Baca PDF (OCR): Surek poada adaengngi tanae ri soppeng

126 halaman · 124 halaman diproses dengan OCR· 194568 ms

Daftar isi
  1. SUREK POADA-ADAENGNGI JANAE RI SOPPENG
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. SUREK POADA-ADAENGNGI TANAE RI SOPPENG
  4. Drs. Hafl Ah11ad Yunus : Penanggung Jawlib Pananrangl Hamid : Ketua/Penelltl
  5. Drs. MahP.ddln latuconslna : Anggota
  6. DEPARTEMEN PENDIDllCAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
  7. DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAl-NILAI BU DAYA
  8. 1994/1995.
  9. Dire"JJ1:7)udayaan
  10. dalam pcpcrangan terse but.
  11. Jan kekuasaan kerajaan
  12. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  13. 1.3 Ruang Lingkup
  14. Ruang Lingkup Operasional
  15. I) Studi Kepustakaan
  16. · Tata cara Penerjemahan
  17. II TRANSLITERASI
  18. aseng paranika I
  19. I Arung Bila I Arung Belo I
  20. I. LAKKEK-LAKKEK NA WIJA TO MANGKAUK E
  21. I Si ala We Bulu I Da sajo
  22. J. IA NAE SUREK PO ADA ADA-ENG NGI SOSOK NA LAO
  23. I la na-warekkeng
  24. I Ada Nap-pasengeng-nge ri Arung Bila Ia
  25. I Ia na lao adan-na Bulo Bulo Lamatti
  26. e ri Ambarala Sepeleman I
  27. I Tamat I
  28. TERJEMAHAN
  29. tempat yang dinamakan Gowarie.
  30. Tidak saling meninggalkan. Tidak saling mengkhianati.
  31. SUREK YANG MEMBICARAKAN DIKALAH-
  32. I. RINCIAN KETURUNAN BAG INDA RAJA YANG
  33. KESIMPULAN
  34. Asal-usu) Penduduk dan Mula Terbentuknya Sistem Pemerintahan di Kerajaan Soppeng.
  35. Cempa0, Barrasa, Siang, Pangkajene, Bontomatene.
  36. Pesan-pesan Daoke
  37. Mula Ditetapkannya Peraturan Daerah Beru oleh Soppeng
  38. Perintah Dari Malampee Gemmekna Menyerang Tambora
  39. Kembalinya Arung Appanang Bersama Arung Bila dan Arung
  40. Pembicaraan Malampee Gemmekna dan Negeri-negeri Persekutu-
  41. an dari Bone-Soppeng
  42. Pesan-pesan Arung Bila dan Orang Tua-tua
  43. KESIMPUIAN
  44. Berdasarkan hasil penelitian dan kajian naskah kuno, khususnya
  45. Bagian terakhir dari naskah lontarak Soppeng mengungkapkan
  46. _______, Sejarah Perjuangan La Tenritatta Datu Mario
  47. _______, Sejarah Daerah Gowa, Balai Kajian Jarahnitra
  48. _______, Cerita Rakyat Sawerigading, Buku I, Balai Kajian
  49. _______, Konsepsi Budaya Tentang Tipologi Manusia,
  50. _______, Cerita Rakyat Sawerigading, Buku 2, Balai Kajian
  51. _______, Lontarak Galigo, Translitcrasi dan Tcrjemahan
  52. _______, dkk., Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan,

SUREK POADA-ADAENGNGI JANAE RI SOPPENG

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dqxlikbud Tid~k dipcrdagangkan

SUREK POADA-ADAENGNGI TANAE RI SOPPENG

Pengkaji :

Drs. Hafl Ah11ad Yunus : Penanggung Jawlib Pananrangl Hamid : Ketua/Penelltl

Dra. Tatlek Kartfkasarl : Anggota

Drs. MahP.ddln latuconslna : Anggota

DEPARTEMEN PENDIDllCAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN

DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAl-NILAI BU DAYA

1994/1995.

Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan yang berjudul Surek Poada Adaengngi Tanae Ri Soppeng. Isinya tentang asal-usul penduduk dan terbentuknya pemerintahan kerajaan Soppeng; sejarah penaklukan kerajaan Soppeng dari kerajaan Gowa, pesan-pesan Daoke; pertemuan antara raja" Soppeng dan Petta Malampee Gemmekna di Bontoala; jatuhnya kerajaan Cilellang ke ta ngan lasykar Soppeng, keputusan tentang kerajaan Beru; peristiwa kembalinya Arung Bila, dkk; dan petuah Arung Bila dan leluhur. Nilai-nilai yang tarkandung di dalam naskah ini adalah nilai kesejarahan dan pengabdian bagi seorang abdi negara/Raja. Pada hakikatnya nilai-nilai tersebut sangat diperlukan dalam ra ngka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Kami menyadari bahwa buku m1 masih mempunyai kelemahan-kelemahan, karena bukan berdasarkan hasil penelitian yang mendalam. Karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan ka mi terima dengan senang hati. Harapan kami, semoga buku ini bermanfaat serta dapat menambah wawas!ln budaya bagi para pembaca. Kami sampaikan terima kasih kepada para pengkaji dan semua pihak atas jerih payahnya telah membantu terwuj udnya buku ini

iii

DIREKTURJENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala pandangannya. Untuk membantu mempermudah pembinaan sating pengertian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kcbudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagia n Proyek Penelitian dan Pengkajian Kehudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Surek Poada-Adaengngi Tanae Ri Soppeng Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka penggalian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan sehingga tujuan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai. Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku basil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan

v

Dire"JJ1:7)udayaan

Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902

ISi

Ha la man PRAKATA iii SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN.. v DAFTAR ISi....................................... vii BAB I PENDAHULUAN........................... 1

1.1 Latar Belakang dan Masalah................ 1
1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian............. 6
1.3 Ruang Lingkup.......................... 8
1.4 Pertanggungjawaban Penelitian/Penulisan..... 10

BAB II TRANSLITERASI.......................... 15 BAB III TERJEMAHAN............................ 53 BAB IV ANALISA DAN KESIMPULAN.............. 103

4.1 Analisis................................ 103
4.2 Kesimpulan............................. 117
KEPUSTAKAAN.................................... 118

vii

1.1 Latar Belakang Dan Masalah Masyarakat Sulawesi Selatan, sebagaimana halnya masyarakat Indonesia lainnya termasuk masyarakat majemuk, yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Di Sulawesi Selatan ada empat suku bangsa utama yang tersebar di seluruh pelosok yakni suku bangsa Bugis, Makasar, Mandar, dan suku bangsa Toraja. Tiap suku bangsa tersebut sejak lama telah menata dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, masing-masing sebagai kesatuan sosial yang menyebar dalam satuan-satuan pemukiman sendiri dengan latar belakang geografis, adat istiadat, agama, dan sistem kepercayaan yang satu sama lain bcrbcda. Kclompok suku bangsa Bugis mcnycbar dalam satuan-satuan sosial, mulai dari dacrah pcsisir pantai Teluk Bone, mcnyusur kc sclatan sampai kc Kabupatcn Sinjai dan Bulukumba, kcmudian mcnyusur pcsisir Sclatan Makassar ke utara mulai dari Maras dan bc1tumt-turut Pangkajcne Kepulauan (Pangkcp), Barru, Pare-pare, Pinrang, sebagian Polewali. Sebagian pula menyebar di Kabupaten Luwu, daerah Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Soppeng. Sebeltun masuknya pcnjajahan bangsa asing di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis sudah mcngcnal bahkan mcmiliki sistem pemcrintahan yang urnurnnya bcrbentuk kcrajaan. Salah satu kcrajaan

yang cukup banyak dikenal di samping kerajaan Bone dan Wajo di masa lampau ialah kerajaan Soppeng. Dalam kont'.' t.-<: sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di daerah Sulawesi Selatan, kerajaan Soppeng merupakan salah satu daerah yang terkait dalam persekutuan antar kerajaan yang disebut Tellumpocco e (Tri Aliansi), masing-masing terdiri atas kerajaan: Bone, Wajo, dan Soppeng. Persekutuan kerajaan Tellumpocco-e itu terbentuk melalui suatu perjanjian khusus yang dihadiri oleh wakil-wakil dari ketiga kerajaan bersangkutan. Perjanjian tersebut terkenal sebagai Mallamung ' mpatu e ri Timurung (penanaman batu di Timurung).

Terbentuknya persekutuan antara kerajaan Tellumpacco e, ternyata membawa keuntungan bagi masing-masing kerajaan pendukungnya, baik dalam usaha mempertahankan kerajaan sendiri dari serangan kerajaan lain maupun dalam rangka usaha perluasan wilayah taklukan masing-masing. Bahkan dalam berbagai naskah kuno lontarak ditemukan catatan-catatan sejarah, antara lain bahwa kckuatan gabungan antara kerajaan Tellumpocco-e berkali-kali memukul mundur lasykar orang Makassar dari kerajaan Gowa yang pada waktu itu sec.Jang berupaya menyerukan dan menyebarluaskan agama Islam di kawasan Sulawesi Selatan. Namun akhirnya kerajaan Tellumpocco-c kalah dalam peperangan yang berlangsung selama be1tahun-tahun dan meminta korban nyawa yang banyak.

Kekalahan kerajaan Tellumpocco-e dalam peperangan melawan pihak kerajaan Gowa ketika itu bukan hanya mengakibatkan diterima Islam sebagai agama resmi dalam setiap kerajaan, melainkan sekaligus melemahkan kekuatan gabungan antara ketiga kerajaan Tellumpocco-

e. Bahkan kcrajaan Wajo kemudian mcngikat tali pcrsahabatan dengan pihak kcrajaan Gowa. Berbeda halnya Jengan kerajaan Wajo, maka kcrajaan Bone tctap merasa tidak scnang atas peristiwa kekalahannya tcrhadap kerajaan Gowa. Demikianlah, maka belasan tahun kcmudian para tokoh dari kerajaan Bone mcngajak sekutunya, yaitu kcrajaan Soppeng dan Wajo untuk kcmbali mengukuhkan pcrsekutuan Tellumpocco-e. Pihak kerajaan Soppeng menerima baik ajakan terscbut, namun kerajaan Wajo menyatakan tidak dapat melcpaskan tali persahabatannya dengan pihak Gowa, clan dengan demikian tidak mungkin pula menerima ajakan bekas sekutunya. Bahkan, pada saat kerajaan Bone Jan Soppeng melakukan penyerangan terhadap lasykar kerajaan Gowa, pihak Wajo turut membantu Gowa sehingga kekuatan perang Bone-

dalam pcpcrangan terse but.

Peristiwa kekalahan kerajaan Bone-Soppeng tersebut telah mem- bangkitkan semangat juang di kalangan rakyat. Namun mereka menyadari akan ketidakseimbangan kekuata n dengan pihak Gowa, maka Arung Pelakka La Tounru Petta Malampee Gemmekna Torisompae Matinroe Ri Bontoala bersama beberapa sahabatnya dari Soppeng mengembara ke pulau Jawa, untuk mencari bantuan dalam usahanya untuk membebaskan negeri Bugis dari penjajahan kerajaan Gowa.

Setelah lama berada di Batavia (Jakarta), Arung Pelakka dan kawan-kawannya kembali ke Bone dan selanjutnya mengatur strategi pcrjua'ngan pcmbcbasan ncgcri-ncgcri Bugis dan para tokoh kcrajaan yang tc11awan di kcrajaan Gowa. Dcmikianlah, satu demi satu wilayah taklukan yang masih bcrada di bawah kckuasaan Gowa dircbut olch para pcjuang yang tcrgabung dari orang-orang Bone clan Soppcng. Dalain pcnycrangan tcrscbut, An.mg Palakka bcrsama lasykar dari Bone mcnclusuri pcsisir Tcluk Bone sampai kc Bantaeng. Kcmudian clari Bantaeng menyusuri pesisir pantai kc utara mcnuju kc pusat kcrajaan Gowa di Sombaopu, scmcntara armada Kompcni Bclai1da mclindunginya dari arah lautan. Adapun orang Soppcng mcrintis pcrlawanan mcrcka dari arah utara, mulai dari Barru sampai ke Ujung Pandang. Kckuatan gabungan tcrscbut tcrnyata cukup tangguh, schingga babollah pcrtahanan Gowa, kcndatipun waktu itu kcrajaan Gowa turut dipcrkuat olch bcbcrapa ribu tcnaga bantuan dari kcrajaan Wajo. Scjak itu Kompcni Bclanda mulai mcnanamkan kuku pcnjajahannya di daratan Sulawesi Sclatan, mcskipun sccara dcfakto politik pcnjajahan yang scsunggulmya baru tcrjadi sckitar tahun 1904, sctclah tcrtawannya Raja Bone, La Pawawoi Karacng Scgcri. Bcrd asarkan uraian tcrscbut, banyak pihak yang tclah mcnuduh Arung Palakka sebagai pengkhianat bangsa, kendati ada pula sebagian orang yang sccara obycktif mcnanggapi masalah kcrjasai11a Arung Palakka dcngan pihak Kompcni di zaman lampau itu hanyalah dalam rangka mcmbcbaskan ncgeri dari rakyat Bug is tlari dominasi kerajaan Gowa. Pcndapat mana dari kcduanya yang lcbih mcndckati kcbcnaran bclum dapat dipastikan, tan pa ad an ya data yang mcmadai. N ainun lcpas dari pcrsoalan pro dan kontra atas kcdua informasi yang saling bcrbctla itu, pcmbahasan dalam kajian ini lcbih dititikbcratkan pada nilai-nilai luhur yang masih positif dan dapat digunakan untuk mcndorong usaha pcmbina

Jan kekuasaan kerajaan

Soppeng di masa silam, terlihat adanya berbagai nilai -nilai tradisional yang masih positif, antara lain yang bertalian dengan nilai ke- pemimpinan, nilai persatuan Jan kesatuan, nilai etik dan moral, serta berbagai unsur nilai-nilai sosial buJaya lainnya. Semua itu terpateri dalam naskah kuno lontarak, termasuk jenis surek (naskah) sebagai dokumen sejarah dan kebudayaan Jaerah. Lontarak scbagai suatu dokumen sejarah, maka Ji dalamnya bukan hanya tcrmuat catatan-catatan mengenai aneka macam peristiwa perang dan penaklukan antara kerajaan lokal Ji zaman lampau, melainkan Ji Jalamnya tennuat pula informasi mengenai asal-usul penJuJuk Jan mula terbentuknya sistem pemerintahan kerajaan setempat di daerah Soppeng. Bahkan, selain itu naskah kuno lontarak, khusus lontarak Soppeng memuat pesan-pesan dari cendekiawan traJisional maupun petuah-petuah Jari para leluhur yang pernah hiJup di zaman silam. Berbagai pesan, petuah Jan nasehat para lcluhur tersebut ternyata masih positif Jan dapat Jikembangkan dalam rangka pemanfaatannya sebagai filter untuk menyaring pengaruh unsur nilai-nilai budaya asing yang terserap melalui proses dan kegiatan pembangunan. Lontarak, dengan

Pahurupuk serang. Dewasa ini banyak warga masyarakat Bugis tidak

Selain kurangnya minat baca terhadap naskah lontarak, maka banyak naskah kuno saat ini yang sudah hancur, baik karena lapuk maupun karena gangguan rayap Jan hama lainnya. Hal tersebut makin mempercepat proses kepunahan naskah kuno yang pada hakekatnya amat potensial bagi pe111binaan dan pengembangan nilai-nilai luhur bangsa. Gejala lain yang cukup menonjol pula saat ini ialah masih ter

malahan scbagian orang mcmandangnya scbagai bcnda sakral yang hams dihonnati, dijaga sccara kctat dan tidak bolch dibaca isinya sccara scmbarangan. Akibatnya, banyak naskah lontarak yang manjadi rusak, tanpa dikctahui kandungan isinya. Mcnyadari arti pcntingnya fungsi lontarak scbagai swnbcr infonnasi kcscjarahan dan nilai-nilai sosial budaya dacrah, di samping kcbcradaannya itu scndiri sudah tcrmasuk salah satu unsur kcbudayaan lokal, warisan lcluhur dari zaman lampau, maka dipandang pcrlu adanya usaha pcnclitian, sckaligus pcngkajian nilai-nilai luhur yang tcrkandung dalam naskah kuno lontarak scbclwn punah sama sckali. Salah satu naskah lontarak yang masih ditcmukan saat ini di dacrah Sulawesi Sclatan ialah Lontarak Poada-ada-engngi Tanae Ri Soppeng.

Lontarak tcrscbut, scbagaimana halnya kcbanyakan lontarak di kawasan Sulawesi Sclatan adalah mcmuat bcrbagai macam informasi, antara lain: asal-usul pcnduduk Soppcng; scjarah tcrbcntuknya pcmcrintahan lokal Ji kcrajaan Soppcng; scjarah pcrtumbuhan dan pcrkcmbangan kcrajaan Soppcng mulai Jatangnya tokoh to-Manurung (orang ya ng dianggap turun dari kahyangan) sampai masuknya agama Islam, perang saudara antar kerajaan, bobolnya kerajaan Gowa, masuknya Kompeni Belanda, dan berbagai pesan, nasehat, serta petuah -petuah leluhur. Semua itu termasuk informasi kesejarahan dan kebudayaan yang cukup potensial bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, sebagai bagian integral dari pembangunan kebudayaan bangsa.

Bcrdasarkan catatan yang tcrkandung Ji dalamnya, maka Lontarak Poada-adacng-ngi Tanac Ri Soppcng pada kcnyataannya, adalah mcnyangkut ancka masalah yang bcrsifat komplcks, schingga dapat disoroti dari bcrbagai scgi, antara lain: scgi politik, undang-undang dan hukwn, pcrang dan damai di samping scgi scjarah dan kcbudayaan. Dalam kontcks pcnclitian ini fokus pcrhatian diarahkan pada scgi kcsejarahan dan kcbudayaan. Pokok-pokok masalah yang mclatar- belakangi pcnclitian ini dapat dirwnuskan scbagai bcrikut:

I. D ircktorat Sejarah dan Nilai Tradisional bclum mcmiliki data dan info rmasi sccara lcngkap, hkusus mengcnai naskah kuno lontarak yang mcmuat catatan scjarah dan budaya dacrah Bugis di Wilayah Soppcng.
2. Sampai sckarang masih tcrlihat adanya gcjala di mana anggota masyarakat ccndcrung mcnyimpan naskah ktmo lontarak, sckaligus mcmclihara dan mcnghormatinya scbagai suatu jcnis bcnda sakral, bahkan sebagian orang mcnghayati lontarak itu sc bagai suatu

simbol kebanggaan keluarga di zaman silam. Berdasarkan anggapan tersebut, banyak naskah lontarak yang menjadi lapuk di tempat penyimpanannya, tanpa ada usaha dari pemiliknya untuk membaca dan mengkaji kandungan isinya.

  1. Sejalan dengan ams pembangunan yang makin pesat, terutanrn di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi modem, banyak anggota masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan saat ini menyibukkan diri dalam proses pengadopsian unsur-unsur ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari kebudayaan asing, basil produk masyarakat dari berbagai belahan bwni terutama negara-negara super power. Keadaan ini mengakibatkan tersisihkannya naskah-naskah kuno yang memuat berbagai infonnasi kesejarahan dan nilai-nilai luhur bangsa.
  2. Sesuai dengan jenis program studi yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan selama ini, maka mata pelajaran bahasa daerah Bugis tidak diajarkan lagi, baik di tingkat Sekolah Dasar maupun Sekolah Lanjutan Menengah. Kalaupun sesekali anak didik diberikan materi pelajaran bahasa daerah, maka hal itu kebanyakan diarahkan agar mereka dapat mengenal bentuk aksara/huruf lontarak, tanpa upaya pembimbingan untuk lebih menghayati struktur bahasa, apalagi arti dan makna simbolik yang tennuat dalam kalimat-kalimat bahasa daerah Bugis. Keadaan ini menyebabkan kurangnya pemahaman kebanyakan anggota masyarakat, terhadap isi naskah kuno lontarak.
  3. T erdapat gejala umum, bahwa naskah-naskal;l lontarak dewasa ini menga!Jmi ancaman kepunahan, baik karena Japuk oleh per- geseran masa maupun hancur karena gangguan rayap serta jenis hama pemakan kertas. Sementara di Jain pihak tampak kurangnya minat anggota masyarakat, termasuk para pemilik naskah itu sendiri untuk mengupayakan penyalinan ulang. Akibatnya, jumlah naskah kuno lontarak makin lama menjadi makin menyusut. Bahkan apabila keadaan tersebut tetap berkelanjutan, tidak mustahil suatu saat kelak seluruh naskah lontarak di daerah Sulawesi Selatan, punah dan sima.

    1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

I. Tujuan penelitian
a. Tujuan pertama ilirri penelitian ini ialah untuk mcngupayakan · tersedianya sebuah naskah hasil penelitian dan pengkajian

dihomiati sccara bcrlcbihan, melainkan adalah swnbcr informasi dan sistcm pcngctahuan tradisional yang pcrlu dikaji, scbclwn lontarak tcrscbut punah dan sima, baik karcna lapuk maupun karcna dimakan rayap dan bcrbagai jcnis harna pcmakan kertas.

c. Mcrangsang, sckaligus mcndorong minat anggota masyarakat, tcrutama para pcmilik maupun pcndukung kcbudayaan bcr- sangkutan, untuk mcnyisihkan scbagian waktu mcrcka dalam usaha mcngkaji kandungan isi lontarak. Ini bcrarti, bahwa basil pcnclitian dimaksud diharapkan dapat mcnjadi bahan dasar, scbclum masyarakat mcncntukan pilihan tcrhadap unsur-unsur kcbudayaan asing yang ingin diserap dan ditcrap- kan dalam kchidupan mcrcka.
d. Mcngupayakari tersedianya bahan bacaan dan sumber infonnasi kescjarahan maupun nilai-nilai budaya tradisional yang secara praktis dan mudah dipahami olch pcmbacanya. Tujuan ini dipandang pcnting, mcngingat makin banyaknya anggota masyarakat sctcmpat yang tidak mcnguasai arti dan bcrbagai makna simbolik yang tcrkandung dalam naskah lontarak.
e. Akhirnya pcnclitian ini bcrtujuan untuk mcrckam, sckaligus mcngungkapkan kandungan isi lontarak. Hal ini sangat pcnting, karcna adanya kcnyataan bahwa jumlah naskah lontarak n1akin lama akan makin bcrkurang, akibat gangguan rayap dan hama lainnya di samping adanya pula naskah yang mcnjadi lapuk karcna gcsckan zaman. Mclalui pcnclitian ini, scbagian kandungan isi lontarak dcngan scndirinya dapat terckam, scbclum naskah-naskah itu scndiri punah sania sckali.
2. Kegunaan Penelitian
a. Hasil penelitian dan pcngkajian ini mcmpunyai kegunaan, terutama untuk melengkapi data dan informasi yang bertalian dengan naskah kuno di lingkungan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Hasil pcnclitian · dimaksud, dapat pula

(fceJ back) bagi pihak pemerintah Jalam rangka pembinaan Jan pengembangan naskah kuno sebagai warisan buJaya bangsa.

b. Naskah hasil penelitian Jan pengkajian lontarak ini Japat berguna sebagai media penyerbarluasan infonnasi sejarah Ji samping kebudayaan daerah Bugis, baik di kalangan suku-suku bangsa Ji wilayah Sulawesi Selatan scnJiri maupun di berbagai suku bangsa lainnya dalam kepulauan nusantara. Ini berarti pula bahwa hasil penelitian ini berguna untuk mempercepat proses pengenalan antar budaya di antara penduJuk Indonesia yang bersifat majemuk dan tersebar di berbagai pelosok.
c. Selain ·itu, hasil penelitian dan pengkajian ini dapat digunakan sebagai sumber pengctahuan bagi generasi muda dan scmua pihak yang memerlukannya, kendati mereka tidak memahami bahasa dan aksara daerah Bugis. Ini sesuai dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak penduduk bemsia remaja yang kurang memahami tulisan dan bahasa daerah bersangkutan.
d. Akhirnya hasil penelitian bersangkutan dapat berguna bagi para mahasiswa dan peneliti, sebagai swnber informasi me- nyangkut sejarah daerah Soppeng maupun unsur-unsur kebudayaan ~ermasuk nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam masyarakat pendukungnya.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup material Dalam upaya mengungkapkan kandungan nilai dan isi Jontarak yang menjadi sasaran penelitian ini, fokus perhatian ditujukan kepada materi pokok sebagai berikut:

1) Menginventarisasi se11a mendokumentasikan naskah-naskah kuno lontarak yang Jitemukan Ji wilayah satuan-satuan pemukiman kelompok suku bangsa Bugis daerah Sulawesi Selatan. Dari seluruh naskah yang berhasil diinventarisasi dan di dokumcntasi- kan itu dipilih sebuah naskah yang dianggap memcnuhi kriteria tertentu, untuk diolah lebih lanjut.
2) Naskah kuno yang tclah dipilih menu.rut punt. a tersebut, kemudian dialihaksarakan/Jitransliterasikan, dari aksara daerah Bugis ke humf Latin. Proses alih aksara ini dilakukan sedernikian rupa,

Dalain hal ini tcrjemahan dilakukan kata demi kata. Scdangkan kata-kata/istilah Bugis yang sulit ditemukan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia, diterjemahkan secara bebas antara kalim at. Demikianlah maka hasil penerjemahan diupayakan sclalu mcndekati arti maupun makna yang terkandung dalam naskah/ bahasa aslinya.

4) Menyajikan basil kajian dan analisis, tentang nilai-nilai dan isi yang terkandung cfulam naskah bersangkutan. Dalam konteks analisa isi naskah dikemukakan pula interprestasi, sekaligus mengaitkannya dcngan bidang-bidang ke hidupan, khusus dalam lingkungan masyarakat penduktmg lontarak bersangkutan. Proses analis is dan intcrprcstasi tersebut dibandingkan pula dengan hasil-hasil penclitian yang relcvan, terutama untuk lebih mem- pcrjclas sckaligus mcmpcrdalam pcmahaman tcntang kandungan isi naskah kuno dimaksud.

Ruang Lingkup Operasional

Ruang lingkup opcrasional pcnclitian ini mcncakup wilayah Dacrah Tingkat II Kabupatcn Soppcng. Wilayah ini merupakan salah satu bckas kcrajaan lokal yang cukup bcsar pcngaruhnya dalain sejarah pcrkembangan dacrah Sulawesi Sclatan di masa lampau. Pcnctapan lokasi pcnclitian tcrscbut didasarkan pada bcbcrapa alasan scbagai berikut:

1) Daerah Soppeng tcrlctak di pinggiran jalan raya propinsi, poros antara Ujung Lainuru (Bone) dan Wajo dcngan kondisi jalanan cukup mulus dan transportasi cukup lancar, schingga mudah di jangkau dalam rangka pcnclitian.
2) Daerah terscbut mempunyai potcnsi naskah kuno cukup banyak sehingga memudahkan bagi usaha pclaksanaan inventarisasi dan dokumentasi lontarak yang dipcrlukan sebagai bahan kajian.
3) Scbagian bcsar pcnduduk dacrah bcrsangkutan sai11pai sckarang tctap mcnggunakan bahasa dacrah Bugis, bahkan masih ditemukan adanya bcbcrapa orang pcnduduk sctcmpat yang masih mcngctahui

· Naskah tcrsebut mcmpunyai isi yang masih lcngkap dan utuh dengan huruf-huruf yang tcrtulis cukup jclas sehingga dapat dibaca, tanpa mcngalami kcsulitan yang bcrarti.

4) N askah lontarak terse but mcrupakan karya tu I is yang terpateri dcngan tulisan tangan dcngan usia lcbih dari lima puluh tahun, sehingga scsuai dengan kctcntuan "Monomcntcn Or

luas, khususnya di lokasi pcnelitian tcrscbut dapat terungkap secar~ tuntas. Metodc dan Teknik Penelitian. Usaha pencarian dan pcngwnpulan data yang relevan dengan tujuan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu:

I) Studi Kepustakaan

Studi kcpustakaan dipandang cukup efektip dalam rangka pcngumpulan data dan infonnasi yang bcrtalian dengan materi penclitian ini. Mclalui studi kepustakaan tcrsebut, diperoleh pengctahuan dan pcmahaman sccara mcndalam mengenai teori dan konsep-konscp ilmiah yang

a) Buku-buku scjarah, termasuk: sejarah tentang pertwnbuhan dan pcrkcmbangan dacrah Sulawesi Selatan di samping sejarah kabupatcn Dacrah Tingkat II yang ada kaitannya dcngan isi naskah, scpcrti scjarah Soppeng, Sejarah Bone, Scjarah Wajo, Sejarah Gowa, dan lain scbagainya.
b) Buku-buku yang membahas tcntang limu antrologi, filsafat, sosiologi, ekologi, dan bahan-bahan kcpustakaan yang bcrtalian dcngan materi pcnclitian dimaksud. c} Buku-buku basil pcnelitian yang bcrtalian dcngan bidang sejarah dan sosial budaya dacrah Sulawesi Selatan.
d) Berbag ai buku-buku mcto 2) Studi Dokumentasi Penerapan metode "studi dokumcntasi" diarahkan pada usaha penjaringan infom1asi kesejarahan dan nil ai- nilai bu a) Naskah kuno lontarak, baik lontarak bcrbahasa dacrah Bugis maupun Makasar yang ada kaitannya dengan materi penclitian ini.

Selatan.

c) Makalah dan bahan-bahan seminar, pe1tcmuan ilmiah dan lainnya yang bertalian masalah scjarah, budaya dan pernaskahan.
d) Berbagai peraturan, kctctapan dan peraturan pcmcrintah, khusus yang ada pertaliannya dcngan obyek penelitian bersangkutan.
3) Selain metode penelitian yang bcrorientasi pada stud i kepustakaan dan studi dokwnentasi, pclaksanaan pcnelitian ini didukung pula olch pcnerapan studi lapangan atau mctodc penelitian kancah. Dula.in hal ini penjaringan data yang dipandang perlu, dilakukan dengan menggunakan berberapa teknik tertentu, antara lain sebagai berikut:
a) Survai Survai adalah teknik penjaringan data yang cukup ampuh dalam rangka identifikasi dan Jokwnentasi naskah kuno lontarak di lokasi penelitian. Kegiatan survai tersebut dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, survai bcrtujuan mencari sekaligus mcncatat judul-judul naskah yang ditemukan. Sedangkan pada tahap kcJua, survai dilakukan, untuk meng- i~entifikasikan naskah-naskah yang tclah dicatat pada survai tahap pc1tama. Kegiatan ini dipandang penting, sebagai dasar untuk melakukan pemilihan naskah yang dijadikan sasaran pcngkajian.
b) Pengamatan Tehnik pengamatan diterapkan untuk mcmperolah pengctahu- an awal yang be1talian dengan naskah lontarak maupun daerah dan masyarakat yang dipilih scbagai sasaran penelitian. Pengamatan terhaJap naskah lontarak aclalah sangat penting, antara lain untuk mengetahui kcadaan fisik naskah, bcntuk tulisan, Jan unsur-unsur la inn ya. Pengamatan terhaJap daerah Jan masyarakat Ji lokasi pcnelitian, dilakukan untuk memahami kondisi fisik lingkungan bersangkutan, di samping keadaan sosial buJaya sctcmpat. Hasil pengamatan tersebut merupakan unsur pclengkap sckaligus mc- rupakan bahan pcrbanclingan yang akan memudahkan terlaksana- nya proses penerjemahan clan analisa isi lontarak.
c) Wawancara Selain survai dan pengamatan, penelitian ini menggunakan pula teknik wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan dalam dua

Dalain upaya memudahkan bagi pembaca untuk melafalkan kandungan isi naskah lontarak, maka proses translitcrasinya Jilcngkapi dengan beberapa tai1Ja-tanda- baca, scbagai berikut:

I) Garis datar yang dibubuhkan Ji antara dua kata, ad a I ah mc- nunjukkan bahwa masing-masing kata tersebut saling berkaitan satu sama lain, namun salah satu dari bagian kata dimaksud merupakan kata dasar. Dalam hal ini kata dasar dapat berbentuk tunggal, dapat pula berupa kata berulang, misalnya:
(a) na-po-ada-i, bcrbunyi napoada i (dikatakannya). Ini adalah kata jaclian dengan akar kata ada, kainudian mendapatkan tambahan berupa awalan (na dan po); di sainping akhiran (i). Dalam hal ini kata dasamya (ada) ad alah berbentuk tunggal.
(b) po-ada-ada-eng-ngi, berbunyi poada-adaengngi (yang mem- perkatakan; yang membicarakan). T ampak pacla kata tersebut, bahwa kata dasar ada-ada, aclalah bcrbcntuk kata berulang.
2) Garis datar di atas huruf "c", contohnya (e). Garis datar tersebut melambangkan bunyi "C" scbagaimana halnya bunyi "e" dalam kata (Indonesia) leech· lcdck. Scbaliknya huruf "e" tanpa garis clatar di atasnya, adalah melambangkan bunyi (e) seperti halnya dalam bahasa Indonesia: seteru; belenggu; menetas; dan scbagainya.
3) Glotelstop yang dibubuhkan di antara dua kata, menunjukkan bahwa kedua kata bersangkutan adalah berdiri sendiri, namun dalam pengucapannya seolah-olah bersambung. Misalnya dalam kata (Bugis) lamung'mpatu (penanaman; penguburan batu).
4) Garis miring (/), adalah pcmbatas kalimat yang digunakan sebagai pengganti tanda titik-tiga ( ... ) yang clibubuhkan dalai11 penulisan aksara lontarak.

elipsis dengan tiga titik (... ), adalah penunjuk bahwa ada bagian naskah yang dilangkahi, karena tidak dapat terbaca/kabur.

· Tata cara Penerjemahan

a. Proses penerjemahan naskah lontarak dilakukan secara runtut, sesuai dengan urut-urutan nomor yang tercantum pada bagian transliterasi.
b. Pen~rjemahan dilakukan atas kata demi kata, kalau tidak mungkin,
m.aka penerjemahan dilakukan .Persatu .kalimat.
c. Jikalau terdapat istilah d~erah Bugis yang perlu dibcri pcnjclasan, maka istilah bersangkutan digaris bawahi dan dibcri tanda bcrupa nomor yang dibubuhkan secara berurut. Misalnya: Petta Malampee
1 2 3. Gemmekna Matinro -e-Ri B,ontoala Penjelasan dimaksud, dituliskan pada bagian catatan ICaki (foot note).

d. Apabila ada terjcmahan yang dipandang perlu adanya kata tambahan untuk mempcrjclas arti dan maknanya, maka penjclasan tambahan terscbut dituliskan langsung dalam tcks, namun dilctakkan dalam kurung. Misalnya, dalaro. lontarak tcrtulis: na-luttu na Malampee Gemmehza datu Botto Arung Bila lao ri Jawa (maka terbanglah Malampee Gemmekna ( dan) Datu Botto (serta) Arung Bila ke Jawa). Proses penerjemahan naskah lontara k dengan tatacara seperti itu diharapkan bermanfaat bagi para pembaca untuk memahami kandungan isi naskah, tanpa adanya kesulitan apapun.

II TRANSLITERASI

A. IY A NAE SUR EK PO ADA ADAENG NGI TANA E RI SOPP ENG 00 l. lya nae surek poada adaeng ngi tana e ri Soppeng accapu na nat te e ri Galigo I
002. Na welain na Sewo Gattareng I Noni mabbanua tau e ri Soppeng I Na ia to Scwo· e iya na ri aseng to Soppenriaja I Na ia to Gattareng nge ia napo aseng Soppenrilau I
003. Aga na na cnneppulo na matoa Soppcnrilau Soppenriaja I Nae napaddua ni ale na to Soppeng nge I
004. Lolloc I Kubba I Panincong I Talagae I Riattassalo I Mang kuttu I Maccilc I Watuwatu I Akkampcng I Padduisen na Soppenrilau I
005. Na ia Pesse I Pising I Launga I Mattobulu I Ara I Lisu I Lawo I Madcllo RilatJ I Tineo I Padduiscn na Soppenriaja I
006. Na ia Cenrana I Salokaraja I Malaka I Mattoanging I Ilaleng Soppcttopa I la na padduiscn na I
007. Na tallapi na to Soppcng nge I Na dek na puwan na mungga na te e ri Galigo I
008. Na ia mani matoa 6 enneng nge pulo na paotok palewuk i tana e I

Na manwun na matoa Tineo I Jennappesse I Angkan na pak duiseng nge to Soppenriaja I Napo adas si matoa Ujung I Matoa Botto I Matoa Bila I Makkeda e engka ro manurung ri Sekkan nyili I

  1. Nae makkeda i Arubbila I Matoa Botto I Matoa Ujung I Madeceng ngi ta paisscng ngi pak duisen na Soppcnrilau I Matoa Salotungo I
  2. Na kado i pak duisenriaja I Nassi turusi ni suro e tampai wi I Puraik kuwa engka ni matoa pak duiscnrilau e I
  3. Makkeda i ma tow a e Soppcnriaja I Engka manurung ri Sekkanyili I Na pekkuwarek sosso tangnga mu I
  4. Makkeda i matoa e Soppenrilau I Ma deceng ngik lao takkareng ngi ale I Sarekkuwanuneng ngi mamase ammi puwang nge I na iad dongi ri temmatippak kik I ' Mpawa ik ri mawek ri mabela I
  5. Na mau na pattarom meng nateai wi ta tcai toi I Puraikkuwa I Lokka ni matoa e enneng nge pulo na I 0 l S. Lattuk ni ri to manurung ngc ma to a e enneng nge pulona Makkeda ni matoa Ujung I Matoa Botto I Matoa Bila I
  6. Ia na ki engkang mai e lamarupek e I Ma elokkeng mu amaseang I Ajak na muallajang I Na iko na ki popuwang I
  7. Mu-dongiri tem-matippak-keng mu-salipu-ri tcm-madingik keng I Na iko na puwak-keng ri mawek ri mabela 6 I Na mau-na pattarom-meng muteai-wi ki-teai muto-nisa I
  8. Makkeda ni petta manurung nge ri Sekkannyili I Tem-muba leccorep-pak I Temrnu-adduan-nawanawa-pak I
  9. Siceppa ni ma to a 6 cnneng nge pulo na petta manurungnge ri Sekkannyili I
  10. Makkeda to-pi petta manurung nge ri Sekkannyili I Engka to-tu sapposisek-ku manunmg ri Libureng I Ma-deceng ngi mulibureng-ngale iko to Soppcng nge I Ku-duas-sappa-rekko deceng mennang !
  11. Na-ia datu Soppenrilau I Nai iak datu Soppenriaja I Mupa situru tangnga mu-lao mu-ala-i I
  12. Puraik-kua I Lokka ni matoa e enneng nge pulo na lattuk ri Libureng I Kuwa ri ascng ngc Gowarie I
  13. Na-pole-i-ni to manunmg nge ' tudang ri balubu naddeppa ri e I
  14. Makkeda ni matoa Ujung I Matoa Bila I Matoa Botto I Ia na mai ki-cngkang larnarupck 6 I Ma-elok-keng mu-amase-ang I

Ajak na mu-allajang I Na iko ki-po puwang I Mu-dongi-ri tem-matippak-keng I Mu-salipu-ri temrnading ik-kcng I Mu-wesse i tem-makapak-kcng I

  1. Na iko puwak-kcng ri mawek ri mabcla I Na mau-na nan1meng na-pattarom-meng mu-tca-i-wi ki-tca-i mato-ni-sia I
  2. Makkeda-i manurung nge ri Gowari c I Tem-mu-baleccoreppak / Tem-mu-adduan-nawanawa-pak I Si-kadon ni ada e I
  3. Ia na ro ri ascng akkulu ada ngen-na to Soppeng nge na puwan-na lattuk ri to ri munrin-na I Datu c ri Soppeng na-to ri munrin-na to Soppcng nge I
  4. Apak ia tek-ke anak na-pa puwat-ta manurung ngc ia dua I Matoa Botto I Matoa Ujung I Matoa Bila po-ada ada nas-situru matowa e enncng nge pulo na I Ada massu ada ri lelassoppeng I
  5. Na-e ke-anak ni ia dua engka ni Pangepak e paddanreng nge I
  6. Ia nassituru si datu e ri Botto Arnbbila Datu c ri Ujung ala gauk ri lalessoppeng ala gauk massu I Ala ada ada ri lalessoppeng ala ada ada massu I Ten-ri ulle na giling ngi ri padan-na to Soppcng apak ri po-adek i-s ia apak ri-po puwangngi I
    B. IA NA-E SUREK PO-ADA ADA-ENG-NGI NA-LAO SU ARUNG APPANANG ARUNG BILA SI-LAONG TO SOPPENG-NGE
  7. Ia na-e surck po-ada ada-eng-ngl na-lao su Arnng Appanang I Anmg Bila si-laong to Soppcng-ngc-ia scllisck enrcng ngc ia to-pa !iii e engka e muarmep-pa tel-Jao ma-rola ri -Bakka e ri-pasi-laling lao ri Gowa/
  8. Na te llum-pcnni pura na ma-nganro ri Manrai ri Lollo ri Kaluku e na-sosok Jao ri Tcllek Arnng Bila Arung Appanang to Soppang-nge ia selli sek I
  9. Na-si duppa-na ri Ulu Batu pattoana-na Lombasak Bungoro Nala ni Arnng Bila Arung Appanang pattoana-na Lombasa Bungoro.
  10. Na-lao-na monro ri Tcmmaroja Lapanyanya Duampidang-nge I Lattuk na-na- tuang ale .na to Soppcng-ngc lao alau I Natingarai Cempa-Ccmpa I
  11. P appa i baja c ri duwam-penni c I Mattebbak ni Arung Appanang Arung Belo si-laong Dacng Pabilla cnreng-ngia to Siang-nge na to Barrasa e I Engka tona sia mate I

Engka to-na rangen-na Daeng Pabilla Arung Belo mate I Na la-ni Mallewa Daeng Pabilla I Nala to-ni to Soppeng-nge Bangkali I Kaluku I Bollopangai I Nalani Lambasa I Cempa-Cempa I Biringngereng I

  1. Pappa ni baja e ri-ma-tellum-penni e I Engka manet-toni to Barrasa e I To Siang nge I Daeng Pabilla I Kuwa 6 to Soppeng nge I
  2. Ma-ega na tau mate I Ma-ega-to na ri-ala ri to Soppengnge tau decen na Barrasa I Siang I Na-sau-ren na Barrasa I Siang I Mcnrek ri bulu na Lalisang I
  3. Pappa ni baja e ri-ma-duam-penni e I Na-assuas-si alena ten-ri taro mallappa ri to Soppeng nge I
  4. Apak labu ni'esso 6 ri ma-duam-penni e I Lai ni ale na karaeng nge ri Barrasa ri tella e Karaeng A Jiu I Jnappa ni na-tihro si ri Gow a I
  5. To Barrasa e manganro ni lao ri pangkajene Widappasa e ri Citta si-laong Bolong nge ri Lompulle I Na-la ni La Pa -jikkiri ri Belo Bontomatekne I Lesang Bakkae ri Marioriwawo I Na-la ni Arung Bila I
  6. Manganro ni Bµrra sa I Siang I Ku ni ri Ujung Bulue mujung ngi bcssin na na-pa-ewa e to Barrasa e to Siang nge na wawa i ri Arung Bila_ri Arung Appanang I
  7. Na Lasilatu asen-na alamcng mana 6 ri Appanang ri garuwang ngi tuak e na inung ngi to Barrasa e I Na-tanro i alena maccuccu-piu I Dek ompo wija-wijan na nacrckko na wclai wi dat:u e ri Soppcng I Kuwa e Malampe e Gemmekna na-nging ki raukkaju Barrassa Siang I Dek ma-sala ri suroang ngi I
  8. Na siarek mua csso na na-ngka suro na Malampe e Gemmekna si-laong Ambara Sepclcman melorang ngi ri pa-no ri kappalak e to Barrasa e to Siang nge ajak cngka mu-taro ri wanu-wam-mu I
  9. Makkeda i Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo ri suro na Malampe e Gemmekna ma-elo manek-keng matu ' nrewek lao ri Bena.mo I Apak pura ni musu ta I Pura-to ni bicara ku I Barrasa Siang I Na tanro i ale na maccuccuppiu dck ompona ri mata jarung wija wijan na ala 'mewa-eng ngi datu e ri Sopcng kuwa e Melampe e Gemmekna I
  10. Apak ia ki-alang ngi apcttung bicara Siang monro e ri wanuwan na I Ki-po-anu makkalcpu i lattu ri to -ri munrin na Petta ri Soppcng ri Bone/
  11. Dek Ma-sala ri suro-ang ngi I Elok na clo datu e ri Soppeng enreng-ngia Arumponc I

M akkeda-to pi Arung Appanang I Arung Bila I Arung Belo I Ia to papperi-periwik-keng lao manaik na-asen na suro ten-na karawa Benamo to Bone uleng ri monri e I

  1. Apa nonno ni tonang to ri suro e I Arung Appanang I Arung Belo / Kuwa e to Soppeng nge ia sellisek na-sompek lao inanaik ri Benamo I
  2. Sita ni Malampe e Genunekna ri Benamo I Makkeda i Arung Appanang I Arung Bila ri Malampee Gemmek na ri tana e ri Benamo ia Karaeng Barrasa I Ia Arung Berruriajae I Ada Ugi I Ku-pa-nganro sa tunruk maccucuppiu I Na ia Arung Berurilaue Ada Ugi I N a-engngcrang muanneng ngi sia asseajingen na Beru Soppeng I Beru pole Soppeng Su I
  3. Inak ku-pik ri Juppandang sita ko-to ri -wer6ng tanroiwi ri dewata e mala i Juppandang I Kuwa e nepo I Suppa I Ku-mato pik ri Juppandang sita I
  4. M akkeda i Arung Bila I Arung Appanang I Ada nap-paseng-ngeng-nge ri anakdaran na ri sapposisenna I Ia si ceppa na akkuluadangem-meng arumpone kuwa e mattanam-meng ri Pattiro idik-keng pole ri Angke ten-ri legga warekkem-meng I Ten -ri tettek limam-meng I Angka ulem-meng idik-keng pole ri Angke I Angkan na-to sappowekkatcllum-mcng I
  5. Na ia akkuluadangem-meng I Ia na na-tetto ngi dewata se uwa e I Tes-sisala kalesso e I Tes-si belleang nge I
  6. A ga ki-pura mana siceppa ki-nappa joppa I To Bone sitin ro Malampe e Gcnunekna mola ma-naik ri Bulukumpa angkan-na Benamo/
  7. Idik to Soppeng nge mola i Beru I Tanete I Lalo ma-naik angkan na Barrasa I Aga nangka to Soppeng nge beta i Beru ri aja /Ada Ugi I Nangka-to na to Soppeng nge pa-rola i lao mam-musu arung Berurilau e I Ada Ugi I Apak idik to-nak kcng mala i ( ... ) ri Gowa I
  8. Id ik to-nak-kcng tosopp6ng ng6 beta i ri awang Segeri ri attang Segfai I Barrasa I Siang I ldik to-na to Soppeng nge pa-rola i lao manunusu ri Gowa Lambasa Bungoro I Idik tona to Soppeng nge pa-rola i lala i ri alliliren na ri Gowa angkan na Beru wirin-ri attan na palili na Gowa ki-b6ta e en reng ngia ki-pa-rola e lao mam-musu ri Gow a ikkcng-to na to Soppeng ngc I

NAE SUREK PO-ADAADAENG NGI ADA NAP-PASENGENG NGE DAOKE

  1. Ia nae surek po-ada-aI Anaure na nala e aseng Anmg Bila ri ascng nge Weoke Ia na ku pasengek-ko adan na Malampe e Gemmekna I Si tudangen na Petta ri. Soppeng ri bola ri ukik e ri Bontoala I Na pakkulik-kuling ngi mennang Malampe e Gemmck na nappascngeng nganak I
  2. Na na-po ada i Petta ri Soppeng mak-keda e rekkuwa engka wijan na anakdaran na Anmg Bila I Arung Appanang I Ia to Angke I Rekko engka bicara tuju i I Map-pattuju arek gi bicaran na na-tea Soppeng po sarang ngi waramparan na I Ajak nangka ' lawa i lao ri Bone na Bone sappareng ngi waramparanna I
  3. Mak-keda to-pi Malampe e Gemmek na ri Petta Matinroe ri Adatunna I Bone mua massamaja na ikkeng po-deceng ngi to Soppeng nge 'sompek e lao ri Jawa I TAMAT I
    D. IA NAE SUREK PO-ADA-ADA-ENGNGI SITUDANGEN NA PETTA MATINROE RI ADATUNNA NA PETTA MALAMPE E GEMMEKNA
  4. Ia nae Surek po ada-ada eng .ngi si tudangen na Petta Matinroe riadatunna na Petta Malampaee Gcmmekna ko i ri Bontoala I Pura na rumpak Sombaopu nal-lappa na tana e ri Gowa I Natokkon na pasoren na Malampee Gcmmekna I
  5. Makkeda i Malampee Gcmmck na ri Matinro6 riadatunna I Ia poadang ngik puwang ngarajan na karacng ng6 ri Gowa ia mancng ku-po atanang maneng ngi ri lclcmpulu I
  6. la to-pa ku-po ada puwang to Soppeng ngc kuwa e to Bone Ten-caji ni elo na karaeng ngc I Elo ku ma-ni sia 610 I Marola mani sia I
  7. Ke-anynyarang palari ri Soppcng datu 6 ri Marimari I Datu e ri Citta I Datu e ri Lompulle I Na ia ri saliwcn na 6 tem-mak-kulle mak-ke anynyarang palari !iii nae Soppeng I
  8. Marola to ni ri Bone I Mak-ke anynyarang palari datu e ri Pattiro I Arung Palakka I
  9. Ku-ni ro na pascngcng ngek-keng puarn-meng ri pa-si tudangen na to Soppeng nge to Bone na pura 6 nunpak Sornbaopu I
  10. Tcn-na ri tokkong gallarcng ng6 anynyarang palarin na I Ata ri bola na tau we s6-kuwa 6 ro Jattuk ri anak eppo na ri anakdaran na Malampe e gemmekna I Na ia to na-sa ri appasak biang ri

e I Tanrat ta tcm-makkoja mak-katcnni ri otit-tana e ri Marimari si laong Batuputc lattu ri-to ri munrin na I Na ia anak eppo na Matinro e ri Bontoala I Narauk kaju tanae ri Attassegeri ri Awasseg6ri I TAMAT I

E. IA NAE SUREK PO-ADA-ADA ENG NGI RI BETA NA RI CILELLANG
068. Ia nae surck po ada-ada eng ngi· ri beta na ri Cilellang ri Arung Bila I Ri Arung Appanang I Ri Arung Belo I Lao ri Mampu i sa maddeppungeng bate ia mancng mappcsau I Na-si tawa tawan na tettongeng bate I

aseng paranika I

  1. Na ia Cellak-Cellak e ia na ri Lisu tettongen na I Pengek na lao maniang Kalauna I Ia Kekei nala ni tettongen na Bakka e ri Soppeng I Na-la to-ni sia tettongeng bate La Bolong La Paidara Balosu I Na ia Maggalung na-la to-ni sia tettongeng bate Lombong nge Lompulle I Na ia Bakka e ri Mario na-la to-ni sia tettongeng bate Kecca e I Na ia Lapaniki ri Belo na-la to-ni sa tcttongeng bate Ciniajo I Ia mato ri
  2. Na ia mua sin na dek tettongen na W idappasa e ri Citta ri Awassegeri ma deceng ngi sullewatang Ta-tettongeng ngi Widappasa e ri Segeri I 071. Mak-keda i sullewatang nge ri Citta ajak na-iya ritu ku wa-e pabbicara mu-jampa ngi I Mu-ascggi lomo lomo timangenna liman na karaeng nge I
  3. Pappa i baja e I Lao ni ma-naik to Soppeng nge ri attas salo I Ri-buan ni ri karaeng nge ri !au Mangkaca I Lari ni Lattuk ri Arung Bila ri Arung Appanang ri Arung Belo makkeda engka ni bali e ri Attassalo puwang I
  4. Ma-pella ni Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo na ten-na pak-keda na padan-na to Soppeng makka i Lapaccalla La bolong Lapaidara ri attan-na pattelaseng ri wiring salo e I
  5. Pappa ni baja e I Mattebbak i Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo karaeng nge ri Mangambei I Karaeng nge ri Manise I Karaeng nge ri Marrang I
  6. Tuju warek i esso e engka ni takkappo Bolong nge ri Lompulle I La Pajikki ri Belo I Bakka e ri Mario I Widappasa e ri Citta I Cella-Cellak e ri Lisu I

Ri-buwan-ni Mangkasa e I Ri-wetta ni passalingan karaeng nge ri Manise I Manippek ni jowa na I Lari ni Karaengnge ri Mangambei I

  1. Lao mani ri-paccera-kang Bolong nge I Lapaidara I La Paidda ' mpetta i pattaranak na to riala susun-na ri-wetta I Lebbi patappulo ri-pasi wetta I
  2. Passarom-mase rangen-na Arung Belo ri-aseng La Nangnga ' mpetta i Karaeng nge ri Manise I Tellu to Soppeng Riaja pawetta silaong pattar anak na Matinroe ri Salassa e (... ) aman-na Dalapi I
  3. Lebbi seppulo to Marioriwawo na-to Belo pa-wetta e I Mak biccam-pali wi anaure na sulletang nge Tobare ri Mario I
  4. Nala ni kalukue Appanang I Seppe ni ale to Soppengnge lao ale na Bolong nge ri Lompulle I Widappasa e ri Citta Bakka e ri Mario I La Pajikkjri Belo I 08 l. Na-la ni Balusu to Tanete I Ri-pa-nganro ni Karacng Marrang ri Arung Bila ri Arung Appanang ri Arung Belo ku-wa ri Pange-pange ri-aseng nge Robang nge I Ri-ala ni La Sepatu I
  5. Na-ri rampu alameng mana e ri Appanang na-ri garua angtuak na-inung ngi Karaeng Marrang ri lollong ri Kaluku e I
  6. Na-t~o ale na Ma-cuccu-piu I Dek ompo na wija wijanna dekko na-ewa i Soppeng I N a-nging to Soppeng nge na raukkaju Karaeng nge ri Marrang silaong tana e ri Marrang ri Lollo ri Kaluku e I Kuwa e tana e ri Kaluku e I Dek ma-sala ri-suro-ang ngi ri datu e ri Soppeng I Elo na elo datu e ri Soppeng I
  7. Apak ia mi ale na Karaeng Mangambe i ' mpelai wi Mangkaca ri ele e I Nak-ku si ri Papperang monro mattebbak to Soppeng nge Karaeng nge ri Labakkang I
  8. Si giling-kiling puppu esso e ri wiring ngalek e I Nadapi ni wenni tebbak e I Ma lalem-penni mani na rewek ri wanuan na Karaeng nge ia maneng/
  9. Ma pappa i baja e I Monro ni mappesau to Soppeng nge ri attas-Segeri I Na-la ni Bantosunggu I Kaluku e to Tanete I Nalan ni tettongeng Labolong Lapaidara Mangempang Riaja ri awan na Mangempang rilau-na Mangempang tuttungi wi pottana e lao ma-naik ri-angkan na Pitu e I
  10. Na-la ni ri-tettongeng Lapanyanya ri Talaka lao uraik I Na-la to ni ri tettongeng Lapanyanya Poppong Alu e I Na-la to ni tettongeng Lapanyanya Balang nge I Na-la to ni Lapanyanya tetongeng ri Atassafo-salo ri awang ri ajang na La-Topeok I TAMMAT I

NAE SUREK PO ADA ADA ENG NGI MULA RI-PA TETTONGEN NA RAPANG RI BERU SOPPENG

08 8. Ia nae Surek po-ada ada eng ngi mula ri-pa tettongen na rapang ri Beru Soppeng ri beta na Gowa ri lappa ri Sombaopu I

08 9. Ia na ri suro arung Beru arung Cibalu I Suro Alek e Tau Tongeng nge Tokebbeng I Ia na ri suro ri -to ri-sampa e I

  1. Mak-keda i Arumpone I Lao manek-ko mupassureng ngi atan na Daeng Mabela ri to Beru e I Na-la ni cuke tana na telluppulo tau ( ... )
  2. Mak-keda i arung nge ri Tancte I Ten-ri ala cuke na ana karung nge I T au tongeng nge I Aga na- poji ni na-po rio ni arung Cabalu tec-cuke eng ngi ana-karung nge I Na-kado i ni arung Cabalu adek na tana e I
  3. Mak-keda i I Ia na-tu na-ola aje na ' passu i aje na pauling ngi I Ten-na ola poada-ada I Lao ma-no ri Liu I
  4. Aga ten-na poadan ni arung Cabalu ana-karung nge I Tau Tongeng nge I Pura na na-tanro arung Cabalu I Upo-utanan ni rangek-ku na-la e cuke I
  5. Mak-keda i arung Cabalu I Rekko na-ma elo lao i wi I Na rekko me-lo kirang kirang ngi to Beru e to Bone manet-tu I Makku-ni ro tanro na arung Cabalu I
  6. Na ten-na paja mua maddua-rua to Beru e I Aga ri-pa lattuk ni ri arung nge ri Tanete ri Arumpone I
  7. Nak-keda na Torisompa e I Ku-tea-i-tu na-pinra pinra na taro e Arung Cabalu I
  8. N a-ri suro gellareng nge La Sapara ri Bone lao ri Beru I Na-leppan na ri Tanete ' pa-ka ingek i Arung Tanete ada na-po tanro e Arung Cabalu I
  9. Nak-keda na arung nge ri Tanete I U-enggerang mua tu ada na-tanro e Arung Cabalu lao na ri Beru I Enreng nge ia-to pa po-adang ngi arung Beru I
  10. Mak-keda i gellareng nge I Ten-na elorang ri kirang kirang Arumpone na-po tanro e Arung Cabalu I Ma-rola tana niri Bent I Na kegi-kegi monro ko mato i sia marola na/ TAMAT I

E PO-ADA ADA ENG NGI NA EWAN NA ADA SOPPENG PETTA MALAMPE E GEMMEKNA MELO MASSURO TERI WIT AMBORA

  1. Ia na e po-ada ada 6ng ngi na-ewan-na ada Soppeng Petta Malampe e Gemmek.na me-lo mas-surot-teri wi Tambora I Apa nagelli wi arung Beru ri aja e I
  2. Mak-keda i Arumpone ri datu e ri Soppcng /Ewa _i ada seajim-mu Arung Beru rilau e I Apak ia mua tek-ku pap-pada i Labbakang Lambasa lao na Petta Torisompa e ron-na mak -keda dek walek ken-na inin-nawan-na Anmg Bern rilau e I
  3. Ada Ugi I Ia mua tek-ku ri-wtta ri salassa ku ri munri mu I Laona ia ' dapiri-ak dua maranak ri tana e ri Soppeng I Tamat I
  4. Ia na e ada ( ... ) Arung Bern rilau e I Ada Ugi I Ri Petta ri -Soppeng enreng-ngi-a to-pa ri tana e ri-suro-ang-ngeng-ngi Toanuneng Toapasu I
  5. Mak-ked·a i Petta ri Madello I Lao mano ko Toanuneng Toa pasu kuwa ri Beru ri seajik-ku Arung Beru rilau e I Ada Ugi I Apak ia ritu tana e jaji ni ritu si-ampe I Dck na ma -be la asseajing-ngen-na I
  6. Ia a_sseajing-ngek-ki Bern rilau e I Ada Ugi I Ma-wek ni sia asseajing-ngek-ku I Ri laleng asseajing-ngek-ku tep-pebela i ri-ak I Nae rekko pada mua ma-rcngngerang ri ada to matoa ta I
  7. Apak-ia tu toammaeng Toapasu tem-me-lorang ngi ma-ja / Naleng-ngiak pa-si me-lo rang-ngi ma-jak I Apak ia u-warekkeng tem-ma Jere lattuk ri to ri-munrik-ku I Ia mua dapi ri wi Petta ten-na ri-wetta ri salassa na I Ten-na kurang lisek na Lamangile I
  8. Muka ia-na tu na-ia u-pa-ita i-ang ngi Toanuneng Toapasu ada nas-si-turu-si e Bone Soppeng I Ku-pada joppa I U-pada ' soe I U-pada onro I U~pada 'lete ri petau mak-jekko petau mal -lempu I Mal-lempu toggi mak-jekko toggi na ia ta-lcte i Ku pada tampu mangolo wali I
  9. Ia-na ro ki-warekkeng tc\n-ma !ere I Na uwae ma-raja pasipulung ngik na-si bokoreng kaliao na I
  10. Maddampu gajan-ni mak-keda Arung Bern rilau e I Ada Ugi Ita i Toanuneng Toa Ujung I Ri -wetta-gak ku-mate ri laleng eccak na tana e ri Bone ri Soppeng I Iak-kcnneng na-ngatta-ngem-mu karaeng nge tek-ku welai wi I Naleng-ngia pa-si as seajing-ngek-ku mu-pa-kainge-keng-ngak I Tamat I
  11. Ia nae surek po-ad a ada eng ngi pura na Torisompa e nasi tudangen-ri ale Malampec Genunekna Anmg Cabalu I

Malampee Gemmekna I Uwa-seng ngi Arung Cabatu Uwa-ses-sa mu-aseng tem-mas-sappa musu ta Karaeng nge I

  1. Apak uwa-seng ngi puwang ia pa malang-ngik paimeng de wata e rekko si -duppa-ik karaeng nge I
  2. Na ia-na puwang ku-akkeda ma-deceng ngi ta-ewang ada seajit-ta to Soppeng nge I Na si-turu adat-ta pa si-luttu-reng lao liweng ri Jawa I Apak dek u-wisseng tangngak puwang I Dua tellu ta-ewa si-luttu reng liweng ri Jawa I Sappa deceng I
  3. Apak ia asseajing-nget-ta to Bone ma-seng ngeng-ngi alena makka-siri-sang ngik ri Bone tau manen-ni I Apak ma-decem mua rekkua ma-teppek i inin-nawan-na seajim-mu to Bone misseng-ngi tau te na-timang ng} liman-na Karaeng nge I
  4. Mak-keda i Petta Malampee Gemmekna I Ia memen-na tu ku melo po-gauk Arung Cabatu I Nae mu-betta na po-ada i I Nae lettuk lalo ko uraik ri Soppeng I Apa ia u-salewek na-seng-ngai kaka-u Arung Apparang I Anaure ku Arung Bila I Seajikku to Soppe.fog nge ia sellisek tek-ku ingngerang-ngi wi ada assi-tarom-meng ki-si luttu-ran-na lao ri Jawa I
  5. Alak-ko gi a'ngattang-ngeng Arung Cabatu ada nas-si turu si Bone Soppeng na-wawa e Toballa ri Atapang ri mak-kedan-nari datu e ri Soppeng enreng ngia to-pa tana e ri Soppeng I Tatetteng-ngi wi asseajing-ngen-na tana e ri Bone tana e ri Soppeng I Ta-pat-tonra ola i dewata ri wawo dewata ri awa I Ta-pap-pangerek gangka uttu i ta-duppa bessi kaliao i Karaeng nge I Na jak ta-uru na-deceng ta-uru I
  6. Ia-to pa Arung Cabatu ri mak-kedan-na Toballa ajak nang ka ompo ompo na Bone enreng ngia to Bone rekko na welai-akko ada Soppeng Bone I Ia-na ro na-warekkeng Soppeng adan-na Bone nap-pa sabbiyang dewata I
  7. Nae ri-wetta ni Toballa I Na-ten-nat-tau manen-na maseng-ngeng ngi ale na mak-ka sirisang ngi Bone I ·
  8. Aga na-idik na engka to Soppeng nge si-turu sompe-rangngi lisek na Soppeng I Mala i bokong kaliao Arung Bila na sappa i bali maka
    'mewa eng-ngi Karaeng nge I Nae-kea ( .... ) Arung Cabatu I

  9. Ia na maka 'mewa i I Aga ki-engka na 'nrewek I Pappani baja e ri ma-duam-penni e sompek ni tao uraik to Soppeng nge Arung to Angke I Tamat/

NAE SUREK ·PO-ADA ADA ENG NGI LAO NA URAIK ARUNG APPANANG ARUNG BILA ARUNG BELO POLE NARITIWORO

  1. Na tellum-penni pole na ri Tiworo to Soppeng nge Arung to Angke I Makkeda i Arung Appanang ri Malampee Gemmekna / Mae-lok kak lao uraik ri Soppeng sappa i to Soppeng nge tas-se uwa e ta-si tinro-sang ngi lao su I
  2. Mak-keda i Malampee Gemmckna I Ma-decck-ko lao tellu I Na ia na ' koro ta-isseng ngi to Bone ma-elok e silaongeng ngik/To Bone ma-elok e silaong-ngeng-ngik mammusu I Te ri-wi Gowa 'mewa i Karaeng nge I
  3. Apak lao uraik ni ia tellu I Pappa ni baja e ko-ni mabbenni ri Goa I Engka to-ni to Soppeng nge I Pole uraik i to Soppeng nge I
  4. Nak-keda na Arung Belo Arung Appanang I Engka i to Sawitto e ri masigik e ri Soppcng puwang I
  5. Nak-ku na manre esso ri Paroto ri ajas-salo I Pap-pesaui to ma-ega na I Pat-tuju i ia tellu I Messa ni ia tellu I Lao uraik I Ku-ni ri Appanang na-labu esso e I
  6. Mat-tou tou ni lao uraik ri wirin-na salo e ri Mangkuttu nak-benni I
  7. Na denniarin-na I Sosok ni 'te ri Soppeng I Ku-ni rilau na Soppeng tudang tawa tellu i ale na I
  8. Arung Belo lao ri awan-na Malaka pcnrek ri cempa e Paranru tudang I Mangatta i to Sawitto e I
  9. Arung Appang ri Tanetc tudang mangatta I Anmg Bila mut tama ri Soppeng Rilau I
  10. Ma-rete ni langi e I Na ile-ni ale na tellup-pulo tau lao karawa i masigik e I
  11. Apa wajempajeng ngi lattuk ni ri baban na masigik e I Mak-keda ni ajak mu-takkini o seng-ngata I Timpakeng ngaktangek I Na ia na ata ri Sawitto SUTO e maddek lao tampai wito Sawitto e I Nap-peri peri ' nrewek mano I
  12. Apak na timpak ni tangek na masigik e monrowang-ngengngi tangek na rhasigik e I Nagajam-muni tas-seuwan-na to Sawitto e I
  13. Na-ma rukka tokkong I Si teppa-teppa buang ngi ale na/Lari I Mau pab-bekken-na saluarak na ( ... ) lariang ngi I Ma nippek maneng tettang parewa musu na monro e ri masigik e I

sullewatang nge ri Sawitto masigak na mua luwang ale na lao uraik puppungi wi wanuwa e I

  1. Ma-rukka ni Arung Bila ri appasareng nge ri Soppeng I To ma elo na T oballa pa-wetta ri tengnga na wanuwa e ri Soppeng
  2. Apa engka ni to Sawitto e pokkongi ale na I Engka mellemba ritu pallawangen na Belo Appanang I na ola'lari ri awa na wanuwa e I Na-welai ni galung nge I
  3. Ri aruppan-ni ri Arung Belo ri Arung Appanang I Tas-sea sea ni ' lari I Ri tippan ni aje na ri Arung Belo ri Arung Appanang I Angkan-na ri ajan-na Tineo ri ola ri-wetta I
  4. Nak-ko mana ri ajang Tineo ' nrewek to Sppeng nge mangngaruk ri appasa-reng nge ri Soppeng I
  5. Lebbi siratu ulu ri-angaruk-kang ri olo na Arung Bila ri bulu e I Tampai wi to Soppeng nge tel-lao e ri lalingnge lao ri Gowa I
  6. 'Nrewek ni lao· alau ri Pattiro Arung Appanang I Arung Bila I Arung Belo I
  7. Pappa ni baja e I Ko-ni ri Goa-Goa monro tellum-penni I Tajeng ngi to Soppeng nge I ·
  8. M ak-keda ni Arung Bila I Arung Belo I Arung Appanang I Ma-deeeng ngi rekko. tapo ada ri Malan1pee Gemmekna rekko lattuk-kik ri Pattiro I
  9. Na-ewa i ada arung to Bone engka e muanneng lao ri Pattiro I Rekko ia mua ( ... ) nab-biang ngi warekket-ta ten-na peppek i lao limat-ta I Ma-elok munak-keng si-laong Petta ri Soppeng I Na-ri ases-sia lao liman-na I Na-seng to rimunritta I
  10. N a-e rckkua tcn-na-kado-i wi adam-meng to Bone I Ma-elo manak-keng monro ri Soppeng I Tek-kul-le na lao ma-bela I
  11. M ak-keda i Arung Appanang I Mu iak mak-ko ma-to tangnga ku I Na-iko na ' mewa i ada Malampee Gemmekna I Apak ma-rapek ko-sa tu iko duwa I
  12. Na e na-rekko na-kado-i wi adat-ta to Bone ' nrewek manik-sa ri Soppeng I Are na-wereng-ngik dewata e I Dek tonasa ten-na buruk Soppeng I Na lao na alau I
  13. Pappa bi baja e I Lettuk ni ri Pattiro I Ompo lolo-ni uleng nge I Tamat/

I Arung Bila I Arung Belo I

Nak-keda I Pole nak-keng ri Soppeng puwang I Ki abbuang-ngi to Sawitto e ri masigik c ri Soppeng I

  1. Mak-keda i Arung Appanang ri Malampee Genunek na I Mutama wennik-keng ri Soppeng lattuk mai urai ri Appanang I Engka ni to Sawitto e ri masigik e ri Soppeng I
  2. Na denniari mani ki -te-ri wi karawa i masigik e ri wajem-pajeng nge I Ki at-tebbak na I Ri Ajang Tineo ri ola ri wetta ri To Soppeng nge /Na-ma loga duas-sebbu to Soppeng molai wi I
  3. Mak-keda i M.alampee Gemmekna ri Arung Bila I Engka mupa tau mu-taro ri Jappa e ri Soppeng I
  4. Makkeda i Arung Bila I Dek na puwang I Jonga em-ma ni si-laong bawi e I Monro ri pa-rclle-sen na wanuwa e I
  5. Cukuk muni pctta tak- kajennek I Tettik uwae matan na I Ming-ngerang-ngi wi ri leccorin-na ri to Bone na-luttu lao ri Jawa I
  6. Makkeda i Petta Malampee Gemmekna I Pckku arek i rekko pas-seuwa muni ale ta lao maniang I Ta ulle mua terek i Benamo I Ta pole ri -attang-ngi wi Gowa I Na tuttung-ngi wi wirit-tasik e kappalak na B alanda e lao mano I Ta ma-wek to mal-labu I
  7. Mak-keda i Arung Bila I T a ewan-ni ada ri olo puwang arung to Bone I Na engngerang muarck ga ada na-wawa e T oballa ri Atapang I Mas-samaja na Bone deceng ri Petta ri Soppeng I Enreng ngia tana e ri Soppeng I
  8. Nae rekko na-engngeram-mui taro ni puwang ta-ewa sitelli ta-si pak-keda ma-tettek I Na baran-na tap-pada elo-ri I Apa ia u- salewek si- leccoreng nge paimeng nae pa-tau 1maneimi to Bone ri Karaeng nge ri Gowa I
  9. Mak-keda i Malampee Gemmekna ri Arung Cabalu I Ewa-i ada lili si-memengen-na e Bone Riaja Rilau Bone Tengnga ri Laleb bata I Gangkan-na ' ngka e lao ri Pattiro I Na-~ngngerang are ga ada na-wawa e Toballa ri Atapang I Massamaja na to Bone deceng ri Petta ri Soppeng ri kaka-u Anmg Bila ri aman na Wedima I Enreng ngia tana e ri Soppeng I
  10. Lao ni Arung Cabalu si tudangeng arung to Bone I Makkeda ni Arung Cabalu I Ia na-suro-ang ngak Petta Malampee Gemmekna I Ia Jili si -memengen-na Bone Riajang R ilau I Bone Tengnga ri Laleb-bata I Na-engngerang muannep-pa ga ada nawawa e Toballa ri Atapang I

Bone deccng ri Petta ri Soppeng enreng ngia Arung Bila ri aman-na Wedima enreng ngia ri tana e ri Soppeng I

  1. Na ia to-pa na-suro-ang ngak Malampee Gemmekna I Ada matettek mu me-lo e te-ri wi Gowa I Bali wi mallumu mewa-i Karaeng nge I
  2. Mak-kcda ni Bone Tengnga Riajang lili ri Lalebbata I Tekki ella-ellau ri dewata e Arung Cabalu ' mpelai-eng ngi ada na wawa e Toballa ri Atapang I Engreng-ngia mallupa-i manengngi ulu ada ceppa na Bone Soppeng I la nas-si-turu si-e Malampee Gemmekna seajit-ta to Soppeng nge Ceppa e ri Atapang I
  3. Na-mu na-gi na-mu na-gi na-seng puwat-ta todongi wi I Mere-ki wi ulu adan-na Bone Soppcng ri Atapang ia-na tu ' kuwa I
  4. Makkeda si Arung Cabalu I Tern-mu abbaleccoreg-ga Malampee Gemmekna I Ku-wa c scajim-mu to Soppeng nge Arung to Angke I Ted- duwa nawa nawa ko I Apa ia nak-salewek seajim mu to Soppeng nge I Arung to Angke I Ri-baleccoreng nge paimeng
  5. Mak-keda si to Bone Ia-na ro nas-sama turu-si e /Mellau i ri dewata e I Tep-po gauk eng-ngi wekka-duwa 'pa-luttu eng ngi Malampee Gerrunekna ri Jawa I
  6. Inappa ni 'tc ri salassa e ri Pattiro Arung Cabalu ri Petta Malampee Gemmckna I Palattuk i adan-na ro Bone I
  7. Mak-keda i Arung Cabalu ri Petta Malampee Gemmekna ' palcttuk i adan-na to Bone I Mak-keda i Arung Cabalu ri puwatta I Ia nae ada ma-tettek na si-Bone to Bone Allcbu na I Nas sama turu-si e I
  8. Id ik mana ' pa-kaingek i Bone I Mewa i ada seajit-ta to Soppcng nge Arung to Angke I Na-mu gi na-mu gi na -ia ta- seng todo-ngi wi ' mere ki ada na-wawa e Toballa ri Atapang I ia-na tu ku-warekkeng I 16 8. Mak-keda ni Petta Malampee Gemmekna I la na tu ki -wa rckkeng tern -ma !ere I Idik-keng to Soppeng ngc pole ri Angke I la to na na-tettongi dewata seuwa e Arung Cabalu I Adama-tcttek na Bone I Na-engngeran-na muanneng ada na wawa-e Toballa ri Atapang I Tet- tak-ka lupa na ri ulu ada ceppa -na to Soppeng nge ri Atapang I
  9. Al a ' kuwa gi angattangcng ki -si turn to Soppeng nge Arnng Cabatu I 'Mpela-i wi Tana Ugi I la na mua si-turu To balla Petta ri Soppeng I Tampa-i wi mak-kulik-kuling Arung Matowa e ri Wajo I To Wajo e ' mola-i lamumpatu c ri Timurung ' messe ki wi at-tellum-pocco-na Bone Wajo Soppcng ta- ewa i Karaeng nge I

Na tea to Wajo e I Na lao sia ri Karaeng nge I Na-balec co-rek-keng to Bone I Ki a-sau-ren na ri Karaeng nge ri Gowa Aga-ki-sompek na ri Jawa I peng sola-lisek I Mau datu e ri Soppeng ma-ra-nak mal-lai bini ma-nippek-to na ri-laling ri-wawa ri Sanrangeng I

  1. Mak-keda i Arung Bila ri Malampee Gemmekna I Ten-najana to Bone I Samaja-i-ak-ko deceng dua kaka mu 'ncajiang-ngen ngak puwang I Tet-ta sope-rang ulawen-na tana mu ri Soppeng/ Nae Bone mak-keda dek ri awa dek ri wawo to-ewa i Karaeng nge I
  2. Ta-si sappa-rang dcceng I Na ia rekko ta-timan ni tao liman-na Karaeng nge I Ta-pada ' po-anu i ak-ke-anut-ta I Tes si- bawam-pawang ngik/
  3. Ia na ku-warekkeng tem-ma Jere tana mu ri Soppeng ia to nat-t•jengeng to-ri munri I
  4. Pura ni leppek adan-na Arung Bila I I nappa ni Mangaruk mak-kedang-ngale na I lta ni matti oroane tel-lao soro e ri limpo ri tengnga padang I Ri-wetta-gak sia ri lalen-na jaktana e I Talle talle-gak I Ia mua matti puwang na-engngeranna muanneng seajik-ku to Bone ada na-wawa e Toballa ri Atapang I lak-kenneng bela nang-ka mua-pa ki-welai tck-ki arcn naja-ngi sungek-ki I Na-Ieng ia -pa sia dck na ki-pole i I
  5. Luppek ni mang-ngaruk Arung Appanang I Ia mu-to angngau wang ngale na Arung Bila na-po ada I Luppek ni mangngaruk arung Belo ri-aseng nge Tosaddeng I la mu-to angngaung ngalena na-po ada e I Ri-na enggeran-na ia muanneng na-po ada deceng nge ri tana e ri Soppeng I Enreng ngia ri datu c ri Soppcng I Kuwa e ri Arung Bila ri Soppenriaja I Tamat I

    I. LAKKEK-LAKKEK NA WIJA TO MANGKAUK E

  6. Tania ku-po ma-busung I Lakkek-lakkek i wija to mangkauk e I Latemmamala asen-na manurung nge ri Sekkanynyili I la to na datu ri Soppenriaja I Ia na si ala We Mapuppu I Anak ni La Maracinna I

  7. La Maracinna Mab-bawine ri Suppa I Si ala We Patawari I Anak ni Lamba/
  8. Lamba mab-bawine ri Balosu I Si ala Patimanratu I Anak ni We Takkewanua I
  9. We Takkewanua I mal-lakkai ri Leworeng I Si ala Arung Leworeng ri-aseng nge La Temmapco I Padaoroane na La Kanradu I

I Anak ni Makkanengnga I Anak ni La Dwnola Anak ni La Tumbcng I Anak ni We Baku I Anak ni Tenritabbire I Enneng ngi se-ina se-ama I Eppak orowane I Dua Makkunrai I

  1. La Makkanengna Datu ri Soppenriaja I Tenri Tabbire namal- lakkai ri Baringeng I Si ala La Panyonrongi I Anak ni La Tenrilele I Anak ni La Terengang I Anak ni La Tessepala I Anak ni La Karekkeng I Anak ni W e Linro Taji I Anak ni Date mata I
  2. La Makkanengnga mab-bawine ri Bulu Matanre. I Si ala We Tellang I Anak ni La Karella I
  3. La Karella mab-bawine ri Bila I Si ala massappo siseng ri aseng nge We Bollosugi I Anak ni La Wedda I Anak n.i La Wi seang I Anak ni La Matagina I Anak ni Tanraure I Anak ni We Bao I Anak ni We Bulutana I Anak ni Tenlipalese I
  4. La Pawiseang si ala W c Tcnunupage ri Pi sing I Anak ni La Pasampoi I Ia ma-to ri aseng Sorompali e I Anak ni La Panyorongi I Anak ni La Patau I Anak ni La Warani I Anak ni-We Takkelopi I Anak ni We Tappucinna I
  5. La Pasampoi mab-bawine ri Baringeng I Si ala We Tappatana I Dawiri asen-ri anak na I Anak ni La Manussa I To Akkareng nge asen-ri anak na I Ia ma-to ri ascng Matinroe Ri Tanana I Tellu i si-na si-ama I
  6. Matinroc Ritanana La Mannusa si ala massapposiseng riaseng nge We Takkelopi I Anak ni Ladeng I Anak ni Lancong I
  7. La Wadeng si ala We Lulu I Anak ni La Pasajo I Anak ni La Galumpang I Anak ni We Bollosugi I Anak ni Tenrisapungeng
  8. W e Bollosugi na si ala massapposiseng ri aseng nge La Karella I Anak ni La Makkanengnga I
  9. La Ma'galumpang si ala We Cakkewanua ri Baringeng I Anak ni La Pasoreang I Anak ni We Lu I Anak ni We Benrigau I
  10. We Wulu si ala La Paccikkeng Soppeng Rilau I Anak ni La Pottobune I Anak ni La Padangkang I Anak ni La Pammase I
  11. La Pottobune.si ala We Takkclopi I Anak ni We Temmagwnpa I Na-si ala massapposiseng I Si ala La Manussa I Anak ni La Deng I Anak ni Lancong I
  12. La Deng Mab-bawinc ri Marioriawa I Si ala Temmabuleng I Anak ni La Sekati I To Sawammegga ascn-ri anak na I Ia mato ri aseng Mallajang nge ri Asseleng I Anak ni La Mataesso I Ia ma-to ri aseng Puwang Lipu e I Anak na La Wale I la ma-to ri aseng Massanra Upe I

I Ia ma-to ri -aseng Teakkateru I Anak ni Topateddungi I Dacama aseng ri anak na I

  1. La Sekati mab-bawine ri Lompengeng I Si ala We Soda I Darie asen-ri anak na I Anak ni La Makkateru I Topeo asen-ri anak na I Anak ni \Tenrisamareng I Ia -ma-tori aseng Matteddun1pulaweng nge I Anak ni La Malalae I Anak ni La Mapulu I
  2. We Camang mal-lakkai ri Ajampulu I Si ala Karaeng Loe I Ia ma-to ri-aseng La Sangaji I Anak ni La Saliwu I
  3. La Makkateru mab-bawine ri Bila I We Tenrisuke I Anak ni La Pababbari I Anak ni La Temmu I
  4. Pollipue mab-bawine ri Ganra I Si ala Tenriunia I Anakni La Mappaleppe I Ia ma-to ri-aseng Patolae I Anak ni We Pawepe I Anak ni We Mappamadeng I
  5. We Paweppek na mal-lakkai ri Mario Riawa I Si ala La Page I Anak ni La Mappalalae I Anak ni La Panaungi I Anak ni La Pateddungi I
  6. Tellarien-na si ala La Sape I Anak ni We Tenunatino I Da oke asen-ri anak na I Anak ni We Makkunraiselli I
  7. We Makkunraiselli mal-lakkai ri Citta I Si ala Topeo I Anak ni We Tenrijeka I
  8. We Tenrijeka mal-lakkai ri Panciro I Si ala Mapae I Anak ni Tenrisolong I
  9. We Tenrisolong mal-lakkai ri Bila I Si ala Toipa I Anak ni La Musu I Anak ni Tokessing I Anak ni Toa Tuppuang I Anak ni Rajamuliang I Dalale asen-ri anak na I Eppa i si-na se ama I Patolae datu ri Soppeng I Tellarie Arung Ganra I
  10. We Paweppek na mal-lakkai ri Saogenne I La Pangideng arung ri Salotungo l Na-mana to-i ri Sao Lampe I Ia ma-to mangepa ri Soppeng I Ia ma-to Malampee jangkok na I
  11. Patolae mab-bawine ri Pattojo I Si ala massapposiseng I ri aseng nge We Tessiewa I Anak ni We Panyai I Anak ni Beowe Anak ni We Tenrigella I
  12. Beowe datu ri Soppeng I Na-dck anak na I
  13. Mal-lakkai wi ri Mampu anakdaran-na Beowe ri-aseng nge We Tenrigella si ala arung nge ri Mampu ri-aseng nge Toaddusilla Toaki I Aseng ri-anak na La Tenribali I la ma to ri-aseng Matinroe ri Adatunna I

I Si ala We Bulu I Da sajo

asen-ri anak na I Anak ni Tenrikawareng I Ia ma to ri aseng Macellak e Kanukunna I Anak ni We Adang I Ia ma-to ri aseng Matinroe ri Madello I Anak ni Toesa /'la ma-tori aseng Matinroe ri Salassana I

J. IA NAE SUREK PO ADA ADA-ENG NGI SOSOK NA LAO

SU RI LISU ARUNG BILA ARUNG APPANANG ARUNG BELO 2 15. Ia-nae surek po-ada.ada-eng ngi sosok na lao su ri Lisu Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo I Tosaddeng asen-na Na tettong Loppo Riaja I ' Mewa i ada Tanctc I

2 16. Mak-keda i Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo I 0 scajing I Mu-engngcrang mu-ga Soppeng Su Tanete Pole I Naerekko mu-ingngeram-mui I Lalo no matu apak ma-clo na te-ri Gowa I Karaeng nge I 2 17. Mau ' tettong mua-ko I U-bala ni ale-u mu-tulung I Apa-gi ta-s ilaong I 2 18. Ia to-pa na-suro-ang-ngak Malampee Genunck na I Si-sappa reng muik deceng Tanete tes-si sappa-reng ja I Apak dck wale ren-na na-pa leppek ku ri wenni e ' mplelai wi Maruwala I

  1. Mak-keda i arung nge ri Tanete ri-aseng ngc Daeng patinring ri-tella e Panggajongngc I Ku-ingngeram-mua scajing I Soppeng Su I Tanete Pole I
  2. Na ia ki-ellau ellau ki-a lcppek c lolcm-rneng ri ulu adam-meng to Goa e enreng ngia Karaeng ngc I 22 1. A pak la bu i es so e I Engka ni Pabbicara na arung Tancte ri wenni e si-ta arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo I
  3. Mak-keda i Pabbicara e ri Tancte I Ia na-suro ang-ngak seajim-mu ri Tanete I Tat-tcbbak baja ma-ele I
  4. Ia nae surek po-ada ada-eng ngi lao su na to Soppeng nge I Na sosok lao su ri Balosu I
  5. Na pulo wenni pole na ri Tanctc to Soppcng nge na- sosok lao su ri Balosu I
  6. Tetton ni ri Madello Lapanyanya I Lao ni ri awan-na Ccp paga I ' pa-tekke-ri wi Kanna Ncpo I
  7. Mas-saliwen ni arung Nepo 'kokkong ngi kawali mana na I Joppa ri Soppeng ri-a sellise I

Mak-keda i arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo I Ia na mu-ingngerang muanneng ngi-Nepo I Ak-ke ina-mu ak-ke -ama-mu ri Soppeng I Lao no mai ta-te-ri wi Gowa I Ta-ewa i Karaeng nge I

  1. Mak-keda i arung Nepo I Ia na mu-ingngcrang muanncng adck-ku ri Soppcng I Lao no matu ri olo ku-ri munri pa si-tin ro Suppa I
  2. Pura i si-ewang ada Ncpo Arung Bila I Arung Appanang I Arung Belo I Engka ni Lapanyanya 'lao ' tcttong ri awan na Bulu Alipeng I Ri Tanetc I 'Mewa i ada Bcru I
  3. Apak to Beru e ko-ni monro ri Sawitto ri attan na Maloto I 'Ma-tu-ri wi beneteng lao alau uraik I Ma-ngatta-iwi arung Appanang I Ma-elo mewa i mat-tebbak /
  4. Makkeda i Arung Appanang I Arung Belo I Arung Bila I 0 seajing I Mu-ingngerang mu-pa ga I Soppeng SU Beru POLE I Nae rekkua mu-ingngeram-mui I Lao no matu I Apak ma-elok na teri Gowa '.mewa i Karaeng nge I Apak mau-o ' tettom-mua I Ku-bilam mui ale ku mu-silaongerig I
  5. Mak-keda i Arung Beru Riaja 6 I Ada Ugi I U-wengngerammua seajing I Beru pole Soppeng SU I Nae dek-pa al-lale-ngek ku 'mpelai wi Gowa enreng ngia Karaeng ~ge I
  6. Mat-tebbak ni to Soppcng nge I Engka na to Soppeng mate engka to-na to Beru mate I Pitu to Soppeng to Balosu I Asera to Beru ri-ala puppu esso e I ·
  7. Engka ni suro na Gowa ' lao mak-keda I 0 Beru I Itang ngi ale mu a-tuong I Apa ten-na ullc na ' pa-rampa-i o panni inam-mu Gowa I Apak engka ni to Bone ri Bantaeng I Apak mau ni Tancte pura to-ni ku-leppessang-ngeng ada I Ia kca ri saliwek-ko I
  8. Mak-keda ni Anmg Bcru Rianjac I Ada Ugi I Pekko ni nawa nawam-mu to Bcru e I Pusa nawa nawam-meng ( ... ) Karaengnge
  9. Ma-pappa ni baja c I Ma-cga na to Soppeng mal-liweng ri Malotong I Ri Ba ban na T akkalasi I Mang-nganro ni ri to Beru ri aja e I Ada Ugi I
  10. Map-peri pcri ni luppc-reng ngi Larewo ri ele e Arung Beru ri !au e I Ada Ugi I ri Tanete ri awa na Lapanyanya ·1ao mak-kcda ri A rung Appanang I ri A rung Bila I
  11. Ma-elok nak-kcng ri dcccng nge I Tea nak-keng ri ja e I Ma-elok nak-keng ri tuo e I Tea nak-keng ri mate I Ia mua ku cllau ellau ri Soppeng I Beru pole Soppcng su I

I la na-warekkeng

tern-ma Jere Soppeng ri ada pura mu I Na tetto-ngi dewata seuwa e I Ma-elok-mu, ma-rola ri tana e ri Soppeng ri perik nya men-na te-ri wi Gowa I ' Mewa i Karaeng nge I

240: Na ia Arung Beru Riaja e I Taro ni ku -pa-isseng ngi Malampee Gemmekna kuwa e Ambarala Sepelema I Na barang ki-ap-pada elo ri I Apak telluk-keng Makka-Jawa I

  1. Mak-keda i Arung Beru Rilau e I Aga Udi I Engka to-ni ku warekkeng I
  2. Mak-keda i Arung Bila I Arung Appanang I U-warekkeng ni tu lattuk ri to -ri munrin-na Beru Riaja e I
  3. Ada Ugi I Nae rekko na-werek-kik dewata e I 'Timang ngi lao liman-na Karaeng nge I Na tokkong passorem-meng I Nangka seajim-meng ia na tujun-na Soppeng I
  4. Luppek ni mang-ngaruk Arung Beru Naja e I Ada Ugi I ri Tanete ri awa na Bulu Alipeng I Mak-keda i I lta Soppeng I RI wetta-gak sia ri passirin-na Gowa I Talle talle-gak matti Mu-ingngerak-ku muanneng / Soppeng SU Beru PO LE I
  5. Lasilatu asen-na alameng mana e ri Appanang ri -garu-angnge tuak na-inung ngi Arung Beru ri Laue I Ada Ugi I Na tanro i ale-na I Ma-cuccu-piu I Dek ompo-ompo na uckko na-e wa i wijan-na Soppeng I Na-nging to Soppeng nge na-rauk-kaju to Beru e Riaja e I Ada Ugi I
  6. Pura ni si-telli Arung Bcru Rilau c I Ada Ugi I Inappani lao ma- naik ri T anete Arung Bila I Anmg Appanang I Tajen ngi to Soppeng ngc ma-ri munri e I
  7. Apa ia Anmg Beru ri Laue I Ada Ugi I Si-tanra-i-an nisa uleng lao ri Juppandang I Tingara i Gowa I Tamat I
  8. Na tcllum-penni Arung Bila I Arung Appanang I Ri Tanete na-si tinro to Tanete Arung Bila I Arung Appanang I Karawa i Cilellang I
  9. Nat-tebbak na Arung Belo I Arung Appanang I Anmg Bila I S ilaong to Tanete I Na-rung Cilellan na Anmg Maggalun-na na ewa mat-tebbak I
  10. Engka na to Soppeng mate I to Tancte I Engka to-na to Cilellang mate I Na tellung-ngesso na mat-tcbbak na-ri nippe na tau decen-na C ilellang I Na-sau ren-na I Nate mak-kappo ri bulu e I
  11. Na-nganro na Cilellang ri Arung Bila I ri Arung Appanang I Ri A rung Belo I

I Na ujungngi na wawa i ri Arung Bila I Ri Anmg Appanang I

  1. Lasilatu na asen-na alameng mana e ri Appanang na-ri garuang tuak I Na-inung ngi arung Cilellang arung Maggalung I Na tanro ni ale na ma-cuccu-piu I Dek ompo na rekko na-ewa i wija wijan-na Soppeng I Kuwa e Malampee Gemmekna I Na rauk kaju arung nge ri Maggalung na-nging u gi e I El o na elo I T a mat I
  2. Ia na e surek po-ada ada-eng ngi pura na rumpak Sombaopu I Nal-lappa na tana e Ri pabbiring I Na-rewek na ri datu e ri Soppeng mal- lai bini ma-ranak I Kuwa-en na to Soppeng nge se -lili angkan-na tuo e muannep-pa I
  3. Na te mak-kasiwiang ri Soppeng anakdaran-na Arung Bila I Nang-ka na bola na ri Mangkuttu I
  4. Mak-keda i Petta Torisompae ri matinroe riadatunna I Ia ku- passangadi mennang I Dek-ko dek wijak-ku I To-ri munrikku I Na-dek to wijan-na puwam-mu Malampee Gcnunekna me-lo sappa-rang ngi akke-anun-na to-ri munrim-mu I Na-po adang-ngi -Bone I Na-lao tutungi to-ri munrim-mu ri Kompania I Na ia sarakeng ngi akke-anun-na waramparan-na dekkua engka mu-pi ri Tana Ugi I Tamat I
  5. Ia na e surek po-ada ada-eng ngi pole na ri Bone Matinro e Riadatunna si-ta Malampee Gemmekna Matinroe Ribontoala I Na-si tudang-ngeng arung ng6 eppa 6 I Arung Paddanrcng nge I Watal-lipu e I Tau Tongeng ng6 I
  6. Mad-dampe rampe matinroe Riadatunna ri-lalin-na lao ri Gowa I Na-ri taro ri Sanrangeng I
  7. Mak-keda i Petta ri-Soppeng I Pangepak e ri paddanrengnge I Pekku-are i matti cappak na ri Soppcng pole ri tana Mangkasa I Apak tania-na Arumpone ri-ewa macccppa ri Atapang Anmg Pitu-em mua kuwa e to Bone I
  8. Mak-kcda i Petta ri Soppeng I Engka bawang nga matti mu asseuwa i I Ada aljancingen-na T oballa Anmg Bila ri Atapang Aja na-annnponc mu-ewang ada I Anmg Pituc mua mu-6wang adasi- pakaingck I
  9. Apak mau mat-tanan-na ri Pattiro Malampee Gemmekna I Arung Bila I Arung Belo / Arung Appanang I Arung to Bone muto na ewa mak-kulu ada I Makjanci na-si kagong adan na Malampee Gemmekna I Arung Bila I Arung Appanang I Tamat I
  10. Ia na e surek na eppo na Pagigie ri Soppeng Riaja ri-a aja ri-aseng nge Tosida I 3 6

I Ada Nap-pasengeng-nge ri Arung Bila Ia

pak-kitak- ku enreng-ngia parengkalingak-ku I Mula matta nam-meng ri Pattiro I Mula polem-meng ri Butung I Tania Arum pone na-ewa mak-kulu ada Petta ia sel-lise pole ri Angke /

  1. Anmg to Bone mua I Kuwa e to Bone I Na-si kadong mana acla c na-nappa mac-ceppa I Na-si garn-ang tuak I Na-si akkcdang ma- tettengeng I Na-tettongi dewata scuwa c I Tes-si sala ka-lesso e I Tes-si belle-ang nge ri tcngnga lalcng I Tcssi-lcgga warckkeng-nge I Tenri-peppek lima e I Tes-si alaiye rappa I Na-tetto-ngi dewata seuwa e I Tamat I
  2. Ma-sennek baba I Aja ku-ma busung I Lakkek-lakkek i wi-ja to- mangkauk e I
  3. We Tenriawe asen-na arung-nge ri Madella nal-lakkai ri Sidenreng I Na -si ala Karang Benteng I Asenna Massao Locci e ri Sidenreng I
  4. Ia to-na addatuang ri Sidcnrcng I Na- po awine i arung nge ri Madella na-jajiang anak ri-ascng We Tappatana I
  5. Ia ma-to ri-aseng Dari Rilangi I Ia na si-ala arung nge ri patila I Na jaji-ang anak seuwa makkunrai seuwa oroane I Topellu ascn-na orowane I We Tenridi asen-na makkunrai e I
  6. Dawirilangi mu-si mallakkai ri Bakke si-ala Daemang I Anak ni We Tenrijello I Anak ni Tenriarnparang I
  7. We Tenrijello si po-lakkai wi Toakkareng-nge I Anak ni L atenripeppa I La Tenripeppa si mab-bawine ri mangkasa I Po-awine i anak na Karaeng ng6 I Tamat I
  8. Ia nae surek po-ada ada-eng ngi pura-na ma-ngaruk to Bone I Si- tudanges-si paimeng arung to Bone arung to Soppeng nge arung to-Angke I
  9. Mak-keda i Petta Malampee Gemmekna I Ma-ctecen-na ga mu aseng kaka bettuwan-na musu ta liweng ri Butung I
  10. Mak-keda i Arung Bila I U-wases-sa puwang tem-ma deceng Apak si-duppa muik ri tasik c tam -musu I
  11. Mak-keda i Arung Appanang I Pega !iii na Bone maka ' tap pingi wi Gowa I Pali Ii na Gowa I
  12. Mak-keda i Daimang I To Bulo Bulo 6 Larnatti I
  13. Mak-keda i Arung Bila niga maka ' mewa i ada I Ta winru wetterem-musu I

I Ia na lao adan-na Bulo Bulo Lamatti

na-po ada e I

  1. Mak-keda ni Malampee Gemmekna I Lao no mu-tuttungi Engka ele ko ta-sosso arawing I Engka arawik-ko ki-sossongngele I
  2. No ni ri lopi e Daemang ' sompek lao ri Bulo-Bulo arung Sao Lebba I
  3. Pappa ni baja e I Lattuk ni ri Bulo-Bulo ri labu esso e Mut-tama ni ri Libong Daemang I
  4. Mas-suro ni Daemang ri Arung Lamatti I Engka ni Lamatti Gellareng Bulo-Bulo Gellareng Lamatti I
  5. Mak-keda ni Daemang ri Arung Lamatti Gellareng Bulo-Bulo / Mu-e'!gngerang QlU-ga adam-mu mak-keda e ko-ma-ni Malampe e Gemmekna/
  6. Na-peri peri mu-i tudang I Makkeda i Arung Lamatti Gellareng Bulo-Bulo I Ku-engngeram-mua adam-meng I Na-e ri-beta no ri Mangkasa e I Apa engka ni Karaeng nge ri Batupute I Karaeng nge ri Mamajang I Engka ni ri Benamo ten-na sossong Mangkasa e ' lao mano ri Bone I
  7. Lao mu-ni ri lopin-na ' tonang I Massu ri tasik e mapperi peri 'lao ma-no ri Pattiro I Pappa ni baja e I Assarak i na lettu_k ri Pattiro I
  8. Si-tudangen-ni !O Bone to Soppeng nge to Wangke I Mak keda i Daemang ri-Malampee Gemmekna I Engka ni Mangkasa e ri Bulo-Bulo I
  9. Makkeda ni Malampee Gemmekna ri Arung Bila ri Arung Appa nang ri to Bone I Ta-sossong baja I Aja na-ia Mangkasa e lao i wik ri Tana Ugi I
  10. Aga na-jaji na 'sossong to Soppeng nge tO' Angke I Ku ni ri Attang Meru si-tajeng I Mak-deppu-ngeng ia maneng to Bone tp Soppeng nge I
  11. Pappa i baja e ri-ma tellwn-penni e I Sosson-ni 'tingara i Lamatti I
  12. Puwang ri-lamatti ri-wule 1nak-kawi ridi mak-kawi cellak na- lale-ngeng ngi alosu I Engka seratu corcccoren-na na-si tinro-sang 'soe am-palida I
  13. Apak map-polo ni 'nrere i ri olo na to Bone · I Ri-paroto i-ni ballilik I Tem-mawasa tel-laing joppa na I 'lao alau I
  14. Apak 'nrewek si uraik ' nrere i olo na to Soppeng I Ri-paroto i-ni ballilik / Ten-repok tern-ma wasa tel-lain jop pa na ' nrewek I Apak na dapi si to Bone ri-pa roto i si ballik Arung Appanang to Bone ri Mangkasa e I

Bone to Soppeng-nge ri minanga na Libong Ku ma-ni ri ajang ri attang Salo Mckko ri Jappa e mat-tcbbak si giling- ki ling puppu csso e I

  1. Ma-ega to Bone ri ala ulun na I Ma-ega to ri ala ulunna Mangkasa e ri to Bon.e ri to Soppeng nge J Na tellung-ngessori ola to Bone to Soppeng nge ri Mangkasa e ri-ewa mattehhak Na rewek Mangkasa e I Na uttama na ri Bulo Bulo I Mut-tamak•ni ri Pattiro To Bone to Soppeng nge to Angke I
  2. Apak tellu 'mpenni ni ri Pattiro I 'Rewck si paimeng to Bone to Soppeng nge Arung to Angke ri benten-na I
  3. Pappa i baja e ri-dua ' mpenni e lattuk na ri bcnten na to Bone to Soppeng nge arung to Angke I 'Tingara i paimcng Lamatti I
  4. Nat-tebbak si paimeng to Gowa e to Soppeng nge to Angkeri ele e / Atompongen ni to Gowa e I Ma-ega na Mangkasa ri ala ri to Soppeng nge ri to Bone I
  5. Ri-palari ni mal-liweng ri Tangka ri attang sa lo Mangkasa e I
  6. Apak metti ni pasang nge ri Tangka I Na wussu-as-si ale na to Bone to Soppeng nge arung to Angke ri attang salo I Ma ega na beta Mangkasa ri-ala ri attang salo ri to Soppeng nge ri to Bone I
  7. Ma-seppe ni Mangkasa e I Map-peri-peri manen-n_i Karaeng nge ' no ri lopin na I Na-rulu na Mangkasa e mapperi-peri 'nrewek ri Gowa/
  8. na gilin-ni kaliao na Lamatti Bulo-Bulo I Na nganro I Rewek ni monro ri Pattiro to Soppeng nge arung To Angke I Malai wawan na I Na lao su ri Beru ri Tanete I Tamat I
  9. Tania ku-po ma-busung lakkck-lakkek i wija to mangkauk e I
  10. La Mappaleppe asen-na I Patolae pat-tella-ren na I Ia na datu ri Soppeng I Ia na mat-tellu ' mpocco mal-lamung 'mpatu ri Timurung Arumponc ri tella e Bongkae Arung matowae riwajo ri-aseng Toudama/
  11. Ia to-na datu ri Soppeng Pa-otto-ngi batu ri Timurung I Balosu I Nepo I Mario Riawa sellole i Belokka I Awanio I Cirowali I Lompulle I Baringeng I Ujumpulu I Lompengeng I Citta Gowa-Gowa I Mario Riwawo I Lamuru I Sese lili ri-attang si Joie I Duakkasera e bate-bate di-attang Lamuru I la to na Patola e mara-nak mallamum-patu ri Timurung I Na-beta i Lamuru I
  12. Ia nae datu ri Soppeng Matinroe riadatunna nas-si turu matinroe

e ri Ambarala Sepeleman I

  1. Ia na e surek po-aI Mula map-palesso genunek na Matinroe ri Bontoala I
  2. Mak-keda i petta ri Soppeng ri atung Pangepak e riarung Paddanreng nge ri Watallipu e ri tau Tongeng nge I Ia na ku pasengek-ko to Soppeng I Na-welai-an nik ada to Bone na janci-ang ngeng-ngi Malampee Gemmekna kuwa e Arung Appanang I Arung Bila I Kuwa e Arung Belo mula mat-tahan-na ri pattiro to Angke Soppeng mua ma-elo tuttungi wi Jumu na l
  3. Lamamung majeppu to Angke na tana e ri Soppeng ri lau e Ia to-na datu ri Soppeng Rilau e I Ia tona Datu ri Mario ri wawo I Ma-dua na Arung 8'iia ri Soppeng Riaja I Ma tellun -na datue ri Citta I Ma eppa na Arung Appanang I Ma lima na Arung Belo I Seko mua tu to Angke engka ri wanuwa e ri Soppeng lima e I Tamat I
  4. Makkeda i puwan na Pagigie I Ia Soppeng Riaja ri aseng nge Tosida I Na-la e ri Butung Arung Bila ri Karaeng nge ri pattekne I
  5. Ada nap-pasengeng-nge ri anak na enreng nge ri eppo na I Ia paringgerak-ku I Mula mat-tanam-meng ri Pattiro I Polem-meng ri Butung I Tania arumpone na ewa makk.-ulu ada Malampee Gemmekna I
  6. Arung Bila mua Arung Appanang Arung Belo / Arung to Bone mua kuwa e to Bone I Riakkulu-adangen na I Tes-si legga wa ramparang nge I Tes-s i peppck lao lima e I Na tettongi wi de wata seuwa e I
  7. N a-si kadom-mana adan na na-inappa si-telli na-si garuwang tuak I Na-si pak-keda marek I Tes-sala kalesso I Tes-si belle-ang ri tengnga laleng I
  8. Aga na-petta ma-ni Malampee Gemmekna si-tinro to Bone lao ma-naik ri Bulukumpa ria~sellise I
  9. Petta pole ri Angke lao su ri Beru ri Tanete I ' Mola i 'lao ma-naik angkan na Barasa Siang I
  10. Aga na-idik-keng to Soppeng nge beta ri Beru ri aja e I Ada Ugi I ldik-keng to Soppeng nge pa-rola i 'lao mam-musu ri Gowa Beru Rilau e I Ada Ugi I Idek-keng lala i ri-appaliliren na ri Gowa I Idik tok-keng pa-polo lempa i ri Gowa I I
  11. I
  12. Idik tok-keng to Soppeng nge pa-rola i 'lao mam-musu ri Gowa Lombasa Bungoro I Idik-keng lala i ri al-lili-renna ri Gowa I

pa-lili na Gow a ri-beta e I Enreng-ngia ri-pa rola e 'lao mam-musu ri Gowa I Tamat

K. IA NA E SUREK PO-ADA ADA-ENG NGI PURA NA RUMPAK SOMBAOPU
318. Nal -lappa tana e ri Gowa ri pura na ri~passarang tau e se-sebbu e oroane makkunrai tau lolo maneng /
319. Karaeng nge ri Gowa 'nrusak i ceppa e ri Bunga e Balanda ri-aseng nge Sepeleman I Gorennadoro I
320. Na-si ti.ldangen na Malampee Gemmekna Arung to Bone riasel- lise ri Bontoala ri Bola Riuki e I Na 'ngka to petta to Soppeng nge Matinroe Riadatunna to Soppeng nge ia sel-lise I Angkan na tuo e muannep-pa I 32 1. Mak-keda i Malampee Gemmekna ri to Bone I Ia ku-paddep- pungek-ko mennang to Bone ia Sellise I Apak mate ni kaka u Arung Appanang I Anaure u Arung Bila I Anrik-ku Arung Belo I
322. Mu- ingngerang muannep-pa ga akkulu adanget-ta ri ceppa tas-si kadongeng nge ia mut-tama na ri Pattiro polem-mengri Butung to Soppeng pole ri Angke I
323. Mak-keda i to Bone I Pega puwang I Makkeda i petta Malampee Gemmekna I Ia ri makkedat-ta rekko ma mase i dewatae ta timang ngi lao liman na karaeng nge I Apa gi na wereng ngik a-pa sau-reng dewata e I Ten-ri legga warekkem-meng ia ku to Soppeng Pole .ri Angke angkan na sappo wek-ka tellum-meng I
324. Mak-keda i to Bone I Ki engngerang mua I Ki ere ki :mua I Ten-ri Jere i I Tes-si peppek lima e I Tes-si legga warekken nge I Tes-siala rappa e I
325. Mak-keda i Petta ri Soppeng ri to Bone I Ia na ri warekkeng tern-ma Jere t:nreng ngia tana e ri Soppeng I Na tettongi dewata seuwa e I Mu-ingngeran na muanncng tern-mu legga warek keng nge Soppeng I Tern-mu peppek liman-na I Tern-mu ala e rap pa na mennang to Angke tana e ri Soppeng I To ri munrin-na to Angke na tana e ri Soppeng I
326. Tori munri e to-pa samalaiapi I Uwaseng ngi mennang to Bone I Engka na mu-to sa to Angkc ri tana e ri Soppeng lengkang ngi sungek ku angattangek ku ri Gowa ma-ranak mall-lai bi ni I
327. Ia mu-to esso e we si-tudangen na Malampee Gerllinekna ri Bontoala arung to Bone Petta ri Soppeng mingngerang-ngi mula 'luttu na lao ri Butung Malampee Genunekna

Petta ri Soppeng Matinroe Riadatunna ri Petta Malampee Gemmekna I Pulo wenni wegang mui engka mu mu-ala ulawen na tana mu ri Soppeng I Mu-welai wenni tana 111u ri Soppeng 'lao mu ri Bone I Na ' ngka Karaeng nge 111ak-ka dupang to Wajo e 'te ri wi Soppeng I

  1. Na ' nganro to Soppeng nge I Na ma-elo 111as-suro kamo ' 111patta wak ri salassa ku I Na ia 111ua tek-ku ri-wetta I Anmg Ben.1 Rilau e I Ada Ugi I 'Dapi-ri-ak Kui ' tettong ri pana e I Ten-na pura lisek na Lamangile I
  2. Mak-keda i Petta Malampee Gemmekna ri Petta ri Soppeng I Ku-pa sekkoren na na-ri wetta ri Pammantingeng I Tamat I
  3. la nae po-ada ada eng-ngi ri aseng nge Petta La Wadeng Mula seppe i bila I Si-ala e We Bubbu I Na jajiang anak lima seuwa ri-aseng Lapasajo I Seuwa ri-aseng Lagalumpang I Seuwa ri-aseng We Bollosugi I Seuwa ri-aseng Tenrisumange I
  4. Lapasajo na pad-duwa i kasiwiang nge ri Bila I Lagalwnpan-na na-ewa mang-nguru kasiwiang I
  5. Na Lapasajo na ' lao mab-bawine ri Amali I Si ala We Ten ri Lawi I Anak ni La Bune I Anak ni Latenripeppa I Anak -ni Lantenriadudu I Si ala We Tenri Seka I Anak ni La Makkawoto I
  6. La Tenri Seka si ala Lilatenro ri Amali I Na dua anak na-jaji-ang I Seuwa ri aseng Lamagila I Seuwa riaseng La Gessa I
  7. La Gessa na mab-bawine ri Soppeng I Si ala We Tebbalana Na-jaji-ang ngi La Kecca I Totenratu asen-ri anak na I
  8. La Kecca na si ala We Tenribau I Anak ni La Pattokko I Kuwa c pagigi e I Anak ni We Pale I Anak ni We Majodo I Anak ni la Pasokori I
  9. La Patokkon na si ala Tenriatana I Anak ni Dadera I Dadera si ala La ri Apponang I si ala Ia Tennibengngareng I Anak ni Lalwu / Anak Temmu I Anak ni La Tenriangke I La Tenri Angke na mab-bawine ni We Gima I Ta mat I
  10. Ia nae surek po-ada ada eng-ngi La Galu111pang mab-bawine ri Baringeng si ala E Cakkewanua I Asen na I Sapposisem mui I Anak ni La Pasoreang I Anak ni W e Wulu I Anak ni We-Benrigau I
  11. We Ulu na si ala La Paccikkeng Soppeng ri Lau I Anak ni La Pottobune I Lapadangkang I Anak ni L a Kumala I
  12. La Kumala na si al a We T enriparialima I Anak ni We Tenri Pulana/
  13. We Tenripulana si ala La Pawawoi ri Soppcng I Anak-ni We

I Anak ni We Ati I Anak ni Muttia I Anak ni La Baga I

  1. We LisC!k na La Pasasa I Anak ni Lawaniaga I To Akkaten-ni asen-ri anak na I Anak ni We Tenribau I
  2. Toakkatenni si ala Da Palebbi I Anak ni We Tenrijolle I Anak ni We maJdualeng I
  3. We Tenribau na -si ala La Tecca I Tenritung asen-ri anak na I Anak ni La Pattokko puwan-na Pagigi e I Anak ni We Pawellu I Anak ni We Pacodo I Anak ni La Pasellori I Anak-ni Lapasoso I Se-tola ri anak na ri Bila La Tenriadud1.1. asen na I We Tenri Jeka si tola We Gima I Tamat I
  4. Tania ku-po ma-busung ' lakkek lakkek i wija to Mangkauk e I Simpuruguttu pareppa asen na I la na Jajiang ngi ·Anakaji Na jaji-ang ngi Toappanangi I
  5. Toappanangi na 'ncaji-ang ngi Tampa Balosu I Tampabalosu na ' ncajiang ngi Batara Guru I Bataraguru na 'ncaji-ang ngi Datu Maoge I
  6. Datu Maoge na 'ncaji-ang ngi Tosakawana I Tosakawana - ' ncajing-ang ngi Tomalala e I Tomalala e ' ncaji-ang ngi Toas-sengereng Ia mu-to ri-aseng Dewaraja I
  7. Dewaraja 'ncaji-angngi Topaio I Topaijo na ' ncaji-ang -ngi maningoe Ribajo I Maningoe Ribajo 'ncaji-ang ngi Matinro e ri Ware I
  8. Matinroe ri Ware 'ncaji-ang ngi Matinroe ri Malangke I Matinroe ri Malangke 'ncaji-ang ngi Matinroe ri Gowa I Matinroe ri Gowa ' ncaji-ang ngi Matinroe ri Tompok Tikka I 'Ncaji-ang ngi Matinroe ri Langkana na I
  9. Matinroe Rilangkanana 'ncaji-ang ngi Matinroe ri Pattiro I Matinroe Ri Pattiro ' ncaji-ang ngi Tenrileleang I La Makkarodda I La Tenriangka I
  10. Ia na e surek po ada-ada eng ngi pap-pasen-na Tau Tongeng nge Matowa e ri Soppeng I 35 2. Arung Ujumpulu / Tania ku-po ma-busung ri-aseng nge La Tenritippe I Ia m; ·o ri-ascng Addatuwang ngc ri Sidcnreng ma towa e I Ia ma-to ri aseng h.ttinro e ri Panunantingeng I
  11. Mak-keda i Arung Ngujumpulu ri sappo wek-ka tellun na I Ri Puwat-ta Ri Soppeng 'ncaji-ang ngeng-ngi Matinroe ri Madello I Ma deceng ngi ta-po ada-adang Tau Tongeng nge na lao su ri Beru I Ada Ugi I 'Mellau-wang ngi ad-di bolang atam-mu Towalenna e I
  12. Mak-keda i Petta Ri Soppeng I Ku-puji ni-sa tu tangngamu I taro i matu watak-ku u-was-suro 'Hele i wi seajit-ta I Arung Pangngepak e I

nge I A rung nge ri Soppeng I

  1. Aga mas-suro ni petta ' lcle i wi Arung Pangepak e arung paddanreng nge I Tem-ma itta to na-ngka ri Lamangile I
  2. Si-tudangen ni Datu e to-ri lales-Soppcng ngc I Na ia nas-si turu si nap-pada elo-ri Tau Tongeng nge matowa e silaong arung Paddanreng nge arung Pangngepak e ' Iao su e ri Beru I Mellau ang-ngi addi-bolang Towalennae 'kuwa'ri arung Beru Riaja e I Ada Ugi I
  3. Apak lao ni su Tau Tongeng nge silaong arung Pang-nge pak e arung Paddanreng nge I Apa lattuk m su ri Beru Tau Tongeng nge si-laong pang-ngepak e Paddanreng nge I Si-tuda ngen ni To Beru e ia Sellise I
  4. Na-pa lattuk ni ada ri-suro-ang ngeng-ngi tau Tongeng nge ri Petta ri Soppeng/ ' Mellauwang ngi addibolang T o Wa Jenna e I Ku ri Arung Beru Riaja e I Ada Ugi I
  5. Na ia nas-si turu si To Beru e ia sellise nap-pada elori I Ma-elo e paddi bola i arung ngujumpulu I
  6. Mak-keda i Tau Tongeng nge metowa e ri to Beru e I Mutarima muannen-na seajing .adan-na puwat-ta ri Soppeng I Kuwae Ujumpulu mani ro matu si-lao"g angepa ken-na puwat-ta Datu e ri Ujwnpulu na-si tinro-sang sompa na I Si-tariman ni adanna Beru Soppeng I
  7. ' Nrewek ni Tau Tongeng nge ri Soppeng pa-pole basa I Ada nas-si kadongi e Beru Soppeng I Purai 'kua jaji ni si ala Arung Beru Riaja e I Ada ugi I Ri tella e Daeng Manakku I I Lipa aseng ri ale na arung Ujumpulu ri aseng nge La Tenri Tippe Towalenna e I
  8. Anak ni We Oputana I la to-na ri wereng ri-nan na Beru Riaja e I Ada Ugi I Anak ni La Malcwai I
  9. Na mawek pitut-taung na si t Jua I Na ia ri aja c I Ada Ugi I la to-na nad-cluwa i Bcru Ujumpulu I Ia to-na na-ola pura jancin na I Ia napo aseng Sao Denra e ri Mangcmpang I
  10. Ia nae surek po ada-ada-eng ngi mula-mulan-na ri Tanete I Na-po eppo e Rilau Pasa ri Mangempang I Adan na mu-to-Tau T ongeng nge Battowa e ri Soppeng I
  11. Ia maraja na We Kutana I Si-tuda-ngen ni To Tanete ia sellise Arung nge ri Tanete ri-ascng ngc Ibcrahima I Daeng Patinri pad-daengen na I Majjangkok e pat-tella-ren na I
  12. la Nas-situru si suro-eng ngi Daeng Mamango I Daeng Mapata I

Topasere ri Arung Beru Ri aja e I Ada Ugi I ' Mellau ang-ngi addi-bolang Arung Lipukasi I

  1. Apa lao ni ri Beru mennang tcllu e I Lattuk ni ri Beru na-pa pole ni ada ri -suro-ang ngcng-ngi I
  2. Mak-keda ni to Beru Riaja e I Ada Ugi Tarok-keng paissengi wi Putwatta ri Soppeng to Soppeng nge 'to-pa I Temmakkule ni Tek-ki pa-issengi Soppeng I Apa eppo na Matinroe ri Asseleng We Kutana I
  3. Mas-suro ni To Bpu e ri Soppeng I Engka ni Tau Tongeng-nge Battowa e si-Iaong Arung pangepak e Arung Paddanreng nge Kuwa e Ujumpulu I
  4. Si-tuda-ngen ni Soppeng Tanete Beru I Inappa ni pa-tang kek to Beru Riaj a e I Ada Ugi I
  5. Mak-keda ni Daeng Mapata Daeng Mamangung Topasere I Ana mu-tarima na ada ada ki-wawa e I Awam-minanga na mu-ala sompa Arung Lipu Kasi ri Beru Riaja e I
  6. Mak-keda ni Tau tongeng nge si-laong To-ri lales-Soppen nge I Ia na tu Tanete na warekkeng tern-ma Jere tana e ri Soppeng I Na tettongi dewata seuwa e ada pura na-po ada e I Nae rekkua matti engka wija ri-wereng ngi ri dewata e We Kutana I Ia na punna Beru Riaja I Ada Ugi I la to na Awamminanga I
  7. Kado si paimeng Daeng Mapata Toapasere I Pura ni si-ka-dong adan-na Beru Tanete I 'Nrewek ni Tau Tongeng nge ri Soppeng ri datu e I 'Pa-pole basa i ada nas-si kadongi e Beru Tanete I
  8. Ma-keda ni Petta ri Soppeng ' 'ncaji-ang ngeng-ngi Petta ri Madello I la ku-pasengck-ko to Soppeng nge I Rekkua matti jaji tongeng ngi We, Kut~na. si alan Arung L ipukasi I Na'ngka palek ri -wereng ngi wija ri Dewata e I Tania mua ata tau sama ·. na-lorongi welaren na We Kutana I Na ' ngka seajit-ta pap-pettu welareng ngi I Pakaingek i I
  9. Apak j~ji ni si ala We Kutana I Anak ni We Mappaganti I la puwan na Beru ri-aja e I Ada U gi I Ia to na puwan na Awam minanga I la tona sao ri matuwan na ri Bulu Bangi puwak -ku Arung- ngujung-' mpulu I Tania ku-po ma-busung ri-aseng nge La Tabutasa I Pajumponga e pat-tella-ren na I Na ewa Mapapganti na-si ala We Soda I Arung nge ri Alinge I Na-tettongi Arum pone Malampee Gemmekna na-datu e ri Soppeng Matinro e ri Madella I
  10. Na-wawa ni ri Alinge akke-anun na I Ia e Mappaganti ia maneng I
  11. Mak-keda i Petta ri Madella ia pa mu-tikkeng ngi I La Mappaganti Arung Bila I Na-tettongi pi dewata seuwa e I Nawawa ni ri

I Tamat I

  1. Mak-keda i Matinro e ri Lau Pasa I Ri Mangempang I Ada nap-pasengang nge La Terengang I Wek-ka eppa i mab-bawine I Na po ada i ron-na anrik-ku Matinro e ri Mangempang dek nawa nawa i Beru Riaja e I Ada Ugi I Seuwa ni tania mana i I Madua na Beru Riaja e I Ada Ugi I Matti mua Soppeng riawamminanga I Si-ala na Puwang Rilipukasi I Tamai. I
    L. PAP-PASEN NA ARUNG BILA ADAN NA TO RIOLO E
  2. Makkeda i pap-pasen na Arung Bila ri anak na ri-aseng-nge Lawaniaga I Toakkatenni asen-ri anak na I Iapa tau 'nrapek ri arung mangkauk I
  3. Ma raja pak-katutu e na-ma tanre salewek I tep-pa sala eng ngi nawa nawan na ri esso ri wenni 'sappa-rang ngi a-de-cengeng datu e I Enreng ngia tana na I
  4. Mu-ita i wik gauk na pancennangcng nge I Aja mu-taro i na-panre mamata datu e I
  5. Na rekko na-panre i mamata datu e I Pangaja ri wi I Nak ko teya i ri-pangaja ri si-paissengen no padam mu to ri lalcng Soppeng I Enreng ngia to mabbicara e I
  6. Pangaja ri si paimeng I Nakko na-po gauk mui I Uno i I Mate pi na-isseng ngi datu e I
  7. Mu-atutui wi sio alebbireng mu-ranreng nge I Apak dek sia laing nge na pole i decet-ta ku mui puwat-ta I
  8. Ajak pura pura sio mu-sappa deceng ri saliwen na e tana mu enreng ngia to-pa ri datu e / Ten-ri ta ni ritu deceng I rekko tek-kui ri tana ta I Na tania datu e ri Soppeng pe-de-cengi wi I
  9. Alitutu i to-i inanre na datu 6 apak ia-rck sa-ro adck ma-raja na datu e ritu I Apak ri-tuna i wi matti ri padan na Arung Mangkau I
  10. Jdik ata e ri-po abusunget-to i nakko tapa soro i adek arajan na puwat-ta I Ajak to mu-pa enceng ngi I Ma-busungai matti I Mau ni na-datu muna tana e ri Soppeng I Na busungi nakko na-pa lallo i wi gauk tori olo na I A-tuna i wi sio datu e I
  11. Mu-ello-rat-to i ajak to na-dek pangulu joa mabbenni ri salassa e I Ajak to ten-na gennek seuppulo oroane mabbenni ri salassa e manippek e mate maka majjallokang ngi datu e natanrapi to Soppeng nge rekko engka rukka ri lalempola I
  12. Mu •ita i wi gauk na datu c I Rckko ma-songeng gauk i tau we ma poncok stmgek i I Rekko ma-songeng ada ada i mani wo i I Na rekko

I

  1. Ajak to mu-manggingngi ' pakaingek i datu 6 I Na e engka ritu wettun na apak tcng-ngadek na pura-pura i sari lawa 6 ri clok na 6 datu 6 I Ri-peppang nge acla-clun na ri tengnga tau I T udang mad-dua dua po mu-pa-ita i wi mu-akkcda ipeni sang ngi I
  2. Mu-aritutu i wi waramparan na datu 6 I Apa duan-rupa ri tu waramparang ri Soppcng I Scuwa ni wara111paran na Soppcng Bakka 6 I Ia na ritu mu-isseng jko mancng pangepak e I Pad-danrcng nge I P abbicara e I Ia na ritu waramparan na dua - 6 datu e I Anre bicara e I Poleang musu na Bakka 6 I Enrcng-ngia to pa sompa na pattudan na Bakka e I Kuwa e parosangnge
  3. Na ia waramparang mut-tamak e ri Soppeng ia na ritu na ilc i datu e ri Soppcng na-la i I Na inappa 'tawa tawa i pab bicara e pangepak e paddanreng nge I Ia na ritu na isscng-paddanreng nge I Pangepak e I lao na pole na I
  4. Na ia ri ale na datu 6 clo na clo datu e. Kegi kcgi na taro I Nigi nigi na wercng na-mana ri-ang I Anak na tania e anak pattola na I Ia na ritu ri aseng anu ri-ale na datu e I Tania 6 lolongen na Bakka e I Enreng nge wijan na nyomparen na I Pattaranak na I
  5. Alitutu i toi ajak mu-alilu i wi jancin na tana 6 I Ulu adan na tana e na clatu e I Apak ma-scro ritu jak na 'mpelaic janci I Tcm-mita deceng I Lattuk ri to-ri munrin na I Tamat I
  6. Ia to u-po adak-ko I lsseng ngi sio ri-aseng nge adek I Mu-atutu i wi I Mu-paka raja i to i I Apak ia ritu adek e ri-aseng tau I Na rekko tern-mu isseng ngi adek e Tejjaji ritu ri aseng tau I
  7. Mu-pe raja i to i tau mu ri dewata e I Mu-pe raja i toi siri mu I Apak ia matau e ri Dewata e tama tanre siri ta I Ia na ritu tet-taro i mas- sarang lempu e
  8. Ajak to mu silaongang to sala I Ajak mu amasc i to ma keccak enreng ngia to malio-lio 6 I
  9. Ajak mu belle an.mg mangkauk I Enreng ngia pabbicara I Enrenggia p:idam mu tori lales-Soppeng I Enrengngia padammu tau I Dckko na ita i belle mu namau ada tongem mu matti tenri ateppe ri to I Apak ia ritu to bcllc-bcllc ia na ritu jak dek pak-kawarun na I Tamat I
  10. Ia to pa upo adak-ko /Ajak lalo mu-ewa i si sala tangnga padam mu to ri laleng Soppeng I
  11. Ko na tuju i bali Soppcng I Si tudangcng si-Soppck-ko si laong datu 6 I Mu-si-pa-tangnga-reng I Na ia mu-assi turu si 6 mu-adduppa

e I

  1. Makko ni ritu angata-nget-ta ri Soppeng I Atutu i wi ti mum mu I Apak ko ni ritu man-nessa upek e I
  2. 0 Arung Bila I Angka u-welain na arajang na-welai e-ncajiang- ngeng-ngak I Tang nginang ku ita i massarang sale o sappa-ri ang-ngak a-decengek~ku si laong tana e ri Soppeng I
  3. Aga ku-ella ellau wi na-pannennungeng ngi bateng puwang seuwa e nawa nawam mu I Kuwammi na-lattuk ri to-ri munrim mu na to-ri munrik ku tosa I Ta pada ' pasengat to i to-ri munrit ta I Na si-sapparang deceng I Na-si addampengeng pulana gauk tappa sala na I
  4. Ajak na kira-kira i arajak ku I Ajak to na cinna i wi jujung ma-tanek ku I
  5. Mak-keda i Arung Bila I Dek na kuwa e rennuk ku puwang I Mengkalinga i ada ma-decem mu I Ku-sompa wali puwang I Ku pa enrek i ri uluk ku I Na ia mua sia ku-po ada memeng ngi apasalang ku onro i idik keng ata e I Onrong ri-sala i na onroi puwang nge I Onrong mad-dampeng na onro i puwang nge I Onrong ri addampengeng ki onro i ikkeng ata e I
  6. Na ia mua puwang ki-ella ellau I Engka bawang ngi matti sala to ri munrik-ku I Na sala na dapi tigerok na I la kuellau ten-ri passu e rara na I Na ia ri makkedam mu puwang I Arajak-ku tern-mu acinna i I la na ritu laleng ( ... ) ma cinna i-eng ngi arajan na datu e ri Soppeng I
  7. Cinna mate I Ulu ada e ritu ' lureng ngi musu e naerekko ma deceng ngi timu-timu e I Warani maneng to ni tem-parani e Pa-jikki maneng to ni tep-pa sikki e I
  8. Ma-lempu ko sio I Ajak mu ala cekka ri dewata e ri to lino e I Ajak pura to mu-taro i 'mala cekka tau we ri Soppeng enreng ngia datu el
  9. Ia na ri-tu ri-aseng cekka datu e ko tes-si turu i datu e pangngepak e paddanreng nge na-po gauk e I Angkan na ritu na-rampe ko tori laleng Soppeng tana e ri Soppeng mala tek-ka I
  10. Ia na ritu na-ma sero ri-atutu i gauk e enreng ngia ada ada e I Ko ni ritu akke-puanget-ta ri tana e ri Soppeng enreng ngia to -pa ri datu e I
  11. Dek na tau lebbi ri datu e sangadin na anak ri jajian-na I Pang-ngepak em-mu a naPaddareng nge I Na ia ritu to -ri la Ieng Soppeng nge na ewa e si-po lakkai si -po a wine datu e ri Rualette sia I
  12. Ia na ritu datu e ri Ujung I Datu e ri Botto I Mas-sao locci e Soppeng Rilau I Mallangkana e ri Sao Lampe I Datu e ri Soppeng I

sekuwa e ro ta-si anrcngam-mu to si ritu ri bola na datu e ri Soppcng I Tamat I

  1. Ia to ku-po adak-ko I Ajak pura-pura mu-akka6 ri sali wengeng ngi tana mu I Ajak to mu-tingarang ngi dua rupa datu e ri Soppeng I Sangadin na ko na-teai o I
  2. Apa ia ritu na-ri aseng na-teai ko-ten na-sala dapi ti-gerok na I Ia uwellau ten-ri passu e rara na I
  3. Mak-keda i puwat-ta Puwang Lipu e ia m6men-na ritu ku pari laleng-ngada ta-si addampengang pulana ri gauk apa-salat-ta I Tamat I
  4. Mak-keda to-pi Petta Puwang Lipue I Ia ritu Arung Bila mu-ella ellaun-na tenri passu e rara na to ri munrim-mu I Ia wegan-na ritu nap-pasengang Petta Matinroe ri Tanana I Mak-keda e engka matti tori munrik-ku apasalan-na na dati tigerok na mu-ewa mang-nguru nene I Ajak pura-pura mu-passu i ra ra na tau 'kuwa e ritu I Ia na 'kuwa e tau ten-nanre bessi to lino I
  5. Na ballalo na palengeng palek na Arung Bila I Mak-keda ia na tu puwang ku-sompa wali I Ku-pa enrek ri uluk-ku I U-singkeruk tem- ma lere i I Ia wegan-na ritu ri nawa-nawak ku Ku-pa sosorang ngi to ri-munrik-ku I Tamat I
  6. Mak-keda musi paimcng Puwang Lipu e I 0 Anmg Bila I Ia 'mpelai adan-na I la tem-mita d6ceng lattuk ri to-ri munrin na I
  7. Na-pa lengem-musi paimeng liman-na Arung Bila mak-keda I 0 puwang I Siseng ngik mak-keda I Ek-kadua wckka-tellu ia adak-ku puwang I Iko 'kenneng puwang mak-keda 'kuwa I Naleng ngiyak pasi ta-po ata e I ta-pasengang to i tori munrit-ta I Tamat I
  8. Mak-keda to pi puwat-ta Puwal-lipue I 0 Arung Bila I Na rekko 'mala o tekka ri padam-mu tau mu olo ri rapang I Silasai gauk mu I Manippek pi lisek na salassa e ku-sorong enren ngia anu ri ale ku I Mu inappa ' 1nita i tern-ma deceng nge I U pasenget-to i to ri munrik-ku I Tamat I
  9. Mak-keda i Arung Bila I D6k na u- wascng pammas6 '1616-ri wawo i wi puwang adat-ta ta-po adang ngeng-ngak I Batara mani ri wawo na/
  10. Mak-keda to-pi Arung Bila I Pappasen-na ri anak na I Dek ko ten-na welai-ak-ko ada to ri-munrin na datu e I Ajak mucirinnai ang-ngi inin-nawa ma-deceng I Mu-atutung ngi adek ma-raja na I Saro saro-at-to i mase datu e ri lili e I Apak bessin-na mua tu tau we na-ma solang I Sangadin-na !iii pura e 'mcwa i Soppeng I Na-tingara i Bakka e na-po olo o wi ewa-ngeng I Na ia si-tuppu-ang ma-elo bawampawang ngi I

Pa-ka ingek i datu c I Engka tu att::u-o adangen-na Towum pungeng ngc I la si-tuppuwan-na Soppcng Riaja na Soppcng Rilau I Si-sala na Petta Mabbclua 6 puwat-ta Puwallipuc I Nang: ka to Wumpungeng ngc I

  1. Ku-wakkeda I Aga mu-lao-ang mai mu-engka si-Wimpungeng I Ia na mai ki-engkang ma-raja i pad-dennuam-mcng ri Soppcng Riaja I Teak-keng si-laongeng ngi to sala c I
  2. Mak-keda i Arung Bila I 0 Wumpungeng I la-pa siak ada 'lattuk ri peru e I
  3. Mak-keda i Amng Wumpungeng I Ku-pa si-nennung botto u-lu palek kaje-ku I Ku-sapu peru I Ku-ala nawa-nawa tem-ma deceng ngeng ngi puwallipue I
  4. Makkeda si paimeng Anmg Bila I Ku-pakkulim-musi ritu ada e Wumpungeng I Tem-musala Kalcsso ga matti puwallipue I Tem-mu lupck ma-ceko-ag-ga I Apak ia ku-salewe kuwact-tosia laleng pura na-ola e Petta Matinro e ri Asselcng I Apak to Soppcng Rilau ko I
  5. Mak-keda i Wumpungeng I Ku-pattongeng ritu tikek mu I Nae engkalinga ni matu adak-ku I Dck-ko ada belle peru u-poadak ko ajak na-cngka nac-cekkcngi bcppaja to ri-munrik-ku I Ma bisak pinceng mabbulu ga sia ittello e naleng mabbulu to ri munrik-ku I ·nawa maja- cng ngi puwallipuc I Tamat I
  6. Apak menrek ni Anmg Bila 'po-adang: ngi Puwallipuc adan na to Wumpungeng nge I
  7. Mak-keda i Puwalipuc I Pc-adada i wi I Apak to Soppcng Rilau i sia I Makkeda i Amng Bila I Pura u-wcngkalinga ada 'lattu ri peru na I Enreng ngia tanro ale na I
  8. Mak-keda si puwat-ta Puwallipue I 0 Arung: Bila I lko mi si- laong pabbicara 6 ku-po sullc ma ri peri tana 6 I
  9. Ma-keda ni Anmg Bila I Ku-memenni ro adek angatangem-meng ri Soppeng I Tamat I
  10. Mak-keda i Anmg Bila I Engka paun-na to-ri olo e I la na-seng nge tekka enneng uwangen-na I Ia na tu na-wangungam-musu arung mangkauk e I
  11. Scuwa ni I Majjalekka i e pctau I Ma-dua na I Riwelai-ang-nge ulu ada I Ma-tellun-na I Ri te-ri paddang:engen na ten-nabirittai-ang ngi tau e I Ma-eppa na I ' Mpuno eng-ngi rangenrangcn-na tau we I Na tania a-salang na-po amatcngeng I Ma lima na I 'Pelongko-ri cng:-ngi tau decen-na tau we I Ma ennen-na I ' Pang:au-cng ngi gauk tek-kua padan-na anmg mangkauk I

c na-paddaungcng to riolo 6 I Mak-kcda to-pi to ri olo e I Semperek mui tekka maraja 6 scuwa 6 na tckka baiccuk c na ma-cga I Tamat I

  1. M ak-kcda to pi to ri-olo c I Na ia 'pcdecc-ngi assc-ajingeng-ngc eppa i I Scuwa ni I Si amaseng nge I Ma-dua na si-addampengeng pulana e I Ma tellun-na I Tes-si cirinnai-ang -ngc ri silasa nae I Ma eppa na I Si ala pakaingek e I
  2. Mak-keda to pi tori olo e I Eppa doko ma-scro na tanae Seuwa ni I Arung mangkauk e tem-mappa-si-tudangeng nge I Ma dua na I Jowa maddapang nge I Ma tellun na I Pabbicara malae pasosok I Ma eppa na I Suro 'paonco-ki e passurong I Na lam-pc-ri are gi pas-surong nge I Tamat I
  3. Mak-keda to pi tori olo e I Na ia 'peraja i e tana I Scuwa ni I Ada tongeng nge I Ma dua na I Ampe ma-deceng ngc I Ma tcllun na I Bicara lcmpu e I Apak ia ritu gauk ma-deceng-ngc bicara ma-lempu c I Ia na ritu 'umpawa i pat-taungcngnge I M a cppa na I Janci tcn-ri allupai e enreng ngia ulu ada tcn-ri wclai e I Ma lima na I Adek ri pesekcng nge I Ma cncn na I Rapang massek e I Ma pitun na I Wari ri-atutung ngc I Ma rua na I Ada si-turu 6 ri lalcmpanua I Ma-scra na I Tangnga Tcs-si sala-sala 6 I Ma scppulo na I Scakkasirisang nge I Ma sep pulo scuwana I Tcs-si mcllcki-ang nge ininnawa scmpanuwan-na cnreng ngia ri seajin na I Tamat I
  4. Mak-keda to pi ro riolo e I Na ia tori-ala 6 parcwa ri tana 6 cppak mengka i wi I Scuwa ni I 'kc nawa nawa pi I M a duwa na I Ma-lempu pi I Ma telun na I Warani pi I Ma'pa na I Sugik pi I 441. Na ia tanran-na to ' kc nawa nawa e I Eppak to i I Seuwa ni I Matau i ri Dewata c I Ma duwa na I Matau i ri gauk appa siwalckeng nge I Ma tellun na I Matau i ' po gauk gauk masala Ma eppa na I Matau e po-gauk gauk sala I
  5. Na ia tanran na to mc-lcmpu 6 cppa to-i I Scuwa ni I 'Melo ri e gauk makaitutu I Ma duwa na I 'Melo ric gauk patuju I Ma tcllun na I ' Melo rie gauk madcccng I Ma cppa na I 'Mclo-ri cng ngi gauk tonget- tongcng nge I
  6. Na ia tanran-na to warani e cppa to i I Scuwa ni I Tem-matau e ri paddiolo I Ma duwa na I Tam-matau 6 ri pad dimunri Ma tcllun na I Tem-matau mengkalinga karcba I Ma cppa na I Tcm matau 6 'mita bali I
  7. Na ia tanran na to sugi e cppa to i I Scuwa ni I Tck-ku rang ngc nawa nawan-na I Ma duwa na I Tck-kurang ngc pabba-lancana I Ma

sagena 6 ring sinin-na gauk na I Ma eppa na / Tek-kurang nge ri sininna pattujun na I Tamat /

  1. Makkeda to i Amng Bila Pappascn na I Ajak sio mubbarak barani ri ala e parewa ri tana e I Tcb-barang tau ritu mullc ' po gauk i I 'Po nawa nawa i gauk na nawa nawan na to-ri ala e parcwa ri tana e I
  2. Na ia gauk pa-tuju c I 'Ku-i ri to panre nawa nawa e I Na ia gauk ma-deceng nge ' kui ri to macca e I Na ia gauk ma jac c ' ku-i ri to- bongngo e I Na ia gauk pasala e ' ko- i ri to pusa 6 I
  3. Na ia appongen-na adck e I Ia na ritu gauk mappa-silasa e na sitinaja I Na ia appongen-na bicara 6 I Ia na ritu gauk silasa e enreng ngia ada si-turu e I
  4. Na ia rapang ngc I la na ritu map-pa scnrupa 6 I Na ia Wari e I Ia na ritu gauk ma-pallaiscng nge I Tamat I
  5. Mak-keda to pi Arung Bila I Dua gauk si-sappa na-si lo-longeng I Gauk ma-deceng nge enreng ngia ampe sitinaja e I
  6. Na ia sapparen na deceng nge / Ri-pabbiasa i ale ' pogauk i ma-deceng nge I Na mau na mapperi-peri muna ri passangka biasa i ale ta I Ma duwa na I Pa-kutana e ale na ri si lasa na e I Ma tellun na I ' Saro e mase ri silsasana e I Ma eppa na I Aresong pa-tuju e I Ma lima na I ' Mola e ropponroppon na-rewek paimeng I Ma ennen-na I Mola e laleng na matike Na-sanre seng-ngi ri dewata e I 451. Mak-keda to-i Arung Bila I Eppa ritu aju tabuk I Ajak mu- warani-warani ' sanre-si wi I Scuwa ni aju tabuk I Rekko macca-ik ta-isseng-ngi ale ta macca I Ma-duwa na I Rckko sugik kik ta-isseng ngi ale t;:i sugi I Ma-tcllun-na I Rckko Anmg-ngik ta-isscng ngi ale ta arung I Ma-eppa na I Rckko warani-kik ta-isscng ngi ale ta warani I Ajak mu-accowa-cowa 'sanrc-si wi I Pajai1cng aju tabuk ritu I Tamat I

Ill

TERJEMAHAN

7 Sewo, iiulah yang dinamakan to Soppeng Riaja. Adapun orang 8 Gattareng, itulah yang bemama to Soppeng Rilau. 9

  1. Maka (ada sebanyak) enam puluh matoa (di) Soppeng Rilau (dan) Soppeng Riaja. Namun, orang-orang Soppeng itu membagi dua (kelompok) diri mereka.
  2. Lollo e I Kubba, Panincong, Talagae, Riattang, ' Salo, Mangkuttu, Maccile, Watu-watu, Akkampeng, adalah (termasuk) wilayah Soppeng Rilau..
  3. Adapun Pesse, Pising, Launga, Mattobulu, Ara, Lisu, Lawo, Madella Rilau, Tineo, adalah (termasuk) wilayah Soppeng Riaja.
  4. Adapun Cenrana, Salokaraja, Malaka, Mattoanging termasuk pula wilayah bawahan Soppeng. 7 To Soppeng Riaja, adalah istilah bahasa daerah Bugis yang merupakan gabungan dari tiga kata, yaitu to (tau) berarti orang; Soppeng berarti nama sebuah negeri; ri-aja berarti di barat. To Soppeng Ri aja, artinya orang Soppeng bagian barat. 8 To Soppeng Rilau, adalah gabungan dari kata to Soppeng, artinya orang Soppeng; dan Rilau artinya bagian timur. Jadi to Soppeng Rilau, berarti orang Soppeng bagian timur. matoa, artinya tetua; ketua; pemimpin kelompok. Matoa merupakan tokoh lokal yang memimpin dan membimbing anggota kelompok masing-masing.

Maka cerai-berailah orang-orang Soppeng itu. Dan tiada lagi ;un;ungan.. JOnya sesu d a I 1( raJa-raJa.. ) yang tennuat d a I am G a 11go ·11

  1. Maka hanya keenam puluh matoa itulah yang memimpin negeri.
  2. Maka ketahuanlah oleh Matoa Tineo, Jennang Pesse, sampai ke seluruh wilayah Soppeng Riaja, lalu disampaikan pula kepada Matoa
    12 Ujung, Matoa Botto, Matoa Bila, bahwa ada to manurung di SekkanynyitP.

  3. Akan tetapi berkata Arung Bila, rnatoa Botto, rnatoa Ujung sebaiknya disarnpaikan kepada wilayah Soppeng Rilau (yaitu) rnatoa Salotungo.
    . 011. Disetujui oleh warga Soppeng Riaja, rnaka disepakatinyalah rnengundang rnereka. Sesudah itu datanglah para rnatoa dari warga Soppeng Rilau.

  4. Berkata rnatoa Soppeng Riaja, ada rnanurung di Sekkanynyili, rnaka bagairnana gerangan pandanganrnu?
  5. Berkata ·matoa Soppeng Rilau, sebaiknya kita pergi menemuinya. Semoga nian Tuhan memberi rahmat, agar beliau sudi 'dongiri tem-matippa. k k-i .k, mpawai .k n. mawe 'k n. ma b I e a
    14 ' 15

  6. Sekalipun (ada) aturan-aturan kita, namun Uikalau) tidak dikehendakinya, kita pun tidak kehendaki pula. Sesudah itu, pergilah keenam puluh matoa tersebut.

  7. Setelah tiba (di hadapan) sang to manurung keenam puluh matoa itu, berkatalah matoa Ujung, matoa Botto, matoa Bila. 10 Junjungan, merupakan terjemahan bebas dari kata puwang, yang dapat pula berarti : tuan; pemimpin; raja. 11 Kalima! tersebut merigandung pengertian, bahwa raja-raja yang termuat dalam cerita "Goligo" sudah tiada, sehiogga kelompok masyarakat di masa itu haoya dipimpio oleh maloa. 12 To manurung, adalah istilah yang terdiri alas gabungan dari kata to (tau) dan manuruog (turunan dari kayangan). Jadi to manurung, berarti orang yang turun dari kayangao. 13 Sel adalah sebuah tempat dalam wilayah Soppeng, di mana sang to manuruog ditemukan oleh penduduk. 14 dongiri (menunggui padi dari serangan burung pipit); temmatippak-kik (tanpa kita berkurang). Maksudnya, memimpin dan menjaga keselamatan kita. 1 ~ Mpawaik (membwa kita) ri mawek (ke tempat yang dekat) ri mabela (ke tempat yang jauh, maksudnya memimpin kita baik dalam hal-hal yang bertalian dengan urusan dalam negeri maupuo urusan luar negeri. Dalam istilah tersebut terkandung pula knnsepsi budaya orang Bugis teotang harapannya terhadap para pemimpin/penguasa atau raja berdaulat.

Adapun maksud kedatangan kami kemari wahai Lamarupek 16

(adalah) karena kami semua mengharapkan rahmatmu. Janganlah 17 engkau menghilang, agar dikau mcnjadijunjungan karni. ·

0 ~7. Engkau tunggui kami dari gangguan burung pipit (ibarat padi) agar kami tidak susut; engkau selimuti kami agar tidak kedinginan. Maka engkaulah junjungan karni, di ternpat yang dekat maupun di tempat yang jauh. Sekalipun ada putusan kata karni, namun jikalau engkau tidak menghendakinya maka kamipun tidak menghendakinya pula. 18 Oi8. Berkatalah petta manurung-nge ri Sekkanynyili, hanya jikalau kalian tidak menghianatiku. Namun jikalau kalian tidak menduakan diriku dalam pikin;m kalian.

0 19. Sepakatlah matoa yang enam puluh itu dengan petta Manurungnge ri Sekkanynyili.

  1. Bcrkata pula Petta Manurungnge Ri Sekkanynyili. Ada juga saudara misanku yang turun di Libureng. Baiknya jikalau kalian orang -orang Soppeng bersepakat, agar aku berdua mencarikan kebaikan bagi kalian.
    19

  2. B iar beliau yang datu di Soppeng Rilau dan saya datu di Soppeng Riaja. Adakanlah kata mufakat, dan pergilah kalian (untuk) menjemputnya.

  3. Sesudah itu, pergilah keenam puluh matoa tersebut ke Libureng
    20 di

tempat yang dinamakan Gowarie.

  1. Didapatinyalah To manurungnge duduk di (atas) balubunad-
    . 21
    d epane.

  2. Berkata matoa Ujung, matoa Bila, matoa Botto: Adapun maksud kedatangan karni ini wahai Lamarupek, karcna mengharapkan rahmatmu. 16 lamarupek, ungkapan yang ditujukan kepada sang to manurung, sebagai tanda penghormatan dan rasa takju b. 17 M a //ajang = menghilang (hilang dari pandangan mata; kembali ke alam gaib). 18 Petta, identik dengan kata "baginda" (ucapan tanda penghormatan, dapat pula berarti gelar kebangsawanan). 19 Dal", artinya raja yang dipertuan; raja berdaulat. 20 libure11g, nama sebuah kampung, tempat munculnya tomanurung di wilayah Soppeng Rilau. Balubu 11addepparie, berarti guci tempatnya (tomanurung) menetes (muncul; timbul; lahir).

engkaulah

025. Janganlah engkau menghilang. Maka yang kami
jadikan kesejahteraan kami, mempersatukan kaini secara utuh. 026. Dan engkaulah junjungan (raja) kami, dekat maupun jauh. Dan anak-anak kami atau putusan-kata kami pun, jikalau tidak berkenan bagimu, maka kami semu takkan menyukainya pula. junjungan (untuk) menjaga keselamatan kami, membina
027. Manurung-nge
mengkhianati 22ku, c abang 23.

Berkata Ri Goarie, hanya jikalau kalian tidak hanya kalau fikiran kalian tidak ber Terjadilah kata sepakat (antara kedua pihak).

  1. Itulah yang disebut perjanjian antara rakyat Soppeng dan junjungannya, sampai kepada keturunannya baginda datu Soppeng dan keturunan rakyat Soppeng.
  2. Maka sebelum adanya keturunan junjungan kita berdua, matoa Botto, matoa Ujung, matoa Bila (lab) yang me ngemukakan pendapat (gagasan) lalu disepakati oleh keenam puluh matoa, baik masalah luar maupun masalah di dalam negeri Soppeng.
  3. Namun setelah keduanya berputera (mempunyai maka timbul (muncul; ada; lahir)lahpangepak e-
    24 (dan) nge.

  4. Apa yang disepakati oleh datu Botto, arung Bila, datu Ujung, baik menyangkut hubungan dalam negeri Soppeng maupun hubungan
    . luar negeri, tidak dapat lagi dibantah oleh sesamanya orang Soppeng, sebab demikianlah ketentuan adat kita, sebab beliau kami pertuan.

B. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN KETIKA
ARUNG APPANANG, ARUNG BILA BERSAMA ORANG
ORANG SOPENG KE SU
032. Inilah r yang .membicarakan ketika arung Bila,
Appanang bersama orang-orang 27ang masih ada, tidak turut menyertai Soppeng luarga ke Su26 Bakka-e
digiring Gowa.

su ek arung seke serta 28 segenap Lili y ke

22 Tidak khianat, berarti taat; patuh; setia. 23 Filciran tidak bercabang, setia sipenuhnya, baik dalam ucapan maupun sikap dan tindakan. 24 Pangepak, salah satu gelar/jabatan dalam kerajaan. 25 Paddanreng, gelar/jabatan di samping pangepak di Soppeng. 26 Su, artinya wilayah di pesisir pantai,1tekuasaan Gowa. 27 Lili, wilayah kerajaan di bawah kerajaan pusat. 28 Bakkae, salah satu bendera kerajaan Soppeng. 56

malam sesudah takluknya Manrai, Lollo, Kaluku menyerbulah ke ( daerah) Tellek arung Bila, arung Appanang disertai oleh orang-orang Soppeng seluruhnya.

  1. Maka (mereka) bersualah dengan rombongan pembawa rangsum-nya Lombasa Bungoro di Ulu Batu. Maka diambillah (oleh) Arung Bila, Arung Appanang pembawa rangsum-nya Lombasa Bungoro.
  2. Maka Lapanyanya
    29 (dan) Duampidang-nge- 3 o pun segera menguasai Temmaroja. Kemudian orang-orang Soppeng itu menyerbu ke arah timur, menuju ke Cempa-cempa.

  3. Keesokan harinya pada malam kedua berperanglah Arung Appanang, Arung Belo dan Daeng_ Pabilla melawan orang Siang serta orang-orang Barrasa. Sudah ada yang tewas.

  4. Sudah ada pula teman-teman Daeng Pabilla (dan) Arung Belo yang gugur. Direbutnyalah Mallewa (oleh) Daeng Pabilla. Orang-orang Soppengpun merebut pula Bangkali, Boloppangi, direbutnya Lambasa, Cempa-cempa, Biringgereng.
  5. Keesokan harinya pada malam ketiga datang pulalah segenap orang Barrasa (dan) orang Siang, Daeng Pabilla dan orang-orang Soppeng.
  6. Sudah banyak orang yang tewas. Sudah banyak pula orang-orang baik dari Barrasa, Siang yang tertangkap oleh orang-orang dari Soppeng. Maka mundurlah orang Barrasa (dan) Siang ke atas pegunungan Lalisang.
  7. Keesokan harinya pada malam kedua, merekapun melakukan penyerangan, namun tidak diberi kesempatan menguasai medan pertempuran oleh orang-orang Soppeng.
  8. Ketika matahari tenggelam pada malam kedua, Karaeng Barrasa yang bergelar Karaeng Allu memisahkan diri, lalu mengiringkan (pasukannya) kembali ke Gowa.
  9. Orang-orang Barrasa pun menyerah. Maka Pan~kajene direbut
    31 3 oleh Widappasae ri Citta bersama Bolongnge ri Lompulle.

29 lapa11ya11ya, adalah salah satu bendera/panji-panji kerajaan Soppeng. 30 D uampida11g 11ge, adalah bendera/panji-panji kerajaan Soppeng di samping Lapannyanya dan Bakkae. Widappasae, bendera /panji-panji kerajaan Soppeng dari daerah C itt a. B o/011g11ge, bendera/panji-panji kerajaan Soppeng dari daerah Lompulle.

33 34 Bontomatekne (oleh) Lapajikkiri ri Belo, Lesang Bakkae ri Marioriwawo, serta arung Bila.

  1. Menyerah/takluklah Barrasa
    35 dan Siang

  2. Di Ujung Bululah
    segenap senjata mereka diikat menjadi satu lalu dibawa kepada arung Bila (dan) arung Appanang. 37

  3. Maka Lasilatu namanya a/ameng-mana dari Appanang yang digunakan (untuk) menyeduh tuak, kemudian diberi minum kepada orang-orang Barrasa, sambil mengangkat sumpah rela hancur lebur (dan) anak-anak cucunya takkan beroleh kebaikan manakala mereka (ternyata kelak) meninNalkan datu Soppeng, serta Malampee
    38 Gemmekna dan angin lah (beliau) sedangkan orang Barrasa (dan) 40 Siang adalah dedaunan (sehingga bersedia melakukan) apa pun yang diperintahkan kepada kami.

  4. Maka. hanya beberapa hari kemudian, datanglah utusan Malampee
    ... 41
    Gemmekna hersama dengan Ambara Sepeleman, memerintahkan agar orang Barrasa (dan) orang Siang itu diturunkan ke kapal, jangan ada seorangpun yang engkau tinggalkan di negerimu.

  5. Berkata Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo kepada utusan Malampee Gemmekna: Kami semua segera akan kembali ke Binamu 42, sebab peperangan kami sudah usai. Sudah selesai pula pembicaraan kami. Adapun Barrasa (dan) Siang telah bersumpah, rela hancur lebur dan keturunannya takkan beroleh kebaikan seujung jarumpun apabila mereka menentang baginda datu Soppeng bersama Malampee Gemmekna. 33 Lapajikkiri, bendera/panji-panji kerajaan Soppeng dari daerah Belo. 34 Lesa11g Baklw.t, bender~/panji-panji kerajaan Soppeng di daerah Marioriwawo. 3 s Barrasa, adalah wilayah taklukan di bawah kerajaan Gowa. 36 Sia11g, adalah termasuk wilayah taklukan kerajaan Gowa, sebagaimana halnya daerah Barrasa. 37 Alameng-mana, adalah jenis senjata pusaka yang banyak digunakan lasykar Bugis di zaman kerajaan. 38 Malampee Gemmekna, adalab salah satu gelar Lotonuru di samping gelar-gelar lainnya, seperti Arung Palakka, Datu Mario, Pena Torisompae, Matinroe Ri Bontoala. Dalam bahasa daerah Bugis, Malampee Gemmekna berarti "yang panjang rambutnya" atau si-rambut gondrong. 39 Angin, adalah simbol kekuatan pihak penakluk (Soppeng dan.Bone) yang berkuasa sepenuhnya atas taklukannya. 40Dedaunan, adalah simbol kelemahan bagi wilayah taklukan, yang hany a mampu bergoyang ke timur ataupun ke barat sesuai dengan tipuan an gin. 4 1 Ambarala Spelema11, maksudnya Admiral Speelman. Binamu, kola-lama di daerah Jeneponto Sulawesi Selatan.

Ada pun keputusan peradilan yang dijatuhkan atas Siang ialah (membiarkan mereka) tinggal di negerinya sehingga seutuhnya (negeri bersama penduduknya) menjadi milik sepenuhnya sampai ke anak- cucu paduka (datu) Soppeng (dan) Bone.

  1. Sembarang saja dititahkan kepadanya, terserah pada kemauan datu Soppeng serta Arumpone
    43

  2. Berkata pula Arung Appanang, Arung Bila, Arung Belo: (bahwa) yang menyebabkan kami buru-buru pula berangkat naik (ke Binamu),
    44 sebab katanya, wahai suro ! tidak mungkin orang-orang Bone menjangkau Binamu sampai bulan berikut.

  3. Maka turunlah (ke kapal) orang suruhan itu (bersama): Arung Appanang, Arung Belo, beserta orang-orang Soppeng seluruhnya, menuju ke Binamu.

  4. Berjumpalah (dengan) Malampee Gemmekna di Binamu. Berkata Arung Appanang, Arung Bila kepada Malampee Gemmekna di Tana Binamo (bahwa): Adapun Karaeng Barrasa, Beru Riaja e, ungkapan/istilah Bugis, kutaklukkan, tunduk di bawah perintahku. Adapun raja Beru Rilau, istilah Bugis, diingatnya jugalah perkerabatan (antara) Beru (dan) Soppeng. Beru yang datang (ke pedalaman), Soppeng ke Su.
  5. Namun, nanti di Ujungpandang kita bersua apabila sang dewata memberi rahmat sehingga kita merebut Ujung Pandang. Dernikian pula Nepo, Suppa nanti di Jwnpandang pula kita bertemu.
  6. Berkata Arung Bila, Arung Appanang, kata pesan yang disampai- kan kepada saudara perempuan dan sepupu sekalinya: Adapun perjanjian dan kese£akatan kami (bersama) arumpone ketika kami
    5 46 mendarat di pattiro, maka kami semua yang berasal dari Angke, genggaman kami takkan dibuka, takkan dicegah lengan kami. Semampu kami (orang-orang) yang berasal dari Angke, sampai kepada keturunan sepupu ketiga kali kami.

  7. Ada pun perjanjian kami, disaksikan oleh dewata-seuwae
    47

Tidak saling meninggalkan. Tidak saling mengkhianati.

43 Arumpone, adalah gelar bagi raja Bone di samping sebagai Arung Mangkauk (raja berdaulat). 44 Suro, adalah utusan; pembawa berita. palliro, Daerab pesisir di Bone. Angke, tempat pemukiman lasykar Arung Palaka di Jakarta. Dewata seuwae, artinya dewata yang Esa.

Dan barulah kami sama berangkat setelah selesai membuat perjanjian. Orang Bone bersama (dengan) Malampee Gemmekna lewat atas, dari Bulukumba sampai ke Binamu.

  1. Kami orang Soppeng melalui Beru, Tanete menu ju ke atas sampai ke Barrasa. Demikianlah maka ada orang Soppeng yang menaklukkan Beru Riaja, istilah Bugis. Ada pula orang Soppeng yang mengajak (untuk) turut pergi berperang Arung Beru Rilau, istilah Bugis. Kami pulalah yang mercbut (. .. ) di Gowa.
  2. Kami pulalah orang-orang Soppeng yang mengalahkan awan Segeri, Attang Segcri, Barrasa, Siang. Kami pulalah orang Soppeng yang mcngikutkan Lambase, Bungoro untuk pergi berperang di Gowa. Kami pulalah orang-orang Soppeng yang membawa serta, sekaligus membebaskan dari ccngkcraman kckuasaan pemerintah kerajaan Gowa, mulai dari Beru sampai ke bagian selatan wilayah Gowa.
    C. INIIAH SUREK YANG MEMBICARAKAN PESAN YANG DISAMPAIKAN DAOKE
  3. Inilah surek yang membicarakan pesan-pesan yang disampaikan (oleh) Daoke, kemanakan ya ng namanya diambil/digunakan oleh Arung Bila yang dinamakan WE Oke. Yang kupesankan kepadamu ialah ucapan Malampce Gemmekna, ketika ia berhadapan (dengan) baginda datu Soppeng dalam rumah berukir di Bontoala, berulang kali Malampee Gemmekna mengungkapkan dan mcnyampaikannya sebagai pesan kepada anak-anaknya.
  4. Maka diucapkan oleh Baginda datu Soppeng, bahwa jikalau ada turunan dari saudara perempuannya Arung Bila, Arung Appanang, serta orang-orang dari Angke yang mendapat gugatan peradilan ataukah mereka· yang mengajukan gugatan, sedangkan Soppeng tidak sudi berupaya melindungi harga bcndanya, janganlah ada (pihak) yang mencegahnya ke Bone. Biarlah B one yang mencarikan harta benda (hak) nya.
  5. Berkata pula Malampec Gcnunekna kepada Matinroe riada tunna
  6. Bone jugalah yang berkorban, naniun kitalah orang -orang
    Soppeng yang telah merantau ke Jawa mempcrolch kebaikannya. Tamat.

Matinroe Riadaiunna, gclar anumcrta salah scorang rnja di

SUREK YANG MEMBICARAKAN PERTEMUAN BAG INDA MA TINROE RI ADATUNNA DAN BAG INDA MAL AMPEE GEMMEKNA

  1. Inilah surek yang membicarakan pertemuan baginda Matinroe Ri Adatunna dan baginda Malampee Gemmekna, bertempat di Bontoala. Setelah bobolnya Sombaopu, sehingga ratalah negeri Gowa, dan kekuasaan Malampee Gemmekna telah menjadi kokoh kuat.
  2. Berkata Malampee Gemmekna kepada Matinroe ri Adatunna, kusampaikan kepadamu wahai paduka, kckuasaan Karaengnge ri Gowa di bagian pedalaman telah kwniliki/kukuasai.
  3. Kusampaikan pula wahai paduka, orang-orang Soppeng dan orang-orang Bone (bahwa), gagallah keinginan Karaeng-nge. Hanya sayalah yang berkuasa, sedangkan (karaeng-nge) hanya menurut saja.
  4. Berkuda-balapan
  5. Demikian pula di Bone. Berkuda-balapan raja Pattiro, Arung Palakka.
    06.6. Demiki anlah pesan-pesan raja kita dalam majclis (antara) orang Soppeng (dan) orang Bone, sctelah bobolnya Sombaopu.
    49

  6. Kuda balapan para gellareng tersebut tidak digantikan, demikian pula hamba sahayanya sampai ke anak cucu saudara perempuannya Malampee Gemmekna. Itu pulalah yang dipersaksikan kepada
    50 Tellumpoccoe, pertanda kepatuhan kami kepada paduka raja di Mari-Mari, serta Batu Pute hingga kepada keturunannya bersama anak 51 cucu Matinroe ri Bontoala. Sedangkan Attang Segeri dan Awang Segeri hanyalah bagaikan dedaunan. Tamat.

49G ellare11g, adalah salah 1><1tu jenis gelaran /jabatan dalam sistem pemerintahan kerajaan lokal di zaman lampau. 50 Tel/11mpoccoe, adalah tiga kerajaan yang turut dalam persekutuan kenegaraan yang terbentuk melalui perjanjian khusus yang terkenal sebagai Mallam11mpal11e ri Timur1mg (Penanaman batu di daerah Timurung). Kerajaan yang turut dalam Tri Aliansi T ellumpocce ialah Bone, Wajo dan Soppeng. 5 1 Matin roe ri 8011/oala, adalah gelar anumerta bagi Arung Palakka yang bernania La Tounru Petta Malampee Gemmekna. Gelar anumerta tersebut, berarti "yang tidur/bersemayam; berkubur" di Bontoala.

SUREK YANG MEMBICARAKAN DIKALAH-

KANNYA CILELLANG

  1. Inilah surek yang membicarakan (tentang peristiwa) dikalahkan- nya Cilellang oleh Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo. Segenap 52 bate berkumpul di Mampu, _µntuk beristirahat maka mereka pun
    53 saling membagl tettongeng-bate.

  2. Adapun cellak-cellak e merebut Lisu sebagai tempat tancapannya. Pengek-lah yang ke selatan di daerah Kalauna. Sedangkan Kekei direbut sebagai tempat tancapan Bakkae ri Soppeng. Direbutnya pula sebagai tempat tancapan Labolong dan Lapaidara (di daerah) Balosu. Adapun Maggalung menjadi tempat tancapan bagi Lombongnge Lompulle. Adapun Bakkae Mario ri Wawo merebut wilayah Keccae, sedangkan Lapaniki menjadikan Ciniayo sebagai tempat tancapannya, itu juga yang disebut Paranika.

  3. Adapun Widappasae ri Citta, tidak memiliki tempat tancapan di Awang Segeri, sebab pabbicara berkata kepada Sulle Watang (bahwa), ada baiknya, wahai Sullewatang jikalau Widappasae dikibarkan/ ditancapkan di Segeri.
  4. Berkata Sullewatangnge ri Citta, wahai Pabicara! janganlah hendaknya engkau perhatikan hal seperti itu. Apakah engkau menyangka akan mudah mengalahkan perlawanan Karaengnge?
  5. Keesokan harinya, orang-orang Soppeng pun beranjak kebagian selatan sungai, namun mereka diserang oleh Karaengnge dibagian selatan sungai, namun mereka diserang oleh Kara1::ngnge di bagian sebelah tirnur Mangkaca. Maka mereka pun melarikan diri dan bahwa musuh sudah berada di sebelah selatan sungai, wahai paduka.
  6. Panaslah (hati) Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo maka tanpa memberitahukan kepada sesamanya orang Soppeng, dibawanya- lah Lapaccella, Labolong, Lapaidara melintasi batas wilayah bagian selatan pinggiran aliran sungai.
  7. Keesokan harinya, bertarunglah Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo (melawan) Karaengnge ri Mangambei, Karaengnge ri Manise, serta Karaengnge ri Marrang. 52 Bate, adalah kata/istilah bahasa daerah Bugis yang mempunyai beberapa pengertian, antara Jain : bekas; tanda; jejak; Dalam naskah ini bate berarti tanda atau lambang kerajaan berupa bendera/ panji-panji. Menurut kebiasaan, setiap wilayah kerajaan, baik kerajaan pusat maupun kerajaan bawahan mempunyai bate khusus sebagai simbol/lambang. Tettongeng bate, ialah daerah tempat menancapkan dan mengibarkan bate. Biasanya tempat tersebut menjadi wilayah kekuasaan dari kerajaan yang menancapkan bate di atasnya.

Cellak-Cellak e ri Lisu.

07~. (Lasykar) orang Makassar pun takluklah. Karaeng Manise pun tewas terpenggal, berguguranlah para pengawalnya. Maka Karaengnge ri Mangambei pun melarikan diri. 54

  1. Maka'· (darahnya) digunakan untuk men-cerak panji-panji Bolongnge, Lapaidara. La Pacidda namanya orang yang berhasil memenggal saudara sesusuan Karaeng Manise, lebih empat puluh orang seluruhnya yang terpenggal.
  2. Hamba sahaya pengawal Arung Belo yang bemama La Nangnangnga memenggal Karae~ Manise. Tiga orang Soppeng Riaja yang melakukan pemenggala_n bekerjasama dengan pengasuh Baginda Matinroe Ri Salassana ( ... ) amanna Dalapi.
    I

  3. Lebih sepuluh orang Marioriwawo dan Belo melakukan pemenggalan, sedangkan kedua belah tangan kemanakan Sullewatang Tobare ri Mario membawa jinjingan.

  4. Appanang pun merebut Kalukue, kemudian orang-orang Soppeng saling memisahkan diri bersama dengan panji-panji masing- masing, yaitu Bolongnge ri Lompulle, Widappasae ri Citta, Bakka e ri Mario, Lapajjikki ri Belo. 08 l. Orang-orang Tanete pun merebut Balosu. Karaeng Marrang lalu disumpah oleh Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo di Pange- pange (di tempat) yang bemama Robangnge. Lasepatu pun diambil alih.
  5. Alameng pusaka dari Appanang pun dihunus, untuk penyedu tuak yang kemudian diminumkan kepada Karaeng Marrang, lalu dibawa ke Lolo, Kalukue.
  6. Ia mengangkat sumpah, bersedia hancur luluh, segenap turunan- nya takkan beroleh kebaikan jikalau ia berani menentang Soppeng. Dan Soppeng adalah bagaikan angin, sedangkan · Karaeng Marrang bersama Tana Marrang, Lollo, dan Kaluku hanyalah bagaikan de- daunan. Datu Soppeng boleh berbuat sekehendak hatinya. 54 men-cerak, adalah salah satu tradisi di daerah Bugis yang berarti pelumuran darah, baik pada panji -panji kcrajaan, maupun peralatan/senjata, peralatan pertanian, hewan, dan sebagainya. Pelumuran darah dalam pertempuran adalah menggunakan darah musuh yang terbunuh, namun saat ini digun akan darah binatang, tennasuk darah ayam. Scsuai dcngan zamaimya, orang-orang dahulu berperang dengan menggunakan senjata tajam, sehingga mereka yang berhasil memenggal batang leher musuh, dianggap pemberani sehingga namanya disebut-sebut dalam naskah lontarak.

Maka hanya Karaeng Mangarnbeilah yang berhasil meninggalkan Mangkaca di waktu pagi hari. Dan di Papperang, berperanglah pula orang-orang Soppeng itu melawan Karaeng Labakkang.

  1. Saling menyerang sepanjang hari di pinggiran hutan. Peperangan berlangsung sarnpai malarn hari, nanti setelah malam menjadi larut barulah para Pakaraeng itu kembali ke negerinya.
  2. Pada keesokan harinya, orang-orang Soppengpun tinggal mengaso di bagian selatan daerah Segeri, maka direbutnyalah Bontosunggu, Kaluku e (oleh) orang Tanete. Lapaidara, scrta Labolong merebut Mangempang Riaja dan Mangempang Rilau, menyusur ke udik sepanjang pinggiran aliran sungai sampai ke Pitue.
  3. La Panyanya merebut Talaka ke barat. Lapanyanya merebut pula Poppongalue, Balangnge, riat(ang salo-salo, bagian utara dan barat Latopeok. Tarnat.
    F. INILAH SUR EK YANG MEMBICARAKAN MULA DIADAKANNYA RAPANG BAGI BERU (dan) SOPPENG
    56

  4. Inilah surek yang membicarakan mula Jikcnakannya rapang bagi Beru (dan) Soppeng setelah bobolnya Sombaopu, jatuhnya Gowa.

  5. Yang disuruh ialah Arung Beru, Arung Cibalu, Suro Ale, Tau
    57 Tongengnge Tokebbeng, merekalah yang diutus oleh To-Ri Sompae.

  6. Berkata Arumpone, pergilah nian engkau (untuk) membebaskan hambanya Daeng Mabela dari orang-orang Beru. Biarlah mereka arnbil pajak tanahnya tiga puluh orang( ... ).

  7. Berkata raja Tanete, tidak diarnbil pajak bagi anak turunan bangsawan, orang baik-baik. Maka Arung Cabalu setuju dan merasa gembira, untuk tidak memajak para anak turunan bangsawan. Maka arung Cabalupun mengiakan/menyetujui peraturan/adat negeri itu.
  8. Berkatalah ia, itulah jalan tempat berpijak yang akan dilaluinya (narnun) ia tidak singgah memberikan penyarnpaian dan langsung turun ke Liu.
  9. Maka Arung Cabalu tidak menyarnpaikan hal tersebut kepada para turunan bangsawan, Tau Tongengnge. Setelah Arung Cabalu mengangkat sumpah, maka kutanyakanlah keluarga yang diarnbil pajaknya. 56Rapang, adalah putusan; peraturan yang diadakan sesuai pcristiwa yang sama pada masa sebelumnya. Torisompae, gelar bagi Malampee Gemmekna yang berarti pula "orang yang disembah".

Berkata Arung Cabalu, jikalau ia ingin menyerbu, jikalau orang-orang B eru mengiming-irningkannya, maka semuanya itu adalah orang Bone. D emikianlah sumpahnya Arung Cabalu.

  1. Dan tiada henti-hentinya orang-orang Beru itu berpesta · pora. Maka (hal itu) disampaikan oleh Anmg Tanete kepada Arumpone.
  2. M aka berkatalah Torisompac, saya tidak kehendaki mereka mengubah-ubah janji yang telah dibuat oleh A rung Cabalu.
  3. Maka diutuslah sang Gcllareng La Sapara di Bone pergi ke Beru.
    ' Maka ia pun singgah di Tanete; mengingatkan Arung Tencte (perihal) pcmyataan yang diikrarkan olch Arung Cabalu.

  4. M aka bcrkatalah sang Anmg di Tanete, kuingat jua kata yang dipesankan olch Arung Cabalu sewaktu datang di Beru, scbagaimana pula yang disampaikannya kcpada Arung Bcru. 0 99. Bcrkata sang Gcllarcng, tidak dikchcndaki (ada) yang mengiming-imingkan (menentang; menyerang) Arumpone sesuai dengan perjanjian Arung Cabalu. Maka Tana/negeri Beru harus mematuhinya di mana pun ia berada. Tamat.
    G. INIIAH YANG MEMBICARAKAN (tentang) PENYAMPAIAN BAGINDA MAI.AMPEE GEMMEKNA KEPADA SOPPENG UNTUK MENYERANG TAMBORA

  5. lnilah yang membicarakan (tentang) titah Baginda Malampee Gemmekna kepada Soppeng untuk me.nyerang Tambora, sebab Arung Beru Riaja dimurkainya. 10 l. Berkata Arumpone kepada Datu Soppeng. Berbicaralah kepada kerabatmu (yaitu) Arung Beru rilau, sebab saya tidak menyamakannya dengan L abakkang, Lambasa hanya karena B aginda Torisompae telah menyatakan (bahwa) budi baik Arung Beru itu tak terbalas.
  6. Istilah Bugis. Hanya aku tak sampai terpenggal di istanaku, scpeninggalmu, karena beliaulah dua beranak melindungiku di S oppeng. Tamat.
  7. Inilah kata ( ... ) Arung Beru Rilau. lstilah Bugis. Pada Baginda di Soppeng serta kepada Tana Soppeng yang dititahkan kepada T oanuneng (dan) Toapasau. I 0 4. Berkata Baginda raja di Madello, pcrgilah engkau ke bawah 58 di Beru wahai Toammeng-Toapasu pada kerabatku Arung Beru Rilau. ke bawah, islilah ini rn enunjukkan, tempat yang dituju ber:ida di suatu wilayah yang leta k geografisnya lebih rcndah jika dibandingkan dcngan tempat si-pemhicara.

  8. Adapun hubungan kekerabatan kita dengan Beru Rilau, istilah Bugis, adalah cukup dekat. Dcmikianlah ia tidak mungkin jauh/lcpas dari diriku, asalkan kita sama mcngingat pada kesepakatan/perjanjian pendahulu kita.

  9. Sebab, dia itu wahai Toammeng-Toapasu tidak mungkin bennaksud jahat, lcbih-lebih saya takkan mungkin mempunyai niat tidak baik. Sebab yang aku pegang kuat-kuat sampai ke anak cucuku, karcna dialah yang mcmbcrikan pcrlindungan kepada baginda raja sehingga lolos dari pcmenggalan di dalam istananya (dan) mcnyelamat- kan penghuni Lamangile.
  10. Demikianlah wahai Toammeng-Toapasu, maka saya menunjuk- kan kepadanya perjanjian antara Bone Soppeng (yaitu) sama-sama berjalan, sama-sama mengayunkan tangan, sama dcrajat, sama berjalan di atas pematang (yang) bcrlckuk-lekuk (ataupun) pcmatang (yang) lurus. Berkelok-kclok atau \urns, itulah yang sama kita titi, sama mengandung niat baik bagi kcdua bclah pihak.
  11. Itulah yang kami gcnggam sekuat-kuatnya. Ke.cuali apabila air bah memisahkannya maka bamlah keduanya saling memcrangi.
  12. Maka Arung Beru Rilau-pun menghunus keris lalu berkata (istilah Bugis): lihatlah wahai Toammeng (dan) Toa Ujung. Aku rela mati terpenggal manakala aku ternyata mengkhianati Tanah Bone (dan) 59 Soppeng. Sedangkan di saat Karaengnge menaklukanmu aku tidak tega meninggalkannya. Maka patutkah kiranya jikalau engkau mengingatkan aku tentang perkerabatanku (dengan)nya?. Tamat.
  13. Inilah surck yang membicarakan pcmbicaraan Torisompae, Malampee Gemmekna (dan) Arung Cabalu.
    111. Berkata Malampee Genunekna. Saya kira wahai Arung Cabalu belwn sempurna pertempuran kita dengan Karaengnge!
  14. Menurut hamba, wahai paduka (raja), kita belwn mcndapatkan restu sang dewata apabila kita telah berhadapan dengan Karaengnge!
  15. Maka itulah sebabnya, wahai paduka! sehingga hamba menyaran- kan agar paduka bemmsyawarah dcngan kerabat kita orang-orang Soppeng, untuk mengambil kata sepakat dengan mereka yang 59Sebuah ikrar; janji selia yru1g mengru1dung pengertiru1 idenlik dengan pepatah (bahasa Indonesia) yang berbunyi: Lebih baik mati herkalru1 g tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Ata N ng, dengan ucapannya kepada datu dan Tanah Soppeng "kita kokoh- kuatkan persaudaraan Tanah Bone Tanah Soppeng, seiring sejalan dengan persaksian dewata yang di atas dan dewata yang di bawah. Kita singkapkan kain (sarung) sampai ke lutut60, · kita songsong Karaengnge dengan senjata, kita seia sekata dalam keburukan seia sekata dalam kebaikan".

  1. Lagi pula wahai Arung Cabalu (kita tidak mclupakan) ikrar yang diucapkan Toballa (bahwa) "Takkan beroleh kebaikan apapun Tanah Bone dan orang-orang Bone manakala Soppeng dikhianati oleh Bone". Itulah yang dipegang oleh Soppeng ikrar (janji setia) Bone yang dipersaksikan kepada sang dewata.
  2. Namun setelah Toballa tewas/terpenggal, maka semua pihak yang membanggakan diri sebagai pahlawan yang siap berkurban demi sirik⁶¹nya Bone ternyata ingkar janji.
  3. Maka kamilah orang-orang Soppeng yang bersepakat untuk bersama-sama melakukan perantauan, dengan membawa harta kekayaan Tanah Soppeng sebagai bekal dalam rangka usaha mencari bantuan/pendukung, untuk menghadapi kekuatan lasykar Karaengnge. Akan tetapi ( ... ) wahai Arung Cabatu. lstilah tsb. identik dengan ungkapan bahasa ludonesia "menyingsingkan lengan baju ". 6 1 Sirik, berarti malu; martabat; eksistensi manusia menurut konsepsi budaya yang didukung masyarakat S ulawesi Sela tan.

Dialah yang mampu melawannya, maka kami pun telah tiba kembali (dari perantauan). Keesokan harinya, pada malam kedua maka bcrangkatlah o.rang-orang Soppcng bersama Arung to Angke Tamat.

H. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN BERANGKAT-
2 NYA KE BARA'f6 ARUNG APPANANG, ARUNG BILA, ARUNG BELO SEKEMBALINYA DARI TIWORO

  1. Maka tiga malam sekembalinya dari Tiworo segenap orang-orang Soppeng bersama Arung To Angke, berkatalah Arung Appanang kepada Malampee Gammekna, saya akan ke ~ op peng, untuk mengumpulkan oran~-orang Soppeng yang cerai-berai agar turut menyertai kita tao Su.
  2. Berkata Malampce Gcmmekna. Sebaiknya kal ian pergi bcrtiga, biarlah saya di sini untuk mengetahui orang-orang. Bone yang mau mcnyertai. Orang Bone yang bcrsiap sedia turut bcrperang, menyerang Gowa, mencntang Karaengngc.
    64

  3. Maka ketiganya pun berangkat kebarat. Keesokan harinya mereka pun bermalam di Goa-Goa,

  4. Mereka menyampaikan kepada Arung Belo (dan) Arung Appanang, orang-orang Sawitto scdang bcrada di Mesjid Soppeng, wahai paduka.
  5. Mereka pun makan siang di Paroto bagian scbclah barat sungai, mengistirahatkan pasukan mercka bcrtiga. Sctclah ketiganya selesai makan siang,mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah barat. Mercka sudah tiba di Appang kctika matahari tenggclam (di ufuk barat).
  6. Mereka langsung menyusuri pinggiran sungai ke barat, Ialu berrnalam di (daerah) Mangkuttu.
  7. Pada waktu dinihari telah tiba, mereka pun beranjak memasuki wilayah Soppeng. Didudukinya daerah bagian timur, lalu membagi diri menjadi tiga (kelompok).
  8. Arung Belo pcrgi ke bagian utara M alaka, menduduki Cempae, dalam keadaan siap-tempur menghadapi Iasykar Sawitto. Surek ini bertali an dengan sejarah perjalanan Arung Appanang, dkk. setibanya kembali di Pattiro bersama Arung Palakka, kembali dari Jawa melalui Tiworo. Dari Pattiro, Arung Appanang. dkk. berangkat ke daerah Soppeng yang terletak pada bagian sebelah barat daerah Pattiro. Lao Sil, lihat (foot note) Nomor 2 9. Maksudnya pcrgi kc dacrah S oppcng.

dalam keadaan siap siaga. Arung Bila rnasuk ke dalam (pusat kota) Soppcng Rilau.

  1. Keti ka malam telah larut, dipilihnyalah sebanyak tiga puluh orang 'lasykar menu ju ke mesjid.
  2. Kctika fajar menyingsing (di ufuk timur) mcrcka tiba di depan pintu mesjid. Bcrkatalah rncrcka, jangan kalian mcrasa kagct wahai sesama abdi. Bukakan pintu. Kami adalah abdi, utusan yang (bertugas) menyampaikan panggilan bagi orang Sawitto. Sesudah itu mereka pun bergegas turun ( dari depan pintu mesjid).
  3. Maka lasykar yang bcrtugas menjaga di pintu mesjid pun membukakan pintu mesjid itu, tiba-tiba ditikamnya satu persatu lasykar orang Sawitto tersebut.
  4. Mereka pun terbangun dalam keadaan gempar, jatuh bangun saling menindih, berebutan melarikan diri sambil mengikatkan tali celananya (.. .). Tidak ada seorang pun yang tinggal, melupakan peralatan perang mereka yang tertinggal di dalam mesjid.
  5. Kalaupun Sullewatang Sawitto tidak sampai terpenggal, maka penyebabnya hanya karena ia cepat-cepat mengambil langkah seribu, melarikan diri menyusuri kampung ke barat. 13 5. Maka ributlah Arung Bila di pasar Soppeng, pengawaV pendukung Toballa yang siap bertarung di dalam negeri Soppeng. 13 6. Maka orang-orang Sawitto pun melarikan diri. Ada (di antaranya) menyeberang antara Belo dan Appanang, sambil melarikan diri di bagian utara pcrkampungan. Dilewatinya areal persawahan.
  6. Mereka pun dikepung oleh (pasukan) Arung Belo dan pasukan Arung A ppanang. Langkah-langkah mereka pun tertahan oleh (kekuatan lasykar) pasukan Arung Belo dan Arung Appanang, sampai mereka tersusul dan dipcnggal di bagian barat dacrah Tineo.
  7. Setelah meneapai daerah di bagian barat Tineo, maka barulah lasykar orang Soppeng kembali mengamuk di kompleks pasar Soppeng. 65 Genggaman tangan dan bekas tangan mengandung a1ti kiasan, khusus bertalian dengan peristiwa peperangan yang terjadi di zaman kerajaan lokal. Genggaman tangan berarti hasil jerih payah yang di perolah dari pihak musuh bempa pampasan perang, scdangkan bekas tangan berarti pampasan perang bempa pengambil alihru1 wilayah ta klukan. Dalam konteks pengertian ini, pihak Soppeng hanya bersedia turut mengambil bagian dalam penyerangan ke Gowa apabila ada jaminan bahwa pihak Bone yru1g mempakan sekutrn1 ya tidak akan mcrrunpas segala pampasan perang maupun wilayah kerajaan Gowa yang nantinya dian1bi alih oleh Soppeng sebagai wilayah taklukan.

Soppeng yang tidak diasingkan ke Gowa.

  1. Kembalilah ke timur, ke Pattiro Arung Appanang, Arung Bila, Arung belo.
  2. Keesokan harinya, mereka pun tinggal selama tiga malam di Goa-Goa menantikan kedatangan Iasykar orang-orang Soppeng.
  3. Berkatalah Arung Bila, Arung Belo, Arung Appanang, ada baiknya jikalau kita mcnyampaikan kcpada Malampec Gemmekna, kelak apabila kita tiba di Pattiro.
  4. Agar beliau menyampaikan kepada segenap Arung To Bone, yang sempat hadir di Pattiro. Jikalau itu jugalah (... ), mereka tidak "mencampakkan genggaman tangan kita, tidak memukul lengan kita 1165, maka kami bersiap-sedia turut menyertai baginda raja Soppeng,. agar diketahui keperkasaannya sampai kepada anak-cucu kita kelak.
  5. Jikalau permintaan kita tidak disetujui oleh orang Bone itu, maka kami hanya in~in tinggal berdiam diri di Soppeng. Saya tak sanggup lagi pergi jauh
    6.
  6. Berkata Arung Appanang. Saya pun berpandangan demikian. Tetapi sebaiknya engkaulah yang menyampaikannya kepada Malampee Gemmekna, sebab engkau berdua lebih dekat (kepada beliau).
  7. Akan tetapi jikalau pernyataan kita tidak disetujui oleh orang-orang Bone, maka kita segera kita kembali ke Soppeng. Aµapun yang ditakdirkan sang dewata. Bagaimanapun juga negeri Soppeng akan mengalami kehancuran. Mereka pun melanjut.kan perjalanan ke timur.
  8. Pada keesokan harinya, mereka pun tiba di Pattiro. Bulan baru pun mu I a1. ter bit
    ' 67

  9. Diadakanlah pertenman antara Arung Appanang, Arung Bila (dan) Arung Belo, lalu berkatalah mereka: kami semua sudah datang/kembali dari Soppeng wahai paduka! Kami (telah) mengusir lasykar orang Sawitto dari mesjid Soppeng. i49. Berkata Arung Appanang kepada Malampee Gemmekna: kami memasuki Soppeng di bagian barat Appang pada waktu malam hari. Lasykar orang Sawitto sudah berada di dalam mesjid Soppeng. pergi jauh, berarti .bepergian ke tempat yang jauh dari daerah atau negeri asal, namun dalam naskah ii:ti istilah tersebut berarti pergi ke negeri-negeri yru1g dikuasai kerajaan Gowa, seperti Bruna sampai ke Lamatti dm1 Bulo-Bulo. Bulan baru mulai terbit, maksudnya awal bulan.

Nanti pada waktu dini hari baru kami mcnyerbu ke mesjid, sekitar waktu menjelang fajar, lalu kami berperang. Lasykar orang Soppeng mengejar dan membasmi mereka di daerah bagian barat Tineo. Tidak kurang dari dua ribu orang Soppeng mengejar-ngejarnya.

15 1. Berkata Malampee Gemmckna kepada Arung Bila. Masih adakah orang yang engkau tinggalkan dalam lembah di Soppeng?

  1. Berkata Arung Bila. Tidak ada lagi, wahai paduka! Hanya rusa dan bawi saja yang masih tinggal di luar perkampungan.
  2. Maka tcrtunduklah sang baginda, sambil meneteskan air mata, mengenangkan saat-saat beliau dikhianati oleh orang-orang Bone, sehingga ia terbang ke la\'.a.
  3. Berkata Malampee Gemmekna: bagaimana kira-kira pendapatmu kalau kita menyatukan diri ke sclatan. Mampukah kiranya kita mencapai Binamo, sehingga kita menyerang Gowa dari arah selatan, sementara kapal Bclanda itu mcnyusuri wilayah lautan ke bawah, tempat kita berlabuhpun lebih dekat.
  4. Berkata Arung Bila: bennufakatlah lebih dahulu, wahai paduka dengan segenap Arung to Bone. Apakah gerangan mereka masih ingat akan isi perjanjian yang dibawakan oleh Toballa di Atapang, ketika Bone memohonkan bantuan dari datu Soppeng beserta negeri Soppeng.
  5. Kalau mereka. masih mengingatnya wahai paduka, maka biarlah kita mengajaknya membuat perjanjian, mengambil kata sepakat, menurut keinginan bersama. Sebab kami khawatir akan terjadinya pula pengkhianatan, apalagi segenap orang-orang Bone sudah tunduk kepada Karaengnge di Gowa.
  6. Berkata Malampee Gemmekna kepada Arung Cabalu: sampaikan kepada seluruh wilayah kekuasaan Bone Barat dan Timur, Bone Tengah, demikian pula Lalebbata, hingga kepada segenap pihak y~ng berada di Pattiro. Apakah mereka masih ingat akan perjanjian yang dicetuskan oleh Toballa di Atapang, ketika beliau memohonkan kebaikan/dukungan dari baginda di Soppeng, kakanda Arung Bila Amanna Wedima, serta segenap negeri Soppeng.
  7. Per~ilah Arung Cabatu berunding dengan pihak Arung to Bone. Berkatalah Arung Cabalu. Saya dititahkan oleh baginda, Malampee Gemmekna (untuk menyampaikan bahwa) apakah wilayah kekuasaan Bone barat dan timur, Bone tengah di Lalebbata masih ingat akan perjanjian yang dicetuskan (oleh) Toballa di Atapang.

Soppeng serta Arung Bila, Arnanna Wedima di samping seluruh negeri di Soppeng.

  1. Beliau titahkan pula kcpauaku (untuk meminta) pemyataan keteguhan hatimu, untuk mcnyerang Gowa, sumpah sctiamu di dalam perlawanan mencntang Karacngngc. 161. Berkatalah Bone Tengah, timur, barat dan wilayah Lalebbata: kami tidak pemah mengharapkan restu dari sang dewata untuk mengikari perjanjian yang dibuat Toballa di Atapang, serta melupakan segenap perjanjian antara Bone -Soppeng menurut kata mufakat (baginda) Malampee Gemmekna dengan kerabat kita dari Soppeng (yaitu) Pei:janjian Atapang.
  2. Apapun juga titah junjungan kita dalam rangka mengukuhkan perjanjian antara Bone -Soppeng di Atapang itu, maka kami taat dan mematuhinya.
  3. Berkata pula Arung Cabalu. Apakah kalian tidak akan berlaku khianat kepaua junjungan kita Malampee Gemmekna, demikian pula terhadap kerabatmu dari Soppeng (dan) para Arung dari Angke. Kalian tidak mempunyai fikiran bercabang. Scbab yang dikhawatirkan oleh segenap kaum kerabat kalian yang berasal dari Soppeng serta Arung dari Angke (ialah) jangan sampai mereka dikhianati kembali.
  4. Berkata ,pula orang-orang Bone itu: Itulah kesepakatan kami, yaitu memohonkan kepada sang dewata (untuk) tidak mengulangi kembali perbuatan seperti halnya yang telah menyebabkan Malampee Gemmekna terbang ke Jawa.
  5. Barulah Arung Coibalu naik kembali ke istana di Pattiro, menghadap kepada baginda Malampee Gemmekna, untuk menyampaikan hasil kesepakatan pihak Bone.
  6. Berkata Arung Cabalu, menyampaikan hasil kesepakatan segenap pihak Bone kepada baginda Malampee Gemmekna. Berkatalah Arung Cabalu kepada junjungan kita: Inilah putusan kata segenap pihak orang Bone, yang mereka sepakati bersama.
  7. Padukalah yang mengingatkan Bone, untuk mcnyampaikan kepada sanak kerabat kita dari Soppcng bescrta para Arung -to Angke. Maka apapun yang dipandang oleh paduka dapat mengokohkan perjanjian yang diikrarkan oleh Toballa di Atapang, itu pulalah yang kupegang kuat-kuat.

karni orang-orang Soppeng yang berasal dari Angke. Itu pulalah yang disaksikan oleh sang dewata, wahai Arung Cabalu, putusan katanya Bone yang masih tetap menaati perjanjian yang dibawakan oleh Toballa di Atapang. Ketidak lupaannya dari ikrar dan janji setia orang Soppeng di Atapang.

  1. Memnng demikianlah halnya wahai Arung Cabalu, saya jualah yang bersepakat dengan orang Soppcng untuk meninggalkan Tanah Bugis. Toballalah yang bersepakat dengan baginda datu Soppeng,
    . menyeru berulangkali kepada Arung Matowa Wajo bersama segenap 68 orang Wajo, memelihara Lamampatue ri Timurung memperkokoh persaudaraan Tri aliansi Tellumpoccoe Bone -Wajo dan Soppeng, untuk menghadapi (serangan) pihak Karaengnge. · 170. Namun orang-orang Wajo tidak sudi, bahkan mereka memberi- kan bantuan/dukungan kepada Karaengnge dan mengkhianati kita orang-orang Bone, sehingga kami kewalahan dalam menghadapi kekuatan Karaengnge di Gowa. Maka kami pun berlayar ke Jawa.

  2. Keesokan harinya, dikibarkanlah segenap panji-panji kerajaan dari masing-masing wilayah kekuasaan Bone khusus bagi mereka yang turut hadir di Pattiro, menghadap kepada Malampee Gemmekna. Dikembangkan pulalah Pajumpulawengnge berdampingan dengan Bakka e.

  3. Maka bcrsepakatlah para Arung To Bone dan Arung To Soppeng serta Arung To Angkc, kemudian saling menyajikan tuak/arak, lalu saling bcrjanji Jan mcngucapkan ikrar di bawah kesaksian dewata scuwae.
  4. Berkatalah junjungan kita Malampee Gcmmekna, .setelah menimbuni batu (pihak) Arung Appanang, Arung-arung dari Soppeng serta para Arung dan orang-orang Soppeng yang datang dari Angke: pcrbaharuilah wahai kakanda! kukuhkanlah kesepakatan kita selagi kita berada di seberang lautan (yaitu) di Angke melanglang buana, namun sang dewata telah memberi rahmat sehingga kita sempat berada kcmbali di Tanah Bugis dalam kcadaan baik-baik. 68Lamumpatue ri Timuru11g,
    adalah nama perjanjian politik antara tiga kerajaan lokal yang pernah membuat "Tri'Aliansi" yaitu Bone, Wajo clan Soppeng. P ada umumnya perjanjian seperti ini dipersaksikan kepada sang dewata, sambil meojatubkan batu ke suatu lubang/lempat tertentu sebagai tanda resmioya perjanjian bersaogkutan. Demikianlah maka perjanjian antara kerajaan disebut pula mallamumpatu (penanaman batu).

Paduka berkata, maka dua-tiga kali kami mengiakannya. Itulah pula yang kupegang erat-erat, ucapan katamu.

  1. Sebab, jikalau sang dcwata belum juga mengabulkan keinginan kita untuk mengambil alih/merebut kembali wilayah dominasi Karaengnge, kami pun tidak mungkin turut scrta. Kami tidak bakal jatuh, tidak pula bagi orang Soppeng seluruhnya. Scdangkan datu Soppeng anak-beranak sudah habis pula diasingkan ke Sanrangan.
  2. Berkata Arung Bila kepada Malampee Gemmekna: Sekiranya bukanlah orang-orang Bone yang memohonkan kebaikan bagi paduka, berdua (dengan) kakanda paduka yang melahirkan hamba, maka paduka takkan membawa emasnya negerimu di Soppeng sebagai bekal dalam pelayaran. Namun bone telah menyatakan: (bahwa) tidak ada yang di bawah/rendah, tidak ada yang di atas/lebih tinggi, marilah kita membcrikan perlawanan kepada Karaengnge.
  3. Mari kita saling mencarikan kebaikan. Adapun kalau kita berhasil mengalahkan Karaengnge, kita sama menguasai hak/milik masing- masing. Kita tidak saling menyianyiakan.
  4. Itulah yang kupegang erat-erat, demikian pula negerimu di Soppeng. Itu pulalah yang bakal diwariskan kepada generasi pelanjut di kemudian hari.
  5. Setelah selesai ucapan Arung Bila, barulah ia berikrar, sambil memuji diri .(bahwa): Lihatlah kelak kesatria nan tak kenal mundur dari kepungan (musuh) di medan perang. Apakah saya mati terpenggal dalam peperangan ataukah saya tetap hidup, itu tiada lain wahai Padukal hanyalah karena kerabatku orang-orang Bone tetap

Toballa di Atapang. Selagi beliau masih hiduppun kami siap mengorbankan nyawa, apalagi beliau sudah tiada!

  1. Arung Appanang pun mcloncat (ke depan) dan rnengamuk sarnbil mcngucapkan ikrar, scbagaimana ungkapan kata yang di- ucapkan (oleh) Arung Bila. Mcloncatlah sambil mengamuk, Arung Belo yang bemama Tosaddeng. Itu pula yang diikrarkan, perihal kesadaran rncrcka akan kcbaikan negeri Soppcng, serta baginda datu Soppeng. Dcmikian pula Arung Bila di Soppeng Riaja. Tamat.

    I. RINCIAN KETURUNAN BAG INDA RAJA YANG

BERDAULAT

  1. Bukanlah kedurhakaan bagiku (karena) merincikan turunan Baginda Raja berdaulat. Laternmamala namanya sang Manurung di Sekkanynyili. Beliau pulalah datu _di-Soppeng\Riaja. Beliaulah yang menikah dengan We Mapupu, lahirlah La Maracinna.
  2. La Maracinna beristeri di Suppa, menikah dengan We Patawari, lahirlah Lamba.
  3. Lamba beristeri di Balosu, mcnikah dengan Pattimanratu, lahirlah We Takkewanuwa.
  4. We Takkewanuwa bersuami di Leworeng, menikah dengan Arung Leworeng yang bernama La Temmapeo. Saudara lelakinya La Kanradu. Lahirlah La Wadeng. Lahirlah Makkanengnga. Lahirlah La Dumola. Lahirlah La Tumbeng. Lahirlah We Baku. Lahirlah T enritabbire. Enam orang bersaudara seibu seayah. Empat orang lelaki. Dua orang perempuan.
  5. La Makkanengnga datu di Soppeng Riaja. Tenritabbirelah bersuami di Baringeng. Menikah dengan La Panyorongi. Lahirlah Tenrilele. Lahirlah La Terengang. Lahirlah La Tessepala. Lahirlah Lakarakkeng. Lahirlah We Linrotaji. Lahirlah Datemata.
  6. La Makkanengnga beristeri di Bulu Matanre. Menikah dengan We Tellang, lahirlah La Karella.
  7. La Karella beristeri di Bila. Menikah dengan sepupu sekalinya yang bemama We Bollosugi. Lahirlah La Wedda. Lahirlah La Wiseang. Lahirlah La Matagina. Lahirlah Tanraure. Lahirlah We Bao. Lahirlah We Bulutana. Lahirlah Tenripalesse.

Panyorongi. Lahirlah La Patau. Lahirlah La Warani. Lahirlah We Takkelopi. Lahirlah We Tampucina.

  1. La Pasampoi beristcri di Baringeng. Menikah dengan We Tampatana. Dawiri nama kecilnya. Lahirlah La Mannusa. Toak karengnge nama panggilannya. Dia pulalah yang bemama Matinroe ri Tanana. Tiga orang bcrsaudara se-ibu se-bapak.
  2. Matinroc Ri Tanana La Mannusa menikah dengan sepupu-sekalinya yang bcmama We Takkclopi. Lahirlah Ladde. Lahirlah Lacok.
  3. La Wadcng mcnikah dcngan We Lulu. Lahirlah La Pasajo. Lahirlah La Galumpang. Lahirlah We Bollosugi. Lahirlah T enri Sampureng.
  4. We Bollosugilah menikah dengan sepupu sekalinya yang bernama La Karella. Lahirlah L1 Makkanengnga.
  5. La Maggalumpang mcnikah dcngan We Cakkewanua di Baringcng. Lahirlah La Pasorcang. Lahirlah We Lulu. Lahirlah We Benrigau.
  6. We Wulu mcnikah dcngan La Paccikkeng di Soppcng Rilau. Lahirlah La P ottobunc. Lahirlah La Padangkang. Lahirlah La Panunase.
  7. La Pottobune menikah dengan We Takkelopi. Lahirlah We Temmagumpa. Lalu menikah dengan sepupu sekalinya (yaitu) La Mannusa. Lahirlah Ladde. Lahirlah Lacok.
  8. Ladde beristeri di Mario Riawa, menikah dcngan Temmabuleng. Lahirlah La Sekati. Tosawammegga nama kecilnya. Ia bemama pula Mallajangnge ri Asseleng. Lahirlah La Mataesso. Dia pula yang dinamakan Puwang Lipue. Lahirlah La Wale. Dia pula yang bemama Massanraupe. Lahirlah La Paremma. Lahirlah La Topateddungi. Dacama nama kecilnya.
  9. La Sekkati beristeri di Lompengeng. Menikrih dengan We Soda. Darie nama kecilnya. Lahirlah La Makkateru. Topeo nama kecilnya. Lahirlah Tenrisamareng. Dia pula bergelat Matteddung 'mpulawengnge. Lahirlah La Malalae. Llihirlali La Mapulu.
  10. We Cama bersuami di Ajampulu. Menikah dengan Karaengloe Dia pula yang bemama La Sangaji. Lahirlah La Saliwu.

Bila, menikah dengan We Tenri Suke. Lahirlah La Pababhari. Lahirlah La Tenm1u.

  1. Pollipue beristeri di Ganra, menikah dengan Tenriuniang Lahirlah La Mappaleppe. Ia disebut pula Patolae. Lahirlah We Paweppe. Lah.irlah We Mapparnadeng.
  2. We Mappaweppek-lah bersuarn.i di Mario Riawa, menikah dengan Lapage. Lahirlah La Mappalalae. Lahirlah La Panaungi. Lahirlah La Pateddungi.
  3. Tellari e-lah menikah dengan La Sape. Lahirlah Temmatino Daoke nama kecilnya. L1hirlah We Makkunraiselli.
  4. We Makkunraiselli bersuam.i di Citta, menikah dengan Topeo. Lahirlah We Tenrijeka.
  5. We Tenrijeka bersuami di Panciro, menikah dengan Mapae. Lahirlah La Tenrisolong.
  6. We Tenrisolong bersuami di Bila, rnenikah dengan Toipa. Lahirlah La Musu. Lahirlah Tokessing. Lahirlah To Toppuang. Lahirlah Rajamulia. Dalalae nama kecilnya. Empat orang bersaudara seihu sehapak. Patolae Datu di Soppeng. Tellari edatu di Ganra.
  7. We Paweppek-lah bersuami di Saogenn e/L'I Pangideng Arung di Salotungo, putera mahkota/pewaris Sao Lampe pula. Dia juga sang Pangepak di Soppeng, alias Malampee janggokna.
  8. Patolae beristeri di Pattojo, menikah sesarna sepupusekali yang bemama We Tessiewa. Lahirlah We Panyai. Lahirlah Beowe. Lahirlah We Tenrigella.
  9. Beowe datu di Soppeng, dan tidak mempunyai anak. 2 11. Saudara perempuannya Beowe yang bemama We Tenrigella bersuami di Mampu, menikah dengan baginda Arung Mampu, yang bemama To Addussila. La Tenribali nama kecilnya. Dialah juga yang bemarna Matinroe ri Adatunna. 2 12. La Tenribali beri steri di Wana, menikah dengan We Bulu. Dasajo nama keciln~a. Lahirlah Tenrikaware. Dia juga bergelar Macel/ak e
    6 Kanukunna. Lahirlah We Adang. Dia pula yang bergelar Matinroe ri Madello. Lahirlah Toesa, yang bergelar pula Matinroe Ri Salassana.

M acellak e Ka1111k111111a, adalah nama gelaran/panggilan puteri dari raja Soppeng yang bern ama Latenribali dengan nama/gelar anumerta "Matinroe ri Adatunna". Nama/gelaran "Macellak e Kanukunna" berarti si mera h kuku sedangknn gclar anumcrta Malinroe ri Adalunna. berarli: yang tidur/dikuburkan Ji kcdatuam1ya.

SUREK YANG MEMBICARAKAN KEPERGIAN-NY A KE LISU ARUNG BILA ARUNG APPANANG ARUNG BELO

  1. Inilah surck yang mcmbicarakan bepcrgiannya kc Lisu Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo, Tosaddeng namanya, memegang tampuk pemerintahan di Lompo Riaja (untuk) benmding dcngan (pihak) Tancte.
    70

  2. Berkata Arung Bila. Arung Appanang. Arung Belo. Hae sejing!
    71 Apakah engkau masih ingat Soppeng Su Tanete po la ? Kalau engkau tetap mengingatnya, ayolah kita berangkat! sebab kami sudah akan menyerang Karacngnge di Gowa.

  3. Sekalipun engkau hanya tinggal berdiri, kuanggap engkau sudah rnembantuku, apalagi jikalau kita bcrsama-sama.

  4. Saya dititahkan pula oleh Malampee Gemmekna (untuk) tetap saling mencarikan kebaikan dengan pihak Tanete, tidak saling mencarikan keburukan, sebab tiada mungkin terbalas budi baiknya yang telah melepaskan diriku di malam hari, meninggalkan (daerah) Maruwala.
  5. Lalu berkata Arung Tanete yang bernama Daeng Pattinring yang bergelar Paggajongnge "Saya tetap mengingatnya, seajing Soppeng Su Tanete Pole.
  6. Namun kami mohonkan, kiranya wilayah kekuasaan kami dibebaskan dari ikatan perjanjian terhadap pihak orang Gowa beserta Karaengnge.
  7. Ketika rnatahari tenggclarn, datanglah Pabbicaranya A rung Tanete di malam hari, bertemu dcngan Arung Bila. Anmg Appanang. Arung Belo.
  8. Berkata sang Pabbicara di Tanete: yang dititahkan kcrabatmu di Tanete (ialah) kita berperang, bcsok pagi-pagi.
  9. Inilah surek yang membicarakan ketika orang Soppeng pergi ke Su, lalu menyerbu ke Balosu.
  10. Maka belasan malarn sepulangnya orang-orang Soppeng dari Tanetc, mereka pun menyerang Balosu. 70 seajing, artinya kerabat; keluarga; saudara. lstilah tersebut digunakan oleh orang Bugis di zaman kerajaan, untuk menyebut raja dan kerajaan lain yang terjaring dalam perjanjian per- saudaraan/perkerabatan. Soppeng Su Tanete pole, adalah bunyi pcrjanjian yang diikrarkan antara pihak Soppcng dan Tanete kctika keduanya bcrsepakat membual ikatan pcrsaudaraan antar kcrajaan.

  11. Berkata Arung Beru Riaja, istilah Bugis. Aku tidak melupakan- nya, seajing! Beru pole Soppeng Su, namun belum ada jalan bagiku untuk meninggalkan Gowa maupun Karaengnge. ·

  12. M aka berperanglah lasykar orang Soppeng. Sudah ada anggota lasykar Soppeng meninggal, ada pula orang Beru yang meninggal. Tujuh orang Soppeng dan orang Balosu (dan) sembilan orang Beru yang gugur sepanjang hari itu.
  13. D atanglah utusan Gowa membawa pesan (bahwa) Wahai Beru! Selamatkanlah dirimu. Sebab indukmu di Gowa tidak mampu lagi 72 Akke-ina mu akke- ama mu ri Soppeng, adalah perjanjian kenegaraan antara Soppeng dan Nepo yang menyatakan bahwa pi Soppeng adalah bagaikan ibu-bapak bagi Nepo. Perjanjian ini sekaligus merupakan ikrar pemerintah kerajaan Nepo, sebagai pernyataan takluk di bawah kekuasaan kerajaan Soppeng di zaman lampau.

Pikiranku sudah bingung ( ... ) Karaengnge.

  1. Keesokan harinya. Sudah banyak orang Soppcng yang menyeberang ke Malotong, di muara (sungai) daerah Takkalasi. Orang Bern pun mengaku kalah. Istilah Bugis.
  2. Bergegaslah Arung Beru Rilau, pagi hari itu membawa Larewo ke bawah (naungan panji-panji) Lapanyanya, sambil berkata di hadapan Arung Appanang (dan) Arung Bila.
  3. Kami sudah menghendaki kebaikan/perdamaian. Kami tidak lagi menginginkan keburukan/perselisihan. Kami sudah menghendaki kehidupan. Kami tidak lagi menginginkan kematian. Hakami senantiasa
    74 memohonkan kepada pihak Soppeng (yaitu) Beru pole Soppeng Su.

  4. Berkatalah Arung Bila. Arung Appanang. Yang dipcgang erat- erat oleh pihak Soppeng, ialah putusan katamu yang Jisaksikan olch sang dewata seuwae. Kcrelaanmu turut serta bersama Soppeng dalam kesusahan untuk menyerang Gowa, menghadapi Karaengnge.

  5. Adapun Anmg Beru Riaja, biarlah kuberitahukan (kepada) Malampee Gemmekna serta Admiral Speelman. Tergantung dari ke- sepakatan bersama, sebab kami bertiga yang datang Jari Jawa.
  6. Berkata Arung Beru Rilau e (istilah Bugis), sudah ada pula dalam genggaman tanganku.
  7. Berkata Arung Bila. Arung Appanang: Hal itu sudah
    75 kugenggam sarnpai kcpada keturunan Beru Riaja.

  8. Istilah Bugis, Sekiranya sang dewata merestui kita untuk merebut wilayah kekuasaan Karaengnge, kemudian cita-cita kita terkabul dan ada perkerabatan kita, itulah wewenang dari Soppeng. 73 Ungkapan tsb. mengandung arli kiasan, hahwa kerajaan pusat Gowa selaku induk tidak mampu Jagi mcmpertahank:m keselamatan wilayah taklukan yang dikuasainya, sepcrti Beru. 74 Peristiwa ini menggambarkan perubahan pikiran para pejabat pemerintah kerajaan Beru yang tadinya memihak kepada kerajaan Gowa, kemudian berbalik memihak kepada pihak kerajaan Soppeng dan Malampee Gemmekna. ?SMaksudnya, pernyataan takluk dari pihak kerajaan Beru Rilau sudah mencakup pula pernyataan takluk dari Beru Riaja.

Bulu Alipcng (istilah Bugis) lalu bcrkata: Perhatikanlah, wahai Soppeng! Aku rela terpenggal mati tergeletak di pinggiran Gowa ataupun saya masih tetap tegak kclak, karcna engkau masih mcngingat/menerima perjanjian kami (yaitu) Soppeng Su Bcru pole.

  1. Lasi latu namanya A lameng Pusaka dari Appanang yang digunakan mengaduk tuak, kemudian diminumkan kepada Arung Beru Rilau. Istilah Bugis. Mereka bersumpah, rela hancur, takkan beroleh kebaikan apapun apabila (kelak) ia menentang anak cucu Soppeng. Maka Anginlah orang Soppeng dan dedaunan jugalah orang Beru Riaja. lstilah Bugis.
  2. Sctelah mcngaJakan pcrjanjian Jcngan pi hak Bcru Rilau. lstilah Bugis. Barulah Anmg Bila. Arung Appanang berangkat ke atas, menuju kc Tanctc, untuk mcnantikan kedatangan orang-orang Soppeng (lainnya) yang mcnyusul bclakangan.
  3. Sebab, mengenai Arung Beru Rilau. lstilah Bugis. Mcmang sudah scpakat mcnctapkan hari kcberangkatan menuju ke Ujung Pandang, menyerang Gowa. Tamat.
  4. Maka sclama tiga malam Arung Bila (dan) Anmg Appanang di Tancte, kemudian bcrsama-sama dengan pihak orang Tanete, Arung Bila dan A rung Appanang menyerbu Cilellang.
  5. Maka berperanglah Arung Belo. Arung Appanang. Arung Bila bersama lasykar orang Tanete melawan Anmg Cilcllang serta Arung Maggalu.
  6. Sudah ada orang Soppcng yang tewas. Orang Tanete. Telah ada pula orang Cilellang yang gugur. Setelah berperang selama tiga hari, maka bcrguguranlah orang baik-baiknya Cilcllang, schingga mereka menjadi kcwalahan dan mcngundurkan diri sccara bcrkclompok di atas daerah pcgunungan.
    2.t9. Maka menyerahlah Cilellang kepada Arung Appanang. Arung Bila, Arung Belo.
  7. Lalu scgcnap scnjata yang digunakan dalam pcrtempuran, disatu- kan, kemudian diikat dan dibawakan kc hadapan Arung Bila. Arung Appanang. 25 1. Maka Lasilatulah, alamcng pusaka di Appanang yang digunakan mengaduk tuak untuk diminumkan kepada Arung Cilellang, serta A rung Maggalung. Mercka lalu bersumpah, rela hancur lebur, takkan

Arnng Manggalung hanya bagaikan dcdaunan, scdangkan orang-orang Bugis adalah bagaikan angin, bertindak scsuai kcinginannya. Tamat.

  1. lnilah surck yang membicarakan scsudah bobolnya Sombaopu, maka tcrbcbaslah scluruh ncgcri pcsisir. Kcmbalilah Datu Soppcng suami isteri bersama anak-anaknya. Dcmikian pula scgcnap orang Soppcng yang masih hidup.
  2. Maka saudara pcrcmpuannya Anmg Bila tidak mcngabdi di Soppcng, tclah ada pula nunalmya di Mangkuttu.
  3. Berkata Baginda Torisompae kcpada Matinroc Riadatunna. Saya kecualikan apabila tidak ada turunanku, anak cucuku. Dan tiada pula tunmannya junjunganmu Malampcc Gcmmckna yang sudi membcla hak milik anak cucumu, maka hcndaklah mcreka mcnyampaikannya ke Bone, agar ia mcngantarkan anak cucumu kcpada Kompany. Dialah yang akan mencarikan ha1ta miliknya, scpanjang ia masih bcrada di Tanah Bugis. Tamat.
  4. lnilah surck yang mcmbicarakan sckembalinya Matinroe Ri Adatunna dari Bone, untuk mencmui Malampee Gcmmckna Matinroe Ri Bontoala. Maka bcrsualah kecmpat Arung. Arung Paddanrcng. Watallipue. Tau Tongengngc.
  5. Matinroe Riadatunna berbincang-bincang tcntang pcngasingan dirinya kc Gowa dan ditcmpatkan di Sanrangcng.
  6. Berkata Baginda raja Soppeng. Pangepak e. Paddanrengnge. Bagaimanalah gerangan kesudahan negeri Soppeng dari Tanah Makassar. Sebab bukanlah Arumpone yanJS kita hadapi dalam
    7 perjanjian Atapang, melainkan Arung Pitue hersama orang-orang Bone.

  7. Berkata Baginda raja Soppcng, apabila suatu waktu kclak kalian ingin membuat kata sepakat (mcngcnai) pcrjanjian Toballa di Atapang, janganlah kalian mcrunclingkannya dcngan Anunponc. Rundingkanlah bcrsama dcngan Arung Pituc.

  8. Sebab Malampee Gemmekna pun ketika beliau mendarat di Pattiro bersama Arung Bila. Arung Belo. Arung Appanang Arung to Arung Pilue, adalah dcwan h:1dal keraja:m 13one, lcrdiri alas tujuh orang. masing-masing sebagai raja ym1g mcmegang tampuk pcmcrintah:m otonomi ui hawah kernjaan pusal, 13one.

oleh Malampee Gemmekna. Arung Bila. Arung Appanang. Tamat.

  1. Inilah surek yang membicarakan (tentang) cucunya Pagigi e di Soppeng Riaja yang bernama Tosida. 26 1. Berkata Tosida, yang dipesankan kepada Arnng Bila: Menurnt penglihatan clan pendengaranku, ketika kami mula mendarat di Pattiro saat kami tiba Jari Buton, bukanlah Arumpone yang Jiajak mufakat olch Baginda junjungan kita dan seluruh rombongannya yang datang dari ·Angke.
  2. Hanya Arung-arung dari Bone. Beserra orang Bone itu sendiri. Setelah tcrjadi kata sepakat, banilah mereka saling berjanji setia. Lalu mereka saling menyajikan tuak, kcmudian saling mengucapkan ikrar di bawah kesaksian dewata seuwae: tidak saling mengambil hak (antara sesamanya). Tidak saling mengkhianati. Tidak saling merebut ra mpasan perang. Tidak saling menghalangi keberuntungan masing- masing. Disaksikan dewata seuwae. Tamat.
  3. Mulut semoga tidak sobek, janganlah kiranya aku Jurhaka (karena) menyebut-nyebut keturunan raja berdaulat. 26 4. We Tenriawe namanya Arung di Madella, lalu bersuami di Sidenreng, menikah dcngan Karang Betteng, Massao Locci e di S idenreng.
  4. Dia pulalah kedatuan di Sidenreng, lalu memperisterikan sang A rung di Madella, kemudian melahirkan anak yang bernama We Tappatana.
  5. Beliau pulalah yang bergelar Dari Rilangi. Beliaulah menikah dengan baginda raja di Patila, lalu melahirkan seorang anak wanita, seorang anak laki-laki. Topelu namanya yang laki-laki. We Tenridi namanya yang wanita.
  6. Dewi Rilangi kemudian bersuami di Bakke, menikah dengan Daemang. Lahirlah We Tenrijello. Lahirlah Tenriamparang.
  7. We Tenrijello lagi yang bersuamikan Toakkarengnge, Baginda datu Bakke. Lahirlah La Tenripeppa. La Tenripeppalah beristeri di Makasar, beristerikan puteri baginda Karaengnge. T amat.
  8. Inilah surek yang membicarakan (perihal) usainya pemyataan ikrar bagi orang-orang Bone. Kembali lag i diadakan musyawarah antara para Arung dari Bone dan Arung Soppeng beserta para Arung dari Angke.

Bcrkata Baginda Malampec Gcmmckna. A pakah mcnurut pendapat kakanda pcrtcmpuran kita di Buton itu sud ah baik?

  1. Berkata Arnng Bila, n1enurut saya (hal itu) belum baik. Scbab hanya karena kita berpapasan di lautan, maka ki ta bcrpcrang.
  2. Bcrkata Arung Appanang: Mana wilayah kckuasaan Bone yang mungkin membela Gowa, wilayah taklukannya Gowa.
  3. Bcrkata Daimang. Orang Bulo-Bulo dan orang Lamatti.
  4. Bcrkata Arung Bila: Siapa gcrangan yang bisa berb icara padanya, untuk memancing gara-gara.
  5. Berkata Daemang: lalah "janji sctianya Bulo-B ul o (dan) L1matti yang telah diikrarkannya".
  6. Berkatalah M alampec Gcmmckna. Pcrgilah engkau mcnclusuri- nya. (Kalau) cngkau tiba pada pagi hari, kita berangkat di sore harinya. Kalau engkau tiba (kembali) pada sore harinya, maka ki ta bcrangkat di waktu pagi hari. 27 7. Daemang pun turun ke pcrahu, kcmud ian berlayarlah A rung Sao Lcbba itu menuju kc Bulo-Bulo.
  7. Keesokan harinya, kctika matahari tcnggcla:n di ufuk barat tibalah Daemang di Bulo-Bulo, langsung masuk kc Limbong.
  8. Daemang pun mengirim utusan kcpaJa Arung Lamatti. Maka datanglah Lamatti (yaitu) Gellareng Bulo-Bulo (clan) Gellareng Lamatti.
  9. Berkatalah Daemang kcpada An.mg Lamatti (clan) Gellareng Bulo-Bulo: Masih ingatkah pada pernyataan kalian, bahwa " tcrscrah pada Malampee Gemmekna?" 281. Buru-burn jugalah mcrcka duduk. Berkata A n.mg Lamatti, Jan Gcllareng Bulo-Bulo: Kam.i masih ingat pada ucapan kata kami (itu), tetapi cngkau telah kalah (perang) olch lasykar orang Makassar. Scbab, Karaeng Batu Putc Jan Karaeng Mamajang serta Karacng Benamo. Pastilah orang-orang Makassar, akan mcnycrang kc Bone.
  10. Bergegaslah (Daemang) pergi ke perahunya, lalu (berlayar) keluar di lautan dan cepat-cepat melayarkan banteranya (kembali) ke Pattiro. Keesokan harinya, pada waktu asar maka tibalah Daemang di Pattiro.
  11. Bennufakatlah orang-orang Bone, orang-orang Soppcng dan orang-orang Angkc. Berkata Dacmang kepada Malampcc Gemmekna: orang-orang Makassar sudah tiba di Bulo-Bulo.

):>ese1ta orang dari Angke bcrangkat. Mercka saling mcnunggu di bagian selatan Mcru, untuk berkumpul segenap orang Bone clan orang-orang Soppcng.

  1. Keesokan harinya pada malain ketiga mereka pun melakukan penyerangan dengan sasaran Lamatti.
    7

  2. Puwang Lamatti7 diusung dengan mengenakan kain sarung
    78 berwama kuning clan mcrah yang dililitkan (di pinggang), didahului 79 oleh iring-iringan alosu. Ada seratus bissu mengiringkannya dengan 80 mcngayun-ayunkan walida.

  3. Ketika mereka melintas di hadapan lasykar orang Bone, mereka pun diberondongi dengan senapan. Namun tidak ada yang terluka, mereka tetap berjalan ke arah timur.

  4. Ketika mereka kembali ke arah barat, menyambar di hadapan lasykar orang Soppeng, ia pun diberondongi lagi dengan senapan. Namun tidak ada yang terjatuh, tidak ada yang tcrluka bahkan tetap saja berjalan kembali (ke arah timur). Kctika tiba pula di hadapan rombongan lasykar Bone, maka Arung Appanang dan lasykar orang-orang Bone pun diberondongi senapan oleh lasykar orang Makassar.
  5. Lasykar orang Bone dan lasykar orang-orang Soppeng pun dipukul mundur sampai ke muara sungai L imbong. Nanti di sekitar bagian barat, sebelah selatan Salo Mekko di atas tanah datar mereka bcrperang, saling menyerang sepanjang hari.
  6. Banyak lasykar orang Bone yang diambil batok kepalanya, banyak pula kepala orang-orang Makassar yang dipenggal oleh lasykar orang Bone dan lasykar orang-orang Soppeng. Selama tiga hari lasykar orang Makassar memukul mundur lasykar orang Bone dan orang 77 Puwang Lama Iii, maksudnya Puwang Matua Bi ssu yang berftmgsi sebagai tokoh agama yang besar perru1annya dalam kernjaan dan masyarnkat. 78 Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya jenjang kepemimpinan bagi Bissu. Pimpinan tcrtinggi bergclar "puang malowa" dengan simhol pakaian berwama kuning. Pimpinan kedua bergelar "Puwang Lola" dengru1 simbol pakaian berwmna merah. 79 Alosu, peralatan upacara bissu yang bentuknya menyerupai ular naga. Walida, adalah 5alah satu peralatan tenun tradisional berbentuk runcing, sehingga dapat digunakan sebagai senjata.

Soppeng dalam pertempuran sengit. Lalu mereka masuk ke daerah Bulo-Bulo, sedangkan orang-orang Bone bersama lasykar orang Soppeng masuk ke perairan Pattiro.

  1. Setclah tiga malam berada di Pattiro, kembalilah lagi para lasykar
    · orang Bone, lasykar orang Soppeng bcscrta para Arung To Angke ke kubu pertahanannya.

  2. Keesokan harinya pada malam kcdua segenap lasykar orang Bone, lasykar orang Soppeng dan para Arung Toangke telah tiba kembali di dalam benteng pertahanannya, dan kembali pula menyerang LamattL

  3. Maka' berperanglah kembali para lasykar Gowa melawan para lasykar Soppeng dan Arung To Angke di kawasan hutan. Terdesaklah lasykar orang-orang Gowa itu. Sudah banyak anggota pasukan Makassar jatuh ke tangan Iasykar Soppeng dan Bone.
  4. Maka lasykar Makassar pun dipukul mundur ke seberang sungai Tangka.
  5. Ketika pasang sudah turun di Tangka, orang-orang Bone, orang Soppeng dan para Arung Toangke- menyerbu pula ke seberang bagian selatan sungai. Maka banyaklah pampasan perang yang disita dari lasykar orang Makassar di seberang selatan sungai, oleh lasykar Bone dan Soppeng.
  6. Kacau-balaul,ah lasykar orang Makassar, maka bergegaslah segenap Karaeng menuju ke perahunya, lalu buru-buru berlayar kembali ke Gowa.
  7. Lamatti dan Bulo-Bulo lalu menjatuhkan senjata, mengaku takluk. Maka lasykar orang Soppeng bersama Arung To Angke pun kembali ke Pattiro, untuk mengambil bawaannya, kemudian berangkat ke Beru dan Tanete. Tamat.
  8. Semoga aku tidak kena kutukan (karena)
    · menyebut-nyebut turunan para raja berdaulat.

  9. La Mappaleppe namanya. Patolae gelarannya. Beliaulah datu di Soppeng. Beliaulah yang (turut) dalam perjanjian persekutuan tiga
    . kerajaan (yaitu) Tellumpoccoe di Timurung bersama Arumpone yang bergelar Bongkae, Arung Matoa Wajo yang bemama Toudama.

  10. Beliau pulalah datu Soppeng yang menaklukkan Timurung, Balosu, Nepo, Mario, Riawa, Bilokka, Awanio, Cirowali, Lompulle, Baringeng, Ujumpulu, Lompengeng, Citta,. Gowa-gowa, Mario Riwawo, Lamuru, seluruh lili riattang, Duakkaserae Bate-Bate di 86

pulalah yang mclakukan perjanjian Tellwnpoccoe Ri Timurung, kemuclian mcngalahkan Lamuru.

  1. Inilah clatu Soppeng, Matinroc Riaclatunna bcrscpakat dcngan Matinroe ri Salemo, sesudah bobolnya pertahanan kerajaan Gowa di Sombaopu memasukkan Sombaopu
  2. Inilah surck yang membicarakan (tentang) kembalinya Matinroe Riadatunn:i dari Bone, scwaktu Matinroe Ri Bontoala melctakkan ram but.
  3. Berkata baginda datu Soppcng kepa
  4. Lamamung, sesungguhnya To Angkenya negeri Soppeng Rilau. Dia pulalah datu di Soppcng Rilau. Dialah pula datu di Mario Riwawo. Kedua, Arung Bila di Soppcng Riaja. Ketiga baginda datu Citta. Keempat Arung Appanang. Kelima Arung Belo. Sckian itulah To Angke yang ada di ncgeri Soppeng, kelimanya Tamat.
  5. Berkata Puanna Pagigie: Adapun Soppeng Riaja yang bemama Tosida, yang diambil di Buton (oleh) Arung Bila (ialah) Karaeng Patenne.
  6. Ucapan kata yang dipesankan kepa
  7. Arung Bila jua. Arung Appanang. Arung Belo (dan) para Arung beserta orang-orang dari Bone (yang) mengukuhkan perjanjian persau
  8. Setelah mereka memperoleh kata sepakat, barulah saling berjanji
    81 sambil minum tuak, lalu sama mengucapkan ikrar: "Seia sekata, seiring sejalan".

. 81minum tuak, merupakan salah satu tradisi dalam rangka penyelenggaraan ikatan perjanjian ,antara pihak-pihak tertentu yang terkait dalam perjanjian bersangkutan.

SUREK YANG MEMBICARAKAN SESUDAH BOBOLNYASOMBAOPU

  1. Maka jatuhlah ncgcri Gowa sesudah pcmisahan seribu orang laki-laki dan perempuan, sclurulmya orang-orang muda.
  2. Karaengnge di Gowa yang merusakkan pcrjanjian Bungaya yang dibuat bersama dengan (orang) Bclanda yang bemama Speelman.
  3. Maka diadakanlah pertemuan (antara) Malampee Gemmekna, dan segenap Arung dari Bone (bertempat) di rumah berukir dalam wilayah Bontoala. Hadir pula Baginda datu Soppeng Matinroe Riadatunna bersama scgenap orang Soppeng yang masih hidup.
  4. Berkata Malampee Genunekna kepada orang-orang Bone. Maksud saya mengumpulkan kalian orang-orang Bone, sebab kakanda Arung Appanang sudah wafat (demikian pula) kemanakanku Arung Bila, adikku Arung Belo.
  5. Apakah kalian masih ingat akan ikatan perjanjian bersama yang kita sepakati pada saat kami dan segenap orang Soppengffo Angke mula berlabuh di Pattiro, dari Buton?
  6. Orang-orang Bone berkata: (perjanjian) yang mana, wahai paduka yang mulia? Berkata Malampee Genunekna: yaitu ikrar kita, bahwa apabila sang dewata memberikan rahmatnya sehingga kita

oleh sang dewata, maka genggaman tangan orang-orang Soppeng yang datang dari Angke tidak akan diuraikan, hingga ke sepupu tiga kali mereka?!

  1. Berk ata orang-orang Bone: Kami tetap mengingatnya. Kami tetap memegangnya dcmgan erat (yaitu) tidak Saling memukuJ Jengan, tidak saling menguraikan genggaman tangan, tidak saling mercbut hasil rampasan perang.
  2. Berkata Baginda raja Soppeng kepada pihak orang Bone: Itulah yang kami pegang dcngan erat, disaksikan olch dcwata seuwae, bahwa kalian takkan mengharnburkan isi gcnggaman tangannya; takkan menghalangi usaha pcnaklukannya (atas wilay ah kekuasaan musuh); takkan merampas hasil rampasan pcrang yang diperoleh para To Angke dan negeri Soppeng, sampai pula kepada anak cucu To Angke dan Tanah Soppeng.
  3. Biarlah generasi berikut yang mewaris inya, sebab bukanlah rupanya orang-orang Bone, melainkan karena ada juga To Angke di negeri Soppeng, sehingga nyawa kan1i suami-isteri dan ana'k beranak masih dapat selamat dari maut di Gowa'.
  4. Hari itu pula berlangsung perbincangan di Bontoala antara Malampee Gemmekna (dan) para arung dari Bone serta baginda datu Soppeng, mengenangkan kembali peristiwa mula terbangnya Malampee Gemmekna ke Euton.
  5. Berkata Baginda datu Soppeng Matinroe Ri Adatunna kepada Baginda Malampee Gemmekna: Hanya belasan malam sesudah engkau datang mengambil emas milik negerimu di Soppeng, kemudian engkau meninggalkan Soppeng di waktu malam menuju Bone, datang- lah Karaengnge bersama orang-orang Wajo menyerang Soppeng.
  6. Orang Soppeng pun menyerah kalah. Ia ingin memenggalku di dalam istana kediamanku, dan aku hanya lolos dari pembantaian (karena) Arung Beru Rilau. lstilah Bugis. yang mcnolongku. Ia berdiri di ambang pintu, sehingga penghuni Lamangile tidak habis terbantai.
  7. Berkata baginda Malampee Gemmekna kepada baginda datu Soppeng: ia telah kusekap dan terpenggal di Panunantingeng. Tamat.
  8. Inilah (surek) yang membicarakan tentang Petta Lawadeng mula membagi Bila. Ia menikah dengan We Bubu, lalu menurunkan lima orang anak. Seorang bemama La Pasajo. Seorang bemama La Galumpang. Seorang bema.ma We Bollosugi. Seorang bemama Tenrisu.mange.

  9. Maka Lapasajolah yang pergi beristeri di Amali, menikah dengan We Tenrilawi. Lahirlah La Bune. Lahirlah Latenripcppa Lahirlah Latenriadudu. Menikah dengan We Tenri Seka, maka lahirlah Lamakkawoto.

  10. La Tenriseka menikah dengan Lilatenro Ji Amali Jan melahirkan dua orang anak. Seorang bemama Lamagila. Seorang bemama Lagessa.
  11. Lagessalah beristeri di Soppcng, menikah dengan We Tebbalana dan melahirkan La Kecca, Totenratu nama kccilnya.
  12. La Kecca-lah menikah dengan We Tenribau, lahirlah La Pattokko serta Pagigie. Lahirlah We Pale. Lahirlah We Majodo Lahirlah .La Pasongkori.
  13. La Pattokko-lah menikah dengan Tenriatana. Lahirlah Dadera. Dadera menikah dengan Latemmu. Lahirlah La Tenriangke. La Tenriangkelah beristeri di Appanang, menikah dengan La Tenribarangeng. Lahirlah La Luwu/Lahirlah We Gima. Tamat.
  14. Inilah surek yang membicarakan (tentang) La Galumpang beristeri di Baringeng, menikah dengan E Cakkewanua, sepupunya. Lahirlah La Pasoreang. Lahirlah We Wulu. Lahirlah We Bcnrigau.
  15. We Wululah menikah dengan La Paccikkeng di Soppeng Rilau. Lahirlah La Pottobune. Lapadangkang. Lahirlah La Kumala.
  16. La Kumalalah menikah dengan We T enriparialima'. Lahirlah W e Tenripulana.
  17. We Tenripulana menikah dengan La Pawawoi Ji Soppcng. Lahirlah We Lise. Lahirlah We Ati. Lahirlah We Muttia. Lahirlah La Baga.
  18. We Liseklah menikah dengan La Pasasa. Lahirlah Lawaniaga, Toakkatenni nama panggilannya. Lahirlah We Tenribau.
  19. Toakkatenni menikah dengan Da Palebbi. Lahirlah We Tenjolle. Lahirlah We Maddualeng.
  20. We Tenribaulah menikah dengan La Tenca. Tenritung nama panggilannya. Lahirlah La Pattokko, puwanna Pagigie. Lahirlah We Pawellu. Lahirlah We Pacodo. Menyusul anaknya di Bila La Tenriadudu namanya. We Tenrijeka dan We Gima. T amat.

Panangilah yang melahirkan Tampa Balosu. Tampa Balosulah yang melahirkan Batara Guru. Batara Gurulah melahirkan Datu Maoge.

  1. Datu Maogelah yang melahirkan Tosakawana. Tosakawanalah yang melahirkan Tomalalae. Tomalalae melahirkan Toasengereng, alias Dewaraja.
  2. Dewaraja melahirkan Topaio(foapaio melahirkan Maningoe Ribajo. Maningoe Ribajo yang melahirkan Matinroe Ri Ware.
  3. Matinroe Ri Ware yang melahirkan Matinroe Ri Malangke. Matinroe Ri Malangke yang melahirkan Matinroe Ri Gowa. Matinroe Ri Gowa yang melahirkan Matinroe Ri Tompotikka. Melahirkan Matinroe Ri Langkanana.
  4. Matinroe Ri Langkanana yang melahirkan Matinroe Ri Pattiro. Matinroe Ri Pattiro yang melahirkan Tenrileleang. La Makkarodda. La Tenriangka.
  5. Inilah surek yang membicarakan pesan-pesan Tau Tongengnge Matowae di Soppeng.
  6. Arung Ujung Pulu, semoga aku tidak kena kutukan, yang bemama La Tenritippe, alias Addatuangnge ri Sidenreng yang tua, alias Matinroe Ri Pammantingeng.
  7. Berkata Arung Ujung Pulu kepada sepupu ketiga kalinya, junjungan kita di Soppeng yang melahirkan Matinroe Ri Madella: Sebaiknya diberitahukan kepada Tau Tongengnge agar berangkat ke
    82 83 Beru. Istilah Bugis. Memintakan tempat pondokan (bagi) hamba mu Towalennae.

  8. Berkata junjungan kita di Soppeng, aku sudah senang pada pandanganmu. Biarlah saya memberikan penyampaian kepada segenap kerabat kita, Arung Pangepak e, Arung Paddanrengnge, Arungnge Ri Soppeng. ff2Tempat po11doka11, meourut istilah bahasa daerah Bugis disebut addibolang, artinya rumah tempat menumpang. Dalam kooteks naskah ini istilah addibolang mengandung arti kiasan, sebagai basa-basi yang berarti peminangan atau pelamaran seoraog wanita uotuk dijodohkan dengao seorany lel aki. Hamba, berarti abdi; budak; namun istilah ini berarti pula tanda penghom1atan terhadap bangsawan, menurut sopan-santun dan tatakrama pergaulan.

Maka junjungan kita pun segera mengirimkan penyampaian kepada Arung Pangcpak e, Arung Paddanrengnge. Tidak lama kemudian, hadirlah semuanya di Lamangile.

  1. Maka bennufakatlah Baginda datu Soppeng bcrsama Torilaleng
    84 Soppengnge. Adapun yang discpakati bcrsama (ialah): Tau Tongengnge Matowac bcrsama an.mg Paddanrcng dan arnng Pangcpak e (dipercayakan) bcrangkat kc Bcn.1, untuk mcmintakan tcmpat pemondokan bagi Towalennae kcpada Arung Bern Riaja. Istilah Bugis.

  2. Maka berangkatlah Tau Tongengnge bersama arung Pangepak e dan arung Paddanrcngngc. Sctelah Tau Tongcngnge, an.mg Pangepak e, serta arung Paddanrengngc tiba di Beru, diadakanlah pcrtemuan dengan pihak orang-orang Bcru sekeluarga. 355 .. Disampaikannyalah maksud baik yang dititahkan olch baginda datu Soppeng kepada Tau Tongengngc, untuk memintakan pondokan bagi Towalennae pada Arung Beru R iaja. Istilah Bugis

  3. Adapun kesepakatan pihak orang Bcru sckeluarga yang disetujui bersama (ialah) "mereka bersedia memberikan pemondokan kepada Amng Ujumpulu".
  4. Berkata Tau Tongengnge Matowae kepada orang Beru: Karena kalian wahai kerabatku telah (menyatakan) menerima maksud baik junjungan kita di Soppeng. Maka nantinya Ujumpululah sendiri bersama dengan para pejabat kerajaan Ujumpulu yang bakal mengantarkan mas kawinnya. Maka putuslah pembicaraan Beru (dan) Soppeng.
  5. Kembalilah Tau Tongengnge ke Soppeng menyampaikan hasil kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak Beru-Soppeng. Sesudah itu, maka jadilah dijodohkan Arung Beru Riaja. lstilah Bugis. Yang bergelar Daeng Manakku. I Lipa nama kecilnya, Jengan Arung Ujumpulu yang bcmama La Tenritippe Towalennae.
  6. Lahirlah We Oputana. Dialah yang dibcri Bcru Riaja olch ibundanya. Istilah Bugis. Lahirlah La Malewai.
  7. Menjelang tujuh tahun kemudian cukuplah dua. Adapun bagian sebelah barat. lstilah Bugis. Itulah yang diduai (antara) Beru-Ujumpula, sesuai dengan kata mufakat yang sama disetujuinya. Adapun Napo masuk ke Sao Denrae ri Mangempang.
  8. lnilah surek yang membicarakan asal mulanya di Tanete, cucu- nya Matinroe Ri Lau Pasa di Mangempang. Adalah juga putusan kata dari Tau Tongengnge Battowae di Soppeng. l?A Torilaleng Soppeng, maksudnya pejabat-pejabat istana/kerajaan.

Pattinring nama panggilannya, bergelar Makjangkok e.

  1. Adapun yang disepakatinya (ialah) mengutus Dacng Ma.mango. Daeng Mapata bersama Topasere kepada Arung Beru Riaja. Istilah Bugis. M cmintakan pondokan bagi Arung Lipukasi.
  2. Maka ketiganya pun pergilah ke Bcru. Sesampainya di Beru, maka disampaikannya pcsan yang dititahkan kepadanya.
  3. Berkatalah orang-orang Bcru Riaja. Istilah Bugis. Biarlah kami menyampaikannya kepada junjungan kita di Soppcng, dcmikian pula kepada kerabat kita di Soppcng. Tiuaklah mungkin hal itu tidak di sampaikan kc Soppeng, scbab We Kutana ada lah cucu dari Matinroe Ri Assclcng.
  4. Orang Beru pun mengirimkan utusan ke Soppeng. Maka datang- lah Tau Tongcngngc Battowac bcrsama arung Pangcpak e, arung Paddanrcngngc scrta Ujumpulu.
  5. Maka bcrtcmulah Soppeng -Tanetc -Beru. Maka orang Bern Riaja pun barulah menerima pinangan. Istilah Bugis.
  6. Berkatalah Dacng Mapata, Daeng Mamangun, Topasere. Ber- hubungan karcna titalryang karni bawakan sudah diterima, maka kami seral1kan Awamminanga sebagai mas kawin Arung Lipukasi kepada Beru Riaja.
  7. Berkatalah Tau Tongengnge bersama para orang dalam kerajaan Soppeng, itulah walrni Tanete! yang dipegang erat-erat, oleh Soppeng, disaksikan olch dewata seuwac, janji yang telal1 engkau ucapkan. Jikalau kclak sang dewata mengumiai anak kepada We Kutana, maka dialah yang berhak atas Beru Riaja. Istilah Bugis. Dia pulalah (pemilik) Awamminanga.
  8. Mengangguklah pula Daeng Mapata, T oapasere. Setelah terjadi kata mufakat (antara) Bcru-Tanete, kembalilah Tau Tongengnge ke Soppeng menghadap kepada baginda datu, mcnyampaikan kata mufakat yang disetujui bcrsama (antara) Bcru (dan) Tanctc.
  9. Bcrkatalal1 baginda datu Soppeng, ayahanua Petta Ri Maucllo. Yang kuamanatkan kepada kalian orang-orang Soppeng. Jikalau kclak benar-bcnar We Kutana jadi berjodoh dengan Arung Lipukasi, kemudian ia dikaruniakan anak oleh sang dcwata, bukan jugalah orang sembarangan/orang biasa yang mcnitiskan turunannya We Kutana. Maka kalau ada perkerabatan kit.a yang memutuskan pcrtalian kckerabatannya, bcri ingatlah!

Pajwnpongae. Kemudian We Mappaganti mcnikah dcngan We Soda, Arungnge di Alinge, dipcrsaksikan oleh Arnmponc Malampee Gemmekna bersama Datu Soppeng, Matinroe Ri Madel lo.

  1. I We Mappaganti, lalu membawa serta kepunyaannya ke Alinge.
  2. Berkata Petta Ri Madello: wahai Arung Bila! janganlah engkau tangkap I La Mappaganti, kecuali jikalau sudah menjadi kehendak dewata seuwae. Maka dibawalah segenap kepunyaannya ke Alinge, sebab dia turunan Makassar. Tamat.
  3. Berkata Matinroe Ri Lau Pasa di Mangempang, pesan yang disampaikan La Terengang. Empat kali ia beristeri, namun dipesankan oleh adinda-ku Matinroe Ri Mangempang (bahwa) tidak ada yang memikirkan Beru Riaja. Istilah Bugis. Pertama, ia bukan pewarisnya. Kedua, Beru Riaja. Istilah bugis. Awamminanga sesuai kesaksian Soppeng ketika (We Kuntana) menikah dengan baginda di Lipukasi. Tamat. L PESAN-PESAN ARUNG BILA (dan) PETUAH ORANG
    85 DAHULU

  4. Berkata pesan-pesan Arung Bila kepada puteranya, yang ber- nama Lawaniaga. Toakkatenni, nama panggilannya. Orang yang dekat
    86 pada arung-mangkauk hanyalah : -

  5. Mereka yang sangat besar sifat kehati-hatiannya, lagi tinggi kewaspadaannya. Yang tidak habis-habisnya memikirkan siang maupun malam (untuk) mencarikan kcbaikan bagi raja dan negerinya.
    87

  6. Perhatikanlah tindak-laku pancennangengnge. Jangan dibiar- kan menyajikan makanan mentah kepada Baginda.

  7. Kalau ia memberikan makanan mcntah kepada baginda raja, nasihatilah! Jikalau ia tidak sudi dinasihati, maka beritahukanlah kepada sesamamu orang dalam, serta Pabbicarae.
  8. Nasihatilah lagi. Kalau ia tetap melakukannya, bunuhlah. Nanti setelah ia meninggal baru raja mengetahuinya. SS Orang dalwlu, maksudnya lelubur. Arung ma11gkauk, ialab raja berdaulat; raj a yang sedang memegang tampuk pemerintahan. Pancenna11geng, pelaksana urusan dapur dalam istana raja.

ranreng8 8, sebab tiada lain swnber kebaikan kita kecuali hanya dari junjungan kita.

  1. Janganlah sekali-sekali engkau mencari kebaikan di luar batas negerimu maupun junjunganmu. Takan mungkin cngkau menemukan kebaikan, kecuali di negeri sendiri serta dari junjungan kita baginda datu Soppeng.
  2. Perhatikanlah santapan baginda datu, sebab itu mempakan lambang kebesaran baginda, jangan sampai beliau dipennalukan oleh sasamanya amng mangkauk.
  3. Bagi kita para abdi, menipakan kedurhakaan pula apabila kita mengurangi adat kcbcsaran (santapan) junjungan kita, jangan pula engkau menambahkannya. Nanti beliau kualat, kendati beliau adalah raja berdaulat di selumh negeri Soppeng, namun beliau akan durhaka apabila melampaui adat leluhumya. Sayangilah junjungarunu.
  4. Perintahkanlah pula, agar selalu ada pengawal yang bennalarli Ji istana. Jangan pula sampai kurang dari sepuluh lelaki yang bennalam di dalam istana, yang siap mengamuk serta mempertaruhkan nyawa sendiri sebelum datangnya bala bantuan, manakala terjadi keributan di dalam istana.
  5. Kemudian amatilah perilaku baginda datu. Kalau orang lancang tangan, ia akan pendek wnur. Kalau ia lancang mulut ia akan menjadi hambar. Kalau ia bertindak sewenang-wenang maka turunannya takkan beroleh kebaikan.
  6. Jangan pula engkau merasa bosan memperingati baginda, akan tetapi ada waktunya. Sebab, tidak boleh sama sekali kita menghalangi kehendak raja (ataupun) memotong pembicaraannya di hadapan orang banyak. Nantilah pada saat .engkau duduk berdua-duaan, barulah engkau menunjukinya dengan hati ikhlas.
  7. Peliharalah harta benda raja. Sebab ada dua macam harta kekayaan di Soppeng. Pertama, harta kekayaan negeri Soppeng/ Bakkae. ltulah yang diketahui oleh para Pangepak. Paddanreng para Pabbicara, yaitu harta bendanya baginda raja, jamuan makan, basil ra mpasan perangnya Bakkae, serta pula upeti diwilayah kekuasaan Bakka e.
  8. Adapun harta benda yang masuk ke negeri Soppcng, itulah yang dipilih olch baginda raja Soppeng untuk diambilnya. Kemudian 88Ranre11g, penasehat; pendamping raja.

  9. Ada pun bagi raja sendiri, tcrscrah pada keinginan beliau. Di mana saja beliau simpan, siapapun yang diberikannya baik kepada anak-anak pcwaris kcrajaan maupun di luarnya. ltulah yang disebut milik pribadi raja (yaitu) di luar pcndapatan Bakkac. 39 1. Perhatikan pula! Janganlah cngkau mclupakan pcrjanjian ncgcri, kata mufakat antara datu/raja dan ncgcri. Scbab amat buruklah akibat mengingkari janji. Bcliau takkan berolch kcbaikan sampai kcpada anak cucunya. Tamat.

  10. Kubcritahukan pula kcpadamu. Ketahuilah yang dinamakan adek, lalu pelihara dan hormatilah! Scbab adek itulah yang discbut manusia. Kalau engkau tidak mcngcnal adek, maka cngkaupun takkan jadi orang.
  11. Pcrkuatlah taqwamu kcpada sang dcwata, pcliharalah pula sirik- mu, sebab orang yang kuat taqwanya kcpada sang dcwata, hanyalah orang yang tinggi rasa siriknya. Itulah yang mcnimbulkan kccintaan kita pada kejujuran.
  12. Jangan pula engkau bergaul dengan orang bersalah. Jangan pula engkau mengasihani orang-orang jahat dan pemabuk.
  13. Jangan engkau membohongi raja, serta P abbi cara, dcmikian pula sesamamu orang-dalam, bahkan terhadap scsam a manusia. Jikalau kebohonganmu sampai ketahuan, maka kclak engkau takkan di- percayai lagi kendati pun engkau berkata benar. Sebab adapun orang-orang pembohong, itulah nista yang tak ada obat pcnawarnya. Tarnat.
  14. Yang kupesankan pula kcpadamu, jangan sckali-kal i engkau berselisih paham dengan para scsamamu orang dalam.
  15. Kalau Soppcng mcnghadapi scrangan dari musuh maka ada- kanlah pertemuan antara segcnap unsur di Soppeng bersama baginda raja, di mana kalian saling bcrtukar pikiran. Apa pun kata mufakat yang mcnjadi pcrsctujuan bcrsama, itulah yang kalian lakukan, dan cngkaulah yang mcnyampaikannya/mcngungkapkan di bibir mu.
  16. Dcmikian itulah adat kcbiasaan kita di Soppcng. Jagalah mulut- mu, sebab di situlah yang mcncntukan faktor kemujuran.
  17. Wahai Arung Bila! Sclama saya mcmcgang kcndali kcrajaan yang diwariskan olch ayahanda, tiada pcrnah kulihat cngkau lalai mencarikan kebaikan bagi diriku dan ncgcri Soppcng.

Maka kumohonkan do ' a scmoga nian sang dewata menetapkan hati dan fikirarunu. Mudah-mudahan (hal terscbut) sampai pada turunanmu serta turunanku pula. Baiklah kita sama mcmesankan kepada tunman kita, agar mereka saling mcncarikan kebaikan, serta saling mcmaafkan atas kekhilafannya.

40 I. Janganlah hendaknya mereka mcngincer kerajaaku, jangan pula mcreka menginginkan kewajibanku yang berat ini.

  1. Berkata Arung Bila: Tiada tcrperikan kcgembiraan hatiku wahai paduka, mendengarkan ucapan baikmu, maka kutengadahkan kedua telapak tangan, kujunjung di atas kepalaku. Itulah sebabnya, maka hamba memang lcbih dahulu mcnyatakan bahwa kekhilafan memang sudah mcrupakan tcmpat hagi kami para abdi. Dikhilafi, adalah tempat bagi para junjungan. Pcmbcrian ampunan/maaf adalah tcmpat bagi para junjungan, dan mcndapatkan maaf/ampunan adalah tcmpat bagi bara abdi.
  2. Hanya yang hamba mohonkan, wahai paduka! Apabila kclak di kemudian hari turunan hamba rnclakukan kcsalahan, sching:ga tcrpaksa mcnjalani hukumam, maka hamba mcmohonkan kiranya yang bcrsangkutan tidak dikcluarkan darahnya. Ada pun titah paduka, bahwa kcrajaanku tidak kamu inginkan. Itulah jalan ( ... ) bagi orang yang menginginkan kcrajaan bag ind a raja Soppcng.
  3. Malapctaka. Perjanjian kcncgaraan itulah yang mcncntukan timbulnya pcperangan. Jikalau tutur kata itu baik, maka jadi bcranilah scmua orang yang pengecut.
  4. Hcndaklah engkau jujur. Jangan bcrbuat khianat tcrhadap dewata dan sesama manusia. Jangan pula sekali-kali kau biarkan siapapun juga berbuat khianat di ncgeri Soppcng dan baginda raja.
    89

  5. Itulah yang discbut cekka-datue apabila baginda raja melaku- kan sesuatu, tanpa mufakat bersama Pangepak e dan Paddanrengnge, schingga cngkau discbut-scbut olch orang-orang dalam serta scgcnap
    90 orang Soppeng "ma/a tekka ".

  6. Demikianlah maka pcrlu kita mcnjaga tindak laku dan tutur kata. Dcmikianlah adat pcngabdian kita bagi ncgcri sc11a baginda raja di Soppcng. Cekka datu = ketidakjujuran raja. CKJMala tekka = bertindak sendiri, tanpa persetujuan pihak- pihak yang berkepentingan.

Tiada lagi orang lebih dekat kepada raja, kccuali anak kandung- nya ialah Pangepak e serta Paddanrengnge. Adapun orang dalarn di negeri Soppeng yang menjadi suami ataupun isteri datu Soppeng,

  1. Yaitu: datu Ujung, Datu Botto, Massao Locci c Soppcng Rilau, Mallangkana c ri Sao Lampe, Datu Rualettc.
  2. Orang-orang tersebut pada tcmpatnya bcrsantap bcrsama-sarna dengan kita di rumah kediarnan datu S oppcng. Tamat.
  3. Kupesankan pula kepadamu: jangan sckali-kali memburuk- burukkan nama baik negcrimu
  4. Yang dikatakan engkau tidak disukai, apabila ia melakukan kesalahan yang mengharuskan dijatuhkannya hukurnam mati, maka yang kuharapkan ialah tidak mcngcluarkan darahnya.
  5. Berkata junjungan kita Puwallipuc: Memang demikian itulah kandungan ucapanku, agar kita scnantiasa sal ing memaafkan atas kesalahan masing-masing. Tamat.
  6. Berkata pula Petta Puwallipue: Adapun, Arung Bila permohonan- mu, agar turunanmu tidak dikeluarkan darahnya, sungguh amat sesuai dengan apa yang dipesankan olch junjungan kita Matinroc Ri Tanana, bahwa ada kelak keturunanku yang kesalahannya tidak dapat diarnpuni, sedangkan ia berasal dari nenek yang sarna dengan dirimu, sama sekali janganlah ditumpahkan daralmya. Orang seperti itulah, pantang tergores senjata tajarn dari besi, buatan manusia.
  7. Serta-merta Arung Bila menadahkan kedua tapak tangannya, menghaturkan sembah sujud, lalu berkata: ltulah wahai paduka yang mulia! yang kujunjung tinggi di atas kepala hamba dan kusimpul mati dalam hati. Tepat seperti itulah yang terkandung dalarn pikiran harnba, dan akan harnba pesankan kcpada anak cucuk kcturunan harnba. Tamat.
  8. Berkata pula Puwallipu e: Wahai Arung Bila: Siapa-siapa yang mengingkari kata-katanya, dialah yang takkan berolch kcbaikan hingga anak cucunya.
  9. Lagi-lagi Arung Bila menengadahkan kedua telapak iangannya, lalau -berkata: Wahai paduka junjungan hamba! sekali paduka berucap, maka dua-tiga kali hamba meng "ia". Sedangkan paduka berkata demikian, apalagi hamba yang hanya abdi. Kiranya pa

Puwallipu c: Wahai Anmg Bila! Kalau cngkau mengambil tckka pada sesamamu manusia, sehingga cngkau dikenakan sanksi hukum, sedangkan tindakanmu itu wajar, maka engkau tidak bakal mcrasakan siksaan scbelum habis seluruh kekayaan istana serta milik pribadiku. Hal ini kupe~ankan pula kepada anak cucuku. Ta.mat.

  1. Berkata Arung Bila: Menurut hamba, tiada lagi sesuatu rahmat- pun yang mclebihi penyampaian paduka kepada hamba. Hanya dcwatalah nian yang di atasnya.
  2. Berkata pula arung Bila: Pesan-pesannya kepada anaknya. Apabila anak cucu baginda tidak mengingkari ucapan katanya, maka curahkanlah pikiran dan perhatianmu sebanyak-banyaknya, perhatikan- lah .adat kebesarannya. Berbaik-baik pulalah kepada segenap raja bawahan, demi kebaikan baginda. Sebab orang biasanya celaka, oleh senjatanya sendiri. Kecuali bagi wilayah taklukan yang pemah menantang ,Soppeng, menyerang Bakka e dengan senjata, dan nekad ingin mencelakakannya.
  3. Beri ingatlah kepada baginda. Ada nian perjanjian perkcrabatan antara baginda dan orang Wumpungeng, ketika Soppeng Riaja ber- pcrang melawan Soppcng Rilau. Pada waktu Petta Mabeluak e dan junjungan ·-kita Puwallipue berselisih paham, maka datanglah. orang Wumpungeng itu.
  4. Lalu saya berkata: Apa maksud kedatanganmu kernari bersama segenap is i Wumpungeng. Maksud kedatangan kami (ialah), besar harapan karni pada Soppeng Riaja (sebab) kami tidak bersedia menemani pihak yang salah.
  5. Berkata Arung Bila: Wahai Wwnpungcng! hanya pcmyataan yang keluar dari hati nurani (mu).
  6. Berkata Arung Wumpungeng: Mulai dari ubun-ubun, sampai kc telapak kaki, dan seisi perutku, apabila terbetik maksud/niat buruk terhadap Puwallipue.
  7. Berkata pula Arung Bila: Kuulangi pula perkataanku wahai Wumpungeng! Apakah kelak engkau tidak akan meninggalkan Puwallipue? Tidakkah kelak engkau bakal mengkhianatinya, sebab saya mengkhawatirkan terjadinya peristiwa, sebagaimana halnya jalan yang telah dilalui oleh Baginda Matinroe Ri Asseleng. Sebab kamu ini orang Soppeng Rilau.
  8. Berkata Wumpungeng, kubenarkan kewaspadaamu, akan tetapi dengarkanlah ucapan kataku ini. J ikalau perkataan bohong yang

  9. Berkatalah Arung Bila: Memang demikian itulah adat pengabdian kami di Soppeng. Tamat.

  10. Berkata Arung Bila: ada petuah orang dahulu/leluhur, yang disebutnya tekka (ada) enam hal. ltulah yang menimbulkan peperangan bagi raja berdaulat.
    91

  11. Pcrtama, melangkahi pcmatang/tanggul. Kedua, dikhianati atas pcrjanjian yang tclah diikrarkan bcrsama. Kctiga, discrangnya suatu wilayah tanpa mcngabarkan kcpada pusat kcrajaannya. Kccmpat, mcmbunuh kerabat or;mg, tanpa ada kcsalahan yang pantas dijatuhi hukuman mati. Kelima, mcnurunkan ma1tabat/mcrusakkan nama baik orang. Kecnam, mcnuduh scsama raja tcntang hal yang tidak scbcnar- nya.

  12. ltulah semua yang mcngakibatnya bcrkobarnya pcperangan, bagi orang dahulu. Bcrkata pula lcluhur: sama bcrat jugalah satu tekka besar dan tckka kccil namun banyak. Tanrnt.
  13. Berkata pula orang-orang dahulu : adapun yang menegakkan per- kerabatan itu ada empat. Pertama, saling mengasihi. Kedua, senantiasa saling memaafkan. Ketiga, saling memberi sewajarnya. Keempat, saling mengingatkan.
  14. Berkata pula orang-orang dahulu: empat penyakit parahnya negeri. Pertama, raja berdaulat yang bertindak sendiri/tanpa musyawarah. Kedua, abdi yang memutuskan perkara. Ketiga, pabbicara yang menerima sogokan. Keempat, utusan yang menambah atau mengurangi pesan yang dititahkan kepadanya. Tamat. Q1pcmatang/tanggul, dalam ko ntcks naskah ini berarti peraturan; kctentuan hukum; ketentuan adat; dan sebagainya.

ti

  1. Bcrkata pula orang dahulu: Adaptm orang yang dijadikan aparat negcri mcmiliki ernpat hal. Pc11ama, ia harus bcrakal pikiran. Kc
  2. Adapun tanda-tanda orang jujur, empat pula. Pertama, menyukai kehati-hatian/ketelitian. Kedua, menyukai hal yang bcrguna. Ketiga, yang menyukai pcrbuatan baik. Kcempat, yang menyenangi perbuatan bersungguh-sungguh.
  3. Adapun tanda-tanda orang yang berani, empat pula. Pertama, yang tidak takut didahulukan. Kedua, tidak takut dikemudiankan. Ketiga, ti dak takut mendengar kabar berita. Keempat, tidak takut melihat musuh.
  4. Adapun tancla-tancla orang kaya, cmpat pula. Pcrtama, yang tak kurang aka! pikirannya. Kedua, yang tak kurang bclanjanya. Ketiga, yang longgar clalam segala tindakannya. Keempat, yang tidak pemah kekurangan gagasan. Tamat.
  5. Bcrkata pula Arung Bila, pcsan-pesannya: janganlah nian engkau terlalu berani menjadi aparat hagi negeri. Tidak sembarang orang dapat melakukan, memikirkan akan perbuatan serta pemikiran orang-orang yang dijadikan aparat bagi negeri.
  6. Adapun tindakan yang berguna, ada pada orang yang berakal. Ada pun perbuatan baik, terdapat pada orang yang cerdik. Ada pun perbuatan jahat itu, terdapat pada orang dungu. Adapun perbuatan salah itu, acla pada orang yang sesat.
  7. Adapun sumbernya adat, ialah tindakan yang wajar lagi patut. A dapun sumbemya bicara, ialah tindakan yang scwajamya scrta kata rnufakat.

memilah-milih. Tamat.

  1. Berkata pula Arung Bila: dua ha! saling mcncari; clan saling bertemu (yaitu) perbuatan baik clan sifat wajar.
  2. Adapun cara mencari kebaikan itu (ialah) dibiasakan diri melakukan hal-hal yang baik. Sekalipun kita terburu-buru narnun sedapat-dapatnya kita membiasakan diri. Kcdua, mcrendahkan diri sewajamya. Ketiga, mendekatkan diri (pada orang atau seseorang) sewajamya. Keeh1pat, usaha yang bermanfaat, Kelirna, berbalik pulang ketika menghadapi hambatan .di jalan. Keenam, meniti jalanan dalam keaclaan waspacla, kemudian menyerahkan diri pacla sang dewata.
  3. Berkata pula Arung Bila: Ada empat kayu mati/keropos. Jangan- lah engkau berani menyandarkan diri padanya. Satu kayu mati/ keropos, kalau kita pintar clan kita mengetahui.cliri pintar. Kedua, kalau kita kaya dan kita tahu diri kaya. Ketiga, kalau kita bangsawan dan kita

KESIMPULAN

4.1 A N A L I S I S Berdasarkan hasil transliterasi dan terjemahan naskah kuno lontarak Poada-ada-engngi Tana e Ri Soppeng yang telah di- kemukakan dalam laporan ini, maka secara garis besar naskah tersebut memuat informasi yang bertalian dengan 12 (dua betas) hal pokok, yaitu: asal -usul penduduk dan mula terbentuknya pemerintahan kerajaan Soppeng; peristiwa/sejarah penaklukan kerajaan Soppeng atas kerajaan dominasi Gowa di Manrai, Lallo, Kaluku, Tellek, Lombasa, Bungoro, Barrasa, di samping beberapa daerah lainnya; pesan-pesan Daoke; pertemuan antara raja Soppeng dan Petta Malampee Gemmekna di Bontoala; jatuhnya kerajaan Cilellang ke tangan laskar Soppeng; keputusan tentang kerajaan Beru; peristiwa kembalinya Arung Bila dan kawan-kawannya dari Tiworo; silsilah kekerabatan raja-raja Soppeng; Arung Bila dan kawan-kawannya ke Lisu; sesudahnya bobolnya kerajaan Gowa; petuah Arung Bila dan leluhur. Analisis tentang isi masing-masing komponen isi naskah tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

Asal-usu) Penduduk dan Mula Terbentuknya Sistem Pemerintahan di Kerajaan Soppeng.

Bagian ini memuat catatan scjarah yang mengungkapkan, tcntang keadaan masyarakat dan daerah Soppeng setelah punahnya sistem

1 Galigo • Kctika itu masyarakat sedang mcngalami masa kcscnjangan pcmcrintahan. Menurut pembcritaan lontarak, peristiwa kescnjangan pcmerintahan 2 pada masa itu tcrjadi pula di dacrah-dacrah lain scpcrti Bonc. Dalam lontarak Soppeng yang mcnjadi sasaran pcnclitian ini disebutkan, antara lain scbagai bcrikut:

a. Masyarakat Soppeng meninggalkan tempat kcdiaman yang lama di wilayah pcgunungan Scwo scrta daerah pcrbukitan Gattareng. Mcrcka kcmudian pindah kc Soppeng, namun tetap bcrpisah tcmpat. Penduduk yang bcrasal dari Bulu Scwo mcnata per- kampungan di sckitar Lalabata dan menyebut diri mcrcka sebagai orang Soppeng Riaja (orang Soppeng bagian barat), scdangkan penduduk yang bcrasal dari Gattareng mendirikan satuan-satuan pemukiman di daerah Mario, sekaligus mcnamakan diri mercka sebagai orang Soppeng Rilau (orang Soppeng bagian timur).
b. Pada masa itu tidak ada lagi unsur pcmimpin yang bergelar datu (raja), bahkan tidak ada aparat kcrajaan. Ncgeri dan kerajaanpun sudah sirna, schingga lama kelamaan tcrbentuklah kelompok-kelompok masyarakat. Lontarak Soppeng menyebutkan adanya scbanyak 60 (enam puluh) kelompok masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Soppcng, tcrmasuk Soppeng Riaja dan Soppeng l periode Galigo, adalah periode pemerintahan tradisional yang pernah ada dan herlangsung selama kekuasaan raja-raja keturunan • Batara Guru, san To-manurung di Luwu. Setelah musnahnya kerajaan yang diperintah oleh keturunan Batara Guru, masyarakat Sulawesi Selatan memasuki masa kesenjangan pemerintahan. Kisah tentang turunnya Batara Guru di bumi dan perkembangan masyarakat scrta pemerintahan tradisional zaman itu, sampai karamnya Sawerigading bersama selurub kerajaannya dapat dibaca melalui karya Pananrangi Hamid (1986), berjudul "Pau Paunna Sawerigading", buku l, terbitan Balai Kajian Jarahnitra Ujung Pandang. Ors. Abu Hamid, dalam penelitiannya berjudul "Alat-alat Kerajaan Sulawesi Selatan (Daerah Bone)" (1974) mengungkapkan antara lain, bahwa masa pemcrintahan yang berlangsung dalam periode Galigo terbagi mcnjadi dua bagian. Periode pertama, bermula pada saat turunnya Tamboro'Lan~j) ll.tau PatotoE di puncak Gunung L1timojong. Kedatangan PatotoE ini merupa- kan masa peletakau konsep-konsep pemerintahan dan dasar-dasar sistem pemerintahan / kemasyarakatan. Periode kedua adalah datangny;i Batara Guru, putera sulung PatotoE di daerah Luwu. Kerajaan Luwu kemudian mernperluas wilayah kekuasaannya di bawah pimpinan putera Batara Guru yang bernama Sawerigading. Demikianlah periode ini lebih dikenal sebagai periode Sawerigading. Sesudah usainya periode ini, terjadilah kekosongan/kekacauan pemerintahan. 2 Masa kekosongan atau kesenjangan pemerintahan di daerah Bone sebagaimana halnya yang terjadi di daerah lain dalam wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng adalah meng- akibatkan timbulnya kekacau-balauan di dalam kehidupan masyarakat bersangkutan. Hasil penelitian Pananrangi Hamid berjudul "lontarak Tellumpoccoe" (1990), menunjukkan, bahwa setelah berlalunya periode Galigo terjadilah masa kesenjangan pemerintahan, tiada lagi penguasa maupun raja. Masyarakat manusia ketika itu hidup saling mcmangsa bagaikan ikan. Siapa yang kuat dialah yang bcrkuasa. Masa kekacauan tersebut bcrlangsung sclama tujuh generasi.

daerah Sekkanynyili, sebuah perkampungan di wilayah Soppeng Riaja. Mengetahui adanya to-manurung tersebut, maka para ketua kelempok di Soppeng Riaja memberikan infonnasi kepada rekan- rekan mereka para matoa di Soppeng Rilau. Setelah melakukan musyawarah, maka segenap matoa dari keenam pululi kelompok masyarakat bersangkutan mengambil kata mufakat untuk meng- hadap kepada sang to manurung, sekaligus memohonkan kesediaan beliau untuk menjadi raja, pemimpin yang senantiasa membimbing kehidupan mereka.

d. Hasil kesepakatan ketua-ketua kelompok tersebut, kemudian di- laksanakan secara bersama-sama. Mereka mendatangi sang to manurung dan menyampaikan maksud dan keinginannya. Sang to manurung menerima baik kedatangan mereka, bahkan sekaligus mengabulkan keinginan mereka. Dalam pada itu, para matoa memohonkan kesediaan sang .to manurung untuk menetap, sekaligus. menjadi raja di daerah Soppeng, dengan pennintaan sebagai · berikut:
I) Baginda to manurung dimohon untuk menjaga keselamatan;
2) membina kesejahteraan mereka, baik sandang inaupun pangan. Permintaan tersebut dikabulkan oleh baginda to manurung, hanya dengan syarat, bahwa rakyat (Soppeng) tidak berlaku khianat dan harus setia kepada baginda raja seorang, tanpa menduakannya dengan pihak manapun juga. Sclanjutnya baginda merninta kepada para matoa, untuk menjemput tokoh to manurung lainnya yang ketika itu sedang berada di Gowarie untuk dijadikan pula raja di Soppeng Rilau.
e. Sesuai dengan saran baginda to manurung di Sekkanynyili, para matoa tersebut menemui pula to manurung di Gowarie. Sama halnya dengan to manurung di Sekkanynyili, to manurung yang muncul di Gowarie itupun bersedia diangkat menjadi raja, dengan syarat-syarat yang sama dengan perjanjian Soppeng Riaja dengan rajanya (Manurungnge ri Sekkanynyili). Demikianlah, maka sejak 3 To-manurung, adalah tokoh pemimpin yang dianggap turun di bumi dari kayangan. O rs. Abu Hamid (1974) menyatakan, antara lain bahwa to -manurung berarti orang yang turun. Tentu saja orang yang turun dari langit, orang yang menjelma dari kayangan.

silam di wilayah Soppeng terdapat kerajaan kembar, yaitu Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau. Masing-masing dipimpin oleh seorang Raja yang berasal dari jelmaan manusia dewa yang turun

  • dari langit.
    f. Kerajaan kcmbar tcrscbut kemudian mengalami pcrubahan, di mana kedua kcrajaan bersatu di bawah pemerintahan seorang raja. Perubahan dan penyatuan kedua kerajaan bcnnula dari peristiwa pertengkaran yang terjadi antara pcmerintahan kerajaan Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau. Pihak Soppcng Rilau meminta bantuan pasukan perang dari Bone, namun pihak kerajaan Bone mcnyaran- kan agar perselisihan dan pepcrangan antara sesama saudara itu dihentikan dan kembali bcrdamai. Demikianlah, raja Soppeng Rilau lalu menyerahkan scpcnulmya kepada raja Soppcng Riaja. Infonnasi tersebut menunjukkan, bahwa asal-usul penduduk Soppeng bersumber dari dua wilayah pegunungan, yaitu Bulu Sewo dan Gattareng. Penduduk yang bcrasal dari dua tempat yang saling berbeda itu kemudian membentuk pcmerintahan kcrajaan tcrsendiri, masing-masing diperintah oleh seorang to manurung, yaitu manusia penjelmaan dewa yang turun dari langit atau kayangan. Dasar pembentukan sistem pemerintahan kerajaan pada mulanya adalah terjadinya perjanjian antara keenam puluh matoa sebagai wakil rakyat clan to manurung, scbagai raja. Mcnurut pcrjanjian tcrsebut, maka rakyat Soppcng bcrsedia patuh, taat clan sctia sepenuhnya di bawah kepemimpinan rajanya, scpanjang raja tcrscbut melakukan kewajiban-kewajibannya yaitu : mcmbina kcsejahtcraan rakyat, baik dalam arti sandang maupun pangan. Tnilah yang discbut "perjanjian antara raja clan hambanya". Peristiwa Keberangkatan Arung Appanang dan Kawan-kawannya ke Daerah Kaluku dan Sekitarnya. Peristiwa ini mengisahkan usaha penyerangan pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Anmg Appanang, Arung Bila, dan Arung Belo yang dilakukan terhadap daerah-daerah kekuasaan kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai Selat Makassar. Dalam penyerangan tersebut pihak kerajaan Soppeng, mengalahkan dan mengambil alih beberapa daerah, antara Jain: daerah Manrai, Lola, clan Kaluku. Setelah menaklukkan daerah-daerah tersebut, maka pasukan kerajaan Soppeng bcrgerak terns mcnuju ke Tcllck, sambil melakukan

Cempa0, Barrasa, Siang, Pangkajene, Bontomatene.

Dalam penyerangan tersebut, kerajaan Soppeng mengambil sumpah setia dan pemyataan takluk dari raja Barrasa maupun raja Siang. Keduanya bersumpah tidak akan pemah berani mengangkat senjata lagi, melawan Soppeng dan Bone. Setelah itu Arung Appanang dan seluruh pasukannya berangkat menu ju Binamu (kota tua di Jeneponto), untuk menyusul pimpinan tertingginya yaitu Petta Malampee Gemmekna. Dari uraian terse but tampak secara jelas, bahwa kerajaan Soppeng bersama tokoh-tokoh setempat tclah berbuat banyak demi kepentingan penycrangan mereka ke sasaran utama, yaitu ibu kota kerajaan Gowa di Sombaopu. Keadaan ini juga menunjukkan kemampuan para pimpinan perang tradisional untuk mengatur taktik dan strategi, dengan cara mematahkan perlawanan daerah-daerah kecil pendukung kerajaan Gowa. Barulah kemudian pcnyerangan ditujukan langsung ke pusat pemerintahan kerajaan Gowa yang menjadi musuh bcsamya.

Pesan-pesan Daoke

Daoke adalah salah seorang tokoh lokal di kerajaan Soppeng, mempunyai hubungan kekerabatan yang masih cukup dekat dengan Arung Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroe ri Bontoala. Beliau menyampaikan pesan, tentang basil pertemuan antara Malampee Genunekna dan Baginda raja Soppeng, yaitu Matinroe ri Adatunna. Adapun isi pesan bcliau, bahwa Malampee Gemmekna berulang kali menyatakan kepada Baginda raja Soppeng tentang kesediaan pihak Bone membantu siapa saja dari keturunan rekan-rekannya dari Angke, scperti Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo untuk menuntut bela atas hak-hak mcreka yang terinjank-injak oleh pihak manapun juga. Selain itu Petta Malampeee Gemmekna menegaskan kembali, bahwa pihak Bone telah berkorban, namun pihak orang-orang Soppeng tumt beroleh keuntungan /kebaikan. Pesan tcrsebut menunjukkan adanya nilai kesetiakawanan, antara pihak Malampee Gemmekna selaku raja terhadap rekan seperjuangan dan seperjalanan dalam perantauan ke Tanah Jawa. Hal ini sekaligus mencenninkan keteguhan orang !Bugisidi dalam memegang janji setia yang telah diikrarkan dan disepakati bersama antara pihak-pihak yang terkait.

Soppeng

Bagian ini memuat informasi, tentang pertcmuan baginda Malampee Gemmekna dan baginda datu Soppeng Matinroe ri Adatunna, bertempat di Bontoala. Pertemuan itu terjadi sesudah usainya peperangan antara pihak kerajaan Bugis (Bone bcrsama Soppeng) melawan Gowa yang bcrakhir dcngan peristiwa bobolnya Gow a.

Materi pembicaraan dalam pe11emuan tcrscbut adalah pemyataan Malampee Genunekna kepada Datu Soppcng, terutama menyangkut dua hal penting. Pertama, bahwa scgcnap wilayah kckuasaan raja Gowa di pedalaman Sulawesi Selatan telah beralih ke bawah kekuasaan Malampee Gemmekna. Kedua, bahwa sang Karaeng (raja) di Gowa tidak mcmpunyai kedaulatan lagi. Titahnya tidak bcrarti lagi, melain- kan yang bcrsangkutan hanya tinggal menurut atas titah Malampee Genunekna.

lnformasi tersebut merupakan penegasan pihak pemerintah kerajaan Bugis (Malampee Gemmekna), bahwa setelah tumbangnya kerajaan Gowa4, maka sebagian besar wilayah taklukan kerajaan Gowa di daerah pedalaman diambil alih oleh pihak kerajaan Bone dan Soppeng. Dalam ha! ini status daerah/kerajaan yang diambil alih tersebut terdiri alas dua kelompok. Pertama, kelompok wilayah kerajaan persaudaraan/persekutuan Bone serta Soppeng hanya mendapatkan kembali kebebasannya dari dominasi kerajaan Gowa. Kedua, kelompok kerajaan yang memang termasuk sekutu gowa, seluruhnya.rpenjadi wilayah taklukan Bone atau pun Soppeng.

Penaklukan Daerah Cilellang Bagian ini mengungkapkan peristiwa peperangan dan penaklukan yang dilakukan oleh pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo di Cilellang dan sekitamya. Dalam peperangan tersebut kerajaan Soppeng berhasil menaklukkan beberapa kerajaan, antara lain: Mangkaca, Lisu, Kekei, Balosu, Manggalung, · Ciniajo, Mangambei Manise, Marrang, Labakkang, Bontosunggu, Kaluku, Mangempang, Pitue, Talaka, Allu, Balangnge, Latopeok.

4 Pananrangi Hamid men ulis dalan1 karyanya, berjudul "Sejarah Soppeng" (1991 :196) bahwa peristiwa kerajaan Gowa ( ... ) lazim di sebut "Rumpak-na Sombaopu), ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya atau sering disebut ceppae ri Bungaya yang terjadi dalam tahun 1667. Informasi ini tercantum pula dalam karya Pananrangi Hamid, berjudul "Sejarah Gowa" ( 1990): dan "Lontarak Tellumpoccoe" (1990).

lokal yang cukup mampu mengatasi kekuatan perang dari kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi pen

Mula Ditetapkannya Peraturan Daerah Beru oleh Soppeng

Pada bagian ini lontarak Soppeng mcngungkapkan, tcntang peraturan yang dikcnakan oleh kerajaan Soppeng kepada kcrajaan Beru. Pcraturan ini menyangkut pajak pembebasan tawanan yang ditetapkan oleh Arung Cabatu, sebagai utusan dari P etta Torisompae (Arung Palakka Malampee Gcmmekna).

Menurut peraturan tersebut, maka ditegaskan bahwa bagi para anak-anak keturunan bangsawan tidak dikenakan pajak tawanan. Peraturan ini dls"epakati olch semua pihak bersangkutan dan tidak dapat diubah-ubah. Infonnasi ini sudah merupakan suatu bukti autentik, bahwa sejak zaman silam masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan telah mengcnal dan menerapkan berbagai peraturan, sebagai usaha menciptakan ketcrtiban dalam kchi

Perintah Dari Malampee Gemmekna Menyerang Tambora

D alam bagian ini lontarak Soppeng mcncatat, bahwa Malampee Gemmckna murka tcrhadap raja Bcru Ri aja maka dipcrintahkannya kepada pihak kcrajaan Soppcng untuk rnclakukan pcnycrangan ke wilayah T ambora. Namun, bagaimanapun juga, aksi penyerangan tersebut harus didahului dengan usaha pendekatan kekeluargaan, mengingat jasa raja Beru yang telah menyelamatkan nyawa Datu Soppcng dari Kcmatian. Pcristiwa itu tcrjadi kctika Malampee Gcnunckna bcrsama rckan-rckannya bcrangkat kc Jawa atas bantuan biaya dari raja Soppeng. Hal tersebut menimbulkan murka raja Gowa, sehingga diperintahkannyalah pasukan kerajaan untuk memenggal kcpala raja Soppeng, untung saja kctika itu raja Beru memberikan pcrlindungan.

Hasil dari pendekatan tersebut membuahkan kata mufakat, bahwa pihak raja Beru tetap memegang janjinya yaitu- menerima hubungan perkerabatan dengan pihak kerajaan Soppeng/Bone. Selain itu, lontarak Soppeng mencatat pula peristiwa terjadinya pertemuan/per- bincangan antara Malan1pee Genunekna dengan Arung Cabalu. Pokok-pokok pembicaraan antara Malarnpee Gcmmckna dcngan Arung Cabalu adalah mcncakup dua hal. Pcrtarna, Malarnpec Gemrnckna menyatakan kcpada Arung Cabalu tcntang kata mufakat, antara Malarnpee Genm1ckna bcrsama dengan rckan-rckannya dari Soppcng scbelum mcrcka bcrangkat kc Jawa. Bcliau mcnambahkan pula tentang budi baik raja Soppeng yang tclah membcri biaya dan persenjataan, scbagai bckal untuk mclanglang buana, mcncari balabantuan di Tanah Jawa.

Kedua, Malampee Gcmmekna mcngingatkan kcmbali perjanjian Toballa dengan pihak kerajaan Soppcng di massa hidupnya, bahwa biarlah raja Bone bcrsanrn seluruh rakyatnya tidak beroleh keberuntungan, manakala mcrcka meninggalkan atau mcngingkari janji yang diikrarkannya, yaitu scia-sekata dan sering scpcrjalanan dengan pihak raja Soppcng bcrsama rakyatnya. Infonnasi tersebut sckali lagi menunjukkan keteguhan, kesetiaan orang-orang dahulu dalam mencpati janji yang tclah diucapkannya. Dalam hal ini bcrlaku prinsip, scpcrti pepatah yang berbunyi "lcbih baik mati bcrkalang tanah daripada hidup bcrccnnin bangkai"

Kembalinya Arung Appanang Bersama Arung Bila dan Arung

Belo ke Soppeng Menurut catatan lontarak scperti tertera dalam transliterasi dan terjemahannya, maka setelah Arung Palakka Malampee Gemmekna bersarna rekan-rekannya tiba kembali dari Tiworo tcrjadilah ke- sepakatan antara sesamanya. Dalam pada itu, ketiga tokoh kerajaan Soppeng (Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo) bcnnaksud kembali ke Soppeng untuk mcngkoordinasikan sisa-sisa pasukan yang akan diajak serta melakukan pcnycrangan kc Gowa. Scmcntara di lain pihak Arung Palakka tetap tinggal di wilayah Bone, untuk menggalang orang-orang Bone yang berscdia ikut bcrpcrang mclawan Gowa. Sctelah tcrjadi kata mufakat, bcrangkatlah para tokoh-tokoh kerajaan Soppcng terscbut mcnuju kc Soppeng. Na.mun mereka

Sawitto selaku unsur pendukung kerajaan Gowa ketika itu sedang menguasai wilayah Soppeng dan mereka bcrmarkas di dalam mcsjiJ. Mcngetahui hal tersebut, Pasukan Soppeng lalu mcnggerebck pasukan Sawitto ketika mereka sedang tiJur lelap di pagi hari. Pcnggcrcbckkan itu mcng- akibatkan hancur-lcburnya pasukan Sawitto. Banyak di antara mereka mati tcrpcnggal, adapun yang masih hiJup berusaha melarikan Jiri di bawah kcjaran pasukan kcrajaan Soppeng. Barulah scsudah mcnghalau pasukan Sawitto Jari Soppcng, ketiga datu dari kcrajaan Soppeng itu mcnycru scrta mengajak segenap rakyat, untuk turut mcmpcrkuat pasukan perang Soppeng, di dalam rangka pcrlawanan tcrhadap Gowa. Setelah itu mcreka bersama-sama kcmbali mcncmui Malampce Gcmmekna Ji wilayah Pattiro (Bone). Sclanjutnya, Malampee Gcmrnckna mempersiapkan pcmbcrangkatan pasukan menuju kc Binamu yang Jijadikan Jaerah basis penycrangan. Namun pihak Soppeng mcngajukan usul, agar Malampee Gemmekna lebih dahulu mclakukan pc1tcmuan Jengan scluruh komponen pasukan Bone, guna mcneguhkan perjanjian yang pernah dibuat olch Toballa di Atapang, demikian pula segenap perjanjian yang pcrnah dibuat olch Malampee Gemmekna. Mcnuruti usul pihak Soppcng tcrscbut, diaJakanlah pertemuan antara semua komponen pasukan Bone Jan Soppeng. Hasil pertemuan memperolch kata scpakat, bahwa masing-masing pihak bersedia memegang teguh perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, .baik oleh Toballa maupun oleh Malampec Gcmrnekna. Bertolak dari infonnasi lontarak terscbut maka jclaslah bahwa sejak zaman lampau masyarakat Bugis bukan hanya sangat hati-hati dalam mcnghadapi kckuatan lawan, mclainkan sclalu pula bersikap waspada terhaJap sesama anggota pcrsckutuan, tcrutama Jalain upaya menghindarkan terjadinya pengkhianatan dari salah satu pihak. Sejalan dcngan itu pula mcreka sangat mcngutan1akan nilai kcsatuan yang disebut asseddi-sedding (kesatupaduan), baik dalam pandangan maupun dalam sikap Jan juga dalam tindakan. Dcmikianlah, maka hampir setiap jcnis kegiatan, baik menyangkut urusan kcncgaraan maupun kcmasyarakatan scnantiasa didahului olch pclaksanaan musyawarah dalam rangka mufakat. Tindakan scorang pcnguasa tanpa proses musyawarah dipandang scbagai suatu ha! yang tidak terpuji, bahkan dalam pcngistilahan bahasa daerah Bugis tcrmasuk salah satu jenis tekka, yaitu perbuatan khianat. Mcngenai kritcria tindakan yang termasuk jenis tckka terscbut akan Jibahas secara lcbih rinci paJa sub bab lain dalam laporan ini.

Salah satu perangkat informasi yang tertuang dalam naskah kuno lontarak Soppeng ialah rincian tentang silsilah keturunan raja-raja Soppeng. Dalam hal ini catatan lontarak antara lain menunjukkan sistem jaringan hubungan kekerabatan baginda raja yang terbentuk melalui hubungan darah di samping hubungan perkawinan.

Hubungan kekerabatan bcrdasarkan ikatan darah atau kelahiran dalam keluarga raja Soppeng bcmlUla pada sepasang suami-isteri, yaitu Datu Soppeng pertama yang bcrgelar Manurungnge Ri Sekkanynyili, bersama isterinya yang bernama We Mapupu. Silsilah selanjutnya senantiasa dicatatkan setiap ~~Ji ~?~ __ keluarga sang datu yang melahirkan, sehingga perkerabatan raja-raja Soppeng dapat ditelusuri melalui silsilah keturunan yang tercakup dalam naskah lontarak. Hubungan ikatan darah antara seseorang dengan anggota keluarganya tidak akan terputus, kendati orang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Sebaliknya, ikatan kekerabatan yang terbentuk atas dasar ikatan perkawinan adalah lebih rapuh. Dalam hal ini hubungan kekerabatan hanya berlangsung selama pasangan suami isteri yang menjadi dasar hubungan tersebut masih hidup bersama. Manakala ikatan perkawinan itu sendiri terputus, maka putus pulalah pertalian kekerabatan di antara mereka. Menurut infonnasi yang tercakup dalam lontardk Soppeng temyata sejak zaman silam keluarga bangsawan Soppeng umumnya melakukan hubungan perkawinan dengan keluarga bangsawan pula. Dalam hal ini perjodohan yang dianggap iJcal adalah pcrkawinan/perjodohan yang terjadi antara laki -laki dan perempuan yang masih sali!1g berkerabat. Ini berarti bahwa pola pemilihan jodoh tersebut Jidasarkan pada prinsip endogami kerabat, maksudnya perjodohan ccndcrung berlangsung antara orang-orang yang sating bcrkerabat. Kendatipun demikian, perjodohan ataupun perkawinan antara kcturunan raja-raja Soppeng banyak pula terjadi antar daerah, bahkan banyak di antara mereka menikah dengan lelaki ataupun wanita dari daerah/kerajaan lain. Sejalan dengan pola pcrnilihan jodoh yang diwamai olch prinsip endogami-kerabat, maka sejak zaman dahulu sampai sckarang kaum bangsawan di daerah Soppeng tctap memanfaatkan lontarak untuk mengusut garis keturunan bagi seseorang laki-laki yang mengajukan pinangan terhadap seorang puteri bangsawan. Hal ini dipandang perlu, untuk memastikan apakah lelaki bersangkutan masih tcnnasuk anggota kerabat atau bukan. Selain pcnting dalam ha! perjodohan, silsilah

dalam lontarak dimanfaatkan pula untuk mengctahui asal-usul keturunan bagi seseorang yang dikenakan gugatan hukum ataupun untuk memperolch kejelasan mengenai identitas anggota kerabat raja, hal mana diperlukan dalam rangka penycbaran undangan di samping menyampaikan berita keluarga, baik berita gembira maupun berita duka.

Dari uraian tcrscbut dapat dikatakan bahwa lontarak khususnya menyangkut catatan silsilah kctunman raja-raja sampai sekarang tetap dipelihara dan dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Arung Bila Beserta Arung Appanang dan Arung Belo Menyerang Daerah Lisu

Pada bagian ini lontarak Soppcng mengungkapkan tentang peristiwa sejarah penyerangan pasukan perang kcrajaan Soppeng ke daerah Lisu, Beru Rilau _dan Beru Riaja, serta daerah-daerah dominasi kerajaan Gowa lainnya. Peristiwa penting yang terjadi ketika itu dapat dirinci sebagai berikut:

a. Dalam rangka perjuangan kerajaan B one-Soppeng untuk mem- bebaskan rakyat dan negcrinya dari pengaruh dominasi kerajaan Gowa, maka pasukan kerajaan Soppeng menyerukan kepada raja Tanete, agar yang bersangkutan mengingat ikrar/ikatan perjanjian persaudaraan yang pemah discpakati bersama di masa sebelum- nya. Selain itu ketiga tokoh perrumpin pasukan kerajaan Soppeng (Arung Bila, Arung Appanang, Arurtg Belo) mengajak pihak kerajaan Tanete, untuk turut mengangkat scnjata terhadap kerajaan Gow a. Mendengarkan scruan Jan ajakan tcrscbut, maka pihak kcrajaan Tanctc mcncgaskan bahwa mcrcka tctap tidak lupa akan tali persaudaraan dengan kerajaan Soppeng, akan tetapi mereka pun tidak mampu berbuat apa-apa, scbab adanya ikatan perkerabatan pula dengan pihak Gowa. Bahkan pihak raja Tanctc, mclalui utusannya menyampaikan kcpada pimpinan pasukan kerajaan Soppeng, tentang kescdiaan mcrcka mcnghadapi pasukan kcrajaan Soppcng dcngan kckuatan scnjata. Maka tcrjadilah pepcrangan scngit antara pasukan kcrajaan Soppcng dcngan kcrajaan Bcru, tcnnasuk Tanete. Ketika pcpcrangan tcrscbut berlangsung dcngan hebatnya dan mulai berguguran pasukan kedua belah pihak, tibalah utusan dari kcrajaan Gowa yang menyampaikan agar raja Beru dan pasukan-

lagi memberikan perlindungan. Mendengarkan pesan tersebut, maka raja Beru Riaja dan Beru Rilau{fanete segera menyatakan diri takluk, sekaligus bersumpah tidak akan menentang lagi terhadap kerajaan Soppeng. Selain itu mereka menyatakan kesediaan membantu pihak Soppeng dalam peperangan meng- hadapi raja dan kerajaan Gowa.

b. Tiga malam kemudian sesudah takluknya kerajaan Beru{fanete, maka Arung Appanang, Arung Bila, Arung Belo bersama pihak kerajaan Tanete menyerang daerah Cilellang. Setelah peperangan berlangsung selama tiga hari, pasukan kerajaan Ci lellang pun menyerah kalah dan mengangkat sumpah, untuk setia, taat dan patuh terhadap raja Soppeng serta Malampee Gemmekna.
c. Belasan malam sekembalinya clari Tanete maka pasukan kerajaan Soppeng mclakukan pula pcnycrangan terhaclap claerah Balosu. Sementara itu Madella clan Ceppaga direbut, kemudian pasukan Soppeng bergerak menuju ke daerah Nepa. Raja Nepa kctika itu menyatakan kesediaannya untuk turut mcmbantu pihak kerajaan Soppeng untuk menggempur Gowa.
d. Selain informasi terscbut, lontarak Soppeng memuat pula catatan yang menginformasikan tentang penyerangan claerah Lamatti clan Bulo-Bulo, oleh pasukan gabungan Bone-Soppeng. Perlu dijelas- kan, bahwa dalam penyerangan tersebut pasukan kerajaan Bone dipimpin langsung oleh Malampee Gemmekna, sedangkan pasukan Soppeng dipimpin oleh Arung Bila, Arung Appanang dan Arung Belo. Pcnyerangan tcrsebut berlangsung -Oalam dua tahap. Pada tahap pertama pasukan gabungan Bone-Soppcng bcrhadapan dengan barisan Bissu dari Lamatti-Bulo-Bulo. Barisan Bissu tersebut hanya bersenjatakan walida (sejenis alat tenun tradisional yang bcrbentuk nmcing) namun tidak ada satu pun yang tcrluka, kendati mereka diberondong dengan senapan. Sctclah barisan bissu itu mendapatkan bantuan dari pasukan kcrajaan Gowa, maka pihak pasukan gabungan Bone-Soppcng tcrpukul mundur. Beherapa waktu herselang, pasukan Bone-Soppeng kemhali melakukan serangan tahap kedua. Berbeda dengan penyerangan tahap pertama, ternyata pada penyerangan tahap kedua tersebut pasukan gabungan Bone-Soppeng bukan hanya mampu memberikan perlawanan sengit, melainkan dapat mengatasi

Palakka Malampee Gemrnekna bersama segenap pasukan perarig Bugis dari Angke telah menggunakan peralatan perang berupa senapan. Hal ini menunjukkan, bahwa bcrbagai jenis senjata api. telah dikenal di daerah Bugis sebelum masa bobolnya kerajaan Gowa dalam tahun 1667. Pengetahuan dan kctrampilan menggunakan scnapan dalam pepcrangan di zaman Arung Palakka, mungkin mcrupakan salah satu hasil pengambilalihan unsur-unsur kcbudayaan dan teknologi yang didukung olch masyarakat Eropa, utamanya B elanda.

Pembicaraan Malampee Gemmekna dan Negeri-negeri Persekutu-

an dari Bone-Soppeng

Bagian : m1 mengungkapkan tentang pernyataan Malampee Gemmekna ui hadapan raj a-raja hawahan dari Bone serta raj a dan wilayah persekutuannya, mengenai perjanjian dan sun11Jah setia yang telah diikrarkan bersama di daerah Pattiro, sebelum mereka melakukan proses penyerangan ke pusat kerajaan Gowa. Dalam pada itu pihak kcrajaan Bone maupun pihak kcrajaan Soppeng sama menyatakan tetap memegang teguh perjanjian dan tidak melupakan ikrar/sumpah yang telah mereka ucapkan di Pattiro.

Selain itu ditemukan info nnasi dalam lontarak Soppeng, tentang perbincangan antara Malampcc Gcmmekna dan datu Soppeng Matinroc Ri Adatunna. Dalain pada itu, datu Soppcng menyampaikan kepada Malainpee Gemmckna bahwa bclasan malai11 kemudian sesudah berangkatnya Petta Malampee Gemmekna ke Buton, datanglah pasukan perang kerajaan Gowa dibantu oleh pasukan perang kerajaan Wajo untuk menyerang Soppcng. Pasukan pcrai1g Soppeng tidak · mampu mcngatasi kckuatan gabungan antara Gowa-Wajo tcrsebut, sehingga mereka menyerah. Bahkan baginda raja Soppcng pada waktu itu nyaris mati terpenggal, namun untunglah datang pcrtolongan dari pihak raja Beru Rilau. Bcliaulah sccara tcgas mcnolak keinginan pimpinan pasukan Gowa untuk mcnjatuhkan tangan maut kcpada bangida raja Soppcng. Uraian tcrscbut mcnunjukkan, bahwa para leluhur di dacrah Soppcng scjak laina tclah mcmbcrikan pcrhatian scpenuhnya pada masalah hutang budi dan balas jasa. Terbukti pada pembahasan sub

dalam naskah/pcnelitian ini, di mana diungkapkan bahwa ketika pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Arung Bila dan kedua rekannya yaitu Arung Appanang scrta Arung Belo melakukan penycrangan dan penaklukan bcruntun atas wilayah- wilayah taklukan kerajaan Gowa di daerah Beru dan sckitarnya, maka kerajaan Tanctc/Beru Rilau tidak langsung discrbu dengan kckuatan senjata, melainkan diusahakan pcnyelcsaian secara damai dan bcrsifat kekeluargaan. Ini karena mcngingat jasa-jasa raja Tanetc yang pcmah menyelamatkan nyawa raja Soppeng di masa dahulu. Dalam hal ini ternyata orang Bu$is Soppeng menerapkan prinsip "hutang uang dapat dibayar, hutang budi dibawa ke liang kubur".

Pesan-pesan Arung Bila dan Orang Tua-tua

Bagian akhir dari lontarak Soppeng memuat berbagai pcsan, naschat dan fatwa Arung Bila maupun para leluhur. Secara garis besar pesan-pcsan tersebut terdiri atas:

a. Syarat-syarat yang pcrlu dimiliki olch abdi dalam.
b. Konsep/pandangan Arung Bila tcntang adek (adat).
c. Nasehat tentang tata cara dan tata krama pergaulan antara sesama · abdi dalam dan sopan santun terhadap raja.
d. Pesan Arung Bila tentang ikatan persaudaraannya dcngan raja Soppeng, Toakkatenni Pulallipue.
e. Perjanjian antara Soppeng dan Wumpungeng.
f. Pesan Arung Bila tcntang cekka (kctidakjujuran).
g. Hal-hal yang mengukuhkan pcrsekutuan/pcrkerabatan.
h. Hal-hal yang merupakan wabah penyakit bagi negcri.
i. Hal-hal yang membesarkan negcri.
j. Syarat-syarat yang dipcrlukan bagi aparat ncgcri.
k. Pesan-pesan Arung Bila tentang hal-hal tcrtcntu yang tidak dapat dijadikan sandaran, bagaikan pohon/kayu yang sudah keropos. Dari scluruh uraian dalam naskah hasil penclitian ini tampak secara jclas, bahwa lontarak Soppcng merupakan salah satu jcnis naskah kuno yang cukup potcnsial scbagai potensi sckaligus sumber informasi sejarah dan nilai-nilai budaya, tennasuk gagasan, pandangan dan konsep-konscp ideal dalam kchidupan masyarakat pcndukungnya.

KESIMPUIAN

Berdasarkan hasil penelitian dan kajian naskah kuno, khususnya

yang termuat dalam lontarak pannessa-engngi tanae Ri Soppeng maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Soppcng adalah salah satu wilayah bckas kerajaan lokal di kawasan jazirah Sulawesi Selatan. Pada mulanya, wilayah Soppcng merupakan kcrajaan kembar, yaitu Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Kerajaan kcmbar terscbut kcmudian bersatu di zaman pcmcrintahan raja Soppeng yang bergclar Puwallipue. Penduduk Soppcng Rilau bcrasal dari daerah Gattareng, sedangkan penduduk Soppeng Riaja bcrasal dari Bulu Sewo. Kcdua kerajaan tersebut dipimpin olch kcturunan raja penjclmaan dcwa yang turun dari langit. Kedatangan tokoh to manurung di daerah Soppeng terjadi dalam masa kesenjangan pemcrintahan, yaitu sesudah berlalunya periode Gali go.

Soppeng merupakan sekutu Bone dan turut aktif di dalam berbagai peperangan m~lawan pihak kcrajaan Gowa yang ketika itu menjadi penakluk bagi han1pir setiap kcrajaan Bugis. Dalam upaya membobol- kan pusat kerajaan Gowa di Sombaopu, maka kerajaan Soppeng berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sepanjang pesisir pantai Selat Makassar, mulai dari Barru sampai ke Pangkajene Kepulauan dan sekitamya. Silsilah keturunan raja-raja Soppeng berpangkal pada sang To manurung di Sekkanynyili, sedangkan jaringan hubungan kekerabatan raja-raja Soppeng tersebar ke berbagai keraj aan baik melalui hubungan darah maupun ikatan perkawinan. Silsilah keturunan raja-raja tersebut sampai sekarang seringkali dibuka dan ditelusuri kembali oleh kelompok masyarakat keturunan bangsawan-lokal.

Bagian terakhir dari naskah lontarak Soppeng mengungkapkan

berbagai nasehat orang tua-tua dahulu kala, berkenaan dengan dedikasi abdi dalam terhadap sang raja; persyaratan bagi para abdi negeri tata krama, sopan santun, serta tata cara dalam pergaulan hidup. Lontarak Soppeng, dengan demikian tetap merupakan sumber informasi sejarah dan nilai-nllai sosial budaya daerah, sekaligus merupakan warisan budaya yang cukup efektif bagi usaha pembinaan dan pengembangan bidang kesejarahan dan kebudayaan daerah, sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.

AKAAN

Abdullah, Hamid, Manusia Bugis Makassar, Suatu Tinjauan Historis terhadap Pola Tingkah Laku dan Pandangan Hidup Manusia Bugis Makassar, Inti Idayu Press, Jakarta, 1985. Ali, A. Muh., Bone Selayang Pandang, Naskah (tidak diterbitkan), Bone, 1969.

_______, Sejarah Perjuangan La Tenritatta Datu Mario

Arung Palakka, Kantor Cabang H Lcmbaga Sejarah dan Antropologi, Ujung Pandang, 1976. Ambo Enre, Fachruddin, dkk., Pappasenna To Maccae Ri Luwuq Sibawa Kajao Laliddong Ri Bone, Departemen Pcndidikan dan · Kebudayaan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo, Ujung Pandang, 1985/1986. Daeng Patunru, Abdurrazak, Sedjarah Wajo, Jajasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1964. Gani, Ambo, dkk., Sinrikla I Manakkuk (Lontarak Makassar), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1990. Hadimuljono, Ors., Prasejarah Sulawesi Selatan, Petunjuk singkat bagi pengunjung Taman Prascjarah "Lcang-Leang" Maros, Suaka Peninggalan Scjarah dan Purbakala Sulawesi Sclatan, Ujung Pantlang, 1980. Hamid, Abu, Alat-a/at Kerajaan Sulawesi Selatan (Daerah Bone), Laporan Penelitian, Fakultas Sastera Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 1974.

Hamid, Pananrangi, Sejarah Dati If Soppeng, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1983.

_______, Sejarah Daerah Gowa, Balai Kajian Jarahnitra

Ujung Pandang, 1984.

_______, Cerita Rakyat Sawerigading, Buku I, Balai Kajian

Jarahnitra, Ujung Pandang, 1986.

_______, Konsepsi Budaya Tentang Tipologi Manusia,

Kajian naskah lontarak, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang,

1987.

_______, Cerita Rakyat Sawerigading, Buku 2, Balai Kajian

Jarahnitra, Ujung Pandang, 1987.

Translitcra:> i dan Tcrjcmahan, Buku I, Balai Kajian Jaralmitra, Ujung Pandang, 1988.

_______, Lontarak Galigo, Translitcrasi dan Tcrjemahan

(l anjutan), Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1989. Tolok Rumpa' na Bone, Translitcrasi dan T crjcmahan Naskah Kuno Lontarak, Balai Kajian Jarahnitra Ujung Pandang, 1989.

_______, dkk., Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan,

Departemen Pendidikan dan Kcbudayaan Proyek Penelitian & Pengkajian Kcbudayaan Nusantara, Jakarta, 1991. Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan, Dcpartemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pcnelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 199 l. Kadir, Drs. Harun, Pra Sejarah di Sulawesi Selatan, Laporan Penelitian, D irektorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.l., Ujung Pandang, 1977. Mattulada, Latoa, Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang bugis, Gajah Mada University Pn::s, Jakarta, 1985.

M.D., Sagimun, Sultan Hasanuddin Menentang V.O.C., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Biografi Pahlawan Nasional, Jakarta, 1975. Punagi, A.A., Adat-/stiadat, Menoleh sejenak pada adat-istiadat, Yayat>a'n Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, 1983.