memperkokoh front nasional yang berporoskan NASAKOM dan untuk memobilisasi Rakyat dalam peryuangan untuk membebasan Irian Barat dan mengatasi krisis ekonomi, khususnya kesulitan-kesulitan sandang-pangan.
Mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Bangsa berarti melapangkan jalan bagi Partai untuk menyeleasaikan tugas-tugas bagian dan mendekatkan Partai pada tugas-tugas yang umum, tugas-tugas melemparkan halangan-halangan strategis agar Rakyat Indonesia dapat mengembangkan segenap dayakreasinya dengan leluasa.
Dewasa ini PKI dengan mengibarkan Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa mengajak massa Rakyat melaksanakan Tritugas Bangsa yang mendesak, yaitu: 1) tugas mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan yang sudah dicapai; 2) tugas menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dan 3) tugas melawan neokolonialisme.
Berdasarkan garis umum Partai tugas-tugas urgen PKI dengan singkat dapat disimpulkan sbb.: dengan mengibarkan Tripanji Partai dan Tripanji Bangsa melaksanakan Tritugas Bangsa. (tepuktangan).
KEKUASAAN NEGARA RI DEWASA INI
Masalah terpokok dalam tiap-tiap revolusi adalah masalah kekuasaan negara. Bagi PKI dalil ini tidak hanya merupakan kebenaran teori belaka, tetapi PKI telah mengalami-nya dalam praktek, dan pengalaman yang pahit sekali. Ketika dalam masa periode Revolusi Agustus pemimpin-pemimpin PKI duduk dalam kabinet sebagai Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, Menteri Dalamnegeri dan beberapa Menteri-Menteri lain, kaum reaksioner telah mengadakan intrik yang hebat untuk menjatuhkan kabinet, dengan menggunakan kesalahan-kesalahan politik PKI dalam melawan imperialisme Belanda. Kawan-Kawan pimpinan PKI tidak waspada dan dengan sukarela membubarkan pemerintah yang dipimpinnya. Dengan pembubaran diri kabinet yang dipimpin oleh orang-orang Komunis ini, maka terbentuklah kabinet reaksioner yang di-pimpin oleh Hatta yang kemudian melancarkan teror putih Peristiwa Madiun seperti yang sudah dijelaskan di muka.
Kesalahan ini memberikan pelajaran yang besar dan mendalam sekali bagi PKI.
Sejak tahun 1951 PKI telah mengajukan tuntutan untuk pembentukan pemerintah koalisi nasional yang terdiri dari Partai-Partai, golongan-golongan dan orang-orang tak-berpartai yang demokratis. Politik PKI yang tepat untuk menarik kembali burjuasi nasional kefihak revolusi berhasil dengan terbentuknya pemerintah Wilopo (PNI) dalam tahun 1952. Sejak kabinet Wilopo itu, pemerintah-pemerintah yang kemudian terbentuk di Indonesia pada pokoknya adalah lebih maju dan peranan kaum kanan dalam pemerintahan makin kurang.
Perkembangan gerakan revolusioner berlangsung dengan cepat sekali. Kaum reaksioner dalamnegeri dengan bantuan kaum imperialis telah beberapa kali berusaha untuk melakukan kudeta dan mencoba membunuh Presiden Sukarno. Usaha mereka dapat digagalkan, demikian pula pemberontakan separatis yang dicetuskan kaum kontra-revolusioner pada tahun 1958. Dengan desakan dan sokongan penuh dari Rakyat maka pemerintah telah dengan tegas menindas pemberontakan kontra-revolusioner PRRI-Permesta, DI-TII dan komplotan reaksioner lainnya.
Pada bulan November 1960 Sidang MPRS telah mengesahkan Manipol sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara, sehingga pengertian tentang soal-soal pokok revolusi Indonesia telah diterima dan dituangkan dalam dokumen resmi Negara. Dengan demikian perjuangan kaum revolusioner melawan kaum reaksioner telah mengambil bentuk perjuangan antara kaum Manipolis melawan kaum antiManipol atau Manipolis munafik.
Pada bulan Maret 1963 Presiden Sukarno telah mengumumkan suatu dokumen penting lain, yaitu Deklarasi Ekonomi (Dekon), yang menetapkan strategi dasar ekonomi Indonesia pada tahap revolusi Indonesia sekarang, ialah tahap revolusi nasional-demokratis dengan tugas pokok membersihkan kehidupan ekonomi Indonesia dari imperialisme dan sisa-sisa feodalisme.
Adanya Manipol dan Dekon berarti bahwa konsep politik dan ekonomi yang progresif untuk menyeleasaikan revolusi Indonesia dengan resmi sudah menjadi haluan negara.
Memahami watak kekuasaan negara RI dewasa ini membantu kita mengenal mengapa Manipol dan Dekon yang progresif telah disahkan sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara, dan selanyutnya juga mengenal mengapa pelaksanaan Manipol dan Dekon tidak dapat berjalanan dengan lancar, bahkan sering disabot.
Dalam kekuasaan negara RI dewasa ini terdapat dua aspek yang saling berlawanan, yaitu aspek yang mewakili kepentingan-kepentingan Rakyat (aspek pro-Rakyat) dan aspek yang mewakili kepentingan-kepentingan musuh Rakyat (aspek antiRakyat). Aspek yang pro-Rakyat ini makin hari makin maju dan menyebabkan pemerintah RI dapat mengambil tindakan yang revolusioner antiimperialis. Aspek antiRakyat, yaitu aspek yang mewakili kepentingan imperialis, komprador, kapitalis birokrat dan tuantanah, berusaha keras menghambat kemajuan, berusaha mensabot semua tindakan progresif.
Mengingat akan watak kekuasaan negara RI yang demikian itu maka perjuangan PKI mengenai kekuasaan negara ialah terus mendorong supaya aspek pro-Rakyat makin besar dan bisa berdominasi dan bersamaan dengan itu mendobrak keluar aspek antiRakyat dari kekuasaan negara. Demikianlah isi dari retuling personalia dan aparatur negara yang dituntut oleh Rakyat Indonesia, dan demikian pula isi daripada tuntutan membentuk Kabinet Gotongroyong berporoskan NASAKOM.
Tunutan ini samasekali tidak sama dengan apa yang disebut “teori perubahan struktur”. PKI menyokong dan mendorong perubahan dalam segala badan resmi dan setengah resmi, termasuk perubahan personalia dan aparatur negara, untuk memperkuat kedudukan kaum progressif dalam kekuasaan negara. Tapi ini dalam rangka aksi-aksi reform untuk memperkuat perjuangan guna menyelesaikan revolusi nasional-demokratis sampai ke-akar-akarnya, yaitu pelaksanaan Manipol secara konsekwan, yang berarti sama dengan pelaksanaan program umum PKI. (tepultangan).
REVOLUSI INDONESIA BAGIAN YANG TAK-TERPISAHKAN DARI REVOLUSI DUNIA
Dalam Manifesto Politik, yang sudah disahkan oleh badan legislatif tertinggi Republik Indonesia sebagai Garis Besar Haluan Negara, dan yang sudah menjadi program organisasi Front Nasional di mana tergabung semua partai politik, semua organisasi massa dan semua angkatan bersenjata, antara lain dikatakan bahwa baik pemerintah Maupun seluruh Rakyat Indonesia harus menegakkan tiga kerangka, yaitu:
“Periama: Pembentukan satu negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara Kesatuan dan Negara Kebangsaan, yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke.
“Kedua: Pembentukan satu masyarakat yang adil dan makmur materii dan spiritui dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Keiiga: Pembentukan satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dengan semua negara di dunia, terutama sekali dengan negara-negara Asia-Afrika, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar bekeryasama membentuk satu dunia baru yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme, menuju perdamaian dunia yang sempurna.” (tepuktangan).
Tiga kerangka ini menggambarkan dengan jelas tugas Rakyat Indonesia untuk membentuk negara nasional yang bersifat kesatuan dan demokratis, yang di dalamnya terdapat masyarakat yang adil dan makmur, dan yang berduyang untuk dunia baru bersih dari imperialisme dan kolonialisme sebagai syarat untuk perdamaian dunia yang sempurna. (tepuktangan).
Jadi, baik dilihat dari pandangan kaum Marxis-Leninis yang tercermin dalam Program Umum PKI Maupun dilihat dari program bersama Manipol, Revolusi Indonesia merupakan bagian yang takterpisahkan dari Revolusi Dunia. Banyak dokumen-dokumen negara Republik Indonesia yang lebih mempertegas hal ini.
Soal ini saya kemukakan, karena pada waktu sekarang soal memihak atau menentang revolusi dunia menjadi soal yang menonjol tidak hanya bagi partai Marxis-Leninis, tetapi juga bagi gerakan revolusioner Rakyat di semua negeri. Dari uraian di atas jelas, bahwa gerakan revolusioner Rakyat Indonesia adalah bagian mutlak dari gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia dan bahwa perdamaian yang sempurna hanya mungkin dicapai setelah dunia bersih dari kolonialisme dan imperialisme. Yang terakhir ini sesuai dengan semboyan Rakyat Indonesia: “Kita cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan.” Ini adalah pandangan revolusioner Rakyat Indonesia, bukan hanya pandangan kaum Komunis Indonesia, dan ini merupakan jaminan bahwa gerakan revolusioner Rakyat Indonesia akan tetap mengintegrasikan diri dengan revolusi Rakyat-Rakyat semua negeri guna membentuk satu dunia baru tanpa kolonialisme dan imperialism (tepuk tangan riuh).
Sudah tentu, jaminan yang paling pokok daripada pengintegrasian revolusi Indonesia dengan revolusi dunia adalah sikap Partai Komunis Indonesia dalam Gerakan Komunis Internasional. Oleh karena itulah, pada kesempatan ini saya merasa perlu menyatakan sekali lagi, bahwa PKI akan tetap memihak Marxisme-Leninisme dan melawan revisionisme. (tepuk tangan sangat riuh sekali). Sikap ini bukan sikap baru dari PKI, tetapi juga sikap yang tidak akan usang-usangnya dan akan tetap segar selama dalam GKI ada perjuangan kaum Marxis-Leninis melawan kaum revisionis. (tepuk tangan riuh).
Sudah tentu, sumbangan PKI yang paling besar kepada GKI dan revolusi dunia ialah apabila PKI mampu membawa Rakyat Indonesia mencapai kemenangan revolusinya. (tepuk tangan riuh).
Untuk dapat memenangkan revolusi Rakyat Indonesia, PKI harus mengintegrasikan diri secara total dengan Rakyat Indonesia, kebenaran umum Marxisme-Leninisme harus diintegrasikan secara total dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, dengan perkataan lain Marxisme-Leninisme harus di-Indonesia-kan. Hanya dengan demikian PKI dapat mengkombinasikan secara harmonis patriotisme sosialis dan internasionalisme sosialis. (tepuk tangan riuh sekali).
Untuk dapat mengintegrasikan diri secara total dengan Rakyat dan Revolusi Indonesia, PKI harus tetap tinggi-tinggi mengibarkan panji kebebasan dan kedaulatannya, harus percaya kepada kekuatannya sendiri, harus mampu dan berani menetapkan sendiri dan melaksanakan sendiri garis strategi, politik, taktik dan organisasinya. Hanya dengan menempuh jalan ini PKI akan tetap kreatif, tetap penuh enersi dan akan semakin dirasakan oleh massa Rakyat Indonesia sebagai miliknya sendiri yang harus dibelanya sendiri, tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing. Hanya dengan demikian PKI dapat mengembangkan gerakan revolusioner di Indonesia untuk selanyutnya memenangkan Revolusi Indonesia. (tepuk tangan riuh).
Dengan mengembangkan gerakan revolusioner Rakyat Indonesia berarti PKI setia kepada Marxisme-Leninisme dan kepada internasionalisme proletar, setia kepada Deklarasi Komunis 1957 dan Pernyataan Komunis 1960, dan setia kepada Revolusi Sosialis Dunia. (tepuk tangan riuh).
Kaum dogmatis dan revisionis tentunya tidak senang dengan sikap PKI yang mempertahankan kebebasan dan ke- daulatan. Mereka menuduh kami kaum Komunis Indonesia sebagai nasionalis. Tuduhan demikian sudah tentu tidak beralasan sama sekali, karena kami meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme tidak lain ialah untuk mengabdi lebih baik kepada Revolusi Indonesia yang merupakan bagian mutlak dari Revolusi Sosialis Dunia. (tepuk tangan riuh).
Nampaknya agak aneh bahwa kaum dogmatis dan revisionis bersikap sama tidak senangnya kepada kaum Marxis-Leninis yang kreatif. Tetapi sebenarnya tidak aneh, karena dogmatisme dan revisionisme adalah dua anak ter- kutuk dari satu ibu kandung yang bernama subyektivisme. (ketawa). Ke-dua-duanya sama-sama tidak obyektif, sama-sama tidak ilmiah, sama-sama antiMarxis-Leninis. (tepuk tangan riuh).
Bagi saya jauh lebih baik kaum nasionalis yang melawan imperialis daripada kaum dogmatis atau revisionis yang rangkul-rangkulan dengan kaum imperialis. (tepuk tangan sangat riuh sekali). Dengan melawan imperialis kaum nasionalis menyumbang kepada Revolusi Dunia, tetapi dengan rang- kul-rangkulan dengan kaum imperialis kaum dogmatis dan revisionis menahan kemajuan Revolusi Dunia. Banding- kanlah apa yang telah dan sedang dilakukan oleh kaum nasionalis yang antiimperialis di Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan perbuatan kaum revisionis Yugoslavia yang rangkul-rangkulan dengan kaum imperialis. Yang pertama ambil bagian dalam memperpendek umur kaum imperialis, se- dangkan yang kedua, kaum revisionis, ambil bagian dalam mem-bagus-baguskan dan memperpanjang umur kaum impe- rialis. (tepuk tangan sangat riuh sekali).
Setia kepada Marxisme-Leninisme kreatif, kaum Komu- nis Indonesia akan berduyang terus ber-sama-sama dengan kaum Masxis-Leninis kreatif di seluruh dunia mengganyang dog- matisme dan revisionisme, menegakkan panji Marxisme- Leninsme yang jaya dan takterkalahkan. (tepuk tangan sa- ngat riuh sekali).
Demikianlah dengan singkat uraian saya yang saya beri judul “Revolusi Indonesia Bagian Takterpisahkan Dari Revolusi Sosialis Dunia”.
Sekali lagi, maksudnya tidak lain supaya kita, PKI dan PKT, Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok, saling mengenal lebih baik, agar persahabatan yang sudah ada antara kedua Rakyat dan kedua Partai Marxis-Leninis kita menjadi lebih dipererat. (tepuktangan riuh sekali).
Persahabatan jaya Rakyat Indonesia dan Rakyat Tiongkok, Hidup! (tepuktangan riuh sekali).
Persahabatan Marxis-Leninis PKI dan PKT, Hidup! (tepuktangan riuh sekali).
Persatuan kaum Marxis-Leninis semua negeri, Hidup! (tepuktangan riuh sekali).
Perjuangan Rakyat-Rakyat semua negeri melawan imperialisme, Hidup! (tepuktangan riuh sekali).
Solidaritet Rakyat-Rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin, Hidup! (tepuktangan riuh sekali).
Kaum buruh semua negeri dan nasion-nasion tertindas, bersatulah! (tepuktangan riuh sekali).
(ovasi).
Kanton, 25 September 1963.
UNTUK PERSAHABATAN ABADI ANTARA RAKYAT INDONESIA DAN KOREA!
I. BANGGA AKAN SUKSES-SUKSES SAHABAT
Hari ini saya dan semua anggota delegasi Partai Komunis Indonesia yang saya pimpin merasa sangat berbahagia, karena kami berada di-tengah-tengah Rakyat Korea yang kami cintai dengan sepenuh hati. Kaum Komunis dan Rakyat pekerya Indonesia mencintai Rakyat Korea, karena mereka adalah kaum pemberani dalam melawan musuh-musuhnya. Rakyat Korea di bawah pimpinan Partai Buruh Korea yang mempunyai prestise tinggi di dalam negeri dan di dalam gerakan Komunis internasional dengan gagah-berani telah mengalahkan fasisme Jepang dan dengan gagah-berani pula telah melawan imperialisme Amerika Serikat. (tepuk-tangan riuh).
Mereka yang mencintai kaum pemberani adalah pemberani. Memang, kaum Komunis dan Rakyat Indonesia adalah juga pemberani. Mereka dengan gagah-berani telah mengalahkan fasisme Jepang, telah mengalahkan kolonialisme Belanda dan sekarang dengan gagah-berani pula melawan kaum imperialis yang dikepalai oleh Amerika Serikat. (tepuk tangan).
Jadi, Walaupun antara kedua negeri kita terdapat jarak yang jauh, ada lautan-lautan luas, banyak gunung-gunung yang tinggi dan sungai-sungai yang lebar, tetapi kedua Rakyat kita adalah dekat satu dengan lain, karena dua Rakyat dan dua Partai Marxis-Leninis kita adalah kawan seperyuangan yang bersatu fikiran dan bersatu hati, kita sama-sama ditempa dalam peryuangan melawan fasisme, melawan kolonialisme dan sekarang sama-sama melawan imperialisme Amerika Serikat. (tepuk tangan).
Saya pernah datang di Korea dalam bulan April 1956 memimpin delegasi PKI menghadiri Kongres ke-III Partai Buruh Korea. Ketika menyambut dalam Kongres itu antara lain saya katakan: “Dua hari sesudah bangsa Korea dibebaskan oleh Tentara Uni Sovyet yang gagah perkasa, Rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan nasionalnya, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagai akibatnya teryadilah peperangan kemerdekaan melawan tentara imperialis Jepang, tentara imperialis Belanda dan Inggris, yang semuanya ini mendapat bantuan penuh dari imperialisme Amerika. Dengan demikian terentanglah sebuah benang merah yang menghubungkan perjuangan Rakyat Indonesia dengan Rakyat Korea. Tidak ada jarak yang jauh, tidak ada lautan dan gunung yang dapat memisahkan perjuangan kita yang suci“. Apa yang saya katakan tujuh tahun yang lalu ini bukan hanya dibenarkan oleh kenyataan-kenyataan sekarang” tetapi tambah diperkuat. Hubungan antara Rakyat dan Pemerintah kedua negeri kita makin erat-erat, pertukaran delegasi makin banyak. Kedua Rakyat dan kedua Partai Marxis-Leninis kita sama-sama berdiri di barisan depan dalam melawan imperialisme AS. Memang sistim sosial dan politik kedua negeri kita masih berbeda, tetapi musuh kita adalah sama, yaitu imperialisme yang dikepalai oleh AS. Lagi pula, perspektif Revolusi Indonesia sebagaimana sudah diterima sebagai satu kebenaran oleh Rakyat Indonesia, seperti yang dinyatakan dalam Program Bersama Rakyat Indonesia yaitu Manifesto Politik, ialah juga Sosialisme. Hari ini Republik Rakyat Demokratis Korea adalah haridepan Indonesia.
Dalam beberapa hari ini semua anggota delegasi PKI merasa sangat berbahagia, karena kami berada di-tengah-tengah pemimpin-pemimpin PBK yang diketuai oleh Kawan Kim Il Bung yang tercinta. Kami berada di antara pemimpin-pemimpin yang sudah teruji dalam memimpin perjuangan-perjuangan besar melawan dan mengalahkan musuh-musuh Rakyat serta dalam perjuangan membangun kehidupan baru yang sosialis di Korea. Khususnya Kawan Kim Il Bung telah memberi sumbangan banyak kepada perkembangan Marxisme-Leninisme dan persatuan kaum Marxis-Leninis sedunia. (tepuktangan). Meraka adalah orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang mempunyai rasa tanggungjawab yang besar, tidak hanya kepada Rakyatnya tetapi juga kepada urusan kaum Marxis-Leninis sedunia. Kami merasa berada di-tengah-tengah saudara-saudara sendiri. Kami telah mengadakan pembicaraan ramahtamah dan bersahabat, kami bersatu hati dan berbulat tekad dalam meneruskan perjuangan melawan imperialisme yang dikepalai oleh AS, dalam memperkuat persatuan Marxis-
Leninis sedunia, dan dalam melawan revisionisme modern yang merupakan ancaman utama terhadap persatuan kaum Marxis-Leninis dan terhadap perjuangan revolusioner umat progresif sedunia. (tepuktangan).
Sebelum saya melanjutkan pidato ini izinkanlah saya dari mimbar ini mengucapkam selamat dan menyampaikan harapan serta keyakinan akan sukses-sukses lebih besar dari lubukhati yang sedalam-dalamnya kepada Rakyat Korea berhubung dengan ulangtahun ke-15 Republik Rakyat Demokratis Korea. (tepuktangan riuh).
Selanjutnya izinkanlah juga saya mengucapkam banyak terimakasih dari lubukhati yang sedalam-dalamnya atas-nama CC PKI dan delegasi PKI yang saya pimpin, atas-nama lebih dari 2,5 juta Komunis Indonesia serta atas-nama Rakyat pekerja Indonesia atas undangan CC PBK kepada kami dan atas sambutan bersahabat dan hangat dari Rakyat dan kaum Komunis Korea, dari CC PBK dan dari Kawan Kim Il Bung pribadi. (tepuktangan riuh se-kali).
Rasa persahabatan yang dalam yang kawan-kawan dan para sahabat nyatakan dalam ber-macam-macam bentuk benar-benar telah memberikan inspirasi besar kepada kami untuk berjuang lebih ulet dan lebih berani lagi dalam melawan imperialisme, dalam melawan musuh-musuh Rakyat di dalam negeri, dalam memperkuat persatuan Marxis-Leninis di seluruh dunia dan dalam mengganyang revisionisme modern. (te-puktangan).
Kami kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia merasa bangga dan berbesar hati mempunyai sahabat seperti kaum Komunis dan Rakyat Korea, yang pandai dan berani dalam berperang melawan dan mengalahkan mu-suh serta pandai dan berani dalam membangun Sosialisme. (tepuktangan riuh).
Kami bangga dan diinspirasi oleh Epik Musik dan Tari “Megahlah Tanahair Kita” yang kami saksikan dan nik-mati pada malam tanggal 8 September yang baru lalu. Epik ini halus bagaikan sutera dan kuat serta gagah ba-gaikan kuda sembrani (Culima) yang sangat disenangi oleh Rakyat Korea. Epik tersebut mencerminkan watak Rakyat Korea yang halus, kreatif dan gagah perkasa.
Kami bangga dan diinspirasi oleh parade militer dan demonstrasi massa pada hari ulangtahun ke-15 Republik Rakyat Demokratis Korea tanggal 9 September ybl.
Kami bangga dan diinspirasi oleh pertunjukan senam-massal yang hebat bertatawarna pada sore tanggal 9 September yang baru lalu.
Saya yakin bahwa sesudah nanti mengundungi obyek-obyek industri dan pertanian kami akan lebih merasa bangga dan lebih diinspirasi lagi oleh sukses-sukses yang sudah dicapai di-bidang-bidang itu, karena politik ekonomi nasional yang bebas (independent), yang berdiri di atas dua kaki sendiri yang dijalankan oleh PBK dan pemerintah RRDK adalah politik yang menjiwai massa untuk lebih mencintai ker-ja, untuk bekerja lebih keras, untuk memproduksi lebih banyak dan lebih tinggi mutunya, untuk bekerja lebih efisien dan lebih kreatif. (tepuktangan riuh).
Kami bangga, kawan-kawan dan para sahabat, karena sukses-sukses yang dicapai oleh Rakyat Korea kami rasakan sebagai sukses kami sendiri, karena kita adalah sama-sama dari satu keluarga kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh (the new emerging forces) dan kita sama-sama menuju satu dunia di mana tidak terdapat penghisapan atas manusia oleh manusia. (tepuktangan riuh).
Kami mendapat inspirasi besar dari sukses-sukses besar yang dicapai Rakyat Korea dibidang ekonomi dan kebudayaan, karena ia sekali lagi membuktikan bahwa dayakreasi masa adalah tidak terbatas jika mereka dapat mengembangkanya dengan bebas di bawah pimpinan yang tepat, monolit, bersatu dan bijaksana seperti telah dibuktikan oleh kepemimpinan PBK dan Kawan Kim Il Bung. (tepuk-tangan riuh).
II. RAKYAT INDONESIA BERJUANG UNTUK MENYELESAIKAN REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS SAMPAI KEAKAR-AKARNYA
Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan secara sangat singkat tentang situasi dan tugas perjuangan Rakyat Indonesia sekarang dengan maksud untuk lebih mem-perdalam saling pengertian yang sudah ada antara kita, untuk lebih memperkokoh solidaritet antara kedua Rakyat dan kedua Partai kita. (tepuktangan).
Sebagaimana sudah diketahui sejak ditandatanganinya persetujuan kompromis dengan kolonialisme Belanda pada akhir tahun 1949, perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia mengalami periode baru. Dengan perbuatan kaum pengkhianat ini Revolusi Agustus 1945 menemui kegagalan. Watak masyarakat Indonesia sejak itu adalah masyarakat yang belum merdeka penuh dan setengah feudal.
Tetapi Revolusi Agustus 1945 telah memberikan pe-lajaran yang kaya kepada Rakyat dan Partai Komunis Indonesia.
Perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia di bawah pimpinan PKI dalam periode yang baru ini, terutama se-jak tahun 1951 telah berkembang maju dengan pesat dan telah mencatat kemenangan-kemenangan penting. Hal ini di-mungkinkan karena PKI telah berhasil sampai batas-batas ter-tentu mengintegrasikan kebenaran universal Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia dan dengan demikian berhasil menjawab soal-soal pokok Revolusi Indonesia, yaitu mengenai sasaran-sasaran revolusi, tugas-tugas revolusi, kekuatan-kekuatan revolusi, sifat revolusi dan pers-pektif revolusi Indonesia.
Mengingat bahwa sifat masyarakat Indonesia adalah belum merdeka penuh dan masih setengah feudal atau pada hakekatnya setengah kolonial dan setengah feudal, maka sasaran-sasaran revolusi Indonesia adalah imperialisme dan feodalisme. Tugas-Tugasnya ialah mengusir imperialisme dan menghapuskan sisa-sisa feodalisme untuk dapat menegakkan kekuasaan Rakyat. Kekuatan-Kekuatan revolusi ialah klas buruh, kaum tani, burduiasi ketiyil dan burduiasi nasional serta elemen-elemen demokratis lainnya, sedangkan kekuatan pendo-rong revolusi ialah klas buruh, kaum tani, burduiasi ketiyil dan elemen-elemen demokratis lainnya yang merupakan bagian daripada Rakyat pekerja dan konsekwensi melawan impe-rialisme dan feodalisme. Sifat atau watak revolusi pada tingkat sekarang ialah revolusi nasional-demokratis. Ia merupakan bagian dari revolusi sosialis dunia. Perspektif revolusi Indonesia ialah Sosialisme.
Di Indonesia kini terdapat tiga kekuatan, yaitu kekuatan progresif, kekuatan tengah dan kekuatan kepala batu, yang masing-masing mempunyai konsepnya sendiri tentang revolusi Indonesia. Kekuatan progresif di bawah pimpinan PKI berjuang untuk menyelesaikan revolusi nasional-demokra-tis, membawa Indonesia menuju kemasyarakat yang mer-deka penuh dan demokratis sebagai landasan untuk me-nuju ke Sosialisme. Kekuatan tengah hendak membawa Indonesia menuju ke Indonesia merdeka yang kapitalis. Sedangkan kekuatan kepala batu hendak menjadikan Indonesia sebagai negeri yang hanya dalam namanya merdeka tetapi sebenarnya embel-embel kaum imperialis.
Dua konsep yang terakhir, yaitu konsep yang ingin menjadikan Indonesia negeri merdeka yang kapitalis dan konsep yang ingin menjadikan Indonesia negeri yang tergantung pada imperialis atau negeri neo-kolonial, adalah konsep-konsep yang tidak mempunyai haridepan.
Indonesia tidak bisa berkembang menjadi negeri merdeka yang kapitalis seperti halnya negeri-negeri Eropa dahulu, karena baik kaum imperialis Maupun Rakyat pekerja tidak akan membiarkannya. Membiarakan Indonesia berkembang menjadi negeri merdeka yang kapitalis berarti membiarkan tumbuhnya saingan yang tidak diinginkan oleh kaum imperialis karena akan lebih menyempitkan pasar mereka. Bagi kaum imperialis Indonesia hanya berhak dan pantas menjadi negeri neo-kolonial, sampai batas-batas tertentu mempunyai kemerdekaan politik tetapi ekonominya dikuasai oleh kaum imperialis. Difihak lain, Rakyat pekerja Indonesia juga tidak akan membiarkan Indonesia menempuh perkembangan kekapitalisme. Rakyat Indonesia sudah mendidih ingin adanya perubahan-perubahan, sedangkan adanya perubahan-perubahan itu hanya mungkin jika Indonesia menempuh jalan progresif ke Sosialisme. Untuk ini Rakyat Indonesia sudah dan terus mengorganisasi diri dengan PKI sebagai barisan depannya.
Indonesia lebih-lebih lagi tidak mungkin dijadikan negeri yang hanya namanya saja merdeka, tetapi pada hakekatnya hanya sambungan dari negeri-negeri imperialis karena ekonomi Indonesia dikuasai oleh kaum imperialis. Indonesia dalam keadaan sekarang tidak mungkin dipertahankan. Hasil-Hasil tertentu yang dicapai kaum imperialis dalam merusak dan mencegah perkembangan ekonomi nasional Indonesia hanya bersifat sementara, karena bersamaan dengan hasil-hasil yang mereka capai kaum imperialis telah melahirkan musuh-musuhnya yang lebih banyak, lebih sedar dan lebih terlatih dalam perjuangan melawan imperialisme.
Jadi, satu-satunya jalan keluar bagi Indonesia, satu-satunya perspektif, ialah jalan yang ditunjukkan oleh kaum progresif, yaitu jalan penyelesaian revolusi nasional-demokratis sampai ke-akarnya sebagai landasan untuk menuyu ke Sosialisme. (tepuktangan riuh).
Garis PKI terhadap tiga kekuatan tersebut di atas ialah mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah dan mengisolasi kekuatan kepalabatu. Perkembangan di Indonesia dalam tahun-tahun belakangan ini sesuai dengan garis ini. Kekuatan progresif bertambah besar dan makin terkonsolidasi, front persatuan nasional bertambah luas dan makin terkonsolidasi, sedangkan kekuatan kepalabatu makin terisolasi.
Kekuatan progresif tumbuh terus makin lama makin besar dan kuat, demikian pula front persatuan nasional telah berkembang sebagaimana yang digariskan dan diusahakan oleh PKI.
Kalau pada tahun 1951 anggota PKI tidak sampai 8.000, maka sekarang anggota PKI telah beryumlah lebih dari 2,5 juta dan merupakan Partai terbesar di Indonesia. (tepuktangan riuh). Dari 4 juta kaum buruh Indonesia yang terorganisasi, anggota vaksentral progresif SOBSI beryumlah lebih dari 3,2 juta. Sedangkan kaum tani yang telah terorganisasi dalam BTI (Barisan Tani Indonesia), organisasi tani progresif, beryumlah 6,4 juta. Pemuda Rakyat, pembantu setia PKI, sekarang beranggota 1,5 juta. Kaum Wanita yang terorganisasi dalam GERWANI, organisasi wanita progresif, beryumlah 1,5 juta. Organisasi-Organisasi massa progresif di kalangan seniman dan sastrawan Rakyat, mahasiswa, pelajar serta sarjan-sarjan sudah merupakan organisasi-organisasi massa yang besar dan berpengaruh. (tepuktangan riuh).
Dari sini jelaslah bahwa basis front persatuan nasional, yaitu persekutuan klas buruh dan kaum tani bertambah kuat dengan makin baiknya pekerjaan kaum Komunis di kalangan kaum tani. Tetapi mengingat bahwa Rakyat Indonesia beryumlah 100 juta sedangkan diantaranya terdapat 60% sampai 70% kaum tani, maka kaum Komunis Indonesia harus bekerja lebih baik lagi di kalangan kaum tani. (tepuktangan).
Front persatuan nasional di Indonesia pada dewasa ini mempunyai banyak bentuk, diantaranya dua bentuk yang terpenting, yaitu kerjasama NASAKOM dan organisasi Front Nasional. Baik kerjasama NASAKOM Maupun organisasi Front Nasional mempunyai landasan yang sama, yaitu program bersama Manifesto Politik yang antiimperialisme dan sampai batas-batas tertentu juga antifeodalisme.
Kerjasama NASAKOM ialah kerjasama tradisionil antara aliran-aliran politik di Indonesia sejak awal abad ini, yaitu aliran-aliran politik Nasionalis, Agama dan Komunis. Selama ber-puluh-puluh tahun Partai-Partai politik dari ketiga aliran ini telah bekerjasama dalam melawan kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Kerjasama itu sekarang diteruskan atas dasar yang baru, program bersama Manifesto Politik. Kerjasama NASAKOM sudah diyujudkan di dalam MPRS, DPRGR, DPA, DPRDGR, BPH dll. Delegasi Parlemen Republik Indonesia yang sedang berada di Korea sekarang yang ikut merayakan ulangtahun ke-15 RRDK adalah berkomplosisi NASAKOM dengan diketuai oleh Kawan Lukman, Menteri dan Wakil Ketua DPRGR, Wakil Ketua I CC PKI. (tepuktangan). Mengenai Kabinet, kerjasama NASAKOM belum dilaksanakan dengan konsekwensi seperti yang dikehendaki oleh Rakyat dan Presiden Sukarno, karena dalam Kabinet Indonesia sekarang hanya 2 orang Komunis sebagai Menteri tanpa portepel. Oleh karena itulah di Indonesia sekarang sedang berlangsung perjuangan Rakyat yang sengit menuntut supaya komposisi Kabinet disusun sesuai dengan Konsepsi Presiden Sukarno, yaitu berdasarkan perwakilan berimbang, artinya jumlah Menteri dari tiap-tiap aliran politik harus sesuai dengan kepercayaan yang diberikan oleh Rakyat kepada aliran-aliran itu.
Di samping kerjasama NASAKOM di Indonesia juga sudah terdapat organisasi Front Nasional yang pimpinan-nya juga berkomplosisi NASAKOM dari pusat sampai keorganisasi basis di-desa-desa. Ketua Front Nasional adalah Presiden Sukarno, sedangkan Wakil-Wakil Ketuanya serta anggota-anggota Sekretariatnya terdiri dari tokoh-tokoh Nasionalis, Agama dan Komunis serta orang-orang tak berpartai. Di dalam organisasi FN ini terhim pun semua partai politik (10 buah), semua ormas dan semua angkatan bersenjata (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian). Front Nasional telah menghim pun lebih dari 20 juta anggota.
Di samping harus menerima Manifesto Politik sebagai program bersama dalam perjuangan mengalahkan imperialisme dan feodalisme, dalam perjuangan untuk Indonesia yang merdeka penuh dan demokratis, tiap anggota FN harus menerima dan melaksanakan Panca Program sebagai program aksi, yang pokok-pokoknya adalah sbb.:
- Mengkonsolidasi kemenangan yang sudah dicapai dibidang keamanan dan Irian Barat dan bidang lain;
- Menanggulangi kesulitan ekonomi dengan mengutamakan kenaikan produksi;
- Meneruskan perjuangan antiimperialisme dan neo-kolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner berporoskan NASAKOM;
- Meratakan dan mengamalkan indoktrinasi Manipol;
- Melaksanakan rituling aparatur negara, termasuk bidang pemerintahan dari pusat sampai ke-daerah. Panca Program Front Nasional sejalan dengan politik kaum Komunis Indonesia.
Dalam memperkuat Front Persatuan Nasional di Indonesia khususnya dalam memperkuat kerjasama NASA-KOM dan memperkuat organisasi Front Nasional, peranan Presiden Sukarno adalah sangat penting. Presiden Sukarno tidak henti-hentinya beryuang melawan Komunisto-phobi, dan dengan demikian berarti ikut mematahkan salahsatu senjata kaum imperialis yang terpenting, yaitu senjata antiKomunisme, yaitu politik jahat untuk memecahbelah persatuan Rakyat.
Kenyataan bahwa PKI dan kekuatan progresif lainnya di Indonesia terus berkembang membuktikan bahwa kerjasama PKI dengan burjuasi nasional, bahwa adanya front nasional yang luas, samasekali tidak merintangi proletariat Indonesia mengorganisasi revolusi. Sebaliknya, adanya kerjasama dengan burjuasi nasional, adanya front persatuan nasional yang luas, telah membantu pe-kerjaan PKI mengorganisasi revolusi. Ini membuktikan bahwa kaum Komunis Indonesia teguh mempertahankan kebebasannya, tetapi luwes dalam menghadapi klas-klas dan golongan revolusioner lainnya. Ini membuktikan bahwa kaum Komunis Indonesia teguh memegang prinsip Marxisme-Leninisme, tetapi luwes dalam membawakan prinsip itu. (tepuktangan).
Sebagaimana kawan-kawan mengetahui pada tanggal 1 Mei 1963 seperlima dari wilayah Indonesia, yaitu Irian Barat, telah bebas dari kolonialisme Belanda. (tepuktangan). Dengan demikian tidak ada lagi wilayah Indonesia yang diduduki tentara asing. Ini adalah berkat perjuangan Rakyat Indonesia yang heroik, berkat bantuan Negara Sosialis dan Rakyat progresif di seluruh dunia. Dengan ini saya ingin menyampaikan rasa terimakasih Rakyat Indonesia yang se-tulus-tulusnya kepada Rakyat Korea, kepada PBK. dan kepada Kawan Kim Il Bung yang telah memberikan dukungannya dalam perjuangan kami membebaskan Irian Barat. (tepuktangan).
Dengan runtuhnya kekuasaan kolonialisme Belanda di Irian Barat maka satu taraf perjuangan Rakyat Indonesia melawan imperialisme telah diselesaikan, dan telah memasuki taraf baru. Dengan perjuangan taraf baru berarti, bahwa Rakyat Indonesia sudah dapat mencurahkan segenap perhatiannya pada perjuangan melawan imperialisme Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah musuh nomor satu dan musuh yang paling berbahaya dari Rakyat Indonesia. Dengan demikian Rakyat Indonesia mempunyai musuh nomor satu yang sama dengan Rakyat Korea. Kaum imperialis Amerika Serikat sedang berusaha keras untuk mencengkram batang tubuh Republik Indonesia dengan menggunakan kesulitan-kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia dewasa ini. Secara langsung Maupun lewat Dana Moneter Internasional (IMF) AS menjalan-kan politik neo-kolonialisnya, berusaha membikin Indonesia menjadi tergantung kepadanya. Tetapi maksud-maksud busuk AS ini sudah makin tertelanjangi dan Rakyat Indonesia berjuang dengan gigih melawannya serta melawan komprador-komprador dan kaum kapitalis birokrat yang menjadi kakitangannya.
Kenyataan-Kenyataan tersebut tidak bisa lain kecuali lebih mempererat tali persahabatan antara Rakyat Indonesia dan Korea. PKI berkeyakinan penuh, bahwa juga imperialisme AS akan dapat dikalahkan oleh Rakyat Indonesia sebagaimana halnyia mereka dengan gagahberani sudah mengalahkan fasisme Jepang dan kolonialisme Belanda. (tepuktangan riuh).
Dalam meneruskan perjuangan melawan imperialisme tekad kaum Komunis Indonesia dinyatakan dalam semboyan “Satu tangan pegang bedil dan satu tangan lagi pegang pacul”.
Semboyan yang mencerminkan kesediaan mengangkat senjata melawan imperialis dan kesediaan membangun ekonomi negeri disambut dengan hangat oleh Rakyat Indonesia.
Dalam rangka perjuangan melawan imperialisme Rakyat dan Partai Komunis Indonesia menyokong sepenuhnya pelaksanaan Ganefo di Jakarta dalam tahun ini. Suksennya Ganefo akan merupakan demonstrasi, bahwa juga dibidang olahraga kaum imperialis tidak bisa berbuat se-suka-sukanya.
III. RAKYAT INDONESIA MENYAMBUT SUKSES-SUKSES PEMBANGUNAN SOSIALIS DI KOREA
Kami sangat gembira mendengar bahwa negeri kawan-kawan sudah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi industri berat yang self-supporting dengan industri pembuatan mesin yang kuat sebagai intinya. Juga dasar bagi industri ringan telah diletakkan dengan teguh. Sukses-Sukses ini adalah menggembirakan dan mengagumkan semua sahabat Rakyat Korea, dan membikin takut musuh-musuh Rakyat Korea. (tepuk-tangan).
Kami, Rakyat Indonesia, sebagai sahabat Rakyat Korea, menyatakan salut atas hasil-hasil yang kawan-kawan cpai. Sukses-Sukses gemilang ini adalah berkat pimpinan yang tepat dari Partai Buruh Korea di bawah pimpinan Comite Centralnya yang diketuai oleh Kawan Kim Il Bung. (tepuktangan riuh).
Yang maju pesat termyata bukan hanya bidang industri, tetapi juga pertanian. Republik Rakyat Demokratis Korea telah mencapai hasil-hasil besar dibidang pertanian. Saya kira tidak berlebih-lebihan kalau saya mengatakan, bahwa di-antara negara-negara sosialis RRDK merupakan salahsatu yang termaju dalam pertanian, telah berhasil memenuhi ke-perluan akan bahan makanan dan pakaian bagi dirinya sendiri, tanpa tergantung pada import. Pertanian sudah dilakukan secara mekanisasi dengan menggunakan mesin-mesin dan traktor-traktor yang dibuat oleh pabrik-pabrik Korea sendiri.
Walaupun telah mengalami pahit-getir perang agresi Amerika Serikat selama tiga tahun Rakyat dan Pemerintah RRDK telah mencapai hasil-hasil yang gilang-gemilang. Listrik telah memancar di sebagian terbesar desa-desa Korea bagian Utara, irigasi telah menyuburkan sebagian besar tanah garapan. Mekanisasi pertanian dan perkembangan industri berjalan dengan pesat.
Ini menunjukkan betapa benarnya garis yang diberikan oleh Partai Buruh Korea tentang membangun ekonomi nasional yang bebas. Sebagai hasilinya, RRDK berdaulat dalam politik dan bebas dalam ekonomi, artinya berdiri tegak di atas dua kaki sendiri. (tepuktangan).
Bertambah tak tergantungnya ekonomi nasional Korea, bertambah kuatlah dasar-dasar ekonomi Korea, bertambah maju produksinyia, baik industri Maupun pertanian. Semuanya ini bukan hanya berarti kemenangan besar bagi Rakyat Korea, tetapi juga bagi seluruh kubu sosialis, bagi semua gerakan progresif di dunia, bagi Gerakan Komunis Internasional. (tepuktangan).
Di negeri kawan-kawan sudah tidak ada lagi pengangguran, sudah tidak ada lagi kelaparan seperti halnya sebelum kemenangan revolusi. Kini semua anak sudah bersekolah, malahan diwajiibkan untuk sekolah, dan sekolah dengan cuma-cuma, kalau mau bisa sampai ke sekolah tinggi atas tanggungan Pemerintah. Mereka bersekolah dengan pakaian seragam yang bertatawarna. Sungguh indah dipandang mata, satu sorga bagi anak-anak. (tepuktangan).
Saya dan delegasi PKI yang saya pimpin, Sungguhpun belum berapa lama berada di negeri kawan-kawan, sudah melihat bahwa Rakyat Korea hidupnya senang, giat dan antusias bekerja. Dengan kegembiraan dan kegiatan bekerja di bawah pimpinan Partai Buruh Korea dan Kawan Kim Il Bung, Rakyat Korea telah berhasil melenyapkan sampai ke-akar-akarnya dan untuk se-lama-lamanya kemelaratan, pengangguran, kemiskinan, butahuruf dan borok-borok sosial lainnya yang biasa terdapat di-negeri-negeri kapitalis. (tepuktangan). Di sini kami melihat dan merasakan bahwa kerja adalah mulia, bahwa kerja telah menghasilkan hal-hal yang besar. PBK telah berhasil mendidik Rakyat mencintai yang mulia ini, mencintai kerja, tidak hanya dalam kata-kata tapi dalam kenyataan.
Seperti sudah saya katakan di atas, dalam tahun 1956, saya sudah pernah datang kemari. Pada waktu itu saya sudah gembira dan kagum akan hasil-hasil yang kawan-kawan capai dalam waktu singkat sesudah mengalahkan agresi jahat imperialisme AS. Tetapi apa yang kawan-kawan capai sekarang jauh melampaui yang dapat saya duga. Semangat Culima telah memberi antusiasme dan dayakreasi kepada Rakyat Korea untuk bekerja, membangun dan mencapai kemajuan-kemajuan besar.
Sekarang kawan-kawan sedang melaksanakan Plan 7 Tahun, Plan untuk melaksanakan pembangunan teknik pada keseluruhaninya. Dalam rangka ini sedang kawan-kawan jalankan revolusi kebudayaan, secara radikal kawan-kawan sedang meningkatkan taraf hidup Rakyat, melaksanakan industrialisasi sosialis, memperlengkap semua cabang ekonomi nasional dengan teknik yang termodem. Dari keterangan-keterangan yang kami dapat mesin-mesin di RRDK sudah 95% dibuat sendiri, dalam tahun 1962 telah memproduksi 1.200.000 ton besi kasar, lebih dari 1 juta ton baja, hampir 1 juta ton pupuk kimia, 13 juta ton batubara, 10 milyard kilowat jam listrik. Saya yakin bahwa kawan-kawan akan menyele-saikan Plan 7 tahun ini dengan se-baik-baiknya. Saya berani mengatakan ini karena saya sudah melihat semangat kerja dan antusiasme kawan-kawan, semangat Culima yang menjiwai Rakyat Korea di RRDK. (tepuktangan). Berdasarkan semangat Culima ini juga RRDK telah menghasilkan 5 juta ton gandum, 250 juta meter bahan pakaian yang berarti setiap tahun 25 meter per kapita, perumahan untuk 200.000 keluarga dan lain-lain.
Seperti telah saya katakan tadi, semua hasil ini bukan hanya kemenangan bagi Rakyat Korea di bagian Utara, ia juga memberi inspirasi yang me-nyala-nyala pada Rakyat pe-kerja Korea di bagian Selatan untuk terus berduyang melawan kaum imperialis Amerika Serikat dan kakitangan-nya kaum militeris Korea Selatan. Ia juga memberi te-ladan yang tak ternilai bagi Rakyat-Rakyat di-negeri-negeri yang belum bebas untuk membebaskan diri, teladan yang hebat bagi Rakyat-Rakyat Asia dan Afrika. (tepuktangan).
Kemajuan-Kemajuan yang dicapai Rakyat Korea dalam pembangunan sosialis telah membenarkan garis yang tepat dari Partai Buruh Korea di bawah pimpinan Comite Centralna yang Marxis-Leninis.
Kemajuan-Kemajuan dan hasil-hasil kerja yang dicapai oleh RRDK dalam pembangunan Sosialisme, dalam peningkatan taraf hidup Rakyat adalah sangat membantu perkembangan GKI dan gerakan progresif seluruh dunia. (tepuktangan).
Rakyat progresif dan kaum Komunis Indonesia mengikuti dengan gembira kemajuan-kemajuan yang kawan-kawan capai. Tetapi kam pun marah seperti kawan-kawan juga terhadap kaum imperialis AS yang menindas dengan kejam Rakyat Korea di bagian Selatan yang berduyang secara heroik.
Kaum Komunis Indonesia dan Rakyat progresif memprotes dengan keras kekejaman-kekejaman itu dan mengadakan rapat-rapat setiakawan terhadap perjuangan Rakyat Korea di bagian Selatan. (tepuktangan). Perjungan Rakyat Korea di bagian Selatan melawan imperialisme AS mendapat simpati yang besar dari kaum Komunis dan Rakyat progresif Indonesia, dan ini membuktikan bahwa kaum Komunis Indonesia dan Rakyat progresif berada dalam satu barisan dengan kawan-kawan dalam melawan imperialisme AS, dalam mengusir imperialisme AS dari wilayah Korea. Nasib Korea harus berada di tangan Rakyat Korea sendiri, pasukan-pasukan pendudukan AS harus keluar dari Korea Selatan. (tepuk tangan riuh).
Kami yakin bahwa masa penyataun kembali Korea bukanlah masa yang panjang lagi. Saat yang menggembirakan ini berkat perjuangan Rakyat Korea di Utara dan di Selatan, berkat bantuan dari kekuatan-kekuatan progresif di seluruh dunia, sudah berada diambang pintu. Tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalangi keharusan sejarah ini. (tepuk tangan).
IV. UNTUK PERSATUAN KAUM MARXIS-LENINIS SEDUNIA
Sesuai dengan Marxisme-Leninisme, khususnya sesuai dengan Deklarasi Komunis 1957 dan Pernyataan Komunis 1960, PKI adalah Partai Marxis-Leninis yang mengibirkan tinggi-tinggi panji kebebasan, sama deradat, sama hak dan kewajiiban dalam hubungannya dengan Partai-Partai Komunis di seluruh dunia. Dalam hubungan dengan ini kami diberi petunduk oleh peribahasa kuno Rakyat Indonesia, yaitu “berat sama dipikul, ringan sama dijingding”.
Berkat teguh dalam mempertahankan sikap bebasnya serta tepat cara menghadapi persoalannya, PKI bukan haya tidak dirugikan oleh perbedaan-perbedaan pendapat yang serius dan hakiki dalam GKI, tetapi malahan secara politik, ideologi dan organisasi PKI makin dibadayakan selama perbedaan-perbedaan pendapat itu men-jadi-jadi. Walaupun demikian kami merasakan dan menyedari bahwa masalah mempertahankan persatuan di dalam Partai adalah jauh lebih sulit di-negeri-negeri kapitalis daripada negeri-negeri sosialis, karena di-negeri-negeri kapitalis mesin propaganda kaum burjuis beroperasi dengan leluasa menggunakan polemik-polemik antara Partai-Partai Komunis guna memecahbelah barisan kaum Komunis dan mendemoralisasi bagian-bagian tertentu dari massa Rakyat pekerja. Tetapi, sekali lagi, hal ini dapat dilawan asal Partai Marxis-Leninis di negeri kapitalis konsekwem memegang sikap bebasnya dan tepat cara menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat tersebut. Jadi, merosotnya sesuatu Partai Komunis selama ada perbedaan-perbedaan pendapat dalam
GKI, tidak boleh menumpahkan kesalahan pada adanya perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI.
Apakah yang saya maksudkan dengan tepat cara menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat dalam GKI? Yang saya maksudkan ialah bahwa kaum Komunis Indonesia, terutama kader-kadernya, mempelajari perbedaan-perbedaan pendapat itu dengan serius, sehingga adanya perbedaan-perbedaan pendapat itu telah sangat mendorong kaum Komunis Indonesia untuk lebih tekun mempelajari Marxisme-Leninisme dan lebih banyak memeras otaknya sendiri agar dapat menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan hasil pemikiran sendiri dengan tuju-an untuk memenangkan Revolusi Rakyat Indonesia, memperkuat persatuan kaum Marxis-Leninis sedunia dan memenangkan Revolusi Sosialis Dunia. (tepuktangan).
Sikap bebas samasekali bukan sikap netral dan sama-sekali bukan sikap bimbang. Tidak, sikap bebas adalah satu-satunya sikap yang tepat, sikap Marxis-Leninis, yang mutlak diperlukan untuk memelihara dan mengkonsolidasi kebulatan dalam Partai, untuk menimbulkan dayakreasi yang lebih besar dan untuk memberi sumbangan positif kepada GKI. (tepuktangan).
Sikap yang paling mudah, tetapi bukan yang paling selamat, ialah sikap mengekor salahsatu Partai, sikap hanya pandai menerima komando dari salahsatu Partai. Sikap ini mudah diambil, tidak usah banyak berfikir, karena Partai lain sudah memikirkan segala sesuatu baginya, baik mengenai program Maupun garis politik. (tepuktangan). Tetapi sikap ini, yang oleh kaum Komunis Indonesia dinamakan sikap dogmatis modern, bukan sikap yang tepat. (tepuktangan). Ini sikap birokrat, sikap kerbau yang sudah diikat hidungnya sehingga mudah ditarik ke sana dan kemari. Partai yang demikian, kalau masih boleh dinamakan Partai, tidak mungkin kreatif, tidak mungkin militant, tidak mungkin melahirkan pemimpin-pemimpin klas buruh yang berwatak. Akhirnya Partai demikian akan merosot dan menjadi usang, barisannya akan menjadi berantakan dan massa akan bangkit melawan pemimpin-pemimpinnya yang bertanggung-jawab. Pemimpin-Pemimpin ini akan tidak mempunyai harga sama-sekali karena mereka melacurkan diri kepada kaum imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri.
Sikap bebas tidak berarti berkepala-batu tidak mau menerima pendapat-pendapat Partai sekawan. Sikap bebas justru bersedia menerima pendapat-pendapat Partai-Partai sekawan, tetapi ha-nya sesudah difikirkan matang-matang, sesudah pendapat-pendapat itu di-padu dengan segala kemampuan dayakreasi dan kebijak-sanaan proletariat negeri ybs. Kaum Komunis Indonesia membuka hati dan otaknya untuk mendengarkan pendapat-pendapat Partai-Partai sekawan dan jika coycok dengan kebutuhan Revolusi Indonesia serta kebutuhan memperkuat GKI, bersedia pula menerima. (tepuktangan). Inilah keteranganyna mengapa pemimpin-pemimpin PKI suka mengadakan pertemuan-pertemuan dan pembicaraan-pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin Partai sekawan, serta melihat sendiri apa yang sudah dikerjakan Partai-Partai sekawan di negerinya. Dengan demikian pandangan bisa lebih obyektif dalam menilai pendirian Partai-Partai sekawan.
Jika kami kaum Komunis Indonesia tidak mengubah sikapnya terhadap kaum revisionis Yugoslavia bukanlah karena kami berkepalabatu, tetapi kami tidak melihat alasan untuk mengubah pendirian yang sudah ditetapkan dalam Pernyataan Komunis 1960, yaitu bahwa tugas wa-jib kita ialah terus menelanjangi kaum revisionis Yugoslavia guna melindungi gerakan Komunis serta gerakan buruh terhadap ide-ide antiLeninis dari kaum revisionis Yugoslavia. (tepuktangan). Kaum revisionis Yugoslavia makin lama makin brutal dan menjadi lebih-lebih tidak tahu malu dalam memaki jubah “non-aligned” untuk kepen-tingan kaum imperialis, dalam merusak kubu sosialis, dalam merusak solidaritet Asia-Afrika, dalam merusak gerakan serikatburuh dengan mencoba me-nawar-nawarkan konsepnya mengenai konferensi buruh “non-aligned”, dalam menyokong imperialis mengenai proyek “Malaysia”, dalam campurtangan mengenai urusan dalamnegeri Indonesia seperti misalnya menentang pembentukan kabinet NASAKOM yang oleh kaum progresif Indonesia sedang dengan sengit-sengitnya dituntut pelaksanaannya, dsb. dsb.
Oleh karena itu, kaum Komunis Indonesia tetap berpendapat, bahwa kaum revisionis modern harus terus dikutuk. Berhenti mengutuk mereka berarti berhenti menempuh jalan revolusi, berarti mendorong perpecahan dalam GKI, dalam gerakan progresif dan gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia, dalam gerakan untuk demokrasi, kemerdekaan nasional dan perdamaian dunia.
Mengutuk atau tidak revisionisme modern adalah ukur-an yang paling mudah tentang murni atau tidknya sesuatu Partai Marxis-Leninis, tentang setia atau tidknya pada
Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, pada Deklarasi 1957 dan Pernyataan 1960. (tepuktangan riuh).
GKI kita dewasa ini sedang berada dalam keadaan yang sangat penting dan menentukan, berhubung sekarang se-dang berlangsung proses seleksi, yang akan menentukan mana orang-orang Marxis-Leninis yang sejati dan mana yang gadungan. Ini perlu disedari se-dalam-dalamnya, mengingat bahwa sekarang pun sudah ada pemimpin-pemimpin yang mengaku Marxis-Leninis tetapi bertingkah-laku sebagai kaum sosial-demokrat, yaitu bersatu dengan imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri dalam melawan, me-ngejar-ngejar dan memenjarakan kaum Marxis-Leninis yang sejati. Keadaan yang kacau dalam Partai Komunis dan dalam GKI ini tidak boleh dibiarkan, karena membiarkan ini berarti menempatkan proletariat dan Rakyat pekeraya dalam keadaan tidak menentu, dalam keadaan tanpa pimpinan yang dapat dipertayaka. Untuk sementara nampaknya keadaan ini mengkuatirkan karena terasa adanya ketegangan-ketegangan dan ketidakpastian sebagaimana halnya pada tiap proses seleksi.
Tetapi, akhirnya proses seleksi ini akan diikuti oleh masa kristalisasi dan konsolidasi di mana GKI kita dan Partai Marxis-Leninis di tiap negeri akan berbaris dengan langkah-langkah yang lebih tegap lagi.
Demikianlah dengan singkat apa yang ingin saya sampai-kan dalam rapat umum persahabatan yang bersemangat ini. Saya mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian kawan-kawan dan para sahabat. (tepuktangan riuh).
Maksud saya dengan uraian yang saya beri judul “Untuk Persahabatan Abadi Antara Rakyat Indonesia Dan Korea!” ini tidak lain ialah memperkenalkan secara singkat masyarakat Indonesia, Revolusi Indonesia dan Partai Komunis Indonesia, serta memperkenalkan pendirian PKI mengenai berbagai persoalan dalam dan luar negeri yang dihadapinya.
Saya berpendapat bahwa persahabatan antara bangsa-bangsa dan Rakyat-Rakyat hanya dapat diciptakan dan diperkuat jika masing-masing berusaha untuk saling mengenal, khususnya saling mengenal masyarakat masing-masing, revolusi masing-masing dan Partai Marxis-Leninis masing-masing. Dengan mengenal semuanya ini berarti mengenal inti daripada persoalan persahabatan antara bangsa-bangsa dan Rakyat. (tepuktangan riuh).
Saya mengharap dan yakin, bahwa persahabatan akrab yang sudah ada antara kedua Rakyat dan kedua Partai Marxis-Leninis kita makin lama akan makin bertambah kuat. Makin kuat tali persahabatan ini makin keras pukulan-pukulan yang dapat kita berikan kepada kaum imperialis Amerika Serikat dan konco-konconya. (tepuktangan). Sebagai penutup uraian singkat ini dari lubukhati saya berseru: Persahabatan abadi antara Rakyat Indonesia dan Rakyat Korea, Hidup! (tepukiangan sangat riuh). Persahabatan Marxis-Leninis antara PKI dan PBK, Hidup! (tepukiangan sangat riuh). Persatuan kaum Marxis-Leninis sedunia, Hidup! (tepukiangan sangat riuh). Menang dan jayalah Marxisme-Leninisme di seluruh dunia! (tepukiangan sangat riuh). Kaum buruh semua negeri dan nasion-nasion tertindas, bersatulah! (tepukiangan sangat riuh).
Pyongyang, 11 September 1963
LAMPIRAN
Pidato Sambutan Kawan Kang Seng
Hari ini Kawan Aidit telah memenuhi undangan kami, datang ke Sekolah Partai Tinggi CC Partai Komunis Tiongkok untuk memberi ceramah kepada kader-kader tinggi Partai kami. Kami semua merasa gembira sekali. Pertama-Pertama perkenankanlah kami mengucapkan selamat datang yang hangat kepada Kawan Aidit dan kawan-kawan Delegasi Partai Komunis Indonesia.
Kawan Aidit adalah Ketua Partai Komunis Indonesia, pemimpin Partai Komunis Indonesia yang dicintai dan dihormati oleh Partainya, aktivis revolusioner yang dihormati Rakyat Indonesia, pejuang yang ulung dalam gerakan Komunis internasional, kawan dan sahabat yang paling akrab bagi Partai Komunis Tiongkok dan Rakyat Tiongkok. Segenap pelajar Sekolah Partai Tinggi dan kader-kader kami sudah kenal sekali dengan Kawan Aidit. Kami semua sudah membaca tulisan-tulisan, laporan-laporan dan karya-karya Kawan Aidit, dan semua mengetahui sumbangan-sumbangan besar dari Partai Komunis Indonesia yang diketuai oleh Kawan Aidit dalam perjuangan membela Marxisme-Leninisme, melawan revisionisme modern.
Sebagaimana kita ketahui, sejak tahun 1951 Partai Komunis Indonesia menegakkan suatu pimpinan Comite Central yang dikepalai oleh Kawan Aidit untuk seluruh Partai. Sejak itulah Partai Komunis Indonesia selalu berada di bawah pimpinan yang tepat dari Comite Central yang dikepalai oleh Kawan Aidit, menentukan dan menyalankan garis dan politik yang Marxis-Leninis, sehingga perkembangan usaha-usaha revolusioner Partai Komunis Indonesia dan Rakyat Indonesia mendapat jaminan yang paling penting. Sejak saat itu, Partai Komunis Indonesia memimpin Rakyat Indonesia, mempersatukan semua kekuatan patriotik dan demokratis di Indonesia, dan menyapai kemenangan-kemenangan besar dalam perjuangan untuk demokrasi Rakyat, melawan kekuatan-kekuatan reaksioner dalam negeri, Maupun dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh, melawan imperialisme AS dan imperialisme Belanda. Partai Komunis Tiongkok dan Rakyat Tiongkok memandang setiap kemenangan dan setiap hasil Partai Komunis Indonesia sebagai kemenangannya sendiri, sebagai hasilnya sendiri, dan merasa gembira serta mendapat inspirasi karena itu.
Partai Komunis Indonesia termasuk salahsatu Partai Marxis-Leninis yang besar dan teguh dalam barisan Komunis internasional. Dengan pimpinan CC Partai yang dikepalai oleh Kawan Aidit, Partai Komunis Indonesia pandai memadukan kebenaran universil Marxisme-Leninisme dengan praktek revolusi Indonesia, pandai menyimpulkan pengalaman revolusi Indonesia, dan menyusun teori yang sistimatis dan politik-politik sebagai tuntunan bagi revolusi Indonesia, sehingga memperkaya dan mengembangkan Marxisme-Leninisme. Justru karena itu, usaha-usaha revolusioner Partai Komunis Indonesia dan Rakyat Indonesia mengalami kemajuan yang dinamis. Kini Partai Komunis Indonesia dengan keanggotaannya yang beryumlah jutaan itu telah menjadi Partai besar nomor satu di antara Partai-Partai Komunis berbagai negeri di luar kubu Sosialis.
Sesudah Kongres Ke-XX PKUS, ada suatu pengalaman dan pelajaran yang penting dalam gerakan Komunis internasional. Yaitu, bila sesuatu Partai Komunis berpegang teguh pada garis revolusioner Marxis-Leninis, dengan tegas menolak dan melawan garis revisionis, ia akan subur penuh semangat ber-kobar-kobar, dan pasti dapat membawa maju usaha-usaha revolusioner, pasti memperoleh dukungan dari massa Rakyat. Sebaliknya, bila sesuatu Partai menyimpang dari Marxisme-Leninisme, mengambil garis revisionis yang tidak revolusioner dan menentang revolusi, ia pasti akan terpisah dari massa Rakyat yang luas, sehingga politis ia terpencil dan lemah tidak berdaya, atau merosot menjadi partai revisionis, menjadi partai Sosial-Demokratis yang baru.
Dalam surat “Usul Mengenai Garis Umum Gerakan Komunis Internasional”, Partai kami pernah berkata, bahwa di antara pengalaman-pengalaman gerakan Komunis internasional selama tahun-tahun terakhir ini, banyak yang seharusnya mendapat pujian, tapi banyak pula yang menyedihkan. Adapun Partai-Partai sekawan di-negeri-negeri kapitalis: Ada Partai yang memang sangat kuat sebelum Maupun sesudah Perang Dunia II, tetapi karena selama tahun-tahun akhir ini pimpinan Partai itu menyalankan garis revisionis, terlepas dari tuntutan revolusioner massa Rakyat, maka ia semakin kehilangan kepercayaan massa.
Ada Partai yang pimpinannya mengambil garis yang menolak revolusi dan menentang orang lain berrevolusi, maka kaum Marxis-Leninis di luar Maupun dalam Partai tak bisa lain kecual berkumpul di luar Partai, menggantikan kedudukan mereka dalam revolusi dan memimpin Rakyat berrevolusi.
Ada Partai yang pimpinannya ketika Rakyat bangkit mengangkat senjata berrevolusi, samasekali memisahkan diri dari perjuangan bersenjata, sehingga samasekali kehilangan kedudukan politik didalamnegeri, dan hege- moni revolusi jatuh ke tangan burjuasi nasional.
Ada Partai yang pimpinannya menjalankan politik oportunis, selalu menaruh ilusi pada kerjasama dengan burjuasi untuk menciptakan suatu teladan tentang apa yang disebut “peralihan secara damai”, akibatnya ketika burjuasi reaksioner mengkhianati revolusi dan menindas Rakyat, kaum Komunis dan massa revolusioner menderita korban berat yang tidak semestinya.
Ada Partai yang grup pimpinannya menempuh jalan oportunis, akibatnya Partai itu merosot menjadi embel-embel burjuasi reaksioner.
Kesemuanya itu adalah menyedihkan, dan juga mem- beri pelajaran yang minta direnungkan sungguh-sungguh.
Tetapi yang patut kita gembirakan dan yang kita rasa beruntung ialah bahwa lebih banyak pula pengalaman-pengalaman yang sukses dalam gerakan Komunis internasional. Yaitu pengalaman Partai Komunis Indonesia, pengalaman Par- tais Komunis Jepang dan Partai-Partai sekawan lainnya yang Marxis-Leninis. Pengalaman-Pengalaman yang sukses itu patut kita puji. Partai Komunis Indonesia berpegang teguh pada garis Marxis-Leninis yang tepat, karena itu usaha-usaha revo- lusioner di bawah pimpinan Partai mencapai kemajuan yang pesat, kewibawaan dan pengaruh Partai di dalam mau- pun luar negeri semakin naik. Di kalangan kaum Komunis dan Rakyat revolusioner di dunia kapitalis, terutama di- negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin, Partai Komunis Indonesia mempunyai daya-penarik yang semakin besar. Hasil-Hasil besar dan pengalaman kaya yang dicapai oleh Par- tais Komunis Indonesia dengan berpegang teguh pada garis revolusioner Marxis-Leninis, mengandung arti internasio- nal yang penting dalam gerakan Komunis internasional.
Seperti juga Partai kami, Partai Komunis Indonesia yang berpegang teguh pada Marxisme-Leninisme menga-lami fitnahan-fitnahan dan serangan-serangan dari kaum revisionis. Untuk kaum Marxis-Leninis, serangan-serangan dan fitnahan-fitnahan kaum revisionis terhadap kita itu bukanlah sesuatu yang memalukan bagi kita, melainkan suatu kehormatan bagi kita, dan bukan menundukkan kesalahan jalan kita, melainkan justru membuktikan kebenaran jalan kita.
Dalam perjuangan bersama melawan imperialisme, melawan kaum reaksioner berbagai negeri dan revisionisme, Partai Komunis Indonesia dan Partai Komunis Tiongkok selalu saling menyokong dan saling membantu. Kami menyatakan terimakasih dari lubuk hati kami atas sokongan dan bantuan Partai Komunis Indonesia kepada kami dalam perjuangan bersama. Antara Partai Komunis Indonesia dan Partai Komunis Tiongkok terdapat persahabatan dan persatuan yang dalam dan takterpatahkan. Persahabatan dan persatuan yang besar ini digalang atas dasar Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, digalang atas dasar membela Marxisme-Leninisme serta melawan revisionisme dan dogmatisme, digalang atas dasar kebebasan, persamaan, mencapai kebulatan melalui musyawarah dan saling-bantu sebagaimana tercantum dalam Deklarasi dan Pernyataan, digalang atas dasar perjuangan bersama untuk perdamaian dunia, pembebasan nasional, demokrasi Rakyat dan Sosialisme, melawan imperialisme yang dikepalai oleh AS, dan digalang atas dasar usaha bersama untuk mencapai kemenangan revolusi dunia proletar. Ini berarti bahwa kita adalah saudara seklas yang senasib senafas. Imperialisme, kaum reaksioner dan kaum revisionis mencoba merusak persaudaraan kedua Partai kita, tapi semua itu sia-sia belaka.
Kawan-Kawan, pengalaman Partai Komunis Indonesia yang kaya dan generalisasi pengalaman itu secara teoritis, yaitu karya-karya Kawan Aidit, sungguh pentinglah artinya sebagai pelajaran kita. Kita harus dengan rendah-hati belajar dari pengalaman Partai Komunis Indonesia, belajar dari karya-karya Kawan Aidit. Hari ini Kawan Aidit sendiri datang memberi ceramah kepada kita, dengan demikian kita justru mendapat suatu kesempatan yang terbaik untuk belajar.
Kawan-Kawan, mari kita sambut ceramah Kawan Aidit untuk kita ini dengan tepuktangan yang hangat!
Peking, 2 September 1963
Pidato Sambutan Kawan Peng Tjen
Hari ini kita mengadakan rapat besar yang meriah di-sini sebagai sambutan yang hangat kepada Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia Kawan D. N. Aidit dan kawan-kawan dari Delegasi Partai Komunis Indonesia yang di-pimpinnya. Dan dengan kesempatan ini kami mengundang Kawan Aidit membuat laporan untuk kita.
Nama Kawan Aidit sudah dikenal sekali dan terasa akrab sekali bagi kita semua. Ia adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia yang mempunyai prestise tinggi dalam gerakan Komunis internasional, pejuang yang ulet dalam perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme, ahli teori Marxis-Leninis dan aktivis sosial yang ulung, sahabat dan kawan seperjuangan yang akrab bagi Rakyat Tiong-kok.
Kaum Komunis Tiongkok dan Rakyat Tiongkok selalu menaruh rasa hormat dan rasa kagum yang se-tinggi-tingginya kepada Partai Komunis Indonesia.
Sejak lahirnya pada tahun 1920, Partai Komunis Indonesia menempuh suatu jalan perjuangan yang jaya. Selama 43 tahun ini kaum Komunis Indonesia selalu ber-diribarisan terdepan dalam perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia melawan imperialisme dan kaum reaksi-oner dalam dan luar negeri. Teristimewa selama belasan tahun akhir-akhir ini, seiring dengan kemenangan-kemenangan usaha Rak-yat Indonesia yang susul-menusul dalam memperjuangkan dan membela kemerdekaan nasional dan demokrasi, Partai Komunis Indonesia telah tumbuh dan menjadi besar dengan pesatnya.
Partai Komunis Indonesia adalah suatu barisan pelopor proletariat yang perkasa, penuh daya-kreasi dan militan, satu Partai besar nasional yang berhubungan rapat de-ngan massa Rakyat Indonesia yang luas, satu barisan pembidas Marxis-Leninis yang teguh dalam gerakan Ko-munis internasional. Kini Partai Komunis Indonesia telah menjadi Partai Komunis yang paling besar di luar negeri-negeri kubu sosialis, dan juga termasuk salahsatu Partai Ko-munis yang terbesar di seluruh dunia.
Hasil-Hasil yang gemilang itu dicapai oleh Partai Komunis Indonesia berkat penempuhan garis dan politik Marxis-Leninis yang tepat. Sejak tahun 1951, di dalam Partai
Komunis Indonesia terbentuk satu inti pimpinan CC Partai yang Marxis-Leninis dengan dikepalai oleh Kawan Aidit. Garis dan politik yang tepat dari CC Partai Komunis Indonesia yang dikepalai oleh Kawan Aidit membawa peryuangan revolusioner Partai Komunis Indonesia dan Rakyat Indonesia dari kemenangan yang satu menuju kemenangan yang lain.
Partai Komunis Indonesia konsekwenn mengibarkan tinggi-tinggi panji antiimperialis yang terang-benderang. Partai Komunis Indonesia dan Rakyat Indonesia telah menundukkan semangat berduyang yang jaya dan gagah-perwira dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk membebaskan Irian Barat, sehingga mendapat penghargaan dari Rakyat revolusioner sedunia. Sesudah kekuatan neo-kolonialis imperialisme AS merembes ke Indonesia, Partai Komunis Indonesia dengan tegas mensinyalir tepat pada waktunya, bahwa imperialisme AS adalah musuh nomor satu yang paling berbahaya bagi Rakyat Indonesia. Dalam perjuangan revolusioner yang lama melawan imperialisme, Partai Komunis Indonesia ber-sama-sama dengan Rakyat Indonesia telah menghim pun pengalaman yang sangat kaya. Kaum Komunis Indonesia telah mengalami sukses-sukses dan juga mengalami kekandasan-kekandasan. Sukses-Sukses dan kekandasan-kekandasan itu menjadi harta mereka yang tak ternilai. Di dalam kancah perjuangan itulah mereka digembleng menjadi lebih teguh.
“Berani, Berani, Sekali Lagi Berani!” menjadi semboyan yang lantang dari kaum Komunis Indonesia. Di samping keteguhan dalam perjuangan, mereka menundukkan pula keluwesan dalam taktik. Di samping tujuannya yang jauh, mereka mengamalkan pekerjaan-pekerjaan kongkrit yang sungguh-sungguh mendalam dan nyata. Ini menundukkan kepahlawanan dan kecerdikan Rakyat Indonesia, dan merupakan jaminan bagi pasti tercapaininya kemenangan terakhir untuk perjuangan yang konsekwenn melawan imperialisme yang dikepalai oleh AS dan kakitangan-kakitangannya.
Partai Komunis Indonesia mengibarkan tinggi panji revolusioner yang terang-benderang. CC Partai Komunis Indonesia yang diketuai oleh Kawan Aidit secara gemilang memadukan kebenaran universil Marxisme-Leninisme dengan praktek revolusi Indonesia yang kongkrit, mengemukakan program yang lengkap untuk penyelesaian revolusi nasional dan revolusi demokratis sampai keakar-akarnya di Indonesia tingkat sekarang ini. Dengan bertolak dari kenyataan di Indonesia, dan dengan menyimpulkan pengalaman perjuangan massa di negerinya, Partai Komunis Indonesia secara kreatif melaksanakan dan mengembangkan Marxisme-Leninisme sesuai dengan syarat-syarat di negerinya. Justru karena mereka secara bebas merumuskan dan melaksanakan garis dan politik revolusioner yang sesuai dengan keadaan di negerinya, maka Partai mereka demikian dicintai oleh massa Rakyat yang luas, demikian ber-kobar-kobar semangatnya, dan demikian ber-limpah-limpah kekuatannya.
Partai Komunis Indonesia mengibarkan tinggi panji internasionalisme proletar yang terang-benderang. Partai Komunis Indonesia konsekwen mempertahankan prinsip-prinsip fundamentil Marxisme-Leninisme, konsekwen mempertahankan prinsip-prinsip revolusioner Deklarasi 1957 dan Pernyataan 1960, dan atas dasar itu membela persatuan gerakan Komunis internasional, menentang perpecahan-perpecahan. Mereka mempunyai pendirian prinsipil yang tegas, sekali-kali tidak akan condong ke mana angin yang deras. Mereka setia kepada persetujuan bersama dari Partai sekawan semua negeri, berjung tak kenal damai melawan revisionisme modern, bahaya utama bagi gerakan Komunis internasional dewasa ini, dan melawan dogmatisme. Mereka tak henti-hentinya membongkar aktivitet-aktivitet jahat klik pengkhianat Tito yang mengabdikan diri sebagai detasemen istimewa imperialisme AS. Partai Komunis Indonesia telah menunjukkan kesetiaan yang tidak berhingga dan memberi sumbangan yang luarbiasa kepada usaha revolusioner proletar internasional.
Contoh yang diberikan oleh Partai Komunis Indonesia itu menyatakan, bahwa hanya bila konsekwen pada Marxisme-Leninisme, konsekwen melawan imperialisme, konsekwen berrevolusi, konsekwen pada internasionalisme proletar, konsekwen menolak dan melawan revisionisme modern, konsekwen menolak dan melawan dogmatisme modern yang hanya tahu ber-ia-ia saja kepada tongkat kmando dari luar negeri, dan hanya bila segala sesuatu didasarkan pada keadaan kongkrit di negerinya, didasarkan pada kebutuhan dan tuntutan massa Rakyat di negerinya, barulah Partai itu dapat membimbing perjuangan revolusioner Rakyat mencapai kemenangan terus-menerus, ba-rulah ia dapat mengembangkan serta membesarkan terus-menerus barisan Partai dan kekuatan Partai.
Sebaliknya, jika menjalankan revisionisme, berputar-putar terus menurut tongkat komando dari luar negeri, tidak mau melawan imperialisme, menolak revolusi, me-lemparkan internasionalisme proletar, akibatnya bukan saja usaha revolusioner Rakyat itu akan menderita kerugian, bahkan barisan Partai dan kekuatan Partai akan bercerai-berai. Baik sekali apa yang dikatakan oleh Kawan Aidit, bahwa “Suatu Partai Komunis yang kena penyakit revisionisme tidak mungkin menjadi kuat, malahan makin lama makin menjadi lemah, makin kehilangan semangat beryuang dan perpecahan di dalamnya men-jadi-jadi. Ini tidak bisa lain, karena revisionisme tidak memobilisasi kaum Komunis dan massa Rakyat melawan musuh-musuhnya, tetapi mengutamakan berkompromi dengan musuh-musuh Rakyat.”
Bumi selalu berputar, dan sejarah umat manusia selalu berkembang maju ke depan. Mustahil semut dapat menggoyahkan pohon, demikian pula halnya mustahil se-gelintir imperialis dengan kaum reaksioner dapat memu-tarkan arah perkembangan sejarah dunia. Bagaimanapun juga, Rakyat dunia akan menempuh jalannya sendiri, mereka tetap hendak menentang imperialisme, tetap hendak berrevolusi. Rakyatlah golongan yang terbanyak, dan mereka yang antiRakyat hanyalah golongan kecil. Umat yang menghendaki revolusi adalah golongan terbanyak, dan mereka yang menentang revolusi hanyalah golongan kecil. Ini adalah sesuatu kebenaran yang mustahil dapat dijatuhkan. Kaum revisionis modern semakin seragam dengan imperialisme dan kaum reaksioner, semakin meremehkan, membenci dan menentang usaha revolusioner Rakyat di berbagai negeri, maka tak boleh tidak, mereka akan semakin terpencil pula.
Kunjungan kali ini oleh Delegasi Partai Komunis Indonesia yang dipimpin oleh Kawan Aidit ke Tiongkok akan lebih memperkuat persatuan persaudaraan antara Partai Komunis Tiongkok dengan Partai Komunis Indonesia, akan lebih mempertebal persahabatan militan antara Rakyat kedua negeri. Persatuan persaudaraan antara Partai Komunis Tiongkok dengan Partai Komunis Indonesia didasarkan pada Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, dikristalisasikan dalam api perjuangan bersama, dan sudah lama teruji. Rakyat Tiongkok dan Rakyat Indonesia selalu saling menyokong dan bekerjasama dalam usaha bersama melawan imperialisme dan kolonialisme, membela perdamaian dunia dan memadukan persatuan Asia-Afrika. Partai Komunis Tiongkok dan Rakyat Tiongkok merasa gembira sekali dengan setiap kemajuan yang dicapai oleh Rakyat Indonesia dan Partai Komunis Indonesia dalam perjuangannya untuk kemerdekaan nasional yang penuh dan untuk demokrasi. Dalam perjuangan selanyutnya, Rakyat Tiongkok akan selamalamanya berdampingan dengan Rakyat Indonesia.
Bersatulah kaum buruh semua negeri, bersatulah kaum buruh semua negeri dengan Rakyat tertindas dan bangsa tertindas, untuk melawan musuh kita bersama!
Hidup Marxisme-Leninisme!
Peking, 4 September 1963
Pidato Sambutan Kawan Tjen Ju
Atasnama Partai dan Rakyat Kwantung saya menyambut sehagat-hangatnya atas kedatangan Kawan Aidit dan para anggota delegasinya kekota Kwantung!
Partai Komunis Indonesia adalah satu Partai Marxis-Leninis yang besar dan kuat. Kami dan semua kaum Komunis Tiongkok senantiasa menghargai dan menghormat setinggi-tingginya kepada PKI. Kawan Aidit adalah pemimpin PKI dan pejuang GKI yang ulung, Kawan seperyuangan yang paling akrab dari Partai Komunis Tiongkok dan Rakyat Tiongkok. Kita selalu merasa bangga yang tak terhingga mempunyai Kawan seperyuangan ini demikian.
PKI dilahirkan dalam bulan Mei 1920. Selama 43 tahun ini, ia selalu secara teguh berdiri di barisan terdepan dalam peryuangan revolusioner antiimperialisme dan mengganyang reaksi di dalam dan diluarnegeri. Dalam peryuangannya yang gagah perwira dan terus-menerus melawan imperialisme dan semua reaksi itu, ia telah mengumpulkan pengalaman yang kaya dan berharga. Sejak tahun 1951, telah dibentuk CC baru yang diketuai oleh Kawan Aidit. Berkat pimpinan yang tepat dari CC yang diketuai oleh Kawan Aidit itu, PKI telah menetapkan dan melaksanakan garis Marxis-Leninis yang tepat. PKI dan usaha-usaha revolusioner Rakyat Indonesia telah memperoleh kemayuan yang besar. Kini PKI telah mempunyai beberapa juta anggota dan calonanggota, telah menjadi Partai Komunis yang terbesar diuar kubu sosialis, juga merupakan salahsatu Partai Komunis yang terbesar di dunia ini. Kewibawaan dan pengaruhnya terhadap Indonesia dan GKI kian hari kian membesar, terutama di kalangan Rakyat dan Partai-Partai Komunis di Asia, Afrika dan Amerika Latin kian hari kian besar daya tariknya. Sukses-Sukses yang diperoleh PKI dan pengalamannya yang kaya raya itu, dalam GKI, mempunyai arti internasional yang penting.
PKI adalah suatu Partai yang memegang teguh prinsip, ia secara tegas dan teguh mendukung serta membela Deklarasi Moskow 1957 dan Pernyataan Moskow 1960, ia tidak akan menjual-belikan prinsip, tidak akan mendayung ke sana-kesini menurut tiupan angin. PKI menjunjung tinggi 3 panji yang terang-benderang: ia menjunjung-tinggi-tinggi panji antiimperialisme, secara tegas berjuang melawan imperialisme yang dikepalai AS dan kakitangan-kakitangannya, ia menjunjung tinggi-tinggi panji revolusi, secara teguh melaksanakan garis dan politik revolusioner yang sesuai dengan keadaan negerinya; ia menjunjung tinggi-tinggi panji internasionalisme proletar, secara tegas menentang revisionisme modern dan dogmatisme modern yang mentaati saja tongkat komando dari luar negeri. PKI secara tegas mengkritik revisionisme modern Yugoslavia, terus-menerus menelanjangi kegiatan-kegiatan jahat klik pengkhianat Tito yang menjadi barisan istimewa imperialis AS. Justru karena inilah, maka PKI tidak saja dengan sukses memimpin perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia dari kemenangan kekemenangan, mendapatkan dukungan yang hangat dari Rakyat di negerinya, juga terhadap usaha revolusioner proletariat internasional telah memberikan sumbangannya yang besar.
PKI dalam memimpin Rakyat Indonesia melakukan perjuangan revolusioner yang lama itu telah mengumpulkan pengalaman sangat kaya sekali, secara gemilang memadukan kebenaran umum (universil) Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, dan dengan demikian telah memperkaya dan mengembangkan Marxisme-Leninisme. Dan ini tidak dapat dipisahkan dengan nama Kawan Aidit. Kawan Aidit adalah pejuang Komunis yang ulung, teoritikus Marxis-Leninis yang gemilang. Usaha-Usaha teorinya yang “meng-Indonesiakan” Marxisme-Leninisme, telah memperkaya pusaka Marxisme-Leninisme. Dalam membela kemurnian Marxisme-Leninisme, dalam berjuang melawan revisionisme modern ia telah memberikan andilnya yang sangat besar. Di antara kita sudah banyak yang membaca Pilihan Tulisan Aidit I dan II, dan karya-karya serta pidato-pidato Kawan Aidit lainnya, semua karya itu mendapat sambutan yang meriah dari para kader dan anggota Partai kita serta pembaca-pembaca Tiongkok yang luas. Dari karya-karya itu kita telah belajar Marxisme-Leninisme yang hidup, telah mendapat pelajaran-pelajaran yang sangat berguna sekali. Hari ini kita dapat secara langsung mendengarkan laporan Kawan Aidit sendiri yang khusus diperuntukkan bagi kita, yang sudah tentu membikin kita lebih-lebih merasa bahagia dan gembira.
Sekarang saya persilahkan Kawan Aidit tampil kemimbar.
Kanton, 25 September 1963
Pidato Sambutan Kawan Huh Suk Sun
Adalah suatu kegembiraan yang besar bagi kami hari ini mendapat kesempatan untuk menyambut di Pyongyang, ibukota demokratis negeri kami, Kawan Aidit, pemimpin terbaja Partai Komunis Indonesia dan tokoh terkemuka Gerakan Komunis Internasional, beserta delegasi Partai Komunis Indonesia yang dipimpinnya.
Dengan kepercayaan Comite Central Partai Buruh Korea dan atasnama Comite Kota Partai Buruh Korea Pyongyang serta seluruh anggota Partai dan Rakyat pe- kerja Pyongyang, saya menyambut hangat kedatangan delegasi Partai Komunis Indonesia yang dipimpin oleh Kawan Aidit dan lewat kawan menyampaikan salam se- hangat-hangatnya kepada Partai Komunis Indonesia yang jaya dan Rakyat Indonesia.
Rakyat Indonesia adalah Rakyat yang bijaksana dan berani dengan sejarahnya yang berabad-abad serta tra- disi revolusionernya yang gemilang.
Rakyat Indonesia telah melakukan perjuangan gigih dalam waktu yang lama melawan kaum kolonialis yang akhirnya mengakibatkan tergulingnyna kekuasaan kolonial imperialis Belanda dan terbentunkna Republik Indonesia yang merdeka. Kaum imperialis telah menggunakan segala macam tipudaya yang jahat untuk memerosotkan kem- bali Rakyat Indonesia yang merdeka menjadi budak-budak kolonial. Tetapi Rakyat Indonesia telah menggagalkan rencana-rencana agresif kaum imperialis dan mempertahankan kemerdekaan tanahairnya lewat perjuangannya yang heroik.
Dalam tahun-tahun belakangan ini, Rakyat Indonesia telah mencapai sukses dalam perjuangannya untuk mengem- balikan Irian Barat dan dengan demikian merebut ke- menangan besar baru dalam perjuangan untuk kemer- dekaan penuh tanahairnya.
Dewasa ini Rakyat Indonesia terus berjuang dengan tegar melawan kekuatan-kekuatan agresif imperialisme yang di- kepalai oleh AS dan kekuatan-kekuatan reaksioner dalamnegeri untuk mengkonsolidasi kemerdekaan nasional serta mem-percepat kemajuan sosial, dan telah merebut kemenangan-kemenangan besar dalam perjuangannya.
Di barisan depan perjuangan Rakyat Indonesia untuk kemerdekaan dan kemajuan berdirilah Partai Komunis Indonesia yang telah terbajakan dan tertempra dalam api perjuangan yang panjang dan sengit.
Empat puluh sekian tahun sejarah Partai Komunis Indonesia bersinaran dengan perjuangan-perjuangan yang jaya dari putera dan puteri Rakyat Indonesia yang terbaik melawan kaum agresor asing dan kaum reaksioner dalamnegeri.
Kaum Komunis Indonesia telah berjuang dengan gagah perwira, dengan menanggulangi segala kesulitan dan rintangan baik dengan mengangkat senjata Maupun dengan sembunyi-sembunyi melawan kaum kolonialis Belanda, melawan tentara pendudukan imperialis Jepang dan kaum intervensionis bersenjata imperialis Inggris, melawan manuvre-manuvre agresif yang tak kunjung henti dari imperialisme AS dan melawan kaum reaksioner dalamnegeri yang bersenongkol dengan kekuatan agresif imperialisme asing.
Kaum Komunis Indonesia berjuang dengan gigih untuk revolusi tanpa menghentikannya dalam keadaan yang betapa pun rumit dan beratnya, terusmenerus memperluas dan memperkuat barisan dalam perjuangannya, menarik massa luas kefihak revolusi dan membuka jalan keke-menangan revolusi melawan perjuangan yang pantang mundur.
Politik yang tepat dan usaha-usaha yang tegar dari Partai Komunis Indonesia untuk memperkuat Partai dan front persatuan dan untuk kemajuan yang terusmenerus dari gerakan revolusioner, telah mencapai hasil-hasil yang luar-biasa.
Dewasa ini Partai Komunis Indonesia telah menjadi Partai Marxis-Leninis yang perkasa yang dengan teguh telah mempersatukan lebih dari 2,5 juta anggotanya dengan satu ideologi dan kehendak serta telah mengikat tali kekeluargaan dengan puluhan juta massa pekerja Indonesia.
Barisan Partai Komunis Indonesia sedang tumbuh dengan cepat dan dikonsolidasi lebih lanjut secara organisasi dan ideologi.
Partai Komunis Indonesia sedang mengungguli kekuatan-kekuatan reaksioner dan menjamin kemenangan kekuatan-kekuatan revolusioner dengan menghim pun dise-kitarnya massa Rakyat yang luas dan menggalang front persatuan dengan segenap kekuatan progresif dalam negeri.
Semua kenyataan ini menundukkan kekuatan yang tak bisa dihancurkan dari Partai Komunis Indonesia dan martabatnya yang tak bisa digoyahkan di kalangan massa, dan membuktikan tepatnya garis politik dan organisasinya.
Dengan teguh berpegang pada prinsip-prinsip revolusioner Marxisme-Leninisme, Partai Komunis Indonesia yang diketuai oleh Kawan Aidit mentrapkan prinsip-prinsip ini dengan kreatif pada syarat-syarat kongkrit di Indonesia dan memimpin perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia dengan pandai.
Partai Komunis Indonesia bukan hanya pelopor yang terbajakkan dari klas buruh Indonesia tetapi adalah juga Partai Marxis-Leninis yang terbesar di negeri-negeri kapitalis, dan ia setia tanpa batas pada cita-cita revolusioner klas buruh internasional. Partai Komunis Indonesia, dengan bertolak dari pendirian yang bebas dan berdaulat, gigih melawan revisionisme modern serta oportunisme dalam segala coarknya, dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme serta internasionalisme proletar, pada prinsip-prinsip revolusioner dari Deklarasi dan Pernyataan Moskow.
Perjuangan yang berprinsip dan usaha-usaha yang sungguh-sungguh dari Partai Komunis Indonesia untuk menyelamatkan persatuan kubu sosialis serta setiakawan gerakan Komunis internasional memberikan sumbangan yang berharga pada urusan bersama kita.
Berkat amal yang dipersembahkanyna kepada tanahair dan Rakyat serta perjuangannya yang tak kenal kompromi melawan imperialisme, Partai Komunis Indonesia telah memperoleh kewibawaan serta kepercayaan yang taktergoyahkan di kalangan massa Rakyat Indonesia dan memperoleh penghormatan serta kecintaan yang mendalam dari klas buruh dan Rakyat-Rakyat progresif di seluruh dunia sebagai detasemen revolusioner yang terpercaya dari gerakan Komunis internasional.
Perjuangan yang adil yang kini sedang dilakukan oleh Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia merupakan matarantai yang penting dalam perjuangan bersama dari Rakyat sedunia untuk perdamaian, demokrasi, kemerdekaan nasional dan Sosialisme. Ia memberikan dorongan yang istimewa besarnya pada Rakyat-Rakyat tertindas dan bangsa-bangsa yang baru merdeka di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Kami memberikan sokongan yang positif pada perjuangan Partai Komunis dan Rakyat Indonesia melawan imperialisme untuk pengkonsolidasian kemerdekaan nasional dan dipercepatnya kemajuan sosial. Kami juga menyokong perjuangan Rakyat Indonesia melawan komplotan untuk mendirikan Federasi “Malaysia” oleh imperialisme Inggris beserta agen-agennya. Kami dengan tulus ikhlas merasa gembira atas semua hasil yang telah dicapai oleh kaum Komunis dan Rakyat Indonesia dan dengan sepenuh hati mengharapkan kemenangan-kemenangan yang lebih besar kepada mereka dalam perjuangannya.
Partai Buruh Korea dan Partai Komunis Indonesia kokoh bersatu atas dasar prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, dan berdiri tidak bimbang-bimbang dalam front bersama melawan imperialisme.
Rakyat Korea dan Indonesia sudah sejak lama saling memberikan sokongan dan dorongan satu sama lainnya dalam perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme. Dalam perjuangan bersama melawan politik agresif dari kaum imperialis yang dikepalai oleh Amerika Serikat, kedua Rakyat kita semakin erat-erat bergandengan tangan.
Partai kami bangga mempunyai kawan seperjuangan yang tercinta seperti Partai Komunis Indonesia yang setia pada Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, dan Rakyat kami mempunyai respek yang sedalam-dalamnya serta rasa cinta yang sejati pada Rakyat Indonesia.
Kami menilai besar sekali persahabatan dan persatuan dengan Partai Komunis dan Rakyat Indonesia dan akan berbuat segala sesuatu menurut kekuatan kami untuk mengkonsolidasinya.
Kami mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa kun- jungan delegasi Partai Komunis Indonesia ke negeri kami akan memberikan sumbangan besar bagi diperkuatnya lebih lanjut persahabatan dan persatuan kedua Rakyat dan Partai kita, serta bagi diperkuatnya persatuan gerakan Komunis internasional.
Kawan Aidit dalam tahun 1956 pernah mengunjungi negeri kita. Dan tujuh tahun telah lampau semenjak itu. Selama periode ini wajah negeri kita telah mengalami perubahan besar.
Pada awal tahun 1956, kita masih bergulat dengan tugas-tugas rehabilitasi sesudah perang, dan kehidupan Rakyat kita ketika itu masih sangat sukar.
Pyongyang, ibukota demokratis, misalnya, belum sembuh dari luka-luka perangnya dan rencana pembangunan kota baru masih dalam tingkat pertama.
Tetapi selama tujuh tahun yang lampau kota Pyongyang kita telah berubah menjadi kota yang indah dan sangat modern berkat hasil kerya yang penuh pengabdian dari Rakyat pekerya kita.
Di bawah pimpinan Partai yang dipimpin oleh Kawan Kim Il Bung Rakyat kita telah merehabilitasi perekonomian yang rusak dan telah melaksanakan revolusi sosialis di kota dan desa dalam jangka waktu yang singkat se-sudah perang, dalam pada itu mencapai sukses besar dalam pembangunan sosialis.
Dengan teguh berhim pun di sekitar Partai, Rakyat kita telah melakukan mars besar Culima di bawah panji-panji ke-percayaan pada diri sendiri; melenyapkan keterbelakangan dan kemelaratan negeri yang berabad-abad lamanya dan membangun dasar-dasar yang kokoh bagi perekonomian nasional yang tak tergantung. Kehidupan materiil dan kul-turil Rakyat kita secara radikal telah diperbaiki, dan ke-budayaan serta kesenian nasional berkembang sepenuhnya. Negeri kita telah diubah menjadi satu negara industri-agraria yang sosialis yang merdeka di lapangan politik dan ekonomi, dan basis revolusioner kita telah diperkokoh dengan teguh.
Kaum imperialis AS mencoba menaklukkan Rakyat kita agar untuk selama-lamanya tidak berdiri di atas kaki sendiri lagi, tetapi dengan jalan apa pun mereka tidak dapat mencegah kemajuan yang perkasa dari Rakyat kita yang telah mengambil nasibnya di tangannya sendiri dan telah bangkit dalam membangun kehidupan baru.
Sekarang situasi di negeri kita telah menjadi sangat menguntungkan bagi Rakyat Korea dan sedang menjadi makin tidak menguntungkan bagi imperialisme AS.
Korea Selatan di bawah pendudukan AS sedang meng-alami krisis politik dan ekonomi yang serius.
Kini di Korea Selatan kaum imperialis AS dengan keji sedang mengadakan manuvre untuk meloloskan diri dari krisis dan untuk terus mempertahankan kekuasaan kolonialnya.
Tetapi, dayaupaya apa pun yang mereka lakukan, kaum imperialis AS tidak akan dapat merintangi perjuangan Rakyat Korea untuk penyatuan kembali dan kemerdekaan negerinya.
Kaum imperialis AS akan diusir dari Korea Selatan dan urusan penyatuan kembali negeri kita akan pasti terlaksana oleh persatuan kekuatan seluruh Rakyat Korea.
Imperialisme AS tidak saja merupakan musuh bersama dari Rakyat-Rakyat Korea dan Indonesia, tetapi juga merupakan musuh yang paling keji dari Rakyat-Rakyat Asia dan seluruh dunia.
Dewasa ini kaum imperialis yang dikepalai/oleh imperialisme AS sedang menggunakan segala jalan untuk merusak kubu sosialis dan memecahbelah negeri-negeri sosialis dari dalam. Seraya mengadakan komplotan untuk menipu Rakyat atasnama “perdamaian”, kaum imperialis AS meningkatkan tindakan-tindakan agresif di seluruh bagian Asia dan dunia dan dengan gila melakukan persiapan-persiapan perang.
Situasi dewasa ini menuntut kita untuk terus mempertayam kewaspadaan kita terhadap imperialisme, menelanyangi tindakan-tindakan agresif dari kaum imperialis dengan lebih mendalam dan mengintensifkan perjuangan melawan imperialisme.
Sumber perang terletak dalam imperialisme. Tak lain kecuali kubu imperialis yang dipimpin oleh Amerika Serikatlah yang sedang menjalankan usaha-usaha yang buas untuk melakukan agresi dan memprovokasi peperangan baru.
Oleh sebab itu, guna membela perdamaian dunia, maka adalah perlu untuk menghancurkan politik mereka yang agresif serta rencana-rencana mereka untuk memprovokasi perang dengan jalan terusmenerus memperkuat dan mempersatukan seluruh kekuatan antiimperialis dan kekuatan perdamaian guna memberikan tekanan serta pukulan-pukulan kepada kaum imperialis.
Perjuangan pembebasan nasional Rakyat-Rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin, ber-sama-sama dengan gerakan revolusioner klas buruh internasional, merupakan kekuatan antiimperialis yang besar dari zaman kita dan faktor perkasa dari perdamaian dunia.
Rakyat dari banyak negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin telah melemparkan belenggu imperialis dan kolonis yang terkutuk itu dan telah memenangkan kemer-dekaan nasional, dan Rakyat-Rakyat negeri-negeri yang masih di bawah penindasan kaum imperialis sedang mengintensifkan perjuangan untuk pembebasan.
Hanya dengan melakukan suatu perjuangan yang menentukan melawan imperialisme maka nasion-nasion tertindas dapat menyapai pembebasan dan kemerdekaan sejati, dan memberikan sumbangan pada urusan perdamaian dan Sosialisme. Makin meningginya perjuangan-perjuangan antiimperialis, pembebasan nasional dari Rakyat-Rakyat negeri jajan dan tergantung, makin keras pukulan yang akan diderita oleh kekuatan-kekuatan perang dan imperialisme dan menjadi makin tak terkalahkan kekuatan-kekuatan perdamaian dan Sosialisme.
Demi kemenangan urusan bersama perdamaian, demokrasi, kemerdekaan nasional dan Sosialisme, maka dewasa ini adalah mutlak untuk menyelamatkan persatuan kubu sosialis dan solidaritet gerakan Komunis internasional.
Persatuan dan solidaritet ini harus dicapai atas dasar prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, atas dasar prinsip-prinsip revolusioner Deklarasi dan Pernyataan Moskow. Solidaritet Gerakan Komunis Internasional dapat diselamatkan dan diperkuat lebih lanjut hanya kalau semua Partai Komunis dan Buruh dengan teguh mentaati prinsip-prinsip persamaan derajat sepenuhnya, menghormati kedaulatan, salingbantu dan saling keryasama secara kawan dalam hubungan dengan Partai-Partai sekawan masing-masing.
Sebagaimana ditunjukkan dengan tandas dalam Pernyataan Moskow, bahaya utama dalam Gerakan Komunis Internasional dewasa ini adalah revisionisme. Adalah kewajiyan kaum Komunis sedunia sekarang untuk menentang revisionisme modern dan untuk membela teguh kemurnian Marxisme-Leninisme.
Dengan menjundung lebih tinggi lagi panji-panji Marxisme-Leninisme dan internasionalisme proletar, Partai Buruh Korea dan Rakyat Korea akan terus berjuang dengan gigih untuk persatuan kubu sosialis dan solidaritet gerakan Komunis internasional, untuk kemenangan urusan perdamaian, kemerdekaan nasional dan Sosialisme.
Partai dan Rakyat kita akan maju dengan solidaritet yang teguh dengan kaum Komunis Indonesia dalam perjuangan untuk urusan bersama kita dan bergerak maju bahu-membahu senantiasa dengan Rakyat Indonesia.
Hidup Partai Komunis Indonesia yang dipimpin Kawan Aidit!
Hidup persahabatan dan solidaritet antara Rakyat-Rakyat Korea dan Indonesia!
Hidup persatuan kubu sosialis dan solidaritet Gerakan Komunis Internasional!
Hidup Marxisme-Leninisme yang senantiasa menang!
Hidup perdamaian dunia!
Pyongyang, 12 September 1963
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.