Kesusasteraan Merana
Mungkin benar kata Cyril Connolly: di sebuah zaman yang riuh oleh kabar bencana dan hiruk-pikuk internasional, kearifan sering kali harus menyerah kepada kebutuhan dasar akan roti. Dalam naskah yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer ini, kita bersua dengan wajah kesusastraan yang tak lagi benderang, sebuah dunia kreatif yang tengah dirundung murung dan krisis makna setelah kehilangan pegangan pada keyakinan-keyakinan lama. Penulis bukan lagi saksi yang berdaulat atas zamannya, melainkan sosok yang terhimpit di antara "putus-asa kebendaan" dan nasib seniman yang terabaikan kesejahteraannya, seolah seni hanyalah "barang luks" yang tak mampu menyelamatkan penciptanya dari dingin dan lapar. Kita pun akhirnya dibiarkan merenung di depan sebuah tanda tanya yang besar: masih mungkinkah sebuah kalimat mengguncang dunia ketika sastra telah menciut hanya menjadi sekadar selingan waktu senggang bagi khalayak ramai? Barangkali, di tengah klaustrofobia sejarah ini, yang tersisa hanyalah sebuah keluhan lirih tentang peradaban yang mulai melupakan nilai dari setiap kata yang tulus.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-22 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:5b1d33df-a1a3-4b10-beb9-52d24b46c96d |