Berpisah
Di dalam narasi Berpisah, Kusalah Subagyo Tur menangkap sebuah momen yang tampak remeh namun sebenarnya menggetarkan: sebuah pagi yang penghabisan di sebuah rumah di Cianjur, ketika sepatu sudah terikat dan tubuh bersiap untuk kembali menjadi asing di jalanan. Di antara uap air mandi dan gerak rutin penghuni rumah yang baru saja terjaga, buku ini membisikkan sebuah kesadaran tentang kedaifan hubungan manusia yang senantiasa berada dalam keadaan "transit". Ada rasa rikuh yang subtil ketika tokoh utama harus meminta permisi untuk pergi, sebuah isyarat bahwa setiap kedekatan—baik itu tiga hari atau tiga dekade—selamanya menyimpan benih perpisahan yang fana. Kusalah seakan mengajak kita merenung bahwa hidup bukanlah tentang menetap di satu alamat yang teguh, melainkan tentang keberanian melangkah keluar dari kenyamanan rumah paman seorang kawan menuju ketidakpastian yang luas, di mana setiap ucapan selamat tinggal adalah pengakuan bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki apa pun. Akhirnya, buku ini adalah potret tentang "yang sementara", sebuah fragmen sejarah kecil yang mengingatkan bahwa nasib sering kali hanyalah rangkaian titik koma sebelum sebuah titik yang final benar-benar menjemput kita.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-05-18 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:27970b75-c362-4066-bd53-44de0d19e236 |