Baca EPUB: Bintang Merah: No. 3-4 · Tahun XXI · 1965

9 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BINTANG MERAH
  2. ULANG TAHUN KE-95 HARI LAHIR LENINBM 3-4/1965
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. DARI REDAKSI
  6. LENINISME DAN SEMANGAT BANDUNG
  7. Memperingati Lenin Harus Belajar dari Lenin
  8. Kontradiksi Terpokok Nasion Tertindas Lawan Nasion Penindas
  9. Perkokoh Kubu Sosialis Lawan Revisionisme Modern
  10. Semangat Bandung—Semangat Persatuan Semua Kekuatan Revolusioner Melawan Imperialisme
  11. KEMENANGAN BESAR LENINISME
  12. WASPADA TERHADAP PENYIMPANGAN IDEOLOGI KE IMPERIALISME
  13. PROMOSI KIM IL BUNG
  14. UNCOPYRIGHT

BINTANG MERAH

ULANG TAHUN KE-95 HARI LAHIR LENIN

BM 3-4/1965


KOLOFON

Berdasarkan arsip dari: Harri Gieb

BINTANG MERAH

Majalah Teori dan Politik Marxisme-Leninisme

Ulang Tahun ke-95 Hari Lahir Lenin

BM 3-4/1965

Redaksi:

Nyoto, Sudisman, P. Pardede, B. O. Hutapea

© 2026 MasasilaM

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



DARI REDAKSI

Kawan Ketua D. N. Aidit, ketika menutup kuliah umumnya di Universitas Rakyat Jakarta dalam rangka memperingati ulangtahun ke-90 hari lahir W. I. Lenin, mengatakan: “Dengan Lenin segala kesulitan akan dapat diatasi, keadaan akan berjalan lebih baik; sedangkan tanpa Lenin yang mudah akan menjadi sulit, keadaan, yang baik akan menjadi buruk.” Kebutuhan akan Lenin, akan ajaran-ajaran, watak, sikap, dsbnya dari Lenin lebih dirasakan lagi dalam situasi nasional dan internasional seperti sekarang ini. Makaitu Bintang Merah kali ini adalah nomor khusus menyambut ulangtahun ke-95 hari lahir Lenin. Dalam nomor khusus ini kami muat tiga tulisan, masing-masing oleh A. Sucipto, editorial Hongqi dan Pyotr Demicev.

Kemudian, akan tidak tepatlah kalau Bintang Merah nomor ini melewatkam begitu saja kunjungan Kawan Kim Il Bung, Ketua CC Partai Buruh Korea dan Perdana Menteri Republik Rakyat Demokratis Korea, ke Indonesia. Makaitu dalam nomor ini dimuat pidato promotor Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro dalam upacara pemberian gelar Doctor Honoris Causa kepada Kawan Kim Il Bung.


LENINISME DAN SEMANGAT BANDUNG

Malam ini kita berkumpul di sini untuk ber-sama-sama memperingati ulangtahun ke-95 hari lahir Wladimir Ilyitsy Lenin yang jatuh tepat pada tanggal 22 April yang lalu. Adalah juga arti khusus, bahwa malam ini adalah malam menjelang Hari 1 Mei, Hari Raya kaum Buruh Sedunia. Sebab Lenin selalu satu dengan Gerakan Buruh Internasional.

Nama Lenin, riwayathidup Lenin, kepemimpinannya dalam gerakan revolusioner dunia dan ajaran-ajarannya Leninisme, sudah lama dikenal di Indonesia. Malah bukan saja dikenal, tetapi Lenin dan Leninisme semakin luas dipelajari dan diperdalam oleh kaum revolusioner, terutama kaum Marxis-Leninis, di Indonesia. Walaupun sang waktu semakin jauh memisahkan kita dari masahidup Lenin dan barangkali di antara kita tidak ada seorang pun yang pernah bertemu muka dengan Lenin, tetapi lewat ajaran-ajarannya kita makin mengenal Lenin, makin mencintai Lenin dan tidak ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan Lenin dari gerakan revolusioner Rakyat Indonesia yang semakin perkasa.

Memperingati Lenin Harus Belajar dari Lenin

Belajar dari Lenin tidak ada habisnya dan setiap kali kita peringati ulangtahun Lenin adalah sekaligus untuk memperdalam ajaran Lenin. Juga kali ini dalam memperingati hari lahir Lenin yang ke-95, hendak kita pergunakan untuk belajar dari Lenin, khususnya dalam hubungan dengan gerakan pembebasan nasional.

Ketika membuka Pameran Tentang Lenin di Jakarta dalam rangka memperingati ulangtahun ke-90 hari lahir Lenin pada th. 1960, Kawan Aidit, Ketua CC PKI dan Ketua Dewan Kurator Akademi Ilmu Sosial “Aliarkham” menyatakan bahwa “Mengenal Lenin berarti mengenal jalan penyelesaian revolusi Indonesia”, karena Lenin Walaupun jauh dari Indonesia, mengenal dengan sangat baik keadaan di Indonesia dan gerakan revolusioner di Indonesia.

Selanjutnya, dalam memperingati ulangtahun ke-94 pada tahun yang lalu Kawan Aidit menandaskan bahwa “W. I. Lenin bukan hanya gurubesar dan pemimpin besar dari proletariat Rusia dan klas buruh dunia. Lenin adalah juga gurubesar dan pemimpin besar dari semua Rakyat tertindas yang berjuang untuk pembebasannya.”

Memang, ajaran Lenin telah memungkinkan proletariat Rusia dengan pimpinan PKUS, Partai asuhan Lenin sendiri, untuk memenangkan revolusi sosialis yang pertama di dunia dan membangun negara sosialis yang pertama di dunia. Ajaran Lenin telah membimbing kaum proleter di-negeri-negeri Eropa Timur dalam memenangkan revolusi sosialis dan pembangunan sialisme di negerinya masing-masing. Leninisme pula mempedomani perjuangan Rakyat-Rakyat di Tiongkok, Vietnam dan Korea di bawah pimpinan Partai Marxis-Leninis untuk mencapai pembebasan nasional sepenuhnya dan selanyutnya untuk melaksanakan revolusi sosialis dan pembangunan sosialisme. Dan Leninisme ini juga menjadi ilmu perjuangan Partai-Partai Komunis di-negari-negari jajah-an, setengah-jajahana atau yang baru merdeka dalam memimpin perjuangan Rakyatnya melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme untuk mencapai kemerdekaan nasional yang penuh.

Adalah suatu kehormatan bagi saya, dan untuk itu saya sungguh-sungguh berterima kasih kepada Lembaga Persahabatan Indonesia-Uni Sovyet, karena mendapat kesempatan pada malam hari ini untuk atas nama Akademi Ilmu Sosial “Aliarkham” memberi uraian singkat menyambut peringatan ulangtahun ke-95 hari lahir Lenin ini. Sudah tentu tidak mungkin bagi saya, dan memang bukan maksud saya, untuk membahas segala aspek dari ajaran Lenin. Saya ingin membatasi diri pada beberapa soal dari ajaran Lenin yang langsung bertalian dengan salahsatu arus gerakan revolusioner yang perkasa dewasa ini, yaitu perjuangan pembebasan nasional Rakyat-Rakyat Asia-Afrika yang dijiwai oleh apa yang menjadi terkenal sebagai “Semangat Bandung”. Yaitu perjuangan revolusioner nasion-nasion tertindas yang sedang menggelora di-benua-benua Asia, Afrika dan juga meluas di Amerika Latin untuk membebaskan diri dari penindasan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Berhubung dengan itu, uraian singkat ini saya beri judul Leninisme dan Semangat Bandung.

Kebangkitan Timur—kebangkitan nasion-nasion tertindas!

Bebberapa hari yang lalu, pada bulan April ini juga telah berlangsung dua peristiwa penting di negeri kita. Yang pertama, ialah Sidang Umum ke-III MPRS yang membahas dan menyetujui Amanat Presiden Sukarno untuk “banting stir” dibidang ekonomi dan melaksanakan prinsip berdiri di atas kaki sendiri (Amanat “Berdikari”); dan yang kedua, perayaan Dasawarsa Konfrensi Asia-Afrika I yang dibuka dengan Amanat Presiden yang amat penting, yaitu “Sesudah sepuluh tahun, tetap: Maju terus, Pantang Mundur!”

Peristiwa yang pertama terutama menyangkut persoalan dalam negeri, persoalan pembangunan ekonomi negeri kita, sedangkan peristiwa kedua adalah peristiwa internasional yang dihadiri oleh wakil-wakil pemerintah dari 40 negeri Asia-Afrika. Tetapi sesungguhnya, kedua peristiwa itu hanya mencerminkan dua aspek, aspek dalamnegeri dan aspek internasional, dari satu perjuangan yang sama, yaitu perjuangan dari persatuan kekuatan-kekuatan revolusioner internasional melawan nekolim sebagai kekuatan reaksioner internasional untuk mencapai kemerdekaan nasional di segala bidang, terutamanya dibidang ekonomi. Inilah menurut pendapat kami, isi dari perjuangan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika dan Amerika Latin, isi dari semangat Bandung.

Adalah suatu kenyataan sekarang bahwa nasion-nasion tertindas yang dulu seperti yang dikatakan Lenin “merupakan sasaran politik imperialis internasional, dan yang hanya dianggap rabuk bagi kebudayaan dan peradaban kapitalis” kini berada di barisan depan dalam mengganyang imperialisme. Di dalam pidato di depan Kongres Se-Rusia dari Organisasi-Organisasi Komunis Rakyat-Rakyat Timur, tgl. 22 Nopember 1919 bagaikan meramalkan Lenin berkata: “Periode kebangkitan Timur di dalam revolusi masakini sedang disusul dengan periode di mana semua Rakyat Timur akan ambil-bagian dalam menentukan nasib seluruh dunia, supaya tidak hanya menjadi sasaran untuk memperkaya oranglain. Rakyat-Rakyat di Timur sedang menjadi sedar akan perlunya tindakan praktis, akan perlunya setiap nasion mengambil bagian dalam memben-tuk nasib seluruh umat manusia”.

Apa yang dimaksud oleh Lenin dengan istilah “Timur”? Ketika mengkritik seorang sosial demokrat yang menganggap masalah “hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri” sebagai sesuatu yang sudah usang, Lenin mengecam bahwa orang itu “menoleh ke belakang, bukan melihat ke depan”, bukan melihat “ke Timur, ke Asia, Afrika dan tanahjadzhan-tanahjadzhan, di mana gerak-an (nasional) ini adalah sesuatu dari masakini dan masadepan.“ (Proletariat Revolusioner dan Hak Bangsa-Bangsa untuk Menentukan Nasib Sendiri dalam Lenin, Collected Works, Vol. 21, hlm. 407). Lenin sungguh-sungguh mengenal kekuatan-kekuatan revolusioner dari nasion-nasion tertindas ini yang ”akan bangkit sebagai pelaku-pelaku yang bebas, sebagai pembangun-pembangun kehidupan baru“. Kebangkitan ”Timur“ berarti kebangkitan nasion-nasion tertindas!

Penyelenggaraan konferensi Asia-Afrika I di Bandung pada sepuluh tahun yl. Walaupun dicemohkan oleh kaum imperialis, sudah terbukti bukan se-mata-mata pertanda “kebangkitan Timur”, tapi sudah menandakan permulaan periode yang menusulnya, periode yang oleh Lenin dikatakan, “di mana semua Rakyat Ti-mur akan ambilbagian dalam menentukan nasib seluruh dunia”. Ketika menjelang KAA I itu kawan Aidit sudah menandaskan bahwa KAA I itu akan menjadi “permulaan yang penting bagi negeri-negeri Asia-Afrika dalam membikin sejarahnya sendiri secara kolektif” (D. N. Aidit Pilihan Tulisan, D. I, hlm. 402).

Kontradiksi Terpokok Nasion Tertindas Lawan Nasion Penindas

Berbeda dengan kaum sosialis dari Internasionale II yang sangat meremehkan gerakan pembebasan nasional dan menganggap Rakyat-Rakyat negeri jajanah harus di “peradabkan” dulu, Lenin memberi perhatian besar pada perjuangan nasion-nasion tertindas dan menilainya sangat tinggi dalam perkembangan revolusi dunia. Karya-Karya teori Lenin mengenai gerakan pembebasan nasional banyak sekali dan perlu dipelajari secara mendalam.

Di dalam laporan Komisi Tentang Masalah-Masalah Nasional dan Kolonial kepada Kongres Kedua Komintern, tanggal 26 Juli 1920, Lenin menyelaskan beberapa ide (gagasan) pokok yang mendasari tesis-tesis yang disusunnya mengenai masalah nasional dan kolonial. Dewasa ini sudah banyak sekali terjadi perubahan dalam situasi dunia dengan tercapainya kemenangan revolusi-revolusi sosialis di berbagai negeri Eropa, Asia dan Amerika Latin, dan timbulnya negara-negara merdeka di Asia dan Afrika. Maka ide-ide pokok yang di-jelaskan oleh Lenin itu adalah penting untuk memahami perkembangan-perkembangan gerakan revolusioner dewasa ini, un/uk memahami perspektif gerakan-gerakan kemerdekaan nasional dan hubungannya de-ngan gerakan klas buruh yang revolusioner untuk mencapai so-sialisme.

Ide pertama yang sangat ditekankan oleh Lenin ialah bahwa harus dibedakan antara nasion-nasion yang tertindas dengan nasion-nasion yang menindas. “Ciri karakteristik dari imperialisme” kata Lenin, “ialah bahwa seluruh dunia... dibagi dalam sejumlah besar nasion-nasion yang tertindas dan sejumlah ketiyil nasion-nasion penindas teta-pi yang menguasai kekayaan luarbiasa dan kekuatan bersenjata yang mahakuat... Kl. 70% dari penduduk dunia terdiri dari nasion-nasion yang tertidias”. Inilah yang tidak mau dilihat oleh kaum reformis dari Internasionale kedua, sehingga mereka tidak memberi sokongan sedikit pun kepada nasion-nasion tertindas yang berduyang melawan imperialisme.

Pada dewasa ini pun ciri tersebut masih tetap berlaku. Kaum imperialis, kaum nasionalis kanan dan kaum revisionis modern suka menggambarkan, bahwa sekarang sesungguhnya “dekolonisasi” sudah berjalanan, kolonialisme sudah hampir mati, hanya tinggal sisa-sisa-nya saja yang tidak seberapa. Pandangan ini sangat berbahaya, terutama karena menyual nasion-nasion tertindas dengan kemerdekaan paksa dan membikin mereka tidak waspada terhadap neokolonialisme. Meskipun banyak bekas jajaiban mencapai kemerdekaan sebagai hasil dari perjuangan yang sengit dan makan waktu lama, tapi sebagaimana sering dikatakan oleh Bung Karno “Imperialisme belum mati, perjuangan menentang kolonialisme dan neokolonialisme masih belum rampung”.

Kolonialisme adalah kelanjutan langsung dari imperialisme. Oleh karena itu, selama imperialisme masih hidup, selama itu ia akan berusaha mempertahankan atau merebut kembali kekuasaan atas jajaiban dengan satu atau lain bentuk kolonialisme. Diustru kontradiksi antara nasion-nasion tertindas melawan nasion-nasion penindas melawan imperialisme, melawan nekolim itulah yang sekarang menjadi kontradiksi terpokok di dunia dewasa ini, yang menimbulkan pusaran-pusaran pergolakan-pergolakan revolusioner yang hebat di-daerah-daerah Asia, Afrika dan Amerika Latin. Kita cukup merenungkan pengalaman Rakyat Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan dan mengikuti dengan teliti berita-berita radio atau membaca suratkabar tentang peristiwa-peristiwa dunia untuk mengerti mengapa dikatakan oleh Bung Karno bahwa “koeksistensi secara damai... tidak coycok buat negara-negara seperti kita ini yang masih berhadap-berhadapan dengan imperialisme...”, mengapa Lenin pernah berkata bahwa “perang-perang nasional melawan kekuasaan imperialisme bukan saja mungkin dan bolehjadi; perang-perang itu adalah takterelakkan, progresif dan revolusioner”. Pengalaman-Pengalaman kaya gerakan pembebasan nasional, terutama sesudah perang dunia kedua, membuktikan bahwa kaum imperialis dapat dikalahkan dan dipukul mundur hanya dengan satu cara, dengan perjuangan

Rakyat bersenjata, dengan perang nasional revolusioner. Ini sa masekali tidak berarti bahwa kita haus perang. Ketidakmungkinan koeksistensi damai itu adalah karena ada perbedaan antara nasion yang tertindas dengan nasion-nasion penindas. Atau seperti ditegaskan oleh Bung Karno “Ya, memang benar, kita ingin hidup harmonis, akan tetapi dapatkah kita hidup harmonis dengan neokolonialisme? Ya, memang benar kita menyintai perdamaian akan tetapi dapatkah kita hidup dalam kedamaian dengan imperialisme? Ya, memang benar kita setuju dengan co-existence, tetapi yang kita maksudkan adalah co-exsistence antara sesama pejuang kemerdekaan, demokrasi, perdamaian, tanpa memandangideologi, kebangsaan atau agama; bukan co-existence sebagai antara sebuah parasit dan pohon yang dihisap sarinya oleh parasit itu!” Sesudah Sepuluh Tahun Tetap, Maju Terus, Pantang Mundur!)

Trikora dilaksanakan oleh Rakyat Indonesia untuk membebas-kan Irian Barat, bukan karena haus perang, tapi karena wilayah sah Republik Indonesia dijajah oleh imperialisme Belanda. Dwikora sedang kita jalankan dengan konfrontasi di segala bidang ideologi, kebangsaan atau agama; bukan co-existence se-dang, karena proyek neokolonialis “ Malaysia” dibuat oleh imperialis-Inggris dengan sokongan penuh imperialis AS untuk mengepung negeri kita.

Indonesia keluar dari PBB, bukan karena tidak mau bergaul dengan bangsa-bangsa lain, tapi justru karena PBB sudah diperalat oleh kaum imperialis, sehingga malahan merusak hubungan yang wajar di antara bangsa-bangsa. Dan siapa yang belum tahu atau tidak bisa melihat bahwa perang di Vietnam, di Laos, di Kongo (L) di Angola, di Venezuela, dan ancaman agresi terus-menerus ter-hadap Kuba bukanlah karena Rakyat negeri-negeri itu haus perang atau dihinggapi penyakit ke-kiri-kirian tapi karena mereka “ di-intervensi, di-subversi, di-agresi”, sehingga dengan takterelakkan menimbul-kan perlawanan progresif, revolusioner antiintervensi, antisub-versi, antiagresi?

Maka sungguh tepat penekanan Lenin bahwa kaum Marxis-Leninis harus memahami perbedaan dan kontradiksi antara nasion tertindas dengan nasion penindas untuk dapat mengambil posisi yang tepat dan merumuskan pemecahan yang tepat atas kontradiksi itu.

Perkokoh Kubu Sosialis Lawan Revisionisme Modern

Ide kedua yang mendasari tesis-tesis Lenin tsb. ialah bahwa sesudah perang dunia pertama, hubungan-hubungan internasional, seluruh sistim negara-negara di dunia ditentukan oleh perjuangan segolongan kecil negara-negara imperialis melawan gerakan Sovyet dan negara-negara Sovyet yang dikepalai Rusia Sovyet.

Dewasa ini negeri sosialis tidak hanya satu saja, tetapi telah terbentuk satu kubu sosialis. Dan hubungan internasional dewasa ini memang tidak mungkin difahami tanpa memahami kontradiksi antara kubu Sosialis dengan sistim imperialis sebagai kontradiksi pokok. Sistim sosialisme adalah sistim yang langsung berlawanan dengan sistim imperialisme. Gerakan klas buruh sedunia dan kubu sosialis yang merupakan hasil utama gerakan itu juga mengubah arah perkebangan dari perjuangan nasion-nasion tertindas. Pada ini revolusi-revolusi pembebasan nasional tidak mempunyai perspektif lain kecuali Sosialisme, revolusi-revolusi pembebasan nasional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari revolusi sosialis dunia.

Oleh karena itu, kaum imperialis akan berusaha sekuat tenaga untuk merongrong dan meniadakan negeri-negeri sosialis. Sikap permusuhan kaum imperialis nampak dalam usaha-usaha subversi yang mereka adakan, misalnya dengan pengiriman pesawat-terbang mata-mata di atas wilayah Uni Sovyet, wilayah RRT dan negeri-negeri sosialis lainnya, dengan melakukan pemboman secara biadab terhadap RDV dan juga usaha-usaha untuk mensabot dari dalam dan dengan mempergunakan revisionisme modern untuk memecah-belah kubu sosialis. Oleh sebab itu adalah kewajiban yang sewajarinya bagi negeri-negeri sosialis untuk memperkuat pertahanan nasionalnya dan daya pertahanan seluruh kubu sosialis dan memperkuat sistim sosialis. Lenin menandaskan bahwa intenasionalisme proletar menuntut “pertama, bahwa kepentingan perjuangan kaum proletar di dalam satu negeri harus diturduukkan kepada kepentingan perjuangan itu dalam skala dunia, dan kedua, bahwa bangsa yang sedang mencapai kemenangan atas burjuasi harus mampu dan rela memberikan pengorbanan nasional terbesar demi kepentingan menggulingkan kapital internasional”. Juga adalah kewajiban gerakan klas buruh sedunia dan seluruh gerakan revolusioner untuk membela keutuhan kubu sosialis dan memperkuat persatuan kubu sosialis dengan gerakan-gerakan progresif revolusioner di seluruh dunia. Presiden Sukarno telah merumuskan keharusan itu dalam konsep revolusioner mengenai perjuangan NEFO lawan OLDEFO. Konseu ini dengan tegas menarik garis antara kawan dan lawan, sehingga kita tidak akan kabur dalam perjuangan untuk mengganyang nekolim. Justru dalam keadaan perjuangan revolusioner sedunia melawan imperialisme semakin memuncak, maka kita tidak bisa tidak merasa prihatin akan adanya serangan revisionisme modern yang melumpuhkan bagian-bagian dari gerakan klas buruh sedunia. Revisionisme ini begitu mendalamnya sehingga membikin kabur antara lawan dan kawan. Di dalam menghadapi agresi imperialis AS terhadap Republik Demokrasi Vietnam, suatu negeri sosialis, ada suatu negeri yang mengaku dirinya “sosialis” (Yugoslavia) mencoba berdiri “netral” antara sosialisme dan imperialisme dengan mengusulkan perundingan tanpa syarat antara AS dan RDV. Bukankah ini pendirian yang berpangkal pada keinginan “hidup dalam kedamaian dengan imperialisme”? Dalam keadaan kaum imperialis AS semakin terjepit, tampillah kaum revisionis modern sebagai juru selamatnya.

Apabila kita sebagai orang revolusioner hendak belajar dari Lenin, maka kita harus belajar pertama-tama dari kegigihan Lenin dalam melawan segala oportunisme dengan tidak kenal ampan. Dengan istimewa Lenin menunjukkan betapa bahayanya oportunisme seperti sosial demokrasi, reformisme, revisionisme. “Oportunisme adalah musuh kita yang pokok”, demikian Lenin. “Oportunisme di dalam lapisan-lapisan atas dari gerakan klas buruh bukanlah sosialisme proletar, tapi sosialisme burjuis. Praktek telah menunjukkan bahwa orang-orang aktif di dalam gerakan klas buruh yang menganut aliran oportunis adalah pembela-pembela burjuis yang lebih baik daripada burjuis sendiri. Tanpa pimpinan mereka atas kaum buruh, maka burjuis tidak mungkin bertahan dalam kekuasaan” (W. I. Lenin Selected Works, D. 3, hlm. 494). Memang tepat benar apa yang dikatakan oleh Kawan Aidit ketika menerima Pangeran Souphanouvong dari Partai Neo Lao Haksat bahwa seorang Pangeran yang benar-benar memihak Rakyat bisa menjadi seorang revolusioner sejati. Pengalaman-Pengalaman Revolusi Oktober 1917, Revolusi Rakyat Tiongkok, Kuba dll dan juga pengalaman revolusioner Rakyat Indonesia membuktikan, bahwa kaum tani yang dipimpin oleh proletariat, kaum tani yang telah dididik dengan Marxisme-Leninisme merupakan kekuatan proletariat yang terpercaya. Sedangkan kaum buruh yang dihinggai revisionisme atau reformisme adalah tak lain daripada pembela burjuasi.

Sesuai dengan Deklarasi dan Pernyataan Moskow adalah tugas kaum Marxis-Leninis untuk meneruskan perjuangan mela-wan revisionisme modern sebagai bahaya utama dalam gerakan buruh internasional dengan tidak sedikit pun melalaikan perjuangan melawan dogmatisme. Tugas ini adalah berat. Seperti yang dikatakan oleh Lenin, perjuangan melawan kesalahan-kesalahan “kiri” dari gerakan proletariat adalah “ribuan kali lebih mudah daripada perjuangan melawan orang-orang burjuis itu yang dengan kedok reformisme tergolong dalam partai-partai lama dari Internasionale Kedua dan melakukan seluruh pekerjaan mereka dengan semangat burjuis dan bukan semangat proletariat”. W. I. Lenin Selected Work, D. 3. halam. 494).

Tetapi Bagaimanapun kita harus melakukan tugas itu. Sebagaimana menjadi pengalaman gerakan revolusioner di Indonesia, asalkan semangat antiimperialis tinggi, maka revisionisme akan mudah terexpose. Di Indonesia perjuangan melawan revisionisme modern bukan hanya soal praktis bagi kaum Komunis Indonesia, tapi sudah menjadi tugas praktis dari seluruh nasion. Ketiga segi kerangka dalam Manifesto Politik Republik Indonesia dengan tegas menyatakan hubungan yang tak terpisah antara revolusi Indonesia untuk mencapai Indonesia yang merdeka penuh menuju Sosialisme Indonesia dengan revolusi dunia untuk membangun Dunia Baru yang bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia dan bebas dari penghisapan atas bangsa oleh bangsa.

Leninisme juga tidak dapat dipersatukan dengan trotskisme. Sesuai dengan pengalaman di Uni Sovyet dan di-negeri-negeri lain, trotskisme yang mulai di Indonesia sebagai penyelewengan dari Marxisme pada waktu pemberontakan nasional pertama th. 1926, kemudian merosot menjadi komplotan bandit politik yang mela- kukan kriminalitet-kriminalitet politik. Berkat kewaspadaan seluruh nasion Indonesia, maka dalam waktu yang singkat trotskisme di Indone- sia tertelanjangi kejahatannya. Pelikwidasion trotskisme di Indonesia merupakan tugas yang sangat penting untuk menjaga kemurnian dan keutuhan daripada inti gerakan revolusioner.

Semangat Bandung—Semangat Persatuan Semua Kekuatan Revolusioner Melawan Imperialisme

Fikiran ketiga yang dikemukakan oleh Lenin di dalam tesis-tesis mengenai masalah-masalah nasional dan kolonial ialah mengenai sikap Partai-Partai Komunis terhadap gerakan-gerakan burjuis demokratis di-ne- geri-geri nasion-nasion tertindas. Lenin memperingatkan bahwa burjuasi imperialis akan berbuat segala-galanya untuk menanamkan gera-kan reformis juga di kalangan nasion-nasion tertindas. Maka untuk melawan persekongkolan burjuasi imperialis dengan unsur-unsur reformis di dalam gerakan-gerakan nasional Lenin menekankan bahwa kaum Komunis harus menyokong sepenuhnya gerakan-gerakan pembebesan nasional yang sungguh-sungguh revolusioner, yang tidak menghalangi pekerjaan mendidik dan mengorganisasi kaum tani dan massa yang tertindas dalam semangat revolusioner.

Canang Lenin tsb. merupakan canang penting untuk dapat mengembangkan gerakan revolusioner Asia-Afrika dengan sehebat-sehebatnya. Memang ada negeri-negeri yang ketika memperoleh kemerdekaannya, Walaupun sangat tidak lengkap, sudah merasa diri “arrive”, “puasdiri”, yang menampilkan diri sebagai negeri-negeri nonblok munafik. Ada pula orang-orang seperti Tsombe dan Tengku Abdul Rakhman yang seperti yang dikatakan oleh Bung Karno “bukan orang Afrika dari Afrika” dan “bukan orang Asia dari Asia”, tapi agen-agen atau pengkhianat-pengkhianat. Tapi tidak dapat diragukan bahwa Konferensi Asia-Afrika pertama yang diadakan pada sepuluh tahun yang lalu di Bandung telah menjiwai gerakan Rakyat Asia-Afrika dengan semangat Bandung yang sungguh-sungguh revolusioner yang langsung ditujukan untuk menghancurkan imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme dan samasekali tidak didasarkan atas alasan-alasan rasialisme. Gerakan Asia-Afrika ini dibenci oleh imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme dan revisionisme modern. Itulah pertanda bahwa ia revolusioner.

Gerakan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika bukan gerakan yang mengisolasi diri dari gerakan revolusioner sedunia melawan imperialisme. “Saya telah meluncurkan idee untuk menyelenggarakan Conefo-Conference of the New Emerging Forces”, kata Bung Karno, “—suatu konferensi yang dihadiri tidak hanya oleh Afrika-Asia kita yang revolusioner, tetapi juga oleh negara-negara Amerika-Latin dan negara-negara kubu Sosialis, dan kekuatan-kekuatan progresif di negeri-di negeri kapitalis, termasuk Perancis, Inggris dan AS...”

“Kita boleh merumuskan tujuan daripada Konferensi Afrika-Asia Kedua dan Conefo dalam kata-kata sebagai berikut: kemerdekaan yang penuh damai atau kemerdekaan di dalam perdamaian, karena bukankah kita semua, tanpa memandang kebangsaan, agama atau kepercayaan kita mengejar perdamaian, kemakmuran dan kesentosaan? Kita sudah belajar dari pengalaman-pengalaman sendiri bahwa tidak akan terdapat dunia yang damai selama imperialisme masih ada. Oleh karena inilah kami menjunjung tinggi slogan: ”Kita cintai damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan“ (Pidaio Tetap Maju Terus).

Bukankah jelas bahwa Semangat Bandung yang demikian itu tidak hanya bertujuan membangkitkan kekuatan-kekuatan revolusioner nasion-nasion tertindas di Asia-Afrika dan Amerika-Latin, tapi bertujuan lebih jauh untuk mempersatukan semua kekuatan revolusioner di dunia melawan imperialisme. Kaum Komunis wajiib mengobarkan Semangat Bandung ini se-tinggi-tingginya, justru karena mereka setia pada ajaran Lenin. Dewasa ini telah bangkit di dunia kekuatan-kekuatan revolusioner yang menggelora. Kubu sosialis dan gerakan pembebasan nasional merupakan dua arus revolusioner yang perkasa. Gerakan klas buruh di-negeri-negeri imperialis pun menghadapi kebangkitan-kebangkitan revolusioner baru. Asalkan semua kaum revolusioner bersatu teguh, dan khususnya kaum Komunis setia pada ajaran revolusioner Lenin yang agung, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti terwujud ramalan Lenin bahwa “Imperialisme mesti jatuh apabila serbuan revolusioner dari kaum buruh yang terhisap dan tertindas di dalam masing-masing negeri... akan bersatu dengan serbuan revolusioner dari ratusan juta rakyat yang hingga kini tinggal di luar sejarah dan hanya dipandang sebagai obyek-obyek sejarah”.

Mari kita pada peringatan ulangtahun ke-95 hari lahir Lenin ini dengan dijiwai oleh Leninisme mengobarkan se-tinggi-tingginya Semangat Bandung untuk memperkuat persatuan semua kekuatan revolusioner untuk membangun Dunia Baru yang bebas dari imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme!

Mari kita amalkan dengan lebih baik lagi ajaran-ajaran Lenin untuk membangun Dunia Baru yang bebas dari penghisapan atas bangsa oleh bangsa dan atas manusia oleh manusia!

Jayalah ajaran Lenin yang abadi!

(Diucapkan pada malam peringatan

ulang tahun ke-95 hari lahir W. I. Lenin

yang diselenggarakan oleh

Lembaga Persahabatan Indonesia-Uni Soviet

tgl. 30 April 1965

di Gedung Lembaga Administrasi Negara,

Jakarta).


KEMENANGAN BESAR LENINISME

Tanggal 22 April tahun ini adalah ulangtahun ke-95 hari lahir Lenin yang besar.

Ketika berbicara pada suatu upacara untuk memperingati seorang revolusioner, Lenin mengatakan bahwa dalam memperingati orang-orang revolusioner yang telah meninggal, kaum Marxis menjelaskan tugas-tugas yang akan datang, bukan seperti orang-orang yang untuk maksud-maksud lain menggunakan kata-kata yang muluk dan puji-pujian vulger untuk membohongi dan menipu Rakyat. Dalam memperingati Lenin sekarang ini, tugas pokok kita adalah dengan teguh membela tesis-tesis revolusioner Leninisme, menentang pemutarbalikan Leninisme oleh kaum revisionis modern, dan dengan erat-erat menghubungkan perjuangan melawan revisionisme modern dengan perjuangan melawan imperialisme, terutama imperialisme AS.

Dalam memperingati ulangtahun ke-90 hari lahir Lenin pada tahun 1960, dengan mengibarkan tinggi-tinggi |panji Leninisme dan dengan ditujudkan terhadap kekacauhan ideologi yang ditimbulkan oleh kaum revisionis modern dalam gerakan komunis internasional, kami membuat tiga artikel, salahsatu diantaranya beryudulul “Hidup Leninisme!” Dalam artikel-artikel ini, tekanan kami letakkan pada penjelasan masalah-masalah imperialisme, perang dan damai, gerakan pembebasan nasional, revolusi proletar dan diktatur proletariat, semuanya berdasarkan tesis-tesis fundamentil Le-vulger untuk membohongi dan menipu Rakyat. Dalam mempeninisme dan situasi yang sesungguhnya di dunia modern, dan kami buktikan bahwa Leninisme, jauh dari “sudah usang” seperti yang diobrolkan oleh kaum revisionis modern, malahan makin jelas memperlihatkan daya hidup yang besar. Meskipun pada waktu itu kita belum secara terbuka mengkritik Khrusycov dan |pimpinan PKUS, pandangan-pandangan yang dinyatakan dalam ketiga artikel itu yang tak masukakal yang disebarikan oleh kaum revisionis Khruscov.

Ketiga artikel kami itu menimbulkan kebencian yang besar pada kaum revisionis Khrusycov dan menyebabkan mereka takut setengah mati. Mereka melancarkan serangan-serangan se-mau-nya terhadap pandangan-pandangan kita dengan mengeluarkan banyak artikel dan pidato dan menggunakan segala macam cara yang kotor dan tak bermalu. Dengan demikian wajah yang sesungguhnya dari kaum sevisionis Khrusycov ditelanjangi dengan lebih jelas lagi. Bersama-sama dengan kaum Marxis-Leninis revolusioner di negeri-negeri lain, kita tentu saja harus melakukan lebih lanjut perjuangan yang tegas melawan renegat-renegat Marxisme-Leninisme ini, melawan arus akal dalam gerakan komunis internasional ini.

Khrusycov jatuh. Pimpinan baru PKUS ber-kali-kali menyatakan bahwa mereka dengan setia akan terus melaksanakan garis revisionis Khrusycov yang telah berkembang sepenuhnya dan mempraktekkan Khrusycovisme tanpa Khrusycov. Mereka terus berdiri pada pendirian yang bertentangan dengan semua Marxis-Leninis revolusioner dan sampai saat ini belum berhenti menggunakan segala cara yang dapat dipergunakan untuk memfitnah dan menyerang tesis-tesis Leninis yang fundamentil yang diuraikan dalam “Hidup Leninis” dan dua artikel lainnya. Sudah lima tahun hingga sekarang sejak ketiga artikel itu disiarkan. Apa yang telah dibuktikan dalam lima tahun ini? Waktu telah memberikan keputusan yang paling adil. Fakta-Fakta selama lima tahun ini justru membuktikan bahwa pandangan-pandangan kami samsekali tepat. Untuk membicarakan semua masalah yang telah diuraikan dalam ketiga artikel itu akan memakan banyak ruangan, karena-nya kami akan membahas beberapa saja diantaranya.

Pertama, masalah waktu imperialis. Atas nama “pengembangan kreatif”, kaum revisionis Khrusycov samasekali memutarbalikkan teori Lenin tentang imperialisme. Mereka berpendapat bahwa watakimperialisme telah berubah dan menyangkal bahwa imperialisme adalah sumber perang di zaman modern. Mereka menyebarkan anggapan bahwa klik yang berkuasa dari imperialisme AS dan gembong-gembongnya “tidak mengharapkan perang” dan “memikirkan bagaimana menjamin perdamaian seperti kita juga”. Mereka secara besar-besaran mempropagandakan pandangan bahwa “pada zaman kita ini sudah terdapat kemungkinan praktis untuk pada akhrinya dan se-lama-lamanya melenyapkan perang dari kehidupan masyarakat” dan meramalkan bahwa tahun 1960 akan menjadi tahun di mana dunia akan menjadi “dunia tanpa senjata, tanpa angkatan bersenjata dan tanpa peperangan”.

Langsung bertentangan dengan kaum revisionis Khrusycov, dalam “Hidup Leninisme!” dan artikel lainnya kami tunjukkan bahwa “watak imperialisme tak dapat berubah” dan bahwa “selama imperialisme kapitalis ada di dunia, sumber dan kemungkinan perang akan tetap ada.” Kami juga menyatakan bahwa imperialisme AS adalah kekuatan agresi dan perang yang utama di zaman sekarang dan musuh yang paling ganas dari Rakyat di seluruh dunia.

Fakta selama lima tahun yang lalu telah membuktikan bahwa pernyataan kaum revisionis modern yang dikepalai oleh Khrusycov bahwa watak imperialisme dapat merubah dan telah berubah mempunyai tujuan yang se-mata untuk mengabdi imperialisme AS dan melumpuhkan Rakyat revolusioner.

Meskipun kaum imperialis AS telah menimbulkan tentang yang tegas dari Rakyat sedunia dan menderita kekalahan di mana, politik agresi dan politik perangnya sedikit pun belum berubah; malahan politik itu sedang dilakukan dengan intensif Di Asia, Afrika dan Amerika Latin, imperialisme AS menggunakn segala cara untuk memperhebat penindasanannya atas gerakan pembebasan nasional dan membunuh massa Rakyat secara besar. Terutama di Vietnam Selatan, yang sangat tak berperikemanusiaan, memasukkan pasukan-nya sendiri dan pasukan antek-nya, menggunakan segala macam senjata baru dan dengan kalap memperluas api peperangan ke Vietnam Utara.

Dengan menjalankan politik perangnya dengan semakin giat lagi, imperialisme AS tidaklah melaksanakan perlucutan senjata secara umum dan sepenuhnya seperti yang diharapkan oleh kaum revisionis modern menurut ilusi mereka, melainkan mengintensifkan perluasan persenjataannya yang umum dan penuh. Biaya militer AS telah mencapai puncak di masa damai dan ja uh melampaui tingkat yang dicapai dalam perang Korea. Meskipun kaum revisionis modern berusaha mem-bagus-kan wakil imperialisme AS sampai memuakkan, tapi wakil imperialisme AS itu sendiri—baik Eisenhower, Kennej Maupun Yohnson—telah berulangkali mengembar-ngemborkan bahwa Amerika Serikat “berani menanggung risiko perang” dan bahwa AS siap bertempur dalam perang apa pun juga, perang total atau terbatas, perang nuklir atau perang konvensionil, perang besar atau perang ketiyil.

Ditinjau dari fakta ini, dapatkah dikatakan bahwa watak agresif imperialisme telah berubah Meskipun hanya seujung rambut? Beginikah benggolan imperialisme “memikirkan bagaima-na menjamin perdamaian“ dan ”tidak mengharapkan perang“? Dapatkah dikatakan bahwa kita sedang memasuki dunia ideal itu, ”dunia tanpa senjata, tanpa angkatan bersenjata dan tanpa perang?“

Sekarang, karena didesak oleh keadaan dan untuk terus menipu Rakyat, penerus-penerus Khrusycov, pimpinan baru PKUS, harus melagak dan secara munafik meneriakkan beberapa semboyan antiimperialis. Tetapi, sekali lagi mempergunakan nada Khrusycov yang lama, mereka terus me-nyanjung-nyanjung imperialisme AS, memberikan penghargaan kepada Yohnson dengan menggunakan kata-kata yang menarik seperti “berakal sehat”, “bijaksana”, “menahan diri” dan berkepala dingin“. Mereka juga dengan sangat giat menyebarkan ide bahwa Uni Sovyet dan imperialisme AS dapat memberikan ”contoh kepada satu sama lain“ menge-nai masalah pengurangan biaya militer.

Perlu diperhatikan secara khusus kenyataan bahwa sekarang, bahkan pada saat bandit-bandit AS telah melemparkan segala kedok-nya mengenai masalah Vietnam dan sepenuhnya memperlihatkan watak imperialisnya, kaum revisionis modern masih berusaha dengan 1001 daya untuk melindungi AS. Sedikit perbedaan yang ada antara mereka dengan Khrusycov ialah bahwa Khrusycov terlalu bodoh sedang mereka agak lebih licin. Khrusycov dengan terang-terangan beromongkosong, mengatakan bahwa insiden Teluk Bac Bo bukanlah agresi imperialisme AS tetapi diprovokasi oleh Tiongkok dan Vietnam. Kata-Kata kakitangan ini begitu mirip dengan kata-kata tuannya, sehingga tidak berharga barang sepeser dan tak seorang pun yang mempertayainya. Pimpinan PKUS yang sekarang rupa-rupanya telah mengambil pelajaran dan sekarang menggunakan lagu lain. Mereka menyebarkan desas-desus dan fitnahan di-mana-mana bahkan AS telah didorong dalam agresinya terhadap Vietnam karena Partai Komunis Tiongkok telah menggerowoti persatuan kubu sosialis dan persatuan antara Tiongkok degan Uni Sovyet. Pertama-tama, pernyataan itu telah menjung-kir-balikkan kenyataan samasekali. Tak dapat dibantah lagi bahwa kaum revisionis Khrusycov-lah yang telah menggerowoti persatuan kubu sosialis dan persatuan antara Tiongkok dengan Uni Sovyet. Juga tak dapat dibantah lagi bahwa kaum revisionis Khrusycov-lah yang telah mendorong agresi imperialis AS. Pada hakekatnya, pernyataan-pernyataan itu masih tetap merupakan usaha untuk membebaskan gangster AS dari tanggungjawab, dan menjadi-kan agresi AS terhadap Vietnam tampak se-olah-olah bukan timbul dari watak imperialisme, tetapi dari sesuatu sebab lain. Mereka yang menyebarkan ide-ide itu tetap merupakan pembela-pembela imperialisme AS. Merekalah orang-orang yang sebenarnya mendorong agresi AS.

Kedua, mengenai masalah apa yang disebut “koeksistensi secara damai”.

Atas nama “pengembangan kreatif”, kaum revisionis Khrusycov telah memalas samasekali politik Lenin tentang Koeksistensi secara damai. Mereka berpendapat bahwa koeksistensi secara damai berarti mencapai “saling mengerti” dengan imperialisme. “saling menyesuaikan diri” saling berkompromi“ dan ”saling menyelaraskan diri“. Mereka mengatakan baliwa koeksistensi secara damai adalah ”keharusan yang mutlak pada zaman medern“ dan ”jalan yang paling baik dan satu-satunya yang dapat diterima untuk menyelesakan masalah-masalah yang sangat penting yang dihadapi oleh masyarakat“. Mereka terutama sangat menginginkan adanya persetujuan-persetujuan antara kepala-kepala negara Uni Sovyet dan Amerika Serikat sebagai ”tempat bergantungnya nasib umat manusia“, yang berarti kerjasama Sovyet-AS untuk mendominasi dunia. Mereka tidak hanya menganggap ”koeksistensi secara damai“ macam ini sebagai garis umum politik luar negeri mereka, tetapi juga menuntut supaya semua kaum Komunis di seluruh dunia ”menjadikan perjuangan untuk koeksistensi secara damai sebagai prinsip umum politik mereka“.

Bertentangan dengan kaum revisionis Khrusycov, kami menunjukkan dalam “Hidup Leninisme!” dan dalam dua artikel lainnya bahwa rintangan-rintangan bagi pelaksanaan koeksistensi secara damai terletak difihak kaum imperialis. Negeri-Negeri sosialis dapat berkoeksistensi secara damai dengan negeri-negeri imperialis pada waktu tertentu hanya melalui perjuangan dan, lagipula, perjuangan-perjuangan yang rumit dan sengit terus berlangsung dalam keadaan koeksistensi secara damai. Kami dengan tegas memunjukkan: “Yang dimaksud dengan koeksistensi secara damai ialah hubungan antara negeri-negeri yang satu dengan yang lain; dan yang dimaksud dengan revolusi ialah penggulingan klas-klas penindas oleh Rakyat tertindas di negeri masing-masing, dan bagi negeri-negeri jajihan atau setengah-jajihan, pertama-tama ialah penggulingan kaum penindas asing, yakni kaum imperialis.” Kedua soal ini se-kali-kali tidak boleh dicampuradukkan.

Fakta-Fakta selama lima tahun ini telah membuktikan bahwa kaum revisionis modern yang dikepalai oleh Khrusycov telah menjadi kan politik koeksistensi secara damai Lenin caping untuk menu tupi kapitulasi mereka kepada imperialisme AS dan revolusi secara damai kekapitalisme yang mereka praktekkan di-negeri-negeri mereka sendiri.

Justru imperialisme AS, sahabat dari kaum revisionis modern yang ingin mengadakan “kerjasama di segala bidang” de-ngannya, yang selalu dengan segala jalan menentang dan menggerowoti negeri-negeri sosialis, melakukan ancaman perang dan bahkan melancarkan perang agresi. Justru imperialisme AS jugalah yang melanggar wilayah dan kedaulatan negeri-negeri lain di seluruh dunia, mencampuri urusan-urusan dalamnegeri mereka, merugikan kepentingan-kepentingan mereka dan menindas revolusi Rakyat mereka. Kegiatan-Kegiatan jahat imperialisme AS dalam meluaskan perang agresi di Vietnam dan di seluruh Indocina sekarang ini adalah bagian penting yang tak terpisah dari usahanya untuk menjalan kan “strategi global” yang kontrak-revolusioner.

Dalam keadaan demikian, apakah Rakyat negeri-negeri ini harus dengan teguh berjuang melawan imperialisme AS atau haruskah mereka “menyesuaikan diri” dengannya, sesuai dengan “keharusam yang mutlak” kaum revisionis Khrusycov dan “berkompromi” dengannya? Apakah mereka harus melawan agresi bersenjata kontra-revolusioner dengan perjuangan bersenjata revolusioner atau haruskah mereka menempuh “jalan yang paling baik dan satu-satunya yang dapat diterima” yaitu “koeksistensi secara damai” dan membiarkan diri mereka disembelih oleh kaum imperialis? Bertentangan dengan kehendak kaum revisionis Khrusycov, Rakyat negeri-negeri ini telah memberikan jawaban yang tegas dengan tindakan-tindakan praktis mereka dalam perjuangan revolusioner antiimperialis. Dari pengalaman mereka sendiri mereka telah menarik kesimpulan bahwa samasekali tidak mungkin ada koeksistensi secara damai antara Rakyat revolusioner dengan imperialisme AS.

Pimpinan baru PKUS kini masih bersikeras berpegang pada apa yang dinamakan Khrusycov “koeksistensi secara damai” dan terus memandangny sebagai “garis umum politik luar negeri PKUS dan Pemerintah Sovyet”. Mereka giat menyebarkan ide bahwa “terdapat lapangan yang cukup luas bagi kerjasama” antara Uni Sovyet dengan Amerika Serikat dan telah melakukan diplomasi rahasia dengan imperialisme AS secara besar-besaran. Walaupun mereka telah mengucapkan beberapa kata yang muluk-muluk tentang masalah Vietnam dan memperlihatkan sikap menyokong tertentu, semuanya ini dilakukan hanya setelah diperoleh pengertian simpati dari gembong-gembong bandit imperialisme AS dan dilaku-kannya dalam batas-batas yang tidak merugikan garis mereka mengenai kerjasama Sovyet-AS. Tujuan dari semuanya ini tetap ialah bahwa mereka ingin bekerjasama dengan Amerika Serikat dan melakukan tipuan “perundingan perdamaian”. Mereka sedang melakukan segala apa yang bisa mereka lakukan dalam usaha yang sia-sia untuk memasukkan perjuangan Rakyat Vietnam yang patriotik dan adil melawan agresi AS ke dalam orbit “menyelesaikan masalah-masalah” melalui perundingan-perundingan Sovyet-AS untuk mendominasi dunia. Nyatalah, seperti juga Khrusycov, pimpinan baru PKUS, atas nama “koeksistensi secara damai” mengganti perjuangan klas dengan kolaborasi klas dalam bidang internasional. “Koeksistensi secara damai” mereka ini, hanya bisa menjadi koeksistensi kapitulasionis.

Ketiga, tentang masalah gerakan pembebasan nasional.

Atas nama “pengembangan kreatif” kaum revisionis Khrusycov telah menyimpang samasekali dari teori-teori Lenin mengenai perjuangan pembebasan nasional. Mereka berpendapat bahwa “kolonialisme sudah tumbang sampai ke-akar-akarnya”, bahwa perjuangan pembebasan nasional telah memasuki “tahap terakhir-terakhirnya, bahwa nasion-nasion tertindas ”bisa bebas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme dengan jalan perjuangan secara damai“, dan makaitu bahwa ”penguburan sistim kolonial akan merupakan penguburan yang tenang“. Mereka menyangkal pandangan Marxis-Leninis bahwa di semua negeri pembebasan Rakyat harus dilakukan oleh Rakyat itu sendiri; mereka menkhotbahkan dengan istimewa giatnya ide tentang ”kewajiiban-kewajiiban“ PBB terhadap pembebasan nasional, katanya ”Siapa, jika bukan PBB, yang akan memperjuangkan penghapusan sistim pemerintah kolonial?“ Mereka yakin se-yakin-yakinnya bahwa politik-politik kolonialis dari imperialisme telah berubah dan bahwa ”di antara kaum kolonialis yang paling jauh penglihatannya akan dapat angkat kaki, boleh dikata, lima menit sebelum mereka “ditendang”, makaitu mereka sangat mengharap mencapai persetujuan menganai “tindakan-tindakan untuk menghapuskan sistim pemerintah kolonialis” dengan kaum imperialis.

Bertentangan dengan kaum revisionis Khrusycov, kami menundukkan dalam “Hidup Leninisme!” dan dua artikel lainnya bahwa kontradiksi antara nasion-nasion tertindas dengan kaum imperialis adalah salahsatu kontradiksi fundamentil di dunia dewasa ini dan bahwa imperialisme AS adalah benteng utama kolonialisme modern dan musuh yang paling jahat dan licik dari gerakan-gerakan pembebasan nasional yang sedang menanjak di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Tak dapat diragukan lagi, agresi, penindasan dan perampokan imperialis mesti menimbulkan perlawanan difihak nasion-nasion tertindas, dan prahara gerakan pembebasan nasional sedang melanda Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan semakin menanjat. Kami juga menundukkan bahwa nasion-nasion tertindas tidak boleh mengharapkan pembebasan mereka pada “kebajikan” kaum kolonialis lama Maupun yang baru atau pada “pemberian” dari PBB yang manipulasi oleh imperialisme AS, dan bahwa mereka harus bersandar pada mereka sendiri untuk melancarkan perjuangan revolusioner yang teguh. Kami berkata, “tanpa kekerasan revolusioner tidaklah mungkin melenyapkan kekerasan kontra-revolusioner”.

Fakta-Fakta selama lima tahun yang lalu telah membuktikan bahwa kaum revisionis yang dikepalai oleh Khrusycov telah merosot menjadi pembela-pembela kolonialisme baru dan bahwa, dengan bersekongkol dengan kaum imperialis, mereka mencoba mencekik perjuangan revolusioner antiimperialis dari nasion-nasion tertindas.

Imperialisme AS yang menyadikan dirinya sebagai gendameri dunia tidak hanya telah mengirim pasukan-pasukannya sendiri untuk membunuhi secara massal Rakyat nasion-nasion tertindas tetapi juga telah bertindak dengan perantaraan PBB mengirim pasukannya untuk menindas Rakyat disatu tempat dan untuk menawarkan apa yang dinamakan rencana-rencana perkembangan di tempat lain, se-muanya dalam usaha yang sia-sia untuk memadamkan gerakan-gerakan revolusioner antikolonialis. Terutama di Vietnam, ia dengan terang-terangan telah me-nyobek-nyobek persetujuan-persetujuan Jenewa, meng-ha-lang-langi penyatuan kembali Rakyat Vietnam secara damai, dengan tak se-mena-mena meng-injak-injak kemerdekaan dan kedaulatan mereka dan dengan kurangajar menuntut agar 30 juta Rakyat Vietnam menyerah tanpa syarat di hadapan pisau jagalinya. Ini telah menelanjangi dengan lebih jelas lagi wajah buas kaum agresor AS.

Menghadapi kenyataan-kenyataan ini, bagaimana orang dapat percaya bahwa “kolonialisme sudah tumbang sampai ke-akar-akarnya”? Jika tugas pembebasan nasional telah memasuki “terakhir”, bagaimana orang dapat menerangkan gelombang pasang gerakan pembebasan nasional yang menggelora sekarang ini? Jika jasa-jasa yang dalam segala hal diberikan oleh PBB kepada imperialisme AS itu adalah “sumbangan-sumbangan” bagi “penghapusan kolonialisme”, maka apakah perjuangan-perjuangan yang dilancarkan oleh Kongo (Leopoldville) dan Indonesia melawan kolonialisme, neo-kolonialisme dan PBB harus dianggap sebagai penghalang bagi “penghapusan kolonialisme”? Imperialisme AS telah mengalami banyak “ten-dangan“ di Vietnam Selatan. Tapi, mengapa imperialisme AS bukannya ”angkat kaki lima menit sebelumnya“, malah terus mengirim opsir-opsir dan menolak untuk enyah? Dalam keadaan demikian ini, bagaimana Rakyat Vietnam dapat memberoleh pembebasan mereka ”dengan jalan perjuangan secara damai“ dan mengubur kolonialisme dengan tenang”?

Pimpinan baru PKUS tak pernah memberikan jawaban-jawaban yang serius kepada soal-soal ini, Sekalipun berulangkali mereka telah menyatakan “menyokong gerakan pembebasan nasional”. Mengapa demikian? Jawaban yang paling jelas telah diberikan oleh perbuatan-perbuatan mereka. Sebelum jatuhnya Khrusycov, mereka menyokong ditindasnya gerakan pembebasan nasional di Kongo (L) oleh kaum imperialis AS dengan jubah PBB; dan ini telah mengakibatkan terbunuhnya pahlawan nasional Kongo Patrice Lumumba. Sekarang penerus-penerus Khrusycov dengan hati menyetujui untuk membayar biaya intervensi bersenjata AS di Kongo (L) yang dilakukan atas nama PBB, dan dalam Dewan Keamanan PBB mereka menyokong tipuan “perdamaian nasional” AS di Kongo (L) yang merupakan suatu usaha untuk mencekik kekuatan-kekuatan revolusioner Rakyat Kongo. Yang terutama seriunsya ialah sokongan aktif mereka pada pembentukan suatu pasukan bersenjata tetap PBB. Ini berarti menjadi konco dalam mengorganisasi gendarmeri internasional yang mengabdi imperialisme AS untuk menindas perjuangan revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia. Ini semua merupakan tindakan mereka yang kongkrit dalam apa yang mereka namakan “menyokong gerakan pembebasan nasional”. Orang akan bertanya kepada pimpinan baru PKUS: Apakah kalian melakukan usaha-usaha ini guna “menyokong gerakan pembebasan nasional” atau guna dengan lebih baik “mencapai persetujuan mengenai tindakan-tindakan” dengan imperialisme AS untuk menentang, mensabot dan menindas gerakan pembebasan nasional.? Sangat jelaslah bahwa apa yang mereka namakan “menyokong gerakan pembebasan nasional” adalah palsu sedang persekongkolan mereka dengan imperialisme AS untuk mencekik gerakan pembebasan nasional adalah yang sesungguhnya.

Demikianlah, fakta-fakta selama lima tahun yang lalu telah menghancurkan dengan tak kenal am pun argumen-argumen kaum revisionis modern yang tak masukakal.

Setelah jatuhnya Khrusycov, setelah diumumkannya secara terbuka bangkrutnya revisionisme modern, kami mengharapkan dan menasihati pimpinan baru PKUS agar mengakui secara jujur dan terbuka kesalahan-kesalahan mereka dan menyatakan dilepas-kannya garis dan politik revisionis yang dijalankan ketika Khrusycov berkuasa. Akan tetapi, bertentangan dengan aspirasi-aspirasi Rakyat Sovyet dan Rakyat-Rakyat revolusioner sedunia, pimpinan baru PKUS telah mengambilalih revisionisme Khrusycov sebagai pusaka yang tak ternilai dan terus me-lambai-lambaikannya. Dalam perayaan ulangtahun ke-95 hari lahir Lenin tahun ini, mereka secara tak tahu malu masih membual bahwa “garis umum yang disusun dalam Kongres ke-XX dan ke-XXII Partai kita dan dijelmakan dalam Program PKUS” adalah suatu “bukti yang hidup” tentang “pendekatan secara kreatif” mengenai teori. Justru dengan dalih apa yang dinamakan “pendekatan secara kreatif” mengenai Leninisme itulah Khrusycov sesungguhnya telah mencampakkan segala tesis fundamentil Leninisme, menjadi revisionis yang terbesar dalam sejarah dan akhiirnya berkesudahan dengan kebangkrutan total. Dapatkah penerus-penerusnya akan berakhir dengan lebih baik?

Leninisme adalah senjata yang tak terkalahkan dari proletariat dan Rakyat pekerja lainnya di seluruh dunia. Kegemilangannya se-kali-kali tak dapat diredupkan, Bagaimanapun juga musuh menyerangnya dari luar atau “merevisi”nya dari dalam. Sebaliknya, justru melalui perjuangan yang ber-ulang-ulang melawan semua musuh dari dalam Maupun dari luar kekuatan-kekuatan Leninisme terus tumbuh dan menjadi lebih kokoh. Sebagai hasil perjuangan kaum Marxis-Leninis melawan revisionisme modern selama lima tahun yang lalu, Leninisme telah tersebar lebih luas daripada yang sudah-sudah di seluruh dunia, kesadaran politik Rakyat-Rakyat sedunia telah sangat dipertinggi dan barisan-barisan kaum Marxis-Leninis telah bertambah besar dengan pesat. Bersamaan dengan itu, kaum Marxis-Leninis telah memperkaya Leninisme dalam semua seginya, dalam berjuang melawan revisionisme modern, dengan tak henti-hentinya mempelajari dan menyimpulkan pengalaman baru dan masalah-masalah baru dari ‘perjuang-perjuangn’ revolusioner Rakyat-Rakyat sedunia masa kini. Lima tahun yang lalu telah menyaksikan kebangkrutan total dari revisionisme modern dan kemenangan-kemenangan baru yang besar dari Leninisme. Sekarang ini di hadapan kita terbentang situasi yang sangat baik dari perkembangan hebat Marxisme-Leninisme dan usaha-usaha revolusioner Rakyat seluruh dunia. Kita harus terus mengibarkan tinggi-tinggi panji Leninisme, meneruskan perjuangan melawan revisionisme modern sampai selesai, dan memajudkan usaha-usaha revolusioner proletariat ke-kemenangan-kemenangan baru dan yang lebih besar lagi.

Hidup Leninisme!

(Editorial “Hongqi”

no. 4, April 1965).


WASPADA TERHADAP PENYIMPANGAN IDEOLOGI KE IMPERIALISME

“Dalam warisan ideologi Lenin kami menemukan kunci untuk pengertian dan pemecahan secara tepat masalah baru yang dikemukakan oleh kehidupan. Ajaran Lenin adalah sumber kekuatan Partai kita, jaminan bagi kemenangan Rakyat Sovyet di masa datang dalam perjuangan untuk komunisme”, kata Pyotr Demicev, Calon Anggota Presidium dan Sekretaris CC PKUS, dalam pertemuan memperingati hari lahir ke-95 Lenin di Istana Kremlin.

Kaum Marxis-Leninis tak dapat membatasi diri hanya pada pengulangan rumus yang sudah tersedia. Yang diperlukan ialah juga kemampuan mentrapkan teori dan prinsip komunisme pada kenyataan hidup. Suatu pertanda daripada pendekatan semacam itu pada teori ialah Deklarasi dan Pernyataan pertemuan Moskow.

Setelah menandaskan watak internasional Leninisme Pyotr Demicev mengatakan: “Usaha apa pun untuk memonopoli Leninisme tak dapat dipertahankan sebagaimana tak dapat dipertahankannya usaha untuk menyajiikan pengertiannya sendiri yang nasionalitis dan sempit mengenai ajaran ini sebagai kebenaran umum”.

“Pendekatan Leninis yang teliti pada pekerjaan teoritis dan praktis menandai sidang pleno CC PKUS pada bulan Oktober, November dan Maret yang mengintroduksikan banyak hal baru ke dalam kehidupan Partai dan memulihkan cara kerja yang sebenarnya, cara kerja yang benar Leninis.

PKUS melancarkan perjuangan yang tak kenal kompromi terhadap pengaruh burjuis, melawan pendekatan yang a-politik. PKUS berduyang dengan gigih melawan revisionisme, disatu fihak, dan melawan dogmatisme dan skholastisisme yang mengintroduksikan faktor mati ke dalam pekerjaan praktis, di lain fihak.

Pyotr Demicev mengingatkan bahwa kesulitan serius telah menumpuk dalam waktu pertanian selama masa waktu panjang dan kesulitan-kesulitan itu mengakibatkan pelanggaran proporsi-proporsi dalam ekonomi nasional. Sidang Pleno CC PKUS “melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasi ketidak seimbangan ini, menggariskan jalan-jalan untuk meningkatkan perekonomian pertanian-pertanian kolektif dan negara, meningkatkan rentabilitet produksi pertanian”.

“Pertumbuhan kekayaaan pertanian kolektif dan di atas dasar itu pertumbuhan penghasilan-penghasilan perorangan para lpetani tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat sosialis. Sebaliknya, negara sangat berkepentingan supaya pertanian-pertanian kolektif dan negara berkembang dan supaya para pekerja dipedusunan, seperti halnia dengan semua Rakiat Soviet, hidup lebih baik dan lebih baik lagi”. Pyotr Demicev menunjukkan usaha-usaha dari propagandis-propagandis burjuis tertentu untuk menyadikan penggunaan penghitungan ongkos dan laba dalam syarat-syarat sosialis tak lain sebagai suatu pengembalian ke kapitalisme. “Padahal, pemakai-an pengungkit-pengungkit ini adalah metode yang syah dari ekonomi sosialis”.

Pyotr Demicev menyatakan bahwa dalam situasi yang berlaku sekarang sangat dituntut adanya pekerjaan ideologi. Partai telah berjuang dengan gigih melawan hidup kembalinya nasionalisme dan khauvinisme negara besar di mana imperialisme memancang-kan harapan-harapan dalam usaha-usahania untuk melemahkan masyarakat sosialis“.

Demicev menyerukan kewaspadaan terhadap penyimpangan-penyimpangan ideologi ke imperialisme, yang harus dilawan dengan keras.

Rakiat Sovyet sepenuhnya menyetujui politik persahabatan dan setiakawan revolusioner dengan Rakiat-Rakiat yang berjuang untuk kebebasan sosial dan nasional, kata Pyotr Demicev. Uni Sovyet..memberikan bantuan ekonomi dan moril yang luas kepada Rakiat3 yang telah menempuh jalan perkembangan merdeka. Tentu sadia, kemampuan kami untuk memberikan bantuan ekonomi bukan tak terbatas, tetapi kemampuan itu akan bertambah besar dengan sukses-sukses perkembangan negeri kami“.

Dengan mengingatkan bahwa Lenin tidak pernah membayangkan perkembangan hubungan-hubungan antara negeri-negeri sosialis sebagai suatu proses yang terlepas dari kontradiksi-kontradiksi apa pun. Demicev mengatakan: “Partai kami menganggap pengokohan persekutuan masyarakat sosialis sebagai salah satu tugas pokok politiknia”.

“Setelah sidang Pleno Comite Central PKUS bulan Oktober Partai kami mengambil beberapa langkah baru yang ditujukan untuk mengembangkan kerjasama, memperkokoh persatuan dan kohesi negeri-negeri sosialis di atas prinsip-prinsip persamaan dan kebebasan sejati, di atas dasar yang kuat Marxisme-Leninisme dan internasionalisme sosialis“.

“Partai kami, kata Demicev selanjutnya, selalu memelihara garis memperbaiki hubungan-hubungan dengan PKT, dengan RRT di atas dasar Marxisme-Leninisme dan telah mengambil langkah-langkah penting ke arah ini. Dalam diri Partai Komunis Tiongkok yang besar kami melihat sekutu kami dalam perjuangan melawan imperialisme, dalam membela negeri-negeri sosialis dari agresi imperialis. Pendirian ini adalah pendirian yang tak dapat diubah dari PKUS, pendirian yang selalu kami setiai, teristimewa sekarang ketika situasi internasional sangat memerlukan kesatuan aksi melawan kekuatan agresif imperialisme. Tetpi dapatlah difahami bahwa perbaikan hubungan-hubungan antara PKUS dan PKT, antara URSS dan RRT tergantung tidak hanya kepada kami”.

Dalam menyinggung imbangan kekuatan-kekuatan dunia, Pyotr Demicev menandaskan menyempitnya terus-menerus lapangan dominasi dan pengaruh imperialisme. “Tetapi, imperialisme masih menguasai produksi yang besar dan mesin militerinya”. “Hakekat penghisapan dan agresi imperialisme tidak berubah tetapi caray-caray yang digunakannya menjadi lebih-lebih cerdik lagi”.

Dalam mengemukakan agresi imperialis di Vietnam, Laos dan Kongo, provokasi-provokasi oleh imperialis AS terhadap Kuba, Sekretaris Comite Central PKUS itu mengingatkan bahwa tindakan-tindakan lebih lanjut pada akhir-akhir ini telah dilakukan untuk memperkuat bantuan kepada Republik Demokrasi Vietnam dalam perjuangan melawan agresi imperialis AS.

Politik koeksistensi secara damai tidak merintangi, tetapi mewajiibkan adanya penolakan terhadap agresi dan sokongan terhadap Rakyat-Rakyat yang sedang berduyang melawan dominasi asing, untuk kebebasan dan kemerdekaannya. Tidak mungkin ada perdamaian iang abadi di dunia, diikalau hak kedaulatan masing-masing Rakyat tidak diakui!“, demikian ditekankan oleh Pyotr Demicev.

Uni Sovyet juga menolak konsep yang sekarang banyak dianut di Barat bahwa lingkungan koeksistensi secara damai hanya harus dibatasi sampai kehubungan-kehubungan antara negara-negara besar. Penggawatan situasi di bagian mana pun di dunia sering mempengaruhi seurun situasi internasional. Sambil memprovokasi peperangan terhadap sesuatu negeri sosialis orang tidak dapat bersamaan dengan itu mengharapkan memperbaiki hubungan-hubungan dengan negeri-negeri sosialis lainnya“.

“Bersamaan dengan itu kita tidak memverlemah usaha-usaha yang ditujukan untuk memperbaiki hubungan-hubungan dengan semua negeri kapitalis atas dasar prinsip-prinsip koeksistensi secara damai”. Pyotr Demicev menekankan bahwa “persatuan semua kekuatan antiimperialis merupakan syarat pokok bagi kemenangan lebih lanjut urusan kita”. Kaum Marxis-Leninis tidak meremehkan keseriusan adanya perbedaan-perbedaan yang terdapat didapat di dalam GKI. Perbedaan-Perbedaan dalam syarat-syarat obyektif dalam mana Partai-Partai sekawan itu berjuang, ber-macam-macamnya situasi sejarah dalam membangun sosialisme, tingkat lperkembangan sosio-ekonomi yang tidak sama daripada negeri-negeri, dan sebab-sebab obyektif dan subyektif lainnya—semua ini menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan dalam pandangan-pandangan dan pendirian-pendirian. Dengan bersandar pada persemakmuran sosio-ekonomi dan politik negeri-negeri sosialis, persatuan tujuan-tujuan yang pokok, maka kian penting bagi kaum Komunis untuk memeras tenaga bagi pengatasan perbedaan-perbedaan dan kesukaran-kesukaran dan untuk memperkembangkan hubunean-hubunean persahabatan antara semua negeri sosialis, antara semua Partai Marxis-Leninis“. ”Adalah sungguh-sungguh benar bahwa di dalam sementara Partai sekawan terdapat kawan-kawan yang mengkritik pertemuan konsultatif tersebut. Tetapi adalah jelas bahwa tidak seorang di antara mereka telah membikin usul iang kongkrit iang ditujukan pada mempersatukan gerakan kita. Ini merupakan bukti tambahan tentang lemahnya pendirian mereka dan menunjukkan ketidak sudian mereka untuk memperkokoh persatuan Gerakan Komunis. Tetapi, siapa yang merintangi kohesi kita akan memperoleh pertanggungan jawab yang serius di hadapan sejarah, di hadapan Rakyatnya, di hadapan Komunis seluruh dunia.

(Tass)


PROMOSI KIM IL BUNG

ADALAH sungguh-sungguh merupakan kehormatan yang amat besar bagi saya, untuk pada hari ini, 15 April 1965, bertindak selaku promotor dalam upacara pemberian gelar Doctor Honoris Causa dalam tehnologi kepada PYM Marsekal Kim Il Bung.

Pemberian gelar ini adalah yang ke-8 dalam sejarah Universitas Indonesia selama 15 th ini.

Dan memang pemberian gelar Doctor Honoris Causa bukanlah sesuatu yang sembarangan, jauh daripada itu, seperti yang tercantum di dalam Undang-undang Perguruan Tinggi Republik Indonesia tahun 1961 No. 22, fasal 10, ayat 3: “kepada orang, yang berjasa luarbiasa terhadap ilmupengetahuan dan umatmanusia”.

Di sini nampak dengan nyata pandangan bangsa Indonesia terhadap ilmupengetahuan dan jalinannya dengan umatmanusia, yang dirumuskan oleh Presiden Sukarno sebagai amal ilmiah dan ilmu amaliah.

Berdasarkan itulah, maka pemberian gelar doctor honoris causa hanya dilakukan terhadap orang, yang telah berjasa, artinya promovendus honoris causa adalah orang, yang telah makan garam hidup, berpengalaman dalam “skhool of life”, bukan orang yang masih “hijau”, orang yang telah membuktikan kemampuannya, serta kejayaannya dengan daya kepemimpinannya serta amal-perbuatannya. Seorang Promovendus Honoris Causa adalah orang yang pandai menjalinkan ilmu dan amal, ajaran dan perbuatan, teori dan praktek.

Dan memang filsafah “science for the sake of science” adalah usang dan harus diganti dengan filsafah “science for the benefit of mankind”. Ilmu yang tidak diamalkan kemasyarakat adalah mandul atau steril.

Hal ini terutama sekali berlaku bagi teknologi, ilmu yang terpakai, suatu applied science. Teknologi yang tidak digunakan dalam masyarakat, yang tak diamalkan, tidak ada artinya, sebab bukanlah teknologi merupakan alat manusia untuk membuat hidupnya lebih comfortable, lebih nyaman, serta untuk menundukkan atau mengatur alam, agar menjadi kawan kita, bukan musuh kita seperti seringkali diucapkan oleh Pemimpin Besar Revolusi kita?

Kedudukan teknologi yang sangat vital di dalam pembangunan industri Sosialis ber-kali-kali ditekankan oleh promovendus yang mulia, di dalam pidato-pidatonya:

“Untuk merealisasikan industrialisasi sosialis, diperlukan dua hal yang amat penting, yakni revolusi kulturil dan revolusi teknologi. Tanpa teknologi yang maju, tak mungkin ada industrialisasi sosialis. Untuk memungkinkan Rakyat menikmati hidup yang baik, pekeryaannya harus dibuat sederhana & mudah, sedangkan produksi barang-barang sekaligus meningkat, dan ini hanya mungkin apabila ada teknologi yang maju!

Revolusi teknologi sangat diperlukan di mana-mana, dan semua orang harus ikut dalam revolusi ini, semua cabang-cabang ekonomi nasional juga“.

Promovendus yang mulia juga menunjukkan hambatan-hambatan terhadap revolusi teknologi, yakni kepasifan dan kekolotan (passivism and conservatism), yang didasarkan atas pertama misteri dan kedua keglendeman pada zaman kolonial yang lampau.

Ke-dua-duanya mengakibatkan adanya inferioric complex, menganggap semua yang dari luar negeri lebih baik. Memuja-Memuja ilmupengetahuan asing serta merendahkan akhievements sendiri, menimbulkan rasa kelesuan, karena segala sesuatunya pada bidang teknologi dianggap sulit dan tidak mungkin.

Hambatan-Hambatan tersebut harus dihilangkan, dilenyapkan, seperti juga Pemimpin Besar Revolusi kita tandaskan: hilangkanlah takhayul-takhayul ekonomi, economiskh biygeloof!

Promovendus yang mulia, dalam rangka hubungan dengan teknologi serta perkembangannya telah secara tepat sekali mengatakan bahwa kemajuan teknologi bukanlah monopolii dari para sarjana-sarjana saja, tetapi juga buruh dan tani memberikan sumbangannya yang tak kecil, sebab segala sesuatu di dunia ini dibuat oleh buruh dan tani.

Tetapi kebesaran jiwa dan keluasan pandangan promovendus yang mulia juga mengatakan:

“Ini tidak berarti, bahwa Akademi Ilmu Pengetahuan dan para ahli-ahli ilmupengetahuannya tidak ada gunanya, Ataupun berarti, bahwa kita boleh mengabaikan ilmupengetahuan.

Researkh dalam Akademi Ilmu harus didorong maju, para ahli ilmupengetahuan dan teknologi harus membantu buruh & tani sebaliknya buruh dan tani harus tak jemu-jemu belajar dari mereka kemampuan teknis, mereka itu harus bekerjasama, bergotongroyong dan menyatakan usaha-usaha- nya. Jadi janganlah para ahli merendahkan dan mengham-bat inisiatif buruh dan tani, sebaliknya juga janganlah para buruh bersikap tak mau belajar dari para ahli, sebab ini adalah tendensi untuk mengabaikan ilmupengetahuan“.

Di waktu zaman kolonial Jepang, maka seperti lazimnya suatu ekonomi kolonial, Korea dijadikan sumber bahan-bahan mentah bagi Jepang, dan sekaligus merupakan pasaran barang-barang produksi Jepang, sehingga pada waktu pembebas-annya pada tahun 1945 yang diwarisi adalah pula ekonomi kolonial yang terbelakang. Kemudian selama perang Korea, yang berlangsung 3 tahun itu (1950-1953), maka segala se-suatunya hancurlebur, yang tinggal adalah suatu ruin.

Untuk pembangunan dan pemulihan ekonominya, maka promovendus yang mulia mengajukan konsepsinya yakni ekonomi nasional yang bebas, yang berarti memajuikan ekonomi dengan ber-macam-macam cara, melengkapinya dengan teknik yang modern dan menciptakan basis bahan mentah sendiri yang kuat. Untuk pelaksanaannya telah diselenggara-kan Rencana Tiga Tahun, disusul dengan Rencana Lima Tahun, dan pada saat-saat ini sedang berlangsung Rencana Tujuh Tahunnya.

Dengan penyelesaian kedua Rencana yang pertama tadi, maka tercapailah transformasi dari industri, seperti yang di-ucapkan oleh Promovendus: “Keberatsebelahan industri, yang dulu hanya dipusatkan pada produksi bahan-bahan mentah dan barang-barang setengah jadi dan selalu tergantung pada luar negeri untuk mesin-mesin dan alat-alat, telah dihapuskan. Industri Korea tidak bersandar pada bahan mentah luar negeri, tetapi bersandar pada sumber-sumber alam dan sumber-sumber bahan mentah dalammegeri. Jadi industri Korea adalah industri yang kuat dan berdiri di atas kaki sendiri”.

Dan memang pemulihan dan pembangunan, terutama pada bidang teknologi dan industri di Republik Rakyat Demokrasi Korea adalah suatu fenomena yang luarbiasa, yang diakui oleh seluruh dunia.

Di sini kita lihat lagi keunggulan strategi promovendus yang mulia, yang dengan menggali sumber-sumber bahan mentah, sumber-sumber kekayuan alam dalam negeri, dengan menggunakan teknik yang modern, dan dengan secara terus-menerus menstimulir usaha-usaha penelitian dan perkembangan atau dengan kata-kata beliau dengan revolusi teknologi telah dapat mengembangkan industri dan infrastruktur di negerinya.

Tidak hanya di dalam industri berat atau dasar (besi-bajan dan non-ferrous metals), pertambangan, ketenagaan, dicapai kemajuan yang sangat pesat, melainkan juga dalam lapangan industri kimia, sintetik, synthetic fibres, synthetic resins, industri-industri yang tadinya hanya dipunyai oleh negara-negara yang sudah jauh teknologinyga, malahan se-akan-akan hak monopoli negara-negara itu melulu, Korea telah menerobos monopoli ini, dengan mendirikan sendiri Pabrik vinalon, vinylkhlorida, serta berbagai pupuk-pupuk kimia, atas dasar bahan mentah sendiri.

Kemajuan-Kemajuan yang sangat pesat kita lihat pula pada bidang industri tekstil, industri pembuatan mesin-mesin, pada bidang pertanian dengan memakai teknologi modern, berupa irigasi, pemupukan kimia, serta mekanisasi.

Sudah barang tentu hasil-hasil semua tadi bukanlah hasil promovendus sendiri, melainkan oleh suatu usaha yang kolktif serta tertuju. Namun kesemuanya ini tidak dapat terpisahkan dari kepemimpinan promovendus, analisa, penglihatan yang tajam keunggulan strategi promovendus, serta pengertian, apresiasinya yang tepat terhadap teknologi sebagai alat yang ampuh untuk peninggian derajat manusia, dan stimulasi dan dorongan-dorongan yang diberikannya untuk memperkembangkan teknologi, demi perbaikan hidup Rakyatnya.

Kepemimpinan promovendus tak dapat diragukan oleh siapa pun juga, mengingat bahwa beliau sejak kecil sudah mengambil bagian dalam gerakan revolusi, ditangkap, dimasukkan penjara, kemudian selama 15 th. mengorganisasi dan memimpin perjuangan bersenjata melawan kolonialis Jepang.

Sejak berdirinyga RRDK, promovendus terus-menerus bekerya sebagai Perdana Menteri, dan pada waktu perang Korea, beliau memimpin Rakyat Korea sebagai Panglima Tertinggi tentara Rakyat Korea. Kini beliau memimpin

Rakyat Korea di dalam pembangunan Sosialisme.

Jelaslah sudah, bahwa promovendus adalah seorang pemimpin yang besar, yang sangat veelzydig, yang telah menundukkan keunggulannya pada waktu revolusi fisik, revolusi politik serta revolusi pembangunan di negaranya memimpin Rakyatnya ke arah kemenangan.

Sesudah saya menguraikan jasa-jasa promovendus yang mulia, yang dapat saya rumuskan, pandai mengamalkan teknologi untuk kemajuan negara dan kemakmuran Rakyatnya, serta secara terus-menerus memberikan dorongan dan stimulasi ke arah kemajuan-kemajuan teknologi, ke arah perkembangan teknologi serta penemuan-penemuan baru. Untuk meninggikan martabat dan kebahagiaan umatmanusia, maka pada hemat saya sudah cukup alasan untuk memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam teknologi kepada promovendus yang mulia, Marsekal Kim Il Bung.

Adalah sungguh suatu kegembiraan bagi saya, menjadi Promotor bagi Marsekal Kim II Bung, pada hari ini tanggal 15 April 1965 bertepatan dengan hari ulang tahun promovendus yang ke-53.

Juga saya merasa bersyukur, mendapat kesempatan untuk menjadi promotor bagi seorang yang besar, seorang pemimpin negara Sosialis, yang secara konsekwenn melawan nekolim, seorang pemimpin, yang telah berhasil membangun negara dan Rakyatnya, dari keterbelakangan peninggalan zaman kolonial, dan dari puing-puing serta ruine perang Korea.

Promovendus berada di-tengah-tengah kita sekarang ini di dalam rangka Perayaaan Dasawarsa Konferensi A-A I, Konferensi Bandung, Konferensi yang telah menelorkan Dasasila Bandung, yang ternyata telah menjadi mercusuar bagi Rakyat-Rakyat Asia-Afrika, di dalam revolusinya untuk membebaskan diri dari genggaman nekolim.

Promovendus pun telah menghadiri Sidang Khusus MPRS di Bandung, pada tanggal 11 April y.l. di mana Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS telah mengomandokan kepada kita sekalian untuk “banting stir”, untuk mendasarkan pembangunan negara kita atas prinsip “berdiri di atas kaki sendiri”, menghilangkan rasa ketergantungan dari luar negeri!

Semoga kunjungan promovendus yang mulia ke Indonesia, dan tindakan Universitas Indonesia pada hari ini dapat lebih mempererat hubungan persaudaraan, hubungan ilmiah dan teknologi antara kedua negara.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.