Baca EPUB: Kesusasteraan Merana

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KESUSASTERAAN MERANA
  2. KOLOFON
  3. DAFTAR ISI
  4. KESUSASTERAAN MERANA
  5. KEADAN DI PERANCIS
  6. ADAKAH SUATU PENYELESAIAN?
  7. PENDAPAT INGGRIS
  8. DAN APA KATA ORANG DI PERANCIS?
  9. APA KATA AMERIKA?
  10. EXPERIMEN TSYEKO
  11. CC BY-SA 4.0

KESUSASTERAAN MERANA

TERJEMAHAN

PRAMOEDYA ANANTA TOER


KOLOFON

KESUSASTERAAN MERANA

diterjemahan oleh

PRAMOEDYA ANANTA TOER



Dimuat di majalah Mimbar Indonesia

No. 10 • Maret 1953

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Relics - Shadow, karya Tadashi Nakayama

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



KESUSASTERAAN MERANA

Telah diakui oleh umum, bahwa kesusasteraan modern mengalami krisisnya. Sodikit buku baru yang dapat disetarakan dengan apa yang telah dikeluarkan dalam tahun pertama dari abad II... Apa sebabnya gejala ini?

ITERAIRE SUPPLEMENT dari The Times mendapatkan jawaban atas pertanyaan isb. pada keadaan-kedudukan kejiwaan dan kebendaan dari masa sekarang. “Alangkah gila untuk membantah”, demikian kata majalah tersebut, “bahwa hari depan bugi sastera-mentiya adalah menyedihkan. Pengarang-Pengarang dan publikuya terus-menerus tampak memusatkan perhatian pada segi kebendaan dari kehidupan dan pada kesukaran penghidupan yang melarat. Anasir kesenian bertambah-tambah lagi terdorong ke belakang. Maka pelayam-2 tak ada lagi, dan kita situb dengan kesukaran skhari-hari.

“Tapi ada lebih dari itu saja. Visi pengarang dikeruhukan oleh khaos yang mengalaiyakkan dari kejadian-internasional dan berita sehari-hari tentang bencana mendatang. Adakah untuk berkembangnya seni yang ngung dibutuhkan kelas yang dimulaiakan, atnutuk kebudayaan—untuk meminjam istilah Arnold Toynbee—menjadi steril, apabila ia tersebar begitu merata, adalah barangkali suatu persoalan akademis. Namun sudah nyata, bahwa kemerdekaan intelektui, yang menurut ucapan seorang humanis yang terdahulu ha-nya melatarikan pengarang-pengarang besar, hanoya mungkin menghasilkan apabila ada keharusan dari suatu keyakinan yang kuat. Baik pengarang-pengarang Maupun para pembuat pada waktu ini merasa seperti sedang diduduki. Di bawah tekanan periwista-periwista belakangan ini hanyalah dapat dipuk harapan-harapan untuk hari depan. Dan berbarengan dengan hilangnya sebagian dari kepercayaan-ketuhanan kini muncul pulia putus-asa kebendaan.

Cyril Connolly, redaktur yang cakap dari Horizon, memandang masalah itu semata-mata bersifat ekonomis. “Negara”, demikian katanya, “dan kejadian-internasional yang bersifat international pada saat ini melindungi s.r.”han muda dan mereka yang mempunyai harapan besar. Aku kenal seorang pengarang muda, yang menerima tal‘ kuang dari tiga ladih yang berharga buat sebuah bukunya, yang belum lagi diterbitkan. Tetapi kapankah seotang yang tengah umur, yang telah membuktikan upa yang ia dapat kerdiyau, menerima kembali apa yang menjadi haknya? Aku dapat menyebut setengah lusin pengarang, yang dapat menghasilkan tulisan-tulisan berharga, seperti seorang Maecenas apabila dijamin dapat bertenang beberapa tahun lamanya, dan yang kini dengan payahnya beryujung agar tak tenggelam dengan tulisan-tulisan tak keruan. Kesusasteraan sedang dalam keadaan tenggelam menjadi kesukaan buat waktu-waktu senggang (selain buat pengarang-pengarang roman, yang dapat melemparkan buku-bukunya ke Hollywood), dan akibatnya mereka kehilangan kekuasaannya. Bertambah sedikit orang berpikir tayam dan berperasaan kuat, bertambah berkeringat yang pengaruh buku tercat dan sensastera meranalah. Karena Sekalipun manusia mencari hibur dalam kelezatan-seni di hari krisis nasional, tak adah yang lebih melumpuhkan bagi seorang seniman daripada kekurangan roti, kurang makanan, dingin dan penyakit. Kesenian bukanlah suatu kebutuhan. Tapi ia adalah “ba'ang lu”, yang tak dapat kita tinggalkan, dan seniman be'ah untuk dipelihara kesejahteraannya“.

KEADAN DI PERANCIS

Di Perancis keadaannya boleh dikatakan sama saja. Majalah Gavrokhe membuat penyelidikan tentangnya, dan kebanyakan para pengarang memberi jawaban, bahwa di sana pada saat ini tidak mungkin dapat hidup dari hasilpera belaka tanpa melacurkan bakaunya. Kebanyakan diantarai para pengarang berpenghasilan lebih kurang daripada pekerya terdidik.

“Pada w.ku ini di Perancis barangkali ada empatbelas pengarang hanoya yang dapat hidup dari kesenianya”, demikian kata Maurice Constantin Wever dalam Paru.

Dalam tulisan pengarang Inggris politik hampir-hampir tidak mempunyai pengaruh. Pandangan hidupnya pala umumnya lebh praktis dan konkret daripada ber-teori yang kabur-kabur. Tetapi dibinyak Kalangan Perancis anggapan-anggapan kesusasteran kewarnai oleh anuger politik, yang dianggap menjadi kepentingan yang terbesar untuk keadaan dalam keseluruhanumia. Denikinian Louis Salleron memandang politik sebagai kunyti dari seluruh musalah.

“Tentang apa yang didapat seorang penganggar sebagai gayardan”, demikian katanya, “pada waktu ini imbul perselisihan antara dua anggapan, kedua-duanya materialists. Dalam alam kapitalisme liberal posisi autore ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran. Masyarakat totalitair yang Marxistics hanya membimbang pekerjaan yang dihasilkan.

“Keberatan terhadap stelsel liberal itu adalah, bahwa ia menyemadi kesempatan-kesempatan terbaik, apabila tidak pada golongan pertengahan, iaitu pada mereka yang gigil-gemilang di antara golongan perte ngah itu. Penghasilan tergantung pada permintaan pada buku, dan karenan orang berpenghasilan terbaik dengan menghasilkan bacanan demikian macam, sehingga dapat memperoleh pembeli terbanyak.

“Seorang filosof berpenghasilan lebih kurang daripada penganggar roman yang berperasaan lembut, dan ini pun pada gilirannya lebih sedikit daripada orang, yang dapat menyumbat kesukaan publik besar. Lebih banyakk penganggar itu bersesuaian dengan kesukaan publik, lebih habat lagi ia dipuja-puji oleh pers. Dan pendapatan massa jarang sekali sama dengan orang-orang yang mempunai perasaan halus dan berpeng ehtuan mendalam. Hampir-hampir tanpa dilebih-lebihkan dapat dikata kan, bahwa, dengan mengesampingkan beberapa keluar biasaan, keadaan keuangan seorang penganggar berbanding terbalik (omgekeerde even redig) dengan kesungguhan tipta-an-tiptaanyana dan mutu daerah ke jwaan, yang diukasainya.

“Sampai sederetan keberatan-keberatan sistim ini sedikit dirasai. Tradisi dan kemakmuran umum menjamin kebebasan seorang pengang gar. Dalam hidupnya saja modal telah bekeryda sebagai pelindung kaum intelektuall. Dalam masyarakat, yang kaya Sekalipun kaum miskin telah kecukupan.

Perihal semua itu kini telah ber-akhir. Penganggar, tercerai dari ke linglingya, yang memberinya penghi dupas, dihadapkan pada pemilihan membuat karangan-karangan bermu tu rendah, atau meminta pertolong an dari negara. Suatu ancaman tim bul-balik dan fatal terhadap kebe basannya yang dibutuhkannya untuk segala hal.

ADAKAH SUATU PENYELESAIAN?

Penyelesaian masalah ini mulai harus dicari dalam lapangan perekonomian. Dalam segala hal se orang sesasterawan membutuhkan kehidupan yang terjammin dan tenang. Ia harus dapat menulis apa saja ia hendakli, bukan yang dapat dijudi anya dengan harga tertinggi, dan itu tanpa perjuangan untuk hidup yang terus-menerus.

Dalam kalangan Perancis dan Inggris yang berkursus telah dinya takan, bahwa hanya sedikit saja pe ngarang yang berpenghasilan cukup dari pekerjaan kesusasteraan melu lu. Sehingga yang sangat beruntung, mereka terpaksa berbuat sesuatu yang lain. Tetapi apa?

PENDAPAT INGGRIS

Dalam hubungan ini Horizon telah membuat angket. Pemetaan-Pemetaan, yang dilakukan oleh berbagai penganggar, sangat berbeda-beda, dan umumnya mengandung humor.

Kebahagian menerangkan bekery a di lapangan penganggar atau di kementerian. Umumnya orang tak menyentuji lapangan jurnalistik. Yohn Beceman akan suka menjadi kepala stasiun nun dilin sampang. Cy ril Connolly melihat suatu penyelai san yang baik dalam suatu perkawin yang kaya. Herbert Read me nulis: “Yang terbaik bagiku ialah menggosok lensa, seperti Spinoza. Kalau aku harus memulai lagi, aku akan peladari kerajinan tangan dan mencari pekerjaan pada industri ringan, sebabkna yang mana pekerjaan bergantian dengan kehu tan-kebutuhan sesesaat”. Stephen Spender menasihatkan terhadap gila hormat dan tanggungyawab.

“Hendaknya menjadi seorang pegawai kantor yang superior dan berhak”, demikian katanya, “seorang yang tak mendengki orang lain, te tapi yang mendapat keuntungan mempeladari kecanaan-kecanaan kawan-kawannya”.

George Orwell dan Rose Macaulay berpendapat, bahwa pekerjaan sam bilan hendaknya tidak bersifat liter air dan tidak intelektuall, dan men nutut energi penganggar itu sesedi likunng. Jlan Thomas, sebalk inkiyna, menulis: “Penganggar-murah adalah tayra yang sama baiknya un tik memambah penghasilan kecul, asal saja orang, sambil bekeryda untuk B. B. C atau untuk film, atau meresensi buku-buku, tidaklah mem bayangkan, bahwa dengan itu dunia kehilangan sajak atau romannya yang besar. Yang besar, setidakkna karangan yang baik toli akan dila hirikan juga, Sekalipun seorang penganggar mempergunakn sebagian dari waktunya untuk pekerjaan-pekerjaan yang lain samasekali”. Elisabeth Bowen, yang menteryemahkan penderitan wanita, menerangkan, bahwa yang sedikit wanita yang mempunyi waktu untu menjabat dua pekerjaan sekaligus, karena kehidupan perse orangan dan kekeluargaan saja telah menuntut waktunya yang banyak.

DAN APA KATA ORANG DI PERANCIS?

Gavrokhe di Perancis memiri yton toh Horizon dan dapatah menarik kesimpulan sebagal berikut:

Maurice Fombue menjabat suatu pekerjaan di kantor pemerintah yang tenang. “Keberatan bagi kerja-ken bar”, demikian katanya di Gavrokhe, “ialah bahwa penganggar besar kemungkinan tidak mempunyi waktu lagi untuk pekerjaan-sasteranya. Tcntu saja selain apabila menulis atau menyadik itu telah menjadi darah-daging baginya. La Fontaine bekeryda pada Jwatan Pengairan dan Keputusan. Rablais adalah dok ter, Khateaubriand dan Claudel duta, Mallarme profesor, dan Paul Valery sekretaris pada agenskhap-pers Ha-vas. Tiap pekerjaan (pada mereka) akhir-akhirnya cuikin batikin“.

Jurnalistik sebagai pekerjaan-sambulan umumnya ditolak. Pekerjaan tangan banyak dipuyukin, dengan syarat bahwa ia tidak terlampaui berhati. Ph. Soupaunt memudahkan pekerjaan bibliothekaris. Kharles Plisnier, yang memudahkan perdagangan, pengajaran, hukum dan obat-obatan, menerangkan: “Jurnalistik adalah yang penghabisan, dari apa pengarang boleh menjadi. Tak adala suatu pekerjaan, yang lebih bimyak menyuta seburuh manusia atau yang begitu menyataipakan. Terpaksa menulis terburu-buru tentang berbagai hal, ia kehilangan bakat dan mendangkalkan gayahian”. Yulien Blanc setju den, annya, “Hi-dup seorang jurnalis, dan bolokan yang khusin ini, yang harus dikena-kannya pada gaya dan buah pikiran-nya untuk menarik perhatian pembanta-nya yang terburu-buru, adalab mutlak tak dapat diperusatukan dengan kemerdekaan dan keamanan hati, yang tak dapat ditingalkan oleh tiap ciptaan kesusasteraan”.

APA KATA AMERIKA?

Akhirya beberapa buah pikiran Amerika tentang segi perekonomian dari masalah ini, dipinjam dari jawaban-jawaban yang diterima oleh Parisian Review dalam tahun 1939 atas daftar pertanyaan yang dikirim-kan.

Yames Farrell berpendapat, bahwa dalam stelsel perekonomian kita dewasa ini klan tambah berkurban tempat untuk sasterawan-khusus. Ia menyalankan Hollywood yang merendahkan mutu seni sampai pada taraf produksi industri, dan berpendapat bahwa pengaruh kota-film sangat merusak. Katherine Anne Porter menggambarkan keadaan itu sebagai berikut: “Tidak, pekerjaan mengarang itu sendiri tidale pernah dapat dibuat menjadi sumber penghasilan. Sejarah kesusasteraan serta musik dan sebangsara, menunjukkan, bahwa seorang seniman selain karena suatu kebutuhan yang niurguntungkan, hampir-hampir tidak pernah dapat hidup dari keseniannya melulu. Seniman tak pernah dimana pun juga mendapat keamanan perekonomian, selain apabila ‘a menerima pekerjaan dan ’mengerjakkan apa yang diperintahkan orang padanya seperti orang-orang lainnya. Orang tak dapat mengharapkan dapat menghasilkan roti dan sertamerta memiliki kebebasan. Orang tak dapat terus-menerus mengeril masyaraka, dan sertamerta mengharapkan penghasilan dari masyarakat itu. Pengarang-pengarang dewasa ini menuntut keluariabiasan dan hak-hak yang bertentangan. Menurut pendapatku ini bersifat kekanak-kanakkan. Seakan sudah haknyu yang benar mereka menuntut kebebasan sebanyak-nya, yang mana diwya-diwya besar selamanya berduyang untuk memperolehnya, dan yang mana kadang-kadang mereka mati karenanyna”. Akhirya Sherwood Anderson, yang mengatakan: “Aku harus mengerjakkan segula-galanan untuk dapat bertahan agar tak tenggelam, tapi scorang se-niman sebenarnya dimanap.in tak pernah hidup enak dan gampang. Sekarang, setelah menjadi pengarang selama 20 a 25 tahun, barulah masuk sekeping demi sedikit untuk dapat hidup secara layak. Tapi untuk itu aku telah bekeryiya“.

EXPERIMEN TSYEKO

Sekarang kita arahkan pandang an kita pada negara kecil di Eropa, ialah Tsyekoslowakia. Bagaimana sisana orang memecahkan masalah itu dan sebagian menurut sangkaan mereka telah dapat di pecakkan, digambarkan dalam petikan-petikan dari karangan Walter Marsden dalam The Central European Observer.

Menurut tradisi pengarang Inggris mati melarat dan terpenci dilic-teng, atau hidup miskin kerya keis untuk paraperenhet. Tetapi pengarang-pengarang Tsyeko kini bekeryiya dalam masyarakit sosialis! Ari-nya, bahwa orang sadar akan tanggungyawabnya, dan bahwa mereka dalam hubungan itu memiliki hak-hak yang pertama. Misalnya, mereka boleh menginap distana indah Dobris di dekat Praha, di mana mereka dapat bertukar pikiran dengan kawan-kawan dan kenalan-kenalan harnegeri. Selanyutnya mereka memikati hak-hak pertama dipemandian-pemandian amat indah di Bohemia dan Slowakia, yang menjadi milik negara. Dan akhirya mereka membayar 50% lebih kurang daripada pajak penghasilan orang-orang lain.

Hak-hak pertama ini dan yang lain-lain lagi diberikan kepada anggota-anggota dari Gabungan pengarang Tsyeko, yang telah didirikan ti-puluh tahun sebagai semacan per-himpunan-sekderya. Tetapi selama peperangan gerakan di bawah tanah telah mendekatkan pengarang-pengarang itu satu-sama-lain, dan mereka memenpa rencana-rencana untuk gabungan mereka yang kini sedang berkembang itu. Gabungan itu berda-ya-uyapu menyadikan pertolongan material dan teknis kepada para anggota yang melahirkan kesusaste-raan urtuk rakyat, dan menerbitkan buku-buku murah.

Para anggota dibagi-bagi atas pengarang roman, belletris, pengarang-pengarang di lapangan keilmuan, pen-teryemah, pengarang buku kanak-kanak dan pengarang-pengarang drama, film dan radio. Syarat-syaratnya adalah tinggi. Untuk seorang pengarang roman tiga buku, untuk pengarang drama tiga karangan panyang, untuk penteryemah enam buku, untuk pengarang dalam rangkayian pro-grama radio karangan yang panjang seluruhnya 270 menit, yang sebanding saya dengan tiga drama, dan untuk pengarang-pengarang film tiga teks, satu syarat, yang seharusnya dikurangi. Atau suatu kombinasi dari syarat-syarat tersebut. Karangan-ka-rangan yang diminta tergantung pada penghasilan.

Tentang segi kebendaanya Gabung-an itu mempunyai kontrak yang kollektif dengan Ikat.n Penerbit Tsyekoslowakia, di mana tergabung 95% dari semua firma-firma pener-bitan. Makya adalah honorarium mini-mum bagi para anggota Gabungan: 10% dari harga penjualan untuk pengarang yang mana telah menerbitkan tidak lebih dari tiga buku, 13% untuk yang lebih dari itu. Untuk penyair 13% adalah yang minimum. Penteryemah prosa menerima antara 3 sampai 5%, tetapi untuk teryemahan puisi mulai 10 hingga 13%. Selanjutnya diadakan kontrak-kontrak kollektif untuk film dan radio dan diadakan persetujuan tentang karang-ka'angan sandiwara. Pengarang-pengarang tua, sakit dan miskin dipelihara oleh gabungan tersebut, dan dalam tahun berlalu 52 orang di antara mereka bertetirah d‘.

Untuk hari depan gabungan itu mempunyai rencana-rencana besar. Sekarang pun ia telah menguasai agencahap sastera di Tsyekoslovaka, yang juga membuat persetujuan dengan direktur-direktur sandiwara, dan mempunyai saham pada Svobodne Noviny (Pers Merdeka), suatu harian di bawah redaksi Peroutka, seorang sahabat karib Karel Capek, yang umum menghormatinya karena komentar nyia yang sungguh dan pemberitaannya yang obyektif. Selanjutnya Gabungan tersebut bermaksud untuk mendirikan firma sendiri untuk menerbitkan karangan-karangan klassik—bukan hasil pekerjaan pengarang-pengarang yang masih hidup—dan juga akan menerbitkan mingguan yang bercorak sastera-beda-politik.

Dalam pertengahan tahun kedua tahun 1947 telah diadakan konperensi untuk menyelidiki, apa yang dapat dikerjakan untuk pengarang-pengarang muda yang giat. Salah satu dari soal yang diperbincangkan ialah memilih pengarang-pengarang roman muda dan peryair-penyair oleh negara, dengan bantuan dalam bentuk pembebasan pajak, hadiah-hadiah dan sebagainya, sesuatu yang oleh Bernard Shaw dalam New Statesmen ditolak sebagai cara yang telah tua. Kerja-kembai umuninya tidak menjadi kebutuhan bagi mereka, karena adalah kekurangan karangan-karagnan asli sebagai akibat dari kenyatan, bahwa bunyak pengarang terlampau terburu diberanikan untuk menerima yabatan negeri, yang mana menyebabkan mereka kekurangan waktu untuk menulis. Demikianlah pun; maka baru-baru ini seorang pengarang-sandiwarra kensamaan mendapat perlop dua bulan untuk menulis sebuah drama.

Hingga sekarang seniman-seniman Tsyekoslovakia belum lagi menjadi pejabat-pejabat pemerintah, dan pada mereka tidak diharuskan apa-apa yang harus mereka tulis atau suyudkan atau lukiskan. Tetapi—seperti J. B. Priestley baru-baru ini pidatokan di depan Fabian Sociec—“menurut alamnyia mereka memang berbakat menyelaraskan pekerjaannyu dengan aliran-aliran pokok dalam masyarakat, di mana mereka termasuk. Mereka berbuat seperti yang dikehendaki oleh para politicus yang ingin agar mereka mengerjakannya, bukan karena itu diperintahkan oleh mereka, tetapi karena mereka pun menimba ilhamnyia dari satu sumber”.

(Terjemahan Pramoedya Ananta Toer)


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.