Baca PDF (OCR): Kearifan Tradisional Masyarakat Desa Sibanggor Julu yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kab. Madina SUMUT.tif

155 halaman · 155 halaman diproses dengan OCR· 176223 ms

Daftar isi
  1. KEARIFAN TRADISIONAL
  2. MASYARAKAT DESA SIBANGGOR JULU
  3. YANG BERKAITAN DENGAN
  4. PEMELIHARAAN
  5. LINGKUNGAN ALAM
  6. DI KABUPATEN MADINA PROVINSI SUMATERA UTARA
  7. DESA ~[2jjJ[[}CE®:JifllJ(J)f1li} YANG BERKAITAN DENGAN
  8. [![J[I]]I!)JJlf ;ffiiYill
  9. 01 KABUPATEN MADINA PROVINSI SUMATERA UTARA
  10. I----...... ___. · .., I
  11. TRADISIONAL MASYARAKAT DESA
  12. SIBANGGORJULUYANG BERKAITAN DENGAN
  13. PEMELIHARAAN LINGKUNGAN ALAM DI
  14. KABUPATEN MAD INA PROVINSI SUMATERA UTARA
  15. DIREKTUR TRADISI
  16. IGN:::r
  17. indonesia yang beragam.
  18. DAFTAR lSI
  19. Interaksidengan Lingkungan A!am Fisik...........
  20. DAFTAR TABEL
  21. Halaman
  22. I FOTO
  23. 2004:160-161 ).
  24. Q'udging), dan menyimpulkan (reasoning).
  25. Kearifan Tradisional
  26. Tujuan
  27. 2. Studi Kepustakaan.
  28. 3. Analisa Data
  29. Pemerintahan
  30. Pusat pemcrintahan Kabupaten mandail ing Natal berada di
  31. Luas Wilayah Desa
  32. ± 6510
  33. Jalan dan Transmigrasi
  34. Raga
  35. Sejarah Desa
  36. . ".;
  37. c:·., · · i
  38. I""'t.·~ .............. t ...-.... t}'..)(,.'r_;fi.~R
  39. Umum 2006
  40. Tabel8
  41. Data Penduduk menurut Gol Umur 2004
  42. Organisasi Sosial
  43. Penataan Kehidupan Sosial dan Kelembagaan
  44. Marjulo-julo
  45. Bidang Sosial Budaya
  46. Kerjasama dalam Siriaon dan Siluluton
  47. dalam pengadaan sarana umum
  48. Bentuk-bentuk penghimpunan dana masyarakat
  49. Bidang Keagamaan
  50. Kerjasama bidang keagamaan yang paling menonjol adalah dalam
  51. Kelembagaan
  52. Secara umum dapat dikatakan bahwa kapasitas kelembagaan yang
  53. Lembaga formal
  54. Lembaga pemerintahan desa menciptakan lembaga formal paling
  55. Lembaga informal
  56. Perkumpulan STM Di atas telah diuraikan tentang tradisi tolong menolong antmwarga
  57. Persatuan Naposo dan Nauli Bulung
  58. Agama dan Kepercayaan
  59. Pendidikan
  60. Tabe19
  61. Data Pendidikan menurut Tingkat Sekolah
  62. POLA INTERAKSI DENGAN LINGKUNGAN
  63. Perkampungan dan LingkunganAlam
  64. Tern pat Tinggal (Rumah).
  65. Interaksi dengan Tumbuh-tumbuhan
  66. ompu guldek dan
  67. I nteraksi dengan Lingkungan Alam Fisil.
  68. W ujud ni lai budaya tercliri suatu komplek ide-ide. gagasan. ni la i-
  69. Sungai Kegunaan sungai bagi kehidupan manusia cukup banyak, selain
  70. Gunung
  71. Gunung merupakan dataran tinggi. Gunung di Madina di sebut
  72. Hutan
  73. H utan mcmiliki kegunaan sebagai tempat un tuk mengatur air tanah.
  74. Mata Pencaharian Penduduk/KK
  75. Sawah
  76. Ladang I Kebun
  77. Jeruk Manis
  78. Karet
  79. Kopi
  80. Nilam
  81. T anaman nil amjugasudah cukup lama dikenal oleh orang Mandai ling.
  82. Sayur-sayuran
  83. Berburu
  84. Kayu
  85. P emanfaatan kayu yang paling utan1a bagi penduduk di desa ini adalah
  86. Rotan
  87. Madu
  88. Beternak
  89. Tabcl12
  90. Banyaknya Rumah Tangga Peternak Unggas /Ayam Desa
  91. Sibanggor Julu
  92. Tabell3
  93. Banyaknya Populasi Ternak Besar Desa Sibanggor Julu
  94. Sektor nonpertanian
  95. TRADISIONAL di daeral1 penelitian ini.
  96. Pola lnteraksi yang Merusak Lingkungan
  97. Pola lnteraksi yang Melestarikan Lingkungan
  98. KESIMPULAN
  99. PUS TAKA
  100. PT. Erisco Ban dung.
  101. Antropologi, Erlangga, Jakarta
  102. r U< ·-·-, .· ... :.; I
  103. INFORMAN
  104. PETA SUMATERA UTARA
  105. MEDAN
  106. PETA KABUPATEN MANDAILING NATAL
  107. PETADESASIBANGGOR JULU
  108. I FOTO

Milik Depbudpar Tidak diperdagangkan

KEARIFAN TRADISIONAL

MASYARAKAT DESA SIBANGGOR JULU

YANG BERKAITAN DENGAN

PEMELIHARAAN

LINGKUNGAN ALAM

DI KABUPATEN MADINA PROVINSI SUMATERA UTARA

DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL NILAI BUDAYA, SENI DAN FILM

DESA ~[2jjJ[[}CE®:JifllJ(J)f1li} YANG BERKAITAN DENGAN

~

[![J[I]]I!)JJlf ;ffiiYill

01 KABUPATEN MADINA PROVINSI SUMATERA UTARA

r----... i I' v '~. I t I ! ~-·' ' i ~··-_,,I ;.··-

I----...... ___. · .., I

.., .. I --..-..--~

DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL NILAI BUDAYA, SENI DAN FILM

TRADISIONAL MASYARAKAT DESA

SIBANGGORJULUYANG BERKAITAN DENGAN

PEMELIHARAAN LINGKUNGAN ALAM DI

KABUPATEN MAD INA PROVINSI SUMATERA UTARA

Penulis Mudha Farsyah. S.Sos Pengantar Editor : Dr. Bambang Rudito Penerbit Direktorat Jenderal Nilai Budaya. Seni dan Film Depattemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta 2007 Edisi I ISBN: 978-979-15679-7-8

DIREKTUR TRADISI

Buku merupakan alat yang strategis baik sebagai dokumentasi maupun sosialisasi nilai-nilai budaya suku-suku bangsa di seluruh In- donesia. Pengenalan dan penanaman nilai-nilai tersebut dari berbagai aspek kehidupan diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dalam masyarakat kita yang maj emuk. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan apresiasi dalam mempertebal jiwa kebangsaan dan kebanggaan sebagai orang lndonesia.

Kami bangga dapat menerbitkan buku-buku hasil penelitian, inventarisasi, transliterasi suatu tradisi suku-bangsa dalam hal turut serta mencerdaskan dan meningkatkan derajat bangsa, di samping hal-hal formal pencapaian target peke~jaan.

Dalam kesempatan ini kami menerbitkan buku denganjudul " Kear?fan Tradisional Masyarakat Desa Sibanggor Julu yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan A/am di Kabupaten Madina Provinsi Sumatera Utara''. Terbitan ini diangkat dari naskah hasil penelitian yang sekaligus inventarisasi aspek-aspek tradisi budaya suku-suku bangsa tahun 2006, yang merupakan hasil kerja sama Direktorat dengan Unit Pelaksana Teknis kantor kami di Nanggroe Aceh Darussalam. Selain itu kamijuga bekerja sama dengan peneliti dari beberapa universitas

Dalam kesempatan ini pula sebagai penghargaan kami sampaikan ucapan terima kasih atas kerja samanya kepada peneliti sekaligus penulisnya Mudha Farsyah, S. Sos dan sebagai editor Dr. Bam bang Rudito serta semua pihak yang ikut dalam kegiatan ini.

Oleh karena itu kami menerima kritik dan sum bang saran pembaca untuk perbaikan karya kita semua. Akhimya kami berharap semoga penerbitan ini bermanfaat dan berdan1pak positif untuk memajukan bangsa kita.

Jakarta, 2007 Direktur T radisi

--

IGN:::r

NIP. 130606820

ii

1 Rudito

Buku yang ada di hadapan pembaca sekarang ini adalah sebuah hasil dari penelitian yang dilakukan dengan seksama dalam usaha untuk menginventarisasi kesukubangsaan, khususnya berkenaan dengan pengetahuan budaya yang dipunyai oleh masyarakat sukubangsa yang bersangkutan. Pengetahuan budaya yang ada tersebut sering dikatakan sebagai suatu kearifan lokal.

Dalam mengistilahkan kearifan lokal berarti terdapat suatu bentuk proses tindakan berkenaan dengan sesuatu yang dihadapi oleh manusia. Tentu saja kearifan lokal tersebut berkait antara pengetahuan budaya yang dipw1yai oleh kelompok sosial tertentu yang disebut sebagai sukubangsa atau etnis dengan lingkungan hidupnya.

Dari sini tampak bahwa usaha untuk mengetahui kearifan lokal tentunya tidak lepas dari usaha untuk menginventarisasi kebudayaan suatu masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pernyataan bahwa kebudayaan adalal1 suatu perangkat norma, pengetalman, nilai dan attmm yang digunakan oleh manusia sebagai anggota masyarakat untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungannya. hasil dari pemahaman dan penginterprctasian terhadap lingkungan tersebut

' Pcngajar i\ntropologi Universi tas Andalas. dan Sekolah Bisnis Manajemen lnstitut Teknologi Bandung

iii

dipakai untuk mendorong terwujudnya tingkah laku. Sehingga dengan demikian tindakan manusia yang muncul adalahjuga suatu bentuk kcarifan lokal, dan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan masalah konservasi dan eksploitasi terhadap lingkungan alamnya yang selalu tet:jadi kesinambungan, sehingga disebut sebagai suatu keatifan.

Masyarakat dengan kebudayaannya tentu saja tidak dapat dipisahkan satu dengan laitmya, dan ini mendorong tetwujudnya suatu kelembagaan tmtuk mengatur segala tingkah laku man usia dalam konteks ruang dan waktu. Sehingga dengan demikian, kebudayaan dalam rangka perwujudannya akan digambarkan dalam bentuk-bentuk pranata sosial, karena dengan pranata sosialah segala status dan peran yang ada dalam diri individu sebagai anggota masyarakat akan tampak.

Perwujudan nyata dari suatu kebudayaan dalam tindakan adalah ketika individu at1ggota masyarakat yang bersangkutan memunculkan peran dari status yang disandangnya yang sesuai dengan kebudayaan yang menjadi pedoman dalam kehidupan bem1asyarakat.

Buku ini mencoba untuk menjelaskan dan mendeskripsikan dengan cara mengambil sintesa dari kenyataan-kenyataan sosial yang ada yang tergambar dari tingkah laku individu yang diteliti. Gambaran yang menyeluruh tentang kearifan tradisional yang berlaku eli masyarakat tentu saja sangat berguna bagi siapa saja yang mempunyai kepentingan dalam usaha pengembangan masyarakat. Dengan mengetahui pola-pola pengetahuan budaya suatu masyarakat tentu saja akan mudah diperoleh usaha untuk menerapkan suatu program.

Usaha untuk menginventarisasi pola-pola kehidupan masyarakat, khususnya tentang pengetahuan budaya suatu masyarakat san gat berguna bagi para pengambil keputusan, dalam hal ini pemetintal1 dalam usahanya untuk memajukan atau mensejahterakan anggota masyarakatnya. Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat yang majemuk dan sekaligus multikultur, artinya sebagai masyarakat yang majemuk tentu saja terdiri dari banyak sukubangsa dan sebagai masyarakat yang multikultur ditengarai dengan adanya pedoman atau

iv

indonesia yang beragam.

Pola hidup masyarakat Indonesia dapat diketahui mempunyai berbagai bentuk seperti berburu meramu, berladang pindah. betemak. berkebun, bertani irigasi dan industrijasa.lni memerlukan pemahaman yang sangat tinggi dalam mengidentifikasi masyarakat ya ng ada di Indonesia. Keseluruhan bentuk-bentuk pola hid up tersebut ada dan hid up secara bersamaan dalam satu waktu di Indones ia ini. Sehingga dengan menginventarisasi masing-masing pola hid up ini tentu saja mer~adi sangat penting bagi usaha membangun masyarakat Indonesia dan sekal igus menginventarisasi potensi budaya yang ada eli tanah air.

Dalam tu lisan ini tampak bahvva dari percampuran berbagai sukubangsa dalam satu wilayah yang sama maka akan mendorong terwujudnya assimilasi budaya dari masing-masing kelompok sosial dan ini mendorong terciptanya suatu bentuk pengetahuan yang sama yang secar·a tidak sadar menjadi pedoman bagi seluruh anggota masyarakat yang tinggal eli v. ilayah yang sama tcrsebut. Sehingga dari adanya akulturasi budaya se11a assimilasi an tar sukubangsa. khususnya dalam pola-pola bcr1indak dan be11ingkah laku maka akan muncul suatu bentuk keari fan tradisional yang baru yang tentu saja dapat digunakan dalam rangka mcmahami lingkungan alam yang sama. Keseluruhan anggota komuniti ya ng berbeda Jatar belakang kesukubangsaan terscbut tcrgabung dalam se buah masyarakat yang besar dcngan budaya yang s::th.t dengan model keari tan tradisional yang sama atau mirip.

Saya menyambut baik usaha im entatisasi ini yang memang pada masa sekarang sudah amatjarang dilakukan, hal ini terkait dengan kenyataan bahwa masyarakat akan selalu mengalami perkembangan. sehingga tanpa ditelitipun masyarakat akan selalu berubah. Tetapi hal ini akan mcnjadi bumerang bagi kita khususn: a pemerintah. karena perubahan yang tidak terencana dengan baik akan dapat menjadi pemicu dalam konflik sosial.

v

setta operasionalnya dibidang masing- masing. Dalam masyarakat majemuk. sepetti masyarakat Indonesia. penckanan keanekaragaman bukan terletak pada kebudayaan tetapi pada sukubangsa dan kebudayaan sukubangsa. Setiap sukubangsa mempLmyai wi layah tempat hjdupnya yang diakui sebagai hak ulayatnya yang merupakan tempat sumber-sumber daya dimana warga sukubangsa tersebut memantaatkan untuk kelangsw1 gan hidup mereka.

Si stem kehudayaan nasional adalah suatu sistcm acuan yang mcnjadi dasar bagi warga anggota masyarakat dalam kehidupan bcrbangsa dan bernegara :'ang dominasi aturannya dipegang oleh pemcrintah dengan berdasar pada falsafat negara setta undang-undang dasar 1945. Pelaksanaan aturan nasional ini bi asanya didukung oleh polisi dan perangkat hukum fo rmal guna mengatur para anggota masyarakat bangsa dan biasanya akan terdapat sanksi-sanksi tertentu apabi Ia terdapat pelanggaran terhadap aturan yang ada, sanksi-sanksi yang ada biasanya berupa sanksi fisik atau pembayaran denda. Dan selain kebudayaan nasional sebagai acuan, masyarakat majemukjuga

vii

Secara operasional kebudayaan sukubangsa ini terwujud dalam pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat sukubangsa dimana

viii

fungsi dan kebutuhan masyarakat yang be rsangkutan. Scbagai suatu sistem pengetahuan. keb udayaan sukubangsa ini juga bcrisi si'>tcm penggolongan atau identilikasi yang digunakan oleh anggota sukuhangsa yang bersangkutan untuk mclak uk an pcn i laian te rhadap kclompok suku bangsa ya ng lain. scscora ng akan mclakukan pcni !ain tcrhadap orang lain berdasarkan ciri-ciri a tau atribut) ang melekat pada dirinya. Dan dalam melakukan penilai::m tcrsebut. ia mcnggunakan sistcm penggolongCUl yang ada dalam kcbudayaan sukubangsanya.

Sclain kedua sistem kebudayaan tersebut diatas, terdapatjuga sist~:m sosial yang ada didalam tempat-tempat umum lokal yang aturannya berdasar pada konvcnsi dari semua anggota warga masyarakat yang tcrlibat di dalamnya. Tcm pat-tempat umum ini pada dasarnya bukan saja diartikan sebagai tempat bertemunya anggota masyarakat yang berasal da1i Ia tar bclakang sosial budaya yang berbeda dcngan berbagai kcpcntingan) a.ng herbcda namun dapat diartikan juga scbagai suatu ruang sosial dimana didal

Ru an g sosial tcmpat-tcmpat umum ini terdapat suatu kcbudayaan yang dijadikan oleh para pelaku u.ntuk bertindak dCUl sating hcrhubungan. Didalam ruang sosial terse but juga berlaku situa~; sosial dimana diartikan scbagai serangkaian norma yang mengatur pcnggolongan para pcluku menurut status dan perannya dan yang mcmbatasi macam tinclakan-tindakan) ang boleh dan yang tidak boleh serta yang seharusnya cliwujudkan oleh para pelakunya.

Sebuah situasi sosial hiasanya m~nempati suatu ruang atau wilay<.J1 te11cntu yang khususnya untuk situasi sosial te11entu. walaupun tidak sclamanya dcmikian keaclaannya sebab ada ruang atau wilayah yang mempunyai fungsi majemuk. Penguasaan terhadap kepentingan

ix

mqjemuk ini adalah persaingan dan pertentangan antara sistem nasional atau kepentingan pemerintah dan sistem lokal sukubangsa atau kepentingan sukubangsa dalam memperebutkan sumber-sumber daya yang berharga dan terbatas jumlahnya serta alokasi pendistribusiannya. Sumber-sumber daya tersebut mencakup jabatan-jabatan pada tingkat nasional maupun lokal berkenaan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum berkenaan dengan kepentingan umum secara nasional maupun secara lokal atau sukubangsa.

Dalam mencapai penguasaan terhadap kepentingan umum terdapat tiga faktor penentu yaitu kemampuan (power), ketetapan dan pencapaian dari sasaran bersama dan juga keberadaan dari ruang tindakan umum tersebut. Mengacu pada Pritchard ( 1940: 19) hubungan politik sebagai hubungan yang hidup dalam batas-batas dari sistem tentorial, dian tara kelompok -kelompok masyarakat yang diacu secagai areal dan kesadaran darijatidiri dan ketergantungan secara eksklusif. Dari pengertian ini tampak bahwa proses politik lokal berkembang pada wilayah dari pendukung kebudayaan tertentu dan jatidiri kesukubangsaan tertentu.

Hubungan dinamik secara politik antara pemerintah (sistem nasional) dengan sukubangsa (sistem lokal) dapat dilihat sebagai kerjasama atau saling ketergantungan, persaingan dan pertentangan antara politik nasional dan politik lokal. Hubungan antara politik nasional dan politik lokal bertemu pada politik tingkat lokal, yaitu proses-proses politik yang terwujud di arena-arena politik pada masyarakat lokal:

X

dinamik antara politik nasionai dan politik lokal yang terwuj ud sebagai politik tingbt lokal menunjukkan adanya adu kekuatan diantara dua pihak tcrscbut untuk da pat mcndominasi arena-arena po litik pada masing-masi ng tingkat lokal. Pengaruh kekuatan kebudayaan dari sukubangsa dalam arena politik lokal memberi dampak pada semakin kuatnya poli tik lokal di arena tersebut tcrhadap politik nasional.

Dalam konteks ini. politik dilihat scbagai jaringan prilaku indi vidu-individu yang saling berpautan yang menggunakan kekuasaan untuk tujuan spcsi tik (Tuden. 2000:23 ). .Jaringan prilaku inclividu yang mcnggunakan pecloman salah satu kcbudayaan dalam satu arena tertentu dapat mcrupakan kekuatan bagi penguasaan arena yang bersangkutan. Kckuatan politik nasional (sistcm nasi onal) akan bcrtcmu dalam satu arena dengan kckuatan politik lokal (sistcmlokal) clan pengaruh masing-masi ng kckuatan ini mcnjacli dasm pcnguasaan dari politik tingkat loka l di are na yang bcrsangkutan.

Pcrtcntang

.Jat idiri su kubangsa mcmpunyai lanclasan clalam sistem pcngkatcgorisasian yang ada dalam sctiap kebudayaan yaitu berkenaan dcngan pcnggolongan dirinya clan pc nggolongan orang lain. Pcn ggolonga n ini umumnya diberikan suatu makna ya ng tetap yang didasari pada pcngalaman yang dia lami sccara langsung maupun ticlak langsung nh: la lui proses keb iasaan. Pcnggolongan scmacam ini selalu clikai tkan clcngan pcni laian baik huruk. s

xi

F, ( 1969) Ethnic Groups and Boundaries. Boston: Little Brown.

Geertz, Clifford (1973) The Interpretation (~[Cultures, New York: Basic Books Inc.

Rudito, Bam bang ( 1999) Masyarakat dan Kebudayaan Sukubangsa Mentawai, Padang: Lab. Antrop."Mentawai" Unand.

Suparlan, Parsudi (2004) Hubungan Antar Sukubangsa, Jakarta: YPKIK.

Tuden, Arthur dan Frank Mc.Glynn (eds) (2000) Anthropological Approaches to political behavior (terjemahan oleh Nugroho dan Suwargono). Jakarta: UI Press.

Watson, C.W. (2000) Multiculturalism, Buckingham, Philadelphia: Open University Press.

xii

DAFTAR lSI

Halaman
Sambutan DirekturTradisi.................................................
Pengantar m VII Pendahuluan Xlll DaA.ar lsi .li.'V DaftarTabel XVI Daftar Peta XVII
DartarGambar.................................................................

Bagian 1 Penge1tian .... ...................................................
Kebudayaan dan Kognitif' .......................... .......
Kemifan Tradisional ..... ...... .............. ...... ..... ..... 12
-1Ltiuan ... ........ .. ........................ ................. ........ 15
Ruang Lingkup dan Metodologi ............. ...... .. ... 16
Bagi Lokasi dan Keaclaan Alam .................... ........... 21
Pemeri ntahan ....... ........ ............ ...... .......... .. .. .. .. 23
.la lm1 clan Tra11smigrasi ................ ................ .. .... 27
Sejarah Desa ... ... ............... ... ... .. .... ..... .... ......... 29
Kependudukan .. ....... ......... ..... ................. ... ..... 33
Organisasi Sosial .. .. .. .... ............. ... ...... .... .. .. ...... 39
!\gama dan Kepercayaan ... ...... .. ..... ......... .. ...... 53
Pcncliclikai1 ........... .............................. ............ .. 56

xiii

Bagian 3 Pola Interaksi dengan Lingkungan .. ................... 59
Perkampungan dan Lingkungan Alam .......... ..... 68
TempatTinggal................................................. 69
Interaksi dengan Tumbuh-tumbuhan ...... .. ..... ..... 70
Interaksi dengan Binatang .. ..................... .......... 73

Interaksidengan Lingkungan A!am Fisik...........

Bagian4 Mata Pencaharian............................................
Bercocok Tanam..............................................
Meramu...........................................................
Betemak..........................................................

Bagian 5 Analisa.............................................................
PolaInteraksi yang Merusak Lingkungan..........
Polalnteraksi yang Melestarikan Lingkungan....

Bagian6 Kesimpulan......................................................
Daftar Pustaka.................................................................
Index.................................................................
Daftarlnforman................................................................
DaftarIstilah.................................................................
Daftar Peta
Daftar Gambar.................................................................

79 81 93 98

101 103 106

115 119 121 125 127 130 133

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I Luas Wilayah Desa .........................................
Tabel2 Saran a Olah Raga ........................................... 24
Tabel 3 Komposisi penduduk Kab. Mandai ling Natal berdasarkan etnis ............................................
Tabel4 Data Penduduk Per Jiwa/ KK 2006 ................. 31
label 5 Banyaknya Penduduk. Rumah Tangga dan Rata- rata Anggota Rumah tanga 2004 ........... 31

Luas. .lumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk
2004 ................................................................ 32

Tabcl 7 Data Pcnduduk Menurut Gol 33
Tabel 8 Data Penduduk menurut Go! Umur 2004 ....... 34
Tabel9 Data Pendidikan menurut Tingkat Sekolah .... 55
Tabel 10 Mata Pencaharian Pcnduduk/KK .................... 77
Tabelll Banyaknya Rum ah Tangga yang beke1ja di
sector Pertanian 2004 ..................................... 78
Tabel 12 Banyaknya Rumah Tangga Peternak Unggas I A yam
Desa Sibanggor .lulu....................................... 99
Tabel 13 Banyaknya Populasi Ternak Besar Desa Sibanggor
.lulu................................................................. 100

Um um 2006 ...

))( air :w

Peta Sumatera Utara .... ..... .. ........................... ...... ...... 130
2. Peta Kabupaten Mandailing Natal .. .... .. ....... .. .. ... ........ 131
3. PetaDesaSibanggorJulu........................................... 132

xvi

I FOTO

Halaman

Gambar 1. Kantor Badan Perwakilan Dewa (BPD) Desa

Sibanggor .lulu.................................................. 133
Garn bar 2.Kantor Kepala Desa, Desa Sibanggor .lulu ....... 133
Gambar 3. Sarana Jalan diantara pemukiman penduduk Desa
Sibanggor .lulu.................................................. 134
Gambar 4. Rumah tern pat tinggal warga (atapnya terbuat dari ijuk)
Desa Sibanggor .lulu......................................... 134
Garn bar 5. Mesjid Desa Sibanggor .lulu yang terletak lebih tinggi
dari pemukiman penduduk ................................ 135
Garn bar 6. Pemandangan pemukiman penduduk dari atas
Desa Sibanggor .lulu......................................... 135
Gambar 7. Para Jbu-ibu hendak pergi bersawah ................. 136
Gan1bar 8. Para wanita ketika sedang selesai mencari kayu
Desa Sibanggor .lulu.......................................... 136
Gambar 9. Kopi, ketika sedang ditumbuk Desa Sibanggor .lulu 13 7
Garn bar I 0 Bapak Yahya Nasuti on Kepala Desa Sibanggor Julu 13 7
Gambar 11 Tempat penampungan air Desa Sibanggor Julu. 138
Gambar 12 Gondang Sembilan, alat musik tradisional masyarakat
Mandailingjuga terdapat di Desa Sibanggor .lulu 138
Cr :1 nbar 13 Kemiri, sedang dikeringkan Desa Sibanggor Julu 139
G:1mbar !4SaranaWCUmumDesaSibanggorJulu ......... 139

xvii

Pola hidup yang ada ditengarai scbagai bentuk-bentuk yang mengarah pada sifat mata pencahariannya seperti (1) berburu dan meramu (h11niing and gathering): (l) herladang bakar/pindah (slash and burned); (3) beternak (pastoral): ( 4) berkebun/ ladang (shifi- ing culth:ation): (5) bertani sawah (cultivation 11·ith irrigation): ( 6) Industri Jasa dan perdagangan (industrial seniceltrading). Kelompok-Kelompok etnik tersebut rn·cmiliki asal usu! kewilayahan dengan rnitologi yang berbeda antara satu dengan lainnya. sehingga Indonesia sering disebut sebagai rnasyarakat majemuk (plural so- ciety). Di samping itu dengan adanya mitologi serta lingkungan yang berbeda, masing- masing masyarakat etnik tersebut mencerminkan a tau memunculkan budaya yang berbeda satu sama lain dan bahkan dalam satu sukubangsa bisa terdiri dari banyak

pengharpbat pembangunan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan memahami aspek-aspek tradisi yang dimiliki masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang beraneka, salah satunya dengan cara melakukan inventarisasi. Salah satu aspek tradfsi yang menarik dan penting untuk diteliti adalah tentang kearifan-kearifan lokal yang diwarisi dari generasi ke generas1.

Sudah sangat sering kita mendengar istilah kearifan tradisional dalam berbagai pembicaraan, seminar atau lokakarya. Dalam istilah tersebut terkandung dua macam pengertian, yakni ' kearifan' dan ' tradisonal' yang secara implisit mencerminkan pandangan filosofis tertentu yang mengarah pada suatu bentuk jatidiri sebagai milik dari sukubangsa tertentu. Selain itu penggunaan istilah ini muncul di Indonesia di era pertengahan dan akhir kejayaan orde baru (sekitar pertengahan tahun 1980-an), ketika kampanye dan program pembangunan tengah giat-giatnya dilakukan oleh Negara.

Pada saat itu hampir tidak terlihat adanya penolakan yang serius dari masyarakat, mungkin karena hasil pembangunan ini mulai sangat dirasakan enaknya bagi sebagian besar masyarakat atau memang adanya tekanan atau dominasi pemerintah yang menutup kemungkinan untuk dapat memunculkan perasaan yang dikandung oleh masyarakat akibat dari adanya penerapan pembangunan yang dirasa timpang atau memang tidak adanya informasi yang transparan.

"Kearifan Lokal" atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama, sebagai hasil dari proses hubungan timbal baik antara masyarakat dengan lingkWlgannya

Menurut Bintarto ( 1979), lingkWlgan hid up man usia terdiri atas lingkungan fis ik (sungai, air, udara, rumah), lingkungan biologis (organisme alam), antara lain hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia). Dengan kata lain adalah bagian dari lingkungan dan memiliki hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi.

Dari sini tampak adanya hubungan yang fungsional antara benda-benda alamiah dengan organisme yang termasuk didalamnya manusia, sehingga dengan demikian maka suatu lingkungan hidup merupakan suatu hubungan fungsional antara lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya (binaan). Merunut Rudito (2003) lingkungan hidup terdiri dari lingkungan alam yang terdiri dari benda-benda alam yang secara kodrati ada, yang belum termasuk cam pur tangan man usia yang biasanya berupa tumbuhan, binatang dan juga benda-benda alam seperti gunung, batu, air dsb.; lingkungan sosial merupakan suatu bentuk aturan-aturan, norma,

clan moral yang digunakan oleh manusia untuk mengatur interaksi sosial yang terjadi didalam hubungan antar manusia sebagai anggota masyarakat; lingkungan budaya (binaan) suatu bentuk lingkungan yang terdiri dari benda-benda buatan manusia yang pada dasarnya berasal dari lingkungan alam, hasil pamahaman terhadap lingkungan alam ini biasanya dibentuk dalam stau lingkungan binaan atau budaya seperti sawah, mobil, rumah, pohon yang dicangkok, hujan buatan, dan sebagainya.

Adanya ikatan antara manusia dengan alam memberikan pengetahuan, pikiran, bagaimana mereka memperlakukan alam lingkungannya. Oleh karena itu, mereka menyadari betul akan segala perubahan dafam lingkungan sekitarnya, dan mampu pula mengatasinya demi kepentingannya. Salah satu cara ialah dengan mengembangkan etika, sikap kelakuan, gaya alam, dan tradis-tradisi yang mempunyai implikasi positif terhadap pemeliharaan dan pelestarian lingkungan alam (Salim, 1979:29).

Gambaran tentang lingkungan alamnya itu disebut citra lingkungan (Triharso, 1983 : 13) yaitu bagaimana lingkungan itu berfungsi dan memberi petunjuk tentang apa yang diharapkan manusia baik secara alamiah maupun sebagai hasil dari tindakannya, secara apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dengan kata lain, melalui citra lingkungan yang dimilikinya, manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang mempengaruhi tindakan dalam memperlakukan lingkungannya.

Dengan demikian kebudayaan yang dipakai untuk memahami lingkungan pada masyarakat yang ada tidak hanya mewujudkan respons terhadap lingkungan spesifik terseb4t, tetapi j uga respons terhadap kebudayaan lain melalui interaksi sosial dengan kebudayaan lain. Artinya bahwa kebudayaan masyarakat yang bersangkutan berupa referensi untuk memahami dan mewuj udkan tingkah laku (Rudito, 2003).

pemikiran manusia terhadap lingkungannya mau tidak mau mendorong manusia untuk berfikir secara sistematis dan terbatas pada ruang dan waktu. Kebudayaan manusia pada akhirnya dapat dikatakan sebagai suatu sistem simbol yang berisi penggolongan-penggolongan terhadap lingkungan. Bila ditelaah kembali dalam sistem budaya yang ada pada pemikiran manusia maka dapat dibagi beberapa simbol-simbol yang berkaitan dengan perwujudan atau dasar pendorong perwujudan tindakan yang ada. Simbol-simbol dalam sistem budaya terbagi dalam empat perangkat yang bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing (Rudito,

2006), yaitu:
(I) simbol-siipbol konstitutif yang berisi simbol-simbol keyakinan yang menyatakan kebenaran mutlak yang tidak dapat diubah dan digeser dan bersifat dogmatis, biasanya berkaitan dengan keyakinan keagarnaan yang dianut oleh kelompok individu sebagai komuniti atau masyarakat. Dalam simbol ini terdapat kedudukan norma yang bersumberkan pada keyakinan seseorang atau sekelompok orang sehingga paling dekat hubungannya dengan agama yang dianut sebagai dasar kepercayaannya.
(2) simbol kognitifyang merupakan simbol pengetahuan tentang pengorganisasian (pengeksploitasian, pemanfaatan, pemeliharaan) lingkungan. dalam simbol ini manusia dapat menterjemahkan benda-benda yang ada di luar dirinya serta memberikan makna kepada benda-benda tersebut. Simbol kognitif biasanya dapat terwujud karena pengalaman- pengalaman dari individu terhadap benda-benda yang ada di luar diri terse but, dan dengan pengalamannya memperlakukan benda-benda tersebut biasanya akan mendorong pengetahuan lebih lanjut tentang benda-benda tersebut. Dengan simbol kognitif manusia dapat mewujudkan penemuan-penemuan barn untuk memenuhi kebutuhannya

Perwujudan kebudayaan terdapat pada pranata-pranata sosial yang berlaku di masyarakat yang mengatur dan mengorganisasikan kebutuhan-kebutuhan manusia yang terdiri dari kebutuhan:

a.) primer yang bersumber pada aspek-aspek biologi/organisme tubuh manusia yang mencakup kebutuhan akan: makan dan

2004:160-161 ).

Sehingga untuk menjelaskan peranan kebudayaan dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan terse but maka perlu dilihat kebudayaan dalam perwujudannya yaitu yang terdiri atas pranata-pranata sosial yang masing-masing berdiri sendiri tetapi sangat berkaitan satu dengan lainnya, yaitu: bahasa dan komunikasi, ilmu pengetahuan dan teknologi. ekonomi, organisasi sosial, agama dan kesenian. Diantara pranata-pranata sosial yang penting dalam penentuan tingkat pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan

kehidupan manusia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi, hal ini berkaitan dengan kedudukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi yang berhubungan langsung dengan lingkungan. Walaupun demikian dalam tindakan pemenuhan kebutuhan tersebut, melibatkan pranata-pranata lainnya secara langsung maupun tidak langsung, dan juga sumber daya yang tersedia di lingkungannya. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut manusia akan mewujudkan tindakan yang berupa tradisi-tradisi atau kebiasaan yang berlaku setempat. Barth (1994) mengatakan bahwa kita harus memberikan perhatian yang spesial kepada pengetahuan, karena untuk memahami pengetahuan yang ada di kepala orang kita harus memahami konsep dan maknanya. Waren dalam Agrawal (1998) mengatakan bahwa pengetahuan diturunkan dari generasi ke generasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Berdasarkan hal tersebut dan jika diamati secara seksama akan terlihat bahwa kehidupan manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan hidupnya. Ia akan selalu bergantung dan berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Melalui pengalaman dan pengamatan ia akan dapat gambaran atau citra lingkungan hidupnya mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan terhadap lingkungan hidupnya demi kehidupan yang lebih baik (Soemarwoto, 1983:118). Melalui lingkungan hidupnya ia belajar bahwa seluruh eksistensinya tergantung dari alam yang dihayatinya yang menentukan keselamatan dan kehancuran manusia (Suseno, 1984:84-89). Adanya hubungan yang sedemikian rupa antara manusia dan alam, sudah barang tentu dapat menumbuhkan suatu pandangan atau sistem pengetahuan tertentu pada alam tersebut. Hal itu dapat berkembang untuk membentuk salah satu unsur kebudayaan. Manifestasi unsur kebudayaan tersebut dapat berupa pengetahuan

Pengetahuan budaya manusia, digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan pengalaman dan lingkungan (lihat Spradley, 1980). Dengan demikian, pengetahuan akan lingkungan alam adalah seperangkat pengetahuan yang mereka gunakan untuk memahami dan menginterprestasikan pengalan1an mereka di tern pat hidupnya. Tan pa bekal pengetahuan yang baik tentang lingkungan hidup (hutan), secara hipotetik, bisa diperkirakan bahwa penduduk tidak akan mampu bertahan.

Strau~s dan Quinn (1994) berpandangan ada empat kecenderungan pemahaman budaya, yaitu:

(I) Pemahaman budaya secara relatif dapat bertahan lama dalam diri individu,
(2) Secara historis relatif stabil dan bisa diproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya,
(3) Pemahaman-pemahan tadi cenderung dipahami secara tematis, dimana dengan itu orang bisa menerapkannya secara berulang- ulang diberbagai konteks ytang berbeda-beda,
(4) Pemahaman budaya dimiliki bersama, kalau tidak dimiliki bersama dalam suatu kelompok, dia tidak disebut sebagai kebudayaan. Budaya adalah pengetahuan, dimana kebudayaan adalah serangkaian pengetahuan yang diperoleh manusia sebagai makhluk social yang dipergunakan untuk memahami dan menginterprestasi pengalaman dan lingkungan serta mendorong guna rnenghasilkan tingkal laku (Spradley, 1980). Budaya sebagai pengetahuan merupakan sistem kognitif yang tersusun dibenak setiap orang. Sejalan dengan itu, pandangan

Q'udging), dan menyimpulkan (reasoning).

Keesing ( 1999) mengatakan bahwa pengetahuan yang berada dikepala seseorang merupakan hal yang sudah ada atau terlukiskan dibenak orang tersebut, dimana pengetahuan ini akan membantu orang tersebut untuk bertindak. Lebih lanjut, Keesing mengartikan budaya sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari.

Keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah seperangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapinya dan untuk menolong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan sehingga dengan demikian manusia akan mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dimana dia akan tinggal dan melakukan aktivitasnya sehari-hari. penyesuaian terhadap lingkungan ini. merupakan suatu strategi manusia didalam memenuhi kebutuhannya. di mana didalam pemenuhan kebutuhan tersebut manusia dituntut untuk memberikan respons dengan kebudayaan yang dimilikinya. Seperti yang ditulis oleh Haviland ( 1988). dalam

hidupnya ini. manusia berusaha memenuhi kebutuhan primemya. seperti kebutuhan akan pangan yang diperolah dari alam dan mendapatkan berbagai rintangan yang bemsal dari alam. Hal ini menyebabkan manusia selalu berusaha beradaptasi dan menguasai alam dengan ilmu pengetahuan yang ada padanya yang merupakan bagian dari kebudayaan.

Untuk mengetahui pengetahuan suatu masyarakat secara menyeluruh. kita hams dapat berfikir dan bertindak seperti yang difikirkan dan dilakukan oleh masyarakat tersebut. Pengetahuan budaya yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat memiliki dua bentuk. Pertama yaitu pengetahuan budaya yang dimiliki oleh seseorang dan dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara relatif mudah, bentuk pengetahuan yang kedua yaitu pengetahuan budaya yang dapat dipraktekkan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari. namun tidak terungkapkan dengan kata-kata. Spradley (1980) menyebutkan dengan explicit cultural knowledge dan tacit cultural knowledge. S trauss dan Quinn ( 1994) menyebutkan dengan knowledge that is said dan knowledge that is unsaid. Borofsky ( 1994) menekankan perlunya kehati-hatian dalam mentranfonnasikan bentuk pengetahuan implisil menjadi explicit.

Gatewood ( 1985) mengungkapkan dua pandangan yang berkembang dalam antropologi. yaitu:

I. Kognisi yang dim ilik i bersama adalah prasyarat untuk keberhasilan interaksi sosial: Pengaturan kognisi secara sederhana dapat diintemalisasikan kepada anggota kolektif. *1* lembicarakan ten tang pengetahuan adalah mengacu kepada adanya persamaan pandangan seseorang atau se ·elompok orang terhadap kenyataan lertentu. Persamaan pandangan/interprestasi dari seseorang atau keiompok berkaitan dengan latar belakang so sial

dialarninya, pengertian pengalarnan merupakan suatu proses di mana rangsangan dari luar yang dicerna melalui alat- alat pengamatan yang diteruskan ke otak sebagai pusat, yang menafsirkan pengamatan-pengamatan tersebut.

Kearifan Tradisional

Seperti diketahui sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di daerah pedesaan yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, nelayan dan sebagian lagi peternak dan bahkan berladang pindah serta berburu-meramu. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya masyarakat-masyarakat pedesaan di Indonesia memiliki pengetahuan dan teknologi tradisional yang mereka gunakan untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan alam. Mereka biasanya sangat memperhatikan kelestarian dan keseimbangan lingkungan alam. Bahkan dalam sistem kepercayaan masyarakat yang hidup dalam lingkungan tradisi yang kuat masih terdapat kebiasaan menghorrnati dan memuja alam, dewa-dewa dan totemisme yang disertai tabu, membunuh atau memakan hewan atau jenis tumbuhan tertentu.

Sejalan dengan itu, adanya keyakinan hubungan yang erat dan bersifat kausal antara makro dan mikro kosmos, merupakan suatu kesadaran manusia yang mengandung kearifan dalam menjaga ketertiban a lam jagad raya ini.

Menurut Adimihardja (2003 : 29), kearifan tradisi (baca : kearifan tradisional) yang tercermin dalam sistem pengetahuan dan teknologi lokal di berbagai daerah secara dominan masih mewarnai nilai-nilai adat sebagaimana tampak dari cara-cara mereka melakukan prinsip-prinsip konservasi, manajemen, dan eksploitasi sumber daya alam, ekonomi dan sosial. Hal ini tampak jelas dari

alam, yang merupakan bagian ya ng tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Dalam melakukan eksploitasi sumber daya alam. daya adaptasi sistem pengetahuan dan teknologi mereka selalu discsuaikan dengan kondisi li ngkungan alam serta sistem distribusi dan alokasi produk-produk tersebut.

Namun demikian. perlu disadari pula bahwa sistem pengetahuan dan teknologi trad isional yang mcrupakan refleksi nilai-nilai budaya masyarakat itujangan dipahami sebagai suatu hal yang tuntas dan sempurna. Budaya tradisional dan lokal itu bersifat dinamis dan berkembang terus sejalan dengan keragan~an atau multikulturalitas dalam tuntutan dan kebutuhan manusia.

Pengamatan yang ditafsi rk an dapat berkembang yang di tcntukan oleh struktur kcbutuhan a tau motif yang terdapat pad a orang yang mcngamati. Jadi. sebenarnya motifkita melalui minat dan perhatian mcmpunyai peranan besar dalam menentukan apa yang kita lihat. dengar. dan amati di lingkungan kita dan bukan saja alat-alat pcngamatan dan kecerdasan kita (Gerungen. 1986: 146).

Lcbih lanjut Noerhadi menye butkan mengenai sistem pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :

"sisle/11 pengetalwan merupakan suatu persiapan keperifakuan konkril dan halnt~a nilai-nilai fewat emosi, motivasi dan ekspeklasi me111pengoruhi sistem pengetahuan ini. hahwa nilai-nifai dengan .mling herheda mempengaruhi sistem pengetahuan a tau perifaku ...

Olch karena itu perpaduan antara faktor-faktor tersebut dapnt membcntuk sistem pengetahuan dan mungkin saja sampai tingkat perilaku. ~istem pengetahuan clapat clibagi dia. ya itu:

I. Sistem pcngetahuan realitn. yaitu pandnngan atau penafsiran tcrhadap suatu obyek yang didasarkan kepada real itas suatu f'enomena yang dapat clika.ii sccan:t ilmiah dan sccara material dapat terasa.

te1jadi pada masyarakat khususnya masyarakat "X".

Dewasa ini pengetahuan dan teknologi modern dalam mengelola lingkungan alam merupakan solusi yang se1ing digunakan untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan manusia sesuai dengan perubahan-perubahan yang berkembang sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengetahuan dan teknologi modern te lah memberikan banyak manfaat dan keuntungan dalam pembangunan masyarakat di Indonesia. Kita harus berani mengakui bahwa ada beberapa " kearifan tradisional" yang terasa tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman, bahkan menimbulkan kesan keterbelakangan.

Namun pada sisi lain, muncul kekecewaan di berbagai kalangan yang menilai bahwa pengelolaan lingkungan alam sepenuhnya bersandar pada pengetahuan dan teknologi modern menimbulkan kerusakan lingkungan alam dan hilangnya pengetahuan penting yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau komunitas di daerah-daerah di Indonesia.

Masalahnya, apa saja pengetahuan yang dimiliki masyarakat pedesaan tentang lingkungan alam, khususnya hutan dan bagaimana masyarakat tersebut menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam memelihara lingkungan alam untuk memenuhi kebutuhan atau

'"Konservasi" dan "Eksploitasi'" yang selalu te1jadi pada masyarakat khususnya.

Dalam tulisan ini dipaparkan basil dari suatu penelitian yang mengarah pada pendeskripsian dari sistem-sistem pengetahuan tradisional yang ada dalam suatu masyarakat tentang interpretasinya terhadap lingkungan alam. lnterpretasi suatu masyarakat terhadap lingkungannya. khususnya lingkungan alam dapat menggambarkan bagaimana masyarakat tersebut dengan kebudayaannya dapat beradaptasi _secara baik serta sekaligus melindungi alam lingkungannya. Hasil interpretasi yang dilakukan oleh masyrakat sukubangsa tertentu ini sering dikatakan sebagai sebuah kearifan lokal.

Tujuan

Secara teoritis tulisan ini be11l1juan untuk mendapatkan gambaran yangjelas mengenai pengetahuan masyarakat tentang hutan sebagai bagian dari lingkungan alam yang memberikan manfaat dan menjamin keseimbangan kehidupan suatu kelompok masyarakat. Kemudian gambaran ini lebih lanjut diuraikan sebagai berikut:

I. Menggali kearifan tradisional masyarakat pedesaan di Sibanggor .Julu yang mempunyai implikasi posit if terhadap pengelola dan pemanfaat lingkungan alam pembangunan.
2. Memberikan gambaran yang jelas tentang pengetahuan masyarakat yang melihat hutan sebagai realitas yang saling mendukung kepada hakekat kehidupan.
3. Mcmberikan informasi kepada pengambil kebijakan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan alam.

secm·a turun temurun dimiliki oleh masyarakat pedesaan Sibanggor JuJu yang bermata pencaharian pokok sebagai petani untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan alamnya (hutan).

Kearifan Tradisional dalam tulisan ini mencakup: pandangan hidup dan konsep tata ruang. pengetahuan masyarakat mengenai lingkungannya. teknologi tradisional yang dipakai dalam mencari nafkah, tradisi dalam pemeliharaan lingkungan alam. Pengetahuan tersebut pada akhirnya melahirkan perilaku sebagai hasil dari adatasi mereka terhadap lingkungan yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestarian alam.

Tulisan ini seperti yang telah disebutkan didasari pada sebuah penelitian yang dilakukan di daerah Sibanggor JuJu di kecamatan Batahan yang meliputi sukubangsa Mandailing, Kabupaten Mad ina. Lokasi ini mempunyai beberapa dasar pertimbangan, yaitu:

  1. Masyarakat yang bermukim di pegunungan di Sibanggor .lulu masih didominasi oleh mata pencaharian penduduknya di sektor pe11anian danjuga banyak memanfaatkan basil hutan di sekitar wilayahnya. Dari gambaran bentuk mata pencaharian ini terlihat adanya hubungan masyarakat terhadap lingkungan alammasih sangat erat. Satu bukti dari hubungan yang erat ini ditunjukkan dengan sikap masyarakat yang sangat melindungi hutan yang dianggap sebagai sumber mata pencaharian serta juga perlakuannya terhadap hutan banyak diselimuti oleh beberapa

h:ehiclupan yang bersifat kebersamaan yang ditunjukkan oleh dominasi sistem ke h:e rabatan yang masih erat serta ketergantungann ya yang erat kepada lingkungan alam dengan sumber penghidupan dari hasil hutan.

Sebagai metodologi yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini digunah:an metode kuali tatifpada aspek-aspek te11entu. khususnya pada pola-pola tindakan dan tingkah laku serta kebiasaan schari-hari. atau dengan kata lain clcngan menggunakan metocle etnografi clengan melihat ti ngkah laku yang terwujud dengan mengabstraksikan kenyataan dan fakta kedalam kategorisasi untuk mendapatkan pengetahuan budaya yang mendasari tingkah laku yang bersangkutan sehingga diperoleh pengetahuan atau kearifan lokal. Model in i eli lakukan dengan bantuan pengamatan serta kctcrlibatan peneliti eli masyarakat. Kemudian dikumpulkan juga data sekunder un tuk mendukung data primer yang diperoleh secm·a kualitatif

Sccara rinci teknik yang digunakan clapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Studi Lapangan I .I. Studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data-data dari lapangan atau lokasi penelitian. Teknik yang digunakan dalam mcngumpulkan data primer inj adalah : I. I. I. Pengamatan (ohserl'([/ion) yaitu teknik pengumpulan
data dengan cara mengamati situasi clan kondisi lingkungan fisik serta perilaku masyarakat yang berkaitan erat dengan masalah yang diteliti.

Partisipasi (participation) yaitu teknik pengumpulan data dengan ikut serta dalam kehidupan dari orang yang ditelitinya secara terus menerus dalam suatu arena tertentu.

Metode pengamatan terlibat (participant observation) yaitu teknik pengumpulan data dengan cara memahami dan mengamati aktivitas masyarakat yang ada kaitannya dengan kearifan tradisional di mana petugas mendata secara langsung terlibat di dalamnya. Metode observasi, partisipasi (pengamatan langsung). Dalam penelitian ini dipergunakan untuk mengamati suatu gejala atau situasi social tertentu di lokasi penelitian. Hal ini meliputi keadaan, kegiatan, peristiwa, perilaku yang melibatkan warga desa yang berhubungan dengan pandangan mereka terhadap hutan.

1.2. Wawancara, dilakukan setelah diobservasi bentuk-bentuk tindakan yang muncul yang terdata dan kemudian dibuat pedoman wawancara yang didasari pada hasil pengamatan. sehingga wawancara yang diperlukan dan yang dipergunakan adalah bentuk wawancara mendalam (Depth lnterwielF) dengan menggunakan alat bantu pedoman wawancara (lnterwiew Guide) yang berhubungan dengan masalah penelitian. Pemilihan waktu untuk melakukan wawancara disesuaikan dengan keadaan di lapangan dan kegiatan mereka. Metode wawancara mendalam (Depth lnterview)yaitu teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan pada informan yang memiliki keahlian tentang pokok wawancara berdasarkan pedoman wawancara (Interview Guide) yang telah dibuat sebelunmya. Untuk mendapatkan petunjuk ten tang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan keterangan lebih lanjut yang kita perlukan.

data diharapkan terlebih dahulu memulai keterangan dari informan pangkal (key Informant). Sebelum melakukan wawancara, pewawancara harus mampu menciptakan hubungan baik dengan informan atau mengadakan pendekatan (rapport), supaya informan mau menjawab dengan lancer, mau meberi informasi sebanyak-banyaknya sesuai dengan pikirannya dan keadaan yang sebenarnya, dan mau bersikap kooperatif.

2. Studi Kepustakaan.

Studi Kepustakaan yaitu teknis pengumpulan data dengan cara mempelajari literatur-literatur yang berisikan konsep-konsep dan teori-teori yang mendukung materi mendapatkan data.

Studi kepustakaan adalah mencari data yang terdapat tentang kearifan tradisionaJ yaitu, berupa buku, majalah, artikel, bulle- tin dan sebagainya. Data yang di peroleh merupakan data sekunder yang cukup penting guna untuk melengkapi data primer yang diperoleh di lapangan.

3. Analisa Data

Dalam menganalisa data digunakan 2 (dua) cara yaitu. anal isis domain dan analisis taksonomi. Analisis domain meliputi penyelidikan terhadap unit-unit pengetahuan budaya yang lebih besar yang disebut domain. Sedangkan analisis taksonomi meliputi pencaharian atribut-atribut yang menandai berbagai perbedaan diantara simbul-simbul dalam sebuah domain.

merupak

Kabupaten Mandai ling Natal beracla eli ujung selatru1 Provinsi Sumatera lltara dan memiliki luas wilayah 6.6:20,70 Km2 atau

662.0 70 Ha (sekitar 9,23% dari wilayah Sumatera Utara). Te rletak diantara 0' 1 o·-50' LU dan 98' 50 -1 oo · I o· BT. Secara admi nistra- ti fMandail ing Natal berbatasan clengan:
- Kabupaten Tapanu1i Selatan el i Sebe1ah Utara.
- Dengan Provinsi Sumatera Barat eli Selatan clan Timur.
- Dengan Samuclera Hincli a eli Seba1ah Barat. Kabupaten Mandai1ing Natal terdiri atas 8 kecamatan dengru1 273 desa dan kelurahan pada saat dimekarkan ( 1998), clan sejak

jumlah kecamatan dan desa bertambah menjadi 17 kecamatan, 322 desa. dan 7 kelurahan. Kecuali Kecamatan Batahan. Muara Sipongi dan Muara Batang Gadis, semua kecamatan yang ada scbelumnya sudah mengalami pemekaran: yakni kecamatan Kotanopan dimekarkan menjadi 4 kecamatan, Panyabungan menjadi 5 kecamatan, Batang Natal menjadi 2 kecamatan: dan Siabu menjadi 2 Kecamatan.

Topografi wilayah Kabupaten Mandai ling Natal terbagi atas tiga bagian, yaitu dataran rendah dengan kemiringan o·-2· di bagian pesisir pantai barat, dengan luas daerah sekitar 160.500 Ha (24,24%) : daerah landai dengan kemiringan 2' -15' seluas 36.385 Ha (5,49%): dataran tinggi dengan kemiringan 7' -40' yang terbagi atas dua yaitu daerah perbukitan dengan luas 112.000 ha (16.91%) dengan kemiringan 15 ' -40'. daerah pegunungan seluas 353.185 ha (53.34%) dengan kemiringan T-40', seperti daerah lain di Indonesia, daerah Mandai ling Natal mengenal dua musim yaitu muslin kemarau dan musim hujan. Suhu rata-rata berkisar antara 23°C- 32°C dan kelembaban antara 80-85%. Sementara itu curah hujan maksimum (tahun 2003) adalah 2.137mm pada bulan Nopember dan suhu minimum 50 mm pada bulan Februari. Cural1 hujan tertinggi teljadi di Kecamatan Muara Sipongi dan terendah di Kecamatan Natal.

Dengan topografi yang domillan dataran tmggi, pegtmLmgan dan perbukitan, maka tidak mengherankan jika di daeral1 Mandailing Natal terdapat ban yak ali ran sungai besar dan keci I. Beberapa sungai yang besar di daerah ini an tara lain adalah Batang Gadis. Batahan, Batang Natal, Kunkun, dan Parlambungan. Sungai Batang Gadis tercatat sebagai sungai yang terpanjang di daerah ini, dengan panjang 13 7,50 km. Di gugusan Bukit Barisan yang melu1tasi wilayah Mandai ling Natal juga terdapat gunung dan bukit yang tinggi-tinggi. Gunung Kulabu dan Gunung Sorik Marapi adalah dua di antaranya yang tergolong paling tinggi. Gtmtmg Sorik Marapi (2.145 m dpl) termasuk gunung a pi yang masih aktifhingga sekarang.

Sibanggor. dan merupakan desa yang pal- ing dekat dengan puncak gunung berapi tersebut. Berj arak sekitar

  1. 5 km dari ibukota kecamatan atau se kitar 14 km dari Panyabungan (ibukota Kabupaten Mandai ling Natal), desa ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor mel aluijalan aspal yang kondisinya cukup baik. kira- kira 30 men it dari Panyab ungan. Karena posi sinya yang berada di lereng bukit, hampir semua lanskap wilayah desa berada kem iringan di atas 20%. sehingga pengaturan rumah- rumah pcnduduk di susun be rba njar mengik ut i kantur tanah perbukitan.

    Pemerintahan

Pusat pemcrintahan Kabupaten mandail ing Natal berada di

Pan yabungan. persi s di jal ur lintas Sumatera. Posisi nya cukup strategis dan rel atif bcrada di tengah sehingga seluruh wilayah kecamatan bi sa dijangkau dengan mudah. 1-lanya saja jalur yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan kecamatan belum se luruhnya bagus. terutama di kecamatan yang ada di daerah pantai barat.

Wilayah Mandai ling Natal sudah beberapa kali mengalami perubahan status pemerintahan. Di 2<.1111311 Bel311dadaerah ini merupak311 daerah bagian dari Keresidenan Ai r Bangi s Suma tcra Barat (antara tahun 183 7 s/d 1842) yaitu selepas pcrang paderi setelah itu daerah ini dimasukkan ke wilayah Keresidcnan Ta panul i dengan ibukota di Sibolga. Tak l3111a setelah kemerdekaan wilayah Mandai ling Natal juga pemah dijadikan sebuah kabupaten bemama kabupaten Batang Gad is dengan ibukota di Kotanopan yang kemudian dipindahkan ke

Padang Sidempuan. Lalu. seper1i telah disebutkan di atas. sej ak I 998 daerah ini dijadikan lagi sebagai sebuah daerah otonomi dengan nama kabupaten Mandai ling Natal dan beribukota di Panyabungan.

Dari 5 (lima) kecamatan yang terdapat di Panyabungan. salah satunya adalah kecamatan Tambangan, adapun batas-batas wilayah adalah:

  • Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Panyabungan Timur Kecamatan Panyambung Selatan dan Lembah Sorik Marapi.
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kotanopan, Kecamatan Batang Natal.
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Panyabungan selatan, Kecamatan Batang Natal.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kota Nopan dan Kecamatan Panyabungan Timur. Desa Sibanggor JuJu merupakan satu dari 28 desa yang berada di Kecamatan Tambangan dan merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Mandai ling Natal. Letak desa Sibanggor JuJu yang berada di lereng gunung api Sorik Marapi (2.145 meter) di satu sisi memiliki keuntungan berupa keberadaan panorama alam yang indah, kaldera (kawah), beberapa lapangan solfara (sumber air panas mengandung be1erang), dan memberikan kesuburan bagi tanah pertanian di sekitarnya. Tetapi di sisi lain, posisi tersebutjuga menjadikan desa ini terkatagori sebagai daerah bahaya dengan jarak hanya sekitar 4,5 km dari puncak gunung. Da1am catatan Manalu ( 1989) disebutkan bahwa bila terjadi letusan di kawah pusat yang perupa danau, maka lahar panas akan menghantam kampw1g Sibanggor JuJu.

1830, 18 79.1892,1893.1917. 1970dan 19 86. pada peri sti wa letusan tahun 18 92. hujan lahar menelan korban sebanyak 180 orang yang meninggal di Sibanggor. Desa Sibanggor J uJu memili ki batas-batas wilayah:

  • Sebelah Utara dengan Sibanggor Tonga.
  • Sebelah Selatan dengan Tor Aek Silai -lai dan anak gunung Sorik Marapi
  • Sebelah Barat dengan Gunung Sorik Marapi.
  • Sebelah Timur dengan Huta Lombang. Catatan resmi pemerintah (BP S I kacamatan Tam bangan Oalam Angka 2004) me nyebutkan bahwa Si banggor JuJu memiliki luas wil ayah 300 ha. namun data kantor Ke pala Desa menunj ukkan perbedaan yang siqnifikan dengan data dari BPS dengan perincian penggunaan lahan sebagai beri kut : Lihat Tabel no. I

Luas Wilayah Desa

Tanah Perumahan/Pemukiman 48 ha
Luas Tanah Sawah Tanah Kering 250 ha
Sawah lrigasi l;j Teknis - ha
Sawah lrigasi Non Teknis - ha
Sawah Tadah Hujan - ha
Luas Kebun Karet 200 ha
Luas Ladang/Sayuran 8 ha
Luas Tambak/Kolam - ha
Luas Tanah Hutan ha
Jumlah + 7016 ha

± 6510

Sumber: Kantor Kepala Desa Sibanggor Julu

Datm·an Desa Sibanggor JuJu seJuas lebih kurang 7016 ha. pada wilayah desa tidak ditemukan daerah yang lebih landai sehingga air dapat terus mengaJir. Kondisi air tanah aclalah tawar danjernih sehingga untuk keperluan sehari-hari terutama untuk memasak dan minum. warga desa dengan bebas dapat mengambiJ air, karena air di daerah ini mengalir dari bukit dengan deras. dan juga terdapat sumur sebanyak 20 buah.

Permukiman penduduk di Desa Sibanggor JuJu dikelilingi oleh laban pertanian berupa sawah, tegalan, kebun karet dan hutan. Di pekarangan rumah penduduk banyak ditemukan tanaman-tanaman palawija. hortikuJtura. dan juga tanaman tua sepe11ijeruk ··unte man is'' yang sekarang tidak produktiflagi. Areal persawahan

Cuni k, Aek alomlom dan Aek Si banggor.

Jalan dan Transmigrasi

M cskipun secar·a resmi Desa Sibanggor Julumcrupakan bagian da ri Kccamatan Tambangan yang ibukotanya el i Laru. tetapi penduduk dcsa ini lcbih bcrori entasi ke Kota Panyabungan (ibukota kabupaten). llal ini disebabkan antara la in karena sarana transpor1asi yang cuku p ramai mc lcwati jalur kawasan Hutanamale Sibanggor dcngan Panyabungan. Scdi kitnya ada 35 angkutan pcdesaan (m in ibus Anatra) ya ng schari- hari me lcmlti jalur ini. Ada 4 (em pat) orang pcnduduk de sa Si banggor .l ulu ya ng mcmiliki angkutan umum ~cjcnis yang mencmpuh trayck Sib

Kondisi jalan bcsar yang mengh ub Lmgkan Desa Sibanggor .I ulu dcngan Dcsa lain y::mg ada eli sck itarn: a tcrbilang masih bagus. hanya bcbcrapa ruas jalan yang scd ikit rusak. begitu pula ja lan : ang mcnghu bungkan kc Panyabungru1 tcrbi lang sangat bag us tanpa adanya ruasjalan yLmg rusak. Di Dcsa Sibanggor .l ul u.jalan beraspal scpan jang lcbih ku rang 2 km.

Kcmampuan mo bilitas pcnduduk Desa Sibanggor .lul u dapat tcm uj ud dcngan adanya saranajalan :angjadi penghubung antara desa tersebut dengan dcsa yang lai n. Di samping adanyajalanjuga

2 7

Para warga yang ingin menggunakan jasa angkutan ini dapat menghentikannya di pinggir jalan ataupun di daerah pusat pasar Panyabungan. Angkutan ini dapat membawa warga desa dan juga ke desa-desa yang terletak berdekatan dengan de sa Si banggor .lulu seperti Desa Sibanggor Jae dan SibanggorTonga. Untuk membawa hasil panen penduduk yang akan di jual warga biasanya menggunakan angkutan umum, sepeda motor, becak, gerobak, karenajarak pasar dengan Desa Sibanggor Julu terbilangjauh.

Pengaruh yang timbul dari kelancaran transportasi secara tidak langsung dapat merubah kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat secara ekonomis, adanya sarana dan prasarana transportasi dapat mempersingkat waktu tempuh yang berarti keuntungan yang akan diperoleh dari hasil penjualan hasil panen dapat tercapai dalam waktu yang singkat dan juga dapat menghemat biaya produksi tersebut. Perubahan dalam segi sosial budaya dapat terlihat yang mana intensitas hubungan sesama warga semakin tinggi dan informasi yang di dapat semakin luas dan cepat diterima.

Di Desa Sibanggor Julujuga terdapat sarana olah raga yang dipergunakan oleh masyarakat setempat untuk melepas hari-harinya dengan berolah raga dan berkumpul bersama, adapun sarana-sarana olah raga yang terdapat adalah:

Raga

Sarana Olah Raga Jumlah
Lapangan Bo Ia Kaki I buah
Lapangan Bo la Volly I buah
Lapangan Badminton 1 buah
Lapangan Tenis Meja 1 buah

Sumber; Kantor Kepala Desa Sibanggor Julu

Sejarah Desa

Secm·a umum dapat dikatakan bahwa daerah Mandailing Natal adalah daerah hun ian dari Orang Mandai ling. Namun sesungguhnya yang menj ad i penduduk asl i di daerah in i bukan hanya Orang Mandai ling. tetapi ada kelompok et ni s lain yaitu Orang Lubu (biasa juga disebut Orang Siladang) yang bermukim di lereng bukit Tor Sihite di Kecamatan Panyabungan. Orang Ulu (bia~a Jisebut Orang Muara Sipongi) yang bermukim di Kecamatan Muara Sipongi. dan ada pula Orang Pesisir Natal yang bermukim di kawasan pesisir barat (Kecamatan NataL Batahan dan Muara Batang Gadis). Scdikitnya ada empat kelompok penutur bahasa yang berbeda di daerah Mandailing Natal. yaitu bahasa Mandailing. bahasa Lubu. bahasa U lu. dan bahasa Pesisir Natal. llanya saja dengan penduduk ya ng mayori tas dan etnis Mandai ling di kabupaten ini maka orientasi budaya masyara katnya didominasi oleh budaya dan bahasa Mandailing (Zulkitli Lubis. 2005).

Orang Ulu (Muara Sipongi) termasuk ras proto-melayu, dan secara fenotifik yang artinya fenotif ciri fisik memang memiliki perbedaan dengan orang-rang Mandailing. Tidak diketahui sejak kapan mereka berada di daerah Mandailing. Orang Pesisir Natal merupakan produk akulturasi antara Mandai ling dan Minangkabau. yang terjadi beberapa abad lalu. diduga ketikajalur perhubungan antar benua masih melewati pantai barat atau Samudera Hindia. Seperti diketahui. Natal dan S ingkuang adalah Ban dar kuno yang ada di wilayah pantai barat, seperti halnya Barus di Tapanuli Tengah, lebih lengkap mengenai peranan Bandar Natal dari masa lampau lihat Crisline Dob- bin (1990).

Orang Mandailing diperkirakan sudah mendiami kawasan Mandailing Natal beberapa abad yang lalu. Di daerah ini banyak ditemukan situs-situs purbakala yang menandakan bahwa kawasan ini sudah dihuni manusia sejak berabad-abad lalu. Di suatu lokasi yang disebut Padang Mardia di daerah Panyabungan terdapat beberapa peninggalan batu yang diperkirakan dari masa Mesolithicum. Di Simangarambat (Siabu) terdapat pertapakan Candi Hindu yang menurut data arkeologis bertarih abad ke-9 Masehi. Di Pidoli Lombang terdapat peninggalan-peninggalan candi Buddha dari abad ke-14. di lokasi yang oleh penduduk disebut Saba Biar. Di dalam Kitab Negarakertagama tulisan Mpu Prapanca tersebut bahwa Mandailing merupakan salah satu wilayah yang menjadi ekspansi Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 (lihat Z. Pangaduan Lubis. 1987).

Selanjutnya. jika ditelusuri dari silsilah marga-marga yang tertua di Mandailing. misalnya Lubis, Nasution, dan Pulungan, diketahui bahwa kehadiran mereka di daerah ini sudah lebih dari lima a bad yanfj. !,'.11~. Sekedar sebagai contoh. marga Lubis misalnya i .. ..

~-· - ·· ·-'1
·. . L ~! :;i •.I 1
;. ·_:' -····~-~---··--~- --~...1 • .' 'I'. - ' •..,. J

. ".;

c:·., · · i

I hfr ,. f f I .. Jt;_. I" '

I""'t.·~ .............. t ...-.... t}'..)(,.'r_;fi.~R

abaci ke-14.

Menurut silsilah ada 4 generasi dari Daeng Male Ia ke tokoh leluhur marga Lubis yang makamnya ada eli Sigalangan (Kecamatan Satang Angkola). yaitu Namora Pande Sosi III. Anak dari Namora Pande Sosi Ill yang bemama Silangkitang dan Sibaitang menelusuri Sungai Satang Angkola dan Satang Gadis lalu bermukim eli Hutanopan (Kotanopan); mereka inilah yang menurunkan marga Lubis eli Mandai ling.

Dari tokoh Namora Pande Sosi Ill kepada generasi yang ada sekarang sudah ada sekitar 21 generasi. dan jika digabungkan dengan 4 generasi sebelumnya sudah mencapai 25 generasi. sehingga diperhitungkan nenek moyang marga Lubis sudah berada di tanah Mandailing sejak 625 tahun yang lalu, atau sekitar tahun 1380 Masehi (abad ke-14). Riwayat marga Nasution dan Pulunganjuga hampir sama tuanya dengan marga Lubis, sudah berkisar 20 generasi scjak berada eli Mandai ling. Uraian mengenai kisah asal-usulmarga- marga di Mandailing dapat dilihat dalam karangan Z. Pongaduan Lubis (1986).

Pacla masa sekarang ini sudah banyak pencluduk migran dari dacrah lain yang bermukim di Mandai ling dan sebagian dari mcreka sudah bcrasimilasi dengan Orang Mandailing. Pada pcrtengahan abaci ke-2 0 juga. udah ada migrasi orang Satak Toba kc beberapa tempat eli Mandailing. Dalam catatan Pcndeta Justin tahun 1926 sudah ada sekitar 250 KK orang Batak Toba di daerah Mandai ling. yang pindah dari Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Pada sensus penduduk ta hun 193 0 terdapat 1.292 jiwa warga Satak Toba di daerah Mandai ling (lihat OHS Purba & Elvis F. Purba. 1998). Selain itu. ada juga migrasi orang .J awa yang datang ke daerah ini sebagai transmigran pada masa Orde Baru. S erdasarkan hasil sensus Tahun

  1. diperoleh gambaran bahwa penduduk yang mendiami Kabupaten

0.880 jiwa).
Jika melihat silsilah dari marga-marga pertarna yang datang dan mendiami wilayah Mandailing seperti Lubis, Nasution, maka di Sibanggor Julu yang pertama sekali datang dan mendiami daerah terse but adalah marga Nasution ( dalam bahasa setempat "membuka huta/kampong") yang datang dari daerah Pidoli, baru kemudian disusul oleh marga Tanjung dan Hasibuan.

Menurut penuturan sejumlah informan, setelah letusan tahun 1892 dan 1893 itu letak pemukiman lama Sibanggor Julu (dulu bernama Singajambu) pindah ke lokasi yang sekarang.

Lokasi pemukiman yang sekarang adalah pindahan dari tempat sebelumnya yang terjadi setelah peristiwa Ietusan gunung Sorik Marapi pada tahun 1886. Pemukiman lama terdapat di sekitar lokasi pemandian air panas, yang sekarang ini menjadi areal persawahan. Oleh karena itulah hingga sekarang penduduk desa Sibanggor Julu mengklaim bahwa sumber air panas yang menjadi aset wisata desa yang ramai dikunjungi pada hari-hari Iibur diklam sebagai kepunyaan desa Sibanggor Julu, meskipun secara fisik terlihat Iebih dekat dengan kampung Sibanggor Tonga.

Penduduk yang dating ke Iingkungan ini mayoritas menjalani pekerjaan sebagai petani, alasan mereka menjadi petani adalah dengan melihat Ietak dari Iokasi pemukiman yang berada di dekat pegunungan. Menurut penduduk, Desa Sibanggor JuJu merupakan daerah pertanian yang subur. Ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Karena melihat letak dari desa Sibanggor Julu yang masih dalam pusat kegiatan perekonomian masyarakat sehingga memudahkan para petani untuk melakukan transaksi atau menjual hasil panen mereka.

2003 (BPS Mandailing Natal) adalah sebanyak

380.546 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 187.225 jiwa dan perempuan
193.321 jiwa, sex rasio yaitu 96.85. Jumlah rumah tangga berdasarkan data 2003 adalah sebanyak 82.563 KK, Laj u pertumbuhan penduduk pada tah un 2003 adalah 1.61 %. Mayoritas penduduk beragama Is lam. Berdasarkan data hasil sensus tahun 2000 (S tati stik Suku dan Agama Penduduk Sumatera Utara) diketahui bahwa penganut agama Islam di Mandai ling Natal adalah 350.504 jiwa. Katolik 1. 192 jiwa. Protestan 8.086jiwa. HinduJO jiwa. Buddha 4 j iwa. lain-lain 33 j iwa, dari total penduduk waktu itu sebanyak 359.849 j iwa. Gambaran lcngkap mengenai ko mposisi penduduk Mandai ling Natal berdasarkan etnis di sajikan tabel berikut in i. Lebi h lengkap lihat Tabel 3.

f..-k lavu A B D E F G H .lurnlah
Karo 4.02 1 2 17 749 135 170 11 .357 7.566 40 24.255
Simlungun II 7 8 15 2 1 43 0 9 114
Toha 26 I I 0 7 21 0 I 57
Mandai ling 647 663 384 78 3.551 498 2 5.057 10.880
Pakpak 5 0 0 0 12 3 0 0 20
Nias 49 395 15 15 76 92 4 291 937
Jawa 13.269 1.645 306 45 1.596 4.931 17 876 22.681
Minang 3.208 66 137 5 1 5 17 15 0 87 4 08 1
Cina 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Aceh 4 32 49 8 92 15 7 37 244
Lainny:t 78 1>03 1301 97 4.786 216 137 753 7.971
.lumlah 29 0 13 45.8 17 69.::.!33 12.565 11.534 18 724 11 .827 57.324 359849

c

Sumber : Stati stik Suku dan Agama tahun 2000. BPS Sumut Keterangan: (A) Batahan. ( B) Batang Natal. (C) Kotanopan. (D) Muara Sipongi, (E) Panyabungan. (F) Natal, (G) Muara Batang Gadis, (H) Siabu. *) 13erdasarkan nama-nama kecamatan sebelum pemekaran tahun 2003

||||Tabel3||| ||||KECAMATAN||| |Melayu|A|B|C Jumlah| |Karo|4.021|217|749 |Toba|26|1|0 21|0|1 ||647|663|7B 51 517|0|87 4.081| |Lainnya|78|603|97 1.301 |Jumlah|29.013||11.534 69.233 12.565||359.849

2004 sebanyak 21.361 jiwa yang terdiri dari 9.793 jiwa laki-laki dan perempuan sebanyak 11.568 jiwa, sex rasio 84.66 dan kepadatan penduduk 0. 75. memiliki 4.491 rumah tangga dengan rata-rata per rumah tangga 5 jiwa (Kecamatan Tambangan dalam Angka 2004).

Dari 28 desa tersebut sa lah satunya adalah Desa Sibanggor .lulu yang menjadi daerah penelitian. Menurut data stati st ic Kepala Desa Sibanggor .l ulu jumlah penduduk desa mencapai 1.490 jiwa yang terdiri dari laki-laki 639 jiwa dan perempuan 851 jiwa yang terdiri atas 300 KK. dengan perincian berdasarkan lingkungan sebagai berikut:

Tabel4 Data Penduduk Per Jiwa/KK 2006
Sibanggor .lulu Jiwa KK
Laki-laki 639 300
Perempuan 851 0
Jumlah 1.490 300

Su mber : Kecilmatan rambangan da lam A ngka 2004

Apabi la melihat ban: akn ya pendudu k. rumah tangga dan rata-rata anggota rumah tangga tahun 2004makajumlah penduduk ya ng bcrtambah sebanyak -+ 9 orang dan ini tidak mcmpcrl ihatkan kcnaikan ya ng signifikan.

Banyaknya Penduduk, Rumah Tangga dan Rata-rata Anggota Rumah Tangga 2004

Des a Penduduk Rumah Tangga Rata-rata per Rumah Tangga
Sibanggor Julu 1.441 Sumber : Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2004 2006 adalah 1.490 jiwa dan luas total 7016 ha, maka dapat diartikan bahwajumlah penduduk Desa Sibanggor JuJu relatiflenggang. Tabel6 Luas, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk 2004 360 Dengan melihatjumlah penduduk keseluruhan pada tahun 4
Des a 2) Luas (Km Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk
Sibaneeor Julu 650.00 1.441 2,22

Sumber : Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2004

Jumlah penduduk dan perkembangannya sangat penting untuk diketahui sebab penduduk dalam suatu wilayah merupakan suatu potensi sumberdaya yang penting. Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan data Kecamatan Tambangan dalam angka pada tahun 2004 yang menunjukkan luas daerah denganjumlah penduduk masih relative lenggang.

Umum 2006

Penduduk S ibanggor JuJu
Laki-laki Perempuan Jumlah
0 - 5 Tahun 74 70 144
6 - 10 Tahun 72 88 160
I 0 - 15 Tahun 112 81 193
16 - 20 Tahun 86 100 186
21 - 50 Tahun 170 178 348
51 - 60 Tahun 100 100 200
60 Tahun ke alas 20 40 60

Sumber : Kepala De ~a Sibanggor Julu

Komposisi penduduk dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri tertentu. misalnya biologis (umur dan jenis kelamin). ekonomi meliputi penduduk yang aktif secara ekonomi, lapangan peke1jaan. dan pendapatan serta geografi diantaranya adalah tempat tinggal. Dengan demikian komposisi penduduk dapat digunakan sebagai sumber intormasi untuk berbagai keperluan penting yang berkaitan dengan tenaga kerja, be ban tanggungan dan mengetahui penduduk produktifmaupun yang tidak atau belum produktif.

Umur danjenis kelamin merupakan karakteri stik penduduk yang sangat penting Struktur ini memiliki pengaruh ya ng penting dilihat dari aspek demografis maupun sosial ekonomi. Oleh karena dengan mengetahui pengelompokkan umur, maka suatu daerah dapat diketahui apakah penduduk berstruktur muda atau tua. Selain itu untuk mengetahui penduduk yang tergol ong usia produkti r maupun belum atau tidak produktif. Dengan berdasarkan hal tersebut maka ab.n dapat diambil kebijakan dalam pembangunan

|10 atas|20||60|

dalam Wibowo, (2006); 18) bahwa usia penduduk dapat digolongkan sebagai berikut: usia belum produktifumur antara 0-14 tahun, usia produktifantara 15-64 tahun, dan usia tidak produktif umur lebih dari 65 tahun.

Atas dasar tersebut maka data dari kantor kepala Desa Sibanggor Julu menunjukkan bahwa sekian banyak penduduk, bahwa penduduk yang banyak adalah golongan usia 21-60 tahun, dan perempuan lebih banyak dibandingkan dengan penduduk laki-laki masih berusia produktif. M elihat jumlah penduduk menurut sex rasio,jenis kelamin tahun 2004 tergolong tinggi sesuai dengan table berikut:-

Tabel8

Data Penduduk menurut Gol Umur 2004

Des a Sex Rasio Laki-laki Perempuan Jumlah
Sibanggor Julu 87,28 672 770 1.441

Sumber : Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2004

Dari 300 KK hanya sekitar 200 KK yang memiliki lahan persawahan sementara sisanya tidak memiliki lahan persawahan. Disebutkan bahwa kelompok marga pembuka hutan adalah Nasution, yaitu Raja Baginda Marpayung Aji, yang makamnya berada di tengah areal persawahan Saba Aek Namilas. dan oleh penduduk setempat biasa disebut dengan tompal. Mayoritas penduduk desa ini sebenarnya bermarga Tanjung, baru disusul oleh penduduk bermarga Nasution, Lubis dan Batubara: Secara tradisional desa ini termasuk kawasan Mandailing Godang, karena itu klen Nasution menjadi raja huta di Sibanggor Julu mengikuti tradisi kawasan Mandailing Godang yang dipimpin oleh raja-raja bermarga Nasution. Di desa ini terdapat segregasi pemukiman

Pada umumnya penduduk Desa Sibanggor Julu memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain, baik melalui hubungan darah maupun perkawinan. Hubungan kekerabatan itujuga te1jalin dengan penduduk dari desa lain sekitarnya. Selain yang bermukim di desa, banyak pula warga Sibanggor Julu yang pergi merantau, misalnya ke Jakarta dan Malaysia, pada waktu-waktu tertentu kembali ke kampung halaman. Ikatan batin perantau dengan kampung halaman atau kampung asal nenek moyang cukup kuat, salah satunya terlihat dari partisipasi beberapa orang perantau asal Sibanggor Julu yang bermukim di. Malaysia turut membantu untuk pembangunan kampung asalnya hingga sekarang.

Suasana desa pada hari kerja, kecuali pada hari J um 'at, dirasakan lenggang dan cenderung sepi dari aktifitas penduduk. Hal terse but disebabkan para lelaki banyak yang berprofesi sebagai petani yang hampir setiap hari pergi bertani. Sementara itu aktivitas sehari-hari banyak di dominasi oleh aktivitas para wanita dan anak- anak.

Organisasi Sosial

Penataan Kehidupan Sosial dan Kelembagaan

Hidup dalam format desa memang sudah menjadi sebuah realitas paling tidak sejak berlakunya UU No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Beberapa dekade sebelum itu, komunitas- komunitas yang ada di daerah Mandailing Natal juga tidak hidup lagi dalam format kerajaan, meskipun nuansa pengaruh kewibawaan dari struktur kepemimpinan lama masih kuat dalam kehidupan masyarakat. Pengaturan mengenai hubungan antara warga Negara

UUPA No. 5 Tahun 1960 dan aturan-aturan lain yang kemudian lahir sebagai turunannya. Dengan aturan-aturan itu, klaim penguasaan individu atas tanah menjadi rujukan utama, sementara klaim tanah adat menjadi terpinggirkan. Corak pemerintahan Orde Baru yang sangat sentralistis sejak akhir 1960-an, kemudian juga semakin menempatkan komunitas desa sebagai subordinat dari kekuasaan birokrasi dan cenderung diperlakukan sebagai objek ketimbang subjek dalam pengambilan keputusan yang menyangkut penataan kehidupan mereka sebagai warga kolektif.

Dalam suasana yang demikian itulah komunitas desa-desa di daerah Mandailing Natal, termasuk mereka yang hidup disekitar hutan, menata kehidupan so sial dan kelembagaannya mereka. Tidak mengherankan bahwa segala yang mengemuka adalah adanya suasana ambigu atau serba mendua. Disatu sisi komunitas de sa telah masuk ke dalam sistim pemerintahan desa yang formal, tapi disisi lain banyak aspek kehidupan masyarakat yang masih diatur dengan tatanan lama berdasarkan adat. Selain itu, ada pula gejala dualisme kepemimpinan di pedesaan, antara pemimpin formal yang diberi mandat untuk menyelenggarakan pemerintahan desa di satu pihak dan pemimpin yang disebut 'pemimpin infmmal' yaitu mereka yang diakui oleh warga masyarakat sebagai pemimpin berdasarkan kharisma dan kedudukannya yang terhotmat di mata masyarakat. Seiring dengan itu, ditingkat desa dapat ditemukan adanya kelembagaan formal dan infom1al yang bemsaha mewadahi berbagai kebutuhan warganya.

· marsialapari' dalam proses penge1jaan lahan pertanian. Praktik tersebut adalah sejenis arisan tenaga oleh beberapa orang yang membentuk suatu kelompok keci l untuk sating Bantu -menbantu secara bergilir ketika menge1jakan kegiatan pertanian. Dimasa lalu ada praktik yang sejeni s yang dikenal dengan sebutan ·manyaraya, · yaitu suatu kegiatan gotong royong dalam menge1jakan kegiatan pertanian. khususnya ketika panen padi di sawah. Keterlibatan warga di dalam kegiatan itu adalah atas dasar sukarela. karena itu tidak ada keharusan yang ikut untuk membalas. Namun seiring dengan perubahan-perubahan yang tetjadi di dalam sistem pertanian. yang lebih berciri intensil tradisi manyaraya dan marsialapari tersebut semakin menghilang.

Bentuk ke 1:jasan1a lainnya di bidang ekonomi. misalnya dalam urusan pengairan. Kel ompok warga yang terlibat dalam ketjasan1a ini biasanya tidak berdasarkan kelompok sedesa me lainkan mengacu kcpada mereka yang bertani disehamparcmlahan yang diai ti dari sw11ber dan tali air: ang sama. Kerjasama dalam hal ini Jilakukan oleh warga sccara lan gsung pada waktu -waktu tcrtentu sesuai kebutuhan, tetapi ada juga yang membuat aturan clengan mcmbentuk petugas pemeliharaan sa luran irigasi yang disebut clcngan nama ·ufu hundar · (kepala irigasi ). Petani mengan1bil manJaat diharuskan memberikan sumbangan sesuai

kesepakatan setiap masa panen, yang digunakan nanti untuk membayar honor petugas pemeliharaan yang ditunjuk. Masih terkait dengan bidang pertanian, ada kerjasama kelompok dalam usaha penanggulangan hama, khususnya gangguan babi hutan. Mereka mengorganisasi kegiatan berburu secara rutin. Di desa ini ada kesepakatan warga untuk melakukan kegiatan perburuan tiap minggu. Laki-laki dewasa yang dianggap masih memiliki kemampuan fisik untuk berburu diwajibkan menjadi anggota kelompok berburu, dan di desa ini terdapat kelompok berburu beranggotakan sekitar lima orang. Dengan demikian, seorang anggota harus melakukan kegiatan perburuan sekali dalam sebulan. Cara ini cukup efektif untuk mengamankan lahan pertanian mereka, khususnya sawah dan ladang dari gangguan hama babi hutan. Cara lain yang biasa dilakukan dalam menanggulangi hama babi ialah dengan memungut dana perburuan babi dari setiap warga yang bertani di suatu desa atau beberapa desa yang bertetangga. Dana perburuan babi tersebut dikumpulkan dari hasil panen setiap musim tanam. Dana tersebut akan digunakan untuk membayar kelompok-kelompok pemburu babi yang berhasil menangkap atau membunuh babi di kawasan tertentu dengan sejumlah uang yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Bukti hasil buruan biasanya diperlihatkan dengan membawa potongan ekor babi yang diburu, dan bayaran sebagai upah berburu diberikan setelah menunjukkan tanda bukti tersebut.

Marjulo-julo

Marjulo-julo atau kegiatan arisan merupakan sebuah tradisi kerjasama kelompok untuk menghimpun uang yang sudah lama dikenal masyarakat di Mandailing Natal. Kegiatan ini biasanya

marjulo~julo nlisalnya ditemukan di kalangan kaum ibu. remaj a putri, juga kaum bapak yang biasa berlangganan di warung kopi. Ada j uga kel ompok arisan yang beranggota khusus, misalnya pegawai dan guru-guru yang membuat sistem bayar dan tarik setiap bulan. Cara yang paling umum adalah sistem bayar dan tarik setiap minggu. denganjumlah iuran bervariasi Rp. 5.000,-Rp. 50.000,- per orang per minggu. J umlah anggota kelompok juga bervariasi, berkisar 1 0-20 orang setiap kelompok, yaitu di antara mereka yang saling percaya satu sama lain.

Bidang Sosial Budaya

Tradisi kerjasama antar warga yang paling menonjol terlihat dalam suka cita dan duka cita urusan-urusan sosial terutama berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dukacita (siluluton) dan sukacita (siriaon). Dalam kedua urusan ini, keguyuban antar warga untuk memberikan bantuan masih sangat kuat. Namun demikian, terdapat berbagai variasi dalam bentuk penataan dan pengorganisasian kontribusi warga berkenaan dengan hal tersebut. Selain untuk urusan kemalangan dan dukacita. yang sejauh ini masih dominan terselenggara melalui aturan adat, kerjasama di bidang sosial juga terjadi dalam urusan perbaikan sarana-sarana publik di kampung seperti keberhasilan lingkungan, perbaikanjalan dan lain sebagainya.

Kerjasama dalam Siriaon dan Siluluton

Suatu bentuk pengorganisasian bantuan-bantuan untuk urusan peristiwa dukacita (siluluton) dan sukacita (siriaon) yang paling ditemukan adalah yang disebut perkumpulan. Setiap keluarga di

Perkumpulan biasanya memberikan santunan kepada keluarga yang mendapat peristiwa dukacita (khususnya peristiwa kematian) baik berupa uang sejumlah tertentu maupun berupa barang seperti beras, kelapa dan bahan-bahan lain yang diperlukan ketika penyelenggaraan upacara. Perkumpulan juga memberikan bantuan serupa untuk peristiwa sukacita yang dialami anggotanya (khususnya pada upacara perkawinan).

Setiap perkumpulan menghimpun dana dari anggotanya untuk keperluan tadi. Ada yang menetapkan iuran bulanan, ada juga yang ditambah dengan bayaran uang penutup kalau ada peristwa kemalangan. Diluar itu ada juga anggota yang memberi santunan sukarela langsung kepada keluarga yang mendapat kemalangan, baik berupa uang maupun barang. Selain menghimpun dana santunan, setiap perkumpulanjuga biasanya menghimpun dana dari anggotanya untuk membeli barang-barang inventaris yang diperlukan pada penyelenggaraan keramaian, misalnya alat-alat masak, tenda dan perlengkapan pakaian pengantin Mandailing. Semua barang inventaris tersebut dapat digunakan anggota perkumpulan yang membutuhkannya pada saat mengadakan keramaian. Perkumpulan juga mengurusi pengadaan tanah wakaf yang digunakan untuk tempat pemakaman warga.

dalam pengadaan sarana umum

Oi beberapa desa terdapat kerjasama dalam pengadaan sarana-sarana umum. Kerjasama dalam pengadaan sarana air bersih yang dikelola di setiap lingkungan ( dusun). Warga membuat sendiri saluran-saluran air di beberapa tempat agar warga lebih mengakses air untuk pengairan sa wah.

Bentuk-bentuk penghimpun dana masyarakat untuk keperluan membiayai pengadaan fasilitas-fasilitas umum di desa dan beberapa diantaranya adalah :

Bentuk-bentuk penghimpunan dana masyarakat

  • Menghimpun berasjimpitan (jomput:fomputan) setiap minggu dari semua rumah tangga di desa, untuk pengelolaan madrasah. Pelaksanaan pengutipan oleh kelompok Nauli Bulung di desa.
  • Pengumpulan derma untuk anak yatim melalui kotak-kotak amal yang ditempatkan di warung-warung dan sudah berlangsung 10 tahun lalu.
  • Pengumpulan dana melalui pembayaran rekening li strik secara kolektif, dengan tambahan biaya Rp. 500,-/rekening/bulan. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk pembangunan ma~jid.
  • Mengutip retri busi pemanfaatan kckayaan alam desa, antara lai n helerang hamboo. te mpat pemandian air panas. Dana dimasukkan untuk kas desa.
  • Pengelolaan aset clesa bcrupa sebidang sawah (saha wakaf) dan kolam ikan (tohat holak) yang hasilnya digunakan untuk pembangunan desa.

Bidang Keagamaan

Kerjasama bidang keagamaan yang paling menonjol adalah dalam

penyelenggaraan peringatan hari-hari besar keagamaan, pengajian kelompok, dan penghimpunan biaya untuk pembangunan sarana ibadah, juga sarana pendidikan agama (madrasah). Untuk penyelenggaraan peringatan hari-hari besar keagamaan khususnya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra'mi'raj Nabi Muhammad SAW, biasanya dilakukan penghimpunan dana dari warga masyarakat.

Kelembagaan

Secara umum dapat dikatakan bahwa kapasitas kelembagaan yang

ada di tingkat desa masih lemah. Keberadaan lembaga formal belum disertai optimalisasi fungsi sesuai dengan aturan organisasi. Sebaliknya, yang bertahan hidup adalah kelembagaan informal yang dalam banyak hal tidak memiliki satuan organisasi yang berciri modern, namun keberadaannya fungsional untuk menanggulangi persoalan warga. Berkaitan dengan itu, pimpinan lembaga formal tidak selalu menjadi tokoh yang dihormati atau memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, banyak tokoh yang dianggap berpengaruh dan dihormati warga justru orang-orang yang tidak menduduki posisi dalam kelembagaan formal.

Lembaga formal

Lembaga pemerintahan desa menciptakan lembaga formal paling

penting yang ada di desa. Desa memiliki perangkat pemerintahan desa yang lengkap, namun secara umum peran kepala desa sangat dominan dalam menjalankan fungsi lembaga sementara perangkat

Perwakilan Desa (BPD) sebagai lembaga ya ng lahir untuk menggantikan peran LKMD. secara formal sudah terbentuk di desa Sibanggor Julu. Anggota BPD biasanya terdiri dari 5 or- .ang. yang dipilih oleh warga sesuai aturan. Namun. dalam beberapa kasus pemilihan anggota BPD dilakukan memalui forum musyawarah desa, bukan pemili han langsung.

Sejauh ini peranan BPD juga masih beragam dan belum maksimal. Ada yang sudah mampu menjalankan fungsi legislatif, misalnya dengan membuat peraturan desa, tetapi ada juga BPD yang anggotanya belum memahami fungsi sesungguhnya lembaga baru ini.

Sebagian wargajuga menganggap belum ada kebutuhan bagi mereka untuk menguatkan BPD sebagai lembaga formal perwakilan mereka di desa, karena kelembagaan informal masih fungsional untuk memfasilitasi kebutuhan warga. Terlebih lagi karena sebagian warga desa menaruh perhatian pada urusan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. sehingga belum sempat memikirkan penguatan kelembagaan BPD. Kecenderungan rivalitas antara BPD dengan kepala desajuga terlihat di Sibanggor Julu. Suasana ke hidupan sosial yang kurang harmonis, misalnya karena faktor rivalitas dan friksi- friksi yang tetjadi antar warga juga menjadi salah satu faktor pcnyebab tidak berfungsinya lembaga-lembaga formal di tingkat de sa.

Contoh ri valitas yang ada. di desa ada pengurus ranting partai politik, tetapi aktivitas dari pengurus ranting partai boleh dikatakan tidak ada lagi selepas pemilihan umum 2004. Keberadaan mereka selama ini lebih sebagai perpanjangan tangan partai untuk meraih dukungan dari pemilih di tingkat desa. Ti dak ada kontribusi

partai politik untuk desa. Selain itu, ada pula organisasi massa yang menjadi 'onderbow' dari suatu partai, yaitu COBRA (Corps Bridge Pemuda) yang merupakan italies dari Partai keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), diantaranya pemah aktif di Sibanggor JuJu. Narnun seiring dengan berlalunya masa pemilihan umum, eksistensi dari organisasi tersebutjuga semakin tidak signifikan.

Lembaga informal

Lembaga informal yang dimaksudkan disini adalah lembaga-lembaga yang tumbuh di tengah masyarakat dengan atau tanpa maksud struktur organisasi yang lengkap dan berfungsi untuk menfasilitasi warga dalam memenuhi berbagai macam kebutuhan bersama. Ada beberapa lembaga jenis ini yang cukup nmenonjol peranannya di dalam kehidupan komunitas desa seperti disebutkan di bawah ini.

Perkumpulan STM Di atas telah diuraikan tentang tradisi tolong menolong antmwarga

komunitas desa dalam menghadapi peristiwa-pwristiwa sukacita (siriaon) dan dukacita (siluluton) melalui wadah yang lazim dikenal dengan nama perkumpulan. Perkumpulan tolong-menolong seperti itu biasa juga disebut dengan nama STM (Syarikat Tolong Menolong). Ada perkumpulan yang anggota-anggotanya diorganisir berdasarkan satuan "separkahanggion" yaitu keluarga luas yang berasal dari kelompok marga keturunan dari satu kakek yang sama.

Sepetti diketahui. satu wujud struktur sosial yang kini masih kuat dalam kehidupan komunitas desa adalah pengelompokan warga

hatobangon sendiri. Jika di suatu desa terdapat banyak yang agak jauh berdasarkan silsilah tarombo, merekajuga bisa membentuk perkumpulan sendiri yang dipimpin seorang hatobangon.

Di desa tersebut terdapat beberapa perkumpulan berdasarkan kelompok marga yang berada di desa, danjuga lebih dari satu STM dalam suatu kelompok marga yang sama. Bentuk lainnya adalah perkumpulan STM yang anggotanya mencakup semua warga desa. Dalam hal ini fungsi STM mencakup semua warga desa, dan biasanya diurus oleh pengurus yang dipilih dari anggota.

Perkumpulan-perkumpulan dengan satuan-satuan sosial seperti itulah yang memberikan bantuan kepada anggotanya jika sedang menghadapi peristiwa sukacita dan dukacita. Perkumpulan biasanya juga menghimpun iuran dari anggotanya, baik untuk keperluan santunan maupun untuk membeli berbagai jenis barang inventaris perkumpulan yang bisa dimanfaatkan anggotajika mereka memerlukan.

Persatuan Naposo dan Nauli Bulung

Kelompok remaja dan pemuda-pemuda yang belum berumah tangga dalam bahasa Mandailing disebut dengan istilah Naposo Bulung (putra) dan Nauli Bulung (putri). Di desa mereka berhimpun dalam sebuah waclah warga informal yang disebut Persatuan Naposo dan Nauli Bu!ung. Keberaclaan persatuan ini sebetulnya sudah lama muncul clalam kehidupan masyarakat Manclailing. Bermula clari

Salah satu kelompok yang eksis dalam kehidupan desa adalah kelompok pengajian. Biasanyan kelompok pengajian lebih berkembang di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Desa Sibanggor JuJu yang memiliki kelompok pengajian yang anggotanya adalah kaum ibu. Fungsi utama dari kelompok pengajian ini adalah meningkatkan pengetahuan di bidang keagamaan.

  • Lembaga pemerintahan fonnal: pemerintahan desa, BPD, LPM. Fungsi lembaga pemerintahan desa belum berj al an secara op- timaL karena sebagian besar urusan pemerintahan dijalankan sendiri oleh kepala desa. sementara perangkat-perangkat desa lainnya tidak berfungsi dengan semestinya. Dengan kata lain, pemerintahan desa identik dengan jabatan kepala desa. Sementara itu BPD desa Sibanggor Julu beranggotakan 5 or- ang diketahui oleh Miswar Nasution Fungsi terlihat selama ini dari SPD ini masih sebatas fungsi control terhadap jalannya pemerintahan dengan desa., dan mengenai hal ini kesannya muncul rivalitas antara kepala desa dengan ketua BPD. Fungsi lainnya berupa legistalif atau untuk membuat peraturan- peraturan desa maupun untuk menyusun rencana anggaran belanja desa belum berjalan hingga sekarang. Anggaran BPD sendiri sesungguhnya belum memahami secara benar fungsi yang dimanfaatkan sesuai dengan undang-undang LPM di desa Sibanggor JuJu oleh Makmur N asution.
  • COBRA (Corps Bridge Pemuga) merupakan onderbow dari P311ai Keadilan dan Persatuan Indonesia ( PKPI). Lembaga ini dipimpin ol eh Edi Lubis dan A nggotanya terdiri dari para pemuda desa dan kaum bapak yang relative masih berusia muda. Sejauh ini kegiatannya belum ada yang menonjol kecuali bahwa pengurus desa sudah di lantik, dan melakukan usaha-usaha persuasif un tuk mencari bulungan politik bagi partai yang disokongnya pada pemilu yang lalu.
  • Syarikat To long Menolong,berupa perkumpulan marga-marga tanding, Nasution, Lubis, Batubara, dan perkumpulan lintas marga SDM memiliki pengurus yang definitive karena secara

  • Kelompok pengajian terdiri dari kelompok pengajian kaum ibu yang melakukan kegiatan pengajian setiap hari Jum ' at, Kelompok pengajian kaum bapak setiap malam Jum ' at, kelompok pengajian Pel ajar Madrasah Tsanawiah dan SMP dua kali seminggu, dan kelompok pengajian umum atau untuk semua kalangan yang dilakukan pada hari kamis malam dengan mengundang guru.

  • Perkumpulan Naposo Nauli Bulung, yang diketuai oleh Taufik Nasution, dengan beberapa kegiatan antara lain melakukan kegiatan/takziah j ika ada keluarga yang mendapat kemalangan di desa, membantu penyelenggaraan pesta perkawinan di desa, melakukan kegiatan olah raga sepak bola, kegiatan gotong royong, membersihkanjalan desa, dsb. Anggota Naposo Nauli Bulung adalah mereka yang berusia remaja dan bel urn berumah tangga. Lembaga Nauli Bulung (remaja putrid) diketuai oleh Azizah Tanjung, dan secara kelembagaan Iebih solid dari perkumpulan pemudanya. Kegiatan-kegiatan yang menjadi tugas remaja putrid antara lain adalah melakukan pengajian/ takziahjika ada keluarga yang mendapat kemalangan, menjadi "panitia" dalam penyelenggaraan pesta perkawinan, gotong royong kebersihan jalan desa, dam mengutip jumputan beras setiap minggu.
  • Kelompok arisan kaum ibu yang suaminya semarga. Ketuanya secara formal tidak ada, namun secara kebiasaan isteri dari tokoh hatobangon disetiap marga otomatis menjadi pemimpinya.

  • Kelompok Tani Sukamulia pernah ada di desa Sibanggor Julu. dibentuk oleh Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal. Anggotanya berjumlah sekitar 30 orang. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman jeruk dan jahe dari bantuan pemerintah yang diperuntukkan bagi anggota yang aktif. Pihak dinas pe1tanian telah memberikan bantuan antara lain berupa biaya perawatan dan pupuk. Tetapi kelompok tani ini telah mengundang kontroversi di kalangan warga karena tidak mempertanggung jawabkan pengelolaan dana bantuan yang sudah diterima dari pemerintah sebesar Rp. I 00 juta. Warga menduga-duga bahwa pengurus kelompok tani telah memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, namun berdasarkan keterangan seorang pengurus sesungguhnya dana itu tidak semua diterima oleh pengurus koperasi karena sebagiannya disunat oleh pihak pemberi bantuan, dan sebagian diberikan dalam bentuk batang.

    Agama dan Kepercayaan

Agama merupakan suatu bentuk kepercayaan pokok yang dianut dan diyakini kebenarannya oleh pemeluk agama tersebut. Dalam kehidupan seorang man usia, agama penting artinya sebagai landasan dan sistem kontrol man usia dalam bertingkah laku dan mengerjakan suatu perbuatan. Apakah perbuatan itu sesuai dengan ajaran atau

Setiap hari Jumat, yang mana mayoritas warga laki-laki yang bermata pencaharian sebagai petani tidak pergi ke sa wah, ladang dan kebun, mereka berbondong-bondong memenuhi masjid untuk melaksanakan ibadah shalatjumat berjamaah.

Kegiatan keagamaan lain yang diadakan oleh warga desa adalah pengajian. Pengajian disini meliputi pengajian untuk bapak-bapak, pengajian untuk ibu-ibu, dan pengajian untuk anak-anak, serta pengajian marga. Pengajian untuk bapak-bapak dilaksanakan setelah shalat isya. Kegiatan pengajian ini kada diselingi dengan ceramah dari mubalig lokal atau mendatangkan mubalig dari daerah lain. Pengajian bapak-bapak ini berlangsung di mesjid. Sementara untuk pengajian pada kalangan ibu-ibu dilaksanakan pada hari selasa siang kira-kira pukul14.00 hingga sore hari kira-kira setelah ashar. Seperti halnya dengan pengajian untuk bapak-bapak, dalam pengajian ibu-ibu terkadang diselingi juga dengan ceramah yang diberikan, baik oleh mubalig setempat maupun mubalig dari daerah lain.

Bila pengajian untuk orang tua dilaksanakan seminggu sekali, maka pengajian untuk anak-anak dilaksanakan setiap hari setelah shalat magrib dan bertempat di mesjid dan sekolah. Para pengajar dalam pengajian ini adalah warga desa sendiri dibantu warga dari desa lainnya. Disamping pengajian dilaksanakan oleh desa, pengajian untuk anak-anak juga diadakan oleh sekolah bagi murid-muridnya. Pengajian ini dilaksanakan tiga kali dalam seminggu dan bertempat di gedung sekolah. Para pengajar dalam

da.Ji luar sekolah. Selain pengajian, warga Desa Sibanggor Julujuga mengadakan kegiatan berupa wirid. Biasanya kegiata.J1 ini dilaksanakan eli rumah-rwnah warga yang mengala.Jni musibah sakit atau kematian.

Pada bulan Ramadhan ya ngjuga merupaka.J1 bulan istimewa bagi wnat Islam adalah bul an climana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa. Pada bulan in i kegiatan rutin warga tetap beJjala.J1 seperti biasanya terutama dalam hal mencari natkah. Namun demikian. jadwal kegiatan sedikit bergeser. Kegi atan tarawih kemudian dilanjutkan dengan tadarus Alqur'an yang dilaksanakan oleh warga. Pengajaran untuk berpuasa dan shalat tarawih juga diterapkan oieh orang tua bagi anak-anaknya. Hal ini untuk membiasakan anak dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.

Adanya kesadaran para orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak sejak dini clidasarkan karena sebagai penganut agama Islam, maka umumnya mereka ingin agar anaknya tahu tentang ajaran agamanya dan berusaha menjalankan hidupnya sesuai ajaran agama itu. Nam un de mikian. sebagai masyarakat beradab mcreka tetatp menj alankan dan diatur oleh adapt secara turun temurun yang diselaraskan dengan ajaran agama Islam.

Untuk pel aksanaan ibadah sehari-hari dan untuk menunjang kegiatan yang bersifat keagamaan eli Desa Sibanggor Julu terdapat sarana keagamaan berupa I (satu) buah masjid dan 4(empat) buah langgar/surau.

Dalam menunjang ak tivitas sehari-hari warga Desa Sibanggor .lu lu, maka eli lingkungan ke lurahan ini terdapat berbagai fasilitas umum. Fasilitas umum untuk menjunjang aktivitas ekonomi penduduk tcrdiri dari 5 buah kios atau kedai. Fas ili tas pendidikan terdiri dari Sekolah Dasar I buah. Untuk menunjang aktivitas

Polindes sebagai sarana kesehatan di desa ini, namun sarana kesehatan berupa Polindes tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi sejak 5 (lima) tahun belakangan ini, hal ini disebabkan karena sudah tidak adanya Bidan di desa lagi dengan alas an pindah mengikuti suami. Fasilitas keagamaan terdiri dari 1 buah mesjid dan 5 buah surau/mushola.

Masyarakat selalu menggunakan fasilitas yang ada terse but, seperti membeli keperluan tambahan di kios/kedai-kedai yang ada di sekitar rumah mereka. Begitu juga dengan sarana pendidikan. dalam arti yang luas pendidikan adalah penyerahan kebudayaan dari yang tua ke yang muda, corak pendidikan itu erat hubungannya dengan cara penghidupan, agama, filsafat serta cita-cita suatu bangsa, sehingga pendidikan itu penting artinya dalam pembentukan pola berfikir seseorang dalam rangka mengadaptasikan diri dalam lingkungan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan

Keadaan pendidikan penduduk di suatu daerah dapat menggambarkan tingkat pengetahuan. sehingga dapat digunakan sebagai indicator tingkat kemajuan masyarakat. Melalui pendidikan formal maupun non formal seseorang akan memperoleh pengetahuan, pengalaman, pengalaman dan ketrampilan sehingga seseorang memiliki kemampuan yang diharapkan dalam mengembangkan sumber daya yang tersedia untuk mewujudkan kesejahteraan. Dari komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dapat juga mencerminkan status social dan alternatif pemilihan jenis pekerjaan. terutama jenis pekerjaan yang memerlukan pengetahuan serta ketrampilan.

tcm11al. pendidikan informal. Pendidikan formal meliputi sekolah-sekolah seperti 1 (satu) buah SD, sedangkan untuk jenjang yang lebih tinggi sepert i Sekolah Menengah Pertama dan Seko lah Menengah Umum terdapat dipusat Kecamatan (Panyabungan). Untuk Universitas. masyarakat menyekolahkan anak mereka ke Ibu Kota Medan dan juga ada yang ke Universitas Sumatera Utara yang ada di Medan. Komposisi pendidikan masyarakat di Desa Sibanggor Julu dapat dilihat pada table 9 berikut ini :

Tabe19

Data Pendidikan menurut Tingkat Sekolah

Banyaknya Murid
so SLTP SLTA PT
Sibanggor JuJu 75 JOO 20 40

Surnber : KepaJa Desa Si baggor JuJu

Para orang tua di Desa Sibanggor Julu selalu menghendaki anak mereka mempunyai pendidikan yang cukup untuk menopang masa depan dan ingin agar anaknya ti dak lagi menggantungkan hidupnya dari basil pet1anian. Hal ini disebabakan karena kehid upan scbagai petani sangat keras. Maka unt uk mencapai tujuannya itu maka para orang tua berusaha untuk menyekol ahkan anak-anaknya. Namun dalam kenyataan sehari- hari hal itu hanyalah sebatas angan- angan karena kesi bukan mercka menyebabkan orang tua jarang sekal i mcm bcrikan dorongan kepada anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Selain itu. biaya pendidikan yang makin besar dan terbatasnya ekonomi kel uarga menyebabkan dorongan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih

Para murid sebagian besar terdiri dari anak-anak yang berusia 4 hingga 10 tahun. Banyaknya murid berusia muda tersebut disebabkan karena adanya kebiasaan para orang tua untuk menyerahkan anaknya pada masjid dan surau, terutama yang de kat dengan rumah mereka agar dapat diberikan pendidikan keagamaan.

Pendidikan informal ini disebut juga dengan pendidikan seumur hidup, karenajenis pendidikan ini lebih berorientasi pada pendidikan sosialisasi. Proses pendidikan ii biasanya berlangsung melalui nasehat para orang tua ketika duduk bersama, pergaulan dan pembicaraan dengan teman sebaya juga menambah pengetahuan mereka tentang tingkah laku yang terpuji dan tercela. Pantangan dan suruhan serta perbuatan berpahala dan berdosa. Sedangkan bagi anak-anak perempuan proses sosialisasi ini melalui pembicaraan sesame wanita, baik itu ibu sendiri maupun teman sebaya. Proses sosialisasi perempuan lain berupa cerita-cerita ataupun nasehat dari wanita yang Iebih tua usianya. Pembicaraan ataupun percakapan demikian biasanya berlangsung ketika duduk-duduk di rumah ataupum selepas pengajian.

POLA INTERAKSI DENGAN LINGKUNGAN

Lingkungan hid up merupakan kesatuan ruang dengan semua bend a, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan hidup tersebut meliputi segala sesuatu yang berada disekelilingnya termasuk di dalamnya air, udara, mineral, organisme, manusia dengan perilaku yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup la innya. Ataupun dengan kata lain semua kondisi, situasi, benda dan makhluk hidup yang ada disekitar suatu organisme, yang mempengaruhi perikehidupan pertumbuhan sifat- sifat karakter makhluk hidup terse but dikatakan sebagai lingkungan atau lingkungan hidup.

Dengan demikian lingkungan hidup itu sangat luas ruang lingkupnya, mulai dari udara yang kita hirup melalui rongga hidung sampai dengan benda-benda angkasa yangjaraknya sampai ratusan juta kilometer dari planet bumi, jika mempengaruhi kehidupan di bumi ini. menjadi lingkungan hidup bagi kita.

Berbicara masalah lingkungan tidak terlepas dari ekologi, sebab ekologi merupakan ilmu tentang hubungan timbal balik antara

Oleh karena itu, permasalahan lingkungan pada hakekatnya adalah permasalahan ekologi.

Dalam pengelolaan lingkungan, pandangan masyarakat kita bersifat antroposentris yaitu melihat permasalahan dari sudut kepentingan manusianya saja, namun tumbuhan, hewan dan unsur kehidupan lainya selalu dihubungkan dengan kepentingan manusia.

Dari konsep masyarakat tersebut diatas tentang lingkunganya ini menggambarkan keadaan lingkungan dalam rangka kepentingan kehidupan man usia dengan kepentingannya. Semen tara aspek ekologi non-manusia tidak terlalu diperhatikan.

Pada konsep ekologi secara umum, lingkungan itu dibedakan antara lingkungan abiotik dan lingkungan biotik atau organik. Lingkungan abiotik adalah segala kondisi yang ada disekitar mahluk hidup yang bukan merupakan organisme mahluk hidup termasuk didalamnya batu-batuan, tanah, mineral, udara, gas, energi matahari serta proses dan daya yang terjadi dari alam. Lingkungan ini meliputi benda, unsur, gejala dan proses yang ada di muka bumi. Sedangkan lingkungan biotik yaitu segala mahluk hidup mulai dari mikro organisme yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang sampai kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan yang besar disekitar kita atau mahluk lain yang berpengaruh dipermukaan bumi. Manusia termasuk ke dalam lingkingan biotik yang merupakan sebagai organisme pokok.

Ditinjau dari konsep ekologi, manusia, lingkungan itu dibedakan antara lingkungan alam (natural environment). lingkungan sosial (.wcial environment) dan lingkungan budaya (cultural environment).

Lingkungan alam (cultural environnent) yaitu kondisi alamiah baik biotik maupun abiotik yang belum banyak dipengaruhi

ke dalam paru -paru, eli angkasa raya. Selanjutnya lingkungan alam bi oti k (nabati dan hewani) yang eli dalamnya termasuk seperti: hut an a lam, tumbuh-tumbuban I iar el i claratan dan eli perairan merupakan sumber daya yang menyediakan protein bagi manusi a.

Lingkungan sosial (social em·ironment) yaitu baik secara indi viclu maupun kelompok yang ada eli luar diri kita. Keluarga. teman. para tetangga. penduduk sekampung sampai manusia antar bangsa, yang saling mengadakan hubungan dan kerjasama dan.saling mcmbutuhkan antar satu dengan lainnya serta saling berpengaruh terhadap pc rubahan dan perkembangan keh idupan manusia. seJTtcnjak dia lahi r sampai clengan ak hi r hayat manusia ticlak akan terlcpas dari lingkungan sosialn ya. Pe ngaruh lingk ungan sosial tcrhadap pembcntukan kepribadian clapat dilakukan melalui interaksi sesama manusia (tatap muka) ataupun ti dak langsung. Kemajuan a! at ko mu nikasi elc kt ron ik da n grafika. m ~.:njadi sarang kontak antara kita dcngan lingkungan. sosial yang jarakn ya cukup jauh. dengan ti dak disadari sangan mempengaruhi terhaclap kehicl upan kita.

Lin gk ungan budaya (culturol enl'ironmem) yaitu segala kondisi ba ik yang berupa matcri ( hcmia) maupun no n materi yang dihasil kan okh man usia melalui aktivitas. krcati vitas dan daya cipta ya ng berpengaruh te rhadap ke hi dupan um at manusia. Berbeda dengan makhluk hid up lainnya. man usia tidak cukup sekedar hid up

Pengelolaan lingkungan pada dasamya bukanlah hal yang baru, atau merubah rahmat menjadi nikmat. Sejak man usia itu ada ia telah mulai melakukan pengelolaan Iingkungan. Pembangunan pada hakekatnya adalah pengubahan lingkungan. yaitu mengurangi resiko Iingkungan atau meperbesar

Pengubahan hutan menjadi sawah dan lahan pertanian merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dengan menggunakan alat dan curah hujan yang tinggi dan juga mengurangi resiko erosi di daerah yang banyak bergunung. Dengan pengubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sa wah dan lahan pertanian maka akan berubah pula keseimbangan lingkungan, sehingga kita dituntut untuk menjaga dan melindungi keseimbangan terse but.

Konsep melindungi sumberdaya alam agar tetap terpelihara baik bukan hal baru bagi orang Mandai ling. Mereka sejak dahulu mengenal istilah yang pas untuk itu, yaitu ··rarangan " yang secara harfiah bermakna larangan. Khusus untuk kawasan hutan ada yang disebut "harangan rarangan "yaitu hutan larangan. Hutan larangan dalam konsepsi tradisional adalah bagian dari kawasan hutan milik suatu kampung (huLa) yang tidak boleh dibuka untuk lahan pertanian atau kayunya tidak boleh diambil untuk keperluan perabot rumah. Kawasan demikian biasanya di percaya juga sebagai tempat yang dihuni oleh makhluk-makhluk hal us fan disebut "naborgo-borgo " (yang lembab-lembab). Ada kepercayaan bahwa orang yang melanggar tabu memasuki tempat-tempat demikan akan mengundang petaka bagi pelakunya.

Selain di lingkungan hutan, konsep larangan tersebutjuga berlaku untuk suatu kawasan tertentu di bagian aliran sungai. Bagian-bagian yang biasa dipantangkan bagi penduduk untuk menangkap ikan di dalam sungai adalah di lubuk-lubuk yang dalam dan diatasnya terdapat pohon-pohon besar yang berdaun rimbun. Tempat demikianjuga dipercaya sebagai tempat 'noborgo-borgo ' dan terlarang untuk melakukan aktivitas yang bi sa mengganggu keberadaan makhluk-makhluk gaib yang mendiaminya.

Oleh karena itu, konsep "rarangan ''yang diselimuti suatu kepercayaan akan kekuatan supranatural yang tidak boleh terganggu, pada hakekatnya adalah mekanisme budaya yang mengatur praktik-praktik konservasi sumber daya alam.

Keberadaan 'harangan rarangan' atau hutan larangan di masa lalu juga terkait dengan penataan kawasan yang menjadi wilayah dari suatu kampung atau 'huta '. Huta adalah satuan pemukiman penduduk sekaligus satuan pemerintahan yang bersifat otonon, yang di masa lalu dipimpin oleh seorang raja yang berkedudukan sebagai "aja Pamusuk" Konfederasi dari sejumlah 'huta' yang memiliki ikatan sosio-historis dan genealogis disebut 'Jonjian ', yang membentuk satu kesatuan hukum adat.

Hal yang ingin dikemukakan adalah fakta bahwa suatu 'hut a ' yang di masa lalu merupakan satu kerajaan harus memiliki wilayah sendiri, yang tercermin dari ungkapan "ganop-ganop banua marfono rura" (m1inya, setiap wilayah huta/banua harus memiliki wilayah darat dan air sebagai wilayah teritorialnya), Hal ini menyiratkan balnva setiap hula atau kerajaan harus memiliki sumberdaya alam yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduknya (Zulkifli Lubis, 2005).

Dalam sebuah laporan penelitian berjudul Sistem Penguasaan SumberdayaAlam di Mandai ling Natal (Zulkifli Lubis,

a/au banua menurut konsep masyarakat Mandai ling harus ditopang oleh adanya sumber ai r, kawasan hutan, dan j uga kawasan tempat penggembalaan .. ~ umber airdiperlukan unn.~k ke butuhan subsistensi, tepian. mengairi areal persawahan, me melihara ikan, dan berbagai keperluan social lainnya. Hampir semua tempat pemukiman (hula) yang ada di daerah Mandailing berada di sekitar sumber-sumber air. baik berupa mata air (nnw/), anak sungai, (rura), maupun sungai (aek). Keberadaan sumber air selain untuk mendukung keperluan terse but di atas juga untuk menopang fungsi religius karena setiap huta harus memiliki masjid. dan biasanya bangunan masjid didirikan di tcmpat-termpat yang dekat dengan sumber air (m isalnya di tepi sungai).

Sc:lain harus memiliki sumbcr-suil1her air yang me nopang hcrhagai fungsi tcrscbut di atas. scbuah huta atau hanuajuga harus mcm pu nyai areal .io longan (lahan penggem balaan ). La han pcnggcmbalaan itu biasa berada di luar areal pemuki man penduduk. misalnya di kawasan kaki atau lereng bukit yang sesuai di dalam wilayah scbuah hut a. Hewan ternak ya ng biasa dipelihara di dalam areallahan penggembalaan adalah kerbau, karena hewan ini menjadi bagian yang sangat penting peranannya untuk mendukung pcnyelenggaraan upacara-upacara adat dalam tradisi orang Mandai I in g. Di masa Ia! u he wan ternak yang hid up di areal jalongan tidak dipelihara secara khusus. melainkan dibiarkan saja hidup liar di sana. Pada waktu-waktu tertentu ketika di huta ada upacara yang mensyaratkan pemotongan kerbau, barulah petugas khusus dari istana raja akan pergi menangkap kerbau liar tersebut.

Setiap huta juga harus mempunyai kawasan hutan (harangan). Keberadaan hutan bagi sebuah huta terutama adalah untuk mendukung penyelenggaraan kehidupan ekonomi, karena penduduk Mandailing pada umumnya hid up dari aktivitas pertanian.

lahan hutan untuk aktivitas pertanian biasanya dimulai dengan membuka ladang (auma), lalu kemudian dibiarkan kembali menjadi belukar (gasgas), atau ditanami lanjut dengan tanaman keras seperti karet atau kopi (disebut kabun). Hutan juga dimanfaatkan untuk areal tempat berburu binatang, misalnya memburu rusa, kijang, kambing hutan (bedu), dan beberapajenis binatang lainnya. Ada aturan tertentu yang harus dipatuhi jika sekelompok orang dari suat~ huta atau banua pergi berburu sampai melintasi wilayah hula atau banua lain. Juka binatang buruan yang berhasil ditangkap sudah berada di wilayah huta atau banua lain, maka mereka harus memberikan sebagian hasilnya kepada pimpinan di huta tersebut. Dengan kata lain ada ketentuan untuk membayar semacam "pajak" hutan yang dalam istilah Mandailing disebut "bungo ni padang" (bula lalang). Selain untuk keperluan bertani dan berburu seperti disebutkan di atas, hutanjuga dimanfaatkan untuk tempat meramu hasil-hasil hutan sepertijenis damar, madu, danjuga sayur-sayuran yang bisa dikonsumsi, dan meranrn bahan bangunan/perabot rumah.

Secara tradisional orang Mandailing membagi wilayah hutan atas tiga kategori yaitu:

I. rubaton, yaitu kawasan hutan belantara yangjarang dimasuki manusia atau masih berupa hutan perawan,
2. tombak, yaitu kawasan hutan lebat yang kepadatannya berada di bawah rubaton,
3. harangan, yaitu kawasan hutan yang biasa dimasuki manusia dan kepadatannya berada di bawah tombak. Apabila suatu kawasan hutan sudah dibuka oleh penduduk untuk dijadikan lahan pe1tanian, maka pada tahap pertama hutan bukaan tersebut berubah kategori menjadi auma, yaitu lahan perladangan. Laban perladangan kadangkala ditinggalkan setelah beberapa kali musim tanam (tanaman padi dan palawija), sehingga

lalmn yang suda11 pemah dibiarkan (gasgas) (Zulkifli Lubis, 2005).

Bagian daii kawasan hutan yang dilarang inilah kemudian oleh penduduk dikelola untuk lahan pertanian yang disebut "harangan rarangan" atau hutan larangan. Mw1culnya larangan untuk mengelola sebagian dari kawasan hutan milik suatu hula didasari oleh adanya suatu kesadarai1 tentang pentingnya mengatur pencadangan la11an bagi anak cucu, sehingga StU11berdaya alan1 yang ada tidak dugunakan secara serampangan. Pimpinan komunitas huta yang waktu itu adalah para raja memiliki otoritas untuk menegakkan peraturan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di wilayah kerajannya sebagaimai1a digambarkan di atas. Di masa lalu terdapat aturan-aturan adat yang mengatur akses, hak pemilikan, hak penguasaan dan cara- cara pengalihan hak atas sumberdaya ala.in (khussnya lahan) di suatu huta.

Pada zaman pemerintahan Kolonia! Belanda. prinsip-prinsip konservasi hutan yang sudah ada dalam khazanah budaya Mandailing diperkuat dengan pengenalan konsep 'rintis ', yaitu batas wilayah hutan yang tidak boleh lagi dibuka untuk dikelola menjadi lahan pertanian. Tempat-tempat seperti itu biasanya terletak jauh dari lokasi pemukiman penduduk, berada di kawasan yang secara tradisional disebut oleh orang Mandailing sebagai tombak atau rubaton. Dalam cerita-cerita tradisional Mandailing (lihat misalnya Turi-turian ni Raja Gorga Di Langi! dohot Raja Suasa di Portibi) disebutkan bahwa kawasan hutan belantara seperti itu hanya

Parkapur dalam kehidupan masyarakat Mandailing terlihat dari adanya Hata Parkapur sebagai salah satu dari empat ragam bahasa dalam Bahasa Mandai ling. Hata Parkapur adalah ragam bahasa yang khusus digunakan ketika meramu hasil hutan (markapur).

Kawasan hutan belantara (rubotan) yang tidak boleh dibuka penduduk untuk laban pertanian tersebut, yang kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dikukuhkan sebagai batas 'rinl is', pada masa sekarang ini kita kenai dengan sebutan hutan register. Kawasan itulah yang sekarang secara resmi berstatus hutan lindung. Dengan demikian, keberadaan hutan 1indung sekarang ini di da1am wilayah Kabupaten Mandai1ing Natal, yang te1ah ditetapkan statusnya sejak tahun 1920-an o1eh pemerintah ko1onial Be Ianda, pada hakikatnya adalah sebagai kesinambungan dari "harangan rarangan '. Yang sudah dikenal da1am konsepsi budaya Mandailing di masa lampau. Jika di masa 1ampau mekanisme penjagaan hutan 1arangan di1akukan dengan penguatan kepercayaan tentang makh1uk=makh1uk ha1us penjaga hutan, di zaman sekarang penegakannya di1akukan me1a1ui aturan formal yang dibuat oleh Negara.

Perkampungan dan LingkunganAlam

Desa Sibanggor Ju1u terletak di kaki gunung Sorik Marapi, sehingga desa ini dapat termasuk da1am pemukiman di 1ingkungan pegunungan. Luas Desa Sibanggor .lulu seluruhnya 7016 ha. Pemukiman tempat tinggal dibangun di dataran yang letaknya lebih tinggi dari pemukiman desa yang berada di sekelilingnya. Hal tersebut disebabkan karena 1etak daerah tersebut di atas perbukitan sehingga pemukiman penduduknya terletak di daerah perbukitan.

beljajar saling berhadapan dan dibatasi dengan jalan desa dan jalan antar I ingkungan, yang dibangun dengan sumber dana dari pemerintah. Jalan dalam wilayah pemukiman tidak diperkeras dengan emen agar menghindari becek dan cepat rusak, namun hanyajalan yang alami didasarkan pada tanah. Sedangkanjalan yang menghubungkan wi layah dcsa dengan desa lai n telah diaspal. Pcmbangunanjalan dcsa tersebut amat dipcrlukan warga agar dapat mcnghubungkan an tar dcsa sehingga hubungan dengan desa la in dapat tercipta. Letak rumah yang berjejcr saling menghadap ke rumah dcpanjuga dimaksudkan agar nampak rapi. bersih dan indah.

Tern pat Tinggal (Rumah).

D i dalam bahasa Mandai ling desa/perkampungan dikenal dengan nama I !uta. begitu pula halny a di Dcsa Sibanggor JuJu penduduk mcnycbut n_ a dengan nama II uta.

Bcntuk rumah yang tl..'rdapat di Desa Sihanggor Ju Ju um umnya bcrbentuk semi pcnnancn dan non-pcrmanen. Rumah ) ang bcrhl..'nt uk semi permanent hiasanya terdapat dua atau tiga kamar tidur. dan satu buah ru ang tamu seria ruang makan dan satu buah kamar mandi. Sedangkan rumah non -permanent biasanya tcrdapat hany a dua kamar dengan ruang tamu yang kccil dan sebuah kamar ma ndi. Rumah-rumah ini dibangun di atas tanah yang hcrbukit schi ngga untuk dapat mcncapai rumah yang lain kita harus jalan menanj ak.

Di \ila)ah Dcsa Sibanggor Julu masih banyak terdapat bangunan rumah tradisional ya itu bangunan yang bcrbentuk panggung. dengan dinding kayu dan atap dari ijuk. Hal ini di sebabkan karcna lctak tanah yang berbukit dan tidak rata. ditambah lagi

Pekerjaan memanen dan mengambil basil butan biasanya dilakukan oleb pibak laki-laki danperempuan tanpa ada perbedaan, kemudian basilnya dibagi oleb pemilik sawah melalui sistem bagi basil. Hasil panen berupa padi, aren, kopi yang telah dijemur ( dikeringkan) kemudian dijual ke pasar daerah-daerah Panyabungan dan sekitamya serta ke daerah lain seperti Medan dan Surnatera.

Interaksi dengan Tumbuh-tumbuhan

Hutan juga memberikan beragarn jenis sayuran dan buab-buaban yang bisa dikonsumsi penduduk dan selama ini dimanfaatkan secara terbatas. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa bentuk kearifan lokal dalarn mengelola sumberdaya alam yang teridentifikasi antara lain adanya pengetabuan dan pantangan untuk tidak menebang pobon ··sampinur" jida sedang membuka laban butan. Pobon tersebut diyakini banyak menyimpan air, sebingga ketika musim bujan datang pobon ini dapat menyimpan air yang akan berguna jika tiba musim kemarau. Pengetahuan mengenai pentingnya memelihara kawasan butan yang menjadi sumber mata air juga masih menjadi rujukan dalam pengelolaan lahan, sehingga warga tidak diperbolehkan untuk

yru1g biasa dirunbil. misalnya :

  • daLm tinggmmg,
  • rebung bulu soma.
  • rebung bulu sorik.
  • beberapajenis jamur (dahan) seperti dahan cit.
  • clahan kalihi. clsb.
  • Sayur daun tinggaung biasanya digunakan sebagai sayur "' resmi " dalam acara pesta perkawina n eli beberapa hutan eli Mandai ling J ulu. Ada juga be ragam jenis buah-buahan hutn ya ng dapat clikonsumsi nisalnya:
  • andis (sejenis buah asam).
  • sihim (buah rotan manau),
  • opong. •ram be.
  • torop.
  • barangan (tampunek), •tawis (sejenis cikala).
  • suti (sejenis strawberry). •rao tangguli.
  • sotul (kccapi). •angra (salak hutan).
  • andaki. •tarutung sijabak(durian hutan).

antarsa,

  • lancet bodi (langsat hutan),
  • hapundung, •ringkanang ( sejenis cikala ),
  • torjang (sejenis bengkuang), •gala-gala.
  • limpata (nangka hutan), •cimpunek, dan
  • jailan (rambutan hutan). Buah-buahan terse but tumbuh secara liar di hutan dan tidak dipelihara secara klmsus. Penduduk hanya mengambil hasilnyajika sedang berbuah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan subsistensi. Penduduk juga mengenal jenis tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai bahan penyembuh bagi berbagai penyakit seperti:
  • sakit perut digunakan daun cabe rawit dan karambanowa,
  • kena gigitan limfan digunakan batu mancis,
  • gatal-gatal karena terkena daun jelatang digunakan akarnya daunjelatang, daun pakis, minyak makan, bawang merah,
  • demam digunakan simartababi 9sejenis rerumputan),
  • sebagai obat kompres digunakan kunyit dan kembang semangkok.

markaranRan (mencari basil di hutan), satu bentuk kuno dari kegiatan mencari basil hutan yang pemah menjadi tradisi orang Mandai ling di masa lampau ialah markapur, yaitu mcncari kapur barus a tau getah damar di tengah hutan belantara. Kalau dihubungkan dcngan keterangan Chri stine Dob- bin ( 1990) bahwa daerah Mandailing di zaman kuno adalah daerah penghasil emas dan hasil-hasil hutan seperti kapur barus dan berbagai jenis getah damar yang diekspor melalui Pelabuhan Natal dan Singkuang, maka tradisi markapurtersebut bukanlah sebuah dongeng belaka. Seperti yang sudah disinggung di bagian lain di muka, bahasa Mandai ling mengenal ragan1 bahasa yang disebut hat a parkupur, yaitu ragam bahasa yang khusus dipakai ketika berada di hutan.

Ada kosa kata khusus yang di gunakan ketika di hutan, misalnya menyebut harimau dengan simarinle di dolok, menyebut ular dengan andor. Banyak terdapat hewan-hewan lain dihutan yang mereka ketahui sepe1ti:

  • Kijang,
  • Rusa,
  • Kambing hutan (bedu). Masyarakat juga meyakini bah\va harimau S umatera bersarang di gunung sorik merapi. Bahkan mereka mengetahui bahwa hewan-hewan tersebuL dilindungi oleh pemerintah karena kelestariannya. Selain hewan-hewan tersebut. burungjuga banyak dijumpai di daerah ini scperti:
  • lobayon.
  • amburkom.

ompu guldek dan

  • eko -d~o.

    I nteraksi dengan Lingkungan Alam Fisil.

W ujud ni lai budaya tercliri suatu komplek ide-ide. gagasan. ni la i-

nilai, norma-norma dn peraturan-peraturan. yang lokasinya ada dalam alam pemikiran warga masyarakat. Karena ada dalam alam pemikiran warga masyarakat maka ia merupakan suatu sistem pengetahuan dan merupakan suatu konsep yang memberi arah tujuan dari wujucl buclaya lain (Koentjaraningrat, 1985).

Masyarakat Desa Sibanggor Julu mempunyai pengetahuan agar mereka dapat bertahan clengan lingkungan sekitarnya. pengetahuan itu be rkaitan dengan lingkungan alam seperti pengetahuan akan hutan yaitu pengetahuan menjaga kelestarian hutan, termasuk eli daiamnya pengetahuan supaya hutan dapat terus berguna sesuai tujuan yang diinginkan. pengetahuan tentang gej ala- gejaia yang mcrusak hutan. Dengan mengetahui gejala-gejala yang akan timbul, maka para penduduk membutuhkanjuga peng.::t:1hum, dalam mengatasi gejala itu.

Lingkungan fisik me rupakan bumi tempat manusia itu menetap dan tempat mereka menggarap Jahan pertanian clalam menyambung kehidupan eli dt111ia ini. Dalam uraian ini yang dikemukakan adalah pengetahuan masyarakat tentang lingkungan fisik (tanah, sungai. gunung dan hutan itu send iri) yang berada eli sekitar daerah penelitian.

Padatan tanah yang disusun oleh parti kel-partikel (butiran-butiran) tanah mempunyai sifat-sifat yang penting, yaitu tekstur dan struktur tanah. lstilah tekstur tanah menunjukkan presentasi relative bagian pasir, debu dan tanah liat. Persentase ini dapat memberikan perbandingan yang cukup banyak sehingga dikelompokkan ke dalam kelas-kelas tekstur tanah.

Untuk merulai kesuburan tanah, data-data yang dapat diperoleh darimana kelas tekstur bagian pasir. debu dan tanah liat, karena tujuan penetapan kelas-kelas tekstur terse but ialah untuk memudahkan dan menyederhanakan interpretasi tekstur tanah.

Dalam pengelolaan kesuburan tanah, penetapan tekstur tanah sangat diperlukan karena dapat memberikan gambaran yang luas mengenai si fat-sifat tanah lainnya H urn us dan tanah liat merupakan bahan organic aktif, mempunyai sifat yang unik. Tanah yang berstektur kasar tidak pemah menyediakan air dan unsur hara dalam j un1lah yang tinggi dan tanah yang berstektur hal us bersifat sebaliknya, sedangkan tanah yang berstektur sedang merupakan yang terbaik dalam mengadakan keseimbangan faktor-faktor tumbuh di dalam tanah, tanah yang semacam ini digolongkan tanah yang subur.

Daerah Sibanggor Julu men~Jikj tanah yang subm karena daerah mereka merupakan daerah gunung berapi sehingga tanaman-tanaman yang ditanam akan tumbuh dengan subur sepetti : cabe. kacang tanah. coklat aren. kelapa. kemiri. kayu manis. kopi dll.

Sungai Kegunaan sungai bagi kehidupan manusia cukup banyak, selain

digunakan untuk minum, dan mandi, juga dipergunakan sebagai pengairan untuk dialirkan ke sawah maupun tambak-tambak, bahkan dapat dipergunakan sebagai pembangkit tenaga listrik, apabila sungai mempunyai kemampuan seperti itu. Air sungai dapat menyuburkan tumbuhan tanaman, karena banyak membawa macam zat makan atau bahan organic yang dipergunakan oleh tanaman tersebut. Bagi masyarakat pedesaan terutama masyarakat yang mata pencaharian utamanya petani sawah, sungai sangat menentukan hasil pertanian mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan dari informan yang merupakan salah seorang petani. Sungai sangat bermanfaat bagi mereka untuk mengaliri air ke sawah-sawah dan pengendali air di sawah, jika air di sawah terlalu banyak maka akan di buang ke sungai. Di desa ini terdapat 6 (enam) buah sungai yakni Aek Sibanggor, Aek Silai-lai, Aek Badak, Aek Siunik, Aek Arnga, Aek Nalomlom.

Gunung

Gunung merupakan dataran tinggi. Gunung di Madina di sebut

dengan Tor. Di desa Sibanggor Julu terdapat gunung api Sorik Marapi dengan ketinggian 2.145 meter, bahkan letak Desa Sibanggor Julu pun berada di lereng gunung api Sorik Marapi. Di satu sisi pemukiman yang berada di lereng gunung memiliki keuntungan berupa keberadaan panorama alam yang indah, kaldera (kawah), beberapa lapangan solfatara (sumber air panas yang mengandung belerang), dan memberikan kesuburan bagi tanah pertanian di sekitarnya. Tetapi di sisi lain, posisi tersebut juga menjadikan desa ini terkategori sebagai daerah bahaya dengan jarak

ptmcak guntmg. Dalam catatan Manalu ( 1989) disebutkan bahwa bila terjadi letusan di kawah pusat yang berupa danau, maka lahar panas akan menghantam kamptmg Sibanggor JuJu, maupun desa-desa Jain di sekitarnya. Gunung Sorik Marapi meletus pad a tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 191 7, 1970 dan 1986. Pad a peristiwa letusan tahun 1892, hujan lahar menelan korban sebanyak 180 orang yang meninggal di Sibanggor. Menurut penuturan sejumlah informan, setelah letusan tahun 1892 dan 1893 itu Jetak pemukiman lama Sibanggor .lulu (dulu beman1a Singajambu) pindah ke lokasi yang sekarang.

Gunung Sorik Marapi seperti yang diketahui oleh masyarakat desa Sibanggor .lulu memiliki beragam makhluk hid up yang tinggal di dalanmya. Makhluk-makhluk tersebut seperti binatang butan, hewan- hewan yang tergolong dilindungi masih sering dijumpai di daerah Sibanggor JuJu, seperti harimau, beruang, kucing hutan, rusa dan kambing hutan. Bahkan salal1 satu anak gunung Sorik Marapi dipercaya penduduk sebagai tempat bersarangnya harimau Sumatera, dan penduduk biasanya menghindari untuk masuk ke wilayah itu. Jenis btmmgjuga terdapat di gL111Lmg ini seperti murai datm. Begitu puladengan tumbuh-tumbuhan sangat banyak terdapat di gunung Sorik Marapi tersebut.

Hutan

H utan mcmiliki kegunaan sebagai tempat un tuk mengatur air tanah.

Di daerah ya ng ditutupi oleh hutan pepohonan. titik-titik hujan tidak langsung mene1jang tanah kare na terhadang oleh claun-daun pohon yang sub ur kemudian air hujan yang telah mencapai tanah akan meresap ke dalam tanah untu k disimpan sebagian dan sebagiannya keluar pada mata air.

lain-lain". Hutan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, bila hutan itu selalu di tebang maka akan datang bencana, maka dari itu jagalah keseimbangan dari hutan".

Hutan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh iklim terutama curah hujan dan suhu. Di daerah yang mengalami curah hujan yang banyak terdapat hutan yang lebat yang disebut dengan hutan hujan tropis. Sedangkan di daerah yang kurang curah hujan di jumpai kelompok-kelompok pohon yang diselingi oleh padang rum put.

Hutan yang terdiri atas pohon-pohon terdapat di daerah tanahnya subur misalnya tanah berasal dari gunung berapi atau tanah vulkanik. Desa Sibanggor Julu merupakan daerah yang berada di gunung berapi sehingga hutan yang terdapat di desa ini merupakan hutan yang terdapat pohon-pohon besar karena kesuburan tanahnya.

Hutan dapat dikelompokkan menurut kegunaannya, yang pertama adalah hutan lindung, hutan ini dilarang untuk dibuka atau ditebang. Hutan lindung ini kegunaannya untuk melindungi tanah dan mengatur air di dalam tanah untuk menghindari erosi dan banj ir seperti halnya hutan yang terdapat di Desa Sibanggor JuJu yang merupakan Hutan Lindung Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), yang kedua adalah hutan produksi, hutan ini memproduksi hasil pertanian untuk keperluan manusia, pada hutan ini dipergunakan penduduk untuk mengambil berbagai hasil dari hutan yang dimaksud, untuk melanjutkan kelangsungan bagi penduduk setempat.

menguasm aset-aset ekonomi di Desa Sibanggor .lulu pada umumnya adalah keturunan dari mereka yang bermarga Tanjung. Sebagian dari pemilik lahan-lahan produktifyang ada di daerah ini adalah warga yang bermukim di rantau, yang pada waktu-waktu tertentu, misalnya ketika pulang kampung, mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan lahan miliknya.

Hasil utama dari desa ini adalah padi, gula aren, karet sayur- sayuran dan beberapajenis basil hutan. Mayoritas penduduk Desa Sibanggor .lulu hidup dengan mata pencaharian pokok dari sektor pertanian. Selain bermata pencaharian sebagai petani, penduduk Sibanggor .lulu juga ada yang memiliki mata pencaharian lain. Untuk lebihjelasnya lihat table dibawah ini. :

Mata Pencaharian Penduduk/KK

Mata Pencaharian Penduduk KK
Petani Pedagang Jasa PNS seperti terlihat pada table berikut : Sumber : Kantor Kepala Desa Sibanggor Julu Dari tabel diatas jelas terlihat penduduk mayoritas adalah di sector pertanian. Sesuai kecamatan Tambangan Dalam angka Tahun 2004 sektor pertanian terbagi atas 3 (tiga) yaitu petani padi/palawija, holtikultura dan perkebunan, Tabelll Banyaknya Rumah Tangga yang bekerja di sector Pertanian 2004 I Padi / Palawija 269 kk 25 kk - 6 kk bahwa mata pencaharian Sektor Pertanian Holtikultura Perkebunan I
Sibanggor Julu 274 I 246 170 I

Sumber: Kecamatan tambangan Dalam Angka :2004

Dengan melihat distribusi penduduk menurut mata pencaharian maka dapat diketahui berapa besar penduduk yang menggantungkan hidupnya pada suatu pekerjaan atau menggambarkan aktivitas penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu juga untuk mengetahui struktur ekonomi wilayah. Dengan data ini dapat digunakan untuk mengetahui kegiatan apa saja yang harus dikembangkan dalam hubungannya dengan usaha ekonomi yang sesuai dengan kondisi tempat.

Sawah

Kegiatan utama untuk memproduksi pangan adalah menanam padi di sawah (marsaba). Hasil pengelolaan sawah oleh penduduk di desa pada umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Namun demikian hasil panen biasanya tidak cukup untuk kebutuhan keluarga selama satu tahun, sehingga sebagian petani sawah harus membeli beras pada musim paceklik. Desa Sibanggor JuJu terletak di lereng perbukitan, sehingga areal yang bisa dijadikan sawah relatif kecil. Tidak ada peluang lagi untuk perluasan areal persawahan.

Pengelolaan laban sawab dikelola sekali setabun sekali, pemilikan atas areal sawab tidak merata, babkan ada sebagian penduduk yang tidak memiliki. Pada umunya areal persawahan yang ada di desa tersebut merupakan harta warisan, sebingga dari waktu ke waktu laban yang bisa dikelola oleb suatu keluarga semakin kecil. Keluarga-keluarga yang di masa lalu relative memiliki kemampuan ekonomi yang baik karena memiliki areal pertanian cukup luas menjadi tumpuan bagi mereka yang tidak memiliki sawah.

ltulab sebabnya sistem pengelolaan sawab dengan cara bagi basil dan sewa sudah menjadi sebuah kelaziman di desa-desa. Hampir tidak ada desa yang terbebas dari sistem ini. Besaran bagi hasil bervariasi, misalnya I /3 untuk pemilik dan 2/3 untuk pengelola. a tau dengan sewa 20 kaleng padi untuk laban seluas satu lungguk (berkisar 5 rante, atau setara dengan 50x50 meter). Selain kewajiban membayar uang sewa atau bagi basil, ada juga pemilik sawah yang menerapkan sistem borog (jaminan) w1tuk bisa mendapatkan laban. Penyewa harus menyiapkan jaminan berupa emas seberat 5 ameh (5x2,5 gram), yang akan

Produksi padi juga diperoleh dari ladang, sebagai bagian dari · hasil kegiatan berladang (markauma). Namw1 menanam padi diladang juga sudah semakin langka saat ini. Di masa lalu, menanam padi dilakukan pada fase awal kegiatan pembukaan ladang (ouma). Tetapi ketika ladang sudah ditanami dengan jenis tanaman tua, produksi padi Ladang akan menghilang dengan sendirinya. Lahan bekas ladang tersebut akan berubah menjadi kebun (kobun).

Areal sa wah yang ada di desa ditanami secara bergilir dengan tanaman padi dan palawija, khususnya cabe dan kacang tanah. Hasil padi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sedangkan hasil tanaman palawija seperti cabe dan kacang tanah dijual ke pasar dan menjadi sumber pendapatan tunai yang sifatnya musiman. Pergiliran pemanfaatan lahan sawah dengan tanaman padi dan palawija sudah berlangsung lama, dan cara ini merupakan salah satu siasat penduduk untuk mengoptimalkan hasillahan yang ada.

Salah seorang informan mengatakan bahwa hasil tanaman palawija bisa lebih besar daripada hasil padi, sehingga banyak warga yang memanfaatkan satu musim tanam dengan menanam cabe. Sebagai gambaran kasar, lahan sawah seluas 1 pantak (kurang lebih 1 Ox 10 meter) jika ditanami padi bisa menghasilkan 15-20 kaleng padi. Dengan hasil20 kaleng padi misalnya akan diperoleh 20 x 11 kg= 220 kg. padi dengan hargajual Rp. 1300/kg. yaitu sekitar Rp.

264.000. Sementarajika ditanami cabe bisa memuat 1500 batang cabe yang hasilnyajika dirata-ratakan bisa 40 kg/ minggu dengan masa panen 10 minggu, totalnya sekitar 400 kg. Dengan hargajual cabe Rp 6000 I kg maka seorang petani akan memperoleh hasil sekitar Rp 2. 400.000, Namun bertanam cabe memiliki resiko rugi akibat fluktuasi hargajua1 cabe di pasar. Dengan perhitungan yang demikian, maka pada tanam bergilir terse but memberi peluang bagi

untuk dapat memenuhi kebutuhan suhsistensi (pangan) dan uang tunai dari lahan yang sama.

Seperti disinggung diatas, tidak semua penduduk memiliki lahan sa wah. Sebagian pemilik lahan sawah yang ada di Sibanggor Julu adalah warga yang yang bermukim di ran tau. Mereka yang tidak memiliki lahan sawah biasanya mengelola sawah orang lain dengan sistem bagi hasil (biasanya 1/3 untuk pemilik dan 2/3 untuk pengelola). Dengan alasan kelangkaan lahan yang ada di desa, akhir-akhir ini juga sudah berkembang pola penyewaan laban sawah dengan terlebih dahulu memberikan jaminan emas kepada pemi I ik sa wah dan hasi I pan en tetap dibagi dengan perhitungan diatas, uangjanlinan kembali kepada penyewa atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak bisa juga diperhitungkan sebagai sewa lahan.

Persoalan yang dihadapi petani di Sibanggor JuJu maupun desa-desa lain yang berada disekitamya dalan1 mcngelola lahan sawah adalah masalah irigasi. terutama karena adanya bcberapa ali ran anak sungai yang mengandung belerang dan bahan- bahan kimia lain yang bersifat merusak tanaman. Sejumlah anak sungai yang berhu lu di GLmLmg Sorik Ma rapi. seperti Ae k Si unik.l\ek Na lomlom.l\ek Sabadano dll tidak bi sa dimanfaatkan un tuk pcngairan sawah karena mem buat rusak tannman. O lch karena itu. salah scorang in lorman mengemukakan gagasan bahwa un tuk men gopti malkan hasil persawahan yang ada dikawasan ini pctlu bantuan tek ni s untuk mcmisahkan aliran-aliran air yang tidak bagusagartidak mencemari ali ran air)ang bisa dimanfaatkan untuk pet1anian.

Ladang I Kebun

Kegiatan membuka kebun. khususnya tanaman tahunan atau tanaman tua biasa di sebut oleh orang Mandailing dengan istilah markobun. Beberapa jenis tanaman yang ditanam penduduk

"rintis ". Disana penduduk menanam tanaman kopi, kayu manis dan aren.

Jeruk Manis

Karena pada tahun 1990-an terjadi penurunan produksi karet dari desa ini, banyak penduduk yang melakukan konversi kebun karet ke kebunjeruk. Pada masa tahun 1980-an hingga 1990-an di daerah kecamatan Kotanopan ( dulu kecamatan induk dari Kec. Tambangan) berkembang budidaya jeruk sehingga banyak lahan karet yang dikonversi menjadi kebunjeruk, Hasil kebunjeruk milik penduduk Sibanggor Julu memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan hanya dalam jangka pendek, sehingga sejak tahun 2000- an tidak produktif lagi.

Jenis tanaman muda lainnya yang cukup popular pada tahun 1980-an adalahjeruk manis. Sebelum masuknyajenis tanamanjeruk manis asal Brastagi yang mulai dibudidayakan secara luas sejak tahun 1980-an, daerah yang sangat terkenal sebagai sentra produksi jeruk manis di Mandailing adalah kawasan Tarlola-Sibanggor, sekarang Kecamatan Tambongan. Jeruk manis asal Tarlola-Sibanggor dikenal dengan nama 'unte manis Tatinggi 'atau unte Sibanggor. Di masa sekarang kita masih bisa menemukan pohon- pohon jeruk manis ini berdiri kokoh di pekarangan-pekarangan

besar, baik modal fi nancial maupu n kctrampilan. karena itu yang banyak membuka kcbun jeruk manis pada tahun 1980-an pada umumnya adalah orang-orang kaya. seperti saudagar atau toke-toke ya ng ada di kecamatan. Mereka membeli lahan-l ahan karet tua maupun lahan-lahan terl antar serta hutan-hutan sekunder untuk dijadikan kebun jeruk mani s. Di desa. warga biasa pun kemudian ikut-ikutan membuka ke bunjeruk dengan mengkonversi kebun karet tua milik mereka. Tapi akhir tahun 1990-an produksi jeruk mu la i merosot. salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian harga j ual dengan biaya produksi ya ng harus dikeluarkan untuk pemeliharaan.

Karet

Tanaman karet sudah dikenal orang Mandailing sejak zaman pemerintahan ko lonial Belanda. Me rc ka biasa menye butnya apea. berasal dari istilah Latin Hc11·ea Brosiliensis. nama ilmiah tanaman karct. Dari ceri ta orang-orang tua. pem iIi k kebun karet d i Zaman Bel anda pcrnah merasakan enaknya berkebun karet. karena tanpa d isadap mcreka bisa mendapatkan uang tun ai dengan menukarkan ku pon yang diberikan oleh pcmerintah \aktu itu. Tctapi petani karct eli zaman sckarang lebih banyak mcngcluhkan nasibnya yang semakin tcrpuruk sc hagai pangguris ( pendcrcs). Berbilang tah un hargajual karct semaki n rendah sementara produksi scmaki n turun. sehingga nil ai tukar hasil karct untuk produk pangan dan kebutuhan- krbutuhan lainny::~ semakin lemah dari masa ke masa.

Hasi l kebun karetjuga merupakan sum ber pendapatan tunai paling utama bagi scbagian besar petani di desa. Dcsa yang berada di lereng pcrbukita n dan ketinggian lokasin ya masih sesuai untuk

penghasil karet sebagai andalan utama bagi penduduknya.

Kebun karet yang ada sekarang ini tergolong kebun karet tua yang usianya sudah lebih dari 20 tahun. Kebun-kebun karet tersebut belum diremajakan meski usianya ada yang sudah melebihi 30 tahun, suatu hal yang membuat produktivitas karet rakyat sangat rendah. Tradisi pengelolaan kebun karet di pedesaan memang masihjauh dari teknologi budidaya karet yang semestinya. Input modal untuk pemeliharaan hanya pada saat membersihkan lahan agar tidak ditmnbuhi semak di sekitar pohon, yang akan mengganggu kegiatan saat menderes. Tidak ada pemupukan tanaman, kadangkala dilakukan penyisipan tanaman untuk menggantikan pohon yang tumbang, tetapi proses peremajaan lebih sering dilakukan petani dengan membiarkan anakan pohon tumbuh besar menggantikan pohon yang tidak produktiflagi.

Fenomena penguasaan yang tidak meratajuga berlaku untuk kebun karet. Ada sejumlah kecil warga yang memiliki beberapa bidang kebun karet, tapi banyak yang tidak memiliki kebun karet sama sekali. Para saudagar atau toke penampung hasil bumi di desa-desa biasanya termasuk kelompok kecil warga yang memiliki kebun luas. Mereka bisa menanamkan modal untuk membuka kebun karet baru atau membeli milik orang lain. Warga yang tidak punya kebun karet, banyak yang bekerja sebagai pangguris yaitu mereka yang menderes karet orang lain dengan cara bagi hasil. Aturan yang lazim berlaku untuk bagi hasil karet adalah bagi tiga. yaitu sepet1iga basil mingguan untuk pemilik kebun dan dua pertiga bagi penderes.

Hargajual karet cukup bervariasi antar desa, karena hal ini sangat bergantung kepada kemudahan akses ke pasar. Harga jual karet yang relatife dekat dengan pasar lebih mahal daripada desa-desa yang jauh. Petani biasanya menjual basil karet kepada pedagang-pedagang pengumpul yang ada di desa maupun pedagang

3.500/kg eli Sibanggor Julu.
Hasil karet pemah menjadi andalan produksi pertanian dari desa Si banggor .l ulu. namun sejak 1990-an hasilnya jauh mcrosot, dan ditaksir sekarang ini hanya berkisar 0,5-1 tonlminggu. Hasil kebun karet pada umumnya dijual petani langsung eli desa. Ada 5 orang toke karet eli Desa Si banggor Julu yang setiap minggu menampung hasil petani. dan mereka kemudian menjual kembali pada hari pekan eli Kayu Laut atau Panyab ungan. Toke besar yang menguasai perdagangan karet eli kawasan Panyabungan bemama Haj i Alas Nasution. Pola perdagangan k an~ t antara petani denga n to ke-toke eli tingkat desa sudah mcmpcrlihatkan bentuk hubungan patron-kli en. di mana petani pada waktu-waktu mengalami kesul itan ekonomi bisa mendapatkan pir~jrunan dari toke dan untuk itu mereka berkewaj iban menjual hasi1 karetnya kcpada toke tempat mem injam uang. Lokasi kebun karet pada umumnya berdekatan clengan pemukimru1 penduduk. Kru·et ditanrun eli lereng-lereng bukit yang mengitrui clesa. Jru-ak dari desa ke lokasi kebun karet te1:jauh berkisa1 antara 3-4 km. Semakinjauh lokasi kebun dari pemukiman akan mengw-angi insentifLmtuk pengelolaru1. Secrua Wllum lokasi kebun karet rakyat belum melampaui batas 'rinlis' atau patok hutan lindw1g.

Kopi

Kopi adalah tanaman tahunan yang sangat popular bagi penduduk eli sampai dekade 1970-an. Tapi masa kejayaan pertanian kopi di Mandai ling sudah lama usai. an tara lai n karena rendahnya nilai jual

1.
produk kopi eli pasaran Pencluduk eli beberapa sentra produsen kopi eli masa Ia I u sudah mengkonvcrs i laban ke jenis tan am an lain, tapi di

beiWarna merah sehingga mencolok di atas kanopi hutan. Pada umumnya lahan kebun kayu manis menampilkan kesan seperti tutupan hutan alam, karena semak-semak yang tumbuh di bawah pohonjarang dibersihkan.

Kayu manis membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa dipetik hasilnya karena san gat tergantung kepada besaran pohon. Pada umurnnya kayu manis baru bisa ditebang dan diambil kulitnya setelah berumur lebih dari I 0 ( sepuluh) tahun. Semakin tua dan semakin besar pohonya nilai ekonomisnya semakin tinggi. Oleh karena itu, orang biasanya menanam kayu manis dengan memperlakukan kebun terse but

1 Nama kopi Mandailing hingga saat ini masih digunakan dalam prodouk- produk kopi kemasan pabrik, seperti yang dibuat oleh Necafe dengan sebutan Mende ling Coffee, meskipun pada kenyataannya kopi yang digunakan sekarang bukan lagi berasal dari daerah Mandailing (Zulkitli Lubis; 2005, 18)

besar. misalnya membangun rumah. menye kol ahk an anak, membiayai pesta perkawinan. atau menabung untuk bisa pergi naik haji. Satu hamparan kebun kayu manis biasanya berisi sekitar 300-400 batang. Satu batang kayu mani s berusia 7 tahun pali ng tinggi bisa menghasilkan 5kg kayu manis,jika sudah ben.m1m lebih dari 20 tahun bisa menghasilkan sampai 200 kg!batang. Hanya saja, harga jual kayu man is akhir-akhir ini san gat rendah, kurang dari Rp.JOOO/kg kering. sehingga kontribusinya dalam perekonomian penduduk semakin kecil.

Berbeda dengan tanaman karet, kebun kayu man is biasanya tcrletak jauh dari pemukiman penduduk, ya itu eli kawasan yang berdekatan dengan hutan. lnila h salah satu cara warga memanfaatkan lahan-lahan marginal ya ng ada eli kawasan desanya, karena kebun kayu manis tidak membutuhkan pemeliharaan rutin tiap tahun.

Nilam

T anaman nil amjugasudah cukup lama dikenal oleh orang Mandai ling.

Produk utam a dari tanaman in i adalah rninyak nilarn yang diperoleh dengan cara menyuling daun-da un kering. Untuk mcndapatkan I kg min yak nilam sedikitnya dibutuhkan 20 kg daun kering, dan areal yang clibutuhkan untuk memperoleh da un ni lam sebanyak itu berkisar satu pantak (I Ox I 0 meter). Daun nilam bi asanya sudah bisa dipanen J(tiga) bul an setel ah ditanam. dan satu hamparan tanaman paling lama bisa bet1ahan selama 2( d ua) tahun clengan d ua kal i masa pemangkasan dalam setahLm. Penyulingan clilakukan clengan menggw1akan kilang yang dibuat sendiri oleh petani. Harga minyak nilam berkisar antara Rp.2 00-250 ribu/kg.

"hutan ". Di lahan seperti inilah sejauh ini tanaman coklat banyak ditemukan.

Dengan cara budidaya campur sari seperti itu memang produksi kakao bel urn cukup signifikan dalam perekonomian penduduk. Namun hargajual yang cukup mahal di pasar lokal (berkisar Rp. I 0.000/kg kering) telah menyihir banyak warga untuk mulai berfikir membuka kebun kakao.

Sayur-sayuran

Sumber pendapatan tunai yang juga signifikan bagi penduduk di desa adalah hasil tanaman sayur-sayuran. Orang Mandai ling tidak mempunyai

cabe), markacang (berkebun kacang tanah), dan sebagainya. Kegiatan berkebun sayur-sayuran biasanya dilakukan di lahan-lahan yang dekat dengan pemukiman. atau dengan cara memanfaatkan areal sawah untuk satu musim tanam dalam setahun. Tanaman cabe termasuk yang cukup popular dan banyak ditanam di desa. Cabe dari daerah Sibanggor Julu sudah cukup dikenal di pasar lokaL bahkan kabarnya bisa menembus pasar Bukit Tinggi, karena pedasnya dan juga tahan lama.

Di samping mata pencaharian pokok, mereka mengenal mata pencaharian tambahan yaitu berburu, menangkap burung, mengumpulkan hasil hutan seperti dan1mar, rotan. Menyadap nira, dan berternak. Hasil pencaharian pokok yaitu bertani terutama untuk keperluan sehari-hari dan kalau ada kelebihan baru merekajual.

Berburu

Datam skala keci l ada juga penduduk yang memanfaatkan binatang buruan di dalan1 hutan maupun unggas. Hewan-hewan yang tergolong dilindungi masih sering dijumpai di daerah Sibanggor Julu, seperti harimau, beruang, kL1cing hutan, rusa., dan kambing hutan. Bal1kan salah satu anak Gunung Sorik Marapi dipercaya penduduk sebagai tempat bersarangnya harimau Sumatera, dan penduduk biasanya menghindari untuk masuk ke wi I ayah itu. Jenis burung yang biasa ditangkap penduduk adalah murai daun. namun bukan dalam skala besar untuk tujuan komersial.

Menangkap burungjuga menjadi salah satu usaha sampingan bagi warga di desa Sibanggor Julu. Mereka menangkap berbagaijenis burung yang ada di hutan. diantaranya ada burung lobayan, yang laku

4000-5000/ekor. Beberapajenis burung yang biasa ditangkap dan bisa dimakan adalah lobayan, andahu, amburkom, ompu guldek dan eko-eko. Ada juga beberapajenis burung lainnya yang ditangkap untuk dipelihara.

Burung ditangkap dengan cara memikat (marpikek) atau menggunakan getah (mamulut) yang diletakkan di ranting-ranting pohon dimana biasa burung hinggap. Pada saat penelitian dilakukan, intensitas penangkapan burung di desa tersebut sudah jauh berkurang dibandingkan dengan masa-masa yang lalu. Hal ini tetjadi antara lain karena pedagang yang menampung burung untuk dijual ke kotajuga tidak banyak lagi.

Namun ada kekhawatiran yang kuat di hati sebagian warga yang bermukim di de sa terse but j ika kelak mereka akan dilarang untuk berburu di hutan. Tidak boleh lagi menangkap kijang, rusa, kambing hutan, (bedu) dan binatang-binatang buruan lainnya yang bisa dimakan.

Berburu hewan seperti kijang, rusa, kambing hutan, dan juga gunjo (landak) sudah menjadi tradisi bagi penduduk desa. Di desa terse but selalu ada warga yang punya kegemaran dan keberanian untuk pergi berburu, biasanya berkelompok 3-5 orang menggunakan tombak. Mereka memelihara anjing pemburu, merekajuga cukup paham di wilayah mana sebaiknya berburu. Hasil buruan biasanya dijual kepada warga desa berkisar Rp. 30.000/kg. Selain berburu ada juga cara yang biasa digunakan untuk menangkap hewan-hewan yang biasa dilalui hewan. Cara ini mengandung resiko di mana hewan yang tetjerat keburu mati sebelurn ditemukan oleh pemilik jerat.

Di luar hewan-hewan tersebut di atas, babijuga termasukjenis binatang yang sering diburu karena dianggap sebagai hama yang suka mengganggu tanaman. Berburu babi dianggap sebagai salah satu cara yang cukup efektifuntuk mengendalikan hama babi. Ada beberapa cara yang tumbuh di masyarakat untuk mengorganisir kegiatan berburu

Produk ekstratifyang paling menonjol dari desa Sibanggor Julu adalah 6'llla aren yang diolah dari pohon-pohon aren yang tumbuh secara alarniah di kawasan desa. Belum adatradisi menanam pohon aren untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sebagian warga percaya bahwa perttm1buhan pohon-pohon aren berlangstmg secara alamiah bersarnaan dengan perluasan pembukaan lahan-lahan kebun. Hanya saja karena belakangan ini tidak ada lagi aktivitas pembukaan kebun-kebun baru maka menurut warga pertambahan pohon aren yang bisa disadap juga tidak banyak. Pohon-poh on arcn yang dimanfaatkan penduduk saat ini relative berada dekat kc pemukiman atau masi h dalam batas tanah adat desa Sibanggor JuJu.

Pohon arcn banvak tumbuh sccara abmi di lahan -lahan kcbun rakyat maupu n di cia! am hutan. Keberadaan pohon aren tersebut sudah lama dimanfaatk an oleh sebagian warga di Mandailing untuk menghasilkan gula aren. Pckc1jaanmcnyadap nira untuk diolah me1~jadi gula arcn tersebut dalam istilah Mcmdailing disebut mamgat. Pcke1jaan 1111 meru pakan pekc1jaan pokok bagi warga di Sibanggor JuJu. Dcsa

Sekali dalam seminggu setiap menjelang haii pekan tangguli dimasak lagi untuk mernproduksi gula dalam bentuk cetakan bu lat. Kalau seorang paragat mengurus tiga batang po hon aren ya11g disadap misalnya, itu berarti dia haius rnernai~at enap1 kali sehari. Se lain itu dia juga haius rnencari kayu bakar di hutan untuk rnemasak nira.

Kayu bakar yang diambil selama ini lebih banyak dicari di kebun-kebun karet masyarakat, atau mencari kayu-kayu yang sudah turnbang di dalam hutan. Pemanfaatan kayu bakar juga di sebabkan oleh kehadiran beruang yang dianggap sebagai ham a bagi paragat. Beruang suka mengambil nira, baik ketika di pohon setelah dirnasak di dalam pondok. Takjarangparagat lalu mernbunuh atau meracuni beruang-beruang terse but.

Aren sesungguhnya rnemiliki potensi ekonomi yang cukup prospektif. Produksi gula aren hanya salah satu aspek yang sudah dirnanfaatkan selama ini. Harga gula aren relatif stabil dari waktu ke wakktu, sehingga soal harga tidak menjadi ancaman. Selain untuk mernproduksi gula, pohon aren juga menghasilkan ijuk yang bisa digunakan untuk atap rumah dan mernbuat tali. Buahnya bisa diolah rnenjadi manisan kola11g-kaling. Pohon yang sudah tidak produktifbisa diolah rnenjadi makana11 (kue sagu).

Problem yang menjadi kendala sekarang, adalah belurn berkembangnya tradisi budidaya po hon aren uintuk rneningkatkan produktifitasnya. U ntuk sementara ada kepercayaan bagi warga bahwa aren tidak bisa ditanam, dan haius memanfaatkan pohon yang tumbuh

Orang Mandailing biasa menyebut pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan w1tuk meramu hasil hutan dengan istilah markarangan ( mencari hasil di hutan). Ada beberapa hasil hutan yang dikumpulkan oleh warga Desa Sibangor Julu diantaranya adalah.

Kayu

P emanfaatan kayu yang paling utan1a bagi penduduk di desa ini adalah

untuk keperluan kayu baker dan bahan bangunan rumah. Kedua ha! ini sudah menjadi bagian daiitradisi hid up di pedesaan. Selain itu, beberapa tahun terakhirini banyak pula yang terlibat dalan1 kegiatan pembalakai1 kayu komersial di hutan.

Produk ekstratiflainya yangjuga pernah sangat eksplitatif di desa Sibonggor Julu dan sekitamya adalah pembalakan kayu yang dilakukan secai·a liar. Ada beberapa keluarga pemilik chainsaw di desa ini yang beroperasi di hutan-hutan kawasan desa maupun memasuki kawasan hutan lindw1g. Tetapi kegiatan penebangan kayu berhenti sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden, mengapa?.

Rotan

Hutan Mandailing Natal yang kaya dengan beragainjenis rotanjuga sejak Ian1a telah me1~adi sumber pendapatan bagi penduduk. Mereka mengambil rotai1 tmtuk keperluan sendiri maupun tmtuk dijual. Rotan-

peijalanan sampai puluhan kilometer menelusuri hutan belantara untuk mendapatkan rotan. Aktifitas pencarian rotan untuk tujuan komersil sudah jauh berkurang karena kesulitan untuk pemasarannya saat ini, sebagai akibat dari regulasi pemerintah ten tang perdagangan rotan.

Madu

Meskipunjumlahnya kecil ada juga penduduk yang biasa pergi ke hutan untuk mencari madu. Mereka mencari di mana lebah biasa bersarang, baik di sekitar kebun-kebun penduduk maupun di tengah hutan. Salah satu tempat yang sangat digemari lebah madu adalah kawasan dimana ban yak terdapat pohon-pohon besar yang berbunga sepanjang tahun. Namun sejauh yang dikatahui belum ada penduduk yang memelihara lebah madu untuk memproduksi madu.

Produk ekstratiflainnya dari desa Sibanggor Julu selain rotan dan madu adalah kulit andor sari. Pengumpulan bahan-bahan ini dilakukan di hutan, dan baru dilakukan oleh penduduk jika ada permintaan pasar. Pada saat penelitian ini berlangsung tidak ditemukan lagi usaha ekstaksi kulit-kulit kayu maupun rotan tadi. Hasil ekstraktif lain dari hutan yang dimanfaatkan penduduk adalah bamboo untuk membuat lemang, dan di masa lalu ada dana retribusi yang harus diserahkan ke desa atas pemanfaatan hasil hutan ini. Mengumpulkan belerangjuga menjadi salah satu bentuk kegiatan ekonomi yang ada di Sibanggor Julu, baik dari bagian kaldera penduduk dengan sebutan ''bare rang". Tern pat yang disebut terakhir ini terdapat di kaki gunung,

kira-kira 4 km dari desa dengan waktu tempuh sekitar 1-2 jam. Pada tahun 1980-an pernah ada sebuah kiJang pengoJahan bijih beJ erang di desa Sibanggor Tonga, tetapi sudah berhenti beroperasi seteJah kejadian gempa pada tah un 1986. PengumpuJ an hasil beJerang ini juga san gat tergantung kepada permintaan pasar.

1-lasil produksi pertanian dati desa ini dipasarkan ke Kayu Laut sekarang ibukota Kecamatan Panyabungan Barat dank e Panyabungan. Ada yang d ij uaiJangsung ke pasar-pasar, tetapi sebagian jenis produksi dijual di desa kepada toke-toke yang dating menj emput ke desa. HasiJ karet misa Jnya dijuaJ oJeh petani ke toke a tau agen penbJUmpuJ di tingkat desa. kemudian oJeh agen di bawa ke Kayu Laut untuk dihimpun oJeh toke besar. dan se Janjutnya dari sana di bawa ke pabrik getah ( cmmb rubber) ya ng ada di Padang Sidempuan (sihitang Raya). Panompuan. atau ke Kisaran. HasiJ sayur- sayuran dijuaJ sendiri oJeh petani ke pasar atau ke pada pedagang-pedagang keciJ yang kemudian membawanya ke pasar. Sedikitnya ada 10 orang warga desa Sibanggor JuJu yang bekerja sebagai pedagang basil bumi ke pekan-pekan. Se Jain berdagang mereka ini juga tetap merangkap sebagai petani.

Tempat berbeJanja untu k kebutuhan sehari-hari biasanya adaJah pasar-pasar tradisional oleh penduduk setempat yang di sebut dengan nama "poken··. Ada bc berapa pecan yang dapat diakses oJeh penduduk desa Sibanggor JuJu. diantarat1ya poken wakaf di Hutanamale pada hati minggu (d ulu hari Jumat). pecan Kayu Laut atau Jangsung ke Panyabungan.

Zulki fli Lubis (2005;27) mer~ e J askan bahwa hasil-hasiJ pertanian yang diproduksi oJeh penduduk desa -desa sekitar Taman NasionaJ Batang Gad is Mandai ling Natal dijual kepada pedagang pengumpuJ di desa maupun di pasar-pasar lokaJ yang ada di setiap kawasan. Pasar terse but dinamakan poken. Lokasi pasar tcrdapat di ibukota kecamatan. dan di beberapa desa tertentu yang mcr~adi pus8t orientasi ekonomi di suatu kawasan. Pokcn di setiap ibukota kecamatan yang berlangsung

9 7

teljadi di pasar. Pasar juga di masa lalu berperan bagi kaum muda untuk arena bertemu dengan kekasih.

Beternak

Betemak juga dilakukan oleh pendudk De sa Sibanggor JuJu. Sistem petemakan dilakukan secara tradisional, dan ditujukan untuk konsumsi sendiri serta ada yang dijual. Hewan yang ditemakkan masih terbatas pada ayam (gallus-gallus), itik (anas platyyhynchos), kerbau (bas bubalus) dan kambing (capricornis.).

mmahjika dibandingkan dengan harga di pasaran, karena yang dijual kepada tetangga sendiri jadi tidak mungkinlah dijual mahal. Iti k dan ayam tersebut tidak dijual secara kJlllsus ke pasar-pasar.

Tabcl12

Banyaknya Rumah Tangga Peternak Unggas /Ayam Desa

Sibanggor Julu

Ternak Jumlah
A yam 2.194
ltik 134

Sumber: Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2004

Selain hal tersebut di atas, kerbau juga digunakan dalam upacara-upacara, begitu pula dengan kambing. Namun kerbau tidak banyak terdapat hanya 1-2 ekor saja yang terdapat. Hewan-hewan terse but dimasak sebagai panganan di waktu acara-acara pesta.

Kondisi ini masih lebih sedikit dibandingkan dengan peke~aan bertani, yang menjadi mayoritas jenis peke~aan warga desa, peke~aan berternak dilakukan penduduk hanya sebagai pekerjaan sambilan setelah bertani.

Tabell3

Banyaknya Populasi Ternak Besar Desa Sibanggor Julu

Ternak Jumlah
Sa pi 0
Kerbau 0
Kambing 0

Sumber: Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2004

Sektor nonpertanian

Sebagian kecil penduduk Sibanggor Julu memiliki usaha sebagai pedagang kecil (parengge-rengge) ke pekan-pekan yang ada di kecamatan ke kota Panyabungan. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai, guru sekolah maupun madrasah. Di desa inijuga ada usaha jasa pengerahan tenaga ketja untuk menjadi peketja di warung-warung migrant asal Mandai ling sekitar Jabotabek.

Perolehan pengetahuan ini pula tidak hanya didapatkan dalam keluarga, setiap anak anggota keluarga yang telah merasa cukup dewasa akan segera bekelja. Dalan1 bertani inilah mereka memperoleh pengetahuan tentang pertanian. baik itu proses pengolahan tanah, teknologi yang digunakan, sampai kepada pemilihan bibit padi yang digunakan. Perolehan ini pula didasari atas rasa keingin tahuan yang besar.

Perolehan pengetahuan akan didapatkan dari orang-orang yang telah berpengalaman. Selain dari orang-orang tua yang telah berpengalan1an, mereka akam memperoleh pengetahuan dari petani- petani lain dan juga teman-teman yang berprofesi sama. Keterlibatan Iangsung sang anak akan menambah pengetahuannya.

Pola pengasuhan anak pada suatu masyarakat merupakan faktor yang amat peka. Baik buruk suatu tatanan kehidupan masyarakat merupakan salah satu faktoryang dapat di lihat dari man tap atau tidaknya pola pengasuhan anak yang ada pada masyarakat yang bersangkutan. Pola pengasuhan anak ini merupakan bagian dari suatu proses tata

10 I

TRADISIONAL di daeral1 penelitian ini.

Dalam hal penggambaran pola interaksi penduduk terhadap lingkungan yang dilakukan penduduk untuk memperoleh kebutuhan hidup dan mempertahankan kehidupannya terhadap hutan sebagai lingkungan hidupnya masih terjaga dengan adanya kearifan tradisional dari masyarakat pendukungnya.

Orang tua baik itu keluarga. yang dituakan. pemangku adat mcmang masih sebagai pembcri pcngctahuan yang efekti r Orang tua memberikan pengetahuan sekaligus dengan adanya praktek sehingga memudahkan penyerapan pengetahuan tersebut.

Pola lnteraksi yang Merusak Lingkungan

Wiiayah Desa Sibanggor JuJu saat ini sebagian besar sudah menjadi wilayah penguasaan privat atau individual oleh keluarga-keluarga yang membuka hutan di masa lalu. Ketentuan adat di daerah ini memberikan kebebasan kepada warganya untuk membuka hutan yang masih belum dikelola untuk dijadikan laban pertanian, dan setelah berubah menjadi laban pertanian bisa di klaim sebagai milik pribadi. Laban butan yang masih tersisa sekarang ini tidak banyak lagi. yaitu di bagian-bagian punggtmg bukit yang menuju kea rab Gunung Sotik Marapi. dan sudah dekat dengan batas hutan lindung (rintis). Meskipun aktivitas pertanian belum melampaui garis batas hutan lindung tersebut, sebagian penduduk sesungguhnya sudah masuk melampaui garis batas tersebut untuk mengambilmanfaat dari hasil-hasil hutan yang ada berupa rotan. kayu maupun kulit kayu yang diambiljika ada pem1intaan pasar, tennasuk juga untuk aktivitas perburuan binatang.

Hewan-hewan yang tergolong dilindungi seperti harimau. beruang. kucing hutan. rusa dan kambing hutan masih sering menjadi target buruan Jari para pemburu. Selain itu menangkap burungjuga menjadi salah satuusaha sampingan bagi \·Varga di Desa Sibanggor .lulu. Dengan melihat peluang yang besar maka mereka mcnangkap bcrbagaijenis burung yang ada di hutan. diantaranya adalah burung lobayan dan lobayan. andahu. amburkom, ompu guldek dan eko-eko.

lllltuk berburu di hutan maka hal tersebut inilah yang dikhawatirkan akan dapat memusnahkan akan populasi dari hewan-hewan tersebut dan juga sebahagian dari hewan-hewan ini merupakan hewan yang dilindllllgi.

Selain dari kekhawatiran akan pllllahnya spesies hewan-hewan, juga dikhawatirkan akan pllllahnya populasi dari tumbuh-ttunbuhan yang teijadi melalui aktivitas penebangan kayu.

Aktivitas penebangan kayu yang teijadi di wilayah Sibanggor Julu dapat digolongkan atas dua kategori. Pertama aktivitas penebangan kayu untuk keperluan warga sendiri, misalnya untuk mendapatkan perabot rumah dan untuk kayu. Kedua, kegiatan penebangan kayu yang merupakan bagian dari jaringan illegal logging yang ada di daerah Mandai ling Natal secara keseluruhan.

Penebangan kayu kategori pertama boleh dikatakan tidak bersifat eksploitatifkarena skalanya kecil, menggunakan teknologi sederhana dan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang berada di luar kawasan lindung. Kebutuhan kayu untuk bahan sangat vital karena di Desa Sibanggor JuJu banyak warga yang menyadap nira untuk membuat gula aren. Proses pengolahan nira menjadi gula aren memerlukan kayu yang cukup banyak setiap hari, oleh karena itu kebutuhan kayu termasuk cukup besar untuk menopang ekonomi gula aren. Hanya saja, kayu yang biasa digunakan untuk kayu Bakar tidak tem1asuk kayu yang bermutu tinggi seperti halnya untuk kayu log. Bahkan kayu yang dimanfaatkan adalah kayu-kayu yang sudah tumbang, sudah mulai lapuk, dan umumnya berukuran sedang. Daya jangkau para petani gula aren untuk mendapatkan kayu Bakar juga tidak terlalu jauh, sehingga dampak ekologisnya tidak begitu signifikan. Pandangan warga aktivitas penebangan kayu untuk kebutuhan kayu maupun untuk perabot rumah berbeda dengan pandangan mereka terhadap illegal logging.

Untuk kebutuhan kayu Bakar dan perabot rumah mereka anggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu dilarang karena

(chainsaH'). Mereka merupakan bagian dari jaringan penebangan kayu illegal yang selama ini berlangsung di kawasan Maga Sibanggor, dan belakangan ini juga memperluas kegiatannya sampai ke Batang Natal. hahkan ke wilayah Kecamatan Siasis di perbatasan Kabupaten Mandai ling Natal dan Tapanuli Selatan.

Kegiatan penebangan kayu sudah masuk ke kawasan hutan lindung, dan batas hutan lindung sendiri tidak lagijelas karena patok batas yang selama ini ada sudah dipindah oleh orang-orang tertentu lebih jauh ke atas sehingga me ngaburkan batas yang scbenarnya. Praktik-praktik pcnebangan kayu log di kawasan Tarlola Sibanggor sudah berlangsung cukup lama. bahkan hal itu sudah pernah menimbulkan konflik besar antara penduduk Maga dengan penduduk H utanan1alc yang berbw1tut panjang terhadap timbulnya dishatmonisasi di kawasan ini. Penebangan kayu selama ini marak di bagian kaki gtmw1g Sori k Marapi. di hutan-hutan yang berada di bagian Hulu Hutanamale dan Hutaharingin. pemilik chainscnr adalah warga lokal. dan kayu yang ditebang diangkut ke kilang kay u yang ada di Panyabungan. Kayu olahan di kil ang-kilang tersebut kemudian didistribusikan di kawasan Mad ina maupun ke luar Mad ina.

Jalm pengangkutan kayu dari kawasan Hutanamale selama ini ada dua, yaitu melalui Hutabaringin. Hutanamale, Hut a Lombang. Maga sampai ke Panyabungan;jalur ked ua rnelalui Hutabaringin. Hutanamale, Sibanggor Jae, Jembolan Merah lalu ke Panyabungan. .Jallli pertama sudah berakhir karena adanya kontlik antara penduduk

dmi Gw1t1ng Sorik Marapi, diantaranya Napa Natayas, Tor Barerang dm1 Aek Nalomlom. Penduduk Sibanggor Julu berpandangan bahwa penebangan kayu yang dilakukan untuk tujuan komersial seperti yang berlaku selama ini tidak bisa dibenarkm1, tetapi kalau hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan perabot run1ah tangga menurut mereka masih wqjar. Terlebih lagi karena penebangan kayu khususnya untuk kayu Bakar sudah menjadi bagian dari aktivitas pengelolaan gula aren yang selama menjadi salah satu komoditi unggulan dari desa Sibanggor Julu.

Dari penjelasan di atas kini dapat dilihat bahwa punahnya spesies-spesies dari tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan tidak dapat terelakan hal ini disebabkan karena faktor kebutuhan dari penduduk.

Pola lnteraksi yang Melestarikan Lingkungan

Pelestarian hutan, yang dewasa ini menjadi isu globaL bukan bennaksud untuk melarang sama sekali man usia memanfaatkan hutan beserta hasilnya. Yang diinginkan oleh ide pelestarian hutan itu adalah bahwa hutan itu dimantaatkan oleh man usia dengan cara yang arif. Yakni cara pemanfaatan hutan untuk kesetahteraan rakyat banyak. dengan senantiasa mengutamakan kesinambungan fungsi-timgsi ekonomi dan ekologi hutan. Cara-cara pemanfaatan hutan yang arifini sebenarnya sudah dipraktikkan oleh rakyat kebanyakan kampung-kampung hutan.

Pengelolaan lingkungan pada dasarnya bukanlah hal yang baru, atau merubah rahmat menjadi nikmat. Sejak manusia itu ada ia telah mulai melakukan pengelolaan lingkungan. Dengan kata lain yaitu pemeliharaan tumbuhan merupakan usaha pengelolaan lingkungan yang dimulai sangat awal dalam kebudayaan man usia.

Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa konsep melindungi sumber daya alam agar tetap terpelihara baik bukan hal bam lagi bagi orang Sibanggor Julu. Mereka sejak dahulu mengenal istilah yang pas untuk itu, yaitu 'rarangan ' yang secara aharfiah bem1akna larangan. Hutan larangan dalam konsepsi tradisional adalah bagian dari kawasan hutan milik suatu kampung (hut a) yang tidak boleh dibuka untuk lahan pertanian atau kayunya tidak boleh diambil untuk keperl uan perabot rumah. Kawasan demikian biasanya dipercaya juga sebagai tempat yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus dan disebut 'noborgo-borgo · (yang lembab-lembab). Ada kepercayaan bahwa melanggar tabu untuk tidak memasuki tempat-tempat demikian akan mengundang petaka bagi pelakunya.

Selain di lingkungan hutan, konsep larangan tersebut juga berlaku untuk suatu kawasan tertentu di bagian aliran sungai. Bagian-bagian yang biasa dipantangkan bagi penduduk untuk menangkap ikan di dalam sungai adalah di lubuk-lubuk yang dalam dan diatasnya terdapat pohon-pohon besar yang berdaun rim bun. Tern pat demikian juga dipercaya sebagai tempat 'noborgo-borgo 'dan terlarang untuk melakukan aktivitas yang bisa mengganggu keberadaan makhluk- maklhuk gaib yang mendiaminya.

Oleh karena itu, konsep 'rarangan · yang diselimuti suatu kepercayaan akan kekuatan supranatural yang tidak boleh diganggu, pada hakikatnya adalah mekanisme budaya yang mengatur praktik- praktik konservasi sumberdaya alam.

Disebutkan bahwa keberadaan sebuah hula atau banua menurut konsep masyarakat Mandai ling harus ditopang oleh adanya sumber air, kawasan hutan, dan juga kawasan tempat penggembalaan. Sumber air diperlukan untuk kebutuhan subsistensi, tepian, mengai1i areal persawahan, memelihara ikan, dan berbagai keperluan sosial lainnya. Hampir semua tern pat pemukiman (hula) yang ada di daerah Mandai ling berada di sekitar sumber-sumber air, baik berupa mata air (nnto/), anak sungai (l-ura). mauptm stmgai (aek). Keberadaan sumber air selain untuk mendukung keperluan tersebut diatas juga untuk menopang menopang fungsi religius karena setiap hula harus memiliki masjid, dan biasanya bangunan masjid didirikan di tempat-tempat yang dekat dengan sumber air (misalnya di tepi sungai) lihat (Zulkifli Lubis.

1998). Selain harus memiliki sumber-sumber air yang menopang berbagai fungsi tersebut di atas, sebuah hula atau banuajuga harus mempunyai areal jolongan (laban penggembalaan). Lahan penggembalaan itu biasa berada di luar areal pemukiman penduduk. misalnya di kawasan kaki a tau lereng bukit yang sesuai di dalam wilayah sebuah hula. Hewan temak yang biasa dipelihara di dalam areallahan

Pada waktu-waktu tertentu ketika di hut a ada upacara yang mensyaratkan pemotongan kerbau, barulah petugas khusus dari istana raja akan pergi menangkap kerbau liar terse but.

Bagian dari kawasan hutan yang dilarang inilah kemudian oleh penduduk dikelola untuk lahan pertanian yang disebut 'harangan rarangan ' a tau hutan larangan. Munculnya larangan untuk mengelola sebagian dari kawasan hutan milik suatu huta didasari oleh adanya suatu kesadaran ten tang pentingnya mengatur pencadangan lahan bagi anak cucu, sehingga sumberdaya alam yang ada tidak digunakan secara serampangan. Pimpinan komunitas hula yang waktu itu adalah para raja memiliki otoritas untuk menegakkan peraturan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di wilayah kerajaannya sebagaimana digambarkan di atas. Di masa lalu terdapat aturan-aturan adat yang mengatur akses, hak pemilikan, hak penguasaan dan cara- cara pengalihan hak atas sumberdaya alam (khususnya laban) di suatu hula.

Pada hakikatnya adalah sebagai kesinambungan dari 'harangan rarangan ' yang sudah dikenal dalam konsepsi budaya Mandailing di masa lampau. Kalau di masa lampau mekanisme penjagaan hutan larangan dilakukan dengan penguatan kepercayaan tentang maklhuk-maklhuk hal us penjaga hutan. di zaman sekarang penegakannya dilakukan melalui aturan fom1al yang dibuat oleh Negara.

Begitu pula halnya pada masyarakat Sibanggor Julu mereka telah mengetahui bal1wa untuk melestarikan lingkungan dalam hal ini adalah hutan, mereka mematuhi akan hutan larangan terse but dan tidak akan merubah sesuatu yang akan dapat merusak lingkungan hidupnya.

"sampinur" jika sedang membuka lahan hutan. Pohon tersebut diyakini banyak menyimpan air, sehingga ketika musim hujan datang pohon ini dapat menyimpan air yang akan berguna j ika tiba musim kemarau. Pengetahuan mengenai pentingnya memelihara kawasan hutan yang menjadi sumber mata air juga masih menjadi rujukan dalam pengelolaan lahan, sehingga warga tidak diperbolehkan untuk membuka lahan hutan di bagian-bagian hulu sungai karena akan menyebabkan terganggunya pasokan air untuk menyangga kehidupan masyarakat.

Begitu pula akan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalarnnya, masyarakat desa mengetahui akan perlunya tumbuh-tumbuhan terse but baik itu sebagai makanan maupun obat-obatan seperti:

Daun tinggaung, rebung bulu soma, rebung bulu sorik, beberapa jenis jamur ( dahan) seperti dahan cit, dahan kalihi, dsb. Sayur daun tinggaung biasanya digunakan sebagai sayur "resmi" dalam acara pesta perkawinan di beberapa hutan di Mandai ling Julu.

Ada juga beragam jenis buah-buahan hutan yang dapat dikonsumsi, misalnya:

Andis (sejenis bual1 asam), sihim (buah rotan manau), opong, rambe, torop, barangan (tampunek), tawis (sejenis cikala), sufi (sejenis strawberry), rao langguli, sotul (kecapi), angra (salak hutan), andalki, tarutung sijabak ( durian hutan), antarsa, lancet bodi (langsat hutan), hapundung, ringkanang (sejenis cikala), 101:jang (sejenis bengkuang), gala-gala, !impala (nangka hutan), cimpunek, danjailan (ran1butan hutan).

Buah-buahan terse but tumbuh secara liar di hutan dan tidak dipelihata secm·a khusus. Penduduk hanya mengambil hasilnyajika sedang berbual1 dan dimanfaatkan untuk kebutuhan subsistensi.

juga mengenal jenis tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai bahan penyembuh bagi berbagai penyakit seperti :

Untuk sakit perut digunakan daun cabe rawit dan karambanowa; kena gigitan li mtan digunakan batu mancis; gatal-gatal karena terkena daun jelatang digunakan akamya daun jelatang, daun pakis, mi nyak makan. bawang merah: demam digunakan simartababi (sejenis rerumputan), sebagai obat kompres digunakan kunyit dan kembang semangkok.

Ketergantungan dan tidak-terpisahan antara pengelolaan swnbcrdaya dan keanekaragarnan hayati ini dengan sistem-sistem sosial lokal yang hidupdi tengah masyarakat bisa secara gambling dilihat dalam kehidupan sehari-hari di daerah pedesaan, baik dalam komunitas-komunitas masyarakat adat, maupw1 dalam komunitas-komunitas lokal lainnya yang masih menerapkan sebagian dari sistem sosial berlandaskan pengetalman dan cara-cara kehidupan tradisional.

Oari keberagaman sistem-sistem lokal ini bisa ditarik beberapa prinsip-prinsip kearifan tradisional yang dihormati dan dipraktekkan oleh komw1itas-komunitas masyarakat desa, yaitu antara lain :

  1. Ketergantungan manusia dengan alam yang menyaratkan keselarasan hubungan dimana man usia merupakan bagian dari alarn it11 sendi1i yang harus dijaga keseimbanganny~
  2. Penguasaan atas wilayah ad at tertentu bersifat eksklusif sebagai hak penguasaan dan/atau kepemilikan bersama komunitas (com- mzmal property resources) sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan mengelolanya untuk keadilan dan kesejahteraan bersama serta mengarnankmmya dari eksploitasi pihak luar. Banyak contoh kasus menunjukkan bahwa keutuhan sistem kepemilikan komunal atau kolektifini bisa mencegah munculnya eksploitasi berlebihan atas lingkungan lokal;
  3. Sistem pengetahuan dan struktur pengaturan (pemerintahan) adat memberikan kemampuan tmtuk memecallkan masalah-masalah ym1g mereka hadapi dalarn pemanfaatan sumberdaya hutan;
    Ill

Sistem alokasi dan penegakan hukwn adat untuk mengamankan swnberdaya milik bersama dari penggunaan berlebihan, baik oleh masyarakat sendiri mauptm oleh orang luar komunitas;

  1. Mekanisme pemerataan distribusi hasil "panen" swnberdaya alam milik bersama yang bisa meredam kecemburuan sosial di tengah- tengah masyarakat; Prinsip-prinsip ini berkembang secara evolusioner sebagai akumulasi dari temuan-temuan pengalaman masyarakat setempat selama ratusan tahun. Karenanya, prinsip-prinsip ini pun bersifat multi-dimen- sional dan terintegrasi dalam sistem religi, struktur sosial, hokum dan pranata atau institusi masyarakat yang bersangkutan. Bagaimanapun, komunitas masyarakat ini telah bisa membuktikan diri mampu bertahan hid up dengan sistem-sistem lokal yang ada. Komunitas-komunitas lokal di pedesaan juga secara berkelanjutan menerapkan kearifan (pengetahuan dan tata cara) tradisional ini dalam kehidupannya, termasuk dalam memanfaatkan sumberdaya dan keanekaragaman hayati untuk memenuhi kebutuharmya seperti pengobatan, penyediaan pangan, dan sebagainya. Masa depan berkelanjutan kehidupan kita sebagai bangsa, tem1asuk kekayaan sumberdaya dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya, berada di tangan masyarakat yang berdaulat memelihara kearifan lokal dan praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang sudah terbukti mampu menyangga kehidupan dan keselamatan ekologis alam untuk kebutuhan makhluk lainnya secara lebihluas. Seorang individu dalam berinteraksi dengan sesamanya, keluarga dan masyarakat, dilingkupi dan diatur oleh sistem nilai, norma- norma yang berlaku dalam adat istiadat yang berlaku dalam suatu masyarakat. Jadi, inti dari ini adalah proses adaptasi di dalam suatu sistem sosial tertentu sejak masa kanak-kanak, dewasa hingga tua. Ini semua tentunya terkait dengan sarana sosialisasi yang berlaku di masyarakat yang bersangkutan dalam melakukan proses belajar beperan

tua, sarana-sarana sosialisasi terse but antara lain sistem kekcrabatan dalam masyarakat, kemudian juga proses pergaulan antar sesamanya yang didukung oleh pranata sosial yang ada serta masyarakat itu se ndiri dalam menanggapi keanggotaannya clalam masyarakat. Dengan demikian proses ini dapat membantu individu untuk memainkan pcranannya clalam masyarakat scsuai dengan statusnya masing- masing.

KESIMPULAN

Sudah banyak studi yang rnenunjukkan bahwa rnasyarakat pedesaan yang hidup berdekatan dengan hutan di Indonesia secara tradisional berhasilmenjaga dan memperkaya keanekaan hayati alami. Adalah suatu realitas bahwa sebagian besar masyarakat desa masih merniliki Kearifan lokal dalam pengelolrum sw11berdaya alan1. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu san1a lain sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setcmpat. Mcreka umumnya memil iki sistem pengetahuan dan pe ngelolaan su mbe rd aya lokal ya ng d iwari skan dan ditum buhkcm bangkan terus-mcncrus sccara tu run tumurun. Kearifan tradisional ini. mi salnya. bisa dilihat pada komunitas masyarakat desa yang hiclup di ckosistem hu tan eli Kabupaten Madina Kecamatan Tamhangan Desa Sihanggor .lul u. Komunitas dcsa ini berhasil melcstarikan hutan dengan adanya hutan Ramngan ( larangan). serta di_jumpai sistem-sistcm pengaturan alokasi (tala guna) dan pengelolaan terpadu cko~istem hutan yang khas :ctcmpat lcngkap dengan pranata (kelcmbagaan) adat yang mcn.1amin si..,tem-sistem lokal ini bckc::ja seca:·a efektif. Sampai saat ini han; a scbagian yang sangat kcc il saja yang el i kenai dunia itmu pengetahwm modem tentang sistcm -sistcm lokal

1111.

sosial yang rnengatur adanya pantangan dan larangan yang rnenjadi tulang punggung dalarn betjalannya sebuah nilai dan nmma yang berlaku dalarn rnasyarakat pada dasamya sangat tergantung pada kuat lernahnya rnasyarakat rnengagungkan rnitologi yang mereka pegang. Kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam alam nyata sebagai bentuk kebudayaan masyarakat terkait dengan pola yang mengatur tindakan yang teiWUjud tersebut.

Biasanya mitologi suatu masyarakat dijadikan sebagai dasar dalam identitas ataujatidiri dari masyarakat yang bersangkutan dan menjadi ciri dari kebudayaan masyarakat yang bersangkutan apabila berinteraksi dengan masyarakat lainnya dengan kebudayaan yang berbeda. Adanya jatidiri yang muncul dalarn interaksi maka akan dapat tercirikan atribut yang khas dari masyarakat yang bersangkutan.

Atribut sebagai ciri ini tentunya akan disosialisasikan melalui sarana sosialisasi yang rnemang sudah tersedia dalam kehidupan masyarakat dan dalam masyarakat ini peran kerabat dan orang tua menjadi suatu peran yang sangat menentukan bagi terintemalisasinya pengetahuan yang dirniliki oleh generasi sebalumnya kepada kegenrasi selanjutnya.

Praktek-praktek pengelolaan surnber daya alarn ini tidak terlepas dari peranan orang-orang tua yang telah menerirna pengetahuan akan perneliharaan lingkungan hidupnya yang ditranrnisikan rnelalui kearifan lokal yang akan diteruskan kepada anak-anak mereka agar rnendapatkan kehidupan yang lebih baik. Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya rnenjadi orang yang lebih baik dari dirinya, baik itu dari segi sosial, budaya dan ekonomi karena kehidupan petani itu penuh dengan resiko. Namun dernikian rnasih ada juga anak petani yang menjadi petani. Walaupun keinginan dari orang tua supaya anak mereka tidak menjadi petani kelak. Hal ini dapat disebabkan karena pilihan lapangan peketjaan petani dibatasi oleh pengetahuan budaya setempat yang membuat kurangnya kesempatan bagi mereka untuk mencari

le bih baik bagi mcreka dan juga dikarenakan proses sosialisasi awal) ang merek.a dapal. scrta lingkungan pcmukiman mercka.

8 agi \arga Desa Sibanggor .lul u. pengalihan pcngetahuan akan kcari flm lokal yang cl ipunyai tidak tcrlepas dari proses sosial isasi yang clijalani sejak kecil. Proses yang mercka tcrima scsuai dengan I ingkungan fisik pemukiman dan lingkungan.

Pengctahuan yang dimiliki oleh sang orang tua akan dialihkan pacla yang mucla. Pengetahuan terscbut timbul dan berkembang dari hasi I pengamatan mereka terhadap suatu objck yang berada disekitamya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Spradley ( 1980) di mana Budaya adalah pengctahuan. Kebudayaan yang merupakan senmgkaian pengetahuan yang diperoleh man usia sebagai makhluk sosial y

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan adanya pcngetahuan tentang kearifan tradisional masyarakat setempat, baik yang disadari maupun yang tidak clisadrui mempLmyai peran yang penting clala.J11 menjaga dru1 melesta.J·ikru1lingkungru1 tempat tinggal mereka untuk kelanjutru1 hidupnya.

PUS TAKA

AgrawaL Arun. l998 Indegenous Knowledge: Some Critical Comments. Dalam Antropologi Indonesia. Jakarta

Alfi~m l 985 Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaau. Gramedia, Jaka11 a

Barth. Fredrik, 1994 A Personal View of Present Tasks and Priorities in Cultural and Social Anthropology, In Robert Borofsky, Assesing Cultural Anthropology, McGraw-Hill, IN C. USA.

Ensiklorcdi Indonesi a 198 3 Ichtiar Baru-Van Haevc dan Elsevier Publish- ing Prijects. Jaka 11a.

Gatewood. Jhon.B 198 5 Actions Speak Louder than Words. In Janet W.O. Dougherty, Direktions in Cognitive Antl1ropology. University of lllnois Press. Urbana and Chicago.

PT. Erisco Ban dung.

Antropologi, Erlangga, Jakarta

Issacson, Robert Land Spear, Norman E 1982 Tlte Expression of Knowledge, Plenum Press, New York and London.

Keesing, Roger M1998 Antropologi Budaya; Suatu Perspektif Kontemporer, Erlangga, Jakarta.

Koenuaraningratl988 Pengantar llmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta.

Lubis,Zulkifli2005 Dari Hutan Rarangan Ke Taman Nasional "Potret Komunitas Lokal di SekitarTaman Nasional Batang Gadis", U su Press, Medan.

Rudito, Bambang2003 Komuniti Lokal, suara dari pedalaman, Jakarta: ICSD

Rudito, Bambang2006 Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial. Perusaltaan di indonesia, Bandung: Rekayasa Sain

Seymour-Charlote, Smith 1983 Macmillan Dictionary of Antlrro- po/ogy, Macmillan Press, London and Basingstoke.

Spradley, James P 1980 Participant Observation, Holt, Rinehart, and Winston, USA

Strauss, Claudia and Quinn, Naomi 1994 A Cognitive/Cultural An- tltropo/ogy, In Robert Borofsky, Assesing Cultural Anthropology, McGraw-Hill, Inc, USA.

Suyono_._Ari)':ono1985 .. Kamus..An1(opologi, Akademika Presindo

r U< ·-·-, .· ... :.; I

J 2o !1. ,~ •. ~·.. ·:·.::~~ ~ I ~

L..l: ~ j
L- ----~·-.. ~, ....

II Agrawal. 7. I 0 I Ahimsa-Putra. 3 Amri Marzali. 3 harerang. 82. I 08 Barth. 7, 10 I hedu. 56.62. 78,108 berburu dan meramu. I berladang bakar. I bertani. I. 28. 33. 35. 56. 77.

85.86
betemak. I Bintatto. 3 biologis. 3. 31 Borofsky, 9. I 0 I. I 03 Dobbin. 25.62 Eksploitasi. 12 evaluati[ 5 expresif. 5 fungsional. 3. 39 gasgos. 56. 57

Gatewood. I 0. I 02 Gerungen. I I horangan. 54. 56. 57, 58, 93.

  1. 108
    Hatto. 31 hatohangon. 41. 43. 44 Havi land. 9. 87. I 02 hurja. 41 hula. 27. 32. 54, 55. 56, 57.

92.93.109
lndustri, I integratif 6 kearifan. 2. 3. I 0, I I. 12, 13.

  1. 16.60. 88.94.95,96.
  2. 100
    kebudayaan.4.6 Kcesing. 9. I 02 kcsejahteraan. 6 Koentjaraningrat. 6, 63. 87. I 02 kognitif. 5. 8 komuniti. 6 Konservasi. 12
Adimihardja, 11 Gatewood. 10, 102
Gerungen. 11
Ahimsa-Putra, 3 harangan, 54, 56, 57, 58, 93.
Amri Marzali, 3 94,108
barerang, 82, 108 Harto, 31 hatobangon, 41, 43, 44
bedu, 56, 62, 78, 108 Haviland.9,87, 102
berburu dan meramu, 1 huta, 27, 32, 54, 55, 56, 57,
bertani, 1, 28, 33, 35, 56, 77. 92,93,109
85.86 Industri, 1
beternak, 1 integratif, 6
Bintarto, 3 kearifan, 2, 3, 10, 11, 12, 13, 15, 16, 60, 88, 94, 95, 96,
biologis, 3,31 99,100
Borofsky, 9, 101, 103 kebudayaan, 4, 6
Dobbin, 25.62 Keesing, 9, 102

10, 11, 12, 13, 14, 15, 27, 30,36,37,46,47,50,51, 52,53,54,58,63,87,89, 91,92,94,96,99, 100 majemuk,2 Manalu, 21, 65 Mandailing, 14, 18, 19,20,21, 25,26,27,28,29,32,33, 36,37,41,44,53,55,56, 57,58,59,60,62, 71, 72, 74, 76, 77, 79,80,81,83, 85,89,90,92,93,94 Mandai1ing Natal, 18, 19, 20, 21,25,28,29,33,36,44, 55,58,81,83,89,90 markapur, 58, 62 markarangan, 62, 80, 109 Marpayung, 32 marsaba, 68, 1 09 marsialapari ·, 34, 1 09 masyarakat. 2, 3. 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 24, 27,28,33,34,35,37,38,

39,40,41,42,46,47,51, 55,57,60,63,64,65, 71, 78,80,85,87,88,92,94,

95.96,98,99,100
moral,6 multikultu1~ 2 naposo-nauli bulung, 41 Noerhadi, 11, 12 Nurdin, 31 Pamusuk, 54 pengamatan, 7, 10. I 1, 15. I 00 peranan, 6 Pola hidup, 1 pranata sosial. 6 Quinn, 8, 9. 103 rarangan, 54, 57, 58, 92, 93,

  1. 108, 109
    Rudito, 3, 4, I 02 Salim,4 saparkahanggion, 41 SibanggorJulu, 13, 14,20,21, 22,23,24,27,28,29,30, 31,32,34,39,40,42,43, 44,45,46,47,48,58,59, 63,64,65,66,67,68,69, 70, 71, 73, 77, 78, 79,82,

||55,58,81,83,89,90||94,108, 102|| |marsaba, 109||Sibanggor Julu, |masyarakat, 2, 3, 5, 8, 9, 10,|11, 12, 13, 14, 15, 16, 24, 27, 28, 33, 34, 35, 37, 38,||44, 58, 68,

wirid, 46

  1. 10 6. 10 7,
    7ulkifli. 25, 55. 57. 74. 83, 93, 108 102 siluluton. 36. 40, -+4 simbol. 4. 5 siriaon, 36. 40. 44 Soemarwoto, 7 Spradley. 7. 8. 9. 100, 103 Strauss, 8. 9, I 03 sukubangsa, I. 2. 5. 13, 14 Suparlan. 6 Suseno, 7 Suyono,8. 103 larombo. 41 terlibat, 15. 34, 8 1.90 tradisi. 2. 4. 7, 10, I L 14. 32.

34.35.40.55.62. 78. 79.
80.93
tradisional. 2, 3, I 0. 11, 12, 1 }. 14, 15. 16, 32. 54. 56, 57. 59,82. 84.88,92.95.96.

    1. 109

      Triharso.4 Waren, 7 Wibowo.31

INFORMAN




















1. Nama Yahya Nasution
Umw· 55 Tahun
Pc kctjaan Kcpala Dcsa S ibanggor .l ulu
Tcmpat Ti nggal Dcsa Sibanggor Julu Kec.
' l ~tmbangan Kab. Mad ina *I*Nama Asmar Tat~jung
















UmLu· 50 Tahun
Pc ketjaan Petani
Tcmpat Tinggal Dcsa Sibanggor .lul u Kcc. Tambangan Kab.
Mad ina _ .... ).




















Nama Roslan Lubis
UmLu· 40Tahun
Pckctjaan Pct:mi
Tcmpat Tinggal Dcsa Sibanggor Julu Kcc. Tambangan Kab.
Mad ina




















4. Nama Ismai l Nasution
Umw· 60Tahun
Pckct:jaan Pctani
· lcmpat Tinggal Dcsa Sibanggor .lulu Kcc Tambangan Kab.
Mad ina Nasi rTru~jung




















5. Nama
UmLu· -+ 5 Tahun
Pekct:j aan Pctru1i
Ti:mpat Tinggal Dcsa Sibanggor Julu Kcc Tambangan Kab.
1\ lad ina. Pekerjaan Petani TempatTinggal Desa Sibanggor Julu Kec. Tambangan Kab. Madina




















7. Nama Ibrahim Lubis
Umur 47Tahun
Pekerjaan Petani
Tempat Tmggal Desa Sibanggor Julu Kec. Tambangan Kab.
Mad ina




















































8. Nama SabarTanjung
Umur 25 Talmn
Pekeijaan Mahasiswa
Tern pat Tmggal Desa Sibanggor Julu Kec. Tambangan Kab. Mad ina
9. Nama Andi Harahap
Umur 30Tahun
Pekerjaan Pegawai negeri
Tempat Tmggal Desa Sibanggor Julu Kec. Tambangan Kab. Mad ina
10. Nama Rozak Tanjung
Umur 30Tahun
Pekeijaan Pegawai Negeri
Tempat Tmggal Desa Sibanggor JuJu Kec. Tambangan Kab.
Mad ina












8. Nama Umur : Sabar Tanjung : 25 Tahun
Pekerjaan : Mahasiswa
















6. Nama : Ambat Tanjung
Umur : 35 Tahun
Pekerjaan : Petani
*(aek)* sungai *al1(/is* ( sejenis nuah a sam) *ondor.* yaitu ular *angro* (salak hutan) *harongan* (tampunek). "haremng··mengumpulkan belerang *(hedu)* kambing hutan *gosgas.* yaitu semak belukar *gunjo* ( landak) *lwrungan.* yaitu kawasan hutnn yang biasa dimasuki manusia dan kcpadatannya berada dibawah tombak *'lwrungan rurangan* · a tau hutan larangan *hat a parkopur* yaitu ragam bahasa yang khusus dipakai ketika berada di hutan. *(hut a)* tempat pemukiman *jailun* (rambutan hutan) *jvlongan* (Ia han penggembalaan) *kahun* yaitu kebun *lancet hodi* ( langsat hutan). */impala* (nangka hutan). *(nwmulul)* menggunakan gctah *·markobun* · membuka kebun, khususnya tanaman tahunan atau tanaman tua *marlasiak* (berkebun cabe) *(mmpikek)* memikat *(marsaba)* sawah ·marsialapari · yaitu: praktik terse but adalah sejenis arisan tenaga oleh beberapa orang yang membentuk suatu kelompok keciltmtuk saling Bantu-membantu secara bergilir ketika mengerjakan kegiatan pertanian. *(muol)* mata air *·nahorgv-borp:o* ' (yang lembab-lembab) *(ouma)* pembukaan lading *pangguris* (penderes) *(parengge-rengge)* pedagang kecil *poken"* pasar-pasar tradisional *rarangan* 'yang secara harfiah bermakna larangan. *rintis* ·, yaitu batas wilayah hutan yang tidak boleh lagi dibuka untuk dikelola menjadi lahan pertanian atau patok hutan lindung. *Ringkanang* (sejenis cikala). Ox 10 meter).

PETA SUMATERA UTARA

MEDAN

PETA KABUPATEN MANDAILING NATAL

-

PETADESASIBANGGOR JULU

\ \ \ ## ' ' ' \ \ \ \ \ \ I *I*' *I* / *I* I ' *I* *T-1* /- *I* / *I* *I* *I* *I* *I* / / *I* ~--o/ *I* *I* *I* *I* *I* *I* *I* *I* *I*

I FOTO

Gambar I. Kantor Badan PerwakiJan Dewa (BPD) Desa Sibanggor Ju Ju Gambar 2. Kantor Kepala Desa, Desa Sibanggor JuJu Gambar 3. Sarana Jalan diantara pemukiman penduduk Desa Sibanggor Julu Gambar 4. Rumah tempat tinggal warga (atapnya terbuat dari ijuk) Desa Sibanggor Julu Pemandangan pemukiman penduduk dari atas Desa Sibanggor **Julu** Gambar 7. Para Ibu-ibu hendak pergi bersawah Gambar 8. Para wanita ketika sedang selesai mencari kayu Desa Sibanggor Julu

  1. Bapak Yahya Nasution Kepala Desa Sibanggor JuJu

Gambar 11. Tempat penampungan air Desa Sibanggor Julu

Gambar 12. Gondang Sembilan, alat musik tradisional masyarakat Mandailing juga terdapat di Desa Sibanggor Julu

Umum Desa Sibanggor Julu