Baca EPUB (OCR): Definisi dan Keindahan dalam Kesusasteraan

5 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 3 ms

Daftar isi
  1. DEFINISI DAN KEINDAHAN DALAM KESUSASTERAAN
  2. PRAMOEDYA ANANTA TOER
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. DEFINISI DAN KEINDAHAN DALAM KESUSASTERAAN
  6. CC BY-SA 4.0

DEFINISI DAN KEINDAHAN DALAM KESUSASTERAAN

PRAMOEDYA ANANTA TOER


Logo Penerbit MasasilaM

DEFINISI DAN KEINDAHAN DALAM KESUSASTERAAN

oleh

PRAMOEDYA ANANTA TOER



Dimuat di majalah Indonesia

No. 8 • Th. III • Agustus 1952

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Ambivalence (1946), karya Ian Hugo

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



DEFINISI DAN KEINDAHAN DALAM KESUSASTERAAN

Susah orang bisa didikte begitu saja bagaimana definisi kesusasteraan, apabila ia sendiri telah bergerak di lapangan itu. Perkembangan jiwa serta penemuan-penemuan yang didapatnya dari pemikiran, ini akan berpengaruh besar pada seseorang dalam menghadapi pengertian-pengertian. Secara klasikal orang dapat mengatakan: kesusasteraan adalah suatu keseluruhan cipta manusia baik dalam prosa atau puisi untuk mengucapkan sesuatu keindahan. Tetapi bila orang telah meninggalkan bangku sekolah, ia akan ragu dengan pengertian-pengertian tentang keindahan yang telah diterimanya di waktu-waktu yang lalu. Dan lagi hanya keindahan sajakah yang akan diucapkan oleh kesusasteraan? Ini tidak boleh jadi.

Dalam hidup ini begini banyak perhatian manusia, dan bukan keindahan melulu. Dan apakah keindahan? ini pun mengandung pengertian yang meragukan. Keindahan taklah bisa diyakinkan pada seseorang dengan kata-kata saja, karena ia soal perseorangan. Ia adalah wuyud dari ke-subyektivitet-an manusia, kalau boleh dikatakan secara extreem. Dan sungguh, memang ada garistengah yang dinamai ukuran normal dalam mengenal keindahan. Tetapi bukanlah lagi suatu kejujuran bila seseorang harus mati sampai pada ukuran normal itu. Tiap orang berhak berjalan lebih jauh dari ukuran normal itu. Orang pun ada hak melompatinya asal ada tenaga padanya yang cukup untuk itu. Percobaan untuk melompati dengan tenaga yang tak cukup sungguh suatu percobaan yang membahayakan, bahkan akan membingungkan diri dalam perkembangan-perkembangan selanyutnya.

Sekali lagi, dalam hidup manusia ini bukanlah keindahan melulu yang penting. Definisi tersebut di atas nyata benar pancaran dari kejayaan jaman romantik. Dalam perkembangan kesusasteraan dewasa ini ia punya funksi dan daerah yang lebih besar serta subur daripada keindahan melulu. Keadilan, kemanusiaan, kesusilaan bahkan kebangsaan tak jarang diucapkan oleh kesusasteraan dengan keyakinan yang penuh di luar segala yang dinamai keindahan. Kesusasteraan bukan lagi merupakan nyanyian. Memang tak jarang orang mengatakan, bahwa semua itu ter-masuk keindahan. Dan bila demikian halnya, di mana lagi tempatnya pengertian-pengertian itu dalam bahasa manusia?

Orang bilang, keindahan yang dimaksudkan adalah harmoni yang tumbuh dalam ciptaan itu. Ini pun tidak tepat, karena keindahan bukanlah harmoni dan harmoni pun bukan keindahan. Harmoni adalah kesewajaran cipta di atas bumi ini. Ini turut serta dengan semua ciptaan—baik oleh manusia Maupun oleh alam itu sendiri.

Sungguh, dalam kesusasteraan orang hanya punya satu pemilihan: keindahan atau kesusasteraan itu sendiri. Dengan keindahan saja orang akan terkatung-katung antara segala-galanya. Ia jadi kurban pancaindera yang tak luput dari kesalahan kerdia. Dan keindahan-keindahan itu adalah-negatif, tak berjiwa, bila tidak dialirkan kesesuatu tujuan dalam sesuatu wuyud yang tertentu. Dalam kesusasteraan ia hanya merupakan bahan, tiada berbeda dengan bahan-bahan seorang pengarang yang lain-lain lagi. Keindahan tak punya hak untuk memaksa kesusasteraan untuk meluluskan segala permintaannya. Dengan ragam-rampai ke masa-rakatan yang begini banyak ini, keindahan hampir-hampir tak mendapat tempat yang utama seperti dahulu. Ia bukan lagi suatu vitalit yang menentukan seperti dahulu, semasa maharaja-maharaja kuasa membangunkan istana yang indah-indah di atas kesengsaraan dan bangkai rakyatnya. Ia menjadi hal biasa seperti beras dan air dan tanah dan udara dengan segala makhluk di dalamnya.

Pemujaan pada keindahan tak berbeda dengan segala macam pemujaan yang lain-lain. Ia adalah suatu pelarian, karena orang tak tahu lagi mengenali funksi dan gunanya.

Sebaiknya kesusasteraan ini diterima sebagai ada nyga, terlepas dari definisi-definisi yang didiktekan. Pergaulan yang lebih erat-erat dengannya lambatlaun akan memberikan definisinya sendiri pada nya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditemuinya dalam pergaulannya itu. Dan definisi yang diperoleh itu kemudian akan jadi pegangan dalam perkembangan-perkembangan selanjutnya.

Bicara-bicara tentang kesusasteraan, lebih baik motif keindahan ini disampingkan dahulu. Kesusasteraan sebagai penciptaan keindahan adalah definis; sempit yang dipaksakan pada sesuatu yang hidup dan bergerak. Kesusasteraan bukanlah barang mati. Ia hidup dalam alam rohani pembacanya. Terutama setelah ia mendapat perkembangan-perkembangan lebih lanjut kata keindahan itu terdorong ke belakang. Realisme pahit tidaklah menyodorkan keindahan pada seseorang, tetapi kenyataan yang harus ditelan mentah-mentah. Dalam karangannya Black Boy Rikhard Wright orang bisa mengenali betapa takut itu mengamuk sonder dibarengi oleh keindahan setitik pun. Pembacanya akan dibuat menggigil karena kesadaran akan bahaya genocide. Keindahan yang banyak diteriakan orang tak muncul-muncul dalam kalimat-kalimat yang dipergunakannya. Tidak! Dan realisme semacam ini dengan bergandengan tangan dengan naturalisme, dengan psykhologisme, dengan surrealisme dan sebutlah penamaan-penamaan lain yang timbul belakangan ini merupakan rantai yang kuat dalam kepungannya terhadap definisi tersebut di atas.

Dan sesugguhnya, keindahan dalam kesusteraan adalah soal tangkapan pembaca.

Memang, kesusteraan datang dari basa Sangkrit ke-sasteraan, yang mana su berarti lebih (dalam arti indah, baik, berfaedah) dan sastera berarti huruf, buku atau undang-undang. Dan tidaklah salah rasanya bila orang terus menganut faham, bahwa kesusteraan adalah hasil penciptaan keindahan yang ditulis atau yang mempergunakan kata-kata. Tetapi soal yang tak se'ayknya harus dilupakan ialah: istilah selamanya bergeser-geser menurut waktu dan tempat dan orang atau gerombolan orang yang mempergunakannya. Kalau di jaman dahulu sebutan pujangga adalah luhur dan diperuntukkan seseorang yang bijaksana dalam segala lapangan dan menguasai lapangan seni terutama filsafat hidup, berbudi dan pengam pun, sekarang ia menjadi sebutan biasa buat pengarang. Dan sebaliknya kata kaki atau yang berhubungan dengan itu menjadi gelar atau sebutan yang paling mentereng, seperti: duli, sampean, cokerde, paduka, gamparan dan sebagainya. Dan karena kesusteraan adalah seputu yang hidup, jadi ia punya perkembangan sendiri dan bisa menyimpang dari pengertian tadi-tadinya yang dikenakan padanya. Jadi tentang pergeseran istilah, ini tak terjadi di gelanggang kesusasteraan saja, tetapi juga di segala lapangan.

Sungguh benar, bahwa kesusasteraan adalah salahsatu cabang kesenian. Malah kesusasteraan berhubungan rapat dengan cabang-cabang kesenian lainnya. Kadang-kadang begitu rapat hingga seorang seniman merangkap dalam berbagai cabang seni dengan satu pengucapan. Yean Cocteau misalnya, selain seorang pengarang yang terkenal juga seorang sutradara yang dikenal, juga seorang dramaturg, juga seorang pelukis, juga perencana mode. Rosihan Anwar selain pengarang juga pemain sandiwarra. Trisno Sumarjo selain pengarang juga pelukis, dan begitu pula Zaini, Sujoyonono dsb. Dan seni ini tidak saja berarti yang indah, tetapi juga yang halus.

Seniman bukan saja segolongan manusia yar.g berperasaan halus, pur.ya perabaan tajam terhadap keindahan, tetapi juga terhadap keadilan, kemanusiaan, keiibaan dan lain-lain yar.g susah bisa teraba oleh segolongan besar manusia yang tumpul perabaannya.“Nyata bahwa seni bukan berarti khusus yang indah. Karena itu pula kesusasteraan sebagai cabang kecil dari kesenian pun membawa pengertian seperti itu.

Purisme, yakni aliran dalam kesusasteraan yang dapat dikatakan setengah reportase dari sesuatu kejadian atau; setengah pemotretan, mempergunakan bahasa sipelaku sendiri dengan tekanan-tekanan yang diberi interpunksi, dengan gerak dan ke-adaan serta suasana yang khas, adalah tantangan yang langsung terhadap keindahan yang diharuskan. (Purisme boleh dikatakan konsekwensi yang lebih lanjut daripada realisme), dan dengan sendirinya saja hasil kesusasteraan demikian susah untuk bisa diterjemahkan dengan baik. Atau boleh dikatakan ia adalah hasil kesusasteraan yang dilokalisasikan ragam-rampainya).

Dan keindahan dalam kesusasteraan pun punya pengertian sendiri-sendiri pada tiap-tiap pengarang. Graham Greene dalam essaynya tentang Yames mengatakan, bahwa keindahan terakhir dari cerita-cerita terletak dalam belaskasihian: The poetry is in the pic. Dan Steinbeck dalam Tortilla Flat mengatakan, bahwa keindahan sesuatu cerita terletak demikian rupa, sehingga cerita itu sendiri tidaklah selesai, tetapi yang menyelesaikan ialah pembacanya dengan fantasinya masing-masing. Dan banyak orang berpendapat, bahwa keindahan sesuatu cerita terletak pada fragmen-fragmennya yang mengandung penemuan-penemuan dan pemasakan-pemasakan bar dari sesuatu hal yang mengharukan. (Dan haruan ini adalah soal yang subyektif benar). Berbagai pendapat tentang estetika dalam kesusasteraan ini sesungguhnya tidaklah terletak pada teori yang dihasilkan oleh pemikiran, juga bukan suatu akibat dari kekuasaan teknik seseorang pengarang yang direncanakan sebelumna. Keindahan adalah soal yang empiris benar. Ia hanya dapat dikenal bila sudah ada. Pergaulan yang banyak dengan kesusasteraan dengan sendirinya saja akan membawa seseorang pada keindahan-keindahan yang bisa dikenalnya. Dengan buku penuntun orang hanya mendapat teori, dan masih susah ia dapat menghargai sajak-sajak Khairil misalnya. Ternyata benar bahwa datpnya menghargai ini terjadi karena banyak bergaul dengan hasil-hasil persadayakan. Pergaulan ini Walaupun bukan satu-satunya jalan, toh salahsatu jalan yang effektif benar.

Sekali lagi tentang definisi kesusasteraan ini sebaiknya diserahkan pada orang-seorang. Biarlah guru-guru dan kamus-kamus membuat definisinya sendiri-sendiri. Kebebasan untuk mendapatkan definisi sendiri mungkin bisa dapat menghindarkan seseorang dari kebekuan, dan sebaliknya memberikan dinamik untuk bergerak. Sekalipun demikian, perabaan yang tajam dalam membeda-bedakan antara hasil kesusasteraan dan tidak memang patut dipunyai. Dengan tiada ini memang membahayakan kebebasan mendapatkan definisi ini. Dan kemudian orang mendapat keyakinan atau sesuatu buku itu merupakan entertainment atau hiburan atau sesuatu buku itu merupakan hasil kesusasteraan yang me ngayakan rohani pembacanya.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.