Baca PDF (OCR): ZINE VOL 2

21 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 191 ms

Daftar isi
  1. DIBALIK KEHIDUPAN KOTA
  2. Fotografi [1]
  3. Mengapa Ganja Dilarang di Sini dan Dilegalkan di Sana? [6]
  4. Fragmentasi Identitas Anak Muda Penggemar Budaya Populer Global [9]
  5. Kumpulan Ilutrasi [13]
  6. Kumpulan Sastra [15]
  7. Kumpulan Campaign [18]
  8. MENGAPA GANJA DILARANG DI SINI DAN
  9. DILEGALKAN DI SANA?
  10. PENULIS : RIZKY PRASETYA
  11. FRAGMENTASI IDENTITAS ANAK MUDA
  12. PENGGEMAR BUDAYA POPULER GLOBAL
  13. PENULIS : RAHMA SUGIHARTATI
  14. KARYA: KOLASHIT
  15. KARYA: KOLASHIT
  16. SUICIDAL CERPEN
  17. KARYA: DIMAS KUSWANTORO
  18. LAMIA
  19. PENULIS : DEA ANUGERAH
  20. HASRAT ANGGUR MERAH
  21. PENULIS : AGUS YULIANTO
  22. INSUR EKSI

DIBALIK KEHIDUPAN KOTA

Sebuah Tema bulan januari sekaligus merujuk kepada suatu pembahasan masyarakat urban di abad 21 ini.

HALAMANEDISIZINE POKOK ATI SENENG

SEBUAH UCAPAN TERTIMAKASIH

HALAMAN IMUKKADIMAHZINE POKOK ATI SENENG

Sebagai Manusia memang tak semua manusia seragam dengan semangat dan tujuan yang sama. Tentu sebagai manusia, kita terlahir sebagai individu yang berbeda-beda dalam rahim dalam sifat dan karakter. Karena perbedaan ini adalah anugerah tuhan untuk bisa menghargai satu-sama lain.

Harapan zine ini terbit adalah anti-tesis dari maraknya komersialisasi media juga sebagai alat perlawanan dari media arus utama. Dalam keberanian dan tekad serta semangat yang terus membara, zine ini dibentuk bukan semata-mata eksistensi ataunpun upaya komersialisasi.

Tetapi zine ini dibuat karena ada kesadaran yang tumbuh dan melekat pada diri manusia untuk terus berkarya dan membagikan sebuah kebaikan. Terutama tentang kawan-kawan yang telah bersolidaritas dan berkolektif bersama kami untuk membuat zine volume 2 ini. Kami sangat berterimakasih dan sangat bersyukur zine ini bisa terbit sebagaimana perjuangan akan tetap berlanjut.

HALAMAN IIDAFTAR ISIZINE POKOK ATI SENENG

Fotografi [1]

Mengapa Ganja Dilarang di Sini dan Dilegalkan di Sana? [6]

Fragmentasi Identitas Anak Muda Penggemar Budaya Populer Global [9]

Kumpulan Ilutrasi [13]

Kumpulan Sastra [15]

Kumpulan Campaign [18]

HALAMAN IIIRESISTENCEZINE POKOK ATI SENENG

HALAMAN 4 FOTO ZINE POKOK ATI SENENG

HALAMAN 5 FOTO ZINE POKOK ATI SENENG

HALAMAN 6 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

MENGAPA GANJA DILARANG DI SINI DAN

DILEGALKAN DI SANA?

Gara-gara Jefri Nichol kakean polah dengan membuat twit tentang privilege wajah ganteng, orang kembali mengungkit kasus yang menerpa dirinya. Ganja sempat menjadi topik yang hangat di lini masa media sosial. Tentu bahasan ganja tidak melulu tentang artis yang tertangkap karena barang tersebut, namun tentang fakta-fakta lain.

Di Indonesia, ganja dilarang karena ganja termasuk narkotika. Ganja dilarang karena mengandung unsur psikotropika, yaitu tetrahidrokanabinol (THC), yang menyebabkan perubahan perubahan pada aktivitas dan mental seseorang. Meski belum ditemui orang yang melakukan kejahatan macam merampok bank atau membacok orang di jalanan karena efek giting, tapi tetap saja ganja dilarang karena alasan di atas. Karena tergolong narkoba, mengonsumsi atau mengedarkan ganja bisa mengantarkanmu ke kos-kosan yang dibiayai negara (baca: penjara).

HALAMAN 7 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

Karena efek positif yang didapat dari ganja, banyak negara yang mencabut larangan ganja. Mereka melegalkan ganja dengan syarat yang ketat dan tidak bisa digunakan sembarangan. Dengan begitu, peredaran ganja ilegal bisa ditekan. Manfaat medis yang didapat dari ganja adalah untuk mencegah kejang otot untuk pengidap epilepsi, mengurangi nyeri, menghambat perkembangan Alzheimer, dan mengatasi depresi.

Soal manfaat ganja sebagai obat, ini pengetahuan lama sebenarnya. Beberapa tahun lalu Indonesia sempat gempar ketika ada PNS di Kalimantan Barat mengobati istrinya yang sakit pakai ganja. Menurut penuturan sang suami, si istri yang punya kista di sumsum tulang belakang kondisinya membaik sejak mengonsumsi daun ganja yang dicampur dengan makanan. Walau jelas-jelas tujuannya untuk pengobatan dan bukan untuk mabuk hura-hura, si PNS tetap ditangkap karena ganja adalah golongan I. Ini golongan narkotika yang paling berat ancaman pidananya, berkisar dari 4 sampai 20 tahun. Seminggu setelah sang suami ditangkap polisi, si istri meninggal dunia. RIP.

Di negara atau wilayah yang melegalkan ganja, keputusan ini didasarkan pada fakta, meski ganja menyebabkan kecanduan (secara fisiologis dan psikologis), namun efeknya tidak seakut dan separah opium. Selain itu ada pertimbangan seperti, peredaran ganja secara bawah tanah justru membuat harganya mahal dan menjadi lahan bisnis geng kriminal. Soal ini, kamu bisa nonton Narcos: Mexico di Netflix. Dengan melegalkan ganja, penggunaannya jadi lebih terkontrol serta perdagangannya menggerakkan ekonomi.

HALAMAN 8 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

Sejumlah negara tercatat melegalkan ganja, meski konvensi PBB tentang narkotika masih melarangnya. Di Belanda, Kanada, Afrika Selatan, dan Uruguay, orang bahkan sudah boleh make ganja untuk senang-senang. Ada lebih banyak negara yang masih melarang ganja untuk pengganti rokok, namun membolehkannya sebagai obat– Thailand adalah contoh terbaru dan terdekat. Meski penggunaan ganja untuk kepentingan medis mulai lumrah untuk dunia, tetap saja di Indonesia dilarang. Resistensi dari masyarakat yang masih mengenal ganja lewat stigma negatif menyumbangkan banyak penolakan terhadap usaha melegalkan ganja demi kepentingan medis. Tapi sudah ada penelitian tentang menjadikan ganja sebagai obat diabetes yang disetujui Kemenkes pada 2015.

Tapi tidak bisa dimungkiri meski khasiatnya banyak, ganja tetaplah memiliki efek samping. Selain sering disalahgunakan untuk kegiatan mabuk, ganja juga punya efek samping yaitu menyebabkan glaukoma jika dikonsumsi berlebihan. Apa-apa kalau berlebihan memang nggak bagus, mulai dari makan nasi sampai mencintai dia. Karena itu meski legal di beberapa negara, penggunaannya benar-benar diatur ketat oleh negara. Beberapa informasi di atas bisa memberikan sedikit gambaran tentang seluk beluk ganja yang masih kabur bagi beberapa orang. Yang jelas informasi di atas tidak membuatmu dengan pede bertanya kepada teman-temanmu yang berasal dari Aceh dengan pertanyaan macam “Bro, abis makan gulai kambing dikasih biji ganja kamu giting nggak?”

PENULIS : RIZKY PRASETYA

HALAMAN 9 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

FRAGMENTASI IDENTITAS ANAK MUDA

PENGGEMAR BUDAYA POPULER GLOBAL

Tulisan ini mengkaji identitas kultural yang dikembangkan kelompok anak muda urban yang menjadi penggemar (fandom) budaya populer (pop culture) di lingkungan komunitas cyberspace dari perspektif Cultural Studies. Selama ini, meski studi tentang subkultur anak muda dan fandom telah cukup banyak dilakukan, namun masing-masing studi yang telah ada umumnya hanya berfokus pada satu jenis budaya populer, seperti musik atau ikon budaya (selebriti), lebih banyak mengkaji perilaku dan kehidupan sosial para penggemar di dunia nyata, dan seringkali mempergunakan perspektif perilaku menyimpang.

Sebagian besar studi yang ada cenderung memahami subkultur anak muda dalam arti yang negatif. Studi yang dilakukan Bobakova (2013), misalnya menemukan bahwa subkultur anak muda di Roma, dan kelompok penggemar ----

HALAMAN 10 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

Hip Hop, Skinhead, Punk, dan Metal cenderung mempengaruhi gaya hidup dan perilaku negatif, seperti keterlibatan pada narkoba, membolos, berkelahi, mabuk, prestasi akademik yang rendah dan inisiasi seksual dini. Sementara itu, tulisan tentang fandom dalam konteks perkembangan media sosial dan internet, lebih melihat bagaimana dampak perkembangan internet terhadap perilaku penggemar, dan belum banyak mengkaji tentang aktivitas produksi penggemar. Studi yang dilakukan Lee (2011) misalnya, mengeksplorasi sifat keterlibatan fan online, menyelidiki peran penulis fanfic sebagai produsen budaya simbiosis dan penonton aktif, dan mengkaji dampak internet pada kegiatan penggemar dan masyarakat.

Subjek studi ini, meski pun semua merupakan penggemar produk budaya populer global The Mortal Insrtuments, tetapi antara penggemar satu dengan yang lain umumnya mengembangkan subkultur dan identitas sosial yang berbeda. Nick Stevenson (2002) menyatakan sebuah teks budaya yang bersifat terbuka untuk dikonsumsi dan diproduksi maknanya, biasanya akan mampu menarik banyak penggemar yang satu dengan yang lain memiliki keterikatan dan penafsiran yang berbeda. Teks-teks budaya, menurut Stevenson umumnya bersifat poyisemic yang menghasilkan makna serta bentuk- bentuk representasi dan identitas yang berbeda-beda.

Dengan kata lain, meski pun anak-anak muda urban adalah sekelompok atau sesama penggemar produk budaya populer tertentu yang sama, tetapi tidak selalu cara mereka memaknai teks budaya dan juga bagaimana identitas yang dibangun selalu sama.

HALAMAN 11 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

Anak-anak muda urban penggemar budaya populer global umumnya adalah prosumer yang tidak hanya menjadi konsumer pasif yang hanya menikmati teks-teks budaya sebagai bagian dari aktivitas pleasure, tetapi mereka juga menjadi bagian dari kelompok penggemar yang aktif sebagai produser yang menciptakan teks budaya mau pun paratexts hasil dari kreativitas mereka sebagai bagian dari net generation.

Formasi identitas yang dikembangkan anak muda urban sebagai bagian dari digital fandom terfragmentasi paling-tidak dalam dua kelompok subkultur. Pertama, kelompok penggemar yang mengkonsumsi budaya populer yang digemarinya dengan keterikatan emosional yang mendalam di bawah platform ilusi yang dibangun kekuatan ekonomi entertaiment global, dan bahkan tidak jarang pula mendorong mereka masuk dalam dunia rekaan, berempati, dan tanpa sadar tersimulakra dalam setting, alur cerita dan tokoh-tokoh imajiner yang ditawarkan produk budaya populer.

Latar belakang budaya, tingkat literasi media yang mendukung, dan subjektivitas masing-masing penggemar akan menentukan identitas kultural seperti apakah yang nantinya mereka kembangkan.

Kedua, kelompok penggemar yang tergolong kritis terhadap konten teks budaya populer, memiliki modal tingkat literasi media yang memadai. Mereka sebetulnya adalah multi fandom yang juga menjadi penggemar produk industri budaya atau budaya populer yang lain. (*)

HALAMAN 12 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

Penggemar, dalam pandangan cultural studies merupakan komunitas interpretif yang mampu mendefinisikan diri mereka sendiri dan peran mereka secara berbeda dengan kelompok-kelompok lain (Harris & Alexander, 1998: 5). Dalam kehidupan sehari-hari satu hal yang seringkali menjadi ciri yang menandai penggemar adalah berkembangnya perilaku adiktif atau kecanduan untuk terus mengkonsumsi budaya populer global yang digemarinya layaknya social opium. Di kala waktu senggang, sudah menjadi kebiasaan para penggemar untuk meluangkan waktu membuka laptop atau komputer mereka untuk melihat situs produk budaya populer yang mereka gemari: sekadar untuk melihat percakapan dan informasi lain yang muncul di antara sesama kelompok penggemar The Mortal Instruments.

Menikmati waktu senggang, sekaligus perasaan dan kekhawatiran agar tidak ketinggalan informasi, menyebabkan anak-anak muda urban menjadi adiktif untuk terus mengikuti perkembangan informasi tentang budaya populer global yang mereka gemari. Sejumlah informan menuturkan sepanjang waktu memungkinkan, mereka umumnya akan meluangkan waktu untuk membuka situs kelompok penggemar produk budaya populer yang mereka gemari, menikmatinya, dan bahkan jika mereka sedang berminat tidak jarang pula menghasilkan teks-teks budaya lain untuk kemudian disirkulasikan kepada penggemar yang lain.

PENULIS : RAHMA SUGIHARTATI

HALAMAN 13 ILUSTRASI ZINE POKOK ATI SENENG

KARYA: KOLASHIT

HALAMAN 14 FOTO ZINE POKOK ATI SENENG

KARYA: KOLASHIT

HALAMAN 15 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

SUICIDAL CERPEN

Is That So Wrong? No, no it is ‘nt’ Aku sudah menghabiskan tahun-tahun kelam di tempat antah berantah ini sembari mencoba memahami eksistensi ku disini. Eksistensi ini menjadi pedoman atas hal-hal yang terjadi padaku, aku pun mempunyai visi setelah memahami eksistensi ku disini yaitu aku ingin hidup dengan memberikan dampak positif yang tak terlalu signifikan kepada orang sekitarku, namun kuharapkan bisa berdampak padanya suatu hari.

Walaupun masih ku sadari aku masih dalam ketakutan ku setiap malamnya atas evaluasi dari hal-hari yang kuberikan kepada seseorang disekitar ku setiap harinya, ya hal demikian Nampak terlihat bodoh bahwa ada seorang yang tidak memperhatikan dengan baik dirinya sendiri. Hingga pada akhirnya akupun terjebak pada pergolakan diri kebatinanku sendiri dan akupun siap menembakan ‘pistol’ ditangan sebelah kanan ku ini kepan saja untuk menghilangkan noda dari pengaruh buruk yang kadang kala muncul seiringan dengan pengaruh baik yang kuberikan kepada orang sekitar ku

KARYA: DIMAS KUSWANTORO

HALAMAN 16 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

LAMIA

Siapakah yang tak gemetar Maka Lamia pun meletakkan pada malam, bayangan gergasi dendam yang sebentar di atas hatinya yang ganih membikin lamunan jadi pasi bagai garam bagi luka yang pedih. dan orang-orang yang terjaga hangus dalam kenangan sendiri-Pada malam yang sebentar sendiri? ketika impian hanya pasi, dan kenangan Lamia, perempuan telanjang jadi api yang membakar, berkaki ular Lamia, perempuan telanjang akan turun dari pundak sang berkaki ular gergasi akan bernyanyi: menyiasati kabut, menjadikan Siapakah, siapakah yang tak setiap tidur gemetar asing bagi mimpi. pada malam, pada gelap nasibnya sendiri… Ketika keajaiban masih ada sebelum kita memerangi dewa- dewa dari puncak gunung dan perut lembah seseorang telah memarut kecantikannya karena cemburu.

PENULIS : DEA ANUGERAH

HALAMAN 17 OPINI ZINE POKOK ATI SENENG

HASRAT ANGGUR MERAH

Minumlah segelas anggur Seorang kesatria datang meneguk merahku segelas anggur merah Bahagialah bersama bayang-Bergelas-gelas membuat bayangku perasaannya terasa ringan Cumbulah aku dalam dekapan Namun, betapa terdapat basah hasrat cintamu yang menyedihkan Di sana kau akan menemukan Jika di depan matanya dihadapkan surga kehidupan kematian jika engkau tahu cara meminumnya, maka hidupmu pasti akan menyenangkan.

PENULIS : AGUS YULIANTO

HALAMAN 18 CAMPAIGN ZINE POKOK ATI SENENG

INSUR EKSI

ZINE POKOK ATI SENENG