Baca PDF (OCR): Serat wirawiyata

108 halaman · 108 halaman diproses dengan OCR· 121288 ms

Daftar isi
  1. SERAT WIRAWIYATA
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. SERAT WIRAWIYATA
  4. Tim Penulis / Pengkaji :
  5. BABI PENDAHULUAN
  6. 5-6 6-7
  7. 9-14
  8. ..................
  9. .................................
  10. PENDAHULUAN
  11. 1. Latar Belakang Masalah
  12. Mti&lah Khusus
  13. 3. Tujuan
  14. 3.2. Tujua.n Khusus
  15. Ruang Lingkup Pembahasan
  16. ISi SERA T WIRA WIYATA
  17. 1. Latar Belakang Sejarah
  18. : 111
  19. karena itulah yang menjadi jalannya, agar apa yang
  20. pangkatnya, sebagai syaratnya adalah, harus mantap,
  21. pokok persoalan dalam naskah ini, yakni tentang sifat-sifat
  22. 3.4. Aspek Tujuan
  23. Memang seringkali seorang pengarang atau penyair pada saat menuliskan karyanya seolah-olah tidak mempunyai motivasi apa-
  24. diri pembaca atau bahkan pada masyarakat yang menjadi sasaran
  25. Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa pengarang
  26. serat Wirawiyata adalah seorang adipati yang merasa ber-
  27. Artinya:
  28. BAB III
  29. Artinya
  30. kemantapan diri, kepercayaan kepada Tuhan dan dengan sepenuh
  31. ·Persepsi Tuntang Waktu
  32. 3. Nilai-nllai Smial
  33. ~----------J
  34. bait 3 pupuh sinom, bait 28 pupuh sinom, bait 30, bait 33 dan
  35. bait 36 pada pupuh sinom. Bait-bait di atas pada dasarnya
  36. clan lebih mendalam terhadap naskah ini.
  37. L_ ________________ ______---·-··-
  38. PUSTAKA
  39. ---------Kebudayaan Jawa, Seri Etnografi No. 2,
  40. TRANSKRIPSI NASKAH WlRA WIYATA
  41. Sinom
  42. paran katekaning kapti
  43. Pangkur
  44. TERJEMAHAN NASKAH WIRAWIYATA
  45. Sino m

SERAT WIRAWIYATA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tidak di Perdagangkan

SERAT WIRAWIYATA

Tim Penulis / Pengkaji :

S. Budhisantoso Konsultan
Rosy a di Ketua
H. Ahmad Yunus Anggota
Rika Umar Anggota
Sri Mientosih Anggota
I Made Purna Anggota
Soeloso Anggota

"\ \, t'''" DEPARTEMtN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORATJENDERALKEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAANNUSANTARA

IV, pada bari Kamis tanggal pertama bulan Saban, wuku wukir, dengan sangkalan tabun berbunyi "murtyas daba mulang sunu", atau tabun Jawa 1877 (1860 Masebi) bulan Februari. Naskab Wirawiyata ditulis dalam babasa Jawa, berbentuk tembang, terdiri atas dua pupub, yakni pupub Sinom dan pupub Pangkur. Masing-masing pupub terdiri dari: pupub Sinom 12 bait, dan pupub Pangkur 14 bait. Terna pokok Serat Wirawiyata adalab tentang ajaran sifat-sifat keprajuritan a tau keperwiraan dari KG PAA Mangkunegara IV, yang pada mulanya ditujukan kepada para putranya. Adapun sifat-sifat keprajuritan yang terpuji menurut visi naskab ini ialab sifat yang taat, patub, berdisiplin, setia dan berani. Kesimpulan yang dibasilkan oleb para penulis dari basil analisisnya yaitu selain mampu menemukan tema pokok yaitu naskab ini juga berisi pesan-pesan dan ajaran bidup, etika moralitas, etika kepemimpinan dan etika kemasyarakatan yang banyak mencerminkan sikap bidup orang Jawa. Kami menyadari babwa buku ini perlu disempurnakan karena memang keterbatasan pengolaban dan keterbatasan tenaga peneliti yang dapat mcngkaji lebib lengkap dan sempurna. Oleb karena itu, semua saran maupun perbaikan yang disampaikan akan diterima dengan senang hati. Walaupun demikian, kami tetap berbarap semoga sumbangan pikiran ini dapat perbaikan mengenai bal-bal yang masib perlu disempumakan. Atas basil jerih payah yang sangat berharga ini, Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara

iii

1990.
Pemimpin Poryek,

~ (Dra. Tatiek Kartikasari) NIP. 130. 908064

ISi

Pendidikan Dan Kebudayaan
Kata Pengantar .................
Daftar Isi

BABI PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Ma s a I ah
  3. Tujuan
  4. Ruang Lingkup
  5. Metodologi dan Pendekatan
    BAB II. KAJIAN ISi SERAT WIRAWIYATA

  6. Latar Belakang Sejarah

  7. Klasifikasi lsi Naskah
  8. Kajian Isi Naskah
    BAB III ANALISIS NILAI

  9. Batasan Pengertian

  10. Orientasi Nilai Budaya
  11. Nilai-nilai Sosial
  12. Nilai-nilai Keagamaan
  13. Nilai Pendidikan dan Keutamaan
    BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

  14. Kesim pulan

  15. Saran-saran DAFfAR PUSTAKA TRANSKRIPSI NASKAH TERJEMAHAN NASKAH
    Halaman

. I iii-iv. v

1 -5

5-6 6-7

7 '7 I-8

9-14

14 -16 16 -35

36 36 -38 38 -57 57 -64 64 -66 66 -71

72 72 -73 74 75 -91 92 -10~

v

Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen

..................

· ·. · · · · · · ·

.................................

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Kecintaan pada suatu kebudayaan akan timbul melalui proses pengenalan. Tetapi pengenalan saja tanpa adanya pemahaman latar belakang, sejarah dan isi dari kebudayaan itu sendiri tidak akan timbul dorongan untuk mengembangkannya. Lebih-lebih lagi bagi masyarakat yang bersifat majemuk seperti bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yamg memiliki la tar belakang kebudayaan yang beraneka ragam. Keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan tersebut di satu fihak menimbulkan permasalahan untuk memadukannya, tetapi di pihak lain keanekaragaman kebudayaan ini justru merupakan modal yang sangat berharga, yang memperkaya kebudayaan nasional.

Kebudayaan-kebudayaan daerah yang banyak tersebar di seluruh tanah air merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional, yang memberikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa. Betapa pentingnya peranan kebudayaan daerah dalam pembangunan nasional, hal ini jelas tertuang di dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945, bahwa "Kebudayaan lama asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa."

Dewasa ini semakin disadari pentingnya menggali nilai-nilai budaya daerah sebagai sumber informasi bagi perumusan kebijaksanaan pembangunan, khususnya di sektor kebudayaan. Aspek kebudayaan mempunyai kaitan fungsional dengan aspek-aspek kehidupan lainnya, sehingga dengan pendekatan budaya diha- rapkan dapat dicapai perumusan kebijaksanaan pembangunan yang komprehensif. Sasarannya adalah, agar program pembangunan da- pa t berjalan dengan lancar dan sesuai dengan kondisi

keberhasilan pemba- ngunan dapat langsung dinikmati oleh segenap masyarakat. Salah satu unsur kebudayaan yang sifatnya universal dan sangat besar artinya bagi kehidupan manusia adalah unsur bahasa. Menurut Myers, bahasa adalah alat komunikasi antar manusia; dan menurut Hockett merupakan milik manusia yang sangat berharga (Siti Baroroh Baried, 1978 : 17). Dengan bahasa memungkinkan manusia "mengawetkan" dan mewariskan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi selanjutnya. Dengan demikian perubahan-perubahan kebudayaan yang senantiasa terjadi dapat dite- lusuri asal mulanya. Melalui bahasa pula lahir berbagai cerita rakyat dan karya-karya sastra yang ditulis oleh para pujangga. Pada prinsipnya karya sastra atau karya seni adalah sebagai pencerminan, pembayangan atau peniruan realitas, dan bahkan karya seni dapat dipandang sebagai dokumen sosial (Teeuw, 1984 : 224). Akhli yang lain mengatakan, bahwa karya sastra akan mengandung unsur sosial yang penting dalam realitas sosial yang dilukiskannya, atau dengan kata lain, sebuah unsur penting dalam realitas sosial akan terlihat dalam karya sastra yang melukiskan realitas itu. Paling kurang karya itu akan menolak unsur-unsur yang berasal dari realitas lain (Umar Yunus, 1983 : 57). Hal ini berarti bahwa pujangga atau pengarang karya sastra ingin mengangkat, mengabadikan, dan menggambarkan peristiwa- peristiwa apa ataupun gagasan-gagasan apa yang berlangsung pada zamannya. Hal ini sejalan pula dengan pendapat Pigeaud dan Berg, yang menyatakan bahwa karya sastra di samping dapat dilihat sebagai dokumen sejarah, juga sebagai tulisan yang memberi makna pada hal-hal yang hakiki bagi anggota masyarakat ber- sangkutan (Teeuw, 1984 : 241). Karya-karya sastra yang ditulis oleh para pujangga zaman d11ln, kini banyak tersebar di seluruh daerah di Indonesia berupa naskah-naskah kuno. Di beberapa daerah di Indonesia, naskah-naskah kuno itu masih tetap memiliki fungsi kultural dalam masyarakatnya. Di Bali misalnya, penulisan naskah dengan

Para- raton, dan naskah Sutasoma telah mampu menguakkan tabir yang menyelimuti sejarah Indonesia. Melalui telaah terhadap naskah-naskah tersebut, maka dapatlah diungkapkan Sejarah Indonesia lama. Melalui naskah Sutasoma telah dapat diungkapkan bahwa lambang persatuan Indonesia, yakni "Bhineka Tunggal Ika " temyata disitir dari naskah tersebut. Di Jawa, perkembangan kesusastraan mengalami kemajuan yang cukup pesat pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram. Sultan Agung sendiri telah mengarang beberapa karya sastra, di antaranya kitab Sastro Gendhing yang berisi tentang filsafat, Serat Nitisruti, Serat Nitisastra, dan Serat Asthabrata. Kitab-kitab tersebut banyak berisi tentang ajaran-ajaran hidup dan kepemimpinan yang mengacu pada kitab Ramayana yang bernafaskan Hindu. Demikianlah, penulisan karya-karya sastra Jawa terus mengalami perkembangan. Pada masa berkuasa Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV, karya-karya sastra Jawa semakin banyak ditulis. Ini karena KGPAA IV sendiri adalah seorang yang sangat menggemari kesenian. Tercatat dalam

I

I J

KGPAA IV adalah Serat Sendhon Lengen Swara, Serat Bawa Sagarongipun, Serat Nayakawara, Serat Wayaguna, Serat Paliwara, Serat Triparna, Serat Wesiaji, Serat Rerepen, Serat Wedhatama, dan Serat Wirawiyata. Khusus untuk Serat Wirawiyata ini dijadikan sebagai somber pengungkapan nilai-nilai budaya dalam tulisan ini.

Naskah-naskah kuno tersebut merupakan sumber-sumber informasi yang sangat baik untuk digali dan dapat dijadikan sebgai bahan pendidikan untuk memperkokoh kepribadian bangsa. Me- nyadari hal itu, maka usaha penelitian, penerjemahan dan pe- ngajian naskah-naskah kuno dirasa semakin perlu dilakukan untuk dapat mengungkapkan dan sekaligus menyelamatkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sesungguhnya telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengumpulkan naskah-naskah kuno, kemudian disimpan dalam perpustakaan- perpustakaan maupun koleksi-koleksi pribadi yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagian naskah-naskah itu telah ditransliterasikan ke dalam huruf Latin dan banyak juga yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah belum meratanya kesadaran tentang arti dan pentingnya peranan naskah-naskah kuno ini dalam rangka Pembangunan Nasional secara keseluruhan. Bahkan ada kecenderungan semakin tersisihkannya naskah-naskah kuno ini sehubungan dengan semakin giatnya usaha pengadopsian teknologi dan ilmu pengetahuan yang diadopsi dari budaya asing, dan semakin langkanya orang-orang yang menekuni dan me- mahami naskah-naskah kuno tersebut.

Masalah selanjutnya yang timbul adalah bagaimana agar isi naskah-naskah kuno itu dapat dipahami oleh masyarakat luas, sehingga naskah-naskah itu tidak hanya tinggal sebagai benda

Masalah

Bertolak dari kenyataan-kenyataan yang telah diuraikan di atas maka masalah-masalah yang timbul dapat digolongkan menjadi masalah umum dan masalah khusus.

2.1 Masalah Umum Masalah umum di sini berkaitan dengan keberadaan naskah-naskah tersebut dan usaha-usaha pelestariannya, antara lain:
2.1.1. Masih banyak naskah kuno yang kini disimpan di rumah-rumah penduduk, b·1kan untuk dibaca melainkan untuk disimpan sebagai bt:nda-benda pusaka orang tua-tua yang harus dirawat secara turun temurun. Padahal sesungguhnya naskah-naskah itu terbuat dari bahan yang mudah rusak dimakan bubuk, maupun rusak oleh pengaruh suhu udara, sehingga lama-kelamaan naskah-naskah itu akan menjadi hancur dan tidak dapat dibaca lagi, serta isinya yang amat berharga itu ikut lenyap pula.
2.1.2. Jumlah orang yang bisa menulis dan membaca naskah kuno secara tradisional semakin berkurang, dan pada akhimya akan habis. Dengn demikian tradisi per- naskahan di daerah akan mati, sedangkan sesungguhnya dalam tradisi itu terkandung nilai-nilai pendidikan m- asyarakat yang sangat baik dan sangat tinggi nilainya. Ini berarti kita akan kehilangan unsur kebudayaan nasional yang sangat berharga.
2.1.3. Jumlah akhli sastra yang menggarap naskah kuno masih sedikit, sehingga penggalian isi naskah-naskah itu sangat lamban dan tidak segera dapat diketahui oleh masyarakat umum. Selain itu, di daerah-daerah minat

Mti&lah Khusus

Masalah khusus di sini berkenaan dengan naskah Wirawiyata yang menjadi bahan kajian dan analisis dalam tulisan ini. Adapun masalahnya dapat dirumuskan seperti berikut :

2.2.1. Nilai-nilai apakah yang terkandung di dalam serat Wirawiyata ?
2.2.2. Sejauh mana relevansi dan kontribusi nilai-nilai yang terkandung di dalam serat Wirawiyata dalam pembangunan dewasa ini ?

3. Tujuan

3.1. Tujuan Umum Hasil pengajian dan analisis serat Wirawiyata, diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, yang pada gilirannya dapat memberikan arah dan sasaran yang tepat dalam rangka pembangunan nasional, khususnya di sektor kebudayaan.

3.2. Tujua.n Khusus

3.2.1. Untuk mendeskripsikan dan mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam serat

Ruang Lingkup Pembahasan

Sebagaimana karya-karya sastra lainnya, serat Wirawiyata mempunyai dua aspek, yakni aspek bentuk dan aspek isi. Adapun yang dimaksud dengan bentukk karya sastra adalah cara pengarang dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya, sedangkan yang dimaksud dengan aspek isi adalah ide-ide atau gagasan yang ingin disampaikan (Budi Darma, 1984 : 27). Aspek bentuk karya sastra meliputi diksi, imajinasi, gaya bahasa, rima dan iramanya, dan struktur keseluruhan dari bangun karya sastra tersebut. Sedangkan aspek isi meliputi tema karya sastra yang bersangkutan, aspek rasa, aspek nada, dan motivasi pengarang dalam mengarang karya sastranya. Bertolak dari pengertian di atas, maka penulisan ini dibatasi ruang lingkup pembahasannya pada aspek isi, dengan me- nitikberatkan pada pengungkapan ide-ide atau gagasan yang disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Adapun aspek bentuk tidak dijadikan pokok bahasan.

  1. Metodologi dan Pendekatan Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode content analysis (analisa isi), yaitu suatu pendekatan yang difo- kuskan pada pemahaman isi pesan atau gagasan pengarang. Untuk memahami ide-ide atau gagasan pengarang ini, dilakukan pula

mengaitkan karya sastra dengan masyarakatnya (Suastika, 1986 :

36). Dalam penulisan ini dibedakan antara pengajian dengan analisis. Pengajian ditujukan pada pemahaman kedalaman ide atau gagasan pengarang yang dituangkan dalam karya sastranya. Lang- kah ini lebih bersifat interpretatif. Sedangkan dalam analisis pemahaman isi gagasan itu lebih banyak dihubungkan dengan realitas sosial budaya serta pemahaman latar belakang sejarah pengarangnya. Hal ini bertolak dari pengertian, bahwa karya sastra di samping diakui sebagai suatu yang otonom, dalam arti karya sastra mempunyai struktur yang lepas dari latar belakang sejarah atau riwayat terjadinya, lepas dari pribadi pencipta, niat dan maksudnya, lepas dari latar belakang sosial, serta efek penikmat atau pembaca (Hartoko, 1984 : 40), tetapi di pihak lain, ba- gaimanapun juga karya sastra tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial budaya yang melingkupinya (IGN Bagus, 1987 : 79-80).

ISi SERA T WIRA WIYATA

1. Latar Belakang Sejarah

Sebelum mengaji pesan-pesan atau ajaran-ajaran yang ter- dapat dalam serat Wirawiyata ini, ada baiknya sejenak kita meninjau latar belakang sejarah masyarakat di mana pengarang naskah ini hidup, dalam hal ini adalah masyarakat atau keluarga Mangkunegaran. Untuk menelusuri sejarah Mangkunegaran, tidak dapat dilepaskan dari tinjauan sejarah Kerajaan Mataram Islam, karena dari situlah asal mula terbentuknya keluarga Mangkunegaran. Pendiri Kerajaan Mataram adalah Sutowijoyo, atau lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Senopati, yang memerintah dari tahun 1586-1601. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataram berpusat di Yogyakarta. Sultan Mataram I bercita-cita ingin menyatukan seluruh Pulau Jawa dengan Mataram sebagai pusatnya. Untuk merealisasikan cita-citanya ini, beliau menak- lukan daerah-daerah lainnya di Jawa. Setelah Panembahan Senopati wafat, ia digantikan oleh Raden Mas Jolang yang berkuasa dari tahun 1601-1613. Raja Mataram yang terbesar adalah Sultan Agung Anyo- krokusumo, yang berkuasa dari tahun 1613-1645. lbukota Kerajaan Mataram dipindahkan ke daerah Kerto. Masa pemerintahan Sultan Agung dapat dibagi ke dalam dua periode, yakni periode penyatuan negara, dan periode pembangunan negara. Pada periode penyatuan negara, banyak terjadi peperangan dalam usaha mewujudkan cita-citanya menyatukan seluruh Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram, seperti yang telah dirintis oleh pendahulunya, yakni Panembangan Senopati dan Raden Mas

paling tangguh waktu itu adalah Kompeni Belanda yang berpusat di Batavia. Sultan Agung berhaisl membangkitkan semangat juang penguasa-penguasa di daerah untuk melawan Belanda. Periode yang kedua adalah periode pembangunan negara, yang berlangsung dari tahun 1630-1645. Masa ini merupakan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Adapun usaha-usaha yang telah dilakukannya di antaranya :

1)
2)
3)
4)
5) Memelihara Mataram sebagai negara agraris yang basil utamanya adalah beras. Dari lingkungan istana dan keluarga bangsawan lahirlah kebudayaan istana berupa seni tari, seni pahat, seni suara, seni sastra, dan sebagainya. 1imbulnya kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi dari kebudayaan asli Jawa, Kebudayaan Hindu-Budha, dan kebudayaan Islam. 1imbulnya kalender Jawa. Hitungan Tarikh yang sebelum tahun 1633 mempergunakan tarikh Hindu yang didasarkan pada peredaran matahari (tarikh samsiah), sejak tahun itu dirubah ke dalam tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh kamariah). Memajukan kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang kitab Sastro Gendhing yang berisi filsafat, kita Nitisruti, Nitisastra dan Asthabrata yang berisi ajaran-ajaran moral dan kepemimpinan, bersumber pada kitab Ramayana. Pengganti Sultan Agung setelah beliau wafat adalah Amang- kurat I (1645-1677). Pada masa ini kerajaan Mataram mulai mengalami disintegrasi, banyak timbul pemberontakan, dianta- ranya yang terkenal adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo yang dibantu oleh rakyat Madura, kaum ulama dari

Pada masa pemerintahan Amangkurat II ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan ke Kartasura.

Amangkurat II wafat pada tahun 1703, dan digantikan oleh Sunan Mas dengan gelar Amangkurat III (1703-1708). Sunan Mas bekerja sama dengan Untung Suropati untuk mengusir Belanda. Oleh karena itu Belanda lalu mengangkat Pangeran Puger, yaitu adik Amangkurat II sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwono I (1703-1719). Terjadilah perang perebutan mahkota. Paku Buwono I dibantu oleh Belanda dengan imbalan daerah Priangan, Cirebon dan Madura Timur diberikan kepada Belanda.

Setelah Paku Buwono wafat (1719), ia digantikan oleh putranya, yakni Sultan Prabu dengan gelar Amangkurat IV dan memerintah dari tahun 1719-1727. Pada masa ini timbul pemberontakan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar serta Pangeran Aria Mataram yang merasa tidak puas atas pengangkatan dan kebijaksanaan- kebijaksanaan yang dijalankan Sunan Prabu. Tetapi dengan bantuan Belanda pemberontakan itu dapat diatasi.

Karena kekacauan-kekacauan yang terjadi secara beruntun, maka semakin lemahlah kedudukan Kerajaan Mataram. Pada dekade ketiga abad 18, Kerajaan Mataram hanyalah menjadi sebuah negara boneka yang dapat dipermainkan oleh Belanda. Padahakekatnya Mataram tidak lagi memiliki kedaulatan. Para penguasa hanyalah menjalankan apa yang menjadi keinginan Belanda.

Pada masa pemerintahan Paku Buwono II, terjadi perlawanan

Untuk menghadapi serangan-serangan itu Belanda mendatangkan bantuan dari luar Jawa. Dengan adanya bantuan itu, maka serangan-serangan tersebut dapat dipatahkan. Menghadapi situasi demikian, sikap Paku Buwono II mulai berubah. Dia kembali memihak kepada Belanda. Perubahan sikap Paku Buwono ini sangat mengecewakan rakyat Mataram. Karena itu rakyat Mataram mengangkat Raden Mas Garendi sebagai sultan Mataram dengan gelar Sunan Kuning. Pada waktu itu timbul juga pemberontakan lain yang dila- kukan oleh Raden Mas Said. Raden Mas Said. yang tidak menyetujui kebjaksanaan Paku Buwono II menyingkir ke daerah Sukowati. Raden Mas Said bergabung dengan pasukan Raden Mas Garendi. Sementara itu ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta (1744). Di daerah Sukowati, pasukan Raden Mas SAid mendapatkan bantuan dari Adipati Sujanaputra, Adipati Singasari, dan Adipati Jayapuspita. oleh ketiga pimpinan pasukan itu Raden Mas Said diangkat menjadi pimpinan dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amengku Nagoro Mangkunegara Senopati ing Ngalaga Sudib- yaning Prang. Karena gigihnya perlawanan R.M. Said yang berkedudukan di Sukowati, maka Paku Buwono II mengeluarkan sayembara bagi siapa yang dapat merebut daerah Sukowati akan mendapatkan daerah itu sebagai hadiahnya. Pangeran Mangkubumi, adik Paku Buwono II berhasil merebut Sukowati, tetapi daerah itu tidak diberikan kepadanya. Bahkan atas saran Belanda, Paku Buwono II mengurangi kekuasaan Pangeran Mangkubumi yang

Said dan Pangeran Mangkubumi terus berlangsung. Karena keper- kasaannya, R.M. Said digelari sebagai Pangeran Samber Nyawa. Tetapi kemudian terjadi perselisihan di antara R.M. Said dengan Pangeran Mangkubumi. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk memecah belah mereka.

Pangeran Mangkubumi berdamai dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Gianti (1755) antara Pangeran Mangkubumi, Paku Buwono III dan Belanda. Perjanjian itu menetapkan, bahwa Mataram dibagi menjadi dua, yakni bagian timur untuk Paku Buwono III yang disebut Kasunanan Surakarta dan berpusat di Surakarta, bagian barat untuk Pangeran Mangkubumi yang disebut Kesultanan Yogyakarta, dan Mangkubumi bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

Semakin kuatlah musuh R.M. Said, namun demikian bebe- rapa lama dia masih melakukan perlawanan. Karena terdesak R.M. Said akhimya menandatangani perjanjian Salatiga (1757). Dalam perjanjian itu ditetapkan, bahwa R.M. Said menerima suatu daerah dalam Kerajaan Surakarta sebagai daerah Kadipaten dan mem- peroleh gelar Pangeran Adipati Mangkunagoro I, serta memiliki hak memelihara tentara yang kemudian dikenal dengan Legiun Mangkunegaran.

Dari sinilah mulai berdirinya Kadipaten Mangkunegara. Sebagai Adipati, Mangkunegaran memiliki otonomi wilayah sen- diri, yang meliputi Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, dan sebagaian Surakarta.

Demikianlah, secara turun temurun keluarga Mangkunegaran berkuasa sebagai adipati, sampai dikeluarkannya Undang-Undang Penghapusan Pemerintahan Swapraja (1946) oleh Pemerintah

IV, kehidupan perekonomian rakyat Mangkunegaran mengalami kemajuan. Begitu pula kehidupan kesenian, khususnya seni sastra. Beberapa kitab dikarang oleh KGPAA IV, salah satu di antaranya ialah Serat Wirawiyata. Selain itu, pada masa ini juga terjadi demokratisasi unggah-ungguh bahasa Jawa.

  1. Klasifikasi lsi Naskah Serat Wirawiyata adalah sebuah xarya sastra lama, yang naskah aslinya ditulis dalam bahasa Jawa. Naskah ini tidak berbentuk cerita, melainkan berbentuk pepatah-pepatah dan ajaran-ajaran moral, ajaran kepemimpinan dan ajaran keprajuritan atau keperwiraan. Sebagai suatu karya sastra, sebagaimana karya-karya sastra lainnya, serat Wirawiyata terdiri dari dua aspek, yakni aspek bentuk dan aspek isi. Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa yang dimaksud dengan aspek bentuk karya sastra adalah cara pengarang dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya, sedangkan aspek isi adalah ide-ide atau gagasan yang ingin disampaikan. Dilihat dari bentuk penyajiannya, serat Wirawiyata adalah sebuah karya sastra dalam bentuk puisi. Naskah ini dibangun oleh dua jenis pupuh, yakni pupuh Sinom dan pupuh Pangkur. Masing- masing pupuh terdiri dari : pupuh Sinom 42 bait, dan pupuh Pangkur 14 bait. Sedangkan kalau dilihat dari isinya, maka serat Wirawiyata ini dapat digolongkan ke dalam sastra 1wrmatif, karena di dalamnya berisi petunjuk-petunjuk dan ajaran-ajaran moral, khususnya berkenaan dengan sifat-sifat keperwiraan dan kepemimpinan. Apabila ditinjau dari latar belakang sejarah dari mana naskah ini lahir, dapatlah kita pahami gagasan-gagasan pengarang naskah

atau ulama, maka dengan karya-karyanya dia ingin mengajak pembacanya ke arah jalan yang diridoi oleh Tuhan, lalu sajak-sajaknya bersifat religius. Lain lagi halnya kalau penyairnya seorang filsuf, maka sajaknya akan bersifat filosofis (1984 : 21 ). Walaupun serat Wirawiyata ini tidak diketahui siapa pe- nulisnya, tetapi kita dapat menentukan bahwa gagasan-gagasan yang terdapat di dalam naskah ini adalah buah pikiran KGPAA Mangkunegara IV. Hal ini dapat dilihat pada bait 1 pupuh Sinom, yang berbunyi :

Srinata dera makarti Wirawiyata nujwari respati tanggal sepisan sasi saban wuku wukir dae sangkaleng warsi murtyas daha mulang sunu asung wasiyat putra Jeng Gusti Pangeran Diptai Arya Mangku Nagara ingkang kaping pat (Pupuh Sinom, bait i).

Artinya : Wirawiyata dibuat atas perintah sang raja, pada hari Kamis tanggal yang pertama, bulan Saban, wuku wukir, dengan sengkalan tahun berbunyi "murtyas daha mulang sunu" atau tahun Jawa 1877, tahun Masehi 1860 bulan Pebruari. Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya

IV yang memberi ajaran kepada para putranya. KGPAA Mangkunegara IV sendiri adalah seorang adipati yang sudah barang tentu memiliki sifat-sifat keperwiraan. Sebagai seorang adipati, Mangkunegara IV memiliki sepasukan prajurit yang pada zaman KG PAA Mangkunegara I disebut dengan Legiun Mangkunegara. Sudah barang tentu dia merasa perlu menanamkan sifat-sifat keperwiraan ini kepada para putranya dan para pra- juritnya.

  1. Kajian Isi Naskah Telah disebutkan pada bagian terdahulu, bahwa pada da- sarnya setiap karya sastra memiliki dua aspek, yakni aspek bentuk dan aspek isi. Aspek isi merupakan jiwa dari karya sastra tersebut, dan aspek isi inilah yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengarang suatu karya sastra. Melalui isi karyanya, pengarangnya mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasan tentang sesuatu hal yang menjadi fokus sorotannya. Umumnya dalam karya-karya sastra, ide-ide atau gagasan-gagasan pokok yang ingin dikemukakan oleh pengarang itu tidak disampaikan secara langsung, tetapi dijalin dalam rangkaian kalimat yang indah, sehingga apa yang menjadi pokok bahasannya hanya tersirat. Apalagi karya-karya sastra yang berbentuk puisi yang sangat terikat oleh jumlah baris, sajak, dan irama serta aturan-aturan lainnya. Oleh karena itu untuk memahami suatu karya sastra, dan mengungkapkan nilai-nilai budaya yang dikan- dungnya diperlukan penelaahan dan kajian yang sedikit atau banyak bersifat intuitif, dan oleh karena itu hampir tidak dapat dihindarkan adanya interpretasi yang bersifat subyektif. Adapun untuk menjaga obyektifitasnya, diperlukan penelaahan dan pe- mahaman latar belakang sosial budaya maupun latar belakang sejarah pengarang. Hal ini bertolak dari pengertian, bahwa di- samping karya sastra itu diakui sebagai suatu yang otonom, dalam arti karya sastra mempunyai struktur yang lepas dari la tar belakang

79-80). Pengkajian isi naskah Wirawiyata ini, lingkup pemba- hasannya aspek tema, aspek nada, aspek rasa, dan tujuan pengarangnya.

3.1. Tema Terna suatu karya sastra adalah gagasan-gagasan pokok yang merupakan inti dari karya sastra tersebut. Menurut pendapat Panuti Sujiman, tema merupakan gagasan, ide atau pikiran utama dalam karya sastra, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap (1984 : 74). Sedangkan I Wayan Jendra berpendapat, bahwa tema adalah sesuatu yang dianggap paling menonjol dalam mewarnai kehadiran sebuah karya sastra (Widya Pustaka, 1984 : 4). Seringkali terjadi dalam suatu karya sastra terdapat beberapa tema, sehingga untuk menentukan tema pokok dari karya sastra tersebut agak sulit, dan sangat tergantung pada kompetensi atau dari kacamata mana penikmat atau pembaca meninjaunya. Karya-karya semacam ini hanya dapat ditentukan temanya setelah semua teks dibaca secara keseluruhan. Adakalanya pula tema suatu karya sudah tercermin dari judulnya atau larik-larik awal karya tersebut, sehingga untuk menentukan tema karya sastra ini cukup hanya dengan mengerti dan memahami judulnya saja. Serat Wirawiyata termasuk ke dalam jenis yang kedua ini. Secara etimologis, Wirawiyata dibentuk oleh dua kata, yakni kata wira dan wiyata. Wzra dapat diartikan diartikan sebagai laki-laki, Sedangkan kata wiyata dapat diartikan sebagai pengajaran (Poerwadarminta, 1985 : 1151). Jadi wirawiyata mengan- dung arti pengajaran mengenai keperwiraan atau kepahlawanan. Pengajaran tentang keperwiraan inilah yang menjadi tema

(KGPAA Mangkunegara I, KGPAA Mangkunegara II, dan KGPAA Mangkunegara III, serta seorang tokoh dari dunia pewayaangan, yakni Abirnanyu. Ini dapat dilihat pada bait-bait di bawah ini :

Jer janma kang wus minulya lir wadhahing minyak wangi utamane winantonan gandane saya rnenuhi nadyan ngisenan warih labeting we rnaksih arum kang rnangku sudarsana Jeng Gusti Pangran Dipati Arya Mangku Negara kang kapisan (Pupuh Sinom, bait

10) Duk babadhe rnurweng yudha neng alas lirnalas warsi sewu Iara sewu papa ngupaya rnulyaning dhiri antuk pitulung widhi katutugan karsanipun mukti sawadyanira tumerah dalan samangkin bayut canggah kasrarnbah rnelu wibawa (pupuh Sinom, bait 11) lku ta kayektenira pralambanging lengawangi

Pangeran Adipati Arya Mangkunegara

I. Pada saat memimpin perang, di hutan selama 15 tahun, yang mengalami beribu duka dan nestapa, untuk men- cari kebahagiaan diri, sampai akhimya mendapat pertolongan Tuhan, tercapai keinginannya, lalu berbahagia bersama anak buahnya, yang dikerahkan sampai seka- rang, sem ua buyut canggah, ikut menikmati kebahagiann ya. Itu semua karena kesungguhannya, dari lambang mi- nyak wangi, andaikan waktu itu dia tidak mendapat pertolongan Tuhan, demikian juga dengan zaman se- karang, yang tak ada ceritanya, juga perlu kau ingat- ingat, janganlah engkau selalu merasa iri, supaya ikut memiliki wibawa itu.
Bait-bait di atas berisi sanjungan terhadap KGPAA Mangkunegara I yang telah berjuang dengan gigih, dan berkat pertolongan Tuhan

clan dibesarkan dalam situasi kacau yang tengah melanda Mataram. Dalam usia yang masih sangat muda beliau sudah dapat menyimak, mengapa kekacauan-kekacauan dan krisis senantiasa timbul di wilayah kerajaan Mataram. Beiiau menyadari bahwa semua kekacauan itu disebabkan oleh sepak terjang Belanda yang terlalu banyak mencampuri urusan kerajaan Mataram. Pengaruh Belanda sudah jauh memasuki rongga-rongga pe- merintahan Mataram, sehingga kerjaan Mataram pada waktu itu tidak lagi memiliki kedalatan. Beliau lalu bereaksi terhadap situasi itu. Belasan tahun lamanya beliau berjuang guna mencapai cita-citanya dan menegakkan kebenaran yang telah diyakininya. Sifat-sifat kepahlawanan dan keperwiraan KGPAA Mangkunegara I bukan hanya dihargai dan diteladani oleh keturunannya saja, tetapi juga telah mendapatkan penghargaan resmi dari pemerintah R.I, yakni dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipuma oleh Presiden R.I pada tahun 1988. Demikan, setelah KGPAA Mangkunegara I, berturut-turut KGPAA Mangkunegara II dan KGPAA Mangkunegara III yang senantiasa memelihara dan melestarikan apa-apa yang telah diper- juangkan oleh leluhurnya (KGPAA I). Sampai pada masa berkuasanya KGPAA IV, keluhuran dan wibawa KGPAA I terus dipelihara dan diwariskan kepada keturunannya. Hal ini terlihat dari bunyi bait di bawah ini.

Pira hara sira bisa nguruni daraja malih dadi janget kinatigan majade santoseng wuri tumurun marang siwi

sukur bisa prapteng putu milu tampa kamulyan yagyane angkahen kaki ra orane aja punggel saking sira (Pupuh sinom, bait 18) Lamun drajat lakonana punggele saking sireki dadi sira nganiaya marang darohmu rpibadi kangelan ingkang wuri tembung kawutungan laku salagi tembe bisa antuk kang darajat malih sesambungan yekti becik kang widada (pupuh sinom, bait 19)

Artinya: Apabila engkau telah dapat meninggikan derajatmu kembali, tentu akan menjadi satu kebahagiaan, dan turunkanlah keluhuranmu itu kepada anak-anakmu, atau syukur sampai anak cucumu ikut merasakan kemulyaan itu, sebaiknya pikirkanlah wahai anakku, dan janganlah sampai tidak datang (putus) olehmu. Kalau engkau telah mendapatkan derajat itu, dan me- mang terputus olehmu, itu berarti telah kau aniaya diri pribadi dan keturunanmu sendiri, yang akhirnya akan mendapat kesulitan, dan dikatakan terputus per- jalananmu, pada saat engkau menemukan derajat lagi, peliharalah benar-benar ini semua. Rupanya KGPAA Mangkunegara IV yang mengarang naskah ini ingin menekankan perlunya memelihara dan kewibawaan yang telah dicontohkan oleh para pendahulunya. Kemulyaan dan

· -· · .,

c:>leh pengarang adalah tokoh Abimanyu. Abimanyu adalah tokoh dari dunia pewayangan, putra dari penengah Pandawa, yakni Arjuna. Dalam naskah ini, tokoh Abimanyu dilukiskan sebagai seorang satria

Kono sedhenge medhama ing kasuran guna sakti nyirnakna paningalira ing tekat ywa welangati wruhanta senapati wakiling gusti satuhu gusti wakiling suksma kang kinon angudaneni mring kawula kang sumedya mrih utama (pupuh sinom, bait 32) Artinya: Sepertinya halnya putra sang Parta, Abimanyu pada waktu ditunjuk memimpin untuk menggempur gelar "cakra" oleh Prabu Yudhistira, betapa gembira hatinya, pada, saat menghadapi mus uh, kelihatan bahwa dia keturunan satria, yang takut mendapat malu, dan berani mati, itulah yang harus dijadikan contoh para perwira. Di situ dia tunjukkan kesaktiannya, dan dapat menyimakan penglihatan, janganlah engkau ragu dalam bertekad, ketahuilah bahwa senapati adalah wakil dari raja, dan raja adalah wakil suksma, yang nampak kepada para abdi untuk menuju keutamaan. Dalam perang Baratayuda, jasa Abimanyu sangat besar_ Dalam perang itu pihak musuh (Kurawa) memasang strategi

Z2

Pandawa akan gugur. Menghadapi situasi yang kritis itu, Abimanyu tampil. Di situ dia menunjukkan kegagahannya sebagai seorang satria, sampai akhirnya i.a sendiri gugur demi membela keutuhan Pandawa yang berarti tegaknya kebenaran. Bait yang menerangkan gugurnya Abimanyu berbunyi sebagai berikut:

Wus ana Kayektenera sang Parta suta inguni palastra aneng palagan lawan legawaning ati wit denya anglabuhi Pandhawa manggihna unggul puwarantuk nugraha sira wau partasiwi turunipun angratoni tanah Jawi (pupuh sinom, bait 35)

Artinya:

Akhimya kesaktian, putra sang parta berkata, gugur di dalam peperangan dengan ikhlas hati, karena dia me- ngelabuhi, agar Pandawa mendapat kemenangan dan mendapat anugerah, demikianlah putra sang Patra, keturunannya menjadi raja di Tanab Jawa.

Dari bait di atas jelaslah, bahwa melalui tokoh-tokoh tersebut pengarang ingin mengingatkan dan mengajarkan kepada keturunannya dan para prajuritnya, agar senantiasa memelihara sifat-sifat keperwiraan demi tegaknya kebenaran dan kelestarian wibawa para leluhur serta diri pribadi. Sifat yang perwira tidak pernah gentar menghadapi musuh, seperti yang digambarkan oleh tokoh Abimanyu, serta tidak segak tidak merasa sayang

Sumarjo dan Saini KM menya- takan, bahwa ada dua faktor utama yang dapat dipakai untuk menentukan sikap pengarang terhadap pembaca (nada) dalam karya sastra puisi, yakni pokok pembicaraan dan orang yang diajak berbicara (pembacanya) (1986 : 125). Selanjutnya dijelaskan, kalau penyair menetapkan hubungan berjarak dan hormat kepada pembacanya, maka ia akan bemada sejauh rasa horrnat tersebut, demikian juga sebaliknya (IGN Bagus, 1987 : 44).

Setiap pengarang ingin menjalin komunikasi dengan penikmat basil karya sastranya. Komunikasi ini akan berlangsung manakala penikmat atau pembaca karyanya mengerti dan me- mabami apa yang menjadi pokok pembicara karya sastra yang dibacanya. Untuk menjalin komunikasi itu, pengarang harus benar-benar menyadari dalam posisi apa dia berada, dan siapa saja yang akan menjadi penikmat basil karyanya. Ini adalah kon- sekuensi sosial, karena bagaimana pun pengarang adalah anggota masyarakat yang terikat dengan berbagai pranata sosial. Karena itu, melalui karya sastranya, seringkali kita dapat menentukan dari kalangan mana seseorang pengarang berasal.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Henry Guntur Tarigan, bahwa kalau kebetulan penyair seorang guru, maka dengan sajak-sajaknya dia ingin mendidik penikmat karyanya. Dengan demikian, sajak-sajaknya bersifat didaktis. Kalau pe- nyaimya kebetulan seorang pendeta atau .ulama, maka dengan karya-karya dia ingin pembacanya ke arah jalan yang diridoi oleh Toban, lalu sajak-sajaknya bersifat religius. Lain lagi halnya kalau

IV yang mengarang naskah ini adalah seorang adipati di Maogkunegara. Sebagai seorang adipati, beliau memiliki kedudukan yang tinggi. Apalagi kalau dilihat masa ditulisnya naskah ini (th. 1860), sebelum negara Republik Indo- nesia ini lahir, di mana Praja Mangkunegara memiliki otonomi yang amat besar, maka kedudukannya pun sangat tinggi hampir sejajar dengan raja. Karena pengarang serat Wirawiyata ini adalah seorang yang kedudukannya sangat tinggi, maka nada kalimatnya pun bersifat mendikte dan instruktif. lni dapat dirasakan dari bait-bait berikut :

Iki ta wasitaning wang marang kang dadi prajurit aja kemba ing wardaya rehne wis sira lakoni balik dipun nastiti marang ing kawajibanmu owlen sariranta reksanen luhurmu sami yen kuciwa gawe punggel drajatira (pupuh sinom, bait

2) Awit sira wus prasetya nalika jinunjung linggih saguh nut anggering praja myang pakoning narapati sineksen den estreni mring para wira sawegung upama sira cidra nyirnakken ajining dhiri temah nistha weh wirang ing yayah rena

Pada saat engkau diangkat dalam kedudukanmu, engkau telah berjanji, menuruti segala aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan sanggup menuruti apapun perintah raja, semua itu disaksikan oleh semua perwira, apabila engkau mengingkari sumpah itu, maka simalah harga dirimu, dan akan membuat hina pula ayah dan ibumu.

Nada kalimat pada bait-bait di atas bernada mendikte yang mencerminkan komunikasi atas ke bawah instruktif, tidak dapat tidak harus dilaksanakan. Terlihat pula di sini, kepada siapa pesan itu ditujukan, yakni kepada orang-orang yang telah memilih jalan hidupnya menjadi prajurit. Nada kalimat yang bersifat mendikte dan instruktif ini terasa pula pada cuplikan di bawah ini. Ywa pegat pam ulangira saniskara wajibireng prajurit weruhna sadurungipun nistha madya utama myang papacak kanggone para prawira dununge sawiji-wiji (pupuh pangkur, bait 14)

Rasa

Pada dasamya karya sastra merupakan tuangan kemampuan pengarang dalam mengekspresikan situasi-situasi yang ada pada zamannya. Pengarang, sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada berbagai masalah sosial dan budaya. Masalah-masalah tertentu dipandang lebih penting dan menimbulkan minatnya untuk mengungkapkannya melalui karya sastranya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Suha- rianto, bahwa kelahiran karya sastra tidak semata-mata di sebab- kan oleh pengarang ingin menghibur masyarakat pembacanya, tetapi dengan penuh kesadaran ia ingin menyampaikan nilai-nilai yang agung yang dibutuhkan manusia pada umumnya (1987/ 1988:68). Bertolak dari kenyataan itu, maka setiap pengarang memiliki sikap tertentu terhadap pokok karangannya, sehingga lahirlah jenis- jenis karya sastra yang mengandung kritik terhadap situasi-situasi yang ada dan dihadapi oleh pengarangnya, serta jenis- jenis karya sastra yang berisi pengokohan terhadap situasi-situasi atapun nilai-nilai yang sudah mapan.

Sikap pengarang inilah yang di- maksudkan sebagai aspek rasa dalam suatu karya sastra. Seb- agaimana dikatakan oleb Henry G. Tarigan, bahwa pengertian rasa dalam dunia sastra adalah sebagai sikap pengarang atau penyair terhadap pokok persoalan yang terkandung dalam karyanya (1984

: 111

Dalam membicarakan masalah tema di atas dikatakan, babwa 'pokok persoalan yang dikemukakan dalam serat Wirayata adalab ajaran-ajaran tentang sifat-sifat keprajuritan dan keperwiraan. Pengarang beranggapan bahwa sifat-sifat keperwiraan ini adalah sangat penting dan perlu ditanamkan kepada para putranya dan para prajuritnya. Beberapa bait yang mencerminkan sikap pengarang terhadap pokok persoalan dalam karyanya adalah: Padha ingaran utama ing pakaryan mangun jurit iku kang luhur priyongga wus kasebut layang sruti yenta daning prajurit ngsorken tapaning wiku wit sumungkuning puja neng pucuking gunung wesi sang pandbita aneng pucuking aldaka (pupuh sinom, bait 33) Ing tekadipun santosa aja angrasani pati apan tan wineng sira gumantung karsaning widbi yen wis tibaning pasthi nora pilib marganipun

Sruti, apabila menjadi prajurit, harus dapat menga- lahkan/menggagalkan semedinya seorang wiku, karena perintah raja, di atas puncak gunung besi, dan sang pendeta di atas pucuk aldaka. Janganlah mempercepat kematian, bila engkau tidak mendapat malu, karena kematian adalah kehendak Tuhan, dan bila telah tiba saatnya, Tuhan tak akan memilih-milih jalan, lebih baik mati di rumah, dan mati dalam keutamaan, tentu akan membahagiakan keturunanmu.

Dari bait-bait di atas tampak, bahwa pengarang memandang tugas prajurit sebagai tugas yang mulia dan luhur. Setiap prajurit harus patuh dan taat kepada atasan (raja), yang pada bait di atas dikiaskan bahwa seorang prajurit harus dapat menggagalkan semedinya seorang wiku atas perintah raja. Kita juga memaklumi bahwa tugas itu bukanlah pekerjaan yang ringan, karena tapanya seorang wiku seolah-olah mematikan diri (raganya). Jadi membangunkan tapanya seorang wiku ibarat membangunkan yang sudah mati. Maksudnya di sini ialah bagaimana pun beratnya tugas yang diperintahkan oleh raja, harus senantiasa diindahkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh setiap prajurit. Namun demikian, pengarang juga tidak hanya sekedar mengemukakan beratnya tugas menjadi prajurit, karena apabila tanggung jawabnya telah melekat pada jiwa setiap prajurit, maka

Ywa sira duwe pangira lamun wong dadi prajurit karyane abot priyongga wruhanta sagung pakarti kabeh dunya puniki tan ada prabedanipun tan ada prabedanipun kang dagang neng lautan miwah ingkang among tani sumawana kang suwita ing narendra (pupuh sinom, bait 4) Myang kang tapa jroning guwa kang manusup ing asepi lakone padha kewala awit iku dadi margi mrih katekaning kapti sapangkate pandumipun nanging sarananira mantep temen taberi samaptane ingaran laksitarja (pupuh sinom, bait 5)

Janganlah engkau mempunyai prasangak, bahwa orang menjadi prajurit itu sangat berat tugasnya, karena harus mengetahui segala pekerjaan yang ada di dunia ini, tak ada bedanya dengan orang yang berdagang di lautan, juga orang yang pekerjaannya bertani, atau juga mereka yang mengabdi kepada raja.

Juga yang bertapa di dala gua, yang menyelusup dari sepi ke sepi, semua yang dilakukan adalah sama saja,

karena itulah yang menjadi jalannya, agar apa yang

diinginkan dapat terpenuhi, dan apa pun pemberian

pangkatnya, sebagai syaratnya adalah, harus mantap,

sungguh-sungguh dan rajin.

Dari bait-bait di atas jelaslah, bahwa sikap pengarang terhadap

pokok persoalan dalam naskah ini, yakni tentang sifat-sifat

keperwiraan dan keprjuritan, yang dipandangnya sebagai suatu sifat yang utama, dan oleh karena itu harus senantiasa dipelihara dan ditanamkan dalam benak setiap prajurit dan perwira.

3.4. Aspek Tujuan

Apapun yang dilakukan oleh seseorang, disadari ataupun tidak, didorong oleh tujuan tertentu. Tujuan inilah yang mela- tarbelakangi terwujudnya tindakan. Demikian pula halnya dalam dunia sastra, aspek tujuan ini melandasi pengarang untuk menuliskan atau menghasilkan karya sastranya.

Memang seringkali seorang pengarang atau penyair pada saat menuliskan karyanya seolah-olah tidak mempunyai motivasi apa-

pun, melainkan hanya sekedar mencurahkan gagasan-gagasannya untuk mencapai kepuasan batin. Tetapi disadari ataupun tidak, ada kecenderungan-kecenderungan tertentu sehubungan dengan efek hasil karya sastranya. Sebagaimana dikatakan oleh Yakob Sumarjo, bahwa sadar atau tidak, mungkin saja penyair menyiapkan ke- inginan agar sesuatu terjadi sebagai dampak sajaknya, baik pada

diri pembaca atau bahkan pada masyarakat yang menjadi sasaran

sajaknya (1986:125).

Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa pengarang

serat Wirawiyata adalah seorang adipati yang merasa ber-

kepentingan untuk menanamkan sifat-sifat keperwiraan kepada para putra dan para prajuritnya. Ini pula yang menjadi tujuan

yang kamu cari, kemulyaan di negaramu, dihormati oleh sesama, beserta anak dan isteri, walaupun para maharsi, yang sedang bertapa, atau para petani dan nakhoda, berjuang mati-matian, hanya untuk mencari kemulyaan diri.

Dari bait di atas dapat diungkapkan, bahwa apapun yang dilakukan oleh setiap orang adalah untuk mencari kemulyaan diri guna mencapai keutamaan hidup. Begitu pula bagi orang-orang yang telah memiliki jalan hidup sebagai prajurit. Pengarang me- nunjukkan, bahwa jalan keutamaan bagi setiap prajurit adalah berbakti kepada raja dan kepada Tuhan. lni tercermin dari bunyi bait di bawah ini. Marma dan sumurupa sira mrih sih kamulening gusti benjang yen tinuduh sira

lumawun ngadoni jurit yeku karyanta yekti pangudangireng gustimu kono aja pepeka den madhep marang sawiji nanging cipta sadyakna males marang praja (pupuh sinom, bait 28)

Artinya:

Ketahuilah juga olehmu, tentang kasih Tuhan pada mulanya, supaya engkau nantinya tidak dituduh, atau melawan menjadi prajurit, karena itu benar-benar tu- gasmu, yang disanjung oleh rajamu, maka janganlah engkau ragu-ragu, untuk mantap percaya kepada yang satu, tetapi engkau pun harus membalas kebaikan rajamu. Bait di atas memesankan, bahwa tugas utama seorang prajurit adalah mengabdi kepada raja, tetapi sebagai manusia yang be- ragama, prajurit juga harus berbakti kepada Tuhan melalui segala perbuatan yang baik yang dilakukan tanpa pamrih. Berbakti kepada raja adalah juga merupakan pengabdian kepada Tuhan. Kutipan berikut ini mempertegas hal itu.

Lawan sira sumurupa kang lebu pangabekti nora sembahyang kewala kang dadi parenging widhi kabeh panggawe becik kang mantep suci ing kalbu uga dadi panembah yan katrima iku sami sinung rahmat samurwate badanira

ang9na wektuning praja (pupuh sinom, bait 8)

Dan ketahuilah juga olehmu, bahwa yang termasuk berbakti, bukanlah hanya sembahyang, yang memang diizinkan oleh Tuhan, tetapi segala perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus ikhlas, yang keluar dari hati yang suci, apabila itu se~ua diterima oleh Tuhan, maka engkau akan mendapat anugerah dan rahmat seluruh badan. Apabila tidak dapat mawas diri, untuk dapat mencapai

1m pengarang mengharapkan akan mempertebal sikap pengabdian para prajurit perwira kepada raja, dan mempertembal pengabdiannya kepada Tuhan. Apabila kedua ha! itu telah dapat diwujudkan oleh para prajurit, maka dengan sendirinya keadaan negara dan masyarakatnya akan menjadi lebih mantap.

BAB III

ANALISIS NILAI

  1. Batasan Pengertian Setiap tingkah laku dan perbuatan manusia senantiasa ditata oleh seperangkat ide atau gagasan-gagasan utama yang mendorong individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Konsep- konsep gagasan itu apabila telah diakui dan dianut oleh sebagian besar warga suatu masyarakat, maka akan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Konsepsi-konsepsi inilah yang dinamakan nilai budaya masyarakat. Sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat, bahwa nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup (1982 : ). Selanjutnya Koentjaraningrat mengkatagorikan kebudayaan ke dalam tiga wujud, yakni kebudayaan sebagai tata kelakuan, kebudayaan sebagai kompleks tingkah laku, dan kebudayaan sebagai wujud benda atau materi. Ketiga aspek ini terjalin dalam hubungan sibernetik, di mana unsur yang inti menata unsur-unsur yang berada di permukaannya. Dalam hal ini Nugroho No- tosusanto mengatakan, bahwa sistem nilai budaya merupakan inti kebudayaan. Sebagai intinya, ia akan mempengaruhi dan menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan (surface structure) dari kehidupan manusia, yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Yang tergolong dalam perilaku meliputi perilaku seni, perilaku ritual, perilaku ekonomi, perilaku politik, dan perilaku dalam kehidupan lainnya (Geriya, 1986 : 26). Dalam wujudnya sebagai tata kelakuan, kebudayaan adalah seperangkat ide atau gagasan-gagasan utama yang menata dan

mengatur setiap gerak langkah dan perilaku manusia, memberikan pedoman mengenai perilaku bagaimana yang harus ditampilkan oleh individu dalam kelompok masyarakatnya. Dalam wujudnya sebagai tingkah laku, kebudayaan menampakkan diri di dalam struktur kemasyarakatan, berupa kesatuan gejala yang dapat diamati secara langsung. Adapun dalam wujudnya sebagai benda-benda atau materi, kebudayaan merupakan hasil-hasil dari kelakuan manusia. Bertolak dari pembagian di atas, maka karya-karya sastra dilihat dari wujud bendanya merupakan kebudayaan materi yang berupa kumpulan huruf-huruf dan rangkaian-rangkaian kalimat yang ditulis oleh pengarang. Tetapi ia bukan sekedar kumpulan tulisan yang tanpa makna, melainkan mengandung berbagai ga- gasan dan ide-ide yang mencerminkan sistem nilai budaya yang didukung oleh kelompok masyarakat di mana pengarang itu hidup. Nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya sastra, dapat berupa persepsi individual pengarang sendiri terhadap suatu gejala atau situasi tertentu, maupun persepsi masyarakat yang diangkat oleh pengarang dalam karya sastranya. Dalam hal persepsi yang pertama, karya-karya sastra yang dilahirkan oleh seorang pengarang seringkali berupa ungkapan rasa tidak puas dari si pengarang terhadap sesuatu gejala atau situasi tertentu yang berlangsung dalam masyarakatnya. Dia (pengarang) merasakan adanya suatu ketimpangan, dan ia merasa tidak puas dengan situasi yang dihadapinya. Pengarang meng- hendaki adanya perubahan dari situasi-situasi yang tengah ada. Keinginannya itu diangkat ke dalam karya sastranya dengan harapan akan mendapat reaksi dari kalangan penikmat atau pembacanya, sehingga situasi-situasi yang dirasakannya tidak sesuai itu akan berubah menurut gagasannya. Di sini pengarang berfungsi sebagai the agent of change. Adapun dalam hal persepsi yang kedua, karya-karya sastra yang dilahirkan oleh pengarang beranjak dari situasi sosial budaya yang mapan, dan diangkat oleh pengarang dalam karya sastranya sebagai usaha untuk

mentransformasikan nilai-nilai budaya yang didukung oleh ma syarakatnya. Dalam hal ini pengarang berfungsi sebagai transfor mator (Rosyadi, 1988/1989 : 98). Pengungkapan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu karya sastra, bukan saja akan memberikan pemahaman tentang latar belakang sosial budaya pengarangnya, melainkan juga dapat mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasan pengarang dalam menanggapi situasi·· situasi yang melingkupinya. Hal ini dimungkinkan, karena karya sastra pada dasarnya adalah tuangan kemampuan pengarang dalam mengekspresikan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada zamannya. Ini sejalan pula dengan apa

  1. Orientasi Nilai Budaya Nilai budaya yang dimaksud di sini adalah sistem tata nilai dalam kerangka kebudayaan Jawa. Nilai-nilai budaya Jawa banyak mencerrninkan sinkretisme dari unsur-unsur budaya asli Jawa, unsur budaya Hindu-Budha, dan unsur budaya Islam. Kebudayaan Jawa sendiri merupakan hasil proses akulturasi dari ketiga unsur tersebut yang berintegrasi dan kemudian membentuk kebudayaan Jawa seperti yang ada sekarang ini. Unsur kebudayaan asli Jawa adalah kebudayaan yang pemah ada pada jaman sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa, sehingga dikatakan bahwa kebudayaah asli Jawa adalah kebu dayaan pra-Hindu. Sebelum masuknya agama H indu di Pulau Jawa masih berlangsung zaman pra-sejarah. Pada zaman ini, tata nilai kebudayaan Jawa, khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan sistem kepercayaan dan pandangan hidup bercorak animistis dan dinamistis. Pada abad ke 3 dan ke 4 Masehi, para pedagang dari India Selatan membawa dan menyebarkan agama Hindu dan Budha (versi India Selatan) di Kepulauan Indonesia pada umumnya, dan di Pulau Jawa khususnya. Permulaan zaman Hindu itulah yang 38

mengakhiri zaman prasejarah di Jawa (Koentjaraningrat, 1984 :

38). Masuknya agama Hindu-Budha ke Jawa, membawa pengaruh yang sangat besar pada bentuk kerajaan-kerajaan di Jawa. Pra sasti-prasasti dari batu yang ditemukan di pantai utara Jawa Barat membuktikan hal ini. Prasasti-prasasti itu berisi suatu deskripsi mengenai beberapa upacara yang dilakukan oleh seorang raja untuk merayakan peresmian bangunan irigasi dan bangunan ke agamaan dalam abad ke 4 Masehi. Raja ini adalah orang Indonesia ynag berusaha meniru gaya hidup India, dengan memakai na ma-nama Hindu dan mengundang orang-orang Brahmana dari India sebagai konsultan yang dapat memperkenalkan peradaban intelektual dan kesusastraan Hindu di istananya (Coedes, dalam Koentjaraningrat, 1984 : 38). Pada zamannya kerajaan Hindu kuno di Jawa berkembang suatu konsep mengenai sifat dan kedudukan raja yang didasarkan pada persepsi tentang hubungan alam semesta dengan kerajaan manusia. Pandangan itu beranggapan, bahwa di alam semesta ini terdapat kerajaan para dewa yang berpusat di Gunung Mahameru. Raja dari para dewa itu adalah Dewa Indra. Adapun raja di alam manusia adalah penjelmaan dari salah satu dewa yang mengemban tugas dan kewajiban untuk memelihara keseimbangan kosmos dengan jalan meniru susunan alam semesta dalam kerajaannya. Pada abad ke 15 dan 16 agama Islam masuk ke Jawa yang dibawa oleh para peddagang dari Persia atau Gujarat dan oleh orang-orang Jawa sendiri yang berhubungan dagang dengan orang-orang Persia. Sesungguhnya, jauh sebelumnya, yakni pada abad ke 13 dan ke 14 agama Islam ini sudah mulai diperkenalkan oleh para pedagang dari Persia kepada para pedagang dari Jawa. tetapi penyebarannya seecara meluas di Pulau Jawa baru terjadi pada awal abad ke 15 dan ke 16. Tercatat dalam sejarah, bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa adalah Kerajaan Demak. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1504-1546) menyebar ke beberapa kerajaan kota
39

Timur. Ketika Kerajaan Demak menyerang Kerajaan Jawa Timur di Panarukan, raja Demak, yakni Sultan Trenggana terbunuh, dan dengan demikian mulai habislah kekuasaan Kerajaan Demak. Kekuasaan Demak dalam abad ke 16 diambil alih oleh Kerajaan Pajang, dengan rajanya Sultan Adi Wijaya. Istana Pajang adalah istana di daerah pedalaman Jawa yang pertama, yang merupakan pusat peradaban Islam. Kejayaan Kerajaan Pajang berakhir dengan meninggalnya Sultan Adi Wijaya. Bersamaan dengan itu timbul kerjaan Islam yang baru, yakni Kerajaan Mataram.

Peradaban dalam istana Pajang, dan kemudian dalam istana Mataram selama abad ke 16 dan ke 17, rupa-rupanya masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang dipengaruhi aga- ma Hindu-Budha. Unsur-unsur ini bukan hanya unsur-unsur kesenian dan kesusastraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam kehidupan upacara dan keagamaan, walaupun dengan selubung Islam (Koentjaraningrat, 1984 : 59). Sinkretisasi dari ketiga unsur itu, yakni unsur tradisi asli Jawa, unsur Hindu-Budha dan unsur Islam, membentuk corak kebudayaan Jawa dan mempengaruhi sistem orientasi nilai budaya masyarakat Jawa.

Di dalam serat W~rawiyata, hal seperti ini tampak pula. Uraian- uraian berikut ini mencoba mengungkapkan sitem orientasi nilai budaya masyarakat Jawa sebagaimana tersirat pada beberapa bait dalam naskah ini.

2.1. Pandangan Mengenai Hakekat Hidup Orang Jawa meyakini, bahwa urusan hidup, mati, bahagia, dan penderitaan semuanya adalah ~tas kehendak Tuhan. Manusia tidak akan mampu merubah kehendak Tuhan, dan Tuhan pun tidak akan merubah nasib manusia apabila manusianya sendiri tidak

untuk merubahnya. Pandangan ini tercermin dari bunyi bait berikut ini.

Ing tekadipun santosa aja angrasani pati apan tan wineng sira gumantung karsaning widhi yen wid tibaning pasthi nora pilih marganipun ala mati neng wisma becik mati kang utami tur sumbaga dadi ngamale trahira (pupuh sinom, bait 34).

Artinya:

Untuk mencapai kesentosaan, janganlah mengeluhkan kematian, bila engkau tidak mendapat malu, karena kematian adalah kehendak Tuhan, yang sudah pasti akan tiba, tidak memilih-milih jalan, daripada mati di dalam rumah, lebih baik mati dalam keutamaan, tentu akan membahagikan keturunanmu.

Bait di atas memberikan peringatan, agar tidak mengeluh dan berputus asa dalam menjalani hidup. Segala yang dialami manusia, hidup, mati, bahagia dan derita, semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Untuk mengisi hidup ini, manusia harus senantiasa beramal bakti, dan pengabdian yang nyata adalah berbakti kepada raja. Bagi seoran prajurit, ma ti dalam keutamaan adalah gugur di medan perang dalam membela negara. Hal ini dicontohkan dengan gugumya tokoh dunia pewayangan, yakni Abimanyu (pupuh sinom, bait 35), yang mengisahkan ketika Abimanyu ditunjuk oleh Prabu Yudhistira untuk memimpin pasukan menggempur gelar

yang digelarkan oleh pilaakk Kurawa. Dalam peperangan itu Abimanyu gugur demi membela keutuhan Pandawa · yang merupakan simbol kebenaran. Oleh karena itu Abimanyu mati dalam jalan keutamaan. Orang Jawa pada umumnya memandang penting konsep "nasib", yaitu bahwa hidup itu pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian kesengsaraan, sungguh pun mereka juga mengakui arti dari ikhtiar manusia. Betapapun beratnya dan sengsaranya ikhtiar itu, orang wajib berusaha sebanyak mungkin untuk memperbaiki keadannya. Dalam berikhtiar, mereka senantiasa mengembangkan sikap prihatin dan mawas. diri sebagai bukti penyerahan diri kepada Tuhan. Hal demikian itu tersirat dalam bait-bait di bawah ini. Lamun tan mawas rana paran katekaning kapti' lir bedhag tanpa sanjata ingatasira hyang widhi tan karsa mituruti marang wong bog tanpa laku nir ngamal myang manembah kumudu dipun turuti ngendi ana gusti rineh ing kawula (pupuh sinom, bait 7) Kang mangkono andupara lamun jinurung ing kapti malah nandang dub cipla dosane angruh hyang widhi mulane sira sami aja kakehan panggayub manawa durung ngrasa duwe ngamal tang ngabekti

berprihatin,' juga tak pemah beramal dan menyembahnya, karenanya harus dipenuhi, tak ada Tuhan suka memperbudak kepada hambanya. Hal yang demikian itu, apabila hanya menuruti kehen- dak hatimu, tentu akan menjadikan duka cita, engkau berdosa kepada Tuhan, maka engkau semua, janganlah engkau kebanyakan keinginan, apabila memang belum mampu untuk beramal, lebih baik engkau mau menge- tahui keadaan sang raja.

Bait di atas mengisyaratkan bahwa mawas diri dan sikap prihatin adalah sikap yang utama untuk mencapai keutamaan diri. Prihatin berarti mengendalikan keinginan-keinginan yang hanya semata- mata didorong oleh hawa nafsu, dengan berusaha menekan egoisme (pamrih pribadi). Menurut pandangan orang Jawa, nafsu duniawi adalah unsur-unsur kasar, yang apabila diumbar akan dapat menumpulkan akal dan budi dan memperlemah kontrol diri. Orang yang telah dikuasai oleh hawa nafsu duniawi, berarti orang itu telah mengikatkan diri dan menggantungkan diri pada unsur-unsur yang ada di luar dirinya. Karenanya orang yang demikian itu lemah dalam in- trospeksi. Sebaliknya, orang yang mengutamakan akal budi akan senantiasa mawas diri, dan dapat memperkuat pengendalian diri untuk tidak berbuat sekehendak hati. Sikap berprihatin bukanlah suatu sikap yang fatalistik, yang menerima apa adanya tanpa adanya usaha untuk memperbaiki

suatu sikap mental yang membekali manusia (Jawa khususnya) untuk mengarungi hidup yang dipandangnya sebagai rangkaian kesengsaraan. ~ngan sikap prihatin, maka orang Jawa senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai terpaan hidup, dan tidak mudah berputus asa. Kegagalan dan penderi~n dipandangnya sebagai sesuatu yng wajar, dan tidak perlu dihadapi dengan berkeluh kesah, melainkan harus dite- rimanya dengan penuh kesadaran dan hati yang besar sebagai bagian dari hidup, tanpa mematikan semangat untuk tetap berusaha memperbaiki keadaannya.

2.2. Pandangan Mengenai Hakekat Karya Kerja bagi orang Jawa bukan semata-mata diarahkan pada pencapaian kepuasan material, melainkan lebih ditekankan pada pemenuhan kewajiban. Hal ini bertolak dari pandangan, bahwa manusia hidup wajib berikhtiar untuk memperbaiki keadaannya. Yang diutamakan disini bukanlah tercapainya tujuan, melainkan usaha-usaha yang dilakukannya. Pandangan yang demikian dapat kita simak dari bait-bait dibawah ini. Ywa sira duwe pangira lamun wong dadi prajurit karyane abot priyongga wruhanta sagung pakarti kabeh dunya puniki tan ana prabedanipun kang dagang neng lautan miwah ingkang among tani sumawana kang suwita ing narendra (pupuh sinom, bait 4) Myang kang tapa jroning guwa kang manusup ing asepi lakone padha kewala

samaptane· ingaran laksitarja (pupuh sinom, bait 5)

Janganlah engkau mempunyai prasangka, bahwa orang yang menjadi prajurit itu adalah sangat berat tugasnya, karena harus mengetahui segala pekerjaan yang ada didunia ini, tak ada bedanya dengan orang yang ber- dagang di lautan, juga orang yang pekerjaannya bertani, atau juga mereka yang mengabdi kepada raja. Juga yang bertapa di dalam gua, yang menyelusup dari sepi ke sepi, semua yang dilakukan adalah sama saja, karena itulah yang menjadi jalannya, agar apa yang diinginkan dapat terpenuhi, dan apa pun pemberian pangkatnya, sebagai syaratnya adalah harus mantap, sungguh-sungguh dan rajin.

Bait-bait di atas memberikan pengertian, bahwa masing-masing orang telah memiiiki tempat sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat. Apapun profesi seseorang, itulah yang harus dite- kuninya, karena dengan profesinya itu dia mengisi fungsinya. Raja harus mampu memerankan perannya dan memenuhi fungsinya sebagai seorang raja. Demikian pula prajurit harus mampu me- mainkan peranannya dan mengisi fungsi keprajuritan dalam ma- syarakatnya. Kesemuanya itu harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa kerja bagi orang

Orang Jawa diharapkan melakukan segala sesuatu tanpa pamrih untuk kesenangan diri sendiri. Pamrih dipandang sebagai dorongan yang bukan saja akan mencelakakan diri sendiri karena dapat menghilangkan kontrol diri, tetapi juga membahayakan keselarasan masyarakat. Orang yang hanya mengejar pamrihnya, berarti orang itu telah kehilangan kontrol diri dan kontrol sosialnya. Franz Magnis Suseno mengatakan, bahwa pamrih terutama kelihatan dalam tiga nafsu, yaitu selalu mau menjadi orang pertama (nepsu menangi dhewe) menganggap diri selalu betul (nepsu benere dlzewe), dan hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri (nepsu butuhe dhewe). Sikap-sikap lain yang tercela adalah kebiasaan untuk menarik keuntungan sendiri dari setiap situasi tanpa memperhatikan masyarakat (ngaji mumpung), atau untuk mengira bahwa karena jasa-jasa tertentu kita mempunyai lebih banyak hak dari yang lain-lain(dumeh) (1983 : 140-141). Hal yang demikian itu ditekankan pula di dalam serat Wirawiyata, seperti dapat disimak dari bait berikut ini: Yen tan bisa samaptanya nora jumeneng prajurit gawe tuna marang praja web lingsem ing narapati amung sira pribadi kang nduwurken piyangkuh mung lagi bisa aba anggepmu mbutuhken nagri ywa kabanjut duwe cipta kang mangkana (pupuh sinom, bait 24)

Artinya : Kalau engkau tidak siap menjadi prajurit, dan meru- gikan pemerintah, membuat malu raja, karena engkau sendiri yang menyombongkan, hanya baru dapat me- minta, menganggap bahwa negeri membutuhkanmu, maka janganlah engkau berprasangka demikian. Bait diatas mengisyaratkan, bahwa sikap dumeh adalah sangat tercela. Janganlah suka menyombongkan diri dan menganggap diri sendiri yang paling berjasa, sehingga menuntut yang berlebihan. Berbuatlah sesuatu tanpa mengharapkan pamrih, melainkan untuk melaksanakan kewajiban sesuai dengan kedudukan dan kodratnya. Hal ini ditekankan pula pada bait berikutnya. Wruhanta lelakonira sejatine wus angemping mring praja miwah narendra dene durung potang kardi sira wus den paringi sandhang pangan ora kantu sinuba kinurmatan punjul sasamaning kardi mungguh meja linilan lungguh satata (pupuh sinom, bait 25) Apa kang sira upaya kamulyan aneng nagri ingajenan mring sasama nyawabi mring anak rabi wedyan para maharsi ingkang tapa neng asamun mong tani lanang koda rinewangan anderpati

Ketahuilah jalan hidupmu yang sebenamya, engkau hanyalah mengabdi kepada pemerintah dan raja, bila belum dihitung kerja, engkau telah diberi sandang dan pangan, dihormati dan disanjung, lebih/melebihi seba- gai abdi, mungkin kalau ada, engkau akan direlakan duduk bersamanya. Apa yang kau cari, kemulyaan dinegerimu, dihormati oleh sesama beserta anak dan istri, walaupun para maharsi yang sedang bertapa, atau para petani dan nakhoda, berjuang mati-matian, hanya untuk mencari kemulyaan diri.

Bait-bait di atas menjelaskan, bahwa setiap orang harus menyadari dan memahami ;kedudukannya, serta kewajiban yang harus dilak- sanakannya. Keutamaan diri akan dicapai apabila manusia telah dapat melakukan segala kewajibannya, melakukan segala daya upayanya dan didasarkan pada niat pengabdian. Kemulyaan diri adalah pahala dari segala perbuatan dan daya upaya yang telah dilakukannya. Pengertian kemulyaan diri itu sendiri masih bersifat abstrak. Ia bisa berupa pahala dalam bentuk yang ril, dan dapat pula dalam wujud yang lebih abstrak, yakni sesuatu yang baru pula dalam wujud yang lebih abstak, yakni sesuatu yang baru akan diperoleh di akhirat kelak. Pengertian yang ril, adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Koenrjaraningrat, bahwa pahala yang mereka peroleh dengan bekerja keras itu, mereka hubungkan dengan hal-hal yang konkret yang mereka .inginkan untuk dicapai dalam kehidupan mereka (1984 : 438). Dalam hal ini, serat Wirawiyata menekankan, bahwa pahala

dalam serat Wirawiyata ini adalah bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kewajiban dan mengisi fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat sesuai dengan kedudukan dan kodratnya untuk mencapai kemul- yaan diri.

2.3. Pandangan Mengenai Hakekat Hubungan Manusia dengan Alam Kebudayaan pada dasamya adalah wujud kemampuan manusia dalam merespons lingkungannya secara aktif. Lingkungan alam dengan kondisi dan berbagai peristiwa alam memberikan stimulus pada manusia untuk memberiktan tanggapannya. Cara bagaimana suatu masyarakat mempersepsikan lingkungan alamnya, menentukan pula bagaimana masyarakat tersebut memberikan respons dan bagaimana mereka memperlakukan lingkungan alamnya. Masyarakat Jawa pada umumnya memandang alam semcsta sebagai bagian besar dari dirinya yang penuh dengan kekuatan-kekuatan dahsyat dan supernatural. Sebaliknya, dirinya di pandang sebagai bagian yang sangat kecil dari alam semesta yang terbawa dan terpengaruh oleh arus peredaran alam. Antara manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos) dan alam adikodrati berada dalam hubungan tertentu yang telah memiliki keseimbangan. Kewajiban manusia adalah menjaga kesclarasan dan keseimbangan hubungan tersebut. Manusia tidak boleh bertindak gegabah. Segafa tindakannya harus senantiasa mempertimbangkan pengaruhnya terhadasp kebe- radaan alam adikodrati sehingga ia tidak bertabrakan dengan roh-roh halus yang dapat mengakibatkan kuwalat atau berdosa, dan dengan demikian dia tidak akan selamat. Oleh karena itu

Jawa senantiasa memelihara hubungan baik mereka dengan para leluhur dan roh-roh nenek moyangnya. Hal ini tercermin dari bait berikut ini: Manawa sira angrasa nggonira golek pribadi dadi, ukir jenengira antuk dosa kaping kalih kasiku lair batin lupute nggonira ngaku ngilangken labetira mring leluhur ingkang uwis temah tuna duwe turun kang mnagkana (pupuh sinom, bait 16)

Artinya:

Apabila engkau merasa, engkau akan mencari dirimu sendiri dengan memungkiri diri, maka engkau akan mendapat dosa yang kedua, karena tidak percaya lahir batin, engkau harus mengaku salah, untuk menebus dosamu, kepada semua leluhur, dan akan merasa rugi bila mempunyai keturunan yang seperti itu.

Bait di atas menjelaskan kepada kita, betapa pentingnya memlihara hubungan baik dengan arwah para leluhur. Segala tindakan manusia harus mendapat restu arwah para leluhur, paling tidak, tidak boleh menganggap ketenangan mereka. Prinsip kepercayaan mengenai hubungan manusia dengan alam semesta,. juga dimanifestasikan dalam kehidupan politik kenegaraan. Kerajaan-kerajaan Hinqu di Jawa memiliki konsep khusus tentang sifat dan kedudukan raja. Mereka percaya bahwa alam semesta ini dipenuhi oleh dewa-dewa yang dalam tata kehidupannya menerupai tata kehidupan manusia yang hierarkhis.

Parta suta inguni palastra aneng palagan lawan legawaning ati wit denya anglabuhi Pandhawa magngihna unggul pawarantuk nugraha sira wau partasiwi tarunipun angratoni tanah Jawi (pupuh sinom, bait 35)

Akhir kesaktianmu, purta sang parta berkata, gugur di dalam peperangan dengan ikhlas hati, karena dia me- ngelabuhi, agar Pandawa mendapat kemenangan dan mendapat anugerah, demikianlah putra sang parta yang keturunannya menjadi raja di tanah Jawa (didunia).

Bait di atas jelas menampakkan pengaruh konsep mengenai raja dewa, bahwa raja-raja di tanah Jawa adalah keturunan Abimanyu. Koentjaraningrat mengatakan, bahwa konsep raja sebagai penjelmaan dewa memungkinkan bahwa seorang raja dalam suatu kerajaan kuno dapat memantapkan pemerintahan kerajaannya atas dasar keyakinan keagamaan rakyatnya; namun sebaliknya ke- adaan seperti itu juga mudah dipergunakan orang lain untuk mengambil alih kekuasaan raja, hanya dengan menaklukan ibu

Upamane raganira nora dadi prajurit

iya maksih mangan sega apa dene nginum warih saking wektuning bumi uga kagunganing ratu lan sira ingayoman rinaksa kalawan adil lamun datan rumangsa sira duraka (pupuh sinom, bait 27)

Artinya

Andaikan dirimu tidak menjadi prajurit, tentu juga masih makan nasi, dan minum air, yang keluar dari bumi, milik raja yang melindungimu, diasuh dengan

penuh keadilan, kalau engkau tidak merasa durhaka.

Pada bait di atas tercermin pengertian, bahwa durhaka kepada raja berarti berdosa kepada Tuhan. Menjadi prajurit adalah sebagai suatu jalan atau cara berbakti kepada Tuhan melalui jalan peng- abdian kepada raja. Tetapi itu bukan satu-satunya jalan, karena masih banyak jalan lain yang bisa di tempuh. Syaratnya adalah

kemantapan diri, kepercayaan kepada Tuhan dan dengan sepenuh

hati mengabdi kepada raja dan pemerintahannya sebagai penguasa di bumi. Jelaslah bahwa di dalam serat Wirawiyata ini tercermin suatu pandangan mengenai hakekat hubungan manusia dengan alam. bahwa manusia adalah bagian kecil dari alam semesta yang telah memiliki keseimbangan. Keseimbangan itu akan terjamin apabila manusia menempatkan diri dan menjalankan fungsinya sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Keseimbangan dan kese- larasan hubungan di alam manusia, akan menjamin keseimbangan

·Persepsi Tuntang Waktu

Setiap kebudayaan menempatkan manusia didalam dua dimensi, yakni dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang menempatkan manusia pada tempat di mana dia berada, yakni alam manusia, dan kaitannya dengan alam semesta. Adapun dimensi waktu menghadapkan manusia pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Sehubungan dengan masalah dimensi waktu, ada masyarakat dan kebudayaan yang cenderung menagungkan masa lalu, ada pula yang berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang. Masyarakat Jawa pada umumnya sangat terikat dengan masa lalunya. Khususnya di kalangan priyayi, keterikatan mereka pada masa lampaunya dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kegiatan dan ritus-ritus yang memberi arti bagi kehidupannya. Seperti dikemukakan oleh Koentjaraningrat, bahwa persepsi waktu pada orang priyayi sangat berorientasi pada masa yang lalu. Kehidupan orang priyayi tidak banyak bervariasi, pekerjaannya di kantor yang tetap sama dari hari ke hari, nostalgianya untuk benda-benda pusaka, kesibukannya untuk melakukan berbagai ritus yang rumit-rumit berkenaan dengan perawatan benda-benda pusaka, dan kegemarannya untuk mengusut silsilah, sejarah kepah- lawanan, mitologi, karya-karya pujangga kuno dan sebagainya, merupakan ciri dari hidup mereka (1984 :440) Orang priyayi tradisional Jawa membuat jalinan dengan masa lalu para tokoh dan leluhur mereka yang telah membuka jalan untuk di tempuh oleh para kerabat dan keturunannya pada masa kini dan masa yang akan datang. Khususnya bagi kerabat keluarga Mangkunegaran, perjalanan hidup dan keberhasilan tokoh-tokoh pendahulu mereka, seperti Raden Mas Said (KGPAA Mang- kunegara I) dan para pelanjutnya senantiasa di damba dan di puja serta di pedomani. Berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh

sareseyan pada dasamya adalah matarantai yang menghubungkan kerabat Mangkunegaran yang ada pada masa kini dengan para pendabulunya di masa lampau, dan sekaligus juga merupakan matarantai yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu mereka. Keberadaan seseorang di masa kini senantiasa dihubungkan dengan pemelibaraan bubungan dengan masa lalu para pendabulunya. Demikian, seorang yang telab mendapatkan pangkat yang tinggi dan kedudukan yang terbormat di dalam masyarakat, bukan semata-mata sebagai basil buah usahanya sendiri, melainkan sebagai basil jerib payahnya memelibara keluburan yang telab pemab diperoleh dari para pendabulunya. Hal ini tercermin dari bait di bawah ini. Pira bara sira bisa nguruni darajat malih dadi janget kinatigan majade santoseng wuri tumurun marang siwi sukur bisa prapteng putu milu tampa kamulyan yogyane angkahen kaki ra orane aja punggel salting sira (pupub sinom, bait 18 Lamun darajat lakonana punggele salting sireki dadi sira nganiaya marang darohmu pribadi kangelan ingkang wuri tembung kewutungan laku salagi tembe bisa antuk kang darajat malih

-,

Orang yang tidak dapat memelihara rnasa lalu dikatakan sebagai orang yang menganiaya diri sendiri dan keturunannya serta rnenghianati para leluhurnya, karena dia memutuskan derajat yang telah diperoleh para lelu- humya; dan apabila dia tidak dapat rnengernbalikannya lagi, rnaka dia tidak akan dapat mewariskan keadaan yang baik bagi para keturunannya. Hal ini sesuai pula dengan gambaran pewarisan dalam sistem pelapisan masyarakat. Seseorang yang menduduki status tertentu dalam masyarakat akan mewariskan statusnya itu kepada keturunannya. Demikian, keturunan seorang priyayi akan menjadi orang priyayi juga selama dua dapat memelihara simbol-simbol kepri- yayiannya. Demikian pula keturunan seorang prajurit akan menjadi prajurit pula.

·

3. Nilai-nllai Smial

Pembahasan mengenai nilai-nilai sosial erat kaitannya dengan masalah nilai budaya. Kalau pembahasan nilai-nilai budaya lebih menekankan pada sistem ide dan gagasan-gagasan utama serta pandangan hidup, maka pembahasan nilai-nilai sosial cen- derung pada membahas masalah struktur sosial dan organisasi sosial, prinsip-prinsip kemasyaraktan, dan perilaku-perilaku sosial. Ditinjau dari sistem stratifikasi sosial, masyarakat Jawa secara umum terbagi kedalam dua lapisan masyarakt, yakni lapisan atas yang terdiri dari kaum priyayi dan bangsawan, dan lapisan bawah yang biasa disebut wong cilik. Lapisan yang kedua ini terdiri dari kaum petani, tukang-tukang, buruh dan pekerja kasar lainnya. Dari sitem pelapisan sosial tradisional ini, maka peng- golongan kebudayaan Jawapun dapat lebih dikhususkan pada kebudayaan priyayi dan kebudayaan wong cilik. Dizaman dahulu, orang-orang priyayi disebut kawula atau hamba raja, dan kedudukan mereka berada diantara raja, para bangsawan dan para pangeran di satu pihak, dan rakyat di pihak lain. Para bangsawan Jawa mempunyai hubungan kekeluargan dengan para kerabat dari salah satu dari keempat keraton di daerah Negarigung, yakni keraton Yogyakarta, Surakarta, Mangku- negaran, dan Pakualaman. Keempat keraton di daeran negarigung adalah sisa-sisa dari kerajaan kuno Mataram di Jawa Tengah yang di pecah menjadi tiga bagian pada perjanjian Gianti (1755), dan setelah itu dipecah lagi menjadi empat kerajaan setelah pemerintah interim lnggris dalam tahun 1815. Sebelum Perang Dunia II, para bangsawan bekerja sebagai pegawai keraton atau sebagai seniman keraton. Banyak pula yang menjadi pegawai pemerintah, sehingga gaya hidupnya pun menjadi mirip dengan gaya hidup orang priyayi. Sesudah PD II

di Pulau Jawa kehilangan kekuasaan mereka atas daerah masing-masing, dan kehilangan kedudukannya sebagai pusat orientasi nilai-nilai budaya Jawa. Dengan demikian kaum bangsawan juga turut kehilangan kedudukan mereka yang tinggi didalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1984: 234-235). Namun demikian, dalam kenyataannya tipologi kebudayaan priyayi dengan kebudayaan wong cililc masih sering tampak secara kontras.

3.1. Etika Keselarasan Sosial Orang Jawa pada umumnya memandang penting konsep keselarasan. Selaras berarti berjalan secara harmonis dan sesuai dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Etika keselarasan menuntut bentuk-bentuk interaksi yang bersifat konstruktif, memelihara situasi-situasi yang telah melembaga dan mapan. Penerobosan dan pendobrakan terhadap norma-norma dan bentuk-bentuk kontlik apa pun tidak dibenarkan, karena tidak etis. Sebaliknya sikap santun dan laras sangat diutamakan. Keselarasan sosial itu sendiri akan terpelihara apabila setiap individu anggota masyarakat mampu memainkan peranannya sesuai dengan kedudukannya didalam masyarakat. Selama tidak ada intervensi dari sumber-sumber luar, maka semakin sempuma para anggota masyarakat menyesuaikan diri dengan status dan role-nya, akan makin baiklah jalannya masyarakat dalam fungsinya (Ralph Lin- ton), 1984 : 150). Etika keselarasan juga mengutamakan konsep kerukunan dan konfonnitas sosial. Hal ini dapat diwujudkan manakala setiap individu mampu menekan keinginan-keinginan pribadi dan menge- sampingkan egoismenya. Dalam kaitan ini serat Wirawiyata memberikan petunjuk, seperti tercermin dari bunyi bait dibawah ini. Kang mangkono andupara lamun jinurung ing kapti

~----------J

30)
Dari bait di atas dapat di ungkapkan, bahwa setiap orang menempati kedudukan tertentu, Jengkap dengan seperangkat pe- ranan yang melekat pada kedudukannya. Seorang atasan atau orang yang berkedudukan lebih tinggi mcmpunyai kewenangan memerintah bawahannya atau orang yang lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, seorang bawaha~ wajib mcnghormati dan me- matuhi perintah atasannya. Demikianeorang prajurit harus me- matuhi perintah atasannya, dan harus dapt mengesampingkan

Pola hubungan demikian telah menjadi baku, dan pelang- garan terhadap pola hubungan ini tidak dibenarkan, karena akan mengganggu keselarasan, dan pada tingkat tertentu dikenakan sangksi. Jadi pada dasarnya hakekat hubungan manusia dengan sesamanya ditentukan oleh pola pengklasifikasian fungsi-fungsi dan peranan di dalam masyarakatnya yang menentukan pola interaksi di antara sesamanya.

3.2 Eti.ka Kepemimpinan Ciri utama dari suatu organisasi sosial adalah adanya unsur pimpinan. Konsep kepemimpinan menunjuk pada jenjang kedudukan dan peranan-peranan dalam suatu organisasi sosial. Adapun kedudukan (status) dan peranannya (role) pada prinsipnya adalah merupakan kompleks dari hak-hak dan kewajiban yang. sekaligus merupakan inti bagi jalannya mekanisme sosial. Kepemimpinan juga menunjuk pada sifat-sifat dan kriteria-kriteria tertentu yang harus dimiliki oleh pemimpin. Demikian, setiap masyarakat ataupun organisasi sosial memiliki konsep persyaratan tertentu bagi seorang pemimpin. Di dalam serat Wirawiyata ditunjukkan beberapa syarat kepemimpinan, sebagai mana tertulis di bawah ini. Kapungkur praptaning bala ginantyaken lungguhing senapati ingkang sinrahan wadyagung dening jeng nareswara kinen matah saprayoganireng wadu kinarya rumekseng praja denira ngupaya janmi (pupuh pangkur, bait 1) Ywa tinggal pitung prakarsa
-~J

adeg~reng prajurit kang dhingin nalurinipun tan kena trahing sudra ping pindhone bumi kalairanipun kang maksih tunggal sapraja katri tanpa cacat dhiri (pupuh pangkur, bait, 2). Kapat otot balungira ingkang tigas lima tanpa penyakit nenem sawanmg sawungipun pitu kang datan darwa pakareman kang mlarati raganipun marma milih kang mangkana watekewantaleng kardi (pupuh sinom, bait 3 )

Artinya: Apabila engkau telah dipercaya sebagai prajurit dan menggantikan kedudukan sebagai senapati, juga engkau dipercaya untuk memimipin para prajurit, dan para abdi dalem, dan engkau diutus untuk menggantikannya, atau juga menjaga keselamatan raja. Maka janganlah engkau Jupa kepada tujuh perkara yang kubuat ini, agar engkau bisa menjadi tauladan sebagai prajurit, yang pertama adalah naluri bukan berasal dari orang sudra, yang kedua bumi kelahiran yang masih harus satu wilayah, yang ketiga tidak mempunyai cacad atau kekurangan pada diri. Yang keempat kekuatanmu (urat dan tulangmu), yang kelima hrus benar-benar sehat dan tidak mempunyai penyakit, keenam cara bergaulmu, yang ketujuh belum

ikni Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra. Kasta sudra adalah kasata terendah dari struktur di atas. Pembagian anggota masyarakat ke dalam kasta-kasta ini sekaligus juga membagi fungsi dan peranan masing-masing orang di dalam masyarakatnya sesuai dengan kasta yang didudukinya. Kasta brahmana berfungsi sebagai pengemban kehidupan keagamaan, ksatria berfungsi sebagi pemimpin masyarakat dan pengatur jalannya pemerintahan, weisya berfungsi abdi kerajaan, dan sudra adalah rakyat kebanyakan yang fungsinya mengisi dan menyelenggarakan pekerjaan-pekerjaan kasar. Dalam sistem kasta, pelapisan sosial bersifat tertutup, yang menutup kemungkinan ter- jadinya mobilitas vertika. Demikian, maka seseorang yang menduduki kasta sudra tidak berhak menjadi pemimpin, karena kedudukan itu diperuntukkan bagi orang-orang dari kasata ksatria.

2) Bumi kelahiran yang harus satu wilayah, artinya bahwa seorang pemimpin harus berasal dari kalangan masyarakatnya sendiri, tidak boleh orang luar/asing.
3) Tidak mempunyai cacad dan kekurangan pada diri, artinya seorang pemimpin haruslah orang yang sehat dan sempuma lahir dan batinnya.
4) Kekuatan, artinya seorang pemimpin harus memiliki fisik yang kuat dan sempurna, sehingga dapat menampilkan sikap

Umry, 1988). Dalam kaitannya dengan ketiga corak hubungan di atas, serat Wirawiyata cenderung pada corak. hubungan yang ketiga, yakni agama hanya sebagai latar belakang. Serat Wirawiyata memang bukanlah sastra yang bersifat keagamaan, tetapi di dalamnya mencerminkan latar belakang agama. Ada beberapa bait yang

kabt:h panggawe becik kang mantep suci ing kalbu kang mantep suci ing kalbu uga dadi panembah yen katrima iku sami sinung rahmat samurwate badanira (pupuh sinom, bait 6) Lamun tan mawas rana paran katekaning kapti lir bedhag tanpa sanjata ingatasira hyang widhi tan karsa mituruti marang wong kang tanpa laku nir ngamal myang manembah kumudu dipun turuti ngendi ana gusti rineh ing kiawula (pupun sinom, bait 7)

Dan ketahuilah juga olehmu, yang termasuk berbakti, bukanlah hanya sembahyang, yang diizinkan oleh Tu- han, semua perbuatan baik, yang mantap suci di hati, juga menjadi sesembahan, apabila itu semua diterima, engkau akan mendapat anugerah dan rahmat seluruh badan. Apabila tidak mawas diri, untuk mencapai keinginan,

man~iu. Bersembahyang saja tanpa dibarengi perbuatan yang baik kepada sesama manusia adalah sia-sia. Semua perbuatan harus di dasarkan kepada niat yang suci dan hati yang ikhlas tanpa mengharapkan pamrih. Demikian pula bagi para prajurit, harus senantiasa memelihara hubungan baiknya dengan Tuhan dengan jalan sembahyang, dan juga tetap memelihara pengabdian yang tulus kepada raja di dunia, serta tetap beramal baik kepada sesamanya. Apabila semua itu telah dijalankannya, niscaya dia akan mendapat anugerah dan kcselamatan dalam hidupnya.

  1. Nilai Pendidikan dan Keutamaan Pendidikan adalah suatu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, seseorang bukan hanya sekedar mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu yaitu mendapatkan pengarahan dan bimbing;rn serta menempa mental dan akhlak menuju pada sikap mental yung dewasa. Kedewasaan seseorang tidaklah semata-mata diukur dari usia dan keadaan fisiknya, melainkan juga dari sikap mental dan wawasan ber- pikirnya. Termasuk kedalam kegiatan pendidikan adalah proses sosialisasi dan enkulturasi. Melalui proses sosialisasi dan enkulturasi, seorang individu dipersiapkan dengan berbagai pengetahuan ten- tang nilai-nilai sosial dan budaya, yang untuk pertama kalinya diperolehnya didalam keluarga. Oleh karena itu proses sosialisasi dan enkulturasi juga berarti proses pembudayaan.

Penanaman disiplin ini dilakukan melalui berbagai latihan fisik dan mental. Nilai kedisiplinan ini terdapat dalam Wirawiyata, sebagai kutipan dibawah ini. Prapteng papan cumandhanga ing parentah senapati aja abawa priyangga dumeh sira bandha wani lumangkah mrih ngulabdi kang mangkono sasat mungsuh gawe guguping rowang web gidhung ing senapati

30)
Apabila datang ditempat, bersedialah untuk diperintah oleh senapati, janganlah engkau berlagak seperti pri- yangga, karena engkau berani melangkah dan meng- abdi, yang demikian itulah dapat dinamakan musuh, karena membuat gugup teman, dan membuat gaduh senapati, apabila engkau kalah, tentu engkau mendapat dosa. Kedudukan para prawira, yang ada di tengah medan perang, tidak berwenang memiliki keinginan, badannya ibarat anak panah, yang diluruskan oleh senapati, segala kehendaknya harus baik, jangan diumbar semaunya dan harus berkenan, menghadapi musuh janganlah gentar.

Dari bunyi larik di atas, jelas bahwa kedisiplinan para prajurit sangat menentukan tegak dan runtuhnya perjuangan dan peme- rintahan. Sikap disiplin menuntut kemampuan mengesampingkan kehendak dan pamrih pribadi. Dengan kata lain, sikap disiplin

Unsur lain yang sangat erat kaitannya dengan masalah kedisiplinan ialah masalah kewaspadaan. Waspada berarti selalu dalam keadaan siap siaga dan tidak lengah. Orang yang memiliki sikap disiplin yang tinggi akan dengan sendirinya selalu waspada. Sikap ini pun harus dimiliki oleh setiap prajurit, sebagaimana tercermin dari bait berikut. Risedheng neng bayantaka kalamun ana kang weri nungkul wus buwang warastra nora wenang den pa teni binandang iku wajib yen kanthiya nemu lampus tatap anganiaya gawe nisthaning prajurit nemu dosa teman apes ing ayuda (pupuh sinom, bait

37) Liya kang wus kanggweng wadya aja sepi andhung antikel kalih gegaman saprantinipun tuwin busana wastra obat mimis kang cukup den anggo nglurung awit rumaksa ing praja tan wruh sangkaning bilai (pupuh pangkur, bait 12)
Artinya:

Pada saat di dalam peperangan, bila ada yang tertinggal,

ber<:tosa me- nemui kesialan di dalam peperangan. Semua yang telah dipakai oleh para prajurit, janganlah engkau lupa akan semua senjata dan peralatan pe- rangnya, juga pakaian seragam, obat mimis harus cukup untuk berperang, kalau tidak kau persiapkan semua, orang tak akan tahu datangnya marabahaya.

Bait-bait di atas menekankan betapa pentingnya sikap waspada bagi para prajurit, bukan saja di medan perang, melainkan juga diluar medan perang. Kelengahan di medan perang akan meng- antarkannya pada maut, demikian pula kelengahan diluar medan perang akan mengundang bahaya. Oleh karena itu pada bait diatas di tekankan perlunya memelihara perlengkapan dan peralatan perang untuk selalu dalam keadaan siap dipakai setiap saat datang bahaya.

5.3 Nilai Kesetiaan dan Kepatuhan Kesetiaan mengandung arti taat, teguh dan patuh, serta mantap pada apa yang telah menjadi pilihan dan jalan hidupnya. Aspek kesetiaan dapat diterapkan dalam berbagai lapangan kehi- dupan, baik dalam lapangan pergaulan sosial, seperti persahabatan, percintaan, maupun dalam lapangan pemerintahan. Dalam lapangan pemerintahan, khususnya keprajuritan, aspek kesetiaan ini memegang peranan penting. Suatu pemerintah dengan aparatnya yang setia dan patuh pada tugas dan tanggung jawabnya akan dapat menjamin kelancaran roda pemerintahan, yang dengan demikian akan dapat mewujudkan cita-cita pemerintahan. Ada beberapa bait dalam serat Wirawiyata yang menekankan pentingnya sifat kesetiaan dan kepatuhan dari para prajurit, yakni

bait 3 pupuh sinom, bait 28 pupuh sinom, bait 30, bait 33 dan

bait 36 pada pupuh sinom. Bait-bait di atas pada dasarnya

menekankan kepada setiap prajurit untuk senantiasa patuh dan taat kepada atasan (raja), dan untuk itu harus dapat mengesampingkan kepentingan-kepentingan atau pamrih pribadi demi terpeliharanya kesetiaan itu sendiri.

IV KESIMPULAN DAN SARAN

Serat Wirawiyata adalah sebuah karya sastra lama yang dikarang oleh Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Jawa, dalam bentuk puisi. Naskah ini lahir di lingkungan masyarakat keraton yang ketat dengan berbagai tradisi dan kegiatan-kegiatan simbolik yang mencerminkan budaya kraton. Lahirnya naskah ini dilatarbelakangi oleh keinginan penga- rang (KGPAA) Mangkunegara IV untuk menanamkan sifat-sifat keprajuritan dan keperwiraan kepada para prajuritnya, dan menun- jukkan jalan bagi para putranya untuk menuju pada keutamaan hidup. Karenanya, di dalam naskah ini mengandung banyak ajaran-ajaran dan pesan moral, khususnya bagi para prajurit, sebagai bekal mereka dalam mengabdikan dirinya kepada raja dan pemerintahannya. Ajaran-ajaran yang dikemukakan dalam serat Wirawiyata ini mencerminkan orientasi nilai budaya masyarakat Jawa mengenai cara bagaimana mereka memandang hakekat hidup, hakekat hubungan manusia dengan alam semesta, hakekat karya dan pandangan mereka terhadap waktu.

Orang Jawa memandang hidup ini sebagai rangkaian keseng- saraan, dan manusia harus senantiasa berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Dalam pada itu mereka mengembangkan konsep nasib, yang mewajibkan manusia menerima apapun sebagai basil buah usahanya untuk memperbaiki keadaannya. Betapapun pahit- nya keadaan yang harus mereka· hadapi harus diterima tanpa mematikan semangat untuk tetap berusaha. Usaha untuk memperbaiki keadaan itulah yang oleh orang Jawa dipandang sebagai

clan lebih mendalam terhadap naskah ini.

L_ ________________ ______---·-··-

PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko, Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar 1978 Ringkas, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dep. P dan K, Jakarta. Esten, Murshal, Kritik Sa.stra Indonesia, Angkasa Raya, Ban- 1984 dung.

Junus, Umar, Dari Peristiwa ke Imajinasi, PT. Gramedia, Jakarta. 1983

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, 1982 PT. Gramedia, Jakarta.

---------Kebudayaan Jawa, Seri Etnografi No. 2,

1984 PN. Balai Pustaka, Jakarta.

Puma, I Made dan Fadjria Novari Manan, (editor), Analisis dan 1987 /1988 Kajian Geguritan Sala.mpah Laku Karya Ida Padanda Made Sidemen, Dep. P dan K, P3KN, Jakarta. Poedjawijatna, Manusia dengan Ala.mnya; Filsafat Manusia, 1983 Bina Akasara, Jakarta. Poerwadarminta, W.J .S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. 1985 Balai Pustaka, Jakarta. Soedarsono, (editor), Keadaan dan Perkembangan Bahasa. 1985 Sa.stra, Etika, Tatakrama dan Seni Pertun- jukan Jawa, Bali dan Sunda, Dep. P dan K, P3KN, Yogyakarta. Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan, PT. 1986 Gramedia, Jakarta. Tarigan, Henry Guntur, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra Angkasa, 1984 Bandung. Umry, Shafwan Hadi, "Keagamaan dalam Kesusastraan", Berita Buana, edisi 8 Nopember 1988.

TRANSKRIPSI NASKAH WlRA WIYATA

Sinom

  1. Srinata dera makarti Wirawiyata nujwari respati tanggall sepisan sasi saban wuku wukir dae sangkaleng warsi murtyas daha mulang sunu asung wasiyat putra Jeng gusti pangran dipati Arya Mangku Nagara ingkang kaping pat
  2. Iki ta wasitaning wang marang kang dadi prajurit aja kemba ing wardaya rehne wis sira lakoni balik dipun nastiti marang ing kawajibanmu owelen sariranta reksanen luhurmu sami yen kuciwa gawe punggel drajatiwa
  3. Awit sira wus prasetya nalika jinunjung linggih saguh nut anggering praja myang pakoning nara pati sineksen den estreni mring para. wira sawegung upama sira ~idra

paran katekaning kapti

  1. Jer janma kang wus minulya lir wadhahing minyak wangi utamane winantonan gandane saya menuhi nadyan ngisenan warih
    n

maksih arum kang mangke sudarsana Jeng Gusti Pangrandipati Arya Mangkunagara kang kapisan

  1. Dukk babadhe murweng yudha neng alas limalas warsi sewu Iara sewu papa ngupaya mulyaning dhiri antuk pitulung widhi katutugan karsanipun mukti sawadyanira tumerah dalah samangkin buyut, sanggah, kasrambah melu wibawa
  2. lku ta kayektenira pralambanging lengawangi umpamane duk samana tan antuk pitulung widhi praptaning jaman iki tan ana caritanipun marma den anget sira aja ngaku angengkoki mung rasa alamun anempil wibawa
  3. Mangkana gya winantonan kang jumeneng malih Jeng Gusti Pangran dipatya Mangkunagara kaping kalih pinet sraya mring Inggris mukul nagri ing mantarum sabedhahe kang praja ginanjar sewu kang bumi

Ian mariyem kalih rakit iku mongka tandhaning sih pinarcaya

  1. Manawa sira angrasa nggonira golek pribadi dadi mukir jenengira antuk dosa kaping kalih kasiku lair batin lupute nggonira ngaku ngilangken labetira mring leluhur ingkang uwis temah tuna duwe turun kang mangkana
  2. Yen tineyen saking sira pribadi tandhane endi

apa wus munjuli sira mring sasamaning pribadi saking ing krama niti lawan apa wus misuwur ing guna prawiranta kang kanggo maring nagara baya durung lir lakone luhurira

  1. Pira hara sira bisa nguruni darajat malih dadi janget kinatigan majade santoseng wuri tumurun marang siwi sokur bisa prapteng putu milu tampa kamulyan yogyane angkahen kaki ra orane aja punggel saking sira
  2. Lamun drajat lakonana punggele saking sireki dadi sira nganiaya marang darohmu pribadi kangelan ingkang wuri tembung kawutungan laku salagi tembe bisa antuk kang darajat malih sesambungan yekti becik kang widada
  3. Umpama nora punggele jer nora ngupaya malih yen wus punggel nadyan sira semadi ing saben ratri antuke durung pasthi

Sinung ukum sawatara yen anglirwakken ing wajib iku wus lakuning praja jejege kalawan ngadil sadayan sira nguni duk ngenger yayah renamu yen luput rinengonan utawa yen jemalani dadi sira wineruhken tata krama

  1. Mangkono uga yen bisa miturut sarta nglakoni tamtu den opahira wit gawe leganing ati akeh tuwin sathithik minurwatan karyanipun tambet patrapira prajurit jinunjung linggih

adil jenengira

  1. Yen tan bisa samaptanya nora jemeneng prajurit gawe tuna marang praja web lingsem ing narapati among sira pribadi kang ndhuwurken piyangkuh mung lagi bisa aba anggepmu mbutuhken nagri ywa kabanjur duwe cipta kang mangkana
  2. Wruhanta lelakonira sejatine wus angernping mring praja rniwah narendra dene durung potang kardi sira wus den paringi sandhang pangan ora kantu sinuba kinunnatan punjul sasamaning kardi mungguh rneja linilam lungguh satata
  3. Apa kang sira upaya karnulyan aneng nagari ingajenan mring sasarna nyawabi mring anak rabi nadyan para rnaharsi ingkang tapa neng asarnun mong tani lanang koda rinewangan anderpati nora liyan karnulyan kang den upaya
  4. Upamane raganira nora dadi prajurit

Prapteng papan cuma ndhanga ing parentah senapati aja abawa priyangga dumeh sira bahda wani lumangkah mrih ngulabdi kang mangkono sasat mungsuh gawe guguping rowang web gidhuh ing senapati yen kasora dadi sira antuk dosa

  1. Lungguhing para prawira yen ana madyaning jurit nora wenang duwe karsa ragane pama jemparing kang musthi senapati

ing sakarsa kang pinanduk linepas ywa saranta angsahira den mranani marang mungsuh aja keguh ing bebaya

  1. Den kadi sang Parta suta Bimanyu kala tinuding mangrurah kang gelar cakra dening sang Yushistiraji sukaning tyas tan sipi dupiri noban ing mungsuh kesthi trahing satriya wedi wirang wani pati yeka mongka tamsiling para prawira
    32.Kono sedhenge medharna ing kasuran guna sakti nyirnakna paningalira ing tekad ywa welangati wruhanta senapati wakiling gusti satuhu gusti wakiling suksma kang kinon angudaneni mring kawula kang sumedya mrih utama
  2. Padha ingaran utama ing pakaryan mangunjurit iku kang luhur priyongga wus kasebut layang sruti yenta daning prajurit ngasorken tapaning wiku wit sumungkuning puja neng pucuking gunung wesi

sakarsa senapati batinira kumambanga ing wisesa

  1. Risedheng neng bayantaka kalamun ana kang weri
    L ______ ______________ ________________ _,

  2. Dhingin marang ing narendra denira cidra ing janji kapindho ngasorken praja kang mulyakken marang dhiri katri marang hyang widhi

ngukuhi gadhuhanipun kukum pantes linunas padhane sato wanadri yen janmaa yakti ana tekadira

  1. Madyane para prawira yen kaseser iya jurit nadyan keh kedhike padha kasor papane kasupit mundura mrih pakolih ing pangolah nora gugup sarana winewaka kaangkah denya mangukuh yen sinerang rikat rinuket marwasa
    42.Utamanireng prawira sanadyan karoban tandhing tatag tur simpen wiweka wengkoning papan liningling linanglangan kang weri endi kang suda ing purun pinarak pinarwasa winisesa amrih titih estu jaya saha yasa mya (ng) ranarja

Pangkur

  1. Kapungkur praptaning bala ginantyaken lungguhing senapati ingkang sinrahan wadyagung dening jeng ~areswara kinen matah saprayoganireng wadu kinarya rumekseng praja denira ngupaya janmi
  2. Ywa tinggal pitung prakara mrih utama adegireng prajurit kang dhingin nalurinipun tan kena trahing sudra ping pindhone bumi kalairanipun kang maksih tunggal sapraja katri tanpa cacat dhiri
  3. Kapat otot balungira ingkang tigas lima tanpa penyakit nenem sawang sawungipun pitu kang datan darwa pakareman kang mlarati raganipun marma milih kang mangkana watekewantaleng kardi
  4. sawisesa pamilihira pamintane neng wong sawiji-wiji pinantes cekelanipun rujuke Ian sarira pangulahe warastra ywa kongsi rikuh rikate denya amrih titis
  5. Wong kang sedheng dedegira aparigel tuwin kang andhap alit

akas cukup tandangipun iku sinung sanjata watak nora kewran sabarang pakewuh mudhun jurang munggah arga aluwes tur miyatani

  1. Wong kang lencir dedegira kurang tandhang aropek ingkang dhiri iku cinekelan lawung jangkah dhepane dawa waton corak lalantaran silih pananduk mlumpat jagang pasang ondha angunggahi balowarti
  2. Wong sadhepah dedegira kang pawakan otot balung kawijil mariyem cekelanipun amolahaken rosa nadyan kembel kembal der kuwawa junjung manawa bobrok kang kuda wateke kelar genteni
    8.Wong gung luhur kang sambada iku pantes karywa wadya turanggi agampang panitihipun klar nembadani kuda nangkis rosa medhang mring pratala gadhug yen tempuk padha turangga silih rok amigunani
    9.Dene wong kang mondraguna kinaryaa mrogongsa juru margi myang ngrakit kuwu-kuwu kalamun aneng teba

marang beteng kareteg sasaminipun kang tan kewran ing pangreka memenek Ian bisa nglangis

  1. Yogyane maiib ngumpuina para tukang kang kanggo mring prajurit greji Iawan tukang puntu karya busana wastra tukang nyamak menjait pakaryanipun parabot kang bangsa carma tukang tapeI Iawan nyinggi
  2. Sayang Ian tukang marakas miranteni bekakasing prajurit pandhe miwah tukang kayu mranggi lawan kemasan ingkang karya gagamanireng prang pupuh sadayanipun samapta rehning rumakseng prajurit
  3. Liya kang wus kanggweng wadya aja sepi andhung antikel kalih gegaman saprantinipun tuwin busana wastra obat mimis kang cukup den anggo nglurug awit rumaksa ing praja tan wruh sangkaning bilai
  4. Riwusing pamintanira Ian piranti kang kanggone prajurit mangkana pangreksanipun dipun titi raring bala sandhang pangan ing sahari aja kantu suker sakit kinawruhan

den bisa ngenaki kapta

  1. Ywa pegat pamulangira saniskara wajibireng prajurit weruhna sadurungipun nistha madya utama myang papacak pacuhan kang wus tinamtu kanggone para prawira dununge sawiji-wiji

TERJEMAHAN NASKAH WIRAWIYATA

Sino m

  1. Wirawiyata dibuat atas perintah sang raja, pada hari Kamis tanggal yang pertama, bulan saban, wuku wukir, dengan sengkalan tahun berbunyi "murtyas daha mu- lang sunu" atau tahun Jawa 1877, tahun Masehi 1860 bulan Pebruari, kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV yang memberi ajaran kepada para putra.
  2. Inilah pesanku, kepada semua yang telah menjadi prajurit, janganlah engkau putus asa, karena semua itu telah engkau jalani, dan hendaknya telitilah lebih dahulu semua tugasmu, pelihara badan sendiri dan juga orang tuamu semua, apabila mereka kecewa, tentu akan membuat putus derajatmu.
  3. Karena pada saat engkau diangkat dalam kedudukanmu, engkau telah berjanji, sanggup menuruti segala aaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan sanggup menuruti apapun perintah raja, yang semua itu disaksikan oleh semua perwira, apabila engkau sampai meng- ingkari sumpah/janjimu itu, maka sirnalah harga dirimu, dan akan membuat hina pula ayah dan ibumu.
  4. Janganlah engkau mempunyai prasangka, bahwa orang yang menjadi prajurit itu adalah sangat berat tugasnya, karena harus mengetahui segala pekerjaan yang ada di dunia ini, tak ada bedanya dengan orang yang berdagang di lautan, juga orang yang pekerjaannya bertani, atau juga mereka yang mengabdi kepada raja.
  5. Juga yang bertapa di dalam gua, yang menyusup dari sepi ke sepi, semua yang dilakukan adalah sama saja

karena itulah yang menjadi jalannya, agar apa yang diinginkan dapat terpenuhi, dan apa pun pemberitan pangkatnya, sebagai syaratnya adalah harus mantap sungguh-sungguh dan rajin.

  1. Dan ketahuilah juga olehmu, yang tennasuk berbakti, bukanlah hanya sembahyang, yang memang diizinkan oleh Tuhan, segala perbuatan baik, yang mantap dan suci, juga menjadi sesembahan, apabila itu semua diterima, engkau akan mendapat anugerah dan rahmat seluruh badan.
  2. Apabila tidak dapat mawas diri, untuk dapt mencapai keinginan, ibarat orang berburu tanp[ a senjata, karena Tuhan tidak merestui, orang yang tidak suka ber- prihatin, juga tak pernah beramal dan menyembah, karenanya harus dipenuhi, tak ada Tuhan suka me- nyuruh/memperbudak kepada hambanya.
  3. Hal yang demikian itu, apabila hanya menuruti ke- hendak hatimu, tentu akan menjadikan duka cita, engkau akan berdosa kepada Tuhan, maka engkau semua, janganlah engkau kebanyakan keinginan, apabila memang belum mampu untuk beramal dan berbakti, lebih baik engkau mau mengetahui keadaan sang raja.
  4. Bila engkau cepat mendapatkan kebahagiaan, dengan disertai mendapatkan pangkat, itu karena terbawa nalar, dari semua leluhurmu, apabila terserang sakit, semoga dapat menjadi sehat kembali, juga kepada engkau semua, dan mengucap syukurlah kepada Tuhan, dan terimalah juga berkah dari orang tuamu.
  5. Sebagai manusia yang telah mendapatkan kebahagiaan, ibarat botol (tempat minyak wangi) yang memang tclah diketahui baunya yang wangi, walaupun diisi air, tetapi air tetap juga harurn, demikian juga yang diharapkan

Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

  1. Pada saat akan memimpin perang, dihutan selama 15 tahun, yang mengalami beribu duka dan nestapa, untuk mencari kebahagiaan diri, sampai akhirnya mendapat pertolongan Tuhan, tercapai keinginannya, lalu bahagia bersama anak buahnya, yang dikerahkan sampai sekarang, semua buyut canggah ikut menikmati kcba- hagiaannya.
  2. Itu semua karena kesungguhannya, dari lambang mi- nyak wangi, andaikan waktu itu dia tidak mendapat pertolongan Tuhan, demikian juga dengan zarnan sekarang, yang tak ada ceritanya, juga perlu kau ingat-ingat, janganlah engkau selalu merasa iri, supaya ikut memiliki wibawa itu.
  3. Demikianlah ringkas cerita, kemucian yang bertahta lagi adalah Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II, mencari obat kc negeri lnggris, membawahi negara Mataram, setelah selesai rnemegang tahta, kemudian rnendapatkan karunia tanah dan tetap dipercaya untuk bertahta kembali.
  4. Juga selain daripada itu, dia juga dipercaya oleh Gupcrmen Belanda, memimpin perang Dipanegara, setelah selesai berperang, dia diberi tanah lagi, yang bernama Sokawati seluas 500, dan gaji setiap bulan, untuk upah sebagai prajurit sebesar 4480.
  5. Kemudian datang, Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara III, yang derajatnya lebih abadi, karena dianugerahi bendera dan meriam dua pasang, itu semua tanda kasih dan rasa percaya.
  6. Apabila engkau merasa; cngkau akan mencari dirimu sendiri dengan memungkiri diri, maka engkau akan mcndapat dosa yang kedua, karena tidak percaya lahir

mernsakan kemulyaan itu, sebaiknya pikirkanlah wahai anakku, dan janganlah sampai tidak datang/putus olehmu.

  1. Kalau engkau telah mendapat derajat itu, dan memang terputus olehmu, itu berarti telah kau aniaya diri pribadi dan keturunanmu sendiri, yang kahirnya akan mendapat kesulitan, dan dikatakan terputus perjalananmu, pada saat engkau dapat menemukan derajat lagi, peliharalah benar-benar ini semua.
  2. Apabila tidak terputus, dan tidak mencari lagi, wa-Jaupun engkau mencarinya, bersemedi tiap hari, tetapi belum tentu mendapatkan, akan sia-sia perbuatan yang kau lakukan itu, maka ingatlah ini semua, pada waktu engkau menjalankan pekerjaan ini, janganlah engkau teledor dalam menjaga derajat itu. 2 1. Bila engkau seorang perempuan, yang menjadi prajurit, ikut berbaris dan berjaga, semua teori apa saja, itu bukan suatu pengertian, tetapi namanya belajar, dan memang telah menjadi kewajibanmu, sebagai prajurit ten tu "digladhi ", sama seperti santri yang belajar sem- bahyang.
  3. Dan mendapa tka n beberapa hukuman a pabila

menyepelekan tugas, itu sudsah menjadi aturan pemerintah, untuk menjunjung keadilan, walaupun engkau berkata, seperti ketika engkau masih ikut ayah ibumu, kalau engkau salah tentu akan kena marah, atau engkau mendapat pukulan, agar engkau tahu tatakrama.

  1. Demikian juga kalau engkau bisa menuruti dan men- jalani, tentu engkau akan mendapat upah, karena telah membuat senang hatinya, banyak atau sedikit yang di perbuat olehmu, sebagai prajurit yang diberi ke- dudukan, bila diberi itu adil namanya.
  2. Kalau engkau tidak siap menjadi prajurit, dan me- rugikan pemerintahan, membuat malu raja karena engkau sendiri menyombongkan, hanya baru dapat meminta, menganggap bahwa negeri membutuhkanmu, maka janganlah engkau berprasangka demikian.
  3. Ketahuilah jalan hidupmu yang sebenarnya, engkau hanyalah mengabdi kepada pemerintah dan rajanya, bila belum dihitung kerja, engkau telah diberi sandang dan pangan, dihormati dan disanjung, lebih/melebihi sebagai abdi, mungkin kalau ada, engkau akan direlakan duduk bersamanya.
  4. Apa yang kau cari, kemulyaan di negaramu, dihormati oleh sesama, beserta anak dan istri, walaupun para maharsi yang sedang bertapa, atau para petani dan nakhoda, berjuang mati-matian, hanya untuk mencari keulyaan diri.
  5. Andaikan dirimu tidak menjadi prajurit, tentu juga masihy memakan nasi, dan minum air yang keluar dari bumi, milik raja yang melindungimu, dan diasuh dengan penuh keadilan, engkau tidak merasa durhaka.
  6. Ketahuilah juga olehmu tentang kasih Tuhan pada mulanya, supaya nantinya engkau tidak dituduh me- lawan menjadi prajurit, karena itu benar-benar tugasmu

  7. Kedudukan para perwira, yang berada ditengah medan perang, tidak berwenang memiliki keinginan, badannya ibarat anak panah, yang diluruskan oleh senapati, segala kehendaknya harus baik, janganlah diumbar semaunya dan harus berkenan, menghadapi musuh janganlah gen tar.

  8. Seperti halnya putra sang Parta, yang bemama Abi- manyu, pada waktu dia ditunjuk mengge~pur "gelar cakra ", oleh raj a Yudhistira, betap gembira ha tin ya, pada saat menghadapi musuh, kelihatan bahwa ia adalah keturunan satria, yang takut mendapat malu, maka dia berani mati, itulah yang dijadikan contoh oleh para perwira.
  9. Di situ dia tunjukkan seluruh kesaktiannya, dan dapat menyimakan penglihatan, janganlah engkau ragu dalam bertekad, ketahuilah bahwa senapati adalah wakil dari raja, dan raja adalah wakil sukma, yang nampak kepada para abdi untuk menuju keutamaan.
  10. Sama utamanya sebagai pekerjaan seorang praJunt, yang luhur bagaikan priyangga, dan telah disebutkan dalam kitab Sruti, apabila menjadi prajurit, harus dapat mengalahkan/menggagalkan semedinya seorang wiku,
    _ j

Untuk mencapai kesentosaan, janganlah mengeluhkan kematian, bila engkau tidak mendapat malu, karena kematian adalah kehendak Tuhan, yang sudah pasti akan tiba, Tuhan tak akan memilih-milih jalan, dari pada mati di rumah, baik mati dalam keutamaan, tentu akan membahagiakan keturunan.

  1. Akhimya kesaktianmu, putra sang parta berkata, gugur di dalam peperangan dengan ikhlas hati, karena dia mengelabuhi, agar Pandawa mendapat kemenangan dan mendapat anugerah, demikianlah putra sang parta, yang keturunannya menjadi raja di Tanah Jawa.
  2. Kalau belum tiba saatnya padamu, walaupun mendapat kebahagiaan, bila tidak merasa khllWatir di hati, tentu tidak akan mendapat perkenan, tetapi di dalam ke- prajuritan, janganlah engkau pimya keinginan, me- nurutlah engkau selalu, semua para senapati, walaupun batin merasa ragu.
  3. Pada saat di dalam peperangan, bila ada yang tertinggal, dan membuang senjata, tentu akan dibunuh, karena itu wajib, bila tidak tentu sia-sia, karena akan dianiaya, dan akan menjadi hina bagi prajurit, dan ia berdosa me- nemui kesialan di dalam peperangan.
  4. Demikianlah perjuangan bila menjadi praJunt, janganlah gugup, tabahkan selalu, dan mantapkan dalam tekadmu, karena orang yang menjadi prajurit ada tingkat-tingkatannya, nista, madya, utama, kalau sempat dapat diperingatkan, kenistaan orang dapat ditebus dengan dirinya sendiri.
  5. Di tempat tidak merasa kecewa, karena peralatan perang telah tersedia, untuk maju bertanding, dengan tanpa ragu sebagai prajurit, tak akan ada pembunuhan, juga

akan ada yang menadapat Iuka, mundur tanpa senjata, karena bermodal tabah di hati, bila demikian akan mendapat tiga jenis dosa.

  1. Yang pertama berdosa kepada raja, karena mengingkari janji, kedua membuat kalah pemerintahan yang telah memulyakan, ketiga kepada Tuhan, karena tidak dapat dipercaya, maka pantas diberi hukuman, sepeni hewan-hewan di hutan, kalau manusia tidak pantas memiliki tekad demikian.
  2. Sebagai perwira, bila tergeser menjadi praJunt, walaupun sedikit atau banyak hampir sama, tentu akan menjadi rendah derajatnya, lebih baik mundur, janganlah gugup dalam berlatih, sarananya hanya hati-hati, pikirkanlah dengan seksama kalau diserang, harus dapat sigap menangkisnya.
  3. Sebagai perwira yang utama, walaupun harus maju bertanding, harus tabah dan menyimpan nafsu, karena tempat yang dipakai berperang tentu akan berantakan, mana saja yang tidak berkeinginan, harus selalu bertindak hati-hati, tentu akan mendapat kemenangan dan mendapat kebahagiaan.
    Pangkur

  4. Apabila engkau telah dipercaya sebagai prajurit dan menggantikan kedudukan sebagai senapati, juga engkau dipercaya untuk memimpin para prajurit, dan para abdi dalem. dan engkau di utus untuk menggantikannya, atau juga menjaga keselamatan raja.

  5. Maka janganlah engkau Jupa kepada tujuh perkara yang kubuat ini, agar engkau bisa menjadi tauladan sebagai prajurit, yang pertama adalah naluri bukan berasal dari orang sudara, yang kedua adalah bumi kelahiran yang

masih harus satu wilayah, yang ketiga ticlak mempunyai cacad atau kekurangan pada diri.

  1. Yang keempat kekuatanmu (urat clan tulangmu), yang kelima harus benar-benar sehat clan ticlak mempunyai penyakit, keenam cara bergaulmu, yang ketujuh belum mempunyai istri, juga ticlak mempunyai keinginan yang clapat membuat miskin baclan, juga memiliki sifat mau bekerja apa saja.
  2. Setelah kau pilih dari seorang perseorang yang ber- minat, dan yang pantas memegang jabatan itu, henclaklah sesuai dengan isi hatimu, apabila belajar berperang ticlak memiliki rasa segan, agar clapat cepat, linca, clan menangkis dengan tepat.
  3. Orang yang perawakannya sedang, cekatan clan pendek, kecil, tentu cekatan bila bertinclak, itulah yang harus kau beri senjata, karena berwatak ticlak nmemiliki rasa segan, clalam turun jurang, naik gunung luwes dan dapat dipercaya.
  4. Orang yang kecil tinggi perawakannya, itu kurang lincah clalam bertincak, kalau orang semacam itu pantas diberi senjata "lawung", karena langkahnya panjang, kalau melompat bisa tinggi, dan bisa naik (mencapai) "balowarti".
  5. Orang yang perawakannya tinggi clan besar, badannya kuat sehingga terlihat tulang dan uratnya, itu pantas diberi pegangan meriam, karena dia dapat berbuat banyak dengan mengeluarkan tenaganya, walaupun mungkin dia clapat mengangkatnya, apabila kudanya roboh, tentu clapat menggantikan.
  6. Orang yang tinggi clan berwibawa, itu pantas diberi kuda, agar gampang menaikinya. clapat menguasai kuda clan mengimbangi kekuatannya, apabila berpereanga

  7. Sebaiknya lagi kumpulkanlah para tukang yang dapat digunakan untuk para prajurit, gerji dan tukang puntu, yang dapat membuat pakaian untuk senjata, atau tukang yang pekerjaannya menyamak segala peralatan dari kulit, atau tukang tapel dan nyini.

  8. Sayang dan tukang marakas, yang dapat membetulkan semua peraltan prajurit, tukang besi ataupun juga tukang kayu, mranggi atau tukang emas, yang dapat membikin peralatan perang yang ampuh, segalanya dapat disediakan, karena telah dipelihara oleh para prajurit.
  9. Semua yang telah dipakai oleh para prajurit, janganlah engkau lupa akan semua senjata dan peralatan pe- rangnya, juga pakaian seragam, obat mimis harus cukup untuk berperang, karena kalau tidak kau persiapkan semua, orang tak akan tahu datangnya marabahaya.
  10. Apabila telah tercapai apa yang kau minta, dan semua peralatan yang dipakai oleh para prajurit, demikianlah kekuasaaannya harus benar-benar diteliti para prajurit tersebu, juga janganlah engkau melupakan kebutuhan sehari-harimu, yaitu sandang pangan, karena bila engkau mendapat kesulitan atau sakit, akan dapat diketahui, dan agar dapat mengenakan hati.
  11. Janganlah habis-habis kau pelajari kewajibanmu sebagai prajurit, ketahuilah sebelumnya, nistha madya
    I I

j

utama, kepada semua hal yang telah ditentukan, yang barus dipakai oleh satu persatu perwira.

!.