Menghidupkan Kembali Kesusasteraan

Menghidupkan Kembali Kesusasteraan

Penulis: Slamet Muljana

Kesusasteraan, pada akhirnya, mungkin hanyalah seonggok barang mati yang membisu di rak-rak pengap, kecuali bila ada tangan yang cukup tekun untuk membebat lukanya dan menghidupkannya kembali dalam sebuah percakapan yang jujur. Dalam risalah Slamet Muljana ini, kita agaknya diajak berdiri di antara dua kutub yang cemas: mereka yang terpaku memuja masa lalu sebagai firdaus yang tanpa cacat, dan mereka yang tergesa memacu diri ke masa depan seraya menganggap tradisi hanyalah debu yang menghambat jalan. Namun, menghidupkan kembali bukanlah sekadar upaya "mengelap-elap hasil kebudayaan lama" agar berkilat, melainkan sebuah laku yang menuntut keseimbangan pengetahuan untuk memanggil kembali sukma sang pencipta ke samping kita, di kamar belajar yang mungkin sunyi-senyap. Buku ini mengingatkan bahwa sebuah nasion yang beradab bukanlah yang membuang tempo dengan lupa, melainkan yang sanggup mengolah beragam pengaruh—baik dari akar daerah maupun angin luar—menjadi sebuah perwujudan kehendak baru di kancah abad ke-20. Barangkali itulah gunanya sastra: ia tetap menjadi cermin yang merekam retak dan gairah masyarakatnya, sebuah ikhtiar yang tak pernah benar-benar selesai selama kita menolak untuk membiarkan kata-kata membeku menjadi mumi.