Perkenalan Pertama dengan Dunia Baru
Di sebuah malam pada Mei 1953, di bawah naungan Gedung Kesenian Jakarta yang sejenak pecah oleh riuh tepuk tangan, Nyoto berdiri membawakan sebuah narasi yang ia sebut sebagai ”Perkenalan Pertama dengan Dunia Baru”. Dalam pidato peringatan 33 tahun Partai Komunis Indonesia itu, sejarah tak tampak sebagai rentetan aksiden yang acak, melainkan sebuah gerak yang seakan-akan sudah pasti: sebuah proyeksi dari ”ilmu” Marxisme-Leninisme yang me nyambut fajar Revolusi Oktober sebagai titik berangkat menuju sebuah tatanan yang dianggap paling progresif bagi umat manusia. Di sana, sang pemimpin bicara tentang persahabatan internasionalisme proletar dan janji tentang kemerdekaan yang dibalut dalam ketertiban doktrin, sebuah upaya untuk meletakkan masa depan di bawah kontrol sebuah desain besar yang disebut komunisme. Barangkali itulah paradoks dari tiap iman politik yang gemuruh: ia menawarkan sebuah Utopia sebagai jalan keluar dari kemelaratan dan feodalisme, namun ia juga senantiasa berisiko terjebak dalam ”sifat terburu-buru” untuk memutlakkan tanda-tanda sejarah menjadi sebuah kebenaran yang final, seakan lupa bahwa tiap langkah manusia di atas bumi sesungguhnya adalah sebuah pengembaraan di tengah ketidakpastian dan proses yang tak pernah benar-benar usai.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-05-18 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:4de5927b-e0d4-4f50-832c-add3be8a28cf |