CHRISTINA MARTHA TIAHAHU
KUSALAH SUBAGYO TUR
CHRISTINA MARTHA TIAHAHU
oleh
KUSALAH SUBAGYO TUR
Dimuat di majalah Keluar
Magazin Bulanan untuk Ibu Bapa dan Anak
Nomor 2
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Gambar sampul: Tidak Diketahui
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
DARI DAERAH SEJARAH INDONESIA:
CHRISTINA MARTHA TIAHAHU
Kata-Kata Berharga untuk Pahlawan
Kami bukan pembina candi
Kami hanya mengangkat batu
kamilah angkatan yang mesti musna
agar menjelma angkata baru
tertulis di tugu pahlawan Tangerang
Cintailah kebenaran, karena hanya di mana perdamaian kebahagiaan dan kemuianan hidup dipelihara, di sanalah kebenaran bertakhta.
World Digest
Kemuliaan kita yang terbesar bukan di dalam keadaan tak pernah jatuh, melainkan di dalam keadaan bangkit selalu bilamana kita jatuh.
Confucius
AKIBAT daripada penjajah Belanda, banyaklah kenyataan sejarah tanahair kita sendiri yang tidak kita ketahuhi. Dan kalau-pun ada yang kita kehauhi, maka sejarah itu lebih memburukkan nama Indonesia daripada mengagungkannya. Sebaliknya para penjajah menganggap dirinya sebagai pememang atau orang yang benar di dalam sejarah yang ditulisna. Di dalam buku-buku sejarah yang dikarangkam oleh orang-orang Belanda, Pangeran Diponegoro atau Thomas Mathulessy tidak lain daripada pemberontak yang mengganggu keamanan penjajah Belanda dan karena itu harus dibasmi. Padahal, ditindayau daripada sudut mana pun juga, pemberontakan melawan kelaliman adalah suatu tindakan yang adil dan benar.
Karena anggapan penjajah Belanda yang mau benar sendiri itulah maka banyak, pahlawan Indonesia yang tidak diketahui, dipendam sebagai suatu barang yang tak perlu diketahui oleh umum. Dan untuk mengetahuinyia, harus kita gali kembali sejarah tanahair kita sendiri dengan pemah kejujuran. Dalam pada itu, tidak boleh kita mengikuti jalan pikiran para penjajah Belanda. Tokoh-tokoh sejarah tanahair kita harus kita letakkan masing-masing pada tempat yang seharusnya: apakah ia pahlawan atau penghianat, apakah ia benar atau salah.
Salah seorang di antara tokoh sejarah kita sendiri yang sampai sekarang belum banyak diketahui oleh umum adalah Christina Martha Tiahahu, seorang gadis dari pulau Nusa Laut di Maluku, anak raja negri Abubu, Nusa Laut.
PADA tanggal 16 Mei 1817 di Saparua, Maluku, pecah pemberontakan melawan penjajah Belanda. Sebabnya ialah tindakan sewenang-wenang Belanda kepada penduduk Maluku, dian- taranya karena dengan sistem perdaga- ngan monopolinya, Belanda merampas (membeli dengan harga yang ditentukan) nyah sendiri, yang diyual kurangnya dari harga yang seharusnya) hasil bumi pen- dukuk Maluku. Sedangkan penduduk Maluku itu sendiri, disuruh kerya tanpa- bayar (rodi) untuk Belanda, atau disuruh jadi serdadu untuk dikirim ke tanah- tanah yang diyauh, hingga keluarga yang ditinggalkannya diyatuh melarat.
Tanggal 16 Mei 1817, itu penduduk Saparua mengadakan penyerangan atas benteng Belanda Duurstede yang terletak di Saparua, dengan pimpinan Thomas Mathulessy alias Pattimura. Benteng berhasil diduduki, dan hampir semua orang Belanda yang ada di dalamnya telah dibunuh karena kemarahan yang meluap-luap.
Sejak itu, pemberontakan meluas di seluruh pulau dan mendapat dukungan seluruh rakyat. Pasukan-pasukan pember- ontakan terbentuk di Seram (pulau yang terbesar), jaziran Hitu (Ambon), Haruku dan Nusa Laut.
Di Nusa Laut inilah muncul pahlawan Christina Martha Tiahahu. Sesungguhnya ia adalah seorang gadis yang masih muda dan ciantik. Ia pandai menari ca- kalele, dan masih berumur antara 16dan 18 tahun ketika pemberontakan itu me- luas ke Nusa Laut.
Ayahnya, Paulaus Tiahahu, kut dalam pemberontakan Pattimura, karena ia mempunyai keyakinan bahwa Belanda memang harus ditolak kedatangannya di Maluku, karena apabila Belanda mendu- duk kemali Maluku, pasti rakyat Ma- luku akan kemali menderita. Waktu itu Belanda baru saja menerima kembali kekuasaan atas Maluku dari tangan Inggris, berdasarkan traktat London yang ditandatangani pada tanggal 13 Agustus, 1814.
Rakyat di Nusa Laut pun mengadakan penyerangan atas benteng Belanda yang ada di situ, yatuh benteng Beverwiyk, dan berhasil dikuasai oleh rakyat. Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi antara tentara rakyat dengan tentara Be- landa, Martha selalu hadir mendampingi ayahnya, ia membantu ayahnya memang- gul senjata, dan pada saat-saat yang tertentu ia mempertundukkan tarian yang memperlihatkan kegagahan dan keberanian.
Tentara Belanda yang ada di Maluku tidak berhasil memadamkan pemberon- takan itu. Beberapa ekspedisii tentara te- lah dikirimkan dari Ambon, tetapi tetap tidak berhasil menguasai daerah terse- but. Ekspedisi pertama yang diplimpul oleh Mayor Beeces, yang terdiri atas ku- rang lebuh duaratus orang, bahkan dapat dihancurkan samasekali oleh tentara Pattimura di Saparua, hingga tinggal beberapa orang sayaya yang dapat pulang kembali.
Karena kenyataan ini, maka ac-hirnya pemerintah Belanda telah mengirimkan laksamana muda Buyskes dari Batavia. Laksamana tersebut membawa tentara yang lebih besar jumlahna dari pulau Jawa. Di samping itu ia mengerahkan pulu tentara Indonesia yang didatangkan dari Ternate dan Tidore. Ternate dan Tidore waktu itu membah kepada Belanda.
Karena besarnya tenaga Belanda, dan karena lengkapnya persenjataaninya, maka satu demi satu kedudukan tentara rakyat berhasil dibebat kembali oleh Belanda. Di samping tentara darat, tentara Belanda mengerasahkan juga kapal-kapal perang yang selalu memuntahkan meriamnya ke pantai-pantai yang diduduki oleh tentara rakyat. Di antara kapal-kapal perang itu adalah Eversten, Anna Maria dan Maria Reygersbergen.
Ada lima ekspedisi telah dikirimkan oleh Buyskes untuk menghancurkan kekuatan Pattimura. Saparua mendapat gi-biran nomor tiga. Keberyalan para pemimpin tentara rakyat Nusa Laut sedang ada di sana, termasuk raja Abubu, Paulus Tiahahu, dan anaknya Christina Martha.
Para pemimpin yang tertangkap ini kemudian dibawa ke kapal Eversen, dan kemudian diperiksa sendiri oleh laksamana muda Buyskes. Christina Martha laksamana muda Buykes, supaya ia diperbolehkan menanggung semua hukuman yang akan dijatuhkan kepada ayah-nya.
Laksamana muda Buyskes menolak permintaan itu. Ayah-nya dijatuh hukuman mati sedang ia sendiri mendapat hukuman dibuang ke pulau Jawa. Sebelum dibuang ke pulau Jawa, ia diharuskan menghadiri pelaksanaan hukuman mati ayah-nya.
Para terhukum jre Nusa Laut kemudian dibawa ke Nusa Laut untuk menyalani hukumannya. Hukuman itu dilaksanakan di depan benteng Beverwiyk. Christina Martha menyaksikan dengan kepalaany sendiri ketika pangeran dari Ternate memberikan isyrat diaksanannya hukuman. Kemudian disaksikan nya ayah-nya diyatuh ke bumi oleh tembakan musuh, dan ac-hirnya ayah-nya itu ditusuk-tusuk dengan bayonet pula.
SEORANG gadis tuduh belasan yang canik dan sayang kepada orangtuanyia tidak akan tahan melihat ayah yang diyintainya mendapat perlakuan semayat itu, kalau ia bukannya seorang pahlawan yang se-benar-benarnya. Ia pun bukan pahlawan yang sebenar, benarnya bila ia tidak menyanggupi menanggung semua hukuman yang bakal dijatuhkan Belanda kepada ayah-nya.
Ia pun akhirnya menjalani hukuman yang dijatuhkan musuh kepada dirinya sendiri, dibuang ke pulau Jawa. (Dengan kapal) Eversten pula ia diangkut ke pulau Jawa. Tetapi baru sampai di lautan Banda ia telah meninggal, dan mayatnya kemudian dilemparkan ke laut.
Inilah satu sudut sejarah tanahair kita sendiri yang sampai sekarang kurang dikenal, di mana seorang pahlawan wanita telah meninggal dengan tabah, dan yakin bahwa ia harus ikut berjuang untuk kesejahteraan rakyat.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.