KESENIAN DAN INTEGRITET
IWAN SIMATUPANG
KESENIAN DAN INTEGRITET
oleh
IWAN SIMATUPANG
Dimuat di majalah MIMBAR INDONESIA
INDEPENDENT NON-PARTY
28
13 JULI 1957
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Gambar sampul: Composition karya Hideo Hagiwara
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KESENIAN DAN INTEGRITET
BERKATA Bergson: Seni adalah intuisi. Berkata Merleau-Ponc: Seni adalah persepsi. Kaduana bersamaan: kesaksian ketunggalan pengertian kesenian la masalah tunggal. Mutlak. Sebelumnya, seketikanya, sesudahnya, Gagahnya: a priori, a fortiori, a posteriori.
Jernihnya: setiap pengertian dari dan tentang kesenian adalah sekaligus pengertian dari dan tentang sehruruh la endapan dari seluruh ihwal yang didigat-raye. Ia sekaligus kesimpulan metafisis, religius, estetis dst dari dan tentang apa saja ihwal yang mungkin: dulu, kini, esok, tak berhingga.
Oleh sebab itu lah utah seniman dalam kesenimannya selalu bernilai mutlak. Fragmentarisme dan pragmatisme hanya berterima baginya sedayah ini tak menggepuk pengertian akan kemutlakkan itu. Itu soal citara-sa yada: pada yang keci mengaca yang agung, atau pada yg maharaya mengaca yang keci. Haketatka sama: alam tunggal, demikian insan. Demikian seniman. Demikian kesenian.
Oleh sebab itu pulalah ‘pengertian’ seperti realism, romantik, klasik, surrealisme, dst, hanyalah nisbi saja Itu pun, sedayah ia rumusan tentang gaya saja. Tentang haketatka, in-tinya, mereka yang beragama nama itu sebenarnya sama sayaya. Satu saja. Yakni: hanya faset-faset saja dari yang itu-itu juga.
KEMEMPANGAN dari sikap seperti ini adalah, bahwa pernilainan kesenian hanya mungkin dilakukan tunggal juga, yakni: bahwa pernilainan sendiri sudah tak perlu lagi. Ketunggalan menuntut keseragaman. Keseragaman menuntut kesendirian. Alias menuntut kehilangan diri sendiri.
Sudah tentu kesempangan seperti ini membawa mauat bagi setiap insan yang mempunyai makaud besar untuk jadi pemula seni.
Ia mesti memberi pernilainan tunggal juga. Apakah artinya ini selain bahwa pernilainannya itu tak dapat menyingkirkan dirinya dari perba-ganan hitam-puth? ‘Karya ini baik Titik’. Atau: ‘Karya ini tak baik Titik’. Habis perkara.
Tapi segera muntul tanya: Apakah yang baik? Apa ukuran-ukuran penen-tukannya? Dan yang tak masuk golongan mutlak-buruk itu, adakah itu mutlak-buruk? Apa alasan-alasannya? Adakah daya-daya nyata dan tak-nyata-na oeh sebab itu juga tak-tung-gal? Bila demikian, jelas ia bukan karya seni. Ia bukan ihwal seni. Lu lu karya dan ihwal apakah ia jadinya?
Anda lihat segera kita masuk terjerembab ke dalam gua kritik seni penuh lekuk, luku dan tikungan. Jarining pengertian-pengertiannya terlalu simpangsuir. Memelengguk. Mentekik. Dan memang: siapa yg meng-anggap remeh masalah ini, namun di samping itu terus juga dengan senamanya mem-bagikan kritik se-ninya ke kanan-kiri maka ia itu pas- ti tak dapat meloloskan dirinya dari gua mauat ini, ia manusia, dalam tafisiran kesenianyana sudah tentu.
Berdasarkan ini semuanyala, maka setiap pernata pernilainan seni yang didukung oleh lebih seorang merupakan pernata yang karut.
Sekitar banyak anggota pernata (iazimnya juri) sekian banyak subyektivitas. Sekian subyektivitas, ber-arti: sekian dunia tersendiri. Bagaimana dapat ditepati dari sekian bu-mu itu satu pernilainan saja yang oleh bumb-bumb itu sendiri sudah dengan sendirinya tak diakui? Althans, bila kita tak menodakan asas kedinian (principium identitatis)......
Berdasarkan inilah juga maka setiap putusan juri merupakan putusan yang dipaksakan, yang ungkap-an dari kehendak maksimal akan kompromi. Akan sintesa—tanpa dialetik, notabena! Putusan itu merupakan anak-gampang dari de-mokrasi. Dan jangankan keanak-gampangan, bahkan demokrasi ada-lah dengan sendirinya pengertian vulgar bila dipernisbahkan dengan kesenian. Kata kita tadi: Seni adalah kemutlakkan. Bergson berkata demikian. Merleau-Ponc juga, Dan Aristoteles, Dan Leonardo da Vinci. Dan Nietzskhe. Dan...... terserusya, masing-masing dengan gayanya tersendiri. Dengan logat dan kazahna-hya tersendiri.
Tapi, mengapa jumlah juri kian banyak dikurni sejarah yang tampaknya kian maju? Seperti—bak kata orang—kurun di mana kita hidup kini? Setiap kelompok kema-sarakatkan yang merasa dirinya ter-hormat menjaga agar pada waktu tertentu dibentuk juri seni di-tengah-tengahnya. Juri ini diminta me-nyatakan pendapatnya tentang beberapa karya kesenian yang dihasilkan dalam lingkungan kelompok itu. Pendapat ini nanti pada gilirannya pula dijadikan batu lonyatan untuk melampiskan salat satu naturi yang lazim hadir pada setiap kelom-pok: naturi untuk memuji, memu-ja, menyembah. Di samping Tuhan, tuhan, dewa dan dewi, bang totem, imagi, mistik, falsisme, syamianisme dst, manusia juga butuh akan ber-baha-baha ciptaannya sendiri. Yang selalu, yang selalu dirinya sendiri. Dalam hal kita ini: (karya) seorang seniman, pada mana ia melihat ha-dir argumen-argumen yang membuat dirinya merasa kebutuhan untuk memuji dirinya sendiri..... lewat diri sang seniman itu. Bentuk peryantain lain dari egoisme, kata Adler!
KERETAKAN (ekhec) inilah yang sesungguhnya membuat setiap pernata pernilainan seni, seperti juri seni misalnya, bersifat tragis. Ke-adaannya hanya beroleh dalihnya pada unsur-unsur sosilogis saja. Dengan estetika, ia bernisbah minim sekali. Ia bahkan merupakan faktor pem-buat olen perimbangan-perimbangan dalam ke-senian saja. Aturan jadi emble-emble saja, oleh kebanyakan seniman ia lalu yang dipentingkan. Mereka lalu jadi seniman hanya berdahllkan putusan-putusan juri saja. Kasarnya: ha-nya berdahllkan hadiah-hadiah yang akan di-bagi-bagikan yuru. Timbulah pengertian ‘seni untuk hadiah’, varian lebih kasar lagi dari pemo ‘seni untuk perut’ yang ton sudah tak simpatik itu.
Dihampir setiap pemberian hadiah (tepatnya... pernilaian) seni didapat kandal. Alasanannya taram: subyektivit juri lain daripada subyektivit seniman bersangkutan. Bi- la putusan itu membawa debat bagi sang seniman, umumnya kekecensan- nya membuat yang gembira dengan pu- tusan itu. Walaupun hati nuraninya bereaksi lain. Hadiah itu diperlukan- nya bagi perlindungan hayainya: di- samping uang, juga segenggam ke- puasanan akan diri sendiri, yang akan membuat sah setiap tindak-laksana kemudian hari.
Untunglah tak setiap seniman se- serakah itu. Benar, mereka juga butuh uang. Siapa tidak? Juga mereka butuh akan keputusan akan diri sendiri. Siapa tidak? Tapi, kon- stitusi dari watak keseniamannya menghasilkan suatu daya-andal yang khas bagi dirinyia. Dan dituntun oleh temperamen dan gaya pribadi sen- diri, maka watak ini mengungkap- kan dirinya ke dunia luar dahul lebih halus, sopan, tertib. Yakni: mendek- kat ke yang jujur dan yang se- derhana.
SEBAGAI ytontoh ingin kita meng- unjuk kesuatu ‘insiden kesenian’ yang terjadi baru-baru ini dalam dunia theater dneigeri Belanda. Sejak ti- ga tahun, Perkumpulan Direktur-Direktur Gedung Konser dan Skhouwburg di Nederland memberikan hadiah-hadiah ke- pada tokoh-tokoh theater yang mengha- silkan prestasi terbaik di tahun had- diah itu diberikan. Nama hadiah-hadiah ini diambil dari nama kedua tokoh theater Belanda yang dianggap me- rupakan pelopor-pelopor dari kegiatan theater (yang baik) di Nederland. yakni Louis Bouwmeester dan Theo- Mann Bouwmeester. Pemain theater pria terbaik beroleh hadiah Louis D'Or, pemain wanita terbaik beroleh hadiah The D'or.
Untuk tahun 1957 ini, juri yang ditunjuk oleh perkumpulan di atas memutuskan, bahwa pemain wanita terbaik adalah Myra Ward, dari kumpulan theater De Haagse Co- medie (Den Haag). Ia menerima ha- diah The D'or. Pemain pria terbaik menurut juri adalah Ko van Diyk, dari kumpulan theater De Neder- landse Comedie (Amsterdam). Pa- danya diberikan hadiah Louis D'Or.
Akan tetapi..... Ko van Diyk me- nampik hadiah tsb. Alasannya? Ia setuyu dengan teori bahwa hanya pemain yang terlebih di tanah 1957 ini, tapi.... ia tak setuyu, bahkan amat tak setuyu dengan bunyi rumusan pernilaian sang ju- ri. Notabena: rumusan pernilaian yang diumumkan secara resmi pula kepada khalayak lewat pers, radio, bahkan televisi. Bagaimana rumusan pernilaian tersebut?
Kita mengutip bagian yang terpen- ting saja: “...bahwa juri yakin, bahwa jasa-jasa besar dari Ko van Diyk bagi senipanggang Belanda taklah terletak di darah dari prota- gonis-gonis tragis dan herois, tapi dida- erah dari sentimen-sentimen yang segera da- pat dikenali, dan yang langsung...” Selanjutnya: “...terbuktiilah, bah- wa keseniamanya yang luas dan su- bur, tapi juga yang diperdebatkan itu paling banyir beroleh untung dari kesederhanaan dan pembatasan diri....”
Sampai sekian sang juri kita ku- tip. Agaknya taklah perlu banyir kata bagi kita untuk mengatakan, bahwa rumusan seperti ini (1) tak selayakna, dan (2) tak selayakna diumumkan pada khalayak.
Sebab, apakah hakiekatnya int? Tak lehin daripada, bahwa sang ju- ri ingin bertindak sehuk guru di- sekolah rendah. He anu, kau ber- oleh angka tujuh bagai karangan- mutapi...... salahna banyir, juro- vok, kau dituduh diterus yenovor pulu lagi. Kau kuberi angka tujuh memang, tapi sebenarnya kau cuma berhak akan angka empat seja. Namun, kau kuberi angka tujuh...
Bawah adegan seperti ini dapat dilangsungkan tanpa sengketa diru- angan sekolah rendah, dapat dib- yangkau. Sang murid sih cuma bo- tayar saji lag, ia memang banyir belayar dari peringatan-peringatan seperti itu. Tapi sikap seperti itu juga di luar dinding sekolah, notabena terhadap tokoh-tokoh kesenian yang tog tak dapat disamakan saja lagi dengan bo- cah-cah ingusan? Ini banya menandes- kan pada sang seniman saja, baha- wa sang juri sudah melampau ba- tas-tas kelaziman, dan ingin melaku- kan suatu peran yang sudah dahul melimpah dari yang diperkenankan baginyia. Dalam hal Ko van Diyk ini, sang juri hanya menandaskan sa- ja dengan setajamna kepada ma- syarakat, bahwa mereka yang didu- dukkan dalammna belumah mempu- nyai hak untuk duduk di situ. Dari kenyataan, bahwa mereka ditunjuk sebagai anggota juri, sudahlah pe- tunjuk bagi mereka, dan bagi ma- syarakat, bahwa seyogian-seyogian mereka- lah yang tahu akan tataletak nilai dan pernilaian. Guna dapat memili, haruslah diketahui lebih dulu apa nilai. Mengetahui nilai: apakah itu, selain bahwa diketahui mana batus dan mana tidak. Dalam peristiwa ini, juri sudah menandaskan: ba- taat-taat itu bagi mereka agaknya mas- lik kabur. Berarti: belum waktuyna bagi mereka untuk saduh duduk la- gi dalam juri yang bakal ditunjuk untuk memberikan hadiah-hadiah dithun muka!
BAGI kita di Indonesia, peristiwa seperti ini ada gunanya kita simak. Bila benarlah udara krisis (yang ramai diperdebatkan itu) kini tampaknya rada cerah dari langit kegiatan penciptaan kesenian di tanahair kita, maka apakah artinya ini, selain bahwa masyarakat kita pun dalam waktu yang tak lama lagi akan mempunyai kebutuhan untuk memberikan hadiah kepada seniman-seniman kita yang 'terbaik'? Badan Musawarat Kebudayaan Nasional (BMKN) masih harus akan membagikan hadiah-hadiahnya lagi kepada prosais, penyair dan essayis kita yang terbaik ditahun 1957.
Mudah-mudahan yang ditunjuk duduk dalam masing-masing jurinya nanti bukan terdiri dari orang-orang kenes, yang kabur pengertiannya tentang nilai, pernilaian. Dan batas.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.