Moderenisasi
Dalam risalah pendek Kusalah Subagyo Tur ini, kita seolah diajak menatap sebuah cermin yang retak ketika sebuah karya sastra, seperti sandiwara Pembalasannya karya Saadah Alim, dipaksa bersalin rupa melalui revisi peristilahan yang ganjil. Ada kecenderungan yang disebutnya sebagai "moderenisasi"—sebuah ikhtiar yang barangkali niatnya baik agar cerita tetap terasa aktual, namun justru menjerat teks ke dalam keganjilan karena mengganti Batavia menjadi Jakarta atau internaat menjadi asrama tanpa menyentuh inti persoalan yang telanjur berakar pada sejarah zamannya. Hasilnya adalah sebuah karya dengan dua wajah yang saling memunggungi: lahiriahnya mengenakan pakaian masa kini, namun jiwanya masih merintih dalam penjara kampanye antikawin-paksa era 1940-an. Pada akhirnya, buku ini menjadi sebuah gugatan lirih bahwa sastra adalah saksi sejarah yang tak bisa serta-merta didandani dengan kacamata modern, sebab setiap tulisan sejatinya adalah anak kandung dari detak jantung zamannya sendiri yang tak selayaknya dibatalkan identitasnya.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-05-16 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:33c9cfd1-0651-407b-825e-b1545eb46c2e |