Baca EPUB: Berpisah

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BERPISAH
  2. KUSALAH SUBAGYO TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. BERPISAH
  6. CC BY-SA 4.0

BERPISAH

KUSALAH SUBAGYO TUR


KOLOFON

BERPISAH

oleh

KUSALAH SUBAGYO TUR



Dimuat di majalah PENA

NO. 2 - TH. I.

AKHIR NOVEMBER 1953

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: Rural Route #3 1960, karya Mabel Ameila Hewit

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



BERPISAH

SUDAH tiga hari aku diam di rumah paman seorang kawanku di Cianjur. Pagi itu ialah pagi yang penghabisan sekali aku tinggal di rumah paman itu. Ketika sebagian orang-orang rumah masih tidur dan sebagian lagi sudah mulai mandi dan berpakaian, diantaranya juga paman dan bibi, aku sudah selesai berpakaian dan bersepatu. Begitu diu ga si Agus, kawanku itu.

Paman baru saja mau berangkat kepekerjaanya ketika si Agus meminta aku minta-permisi padanya. Ketika aku bangkit dari kursi bibi menanya.

— Mau pulang sekarang? dengan logat Sunda.

— Ya, diawabku.

— Tidak hari Minggu saja? Hari Senin baru masuk bukan?

— Tidak. Hari Senin itu ialah hari pertama kami menempuh ulangan, jadi sebelumnya kami harus belajar dulu. Lalu ia memanggil-manggil suamioya yang ada di dalam kamar dan berangkat ke sana.

— Dia mau pulang, katanya dalam bahasa Sunda. Suaminya keluar dan datang padaku dengan senyum-senyum bangga.

— Mau pulang, Kus? katanya.

— Ya, pak, jawabku.

— Wah, kesusu saja? Hari Senin baru masuk bukan? Hari Minggu saja pulang. Sama-sama si Agus. Ha?

— Hari Senin itu hari ulangan. Jadi saya tak bisa lama-lama di sini. Harus belajar.

— Aaah. Tak kerasan? Ya, bapak tak punya apa-apa, Kus. Jangan bosan. Nanti kalau bapak sudah pindah ke rumah besar datang, ya? Sekarang ya macam inilah rumah bapak. Gubug.

— Hari Minggu saja pulang, sela bibi. Belajar saja di sini sama si Agus. Kan sama saja?

— Buku saya tak semua saya bawa.

— Ooo, katanya.

Kemudian kedua orang itu bercakap-cakap sebentar. Keduanya berpandang-pandangan sebentar dan kemudian memandangi aku.

— Ada uang buat ongkos? Tanya paman.

— Ulang buat naik kereta? tanya bibi pula.

— O, ada, jawabku. Paman ketawa-ketawa saja memandangi aku.

— Kesusu saja, Kus, katanya. Kedinginan tinggal di sini? Memang Jakarta panas. Bibi pergi kedapur dan ketika ia keluar lagi di tangannya ada enam buah kelapa kering.

— Ini ada kelapa sedikit, buat oleh-oleh, katanya.

— O, terima kasih, jawabku.

— Bapak tak punya apa-apa, Kus. Jangan kapok. Kapan-Kapan datang kemari juga.

— Terima kasih pak. Terima kasih atas kebaikan bapak serta ibu kepada saya. Keduanya ketawa-ketawa.

— Aaah, kata paman. Bibi pergi pula kedapur dan keluar dengan sekeranjang oncom Bandung yang kemarin kubeli dari Bandung. Oncom ini tujuh picis sebuah. Ada kubeli delapan buah. Oncom itu sudah diiris-iris dan dibelah-belah.

— Supaya tak basi, kata bibi.

Aku tak sempat meminta diri pada anggota-anggota rumah itu yang lain. Tapi sebagian ada kulihat ikut menonton aku dengan pandangan-pandangan senyum.

Kemudian kuambil ranselku.

—Tidak ada yang ketinggalan? kata bibi. Dan dia lari puli ke kamar-mandi akan mencari apa-apa yang barangkali ketinggalan.

—Tidak, bu. Sudah ada semua.

Tapi ia pergi juga. Dan sesudah itu ke kamar. juga tempat aku tidur.

—Permisi, bu, kataku.

—Ya, ibu sertakan selamat saja. Selamat jalan.

—Permisi, pak, kataku pada paman.

—Tunggu, kita sama sama, katanya.

Kami jalan bersama-sama keluar halaman. Paman membuka garasenya dengan kunci dan tampaklah sebuah jip.

—Masuklah, Kus, katanya.

Aku naik ke-jip dan paman juga. Sebentar dia menghidupkan mesinnya dan sebentar pula dia menadahkan kedua tangannya di depan mulutnya dan kepalanya tunduk. Hanya sebentar. Kemudian jip itu pun melancar ke jalan raya.

Kami diam-diam. Tapi tidak lama paman bilang.

—Bapak tak punya apa-apa, Kus. Tak bisa memberi Kus apa apa buat oleh-oleh. Aku ketawa saja.

—Liburan depan lebih lamalah tinggal di Canjur.

—Kemudian jip sampai diperhentian bis. Aku turun.

—Selamat jalan, Kus, kata paman.

—Terima kasih pak, kataku. Dan jip itu melancar pula. Kami menunggu bis yang akan kita tumpangi.

—Cukup tidak kelapa enam itu? tanya si Agus. Tak lama bis pun melancar ke Cipanas.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.