NITI RAJA SASANA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBÚDAYAAN
di Pcrdagugkan
NITI RAJA SASANA
Tim Penulis I Pengkaji
| S. Budhisantoso | Konsultan |
|---|---|
| I Made Puma | Ketua |
| H. Ahmad Yunus | Anggota |
| Singgih Wibisono | Anggota |
-Soeloso
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAB DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA
Saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku basil Jre.giataa Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan N.usantara yang berjudul Kajian dan Analisis Naskah Kuno Nitiltaja Samna, dalaJn rangka menggali dan mengungkapkan nilai-nilai budaya bangsa. Penerbitan karya sastra daerah yang sudah diterjemahkan Ire dalam bahasa Indonesia, dari bahasa daerah sangat diperlukan untuk pendidikan kebudayaan di daerah. Oleh karena itu terbitan seperti buku Kajian dan Analisis Naskah Kuna Niti Raja Sasana ini diharapkan juga dari daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Walaupun usaha ini masih merupakan awal dan memerlukan penyempumaan lebih lanjut, namun dapat dipakai sebagai bahan bacaan serta bahan penelitian dan kajian lebih lanjut. Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dapat saling memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di tiap-tiap daerah. Dengan demikian akan dapat memperluas cakrawala budaya bangsa yang melandasi kesatuan dan petsatuan bangsa. Akhimya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kegiatan proyek ini.
Jakarta, Oktober 1990 Direktur Jenderal Kebudayaan
Drs. GBPH. Poeger NIP. 130204562 •
Pengantar
Naskah Niti .Raja Sasana yang menjadi sumber kajian dan analisis ini merupakan salah satu naskah kuno yang menguraikan tentang kepemimpinan. Naskah aslinya ditulis pada daun tal (rontal) dengan aksara Bali dan berbahasa Jawa Tengahan serta disajikan dalam bentuk tembang. Versi kepemimpinan yang diuraikan dalam naskah ini yaitu versi kepemimpinan agama Hindu, dimana para raja adalah titisan dari para dewa. Seorang pemimpin tidak diharapkan men- definisikan kekuasaannya disaat ia memegang pemerintahan iden- tik dengan kekayaan. Maka ajaran-ajaran yang disampaikan dalam naskah ini disamping raja sebagai pemegang kekua~aan dan penakluk terhadap kerajaan yang lain, juga berfungsi sebagai pendidik, pengemban dan penegak darma. Tentu kalau demikian tujuan yang dicita-citakan oleh seorang pemimpin ialah agar masyarakat mencapai kehidupan yang baik, sejahtera, tentram, harmonis sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Karena dalam situasi yang demikian itu akan banyak melahirkan aktivitas-aktivitas budaya yang selanjutnya dijadikan cermin bagi generasi berikutnya. Berbeda dengan versi kepemimpinan yang pemah dikemukakan oleh raja dari Tiongkok yang bemama Shang. Ia mengatakan: Bila negara mau maju, kuat, berwibawa, maka rakyat harus lemah dan miskin. Kebudayaan yang dihasilkan oleh rakyat seperti adat-istiadat, seni,. sejarah, perikemanusiaan, kesusilaan, hormat kepada orang tua, persaudaraan, kejujuran dan filsafat, dianggap sebagai faktor yang merugikan negara, terutama raja. Karena raja tidak dapat menggerakkan rakyatnya untuk berperang, sehingga keruntuhan sudah diambang pintu.
Dalam kajian naskah ini beberapa konsep ajaran yang cukup mendasar yang dapat dijadikan cermin bagi seorang pemimpin seperti ajaran keselarasan antara patron dengan klien (raja dengan
iii
rakyat), ~j~ran keselarasan antara raja denganopenasehatnya, ajaran catur Pafiksa, ajaran Wreti Sasana dan lain-lain, yang bukan semata-mata perlu diketahui oleh raja saja, melainkan juga harus diketa?ui dan dipahami oleh rakyatnya. Kami menyadari bahwa buku ini perlu disampurnakan karena mcmang keterbatasan pengolahan dan keterbatasan tenaga peneliti yang dapat mengkaji lebih lengkap dan sempurna. Oleh karena itu, semua saran maupun perbaikan yang disampaikan akan diterima dengan senang hati. Walaupun demikian, kami tetap berharap semoga sumbangan pikiran ini dapat perbaikan mengenai hal-hal yang masih perlu disempumakan. Atas basil jerih payah yang sangat berharga ini, Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besamya · kepada para peneliti, dan semu!l pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini.
Jakarta, Oktober 1990 Pemimpin Proyek,
(Ora. Tatiek Kartikasari) NIP. 130. 908064
iv
Jenderal Kebudayaan Departemen
PencUctikan Dajl Kebudayaan ....... .............
Kata Pengantar .............................. iii ~ -iv
Daftar lsi ................................... v
BABI PENDAHULUAN I -4
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Tujuan 4 -5
1.3. Ruang Lingkup 5
1.4. Metodeologi dan Landasan 5-6 Ajaran Kepemimpinan
BAB II ALIH AKSARA 7 -54
BAB III ALIH BAHASA 55 .:._ 108
BAB IV KAJIAN DAN ANALISA 109
4.1. Struktur Bahasa Geguritan 109 -110 Niti Raja Sasana.
4.2. Bentuk Susunan Naskah
4.2.1. Manggala 110
<
4.2.2 Penutup (Epilog) 110-111
4.3. Konsep Ajaran111-112
4.3.1. Pola Hubungan Raja dengan .112 -114 Rakyat.
4.3.2. Pola Hubungan Raja dengan 114-116 Pend eta
4.3.3. Ajaran Catur Pariksa (Soma, 116-118 Bheda, Dana, Danda). · 118-121
4.3.4. Ajaran Wreti Sasana 121 -122
4.3.5. Ajaran-ajaran Lain 122
BABV KESIMPULAN DAN SARAN DAFT AR BACAAN. 124 -125
v
| BABI | PENDAHULUAN | ||
|---|---|---|---|
| 1.1. | Latar Belakang Masalah | 1- | |
| 1.2. | 4- | ||
| 1.3. | 5 | ||
| 1.4. | Metodeologi dan Landasan Ajaran Kepemimpinan | 5- | |
| BAB II | ALIH AKSARA | 7-54 | |
| BAB III | ALIH BAHASA | ||
| BAB IV | KAJIAN DAN ANALISA 4.1. 4.2. | Struktur Bahasa Geguritan Niti Raja Sasana. Bentuk Susunan Naskah | 109 109-110 |
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belalamg clan Masalah
Bangsa Indonesia merasa berbangga dan berbahagia karena memiliki dokumentasi Sastra Lama atau Naskah Kuno yang cukup banyak. Dilihat dari segi bobotnya tidak kalah penting dari pada basil sastra peradaban lama lainnya. Dalam kaitannya dengan pembangunan sekarang ini sudah sewajamya mendapat perhatian yang cukup besar kepada bidang pembangunan ini, juga me- ngamati sastra lama atau naskah kuno dalam rangka menggali wa- risan budaya bangsa adalah merupakan usaha yang erat kaitannya dengan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, lahir dan batin. Pembangunan yang sifatnya multi itu memberikan proporsi yang banyak kepada bidang kehidupandan sering menimbulkan dampak k~dangkalan di bidang spiritual. Sedangkan unsur-unsur pembangunan mental spiritual itu banyak terkandung dalam sastra lama atau naskah kuno, oleh karena itu sastra lama atau naskah kuno banyak memiliki nilai-nilai yang bisa membuat pendewasaan mental, maka tidak ada salahnya mengulang kembali anjuran·yang sering di ungkapkan oleh Geethe lewat M.Yamin melalui semboyan yang berbunyi sebagai berikut : "Was ducrerbt von dei- nen vetem hast, erwirt es um es zu besitzewn"; artinya yang kamu warisi dari nenek moyang, harus, kamu rebut agar dapat dimiliki (Teeuw, 1982 : 29) Memang penelitian a tau pengkajian terhadap sastra lama atau naskah kuno Indonesia yang tersimpan di Bali sudah mulai dan atau berlangsung seputar satu setengah abad yang lalu, serta basil dari penelitian atau pengkajian itu sudah banyak dipublikasikan, namun masih banyak sekali yang harus di garap. Pernyataan untuk menggali nilai-nilai budaya yang erdapat dalam naskah kuno akhir-akhir ini kembali dilontarkan oleh Dr. S.O Robson (1978),
Prof. Dr. Haryati Subadio (1981), Dr. Achiadi Beran (1981), dan Prof. A.Teeuw (1982). Pemyataan tersebut agaknya ditujukan kepada kita yang semertinya memikul tanggung jawab terhadap "nasib" yang menimpa warisan budaya tersebut. Dr. S.O Robson menulis, "Belum banyak orang Indonesia yang menginsyafi bahwa dalam karya-karya sastra lama/Klasik terkandung sesuatu yang penting dan berharga, yaitu warisan rohani bangsa Indonesia. Lebih lanjut, sastra klasik adalah perbendaharaan pikiran dan cita-cita para nenek moyang, maka dengan mempelajari sastra itu kita bisa mendekati dan menghayati pikiran dan cita-cita yang dahulu kala menjadi pedoman kehidupan mereka dan yang di- utamakan mereka. Lantas kalau pikiran dan cita-cita tersebut penting untuk para nenek moyang, tentulah penting untuk kita jaman sekarang ini juga (Dalam Agostya., 1982/1983). Sedangkan Prof. A. Teeuw menyindir, "sebab bangsa yang melalaikan ke-, kayaan kebudayaannya bukanlah bangsa yang berbahagia, bangsa yang secara acuh-tak acuh membiarkan warisan sastranya ter- bengkalai sehingga digali, direbut, digarap oleh orang .asing dan yang paling-paling bersedia untuk menikmati basil keringat orang asing itu bukanlah bangsa yang sungguh-sungguh merdeka", (dalam Agostya, 1982/1983). Pernyataan seperti ini kiranya masih sangat perlu kita dengar penuh pengertian.. Karena ada beberapa pendapat (terutama dikalangan orang muda) bahwa studi tentang naskah kuno tidak banyak manfaatnya dalam dunia masa kini, dan tidak selalu dapat dipasarkan dengan mudah. Di samping itu, untuk mampu melakukan pengungkapan nilai budaya yang terdapat dalam naskah kuno memerlukan studi dan pengalaman yang cukup banyak dan sulit. Bahkan ada yang mengibaratkan meng- ungkapkan nilai-nilai budaya naskah kuno seperti membabat hutan yang lebat dan buas serta menakutkan bahkan mengerikan seperti terkena mistik, siapa berani masuk tak urungan akan berpu- tar-putar tujuh keliling, tak tahu lagi jalan keluar. Pulau Bali adalah salah satu pulau di negara kita yang menyimpan dan memelihara warisan budaya berupa nas-
lama. Naskah-naskah lama yang disimpan dan dipetibara tersebut tidak hanya naskah-naskah lama yang ditulis di Bali, tetapi juga sangat banyak naskah-naskah lama yang ditulis di lawa. Gedong Kirtya Singaraja dan Lembaga Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, menyimpan masing-masing sekitar 4000 dan 1000 lontar dan salinan lontar (Agati, 1982/1983). Belum termasuk yang ada di Taman Budaya, museum Bali; dan di rumah-rumah penduduk. Dari sekian banyak karya sastra lama yang ada di Bali, Lontar Niti Raja Sasana salah satu diantaranya. Karya sastra ini sudah pemah digarap oleh IDKD pada tahun 1984/1985 hanya baru tingkat transkipsi. (berdasarkan data yang ada di Dit.jarak nitra Jakarta) Dapat dipastikan sebagian besar karya sastra yang ada di Bali di wamai oleh budaya Hindu, atau dengan kata lain karya sastra lama di Bali sangat erat hubungannya dengan agama Hindu. Sastra sebagai bentuk karya yang dilahirkan oleh seorang pengarang bersumber dari kehidupan yang bertata nilai. Nilai yang hidup dan didukung oleh masyarakat Hindu di Bali. Pengarang sebagai pencipta, tidak saja mencipta berdasarkan fenomena kehidupan yang lugas, tetapi dengan penuh kesadaran bahwa sastra sebagai suatu yang imajinatif, fiktif, juga harus melayani misi-misi yang dapat dipertanggung jawabkan. Tidak hanya sekedar menciptakan keindahan yang diwujudkan lewat tembang. Namun, juga ber- kehendak menyampaikan pikiran-pikiran, pendapat dan gagasannya. Georga Santayana, seorang filosof, novelis, dan penyair Amerika, membuat rumusan anafsir yang agak ekstrim yaitu di- katakan bahwa sastra adalah semacam agama dalam bentuk yang tidak jelas, tanpa memberi petunjuk tentang tingkah lal_cu yang harus diperbuat oleh pembacanya dan tanpa ekpresiritus (1986 : 3) Dalam karya sastra Bali tradisional, hal ini dapat dilihat dengan jelas, bahwasannya pengarang sebelum memaparkan pi- · kiran, pendapat dan gagasannya ke dalam serangkaian tembang, yang membangun karyanya, terlebih dahulu menyebutkan nama •
agama dapat dilihat dalam sikap masyarakat Bali. Bila seorang berkata melafah mesastra, "belajar sastra", maka dimaksudkan adalah mempelajari tata susila atau etika yang mempunyai hu- bungan erat dengan agama Hindu, lebih-lebih lagi bagi seorang calon pemimpin pedoman ajaran Niti Raja Sasana, selain naskah yang lain seperti kitab Manawa Dhanna Sastra Weda Smurti, Niti Praja, Geguritan Prasaddha Niti, Niti Sara, Tutur Bhagawan Kamandhaka, Bhismaparwa dan lain-lain harus dipelajari. Dari sekian naskah sebagai pedoman ajaran kepemimpinan, maka sangat tepatlah naskah Niti Raja Sasana dianalisis maupun dikaji sebagai bahan perbandingan tidak saja terhadap naskah-naskah yang sejaman tetapi juga sebagai bahan perbandingan untuk tipe kepemimpinan sekarang ini. Sebagai fonnulasi hipotesis kerja yang digunakan dalam tulisan ini, selanjutnya akan dicoba di tuangkan permasalahan seperti :
- Makna apa yang terkandung dalam naskah Niti Raja Sasana.
- Apa fungsi naskah Niti Raja Sasana dalam masyarakat Bali (khususnya penganut Hindu di Bali).
1.2. Tujuan Tujuan umum masyarakat sesuai dengan eksistensinya adalah merupakan fenomena sosial yang mengalami perkembangan terus menerus, dalam hal ini, agama sebagai inti dari kebudayaan yang telah banyak berhasil menanamkan pengaruh yang sangat kuat dalam menguasai kehidupan batin. maupun lahk Di Bali, pe- nanaman pengaruh ini disampaikan lewat sastra tradisional. Bah- kan ini dapat di rumuskan bahwa sastra yang ada di Bali adalah semacam agama, namun dalam bentuk yang tidak pasti/jelas. Oleh karena itu, penelitian ilmiah yang esensial mengenai masalah
•
perilaku agama adalah sangat penting. Kajian mengenai "Peng- ungkapan Latar Belakang isi naskah Niti Raja Sasana", juga mempunyai tujuan seperti itu. Karena dalam lontar tersebut merupakan salah satu wahana menyimpan nilai-nilai budaya Bali, terutama ajaran kepemimpinan yang diintikan oleh Agama Hindu. Terbatas dari sudut sentatif, kajian ini juga diharapkan merupakan salah satu usaha dalam memberikan infonnasi dari salah satu nilai agama yang di pandang relevan dengan nilai kebudayaan nasional, dalam hal ini budaya Pancasila. Berdasarkan hal inilah, Proyek Penelitian dan Pengkaji~n Kebudayaan Nusantara Pusat me- mandang perlu mengadakan inventarisasi, dan pengkajian nilai-nilai budaya, khususnya yang ada di Bali sebagai sikap yang positif dalam pembinaan, pengembangan dan pelestarian kebudayaan itu sendiri. Tujuan khusus, masalah yang tersebut terakhir inilah yang sekaligus menjadi tujuan khusus pe·nelitian ini. Secara tidak langsung informasi ini juga diharapkan dapat menjembatani gagasan serta ide dari model kepemimpinan yang ada di alam Pancasila sekarang.
1.3. Ruang Lingkup Sejalan dengan tujuan penelitian di atas, untuk meng- ungkapkan Latar Belakang lsi naskah Niti Raja Sasanan, maka dapatlah di rumuskan ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Bab I Pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup, teknik pendekatan, dan landasan teori.
2. Bab II memuat, alih aksara.
3. Bab III memuat terjemahan.
4. Bab V kesimpulan dan saran.
1.4. Metodologi dan Landasan Ajaran Kepemimpinan Untuk membuktikan bahwa masalah tersebut dapat dipe-
Shang (Tiongkok) yang mengatakan: Bila negara mau kuat dan berkuasa, maka rakyat harus lemah dan miskin. Kebudayaan yang dihasilkan oleh rakyat, dianggap sebagai faktor yang merugikan negara. Bila raja mem- perhatikan adat-istiadat, musik, nyanyian, sejarah, perikemanusiaan, kesusilaan, hormat pada orang tua, persaudaraan, kejujuran dan filsafat, maka ini berarti raja tidak akan dapat menggerakkan rakyatnya untuk berperang, dan berarti pula ke- runtuhan sudah di ambang pintu. Dua sarjana yang pendapatnya hampir mendukung pendapat atau ajaran Hindu yaitu Aristoteles dan Dante. Pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa tujuan negara (sekaligus tugas seorang pemimpin) ialah mencapai hidup yang baik, bagus dan Harmonis. Sedangkan pendapat Dante mengatakan tujuan negara tidaklah hanya mengumpulkan kekuasaan semata-mata, melainkan bertujuan lebih rnulia yaitu membina kehidupan berdasarkan perikemanusiaan untuk rnen- ciptkan perdarnaian dunia yang di kehendaki Tuhan. Sehingga nilai-nilai morallah yang lebih diutamakan. Karena nilai-nilai moral itu akan dapat dipakai cermin, petunjuk, nasehat, sebagai pengendali diri dan sebagainya. Bila seorang pemirnpin rnampu melakukan hal itu tentu pemirnpin seperti itu akan di jadikan teladan baik ucapannya perilaku dan tindakannya. Dalam usaha mengkaji "makna" yang terdapat dalam fe- nomena yang diteliti tersebut, dalam penelitian ini digunakan suatu metodelogi yang dipandang relevan, diantaranya adalah metode pemahaman (kontekstual). Data yang terkumpulkan melalui metode ini terutama studi kepustakaan. Sumber yang dapat memberi informasi dalam hal ini seperti lontar, brosur, buku-buku, majalah, maupun media massa cetak lainnya (surat kabar).
_6
BABU AJih Abara
Astu
Pub Samarandana
- Pangastawana riang Widi, Sang Hiang Parama Kawalia, Ya Widi Ta ya suksamana, wiwitan mulaning jagat, Sang Hyang Wenang tumitah, mawarana Siwaguru, Batara Jagatkarana
- Panuhune ring Hiang Widi, miwah ring Dewa samiana, mangde sida karahaya, ring urip tekane pejah, tan kataman dursila, sawangkon negara Badung, tetapan kemuliaan.
- Tan saking wikan manggurit, tetambangan samarandana, nging tembang Surakartana, basana Bali campuran cerita keketusan, saking kojaran ring tutur, Pasradaniti wastannya.
- Kocape mungguh ring gurit, solah tingkah apra raja, ne sampun ngastakaraton, mawasta ratu ring jagat, punikla pangartinya, karanamawasta ratu, rat punika madan jagat.
- Tune mawasta asiki, wira asiki ring jagat, malih artine kapindo madan rat pengawak jagat, tuno mawasta tunggal, satia wacana sotahu, ndatan awahing wacana.
- Mungguh ring ulahe sami, ne mangkin siki-sikiyang, cacakan ring kawisane, asih ring warga daridra, kaping kalih punika, asih wong kawaloas yun, ping tiga sih ring Pandita.
- Ping pate bakti ring Widi, tan lupa rfing puja mantr, muah rifng kaping limane, nora seruding wasana, ring kaping nem punika, pratingkahe nggane fatut, balane yan asawalan
- Kaping pitune samalih, menyelehin wadua bala, menguningin sakatahe, ping kutusa mengenakang, manahing wadua bala, tekeng anak rabinipun, mangden pada suka lila
Ping siyane mengarya\ning, wibuhing mretasakala, pa-
Kaping sawalasa malih, tan kona ring ala-ala, ngalosanin uloahine, miwah tan konong cuntaka, puputo kaping rowelas, kinanjarihan pada manus, kadi aningali suksma.
- Wooton malih patang siki, uger-ugering pratingkah, sang sampuo ngasta karaton, mawasta catur pariksa, tingkaha ngamong wadua, mangden sampun salang surup, katungkul nurut wisaya.
- Kocape ne pataog siki, sama dana boda danda, na mawasta sama reke, tetape sarat ngaryanang, asih baktining wadua, pagehe pracasyanipun, mangden sampun sapu sapan
- Neemawasta dana malih, ulaha sarat ngaryanang, suka bungahing wadusna, sahanak rabining wadua, mangden lila samian, muji ring manah rahayu, adate ratu punika
- No mawasta beda malih, ulaha pageh ngardiyang, mangden prayatna balane, mangden sapmpun ngampah-ampah, ngawas-was pamareksa ne mawasta salah patut, yatnane ngemit negara
- Miwah dandane samalih, pamuput catur pariksa, ne madan danda yuktine ngardiyang wedining wadua, mahula krama dusta, miwah krama nora patut, mangdedn sampun sayan nglalah.
- Tetampane kaping kalih, ring ulah catur pariksa, yen kardiyang angde-angde, kadi mamilihin lakar, samane dadi lakar, badane dadi penyuluh, danda kangge danda kutang.
- Nanging nampenin, mangden tata, wireh katah pakirige, sami patut sami baya, kabuat untuk dasar, rob dados pitoh ping sewu, nanging yen anake wikan.
Manden prayatna minehin ring jero rarah bucuwang, mandeo gemet pe~yaringe, sipat ne mawasta sinah, tan dados tumbas mudah, barfang bacik aji liyu, barang tambar aji muda.
fSambungane kecap malaih, ulahing sang sinewaka, ring ratu manggen-anggen, kocape brata nembelas,. sasiki giribrata, kakalih indrabrata teku, tiga mretawarsabrata.
- Papat Yamabrata malih, kaping lima genibrata, pingen bratane, ~ping pitu megabrata, ping kutus singabrata, pingsiya nilabrataku, setabrata kaping dasa
- Solas mayurabrata, ping rolas cantakabrata, wingrabrata ping tiulasa, kaga nila ping pathbelase, cundaga ping lima welase, welasebrfatana mungguh, pupute kaping nem belas.
- ltungu malih wiwitin, siki-siki pidatanya, ne madan giribrantane, kadi gununge kanginan, kalning marag yuda, sampung ngasor pada ratu, kalah pejah ring sesana.
- lndrabrata wastaneki, pareksangreh wadwa bala, tan panggega ujar nganeh,. midosa yen kasamapta, terangi kesalahan, sampura yen salah kumur, prih becik manahing wadua.
- Mretawarsabrata malih, amrea punika toya, toher nguninging wadwane, maden warsa basa ujan, tingkahe madana-dana, mangden watra polihipun, maniru tibaning ujan.
- Genibrata niru geni, gelise nelasang angkreh, sampun ngampoh suwe-suwe, tingkahe ngrusak durjana, mangden ring grils bebas yen kantos durjana liyu, tan wangde mangrusak tata
- Lawanabratana malih, den amat duduning wadwa, nanging yen salahe anteng, punika patut sampura, ngangge brata lawana, lawanana sagaragung, pangutangan ala-ala.
- Mretabrata wastaneki, yen manggih robining wadwa, miwah ring sarwa grewene, kadi buron ngeton jenma, den eling ring
Titah, aja nurut manah bingung, becik ngicen ring manjingang
- Singabvratana samalih, tingkah ratune ring wadwa kadi singa ngaraksalase, ratiu rajeg saking wadwa, wadwane manggih krata, saking tusti budi patut, punika mangde krahayuan.
- Anilabratana malih, anila angin artinnya, gelise kadi angine, tingkahe maguntin yuda, antepe ngraksa jagad, sampun taha-taha magut, pati urip saking suksma.
- Satabrata ulah neki, maniru kramaning ayam, sata ayam pangartine, tingkah sihe kasamaptan, ring rabi ring kahula, mangden sami mantep ipun, prataingkahe sumawita
- Ring mayubrata malih, tingkahe dan kadi merak, mayura merek wastane, tan panginan salah ujar, tan pati-pati pangan, tan wawadenan abagus, punika mayubrata.
- Ring centakabrata malih, punika patut pagahang, paksi kolik cantakasane, paksi kelik minta warsa, ring ratu ngamariyang, kawala asih kawangku teka tumarep sihing wadwa.
- Kaga nilabrata malih, kaga nika paksi gagak, uning nengerang patine, ring ratu menandang pajah maumang prapunggava, yan patah kapatut dorus, yan durung patuh wangdeyang.
- Ring wiagrabrata samalih, wiagrane punika macan, durung marayan tan olah, ring ratune wus utama, yn durung rasa sida protangkaha becik wurung, yan durus makrana campah.
- Cundagabratana malih, cundaga lutung artinya, irengen yen Hali tulen, milih sucining panganan, ring ratu yang mamangen mantutang solah lungguh, mangden sampun carfa sudra
- Walesa bratana malih, walesana buron kalwang, buron bukal Balunnyane, anak tan bisamet pangan, punika tan kalumbar, yan ring ratu praya ngutus, karya sarat janma wikan
- Yan sampun dados mamargi, brantane makanembelas, pedas
PUH GINANTI
- Ginantine raris nyambung, masih tembang tambung Jawi, sugihing ratu punika, sugih katah paramantri, nanging mantri wicaksana, nggawa rahayuning gumi
- Basa mantri artinipun, munggah ring tataning mantri, sapuniki pangartiannya, man lewih tri tigang siki, kukuh ring dane titiga, titigane sapuniki.
- Kapisane salahipun, tan pakangandapken gusti, tan suka tina.
- Ri kaping kalihe mungguh, asih ring padane mantri, minget- minget kala iwang, awh prayatna ring lali, miwah nduhunang pisuka, ten saking tataning mantri.
- Puputing ping tiganipun, purun ring abet repotan, purun ngalah ring kakancan, makadi sarat ngalangin, yan rawuh musuh nglarang, punika tataning mantri
- Miwah becika sang ratu, nampekang pandita lewih, panditane wicaksanan, dados papagaring gumi, reh karyane ngaji sastra, makadi yoga samadi.
- Mapalanggenging ratu, sinewaka ring nagasari, miwah kretahaming desa, rahayuning dalem puri, miwah karyaning pandita, dados suluh ning nagari.
- Ndamarin petenging kayun, mamarahin linging aji, mapitutur kasatikan, tingkah rahayuning budi, ne mawasta kasatikan, peri tingkah darmaning urip.
Sarwa sastra miwah kaweruh, mitudu bakti ring Widi,
Dasare asib ring kayun, ring jenma ring panditadi, yadian ring yanma daridra, tan ngguguyu wong kasiasih, tan ngagungaken sarira, tak gawok ring suka sugih.
- Kasukan kawiryan agung, tan weneng ginawa mati, reb uripe puput pajah, asing sakalane becik, sami praya dades rusak, ne peleng resaning pati.
- Tingakahe ngitung puniku, kreti brata tata brati, miwah prasada sarira, prasastra raga samalih, ping kalih pasalah raga, makadi dununging pati.
- Tinemuning pati iku, miwah sampurnaning pati, dayaning anggib ika, sampumaning pinanggih, punika rasa-rasayang, rasa- ning pati urip.
- Wareh punika kapangguh, palane mukamu muji, asih bakti ring pandita, rob saking pandita semi, kojaran sarining sastra, ala ayu benar sisip. 15.. Krana sang rumaga rati, mule ring pandita lewih, yen idepen sang pandita, kretaning desa kapanggih, lulut kang wadwa samian, tata krana sami urip. ·
- Miwah ulahing sang ratu, yen pandita manampekin, pujakrama turunanan, sungsungan ujara manis, linggihakena sakrama, anutang ring tata titi
- Tata kramaning sang ratu, weruh ing ala lawan becik, yen ratu kadi kaula, arep ring drewe tan yukti, rusak tataning nagara, rusak manahing wadwalit
- Ring ratu patuting ratu, tang ngrusak manahing alit, maka diparasantana, wanduwarga anak rabi, tetep ngardi karahayuan, kandel kumandel ring Widi.
- Yen santana marek ratu, yadian. dari dara tuwi, kramanen ring paribasan, basa kang lembur amanis, yen atuka turunane, wehen sakrama alinggih.
kawigaran mungguh, ratu asampe mujari, rillg santana miwah bala, punika mamanas ati, surem kang bala fDerangan, akalis atining wargi.
- Suraga panlenan nungguh, pratingkahe tigang siki, wikayika lanwacika, manasikane samalih/punika pratingkah salah, pantes tan kandeling gumi.
- Wikayikane sang ratu, tan arep ujar amanis, deh ring gawe karahayuan, alis ring budi becik, pariceda ring pandita, demit tur demen wewehin. I
Wicikane yen ratu, angina ring wong angaji, tan arep angulah dana, ring sama masih akalis, santanane kang daridra, angeruk tata kang becik.
IManasika yen sang ratu, tan &hiun ring ulah becik, ngrusak
·1 prakretening janma, rainawengi ngetung sugih, dendaane tan ! patut darma, drewe sing becik den ambil.Ngagu sapakayuningsun, tan eling ring praya mati, adoh ring
l ulah sampuma, alihe arta kang pinrih, tan atung cruking wadua, punika satruning Widi.Wonten malih ulah telu, ne patut rangsuk ring budi, kapisana wijayasastra, sapadina kaping kalih, ping tri nagarajanyana, papastem pratingkah becik.
- Wijayasastra wastamipun, ratu kukuh nggawe becik, mangulahang sama dana, uning yan samimngajrihin, ngicalang manah kamurkan wijile arum manis.
- Sampura ring muda dusun, luluting pandita lewih, asih ring janma kalaran, saking lila ngawawehin, uning ring ngambel ajahan, katempuhan ngarakas gumi
- Sopadina ping ronipun, ratu mantap budi suci, tan agawok ingmas arta, weruh yen binakta mati, mawewah tan jinalukan, nguningi wong sanagari.
- Negarajenyanane mungguh, manggawe ayuning bumi,
PUH DANGDANG
- Nyambung ngambil tembang dangdang gendis, nanging masih cara Surakarta, kejaran alan · ratune, ring rukma bisameku, masih soroh sadrasa niti, saking Cantakaparwa, bubungkulanipun, nemaden ruka bisama, cacakane, titingkahen tigang siki, agem-ageman raja
- Wirya kanuwiryane pangrihin, ne mawasta, wirya kanuwiryan, nangkil ring pada ratune, kratansayan saru, katon ini kramane kaksi, surem balane samian, katon nistanipun, krana pararaja-raja, ngayatnain, mastiyang polahe beeik, mangde tan kalebu nista
- Wirya kesala astrane malih, kaping kalih, ing rukma bisama, masih pola ngetang-getang, kadanan pada ratu, masih surem balane sami, kasor ing kramawira, katon nistanipun, masih nandang kalingseman, sakatahe, punggawa mantri prajurit, kadi ndatan pakarya
- Wirya kawada. kartane malih, kaping telu, ning rukma bisama, pola ratu tan gawe, yan kartarajang musuh, adadak apes trasma ring urip, nungkul masrah gagawan, masroh namanipun, nuli raris kalungsuran, ne punika, uripe sami ring pati, lawas masangu wirang.
- Darma yudane ucapang malih, titingkahan, ratu mangut yuda, mungguh ring salah patute, nista utamanipun, · cacakane mangkin wilanging ngin, siki singamarata, ring kaping ronipun, madan suromaharata leaping tia, jayamaratane malih, papat surasrirata.
- Kaping lima bamamarateki, ping nem jaya, kramanaharata, jaya wrak singaratane, punika kaping pitu, kaping wolu kahucap malih ring jaya kasalastra, kaping siyanipun, ring
kawada warta, ne asiya, telu cacad enem becik, kasub madan utama
- Malih pidanannya siki-siki, no mawasta, singamabarata, ratu katekan musuhe, dira ngamuk tan surut, pageh nyadia ngawangun kirti, ngun~i pada utama, kasor mangut musuh, matine ring tutunggangan, ne punika, saleh ratune kapuji, madan singamarata.
- Suramaharatane samalih, kalurung ing, musuh nora linggar karusakan turanggana, taka tan surud ngamuk, ngungsi kahutamaningpati, mati ika ring rata, punika kawuwus, maden suramaharata, nyandang puji, punika tuwi prajurit, matine manggih sadia.
- Jayamaharata kecap malih, ring kaping ti-, ganing danna yuda ratune magut yudane, dira narajang musuh, karusakan tinggangan kari, bala kosa yan muntab, nincap ratan musuh, parukete mahudera, ring matine, labuhe latutnindihin, rataning musuh meneng.
- Yan ring surasriratane malih, ulang ratu, ngalalana ngdon nyuda, saking akas panglarage, teka sahaangebiyuk, musuh kalah sampun kalindih. Ring wus mawasta menang, musuhe mangibul, mambalikin manarajang, ratu ika, mating punduran tan gingsir, madan surasrirata.
- Bamamaharata kecap malih, ratu kendon, musuh ngalarang, pacar pub merange rame, ratune pageh ngamuk, karusakan tunggangan kari, galak ngamuk madarat, mati pareng musuh, awer di tengah payuden, nu punika, soleh ratune ring jurit, madan bamamarata.
- Jayakramamaharata malih, malih tingkah, ratune kondonan katekanan musuh akeh, mangadu yasa purun, kang kalarang kasor magutin, musuhe manyajayang, mamorod menempuh, matine ratu punika, sure dira, ring aroping aripatni, jayakramamarata.
- Jaya wrak singaratane malih, ratu teka musuhe malanggar,
kasoron payu dane, anak robi den amuk, bingah-bingah pikiran paling, misadia matelaso~ nuli malih ngamuk, matine · ratu punika, langkung nista, kasasar nuhutang paling kojaring darmayuda.
- Jaya kasala astrane malih, tingk3h ratu, kadatengan peerang, mitahen praya kasore, an biniter terbunuh, nyadia mangden, tumpuran sami, raris mesuwin mapang, mamgutin musuh. Wahu palih akrebiskon, gelis nlemper, ingat pitresnan ring urip, ngical mamurang-murang.
- Jaya kawada kartane malih, teher tingkah, katekanan perang, akrebiakan panglawane, lahut ngasor menungkul, masih ina kejaring aji, cacakan darmayuda, kurang bobotipun, masih tinggil ring matapa, wantah arang, janmane sadis manggihin, patine mahutama. P~MUIL
- Sampun nyandang tembangin pamijil, pangentoso reko, gending cara ring surakartane, anggen ngulangkarayang pangawi, ne mungguh ring gurit, anggen-anggen ratu.
- Astrabratane patut kukuhir, mangdene kalakon, ngaranga yang astadewatane, saking warah ratu nguni-nguni, yogis tuten dening, sang ratu rumaga.
- Astadewa, Dewa walung siki, cacakane reko, lndua, yama, Burana Kwarasa, Surya, candra miwah Bayu, Agai, bratannyane sami, punika rinangsuk.
- lndrabrata ulahe ring gumi, nggawe kakahayon, tar angeman ni wakang danane, kadi ulah hiang Indra ngujanin, karyaning mas pipi nulungi kawlas hiun.
- Yamabrata ulaha masisip, ring jonma mamuron, niru sang hiang yama ne kalane, mamidanda pitara kang sisip, makrama tan yukti, mulah sa~ar-susur.
Barunabrata ulahe malih, kang mahulah kawan, suhanane
Bayubrata pratingkahe malih, ngawas parek-adoh, mangden uning ring ala-ayune, pratingkahe ring sawengku sami, yadian tanah liyin, becik mangden weruh.
- Agnibrata polaha ring gumi, niru geni murubv, ringkalaning mamagut satrune, mangden sida kasampurnaan gelis, manahing wad walit, mamanggih rahayu.
- Sampun puput-makawalung siki, yan sampun kalakon, jagat kreta, rahayu palane, Wonten malih kejaran ring aji, tingkahe nampenin, utusan kang rawuh.
- Pracedakrana wastanoing aji, cacak tekung soroh caranillahan srutarasmine, sotismara puputing makarti, artine puniki, walinin mangitung.
- Caranila, utusan muwani, yan utusan wadon, srutarasmi punika wastone, sotismara utusan wong kedi, ne mawasta kedi, tan lakitan wadu.
- Makatiga yadin salih tinggil, nekanin kakonkon, sampun nyandang suken pasangane, miwah tamwi mangden mecik-becik, anut linging aji, ika adat luhur.
Wonten malih adat kalih siki, wastono kabawos, wilkapa tarogati arane, sabda wibosanane samalih, pratingkahe saying, ring tingkah kahutus.
Mawasta wisalpa tarogati,mapetang pangrawos,madan sabda wirosana roko, kapapetan suresaning tulis, tan putusan jati, maka kalih iku.
- Kawanangane kawala tanuy, tan patut sinangon, wiroh boya utusan jatine, noro nista yen nora sangini bekelin, basa balinipun.
- Linding kramaning sana makeling, tingkahe ting kraton- kratonpuri negara artine, mangden eling, ring semu kabecik, cacakane sami, sowlas wilaningpun.
- Wikalpabaya wahu saiki, arasabaya ping ro, ciptabaya ring kaping telune, indrabaya ring kaping ring kaping pat neki, patabaya malih, kaping limanipun.
- Kaping nemo seponabayiki, papitunya reko, pusbaya punika wastane, kaping kutus puri sebayekti, wiga baraya malih, kaping siyani.pun.
- Ring kaping dasa putrabayekti, riptabayareko, pamupute ring kaping sawiase, magden sami punika impasin, yen purung saiki, madan kurang semu. ·
Pangartinya yen mapas pawestri, magden nyamping adoh,
' kalapada nunggal pacunduke, yadin kasapa sampun nyaruhin, pikalpa bayeki, ngelen yen masahur.Malih kalaning manggih pawestri, nahiss nganggo-anggo, masekar amawangi wagine, sampun ngaduwang ambune mihik, arasabaya kani, sampun kurang semu.
- Weton tuju makidung magending, ring patuteng tangos, saking lila-lila sajatine, mang den sampun mangarah aruhin, ciptabaya keni,masih kurang semu.
- Yen wong istri kakampuhe, becik, medal saking enggon, sampun pisan nalektek rupane, yen wawasen indrabaya keni, masih kawastanin masuk tan pasemu.
- Miwah kalaning manggih wong istri, medal saking kraton,
napi-napi paagaagene, meagden sampwl agawua mamuji, yen warah yen puji, patabaya masut.
- Yen pawestri mandewek mamargi, yen ingiring reko, keni sopanabaya ulahe, masih manan tata kurang budi, yen nyadis mamargi, manduwunia patut.
- Miwah kalaning wanten pawestri, sekare macepol, maleketik lasubh ka tanahe, ila-ila yan duduk puponen, puspa baya kami, pahulatan saru.
- Waden kala matateya panggih, sampun nampek reko, mewah sampun nyarengin mulihe, yen sareng purisabaya keni, tambet kawastanin, tan uning ring semu.
- Samalihe yan manggih pawestri, kala maguguyon, mangden sampun nyarengin guyune, yen sarengin wigabraya panggih, kakurangan becik, pakatenan saru.
- Yen pawestri ngemban rare alit, yen nampekin dados, sampun ngaru-aruhin rarene, yen aruhin putrabaya keni, sigug kawastanin, polahe punika.
Yen pawetri magambel kapanggih, ngrebab yan narompong, sampun nimpalin baan pangidunge, nadian nandak nadian makakawin, riptabaya keni, yen nimpalin sigug. PUH PUCUNG
•Sekar pucung, nanging boya cara ngompu, pucung Surakarta, ngiras gendor wayangsayih, anggen nyarilbung, ngelanturang titingkahan.
- nngkah catur, sopeksane malih apus, ane tatembangan, titing kahan patang siki, anggepipun, polahe ring pangustian.
- Wiwitipun cacakan polabe patut, tan dadi mamada, kar- samang angge pekerti, ring gustine, kecap kenang patramaya.
- Ping ronipun, tan ngambah ne tan katuju, karsaning pa-
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18. raksalea matra. Kaping telu, tan lali tan kampah angkuh, learyaning pagustian tan nyeda rupaning gusti, yen ngawada, kena ring rotakaya. Ping pat ipun, tan pangumpet gustinipun, miwah tan dodara, yen madedara ring gusti, pastinipun, kena ring rotaleamantra. Ne puniku, pratingkahe sampun puput, mungguh ring leahula, ontape bakti ring gusti, sida mangguh, ayu seleale-nisleala. Linging tutur, negara kramane munguh, ring caturpariksa, punilea pineh jatnahin, saking ratu, mariksa watek sowaka. Madan catur, wilang papat artinipun, nandana pariksa, istri pariksana malih, karya pariksa miwah raga pariksa. Antepipun, irika katenang sampun, miwa yan pakeku, ika pamrok saning gusti, ngawas nyuluh, sakehing watek sewaka. Malih ipun, pancaraksa, tingkah tataragian, pawilangan li- mang siki, tingkahipun, punilea patut clingang. Tindhipun, bajanaraksana satu, srawana raksanan, punikana leaping kalih, leaping telu, mawasta sparsa raksana. Ping patipun, jihwaraksanaranipun, puputo ping lima, gra- naraksanaraneki, siki-sikin, ipun malih pidartayang. Tingkahipun, bayaraksana mungguh, tan patipulesan, pa- ngawase mangden becik, sampunkadi, dadalune nempuh damar. Ping ronipun, srawa4haraksana weruh, minehin ucapan, jati kalawan jati, sampun kadi, manjangen, keni ring sabda. Keping telu, sparsanaraksanane mungguh, ten darpa ring wadwan sampun leadi gajah awani, kabarikus, leapikatan gajah lwa- lwa. Ping patipun, jihwaraksanane mungguh, tan darpa ri pangan, masih patut ngajatnahin, sampun leadi, ulam mambelanin pangan. Graharaksana, ring kaping lima puput, tan girang ring ganda
nyawan paling, ngadek matan, gajah mati ne lmsumbat.
- Sampan puput, pancaraksaladanipun, pancane lalima, rasane sarata ngemit, malih tunggil, ring marangi pancendriya.
- Linging ~' buwanapurana mungguh, tingkah catur juga, jagat jaman patanga siki,: kreta, treta, dwapara, kalisangara.
- Kandanipun, titingkah anjayane mungguh, yang kalaning kreta, rahayune mijil saking, yoga samadi miwah kaparamarta.
- Masanipun, ring tretayugane ayu, metu saking manah, nirmala ajayana suci, malih ipun, sangkaring maomayajnya.
- Yan ring ruwuh, dwaparayugane ayu, mijil sakingyajnya, dewayajnya, yadnya rosi, Ian manusa-, yajnya samantra wisesa.
- Yan ring sampun, tincap kaliyuga rawuh, eweh mamatutang, sangkan rahayune mijil, yan tan saking, mahawisesa pandita.
- No kawangun, ulah mabiseka ratu, Ian mantri, punggawa, sang ratu konena mangaji, okacakra, warti 'punika, I wastannya.
- Mantrinipun, punggawa mangaji tutur, buwanapurana, saking akas malampahin, ngitang-itung, ne praya dad6s k~rahayuan.
- Saking tujuh, saking sarat saking kukuh, saking panglaluwan, saking tiaga wani mati, bilih-bilih, waenten gatra kerahyawan.
- Cutetipun, yen samoun side matuktuk, papintian punika, dados ngasukin sODg cenik, dados kukuh, tan gambah puntang- pantingang.
- Sampun puput, mamangguhang banyak untung, wastannya punika, tan nganggo mapoyang paying, ngitung kreta treata dwaparasangsara.
- Sampunpuput, pangawi kojaran tutur, nanging sampurayang,
PUH NIJIL
- .Milu girang malajah manggurit, nyali murang uwon, sekar pamijil jawi tembange, pangikate basa turah Bali, kangge asal nyarik, ngulah sida durus.
- Wireh durumg paticacap uning, ring candakan rawos, mangden ngardi antar pangawine, moga-moga kasampuma ugi, kawi tuna budi, kari banget sigug.
- Unggah-unggahane ring pengawi, tan patuktuk bongkol, wireh bunder muderen rupane, dades gede mangebekin gumi, dados purut alit mabaminin tunggu'.
- Anggen pinget padewek kalaning, nuju nanang bengong, kabubutan ngaliut gede, maperingin awake guyonin, wireh palang- paling, sahi ngadin musuh.
5. Kadung nami ngelah sangu pasil, masih taki pondong, potanbuwas nyarecet paselet, sate nista puwik ngamanahin, mangda jadma apik, tatas karah-aruh. Tuara dadi sabatang pala ibin, kadung bakat bangkos, mabungkulan i buruk rakote, baja suba katerang katulis sugih ngadut weci, sahi laput bingung.
· 7. Pipis telu kadut pada cunging pengek, ruweg, boloong, sami nulak sabangsa dagange, malih kadut tekekang mamuntil, lawunang nasehnin, nabalanja ·warung.Pican gusti tuara dadi pilih, kahanggan guguyon, masih iring
' ' ( 4-.-.;; • s •-¥46-.p z;ap gw '*'
. dadi masanglre, aget lacur pada sa)dng G ti. Gustin.J dalatng ngabut.
- Pinunase ring gusti kang suci, asal sida klakon, sapanuduh ~ahe, moga-moga sampun malih-malih, ngardi-ngardi sWp. riag salawas hidup.
Mambesa pahican gusti..., moga sida -klakon, nadian pasil nyarecoet paselet, moga-moga lila nekeng ati, DFepans
1 ngrasanin, yadin sanget buruk. ' ·Kaping sewe, ping laksa, ping keti, pinunsse bontok, sida kiskori tetap anjahane, sapanitahing Gusti kan suci, ring arah kakarih, panembe panyuwud.
- Mati urip moga-moga eling, ring jaba ring jero, rin&gustine kang suci jatine, nadian telas sagara aketi, tan samar ring ~ti, ring tan kalingan bingung. ·
- Nadian ptngit sapingiting pingit moga-moga kat~. .nadian S¥ub jrot¥ng kayu genine, jroning iawat jroning n~pi-napi, moga ~moga eling, sambahe dumunun~.
- Puting dangu barak jingga kuning, sarupa sakate~ moga- mosa sinah pengawasa, dung unipun sembahe ring gusti, tan lea~ tan angingsir, moga sido kukuh.
- Matunda-tunda turun patindih, tan angadoh-adoh, dugdugane sa®di-dadine, pa?ujune kahembanang eling, elinge. ring gusti, moga s~da, pangguh.
- Akeh-akeh, pandu~ ring gusti, malll:lt rupaning wong,, manut Were.n dasadesane, moga-moga kang })ener sejati, mamangguhang eling, sangkan paran tuduh.
- Kalangl@han rahian Ian ratri, kasunaran sorot, kakenyarantri aiiAip. nalane, tutugipun sajroning kahisti, kang kalih kapilih, kat,a,rima patut.
Jati-jatine sile sisilih, adeg-adeg rurop, manglangkutan ring adoh pafeke, dadasare riringkosan gumi, bisa ngundageni, ngarupayang kayu.
Anggen pahuban kalaning urip, dadi bale pawon, katah-katah akidik wiwite, puput kisik saking akeh rihin, naselup ma tindih, ring wuse mahimpus.
- Sasawangan kayu ugar-agir, ngaridig mamagook, masih dadi pahuban jadmane, boya dados indayang campahin, salu huring langit, saru dagingipun. PUH SINOM
l. malih tembang sisinoman, masih basa turah bali, tem bangnyane kartasura, sambungan petungan sami ring beci, reh modal saking pakayun, saking sang mambawosong, ngawastonin kawan becik, wireh mula, aweh manyikiyang manah. - Kocap sami ring pipikat, katuturan kawan becik, becike tetan parupa, miwah ne kaken tan becik, kari salih glilingin; becik-kawane magilut, karena wenten badbaden, tangis, guyu, sereng, brangti. paranakan, kawan-becika punika.
- Tingkahayane makurenan, mapagawen sahi-sahi, krana dades panjang-panjang, wantah saking kawan-becik, dados was taonin kanti dados kawastonin satru, rupane durung sinah, nanging sampun limrah sami, munggah-muggah, ring ucapan sarwa janma.
- Satiane mapakurenan, yadiyan saling bangrangasin, masih bareng ngaja-ngelod, bareng idup barang mati, barang sa jroning ngipi, tuara pasah carat-cirit, arang anake wikan, masangin papasah mandi, manggawenang, mangdennya sida nyapihin.
- Yadin sida asaksana, durung tutug waneng kasih, krana aweh mabudiyang, lemah lemenga sahi ukih, masih tong dadi-dadi, pineh tuyuh ngalih bantu, bantune warna duma, mapasangan luh-muwari, satus tuhu, tuara tahen liliyokan.
- Kalih tuara nagih apa, wantah misadia nulungin, nyukenin karan papengkas, yen wantah sarat nindakin, tuara kirang
pakiring, tur pakakas kari liyu, nanging madasar elas, tuarangitung pati urip, bani turuh, bani makenta mag rang.
- Malih palih pangalihnya, yen ande musuh asiki, bisa ngaprag bisa nogtog, bisa ngoreng mandolikin, bisa nagih ngajakin, sasawitra ngalus-alus, bisa ngaku polosan, turin bisa ngawwe wehin, hne punika, mangda bisa ngayatnayang.
- Wireh katah susunglapan, yen karang pangajung becik, musuhe polih genang becik, pasangidan praya ngejuk, sarat nyadia matigang, tuara surud manjugjugin, papasangan-, nyane masih ngalih penas.
- Mbelog-belog i katunan, mingung-mingunang 1 paling, bisa nangkejutang maras, krana eweh maninehin, yen madasar kakalih, ten wangde ngawatang putung, sat ninggalang sanjaya, maholahin musuh nggitik, yadin nembung, mangdoh praya mamilara.
- Punika resep-resepang, sampun kantos palang-paling, nga lingin papasten manah, ne mawasta musuh jati, miwah ne madan kanti, rob katempuan proya ngugu, ngugu ne jati rowang, punika nyadia kapanggih, ngugu musuh, tang wang de kapicak-picak.
- Jati ne musuhe jumah, ngadabang mangunang sami, saru paning kacacaden, yen dados marowang sami, sane sajroning puri, tatas rahayu kapangguh, ngelingin mula-mula, wiwite sampung nglangkungin mangden sampun, nyeburin api aga raman.
- Sampun duka mulang raga, ka pangkung-pangkunge sukil, ring kadunge kapek peret, nyen andol praya ngubadin, pentase pasti becik, punika pinehin dumum, mangden sam pun, ngiden ngulahang majalan.
- Mangden sarat ngayatnayang, tatampane sahi gulik, sampun kantos nyetik raga, wireh wenten manampi cetik, punika sampun lali, rupan centika ring kayun, serep-serep rinjl.
-) ._-manan; cetii::nengos tuara: :Ulig,.· yen · ~n "punggnt, ·cieh pacang
' i1 .•, lftam1Farsa. ' -. '• .. 1L· : -'-i»l4't ... :nRe,nr' pati'a -wentetE ring. jagat, wisia.- mi:.e~a- b~h, S4>¥ih, kadi
- ;u • nga'nggea umbim is:ungsang-,. -iring kasela s~)l~b !Udik, woh- .., · ·'· wohane ring gumi, ooya sami dad0s punggµt,. adai makrana ~ca ct ... -ada makarana ·paling,_ tunggilipun, ring cetik wijil ,.l r : ' s~~ara., ,,;l-,5. j'ui; punawara. p~nika7i rangk'Q~g eweh nga~ilangjp, s~danane ,1 :-;:;1 : tf>:\tfli~a, ml.!ncuk da~ae tig~~g katih~ tu~iit impus talinin, antuk benang dapuk telu, wat'.9ane ~;g' wama,. baiak selem miwah putih, yadin polih, sida nglebur ala-ala.
-~ ~. ,_,.. ~. "~·'. i j • ,.... • .i'
PUHGIRJSA
l.,: _ ¥a~~~; ge~tesi:n girisa-,. ten,.;b~~&;~ar~ sur.akf} rta, ang_&e.n 11yam-
bung pahetungan, sasebltane ring manlJ.h,. n~ _ ma,4~n awet papafar, dahat eweh mijatiyang, ala ayu suka duka, sat bulat
·' rama s~la.'mba. ·,_:. " ·.. -· .. · .;-,.. ·'
!• 11 .•i •. ·-., · 1,
- ~~~~ da~.~ ~iam~ah-ain~~;'. nia~g~e~ ~adasar;. ~~gia, miwah tµ?i:a dll~i sengap,_ tititnbang~ .,n1angQ~~ P,aµja11g, saking ai{JS b~di «iatma~ ye-a figangga anggap-aQgg~J%,n, d·asar patut dadi salah, roh katangan unakarsa. · ·.. · ,.. - - · · ~ .. ·' ye·n a-~de'j;ada ' mala~$IC~t~- a1a ~ay~~ s~.ka ,~uka, sajioni·ng pada :.· mlJf~l}gkat, ' mas~ iigartggll cz~t'~;r}'Uga,' .Ittena~ ~dk pala-. " pa~ang, · gnli-guli awas-awas, · ·pas'angin papineh panjang, "'-·cra:as~re' Inasiiiifring titiih. ,· ..-.~
- Mangda ring inab-inaban, yadiyan sang sampun sinah, masih
. :1~11,:-tuar -ial'Sa' iiyugar; ngangge rinin patnalapan, pfitane patut ,ml:li.;•mtturusailg sane -ngatteg nora ilyungsat, rrgeseng kidik pala- ... - t>, • panaiig, am·ngden sampun'· kebej,ugan.
5. Wireh abate kalintang, mandakep ne- "ruilra cingak, krana
r .··: ;:i:»palim~ ngusudang;. m-angden.sampurr gabwah-g~bwah, wii:eh
i) • ·,:J· dadampinge'. katah, sarwa: gatel S§iiwae mangan, mangden
.. ~ ,,'. sampung-kanin ngawag, jat :dadi ga:guyoDistah-.
---_.---r-:-.-~
!
- Kalih mangden sampun ingan, ring salwiring dadi campah, Inampuhe ring paragayan, ring kadung ajine lruraag, yening mas malih apenang, yen raga sangka ngapenang, bilih-bilih durus rusak, kawastanan barfang loyang.
- Payu tulus manggeletak, ajin idih tuara nyandang, krana gemetang minehang, papadangin petang lemah, ring jere miwah ring jaba, salwiring sane mawisia, mangden sampun kari matra, ila-ila namping wisia.
- Sat ngubuh lilipi galak, ring kadung nyokot nyajayang, payu tulus karah-arah, yadian arah suba iwang, malali cetik warangan, wireh mula saking angsap, wiwite makrana salah, punika sampun ngapahang.
- Angde kadi basa elah, punika sampun kalimrah, kawastanan pisan jati yan muntang taragia, yennyari mahunteng ampah, elahe gelis amahan, tuara nyantos makapuwan, nyarebuk dadi duhkita.
- Punika sampun ngelaliang, nyujuh ne awet papalar, punika sat kirang linggih, madaging wiwit tanduran, dadi sangu salaminya, pedas cukup asandangan, ywadin anggen apa-apa, jati tuara kakurangan.
- Ne madan awet papa lar, saking mangkin paleng pisan, yadin durung keni tangan, perihe sampun ngalaliang, tunas icayang ring titah, mangdene keni bekelang, sapaptuting bekel jadma, reh patan kena jaga.
Kocap genahe punika, ring cakepan paplajahan, ring sastrane paling wayah, ring gane masastra sanunggal, tuara ngangge apa-apa, puput sastra papolosan, artine ngebekin jagat, panika awet papalar.
PUH PUCUNG
Malih pucung, kartasura anggen nyambeng, salwiring pe- tungan, tatampane mangden becik, timbang aluas, lahut serahang ring titah.
Z1
yen ketog durung patut, nyerabang ring tit~ ·. mangden sampun kawastanin, glibag-glibag, teman matitigen raga.
- Roh sang nulung, nagih pentas ring katulung, yen tuara karyanang patulunge ngrawuhin, ngandat engsut, sing jalan tan polih ambuh.
- Pedas lacur, sang katulung glisan uwug, patulunge tulak, mulihka genahe rihin, ne punika, mangden gemot · maninehang.
5. Sampun-sampun, tuara sarat ngardi rurung, ne angeng ne
banter, ne rata miwah ne re'sik, mangden lantur, rawuh patulunge, njag-jag.
- ' Kalih ipun, musuh tasak bangsa a_ lus, tuara nyak ngalawan, ring sane sampan makanti, ngirtgut nurut, ring sane awet papalar.
- Adatipun, i musuh masangang tumpung,ngamprag ginerangas, yan alem tuara malahib, tuara tulus, mamucung kagecak-gecak.
Ne puniku, lintang aweh ngawas nyuluh, yen akudang juta, dadalu mati ring geni, masih tuara, kapok manyeburing damar. ~·, Suba · patut, bareng kasar bareng al us, kayun sang madrawia, kangene ring barang becik, barang kasar, tan kalingu yadin telas.
PUH SAMARADANA
Semaradana temba'hg jawi, anggen matimbalang kanda, pa- heling pinget manahe, sarupaning ala-ala, ne mangden kacacadan, ring pangimpen ring mahungu, sampun pisan _,, n~ahang. 2; ·- Reh · sami ·dados ·wiwinih, barak putih binJ amar, ring.kadung raket entike, alane polih mahaka h, rangkung eweh
-·-···--·-----·--· ··--·~---.. -- --·····-------
madomang, bana ring cenika aOut, mmgden sa- yanipak.
- · Ring subte sampun lali, tin.gkahe matatimbanpn, ,..mg. kema mahino, dini kebus, ditu panes, jatining sabda ala;. apami isu malecut, asing kenin nandang Iara.
- Panyampara mangden becik, sampun nyamparang purisia, liwat nista tan pagawa. medan nyamparang p11risia, ne c~pet manomplotang munyi carucuh pipisuh, salwiring lcagi1a-gila.
5. Yadin pedih yadin brangti, papesone mangden dabdab, tan ngange ngulah pesune, masih kardinin tatimbang, wireb tun wonten terang, sisip jadma patut pisuh, sasalalte danda liyan. - Pipisuh miwah nyayangit, punika lawang bubutan, ne pra- yangrusak manahe., yen punika polih mampak, butane masuk enggal, mararakang sarwa letuh, tan wangde purine camah.
- Punilca patut jatnahin, mangden sampun polih pentas, sakatah buta kalane, mararalcang sarwa camah, sami pitet larangan, sakatah dodoyanipun, mangden sayantakut nincap.
- Reh sami uning ring jarih, ja:dma yadian buta lcala, kadi timbangan jatine, jadma ta_kut buta galak. Yan jadma mawak galang, buta kala pada takut, ngasukin membeda-beda.
- Kadi resaning mamedi, katah jadmane ngucapang, nging terang ring rupane, reh masih neket ring manah, pesune dadi lewat, lewat ngarupayang. takut, saking manah taletehan. 10; Mangden sampuh palang-paling, ne patut sarat pinehang, mangdatan iwang tatampen, mangempahkang lawang cacad, sakit kaliwat-liwat, ngampalcang lawang rahayu, punika sarat plajahong.
- Punika galih-galihin, ping sewu saring-saringang, mangdene terang jatina, sampwi saking inab-inab, kari madukan camah, ngapus raga wastanipun, tan wangde kasurang-surang.
- Sasawangane puniki, yen kari ngangge jenenga, lcadi ngangge warangane, inabang warirang abang, lahut an•n
pepeh yadian inum, nora wangde ma- milara.
- Yen ande-andeyang malih, kadi madale mayuda, ndewek
----~EmPb~akt~· ~e~t~~h akeh, turin tumbak panjang-panjang, pedas
~Rn h makendelin manah musuh, waluya arahin -
### M\L\K KE.PU. mmts\
olREKfOAAT T
D\TJIN tlllllai6~
- Malih pasalitang dangdang gendis, tembang cara, jawi sura- karta, anggen nutup ande-ande, andening ala ngebiuk, kape- tengan tangahing weci, tan dadim madengayan, kingkarane nggepluk, ngalantigin busan-busan, nyalah-nasluh, nyinyu- tang ngerobinapi, ngarudug luwah-luwah.
- Kenken jani baan nyiptayang kanyir, ngalilayang, mangdene kang manah, wireh sarat panandase, sat kapipitan gunung.. &ya suba titahing widi, mangedumi kBsmaran, ngitung. apa ayu, mimilihin suka duhka, kirang karang, tan pamanah tan pabudi, jeg karubuhan jegat.
- Dadiannya tan uning ngawastanin, lila boya, reh tan nekeng manah, Yen wastanin tan lilane, suba rusak karabuk, ma- milihin tuara bisa, sarah titah, sarah tuduh sra widi, sang uning sampun wikan.
- sclmpurayang kawi_ palang-paling, manguyonin, manah pa- d'ewekan, wireh ageng pamigmane, kaparepeh tulutuh, raina- wengi makoti-koti, tekane ten pasangkan, ngalarag- · ngalurung, ambarecetin sarwah camah suoa depang, pisara ugi Hiang Widi, ngawastanin ngayogiayang.
5. Saduk kalane puput katulis, ring rahina, buda pahing wayang, kaping kalih pananggale, kalima sasihipun, isakane cara ring bali nemonin sewu domas, nanggung lima likur, itungan pamargin surya, ngasta da wuh, pahinganan sampun si- ngitwatara tabe Iima. PtJll.:GINANTI
GUaag milu nggawe kidung, mangarang sear ginanti, na- ngiag cara bnasura, wirawosa cara bali alus-brar, salupim madukan kadik.
- Bosa cara jawa mlayu, sara sang mawes ngicahin, nanging sampun bangetduka, kawi tiwas ngipil-ipil, dUJUQg -cacap mamantesang, genah basa manut dong ding.
- Kocape wirasan tutur, ngetus ri pasradaniti gebogen cata- naparwa, sahanggen pageling-eling, ulahing sang-Sinewaka, tembangang dodosang gending.
- Nurut ina dagingipun, bilih wenten saru kedik, mangde mangberos mburung, tatampane mangde becik., Kocape brata nembelas, angon-angon sang siniwi.
5. Giribrata yang kesatu, indrabvrata kaping kalih, tiga mreta- warsabrata, papat yamabrata lewih, kalimane genibrata, kaping nemlawanabrata. - Mregabrata kaping pitu, ping kutus singabrateki, ping siya anilabrata, satabrata kaping dasi, ping solas mayubrata, roras cantakabrateki.
- Mregabrata kaping pitu, ping kutus singabrateki, ping siya anilabrata, satabvrata leaping dasi, ping solas mayurabrata, roras cantakabrateki.
- Kaga nilabrata mangguh, ring kaping tlulase malih, wia- grabata ping patbelas, limawlas cundagabrfakti, pupute leaping nembelas, welesabrata raniki.
- Malih wiwitan mangetung, midartayang siki-siki., Ne ma- was.ta giribrata, kadi gunung tempuh angin, yang rawuh musuh ngalarang aja gingsir sampe mati.
- Indrilbrata wastanipun, pariksangreh wadwasami, tan pan- ngangge kanda nunggal, midosa yen keh misinggih, sampura yen kasawalan, prih manahing wadwa becik.
- Mretawarsabvrata iku, amreta toya raneki, tan pegat
wadwa, warsa ujan artineki, tingkahe· niwakang &ma, · dCden watra aja mapilih. ·
- Yamabrata tingkahipun, yen midanda tan papilih, tutujone asing" salah, yan sampun masrah ring wengi, undengan pituturena, dendana tulakang malih.
- Geniberata ting~hipun, maniru kretaning geni, gelise nela- sang angkrtlh, sampun peleh-peleh ugi, tingkahe ngrusak dujana,:·sampun ngantos lami-lami.
- Lawanabrataranipun, lawana jaktina pasih, yen wenten sisi- ·. ping wadwa, ne mangguh akadik-kadik, den amet duduning wadwa; sampurane kadi pasih.
- Mregabrata tingkahipun, ring saderben wadwa sami, kadi buron ngeton jadma, den eling maring hiang widi, anjang- gawe wadwa susah becikan ngken ring ngambil.
- Singabrata wastanipun, pangraksana ring nagasari, kadi ngang-raksa alas, rekh raksa rumaksa kalih, Ratu rajeg salcing wadwa wadwa kreta saking Gusti.
- Anilabratanipun, anila punika angin, aja kari taha-taha\, pati .urip saking widi,
- Satabrata tingkahipun, sata ayam jaktineki, tingkah solahe ring wadwa, tiogkah solahe ring rabi, punika den kadi ayam, sain,iyan kapadaningsih.
- May.urabi:atanipun, mayura merak sayakti, tingkahe den kadi merak., ten pitipangan-pangani, pengenan tan salah ujar, tan
.... wawadonan apekik.
19., Cantakabratanipun, cantakane paksi kolik, tan malaku sihing wadwa, kewala sang Ratu asih, teka tumrap sihing wadwa, iku raja akal tinggi.
20. ,J
21. Wiagrabrata wastanipun, wiagara, mancan jaktineki, yan tao
durung marah, ring rotune sampwi lawih, yan dunmg karawes sida, durung patut kamarginin.
- Cundagabrataranipun, cundaga lutung sayakti, irengan yen belih pisan, mimilih panggah yang suci, matutang linggih dan solah, sampun cara orang tani.
- Walesabrataranipun, walesa kalwang sayakti, yen durung bisamet pangen, anake tan den lumbarin, punika yen karya sarat, sampun ngutus wong ten uning.
Sampun tomat tindhipun, bratane sasiki-siki, sane pasal ping nem belas, yan sampundados mamargi, lulut kang wadwa samiyan, desa-desa kreta sami.
PUH SMARANDANA
Smarandana nggen nyalamin, masih cara Kartasura, yen cara Bali bejejeh, ninggarang iketa rusak, saking pengaban tem- bang, yan tembangan jawa saru, matah sigug dadi antar.
- Malih kawitang manggurit, ngetus cerita utama, saking tutur pinangkane, kocape wiwinih manah, ne mentik karhayuan ne sampung ngasorong satru, satrune nemnem ring manah.
- Punika patut karyanin, yadian sarupa sajadma, tt.n bina uter maneh, nganggo widine tunggal, ne sajati nirmala, ring ratu pandita patuh, sanadian ring wong sabarang.
- Nanging keweh ngelingin, ne jati kaliwat sawat, saru pingit ya mangedang, kadi minyake ring pe ban, kadi kawat ring meka, kadi apuy ne ring taru, reh punika Jana nora.
- Hane ring sane jati, norane ring sane nora, karag-kiring kasar kesar, papitehe rangkung keras, akidik dadi katah, sami beya patut, mingungan manah katunan.
- Nerangang manah sejatih, pajang yan sami tuturang, akelik yan ringkes bongkos, yan jujuh sayan ngejohan, yan pudeng sayan-sayan ilang, yan gemel sayan ngaruw~g. yan sna&ang sayan susah.
sayan kukuh, yan sayan galang elasang.
- Malih walinin wilangih, satrume nemmen ring raga, ne sahi ngampreg manogdog, mamurang sadia utama, ne nuduh kesangsaran, sane nawasta sadripu, punika musuh sanjata.
- Alas ya wahu sasiki, kalih nidra tiga baya, ring kaping empat aresnane, ping lima punika ragane, pupute mawasta sad, dwesanw kapias nemipun, nanging kari basa lawas.
- Yan ring basa turoh mangkin, lasia mayus tunamanah, nidrane banat kalalem, dayane takut gringgingan, tresna buat karaketan ragane demon uloangun,dwesane buwat elikan.
- Yen punika durung becik, unggah-ungguhane ring manah, yen teher iwang tatampen, makadi iwang trebakan, gelis ya matupnipan pabalike dadi musuh, panglarage semi keras.
- Mahgde pateh makasami, ring asikine matungkas, yakti keweh ngamel benteng, merangin yen kari taha, tatas ben- tange bedah. Yen sejati-sejati purun, menang reh mula nempurang.
- Punika pinehin sahi, sampun salah raresepan, sami kutang sami angge tingkahe ring madiapada, sampun iurang taragia, mande sampun salang surup, pamilihe mangden terang.
- Panojune mangden becik, pemukulo sampun ngawang, reh saru- akeh iriba, kata musuh cara rowang, rowang ma- pinda-pillda, sasolahe cara musuh, punika mangden waspada. P,UQSINOM
- '.~ ' Sinom cara Kartasura, anggon masalitang gending,. sam- bungankanda punika, ne kocap wahu ring gurit, tingkahe ngamong budi, yan · wonen magatra tumbuh, mangdon da- .saringkedas;· saiWa alus lurus ati, saking alus, lurus man- ·!·" "' carartg petungan.
· Penpwase lilangdon terang, yen sampua narawaag ening, eainge nejati mulia, punika amongin sahi, ca~ m~ ngelinging anda putih putih liyu, sampunang kasam~ran, YM samar ton urung dadi, sasar susur, paling kadakep baan setan.
- Kahuningan ora dadu, selonge ngawasin gumi, ala ayu nora samar, sarwane sarwa ring gumi, pantesan mangd~n pas~ saking pantes dadi patut, saking patut nantanartg, manyujuh manahe ening, saking ening, ngawetuang dadi celang.
- Salting celang mamutsang, punika yan bulak-balik,sejatine nemu gelang, asing dalih kapituwi, dalihang kangin-kangin, yen dalihang kawah-kawuh, dalihang cacad-cacad, yen dalihang lewih-lewih, katempuhan, delihang ne kaden melah.
Yen jati mlah karahaywan, yan tusing ngadowang urip, yan buruh kirangan manah, ngaruruh ne mangdon nyarik, reh tegohan ring langi abote pacang manyujµh, krana koh gagalaron, manyedenang ngetut buri, bilih-bilih,ne nongos pacang ngeniyang.
PUH ~UCUNG
Sekar pucung, pasaline masih nglantur, tatembangan jawa, kocape ne munggweng gurit, masih nutus, katuturan tat- malawas.
- Tan sak:ing wruh, ngapus kidung tutur-tutlir, boya salting ingan, praya ngarangsuk ring budi., sampurayang, ugi sang baho s samiyan.
- Wiwitipun, saking manah rangkung kolug, nyadia mang- rengayang, koraran sastra sakedik, anggen tungtung, mama- rangift -ati salah.
- Susah ibuk, katindihan manah bingung, saking katambetan;: metek bintange ring langit, bilih kangkat, polih mahucab, - amedang.
L..----------------~~~~-~---·-~-------
mangguh, manab rahayu asemut, SClking lilltang loba, damadi terlalli ' miskin, bas tong ada, guria ne nmayu matr.l.
- ··~ saii~ r ~d~ek'., durung ka~ ne jali page- halig, · dumad8k ic.i : Hiang Widi, negri Badung, kahic.enin
- - 'kar8bay-Wan.' ' · · · · :, ,'
. uh "' ·- •.·.
p .. MI.JlL ',I'--
- Panyamb~nge -ring. gen4ffig pamijil, nutugang wirawos, nyar- itayelM kojaran tutul!l, nangiang tembang .sami cara jawi, kaw~n cara · B~li ring pemijilipiln.
- lnab-itiab b~h ~Ilg ngicaih, gending rareng angon, pa- pantes pe~ilb~in~, krana ngangge mijil cara jawi, mangdan pante kedik, reh ngun~hang tutur.
- Minden sampuit sang mawos nampenin, katarka. gaguyon, sahantukan pamijil tembange, babakuhan boya mijil gudig, mij'il nabuh sering, caritagung-agung. .-
- Kocapreke tuture puniki, ayu lintang bhot, saking ling sang Pandita ngunine, jati saja tuhu silayukti, yogis tuten dening sang masadis ayu_
- Dasakrama paramatra lewih, wastane kabwos, reh adasa sami pawilange, siki tapa brata kaping kalih, ketiga samadi, santa ping patipun.,
- K.aping lima samataraneki, nem karuna reko, karuni no ring kaping pitune, topeksa ne kaping kutus malih, siya muditeki, '"M',. ·· metra ping sapuluh. 1!. Malih pidartayang siki-siki, ta pane kabawos, kayun suci ring kapanditane, brata ngirangin indriyan budi, ne madan samadi, · matlut~ ring dalu. ,. !f;
- Masanlian ngawilang-wilangin, Sang Hiang Danna Kahot, madan santa tan liyok pajara, madan semata manah sasiki, sok rahayu ugi, kakadiyang kakuh. ·. ·..
- · K'arunane welas samaning urip, karuni kabawos, asih maring
punika karani, kecap wastanipun.. "
- Topeksane uninga ring becik, salah tingkahing · ·wong, nituturin .i tambet ayune, muditane kayun lengeng budi, nora sakit ati, kawai in pitutur.
- Samalihe ne mawasta matri, tingkahe kabawos, mapitutur sabda rahayune, ring sasama-samaning shurip, punika clan eling, sang masadis ayu.
- Sakakidik indayang karyanin, ingin apatelon, aparampat sadadi-dadine apadasan kanggeang ugi hirin, nanging prihang malih, sampun surud-surud.
- Sang Hingg Darma punika pisinggih, iringing sapakon, sampun ngantos dadi patilara, reh' Hiang Darma rikalaning kali, kadi pianak lanji, tan woten mangaku.
- Miwah nora arsa mangakuhin, tinging tutur kahot, saking sarasamuscaya linge, krana tatasang mangkin elingi, mangde sida keni Sang Hiang Darma sungsung. PUH KUMANBANG
l. Ring knmambang sambun~ng kandane malib, · masih
tembang Jawa, nadian cara Baline kengin, wireb tembang pada malah.
- Nging ampura antukan pada makedik, gelis matimbal-timbal, mang dakehan angga gending, angge malajah matembang.
- Sambunganne tuture malih wiwitan, kandan Sang Hiang Danna krana mangden sida keni, roh kocap ring t:>ismaparwa.
- Prabu Kresna mambawasang duka nguni, ring Sang Arjuna, kawijayan kapanggihin asing kaanan Sang Hiang Darma.
5. Krana rurub saratang mangden kapanggib, ywadin salah tunggal, anggen pangukub ring ati, bagis yen keni samiyan. - Roh adasa Hiang Darma kojaring aji, ring wretaisasana, dasadarma wastaneki, ne mankin cacak tuturang.
----------------_:........ - -~--~ -~-·-·-~-
kocap ring leaping lealih, daJiia leaping tiga, aste taping patneki, socane ring leaping lima.
- lndriyaningraha ring kaping nemmoki, hrih kaping pitunya, widia kaping kutus malih, satiane ring kaping siya.
- Akrodane kocap puput kaping dasi. Malih pidatannya, dretine ambeke aning, ksama madan kapasaman.
- Madan dana punika saktining budi, ne madan asteya, punika tan ati paling, tan cira ring apa-apa.
- Soca ngaran z.amana, basma senanadi, indiryanigraha, in- driyane mangde kretin, hrih punika madan orang. 12, Madan widiane ta tas wus wruh mangaji, ne mawasta satia, pitcher tan matia budi, akroda tan keneng kroda,
- Nging punika tatampene becik, pastiyang ngaresepang, ne ·. kanggo miwah ne tusing, kari katah papelutan. PUH DANGDANG
- Dangdanggula anggen matimbalin, masih nglantur, gending cara Jawa, sambungan kandan darmane; Lanturang tuturipun. Kocape ring kojaran aji, madam kirti Pandawa, sangyadia rahayu, ngarajegan Sang Hiang Darma; mangden kukuh, ngardana Hiang Dama Sabi, ring astapangrendanan. 2; Nora sida Sang Hiang Darma keni, yan tan sari'sari mangredana puniki pangredanane, akutus winangipun, aki batiping kalih asikiping. tiga gorawa, ring kaping patipun, kawastanan mahardika, kaping lima, sambega, leaping nem malih, kawastanan malembah
3.. Kaping pitu sahisna punika, puput kaping, kutuse karuna., jumuwang malih wilange, ne bakti wastanipun, budi wruha ngalap sor malih, asihe kawastan~n. tan kedeh tan kuctii,. manyaratang cacadangen, gorawane,. pa ti cacad-cacadin, ring wong · dumadi jadma. - Ne mawasta mahardika malih, oanah celang, tan
nemawsta sambagana, tan ngaku sarwa wastu, ne mawasta malemba malih, tan gila ngetan ala, tan girang ring luhung, sahisnune kawastanan, ten mujiyang, akah tan ngawedah kedik yan manggih sarwa-sarwa.
- Karuna tan masabda nglarani, kalaning nge- ton wong Iara tiwas, tambet pengkung sasalahe., sampung genep akutus, astapang ardanaraneki, pangredananing darma., yan sampun karangsuk, punikane ngarajegang, Sang Hiang Darma, ma- lingga ring jroning ati, ngardiyang karahaywan. PUH PANGKUR
- Salitang gending pangkurang, masih nurut tatepak cara Jawi, yen lantureng masih liyu, kanda-kandaningdarma, bilih-bilih satusan masewu-sewu, laksan rawuh ring katiyang pung- gelang .ambil akedik.
- ailggen pakeling ring manah, bilih-bilih kewasa ngatut kedik, dados tamban manah bingung, nyaruwong kabiaparan, ngarajengang manahe dumadak terus, baktine ring Sang Hiang Titah, mamanggih sucinang urip.
- Samalih dumadak sida; karahaywan urip tekaning pati, tan kataman bengu letuh, salwiring papa karma, mangden adoh sarupaning saru-saru, miwah reregeding jagat, dumadak maganti suci.
- Malih kawitang nyarita, kejarana solah manahe s1s1p, ne kangkon satruning ayu, ngedohang kahuteman, astadwi was- tane kojaran tutur, punika patut kasorang, mangdan sida nungkap lewih. PUH GAMBUH
- Salinin tembang gambug, gending Jawi Bali basanipun, manuturang ne mawasta astadewi, cacakanipun akutus, ma- mingungang manah belog.
- Jaya ksidi kasatu, aturrasina ping kalihipun, ping tigana
. -. ·~--•.•. .;.JI
mawasta utamadewi, camund.i leaping patipun, makrodi ping lima reko.
- Nern durgadewi iku, tatsine punika ping pitu, ring pupute leaping kutus leawilangin, wastane wigna kasebut, kang kinangken musuh abot.
- Wiwitin malih ngitung, jayasidi bisa sugih agung, pangucape aku sugih lewih sakti, maguna mawangsa luhur, nanging pengakene linyak.
- Lewih sakti tan tahu, tur tan asih ring jagat wong iku, boleh bilang suda masuk jayasidi, caturrasini puniku, pratingkahe ne kabawos.
- Nggawe elik satuhuk, eliking jagat solah wong ikut tur capal ulahe ring bapa-bibi, nadian ring sanyamanipun, ngung gulang degag kimawon.
- Umadewine iku, solah tingkahe mengaku-aku, sampun ma wak Hiang Suksma ring dalam ati, nginggilang dewek satuhuk, punika papineh borok.
- Canmundi wastanipun, pama na. ban kabiaparan bingung, nora manut ring kahutamaning budi, pangucape sasar-susur, punika tan pat_ut angga.
- Makrodine punika, barajegan manah sering besus, nora arsa atut ring wong liyan malih, ngubuhin brangti satuhuk, tan uning ring ati polos.
- Budine sandeh jambul, adat satata bringat-uringut, nene sahi katidan
- Maneluh miwah mandesti, tan wanah ngardi laletuh, punika setan mawak wong.
- Tatsini wastanipun, manah peteng kasamaran bingung, muji muji wong dosa salah pangesti, sasabdane nora patut, ngampakang dadakan kotor.
- Ne wigan wastanipun, pratingkahe ne mangingu turu, ngulah
punika genep akutus,
| desa ton | santosa | ring wiyadi, |
|---|---|---|
| ngangkrahin marga karahayon. |
PUH GIRISA
- Salinin tembang girisa, masih cara gending Jawa, kecap ne madan patita, pratingkahe dadi jadma, kejaring wreti sasana. tingkahe majajuwangan, punika pstu elingang, mangde manut linging sastra.
- Sampun nganggane patita, kojaring sasra utama, unika patut pagehang, na mangkin cacak tuturang, krornana salah ju wangan. Mangrabinin ibu salah, mangrabinin nini salah, nandian bibi miwah nyarna.
- lwang manyomahin panak, yadian njuwang kaponakan. na nging ne Wahu di nyama, ente madan kaponakan, ma nyomakin matu salah, njuwang tumin masih slah, sanadian manjuwang ipah, manjuwang somah l paman.
- Miwah njuwang rabin matua, rabinin sapangalapan, njuwaug warang masih salah, miwah nglanoubin matua, yadian somah nyama, punika sami patita.
- Miwah ne madan brahmatia, tunggil ring sane brunaha, amateni rara hing basang, nanging bramatisne katah. brunaha wantah sanunggal, ne mangkin malih lanturang, kramane madan brahmatia, punika dahat neraka.
- Ngamatiang rare brahmatia, sanadian istri utama, miwah mateni belingan, mateni Jembu sakadang, mejah brahmanin brahmana, miwah nyedayang pandiata, miwah wiku watek puja nyedayang Ratumalihnya.
Punika sampun ngalaling, reh kalintang ageng pisan, na rakane kang brahmatia, madan ring sifat manusia, sang Hiang Indra masih naraka, ngamargiang ulang brahmatia, kocap ring anggastiparwa, bawu Bagawan Anggira. PUH DURMA
Pasiline masih Jawi tembang durma, nglanturang tutur li nging, bratisasana, tingkahe salah buwat, ne madan sa datetayi, nenem kawilang, ulahe rangkung sisip.
- kapisane tingkaha neluh mangleyak, manggawe sarung gumi, ring kaping kalihnya, tingkah nyetik mangupas, kaping tlune samalih na ngamuk ngawang, makrena salah ati.
- Kaping pate ne marugul guragada, lebih-lebihing sisip, sane kaping lima, jadmane nunjel umah, seking Jaksana tan yukti, makrana corah, miwah makrona paling.
- Ping kaneme misunaken prabu ika, mawasta sadtatyi, doa lintang srat, ring sekala niskala, punika regeding gumi, kawah majalan idup sami ring anjing.
- Wonten malih ulah kawastanan steya, masih cacakan sisip. ulahing sajadma, tan wonten patut tulad, mangdon toh ring kayun samL ulah punika, yen arihang manah suci. PUH JURU DEMUNG
| 1. Sampun | nyand:.ng | pasalinang, | ambilangka | juru | demung, |
|---|---|---|---|---|---|
| matembang jawa | nglantur, | manuturang | tingkah | stya, ulah | |
| janmane agamamanu. 2. Nanging asiya kawilang, mawak maling, yang kesatu. ma | tau sadu, | tunggile | ring astadusta, | mungguh | nng |
| nsyabping kaping patipun, mangontale kaping Jima, ring kaping nomo an um pang. | kalihipun, | mangutile | kaping | tiga, mlagandang | |
| 3. Pitune | mungpang | strine lian, | mbranang | ringkaping | kutus, |
| alwan kaping sanayang krama stoye puniku. | siyanipun. | Ne aruh, malalemos iwang tingkah, | alwan nto | kawastanan, | ngla samiyan |
| PUH MAGATRUH | |||||
| 1. Paslitang tungkapang tembang magatruh, glantur sami gen- |
j
Jawi, solah manahe tan patut, akeh yan ca~ sami, mungguh ring tutur kahot.
- Wiroh bas kalamiyan jagate puput, pakardinida pakmdinida Hiang Widi krana kata sastra tutur, mancacalme ·ata-becik, yen kumpul bilih agedong.
- Nanging becik yan samian sampun pangguh, punika galih- galihin, tatacang nampi ring kayun, akeh dora akeh yakti, makrana saking pangrawos.
- Katempuhan ngelingin ne jati patut, reh tan wonten dados gisi, sekenang suratang paku, yen sampung swatake keni, bilih-bilih usan kumor.
- Saking akeh dados, kedil sringan patut, yen kedil mula akedik, punika jat salang surup, narka utamane kedik, bakal apa kahang rawos.
- Krana sangka ngingatinne jati patut, yen ne dini durung jati, umpami mapikat puwuh, ngabe pamikat ninipi, bin pidan bakat baca mongkos.
- Yan tan pateh boyan dugi patuh, kadi ngawijilang nami, tan mula nyimpan dumum, punika durung sajati. wontene kela bawos. PUH DANGDANG
Pasaline malih dangdang gendis, sarwi anggen, pahinget matembang tatabuh jawi gendinge, miwah pepetutipun, nanging keni wahu akedik, kalihana durung sinah patute ma- yukup, polilte nutup-nuptupang rikalane, antara inget ring gending, anggen ngingatangtembang.
.Dangdanggula tembang manurarit, yan belegang, tabuh cara sala, banget begah banget bengok, mapilih suara alus, miwah renge jajangkan Jawi, tan dadi mbakan asal, yen ngarangang embuh, tembange maburacukan, turut pupuh, pangagenge patang siki, alitan malih papat.
aresep- resepang, ngelingin pateh suarane, koh tungkas dawuh pu- puh, kasaruwang pambera ngiring, andang-andangan sabda, yen sampun mamunyuk tata, tuara ambat, manise yan dan- danggfendis, tembangang cara sala.
- Wit-wit si,nom ring girisa tunggil. wiwit durma, ring ma- gatruh tunggal, gambuh pangkaur ndewek-dewek, mbak- t
- Nadian cara-caraning ring .Jawi, cara Yogya, cara Kartasura, pada saja cacarane, Semarang miwah Kedu, Surabaya, Ku- dus, Betawi, Kadiri, Prabulingga, wenten sawosipun, cacarane nabuh tembang, napi muluh, carane ring Banyuwangi, sampun nyorod bangetan.
- Wirah sampun sayih cara Bali, cara Bali, embang geglunugan sajawaning tembang gecle, akehe matah kaku, smaradona patuto tunggil, ring patut dangdanggula, yan Bali manabuh, cara nabuh babarongan, kurang rarazs, pantese nagih ce- ngirin, miwah cedugin kendang. ~· Juru demung yen kanggeyang nyarik, ngambil sayih, ginanti jumuwang, ring wus tampek pemadane, cara pamijil patuh, nadian tembang mula ring Bali, kadi a ngganing wanda, ji- nada panglipur, sawatak tembang manunggal, akeh dados, tabuhing ring cara Jawi, nging kehan ngender wayang. PUH PUCUNG
- Malih nyambung, pasaline sekar pucung, ne mangkin liwa-
._ ....... _ .. ·--·-·' .. ·-----.-·--·-'. ~.~---~---------------~---
180& ~ plpatut gending, malih' nyumu, m· ltt111la111t'.-'·'-' pahinget manah.
- Untang tuyuh, abote karangkung-rangkung, dumadi manusa, yen durung madasar ening, jatan binpng, Rm; iw1111g ketosalah. 3~ ~nipun, ka
- Kija laku, nyingidang ngedngkebaeg buruk, yan mangingsi galang keni panes buka !anting, ngungsi singub; · wayahe galang jagjagan.
S. Ngunpi semput, mirib bakal uluh legu, ilgesil ka langgatan, waya kasarap baan nyingaying, -patitilyud, rob katalt ngadut sandoya. - Asing tumbuh, ring manah majakah musuh, tan niari sang- saya, kene takut kete ja:rih, lebih tujuh, kagendolan budi tamah.
- Taman musuh, nagingngejuk memberikus, mamantig-ma- tigang, gawenya nggawe penyakit, ktana tulus, memanggih kasurang-surang.
- Kaden sadu, ulat malajahin angkuh, ma:tujuhin jalan, yan turut maknma paling, payu ngapus, suba adat sti sutan.
- Lebih lacur, dadi jadma sewu lacur, sugih katambetan, bati ageng buta tuli, depang lacur, pilihe ngidupang tamah.
- Awak milu, bisa tun,glats dadi musuh, mamunduha 19pa sahi m~-anihin, ken~ temu, siguge ~e,puwa manah.
- Dija -~ ne dadi tagihin tuing, sawat lebih sawat, liwat saru Jiwat .pingit, sakiJlg lacur, k,atawanpn katambetan.
- Deklak-dekluk, padewakan patihancuh, patigaragapan, ka- langJralun1 lemah ratri, lengak lenguk, manek Iangit ta- ~~tanah•
- Ngata.yangglayung, ngajapmanggib rasa ayu, ·saldng-- kurang
rasane pahit, Jaana tuyuh, sahi menandang ,.· panganan.
1'UH DANDANG
- Patimbale ngawali-walinin, bulak-balik, malib dangdanggula, ngunggabang sedih manahe, yen lanturang mandudut pedas · katah manak penyakit, pisan lipur-pipurang, kecape ring batur, punika anggen lalawat, bilih-bilih, sida matanekan kidik, dados tamban kanrakan.
- Ne kapribang ting sang sadu sami, ndatar liyan, satining kapatia\n, iJ&moring taya suksmane, ring mabapadma mung- gub, reh punika wawitan sami, sami sadaging jagat, sami-sa- minipun, nandian pancamahabuta, akasa te, ja bayu apa pritiwi, me.dal saking punika.
- Ne mawa~ta pranawa sayakti, sane sampun, mawindu ma- nadah, yan boya ikara tulen, kari dados katuduh, durung nyata rurung sajati, durung mawasta sinah, sami sarang durung, kari rasane jat-jatan, kari matah, gelisan mademang goni, kapelok jarih manah.
- Krana durung polih terang jati, ring ne patut, kundurang karapang, kari ngukuhang manaje, buta ngaildelang ngusud, ngawastanin gajah sejati, polih tapaklima, anden-andenipun, tingkah panganggap petungan, durung sida, masikiyan kadi napi, abote dadi jadma.
- · Krana kocap ring tutura..J~wihin ne mawasta bang bungalan, ne · sampun sinah jatine, tan ·saking katah angkuh!, gapah-- gepuh, polah dan mijil, sami pada mawanengan, kada- dosanipun, putih barak biru samar, sawamane, watese kari ngiwangin, ring ma~asta nyata.
- Ande capung ngumabara ring langit, yan matinggah, riag tanah ton tanah, ring kayu boya kayune, ring parigi boya parigi, ring apa boya apa, saru lebib saru, tingkah manone •
naa ., ..-a.
... ..., ~
- •
ne, ....-
-A-
raatu kul rug
• au,
- m..ft ~ -. ,._.
tn-Jd. pejah.
- Panenpran sang polib sejati, lebih-lebih, eweh majatiyaJl.8, boya saking kasaktina, boya sak:ing pangaweruh, boya saking mamaling-maling, boya sak:ing kadiran, boya saking purun, boya saking tan pasomah, boya salting, nyidayang makeh rabi, punika pingit pisan.
- Pawilangan trigana linewih, kari tenggang, yen puput punika, kari kumuran nyatane, madukan ala ayu, dados nyasar dados menerin kari keh kasingangin, katah galang saput, anda kadi ngalungayang ngungsi paran, kasaha saking palinggih mang- den saking i rika.
- Sakatahing jadma soring langit, sawatake, madaging, akiban, miwah madaging matane, sanadian buron semut, miwah asing kutuning gumi, samiyan memerihang, ne utama nerus, sane tan kena inucap, nging sida tan, sidane Hiang Widi uning, ring jadma arfang wikan.
- Patutur ne kalintang lewih, kocap sane, tan madaging cacad, kojaring, Slokantarane, sane sampun kasambung, sinainbat matra madaging, kedik-kediking cacag, durung. nerus ayu, pindah ring jadma manusa, krana becik tan paticacad-ca- cadin, rob pada misi cacad.
- Guqung ageng ne sampun kapuji, dingin sanget, cacade irika,' Hyang Surya panos tojaqe, Hyang bulan mesi bungkUt, sagara matoya pahit, Sang Hyang Indra capala, Wisnu mangangon lembu, Hyang Sangkara nilakanta, keni wisia, kala kuda duka riin, kala ngiyid mandara.
- Sekar tunjung bunga pinih lewih, yen resepang, masih misi cacad, reh saking latek wijile, candana dewan kayu, gowok- nyane misi lilipi, punika tnangde cacad, ngaba ala ayu, rangkung sengka mangimpasang, nincap arah, nadian cacad mangde kidik, tan dadi kanaraken. PUH PUCUNG
pucung sambungin manpmag tUtor, nuruMatua lawas, ne manggeh utama riin, salting sampun, mupakat parapandita. · 2. Sane kukuh, menurut agama manu, manu gama Brahma, kocape ' ring ·Iinging aji, ngambfl · nllstus, salting tutur Slo- bntara.
f KoCapipun, kayowanan rupa bagus, punika tan lama, ya-
diyan, sugih mas pi pis, bOya awet, jati dados papalaran.
4.. Krana luluk, sang sadu nyadia ngawangun, ne awet papalar, punika kirti Ian samadi, tapa brata, puja yoga karaajegang.
5. Mapihipun, pitrasna sane kalagu, ring kadang sawitra, ma- kadi ring anak rabi, taler boya, awet dados papalaran.
6. Palanipun, yan puniadana. kawangun, pamalesing Dewa, · nganut kalane mamargi, yan purnama, yan tilen niwakang. _ punia.
7. · Punika satu, palannya tikol sapuluh, yan kala grahan, palane malih nglangkungin, tikel satus, puniane sane sanunggal.
8. ·· Yen manuju, kania ganta nlanipun, sang sadu mapunia, tikel sewu ne asiki, palanipun, pamalese saking Dewa.
9. Yan ring nuju, yugantala sang adu, masang dana punia, palane karangkung lewih, tan pawates, palaning punia satunggal.
10. Malihip\lll yan ara kalanipun, tan tilem pumama, miwah tan busuwa kronti, ndatan kania, ganta tan yugantakala
11. Malihipun, nggolarang · punika sang sadu, tunggal malih tunggal, yan punika ring kadang aji, punika tunggal, palane tikri sapisan.
12. Yan sang sadu, muniahin brahmana wiku, puniane satunggal, tikel sewu pataneki, · yan muniani, br$mana sidi pandita.
13. Napi malih, yan dewa paraga sampun, puniane sanunggal, tan pawates palaneki, saking sampun, kojaran sastra utama.
14. Kandanipun, tingkah danane kawangan, ngangge nis madia,
nasi, sarwa panpn, bwastapin cl8lla llista.
- Maweh kampuh, wastra sarwa alus-alus, miwah mad:anayang, maslaka sanadian pipis, ne punika, kawastanan dana madia.
- Maliltipun, yan mawehang anak efuh, rur panake daha, puaikane ~h lewih, kawastanan. ika utamaning dana.
- Maweh tutur, kojaran sastra rahayu, kahajahin darma, antuk sang Pandita lewih, palanipun, ngasorong dana samiyan.
- Malihipun, budine kinangken patut, rikala mapunia, kewala budi mahening, tan katman, talutuh miwah tan suka.
- Punianipun, yadian kidik yan manurut, manab karahayuan, punika palane lewih, manah lila, rahayu magawe pala.
- Yadinliyu, puniane yen nora munut, manah karabayuan, upami madang tub garing, katibanun, gemine kadi kukunang.
- Pedas puhun, dadi awu tan pahuduk, krana sang mapunianga budi suci, mangden sampl}n, ical palaning sadana.
- Malihipun, tingkah kirtine kawungun, dadasare tunggal, matatakan budi suci, kadi tutur, kncaping arep punika.
- Samor satus, yen kardiyang palanipun, punika kasaron, ring palan tiaga asiki, tiaga satus, kasor dening yajnyapisan.
- Yajnya satus, kasor dening putra sutu, yan putra wisesa, patah ring yoga semadi, miwah suluk, ngawanggunang tapa brata.
- Putra satus, kasor ika palanipun, ring brata kasatian, brata satia pinib lewih, nadian istri, utamane satiabrata.
- Brata liyu, nging kasatian, lewihipun, sanadian kapapan kaluwikan · pinih lewih, krana kukuh, sang sadu ngamel kasatian.
- Papaaipun, yan linyek ring sato asu, adla tahwmya; linyok ring jadma mamanggib, satus tabun, papa kiael rill& kawah.
- Sewu tahun, papane linyak ring ratu, .papa tan pahingen, linyek ring paQ'dita lewih, saminipun; papane lonyok ring dewa.
layok ten mamangguh, papaning dadi wang, pancanreta mastaneki, kapisane, ri kalaning mangot ... •, sawah.
- • Kalihipun, kalaningmanomah wadu, sane kaping tiga, ujaring. arep mahurip, leaping pate, ujar karaksaning wita. ·
- Genepipun, kapi.ng limane mangguh, kalaning 'guguyuan., yan liyan sating puniki, ujar adawan tan wurung mamanggih .. pi.pa.
32.. Tampenipun, m.angden sampun salang. surup, ngawastanin adwa, rerenang. papasten malih, ring kojaran, aji Sara-
, samuscaya.
PUH DANGDANG
l. Pasaline sabilang masalin, sasampune, nyacak tembang- tembang, kawal8:h dangdanggulane, m~timbal-timbal pucung, ·pangalanture tembangkakalih, ~nnyambung manyambu- ngang, kakaetusan tutur, pol.ihe nutup-nutupang, cacarangan, sating agama karihin, anggen tambah biapara.
2. KoCClp reke ring tuture mawit, ne mawasta, sarasam\1SC3ya, bawu Bagawan biasane, punika ne. kasambung, antuk para pandita sami, pada · muji ngawasta, ring dibianing tutur, punika patut olingang, sakataje, nianusa pada nga koriin, tuduh agama Brahmana.
3. Tandanipun ne. mangkin wiwitan, maparupat, dadi catur jadma, jadma patang pangkat roce, brahmana yang ~satu, kasatriyane ring kaping kalih; ring wesia kaping tiga, tri- wan~ kawuwus, samalihe k3wastanan, makatigang, siki maparab dwijati, roh wenang sinaskaran. ·4'.· Panutuge ·· sUdra· ping patneki, ekajati, kang kadi punika, · tandadi pasang sekare, punik3 kandanipun, aturjadma ko- jaring aji,. ~nging malih -rerehang, teteranginipun, linging Buwanapuma, saking kecap, Batata Siwa ne rihin, ri Bagawan wasista.
····--···---~-----~,,..,........,,...--------.,....-----
5. Ne mangkin kawala mahingetin, tingling tutor, sarumuaaya, lalakon caturjadmane, sane patut kagugu., Sag rumap Brahmana lewih, mangaji masaratan, mayajnay kawanpn, miwah mawah dana punika, manelebang. matirta mabati suci, miwah mawarah-warah.
6. Makadi ne' laku ngawikonin, samalihe, manggap dana punia, puniki malih ulahe, ring sang Brahmana mungguh, brata rowlas cacakaneki. Kapisan madan darma, matia ring roni- pun, tapane ring kaping tiga, kaping pate, dama kaping lima malih, madan wimatsarita.
7. Kaping name kawastanan aruh, kaping pitu-, ne madaa titiksa, anasuya ping katuse, yajya ping siyanipun, kaping dasa dana samalih, dretine kaping sawelas, ksana rew- lasipun., Mangkin malih pidartayang. cacakane, terange sasiki-siki, darma sampun polosan.
8. Satia pageh artine puniki, paiheran, manah madan tapkurang kawisayane, ne dama wastanipun, kasamaptan madaging sane wimatsarita, tan iri ring kayum, orihe mawasta irang sapatut, wirangang samiyan uning, titiksa tan geng kroda.
9. Anasuya nora dosa grahi, madan yajnya, katelab mapuja, danane maweh puniane, ne dreti wastanipun, kasidaning mananggih ening, ksama ngaraning kelan, wastanipun, pageh narima satitah, ora mundur, ngukuhang panggawabecik, ika bratan brahmana.
10. Malih ulahing ksatriya lewih, teher mala-, jahin Sang Hiang Weda, pageh mageni otrane, magawe yajaya putus, ngaraksa jagatmiwah nagari, pariksa ring sawandewa, ngardi karabson, ring sawatek kuala getra, makadine, ngawehang dana samalih, darmaning ksatriyan. ·
11. Miwah ulahing wesia samalih, muruk ring Sang, Brahmana, Ksatriyang, miwah ngelarang puniane, kalan diwasa ayu, miwah muja ring Hiang Triageni, miwah madum-duma na,
.St
sawatekipun, punika brataning wesia, saking bawm, Bagawan Biasane rihin, ring sasarasmucaya.
- ·Ulah sudrane unggubang malih, bakti sum.e-, Wa ri Sang Brahmana miwa ring ksatiya, wes iane kagugu, mangden paritusta Sangtrini, elih nyamane waka, lilang papanipun, madan sampun sidakarya, brantan sudra, ucape wantah akedik, nyewaksa ring triwan~. PUHPUCUNG
- Malih pucung, pasaline wantun-wantun, ngalanturang kanda, saking kojaraning aji, nyambet nyambung, tutur buwa- napuranan.
- Jadma catur, catur papat artinipun., cacakan punika, ne kocap wahu ring gurit, mijil saking, satria Batara brahma.
- Ne kawuwus, resi, Siwa-Buda mungguh, winastan Brahmana, Batu miwah kadang aji, rajaputra, punika madan Ksatriya.
- Malihipun, wong tani tan salah dunung, santana kabayan, miwah wong singgih ring tani, ring dosani, juga iku ngaron wasia.
- Juru prahu, juru dagang malihipun, juru patitihan, ya sudra wastana ugi, wenten malih, jadmane patang prakara.
- Ne tan metu, saking Brahma wiwitipun, rihin pancakarma, plakutus candala kalih, kapin telu, sadmloca papat sadtuca.
- Pancakarma, ring candala boyaa anut, candala maloca, satuca punika tunggil, nging genahe, masih nganggo nista madia.
a. Sarni sampun, ring Bwanapurana mungguh, irika pastiyang,
cacakane siki-siki. Ne mawasta, pancakarma Ian candala.
- Miwah ipun, mleca sadtuca puniku, ne mangkin liwatang, sawmin pengambil malih, wireh nutus, ngambil katuturan la was.
- Linging tutur, bargawasiksane mungguh, pitutur bagawan, Ramaparasune. nguni, ri sisiane, maparab sang Abidwaja.
maa patut, ne magehang wanpa luhur, saaadian Biabmana,
u1ama kojaring aji, yan tan patut, ulahe ngutang bwongan.
- Mangda manus, nadian Dewa yen tan patut, mallambek wimohan, dadi wong lewih tur sugih, jama lewih, yan tan ahula kadarman.
- Dadinipun, jadma darida kalangkung, yan jadma daridra, masih maulah tan yukti, dadi sarwa, .nista yan i satwa nista.
- Masih nglawut, ngukuhang ulall tan patut, dadi buron kidang, buron kidang yen tan yukti, dadi kodis, kedisa ne paling kasar.
- Yan mangalantur, i kedis satingkah dudu, dadi be sarapan, yen i be masih tan yukti, dadinipun, lilipi kagila-gila.
- Dadinipun, lilip i yen masih dudu, kekelingan jagat, palaning gawe tan yukti, liwat lewih, punika manggih kapapan. PUH DANDANG
- Patimbalang malih dangdanggendis, ngalanturang, tutur ka- kalawasan, linging kirti pandawane, malih walinin jomput, pituture Hiang Darma nguni, ri sang Panca Pandawa, ka- sidening Ayu, punika mangden waspada, salamine, rasa- rasane ring ati, rancanaken ring manah.
- Mangden sampun ngawang patitis, kawenangnga, maguru ping sapta. yan durung trang pamanggihe, nora papa katemu, kanistane yan lintang salting, magaguru ping sawlas, masih tan mamangguh, ikangaran papanista, ring agurur ping pitu ping lima malih, kawastanan ring madia.
- Utamania maguru leaping tri, utamaning, utama sapisan, wenten malih palenana, madia yen kaping telu, ne apisan, utama jati, nanging itung-itungan, ri sang tusti wiku, puniki kandaning sastra., Kiti Pandawa ingetaken ring ati, kocap Batara Darma ..
- tinging Nitisarta kocap malih, tingkah jadma, ne masemsem
5.3
kapiteketang patute, Padanda Wahu Rawuh, rihin ngiket ngangge kakawin, mawasta nitisara, mangkin malih duduk, unggabang kadangdang gula, anggen surat, pakeling tabubing gending, Jingkabe ngangkat sembab
5. Somabab wawone ring guru laki, wates jagut, dadit dadai pawanengan, ngunjukang culrup jrijine, ring ratu tungtung irung, yan ring pitra madianing alis, yan ring guru pangajian, ring lalata ptut, yan ring guru pasangkaran watos siral, cara panembab ring Widi, lima wilanging sombah.
6. Sampurayang kawi tuna budi, ngarang tutur, pinge pan- dewakan tan saking gagampang robe, saking nungkulang ibuk, bilih-bilih lipur sak~ik, kallh dumadak sida, nemu karabayuan ring urip tekaning pejah, moga-moga, luputing panggawe juti, saturun arya Damar.
7. Kalib masa pupute katulis, ring redita, ring uku matal, ring kapisaning panglonge, ketiga sasihipun, isakane malih wi- langin, kalaning sewu domas, nanggung limalikur, pupute sedek rolllna, sawentara, tabeh pat ilungan Bali, pawilangan wariga.
HABIB ALIH BAHASA
I
- Doa puji kepada Tuhan, Sang Hiyang Parama Kawalia, ialah Hiang Taya yang Niskala, merupakan asal mulanya bumi, Hiyang Maha Kuasa menciptakan, dibantu Siwa Guru, Tuhan Pencipta Alam.
- Menjunjung Tuhan Yang Kuasa, begitu pula semua Dewa, agar bisa selamat, dari hidup sampai mati, tak terkena gangguan penjahat sewilayah negeri Badung, tetap dalam ketentraman.
- Bukanlah karena pinter mengarang lagu kidung Sema- randana, tapi kidung Surakartaan. Bahasa Bali campuran. Cerita yang dipetik dari pelajaran dan petuah-petuah, Pas- radaniti namanya.
- Konon yang tercantum dalam karangan. Tingkah lakunya para Raja yang sudah memegang kerajaan, bemama Raja dibumi, demikianlah artinya sebabnya bemama Raja, Rat itu artinya Bumi.
5. Tu ·itu berarti satu. Karena satu ada di Bumi, Lagi makna yang kedua yang bemama Rat itu Bumi, Tu berarti Tunggal (satu), benar-benar setia pada perkataan, tak pernah bohong pada perkataan. - Yang tertera dalam tingkahlaku semua, sekarang hitung satu- persatu. Bilangan dalam sifat-sifat, sayang kepada warga yang miskin. Yang kedua itu, sayang pada orang yang menderita, Yang ketiga hormat pada Pendeta.
- Yang keempat hormat pada Tuhan. Tak lupa pada puja dan mantra. Dan yang kelima, Tidak menyimpang dari Peraturan,
bertingkah-latu yang pantas, sebab rakyat yang mantra. -
- Yang ketujuh lagi, menyelidiki masyarakat luas, agar tahu semuanya, Yang kedelapan, menggembirakan pikiran rakyat banyak, sampai ·kepada anak-bininya, agar semua suka-cita.
- Yang kesembilan membikin, kemakmurcin dalam __ kenyataan, yaitu pangan bagi rakyat banyak. Urutan kesepuluh, me-. megang segala yang ada di Puri memberikan kesenangan padanya, sampai pada soal sandang-pangan.
- Lagi yang kesebelas, tak terkena gangguan, demikian pula yang membikin resah, dan tak terkena noda, Dan terakhir 'kedua belas, disegani semua rakyat, seperli melihat kesucian.
- Ada" lagi empat butir, Peraturan tingkah laku, Orang yang telah memegang kerajaan, Bemama empat Penelitian, Peri-laku meminipin masyarakat, agar jangan kalang-kabut, Ka- rena terlalu menuruti nafsu.
- Diterangkan _yang empat butir itu, yaitu sama, dana, beda, danda, Yang dinamakan sama itu, selalu berusaha menibikin, kasih sayang rakyatnya, agar selalu dia percara, agar jangan acuh tak acuh.
- Lagi yang disebut dana, Perbuatan yang berusaha membikin, · gembiranya masyarakat, sampai anak-istrinya rakyat, supaya ~enang semua, memuji orang berbudi luhur. ltulah adat Raja.
- Lagi yang disebut bed~, Perbuatan yang selalu membikin, agar waspada masyarakat. Agar jangan sampai lengah, menyelidiki dan memeriksa, yang bemama salah benar, waspada menjaga negara.
- .. Dan lagi yaag disebut danda. Yang terakhir empat penelitian, yang bernama danda sebenamya, membuat takutnya raky{lt, bertingkah laku jahat, demikian pula berbuat tak senonoh, agar jangan sampai. menular..
- Penerimaan yang kedua. Tentang pelaksanaan empat ·pene-. litaian. Bila dibuatkan perumpamaan, seperti. memilih. bahan,
bahan bida b3gmkan pelita, danaa diplkai
jup dapat dibuang.
- 'Tapi dalaln menerima, agar waspada. Sebab banyak ·sempit ierbetit Semua benar semua salah. Oleh sebab dikarenakan dasar. Bisa diputar seribu kali. Tapi bila orang pintar.
Agar waspada berpikir. Didalam bati cari sudutkan. Agar cermat menyaring ukuran yang disebut nyata. Tak bisa dibeli dengan harga murah. Barang baik. harga mahal. Barang kasar
. harga murah.Bila berusaha menyelidiki, juga mendapat barang kasar, Jangan menyesal sepenuhnya. Juga sama dengan berpikat. Umpanya demikian. Dasar kosong ketimur-kebarat. Itu harus dipikir secara cermat.
- Lanjutannya konon lagi. Perilaku seorang Raja. Pada Raja terpakai. Konon brata (sifat) eman belas. Satu Giribrata. Kedua Indra brata itu. Tiga Mratawarsa brata.
- K.eempat Yama brata lagi. Kelima Girl brata. Keenam Lawanabrata. Ketujuh Gabrata. Kedelapan Singabrata·. Ke- sembilan Nilabrata. Satubrata. kesepuluh.
- Kesebelas Bayubrata. Kedua Cantakata brata. Wiagrabrata ketiga belas. Kaganila brata keempat belas. Cundaga brata kelima betas. Walesabrata terakhir enam belas.
- Urainyannya lagi mulai. Satu-persatu uraiannya. Yang ber- nama Giri brata. Seperti gunung ditempuh angin. Dikala menghadapi peperangan. Jangan menyerah pada raja Jain. Kalah harus mati menepati peraturan.
- lndrabrata tersebut. Dekat dan akrab kepada rakyat. Tak percaya pada pembicaraan sepihak. Menghukum bila (semua)
' yang salah. Tumyata kekeliruan. Ampuni bila kesalahan insang. Usahakan perbaiki pikiran rakyat.
25. Mretabrata lagi. Amerta itu air. Terus mengetahui keadaan rakyat Bimawarsa ialah hujan. Perilaku memberikan
merata .ia mendapat Meniru jat.Ulmya Jhajan... '.. ( '· 14 ( ·;~/-,.. r;· Giil'l>rata .•. ~~· meniru, .· ' ._ itpi '·i·_- .. Kece~tan !.' if :·.'~.,;._ ... ~!-. mengbabisbn .. .. penjahat. ~.. · · '· ~ lenph tama.-Iama Perilaku mengobrak-abrik penjlbat.
Alar secepatnya bebas dan aman. Bila sampai penjabat ba-
nyak.. Takmunmg metusak. undang'."undang (peraturan). ZJ~ ~ Sifat .Lawana (laut) selalu, .mencari masyarakat yang berbuat · jaha!, tapi bila kesalahannya ringan, itu sepa~nya diam- puni, pabilah s.ifat laut. Lawana sama dengan lautan luas, tempat pembuangan segala yang jelek. i
- Yang disebut Mretabrata (sifat air suci), bila bertemu istrinya rakyat, begitu pula pada harta beodanya, seperti Ji~wan melihat manusia, diwaktu itu ingatlah pada Toban, jangan menuruti nafsu bingung, sebaiknya beri badiah dipuri.
- Lagi mengenai sifat singa. Perilaku Raja terhadap rakyat, seperti singa menjaga hutan. Raja kuat dikarenakan rakyat, Rakyat menemukan_ ketentraman, berasal '!ari budi pekerti luhur. ltulah yang menyebabkan aman.
30.~ Lagi peribal Anilabr~ta. Anila artinya angin, kecepa~n itulah bagaikan angin, Perilaku menghadapi i)erang,"'kewaspa - ~&aia Pebksanaannya ialah, meniru tin8!mh laku ay~. Sata artinya ayam, ptl'l_ksanaan kasih sayartg agar meratl, ~pada lstri kepada hamba sabaya, agar sama-sama baik-. nya, berperi laku cinta · kasih. ·
32 Lagi pada Mayurabrata. Perilaku itu agar bagaikan burung
metak ma)'Ura me~ namanya. Tak pernah. sa1ah bicara. 'Iidak menurutkan nafsu makaa .. Tidak tertaiik wanita _canti{c. I~ mayurabJata.
- Dan bila pada Cantakabrata,. itu pa tut dilestarikan, BUJUBg _ lrelik-kelik itu cantaka. Burong kelik itu minta hujan. Sang S8
agar kasih sayang masyarakat luas, Serta memta kepada rakyat.
- Kaga nila brata lagi. Kaganila artinya burung gagak. Tahu dengan umda-tanda kematian, Raja yang akan menderita kematian, sebaiknya merapatkan para pembesar, bila setuju semua jadilah, bila tak setuju batalkan.
- Lagi pada · wiyagrabrata, wiaga itu ialah macan. Sebelum maju tak bergerak, Kepada Raja yang bijaksana. Bila belum merasa terkuasai, Pelaksanaan itu urungkan. Bila diteruskan juga menyebabkan kegagalan.
- Cundagabrata lagi. Cundaga artinya lusung. lrengan dalam bahasa Bali asli, Memelih makanan yang bersih. Bila raja bersantap harus mengatur cara duduk. Jangan sampai seperti orang kebanyakan.
- Lagi Walesabrata. Walesa artinya kalong. Bokal bahasa Balinya. Anaknya tak dapat mencari makan, Itu tidak dilepas. Bila pada Raja harus memerintahkan. Pekerjaan berat pada orang yang ahli.
- Kalau sudah bisa terlaksana, Sifat-sifat brata yang enam belas macam, tentu aman tentram pahalanya. Cerita kasih masyarakat semua. Desa-desa semua aman melestarikan kehihuran budi. Sebagai pahala melestarikan sastra agama.
Tapi baik-baiklah mengertikan. Jangan sampai salah pe- ngertian. Benar-salah maju-mundur. Kebanyakan terbu- ru-buru berjalan. Bila menuruti ajaran terbaik, memadukan salah dan benar. Pada yang berusaha memahami.
Puh Gimnti II
Tembang Ginanti lalu menyambung. Juga lagu kidung jawa, Kekayaan Raja itu, juga kekayaan para Menteri. Tapi menteri yang bijaksana, Yang berbuat tata tentram.
- Para Menteri artinya. Yang tercantum dalam peraturan para
aninya U1ama, Tri artinya Tiga. Kokoh dalam hal tiga butir. Tiga butir itu ialah:
- Sifat pertama ialah, Tidak menjelek-jelekan Raja. Tidak suka mencela orang lain. Tebal kepercayaan pada Tuhan. Berani mengajukan petuah-petuah bila ada kesalahan pada Raja.
- Yang kedua tertera. Kasih sayang pada sesama Menteri. Saling memperingatkan bila salah. Memberi kewaspadaan bila lupa. Dan memberi sumbangan diluar peraturan Menteri.
- Segala sastra dan pengetahuan. Yang mengajarkan taat pada Tuhan. Melakukan sel!!adi dan yoga. Agar ingat dalam pikiran. Manusia tak punya gerak. Sebab segala berasal dari Tuhan.
- Dasar cinta kasih dihati. Pada sesama manusia dan Pendeta. walaupun pada ora9g miskin. Tidak menertawakan orang yang menderita. Tidak menyombongkan diri, 1idak heJC!n pada orang ya1.1g kaya.
- Paham bahwa kekayaan dan pangkat, Tak dapat dibawa mati. Karena hidup ini berakhir mati. Segala kenyataan yang inilah
Semua bisa jadi rusak. Yang. tettiajk ialah memildrbn ajal itu.
- Caranya menghitung itu. Taat berpuasa dan tata cara brata. Dan kewlaan badan wadag. Lagi penguasaan diri pllJa sastra suci. Yang keclua pemisahan jiwatma dengan badan wadag. Terutama yang ditujo setelah ajal.
- Diketemukannya tujuan ajal itu. Dan kesempurnaan ajal, Caranya menemukan kesempumaan, ltulah yang patut dipi- lrirkan. Tujuan yang hidup dan mati.
- Pelajaran itu ketumu. Adalah pabala dari memuja. Cerita dan taat pada Pendeta, Sebab semua berasal dari Pendeta. Pelajaran intinya sastra. Buruk baik benar-salah.
- Itulah sebabnya sang Raja. MengutaDiakan pada Pendeta bijak. Bila hormat pada Pendeta. Itetentraman desa ketemu, Onta kasihlah rakyat semua. Adat-Istiadat semua jalan.
- Lagi pula perilaku Raja. Bila didampingi Pendeta .. Tata cara pemujaan dapat diturunkan. Diawali dengan kata-kata lembut. Didudukanlab segalanya. Disesuaikan dengan tata adat-Istiadat.
- Tata krama seorang Raja. Harus tahu buruk baik. Bila sang Raja bagai hamba sabaya. Hanya memikir barta kekayaaa tak pantas. ltulah merusak peraturan Negara. Rusak pulalah budi pekerti rakyat jelata.
- Seorang Raja harus betul-betul sebagai Raja. Jangan merusak budi pekerti rakyat. Terutama pada keturunan. Pada keluarga anak- istri. Selalu membikin keselamatan. Tebal kepercayaan pada Tuban.
- Bila anak saudara menghadapi Raja. Walaupun miskin betul-betul. Sesuaikan pula dalam hal bahasa. Kata-kata yang lembut dan manis. Bila lebib tua sanak pamili itu. Berilah tata cara kedudukan.
- Bunga kesombongan yang timbul. Raja itu gegabah berkata. Kepada keluarga dan rakyat. ltulah memanaskan pikiran.
dendam rakyat karena malu. Tak sayanglah batinya rakyat.
. 21. Pada catatan suraga tercantum. Tmgkah .laku yang tiga butir Xilyika Wacika Manacika. Bila melakukannya itu salah. Benar-benar _ tak pantas memegang negara.
22. Wakayika bagi Raja. Tak mau berkata lembut. Jauh dari pekerjaan keselamatan tak senang dengan pekerti luhur. Menghina pada Pendeta. Kikir dan senang bila diberi.
23. Wicika bagi Raja. Menghina pada orang rajin belajar. Tak mau memberi dana. Kepada sesama juga tidak baik. keluarga yang mislOn. Dikatakan keadaannya sudah baik.
24. Manacika bagi sang Raja. Tak, mau berperilaku baik. Meru- sak budi pekerti orang. Siang malam hanya mementingkan harta. Denda-denda tak menuruti peraturan. Kepunyaan orang yang bagus diambil.
25. Memenuhi kepentingan diri sendiri. Tak ingat dengan ber- akhir dengan kematian. Jauh dari tingkah laku sempuma. Karena mementingkan harta. Tidak memperhatikan pembi- caraan rakyat. ltulah musuhnya Tuhan.
26. Adalah tiga peri laku. Yang patut dipahami dalam hati. Pertama Wijaya Sastra Kedua Sapadina. Ketiga Wagara Jeryana. Itulah perilaku yang luhur.
27. Yang bemama Wijayasastra. Raja dengan sekuat tehaga berbuat baik. Berusaha berbaik kepada sesama dan memberi sumbangan. Tahu bahwa..semuanya orang, menyegani. Meng- hilangkan perasaan rnereka. Kata-kata yang keluar selalu lembut manis.
28. Memberi maaf pada orang bodoh dan kampungan. Kasih • sayang pada Pendeta bijak. Kasih pada orang kesakitan. Dengan senang hati menyumbang. Tahu memegang Negara. Itulah yang dilakukan oleh yang menguasai Negara.
29. Yang kedua Sapadina. Raja dengan mantap berbudi luhur. Tidak heran dengan emas dan harta. Tahu tak dapat dibawa
tercantum. Membuat keteDoaman
nepra. Memperbaiki balai yaag rusak, Para, Jalu, Jembata ·
Momberi pabian pada orang telanjang. Orang lmla'plran berilah makan.
PUH DANGDANG III
- Menyambung diambil dari kidung Dangdang Gendis. Tapi masih secara Surakarta. Mengenai baik buruknya Raja tertera pada: Rukmabis ama itu tnasih dalam kolom petasaan Raja. Dari Cantaka Porwa kesatuannya. Yang disebut Rukmabisama, perhitungannya. Perilaku tiap butir yang patut cfipegang Raja.
- Pertama Wiryakanuwirya. Yang disebut Wirakanuwirya,. Menghaclap sesama Raja. Kerajaan itu semakin tak nyata. Yang terlibat ialah tingkah laku diperhatikan. Rakyat suram semua terlihat kehinaannya. Sebab semua raja-raja .. Me- waspadai apakah bisa berlaku baik agar jangan diliputi kehinaan.
- WiryalcuSulaastra lagi yang kedua. Dalam Rukmabisama. Masih perila'ku luntang lantung. Disebut sesama Raja. Juga suram rakyat semua. Kalah dalam tingkah laku keberanian. Terlihat nyata kiranya. Juga menderita kehancuran, se- maanya. Pimpinan para menteri, tentara, bagai tak dapat berkutik.
- Wiryakawada karta lagi. Yang · ketiga. Juga dai8$ ltuk- mabisama. Perilaku Raja tak dapat bertutik. Bila .ditefjang usuh. Mendadat takut. Cinta kellidupan. Kalah dan me- nyentn8kan senjata. Lantas terhina dan diadili, ya itulah. Hidup sama (!enga.n mati Rama menanggung.
- Peri1tal sifat peperangan lagi ceritakan. lmgkah laku. Raja · mengbadapi perang tercantum dalam benar dan salah. Baile
buruknya. Perhitungannya kini ceritakan. Pertama Singa marata, kedua bemama Sura maha rata. Ketiga. Jaya marata lagi. keempat Surasrirata.
- Yang kelima Hamamarata, keenam J ayakrama maharata. Jaya wrok singilrata, ltu yang ketujub. Kedelapan tertera lagi. Pada jaya kasalastra. Kesembilannya. Pada Jaya kawa- dawarta. yang sembilan itu, tiga jelek enam baik. Ter- masyuhur disebut baik.
- Lagi uraiannya. satu-persatu. Yang disebut. Singamaharata. Raja dikala kedatangan musuh. Berani mengamuk takkan mundur. 1'okob .membuat kebajikan. Menuju sorga utama. Bila mati menghadapi musuh. Apalagi gugur dalam kendaraan. Ya i":tlah sifat Raja terpuji. Disebut Singamarata.
- Lagi Suramabarata. Bila diserang musuh takkan lari. Waiau kerusakan, tunggangan (Kuda). Tetap datang maju nga- muk-mengamuk. Menuju keluhuran mati. Apalagi gugur dalam kereta. Itulah betul- betul ksatrianya. Gugur menemui kebahagiaan.
- Jayamaharata lagi ceritakan. Yang ketiga sifat peperangan. Raja menghadapi pertempuran. Berani menghancurkan musub. Kerusakan kendaraan yang tertinggal, prajurit, perbe- kalan melimpab. Berani menaikan keretanya musub. Perta- rungan berputaran, bila gugur, rehab. lantas merintih. ~ere tanya musuh yang menang.
- Pada Surasrirata lagi. Sifat Raja. Berkelana membikin peperangan Agar kuat menyerangnya. Datang bersama serentak. Musub akan kalah terpukul. Bila telah disebut menang. Musub kadang-kadang mengibuli. Berbalik menyerang Raja itu. Biar gu~r dibelJJcang takkan lari. ltu disebut Surasrirata.
- Bamamaharata uraikan lagi. Raja diserang, musub menyerang. Bertemu petempuran seru. Raja dengan teguh hati mengamuk. Tunggangan rusak ditinggal. Dengan garang mengamuk jalan kaki Gugur menghadapi musub. Bercampur
,·.·.<:. .• •·. ·•
Ya ltu sifat R.p bsmiya ~ Ba- mamarata.
12 I..agi Jayaba•amabarata. Lagi sifat-sifat Raja ctiserang.
Kedawnpn musuh banyak, Meogadu kesaldian ber8ni. Yang disemng kalah mengbadapi musub tak segan-segan. Ber- datangan mengamuk. Gugumya Raja itu benar-benar kesa- triya. Seperti menghadapi musuh waaita. ltulah Ja- ya1mtnaamara1a.
- Ja)Ulwraksingmta lagi. Raja itu dilabrak musuh. Bila kalah dalaln pertarungan. Lantas anak istri diamuk. Karena bingung pikinm beau ingill mengadakan puputan. l.agi berbalik mengamuk. Gugumya Raja itu. Terlalu hina, Nyasar menu- rutkan nafsu bingung. Demikian tercatat dalam sifat pemng.
Lagi perihal Jayakasalasastra itu. Sifat-sifat Raja itu. Dikala kedatangan pemng, mengira akan blah. Dan akad' tersiba dan terbunuh. Berusaha terlibat semua. Lantas keluar me-
.•-r.' nyerang Mengbadapi musuh. Baru bertarung sebentar. Cepat reda ingat akan kecintaan hidup. Latu mengbilang berkclana.Jayakawadakarta lagi. Tentang peri laku kedangan perang. Hanya sejenak saja mengadakan perlawanan. lalu menyemh dan menghormat. Sangat hina dikatakan dalam sastra. Per- hitungan sifat-sifat peperangan. Kurang berbobotlah ia sama dengan bertapa. Memang jarang orang menemui kema1ian yang suci.
PUii MIJILIV
Sudah paetas kiranya dengan tembang Mijil. Sebagai gan- tinya konon. Lagu cara surakar1a. Dipakai sebagai kalimat pengarang Yang tertera dalam karangan. Peratumn seerang Raja.
2 Astabrata (8 sifat) yang patut &-.... Agar bisa teiliba•
Dan meresapbn delapan Dewata itu. Dari perahlr¥1
".~ .
.sejak dulu. Patut dituruti oleb orang yang menjadi Raja.
- Asta Dewata. Yaitu Dewa delapan orang. Bila dihitung yaitu: Indra, Yama, Brama, Kwera, Surya, Candra, Bayu, dait Agni. Sifat- sifatnya semua diresapkan.
- lndrabrata ialah tingkahlaku di Bumi. Membikin keten- traman. Tak memperhitungakan memberi dana. Seperti sifat Hiyang Indra memberi hujan. Demikia,nlah memberi dana. Menolong orang yang kesakitan.
- Yamabrata ialah perihal menghukum. Pada orang bersalah (seperti Hfwan) sepatutnyalah meniru sifat-sifat Hiyang Yama. Menghukum roh-roh yang salah. Berbuat tidak baik. Berperilaku jahat.
- ~ifat-sifat Barumabratalagi. Semua berkelakuan jahat. Segala orang yaqg berbuat jelek. Buatlah dia supaya takut. Agar enggan semua. Yang bertingkah laku jahat.
7., Lagi sifat-sifat Kuwerabrata. Membikin orang keheranan. Memperbesar dao meninggikan martabat Raja. Tapi tingkah laku harus tetap baik. Sesuai dengan peraturan agama. Jangan asal keluar. - Lagi perilaku Suryabrata. Mengisap air tapi tak nampak Tidak dirasakan oleh orang banyak. Lagi pula tidak pilih kasih menerangi. Baik yang ada dibumi. Maupun yang ada disegala tempat.
- Perihal Candrabrata lagi. Konon membikin nyaman. Di- nyatakan pada orang yang kurang berbudi. Membikin rasa sejuk pada orang berbudi semua. Yang benar-benar berbudi luhur. Dan yang berperilaku suci.
- Sifat-sifat Bayubra~ lagi. Memperhatikan yang dekat maupun jauh. Agar tahu dengan · baik-buruknya. Tingkah laku orang pada wilayah semua. Biar tanah licin. Baik agar tahu.
- Agnibrata tentang tingkah laku dibumi. Menuruti api yang berkobar-kobar. Diwaktu menghadapi musuh. Agar cepat
,,
Dengan denrikian pikiran rakyat.
Dlfili.._n ketentraman.
- Sudah selesailah kedelapan butir itu. Bila sudab terlaksana. Negara aman tentram. Selamatlah pabalanya. Ada lagi yang tercantum dalam pelajaran. Tentang menerima. Duta yang pin tar.
- Pracidakrama namanya pelajaran itu. Terhitung tiga macam. Yaitu Caranila dan Sruta rasmi, Soti smara terakhir ketiga. Artinya yakni kita ulangi menguraikan.
- Caranila duta lelaki. Kalau duta wanita. Srutarasmi itu namanya. Sotismara duta banci. Yang dinamakan Banci. Tidak lelaki tidak wanita.
- Ketiganya bila salah satu. Diberi tugas sebagai duta. Sudah sepantasnya diberikan gaji (hadiah). Dan jamulah agar secara baik. Sesuai dengan ajaran agama. ltulah yang sangat luhur.
- Ada lagi dua butir. Tersebut namanya. Wikalpatarogati namanya Sabdawirosasana lagi. Bertingkah laku kasih sa- yang. Pada perilaku sang Duta.
- Yang disebut wikalpatarogati. Menitipkan pembicaraan. Ber- nama Sabda (pembicaraan). Konon wirosana. Dititipi isinya surat. Dan sah keputusan benar-benar keduanya itu.
- Kekuasaan asal menjamu. Tak pantas dijamu. Sebab bukan duta sebenamya. Tidak hina bila tak diberi makan. Sangon bahasa Balinya Bekelin.
- Tingkah laku percakapan agar sama-sama ingat. Dan tingkah laku istana. Kraton istana negara artinya. agar ingat. Pada budipekerti luhur. Macamnya semua, Sebelas banyaknya itu.
Wikalpabaya baru pertama. Arasabaya kedua. Ciptabaya
' ketiga. lndrabaya keempat itu. Patabaya lagi yang kelima.Yang keenam Sopanabaya ini. Ketujuh konon puspabaya itu namanya. Kedelapan puribaya ini. Wigrabaya lagi yang kesembilannya.
kesepuluh putrabaya ini. Riptabaya kono.n yang terkhir kesebelas. Agar semua itu dielakkan. Bila dilaDggar bemama kurang berbudi.
- Artinya bila bertemu wanita. Agar menghindar jauh. Waktu sama-sama menyendiri bertemu. Walaupun disapa jangan menyahut. Wikalpabaya itu. Lain-lain bila menjawab.
- Lagi dikala bertemu wanita. Sedang merias diri berpakaian. Memakai bunga dan wangi-wangian. Jangan mengadu bau harum. Arasaba¥a mengena, Sudah disebut kurang beriman.
- Ada sedaag melagukan tembang. Ditempat yang pantas. Karena bersuka ria sebenamya. Agar jangan mengusik. Citasabaya mengena. Juga kurang berbudi.
- Bila seorang wanita pemasangan selendang itu baik. Ke luar dari tempat tinggalnya. Jangan sekali-kali memperhatikan wajah-nya. Bila diperhatikan, lndrabaya mengena. Juga disebut termasuk tak beriman.
- Lagi bila bertemu seorang wanita. Keluar dari kraton, Biar bagaimanapun pakaiannya. agar jangan mengusik atau memuji. Bila bertanya atau memuji, Patabaya mengena.
- Bila wanita hanya sendirian berjalan. Bila diiringi konon. Kena Sopanabaya kelakukan itu. Juga disebuat sifat-sifat kurang beriman. Bila akan berjalan juga, Seharusnya men- dahului.
- Lagi diwaktu ada wanita. Bunganya terjatuh. Terpelanting jatuh ketanah. Berbahaya. bila dipungut dan dipakai Pus- pabaya mengena. Waiau sifat-sifatnya samar-samar.
- · Wanita diwaktu membersihkan diri ketemu. Jangan sama sekali mendekati. Dan jangan mengiringi pulang. Bila ikut Puribaya mengena. Goblok ruimanya tak tahu tata krama.
- Lagi pula bila menemui wanita. Dikala bersenda gurau. Agar jangan ikut-ikutan tertawa. Bila ikut wigrabaya bertemu, kurang baik. Walau kelihatan samar-samar.
Bila seo.rang wanita mengasuh bayi. Bila. meadeb1i boleh. Tapi jangan menakut-nakuti bayinya. Bila ditakuti putrabaya mengena. Jabil namanya kelakukan itu.
- Bila seorang wanita ketemu menabuh gamelan. Rehab atau terompong (gong), jangan mengikuti dengan tembang. Waiau dengan gerak tarian atau kidung kekawin. Ripta baya mengena. Bila mengiringi jahil.
- Kembang Pucung. Tapi bukan seperti mengasuh bayi. Pucung Surakarta. Seperti lagu gender wayang mirip. ltulah pakai menyambung. Meneruskan sifat-sifat peraturan.
- Empat mecam tingkah laku. Yang patut diperhatikan kini uraikan. yang ditembangkan. Tingkah laku yang empat macam. Uraiannya perilaku terbadap Raja.
- Mula-mulanya macam budi-pekerti yang luhur. Tak boleh menyamar segala sesuatu harus dengan permohonan pada Raja. Konon bila tidak, terkena kualat (melanggar janji).
- Yang kedua. Tidak melaksanakan yang bukan menjadi tujuan. Yaitu tujuan Raja. Bila dilaksanakan juga. Terkena hukum (undang).
- Yang ketiga. Tak pemah lupa dan tak salah jalan. Dengan segala pekerjaan Raja. Bila menghina, terkena hal yang dahsyat.
- Keempatnya. Tidak mencaci maki Raja. Dan tidak berlaku jahat. Bila laku jahat terhadap Raja. Terkena kutukan yang dahsyat.
- Itulah, Tingkah laku telah berakhir. Yang patut dilaksanakan bambasahaya Kemantapan dan kesetiaan pada Raja. Dapat menemui ketentraman lahir-batin.
- Yang tercaotum dalam petuah-petuah. Yang tertera dalam peraturan negara. Pada Caturpariksa (empat penelitian).
Itulah patut dipikir dengan baik. Dari Raja~ meneliti semua hambasahaya.
- Yang bemama catur. Bilangan empat artinya. Yaitu nan- '. danapariksa. lstri pariksa lagi. Karya pariksa. Dan Ra- gapariksa ... · Hl. Kemantapannya. Disana telah dinyatakan. Dan bila telah lengkap. Itu penelitian Raja, melihat dan menerangkan. Pada semua para ba~ba sabaya.
- Lagi pula,. Pancaraksa (hina pegangan). Perilaku tak ter- buru..-buro: Terhitung hina macam. P~laksan&annya itu patut diingat.
. 12. Urutannya.· Pertama bayana raba. Srawanaraksa itu yang kedua, Yang ketiga sawastu aparsaraksana. - Yang keempatriya. Jihwaraksana namanya. Terakhir yang kelima. Grana raksana namanya.
- Perihalnya. Bayraksana yang tertera. Tak pernah lengah. Mengawasi dengan baik. Agar jangan bagalkan laron me- nempuh obor. ··
- Yang kedua. Srawana raksa patuh· diketahui. Memikirkan · pembicaraan. Sungguh-sungguh atati tidak sungguh-sungguh. Agar jangan bagai kijang terkena dalam kata-kata.
- Yang ketiga. Sparsana raksana tertera .. Tidak lalim kepada rakyat. Agar jangan bugaikan gajah jantan. Dapat diringkus. Dipikat dengan gajah betina.
- ~eempatnya. Jihwa raksana tercantum. Tidak sangat ber- napsti dengan makanan. Juga harus berhati. Agar jangan bagaikan ikan ma.ti dengan uqipan.
- Grana raksana. Yang terakhir. Tidak terhibur (tak senang) pada wangi-wangian. Agar jangan bagaikan lebah kebi- ngungan mencium. Mata gajah mati tersebut.. ' '
- Sudah selesai. Panca raksa dengan uraiannya, Pane.a artinya
lima nafsu.
- Dika1akan dalaJn petuah-petuab. Dalam Buwana pamma tercantum. Diwaktu :zaman kreta (ketentraman). Keselamatan itu keluar dari yoga, semadi dan ilmu Kependetaan. (ilmu agama).
- Jamannya. l>alam tretayuga (jaman peralihan) keselamatan keluar dari pikiran suci dan bersih. Lagi pula. Dari meng- adakan korban suci (bomayadnya).
- Diwaktu datang. Duaparayuga (jaman kebinabanp) keselamatan itu keluar dari korban-korban suci. Korban sUci pada dewa-dewa, pada para pendeta. Upakara manusayadnya. Sementara itulab yang menguasai.
- Bila sudah datang pada puncak Kaliyuga (jaman peleburan). Sulit membenarkan. Asal mulanya keselamatan datang. Bila tidak dari pendeta maha suci.
- Yang dibangun. Perihal menobatkan Raja, dan para menteri. Pembesar-besar lainnya Sang Raja diminta mempelajari untuk kekuasaan mempersatukan negeri. Demikianlah namanya.
- Para menterinya, dan pembesar lainnya agar memp:lajari petuah-petuah. Buana purana, dengan giat melaksanakan. Menimbang-nimbang, Yang benar-benar menjadikan kese- laQtatan.
- Dengan bersusah payah. Dengan berusaba denpn gigih. Dengan rela dan berani mati. Sampai-sampai ada berita keselamatan.
- Pendeknya. Bila semua bersatu. Dao persatuan itu bisa memasuki lobang kecil. ltulah yang menjadikan kokoh kuat. Tak tercerai-cerai walaupun dipontang-panting.
- Telah selesai, menemukan banyak untung. Demikianlah namanya. TJdak menjadikan bimbang. Menghitu.ng masa tentram, peraliban, masa kebimbangan, dan jaman peleburan.
telah selesailah. Pengarang menguraikan petuab-petuah, tapi .maafkanlab. Pengarang miskin tak beriman. Bukanlah karena gegabah dengan tingkab lakU lubur.
- Karena tertarik. Hanya karena melihat tingkah lakU. Petuah-petuah jaman dulu. Sepak terjang para Raja jaman dulu. Tapi rasanya jauh sekali. akan menjadi contoh teladan.
- Asal dapat menemukan, pikiran terang sedikit. Berarti telah merasa bahagia. Menjelma pada jaman kali (jaman pe- leburan ). Apa lagi banyak membungkus benih ketololan.
Waktu sel$83i, ditulis pada malamnya. Senin, Umanis. Wuku Bala. Bulan Purnama. Bulan keempat (oktober). Tahun Saka dua puluh lima, Seribu delapanratus. (1825).
Puh Mijil VI
Ilrut bergembira belajar mengarang. Menghiburkan sakit. Kidung mijil jawa tembangnya. Mengarang dengan kata-kata bahasa Balinya. Terpakai asal bisa mencapai titik. Berusaha bisa jadi. 2; Sebab balum bagitu jelas tahu. Dengan tata bahasa. Agar bisa lancar membuat karangan. Semoga dimaafkan saja. Pe- ogarang knrang beriman. Masih sangat bodoh.
3.-Yang tercantum dalam karangan. Tak berujung pan~kal. Karena bulat berkeliling rupanya. Menjadikan besar me- menuhi dunia. Kandang-kadang mengkerut menjadi kecil. Hitrgga tak tentu tempatnya.4. Dipakai peringatan 8endiri. Diwaktu-waktu tennenung. Se-
perti ierhambat karena membungkus yang besar. Tak tahulah diri sendiri ditertawai. Karena sangat bingung. Selalau me- ngira musuh.
5. Kadang · mewarisi punya makanan basi. Juga bungkus Win dibawa. Meleleh menitik bercipratan. Hewan hina tak ber- suara memikir. Agar bisa apik dan bersili. Tapi nyata campur aduk.
~ kMMg dibungkus. Bersatu pada yang l>uruk meltbal Terlanjur Adah nyata ditulis. Kaya mengbunglrus kotoran. Selalu diliputi kebingungan.
- Seperti membungkus wang tiga keping sumbing, Ada yang pinggimya rusak. Ada yang lengkung, ada yang berlobang Semuanya. menilak segala dagang. Lagi bungkus lebih kuat mengikat. Lantas kembali berbelanja kewarung.
- Pemberian Raja tak dapat dipilih. Dipakai tertawaan. Juga dituruti tak bisa dengan janji. Mujur-malang semua dari Raja. Rajalah sebenamya membikin juga mencabut.
- Permohonan kepada Raja dengan tutus. Asal bisa terlaksana. Segala perintah dan segala tingkah laku. Semoga jangan bolak-balik. Berbuat kesalahan-selama hidup.
- Menerima pemberian raja. Semoga bisa terlaksana. Waiau basi, merembes. Tersembur. Semoga senang sampai diperasaan. Mengecap merasakan, walau sangai buruk.
- Keseribu, kesepuluh ribu, keseratus ribu. Permintaan itu bolak-balik, agar bisa terlaksana selalu atau sebentar. Segala perintah Raja adalah luhur. Pada dua arah. Dan permulaan dan terakhir.
- Mati hirup semoga ingat. Diluar atau didalam. Kepada Raja yang memang luhur budi. Walaupun habis lautan seratus ribu. Tidak samar-samar pada Raja. Tidak menjadikan bingung.
- Walaupun tersembunyi. Betul-betul tersembunyi. semoga tampak juga, walau terhalang dalam kayu api. Dalam ba- yangan. Dalam apapun. Semoga ingat. Hormat yang ditu- jukan.
- Putih, ungu, merah, jingga, kuning. Segala wama tampak semoga nyata penglihatannya itu. Sangat tebal rasa hormat pada Raja. Tidak ragu-ragu, tidak berpindah-pindah. Semoga bisa kokoh kuat.
- Silih berganti turun bertumpuk-tumpuk. Tidak menjauhi.
itu sebisattya. Dengan tujuan tetap dalam ingatan.
lngat pada Raja. Seiiloga bisa bertemu.
- Banyak dugaan temadap Raja, menurut. wajahnya orang. ~enurut lingkatan mata angin. Semogalah memang betul 5ekali. Menemukan ingatan. Dari pem1ufaan sampai berakhir tujuan.
- Terlalu siang dan malam. Disinari dengan disorot. Disinari ~engan pelita malapetaka itu. Berakhir dalam pemujaan doa. Yang kedua dipilih. Yang diterima adal.ah yang benar.
- Sebenam~ kelakuan itu memang bakat. Juga pendirian. '. man tap, mengukur dalam jauh dekatnya. Dasar dari ri11g- kasan dunia. Bisa menating api supaya berupa kayu.
Pakai tempat bemaung diwaktu hidup. Jadikan balai-balai
-· ·· dapur. Banyak itu awalnya dari sedikit berasal dari banyak dahtilu. Tertimbun bertumpuk. Dalam kesudahannya. terikat kak:i dan fitngan.Kalau diumpamakan sepe~i _kayu tanpa daun. Kurus dan berlobang. Juga dijadikan tern pat bemaung oleh orang-orang. ~:· Tak bisa diumpamakan dan ditertawakan. setinggi langit. Samar isinya.. ..
P.Uh SJmon VII
, ;i.. •· Lagi.:Jagi kidung Simon; Juga kata-katanya dengan Bahasa · ~'Ii. Tembang Kartasura sanibungan karangan semua dalam. kebaikan. Karena dari pikiran; Dan orang yang membi- carakan. Menamakan buruk-baik. Sebab memang sulit mempersatukan pendapat.
z. :Konon semua dalain karangan. Cerita buruk atau balk.
K.ebaikan itu ndak berupa nyata. Deniikian pula yang disebut tidak baik. Karena ada cerita tangis tertawa; senang, · matah. ~inuanya keruar dari buruk-baik itulah.
,,,,-,~ ~ aoi~~~~~•.ae ', panj. · · t pula cJinamakan pembantu, b~ juga dinamakan ·, · ··~~: te~twn. Pada kata~kata semua drang.
4. ~tjaan bersuami-istri. Walaupun saling meJll8;;.hi. Juga
. ~ ikut keutai:a-selatan. BersaQia-~. hidg atau ~· Bersama pula dalam im.pian. Tak ~ni'Blt. ~rpisah kesana-kemari. Jarang orang tahu. MemaS&Qg guna-guna pe- misah yang ampuh. Membuat agar bisa bercerai.
S. Walau bisa hanya sekedar. ~lum beratbir batas cinta. Ka-. ~na Sulit memi1cirkan. Siang
6. Kedua tidak meminta apa-apa. Hanya bersedia menolong. Memberi pertolongan dengan rela. BHa betul-:f>e ' berusaha bertindak. Tidak kurang sempat mundUI';-Om Sjimil1 masih ban~k. Hanya betdasarkan rela. 19-11pai:· 1ne~gkan ma'ri-hidtlp-. "Beratii payatt. Berani tat nralm& l'lggfi'ibrus.
7. Lagi pula berusaha mencarinya. Bira 'Ciiumjj'Ibtit'-rnusuh., an¥8 'sani. ·Ben men
8. Karena ban yak seperti sut.lp. Bila kurarrg· iliell'gtttu't dengan :. b. ~. itu, dapat &empa:t baik.. ,M~g,j<;~! ' UD.,.k
gbp. BetusahJ u• m~mbantin&. ·-helltj,,~fltinya
~IJJJU~. u· ra. Denpn. 'pepasanpn ilmu. tcluh. Dia. itu terus e®'ti ·~~se ~ ·
- Kebodohan lagi orang yangi kekurangan. Membikin semakin -~in ll4 o~,g ~~bingunpn._ Dan,, ment-~ju~ ~~lakwQJ. ~qt.~~ ~ulit mewjkir~, .a·1a ... ~~ ¥,a dua. · ·~ ···unml Qtetempar
Memberi tesempatan musuh memukul. Waiau kita melabrak. Tak mungkin akan menyakitkan.
- ltulah harus dipikir. Jangan sampai jadi bingung. Mengingat ketepatan pikiran. Yang bemama musuh betul-betul. Demikian pula yang bemama pembantu. Karena campur aduk bisa percaya. Percaya yang. betul-betul sahabat. ltulah yang diusahakan agar ketemu. Percaya musuh. Tak urung di- obrak-abrik.
- Sebenamya musuh yang ada dirumah itu. Mengadakan membangkitkan.semua-semua yang berupa cacat-cela. Kalau bisa lebih. baik bersahabat semua. Yang berada didalam rumah. Dengan demikian pasti keselamatan itu ketemu. Mengingat dari asal-usul. Dari asal mula dan telah berlalu. Agar janga~. Bagaikan terjun keapi yang sedang berkobaran.
- Jangan berduka sampai menerjunkan diri. Kejurang-jurang yang sulit Kalau sudah patal tangannya repot. Siapa yang dipercaya akan mengobati. Perjalan yang memang baik. ltu patut dipikir dulu. Agar jangan memejamkan mata cepat-cepat berjalan.
- Agar berusaha waspada. Segala tugas selalu selidiki. Jangan sampai meracun diri. Karena ada penerima racun. ltu semua telah dilupakan. Rupanya racun. didalam hati. Pikir-pikirlah ·dalam hati. Racun terletak diam dan tak bergerak. Kalau tidak ~akan. Tidak akan menyakiti.
- Karena segalanya ada didunia. Racun, obat banyak mirip bagai memakai umbinya sungsang (mandalika). Dengan ubi manis · mirip-mirip sedikit. Demikian pula buah-buahan di bumi. Ada menyebabkan cacat. Sebenarilya satu itu. Dengan racun yang keluar dari lautan.
15.. Lagi pula obat penawar racun itu. Sulit sekali · meng- hitimgnya: mlhan-bahannya itu. Pucuk dadap tiga taµgkai. · Dali ikat deligln tali. Tali benang tiga 'kelai. Wama' benang
wama. Merah, hitam dan putih. Bila dapat. Bisa melebur malapetaka.
Pull Gtma VIII
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. Ganti lagi dengan gm.sa. Tembang ala Surakarta. Pakai menyambung perhitungan, menguraikan dalam pikiran. Yang disebut awet benih. Memang sulit menyatakan. Buruk-baik suka-duka. Seperti diantarai rambut sehelai. Tidak boleh lengah. Agar berlandaskan siap sedia. Lagi pula tak boleh terburu-buru. Pertimbangan pikiran agar panjang. Berdasarkan kehalusan budi luhur. Kalau mematrai hanya anggapan. Berdasarkan benar bisa dianggap salah. Karena kehilangan perkiraan. Bila diumpamakan ukuran lengka:. ' Buruk baik suka duka. Didalam sama-sama satu ·~~ngkat. Juga memakai catur yuga (empat jaman). Karena baik adalah karena hati-hati. Me- nyelidiki dan waspada. Dipakai pemikiran panjang. Berlandaskan pasrah pada nasib. Agar dalam perkiraan. Walaupun yang telah nyata. Juga tidak mau melabrak. Pakai dulu kehati- hatian. Pemikiran yang benar didahulukan. Yang tegak tidak terbalik. Miring sedikit juga diselidiki. Agar jangan ada yang bengkok .. Karena terlalu sulit. Menangkap yang tak terlihat. Karena pahala dari mengambil. Jangan sampai gegabah. Sebab yaqg mendampingi banyak. Semua membuat gatal semua tajam. Agar jangan terluka karena kurang hati-hati. Bisa•bisa men- jadi tertawa orang banyak. Kedua agar jangan memandang enteng. Sebab segalanya bisa jadi tak berbarga. Menempuh dalam diri sendiri. bita teflanjur barganya kurang. Ya kalau emas bisa lagi dibersihkan. Tapi kalau barga diri sufit membersihkannya. Jangan-jangan terus sematin rusak. Disebut benda plilsu. Dan jadilah menggeletak sendiri terbuaitg. berikan
mer~pkan. Makna clan sisi dari siang-malam Dirumah diluar rumah. Segala yang mengandung racun. Jangan sampai tertinggal sedikitpun. Berbahaya berdekatan dengan racun.
- Bagaikan memelihara ular galak. Bila sudah betul-betul memagut. Tak urung menderita sakit. Walaupun mengaduh keburu sudah sakit dan salah. Bagai bermain racun woranan. Karena memang disebabkan lupa. Asal mula itulah menye- babkan salah. ltulah yang tak boleh dilengahkan.
- Umpamabm bagai kata-kata gampang. Itulah sudah umum. Kenamaan sekali. Betul bila sangat terburu-buru. Bila men- cari berdasar lengah. Hanya ingin cepat dapat. Tidak sampai dua hari. Akan membusuk menjadikan duka nestapa.
- Itu semua jangan dilupakan. Untuk mendapatkan benih yang awet. Itu bagaikan kurang tepat. Berisi benih tanamam. Jadi. makanan selamanya. Pasti mencukupi untuk di pakai. Waiau dipakai untuk yang lain-lain. Benar-benar tidak akan ke- kurangan.
- Yang disebut benih yang awet. Dari' sekarang tujukan sekali. Walaupun belum terkena tangan. Usaha itu jangan dilupakan. Minta tolonglah pada nasib. Agar rilasih pakai bekal. Sepantasnya dipakai sebagai bekal manusia. Karena ajaJ. itu ~k dapat ditentukan.
12. .Konon tempatnya itu. P~da kisah pelajaran. Pada sastra yang
· paling tua. Dalam pada berhuruf satu. Tidak memakai apa-apa. Artinya memenuhi dunia. Itulah disebut benih yang a wet.
Pub PUcung IX ;•,.
,, Lagi ,tembang pucung'. Kartasura pakai .nyambung. Segala perhitungan. Penerlmaan itu agar baik. Timbang-timbang dulu. Lalu serahkan pada ~asib.
Cara tingkah laku. Bila dipukul-pukulkan agar babis belum masnya. Menyerah pada nasib. Agar jangan disebut. Luntang- lantuag. Tak mau mengusahakan diri.
- sebab yang menolong. Minta jalan kepada yang ditolong. Bila tak dibuatkan. Penolong itu mendatangi. Tersendat- sendat. Dijalan dapat keramas.
- Pasti celaka. Yang ditolong keburu rusak. Penolong itu kembali. Pulang ketempatnya dulu. Itulah, agar benar-benar dipikirkan.
- Jangan-jangan karena tidak berusaha membuatkan jalan. Yang besar dan lurus. Yang rata dan bersih, agar lancar. Da- tang penolong itu menjajaki.
- Keduanya musuh yang telah ahli dari bangsa yang baik. tidak mau melawan. Pada orang yang telah punya pembantu. Malah menurut. Pada orang mempunyai benih awet.
- c.aranya musuh itu memasang jerat. Mendamprat yang liar Bila dihalusi tak akan lari. Tak urung. Terpojok meron- ta-ronta.
- Yang demikian terlalu sulit memperhatikan dan meneliti. Bila dihitung berupa juta sudah laron itu mati dalam api. Juga tak jera-jeranya dia tercebut kedalam pelita.
Sudah sepantasnya. Sama-sama kasar sama-sama halus. Menurut pada yang empunya. Terpakai barang baik atau barang kasar. Tidak acuh walau habis.
Pub Smanm Dana X
Semaran Dana tembang jawa. Dipakai mengganti pembica- raan untuk peringatan dalam pikiran. Segala yang berupa tidak baik, agar tercela. Dalam mimpi atau bangun. Jangan sama sekali memikirkan.
- Sebab semuanya menjadi bibit-merah, putih, biru samar. Bila kebul.tmelekat sumbunya. Keburukan itu dapat berakar.
·kotoran. Yang cepat melabrak. Dengan perkataan tak enak me- maki-maki. Semua orang akan membenci.
- Waiau matah walaupun benci. Yang keluar itu supaya baik. Tidak asal keluar, juga buat pertimbangan. Sebab tidak ada yang jelas. Orang yang salah pantas dicaci. Salah-salah bisa dosa pada yang lain.
- Caci maki atau cemohan. ltu bagai jalan keluar rumah yang ditumbuhi semak-semak. Yang benar-benar merusak pikiran. Kalau itu dapat terbuka. Setan itu cepat masuk menaburkan segala kekotoran. Tak urung rumah itu kotor.
- ltulah yang harus diwaspadai. Agar jangan sampai dapat jalan. Semua setan dan mahluk jahat lainnya. Menaburkan bermacam-macam kotoran. Semua simpan jadi pantangan segala keinginannya. Agar makin takut melompat.
- Karena semua bisa takut. Manusia walaupun setan-alas. Seperti pertimbangan sebenamya. Manusia takut pada setan ganas. Bila manusia befbadan terang setan-roh jahat semua takut memasuki membikin onar.
- Bagai merasakan keadaan setan (jin). Banyak orang mence- ritakan. Tapi terang dengan wajahnya. Sebab masih melihat dalam pikiran. Keluamya menjadi bayangan. Bayangan itulah menyebabkan takut. Dari perasaan yang diturutkan.
- Agar jangan kalang-kabut. Yang patut harus dipikir. Agar jangan salah terima. Membuka pintu yang cacat. Jadi sakit
usahakan pelajari.
- Kuncinya itu atur dulu. Apakah kunci sederhana. Apakah kunci dari Jawa. Bila memakai kunci jawa. Anak kuncinya earl. Agar jalan itu lancar. Diwaktu ingin keluar atau masuk.
- ltulah pelajari bolak-balik. Seribu kali harus disaring. Agar jelas apa sebenarnya. Jangan dari menerka-nerka. Masih bercampuran kotoran. Menipu diri itu namanya. Tak urung menderita kesengsaraan.
- Semua perumpamaan itu. Kalau masih memakai kira-kira, tak ubahnya bagai memakai warangan (racun). Umpamakan belerang masih merah. Lalu pakai obat. Dipakai obat gosok atau diminum. Tak urung menyakiti.
Bila diumpamakan lagi. Seperti keluar akan berperang. Sendirian membawa tombak banyak. Lagi pula tombak panjang. Pasti sulit bergerak. Membuat senang pikiran mu- suh. Sebagai diberi tahu untuk mengikat.
Pub Dandang XI
Lagi kita ganti Dandang Gendis tembang ala Surakarta. Pakai mengumpulkan perumpamaan. Andaikan penghibur duka. Diwaktu kegelapan ditengah kekotoran. Tak dapat mendo- ngak. Karena para Kingkara (raksasa) cepat memukul. Men- cambuk sering-sering menyiksa membakar dengan api. Menggemuruh mendidih.
- Bagaimana caranya sekarang menciptakan senyum-meng- hibur. Agar pikiran ini. Yang karena buat tertindih. Bagaikan tertindih gunung. Bahaya itu memang sudah takdir ilahi. Membagikan cinta asmara. Memikirkan baik buruk. Memilih suka-duka. Kurang karangan. Tak berpikir tak. berbudi. Taiba-tiba tertimpa bumi.
- Akhimya tidak tahu menamakan. Terhibur tidak. Karena tak sampai ke dalam hati. Bila dinamakan tidak terhibur. Keburu
-
rusak dirabuk. Memilik tak bisa. Terserah nasib, terserah takdir, terserah Tuban. Orang yang pinterlah memang bi- jaksana.
- Maafkanlah pengarang sangat bingung. Menjadi tertawaan. Pemikiran sendiri. Karena bisanya halangan itu. Didesak dan dikejar. Siang-malam beratus-ratus ribu. Datangnya tak di- sangka-sangka. Tiba-tiba menyerang. Menaburkan segala kotoran biarlah sudah. Terserah juga Tuhan menamakan atau membenarkan.
- Diwaktu selesai menulis. Pada hari Reho pahing, Wuku wayang. Tinggal · kedua. Bulan kelima (Nopember). Tahun saka cara Bali kebetulan. Seribu delapan ratus lebih dua puluh lima. Perhitungan jalannya matahari. Yang delapan waktu. Kira-kira sudah agak condong ke barat. Kira-kira waktu lima ( pk 13.000 WIB).
Puh Ginanti XII
| 1. | Dengan senang hati ikut membuat tembang. Mengarang sekar | |
|---|---|---|
| ginanti. Tapi ala Kartasura. Bahasanya ala Bali. Bahasa Bali. halus maupun kasar. Kesemuanya campur aduk sedikit. | ||
| 2. | Bahasa Jawa, Melayu. Terserah para pembaca memberikan. Tapi janganlah begitu berduka. minta-minta. Belum mantap agar baik. Tempat kata-kata lllenurut aturan dang-ding. | |
| 3. | Isinya dari inti petuah-petuah. Petikan dari Prasada niti. | |
| Kumpulan orang menjadi Raja. Kita tembangkan jadilan lagu. | Dipakai | |
| 4. | Menurut induk isinya mungkin ada samar-samar sedikit. Agar yang membaca ada sifat-sifat enam belas. Dipakai oleh sang menjadi Raja. | Penerimaan itu agar baik Konon |
| 5. | Giribrata yang pertama. lndrabrata kedua. Ketiga mreta brata. |
Pengarang miskin me-
Cantaka parwa. peringatan. Perilaku
menj_~laskan...
Keempat Yamabrata yang suci. Kelima Geni brata. keenam Lawana brata.
Mrega mm ketujub. Ke.delapan Siaga brata. Kmeabilaa anila brata. Sa&a braia kesepulub. Kesebelas mayura brata. Kedua betas Cantaka brata ini.
- Kaganila brata tercantum. Yang ketiga belas. Wiagra brata keempat belas. Keenam belas Cundaga bata. Terakhir keenam belas, Walesa brata namanya ini.
- Lagi mulai menguraikan. Menceriakan satu-per satu. Yang bemama Giri brata. Seperti Gunung ditempuh angin. Bila datang musuh menyerang, takkan mundur sampai mati.
- Indra brata disebutkan. Menyelidiki rakyat semua. lidak memakai hanya satu perhitungan. Menghukum atau mem- benarkan. Dimaafkan bila kesalahannya kecil. Usahakan agar pikiran rakyat luhur.
- Mratawarsa brata itu. Amreta air suci namanya. Tak henti- hentinya memelihara rakyat. Warsa hujan artinya. Perila\ku memberikan sumbangan. Agar sama rata. Tak pilih kasih.
- Yama brata pelaksanaannya. Bila menghukum tak pilih buluh. Dengan tujuan semua salah. Bila sudah menyerah di waktu malam. Panggil dan nasihati. Lantas terhukum pu- langkan lagi.
- Giri brata pelaksanaannya, meniru sifat-sifatnya api. Kece- patan melenyapkan angkara murka. Jangan pakai pe- rundingan lagi. Perilaku mengobrak-abrik penjahat. Jangan sampai lama-lama.
- Yang dinamai Lawanabrata. Lawana artinya lautan. Bila ada kesalahan rakyat yang tercatat sedikit-sedikit carilah rakyat yang salah. Memaatkannya bagaikan lautan.
- Megabrata pelaksanaannya. Pada kekayaan rakyat semua. Bagai awan melihat manusia. Dan ingatlah pada Tuhan. Jangan "1embuat rakyat susah. Lebih baik memberi daripada mengambil.
- Yang dinamakan Singa brata. lalah cara-cara me19egang negara. Bagaikan singa memegang hutan. S~ab salQlg
---------------------~-~-------
memelihara keduanya. Raja kuat. adalah karena Rakyat. Rakyat aman tentram adalah karena Raja.
- Anila brata disebut. Anila itu adalah angin. Bila menggempur musuh yang datang. Kecepatan itu agar seperti angin. Jangan lagi masih berpikir-pikir. Mati atau hidup adalah dari Hiyang Widi.
- Satabrata pelaksariaannya. Sata artinya sebenamya ayam. Perilaku kepada rakyat. Demikian pula perilaku pada istri. Itu agar seperti sifat ayam. Semuanya sama-sama disayangi.
- Mayubrata itu. Mayura artinya burung merak sebenamya. Perilaku itu ·agar seperti burung merak. Tidak begitu ser- bamakan. Jangan sampai salah kata-kata. Tak tertarik pada wanita cantik.
- Yang dinamakan Cantaka brata. Cantaka itu adalah burung kelik. Jangan meminta sesuatu pada rakyat. Raja itulah harus merasa sayang. Dengan demikian dengan sendirinya rakyat cinta. ltulah raja berakal tinggi.
- Kaganila brata itu. Kaganila artinya burung gagak. Diwaktu menjatuhkan hukumal).. mati. Rapatkan dulu pembesar- pembesar semua. Bila setuju semua laksanakan. Bila belum setuju tunggu dulu. · 21. Yang dinamakan Wiagra brata. Wiagra artinya macan. Kalau belum akan berhasil belum maju. Demikianlah Raja yang bijaksana. Bila terpikir belum bisa. Belum pantas dilak- sanakan. ~· Yang disebur Candaga brata. Cundaga hitung artinya. ltu dengan bahasa Bali asli. Memilih makanan yang bersih. Agar pantas tempat duduk dan tingkah laku. Janganlah seperti orang kebanyakan.
- Yang dinamakan walesa brata itu. Walesa kalong artinya. Kalau belum bisa mencari makan. Anaknya belum akan dilepas. Begitulah bila pekerjaan bcrat, jangan menyuruh ora111 1ak tahu.
Sdah selesai uraiannya mengenai brata (sifat.:iifat) satu- persatu. Sampai pada pasal keenam belas. Bila sudah bisa terlaksana. Cinta-kasmlah rakyat semua. Desa aman tentram semuanya.
Puh Smarandana XIII
- Smarandana pakai rnengganti. Masih tetap ala Kartasura. Bila dengan ala Bali merasa takut. Memperlihatkan karangan itu rusak. Dari bawaan ternbang. Bila ditembangkan cara Jawa agar samar. Mentah, bengkok bisa lancar.
- Lagi mulai mengarang. Memetik cerita utama. Dari petuah- petuah agama. Konon bibit budi pekerti. Yang menumbuhkan keselamatan. Dan telah terkenal mengalahkan musuh. Musuh enam macam dalam pikiran.
ltulah yang harus dikerjakan. Walaupun semua manusia. Tidak berbeda isi pikiran itu. Tentang Tuhan adalah Satu. Yang betul-betul suci. Pada Raja, Pendeta sama. Walaupun pada orang dari seberang lautan.
......----Tapi sulit mengingati. Yang betul-betul terlalu jauh. Samar tersembunyi ya menarik. Seperti minyak dalam susu. Seperti bayangan dalam cermin. Seperti api dalam kayu. Karena itu semua selalu bayangan (tak nyata).
- Yang nyata berada pada kenyataan. Yang tak nyata berada dalam kesidian. Maju-rnundur berpindah-pindah. Perputaran itu terlalu keras. Yang sedikit jadi banyak. Semua salah semua benar. Membingungkan pikiran bagi yang kurang cerdas.
- Menerangkan isi pikiran yang sebenarnya. Panjang bila semua ceritakan. Sedikit bila diringkas dan dibungkus. Bila diambil semakin jauh. Bila diperhatikan semakin hilang. Bila dipegang makin kosong. Bila dilemparkan semakin susah.
- Bila dikenang semakin menyedihkan. Bila ditakutkan semakin ngeri. Bila dibodohkan semakin dungu. Bila
semakin baik. Kalau diselesaikan semakin lancar.. Bila dilestarikan semakin kokoh. Dia semakin terang dan ·· jelas.
- Mulai lagi menghitung. Musuh enam macam dalam diri. Yang selalu melabrak memukul-mukul. ·Yang membi- ngungkan tujuan utama. Yang menyuruh agar sengsara. Yang bemama sadripu (enam musuh). ltu musuh senjata.
- Alasya ·baru pertama. Kedua nidra ketiga baya. Yang keempat tresna. Kelima itu raga. Terakhir bemama sad (enam) dursa. Keenam itu. Tapi masih bahsa kuno.
- Kalau bahasa umumnya sekarang. Lasia malas kurang ber- pikir.Nidra terlalu ~lupa. Baya takut dan ragu-ragu. Teresna terlalu cinta · lengkei. Raga cinta asmara. Dwesa terlalu dengki.-
- Bila yang tadi itu belum baik. Cara meresapkan dalam pikiran. Dan terus salah menerima. Misalnya salah tebak. Cepat akan terkumpul. Berbalik menjadi musuh. Penye- rangnya semua keras.
- Agar sama kesemuanya. Salah satu ada yang tak sejalan. Betul-betul sulit memegang benteng. Memerangi bila masih mengira- ngira. Pasti bentul itu botol. Bila betul-betul berani, pasti menang. Bila betul-betul berani menyarang~
- ltulah harus diketahui · selalu. Jangan salah meresapkan. Semua buang semua pakai. Perilaku d.idunia fana. Jangan kurang waspada. Agar jangan kalang-kabut. Pilihan itu agar nyata.
Tujuan itu agar baik. Pukulan itu jangan ngawur. Karena samar banyak yang mirip. Banyak musuh seperti teman. Teman berbagai-bagai perilakunya seperti musuh. Itu harus diwaspadai.
Puh Sinom XIV
Sinom ala kartasaura. Pakai menggantikan tembang.
cerita itu. Yang konon baru dikarang. Perilaku mengemban budi. Bila ada terbayang akan tumbub. Agar berlandas beisih. Serba halus dan lurus hati. Dan kebalusan. Meluruskan dan melancarkan pembicaraan.
- Penglihatan itu agar jelas. Bila sudah terang dan bening. Hening yang betul-betul mulia. ltu dipakai sebari-bari. De- ngan cepat mengingati. Yang berwama putib-putih itu banyak. Tapi jangan sampai samar-samar. Bila samar tak dapat tidak pasti jadi. Kalang kabut. Tersasar lantas terperangkap setan.
- Pengetahuan itu bukan hanya dua. Kejilian mengawasi dunia. Buruk-baik tidak samar. Segala-galanya ada bumi. Selidikilah agar pasti. Dan yang pantas menjadi benar. Dan kebenaran memberi jalan. Mencapai budipekerti luhur. ltulah yang menjadikan terang.
Dan kejilian menyelidi. Itu yang patut dipelajari bolak- balik. Sebenamya nemu gelang. Segala dali yang sebenamya. Bila didalih ketimur. Bila didalih kebarat. Didalih yang disengka baik.
5. Bila betul-betul baik dan selamat. Bila tidak merugikan jiwa. Bila dikejar kurang pikiran. Mencari agar sampai selesai. Bila ditinggikan sampai kelangit sulit akan menggapai. Karena banyak tata cara. Menginginkan mengejar dari behrkang. Bisa-bisa yang berdiam diri akan mendapatkan.Puh Pucug XV
Sekar Pucung. Penggatinya tetap meneruskan. Teinbang secara jiwa. Konon yang tercantum dalam karangan. Juga petikan dari cerita-cerita Kuno.
- &kanlah karena merasa pinter. Mengaiang tembang petuah- petuah. Bukan pula karena-merasa enteng. Sengaja me- resapkan dalam pikiran. Tapi maafkanlah. Juga pada para pembaea semua.
Permulaannya dari pikiran terlalu longgar. Berusaha mere- sapkan. Ini cerita sastra sedikit · Dipakai sebagai puncak. Memotong pikiran yang keliru.
Susab dan. bingung. Tertindih pikirail kacau. Dan pikiran bodob. Ingin menarik bintang yang ada dilangit. Rasa-rasa bisa. Dapat menggapai sedikit.
5. Pakai bagai. makanan. Sendirian belum ketemu. Yang betul- betul dikukuhkan. Moga-moga Hiyang Widi, Daerah Badung dianugrahi ketentraman.Puh Mijil XVI
Penyambungan dengan tembang mijil. Menyelesaikan cerita. Menceritakan yang tercantum dalam petuah-petuah. Tapi tembang semua cara Jawa. Kalah dari cara Bali. Dalam mengeluarkannya.
- Mungkin banyak orang menertawai. Lagu anak gembala. Agar baik pengeluaran cara Bali. ltulah sebabnya memakai tembang mijil ala Jawa. Agar agak pantas sedikit. Karena mencantumkan petuah-petuah.
- Agar jangan sampai para pembaca menerima. Dikira hanya senda gurau. Karena tembangnya mijil. Hanya seperti biasa bukan mijil besar. Mijil tembang yang sudah sering. Menceritakan tentang raja.
- Konon mengenai cerita ini. Bagus dan berbobot. Dan cerita para Pendeta dahulu. Memang benar-benar tingkah laku baik. Patut dituruti oleh orang-orang yang berusaha selamat. 5: Dasa krama Paramarta luhur. Namanya tercantum. Karena sepuluh macam semua jumlahnya. Pertama tapa, brata kedua ketiga samadi. Santa keempatnya.
- Yang kelima semata namanya. Keenam karuno konon. Ka- runi yang ketujuh. Topeksa yang kedelapan lagi. Sembilan mudita ini. Metri yang kesepuluh.
- Lagi uraikan satu-persatu. Tupa itu tercantum. Budi pekerti
Kepende1aan. Brata mengurarigi ~fsu. Yang bemama samadi. Begadang diwaktu malam.
- Mataratan adalah menghitung-hitung. Hiyang agam~ yang bertobat. Yang bemama San1a. Tak pemah bohong pem- bicaraan. Yang bernama samata pikiran hanya satu. Yaitu menuju keselamatan. Kokoh beribadat.
- Karena kasih pada sesama hidup. Karuni diceritakan. Sayang kepada tumbuh-tumbuhan. Demikian pula semua hewan sayang. Itulah karuni konon namanya.
- Topeksaitu tahu berperilaku baik. Tingkah laku manusia menasehati orang bodoh dengan kebaikan. Mudita berbudi koltoh. Tak sakit hati diberikan nasihat.
- Lagi yang dinamakan metri. Perilaku itu dikatakan. Menasehati tentang kata-kata keselamatan. Kepada semua sesama hidup. ltu agar diingat. Oleh orang-orang yang menuju keselamatan.
- Berdiki-dikit coba lakukan. Kira-kira sepertiga, seperempat, seberapa dapat. Seperti sepuluh saja bisa dulu. Ta pi usahakan lagi. Jangan sampai mundur.
- Sang hiyang Darma itu ketemu. Ikuti perintahnya. Jangan sampai bisa pindah. Sebab Hi yang Darma diwaktu jaman kali (peleburan). Seperti anak tanggung. Tak ada yang mengaku.
Lagi pula tak ada yang mau ngaku. Yang tertera pada petuah- petuah yang berbobot. Yang tercantum dalam buku sara samuscaya itu. Karena itu selidiki sekarang ingati: Agar bisa terdapat Sang hiyang Darma (agama) itu dipegang teguh.
Puh Kumambang XVII
Pada kumambang bersambung cerita lagi. Juga lagu jawa. Waiau dengan cara Bali juga bisa. Karena lagunya sama-sama baik.
- Tapi maatkan karena sama-sama sedikit. Cepat berganti-
Agar lebih banyak. memakai. lagu.. Dipergunabtt belajar lagu.
- Sambungan petuah-petuah ini lagi awali. Cerita tentang agama (Sang Hiyang Darma). Karena agar bisa dapat. Karena. yang tertera pada Bismaparwa.
- Raja kresna menceritakan waktu dahulu. Kepada Sang ar-
j.una. Kemenangan itu diketahui. Setiap yang taat pada Sang Hiyang Darma. - Karena itu carilah usahakan agar ketemu. Waiau salah · satunya. Dipakai patokan dalam hati. Bahagia sekali bila dapat semua.
- Karena sepuluh Hiyang Darma tercantum dalam pelajaran. Dalam Wretisasana. Dasa drama namanya. Dan sekarang hitung menceritakan.
', ''",. · konon yang kedua. Dama yang ketiga. Asta yang
MIUK KEPUl.~iYti. yang kelima..
.. Oft DIREKT.O, ~ RAT 1DUH11UWf91Wi1 T1CU.r:tl4i.. t..- yang k eenam 1tu.. Hrih yang k etuJ "uh. W"d" 1 1a · "EN NBSF Aieefa~ ia yang kesembilan.
- Akroda onon selesai kesepuluh. Lagi ceritakan uraiannya.. Dreti itu pikiran suci. Ksama tiu disebut memaafkan.
- Yang bemama Dama itu kesaktian pikiran. Yang disebut asteya. Itu pikiran tidak bingung. Tak cacat dengan apa-apa.
11. Soca bernama membersihkan. Bersihkan segalanya dihati.
lndriyanigraha itu nafsunya agar dikekang. Hrih itu bemama malu.
- Yang bemama Widia. Yang telah benar-benar pandai dalam pelajaran itu. Yang disebut Satia. Terus-nienerus tak pernah hilang dalam pikiran. Akroda tak pemah marah.
Hanya itulah pegangan yang baik. Pastikan meresapkan. Yang terpakai atau tidak. Masib banyak yang harus dikupas.
Dangdang gula pakai mengganti. Juga menewsian Lagu ala Jawa. Sambungan petuah-petuah agama. Lanj"utan petuab,. petuahnya. Konon yang tercantum dalam pelajaran. Bemama Kirti Pandawa. Yang berusaha mencari kebahagiaan. Me- ngukuhkan ajaran agama. Agar kokoh memuja Hiyang Darma selalu. Didalam delapan pemujaan.
- Takkan bisa Sang Hiyang Darma dapat. Kalau tidak selalu memuja. Ini pemujaannya. Delapan jumlahnya. Pertama bakti. Kedua asih, ketiga gorawa. Yang empatnya bemama mahardika. Kelima Sambaga. Keenam lagi. Dinamai malemba.
- Ketujuh sahianu itu. Terakhir kedelapan karuna. Mulai lagi membicarakan. Yang dinamakan bakti. Budipekerti tanu merendahkan diri. Lagi asih itu dinamakan, tidak meng- hendaki tidak menginginkan balas jasa. Gorowa itu tak ingin mencela kepada orang lain.
- Yang dinamakan mahardika lagi. Pikiran jemih dan tak ada cacat celanya. Yang disebut sambega. Tidak mengaku serba tahu. Yang disebut malemba lagi. Tidak merasa jijik melihat yang busuk, tidak terlalu senang kepada yang bailo. Sahianu itu disebut. Tidak memuji yang banyak. Tidak mencela sediltit bila menemui bermacam-macam.
Karena itu tidak berkata yang menyakitkan. Waktu melihat orang sakit dan miskin. Bodoh pembangkang perilakunya. Sudab cufcup delapan. Asta pangardana namanya ini. sang Hiyang Darma. Tinggi didalam hati. Membikin ketentraman.
Pub Pangkur XIX
Ganti dengan tembang Pangkur. luga masih. menurut langkah cara Jawa. Bila dilanjutkan masih ban-yak. Pembicaraan
ribu dan ratlllaD nl>u. Kita potong dan eaii ~t:... .•'. :;
2. ... ~ ~· perll)pmn dahtQl batk Ba@ng. pli dengan ini bisa
... nie~kat.: ~t. .~a obat pikiran bingung. P~bur
.. ~walrni bin~g. ~ngokohlqlJJ pikiran moga-moga .bisa
.berlanjut. :Ketaatan kila pada Hiyang Kriasa. Untuk me- neUlllkan kesucian jiwa.
- Lagi pula semoga. bisa. Keselamatan hidup sampai mati. lidak diliputi bau busuk dan kotor. Segala kekotoran dan perbuatan. Agar jauh segala yang sanrar-samar. Demikian pula yang menjadi sampai dunia. Semoga bergimti suci.
- Mulai lagi menceritakan. Mengenai cerit.a kelakukan dan pikiran salah. Yang disebut sebagai musuhnya ketentraman. Menjauhkan kesucian. Asta dewa nama tersebut dalam ;:~tuah. Itu harus dikalahkan. Agar bisa menuju kesucian.
Puh Gambuh XX
Ganti lagi dengan tembang Gambub. Lagu Jawa, bahasanya Bali. Menguraikan bemama Astadewi. Banyak macamnya delapan. Yang_ membingkan pikiran bodoh.
- Jayasida pertama. Catur rasina yang kedua. Yang ketiga bernama Utama dewi. Camundi keempatnya. Makrodi kelima tenera.
- Nomer enam Durga dewi itu. Tat sini itu yang ketujuh. Yang "< ~r kedelapan tertera bemama Wigna tersebut. Yang, .~amakan mush yang bebat.
4. __ Mulai lagi menguraikan. J~ya sidi kpya raya. Dengan demi-. kian bisa dibijang somQ<>ng berkata-kata atau kaya raya sangat sakti. Bertuah berkata tinggi. Tapi pengakunya bo- bong.. .., - ~ngat sakti tidak tahu. Dan tidak sayang pada dunia orang .:. itu. Boleh dibilang ol'iing tersebut tnasuk jaya. sidi. Catur, · rasirii itu perifatu · yang ·tersebut.,
Benci kepada dunia orang yang demikian. Dan Menyakiti perilaku terhadap ayah ibu. Begitu pula terhadap saudara-saudaranya menggulingkan dirinya congkak selalu.
- Uma dewi itu. Tmgkah pulah yang mengaku-aku. Merasa telah menyatu dengan Tuhan dalam hatinya. Menyom- bongkan diri selalu. Itu pikiran yang buruk.
- Yang dinamakan Camudi. Pikiran yang selalu bingung. Tidak menurut pada keluhuran budi. Pembicaraannya selalu nga- wur. Yang demikian tak pantas dipakai.
- Makrodi itu. Pemberang hati sering marah. Tidak seoang menurut pada orang lain lagi. Memelihara kebencian selalu. Tidak tahu dengan hati jujur.
- Pikirannya bergombak berjambul. Tingkah lakunya selalu brengsek. Yang selalu dinamai mahakrodi. Menghilaagkan pikiran baik. Memperpanjang pikiran bodoh.
- Dalam Durga dewi tercantum. Perilaku tak membuat dunia tentram. Senang meracun. Menyangsit dan ngelak. Tidak bosan-bosan membuat kekotoran. ltulah setan berbadan manusia.
- Tatsini disebut. Pikiran gelap karena asmara binguag. Me- muji-muji orang berdosa. Salah pikir. Perkataan tidak pantas. Membuka seketika yang kotor-kotor.
Yang disebut Wigna. Perilaku yang selalu tidur. Beilaku salah tak tenang dalam kesakitan. Itu telah cukup delapan. Yang menghalangi jalan keselamatan.
Pub Gima XXI
Ganti lagi dengan tembang Girisa. Juga ala gending jawa. Konon yang bemama Patita. Perilaku menjadi manusia. Yang tercantum dalam Wreti sasana. Perihal ambil-mengambil. itu patut diingat. Agar sesuai dengan bunyi sastra (agama).
" 2. Sesudah memakai Pelita. Tercantum dalam sastra utama. Itu
Dan sekarang hitung dan bicarakan. Perilaku salah ambilan. Memperistri ibu itu salah. Memperistri nenek juga salah. Walaupun memperistri bibi atau saudara.
- Salah setali memperistri anak. Demikian pula mengambil keponakan. Tapi yang baru hanya dari saudara. ltu yang bernama keponajmn. Memperistri mantu salah. Mengambil ibu tiri juga salah. Demikian pula mengambil ipar. Juga. mengambil istri paman.
- Begitu pula mengambil istrinya mertua. Istri sepengambilan. Mengambil besan juga salah. Demikian pula menyetubuhi. mertua. Walaupun istrinya saudara. Itu semua Pelita.
5. Lagi yang disebut brahmasia. Sama dengan yang bemama brunaha. Membunub bayi dalam kandungan; Tapi brabmasia itu banyak. Brunaba hanya satu. Dan sejarang lagi lanjutkan. Tingkah laku yang bemama brahmasia. ltu sangat neraka. - Membunuh bayi ini brahmatia. Demikian pula istri pertama. Begitu pula membunuh kandungan. Membunuh Brahmana laki atau perempuan. Apa lagi membunuh Pendeta. Dan para biksu pemuja. Demikian pula membunuh raja.
ltu sudah keterlaluan. Karena kelewat besar sekali. Dosa dan neraka orang yang brahmasia. Apa lagi dalam tingkah laku manusia. Sang hiyang Indra juga neraka (dosa). menjalankan sifat brabmasia. Konon dalam Anggastiparwa. Baro hanya Bagawan anggira.
Puh Donna XXII
Penggantinya juga jawa lagunya Durma. Melanjutkan petuah- petuah yang tertera. Dalam bratisasana. Perilaku salah per- buatan. Yang bemama Sadasatayi. Enam terhitung tingkah laku terlalu salah.
- Yang pertama perilaku telah ngaleyak. membuat seramnya dunia. Yang kedua berlaku meracun dengan
racun. Ketiga lagi mengamuk secara nga-Wtli' • .Mem&JiWn orang maii tak berd~.
- Keempat merampok membikin huru-hara. Terlebih-Iebih lagi salah. Yang kelima orang membakar rumah. Dan kelakuan tak patut. Menyebabkan jahat dan menyebabkan binpng.
- Yang keenam memfitnah Raja. ltulah yang bemama Sa- dtatayi. Perbuatan dosa yang sangat bebat. Didunia fana atau dunia baka. ltulah kotoran-kotorannya dunia kawah berjalan. Hidupnya sama dengan anjing.
Ada lagi perilaku yang dinamai steya. Juga tennasuk bi- lugan dosa. Peri laku manusia. Tidak pantas ditiru. Agar jauh pikiran dari sana. Perilaku itu. Bila menginginbn budi luhur.
Pull J11111 Demaa XXIII
Sudah pantas diganti. Ambil ke Juru Demung. Tenibang lagu Jawa menerustan. Meng11railtan sifat-sifat S&eya. Tingtah laku manusia tak terpuji. Sama dengan Astadusta (8 keja- hatan). Yang tertera dalam agama Manu.
- Tapi sembilan berhitung. Berupa maling (pencuri) yang pertama. Manayab yang kedua. Mengutik (menghianat) yaug ketiga. Mlagandang (memperkosa) keempat. Mengentak kelima. Yang keenam Anumpung.
Ketujuah mangpang (menyetubuhi) istri orang lain. Mba- nmang kedelapan. Alwan kesembilannya. Yang Alwan itu disebut. Melaksanakan jaruh (suka bersetubuh). Bertaku lemah lembut tapi dengan tujuan salah. Semuanya Steya itu.
hll ........ XXIV
Bergall1i lagi naikkan lagu magatruk. Berlanyut semua lagu ,Jawa. Kelaban pikiran tak benar. Banyak bila dihitung seDna. Yang tercantum dalam petuah-petvab yang berbobot.
- Karena terlalu lama dunia ini selesai. Diciptabn oleb Hiyang
di~mpulkan mungkin ,;::;·;·. segudang •
. 3. Tapi baik sekali bila semuanya ketemu. Itu lalu pilih- pilih. Resapkan menerima dalam hati. Banyak bohong dan banyak jujur. Disebabkan dari pembicara.
4. Tersentuh mengingati yang benar-benar. baik. Karena tidak ada yang dapat dipegang. Perhatikan : ditulis dengan paku. Bila sudah perkiraan itu mengeg~.-Mungkin tak lagi samar- samar. '
•
- Dari.banyalc menjadi sedikit lebih sering benar. Yaag sedikit berasal dari sedi~t. ltu bisa-bisa kalang kabut. Menerka yang luhur sedikit. Buat apa banyak bicara.
Karena memang sulit mengingati yang benar-benar baik. Bila · yang ada disini belum nyata. Seperti memikat borung puyuh. Membawa pemika_t ular. Kapan akan dapat dibungkus.
7.. Bila tidak sama tat mungkin juga jadi sama. Seperti mengeluarkan warisan. Tidak berasal menyimpang dulu. ltu belum sebenamya. Keadaannya itu kini dibicarakan.
l.fuh Dangdang XXV
.. Penggantinya lagi Dangdang gendis. Dan pakai mengingat tembang. Secara jawa lagunya. Begitu pufa peraturannya. · Namun terkena · baru sedikit. Yang lain belum terang. Seba-. rusnya mencakup. Dapat dari mengumpulkan berdikit-dikit. Diwaktu antara ingat dengan lagu. Dipakai mengingatkan lagu..
Dangdalig gula tembangnya melengking. aua diluruskan. Lagu cara Solo. Sangat rendah suaranya, sangat. serak. Memilih s~ra merdu. Juga resonansinya ukuran Jawa. Tidak boleh asal tembang. Bila mclaguka!J kurang. Lagunya menjadi kacau. Menurut lagu pembesamya empat buall~ ·Kecilkan lagi em.pat.
s~ tmlgpl sem~ di du da ding. Mirip seperti suara.pndir wayang. Dangdang gula keluamya. Smaran~ pucq.ag. Mas kumambang dan Ginati. Semua berdasar satu. Sedikit bedanya. Semuanya menghidupkan suara. Btar besar atau kecil melengking. Juga suara menurut empat.
- Bila pada Jayandria sangat berlainan. Karena bingung. Memikirkan. Mengingat sama suaranya. Banyak berlawanan terjatuh lagu. Lantas disamarkan membero miring. Melintang dalam kata-kata. Bila sudah kepuncak. Menukup dan menapak. Tak terhalang. Dengan kemariisannya. Dangdang gandis. Bila dilagukan cara solo.
- Permulaan sinom dengan Girisa sama. Ftrr.1uiaar1 Durma dengan Magatruh sama. Gambuh Pangkur sendiri-sendiri. Membawa caranya sendiri. Janganlah sangat memerihatikan walau lain. Tak masih seperti gender wayang. Sudah lain benar. Tapi bagai orang pandai semua bisa. diundurkan lagi sedikit. Mencari yang sebenamya.
- Walaupun cara-caranya ala jawa. Cara Yogya. Cara kartasura. Sama saja caranya. Semarang atau kedu. Surabaya, Kudus, Betawi, Kediri, Probolinggo. Ada juga bedanya. Caranya mengeluarkan tembang. Apalagi, cara Banyuwangi sudah turun banyak sekali.
- Karena sudah mirip cara Bali. Ala Bali. Tembang seperti batu jatuh. Kecuali temeang besar. Kebanyakkan memah clan kaku. Semarandana harusnya sama. Dalam kepantasannya Dandang Gula. Bila Bali menabuh. Seperti menabuh ba- barongan. Kurang indah. Sepantasnya minta gong. Dan bunyinya kendang.
- Juru demung bila diterima mencapai titik. Mengambil persamaan. Ginanti permulaannya. Bila sudah dekat mencapai titik. Seperti pemijil sama. Biar lagu memang asli Bali. Bagaikan seperti hutan. Jinada penghibur. Segala lagu
kebany~n mirip gendir wayang.
Puh Pucung XXYI
- Lagi menyambung penggantinya sekar pucung. Sekarang lewatkan. Mengingatkan kebenaran lagu-lagu. Lagi mulai. Menuntut peringatan pikiran.
- Terlalu payah. Karena sulitnya keperluan. Menjadi manusia. Bila belum berdasarkan bersih. Bisa-bisa bingung. Begini salah begitu salah.
- Umpamanya. Seperti badan buruk-buruk ikan. Tak berkulit mengelupas. Alat-alat dalam tubuh berlepotan. Daging mata. · Bergantungan lontang-lantung.
- Kemana harus dituju. Menyingkir menyembunyikan kebu- ·• rukan. Bila menuju tempat terang. Terkei1a_panas sangat terik. Menuju tempat lembab. Ketuaan terang dituju.
- Menuju semak-semak. Bisa-bisa termakan nyamuk. Sem- ,bunyi kelateng. rumah. Bisa dimakan tikus. Kalang kabut Karena banyak memb~wa wasangka.
- Segala yang tumbuh. Dalam pikiran mengajak musuh. Selalu curiga. Begini takut begitu khawatir. ~bih payah. Diganduli pikiran tamak (harta benda).
- Kepandaian musuh. Mau menangkap meringkus; mem- bantiitg-bantingkan~ Kerjanya bikin penyakit. Menyebabkan jadi, Menemukan rasa malu.
- Kira suci. Pekerjaan mempelajari sesuatu. Menunjukkan jalan. Bila dituruti, menyebabkan tersasar. Jadi menipu sudah adatnya berhati setan.
- · Lebih menderita. Jadi manusia seribu kemiskinan. Kaya dengan kebodohan. Keunnmga_n besar. buta dan tul~. Biar menderita. Karen~ menghidupkan t.amiak.
- Badan ikut. Bisa berlawanan menjadi musuh. Mengumpulkan
-,:;,
itu ~hati.
- Kemana dicari. Yaag dapat diminia.i tolong. Jauh tedalu jauh. Terlalu samar terlalu tersembunyi. Karena mesderita. Ter- halang kebodoban.
- Terseok-seok. Berjalan tak tentu amh. Selalu meraba-raba. Dilangkahi siang-malan. langak-longok. Keatas terlihat langit kebawah. Terlihat tanah.
Lontang-lantung. Berdoa agar menemukan keteatramaa. Dan loaranpya kewaspadaan. Mengecap rasa pahit. Seba& sibuk selalu menderita pikiran.
hll ,,...,.... XXVII
Pengantinya mengulang-ngulang bolak-balik. Lagi dang- dang gula. Mencantumkan kesediban bati. Bila -dilanjutkan menarik. Tentu banyak menyebarkan penyakit: Ld>il! baik dihiburkan.. Konon yang ada dalam petuah peluah. ltulah pakai bayangan. Barang kali bisa meresap sedikit. Jadi obat malapetaka.
- Yang diusallakan agar dapatkan orasng-orang pintar semua. lidak lain. Inti kemarian agar bisa menyatu dengan Tuban Din~kala. Dalam Mahapadina tertentu. Sebab dari Dana asal ...waaya semua. Segala isinya didunht Segala~planya walau Maha Panca Buta, akasa, teja, bayu, pretiwi. Keluar dari saQa.
- Y9ag .ctinamakan pranawa sebenaray•. Yana· sudah ada Windu ada Nada. Kalau belum ilwa betul-betul. Masih bisa ditudub. Belum jelas jalan sebenarnya. Belum bernama nya- ta. Semua belum apa-apa. Masib dirasakan banya ke- mungkinan. Masib mentah. Lebib cepat mendambakan api. Terdaak ketakutan pikiran.
- Karena belum nendapatkan kejel•n sejati. Dalul kebe- naraa. Maju mundur masih menguatkan pikiran. Bagai orang
banya mengandalkan cobaan. · Menamai Gajah sebe- narnya. Mendapatkan dari tapak-tangan. Demikianlah banya umpamanya. Tmgkah lab menganggap perhitungan. Belum bisa. Bersatu walau hanya sedikit. Demikian sulitnya jadi manusia.
5. Kare~a konon dalam petuah-petuah yang luhur. Yang ber- nama Bangbungalan. Yang sudah nyata kebenaran itu. 1idak dari banyak perbuatali begini-begitu. Perilaku mana harus · -·keluar. Semuanya memakai batas-batas. Yang memang dibo- lehkan Putih-merah, biru samar. Segala wama. Batas itu masih menyalahi. Yang dinamakan nyata.
6. Umpamanya seperti capung berkelana dilangit. B.ila hinggap ditanah atau tidak ditanah. Dikayu atau tidak dikayu. Ditembok atai.l tidak ditembok. Pada apa-apa atau tidak pada apa~apa. Samar lebih samar. Tmgkah laku melihat dalam diri sebenamya. Ada terkesan dalam hati. Mari tak ikut mati.
7. Ciri-ciri orang yang mendapatkan kebenaran. l.ebih-lebih sutit menyatakan. Bukanlah karena kesaktiannya. · Bukan karena ilmu pengetahuannya. Bukan mencuri-curL 'Bukan karena kekukuhan. Bukan karena berani. Bukan karena tak beristri. Bukan karena· bisa banyak istri. ltu semua rahasia sekali. ·
8. Perhitungan Trigana yang luhur masih tenggang. Bila telah selesai itu. Masih kacau kenyataan itu; Campur aduk bu- ruk-baik. Bisa tersasar bisa betuL Karena masih singgahi. Baayak terang banyali terselimuti. Umpama seperti bepergian menujli perjalanan. Perginya dari tempat duduk agar dari sana.
9. Semua manusia chl>awah _ kolong langit. Segala yang ber- napas. Dan berisi mata. Waiau binatang semut. Dan segala kutu dunia. Semua memerl~n. Yang luhui' terus-menerus yang tak dapat dibicarakan. Tapi dapat tak dapat. · ltu Sang Hiyang Widi yang tahu. Kalau manusia jarang yang tahu.
yang sangat bait. Konon yang 1*' ada ~ cacat celuya. Yang tercantum dalam Slokantara. Yang sudah tennasyhur. Dibicarakan sedikit-sedikit yang berisi wahtupun sedikit cacat celanya. Belum be&ul-betul baik. Diumparnakan dalam seorang manusia. Yang menyebabkan baik. Tak senang mencacat-cela. Karena semua berisi cacat-cela.
- Guaung besar yang tersohor. Dinginnya keterlaluan. ltulah cacatnya. Sang Hiyang Surya karena panas cahayanya. Hiyang Bulan ada noda-noda hitam. Laut karena aimya asin. Sang Hiyang Indra bemoda. Hiuang Wisnu pengembala lembu. Hiyang Sangkara hitam lehemya. Terkena racun. Waktu kudanya dahulu waktu pergi kegunung Mandara.
Bunga teratai bunga yang paling bagus. Bila diresapkan Yang berisi cacat-celanya. Karena dari lumpur keluamya, Cendana yang merupakan dewanya kayu. Lobangnya berisi ular. Itu yang membikin cacat. Membawa buruk-baik. Sangat sukar menghindarkan. Menuju arah walau cacat agar sedikit. Jangan sampai menjadikan neraka.
Puh Pucu.ng XXVIII
Sekar pucung menyambung mengarang petuah-petuah menurut cerita kuno. Yang betul-betul luhur dahulu. Dari sesudah para Pendeta.
- Yang dikukuhkan menurut agama manu. Manu agama Brah- na. Konon yang tertera dalam pelajaran. Mengambil petikan. berasal petuah-petuah Slokantara.
- Konon tertera. Kayowanan (kemuctaan) wajah tampan. ltu tidak lama walau kaya harta bunda. Ttdak lestari. Benar-'benar jadi bibit.
- Karena ingin. Orang-orang pinter berusaha membangun. Yang awet sebagai benih punia, kirti dan samadi. Tapa brata. Puja~yoga dikukubkan.
- Lagi pula kasih sayang yang berlaku. Kepada sanak saudara
Terutama tepada anak-istri. Juga tidak awet menjadi benih.
- Pahalanya bila pemberian dengan suka rela dibangun. Pem- balasan Dewa menurut waktu berjalan. Bila bulan Pumama. Bila Ttlem memberi sumbangan.
- ltu yang satu. Pahalanya lipat ganda sepuluh kali. Bila diwaktu gerhana. Pahalanya lagi berlebihan. Lipat seratus kali. Pemberian yang hanya satu.
- Bila kebetulan. Kanis ganti waktunya. Orang-orang suci menyumbang. Lipat seribu yang satu. Pahalanya. Pem- balasannya dari dewa.
- Bila kebetulan Yuganta waktunya. Orang pandai memberi sumbangan sah. Pahalanya lewat bagus. Tak terbatas. Pahalanya sumbangsih yang hanya satu.
- Lagi pula bila tidak berwaktu lagi. Tidak tilem ataupun Purnama. Juga tidak Busuwa Kranti. Tidak Kania ganta dan tidak Yugantakala.
- Waktunya memberikan sumbangsih orang-orang pinter. Yang satu pulangnya juga satu. Bila sumbangsih itu kepada sapamili. Sumbangsih satu pahalanya lipat sekali.
- Bila orang-orang pandai menyumbang pada Brahmana dan pada Biksu. Pemberian yang satu. Lipat seribu pahalanya. Bila memberi Brahmana suci Pendeta.
- Apa lagi yang susah berbadan seperti Dewa. Pemberian yang hanya satu. Tak terbatas pahalanya. Dan yang lampau tercantum dalam sastra suci.
- Cara-caranya perilaku sumbangan diadakan. Memakai nista madia (tinggi rendah). Bila memberi tuak, ikan, nasi, macam-macam makanan. Disebut sumbangan nissa (rendah).
- Memberi selimut kain yang serba halus. Dan memberikan emas, perak a tau uang yang demikianitu. · Dinamakan pemberian maqia (tengah-tengah).
bila memberikan orang perempuan. Apa lagi anak perawan. ltulah yang paling utama. Dinamakan itulah pemberian yang sangat luhur.
- Memberi nasehat-nasehat yang tercantum dalam sastra suci. Mengajar Darma oleh Pendeta suci pahalanya mengalahkan pemberian-pemberian itu semua.
- Lagi pula budi pekerti yang disebut benar. Diwaktu memberi sumbangan sih. Keluar dari pikiran bersih tak bercampur perasaan terpaksa atau tak enak. · 19. Sumbangan sih itu walau sedikit bila menurut perasaan ikhlas. ltu pahalanya baik. Dengan pikiran senang tulus membuat pahala.
- Walaupun banyak sumbangan itu. Tidak menurut pikiran ikhlas. Bagaikan rumput kering tertimpa api sebesar apinya kunang-kunang.
- Pasti terbakar jadi abu tak ada sisanya. Karena orang yang menyumbang tidak dengan budi yang tulus dan ikhlas agar jangan hilang pahala pemberian.
- Lagi pula perihal jasa dibangun. Dasarnya satu. Berdasarkan budi luhur seperti petuah-petuah yang tertera di depan tadi.
- Sumur seratus bila dibuatkan pahalanya. Itu lebih rendah dari pahala kolam sebuah. Kolam seratus kalah dengan pahalanya Yadnya sekali.
| 24. | Yadnya seratus kalah dengan anak seorang. Bila putra yang | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| baik sama membangun tapa brata. | dengan | samadi. | Dang | lancar | |
| 25. | Anak seratus kalah pahalanya dengan brata satia. Brata satia paling luhur. Walaupun istri yang paling suci adalah satia bra ta. | ||||
| 26. | Brata banyak tapi kesetian lebih luhur walaupun neraka | ||||
| Kesetiaan | itu paling suci. | Itulah | sebab dengan | kukub. |
Yoga dengan
Orang-orang suci memegang kesetiaan.
- Keduanya diwaktu meminang wanita. Ketiga perkataan diwaktu angin hidup. Keempat perkataan diwaktu mengemban ketentraman.
31. Secukupnya yang kelima tercantum. Diwaktu bersenda gu-
rau. Bila lain dari itu semua perkataan bohong. Tak urung menemukan neraka,
Penerimaannya agar jangan kalang-kabut menamakan bohong Hentikan dulu pastikan lagi. Yang tercantum dalam aj i Sarasamusca ya.
Puh Dangdang XXIX
Penggantinya tiap berganti sesudahnya. Membicarakan tumbang-tumbang. Tetapi hanya Dangdang gula. Timbal dengan pucung. l.anjutannya dua timbang pakai menyambung pe- tikan petuah-petuah. Didapat dari mengumpul-ngumpulkan · cabang-cabang dari agama dahulu. Pakai obat bingung.
- Konon katanya petuah-petuah berasal dari yang bemama Sarasamuscaya. Baro bagawan biasa. ltu yang disambung. Oleh para Pendeta semua. Semua memuja semadi. Karena keluhura.n petuah-petuah itu patut diingat. Semuanya manusia dibumi melaksanakan petunjuk-petunjuk agama Brah- ma.
- Ciri-cirinya sekarang mulai terbagi empat. Jadi catur jadma. Manusia empat pangkat konoit Brahmana pertama. Ksatria yang kedua. Wesia ketiga, Triwangsa tersohor. l.agi pula disebut ketiganya Dwijati. Karena boleh dipakai.
- Penutupnya sudra empat. Disebut ekajati. Hanya sekian itu
boleh pasang bunga-bunga. Demikian ceritanya. Catur jadma yang tercantum dalam sastra. Tapu lagi carikan. Keterangannya tercantum dalam Buwana Purana. Dan ceri1a Batara Siwa dahulu kepada Bagawan Wasista.
- Sekarang asal ingat cerita petuah-petuah Sarasamuscaya. Pelaksanaan catur jadma itu. Yang patut dipercaya. Orang berkasta Brahmana luhur. Mempelajari berusaha Yadma itu dibangun. Dan memberi sumbangsih meresapkan air suci dengan hati tulus ikhlas. Dan memberikan petuah-petuah.
- Terutama yang melaksanakan Biksu. Lagi pula menerima sumbangan sih. Demikian lagi perilakunya kepada Brahmana tercantum dua belas macamnya. Pertama namanya Danna, Matia kedua, Tapa ketiga, yang keempat D.ama. Yang kelima bemama Wimatsarita.
- Keenam disebut erih, ketujuh bemama Bitiksa. Anasnya kedelapan. Yadnya kesembilan. Kesepuluh dana lagi. Dreti kesebelas. Ksana kedua belasnya. Sekarang lagi uraikan macamnya. Jelasnya satu-satu. Darma sudah secara lugu.
- Satia kukuh artinya. Mengekang pikiran bemama Tapa Mengurangi nafsu. Dama disebut lengkap berisi. Wimatsanta tak pemah iri hati. Erih disebut rasa malu sepantasnya. Karena semua tahu. Titiksa tidak pemberang.
- Anasnya tidak banyak berdosa. Yang disebut Yadnya. Secara tekun memuja memberi sumbangsih. Dresi disebut berusaha menemukan kesucian hati. Karena namanya pasrah. Pasrah namanya tak goyah dengan nasib. Tidak mundur. Kokoh berbuat kebajikan itu sifat-sifat Brahmana.
- Dan perilaku wesia lagi. Belajar kepada para Brahmana, Ksatrinya. Dan melaksanakan sumbangsih. Diwaktu hari baik. Dan memuja pada Sang Hiyang Triagni. Dan memba- gi-bagi kepada sesama. Itulah sifat-sifat wesia. Dan cerita Bagawan. Biasa dahulu dalam Sarasamuscaya.
- Lagi sifat-sifat ksatriya utama. Terus mempelajari Sang
menghamba kepada Sang Brahmana. Dan kepada ksatriya. Juga kepada wesia. ltulah yang dipercaya agar semua senang tentram yang ketiga kasta itu. Olehnya menghamba. Hilang- lah nerakanya. Disebut telah selesailah tugasnya. Sebagai brata (sifat-sifat) sudra. Pembicaraan hanya sedikit. Menghamba pada ketiga kasta itu.
Puh Pucung XXX
- Lagi Pucung penggantinya berbalik-balik. Melanjutkan pembicaraan. Dari yang tercantum pada pelajaran. Tersendat. nyambung lagi. Petuah-petuah Burwana purana.
- Menusia catur. Catur empat artinya. Perhitungan itu yang konon baru dikarang. Keluar dari Badan Batara Brahma.
- Yang diceritakan Pendeta Siwa-Buda tercantu~. Yang dinamakan Brahmana Raja dan keluarganya. Raja Putra itu disebut Ksatriya.
- Lagi pula orang ~ni tak salah tujuan. Keturunan kabayan dan orang berpangkat didesanya. Yuga itu desbut Wesia.
- Tukang perahu, Pedagang juga dia, tukang besi. ltu sudra namanya pasti. Ada lagi manusia yang empat golongan.
- Yang tidak keluar dari adal mula Brahma. Oulu Panca karma (lima perbuatan). Delapan belas cacat dua. Ketia sad mleca, empat Sad tuca.
- Panca karma dalam Candala tidak menurut. Candala mleca (tidak setia). Sad tuca itu durhaka. Tapi empatnya. Yuga memakai nista madia (rendah-sedang).
- Semuanya sudah dalam Buwana purana tercantum. Disana
perhitungan satu persatu. Yang disebut Panca karma clan Candala.
- Lagi pula mleca sadtuca itu. Sekarang lewatkan. Yang lain ambil lagi. Sebab memetik, mengambil dari petuah-petuah kuno.
- Yang tenera dalam petuah-petuah Bargawa siksa tercantum. Petuah-petuah Bagawan Rama Parasa dahulu. Kepada mu- ridnya bemama sang Abidwaja.
- lingkah laku yang benar. Yang mengkokohkan kasta suci. Yang diusahakan Brahmana. Luhur sekali tercatat dalam pelajaran. Bila tak benar perilaku itu membuang.
- Agar sesuai walaupun Dewa bila tidak benar. Berlaku jahat. Jadi manusia luhur dan kaya manusia berbudi. Bila tidak berlaku menurut Darma.
- Jadinya menjadi manusia terlalu menderita. Bila orang miskin juga berlaku tak baik. Menjadi serba hina. Lebih hina dari hewan yang hina.
- Bila terus si burung berlaku jahat menjadi ikan buas. Bila si ikan buas tak baik jadi ular. Ular yang menjijikan.
- Juga terus-menerus. Mengukuhkan perilaku tak beriman. Jadilah ia hewan kijang. Hewan kijang juga tak baik. Jadi burung. Burung yang paling kasar.
Terjadinya siular yang juga jahat menjadi ia yang paling dibenci dunia. Sebagai pahala perbuatan tak terpuji. Sangat keterlaluan. Itu menemui neraka.
Puh Dangdang XXXI
Ganti lagi dengan Dang-dang gendis melanjutkan petuah-petuah jaman
Agar jangan ngawur menujukan. Dibolehkan bergui-u tujuh-
kali. Bila belum jelas penemuannya tidak akan menemui dosa kelllnaan. Bila melampaui dari berguru sebelas kali juga tidak menemui. Itu disebut hina dina kepada yang berguru tujuh kali, lima kali lagi. Dinamakan di madia (tengah-tengah).
- Yang terbaik berguru sampai tiga kali. Tetapi yang lebih baik lagi hanya sekali. Ada lagi kelainannya madia bila tiga kali. Yang sekali bagus sekali. Tapi bila dihitung-hitung kepada yang senang sebagai Biksu. lni uraian sastra. Tapa brata Pandawa ingatkan dalam hati. Dan petuah-petuah Batara Darma.
- Yang tercantum dafam Nitisara konon lagi. Perilaku manusia yang menyembuhkan. Disarankan kebenarannya. Pertanda Wahu Rawuh (dan Hiyang Nirarta). Oulu mengarang mem- buat kakawin. Dinamai Nitisara. Sekarang lagi petik can- tumkan dalam Dangdang gula. Pakai surat peringatan tabuh- nya temaang. Perilaku dan cara-cara menyembah.
5. Menyembah pada guru laki-laki. Batasannya dagu. Jadi
sebagai batas. Menunjukkan ujung jari kepada Raja ujung hidung. Bila pada rob tengah-tengahnya alis. Bila kepada guru penga]ar. Sampai dahi boleh. Bila pada guru wisesa batas kepala. Cara-cara menyembah pada Tuhan. Lima macam perhitungan sembah.
- Maafkanlah pengarang kurang beriman. Mengarang petuah-petuah. Peringatan sendiri bukan karena enteng keadaannya.. Karena menghiburkan kerisauan. Mungkin bisa terhindar sedikit. Dan semoga bisa menemukan ketentraman dalam kehidupan sampai mati. Semoga terlepas dari perbuatan noda. Seketurunan Arya Damar. 7; Dan waktu selesai ditulis hari Minggu. Wuku masal. Pang- long kepertama bulan ketiga ( September tahun Saleh terhitung. Seribu delapan ratus lebih dua puluh lima. Se- lesainya sedang hari kira- kira dawuh empat Bali ( pk. 12.00 WIB). Demikian perhitungan Wanga.
·i;f!j.
KAJIAN DAN ANALISA
4.1 Struktur Bahasa Gagurltan Nltl R1Ua Sann· Mengingat pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi claa memperhatikan wujud bahasa itu sendiri, bahasa itu dapat diba111Si pengertiannya. Jadi bahasa adalah aJat komunikasi antara anggma masyarakat yang berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. (Gorys Keraf, 1980 : 1). Adapun yang menjadi rumusan tentang sastra dan pengertiannya, maka bahasa tetap merupakan medium dan ekspresi yang tidak bisa dihindarkan dalam karya sastra. Demikian halnya untuk mengetahui dan mempelajari dan mengadakan analisa terhadap basil karya se- seorang, terutama sekali yang menyangkut naskab klasik secara tidak langsung kita harus mempelajari bahasanya terlebih dahulu, karena hubungan antara bahasa dan sastra sangat erat, saling menerima dan saling mengisi. (Jendra, 1980 : 9). Berpijak dari pengertian diatas, maka dapat dipakai sebagai titik tolak untuk menentukan karya sastra Niti Raja Sasana berbahasa apa ?. Bila kita lihat dari penggolongan bahasa oleh Poerbatjaraka (1957 : 1), dalam bukunya yang berjudul Ke- pustakaan Jawa, danjuga dilihat dari struktur bahasanya, karya sastra Niti Raja Sasana menggunakan bahasa Jawa Tengahan karena setelah diadakan pengamatan karya sastra tersebut meog- gunakan dua bahasa yaitu bahasa Jawa kuno dan ba)ijtsa BtID. Bahasa ini lazim digunakan dalam kidung geguritan, dan kakawi yang umumya lebih muda. Demikian juga dilihat dari tallBn penciptaannya, karya sastra ini tergolong abad kedua puluhan. (20). Hal ini dapat kita buktikan dari bait terakhir karya sastra tersehut sebagai berikut : · Kalih masa puputan katulis, ring redite, ring uku matal, ring
-------------------~------'--···-~~.---'--'-•--- ·
panglonge, ketiga sasihipun, isakane malih liwanging, kalaning sewu domas,nanggung lima likur, papute sedekrahani sawetara, tabeh pat itungan Bali pawilangan wariga. (Niti Raja Sasana, XXXI :7).
Terjemahannya : Dan waktu selesai ditulis, hari Minggu, wuku metal, Panglong kepertama bulan ketiga (September) tahun saka terhitung. Seribu, delapan ratus lebih dua puluh lima, selesainya sedang siang hari kira duah empat Bali (pk. 12.oo WIB). Demikian perhitungan wariga. Menurut kutipan diatas disana terlihat tahun penciptaan yang sangat muda yaitu tahun 1825 atau tahun 1903 Masehi sekitar abad ke 20.
4.2. Bentuk Susunan Naskah.
4.2.1. ' Manggala Manggala biasanya terdapat dalam karya sastra kakawin, biasanya ditulis dalam bagian permulaan dari karya sastra tersebut, demikian juga jenis karya sastra geguritan tak lepas dari manggala. Menurut Kamus Jawa Kuno Indonesia karya _L Mar- diwarsihto dan. wojowasito, manggala berarti : kata pengaritar seorang penulis dalam permulaan karangannya dan berupa pujian. (Mardiwarsito, 1981 : 342, Wojowarsito, 1977: 166). Apakah yang disebutkan pada manggala?: Manggala biasanya menyebutkan seorang dewa yang dihormati oleh penyair (pujangga) sesudah Dewa baru kemudian menyusul Raja atau pangeran yang diper- sembahi basil karya sastranya (yang dianggap sebagai pelindung atau seponsor). Pada karya sastra Geguritan ini juga disebutkan adanya manggala antara lain : PaJJgastawane ring widi, sang,·hyang Parama Kawalis, ya wicli taya IIO
malaning jagat, sang hyang wenang tumitah, mawarena siwaguru, batara jagat karana. (Nlti Raja Sasna, I: 1.)
Terjemahannya : Doa f'Uji kepada tuban, sang hyang parama kewalia, ialah Hyang Taya yang nikala, merupakan asal mulanya bumi, Hyang Maha
Kuasa menciptakan, dibantu oleh siwa Guru, Tuhan pencipta
Alam. Panuhune ring hyang widhi, miwah ring dewa samian, mangda sida karahayon, ring urip tekaning pejah, tan katawan dursila, sawengkon negara badung, tetapan kamulian. (Niti Raja S~na, I : 2)
Terjemahannya : Menjunjung Tuhan yang kuasa, begitupula semua dewa, agar bisa selamat, dari hidup sampai mati, tidak terkena gangguan penjahat, sewilayah negara Bandung, tetap dalam ketentraman. Melihat kutipan bait diatas, dewa yang dipuja adalab Dewa yang maba kuasa supaya melindungi dirinya pada saat penyair membuat katya tulisannya.
4.2.2. Penutup (Epilogi). Sebelumnya telah diuraikan mengenai manggala berikut ini
.aJcan dipaparkan secara ringkas mengenai penutup yang dijumpai dalam Niti Raja Sasa11a. Dalam Geguritan Niti Raja Sasana penutup (epilog) dilu- kiskan pada pupuh XXXI terdiri dari 2 bait, sebagai berikut : Sembah wawone ring guru laki, wates jagut, dadi pawenangan, ngujukang kucup jarijine, ring ratu tung-tung irung, nyaring pitra madianing alis, yang ring guru pangajian, ring lalata patut, yang
ring guru pasangkaran, wates sirah, cara panembah ring widi, lima wilanging sembah. (Niti Raja Sasana, XXXI : 5)
Terjemahannya : Menyembah pada guru laki-laki, batasnya dagu, jadi sebagai • batas penunjukan ujung jari, kepada Raja ujung hidung, bila pada roh tengahnya alis. Bila kepada guru pengajar sampai dahi boleh, bila pada guru wisesa batas kepala, cara menyembah kepada tuhan, lima macam perhitungan sembah. Sampurayang kawi tuna budi, ngarang tutur, pinget pandewakan tansaking gagamnpangan rehe, saking nungkulang ibuk, bilih-bilih lipur sakedik, kali dumadak sida, nemu karabayuan rinmg urip tekaning pejah, moga-moga, luputing pangawe juti, saturan arya damar. (Niti Raja Saasana, XXXI : 6)
Terjemahannya : Maafkanlah pengarang kurang beriman, mengarang petuah-petuah, peringatan sendiri, bukan karena ringan keadaannya, karena mengalihkan perasaan risau dan sedikit terhibur, dan semoga menemukan ketentraman dalam kehidupan sampai mati, semoga terlepaslah dari perbuatan noda, seketurunan arya Damar.
4.3. Kansep Ajaran. Pehikisan ajaran dalam karya sastra merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindarkan oleh pengarang s~buah karya sastra. Menurut Kuntura Wiryamarfan~, karyasastra ber:hubungan dengan paham keagamaan serta penghayatannya. Maka dapat dimengerti bahwa dalam beberapa karya sastra Geguritan nada "ajaran" menjadi pokok utama. Kaitan dengan paham keagamaan
yattg "mapan". Dalam hal ini seniman merupakan penyelamat norma dan nilai budaya dalam Duniannya. (Wiryamartana, 1979 : 5). Sekarang timbullah pertanyaan bagaimana ajaran yang dilukiskan dalam Geguritan Niti Raja Sasana ?. Guna dapat mengungkapkan nilai yang terkandung atau untuk dapt menyimak ajaran-ajaran di dalam Geguritan Niti Raja Saswui perlu penelitian lebih lanjut oleh karena ajaran yang dilukiskan berkaitan erat dengan ajaran agama Hindu. Ajaran disini pada prinsipnya menekankan benar tindaknya manusia berlaku tidak menyimpang dari petunjuk kerokhanian karena akibat perbuatan jahat atau dosa akan mendapatkan hukuman yang setimpal. (Oka Punyatmaja 1970 :
61). Sesu\li dengan gambaran diatas, yamka dapatlah penulis untuk merieritukan ajaran apa yang dilukiskan dalam Geguritan Niti Raja Sasana. Sebagai berikut : Sambungane kocap malih, ulahing sang sinewaka, ring ratu manggenangan, kocape. brata nembelas, sasiki giri brata, kakalih indra brata teku, tiga mertawarsabrata.
(Niti Raja Sasana I : 20). Papat yamabrata, malih, kaping lima gaibrta, ping nem lawana brata, kaping pitu mega brata, pingkutus singabrata, ping siya, nilabrata, satabrata kaping dasa. (Niti Raja Sasana I : 21 )
Solas mayubrata, pingin roras cantaka brata, wiagabrata ping tlulase kaga nila ping pat belas, cundaga ping lima welas, walese bratane mungguh kaping nem belas. (Niti Raja Sasana I : 22)
Terjemahannya : Lanjutannya konon lagi, prilaku seorang raja, pada Raja terpakai,
konon (bi:ata (sifat) enam belas, satu girl brata, Kedua indra brata itu, tiga mertawama brata. Keempat Yama Brata lagi, kelima Gani Brata, Keenam Lawana Brata, ketujuh Mega Brata, kedelapan Singa Brata, kesembilan Nila Brata, kesepuluh Sata Brata. Kesebelas Mayu Brata, kedua belas Cantaka Brata, Winga Brata ketiga belas, Kaga Nila Brata keempat belas, Cundaga Brata kelima belas, Walesa Brata keenam belas. Dari kutipan diatas disebutkan enam belas aturan bagi seorang raja dalam men~alankan tugas kenegaraan dengan harapan, adanya aturan ini, maka seorang dalam kepemimpinannya dapat bertindak adil, tidak membedaka,,Rakyat dan senantiasa memahaiW apa yang diinginkan oleh rakyatnya dan demikian juga Raja tahu dengan pantangan-pantangan sesuai dengan pedoman berlaku.
4.3.1., Pola Hubungan raja dengan Rakyat. Konsep ajaran'' kepemimpinan dalam naskah Niti Raja Sasana, memerintah bukan berarti untuk kekuasaan melulu, dengan menaklu~an negara lain dengan sewenang-wenang dan dengan menindas rakyatnya semena-mena. Antara Raja dengan rakyatnya ada hubungan timbal-balik lindung melindungi. Bila Raja tidak melindungi Rakyat ia akan hancur dan bila rakyat tidak patuh pada Raja ia akan hancur pula. Seorang raja harus sayang kepada warga yang miskin, sayang kepada orang yang menderita, atau paling tidak raja harus bisa membuat pikiran rakyat gembira. (Niti Raja Sasana, I : 6-9). Sehingga untuk mempertahankan kewibawaan raja, seorang raja senantiasa Satya Wacana (Setia dan jujur dengan perkataan). Hendaknya hubungan raja dengan .rakyat diibaratakan seperti hubungan Singa dengan hutan. Singha raksasa ning halas ingkang hari nityasa Singha niwang
Ll4
Sasana I. 10 )
Terjemahannya : Singa adalah penjaga hutan dan hutanpun selalu dijaga oleh singa, jika singa itu meninggalkan hutan. Hutan itu akan dirusak dibinasakan orang, kayu-kayunya habis ditebang orang hingga terang. Maka singapun akan lari bersembunyi ke dalam jurang ketengah-tengah ladang yang luas diserbu orang dan dihancurkan. Raja tiada tanpa dukungan rakyatnya dan rakyat tanpa raja tiada hidup tentram karena tertib hukum akan tiada berlaku. Untuk itu raja harus merangkul rakyatnya, mempersatukannya menjadi kekuatan lagi karena perintah berwibawa. Syair berikut menggambarakan hal yang demikian : "Ring uwong hayua nirasyara gawa yakin tekang ma- hanasraya. Tontong naga mangas raye sira bhatara tryani ba- kangareana Sangke bhatinikapangeh dadi sawit de hyang triraj- yantaka prapsekang garada mukti naga pranatang ruhur".
Terjemahannya : "Orang tidak boleh tanpa asraya (tempat-tempat mohon bantuan). Namun usahakanlah mahiasraxa. Lihatlah itu di ular naga yang mencari tempat berlindung pada Bhatara Siwa dengan memujanya. Karena baktinya ia dijadikan kalung oleh bhatara Siwa. Ketika burung Garuda (musuh si ular) datang terpaksa menghormat. kepada si ular dari atas". Dalam tantri Kamandaka, si gagah yang besar dan kuat namun angkuh, mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung, lalat dan katak. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang
Pengu~-penguasa di Bali jaman clfhulu rupa-rupanya mamak- lumi hal ini sehingga ia melakukan strategi menggalang persatuan rakyat 'aalam wilayahnya. Warga-warga disatukan, diper- saudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu dengan pura raja dan menyebut mereka wargi raja(Sura, 1986). · Demikian pula hubungan raja dengan para menteri, walaupun ia tennasuk orang memerintah, ia tetap tidak boleh menje- lek-jelekan raja, tidak boleh mencela raja. Sebaliknya seorang raja harus menaruh kasih sayang terhadap sesama menteri, saling memperingatkan bila salah.
4.3.2. Pola Hubungan Raja dengan Pand.ita (Pendeta) Selain harus menghonnati rakyat, dan para menteri, raja juga harus mengangkat dan menghonnati Pendeta suci (Pandita) Hal ini dapat dilihat pada pub semarandana 1.6, Puh Ginanti II.6,7. "Yang sebaiknya sang raja dalam tingkah laku semua, sekarang hitung satu persatu. Bilangan dalam sifat-sifat, sayang kepada warga yang miskin. Yang kedua itu, sayang kepada orang yang menderita. Yang ketiga honnat pada pendeta" .. "Lagi sebaiknya sang Raja. Berdampingan dengan · Pendeta suci. Pendeta yang bijaksana, menjadi pagarrtya negara. Karena menpelajari sastrsa agama. Terutama Yoga Semadi". "Menjadi kokohlah kedudukan Raja. Dinobatkan dalam negeri. Dan aman tentramlah desa·. Selamat pula dalam istana. Dan tugas pendeta menjadi penerang di dalam negeri". Dalam naskah Niti raja Sasana pupuh yan membicarakan masalah kependetaan cukup panjang. Hal itu dapat dibenarkan karena kehadiran seorang pendeta sebagai penasehat raja mutlak. Seorang raja mesti didamping oleh seorang pendeta suci (purohito) yang benar-benar dalam saat-saat yang baik dan tepat dapat memberikan petunjuk-petunjuk dan atau nasehat kepada raja
ada1ah kedudu~ stnlktural- fungsionai (Agastia, 1982/1983). > Sebagai bandingan, dalam kakawin Ramayana, masalah kehadiran purohito diuraikan secara sangat mendasar.
Disebutkan : "Brahamana (pendeta) dan kesatria (pemimpin) adalah ber- jalan seiring sesungguhnya dasamya adalah saling mendekati,
Pandeta yang tidak memiliki raja akan masuk, Adapun raja yang tanpa pendeta akan hancur juga".
Dalam petikan terjemahan diatas tampak semakin jelas hubungan antara raja (kesatria) dengan pendeta (brahmana). Hubungan fungsional itu terlihat begitu pokok. Hilangnya hu- bungannya tersebut dinyatakan sebagai awal hancurnya kerajaan beserta seluruh masyarakatnya. Pembuktian kehancuran suatu negara karena ulah kesatria tidak mengikuti petuah pendeta, dapat dilihat pada cerita hancumra_ ~e!~jaan Drowati. Dalam cerita Mayadanaur, disebutkan, bahwa Raja Mayadaneur telah dikutuk oleh Hyang Indra, karena membunuh tapa-swi (kaum pendeta). Sebagai pengemban darma. Membunuh para tapa-swi berarti membunuh kepala manusia (pikiran). Karena dalam struktur tubuh manusia orang yang berpengalaman atau berprofsi brahmana letaknya pada kepala. Sedangkan letak orang yang memiliki pengetahuan atau profesi kesatria yaitu pada bahu manusia. Orang yang berpengetahuan/berprofesi sudra pada kaki manusia. Cukup sentrallah letak orang berprofesi brahmana. Membunuh para brahmana berarti membunuh dama. Membunuh darma berarti membangkitkan kebutaan/kegelapan.
Ajaran hindu mengenai tujuh macam kegelapan diri manusia yang disebut Sapta Timira yakni : Berupa (kecantikan/ketam- pa nan), dhana (kekayaan), guna (kepandaian), kuli.na
.. )
· (kebangsawanan), yowana (keremajaan), sura (minuman keras), kasuran (keberanian). Biasanya orang yang° diselimuti oleh Sapta Timira, berarti juga diselimuti oleh Sadripu. Yakni enam musuh yang terdapat di dalam diri manusia berupa sifat-sifat : kama (hawa nafsu keinginan), loba (serakah), kroda (kemarahan), mada (kemabukan), moka (kebingungan), matsarija (iri hati).
4.3.3. ..\jaran Catur Pariksa (Soma, bheda, dana, danda). Ajaran ini dimuat pada pupuh Semarandana I, 12 s/d 16 walaupun urutannya tidak sama padi kitab ajaran kepemimpinan yang lain. Sesungguhnya yang menjadi pokok dalam konsep ini adalah dana hukum. Dalam konteks ini masing-masing bagian dalam Catur Pariksa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Soma Setiap orang sebagai manusia dengan hak-hak
azasinya mesti mendapat perlakuan hukum yang sama dan dengan cara sama serta se- adil-adilnya.
Bheda Keadilan hukum itu ditentukan atau sesuai
dengan perbedaan besar kecilnya pelanggaran/ kesalahan. Dilihat juga dari hakikat makhluk hidup, terutama manusia adalah terjadi dari satu sumber yang sama tetapi mengambil bentuk · lahir yang berbeda-beda.Dana: Hukum yang ditimpakan hendaknya sema-
ta-mata di dasarkan pada pelimpahan kasih sayang yang tulus ikhlas.Danda Danda (hukum) di atas dengan landasan sama,
bheda dan dana adalah semata-mata dengan tujuan menolong dengan memperkecil dan bila mungkin meniadakan dosa-dosanya lahir dan batin untuk rrlelepaskan dirinya dari lingkungan
pihak lain perlu juga diperhatikan keempat bagian Catur Pariksa tersebut. yang dalam konteks ini lebih tepat disebut Catur Naya Sandhi (empat ma,:am cara. berupaya tepat). Dalarr, konteks ini masing-masing di OOri makna sebagai berikut :
Soma bahwa kiw harm• mampu menentukan sikap dan
memiliki dengan siapa kita harus bekcria sama dan sejauh mungkin dapat bcrusaha rncngen- dalikan nafsu jahaL angkara murka dari pihlfk musuh. sampai mcmberi manfaBhed terhadap kawan yang berbeda idiologi atau berbeda dalam pikiran dan tujuan, sehingga kita sanggup menunjukan kemampuan kita dalam menegakkan undang-undang dan hukum secara murni.
Dana: bahwa dengan demikiJn ki:J dapat memberi
bamuan (da na) yang tepat atau mcnerima ban- tuan orang Jain tanpa sua1u svarat ya ng meru- gikan perj uangan.Danda bahwa kite: harus bcrani bertindak tegas ter-
hadap siapa saja yang ternyata melanggar undang-undang hukum, demi keadilan dan kebe- naran dan tegaknya kewibawaan pemerintah (Praja Niti Hindu Indonesia, 1971 : 42-43).
Unt uk menunjang agar ajaran Catur Pariksa dijalankan sesuai dengan apa yang dikehendaki ajaran tersebut, maka seorang pemimpin harus meni ruka n bila sifat brata alam yang telah diciptakan oleh Tuhan. Keenam belas sifat itu yai tu :
l. Giri brata, tetap pendirian. hagaikan kokohnya gunung. Tid~
terpengaruh asutan orang, apabila saat menghadapi perang, jangan menyerah kepada musuh.
Indra brata, dekat dan akrab kepada semua rakyat, tidak pilih
kasih terhadap seorang atau sekelompok orang. Jangan percaya pembicaraan sepihak. Jatuhkanlah :lJ. hukuman sesuai dengan bobot kesalahannya.Mreta b~ata, mengetahui keadaan rakyat sebenamya, Turunlah
kebawah, jangan hanya mengambil kebijaksanaan hanya mengandalkan dari laporan saja.Geni_ l;>rata, basmilah para penjahat dengan se.cepatnya. Sesuai ~ · dengan peraturan yang ada.
Law~ma brata, mencari anggota masyarakat yang berbuat jahat
sesuai dengan fungsi laut yaitu membasmi segala _ "" ~· ang kotor menjadi suci. MIL! K>Klialll'hQ(~ja arus pandai menjaga rakyat, seperti singa DIRE KTOP.AT TRAO!!fnj a hutan, karena kuat lemahnya kerajaan DIT JEN N8SF DEPBU0~1A~ antung kepada rakyat juga. kan mengambil keputusan dengan. cepat, seperti cepatnya jalan angin.Sata brata, meniru kasih sayang seekor induk ayam yang merak
terhadap anak-anaknya.Mayura brata, meniru tingkah laku burung merak, yang tanpa
pemah salah bicara, tidak menuruti hawanafsu,. tidak tertarjk wanita cantik.Cantaka brata; meniru tingkah laku burung kilik-kilik (burung
peminta hujan), demi kemakmuran negara.Kaga nila brata, meniru tingkah laku burung gagak, yang
.. berarti seorang raj a harus tahu tanda-tanda ke- hancuran negara.Wiyagra brata, meniru tingkah laku macan yaitu jangan
bergerak sebelum terpikirkan secara masak-masak.Cundaga btata, meniru tingkah laku lutung (irengan), yang
bisa membedakan atau memilihmana malcna yang bersih.
Walasa brata, meniru tingkah laku kalong (bukal), berarti bisa
menempatkan/mengatur strategi bagi rakyat yang ahli dalam tugas negara.Y ama bra ta, meniru tingkah laku dewa Y ama, menghukum
segala perbuatan jahat.Mrega brata, Biasakan ingat dengan Tuhan, seperti binatang
yang selalu ingat dengan manusia.
4.3.4. AJaran Wreti Sasana Dalam suatu masyarakat, hubungan antara jenis pasti 4i- awasi, bukan semata-mata karena melibatkan naluri yang men- dasar, tetapi karena pentingnya anak-anak diawasi oleh yang bertanggung jawab dan didikannya terpelihara. Jadi jika ada cara merawat anak-anak yang lahir diluar perkawinan (seperti per- zinaan), sampai batas tertentu mungkin berlaku seperti peng- guguran a tau pembunuhananak. Tetapi tidakadasuatumasyarakat yang tidak memiliki cara mengatur pembiakan manusia seperti juga dalam masyarakat Bali, bahwa ajaran tentang ambil-. mengambil calon suami istri disebut ajaran Wreti Sasana. Perkawinan yang menjadi pantang adalah sebagai berikut: memperistri ibu itu salah, memperistri nenek salah, niemperi;tri bibi atau sauditra bibi salah, memperistri anak salah, memperistri keponakan salah, memperistri mantu salah, memperistri ibu tiri salah, memperistri ipar, memperistri istri paman, memperistri istrinya mertua, mengambil istri sepengambilan, memperistri besan salah, tidak boleh menyetubuhi mertua, menyetubuhi i~tri saudara. · Nampakiiya tujuan pantangan kawin itu adalah untuk mem- beri anak-anak sah, tanpa kekaburan. Sebagaiman telah dike- mukakan oleh Davis yaitu seorang anak inces akibat hubungan
u
ayah dan anak perempuannya· akan terjadi kekacauan generasi (Minhel, 1984: 96-98). Kalau pantangan-pantangan teI'Sebut diatas betul-betul diinsafi niscaya perbuatan membunuh banyi dalam kandungan (brunakatia) tidak mungkin akan terjadi. Karena :terjadi suatu kehamilan tanpa memenuhi persyaratan adat dan agama.
4.3.S Ajaran-Ajaran Lain
Ajaran-ajaran-· tersebut diatas, penulis lihat sebagai ajaran pokok. Namun masih ada ajaran-ajaran yang lain sebagai penunjang, yang perlu juga diketahui baik oleh raja itu sendiri maupun oleh rakyatnya sendiri. Sebab dalam naskah Niti Raja Sasana itu tidak saja ajaran yang ditujukan terhadap raja saja, namun juga ajaran-ajaran kesusilaan yang perlu diketahui, dihayati dan dipraktekan oleh rakyat. Misalnya ajaran yang lain yang perlu dipahami oleh seorang raja yaitu ajaran Catur Yuga (empat jaman, ajaran sadatatayi, ajaran asta dewi, ajaran yang lain). Ajaran-ajaran ini penulis tidak ulas, karena ajaran-ajaran tersebut sudah banyak diulas pada kepemimpinan yang lain. Disamping itu kiranya sudah cukup jelas untuk mengetabui isi dari naskah Niti Raja Sasana, kalau sudah membaca dari terjemahan naskah ini.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Naskah Niti Raja Sasana memuat tidak saja memuat tentang ajaran kepemimpinan, namun juga memuat ajaran yang ditujukan terhadap yang dipimpin. Ajaran tersebut tampaknya memang
| terhadap | yang | dipimpin. | Ajaran | tersebut | tampaknya | memang | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| pernah turunan Arya Damar. Walaupun naskah ini | dijadikan | pedoman | oleh susunannya ada beberapa ajaran yang | pemimpin | (raja) | Badung, | ke |
| tumpang ajaran untuk raja (pemimpin) dan mana ajaran yang perlu dike | tindih, | dan tidak | diklasifikasikan secar | khusus | mana | ||
| tahui, | dan dipahami | oleh | rakyatny:;. | Namun naskah | ini | cukup | |
| penting mimpinan yang lain. | terutama | sebagai | pembanding | terhadap | naskah | kepe | |
| Sampai masih dapat dipakai pedornan kepemimpinan masa kini, karena ia menguraikan masalah kepemimpinan yang universal dan hakiki. linjauan secara lebih mendalam terhadap naskah ini masih | batas-batas | tertentu | naskah | Niti Raja | Sasana | ini | |
| perlu masalah- Karya-karya sastra tradisional sudah sepantasnya mendapat | diadakan, masalah yang terdapat didalarnnya. | untuk | dapat mengungkap | secara | lebih | tegas | |
| penyelamatan. dengan mnyimpang dan memperingati setiap 210 hari sekali, tetapi | Pengertian | penyelamatan, | tidak | terbatas | hanya | ||
| hendaknya tercecer pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, men | dilakukan | mulai | dari | mengumpulkan | naskah | yang | |
| tralisasi | ke dalam | huruf | yang | tidak | di pahami | oleh | para |
| generasinya, kandung di dalamnya, dan sampai rnempublikasikan dan di pahami oleh kalangan lebih luas. | mengkaji | nilai-nilai, | atau | ajaran-ajaran | yang | ter |
·
DAFTAR BACAAN
Agastya, Ida Bagus Gede 1982/1983 Tutur Bhagawan Kamando.ka, IDKD, Jakarta. Budiharjo, Meriam, dkk. 1986 Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, Sinar Harapan, Jakarta. Budharta, Ida Bagus Gede 1984 Peranan Wanita Dalam Pergerakan Nasional di Bali", dalam majalah Widya Pustaka, Th. I no 4 Fakultas Sastra Unud, Denpasar. Keraf, Goris 1980 Komposisi, Nusa lndah: Ende Flores. Mardiwarsito, L. 1978 Kamus Jawa Kww (Kawi)-Indonesia Ende Flores : Nusa lndah. Mitchell, Duncan 1984 Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial Jakarta, Penerbit PT. Bina Aksara. Pudja, Gede 1983 Menawa Dharma Sastra Weda Smerti. Proyek Pengadaan Kitab-Kitab Suci Hindu, Dep. Agama RI. Punyatmaja, IB Oka 1976 Pancacrada. Peorbatjaraka, RMNG. Kepustakaan Jawa. Jakarta: Jambatan