KESUSASTERAAN SEBAGAI ALAT
PRAMOEDYA ANANTA TOER
KOLOFON
KESUSASTERAAN SEBAGAI ALAT
oleh
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Dimuat di majalah Indonesia
No. 7 • Th. III • Juli 1952
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: “And I saw the heaven opened, and behold a white horse...” XIX.11, karya Bernard Reder
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
KESUSASTERAAN SEBAGAI ALAT
TIADA BERBEDA dengan segala bentuk dan kecasi, kesusasteraan pun hanya alat semata. Ia tak berbeda dengan golok, alu, sepeda, mobil, mesintulis dan sebagainya. Kesusasteraan pun alat manusia untuk mencapai sesuatu maksud tertentu. Adakah penyapaian maksud ini berhasil, ini adalah tergantung pada kadar hasil kesusasteraan itu.
Suatu hasil kesusasteraan yang telah tercipta zn telah pula disampaikan kepada masyarakat, dia punya sejarah sendiri terlepas dari sejarah pengarangnya, tak ubahnya seperti orang tua dengan anaknya. Barangkali inilah yang menizbulukan sezziam kode mengapa seorang pengarang tidak perlu meneriakkan maksud atau tujuan dari hasil ciptaannya. Dengan keterangan atas hasil pekerjaannya, ada timbul kesan pada orang baha atas pengarang itu, bahwa ia telah menghidangkan tulisan yang belum selesai tulisan itu belum cukup kuat untuk pergi senzian ke tempat tujuan sipengarang.
Tak adanya keterangan dari pengarang ini menabak sering terjadi selisih tangkapan antara para pembacanya zengenai maksud seseorang pengarang. Dan sesungguhnya hasil kesusasteraan bukanlah soal-soal ilmu pasti. Di samping itu Walaupun manusia ialah memandang segala dari jurusan kepentingan dar perhatiannya. Kemudian bukanlah mengherankan bila banyak hasil kesusasteraan yang diperalat oleh orang-orang atau pun badan-badan (kekuasaan atau hukum) sejalan dengan kepentingan an perhatian masing-masing.
Segala alat di dunia ini, kesusasteraan tak terkecuali, dapat digunakan oleh seseorang untuk mencapai maksudnya yang tertentu. Orang dapat mempergunakanya untuk zembela diri, untuk memperbaiki keadaan diri atau umum, diuyi dapat untuk menyerang dan membunuh lawannya atau pula unax membunuh dirinya sendiri. Dalam hal ini bizibizan budi dz perhitungan akal merupakan faktor yang menentukan. Dengar Makan Kita sehari-hari Illya Ihrenburg menjelaskan proses perekonomian modern, kebiadaban kapitalisme, dengan sesuatu maksud yang pembacanya boleh menangkap atau berpendapat masing-masing. Di samping itu pun buku itu merupakaz suan pertamaan betapa manusia hanya boneka-boneka yang tak berkhiw izy harus turut memainkan proses perekonomian, kezilanzen kezibadian dan kegiatan sendiri. Dan adakah ini peryataan dari zenghukuman terhadap kapitalisme atau pembunuhan pribadi manusia, tergantung benar pada tangkapan pembaca masing-masing. Tetapi dilihat dari pencapaian maksud yang terdekat, buku tersebut kuasa mencerminkan masa dan lingkungan serta perhatian pengarangnya. Demikianlah maka antara alat dan maksud penciptanya terbentang suatu probleem. Dan probleem ini, pembacanya berhak memecahkan.
Mencipta atau bekerja saja belumlah cukup dalam hidup manusia bila maksud yang dituju itu tak disadarinya. Kesadaran ini perlu. Dengan tiada ini seseorang pengarang gampang terjatuh pada kesewenang-wenangan dalam menentukan atau mengenali nilai-nilai. Juga ia akan gampang terjatuh pada pengiaan tafsiran-tafsiran yang silang-melintang datang padanya. Akhiirnya ini akan menggampangkan ia kehilangin diri, terdorong kian-kemari dan jadi pabrik yang cuma bisa berputar dan menghasilkan belaka. Ini membuat ia jadi pekerja yang instinktif dan banyak kala jauh dari rasionil. Suatu nilai kesusasteraan yang mungkin diperolehnya membingungkan diri dan arah serta tujuan selanjutnya yang harus ditempuh. Sedang dalam kenyataannya hasil kesusasteraan yang bernilai tidaklah begitu gampang dapat dicapai sebagai yang disangkakannya. Dan dengan tiada kesadaran akan maksud ini, gampang sekali seseorang pengarang menghasilkan tulisan mati yang berkisar-kisar pada kejadian belaka. Dan ini tiada jauh berbeda dengan berita sehari-hari dalam koran.
Maksud dan tujuan dalam kesusasteraan, yang biasa dinamai tendens, nyata tidak besar-kecil, luas daerah atau kekerdilannya tergantung pada orang-orang yang mengarangnya. Tendens yang dangkal selamanya diteriakkan keras-keras dalam kesusasteraan. Tetapi yang dalam-luas-besar terkandung dalam tiap kalimat dengan tiada perlu berteriak dan cukup hanya dengan meyakinikan. Tendens yang besar ini tak ubahnya keadaannya dengan nafas untuk orang hidup dengan tak usah orang itu berteriak-teriak bahwa ia bernafas.
Biasanya faktor-faktor etik dan politik memainkan peranan penting dalam hasil-hasil kesusasteraan yang dangkal. Dan tak dapat dilupakan ialah faktor-faktor erotik. Daerah kesusasteraan melingkupi seluruh lapangan hidup dan kehidupan. Suatu operasi yang tertentu di sudut sempit dalam daerah yang mahaluaus itulah yang menelurkan segala macam kedangkalan ini. Dan di daerah daerah di mana faktor-faktor politik menentukan, tak jarang apa yang dinamakan kesusasteraan itu campur-aduk dan merupakan bahan gubal antara sastera, propaganda, antipati terhadap politik tertentu, dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan lain. Dalam hal ini kesusasteraan yang sesungguhnya dikurbankan oleh dan untuk politik. Kesusasteraan demikian adalah kesusasteraan propaganda yang belum lagi patut mendapat nama kesusasteraan.
Kemudian di daerah di mana etik berkuasa, hanya etik yang dianggap kebenaran, hasil-hasil kesusasteraan kerdil akan merupakan buku nasihat di mana tiap lembar orang diberi ajaran apa yang harus dan tidak boleh dikerjakan. Dalam keadaan seperti ini kesusasteraan bukan lagi merupakan alat untuk mencapai tujuan tertentu dari manusia, tetapi ialah yang diperalat buat tunduk pada sesuatu. Pengarang dalam keadaan seperti ini kehilangan diri dan visinya sendiri disimpannya dikantong cealananya. Ia jadi pemainan dan digerakkan oleh faktor-faktor yang kuat di luar dirinya. Dan bila faktor-faktor demikian lenyap, hasil kesusasteraan seperti itu turut lenyap pula.
Semua itu lain halnya bila memang sejalan dengan keyakinan pengarang, dan penciptaan itu merupakan keharusan padanya yang harus dilahirkan. Bila demikian tentu saja ia punya effek yang berlainan pula.
Kesusasteraan adalah perwujudan yang tertentu dari kegiatan rohani manusia. Dan dalam hidup manusia ini ada banyak sekali perwujudan itu. Batas antara perwujudan yang satu dengan yang lain kadang-kadang tidak begitu jelas. Karena itu bukan barang yang mengherankan bila dalam sejarah kuno orang dapat mengenal sejarah yang campurbaur dengan tahyul serta dituliskan dalam bahasa bersanjak atau prosa. Biasa orang menamainya babad. Dan tahyul ini adalah tahyul yang harus dipercaya dan bukan yang harus dikenal sebagai obyek. Menurut Dr. Pigeaud pandangan sejarah berhubungan sangat erat-erat dengan pandangan hidup sesuatu bangsa. Dan pandangan kesusasteraan tiadalah jauh berbeda dengannya. Batas-batas antara perwujudan dari kegiatan rohani yang satu dengan yang lain ini hanya bisa dikenali dengan ketajaman perasaan dan pemikiran. Batas-batas yang kabur ini pula membuat seseorang pengarang kadang-kadang berpinyrah perwujudan kepolitik, kefilsafat, kefilm dan sebagai-nya—dengan dasar dan visi yang sama.
Batas-batas yang kabur ini pula yang merubah Mussolini dari romansir yang romantis ke gelanggang politik. dengan nafsu, semangat, kepastian dan harapan yang sama. Sebagian dari pemimpin-pemimpin besar Tiongkok Mau Tse Tung adalah pengarang, bahkan MauTse Tung sendiri masih tetap mengarany di waktu senggangnyya. Demikian pula halnya dengan depuc premier Kuo Moyo. Mau Tun Ataupun Khou Yang. Peipindahan ini banyak kala disebabkan karena perwujudan kesusasteraan tidak memberi banyak kemungkinan padanya, dan dengan sendirinya orang mengambil alat lain untuk mencapai maksudnyya.
Perpindahan itu tak ubahnya dengan ganti pisau dengan golok untuk membelah kayu dalam hidup sehari-hari, atau dari golok kegergaji, Ataupun dari gergaji kepisau untuk menyayat daging.
Di samping kesusasteraan sebagai alat, orang pun kenal akan kesusasteraan yang diperalat, tak ubahnya dengan gergaji yang dipergunakan untuk menyayat daging, diharuskan dan direncana-kan. Pada dasarnya yang diperalat ini bukanlah kesusasteraanya, tetapi pengarang yang diperalat, karena kesusasteraan hanya dimungkinkan oleh adanya pengarang. Dan kesusasteraan yang diperalat ini gampang orang kenali dari teriakan dan semboyan-semboyan yang jadi mode pada waktunya. Dan tiada jarang terjadi degan tiada sadarnya orang memperkudukan diri jadi alat sesuatu, karena terlampau silau matanya oleh sukses yang murah. Sesungguhnya tidak satu faktor saja yang memungkinkan teryadinya kesusasteraan yang diperalat. Banyak! Tetapi biasanya yang jadi pokok-pangkal ialah tak adanya konsekwensi antara cita, keyakinan dan keadaan hidup sebagai makhluk dari darah dan daging
Dalam lapangan keagamaan, di mana orang dengan penuh khidmat bersujut pada Tuhannya, kesenian umumnya diberi bernafas keagamaan. Malah dapat dikatakan, bahwa kesenian di jaman yang lalu adalah alat yang langsung untuk menyembah dan mengagungkan Tuhannya. Sisa-sisa dari seni sebagai bagian dari kultus dan yang telah terpental dari agama itu masih-dapat orang kenali dalam bentuk-bentuk reog, kuda lumping (penyembahan pada Dewi Durga), wayang, dan yang masih terikat misalnya menyanyikan ayat-ayat kitab suci. Tantu-tantu dalam sejarah Jawa-Hindu adalah dikerjakan oleh kesusasteraan dalam hal itu. Dan besar kecilnya hasil seni itu dipandang dari jurusan seni terikat benar pada semangat dan keyakinan sipentipta pada masanya. Selamanya ciptaan yang berseni akan tetap hidup Sekalipun orang (pencipta) atau agamanya telah lenyap. Ini dapat dibuktikan dari candi-candi dengan bangunan dan pahatannya, dengan kesusasteraanya yang terus kuasa memberi haruan murni pada pembacanya. pada musikna yang tetap terus, mistis dan sebagainya.
Keadaan seperti itu terjadi juya dalam sejarah dunia barat di jaman pertengahan, kesenian berpusat dan diperuntukkan gereja.
Dalam jaman modern ini, kesusasteraan dan kesenian pada umumnya punya funksi yang te: cerai dari sesuatu kemestian. Ia jadi hak tiap individu untuk mengulah, menikmati dan menggerakkannya. Dan hasil kasusasteraan yang dibuat melalui cetakan yang dipaksakan padanya sedikit-banyak melumpuhkan pribadi pencipta sebagai individu. Kostis Palamis, seorang perintis puisi modern Yunani, berpendapat bahwa kesenian disediakan untuk mereka yang mengerti. Dan kesusasteraan sebagai cabang dari kesenian tidak luput dari pendapatnya itu. Mereka yang tidak mengerti harus mencoba mengerti. Dengan cetakan orang dipaksa membuat pakaian dengan ukuran-ukuran yang telah ditentukan. menurut contoh. Orang demikian bukan lagi mencipta tetapi menukang. Dan kesusasteraan bukan lagi jadi perwujudan jalan untuk mencurahkan perasaan dan pemikiran, tetapi jadi alat buat menundukkan orang untuk jadi pengikut sesuatu yang patuh.
Hasil-hasil kesusasteraan yang diperalat ini dapat orang dapati kembali dalam sekian majalah, harian atau buku yang diterbitkan dalam masa pendudukan Jepang. Juga dalam kesusasteraan Jawa Baru (kesusasteraan yang mulai mentium barat) yang banyak kala menyanyikan kebesaran pegawai pemerintah dengan bupati sebagai puncak cita yang setinggi-tingginya.
Kesusasteraan yang benar-benar diperalat atau dimobilisasikan dengan perkataan yang lebih baik mendapat bentuknya yang tegas dalam kata-kata Mao Tse Tung dalam Konperensi Pengarang dan Artis Seluruh Tiongkok beberapa waktu yang lalu:“............. literature and art should serve people, especially the workers, peasants and soldiers.” Dan kalau mengingat bahwa Mao Tse Tung adalah seorang yang berkuasa di suatu daerah tertentu, dapat orang berseru: alangkah sempit batas-batas yang menentukan daerah kesusasteraan itu. Sempit buat seorang pengarang yang menghendaki daerah yang lebih luas daripada itu. Tidak sempit buat pengarang dan seniman yang daerahnya cuma sampai di situ. Kesusasteraan yang larus melayani masarakat, tidak bedanya dengan pelayan direstoran yang harus memuaskan langganannya. Tentu ini bertentangan dengan pendapat Kostis Palemis. Kesusasteraan demikian tidak terletak di atas masarakat dan menariknya sekali, tetapi ada di tempat yang lebih bawah atau sebanyak-banyaknya sama dengan tingkatan masarakat. Ini adalah kesusasteraan yang boleh dinikmati sambil makan-angin: kenikmatan yang murah. Dengan kata-kata yang lebih sopan: ini adalah semacam kesusasteraan yang dimabok planning. Kebebasan kesusasteraan sebagai kemutlakan, seseorang pengarang untuk mencapai tujuannya berganti jadi perbudakan kesusasteraan demi kepentingan politik. Titik tujuan telah diletakkan oleh seorang tertentu (atut badan) di suatu tempat yang tertentu dan seperti kuda pacuan pengarang-pengarang harus lari menuyu ke situ. Tentu saja ini membahayakan hakikat penciptaan sebagai sebagai keharusan pribadi dan keharusan budi.
Mana yang baik antara kesusasteraan sebagai alat dan kesusasteraan yang diperalat, tidak bisa dipergunakan ukuran-ukuran yang telah sedia untuk menentukannya. Kedua-duanya punya kebaikan dan keburukannya. Yang pertama kuasa memelihara kejuuyuran cipta dan yang kedua membunuh kemungkinan timbulnya dekadensi cipta yang membahayakan pergaulan masarakat. Dan di daerah kesusasteraan sebagai alat dan yang diperalat terdapat jenisna masing-masing yang betul-betul melahirkan suatu hasil seni. Kejenian ini tidaklah dilahirkan oleh politik atau ekonomi. Samasekali tidak. Juga tidak oleh faktor-faktor lain di luar dirinya. Seorang Thucydides misalnya, dalam menghadapi hukuman mati dan penyitaan seluruh hartabenda oleh pemerintah karena sebagai strateeg Athena telah gagal dalam menangkis balalentara musuh, pada tahun 423 sbl Isa, dalam penjara menunggu kematiannya telah kuasa menciptakan dasar-dasar baru buat penulisan sejarah yang kritis dan yang hingga kini terus dipergunakan orang. Ini adalah pekerjaan jeni. Seorang Napoleon tidaklah dilahirkan karena keturunan atau karena ia seorang Napoleon, Ataupun karena nasib baik belaka. Tidak! Tetapi jeni-jieni itu mencapai tujuannya dengan adanya kesanggupan dan kekuasaan mengatasi keraguan dan kebimbangan masa. Denikian jena halnya dengan seorang Sokrates, Mohammad Ataupun Isa. Dan tiap orang, bila tak punya kesanggupan dan kekuatan untuk mengatasinya tinggal tetap jadi permainan kekuatan-kekuatan yang ada di luar dirinya. Dan kesusasteraan bukanlah sesuatu yang luarbiasa seperti setan atau jin Ataupun Tuhan. Ia barang biasa yang dilahirkan oleh adanya berpikir mencipta.
Luas atau sempitnya budi sesorang pengarang, menentukan pula rendah atau tinggi tujuan yang hendak dicapainya, serta tepat tidakny pengambilan dan mempergunakan alat untuk pencapaian itu yakni kesusasteraan itu.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.