ZAMAN BARU
No. 1 · Januari 1955
Kolofon
Berdasarkan arsip dari: Makaru Makara
ZAMAN BARU
No. 1 · Januari 1955
Redaksi:
RIVAI APIN - A.S. DHARTA
Alamat Redaksi:
Jl. Dr. Wahidin 10, Jakarta
Administrasi:
Pintu Besar 93, Jakarta
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
Sekedar Pengantar
ISTILAH apa yang lebih berarti, lebih mengharukan dan lebih mengilhami sekarang ini selain persahabatan? Terlalu sering perselisihan, persengketaan dan bahkan peperangan terjadi, hanya karena tak adanya saling-mengerti. Ya, saling-mengerti inilah kunci segala persahabatan.
ZAMAN BARU, yang dulu terbit di Surabaya dan yang sudah setahun lamanya berhenti terbit, sekarang kita terbitkan kembali. Mengapa? Karena kita ingin membantu menanamkan saling-mengerti di antara segala bangsa. Karena kita ingin menekankan pentingnya ini: Persahabatan, dengan P besar.
Leo Tolstoi masyhir karena eposnya yang besar: Perang dan Damai. Tetapi masyalah kita sekarang bukaninya Perang dan Damai, tetapi Perang atau Damai. Politikus-Politikus merumuskan masyalah ini sebagai berikut: ko-existensi atau ko-destruksi. Sudah tentu, kita dilahirkan di dunia bukan untuk dihancurkan kepala kita, juga bukan untuk menghancurkan kepala orang lain. Kalau boleh kita berbintara tentang takdir: takdir kita ialah untuk melanjutkan hidup, memperkaya hidup, memperindah hidup. Dan ini hanya mungkin di dalam Perdamaian, juga dengan P besar. Kenyataanniya, jalan menuyu ke Perdamaian ini hana ada satu: melalui Persahabatan di antara bangsa-bangsa.
Kalau di dalam nomor ini, di samping tulisan-tulisan tentang Indonesia para pembaca jumpai tulisan-tulisan tentang berbagai segi kehidupan Italia, Soviet Uni, Tiongkok, dsb., dan kalau di dalam nomor-nomor y.a.d. akan lebih banyak para pembaca jumpai tulisan-tulisan tentang berbagai negeri dan benua, tujuanniya ialah menumbangkan dinding purba-sangka yang mengurung bangsa-bangsa di dalam suasana permusuhan. Kita mau Persahabatan, bukan permusuhan!
Kita menyedakan diri bekeryasama dengan Lembaga-Lembaga Persahabatan yang ada, baik antara Indonesia dan Tiongkok, Italia, Perancis, India, Pakistan, Soviet Uni atau negara dan bangsa mana pun, dan kita membuka halaman-halaman kita untuk tulisan-tulisan oleh siapa pun, mengenai apa pun, asalkan memajukan Persahabatan bangsa-bangsa.
Kiranya jelaslah sudah maksud penerbitan ZAMAN BARU ini. Melalui jalan ini kita ingin mengantar Indonesia memasuki zaman yang lebih besar: Zaman Baru Indonesia.
Prof. Dr. Priyana
Tingginya sedang-sedang saja, badanyan pun tidak besar, pakaiannya selalu bersih, berkacamata, tetapi sederhana—inilah Prof. Dr. Priyana, dekan Fakultet Sastera pada Universit Indonesia, Jakarta, dan salah seorang ketua Komite Perdamaian Indonesia.
Ketika tahun yang lalu hampir-hampir silam, tidak hauya suratkabar-suratkabar Indonesia, tetapi pers sedunia menyebut namanya: dia pemenang Hadiah Stalin Untuk Memperkokoh Perdamaian di antara Bangsa-Bangsa untuk tahun 1954, karena jasa-jasanya dalam mempertahankan dan memperkuat perdamaian.
Tetapi Prof. Priyana sendiri menerangkan: “Di samping rasa berterimakasih atas maksud yang sangat saya hargai itu, saya merasa sangat malu juga…… Di-bandangkan dengan apa yang dikerjakan oleh teman-teman saya dari Komite Perdamaian Indonesia, apa yang saya kerjakan dalam lapangan perdamaian itu belum berarti apa-apa” Dia menambahkan: “hadiah itu saya terima atas nama seluruh teman-teman saya dari Komite Perdamaian Indonesia”.
Sesungguhnya. Se-kurang-kurangnya dalam satu hal Prof. Priyana adalah orang Jawa betul-betul: dia sangat rendahhati.
Dia dilahirkan di Jokyakarta pada 21 Juli, hampir 48 tahun yang lalu. Pendidikan sekolahnya hampir sama dengan kebanyakan intelektui kita lainnya: HIS, MULO, AMS, kemudian Universit Leiden. Disertasinya “Sri Tanjung” luas dikenal oleh umum, disertasi yang menyebabkan dia mendapat gelar “Doctor in de Letteren dan Wiysbegeerte”. Tetapi beliau juga mendapat gelar “Doctoraal Indoneiskhe Talen”, pandai bahasa Jawa Kuno, Sanskrit dan Arab, dan mahir pula berbahasa Perancis di samping beberapa bahasa Eropa lainnya.
Semasa revolusi, ketika dia giat menyumbangkan tenaganya—di lapangan pendidikan—kepada Republik dan revolusi, namanya tidak banyak di-sebut-sebut. Tetapi sudah sejak ia mahasiswa di Nederland ia giat bekerya untuk cita-cita perdamaian. Di dalam se- kretariat “Indonesiskhe Vredesbureau” di Leiden dia bekerya. Dan ketika di tahun 1948, atas inisiatif beberapa pemuka mahasiswa di Jokyakarta didirikan “Lembaga Persahabatan Indonesia-Sovyet Uni”, Prof. Priyana, ber-sama-sama ny. Utami Surayadarma, mr. Assaat, dll. memelopori menggabungkan diri ke dalam Lembaga tsb., sehingga ceptahal Lembaga tsb. meluas.
Juga di dalam Komite Perdamaian Indonesia Prof. Priyana seorang pelopor. Oleh Kongres Nasional Untuk Perdamaian, Januari 1954, dia dengan aklamasi dipilih menjadi ketua umum. Sayang pekerjaan belau yang banyak sekali itu memaksai beliau untuk menyerahkan kedudukan itu kepada rekannya, juga seorang pelopor yang giat sekali di dalam gerakan perdamaian. Prof. ir. Purbodiningrat, dan dia sendiri bertindak sebagai salah seorang di antara ketua-ketuanya, bersama-bersama dengan Menteri H. Siraduddin Abbas, ny. Aruji Kartawinata, ir. Setiadi, dll.
Sekarang, cita-cita perdamaian yang terwakili dalam diri Prof. Priyana, memang sudah dianut oleh kalangan yang sangat luas sekali. Mulai pelajar biasa sampai P. M. Ali Sastroamijoyo, mulai buruh rendah sampai Presiden Sukarno—semuanya sekarang me-nyetuji azas perdamaian seperti pelarangan senja-ta-ta A dan H, penyelesaian semua pertikaian secana damai, ko-existensi secara damai, dll. Tetapi untuk sampai pada keadaan yang baik sekangkai ini diperlukan pelopor. Dan Prof. Priyana adalah orangnya yang bertindak sebagai pelopor itu. Purbasangka-Purbasangka dan se-gala fitnahan yang banyak dicujukan terhadap Komite Perdamaian, sejak dia aktif di dalamnya, seolah-olah sarang laba-laba yang dengan mudah saja disapu bersih.
Rasanya Prof. Priyana sendiri tidak hanya berterimakasih beriyampur malu menerima Hadiah Stalin. Dia tentunya juga bangga. Tetapi juga kita sekalian, seluruh Indonesia, tutur bangga mengalami peristiwa kehormatan yang tinggi ini. Kehormatan ini kehormatan bagi seluruh bangsa, sebagaimana ditegaskan oleh harian-harian “Perdamaian” dan “Harian Rakyat”.
Harapan dan keyakinan yang dinyatakan Prof. Priyana adalah harapan dan keyakinan kita semua: “Mudah-Mudahan usaha rakyat seluruh dunia yang cinta damai akan berhasil. Untuk keselamatan dan peradaban umat manusia!”
Diponegoro
Dan bara kagum menjadi api! Dan seratus tahun sudah api menyala. Makin panas, makin terang. Diharini Diponegoro-Diponegoro-tetirao, hagu ngus dalam sorotan Api Seratustahun, seperti laron-laron yang kalap menabrak lampu.
Tapi juga diharini, makin banyir putra bangsa lang memberikan tempat yang sewajarinya kepada Diponegoro dalam hatinya, yang menghidupkan kembali Diponegoro dalam ucapan dan perbuatan, hantu karena kediponegoroan semata. Dan karena kediponegoroan adalah sama dengan segala sifat yang terbaik daripada kejudurian, kesetiain dan keberanian dalam menyatakan kecintaan kepada rakyat dan tanahair.
Adalah tidak sulit untuk mengagungkan segala sifat kepahlawanan Diponegoro. Kejudurannya, kesetiainnya, ketawakalannya dan perasaannya yang tergerak oleh masalah-masalah yang diderita rakyat pada zamanannya. Tetapi tidak akan ada Pemberontakan 1825 - 1830, pemberontakan Diponegoro, kalau kediponegoroan tidak menghubungkan segala sifat agung kemanusiaan itu dengan perbuatan yang nyata untuk membela kepentingan rakyat.
Diponegoro adalah manusia yang pertama tama bertulangpunggung perbuatan. Perbuatan yang tepat, yang menjurubiyarkan kepentingan rakyat dan zamaanya.
Di dalam sorotan kediponegoroan harini, maka makin jernih terlihat, betapa tidak-lucunya lelucon-lelucon yang disandwarakan beberapa manusia yang tidak bertulangpunggung, yang karena justru gemetar menghadapi semangat Diponegoro terpaksa ikut-ikut-an licara tentang Diponegoro.
Scakan-akan Pemberontakan Diponegoro yang bersejarah itu tidak berhasil menegakkan nilai-nilai kehidupan bangsa, yang diwariskan kepada generasi-generasi mendatang sebagai senjata untuk meletakkan garis-mati antara perjuangan Diponegoro, yaitu perjuangan untuk kebebasan rakyat, dengan segala bentuk penjadahan.
Itulah pula sebabnya, mengapa pemberontakan Diponegoro, sebagaimana semua perlawanan untuk kebebasan, senantiasa mengilhami kehidupan bangsa. Dan makin kokoh dan berakar-baja persatuan hasrat dan fikiran kebebasan rakyat, semakin terasa erat-erat dan memanas semangat Diponegoro, semakin mengental kesadaran dan pengertian rakyat terhadap masalah yang dihadapinya pada harini.
Dan suasana yang demikianlah yang meletakkan kesuburan bagi berkembangnya kegairahan pada putra-putra rakyat yang terbaik untuk berusaha sehabis saya menjadi Diponegoro edisi harini.
“Tuan hidup kembali”, beryanyi aloarhun penyair Chairil Anwar. Alangkah benaraya “ramalan” ini. Situasi harini, yang ditandai oleh semakin kokohnya persatuan nasional, oleh semakin cemerlangnya hasrat dayu-kreasi di segala lapangan hidup, menggugah wajah Diponegoro menampakkan dirinya di mana-mana, pada diri seluruh rakyat.
Seratus tahun Diponegoro memang memisahkan kita dalam jarak waktu, tetapi mempersatukan dalam semangat dan perbuatan.
Inilah kemenangan Diponegoro yang abadi!
Klara Akustia
Lembaga Persahabatan Indonesia—R. R. T.
BULAN ini bulan yg penting bagi usaha memperkokoh persahabatan di antara bangsa. Di Jakarta pada awal bulan ini, sudah berdiri Lembaga Persahabatan Indonesia - RRT, sesudah beberapa bulan yang lalu berdiri Lembaga Persahabatan Indonesia - Cekoslowakia.
Di Jokyakarta di masa Revolusi, kita sudah menggunakan Lembaga Persahabatan Indonesia - Tiongkok, terapi Tiongkok ketika itu Tiongkok yang belum bebas, masih dikuasai oleh pengusaha-pengusaha asing. Lembaga itu mula-mula mati segan hidup tak mau, akhirnya mati jugalah ia ber-sama-sama dengan redanya Revolusi.
“Tiongkok” sekarang mempunyai arti yang sama-kali baru. Ia berarti kemerdekaan, persamaan, per-ekdaraan, perdamaian. “Tiongkok” berarti juga kebesaran, karena bangsa Tionghoa tidak hanya bangsa terbesar di Asia, tetapi terbesar di seluruh dunia. Kenyataan ini tambah banyak menarik perhatian bangsa-bangsa yang lain. Mengapa kebudayaan Tiongkok begitu tinggi? Mengapa sesudah proklamasi RRT warisan kebudayaan yang tinggi dan tua itu berkembang dengan pesatnya? Mengapa kebudayaan yang tinggi itu kini menjadi milik seluruh Rakyatnya?
Kenalilah kebudayaan sesuatu bangsa, dan kamu akan mengenal bangsa itu. Demikian sering dikatakan orang. Tepat. Maka itulah, usaha memajuikan keryasama dan tukar-menukar di lapangan kebudayaan antara bangsa yang satu dengan lainnya, selalu mempunyai arti yang besar untuk mempererat persahabatan di antara bangsa-bangsa itu.
Lembaga Persahabatan Indonesia - RRT yang se-larang ini dibentuk atas inisiatif sejumlah orang teikemuka, terutama yang pernah berkundung ke RRT. Di antara mereka terdapat Prof. Can Coe-som, Ketua Lembaga Sinologi pada Fakultet Sastera Universitet Indonesia, Jawoto, pemimpin redaksi “Antara”, Mangatas Nasution yang belum lama berselang memimpin misisi kesenian Indonesia ke RRT, Ang Yan-goan, pemimpin “Sin Po”, Prof. Priyana, pemenang Hadiah Stalin, Suroto yang pernah memimpin delegasi Komite Perdamaian Indonesia ke Konferensi Perdamaian Asia - Australia di Peking. Zain Nasution, wartawan, dan banyak lagi.
Sudah pasti, dalam waktu yang singkat Lembaga ini akan meluas ke seluruh Indonesia, lebih-lebih karena di Indonesia banyak juga terdapat warganegara RRT, dan karena di kalangan Rakyat Indonesia sendiri besa-rasa simpati terhadap RRT. Juga karena di RRT sendiri rasa simpati dan persahabatan dengan Indone-sia luas adanya.
Kabarnya, Lembaga Persahabatan Indonesia - Sovyet Uni, yang di tahun 1948 atas inisiatif beberapa pemimpin mahasiswa didirikan di Jokyakarta, sekarang juga akan diaktifkan kembali.
Lembaga-Lembaga persahabatan ini pasti akan besar artinya bagi cita-cita yang se-adil-adilnya: memperkuat perdamaian dunia.
Prof. Dr Wertheim:
Antara Indonesia & Soviet Uni
Baru-Baru ini serombongan sarjana Belanda berkundung ke Soviet Uni. Mereka itu adalah Prof. Dr. Wertheim, mahaguru sosiologi pada Universit Kotapraja Amsterdam, seorang yang tidak asing dan pernah tinggal serta mengajar di Indonesia, Prof. Dr. Y. Presser, mahaguru sejarah pada Universit Kotapraja Amsterdam, Prof. Dr. T. H. Thung, Prof. Dr. A. Y. P. Oort, kedua-keduanya mahaguru pada Sekolah Tinggi Pertanian, Wageningen, dan Dr. W. H. van Dobben dari Institut Penyelidikan Pertanian di Wageningen. Di bawah ini kesan-kesan singkat Prof. Dr. W. F. Wertheim.
DUABELAS hari Sovyet Uni adalah singkat sekali. Mengapa pula kehadiran di Moskow itu diseling lagi dengan kepergian dengan pesawatberbang jauh ke Selatan, ke Georgia, di sebelah Selatan Kaukasus, dengan waktu yang terbuang oleh karenanya? Karena exkursi ini memberi kesempatan bagi saya untuk memenuhi salah satu tujuan pokok perjalanan saya: untuk mendapatkan kesan pribadi, Meskipun hanya dangkal, mengenai cara Sovyet Uni menyelesaikan masalah daerah yang “terbelakang”, daerah-daerah Asia.
Dalam artian tertentu seluruh Rusia di tahun 1917-an masih merupakan daerah yang terbelakang. Di Moskow dan sekitarnya, kami mendapat kesempatan luas untuk menetapkan, bahwa Rusia sedang sibuk mengejar keterbelakangannya dalam waktu yang singkat, dan bahwa sudah pasti tidak ada lagi jarak yang jauh dari tarafhidup di Eropa Barat.
Tetapi bagaimana dengan daerah Asia seperti Transkaukasia, yang berbatasan pada negeri yang sampai sekarang masih terbelakang sekali seperti Iran, dan yang didiami oleh bangsa bukan-Rusia dengan bahasa dan kebudayaan sendiri?
Sesudah dua hari lamanya kami berkeliling diubukota Georgia, Tbilisi, teman seperjalanan saya Prof. Dr. T. H. Thung dari Wageningen, yang seperti saya pernah lama tinggal di Indonesia, berkata: “Mengapa dr. katakan bahwa daerah ini daerah terbelakang? Tidak saya lihat tanda-tandanya!” Atas ucapan ini saya hanya bisa menjawab: “Saya justru mau melihat apakah sekarang masih merupakan daerah terbelakang! Pendapat sdr. membentarkan dugaan saya, bahwa Soviet Uni sudah memecahkan masaalah daerah-daerah yang terbelakang.”
Sesungguhnya, kami tidak melihat kemelaratan yang besar bagi massa banyak itu di samping kekayaaan bagi beberapa orang, yang karakteristik bagi kota-kota Asia. Tentu saja, di Tbilisi pun masih ada jalan-jalan tua dan rumah-rumah doyong.
Tetapi tidakkah hal-hal ini juga kita jumpai di Amsterdam atau Paris? Di-desa-desa, praktis semua orang dewasa, yang kami lihat, memaki sepatu. Hal ini saja bagi sesuatu negeri Asia sudah suatu revolusi. Di mana-Di mana kami juga melihat aliran-aliran listrik. Elektrifikasi di Sovyet Uni jadi meluas juga sampai ke Transkaukasia.
Kolkhoz tembakau dan teh, yang kami kunjungi tidak jauh dari Sukhumi di tepi Laut Hitam, menunjukkan titik-titik persamaan yang menarik dengan Jawa.
Seluruh pemandanganya, dengan gunung-gunung dilatarbelakang, tanaman-tanaman teh, tembakau dan yagung, rumah-rumahnya di atas tiang, semua ini sangat mengingatkan kepada Jawa. Tetapi alangkah banyak perbedaanya dalam hubungan-hubungan sosial! Di sini tidak ada pekerya-pekerya upahan laki-laki Maupun wanita, yang untuk sesuap nasinya bekerya berhari-hari lamanya pada suatu maskapai asing. Di sini petai-petai kolkhoz pun memiliki perusahaan, dan mereka juga merasa demikian. Di samping andil mereka di dalam kolkhoz, mereka mempunyai sebidang tanah, yang sepenuhnya menjadi milik mereka. Untuk penduduk kolkhoz yang 2000 orang jumlahnya terdapat empat buah sekolah. Kecuali seorang, semua spesialis yang bekerya di kolcoz ini (teknikus-teknikus pertanian, dokter khewan, guru-guru) berasal dari penduduk kolkhoz itu sendiri. Dan tidak banyak bedanya dengan Indonesia!
Demikian tulisan Prof. Dr. W. F. Wertheim dipadahal hubungan-hubungan di tahun 1917-an pada pokoknya dalam malahan Lembaga Persahabatan Nederland-URSS.
Universitet Moskow
DI ATAS sebuah bukit kecil yang terletak di dekat kota Moskow, bukit Lenin, ada suatu gedung tinggi yang dengan megah dan pekarat mendulang diangkasa mengatasi segala yang ada di sekitarnya. Dari segala sudut, dan dari yarak yang pating jauh pun dalam kota Moskow itu, gedung ini akan selalu melela nyata dari kejauhan, kecali kalau kabur lagi tebal dan seju turun dengan amat lebatnya di negeri yang dingin membeku ini.
Gedung ini ialah gedung Universitet Negara Moskow bernama Lomonosov yang menjadi kebanggaan seluruh penduduk Soviet Uni. dan menjadi simbul dari kemegahan dan kejayang penduduk Soviet dalam lapangan ilmu pengertuan kebudayaan. Tanggal 23 Januari ini Universitet Lomonosov berbahagia merayakan ulangtahunnya yang ke-200 di dalam gedungnya yang baru. Sampai sekarang gedung ini masih saja selalu menjadi buah bibir bagi penduduk Soviet Uni., terutama yang dari daerah-daerah atau republik-republik lain. Apalagi bagi scorang yang asing yang datang ke Moskow, maka tidak ada scorang pun yang tidak akan membicarakan tentang gedung ini, dan tidak merasa bangga bahwa ta sudah beruntung dapat melihatnya.
Apakah sebabnya maka gedung ini begitu dibanggakan dan begitu banyak dibitarakan? Dan apakah yang menjadi keistimewaaninya?
Pertama-tama tentang ukurannya. Gedung universitet ini terdiri dari 36 tingkatan. Oleh karena terletak di atas sebuah bukit, dan lagi terdiri dari begitu banyak tingkatan, maka scorang yang berdiri di salah satu ruangan dalam gedung itu akan dapat melihat pemandangan yang sangat luasnya dan sangat indahnya dari kota Moskow yang begitu besar itu. Gedung-Gedung putih yang ber-ringkat-ringkat terletak di bawah seperti permianan kanak-kanak saja kehiatrunya dari jauh, dan sungai-sungai yang memotong kota Moskow seperti pita pevak yang melingkar-melingkar
Universitet ini luasnya 320 HA, atau 20 kali sebesar Columbia Universic, yang menjadi kebanggaan bangsa Amerika. Dalam gedung tengah ini ada 119 tangga, yang panjangnya kalau dijumlah ada lebih dari 10 kilometer.
Gedung ini mempunyai 148 auditorium (ruangan untuk mendenarkan tetramah-tetramah kuliah atau pertunyukan-pertunyukan), 350 laboratorium penyelidikan, 350 laboratorium pecobaan dan lebih dari 1.000 laboratorium tambahan (laboratorium pembantu). Secorang pengunjung gedung ini, kalau seandainya tinggal dalam setiap kamar satu menit saja, maka untuk dapat melihat kamar-kamar itu seluruhnya terpaksa makan waktu 750 jam, atau lebih dari satu bulan. Sebab dalam gedung tengah ini saja ada 22.000 ruangan atau kamar-kamar besar, sedangkan yumlah seluruh kamar dalam universitet ini ada 45.000 bush.
Universitet ini mempunyai perpustakaan yang besarinya, terdiri dari 1.200.000 jilid buku-buku ilmu dari segala macaan yabang. Seorang pembayia tinggal meminta salah satu buku, dan suatu sistem pengangkutan yang ajaib dan mengagumkan akan mengantari buku tsb. ke dalam setiap tingkatan dalam beberapa menit saja.
Gedung universitet ini memerlukan aliran listrik sama banyaknya dengan listrik yang dipelukai oleh sebuah kota yang sedang besarinya. Aliran listrik ini dilipakai untuk memanasi udara dalam kamar-kamar, memanaskan air, untuk penyerot debu dll.
Itulah tentang ukuran dari universitet Moskow yang termasuk terbesar di seluruh dunia ini.
Sekarang marilah kita sedikit melihat-lihat dalam gedung ini. Tetapi, seperti dikatakan di atas, tidaklah mungkin menyelitakan tentang semua kamar. Oleh karena itu hanya diambil yang paling penting-penting saja.
Di mana-mana dalam gedung yang besar ini terdapat gambar-gambar atau patung-patung yang indah-indah, yang dibikin oleh para ahli, seniman-seniman yang terbaik yang didatangkan dari segala penjuru negeri. Sampai sekarang masih sering ada seniman-seniman atau pemahat-pemahat patung, yaag dengan cintra memandangi hasil ciptaan mereka atau menaruhkan sedikit-sedikit perobahan atau mengadakan penambahan kepada hasil pekerjaan mereka.
Bagian-Bagian yang terbawah dari gedung yang bertingkat-bertingkat tinggi ini dipakai untuk fakultet Geologi. Fakultet-Fakultet Mekanika, Matematika dan Geografi diberi ruangan yang amat banyaknya, yaitu sejak dari tingkatan yang ke-10 sampai yang ke-20. Semua auditorium sekarang diperlengkapi dengan peralatan yang amat sempurna, sampai kepada soal-soal suara, cihaia dan lainnya mendapat perhatian yang amat besarinya.
Untuk fakultet-fakultet Kimia, Ilmu alam, Biologi dan Ilmu Tanah, telah diditikan gedung-gedung yang istimewa, yang menjadi satu dengan gedung tengah yang terdiri dari 36 tingkat ini. Untuk naik dan turun ke dalam beribu kamar dari berpulu-berpulu tingkatan itu dipergunakan lift-lift kilat (high speed lift) yang dalam beberapa detik saja merabawa setiap orang dari bagian yang paling bawah kebagian yang paling atas.
Dengan lift kilat inilah kita dapat naik kebagian yang paling atas, di mana terletak Museum Jagat. Museum Jagat ini adalah sangat menarik dan juga sangat mengagumkan bagi setiap pengunjung yang baru. Museum ini meliputi ruangan-ruangan terdiri dari enam tingkat, yang terletak 150 meter tingginya dari tanah, sehingga sesecorang yang dari salah satu ruangan Museum ini melihat ke bawah akan melihat manusia-manusia seperti semut ketilinya.
Dalam membuat ruangan-ruangan dan juga kamar-kamar unutk bentempat tinggal para mahasiswa, para insinyur dan ahli-ahli telah berusaha dengan se-bisa-bisa mereka unutk dapat memberikan kesenangan yang sebesar-besarnya kepada para mahasiswa. Untuk itu sebelumnya, para insinyur telah membuat model-model kamar, yang kecudian dipertunjukkan kepada setiap fakultet, dengan maksud supaya para mahasiswa membertikan pendapatnya tentang rencana kamar buat mereka itu. Sudah tentu saja, banyak yang mengadukan usul-usul perbaikan, dan atas usul-usul para mahasiswa itulah para insinyur membuatkan rencana untuk kamar-kamar para mahasiswa yang tinggal dalam universitet ini, yang banyaknya lebih dari 6.000 orang.
Setiap mahasiswa yang tinggal dalam universitet ini mempunyai kamar masing-masing untuk satu orang, dan setiap dua kamar mempunyai satu pintu, satu toilet dan satu kamarmandi. Dalam setiap kamar selain almari buku, ada meja-meja dengan laci-laci, tempat pakaiau, divan, meja makan dan beberapa kursi.
Dalam gedung ini ada beberapa ruangan besar di mana bisa diadakan olahraga, berenang, sandiwara dan pertunjukan-pertunjukan film. Setiap ruangan ini paling sedikit bisa muat antara 600 sampai 800 orang, dan diperlengkapi dengan alat-alat yang sempurna sekali unutk mengadakan segala macam pertunjukan. Di ruangan-ruangan inilah pertunjukan-pertunjukan profesional Maupun amatir diadakan oleh dan untuk para mahasiswa. Untuk olahraga disediakan ruangan untuk boxen, bergulat, bersenam dll.
Inilah sekedar gambaran tentang gedung raksasa yang dengan megah berdiri di atas kota Moskow, di mana ber-pulu-pulu ribu mahasiswa dari seluruh Soviet Uni mengejar ilmu untuk mengabdikan diri kepada Rakyat seluruhnya di dalam suatu universitet yang baru-baru ini merayakan usia 200 tahuninya. Gedung yang menjadi simbol dari keunggulan peradaban dan kebudayaan sosialis.
Ilja Ehrenburg:
Mengapa Menentang Remiliterisasi?
Kepada siapa Ilja Ehrenburg masih harus diperkenalkan? Dia diteryemahkan oleh Armiyn Pane, dia berpengaruh atas Idrus, dia disukai oleh H. B. Yassin, dan di dikenal oleh setiap pembaca Indonesia. “Membangunkan Hari Kedua”, “Jatuhnya Paris”, Taufan dan baru-baru ini “Gelombang Kesembilan” menyadikan dia seorang pengarang roman yang di zaman kita ini yarang-yarang bandingannya. Tetapi dia juga seorang pejuang perdamaian dunia yang aktif. Pernahkah ada konferensi atau kongres internasional untuk perdamaian di mana Ehrenburg tidak hadir? Selama dua-tiga bulan terakhir ini kegiatan Ehrenburg melebihi saat-saat sebelumnya. Artikel-Artikelnya dan pidato-pidatonya meminta perhatian kita yang khusus: mengapa remiliterisasi Jerman Barat harus ditenang. Di bawah ini beberapa petikan.
SESEORANG yang mengatakan bahwa untuk menyapai saling-mengerti dengan tetangganya pertama-pertama harus melengkapi dirinya dengan pistol, sukar untuk dikatakan pintar. Jika manusia membicarakan sesuatu dan ingin menyapai saling-mengerti, maka ditaruhkannyalah secangkir kopi, atau barangkali asbak di atas meja, tetapi bukan bom. Mereka yang menyalankan “perundingan dengan kekerasan”, terlepas dari soal-soal lainnya, adalah tidak pintar: sebab seseorang yang ingin berbicara sambil mengambil pistol tidak akan tahu bahwa di saat dia mengacungkan pistolnya dari sakunya, juga dari saku lihak yang lain akan muntul pistol, dan pistol-pistol itu gunanya untuk menembak, bukan untuk berunding. Tidak seorang pun akan menganggap jel sebagai perundingan. (interviu dengan “News” mengenai konfrensi Stockholm).
PERKENANKANILAH saya mengatakan bahwa saya selalu pertayaya dan sekaranngan tetap pertayaya kepada akal sehat, kepada senyata kuat dan hati hati liangat Perancis. Kita tahu bahwa orang-orang Perancis yang paling baik dan paling juh pandanganmukanya menentang ditandatanganiniya persetujuan-persetujuan (“London-Paris”) yang berbahaya ini. Sebagian dari mereka mentiyntai negeri kami, sebagian lagi tidak, tetapi mereka semua mentiyntai Perancis dan mereka damba akan menyelamatkannya dari bencana baru. Saya ingin menyampaikan hormat kepada Edouard Herriot, Presiden Keohormatan Majels Nasional, seorang yaug sudah lanjut tetapi yang muda dan ria hatinya, yang dengan lantang menyatakan bahwa Perancis ingin hidup, akan hidup... Tolak Wehrmakht, tolak persekutuan dengan musuh-musuh Perancis.... Saya katakan im karena sepanjang hidup saya saya mentiyntai Perancis. Negeri kami tidak lemah, juga tidak mudah digertak. Tetapi Rakyat kami mentiyntai Perancis, mereka menghargai tradisi-tradisinya yang besar, mereka menyukai buku-bukunya, mereka menghargai sarjana-sarjananya, mengagumi keseniannya, dan istilah “Rakyat Perancis” mengisi setiap orang Sovyet dengan perasaan persahabatan yang se-hangat-hangatnya. Kami tidak pertayaya bahwa Rakyat Perancis akan mengizinkan persetujuan an di antara kedua negeri kami dilanyapkan. Kami pertayaya hari-depan persahabatan kita dan memperkokoh persahabatan itu adalah hasrat kami yang tulus dan ikhlas. Sekarang tergantung pada Perancis (pidato peringatan 10 tahun persetujuan Franco-Sovyet, Moskow, 10 Desember 1954).
KITA kenal orang-orang yang mau dijadikan kepala tentara Yerman yang baru: jendral Kruwel, yang dulu mengilhami “Reikhswehr hitam”, salah seorang yang turut menyerbu Yugoslavia: jendral Manicufel, komandan divisi-SS, pembunuh orang-orang tua, wanita-wanita dan anak-anak di Soviet Uni; jendral Galland, salah seorang komandan angkatan udara Nazi; Brekhmer dari pasukan kapalslam, seorang kesayangan Fuhrer, Heusinger, kepala bagian siasat pada Staf Umum Ketajaan Ketiga; dan penjaha-penjaha perang lainnya. Siapa yang berani mengatakan bahwa orang-orang ini tidak terkenal? Reruntuhan ratusan kota—kota-kota Polandia Maupun Perancis. Inggris Maupun Sovyet, mengenal mereka; janda-janda mereka yang dibunuh dan anak-anak mereka yang disiksamati, mengenal mereka; tiauiggau-tungan SS mengenal mereka. Belum genap sepuluh tahun berlalu sejak umatmanusia bergembira mengalami berakhinyra kekuasaan malam dan gelap, dan sekarang dilakukan lagi usaha-usaha untuk memberi tanda-pangkat-pangkat dan ketetabada-ketetabada kepada pembunuh-pembunuh biadab dari Rakyat itu, dan yang lebih hebat lagi, memberikan senjata-senjata atom kepada mereka. Kalau begitu kenapa Goering dulu digantung? Dialah orangnya yang secara-secaranya untuk memimpin perundingan-perundingan di Bonn atau Basle... (pidato di muka sidang Biro Dewan Perdamaian Dunia, Wina, Januari 1955).
Lampu-lampu untuk lalulintas di sungai Yangtse antara Cungking di provinsi Szechuan dan Itjang di provinsi Hupeh sudah siap semuanya dan dengan demikian perkapalan di malam hari sudah makin dipermudah. Kejadian ini merupakan sejarah baru dalam perkapalan di-sungai-sungai yang dilakukan di Tiongkok Baru.
Bagian dari sungai Yangtse jang mempunyai lampu-lampu sedemikian untuk perhubungan kapal adalah 666 km panjangnya, dan ini merupakan hubungan yang sangat penting antara daerah selatan dan daerah tengah Tiongkok.
Dahulu hubungan kapal di sungai ini sangat berbahaya berhubung dengan banyaknya bagian-bagian yang arusnya sangat cepat. Sejak pembebasan, pemerintah RRT telah melakukan banyak perbaikan pada sungai-sungai itu, sehingga ini mempermudah pengangkutan bahan-bahan dari daerah yang satu ke daerah yang lain.
Pada gambar: Banyak sekali lampu-lampu yang dibangun di bagian sungai Yangtse. Seorang anggauta pelabuhan II di Itjang menaikkan type baru dari lampu tersebut sebelum matahari terbenam.
Surat dari Paris:
La Haute Culture
Banyak orang yang mengatakan, bahwa Perancis dengan ibukota-nya Paris mempunyai kebudayaan yang sangat tinggi. Orang-Orang sedemikian sering mengucapkan: “Oui, c'est Paris, c'est la haute culture, n'est ce pas?” (Ya, inilah Paris, inilah kebudayaan tinggi, bukan?). Ucapan yang sering kedengaran dari mahasiswa-mahasiswa asing, termasuk mahasiswa Indonesia di Paris, yang sedemikian itu sebenarnya hendak membentarkan kelaikan mereka yang “luarbiasa”, kelakuan atau tindakan yang ditanahair kita tidak akan mendapat perhatian atau setidakkna men- dapat cealan dari masyarakat Indonesia.
Apakah sebenarnya yang dimaksudkan mereka dengan “la haute culture” itu? Dan apakah sebenarnya maksud mereka dengan ucapan-ucapan semayam itu? Marilah saya coba menceritakan sedikit tentang “pendukung-pendukung” apa yang disebut mereka “la haute culture” itu.
Di semua bagian Paris banyak sekali terdapat “bistro”, yakal nakhtclub di bawah tanah, tempat berkumpul orang-orang intelektual dan semi-intelektual memperbincangkan segala “masalah penghidupan” di tengah-di tengah dangsa yitterbug dan boogie-woogie. Untuk menyelaskan sedikit lagi: bistro adalah nakhtclub dengan selingan pertunyukan yitterbug dan boogie-woogie yang dilakukan oleh orang-orang Negro bersama-bersama para Parisiennes. Dangsa yitterbug dan boogie-woogie ini berisi penuh dengan pengoborangan nafsu sexual yang melihatnya dan “exposisi” dangsa ini sering mendapat tepuk tangan yang hebat. Di tengah-Di tengah semayam inilah para intelektual dan semi-intelektual membentarakan “masalah penghidupan Rakyat”. Ditengahkana di sini memperbincangkan dan membentarakan, karena inilah satu-satunya yang dilakukan oleh mereka untuk “penghidupan Rakyat yang sangat diperhitikan” mereka itu. Di tengah-Di tengah dangsa “kheek to kheek” (pipi lawan pipi) dengan penerangan yang tidak bisa dikatakan gelap, tetapi terang pun celek, mereka memperbincangkan masalah hidup, dan sesudah itu mereka puas dan menatapkan, bahwa pembintaran mereka sangat “berharga”.
Bayaran untuk musik bistro itu? Sangat tinggi, tetapi rupanya hal itu tidak menjadi hambangan bagi kaum intelektual dan semi-intelektual itu untuk mengunjunginya. Kepuasan yang dicapai mereka dengan pembintaran itu ditambah dengan exposisi dangsa yitterbug dan boogie-woogie itu rupanya layak untuk dibayar mahal. Mengapa tidak! Tidakkah ini salah satu segi “kemerdekaan individu” yang harus dipertahankan matian? Tidakkah “kemerdekaan individu” ini satu dasar penghidupan dari manusia yang ingin hidup merdeka?
Pernah saya membentaka satu buku yang ditulis oleh seorang wanita muda, baru berumur 18 tahun, dalam mana dia mengatakan............. “karena tujuan hidup kita ialah untuk menyari kesenangan.” Dan kesenangan itu diterimanya dengan tangan terbuka, yang merupakan pelepasan segala nafsunya, tak perduli dengan apa saja diyustru untuk “kemerdekaan individu”.
Dan tuyah tujuan yang didiyalankannya dan dia pun hidup dengan cara seperti yang ditulisnya dalam bukunya itu. Tetapi sayang, dalam buku itu diyuga diakuinyaka, bahwa cara hidup yang sedemikian tidak memberi kepuasan baginya, dan di mana letaknya ketidak puasan itu dia sendiri tak bisa menerangkannya.
Saya ambil conyo yang di atas untuk mengadukan pertanyaan: apakah ini yang disebut mereka “la haute culture” dan “kemerdekaan individu” itu? Saya pikir tidak. Ertah benar entah tidak, te-tapi saya pikir, bahwa expresie yang semayam itu adalah pun-cak dari dekadenis moral imperialisme yang sedang runtuh, pun-cak dari moral yang hendak mempertahankan arti “kemerdekaan individu” secara salah, karena kemerdekaan individu itu memerlukan pendapat saya bukanlah sesuatu yang “lain dari yang lain”, bukan satu keistimewaan, tetapi sesuatu yang tinggi dan sementara itu bisa diterima dan dilaksanakan oleh khalayak ramai. Untuk berbuat sesuatu “lain daripada yang lain” tidak sukar, tetapi yang sukar ialah berbuat sesuatu yang baik yg diseandui dan bisa dilaksanakan oleh khalayak ramai, oleh sebagian terbesar dari masyarakat.
Saya merasa sayang, bahwa sebagian dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Paris sudah terikat pada “kemerdekaan” yang semayam itu.
Tetapi dianyalan dipikir, bahwa moral semayam itu terdapat pada sebagian besar Rakyat Perancis. Saya hanya hendak mengemukakan satu gejala yang tidak balk yang ingin dituruti oleh mahasiswa-mahasiswa kita di Paris.
Kebudayaan tinggi dalam arti kata yang sebenarayia memang ada dan terdapat di Paris. Perancis tidak pertiyuma mempunyai putera-putera yang besar yang meneruskan jiwa tinggi dan kebudayaan tinggi Rakyat Perancis. Ahliwari-Ahliwari yang absah dari Rakyat Perancis yang besar memang terdapat di Perancis, dan mereka lah yang menjunjung tinggi ko budayaan Perancis.
Memang, tulisan seperti yang ditulis oleh Andre Stil dan Simone Tere banyak terdapat di Paris, tetapi buku-buku semacam itu tidak menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa kita yang menganggap dirinya seorang intelektul dan semi-intelektul.
Baiklah saya ambil conto yang lain. Pada malam Hari Natal banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang pergi ke Notre-Dame untuk menyaksikan perayaan Hari Natal digereja yang terkenal itu. Sebenarna yang mengundungi gereja itu pada malam itu adalah 80% orang yang “nonton”, dan bukan pergi ke situ untuk sembahyang, tetapi anehnya, juga pada kesempatan ini tidak tampak mahasiswa-mahasiswa Indonesia, di mana mereka bisa melihat satu keindahan, Sungguhpun saya sendiri tidak setuju dengan keindahan yang dipertunyukkan gereja Katolik pada Hari Natal itu. Tetapi keindahan ini setidak-setidaknya lebih baik daripada “keindahan” yitterbug dan boogie-woogie di dalam bistro itu.
Apalagi seperti yang saya katan diaias, untuk melihat bagaimana penghidupan Rakyat Perancis biasa! Padahal jika dihinjau dengan teliti, dari penghidupan Rakyat Perancis ini, kita bisa menarik banyak sekali pelajaran, apalagi kita Rakyat Indonesia sekarang menghadapi baha-ya perang, seperti halnya Rakyat Perancis menghadapi agresi kaum militeris Jerman. Tak je-mu-munya penduduk Paris memperingatkan mereka sendiri dan du-nia, bahwa persenjataan kembali Jerman merupakan baha-ya yg bisa menghancurkan Rakyat Perancis.
Pada gerakan Rakyat Perancis inilah kita bisa melihat vitalitet dan tingginya kebudayaan Perancis. Merekalah yang mempunyai hak untuk diberi nama penjunjung “la haute culture” Perancis. Merekalah yang melanjutkan tradisi kebudayaan Perancis yang tinggi dan penuh vitalitet itu. Dan inilah hendaknya yang harus diselami oleh mahasiswa-mahasiswa kita, bukan yitterbug dan boogie-woogie dan kheekh to kheek.
Cornela.
Islam di Tiongkok
SOFYAN Siradz adalah salah seorang Islam Indonesia yang selainnya pernah memenuhi rukun Islam kelima, juga seorang politikus muda yang kelihatan inteleyen.
Ayahnya adalah Ki Sirajuddin Abbas, orang kuat dari Perti, yang kini menjabat Menteri Keseyahteraan Negara.
Meskipun usianya muda, di dalam Partai Politik Islam seperti Perti itu rupa-rupanya Sofyan memegang peranan juga.
Bersama-Bersama dengan orang-orang Islam lainnya, baru-baru ini ia mengunyungi Tiongkok. Orang-Orang tersebut sampai kini belum ada yang menyatkaan pendapatnya, bagaimana keadaan agama Islam yang sebenarnya di Tiongkok.
Dahulu saya sebagai wartawan pernah mendengar ia di-interviu oleh wartawan Pedoman dan Indonesia Raya di press room Parlemen. Interviunya ini rupa-rupanya tidak dimuat karena merugikan‘ harian ini. Pertanyaannya banyak, antara lain yang saya dengan ialah pertanyaan:
“Bagaimana Bung keadaan Islam di Tiongkok?” “Jawabna: ”Baik!“ ”Akh. kepada bung ditundukkan tempat-tempat yang baik saja“.
Bung jangan pikir begitu, syarat orang Islam, pertama-pertama ialah jujur dan tidak menipu kepada Tuhan. Saya datang ke sana tidak mempunyai prasangka apa-apa sehingga saya dapat melihat keadaan yang sebenarnya, kalau dikatakan bahwa kepada saya hanya ditundukkan hal yang baik-baik saja, ini berarti bahwa orang mengira saya datang ke sana tidak pakai otak sama sekali“.
Jawaban ini agak menarik hati saya. Terutama karena diucapkan oleh seorang Islam yang masih muda. Beberapa hari kemudian saya datang ke rumahnya untuk menanyakan pendapatnya yang sebenarnya. Rumahnya di Jakarta didiyalan Dempo, satu rumah dengan kantor pengurus besar Perti.
Ketika saya masuk di rumahnya, dan disuruh merunggu sebentar saya mendapat kesempatan melihat suasana rumahnya.
Ya, apa yang kita sebut “rumah” itu tidak lain la-lah kantor Perti itu. Saya tengok dinding-dinding batu yaug putih di kanan kiri. Di depan mata saya tampak suatu pemandangan yang uniek, yaitu selain buku-buku seyarah Islam yang penulisnya rupa-rupanya dari Barat dan ditulis dalam bahasa Belanda, di muka buku-buku yang dibariskan itu ada satu buku yaug diletakkan terlentang dielmari, hurufnya Arab. Belakangan ketika Sofyan keluar dari kamarnya yang pertama kali diceritekan islah tentang buku itu. Kataya:
“...Ini Al'quran dari saudara Pauw A Han seorang ulama besar dan kini menjadi gubernur di Sinkiang”. Dinding lainnya kita lihat huruf Arab ditulis di atas sutera halus. Di antara huruf ini ada yang saya kenal bunyinya yaitu “Mokhamad”, suatu huruf yang paling sering kita jumpai di-rumah-rumah kaum islams. Di samping itu juga dipasang gambar panorama indah yang terkenal di Hankov, jemaah haji di Ka'bah, dan di atas meja rampak tempat-tempat rokok yang di'xin dengan motif Tiongkok yang banyak kita jumpai di Tung An She Cano*1 yaitu gambar uang. Malahan juga rampak gambar dia bersama-bersama Asa Balagih pemimpin harian Duta Masyarakat H. M. Diiah dari Merdeka ber-sama-sama perdanamenteri Cou Fn-Yai.
Pertanyaan saya yang pertama talah: “...Ketika saudara di Tiongkok saudara kujungi mesyid mana sa-ja?”
Ya, saya segera menanyakan soal mesyid, soal agama Islam yang menurut golongan-golongan yang tidak setuju kepada Tiongkok, orang “Islam di Tiongkok ditindas, kaum komunis anti agama, anti Tuhan dan lain se-gala-gala-nya. Saya tidak menanyakan soal-soal buruh soal tani dan lain-lainnya karena di antara persoalan ini saya anggap Sofyan pertama-tama adalah lebih memahami soal agama.
Pertanyaan ini segera dijawab:
“Saya pernah menunyungi mesyid-mesyid Kanton. Pe-king, dan di-mana-mana kita datang saya mendapat kesan bahwa di-mana-mana ada umat Islam di Tiongkok. seperti di Mukden, Tienstien, Hankow, Syanghai; mereka ini adalah Islam betul-betul bukan “Islam merk”.
Saya agak heran apa yang dimaksudkan dengan islam merk dan Islam betul-betul Lantas saya tanya: “Apa yang Bung maksudkan dengan Islam ”merk“ dan ”Islam betul“. Sofyan rupa-rupanya sudah lama sekalii belajar Islam dari kitab-kitab Arab, kalau ia berbili-berbilirya bahasa Indonesia meka pengutaypan ”l“ yang kita dengar bukannya ”l“ Indonesia lagi tetapi ”l“, yang keluar antara tekanan lidah dan langit-langit seperti kalau orang Prantis berbili-berbilirya ”Yanici“ atau orang Arab sendiri berbili-berbilirya ”Alahabadi“.
Ya menjawab pertanyaan saya denyan bernafsu: . Ya, kita sering menjumput Islam merk; yaitu orang yang hanya bilang agemanya Islam tetapi tidak menjumput hukum-hukum Islam. Mula-mula saya menganggap orang-orang “wakil golongan Islam” yang menjemput kita disetusian itu adalah sekedar “golongan Islam” untuk protokol saja karena yang datang wakti-wakti Islam yang menjemput duya hurah dikisah “golongan Islam”na, bung, katanya kepada saya. Se-terusnya: . Saya ini nempelaji-nempelajiry Islam sudah sama, sehingga saya dapat tabu apakah orang itu dalam pengetahuannya tentang Islam, ataukah sekedar Islam untuk menjemput tamu saja. Dalam periyakan-periyakan dengan kita, saya pergunakan benar-benar kesempatan untuk mengetahui apakah orang-orang yang dihadapkan sama kita ini orang-orang yang mengetahui Islam benar-benar ataukah tidak.
Makin lama saya bercakap cakap dengan orang-orang itu, saya makin yakin bahwa orang-orang yang disuruh menjemput kami adalah ulama benar-benar, dan mereka mempunyai pengetahuan Islam yang dalam benar-benar. Sehingga dalam hati ketiy siya, saya merasa malu. Malu kepada Tuhan bahwa saya sebelumnya itu berani menduga yang tidak benar tehinadap tilama-tilama Tiongkok tersebut.
Saya tanya lagi: “Kesan Bung sesudah mengun-dungi mesyid-mesyid di Tiongkok bagaimana?”
Jawabna: “Ya, kalau orang judur sesunguhnya harus mengaku bahwa rintangan atau tindasan ter-hadap agama tidak ada di Tiongkok. Di Kanton dan Peking saya ikut sembahyang bersama orang-orang Islam di Tiongkok. Di Peking saja ada 21 mesyid. Semua kehihatan bersih dan dipelihara. Pemerintah memberikan segala bantuan untuk mesyid-mesyid ini, demikian pula sekolah-sekolah agama yang ada di sekitar mesyid itu se-muanya kehihatan bersih. Juga di dalam mesyid ini, sebelumnya saya berkundung Tiongkok saya sering dengan bahwa dimesyid digantung-gantungan gam-bar Mao Tse Tung. Gambar yang demikian tiada sala lihat di mesyid mana saja:
Meskipun demikian mereka tetap menganggap Mao Tse Tung pemimpin rakyat Tiongkok. Pertemuan yang paling meninggalkan kenangan lahal pertemuan saya dengan Saifuddin Gubernur Singkiang, seorang ulama besar di Tiongkok. Ia memberikan sayar yang melu-kiskan rakyat Islam di Sinkiang terhadap pemimpin-nya.
Sofyan mengambil ciatatannya ketika di Tiongkok, dan kepada saya ia menundukkan sebuah sayar yang ditulis gubernur tersebut dalam huruf Arab. Kemudian ia teryemahkan sendiri yang bunyinya demikian: Air gunung dari Tie San, mengalir tiada habisnya, dan kebaikan ketua Mau terhadap umat Islam, ibarat air mengalir tiada hentinya.
ISLAM DI TIONGKOK: Mengenai igama Islam di Tiongkok sendiri, Sofyan menyatakan: “Di Kanton saya melihat suatu mesyid yang tertua di Tiongkok Mesyid ini dibangun oleh sahabat Nabi Mokhamad sendiri yaitu Abuwakas. Namanya masih terukir dalam sejarah mesyid ter-sebut. Ketika saya berbili-berbilirya dengan gubernur Sing-Kiag, saya mendapat keterangan yang lebih jelas lagi, yaitu Islam masuk di deraah ini pada tahun 966 M. sehi, penyebarinya ialah seorang ulama besar yang kerama Abu Nasir Samawi”.
Kemudian Sofyan menegaskan bahwa di dalam Kongres Rakyat Pusat yang merupakan Parlemen Tiongkok dewasa ini umat Islam mempunyai wakil sejumlah 60 orang.
Kongres Penulis Sovyet Uni
SALAHSATU peristiwa penting dalam dunia kesusasteraan dalam tahun 1954 adalah Kongres Penulis Sovyet-Uni ke-II di Moskow pada tgl. 15 sd. 26 Desember 1954.
Dalam Kongres tsb. hadir 738 penulis sebagai utusan yang mewakili 45 nasionalitas, a.l. penulis-penulis dari Ukraina, Georgia, Azerbaiyan, Armenia, Uzbekistan, Kazakhstan dll. Adalah menyolok pertumbuhan penulis-penulis angkatanmuda. 270 orang dari 738 utusan terdiri dari para penulis yang masuk menjadi anggota Persatuan Penulis Sovyet pada waktu selama dan sesudah perang dunia ke-II. Selanjutnya, kalau yumlah anggota Persatuan pada thn 1934 masih 1500 penulis, maka pada tahun 1954 meningkat menjadi 3.695. Ini bukan hanya permainan angka, sebab ia merupakan pernyataan dari ber-ribu-ribu nama buku yang terbit pada tahun-tahun tsb, buku-buku yang telah tahan lama pendapat kalangan pembaca, yang melukiskan perkembangan rakyat Sovyet.
Maxim Gorky, Bapak Kesusasteraan Sovyet, selalu menekankan betapa pentingnya perkembangan kesusasteraan republik-republik anggota Sovyet. Hal ini disadari oleh Kongres, yang berpendapat, bahwa menganalisa perkembangan dan kekurangan kesusasteraan Sovyet tidak mungkin lengkap, tanpa menganalisa kesusasteraan komponennya, yaitu kesusasteraan republik-republik bagian. Preadvis mengenai “Masalah-Masalah menteryemahkan prosa dan puisi dari dan ke dalam bahasa-bahasa Soviet” disampaikan oleh penulis-penulis Pavel Antokolski (Russia), Mokhtar Auezov (Kezahstan) dan Maxim Rilski (Ukraina). Pada tahun 1953 diteryemahkan 400 buku dengan oplah 21.400.000 buah dari bahasa-bahasa Republik-bagian ke dalam bahasa Rusia dan 1000 buku, oplah 16.000.000 dari bahasa Rusia ke-bahasa-bahasa republik-republik.
Selanjutnya Kongres telah mendiskusikan dengan hangat dan mendalami 6 poadvis lainnya. 1. Situasi dan tugas kesusasteraan Sovyet oleh Alexei Surkov, dengan poadvis-bagiannya tentang prosa oleh Konstantin Simonov, tentang puisi oleh Samied Vurgun dan tentang drama oleh Alexander Korneicuk. 2. Kesusasteraan anak-anak oleh Boris Polevol. 3. Kritik Kesusasteraan oleh Boris Ryurikov. 4. Kesusasteraan film (scenario) oleh Sergei Gerasimov. 5. Rantangan Konstitusi Persatuan Penulis Sovyet oleh Leonid Leonov dan 6. Peranan penulis dalam perjuangan untuk perdamaian oleh Nikolai Tikhonov.
Tampak ambil bagian dalam diskusi-diskusi ini tokoh-tokoh penulis, seperti Fadeev, Fedin, Ehrenburg, Gladkov, Syolokhov, Vazhan, Tursun Zade, Yakub Kelas dll. Meskipun diskusi-diskusi dilakukan dengan hangat, tetapi semuanya berlangsung dalam suasana keryasama-persaudaraan yang diarahkan kepada satu tuyuan: pembangunan komunisme, perdamaian dan persahabatan antara semua bangsa.
Kongres menerima surat-surat sambutan dari penulis luar negeri, a.l. dari Erskine Caldwell, Lion Feukhtwanger, Katharina Susannah Prikhard. Yang mengharukan adalah sambutan penyani Paul Robeson, yang karena tidak diberi visum oleh pemerintah Amerika, menyampaikan pesanyu: dgn perantaraan pringanhitam (reka-man). Diyuga penulis-penulis luar negeri yang hadir menyampaikan sambutannya, a.l. Louis Aragon, Pablo Neruda, Yorge Amado, Marie Mayorova, Anna Sehers.
“CC berseru kepada para penulis untuk melihat kehidupan dalam segala segi kompleks dan keseluruhanmna”, denaikian pesan Central Comite Partai Komunis Soviet-Uni kepada Kongres, dan untuk kesekian kalinya membuktikan pengertian dan perhatiannya terhadap kesusasteraan. Selanyutnya pesan itu menegaskan, bahwa: “panggilan penulis kita adalah untuk meningkatkan perkembangan kepribadian yang berpengetahuan-luas (allround) dan laras (harmonis), pertumbuhan dari segala bakat dalaycipta dan kesanggupan rakyat-pekerya. Kewajiiban penulis Soviet adalah mencipta kesenian yang benar, seni dari ciita-ciita dan perasaan yg agung, dengan mendalam membuka kekayaaan dunia intelektul rakyat Soviet, mewuyudkan dalam tokoh-tokoh seluruh ragam kegiatan-kegiatan keryanya, kehidupan sosial dan perseoranganyna, dalam suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kesusasteraan kita mempunyai panggilan untuk bukan hanya menggambarkan, tetapi juga untuk membantu kemayuan dengan segala jalan yang mungkin ke arah kemenangan dari segala yang baru. Partai berseru pada para penulis untuk memperlihatkan keberanian dalam inisiatif mencipta, memperkaya dan mengembangkan segala yenis dan bentuk sastera, mempertinggi mutu dalaycipta, sehingga bisa lebih menemui pertumbuhan kebutuhan spiritu1l pembaca-pembaca Soviet”.
Inilah sepatu-sepatu model pabrik “Gottwaldov”, Cekoslowakia
Jika sebelum perang dunia II umum sudah mengenal pabrik sepatu Cekoslowakia, sekaranq pabrik sepatu Cekoslowakia yang diberi nama “Gottwaldov” itu mengeluarkan produksi-produksi yang lebih bagus lagi.
Bukan suja sepatu-sepatu untuk pakaian se-hari-hari, tetapi juga sepatu untuk pelbagai macam, seperti sepatu wanita, sepatu berjalanan-berjalanan dan lain-lain dibuat dipabrik itu. Lihatlah pada gambar-gambar ini. Dan harga-harga? Pemerintah Cekoslowakia sejak habisnya perang dunia II sudah beberapa kali menurunkan harga-harga barang dan menaikkan upah, sehingga daya pembeli Rakyat makin hari makin besar. Setiap warga-negara Cekoslowakia bisa membeli sepatu-sepatu seperti yang dilihat pada gambar ini.
Cine-Citta & Hollywood
HOLLYWOOD kuatir. Film-Film Itali sesudah perang dunia ini disambut hangat di mana-mana. Den Haag, Brussel, London, Paris, Wina, Bonn, Cairo, Tokyo, ya bahkan Jakarta, selalu ribut kalau ada film Itali. Seminggu, dua minggu, malahan sering kali sampai sebulan bioskop selalu penuh, kalau putar film Itali kuranggayari. Ini mesti distop, ini balaha besar bagi Hollywood. Pasaran Hollywood yang sebanyak 80 yuta orang penonton itu lamaka-kelamaan bisa berkurang dan sempit.
Ah, tidak kurang jalan. Money is power. Money can do everything. (Uang adalah kekuatan. Uang bisa kerjakan segala-segalanya). Hollywood bisa bikin hancur film Itali. Vittorio Gassmann “dibeli” dengan kontrak-dollar yang jumlahna seperti dalam dongeng saja. Pier Angeli, yang diangung-agungkan film Itali! Ganyang! Juga Pier Angeli harus ditarik ke Hollywood. Pen-deknya apa saja yang diangung-agungkan oleh film Itali, harus diseret ke Amerika.
Hollywood kuatir. Mata penonton di benua Eropa (juga benita-benita lainnya) mulai banyak yang berpaling ke Cine-Citta, “kota-film” yang besar dan modern di Itali, lg akhir-akhir ini banyak menge-yuarikan film yang umumnya lain daripada film-film keluaran Holly-vood. Oleh karena itu segala jalan diempuh oleh maskapai-maskapai film Amerika untuk merintangi tumbuhnya film Itali secara baik, hasilnya tidak baik.
Tetapi, apakah usaha-usaha mereka ini berhasil? Sampai sekarang, film Itali masih terus berputar di Rio de Yaneiro, Argentina, bahkan juga New York, Khicago, Los Angelos! Suatu hal yang kedengarannya aneh.
Apa yang begitu menarik perhatian orang banyak, dalam film Itali ini? Macam-Macam pendapat orang. Ada yang mengatakan: film Itali umumnya berisi, tidak kosong dan dangkal. Orang lain: saya senang kepada cara menyadikan segala sesuatu yang diyujur, sederhana, dan tidak dilebih-lebihkan. Malahan ada yang mengatakan bahwa melihat film Itali sama saja dengan mengikuti kursus politik!
Memang, penglihatan dan pendapat orang masing-masing berbeda tentang apa yang disukai, tetapi satu hal yang terang yalah bahwa umumnya film Itali berdasarkan realisme. Dengan bangga para seniman- dan ahli-ahli film Itali membertikan nama: neo-realisme. Realisme yang sering menyadikan hal-hal seperti keadaan sebenarnya dalam layar putih. Terus terang, jujur, kejam, tidak diubahubah! Kalau menggambarkan pelacur, ya presis seperti pelacur, pakaianinya, kelakutaninya, tingkah lakunya, keadaan sekitarnya. Itulah sebabnya, maka para pengikut aliran neo-realist sering meninggalkan studio, meninggalkan Cine-Citta kalau membuat film. Langsung: di pelabuhan, di pasar, di kampung-kampung yang kotor dan miskin, di gunung, dan juga langsung: di tengah orang-orang yang sebenarnya. (Kalau mau menggambarkan penghidupan kaum buruh pelabuhan, maka betul-betul pekerya-pekerya pelabuhanlah yang disuruh main di depan kamera. Sudah tentu dengan dibantu oleh pemain-pemain film yang ahli).
Tetapi, sebenarnya bukan itu saja yang membikin film Itali ini menarik. Cerita-Ceritanya sering berdasarkan motip sosial, yang kadang-kadang hamper menginjak kepada tingkatan politis. Sering ada film-film yang menggambarkan penderitaan, kesulitan-kesulitan dan kemelaratana Rak-yat, yang disebabkan ketidak-adilan (Bitter Rice, Difficult Years), atau kepintangan-kepintangan lain dalam masyarakat. Semua ini digambarkan secaya sewajanya, penuh kepedihan, kelucuan, kemesraan yang mengharukan. Sindiran terhadap hal-hal yang tidak adil dan a-sosial sering kita jumpai dalam film-film Itali.
Itulah sebabnya maka umumnya film Itali selalu ada bedanya de-
ngan film-film Hollywood, mempunyai suasana tersendiri, tidak dibuat secara clikhe. Kalau di Hollywood film dibuat seperti membuat sepatu atau barang dagangan lainnya, maka dalam film Itali nilai-nilai seni dan isinya tidak diabaikan.
Kalau di Amerika film sudah merupakan kesenian yang diindustrikkan dan merosot kepada tingkatan rendah yang tidak saja tidak berarti, bahkan mensak moral, maka di Itali alihan kaum seniman-film yang membuat film jadi alat hiburan yang mendidik kuat sekali. Film Amerika suka sekali menggambarkan hal-hal yang serba-mewah, serba glamourous. Film Itali sering menyadikan gambaran-gambaran yang menimbulkan simpati kepada kaum mlarar, menimbulkan kemahaman kepada kekejaman dan ketidakajujuran.
Bagi kaum neo-realist Italia, lemungkinan-lemungkinan amat besaryia untuk dapat membuat film-film di luar studio. Tidak ada negeri-negeri pembuat film yang mempunyai keuntungan besar seperti Itali mi-Jazirah Apenin, keindahan an-an klasik dari kota Roma, Florense, dan Venetia; daerah lembah sungai Po dengan pusat-pusat industri Turino dan Milano; pulau Sisilia dengan tepi pantai-nya yang romantis; itu semua merupakan gudang material yang ti-dak habis-habisnya. Di samping itu, Italia juga mempunyai kekayuan manusia yang mempunyai wadhah-wadhah yang fotogeniek. Iuluh salah satu faktor juga, mengapa banyak di antara film-film Italia yang mempunyai sifat semi-dokumenter.
Dari film-film yang pernah diputar di Indonesia, kita bisa menyaksikan bahwa penggunaan kamera mempunyai ca-ra-ra yang tertentu. Kamera sering dipergunakan untuk menggambarkan benda-benda ke-ci yang kelihatannya tidak berarti, tetapi yang sebenarnya berkata banyak dalam cerita itu. Aliran Pudowkin, cineast yang terkenal di Soviet Uni! !
Orang di-mana-mana banyak memuji, menuduh, memfitnah, dan juga bergembira: film Italia dimasuki anasir-anasir komunis! Vittoria de Sica selalu diam saja terhadap tuduhan dan pujian-pujian semayam ini, ia hanya bekerja teus, membuat film-film yang di-tunggu-tunggu oleh banyak orang di mana-mana. Demikian juga sutradara-sutradara lain-nya, seperti Giuseppe de Santis, Alberto Lattuada, atau cineast-cineast lainnya seperti Benneti, Roberto Rossellini, Alessandro Blasetti, Mikhelango Antonioni, dll.
Dimadiyah-madiyalah film di seluruh dunia pernah ditulis tentang pengaruh gerakan revolusioner Italia dalam dunia film di sana. Betapa tidak! Gerakan revolusioner yang dipelopori Partai Komunis Italia demikian hebat dan dahsyaatnya, sehingga sangat logis kalau pengaruhnya merembes ke dalam hati sutradara, penulis-penulis scenario, dan pemain-pemain film Italia. Dan ternyata bahwa pengaruh Komunis ini tidak merusak film Italia, malahan membuat harumnya di seluruh dunia!
Memang, satu kenyataan ialah bahwa tidak semua film Italia baik, seperti yang dibentangkan di atas. Tetapi, Bagaimanapun juga, film Italien adalah film Italia dan berbeda dengan film Hollywood. Ada orang yang mengatakan: kalau baru melihat film Italia, maka melihat film Amerika terasa enteng dan tidak berisi, seperti kapuk! Bagaimana pendapat saudara sendiri?
Aus H. Winata.
Pameran Kerajinan Tangan Tiongkok
Pameran yang saya lhat hari ini membuktikan bahwa mutu kesenian sesuatu bangsa tergantung daripada kebebasan atau ketidakbebasan bangsa itu.
Tiongkok menuju kepada satu zaman yang gemilang,—diyuga di lapangan kesenian.
Presiden Sukarno.
SEORANG jurnalis Perancis, Pierre Gascar dari “le Monde”, sesudah herkunjung ke Tiongkok baru-baru ini menulis: “Selama di dunia ini terdapat sebutir batu yade, sebilah gading, sebi-ji akik, ya Ataupun hanya sekeping kayu, selama itu pekerya-pekerya tangan Tiongkok dengan rajin akan mengukir budha, memahat naga, dan menulik lambang-lambangnya. Juga porselein, keramik dan lak tak kekurangan........”
Kita harus sepandapat dengan orang Perancis ini diyika kita di bulan Januari ini, diyuga sampai pada awal Februari nanti, memasuki halaman hotel “des Indes”, Jakarta, mengundungi pavilyon hotel tsb. dan dengan demikian mengundungi pameran kerajinan tangan Rakyat Tiongkok yang sedang diperlambangkan di sana. Slang-malam beranda de-pan pavilyon itu se-olah-olah bersenyum tenang memikat kita: kemari, teman, kemari! Warna-Warna yg menyilaukan, ber-tentang-tentangan tetapi berpadu satu—sifat yang khas Tiongkok—berkata sendiri bah wa di gedung itu sedang ada sesuatu yang datangna dari suatu negara besar yang baru saja mentapai kebebasannya: Tiongkok. Dan papan yang besar, diyuga bernekawarna, yang terpancang di tepi jalan, menerangkan bahwa yang sedang berlangsung itu pameran kerajinan tangan.
Dimulai dengan barang-barang Yok, terutama dari Secuan dan Fu-ken, yang bermayam ragam sekalii, melalui anyaman-anyaman rumput, bambu dan rotan, barang-barang keramik, porselein, ukiran-ukiran kayu, tempurung kelapa, arang, batu, lamain-lamain sutera, permadani, barang-barang mas, perak dan permata, sampai pada ukiran-ukiran gading.—sebutkanlah semuanya, dan se-muanya ada.
Kadang-Kadang kita dikagumkan oleh kebesaranya, kadang-kadang lagi dikagumkan kita oleh kebesaran di-dalam kekecilannya. Sebuah kipas terbuat dari anyaman kulit bambu—begitu halusnya, sehingga kekuatan mata kita harus kita tumpahkan dulu sebelum ki-ta mampu melihat lukisan-lukisan anya-mannya. Patung petani membayak sawah terbuat dari tanah-liat, diukir kemudian dibakar—begitu keteliyin, sehingga tinggi tubuh petani itu tidak lebih dari sesentimeter: namun expresi muka petani itu tampak juga dengan nyata.
Dan diyudung sana, ber-deret-deret pengunjung-pengunjungnya menanti kesempatan memempatkan mata mereka di belakang mikroskop. Ada apa? Di atas sebutir (ya, sebutir!) gading yang besaryna sama dengan butir beras, tertulis, terukir sa-jak lengkap ketua Mau Co-tung, sajak yang terdiri dari 144 huruf! Jangan lupa: huruf-huruf Ti-onghoa bukan sperti huruf i atau l di dalam abyad Latin, satu garis, habis. Tidak! Satu huruf Ti-onghoa ada yang sampai belasan garis! Barangkali saudara sukar membayangkan 144 huruf Tiong-hoa digoreskan di atas sebutir gading sebesar beras—kalau demikian, lebih baik saudara membuang waktu sebentar pergi sendiri kepameran tsb...... Presiden Sukarno ketika me-lihat-lihat pameran ini ber-kali-kali mengatakan “Bukan main! ..... Mutu-nya tinggi!
Banyak lagi yang bisa ditulis-kan, diceritakan, dibanggakan. Tetapi dalam kata-kata yang tidak banyak, kesan-kesan dapatlah disimpulkan:
Di sini keludahan—ketekunan—kegigihan Rakyat Tiongkok.
Di sini kekuatan—kejayaan—kemenangan Tiongkok Rakyat.
Tak lupa, kita diyuga tertarik akan cara penyelenggaraannya, pelayananya yang tidak hanya rahmatamah tetapi sangat membantu, dan sudah tentu akan arti yg besar dari pameran ini: sehagai usaha yang penting untuk mempererat persahabatan antara Rakyat Tiongkok dan Rakyat Indonesia.
KETERANGAN GAMBAR: Gambar atas, kerbau dari keramik; sebelah kanan, burung dari porcelin; tengah: sulaman sutera yang melukiskan burung merak dengan warna yang menarik; gambar bawah: Rupanya perhatian Presiden Sukarno sedang tertarik oleh salah satu barang lukisan yang terdapat dalam pameran Kesenian Kerayinan-tangan RRT.
Sandor Petofi
(1823 - 1849)
Pada tanggal 1 Januari, tiap-tiap tahun di samping Hari Tahun Baru, Rakyat Hongaria juga merayakau hari lahir penyair mereka yang besar, Sandor Petofi. Eunkan saja di Hongaria nama Sandor Petofi terkenal; namanya yang harum melampau perbatasan Hongaria, dan bangsa-bangsa lain mengenal penyair ini sebagai pahlawan revolusioner.
Pemerintah Demokrasi Rakyat Hongaria dan Rakyat Hongaria, memberi penghormatan yang besar kepada penyair dan pahlawan kemerdekaan ini, yang menjiwai perjuangan Rakyat yang tertindas, seperti yang dinyanyikannya dalam syair-syairnya. Sandor Petofi adalah penyair yang mewakili salah satu zaman genial yang dalam sejarah nasional Hongaria, dalam Revolusi dan Perang Kemerdekaan Hongaria tahun 1848—1849, dan namanya mewakili zaman genial lang dari syair nasional klasik.
Hongaria di bawah kekuasaan feudalisme.
Sandor Petofi dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1823. Masamudanya berhubungan erat-erat dan langsung dengan nasib tanahairinya, yang pada waktu itu diperintah secara teror oleh Habsburg dan feudalisme. Kekuasaan teror dan feudalisme ini adalah pengaruh dari reaksi yang dikepalai oleh Metternikh yang pada waktu itu mempengaruhi seluruh kehidupan politik di Eropa.
Sandor Petofi dilahirkan dari ayah yang bekeryia sebagai tani dan pedagang dan dari ibu keturunan kaum tani. Ketika berumur 16 tahun, orang tuanya mendapat bencana besar, dan seyak ketika itu penghidupan Petofi sangat sukar dan penuh kesengsaraan. Sandor Petofi pun mulai mengembara di seluruh tanahairinya, sehingga dia mengenal tanahairinya dari dekat. Sementara itu dia mulai belayar bahasa dan lususasteraan, sejarah dan ilmupolitik. Tulisan-Tulisan klasik Hongaria dan asing dikusainsaya seperti dia menguasai lagu-lagu nasional yang dinyanyikan oleh kaum tani.
Revolusi Perancis memberi inspirasi. Dalam mempelaji kejadian-kejadian di Eropa dan terutama Revolusi Perancis, baginya terbuka satu kemungkinan baru. Dengan mempelaji Revolusi Perancis dia mengetahui, bahwa penghidupan Rakyat Hongaria yang ditindas oleh feudalisme, bisa diperbaiki dengan jalan mencapai kemerdekaan dari pendinasan tuantanah-tuantanah, dan dari absolutisme kekuasaan Habsburg.
Sewaktu dia mengembara, Petofi mengalami sendiri kemiskinan Rakyat, keniskinan kaum tani yang tak bertahan, yang samasakali tak mempunyai hak apa-apa. Dia hidup di-tengah-tengah mereka. Rasacintanya terhadap Rakyat disebalkan karena dekatiuya dia hidup dengan massa menderita, dan makaitulah kebeniyannya terhadap klas yang berkuasa yang terdiri dari tuantanah-tuantanah, pemuda-pemuda geredia tinggi dan kaum aristokrat, sangat besar. Dalam syair-syairnya yang permulaan dia telah memperingatkan kaum politisi, yang menyangka, bahwa mereka akan mencapai kemajuan dengan beberapa perubahan yang diadakan diparlamen, dan yang menyangka bahwa kemerdekaan Rakyat bisa dicapai dengan terus-menerus mengadakan perdebatan tentang undang-undang umum. Dan Petofi insaf, diyustru karena dckatnya dia pada massa, bahwa Rakyat yang tertindas itu mempunyai vitalitet yang besar, dan bahwa Rakyat itu, jika sudah menyalankan revolusi tentu akan mencapai kemerdekaan dan kedaulatannya.
Memimpin Gerakan Kemerdekaan.
Kala berumur 20 tahun, Petofi sudah hartum namanya oleh syair-syairnya, dan pada waktu itu dia memimpin sebuah malahan kebebasan di Budapest. Dia mengumpulkan seniman-seniman muda dan kaum politisi; mereka menyebut diri mereka Kaum Yacobin Hongaria. Mereka mencipta supaya pemerintah mengakhiri politik reformisna.
Tanggal 15 Maret 1848 menjadi tanggal yang bersojarah, bukan saja bagi Petofi, tetapi terutama bagi sejarah Hongaria. Di bawah pengaruh revolusi-revolusi Paris dan Wina, Rakyat ibukota Hongaria yang dipimpin oleh Petofi, serentak bangkit dan berduyang untuk kemerdekaan meteika: mereka menghapuskan sensor, mereka menyatakan hak-hak kemerdekaan, mereka menyebut dan membuka isana Buda—Bastille Hongaria—dan melepaskan semua tawanan politik.
Kejadian-Kejadian ini mempunyai pengaruh yang besar, seltingga Layos Kossuth, seorang penyair yang pada waktu itu memimpin politik nasional dalam parlemen Hongaria, bisa memaksakan pemerintah untuk membentuk pemerintah yang lebih mayu dan menjamin hak kebebasan dalam Undang-Undang Hongaria.
Tetapi kaum reaksi, yang pada waktu itu bersatu dalam “Persekutuan Suci” di bawah pimpinan Maternick, terus-menerus mencoba meuggagalkan hasil-hasil yang telah dicapai Rakyat di bawah pimpinan Sandor Petofi.
Ketika Petofi melihat, bahwa revolusi Hongaria jika tidak mempunyai senjata sendiri, tidak bisa bertahan terhadap kontra-revolusi bersenjata dari kaum reaksi, dia menyetuukan kepada perajudit Hongaria: “Tinggalkan ketenteraan dan pulanglah kerumahumu masing-masing”.
Solidaritet Internasional.
Perhatian Petofi bukan saja tertuju kepada revolusi di Hongaria. Pada tahun 1848 dia menuntut dalam parlemen Hongaria supaya menyokong revolusi Wina. Dia mengedakan tapat-tapat protes, sewaktu parlemen Hongaria hendak membiyarkan usul untuk membantu pemerintah Italia dengan tentera untuk menindas revolusi Italia. Didorong oleh aujurun solidariteta iniilah maka banyak jenderal-jenderal Hongaria turut membantu Garibaldi di dalam revolusi.
Reaksi masih tetus berusaha menghilangkan segala yang telah dicapai Rakyat dengan revolusi. Dan pada musim panas tahun 1848, atas perintah kaisar Hustria, maka tentera Kroasia di bawah pimpinan Ban Yellacic memasuki Hongaria, dan mulailah Perang Kemerdekaan Hongaria. Sandor Petofi sendhi tutut dalam perang kemerdekaan ini, tuat digiris terdapan, dan dalam pertempuran-pertempuran itu dia berduya dengan patriot jenderal Polandia, Ben. yang datang membantu Perang Kemerdekaan Hongaria, dan dalam pertempuran-pertempuran penghembisan yang dipimpin oleh jenderal Ben inilah, sebelum revolusi-revolusi di seluruh Eropa diitudas oleh kaum reaksi yang bersatu dalam “Persikutan Suiyi”. Sandor Petofi gugur pada tanggal 31 Juili 1849. Dia meninggal ketika baru berumur 26 tahun.
Penyair untuk Rakyat dan Bangsa
“Syair-Syair Petofi adalah suara dati Rakyat yang sedang bangkit.
Kemayuan kesusasteraan Hongaria, dan berkembangnya kesusasteraan nasional pada awal abad ke-19, mempunyai klimaksnya dalam syair-syair Sandor Petofi. Dia bukan saja melanjutkan tradisi penyair-penyair yang mendahuluiinya, dia juga mengenal, mentintai dan melanjutkan tradisi penyair-penyair luarnegeri, seperti misalnya Beranger, pahlawan-penyair Revolusi Perancis, Heinrikh Heine, penyair kemerdekaan Jerman, Shelley dan Byron dari Inggris.
Tetapi syair-syair Petofi mempunyai isi dan bentuk yang lain: syair-syairnya berakar pada peryuangan Rakyat dan berisikan rasatinya kepada Hongaria yang dikenalniya dari pengalamannya se-hari-hari.
Turnamen Catur Amsterdam
KITA sedang dalam peryalanan ke Amsterdam untuk ambil bagian dalam Olympiade Catur yang ke XI.
Pesawatterbang yang kita tunpangi YL-12 mendarat di Helsinki dan segera sesudah formalitet-formalitet mengenal paspor selese, parapegawai lapangan terbang meminta tandatangan kita. David Bronstein dan seya diminta memberi tandatangan di sebuah pap-an-tuatur, di mana telah pen tandatangan-tandatangan Smidlov, Keres, Geller dan Kotov, anggota-anggota latu-nya dari rombongan pemain-pemain ca-tur Soviet yang telah lalu di situ sehari sebelumnya.
Sejam kemudian kita sudab duduk dalam kapalterbang milik Scandinavian Airways menuyu Stockholm. Di sana kita berpihah dah ke kapalterbang yiny lang malam itu membawa kita ke Amsterdam, di mana kita malam itu juga mendarat.
Kongres Federasi Catur Sedunia (International Khess Federation), seperti diketahui, telah menerima tawaran delegasi Argentina utuk melangsungkan turnamen 1954 di ibukota mereka. Syairat satu-satunia yang hari ini mereka penuhi ialah membayar ongkos peryalanan putang-pergi rombongan-rombongan Eropa. Dalam bilan Juili, ketika 37 negeri menyatken akan ikutserta, tialan tuanrumah menjumah ongkos n'a - dan tak berani mengambil pertanggungyawabang atas turnamen yang mereka minta itu. Keputusan yang mendadak itu menghantarkan segala rencuna yang telah diambil oleh Kongres ICF untuk mengadakan Olympiade dalam tahun 1954, hadahal waktu sudah sangat mendesak. Folke Rogard, ketua ICF dari Swedia segera bertindak. Tetapi sangatlah disangsikan, apakah ia dapat mengatasi keadaan, jika ia tidak mendapat bantuan dari masyarakat negeri Belanda.
Turnamen dilangsungkan di gedung Apollo yang besar dan yang atapnya dari kaca. Upaca-ra pembukaan dilakukan pada tanggal 4 September dihadiri oleh semua pengikut, wasit dan parapengurus dan diyuga oleh Walikota Amsterdam. Surat sambutan Menteri Pengajaran dan Kebudayaan dibatalkan dan kemudian kita duduk di tempat kita masing-masing. Dengan demikian mulalah pertempuran ctur yang besar-besaran itu.
Parapeserta sangat berdisiplin. Can wasit tidak mempunyai kesukan untuk menjadi tatertib seyama pertandingan yang lama itu. Tetapi di situ terdapat banyak menghisap rokok, diantaranya penghisaprokok-penghisaprokok yang membabi-buta. Demikialah sesudah 3 eyem bermain, udara dalam ruangan itu sudah sangat tebal dengan asap sehingga beberapa pemain sukar untuk menyatap permainannya.
Piala ICF yang sudah beberapa kali berganti pemegang di pamernkan secara menyolok mata dalam ruangan. Di atasnya telah diukir nama-nama negeri-negeri yang pernah menyatap kemenangan dalam turnamen-turnamen yang terdahulu—Hongaria, Polandia, Jerman, Amerika Serikat, Yugoslavia. Ukiran yang terakhir berbunyi: “USSR, 1952”. Pada tahun itu, dalam turnamen Helsinki rombongan Soviet iut untuk pertama kalinya dan menggondol piala itu ke Moskow.
Tetapi Turnamen dari Bangsa-Bangsa ini mempunyai banyak hal-hal istimewa yang penting. Masing-Masing rombongan dibatasi pada empat pemain dan banyak negeri dapat mengajudkan empat orang pemain yang baik. Permainan diadakan hampir terus-menerus, praktis dengan tidak memaki hari-hari istirahat, dengan pengerian bahwa pemain-pemain dapat beristirahat, jika seorang tenaga cadangan dapat mengantinyau.
Dari kanan ke kiri: Flohr, Boleslavski, Smislov, Geller, Kotov Keres dan di kiri sendiri pemimpin regu Sovyet Bondarevsk.
Permainan dimulai jam 5.30 siang dan jika belum seleas pada jam 10.30 ia dilanyutkan esok paginya dari jam 10 sampai jam 2, jadi hanya ada tempo bernafas yang sedikit sekali untuk menghadapi pertandingan yang dimulai lagi pada jam 5.30. Peraturan sematayam ini baik jika permainan diputus dalam situasi yang terang. Tapi jika masih dibutuhkan suatu analisa yang mendalam, maka seorang pemain terpaksa bangun semalaman penuh, sehingga ia sudah menjadi lelah waktu menghadapi pertandingan esok harinya. Peraturan ctur sematayam ini dapat memberi akibat? yang tak terduga-terduga terlebih dahulu. Demikianlah dalam turnamen ‘52 regu Soviet pada akhirinya hanya dapat menyatap kemenangan hauya dengan angka 1½ lebih banyak dari Argentina.
Publik Belanda memberikan sambutan yang hangat terhadap grandmasters Soviet. Biasanya mereka hanya menyambut regu mereka sendiri (jika menang), tetapi kali ini mereka mengadakan perkelahuan, mereka me-nepoki regu Soviet diyuga.
Pada umumnya, ctur sangat populer di negeri Belanda dan pada hari-hari tertentu lebih dari 2000 orang datang dalam pertandingan yang kita adakan. Dr. Euwe, bekas jura dunia, sangat popular Sekalipun ia sekarang tidak berada tingkat yang tertinggi lagi. Jura nasional yang sekarang adalah Y. M Donner, salah seorang dari master-master muda.
Kedua puluh enam regu dibagi dalam empat rombongan untuk semi finale. Di sini tidak terdapat perkembangan-perkembangan yang mengagetkan, kecuai sukses yang dicapai oleh pemain-pemain ctur Bulgaria yang masih muda atas regu Kanada yang kuat. Permainan-Permainan semi finale seleas pada tanggal 12 pagi dan permainan-permainan finale dimulai pada malam harinya.
Itu adalah suatu pertandingan yang hebat dan grandmaster-grandmaster Soviet harus memeras keringat se-keras-kerasnya. Sebelum finale dimulai, pada saat diketahui regu mana yang memasukinyau, saya berusaha menyusun suatu rencana untuk regu Soviet. Sedikit bercumpur ragu (tertingat akan pengalaman kita dalam pertandingan tahun 1952) saya memilih 31 biji sebagai tujuan untuk memperoleh sesuatu kemenangan. Kapten regu kita mengadukan angka yang lebih tinggi, 33 biji. Kita berdua teryata keliru. Regu Soviet lebih baik dari dugaan kita. Inilah apa yang terjadi.
Sampai ronde ke-5 regu kita gagal untuk memperoleh voorsprong yang berarti terhadap regu-regu lainnya; baik URSS Maupun Yugoslavia mendapat 12 biji dari kemungkinan 16. Sesudah dua ronde lagi hasil yang kita cpai adalah 19 dari 24; Argentina memperoleh 16/2. Terapi kemenangan yang menentukan kita cpai ketika kita bertanding dengan Argentina dan Yugoslavia.
Grandmaster-Grandmaster Soviet bermain dengan segala kekuatan yang ada; Argentina hanya memperoleh ½ dari kemungkinan 4 dan Yugoslavia 1½. Ini memberikan voorsprong yang baik pada kita dan sudah dapatlah dipastikan, bahwa piala perak akan kembali ke Moskow. Sesudah itu reserve kita aduykan ke depan. Grandmaster Kotov sangat menyesali kekalahanynya terhadap L. Prins (Belanda) dalam semi finale. Ketika itu score adalah 2: 2 dan seluruh negeri Belanda bersorak. Berita kemenangan dibertatkan dengan huruf-huruf besar, suratkarbar menginterview Prins, riwayat hidupnya, dsb. Tentu saja Kotov menginginkan revankhe, dan ketika regu Soviet berhadapan dengan regu Belanda dalam ronde terakhir L. Prins memilih lawan lainnya, yaitu Geller dan...... kalah.
Ronde terakhir ini memberikan kemenangan yang gigil gemilang pada grandmaster-grandmaster Soviet. Tetapi wartawan-wartawan Belanda tidak berputus asa; Euwe telah mempertahankan kehormatan Belanda, sementara suratkarbar Amsterdam menulis. Ini hanya separo benar, Sekalipun permainan Euwe berakhir dengan remise ketiga pemain lainnya mengalami kekalahan.
Sebagai hasilnya kita mendapat 34 biji, Argentina 27, Yugoslavia 26½. Tempat keempat pergi ke Cekoslovakia. Hasil itu presis seperti hasil Helsinki tahun 1952.
Seluruh grandmaster Soviet membenci kesan yang bagus. Para reservis mengalami beberapa kekalahan, tetapi pemain-pemainnya tetap selalu mendapat kemenangan. Yang paling banyaak mencapai sukses adalah Paul Keres. Hasil yang dicapainya yalah-12½ dari 14. Hasil semacam ini mungkin tak dapat diulangi sekalipun oleh Keres sendiri.
Turnamen Amsterdam menunjukkan adanya tehnik catur yang makin baik, baik di Timur Maupun di Barat. Talent-Talent muda muntul ke depan. Diana terdapat Oscar Penno dari Aryentina, F. Olafsson dari Estlandia, M. Ellip dari Cekoslovakia, Frank Anderson dari Kanada, A. Fuiderer dari Yugoslavia, Miniev dari Bulgaria dan Y. M Donner dari Belanda. Meraka semuanya pemain-pemain yang kompeten, pelayar-pelayar yang rajin dari permainan catur, dan telah memayap tingkat yang tinggi. Pemain-Pemain catur Soviet hanya dapat menyambat hal itu dengan kegemiraan, antara lain karena dengan demikian mereka dapat menghadapi lawan-lawan yang terhor mat. Diuya tidak boleh dilupakan, bahwa talent-talent catur yang secara sedang tumbuh di Soviet Uni juga.
Turnamen Amsterdam ditutup pada tanggal 25 September malam. Semua peserta, wasit dan paraangsurus berkumpul di Hotel Gariton untuk menunggu selesainya permainan-permainan yang terakhir. Kita pemain berpendapat bahwa waktu itu adalah waktu menunggu yang membosankan, sebab paraorganisator melupakan kita dan selama dua diam itu mereka ribut saling beryabat tangan atas terselenggaran turnamen itu. Kemudian mereka berkelling untuk membagi hadiah. Lihatara ini tidak terlepas dari teryadinya suatu insiden. Ketika pada pemain-pemain Yugoslavia desampikan medali prunyen orkes nemperdengarkan lagu kebangsaan (kerajaan) Yama, dan regu Yugoslavia meninggalkan ruangan sebagai protes
Semua pemain berpisah dengan kita dengan ucapan “sampai bertemu kembali di Moskow”, sebab menurut Keputusan Kongres ICF Olympiade Catur ke XII akan diadakan di Moskow pada 1956. Pemain-Pemain catur dieluher dunia menanti? turnamen dibukota Soviet yang diuya menjadi ibukota catur dari seluruh dunia itu.
Sebuah Cerita Kuno Rakyat Hongaria:
Raja Matias dan Si Gembala Jujur
PADA suatu hari berkunjunganlah raja Prusia kepada raja Matias. Mereka bersalaman-salaman seperti sahabat lama. Berkata raja Prusia: “Saya mendengar, pamuka memiliki seekor domba yang berkulit emas.” “Memang demikianlah adanya”, kata Matias menjawab, “saya memiliki seekor domba yang berkulit emas dan juga seorang gembala kambing yang belum pernah membohong”. “Saya akan buktikan kepada paduka bahwa dia membohong.” “Tidak”, kata raja Matias membual, “ia tidak membohong, itu tidak mungkin!” “Tepti, saya akan membuktikan kepada paduka, bahwa ia kan membohong; saya akan paksa dia membohong dengan suatu muslihat”. “Saya berani bertoruh dengan apa saja yang paduka sukai, baha-wa dia tidak akan membohong“, kata raja Matias. ”Setengah dari keradaian saya akan menjadi milik paduka, jika saya kalah dalam pertaruhan ini.“ ”Juga saya akan menganugerahkan setengah dari keradaian saya kepada paduka, kalau dia tidak membohong“, jawab raja Prusia.
Setelah janditi diket maka raja Prusia-pun mengutayapkan selamat malam kepada raja Matias dan pergi ke kamarnya. Di sini ia mengenakan pakaian petani biasa dan pergi cept-acept menemui gembala. Ia memberi salam kepada gembala yang dijewub pada oleh gembala itu: “Selamat peduka raja”. “Dari mana kau tahu bahwa saya raja?” “Kata-Kata paduka menyatakan pada saya bahwa paduka adalah raja”, jawab gembala.
Berkata raja Prusia kepada gembala: “Saya berikan kau banyak uang, dan juga enam ekor kuda dan sebuah kereta, jika kau memberikan kambing yang berkulit emas itu kepada saya!” “Akh”, jawab gembala. “saya tidak mau menggantikannya dengan apa pun yang ada di dunia ini, karena raja Matias pasti akan menggantung saya mati”. Raja Prusia menawarkan uang yang lebih banyak lagi, tetapi si gembala tidak juga mau. Raja Prusia pulang ke rumah dengan hati yang duka dan dukatitanya ini tidak ditutup-tutupinya. Puterinyi menyoba menggembirakan hatinyi dan berkata: “Jangandalah Bapak bersusah hati, saya akan mendatangi gembala itu dengan membawa banyak uang, saya pasti akan lebith licin dari dia”. Puteri ingin perlilah menemui gembala dengan membawa uang mas sepeti dan sebotol anggur yang manis seperti madu sebatet impan. Tetapi gembala berkata kepada Puteri Prusia bahwa ia tidak kekurangan uang. Raja Matias pasti akan menggantikannya jika ia mendengar apa yg terjadi dengan kambing yang berkulit emas itu. Tetapi gadis itu membuktiinyi terus-menerus dan dengan sangat manisnya, sehingga pada akhiinyi mereka berdua sama-sama minum anggur. Tetapi yang pertama meminumnya haruslah gadis itu. Si gembala kambing mau tahu apakah ia tidak memasukkan apa-apa kedalamnya. Tidak Sesudah meminum anggur ia menjadi sangat riang sehingga ia mengatakan juga: io akan memberikan domba itu, asal si gadis mau menjadi isterinya. Uang dia tidak memerlukan, ia cukup mempunyainya. Mula-Mula si gadis menyoba-yyoba berbekeratan tetapi pada akhiinyi mengiyokan juga. Maka berkatalah ia pada gembala:
“Kulitnya saju berikan pada saya, dagingnya kau saja yang makan, saya tidak perlu itu.” Gembala memenuhi apa yang diminta gadis. Dengan hati yang sangat senang dibawa gadis ituah kulit emas tadi kepada bapaknya. Alangkah bahagianya raja Prusia melihat puterinya berhasil mengakali gembala.
Matahari sudah terbit. Gembala tidak tahu apa yang akan dikatakannya kepada raja Matias. supaya raja Matias jangan sampai mengetahui bahwa domba yang berkulit emas itu sudah tidak ada lagi. Ia pun pergilah ke istana. Di tengah jalan ia melatih diri bagaimana ia harus berdusta jika sudah berhadap-hadapan nanti dengan raja. Ditancapkannya tongkatnya dalam sebuah lobang tikus dan ditempatkannya topinyia di atasnya. Kemudian ia mundur beberapa langkah dan sesudah itu maju lagi dan memberi hormat kepada tongkat seolah-olah yang dihormatinya adalah raja sendiri. Sebagai gamit raja ia berkata pada diri sendiri:
“Apa kabar?” Ia menjawab sendiri pula: Tidak ada kabar apa-apa, hanya domba yang berkulit emas itu sudah tidak ada lagi: serigala sudah memakannya!“
Sesudah mengucopkan kata-kata itu, ia sangat terkejut sendiri.
“Kau dusta, sebab jika demikian halnya kambing-kambing lainnya juga sudah tentu dimakan serigala!” Ia mencabut tongkatnya dan meneruskan perjalanan menuyu istana.
Kembali ia menemukan lobang tikus, ditancapkannya tongkatnya kedalamnya dan topinyia di atasnya, dan memberi hormat kepada tongkat seolah-olah itulah raja Matias sendiri.
“Apa kabar?” “Tidak ada yang istimewa, hanya domba yang berkuli mas itu sudah mati tenggelam dalam sumber air”.
“Kau dusta” dengarnya raja berkata, “sebab kalau begitu yang lainnya juga sudah tentu akan ikut mati tenggelam”.
“Diambilnya kembali tongkat-nya, dan pergi meneruskan perjalananinya menuyu istana. Untuk ketiga kalinya kembali menemukan lobang tikus, ditancapkannya tongkatnya kedalamnya, tudung keatasnya dan diberinya hormat kepada tongkat seolah-olah itulah raja.
“Apa kabar?” “Domba yang berkulit emas itu sudah dicuri orang”. “Kau dusta”, kata raja, sebab kalau demikian halnya yang lainnya juga tentu ikut dicuri“.
Diambilnya tongkat dan topinyia dan masuk ke dalam istana raja Matias. Juga raja Prusia bersama puterinya duduk dengan raja Matias menghadapi meja. Gembala kambing mendekati mereka dan memberi hormat kepada kedua raja dan kepada gadis. Raja Prusia sudah memberikan kulit emas itu kepada raja Matias dan sekarang ia ingin sekali mengetahui bohong apa yang akan dikemukakan oleh gembala. Sebab kalau ia tidak menyeritakan apa yang benar maka raja Matias terpaksa akan kehilangan setengah dari kerayaannya.
“Apa kabar?” tanya raya Matias.
“Tidak ada kabar apa-apa, kecual domba yang berkuli emas itu sudah saya tukarkan dengan domba hitam yang sangat cantik.”
Girangnya hati raja Matias bukan kepalang.
“Bawalah domba itu masuk”, katanya kepada gembala.
“Itu dia duduk di antara paduka raja berdua”. “Hura”, seru raja Matias. “Kau tidak berdusta. Kuberikan kepadamu setengah dari kerayaan raja Prusia yang saya menangkam dari dia”.
“Baik, kata raja Prusia, dan saya menganugerahkan puteriku kepadanya, mereka berdua sudah sama-sama cinta-mencintai”.
Dan demikianlah halnya dan gembala kambing pun menjadihlah raja dari Prusia.
Bulgaria Telah Bangun
SESUDAH Festival Bukares selesai, lima pemuda anggau-ta delegasi Indonesia (antara mana penulis ini) mendapat undangan dari Pemuda-Pemuda Dimitrov untuk menindai Republik Rakyat Bulgaria bersama pemuda-pemuda dari Afrika Selatan, Canada, Cuba, Khili, Brasilia, Argentina, Italia dan India.
Selama dua minggu menindai negeri Dimitrov ini, kami semua telah dibawa keluar masuk ke-pabrik-pabrik, pertanian-pertanian kolektif, sekolah-sekolah serta obyek-obyek pembangunan lainnya seperti Dimitrov Damp, sumber kekuatan tenaga listrik yang terbesar di daerah Balkan.
Suatu kesan yang telah saya dapat selama dua minggu penindaiuan itu, ialah adanya suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi bahwa Bulgaria yang sebelum perang dunia pertama dan kedua itu adalah merupakan negeri yang termelarat di antara negara-negara Balkan Maupun Eropa, kini telah bangun dan di atas runtuh an puing-puing sistem penindasan fasisme itu kini sudah dapat dibangunkan hidup baru yang meriah dan Indah.
Ke mana saja kita pergi, sampai-sampai kesudut desa Polikariski yang terletak di antara bukit-bukit anak pegunungan Balkan, kita bisa menyumpai kehidupan yang me-nyenangkan dengan manusia-manusianya yang wajahnya selalu berseri-berseri terus membuktikan bahwa mereka itu telah mendapat kepuasan lahir dan batinya.
Tiga kali kita bertemu dengan orang-orang di desa baik muda atau tua, wanita atau lelaki, ia me-nyambut kita dengan ramah-ta-mah dan muka berseri-berseri, dan de-ngan penuh kebanggaan berce-ritera tentang apa yang telah ia dapatkan dari hasil perjuangan puteranya yang terbesar dan ja-ya, yaitu Georgi Dimitrov dengan Partai Komunisnya.
Bulgaria sekarsang, memang tak dapat dipisahkan dengan Dimitrov, sebab almahrum Dimitrov ini adalah merupakan lambang kemengangan Rakyat Bulgaria seluruhnya atas pendudukan kaum fasis, dan lambang yati la-hirnya hidup baru, ekonomi baru, masyarat baru dan kebudayaan baru.
Bulgaria dan Dimitrov MASIH terbayang dalam ingatan saya, bagaimana seorang pemuda Bulgaria itu bisa menjadi bangga atas negaranya apabila ia mengetahui bahwa kita yang datang dari jaun diudung timur ini mengetahui pula siapa Dimitrov itu.
Waktu kami baru saja untuk pertama kali menginjakkan kaki kami di Bulgaria, maka nama Dimitrov itu segera kami dengar. Diuga dalam pertemuan-pertemuan Pemuda di kota-kota Stalin, Russe, Polikraski, Torhuvo dan Sofia, tiap kali Sdr. Suwardono (yang men-getuai rombongan kami) dalam pidatona itu menyinggung nama Dimitrov, maka orang berdiri se-muanya, dan sambil ber-tepuk-tepuk dengan mereka menereakkan na-ma Dimitrov itu sampai tiga empat menit.
Demikianlah penghargaan orang atas Dimitrov. sampai sesudah Dimitrov itu wafat, Komsomol Bulgaria telah merobah nama organisasinya itu dengan: Dimitrovski Sayus Narodna Maladesy atau Persatuan Pemuda Rakyat Dimitrov.
Memang, Georgi Dimitrov adalah orang yang pertama-pertama me-letakkan dasar-dasar perjuangan yang konsekwenn, baik dalam menen-tang penjadah Turki Maupun penindasan kaum fasis Jerman dan kaum burjuis Bulgaria sendiri.
Berlaluan dengan Rumania, Rakyat Bulgaria memiliki tradisi yang gilang gemilang dalam per-juangannya melawan kapitalisme. diyatuh dalam penindasan kaum 500 tahun lamanya Bulgaria neo-feodalis Turki dan selama itu, penghidupan Rakyat Bulgaria sebagai suatu bangsa telah han-cur samasekali. Kecuali terlibat dalam penghidupan yang dilengkungi oleh kemelaratan dan ke-matian, maka selama itu Rakyat Bulgaria telah kehilangan bahasa dan kebudayaannya.
Adalah suatu hal yang sangat menyedihkan, bahwa di dalam ja-man semi-feodals Ottoman (Tur-ki) seorang Bulgaria tak boleh tetapi ia harus menamakan dirinya menamakan dirinya Bulgariski, orang Turki dan harus berbahasa Turki pula.
Tahun 1912 perang Balkan meletus, tetapi sesudah pemerin-tahan semi-feodals Ottoman dapat disingkirkan dari negara-negara Bal-kan, kaum burjuis nasional Bul-garia sendiri telah mengantikan kedudukan kaum feodal Turki untuk meneruskan penghisapan-na terhadap Rakyat dengan ja-lan bekeryda sama dengan kaum fasis Jerman.
Hanya partai Komunislah, parti yang didirikan oleh Dimitir Blaguyev dan Georgi Dimitrov yang terus konsekwenn berjungang difihak Rakyat. Dua kali September
KETIKA penindasan dari kaum burjuis Bulgaria agen fasis itu memuncak, maka partainya Dimitrov dengan segala kekuat-aunya dikerahhau, dan tepat pada tanggal 23 September 1923 maka lahirlah pemberontakan Rakyat yang dipimpin oleh Partai Komu-nis, tetapi sayang pemberontakan ini gagal. Banyuk sudah kaum komunis mengalami hukuman siksaan, dan terpaksaah ketika itu partai bekeryda kembali di-bawah tanah.
Akhirnya, pada tahun 1927 dirikanlah Partai Buruh yang secara illegal dipimpin oleh Partai Komunis, hingga dengan demikian lebih memudahkan pekerjaan pimpinan partai itu keluar.
Pada tahun 1941, ketika Jeriran mulai mengancam Soviet Uni, Partai Komunis muntul kembali, dan pada saat itulah Polit Biro Partai Komunis mengumumkan perlawanan Rakyat terhadap fasisme Jeriran dan ageninya kaum buryuis Bulgaria. Sejak itu pula, lahirlah peryuangan gerilya yang konsekwensi yang langsung dipimpin oleh Georgi Dimitrov dan partainya. Hingga akhirnya pada 9 September 1944, setelah tiga tahun lamanya Rakyat Bulgaria bergerilya atas bantuan tentara Soviet kaum fasis dapat dilumpuhkan, dan ketika itulah didirikan suatu negara Rakyat.
Keadaan sesudah pembebasan dan Rencana Lima Tahun yang pertama
Walaupun Rakyat Bulgaria masth merasakan kepahtian yang dialami sejak 500 tahun penjadahan Turki dan 32 tahun penjadahan kaum fasis, tetapi secepat itu Rakyat dibebaskan, secepat itu pula Bulgaria dibangunkan.
Pada tanggal 15 September 1946, dalam sidang Majelis National ke 26 dengan resmi diumumkan berdirinya Republik Rakyat Bulgaria, dan setahun kemudian dimulailah pelaksanaan Plan Lima Tahun.
Dengan perubahan sistem kerya dan perbaikan dalam lapang perburuhan di dalam melaksanakan Rencana Lima Tahun yang pertama itu, lahirlah pahlawan-pahlawan pekerya di segala lapangan. Dan atas jasa mereka itu maka Partai Komunis dan pemerintah Republik Rakyat menyerahkan kepada mereka itu bintang-bintang “Stakhanowits” sebagai tanda jasa.
Dan atas bantuan yang tak mengharap balasan dari Soviet Uni serta kegiatan Rakyat Bulgaria sendiri dalam menyelaskana rencana pembangunanyna itu te dari ancer-ancer yang ditentukan, se lah teryapai hasil yang melebihi hingga Rencana Lima Tahun yang pertama itu bukannya diselesaikan dalam Lima Tahun, tetapi hanya daaln empat tahun, dengan kelebihan hasil 16,5 persent.
Hasil dari tahun 1951 diselesaikan dengan ganda pula, yaitu autara 43,9 prosen lebih besar dari tahun 1950, sedang Produksi dalam lapang perindustrian adalah 88 prosen lebih besar dari tahun 1948. Penghasilan negara di tahun 1951 dibanding dengan tahun 1950 meningkat sampai 30 persen.
Walaupun Plan ini telah seslesai (dengan kenyataan hasil yg. berlebih) dan kini disusul Plan Lima Tahun yang selanyutnya, tapi penting juga kalau kita mengetahui, sekedar untuk mendapatkan gambaran bagaimana di Bulgaria itu pekerjaan raksa sa pembangunan itu diselesaikan. Melihat angka-angka di atas, maka kita dapat melihat, betapa tiap rencana itu diselesaikan, dan tiap tahun mendapat kelebihan hasil, dan tiap penyelesaian malah mesi selalu melebihi apa yang telah ditentukan.
Tiap-Tiap pemerintah mengajudkan rencana dengan ketentuan batas waktu, maka fihak pekerya selalu mengajudkan rencana balasan dengan kesungguhan untuk memberikan hasil lebih dari apa yang telah ditentukan, dengan kesedaran.
Dan karena itulah juga maka stasiun sumber tenaga “Thermoelectric ”Wilko Cerwenkov“, paberkil penggilingan raksasa ”Ernst Thaelmann“, pusat teuaga listrik ”Worosyilov“, pabrik kimia yang terbesar ”Stalin“ dan lain-lainnya yang seharusnya seslesai dalam lima tahun itu oleh para pekerya dan pahlawan-pahlawan pekerya atau dengan istilah yg. tepat para ”Stakhanowits“ telah dapat diselesaikan dalam tempo empat tahun.
Dengan selesainya pekerjaan lima tahun yang pertama itu, maka keadaan sosial dengan ketepatan yang luarbiasa meningkat baik, dan kini telah normal, bahkan bagi Bulgaria sendiri itu telah melebihi daripada normal.
Dengan terlaksananya Plan Lima Tahun yang pertama itu, di mana telah diletakkan dasar-dasar perekonomian sistem Demokrasi Rakyat, maka kita tidak heran, bahwa Bulgaria yang dalam lapangan export 90% dari jumlah seluruhnya hanyalah terdiri dari tembakau, kini sudah bisa berdiri sendiri dan mencukupi kebutuhanyna sendiri.
Dengan terlaksananya Plan Lima Tahun yang pertama dengan hasil yang melebihi batas-batas yang ditentukan itu, maka segala cabang-cabang penghidupan Rakyat Bulgaria beryalan dengan lanytar, dan mulailah beryalan dengan pesat pula pemenuhan kebutuhan dari seluruh masyarakat baik dalam lapang pengajaran, kesenian, kebudayaan dan keso sialan.
Penghidupan Sosial SUATU kenyataan, bahwa di zaman sebelum pembebasan oleh karena tekanan-tekanan yang berat di dalam lapang ekonomi, maka kita dapat mengetahui, bahwa kemati an yang dialami oleh Rakyat Bul garia (keculai kaum Komunis yang digantung atau ditembak mati) 90% adalah disebabkan oleh penyakt T. B. C.
Juga sejumlah besar bayi pa da zaman itu mati sebelum genap umur satu tahun, dan kebanyakkan mereka itu menderita penyakit seyak lahir, seperti T. B. C. dan di sentri dan juga bronkhitis.
Itu bisa kita maklumi, sebab ketika itu sama sekali tak ada undang-undang yang melindungi kaum ibu yang mengandung dan beker ja berat di dalam paberkil-paberkil sehingga samasekali tak ada kontrol terhadap kesehatan.
Lagi pula ketika itu samaseka li tidak diadakan rumahsakit-rumahsakit bersalin dan kalau ada maka itu disatukan dengan rumahsakit umum. Sedang satu-satunya rumah sakit bersalin untuk seluruh Bul garia sebelum pembebasan hanyalah terdapat di Sofia.
Sebenarnya, orang melahirkan anak itu suatu kebahagian yang tak ada bandingnya tetapi bagi keluarga-keluarga pekerya Bulgaria sebelum pembebasan, kelahiran itu merupakan penderitaan, baik bagi kaum ibu yang tak mendapatkan pengawasan kedokteran dan ban tuan, Maupun bagi keuangannya ke luarga itu sendiri.
Tetapi kini sesudah pembebas an, berbarengan dengan dilaksanakanyna Plan Lima Tahun yang pertama, maka keadaan sosial dari kaum ibu dan anak-anak itu seketika itu juga mengalami perubahan.
Dalam pada itu, dengan berlunya tiap tahun, maka budget negara selalu menaikkan penge- luaran kredit dan fonds untuk pe- meliharana kesehatan anak-anak, pendidikan anak-anak, untuk kemakmur- an Rakyat dan pembangunan ru- mah-mah baru bagi keluarga-keluarga pekerya.
Selama pelaksanaan Plan Lima Tahun yang pertama itu, maka pengeluaran negara untuk fonds bagi anak-anak dan kaum ibu telah menyapai angka 3.600.000.000 leva.
Marhum Dimitrov pernah ber- kata di dalam hal ini, bahwa te- naga manusia itu adalah yang paling berharga sebagai kapital dalam mentiptakan masyarakat sosialis, dan karena itu kaum ibu yang menjadi perantara datang- nya generasi y.a.d serta anak-anak bi- bit generasi baru itu harus men- dapat perlindungan istimewa.
Dalam Undang-Undang Dasar yang mereka sebut “Undang-Undang Dimitrov” dalam fasil 72 dite- gaskan: “Kaum Pekerya wanita dalam Republik Rakyat Bulgaria mendapatkan perlindungan yang istimewa. Pemerintah diwayib- kan memperhatikan kaum ibu dan anak-anak dengan membuka klinik-klinik bersalin, rumah penitipan anak-anak, kindergartens, rumah obat, dan rumah perawatan bagi kaum ibu yang mengandung dan melahir- kan dengan memberikan perawat- an dokter-dokter, pengawasan kesehat- an dan pemberian obat secara cuya-cuya, dan memberikan gayi/hi- rawatan (ini berlaku lima bulan sebelum seorang ibu melahirkan anak, dan sesudah bayu umur 8 bulan atau kalau kelahiran itu mengalami kesukaran yang abnor- mal atas advies dokter, maka waktu 8 bulan itu bisa diperpan- jang).
Untuk membuktikan perlindung- an pemerintah terhadap anak-anak la- gi, maka dapat kita baca fasil 79 dari Undang-Undang Dimitrov yang menyatakan: “Bahwa tiap warga negara dengan tidak memandang golongan dan keya- kinan agama mendapat hak sepe- nuhnya untuk masuk sekolah, se- dang golongan-golongan minoritet diberi hak untuk mendirikan sekolah-sekolah- nya masing-masing atas bantuan pemerintah dan berhak memperkem- bang kebudayaan dan keseyahtera- nya”.
Di samping apa yang tetapkan dalam fasil-fasil Undang-Undang Dimitrov, maka masih banyak terdapat Co- de-de perburuhan yang memperluas perlindungan itu. Satu di antara Code perburuhan itu a.l. menje- laskan, bahwa kaum ibu yang mengandung “mendapatkan hak upah 90 hari dimulai 30 hari se- belum kelahiran anak, dan kalau kelahiran itu mengalami keadaan abnormal, hak upah (sebulan se- belum melahirkan) yang 90 hari itu dapat diperpanyang sampai 100 hari upah penul”.
Begituil perlindungan pem- rintah Rakyat terhadap kaum ibu, sedang dalam 7 tahun aikh ini, berdasar U. U. Dimitrov fasil 72 maka pemerintah telah menambah jumlah klinik bersalin de- ngan 600 buah, hingga rata ke- setiap pabrik, pertanian kolek- tif, dan tempat-tempat yang jauh dari pabrik.
Adapun pelaksanaan mengenai hak berskolah yang tersebut da- lam fasil 79 U. U. Dimitrov itu, maka perlu diyuga kiryanya kita memberikan gambaran mengenai pengajaran di Republik Rakyat Bulgaria itu.
Sekolah di Bulgaria dibagi dalan 4 tingkatan dan macim, ya- itu: 1. Kindergarten, 2. Pergurua- an Umum terdiri dari: a. Seko- lah Rakyat, b. Sekolah Mengah dan Mengah atas. 3. Sekolah-Sekolah vak, dan 4. Sekolah Tinggi.
Bagi pelayar sekolah Rakyat tak dipungut samasekali bea be- lajar. Sedang bagi Sekolah-Sekolah lan- juatan umum dan sekolah-sekolah ting- gi bea pelajaran itu disesuaikan dengan kemampuan orang tua, dan makn banyak suatu keluar- ga mengirimkan anaknya sekoko- lah, makn dikurangilah bea se- kolah tiap-tiap anak dan di samping itu masih pula mendapatkan sub- sidi dari pemerintah (seperti sistim Taman Siswa).
Kepada kaum pekerya dan pa- ra pemuda-pemuda petani yang dijamam lampau tak mengalami pendidik- an sekolah lanjutan atau sekol- lah vak atau sekolah tinggi, ma- ka dibukalah “Fakultet Buruh” dalam mana mereka itu menda- pat pendidikan istimewa yang le- bih singkat untuk persiapan me- masuki sekolah-sekolah Tinggi.
Demikianlah keadaan sosial Bulgaria sekarang. Perlu ditegas- kan pula, bahwa dalam Plan Li- ma Tahun yang pertama itu telah diseleasakan dan didirikan pula di seluruh Bulgaria 12 Universitet, dan ini adalah jumlah yang ter- besar, dibanding bahwa sebelum pembebasan Bulgaria yang ada 1 Universitet, dan dibanding de- ngan penduduk negeri yang ber- jumlah empat juta.
Dan dalam menyelaskan pem- buatan gedung-gedung universitet itu, maka pemuda-pemuda dan pelajar me- ngambil bagian yang paling aktif. di bawah pimpinan Dimitrovski Sayus Narodna Molodesy. nya ke rumah, selama ia dalam pe-
Dalam intervyu dengan Sekre- taris Jendral Pemuda Rakyat Di- mitrov untuk distrik Stalin, dite- rangkan kepada saya, bahwa da- lam pembangunan dan peryuanga- an batik di masa lampau dan seka- rang ini, pemuda-pemuda Bulgaria telah mengambil bahagian yang sangat aktif.
Organisasi ni yang semula di- dirikan oleh Dimitrov di tahun 1912 memiliki tradisi peryuanga- an yang gigih gemilang. Seba- gal suatu yontoh, Sekretaris jen- dral itu mengemukakan, bahwa dalam rangka penyelesaian Plan Lima Tahun itu, tertayat jum- lah 3 orang pemimpin Kolkhoz di daerah distrik Stalin adalah ang- gota-gota Perserikatan Pemuda Rak- yat Dimitrov. 200 orang tenaga ahli yang memimpin brigade-brigade kol- khos adalah pula anggota-anggota Per- serikatan Pemuda Rakyat Dimi- trov. Sedang dalam peryuangan anti fasis dan dalam peryuangan pembebasan Rakyat di masa yang lampau, maka tertayat bahwa 30% daripada tawanan-tawanan politik yang dirangket oleh kaum fasis adalah para pemuda, dan 70% anggota-anggota partisans pun adalah pa- ra pemuda.
Dan dengan bangga akhirnya ia itu berkata: “Di antara banyak pemimpin-pemimpin negara dan menteri-menteri sekarnya ini adalah bekas ang- gota-gota Persatuan Pemuda Dimitro- v pulu, antara lain ialah menteri pertanian, dan juga perdana menteri Cerwenkov sendiri yang malah pernah memimpin organi- sasi ini”.
Begituilah Bulgaria sekarang yg dengan mata kepala sendiri telah saya saksikan. Dan kini di bawah pimpinan sekretaris jendral Par- tai Komunis dan Perdana menteri Wilko Cerwenkov (kebetulan adik ipar Georgi Dimitrov) Rak- yat Bulgaria sedang melaksana- kan Plan Lima Tahun yang kedua, untuk menuju arah mayu rakaat sosialis.
Bernard Shaw sebagai Penari Balet
Sampai tahun 1900 Bernard Shaw adalah peresensi musik pada majalah “The Star”, London. Sesudah dia menonton pertunyukan penari Italia, Vincetti, Shaw melukiskan prestasinya sbb:
KETIKA aku, sesudah pertunyukan habis, berdiri diambang pintu, kuketahuilah bahwa Fitzroy Square, tempatku tinggal, sepi. Malam itu jernih, dingin, dan jalan di keliling lapangan tampak seperti panggung yang indah, dan aku tak dapat menahan keinginku untuk mencoba kapriol-kapriol (suatu gerak dalam tari balet) Vincetti. Tetapi tidak mudah. Sesudah aku terjahtuh 14 kali aku diangkat oleh seorang polisi. “Mengapa kamu?” katanya sambil erat-erat-erat-erat memegang aku, “sudah lima menit kamu saya amat-amati”. Kujelaskanlah kepadanya dengan panjang lebar dan dengan yaitah. Dia bimbang sejenak dan katanya kemudian: “Ini, pegangan topiku ini, baiklah saya mencoba juga, tampaknya tidak begitu sukar.” Sesudah itu dia telungkup dengan hidungnya di atas aspal dan lutut kanannya menjenguk keluar clananya. Parah dan beryarali, tetapi gagah dia berdiri lagi. “Saya belum bisa-bisa juga Saya terbelit jas saya.” Maka kami gantungkanlah jas kami berdua dipagar taman, dan kami coba sekali lagi. Seandainya tiap-tiap putaran di keliling lapangan ini suatu pertandingan tinju, kami tak mungkin lebih parah lagi; tetapi kami bertahan. Menjelang jam empat, justru di saat polisi itu berhasil dua kali melakukan putaran dengan tidak berhenti dan tidak jatuh, datanglah seorang inspektur, yang menuduh polisi tsb. melalaiakan kewayibannya. “Itu saya akui,” kata si polisi diberanikan oleh hasil pertiyabannya, “tetapi saya berani bertaruh sepuluh rupiah, tuan tak akan bisa.” Inspekturiya tak bisa menahan diri untuk juga mencobanya (aku sendiri di depan matanya ber-putar-putar secara sangat memikat) dan se-sudah setengah jam inspektur itu sudah bisa dengan baik. Kemudian seorang posbode pagi dan seorang pengantar susu menambah rombongan kami, tetapi pengantar susu itu sayang sekali patah kakinya dan harus diangkat oleh yang tiga lainnya kerumahsakit. Tetapi ketika itu aku sudah penat betul dan kekuatan untuk merangkak ketempattidur pun tak kupunya lagi. Peristiwa itu tentu saja suatu pertunduyukan yang gila, tetapi siapa pun yang pernah melihat Vincetti menari tidak akan heran karenanya...
Bertolak
Sepakbola Indonesia dalam Olimpiade Melbourne
Th. 1956 Olimpiade dilangsungkan di Milbourne, semua negara telah siap sedi, latihan-latihan dipergiat, agar supaya dalam Olimpiade itu tidak akan mengalami satu kekalahan yang berat, satu kekalahan yang dapat membawa kerendahan bangsana.
Indonesia telah menentukan tuyu‘ serta dalam pertandingan Olimpiade itu, mulai sekarang dari beberapa Organisasi Olahraga telah membikin rencana untuk menyemurnakan latihan-latihannya agar mutu permainannya lebih baik daripada tahun-tahun yang lampa.
Salah satu Organisasi Olahraga yang telah membikin rencana dan telah disahkan dalam Kongresya yaitu P. S. S. I. Rencana dalam th. 1955—1956 telah dibikin dengan beya paling sedikit satu yuta rubiah.
Rencana latihan P. S. S. I. , pada pokoknya, tiap-tiap daerah diadakan satu kesebelasan, daerah kecil dan daerah Besar. Pulau Jawa menjadi 3 daerah kecil, Jatim, Jateng dan Jabar. Tiya kesebelasan ini akan diadakan seleksi, untuk memilih Satu XI pulau Jawa. Begitu pun juga di Sumatra, Sulawesi dengan Kalimantanyia.
Untuk memilih XI Nasional, ti- ga XI yaitu dari Jawa, Sumatra dan Sulawesi di adu dalam pertandingan seleksi terlebih dulu.
Demikianlah pokok-pokok rencana yang akan dilaksanakan oleh P. S. S. I. untuk menyusun XI Nasional yang akan diajudkan dalam pertandingan Olimpiade th. 1956 di Melbourne.
Dapatkah rencana P. S. S. I ini beryalan?
Untuk melaksanakan latihan itu, maka pemain-pemain yang baik, akan mendapat latihan beberapa bulan, dengan demikian pemain-pemain yang diambil harus meninggalkan pekeryaannya beberapa bulan secara tidak menerus. Dan kedua kalinya apakah keuangan P. S. S. I cukup un- tuk membeyai karena dari fihak Pemerintah belum ada ketegasan bagaimana sikapnya dalam dunia olahraga. Inilah kesultanan yang ha- rus ditempuh oleh P. S. S. I. keuangan dan verlop bagi para pemainnya.
Cera mengatasi kesulitan-kesulitan ini, pertama-tama, tiap-tiap diadakan pemusatan latihan diadakan pertandingan-pertandingan yang harus ditarik sewa. Tetapi apakah mungkin pendapat- tan-tan pertandingan itu cukup un- tuk beyai? Bahkan pajak olah- rega sudah diturunkan, tetapi me- nurut perhitungan tidak mungkin. Keuangan P. S. S. I. didapat dari ha- sil-sil pertandingan terutama pertandingan dengan XI luar negeri, se- dang turun dari para anggotanya boleh dikata yang masuk hanya 10%.
Dalam pertandingan dengan XI Yugoslavia tahun yang lampa, ke- untungan P. S. S. I. tidak kurang Rp. 900.000 dengan jalan mena- rik sewa penonton yang sangat berat dengan “terpaksa” akag men- nyinyang dari dasar-dasar tujuan dari P. S. S. I yang semestinya mempertinggi permainan sepakbola seluruh pe- lokok Indonesia.
Pengalaman dipergunakan ku- rang tepat, yaitu dengan mengun- dang XI luar negeri yang sebenar- nya satu XI yang masih jauh ni- lainya dalam Dunia Internasional. Jalan ini mestl ditempuh, karena beya-beya P. S. S. I sendiri memang besar autara lain untuk Pelatih Tony Poeganik saja harus dikeluarkan:
$ 5000 dalam kontrak 5 tahun. $ 800 tiap bulan. Rp. 1500 Transportkosteu tiap bulan.
Beya perumahan tiap bulan. Tiap pertandingan yang diada- kan dan terdiri pemain-pemain yang dilatah oleh Tony, Tony mendapat sebagian keuntungannanya.
Ongkos pulang pergi Tony de- ngan keluarganyia.
Kesultanan yang kedua, yaitu ver- lop bagi para pemain. Apakah mungkin pegawai negeri atau par- tikelir itu akan dapat verlof begitu besar? Pengalaman yang sudah telah menundukkan, bahwa verlof bagi para pemain sangat sukar, sehingga pernah kejadian, satu pemain yang hanya verlof 5 hari untuk menyukui kebutusan P. S. S. I membentuk XI Nasional terpaksa di onslag oleh Direksinya.
Menurut keterangan P. S. S. I. , ren- cana itu akan dapat beryalan diyi- ka mendapat bantuan dari Pemerintah, dengan cera melaksanakan rencana P. S. S. I menjadi Rencana Nasional. Dengan adanya Rencana Nasional menurut konsepai P. S. S. I dengan sendirinya pemain-pemain yang dari kaum buruh mendapat verlof istimewa, sedang pemain yang dari kaum buruh partikelir demikian juga, sehingga P. S. S. I tidak me- ngalami kesulitan melaksanakan rencana itu.
Teranglah, bahwa rencana P. S. S. I dapat beryalan jika mendapat dukungan dari Rakyat dan Pemerintah. Tetapi bagaimanakah per- tanggungan jawab P. S. S. I kalau dalam pelaksanaannya ada yang kurang menuiskan kepada Rakyat atau Pemerintah?
Contho, pengalaman pada wak- tu dalam Aslan Game di Manilla, yaitu waktu XI Nasional kita me- ngalami kekalahan dengan XI Tai- wan, baik P. S. S. I Maupun KOI tidak dapat di minta tanggungyawab- nya. Sedangkan keterangannya dari para pemain berlainan dengan ke- terangann Pengurus KOI atau P. S. S. I. Pengurus P. S. S. I merasa tidak me- ngirim team, karena semua kataya tanggungyawab KOI.
Apa sebab soal itu begitu sulit?
Soal ini, harus kita ketahui ba- gaimana struktur Organisasi KOI sebagai Organisasi yang kewayid- han niembawa Regu/XI ke Olim- piade, dan bagaimana kedudukan- nya toporganisasi-toporganisasi yang turut serta mengirimkan anak buahnya.
Pengurus KOI terdiri dari per- seorangan bukan perwakilan. Orang-Orang yang duduk dalam KOI terbagi menjadi dua. Pertama ya- itu orang-orang yang dicalonkan oleh toporganisasi olahraga, dan yang kedua yaitu orang-orang yang ditunduk oleh orang yang dicalonkan oleh toporganisasi olahraga.
Toporganisasi olahraga yang mutnyalonkan orang untuk didu- dukkan dalam KOI tidak dapat minta pertanggungyawab kepaa- da orang itu. Dan orang itu dapat menunduk lagi kepada orang lain supaya duduk dalam Pengurus KOI
Karena Pengurus KOI juga banyak yang menjadi pengurus dari toporganisasi olahraga yang berhubungan dengan KOI, maka dalam praktek mengalami kesulitan-kesulitan bagi anggota toporganisasi olahraga. Untuk jelasnya, baiklah saya bentangkan kejadian-kejadian yang lam-pau.
Conotah PSSI dengan KOI. Mr. Kossasih dan K. Panggabean, duduknya dalam KOI bukan wakil tarl PSSI tetapi orang yang ditunduk oleh PSSI, begitu pun juga Maladi, bukan wakil PSSI tetapi orang yang ditunduk oleh rapat pleno yang terdiri dari orang-orang yang dilayonkan oleh toporganisasi. Jadi ketiganya tidak perlu memberi laporan atau pertanggungan jawab kepada PSSI karena duduknya dalam KOI sebagai perseorangan.
Bagaimana, jika PSSI ingin mengirimkan XI untuk turut dalam Olimpiade? PSSI hanya melalih XI Nasional mana yang terpilih, sesudah itu harus menyerahkan kepada KOI, dan KOI berhak merubah susunan XI, PSSI tidak berhak untuk membikin susunan XI. Dalam pelaksanaannna, KOI menunduk seorang untuk jadikan teammanager dari XI Nasional itu, dan jika orang itu dari PSSI, maka orang yang menjadi teammanager itu bukan wakil dari PSSI, dia hanya bertanggungyawab kepada KOI. Seperti kejadian- dian di Asian Game, Murdiyat (PSSI) menjadi teammanager bukan wakil dari PSSI tetapi perseorangan yang ditunduk oleh KOI. Kalau di Manilla Murdiyat berbuat salah yang menyolok seperti adanya kejadian pemain-pemain yang akan ber- tanding dengan XI Taiwan, jam 3 malam baru pulang melanyong. Murdiyat tidak perlu membikin perhitungan kepada PSSI bahkan dia sebagai orang yang duduk dalam Komisi pertimbangan waktu memilih XI Nasional.
Bagaimana anggota-anggota PSSI? Bond anggota PSSI yang mengetahui pemainnya tidak mendapat pemeliharaan (penjagaan) yg baik sudah tentu tidak akan diam. Tepati kepada siapa mereka minta pertanggungan jawab? Kepada KOI organisatoris tidak dapat, kepada PB PSSI tidak dapat, karena orang PB PSSI yang dalam KOI waktu ke Manilla bukan wakil PSSI, tetapi perintah dari KOI, hanya menggrutu saja. Sedang KOI tidak dapat didaulat karena orang-orang yang menjadi anggota Pengurus tidak akan berani karena dia sendiri yang berbuat.
Demikianlah gambaran struktur KOI dengan PSSI, dengan cara demikian, maka kedudukannya KOI stabil, tidak mudah tergontang, karena tidak ada instansi yang lebih tinggi lagi yang dapat menuntut kesalahan-kesalahan dari Peng. KOI.
Adapun cara Peng. KOI supaya tetap “stabil”, tiap Regu dan XI yang diserahkan oleh toporganisasi olahraga. KOI menunduk orang-orang dari anggota PB, toporganisasi itu, agar supaya tidak akan menyerang kepada KOI, dan orang itu tidak akan mendapat serangan dari anggota-anggota toporganisasi yang dia pilm-pin sendiri. Adakah organisasi di Indonesia Ini yang sedemikian perltnya seperti organisasi KOI?
Struktur KOI yang kurang demokratis itu, belum menjadi pembicaraan dalam toporganisasi olahraga pada umumnya, tetapi soal ini baru dalam PSSI yang pernah akan dibongkar, yaitu dalam Kongresnya baru-baru ini, tetapi karena PB PSSI tetap tidak mau dibungkung dengan soal KOI dan senantiasa melemparkan soal Manila ke KOI Biarpun soal itu sudah akan terbongkar akhrinnya tidak dapat terus dibicaraan karena soal ini belum menjadi pe- ngertian yang mendalam dari anggota-anggota PSSI.
Persiapann latihan untuk menghadapi Olimpiade th. 1956, dari PSSI saja memerlukan beya ti- tak kurang sejuta rupiah, belum olahraga-olahraga lain yang semuanya ini dipertanggungyawabkan kepada rakyat dengan cara menarik so- kongan untuk KOI kepada tiap-tiap pegawai negeri buruh dan rakyat.
Sekarang pemerintah akan dibebani lagi untuk mengoper ren- cana itu menjadi rencana Nasional, sedangkan rakyat dan Pemerintah tidak dapat minta per- tanggungyawab segala kesalahan-kesalahan KOI dalam melaksanakan peker- jaanya.
Enak bagi KOI, dapat menarik uang dan tidak akan susah mem- beri pertanggungan jawab kepada Rakyat dan Pemerintah. Penga- laman dalam Asian-game sudah terang, Pengurus KOI tidak ada yang dapat gaaggu gutag.
Bagi toporganisasi, hanya ke- wajiiban memilih pemain-pemain, sesu- dah itu ciukup menyerahkan kepa- da KOI, tidak mau cara demil- kian, boleh, tetapi tidak dapat mengirimkan sendiri.
Struktur KOI harus dirobah. Jika kita benar-benar akan meng-hendaki sesuatu yang baik, maka sudah seharusnya, apa yang kita kerjakan mesti teratur. Susunan KOI yang demikian kurang demo- kratisnya, hendaknya diperbaiki.
Tiap-Tiap Pengurus harus bertang- gung jawab, harus terang kepada siapa dia harus bertanggung ja- wab, tidak seperti susunan KOI sekarang, yang tidak ketentuan kepada siapa dia harus bertang- gung jawab, dengan cara men- ciampur adukkan pengurus top- organisasi dengan Peng. KOI te- tapi tidak ada hubungan dengan toporganisasinya, sehingga tiap bond olahraga yang tergabung yang melath dan memelihara para pemainnya tiap hari tidak dapat min- ta pertanggungan jawab kepada KOI yang membawa pemain itu.
Bagaimana susunan KOI yang baik, adalah kewajiiban para top- organisasi bagaimana mereka akan menyusun, tetapi pengalaman-pengalaman yang lampau yang begitu pahit getir hendaknya menjadi pelayaran.
Begitu pun juga bagi Pemerin- tah, mudah-mudahan di samping mengo- oper rencana PSSI itu menjadi rencana Nasional, karena keada- an KOI yang masih demikian itu, maka hendaknya diusahakan de- mikian rupa sehingga tidak terli- bat dalam hal-hal yang pahit yang mungkin ditimbulkan oleh kele- mahan organisasi KOI ini.
(Pembantu: “Z. B.”)
Mana yang Paling Tidak Lucu?
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.