MENGHIDUPKAN KEMBALI KESUSASTERAAN
SLAMET MULJANA
KOLOFON
MENGHIDUPKAN KEMBALI KESUSASTERAAN
oleh
SLAMET MULJANA
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 32 • Th. V • 17 Agustus 1951
Teks dalam e-book ini ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: The Artist as Narrator 1982, karya Jim Dine
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
MENGHIDUPKAN KEMBALI KESUSASTERAAN
TIADA mungkin isi kesusasteraan itu dipisahkan dengan tujuanya. Demikian pula tujuanya itu tiada dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat yang menciptakan kesusasteraan itu; dengan kata lain: kehidupan masyarakat itu berpengaruh besar pada peryalanan kesusasteraan. Oleh karena itu tepat benar, biya kesusasteraan itu disebut cermin masyarakat. Meskipun bukanlah seluruh kehidupan masyarakat terbayang di dalamnya, akan tetapi nyata bahwa kesusasteraan itu sedikit banyak membayangkkan keadaan masyarakat pada tiap-tiap waktunya. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui keadaan masyarakat pada waktu yang lampaui, perlu kita meneliti kesusasteraan pada waktu yang lampau. Kebalikannya benar pula, bahwa perlu mengetahui bagaimana seluk-beluk masyarakat pada suatu saat untuk dapat memahami benar-benar maksud kesusasteraan pada suatu saat.
Bagaimanapun juga kesusasteraan adalah barang mati yang hanya dapat dihidupkan kembali oleh mereka yang paham akan artinya. Bagi orang yang tahu akan artinya kesusasteraan hampir-hampir tak ada bedanya dengan pencipta nyia sewaktu masih hidup. Ia dapat berceritera tentang hal beraneakwarna, ia dapat menyentuhkan perasaan hatiya dengan langgam bahasa yang menaruh perhatian, ia dapat pula menyatakan kehendaknya. Semuanya itu membangyang terang dalam tulisan.
Kesusasteraan Indonesia banyak telah dibukukan oleh nenek moyang kita. Kesusasteraan itu akan tinggal mati, kalau tidak dihidupkan kembali. Dan memang maksud membukukan kesusasteraan itu supaya kelak dapat dihidupkan kembali. Tetapi siapakah sekaranyang yang masih-masih sanggup menghidupkannya kembali?
Bukan sembarang orang dapat menghidupkannya kembali. Meskipun ada hasrat besar akan membayangkikannya, karena pada itu sering amat kandas, tak mungkin terlaksana, karena pada pembangkitan itu terikat syarat-syarat yang harus dipenuhi dahulu, sedangkan syarat-syarat itu tercantum dalam satu kata: kesanggupan membayangkikan.
Kesanggupan inilah yang menjadi penghalang bagi beberapa orang. Yang ingin banyak, tetapi yang dapat sedikit saja, karena kesanggupan itu tiada diperoleh karena keinginan saja, akan tetapi harus disertai pula didikan yang makan waktu banyak, dan perhatian sungguh, dan sering juga minta biaya yang tidak sedikit. Baru apabila kita mempunyai pengetahuan yang se-derayad dengan pengetahuan sipenyipta, atau paling sedikit mirip kepada nyia barah, kita ada kesanggupan akan menghidupkannya kembali. Ke- seimbangan pengetahuan antara sipenyipta dan sipembangkit menjadi syarat mutlak untuk menghidupkan kembali pengetahuan yang telah dibukukan.
Lebih utama lagi, kalau pengetahuan atau diywa sipembangkit lebih besar daripada sipenyipta, karena jika dekimian, daya pembangkit lebih kuat. Hal ini saya rasa barang yang sudah semestinya. Kalau saya katakan seca-ra kasar, bagaimana mungkin kanak-kanak yang berumur tujuh tahun dan hanya mempunyai daya pengangkat 5 kg, dat-pat mengangkat batu yang beratnya 50 kg sekaligus? Perbuatan ini mustahil. Kalau harus juga dilakukan perbut-an itu, alat-alat lain yang kekuatannya lebih daripada daya pengangkat yang diperlukan atau paling sedikit sama, harus diberikan kepadanya.
Tak mengherankan, bahwa banyak amat buku-buku Indonesia yang pada waku yang lampau tinggal tertutup bagi kebanyakan orang Indonesia, karena kurangnya putera-putera Indonesia yang sanggup membukukan serta menghidupkan-nya. Buku-Buku itu menunggu timbulnya orang-orang yang dapat menghidupkannya kembali. Bahkan jaman sekarang masih banyak sekali buku-buku kuna yang bagi kebanyakan di antara kita masih merupakan barang mati. Apabila cipta-na-na itu dapat kita hidupkan kembali, se-akan-akan kita memanggil pencipta-pencipta itu kembali dari kuburnya ke dunia mercapada, paling sedikit memanggil diywa-nya kembali kesamping kita. Andaika-ta pencipta itu masih hidup, tetapi tinggalnya jauh dari kita, maka pen-cipta itu se-akan-akan kita panggil kesamping kita, untuk menemani kita di kamar belajar, yang mungkin pada waktu itu sunyi-senyap. Tak perlu di sini saya sebut, berapa jumlah buku perpustakaan Indonesia yang baru dan yang kuno, yang bagi kebanyakan di antara bangsa Indonesia sendiri masih asing atau hanya dikenal namanya saja.
Mungkin ada yang berpendapat, bahwa soal menghidupkan lagi kesusasteraan lama itu berarti kemunduran, atau paling sedikit menghambat langkah untuk mengikuti peredaran jam-an; menengok kesusasteraan lama berarti membuang tempo. Memang dalam perkembangan kebudayaan timbulah dua aliran: yang satu ingin berpegang teguh kepada yang lama, dan yang satu lagi bersebobyan “maju terus”, takut ketinggalan dengan jam-an, bahkan bila mungkin aliran ini mendahului perjalanin waktu, oleh karena itu mereka segan menengok ke belakang, se-akan-akan mereka ingin menjadi pujangga, dengan tak usah belajar. Aliran itu saya pandang extreem kedua-duanya dan mengandung bahaya yakni bahaya segan berusaha, dan tinggal memuji kesusasteraan warisan, dan bagi aliran yang lain bahaya sombong karena kepuasan diri, yang dapat menyesatkan. Yang satu bersifat terlampaui kolot, yang lain terlalu maju. Biasanya pengikutnya memuji aliran nyia masing-masing ber-lebih-lebihan.
Dalam gerakan pujangga Baru ada beberapa pengarang yang masih sempat menengok kesusasteraan lama seperti Amir Hamzah, Sanusi Pane dan Muh. Yunin. Hasil penilikian itu tercatat seperti teryemahan Bhagawad Gita, Gajah Mada, Ken Arok dan Ken Dedes, Kertayaya, Sa'diyakalangan Majapahit d.l.l. Hal ini juga disinggung oleh saudara H. B. Yassi‘ dalam karanganya Angkatan ’45, u.tuk membandingkan angkatan Pujangga Baru dengan angkatan ‘45. Harus diakui bahwa tiap-tiap jaman itu dalam segala hal mempunyai aliran nyia masing-masing yang dipandang sebagai yang terbagus pada jaman itu dan aliran-aliran itu ada yang membawa ke puncak kemegahan, ada yang menyeret ke lembah keruntuhan. Hal ini baru diketahui, kalau akibat aliran itu telah menjelma, tak lagi merupakan angan-angan, karena tiap-tiap aliran itu ber-cica-cica menjunjung derajad kebudayaan. Rasanya tak ada ali: an kesusasteraan yang dengan sengaja berpedoman akan merosotkan kedudukannya. Soal mumbul dan jatuhnya kesusasteraan sebenarnya bergantung kepada pendukungan atau pentiyptanya. Jika dalam suatu aliran terdapat cukup satu dua orang saja—-sudah barang tentu kesusasteraan pada jamanya aka: mengawan derajadnya. Tetapi kalau dalam suatu aliran itu haya terdapat pengaruhi-pengaruhi biasa, Meskipun jumlahnya terlampau banyak, dan puluhan jumlah luku yang diterbitkan nyis, nilai kesusasteraan jaman itu tidalah tinggi. Nilai kesusasteraan tidaklah cukur menurut jumlah banyaknya hasil, akan tetapi menurut mutu, hasil yang dicapanya. Andaika-ta kesusasteraan itu saya kiaskan dengan gunung, maka tinggi gunung itu diukur dari kakinya sampai kepuncaknya, busu:2 yang terlampau banyak di bawah puncak itu memandang dari Jawa Tengah sebelah Barat sampai Jawa Timur, tetapi tingginya kalah dengan gunung Merapi, hayna karena puncaknya saja. Kalau puncaknya itu dipanggil, sama atau malah lebih rendah.
Sudah barang tentu untuk mencapai mutu yang tinggi di dalam kesusasteraan itu diperlukan didikan bakat dan mutu juga yang tinggi. Saya rasa paling sedikit ketiga syarat harus dipenuhi oleh pujangga Indonesia dalam abad kedua puluh yang ingin melayang tinggi sebagai burung branjangan, karena pujangga pun harus juga berpengetahuan, harus juga dididik.
Telah terbukti bahwa di antara hasil kesusasteraan daerah di Indonsia ada yang mutunya memang sudah sangat tinggi; ada beberapa ahli sastra bangsa asing yang memujinya. Tetapi pendapat itu janganlah hendaknya disandarkan kepada pujian ahli itu saja, karena menurut hemat saya membeo itu sering berbahaya sekali, sedangkan penyelidikan sendiri memberikan pega ngan yang lebih kuat. Mungkin hasil penyelidikan yang telah menjadi keya kinan itu menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu dalam penyelidikan itu harus dipergunakan ukuran yang biasa dipakai dalam mengayi kesusasteraan. Alhasil tiadalah banyak bedana keindahan sastra Indonesia lama itu dengan kesusasteraan Barat lama, yang menjadi sumber pembaharuan sastra Barat pada abad pertengahan yang men capai derajad terlampau tinggi. Teta pi dalam pembaharuan sastra Barat pada jaman pertentangan itu terselip juga unsur-unsur salah yang berasal dari pihak pembaru, yang harus dibetulkan oleh generasi baru. Kesalahan itu se dapat-dapatnya kita hindarkan.
Saya rasa di samping kesusasteraan modern dari pelbagai macam bahasa asing dan kesusasteraan kuno yang lainz, kesusasteraan Indonesia kuna ini baik juga dijadikan sumber pendidikan calon-calon pujangga yang ingin men ciptakan sastra Indonesia modern. Bukun untuk membuta-tiru pujangga kuna, dan mengembangkan kesusasteraan kuna pada jamnn modern, melainkan untuk mengenal usaha-usahanya yang mungkin banyak berguna bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Uraian saya ini masih bersifat negatif, di belakang mungkin saya dapat meng gambarkan pendapat saya dengan con toh-toh yang dapat diperbandingkan.
Di samping buku-buku kuno yang telah usang, yang perlu dihidupkan kembali itu, masih banyak lagi buku-buku terbitan baru dan buku-buku yang sedang dan akan diterbitkan, karena sejarah berjalan terus. Se-dapat-dapatnya kita mengikut per jalan sejarah, tidak boleh makln lama, makln ketinggalan, karena barang siapa ketinggalan, maka ia adalah orang kolot. Demikianlah perbedahaa ran kesusasteraan Indonesia itu bertambah hari bertambah banyak. Jadi barang yang harus dihidupkan kembali, makln hari makln bertimbun-timun.
Tak perlu kita berusaha menerus menengok ke belakang, dan setiap hari hanya berusaha menghidupkan kesusasteraan kuno saja, sehingga kita ketinggalan dengan jaman. Kita ber hak juga menyiptakan kesusasteraan baru seperti juga nenek moyang kita jaman dahulu berhak mendirikan ke budayaan baru paca waktunyia masing-masing.
Kesusasteraan bukanlah se-mata-mata seni-sastra saja, tetapi pengetahuan-pengetahuan lain pun masuk juga dalam ruangan kesusasteraan.
Bagi beberapa orang pengertian kesusasteraan hanya diartikan juga dalam ruangan kesusasteraan.
Bagi beberapa orang pengertian kesusasteraan hanya diartikan seni-sastra saja, yang meliputi dongeng-dongeng, ceritera, syair-seanteronya. Menurut pandangan saya paham ini terlalu sempit. Semua hal yang berhubungan dengan sastra adalah kesusasteraan. Demikianlah filsafat, ilmu tehnik, ilmu falak, ilmu pertanian, keta'ibin d.l.l. bila dibukukan, masuk ruangan kesusasteraan. Inilah kesusasteraan tertulis dalam arti luas. Hal yang berhubungan dengan sastra, tidak semuanya tertulis. Ada yang hanya diucapkan saja turun-temurun ber tahur? , tia'ya pernah mengenal tulisan. Itu pun kesusasteraan pula. Oleh karena itu paham kesusasteraan itu terlampau luas. Baik yang tertulis di atas batu, di atas lontar, mau-pun yang tercantum di atas kertas, kulit atau daun-daunan, baik yang hanya digantungkan pada percakapan, semuanya itu merupakan kesusasteraan.
Tiap bangsa mempunyai kesusasteraan, karena tiap bangsa mempunyai bahasa sebagai alat pergaulan. Sebagian besar daripada perasaannya, dicuruhkan dengan bahasa. Oleh karena itu meski hanya berupa kata-kata yang tiada pernah ditulis, pada tiap-tiap bangsa itu terdapat kesusasteraan. Jadi bangsa Indonesia pun mempunyai kesusasteraan juga. Sudah sewajar-nya, bahwa kesusasteraan Indonesia itu tercantum juga dengan bahasa Indonesia. Memang kesusasteraan Indonesia itu tercantum juga dengan bahasa Indonesia, akan tetapi hal ini hanya mengenai sebagian kecil saja dari kesusasteraan Indonesia, sebagian besar dari perbendaharaan kesusasteraan Indonesia itu tertulis dengan bahasa-bahasa daerah di kepulauan Indonesia ini. Sayang amat kesusasteraan daerah ini hingga sekarang hanya dikenal oleh sejumlah kecil orang Indonesia dalam daerahnya masing-masing, sehingga merupakan gudang tertutup bagi orang bangsa Indonesia. Kunci untuk membuka gudang perbendaraan itu ialah pengetahuan bahasa daerah. Jika dalam tiap-tiap lapangan basa daerah itu terdapat beberapa ahli sastra yang berusaha menterjemahkan khasanah-khasanah bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, sudah barang tentu kesusasteraan daerah itu segera masuk ruangan kesusasteraan Indonesia dengan nyata; tak lagi tinbul kesukaran karena sukarnya mempelajari bahasa daerah. Hingga sekarang kesusasteraan daerah itu masuk ruangan kesusasteraan Indonesia, hanya disebabkan karena daerahnya masuk lingkungan Republik Indonesia dan bahasanya tergolong dalam induk bahasa Indonesia. Jalan lebih mudah yang dapat ditempuh untuk mempercepat langkah itu yakni: putera daerah-pencinta-sastra menterjemahkan atau memperbaharui sastra daerahnya masing-masing dalam bahasa Indonesia, sehingga kesusasteraan daerah itu terbuka bagi umum.
Hingga sekarang yang dimaksud dengan kesusasteraan Indonesia tak lain daripada buku-buku yang ditulis dengan bahasa Indonesia sekarang dan Melayu dahulu. Dalam perasaan seakan-seakan kesusasteraan daerah itu diperranak-tirikan, atau dengan kata lain tidak masuk perhatian.
Di antara kesusasteraan daerah ada yang sudah meningkat tinggi, ada pula yang masih ada di bawah tingkatan kesusasteraan Indonesia. Tak boleh tidak pengaruh kesusasteraan daerah itu besar pula pada bentukan kesusasteraan Indonesia. Tetapi hal ini tak berarti, bahwa kesusasteraan Indonesia itu akan berupa kumpulan puncak-puncak kesusasteraan daerah, melainkan merupakan kesusasteraan baru pada abad 20, sebagai perwuyudan kehendak masya-rakat Indonesia pada abad 20. Pengaruh kesusasteraan daerah akan berupa sumbangan bagi bentukan kesusasteraan Indonesia, bukanlah sebagai bagian tersendiri dari kesusasteraan Indonesia. Oleh karena itu pengaruh kesusasteraan daerah itu tak akan membayang terang sebagai tiang atau sendi bagi kesusasteraan Indonesia, melainkan sebagai bahan yang telah diolah atau dimasak bercampur dengan bahan-bahan lain. Bagaimanapun pandainya mengolah, bagi mereka yang paham akan kesusasteraan daerah, memang pengaruh itu akan nampak juga. Meskipun demikian, pengaruh tak lagi menjadi milik kesusasteraan daerah yang ditempelkan pada kesusasteraan Indonesia, melainkan sudah jadi milik kesusasteraan Indonesia sendiri sebagai penjelmaan kesusasteraan daerah.
Sifat pengaruh mempengaruhi tak dapat dielakkan. Dan selama masih ada pergaualan, sifat pengaruh-mempengaruhi tetap berlaku. Dan pengaruh itu datangnya tidak hanya dari kesusasteraan daerah saja, tetapi juga dari luar. Oleh karena itu untuk dapat memahami kesusasteraan Indonesia se-dalamnya, perlu kita mengetahui se-baiknya kesusasteraan lain-lain yang pernah mempengaruhi kesusteraan Indonesia.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.