PROF. DR. WERTHEIM TENTANG KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
PRAMUDYA ANANTA TUR
KOLOFON
PROF. DR. WERTHEIM TENTANG KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
oleh
PRAMUDYA ANANTA TUR
Dimuat di majalah GAJAH MADA
Th. IV
Nopember 1953
No. 8
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Gambar sampul: Spring Twilight, No. 2 1936, karya J. J. Lankes
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
PROF. DR. WERTHEIM TENTANG KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
(HAK PENYERAHAN 1953: MIMBAR PENYIARAN DUTA).
Kedudukannya sebagai mahaguru PSF (Faculteit der Politieke en Sociale Wetenskhappen) di Amsterdam dalam mata pelajaran sosiologi dan sosioografi Indonesia, pula sebagai mahaguru-penghubung antara Senat dan mahasiswa yang mempunyai kewarganegaraan Indonesia, kemudian ditambah lagi dengan perhatiannya pada seni dan budaya seperti nampak pada kedudukannya sebagai redaktur majalah kebudayaan De Nieuwe Stem, menyebabkan mengapa ia banyak membata buku-buku hasil kesusasteraan Indonesia.
Mula-Mula ia berbimbang hati untuk menyatakan pendapatnya tentang pokok tersebut di atas karena mendingat, bahwa pendapat yg akan dilahirkannya besar kemungkinan akan dianggap oleh kalangan Indonesia sebagai usaha untuk memperlihatkan superioritet barat dan kembali mau menggurui.
Tetapi kesusasteraan Indonesia dewasa ini seakan terkurung dlm dinding, sehingga ada nampak tanda-tanda tercekik, suatu yang menyebabkan mengapa dewasa ini pengarang-pengarang Indonesia kian memenyak-memenyak mencari jalan keluar dan dalam prakteknya mereka bercark-cakaran satu-sama-lain bahkan kadang-kadang dengan tiada alasan yang sewadayarnya atau juga tidak karena kepercayaan-kepercayaan yg prinsipil. Dalam keadaan seperti ini pendapat pengarang atau masyarakat Indonesia sendiri atas hasil kesusasteraannya kehilangan obyektivitet karena kedua-duanya ikut terseret dalam keadaan itu. Pendapat orang luar mungkin lebih baik karena bukan saja dimungkinkan oleh distansi. tetapi diuga seorang luar biasania mempuniai lebih baniak kesempatan untuk merenung dan memahami.
Kesusasteraan Indonesia Modern adalah terdiemahan dari Revolusi nasional baru-baru ini. Bicara tentang Kesusasteraan ini adalah bicara tentang Revolusi: dan bicara tentang Revolusi adalah bicara tentang masiarakat dengan segi-segi-naycara berfikir yang cpiskh dari seo rang sosiolog.
Bagi Prof. Dr. W. F. Wertheim Revolusi yang baru lalu merupakan pusat perhatian dan banyak kala revolusi ini menjadi titik loncatan pertama dari mana ia mengurai berbagai masalah Indonesia hari ini. Hasil Revolusi Indonesia barulah sampai pada penggantian kedudukan-kedudukan yang dahulu ditempati oleh orang-orang Belanda. Dan untuk perubahan yang sangat sedikit ini sesungguhnya terlampau ber-lebih-lebihan banyaknya darah yang telah ditumpahkan. Sekarang telah nyata bahwa Revolusi yang hebat itu tidak lain daripada Revolusi setengah jalan, tidak atau belum diikuti oleh Revolusi Sozial. Susunan feodal (dan bukan orang-orang feodal) serta cara-cara penghidupan dari kehidupan masih sama dgn di jajahan kolonial kalau tidak boleh dikatakan lebih buruk. Dan apakah sesungguhnya keuntungan yang diperoleh rakyat yang ternyata telah banyak berkorban hanya dari bangsanya dikedudukan-dikedudukan yang baik itu? . Hingga kini belum lagi nampak. Tidaklah dapat disangkal lagi bahwa pada segi-segi yang lain Revolusi yang akhrinyna hanya berarti Revolusi Politik ini, memberi keuntungan juga seperti pesatnya pemberantasan butahuruf dan pe-naikan kecerdasanan yang diselegengarakan oleh Pendidikan Masyarakat di daerah-daerah. Yang lebih penting daripada itu ialah: kebebasan jiwa, kebebasan semangat terutama dalam penciptaan. Tetapi kebebasan itu tidak begitu berarti bagi rakyat, pertama karena yang bisa mempergunakannya sangat terbatas pada sejumlah kecil orang dan kedua karena hasil yang bisa dicapai dengan kebebasan itu tidak sampai kepada rakyat. ketiga kalau hasil itu pun toh ada belum tentu menterjemahkan apa yang sesungguhnya. dikehendaki oleh rakyat.
Keuntungan yang sedikit itu ter telan mentah-mentah oleh segi-segi ke masa-rakatan lain yang tidak mengalami perubahan sama sekali bahkan melahan terlantar. Sistim langgar yg telah berabad-abad lamanya menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam bentuknya yang karakteristik ternyata setelah Revolusi ikut kehilangan vitaliteta, padahal apabila sistim langgar ini ikut me-ngalami revolusi ia akan merupa-kan benteng pertahanan kenasionalan yang amat kuat.
Pada permulaan Revolusi kesatu an cita memang kuat, tetapi wak-tu Revolusi ini sudah agak lanjut, dengan tiada disadari telah mulai merayap kebimbangan apakah se-sungguhnya hasil yang bisa diperoleh olehnhya bahkan juga setelah berdaulat nanti. Tak adanya ja-lan keluar dan tak adanya keku-atan untuk mematahkan lingkaran putar telah demikian kuat waktu itu, sehingga melahirkan pessimisme Sekalipun ini juga tidak disa-dari. Dan pessimisme inilah yang telah pula diterjemahkan oleh Idrus, Akhdiat, Utuy dalam karang an-an-nya. Satu-satunya buku yang masih mengandung optimisme ada lah Keluarga Gerilya, tetapi bung-guh sayang bahwa buku tersebut hanya mengandung optimisme yg bersifat perseorangan, tidak bersi-fat umum. Setelah itu karangan-karangan yang terbit hanya memperkuat pes simisme belaka.
Indonesia tidaklah berhak utk berpessimistis. Indonesia mempu-nyai hari depan yang besar dan me gah. Kalau orang memperbanding-kannya dengan keadaan negeri Be-landa, maka orang dapat membe-narkan pendapat ini. Limabelas tahun yang akan datang orang tak dapat mengira-irakan lagi ke mana anak-anak Belanda itu harus pergi dan bagaimana mereka harus hidup.
Belanda telah memainkan rolnya dalam sejarah, mereka telah men jawab tantangan nasibnya. Tetapi Indonesia baru memulai dan ma-sih harus menjawab tantangan itu.
Sungguh patut disesalkan baha-wa pengarang-pengarang Indonesia dengan lancarnya dapat mempergunakan gaya barat, dengan pessimisme ba-rat, yang mana semuanya itu sama sekali tidaklah mengenai masyarakat Indonesia tidak menggambar-kan masyarakatnya sendiri.
Adalah tidak masuk di akal baha-wa bangsa Indonesia dalam perkembangannya bisa dihingga-pi pes simisme barat. Benar bahwa penga rang-rang angkatan Revolusi telah me-lakukan lompatan dalam perkem-bangan kesusasteraan sebelum pe-rang, dan juga telah nyata mem-peroleh hasil batin yang banyak, tetapi mereka belum mampu mem beri apa-apa kepada rakyat. Kemaju-an ini baru bersifat perseorangan. Pessimisme yang menghingga-pi me-reka bukanlah pessimisme barat. Revolusi lahir bukan karena pessi-misme, tetapi justru sebaliknya. Pengarang-Pengarang angkatan Revolusi be-lum sanggup menterjemahkan ke-mauan dan perasaan rakyat. Tiap hasil kesusasteraan yang menter-jemahkan kemauan dan perasaan rakyat akan sampai juga kepada rakyat Sekalipun sebagian besar dari mereka butahuruf. Dari alasan-alasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kesusasteraan Indonesia Modern adalah gagal. Dan dalam hal ini ia menterjemahkan dengan baik sejarah semangat Revolusi, Revolusi yang gagal, Revolusi yang berhenti di tengah jalan.
Pessimisme seperti yang berjangkit pada pengarang-pengarang Indonesia baru pernah juga berjangkit pada pengarang-pengarang Belanda sehabis pembebasan dari penduduk an Jerman. Pessimisme demikian memang umum karena kenyataan yang berlaku jauh berlainan daripada apa yang mereka harapkan di masa mereka masih mendekam dalam tekanan.
Kegagalan Revolusi? . Hal itu bisa tegas-tegas. Sebagai misal diambil contoh merajaelelanya korupsi. Korupsi selamanya diakibatkan karena kurangnyia kepercayaan pada pemerintah, dan orang lebih percaya kepada lingkungannya sendiri dalam hubungan-hubungan kemasya rakatan. Bicara tentang korupsi dipandang dari sudut kemasyarakatan. adalah bicara tentang gejala umum di Asia dewasa ini, di masa-masa yang lalu dan juga di masa-masa yang akan datang sebelum struktur-struktur kemasyarakatan di tempat-tempat tersebut mengalami perubahan. Perubahan ini seharusnya di Indonesia telah dikeryakankan oleh Revolusi yang baru lalu. Struktur kemasyarakatan barat mengecilkan kemungkinan untuk berkorupsi. Di sini orang tidak mempunyai hubungan erat-erat dengan keluarga, atau boleh dikatakan hubungan manusia barat yang satu-satu-nya adalah dengan pemerintah Sebaliknya di mana ikatan keluarga erat-erat, terutama ditambah lagi dgn banyaknya perhubungan orang dgn golongan atau kepentingan-kepentingan lain, boleh dikatakan korupsi sudah termasuk di dalamnya. Juga gejala ini nampak di negeri Belanda waktu orang mempunyai banyak hungan dengan perkumpulan-perkumpulan atau serikat-serikat buruh.
Apakah akibatnya Revolusi yang baru lalu atas hubungan keluarga? . Tidak ada. Tiap Revolusi yang seslesai pasti akan ditutup oleh terbitnya buku standard sejarah Revolusi, seperti yang ditulis oleh Masariyk di Cekoslowakia, Marx atas Revolusi 48. Lenin atas Revolusi Bolsyewik. Tetapi di Indonesia buku demikian belum nampak ada kemungkinan untuk terbit, dan sebaliknya memang tidak akan terbit—althans tentang sejarah Revolusi yang baru lalu. Terbitnya buku demikian berarti adanya kemungkinan utk memperoleh gambaran tegas dari soal yang ditulis. Dan bila gambaran yang menyeluruh tidak didapat orang pun tidak bisa menuliskannia.
Wertheim tadinya mengira bahwa Syahrirlah yang akan menulisnya, tetapi rupa-rupanya hingga kini harapan dan kiraannya tidaklah terkabul. Ada juga ditulis tetapi tidak merupakan suatu keseluruhan soal. Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945 karangan Adam Malik dan Sapta Darma Yamin haynalah bersifat Fragmentaris dan yang belakangan lebih bersifat perseorangan.
Oplaaq buku kesusasteraan Indonesia Baru yang rata-rata 5000 exemplar, tidak dibantu dengan baik penyiaranya oleh badan-badan yang berkepentingan, dan pemerintah tidak mempergampang sampainya kepada masyarakat, merupakan contoh yang baik dari gejala kegagalan Revolusi. Buku-Buku ini harus dibaca oleh lebih banyak orang Indonesia agar ada terjadi perubahan ke arah kemayuan kebatinan Rakyat yang telah ternyata tidak mendapat apa-apa dari Revolusi yang baru lalu. Bukankah Revolusi dan semangatnya seluruhnya termaktub di dalam kesusasteraanya? . Dan bukankah mereka harus bertemu kembali dengan kurun waktu yang lalu itu dan memimba kembali semangat perjuangan itu dari buku-buku kesu-sasteraannya? . Bukanlah daripada tidak mendapat apa-apa dari Revolusi itu sendiri, lebih baik toh menda- pat dari kesusasteraannya? .
Pessimisme harus dikuburkan dari bumi Indonesia. Dalam kesu- sasteraan orang bisa banyak me- ngambil perbandingan Mexico yang juga mengalami Revolusi de- ngan factor-factor yang hampir bersa- maan dengan Indonesia. Namun Mexico dalam ciptaant-ciptaannya masih bernafaskan optimisme-dan optimisme sehat. Kewajiiban yang urgent bagi Pengarang-Pengarang Indone- sia Baru dewasa ini bukanlah menyampaikan pessimisme yang sia-sia itu lagi, tetapi sebaliknya menghidupkan optimisme hari de- pan. Tentang ini tidak perlu seo- rang pengarang harus terjerumus dalam hasil kesusasteraan propa- ganda atau terlampau bertenden- sa. Namun bukanlah pada tem- patnya untuk berbagai menjadi Angkatan yang hilang, tetapi pada tempatnya berkecil hati menjadi angkatan yang kalah, angkatan yang tidak menjawab tantangan hari depan. Sudah sepatautnya di- lahirkan buku-buku yang menterje- mahkan dunia perasaan dan dam- baan rakyat, sehingga buku itu menjadi Kur'an kedua seperti Perang dan Damai, Tolstoi bagi Rusia, Sabai nan Aluih buat dae- rah Minangkabau“ Sangkuriang untuk daerah Pasundan. Bhara- tayuda dan Ramayana (dan teruta- ma sekali yang pertama) untuk daerah Jawa Tengah dan seba- gainya.
Optimisme yang akan hidup te- rus adalah optimisme rakyat dan bukan perseorangan. Dan ia harus pula bisa menghidupi kembali rakyat itu. Itu pula sebabnya Wertheim amat anthusias dengan ceramah Asrul Sani tentang Desa dan Kota di dalam Simposium di Amsterdam yang baru lalu. Seti- dak-tidaknya ceramah Asrul Sani itu memberi jalan keluar dari lingkaran putar, Sekalipun ia ti- dak menunjukkan jalan yang satu-satunya.
Tentang bahasa yang diperguna- kan oleh pengarang-pengarang sekarang nampak jelas adanya kekakuan dan belum sanggup menggam- barkan kehidupan perasaan. Bu- kan salah mereka justru bahasa Indonesia adalah bahasa bikinan dan tidak lahir serta dipergunakan sedari permulaan. Kekuatan peng- gambaran nuances yang ada pada bahasa-bahasa daerah hilang lenyap da- lam bahasa Indonesia ini. Bahasa Indonesia lambat laun menjadi bahasa resmi, tidak memiliki ba- hasa pertiakapan. Kesumbangan ini bisa diatasi kelak anapila bang- sa Indonesia telah dapat memper- gunakan sebagai bahasa keluarga. Ini pula sebabnya mengapa selama ini hanya daerah-daerah yang berba- hasa Melayu saja dapat melahir- kan pengarang yang mempergun- kan bahasa Indonesia, karena me- reka belum memasuki masyarakat, sejak mereka dilahirkan diru- mah tangganya. Pengarang-Pengarang bukan dari daerah yang berbahasa Mela- yu, mungkin juga berhasil dalam tulisaninya yang berbahasa Indone- sia hanya dengan kekuatan gaya.
Wertheim dilahirkan di Peters- burg dan sejak kecil mempergu- nakan bahasa Rusia. Bahasa ini merupakan bahasa Keluarga, yang juga ia pergunkan dalam perga- ulan dengan kawan-kawan-nya, bahkan saudara-saudaranya. Hania orang tuanya mempergunakan bahasa Belanda, yang akhirnya menjadi bahasa res mi. Akibatnya ialah bahwa hasil kesusasteraan yang tertulis dalam bahasa Rusia baginyia lebih berarti daripada yang tertulis di dalam ba- hasa Belanda.
Tidaklah dapat disangkal lagi bahwa Sekalipun bahasa Indonesia berdasarkan bahasa Melayu namun ia mengalami kelahirannya di J- akarta. Dan Jakarta merupakan pe- numpukan berbagai macam kelu- arga dari berbagai macam daerah yang menyebabkan pesatnya baha- sa ini dalam kemajuannya. Tetapi kekurangan dari padanya ialah justru karena Jakarta menjadi penumpukan berbagai macam keluarga dari berbagai macam daerah, maka kata-kata yang menterjemahkan kehidupan perasaan berserta nuancesnya gampang “kocarkacir. Jalan untuk membuat uniforma dalam kata-kata ini ialah jalan yang pernah ditempuh oleh komisi istilah, artinya dengan membuat komisi baru untuk mengesahkan bahasa percakapan yang harus disebar kan sebesar dan selebar mungkin di seluruh kalangan masyarakat ramai hingga dipelosok dan gunung-gunung, terutama dengan menterjemahkannya ke dalam bahasa-bahasa daerah.
Kegagalan yang mengancam bahasa Indonesia pun sudah nampak apabila untuk selama-selama-nya ia merupakan bahasa resmi. Usaha dan inisiatip utk memperkembangkan nya menjadi bahasa keluarga sangat dibutuhkan secepat mungkin, dan terutama inisiatip ini diharapkan dari para pengarangnya.
Amsterdam, . IX—1953
(Mimbar Penyiaran Duta).
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.