Baca EPUB: Apa Sebab Kurang Roman?

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. APA SEBAB KURANG ROMAN?
  2. M. BALFAS
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. APA SEBAB KURANG ROMAN?
  6. CC BY-SA 4.0

APA SEBAB KURANG ROMAN?

M. BALFAS


KOLOFON

APA SEBAB KURANG ROMAN?

oleh

M. BALFAS



Dimuat di majalah Siasat

No. 291 • Th. VI • 14 Desember 1952

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Study (1919-1920), karya Max Weber

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



APA SEBAB KURANG ROMAN?

Sebelum dimulai mencoba memberi d'jawab pada pertanyaan ini, perlu diberi batas yg. tentu lebih dahulu: bentuk roman tidak bisa dijadikan ukuran mutlak untuk menilai suatu angkatan kesusasteraan. Belum adanya bentuk roman atau kurangnya bentuk itu, ini bukan alasan untuk menyatakan kekurangan atau kelemahannya. Pada akhir-akhirnya orang tidak bisa menuntut suatu bentuk tertentu pada suatu angkatan. Ini urusan si seniman sendiri yang merdeka memilih bentuknya. Lagi pula siapa bisa kasih jaminan bentuk itu tidak akan hilang dari pasar kesusasteraan? Tapi soalnya menjadi lain sama sekali kalau pada kita sudah ada terasa kebutuhannya.

Namun oleh kalangan tua bentuk roman itu dengan nyata-nyata sudah dipakai sebagai alasan monyerang penulis-penulis cerita-pendek atau novelle. Sebagai suatu sambutan atas tantangan ini Pramuja Ananta Toer keluar dengan “Keluarga Gurilla” dan paling akhir M. Lubis dengan “Jalan tak ada Ujung”. Apakah kedua buku ini yang lebih dari cerita pendek sudah dapat memenuhi syarat roman, perbandingan untuk ini tidak bisa diketemukan pada kalangan tua itu sendiri. Ukuran harus dicari di luar rumah kita sendiri, Sebab selagi pena menulis, di tangan kiri kita genggam pustaka luar negeri.

Baik, baik, kita bisa tolak tukang tagih bentuk roman itu sebagai kerewelan si bocah yg. cerewet dan kita usir dia dengan kisah lama: “bahwa kita anak resah, getaran yang diterima setiap hari terlalu banyak dan semua harus mendapat bentuk. Napas kita pendek selaras sebagai anak zaman, tapi pukulan kita dalam-dalam. Ketenangan kaum tua tidak ada lagi pada kami, di mana menulis bisa dilakukan bersama meneguk kopi susu kan-tor. Mengarang pada kami bukan lagi barang lux...............“, tapi sekembalinya kita di kamar, kita terhenyuk pada soal yang keluar dari jantung hati sendiri: Apa alasan untuk membela diri sebagai sastrawan. Tidakkah sebenarnya sudah lama kita tinggalkan lapangan ini dengan diam yang miserieus?

Bukankah dari mulut kita sendiri keluar pernyataan, bahwa kita tidak lagi menyala? Dan ini berarti kita sudah kehilangan anasir pokok untuk dapat menghasilkan barang kesenian? Mana bisa kita berbicara lagi tentang kesibukan kita, sedang diri kita sendiri diam, kawan terpaku dan yang lain pada menyingkir keluar negeri? Tidakkah lebih baik kita terima itu sebagai tantangan untuk hidup baru.?

Kepertayaan yang dahulu sangat mudah kita peroleh dari masyarakat, sehingga mudah juga kita main raja-rajaan, sekarang sudah berubah monjadi dua mata yang syak dan curiga menusukkan tanya: bagaimana kita mengarang roman?

Apa pada kita ada suatu sistim? Atau apakah belum sampainya kita pada roman karena kekurangan pada materie beheersing (kekurangan dalam kemampuan menguasai bahan-bahan yg. mau diolah), kekurangan pengetahuan psykhologie? Kalau dalam keadaan terlesu semuanya ini kita jawab dengan ‘ya’, kita lantas disuruh beli buku sekolah untuk mencari dasar-dasar ilmu pengetahuan. Mana lagi kemegahan kita dahulu selagi tiap redaksi majalah mendekati dengan seram dan takut?

Terhadap ini kita juga sudah punya jawab yg. sudah kita klisekan: kita bukan anak-panggung yg. bertahta diselera publik. Sedang sementara itu kecekatan tehnik wartawan sudah cukup untuk membikin kita tidak laku lagi.

Sebab kata-kata yg. kita pakai tidak cukup kuat untuk mendukung apa yang kita inginkan.

Apa sebab kita belum mengarang roman? Kita bukan lagi penulis cerita pendek yg. bisa mengarang roman. Kewajiiban kita sudah terpecah belah antara mencari nafkah dan menyaga kekecilan diri takut dikalahkan dengan tukang zat yg. sudah mampu beli radio untuk anak bini.

Pekerjaaun kita bukan lagi menulis cerita pendek, tapi me-rewrite karangan-karangan untuk meja-re'aksi.

Bung, kita tidak lagi hidup sebagai sastrawan dipermulaan revolusi. Kita sudah ikut terjerumus dalam kelemahan masyarakat kita sendiri.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.