Baca EPUB: Moderenisasi

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MODERENISASI
  2. KUSALAH SUBAGYO TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. MODERENISASI
  6. I
  7. II
  8. III
  9. IV
  10. CC BY-SA 4.0

MODERENISASI

KUSALAH SUBAGYO TUR


KOLOFON

MODERENISASI

oleh

KUSALAH SUBAGYO TUR



Dimuat di majalah WANITA

1 Oktober 1960

No. 18

Th. XIII

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: Through the Looking Glass 1999, karya Rebecca Ratzkin

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



MODERENISASI

Tepatlah Kalau Kita Harus Menelaah Soal-Soal Lama, dengan Kaca Mata Moderen?

I

SAYA perkenalkan pembaca lebih dahulu dengan sebuah buku sandiwara tiga babak, “PEMBALASANNYA” karangan SAADAH ALIM, yang telah diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940). Sandiwara ini menceritakan seorang pemuda dari Padang yang sedang belajar di Jakarta, yang ketika bapaknya dan ke-mudian ibunnya meninggal, lalu dibiai sekolahnya oleh pamannya. Ketika Bahar, nama pemuda itu, telah menjadi mister, pamannya secara paksa mengawinkannya dengan anak gadis-nya sendiri, Nur Asyikin. Bahar tidak suka pulang ke Padang. Memang dia seorang pemuda yang suka akan kebebasan, apalagi dlm soal pergaulan dengan wanita. Meskipun begitu perkawinan dilangsungkan juga secara berwakil. Berbulan-bulan sesudah perkawinan Bahar belum juga mau menjemput istrinya. Nur Asyikin merasa tersiksa, apalagi orang-orang di sekitarnya memandang dia tidak laku kawin saja. Ia (yang sebenarnya adalah seorang gadis yang cantik-molek, yaitu bertentangan dengan bayangan Bahar) berangkatlah pada suatu hari ke Jakarta. Di sana ia mendekati dan memikat-mikat Bahar, hingga Bahar menjadi tergila-gila, dengan tidak mengetahui bahwa Nur Asyikin itu adalah istrinya sendiri, karena memang sudah lama ia tidak melhat Nur Asyikin. Sementara itu Nur Asyikin selalu mengelak-elak, hingga sekarang Baharlah yang tersiksa, karena pada anggapannya cintanya tidak diurus. Permainan ini berjalanan lama, dan akhirnya ditutup dengan saling mengaku, dan kedua orang itu pun menjadi suami-isteri.

II

CERITA ini tercipta di masa terjadinya kampanye antikawin-paksa dan antiadat dalam kesusasteraan Indonesia. Inti cerita sama dengan buku Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli, Darah Muda dan Asmara Jaya karangan Adinegoro atau Kalau Tak Untung karangan Selasih, di mana masing† pengarang menyodorkan dalil, bahwa: kawin-adat dan menurut-adat itu kurang menyenangkan.

Saya tidak akan menyinggung soal kampanye ini, tetapi saya ingin meng-adakan catatam, bahwa dalam cetakan ketiga buku ini (1953) telah terjadi perubahan-perubahan, yang menjadi buku ini terasa tidak terjadi di masa teryadinya kampanye tersebut, melainkan terjadi sekarang, di masa ini. Baiklah saya sebutkan apa perubahan itu:

Cetakan I.

Luileklerland (hal. 6)

Betawi (hal. 10, 18, 19, 22, 24, 25, 26, 27, 36)

Bakal referendari (hal. 10)

Departement (hal. 10)

Dept. O. en E. (hal. 10)

Onderwiyzers pada H. I. S. (hal. 10)

Student (hal. 11)

Rp. 30,—Rp. 40,—(hal. 11, 12, H. I. S. (hal. 12)

Cetakan III.

Capitol (hal. 6)

Jakarta (hal. 7, 11, 12, 21, 22, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 43, 49)

Pegawai tinggi (hal. 11)

Kementerian (hal. 11)

Kem. P. P. dan K. (hal. 11)

Guru S. M. P. (hal. 11)

Mahasiswa (hal. 12, 13)

Rp. 300,—Rp. 400,—(hal. 13)

S. M. P. (hal. 14)

Cetakan I.

Internaat (hal 16)

Batavia-Centrum (hal. 41)

Di Kabupaten (hal. 5)

Skhriften (hal. 15)

Cetakan III.

Asrama (hal. 19)

Jakarta (hal. 49)

(Dihilangkan), hal. 5

(Dihilangkan), hal. 17

Kalau kita perhatikan perubahan-perubahan yang telah diadakan oleh pengarang ini, maka ternyatalah, bahwa perubahan itu kadang-kadang dikerjakan dengan sepenuhnya memperhatikan yang diubah, tapi kadang-kadang pula dengan tidak memperhatikannya. Con-toh daripada perubahan yang kedua ini bisa kita lihat pada kata Bakal referendari menjadi Pegawai Tinggi, H. I. S. menjadi S. M. P. , f. 30,—menjadi Rp. 400,—dan pada peng-hilangan kata Di Kabupaten dan Skhriften di atas.

III

PERUBAHAN semacam ini memang sering terjadi dalam kesusasteraan, termasuk di dalamnya kesusteraan Indonesia. Sebagai contoh bisa saya sebutkan perubahan nama buku Si Dul anak Betawi karangan Aman menjadi Si Dul anak Jakarta, begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi dalam buku Sitti Nurbaya yang sudah saya sebut di atas.

Tujuan daripada perubahan ini sudahlah pasti, yaitu untuk menyenu-saikan suasana cerita tersebut dengan suasana sekarang. Kalau dengan perubahan-perubahan tersebut bisa di-capat apa yang menjadi maksud pengubahan tersebut bisalah diterima. Hal ini bisa terjadi pada cerita yang tidak terikat oleh waktu, dan oleh suasana yang ada dalam cerita tersebut. Ini jaring sekali terjadi, karena pada hakekatnya cerita yang terjadi pada sesuatu waktu dan tempat selalu terikat oleh waktu dan tempat tersebut. Cerita-Cerita seperti Hamlet, Yulius Caesar atau Macbeth karangan Shakespeare tidak bisa di-suasankan masa ini. Ia adalah bagian daripada jamannya sendiri. Dan

Tepatlah kalau kita harus menelaah soal-soal lama, dengan kaca mata moderen? sebagai bagian dari jamaninya ia membawakan sesuatu yang bagi orang sekarang merupakan keistimewaan.

Agar jelas, baiklah saya kembali-kan soal ini kepada buku PEMBALASANNYA. Buku ini terjadi, seperti saya katakan tadi, pada masa teryadinya kampanye antikawin-paksa dan antiadat. Kampanye ini, yang sesungguhnya tidak hanya terjadi dalam kalangan kesusasteraan tetapi terpraktek di dalam hidup sehari-sehari, disebabkan oleh teryadinya pergesean-pergesean di dalam masarakat, yaitu adanya pertemuan antara paham yama yang diwakili oleh golongan adat dengan paham baru yang diwakili oleh golongan yang telah mengenyam pendidikan. Bukti-Bukti tentang adanya pertumbukan kedua paham ini tidak ha-nya bisa kita dapati pada peninggalan cerita dalam kesusasteraan, tetapi lebih-lebih lagi pada sudah berbedanya suasana masarakat. Kalau di masa teryadinya cerita ini banyak pemuda dan pemudi meringuk dalam penjara kawin-paksa seperti yang di-alami oleh Mister Bahar, maka di-jaman ini sebaliknya banyak orang-tua yang terpenjara oleh pendapat dan keyakinan anaknya.

Cerita tentang Mister Bahar ini adalah cermin keadaan masarakat di masa itu. Hubungan lama dalam lingkungan masarakat Indonesia masih berlaku. Mister Bahar merantau ke pulau Jawa. Sesudah orangtuanya meninggal ia diongkosii oleh pamannya, yaitu orang yang dalam hubungan kekeluargaan di daerah Sumatra Barat memang dianggap berkewenangan dalam hal itu. Dan sesudah itu ia dipaksa kawin dengan gadis anak pamannya. Ini juga merupakan satu hal yang biasa dimasarakat itu. Apalagi dalam hal ini Mister Bahar su-dah makan budi dari pamannya.

Kita bisa mengerti akan segala peristiwa yang terjadi dalam cerita. Dan kita pun insaf, bahwa sekalian yang kejadian ini layak terjadi, karena kita tahu bahwa cerita ini terjadi di masa tersebut, yaitu seperti yang sudah dua kali saya katakan: masa antikawin-paksa dan antiadat.

Sekarang saya kembalikan perhatian pembata pada cetakan ketiga buku ini pula. Sudah saya terakan di atas perubahan-perubahan apa yang telah terjadi pada cetakan ketiga ini. Yang penting dalam hal ini bukanlah perubahan kata Departement menjadi Kementerian, Student menjadi Mahasiswa atau perubahan kata Internaat menjadi Asrama. Dengan mudah kita bisa terjemahkan kata-kata yang pertama itu ke dalam kata-kata yang kedua. Tapi yang terpenting yang harus kita perhatikan dalam hal ini ialah bahwa dengan perubahan-perubahan itu pengarang telah mengubah suasana, dari suasana lama kesuasana sekarang. Dari buku cetakan ketiga kita dimasukkan dalam suasana jaman sekarang, tetapi kita tahu ada kesalah besar yang telah diperbuat oleh pengarang. yaitu bahwa ia tidak juga mengubah persoalan yang ada di dalam bukunya. Inilah kesalahan yang tidak banyak diinsafi, di mana kita pembata dihadapkan kepada dua wajah satu diri, yaitu menelaah soal lama dengan kacamata moderen.

Tentang ini tidak perlu saya uraikan lebih panjang, karena dua hal ini sudah merupakan pihak-pihak yang saling bertentangan.

Ada lebih bijaksana kalau modernisasi (yaitu pengistilahan saya ten tang perubahan-perubahan tersebut) tidak di-adakan, dan dengan demikian cerita tetap bersuasana jaman ketika ia tercipta. Dengan tidak mengadakan modernisasi kita bisa mengharapkan keaslian cerita dan kebulatan peng-gambaran, di samping itu kita bisa menilainya sebagai peninggalan yang punya arti sejarah.

Modernisasi seperti yang saya se-butkan di atas menjadi sesuatu cerita tidak punya watak, tidak juga masuk sesuatu jaman, baik di jaman yang silam Maupun di jaman sekarang, karena di dalamnya terdapat berbagai pertentangan seperti aktibat teryadinya modernisasi tersebut.

IV

Apa yang saya bicarakan di sini atas nama buku PEMBALASANNYA saya maksudkan menyang-kut semua buku di lapangan kesusasteraan, karena seperti yg sudah saya katakan: Hasil sastra dari sesuatu jaman adalah penceriman jaman ketika ia terjadi, dan ia adalah bagian dari jamaninya. Karena itu modernisasi seperti yang saya maksudkan bukan saja tidak perlu dan tidak tepat, bahkan kadang selayaknya.

Akhinya saya mesti menyatakan, bahwa istilah modernisasi tidak te-pat betul untuk merumuskan persoalan yang saya maksudkan, tapi kata lain tidak saya dapat untuk menduduki tempatnya.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.