Baca PDF (OCR): WAWACAN GANDASARI

143 halaman · 143 halaman diproses dengan OCR· 174134 ms

Daftar isi
  1. WAWACAN GANDASARI
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. WAWACAN GANDASARI
  4. PENGANTAR
  5. JENDERAL KEBUDAY AAN
  6. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAY AAN
  7. Jakarta, September 1992
  8. Direktur Jenderal Kebudayaan
  9. PENDAHULUAN
  10. 1.1 Latar Belakang Masalah
  11. A. Teeuw (1982: 12-13) pemah menuliskan pengalamannya,
  12. 1. 2 Maksud dan Tujuan
  13. 1.4 Metodologi
  14. 1.5 Pertanggungjawaban Penulisan
  15. Pengantar Transliter~i dan Terjemahan
  16. II. PUPUH ASMARANDANA (24 pada)
  17. N. DANGDANGGULA ( 21 pada)
  18. vm. PUPUH MAGATRU ( 16 pada)
  19. IX. PUPUH PANGKUR ( 18 pada)
  20. PUPUH SINOM ( 16 pada )
  21. PUPUH KINANTI ( 21 pada)
  22. IV. PUPUH DANGDANGGULA ( 21 pada)
  23. VI PUPUH MIJIL (22 Pada)
  24. VII. PUPUH PUCUNG (17 pada)
  25. VIII PUPUH MAGATRU (16 pada)
  26. IX PUPUH PANGKUR ( 18 pada)
  27. X PUPUH SINOM (17 pada)
  28. PENELUSURAN PENGARUH ISLAM TERHADAP NASKAH-NASKAH SUNDA
  29. Isl~m di
  30. Sunda dan bahasa-bahasa daerah
  31. --dan kembali lagi ke--Jawa Barat.
  32. 3.3.3 Periode Islam
  33. SEBUAH BENTUK SASTRA AJARAN TASAWUF
  34. Penyajian Teks Wawacan Gandasari
  35. ..., dibasakeun lapad Sirri al Insa.nu, keris abus kasarangka,
  36. "ratu berkuasa di angkasa". Martabatnya
  37. BAB V RELEV ANSI DAN PERANAN NASKAH
  38. DALAM PEMBINAAN DAN PENGR\fBANGAN KEBUDA Y AAN NASIONAL
  39. PENUTUP
  40. PUSTAKA
  41. Cap Kertas
  42. Keterangan: a) Isi Teks
  43. DOA BAGI
  44. Hi tarn
  45. yang diperkirakan sebagai

WAWACAN GANDASARI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

· Tidak diperdagangkan

WAWACAN GANDASARI

Oleh:

Drs. Undang Ahmad Darsa Dra. Anne Erlyane Drs. Aam Masduki Drs. Tjetjep Rosmana

Editor: Drs. R~yadi

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NI LAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA TAHUN 1992/ 1993

PENGANTAR

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah lama Sunda yang berjudul Wawacan Gandasari isinya tentang Wawacan Gandasari adalah sebuah naskah dalam bentuk Sastra yang berisi ajaran Tasawuf.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai luhur bangsa untuk meningkatkan kualitas hidup dan memper- kuat kepribadian berdasarkan pada nomor dan akidah ke lslaman yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik mau- pun spirituil.

Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.

Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbang- an yang berarti dan berrnanfaat serta dapat menambah wawa- san budaya bagi para pem baca.

iii

para peneliti dan senru a pihak atas jerih payah mereka yang telah membantu terwujudnya buku ini.

Jakarta, September 1992 Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengk~dayaan Nusantara

-·fo.11~ Sri Mintosih, - BA. NIP. 130 358 048

iv

JENDERAL KEBUDAY AAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAY AAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daeralmya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemi- kian itu akan membantu an~ota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etnosentris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sumbangannya dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pembinaan sating pengerti- an dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat ma- jemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Ba- gian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang ha ti menyambut terbitnya buku yang berjudul Wawacan Ganda Sari.

v

sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.

Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal, dan ada· ke- mungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharap- kan hal ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan peng- ungkapannya

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.

Jakarta, September 1992

Direktur Jenderal Kebudayaan

Drs. GBPH. Poeger NIP. 130 204 562

vi

dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah melaksanakan kegiatan penelitian naskah-naskah yang ada di

vii

Propinsi Jawa Barat sebagai penanggung jawab, sedangkan penggarapannya dilaksanakan oleh sebuah tim peneliti yang terdiri atas :

(I) Drs. Undang Ahmad Darsa, sebagai ketua merangkap anggota.
(2) Dra. Anne Erlyane, sebagai anggota.
(3) Drs. Aam Masduki, sebagai anggota.
(4) Ors. Tjetjep Rosmana, sebagai anggota. Patut kami kemukakan bahwa laporan penelitian ini bisa tel'Wujud berkat ban tuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya kami sebagai tim peneliti mengucapkan terima kasih terhadap warga masyarakat yang ada di daerah Bandung, Garut, Tasik- malaya, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon yang dengan penuh pengertian telah memberikan informasi mengenai berbagai aspek naskah yang diteliti. Di samping itu adalah merupakan satu keharusan yang wajar bagi kami untuk mengucapkan terima kasih kepada :
1. Pemimpin Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusanta- ra, Dirjen Kebudayaan Depdikbud atas dukungan dana serta petunjuk-petunjuknya.
2. Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat atas pembinaannya.
3. Bapak Drs. H.R. Suryana (Kepala Bidang Jarahnitra Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Barat) selaku penanggungjawab penelitian naskah kuno Jawa Barat atas bimbingan serta saran-sarannya.
4. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu, namun begitu besar bantuannya.
viii

dapat bermanfaat, paling tidak dalam upaya menambah informasi serta inventarisasi naskah-naskah kuno di daerah Jawa Barat bagi masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah.

Bandung,Februari 1992 Ketua Tim Peneliti

ix

ISi

Hal am an

KAT A PENGANT AR.............................. iii SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN... v PENGANTAR................................... vii DAFT AR ISi................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ........................

I. I La tar Belakang Masalah ..... .'.......... 1
1. 2 Maksud dan Tujuan................... 4
1.3 Ruang Lingkup....................... 5
1.4 Metodologi.......................... 5
1.5 Pertanggungjawaban Penulisan........... 6
BAB II TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN TEKS WA WACAN GANDASARI................. 8

2.1 Pengantar Transliterasi dan Terjemahan.... 8
2.2 Transliterasi Teks..................... IO
2.3 Terjemahan Teks..................... 35
BAB III PENELURUSAN PENGARUH ISLAM TER-HADAP NASK.AH-NASK.AH SUNDA........ 62

3.1 Pengantar........................... 62
~ · · ..

3.2 Perkembangan Islam di Indonesia......... 65;,,,-'
xi

Sunda ..............................67

3.3. l Periode Pra-Islam.................. 70
3.3.2 Periode Islamisasi.................. 72
3.3.3 Periode Islam..................... 73
WAWACAN GANDASARI SEBUAH BENTUK
SASTRA AJARAN TASA WUF............. 77
4.1 Pengantar........................... 77
4.2 Ilmu Tasawuf Sebagai Suatu Ajaran dalam
Islam 77
4.3 Bentuk Penyajian Teks Wawacan Gandasari. 81
4.4 Kronologi Teks Wawacan Gandasari....... 84

BAB IV

4.5 Unsur-unsur Tasawuf dalam Wawacan Gan-
dasari ..............................86
BAB V RELEV ANSI DAN PERANAN NASKAH DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDA Y AAN NASIONAL............... 98
BA V VI PENUTUP .............................104
DAFT AR PUST AKA ..............................107
LAMPIRAN ....................................; ~ I I

xii

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Banyak sumber kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Jawa Barat yang patut dipandang sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional yang dapat memberikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa. Oleh karena itu, usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, baik yang dilakukan peme- rintah maupun masyarakat tidak dapat dipisahkan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang banyak tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Kegiatan demikian pada dasarnya menunjukkan bukti hidupnya kreativitas serta kesa- daran untuk menggali dan memanfaatkan bahan-bahan yang paling dekat dengan masyarakat, yakni kebudayaan daerah mereka. Hal ini merupakan perwujudan dan pengisian terhadap butir-butir UUD 1945 serta GBHN sebagai landasan idiil dan landasan hukum yang secara jelas menuntut penggalian dan pengembangan unsur-unsur kebudayaan daerah sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Namun, dalam upaya penggalian dan pengembangan kebudayaan daerah tersebut diperlukan data serta informasi selengkap dan sebaik mungkin, sehingga keane- karagaman kebudayaan daerah itu dapat dipadu sebagai satu perwujudan kesatuan budaya nasional.

bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu. Sebagai sumber informasi sosial budaya, dapat dipastikan bahwa naskah-naskah kuno termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahir- kan dan mendukungnya. Sedangkan lahirnya naskah-naskah kuno erat pula kaitannya dengan kecakapan baca-tulis atau pengetahuan tentang aksara. Berkat adanya tradisi demikian, maka naskah-naskah kuno sebagai karya tulis yang mengandung berbagai bahan keterangan mengenai kehidupan masyarakat masa lampau yang disusun oleh para pujangga masa itu, akhir- nya sampai pula kepada generasi sekarang untuk dapat dibaca dan dipahami.

Naskah-naskah kuno berdasarkan wujudnya dapat dipan- dang sebagai benda budaya yang berupa hasil buah pikiran dalam bentuk tulisan tangan yang berupa kode-kode aksara yang tertera di dalamnya dengan penuh makna, antara lain dapat memberikan informasi langsung mengenai ide-ide atau gagasan berbagai pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu juga me- rupakan perwujudan ajaran-ajaran moral, filsafat, keagamaan, dan unsur-unsur lainnya yang mengandung nilai-nilai luhur yang bisa dikembangkan dalam upaya menunjang perwujudan pembangunan nasional, khususnya pembangunan di bidang kebuda- yaan.

Dilihat dari kuantitas naskahnya, naskah-naskah (kuno) di Jawa Barat diakui cukup banyak jumlahnya. Hal ini antara lain terbukti dari hasil pencatatan dan inventarisasi yang dilakukan oleh Dr. Edi S. Ekadjati, dkk. (1988) sebanyak 1.432 buah, baik yang berada pada koleksi naskah di dalam negeri (Perpus- takaan Nasional Jakarta, Museum Negeri Jawa Barat Bartdung,

Pangeran Geusan Ulun Sumedang, Museum Cigugur Kuningan) maupun di luar negeri (Belanda, lnggris, Swedia), serta pada koleksi naskah perorangan di masyarakat. Di samping itu, di kantor EFEO Bandung (1990) tercatat sekitar 800 naskah, di Keraton Kasepuhan Cirebon ada 117 naskah, di Keraton Kacirebonan ada 42 naskah. Jurnlah naskah pada koleksi Keraton Kanoman belurn diketahui, karena belurn terbuka untuk diteliti (Ekadjati, 1990 : 2). Apabila dilihat dari jenis isinya, naskah-naskah Sunda dapat diklasifikasikan ke dalam 12 kelom- pok, yaitu (1) agama, (2) bahasa, (3) hukum/aturan, (4) ke- masyarakatan, (5) mitolo'gi, (6) pendidikan, (7) pengetahuan,

(8) primbon, (9) sastra, (10) sastra sejarah, (11) sejarah, dan (12) seni (Ekadjati dkk., 1988 : 34 ). Adapun aksara yang digunakan pada penulisan teks naskah-naskah Sunda tersebut dapat dibedakan ke dalam empat jenis, yakni aksara Sunda Kuno, Cacarakan (Sunda -Jawa), Pegon (Arab berbahasa Sunda), dan Latin. Aksara Sunda Kuno umurnnya digunakan dalam naskah-naskah Sunda yang ditulis antara abad ke-15 hingga abad ke-17 Masehi yang di dalamnya pengaruh kebudayaan Hindu masih tampak kuat. Cacarakan digunakan untuk menuliskan teks naskah-naskah Sunda sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Sedangkan aksara Pegon umumnya digunakan dalam naskah-naskah Sunda sejak abad ke-18 hingga menjelang akhir abad ke-20. Kemudian aksara Latin dipakai menuliskan teks naskah-naskah Sunda pada sekitar abad ke-19. Ketiga jenis aksara yang disebutkan terakhir dalam penggunaannya telah mengalami penyesuaian dengan lafal dalam bahasa Sunda. Berdasarkan hal tersebut, pada kesempatan ini akan dilakukan sebuah garapan terhadap salah satu teks naskah Sunda, khususnya dari jenis naskah yang bemafaskan keagpmaan (Islam). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa selain sebagai upaya penyelamatan naskah, juga dicoba untuk meng- ungkapkan isi yang terkandung dalam teks naskah tersebut.

A. Teeuw (1982: 12-13) pemah menuliskan pengalamannya,

bahwa kegiatan menerbitkan suatu teks klasik secara ilmiah dengan segala aspeknya, seperti antara lain: membandingkan nas-

time satu tahun, bahkan seringkali jauh lebih dari itu.

1. 2 Maksud dan Tujuan

Teks suatu naskah kuno merupakan "dokumen bahasa" yang tersedia untuk dibaca oleh pembaca. Dalam filologi tra- disional, kritik teks mempunyai tujuan dan tugas ke arah usaha pencapaian teks yang sedekat mungkin dengan aslinya (Teeuw, 1984 : 163 -166 ), dan perhatian besar akan dicurahkan pada kekhususan naskah dari berbagai segi, seperti: kodikolog, pa- laeografi, sistem ejaan, tempat penulisan, w~ktu penulisan, dan sebagainya (Van der Molen, 1983). Dalam penelitian ini, pan- dangan-pan~angan tersebut diperhatikan, tetapi belum sepenuh- nya dilaksanakan berdasarkan keketatan yang diharapkan. Mak- sudnya adalah demi keutuhan serta kejelasan pemahaman teks lebih lanjut. Penelitian yang dilakukan ini tujuannya antara lain ialah berusaha menyajikan sebuah transliterasi dalam bentuk sunting- an teks disertai terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Hal i~i pada dasarnya barulah merupakan tingkat pertama dan ber- sifat sementara sebagai _Persiapan, karena upaya ini pun sebe- narnya lebih diarahkan kepada usaha pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam teks naskah sebagai salah satu pening- galan kebudayaan masyarakat Sunda masa lampau, yakni beru- pa teks naskah Wawacan Gandasari. Dengan demikian akhirnya diharapkan basil penelitiap ini bisa dianggap sebagai salah satu titik tolak ke arah penggarapan berikutnya terhadap naskah-naskah sejenis yang ada di Jawa Barat.

lingkup

Pada beberapa uraian di muka telah disinggung bahwa objek penelitian ini adalah berupa naskah Sunda (lama). Mengingat dari segi jumlah serta judul yang banyak, maka dalam penelitian ini dilakukan penggarapan terhadap Wawacan Gandasari yang berwujud tulisan tang;m. Sebagai teks, naskah wawacan ini ada beberapa buah, tetapi pada kesempatan ini ha- nya akan dilakukan garapan dalam sebuah bentuk terbitan "edisi standar" sebagai upaya untuk menyajikan bahan serta bantuan kepada pembaca agar dapat bekerja dekat dengan sum- bernya (Van der Molen, 1983 : 68), dan sedapat mungkin mam- pu mengikuti teks sebagaimana termuat dalam naskah sumber. Dengan demikian, upaya pengungkapan isi yang terkandung dalam teks naskah tersebut tidak terlalu terpengaruh oleh cam- pur tangan peneliti dari segi filologis. Namun demikian, suatu penerbitan tidak mungkin menghilangkan sama sekali kesen- jangan di antara pembaca dengan naskah itu sendiri.

1.4 Metodologi

Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif yang pada dasarnya ditujukan dalam upaya menunjang pene- rapan metode kajian filogogi, yakni metode "edisi standar". Demi keutuhan serta kejelasan pemahaman dibuat kompromi dengan konvensi pupuh yang berlaku sebagai dasar gubahan ce- rita dalam bentuk wawacan, berupa perlengkapan teks dan per- baikan bacaan berdasarkan pedoman bahasa Sunda yang berlaku. Usaha peneliti adalah menyajikan teks, membaca, serta me- nafsirkan teks secara cermat sesuai dengan kemampuan, sehing- ga naskah itu bisa dipahami dan dinikmati oleh pem baca masa kini. Dalam pengumpulan bahan-bahan ditempuh dengan jalan :

(1) Penelitian kepustakaan guna memperoleh pengetahuan teo- ritis dalam upaya pengkajian dan pemahaman isi teks. Di samping itu untuk meneliti data-data naskah Sunda dalam katalogus dan dari basil penelitian serta penerbitan lainnya.

·

1.5 Pertanggungjawaban Penulisan

Sebagai pegang~m umum dalam meneliti bahan pustaka tentang rakyat dan budaya Indonesia, kita dapat menelaahnya d~ri buku Bibliography of Indonesian Peoples and Cultures yang disusun oleh Raymond Kennedy, kemudian direvisi dan diterbit- kan oleh Thomas W. Maretzki dan H. Th. Fischer melalui Southeast Asia Studies, Yale University bekerjasama dengan Human Relations Area Files (1974). Perihal naskah-naskah yang telah menjadi koleksi resmi dapat ditelaah dari buku lndone- sische Handschriften, yang disusun oleh Hooykaas, Poerbatjaraka, dan Voorhoeve tahun 1950. Tentang naskah Jawa yang di- simpan di Bagian Koleksi Naskah Museum Nasional (kini telah dipindahkan ke Perpustakaan Nasional), terdapat dalam "Lijst der Javaansche Handschriften" dalam Jaarboek KGB (1933) yang disusun oleh Poerbatjaraka. Selanjutnya mengenai naskah-naskah Sunda itu sendiri, antara lain telah disusun oleh sebuah tim yang diketuai oleh Dr. Edi S. Ekadjati dengan judul Naskah Sunda: Inven tarisasi dan Pencatatan, disusun dalam rangka ker- jasama Lembaga Kebudayaan Unpad deng;m The Toyota Foun- dation ( 1983; terbitan baru tahun 1988).

Sebenamya cukup banyak keluhan dari sarjana Indonesia dan Amerika setelah membac~ karya para sarjana Belanda yang menyelidiki sejarah perkem bangan Islam di Indonesia. Para sarjana Belanda itu memang telah cukup banyak mengarang monografi dan menguinpulkan · data, namun teori besar dan gambaran umum tentang sejarah Islam di Indonesia belum per- nah mereka hasilkan (Steen brink, 1984: 3 ). Tetapi kelemahan i tu pun disadari oleh para sarjana Belanda sendiri, se bagaimana

ne~ri Belanda, dan yang menyelidiki Islam di Indonesia dalam zamannya. lnilah barangkali buku terakhir dari "Madzab Snouck", yang hanya berciri fragmen ta saja. Lebih dari itu kita tidak dapat menghidangkannya (Boland, 1978: 134).

Mengenai penulisan sejarah Islam di Indonesia, ada dua periode yang mendapat perhatian khusus, yakni periode masuknya Islam di Indonesia dan zaman reformisme pada abad ke-20. Tentang zaman reformisme abad ke-20 telah ditulis bentuk disertasi oleh beberapa orang Indonesia, antara lain Alfian (1968), Taufik Abdullah (1971), Deliar Noer (1973). Selain itu biarpun sifatnya agak berbeda juga dari Zamakhsyari Dhofier (1982), dan seorang asing lainnya adalah Clifford Geertz (1960) yang cukup mengundang perhatian para sarjana Indonesia, terutama dari Harsja W. Bachtiar.

Disertasi Hoesein Djajadiningrat (1913) adalah sebagai karya yang berbentuk disertasi paling awal, pada hakekatnya merupa- kan sebuah studi filologi yang menggunakan suatu karya (Sajarah Banten) dari historiografi tradisional sebagai obyek dan sekaligus sumber sejarah. Ia dapat dicatat sebagai putera Indonesia pertama yang menggunakan prinsip-prinsip metode kritik sejarah. Di samping kritik intern dan ekstem terhadap sumber itu, juga dilakukannya analisis unsur-unsur kultural yang terdapat dalam historiografi tradisional, dan dengan de- mikian ditunjukkan jenis-jenis subyektivitasnya (Sartono Kartodirdjo, 1982: 22 ). Bertitik tolak dari usaian tersebut, maka penelitian ini di- harapkan dapat melengkapi atau membuktikan peranan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa Barat begitu besar, seperti tercermin dalam naskah-naskahnya

Pengantar Transliter~i dan Terjemahan

Penerbitan ini pada dasamyam~ill dalam tahap pendahulu- an sehingga masalah teknis filologis belum dilakukan serta di- pertanggungjawabkan secara khusus. Tetapi dalam upaya per- siapan ke arah pemahaman. teks, ada baiknya dikemukakan dahulu beberapa pengertian yang ada kaitannya dengan topik tersebut, terutama mengenai istilah transliterasi itu, yang me- nurut Baroroh Baried (1985: 65) upaya ini pen ting guna mem- perkenalkan teks-teks lama yang ditulis dengan huruf daerah mengingat kebanyakan orang sudah tidak mengenal atau tidak akrab lagi dengan tulisan daerah itu. Di lain pillak, transliterasi perlu diikuti patokan yang berhubungan dengan pembagian kata, ejaan, dan fungtuasi, mengingat teks-teks lama itu biasa- nya ditulis tanpa memperhatikan aspek-aspek tata tulis sebagai kelengkapan dalam rangka memahami suatu teks.

Transliterasi biasa disebut dengan istilah alill aksara yang secara umum dapat diartikan sebagai usaha penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf dari tata tulis tradisional menjadi tata tulis yang menggunakan huruf Latin. dengan tidak meng- ubah bahasa teks. Dengan upaya tersebut, suatu teks naskah kuno akan lebill banyak dibaca orang, lebill-lebih bagi mereka

Perlu juga dikemukakan bahwa bahasa-bahasa dalam teks naskah kuno umumnya tidak menggunakan ejaan yang mantap sehingga penulisan dapat bermacam-macam. Untuk mengatasi hal tersebut, maka harus didasarkan kepada sebuah pedoman ejaan yang baku, dan dalam usaha alih aksara teks WG digunakan Pedoman Ej aan Bahasa Sund a Yang Disempuma- kan.

Tanda baca yang digunakan terutama adalah tanda titik (. ), dan tanda koma (,). Tanda titik digunakan penutup untuk setiap pada (bait). Sedangkan tanda koma digunakan sebagai tanda pemisah antar padalisan (larik) dalam setiap pada. Hal ini dimaksudkan guna mempertahankan konvensi pupuh yang bersangkutan. Walaupun dalam teks WG itu terdapat teks dalam bentuk dialog, tetapi di sini tidak digunakan tanda petik

(") untuk mengutip kata atau kelompok kata itu, dengan maksud demi menghargai dan untuk menghindari kesalah fa- haman terhadap konvensi pupuh. Kemudian, huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada setiap kata awal untuk masing-masing pada. Selain itu, digunakan pula untuk penulisan nama orang, gelar kehormatan yang diikuti nama orang, nama-nama hari, nama-nama khas ~ografi, dan sebagainya, sesuai dengan pedoman ejaan yang berlaku. Perihal terjemahan digunakan prinsip pemindahan arti, tidak semata-mata digunakan penerjemahan kata demi kata, atau kalimat demi kalimat, karena setiap bahasa bagaimanapun eratnya pertalian antara keduanya (antara bahasa sumber dan bahasa sasaran), ternyata memiliki struktur masing-masing, bahkan kata yang mirip kemungkinan artinya telah mengalami perubahan. Dalam hal ini bisa dikemukakan bahwa, terjemahan atau alih aksara adalah satu usaha pemindahan suatu bahasa sebagai bahasa sumber ke bahasa lain sebagai bahasa sasaran yang pada hakekatnya berarti memindahkan isi yang terkan- dung dalam kulit bahasa sumber ke dalam kulit bahasa sasaran

(bandingkan Tu ti Munawar, 1991 ). J adi hanya mungkin kita tafsirkan dalam pembatasan bahasa, zaman, ~nre, dan karyanya itu sendiri (Robson, 1978: 34). Penyajian transliterasi dan terjemahan ditulis ke samping, pada demi pada disertai nomor urut secara khusus (setiap pupuh) dan nomor urut pada secara keseluruhan.

2.2 Transliterasi Teks
I. PUPUH SINOM (16 pada)
001. (01) Kuring diajar nyarita, tapi basa langkung la'ip, nyari- takeun nu baheula, Ki Ganda sareng Ki Sari, jeung rakana sareng rai, ·saderek tunggal sasusu, geus lawas teu patepang, geus kitu tuluy papanggih, barang am- prok tuluy sasalaman.
002. (02) Eh Kakang hatur bagea, eta catuma Ki Sari, naha Kakang lawas pisan, ayeuna Kakang papanggih, iraha Kakang nya sumping, ayeuna katimu timana nya ngumbara, geus lawas hanteu papanggih. Kai Ganda ngawalon, saparan-paran.
003. (03) Kakang kuring atoh pisan, ayeuna Kakang papanggih mangga Kakang geura dahar, tilam sono jisim kuring, prak dahar raka jeung rai, di bale papayun-payun, jeung bari sasauran, duaan pademit-demit, Kai Sari pok nanya ka Kai Ganda.
004. (04) Kang rai hayang uninga, lampah poe anu dihin, reujeung kalakuanana, geura popoyan geura kuring, reujeung dewana teh deui, eta poe anu tujuh, Ki Ganda seug popoyan, Kang raka man nya pamanggih, tapi duka mun salah Kakang pagahan.
005. (05) Mimitina poe Ahad, eta anu dihin, Sarangen~ lakuna mah, dewa Badak ceuk wong alim, reujeung poe Se- nen deui, dewana ge meureun lauk, lakuna oge kem- bang, ki Sari nyarita deui, bener temen rempag jeung pamanggih kula.

  1. (06) Jeung eta poe Salasa, mangga Kakang wejang deui, sareng Rebo sakalian, Ki Ganda nyarita deui, Salasa lakuna deui, seuneu basa Kakang kitu, dewana meu- reun oray, Reho mega nu dilangit, dewa macan kitu panggih pun Kakang.
  2. (07) Kemis raspati ngaranna, eta teh lakuning angin, dewana manuk ngarana, Juma'ah lakuning cai, seug haturan Kai Sari, dewana eta pisaur, Ki Ganda ngawa- lonan, bangkong dewana di cai, sapatotos reujeung pamanggih kaula.
  3. (08) Poe Saptu eta Kakang, sumangga popoyan deui, sim kuring hayang uninga, saur Ki Ganda deui, Saptu mah lakuning bumi, Ki Sari pok deui matur, naon dewana Kakang, sumangga pihatur deui, dewa mo- nyet kitu pamanggih pun Kakang.
  4. (09) Seug Ki Sari sasalaman, sapatotos jeung sim kuring, kuring sok hayang uninga, deukeutna jeung jisim kuring, poe anu tujuh geuning, di mana enggonna cam- puh, reujeung badan kaula, hayang uninga kang rai, Kai Ganda tidinya tuluy popoyan. 0 IO. (l 0) Mimitina poe Ahad, ahadiat ngan sahiji, lakuna lakuning soca, ayana sahiji ati, anu matak ngan sahiji, nya eta nyataning enur, Senen mah dina manah, ayana dina ati sir, kanyataan nu disebut awak urang.
  5. (l l) Ki Sari deui nyarita, sapatotos jeung sim kuring, Salasa naon nyatana, Ki Ganda ngalahir deui, Salasa lakuning geni, di urangna dina napsu, sipatna ki ama- rah, cicing dina bayah deui, bijilna mah tina cepil duanana.
  6. (12) Rebo kanyataan, nya eta roh idopi, nyaetajenengan urang, jeung Kemis lakuning angin, lain angin kum- bang leutik, lain angin Barat liuh, angin jatining na- pas, hanteu kandeg beurang peuting, mun ngarandeg tinangtu jagatna ruksak."

Sari atoh kacida, sapatotosjeung sim kuring,jeung eta poe Juma'ah, Kakangpopoyankeun deui. Ki Ganda nyarita deui, Juma'ah nya hanteu jauh, cai eta nyatana, lain cai tina pasir, reujeung lain karacak cai susukan.

  1. (14) Lain cai geledegan, lain cai anu asin, eta lain cai hujan lain seuseupan nu asin, lain sagalaning cai, lain pan- curan ci susu, cai nu saenyana, dingarankeun cai mani, wadi mani maningkem jadi salira.
  2. (15) Reujeung deui Saptu tea, eta teh lakuning bumi, lain taneuh anu gempal, lain taneuh porang pasir, lain taneuh nu karikil, lain taneuh beureum gunung, lain taneuh sagala, kanyataan bumi jisim, ngan sakitu rai pamanggih pun Kakang.
  3. (16) Seug Ki Sari sasauran, Sapatotos jeung sim kuring, pamanggih kuring nya eta, Ki Ganda sareng Ki Sari, jeung rakana sareng rai, duaan patingareluk. hidayat temen urang, jeung dulur papanggih deui. ngan hade- na urang hanteu kasamaran.

    II. PUPUH ASMARANDANA (24 pada)

  4. (01) Ngan aya ·sual saeutik, sumangga geura teangan, aya kolot tacan baleg, hanteu nyaho diurusan, anggeus .kolot bongkak pisan, leumpangna ge mani ngeluk, sumangga geura manahan.

  5. (02) Cikal jadi bung5u deui, bujang anakna sawidak, en- dog hayam kongko ongko, kuya paeh katiisan, nu lumpuh ngideran jagat, hileud cai neureuy gunung, parahu ngeueum di darat.
  6. (03) Heran ku siloka deui, pireu matak katorekan, nu ce- bol di lebak jero, sirahna ngungkulan mega, sumangga geura manahan, jongkotna aya di puhu, cicing bari lulumpatan.

  7. (04) Lum pat tarik liwat saking, tapi teu obah awakna, sim kuring sok heran bae, eta nu kitu petana, nyum- put buni dinu caang, lamun Kakang tacan timu, sa- yaktosna tacan Islam.

  8. (05) Ki Ganda ngalahir deui, Adi sumangga popoyan, sabab Kakang mah teu hartos, Ki Sari tuluy popoyan, mun ku Kakang teu kapendak, eta teh nyataning elmu, ayana dina salira.
  9. (06) Lain papan lain tulis, lain kur'an lain kitab, teangan tulisan dewek, montong neangan nu anggang, ngaram- paan nu teu aya, montong nakol anu jauh, montong lam par nu di seja.
  10. (07) Taneuh diruang ku bumi, cai ditangung ku hujan, sangu pananggungna congcot, eta siloka kaula, poma ku Kakang teangan, jeung aya seuneu kadtiruk, sara ngenge kapoyanan.
  11. (08) Kapal tilelep ka langit, bangkong ngaheumheum li- angna, pilih jalma anu nyaho, teu jauh jeung eta, aran sejen bae pemahna, eta ieu reujeung itu, enyana meureun sarua.
  12. (09) Pun Kakang tacan ngaharti, poma rai geura wejang, pun kakang kaliwat bodo. Ki Sari tuluy popoyan, nyatana dat jeung sipat teh, Nabi Muhammad rasul, di mana enggonna nyata.
  13. (I 0) Allah jeung pangeran deui, pangandika ning Yang Sukma, poma-poma kudu nyaho, kana salira Muhammad, eta teh nyatana Allah, sabab eta hanteu jauh, kaula Gusti teu beda.
  14. (11) Beda hanteu beda deui, keretas jeung bobodasna, leuwih deukeut Pangeran teh, tinanding jeung beu heung urang, deukeut ka Pangeran, tinanding urang jeung irung, deukeut mungguhing Pangeran.

  15. ( 12) Upama panon deui, nu hidung jeung bobodasna, eta abe anggang keneh, sababna aya antara, nu hideung j eung bobodasna, eta dingaranan jauh, sabab aya antara.

  16. (13) Tangkal Teureup jeung Kelewih, eta teh taya bedana, upama kembang Jaksi teh, eta meureun jeung seungit- na, eta teh tara papisah, poma Kakang masing timu, Gusti teh reujeung kaula.
  17. (14) Upama dalang keur calik, nyanghareupan ka ki wayang matak aya dalang oge, sababna aya dalangna, da moal jumeneng wayang, eta upamana kitu, Gusti teh reujeung kaula.
  18. ( 15) Lamun Kakang nyembah muji, nya muji kutan ka saha, lamun nyembah ka Yang Manon, eta teu warna teu rupa lain sarua jeung urang. sembah urang hanteu puguh, anggur montong sakalian.
  19. (16) Teu puguh anu dipuji, batan nu ahli sare'at, ngandel- keun kitabna bae, lapad pake kaulinan, ngaji batal reujeung haram, mawa iteuk dikeketruk, mawa tasbeh digamparan.
  20. (17) Ari ngomong bari dikir, sakecap alhamdulillah, tapi ~acan Islam keneh, ngan Islam bangsa sare'at, pedahna angge'us netepan, ngomongkeun siksaan kubur, naraka reujeung sawarga.
  21. (18) Jalma kapahung sakali, nyarita ganjaran siksa, nyatana mah hanteu nyaho, nyaritakeun dat jeung sipat. asmana reujeung ap'alna, nyaritakeun Kanjeng Rosul, Muhammad Allah Pangeran.
  22. (19) Nyatana hanteu kapanggih, nu matak sasar kacida, matak Kakang kudu nyaho, ulah sok katotonggoyan, sababna teu acan Islam, Islam soteh · bangsa hukum, nyatana mah tacan Islam.
  23. (20) .Ki Ganda seug tuluy nangis, cipanon cumalimba. Adi Kakang kumaha bae, Kakang pi-islameunana. Sasaur-

  24. (21) Kakang ngaji tileuleutik, sembahiyang tibubudak, jakat pitrah tibareto, lebar temen badan Kakang. Adi Kakang teh pagahan, anu sanyataning elmu, sing nyaah ka badan Kakang.
    teu

  25. (22) Ki Sari nyarita deui, hanteu beunang lalawora, beunang dipake ngomong, sabab lain jajampean, da lain lapad kalimah. Bisi aya nu ngadangu, sababna eta larangan.
    nu

  26. (23) Nu mati teu mawa isim, nu ilang teu mawa lapad, tilar teu mawa jampe, eta ngan mawa sahadat, da lain sahadat lapad, nu pupus teu mawa elmu, anu ka- bawa ngan iman.
    ta-

  27. (24) Reujeung lamun ngandung ilmi, nya kudu sabar wekal, jeung deui ulah munapek, ngunek-ngunek panasaran, kudu pasrah ka Pangeran, kudu alus ngang- go elmu, ganti ku sabar tawekal. Ill. PUPUH KINANTI ( 21 pada ) 04 l. (0 l) Masing inget ku pi wuruk. saday ana m urangkalih, sing pada nyaho ka awak, meureun nyaho ka Yang Widi. Lamun nyaho ka awakna, eta nu dua perkawis.
    ,

  28. (02) Awak lahir masing tangtu. masing awas nya ningali awak batin sing waspada, ningali terus jeung ati, lahir batin hanteu beda, nyatana meureun di lahir.

  29. (03) Lahir upamana kitu, dalang wayang reujeung kelir, dalang anut ka ki wayang, wayangna anut ka kelir, kelima ngomong sorangan, kabeh geus aya di kelir.
  30. (04) Dingaranan bangsa luhur, diangken paesan jati, jadi tilu wujud eta, hiji pangheulana kadim, kaduana kadim mukdas, katiluna mukdas kadim.

  31. (05) Eta upamana kitu, dalang wayang reujeung kelir, dalangna ge wujud moal, wayangna wujud birahi, kelima acan sabita, kabeh ge wujud birahi.

  32. (06) Nabi wali mu'min kitu, kabeh ge meureun pandeuri, kudu ningali ka awak, masing awas nya ningali, eta sampumaning tingal, moal kahalangan deui. 04 7. (07) Roh idopi jeneng agus, rohani badanna deui, pilih jalma nu uninga, sapuluh mo aya hiji, lamun teu guguru heula, da moal nyaho ti kadim.
  33. (08) Lamun hanteu nyata agus, ka Pangeran keur di lahir, jaga-jaga ku katingal, poek medem buta rajin, lamun · teu nyaho di dunya, jaga·jaga ku kapanggih.
  34. (09) Lamun rek neangan elmu, ulah jauh nya ningali, sing nyaho ka rupa urang, eta rupa nu sajati, ulah salah nya angkenan, sing waspada nya ningali.
  35. (I 0) Nya ningal ruhiat agus, masing awas nya ningali, upama ningali bulan, eukeur wanci tengah peuting, eta sakitu awasna, nya ningali ka Yang Widi.
  36. (11) Lumaku lungguh jeung Rosul, nya lindih jeung para nabi, ucap lampah nya hakullah, pangambung katilu cepil, paningal ma'ripatullah, badanna badan rohani.
  37. (12) Lamun jalma teu guguru, lampahna tuturut rounding, mana bae nu nyarita, kadinya miluna deui, rual-reol salawasna, hanteu aya nu dicangking.
  38. (13) Arek nanya da geus sepuh, rasana geus bisa ngaji, pedah geus loba kitabna, arek nanya da geus harti, naon anu rek ditanya, da elmu loba di kami.
  39. (14) Kitab nahu reujeung usul, eta geus aya di kami, ta- karub durat tasripan, amal jurumiah tapsir, babu samarkandi durat, kabeh ge anggeus di aji.

Pangrasana ngan sakitu, pikima teu deui, eta mah da elmu kitab, lain bawaeun ka ahir, eta kitab malai- kat, lain kitab Maha Su.ci.

  1. (16) Ari kitab ing Yang Agung, tulis manusa sayakti, eta kitab anu nyata, eta bawaeun ka ahir, mun kitu gagal kacida, teu nyaho katulis diri.
  2. (17) Wiwitan aksara sepuh, mimiti aksara alip, alamna ge ahadiat, tacan aya bumi langit, tapi alipang~us nyata, eta nu nyata mimiti.
  3. (18) Lamun dipees jadi bu, mun jeer jadi bi, mun jabar meureun jadi ba, jadi bakal bwni langit, dijeer jadi sadia, aya bitis aya biwir.
  4. (19) Lahir batin eta kitu, upamana be jeung alip, ·di- duakeun moal beunang, saperti lahir jeung batin, kitu deui dat jeung sipat, teu beunang dipisah deui.
  5. (20) Nabi Muhammad jeung Rasul, aya beurang aya peu- ting, aya Allah jeung Pangeran, aya nyawa aya jisim, aya roh aya jasadna, nyatana mah ngan sahiji.
  6. (21) Upama damar hurung, caangna jadi sahiji, kumaha peta papisah, eta lahir reujeung batin, upama lisan jeung sora, upama kaula gusti.
  7. (22) Lamun loba nu diaku, jadi ngarancabang teung, nya kudu arah satunggal, tunggalna jadi sahiji, kitu tekad nu utama, gula amisna hiji.

    N. DANGDANGGULA ( 21 pada)

  8. (01) Saenyana nu jeneng pribadi, anu dua-dua ning sarua, ngan dat reujeung sipat oge, ari nyatana teu jauh, nya Muhammad Allah sajati, hanteu aya anu lian, duanana kitu, nya Muhammad nya Pangeran, sayak-

·geus teu aya, jadi sirna ngaran dua jadi hiji, ngalih jenenganna.

  1. (04) Mun teu kitu pantes moal tepi, ka ehnuna batan seh Birawa, tapana di gunung Gede, nguping omong manuk tilu, nu sahiji manuk Galatik, kadua manuk Titiran, tilu manuk Puyuh, seug manuk Titiran nanya kanu dua, Puyuh maneh jeung Galatik, kumaha pa- narima.
  2. (05) Ceuk Galatik Pamarima kuring, ka Juragan kuring arek nyembah, ka Juragan tarima teh, masingjuragan- na jauh, moal burung nyembah, sim kuring swnawona lamun aya, tekad kuring k.itu, jeung deui lamun geus pisah, jeung kurungan ku kami moal ditolih, sabab hirup sorangan.
  3. (06) Kami hirup hanteu make Gusti, ngan sorangan kadua kurungan, hanteu make Hiyang Manon, tibarang inget ge k.itu, kami hirup teu make Gusti, tibarang sorangan, kadua jeung kurung, lamun kitu kodariah, ceuk Titiran, hirup hanteu make Gusti, nyembah kanu teu aya.
  4. (07) Titiran teh seug nyarita deui, Kakang Puyuh kwnaha aya tekad, pedah urang dimwnule, seug Kakang geura

ngawangml, puyuh seug ngawangsul deui, kaula mah tara nyembah, mun Juragan jauh, nyembah soteh ka nu aya, mun teu aya keur naon bet nyembah deui, nyembah kanu teu aya.

  1. (08) Reujeung deui mun teu betah kami, kurungan teh meureun di babawa, sabab nyaah kurungan
    teh, reujeung obah usik hirup, eta oge keresa Gusti, kaula mah teu ngangkenan, kumaha Yang Agung, kula teu ngalalangkungan, narimakeun obah usik kersa Gusti, kitu tekad Kaula.

  2. (09) Ki Purkutut eta ngomong deui, Kakang Puyuh mun kitu nya tekad, ka jabariah eta teh, jeung eta mama- wa, kurung, ridu temen ngajingjing-jingjing, beurang peuting dibabawa, kitu meureun ridu, reujeung e·ta patekadan, jadi sirik kua-kieu kersa Gsuti, jadi sirik ngaranna.

  3. ( 10) Wujud dua mun kitu ceuk kami, dat jeung sipat, Gusti jeung Kaula, papisah padewek-dewek, lamun kitu hanteu campuh, teu sampuma nyawa jeungjisim, puyuh malikkeun deui basa, nyuhunkeun piwuruk Titiran eta ngomongna, mun kaula hanteu arek nyembah deui, da meureun geus sarua.

  4. (11) Nya Juragan eta enya kuring, teu beda nya kurungan nya kula, tekad hiji keneh, jeung mun rek pupus, kurungan teh seug jadi leutik, antara sagede kacang, seug dipacok tuluy, dijadikeun wujud tunggal, tuluy leungit pulang ka jamanna tadi, asal euweuh bet aya.
  5. (12) Seh Birawa ngadengekeun tadi, eukeur tapa nyaur di- na .manah, bener omongan manuk teh, bongborong tara pajauh, jeung rupana sadana deui, bener omongan Titiran, tembangna Purkutut, jadi anu tinggal, sima kabeh rob, nyawa, sukma jeungjisim, pulang ka kudratullah.

(13) Kolot bongkok teu nyaho clikawin, ka tungkulkeun ku tatakrama, sunat pardu pake ngomong, sem bahi- yang unggal waktu, enya eta jadi pipincling, puasa reujeung sidekah, jakat pitrah kitu, hanteu jadi kase- nangan, anu tonggoy cirina tacan kaharti, kusabab teu kapendak.

  1. (14) Kolot linglung eta kitu deui, hanteu pegat dipake omongan,elmuna beuki ngaranjah, tata lapad nu di- tunggu, hanteu guguh anu dicangking, cirina hanteu uninga, ·katungkul ku waktu, jalma tara daek nanya, ceuk nu bisa rasana mah geus kaharti, enyana mah teu acan.
  2. (15) Daluangna aya sapadati, jeung teu pegat hukum nu dibawa, batal haram pake ngomong, beuki heubeul seug kapahung, iman tohid pake ngawih, maripat pake nyarita, seg beuki kapahung, Kaula Gusti Pange- ran, seug ngomongkeun eta sembah reujeung puji, eta nu lalawora.
  3. (16) Oat jeung sipat pake ngomong deui, asma ap'al pake kaomongan, beuki panjang sirik bae, ngomongkeun para Rarasul, Nabi Wali dipake ngawih, maripat keur kasauran, nya beuki kapahung, ngandel teuing kana beja, euweuh gawe ngucapkeun Kaula Gusti, anggur sarean.
  4. (17) Tara kitu anu anggeus leuwih, anggeus tunggal aya nu .sarua, jeung sarua lampahna ge, tapi loba anu bi- ngung, kerna kitu rea pipincling, ditaksima lain eta, tapi enya kitu, anu ngarasa kaula, enya eta pikiran nu cupet ati, kanyaho bodo pisan.
  5. (18) Lamun maneh anggeus hirup, poma ulah rek ngarasa ilang, leungit. jeung ragana kabeh, ulah aya dina kubur, ulah rek ngabedakeun pati, anu anggeus bisa ilang, tangtu bisa hurip, lamun bisa eta ilang, ilang soteh upamana anu hurip, sakersana kawasa.

  6. ( 19) Lamun maneh eta seug caringcing, geura
    nanya pihape Pangeran, masing saenyana maneh, ceuk anu saenyana maneh, ceuk .anu sawareh kitu, Iman tahid, maripat geuning, eta pihape Pangeran, wali mumin kitu, da milu kapihapean, enya eta jawaban nu maih sirik, hanteu datang ka enyana.

  7. (20) Pangrasana eta iman, tahid, jeung maripat kabeh geus sarua, geus leungit eta sakabeh, geus sirna eta sakitu, euweuh anu tinggpl sahiji, reujeung anu kati- tipan, kabeh age mampus, nabi wali teu katingal, leungit kabeh euweuh nu tinggpl sahiji, eta suwung ngaranna.

  8. (21) Dingarankeun Hiyang Maha Suci, dingaranan eta warna-warna, da ku rah idapi age, reujeung rah eta teh kitu, reujeung napi isbatna deui, nyatana mah masing awas, eta teh nya kitu, jeung paesanana sirna, hanteu aya jatina suwung teh teuing, ulah mundur ti dunya.
    V. PUPUH DURMA ( 22 pada)
  9. (01) Tembang durma caritana suluk eta, pama-pama balik deui, memeh aya urang, bapa ge masih bujang, indung eukeur lanjang leutik, urang di mana, ayana urang nya cicing.
  10. (02) Lamun euweuh bakal urang rupa, maal lamun euweuh geuning, reujeung lamun aya, sababna tacan rupa, ewuh teu beunang dipikir, sabab teu aya, euweuh sajeroning tulis.
  11. (03) Dina lapad kitab age hanteu aya, maal aya dina dalil, mun teu guru heula, guruna kanu enya, ulah pedah bisa ngaji, seug diguruan, eta teh maal kapanggih.

  12. (04) Kapanggihna kudu kanu ngaji rasa, nya eta meureun kapanggih, nu ahli tarekat, eta ge moal aya, hakekat moal kapanggih, kudu maripat, nya eta meureun kapanggih.

  13. (05) Kapanggihna kudu meunang ngaririhan, sababna moal kataksir, eta teh eyana, dinu belewuk pisan, sabab diaranan sihir, ku sarerea, siga nu teu boga pikir.
  14. (06) Elmu tea elmu sihir anu enya, lampahna nu kupur- kapir, batal reujeung haram, sabab eta pipinding, Islamna indallah geuning, kapir indanas, llµnpahna ngapeskeun di diri.
  15. (07) Anu Islam ngarasakeun wujud tungg;al, tunggalna jadi sahiji, teu aya antara, eta reujeung Pangeran, rupana Pangeran geuning, amajanullah, usik malik jadi puji.
  16. (08) Leuleumpangan eta muji ka Pangeran, eureunna ge- jadi puji, diuk jeung nangtungna, ngan muji ka Pangeran, ngomong seurina ge muji, jeung sasarean, hudangna ge jadi puji.
  17. (09) Eta kitu lampah nu ahli maripat, sagalana jadi puji, teu aya nu lian, ng~m muji ka Pangeran, sababna Pangeran geuning, jauh teu angg;ing, ngaruket napel na diri.
  18. (10) Mana kitukumahalampahnajalma, tangtuna meureun kapanggih, lamun tekad anggang, tangtu moal kapendak, lamun tekad deukeut geuning, meureun kapendak, nya eta jeung Maha Suci.
  19. (11) Reujeung deui eta lamun geus kapendak, poma ulah arek dengki, ka pada kaula, atawa popoyokan, nyeung seurikeun kanu lian, lang$ung nya ucap, sirik atawana pidik.

  20. (12) Ujub riya takabur nya lalampahan, poma-poma ulah teuing, lampah panasaran, jeung ngunek-ngunek manah, kudu beresih nya pikir, nya kudu bisa, ngangeu- nahkeun ati jalmi.

  21. (13) Lamun ngeunah tangtu ngarasakeun ngeunah, engke- na meureun kapanggih, lamun henteu ngeunah, kapanggih moal ngeunah, sababna teu beda deui, ngan sejen rupa, sejen jeung wayangna deui.
  22. (14) Dalangna mah kabeh ge meureun sarua, anu matak ulah pidik, lampah sisirikan, kanu gede hidayat, jeung pedah hidayat leutik, mun kitu manah, nya sirik ka Maha Suci.
  23. (15) Poma-poma nu kitu geura singkahan, sababna keresa Gusti, urang teh ngumbara, eta kersa Pangeran, nincak kana jagat Sagir, geus dijangjian, hade jeung gorengan deui.
  24. (16) Anu hade meureunjangji urang, anu gorengkitu deui, eta jangji urang, bagja reujeung cilaka, nu matak ulah sok sirik, sok ngagorengan, jadi ka Yang Widi.
  25. (17) Lamun hade eta ka pada kaula, jadi hade ka Yang Widi, lamun ngagorengan, jadi goreng ka Allah, mana hirup kudu mikir, ulah sok mungpang, ka in- dung ka bapa deui. IOI. (18) Lamun mungpang eta kakolot-kolotna, dorakana la- hir batin, sababna lantaran, urang ti dinya medal, enya kersa Kanjeng Gusti, eta jalanna, eta teh kudu gumati. I 02. ( 19) Ulah pedah urang asak panemuna, atawana pedah ra- jin, jeung ka guru urang, guru nu saenyana, eta ge nya kitu deui, matak doraka, guru teh upama Gusti.

  26. (20) Reujeung deui ka guru matak doraka, eta teh tilu perkawis, nu wajib disembah, jeung eta ratu u_rang, · eta ge nya kitu deui, matak doraka, poma ulah arek wani.

  27. (21) Mun geus euweuh eta indung bapa urang, aya deui anu wajib, eta ganti bapa, dulur nu pangkolotna, kitu soteh mun kapanggih, jeung panemuna, bisa mapatahan deui.
  28. (22) Ka nu ngora lamun bisa mapatahan, eta ehnu nu sa- yakti, bisa mapatahan, matak wajib disembah, lamun kolot tacan ngarti, nya wajib nanya, bijil omongan rek ngaji. VI. PUPUH MIJIL ( 22 pada ) I 06. (01) Kacarita kakangna jeung adi, bapana geus kolot, maneh Agus geura masantren, maneh ulah tonggoy teuing ulin, sing boga pangarti, da bapa geus sepuh.
  29. (02) Nya masantren maneh ka nu alirn, ka pasantren gerot, seug ti dinya geus laleumpang kabeh, ngan bapana nu tinggal di bumi, anakna arindit, leum- pangna geus jauh. ·
  30. (03) Anggeus datang ka pasantren nepi, ngajina garetol, anggeus heubeul bararisa kabeh, anggeus heubeul pararindah deui, kakangna jeung adi, ti dinya pajauh.
  31. (04) Seug papisah kakangna jeung adi, neangan paguron,. indung bapana anggeus paraeh, anggeus heubeul diajar ngajina, heubeulna digurit, genep welas taun.
  32. (05) Adina mah teu masantren deui, seug tuluy ngalan- tong, kakangna mah di pasantren keneh, ngan ngaji reujeng ibadah deui, puasa jeung ta dim, hanteu petot waktu.'

(06) Ti pasantren Kakangna mah balik, kitabna digotong, nu dijugjug ngan imahna bae, adina oge nya kitu deui, nganclong bae balik, im!lhna dijugjug.

  1. (07) Datang bareng kakangna jeung Adi, duanana sono, naha Adi manan papisah teh, di pasantren ngarep- ngarep Adi, bet hanteu kapanggih, jeung Kakang teu tepung.
  2. (08) Naha Adi manan teu kapanggih, ti mana nya nganclong. Kuring nyaba teu terus masantren, sukur pisan ayeuna kapanggih, ayeuna sim kuring, nyuhunkeun piwuruk.
  3. (09) Hayang nyaho Islam nu sajati, kuring tacan ngartos, duh Adi kutan hirup teh hese, dosa urang sakuriling bungking, kabeh nyiksa diri, lamun urang pupus.
  4. ( l 0) Carek kitab nu nuduhkeun geuning, nu sakarat komo, jeung dipesat nyawana urang teh, nu mesat Malaikat Ijrail, liwat saking nyeri, nu sakarat kitu.
  5. ( 11) Tinanding jeung urang disisit, tujuh kali rocop, sakitu ge eta mending keneh, lamun ilang di kubur di bumi, liwat saking nyeri, disiksa dikubur. 11 7. (12) Pan on poe eta datang deui, tujuh pada mencrong, tuluy datang anu rek nyiksa teh, huntu luhur ngagaris ka bumi, huntuna pabeulit, nu handap ka luhur. l 18. (13) So can a ge siga arek bijil, saupama goong, jeung pa- neunggeul liwat saking gede, beuratna eta sare bu kati, ngaranna teh geuning, Kirun Wanakirun.
  6. (14) Seug diteunggeul liwat saking nyeri, awak urang nganclong, burakrakan saawak urang teh, tuluy urang dihirupkeun deui, geus ditanya deui, seug urang di- pukul.

·awak Kakang teh, ngaji kitab eta beu- rang peuting, matak nganyenyeri, teu matak rahayu.

  1. (17) Lamun kitu teu milu Kang Rai, elmu Kakang awon, nyilakakeun eta pangarti teh, ari tekad panarima kuring, matak guru ilmi, sok hayang rahayu.
  2. (18) Jeung dipesat eta nyawa kuring, muga ulah kalakon, manan kuring guru elmu oge, siksa kubur sing ulah kapanggih, jeung ulah kapanggih, Kirun Wanakirun.
  3. ( 19) Susah temen Kakang bisa ngaji, masantren keur naon, mun teu bisa eta ngaji oge, sakaratna eta meureun nyeri, diruang ka bumi, disiksa di kubur.
  4. (20) Jeung teangan kuburan nu yakti, sing datang ka nyaho, ulah Kakang hanteu nyaho bae, ulah ngaran kaluat di bumi, ku Kakang sing kapanggih, awak Kakang le bur.
  5. (2 l) Reujeung Kakang cing teangan deui, nu nyiksa sing nyaho, wanakirun teh di mana bae, ayeuna eta masing kapanggih, lamun teu kapanggih, disiksa di kubur.
  6. (22) Jeung pikiran dingarankeun mati, nu mati teh naon, anu milih naonana bae, anu ilang naonana deui, dingarankeun batik, ayeuna geus mucung. VII. PUPUH PUCUNG ( 17 pada )
  7. (01) Tuluy tungkul ka Adina bari nyaur, seug Adi pagahan pedah Kakang hanteu nyaho, narimakeun Kakang eleh nya panemu.

(02) Enya bae Kakang eta anggeur sepuh, kudu dipapagah- an, Kakang mah rek nurut bae, montong inggis Kang Rai geura popoyan.

  1. (03) Kitu soteh siin kuring ngurugan gunung, nguyahan sagara, nyiduh ka langit kuring teh, tapi poma ulah pake kasauran.
  2. (04) Moal aya pedahna ngomongkeun, ulah lalawora, teu beunang dipake guyon, lamun anu nanya saenyana.
  3. (05) Lamun manggih pecah dada tugel hulu, lamun teu kitu mah, ulah diberean nyaho, kema kitu elmu teh eta larangan.
  4. (06) Elmu tea saperti manuk Tikukur, teu jauh ti rupa, sadana ge kitu keneh, jeung Galatik sadana oge tik- tikan.
  5. (07) Silokana kem bang jeung Bangbara Tunggul, mana nu ngawula, mana bae nu anut teh, moal temen kembang tara leuleumpangan.
  6. (08) Mana bae pikiran eta nu anut, mun Bangbara moal, nya hurip sorangan bae, tapi eta nu anut meureun sarua
  7. (09) Bangbara teh mun teu nyeuseup moal hirup, tapi enya eta, bangbara anu anut teh, eta kitu silokana awak urang.
  8. (10) Allah tea jeung Muhammad hanteu jauh, manan di- jenengan, Nabi panutan eta teh, saenyana Allah anut ka Muhammad.
  9. (11) Geus sampurna rasa Allah reujeung Rasul, geus aya kaula, nginjeum diinjeuman bae, eta kitu Gusti teh reujeung kaula.

Seug rakana tuluy nangis bari tungkul, jadi naha Kakang, mun teu panggih jeung Rai teh, geus kama- nah eta teh meureun ku Kakang.

  1. ( 13) Reujeung deui Kakang teh kuring mihatur, lamun imah-imah, Kakang anggeus boga ewe, jeung kumaha nya ngangken ka pamajikan.
  2. ( 14) Reujeung kawin di masigit mana kitu, sarta nu nyaksian, saha anu ngawinkeun teh, reujeung deui walina teh eta saha.
  3. (15) Seug Kakang ti dinya tuluy ngawangsul, walina mi- toha, kawin di masigit gede, nu ngawinkeun wawakil panghulu landrat.
  4. (16) Seug adina ti dinya tuluy ngawangsul, lamun kitu gagal, kawin ngan di dunya bae, lamun kitu moal nepi ka aherat.
  5. (17) Tapi eta neangan jalma sapuluh, pantes moal nya, lamun urang neangan teh, kalah pegat lamun teu guguru heula.

    vm. PUPUH MAGATRU ( 16 pada)

  6. (01) Jalma tea tangtu ·kudu boga guru, da moal nyaho ti kadim, kudu mindeng ruang-riung, reujeung batur nu geus ngarti, ulah sore ngajolopong.

  7. (02) Ulah rasa urang teh geus boga elmu, meureun eta aya deui, jalma teu beunang ditangtu, aya anu siga rajin, tapi teu aya kanyaho.
  8. (03) Lamun aya nu badami pada sepuh, ngadengekeun bari cicing, ulah ngomong tambuh-tambuh, mun aya nu teu kaharti, pok ngomong bari tataros.

(04) Nu sawareh siga rajin hade semu, ari ngomong jeg nu alim, siga anu hade elmu, siga nu nyaho teh teuing, diantepan tuluy ngobr0l.

  1. (05) Ka sasama lelewa teh ngan rek nguyup, jalma ngan kalah ka ginding, tanjak-tunjuk jeg nu becus,__)alma teu manggih pangarti, karepna hayang diogo.
  2. (06) Jeung cirigih ngomongkeun nu hanteu puguh, upama nu hade ilmi, ulah gagabah nya saur, nya eta kudu dipahing, goreng ucap teu rumaos.
  3. (07) Lamun kitu gagalna nu boga elmu, rasana hanteu diaji elmu tea hanteu jauh, kabeh di awakna geuning, pangeusi awakna jongkot.
  4. (08) Kabeh oge di urang anggeus
    karumpul, dingding jalal aras korsi, aras mahsar anggeus kumpul, loh kalam masrik jeung magrib, tapi eta kudu nyaho.

  5. (09) Malaikat Ijrail eta nya kitu, Isropil nya kitu deui, Minkail ge moal jauh, jeung malaikat Jabrail, meu- re·un pada boga enggon.

  6. (l 0) Geura pikir kabeh oge pada pupus, lamun Ijrail sahiji, meureun ewuh sarta ripuh, da loba anu sahiji, moal bisa elak-elok.
  7. (11) Reujeung deui eta Kirun Wanakirun, eta teh nya kitu deui, purah nanya nu di kubur, eta oge deui, kabeh oge boga enggon.
  8. (12) Kudu nyaho di urangna masing tangtu, kudu waspada di lahir, ulah ngomong tamba luput, saenyana teu kaharti, ngomong soteh tamba pogog:
  9. (13) Seug kakangna ana pok barina nyaur, Adi popoyan- keun deui, Kakang teh bet pada ewuh, adina seug ngomong deui, teu beunang dipake ngomong.

  10. (14) Suluk Sunda eta teh moal ngawuruk, ngan urangna kudu mikir, ulah atoh ku sakitu, nya kudu neangan deui, ulah sok resepan ngomong.

  11. (15) Kanyataan eta teh kudu diurus, ulah sok salah mangar- ti, ulah pedah anggeus sepuh, ku maneh tacan kaharti, rasana asa dipoyok.
  12. (16) Lain kitu upama nu jadi sepuh, ulah sok kalah kabe- lik, sumawonna nyapa7nyapu, ku anak incu nu leutik, eta matak mungkur omong.

    IX. PUPUH PANGKUR ( 18 pada)

  13. (01) Pangkur anu kacarita, suluk Sunda ayeuna balikan deui, eta Kakang urang catur, bisi aya. liwat, dibasa- keun lapad Sirri Al Insannu, keris abus ka sarangka, eta nu lumrah teh teuing.

  14. (02) Enyana mah lain eta, dingarankeun lapad Al Insanu Sirri, jadi sarangka nu abus, geura manah ku Kakang, tapi eta loba-loba anu nyebut, warangka manjing curiga,enyana mah teu kapanggih.
  15. (03) Jalma kumaha tekadna, nu dipuhit tangtuna meureun kapanggih, sab~bna eta Yang Agung, da meureun si- pat Rahman, dalilna teh nya Wajida Waji.dahu, sapate- men tinemenan, sapagoroh-goroh deui.
  16. (04) Lamun tekadna teu aya, dina kubur tangtuna nya meureun leungit, tatapi leungit teu puguh, kumaram- bang di dunya, manan loba eta dingarankeun nyurup, loba anu kasurupan, ngarancana anak rabi.
  17. (05) Nu muhit ka Betal Mukdas, enya eta jajantung anu dipuhit, jagana di dalem kubur, laleungit sakabehna, anu tinggal ngan kari ati jajantung, sababna eukeur di dunya, muhit ati sanubari.

Pangeran sipat Rahman, warna- wama panemuna hanteu tangtu, Gusti Allah sipatna Murah, dan meureun diturut deui.

l 71. ( l l) Ulah mangeran nu lian, enya mangeran kudu ka Maha Suci, ka Pangeran anu Agung, tapi kudu waspada, ulah samar ulah mangmang ka Yang Agung, da Ka- kang teu kahalangan, kudu waspada ka diri.

  1. (12) Lamun ngaranan awakna, Maha Suci eta jadi kupur- kapir, lamun tekadna nya kitu, awakna jadi Allah, ulah pisan da eta lain Yang Agung, kudu waspada ka rupa, tapi lain Maha Suci.
  2. (13) Manan ewuh ngangaranan, lamun ngangken ka awakna Maha Suci, eta jadi jalma kupur, sabab lain awak, sing waspada tulis diri.

temcn bet bisa malik- keun peujit, ulah seubeuh teuing nyatu, cegah sare jeung dahar, sawatara cegah sahwat reujeung napsu, sartajeung elmuna pisan, kitu anu ngumbah diri.

  1. (16) Lamun teu kitu petana, kalak bongkok awakna moal beresih, anu lumrah eta sepuh, sapedah sok sembah- yang, sahadat solat netepan unggal waktu, eta ngan bersih di luar, sapedah sok reman man di.
  2. (17) Unggal waktu teuteuleuman, gura-giru sieuneun ka- buru ahir, dikir Satarian ngunggut, kaliwat tuluy kala, rasa hutang gura-giru tuluy naur, geus kalampah tumaninah, rasana anggeus beresih.
  3. (18) Ari sore pupujian, Rasulullah Muhammad anu dipuji, dumukna mah hanteu puguh, nyebut Allah Pangeran, eta oge jongokna mah hanteu puguh, ngan nurutan kana beja, nu sepuh nu anom deui.
    X. PUPUH SINOM ( 17 pada )
  4. (01) Geus lumrah nu mamatahan, nu baheula nu kiwari, ngan sakitu panghadena, enyana mah kudu sidik, kajeun hanteu bisa ngaji, supaya hade panemu, hade nya panarima, ka sasama ulah julig, kudu asih eta ka pada kaula.
  5. (02) Geus puguh nya ka sasama, ka budak. ge ulah wani, ulah sapedah ka anak, ulah sok nyaluntang teuing, pangeranana mah sami, kabeh oge meureun kitu, lampah jalma utama, kudu waspada ka diri, mun geus kitu en tong susah ngaji. ·

(03) Lampah anu ngaji tea, kudu datang ka ngajinis, mun katam kudu katampa, eta lampah anu ngaji. lamun ngaji teu ngajinis, santri ngan kalah ka gundul, dipake pacarian, ngan jajaluk feung musapir, unggal poe seug dipake kauntungan.

  1. (04) Unggal poe milemburan, mawa iteuk nyoren badi, leumpang tungkul lalaunan, brek cingogo pok musapir, mun teu dibere balik, pikima mani nguluwut, pikima mah nyarekan, teu inggis nyebutkeun kapir, jalma eta pangangena ngan sipatna.
  2. (05) Jaga Sia ka naraka, Sia teungteuingeun teuing, aing bakal ka sawarga, da aing mah bisa ngaji, ngomongna barina balik, lamun kitu santri luput, omonganana sorangan, ujub pedah bisa ngaji, ngajina mah hanteu datang ka jinisna.
  3. (06) Kitab sagala diambah, manggih nu anyar diaji, paran- dene moal beak, dibanding keusik basisir, masih ke- neh rea ilmi, caritana moal tutup, sagara datang ka saat, dipake ninyuhanman~i, tatangkalan geus beak dipake kalam.
  4. (07) Kitabna mah tacan beak, ngan lamun masantren deui, ulah sok katotonggoyan, lamun anggeus bisa balik, jeung eta lamun dipikir, neangan hatena kang- kung, canir bangban, kalah bongkok moal manggih, manuk ngapung neangan tapak di handap.
  5. (08) Heulang ngalayang diudag, kalangkangna nu kapanggih, jinisna mah hanteu beunang, baraya heubeul teh teuing, ruketna kaliwat saking, pasanggrok tacan pa- tepung, nu euweuh diteangan, nya meureun moal kapanggih, pangeran mah dibabawa mawa-mawa.
  6. (09) Sawareh nu ngangaranan, Pangeran di luhur langit, carek anu cacarita, kahalangan tujuh lapis, carek nu sawareh deui, Pangeran mah hanteu jauh, aya di

(10) Eta teu puguh enyana, kabeh ge tuturut munding. nu sawareh eta jalma, jampe tobat nu diaji, aya nu sahiji deui, ngan neangan jampe pupus, nyampean dina pinggang, pinggang dieusian cai, pamuradan eta teh jeung pameradan.

  1. (11) Pamuracan warna-warna, pameradan kitu deui, sarua jeung jampe tobat, eta ge nya kitu deui, pirang-pirang nya pamanggih, hanteu sapatotos kitu, kabeh ge jampe ilang, sanyatana tapi lain, bororaah nu ilang ayajampena.
  2. (12) Ari anu saenyana, nu matak sampurna diri, lain elmu pameradan, ari caturna Ki Sari, eta bororaah teuing, anu ilang bisa nyebut, eling ka jajampean, engkak- engkak hanteu eling, manan eta dingaranan kalahiran.
  3. (13) U1ah atoh pedah bisa, nya kudu neangan deui, neangan jatining ora, reujeung kanyataan Rasul, reujeung jatining Allah, jeung jatining lahir batin, mun geus timu entong susah ngaji kitab.
  4. (14) Rakana seug sasauran, seug Adi tuduhkeun deui, eta masing saenyana, Rai popoyankeun deui, lamun Kakang tacan ngarti, jatining suwung nya kitu, jatining ora eta, ieu sahadat sajati, kanyataan iman ge nya eta pisan.
  5. (15) Jatining Pangeran eta, Rasulullah eta geuning, Nabi Muhammad nya et.a, ieu lahir itu batin, Allah oge eta geuning, teu jauh eta jeung itu, ieu ge nya sarua, sakitu pamanggih kuring, ngan sakitu Kakang teu aya lajengna.
  6. (16) Saki tu ge kuring eta, beunang mikir beurang peuting, nurun tina suluk Jawa, tapi ku kuring disalin, sangka-

PUPUH SINOM ( 16 pada )

  1. (01) Saya belajar bercerita, tetapi bahasa sangat sederhana, menceritakan masa lalu, Kiai Ganda dengan Kiai Sari, kakak beradik, saudara satu ibu, sudah lama tidak bertemu, sudah bertemu lalu bersalaman.
  2. (02) Hai kakak salam bahagia, itu ceritanya Kiai Sari, mengapa kakak lama sekali, sekarang kakak ketemu, kapan kakak datang, mengembara dari mana, sudah lama tidak bertemu, Kiai Ganda menjawab, berjalan tanpa tujuan.
  3. (03) Kakak saya sangat gembira, sekarang kakak ketemu, silakan kakak makan, salam kangen dari saya, mari makan kakak dengan adik, di balai berhadap-hadapan, sambil berbicara, berdua diam-diam, Kiai Sari berta- nya kepada Kiai Ganda
  4. (04) Adik ingin mengetahui, kelakuan hari yang lebih dahulu, dengan kelakuannya, lekas beritahukari kepada saya, dengan dewanya, itu hari yang ketujuh, Kiai Ganda memberitahu, kakak menemuinya, tetapi tidak tahu kalau salah kakak nasehati.

  5. (05) Mula-mula hari minggu, itu hari yang lebih dulu, matahari berlakunya, dewa Badak kata orang yang beriman, dengan hari senin lagi, dewanya juga ikan, berlakunya juga bunga, Kiai Sari bercerita lagi, benar sekali sesuai dengan penemuan saya.

  6. (06) Dan itu hari Selasa, silakan kakak menasehati lagi, dan rabu sekalian, Kiai Ganda bercerita lagi, Selasa berlakunya kembali, api rusa kakak begitu, dewanya barangkali ular, Rabu mega yang ada di langit, penemuan kakak dewanya harimau.
  7. (07) Kamis Raspati namanya, itulah berlakunya angin, dewanya burung namanya, Jumat berlakunya air, baiklah untuk Kiai Sari, dewanya itu perkata- an, Kiai Ganda menjaw!ib, kodok dewanya di air, setuju dengan penemuan saya.
  8. (08) Hari Sabtu itu kakak, silakan beritahukan lagi, saya ingin mengetahui, kata Kiai Ganda Sabtu itu berlakunya bumi, Kiai Sari berkata lagi, apa dewanya kakak, silakan cerita lagi dewanya kera begitu penemuan kakak.
  9. (09) Baiklah Kiai Sari bersalaman, sesuai dengan saya, saya ingin mengetahui, dekatnya dengan saya, hari yang ketujuh itu, di mana tempatnya berpadu, dengan badan saya, ingin mengetahui adiknya, Kiai Ganda dari sana terus memberitahukan.
  10. (10) Mula-mulanya hari Minggu, martabat hanya satu, ke- lakuan mata, adanya satu ati, menyebabkan hanya satu, yaitu temyata cahaya, Senin pada hati, adanya dalam perasaan batin, kenyataannya yang disebut badan kita.
  11. (11) Kiai Sari bercerita lagi, setuju dengan saya, Selasa apa nyatanya, Kiai Ganda menjawab lagi, Selasa berlakunya api, adanya qalam napsu, sifatnya ki amarah,

Sari sangat gembira sekali, setuju dengan saya, dan itu hari Jumat, kakak memberitahukan lagi, Kiai Ganda bercerita lagi, Jumat tidak jauh, air itu nyatanya, bukan air dari bukit, dan bukan air yang jatuh dari atap rumah atau sungai.

  1. (14) Bukan air rimba belantara, bukan air yang asin, itu bukan air hujan, bukan mengisap yang asin, bukan bermacam-macam air, bukan pancuran
    cinyusu, air yang sebetulnya disebut air mani, wadi mani mani- kem jadi tubuh.

  2. (15) Dengan Sabtu itu, itu berlakunya bumi, bukan tanah yang gempal, bukan tanah pasir yang liat, bukan tanah yang kerikil, bukan tanah merah dari gunung, bukan bermacam-macam tanah, kenyataannya dunia isim, hanya sekian adik penemuan kakak.

  3. (16) Baiklah Kiai Sari bercerita, setuju dengan saya, penemuan saya yaitu, Kiai Ganda dengan Kiai Sari, dengan kakak dan adiknya, berduaan saling menunduk, Hida- y at teman kita, dengan saudara bertemu lagi, hanya kita tidak kesamaran. II. PUPUH ASMARANDANA ( 23 pada
    )

  4. (01) Hanya ada persoalan sedikit, silakan mencarinya, ada orang tua belum dewasa, tidak tahu di urusan, sudah tua renta, jalannya juga sambil menunduk, silakan di- pikirkan.

  5. (02) Sulung jadi bungsu lagi, jejaka anaknya enam puluh, telur ayam berkokok, kura-kura mati kedinginan, yang lumpuh mengelilingi dunia, ulat air memakan gunung, perahu terendam di darat.

  6. (03) Heran oleh teka-teki lagi, tidak bisa berbicara, meme- kakan telinga orang cebol di lembah dalam, kepala- nya menyamai mega, silakan coba pikirkan, janggut- nya ada di puhu diam sambil berlari.
  7. (04) Lari cepat sekali, tetapi tidak berubah badannya, saya suka kaget, yang begitu kejadiannya, bersembunyi di- tempat yang terang, kalau kakak belum ketemu, sebe- tulnya belum Islam.
  8. (05) Kiai Ganda menjawab lagi, adik silakan memberitahu, sebab kakak belum mengerti, Kiai Sari terus memberitahu, kalau oleh kakak tidak ketemu, itu nyatanya ilmu, adanya di badan.
  9. (06) Bukan papan bukan tulis, bukan Quran bukan buku, mencari tulisannya aku, jangan mencari yang jauh, meraqa yang tidak ·ada, jangan memukul yang jauh, jangan jauh yang dituju.
  10. (07) Tanah dikubur oleh bumi, air dipikul oleh hujan, nasi pemikulnya congcot, itu teka-teki saya, supaya oleh kakak dicari, dan ada api kebakaran, matahari kesi- naran.
  11. (08) Kapal tenggelam ke langit, kodok memakan lubang- nya, memilih manusia yang tahu, tidak jauh ini dan itu, hanya beda saja.tempatnya, itu dan ini, betulnya mungkin sama.
  12. (09) Kakak belum mengerti, harap adik segera nasehati, kakak terlalu bodoh, Kiai Sari terus memberi tahu, nyatanya zat dan sifat, Nabi Muhammad dan Rosul, di mana tempatnya nyata.

  13. (14) Umpama dalang lagi duduk, menghadapi wayang se- bab ada dalang juga, sebabnya ada dalangnya, karena lahirnya wayang, itu umpamanya begitu, Allah itu bersama kita.

  14. (15) Kalau kakak menyembah memuji, kalau memuji kepada siapa, kalau menyembah kepada Yang Maha Kuasa, itu tidak berwarna dan tidak berupa, bukan sama dengan kita, sembah kita tidak tentu, lebih baik jangan.
  15. (16) Tidak tentu yang dipuji, juga yang akhli sareat, me- ngandalkan kitabnya saja, lapad dibikin permainan, mengaji batal dan haram, membawa tongkat ditekan- tekankan, membawa tasbeh di gamparan.
  16. (17) Berbicara sambil zikir, satu kata Alhamdulillah, tetapi masih belum Islam, hanya Islam ban~a sareat, di- karenakan sudah sholat, menceritakan siksaan kubur, neraka dan suwarga.

( 18) Manusia tersesat sekali, berbicara ganjaran siksa, nyatanya tidak tahu, menceritakan zat dan sifat, namanya dengan Af alnya, menceritakan Kanjeng Rasul, Muhammad Allah Pangeran.

  1. (19) Nyatanya tidak ketemu, yang menyebabkan sasar sekali, sebab itu kakak harus tahu, jangan tenang- tenang, karena belum Islam, Islam juga bangsa hukum nyatanya belum Islam.
  2. (20) Kiai Ganda terus menangis, air matanya tergenang, adik kakak bagaimana, kakak di-Islamkannya, ber- kata terbatas-batas, sambil menaruh kedua belah ta- ngan di dada, kalau begitu kakak sayang.
  3. (21) Kakak mengaji sejak kecil, sembahyang sejak kanak· kanak, zakat fitrah sejak dulu, sayang benar badan kakak, adik itu kakak memberi nasihat, yang sebetul- nya ihnu, semoga sayang ke badan kakak.
  4. (22) Kiai Sari berbicara lagi, tidak bisa sembarangan, tidak bisa dipakai berbicara, sebab bukan mantra, dan bukan lapad kalimah, jangan sampai ada yang men- dengar, sebab itu dilarang.
  5. (23) Yang meninggal tidak membawa doa, yang meng- hilang tidak membawa lapad, yang mati ti~ak membawa doa, itu hanya membawa sahadat, dan bukan sahadat lapad, yang meninggal dunia tidak membawa ihnu, yang terbawa hanya iman.
  6. (24) Kalau mengandung ilmu harus bersabar, dan lagi jangan munafik, merasa dendam penasaran, harus pasrah kepada Allah, harus bagus memakai ihnu, ganti oleh bersabar diri.

PUPUH KINANTI ( 21 pada)

  1. (01) Harus ingat kepada pepatah, semuanya anak-anak, harus tahu kepada badan, pasti tahu kepada yang Maha Kuasa, kalau tahu kepada badannya, itu yang dua perkara.
  2. (02) Badan lahir sudah pasti, pasti awas melihatnya, badan batin pasti waspada, melihat terus dengan hati, lahir dan batin tidak berbeda, temyata pasti di lahir.
    kelir,

  3. (03) Lahir seupamanya begitu, dalang wayang dan dalang taat kepada wayang, wayangnya taat kepada kelir, kelimya berbicara sendiri, semuanya sudah ada di kelir.

  4. (04) Disebut bangsa tinggi, diakui nisan jati, jadi tiga wu- jud itu, pertama kadim, keduanya kadim mukdas, ketiganya mukdas kadim.
    kelir,

  5. (05) ltu seandainya begitu, dalang wayang dengan dalangnya pun tidak terwujud, wayangnya berwujud berahi-, kelirnya belum sabita, semua juga berwujud berahi.

  6. (06) Nabi walimumin, semua juga barangkali belakangan, harus inelihat ke badan, harus hati-hati melihatnya, itu sempurnanya melihat, tidak terhalangi lagi. 04 7. (07) Roh idopi dan Agus, rohani badannya lagi, memilih manusia yang mengetahui, sepuluh tidak ada satu, kalau tidak berguru dulu, karena tidak tahu dari kadim.
  7. (08) Kalau tidak nyata Agus, ke Allah waktu di lahir, nanti juga kelihatan, ~lap gulita, kalau tidak tahu di dunia, nanti-nanti bertemu.

  8. (09) Kalau mau mencari ilmu, jangan jauh melihat harus tahu ke warna kita, itu warna yang sejati, jangan salah mengakui, harus dapat melihat dengan mata batin.

  9. ( l 0) Sungguh melihat ruhiat Agus, harus terang melihat- nya, seperti melihat bulan, waktu tengah malam, begitu terangnya, sungguh melihat kepada Yang Maha Kuasa.
  10. ( 11) Berjalan diam dengan Rasul, bersama para Na bi, per- kataan dengan kelakuannya hakullah, badannya ba- dan rohani.
  11. (12) Kalau manusia tidak berguru, kelakuannya menuruti orang lain, mana saja yang berbicara ke sana ikutnya lagi, kulak-kelok selamanya tidak ada pegangan.
  12. (13) Mau nanya sudah tua, perasaannya sudah bisa menga- ji, sebab sudah banyak kitabnya, mau bertanya sudah mengerti, apa yang mau ditanya, sebab ilmu banyak di kita.
  13. (14) Buku ilmu basa dan buku yang berjenis-jenis permula- an pengajaran Agama Islam itu sudah ada di saya, Takarub durat tasripan, amal jurumiah tafsir, babu samar kandi durat, semuanya sudah diaji.
  14. (15) Perasaannya hanya begitu, pikirannya tidak ada lagi, itu karena ilmu kitab, bukan untuk dibawa ke akhir, itu kitab Malaikat, bukan kitab Maha Suci.
  15. (16) Maha kitab ing YangAgung, tulis manusia sayakti, ini kitab yang nyata, il}i untuk dibawa ke akhir, kalau begitu gagal sekali, tidak tahu diri pribadi.
  16. (17) Mula-mula hurup tua, pertama hurup alip, alamnya juga anadiat, belum ada bumi langit tetapi alip sudah ada, itu yang pertama ada.

  17. ( 18) Kalau dipees menjadi bu, jikalau dijeer menjadi bi, kalau dijabar barangkali ba, jadi akan menjadi bumi langit, dijeer menjadi sedia, ada betis ada bibir.

  18. (l 9) Lahir batin begitu, seandainya be dan alip, dibagi dua tidak bisa, seperti lahir dan batin, begitu juga zat dan sifat, tidak bisa dipisah lagi.
  19. (20) Nabi Muhammad dan Rasul, ada siang ada malam, ada Allah dan Tuhan, ada nyawa dan jasad, ada roh ada tubuh, nyatanya hanya satu.
  20. (21) Seperti lampu menyala, terangnya menjadi satu, ba- gaimana isyarat berpisah, itu lahir dan batin perkata- an dengan suara, umpama saya Tuhan.
  21. (22) Kalau banyak yang diakui, jadi bercabang-cabang, harus berarah satu, tunggalnya menjadi satu, begitu tujuan yang utama, gula dengan manisnya bersatu.

    IV. PUPUH DANGDANGGULA ( 21 pada)

  22. (01) Sebetulnya yang berpangkat sendiri, yang kedua- duanya sama, hanya zat dan sifat saja, maka kenyata- annya tidak jauh, sungguh Muhammad Allah sejati, tidak ada yang lain, keduanya begitu, baik Muhammad maupun Tuhan, sebetulnya napsu akunya juga, yang berpangkat hanya sendiri.

  23. (02) Tidak pemah jauh dengan wamanya lagi, dan namanya seperti pepohonan, akarnya begitu juga, kulit kayu, getah daun muda, masih pohon, namanya kayu, buah nangka yang masih muda, itu nangka, buahnya begitu, semuanya tidak ada yang lain, biji nangka hati dan jerami, semuanyajuga nangka.
  24. (03) ltu semua supaya menjadi satu, tujuan umpama tem- baga, dicampur dengan emas ajaib, lalu dicampur, di-

  25. (04) Kalau begitu pantas tidak sampai, ke ilmunya Seh Birawa, tapanya di gunung Gede, mendengar cerita tiga burung, yang satu burung Gelatik, kedua burung Perkutut, ketiga burung Puyuh, lalu burung Perkutut bertanya kepada kedua burung, Puyuh dan Gelatik, bagaimana pendapatnya. 06 7. (05) Kata Gelatik, pendapat say a, kepada tuan saya akan menyembah, kepada tuan menerima itu, walaupun tuannya jauh, pasti menyembah saya, begitu kalau ada, maksud saya begitu, dan lagi kalau sudah berpi- sah, dan badan jasmani oleh kami tidak dilihat, karena hidup sendiri.

  26. (06) Kami hidup tidak memakai Gusti Allah, hanya sendiri kedua badan jasmani, tidak memakai yang melihat Tuhan, mulai ingat sudah begitu kami hidup tidak memakai Gusti Allah, mulai ingat sendiri, kedua dengan badan jasmani, kalau begitu kodaniah, kata burung perkutut, hidup tidak memakai Gusti Allah, menyem bah kepada yang tidak ada.
  27. (07) Burung Perkutut lalu berbicara lagi, tujuan kakak puyuh, karena kita menyelenggarakan, silahkan kakak menjawabnya, Puyuh lalu berkata lagi, saya tidak menyembah, kalau juragan jauh, menyembah itu kepada yang ada, kalau tidak ada, untuk apa menyembah lagi, menyembah kepada yang tidak ada.
  28. (08) Dan kalau tidak kerasan lagi kami, badan jasmani itu mungkin dibawa, karena sayang jasad jasmani itu, dan bergerak hidup, itu juga kehendak Tuhan, kita tidak mengaku, bagaimana Yang Maha Kuasa, saya tidak melebihi, menerima hidup kehendak Tuhan, begitu maksud saya.

  29. (09) Burung Perkutut berkata lagi, kakak Puyuh kalau begitu maksudnya, kepada Jabariah itu dan itu membawa badan jasmani, membawa barang banyak, sehinggp harus mempergunakan kedua belah tangan, siang malam dibawa, begitu menyusahkan, dan itu tujuan, menjadi iri begi tu begini kehendak Tuhan, jadi iri namanya.

  30. ( 10) Kalau begitu kata kami berbentuk dua, zat dan sifat, Tuhan dan saya, masing-masing berpisah, kalau begitu tidak campur, tidak sempurna nyawa dan tubuh, Puyuh membalikkan lagi bahasa, meminta nasihat, Perkutut itu berkata, kalau kami tidak akan menyem- bah lagi karena sudah sama.
  31. (l l) Ya Tuan itu benar, tidak berbeda badan jasmani dan kami, maksud kami masih satu, dan bagaimana kalau mau meninggal, jasmani dan jasad itu menjadi kecil. antara sebesar kacang, lalu dipatuk dijadikan bentuk satu, lalu menghilang pulang ke jamannya tadi, asal tiada menjadi ada.
  32. (12) Seh Birawa mendengarkan, sedang bertapa berkata dalam hatinya, betul kata-kata burung itu, bong- borong tidak berjauhan, dengan rupa dan suaranya, betul perkataan Perkutut nyanyiannya perkutut, jadi tidak ada yang ketinggalan, hilang semua roh, nyawa, sukma dan tubuh, pulang ke kudrattullah.
  33. (13) Tua renta tidak tahu menikah terbuai oleh tatakrama sunat parau dipakai berbicara, sembahyang setiap waktu, yaitu dijadikan dinding, puasa dan sedekah, jakat fitrah, tidak menjadi kebahagiaan, yang terlena cirinya belum mengerti, karena belum ditemukan.
  34. (14) Begitu juga orang tua pelupa, tidak putus dipakai cerita, ilmunya bertambah merusak, teratur lapad yang ditunggu, tidak tentu yang dipegang, tandanya

Zat dan sifat dipakai berkata lagi, asma apal dipakai perkataan, bertambah panjang iri hati, menceritakan. para rarasul, Na bi wali dipakai nyanyi, ma'ripat untuk perkataan bertambah tersasar, terlalu percaya pada kabar, tidak ada pekerjaan mengucapkan kawula gusti lebih baik cepat tiduran.

  1. ( 17) Tidak pernah begitu yang sudah le bih, selesai satu ada yang sama, dan sama kelakuannya juga, tetapi banyak yang bingung, karena begitu banyak penghalang, di- sangkanya bukan, tetapi betul begitu, yang merasa- kan, yaitu pikiran yang hatinya sempit, ketahuan bo- doh sekali.
  2. (18) Kalau kamu sudah hidup, jangan sekali-kali merasa hilang, menghilang dengan tubuhnya semua, jangan ada pada kuburan, jangan mau membedakan mati, yang sudah bisa menghilang, pasti bisa hidup, kalau itu bisa menghilang, menghilang itu umpamanya yang hidup; kehendak Yang Maha Agung.
  3. ( 19) Baiklah kalau kamu berhati-hati, coba tanyakan titipan Gusti Allah, harus bersungguh-sungguh kamu, kata yang sesungguhnya kamu, kata yang sebagian begitu, iman tohid, marifat, ternyata, itu titipan Pange- ran, wali mu'min begitu juga, karena ikut tertitipi, yaitu jawaban yang masih sirik, tidak tiba pada ke- nyataan.

  4. (20) Perasaannya iman, tohid dan ma'rifat itu semuanya sudah sama, sudah menghilang semua itu, sudah menghilang begitu, tidak ada yang tertinggal satupun, dengan yang ketitipan, semua juga mampus, Na bi wali tidak kelihatan, langit semua tidak ada yang tertinggal satu plln, itu tidak ada namanya.

  5. (21) Dinamakan Yang Maha Suci, diberi nama itu macam- macam, juga oleh roh idopi, dan roh itu begitu, akan tetapi isbatnya lagi, hendaknya terang penglihatan, itu begitu, dan nisannya menghilang, tidak ada jati- nya, tidak ada apa-apa, kita di mana, adanya kita ya diam.
    V. PUPUH DURMA ( 22 pada)
  6. (0 I) Nyanyian Durma itu ceritanya perlambang, buya- buya kembali lagi, sebelum ada kita, bapa juga masih jejaka, ibu sedang perawan kecil, kita di mana, adanya kita ya diam.
  7. (02) Kalau tidak ada bahan kita tidak akan nyata, sebabnya belum nyata, sebabnya belum nyata, tidak bisa dipikir, sebab tidak ada, tidak ada dalam tulisan.
  8. (03) Pa
  9. (04) Menemukannya harus dengan mengaji rasa, itu barangkali bisa didapati, yang akhli tarekat, itu juga tidak akan ada, hakekat tidak menemukan, harus ma'- rifat, yaitu barangkali menemukan.

  10. (05) Menemukannya harus hasil menasehati, sebabnya tidak disangka, itu adanya, pada yang kotor dan penuh dengan debu, sebab diberi nama sihir, oleh semua, seperti yang tidak mempunyai pikir.

  11. (06) Ilmu terse but ilmu sihir nyatanya, kelakuan yang kapir, batal dan haram, sebab itu menghalangi, lslamnya indallah, kapir indanas, kelakuannya menghinakan di diri.
  12. (07) Yang Islam merasakan wujud tunggal, tunggalnya jadi satu, tidak ada antara, itu dengan Gusti Allah, rupa- nya Gusti Allah, amajanullah, setiap gerak jadi puji.
  13. (08) Berjalan-jalan sambil memuji Tuhan, berhentinya juga menjadi puji, duduk dan berdirinya, hanya memuji ke Tuhan, berkata tertawanya juga memuji, dan tiduran, bangunnya juga jadi puji.
  14. (09) Begitu kelakuan yang akhli ma'rifat, segalanya menjadi puji, tidak ada yang lain, hanya muji ke Gusti Allah, sebabnya Tuhan, jauh ta pi tidak jauh, bersaha- bat karib, rnelekat pada badan.
  15. (10) Bagaimana kelakuan manusia, tentunya barangkali menemukan, kalau rnaksud jauh, tentu tidak akan rnenernukan, kalau rnaksud dekat, barangkali rnene- mukan, yaitu dengan Tuhan.
  16. (11) Dan lagi kalau sudah rnenernukan, jangan sekali-kali, iri hati, kepada sesama, atau menghina, rnentertawa- kan kepada yang lain, langsung berkata, iri hati atau rnengiri.
  17. (12) Ujub ria takabur kelakuan, jangan sekali-kali kalakuan penasaran, dan dendam hati, harus bersih pikir, harus bisa, menggern birakan hari orang.
  18. (13) Kalau enak tentu merasakan enak, nantinya barangkali menernukan, kalau tidak enak, akan rnenernukan

  19. (14) Dalangnya itu semuanya barangkali sama, karena itu jangan iri hati, kelakuan iri hati,kepada yang besar rijki, dan karena rijki kecil, kalau begitu hati, iri hati kepada Tuhan.

  20. (15) Hendaknya yang begitu dijauhi, karena kehendak Tuhan, kita itu mengembara, itu kehendak Gusti, me- nincak kepada dunia kecil, sudah dijanjikan, bagus dan jeleknya lagi.
  21. (16) Yang bagus itu barangkali janji kita, begitujuga yang jelek, itu janji kita, bahagia dan celaka, oleh sebab itu jangan iri hati, suka menjelekkan, jadi jelek ke Tuhan. I 00. (I 7) Kalau baik ke sesama kita, jadi baik ke Tuhan, kalau menjelekkan, jadi jelek ke Allah, karena itu hidup harus mikir, jangan suka membangkang ke ibu dan ke ayah lagi.
  22. (18) Kalau melawan ke orang tua, durhakanya lahir batin, karena, kita dari sana keluarnya, memang kehendak Tuhan, itu jalannya, itu harus hati-hati. I 02. ( 19) Jangan merasa bahwa kita pandai, atau karena rajin, dan kepada guru kita, guru yang sebenarnya, itu juga begitu, mengakibatkan durhaka, guru itu umpama Tuhan. I 03. (20) Dan lagi ke guru mengakibatkan durhaka, i tu tiga perkara, yang wajib disembah, dan itu raja kita, itu juga sama, mengakibatkan durhaka, jangan sekali-kali berani. I 04. (21) Kalau sudah tidak ada orang tua kita, ada lagi yang wajib, pengganti ayah, saudara yang paling tua, jika- lau menemukan, dan penemuriya, bisa memberi nasi- hat lagi.

  23. (22) Kepada yang muda bisa memben nasihat, itu ilmu yang sejati, bisa menasihati, karenanya wajib disem- bah, kalau tua belum mengerti, wajib menanyakan, keluar katanya mau mengaji.

    VI PUPUH MIJIL (22 Pada)

  24. (01) Tersebutlah cerita kakak beradik, orang tuanya sudah tua, kainu Agus coba mesantren, kamu jangan banyak bermain, harus mempunyai ilmu karena ayah sudah tua.

  25. (02) Kamu mesantren kepada orang yang beriman, ke- pesantren yang sudah mashur, lalu dari sana sudah berjalan semua, hanya ayahnya yang tinggal di rumah, anaknya pergi, berjalannya sudah jauh.
  26. (03) Sudah datang ke pesantren, mengaji dengan rajin sekali, sudah lama bisa semua, sudah lama pindah lagi, kakak dan adiknya, dari sana berpisah.
  27. (04) Lalu berpisah kakak beradik itu, mencari perguruan, orang tuanya sudah meninggal, sudah lama belajar mengaji, lamanya dikarang, enam belah tahun.
  28. (05) Adiknya tidak mesantren lagi, lalu terus melancong, kakaknya masih di pesantren, hanya mengaji dan beribadah, puasa dan ta'dim, tidak tinggal waktu.
  29. (06) Dari pesantren kakaknya pulang, bukunya digotong, yang dituju hanya rumahnya saja, begitu juga adiknya, melancong pulang, menuju rumahnya.
  30. (07) Datangnya sama-sama kakak dan adiknya, dua- duanya kangen, kenapa adik sampai berpisah, di pesantren menunggu-nunggu adik, mengapa tidak menemukan, dengan kakak tidak bertemu.

  31. (08) Mengapa adik tidak ditemukan, dari mana melan- cong, saya pergi tidak terus mesantren, terima kasih sekali sekarang bertemu, sekarang saya minta nasehat.
    114.(09) Ingin mengetahui Islam yang sejati, saya belum mengerti, aduh adik tidak kusangka, hidup itu susah, dosa kita sekeliling, semuanya menyiksa diri, kalau kita meninggal.
    115.(10) Menurut buku yang memberitahukan, lebih-lebih yang sekarat, dan ditarik nyawa kita, yang menarik malaikat Ijrail, sakit sekali, yang sekarat itu.

  32. (11) Lebih-lebih dengan kita disisit, tujuh kali sakit, itu juga masih lebih baik, kalau mati di kubur di bumi, sakit sekali disiksa kubur.
    117.(12) Matahari datang lagi, tujuh sama-sama melihat, lalu datang yang mau menyiksa itu, gigi atas me- nyinggung ke dunia, giginya tidak beres, gigi yang bawah ke atas.
    118.(13) Matanya juga seperti mau keluar, seumpama gong, dan pemukulnya besar sekali, beratnya seribu kati, namanya, Kirun Wanakirun.
  33. (14) Lalu dipukul sakit sekali, badan kita terpental, badan kita itu hancur bercerai-berai, lalu kita dihidup- kan lagi, lalu ditanya lagi, lalu kita dipukul.
  34. (15) Dan mulut kita. itu dipegang, supaya berlubang, disuapi timah yang masih mendidih, tidak boleh tidak harus mau, nanah dan darah, disuruh diminum.
  35. (16) Kemudian berkata sang Adik, duduk di lantai sambil membungkuk sebagai tanda hormat, susah benar badan kakak itu, mengaji buku itu siang malam, menyebabkan sakit hati, tidak menyebabkan sela- mat.

makanya berguru ilmu, ingin keselamatan.

  1. (18) Dan ditarik nyawa say a, mudah-mudahan jangan dialami, makanya saya berguru ilmu, agar jangan sampai menemukan siksa kubur, dan jangan ditemukan, Kirun Wanakirun.
  2. (19) Susah benar kakak bisa mengaji, untuk apa mesan- tren, kalau tidak bisa mengaji, sekaratnya sakit, dikubur oleh bumi, disiksa di kubur.
  3. (20) Dan earl kuburan yang sesungguhnya, sampai menge- tahui, jangan kakak tidak tahu, jangan nama kubur di bumi, oleh kakak harus ditemukan, badan kakak hancur.
  4. (21) Dan kakak harus mencari lagi, yang menyiksa harus tahu, Wanakirun itu di mana, sekarang itu harus ditemukan, kalau tidak ditemukan, disiksa di kubur.
  5. (22) Dan pikiran disebut mati, yang mati itu apa, yang memilih apanya, yang ilang apanya lagi, dinamakan pulang, sekarang sudah bermuka masam.

    VII. PUPUH PUCUNG (17 pada)

  6. (01) Lalu menunduk ke adiknya sambil berkata, baik- lah adik beri nasihat, karena kakak tidak tahu, kakak menerima kalah ilm u..

  7. (02) Benar kakak ini sudah lebih tua, harus dinasehati, kakak mau menurut saja, jangan khawatir adik cepat beritahu.
  8. (03) Begitu saya merasa. menimbuni gunung, memberi garam ke laut, meludah ke langit, tetapi harap jangan dipakai perkataan.

(04) Tidak ada faedahnya membicarakan, jangan sem- barangan, jangan dipakai permainan, kalau yang

bertanya sebenarnya.

kalau

  1. (05) Kalau menemukan pecah dada potong kepala, tidak begitu jangan dibertahu, karena ilmu itu Iarang- an.
    dari 133 .. (06) Ilmu itu seperti burung Perkutut, tidak jauh rupa, bunyinya juga begitu. dan Gelatik suaranya juga tik-tikan. yang

  2. (07) Silokanya bunga dan Bangbara Tunggul, mana berbakti, mana yang menurut, tidak akan sesungguh- nya bunga tidak berjalan-jalan.

  3. (08) Mana saja pikiran yang menurut, kalau kumbang tidak, ya hidup sendiri saja, tetapi kalau yang menurut barangkali sama.
    tidak mengisap takan hidup

  4. (09) Kumbang itu kalau tetapi yaitu, kumbang yang menurut itu, begitu silokanya badan kita.
    nama,

  5. (10) Allah dan Muhammad tidak jauh, karenanya Nabi Junjungan, sebetulnya Allah
    menurut Mu-

hammad.

ada

  1. ( 11) Sudah sempurna rasa Allah dengan Rasul, sudah hamba, pinjam meminjamkan, itu demikian Gusti dengan ham ba.
    lalu menangis sambil menunduk, jadi

  2. ( 12) Kakaknya mengapa kakak, kalau tidak bertemu dengan adik, sudah terpikir barangkali oleh kakak.
    berumah

  3. (13) Dan lagi Kakak saya memberitahukan, kalau tangga, kakak. sudah mempunyai bini, dan bagaimana mengaku ke bini.

Slllllpai ke aherat.

  1. (17) Tetapi itu mencari manusia sepuluh, pantas tidak ada, kalau kurang mencari malahan putus kalau tidak belajar dulu.

    VIII PUPUH MAGATRU (16 pada)

  2. (01) Manusia itu tentu harus mempunyai guru, karena tidak mengetahui dari kadim, harus sering berkull!pul, dengan orang lain yang sudah mengerti, jangan sore- sore sudah tidur.

  3. (02) Jangan merasa kita itu sudah mempunyai ilmu, ba- rangkali ada lagi, manusia tidak bisa ditentukai1, ada lagi, manusia tidak bisa ditentukan, ada yang seperti rajin, tetapi tidak mempunyai pengetahuan.
  4. (03) Kalau ada orang tua-tua sedang berunding, mende- ngarkan sambil diam jangan berbicara sembarangan, kalau ada yang tidak mengerti, berbicara lah sambil bertanya.
  5. (04) Yang sebagian seperti raj in berperangai baik, kalau berbicara seperti orang yang beriman, seperti yang baik ilmu, seperti yang mengetahui sekali, dibiarkan lalu berbicara.

(05) Kepada sesama kelakuannya hanya ingin mengisap, manusia yang hanya berpakaian bagus, menunjuk- nunjuk seperti yang bisa, manusia tidak menemukan ilmu, kemauannya ingin dimanja.

  1. (06) Dan meninggi.kan diri membicarakan yang tidak tentu, umpama yang baik ilmu, jangan sembarangan berkata, yaitu harus dicegah, tidak merasa berkata buruk.
  2. (07) Kalau begitu gagalnya yang mempunyai ilmu, pera- saannya tidak dikaji, ilmu itu tidak jauh semua di badannya, badannya berisi jongkot.
  3. (08) Semuanya juga di kita sudah berkumpul, dinding jalal aras kursi, aras maksar sudah kumpul, loh kalam masuk dan magrib, tetapi itu harus tahu.
  4. (09) Begitu Malaikat Ijrail, begitu juga lsripil, Minkail juga tidak akan jauh, dan Malaikat Jabrail, barangkalf sama-sama mempunyai kamar.
  5. ( 10) Coba pikir semuanya juga sama-sama meningga1, kalau Ijrail hanya satu, barangkali ribut serta banyak kerja, karena banyak yang hanya satu, tidak bisa ke 1uar masuk.
  6. (11) Dan itu Kirun Wanakirin, ia begitujuga, tukang nanya yang dikubur, itu juga begitu lagi, semuanya mempunyai kamar.
  7. (12) Tentu kita harus mengetahui, harus waspada di 1ahir, jangan berkata salah, sebetulnya tidak dimengerti, berkata itu karena tidak berhasil.
  8. (13) Baiklah kakaknya berkata, adik berilah nasihat 1agi, kakak ini sedikit bingung, adiknya 1alu berkata 1agi, tidak bisa dipakai berkata.

Suluk Sunda itu tidak akan mengajari hanya kita harus berpikir, begitu jangan merasa gembira, harus mencari lagi, jangan gemar berkata.

  1. (15) Kenyataan itu harus membereskan, jangan salah mengartikan, jangan karena merasa sudah tua, oleh kamu belum dimengerti, perasaannya merasa dicela.
  2. ( 16) Bukan demikian umpamanya kalau sudah tua, jangan mudah mara:h dan tersinggung, apalagi menyumpahi, kepada anak cucunya yang kecil, itu menyebabkan membelakang kata.

    IX PUPUH PANGKUR ( 18 pada)

  3. (01) Pangkur yang disebut, suluk Sunda Kembali Iagi, itu kakak kita ceritakan, kalau-kalau ada yang ter- lewat, disebut lapad sirri Al Insanu, Keris masuk ke saning, itu yang sudah biasa.

  4. (02) Sebetulnya bukan itu, diberi nama lapad Al Insanu Sirri, jadi sarung yang masuk, silahkan pikir oleh kakak, tetapi itu banyak sekali yang mengatakan, sarung masuk keris, kebenarannya tidak ditemukan.
  5. (03) Manusia bagaimana masudnya, yang dimaksud tentunya di temukan, sebab itu Yang Agung, karena sifat Rahman, dalilnya yaitu wajida wajidahu, sapa- temen-tinemen. sapagoroh-goroh.
  6. (04) Kalau tujuannya tidak ada, di dalam kubur tentunya hilang, tetapi hilang tidak tentu, gentayangan di du- nia, karena itu yang banyak disangka masuk dalam badan orang yang hilang semangat, banyak yang kemasukkan roh orang mati, merencanakan anak bini.
  7. (05) Yang mempertuhan ke Betal Mukdas, yaitu jantung yang dipertuhan, kelak kemudian di dalam kubur,

'jantung, karena w~ktu ·ai du~ia, m~hilb'atlli .. • I ~ .. • I : ' • : f I '1 t ', J ' • i .. : t

  1. (06) Kalau sedang ·di · dunia'.nya, Beta1 · -Ma¹mur seolah- olah •
    yang ,. dipertuhan, }' k~la~ ', kemu • .Qian .l., di I• dalam j kubur, hanya t4tggal kepalanya, tidak hancur karena penemuannya., kalau tujuan.. di d.un~anya,.muhitna ke hati sir.

16 7. (07) Jadi banjir di kuburnya, itu yang muhit kehati esir, tidak kering selama-lamanya, dan kalau mengang- gapnya, roh idopi jadi bersih, di dalam kubur, dan kalau menerima, badannya badan jasmani.

  1. (08) Nyawa rohani yaitu, itu tentu kelak kemudian ditemukan, jadi kekal di dalam kubur, tidak mendapat celaka, seperti tidur terlentang selama-lamanya, sebab begitu penemuannya, tujuannya hanya satu.
  2. (09) Kalau itu sudah menerima, persambungan banyak nya empat perkara, persambungan dari Hiyang Agung, dari ayah dart ibu, Malaikat ikut menyam- bung-nyambung, itu kalau begitu tujuannya, kelak kemudian ditemukan.
  3. ( 10) Di dalam kubur kacau · balau, terpisah satu-satu, tujuannya begitu, Tuhan bersifat rahman, macal!l- macam· peneinuannya tidak tentu, Gusti Allah sifat murah; karena itu-diturut lagi.' ' · 1 71. (11 ) J angan bertuhan yang lain, bertuhan harus ke Maha Suci, ~.e1 PW18~f~ - Y!Hlg .Agµ,n~, tetapi harus waspada, jangan ragu-ragu dan. bimbang ke Yang Agung, ~ena
    -., kakak .,.
    , tic;l,ak •. •· terhalangi, harus t ·' .waspada. ke ' badan., ·; ...,t.: _·, • .H.•

r72. (12) Kal~u iuuh~ -· bad~nya; Malia Suci, 'itu jadi kupur ka-, · · ·pir, kalau -~ tujuartnya '·be~fo, bacfan'.nya : jadi Allah, jangah sekfili kar~na -1,tiican yang'Agw}g, hams waspada, tetapi bukan Maha Suci. ' : · ·' '

Suci, itu jadi manusia kupur, sebab bukan badan, harus waspada diri.

  1. (14) Harus bisa membersihkan badan, seperti yang mencuci usus, harus bisa membuang tahi, kalau mencuci luarnya, dari dalamnya dikosongkan barang kali bau; mencuci harus dari dalamnya, dan harus dari dalamnya, dan harus dibalik.
  2. (15) Bagaimana membalikannya, tidak mimgkin bisa membalikan usus jangan terlalu banyak makan, cegah tidur dan makan, sementara cegah sahwat dan nap- su, serta dari ilmunya, begitu yang mencuci diri. 17 6. ( 16) Kalau tidak begitu kelakuannya, sampai bongkok badannya tidak bersih, yang sudah biasa itu orang tua, karena suka sembahyang, sahadat solat tiap waktu, itu hanya bersih di luar, karena sering mandi.
  3. (17) Tiap waktu mandi, cepat-cepat takut keburu akhir, dikir satarian ngunggut, terlewat waktu, merasa berutang, cepat-cepat lalu membayar, sudah dilaku- kan, rasanya sudah bersih.
  4. ( 18) Kalau sore puji-pujian, Rasulullah Muhammad yang dipuji, tempat tinggalnya tidak tentu, menyebut Allah Pangeran, itu juga arahnya tidak tentu, hanya menuruti kabar, yang tua dan yang muda.

    X PUPUH SINOM (17 pada)

  5. (01) Sudah laziin yang memberi nasihat, yang dahulu dan sekarang, hanya sekian yang paling bagusnya, benar- nya harus yakin, biar tidak bisa mengaji, supaya bagus pendapat, bagus menerima, kepada sesama jangan mencelakakan, harus baik hati kepada sesama manusia.

  6. (02) Sudah tentu kepada sesarna, kepada anak anak juga jangan berani, jangan merasa karena kepada anak, semuanya juga begitu, kelakuan manusia utama, harus waspada ke badan, kalau sudah begitu jangan susah mengaji kitab..

  7. (03) Kelakuan yang mengaji itu, harus sampai bisa, kalau tamat harus keterima, itu kelakuan yang mengaji, kalau mengaji tidak ada hasilnya, santri hanya se- kedar gundul, dipakai pencaharian, hanya meminta-minta dan mengemis, tiap hari dipakai mencari keuntungan.
  8. (04) Tiap hari menyusuri desa, membawa tongkat dan badi, berjalan menunduk pelan-pelan, lalu berjong- kok meminta-minta, kalau tidak diberi pulang, pikirannya marah, tidak segan-segan menyebut kapir, manusia itu mengetahui hanya sifatnya.
  9. (05) Kelak kemudian kamu ke neraka, kamu menyakiti sekali, saya akan ke sawarga, karena saya bisa mengaji, berkatanya sambil pulang, kalau begitu santri kosong perkataannya sendiri, merasa pandai karena bisa mengaji, mengajinya tidak ada hasilnya.
  10. (06) Segala macam kitab dibaca, menemukan yang baru diaji, perasaannya tidak akan habis, jika dibandingkan dengan pasir pesisir, masih banyak ilmu, ceritanya tidak akan habis, lautan sampai kering, pepohonan sudah habis dipakai pena.
  11. (07) Kitabnya belum habis hanya kalau mesantren lagi, jangan terlena, kalau sudah bisa pulang, dan lagi kalau dipikir, mencari hatinya kangkung, mencari kemalu·· maluan, sarnpai bungkuk tidak akan menemukan, burung terbang mencari bekas di bawah.
  12. (08) Elang terbang dikejar, bayangannya yang ditemukan, elangnya tidak didapatkan, saudara lama sekali, ber-

temu, .yang.tidak· ada.:dicatidentu ·ti~ ditemukan, Tuhan itu di bawa dan rnembawa;
,.. .·~ · u· :r~jl.·t.·' !~_.;,.-..... l. ·£·· .. ,11

  1. (09) Sebagian yang membetj nam.a, T\lhan di Luhur la-
    J ' f ._.;. ~; l. • • t. ngit, menurut yang bercerita, · terhalangi tujuh lapis, meilurut sebagian lagi, Tuhan tidak jauh,·ada di awan, jadi siang jadi malarn, kata sebagian Allah tidak di •· atas dan tidak di bawah.

  2. ( 10) ltu tidak ten tu kebenarannya, semuanya juga menurut cerita orang lain, yang sebagian manusia itu, doa tobat yang diaji, ada yang satu lagi, hanya mencari doa mati, memberi doa dalam cawan, cawan diisi air, pamuradan dan pameradan.

  3. (11) Pamuradan bermacam-macarn, pameradan begitu juga, sama dengan doa tobat, itu juga begitu, macam- macam penemuan, tidak setuju hati, semuanya doa hilang, kenyataannya tetapi bukan, jangankan yang hilang ada doanya.
  4. ( 12) Kalau yang sebenarnya, yang menyebabkan sempurna badan, bukan ilrnu pameradan; kalau kata Ki Sari, itu mustahil, yang hilang ' bisa berkata·;-: ingat ke doa- doa, bernapas dengan susah tidak ingat, karena itu diberi nama kelahiran.
  • l ' ~ ~ t
  1. (13) Jangan m~rasa gembira karena pisa, harus mencari fa8i,' men~ri Y.~~ se~u~¥,~i}nya, .: S~ kenyataan
  • Rosul, dan Allah yang sesungguhnya, dan lahir -batin yang • sesungguhrtya, .kalau sudah menemukan jangan susah mengaji kitab.,,. ' · l-· 1, ' • ,; I ~] : : 'f' ~ t !
    t 9i, (14).Kakakiiya '"Ah .l~u r bei;kata, ~akan*/*~dik \:>eritahu, lagi, .t ~ • .1 ~ r f ·, • •, dengan. sebenarnya, ,adik memb,eti nasihat lagi, kalau kak'ak belum' mengerti, sesungguhnya yang tidak ada, mr sahad~t sejatl, yhltu]{enyataart iman: '
    ' ' {, ' ! ~ \ I • !.... i ,)

~i juga sama, sekian penemuan saya, hanya sekian kakak tidak ada lanjutannya.

  1. (16) Demikian saya juga, hasil berpikir siang malam, me- niru dari suluk Jawa, tetapi oleh saya diganti, supaya banyak yang mengerti, anak cucu jangan bingung, yang tidak mengerti Jawa, lebih baik disundakan lagi, tetapi di dangding tidak tentu.
  2. (1 7) Perhatian kepada semua, kepada yang berbudi, jangan mau sembarang waktu, karena ini rasa saya, kata saya yang tidak mengerti, yang tidak tahu kepada ilmu, membaca wawacan ini harus diam-diam, jangan sekali dinyanyikan banyak orang.

PENELUSURAN PENGARUH ISLAM TERHADAP NASKAH-NASKAH SUNDA

3.1 J>engantar Ada yang perlu disinggung terlebih dahulu sebelum meng- injak kepada uraian lebih lanjut, terutama sedikit menyangkut pokok-pokok pembicaraan ke arah pembahasan yang ditujukan kepada salah satu naskah yang bernafaskan keagamaan. Dalam sejarah penyebaran agama di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa ini, Islam mengalami perkembangan yang cukup unik. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dikemukakan beberapa pem bahasan yang diperkirakan telah melatarbelakangi keadaan itu. Sedemikian jauh, Oifford Geertz (1960) dalam bukunya The Religion of Java telah menyajikan sebuah pembahasan secara sistematis terhadap "agama" Jawa serta varian-variannya antara abangan, santri, dan priyayi. Ternyata banyak tanggapan dikemukakan oleh para ahli terhadap buku itu, yang di antara- nya sebagaimana dikemukakan oleh Harsya W. Bachtiar dalam pengantar terjemahan bahasa Indonesia, secara disengaja diguna- kan judul yang berbeda untuk buku tersebut (Harsja W. Bachtiar dalam Geertz, 1981 ). Kemudian dalam upaya menunjang ke arah pemenuhan di antara kekurangan lainnya, Kuntowijoyo (1985) pemah membicarakan sebuah kerangka kerja mengenai
.62

Isl~m di

Jawa (Kuntowijoyo, 1985). Sangat penting kiranya untuk di- ketahui bagaimana unsur-unsur estetis hadir di dalam sistem keagamaan, dan sebaliknya, bagaimana unsur-unsur agama muncul dalam kesenian Islam. Pemikian semacam ini timbul akibat ada- nya satu anggapan bahwa Geertz temyata tidak membuat urai- an yang adil mengenai pembentukan simbol dari masing-masing varian itu. Dalam hal ini Geertz memberi monopoli terhadap kesenian klasik dan populer sebagai dasar identifikasi kaum priyayi, hal yang tidak diberikan kepada abangan dan santri. Terhadap abangan cenderung hanya disebutkan simbol-simbol berupa magic, mitologi, dan ritual. Kemudian untuk santri, identifikasi terutama didasarkan pada masalah organisasi sosial agama.

Di lain tempat, Geertz menggolongkan masyarakat pesantren sebagai orang Islam Kolot yang salah satu sifatnya ialah penerimaan mereka terhadap unsur-unsur sinkretis, yang umum- nya dimiliki oleh kaum abangan yang cenderung menjalankan kehidupan keagamaan bersifat animistis, Hindu-Budistis, dan Islam (Geertz, 1956: 138). Di lain pihak, Alan Samson meng- gambarkan wajah Islam di Jawa sebagai penganut suatu sistem keagamaan yang didasarkan kepada campuran dari elemen- elemen animisme, Hindu-Budisme dan Islam, sama dengan wajah keagamaan orang abangan. Dalam hal ini jelaslah bahwa apa yang dikemukakan oleh Alan Samson itu sekedar menegaskan kesimpangsiuran Geertz tentang sifat-sifat abangan dan Islam Kolot (Samson, 1968: I 007). Berkaitan dengan masalah ini, kita dapat melihat lebih lanjut bahwa Geertz dalam Islam Obser- ved (1968 : 11 -12) hanya membahas mengenai Islam di keraton-keraton Jawa yang pada masa penjajahan Belanda terlepas sama sekali dari sumbemya tanpa memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang oleh Geertz sendiri diakui sebagai syarat bagi pengembangannya. Dalam buku tersebut, ia tidak mengemuka- kan ten tang Islam dalam lingkungan pesantren.

300) bahwa meskipun para penganut Islam tradisional mengaku dirinya sebagai pengikut madzhab yang empat, terutama ·madzhab Syafi'i, akan tetapi mereka pada umumnya tidak mengikuti ajaran para pendiri madzhab tersebut. Mereka terutama membatasi diri kepada ajaran-ajaran para imam yang ber- ikutnya; yang dalam banyak hal telah menyeleweng dari ajaran-ajaran para pendiri madzhab. Para menganut Islam tradisional di Indonesia mengikuti fatwa-fatwa yang ada, bukannya berusa- ha memahami cara-cara untuk dapat memberikan atau memu- tuskan fatwa. Kemudian dalam bidang tasauf, dikatakannya bahwa banyak penganut Islam tradisional sering kali tergelincir ke dalam praktek-praktek yang dianggap perbuatan syirik, ka- rena menghubung-hubungkan Tuhan dengan makhluk-makhluk atau benda-benda. Terhadap pemyataan ini, Zamakhsyari Dho- fier (1985: 7) mengemukakan bahwa hal terse but terlalu ber- lebih-lebihan dan sangat subyektif, yang dilancarkan tanpa di- dukung oleh bukti-bukti yang cukup tepat. Selanjutnya, kita bahkan tida tahu siapa yang ia maksudkan sebagai orang-orang Islam tradisional, apakah orang abangan yang memang tidak tahu banyak tentang Islam, atau para kiyai pemimpin pesantren. Dalam hal ini, andai kata pun yang ia maksudkan para kiyai pemimpin pesantren, tampaknya ia kurang memahami tentang kewajiban yang sebenamya dari seorang alim. Berdasarkan uraian tersebut, temyata diperoleh gambaran yang dapat memberikan kesan bahwa pembicaraan mengenai dunia Islam memang cukup menarik sehingga mem buka peluang untuk membicarakannya dari berbagai aspek. Salah satu di anta- ranya ialah adanya unsur-unsur keislaman dalam bentuk karya sastra. Dengan demikian, apa yang telah dikemukakan tadi di- harapkan dapat mem beri persiapan ke arah pemahaman berikut- nya. Di samping itu, masih ada f aktor lain yang perlu dikemukakan, terutama menyangkut sepintas tentang perkembangan Islam di Indonesia dalam upaya memberikan gambaran mengenai latar belakang unsur-unsur keislaman .dalam bentuk karya

Ko- dir Jaelani yang pasti mendapat penajaman tertentu dalam sikap keagamaan dalam mistik Islam. Bentuk-bentuk lainnya misal- nya dalam mujarobat, paririmbon, wirid, dan suluk. Dua istilah terakhir ini termasuk ke dalam jenis tasawuf, terutama berkait- an dengan isinya.

3.2 Perkembangan Islam di Indonesia Islam yang masuk ke Indonesia secara sistematis baru pada abad ke-14 Masehi, berpapasan dengan suatu kebudayaan besar yang telah menciptakan suatu sistem politik, nilai-nilai estetika, dan kehidupan sosial keagamaan yang sangat maju, yang dikem- bangkan oleh Kerajaan Hindu-Budha di Jawa yang telah sang- gup menanamkan akar yang sangat kuat dalam kehidupan ma- syarakat Indonesia. Hal ini didasarkan kepada apa yang dike- m ukakan oleh Geertz yang mencoba membandingkan bagaima- na Islam berkem bang di Jawa dan Maroko. Tetapi, bila diban- dingkan dengan Islam di India, Islam di Indonesia menurut Geertz demikian lemah, tak berakar dan bersifat sementara, sinkretis, dan berwajah majemuk (Geertz, 1968: 11-12). Dalam pada itu, penyebaran agama Islam di Jawa diperkira- kan telah berlangsung semenjak zaman kerajaan Jawa-Hindu Majapahit masih dalam puncak kejayaannya (Tardjan Hadidjaja dan Poerbatjaraka, 1952: 96; Sim uh, 1985: 53). Hal ini kiranya sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Zaman khsyari Dhofier ( 1985: 8) bahwa Islam mulai memasuki arena kehidupan orang Jawa pada masa pertumbuhan dan perluasan Kerajaan Hindu Majapahit. Menurutnya, perkembangan yang paralel antara kedua kekuatan yang berlawanan ini sebagian bisa diterang- kan oleh partisipasi orang Jawa dalam kegiatan perdagangan di Lautan India yang didominir oleh orang-orang Islam. Semakin kuat kerajaan Majapahit, maka semakin intensif kontak antara orang-orang Jawa dengan orang-orang Islam India. Mengenai hal

101, ia· mengemukakan alasan bahwa India antara abad ke-11 sampai dengan abad ke-17 merupakan kerajaan Islam yang kuat dan mempunyai pengaruh yang besar dalam percaturan per- dagangan di Lautan India, termasuk Asia Tenggara. Keadaan itu untuk selanjutnya menyebabkan tumbuhnya masyarakat Islam di Jawa, sehingga sewaktu Majapahit mulai pudar dalam panggung sejarah, Islam menjadi senjata utama bagi proses berkembangnya Kerajaan Islam Demak. S.T.S. Raffles (1830:2) mengemukakan bahwa sejak akhir abad ke-15, Islam telah menggantikan Hinduisme sebagai senjata utama bagi menentu- kan langkah dan kegiatan politik di Jawa. Dengan demikian, munculnya Demak sebagai kerajaan yang paling kuat pada saat itu, menjadi pusat bagi penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pada akhimya dapat dikemukakan bahwa sementara penduduk per- caya kepada Allah yang Maha Esa dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya dan mengerjakan beberapa perintah ibadah, tetapi mereka sebenamya masih sedikit sekali mengetahui doktrin- doktrin Islam.

Hubungan Islam di Indonesia dengan negara-negara Islam yang lain pada masa dua abad pertama penjajahan Belanda di- rasakan sangat terbatas. Keadaan demikian sebagai akibat dari politik penjajah Belanda dalam keagamaan yang sangat mem- batasi kontak tersebut. Oleh sebab itu, pertumbuhan kelompok- kelompok masyarakat yang kuat keislamannya menjadi terham- bat. Hal tersebut tentunya tidak hanya sampai di situ, tetapi mereka telah mencoba melakukan-penghambatan arus informasi sejarah Islam di Indonesia, sehingga informasi sejarah masuknya Islam di kepulauan Nusantara ini paling awal hanya sampai abad ke-14. Demikian pula dengan berhasilnya Belanda menggiring orang-orang Islam Indonesia menjadi masyarakat petani sehingga faktor ekonomi dalam kehidupan kemasyarakatan mereka terkurung sama sekali. Padahal, kemashuran pelaut-pelaut Nusantara pada _ sebelum abad ke-14 telah tersiar hingga negeri Cina, India, dan Parsi. Dapat dipastikan bahwa pada mereka tersimpan berita-berita yang antara lain bisa memberi informasi sejarah Islam di Indonesia, terutama dalam rangka merekons-

ne~ri itu.

3.3 Pen~ruh Islam Temadap Khasanah Susastra Sunda Sebuah lembaga pengajian dapat dipandang sebagai sebuah pesantren apabila di dalamnya telah terdapat unsur-unsur seper- ti pondok, mesjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam, dan kyai. Demikianlah bahwa, sebuah pesantren pada dasarnya me- rupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional yang pa.ra siswanya tinggal bersama dan belajar bersama di bawah bim- bingan seorang (atau lebih) guru yang biasa disebut kyai. Umumnya, asrama untuk para siswa berada dalam komplek pesantren, tidak jauh dengan tempat tinggal kyai yang juga tersedia mesjid untuk beribadah, ruang belajar serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, yang senantiasa para santrinya itu diawasi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Keseluruhan kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan ke dalam delapan kelompok, yaitu: a) nahwu dan saraf (sintaksis dan morfologi), b) fiqih, c) usul fiqih, d) hadis, e) tafsir,
f) tauhid, g) tasawuf dan etika, dan h) cabang-cabang lain se- perti tarikh dan balaghah. Kemudian kitab-kitab tersebut terdiri atas teks yang sangat pendek hingga teks yang berjilid-jilid, menyangkut hadis, tafsir, fiqih, usul fiqih dan tasawuf. Secara garis besarnya dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga kelompok, yaitu I) kitab-kitab dasar, 2) kitab-kitab tingkat mene- ngah, dan 3) kitab-kitab besar. Dalam salah satu kegiatan keagamaan dapat dipastikan bahwa, para santri juga memiliki kesempatan untuk menciptakan simbol-simbol, meskipun di antara simbol-simbol itu tidak mempunyai kadar kekayaan yang sama. Dalam hal ini, rupanya di lingkungan budaya Islam terdapat semacam proses yang berlawanan arah. James L. Peacock dalam bukunya Muslim Puritans: Refonnist Psycholo- gy in South eos t Asia ( 1978) menggambarkan keadaan terse but. Di satu pihak, terdapat upaya pemiskinan simbol yang dikerja-

Upa- ya seperti ini tampaknya terjadi di lingkungan gerakan pemba- haruan Muhammadiyah yang mencoba menyusutkan simbol- sim bol Islam tradisional, padahal tan pa disadari juga telah mem- perkaya. Hal ini seperti dapat dilihat dalam bentuk seni bela- diri Tapak Suci yang berusaha menciptakan jurus-jurus silat berdasarkan abjad Arab, seperti jurus alif dan sebagainya, yang sebenamya termasuk seni yang paling praktis dan tidak akan termasuk dalam sistem simbol budaya Cassirer. Di lain pihak, terdapat gejala yang menciptakan penggan- daan serta pengkayaan simbol-simbol. Keadaan ini mungkin diakibatkan berhubung pada masa lalu, tradisi besar Islam yang rasional dan historis temyata tidak mampu membendung arus pembentukan mitologi Islam. Akan tampak umpamanya dalam kisah-kisah para wali yang umumnya terasa lebih mitos daripada sejarah, seperti dalam Sejarah Lampahing Para Wali Kabeh atau dalam judul lain, Babad Cirebon, yang di dalam salah satu episo- denya memperlihatkan kisah pertemuan antara Nabi Khidir _ dengan Summ Kalijaga. Selain itu, bisa dipastikan bahwa kadar mitos dalam Mana/db Syekh Abdul Kodir Jaelani telah men- dapat penajaman tertentu terhadap sikap keagamaan dalam mistik Islam, misalnya, jin dalam konsep Islam sudah diperkaya tatkala menjadi jin dalam konteks masyarakat tradisional, walaupun kaum Puritan Muhammadiyah berupayamempercayai- nya berdasarkan pemahaman yang mumi. Di samping unsur mitologi, tampak pula pengaruh budaya Islam dalam lingkaran makna doa sebagai bentuk simbol magis yang mengandung kekuatan-kekuatan supernatural dalam usaha untuk memenuhi sesuatu yang diinginkan. Ini terlihat dalam bentuk kitab Muja- robat yang berupa kumpulan doa, atau dalam bentuk potongan ayat-ayat suci AI-Quran, seperti Ayat Kursi yang sering diguna- kan sebagai penolak bala di dalam rumah-rumah penduduk atau santri. Transforrnasi budaya Islam pada awalnya adalah sebagai akibat terjadinya kontak dengan budaya kota dan kaum peda-

ban~a Arab di Timur Tengah dengan budaya kota-kota pantai dan kaum pedagang di Kepulauan Nusantara, yang kelak mampu menembus budaya desa.dan masyarakat petani di daerah-daerah pedalaman. Akibat adanya perkembangan mobilitas yang lancar, terjadilah difusi budaya Islam sehingga dengan de- mikian tum buh sim bol-sim bol yang mengalami pengkayaan makna. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa sebagai akibat dari keadaan tersebut. agama Islam bagi orang Sunda merupakan sebuah panutan, dengan kata lain, Islam merupakan suatu titik terkuat dalam pandangan hidup masyarakat Sunda. Hal ini terbayang serta masuk ke dalam khazanah susastranya, terutama pada masyarakat pedesaan dengan lingkungan dunia agraris, yang penuh budaya tua berupa hasil karya mandiri tan- pa dirasa. Bukti-bukti tersebut tampak antara lain dengan adanya macam-macam tulisan yang diambil dari ayat-ayat suci Al-Qur'an yang biasanya dijadikan jimat dan isim. Selain itu, ada bermacam-macam doa yang bagi masyarakat Sunda merupakan satu keistimewaan tersendiri, dengan makna sastra yang belum pemah ditonjolkan, misalnya, doa Raja Sulaeman dituju- kan untuk keselamatan bumi dan tanah; doa Nabi Khidir yang dianggap sebagai nabi yang hidup abadi, yang suka menolong manusia dari kesulitan, terutama di laut. Di samping doa-doa itu, masih ada yang lainnya, seperti: doa tutup udel, doa malem salikuran, doa watek tanggal, doa telekin mayit, serta doa-doa yang digunakan dalam siklus pertanian (mitembeyan, macul, tebar, tandur, kilir, mapagdaun, reuneuh, rampak, mipit, mupul, ngakut, ngelep, ngageugeus, ngukus, ngarewahkeun, nyalame t- keun pare, dan sebagainya). Dalam hal ini terasa sekali adanya pandangan yang bersifat sinkre tis, yang apabila ditinjau dari segi agama ialah merupakan suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya sesuatu agama. Dalam pembabakan Sastra Sunda, pengaruh budaya Islam terasa sekali P.eranannya. Dalam buku Kasusastran Sunda II (t.t.) karya R.I. Adiwidjaja, yang dirujuk pula oleh Patah Nata- prawira dan Tisna Wedaja, dan dalam Kandaga Kasusas tran

Sunda (1958) karya M.A. Salmun, juga tennasuk Sukanda (1958) karya M.A. Salmun, juga tennasuk Sukanda Tessier (1987), mengelompokkan periodesasi sastra tidak berdasarkan penanggalan, tetapi difokuskan kepada tema bersama perkem- bangan Islam, meskipun men~nai masuknya Islam di Jawa Ba- rat belum terdapat kepastian penanggtlan yang tepat. Penelitian lebih lanjut tentang pembabakan karya Sastra Sunda pemah di- lakukan oleh Sukanda-Tessier berdasarkan pemahaman difusi budaya Islam dengan istilah "belum -sedang -telah" dianut masyarakat Sunda. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat di- lihat bagaimana serta karya Sastra Sunda yang mana, yang ter- masuk zaman pra-lslam, zaman Islamisasi, dan zaman Islam, yang tentunya masih sulit diberikan pembatasan yang ketat di antara ketiga periode ini, seperti tampak dalam wawacan Ogin yang sebenamya berpijak di atas dua siklus zaman. Ke · dalam setiap pembabakan tersebut dimasukkan beberapa siklus secara lebih khusus, yang dapat diartikan bahwa penekanan sebuah siklus tersebut cenderung didasarkan pada bayangan unsur ruang dan tokoh, di samping isi yang terkandung di dalamnya. Pada kesempatan ini dapat diperhatikanmen~nai pembabakan karya Sastra Sunda sebagaimana telah dikemuka- kan tadi.

3.3.1 Periode Pra-lslam Dalam hal agama, masyarakat Sunda jauh sebelum menerima pengaruh agama dan kebudayaan · Hindu-Budha dari India, kepercayaan mereka masih bersifat animistis dan dinamis- tis (samanistis), yakni memuja terhadap ruh nenek moyang, dan percaya adanya kekuatan gaib atau daya magi dalam benda- benda, tumbuh-tumbuhan, juga binatang yang memiliki kesak- tian. Kepercayaan serta pemujaan seperti ini, pada dasamya ~lum merupakan suatu perwujudan agama yang secara nyata dan sadar. Dalam taraf keagamaan seperti ini, masyarakat Sunda menerima pengaruh agama dan kebudayaan llindi-Budha yang pada dasamya bersendi atas kebudayaan India. Agama Hindu-Budha menyebarkan kitab suci dalam bahasa Sanskerta, dan

Sunda dan bahasa-bahasa daerah

lain di nusantara, Sunda bertahun 458 Saka (536 M) Akte kelahiran istilah yang ditemukan dari tertera dalam prasasti Juru-Pangambat pangkal pemi- daerah Bogor. Inilah sebenarnya yang menjadi untuk berperiodesasi karya Sastra Sunda, meskipun kiran terpelihara di Sunda teks kuno dalam bahasa Sanskerta tidak banyak tersimpan sampai sekarang. Akan tetapi, sisanya masih Sewaka Darma, di dalam karya Sastra Sunda Kuno, seperti dan Sanghiyang Siksa Kandang Kawih Paningkes, Jatiniskala, Bentuk-bentuk karya sastra yang memiliki corak Karesian. yang diabadikan khas India adalah Ramayana dan {ahabarata dari seri Mahabarata dalam bentuk lakon wayang. Terutama hingga yang riwayatnya dimulai dari tokoh Paracara-Abiyasa Pandawa dengan terjadi tragedi besar Barata-Yudha antara \rjuna, yaitu Kurawa, kemudian berlanjut sampai keturunan dan Parikesit, yang sering dihubungkan dengan Abimanyu Parikesit sampai sejarah Astinapura dan Santanu. Keturunan ini tidak pernah kepada tokoh Angling Darma, walaupun tokoh ini tumbuh subur terdapat dalam Mahabarata yang asli. Cerita Wawacan Angling di Sunda dalam bentuk wawacan, seperti Sari, yang dalam Darma, Wawacan Gawing, Wawacan Angling yang penting. hal ini tokoh binatang sangat memainkan peranan karya yang Dalam pada itu, kita dapat melihat beberapa Galuh, seperti lebih menekankan pusat peristiwa di (masa) Kemudian beberapa bentuk cerita lain- Carita Parahiyangan. Babad Ga/uh, Wawacan Ciung Wanara, Wawacan nya adalah Liman, cerita Naganingrum, cerita Malartsari, cerita Munding Raja Adimulya, Lutung Kasarung, cerita Prabu Sindula, cerita Babad Pasisir, serta Kidung Sunda; juga Waruga Guru. dan yang termasuk periode pra-lslam, terutama Karya lain adalah Carita mengambil pusat peristiwa di (masa) Pajajaran Di samping itu adalah Cariosan Ratu Pakuan, Bujangga Manik. Sena Pajajaran. Babad Prabu Si/ihwangi, Wawacan Carita Rangga Wawacan Munding Laya Dikusumah. Wawacan Raja Sunda,

Perang, dan Munding Sari Wira Mantri. Dalam masa ini figur tokoh Prabu Siliwangi merupakan fokus utama, baik sebagai tokoh yang dalam keadaan penuh derita sebagai putra mahkota Pajajaran, maupun masa-masa hidupnya yang penuh kebahagiaan. Sedangkan dalam karya-karya yang berpusat pada masa Galuh, lebih ditekankart kepada tokoh Ratu Galuh yang beristri dua, mempunyai dua orang anak yang kelak mengakibatkan asal-usul terjadinya pembagian Pulau Jawa menjadi dua kerajaan.

Di samping karya-karya yang berkisar antara Galuh dan Pajajaran, terdapat pula beberapa karya yang berfokus pada kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Kediri, Daha dan Gegelang, serta di Majapahit. Karya-karya Sastra Sunda yang_ tertuju di sekitar Kediri, Daha dan Gegelang, dalam hal ini terutama karya-karya yang bercorak cerita panji yang antara lain adalah Wawacan Golek Kancana, Wawacan Sekartaji, Wawacan Candra Kirana, Wawacan Sumpena, Wawacan Cumina · (Cuminalaya), Wawacan Panji Wu/ung, Wawacan Rahwana (Gandamana). Wawacan Candra Kirana memiliki kesamaan dengan dongeng Kelenting Kuning di Jawa, dan Hikayat Cekel Waneng Pati di Sumatra (Melayu-Riau). Sedangkan beberapa karya Sastra Sunda lainnya, yang menekankan pusat peristiwa pada (masa) Majapahit, antara lain adalah Wawacan Jaka Sundang, Wawacan Damar Wu/an, Wawacan Bayamak, Wawacan Bermanasakti (Pua-pua Bermanasakti), Wawacan Paku Alam, dan Wawacan Bermana Alam.

3.3.2 Periode Islamisasi Naskah-naskah karya Sastra Sunda yang tergolong ke dalam periode Islamisasi ini memang kurang memiliki pembatas yang tegas dengan naskah-naskah karya Sastra Sunda yang masuk ke dalam golongan periode Islam. Bahkan di antara periode pra-Islam dengan periode Islamisasi pun naskah yang cenderung berperan sebagai missing-link,
antara lain adalah Wawacan Ogin atau dikenal pula dengan judul Wawacan Raden A marsakti Somaningrat. Dalam naskah ini masih terasa unsur

Sunda (Jawa Barat). Tetapi, beberapa hal yang bisa dijadikari indikasi bahwa wawacan itu termasuk periode Islamisasi adalah munculnya tokoh Raja Mahrup yang beragama Islam-Kalamullah, juga peran yang dimainkan oleh Ogin, putra Raja Mahrup, merupakan tokoh yang ideal sebagai insan kamil sejati sehingga daripada mem- bunuh musuh-musuhnya yang telah takluk, lebih baik diberi selamat asalkan mau masuk Islam. Beberapa naskah lainnya yang memiliki karakter semacam ini, antara lain adalah Wawacan Nusa Jaladri (Samun), Wawacan Budiman, Wawacan Indra- putra. Wawacan Abdurahman-Abdurahim, Wawacan Nata- sukma. Wawacan Gandawerdaya (Gandasari). Selain naskah-naskah tersebut, sebuah naskah yang terkenal adalah Wawacan Prabu Kean Santang. Di dalamnya menam- pilkan seorang tokoh yang gagah dan sakti putra Prabu Sili- wangi, raja Pajajaran, yang berhasil mengislamkan masyarakat di Pulau Jawa. Karena kesaktiannya yang tiada tertandingi, ia memperoleh beberapa nama lain, di antaranya adalah Gagak Lumayung, Gagak Lumajang. Namun setelah bertemu dengan Nabi Muhammad, setibanya kembali di tanah Jawa, Prabu Kean Santang memperoleh gelar dengan sebutan Sunan l.ahmat. Kadang-kadang di samping Wawacan Prabu Kean Santang, ada pula yang dinamakan Wawacan Godog, Wawacan Gagak Lumayung, Wawacan Rara Santang, dan Wawacan Walang- sungsang, yang secara umum tokoh utamanya berasal dari

--dan kembali lagi ke--Jawa Barat.

3.3.3 Periode Islam

Seperti telah disinggung di muka, perbedaan antara periode lslamisasi -dan periode Islam tidak begitu tegas. Satu hal yang patut dipertimbangkan ialah bahwa dalam periode Islam, unsur-unsur agama Islam umumnya muncul sejak pemberang- katan ceritera. Di samping itu, gambaran dunia Arab beserta pengaruh budaya Islam pun tampak sangat dominan, dan

tanah asal, diembannya tugas untuk menyebarkan agama Islam. Ke dalam karya-karya pun banyak masuk kosa kata Arab yang cukup lengkap, dan terlihat di dalamnya bahwa Islam sudah menjadi imam ke- banyakan orang.

Naskah-naskah karya Sastra Sunda yang muncul pada masa ini umumnya banyak mengisahkan tentang para nabi, khusus- nya Nabi Muhammad beserta keturunannya, dan termasuk pula para wali serta tokoh-tokoh dari dunia Arab, maupun tokoh hasil pernikahan antara orang-orang Arab dengan orang-orang Sunda dan orang nusantara lainnya. Suasana pesantren pun se- cara jelas turut mewarnai setiap peristiwa di dalam karya sastra, sebagai tempat berkumpulnya para santri di bawah bimbingan kyai untuk mempelajari kitab-kitab serta melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Beberapa karya yang termasuk banyak menceriterakan para nabi, antara lain adalah: Wawacan Babar Nabi, Wawacan Paras Nabi, Wawacan Paras Adam, Wawacan Abdullah, Carita Kangjeng Nabi, Sajarah Anbiya, Wawacan Fatimah, Carita Nabi Yusuf Kemudian yang. mengisahkan para wali, di antaranya: Sajarah Lampahing Para Wali Kabeh, Sajarah Para Olia, Sajarah Sunan Gunung Jati, Wawacan Wali Sanga, Babad Cirebon.

Di samping itu, kita masih bisa melihat beberapa karya yang lebih menonjolkan tokoh pahlawan Islam, seperti Wawacan Amir Hamzah, Wawacan Umar Maya, Wawacan Lokayanti, Wawacan Prabhu Rara Dewi (Wawacan Bental lemur), Wawacan Lukmanulhaqim, Wawacan Seh Mardan, Wawacan Rengganis, Wawacan Syekh Abdul Kodir Jaelani, Wawacan Abunawas, Wawacan Ahmad Mu!Jammad, Wawacan lstambul, Wawacan Padmasari, Wawacan Samaun, · Wawacan Hasan Sodiq. Dalam hal ini, termasuk pula Wawacan Suryaningrat yang mengisahkan tokoh Suryaningrat beserta istrinya, Ningrum Kusumah hingga anak-cucu mereka. Dapat disimak di dalani beberapa naskah lain, yaitu: Wawacan Jaya Lalana, Wawacan Sa/ya Nagara (Suria Nagara), Wawacan Suria Ningrat, Wawacan Suria Kanta,

Umbaran, Wawacan Ranggawulung, dan Wawacan Ganda Ningrat a tau Suria Dimulya.

Gambaran pembabakan naskah-naskah karya Sastra Sunda sebagaimana telah dikemukakan tadi, pada prinsipnya tanpa menyebutkan apakah karya-karya yang bersifat keagamaan itu, khususnya agama Islam, tergolong ke dalam jenis tarekat, suluk, tasawuf dan kebatinan atau sufi, atau bahkan bersifat sejarah. Dalam hal tersebut, penekanannya lebih diarahkan kepada bayangan tematis keagamaan (Islam) secara kronologis. Sedangkan untuk memberi sedikit gambaran ke arah pemahaman persoalan itu, ada baiknya kembali mengalihkan perhatian terhadap perkembangan pustaka Islam. Dalam pada itu, setelah kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Pulau Jawa terdesak oleh kekuatan Islam, maka dengan sendirinya muncul kerajaan-kerajaan Islam sebagai pengganti- nya. Selama perjalanan sejarah penyebaran Islam, dibarengi pula dengan berkembangnya kepustakaan yang secara garis besarnya dapat dibedakan antara Kepustakaan Islam Santri dan Kepustakaan Islam Kejawen (;\bangan). Perbedaan di antara kedua jenis kepustakaan tersebut pada dasarnya ter- letak dalam penekanan dan orientasi pemahaman konsepsi dunia Islam. Dalam Kepustakaan Islam Santri, sareat (lima rukun Islam) merupakan faktor yang mengikat secara ketat dan induk dari pengajaran sendi-sendi agama sehingga menjadi satu ukuran untuk membedakan antara ajaran yang lurus dengan ajaran-ajaran yang menimpang dari tuntunan Islam. Kepustakaan jenis ini berkembang dalam lingkungan pesantren atau surau-surau. Sedangkan beberapa ciri yang dimiliki oleh Kepustakaan Islam Kejawen, antara lain ialah sangat sedikit mengungkapkan segi sareat, atau bahkan kurang menghargai sareat, dalam arti sebagai hukum atau aturan-aturan lahir dalam agama Islam. Dalam-jenis kepustakaan ini cenderung n1enampil- kan perpaduan antara tradisi setempat deilgan unsur-unsur ajaran Islam.

Bentuk karya yang biasa digunakan· menyebutkan kepustakaan Islam Santti adalah kitab Mujarobat, berupa kumpulan

yang ada dalam kepustakaan Islam Kejawen adalah prinbon, wirid, dan suluk Naskah primbon (paririmbon) ini umumnya berupa bunga rampai berbagai ajaran atau pengetahuan yang disusun tanpa struktur, seperti: pertanda makna mimpi, ramalan, pelajaran ibadah, tentang gempa, kelahiran bayi, dan lain-lain. Adapun wirid dan suluk, dari segi isinya umumnya berisi ajaran tasawuf atau sering disebut pula sebagai ajaran mistik Islam. Perbeda- annya terletak pada segi bentuk, yaitu: wirid biasanya ber- bentuk prosa, dan suluk umumnya dalam bentuk puisi tembang atau yang lebih umum dikenal dengan bentuk wawacan.

SEBUAH BENTUK SASTRA AJARAN TASAWUF

4.1 Pengantar Hal yang perlu dikemukakan dalam kesempatan ini adalah menyangkut topik pembicaraan ke arah pemahaman dan pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam WG serta masalah yang ada hubungannya dengan karya tersebut. Karena WG ini termasuk salah satu bentuk sastra yang berisi ajaran tasawuf, maka pembenahan ke arah persoalan itu pun perlu dilakukan, yakni menyangkut ulasan tentang ilmu tasawuf sebagai suatu sistem ajaran Islam. Pembenahan dari aspek sastra dicoba diulas mengenai bentuk penyajian teks WG, dan krono- logi teksnya. Dengan demikian, paling tidak, pembahasan hal tersebut dapat dijadikan patokan ke arah pengungkapan unsur- unsur tasawuf yang terbayang dalam teks WG ini.
4.2 Ilmu Tasawuf Sebagai Suatu Ajaran Dalam Islam Algazali dapat dianggap sebagai salah seorang Sufi yang telah berhasil memperkenalkan tasawuf sebagai suatu aliran dalam sistem pengajaran agama Islam. Dr. Zaki Mubarak ( 1924) pemah menelusuri arti istilah sufi secara etimologis, di antara- nya pemah dikatakan bahwa perkataan itu berasal dari sufah yang telah dikenal sebelum Islam sebagai gelar bagi seorang anak Arab yang salih, yang selalu mengasingkan diri dekat
.

haji. Mungkin pula dari perkataan safa yang artinya bersih dan suci, atau dari kata sophia dari istilah Yunani yang berarti hikmah atau filsafat, juga mungkin dari suffah sebagai nama suatu ruang dekat Mesjid Madinah tempat Nabi memberikan pengajaran-pengajar- annya kepada para sahabatnya, seperti Abu Zar dan lain-lain- nya, bahkan mungkin dari kata suf yang berarti bulu kambing yang biasa dijadikan bahah pakaian orang-orang Sufi yang berasal dari Syiria. Tetapi akhirnya, istilah sufi menjadi nama bagi golongan yang mementingkan kebersihan hidup batin, baik bagi orang-orangnya yang disebut Sufi, maupun bagi nama ilmunya yang dinamakan Tasawuf.

Orang Sufi dalam menentukan sifat-sifat baik dan buruk berlainan dengan mereka yang melihat perbaikan akhlak manusia dari sudut kemajuan dunia. Tujuan sufi tentang pendidikan manusia terutama diarahkan dalam menanamkan rasa kebencian terhadap masalah keduniawian, yang dianggapnya sebagai suatu sumber kecelakaan dan kekacauan bagi kehidupan perdamaian umat manusia. Oleh karena itu, dalam mengerjakan akhlak perlu ditekankan untuk melepaskan diri dari keserakahan dunia. Lapar misalnya, bagi orang Sufi memiliki nilai yang tertinggi dalam pendidikan rohani, karena kekenyangan baginya mengakibatkan manusia melupakan Tuhan sehingga menimbul- kan hasrat atau nafsu berlomba-lomba mencari kekayaan duniawi. Dalam pada itu, bagi mereka yang ingin maju di atas permukaan bumi beranggapan bahwa kekenyangan bukanlah sesuatu yang tercela, bahkan dapat menambah nafsu dan ke- giatan bekerja untuk membangun usaha-usaha yang menghen- daki tenaga pikiran dan badan manusia. Kemudian, perbedaan baik dan buruk tersebut melalrirkan ajaran akhlak yang kadang- kadang berbeda dengan anggapan kita. Sehubungan dengan masalah tersebut, Mubarak (1924) pernah mencatat beberapa buah pikiran Algazali tentang akhlak. Dalam hal ini, Algazali menamakan akhlak itu dengan bermacam-macam sebutan, di antaranya yaitu Thariqul Akhirah 'jalan ke akhirat'; I/mu

Ulumud Din 'meng- hidupkan ilmu agama'. Menurutnya, akhlak dapat mengubah bentuk jiwa dan mengembalikan jiwa itu dari sifat-sifat yang buruk kepada sifat-sifat yang baik, dari yang tercela kepada yang terpuji oleh agama Islam sebagaimana yang tercermin dalam perangai para ulama, syuhada, saddiqin, dan para nabi. Diuraikannya pula bahwa akhlak itu ialah kebiasaan jiwa yang tetap di dalam diri manusia, yang dengan mudah dan tidak perlu berpikir menumbuhkan perbuatan-perbuatan serta tingkah laku manusia. Tingkah laku seseorang itu adalah lukisan batin- nya yang disebabkan oleh tabiatnya, yang sejak mulanya tidak merupakan perbuatan baik atau buruk, dan tidak inerupakan kekuasaan baik atau buruk, serta tidak merupakan perbedaan baik atau buruk. Akan tetapi, agamalah serta akal pikiran manusialah yang mengukur serta menilai baik dan buruk itu. Kemudian dari pandangan yang berlainan dalam menempuh cara-cara perbaikan akhlak itu melahirkan tokoh-tokoh filsafat ternama dalam dunia tasawuf, yang secara garis besarnya dibagi menjadi dua macam tokoh Sufi. Jenis yang pertama adalah mereka yang berdiri sendiri, tidak memiliki aliran tarekat tertentu yang mengikat murid-muridnya membawa kepada satu jurusan pendidikan Sufi. Tokoh-tokoh seperti ini hanya dikenal orang dari ucapan-ucapannya yang dianggap istimewa dalam melahirkan suatu pendirian dalam lapangan ilmu tasawuf. Tetapi ucapan-ucapan itu dijadikan pegangan orang yang biasa- nya disisipkan dalam kitab-kitab sufi, seperti Al Halaj, Zun~~un, dan yang lainnya. Sedangkan jenis yang kedua adalah tokoh-tokoh sufi yang terikat dengan sesuatu jalan pengajaran atau tarekat tertentu, yang diikuti serta disiarkan oleh murid-muridnya. Tokoh Sufi seperti Abdul Qodir dengan tarekat Qadiriyah; Syaaili dengan tarekat Syaziliyah serta yang lain-lainnya, yang di antaranya adalah tarekat Rifalyah, Ahmadiyah, Dasuqiyah, Akbariyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Khalawatiyah, Nak·

syabandiyah, Sa'mmaniyah, Syattariyah, ~lawiyah, /drusiyah, Tijaniyah, Sanisiyah. Meskipun tarekat itu kemudian ada yang ~ berubah sedikit-sedikit, namun pokok-pokoknya tetap bertahan ~,_sebagaimana yang diletakkan oleh para ulaina Sufi yang pertama membangun tarekat itu.

Dalam perkembangannya kemudian, muncul dua pandangan terhadap ilmu tasawuf, sebagaimana pemah dikemukakan oleh Baroroh Baried (1985 ). Sebagian beranggapan bahwa ilmu tasawuf ini tennasuk menyesatkan akidah Islam, sebaian lain me- mandangnya sebagia suatu ajaran yang berada dalam batas-batas akidah Islam. Algazali sendiri pada saat itu merasakan kegoncangan batin dalam menghadapi berbagai aliran yang muncul dalam Islam sebagai akibat perjumpaan Islam dengan peradaban lain. Oleh karena itu dipelajarilah aliran-aliran itu, dan hasil telaah serta penghayatannya terhadap ilmu filsafat Yunani, ilmu kalam, ilmu tasawuf dan yang lainnya, akhimya sampai kepada satu ketetapan bahwa dalam ilmu tasawuf justru ter- dapat ajaran yang memantapkan akidah Islam serta pengamalan ajarannya. Sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu, Algazali beranggapan bahwa ilmu tasawuf itu dapat menjaga pribadi dari kesesatan, seperti juga tersirat dalam Al-Munqid min al-Dia/al 'si penyelamat dari kesesatan'. Akhimya, Algazali berkesimpulan bahwa mendidik budi pekerti seseorang itu sangat mungkin, dan menghilangkan sifat-sifat tercela pada diri seseorang bukanlah suatu hal yang mustahil. Kalau tidak demikian, dan menghilangkan sifat-sifat tercela pada diri seseorang bukanlah suatu hal yang mustahil. Kalau tidak demikian, Nabi tidak akan berpesan: "Perbaikilah akhlak atau kelakuanmu". Tampilnya ajaran tasawuf yang dibawa oleh Algazali dipan- dang sebagai hilangnya keraguan umat Islam akan kebenaran ilmu ini (Baroroh. baried, 1985: 287). Tetapi munculnya ajaran · lbn al-Arabi yang dikenal dengan ajaran WAhdatul Wujud menimbulkan kegoncangan lagi dalam ilmu tasawuf. Sejak itu lahirlah ilmu tasawuf yang ortodoks dan heterodoks, yaitu ihnu tasawuf yang tetap berpegang pada prinsip bahwa ~·Tuhan Allah itu pencipta alam, dan ihnu tasawuf yang meng- ajarkan bahwa Tuhan Allah itu sama dzat dan wujudnya dengan a lam.

Penyajian Teks Wawacan Gandasari

Ada hal yang perlu dikupas terlebih dahulu sebelum me- ninjau lebih lanjut mengenai unsur-unsur tasawuf dalam Wa-

wacan Gandasari (selanjutnya disingkat WG) ini, yakni sekilas mengenai istilah wawacan itu sendiri dalam khazanah susastra Sunda. Secara historis, wawacan sebagai salah satu bentuk karya sastra masuk ke dalam khazanah susastra Sunda diperkira- kari pada pertengahan a bad ke-17, dibawa oleh ulama Islam melalui pesantren dan kaum bangsawan (Ajip Rosidi, I 966: 12). Hal ini dapat dimaklumi, sebab agama Islam pada waktu itu dianggap sebagai agama baru dan banyak penganutnya. Pada zaman Mataram, banyak orang Sunda terutama dari golongan bahgsawan dalam rangka keperluan birokrasi pemerintahan pulang-pergi ke sana, yang secara tidak langsung mem bawa pengaruh terhadap khazanah susastra Sunda, dalam hal ini yaitu wawacan, walaupun dalam beberapa hal tertentu terdapat modifikasi. Wawacan sebagai salah satu jenis karya sastra Sunda, dari segi bentuknya adalah semacam hikayat (Melayu) yang ditulis dalam puisi tertentu yang dinamakan dangding, dan dengan kata lain ialah sebagai cerita panjang yang digubah menurut aturan pupuh (Ajip Rosidi, 1966: I 12: Yus ~usyana, 1981 : 111 ), sehingga secara umum wawacan adalah jenis (genre) sastra Nusantara yang khas dan di dalamnya aspek tulisan dan lisan menjadi padu. Artinya, wawacan yang ditulis dalam bentuk terikat (dangding) itu, baru dapat dinikmati penuh dan utuh lewat aktualisasi lisan dalam bentuk pem bacaan melalui penembangan. Penembangan tersebut senantiasa didasarkan kepada corak dangding, yang secara konkret diwujudkan dalam pupuh, dan setiap pupuh itu memiliki karakter dan suasana tersendiri. Adapun, nama-nama pupuh yang digunakan dalam teks WG, dari 17 nama pupuh yang dikenal temyata hanya 9 pupuh yang

Sinom (I, II), Asmarandana (II), Kinan- ti (Ill), Dandanggula (IV), Durma (V), Mijil (VI), Pucung (VII), Magatru (VIII), dan Pangkur (IX), Secara lebih jelas dapat dilihat tabel berikut :

Nomor NamaPupuh i fomor Pupub Jml.
Urut Pada
Sin om I & II 33
2. Asmarandana 24
3. Kinan ti III 12
4. Dandanggula Dunn a IV 21
6. Mijil VI
7. Pucung VII 17
8. Magatru VIII 16
9. Pl;lngkur IX 18

I. 16 + 17 =
II

5. v 22
22

Berdasarkan tabel itu tampak bahwa pupuh Sinom menempati posisi teratas dalam penggunaan nama pupuh. Hal ini tentunya disesuaikan dengan karakter pupuh, yang masing-masing memiliki daya lukis suasana tersendiri. Sebagai konsekuensinya, maka setiap lukisan atau pernyataan senantiasa harus berwadah- kan sesuatu pupuh yang karakternya sesuai dengan sifat yang akan dilukiskan itu. Dalam hal ini, Pigeaud ( 1967, Vol I) pernah mengemukakan bahwa, "agaknya teori karakterisasi pupuh-pupuh yang berakena ragam itu merupakan gejala baru sebagai hasil penyempurnaan yang diperkenalkan oleh para penyair keraton, karena masih diragukan, apakah pada masa dahulu tembang macapat (wawacan) itu memiliki karakterisasi, yang khas?" Meskipun secara teoritis setiap pupuh itu telah diientukan karakter dan macain suasana yang dapat dibawakan- nya, akan tetapi tidak jarang terjadi "penyimpangan", dalam arti apa yang dilukiskan dalam suatu pupuh bertentangan dengan karakter pupuh yang digunakannya itu sendiri. Faktor penyebab adanya penyimpangan itu, antara lain karena kege- maran akan pupuh-pupuh tertentu dan ketidakjelasan batas

|Nomor|Nama Pupuh|Nomor Pupuh|Jml.| |1. 2.|Sinom II|24| Kinanti|III 5.|Durma|VI V|22 22| |9.|Pangkur|IX|18|

Pup uh-pup uh yang sangat disukai, yaitu Dandanggula, Sinom, Asmarandana, dan Kinanti.

2) Pupuh-pupuh yang biasa rnuncul dalarn wawacan. yaitu selain keernpat pupuh tersebut juga terrnasuk Durma, Pangkur, Pucung, Magatru, Mijil dan Maskumambang.
3) Pupuh-pupuh yang jarang digunakan, yaitu Wirangrong, Balakbak, Gurisa, dan Lambang.
4) Pupuh-pupuh yang harnpir terlupakan dan hanya dijurnpai di dalarn wawacan kuno, yaitu Ladrang, Gambuh. dan Jurudemung. Dengan dernikian dapat dirnaklurni apabila dalarn suatu pupuh terdapat pernyataan, garnbaran, dan curahan yang pada hakekatnya berrnacarn-rnacarn suasana, hal itu diduga secara terpaksa digubah dengan pupuh-pupuh kegernaran si penyair. Akibatnya, banyak gubahan yang tidak sesuai dengan karakter pupuh secara konvensional. Oleh karena itu, pernilihan pupuh sebagai wadah lukisan atau pernyataan pada akhirnya cenderung bersifat subyektif, yaitu bergantung kepada keleluasaan pengetahuan dan kedalarn- an pengertian tentang jenis dan karakter pupuh. Kendatipun dernikian, pada umumnya gubahan itu tidak terlalu menyim- pang dari karakter utarna pupuh yang digunakannya itu. Di antara 17 macarn pupuh itu pada dasarnya hanya terdapat empat rnacam karakter yang jelas, yaitu: I) Dandanggula menyatakan gembira, agung; 2) Maskumambang menyatakan prihatin; 3) Balakbak menyatakan lucu; dan 4) Durma menyatakan rnarah. Sedangkan karakter pupuh-pupuh yang lainnya berada di antara yang ernpat tersebut. Kemudian secara umum suatu lukisan yang bernadakan keprihatinan dapat berwadah-

1 intuk pupuh tertentu telah ada batasnya yangjelas. Umapanya tentang keprihatinan di dalam Asmarandana akan bertautan dengan cinta-asmara, sedangkan keprihatinan di dalam Masku- mambang adalah keprihatinan dalam taraf "kesangatan", yaitu rasa duka yang hebat. Namun, keprihatinan karena asmara pun tidak semata-mata hanya dalam pupuh Asmarandana, sebab pupuh Kinanti pun biasa dipakai menampung lukisan seperti itu. Berkaitan dengan pembicaraan tentang karakter pupuh ini, Margaret J. Kartomi (dalam Emuch~-!ermansoemantri, 1979, 554) telah mengadakan klasifikasi tembang macapat ke dalam empat tipe utama, yaitu: 1) pupuh yang sifatnya lirik (curahan rasa) adalah Kinanti, Asmarandana, dan Mijil; 2) pupuh yang bersifat menceritakan adalah Dandanggula dan Sinom;

3) pupuh yang sering digunakan untuk melukiskan peristiwa yang dahsyat dan keras adalah Durma dan Pangkur; dan 4) pupuh yang sifatnya keras serta pedas adalah Pucung dan Mas- kumambang. Tifikasi karakter pupuh tersebut, lebih didasarkan atas keanekaragaman bentuk pupuh, yakni ketidaksamaan dalam hal banyaknya padalisan (larik) dalam setiap pada (bait) serta banyaknya engang (suku kata) dalam setiap padalisan. Dengan kata lain, antara fakta lahiriah (bentuk) pupuh dan karakter pupuh terdapat keterkaitan atau kesejajaran. Akan tetapi, pemyataan ini tidak dapat diterima sepenuhnya, karena secara obyektif tidak tampak secara jelas adanya hubungan antara bentuk pupuh dengan karaktemya.
4.4 Kronologi Teks Wawacan Gandasari Perlu diingatkan bahwa kronologi atau susunan teks WG, sebagai bentuk cerita yang berisi dialog ini di antara dua orang kakak beradik yang digubah dengan menggunakan nama-nama pupuh, teknik penceritaannya bersifat "sorot-balik". Apabila diamati secara seksama, akan lebih tepat bila teks WG diawali dengan pupuh VI: Mijil. Dalam pupuh Mijil ini diceriterakan

Sari berguru ilmu agama Islam (masantren), seperti tampak dalaRl kutipan berikut :

Kacarita kakangna jeung adi, bapana geus kolot, maneh agus geura marasantren, maneh ulah tonggoy teuing ulin, sing boga pangarti,. da bapa geus sepuh. Nya masantren maneh ka nu alim, ka pasantren gerot, seug ti dinya geus laleumpang kabeh, ngan bapana nu tinggal di bumi, anakna arindit, leumpangna geus jauh (WG, VI: 106-107). 'Tersebutlah kakak beradik, ayahnya sudah tua, segeralah kamu mesantren, jangan keterlanjuran main, harus berilmu, karena ayah sudah tua. Mesantrenlah kamu (berdua) kepada orang alim, ke pesan- tren ulung, lalu mereka berangkat, hanya ayahnya yang tinggal di rumah, kedua anaknya pergi, perjalanannya sudah jauh.

Dalam pupuh VI: Mijil ini pun akhirnya dikisahkan per- temuan kedua kakak-beradik yang telah sekian lama berpisah untuk berguru ilmu agama Islam. Di situ terjadi dialog mereka yang memperbincangkan masalah kehidupan manusia di alam kubur, yang dibayangkan oleh Ki Ganda (kakaknya) sebagai suatu yang sangat mengerikan. I tulah kesan yang diperoleh Ki Ganda sebagai hasil dari berguru ilmu agama Islam (masantren). Keadaan demikian tidak dianggap berarti apa-apa oleh Ki Sari (adiknya), sehingga akhirnya dialog mereka berkembang kepada masalah hakekat manusianya itu sendiri. Dalam hal ini justru Ki Sari (adiknya) yang lebih luas pengetahuan mengenai ilmu agama Islamnya daripada Ki Ganda (kakaknya).

Setelah pupuh VI: Mijil nilah teks WG berkembang menjadi sebuah kisah cerita. kisah cerita dalam bentuk dialog tentang hakekat manusia yang dipaparkan dalam bentuk suluk. Selan- jutnya susunan teks WG yang digubah dengan menggunakan nama-nama pupuh urutannya akan menjadi: Mijil (VI), Pucung (VII), Magatru (VIII), Pangkur (IX), Sinom (I & II), Asmaran-

(IV), dan Dunna (V). Secara lebih jelas dapat dilihat tabel berikut ini:

Nomor Nama Pupuh NomorPupuh Jml.
Urut Pad a
M:ijil VI 22
2. Pucung VII 17
3. Magatru VIII 16
4. Pangkur IX 18
5. Sin om I & II 16 + 17 33
6. Asmarandana 24
7. Kinan ti III 12
8. Dandanggula IV 21
9. Durma 22

l.
= II

v

Adapun, pemakaian pupuh Sinom ini pada dasarnya dise- suaikan dengan tipenya itu senditi, sebagaimana telah dikemu- kakan terdahulu, bersifat menceritakan, yang dalam hal ini menceritakan empat taraf dalam menjalankan tasawuf. Pupuh Sinom dipakai sebagai bingkai teks WG bagi pupuh-pupuh yang digunakannya. J adi, apabila teks WG dibaca berdasarkan susunan seperti tampak pada tabel terakhir ini, pemahaman ter- hadap isi teks WG diperkirakan akan lebih sistematis.

4.S Unsur-unsur Tasawuf dalarn Wawacan Gandasari Sebagaimana telah disinggung-singgung bahwa teks naskah WG tidak lain dari bentuk gubahan empat taraf dalam menjalankan tasawuf, yakni sareat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Di dalamnya ditemukan istilah-istilah: wujud, dzat, sifat, makrifat, nikmat, manfaat, dan sebagainya, yang pada dasamya mengacu kepada masalah tasawuf terse but yang disajikan dalam lJentuk suluk. Istilah suluk menurut Kamus Bahasa Sunda (Satjadibrata, 1954: 385) sama dengan siloka, yaitu perlam- bangan, yang biasa dilantunkan oleh dalang. Arti kata ini pada dasamya sama dengan apa yang terdapat dalam Bahusastra Jawa-lndonesia (S. Prawiroatmodjo, 1981: 215), yakni suluk:

Nomor Pupuh||| |1.|Mijil|VI|| ||Sinom II|24| |7.|Kinanti|III|12| Durma|V

Simuh ( 1985) pemah melakukan pengkajian terhadap kepustakaan Islam kejawen, yang menurut pengamatannya tampak bahwa sastrawan Jawa pada umumnya tidak banyak pengetahuannya terhadap bahasa Arab dan Agama Islam. Kelemahan mereka tampak dalam peng- ungkapan hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Banyak istilah agama Islam yang diberi arti menurut tanggapan serta pemahaman para sastrawan itu sendiri, bahkan kadang- kadang jauh menyimpang dari pengertian yang seharusnya. Akibatnya dalam kepustakaan semacam itu, banyak terdapat uraian yang samar dan sulit difahami. Hal tersebut dalam WG tampak antara lain dalam kutipan :

..., dibasakeun lapad Sirri al Insa.nu, keris abus kasarangka,

eta nu lumrah teh teuing. Enyana mah lain eta, dingarankeun lapad al Insa.nu Sirri, jadi sarangka nu abus, geura manah ku kakang, tapi eta loba-loba nu nyebut, wangrangka manjing curiga, enyana mah teu kapanggih (WG, IX: 161-162). ' ..., kalimat Sirri al lnsanu diartikan, keris masuk ke dalam sarungnya, itulah umumnya. Sebenarnya bukan begitu, tetapi justru kalimat al Insa.nu Sirri, sarungnya itu yang masuk, coba kakak pikir, tetapf banyak yang menyebut, sarong masuk ke dalam keris, sebenarnya tidak ditemukan'.

Kutipan tersebut sebenarnya bertujuan untuk memberikan makna terhadap sebuah hadits: al insanu sirri, wa anna sirahu 'manusia itu adalah sir (rasa) aku, dan aku adalah rasa dia'. Hadits tersebut biasanya dipadukan dengan sebuah dalil: al insanu dlohiru 'allah, wallahu bathinu'l iman 'sesungguhnya, manusia itu perwujudan Allah Yang Maha Esa, dan Allah Yang Maha Esa adalah batinnya manusia'. Kemudian hadits dan dalil tersebut dalam ajaran tasawuf dijabarkan lagi menjadi

Yang Maha Suci itu meliputi !sun, menempatkan "Asma !sun" (panggilan Isun).

(2) Watak Dzat; sesungguhnya lsun yang berkuasa menurunkan sesuatu menjadi banyak, serta awalnya Qudrat /sun itu sempurna. Dari situ sudah tampak kenyataan Afal /sun, yang sejak awal telah menyerukan Hayyun Qoyum yang dikenal dengan sajarotul yakin (pohon sejati) yang tumbuh pada Alam Adam Makdum, kea:badian yang sesungguhnya, kenyataannya di dalam hampa-kosong, yang berdiri dan tampak jelas selamanya. Kemudian keluarlah cahaya Nur Muhammad (Miratul Hayat), lahir Roh ldlopi, selanjutnya pelita yang dikenal sebagai Hijab perlambang bentuk pen- deritaan lsun.
(3) Pencerminan Tempat Dzat; tampak dalam hadits al insanu wa anna si"ahu 'sesungguhnya manusia itu adalah rasa Isun,. dan lsun adalah rasa manusia. Karena lsun telah menyerukan kepada Adam yang berasal dari anasir yang 4 perkara: bumi (tanali), cai (air), seuneu (api), angin. !tu/ah yang mewujudkan kelahiran !sun, yang ke dalam 4 anasir tersebut masuk ke dalam 5 perkara, yaitu Nur (cahaya), Sir (rasa), Roh Giwa), Nafsu (akal), dan Kolbu (budhi). Menjelma melambangkan bentuk (rupa) Isun sebagai per- wujudan Yang Maha Suci. Hal ini merupakan pemaknaan dari dalil: Wallahu 'ala kulli syein muhith 'sesungguhnya Tuhan itu lebur (tidak terpisahkan) dengan segala sesuatu'; Wa nahnu akrobu min habli'lwarid 'sesungguhnya, dekatnya Kami (Tuhan kepadamu (manusia) adalah lebih dekat daripada otot lehermu '.

Sejati ada dalam Baetal Mamur yang terdapat di dalam kepala Adam, yang secara bertahap susunannya adalah: yang ada dalam kepala adalah otak; di antara otak adalah mani (sperma); di dalam mani ada budhi {kol- bu); di dalam budhi ada nafsu {lubun); di dalam lubun ada sukma {sifafun), di dalam sukma ada rasa {sirun), di dalam rasa ada /sun {Dzat). Dalam konsep ini, tiada Tuhan selain Isun. Dzat yang menyelimuti tempat sejati.

(5) Keadaan lsi Mahligai dalam Baetal Muharam; sesungguhnya Isun sejati berada dalam Baetal Muharam yang terdapat di dalam Dada Adam. Susunannya adalah: di dalam dada
ada hati, yaitu jantung; di dalam jantung ada budhi; di dalam budhi ada angan-angan (jinem); di dalam angan-angan ada sukma; di dalam sukma ada rasa; di rasa ada /sun. Jadi, tiada Tuhan selain Isun yang menyelimuti tempat sejati.

(6) Keadaan Isi Mahligai dalam Baetal Mukadis; sesungguhnya Isun sejati bertempat dalam Baetal Mukadis yang terdapat di dalam Kondo/ Adam {tabung pelita). Susunannya adalah: di dalam kondol ada pringsilan {biji); di dalam pringsilan ada nuftah {mani); di dalam nuftah ada madhi; di dalam madhi ada wadhi; di dalam wadhi ada maningkem; di dalam maningkem ada rasa; di dalam rasa ada !sun. Juga seperti konsep lainnya, tiada Tuhan selain lsun yang menyelimuti tempat sejati. Kemudian, menjadi Nuqatgaib, turun menjadi awal mula cahaya (johar awal) yang tinggal di dalam; alam ahadiat, alam wahdat, alam wahidiat, dan arwah,
alam mitsal, alam ajsam, dan alam insan kal'Jlil. Kejadian manusia yang sempurna tidak lain daripada sifat Isun sejati.

(7) Penetapan Iman, yaitu yang menjadikan sentausanya iman; yang dikukuhkan dengan hadits: Ruatu Robbi bi Robbi 'sesungguhnya melihat {tajali) kepada Tuhan itu oleh Tuhan (itu sendiri). (-8) Saksi Sejati {Sasyahidan); dalam hal ini dikemukakan bahwa lsun bersaksi kepada Dzat Isun pribadi. Sesungguhnya tiada

Tuhan selain Isun, dan Muhammad itu utu8an Isun. Rasul itu Rasa Isun, dan Muhammad itu Cahaya Isun. Di samping itu, dalam teks WG ditemukan beberapa perlambangan lain, terutama dengan mengambil patokan dari nama-nama hari yang tujuh. Di situ ada yang disebut lampah poe anu. dihin, reujeung kalakuanana, reujeung dewana 'perilaku hari yang semula, dan kejadiannya, serta perdewaannya', yakni: I) Ahad, lakuna srangenge, dewana badak 'Mingggu, perilaku matahari, dewanya badak; 2) Senen, lakuna kembang, dewana /auk 'Senin, perilaku buriga, dewanya ikan; 3) Salasa .. /akuna seuneu, dewana oray 'Selasa, perilaku api, dewanya ular'; 4) Rebo, lakuna mega, dewana macan 'Rabil, perilaku awan, dewanya macan'; 5) Kemis, /akuna angin, dewana manuk 'Kamis, perilaku angin, dewanya burung\ 6) Jumaah, lakuna cai, dewana bangkong 'Jum'at, perilaku air, dewanya kodok';

7) Saptu, /akuna bumi, Dewana monyet 'Sab_tu, perijaku bumi, dewanya Kera'. Hal ini mengingatkan kepada teks naskah pari- rtmbon, yang sebenarnya bila dihubungkan dengan isi ajaran tasawuf dalam bentuk su/uk terlalu samar. Selain itu, dalam teks WG ditemukan pula apa yang dinama- kan enggonna poe anu tujuh 'kedudukan hari yang tujuh', yaitu: 1) A had, ahadiat, lakuna soca, ati, enur 'Minggu, ahadiat, perilaku mata, hati, cahaya'; 2) Senen dina manah, ati~sir 'Senin dalam hati, rasa-hari'; 3) Selasa. geni, nafsu-amarah, bayah, tina cepi/ 'Selasa, api, angkara murka, paru-paru, dari telinga';
4) Rabo, roh idlopi, jenengan urang 'Rabu, roh idlopi, nama kita'; 5) Kemis, angin, napas 'Kamis, angin, napas'; 6) Jumaah, cai, mani, maningkem jadi salira '; 7) Sap tu, bumi, jisim 'Sabtu, bumi, raga'. Kemudian dibicarakan pula tentang masalah ilmu sejati yang sebenamya telah ada ~alam diri manusia, serta dzat dan sifat Nabi Muhammad dan· Rasul. Persoalan ini digambarkan dengan 24 perlambangan dari perilaku manusia serta keadaan alam kehidupannya. Hal-hal tersebut pada dasarnya dimasukkan untuk menjabar- kan pe~ahaman dalil : lnnalloha 'Alakulli Syein Qodir 'Se- sungguh-sungguhnya bahwa Tuhan (lsun) itu Maha Kuasa atas

Sejati. Yang pasti, awal dari segalanya adalah Dzat Atma, nyatanya hidup sejati yang menjadi kekuasaan Alam Ahadiyat.

(2) Nur Muhammad adalah cahaya yang terpuji yang tinggal di dalam Kayu Sajaratul Y akin, yaitu hakekat cahaya yang dianggap sebagai Dzat sejati yang ada di dalam Nuqat Gaib yang merupakan sifat Asma, menjadi kekuasaan Alam Wahdat.
(3) Miratull Hayati adalah pencerminan raga Isun yang mengha- dap Nur Muhammad. Itulah hakekat kebijaksanaan yang dinamakan Rasa Dzat sebagai Asma Dzat yang menjadi kekuasaan .41am Wahidiat.
(4) Roh Idlopi adalah nyawa (roh) yang suci yang menurut salah satu hadits berasal dari Nur~.t:uhammad, yaitu hakekat Sukma yang dinamakan tempat Dzat sebagai Afal Atma yang menjadi kekuasaan Alam Arwah.
(5) Kandi/ Isto/op (tabung pelita) yaitu lampu yang tidak berapi yang merupakan permata dengan cahaya kemilau, merupakan kekuasaan Nur Muhammad tempat berkumpul- nya seluruh arwah (roh). Itulah hakekat angan-angan yang dianggap persemayaman Dzat yang mengamban Atma, dan menjadi kekuasaan Alam Mitsal.
(6) Darah dianggap sebagai permata bagi hakekat budhi, yang dianggap persemayam Dzat sebagai tempat pengabaran Atma, dan menjadi kekuasaan A lam Ajsam.
(7) Hijab (neraca) dinamakan Dinding Jalal, yakni kekuatan Yang Maha Agung. Pancaran sinamya datang dari "permata

mengeluarkan asap air (uap) yaitu hakekat dari jasad, sebagai pakaian Atma yang di- kuasai oleh Alam Insan Kainil. Demikian antara lain perlam bangan yang diungkapkan di dalam Teks WG, yang menggunakan patokan kepada nama- nama hari yang tujuh. Hal ini tidak lain dari suatu upaya me- mecahkan hakekat ilmu agama Islam yang dikenal dengan ajaran tasawuf, yang pada pokoknya adalah mencoba untuk menggali makna yang terkandung dalam kedua kalimat Sya- hadat yang sejati. Di samping itu, apabila diperhatikan apa yang dimaksud dengan ilmu sejati, nyatanya ada dalam diri setiap insan. Hal inilah yang telah dicoba disulukkan (diper- lambangkan) dengan perilaku hari yang tujuh serta perdewa- annya, sebagai pencerminan anasir-anasir yang membangun wujud manusia yang penjabarannya adalah sebagai berikut:

(I) Sesuatu yang menjadi asal-mula dinamakan Hayawiun, artinya gerak kehidupan itu perwujudannya dinamakan Hayun, yakni hidup itu adalah dengan nyawa (rokh). Sedangkan hidup itu sendiri adalah bayangan dari Hayun. yang tampak gerak-geriknya. Dinamakan pula Hayun Daim, yaitu hidup yang abadi, sedangkan hakekatnya adalah tetap satu, yakni Hayun.
(2) Nur kenyataannya ialah cahaya. Hakekatnya satu tetapi dapat diartikan lima, yaitu: 1) Nuriah adalah cahaya samar yang berwarna hitam; 2) Nurani adalah cahaya terang, berwarna merah; 3) Nurmahdi adalah cahaya menyorot, berwarna kuning; 4) Nurbuat adalah cahaya yang sentausa, berwarna hijau; dan 5) Nur Muhammad adalah cahaya yang terpuji, berwarna putih. Semua itu disebut Nurullah, yakni Cahaya Illahi.
(3) Sir, yaitu rasa sejati. Hakekatnya satu, tetapi diartikan ada enam, yaitu: 1) Sir Ibtadi adalah rasa purba sebagai perwujudan wahyu asmaranala (cinta sejati); 2) Sir Kohari adalah rasa yang berupa wahyu asmaratura (cinta yang mengalir); 3) Sir Kami/ adalah rasa sempurna yang menjadi wahyu asmararurda (cinta kebahagiaan); 4) Sir Aji adalah

$ir Wahdi adalah rasa tunggal yang menjadi wahyu asmaragama (cinta mesra).

(4) Roh, yaitu rokh atau sukma yang diartikan menjadi tujuh jenis; I) Roh Jasmani adalah bayangan sukma yang menghidupkan anggauta badan. 2) Roh Nabati
adalah bayangan sukma yang menjadi "bulu-kuku", yang ditanam akan menjadikan hidupnya budhi; 3) Roh Nafsani adalah bayangan sukma yang membangkitkan angkara murka; 4) Roh Rohani adalah bayangan sukma yang menghidupkan segala suk; 5) Roh Rahamani adalah sukma yang memiliki sifat pemurah, biasa dinamakan roh robbani, menjadi bayangan kehidupan rasa; 6) Roh Nurani adalah sukma cahaya, menjadi bayangan hidupnya cahaya; dan 7) Roh ldlopi adalah sukma yang suci, menjadi bayangan hidupnya Atma.

(5) Nafsu yang dibagi menjadi 4 golongan atau 4 jenis, yaitu:
I) Nafsu A marah berwatak jelek (iri, dengki), letaknya di dalam empedu, keluarnya melalui telinga.
Disebut Kahanan Manah yang memancarkan cahaya merah yang sempumanya menarik kepada lebumya kulit dan darah;

2) Nafsu Lauamah berwatak loba, lapar, lelah, dan sebagai- nya. Terpengaruh oleh pembawaan perut
dan ucapan (lisan). Disebut sebagai Kahanan Manah yang memancarkan cahaya hitam, yang sempumanya menarik kepada hancumya rambut/bulu dan kuku; 3) Nafsu Sawiyyah berwatak dengki, murka, banyak keinginan, senang kenik- matan, tempatnya di dalam kalilipa. Keluamya dari mata, disebut sebagai Kahanan Manah yang memancarkan cahaya kuning. Sempumanya menarik kepada hancumya otot dan daging; dan 4) Nafsu Muthmainah berwatak senang kepada keutamaan, seperti bertapa. Tempatnya di dalam babalung (tulang), dan keluarnya dari hidung. Disebut seibarat Kahanan Manah yang memancarkan cahaya putih dan sempumanya dapat menarik hancumya tulang dan sumsum.

(6) Akal kenyataannya adalah budhi yang sebenarnya hanya

Sir (rasa kalbu yang sejati).

(7) Jasad dalam kenyataannya adalah badan yang sebenarnya hanya satu, tetapi bisa diartikan dua, yaitu: 1) Jasad Hurip, yakni badan yang terwujud dari debu yang dinamakan jisim atau badan jasmani, yang umumnya dinamakan badan kasar; dan 2) Jasad Latif, yakni badan halus yang biasa dinamakan badan rohani, yaitu badan sukma. Badan kasar dan badan halus (jasmani dan rohani) senantiasa menyatu dalam kahanan jati (tempat sejati) laksana kue satu dalam cetakannya. Pada mulanya kasar, kemudian luluh-lebur dalam badan halus diliputi oleh Hayyun Daim, yakni hidup mengabdi dalam kahanan kita pribadi. Pleb karena itu da suluk (perlambang) : warangka manjing curiga 'sarung (keris) masuk ke dalam keris', yang maksudnya adalah badan kasar mengabdi kepada badan halus. Namun apabila badan kasar sedang menjadi pengemban (badan halus), suluknya (perlambangnya) adalah: curiga manjing warangka 'keris masuk ke dalam sarungnya', yang artinya badan halus mengabdi di dalam badan kasar. Apabila seluruh uraian yang telah dikemukakan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah bagan, maka akan diperoleh satu gambaran sebagai berikut :

pengab- diannya meliputi seluruh kehidupan insan, tentu banyak yang keliru karena harus ditelusuri mulai dari afal makom. oer- hubung tidak mencari tempat, maka Dzat itu sering diungkap- kan "tanpa warna, tanpa rupa, heran karena sifat yang di- milikinya"; bukan laki-laki, bukan wanita, juga bukan waria (wandu). Suluknya (perlambangnya) ibarat "kumbang melayang di angkasa". Hanya sering disebut martabatnya saja, berhubung belum tentu tempatnya. Berdasarkan diagram di muka, dapat disusun sebuah penjabaran sebagai berikut:

(1) Hayyun adalah hidup (atma) yang menempati alam Ahadi- yat. Hayyun ini dianggap sebagai pengikat Dzat Sejati.

"ratu berkuasa di angkasa". Martabatnya

disebut tayun awwal, mulai nyata kedudukannya.

(2) Nur adalah cahaya yang menempati alam Wahdat. Nur adalah sebagai pembuka Hayyun, yang menjadikan mulai terlihatnya kehidupan. Memancar dari kekuatan Atma sejati. Perlambangnya "bunga tanjung yang hidup tanpa air". Martabatnya disebut tayun tsani, telah nyata kedudukannya.
(3) Sir adalah rasa yang menempati alam Wahidiyat. Sir adalah sebagai pembuka Nur yang tersinari oleh kekuatan Dzat Sejati. Perlambangnya "seruas barn bu", yakni tidak tampak ada isinya. Martabatnya disebut ayan tsabitah, telah nyata sekali dalam kedudukannya.
(4) Roh adalah nyawa yang menempati alam Arwah. Roh adalah sebagai pembuka Sir yang disinari oleh kekuatan Permana Jati. Perlambangnya "bekas burung bangau sedang terbang", yang mustahil ada bekasnya. Martabatnya ayan harijiah, hidupnya keluar dari kedudukan (tempat).
(5) Nafsu adalah angkara yang menempati alam Mitsal. Nafsu adalah sebagai pembuka Roh, yang tersinari oleh kekuatan Sukma Sejati. Perlainbangnya "api menyala di dasar samu- dra". Martabatnya disebut ayan muhaniyyah, nyatanya hidup dalam suatu tempat.
(6) Akal adalah budhi yang menempati alam Ajsam. Akal adalah sebagai pembuka Nafsu, yang tersinari oleh kekuatan Hangkara Sejati (Iftikor). Perlambangnya "kuda menari di dalam kandang'', ada dalam barisan. Perlam bangan lainnya "orang sakit lumpuh bisa mengelilingi jagar". Martabatnya disebut ayan manawiyah, nyatanya telah keluar dari tempat.
(7) Jasad adalah badan yang menempati alam Insan Kami/. J asad adalah sebagai pembuka Sifat, yang menjadi tempat segala anasir tersebut. Terselimut oleh seluruh pancaran sinar yang menyebar ke seluruh anggota badan.

unsur- unsur ajaran tasawuf yang terbayang dalam teks naskah \VG. Uraian tersebut ditutup dengan sedikit catatan bahwa hingga saat ini belum banyak yang meneliti karya sastra Islam dalam khazanah susastra Sunda yang secara kuantitatif masih menung- gu penggarapan dan penelitian lebih lanjut.

.,,

BAB V RELEV ANSI DAN PERANAN NASKAH

DALAM PEMBINAAN DAN PENGR\fBANGAN KEBUDA Y AAN NASIONAL

Adakah relevansi dan peranan naskah-naskah (kuno) dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kami kutip sebuah.pen- dapat yang pernah dikemukakan oleh Prof. Dr. Sulastin Sutrisno dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Filologi pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Y ogyakarta Tahun 1 981. Judul pidato itu djmuat dalam buku Relevansi Studi Filologi, antara lain dikemukakan bahwa pada hakekatnya segala ilmu yang kita pelajari dan kita tekuni itu haruslah ada relevansinya untuk masyarakat, haruslah merupakan bahan bangunan yang esensial bagi pendirian monu- men bangsa. Dengan prinsip kemanusiaan, dengan manusia sebagai pusat perhatian, kita boleh bertanya: apakah suatu mata pelajaran atau penelitian ada gunanya untuk memperbaiki kedudukan manusia dalam arti yang seluas-luasnya? Karena tidak ada "science for science .. s sake" atau "art for art's sakr", maka tidak ada pula filologi tanpa manusia dan kita tidak usah mempelajari filologi apabila tidak pada dasarnya membantu sesama manusia (Sulatsin Sutrisno, 1981: 1; Robson, 1978: 7).

pe- ningkatan derajat kemanusiaan bangsa Indonesia (UUD 1945, Bab XIII, Pasal 32: Penjelasan). Penelitian filologi merupakan salah satu tugas untuk menyelamatkan khazanah bangsa Indonesia pada umumnya. Unsur-unsur kesamaan dan keaneka- ragaman tradisi kesastraan dalam berbagai sastra lama Indonesia, baik tulisan maupun lisan merupakan warisan budaya yang sangat bernilai guna membangun kesatuan dan persatuan dalam kebhinekatunggalikaan bangsa (Sulastin Sutrisno, 1979: dalil VII). Sehubungan dengan itu, Prof. Dr. A. Teeuw menyarankan, bahwa sastra daerah tidak cukup kita teliti hanya dalam rangka kedaerahannya. Sastra se-Indonesia dari segi ilmiah harus kita teliti sebagai satu bidang penelitian, karena unsur-unsur kedaerahan sating berkaitan dan bergantungan. Cross conec- tions, hubungan lintang lewat lintas bahasa dan suku dapat kita amati, baik dari segi sejarah maupun dari segi tipologi (Teeuw, 1982 : 13). Tetapi tidak hanya dari segi pengaruh dan interaksi sejarah kesatuan se-lndonesia merupakan bidang penelitian yang utuh; juga dari segi tipologi kita lihat persamaan yang sangat menonjol; karena dari dahulu Rassers ( 1922) telah memperli- hatkan identitas fundamental antara cerita panji dan cerita rakyat atau mitos di Sulawesi Utara dan bagian Indonesia lain, tak kurang menariknya persesuaian tipologi antara teks yang sering kali disebut bersifat sejarah. Tidak hanya antara babad di Sunda, Jawa, Bali, Sasak terdapat persamaan tipologi yang besar, yang tidak cukup diterangkan berdasarkan pengaruh sejarah saja, mengingat dalam lingkungan susastra Melayu ada teks yang sama pula yang disebut sejarah atau hikayat dan lain-lainnya, yang secara tipologi menunjukkan banyak persamaan. Tetapi teks lisan tertentu yang diteliti James Fox

( 1986) dari Pulau Roti dalam segi. tipologinya dapat dikatakan sama betul dengan teks sejarah tadi, seperti bisa dijelaskan dalam petbandingan antara Babad Bule/eng suntingan Y/orsley dengan teks Roti yang dipublikasikan oleh Fox (Teeuw, 1982: 14).

Salah satu dampak masuknya Agama Islam ke Indonesia adalah adanya warisan naskah-naskah (Sunda) yang diwarnai dengan warna ke-Islaman. Sudut pandang ke-Islaman ini memperkaya khasanah budaya yang bercorak ragam di Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya. Di samping itu pengaruh Islam memberi corak tersendiri bagi. masyarakat pendukungnya, baik dalam pandangan hidup manusia sebagai manusia, rnaupun manusia sebagai makhluk sosial, manusia sebagai khalifah (utusan di bumi) ini yang memikul tugas atau mengemban tugas yang diberikan Allah SWT sebagai pencipta, atau dapat memberi pengaruh bahwa hakekat manusia adalah sebagian dari macro cosmos (alam semesta).

N askah Sunda yang berisi tasawuf atau suluk ini merupakan penggalan-penggalan dari sebuah dialog untuk mencari jati diri manusia itu sendiri, sehingga naskah ini sangat erat kaitan- nya dengan sistem kepercayaan masyarakat pendukungnya. Isi naskah WG merupakan suatu kajian cendekiawan Islam yang dituangkan dalam bentuk dialog dalam naskah. Isi naskah ini mampu memberi informasi tentang keagamaan (Islam) pada jamannya. Sehingga kegunaan naskah ini salah satunya dapat dijadikan sebagai bahan studi yang pada dasarnya merupakan dokumen atau saksi yang dapat berbicara banyak mengenai informasi yang berisi pikiran, perasaan, dan pengetahuan dari suatu bangsa atau masyarakat.

Berangkat dari anggapan di atas, maka kedudukan dan fungsi tasawuf seperti yang tertuang dalam wawacan Gandasari, sangatlah berperan sebagai suatu cara untuk memecahkan persoalan dan mendorong kita untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengetahuan pemikir Islam. Di mana kedudukan dan fungsi tasawuf akan jelas terlihat dan dapat dirasakan sebagai sesuatu yang esensial dan bermanfaat.

Sehubungan dengan itu, Prof. Dr. H.M. Rasyidi ( 1986) selalu mengingatkan kepada generasi muda untuk belajar (termasuk di dalamnya tasawuf) "Kita harus ingat bahwa tasawuf muncul dalam sejarali Islam sebagai reaksi-reaksi atas pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW yang berubah sikap. Mereka berjuang dengan Nabi dalam penderitaan, tetapi ketika Nabi telah tiada dan kekuasaan I-slam meluas, para pengikut Nabi tersebut lupa diri tergiur oleh benda dan kekayaan. Maka timbullah orang seperti Abu Dzal Alghiifari yang hidup sederhana, memakai pakaian sederhana yang terbuat dari bulu kambing. Di situlah terdapat arti gerakan ini, yakni memakai pakaian shuuf 'bulu' (Rasyidi, 1986: 20). Sebelum melangkah lebih jauh, kita tinjau kembali dan menilai sikap kita terhadap tasawuf. Tasawuf adalah Produk ajaran Islam dan merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang disebut akhlak. Akhlak adalah lebih merupakah hasil dari setiap kegiatan ibadah (ibadah mahdhah dan ibadah umum) bukan tujuan.

Untuk lebih mengenal tasawuf, maka hendaklah men- sejajarkan antara pikiran dan rasa, sebab apabila tidak akan terjadi kepincangan dalam hidup. Keduanya harus saling membantu dan memperkuat agar tetap harmonis dan diri manusia atau tenaga pikir harus memperkokoh dan membantu tenaga rasa dan janganlah merusak atau melemahkan rasa keyakinan. Sebab rasa dan keyakinan tidak dapat dilenyapkan dari diri manusia betapa pun tinggi tingkat pikiran dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang. Jadi pada kesimpulannya tasawuf adalah merupakan pendidikan rokhani manusia yang menyang- kut rasa (bagian dalam). Atau tasawuf adalah suatu cara untuk membersihkan diri (hati), memadamkan sifat kelemahan, mendekati sifat suci kerokhanian, menjauhi seruan hawa nafsu, berjuang menangkal pengaruh instink, memegang teguh janji dengan Allah SWT; Clan mengikuti contoh Rasulallah (Hamka, 1978: 83).,

Hamka, dalam bukunya yang berjudul 'Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya', menyebutkan bahwa pokok pangkal

tasawuf yang sebenarnya adalah kembali kepada Tauhid, harus dipadukan dalam Iman, Islam dan Ihsan, Cinta kepada Tuhan dengan tulus hati dari sungguh-sungguh akan terasalah bahwa diri ini tidak ada artinya sama sekali jika tidak dileburkan ke dalam kehendakNya, ini bukan berarti bersatu dengan dzat Allah, melainkan bersatu dengan alam, dengan seluruh perike- manusiaan. Oleh karena itu bertasawuf bukan semata-mata menolak keduniawian atau menjauhinya dan bukan pula menolak hidup, tetapi meleburkan diri ke dalam gelanggang masyarakat. Setelah mengungkapkan naskah Gandasari ini, kita dapat melihat gambaran nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terungkap pola pikir masyarakat pendukungnya. Dari uraian naskah Gandasari dapat diungkapkan beberapa masalah yakni : Hakekat Tuhan, hakekat hidup dan alam sekitar, hakekat manusia. Tuhan sebagai nuclear (inti) dari segala sumber kehidupan aoalah tujuan utama dan pusat segala aktifitas manusia yang ditujukan ke sana. Manusia, alam dan segala bentuk aktifitas di dunia hanya berdasarkan kepada garis iradat dan kudratNya. Makhluk-makhluk (manusia dan alam) tak dapat melepaskan diri dari gerak ruang dan waktu, sehingga hakekat manusia hanya mencari marifat dari iradat dan kudratNya. Tuhan sebagai sumber energi dan manusia adalah sebagian dari makhluk yang diberi energi tak lepas dari kehendaknya, dalam mem- fungsikan dirinya dengan energi-energi lain yang ada di dunia, sebagai suatu cara untuk mendapatkan maqom 'tempat' ter- ten tu di sisi Allah. Energi yang diterima manusia terdiri dari tujuh bagian, yaitu hayawiun, nur, sir, roh, nafsu, akal, dan jasad. Di mana ketujuh bagian ini memiliki kekuatan-kekuatan yang mandiri sehingga manusia dibentuk dan diwujudkan oleh hal atau energi ini. Bagi manusia yang sadar dan mampu mempergunakan ketujuh energi ini dapat dikatakan sebagai orang yang sempur- na dan tahu akan jati dirinya.

Berdasarkan dengan masalah pembinaan dan pengembang- an kebudayaan Nasional, fungsi tasawuf ini sangatlah berguna untuk mendapatkan jati diri (manusia) sebagai manusia dan jati diri bangsa dalam rangka mengem bangkan bu day a. Karena nilai-nilai yang terungkap dalam naskah Gandasari merupakan perwujudan dari nilai-nilai manusia seutuhnya dalam rangka menghadapi hidup dan kehidupan masyarakat. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang mampu mengembangkan diri sesuai dengan fitrah dan jati dirinya, sehingga manusia terus berkembang dari waktu ke waktu selama dia sadar akan dirinya dan peranannya dalam kehidupan ini, mampu meleburkan diri dengan alam semesta sehingga ada dm1 tercipta sating berhubungan satu sama lainnya dalam suasana harmonis.

PENUTUP

Ada beberapa hal yang perlu ditegaskan kembali dalam bagian ini sebagai bahan kesimpulan dan saran. Inventarisasi dan pencatatan naskah-naskah kuno di Jawa Barat sampai sekarang telah banyak dilakukan oleh para ahli, baik yang masih dalam bentuk laporan hasil penelitian, maupun yang sudah berupa buku terbitan. Namun ternyata di kalangan masyarakat masih terdapat naskah-naskah yang belum terjamah oleh para pene- liti terdahulu, sehingga penelitian atau pencatatan yang telah dilakukan itu sebenarnya belum mencapai batas maksimal. Sementara itu kesadaran dari pihak masyarakat yang menyim- pan naskah-naskah kuno semakin terbuka, di samping kekha- watiran mereka terhadap prasangka yang bukan-bukan semakin memudar berkat adanya arahan yang baik. Keadaan seperti ini pada hakekatnya adalah berkat kesadaran dari pihak pe- merintah itu sendiri akan pentingnya benda budaya pening- galan nenek moyang, dalam hal ini berupa naskah-naskah kuno yang telah merekam serta mampu memberi kesaksian mengenai alam pikiran masyarakat pada masa lampau. Persoalannya sekarang aclalah bagaimana cara menginten- sifkan penggarapan terhadap naskah-naskah tersebut supaya isi yang dikandungnya dapat segera terungkapkan sehingga

bisa dinikmati serta dif ahami oleh masyarakat secara luas. Seperti telah dimaklumi bahwa suatu naskah tertentu selain berisi aspek-aspek sejarah, juga dapat mengungkapkan nilai-nilai sosial budaya tertentu, misalnya mengenai masalah keagamaan, hukum, seni, filsafat, bahkan masalah keagamaan, hukum, sen'i, filsafat, bahkan masalah ekonomi serta teknologi sekalipun, dan lain sebagainya yang bagi kehidupan masyarakat kini masih memiliki relevansi untuk lebih dikembangkan. Dengan demikian laju perkembangan pembangunan bangsa akan semakin mantap dan kokoh dalam eksistensi kepribadian nasional yang khas. Wawacan Gandasari sebagai salah satu naskah karya sastra Sunda dalam bentuk suluk, dari segi keagamaan akan dapat memberikan tuntunan bagi masyarakat pembacanya untuk menemukan jati dirinya berdasarkan ajaran etika Islam. Di sam- ping itu, dapat dilihat bahwa bentuk suluk semacam itu, yang di dalamnya berisi ajaran tasawuf, memberikan gambaran adanya sistem pengajaran Islam yang dibawa oleh kaun Sufi di Jawa Barat khususnya, dan di Kepulauan Nusantara umumnya. Hal tersebut jug.a tampak dalam beberapa naskah yang berhasil dicatat dalam kesempatan penelitian ini. Karena itu, mungkin menjadi salah satu gambaran bahwa bagi orang Sunda, agama Islam merupakan suatu panutan serta merupakan fokus ter- kuat dalam pandangan hidupnya. Pengaruh keadaan ini pun tampak dalam pembabakan khazanah susastra Sunda, terutama bentuk-bentuk karya tertulis yang berupa naskah-naskah (ku no). Dengan demikian, pengaruh budaya Islam itu telah turut membentuk nilai-nilai budaya masyarakat Sunda, yang melalui proses enkulturasi dan sosialisasi nilai-nilai budaya tersebut akan mampu menempa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi luhur sebagaimana tercermin dalam kepribadian bangsa. Hal tersebut pada dasamya merupakan aset budaya nasional yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh, karena pemerintah berkewajiban membina kebudayaan nasional seperti yang disuratkan dalam GBHN tahun 1988, bahwa pembinaan dan pengembangan kebudayaan antara lain diarahkan guna te-

tap memelihara nilai-nilai luhur bangsa dalam upaya memper-. kokoh penghayatan dan pengamalan Pancasila. Di samping itu, diarahkan pula dalam rangka" meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri serta kebanggaan nasional, memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa yang diharapkan ·mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa yang akan datang. Dalam pada itu, upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa perlu dilandasi oleh pemahaman kondisi sosial budaya yang telah ada sebagai aset budaya nasional. Berdasar- kan hal inilah, kita melangkah ke arah yang telah digariskan dalam kebijaksanaan pembangunan nasional. Salah satu modal dasamya adalah melalui upaya penggcllian dan pengungkapan nilai-nilai budaya tradisional. yang terekam dalam naskah- naskah lama secara intensif dan berkesinambungan dengan memanfaatkan para ahli di bidangnya masing-masing, terutama dari kalangan tenaga muda yang ada di instansi terkait, khusu-nya di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional yang ber- naung pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

PUSTAKA

Aboebakar Etjeh, H. 1966 Pengantar Ilmu Tarekat: Uraian Tentang Mistik. Djakarta: FA. H.M. Tawi & Son.

Ajip Rosidi 1966 Kesusastraan Sunda Dewasa lni. Bandung: Tjupu Manik.

Coolhaas, W. Th. 1971 Sekitar Sejarah Kolonia/ dan Sejarah Indonesia: Sejarawan dan Pegawai Bahasa. Djakarta: Bhratara.

Edi S. Ekadjati 1982 Ceritera Dipati Ukur: Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.

Edi S. Ekadjati, dkk. 1983 Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: LPUP-The Toyota Foundation.

Edi S. Ekadjati & Sobana !Iardjasaputra 1987 Bibliografi Jawa Barat: Studi Pendahuluan. Bandung: UNPAD-KITLV Program Studi Indonesia.

Emuch Hermansoemantri 1979 Sejarah Sukapura: Sebuah Telaah Filo/ogis. Diser- tasi Universitas Indonesia.

Geertz, C. 1960 The Religion of Java (The Free Press of Glencoe). Terbitan Bahasa Indonesia; Abangan, Santri, Pri- yayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka J aya. Tahun 1981. 1968 Islam Observed. New Haven and London : Yale University Press.

Haderanie H.N., KH.

t.t Jlmu Ketuhanan : Marifat Musyahadah Mukasyafah Mahabbah. Surabaya: CV Amin.
Hamka 1973 Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya. Jakarta.

Harsja W. Bachtiar 1973 Filologi dan Pengembangan Kebudayaan Nasional (Ceramah Pengarahan Pada Pembukaan Seminar Filologi dan Sejarah). Yogyakarta.

Hoesein Djajadiningrat 1983' Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten: Sumbangan Bagi Pengenalan Sifat-sifat Penulisan Sejarah Jawa Barat. Jakarta: Jambatan. Kennedy, Raymond 1962 Bibliography of Indonesia Peoples and Cultures. Southeast Asia Studies: Yale University.

Kuntara Wiryamartana, I. 1987 Arjunawiwaha: Transformasi Teks Jawa Kuna Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta Disertasi Universitas Gadjah Mada. Kuntowijoyo 1985 Agama dan Seni: Beberapa Masalah Pengkajian Int~rdisipliner Budaya Islam di Jawa. Yogyakarta: Bagian Proyek J avanologi.

Molen, W. van der 1983 Javanse Tekskritiek : Een Overzicht en Een Nieuwe Benadering Geillustre.erd aan de Kunjarakarna. VKI

102. Disertasi Universitas Leiden.
Pigeaud, Th. G. Th. 1967 Literature of Java Volume I: Catalogue Raissone of Manuscripts. The Hague: Martinus Nijhoff.

Pijper, G.F. 198 7 Fragmenta lslamica: Beberapa Studi Mengenai Seja- rah Islam di Indonesia Awai Abad XX (Terjemahan Tudjiman). Jakarta: UI Press.

Poerbatjaraka, R. Ng. 1933 "Lijst der Javaansche Handschriften" Jaarboek KBG. Bandoeng: AC. Nix.

1952 Kapoetakaan Djawi. Djakarta: Djambatan.

Poerbatjaraka, R. Ng., C. Hooykaas & P. Voerhoeve 1950 lndonesische Handschriften. Djakarta: Lembaga Kebudajaan Indonesia.

Rasyidi, H.H. 1986 "Ajaran Islam Tentang Akal dan Akhlak". Suara Muhammadiyah Nomor 1 Tahun ke-66.

Robson, S.O. 1978 Filologi dan Sastra-sastra Klasik Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sim uh 1985 Unsur-unsur Islam Dalam Kepustakaan Jawa. Yogyakarta: Bagian Proyek Javanologi.

Siti Baroroh Baried · 1985 Perkembangan llmu Tasawud di Indonesia: Suatu Pendekatan Filologis. Yogyakarta: Universitas Ga- djah Mada.

Sulastin Sutrisno 1981 Re/evansi Studi Filologi. Y ogyakarta: Liberty.

1983 Hikayat Hang Tuah: Analisa Struktur dan Fungsi. Y ogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Straathof, W. 1971 "Agama Jawa-Sunda: Sedjarah, Adjaran, dan Tjara Berpikimja". Basis 20: 203-6; 203-3; 258-65; 287; 313-8; 345-50.

Taufik Abdullah {editor) 1985 Sejarah Lokal di Indonesia. Y ogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Taufik Abdullah & Abdurrachman Surjomihardjo. 1985 I/mu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif Jakarta: Gramedia.

Taufik Abdullah & Sharon Sidique 1988 Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Jakarta: LP3S.

Teeuw, A. 1982 Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 1984 Sastra dan I/mu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Umar.Yunus 1986 Sosiologi Sastra: Persoalan Teori dan Metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Yus Rusmana 1978 Panyungsi Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Zamakhsyari Dhofier 1985 Tradisi Pesantren:· Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3S.

Zoetmulder, P.J. 1935 Pantheisme en Monisme in de Javaansche Seoloek Literatuur. Nijmegen.

AMIRHAMZAH Jawa Cirebon Cacarakan Min Rukmini Diria, Dra. Kompleks Perumahan Neglasari Bandung

Wawacan (puisi) Abad ke-19 Cirebon

Ukuran : a) sampul

b) halaman 21 x 17 cm
c) ruan g tulisan17x14cm
J umlah Ha lam an 92 halaman Bahan Naskah Kertas buatan pabrik Eropa Cap Kertas Garden of Holland Wama Tinta Hi tarn Keterangan: a) Isi Teks Mengisahkan tentang penye- baran agama Islam dengan penonjolan tokoh Amir

Waktu Penulisan Abad ke-19
Tempat Penulisan Cirebon
Ukuran : a) sampul b) halaman c) ruang tulisan : 17 x 14 cm : 21x 17 cm
Jumlah Halaman : 92 halaman
Bahan Naskah : Kertas buatan pabrik Eropa
Cap Kertas : Garden of Holland
Warna Tinta : Hitam
1. Judul Naskah Bahasa : AMIR HAMZAH : Jawa Cirebon
Huruf Pemilik Naskah : Min Rukmini Diria, Dra. Cacarakan
Tempat Naskah : Kompleks Perumahan

Ukuran: a) sampul

b)halaman
c) ruang tulisan
J umlah Halaman Bahan Naskah Cap Kertas

Warna Tinta Keterangan: a) Isi Teks

Hamzah, seorang pahlawan yang gagah berani dalam menghadapi musuh-musuh- nya (orang kafir). Sebagian besar naskah su- dah mulai lapuk dan robek. Tinta pucat bahkan ada teks yang telah aus. Ada bebera- pa lem bar halaman naskah yang hilang, termasuk sam- pulnya.

BABAD MAJAPAHIT Jawa Cirebon Cacarakan Koman Cikalang Tasikmalaya

Puisi : wawacan Abad ke-18 Cirebon 20 x 17 cm 21,4 x 17 cm 15xl2cm

38 halaman Kertas buatan pabrik Eropa Lion in medalion; PROPA-TRIA RESPARVAE CRES-CURNT Hitam pucat Mengenai masuknya Islam ke Majapahit dengan tokoh utama Raden Patah, Sunan Ampel dan para wali lain- nya.

Naskah telah lapuk, warna kertas kecoklat-coklatan dan kena jamur karena suhu

lembab. Bagian awal teks
hingga hilang. Jadi, teks yang ada halaman 5 5 (110)
hanya dari halaman 56

(112) hingga akhir, yakni

h. 73 (146). BABAD RATU GAL UH Sunda Arab Pegon Koman Cikalang Tasikmalaya Pros a Abad ke-19 Ciamis?
Ukuran : a) sampul

b)halaman 20,5 x 16 cm

b)halaman 20,5 x 16 cm
c) ruang tulisan
Jumlah Halaman 19 halaman
Bahan N askah Cap Kertas Kertas halus
Warna Tinta Hitam kecoklat-coklatan
Keterangan: a) lsi Teks Cerita dimulai sejak Tuhan menciptakan

17,5x14cm

alam beserta isinya. Kemudian diriwayat- kan mengenai keadaan umat manusia sejak Nabi Adam hingga pasal meradna Paja- jaran pada hari Selasa, tang- gal 14 bulan Sapar tahun Jimahir, yang tinggal dua orang putrinya, yaitu Nyai

|Tempat Naskah||Cikalang Tasikmalaya| |Nomor Naskah||| |Bentuk Karangan||Prosa| |Waktu Penulisan||: Abad ke-19| |Tempat Penulisan|b) tulisan|Ciamis? x16 17,5 14 cm| 19 Naskah Isi

Pucuk Umum dan Nyai Sekar Mandapa. Nyai Sekar Mandapa melahirkan Nyai Putri Tandurangagang (h.

19).
b) Kondisi Naskah umumnya masih
baik, tetapi sayangnya halaman pertama telah hilang, dan bahkan beberapa lem- bar selanjutnya hilang. Naskah ini dim ulai dari halaman 2 hingga halaman 19. _Sampulnya hilang, dan teks transparan karena suhu lem- bab. Jadi, teks hanya tinggal 20 episode, karena digubah dalam bentuk prosa. Tidak diketahui siapa penulisnya serta kapan ditulisnya seca- ra pasti.

ILMUCARBON Jawa Cirebon dan Arab Arab-pegon

Pemilik Sarp an
Tempat Naskah Nomor Naskah Ciawigebang Kuningan
Bentuk Karangan Prosa
Waktu Penulisan 10 Juli 1907
Tempat Penulisan Cirebon
Ukuran: a) sampul b) halaman c) ruang tulisan 21,5 x 14 cm 21,5 x 14 cm
J umlah Halaman 5 halaman
Bahan Naskah Kertas buatan dalam negeri

17xl0cm

Cap Kertas

|Pemilik||Sarpan| 17 10 x cm| |Jumlah

Hi tam Mengenai doa-doa, terutama bertalian dengan Sunan Gu- nung Jati Cire bon. Umumnya masih baik, te- tapi kertas wamanya mulai menguning. Digunakan pula tinta merah untuk menulis judul doa atau ayat lainnya. Pada bagian akhir terdapat stempel bermahkota dengan tulisan "Raden Tjondrakoe- soema", diikuti dengan ke- terangan waktu penulisan.

JARANSARI Jawa Cacarakan Pemilik Naskah Kuswara Tempat Naskah Kp. Kondang Mekar, Cibali Cikijing, Kabupaten Majalengka. Nomor Naskah Bentuk Karangan Puisi : wawacan Waktu Penulisan Abad ke-19 Tempat Penulisan Talaga-Majalengka ?

Ukuran: a) sampul

b) halaman 24,5 x 21 cm
c) ruang tulisan 18,5 x 17 cm
J umlah Halaman 141 halaman Bahan Naskah Kertas buatan pabrik Eropa Cap Kertas Lion in medalion Warna Tinta Hitam kecoklat-coklatan J(eterangan: a) Isi Teks Secara garis besarnya, me- ngisahkan keadaan di Kera-

jaan Mataram pada masa Pemerintahan Amangkurat.

Naskah sudah mulai lapuk dan tulisan agak sulit dibaca karena kurang jelas dan sudah mulai aus. Penjilidan ketat, susunan halaman ti- dak berurutan lagi dan sebagian ada yang hilang.

KIT AB BABAD CARBON Jawa Cirebon Cacarakan Sarp an Ciawi gebang Kuningan

Prosa Abad ke-19 Cirebon

Ukuran : a) sampul

b)halaman 21 x 16 cm
c) ruang tulisan 17xl3cm
Jumlah Halaman 24 halaman Bahan Naskah Kertas buatan pabrik Eropa Cap Kertas Lion in medalion; VDL Warna Tinta Hi tam Keterangan: a) lsi Teks Kisah mengenai Nyai Putri Panguragan dan Ki Mage- lung.

b)Kondisi Keadaan naskah rusak, ker-
tas telah lapuk dan tinta nyuub. Sebagian lembar halaman yang adapun sulit dibaca karena keadaan kertas yang lapuk.

Huruf Cacarakan
Pemilik Sarpan
Tempat Naskah Nomor Naskah Ciawi gebang Kuningan
Bentuk Karangan Prosa
Waktu Penulisan Abad ke-19
Tempat Penulisan Cirebon

(KITAB TAREKAT) Ja wa Ci re bon Cacarakan

Pemilik N askah Koman
Tempat Naskah Nomor Naskah Cikalang Tasikmalaya
Bentuk Karangan Presa
Waktu Penulisan Abad ke-18
Tempat Penulisan Cirebon
Ukuran : a) sampul b)halaman c) ruang tulisan 20,6 x 16 cm 1 7 ,5 x 1 l ,5 cm
J umlah Halaman 110 halaman
Bahan Naskah Kertas buatan pabrik Eropa
Cap Kertas Arms of Amstremdam
Warna Tinta Hi tam
Keterangan : a) Isi Teks Mengenai

ajaran tasawuf dan akhlak berdasarkan agama Islam (etika Islam).

b) Kondisi Naskah telah lapuk, warna
kertas menguning dan seba- gian besar sudut atasnya ro- ber dan ada bekas gigitan serangga. Be berapa lem bar halaman awal dan kahir ada yang hilang bersama sam- pulnya.

  1. Judul Naskah (KIT AB TARE KAT) Bahasa Sunda Huruf Arab Pegon Pemilik N askah · Ibu Ecin Kuraesin Tempat Naskah Kp. Pasinnalang, Leuwi-
    goong, Kabupaten Garut. N om or Naskah

Judul (KITAB TAREKAT)| |||Jawa Cacarakan| Naskah 17,5 11,5 Cirebon x16 |Jumlah Naskah||: Hitam| Teks|b) Kondisi|: ajaran tasawuf dan akhlak berdasarkan agama Islam (etika Islam). Naskah telah lapuk, warna|

Ukuran : a) sarnpul

b) halaman
c) ruang tulisan
Jumlah Halaman Bahan Naskah Cap Kertas Warna Tinta

Keterangan: a) Isi Teks

b) Kondisi
9. Judul Naskah Bahasa Huruf Pemilik Naskah Tempat Naska·h Nomor Naskah Bentuk Karangan Waktu Penulisan Tempat Penulisan
118

Prosa; Puisi: wawacan Abad ke-20 Garut 20 x 14 cm 1 9 ,8 x 13 ,2 cm 18 x 10,5 cm 1 79 halarnan Kertas

Hitarn, Merah, dan sebagian lagi Ungu (dari pensil).

Mengenai pengetahuan ajar- an agarna Islam tert tang sum- ber-sum ber dan sistem hu- kum Islam, teologi Islam, akhlak, dan sebagainya. Kertas bergaris berwarna ke- coklat-coklatan, lembar halarnan banyak yang rusak, lepas, dengan sampul ber-lapis-lapis. Tidak ada nomor halaman, dan 13 halaman kosong.

KITAB PANYAWER Sunda Arab Pegon

H. Ahmad (Emmed) Kp. Jati Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut Puisi: wawacan Abad ke-20 Garut

|Bahasa|| |Huruf Pemilik Naskah|: Arab Pegon |Tempat Naskah|: |Nomor Naskah|| |Bentuk Karangan|Puisi: |Waktu Penulisan|: |Tempat Penulisan|:

Bentuk Karangan : Prosa; Puisi: wawacan
Waktu Penulisan Tempat Penulisan b) halaman c) ruang tulisan : 18 x 10,5 cm : Abad ke-20 : 20 x 14 cm : 19,8 x 13,2 cm
Jumlah Halaman : 179 halaman
Bahan Naskah Cap Kertas : Kertas
Warna Tinta : Hitam, Merah, dan sebagian

Ukuran: a) sampul

b) halaman 20,9 x 16,6 cm

b) halaman 20,9 x 16,6 cm
c) ruang tulisan 1 7 ,5 x 11,4 cm
Jumlah Halaman 12 halaman
Bahan N askah Cap Kertas Kertas buatan dalam negeri
Wama Tinta Hitam kebiru-biruan
Keterangan: a) Isi Teks Secara umum naskah ini ber

isi tentang nasihat bagi pe- ngantin yang akan menem- puh kehidupan berumah ta- nggp.

b) Konsisi Sampul telah hilang, tetapi
kertas umumnya masih ba- ik, wama menguning tulisan kontras. Pada halaman ko- song terdapat bekas tum- pahan tinta. Semula naskah milik Oyo.

DOA BAGI

10. Judul Naskah KUMPULAN
BAGI PARAWALI
Bahasa Jawa Cirebon dan Arab
Huruf Cacarakan
Pemilik Koman
Tempat Naskah Nomor Naskah Cikalang Tasikmalaya
Bentuk Karangan Prosa
Waktu Penulisan Abad ke-20
Tempat Penulisan Tasikmalaya
Ukuran: a) sampul b) halaman c) ruang tulisan 15 x 10 cm
Jumlah Halaman 9 halaman
Bahan N askah Kertas buatan dalam negeri

20xl3,3cm

halaman|20 13,3

Jumlah Halaman : 12 halaman
Bahan Naskah : Kertas buatan dalam negeri
Cap Kertas Warna Tinta : Hitam kebiru-biruan

Teles

b) Kondisi
11. Judul Naskah Bahasa Huruf Pemilik Tempat Naskah Nomor Naskah Bentuk Karangan Waktu Penulisan Tempat Penulisan Ukuran : a) sampul
b)halaman
c) ruang tulisan
Jumlah Halaman Bahan Naskah Cap Kertas Wama Tinta Keterangan : a) lsi Teles

Hitam pucat Berupa kumpulan doa yang biasa dibacakan dalam upa- cara tahlilan, dan lainnya. Kertas sudah lapuk dan ber- warna biru muda. Terdapat bolong-bolong kena gigitan seran~. Ada bagian lembar halaman yang telah hilang.

(KUMPULAN MANTRA) Sunda dan Jawa Cacarakan Arsidi JI. Benteng Ciamis

Puisi Abad ke-20 Ciamis

20,6 x 13 cm 18,5 x 11 cm 8 halaman Kertas buatan pabrik Eropa Lion in medalion Hi tarn Berupa ajian, asihan, teruta- ma berkaitan dengan keada- an alam sekitar. Dapat dipastikan sebagian lembar halaman banyak yang hilang. Warna kertas kecoklat-coklatan dan bagian gutter (margin dalam) bolong. Tulisan kurang rapi.

b) Kondisi

Pemilik Tempat Naskah Nomor Naskah Bentuk Karnagan Waktu Penulisan Tempat Penulisan Ukuran : a) sampul

b)halaman
c) ruang tulisan
Jumlah Halaman Bahan Naskah

Cap Kertas Warna Tinta Keterangan : a) Isi Teks

LAY ANG GANDA SARI Sunda Latin A tang Panumbangan Ciamis

Puisi: wawacan 1962 Panumbangan Ciamis

21 ,5 x 16 cm 21 ,5 x 16 cm 18 x 14 cm 52 halaman Kertas ukuran buku tulis bergaris biasa.

Biru Mengisahkan dua orang to- koh kakak-beradik, Ki Ganda dan Ki Sari. Inti ceritera berkisar perma~alahan ajar- an tasawuf dalam bentuk suluk. Naskah umumnya masih baik, dan diperkirakan seba- gai basil transliterasi dari naskah yang berhuruf pegon.

LAY ANG TABIHUL PAPILIN Sunda Arab Pegon Ibu Ecin Kuraesin Kp. Babakan Desa Dungu-

b) Kondisi
13. Judul Naskah Bahasa Huruf Pemilik Naskah Tempat Naskah

Bahasa Sunda
Huruf Latin
Pemilik Atang Panumbangan Ciamis
Nomor Naskah Bentuk Karnagan Puisi: wawacan
Waktu Penulisan Tempat Penulisan : Panumbangan Ciamis
Ukuran : a) sampul : 21,5 x 16 cm 21,5x16cm
Jumlah Halaman : 52 halaman
Bahan Naskah Kertas ukuran bergaris biasa.
Warna Tinta : Biru

siku, Ke~. Leuwigoong. Kab. Garut.

Puisi: wawacan 1914 Garut

Ukuran: a) sampul 21,6 x 17 cm
b)halaman c) ruang tulisan 21,2 x 16,9 cm 17,7 x 13,3 cm
Jumlah Halaman 162 halaman
Bahan Naskah Kertas
Cap Kertas
Wama Tinta Hi tam
Keterangan: a) Isi Teks Secara garis besamya berisi tentang pengetahu.an

sumber-sumber dan sistem ajar- an agama Islam.

b)Kondisi Kertas tidak bergaris, wama
menguning. Beberapa lem- bar halaman awal kena gi- gitan serangga. Umumnya tulisan masih kontras. Pen- jilidan cukup longgar.

14. Judul Naskah NURBUAT
Bahasa Sunda
· Huruf Arab Pegon
Pemilik Naskah Bpk. Aden
Tempat Naskah Kp. Sundulan

Desa Padajaya, Kecamatan Wado, Kab. Sumedang Nomor Naskah Bentuk Karangan Puisi: wawacan Waktu Penulisan Abad ke-20

Waktu Penulisan Abad ke-20
Tempat Penulisan Sumedang?
Ukuran: 20 x 16 cm

a) sampul

Cap Kertas
Warna Tinta : Hitam

20 x 16 cm 18 x 14cm

260 halaman Kertas

Hi tarn

Abdul Mutalib berputra 12 orang, dua orang di antara- nya bernama Abdullah dan Amir Hamzah dan seorang perempuan bernama Dewi Hadijah. Ketika itu, Siti Hindesah, putri raja Esam yang hafal kitab Taurat, Ja- bur, Injil, dan menguasai ilmu sara serta ilmu nalar mengetahui bahwa Nurbuat Rasulullah akan diturunkan di Mekah kepada Abdullah. Dia bersama tentara keraja- an ayahnya pergi ke Mekah, bermaksud melamar Abdullah. Tetapi lamaran itu dito- lak sehing~ Siti Hindesah akhirnya nikah kepada Abu Safyan yang kemudian berputra Muawiyah yang men- jadi Raja Esam. Pada suatu malam Jumat semua pendu- duk Mekah berdoa di Ka'- bah, memohon kepada Al- lah untuk mengetahui kepada siapa turunnya Nurbuat Rasulullah. Terdengar suara bahwa calon isteri Abdullah adalah Siti Aminah, putri

Sulban Aburah, Bani Najr dari Madinah. Ketika Aminah inengandung, setiap bulan mimpi dikunjungi para nabi. Pada saat bayi di dalam kandungan berumur enam bulan, Abdullah sakit dan kemudian meninggal di Mekah. Raja Habsah beserta 13 raja lainnya menyerbu Masjidilharam di Mekah. Dalam pada itu, dikatakan oleh Abdul Mutalib bahwa Baitullah ialah kepunyaan Allah. Tetapi raja Habsyi bersikeras akan menghan- curkannya. Namun ketika orang Habsah akan menye- rang Mekah, datanglah bala tentara Allah yang berupa burung Sijil yang setiap ekor membawa tiga buah batu berapi. Raja Habsah beserta bala tentaranya mati dan hancur. Diceriterakan ketika Aminah melahirkan, · dia tidak mengeluarkan da- rah, tidak merasa sakit, tercium harum mewangi dan dari bayi keluar cahaya berkilauan. Sebagaimana pe- san para nabi, bayi yang di- lahirkan Aminah diberi na- ma Muhammad. Karena· Aminah tidak mengeluarkan air susu untuk bayinya, ma- h dicarikan seseorang un-· ·

{ ..

tuk menyusui Muhammad. Dengan persetujuan Abdul Mutalib, Halimah menyusui Muhammad, dan tiba-tiba air susunya menjadi subur sehingga Muhammad itu menyusu dengan lahapnya. Ketika Muhammad dibawa ke Ka'bah Hajar Aswad di Mekah, ia menghampiri dan menciumnya.

Naskah umumnya masih baik dan tulisan masih jelas terbaca. Kertas tidak ber- garis, tetapi tidak bercap, wamanya kecoklat-coklat- an.

PAWUKON Jawa Cirebon Cacarakan Keraton Kasepuhan Keraton Kasepuhan Cirebon

Prosa Abad ke-19 Cirebon

Ukuran : a) sampul 21,3 x 8,6 cm
b)halaman c) ruang tulisan 21,6 x 8,6 cm 18,5 x 4,5 cm
Jumlah Halaman 32 halaman
Bahan N askah Kertas buatan pabrik Eropa
Cap Kertas Tidak ada.
Wama Tinta Hi tam

21,6x8,6 Naskah|:

Secara garis besarnya menje- laskan ten tang keadaan per- wukuan (pawukon) tahun dan hari, yang didasarkan atas pancawara, sadwara, dan pancawara. Biasanya di- gunakan sebagai patokan perhitungan hari baik untuk melakukan suatu pekerjaan atau bepergian.

Kertas kekuning-kuningan dan agak lapuk. Tinta nyu- ub karena suhu lembab, penjilidan sudah agak rusak.

PELAJARAN AGAMA ISLAM (TAREKAT) Jawa Cirebon dan Arab Cacarakan dan Arab Pemilik Koman Tempat Naskah Cikalang Tasikmalaya Nomor Naskah Bentuk Karangan Prosa Waktu Penulisan Abad ke-19 Tempat Penulisan Cirebon

Ukuran: a) sampul

b) halaman 21,5 x 14 cm
c) ruang tulisan 16xl0cm
Jumlah Halaman 20 halaman Bahan Naskah Kertas buatan Eropa Cap Kertas Bunga Lilly; VOL Warna Tinta Hitam pucat Keterangan : a) Isi Teks Secara garis besarnya mem- bicarakan tentang ajaran akhlak dan etika ajaran Islam.

|Tempat Penulisan||Cirebon| |Ukuran: sampul|b) 16 10 x cm| VDL|

Umumnya keadaan kertas sudah lapuk dan berwarna kecoklat-coklatan. Tin ta sudah nyuub (blobor) kare- na udara lembab. Ada 4 halaman kosong, dan diperki- rakan sebagian besar lembar halaman hilang.

RA TNA SUJINAH Sunda dan Jawa Cacarakan

Puisi : wawacan 1890

Ukuran : a) sampul

b) halaman
c) ruang tulisan
Jumlah Halaman Bahan Naskah Cap Kertas Warna Tinta Keterangan : a) lsi Teks

21 x 17 cm 18 x 14,5 cm

98 halaman Kertas

Hitam pucat Pada dasarnya naskah ini berisi tentang ajaran tasa- wuf yang digubah dalam ben tuk suluk. Kemungkinan isinya ada kesamaan dengan Kidung Artati dalam baha- sa Jawa, atau juga, mung- kin salinannya dengan dibe- ri judul yang berbeda.

Bahasa Sunda dan Jawa
Cacarakan
Pemilik Naskah
Nomor Naskah Bentuk Karangan Puisi: wawacan
Waktu Penulisan Tempat Penulisan :1890 : 21x17cm
Jumlah Halaman : 98 halaman
Bahan Naskah : Kertas
Cap Kertas Warna Tinta Hitam pucat

b) Kondisi: Umumnya masih baik, teta-
pi ada sebagian teks yang kusam. Terdapat tulisan

yang diperkirakan sebagai

penulis, yaitu Kumar Haris.