AMIR HAMZAH
PRAMUDYA ANANTA TUR
KOLOFON
AMIR HAMZAH
oleh
PRAMUDYA ANANTA TUR
Dimuat di majalah MINGGUAN SADAR
(dulu Sunday Courier)
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Ilustrasi sampul: Queer House 1951, karya Norman Kent
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
AMIR HAMZAH
AMIR HAMZAH (Langkat, 28 Februari 1911–Kuala Bindi, 19 Maret 1946) penyair Pujangga Baru yang terbesar, penyair terakhir dalam bahasa Indonesia pertengahan; dilahirkan oleh keluarga bangsawan, dibesarkan dalam lingkungan yg taat beragama Islam; kakak penyair/prosa/kritikus Amal Hamzah.
RIWAYAT: Ayahnya Tengku Muhammad Adil, wakil Sultan Langkat, yang memerintah luhak Langkat Hulu, berkedudukan di Bindi, di kemudian hari dikurniakan gelar Bendahara Paduka Raja. Sudah sejak kecil kedua orangtua Amir Hamzah meninggal sehingga ia hanya mendapat didikan dan pembinaan pamannya, Sultan Langkat.
Pada umur 5 tahun ia memasuki HIS Tanjungpura, di samping mempelayari agama Islam atas suruhan ayahnya. Karena kebaikan pendukung Langkat pendatang dari Siak, Ke-dah, Selangor. Petani dan dari beberapa daerah Malaya lainnya, menyebabkan Amir Hamzah hidup dalam lingkungan bahasa dan kebudayaan Melayu. Ditambah pula karena Langkat adalah daerah yang sudah sejak semula kemasukan kebudayaan Melayu, terutama sekali yang nie rembes dari Slak. (Sultan Langkat adalah keturunan Sultan Haji Musa yang bersaas dari Slak). Dalam keluarganya sendiri ayahandana gemar akan seyarah dan sastra Melayu, seperti kebaikan orangtua dimas itu. Kadang-Kadang Amir Hamzah membimbing untuk ayahnya hikayat-hikayat Melayu lama, sya-syar Amir Hamzah, Ali Hanafiah, Bustamanussalatin, Bidasari, Ken Tambuhan, Haris Fadillah dsb. Se-dang buku keagaaman yang di-sukainya adalah Salatulassalatin dalam bahasa Melayu karangan pengarang Zahari Palembang. Untuk selanyutnya kebudayaan Melayu dan ayama ini berpen-guh besar dalam diywanya se-hingga aikhirin.
Ia suka mendenarkan pertika-paan orang-orang tia mengenai se-darah negerinya dan adatisti-adat serta kesesasteraan. Pan-tun dan tekteki menarik per-hatiannya.
Pada tahun 1924/25 ia meneruskan sekolah di Mulo Medan. Sebelum lammat ia pindah ke Jakarta. Justru pada waktu mancil dari daerah kelahirannya berkembang diywa penyair dida-lam tubuhinya dengan tegas, dan melahirkan upcahtanya yang pertama-tama dikenal, dan lahir lagi sejak baru waktu kapalnya singgah di Teluk Jakakatera.
Di Jakarta ia meneruskan sekolah di Mulo partikil, dan di sinilah kepertayyaniahnya yang te-batu itu dihadapkan pada keper-tayyaan Nasrani, tetapi justru ini yang menyelbahkan ia bertam-bah saleh dalam aqamanya, yang berarti bertambah toleransi.ya Juga di Jakarta ini, apa yang dahulu masih samar-samar, kini menjadi jelas baginya: ia pemuda keindahan dan kemuliaan. Da-lam kehidupannya se-hari-hari, se-orang perang dan peramal, te-tapi dalam kehidupan kejiwanya nyia, ia seorang persa, pesuni perawan.
Setelah menamatkan sekolah menengah pertama ia meneruskan sekolah di AMS bagian A atau sastera Timur di Solo, di-bawah direktur W. F. Stutterheim. Di sini ia mendapat kawan sesekolah dan sekelas Akhdiah Kartu Mirdha dan Armin Pane. Dengan Armin ia men-tiya-tiyatan untuk menerbitkan malahan resusasteraan. Pada masa sekolahnya ini parapemuda terpelayar yang sadar sedang berusaha merumahkan benteng kedaerahan, memfusikkan gera-nan/perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan menjadi Indonesia Muda, sedang Amir Hamzah untuk kuranglebih se-tahun lamanya menyabat ketua Indonesia Muda yabang Solo. Ia tumbuh bersama dengan tun bhuya gerakan keindonesiaan. (Pada suatu waktu pernah ter-siar kabar bahwa pihak PID nie nguruk direktur sekolah, karena murid-muridnya dibiarakan tentang berkunjing ke rumah Mr. Singheh, Dr. Rajiman Wejono-ingin di-ambil pemimpin pergerakan ketika itu tinggal di Solo. Oleh direktur tsb. diyadwalkan an-tara lain, bahwa murid-murid diserahkan kepada kebiyaksanaan dan tanggungyawab sendiri di luar halaman sekolah, karena mereka sudah tuyuk dewasa, tak usah di-amat-amati oleh seorang babu). Waktu diadakan Kongres Penu-dan (Kongres Indonesia Muda) pada tgl. 28 Oktober 1928, Amir Hamzah pun ikut hadir. Juga dimas ini makn nampak per-bedaannya daripada kawani-kawaninya: ia tambah berdisiplin, tertib, se-derhana dan memahati aturan—sifa-sifa yang di kemudian hari ikut menentukan nasibnya seba-gai manusia. Ia tetap bersemah yang dan berpendapat, bahwa sembahing adalah baik bagi tiap orang.
Juga pada masa ini hatinya terputus pada seorang gadis. Ia yang berdepilin, tertib dan se-derhana serta memahat aturan itu; tidak bisa tidak mintencat dengan setulus hatinya. Tetapi justru ini yang akhlirna meng-akibatkan ia menjadi manusia lang dikurung oleh aturan dan membuak didahlamnya. Sebaoh bangsawan tingod tak munkip ia kawin dengan gadis “biasa”. Ia menderita kekecewaan untuk se-lama-lamania. Pernah Amir Hamzah memalami peranan Syan-suabhari dalam cerita Siti Nur-baha yang dipanggungkan oleh Armin Pane, dan menurut pendapat kawani-kawaninya permainannya amat baik. Ternyata kemudian, bahwa dengan tubuh dan diywa nyia, Walaupun dalam bentuk dan dengan yara lain, ia harus ulangi kembali sejarah tokoh yang dimainkanya.
Setelah menamatkan AMS ia kembali ke Jakara dan meneruskan di sekolah Hakim Tinggi, Sekalipun ia sendiri lebih suka memusatkan perhatiyanya pada lapangan sastera. Ini pun merupa kan perktaikan batin yang tak dapat diselesaikannya. Sekolahnya di sekolah Hakim Tinggi ada lah atas perintah pamannya yo sejak kecil mengongkoskinya untuk ber-sipa-sipa memangku jabaran sebagai tangan pamannya Sultan Langkat. Di waktu ia membuatkan kebebasan, ia justru harus memahati ketertiban keluarga. Dan untuk selanjut-nya ia palsa dirinya mematahkan keinginan dan kepentingannya sendiri, suatu hal yang menyebab kan ia menjadi pemikir yang dalam, dan diyuga penangis yang menghibakan, yang semuanya ter-pancar dalam sajak-sajaknya, yang lahir pada masa perjuangan baru ini. Sajak-Sajaknya ini diumat calon majalah-majalah. Timbul dan Panji Pustaka, dan kemudian juga di Pujangga Baru.
Pada tahun 1933 ia kembali ke Solo untuk menghadiri upacara pemakaman Susuhunan Pakubuono-X sebagai utusan Sultan Langkat dengan menge- nakan pakaian kebesaran.
Di lapangan pergerakan ia tetap giat, bahkan ikut menga- jar di sebuah Perguruan nasio- nal—suatu hal yang luarbiasa bagi meraka yang dibesarkan, dididik dan mendapat rahmat daripada feodalisme. Hubungan- nya dengan tokoh-tokoh pergerakan makin luas. Hal ini membangkit- kan peranan kuatir pada pemerintah Hindia Belanda. Inilah se babnya Gubernur Jenderal Hin dia Belanda melalui Gubernur Belanda di Medan, Spits, meng- enjurkan kepada Sultan Langkat untuk mengawinkan puteri-nya yang sulung, Tengku Ka-mallah, dengan Amir Hamzah. Sebelum ia menamatkan seko-lahnya dan baru mencapai kan-didat, ia telah dipanggil pulang oleh pamannya dan dikawinkan dengan mendapat gelar Paug-eran Indera Putera. Dari perka-winan ini diperoleh seorang puteri yang dinamai Tengku Yong atau Puteri Tahura.
Dengan kembalinya ke tempat asalnya ini mulai ia dikurung oleh tembok-tembok istana sebagai pembantu Sultan, menjadi ke-pala luhak. Ia tenggelam dalam pekerjaan administrasi dan ha-sil ciptaannya yang sudah sedi-kit itu makin menjadi keruil. Juga dalam lingkungannya yang asal ini ia menempatkan dirinya dalam ruangan bangsa-wan yang sempit yang terdiri atas kaum bangsawan dan pe-gawai tinggi. Kadang-Kadang saja ia memberikan ceraman yang di-adakan oleh Persatuan Suma-tera Timur yang mengambil pok-kok di sekitar Sejarah Melayu dan sasteraan. Sedang sajak yang dibuatnya tidak lebih dari 4 buah dalam masa ini.
Pada masa pendudukan Je-pang ia terpilih sebagai anggota Balai Bahasa Indonesia yang di-adakan di Medan.
Pada waktu kemerdekaan ia hadir ditan rapat yang diadakan oleh peta-peta, dan mengucapkan kata-kata sumbang. Menurut ke-tetapan Gubernur tgl. 29 Okt-ober 1945, no. 5 ia diangkat menjadi Wakil Republik untuk keryaan Langkat. Sedang me-nurut Anwar Dharma, Amir Hamzah, karena diywa bangsa-waaninya, tidak dapat mengikut perputaran Revolusi. Ia masih belum memperhatikan sikap yang nyata terhadap Revolusi.
Pada tgl. 3 Maret oleh Pe-muda Republik Indonesia, yang kemudian dilebur menjadi Pe-dindo, dikobarkan apa yang me-nurut Dr. M. Amir dinamai “Revolusi Sosial”, yang meng-ambil golongan bangsawan se-bagai dasar. Ber-sama-sama para bangsawan lain-lainnia Amir Hamzah ditangkap dan ditempatkan di Kebon Lada diluarkota Bindai. Menurut kabar dari mulut-ke mulut, kemudian ia dipindahkan ke Kuala Bindai, dan di sana pada suatu malam ia di penggal. Dalam menghadapi saat-saat gelap itu ia tetap tawakal dan menyersahkan kembali segalanya kepada Tuhan.
Sehari sebelum meninggal sa lahseorang pengawalnya bertanya yang dijawabinya, “Kalau Tuhan telah mengiyinkan aku haruskembali menghadapNya, aku akan bersujud di bawah kaki kebesaranNya.” Pengawal itu dua yang memberinya ker ta dan potot, dan dengannya ia membuat sajaknya yang terakhir.
4 Hari setelah kejadian itu Dr. M. Amir meminta kepada Markas Agus, agar Amir Hamzah yang turut tertangkap disel amatkan. Waktu itu Dr. M. Amir menyadibat menteri negara dan wakil gubernur Sumatera, dan kabarnya Pemerintah Pusat pun memberikan desakannya. Markas Agus segera mengadakan hubungan dengan Binjai.
Tetapi jawabannya hanya: “Amir Hamzah sudah tidak ada lagi......”
Karya: Buah Rindu, Pustaka Rakyat, 1941; Nyanyi Sunyi, Pustaka Rakyat, 1937. Menteri demekhan: Omar Khayyam, Bhagavad Gita dan Li Tei Po sedang Setanngi Timur, Pustaka Rakyat, 1939, adalah kumpulan teryemahan dari pengarang-pengarang Asia.
Pemandangan: Peranan Amir Hamzah dalam kesusasteraan Indonesia amat besar di masa Pusanga Baru, Sutan Takdir Alisyahbana sebagai pengarang semasaan mengatakan, bahwa dengan sajaknya Berdiri Aku kesusasteraan Indonesia yang baru dapat menyamai buah ke susasteraan negeri luaran yang se sempurna-sempurnanya. Seluruh syair itu nyanyian, sunyi sepI Iaksana asap pedupana yang halus, ber gelung-gelung membubung tiada teraba di tempat keramat yang bersih suci. Peran Amir Hamzah dalam Lingkungan Pujangga Baru dikatakan, “Amir Hamzah yang merawakan hati mengal rakan air sungai dan sungai Mel ayunya kemura Indonesia.” Prof. A. Teeuw berpendapat, banwa, “...Saya percaya bahwa antara orang-orang Indonesia dari zaman sebelum perang Amir Hamzah itulah yang kadang-kadang ada menyapai tingkat interna sional.”
Peran yang tidak kurang pen tuyonya adalah, bahwa ia selalu mengumandangkan kepribumi anya sendiri, Sekalipun pada masa itu mulai bangkit apa yang biasa dinamai semangat modern, yang identik dengan se mangan Barat. Juga Pujang ga Baru sendiri telah menjadi di dua golongan ini. Pada pihak satu dengan Takdir dan Arminy menaikkan bendera pem-Barat an, pada pihak yang lain dengan Amir Hamzah dan Sanusi Pane yang ber-penjikan pen-Timur an, Amir Hamzah sendiri tidak banyak berteori tentang kebuda yaan dan umumna dan kesus teraan khususnya. Dalam segala hal dan cara hampir selamanya ia berlawanan dengan Takdir. Takdir menyatakan, bahwa “ki ta datap menjadi pujangga baru, Meskipun masih berurat berakar pada Indonesia, yakni Indonesia purbakala yang oleh benyak-sedikitnya diediek seba gai jamam dhayiliah”. Dan le bih banyak hanya keluar dengan hasil-hasil, di mana Takdir tiaa hencna berteori dan meng aqumkan Barat. Apabila Takdir menceryehmakan, Pierre Loti Amir Hamzah sebalkiknya meng Indonesia-kan hasil-hasil sastera Ti mur Semua karangannya ber nafasikan ketimuran, ketuhanan, dan kesalehan. Gayabasanya, baik dalam puisi Maupun prosa tetap tinggi, agung dan se imbang. Dalam puisi, di mana waktu itu golongan modern menyoba melepskan diri dari tradisi lama, Amir Hamzah justru menggali kemampuan dan kekhususan syair dan pan tun, Lukisan-Lukisan, perbandingan-perbandingan, irama kata, semua masih serba Melayu. Walaupun demikian hal yang klise tsb. tidak membuat sajak-sajaknya menjadi heku atau kaku, karena ia dapat menyelami diywa Melayu, bahkan hal-hal klise itu menghidupkan suasana yang segar. Tidak jarang ia memperguaskan per bandingan-bandingan atau sindiran-sindiran yang diamblanya dari riwayat para nabi, sehingga menyelut bagi parepembaca yang tidak menge ngal dunia agama. Terutama ba gi pembaca masa kini, yang tambah lama tambah jauh dari bahasa Melayu, sajak-sajaknya meny adi makin sulit tersa, karena kata-kata yang masih utuh Melayu yang dipergunkannya.
Keluarrbiasaan Amir Hamzah sudah nampak pada sajaknya yang hanya tecdri dari 80 baris, yang mengingatkan orang pada ballade Barat, yang menjawai Hang Tuah.
Sebagai pengarang prosa Amir Hamzah tak banyak arti nyia. Karangan-Karangannya dalam prosa tentang kesusasteraan adalah dangkal dan berlawanan dengan pendalamanyanya dalam kesusaste ran Timur: Arab, Parsi, India, Turki, Tiongkok dan Jepang.
Mr. Moh. Yamin mengatakan, bahwa Amir Hamzah adalah penyari terakhir dalam bahasa Indonesia pertengahan. Pen aaman ini mempunyai hubungan dengan pembuat kurun (periode) dalam seyarah kesusasteraan Indonesia. Artinya dengan Amir Hamzah ini kesusasteraan Indonesia menda parkan, mataratantaya yang hi lang, yakni mataratani yang menghubungkan antara kesusasteraan Melayu asal dan kesusasteraan Indonesia yang khas. Dengan Amir Hamzah kesusasteraan puisi Indonesia mem buat perombakan total atas kesusasteraan puisi Melayu. Tetapi, ini tidak berarti, bahwa Amir Hamzah melepskan diri dari segala nilai yang baik dari yang lama, karena seperti yang diajarikannya kepada kita: “Da lam beberapa hal dan bagi be berapa orang, yang lama mungkin tetap berharga, memang mungkin merupakan kebudaa yaan yang menimbulkan ilham.” Tetapi perombakan total yang dilakukan Amir Hamzah mem punyai ciri lain. Kesusasteraan Melayu lama, puisinya, adalah bersatif sajak-kata (woord vers), yang dengan sendirinya tunduk pada perbedaharaan bahasa, dan karena itu tek mem perlihatkan adanya kepribadian sebagai ciri kemodernan. Tetapi pendidikan Barat yang diterima nyia serta studi kesusasteraan yang dilakukannya menyebabkan ia sadar, bahwa posisi puisi Melayu Kuno dalam jaman kema juan yang membuthukan kepribadian itu tidak bisa diterus kan lagi. Dasar-Dasar kebudayaan Melayu yang sudah menjadi darah-dagingnya dan pendidikan Barat yang diterimanya, mem buat ia tak mungkin lagi di kuasai oleh perbedaharaan kata, tetapi yalan yang menguasai per bedaharaan itu, yang menyebab kan ia dapat memobilisasiakan kekhususan dan kekuatan pan tun dan syair, Sekalipun dalam dunia puisi ini bahasa Melayu Indonesia terlalu miskin kemampu annya dibandingkan dengan bahasa-bahasa Barat, terutama bahasa Perancis Dan penguasaannya atas kekhususan dan kekuatan pantun dan syair ini menyebab kan sajak-sajaknya kaya akan assosian dan aliterasi sehing ga permanen bunyi yang indah itu dalam harmoni kata yang tepat, memperdalam makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Tragik kehidupan dan kematiannya, oleh seorang kritikus pernah dinyatakan sebagai per lambang, bahwa yang telah lam paut buat se-lama-lamanya dan telah ditakdirkan untuk musnah, ba gaimana pun juya indahnya dia kemudian menghidupkannya sekali lagi kembali.
(SEBARAN BMKN)
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.