Baca EPUB: Perkenalan Pertama dengan Dunia Baru

6 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. PERKENALAN PERTAMA DENGAN DUNIA BARU
  2. NYOTO
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. NYOTO
  6. PERKENALAN PERTAMA DENGAN DUNIA BARU
  7. UNCOPYRIGHT

PERKENALAN PERTAMA DENGAN DUNIA BARU

NYOTO


KOLOFON

PERKENALAN PERTAMA DENGAN DUNIA BARU

oleh

NYOTO

(pidato diucapkan pada peringatan ulangtahun ke-33 PKI yang diselenggarakan oleh SC PKI Djakarta Raya dan CC PKI

bertempat di Gedung Kesenian,

Jakarta,

pada hari 22 Mei 1953 malam)



Yayasan “Pembaruan”

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Harri Gieb

Ilustrasi sampul: Tidak Diketahui

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



NYOTO


PERKENALAN PERTAMA DENGAN DUNIA BARU

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Genap 33 tahun Rakyat pekerja Indonesia mempunyai pemimpin yang terpercaya, yaitu Partai Marxis, Partai tipe baru, Partai tipe Lenin dan Stalin: Partai Komunis Indonesia. (tepuktangan). Revolusi Rusia tahun 1905 telah menggugah bangsa-bangsa Asia, dan PKI, Partai Indonesia yang pertama-tama bersenjatakan ilmu, lahir dalam pangkuan Revolusi Oktober 1917, revolusi yang di bawah pimpinan Lenin dan Stalin berhasil menumbangkan kekuasaan feudal dan kapital, dan mendirikan negara tipe baru, negara yang paling progresif dalam sejarah umatmanusia: Negara Sosialis. (tepuktangan).

Seperti halnya manusia tambah hari tambah dewasa, PKI-pun semakin dewasa. Dan sekarang, PKI tidak hanya turut menulis sejarah bangsa Indonesia, tetapi peranan PKI dalam kehidupan dan perjalanan bangsa Indonesia semakin penting dan menentukan, karena organisasi dan kekuatan PKI sudah semakin besar. (tepuktangan). Kami, Kawan Aidit dan saya, berbahagia sekali telah diserahi mewakili Partai yang besar ini dalam beberapa peristiwa penting diluarnegeri, antara lain konferensi Partai Komunis Cekoslowakia, pada pemakaman Kawan Stalin dan Kawan Gottwald yang kepergiannya begitu kita sayangkan, pada Hari 1 Mei dan Hari Pembebasan Cekoslowakia. Kawan Aidit telah membentangkan arti Partai kita dalam perjuangan pembebasan Rakyat Indonesia, dan telah pula menerangkan dengan jelas dan tepat kewaji-ban-kewaji-ban apa yang dihadapi oleh Partai Komunis dan Rakyat Indonesia di-hari-hari datang. Kepada saya dimin-ta untuk memberikan sekedar pengalaman yang kami da-pat selama kami diluarnegeri. Saya kira permintaan ini tidak ada jeleknya. Sebab, Meskipun banyak sekali pe-ngalaman yang telah didapat PKI selama sepertiga abad berdirinya, pengalaman kami diluarnegeri toh akan ber-guna. Bukankah pada Rakyat pekerja ada kewaji-ban untuk, di samping belajar dari pengalaman nasionalnya sendiri, juga belajar dari pengalaman-pengalaman proletariat inter-nasional? (hadirin berseru: benar!).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Karena takut akan meluasnya pengaruh Soviet Uni, dan karena tidak bisa menunjukkan kejelekan Soviet Uni baik secara politik, ideologi Maupun moril, maka kaum reaksi, mulai Van Mook sampai Syahrir dan Natsir (tawa dan tepuktangan), dan pers reaksi, mulai “New York Ti-mes” sampai “Pedoman” dan “Keng Po” (tawa dan te-puktangan), me-reka-reka dongengan tentang “tirai besi”. Dalam 6 bulan ini kami telah terbang kuranglebih 50.000 kilometer. Dan sepanjang jarak yang jauh itu hanya ditiga tempat kami mendapat rintangan: pertama di Si-ngapura, ketika polisi Inggris tidak bisa menyembunyikan ketakutannya kepada dua orang Komunis (hadirin terta-wa), kedua di Skhiphol, Amsterdam, ketika pemerintah Belanda lebih suka menerima jendral Ridgeway yang membawa bom atom daripada menerima kami yang mem-bawa cita-cita kemerdekaan (tepuktangan); dan ketiga di Kemayoran (hadirin tertawa), ketika kami, warganegara Indonesia, ternyata lebih dicurigai daripada fasis Skhakht atau imperialis Stevenson. (tepuktangan). Tambahkanlah pada kenyataan-kenyataan ini kenyataan-kenyataan yang lain, yaitu bahwa Amerika tidak memberikan visa untuk Paul Robeson, Kharlie Khaplin dan ribuan warganegaranya yang lain, bahwa setiap tahun ber-puluh-puluh-ribu orang dari be-ratus-ratus delegasi berkunjung ke Soviet Uni dan negeri-negeri Demokrasi Rakyat, dan bahwa kepergian warganegara Indonesia keluar negeri selalu dipersukar Meskipun Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan itu,—maka tidaklah sukar untuk melihat di mana tirai besi dipasang orang. Yang terang tidak di Praha, tidak di Moskow dan tidak di Peking! (tepuktangan).

Ketika kami mendarat di Praha, ketika kami turun dari tangga pesawatterbang,—ketika itu banyak delegasi melewatii Praha dalam perjalanannya ke Kongres Rakyat untuk Perdamaian di Wina—kami tidak melihat tirai besi. Juga tirai kayu atau tirai gedek tidak ada. (hadirin tertawa). Yang ada hanyalah semacam tirai kain—spanduk kata kita di sini—yang bertuliskan: “Cekoslowakia, negeri perdamaian, menyambut parautusan ke Kongres Rakyat untuk Perdamaian” (tepuktangan), “Perdamaian bisa dibela, perdamaian harus dibela.” (tepuktangan).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Kalau seseorang datang ke negeri asing, dengan sendirinya banyak yang asing baginya. Juga bagi kami banyak yang asing di Cekoslowakia: ladang-ladangnya, gunung-gunungnya, sungai-sungainya, khewan-khewannya, saldu dan hawadinginnya, kebiasaan-kebiasaan dan adat-istiadatnya. Tetapi ada juga yang tidak asing bagi kami, yaitu: susunan masyarakat dan manusia-manusianya. Susunan masyarakatnya tidak asing bagi kami, karena sejak lama sudah kami ketahui teori Demokrasi Rakyat dan karena sebelum kami berangkat telah kami pelajari sekedar sejarah dan bahan-bahan lain dari Republik Rakyat Cekoslowakia. Manusianya juga tidak asing bagi kami, bukan pertama-tama karena kami teoritis tahu apa artinya manusia yang bebas, tetapi terutama karena praktis kebebasan demikian itu telah kita rasakan bersama selama revolusi kita 1945-1948. Dan apa yang sudah kami ketahui, yaitu bahwa susunan Demokrasi Rakyat jauh lebih unggul daripada susunan kapitalis, dibenarkan dan diperkuat oleh segala yang kami lihat, yang kami jumpai dan yang kami rasakan di Cekoslowakia.

Cekoslowakia adalah salah satu negeri yang terkaya, yang sangat maju industrinya di Eropa. Tidak mengherankan jika Hitler, sebelum perang, tidak hanya mengincer tetapi mengerahkan segenap kekuatannya untuk menguasai negeri ini. Dan ketika sesudah perang dunia kedua dengan bantuan yang menentukan dari Tentara Pembebasan Soviet Cekoslowakia mematahkan belenggu imperialisme dan menjadikan dirinya sebagian dari kubu demokrasi, kaum imperialis, terutama imperialis Amerika, tidak hanya kaget, tetapi juga marah kebingungan.

Usaha yang pertama-tama dicoba Amerika ialah membujuk Cekoslowakia supaya mau menerima “rencana Marshall.” Ketika bujukan halus ternyata tidak berhasil, mereka pun menggunakan kekerasan yang kasar. Menteri-Menteri burjuis mereka perintahkan supaya keluar dari kabinet, dengan harapan supaya kabinet jatuh dan supaya presiden Benesy mengangkat pemerintah baru yang sedia menjual kemerdekaan Cekoslowakia untuk United States’ dollars. (sidang tertawa). Tetapi malang bagi Amerika, sebab: di Cekoslowakia ada Gottwald. Dan Gottwald selain perdana menteri proletar yang pertama, juga seorang murid Lenin yang setia. Gottwald tidak melupakan ajaran Lenin bahwa yang pokok ialah kekuasaan negara, kekuasaan Rakyat atas negara. Gottwald membiarkan menteri-menteri reaksioner mengundurkan diri, menyusun pemerintah baru, dan presiden Benesy, didesak oleh kehendak Rakyat, terpaksa harus mensahkan pemerintah Gottwald yang baru. Demikianlah, pada tanggal 28 Februari 1948, di depan be-ratus-ratus ribu Rakyat yang mencintaininya, Gottwald berdiri dimimbar dan mengumumumkan dengan tegap: Pemerintah yang baru akan menempuh jalan baru, jalan Sosialisme! (tepuktangan).

Pengalaman peristiwa Februari di Cekoslowakia ini penting sekali. Penting untuk Indonesia sekarang, di saat menteri-menteri seperti Hamengku Buwono, Tejasukmana, Mohamad Rum dan Sumitro telah dan sedang mreteli disebabkan oleh sikap mereka sendiri yang memusuhi Rakyat. (sidang tertawa). Dan penting untuk Indonesia di masa datang, di mana perjuangan antara Rakyat dan kaum penjajah akan semakin tajam dan sengit.

Sudah lebih 5 tahun sejak Peristiwa Februari itu terjadi. Dan pengarang wanita Cek, Maria Mareyova, benar sekali ketika dia menulis, bahwa “tidak ada aparat musuh yang bisa menahan kemajuan Cekoslowakia ke arah tujuan yang ditetapkan Rakyatnya di bulan Februari”.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Tidak ada aparat musuh yang bisa menahan kemajuan Cekoslowakia ke Sosialisme. Amerika, yang rupa-rupanya belum jera, belum kapok, mencoba dengan jalan yang tersebunyi: dia selundupkan agen-agennya, baik monarkis, fasis Maupun titois, yang dikepalai oleh Slansky, ke dalam aparat Partai Komunis dan negara Cekoslowakia. Agen-Agen ini ditugaskan untuk menyebarkan ketidakpuasian di kalangan Rakyat, untuk mensabot segala usaha yang memadukan kehidupan Rakyat, dan untuk membunuh Klement Gottwald dan pemimpin-pemimpin Komunis lainnya. Tetapi malang lagi bagi Amerika (tawa), Partai Komunis ternyata lebih kuat daripada FBI dan segala jawatan polisi rahasia, dan Klement Gottwald ternyata lebih pintar daripada Truman dengan segala jendral-jendral dan mata-matanya. (tepuktangan). Ketika komplotan Slansky digulung, Amerika menangis kesakitan. (tawa). Dan untuk menutupi kejahatannya, mereka me-ngarang-ngarang dongengan se-olah-olah di Cekoslowakia mieraja-lela antisemitisme. Koran-Koran sosialis-kanan dan koran-koran-reaksioner lainnya di Indonesia sini pun dengan sendirinya turut-turut ber-kaok-kaok tentang “antisemitisme.” Bahwa Willie MacGhee dan ber-puluh-puluh Negro lainnya dikursilistrik di Amerika, dan bahwa suami-istri Rosenberg juga mau mereka kursilistrikkan hanya karena mereka ini Yahudi, tentu saja koran-koran yang menyebut dirinya “obyektif” itu bungkam. Tetapi kalau seorang spion yang melanggar segala konvensi dan moral, ditangkap di Cekoslowakia, ributlah mereka mengarang khayal tentang apa yang mereka namakan “antisemitisme.” Koran-Koran ini juga bungkam kalau Amerika terang-terangan mengeluarkan beaya sebesar 100 juta dolar yang mereka namakan MSA, untuk—sebagaimana mereka akui sendiri—mengongkosi usaha mata-mata mereka di-negeri-negeri Demokrasi Rakyat dan Soviet Uni. Malahan seorang tuan Subarjo, tangankanannya tuan Sukiman, coba-coba mau menjual Indonesia kepada MSA atau usaha mata-mata Amerika ini, sehingga—kasihan tuan Subarjo! (tawa)—dia dipaksa turun panggung oleh Rakyat. (tawa).

Kawan Gottwald, di depan konferensi nasional Partai Komunis Cekoslowakia, yang dilangsungkan ketika kami di sana, menerangkan dengan jelas dan berdasarkan sikap Marxis yang tepat perbedaannya yang seperti api dan air antara antisemitisme dan antizionisme: Antizionisme berarti melindungi klas buruh dari serangan-serangan kapital. (tepuk tangan). Dan koran-koran reaksi tidak selamanya bisa menyembunyikan hubungan antara zionisme dan imperialisme Amerika. Demikianlah, dalam pesawat terbang saya berkesempatan membaca “Het Parool”, harian sosialis-kanan Belanda, yang menyiarkan berita bahwa ketua Eksekutif Zionis, Berl Locker, berangkat (dari Israel) ke New York untuk turut dalam perundingan tentang pendirian suatu “front pertahanan” yang berada di bawah pengawasan Dewan Zionis Amerika.

Di-negeri-negeri kapitalis juga di-sebar-sebarkan dongengan se-olah-olah be-ribu-ribu bangsa Yahudi di Cekoslowakia ditangkapi dan se-olah-olah semua bangsa Yahudi di sana hidup dalam ketakutan. Kami berjumpa dengan be-ratus-ratus bangsa Yahudi di sana: di-jalan-jalan, di-rumah-rumah, di-pabrik-pabrik, di-toko-toko. Mereka hidup berbahagia seperti Rakyat Cekoslowakia lainnya, dan mereka gembira sekali, seperti Rakyat Cekoslowakia lainnya gembira sekali, karena komplotan Slansky, yang mau mematikan kehidupan mereka, telah dibongkar dan dihancurkan oleh pemerintah. Cekoslowakia adalah suatu negeri yang Rakyatnya terdiri dari bangsa Cek dan bangsa Slowakia, yang mengikuti contoh politik nasional Stalin, hidup rukun bersaudara. (tepuktangan). Seperti halnya di negeri multi-nasional Soviet Uni, di Cekoslowakia pun bangsa-bangsa Cek dan Slowakia, dan di samping itu minoriti-minoriti Yahudi Maupun Jerman hidup rukun dan damai bersaudara.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Dari peristiwa komplotan Slansky ini satu pelajaran yang sangat penting wajib kita tarik, yaitu bahwa tidak hanya dari kaum Komunis, tetapi dari tiap-tiap patriot dan orang progresif selalu dan dalam keadaan yang Bagaimanapun dituntut kewaspadaan, kewaspadaan politik yang tajam, yang tiap-tiap saat harus dipertajam, karena, musuh-musuh klas buruh tidak akan membiarkan tiap-tiap kesempatan yang bisa mereka pakai, tidak hanya untuk memecahbelah gerakan kita, tetapi untuk menghan-curkannya.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Kalau kita ber-jalan-jalan di kota Praha, atau di Ostrawa atau di-tempat-tempat lain di Cekoslowakia, satu hal sangat menyolokmata: toko-toko sangat ramai dikundunyungi. Apa artinya ini? Ini berarti bahwa dayabeli Rakyat adalah besar. Beginilah kalau kita menarik kesimpulan ekonomi dari keadaan yang terlihat se-hari-hari. Tetapi kesimpulan begini ini tentu tidak cukup. Kita harus menyelidiki lebih dalam lagi untuk membuktikan bahwa ekonomi Demokrasi Rakyat memang sehat. Anggaran belanja Cekoslowakia untuk tahun 1953, sebagaimana baru-baru ini diajudkan oleh menteri Yaroslav Kabesy kepada Dewan Nasional, menundukkan pengeluaran sebesar 430.9 milyard kron dan pemasukan sebesar 435.2 milyard kron. Jadi terdapat surplus sebesar 4.3 milyard kron. Kalau kita ambil anggaran belanja Indonesia untuk tahun 1952, kebetulan sekali kita juga menjumpai angka sama, yaitu 4.3 milyard. Tetapi 4.3 milyard rupiah ini bukannya surplus, melainkan minus alias defisit! (sidang tertawa).

Di mana letak rahasianya maka anggaran belanja Cekoslowakia bisa mencatat surplus? Sebagaimana diterangkan oleh menteri Kabesy, karena “peluasan produksi sosialis”, artinya, karena peluasan perusahaan-perusahaan milik negara. Di Indonesia memang lain, orang maju-mundur kalau berhadapan dengan BPM atau Bangka Biliton My atau Aniem (tawa), dan rupa-rupanya lebih suka menerima sekedar foor atau persenan daripada mengexploitasi sendiri perusahaan-perusahaan itu sebagai perusahaan negara.

Tentang produksi, dibandingkan dengan tahun 1951 produksi industri berat tahun 1952 meningkat dengan 39,1%. Di sini orang mengeluh terus karena, kata mereka, produksi terus merosot. Meskipun, tiap-tiap tahun maskapai-maskapai Belanda membagikan dividen sebesar 9, 12 sampai 15%. Di mana letak rahasianya maka berbeda dari di sini, produksi di Cekoslowakia terus meningkat? Sederhana saja: karena kaum pekerja di sana tahu dan insyaf untuk siapa mereka membanting-tulang, yaitu: untuk mereka sendiri, (te-puktangan) dan karena syarat-syarat hidup kaum pekerja tam-bah hari tambah baik. Di sini, kita mendengar nyanyian bersama “Mehrarbeit” dari tuan Skhakht, Hatta dan Syahrir. Tuan-Tuan ini rupanya mengira bahwa produktivitet bisa ditinggikan dengan sekedar anjuran kepada kaum buruh yang kelaparan. (tawa dan tepuktangan). Dan seandainya produktivitet bisa dinaikkan, bagi siapa yang belum terang banwa hal itu hanya akan lebih menggendutkan kantong kapital asing? (sambutan: betul! betul!).

Tentang teknik di Cekoslowakia, berkat bantuan insinyur-insinyur Soviet, kemajuannya sangat mengagumkan. Ini juga didorong oleh kesedaran pemimpin-pemimpin Cekoslowakia tentang kebenaran ajaran Kawan Stalin dalam bukunya yang terakhir dan klasik “Masaalah-Masaalah Ekonomi Sosialisisme di Soviet Uni”, yaitu bahwa untuk memenuhi secara maximal kebutuhan-kebutuhan materiil dan kulturil yang selalu meningkat dari seluruh masyarakat, jalannya ialah terus-menerus memperluas dan menyempurnakan produksi sosialis berdasarkan teknik-teknik yang lebih tinggi. Bagaimana kemajuan teknik-teknik yang tinggi di Cekoslowakia ini, saya kira bukan barang baru bagi parahadirin. Pabrik-Pabrik di sana menghasilkan mulai jepitan kertas sampai mobil Skoda, mulai potelot Koh-I-Noor sampai pesawat yet. Dan teknik-teknik yang tinggi ini tidak hanya di-pabrik-pabrik dipakai. Kami men-datangi kesatuan-kesatuan koperasi pertanian, jadi semacam kolkhos, dan kami melihat bagaimana penggarapan tanah, pemeliharaan ayam sampai pada pemerahan susu sapi, semuanya dilakukan dengan mesin.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Salah satu cara yang baik dan teruji untuk mengukur seberapa kemajuan sesuatu bangsa, ialah dengan melihat kehidupan kebudayaannya dan mempertimbangkan kemajuan-kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya di lapangan kebudayaan. Kami di sana mengunjungi museum-museum, teater-teater, tempat-tempat bersejarah, sekolah-sekolah, rumahsakit-rumahsakit, istana-istana pionir, tempat-tempat penitipan anak-anak, gereja-gereja, dll. Kebudayaan Cekoslowakia berusia tua. Juga sejarah universitet di sana sudah tua. Tetapi sampai pecah perang dunia yang lalu, jumlah mahasiswa di sana tidak pernah melebihi 19.000, sedang sekarang, jumlah ini telah meningkat menjadi hampir 47.000. Jadi, Rakyat Cekoslowakia yang kira-kira hanya seperenam Rakyat Indonesia mempunyai mahasiswa 5 kali lebih banyak dari Indonesia!

Yang juga karakteristik bagi perkembangan Demokrasi Rakyat ialah kehidupan kesenian di Cekoslowakia. Kita tahu bahwa tradisi kesenian Cekoslowakia tidak saja tua, tetapi juga besar. Di lapangan musik kita kenal Smetana dan Dvorak, di lapangan literatur kita kenal Yirasek dan Hasek, dan di lapangan senilukis kita kenal Alesy dan Manesy. Tetapi yang sangat menarik ialah bagaimana tradisi gemilang ini dipelihara, bagaimana dengan berpi-jak atas tradisi ini menciptakan kekayaan seni yang baru, pendeknya: bagaimana dari Cekoslowakia yang tua mela-hirkam Cekoslowakia yang baru! Dan kami menyaksikan bahwa dengan keahlian dan kecakapan yang luarbiasa seniman-seniman Cekoslowakia sekarang mengikuti ajaran Ka-wan Stalin: menciptakan kesenian yang nasional bentuk-nya, tetapi sosialis isinya. Di sana sekarang ada 63 teater permanen, di samping ber-puluh-puluh lainnya yang temporer. Dan di-teater-teater ini, yang dengan tiada kesukaran sedikit pun bisa dikundungi oleh setiap orang—saya ulangi: bisa dikun-dungi oleh setiap orang, karena murahnya karcinsya—, kami menyaksikan opera, balet Maupun pertunjukan-pertunjukan dra-ma, klasik Maupun modern, yang dengan satu perkataan bisa saya simpulkan: hebat! Saudara Dayoh, seorang pengarang yang menjadi anggota delegasi Indonesia ke Kongres Rakyat untuk Perdamaian di Wina, dan yang telah juga berkunjung ke Cekoslowakia, antara lain menulis-kan kesan-kesannya dalam “Harian Rakyat”. Saya mengerti kesukaran saudara itu dalam menuliskan kesan-kesannya. Saudara

Dayoh tahu bahwa ada orang-orang yang tidak akan mempercayainya, karena, ya, apa yang bisa lebih meyakinkan selain jika kita melihat dan mengalaminya sendiri? Tetapi akhrinya, dengan tidak takut apakah dia akan dituduh “merah” atau “Komunis”, saudara Dayoh menyatakan kekaguman-nya akan kehidupan kesenian di Cekoslowakia. Saudara Dayoh tidak takut dituduh apa saja pun, karena dia menu- liskan hal-hal yang benar. Juga pada saya bukannya tidak ada kesukaran dalam saya memikirkan bagaimana se-baik-baik- nya saya mengemukakan kesan-kesan dan pengalaman saya. Te-tapi orang tidak bisa menuduh saya lebih dari seorang Komunis! (tawa). Makaitu dengan patuh dan setia ke-pada kebenaran, saya ceriterakan apa yang saya lihat, yang saya tahu, yang benar.

Dan saya tidak bisa berbuat lain kecuali membenarkan saudara Amir Pasaribu atau saudara Basuki Resobowo, yang iri melihat eratnya hubungan antara seniman dan Rak-yat di sana. Hari apa saja dan jam berapa saja kami masuk museum—museum apa saja, museum sejarah, museum lukisan Maupun museum literatur—tidak pernah museum-museum itu tidak penuh oleh pengunjung-pengunjung, mulai sar-jana-sarjana yang melakukan studi sampai pada kaum buruh yang juga gairah belajar, mulai murid-murid sekolah yang menginginkan keterangan-keterangan yang lebih jelas tentang apa-apa yang dipelajarinya, sampai pada anak-anak yang belum bersekolah, yang datang hanya untuk me-lihat-lihat gambar. Di-teater-teater, saban kali layar turun, tepuktangan yang selalu ber-alih menjadi ovasi, se-olah-olah tak mau berhenti dan penon-ton meminta supaya artis-artisnya keluar lagi, sekali, dua kali, tiga kali, sampai 5 atau 6 kali dan kadang-kadang lebih lagi! Dan yang unik bagi negeri-negeri Demokrasi Rakyat dan Sosialis, yang tidak ada bandingannya di-negeri-negeri kapitalis ialah, baha-wa parapengarang, baik romansir, novelis Maupun penyair tiap-tiap kali mengadakan diskusi dengan parapembacanya, di-mana parapengarang itu menerangkan bagaimana dia sam-pai pada fikiran menuliskan karangannya dan bagaimana dia melakukannya, sedang dari parapembacanya mereka mendengarkan kritik-kritik dan anjuran-anjuran. Dan kalangan pembaca ini sangat luas: mulai pionir-pionir kecil sampai petani-petani tua, mulai kaum buruh pabrik sampai sarjana-sarjana loboratorium.

Inilah tanda yang spesifik dan karakteristik bagi kese- nian yang paling progresif dalam sejarah umatmanusia, kesenian proletar. Sebagaimana diajarakan Lenin, seniman harus mendengarkan Rakyat, seniman harus mencipta un- untuk Rakyat dan harus erat-erat berhubungan dengan Rakyat. Di sinilah letak sumber kekuatan dan sumber mencipta bagi kesenian realisme sosialis.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Sepatah-dua kata tentang kesehatan Rakyat dan tentang pemeliharaan anak-anak. Kalau sebelum revolusi di Cekoslo- wakia, untuk tiap-tiap 1.815 penduduk hanya ada seorang dok- ter, sekarang, sesudah revolusi, untuk tiap-tiap 774 penduduk sudah ada seorang dokter. Segala pemeriksaan dokter ada- lah cuma-cuma, sedang harga obat-obatan lebih murah daripada harga makanan yang sudah begitu murah. Jumlah tempat- tidur di-rumahsakit-rumahsakit sekarang sudah 60% lebih banyak daripada sebelum revolusi.

Tentang pemeliharaan anak-anak: anak-anak di sana diistimewa- kan sekali dalam segala hal. Pembagian makanan lebih banyak dan istimewa daripada yang lain-lain, harga pakaian untuk anak-anak jauh lebih murah daripada untuk yang lain-lain, juga harga-harga mainan, kereta, tempattidur, dll. bagi anak-anak adalah murah sekali. Kalau kita mencari orang yang kurus, kita masih bisa mendapatkan di antara orang-orang tua, ka- rena di antara orang-orang yang sebelum revolusi sangat mende- rita itu tentu ada yang sudah demikian susunan badannya sehingga sukar diperbaiki. Tetapi di antara anak-anak di sana, tidak bisa parahadirin menemukan yang kurus. (tawa dan tepuktangan). Semuanya gemuk-gemuk dan sehat-sehat. Untuk ibu yang bekerjia dan yang mau menitipkan anak-anaknya kepada pengasuh-pengasuh yang ahli, di-mana-mana, di-kota-kota Maupun di-desa-desa, diadakan tempat-tempat penitipan anak-anak, di mana anak-anak dididik, dibesarkan, dipelihara secara cermat dan ahli. Pemerintah juga mengadakan teater-teater spesial untuk anak-anak, terutama teater-teater boneka. Dan di-istana-istana pionir, yang benar-benar istana bagi anak-anak sampai umur 14 tahun, boleh dibilang tidak ada yang tidak ada. Ruangan khusus untuk ilmubumi, ilmu-falak, ilmupasti, ilmuhayat, ruangan-ruangan khusus untuk belajar melukis, memahat, bermusik, menari, untuk konstruksi pe-sawatterbang, ruangan-ruangan untuk bermain catur, untuk gerak-badan, bibliotik, teater kecil, ruangan diskusi, dan: se-butkanlah yang lain-lain—di sana ada! (tepuktangan). Dan dalam ruangan-ruangan yang khusus ini anak-anak, besar dan kecil, mendapat pendidikan dari orang-orang yang ahli dalam lapangan masing-masing, juga guru-guru sekolah memberikan konsultasi tentang matapelajaran apapuh. Sungguh, kawan-kawan dan para-hadirin boleh iri terhadap anak-anak di-negeri-negeri yang sudah be-bas itu.

Di sini, seperti juga di-negeri-negeri kapitalis lainnya, ada di-sebarkan fitnahan-fitnahan yang keji, se-olah-olah anak-anak di-negeri-negeri Demokrasi Rakyat atau Sosialis tidak boleh dimiliki ibu dan bapaknya, se-olah-olah anak-anak di sana dirampas dan dimiliki oleh negara. Seram bukan? (hadirin tertawa). Dan apa jawaban saya terhadap fitnahan-fitnahan yang kotor dan tak-kenal-malu ini? Kalau saya mempunyai anak di sana, lama sebelum anak saya lahir sudah akan saya daftarkan ke-tempat penitipan anak-anak, karena di sana anak saya akan lebih terjamin, baik kesehatan Maupun pendidikannya da-ripada di rumah. (tepuktangan panjang).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Dalam hidup, kesedihan suka datang mengganggu kegem-biraan. Ia juga datang menganggu kami ketika kami dalam perjalanana,—tidak, tidak hanya mengganggu kami, tepati mengganggu kita semua—: Kawan Stalin, guru dan pemimpin proletar yang zenial, yang tidak ada bandingan-nya dalam sejarah dunia kecuali dengan guru-gurunya sendiri Marx, Engels dan Lenin, Kawan Stalin yang telah memberikan seluruh hidupnya kepada pembebasan manusia dari perbudakan dan kenistaan yang ber-puluh-puluh abad lamanya, Kawan Stalin pergi meninggalkan kita untuk se-lama-lamanya. Belum pernah seorang manusia yang pergi dihormati dengan kekhidmatan yang begitu besar. Di Paris dan di Tokio, di Roma dan di New York, kaum buruh menghentikan pe-kerjaannya. Di India, di Inggris, di Italia dan di-mana-mana, parlemen-parlemen mengheningkan cipta. Di seluruh dunia bendera dukacita dinaikkan, dan airmata tidak bisa ditahan. Kami-pun ke Moskow, untuk menyatakan, bahwa juga Rakyat Indonesia, Rakyat yang sudah ber-puluh-puluh kali mengangkat senjata terhadap penjajah Belanda, sedih tetapi berte-rimakasih kepada Kawan Stalin, sahabat dan guru yang paling setia dan bijaksana dari Rakyat negeri-negeri jajudahan dan setengah-jajudahan. Sudah di tahun 1925 Kawan Stalin memperhatikan dan memikirkan dan membantu Rakyat Indonesia yang tidak mempunyai cita-cita lain kecuali mengusir kolonialisme Belanda dari buminya dan ingin berkuasa atas tanahair dan nasibnya sendiri. Dan sampai pada hari-wafatnya, Kawan Stalin tiada henti-hentinya memikirkan dan membantu perjuangan bangsa-bangsa terjajudah untuk kebebas-an nasionalnyna. Pidato Kawan Stalin pada penutupan Kongres ke-XIX PKSU menunjukkan jalan yang terang dan jelas bagi bangsa-bangsa terjajudah, jadi juga bagi kita bangsa Indonesia, menuju cita-cita sebagai yang dilagukan dalam “Indonesia Raya” (tepuktangan).

Lebih daripada negeri-negeri lain, Soviet Uni yang bahagia itu berkabung. Kami berbahagia sekali, ber-sama-sama dengan murid-murid Stalin yang lain, ber-sama-sama dengan Kawan Gottwald dan Kawan Cou En-lai, Kawan Togliatti dan Kawan Du-clos, Kawan Harry Pollitt dan Kawan Paul de Groot, dan bersama ber-puluh-puluh Kawan yang lain, melakukan penjaga-an kehormatan di samping jenazah Kawan dan guru kita, dan mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang ter-akhir. Ketika saya berdiri bersama Kawan Aidit di samping jenazah Kawan Stalin, dengan perasaan yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata, saya melihat sendiri betapa besar kecintaan Rakyat Soviet kepada pemimpinnya, pemimpin negara dan pemimpin Partai mereka. Seorang anak pionir lalu, dengan tangan diacungkan ke atas menurut carasalam pionir—dia menangis. Seorang perwira Tentara Merah lalu, dia tidak berani menatap wajah jendralisimusnya yang sudah tidak bernafas, dia tutupkan saputangan kemukanya—dia menangis. Seorang jejaka berjalan bergandengan dengan kekasihnya, mereka erat-erat-erat-erat saling berpegangan—mereka menangis. Seorang wanita tua lalu, dengan membuat silang Keristen di atas dadanya—dia menangis. Semua menangis.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Budak-Budak kapital yang sudah kehilangan akal dan tidak punya moral, selalu membohong se-akan-akan Soviet Uni adalah negeri “totaliter” dan se-olah-olah Kawan Stalin adalah “diktator”. Tetapi diktator mana yang bisa menyuruh Rakyatnya untuk menangis ber-sama-sama? (tepuktangan). Tidak! Tangis dan airmata yang se-olah-olah tiada habis-habisnya itu, tidak mungkin keluar dari lubuk lain kecuali lubuk cinta, cinta yang dalam, yang tak terhingga kepada seorang pemimpin yang telah memberikan kepada Rakyatnya suatu negara baru negara di mana penderitaan tidak lagi dikenal dan di mana hidup penuh diliputi senyum dan kebahagiaan.

Kami mengantar Kawan Stalin dalam perjalanannya yang terakhir, ke tempat di mana guru dan sahabatnya, Wladimir Ilyitsy Lenin yang besar, berbaring dalam kebahagiaan. Kami mengantar Kawan Stalin dengan janji dan sumpah sebagaimana disimpulkan oleh Kawan Aidit dan kami tuliskan di atas karangan bunga yang kami letakkan di depan jenazahnya: “Kawan Stalin, kami tetap setia pada ajaran-ajaranmu!” (tepuktangan panjang).

Ada pepatah mengatakan bahwa datangnya kesedihan tidak sendirian. Demikianlah, hanya beberapa hari setelah dunia berkabung ditinggalkan Kawan Stalin, datang kesedihan yang lain: proletariat ditinggalkan oleh seorang puteranya yang lain: Klement Gottwald. Sungguh sukar untuk dipercaya. Hanya beberapa hari yang lalu, ber-sama-sama dengan kami dia berdiri mengawal Kawan Stalin. Sekarang dia menyusul pergi. Kami pun, ber-sama-sama dengan Kawan-kawan dari Soviet Uni, dari Tiongkok, dari Korea dan dari Mongolia, kembali ke Praha. Di-tengah-tengah Rakyat Cekoslowakia yang gagah, kami turut merasakan kesedihan mereka yang luarbiasa: dalam waktu yang kurang dari dua minggu dua orang pemimpin raksasa meninggalkan mereka. Sekali lagi kami tak dapat menahan airmata, bersama airmata jutaan Rakyat Cekoslowakia yang juga tak dapat ditahan. Sekali lagi kami menyaksikan suatu arak-arakan yang sangat istimewa, yaitu jutaan Rakyat yang Meskipun antri 10 sampai 12 kilometer dan Meskipun harus menunggu 6 sampai 8 jam, sabar berbaris, karena ingin menjumpai pemimpinnya, sebelum diletakkan di Pantheon. Dan sekali lagi, kami berjalan pelahan di belakang jenazah sahabat kita, melalui jalan-jalan dan lorong-lorong yang kanankirinya penuh Rakyat yang mengucapkan janji-setia, dan diiring lagu-lagu dukacita ciptaan-ciptaan Caikovski, Beethoven, Grieg dan Khopin.

Baru beberapa hari yang lalu, Kawan Gottwald, ketika memperingati Kawan Stalin yang meninggal, berpesan kepada Rakyat Cekoslowakia, mengingatkan bahwa Lenin dan Stalin mengajarakan kepada kita tidak boleh lemah apalagi putusasa dalam kejadian-kejadian yang menyedihkan. Baru beberapa hari yang lalu, Kawan Gottwald berpesan, supaya kepergian Kawan Stalin lebih membulatkan persatuan dan lebih memperbesar dayajuang kita. Sekarang, Kawan Gottwald sendiri meninggalkan kita.

Memang pepatah mengatakan bahwa datangnya kesedihan tidak sendirian. Tetapi airmata yang kita tumpahkan adalah airmata tekad dan kebulatan, airmata yang bukan melemahkan tetapi memperkuat.

Dan jangan kita lupakan, juga bagi imperialisme, penyembelih'nya Rakyat itu, kesedihan tidak datang sendirian. Kawan Stalin meninggalkan kita sesudah Soviet Uni yang ber-sama-sama Lenin dia dirikan, merupakan kekuatan yang tiada bandingannya di dunia, sesudah perang intervensi yang dilakukan oleh 14 negara imperialis Maupun perang bidadab yang dimulai oleh Hitler dia balas dengan pukulan yang manghancurkan, sesudah empat rencana limatahun dia selesaikan dengan melebihi rencana, dan akhirnya, sesudah Soviet Uni merebut kepertiyayaan dari tidak hanya proletariat, tetapi seluruh Rakyat pekerja sedunia. Dan Kawan Gottwald meninggalkan kita, sesudah reaksi Februari 1948 Maupun komplotan spion Slansky dia hancurkan, dan sesudah Cekoslowakia, menuruti jejak negara Kawan Stalin, setapak demi setapak tetapi pasti maju dengan cepatnya menuyu ke Sosialisme. Dan jangan dikira bahwa segala kesedihan yang menimpa imperialisme ini akan berhenti di sini. Ia akan terus datang, ber-tubi-tubi, selama mereka tidak menghentikan penindasan, perampokan dan peperangannya. (tepuktangan).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Orang yang tergolong pada harikemarin, dan yang tidak akan merasakan kebebasan hariesok, biasanya kehilangan segala obyektivitet. Begitulah di luar negeri kita lihat pers reaksi tidak mampu dan tidak mau menilai pribadi Kawan Stalin secara obyektif, menurut jasa dan kebesarannya dalam sejarah dunia setengah abad ini. Mereka lebih suka beromongkosong tentang apa yang mereka namakan

“perebutan kekuasaan di dalam tembok ‘Kremlin”. Juga di Indonesia sini, harian “Mimbar Indonesia” misalnya yang dipimpin oleh tuan Yusuf Wibisono me-niru-niru pers imperialis beromongkosong. Tuan Yusuf Wibisono, yang pikirannya tidak pernah lain kecuali menyiasati kursi-kursi di Pejambon (tawa), rupa-rupanya tidak bisa berfikir lain, dan mengira bahwa semua orang adalah seperti dirinya. (tawa). Mungkin pula beliau mengira bahwa Partai Komunis adalah seperti Masyumi, yang barisannya gampang berantakan tiap-tiap saat. (tawa). Sayang, tuan Yusuf Wibisono tidak berhadapan dengan suatu partai semacam Masyumi, tetapi berhadapan dengan Partai-Partai Komunis, yang bulat ideologi dan politik-nya, yang kuat disiplinnya, yang tidak bisa dikalahkan Sekalipun dengan bom atom atau bom kuman, apalagi hanya dengan dolar! (tepuktangan panjang).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Meskipun kunjungan kami yang pertama ke Soviet Uni ini dalam suasana berdukacita, tetapi selama kami di sana, Meskipun tidak lama, kami telah menggunakan waktu sebaik-sebaiknya untuk mempelajari segi-segi kehidupan sosialis yang begitu penuh dengan pengalaman dan pelajaran. Kami mengundungi museum pemberian-pemberian kepada Kawan Stalin ketika berumur 70 tahun, dan kami menyedari bahwa kecintaan Rakyat dunia kepada Stalin adalah tidak terbatas. Kami mengundungi museum revolusi, dan kami lebih meyakini, bahwa revolusi itu menuntut pengorbanan dan keikhlasan yang se-judiur-judiurnya dan se-dalam-dalamnya. Kami mengundungi museum Lenin, dan kami lebih mengenal kebesaran pemimpin revolusi yang belum pernah ada bandingannya ini. Kami mengundungi museum politeknik, dan kami yakin bahwa penemuan-penemuan teknik di Soviet Uni, yang dalam banyak lapangan sudah melampaui negeri mana pun itu, terus dan akan terus maju dengan tiada habis-habisnya, untuk kebahagiaan dan kemajuan umatmanusia. Kami me-ngunjungi tempat-tempat yang lain, dan kesimpulan kami: se-muanya lebih baik dan lebih maju daripada di Cekoslowakia yang sudah baik dan sudah maju itu! Seperti di Cekoslowakia, kami mengunjungi gereja-gereja, bahkan juga mesjid-mesjid. Kami mengunjungi Bolsyoi-teater yang masyhur itu, kami melihat di sana balet Caikovski “Telaga Gangsa” dan opera Glinka “Iwan Susanin”, dan dalam satu hal ini kami bisa setuju dengan Mohamad Yamin yang menyatakan bahwa balet dan opera di Moskow adalah yang paling baik di seluruh dunia. (tepuktangan).

Soviet Uni—besar, Partai Komunis Soviet Uni juga besar. Dan negara dan Partai yang besar ini, di bawah pimpinan Kawan Stalin yang besar, telah menciptakan hal-hal yang besar-besar. Siapa yang tidak kenal kanal raksasa Wolga-Don dan bangunan-bangunan Komunisme lainnya? Bangunan-Bangunan Komunisme ini bisa menimbulkan tenaga listrik 22.500 juta jam-kilowat, mengairi 28 juta hektar tanah, dan tanah yang baru disuburkan ini bisa menghidupi 100 juta manusia. Dan siapa yang tidak kenal gedung universitet Lomonosov yang baru, yang berdiri megah di bukit Lenin di Moskow? Universitet yang terbesar di Amerika luas gedung dan halamannya kurang dari 25 hektar. Tetapi universitet Lomonosov yang baru ini, luas gedung dan halamannya “hanya” lebih dari 250 hektar. (tawa dan tepuktangan). Tingginya kuranglebih 15 pohon kelapa, dan mempunyai asrama untuk 6000 mahasiswa, tiap-tiap mahasiswa diberi satu kamar tersendiri, dan mulai September yang akan datang ini akan belajar di sana se-kurang-kurangnya 10.000 mahasiswa! Tetapi kemajuan Soviet Uni tidak berhenti di sini. Sesudah 7 buah bangunan tinggi sekarang ini, di Moskow tak lama lagi akan dimulai pembangunan Istana Soviet, suatu gedung raksasa yang tingginya “hanya” dua kali universitet yang saya sebutkan tadi, yaitu 500 meter, dan yang di atasnya akan ditempatkan patung Lenin setinggi 80 meter. Juga pelabuhan Moskow, yang telah meng-hubungkan lima lautan, akan diperluas, sehingga Moskow akan menjadi pelabuhan 7 lautan! (tepuk tangan).

Sedikit tentang kemajuan teknik, saya bisa terangkan, bahwa di Soviet Uni sekarang sudah ada exkavator, yaitu mesin penggaruk tanah, yang tiap-tiap kali bisa menggaruk 14 21​ meter kubik, dan bahwa di sana sekarang sedang disiapkan prahoto yang beratnya 50 ton. Mesinbubut yang terbaru di sana, tiap-tiap menit bubutannya berputar 3000 kali! Belum lagi saya ceriterakan tentang pabrik-pabrik otomatik, misalnya pabrik kogelager, pabrik semen, pabrik rabuk, pabrik sepatu, dll., yang benar-benar otomatik sampai pada sistim kontrolnya sekali. Artinya, tiap-tiap pabrik itu hanya di jalan-kan oleh 2 atau 4 atau se-banyak-banyaknya 10 orang! Kalau pabrik begini ada di sini sekarang, akibatnya tentu saja kita tahu: massa-onslag. (tawa). Tetapi Rakyat pekerja Soviet tidak pernah takut kepada perkataan yang kejam ini, karena ditemukannya pabrik-pabrik otomatik hanya berarti memindahkan kaum pekerja ke-tempat-tempat yang lain, yaitu untuk mendirikan pabrik-pabrik baru. Begitulah seterusnya.

Satu-dua hari yang lalu, wakil presiden tuan Mohammad Hatta mengatakan dalam pidatonya bahwa “cita-citanya lebih tinggi daripada cita-cita Rakyat”, dan menjelaskan cita-citanya itu tuan Hatta mengatakan bahwa keinginannya ialah supaya tiap-tiap rumah di Indonesia ini mempunyai listrik, dan supaya tiap-tiap kampung mempunyai radio umum. Dalam keadaan seperti sekarang ini “cita-cita” tuan Hatta ini sudah terang tidak lebih dari satu impian. Tetapi seandainya, seandainya tuan Hatta akan memulai juga usahanya ke arah ini—mengingat anjurannya untuk “menabung”—artinya sudah jelas bagi kita: mengeduk kantong Rakyat yang sudah tipis, untuk keuntungan maskapai-maskapai listrik dan maskapai-maskapai radio asing! Tetapi di Soviet Uni, parahadirin akan sia-sia mencari rumah yang tidak berlistrik, dan sukar sekali kita mencari di sana rumah yang tidak punya radio!

Kejadian penting lainnya yang kami alami ketika kami di sana, ialah diumumkannya pada hari 1 April oleh pemerintah Malenkov penurunan harga barang-barang untuk keenam kalinya sesudah perang, mulai 10 sampai 50%. Jadi, sedang di-negeri-negeri kapitalis harga-harga membubung terus, dan sedang di Indonesia sini, sebagaimana saya dengan ketika saya diluarnegeri, tuan Sumitro juga menaikkan harga barang-barang, (terdengar: betul!) di Soviet Uni harga barang-barang diturunkan, sehingga seluruh Rakyat Soviet mendapat keuntungan 54 milyard rubel karenanya! (tepuk-tangan).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Kalau tidak saya kuasai diri saya sendiri, saya kuatir akan menahan parahadirin sepanjang malam di gedung ini, menceriterakan tentang kemajuan-kemajuan Soviet Uni. (terdengar: terus! terus!). Tetapi sebelum saya sampai pada akhir uraian saya, baiklah saya buktikan kebohongan sementara orang di sini, yaitu tuan-tuan sosialis-kanan dan konservatif. Uraian saya ini tentu tidak berguna buat mereka, sebab tuan-tuan itu rupa-rupanya sudah mabok purbasangka dan tidak doyan lagi kebenaran dan obyektivitet. (tawa). Tetapi bagi mereka yang karena ketidaktahuannya, selama ini masih mempertayai tuan-tuan yang claka itu, barangkali keterangan saya ini akan berguna.

Salah satu kebohongan yang paling banyak diobral ialah, se-akan-akan di Soviet Uni tidak ada kemerdekaan individu. Meneruskan tulisan-tulisan dan interviu-interviunya dalam “Sikap”, “Siasat”, “Pedoman”, “Nieuwsgier”, “Indonesia Raya” dan “Keng Po”, tuan Syahrir baru-baru ini berbicara pada hari 1 Mei sbb.: “Kita haruslah merubah nasib mereka (maksudnya nasib ”rakyat umum“) dengan tidak mereka keta-hui lebih dahulu”. (tawa). Ya, dalam kalimat yang singkat ini cukup tergambar jalan fikiran tuan Syahrir. Buat tuan Syahrir, Rakyat adalah kerbau, yang tidak perlu berfikir, tidak perlu turut apa-apa, cukup menggantungkan nasibnya kepada apa yang mereka namakan “pemimpin-pemimpin”, yang, althans dalam omongan tuan-tuan ini, akan “merobah nasib rakyat umum dengan tidak diketahui lebih dulu”. Tetapi jangan lupa, merobah belum tentu memperbaiki, bisa juga memperjelek! (tawa dan tepuktangan). Dan Kalaupun yang mereka maksudkan “memperbaiki”, yang mereka maksudkan tentunya begini: kalau mereka mendapat apa-apa, entah dari seorang Lord Killearn atau seorang Mac Donald (tawa), kira-kira 21​ atau 1% akan mereka sebarkan kepada apa yang mereka namakan “rakyat umum”.

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Tidak ada kemerdekaan individu, kata mereka. Tetapi apa yang mereka maksudkan kemerdekaan individu? Saya telah melihat sendiri bagaimana Rakyat Soviet tidak hanya cukup makan, pakaian dan tempattinggal, saya melihat sendiri bagaimana hasil-hasil budaya manusia, mulai buku-buku sampai istana-istana yang indah, mulai park-park sampai teater-teater yang besar, yang dulunya hanya jadi tempat ber-foya-foya sejumlah kecil tuantanh dan burjuasi, sekarang dinikmati dengan seleluasa-leluasanya oleh Rakyat pekerja. Apakah ini yg. mereka namakan “tidak ada kemerdekaan individu”? Kalau yang mereka maksudkan dengan kemerdekaan itu kemerdekaan klik mereka untuk membohongi dan menipu Rakyat, atau kemerdekaan klik mereka untuk menyeraahkan Rakyat dan kebebasan negerinya kepada penjajahan dan penghisapan kapital asing, oo, “kemerdekaan individu” semacam itu memang tidak ada! (tepuktangan).

Berhubung dengan soal “kemerdekaan individu” ini, tuan-tuan tadi juga suka jual omongan, se-olah-olah di Soviet Uni pemerintahan dijalankan berdasar “kekejaman”. Karena musuh-musuh Rakyat seperti dulu Trotski dan Bukharin, dan sekarang Slansky dll. dihukum oleh pemerintah Rakyat, maka tuan-tuan ini membikin dongengan tentang “kekejaman di Soviet Uni“, Meskipun tiap-tiap otak yang waras bisa berfikir, bahwa, jika Soviet Uni bersendikan kekejaman terhadap Rakyatnya, jangankan 35 tahun, 35 hari pun dia tidak akan bisa tahan berdiri! (tepuktangan). Dan baiklah kita bertanya: kalau berkat politik tuan Rum, tani di Tanjung Morawa dibunuhi dan karena teror Darul Islam kaum tani juga dibunuhi, mengapa tuan-tuan itu bungkem dalam seribu bahasa? (tepuktangan).

Dongengan lain yang juga suka dijual, adalah dongengan tentang “tidak adanya kemerdekaan pers di Soviet Uni”. Ketika saya di sana, harian Pravda, dan tidak hanya Pravda, tetapi semua harian di seluruh Soviet, dan tidak hanya harian-harian Soviet, tetapi boleh dibilang semua harian di semua negeri Demokrasi Rakyat, di samping memuat tulisan Pravda sebagai jawaban atas pidato presiden Eisenhower, juga memuat teks pidato Eisenhower selengkapnya. Coba tunjukkan kepada saya: koran mana di Amerika Serikat—kecuali “Daily Worker” harian Partai Komunis—yang mau memuat tulisan Pravda selengkapnya? Dan tadi sudah saya terangkan, bahwa di lapangan terbang Kemayoran, buku-buku Kawan Aidit dan saya, sebanyak 2 koper, telah dirampas “untuk diperiksa” katanya. Saya tidak tahu apakah tuan Sosrodanukusumo, sudah membaca atau melihat buku-buku profesor Pavlov, Mitsyurin, buku-buku tentang musik, filsafat dan politik itu akan berubah fikirannya (tawa), tetapi saya kira tidak sukar lagi untuk mengetahui di mana ada dan di mana tidak ada kemerdekaan pers dan kemerdekaan berfikir!

Ada lagi omongan yang lain. Dalam usahanya menghalang-halangi Indonesia membuka kedutaannya di Moskow dan Soviet Uni membuka kedutaannya di Jakarta, orang-orang konservatif dan sosialis-kanan coba-coba me-nakut-nakuti kita dengan menyatakan: “sedangkan seorang wartawan Tass kita tidak bisa meng-amati-amatii, apalagi kalau ada kedutaan Soviet di sini”. Jadi, digambarkan oleh tuan-tuan itu se-olah-olah

Soviet Uni berkepentingan sekali membuka kedutaannye di sini. Di Moskow saya berbicara dengan sopir yang mengantar kami ke-mana-mana. Dia tanya bagaimana sikap partai-partai di Indonesia tentang pembukaan hubungan diplomatik. Saya katakan bahwa Masyumi dan PSI tidak setuju. Takukah parahadirin apa jawab dia? Dia bilang: Meskipun tidak ada hubungan diplomasi dengan Indonesia Soviet Uni tidak akan runtuh karenanya! (tawa dan tepuktangan panjang).

Ada lagi yang lain lagi. Jendral-Jendral Amerika untuk membenarkan pengiriman armada dan tentara mereka sampai ber-puluh-puluh-ribu mil jauhnya, dan untuk membenarkan pendudukan mereka atas Jepang dan Eropa, selalu mengatakan se-akan-akan Soviet Uni adalah agresif dan se-akan-akan agresi mereka sendiri itu suatu tindakan “pembelaan”. Dan tuan Yusuf Wibisono, yang oleh sementara orang dianggap “teoretikus”-nya tuan Sukiman, (tawa)—dan tentunya juga “teoretikus”-nya tuan Cokhran di Indonesia! (tawa)—dalam pidatonya di muka parlemen pernah menarik kesimpulan—yang barangkali dia anggap sendiri “zenial”—dari pidato Kawan Malenkov. Kawan Malenkov, setia pada ajaran-ajaran Lenin dan Stalin, ber-kali-kali mengatakan bahwa politik Soviet Uni adalah politik damai. Tetapi, demikian Kawan Malenkov, kalau kaum imperialis akan nekat juga menyerang Soviet Uni, seluruh kapitalisme akan hancur. (tepuktangan). Terus tuan Yusuf Wibisono menarik “kesimpulan”, bahwa Soviet Uni “agresif”. Sebab, katanya, orang yang paling ingin perang tentu orang yang yakin akan kemenangannya.

Orang boleh tidak habis-habis heran bagaimana seorang meester in de rekhten seperti tuan Yusuf Wibisono itu bisa kehilangan segala logika. Tetapi lebih baik kita gunakan fikiran yang sehat saja, dan menyedari, bahwa justru karena kuat itulah maka Soviet Uni tidak berkepentingan untuk menyerang siapa-siapa! (tepuktangan panjang).

Dan kalau parahadirin bertanya kepada saya, benarkan Soviet Uni dan negeri-negeri Demokrasi Rakyat itu kuat: Saya telah melihat parade di Moskow dan di Praha, dan saya melihat bagaimana persenjataan yang se-modern-modernnya, sampai pada bomber-bomber yet, dimiliki oleh negeri-negeri itu, untuk menjaga kalau-kalau kaum imperialis matagelap dan mau coba-coba menyerang. Dan senjata ini dimiliki oleh Rakyat yang bulat persatuannya, yang bulat kemaunnnya, yang tinggi kecakapannya dan yang luarbiasa keberaniannya.

Kalau boleh saya menasehati kaum agresor itu, memang lebih baik jangan menyerang Soviet Uni dan negeri-negeri Demokrasi Rakyat (tawa), sebab kalau mereka menyerang, benar-benar mereka akan dihancurkan! (tepuktangan).

Kawan-Kawan dan parahadirin,

Meskipun saya tahu bahwa mereka itu tidak akan mendengarkan nasehat saya, tetapi kalau mereka memulai ju-ga serangannya, serangan itu memang tidak pertama-tama akan ditujukan kepada Soviet Uni atau Tiongkok atau Eropa Timur. Persiapan-Persiapan perang mereka lebih mengancam kita dan semacam negeri-negeri kita. Mengapa? Karena mereka pun bukannya tidak tahu, bahwa Soviet Uni dan sekutunya adalah keras, atos. Dan barang yang keras memang tidak enak. (tawa). Maka itu mereka akan memilih negeri-negeri yang empuk dulu. (tawa). Inilah sebabnya, mengapa Kawan Aidit ketika baru datang menyatakan bahwa bahaya perang lebih mengancam kita daripada mengancam Soviet Uni, dan bahwa perjuangan kita untuk perdamaian dunia adalah pertama-tama untuk kepentingan kita sendiri.

Ketika Soviet Uni baru saja lahir, dekrit yang pertama-tama dikeluarkan Lenin ialah dekrit tentang perdamaian. Dan ketika Kawan Stalin meninggalkan kita, testamennya yang terakhir ialah testamen perdamaian. Semua orang tahu bahwa hanya di Soviet Uni dan di-negeri-negeri Demokrasi Rakyat propaganda perang dilarang oleh undang-undang dengan ancaman hukuman berat. Semua orang juga tahu bahwa pers Maupun radio Soviet dan negeri-negeri Demokrasi Rakyat, dari menit kemenit menanamkan keyakinan akan perdamaian. Hanya orang-orang dungi yang tidak mengerti bahwa Rakyat yang mendapat didikan begini ini tidak mungkin Rakyat yang agresif.

Juga kita, Rakyat Indonesia, berkewajiiban untuk bersama-bersama dengan Rakyat seluruh dunia berjuang se-kuat-kuatnya untuk perdamaian dunia, sebab, sebagaimana dipesankan Kawan Stalin, perdamaian dunia akan bisa dipelihara hanya kalau Rakyat memperjuangkan perdamaian dunia itu dengan tangannya sendiri.

Kawan-Kawan dan parahadirin.

Hari ini PKI genap 33 tahun. Jalan yang dilalui PKI adalah panjang dan sukar. Tetapi, sebagaimana Kawan Musso mengajarakan kepada kita, tidak ada kesukaran yang tidak bisa diatasi. Sekarang, di bawah pimpinan Kawan Aidit, PKI maju dari satu sukses kesukses yang lain.

Parahadirin tadi mendengar dari Kawan pimpinan, bahwa Partai-Partai Komunis Tiongkok, Nederland, India dan Australia berdiri di samping PKI. Tidak hanya Partai-Partai Komunis yang tersebut, tetapi Partai-Partai Komunis seluruh dunia, dengan dipelopori oleh Partai Komunis Soviet Uni, partainya Kawan Lenin dan Stalin yang jaya, berdiri di samping PKI. (tepuktangan). Dan dengan persahabatan yang besar ini terjamin pulalah persahabatan antara Rakyat pekerja seluruh dunia, yang dengan bersendikan internasionalisme proletar, tidak bisa dikalahkan dan pasti akan membawa Rakyat dunia kesuatu dunia baru: dunia Komunisme!

Apa yang sekarang terlaksana di Soviet Uni dan Tiongkok dan negeri-negeri Demokrasi Rakyat Eropa Timur, besok juga akan terlaksana di Indonesia! (tepuktangan panjang).

Hidup Indonesia, tanahair yang kaya, indah dan kita cintai! (tepuktangan panjang).

Hidup Partai Komunis Indonesia, pemimpin Rakyat Indonesia yang terpercaya! (tepuktangan panjang).


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.