LONTARAK LUWU DAERAH
SULAWESI SELATAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
LONTARAI< LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN
Peneliti I Penulis :
| 1. | Ors. H. Ahmad Yunus | Penanggung Jaw ab |
|---|---|---|
| 2. | Ors. Pananrangi Hamid | |
| 3. | Ora. Tatiek Kartikasari | Anggota |
| 4. | Ors. Soeloso | Anggota |
| 5. | Ors. Rosyadi | Anggota |
Ket u a
DEPARTEMEN PEN DID I KAN DAN KE BUDA YAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDA YAAN NUSANTARA 1991 I 1992
AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Usaha untuk mengetahui dan m emahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahny::t sendiri Jewat karya- karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaa n bangsa. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etno- se ntris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar. maka akan sangat besar sumbangannya dalam pembinaan per- satuan dan kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pem binaan saling penger- tian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat maje- muk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program. antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan o leh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Meng- ingat arti pentingnya usaha tersebut. sa ya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul "Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Sela tan".
lll
yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkat- kan sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai. Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nu- santara ini baru merupakan langkah awal, dan ada kemungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharapkan ha! ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan pengungkapannya. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Jakarta. Agustus 1991 Direktur Jenderal Kebudayaan
Ors. GBPH. Poeger NIP. 130 204 562
iv
dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Direktorat J enderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah yang berjudul Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan isinya tentang Nilai-nilai yang menyangkut hubungan Manusia dengan Alam Semesta. dengan sesama manusia dan dengan Tuhan menurut ajaran Islam.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai yang dapat menunjang pem bangunan, baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati. Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan bu- daya bagi para pem baca. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mereka yang telah membantu terwujudnya buku ini.
Jakarta, Agustus 1991
in Proyek,
~L·
ToSih:bA v NIP. 130358048
PENGANTAR
Kelancaran dan keberhasilan pem bangunan nasional khusus- nya di sektor kebudayaan, amat ditentukan oleh keberhasilan dan kelancaran pembinaan sekaligus pengembangan kebudayaan daerah.
Naskah kuno sebagai sumber informasi budaya erat kaitan- nya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat di mana naskah-naskah terse but lahir dan rn endapat dukungan. Naskah kuno daerah Sulawesi Selatan Lontarak Luw u masih mempunyai fungsi kultural bagi masyarakat pendukungnya. selain berisi 21 ungkapan tradisional hasil tulisan tangan dengan menggunakan aksara Bugis -Makassar. di dalamnya rn emuat ajaran-ajaran yang mengandung nilai hidup Lini. nilai karya yang berorientasi untuk k emasyarakatan bersama anggota kerabat dan masyarakat nilai ruang dan waktu. nilai hubungan manusia dengan atau dan sesama manusia serta nilai kuasa dan agam a:
Diharapkan dengan pengungkapan latar belakang nilai dan isi naskah kuno "Lontarak Luwu" dapat m ewujudkan pelestari- an nilai-nilai moral budaya daerah Sulawesi Selatan sebagai sumber kekayaan budaya bangsa.
vii
dapat mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Jakarta. Agustus I 991
Penulis.
viii
ISi
SAM BUT AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN.... PRAKATA....................................... KATA PENGANTAR...............
BAB I Pendahuluan..............................
1. 1. Latar Belakang...................... I .2. Masalah...........................
1.3. Maksud dan Tujuan.................. 1 .4. Ruang Lingkup......................
1.5. Pertanggungjawaban Penulisan..........
BAB II Alih Aksara dan Ali Bahasa.................
.2.1. AlihAksara ............. .... .... ...,, Alih Bahasa
BAB Ill Analisis
3.1. Latar Belakang Isi Naskah.............
3.2. Latar Belakang Nilai..................
BAB IV Kesirnpulan dan Saran.
- Kesirnpulan........................
4.2. Saran............................
ix
- Kesirnpulan........................
PENDAHULUAN
Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang unik dan spesifik sesuai dengan keunikan dan spesifikasi masyarakat- nya itu sendiri dan sentuhan lingkungan alam yang mengitari- nya. Keunikan dan spesifikasi ket.ldayaan itu sendiri tercermin dalam tiga wujud kompleks yaitu idea-idea tingkah laku berpola serta kompleks benda-benda fisik material yang secara konsepsionil dapat ditelusuri keberadaannya di dalam tujuh unsur-kebudayaan yang berlaku secara universil. Prof. Dr. Koentjaraningrat mengemukakan dalam salah satu karangannya, bahwa "unsur-unsur universal itu, yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini adalah : I. Sistem religi dan upacara keagamaan, 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan, 3. Sistem pengetahuan, 4. Bahasa, 5. Kesenian,- Sistem mata Pencaharian hidup, 7. Sistem teknologi. (1974:
12). Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, terdiri atas ratusan suku bangsa yang tersebar di seluruh gugusan pulau-pulau di pelosok tanah air. Setiap suku bangsa mem- bentuk kesatuan sosial dengan watak dan karakteristik
d.an bervariasi. Sejalan
dengan itu tumbuh dan berkembanglah kebudayaan Indonesia yang bercorak Bhinneka Tunggal Ika, yakni bercerai~cerai, tetapi tetap satu. Bertitik tolaK dari konsepsi kebudayaan Indonesia yang bercorak Bhinneka Tunggal Ika itulah, usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang tersebar luas di seluruh tanah air. Kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional, sekaligus mem berikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa.
Peranan kebudayaan daerah dalam pembangunan sektor kebudayaan itu tercermin dalam rumusan Penjelasan UUD 1945, bahwa "Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa." Sejalan dengan arti dan makna rumusan ini, kebijaksanaan pem bangunan di ~ktor kebudayaan senantiasa memberikan dan sekaligus meng- arahkan fokus perhatian secara seirn bang kepada setiap unsur kebudayaan daerah, dengan memperhatikan nilai-nilai sosial budaya yang secara historis telah tumbuh dan berkembang sepanjang sejarah kehadiran suku-suku bangsa di Indonesia ini. Berdasarkan kerangka pemikiran ini, kelancaran dan keberhasilan pembangunan nasional, khususnya di sektor kebudayaan turut ditentukan oleh keberhasilan dan kelancaran pembinaan sekaligus pengembangan kebudayaan daerah .. Secara konsepsi- onal, pembangunan kebudayaan daerah itu sendiri tidak lain adalah satu kesatuan sistem integratif yang melandasi seluruh segi pembangunan kebudayaan nasional. Pendekatan ini bertolak dari suatu asumsi dasar, bahwa pembangunan kebudayaan nasional di satu pihak merupakan suatu landasan utama bagi pertumbuhan nilai-nilai sosial budaya bangsa di daerah-daerah. Sebaliknya pembinaan dan pengembangan nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang dalam
~ egatip yang timbul seQagqi akibat penyerapan unsur-unsur kebudayaan asing. melalui proses dan kegiatan pembangunan. Itulah sebabnya. konsepsi pembangunan nasional menempatkan aspek material dan rohaniah termasuk nilai-nilai sosial budaya secara selaras, untuk mencapai tingkat kesejahteraan dan kebahagian manusia Indonesia secara utuh.
Konsepsi pembangunan yang berdiri di artis landasan ke- se larasan antara aspek material dan kerohanian itu erat k_aitan- nya dengan hakekat pembangunan yang se nantiasa menibulkan perubahan maupun perombakan-perombakan yang menyentuh kedua aspek dimaksud. Hal ini sesuai dengan pandangan Presiden Republik Indonesia, Suharto bahwa •
... Pembangunan pada hakekatnya memang merupakan rangkaian perobahan menuju kemajuan. Bukan hanya perobahan-perobahan lahiriah (... ). melainkan menyangkut perobahan-perobahan sosial yang besar. Perobahan-perobahan ini mengandung dinamika (. ). karena mengenai tingkah laku, sikap dan tata nilai. (. .) Jika harus dikatakan bahwa pembangunan merupakan "revolusi '' maka " revoJus( damai" Jah yang kita. ingmkan (.. .). Dan jika dikatakan bahwa pembangunan memerlukan pem baharuan. maka pembaharuan ini bukan "pemberatan" ( westerling). yang akan berarti pengetrapan kebudayaan lain yang asing bagi kita.. (Pidato Presiden pada upacara Peringatan Ulang Tahun ke-25 Universitas Gajah Mada. pada tanggal 19 Desember 1974 di Yogyakarta). Bangsa Indonesia dalam menggambarkan harapan bagi masa depan bangsa yang lebih baik, perlu adanya fokus per- hatian dan orientasi berpikir yang mengarah pada sejarah !Uku-suku bangsa di masa lampau. Kenyataan~kenyataan sosial budaya yang berkembang saat ini serta ci ta-cita nasional yang
Unsur-unsur kebudayaan daerah inilah yang pada saatnya, akan memberikan corak "monoplura- listik" kebudayaan nasional Indonesia.
Salah satu sumber informasi kebudayaan daerah yang sangat penting artinya ialah naskah-naskah kuno. Naskah-naskah kuno ini merupakan arsip kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah yang bei:sangkutan. Naskah kuno sebagai sumber informasi kesejarahan, maka di dalamnya termuat berbagai peristiwa bersejarah dan kronologi perkem bangan masyarakat. sehingga dapat memberikan bahan rekonstruksi untuk mema- hami situasi dan kondisi yang ada pada masa kini dengan meninjau akar peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Melalui pengungkapan naskah-naskah kuno tersebut, terung- kaplah sejarah htdonesia (lama). misalnya lambang persatuan Indonesia yang disebut "Bhinneka Tunggal Ika" ternyata disitir dari naskah Sutasoma.
Naskah kuno sebagai sumber informasi, maka naskah kuno itu sendiri adalah salah satu unsur budaya yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat di mana naskah-naskah tersebut lahir dan mendapat dukungan. Dalam berbagai daerah termasuk Sulawesi Selatan, naskah kuno masih mempunyai fungsi kultural bagi masyarakat pen- dukungnya. Dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan naskah
rnenggunakan itksara Bugis-Makassar. Selain itu ditemukan pula adanya sebagian lontarak. yang tertulis dalam buruf Arab-Melayu, disebut ." ukik serang " (tulisan Seram), sedangkan babasa yang digunakan terdiri atas bahasa Bugis, Makassar. serta bahasa Mandar. Sampai saat ini belum ditemui
nilai- nilai luhur.
Menyadari arti pentingnya naskah ·lontarak sebagai suatu warisan leluhur yang mengandung sistem ilmu pengetahuan tradisional, Abu Hamid, dan kawan-kawan, menegaskan dalam salah satu hasil penelitiannya, antara lain bahwa : "Apa yang sampai pada kita sekarang sebagai warisan budaya adalah berupa naskah-naskah yang disebut lontarak. Hampir semua daerah dan kelompok masyarakat atau suku bangsa di Sulawesi Selatan tentu memiliki lontarak ( ... ) dengan berbagai macam versi, menurut kondisi lingkungan alam di mana mereka berada. Kepandaian nenek moyang kita mencatat sistem pengetahuan mereka, bukan semata- mata diperlukan sebagai pewarisan bagi generasinya, melain- kan diperlukan untuk melestarikan sistem pengetahuan
( ... ) yang sesaat bisa dimanfaatkan ... (1987 : 3).
Dalam menelusuri gelanggang kehidupan sosial budaya di daerah Sulawesi Selatan, akan terlihat secara jelas bahwa dalam · banyak kegiatan hid up seperti kegiatan bercocok tanam di samping pelaksanaan upacara daur hidup, pelaksanaan kepemimpinan, penelusuran jaringan hubungan kekerabatan, serta anekaragam kehidupan lainnya sampai saat ini seringkali masih berpedoman pada sistem pengetahuan tradisional yang ada dalam naskah lontarak.
Sistem pengetahuan tradisional yang termuat dalam naskah-naskah lontarak tidak dapat diserap atau pun dihayati, dipa- hami dan dikuasai secara mudah. akan tetapi memerlukan adanya ketrampilan khusus. lni sesuai dengan kenyataan bahwa banyak naskah lontarak yang tertulis dalam bahasa khusus dengan gaya khas yang tidak seluruhnya sama dengan bahasa percakapan yang digunakan sehari-hari. Bahkan banyak di antara kata-kata atau pun istilah dalam naskah lontar.;ik yang terhitung sebagai bahasa kuno dan tidak dikenal lagi, terutama bagi anggota masyarakat yang berusia muda, lebih-lebih bagi
Demikianlah, pengetahuan dan ketrampilan memanfaatkan lontarak sebagai sumber infotrnasi maupun sumber pengetahuan hanya dikuasai oleh tokoh tertentu yang biasa disebut pallontarak.
Lepas dari soal kemampuan seseorang untuk memahami arti dan makna yang terkandung dalam naskah lontarak, tepat- lah pernyataan Pananrangi Hamid, dan kawan-kawan bahwa :
Naskah kuno lontara', dengan demikian merupakan gudang tempat penyimpanan warisan budaya leluhur yang secara potensial mendukung proses pengalihan ii~~ pengetahuan tradisional dari satu generasi ke generasi, berikutnya, secara berkesinambungan .... (l 988 : 2).
Salah satu wilayah yang banyak memiliki naskah-naskah kuno lontarak di daerah Sulawesi Selatan ialah Luwu. Luwu merupakan daerah bekas kerajaan yang cukup tua jika diban- dingkan dengan kebanyakan daerah bekas kerajaan lainnya di kawasan ini. Sampai sekarang belum dapat dipastikan kapan berdirinya kerajaan Luwu, namun melalui ceritera-legendaris mitologis dapat diduga bahwa daerah tersebut memang sudah berdiri sejak adanya kehidupan di daerah Sulawesi Selatan. Bahkan dalam Lontarak "Pammulanna Surek Galigo e' ,'salah satu karya B.F. Matthes diungkapkan, bahwa dahulu kala kawasan ini hanya merupakan ruang hampa, tanpa bum i, tanpa samudera, tanpa hutan dan tanpa kehiupan. Hal ini berlangsung sampai datangnya manusia pertama, titisan darah dewata yang disebut To Palanroe (Sang Pencipta) disebut pula Patoto e (Sang penentu Takdir) yang dikirim khusus untuk menjadi penghuni bumi BF. Matthes; hal. 444-445). Menurut lontarak pemimpin pertama di kalangan umat manusia di daerah Luwu, ialah Sang To Manurung yang disebut Batara Guru. Kepemipinannya kemudian dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Batara Lattu, sebagai Maharaja di kerajaan Lu.wu. Baginda Maharaja Luwu ituiah yang rn-elahlrkan
Saweriga:ding, sebagai putera Pangetan mahkota pewaris kerajaan Luwu.
Putera Pangeran Kerajaan Luwu,. Sawerigading lalu ber- layar ke negeri Cina di tanah Bugis dan menikah dengan puteri .raja setempat yaitu I Wecudai Daeng Risompa Punna Bolae Ri Latanete, puteri mahkota pewaris tahta kerajaan Cina. Dari perkawinan ini lahirlah puteranya yang bernama I Laga- !igo. Menurut kisah "Pau-Paunna Sawerigading," I Laga!igolah yang melahirkan La Tenritatta- ya,ng kemudian menjadi raja di kerajaan Luwu. Sekali waktti Sawerigading sekeluarga, mengantarkan cucunya, yaitu Latenritatta raja Luwu menuju ke negeri kerajaan leluhurnya, Tanah Luwu. Tiada berapa lama · sesudah itu, maka Sawerigading bersama seluruh sanak keluar- ga dan kerajaannya karam atau gaib, tanpa ada tanda-tanda apa pun yang tertinggal. Pananrangi Hamid, 1989 : 249-253).
Pemberitaan-pemberitaan dalam lontarak kemudian menye- butkan, bahwa selama tujuh turunan sesudah gaibnya Sawerigading, barulah 'berdiri kerajaan-kerajaan lokal di berbagai tempat di Sulawesi Selatan. Salah satu diantaranya. ialah Kerajaan Bone di bawah pimpinan Raja Bone-I Mata Silompok e yang "bertahta selama kira-kira 32 tahun. yaitu kira-kira dalam tahun 1326 s/ d 1358" A. Muh. Ali, 1969 : 6). Uraian tersebut di atas menggambarkan. bahwa Tanah Luwu memang sudah lama berdiri sebagai satu wilayah pe- merintahan kerajaan,sehingga wajar kalau di daerah ini terdapat naskah kuno lontarak dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu dari sekian banyak lontarak yang dapat ditemukan dalam rangka penelitian ini ialah Lontarak Luwu yang memuat catatan tentang perantauan salah seorang raja Luwu yang memuat catatan tentang peraturan salah seorang raja Luwu bernama Setia Raja Matinroe Ri Tompo Tikka, ke berbagai negeri seperti Bone, Wajo, Sidenreng dan sekitarnya. Selain itu ditemukan dalam lontarak tersebut tata persyaratan bagi abdi, sistem pengetahuan tradisional, berbagai perjanjian per-
Semua itu memuat anekaragam nilai-nilai luhur, gagasan vital, idea-idea serta pengetahuan tradisional yang cukup potensial bagi upaya melestarikan nilai-nilai di daerah Sulawesi Selatan. Apabila di at as m1 telah · digambarkan bagaimana pentingnya peranan naskah kuno lontarak. termasuk lontarak Luwu bagi pengungkapan nilai-nilai sosial budaya sebagai su mber kekayaan budaya bangsa, maka dengan sendirinya penerjemahan dan pengkajian naskah kuno lontarak dimaksud, mutlak diperlukan untuk mengangkat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Selaku konsekuensi logis dari padanya maka timbullah beberapa masalah yang akan dirumuskan secara khusus dalam sub pembahasan di bawah ini.
1.2. Masalah Dalam rangka menelusuri pengungkapan latar belakang nilai dan isi naskah kuno lontarak ya ng merupakan fokus perhatian dalam penelitian dan penulisan ini dipandang perlu adanya rumusan masalah. sehingga pembahasan akan terarah dan analisis pun dapat mencapai kedalaman pemahaman me- nutut petunjuk TOR.
I. Belum meratanya kesadaran tentang arti dan pentingnya
naskah kuno lontarak dalam rangka pembangunan nasionaL sehingga masih banyak anggota masyarakat menyimpan naskah- nya, bukan untuk dibaca dan dihaya ti isinya melainkan disimpan. sebagai benda pusaka. warisan leluhur yang harus dirawat, dipelihara dan disakralkan.
Adanya kecenderungan semakin tersisihkannya naskah
lontarak tersebut, sehubungan dengan se makin giatnya usaha dan kegiatan pengabdian teknologi dan ilmu pengetahuan yang diserap dari unsur-unsur kebudayaan asing.Adanya kenyataan, bahwa orang-orang yang menekuni,
bahkan memahami isi naskah Iontarak menjadi semakin langka terutama karena tidak adanya pewarisan ketrampilan dan kemampuan membaca dan menulis Jontarak kepada generasi
muda. Sementara di lain pihak orang-orang yang menguasai lontarak semakin berkurang jumlahnya kareQill terkikis olch usia tua.
Banyak naskah lontarak saat ini mengalam1 ancaman
kepunahan terutama karena terpaan zaman di samping ter- batasnya pengetahuan dan keterampilan para pemiliknya untuk merawat, memelihara dan mengawetkan naskah lontarak masing-masing.Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional sampai ini
belum memiliki data mengenai latar belakang nilai dan isi dari Lontarak Luwu.
1.3. Maksud dan Tujuan.
1. Penulisan ini dimaksudkan sebagai usaha untuk mengin-
ventarisasi dan medokumentasikan naskah kuno lontarak, sekaligus bertujuan meningkatkan kesadaran anggota masyarakat, terutama mereka yang memegang naskah lontarak, untuk dimanfaatkan bagi pewarisan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai tradisional dari leluhur kepada generasi pelanjut.
Meningkatkan daya saring anggota masyarakat Sulawesi
Selatan atas ilmu pengetahuan dan teknologi yang diserap dari unsur-unsur kebudayaan asing.:Menerjemahkan sebahagian naskah lontarak, sehingga
bermanfaat bagi para generasi muda dan anggota masyarakat secara menyeluruh untuk menghayati, memahami dan me- manfaatkan nilai-nilai yang terkandung dalam lontarak.Menganalisa tentang latar belakang nilai dan isi nask4h
kuno lontarak, khususnya Lontarak Luwu untuk kemudian disebarluaskan kepada khalayak ramai. Penulisan naskah ini, dengan demikian diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan tugas atau pun sebahagian tugas Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional berkenaan dengan pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, sekaligus memperlancar pengambilan
dalam rangka penyusunan program dan rencana pembangunan bidang kebudayaan di masa yang akan datang.
1.4. Ruang Lingkup
Daerah yang menjadi ruang lingkup operasionil adalah lokasi tertentu yang ditetapkan menjadi pusat pencaharian dan pencatatan naskah lontarak. Ada pun ruang lingkup operasionil dimaksud, meliputi 4 Kabupaten, masing-masing Luwu, Bone, Wajo dan Soppeng. Pemilihan dan penetapan lokasi penelitian tersebut didasarkan atas beberapa ala <:;in 'ebagai berikut : Kabupaten Luwu merupakan kerajaan yang cukup tua dengan latar belakang sosial budaya yang khas di. samping masyarakatnya yang sampai saat ini masih .banyak memper- tahankan tradisi lama sehingga memungkinkan terdapatnya naskah lontarak serta adanya warga masyarakat yang mampu memberikan informasi berkenaan dengan lontarak dan kan- dungan isinya.
Kabupaten Bone-Wajo dan Soppeng merupakan wilayah bekas kerajaan yang pada zaman lampau terjaring dalam Rei Aliansi sehingga mempunyai pengaruh cu.kup besar terhadap kerajaan-kerajaan lokal lainnya di kawasan Sulawesi Selatan. Keadaan tersebut memungkinkan terdapatnya dalam wilayah itu naskah-naskah lontarak tentang kesejarahan dan kehidupan sosial budaya. Ini akan memudahkan dan memperlancar usaha pengumpulan dan pencatatan · naskah lontarak, sebagai bahan analisis.
Kabupaten semua wilayah sampai sekarang masih menggu- nakan bahasa daerah Bugis sebagai bahasa sehari-hari, sehjngga mempermudah bagi penelitian/penulis mendapatkan info~si manakala ada kata-kata atau pun istilah Bugis yang tidak dipahami dalam naskah lontarak. Kabupaten semua lokasi penelitian tersebut terletak dalam
jafan raya beraspal, sehingga mudah dijanglCau, baik di musim kemarau maupun musim hujan. Berbagai alasan tersebut di atas memudahkan dan memperlancar pelaksanaan tugas penelitian, bahkan juga memperlancar tahap analisis, terutama karena adanya dukungan dari anggota masyarakat setempat yang sampai saat ini tetap mempertahan- kan keramahtamahan, kesopan-santunan, kemurahan hati serta sikap menghormati tamu. Sikap dan perilaku seperti ini merupakan sebahagian daripada penerapan nilai-nilai luhur yang masih tumbuh subur dalam masyarakat sekitarnya.
Adapun ruang lingkup mater dalam penelitian ini ialah semua naskah lontarak yang berhasiL dicatat dan didoku- mentasikan selama berlangsungnya kegiatan penelitian, bail< yang diperoleh dari lokasi penelitian maupun yang merupakan bahagian dari koleksi pribadi peneliti sendiri. Dalam hal ini telah dicatat sebanyak 20 naskah kuno (catatan identifil
· kerajaan lainnya yang dapat menjadi bahan pelajaran dan pemikiran bagi aparat pemerintahan di desa-desa. Keempat, sebagian isi naskah tersebut memuat informasi dan kandungan nilai-nilai kemanusiaan sehingga cukup menarik, bahkan potensial bagi usaha pembinaan watak dan kepriba- dian bangsa, terutama generasi muda. Ruang lingkup pembahasan menyangkut Lontarak Luwu in i memuat tiga komponen utama. Pertama transliterasi yang mencakup 21 pasal atau sub bab. Masing-masing pasal terbagi kepada sub-sub bab sehingga dapat diikuti secara saksama.
Kedua, Terjemahan dari bahasa Bugis ke dalam bahasa Indonesia baik secara kata-demi kata maupun berkalimat, sehingga dapat diikuti secara baik oleh para pembaca, kendati pun orang tersebut tidak dapat menggunakan bahasa Bugis. Ketiga, analisis yaitu memuat hasil kandungan isi naskah lontarak menurut kerangka dasar yang telah disiapkan sebelum- nya sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan
Pertanggungjawaban Penulisan.
Dalam usaha mengumpulkan naskah lontarak telah dilakukan kegiatan penelitian ke lokasi-lokasi yang telah ditetapkan sebagai sasaran operasional menggunakan metode survai, sedang-
dipahami secara baik.
1.5. Metode Penelitian.
kan untuk mengumpulkan
menurut petunjuk TOR.
Tatacara Transliterasi.
informasi-informasi mengenai naskah lontarak yang terdapat di lokasi penelitian digunakan instrumen eek-list. Ada pun penelitian mengenai kandungan isi masing masing naskah dilakukan berdasarkan format isian
I. Transliterasi dilakukan dengan menggunakan hurf Ia tin.
I (garis miring) menandakan titik atau koma.
(garis datar) di antara dua kata atau suku kata, menandakan pemisah antara kata dasar dan imbuhan. (garis datar) di atas huruf e ( e ) menandakan sebutan yang berbeda dengan huruf e, seperti dalam contoh berikut : elok seperti dalam kata ember: ellong seperti dalam kata enam.
- Penggunaan nomor penunjuk : Dalam transliterasi digunakan dua macam nomor petunjuk. Pertama petunjuk pasal atau sub bab. Kedua nomor petunjuk untuk isi pasal atau sub bab. Pasal atau sub bab itu sendiri diangkat dari isi naskah dengan petunjuk nomor/angka tunggal ( 1, dan seterusnya) Transliterasi mengenai isi naskah diberikan petunjuk berupa nomor/angka ganda, misalnya 1.1. berarti pasal satu pun/sub bab 1. Hal ini untuk mempermudah apabila ditelusuri kembali pengertiannya untuk sewaktu-waktu diperlukan.
Tatacara Penerjemahan
I. Penerjemahan dilakukan perkata-demi kata, namun kalau ada kesulitan maka penerjamahan dilakukan per-kalimat.
2. Bila ditemukan kata atau istilah daerah yang tidak mempunyai padanan bahasa Indonesia, maka istilah Bugis ditulis menurut naskah, kemudian diberi penjelasan dalam bentuk catatan kaki.
3. Kalau ditemukan kata yang seharusnya mempunyai imbuhan atau kata penghubung ditulis dalam kurung.
4. Kalau ditemukan kata ganti orang yang digunakan di dalam naskah, sedangkan sulit diartikan dalam bahasa Indonesia maka orang yang ditunjuk ditegaskan dalam kurung.
I. Analisis dilakukan per-sub bab. Dalam menganalisis digunakan kerangka nilai yang dikem- bangkan oleh Kluchohn dan S. Takdir Asisjahbana, sehingga semua isi naskah dapat dikategorikan secara saksama.
3. Dalam kaitannya dengan analisis, diadakan rujukan terhadap karya tulis lain yang relevan.
4. Penarikan kesimpulan dilakukan menurut tatacara atau metoda induktip-kualitatip, sesuai dengan data dan infor- masi yang tersedia.
AKSARA DAN ALIH BAHASA
2.1. Alih Aksara. 1. PASSALENG PAN-NESSA ENG-NGI PAP-PASEN-NA
ANU TO-MATOWA E RI-OLO E RI-ANAK NA RI-APPO NA/
l. l. Makkeda e / Anak ku I Eng-gerang ma-deceng ngi sarak na akkarungeng nge/ · Duappulo ri-tu asera rupan-na/
I. 2. Mulamaulan-na/ Ri-elo rang-ngi arung-nge ma-sero tauk ri Alla Taala enreng-nge ri Rasulullahi/
I. 3. Ma-duwa-na/ Ri-elo reng-ngi arung-nge ri-tu man-nen-Nung-ngeng po-gauk pak-kasiwiang ri Alla Taala na pa-Tettong-ngi sareak na nabit-ta Sallallahu alaihu wa sallame/
I. 4. Ma-tellun-na/ Ri-elo reng-ngi arung-nge ma-. sero amana/
l. 5. Ma-eppak na/Ri-eloreng-ngi arung-nge ma-lempuk bica-ran-na/
l. 6. Ma-lima na/Ri-eloreng ngi arung-nge me-nawanawa na-ma 1ampek akkalen-na/ Sappa-reng ngi a-sukku ren-na a-tern marulle ne kuwa e to-tebbek na/
l. 8.
I. 9.
I. I 0.
1.11.
1. 12.
1.1 3.
1.14.
J.15.
1. I 6.
I. I 7.
pa-deceng.,-ngi rupan-na/ Ajak nak-jameruk/ Ma-pitun-na/ Ri-eio reng-ngi woroane mat-tang- I'!gak ajak na makkunrai-e/ Ma-ruwa na/ Ri-eioreng ngi ma-deceng passuk adan-na iya iyan-na po-wada e/ Ma-sera na/ Ri-eloreng ngi ritu ajak na soro-si wi ada pura e na po-wada mau ma- jak/ nguammeng ngi ajak na-pettu pak-dennuwan-na tau we ku-riku/ Ma-seppuio na/ Rl-eioreng ngi arung nge ku-ritu tang-ngak ma-deceng ngi ada adan-na to-pole po-wada paunna kuwameng ng ajak na-ma ceko/
Ma seppulo na seuwa/ Ajak na-engskalinga i-wi adan na to-baiik bellak-e/ To Ma-capila e / Ma-seppulo na dua/ Na-ri etteang ngi arung nge ritu mola i adan-na makkunrai e/ Me-seppuio na Tellu/ Ri-eioreng ngi arung nge ritu ma Iabo/ Ajak na ma-nekek/ Kuwammeng ngi ajak na memase-mase sinin-na pakkerek e enreng nge misekking nge/ Ma-seppulo na eppak/ Ri-eloreng ngi arung nge ritu tulung to-ri gauk baweng ngi ajak na-ma so-Jang atan na Alla Taala/ Ma-seppulo na lima/ Ri-eloreng-ngi arung nge misseng-ngi ma-tanek e enreng nge ma-ringeng nge ri sining a tan na Alla T aaia/ Ma-seppulo na enneng/ Ri-eloreng ngi arungnge ritu-misseng ngi morotabak na tau we / Kuwammeng ngi ajak na pap-pap pada-i to-ma lebbik e na-to ma tunae/Mau-ni na ma-mase mase muna teng-ngarusuk j ri-pap-pada-pada murettabak na to-ma Jebbik e na-to ma- tuna e/
1.19.
120.
1.21.
1.22.
1.23.
l .2 4.
I .25.
. tana na enreng nge tau-tabbek na / Kuwammeng ngi ajak na-ma rule lolangeng-nge salewang-ngeng/
Ma-seppulo na aruwa na/ Ri eloreng ngi arung nge ritu mas-sellao to-panrita enreng nge tom-misseng na-ewa i si-elo-reng/ Kuwammeng ngi na-pangajari wi/ Na paitai wi ri laleng ma-lempuk e/ Ma-seppulo na asera/ Ri eloreng ngi arung nge ritu/ Massek rahasia-na/ Ajak na engka i ri barang tau/ na-rekko ma elok i passuk i rahasia na mita i tau silasa nat-taro i-ye/
Ma-duwappulo na seuwa/ Ri etteyang ngi arung nge mat-tengka i ada to-ma towa/ Kuwammeng ngi ha salamak/ Ma-duwappulo na seuwa/ Ri eloreng ngi arung nge ritu-mita to-ma raja iya ma-towa e map-pau pauwang ngi · ada ri olo gauk ri olo/ Apak iya to-ma towa e engka barak kak na mungkak ma-ega na gauk ri olo na ita na engka-Jinga/ Ma-duappulo na duwa/ Ri eloreng ngi arung nge ritu/ Sappak to-ma raja ma-deceng nge assalen na na-ma Jampek nawa nawa na ke-akkaleng/ Kuwammeng ngi nagka na -ewa si-pa tangnga reng/
Ma-duwapullo na tellu/ Ri eloreng ngi arung nge sap-pak suro macca e makkeda ada na me-nawa nawa ri gauk ri-allolongeng nge deceng/ .Kuwammeng ngi na lolongeng ngi ri nawa-nawa e/ Ma-duwappulo na eppak/ Ri eloreng ngi arung nge ritu/ Bola i ewang ngeng ma-deceng parewa tana e/ Kuwammeng ngi na-ri yasirik ri lralin-na t!nreng nge to-warani ku wa e peddang ma deceng nge silasa na pa-ewa e mam-musuk enreng nge annyarang ma deceng silasa e ri sae-e mam-musuk ri padam-palik/
nge pole ri tau we mui/ iya muto na ri lebireng worowane na-makkunra i ye/ Kuwammeng ngi nang ka na-si laongeng ri wettu m a-perik e enreng nge r i asolangeng nge/ Apak iya na worowane iya na pa-ewa i ri pakka-solan-na lino/ l .27. Ma-duwappulo na enneng/ Ri eloreng ngi arung nge &1p- pak tau ma deceng nge abbat i-renna nangka nawa na- wanna na-ma lampek akkalen-na na macca mangkek ma-ada na ppassu-ri wi rahasiya/ Kuwammeng ngi na-ma rissengeng ra hasia na ri anrini/
- Ma~uwappulo na pitu/ Ri eloreng ngi arung nge ajak na mas-sarang atan-na Alla Taala ri gauk ma-1ana e/ Ri elo reng to-i arung mangkauk e aj ak na na-kurang-ngi- wi tom-manre ri olo na wenni es~ duwa gi tellu gi/Ku wammeng ngi nangka lettuk ri-engkalinga biritta ma..de cen-na enreng nge ri pujin-na ri sinin na tau we/Pada to-sa na rekko na-kenna i sukkarak/ Ma lebbiren ni ma te na-iya teddeng sirik e/
1.29. Ma-duwappulo na aruwa/ Ri eloreng ngi arung nge ritu Ajak-na na-kurang-ngi waramparan-na tau pura e ri pak kaja/ Apak iya tu waramparan-na anun-na muwa-tu arung nge na-wereng ngi atan-na/ T eng-ngarusuk i ri ala pa-rirneng anu pura e ri-abbere-ang/ Ri atteang to-i arun nge ritu lebbi tellung-nges~ nad-dampengeng ngi tau-we rekko na-gelli wi/ l .30. Ma-duwappulo na asera/ Ri eloreng ngi arung nge ritu nap-pe sangkang/ Padangkang nge ajak na-ri bawampa- wang/ Kuwammeng ngi na ma-deceng na-ma rowak sa- benna-rak na tana na/ Apak iya tu padangkang nge rekko'ngka waramparang ma-deceng kuwa-e anu ma-lebbik na wawa i arung nge ku-ritu e sinin na to-ma raja/
- Ma~uwappulo na pitu/ Ri eloreng ngi arung nge ajak na mas-sarang atan-na Alla Taala ri gauk ma-1ana e/ Ri elo reng to-i arung mangkauk e aj ak na na-kurang-ngi- wi tom-manre ri olo na wenni es~ duwa gi tellu gi/Ku wammeng ngi nangka lettuk ri-engkalinga biritta ma..de cen-na enreng nge ri pujin-na ri sinin na tau we/Pada to-sa na rekko na-kenna i sukkarak/ Ma lebbiren ni ma te na-iya teddeng sirik e/
1.31. lya na-tu duwappulo e asera sil.asa na-isseng na tutui wi sinin-na na-po waseng nge arung mangkauk enrengnge anek to-lebbik/
2. PASSALENG PAN-NESSA ENG-NGI OSSU NA-JAJI ANG-NGE ANAK
2. I. Mula mulan-na/ Ahak i na jaj ia-ang ngi anak orow ane/ Ma deceng ngi/ Po-gauk gauk ma-deceng/ Massek i tep- pek na ri Alla Taala/ Sabbarak to-i/ Na rekko makkunrai ma-sero jak i/ Na elo-ri po-wada anu tek-kowa/
1.2. Na rekko aseheng ngi na jajia-ngeng anak orowane/Mac- ca i makeda-da ri arung mangkauk e enreng nge ri-to magega e/ Na rekko makkunrai ma deceng kininnawa i ri padanna tau ma-sero to-i pakaraja i lakkain-na/
2.3. Na rekko Salasa i na-;jajiang nganak worosne/ Na rekko ma-gelli wi ma-elok i pa-uno/ Na rekko 'ngka tau na e-wa si-sala tep-paja na-nawa nawa/ Na rekko makkunrai/ Tes-situju i nawa nawan na mallai bini/ Doraka to-i ri Alla Taala/ Doraka to-i ri inan-na ri aman-na/Na rekko ta-ngatta-i wi na-rampeng ngi ma-sigak gell in-na /
2.4. Na rekko Rabak i na.jajiang nganak worowane/ Nat-te- nget-tongengeng ngi wi rekko engka na-po gauk/Na rek-ko makkunrai na elo ri-wi mad-dajuk rajuk e/ Na elori to-i ri ad-dajuk raju i-ye na-ma repek ri belle ri- pa dan-na tau/ Ma-
2.5. Na rekko Kammisik i na jajiang-nganak woroane/ Tem- ma deceng ngi/ Ma ega adan-na tes-si poleng gauk na/ Na rekko makkunrai 'ncaji-ang ngi ma lampek ininnawa- i ri padan-na tau misseng to-i 'mpelo ada/ iya ni na-po gauk ma-
2.6. Na rekko Jumak i najajiang anak worowane/ Ma-decek- kininnawa i na ma-tettek gauk na nangka-to pak-dissen
rekko makkunrai/ Ri paka-lebb ik ri padan· na tau/ Na rekko Sattung ngi na jajiang-nganak worowane/ Parennaung ngi/ Pab-belleng-ngi/ Ma-ega todoraka na ri inina·na ri aman-na/ Na rekko makkunrai macca mab- binruk binruk/ Ma-deceng tengnga rupa i/
PANNESSA ENG-NGI ADAN-NA TO-PANRITA HUKEMAK E
2.7.
3.
3.1
3.2.
3.3.
3.4.
3.5. Pan-nessa-eng ngi rekko engka ananak jaj i orowane mak kunrai/ Makkeda i to-Panrita hukemak e sinin-na to-ri amaseng nge ri Alla Taala/ Nigi nigi jaji-ang ngi ri OS!l) na Ahak e na-worowsne/ Ri-aseng ngi La Berahima enreng nge Sulaemang/ Enreng nge La Musa/ I Yakuba enreng nge Yahya enreng nge Sakaria enreng nge Haruna enreng nge Salehe/ Na- rekko makkunrai Halima enreng nge Hapessi enreng nge Habiba enreng nge Saleha enreng nge Rabia/ Na rekko engka ri oso na aseneng nge/ Aseng ngi Ahem- made enreng nge Muhammad enreng nge Kassa enreng nge-Tahere enreng nge Nuhung/ La Daniyahe/ Rekko makkunra i/ Aseng ngi Patimang enreng nge Salamang enreng nge Sahiba enreng n8e Tahira/ Na rekko engka jaji ri OS!l) na Salast e/ Worowane a- seng ngi Isemmaila enreng nge Isehaka/ Enreng nge Ji- hade nereng nge Yakube enreng nge Sameuna enreng nge Suaibe enreng nge Hamessa enreng nge Sangkala enreng-nge-Jamade enreng nge Japareng enreng nge Yusupu/Rekko makkunrai aseng ngi Halja/ Enreng nge Salamang/ Enreng nge I Sitti/ Enreng nge Hapipa/ Rekko engka jaji ri O.S!l) na Arabak e na orowane aseng ngi Ali/ Enreng nge Hasang/ Enreng nge Husseni/ Rekko makkunra i/ Aseng ngi Aisa/
jaji ri OS&) na Kammisik e na woro-wane/ Ri-aseng ngi Abedulla/ Enreng nge Abeddu/ Rahemma- ni/ Enreng nge Abedule Habe/ Enreng nge Abedu· Ka- ring/Rekko makkunrai ri aseng ngi Ka!Uma/ Enreng nge Habiba/
3.7. Rekko engka jaji ri OS&) na Jumak e na worowane/ Aseng ngi Adame/ Enreng nge Yunusu/ Enreng nge Yu- supu/ Na-rekko makkunrai aseng ngi/ Hawa/ Enreng nge Ajara/En reng nge Aisa/
3.8. Na rekko worowane jaji ri os&) na Sattung nge/Aseng-ngi Abdale Kadire/ Enreng nge Abedu Latipu/ Enrengnge Rahiming/ Enreng nge Abedur Ras!iike/ Na rekko Makkunrai/ Asenngi Mariyama/ Enreng nge Saripa/ Enreng nge Atipe/
3.9. Na rekko Wenni na-jaji Ahak na na orowane/ Aseng ngi lsemmaila/ Enreng nge Abubakkareng/ Ummareng/ Enreng-nge Abedulla/ Enreng nge Usemmang/ Na rekko makkunrai aseng ngi Hapes!a/ Enreng nge Hawang/ Enreng nge Saena
3.10. Na rekko weninna Aseneng na-jaji na orowane/ Aseng-ngi Muhamma/ Enreng nge Ahema/ Enreng nge Hasang/ Enreng-nge Etahang/ Enreng nge Usemmana/ Enreng nge lya!ang/ Na rekko makkunrai ri aseng ngi I Pati- mang/ Enrengnge I Sa 'Ira/ 1 .11. Na rekko wenni na-jaji Sala!ii na na worowane/ Aseng-ngi Musa/ Enreng nge Haruna/ Enreng nge lberahima/ Enreng nge Yacube/ Enreng nge Isemaile/ Na rekko makkun rai aseng ngi Hawang/ Enreng nge Ai!ii/ Enreng nge Amina/
3.12. Na rekko wenin-na Arabak e na-jaji na worowane/ Aseng-ngi Ha!iing/ Enreng nge Isemmaila/ Enreng nge Yunusu/ Na rekko makkunrai aseng ngi Mukminang/
3.13. Na rekko engka jaji ri wennin-na Kammisik e na woro wane/ Aseng ngi Adame/ Enreng nge Iderise/ Enreng
Saleng/ Na rekko makkunrai Ai':JJ./ Enreng nge Jamila enreng nge Saida/ Na rekko woroane jaji Jumak na / Aseng ngi Muhamma/ En reng nge Japareng/Enreng nge Abbase/ Na rekko makkun rai aseng ngi Hallja/ Enreng nge Hamida/ Na rekko Engka Jaji ri wennin-na Sattung nge Naorowa- ne/ Aseng ngi Ali/ Enreng nge Yunusu/ Enreng nge Abe-du Rahima/ Na rekko makkunrai aseng ngi I Ma- riang/
PANNESSA ENG-NGI PAP-PASEN NA ARUNG RI-OLO E RI-ANAK NA RI-EPPO NA RI-SININ-NA SIAJIN-NA/
- 14.
3. 15.
4.
4.1.
4.2.
4.3.
4.4
4.5.
4.6.
4. 7. E anak ku/ Siajik-ku ( ... ) aga siak utaro wak-ko/ Apa iya mu-to na siyak ( ... ) mengkalinga ri to-pa tuju e rekko mu-ala muwannep-pi sio adak-ku/ lya na-e u-pase-ngek- ko/ Ajak sio muwaccowa cowa tettan-ri nawanawa i agama na Muhammaa Sallallahu alaihi wa':JJ.llame/ lyak pura muwaksa mellau ri Alla Taala tem -map-pettu e a-rolam- mu ri aga ma Iselleng nge/ Apa-gi siak mulle muwanneng ngi pas-sukkuk i agamang nge/ Ajak to mu-wedding nal-lempu r i padam-mu tau/ Apa-gi siak to-ri wawo mu/ Ajak to mu-wedding ri ( ... ) ri ad ek-e enreng nge ri ak- ke puwangem-mu/ Pe-raja i-wi sirik mu/ Apak iya mu-ri-tu ri aseng tau tengeng tongeng rekko engka mu-pa sirik ta/ Ajak to mu-cirinna i-wi tabbollo waramparam-mu ripe- rik na tana e/ Ajak to mu-pak dinusa i nawanawam-mu passuri ri-wi ti-mum-mu belle/
na•bibek ao cinna ri alabang nge mu-pa olai ni belle-timun-mu/
- Tern-ma rao siak map-pa lalo-ang mang-ngelli pasa pasa Rekko to-mabbaluk baluk mu-no/
4.10. Ajak to mu-ma ngingngik ma-mase/ Ajak to mu-gauk bawang ngi padam-mu ri-pancaji ri Alla Taala/
4.11. Ajak to mu-ringengang ngi ellau dawan na to-ri gauk bawang nge/ Apak pajanen-ni ri-tu Alla Taala na-mase-i atan-na ri gauk bawang nge/
4.12. Ajak to mu-ma raja cinna ri waramparang/ lya pa mu-po gauk i silasa e watakkale mu/ ri tengnga e/ Taniya sa ri napessu e/
4.13. Na-iya rekko sappak-ko dalle/ Ko-i mu-tajeng pammase- na Alla Taala/ Ri-pam mase-na arung mangkauk e enreng nge ri laon-rumang nge ku-wa e leppang limam-mu/ Ap-gi-sa ri perik na tana e/ Ajak sio nakko ri-assudaga- rakeng nge/ Apa gi-sa alak-kuwa e ri canga canga e/
4.14. Na rekko sappak ko pa-ngissengeng/ Ku-i mu-tajeng pam mase na Alla Taala ri baruga e/ Apak kuwa e-ritu ri ba ruga e man-nessa gauk ri caeca e enreng nge ri-poji e
- Tern-ma rao siak map-pa lalo-ang mang-ngelli pasa pasa Rekko to-mabbaluk baluk mu-no/
- IS. Na rekko sappak ko aherak salewangeng atutu-i wi gauk e mu-po gauk i/ Apa iya-pa ri-tu ma-sero e ri sininna pa waju e iya-na ritu tettong-ngi e tettongeng maraja e apak tep-paja i ri-po gauk salewok e ten-na paja to na-sa pa-solangi ri aseng-nge gauk ma-salewok/
- Na iya onrong nge duwa mu-wa / Lino muwa na aherak/ Na iya duwan-na ritu sapak i belle si-laong careppak e/ si-laong gauk bawang nge/
- 1 7. ;\jak to mu-rennu-an-pekgang ngi abbijam-mu/ Apak taniya ritu abbijang nge / Iya mi-sia ri Alla Taala gauk pa-tuju e pa-pole deceng/
pckku muna peddik m u/ A-me-mase mase- ngem mu na-sangadin-na ko iya-na na-pa totorek-ko Alla-Taala sirik ten-ri ulle conga-ri wi/
- I 9. Na iya rekko iya-na mu-po wajj aleng ' mpela i-yeng ngi- tana mu ajak na-wanuwa laeng mu-lao i/ Madina gi mu- ' ov lao-i Mekka-gi-mu-alai/ Amalak mallari wi si o to ma- lempuk e na-pa isseng ri Alla Taala
4.20. Na iya to -k e lakkai-ye ita anak-daram-mu maneng ngi- ritu / Iya-to paimeng ajak mu-wereng ngi apa-sa lang pa- dam-mu tau / Pattaliu-ri to-i nawa nawa tes-sitinaj a e ri ale mu/ 4. 2 1. Iya na-e pap-pasen-na to-ma toa ri -olo e ri anek appo na / Ajak lalo mu-si tudangeng worowane si-padduwa iko makkunrai-ye/ Apak iya-tu as-si paduwa duwang nge ma-lomo na-uttama i sa tam-majak /
4.2 2. Ajak nak-keda atim-mu guru m a- ngatta tu-tobak / Na iya to-ma towa e gauk a-biasan-n a/ N a iya ma-lolo e gau k a-m a cinnan-na pole ten-na ulle peppang ngi / Na -i ya-na na-m a elok i mak-guru Na iya orowane tep- penno i ri makkunrai/ - TANIA U-PO MA-BUSUNG LAKK EK-LAKKEK I WIJA WIJ A TO MANG-KAUK MANURUN G NGE
- lya na ri-aseng Simpurusiang/ Iya tippang ngi Lompo/ lya to-na tippang ngi Talettu na -tompo to-na sa Dale- kok na ri Luwu /
5.2. Na-isseng ngi wawine na tompo n Luwu lao ni ma-nok-Simpurusiang/
- lya na ri-aseng Simpurusiang/ Iya tippang ngi Lompo/ lya to-na tippang ngi Talettu na -tompo to-na sa Dale- kok na ri Luwu /
- Na -pole-i ni wawine na toppok ri Luwu ri pat-tong datu ri Luwuk e/ 5 .4. Sita ni wawine na na-duwal-lisek anak na-jaji ang/ Seu
Cakkewa- buwa
5.5. Batari Tojan-na ri-pa tettong datu ri Luwu/
5.6. We Cakkewanuwa si-ala massappo-siseng ri-aseng nge Lin ru Talaga ri Urik Liung/ Pada makkunrain-na Dalakona- ri aseng nge Mattuppu Solo po-wanak i Lamala e/ Si-ala mas-sapposiseng/ Anak ni Batari Tojang ri-aseng nge We Mattengnga Empong/ Anek ni La Sengngeng/ Si-ala We Mata Timo/ Anak ni La Patau/
5.7. La Patau si ala We Tenriewa/ Anak ni La Potto Langi/ Anak ni La Pasangkading/ Anak ni La Padassanjati/
5.8. La Padassajati arung ri Tete Watu/ La Potto Langi si-ala Leleng Kawate/ Anek ni La Banturi/ Si-ala mas-sap- po siseng/ Anek ni La Passangkading ri Pammana/ Si ala ni ri aseng nge We Matere / Dasau aseng ri-anek na /
5.9. Anek ni La Panyonrongi/ lya na tippang ngi Baringeng/
5. 10. Anek-daran na La Pabanturi ri-aseng nge We Tempeb- d in-rona mallakkai ri Bulu bulu si-ala La Paliburi/ Anekni Tomajalusa/ lya na 'nrewek ri Luu mabbawine/
5. 11. La Panyonrongi mab-bawine ri Soppeng/ Si-ala T enri-Tabbire anekdaran-na La Makkanenga/ Anek ni La Male / Anek ni La Terengeng/
5.12. La Male mab-bawine ri Kebo si ala We Tenribau/ Anekni We Dolipona/ Anak ni We Sabbamparu/
5. 13. La Terengeng mab-bawine ri Tuwa/ Si ala We Aputta- jang Anek ni We Tenriadudu/ Anak ni La Sappe/
5. 14. La Sappe na si ala massapposiseng We Sabbamparu/ Anek-ni We Waliang/ Anak ni We Ijek/ Anak ni We Inal- le/
5. 15. We Walian na mal-lakka ·i ri Sale/ Si ala arung Sale-ri-aseng nge to-Lengnge/ Anek ni To Icou/
5. 16. To lcoik na ma-bbawine ri Anali si ala We Tenripali/
5.20.
5.2 I.
5.23.
5.24.
5.25.
5.26.
27
Anak ni La Page/ lya na arung ri Amali/ Anek ni To-Madewata/ To Madewata Mab-bawine ri Alimu si ala We Panurungi/ Anek ni We Maddewata/ We Maddewata si ala To Salesse aman na To Ammeng/ Duwa anek na-jaji ang na mate dua/ Si ebbeang ngi To Sa-Jesse mal-lakkai wi pa-imeng We Maddewata ko-ri Bunne si ala La Tenrigego anak borane na Dacule/ Eppak massiajing/ La Weddolipuk na mab-bawine ri Lornpengeng si ala We Duppa/ Anek ni La Koppe iya mu-to ri-aseng Puwang Ri tamang/ Mabbawine ri Soppeng si ala We Pautu/ Anek ni La Makkarangeng iya mu-to ri aseng To Lemba e/ Mabba-wine ri Alliwengeng si ala Tenrijarengeng na Pitu a-nek na-jajiang/
Anek ni La Sarangeng/ Tekelling; asen-ri anek na/ La-Mappasewang/ Seketti/ We Kocci/ We Paccing/ We T en-Sada/ We Araka ti /
La Sarangeng mab-bawine ri Telle si ala We Bowa/ Anek ni We Kelling/
We Kelling Mallakkai ri Watakka si ala La Sampe/ Anek ni La Magila / La Magila mab-bawine ri Pattojo/ Anek ni Datu Walie / Anek ni La Tenri/ We Tenrisada mal-lakkai ri Ujumpulu si ala La Malaka-Towappa aseng ri-anak na/ Anek ni Karaeng Loe/ Karaeng Loe mab-bawine ri Ganra si ala Matinroe n- Asseleng ri aseng nge Tenri Samareng/ Anek ni La Saliu / La Saliu mab-bawine ri Massepe si ala We Tenri Abeng/ Anek ni Dawanuwa/ Anek ni To Pajja/ Anek ni Dapage/ Anek ni We Rie /
Paca- kangi/ Anek n i To Wawo/ To Wawo na mab-bawine ri Gama si ala Tenri Samareng/ Dari e asen-ri anak na / Si tola i massapposiseng ri-aseng nge Karaeng Loe/ Anek ni La Bune/ La Bune mab-bawine ri Mario riwawo si ala We Tenri- sui Anek ni To Unru ri aseng nge To R isompa e/ Anek ni Da Ira/ Anek ni Daopo Anek ni Daeba/
TANIY A KU-PO MA-BUSUNG LAKKEK LAKKEK I WIJA
TO MANGKAUK MANURUNG NGE RI PETTUNG
5.28.
5.29.
6.
6. 1.
6.2.
6.3.
6.4. Manurung nge ri Pettung ri -aseng Simpurusiang/ Toppok e ri Busa Empong ri~aseng Patijala/ Iya-n a si -ala najaji Anakaji/ Na iya manunmg nge ri Majampai iya na ri-aseng Sella- malama/ lya-na sia-ala Batara Weli na-jaj.i Tappo Cina/ Iya-na si-ala Anakaji/ Na-ri wawa-na We Tappacina ma-rola ri Luu ri-lakkainna Si-ukkureng raung seppuk si -pitte wennang suttara ri ateu-i ri pa-wawan ngi ri-nan-na lao ma-rola ri Luu/ Nak-ko na ri Luu na-jaji-an ni We Mattengnga Empong/ Na-ko na ri Luu na-j aj i an-ni We Mattengnga Empong/ Na ri akkelongen-na ri nene na/ Mekkada i elon-na Inai anak ma-noda ri Lappa Tellang leu k ri lappolaling/ Bati-bati na anak se nri wijan-na Sellama lama ma nurung nge ri Awo Pettung/ Toppok e Ribusa Empong/ Tenri ulo na-palagi/ T ebbannang wa-e na-ola tel-lopi e na-po laleng Lete ri Wennang selampak suttara ri-a teu i Pasoro den-ngeng memariwu ri asu panting/ Aj ak na tuju-o/ Ajak na caddio-rio/ Sennang ngi siak ro-mai waniaga pole ren-reng silaja toweng nge dek e tana si-tekke na/ Dek-e jangkali kette na/ Dek e tai ma-rakko na/ Na-ma gelli na We Tappacina na engkalinga na elon-na matuwan-na/ Nas-sapu wan-ni uwae minnyak na/ Na
6.5.
- Makkeda ni datu e ri Majjampai/ Ma ra-o Anakaji mu- pole taddawan-rawan ri Majjampai/
6.8. Makkeda ni Anakaji/ Anrikku mai ku-ola i/
- Makkeda ni datu e ri Majjampai/ Ma ra-o Anakaji mu- pole taddawan-rawan ri Majjampai/
- Makkeda i datu e ri Majjampai/ Na-seng ngi ale na ri- waja ri ri-naure na wawine mu/
- 1 0. Makkeda i Anakaji/ Wereng mu-nak mai anrik-ku ku wawa i pa-rimeng lao ri Luu/ Na rekko na-pab-bekkaduwa- mui ada e pa-rimeng seajim-mu tem-makkina-nak pu- wang/
6.11. Na-ri pa lisu na parimeng ri lakkain-na/ Na-ri se- ngen-na tana angkan-na tana e manurung nge ri Majjampai na-si nonnoreng nge Sellama lama/ Na-ri curikenna tana na wawa i lao ma-rola lao ri Luu/ - Na-lao wan-na te Wage to Tempe/ To Singkang nge sila- ong tana na/ Na sessak na ri Cenrana/ Nak-ko 'nrap- peng ri Leppangeng/ Aga na-ri asen-na Tana Sitonrae/
- Aga lattuk i ri Luu We Tappacina/ Apa ma-raja ni anak na ri-aseng nge We Mattengnga Empong/ lya-na po-lak- kai wi Buwajae ri-aseng nge ( ... )/
- lya na jaji-ang ngi ri-aseng nge La Malalee/ Seuwa mak- kunrai ri-aseng Dalaiyamparani/
- Dalaiyamparani na ri-ala ri-aman na na-ri pa-nok ri-Urik Liung/
- Apak mad-dajuk ni La Malalae nok cemme ri salok e ten na-ri turuk/ Na-ri pa-enrekeng uwae ri bola e ri-pal- lopi-lopi tan-na paja mu-pa jojjok/ Mak-daju i-sa nok ri salok e/ Na-ri turuk mu-na rinan na nok ri saloke/
J 7. Nak-ko-na ri salok e ri duppai ri aman-na/ Na-ri pa-nok ri Urik Liung/ Na asera wenni tcngka na na-ri pa-lisu pairneng ri lino e/
- J 8. Na-ri pawawai na ri nene-na anak beccing/ Suji kama- patang-ngarek/ Lae lae/ Dapok dalihongeng/
- We Demmikoro asen na jujung-ngcng ngi dapok e/ Nai- ya to mam-pawa e lisu manem-mui ri Uri Liung/ Na-pa len-nek manem-mui wawa na ri atanang nge /
6.20. We Demmi ma-ni tel-lisu ap.ak nak-katau-reng ngi rep- pa wawa na/ Aga na onro na-sa ri lino e atawa-reng/ Na- pala na I Demmikoro mancaji ni bukkang/
- We Demmikoro asen na jujung-ngcng ngi dapok e/ Nai- ya to mam-pawa e lisu manem-mui ri Uri Liung/ Na-pa len-nek manem-mui wawa na ri atanang nge /
- PAPPASEN-NA PAJUNG RI OLO E ENRENG NGE ARUNG RI OLO E
7.1. Pannessa-eng ngi pap-pasen-na pajung ri olo-e enreng- nge arung ri olo e ri anak na ri eppo no/ Adek na rek ko na tujuik pas-surong ri arung mangkauk/ Tet-ta sa-ile i bola ta anak ta pattaro ta kuwaet-to pa dek mak kulle ri-po gauk rekko ri laleng pas-suro ng ngik/
7.2. Tem-mabbawine i/ Tem-map-pangaddi i/ · Tem-mangkauk ba wang ngi/ Tem-mala i sisseng-ngisseng/ Tem- mas-saro lellang ngi na rekko ri-laleng passuron-na i arung-mangkauke/
7.3. lya mu-to sa ta-nawa nawa a-jajin-na anu ri-suro ang- ngeng-ngik/ Enreng nge a-tem-m<.1rulle ta ku-wa e a-sa- lama ket-ta/
7.4. Apak iya to-na ritu ta-po asolangcng idik mak-kuwa e/ Mak-julekka i-ye elok arung mangkauk rekko ta-po gauk i se-kuwa e-ro pura ri ap-pe sangk<.1ng nge/
7.5. Kuwaet-to pa na rekko pole nik nangka ta-poleang ri laleng pas-surot-ta ta-paitang ngi mau ni aga muna/ Apak iya-pa 'ngka nangka ri-dik / Na iya-pa pa-lalo i ri-dik ta-inappa 'po-anu i/
Ta-i- nappa lao ri bola-ta/
7. 7. Ajak to ta-leppam-pule sangadin-na nakko na tuju-ik abbenning/ Tem-makkulle-ik monro ma-resso sala /
7. 8. Enreng nget-to pa rekko ri-tanra-i yang ngik wenni-Tem-makkulle i ta-lallo se-pasak mau ni tet-ta rapik- muna/
7. 9. Seko ni-ro ap-pakaritu tuk-ku iko powaseng nge anek ap po ku ku-elo-reng tern-mu ewa massarang/ ·
7. 10. Pan-nessa eng ngi pap-pasen-na puwat-ta Matinroe Tom- pok Tikka/
7. 11. Seppulo ritu seuwa tanran-na na-po jak tana e/ Seuwa- ni/ Puwang macaike e ri-pakaingek ten-na ma-ega ad- dam-peng/
7. 1 2. Ma duwa na/ Pabicara e mala e pasosok na-ma ega tam- pu
7. 13. Ma tellun-na/ To-ri amase-i, tem-map-pakaiya e/
7. 14. Ma eppak na/ Tes-si tuju e ri lalem-panuwa/
7. 15. Ma lima na/ Pan-nawa nawa tes-si tuju e/
7. 16. Ma ennen-na/ To lebbi tern-map-pa situju e/
7. l 7. Ma pitun-na/ Anek datu mangkauk datu e/
7. 18. Ma ruwa na/ Eppo datu mangkauk anek datu e/
7. 19. Ma sera na / Ata datu mangkauk eppo datu e/
7.20. Ma seppulo na / Suro sompungi e ada iya-gi na-kurangi- wi)
7. 2 I. Ma seppulo na seuwa/ Pa-lilik tern-ma b-bere we bicara/ Iya gi 'mpelai wi ulu ada/
8. PANGISSENGENG
8. 1. Passaleng pan-nessa eng-ngi rekko engka meong pute na
8.2.
8.3.
8.4.
8.5.
8.6.
8. 7.
8.8.
8. 9.
8. I 0.
8.11.
8.1 2.
8.13.
8.14.
lyal-na ritu ma-deceng/ Sama na-toto waram parang ma-lebbik punna e meong/ 1 Pan-nessa-eng ngi iya-na e pangissengeng mate/ Tem- makkulle-i duwa tau misseng ngi/ Rekko muni wi ciccak e ri osso e ri wenni eng-ngarek- ga/ Mula mulan-na/ Na rekko moni wi ri pura na sabuk- esso e na-ri lauk ta moni/ Tanrang-ngengka tau pole mam-pawang ngi/ Na rekko tangan-benni wi na oni/ Tanrang-ngengka mu- to tau pole mampa -wang ngi Na rekko lessok tanga-benni wi na-oni lattuk ri subue Tama mengkalinga i ada ma-jak / Ma duwa na rekko muni wi ri sunna alauk na ri-attang/ Tanrang-ngengka makkunrai ma-wek pole ri-dik / Na rekko ma-wek tanga-benni wi na-oni iya na-ni gauk ta-po gauk jaji wi / Na rekko tanga-benni wi na-oni/ Tanrang-ngengka ma-wek ta-po rennu / Na rekko lessok tanga-benni wi na-oni lattuk ri su bue Tanrang-ngengka sukkarak ma-elok pole i-kik/ Ma tellun-na/ Na rekko moni wi ri attang ri-pura-na labuk esso e/ Tanrang-ngengka kareba mate ma-wek ta- engkalinga/
Na rekko ma-wek tangabenni wi na-oni/ Tanra ma-wek i po-gauk deceng/ Na rekko Tanga-benni wi na-oni/ Tanrang-ngengka tau- ma-wek lari/ Ma-sigak muwakia 'nrewek/ Na rekko lessok tanga-benni wi lattuk ri subu e/Tanra ma-wek i mengkalinga ada ma-jak/ Ma-eppak na/ Rekko muni wi ri sun-na ri attang na-ri-
Na rekko tanga-benni wi na-onii T anra ma-wek i Jolo- ngeng deceng/ Na rekko Jessok tangan-benni wi na-oni/ Tanra mengka- linga i ada ma-jak / Ma ennen-na/ Na rekko moni wi su n-na ri-ajang na-m a- norang ri pura na labuk esso e/ Ta nrang-ngengka mak- kunrai ma-wek pole-i wi/
PANNESSAENG NGI GAUKEN-NA NAPPASEK E
20.
8. 2 1.
8.22.
9.
9. l.
9. 2.
9.3. Ta-isseng ngi to makkeda tongeng nge enreng nge ada tek-ku wa-e/ Rekko 'ngka Jemmak pole map-pau ri-dik / Ta-penedding ngi-ni nappasek-ta/ Rekko ri a tau wi nappasek-ta na-ri beo-ta map-pau e/ Tek-kuwa i ri-tu na-po wada e/ Ajak mu-wa teppe i- wi Na rekko ri abeo-i nappasek tana-ri beo-to map-pau e tongeng-ngi ritu na-po wada e/ Iya-na rekko ri-abeoi nappasek-ta na-ri atau to-map pau-e ajak mu-wa teppe- ri wi / Na-iya na rekko engka gauk mu-po gauk ita-i nappasek- mu / Ajak mu-wallupai/ Mau-wo Ja o ri-musuk/ Ri eloreng
9.4.
9.5.
9.6.
9. 7.
9.8.
- mu
aje ataum-mu to-na sa mu-pa lokka ri-olo / Na-iya rekko ri-abeo i aje beo-mu to-na sa mu-pa jokka ri olo/ lya-to pa paimeng ri sinin-na gauk mu/ Agi agi mu-po gauk agi agi mu-lao-i pakko-ni ritu gauk mu / Seuwa-to si paimeng rekko ri laleng ammusu-ren no na pole i-yo nengnga okkok i pol-lela mu/ Rekko ma-peddi mu-pi ajak mu-melajek/_ Rekko ma-lajek mu-po gelek-i lila dange dange-mu/ Rekko ma-gelek mu-pi ajak mu-ma-lajek/ Rekko ma-lajek mu-po lapek i dacculim-mu iawa-
li/ Rekko merung merung mu-pi mu-engkalinga ajak
muma-lajek/ Dek pa-ritu pole-i o angkan-na pitung- ngos-so e pitum-penni/ Ri olo mu-i Alla Taala / Nasabak ba-rakkak na nabit-ta Sallallahu alaihi wasallame/ Tem- mate-po rutu Tem-malok tok-ko apak dek-pa batelek/ Elo na-kua Alla Taala/ Seuwa to-pi paimeng/ Rekko mu-tta i ullung kuwa-e bu- luk tettong ri munrim-mu/ Mau dek-uwa ega-na balim-mu ajak mu-ma lajek tappo i-wi/ Ten-na tangek-ko ritu/ Na-iya rekko ri-munrin na-i balim-mu tettong ellung- nge ri-elo reng-ngi matutu/ Ajak mu-lao i-wi/ Tajeng- ngi lao-na ellung nge/ Rekko ri-beoellung nge lao ri beo- tok ko-sa lao i halim-mu/ Rekko lao-ri atau i ellung nge lao ri-atau tok-ko sa lao-i balim-mu/ Mai na Ma-inang si- turuk i nappasek mu ma-inang ma-decengngi Ajak mu- na-sa mu-allupa i-wi nappasek mu/ Seuwa-to paimeng/ Rekko ma-elok ko ri-makkunrai alala e/ Rekko ri-beo i nappasek mu ma-sigak i massuk man-nim-mu/ Na rekko jaji-ak ko anek/ Makkunrai ritu/ Rek-ko ri atau-i nappasek mu ma-itta i nas-suk mannim- mu/ Rekko jaji-ak ko anek/ Orowane ritu/ Seuwa to paimeng/ Makkeda-i to-panrita e/ Rekko ri a-beo-i nappasek mµ ajak. sa•na mu-anre sangadin-na ma lupuk wekgak-ko / Teng-ngancuruk i-ritu anu mu-an-
- Makko-ni ritu rekko ma-elok-kik pa-si amek i gauk ta nappasek-ta kuwammeng ngi nak-barakkak sinin-na gauk-ta/
.
- Makko-ni ritu rekko ma-elok-kik pa-si amek i gauk ta nappasek-ta kuwammeng ngi nak-barakkak sinin-na gauk-ta/
9.1 I. Nas-situru si-wi to-panrita e maseng ngi nappasek a-tau we matan-na ia esso e/ Nappasek beo e matan-na i uleng nge / Rekko dek i-ritu duwa e tes-sakkek i eng-kan na alang ma-raja e enreng nge alang ba-iccuk e/ 9. 1 2. Ko-to sa rekko dek i matan-na esso e enreng nge uleng nge tes-sukkuk i paddissengeng/ Ri atau i nappasek na ten-na pole i-wi lasa cekkek/ Ten-na sedding to-i anu ma-moso e/ Ten-na uttama-i to-i urang parakang/Ten-na uttama-i to-i urang paragiagi/ Ma-lolo pulana to-i ri ta / Na-raing pulana-to i assek na tubut-ta/
9. 13. Na iya rekko na-pole i-o lasa cekkek/ Ta-pa ri-atau i nappasek ta / Kuwammeng ngi na lisu ma-pella ma-cekkek e/
9. 14. Na iya rekko na-pole i-o lasa pella / Ta pa-ri abeo-i nappasek ta/ Kuwammeng ngi na lisu ma cekkek ma-pella e/ 9. 15. Apak iya ritu nappasek e tes-si turuk-ritu ascn-na / sa ngadin-na nakkok ma-elok ia lele ri -beo nappasek atau e/ Ma elok arek gi lele ri-atau nappasek beo e enreng nge rekko tak-kinik ki te-ri arek gi aj u ma-tanre/ Ta ma- geang/ I 0. BICARAN-NA T AUNG NGE I 0. 1. Pan-nessa eng-ngi seu wa bicaran-n a taung nge tas-si taung nge ma-jak e ma-deceng nge/ Taung-ngalepuk ia ma lampek i bosin-na/ Ma decet-to i pa-dangkang nge/ Ma decet-to i pabbaluk e ri pottanang nge/ Tem-mak-
lo-i ase/ Tengnga-mu-i pattaungeng nge/ Sawe i buwa na ajukajung nge/ Ru gi wi pa-dangkang nge /
I 0.4. Taung-ngi Ze i/ Si-tuju i pella na cekkek na/ Si-tujui lempek na/ Tern-ma sero to-i mak-kanre karek e/ Ten- rugi to-i pa-dangkang-nge/ Tern-ma sero to-i
I 0.5. Taung DALENG RIOLO I/ Ma poncok i bosin-na/ Ma dodon ngi angin-na/ Ma kurang ngi lempek na/ Na-ma sero-cekek na/ Ma dodong ngi pattaungeng nge/ Ma ku- rat-to-i buwa na ajukajung nge/ Mat-tawam-mu i pa- dang-kang nge rugi-e saro-e / Ma-ega to makkunrai mate ma! lureng/ Ma lomo to-i mak-kanre api e ri lalem-pa- nu wa ma-ega to tau si-gajang/ I 0.6. Taung BA i/ Ma poncok i bosin-na/ Ma dodotto i angin na/ Ma-sero i pella na / Ma dodong ngi pat-taungeng- nge / Mat-tawang mui padangkang nge rugi e 'saro e/
10.7. Taung WAU/ Ma-lampek ia bosin-na/ Ma-kerring ngi tern-ma raja to-i lempek na / Si-tuju tuju-i pella na cekkek na/ Ma deceng ngi pat-taungeng nge/ Tem-makkanre i olokolok e/
10.8. Taung DALENG RI MUNRI/ Tengnga i bosin-na/ Tem- ma ke ring to i angin-na / Tengnga mu i pat-taungeng nge /
11. PANNESSA-ENG NGI BICARAN NA OMPO NA ULEN
NGE MA-JAKE MA DECENG NGE
- l. Dek uleng ma-sala ri-lao wang na rekko na-si tujuwam
OSSO ANNYARANG NGI asenna Iya-to na nak-di tana naga e/ Ma deceng ngi ri-lao-wang mabbaluk/ Ma-deceng to-i ri-allangi-reng/ Ma- si-gak to-i talara/ Ma decet-to j ri-appalili-reng ga-lung/ Ri-appa no-rang bine/ Ri taro-wang anu mabbuwa bu- wa / Ma-jak ri•tarawang tennung/ Ma-jak to ri-botti ngeng/ Ma-jak to na-jaji ang-nganek tengnga tau-i na mate/ Alla Taala muwa 'misseng ngi/ Ma-jak ri-akkab- bureng bola/ Lesap-pi esso e na-ma deceng/
11.3. Duwam-penni ompo na uleng nge OSSO JONGA I asenna/ Tad-dewek-ken-na i naga e/ Ma deceng puppuk osso/ Agi agi ri-po gauk ma-deceng ngi na rekko dek to aga tu-ju i/ Ma decet-to ri lao-wang riwanuwa/ Mang-ngolo maniang ngi na !auk pang-ngolonna/ I 1.4. Tellum-penni ompo na uleng nge / OSSO SAPI WI asenna Ma-jak puppuk esso i/ Agi agi ri-po gauk ma-jak i/ 11 .5. Patam-penni wi om po na uleng nge/ OSSO MEO NG NGI a-sen-na / Ma-jak ri-abottingeng/ Ma-jak to na-jaji- ang nganek/ Ma-deceng ri-lao wang ri seuwa wanuwa/ Majak ri-attanet-tanengeng/ Ma-deceng ri-appalilireng ga-lung/ Mang-ngolo alau pang-ngolon-na/
11.6. Limam-penni ompo na uleng nge/ OSSO DAREK I asen-na/ Ma-jak puppuk esso i/ Dek decen-na/ Agi-agi ripogauk ma-jak maneng ngi/ J l. 7. Enneng ngi om po na uleng nge/ OSSO TEDONG NGI asenna Ma deceng puppuk esso i/ Ma deceng ri-abottingeng/ Ma decet-to na-jaji ang-nganek tengnga taup-pi na-inap-pa menrek dallek na/ Agi-agi ri-po gauk ma-de- cerygngi
OSSO ULAK I asenna/ Ma-jak ri-abottingeng/ Ma-jak to na-jaji ang-nganek/ Ma-raddek i ri akasiasi-ngeng nge/ Tenri taro-wang-ase/ Tenri selluk-keng ri baruka/ Ma-deceng ri-appa-sa.nre- keng addeneng dek-na ma-buwang/
11.9. Aruwa ompo na uleng nge/ OSSO BALIPENG NGI asenna/ Ma decen-ri abottingeng/ Ma-deceng na-jaji ang-nganek-anek/ Ma-decet-to ri-lao-wang ri seuwa wanuwa/ Agi-agi ri-po gauk ma-deceng maneng-ngi/
11. I 0. Asera ompo na uleng nge / OSSO ASU I asenna/ Made- ceng ri-lao wang ri seuwa wanuwa/ Ma-decet-to ri-assa- ngi-sangi reng/ Ma-decet-to ri-taro wang bine/
11.1 I. Seppulo ompo na / OSSO NAGA i asenna / Ma-sigak i mak-jappa/ Alla Taala muwa misseng ngi sibawa suro na /
12. PASSALENG PANNESSA-ENG NGIP-PO WADA ADA-ENG NGI PAP-PA SENNA ARUNG PEDECENGIENG-NGI TANA-NA ENRENGNGE BICARANA 1 2.1. Makkeda i arung ri-olo e/ Iya-na ri-aseng nge nawa-nawa pa-tuju tettop-pi ri-a-waningeng nge na-ma deceng/ Na-iya ri-aseng nge a-warani ngeng sanrek pi-ri nawa nawa pa-tuju e na-ma deceng/ Na-iya gauk na duwa e ma-jeppy lempuk pa na-tettong-ngi na-jaji / I 2. 2. Makkeda i pap-pasen-na arung ri-olo e ri anek na / A- tutu i-wi cappak lila mu / Apak iya ri-tu lila e pa-Io ki tep-pudu pudu sau /
12.3. Ma duwa naajak mu-elo ri-wi nok wenni e/ Kaminang ma ri awa ni nakkok tai mu-lejjak/ Ajak to mu-ma elok ri minreng nge mu-wabbelle/ Apak iya rekko mabbelleo isseg-gi matuk nak-kuwa na tengeng na-dek na ma-tep- pek tau e mu-po ada e na-takkala o ten-ri ateppe-ri
13.4. Makkeda i arung ma-Iempuk e/ Iya-na na-rekko pabbel- leng ngi tau e ri-ma lolo na tep-pinra i-tu Iattuk-ri-ma
empuk e/ Ku-ma lomo-asl
- Makkeda i-sa a rung ri-olo e na-ma lempuk/ U-ma lomo- wang to-i sa bali e ada na-iya 'mpinruk e ada/ Apak engka-sa nattuladdeng ngi/
13.8. Makkeda i karaeng-nge ma-towae/ Nigi nigi ri-beta wa nuwan-na ten-na isseng ngi-ritu ad ek to-ri olo e/ Tan ra tern-mole ni ritu/
13.9. Makkeda to-si sa Matinroe ri Ujung Tanae/ Iya-na ri-tu tau engka e nawa nawan na to-ma reppek ritu ri-Alla Ta ala /
- Makkeda i-sa a rung ri-olo e na-ma lempuk/ U-ma lomo- wang to-i sa bali e ada na-iya 'mpinruk e ada/ Apak engka-sa nattuladdeng ngi/
- Makkeda-to pi paimeng/ Nigi nigi tettang ngi sirik e si-la ong tauk e tern-man caji tau ni ritu/ Mukak dek-na sirik na enreng nge tauk na/
13.11. Makkeda to-si sa paimeng arung ri-o lo e na ma-lem-puk / Tellu gauk temmakkulle i ri-accuppu ri/ Mam-mu suk e mau-ni mu-warani muna/ Ma-duwa na mau ni mu-ma watam-muna tem-makkulle i ri-cuppu ri / Ma tellun na/ Tana-em-mani mau ma-panre mu-manak tem-makkulle i ri accuppu ri/ 13. 12. Makkeda to-si sa arung ma-lempuk e na macca/ Iya to bebek e ma-sigak i mannawa/ Iya appongen-na pangisse ngeng nge ma-ingek e/ Iya appongen-na waramparang- nge makka-ri tutu e/ Makkeda-to pi paimeng/ Kami- nang bon ngok ni rekko nyamek-kininnawa ri-sumpung- ngi sara-inin-nawa/
- Makkeda-to pi paimeng/ Nigi nigi tettang ngi sirik e si-la ong tauk e tern-man caji tau ni ritu/ Mukak dek-na sirik na enreng nge tauk na/
13.13. Mak-keda to-si sa arung mangkauk e/ Makkeda i arung macca e na-ma tanre sirik na-ma tanggak/ Tang ngak i ri-olo gauk e/ Ma-decep-pi assama turu-sen-na jemmak e mu-inappa tangngak i ada e mu-inappa pak-ke onrong ngi tau si-tinaja e ri-pa tudang/ Saman-na i arung mangkauk e ri pe-longko ri na-rekko tes-sama turuk i ada e na-lao ri-pakke onro/
13. I 4. Mak-keda to-si sa arung nge/ lya na-rekko 'ngka gauk menrek ri-tampa-i ak-ko ri~duppa i-po mu-lao/ lya mu teppu-wangang ngi makkeda e barak sala pa-rengkali- ngai-i to-ri suro e/ Na iya rekko gauk a-solokeng mau ten-ri duppai-yo lao ko/ Ko-ma cenning ngi atim-mu/ Mau sala pa-rengkalinga to-ri suro e tern-ma longkok- tok-ko/ 13 .15. Makkeda-to pi/ Rekko ri-yas-suro tampa-i wi ri arung mangkauk e na tudang ri laleng ngalawa tengnga ri-ka siwiang-ngi/ Ri-suro i ri-olo mut-tama to-ri suro e tampa-i wi/
13.16. Makkeda-to pi/ lya tu arung ma-raja e/ Ri~pa wekkek- wekkek i/ Na-ri yaja reng ma-deceng/ Balakang ma-deceng ngi ritu/
13.17. Mak-keda-to pi/ lya ri-~seng nge arung ma-lebbik/Si-tinaja i ri-kari tutu i ri-aseng nge arung/ Ka-ritu-tu i adek mu enreng nge rapam-mu/ Apak iya mi ak-ka-te- nin-na tau tebbek mu/ Na rekko ten-ri karitutui wi a- rusaken-na na-po cappak/
13.18. Ma-keda to-si sa ( ... ) ri Batang ri pajuHg nge/Aga wawa mu kamo/ Na-ta rompok warani-ngem-mu 'lattuk uraik/
13.19. Mak-keda i pajung nge/ Dek wawa ku iya/ lya muwa du- wa-e kuatenni/ Matem-muwa si bawa tuwo e/ Narekko na rapik ni a-matengek-k1=1 mate-nak/
13.20. Na-ri tampa i garek ri-lau ri-tuwan-ri Batang/ Makke da i/ Engka na palek le mu-lolongeng/ Na-inappa na-ri-pau wang paimeng ritu arung nge/ Aga wawa mu/ Makkeda i arung nge iya muwa u-wakkatenni Tern-mate/ Tu woe/
13. 21. Na-ri po wadang garek ritu a rung nge/ Na-inappa-siri-pau wang makkeda e kaminang ri-awa na-ni tetto-ngen-na to-warani e saman-na e pasok ri-baddilik /
13.22. Na iya ri wawo na a-warani-ngeng nge pura a map-pal- loppo baddilik na/ Na-si sere ang/ Na iya kaminang- wa wo-na pa mal-lempu-ki eng-ngi balin-na/
13.23. Makkeda to-si sa arung-nge seuwa e/ Rekku wa ma-elok ko tettong ri musuk e iya memen-na mu-tettong-ngi ma pepek e/ Na-rekko ma-pepek pi mu-inappa ma-elok tet- tongi tem-mulle na ritu/ Aga u-wakkeda ia-na tu ri-aseng tettongeng ma-pepek/ Ma-ngatta i memeng-ngeng- ngi a-tettongeng-nge/ Ajak mu-si olo-pa mu-inappa- tangngak i/
13.2 4. Ia-na tu ri-aseng to-ri atta na rekko pura mu-tetto-ngi memeng-ngi tel-lattuk ni ko-ria/ Apa mau ribuang t?u we mu-ewa e si-tettongeng onro-i to ni sa 'malo-gai-ye ininnawam-mu na rekko si-olo no balim-mu en-reng nge pura manet-to ni mu-pattinettak tau ma-ega-mu / Mak- koni ro ri-aseng nge gauk ma-pepek ri teto-ngeng ma-pepek e/
13.25. Mek-keda to-i paimeng/ lya sarak na mat-tappik e na rekko ptira ni ta-pa kalu tali-bennat-ta/ Tat tennin-ni pangulu tappik-ta ta-tanrek i ri ulu wati-ta/Nak-keda riawa nawat-ta pe-nak ga monro si-gajang/ Riasen ngi tet takkinik-kinik ininnawat-ta rekko makko-niro gauk ta/
13.26. Iya-to na ri aseng misseng mat-tappik na-rekko engka mu-lao i mu nok-na ri tana e iya na ri-nawa nawam-mu mak-keda e pole pegi mai ujung nge/ Nakkok mak-ko
na~lempu ri padam-mu tau / Apa gi sa ala nal-lemmpuri e atam-mu /
13.29. Mak-keda-to pi paimeng/ Rekko gauk saung na-po gauk arung mangkauk e tel-lao ik na rekko ten-na tampai- wik/ Na rekko na-pole i-wi sara arung mangkauk e mau ten-ri tampa-i wi lao to:&&
13.30. Mak-keda to-i/ Jya adek na tau deceng nge tem-mut-ta mak i ri bilik e/ lya ri-aseng mut-tamak ri bilik e dek eng-ngi punna bola e ta-enrek ri bola-na tau e / ta-ita- iyang anek na/ appo na/ pat-taro na /aga agan-na apa gi na-bola na ri wawo-ta/ 13 .3 1. Mak-keda to-i to-ma tow a e/ Jya adek ta rekko lao w i arung mangkauk ta lao-ik ma-rola/ Mau ten-ri tampai- wik lao to-ik rekko dek to ri-suro wang ngik / Kuwaet to-pa paimeng ri anek t a ri wawine ta/ Tem-mabbere i pas-solok akko ma-doko i/ I 3.32. Mak-keda to-pi/ Iya adek ta tau deceng nge enrengnge adek ta idik maseng-ngeng ngi ale ta jowak to deceng Tep-pattenni-eng ngi kaliao puwat-ta/ lya ri-aseng-pattenni kaliawo ajjowa ren-na pangassung-ngassung- ngeng ngi mam-musuk puwan-na/
13.33. Makkeda i Karaeng nge Ri Mencana/ Taniya tu paddek a salang tau deceng nge gauk laing nge iya-mi satu pad dek tau deceng pabbeleng-nge/ Apak iya ri-aseng ng(
I 3.34. Mak-keda tosi-sa Karaeng-nge / Nigi nigi bola-i wi ga uk eppak e rupan-na/ Mula-mulan na me-Jori eng-ngi-Alla Taala/ Ma-duwa na me lo-ri eng-ngi passuron-na nabie/ Ma-tellun na me-lo ri-eng ngi arung nakasiwi-yang-ngi e/ Ma eppak na me-lo ri eng-ngi atan-na/ Mau ni tern- rnadeceng tau 'ku-wa e bola-na na-ritu deceng-nge na onro i/ J 3.35. Makkeda-to pi / lya na si-tinaja tau engka e nawa na- wan-na/ A-tutu i-wi a-tuwon-na/ Ma duwa na a-tutu i-wi Jisek bola na / Ma tellun-na a-tutu i-wi passuren-na ada ada e/ Apa iya ritu ri-yaseng nge ada-ada eng ka olo-na engka to ri-munrin-na/ Engka to kanan-na engka-to beo na/ Ma-eppak na tutu i-to i ala ma-bu-wa-na tep- pek na/
13.36. Makkeda to-si sa Matinro e ri Ujuntana/ Rekko na-e Jo ri-wi parengkalingam-mu na-ma decen-na bettuwanna Makko ni-tu ada ri-ulaweng-ngi e/ Apak deksa ada ri-ulaweng-ngi/ lya mi-sa tu na-ri pau makkowa e makkeda e ri ulaweng-ngi ada e/ Tangngak ma-maneng-ngi ri munrin-na ada e ri olo-na/ Apa iya ada ma-deceng-nge rn a-lempuk pi na-ma getteng na inappa ma-deceng/
13. 37. Na iya inawessu-e pada i paddainge laing enreng nge a- waraningeng nge/ Ma-jak sa-tu/ lya rita ri-ati e nawa- i maneng-ngeng ngi gauk e/ Iya-mi sa mu-tang ri ale mu gauk ri-assama turu-si e ri tau ma-ega e/ Mau ma-buwak- ko tas-sanre mu-ko/ Iya mu-na sa mu-wakka-tenning pura -na kuwang nge Alla Taala dek na-sa tek-ku wan-na/ Makko ni-tu pura na-taro wang ngek-ko to-ma towa-mu/ J 3.38. Seuwa-to si makkeda-i adan-na had desek e/ Atutu-i wi lisek na lino e nakka-ri tutu-in na-ko siak Jisek na langik e ma-lebbik e enreng nge ma-tanre na iko / Ka- minang decen-na ri-tu gauk si-tuju tuju e ( ... )/ gauk lao
e. Enggerang-ngi wi ma-deceng ngi mu-engngerang to+ pap-pe decen-na tau-e mu-allupai wi-sa pap-pe dem-mu ri-tau e/ Mu-allupai to-i pap-pe jak-na tau-we ri ko /
13.41. Rekko lao ko ri-bola na tau-we a-tutui wi timum-mu/ Na-rekko mak-kasiwiak-ko ri arung nge a-tutu i-wi a-dek e/ Na rekko ko-ko ri olo-na to-panrita e a-tutui wi kedo atim-mu/ Na-rekko mu-olai wi anu ri-anre an re a-tutu i-wi ellom-mu/ lya rekko lao ko ri~ lo-na arung mangkauk e atutu i-wi kedo mu enreng nge ukkak timum-mu enreng nge adek mu/ Aja mu-tallallo lallo pangkaukeng ri bola na arung mangkauk e/ lya-na ro seku-wa e ku- paseng-ngek-ko ri-anek appo-ku/ Na sea-ga ni itta-ku mak-kasiwiang ri-arung nge na-tang-ngi nang engka gauk-ku tal-lallo lallo / Teng-ngengka-to gauk-ku tal-lallo lallo/ Teng-ngeka-to gauk-ku tappa sulung/ lya-mi ma- nasa ku po-gauk ma-rola eng-ngi ri adek na arung nge mangkauk-e/ Enreng nge po-gauk eng ngi pas-suron-na Alla Taala/ Mu-nini ri-wi anu nappe sangkang nge/ Se-ko ni-ro adak-ku ri-anek appo-ku Ku-pasengek-ko/
13.42. Mak-keda to-si sa adan-na kali matowa e/ Tenna me- neng ri-timbang ngi langik pitus-susung nge si-laogn tana pitul-lapik e lollong lisek ri-pa sibali-angngi iya ro gauk e
Nia kkeda to-i paimeng/ Patap-puwangeng gauk tem-mak-kulle-i tengka ri-tau e eppak e rupan-na/ Mula mulan na to-bongngok e tem-maka ri-pau wang gauk bati/ Ma-duwa na tem-maka ri-pau wang gauk. allaibiningeng/ Ma tellun-na anak anak e tem-maka ri- si laongang ri gau ri- sobbu e/ Map-pana tau tem-makkasiwiyang nge ri-mangkauk e ri-to panrita e enreng nge tau tem-makka-siwiang- nge tem-maka ri-pau wang ngada/ 13 .44 Makkeda-to pi paimeng/ Patap-puwangeng-ngi patted deng sirik / Mula-mulan-na ma-sero elok e ri-anu na-elo- ri e/ Ma-duwa na lupuk tal-lallo e/ Ma tellun na mangkauk tal-lallo e/ Ma eppak nama-sekkek ta! lallo e/
13.45. Makkeda-to i paimeng/ Patap-puwangeng ngi tem-mak-_ kul le i tem-mompo ri-eppak e rupan-na/ Mula mulan- na Tau 'ngka e onrong na-onro i/ Tem-makkulle i dek ga-uk ma-watan-na/ Ma duwa na / Tau 'me-wa e/ Tem-makkulle i dek gauk ma-sero na/
14. PASSALENG PANNESSA-ENG NGI PAPPANGAJAK NA
ARUNG RI OLOE NA MA-LEMPUK NA PACCING ATE-
KAK NA
- Engkalinga i adak-ku urampe-ak-ko matu gauk made- ceng gauk ma-jak/ Mu-po gauk ia gauk majak e ang-ngile- o lao ri-ma deceng nge/ Pe-bela i- wi ale mu ri gauk ma jak e mu-asse ri-wi gauk ma-deceng nge /
14.2. Tellu i tanran-na to-mangkauk bawang nge/ Seuwa-ni/ Gauk bawang-ngeng ngi padan-na ri-pancaji/ Ma duwana Kira-kira eng-ngi padan-na ri-pancaji/ Ma-tellun-na/ Ten-na tumaning-ngi wi pole na dallek na/ Ten-na is- seng ngi hallalak na enreng nge haran-na/
- Engkalinga i adak-ku urampe-ak-ko matu gauk made- ceng gauk ma-jak/ Mu-po gauk ia gauk majak e ang-ngile- o lao ri-ma deceng nge/ Pe-bela i- wi ale mu ri gauk ma jak e mu-asse ri-wi gauk ma-deceng nge /
14.4.
14. 5.
14.6.
14. 7.
14. 8.
14. 9.
Pab- belleng ngi/ Ma-duwa na/ Mallupa i-yeng ngi jan cin-na/ Ma tellun-na/ Nagarak i tau e na-rekko ri-pa kaingek i/ Na-iya tau tengeng nge tellu i tanran-na/ Seuwa ni/ Na-nini ri-wi harang nge / Ma duwa na/ Na-sappak-i pang-ngissengeng nge/ Ma tellun-na/ Ajak na-po gauk i gauk amadosang-nge/ Tau ke-nawa nawa e tellu-to tanran-na/ Seuwa ni pa-ka tuna i lino na/ Ma duwa na na-po wampe i ma-sirik e/ Ma tellun-na sabbarak i na-pole i abalak / Na iya tau cinna mate tellu i tanran-na/ Seuwa ni pa katuna i-yeng ngi parellu e na-pa relluang nge Alla Taala/ Ma duwa na ma-tebbek ada e ri laen-na e Alla Taala/ Ma tellun-na/ Ma tauk e po-gauk pak-kasiwiang ri Alla Taala / Na iya to-ma terek ati e tellu-to i tanran-na/ Seuwa-ni ten-na pa-kalebbik i towana na/ Ma duwa na/ Ten-na pa-seko i dallek na/ Ma · tlelun-na matauk e mala pang- ngajak/ Na iya to-ri pa-katuna e ri Alla Taala tellu-to i tan ran- na/ Seuwa ni ma-ega belle e/ Maduwana, maega tanro ale-na/ Ma tellun-na ma-ega aluk e ri padan-na tau/ Na iya to-ma nekek e tellu-to i tanran-na/ Seuwa-ni rek-ko mab-bere i na-biccong ngi pab-bere na/ Narekko ri-ellau i-wi mak-jangiru i rupan-na/ Na-rekko ri-pa-pole i-wi totok tes-sukkuruk i/
deceng nge/ Se-caeca na tau we ri Alla Taala ma-lam- pek e sungek na na-ma jak gauk na/ Map-pannesa nes- sa e deceng ten-na po-gauk/ Ten-na tobak ri-olo ri tem- mate na/
jeppu tau dek e sellao na pada to-i sa dek e ( ... ) Pe-
- l 0. Si-deced-decen-na ni tau ri Alla Taala mangkauk ma-
- lya-to ku-po wadak-ko/ Pe-tebbe ri-wi sellao mu/ Ma-
se(ljing tonget-tongeng nge/Iya-na tu ri- yaseng se-ajing tonget-tongeng dek e barengkaukna na-me lajek ri Alla Taala/
- Iya-si ku-po wadak-ko iko anak appo-ku e/ Enreng nge tau ma-egae/ Patap-puwangeng ngi 'mpuno i ati e/Seu- wa-ni ma-tebbek ada e/ Ma-duwa na ma-tebbek anre tal lallo e osso-na/ Ma tellun-na tel- la ll o e tinro na / Ma eppak na tal-lallo e acca na/ J 4. 13. Limap-puwangeng to-i pa-tere ki-wi ati e/ na-rekko ma- terek ni ati-e ma-kuran-ni teppek e/ Seu wa ni a-dosang nge/ Ma duwa na manre tal-lallo lallo essok e/ Ma tellun-na ma-tauk baweng nge / Ma eppakna anu ma-deceng nge naseng ma-jak/ Ma lima na manre-minung nge na- beo na tirnpuk/
- IYA-NA EADA NAS-SI TARO 1-E PETTA MATINROE RI TOMPO-TIKKA TO WARE TO PALAPOE I 5. l. Na s-seri wi ada e ri-pasengeng-ngengi ko-ri Petta Ma tinro e ri Tompok Tikka/ lya na-e na-pau makkeda-e/ Puwang ri-pa kaingek eng-ngak / Mu -wata sala ri-patu-tu/ Puwang tep-palleok leok/ Datu ten-ri atik sulo /
15.2. Makkeda-ni to-Warek e ri datu e/ lya palek rekko mu- wallupa-i adan-na to-ri olo-mu rikkeng atam-mu to-Wa rek e na-po mate-ni tana mu/ Na-po ma-solang ngi tau ma-ega mu enreng-nge atuwo-tuwom-mu / Na-si 'kadon- na adan-na datu e na-to Warek e to-Palopo e/ 15 .3. Na-pura na si-kadong na-tetton-na mang-ngaruk te-Wa-tek e to Palopo e/ Nakkeda-na datu e ri Luu/ To-si a la lomo-pa/ Ri-ewa pi ma-polo lempa-reng/ Si-tinaja mu-to i-ha ten-na onro-na na-ma kessing-ngampe na-ma deceng-ngabbati-reng/ Ag u-wakkeda ko-ri tutui -wi tana mu a-pam-maseang-ngi adek map-pura onro mu/ Anu dek mu-wa tu solangi-eng ngi tana mu na-po ma- rus-sak i tau ma-ega mu/
Pada na-sappareng- nge nakkeng deceng datuk-keng/ Aga na-iya tomrpa-ni sa ki-karitutu i adan-na puwak-ki na-po tanro e ri lon- tarak e na-s-ssoreng wijak-ki/ Tek-ki acinnai-yangngek-ko pompola ma-lampek/ Ulaweng tasek/ Tem-menre- keng-ngek-ko ri buluk ma-tanre/ Tek-ki sellukang-ngek ko ri a-lek ma-terek/ Akata-ngekki ri-pajung to Warek e ri-datu to Palopo e /
- ASSUSUNGENNA TELLUMPOCCO E ENRENG NGE CAPPAGALA E
- Passaleng pannessa eng-ngi iya-na e arung matowa ri-Wajo / si-anre anre-ni wijan-na Luwuk e to Warek e to Soppeng-nge/ Assusungen-na Tellumpocco-e enreng- nge Cappagala-e/
16.2. Iya-na e lakkek-lakkek i arung matowa e ri Wajo / Ajak na-to ma-busung 'nrampe-i wijan-na arung mangkauk-e
16.3. La Temmalala asen-na Manurung nge ri Sekkannyili si- yala manurung nge ri Suppa / Po-wanek i La Maracinna/
16.4. La Maracinna po-wanek i Lamba/ Po-wanek i We Tekka Wa nuwa/
16.5 We Tekka Wanuwa po-wanek i La Makkanengnga/ Po-wanek i La Pasampoi/ · 161 { La Pasampoi po-wanek i Sorkmpalie/ Sorompalie po- wa-nek i La Mannusa/
- Passaleng pannessa eng-ngi iya-na e arung matowa ri-Wajo / si-anre anre-ni wijan-na Luwuk e to Warek e to Soppeng-nge/ Assusungen-na Tellumpocco-e enreng- nge Cappagala-e/
- La Mannusa po-wanak i Toakkarengnge Matinroe Rita- nana Po-wanak i La Demma Bolong nge/ Powanak i La Sekati-Mallajang nge ri Seleng/
Se Ieng powanak i La Mata Esso Polli- pu e/ Po wanak i La Malleppe Patola e/ lya Mattellum- pocco mallamum-patu Timurung Bone Wajo Soppeng/
16.9. Beo e-na ri-ala Soppeng ri Gowa ri musuk na Selleng- nge/ Po-wanak i La Tenribali Matinroe Ridatun na/ lya ri-beta ri Gowa na-ri laling lao su ri Mangkasak e/ Nak- ko na ri Sange ri-taro/ Nangka na Torisompa e si-bawa ri-aseng nge Balanda na-rumpak i Sombaopu na-pa re- wek i paimeng ri Soppeng makkarung wanuwa/
16. 10. Powanak i We Adang Matininro e ri Madello / Pa-welain- na na We Adang ri-ala si Arumpone datu e ri Soppeng ri-aseng-nge La Patau/
16. l l. Anak-burane na We Adang ri jollo datu ri Soppeng ri- seng nge To Esa Matinroe ri Salassana/
16. 12. Matinroen-na Risalassakna iya-na mabbawine Malaju/ Pa-welai si To Esa ri-ala si datu e ri Soppeng La Patau Matinroe Nagauleng/ Mak-karung to- i ri Bone/
16. 13. lya-na po-wanak i La Padassajati Arung Palakka Matin-- ro-e ri Beuwa/ Mappodo worowane i La Pareppa To Sap- pe ali Matinroe ri Sombaopu/ Karaeng to-i ri Gowa/ Mang-kauk to-i ri Bone/ Ri-pa lessok i datu/ Na-ri ala- si paimeng datu ri Soppeng/
16. 14. La Padassajati Po-wanakdara i Batari Toja Settaenabe-Matinro e ri Tippulu e/ Makkarung to-i ri Bone Wajo /
16. J 5. Na-ri pa-lessok riadatungen-na Batari Toja/ Na-ri-tola ri Laoddang Matinro e ri Musukna/ Karaeng to-i ri Tanete/
16.16. Na-iya Pa-welain-na La Oddang ri-ala si paimeng datu ri Soppeng Batari Toja/
16. 17. Matinro e ri Tippuluk e po-wanakburane i La Temmasso Ngek Matinroe ri Mallimongeng Sultan Aedu Rassake/ Map-podoorowane i La Tonge datu e Laesu Matiilro e ri Lonang/ La Mappajanci Daeng Massuro Sultan Musa Pollipuk e Matinroe Laburaung/ La Mappalioro Sultan
Nuhung Matinroe ri amalakna/ lya-na ro sompe lao mabbawine ri Luu/
- Na-po wawine wi E Baru Sitti Hawa na-jaji-na E Addi-Luu/ La Oddanriu/ Pamadellette/ Tangaduwappulo i sini siama/ I 6. I 9. Matinroe riamalana mabbawine ri Luu / Pada bocco/lya-na ro wawine-na pajung ri Luu na-ewa si-sekkoreng a-ga na-pada pajling ri Luu/ Anek nas-sibaling-ngi naro ri aseng nge arung Lapajung Matinro e ri barugana/
16.20. La Unru-na datu ri Pattiro Matinro e ri Tengngana-Soppeng/
16.20. La Oro na datu ri Lompulle na-ri pa-lessok ri Soppeng ngarung Sengkang ri-wettu lao-na ri Luu Suletan Ahe- made Matinroe ri Watu/ lya-na ro makkontara Balandae/
- Na-po wawine wi E Baru Sitti Hawa na-jaji-na E Addi-Luu/ La Oddanriu/ Pamadellette/ Tangaduwappulo i sini siama/ I 6. I 9. Matinroe riamalana mabbawine ri Luu / Pada bocco/lya-na ro wawine-na pajung ri Luu na-ewa si-sekkoreng a-ga na-pada pajling ri Luu/ Anek nas-sibaling-ngi naro ri aseng nge arung Lapajung Matinro e ri barugana/
- Baso Batu Pute Suletan Suletan Abedule Wani ri-ala datu ri Soppeng/
- LAO NA KALAO LAO PETT A MATINRO E TOMPOK TIKKA I 7 .1. lya-na e bicara eng-ngi na-passuk na to Warek e Petta Matinroe Ri Tompok Tikka na-lao na ka-lao lao / Na-ra- pik ni Wzjo Gowa enreng nge Sidenreng Bone/
- Na-pole i-ni to-Bone si-ewa to-Gowa e/ Nas-salengi-ni to-Bone-e ball/ Na-lao na pa .. i awampeta i ale-na/Na ma-samo na to Bone na-taro to-Gowa e/ I 7. 3. Na-inappa na mettek Luu e makkeda ma-gi na-ma samo to Bone/ Makko-ga tu palek winruk mu to Bone/ Apak ikeng Luu e tek-kisseng ngi ale-ki map-po gauk / Apak iya-lokka-ki ko-mai ye na-tuju i sukkarak Bone / lya meme-to-si satu ki-onro i mak-kasiwiyang/
17.4. Na-engkalinga ni adan-na Luu e to Bone/ Na-suro na- lappessang-ngi arumpone Luu e/ Na-iya na si-ewa to-
- Na-pole i-ni to-Bone si-ewa to-Gowa e/ Nas-salengi-ni to-Bone-e ball/ Na-lao na pa .. i awampeta i ale-na/Na ma-samo na to Bone na-taro to-Gowa e/ I 7. 3. Na-inappa na mettek Luu e makkeda ma-gi na-ma samo to Bone/ Makko-ga tu palek winruk mu to Bone/ Apak ikeng Luu e tek-kisseng ngi ale-ki map-po gauk / Apak iya-lokka-ki ko-mai ye na-tuju i sukkarak Bone / lya meme-to-si satu ki-onro i mak-kasiwiyang/
Na-dek na na-ma itte mam-musuk na Luu e rra-to Gowa e na-cauken ni ale-na to Gowa e/ Na-ma ega-na mate to Gowa e/ 17 .5. Na-iya na na-pau arung to Gowa e makkeda e tellui tek ku-pa sereyang/ Inan-na We Oni na-E Oni sigaye Culai- ya/ Aga lao-ni wenni lao-ni esso-e na-welai ni / Laoni ri- ala Cula e tappik-na/ Iya-na ro na-takkala si-ya-rekeng Bone Luu dek as-sarangen-na/ Apin-na Luu tem-manre i Bone/
17.6. Se-buwanget-to si-sa lao-na na datu e ri Luwu ri Bone na-rapik to-si sa si-sala to Bone to Wajok e mas-sia-jing/
17.7. Na-uttama i-si Petta Matinroe Tompok Tikka sukkarak- na Bone Wajo/ Na-lao si mam-musuk Luu e to Wajok-e Na-ri cauk si to Wajo e ri Luu e/
17.8. Na-keda na Arung Matowae ri Waj o/ Po-wadang ngi Petta Matinroe Ri Tompok Tikka/ E siajing/ T-pada so-rok na apak sessak-nakkeng/ Ta-pada mala ni ma-decen nge ta-reki wi as-siajinget-ta/
17.9. Gilin-ni Petta Matinroe ri Tompok Tikka po-wadangngi pangulu musuk-na makkeda-e engkalinga ni adan-na si-ajik-ku to Wajok e/
17. l 0. Makkeda-ni Arung Matowa e ri Wajo niga puwang-nga- sen na pangulu musuk na Petta/ 17. 11. Makkeda-ni datu ri-passuk e ri tane e ri-Ware / lyana ro wawan-na Makole Towawo 'mpetta i ulun-na to Wajok e/ 17. 12. Iya-na ro nakkeda Arung Matowa e Ri Wajo / Sorok-no Ki-palaloak-ko mabbetta e ri Luu/ Dek mamparak-ko / Na sosso-reng ngi wijam-mu / Mas-sama turuk nakkeng- ngik keng Tellumpoccoe pa-lalowak-ko / Ki-ewa o mac- ceppa-gala/ Apin-na Luu manre i Wajo /
17.13. Seuwa to-si. e na-pau Petta Matinro e Ri Tompok Tikka lao-na ri Sidenreng/ Na-inappa si suro na Arumpone/
la ona ale-na to-Sidenreng nge makkeda tampai-ni parulu musuk na datu massuk e/ Na-po wadang ngi makkeda- e engkalinga-i adan-na siajik-ku to-Sidenreng nge/
17 .15. Makkeda ni to-Sidenreng nge/ Niga ro puwang asen-na parulu musuk na puwak-ku/
- Makkeda-ni Petta Matinroe Ri Tompok Tikka/ lya na- ro ri-yaseng Lamulengkese/
1 7. 17. Makkeda ni to-Sidenreng nge/ Ta-pada 'mala ni ri ma- deceng nge ku-ellau-wak-ko ri pajung nge ri Luu enreng nge ri Tellumpoccoe ajak en-na mu-ri ekkek rekko ma- te-i datu-e ri Luu/ Apa sabak makko-i adek mappura onro-na pajung nge ri Luu/
17.18. Makkeda ni Petta Matinro-e ri Tompok Tikka/ Ma-ga na iko/ Ku-engka mua/ Na-iya sa map-punnai-wi pajung- nge / lyak-pa pam-maseyang ngi apa iya ri mana-ku/ lya muwa matu ma-elok datu Petta Matinro-e ri Tompo Tikka/
17. l 9. lya-na ro datu Petta Matinroe Ri Tompok Tikka serok kaliao-i wanuwan-na nadatu i-si paimeng/ lya-na ro-na- sossoreng anek eppo-na ri-yadatu/
18. IYA NA-E PAPPASENNA PETTA MATINRO E RI TOMPOK TIKKA
18. 1. Makeda-e pole-nak ka-lao lao / Ku-dapik ni Bone Sop- peng Wajo Sidenreng enreng-nget to-pa ri laing-nge/ Dek mak-kuwa Tana Luu/
18.2. lya ri-pallolongeng nawa-nawa ma-oncok ku/ Urapang- ngi tau angkaukeng-nge ri Ware na-tettongi-wi serong tap-pitu e/ Mula-mulan na ma-kessing ngampe na-ma deceng ngabbati-reng/ Ma duwa na si-tuju e pangkakna
I 8.4. Apak iya makkunrai-ye tettongieng-ngi sorong tap-pi tu-e/ Iya-na ritu sitinaja na-elo ki anek mattola en reng nge anak datu/
J 8. 5. U-patuk patukek-ko mennang u-waseng-nge anek eppo- ku Ap-pa silasa-0 gauk enreng-nge dalle mau ma-sara i-ninnawa mu-na karana pam-mase na Alla Taala/ lya- topa u-po wadak-ko mennang anek appo ku/ Ajak Jalo mu-si sala-sala mas-siajing apak mattuwa maneng ngi to-ri saliweng nge mau-0 mu-tuwa i-tokko / Apa iya si-sala-sala e mas-siajing mut-tamak i ri-bilang 'mplilang- lukkak e teppek/ J 8. 7. Na iya rekko si-sala sala-0 mas-siajing ajak mu-ma-elok na-isseng to-ri saliweng/ Bettuwan-na si-sala-o ri-elek e si-tuj~ < ri-arawing-nge/ Si-sala-0 ri-ara wing-nge si-tuju- o ri-elek e/ Apak na-po adek i ritu ata e map-pa si-sala sala-e/
18.8. Na-iya rekko engka ada ' pole-iyo na-orowane-tok gi / Na-makkunrai tok-gi/ Tang-ngak i na ataun-na mu-ala na-iya rekku-wa abeo-na russak i tang-ngak mu/ Maka menrek-na na mawessum-mu/ Na rekko menrek ni ina- wessum-mu dek ni-ritu nawa-nawa ma-decem-mu/ Na-iya rekko dek ni nawa-nawa e dek ni-ritu tanrat-ta tau/
18. 9. I-ya na-ro mungka u-wakkeda taun-na mu-wala / Apak iya rekko a-TAUN-na mu-ala tettong-ngi ri-deceng nge/ Mu ko-pa monro mattangngak ri-rupan na-gi tau-we/Na- rek ko mu-tangngak ni rupan-na gauk e na-to ke-gauk memeng/ lya-na ritu kuwa-e ri-aseng tau ma-elok map-
rek~o ri-alai- wi apak iya-ritu tau ma-ceko e tanran-na na-tu tau tem- metauk ri Alla Taala enreng nge ri suroOna/
- l 0. Seuwa-to pi pap-pasen-na arung to-ri olo e ri anak eppo-na/ Rekko 'ngka mupa anek to-lebbik ri wanuwa- e ri-rapang ngi engka mupa sumangek na wanuwa e/ Apagi-sa na-duwa na-tellu/ Mau-ni ma-dodong muna wanuwa e na-onro i mu-pi tau lebbik pada to-sa to-ma towa ma-dodong-nge na-ri tumaningi mupa ada adan-na ri- anak eppo-na enreng-nge ri-tom-melo ri-eng ngi/ Na-mau ni engka mu-na tau muragai-wi na-ri wereng mupa ri Alla Taala apperengeng enreng-nge pesona/ Insya Alla Taala mak-kininnawa mu-pi tu/ Ku-waet-to sa to-ma se- ro doko-e ri-wereng-ngeppa ri Alla Taala asabbara-keng/ Nangka-mu pa nyameng deceng na-peneddingi/ Tokkon- ro jon-rojon mupi ritu/
- l 1. Na-rekko 'ngka-mu to-pa a-salama keng ri-werekko ri puwang nge misseng lewa i-wi ko-to-sa lopi/ Elok-na ada e ri-tu ko-to sa ritu to-sompereng nge uluwangin Ta-ola turuk pi bombang nge/ Na-sempek caddi topa ta lorosang-ngi/ Ko-to ni-sa tu ala-rapan-na rekko ri-win- ru-seng ngi-etto ri to-ma raja e/ Mola turuk pula na-pik ri adan-na enreng-nge ri-gauk na/ 16 .12. Rekko mak-ko topi ritu onro~na nawa-nawatta ri-anu ta-nawa nawa e lnsa Alla Taala mau-ni na-engka mu-na nawa nawat-ta rekko makko-ni ritu nawa-nawatta makkeda a agi-agi elik na puwang nge iya-na tu kuwa/
- Se-buwanges-sie pappasen-na Petta Matinroe ri Tompok Tikka ri wijan-na/ Makkeda e Tekko na-pole i-o rio suk- kurukeng-ngi/ Rekko na-pole i:
appa~sikuwa-o ri parn- mase-na puwang nge/
18.14. Iya-to ku-po wadakko a-pato ko mewa-i ada siajim-mu enreng nge tau-e/ Na rekko maka ri-ewang ngi ada · ri sappareng ngi maka 'pa-tabbukkak eng-ngi timun-na- tau-e/ Maka na-po nyamekkininnawa-e ri jemmak silasa e/ Iya-na e indok na ada e enreng-nge pangkau-keng-nge/ Ma-lajek e ri Puwang Alla Taala na-ma sirik ri nabitta Sallallahu alaihi Wasallame/
18.15. Makko-ni ritu nangka elokku makkeda-e makkeda-i elon na to-makkelong-nge/ To-mattaro pura-e palek dimeng/ To ma-saga:la/ Iya-na u-waseng asennangeng ku-watta~ jeng ku-cokuk map-pesona uwa-magi maga Aila Taala- muwa misseng-ngi/ Tunruk-ka map-pesona ridimeng ma- tuo-wa mampaek wennik-ku/ lya mampaek wennik-ku/ Ta-jeng-ngak u-waseng ri selalen-na e ta-pa tunruk pula na-i ininnawat-ta pogauk ap-pesonang/
18. 16. Iya na-rekko tem-mulle-na si-rapekeng massiajing la- les-si ritu cinna mate-mu/ tettongeng/ lya-natu nang ka elong makkeda-e/ PEDDIK TEM-MAGGANGKA PALE DIMENG TE~SAREDDA-E RI PANGAJAKE/
19. PANNESSA-ENG NGI PABBANUWA NA TANA E RI WARE T ARIMA E BILA BILA 1 9. 1. Baebunta
19. 2. Masamba
19. 3. Patila
19. 4. Mallibubukang
19. 5. Kalotto
19. 6. Buwa 1 9. 7. Bungkajang
19. 8. Seuwa Lambamai
19. 9. Seuwa Lambaliwu
19.10. Tobang
Sibuwa Ponra
19.13. No ling
19.·l 4. Passamasamai
19.15. Pakkulawu Bajo
19.16. Su so
19.17. Labamai
19.18. l..abalia
19.19. Larompong
19.20. Rantebaula
19.21. Buttu
19.22. Barana
19.23. Weila
19.24. Lelewawo
19.25. Latou
19.26. Towawo
19.27. Baranong
19.28. Mengkoka
20. PANNESSA-ENG NGI RI-ASENG NGE SANGGU
20. I. Na-iya addupan-na ri-aseng-nge sanggu na-ri aseng ellon-na ri-sio na-sabak laing minreng laeng mam-maja/ Age na-sangguk en-na mam-maja na-rekko dekna pammaja-na la-tomminreng/
20. 2. Na-iya ri-aseng nge toddok aje-na ri-toddok/ Sabak i-ya- pa na-ri pammaja Lato-toddok na-rekko mate i i-ya rekga lari-wi to-ri toddo-kinna/ Na-iya saliwen-na e-ro tom-minreng nge-mu to-si sa r-singek/ Tom-min-reng- nge mu-to sa mam-maja/
20. 3. Pannossa-eng ngi sanra putta-e/ Duwappulo makkunraie sanra putta-na/ Mala i anek tawang/ Mala-to i sompa/ Na-iya orowane/ Duwat-tai sanra putta-na/ Maa-sompai to mas-sarang nge / Ma-lai anek tawang/
20. 4. Na-iya sanra lele tern-mate owang nge tem-malai anek
- Ten-ri pa-inreng-ngi wi atan-na tau-e rekko ten -na isseng-ngi punna e ata/ lya rangen-na arung-nge ri-po wawine ten-na itai-reng temmala temmu-waja/
- Rekko sala timu-i ata-e duwan-riala/ Pa-sala gauk i pa- tan-rialak/ Na-iya angkek ri-baruka na makkunraiye patappulo/ Na-iya angkek-na orowane duwappulo/
- Pannessa-eng ngi anu ri-rupa e/ Rekko-ngka tau ri-ad dupa-i agaga tne-na pura-pa ri-bicara e/ Makko-niro iya-tu to riadupa-i ye ma-serongeng ngi to-maddupae
- lya-na e bicaran-na to-ri pangau-i e inreng ri-pe-ngau-i arek-gi mennau ten-na ennau ten-nak -kinreng na- dek to-mabbicara na-po wadang na-ma itta-pa sap-pak i ale-na tem-makkulle ni na-sappak ale-na/ apak ma-itta ma-ni na-inappa pau-i ale-na/
- Pannessa-eng ngi patap-puwangeng ngi ri-aseng nge-rupa tau/ Mula-mulan-na/ Na-isseng ngi ale-na macca ak-kande ·guru-no ko-ritu/ Ma duwa na macca-e ten-na isseng-ngi ale-na macca/ Pa-ka ingek i/ Ma-tellun-na To- bebek e na-isseng-ngi ale-na bebek pagguru i/ Ma-eppak na bebek e ten-naisseng ngi ale-na bebek/ Ajak mu-ewa i mas-sellao na-rekko mu-pagguru i na-teya/ mu-ewa i mas-sellao na-rekko mu-pagguru i na-teya/
- AKKULUNG-NGADA
- I. Na-ri pannessa-na asen-na datu-e rumpak engngi Tosora/ Ri-aseng-nge Settiaraja/ Na-iya aseng-ngfll"akna Suletan Muhammade/ Na-iya ganti ma-tena Matinro-e ri Tompok Tikka/
- lya-na e ulu adan-na nal-lamum-patu na-maraja Bone/ Muka si-aten-ninna Peta Matinro-e Ri Tompok Tikka/ U-te-ri o u-beta mu-no/
Pa- beta i datu-e mu-wakkeda to ri-beta i datu-e/
- Mat-tampa elek i Luu mu-lao arawing/ Mat-tampa arawing-ngi Luu mu-lao elek lya-na ro mu ( ... ) naewai Mappincara Bone Luu e enrengnge-to pa acceppa-ga- lang nge/ 21. 5. lya-na e ulu adan-na to-Soppeng nge ri-datu e ri Luu makkeda-e anging-ngi datu-e mu-raukkaju to-Soppeng- nge/ Uraik Luu-e teppa uraik-ko/ Alauk i Luu-e teppa alauk ko/ 21. 6. Ulu adan-na to-Mampu e ri-datu e makkeda e ANGING-NGI DA TUE KI RAUKKAJU TO MAMPU E/
- lya-na e telli-na datu-e ri Luu ri-to Wajo-e/ Ada-e ri Un- nyi na-tola e Puwang Rimaggalatung gajang male-la na- polo maneng-ngi olo-na na-po wakkarungeng-ngi akkarungen-na/ Ma-cikkek gi ma-Jowaggi/ Na-tola to-i siak datu-e ri-aseng-nge Maningo ri Jampue/ Na- powa- datung-ngi adatun-na na-po olo maneng-ngi olo-na ma-cikkek-gi ma-lowanggi/ 2 I. 8. Attellireng ri-ale-na datu-e ri Luu ri-to Wajo-e/ Api to-Wjo tem-manrei Ware / Api to-Ware Tem-manre-i Wa-jo / 2 1. 9. Singkeruk pa-tola-e ri Wajo / Tellu Pattola-na/ Tellu lim- po-to Na-tellu singkeruk/ Iya ri-taro-wang sing-keruk pattola ri-ala-i ( ... )/ Ei-ala-i nas-sarang/ Tem-mappuwang lain-na to Wajo e/ Na-rekko map-pu-wang laingngi to Wajo e angkan-na palili-na Wajo ten na tuwo-i wi wisesa/
- l 0. Lamumpatu-e ri Topaccidong/ Api to Ware tem-manre i Wajo / Api to Wajo tem-manre i Ware /
21.11. lya-na e telli-na datu-e ri Arung Bulo-Bulo/ Kuwa-e rit-teflo / Bulo-Bulo gi ma-perik na-taddakka-rakka- datu-e tep-po pe-nangkureng dokok inanre/ Tana Warek
na~gi mu-ponang uraga tasik-mu sibawa tana mu apak ri-teriwi ri Maloku e/ Naiya ri-bali- ang-ngi / Lisu-no / Rekko tem-mulle mewa-i olang mu-ni tigerok mu rekko tern-mu allupai- muno singkeruk waju-e/ Na-rekko ten-na ma-decengeng lalaki-e ri Butung lisu-angngi mai/ Na-iya rekkuwa tern-mu lisuang-ngi mai pinra-mu ritu adat-ta/ Nae tel-lisu i La Ma-ngappa / Kuwa ni tern-mate na singkeruk waju e/ 2 1.13. Assitelliken-na da tu-e ri Luu mu la adan-na to Gowae ri to-Ware e/ API TO WARE TEM-MANRE I GOWA/ API TO GOW A TEM-MANRE I RI WARE/
2 1. 14. Iya-na e telli-na to Larompo-e ri datu-e / Makkeda-i to Larompo-e ri datu-e ANGIKKO KI-RAUKKAJU/ RIA- 0 MIRING RIAK-KENG TEPPA/ RINI WI MIRING RINIK KENG TEPP A/ 2 1. I 5. lya-na e ulu adan-na Lilik e ri da tu-e angkan-na to-sa lilik na Warek / Makkeda-e ANGIKKO LAPUWANG-NGE KI RAUKKAJU/ IKKENG ATA LILIK MU / 2 1. 16. Passaleng pannessa-eng ngi na-rumpak na Gowa Tom- pok-Tikka/ La-o na sibawa Matinro e ri Bontowala/ Iya na-ri wettu nap-pincara Bone Luu nat-tettang pincara-Goa/ Na-sorok si-ro mai nok ri Luu/ Na-musuk i Palopo ri wettu ri-passuk na sibawa joak-na Kare Majem- bei/ Na-uttama lisu datu na-serok kaliao-i lisu Palopo/ Iya na-ro nakkeda datu-e ri-asengnge Setiaraja ri Arumpone/ Ala-i angkan-na na-ita e matam-mu/ Nak-keda Arumpone angkan-na na natettong-ngi e bate Kuwa-en
na Cimpu/ Malela/ Cakkeawo/ Menrek i ri Buttu/ Tob- bo/ lya-na ro na-jollok e asera-e wanuwan-na/ lya-na ro wettun-na nal-lamum-patu Matinro-e ri Tompok-Tikka Matinro-e ri Bukaka/ Tes-si pamate' adek/ Tessi pammate alebbireng/ Tessi-polo bicara/ lya na-e -ro po-wanek i Matinro-e ri Langkanae datui opu To Lemba of
21.17. Seuwa-pi ( ... ) nakkelong Petta Matinroe Tompo Tikka PURA-NI SIO MU-POLESSO SALA-SOLA E PASAK TEMMU -RAPIK TO-NA/
21.18. Na-mette awine-na makkeda Ajaak-muakkeda makkoa/ Dek-ga-ha seuwa pau massuk-na ri Luu Tompo Tikka nasabak ten-na ulle Luu e jowa-na ri-aseng-nge Kare Ma- jem bei na-lao na-ka lao-lao/ Na-leppang ri pakue/ Na- engka-linga i me-lok na-enre ki Bontowala Goa/ lya-na ro/ Na-ma elok lao _to-Bone ri Goa na-ri duppa i ri Arum-pone/ lya-na na-pariyawam-peta/ 21 .19. Duppa-ni tau-e na-dek na na-ma gaga Goa/ Makkeda-ni Kare Majembei/ Tani-dik mu-na na-panre pecca kaluku Arum pone/ 21 .20. Ri-passuk ni Kare Majembei/ Duppa-ni tau-e/ A-pepe- ren-ni karaeng-nge ri Goa& Na-issen-ni Luu na-ewa/ Makkeda-ni APIN-NA LUU MANRE I GOA/ Mattang- ngak-ni Karseng-nge nangka-na Kare Pattung Papance/ lya-na makkeda me-lok mukak duppa nakko E Tani ri- werengngi Na-dek to-ha na-ma elok karaeng-nge re Goa/ lya na-pau TALLU MI TA-KU P ASSEREY ANG E TANI MUA NA-INAN NAE TANI NA-CULA IY A/
32.32. Nas-suk na duppa Kare Pattung/ Na-tallittak songkok- na Karaeng Pattung na-tallissik mu-na/ Na-rumpak ni Gowa Tempok Tikka/ Na-si laon-na nok ri Luu Matinroe Bontowala/ Na-ri alanni Kamanre ri Tompok Tikka/ Na sorok na menre ri Buntu Tabbo anu monro-e to-ha/ Nagi lin-na mas-saile/ lya-na tu nangka elon-na makkeda-e
BUNTU TOMBONG KU-GILING MAS-SAILE LABU TENGEN-NI KAMANRE INNAJA-1 RI KAMANRE LIPUK BONGA-E WEKKERENG ANEK DATU E/ 2 1.22. lya-na pakko-i/ Pajung memeng-ngiha ri Luu ten-na- tua-inna mua tau-e jowak ne nassuk na-lao/ Na-e ma- upek i-ha sibawa jowak na/ Na-rumpak i-ha Goa sibawa wa Malampek e Gemmek na
2 1.23. Iya to-na datu 'nrumpak i Tosora/ 'Nrewek i-ha pari- meng ri Luu/ Pajun-na memes-sa na-po pajung pari- meng Pole ma-ni ka-lao lao na-inappa lisu ri wanuwan-na ri Luwu na-po pajung-ngi pajun-na lisu ri tana-e ri Ware/ Ma-ega na wanuwa na-cauk/ lya wanuwa ma-raja- e pada na-onro i-ni macceppa-gala/
2 1 .2 4. lya-na e ada nas-si turu-si Bone So ppeng Luu Petta Ma-tinroe Tempok Tikka ri-aseng-nge settiaraja na-tam pain-na arumpone datu-e ri Luu datu ri-passuk e apak ten-na ulle-i To Warek e gauk na Jowak na ri-aseng-nge Kare Manyambei/ lya na-ro na-pa lessok i ale- na datu ri Luu/ Na lao-na ka-lao lao/ Na iya mu-ni na-lao-i / Nas-suro na Arumpone tampai-wi/ Na lao-na ri pattampa-na Bone / 2 1. 25. lya na-e ada nas-si turu-si makkeda-e iya na-suro-wang- nga Bone Soppeng Luu as-situru sen- na Puwatta/ Mang- kauk e/ Datu e ri Soppeng/ Datu e ri Luu/ Lao-ko auro mu-powadang ngi cekka-na adatuang-nge ri Siden-reng/ Seuwa-ni/ ri-pa sorok na ri Lengnga na-lao sa ri Soppeng/ 2 1 .26. Ma-duwa na / Na-po wada-na ri Soppeng ma-elok i ri-sa 11 areng deceng ri Bone/ Na ma-elok na Soppeng sap- pa reng-ngi deceng na-teya si paimeng/
2 1.27. Ma-tellun-na/ Cekka-na si-sala teppun-na Bone Kompa- nia na-lao sa adatuwang-nge ri to-maraja e lajo-lajo i-wi/ Aga na-iya na na-teriak-ko Bone Sidenreng/ Ta-nia gauk
- wakki na-lao i-e Kalamperang-nge/
21.29. Makkeda ni Luu e/ Dek-sa tek-ki lao-in-na/ Mu-eloren ri-ola tettong mu-eloreng ki-ola to/ Aga ma-caweknak keng ri Bone/
31.30 Engka.-ni suro-na Bone 'duppa-i wi Luu to Ware e/ Aga lettuk ni Luu e ri-pa enrek ni ri salassak e na-ri solo-ri/ Engka to-ni suro-na Wajo 'mpawang-ngi Luu e sekati se- tai owang/
21.31. Makkeda-ni to-ri suro-e/ lya na-suro wang-ngak Wajo Ta-pada sorok sa-na ri bola tudanget-ta/ Tanre-i i-nanre ma-decet-ta/ Ta-inung-ngi uwae ma-cekket-ta/Ta pada sappareng-ngi ri-ma deceng-ngeng ngi Arung Pe nekki/
21.32. lya-na ri-baliang-ngi adan-na makkeda e Kuruk sumangek na waramparan-na Wajo / Ta-pada meng- ngerangi wi taro-na puwang ri-olo ta/ Apak iya ikkeng tao Ware e menrek-keng ri Bone tettong-ngi -ang ngi arajan-na puwat-ta wali-wali/
21.33. Ri-uleng Rajja na-lattuk ada e ri Arumpone/Na-iya na powadang-ngi Bone Wajo Makkeda-e iya mu- wangungen-na m u s u mate-na arung Marowanging/ Na-iya ri asen-na maddu-sak-rusak arung Peneki na-buwan-ni ale-na ri Wajo/Na Wajona poruseng- ngi/
21.34. Mu-sorok na ri bola tudangem-mu/ Ajak na-wellak- ko esso/ Ajak na-irik-ko anging/ Mu-wanre i inanre madecem-mu/ Mu-inung angi uwae ma-cekkek mu
Puwang-seuwa e/ Ta-pada masseri wi rapang na- taro-angnge puwang ri-alota/ Pada po--tinro eng- ngi tinro-ta/ Pa-po sala i to-sala e/ Ta-rola i-wi lamumpatu e ri Timu-rung/ Ta-pada masseri-wi taro na puwang ri-olo ta/
21.35. lya na-e ada na-wawa e puwan-na Jetta/ Na kuwa e mu-pa ri Peneki monro arumpone/ Na-pura ma-ni madduppaekka-duwa Luu-e na-inppa 'ngka datu e ri Pammana pole 'mpawang-ngi ulaweng to-Warek e makkeda e na-suroak Wajo ' mpawang ngi ulaweng Luu e si-bawa to-Mapue na-pa lattuk i ri-yarum- pone/
21.36. Sekati setai timban-na ulaweng-nge nas-suro e-'mpawa Wajo/ Ta-pada sorok na ri bola tudanget- ta enrengnge ri wanuwat-ta/ Ta-pada manre-i inanre ma-decet-ta/ Ta pada minung-ngi uwae ma-cekkek- ta/ Na litta pa mooko ko mu-waddara/ Ta-pada ko-pa Timurung sita mas-sae-jing/ Ta-pada mareki- wi rapang na-tarowang-ngeng-ngi to-ri olo-ta mallamung 'mpatue ri Timurung/ Rapang-nge-pa jollok i tau ma-jak e na-ri Bone tok gi na-ri Soppeng tok gi na-ri Wajo tok gi enteng-nge ri ceppa gala e/ Ta pada passala i to-sala e/ 2 1.3 7. lya na-e-ri-baliang ngi ri Bone suro-e lao po- wada-i ada e silaong suro-na Soppeng ri-aseng nge Lakanraca lya na-suro wang- ngak Bone Soppeng/ Engka-i mai suro na Wajo ' mpawa waramparang pap-pa sorok/ Aga kupake-ruk sumangek i waramparan-na Wajo / Engka mu-to sa-ceddek na Bone enreng nge waramparan-na to- ma ega-na Na iya mu-wa ten-na werek-ko arng nat-teyak-ko pa- uttamak i ale-mu ri-to majak e/ lya ri-makkedammu u-wisseng to-i tu maddapang datu/ Taro mu-i naro/ Ta-pada Po-to sala-i to-sala e/
Nanre-:-i api Peneki nangka suro-e/ Puwan-na We Jeta-ri-sura ri Wajo/ Iya na-surowang-ngak Wajo / lya muwangungen-na musuk arung Maruwanging ri uno-na/ Mateni Lapakka/ Pulik ni / Na-iya arung Peneki nap-pa wakkan ngen-ni ale-na ri Wajo ma-elok ri-addampengeng/Sorok no ri wanuwammu/ Ajak '.mu-wonro mai na-wellang tikka/ Na-iring nganging/ Mu-anre i inanre ma-decemmu/ Mu- inung-ngi uwae ma-cekkek mu/ Na-allojok pa mokkok-ko mu-addara/ Na-puwang Alla Taala pa mala-i taro-na mu mate/ Mu-congak pa ri langik e mu-wattampa puwang ri puwang seuwae/ Ta-pada po-gauk i masse-ki wi rapang-na tarongeng-ngeng- ngik puwang ri-olo ta mallamumpa-tue ri Timurung/ Padat-turuk i tinro ta/ Pada po-to sala-i to-sala ta/ U -suro i m eddek arung Peneki/
21.40. Adan-na Bone Sopeeng na-baliang -ngengngi Wajo / lya engka na suro mu saijing po-ada adakkeng amaten- na Lapangka/ Enreng-nge ma-pawakkangen-na ale-na arung Peneki ma-elok e ri-addampengeng ri Wajo / Ten-naeng-nge tekki-si buwappa bessi aga sala na/ Nae sipaddio rara-nakkeng na-dek pa-siak ki-aseng pura-na/ Apak ta nia mu-a mate-na arung Maruwanging ki-wangungeng musuk/ Mau mate-na arung-Peneki ri laleng Tellu 'mpcco ri lain-nae to-pa ki-wangungat-to musuk/
mu-'-waseng nge rapang na-tarowang ngeng-ngi puwang ri-olo ta Mallamum-patu w ri Timurung/ Ta-pada turuk i tinro- ta/ Ta-pada to-sala i to-sala ta tengnga-na tu rapat-ta/ nae ri asengngi ten-na po-deceng tana rekko ri- sappareng ngi deceng to ma-elok e pa-sittumpuwang-ngi Tellum-poccoe/ lya siak ki-aseng deceng mu-po .adakkeng, mai a- salang ma-elik e mu-pasi lasa- i wi fassituruk pale passilasai/ Na-iya ta-po-gauk tet-tasi-turuk ta- pasa si massappak laing-nge-ripe-deceng-napa Tellumpoccoe/ Nagangka/ 2 1.42. Adan-na Wajo/ lya na-surowang-ngak Wajo / lya lao na si-turilk mu-wannengngik ri ra pang na-tarowang-ngeng-ngik puwang ri-olo ta Mallamumpatu e ri Timurung/Sorok no ri Wanuwammu/ Ta-si duppa ri Timurung Ta- pa-lete-i ri rapang Arung Peneki/ 21 .43. Ada nas-si turu- si e Bone Soppeng na-baliangngeng- ngi adan-na Wajo to-marilaleng-nge si,Qawa Pabbicara e ri Soppeng ri suro lao ri Wajo / 2 1.44. Iya na-surowang-ngak Bone Soppeng/ lya ri-makke- damrr:u OYA LAO NA MANGNGURUK MUI RI RAPAN-NATARO E PUWANG-RI OLOTA MALLA-MUMPATU E RI TIMURUNG/ MA DECENNO SORO RI WANUWAMMU TASIDUPPA RI TIMURUNG TAPALETE I RI RA-PANG ARNG PENEKI /
2 1 .45. Makkeda-i siyajimmu/ Pekkogi ri -palete-i ri rapang Arung Peneki tes-sinrupa e adanna ri-olo ri-munri-e/ lya siak ki-aseng deceng pakkulik-kulingeng-ngengngi ada anak-na Wajo engka e ri Peneki/ Ku-wammengngi na ma-loga pabbinruk na Tellumpoccoe mu-pateppa/ Na-pu-ra pa ta-sorok na ri Timurung ta-pada mola-i mu-was- se-ki wi ulu adan-na natarowang-ngengngik puwang ri olo-ta Mallamum-patu e ri Timurung/ Ta-pada lete-iwi
Tellumpocco e/ Naggangka na/
21.46. Aadan-na Wajo na-wawa e Pilla-e ri Bone/ lya lao na mangguruk ingngerang mu-anneng ngik ri jancin-na pu- wang ri olo-ta Mallamumpatue ri Timurugn/ lya wekgan natu tengnga-na rapat-ta/ Pedecengiengngi Tellumpoccoe/
21.4 7. Na-iya ri-makkedm-mu iya ki-aseng deceng mupakkulik kulingeng-nge ada anak-na Wajo kuwammeng-ngi na-ma- loga as-situru sen-na Tellumpoccoe mupateppa/ Na- pu-ra pa ta-inappa si-tudangeng ri Timurung/ Kupakku- lik kulingen-ni ada anakna Wajo/ Nallappa-na/ Aga na- ma teppek na Wajo/ Aga ki-pe lampe-ri an-ni parinnge-rang/ Na-iya kiaseng deceng siajing/ Sorok sa-no ri bola tudangem-mu ta-si tudangeng ri Timurung/ Ta-pa lete-i Arung Peneki ri rapan-na Tellumpocco e/ Naiya pa tassi-turu si-e idik tellu mas-siajing/ Nadeceppa naggangka/ 21 .48. lya na-e adan-na Soppeng Bone Na-to Marilaleng-nge silaong sulle datu e lao ri Wajo/ lya na-suro wang-ngak Bone Soppeng/ lya ma-teppek na Wajo ri-lappakna arung Peneki Wajo to-na siak ki-atepperi/ lya muwasa na-po wada siajim-mu/ lya mu-ateppe-rinna lappakna massangguk to-nagi gauk bawan-na arung Peneki ri-la- leng Tellumpoccoe ri lain-na et-topa/
21.49. Na-iya mu-eloran-na sorok siajim-mu siyaga decen-na ku-sorokeng/ Seuwa-to jak na rekko tes-sorok-keng/ A- pak iya salewem-meng ma-pepek na muwa nal-lappak ri Wajo/ Na-rekko sorok-keng na-po gauk-si ro ku-wae gauk 1 na dek laing nala tanek Wajo mu-wa/ lya-ro sia-jing u-wakkulik-kuling pa-ka ingek-ko apak makke- dak-keng kuwammeng-ngi na-deceppa naggangka-na/
21.50. Adan-na Wajo na-wawa e Pillak e na-si laong ri-aseng nge Banranga e/ lya na-suro wang-ngak Wajo/ lya ri-
lappakna arung Peneki Wajo to-na sa ki-atepperi/ lya wekganna tu tengnga-na rapat-ta MAKKEDA SI-ATEPPERENG NGE/Na-iy!i ri-makkedam-mu iya-ga mu-tepperin-na ri lappakna musanggungi to-niga gauk bawan-na arung Peneki ri-laleng Tellumpoccoe ri lain-nae to-pa/ lya na-powada siajim-mu Wajo/ U-SANGGUNGI NI-TU PA-LETE I RIRAPANG ARUNG PENEKI kuwa-etto narekko ten- na rupa-i wi adan na lappak-na u-sanggungi to-ni mewa-i/
21.51. Na iya makkedam-mu siaga decen-na nakko sorok kik / I-ya na-powada Wajo DEKKO SOROK KO MAKKEDA Sl-ATEPPE-RITTA/ NA IY A JAK NA REKKO TES-SOROK KO MAKKEDA TES-SI A TEPPERITTA/ Aga nakkulik-kuling adammeng siajing Sorok no ri bola tu- dangem-mu ta-si duppa ri Timurung Ta-pa lete i Arung Peneki ri rapan-na Tellumpocco e/ Na-iya pa tas-si turu- si e idik tellu massiajing ken na-na rapang nge na-de- cepoa naggangka-na/
2.2. Alih Bahasa
1. PASAL YANG MENJELASKAN PESAN-PESANNY A TE-TU A TERDAHULU PADA ANAK CUCUNYA
1. I. Bahwa (wahai) anakku, ingatlah baik-baik syarat-nya pemerintahan itu, ada duapuluh sembilan macam-nya.
I. 2. Mula-mula-nya, dikehendaki pemerintah itu amat taqwa ke pada Allah Taala beserta Rasulullah.
I. 3. Yang kedua, dikehendaki pemerintah (raja) itu taat
1 ) melaksanak~n pengabdian 2 ) kepada Allah Taala dan menegakkan sare'at 3 ) nya nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam.
1) Selamanya; berlangsung terus-menerus; tidak putus-putus.
2) lbadah; mertjalankan perintah clan menjauhi larangan Allah.
3) Sunnah Rasul.
Yang ketiga, dikehendaki raja itu (amat) kukuh agama- nya.
- Yang keempat, dikehendaki raja itu jujur ucapan-nya.
I. 6. Yang kelima, dikehendaki raja itu luas pemikiran, lagi panjang akalnya
4 ) mencaharikan 5 ) peningkatan kese- jahteraan rakyat-nya.
- Yang keempat, dikehendaki raja itu jujur ucapan-nya.
- Yang keenam, dikehendaki (ia) bermanis muka, jangan (ia) cemberut.
- Yang ketujuh, dikehendaki agar laki-laki itu (yang) memberi pandangan
1 )jangan yang wanita.
- Yang ketujuh, dikehendaki agar laki-laki itu (yang) memberi pandangan
I. 9. Yang kedelapan, dikehendaki (ia) baik
2 ) tutur kata-nya (dalam) setiap yang diucapkan-nya.
1.10. Yang kesembilan, dikehendaki (agar) ia tidak menang- guhkan kata yang telah diucapkan-nya kendati pun (ber- akibat) buruk, supaya janganlah terputus harapan orang padanya.
I. I I. Yang kesepuluh, dikehendaki raj a itu mengamati
3 ) secara baik 4 ) perkataan orang yang datang menyampai- kan berita, supaya ia tidak culas 5 )
- Yang kesebelas, janganlah ia mendengarkan
6 ) ucapan orang yang plin-plan (dan) orang banyak omong 7 )
- Yang kesebelas, janganlah ia mendengarkan
1.13. Yang keduabelas, tidak boleh⁸)-lah raja itu menurnti kata-kata
9 ) perempuan.
4) Tidak kehabisan aka!; berinisiatif.
5) Mengupayakan; mengusahakan.
1) Putusan; ketetapan; pertirnbangan; peraturan.
2) Rapi; sopan-santun; memikat hati; tidak membosankan.
3) Memandang; menyimat; mengkaji; meneliti.
4) Cermat; teliti; secara sungguh-sunggW..
5) Dib-;;-ai.-buat; tidak jujur·; ifdak benar; bohong.
6) Terpengaruh; menuruti; mengikuti tanpa disaring. ·
7) Orang yang gemar berbicara tanpa disuruh; omong kosong.
8) Kurang pantas; tidak patut; tidak wajar.
9) Pengaruh; desakan; tekanan; pendapat; pertirnbangan.
menolong- orang yang teraniaya. agar tidak rusak hamba-nya Allah Taala.
- Yang kelimabelas, dikehendaki raja itu mengetahui yang berat serta yang enteng bagi hamba-nya Allah Taala.
- 1 7. Yang keenambelas, dikehendaki raj a itu mengetahui martabat seseorang, agar ia tidak menyamakan
1 ) orang yang mulia dan orang yang hina. Sekaii pun papa, tidak seharusnya disamakan (antara) orang yang mulia dan yang hina.
1.18. Yang ketujuh belas, dikehendaki raja itu agar tidak je- nuh menjaga
2 ) negeri serta rakyat-nya, supaya keten- teraman negeri tidak goyah.
1.19. Yang kedelapan belas, dikehendaki raj a itu berkawan
3 ) dengan agamawan dan orang berilmu, agar diajak ber- gau1 secara akrab, supaya (mereka) memberi nasihat serta memberi pandangan di jalan yang 1urus.
1.20. Yang kesembilanbelas, dikehendaki raja itu harus kuat memegang
4 ) rahasia. Janganlah (rahasia) itu ada pada sembarang orang. Jikalau ia ingin mengungkapkan rahasia, ia mencahari
5. ) orang yang pantas menyimpannya.
1.21. Yang keduapuluh, dilarang raja itu melangkahi kata5 ) orang tua, agar ia selamat.
I) Dapat membedakan (martabat; kedudukan; kehormatan) orang.
2) Menunggui; menjaga keselamatan negeri dan rakyat.
3) Bersahabat, akrab, mendekatkan diri.
4) Teguh menyimpan rahasia demi keselamatan negeri/rakyatnya.
5) Memilih; menetapkan; menentukan.
1.22. Yang keduapuluh satu, dikehendaki raja itu melihat
1)
orang besar' 2 ) yang tua-tua 3 ) (untuk) mengisahkan kepa- danya (perihal) ungkapan (dan) perilaku dulu. Sebab, orang tua itu memiliki berkah karena telah banyak pe- ristiwa lama yang dilihat didengarnya.
1.23. Yang keduapuluh dua, dikehendaki raja itu mencari orang besar yang baik asal-usulnya serta berpikiran panjang dan berakal sehat agar ada yang diajak bertukar pandangan.
4 )
1.24. Yang keduapuluh tiga, dikehendaki raja itu mencari kurir yang pintar merangkai kata serta berakal pikiran dalam hal memperoleh kebaikan, agar dijadikan bahan pemikiran.
1.25. Yang keduapuluh empat, dikehendaki raja itu memiliki perlengkapan perang yang baik bagi aparat negeri, agar disegani oleh musuh-nya0serta pemberani seperti ,pe- dang yang baik yang pantas digunakan (untuk) berperang serta kuda baik yang patut ditunggangi berperang di medan laga. 1 26. Yang keduapuluh lima, dilarang (bagi) raja itu lebih me- muliakan harta benda dari orang banyak, karena harta benda itu berasal dari manusia. Demikian pula halnya laki-laki itu lebih dimuliakan dari perempuan, agar ada yarig menyertainya dalam kesulitan dan kehancuran. Sebab laki-laki itulah yang akan menentang, memberi per- lawanan terhadap kerusakan-nya dunia.
1.2 7. Yang keduapuluh enam, dikehenaki raja itu mencari orang yang baik keturunannya serta mempunyai pikiran dan panjang akal-nya, pandai merangkai kata untuk diberi tahukan (perihal) rahasia-nya.
1) Mencari, memanggil, menemukan.
2) Orang terhormat; tokoh.
3) Tetua; orang Janjut usia; orang berilmu dan berpengetahuan.
4) Bertukar pikiran; berdiskusi; saling meng-input.
(da· ri mereka) didengar berita baik serta kesukaan dari semua warga, sama pula halnya bila mereka ditimpa kesusahan. Lebih baik nfati dari kehilangan malu. 1 )
I. 29. Yang keduapuluh delapan, dikehendaki raj a itu tidak mengurangi harta benda orang yang te/ah dikerja- kan2 ), sebab harta bendanya itu adalah milik raj a juga yang diberikan kepada abdinya. Tidak seharusnya di- ambil kemali sesuatu pemberian itu. Dilarang pula raja itu
1.30. Yang keduapuluh sembilan, dikehendaki raja itu menge- luarkan larangan agar para pedagang tidak diperlakukan secara sewenang-wenang, supaya lancar dan ramalah bandar niaga dalam negeri, sebab para pedagang itu ka- lau ada· barang bagus seperti barang berharga dipersem- bahkannya kepada raja, serta semua pembesar.
1.31. Itulah (sarat) yang dua puluh sembilan (jenisnya) patut dipelihara
1 ) semua raja berdaulat serta turunan orang-orang terhormat.
- PASAL YANG MENJELASKAN HARi KELAHIRAN ANAK ·
- Mula-mulanya, Ahad hari kelahiran anak laki-laki adalah baik, berprilaku baik, teguh imannya kepada Allah
I) Kehilangan muka; jatuh martabat; kening tercoreng arang; jatuh harga diri (nrik) bagi orang bugis bukan hanya berarti malu
2) Orang yang bekerja sebagai penangkap ikan di perairan, baik di danau maupun di laut dan di aliran sun_gai~~yngal..
1) Dimiliki; dihayati dan diamalkan sebagai syarat rninirnal.
- Mula-mulanya, Ahad hari kelahiran anak laki-laki adalah baik, berprilaku baik, teguh imannya kepada Allah
Apabila anak perempuan sangat buruk. Ia gemar mengada-ada. 2 )
2. 2. Kalau Senin hari kelahiran anak laki-laki ia pandai ber- tutµr kata di hadapan baginda.'raja serta terhadap orang banyak. Kalau anak perempuan, ia baik hati kepada sesamanya ia pun sangat hormat pada suami-nya.
2. 3. Kalau Selasa hari kelahiran (bagi) anak laki-laki, maka jikalau murka ia tidak segan membunuh. Kalau ada orang yang menjadi lawannya, takkan hilang dari ingatan-nya. Kalau anak perempuan ia tidak akan sependapat suami-isteri. Ia durhaka pada Allah Taala, durhaka pula pada pada ibu-bapaknya. Bila engkau tahu caranya, ke- murkaannya akan cepat reda.
2. 4. Kalau Rabu hari kelahiran anak laki-laki, ia bersungguh sungguh jikalau mengerjakan sesuatu. Kalau anak perempuan ia gemar memprotes
3 ) iapun suka diprotes, lagi pula seringkaJj dibohongi oleh sesama manusia, mudah di-perbodoh4 ), beritikad baik kepada sesama manusia, tiada putus harapan namun selalu gagal.
- Kalau Kamis hari kelahiran (bagi) anak laki-laki, tidak- lah baik. Banyak ucapannya yang tidak sesuai dengan tindakannya. Jikalau anak perempuan ia panja.ng ingatan terli.adap sesamanya manusia. Ia pun tahu sopan santun dalam bertutur kata. Apa pun yang dilakukannya selalu baik.
- Kalau Jum'at hari kelahiran (bagi) anak laki-laki niscaya berhati baik, lagi pula teguh pendirian, serta luas penge- tahuannya. Bila anak perempuan akan dirnuliakan oleh sesama matmsia.
2) Berdusta; mengatakan sesuatu yang tidak benar adanya.
3) Menuntut sesuatu; bermanja-manja; marah-marah.
4) Diakali; dibodtlfli; ditipu.
- Kalau Jum'at hari kelahiran (bagi) anak laki-laki niscaya berhati baik, lagi pula teguh pendirian, serta luas penge- tahuannya. Bila anak perempuan akan dirnuliakan oleh sesama matmsia.
Sabtu kelahira~l anak laki-laki ia suka mencuri, pendusta, banyak durhaka pada ibu-bapanya. Bila anak perempuan pintar 1 ) membuat · sesuatu (dan) bermuka manis.
- YANG MENJELASKAN UCAPAN ULAMA YANG ARIF-BDAKSANA
- Yang menjelaskan (perihal) kelahiran anak laki-laki (atau pun) perempuan. Berkata para ulama yang arif- bijaksana yang dirahmati oleh Allah Taala.
- Siapa-siapa yang lahir pada hari Ahad dan ia laki-laki, ia diberi nama La Berahima serta Sulaeman, serta LaMu- sa serta Yakub, serta Yahya, serta Zakaria. serta Haru- na, serta Saleh. Kalau perempuan (diberi nama) Halima, serta Habiba, serta Saleha, serta Rabiah.
- Kalau ada yang lahir pada hari Senin. namakanlah Ah- mad, serta Muhammad, serta Kassa, serta Tahir, serta Nuhung, La Daniyah. Kalau perempuan namakanlah Patimah, serta Salamang, serta Sahibah, serta Tahira.
- Kalau ada yang lahir pada hari Selasa, laki-laki nama- kanlab ia Ismail, serta Ishak, serta Jihad, serta Yakub, serta Sameun, serta Suaib, serta Hamzah, serta Sangkllla. serta Jamadi, serta Jafar, serta Yusuf. Jika lau perempuan, namakan Halijah, serta Salamang, serta I Sitti, serta Hapipah.
- Kalau ada yang lahir pada hari Raou, sedangkan ia Iaki- laki namakanlah Ali, serta Hasan. scrta Husain. Jikalau perempuan namakanlah Aisyah.
- Kalau ada yang lahir pada hari Kam is, sedangkan ia laki-laki diberi nama Abdullah, serta A l>d u, Rahman. serta
1) Tampil; cakap; berbakat melakukan kerajinan tangan
- Kalau ada yang lahir pada hari Kam is, sedangkan ia laki-laki diberi nama Abdullah, serta A l>d u, Rahman. serta
Sabtu, namakanlah Abdul Kadir, serta Abdul Latif, serta Rahimi, serta Abdul Razak. Kalau perempuan namakanlah Mariam, ' serta Sarifah, serta Atipa.
- Jikalau anak laki-laki lahir pada malam Ahad, namakan Ismail, ·serta Abu Bakar, Omar, serta Abdullah. serta Usman. Kalau ia perempuan namakanlah Hapsah, serta Hawa, serta Zainab.
- J ikalau malam Senin kelahiran anak laki-laki, namakanlah Muhammad, serta Ahmad, serta Hasan. serta Tahang, serta Usman. Jikalau perempuan. namakanlah ·Patima serta I Sairah.
3.11. Jikalau malam Selasa ia Jahir, sedangkan ia laki-laki namakanlah Musa, serta Haruna, serta Ibrahim, serta Ya- kub, serta Ismail.Kalau perempuan, namakan ia Hawang, serta Aisah, serta Aminah.
3.12. Kalau malam Rabu anak laki-laki lahir, namakan ia Hasan, serta Ismail, serta Yu nus. J ikalau perempuan namakan ia Mukminang.
3.13. Kalau ada anak laki-laki lahir pada malam Kamis, namakan Adam, serta Idris, serta Daud, serta Yusuf, serta Saleh. Kalau perempuan namakan Aisa, serta Jamila serta Saidah.
- J ikalau malam Senin kelahiran anak laki-laki, namakanlah Muhammad, serta Ahmad, serta Hasan. serta Tahang, serta Usman. Jikalau perempuan. namakanlah ·Patima serta I Sairah.
- J ikalau anak laki-laki lahir pad a ma lam J um' at, namakan Muhammad, serta Jafar, serta Abbas. Kalau perempuan, namakan Halijah, serta Hamidah. 3. 15. J ikalau ada anak laki-laki yang lahir pad a malam Sabtu
n,1makan Ali, serta Yunus, serta Abdu Rahim. Kalau perempuan, namakan Maryam.
4. YANG MENJELASKAN PESAN-PESANNY A RAJA OULU PADA ANAK CUCUNYA SERTA SEGENAP KERABAT-
NYA
- Wahai anakku, kaum kerabatku ( ... ) maka kuwariskan kepadamu, karena hanya (. .. ) mendengal'kan dari orang yang benar, kiranya engkau memegang kata-kataku/ inilah yang ku-pesankan pada-mu.
- J anganlah kiranya engkau melupakan agama-nya Mu- hammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Saya (sendiri) su- dah mohon pada Allah Taala, agar tidak terputus anut- anmu pada agama Islam, apalagi kalau engkau dapat me- nyempurnakan (sare'at) keagamaan itu.
- Jangan pula engkau mau dipersalahkan oleh sesamamu manusia, apalagi orang atasamu.
- Jangan pula engkau sampai dihinakan oleh ad at dan j un- junganmu.
- Besarkanlah sirik-mu. Sebab hanya yang disebut orang yang sesungguhnya jikalau kita masih memiliki sirik.
- Jaugan pula engkau sayangkan harta bendamu terbuang demi (kepentingan mengenyahkan) kesulitan negeri.
- J angan pula terpikirkan dalam hati-mu (untuk) meng- ucapkan kata bohong.
- Jangan pula engkau melakukan apa yang disebut orang J awa berniaga. Ada pun yang dinamakan berniaga ialah berjualan, sebab jangan sampai engkau kelewat ambisi untuk memperoleh keuntungan, sehingga engkau lun- curkanlah kata dusta dari bibirmu.
- Tiada mengapa (jikalau) engkau memesan barangjualan, asalkan engkau tidak berjualan.
yang engkau garap, lebih-lebih pada kesukaran negeri. J angan pada perniagaan, apalagi pada kesombongan/ keangkuhan.
4.14. J ikalau engkau mencari pengetahuan, tunggulah pada rahmat Allah Taala di pendopo (tengah orang banyak), sebab di pendopo itulah tampak jelas perilaku yang tercela, serta perilaku yang terpuji.
4.1 5. J ikalau engkau mencari ketenteraman hidup di akhirat, jagalah tindak lakumu. Sebab dari seluruh hal yang me- ·mabukkan itu paling banyak terdapat pada (orang) yang menduduki jabatan (kekuasaan). besar,· karena tidak henti-hentinya dilakukan tindakan khianat, sedangkan tindakan khianat tersebut tidak hepti-hentinya pula mengakibatkan kerusakan (pada diri sendiri).
4.16. Ada pun tempat bennukim itu hanya dua. Dunia jualah dan akhirat. Sedangkan .keduanya itu pantang (pada) kebohongan, ' serta kesombongan dan sifat aniaya ( tindakan sewenang-wenang).
4. 17. Jangan pula engkau terlalu mengharapkan turunanmu, sebab bukanlah keturunan. melainkan pada Allah Taala jualah perlakuan benar yang membawa kebaikan.
4.20.
4.21.
4.22.
5.
5. I.
5. 2.
5. 3.
1) Ada pun wanita yang mempunyai SU!lmi, pandanglah sebagai saudara perempuanmu. Selain itu, janganlah eng- kau melemparkan kesalahan pada orang lain jauhkanlah pula pikiran yang kurang pantas dari dirimu. Inilah pesan-pesan orang tua dahulu pada anak cucunya. Janganlah kalian laki-laki duduk berdua-duaan dengan perempuan, sebab bila berdua-duaan itu seringkali dira- suki setan jahat. Jangan terbetik dalam hatimu (bahwa) dia itu alim ula- ma yang taat. Ada pun orang tua itu sudah kebiasaan- nya sedangkan yang muda itu (did orong) oleh keingin- an yang tak terbendung, sehingga ia ingin belajar. Ada pun lelaki itu tidak puas dengan perempuan.
1 )
Dialah yang disebut Simpurusiang. Dialah yang mengayomi Lampo, dia pulalah yang mengayomi Talettu dan muncullah pula Dalekona ri Luwu. Diketahuinya (bahwa) isterinya muncul di Luwu. maka pergilah Simpurusiang ke Luwu. Didapati isterinya berada di Luwu, kemudian dinobat- kan ratu oleh orang Luwu.
BUKANLAH KEDURHAKAAN (MAKA) KURINCIKAN
TURUNAN BAGINDA TO MANURUNG-NGE
Manusia yang dianggap turunan dewa yang turun dari kahyangan.
lae, kawin bersepupu. lahirlah Batari Tojang. bernama We Mattengnga Empong. Lahirlah La sengngeng. kawin bersama We Matatimo, lahirlah La Patau.
- La Patau kawin dengan We Temiewa. Lahirlah La Potto-LangL lahirlah La Pasangkading, lahirlah Lapadassajati.
- La Padassajati arung
1 ) di Tetewatu/ La Potto Langi kawin dengan Laleng Kawate. Lahirlah La Banturi, kawin bersepupu. Lahirlah La Pasangkading di Pam mana. Ka- winlah dengan yang disebut We Materi, Dasau nama ke- cilnya.
- La Padassajati arung
- Lahirlah La Panyonrongi. Dialah yang mernimpin Bari- ngen.
- Saudara perempuan-nya La Pabant uri yang bernarna We Tern peddinronang. menikah di Bulubulu bersama La Palliburi Lahirlah Tomajalusa. Dialah yang kembali ke Luwu beristeri.
- La Panyonrongi beristeri di Soppeng, menikah dengan We Tenri Tabbire. saudara perempuan-nya La Makka- nengnga. Lahirlah La Malle, lahirlah La Terengeng.
1 :2. La Malle beristeri di Kebo, menikah dengan We Tenri Bau. Lahirlah We Dolipona. lahirlah We Sabbamparu,.
5.13. La Terengeng beristeri di Tuwa, m enikah dengan We A-pung T aja ng. La hirlah We T enriadudu. Lahirlah La Sappe
1) Raja; penguasa; Kepala Pemerintahan kerajaan.15.
5.1 6.- I 7.
- 18.
- 19.
- 20.
- 21.
- 22.
- 23.
5.2 4.
Sappe-lah kawin bersepupu We Sabbamparu. Lahirlah We Waliang. Lahirlah We Ijek, lahirlah We Inalle.
We Waliang !ah bersuarni di Sale. menikah dengan raja Sale yang bernama To Lengge. Lahirlah To Coi. To Coi-lah beristeri di Amali. memkah dengan We Tenri Pali. Lahirlah La Page. Dialah ra1a di Amali. Lahirlah To Maddewata. To Maddewata beristeri di Alim u. menikah dengan We Panurungi. Lahirlah We Maddewara
We Maddewata menikah dengan To Salesse Amanna To Ameng Dua anak yang dilahirkan, keduanya mening- gal. Bercerai dengan To Salesse, We Maddewata m.enikah lagi di Bunne, kawin dengan La T enrigego saudara laki- laki-nya Dacule Empat bersaudara La Weddalipuk-lah beristeri di l.umpengeng. menik ah dengan We Duppa. Lahirlah Lakoppe, dia pula yang d isebut Puwang ri Tamang. Beristeri di Soppeng, menikah dengan We Pauttu. Lahirlah La Makkarangeng. dia pula yang disebut To Lembae. beristeri di Alliwengeng. menikah dengan Tenri J arengeng. maka t ujuh anak yang Jilahirkan. Lahirlah La Sarangeng. Tokelling nama kecilnya: La-mappasewang : Seketi: We Kocci : We Paccing : We Tenri Sadda WeArakkati. La Sarangeng beristeri di Telle. rn enikah bersarna We Bo- wa. ,Lahirlah We Kelling. We Kelling bersuami di Watakka. menikah dengan La-Sampe. Lahirlah La Magila. La Magila beristeri di Pattojo, lahirlah Datu Walie, lahirlah La Tenri/ We Tenrisada bersuami di Ujumpulu, menikah dengan La Malaka, To Wappa nama kecilnya. Lahirlah Karaeng Loe.
5 .2 5. Karaeng Loe beristeri di Ganra, menikah dengan Matin-roe Asseleng yang bernama Tenri Samareng. Lahirlah La Saliu /
5.26. La Saliu beristeri di Massepe, menikah dengan We Tenri Abeng. Lahirlah Dawanuwa. Lahirlah To Pajja. Lahirlah Dapage. Lahirlah We Rie.
5.27. We Rakkati-lah bersuami di Lompulle, menikah dengan La Pacangkani. Lahirlah To Wawo. 5 .28. To Wawolah beristeri di Gama, menikah dengan Tenri-Samareng, Darie nama kecilnya, sitola massapposiseng
1 ) yang bernama Karaeng Loe/ Lahirlah La Bune.
5.29. La Bune beristeri di Mario Riwawo, menikah dengan We Tenri Sui. Lahirlah To Unru yang digelar Torisompae-
1 )
lahirlah Daira, lahirlah Daopo, lahirlah Daeba.
6. BUKAN KEDURHAKAAN (MAKA) KURINCTKAN TU-RUNAN RAJA MANURUNG NGE RI PETTUNG
I. Manurung-nge-
2 ) disebut Simpurusiang/Toppok e ri Busa Empong 3 ). Dialah (berdua) menikah, maka lahirlah Ana Kaji.- Ada pun Manurungnge di Majampai disebut Selama- lama. Ialah menikah dengan Batara Weli, maka lahirlah Tappa-Cina. Dia menikah dengan Anakaji.
- Maka diboyonglah We Tappacina ke Luwu oleh suami- nya. Sebungkus daun seppuk
4 ), segulung benang sutera
- Maka diboyonglah We Tappacina ke Luwu oleh suami- nya. Sebungkus daun seppuk
I) Sito/a (berurut, bergantian; ma (ber); 1111pposiseng (saudara misan). Dalam kon- teks ini, Towawo bersepupu dengan Karaeng Loe. Karaeng Loe sendiri pernah menikah dengan Darie, kemudian bercerai. Jandanya itu dinikahi oleh ToWawo maka Towawo sitola massapposiseng dengan Karaeng Loe.
I) To risompae = orang yang disembah (gelar bagi Arung Palakka, Petta Torisompae Malampe e gemmek na, Raja Bone sekaligus Datu di Mario Riwawo).
2) Simpuru Siang titisan Dewa, Maharaja Kerajaan Luwu.
3) Manusia titisan Dewa yang muncul di permukaan air.
4) Sejenis dedaunan yang digunakan seperti dupa.
de- mikian : Siapa gerangan anak tergolek di ruas bambu terbaring di (atas) tumpukan lali. Tampaknya anak ti- tisan dewa, turunan Sellamah1ma Sang Manurung di Awok-Pettung (bambu petung) Toppok e ri Busa Em- pong, tanpa diturunkan (sebagaimana mestinya), tiada armada tunggangannya, hanya meniti di atas selembar benang sutera, penghalau dengngeng 5 ) (dan) asu pan- ting6 ). janganlah hendaknya menimpa dirimu. Janganlah ia bersuka-ria, tenanglah ia nun di sana Sang waniaga kembali dari (perburuan) menyeret silajak towenge yang tidak ada tanah sejumputnya. tiada jangkali-nya, tiada tai keringnya.
- Maka murkalah We Tappacina ketika mendengarkan nyanyian (yang dilagukan) mertuanya. Maka dipoleskan- nya air (dan) minyaknya, dibakarnyalah Raung Seppuk- nya. dikibaskannya benang sutera yang dibekalkan oleh neneknya lalu dilaluinya sebagai titian kembali ke Makjampai.
- Maka datanglah suaminya mencari isteri-nya/ Berkata ibunya", Ia kembali ke Makjampai".
- Berkata bagindadatudi Makjampai," Mengapa dikau wa- hai Anakaji maka engkau datang tergesa-gesa di Makjampai.
- Berkatalah Anakaji, "Adindakulah yang kususul ke mari".
- Berkatalah Sang Datu di Makjampai, "Ia mengatakan di- rinya telah dihinakan oleh bibinya".
6.10. Berkatalah Anakaji, "Berikanlah nian adindaku agar ku-
5) Pemburu dari dunia arwah. Buruannya adalah maniuia.
6) Anjing pemburu, milik dengngeng (anjingjejadian).
- Berkatalah Sang Datu di Makjampai, "Ia mengatakan di- rinya telah dihinakan oleh bibinya".
6.11.
6.12.
6.13.
6. 14.
6. 15.
6.16.
6. 17.
6. 1 8.
6. 19.
paduka." Maka dikembalikanlah kembali ia pada suaminya, lalu di belahlah tanah sebatas tanah Manurung-nge ri Mak- jampai yang dibekali oleh Sellamalama ke dunia, kemudian diserahkan (kepada We Tappacina) untuk dibawa serta mengikuti suaminya menuju ke Luwu. Maka dibawanya serta orang Wage, orang Tempe, orang-orang Singkang bersama tanahnya saratlah Cenrana. Maka di Leppangeng-lah mereka terdampar dan diberinya- lah nama Tana Sitonrae (negeri yang berurutan).
Ketika We Tappacina tiba di Luwu, puterinya yang bernama We Mattengnga Empong telah berangkat rema- ja. Dialah yang bersuamikan sang buaya yang bernama ( ... ).
Dialah yang melahirkan yang bernama La Malalae. Se- orang anak perempuan bernama Dalayamparani. Dalaiyamparani yang diambil oleh ayahandanya lalu dibawa turun ke Urik Liwung (dasar sungai; dunia ba- wah tanah). Maka merajuklah Lamalale, ingin turun mandi di sungai. namun tidak diperkenankan. Maka dinaikkan air ke atas rumah, lalu dinaikkan di atas perahu, namun ia tetap merajuk dan tetap berkeinginan turun ke sungai, maka ibundanya pun menuruti keinginannya turun ke sungai. Kemudian di sungai disam but oleh ayahandanya, lalu dibawa turun ke Urik Liung. Setelah sembilan malam (setelah itu) ia pun dikembalikan ke dunia. la dibekali oleh neneknya anak .beccing, Sujikama am- pat petak, lae-lae, tungku dalibong (jenis alat upacara tradisional). We Demmikoro namanya yang menjunjung tungku itu ..
kembali j uala~ semua ke Urik Liu dan barang bawaannya diletakkan seluruhnya di darat.
6.20. We Demmi sendirilah tidak kembali, sebab ditakutkan, pecah bawaannya. Maka tinggallah ia di dunia. kemudian menjelma menjadi kepiting.
7. PESANNYA PAJUNG TERDAHULU SERTA RAJA TERDAHULU
7. 1. Yang menjelaskan pesan-pesannya Pajung terdahulu serta raja-raja terdahulu pada anak-anak cucunya. Adatnya apabila kita mendapat perintah (menjadi suruhan) raja yang berkuasa. kita tidak boleh menyambangi rumah, dan anak isteri kita, juga tidak bole h melakukan sesuatu apa pun apabila kita dalarn tugas.
7. 2. Kita tidak boleh beristeri, tidak boleh bergaul dengan perempuan Jain, tidak boleh berbuat sewenang-wenang, tidak mengambil sahabat/ kenalan. tidak bertetangga jikalau kita sedang menjalankan perintah raja yang berkuasa.
7. 3. Hanya yang dipikirkan terlaksananya tugas yang dipe- rintahkan, serta kelemahan dan keselamatan kita.
7. 4. Itu pula yang (bekal menimbulkan) musibah bagi kita apabila kita melangkahi perintah raja dan melakukan, berbagai larangan yang telah ditetapkan itu.
7. 5. Demikian.p.ula kalau kita sudah kembali dan ada mem- bawa sesuatu dalam rangka tugas kita, tunjukkan ke- pada (raja), apapun juga adanya, sebab baru menjadi milik kita apabila baginda yang merahmatkannya.
7. 6. Demikian pula kalau kita sudah datang kembali tidak boleh kita menginjakkan kaki di rumah (sendiri) sebe- lum kita datang menyembah, memberikan Japoran. Barulah kemudian kita dapat kembali ke rumah sendiri.
kec_uali apabila engkau kemalaman. Tiada boleh kita tinggal berlama- lama.
- Serta jikalau kita diberikan batas waktu. kita tidak boleh melewatkannya sampai sepekan, kendatipun kita tidak mampu melaksanakannya.
- Sekian pesanku yang kuharapkan engkau pegang teguh wahai anak cucuku.
7.10. Yang menjelaskan pesanannya Baginda Matinroe Tom- pok-Tikka. 7 .11. Ada sebelas tandanya yang buruk bagi negeri. Pertama raja yang marah ji.ka diperingati, lagi pula amat kurang pemaaf. 7 .12. Kedua, Pabicara yang menerima sogokan dan am at pen- dendam.
- Sekian pesanku yang kuharapkan engkau pegang teguh wahai anak cucuku.
- Yang ketiga, orang yang dikasihani tetapi tidak ber- syukur. 7 .14 Yang keempat, yang tiada kesepakatan dalam negeri.
- I 5. Yang kelima, pi.kiran-pi.kiran yang saling bertentangan.
7.16. Yang keenam, orang terhormat yang tidak mau menerima pendapat orang lain. 7 .1 7. Yang ketujuh, anak raja yang bertindak seperti raj a. '":" .18. Yang kedelapan, cu cu raj a yang berperilaku seperti anak raja.
7.19. Yang kesembilan, abdi raja yang bergaya seperti cucu seorang raja.
7.20. Yang kesepuluh, suruhan yang menambah-nambah atau mengurangi kata (penyampaian).
7.21. Yang kesebelas, raja bawahan yang tidak memberi.kata putusan atau kah mengkhianati kata sepakat/perjanjian yang telah disetujui.
P E N GET A H U A N
- l. Pasal yang .menjelaskan, kalau ada kucing berbulu putih dan hitam mukanya, berlurik putih sampai ke hidung- nya, itulah yang baik. Senantiasa melimpah ruah harta kekayaan pemilik si kucing.
- Yang menjelaskan, inilah pengetahuan langka, pantang ada dua orang yang mengetahuinya.
- Jikalau berbunyi cecak itu di siang hari (atau) pada malam hari, mula-mulanya, kalau ia berbunyi sesudah teng- gelamnya matahari, sedangkan cecak itu berbunyi di bahagian sebelah timur kita, tanda ad a orang yang datang (tamu) berombongan.
- Jikalau ia berbunyi di tengah malam, tanda adanya tamu yang datang secara berombongan.
- Ji.kalau lewa t tengah malam sampai su buh ia berbunyi, tanda kita akan mendengar berita buruk.
- Yang kedua, ji.kalau ia berbunyi di pojok bahagian timur dan selatan, tanda ada ada perempuan yang bakal datang pada kita.
- J ika ia berbunyi di saat menjelang tengah malam, apa- apa yang dilakukan akan berhasil baik.
- J ikalau ia berbunyi di saat tengah malam, tanda kita akan bersuka cita.
- Jikalau ia berbunyi setelah lewat tengah malam hingga subuh, tanda ad a kesulitan yang bakal menimpa.
- Yang ketiga, jikalau ia berbunyi di bahagian selatan sesudah tenggelam matahari, tanda kita akan mende- ngarkan berita kematian.
- J ikalau ia berbunyi pada .. saat menjelang tengah malam, tanda kita bakal melakukan kebaikan.
- Ji.kalau ia berbunyi pada tengah malam, tanda ada
te1wah malam sampai subuh, tanda kita akan mendengarkan kabar buruk. '
- Yang keempat, jikalau ia berbunyi di pojok bahagian selatan dan barat sesudah tenggelamnya matahari, tanda kita akan kehilangan. 8. 1 5. J ikalau ia berbunyi pada saat menjelang tengah malam, tanda kia akan mendapatkan kebai.kan.
- Jikalau ia berbunyi di saat tengah malam, tanda akan ada tamu berom bongan.
- 1 7. J ikalau ia berbunyi sesudah lewat tengah malam sampai subuh, kita bakal mendengar berita kematian.
- Yang keµma, jikalau ia berbunyi di bagian barat sesudah tenggelamnya matahari, tanda kita akan beroleh harta benda yang halal.
- Jikalau ia berbunyi pada saat menjelang tengah malam, tanda kita bakal mendapatkan harta benda dari orang kaya.
8.20. Jikalau ia berbunyi pada saat tengah malam, tandanya kita akan beroleh kebaikan.
8.2 1. Jikalau ia berbunyi pada saat lewat tengah malam, tanda kita bakal mendengarkan kabar buruk.
8.2 2. Jikalau ia berbunyi di bagian pojok barat dan utara sesudah tenggelamnya mataharL tanda ada perempuan yang bakal mendatangi kita.
9. YANG MENJELASKAN PERIHAL NAF AS
- Jikalau ia berbunyi pada saat menjelang tengah malam, tanda kita bakal mendapatkan harta benda dari orang kaya.
- Pahamilah orang yang berkata benar serta kata yang tidak benar. Kalau ada orang datang membawa berita maka peri.ksa (amati) Jah nafasmu.
- Apabila nafas kita berada di bagian kanan, sedangkan orang yang berbicara itu berada di sebelah kiri maka ti-
takkan berani menantangmu.
berad~ di sebelah kiri, akan ce- pat keluar air manimu. Kalau engkau menitiskan anak, maka ia akan (lahir sebagai) wanita. Kalau napasmu ber- ada .di sebelah kanan, lamalah baru keluar air manimu. J ika engkau menitiskan anak, maka ia adalah laki-laki.
- Satu (hal) pula berkata para ulama, jikalau napasmu ber- ada di sebelah kiri janganlah dulu engkau makan, kecua- li bila engkau amat lapar. Tidak akan hancur apa yang engkau makan itu;juga tidak akan nikmat.
- Sebaiknya engkau makan apa-apa yang diinginkannya, riiscaya hancurlah sesuatu yang engkau makan, akan terasa nikmat pula bagi dirimu. 9 .10. Demikianlah kalau engkau ingin memadukan napas dan tindakanmu, agar berkah apa-apa yang engkau lakukan. 9 .1 1. Disepakati oleh orang-orang bijaksana, menamakan napas kanan itu sebagai matahari, sedangkan napas kiri adalah bulan. Apabila keduanya tidak ada, tidak sem- pumalah keberadaan makrokosmos dan mikrokosmos. 9 .1 2. Demikian pula kalau tidak ada matahari dan bulan, takkan sempurnalah pengetahuan itu. Kalau napas itu. ada di bagian kanan ia tidak akan terserang penya- kit dingin, juga kebal pada segala yang berbisa, juga takkan dimasuki ilmu parakang), takkan dimasuki pula ilmu magic, juga kelihatan awet mua, akan bertambah kuat pula ketahanan tubuh kita.
terkejut, ataukah kita. niemanjat pohon kayu yang tinggi, lalu kit a jadi oleng.
- PERIHAL T AHUN
- Yang menjelaskan suah1 pembicaraan (mengenai) tahun (dalam) setiap tahunnya yang. buruk (dan) yang baik. Tahun "Alif', panjang hujannya, mujur juga para niagawan, mujur pula para pedagang eceran di daratan, ulat pun takkan mengganggu (tanaman). I 0. 2. Ada pun tahun "HA", lebat hujannya, gersang angin- nya, panen akan baik, hama tidak mengganggu tanaman beruntunglah para pedagang.
- Tahun "JIN", (udara) sangat dingi n, panas pun memun- cak. Panjang hujannya. Hama mengganggu tanaman, binatang juga bertam bah rakus, batang padi re bah dalam keadaan (masih) muda, panen sedang-sedang saja buah tetumbuhan akan lebat, pedagang akan rugi.
- Tahun "ZEI", panas-dingin bersesuaian (sedang); ban- jir secukupnya, hama pun tidak terlalu mengganas, para pedagang tidak rugi, kendati pun tidak memper- oleh laba.
- Tahun "DAL DEPAN", singkat hujannya, tiupan angin-
l) Makhluk jejadian, jelmaan manusia yang biasa bergentayangan di mallim hari untuk memangsa sesamanya manusia.
- Tahun "DAL DEPAN", singkat hujannya, tiupan angin-
nya lemah, kurang banjirnya, namun dingin memuncak. panen (produksifitas) rendah, buah tetumbuhan jarang, berimbang para pedagang (antara) yang rugi (dan) yang beruntung, banyak pula wanita mati beranak (hamil), seringkali terjadi kebakaran di dalam negeri. banyak pula orang baku tikam.
l 0. 6. Tahun "BA", singkat hujannya, lemah pula anginnya, memuncak panasnya, hasil panen rendah, berbagai pedagang yang rugi (dan) yang beroleh laba.
I 0. 7. Tahun "W AU", lama hujannya. anginnya gersang, ban- jir tidak sampai meluap, tidak terlalu panas serta tidak terlalu dingin, hasil panen baik, binatang tidak meng- ganggu tanaman.
- Tahun ''DAL AKHIR", sedang-sedang hujannya, anginnya tidak kering, hasil panen sedang.
- YANG MENJELASKAN PERIHAL BULAN YANG BURUK DAN YANG BAIK 11. I. Tidak ada bulan yang buruk (untuk ) kita bepergian, asal bertepatan dengan kebaikan menurut penyampaian naskah ini. Janganlah bepergian pada saat yang buruk. Bepergianlah pada saat yang disebutnya baik, namun tergantung pada kehendak Allah Taala bersama Rasul-Nya. 11. 2. Satu malam terbitnya bulan adalah "OSSO ANNY A- RANG" (hari kuda) namanya. Pada saat itu pulalah NAGA
1 ) itu berada di bumi, baik untuk kita pergi ber- jualan, baik juga untuk keramas, cepat laris, baik pula untuk upacara mappalili 2 ) di sawah, menurunkan benih, buruk untuk 'mulai menenun kain, buruk pula untuk perkawinan, buruk pula bagi kelahiran anak, Tuhan
l) Binatang yang menjadi simbol lcebailtan.
2) Salah satu tahap upacara pr.i-pllllen di daerah Sulawesi Selatan.
"OSSO JONGA" (hari men· jangan) namanya. saat kembalinya si NAGA. Baik di sepanjang hari. Apa pun yang dilakukan adalah baik sepanjang tidak ada halangan apa saja. Baik untuk kita bepergian ke negeri lain. Arahnya yang ideal menghadap arah selatan dan timur. 11. 4. Tiga malam terbitnya bulan 'OSSO SAPI" (hari sapi) namanya. Sepanjang hari adalah buruk, apa pun yang dilakukan semuanya buruk. 11. 5. Empat malam terbitnya bulan "OSSO MEONG" (hari kucing) namanya. Tidak baik untuk kegiatan perkawin· an. Buruk pula bagi kelahiran anak. Baik untuk beper· gian ke suatu negeri. Buruk untuk tanam-menanam. Baik untuk kegiatan mappalilik di sawah. Arab hadap· nya menghadap ke timur.
J l. 6. Llma malam terbitnya bulan "OSSO DAREK" nama· nya. buruk sepanjang hari. Tidak ada kebaikannya. Apa pun yang dilakukan semuanya buruk hasilnya. J 1. 7. Enam malam terbitnya bulan .. OSSO TEDONG.' (hari kerbau) namanya. Baile sepanjang hari. Baik untuk perkawinan. Baik pula bagi kelahiran anak. nanti pada per· tengahan usianya baru meningkat rezekinya. Apa saja yang dilakukan bail< jadinya. J l. 8. Tujuh malam terbitnya bulan "OSSO ULAK" (hari ular namanya. Buruk bagi perkawinan. Buruk puJa bagi kelahiran anak. ia berkepanjangan daJam kemeJaratan. Tidak dapat dilakukan kegiatan menanam padi. Buruk untuk menghadap raja di pendopo. Baile untuk mema· sang tangga rumah. tidak akan terjatuh. J l. 9. DeJapan malam terbitnya bulan " OSSO BALIPENG" (hari Jipan) namanya. Baik untuk perkawinan. Bai.le bagi
·kepergian ke suatu negeri. Apa saja yang dilakukan semuanya baik.
- I 0. Sembilan malam terbitnya bulan "OSSO ASU" (hari anjing) namanya. Baik untuk bepergian ke suatu negeri. Baik pula untuk mengasah (benda tajam). Baik pula untuk menaburkan benih padi. 1 I. 11. Sepuluh malam terbitnya bulan "OSSO NAGA" (hari naga) namanya. (Orang sakit) cepat sembuh. Allah Taala jugalah yang tahu bersama Rasul-Nya.
12. PASAL YANG MENJELASKAN PERIHAL PESAN-PE-SANNY A AR UNG YANG MEMPERBAIKI NEGERI DAN
TUTUR KATANYA
- Berkata arung terdahulu, yang dinamakan pemikiran benar itu haruslah tegak di atas keberanian, baru baik. Ada pun yang dinamakan keberanian haruslah bersan- dar pada pemikiran yang benar, barulah baik. Ada pun ke dua hal itu, niscaya haruslah berdiri pada kejujuran, barulah bisa jadi (sempurna). I 2. 2. Berkata arung terdahulu, pesannya anak keturunannya. Jagalah ujung lidahmu, karena lidah itu menimbulkan Iuka yang tak mudah sembuh.
- Yang kedua, janganlah engkau gemar keluar di malam hari (karena) sekurang-kurangnya engkau akan mengin- jak kotoran (tahi). Jangan pula engkau gemar berhutang dengan berbohong, sebab kalau engkau berbohong, sia- pa tahu kelak engkau berkata benar sedangkan orang tidak mempercayaimu lagi, engkau pun terlanjur tidak dipercayai.
- Berkata arung yang jujur; apabila seseorang sudah pem- bohong di masa mudanya, niscaya tidak akan pernah berubah hingga ia menjadi tua. Sebab ia berkata tidak ada alasan ( ... ) atas kebohonganku. J ikalau ia telah ter-
Ujung T anah, ada pun orang yang memiliki akal pikiran itu dekat kepada Allah Taala.
- Berkata pula ia. siapa saja yang melupakan sirik dan taqwa itu, maka ia takkan menjadi orang lagi, sebab tia- da sirik dan taqwanya.
13.11. Berkata pula arung terdahulu lagi jujur. Tiga ha! tidak boleh diremehkan. Berperar\g, sekalipun engkau adalah pemberani. Yang kedua, sekalipun engkau kuat- tidak dapat disepelekkan. Yang ketiga, negeri kendatipun engkau terampil tidak boleh engkau remehkan.
13.12°. Berkata pula arung yang jujur, lagi cerdas. Ada pun orang bodoh itu cepat berpikir. Ada pun pangkal penge- tahuan itu, kesadaran. Ada pun pangkal kekayaan, ialah hemat. Berkat pula ia, paling dungulah apabila kebaikan hati dibalas dengan maksud buruk.
- Berkata pula ia. siapa saja yang melupakan sirik dan taqwa itu, maka ia takkan menjadi orang lagi, sebab tia- da sirik dan taqwanya.
- Berkata sebaliknya arung mangkauk Berkata arung nan cerdas, lagi banyak sirik dan cermat. Amatilah dahulu sesuatu ha!.. Nantilah setelah ada kata mufakat baru eng-
Seolah oleh arung mangkauk itu dipermalukan apabila sesuatu kedu- dukan ditetapkan, tanpa ada kata sepakat.
- Berka ta pula sang arung. J ikalau engkau dipanggil, un- tuk sesuatu hal (menyangkut) kalangan atas janganlah engkau pergi sebelum dijemput. Katakanlah, bahwa mungkin suruhannya salah dengar. Akan tetapi kalau menyangkut kalangan bawah pergilah, kendati pun engkau tidak dijemput, asal hatimu senang. Sekali pun suruhannya salah dengar, engkau tidak akan malu.
13.16. Berkata pula, ada pun raja besar itu apabila di masa ka- nak-kanaknya telah diajarkan kebaikan, maka niscaya ia bakal menjadi baik (setelah besar).
13.17. Berka ta pula raja agung itu, sepantasnya dijaga baik baik yang dise but raj a. Jagalah adat serta ketetapan (undang-undang)-mu, karena hanya itulah yang menjadi pegangan bagi rakyatmu. Kalau tiada dipelihara, maka kerusakanlah akibatnya.
13.18. Berkata pula ( ... ) di Batang pada baginda raja, apa ge- ranganbawaanmu, sehingga keberanianmu tersohor sam- pai ke barat.
13.19. Berkata baginda raja (Luwu). Tiada bawaanku, kecuali hanya ada dua peganganku (yakni) yang mati dan yang hidup jua. Kalau sudah tiba ajalku, matilah aku.
13.20. Syahdan, maka beliau pun diundang ke timur oleh To- wa ri Batang. Berkatalah ia, "Rupanya sudah ada yang engkau peroleh. "Kemudian raja ditanya kembali "Apa bawaanmu". Raja berkata, "Saya lianya memegang teguh tidak mati yang hidup itu".
13.21. Maka konon, diberitahukanlah pada baginda raj(l, bahwa sekurang-kurangnya landasan bagi orang pemberani itu ialah ibarat paku yang dibidik (dengan senapan).
- Berka ta pula sang arung. J ikalau engkau dipanggil, un- tuk sesuatu hal (menyangkut) kalangan atas janganlah engkau pergi sebelum dijemput. Katakanlah, bahwa mungkin suruhannya salah dengar. Akan tetapi kalau menyangkut kalangan bawah pergilah, kendati pun engkau tidak dijemput, asal hatimu senang. Sekali pun suruhannya salah dengar, engkau tidak akan malu.
terdt;sak (sebab) apabila telah benar-benar terdesak baru engkau mau mengam bil posisi, maka engkau tidak akan sempat lagi. Demikianlah maka kuberkata itulah yang disebut posisi terdesak (tettongeng ma-pepek), yaitu yang telah siap siaga memilih/menetapkan tempat bertahan sebelum berhadapan dengan musuh.
13 .24. Itulah yang disebut orang kalah posisi apabila engkau telah memilih tempat yang tepat sebelum (musuh)-mu tiba di tempat itu, maka pertahankanlah kedudukan ter- sebut menurut kelonggaran perasaan hatimu, jika engkau telah berhadapan dengan musuh serta telah pula engkau menyiagakan laskarmu. Begitulah yang disebut gauk ma-pepek ritettonggeng.ma-pepek e.
13.25. Ia berkata pula, ada pun syaratnya membawa keris (ialah) bila engkau telah melilitkan sabukmu, peganglah hulu kerismu lalu tekan ke ulu hati sambil berkata da- lam hati di mana gerangan aku bakal bertarung. Kalau sudah demikian tindakanmu, niscaya engkau takkan gentar lagi.
13.26. Yang disebut pula tahu membawa keris .(bersenjata) apa bila engkau akan bepergian, lalu sejak engkau turun ke atas tanah suara hatimu telah berkata "dari arah mana gerangan (serangan) ujung senjata (musuh) bakal da- tang.Kalau sudah begitu, kita pun tidak akan jadi saJah tingkah-apabila ada kesulitan.
13.27. Berkata pula Gilireng Masa, "Kalau engkau mengabdi pa- da Baginda raj a, janganlah engkau memilih-milih perintah, sebab seluruh perintah baginda raja itu adalah patut eng-
dipanggil. Jikalau baginda raja dilanda kesusahan maka kita harus datang, sekalipun kita tidak dipanggil.
13.30. Ia berkata pula, ada pun adatnya orang baik-baik ialah tidak masuk ke dalam bilik. Ada pun yang dikatakan masuk ke dalam bilik, ialah kita memasuki rumah orang selagi pemiliknya tidak berada di tempat, memandang anak-anaknya, cucunya, serta isterinya (dan) barang- barangnya, apalagi kalau itu rumah atasan kita.
13.31. Berkata pula orang tua-tua, ada pun adat kita ialah kalau raja kita bepergian, kita pun pergi mengawal. Sekali pun kita tidak dipanggil,. kita harus pergi sekiranya kita tidak mempunyaitugas lain. Demikian pufa adat bagi anak dan isteri kita ialah tidak memberikan bingkisan apabila ia jatuh sakit.
13.32. Berkata pula, ada pun adat kita orang baik-baik serta kita yang menanamkan diri sebagai abdi turunan baik-baik, ialah tidak membiarkan junjungan kita memegang senjata, ialah membiarkan sang junjungan turut menga- muk dalam pertempuran.
13.3 3. Berkata Karaeng-nge di Yencana. yang menghilangkan orang baik-baik bukanlah hal lain, hanyalah kebohong- an jua. Sebab yang dinamakan arung (raja) itu tidak akan mengingkari kata yang telah diucapkan, sekali pun akan buruk akibatnya.
si- kap yang empat macam-nya. Pertama-tama yang menga- sihi Allah Taala. Yang kedua, menyukai sunnah Nabi. Yang ketiga, yang menyukai raja yang dijunjungnya. Yang keempat menyukai hambanya. Sekali pun tidak senang orang seperti itu, namun ia telah berada dalam kebaikan.
13.35. Berkata pula, yang pantas bagi orang berakal (ialah) jagalah kehidupannya. Kedua, jagalah isi rumahnya. Ketiga, jagalah keluamya kata-kata, karena yang dinama- kan kata-kata itu ada (hal) di depannya ada pula di belakangnya. Ada pula di kananannya, ada pula di kirinya. Keempat, jaga pulalah jangan sampai jatuh kepercayaan- nya.
13.36. Berkata pula Matinroe Ri Ujung Tana. Jikalau pende- ngaranmu sudah menyukai dan maknanya sudah baik, maka demikianlah kata yang dimuliakan. Sebab tia- dalah kata yang dimuliakan, kecuali hanyalah dikatakan kata itu dimuliakan. Amatilah semua (yang) di muka perkataan dan di belakangnya. Sebab perkataan yang baik, barulah (dikatakan) baik apabila kata itu jujur dan tegar.
13.37. Ada pUI) nafsu itu tidak ubahnya dengan yang lain dan keberanian. Tidaklah baik apabila kita hanya menuruti kata hati (dalam) mengamati semua hal, melainkan ta- namkanlah pada dirimu hal-hal yang telah menjadi kese- pakatan orang banyak. Sekali pun engkau jatuh, tetap juga akan tersandar
1 ). Hanya peganglah, ketentuan Allah Taala pasti terjadi. Demikianlah peninggalan le- luhurmu.
13.38. Satu hal lagi, berkata Hadis, sayangilah isi bumi itu, maka engkau pun akan disayangi oleh isi langit, yang lebih
1) Tidak akan sarnpaijatuh terhempas.
tinggi dari engkatL Sebaik-ba.iknya ia1ah tindak laku yang secukupnya
2) •.•• Sesuatu yang
jalan tengah itulah yang dilaksanakan. Demikian itulah yang dinamakan tindak laku yang tepat. 1 )
13.39. Berkata pula pemberitaan (dalam) kitab, betapa besar pahalanya {bagi) orang yang memberi makan orang kela- paran. Yang kedua. melepaskan orang dari kesusahan. Yang ketiga, membemk orang sakit. Maka jikalau ada orang lapar yang datang ke rumah tita, sedangkan dia sama sekali tidak mempunyai baban makanan, haruslah kita menjamunya dengan makanan yang kita miliki. Yang dikatakan kepadanya, ia1ah "Karena Allahlah maka kuberikan kepadamu sedekah", maka sekali pun engkau tidak bersedekah lagi ~udahnya, tidak menga- pa.
13.40. Berkata arung terdahulu kepada anak cucunya ingatlah nian pokok-pangkal (kebaikan) itu. Lupakan yang buruk, {namun) ingatlah yang baik-baik. lngat pulalah kebaikan orang pada dirimu {sebaliknya) lupakanlah kebaikan kepada orang lain. Lupakan puJa kejahatan orang pada dirimu. 1 3 .41. J il_
2) Tidak berlebihan, tidU pula ltekurmgan tetapi YUi@ pentiog iaW1 ltewajanm, kepantasan, kepatutan.
I) Wajar; pantat; patut; pu-pasan; jitu.
2) Tutur kata; tegm sapa.
raja, namun tidak pernah ada kelakuanku melampaui batas kewajaran. Tiada juga tindak langkah- ku yang tak terkendali. Harapanku hanyalah menuruti adat-nya raja yang berkuasa, serta melaksanakan perin- tah Allah Taala, menghindarkan setiap larangannya. Se- kianlah ucapanku pada anak cucuku yang kupesankan kepadamu.
13.4 2. Berkata juga Kadhi yang tua, sekiranya ditimbang la- ngit yang tujuh su~un berserta tanah yang tujuh lapis bersama seluruh isinya(niscaya) seimbang dengan dua hal (yaitu) lngatlah kepada Allah Taala, tolaklah segala sesuatu yang dilupakan Allah Taala. J auhkan dirimu dari larangan Allah Taala, tanamkanlah pada diri kita segala hal yang baik-baik.
13.43. Ia berkata pula, ada empat hal yang selalu ada pada ma- nusia. Keempat macam itu (ialah) pertama-tama orang dungu. tidak boleh diberitahukan soal keturunan. Yang kedua tidak boleh diberitahukan soal laki-bini. Yang ketiga anak-anak, tidak boleh diajak serta dalam urusan yang disembunyikan (dirahasiakan). Yang keempat. orang yang tidak mengabdi pada raja dan agamawan (allin ulama), serta orang yang tidak mengabdi, tidak boleh diberitahukan apa-apa.
13.44. Berkata pula. empat hal yang menghilangkan sirik. Pertama-tama sangat berambisi pada sesuatu yang diingin- kannya. Yang kedua, kelaparan yang sudah memuncak. Yang ketiga. penguasa yang kelewat batas. Yang keempat, kepelitan yang kedekut. I 3.45. Ia berkata pula, empat hal tidak mungkin tak menam- pak dalam empat hal. Pertama-tama orang yang mendu- duki suatu kedudukkan. mustahil tidak ada kesulitan- nya. Yang kedua orang penentang. mustahil tidak ada sikap ke-pernbangankangan-nya
1 ). Yang ketiga orang kaya, mustahil tidak memiliki (sifat) hemat. Yang ke-
empat orang yang rajin, mustahil tidak ada perilaku- nya yang menonjol.
- PASAL YANG MENJELASKAN NASIHAT ARUNG TER-DAHULU LAGI JUJUR DAN BERITIKAD BAIK
- I. J?engarkanlah ucapanku, kututurkan kepadamu perihal- kebaikan dan keburukan. (Jikalau) engkau melakukan kejahatan, alihkanlah pada kebaikan. Jatihkanlah diri- mu dari kejahatan, lalu kukuhkanlah perlakuan baik.
- Ada .tiga tandanya orang yang berlaku aniaya. Pertama Yang menganiaya sesamanya makhluk ciptaan Tuhan. Yang kedua, yang iri dan dengki terhadap sesamanya manusia. Yang ketiga, yang tidak me~perdulikan asal- usul rezekinya. Tiada mengetahui halal dan haramnya.
- Ada pun orang munafik itu tiga pula tandanya. Pertama pendusta. Yang kedua, mengkhianati janji-janjinya. Yang ketiga, dibentaknya orang apabila ia diperingati.
- Ada puh orang yang baik itu ada tiga tandanya. Pertama, menghindarkan yang haram. Yang kedua, dicarinya pengetahuan. Yang ketiga, tidak melakukan perbuatan dosa. ·
- Orang yang berakal tiga pula tandanya. Pertama, hidup- nya sederhana. Yang kedua, ia bersiat pemalu. Yang ketiga, ia sabar dilanda musibah.
- Ada pun orang yang lalai itu ada tiga tandanya. Pertama, orang yang menyepelekkan hal yang perlu yang d?- wajibkan oleh Allah Taala. Yang kedua, orang yang banyak membicarakan selain Allah Taala. Yang ketiga orang yang takut
1 ) melakukan pengabdian terhadap Allah Taala~
- Ada pun orang yang lalai itu ada tiga tandanya. Pertama, orang yang menyepelekkan hal yang perlu yang d?- wajibkan oleh Allah Taala. Yang kedua, orang yang banyak membicarakan selain Allah Taala. Yang ketiga orang yang takut
- Ada pun orang yang bebal itu ada tiga pula tandanya. Pertama, tidak menghonnati tamunya. Yang kedua, ti-
1) Segan;malasbenbadah.
- Ada pun orang yang bebal itu ada tiga pula tandanya. Pertama, tidak menghonnati tamunya. Yang kedua, ti-
dak mensyukuri 1 ) rezekinya. Yang ketiga, yang takut menerima nasihat.
- Ada pun orang yang direndahkan oleh Allah Taala ada tiga pula tandanya. Pertama, banyak dusta. Yang kedua, banyak sumpah serapah. Yang ketiga, banyak kecurangan terhadap orang lain. I 4. 9. Ada pun orang yang ceriwis
3 ) itu tiga pula tandanya. Pertama, kalau ia memberi (sesuatu kepada orang) maka ia mengungkit-ungkit pemberiannya. Yang kedua. kalau ia dimintai (sesuatu) mukanya cemberut
- Ada pun orang yang direndahkan oleh Allah Taala ada tiga pula tandanya. Pertama, banyak dusta. Yang kedua, banyak sumpah serapah. Yang ketiga, banyak kecurangan terhadap orang lain. I 4. 9. Ada pun orang yang ceriwis
4).
Yang ketiga, kalau ia mendapatkan keberuntungan maka ia tidak mensyukurinya. I 4 .1 0. Se baik-baiknya orang bagi Allah T aala ialah yang ber- buat kebaikan. Sejelek-jeleknya orang bagi Allah Taala ialah orang yang panjang usia tetapi buruk perilakunya. yang nyata-nyata kebaikan tidak dilakukannya. Tidak bertobat, sebelum meninggal dunia.
- Yang kupesankan juga kepadamu, perbanyaklah saha- batmu, sesungguhnya orang tidak mempunyai sahabat. tidak ubahnyalah orang yang tidak memiliki ( ... ). Perbanyaklah kerabat baikmu. Yang disebut kerabat sungguh- sungguh, ialah yang berkelakuan baik lagi taqwa kepada Allah Taala.
- Hanya saja kusampaikan lagi kepada kalian anak cucu- ku, serta orang banyak. Ada empat hal yang membunuh hati itu. Pertama, yang banyak omongan. Yang kedua, banyak makan lagi kelewat kenyang. Yang ketiga, terla- lu banyak tidur. Yang keempatnya, yang kelewat pintar.
14.13. Lima hal pula yang memberati ha ti itu. J ikalau ha ti sudah berat, berkuranglah iman itu. Pertama, dosa. Yang
2) · Tamak; loba; riak; tidak tahu bersyukur atas rezekinya.
3) Nyinyir; gemar membangkit-bangkitkan dan mengungkit-ungkit hal-hal yang sudah lewat; usil.
4) Kening berkerut; bermuka masam sehingga kurang enak dipandang.
- Hanya saja kusampaikan lagi kepada kalian anak cucu- ku, serta orang banyak. Ada empat hal yang membunuh hati itu. Pertama, yang banyak omongan. Yang kedua, banyak makan lagi kelewat kenyang. Yang ketiga, terla- lu banyak tidur. Yang keempatnya, yang kelewat pintar.
Yang ketiga, pura-pura takut. Yang keempat, yang memandang buruk sesuatu yang baik. Yang kelima, makan-minum, sedang- kan ia menggunakan tangan kiri untuk menyuap.
- INILAH KATA YANG DISEPAKATI PETTA MATIROE TOMPOK TIKKA (SERTA) ORANG WARE OEANG PA LOPO
- Dikukuhkannya kata (perjanjian) yang dipesankan oleh Petta Matinroe ri Tompok Tikka. Inilah ucapannya : Junjungan yang menerima peringatan jualah, daku ! Mau menerima nasihat bila khilaf. J unjungan yak tak leo-leo, raja yang tak diterangan dengan obor.
- Berkatalah orang Ware kepada Raja, kalau pun baginda sudah melupakan kata yang ditinggalkan leluhurmu pa- da kami hambamu orang-orang Ware ini, maka akan matilah tanahmu, rakyatmu akan rusak serta kehidup- anmu. Maka kata (ikrar) itu pun disepakati oleh pihak raja dan orang Ware orang-orang Palopo.
- Sesudah ada kata sepakat, maka bangkitlah orang Ware serta orang-orang Palopo itu sambil mangngaruk
1 }, lalu berkatalah baginda raja di Luwu "kita harus saling me- mudahkan, seia sekata. Sepatutnya jualah bila ia tinggal, karena ia berkelakuan baik dan berketurunan orang baik-baik. Maka kukatakan (bahwa) kalau engkau me- nyayangi tanah (negeri) mu, pelihara baiklah ketetapan adatmu, niscaya takkan rusaklah negerimu serta rakyatmu".
- Sesudah ada kata sepakat, maka bangkitlah orang Ware serta orang-orang Palopo itu sambil mangngaruk
- Inilah ucapan ucapan raja bawahan yang disampaikan (sebagai jawaban) kepada junjungannya, bahwa "Ha-
-------------
- Inilah ucapan ucapan raja bawahan yang disampaikan (sebagai jawaban) kepada junjungannya, bahwa "Ha-
1) Mangngarok (bahasa Bugis), berarti meng-<1muk. Namun dalaJn ko~teks ini me- rupalcan frlldfsi _ setempat yang biasa dilakukan oleh para kesatna untuk me- nyampaikan ikrar a tau pun jan,ji setia.
nya suka-cita jualah yang ada pada kami disertai kepuas- an hati, karena kepada kami sudah disampaikan, baltwa baginda raja tidak membeda-bedakan anak-isteri serta kami semua hambanya. Junjungan kami mencarikan ke- baikan yang sama bagi kita semua. Maka kami pun tinggal memegang teguh ucapan kata junjungan kami yang terpateri dalam lontarak, kemudian diwariskan se- cara turun-temurun sampai kepada turunan kami, yaitu tidak menginginkan kedudukanmu, serta mas murnimu, tidak menaiki gunung tinggi 2 ) tidak menyusupi hutan- belantara, tanda pengabdian kami pada raja orang Wara, junjungan orang-orang Palopo.
- SUSUNAN TELLUMPOCCOE ( SERTACAPPAGALAE:z)
- I. Pasal yang menjelaskan perihal Arung Matowae ri Wajo3) maka saling berkaitanlah keturunan (dari) Luwu, Ware, dan orang-,orang Soppeng. Susunan Tellumpoccoe dan Cap pagala e.
- Inilah yang memerincikan ARung Matowae Ri Wajo. Ja- nganlah kita jadi kualat (karena) menyebut-nyebut turunan baginda raja yang berdaulat.
- La Temmalala namanya sang Manurung di Sekkanyili, menikah dengan sang Manurung di Suppa, melahirkan keturunan La Maracinna.
- La Maracinna melahirkan Lamba, melahirkan We Tekka wanuwa.
2) Mengandung arti simbolik, bahwa rakyat tetap akan setia, taat kepada junjung- annya tanpa adanya junjungan lain.
1) Tellumpoccoe ~Bhs. Bugis) artinya tiga bukit. Dalam sejarah kerajaan Jokal di daerah Sulawesi Selatan Tellumpoccoe ·dikenal sebagai persekutuan kekerabatan antara 3 kerajaan (tri aliansi) yaitu Bone, Wajo dan Soppeng.
2) Ozppagala (istilah bahasa daerah Bugs), artinya perjanjian antara kerajaan atau antara dua pihak atau lebih.
3) Gelar khusus untuk raja di kerajaan Wajo.
- La Maracinna melahirkan Lamba, melahirkan We Tekka wanuwa.
- We Tekkawanuwa melahirkan La Makkanengnga, melahirkan La Pasampoi.
- La Pa~mpoi melahirkan Sorompalie/ Sorompalie melahirkan La Mannusa.
- La Mannusa Towakkarengnge Matinroe ri Tanana melahirkan La Demma Bolongnge, melahirkan La Sekati Mallajangnge ri Seleng.
- Mallajangnge ri Seleng melahirkan La M~ta Esso Polli- pue, melahirkan La Malleppe Patolae. Dialah yang meng- ikat (Tri Aliansi) Tellumpoccoe di Timurung (antara) Bone-Wajo-Soppeng.
- Beoe (yang memerintah ketika) Soppeng direbut
1) oleh
kerajaan Gowa pada perang Islam. (la) yang melahirkan La Tenribali Matinroe ri Datunna. Dialah yang dikalah- kan oleh kerajaan Gowa dan diangkut ke Su oleh orang- orang Makassar. lalu diasingkan di Sange (Kerajaan Siang, wilayah dominasi kerajaan Gowa) sampai datang- nya Torisompae bersama yang disebut Belanda, lalu meruntuhkan Sombaopu 2 ), kemudian ia mengembali- kan (Latenribali) ke Soppeng, memerintah negeri.
- Beoe (yang memerintah ketika) Soppeng direbut
16.10. Melahirkan We Adang Matinroe ri Madello. Sepeningal- nya We Adang, maka dinobatkanlah lagi Arumpone raja di sOppeng, yang bernama La Patau.
16. 11. Saudara laki-lakinya We Adang ditunjuk menjadi raja di Soppeng, (yaitu) yang bernama To Esa Matinroe ri Salassana. 16 .12. Matinroe ri Salassana itulah yang beristeri Melayu. Sete- lah meninggalnya To Esa maka dinobatkan pula La-Patau Matinroe Nagauleng sebagai raja Soppeng, ia pun memerintah di keraja_an Bone.
1) Ditaklukkan; dikaJahkan.
2) Pusat kerajaan Gowa yang dibobolkan oleh gabungan kekuatan laskar Bugis di bawah Pimpinan Arung Palakka bersama Angkatan perang Kompeni ~elanda, tahun 1667.
16.1 3. Dialah yang melahirkan La Padassajati Arung Palakka-Matinroe ri Beuwa. Ia bersaudara den.gan La Pareppa Tosappe Ali Matinroe Sombaopu. Ia juga Somba di Gowa lagi pula Mangkauk di Bone. Ia turun tahta, lalu ciinobatkan kembali menjadi raja (Datu) di Soppeng.
16. I 4. La Padassati bersaudara dengan Batari Tojang Settienabe Matinroe ri Tippulue. Ia juga memerintah di Bone dan Wajo.
16. 15. Maka Batari Tojang diturunkan dari tahta kerajaannya lalu digantikan oleh La Oddang Matinroe ri Musuna. la juga Karaeng di Tanete.
16. 16. Ketika La Oddanriu meninggal dunia, maka Batari Tojang pun kembali dinobatkan menJa di raja di Soppeng.
16.17. Matinroe ri Tippulue adalah saudara perempuan dari La Temmassonge Matinroe ri Mallimongeng Suitan Ab- d urzak. Ia bersaudara dengan La Tongeng Datue ri Lesu Matinroe ri Lonang, La Mappajanci Daeng Massuro Sultan Musa Pollipue Matinroe Laburaung, La Mappalion- ro Sultan Nuhung Matinroe ri Amalak na. Dia itulah yang berlayar, untuk beristeri di Luwu.
16. 18. Ia memperisterikan E Baru Sitti Hawa, lahirlah E Addi Luu. La Oddanriu, Pamadellette. Limabelas orang bersaudara sekandung (seayah-seibu).
16. 19. Matinroe ri Amalak na beristeri di Luwu, sesama ketu- runan bangsawan tinggi. Isterinya itulah yang raja (Pa- jung) di Luwu. Dia adalah anak yang lahir dari pasa- ngan suami-isteri yang bernama Aru ng Lapajung Matinroe ri Baruga na.
16.20. La Unrulah Matinroe ri Tengngana Soppeng Datu di Pat- tiro.
16.21. La Orolah Datu ri Lompulle, kemudian turun tahta di kerajaan Soppeng, menjadi raja di Sengkang pada saat Sultan Ahmad Matinroe ri Watu bepergian ke Luwu. Dia
itulah yang membuat kontrak dengan Belanda.
16.22. Baso Batu Pute Sultan Abdul Wani diangkat menjadi raja (datu) di Soppeng.
17. PENGEMBARAAN PEIT A MATINROE TOMPO TIKKA
17. 1. Inilah yang membicarakan ketika orang Ware mengusir Petta Matinroe Tompok Tikka. Ia pun pergi mengemba- ra dan tibalah ia di Wajo, Gowa serta Sidenreng, Bone.
17. 2. Didapatinya orang Bone sedang bertikai dengan orang-orang Gowa. Orang Bone berusaha mengadakan perla- wanan terhadap musuh, kemudian mereka menyong- songnya di medan pertempuran. Orang-orang Bone mengalami kehancuran total, oleh ketangguhan orang Makassar.
17. 3. Barulah orang-orang Luwu berkata, mengapa sampai orang Bone mengalami kegagalan. Begitukah gerangan tindak lakumu wahai oran Bone! Ada pun kami orang-orang Luwu tidak tahu berbuat apa-apa, namun keda- tangan kami ke mari tidak lain adalah karena Bone sedang dilanda bencana, sebab di sini pulalah tempat kami mengabdi.
17. 4. Orang-orang Bone pun mendengarkan ucapan orang Luwu, maka raja Bone memerintahkan agar orang-orang Luwu itu dilepaskan. Maka orang-orang Luwu itulah berperang melawan orang Gowa. Tiada lama orang Luwu berperang, orang Gowa pun mengaku kalah. Ba- nyaklah orang Gowa yang tewas. 1 7. 5. Ada pun yang dikatakan oleh orang Gowa itu, bahwa ada tiga (orang) yang takkan sudi kuserahkan (yaitu), lbundanya E Oni, E Oni serta Culaiya. Beberapa hari kemudian ditinggalkannya (wilayah Bone), maka pergi pulalah diambil kerisnya Culae. Sejak itulah terjadinya hubungan erat antara Bone dan Luwu, tanpa terpisah- kan antara keduanya. Apinya Luwu tidak membakar
Bone.
- Satu ha! pula, ketika sang Datu Luwu pergi ke Bone, di- dapatinya orang Bone bertikai dengan orang Wajo, se- sama kerabat. I 7. 7. Petta Matinroe T ompok Tikka pun menerjunkan pula dirinya dalam kancah pertikaian Bo ne -Wajo. Lagi-lagi pula laskar Luwu (turut) berpera!1g melawan pihak orang Wajo. Maka orang Wajo pun dikalahkan oleh orang Luwu itu.
- Berkatalah Arung Matowae Ri Waj o,sampaikanlah kepada Petta Matinroe Tompok Tikka (bahwa) wahai kisa- nak marilah kita sama-sama mengundurkan diri, sebab kami sudah mandi darah (banyak kurban). mari kita berdamai dan memperkukuh perkerabatan kita. I 7. 9. Petta Matinroe Tompok Tikka pun menoleh kepada komandan pasukan perangnya sambil berkata, dengarkan- lah ucapan kisanakku si orang Waj o itu. I 7. I 0. Berkatalah Arung Matowae Ri Wajo, siapa gerangan wahai paduka nama komandan pasukan perang baginda?
17.11. Berkatalah raja yang terkucil dari Tanah Ware itu. ia itulah anggota dari Makole Towawo. Dialah yang telah menetap batok kepala laskar Wajo. 17. 12. Demi.kianlah, maka Arung Matowae Ri Wajo berkata " pulanglah (kembalilah) ! kami memperkenankanmu merambah di Luwu, tanpa ada yang boleh mencegahmu, sampai kepada turunanmu. Kami Tellumpoccoe sama se- pakat untuk memberimu perkenan, lalu kami mengajak- mu MACCEPPA GALA (membuat perjanjian persaha- batan). Apinya Luwu tidak melalap Wajo. 1 7. 13. Ini satu hal pula yang dituturkan Petta Matinroe ri Tompo Tikka sewaktu beliau pergi ke Sidenreng, lalu datanglah surahan Arumpone memanggilnya. Maka di- masukinya pula perti.kaian orang lain. Syahdan, mereka-
- Berkatalah Arung Matowae Ri Waj o,sampaikanlah kepada Petta Matinroe Tompok Tikka (bahwa) wahai kisa- nak marilah kita sama-sama mengundurkan diri, sebab kami sudah mandi darah (banyak kurban). mari kita berdamai dan memperkukuh perkerabatan kita. I 7. 9. Petta Matinroe Tompok Tikka pun menoleh kepada komandan pasukan perangnya sambil berkata, dengarkan- lah ucapan kisanakku si orang Waj o itu. I 7. I 0. Berkatalah Arung Matowae Ri Wajo, siapa gerangan wahai paduka nama komandan pasukan perang baginda?
pun bersama-sama pergi ke medan peperangan.
1 7. l 4. Maka buru-buru pulalah orang Sidenreng, la]u orang-orang Sienreng mengambil kata sepakat untuk memang- gil Pimpinan perang baginda Datu ripasruk e- 1 ). Maka ia pun berkata, dengarkanlah tutur kata kisanakku orang Sidenreng itu. 17 .15. Berkatalah orang-orang Sidenreng itu, siapa gerangan wahai paduka pimpinan perang paduka ?
17 .16. Berkatalah Petta Matinroe Ri Tompo Tikka itulah yang bernama Lamule gkese. 17 .1 7. Berkatalah orang Sidenreng, baiklah kita sama mengambil kebaikan, biarlah kumohonkan pada Sang Pajung di Luwu serta Tellumpoccoe, agar paduka tidak usah di- cekik kalau sampairaja Luwu meninggal, sebab demiki- anlah ketetapan adatnya raja berdaulat di kerajaan Lu-wu. i 7. 19. Berkatalah Petta Matinroe Ri Tomp9k Tikka, kenapa- kah harus engkau, padahal aku ini masih ada. Akulah yang berhak atas pajung di Luwuk, sebab menurut wa- risanku, akulah kelak yang akan memangku jabatan datu (di Luwu) Petta Matinroe ri Tompok Tikka. 17. 19. Itulah Datu, Petta Matinroe Tompok Tikka yang mere- but negerinya dengan kekuatan senjata, kemudian di- pimpinnya kembali (sebagai raja). Itu pulalah yang kemudian diwarisi oleh anak cucunya, sebagai raja.
- INILAH PESAN-PESAN PETIA MATINROE RI TOMPOK TIKKA
- Bahwa sudah pergi rnengembara, sampai ke Bone, Sop- peng Wajo, Sidenreng serta yang lainnya. Tidak ada yang sarna dengan Tanah Luwu.
- Ada pun pendapat, hasil pemikiranku yang pendek, ku- ibaratkan kerajaan di Ware sebagai manusia, lengkap de-
ngan tujuh 9buah) serambi. Pertama-tama, berkelakuan baik lagi baik keturunannya. Yang kedua, kepatutan derajatnya. Yang ketiga yang baik. Yang keempat, yang mulia. Yang kelima, ia wanita. Yang keenam cukup te- guh pendiriannya. Yang ketujuh, baik pelayanannya.
- Demikianlah, maka aku katakan peliharalah tanahmu di Ware, agar Allah Taala masih memberkati tanahmu. Janganlah engkau menyamakan yang sedikit dengan yang banyak.
- Sebab wanita yang berdiri pada ketujuh serambi terse- but, itulah yang pantas disenangi oleh pangeran mahko- ta serta para putera bangsawan.
- Kupesankan kepada kalian yang kuanggap anak cucuku, sesuaikanlah tindak lakumu serta rezekimu, kendati- pun dalam kesusahan, demi mengharapkan rahmat Allah Taala Kusamp,aikan pula kepada kalian wahai anak cucuku, Janganlah sekali-kali kalian bertikai sesama kerabat, sebab nanti orang-orang luar menjadi berani (merendah- k~n kalian), sekali pun juga menganggap rendah pada mereka. Pertikaian antara sesama kerabat itu termasuk dalam kategori yang merusakkan iman.
- J ikalau kalian bertikai dengan sesa ma anggota kerabat jangan sampai diketahui oleh orang luar, artinya kalau kalian bertikai di pagi hari berdamailah pada sore harinya. Kalau kalian bertikai di sore harinya, berdamailah pada pagi harinya, sebab sudah lumrahlah bagi abdi itu m enim bulk an pertikaian-pertikaian.
- J ikalau ada berita yang sampai kepadamu apakah dari seorang lelaki ataukah wanita, telitilah dan ambillah bahagian kanannya. Kalau bahagian kirinya engkau am- bil, niscaya rusaklah pertimbanganmu, sebab timbulnya nafsumu. Jikalau nafsu itu sudah memuncak maka hilanglah aka] sehatmu. Manakala aka! pikiran itu sudah hilang, hilanglah sirnbol kemanusiaan kita.
- Karena itulah kukatakan, bahwa ambillah kanannya. Sebab kalau engkau mengambil bahagian kanannya, nis- caya ia tegak di atas kebaikan. Yang kamu jadikan sa- saran pengamatan ialah roman mukanya. Jikalau engkau sudah mengamati roman ·muka orang tersebut dan ter- nyata ia memang orang salah tingkah, maka yang demi- kian itulah cjisebut ingin mengadu-domba. Sebaiknya jikalau ia dibunuh. Apabila ia adalah orang yang tidak mempan dengan (senjata) besi, maka ia diasingkan (ke negeri lain). Sama halnya kalau daging kita sakit, maka sebaiknya (daging yang sakit itu) dibuang segera. Begitu- lah pula ibarat orang yang jahat, lebih baik jikalau ia dibuang, sebab orang culas itu adalah pertanda bagi orang yang tidak taqwa kepada Allah Taala beserta rasul-Nya.
- l 0. Satu pula pesan arung terdahulu kepada anak cucunya. Jikalau masih ada turunan orang terhormat dalam negeri, maka diibaratkan negeri masih me.mpunyai rokh, apa- lagi kalau masih ada dua atau tiga orang. Sekalipun negeri itu sudah lemah, tetapi masih dihuni oleh orang-orang terhorrnat maka samala:h halnya orang yang sudah tua renta, namun masih diperhatikan kata-katanya oleh anak cucu serta orang-orang yang menyintainya. Sekali pun ada orang berupaya membunuhnya, namun masih diberikan ketahanan dan keridhaan oleh Allah Taala, Insya Allah ia pun masih akan tetap bernapas, sebagaimana halnya orang yang sakit parah yang masih diberikan kesabaran oleh Allah Taala sehingga ia masih dapat merasakan kenikmatan, maka ia pun tetap akan bangkit (kendati pun) terhuyung-huyung, gontai.
- Jikalau masih ada juga keselamatan diberikan kepada- mu, oleh Tuhan maka pandai-pandailah mengendalikan- nya, sebagaimana halnya sebuah bahtera. Maksud kata-kata ter,ebut (ialah) tidak ubahnya dengan seseorang yang melayarkan bahtera di bawah tiupan angin kencang, haruslah engkau menuruti arus gelombang,
Petta Matinroe Ri Tompo Tikka pada turunannya, bahwa jikalau engkau beroleh kegem- biraan, syukurilah. Kalau engkau dilanda kesengsaraan, bersabarlah, jikalau engkau beroleh rezeki puaskanlah dirimu atas rahmat Tuhan.
- Kusampaikan juga kepadamu, raj inlah engkau menyapa, bertukar pikiTan dengan kaum kerabatmu mau pun orang lain. Bila tidak ada sesuatu ha! yang dapat di- omongkan kepada orang, maka carilah barang sesuatu sebagai pembuka kata yang mungkin menyenangkan ha- tinya. Inilah biangnya tutur sapa dan perilaku (yaitu) sifat taqwa kepada Allah Taala serta rasa malu kepada nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam. l 8 .15. Begitulah maka ada nyanyianku. Demikian nyanyian orang yang menyanyi : "Orang yang mengikat janji setia Harapan orang yang langka. Itulah yang kunamakan ke- senangan, maka aku pun menanti dengan pasrah, apa- pun jadinya hanya Allah Taala yang tahu. Aku tunduk sambil pasrah (menantikan) idaman hati hingga maut menjelang. Nantikanlah daku di dalamnya. Tundukkan selalu hatimu untuk melakukan kepasrahan.
18.16. J ikalau engkau tidak mampu lagi akrab dengan kerabat maka pada tempatnyalah engkau tidak mengacuhkan- nya. Demikianlah maka ada nyanyianku, bahwa DERI-TA TJADA TARANYA NIAN ! DAMAN YANG T!- DA K DILAN DASI NA SJ HAT.
- Kusampaikan juga kepadamu, raj inlah engkau menyapa, bertukar pikiTan dengan kaum kerabatmu mau pun orang lain. Bila tidak ada sesuatu ha! yang dapat di- omongkan kepada orang, maka carilah barang sesuatu sebagai pembuka kata yang mungkin menyenangkan ha- tinya. Inilah biangnya tutur sapa dan perilaku (yaitu) sifat taqwa kepada Allah Taala serta rasa malu kepada nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam. l 8 .15. Begitulah maka ada nyanyianku. Demikian nyanyian orang yang menyanyi : "Orang yang mengikat janji setia Harapan orang yang langka. Itulah yang kunamakan ke- senangan, maka aku pun menanti dengan pasrah, apa- pun jadinya hanya Allah Taala yang tahu. Aku tunduk sambil pasrah (menantikan) idaman hati hingga maut menjelang. Nantikanlah daku di dalamnya. Tundukkan selalu hatimu untuk melakukan kepasrahan.
19. YANG MENJELASKAN DAERAH KEKUASAAN YANG DIPERINTAH OLEH WARE
- Baebunta
- Masamba
- Patila
- Mallibubukang
- Kalotto
- Buwa
- Bukkajang
- Seuwa Lambamai
- Seuwa Lambaliwu
- Tobang 19 .11. Tabba
19.12. Sibuwa Ponra
- Tobang 19 .11. Tabba
- Noling
19.14. Passamasamai
- Noling
- l 5. Pakkulawu Baja
- Suso
- Lambamsi
- Lambalia
- Larompong
19.20. Rantebaula
19.21. Buttu
19.22. Buttu
19.22. Barana
19.23. Weila
19.24. Lelewawo
19.25. Latou
19.26. Towawo
19.27. Baranong
19.28. Mengkoka
20. YANG MENJELASKAN PERIHAL SANGGU
- Larompong
- Ada pun wujud yang dinamakan sanggu, disebut leher- nya yang diikat (dijerat), sebab lain yang meminjam lain
Membayar. Maka sanggu-lah yang membayar apabila si peminjam tidak mampu lagi membayar pinjaman- nya.
- Ada pun yang dinamakan toddok, kakinya yang ditu- suk, sebab barulah ia dituntut pembayaran apabila si peminjam bersangkutan meninggal atau melarikan diri, akan tetapi selain itu si peminjam itu sendiri yang dita- gih. Si peminjam jualah yang melakukan pembayaran.
- Yang menjelaskan perihal gadai lepas. Gadai lepas, bagi perempuan bernilai dua puluh, berhak memperoleh bahagian anak serta harga gadai. Ada pun laki-laki gadai lepasnya bernilai dua tail. Orang yang menerima barang gadaian membayar, sebaliknya berhak r:nemperoleh bahagian anak.
- Ada pun gadai berpindah,tidak hangus uang gadai, tidak beroleh bahagian anak, tidak mengharapkan pembayaran, juga tidak memberikan (sesuatu bagian). Adapun orang yang membungakan uang disamakan dengan ham- ba sahaya. Tidak diambil penghasilannya. Kalaupun diambil setali, setali juga tunai.
- Tidak diberi pinjaman budak seseorang bila tidak dike- tahui oleh majikannya. Ada pun kerabat raja yang diper- isterikan tidak ditailkan, tidak menerima, tidak pula dibayar tunai.
- Kalau budak salah pembicaraan, dua real. Kesalahan tindakan bernilai empat real. Ada pun nilai perempuan empat puluh, nilai laki-laki dua puluh.
- Yang menjelaskan barang curian yang ditemukan pemi- liknya. Kalau ada orang kedapatan di tangannya sesuatu barang curian dan belum diputuskan dalam peradilan, maka kesalahan lebih berat pada orang kedapatan barang di tangannya dibandingkan penemunya.
- Inilah ketetapan orang dituduh berhutang atau dituduh
Setelah lama ia mencahari sendiri, kemudian baru melaporkan- nya maka tidak dapat lagi dicahari, sebab Jama baru ada pem beritahuan.
- Yang menjelaskan ada empat hal yang disebut orang. Pertama-tama ia mengetahui dirinya pintar, belajarlah padanya. Yang kedua orang pintar yang tidak tahu dirinya pin tar, peringatilah. Yang ketiga, orang dungu yang tahu dirinya dungu, ajarilah dia. Yang keempat, ia bo- doh tanpa mengetahui kebodohannya, jangan bergaul dengannya ia tidak sudi engkau ajari.
- PERJANJIAN (ANTAR NEGERI) 21. 1. Maka dijelaskanlah nama raja yang membobolkan To- sora (yaitu) Settiaraja. Ada pun nama Arabnya Sultan Muhammad, sedangkan gelar anumertanya ialah Matin- roeri Tompo Tikka. 21. 2. lnilah perjanjian yang disepakati sehingga besar-lah Bone, sebab jaringan hubungannya dengan Petta Matinroe Ri Tompok Tikka, Begitu engkau kuserbu begitu engkau kutaklukkan. 21. 3. Maka Tanah Luwu pun tidak menghendaki lagi keha- .dirannya, lalu pergilah orang-orang Luwu menemani raja Bone memerangi Gowa. Berkata Arumpune kepada Datu di Luwu, menang ! Datue menang, engkau pun t>erkata Datu dikalahkan. 21. 4. Luwu memanggilmu di pagi hari dan engkau berangkat pada sore harinya. Luwu memanggil di sore hari maka engkau pun berangkat di pagi harinya. ltulah ( ... ) Bone mengikat tali persaudaraan dengan Luwu.
- Inilah perjanjian/ kata mufakat orang Soppeng kepada raja Luwu, bahwa "anginlah Datue, sedangkan engkau orang Soppeng adalah daun kayu. Kalau Luwu ke ba-
Perjanjian orang Mampu pada Datue, bahwa anginlah Datu dan kami orang Mampu hanya dedaunan.
- Perjanjian antara Datu Luwu dan orang Wajo. Keputus- an di Unnyi yang diganti oleh Puwang Rimaggalatung, dengan keris. Dimilikinya seluruh haknya; diperintahnya wilayah kekuasaannya, sempit atau luas; Digantinya pula Datu yang bernama Maningo di J ampue, lalu diperintahnya wilayah kekuasaannya : dikuasainya seluruh daerah pemerintahannya, sempit atau pun luas. 2 1. 8. Perjanjian sendiri Datue Ri Luwu kepada orang Wajo, Api orang Wajo tidak menghanguskan Ware, api orang Waro tidak melalap Wajo.
- Kata mufakat Patolae di Wajo. Tiga patola-nya, tiga pula wilayah dan tiga putasan kata. Yang dimufakati, dalam singkeruk patolae (perjanjian) ialah diambil ( ... ) Orang Wajo tidak memilih junjungan lain, Jikalau sampai orang Wajo memilih junjungan lain maka sampai ke wilayah bawahannya (pi/iii) tidak akan beroleh hasil panen. 2 I .10. Perjanjian di Topacidong, api orang Ware tidak menghanguskan Wao, api orang Wajo tidak akan menghanguskan Ware. 2 1 .11. Inilah perjanjian Datue terhadap Arung Bulo-Bulo. lba- rat telur, kalau Bulo-Bulo mengalami bencana segera Datue (memberikan bala bantuan) tanpa menunggu bekal ataukah Tanah Ware dilanda musibah maka Bulo-Bulo secepatnya memberi bantuan, tanpa menunggu bekal nasi. 2 1. 12. Inilah perjanjian (Singkeruk Wajue Ributung). Orang Buton membayar upeti, akan tetapi Mattiroe Ribajoe, serta lautan yang diambil upeti. Maka Buton diserang
maka datanglah La Mangapa di Luwu. Ia disuruh oleh Lalakie di Buton (mengabarkan) bahwa bagaimanalah usahamu untuk mempertahankan) laut dan tanahmu, karena ia diserang oleh orang Malo- ku. Ada pun jawabannya (ialah) kembalilah ! Kalau engkau tidak mampu · melawannya selamatkanlah teng- gorokanmu. Apabila Lalakie di Buton tidak baik, bawa- lah ia pulang ke mari. Kalau engkau tidak mengem- balikannya, maka batallah perjanjian kita. Akan' tetapi Lamangapa tidak kembali (ke Luwu). Demikianlah maka perjanjian (singkeruk wajue) tidak jadi batal.
21.13. Perjanjian Datue Ri Luwu, kata mufakat orang Gowa kepada orang Ware. Api rang Ware tidak memakan Gowa, apa orang Gowa tiak menjilat Ware.
21.14. Inilah ikrar orang Larompo kepada Datue. Orang Larompo berkata kepada Datue: Anginlah dikau dan kami daun kayu. Ke mana engkau bertiup ke sana kami terdampar. Ke sini engkau bertiup, di sini pulalah kami terdampar. 21 .15. Inilah janji setia raja bawahan kepada Datue sebatas w- layah kekuasaan Ware, bahwa anginlah dikau, wahai junjurigan kami dan kami abdimu hanyalah daun kayu.
21.16. Pasal yang menjelaskan dibobolkannya Gowa, ketika Matinroe Tompok Tikka pergi bersama dengan Matinroe Ri Bontoala. Ketika itulah Bone-Lwu membuat kese- pakatan, tanpa Gowa, kemudian ia beranjak ke Luwu dan digempurnya Palopo di kala ia bersama abdinya di- kucilkan oleh Kare Majembei. Kemudian ia kembali melumpuhkan negeri Palopo dengan kekuatan senjata, Begitulah maka baginda Datue yang bernama Settiaraja berkata kepada Arumpone, sampai batas wilayah yang dijadikan pancangan panji-panji sajalah, seperti Cimpu, Malela, Cakkeawo, naik ke .Buttu dan Tobbo. Kesembi- lan negeri itµlah yang ditunjuknya. Ketika itulah Ma-
perjapjian perkerabatan dengan Matinroe ri Bukaka (raja Bone), bahwa : Tidak saling melanggar adat, tidak saling menurunkan marta- bat, tidak saling bantah. Beliau ituah ayahanda Matinroe Ri Langkanae Datu Opu Tolembae.
- Satu pula ( ... )Petta Matinroe Tompok Tikka ber nya- nyi "Sudahkah gerangan engkau melupakan (sikap) membabi buta, maka pasar pun takkan engkau capai. 2 I. 18. Menyahutlah isterinya sambil berka ta,janganlah berkata begi tu. Bukankah ada satu ·kisah, terkucilnya Tompok Tikka karena orang-orang Luwu t idak menyenangi jun- j ungannya yang ber.nama Kara Majembei, sehingga ia pergi mengembara, lalu singgah di Pakue. Maka dide- ngarnya ( bahwa) Matinroe Ri Bontowala ak an menggempur Gowa. Ketika itulah, orang-orang Bone bermaksud untuk menggepur Gowa, lalu Arumpone ..iihempang, sehingga menderita kekalahan (dalam pe- perangan). 2 1 .19. Perang pun berkec;amuk, maka Go wa kehilangan nyali-nya lalu berkatalah Kare Majem bei sayangnya bukan- lah kita yang dibantu Arumpone. 2 1.20. Diusirlah (dari dalam negeri) Kare Majembei, laskar- pun berperang maka terdesaklah Karaenge Ri Gowa. Se- telah diketahuinya bahwa Luwulah yang dia lawan, berkatalah ia Apinya Luwu membakar Gowa. Karsenge ri-Gowa lalu berpikir maka datanglah Kare Pattung Papan- ca, lalu ia berkata aku mau saja bertarung, asal diberi- kan E Tani, namun Karaenge Ri Go wa tiada sudi. Berkatalah ia, hanya tiga takkan kuberikan, E Tani, bersama ibunya serta Culae. 2 I :21. Maka pergilah Kare Pattung berperang, lalu terpental !ah kopiahnya. Tiba-tiba ia pun terpeleset, maka Gowa pun bobollah oleh Tompok Tikka. Kemudian (ia) bersama Matinroe Bontowala berangkat menuju ke Lu-
"kumendaki ke atas Buntu Tabbo, lalu kutoleh ke bela- kang, lenyaplah nian Kamanre, pupuslah sudah Kamanre negeri tercinta, tempat anak Datu diasuh (sejak ke- cil).
21.22. Yang menyebabkan (hal itu) karena memang ia Pajung di negeri Luwu. Hanya karena rakyat tidak menyenangi pa!a abdi sehingga meninggalkan negeri dan mengembara ke mana-mana. Namun beliau bersama abdinya ber- nasib mujur, sehingga ia membobolkan Gowa bersama Malampe e Gemmek na.
21.23. Dialah pula Datu yang membobolkan benteng pertah- hanan Tosora, kemudian ia kembali pula ke Luwu dan memang takhtanya jugalah yang didudukinya lagi. Baru- lah setelah kembali dari pengembaraannya ia menduduki kembali takhta kerjaan di negeri Ware. Banyaklah negeri besar yang ditaklukkan, semua diambil janji setianya.
21.24. lnilah kata sepakat antara Bone, Soppeng, Luwu Petta Matinroe Tompok Tikka yang bernama Settiaraja, ketika Arumpona memanggil Datuw Ri Luwu (Setia- raja), Datu yang dikeluarkan karena orang Ware tidak tahan dengan perlakuan para aparat (raja) yang bernama Kare Majembei. Demikianlah maka ia meletakkan jebatan di keraj aan Luwu ,lalu pergi mengembara. Arum- pone kemudian mengirim utusan untuk memanggilnya, maka dia pun memenuhi panggilan tersebut.
21.25. Ada pun kata yang desepakati, bahwa "~ya diutus untuk menyampaikan kata sepakat (antara) Bone, Soppeng, Luwu, kesepakatan junjungan kita Mangkau e (di Bone) Datue Ri Soppeng (dan) Datue Ri Luwu bahwa; pergilah engkau wahai sang utusan menyampai-
21 .26. Yang kedua, ketika ia memohon bantuan di Soppeng untuk dicarikan kebaikan di Bone. Namun ketika Soppeng sudah bersedia mencarikannya kebaikan itu, tiba-tiba ia mengurungkan kembali rnaksudnya.
21.27. Yang ketiga, kelalaiannya ialah ketika Bone bertikai dengan Kompeni lalu Adatuange ( Ri Sidenreng) datang kepada pembesar (Kompeni) sehingga Bone rnurka kepada Sidenreng, kendati pun ( waktu itu) ia tidak rnem berikan kesaksian yang sebenarnya. Karena itu ia dicurigai dan disuruh pergi ( oleh pihak Kompeni). 21 .28. lnilah yang menerangkan (peristiwa) datangnya utusan Arumpone menyampaikan kepada orang Luwu dari Ware, perihal maksudnya untuk memerangi Peneki. Maka pergilah Datu Luwu bersa ma dengan seluruh laskarnya, lalu datang pula orang Peneki itu menyam- butnya sambil berkata "kami keberatan wahai paduka kalau kami didatangi oleh Kalamperangnge" 21 .29. Berkatalah Luwu, niscaya kami akan menggempurnya dengan cara apa pun juga, sebab lebih dekat (memihak) ke Bone. 2 1 .30. Datanglah suruhan Bone menjemput Orang Luwu dan ketika ia tiba (di Bone) segera dibawa naik ke istana, tiba pulalah surahan dari Wajo yang datang membawa hadiah (berupa) uang sebanyak sa tu kati satu tail. 2 1 .31. Berkatalah Sang utusan, saya disu ruh oleh Wajo (untuk menyampaikan) bahwa kiranya kita sama kembali ke negeri masing-masing, menc1c1p1 santapan rrfasing- masing, meminum air nan sejuk serta kita sama menca-rikan kebaikan bagi Arung Peneki. 21 .32. Ada pun (kata) jawaban perkataannya, bahwa "Kur
semangat hartanya Wajo, agar kita sama mengingat ketetapan leluhur kita. Ada pun kami orang W ini semata-mata datang ke Tanah Bone, sekadar untuk menegakkan kebesaran junjungan kita di kedua ke- rajaan.
21.33. Pemberitaan itu tiba pada Arumpone di bulan Rajab. Ada pun ucapan Wajo kepada Bone, bahwa "Jikalal!
| ia melakukan | peperangan | karena | kematian | Arung |
|---|---|---|---|---|
| Maruwanging, | maka | Kapa pun sudah meninggal. | ||
| Nyawa | Maruanging | sudah | terbayar | (dengan |
La Arung nyawa pula). Kalau dikatakan Arung Peneki berbuat onar, maka ia telah menyerahkan diri di Wajo sehingga Wajolah yang mempertanggungjawabkannya.
21.34. Maka kembalilah ke rumah kediamanmu
1 ), jangan engkau tertimpa panas sinar matahari dan diterpa tiupan angin. Makanlah makananmu yang enak-enak serta minumlah airmu nan sejuk. Darahmu pun takkan me- ngucur, kecuali engkau digigit lintah dan engkau takkan pernah menghaturkan sembah sujud, kecuali apabila dikau menengadah ke langit lalu menyeru kapada Tuhan Yang Esa 2 .) Maf"ilah kita sama mengukuhkan kepu tusan yang diwariskan 1 ) oleh junjungan kita di masa lampau, yaitu mengiringi lringan 2 ) kita masing-masing. Menyalahkan orang yang bersalah. serta menaati Perjanjian Tellum· poccoe f Timurung. Marilah kita sama memegang teguJ- ketetapan leluhur kita."
1) negeri, pusat pemerintahan kerjaan.
2). tutur sapa yang menunjukkan kebesaran dan kedaulatan raja yang takkan diperintah oleh siapa pun, kecuali Tuhan.
1). Menurut tradisi di daerah Sulawesi Selatan setiap perjanjian termasuk perjanjian kenegaraan diwariskan kepada generasi pelanjut rnasing-rnasing pihak bersangkutn.
2). Maksudnya memimpin; rnemerintah negeri rn.asing-rnasing.
kata yang disampaikan oleh Puwanna Jetta ketika Arumpone masih berada di Peneki. Setelah duakali orang Luwu terlibat peperangan, barulah Datu Pammana datang membawakan (hadiah) emas kepada orang Ware, sambil berkata "saya disuruh oleh Wajo menyerah- kah emas kepada Luwu serta orang Mampu. untuk disampaikan kepada Arumpone. 2 1.36. Sekati-setail nilai emas kiriman Wajo. Baiklah kita sama kembali ke rumah kediaman dan negeri masing-masing, memakan makanan kita yang ena k~nak, m,enenggak minuman kita yang sejuk. Darah paduka tidak akan me- ngucur kecuali apabila digigit oleh lintah. Nantilah kita bertemu sesama kerabat di T imurung dan marilah kita sama meneguhkan keputusan yang telah diwariskan oleh leluhur kita yang membuat perjanjian mallamung 'mpatue di Timurung. Biarlah undang-undang yang me- nentukan orang yang bersalah, entah di Bone, ataukah di Soppeng, di Wajo kita mengambil kata sepakat. lalu kita persalahkan orang yang bersalah." 2 1.37. lnilah kata yang dijawabkan oleh Bone melalui utusan dari Bone bersama utusan Sopeng yang bernama La La Kanraca, bahwa "Yang dititahkan kepada saya oleh Bone-Soppeng, ialah "Suruhannya Wajo telah datang ke- mari membawa harta pappasorok 1 ) maka keuucapkan KURSEAMANGAT atas hartanya Wajo. Bone dan rak- yatnya pun memiliki sedikit harta kekayaan. namun kami tidak mengirimkannya kepada paduka Arung (Ma- towa Wajo) karena kami tidak menghendaki paduka mencampuri urusan orang jahat itu. Ada pun ucapan- mu (bahwa) aku pun bisa menjatuhkan hukuman kepada seorang datu, (maka) marilah kita mempersalahkan orang yang salah.
I) Pappasorok (Bgs}, artinya alat yang digunakan un tuk memundurkan sesuatu. Dalam 'naskah ini pappasorok, terdiri mundur; mengundurkan diri kembali ke negerinya.
Peneki, tanpa kesalahan dan lain sebagainya, bukankah saya berkali-kali mengajakmu bahwa marilah wahai Kisanak, kita mengambil kata sepakat untuk menyalahkan siapa saja yang bersalah (serta) melenyap- kan orang yang jahat. Namun engkau tidak sudi. Maka saya lalu tegak di atas kebenaranku dan menghukum Arung Peneki. Namun demikian kuulangi pula, marilah kita mengambil kata sepakat (untuk) mempersalahkan orang yang bersalah serta mengenyahkan orang nan jahat, kemudian kita laksanakan udang-undang di La- mumpatue di Timurung."
21.39. Peneki dilalap api maka datanglah orang suruhan 2 ). Puwanna Jetta disuruh oleh (pemerintah) Wajo (me- nyampaikan bahwa) yang di1:itahkan Wajo kepada saya (ialah) kalau engkau mengadakan peperangan karena dibunuhnya Arung Maruwanging, La Pangka pun sudah ma ti. Sudah PULIK
3 ). Ada pun Arung Peneki, sudah menyerahkan diri di Wajo, memohon ampunan. Kembalilah ke negerimu. Jangan tinggal di sini tertimpa panas sinar matahari, tertiup angin. Makan- lah makananmu yang enak-enak dan minumlah airmu yang sejuk. kecuali kalau lintah menggigitmu barulah darahmu tercucur dan engkau takkan wafat, sebelum Tuhan sendiri yang mencabut nyawamu. Nantilah kalau engkau· menengadah ke langit, baru engkau mengha- turkan sembah sujud ke pada Tuhan Yang Esa. Lalu kita sama mengukuhkan undang-undang yang telah diwariskan oleh. leluhur kita yang MALLAMUNG 'MPUTUE DI TIM UR UNG, memerintah rakyat masing- masing, sama mempersalahkan orang yang bersalah. Lalu kusuruh pergi (kuusir) Arung Peneki.
2) Utusan kerajaan di zaman dahulu; pembawa berita.
3) Pulik (Bgs) artinya droe; seri. impas.
2 1.40. Jawaban kata Bone-Soppeng kepada Wajo "Ada pun kedatangan suruhanmu menyampaikan kepada kamL wahai Kisanak (perihak) kema tian La Pangka serta penyerahan diri Arung Peneki untuk meminta petigam- punan di Wajo. Sekiranya kita belum terlibat perang, apa salahnya. Akan tetapi kami su dah saling bermandi- kan darah yang belum diketahui kesudahannya, sebab bukan saja .karena kematian Arung Maruwanging maka kami mengangkat "senjata, tetapi juga' karena kesewe- nang-wenangan Arung Peneki itu maka kami mem- bangun peperangan.
2 1.41. Ada pun penyamanmu, bahwa kembalil.ah ke negerimu, kita sama menerapkan yang dinamakan hukum yang tel'!h. diwariskan Jeluhur kita Mallamumpatue di Tumu- rung, sama memerintah rakyat masing-masing, S
21.42. Ucapan Wajo, "Yang dititahkan kepada saya. oleh Wajo, Menurut keadaannya, se baiknya kita sepakati ketentuan hukum yang telah diwariskan oleh Jeluhur kita Mattelump.occoe di Temurung. Kembalilah ke negerimu. Nanti kita bertemu di Temurung untuk menjatuhkan hukuman kepada Aru ng Peneki. 2 1 :43. Kata sepakat Bone-Soppeng untuk menjawab ucapan
Pabbica- rae2) ri Soppeng yang diutus ke Wajo.
21.44. Yang dititahkan kepadaku oleh Bone-Soppeng "Me- ngenai ucapan katamu (bahwa) menurut keadaannya kita sependapat tentang ketentuan hukum yang diwariskan leluhur kita Mattellumpoccoe di Timurung. Baiklah engkau kembali ke negerimu. Nanti kita bertemu di Timurung, untuk menetapkan hukuman bagi Arung Peneki."
21.45. Berkata kisanakmu "Bagaimana ditetapkan hukuman bagi Arung Peneki, padahal tidak serupa 3) kata per- tamanya dengan yang kemudian. Ada pun yang karrii namakan kebaikan, apabila anaknya Wajo yang ada di Peneki diberikan perhatian sehingga mempermudah bagimu untuk menjatuhkan putusan Tellumpoccoe. Setelah itu barulah kita kembali ke Timurung untuk mengukuhkan perjanjian yang telah diwariskan oleh leluhur kita Mallamumpatue ri Timurung (yaitu) sama meniti pematang yang lurus (maupun) yang bengkok, demi kebaikan Tellumpoccoe. Sekian"! 21 .46. Ucapan Wajo yang dibawa oleh Pillae di Bone, "syukur- lah karena sama mengingat perjanjian leluhur kita, Matellumpoccoe ri Timurung. Kepantasan petusanmu itulah yang menegarkan Tellumpoccoe. 21 .4 7. Ada pun ucapan katamu (bahwa) yang kami namakan kebaikan apabila anaknya Wajo diberi perhatian sehingga mempermudah pelaksanaan hasil kesepakatan Tel-
1) Pejabat kerajaan yang bertanggung jawab atas urusan dalam negeri, termasuk uru.san rumah tangga raja dalam istana. Jabatan ini mulai dikenal di daerah Bone da1am masa pemerintahan raja Bone ke III, bernama La Saliyu Kerampe luwa (lihat karya A. Moh. Ali, 1969 :9).
2) Salah satu pejabat dalam struktur pemerintahan tradisional di kerajaan Soppeng dan sekitarnya. ·
3) Tidak sesuai, tidak sama, tidak konsisten.
sehingga ia menyerahkan diri. Maka Wajo mempercayainya serta memberi pengampunan. Itulah yang kami namakan kebaikan, wahai Kisanak. Kembali- lah dulu ke negerimu. Nantilah kita bermusyawarah di Timurung, lalu rnenetapkan hukurnan bagi Arung Penekj menurut keputusan Tellumpoccoe serta hasil kesepakat- an antara kita bertiga sesama keluarga. Sekian.
21.48. lnilah jawaban Soppeng-Bone. To Marilalengnge bersama Sulle Datue
1) diutus ke Wajo. Yang dititahkan
ke padaku Bone-Soppeng : "Ada pun percayanya Wajo dalam hal penyerahan _diri Arung Peneki, maka Wajo jua yang kami percaya. Hanya kisanakmu bertanya, kalau engkau percaya pada penyerahan dirinya itu apa- kah berarti engkau telah menjamin/bertanggungjawab atas kesewenang-wenanga·n Arung Peneki dalam wilayah Tellumpoccoe, serta yang lainnya.
n .49. Ada pun keinginanmu, agar kisa nakmu kembali (ke
negerinya) berapa banyak kebaikannya jika aku kembali. Berapa pula keburukannya b_ila kami tidak kernbali sebab kami yakin ia hanya menyerah di Wajo karena terdesak. Manakala karni kernbali/pulang lalu ia rnengulangi lagi tindakannya, tia da yang rnenanggung resikonya kecuali Wajo juga. Demikianlah maka ku- berulang kali rnengingatkanrnu. kisanak agar kebaikan- lah akhirnya. 21 .50. Ucapan Wajo yang dibawa oleh Pillae bersarna yang disebut Banrangae, Saya dititahkan oleh Wajo : ''Kalau engkau berkata rnenurut aturannya kepercayaan Wajo atas penyerahan Arung Peneki, rn aka Wajo jugalah yang
1) Su/le Datu (Bhs. Bugis) biasa pula disebut Su/le wa rang, maksudnya pengganti diri raja; wakil raja yang merupakan salah satu jabatan dalam struktur kerajaan zaman dulu.
putusan kita (yaitu) saling rnernpercayai. Ada pun ucapan katarnu bahwa kalau engkau percaya pada penyerahan dirinya apakah engkau telah bertanggung jawab pula atas kesewenanm- wenangan Arung Peneki dalarn wilayah Tellumpoccoe dan sekitarnya, (rnaka) kisanakrnu, Wajo berkata Sayalah bertanggung jawab untuk rnenghukurn Arung Peneki, dernikian pula kalau ia mengkhianati janjinya, sayalah yang akan rnenghadapinya.
2 1 .51. Adapun ucapanmu, berapa kebanyakannya kalau kami kernbali, rnaka yang dikatakan Wajo (bahwa) kalau engkau kernbali (ialah KITA SALING MEMPERCA YA! kalau engkau tidak kernbali KITA BERKATA TANPA SALING MEMPERCA Y AI. Maka untuk kesekian kalmya karni berkata (kepadamu) kisanak, kembalilah ke negerimu, nan ti kita bertemu di Tirnurung lalu kita tetapkan hukuman Arung Peneki menurut keputusan Tellumpoccoe. Hanya yang kita mufakati bertiga antara sesama kerabatlah yang ikan menentukan putusan hukum itu, semoga kebaikanlah akhirnya.
ANALISIS
3 .1. LAT AR BELAK.ANG ISI NASKAH
Secara garis besar naskah kuno Lontarak Luwu memuat ke anekaragam masalah yang bertalian dengan 21 masalah pokok, yaitu :
1.1. Pesan-Pesan Leluhur Terhadap Anak Cucunya. Diungkapkan 29 syarat utama atau pun syarat minimal yang harus dipenuhi oleh tokoh dapat beberapa syarat yang mengutamakan adanya hubungan baik an tara manusia/ pemimpin dengan Sang Maha Kuasa. Sebeb.ihnya berkaitan dengan sikap, tutur sapa terhadap orang lain, di samping beberapa syarat yang menekankan pentingnya tokoh pemimpin menjaga kesejahteraan dan kemaslahatan rakyatnya.
1.2. Hari-Hari Kelahiran Anak. Disajikan seperangkat pengetahuan tradisional tentang watak dan sifat seorang anak berdasarkan dengan hari kelahirannya. Masyarakat Luwu memandang adanya hubungan erat antara watak dan sifat seorang anak di satu pihak dan saat atau waktu kelahiran anak tersebut di lain pihak, Dasar pemahaman dan pandangan inilah yang kemudian menirnbulkan adanya nilai yang dianggap baik di samping adanya hari-hari tertentu yang
dianggap buruk.
1.3. Penjelasan Ulama yang Arif Bijaksana. Diungkapkan tentang pandangan para alim ulama tentang berbagai nama yang secara ideal patut diberikan kepada seorang anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan menurut hari kelahirannya. Ini berarti, bahwa pembetian nama bagi seorang anak senantiasa harus disesuaikan dengan hari saat mana seorang anak lahir ke dunia. Pemberian nama mempunyai nilai luhur karena akan menentukan nasib baik buruknya di kemudian hari. Setiap hari pasaran mempunyai nilai ritual sehingga pemberian nama pun disesuaikan dengan hari kelahirannya.
1.4. Pesan-pesan raja terdahulu kepada anak cucunya. Berbagai macam pesan raja terdahulu kepada anak cucunya melakukan hal-hal baik yang terpuji, sekaligus berusaha men- jauhkan diri dari hal-hal buruk yang tercela. Ditunjukkan ada- nya sikap diri, tutur sapa, tatakrama dan tindakan tertentu yang secara ideal harus dilakukan, antara lain dalam jaringan hubungan manusia dengan d.iri sendiri, hubungan dengan Tuhan. hubungan dengan sesama manusia. Segenap tindakan sikap dan perilaku yang menyimpan dari pesan .tersebut di pandang bernilai "buruk". Ajaran yang diungkapkan menekan- kan bahwa anak cucunya harus mempunyai keyakinan agama Islam yang teguh. Menjalankan syareat Islam dengan baik dengan sasaran berdasarkan kepada Allah SWT dan Rasulullah Nabi Muhammad SAW.
1.5. Silsilah Keturunan Raja To Manurungnge Ri Luwu Pasal ini mengungkapkan perihal garis keturunan Sang To Manurung, raja Luwu yang dipandang sebagai manusia titisan dewa-dewa dari kahiyangan. · Selain itu dituturkan me- ngenai hubungan perkawinan antara keturunan sang To Manurung dengan keturunan bangsawan lokal yang berasal dari berbagai negeri, seperti Bone, Waj o, Soppeng, Sidenreng, Sawitto dan Jain sebagainya.
Pettung
Dikisahkan tentang perkawinan To Anakaji, putera Sang Manurung di Pettung dengan We _Tappaciana. dari Majampai. Dari perkawinan tersebut lahirlah We Mattennga Empong yang kemudian menikah dengan manusia turunan buaya.
1.7. Pesan-pesan Raja dan Pajung Terdahulu Diungkapkan berbagai tatacara dan adat-istiadat bagi setiap abdi yang mendapatkan perintah dari Raja, untuk diutus ke suatu negeri. Dalam pada itu ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap utusan kerajaan, sampai selesainya pelaksanaan tugas khusus yang diem bannya. Selain itu, pasal ini berisi pesan-pesan dari salah seorang raja Luwu yang bergelar Matinroe ri Tompo Tikka. Menurut pesan tersebut ada tanda-tanda yang buruk bagi suatu negeri, menurut sikap dan tindakan aparatnya. 1 .8. Pengetahuan Disajikan aneka ragam pengetahuan tradisonal orang Luwu tentang baik-buruknya seekor kucing piaraan serta baik-buruknya tanda yang dapat diketahui dari bunyi cecak. Dalam ha! ini tnda-tanda baik atau pun buruk ditentukan oleh waktu dan tempat cecak itu berada pada saat memperdengarkan bunyinya.
1.9. Perihal Nafas Pasal ini secara khusus mengungkapkan sistem pengetahuan tradisional orang Luwu, tentang nafas. Nenurut pengetahuan budaya tersebut, maka besar kecilnya nafas antara kiri di samping nafas kanan merupakan pertanda baik atau buruk, benar atau bohongnya suatu kabar berita; selamat atau naas- nya bagi seseorang yang sedang bertarung di medan laga. Bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan nafas ketika akan bersanggama dengan isteri atau pun bagaimana memanaskan tubuh yang kedinginan dan sebaliknya, bagaimana menyejukkan
badan yang sedang sakit panas. Pasal ini juga mengung1rnpkan .pandangan orang Luwu tentang makrokosmos dan micrikismos, menurut pergantian napas yang melambangkan matahari dan bulan.
1.10. Peredaran Tahun Disajikan mengenai pandangan orang Luwu tentang baik- buruknya suatu hari tertentu menurut peredaran tahun. Setiap peredaran. tahun mempunyai nama tersendiri, sedangkan nama-nama tahun tersebut memuat adanya nilai baik atau pun nilai buruk yang bakal terjadi dalam kehidupan masyarakat. Pena- maan tahun yang silih berganti itu dilambangkan dengan salah satu huruf hijaiyah, terdiri atas alif, ha, jin, zet, dal, ba, dan wawu. 1 .11. Bulan Baik dan Buruk Ditunjukkan, bahwa bagi masyarakat Luwu nilai baik dan buruk itu bukan hanya terungkap dalam peredaran tahun saja, akan tetapi juga terpateri dalam peristiwa peredaran bulan. Setiap bulan terbit di angkasa, dipandang mempunyai nilai tersendiri, sedangkan setiap kali bulan terbit maka ia terbit dengan nama tersendiri pula. Pada bulan yang mengandung nilai buruk diharapkan anggota masyarakat menghindarkan adanya kegiatan yang dapat niembawa resiko, seperti pelayaran, perkawinan, mendirikan rumah dan sebagainya.
1.12. Pesan-Pesan Raja Yang Memperbaiki Negeri lagi Manis Tutur Sapanya Dibicarakan tentang nilai-nilai utama, tentang kejujuran, keberanian, kebenaran, pola pikir ya ng dinilai baik dan benar. Dipaparkan juga keanekaragaman tuntunan bagi seseorang dalam pergaulannya dengan orang-orang lain di sekitamya, tatacara pengabdian kepada raja, dilengkapi dengan tatakrama dan sopan santun pergaulan dalam masyarakat luas.
1.13. Pesan-Pesan Orang Bijaksana Ditemukan berbagai pesan leluhur, tentang tatacara dan
· tuntunan bagi seseorang untuk senantiasa menjaga lidah. menjaga bibir dalam melontarkan sebuah perkataan. sebab perkataan itu dapat melukai orang lain, Iuka mana akan sulit atau memerlukan waktu lama untuk menyembuhkannya.
1.14. Nasihat Leluhur yang Jujur dan Beritikad Baik
Berbagai nasehat tentang tanda-tanda manusia yang dinilai buruk dan manusia yang dinilai baik dapat ditemukan dalam pasal ini. Secara garis besar orang Luwu membagi manusia dalam beberapa golongan menurut watak dan karakternya, yaitu : orang an iaya: munafik: baik: orang berakal; orang lalai; orang be bal; yang hina di muka Tuhan : orang yang baik di hadapan Tuhan. Diungkapkan juga perihal kriteria dasar bagi orang yang dinilai kerabat baik, hal-hal yang bakal membunuh ha ti dan terakhir hal-hal yang dipandang akan mem berati ha ti manusia.
1 .15. Perjanjian Raja Matinroe ri T ompo Tikka
Diungkapkan berbagai macarn perjanjian antara Baginda Raja Matinroe ri Tompo Tikka dan kerajaan lainnya seperti, perjanjian orang Ware. perjanjian /.fanji setia para raja bawahan di dalam kekuasaan kerajaan Luwu.
1.16. Susunan Mattellumpoccoe dan Cappagalle
Pada bagian ini disajikan informasi rnenyangkut pertalian kekerabatan antara Luwu dan tiga daerah yang bergabung, dikenal sebagai Tellumpoccoe (Trialiansi) terdiri atas daerah Bone, Wajo, Soppeng. Selanjutnya dipaparkan mengenai jalur hubungan kekerabatan dari Sang Manurungnge ri Sekkanyili (Soppeng). Berdasarkan atas hubungan kekerabatan yang meli- batkan jaringan keempat daerah bekas kerajaan tersebut, maka dalam lontarak Luwu ditemukan data, bahwa beberapa .orang raja pernah rnemerintah lebih dari satu kerajaan, untuk satu kurun waktu yang bersamaan. Ini membuktikan, bahwa faktor kekerabatan itu turut rnewarnai kehidupan bernegara.
Perantauan Baginda Raja Matinroe Tompo Tikka
Dijelaskan hal-hal menyangkut kisah pengembaraan raja Matinroe Tompo Tikka ke berbagai negeri, seperti : Gowa, Bone, Wajo, Soppeng. Sidenreng. Dalarn pada itu Baginda Raja Luwu (Matinroe Tompo Tikka) sempat mernbantu kerajaan Bone untuk memerangi pihak kerajaan Gowa, pertikaian Bone dan Wajo, serta pertikaian antara Sidenreng dengan pihak Soppeng.
1.18. Pesan-Pesan Baginda Raja Matinrow Tompo Tikka Dijelaskan hal-hal yang memuat data dan informasi mengenai keanekaragaman pesan yang bertalian dengan : nilai-nilai utama bagi seorang calon pemimpin di Luwu; larangan bertikai antara sesama kerabat. pentingnya peranan penasihat; pentingnya kepatutan dalam pengambilan keputusan; memperbanyak tukar pendapat/musyawarah untuk mufakat.
1.19. Daerah Kekuasaan Luwu Diterangkan hal khusus yang memberitakan perihal berbagai negeri ke.rajaan kecil yang bernaung di bawah kerajaan Luwu. Dikenal adanya 28 wilayah, termasuk Mengkoka yang sekarang menjadi bagian dari wilayah administrasi Sulawesi Tenggara.
1. 20. Sanggu Dijelaskan mengenai utang-piutang dengan materi pokok terdiri atas : sanggu, yaitu orang yang memberikan jaminan atas diri seseorang yang mengambil hutang pada orang lain. Sanggu ini bertanggung jawab menanggung resiko, membayar hutang orang yang dijaminnya, rnanakala yang bersangkutan tidak mampu melunasi hutang-hutangnya. Diungkapkan mengenai toddo yaitu orang tertentu yang menjamin diri seseorang untuk mendapatkan pinjaman, dengan catatan ia baru dituntut manakala si pemilik hutang melarikan diri atau meninggal dunia sebelum melunasi hutang pada si peminjam.
1.21. Perjanjian Antar Kerajaan Diungkapkan perihal hubungan persahabatan, antara keraja-
zaman Petta Matinroe Tompo Tikka dengan kerajaan Bone dan Soppeng. Disajikan juga berbagai macam perjanjian antara Luwu dan negeri-negeri kerajaan lainnya, seperti Bone, Soppeng, Mampu, Wajo, Bulo-Bulo, Bu ton, kerajaan Gowa, Larompong, raja-raja bawahan di Luwu .. Selain itu. diungkap- kan mengenai peristiwa pembobolan kerajaan Gowa oleh kekuatan gabungan Luwu-Bone. serta perebutan kembali Luwu oleh Setia Raja Matinroe Tompo Tikka, setelah beliau terusir. Pasal ini berakhir dengan informasi menyangkut penye- lesaian pertikaian antara Wajo dan Bone-Soppeng-Luwu akibat perselisihan antara keraJaan Marowanging dengan Peneki di Wajo.
3.2. LATAR BELAK.ANG NILAI
Dalam usaha mengungkapkan latar belakang nilai budaya, khusus yang termuat dalam naskah kuno Lontarak Luwu, maka analisis ini dilandaskan pada definisi operasional yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat, yaitu "Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus dianggap amat bernilai dalam hidup" (1974: 32).
Bertolak dari definisi operasional tersebut maka pemba- hasan ini difokuskan pada usaha mengu ngkapkan perangkat nilai-nilai budaya orang Luwu yang terkandung dalam lontarak. Dalam pada itu dipandang perlu adanya kerangka konsepsional terutama sebagai alat untuk mengelompokkan anekaragam nilai ke dalam kategori-kategori tertentu. sehingga keseluruhan unsur nilai-nilai dimaksud menjadi lebih sederhana sekaligus mempermudah analisis. Salah satu konsep nilai budaya, sebagaimana disitir oleh Koentjaraningrat dari karya C. Kluckhohn mengonsepsikan adanya lima masalah pokok yang selalu terkait dengan sistem nilai dalam setiap kebudayaan, yaitu : masalah hakekat hid up manusia; hakekat karya; hakekat kedudukan manusia dalam
sekit~mya; hakekat hubungan manusia dengan sesamanya (lihat karva Koentjaraningrat; 1974 : 34-35).
Dalam konteks lain, Prof. S. Takdir Alisyahbana, SH me- nyusun konsepsi nilai-nilai budaya itu dalam enam unsur pokok yaitu : nilai teori, nilai ekoriomi, nilai agama, nilai seni, nilai kuasa, dan nilai solidaritas ( 1971 : 10). Tampak, bahwa kedua konsepsi nilai-nilai tersebut di atas mempunyai variasi dan orientasi nilai. yang berbeda susunannya, namun demikian ke- duanya saling. melengkapi satu sama lain sehingga dipandang cukup relevan dan potensial bagi usaha pengungkapan perang- kat nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam Lontarak Luwu. Sejalan dengan kedua konsep tersebut maka berbagai ma cam nilai-nilai yang melatar belakangi kehidupan sosial maupun budaya orang Luwu dapat disajikan sebagai berikut :
2.1. Nilai hidup; Hasil analisis dan kajian naskah kuno Lontarak Luwu yang menjadi fokus pembahasan ini menunjukkan, bahwa masyarakat di daerah Luwu sejak zaman dahulu senantiasa menjunjung tinggi nilai ~eipanusiaan yang bertumpu pada sirik. Ini tampak secara jelas pada isi ·naskah lontarak ( 4.5) yang menyatakan, bahwa "perbanyaklah sirik-mu, karena kita hanya dapat disebut manusia yang sesungguhnya apabila kita masih memiliki sirik" Apabila pesan tersebut di ata,s dikaitkan dengan persepsi masyarakat tentang nilai baik di samping nilai buruk, jelaslah bahwa orang yang mempunyai sirik itu terhitung orang baik, sebaliknya mereka yang tidak memiliki sirik termasuk dalam kategori orang tidak baik. lni beratti, bahwa sirik merupakah nilai tertinggi dalam kehidupan masyarakat Luwu. Sejalan dengan itu kebanyakan warga masyarakat selalu berupaya agar dapat mempertahankan sirik itu dengan melakukan hal-hal yang secara ideal dipandang terpuji, sekaligus menghindarkan segala tindak laku, sikap dan tutur sapa yang tercela. lmplikasi
"janganlah engkau melupalan agama (Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad; jangan pula engkau mau dihinakan oleh sesamamu apalagi atasanmu; jangan pula engkau mau dihinakan oleh adat dan junjunganmu; jangan pula engkau sayangkan hartamu buat demi kepentingan negerimu."
Nilai sirik yang melandasi eksistensi kehidupan masyarakat Luwu, dengan demikian turut dikukuhkan oleh empat nilai utama, yaitu nilai agama/ketuhanan, nilai solidaritas, nilai kuasa/hukum serta nilai pengabdian terhadap negara. lni berarti pula, bahwa nilai hidup dan kemanusiaan itu tidak berdiri sendiri, melainkan secara hakiki hanya mungkin lestari manaka- la ditopang oleh konsep-konsep lain yang ada dan hidup dalam masyarakat pendukungnya.
Apabila dibandingkan dengan kehidupan kelompok- kelompok etnik lainnya di daerah Sulawesi Selatan, maka sirik tersebut bukan hanya ditemukan dalam konsep budaya orang Luwu,, melainkan ditemukan pula dalam kehidupan orang Makassar, Mandar dan Toraja. Laporan Penelitian Pananrangi Hamid, dkk. antara lain menyebutkan, bahwa "Dalam kehidup- ·an orang Makassar, sirik merupakan prinsip dasar yang bukan hanya semata-mata berarti malu, melainkan adalah eksistensi manusia dan kemanusiaan, baik secara individual maupun bagi keluarga dan masyarakat luas. Sirik ( .. ) telah menjadi bahagi- an dari sistem sosial yang amat teguh dan jalin berjalin dalam keseluruhan sistem kehidupan masyarakat Makassar" ( 1983:
99)~ Mungkin karena itu pulalah maka Ors, H.D. Mangemba me- mandang "sirik dan pacce sebagai. pola pikir dan pola tingkah laku dalam bermasyarakat pada umumnya, dalam kehidupan rumah tangga pada khususnya" (Makalah, 21 Nopember 1989).
seSama anggota masyarakat.
Implikasi nilai karya dalam kehidupan nyata mendorong, untuk timbulnya semangat kerja yang tinggi, ketekunan dalam mencahari nafkah, keuletan dalam mengusahakan sesuatu. Demikian tumbuh dan berkembanglah pula aneka ragam penilai- an masyarakat yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama menurut persepsi masyarakat pendu- kungnya. ... yaitu nilai baik dan buruk. Kedua nilai ini dapat diidentifikasikan menurut tanda-tandanya, antara lain· sebagai berikut;
I. Nilai baik berkenaan dengan hasil karya terdin atas :
a. Pemimpin termasuk raja yang takkan tidur pula, takkan terlena, takkan lalai, dan takkan pernah berhenti berpikir dan berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
b. Orang baik-baik itu, ialah mereka yang tidak menempat- kan harta benda lebih mulia dari sesama manusia.
c. Orang baik-baik itu, ialah mereka yang tidak berµsaha menumpuk harta benda, tidak pelit (pemurah), dan gemar, menjamu,sesamanya.
d. Terhitung pula nilai baik bagi orang yang menggunakan sebahagian besar waktunya untuk bekerja dan berusaha sehingga mereka disebut tau pato (orang raj.in). Orang seperti ini tidak akan tidur sebelum mengantuk, lagi pula tidak akan makan sebelum lapar.
2. Nilai buruk yang bertalian dengan karya manusia, antara lain tercermin pada :
Orang yang lebih memuliakan, lebih mementingkan harta benda dari sesamanya manusia.
c. Orang yang gemar menumpuk-numpuk harta benda, lagi pula loba, tamak, bakhil, serakah da n tidak suka bersede- kah.
d. Orang pemalas yang kebanyakan waktunya habis hanya untuk berfoya-foya, tidur mendengkur di atas tilam serta makan yang enak-enak tanpa memperdulikan nasib orang lain. Selain hal-hal tersebut di atas, nilai karya. yang bernilai amat tinggi dalam kehidupan orang Luwu ternyata menga- kibatkan. pula tumbuhnya sistem pengetahuan tradisional untuk mengetahui, antara lain suratan nasi b, sedikit-banyaknya rezeki, jenis-jenis pekerjaan yang sesuai bagi orang-seorang, serta jenis-jenis pekerjaan yang takkan membawa hasil produksi yang memadai. Semua itu berorientasi pada upaya memenuhi harkat manusia dan kemanusiaan .yang cukup bernilai dilihat dari sudut karya.
2.3. Nilai Ruang dan Waktu Sampai saat ini masyarakat Luwu di daerah Sulawesi Sela- tan menempatkan faktor ruang dan waktu sebagai penentu bagi penyelenggaraan aktipitas hidup dan kehidupannya. Identifikasi nilai ruang dan waktu dapat diungkapkan sebagai berikut :
I. Nilai Ruang, secara garis besar terbagi dalam hal-hal
yang dikategorikan baik di samping yang buruk. Kedua hal tersebut didasarkan ata.s : ruang tempat tinggal, letak serta arah berdirinya ruang tempat tinggal, letak dan kemiringan ruang produksi, letak dan posisi ruang berkenaan dengan pertempuran, letak dan tata ruang untuk perkampungan. Baik atau buruknya · nasib peruntungan seseorang, menurut konsepsi budaya orang Luwu turut ditentukan oleh tepat
30, masing diberinya nama tersendiri yang saling berbeda antara satu hari dan hari-hari lainnya. Perbedaan nama-nama tersebut mempunyai pula kandungan nilai yang saling berbeda-beda. Bahkan anggota masyarakat seringkali mengenal adanya rincian hari-hari naas, atau pun hari keberuntungan yang jatuh pada saat tertentu.
Waktu dalam setahun dibagi menjadi 12 bulan. Tiap bulan itu mempunyai nilai tersendiri. Mereka pun mengonsepsikan adanya bulan-bulan yang dianggap naas/ sial di samping ada bulan-bulan tertentu yang dipandang mempunyai nilai baik, nilai keberuntungan dan kemujuran. Dalam pada itu anggota masyarakat biasanya di larang melakukan kegiatan apa pun juga pada saat jatuhnya waktu naas dan sial itu. Kehidupan manusia, dengan demikian takkan pernah dapat dipisahkan dari waktu dan peredaran masa. Dalam kehiupan nyata sehari-hari, masyarakat setempat senantiasa berusaha mencari dan menetapkan saat baik, untuk melakukan suatu kegiatan terutama yang bertalian dengan : rencan~ _pelayaran, perniagaan, memulai turun ke sawah, men-
kehamilan, upacara kelahiran, upacara menanjak dewasa, upacara perkawinan dan upacara kematian.
Persepsi masyarakat Luwu tentang nilai waktu bukan baru dikenal saat ini, bahkan bukan pula bermula pada saat dituliskannya naskah Lontarak Luwu tersebut, melainkan telah. di kenal sejak zaman · Sawerigading. Dalam kisah Pau-Paunna Sawerigading tercatat, bahwa pacia waktu Sawerigading akan berlayar menuju ke Latanete kerajaan Bina di Tanah Bugis, lebih dahulu ia memerintahkan kepada seorang boto (tukang ramal; ahli nujum : pawang) un tuk mencari waktu yang dipandang baik untuk memulai pel ayarannya (Baca Pau· Paunna Sawerigading, hasil transliterasi dan terjemahan, Panan- rangi Hamid, 1988). Ini menunjukkan, sekaligus menjadi bukti autentik bahwa persepsi n-ilai waktu di T anah Luwu memang sudah ada sejak zaman silam.
Selain hal-hal tersebut di atas, masyarakat Luwu masih me ngenal pula adanya nilai baik dan nilai buruk berkenaan dengan waktu kelahiran bagi seorang anak manusia. Dala.m ha! ini dikenal adanya hari-hari baik di samping hari-hari buruk yang menyertai kelahiran seorang bayi. Tepatnya nasib perun• tungan, panjang atau pendeknya usia seorang anak, perjodohan dan rezekinya turut terkait dalam masa kel ahirannya. Ke1ahiran anak di hari tertentu dipandang mempunyai nilai berbeda dengan kelahiran anak di hari ·yang lain. Demikian pula anak yang lahir di waktu malarn akan berbeda nasib peruntungan- nya dengan anak yang dilahirkan pada waktu siarrg hari. Semua itu menunjukkan betapa pentingnya arti waktu bagi masyarakat Luwu.
2.4. Nilai Hubungan Manusia dengan Alam Sekitarnya Masyarakat Luwu, sebagairnana hal nya setiap masyarakat manusia senantiasa dapat membedakan diri sendiri dengan un- sur alam sekitarnya. Namun dalam kegiatan hidup, mereka bukan hanya tidak dapat melepaskan diri dari keberadaan alam,
melainkan sebaliknya mereka memahami eksistensi drrinya sendiri sebagai bahagian dari jagad raya.
Bertolak dari persepsi mereka terhadap alam ray a tersebut, mereka lalu mengonsepsikan bahwa nilai-nilai baik ataupun nilai buruk dalam kehidupan makhluk insani ditentukan oleh ting- kat dan kadar keserasiannya terhadap alam sekitar. Bagi mereka jagad raya ini bukanlah semata-mata ruang hampa. Bukan tem- pat kosong yang tiada berisi apa pun, melainkan dunia besar yang senantiasa mempunyai pertalian dengan kehidupan umat manusia.
Persepsi masyarakat tentang benda angkasa yang disebut mata hari dan bulan itu tidak lain adalah suluh penerang bagi dunia, baik di waktu siang a tau pun malam hari. J ika matahari dan bulan tadi adalah cahaya bagi alam raya, maka batang tubuh manusia itu sendiri dikonsepsikan sebagai dunia kecil yang senantiasa diterangi oleh peredaran nafas. Dalam hubungan ini, nafas kanan dilambangkan sebagai matahari, sedangkan nafas kiri adalah perlambang bulan. Sebagai suatu substansi jagad raya, maka nafas kanan itu dipahami sebagai sumber panas, sedangkan nafas kiri adalah sumber kesejukan atau pun dingin, tak ubahnya dengan matahari yang senantiasa memancarkan sinar panas dan bulan se- bagtti sumber cahaya yang bersifat dingin atau sejuk. Demi- kianlah, maka salah satu sistem penyembuhan terhadap demam ialah mengalihkan nafas kiri ke·kanan agar rasa panas di badan berubah menjadi dingin. Sebaliknya, kalau seseorang terserang penyakit dingin, maka seyogyanya orang · tersebut mengalihkan nafas kanan ke kiri, agar rasa dingin buyar terusir oleh sinar matahari yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Keserasian organ tubuh manusia dengan lingkungan alam sekitar, dengan demikian adalah nilai tertirtggi bagi manusia.
Terjadinya ketidak seimbangan antara organ tubuh manusia dan faktor lingkungan biasanya menimbulkan geja:la penyakit bagi manusia itu sendiri. Hal ini ditemukan pula di daerah per-
dalarn salah satu karyanya, bahwa " ... dianggap disharrnonis apabila tubuh rna- nusia rnengalarni gangguan dari dalarn atau pun dari luar oleh adanya kekuatan hawa panas dan dingin yang rnengganggu ke- stabilan emosi, maka itulah disebut sakit" (198 7: 119). Masyarakat Luwu bukan hanya rnemaharni keserasian antara manusia dan alam sekitar itu semata-mata bertalian dengan udara panas dan dingin atau pun hubungan substantif sebagai- mana tercerrnin dalam perlambangan nafas dengan bulan mau pun matahari, akan tetapi mereka pun mengenal kategorisasi nilai bail< dan buruk yang terkait pada unsur alam seperti tanah, air, angin, ctan api. Bahkan dikonsepsikannya pula perihal nilai baik dan buruk itu dapat bersumber dari makhluk hewani, seperti kucing dan cecak.
Berdasarkan konsepsi budaya dan persepsi masyarakat Luwu, maka api dan air itu mempunyai nilai baik berkenaan dengan pemilihan pencaharian hidup bagi sebahagian orang, sementara api dan air itu sendiri mempunyai nilai buruk pula terhadap sebagian warga masyarakat. Demikianlah pula halnya hewan jenis kucing. Ada kucing yang menyebabkan pemiliknya bernasib baik, ada pula sebaliknya menyebabkan tuan atau pemiliknya senantiasa mengalami kegagalan dalam berba- gai usaha. Ada pun jenis binatang melata. khusus cacak itu dianggap mempunyai nilai baik dan buruk, menurut waktu dan tempatnya berbunyi.
2.5. Nilai Hubungan Manushqiengan Sesamanya I. Nilai solidaritas Salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh anggota masyarakat Luwu ialah hakekat hubungan antara manusia dan sesamanya. Dari keseluruhan jaringan hubungan antara sesama manusia di a tas perrnukaan ·bumi, maka sol idaritas m erupakan ukuran nilai bagi keberadaan seorang individu dalarn dunianya. Bahkan
k,arabat dan anggota keluarganya.
Demikian pentingnya arti dan makna solidaritas bagi masya- rakat Sulawesi Selatan, sehingga dalam kehidupan kelompok et- nis Bugis dikenal adanya ungkapan yang berbunyi "naiya se- ajingnge seajing mu• di/ Dek .passarilngen-na, mau ni ribissai- uwae si tasik " (Ada pun kerabat itu tetap kerabat. Tak dapat dipisahkan, kendati pun dicuci dengan air selautan). Secara teoretik dapat dikatakan, bahwa "arti hidup dalam suatu per- gaulan ialah organisasi kepentingan-kepentingan perseorangan
pengaturan sikap orang yang satu terhadap yang lain .... " (R.
Firth, 1960: I 06). Istilah solidaritas, dengan demikian bertum- pu di atas dua prinsip dasar. Pertama adanya pengorganisasian kepentingan-kepentingan individual; dan kedua adanya pengaturan sikap antara sesama individu dalam suatu kesatuan sosial. Sejalan dengan itu, Prof. S. Takdir Alisjahbana, SH mengon- sepsikan bahwa" ... dengan proses penilaian solidaritas, kita tiba dalam hubungan cinta, persahabatan, simpati dengan sesama manusia, yaitu kita menghargai mereka sebagai individu atau golongan dengan kemungkinan-kemungkinannya sendiri dan kita puas jika dapat membantu dalam perkembangan kemungkinan-kemungkinan mereka" (1977 : 10).
Apabila konsep tersebut dijadikan dasar untuk menyoroti kehidupan sosial budaya orang Sulawesi Selatan maka penger- tian istilah solidaritas itu sepadan dengan istilah sibali perik (Bugis) artinya saling membantu dalam kesusahan. Dalam kehidup-
an orang Mandar istilah ini identik dengan kata sibali parrik, sedangkan orang Makassar menye}:>utnya siwali pa"ik. Dalam kehidupan nyata, konsep solidaritas yang disebut
peril< itu mewujudkan suatu pola hubungan antara sesama manusia yang berorienasi pada pengertian-pengertian siren- nuwang (saling mengharapkan), si amasei (saling mengasihi) si-pakaingek (saling mengingatkan), rebba si patokkong (saling menegakkan dari kerebahan), situlung-tulung (saling 11\enolong). Dari sumber kepustakaan diketahui bahwa konsep seperti ini pun· -ditemukan di daerah Mandar, antara lain "siama amasei (sating sayang menyayangi), sirondo-rondoi (saling bantu mem-bantu), si-anoa-a ' {Xlqmai (saling kasih mengasihi)" (1983 : 70).
Berdasarkan hasil kajian lontarak Luwu, nilai solidaritas dalam masyarakat bersangkutan tercermin dalam sikap, tindak- an dan tutur sapa antara sesama warga. Sejalan dengan itu kri- teria anggota masyarakat yang dipandang berkualitas baik, ter- diri atas mereka yang jujur, teguh pendirian, pemurah, peno-Jong, mau menerima saran orang lain, gemar bertukar pil
Salah satu unsur perekat yang mengukuhkan perilaku solidaritas dalam kehidupan masyarakat Luwu ialah pesse (bahasa Bugis) atau pacce dalam istilah bahasa Makassar yang berarti rasa perih dalam hati sehiogga secara spontanitas menimbulkan dorongan bagi seseorang untuk turut merasakan, sekaligus mengulurkan tangan untuk mem bantu orang Iain di dalam me- nanggulangi suatu kesulitan. Keadaan seperti ini terwujud dalam semua segi kehidupan, seperti kehidupan berumah tangga, ber- masyarakat, beragama dan bernegara. Selain itu nilai solidaritas dapat lestari karena adanya ke- sadaran bagi setiap orang untuk senantiasa menjaga sikap teng- gang rasa, perlakuan yang wajar serta tutur sapa dan sopan santun terpuji menurut konsepsi budaya setempat. Demikianlah, orang tua-tua menasehatkan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga untaian kata yang terlontar dari bibir, sebab ko- non katanya bibir (tutur sapa) itU dapat menimbulkan Iuka yang tidak mudah sembuh. ltu pulalah sebabnya, leluhur dan
Sulawesi Selatan senantiasa. berkata "naia rupa tau e ada-adanna mi ri-yakka.tenning", maksudnya seseorang itu hanya diukur dari buah bicaranya atau dalam ungkapan lain dikatakan "sipak emmi na-to tau",.' artinya .seorang itu di- ka takan manusia hanY.alah karena perangainya (yang baik). Ini menunjukkan, bahwa "pofa sikap, baik dalam berbicara mau pun dalam bertindak merupakan ~andasan bagi pergaulan orang Bugis, sebagaimana tercermin dalam ungkapan lama yang ber- bunyi iya iada-iya gauk, (satunya kata dan perbuatan)" (Pananrangi Hamid, 1983: 91 ).
2. Nilai Kuasa
Nilai kuasa dalam masyarakat Bugis pada umumnya, masyarakat Luwu khususnya terwujud dalam tiga konsep hubungan secara timbal balik ·. yaitu jowak dan ajjowareng di bidang pemerintahan; sawi dan ponggawa dalam bidang perekonomian; dan anak guru-anreguru dalam.'bidang keagamaan. Dalam kon- teks ini unsur jowak (abdi), sawi (kelasi) dan anak guru (mu- rid), adalah pengikut atau penganut terhadap unsur pemimpin, sekaligus anutan yang terdiri atas ajjowareng (pemimpin; penguasa);. ponggawa (pemilik modal); anre guru (mahaguru). Selain itu dikenal pula adanya pola hubungan yang bersifat pa- tron clien, antara pabarani; to maega (pemberani; Jaskar) dan pangulu musuk (komandan pasukan perang). Masyarakat Bone menyebut parulu. masuk itu, sebagai ponggawa (komandan), misalnya tokoh yang terkenal namanya sebagai Bettak Pongg'!-- wana Bone (Baca karya Pananrangi Hamid -Drs. Mappasere ~
1989). Dalam masa pemerintahan tradisional di daerah Sulawesi Selatan, penguasa tertinggi ialah raja_ berdaulat yang disebµt Petta Mappajungnge ri Luwu atau Arung Mangkauk di Bone, Sombaya ri Gowa. Namun de@ikian, _raja tidak dapat terlalu metnaksakan kehendak terhadap rakyat maupun kerajaan di mana ia bertakhta. Ini disebabkan, oleh adanya ikatan perjan- jian antara raja dan rakyat sebelum sang raja dinobatkan. De-
ia adalah raja yang mau mendengarkan nasehat, menerima saran, bersedia memelihara kata sepakat antara raja dan rakyat, s~ba gai warisan leluhur yang ditransmisikan dari satu ke lain gene- rasi. Sebaliknya, rakyat akan selalu memberikan dedikasi dan pengabdiannya kepada raja dan kerajaan. Berdasarkan atas perjanjian dan sumpah setia antara raja dan rakyat tersebut, maka kualitas baik atau pun buruknya seorang unsur penguasa ditentukan oleh hasil karya dan upaya sendiri untuk memenuhi harapan dan dam baan rakyatnya. Se- hu bungan dengan itu, masyarakat Luwu mempunyai konsepsi dasar tentang aneka ragam syarat minimal yang harus dimi- liki oleh seorang penguasa, untuk dikategorikan bernilai baik. Secara garis besar syarat-syarat dimaksud, sebagaimana termuat dalam salah satu pasal Lontarak Luwu terdiri atas : keimanan, takwa dan ibadahnya kepada Allah Taala; kerelaan dan kemampuannya membina kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat; kemampuannya mempertahankan negeri dan rakyat dari gang- guan, baik yang tumbuh dari dalam mau pun dari negeri lain; kemampuannya mendekatkan diri kepada rakyat; serta kemampuannya mengendalikan potensi orang-orang cerdik, orang ka- ya, orang-orang terhormat dan mulia demi kepentingan rakyat dan kerajaan. Konsepsi nilai kuasa di kalangan masyarakat Luwu terlihat pula dalam hubungan penaklukan atas kerajaan lain, hal mana dipaterikan dalam pernyataan pihak kerajaan yang terkalah- kan sambil mengucapkan kata "Angik-ko puwang ·ki-:!'auk~aju .. riak-ko miring riakkeng tappalik" (anginlah dikau wahai bagin- da raja dan kami hanyalah dedaunan, ke mana saja engkau ber- tiup ke sanalah kami terdampar). Pernyataan ini bukan hanya sekadar pernyataan takluk saja, akan tetapi juga mengisyarat- kan nada harapan bagi negeri taklukan untuk memperoleh per- lindungan dan pimpinan dari sang penakluk. Dalam hubungan ini kualitas raja yang dipandang bernilai tinggi menurut per-
Semua harus ter- selenggara dalam suasana dan kondisi yang diredhai Allah Taala.
2 .6. N ilai Agama
Dari keseluruhan hasil analisis yang telah disajikan di muka tampak secara jelas, bahwa setiap nilai sosial -budaya yang dianggap baik bagi konsepsi dan persepsi masyarakat Luwu itu berorientasi, pada nilai ke-Tuhan-an Yang ·.Mahakuasa. Menu- rut persepsi masyarakat bersangkutan, sebaik-baik manusia di sisi Allah ialah yang paling besar taqwanya. Sebaliknya seburuk- buruk dan sehina-hina manusia di sisi Allah ialah mereka yang tipis keimanan, paling malas beribadah, serta goyah tauhidnya.
Demikianlah, maka seluruh segi kehidupan bernegara maupun kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat selalu berorientasi pada pemenuhan kewajiban, melaksanakan syare'at, menyempurnakan sunnah rasul dan meninggalkan yang bathil dan yang mungkar. Dari hasil analisa tersebut, maka banyak di antara nilai-nilai tradisional kandungan isi lontarak Luwu yang masih sa- ngat potensial untuk menunjang pembangunan sektor kebudayaan. Nilai karya manusia yang berorientasi pada kepenting- an orang banyak, bagaimana pun juga akan memperlancar upaya meningkatkan kesejahteraan lahir-batin bagi bangsa dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Nilai-nilai hidup serta nilai solidaritas yang pada hakekat- nya dijunjung tinggi oleh masyarakat Sulawesi Selatan, akan secara langsung menopang usaha pembinaan kesatuan serta per- satuan bangsa Indonesia, baik sebagai bangsa maupun sebagai masyarakat yang kukuh, tegar dan tidak diombang-ambingkan oleh perbenturan nilai-nilai kebudayaan asing yang terserap me- lalui proses dan kegiatan pembangunan. Ini dimungkinkan, ka-
sadar saja, melainkan sekaligus memberi- kan corak khas, watak dan karakter yang akan mewarnai corak-corak tingkah laku dan persepsi mereka terhadap singgungan- singgungan unsur budaya asing.
Dalam kondisi yang sama, nilai waktu dan ruang menurut persepsi masyarakat Luwu akan turut mempercepat proses pembangunan, terutama pembinaan dan pengembangan mental masyarakat lndonesi yang makin tekun, giat, rajin dalam arti kata memanfaatkan waktu dan ruang sebaik mungkin demi kemajuan dan kebahagiaan di masa yang akan datang. Dalam hal ini perlu disaring segala unsur nilai-nilai waktu dan ruang yang bersifat irrasional, sehingga penerapannya dalam kehidupan nyata se- hari-hari dapat direncanakan dan dilaksanakan secara efektij) dan efisien.
Nilai lingkungan sekitaran yang bersifat takhyul dapat dt- saring dengan menggunakan konsep-konsep berpikir yang rasio- nal, sehingga nilai keserasian dapat dimanfaatkan sebagai daya dorong, untuk melestariakn lingkungan alam. baik \mtuk kepentingan masa kini maupun kepentingan generasi pelanjut di masa depan. Nilai kuasa yang berorientasi pada perbudakan dan penak- lukan tidak sesuai lagi dengan kemajuan zaman, sehingga amat perlu ditinggalkan. Namun demikian, nil ai pengabdian ataupun kesetia-kawanan, tekad yang bulat dan keterpaduan antara unsur pemerintah dan rakyat dalam pembinaan kesejahteraan umat masih sangat potensial, demi terw uj udnya tujuan dan cita-cita pembangunan, yaitu menciptakan masyarakat Indonesia nan bahagia, adil, makmur dalam arti yang serasi antara aspek lahir dan batiniah.
Akhirnya nilai ketauhidan yang mewarnai kehidupan kea- gamaan perlu dipertahankan dalam era pembangunan saat ini,
hanya untuk mendukung kelancaran pembangunan di sektor keagamaan saja, melainkan juga untuk l_e,bih memantap- kan serta keagamaan saja, melainkan juga untuk. lebih meman- tapkan serta lebih mengukuhkan watak dan kepribadian bangsa sehingga akan secara langsung pula meningkatkan daya serap anggota masyarakat ternadap unsur-unsur ilmu pengetahuan dan teknologi modern, menurut garisan yang ditetapkan oleh Allah Taala. Demikian nilai-nilai keagamaan yang termuat dalam lontarak Luwu perlu dipertahankan dan dengan demikiari pula meningkatkan daya saring masyarakat terhadap unsur-unsur kebudayaan asing, termasuk teknologi canggih yang memang amat diperlukan pula dalam proses pembangunan yang tetap berlangsung di seluruh persada tanah air, Indonesia. Bahkan. nilai agama itu pun amat sesuai dengan landasan hidup bangsa In
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan Dari uraian pada bab-bab terdahulu dapat disimpulkan bah- wa naskah kuno Lantarak Luwu berisi 21 nilai budaya yang pada dasarnya adalah nilai-nilai yang menyangkut pesan agar adalah nilai-nilai yang menyangkut pesan agar manusia harus dapat menjaga hubungannya :
I. dengan alam semesta.
2. dengan sesama manusia.
3. dengan Tuhannya dan agamanya (Islam). Lantarak Luwu penuh berisi petuah-petuah dari raja-raja, para ulama yang arif bijaksana dan silsilah keturunan Raja To- manunungingiri Luwu, Raja Manurungngi ri Pet tung dll. dan juga berisi pengetahuan tentang diri manusia serta alam semesta. Hal yang sangat perlu kita telusuri ialah isi Lontarak Luwu ini membuka rahasia manusia dan rahasia alam dan menjadi pe- doman bagi masyarakat Luwu sampai sekarang, di samping berisi sejarah kehidupan suku-suku bangsa di daerah Sulawesi Selatan yang diungkap melalui adanya perjanjian antara Raja lqatiuroe ri Tompo Tikka serta daerah kekuasaan kerajaan Luwu. Dalam pembahasan pada bab yang lalu telah terungkap bah-
4.2. Saran
Didasari kepada hasil ungkapan dalam penelitian, latar bela- kang dan isi naskah kuno Lontarak Luwu ini maka alangkah baiknya melalui aparat Pemerintah Daerah ataupun kanwil P dan K di daerah Luwu, agar supaya nilai-nilai budaya yang ter- kandung di dalam Lontarak Luwu dapat diterjemahkan dan di- sebarluaskan guna menjadi pengetahuan satu kebanggaan khu- susnya bagi masyarakat Luwu ataupun Sulawesi Selatan dan umumnya bagi bangsa Indonesia sebagai : suatu benteng guna membendung budaya asing yang masuk ke Indonesia melalui kanajuan teknologi dalam infonnasi masa kini.
Ali A. Muhammad : Bone Selayang Pandang, Naskah, Koleksi 1960 Kandep Dikbud Kabupaten Bone.
Alisjahbana, S. Takdir : Perkembangan Sejarah Kebudayaan 1977 Indonesia, Dilihat dari jurusan N ilai-N ilai, ldayu Press Jakarta. F i rt h, R : Humasn Types, Terjemahan B. Mochtan -S. Pus- 1960 panegara dengan judul "Ciri-ciri dan Alam Hi- dup Manusia Sumur Bandung, Bandung.
Hamid, Abu : Sistem Kebudayaan dan Peranan Pranata Sosial 1982 Dalam Masyarakat Orang Makassar, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. : Transliterasi dan Terjemahan-Lontarak Pab- 1987 bura, Depdikbud -Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.La Galigo, Ujung Pandang. Hamid, Pananrangi : Peranan Wanita Pedesaan Dalam Suku- 1983 Suku Bangsa di Sulawesi Selatan, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ujung Pandang.
--------dkk : Kesadaran Budaya Tentang Ruang Pada
Masyarakat di Daerah, Suatu Stud1 mengenai proses adaptasi Daerah Sulawesi Selatan, Proyek
Ujung Pandang.
·-------: Upacara Pertanian Tradisiorial di Daerah Sop- I 985 peng, Balai Kajian Jarahnitra. Ujung Pandang.
--------: Upacara Bissu di Leppangeng Segeri, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.
--------: Pau Paunna Sawerigading, Transliterasi dan Ter-
1986 jemahan Ceritera Rakyat Sulawesi Selatan, Balai Kajian Jarahnitra.
--------: Konsepsi Budaya Orang Luwu Tentang Proto-
1987 tipe Manusia, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.
dkk : Astronomi dan Meteorologi Tradisional 1988 Daerah Sulawesi Selatan, Proyek IDKD, Ujung Pandang.
: Lontarak Galigo, Buku-1, Transliterasi dan 1988 Terjemahan, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.
: Lontarak Rumpakna Bone, Transliterasi dan 1988 Terjemahan, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.
--------: Lontarak Mula Timpak engngi Sidenreng, Trans-
1989 literasi dan Terjemahan, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.
lbn Muttalib, Abu Ferik : lnilah Islam, Endang, Jakarta. 19§§
Kamaruddin, dkk : Lontarak Bilang Raja Gowa dan Tallok, Nas- kah Makassar, Pengkajian (Transliterasi dan Te'r- jemahan), Proyek Penelitian dan Pengkajian Ke- budayaan Sulawesi Selatan La Galigo, Ujung Pandang.
Ors. dengan (t.t) judul "Suatu Pengantar Antropologi", Jemmars, Bandung.
Matthes, B.F. : Pammulanna Surek Galigoe (fotokopi).
Mattulada : Sekelumit Pandangan Antropologi-Terhadap Se- 1968 kularisme Sekularisasi dan Modernisasi, Majalah Tjitabudin Ujung Pandang.
-------: Peranan Leadership Dalam Mengatasi Hambatan 1970 Perkembangan Masyarakat Oleh Pola Pikir Tra- disional Majalah Universitas Hasanuddin, No. l. --------, Prof. Dr. : Latoa, Satu lukisan analitis Antropo- 1985 logi Politik Orang Bugis, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Mukhlis dan Kathryn Robmson : Panorama Kehidupan Sosial, 1985 Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Punagi, A. A. : Adat Jstiadat, Menoleh Sejenak pada Adat lstia- 1983 dat. Yayasan. Kebqdayaan Sulawesi Selatan. Ujung Pandang. Rahim. A. Rahman : Filsafat Kebudayaan, Lembaga Penerbitan
. 19 75 Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Salim, Ors. Muh. dkk. : Elong Ugi, Transliterasi dan Terjemahan 1989/ 1990 (Kajian Naskah Bugis), Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Subagya. Rachmat : Agama Asli Indonesia, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
09 004616.1
Kebuda
A2.2