KENANG-KENANGAN SEORANG WANITA PEMALU
W.S. RENDRA
KOLOFON
KENANG-KENANGAN SEORANG WANITA PEMALU
oleh
W.S. RENDRA
Dimuat di majalah Minggu Pagi
Terbit tiap hari Minggu—enteng berisi
3 Agustus 1958
No. 18
Tahun XI
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Gambar sampul: Tidak diketahui
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KENANG-KENANGAN SEORANG WANITA PEMALU
SEKARANG aku akan menulis sebuah pengakuan. Pengakuan ini mungkin pengakuan yang pertama dan terakhir kalinya. Begitu sangat berat untuk menulis pengakuan semata-mata. Aku tak akan bisa dengan yelas menyelaskan mengapa. Saat itu kerang-kerangan itu sangat menguasai diriku. Seakan-Seakan kenangan itu sudah menjadi satu dengan darahku dan mereka. Yuri senegap daging tubuhku. Aku ditudi lemas karena perasaan sematayam itu lah yang mendorongku untuk menulis pengakuan ini. Setelah sesiai kutulis maka akan kusimpan dalam peti rahasia ku-staypa tak akan dibatasi oleh slapu pun juga.
Pertama, aku menulis pengakuan ini sekedar untuk meringankan tindasan-tindasan perasaanku. Kedua, kekandungan hati untuk mempersembahkan tulisan ini kepada Ahmad Karnaen yang sangat ayih-ayih hinda Meskipun aku pun sadar bahwa ia tak akan bisa lagi membatanyanya karena telah lama dikandung oleh bumi.
Pagi tadi ketika aku duduk di beranda depan rumah aku melihat bahwa pohon kemuning di depan rumah telah berkembang. Setiap kali kemuning itu berkembang kenangan anku kepada Karnaen selalu lebih kuat dari biasanya. Sebab waktu dulu ia pertama kali menyatkan yincana kepadaiku, pohon kemuning itu pun sedang berkembang pula. Kemudian tengah aku asik memandangi bunga-bunga yang penuh kenang-kenangan itu kudengar suara burung meyicit-cicit. Setelah ku perhatikan ternyata ada sepasang burung madu yang berwarna merah meloncak-lon ca di antara reranting kemuning itu sambil asik membuat sarang. Demi kulihat semua itu darahku berdesir lebih keras dan aku merasa lemas serta tak berdaya. Keyadian itu tepat seperti apa yang terjadi di saat abu junaah Karnaen yang gugur di Burma dibawa pulang ke, mari, kekota Klaten yang keyil ini. Aku judi menangis menggenangkan hal itu. Kemudian setiap detik dari hari ini aku tak bisa melepaskan diri dari kenang-kenangan kepada Karnaen.
Seyakaku sudah perawan tua. Umuruku sudah 33 tahun. Dahulu waktu aku pertama kali beryumpa dengan Karnaen umurku masih 17 tahun, masih memakai rok dan masih biasa suka dolan-dolan dengan sekelompok teman-teman gadis yang lain. Dan Karnaen? Ah, bagaimana aku akan memberi gambaran tentangnya? Bagiku ia sangat luar biasa. Caranya berjalanan seperti pemuda bebas yang penuh kegembiraan dalam hidupnya. Rambutnya sangat hitam dan begitu pulu alisinya. Ia tidak begitu tinggi, tetapi juga tidak rendah. Kala ia memasuki ambang pintu rumah kirai ia lebih rendah sahul setegah jengkal dari pun tayknya. Perawakkannya seperti seorang yg suka olah raga. Ia suka tersenyum dan pandai melutu. Ia sangat banyark mempunyai dongeng dan teka-teki. Apabila tertawa suaranya keras sekali. Ia terkenal sebagai pemain sepakbola dan temannya banyark sekali—teman lakl-lakl dan teman pemruaan. Tetapi pada akhihr-akhihrnya ia paling banyark bergaul dengan teman-teman gadis kelom pokku.
Kalau kami sekelompok sedang ramai rujakkan kang2an-n tiba-tiba saja ia datang bersama satu atau dua orang temannanya lagi dan terus mulai ikut menyerang rujak kami tanpa kami persahalkan lebih dulu. Kami senang saya. dia melihat kelakuanyga itu. Bagi kami, gadis-gadis, ia memang sangat menyanyangkan. Teman-Temanku banyark yang senang kepadanya. Kalau ia sedang ber sama-sama dengan kami selalu ada-ada saja ceritaian. Aku selalu senang memperhatikan bicara dari balik punggung seorang temanku. Ia sekalu mengejek saya dengan mengatakan bahwa saya sangat pemalu. Kadang-Kadang ia me mandangi saya lama-lama terang-terang an Perbuatannya itu menyebekkan saya berdebar-berdebar tidak karuan, kemudian saya selalu lalu meoyembunyikan diri di balik punggung salah seorang teman saya. Kalau saya sudah mulai kemalu-kemaluan ia lalu mulai melutu dan mentari perhatianu dengan jalan lain yang mokal-mokal. Saya selalu me rasa lutfu karena perbuatan nya itu. Saya tak pernah bisa menahan tertawa tapi juga tidak pemah berani memunyukkan mukaku kepadanya. Dan kalau sudah terlalu sekali, maka saya lalu lari keda lam rumah dan tak mau ke luar-luar lagi, menutup diri sam bil menggenangkan bagaimana lutuhnya ia dan bagaimana menangannya.
Pada suatu hari waktu ka mi sekelompok sedang dolan-dolan bersepeda ke sebuah tempat masakan, seorang teman saya berkata bahwa Karnaen pernah berkata kepadanya seca ra terus—terang bahwa ia tertarik kepada saya. Mende ngan ini muka saya judi merah dan teman-teman yang lain mulai mengejek saya serta memjonoh-memjonohkan saya dengan Karnaen. Saya menjadi berkerling dengan deras, gugup, lagi pulu malu sekali. Saya membantah dan menolak un tu di jodoh-jodohkan begitu tapi teman-teman saya tidak juga menghentikkan ejekannya. Akhihr-Akhihrnya karenna merasa tidak ku sa menahan ejekann mereka lagi dengan serta-merta sa ya lalu memutar haluan sepe da saya dan pulang dengan tidak mengindahkan teryakan teman-teman yang memanggil saya supaya kembali.
Sejak saat itu saya solalu menjauhi Karnaen. Saya ti dak marah kepadanya, tapi kalau beryumpa dengananyga saya merasa ber-debar-debar dan mayu sekali. Kadang-Kadang saya su ka juga secara sumbunyi-sumbunyi memperhatikannya. Dan beta pa malukui kalau kukehualu bahwa rupa-rupanya ia tahu ka lau kuperhatikan. Maka kalau ia lalu mulai membalas memperhatikan saya, saya lalu menjauhkan diri seja uh-uhnya. Sebelum itu saya me mang senang ngomong-ngomong de ngannya, tapi setelah saya di jodoh-jodohkan oleh teman-teman de ngan dia itu, saya lalu mulai gellsah kalau diajaknya ngomong. Kalimat saya selalu pendek-pendek sambil muka saya selalu menunduk. Oleh kare na hal itu ia menyangka bhw saya marah kepadanya. Dan kalau ia bertanya apakah saya marah kepadanya dan kenapa saya tiba-tiba bersikap aneh, saya lalu bingung dan akhihr-akhihrnya lalu melarikan diri Tentu saya dia saya tidak marah kepadanya. Bagaimana sebenarnya perasaan saya terhadapnya? Bagaimana ia............ ah, bevat mengatakannya............ sukar untuk menerangkan de ngan tepat............ saya bl ngung............ saya ber.de bar-bar............ saya tak bisa menguasai diri lagi. Dan saya tak bisa mengatakan itu kepadanya. Saya hanya bisa lari.
Lama-Lama rupanya Karnaen merasa jengkel dengan sikap saya itu. Ia pun lalu menghentikan sikapnya selalu menjauhkan saya itu. Bahkan kehilat annya ia pun menjauhi saya. Kalau kebetulan ia berada bersama kelompok kami ia tak memperhatikan saya lagi. Ia selalu ramai dengan gadis-gadis yang lain. Lebih-Lebih se-olah-olah ia lalu menjadi sangat rapat dengan Endang dan semua orang tahu Endang memang memeruh perhatian kepada Karnaen. Saya selalu menja di sakit hati kalau Karnaen terlalu memperhatikan En dang. Muka saya lalu mere ngut. Apabila sudah demiki an maka teryadilah sema cam-ketegangan antara saya dan Karnaen. Ketegangan ini tak dipermalukan tapi terjadi tanpa kata-kata dan harya bisa dirasa begitu saja. Saya menundukykan muka masam dan sikap marah yang demons trat dan Karnaen menun jukar muka yang men diengkelkan dan sikap acuh tak acuh yang demonstratif pula.
Sandiwara semacam itu beryalan lama juga. Selama itu bagi saya Karnaen sungguh menjengkelkan sekali. Tapi saya tak bisa mengnapus kan dia dari lamunanku. Justru karena kejengkelan itu saya lalu menjadi terke nang-nang akan dia. Saya merasa malu pada diri saya sendiri karena itu.
Pada suatu hari, ketika saya sedang duduk belajar di bawah pohon kemuning di depan rumah, tiba-tiba saya saksi lihat Karnaen sudah berdiri di depan saya. Saya tak menyadariinya bagaimana ia telah datang. Waktu itu ayah bundaku sedang tidak berada di rumah. Keadaan rumah sangat sunyi. Saya jadi sangat terkejut karena kedatangan Karnaen yang tiba-tiba itu dan kemudian datang pulia rasa takut saya. Saya ber.debar-debar. Tetapi tiba-tiba ia bersuara:
“Jangan takut. Jangan gelisah. Barangkali kedatang anku telah mengejutkan ka mu, saya menyesai sekali”. Perkataan-Perkataannya dan suaranya menyejukkan hati saya. Ia tersenyum dan saya membelas senyumnya. Ia bersuara lagi:
“Kau tak berkeberatan saya mampir sebentar, kan?” Saya tersenyum saja tapi tak menjawab. Ia tersenyum lebih lebar dan duduk di bangku di sebelah saya. Kemudian ia bersuara lagi:
“Berhari-Berhari saya merasa gell sah. Saya merasa bahwa sikap mu pada hari-hari terakhir ini ter hadapku sangat ganji. Mak sud saya: lain dari biasaan. Saya pengin bertanya: marah kan kau kepadaku”?
Saya diam saja dan menun dukkan kepala, tetapi ia lalu bertanya lagi: “Seandainya kau marah ke padaku, apakah sebabnya?—Cobalaha katakan apa sebab nyay! !—Jangan diam saja begitu!—Katakan saja te rus terang kenapa kau marah. Kalau mungkin saya akan merubah apa-apa yang me nyebakkan kau marah. Nah, katakanlah kenapa kau ma rah”.
Saya tetap diam saja. Tapi waktu ia mendesak terus saya lalu berkata dengan suara yang sangat seret:
“Saya tidak marah, kok”. Kemudian ia bertanya, ja di lalu apakah artinya segala kelakuin saya yang ganji itu. Bagaimanakah saya akan bisa menerangkan hal itu ke padanaga sedang untuk menj askan pada diri saya sendiri pun saya tak dapat. Saya jadi diam saja. Ia tak berhenti-berhenti nya bertanya tentang itu. Bah kan ia bertanya apakah saya telah benci kepadanya. Atas pertanyaan itu saya tak bisa menjawab apa. Saya cuma memandang kepadanya ding pandanganyang menunyuk kan bahwa saya tidak benci kepadanya. Tapil rupa-rupanya ia tak mengerti arti pandang matalu. Dan lama kelamaan tampak bahwa ia sendiri telah menjadi bingung oleh pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Ia ber diri, lalu berjalai mondar mandir di hadapan saya. Akhi rna setelah berhenti sebentar dari pertanyaan-pertanyaannya yang tak bisa kujawab sebahu pun itu ia bersuara lagi:
“Baiklah! Bagaimanapun juga sikapmu kepadaku. Sa ya akan menerangkan kepada mu bahwa saya sangat men cintainu. Ya, ini harus saya katakan. Saya sangat menyitn taimu”.
Mendengar ini saya lalu ge metar. Saya merasa setengah pingisan dan kurang bisa sa dar apakah saya masih ber singgung dengan bumi. Ke mudian ia memegang tangan saya dan bersuara lagi:
“Katakanlah, apakah kau juga membelas cintaku. Ka takan!”
Pertanyaannya itu diakhiri dengan mentiyum telapak ta nganku. Saya merasa gell dan segenan bahu-bahuku berdiri karenanya. Ketika perbuatannya itu diulang lagi saya jadi sangat lemas. Segera saya menarik tangan saya dan lari ke dalam rumah sambil mengunci pintunya. Karnaen berteriak-berteriak memanggil saya, tapi saya tak mau keluar lagi. Ketika sudah agak ak ma saya mengintipinya dari jendela. Saya lihat ia masih berdiri sambil menatap pin tu tanpa berkedip, sedang di atasnya bunga-bunga kemuning ter serak di antara daun-daunnya yg hijan. Saya merasa kasihar kepadanya. Saya ingin menga takan bahwa saya pun men cintainya. Sangat, sangat, sangat, sangat menytintainya. Dan saya merasa bahwa saya telah terangkat ke awang-ke awang waktu ia menlyium telapak tangan saya. Seharusnya ia telah tahu itu. Saya tak usah mengatakannya. Saya tak ta hu bagaimana akan mengata kannya.
Pada malam harinya, di atas tempat tidur, saya ter lena memikirkan apa yang terjadi di bawah kemuning tadi. Bayangkalah: Karnaen pemuda simpatik yang banyak dipuja oleh ga des-des di dalam hatinya, sek raang telah manyatkan cinta nyya kepadaku. Adakah keba hagian yang lebih indah dari ria pada itu? Saya belai ts ngan saya yang dicumina ta di. saya lekatkan pada pipi dan saya bayangkan bahwa kamarku penuh bunga-bunga. Ah ya, saya bayangkan segenan pohon dan rumputan di dunia ini sedang berbunga. Langit biru seperti sutra cina de ngan awan-awan seindah implan dan matahari bersinar de ngan angkuh sebagai pirng emas yang diilta. Kemudian saya bayangkan saya berdialan berdua dengan Karnaen diseubah padang yang sunyi dan luas. Kami berdialan sambil bergandengan seolah-seolah kami radiya dunia. Tiba-Tiba ia menarik tanganku dan meme lukku. Sambil memelai ram butku, dikatasannya betana besarnya cinatina kepadaku. Dan sambil kurebahkan mulaku kepadanya kuketakan pulia bahwa saya pun sangat sangat, sangat menytintainya.
Keesokan harinya waktu saya beryumpa dengan Kar naen sedang saya berangkat ke sekolah. saya merasa sangat berdebar, debar dan gu ip. Ia menyerit saya dan bertanya bagaimanakah dia wabah saya atas pertanyaan nya kemarin. Saya sangat ge lisah karena ia berdialan me ntertai saya, saya malu pada teman-teman dan saya tak bisa menjawab pertanyaannya. Ke mudian saya berlari meninggalkannya, mengejar teman-teman saya yang berdiyalan di depan dan menyertai mereka.
Waktu saya pulang dari sekolah, saya lihat dierbang sekolah Karnaen menanti di ngan sepedaan. Saya sangat gelisah melihatnya. Saya tak berani keluar. Teman-Teman saya sudah mulal mengganggu saya. Saya menjadi sangat malu sekali. Tetapi tiba-tiba kami semua terdiam, karena kami lihat Karnaen melambai-kan tangannya memanggil En dang. Mereka berdua ngo mong-mong dan tertawa-tertawa sebentar dengan mesrana, kemudian keduanya pergi dengan En dang digoncengkan oleh Kar naen. Melihat itu kerongkong an saya serasa tersumbat dan saya hampir menitikkan air msta. Hati saya panas sekali. Kecuai itu saya juga mera sa sangat tersinggung dide pan teman-teman.
Rupanya Karnaen sangat tersinggung oleh sikap saya pagi tadi dan saya pun menja di marah kepadaan, karena sikapnya siang itu di sekolah.
Sejak itu kami berdua ber sikap bermusuhan. Kalau ka ml berdua berdiyumpa, saya menunjukkan kemarahan, se dang ia menundukkan sikap acuh tak acuh yang sangat menjingkelkan hatiku.
Maka bila malam-malam saya su dah menggeletak di tempat tidur, saya selalu diliputi pe rasaan yang pedih dan kesal. Kenapa semuanya ini bisa ter jadi? Bukankah ia mencin taiku dan saya mencintai nya? Tetapi kenapa mest terjadi hal yang berbelit-berbelit be gini? Haruskah saya dengan terus terang mengatakan ke padanya bahwa saya pun men cintainya. Bukankah seharus nya ia tahu hal itu tanpa saya katakan? Ah, seharus nya ia tahu bahwa saya tak kuasa mengatakan kalimat itu. Apakah kelakuan saya di anggap ganjiul? Kalau demi kian halnya, saya pun tak bisa dengan jelas mengatakan apakah sebab-sebabnya. Bagi saya ia serupa api yang indah di dalam gelap malam yang se pi. Bila didekati terasa h ngat dan nyaman tapi bila terlalu dekat saya takut kia lau-lau terbakar. Ah, mengapa sesulit ini jalan yang harus saya tempuh. Saya sangat ber duka tiya karenanya.
Segala duka tiya saya itu saya ce'tikan pada Tutti, satu-satunya sahabat karib keper tiayan saya. Saya beterus terang kepadanya bahwa sa ya sangat mencintai Karna en, tapi saya sangat bingung dan gelisah. Tutti menghibur saya dan mengatakan bahwa saya harus tabah hati dan pertiaya bahwa semuanya ini ti akan beras. Saya lalu ce‘ hibur oleh kata-katanya.
Rupanya dengan tidak set huku, segala pengakuanku kepada Tutti disampaikan ke pada Karnaen dan kemudian akhirnya tersiar kesemua te man-man. Saya tak tahu bagai mana hal itu sampai tersiar ke-teman-teman. Menurut kata Tu ti hal itu terjadi karena Kar naenlah yang bercerta kepa da teman-temannya bahwa saya pun mencintainya. Ia berbuat be gitu terdongol oleh kegemb raannya. Meskipun begitu sa ya tak bisa membenarkan hal itu. Saya jadi merasa kehi langan muka. Saya malu se kali bila teman-teman mulal meng goda saya mengayah hal itu.
Kalau berjumpa dengan Karnaen saya terpaksa bers kap dingin karena malu ter hadap teman-teman. Sebaliknya Karnaen makln berani men desak dan menyerang saya. Semuanya lalu kehilangan ke indahannya.
Sementara itu teman-teman ma kin banyak dan sering meng ganggu saya. Saya betul-betul ke hilangan muka sekarang. Lebih-Lebih saya tak bisa menahan malu lagi kalau teman-teman lak12 yang menyindhi-menyindhikan cin ta saya terhadap Karnaen. Dalam keadaan begitu saya lah merasa bahwa diri saya telah menjadi rendah dan murah sekali Akhirnya ketika saya sudah tak dapat men hanyna lagi, dgn marah saya menerangkan kepada mereka berita bahwa saya mencintai Karnaen itu bohong belaka. Mahalan saya tambahkan bahwa saya sangat benci pda Karnaen dan tak mungkin Karnaen akan bisa medapat kan saya.
Sebentar saya omongan saya itu lekas tersiar dik alangan teman-teman akhirnya sam pai kepada Karnaen. Saya tak menyadari apa yang akan terjadi karena hal itu. Dan saya memang tak akan mem pedulikannya. Saya tengah di liputi alam yang gelap. Saya memang sudah mata gelap. Saya tak bisa tahan melihat bahwa harga diri saya telah turun serendah ku.
Tiga hari sesudah peristi wa itu Karnaen datang ke rumah mencari saya, tapi sa ya tak mau menemuinya. Sa ya minta kepada ibukui untuk mengatakan padanya bahwa saya baru tak ada di rumah. Meskipun begitu saya merasa bahwa Karnaen tahu tipuan saya itu. Keesokan harinya waktu saya keluar dari ger bang rumah untuk berangkat ke sekolah, saya jumpat Kar naen sudah mengadang saya distit. Saya terkejut dan takut, tapi ia lalu Berkata dengan suara yang serak:
“Kau tak usah takut atau terkejut. Saya tak akan menjamahumu. Saya ciu ma akan berkata begini: Kau ni kedad. Saya mencintai mu dengan segenap kesucian yang ada pada saya. Saya ber usaha mencintaiumu dengan jduyur dan terbuka. Tapi kau mempermainkan saya. Seandainya kau tak men cintai saya, kenapa engkau tak mengatakan hal itu wak tu saya pertama kali menya tkan ciunta saya? Seandai nya engkau berterus terang berkata bahwa kau tak men cintai saya, tentu saya pun tak akan sakit hati dan akan mengundurkan diri dengan rela. Tapi rupanya kau ing in mempermainkan saya.
Kau tak mencintai saya, tapi tak mau melepaskan saya. Kau ingin dipuja. Kau beri saya harapan sedikit su pay a saya tetap memujant. Tapi sebenarnya harapan itu yuma palsu belaka. Kau mempermainkan perasaan orang. Itu dosa. Sekali waktu engkau pasti akan mendapat balasannya. Engkau katakan kepada Tuti bahwa engkau pun membalas cintaku. Saya sangat girang karenanya. Saya kabarkan kegirangan saya pada teman-teman karib saya.
Tapi rupa-rupanya perkataan mu itu hanya harapan palsu saja. Kau tak ragu-ragu untuk mempermalukan saya di depan teman-temanku. Bagi laki-laki ke normatan dan harga diri itu sangat penting. Tapi harga diri dan kehormatan saya itu telah kau injak-injak. Saya tak bisa memaafkan kau lagi.—Besok saya berangkat ke Jakarta. Saya akan meninggal-kan Klaten untuk selamanya. Saya sudah kehilangan muka di sini. Saya akan masuk Helho. Barangkali kita tak akan beryumpa lagi. Untuk akhir kalinya saya katakan: Saya tetap mencintainya. Saya tak mungkin melupakannya. Tapi saya tak bisa memaafkannya. Bagi saya engkau ini diri dlam daging yang selalu me nyiksa, tapi saya tetap men cintainru.“
Sesudah kalimat yang ter-akhir itu ya terus pergi begi- tu saja. Segala kata-katanya saya dengarkan dengan air mata berlimang-berlimang. Sulit untuk melukiskan bagaimana perasa an saya waktu itu. Saya merasa, se-olah-olah ada sebuah pi sau belati tertantang didada saya. Saya ingin berlutut dan menciumi kalikinya, tapi tak ku asa. Saya linglung. Saya mena ngis. Dan saya merasa remuk di dalam. Waktu ia pergi, sa- ya hampir tak kuasa berdiri lagi. Saya tak bisa melihat dengan diyas tokoh tubuh nya waktu ia melangkah per gi. karena mata saya dige nangi air mata yang deras. Alangkah negerinya! Se-akan-akan ia pergi dalam kabut. Seou ah pemandangan yang re- mang-mang memisahkan saya dari padanya.
Hari itu saya tak kuasa pergi ke sekolah. Saya menu ruh bujang saya memanggil Tuti. Dengan menangis saya katakan pada Tuti, bahwa Karnaen akan pergi. Bahwa ia telah salah tampa akan si kap saya. Dan bahwa saya se karang bingung sekali. Seka rang saya merasa malu, ber- dosa dan tak bisa berdaya. Sebagai juga dahulu Tuti menyabarkan saya dan me ngatarkan bahwa semuanya akan beres. Waktu ia pulang, ia meyakinikan saya sekali lagi bahwa saya tak boleh putus harapan. Tapi apa yang ter- jadi? .....................
Esox harinya Karnaen te-tap juga pergi ke Jakarta. Tutu mengatakan bahwa wak tu ia menerangkan segala se situatunya pada Karnaen, lela- ki itu diam saja dan enggan menjawa8 sepatah kata pun. Ia rupa-rupanya tak bisa mem pertayai saya lagi. Rupa-Rupanya lukanya teralalu dalam, sehing ga saya tak bisa diampuninya lagi.
Ah, kenapa saya mesti me nelan racun duka sepahit ini? Kenapa sampai teryia di salah tampa yang membwa laknat dalam hidupiku ini? Saya mencintainya. Saya sangat, sangat, mencintainya. Tapi sebuah tenaga yang gaib menyebabkan saya tak berda ya untuk mengucapkannya. Saya sangat lemah. Meskipun begitu saya tak akan bisa me lupakan Karnaen. Ia telah me nyumpahkan sebuah cinta yg ikhlas dan suci kepadaaku. Saya pun dalam hati akan menyumpanah sebuah cinta yang suci dengan kesetiaan yang adiah untuknya. Saya akan menantinya. Entah ka pan ia akan kembali, saya akan tetap menantinya. Saya tak kuasa mengucapkan cin ta saya kepadaanya, tapi saya akan membuktikan betapa besar cinta saya kepadaanya. Saya menanti. menanti menanti. Tapi saya yang terjadi? ...............
Owang mengabarkan bahwa ia masuk Hei-ho dan kemu dian dikirim ke Burma. Akhir nya setelah satu tahun in pu lang ke Klaten........... sebagai abu. Ia telah gugur di Burma.
Saya tetap menjadi milik- nya. Pulang sehat, cacad atau mati, ia tetap kekasih ku. Dan sebagai bumi yang hanya mengenal satu mataha ri, hatiku pun hanya menge nal satu kekasih. Karnaen te lah memiliki hatiku dan aku tak kuasa melepaskan diri di- ri padanya. Usaha ayah-bunda untuk mengawinkan saya se lalu saya tolak. Dalam hati saya merasa sudah bersuami. Abu Karnaen adalah suami- ku. Saya sangat patuh, bakti dan setia kepadaanda. Seorang istri yang baik selalu mema sakkam makanan yang emak-emak menjibatikan saputangan-saputangan yg bagus utk suaminya. Dan saya tiap malam Jumat selalu me ngantar-ngantarkan bunga-bunga yang ha rum kemakam abu Karnaen suamiku.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.