Baca PDF (OCR): Lontarak ampannassai

153 halaman · 153 halaman diproses dengan OCR· 193074 ms

Daftar isi
  1. LONTARAK AMPANNASSAI
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. -----h '°' 1) l I'\ B. dak diperdagangkan
  4. · LONTARAK AMPANNASSAI
  5. Halaman
  6. PENDAHULUAN
  7. ... dengan susah payah, dengan segala penderitaan, manu-
  8. UUD-1945, bahwa: "Kebudayaan lama dan asli yang ter-
  9. Ruang Lingkup Material :
  10. Metode Analisis
  11. I Nakana mo I Karaeng ku ansuro buntuli-
  12. 121. Am-minro-mi assuluk mae I
  13. I Niyak mo daeng ! bajik ki-tannang karaeng da-
  14. PASSALAK APPANNASAI BICARA MARIYOLOWA
  15. I Punna kamma kanan-nu Manila I Urang
  16. PASSALAK MtPANNASSAfNIYAK NA LANRA LEKLENG
  17. PASSALAK AMPANNASAI PANNAPPUKINNA SARAKA
  18. 4 7. !ya, wahai junjungan hamba.
  19. 115. Berkatalah sang mangkubumi. Mengapakah dikau wahai Bangkala?
  20. Mu-•can benlla. Dalaln hal
  21. 13 2. Dialihkan pem bicaraan.
  22. PASAL YANG MENERANGKAN PERIHAL SEJARAH LAMA
  23. Sobaya. Bone akan menjadi besar.
  24. ank, k•pm1en Yan& bel1anl&unGawab
  25. PASAL YANG MENJELASKAN KEPUTUSAN SY ARI' AT
  26. adaJ.ah naas besar
  27. ANALISIS ISi
  28. 4.1. Konsep Tentang Sejarah Dan Nilai Budaya.
  29. Ujung Moncong dan Peranan Tu-Manurunga
  30. l. Masyarakat Makassar di daerah Bangkala, termasuk Kalim-
  31. Silsilah Keturunan Banrimanurung
  32. Garmsikang
  33. Persetukuan Bone dan Bangkala
  34. Pananrangi Hamid, 1983, 1989).
  35. Penobatan Damangunjungi Menjadi Karaeng Bangkala
  36. Peperangan Ujung Moncong dan Gowa
  37. Nilai Ilmu
  38. KEPUSTAKAAN
  39. Ujung Pandang.
  40. Naskah Kuno
  41. Adat lstiadat, Yayasan Kebudayaan -
  42. Undang-Undang UUD-1945 serta Penjelasannya.
  43. IDENTIFIKASI NASKAH
  44. K e r t a s.
  45. Hit am.
  46. b. Passalak A mpannassai Bicaran-
  47. na Karaeng Loe (menerangkan
  48. ー 85
  49. にら R
  50. とそーwgThTWTEんととょら
  51. NNN2MXA inuvXANnixroevn
  52. のっ~っう~うのふんっらっへ
  53. NEらXとベ
  54. っとらーそーーとーーとこ8そんにらしんんに
  55. Rーとと

LONTARAK AMPANNASSAI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Milik Depdikbud

-----h '°' 1) l I'\ B. dak diperdagangkan

D. .. :~ ruLAl 'tR.ADlSloNIL
't t:;V.JAllAil D DlllE1'tOllA \

· LONTARAK AMPANNASSAI

Konsultan: Prof. Dr. S. BUDHISANTOSO Ors. H. AHMAD YUNUS

Peneliti/Penulis: PANANRANGI HAMID TATIEK KARTIKASARI

Penyunting: Ors. Zulyani Hidayah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUOAYAANNUSANTARA TAHUN 1992/1993

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah daerah Sulawesi Selatan yang berjudul Lontarak Ampannassai, isinya tentang Kesejarahan dan Sosial Budaya serta Jaungan Nilai-nilai Yang Hidup Pada Masyarakat Makassar.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai sosial, psikhis, hukum yang dapat menunjang pembangun- an, baik fisik maupun spiritual.

Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.

Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbang- an yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.

iii

Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara

Sri Mintosih, BA. NIP. 130 358 045

iv

JENDERAL KEBUDAYAAN DEP ARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya- karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etno- sentris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkem bang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sum bangannya dalam pem binaan persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengertian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul, Lontarak Amp~nassai.

v

peng- galian nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkat- kan sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.

Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku basil penerbitan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal, dan ada ke- mungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharap- kan hal ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan peng- ungkapannya.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tel~ membantu penerbitan buku ini.

Jakarta, Agustus 1992 Direktur Jenderal Kebudayaan

Drs. GBPH. Poeger NIP. 130 204 562

vi

0 TT 0

SIRA T ANGA NA-T ANIP ASIRA TANG AN AKNY AKRINGI RI BUTTAY A TASIRATANGA NA-NIPASIRATANGAN AKNYAKRINGI RI BUTTAYA

SEGALA SESUA1U YANG DITEMP ATKAN BUKAN P ADA TEMP A1NYA AKAN BERAKIBAT BURUKPADA NEGERI (Lontarak Makassar)

vii

ISi

Halaman

KATA PENGANTAR.............................. iii SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAY AAN... v HALAMAN MOTTO............................. vii DAFT AR ISi.................................... ix
Bab 1 Pendahuluan. ..............................

  1. Latarbelakang Penelitian dan Pengkajian........... 1
  2. Masalah.................................... 7
  3. Tujuan dan Kegunaan.......................... 8
  4. Ruang Lingkup............................... 10
  5. Pertanggungjawaban Penulisan................... 1 2 Bab 2 Transliterasi............................... 17
    Passalak Ampannassai Karaing Ujung Moncong .......... 17
    Passalak Ampannassai Bicaranna Karaeng Loe........... 31
    Passalak Ampannassai Bicara Mariolowa ................ -33
    Passalak Ampannassai Niyak-na Lanrak Lekleng ri Ujung
    Moncong. ......... ............................. 43
    Passalak Ampannassai Pannappukinna Saraka........... 45 Ampannassai Bagena lyangaseng Singkamma Bagea....... 47

ix

Ujung Moncong......... 5 3 Pasal yang Menerangkan Riwayat Karaeng Loe.......... 71 Pasal yang Menerangkan Prihal Sejarah Lama............ 7 3 Pasal yang Menerangkan Perihal Lanrak Lekleng di Ujung
Moncong ................................. ...... 86
Pasal yang Menjelaskan Keputusan Syari'at............. 89 Yang Menerangkan Perihal Pembagian Segala Sesuatu..... 91

Bab 4 Analisis Isi........ .......,................ 99

4.1. Konsep Tentang Sejarah dan Nilai Budaya.......... 99 ~.2. Sejarah Ujung Moncong dan Perkembangannya...... 103
4.3. Sejarah Perkembangan Kerajaan Gowa............. 117
4.4. Ketentuan Hukum (Syari'at).................... 123
4.5. Sistem Mata Pencaharian dan Nilai Waktu.......... 123
KEPUSTAKAAN ...... ........................... 135

LAMPIRAN-LAMPIRAN. ......................... 138

x

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

... dengan susah payah, dengan segala penderitaan, manu-

sia telah mendapatkan pengalaman hidup, pengalaman tentang penggunaan daya pemikirannya, dan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah membawa kita kepada abad energi atom kita ini, yang telah memungkinkan "man landing on the moon" ... Akan tetapi umat manusia telah terancam oleh negeri atom itu juga ... Karena itu di mana-mana timbul pertanyaan "KEMANA KITA UMAT MANUSIA"? (S.J. Waouw, 1970).

Pandangan ini merupakan pengungkapan tentang panora- ma kehidupan yang pada hakikatnya menempatkan manusia pada dua kenyataan yang berbeda kondisinya. Manusia di satu sisi dihadapkan kepada kenyataan tentang potensi daya pikir insani sehingga mereka tidak hanya sekadar berusaha memper- tahankan eksistensinya atas dasar belas kasih alam sekitar (en- vironment). Lebih dari sekadar menggantungkan nasib pada keadaan lingkungan fisik, manusia seperti kenyataannya mem- punyai kemampuan mengeksploitasi lingkungan sekitar, melalui pengembangan super-organik yaitu kebudayaan. Dengan apa kemudian memungkinkan manusia menjelajahi dasar lautan

Semua itu merupakan tingkat kemajuan yang telah dicapai manusia di bidang teknologi budaya.

Namun di batik kemajuan yang dicapai itu umat manusia pun menghadapi ancaman energi atom yang sewaktu-waktu mampu menghancur-leburkan kehidupan dan merenggut nyawa sendiri. Demikianlah, manusia di lain sisi diperhadapkan pada kondisi psychis serta mental ability yang cenderung berkembang lebih lamban jika dibandingkan dengan perkembangan dan kemajuan bidang fisik materiil. Pencerminan ketidak seimbang- an kedua aspek, antara kemajuan fisik materiil dan mental spritual diumpamakan oleh Daeng Matutu sebagai : " ... se- orang yang badannya berada dalam sedan marsedez, sedang kepalanya berada di atas pedati/gjrobak dari zaman lampau" (Disitir oleh Mattulada, 1970). Sejalan dengan itu, maka Mattulada mengemukakan, antara lain bahwa:

Kemajuan ilmu dan teknologi zaman kini, yang menyentuh peradaban masyarakat kita, tak tertahan-tahankan daya dorongnya. Kita mau atau tidak, ia datang bagaikan banjir yang melanda suatu permukaan ladang yang tidak lebih dahulu menyiapkan · tanggul-tanggul untuk menyalurkan pemanfaatan air yang melimpah, berupa banjir yang dah- syat (1970).

Pandangan ini secara tegas menunjukkan masih terdapat- nya gejala ketidakseimbangan antara kemajuan fisik dan mental spiritual di kalangan masyarakat Indonesia. Apabila gejala seper- ti itu tetap berkelanjutan, niscaya seluruh jaringan kegiatan pembangunan tidak akan mungkin berjalan lancar. Pendekatan ini bertolak dari suatu asumsi dasar, bahwa :

Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual ... (GBHN, 1983).

UUD 1945 yang me- nandaskan bahwa "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia" (lihat batang tubuh UUD-1945; pasal 32). Se- dangkan kerangka operasional dari kegiatan pembangunan bi- dang kebudayaan adalah berorientasi pada usaha penanggulang- an gejala atau dampak sosial-budaya yang timbul, baik dari pe- ngaruh kebudayaan daerah maupun unsur kebudayaan asing.

Usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, bagaimana pun juga tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang banyak tersebar di seluruh pelosok tanah air. Dalam hal ini kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional, sekaligus memberikan corak dan karakteristik

UUD-1945, bahwa: "Kebudayaan lama dan asli yang ter-

dapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa ( GBHN P.32 1983).

Sesuai dengan materi penjelasan UUD-1945 khususnya yang termuat dalam rumusan pasal 32 itu jelaslah, bahwa pem- bangunan yang berorientasi pada usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional harus berjalan paralel dengan pembinaan dan pengembangan unsur-unsur kebudayaan daerah. Dalam kaitannya dengan upaya penggalian dan pengkajian unsur kebudayaan daerah itu sendiri perlu tersedia data dan infor- masi sebaik dan selengkap mungkin. Tersedianya data dan infor- masi kebudayaan daerah tersebut merupakan faktor penting, terutama dalam proses pengungkapan keanekaragaman unsur kebudayaan secara menyeluruh di seluruh gugusan kepulauan Nusantara. Bahkan, unsur-unsur kebudayaan daerah itulah yang memberikan corak "kebhinneka-tunggal-ikaan" pada kebudayaan nasional Indonesia.

Kebudayaan daerah dalam kenyataan di dukung oleh masing-masing suku bangsa yang sating berbeda satu sama lain, sesuai dengan perbedaan latarbelakang lingkungan fisik di samping perbedaan latarbelakang sejarah dan sosial budaya, termasuk laterbelakang nilai-nilai serta gagasan vital yang men- dapat dukungan dari suku bangsa bersangkutan. Sehubungan dengan itu sasaran penggalian dan pengungkapan unsur kebudayaan. daerah mencakup segenap lingkungan budaya yang di- dukung oleh masing-masing suku bangsa di seluruh tanah air. Masyarakat Makassar adalah salah satu suku bangsa di daerah Sulawesi Selatan. Suku bangsa ini sejak lama telah mem- bentuk satu kesatuan sosial, sekaligus menjadi pendukung kebudayaan Makassar. Sejak abad lampau leluhur orang Makassar telah menata satuan-satuan pemukiman mereka di sepanjang. pesisir pantai antara Selat Makassar dan Laut Flores, mencakup daerah-daerah Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Ujung Pan-

Selain itu ada sebagian orang Makassar menempati wilayah pemu- kiman di Pulau Selayar.

Dalam sejarah perkembangan Sulawesi Selatan wilayah persebaran orang Makassar tersebut dikenal pula sebagai wilayah bekas kerajaan lokal yang cukup besar dan luas pengaruhnya. Baik di daratan jazirah Sulawesi Selatan maupun daerah s'ekitar- nya seperti Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah sampai ke Pulau Seram. Namun, setelah melalui proses perkembangan sejarah yang cukup lama, terutama setelah jatuh- nya benteng pertahanan kerajaan Gowa yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungay a pada tahun 1667, pengaruh kerajaan orang Makassar berangsur-angsur memudar. Memudamya pengaruh kerajaan Gowa serta kerajaan orang Makassar di zaman lampau itu tidaklah berarti memudamya kehidupan sosial budaya di daerah bersangkutan. Kenyataan menunjukkan bahwa sampai sekarang masyarakat Makassar te- tap memiliki kekayaan budaya berupa pusaka rohani yang senantiasa diwariskan melalui proses transmisi budaya antara satu ke lain generasi, secara berkesinambungan. Salah satu me-dia pewarisan nilai-nilai sosial budaya orang Makassar ialah melalui catatan hasil tulisan tangan yang tertuang dalam naskah kuno lontarak. Secara umum, lontarak Makassar termasuk salah satu jenis naskah kuno, dan sebagai naskah kuno lontarak pun merupakan arsip kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah Makassar. Bagi masyarakat Makassar lontarak bukan hanya dihayati atau di- pahami sebagai sumber informasi, tetapi lebih utama dipandang sebagai benda sakral yang diwarisi secara turun-temurun dari leluhur. Sesuai dengan pandangan tersebut maka setiap naskah lontarak senantiasa dipelihara, dihormati serta disimpan sebaik- baiknya sehingga tidak dapat dibaca oleh sembarang orang. Penghargaan dan penghormatan yang agak berlebih-lebihan itu mengakibatkan kandungan isi lontarak hanya diketahui secara terbatas oleh pemilik bersama sanak keluarganya.

Sebagai sumber informasi kesejarahan maka di Lontarak Makassar termuat berbagai catatan kuno tentang aneka ragam peristiwa bersejarah, kisah legendaris serta kronologis perkem- bangan masyarakat pendudukungnya. Naskah lontarak dengan demikian dapat memberikan bahan rekonstruksi, untuk mema- hami situasi dan kondisi yang ada pada masa kini dengan me- ninjau akar peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sebaliknya apabila naskah lontarak dilihat sebagai salah satu sumber informasi sosial budaya maka di dalamnya akan ditemukan catatan-catatan kuno y~g bertalian dengan : jaring- an ide, gagasan vital, simpulan pikir, pengetahuan tentang alam falak, meteorologi dan astronomi, sistem hukum, ajaran-ajaran moral, tetakrama dan sopan santun pergaulan, agama dan sistem kepercayaan tradisional, ramuan dan sistem pengobatan tradisional, filsafat dan etika. Apabila dilihat dari segi bentuk dan perwujudannya maka lontarak Makassar itu merupakan benda budaya (kebudayaan material), hasil karangan pujangga dan cendekiawan setempat yang biasanya ditulis dengan tangan. Pada mulanya lontarak dicatatkan pada permukaan lembaran daun lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara daerah Makassar. Setelah masyarakat mengenal bahan kertas, maka catatan-catatan lontarak di- tuliskan di atas kertas, namun tetap pula disebut lontarak. Pemanfaatan bahan kertas untuk menuliskan catatan lontarak merupakan salah satu langkah maju, sekaligus menjadi bukti autentik tentang kemampuan masyarakat Makassar meng- adaptasikan unsur-unsur kebudayaan asing bagi upaya peme- nuhan kebutuhan alat tulis-menulis. Selain itu proses penulisan naskah lontarak mengalami perubahan dan kemajuan, antara lain dengan digunakannya aksara atau huruf Arab. Pada mulanya naskah lontarak di daerah Makasar selalu ditulis dalam aksara Makassar, namun setelah masuknya pengaruh agama Islam dan kebudayaan Arab di daerah ini, maka banyak naskah lontarak ditulis dengan menggunakan aksara Arab tersebut. Demi- kianlah, sampai sekarang dapat ditemukan naskah lontarak Makassar yang tertulis dalam aksara daerah Makassar. Ada pula

Ujung Moncong, peristiwa dan tokoh sejarah di daerah Bangkala, berbagai gagasan vital, hukum, ajaran ten- tang etik dan moral, tatakrama dan berbagai nilai-nilai sosial budaya yang sampai saat ini tetap hidup dan mendapat dukung- an dari warga masyarakat setempat.

Menyadari arti pentingnya unsur kebudayaan daerah dan jaringan nilai-nilai luhur yang dikandungnya maka dipandang perlu adanya suaha penggalian potensi sumber kekayaan budaya Makassar, melalui penelitian, pengkajian dan pengungkapan latarbelakang nilai dan isi lontarak. Dalam konteks ini fokus penelitian diarahkan sepenuhnya pada lontarak Makassar di daerah Bangkala -Jeneponto, yaiti Lontarak Anpannasrai Ka- raeng Ujung Moncong.

    1. Masalah Dalam era pembangunan nasional saat ini tampak adanya gejala yang cenderung mengarah pada kondisi makin tersisihkan- nya naskah kuno termasuk lontarak, hal mana timbul akibat makin giatnya usaha penyerapan ilmu pengetahuan dan tekno- logi modern kebudayaan asing. Sementara itu pada tahap Repe- lita-V ini terlihat bahwa banyak warga masyarakat yang belum menyadari arti pentingnya peranan naskah lontarak dalam rang- ka Pembangunan Nasional, termasuk pembangunan bidang kebudayaan. Sampai saat ini masih banyak naskah lontarak tersimpan di rumah-rumah penduduk namun bukan untuk dibaca isinya, melainkan hanya disimpan, dihormati dan dimuliakan sebagai
riyataannya tidak dilakukan lagi, sementara naskah-naskah yang tertinggal dari peninggalan zaman lampau makin banyak yang mengalami kerusakan, baik karena lapuk oleh perjalanan masa maupun karena dimakan rayap dan jenis serangga lainnya. Orang-orang yang menekuni dan memahami kandungan isi lontarak makin langka. Keadaan ini disebabkan, antara lain karena lontarak seringkali memuat berbagai istilah kuno yang tidak digunakan lagi dalam pergaulan sehari-hari. Minat anggota masyarakat terutama remaja terhadap naskah lontarak juga makin kurang, terutama karena kurangnya pemahaman tentang aksara maupun bahasa yang · digunakan di dalam berbagai naskah kuno. Selain itu perhatian remaja tampaknya lebih tertarik pada bacaan populer dan hiburan lainnya. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jende- ral Kebudayaan belum memiliki data lengkap menyangkut naskah kuno berupa lontarak di daerah Sulawesi Selatan. Dan sam- pai saat ini belum diketahui secara pasti, tentang latarbelakang nilai dan kandungan isi lontarak Makassar di daerah Bangkala Dati II Jeneponto. Karena itu diperlukan informasi secara lengkap khusus mengenai naskah kuno lontarak Makassar, baik sebagai sumber pelayanan data bagi pihak-pihak ya11g memerlu- kan maupun sebagai bahan pertimbangan dalam ran~a penyu- sunan rencana dan kebijaksanaan pembangunan bidang kebudayaan. 1.3. **Tujuan dan Kegunaan** Tujuan Penelitian ini antara lain adalah untuk : (l) Mengungkapkan arti pentingnya kandungan isi naskah kuno lontarak dalam rangka pengantisipasi dampak negatif yang timbul sebagai akibat pengadopsian unsur pengetahuan dan teknologi modern, hasil kebudayaan asing. (2) Mengungkapkan secara sistematis mengenai potensialitas naskah kuno lontarak dalam rangka pembangunan aspek kebudayaan, sebagai bagian integral dari pem- Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengupayakan tersedianya data lengkap mengenai naskah kuno lontarak Makassar di daerah Sulawesi Selatan, hal mana diperlukan bagi Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional dalam rangka ke- lancaran pelaksanaan tugas yang diembannya sebagai pelaksana teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kedua, mengupayakan tersedianya data dan informasi berkenaan dengari latarbelakang nilai dan isi lontarak Makassar di daerah Sulawesi Selatan. Ketiga, tersedianya sebuah naskah, hasil penelitian serta pengkajian secara lengkap mengenai kandungan isi naskah kuno lontarak Makassar di daerah Sulawesi Selatan. Hasil penelitian lontarak ini dapat berguna untuk mem- bangkitkan minat masyarakat, terhadap pemanfaatan naskah lontarak tersebut sebagai sumber pengetahuan tentang nilai-nilai luhur yang diwarisi dari leluhur di abad lampau. Kedua, diharap dapat meningkatkan kesadaran anggota masyarakat tentang arti dan pentingnya peranan naskah lontarak dalam pro- ses pembangunan bidang kebudayaan. Ketiga, untuk men- dorong timbulnya kesadaran anggota masyarakat, termasuk pemilik naskah lontarak bahwa naskah tersebut bukan sekedar penting sebagai benda sakral, pusaka rohani, warisan leluhur yang harus dipelihara dan dimuliakan secara berlebih-lebihan, akan tetapi adalah sumber ilmu pengetahuan yang perlu dibaca, ditekuni, dihayati kandungan isinya. Kee mp at, hasil transli terasi dan penerjemahan naskah kuno lontarak ini akan sangat berguna bagi upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, kendatipun naskah aslinya kelak menjadi punah karena lapuk atau rusak. Kelima, untuk mempermudah upaya penelusuran dan pema- haman kandungan isi lontarak, termasuk pengertian aneka ra- gam istilah daerah Makassar yang seringkali sulit dipahami ang- gota masyarakat pendukungnya. Terakhir, hasil penelitian diharapkan dapat pula memberikan rangsangan dan dorongan terhadap minat kaum remaja untuk menekuni naskah lontarak di samping bahan bacaan populer lainnya. 1.4. Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini mencakup tiga aspek pokok, yaitu: ruang lingkup pengkajian, ruang lingkup material; dan ruang lingkup operasional. Ruang lingkup material ialah keseluruhan materi yang di- jadikan sasaran penelitian dalam kaitannya dengan upaya peng- ungkapan naskah kuno lontarak di daerah Sulawesi Selatan. Ruang lingkup pengkajian ialah keseluruhan data dan informasi yang tercatat dalam naskah kuno lontarak yang telah dipilih dan ditetapkan sebelumnya. Sedangkan ruang lingkup operasional ialah wilayah atau daerah tertentu yang ditetapkan sebagai lokasi penelitian dalam upaya pencarian dan pengumpulan data yang relevan dengan tujuan pengkajian. Ruang Lingkup pengkajian 1) Menginventarisasi dan mendokumentasikan naskah kuno lontarak sebagai usaha untuk menyelamatkan dari kemus- nahan baik secara fisik inaupun isinya. 2) Mentransliterasikan naskah kuno lontarak dari aksara lokal ke aksara Latin, kemudian menerjemahkan (mengalih fungsi naskah Ion tarak dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, dapat dikaji secara cermat.

Ruang Lingkup Material :

Naskah "Lontarak Anpannassai Karaeng Ujung Moncong", dipilih secara proporsional berdasarkan alasan sebagai berikut : 1) Naskah terse but termasuk naskah lama, sesuai dengan ke- ten tuan yang tercantum pada Monumen Ordonansi STLB 238 / 1931, bahwa "naskah lama adalah hasil karangan yang masih berupa tulisan tangan yang berusia di atas 50 ta- hun". 2) Naskah lontarak tersebut belum pernah dikaji secara tun- tas. 3) Naskah dimaksud memuat ca ta tan tentang informasi ke- sejarahan dan sosial budaya sehingga amat penting diketa- hui oleh masyarakat secara menyeluruh. 4) Catatan yang tertulis dalam naskah tersebut masih cukup jelas dan terbaca secara jelas sehingga akan memperlancar proses penelitian, dalam arti pentransliterasian di samping penerjemahan dan analisisnya. Ruang Lingkup Operasional: Ruang lingkup Operasional yang menjadi sasaran peneli tian ini meliputi kecamatan Bangkala, salah satu wilayah adminis- trasi dalam Kabupaten Dati II Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi penelitian tersebut ditetapkan dengan beberapa alasan utama yaitu : Ujung Moncong tetap di- pertahankan dan didukung oleh warga masyarakat Bangkala. 2) Daerah Bangkala merupakan salah satu bekas pusat keraja- an lokal di masa lampau, sehingga berbagai catatan yang terkandung dalam lontarak masih dapat ditelusuri keber- adaannya, baik melalui sisa-sisa peninggalan sejarah maupun informasi dari warga masyarakat. 3) Sampai sekarang warga masyarakat Makassar di daerah Bangkala tetap memandang lontarak tersebut sebagai wa- risan peninggalan leluhur yang sakral, sehingga tetap di- pelihara, dihormati dan dimuliakan secara ketat. Keadaan ini memungkinkan terlaksananya usaha pengumpulan data dan informasi, baik menyangkut asal usul naskah Ion tarak maupun penjelasan yang bertalian dengan catatan yang termuat di dalam lontarak dimaksud. **1. *5.* Pertanggungjawaban Penulisan** **Metode Pengumpulan Data** Dalam usaha pencarian dan pengumpulan data yang diper- lukan sebagai bahan kajian, penelitian ini menggunakan bebera- pa metode se bagai tertera di bawah ini : I) Studi Kepustakaan adalah salah satu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang bertalian dengan naskah kuno, termasuk naskah lontarak di daerah Sulawesi Selatan. Selain itu studi kepustakaan dipandang cukup efektip, baik dalam rangka pendalaman materi penelitian maupun untuk menghindarkan terjadinya dupli- kasi penelitian. Jenis-jenis bahan kepustakaan yang dijadi- kan sasaran penelitian ini, antara lain terdiri atas buku- buku antropologi, kebudayaan, sosiologi, filsafat, serta berbagai bahan dokumentasi verbal berupa undang-undang, peraturan, Keputusan-keputusan di samping anekaragam "survai", yaitu cara pencarian, sekaligus pengumpulan data melalui pelacakan langsung pada warga masyarakat di lokasi penelitian. Survai dilakukan dalam dua tahap. Pada survai tahap pertama dilakukan usaha penemuan, penca- tatan dan pendokumentasian naskah kuno lontarak, sedangkan survai tahap kedua dilakukan dalam rangka pengumpulan data dan informasi yang bertalian dengan kandungan isi lontarak yang telah dipilih/ditetapkan menjadi sasaran material dalam penelitian ini. *Kedua,* teknik "wawancara". Dalam hal ini digunakan teknik wawancara secara bebas-mendalam terutama untuk memperoleh informasi berupa : asal-usul naskah lontarak; pengertian berbagai istilah daerah yang termuat dalam naskah; anekaragam kegiatan sosial-budaya di dalam mana tercermin adanya fungsi dan peranan naskah lontarak yang dikaji. Kegiatan wawancara dilakukan terhadap para infor- man, terdiri atas tokoh budaya, tokoh adat, tokoh agama dan beberapa warga masyarakat setempat yang dianggap ukup menguasai seluk-beluk upacara tradisional maupun latarbelakang kehidupan sosial budaya yang hidup dalam masyaraka tnya. *Ketiga,* teknik "pengamatan", yaitu cara pengumpulan data dengan jalan mengamati secara langsung obyek yang diteliti. Dalam hal ini terkumpul data berupa : berbagai satuan pemukiman yang termuat dalam catatan lontarak, keadaan masyarakat .dan daerah penelitian; keadaan fisik naskah; anekaragam aktivitas sosial-budaya yang mereflek- sikan nilai-nilai budaya tradisional. Sesuai dengan sifat data yang seluruhnya adalah kualitatif, maka pengolahannya pun dilakukan secara kualitatif, dengan menggunakan teknik manual. Dalam hal ini data dip roses dalam dua tahap. Pada tahap pertama proses data dilakukan untuk menetapkan naskah tertentu yang akan dipilih sebagai sasaran material. Sedangkan pada tahap kedua data diproses dalam ben- tuk transliterasi dan terjemahan menurut isi naskah yang telah dipilih dan ditetapkan sebelumnya.

Metode Analisis

Dalam usaha mengungkapkan latarbelakang nilai dan isi naskah lontarak tersebut maka dilakukan kegiatan analisis dengan menggunakan metode "analisa isi" *(content analysis).* Sesuai dengan metode ini, maka isi naskah ·secara keseluruhan adikaji secara runtut menurut kandungan isinya. Dalam hal ini proses analisis berorientasi sepenuhnya pada jenis analisis kualitatif, sesuai dengan sifat penelitian serta jenis data yang ter- sedia. Tatacara Transliter~i Proses transliterasi isi naskah lontarak dilakukan, secara runtut dari awal sampai akhir. Setiap kalimat yang ditransliterasikan diberi bernomor, mulai dari nomor 00 I sampai selesai. Penomoran tersebut berguna bagi pembaca untuk mengikuti bagian-bagian naskah yang ditransliterasikan ataupun memudah- kan proses pengecekan jika sewaktu-wak,tu diperlukan. Kemu- dian dibubuhkan tanda-tanda baca untuk memperjelas hasil transliterasi. Tanda-tanda baca yang digunakan, antara lain sebagai berikut : l) Garis datar di atas huruf "e" ( e -adalah melambangkan bunyi "e" sebagaimana halnya.bunyi "e" dalam kata em- ber. Tanda baca tersebut sekaligus berfungsi sebagai unsur pembeda dari bunyi "e" yang dilambangkan, seperti halnya dalam kata "kesemsem". *I* ), adalah pengganti tanada baca titik yang dalam naskah Ion tarak Makassar biasanya menggunakan tanda "titik bersusun tiga", seperti : 3) Tanda elipsis ( ... ), adalah menunjukkan adanya bagian naskah yang dilangkahi, baik karena naskah tidak terbaca maupun naskah cacat atau sobek. Tatacara Penerjemahan Penerjemahan dilakukan secara runtut menurut urut-urut- an nomor yang tercantum dalam hasil transliterasi. Kemudian dilakukan per kata, kecuali jikalau hal itu tidak mungkin dilakukan maka penerjemahan dibuat per kalimat. Bilamana ditemukan istilah daerah yang tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia maka istilah aslinya dicantumkan dalam naskah terjemahan, kemudian diberi penjelasan dalam ben tuk catatan kaki (foot note). Setiap foot note diberi nomor petun- juk secara berurut mulai dari nomor I dan seterusnya. Kata atau istilah bahasa asing yang dicantumkan sebagai padanan kata atau istilah daerah dituliskan secara lengkap dan ditempat- kan di antara tanda kurung. Metode Pengkajian Sesuai dengan tema penelitian ini, proses/pengkajian men- cakup dua komponen analisis. Pertama analisis tentang latar belakang nilai dari naskah lontarak yang dijadikan sasaran. Dalam hal ini latarbelakang nilai dikaji menurut fun~i dan peranan lontarak, sesuai dengan persepsi masyarakat pendu- kungnya. Kedua, pengkajian dilakukan menurut prinsip ' content- analysis", dengan cara sebagai berikut : dianalisa secara run tut, sesuai isi naskah lontarak; analisa secara run tut, sesuai isi naskah lontarak; analisa dikaitkan dengan konsep nilai-nilai budaya yang telah dikembangkan oleh para ahli dan cerdik pandai, · sekaligus menjadi definisi operasional dalam proses pengkajian ini: Kemudian Analisis dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian lain, sehingga diperoleh pemahaman lebih mendalam berkenaan dengan keadaan sosial budaya yang hidup dalam masyarakat di lokasi penelitian. Lebih dari itu analisa perbandingan, dipandang cukup penting pula untuk menggambarkan adanya keterkaitan masyarakat dan kebudayaan Makassar dengan kelompok-kelompok etnik lainnya di abad lampau. Hasil pengkajian dengan de- mikian dapat menjadi bahan pegangan ataupun sumber infor- masi kesejarahan dan sosial budaya yang bermanfaat bagi upaya penelitian antar budaya di masa datang. **PASSALAK AMPANNASSA I KARAING UJUNG MONCONG** **KABATTUWANNA BANRI MANURUNG**

  1. Karaing Parigi / Siyagang bainenna I Niyak tongka bulo pananna / Siberek I Na-erang I Mange ri kapasa-ka I Akkoko / Amman tang anjoreng I
  2. Niyak tannun-na na-tannung I Lebbaki I Antama-mi ri yampik na buraknen-na /
  3. Allangngerek mi sakra tannung / Mange mi ri ballak I Niyak bate na ri tannun-na I
  4. Ak-rangga sela mi pak-maik na I
  5. Narapi ki mungko / Antama mi ri tannun-na / Assuluk mi ri tannun-na / Mange ri yampik na buraknenna I Ammem- po I Allang-ngerek mi I Sakra tannung I
  6. Allolok mi mange I Na-rapikam-mi I Nakana ammantang ma-ko karaeng ri nakke I
  7. Ammantam-mi I Tamat I
Kara!ng Rukeke / Karaeng Paurangang *I* Naung mae *I* Nam-malo ri Nasarak *I* Anak na Karaeng Lowe ri Ban taeng *I*

  1. Mange ri Karaeng-nga ri Kalimporok I Ambaineyang-ngi anak na Karaeng Kalimporok I
  2. Siyapa sallo-na / Narapiki-mi lakgauk gauk I
  3. Allampa mi Karaeng Paurangang I Mange akjonga I Kalauk ri Saluka I
  4. Narapiki mi tana ya / Nakana mo / Lappassang ngi kong- kongnga
  5. Nalappassammi I Battu mi abbalebbesek I
  6. Napinawammi I Nabuntuluk mi bungung loya I Ammun- tulukmi awan lemo natengkoli I Uk labbu I
  7. Nakana mo pammaek na I Niyak ballak am bani konne- mae I Na buntuluk mi ballak koko /
  8. Niyak mo baine I Nakana mo baine a abbasa lukmu / Sangi taiya Karaeng I
  9. Antama mi / Nakana niyak tau lolo nu towa I Nakana mo / Tau Towa ya I taena niyak I
  10. Nakana mo / Boya mi I Nacinik mi uk na I Ilalang ri bulo pattunga I
  11. Nakana mo I Apa anjo I Ilalang ri bulo pattunga I Amman- tam mi nabaineyang I
  12. Nakana mo / Anraik kak riyolo I Battuja kon-tu sallang kusuro buntuli / Punna Narapik mo allo na I 2 1. Anraik mi Karaeng Paurangang I Battumi anraik I Narak mi allona / Ansuro mi kalauk ambuntuli I

I Nakana mo I Karaeng ku ansuro buntuli-

kik *I*

  1. Nakana mo I Ammiro mako ri yolo I Anraik I Na-alle mi Banri Manurung bulowa napuwe I Nakana tojenna ko paranta I Ajjaritawu ko I Ajjari tau mi I
  2. lya-minjo ambuleki anraik I Battui jaga mi tallumbangngi I Am minro mi kalauk I Siyagangngi Karaeng Paurangang/
  3. Gannak mi tallumbangngi I Nisuro mi suro na Karaeng Ka- limpo rok I Ansuro palaki bain~nna I Nupassarengngi bajik mami I Tanupassarengngi kodi mami I
  4. Battu mi kalauk I Nakana mo suro wa I Napalaki bainenta/
  5. Nakana mo Karaeng Paurangang I Takupas-sareyangi bai- nengku I Punna Tamateyak I
  6. Nakana mo Karaeng Paurangang I Angapa makikn-ne I Nakana mo Banrimanurung I Tunjuk kutommin-tu I Nipa- kalau-kimik nibundu
  7. Nakana mo Banrimanurung I Katojenna ko panrita I Lom- po I Jari tau ko I Jari mi tau I Akbunduk mi I Nisawuruk mi I Niyondammi 'Nraik ri Bonto Matekne I Jari mi / Amminawammi Kalimporo ri Ujung Moncong /
  8. Muharram 1245 Hijriah I
  9. Nigilingi bicara ya I Anak na Banri Manurung siyagang Karaeng Paurangang I I Batara Langi Iyampayaba I
  10. lyanne Batara Langi I Ambaineyangi anak na Koja ya '/ Manakmi Tallu anak na I
  11. Massaguling I Sawempa:lege / Baine / Nikana Golla,Tauwa /
  12. Masaguling mange ri Garassikang I Sawempalige mange ri Punaga I

  13. Iyampayabang akkalabini Karaeng-Tamamampak / Anak mi Palebanawa I Akkalabini Golla Tauwa I Anak mi Latena Bangkala I

  14. La Tena Bangkal akkalabini anak na Karaeng Lowe ri Marusu I Anak mi Puwang Kope I
  15. I Puwang Kope I I Passinring pakkaraengan-na / Karaeng Lab buwa Taliwannan-na/
  16. Nigilingi bicara ya / Anak na Sombaya akkalabini anak-na Karaeng Lowe ri Marusu I Anak mi Karaenta Bilik Tangga-ya I Akkalabini Karaeng Labbuwa Tali Wannanna I Anak mi Karaen ta ri Bungaya / Siyagang Karaenta ri Lure I lyaminjo Karaen Labbuwa Taliwannanna iyasunrang jingara si patti I Abbaine ri Lan tang I Anak mi I Madidi Danirampe I Patanna Cokkollowe ri Lan tang I
  17. Nigilingi bicara ya I Assawung-ngi Karaeng Canra Pole I Arun Bulo-Bulo / Nabutorangngi butta na lollong bune na I Nibuno mi janganna Karaeng Cinrapole I Nibeta mi parasanganna lol long bune na I Nammalo i Karaeng Labbuwa Taliwannanna I Mange mi na -alle upa janganna I Balu baneya / Battulampa Mattuppuwa I Cippa sirae-rae ya janganna bissu wa I
  18. Nakana mo Karaeng Labbuwa Taliwananna I Siyapa turok na jangannu Arung Bulo-Bulo I Nakana Beta ku I
  19. Nilappasa ki jangan-na I Nirepok mi jangan-na Karaeng Labbuwa Taliwannan-na I Nakana mu pangara na I Mate tojengi palae Batu lampang mattumpuwa Cippa Sirae-rae ya / Ni.buno mi jangan-na Arung Bulo-Bulo I
  20. Nibeta mi Arung Bulo-Bulo /. Iya mi passabak-kenna I Na niak mo mae bannyo / Waimyarang I Bembek kaddo ri Bangkala I
  21. Nigilingi bicara ya I Karaenga ri Bungaya annganakkang
Pakaru *I* Karaeng ri Balang / Narapiki mi naik pasarawung-kayu a *I* Naik ri Taruwang / Nikiyuk ka- ruweng Taruwang siyagangi Bangkala bainenna /

  1. Battui naik I lpantarangngi tabu-tabuanga / Nibajji mi ri Kare Pasere Karaeng Taruwang /
  2. Mate mi Karaeng Taruwang I Niyalle mi bainenna / Nisuro mi akkutu I
  3. Niyattiki mi jennek susu aban-na / Nakana mo sumbaya I ni yak anak nu I
  4. lyyuk sumbang ku /
  5. Bajik ko paleng amminro I
  6. Amminro mi naik mae I
  7. Matemi saribattan-na I Bainen-na Karaenga ri Bangkala / Niyassemmi ri Karaenga ri Bangkala I Nisampakki mi/
  8. Nakana mo I Naku naek mae Anakku ji I
  9. Nakana mo Karaenga ri Bangkala I Anak nu ·naik niyalle I Baju mi / Niyalle I Nisareyammi tana ya ri Camba -Camba I
  10. Ammaliyammi naik I Nitarai mi ri Tabinjai ri tu-Layu ka I Ni tannang Karaeng ri Layu I Lebba ki I Naik mi atanna Karaeng Taruang I
  11. Nigilingi bicara ya / Nibaeneyangi ri Karaenga ri Bangkala balun-na Karaeng Taruwang I Anak na naek ri Layuk I Ni- rappo i-mi tedong si ledong tanruk na patampulo I
  12. Nigilingi bicara ya ( Natallangerangi bainen-na Karaeng-Garassikang / Bau Ana Satinapang katauan~na I Nisuro ki- yukmi I 56-. Battu i naung / Nakana mo sumbaya I Ku-suro kiyukang
all!yang-ngak kongkong ku ri Dima *I* Tallun taumpa ko nubattu /

  1. Narapi ki tallun-taung I Battu mi Karaeng Garassikang I Angg!rang kongkong ruwang kayu I
  2. Nilangerek mi sore ri Macini Sombala / Na soro bone mi cerek I Nibolik ri bangken-na sapana ya I
  3. Niak mi Karaeng Garassikang I Anggerang kongkong /Ab- bissabangkeng mi I Naik mi ri ballak ammempo ri boko na pakkekbu ka I
  4. Nakana Karaeng Garassikang I Niyak mi kongkonga sum- bangku I
  5. Nakana mo sumbaya / Pammopporang-ngak I Karaeng Garassikang I
  6. Nakana mo Karaeng Garassikang I Karaenga ji biyasa ampa mopperang-ngi atan-na I Pintallungi I
  7. Nakana mo I Kupakantisik kantisik nu I Apa erok nu ri nakke
  8. Na kana mo / Iya mi ku-tuju ata I
  9. Nakana mo sumbaya I Aile mi anak nu I Kamma bulaeng I Nisapu ruki I Nikana Makarra e Datu Lolo I
  10. Naeram-mi naek mae ri Balang I Iyaminjo akkalabini anak na Karaenta ri Lure I Nikana Imana Luru I Anak mi I Yali / Dama niwing I Karaeng Tu Mene ri Pakaru I Karaeng Ri Bangkala I
  11. Na battu mo bila-bila pajaga na sumbaya I Nakana mo Karaenga ri Balang I I Damaniwing assambeyanga I lgammaja- ting I Assambeyanga Ilappa I Iya Layu I Na erang Rakka-Bate na / Barana / Tuwa labbu ri Barana I
*I* Ni paempo mi Damaniwing *I* Nibembeng ngimi Damaniwing irate ri barugaya *I* Nibem- bengngi mi Karaenga ri Layu ri siring barugaya *I* Akjalling naum-mi *I* Naci nik mi Karaenga ri Layu *I* Natudduk mi (pannganreyan-na) Karaenga ri Bangkala *I*

  1. Nakana sumbaya I Apa 'garancang I Nakana mo I Panneya sigecco sumbangku I
  2. Narapi kimi baribbasak I Mange mi ri Bone I Nakana mo Bone I Apa sabak I Nakana mo Bangkala I Iya sabak I Kareng Layu ni bembeng-ngi ri sirin-na barugaya I
  3. Nitarima mi ri Bone / Nijarrekiyam-mi biyasa na ri Bone /
  4. Naassemmi sumbaya I Nassu Karaenga ri Bangkala I Nisuro pi nawam-mi ri sumbaya !
  5. Nakana mo Karaenga ri Layu / Niyaki seng suro na sumbaya I Arakki nitayang I
  6. Nakana mo Karaenga ri Bangkala I Apa nakana I Sabak ikau ji kupassirikki I Allampaja ko mae I
  7. Nirapi kiri Jennek Marrung / Nakana mo suro wa / Amma- liyan lalo ko ri Goa I Napanaik ko Bone sibaringang I Na panaikko Gowa patambaringang I Nasare ko tata rapang / Tassekre nu I Bulo-Bulo tassekre nu I Saloko-kati tassekre nu I
  8. Nakana mo Layu sisi na ara ki nitanngarak kanana suro na sumbaya I
  9. Nakana mo Karsenga ri Bangkala I Apa nakana Karaenga-ii Layu I lkau ji kupassirikki I Apa sala ku-sisampu sikali /
  10. Nakana mo Karaenga ri Bangkala / Pilanngeri suro/Tin 1- nangniyak I Lambarak I Lappasak I Annappuk ri taleje na namminro·; Ammaliyammako suro /
*I* Battu i naung *I* Napau mi kana na Karaeng Bangkala *I* Tinanna niya *I* Lambarak an- nappuk ri talleje na *I* Namminro / Naanjo I Damaniwing /

  1. Battu i naik mange mi ri Karaenga ri Bangkala / Ta ero ka tassala ri Gowa na I Jari mi nisambeyang ri kakaraengan na anjo lpu Majatti I Mangun Damanawing ta..eroka i tassala ri Gowa na I
  2. Jarimi nisambeyang ri kalompowan-na I lya minjo passa- bak ken-na na taena mo Daeng Ri Jonggo I Daeng Ri Gen- tung I Passangalan-na I Kalompowanga niya I Naiya alleb- basa ki/ Karaen ta Baliya ana ri Punaga na I Sitangkak ki I Basse Daeng Singara / Nikana I Mohamma Damanyuwara I Ansam beyangi Karaeng ri Bangkala I
  3. Damanyuwara karaeng ri Bangkala nakalauk tauwa ri Kapara / Siyagangi Icula I Damatangke Salewatang ri Bangkala angga-nakkangi I Gappa Damangalle I
  4. Siyagangi Bone / Nisawuruk mi Kapara. Nakana mo Bone/ Massing appalak mako I Iya nukae ya I
  5. Niya arrappa tau / Niya arrappa unti Jawa I Taipa Jawa I Bengesek Jawa / Bukkuruk Jawa I Rappo-Rappo Jawa I Jati Jawa I Camba Jawa I
  6. Nakana mo Bone I Appalak mako I Nukaeroki ya I
  7. Nakana Nasara / lnakke kupalak I Annallasiya tumate I
  8. Nakana sumbaya / Kusareyang ko nupalaka Nasara I lyaka tana-alleya i jari na Bangkala I Jari na Lakiyung I Jarina Pa lakka I Tanaaleya i I
  9. Massing abbarumbarunngi tauwa I Massing nasusuru ki bandera na punna subu I
  10. Nalle gassing tonngi Barumbarunna I Barana I Berowanging / Nasusuru ki ri dallekan-na barumbarun-na I

  11. Naassengi Bone I Nisuro kiyuk ki Barana I Berowanging I

  12. Ba:ttui mange I Nakana mo Bone I Anngapa i nasusung tari- pa rambali na taena anu kamma nu I
  13. Nakana mo Barana I Berowanging I Iya kupakamma I Karuwa-ru-wanna ja I Se're barumbarung I Punna subu mo massing allampama-kik mange akboya kayu-kayu mate I Raung-raukayu I Maka nikanre ya I
  14. Nakana mo Bone I Ero ki Baranak kuni panaik I Nakana mo Bone I Antekamma bella na Barru I
  15. Nakana Barana / Tallunngallo / Tallumbanngi / Nampa ni- tarrusuk / Tanete Kamma tonji / Bulukumba kamma tonji / Binamu ak lampakik ri baribbasaka I Takgiling allowa kibattu mange I Bangkala lya I Aklampakik ri baribbasaka I Tabambangai allo wa kibattu mange I
  16. Nakana mo Bone I Bonge Bangkala nu-accini ki I Rabo am- pusuk nu / Nakana Bone I Sisarikbattang ko Barru I Tanete I Bulukkumba I Bangkala I Binamu I Laikang I Barana I Beroanging I Pun na mae ko I Niyak passolon nu I Nipisa- lingi / Cilaiyannga -seng I Ikau lele ilauk I
  17. Nakana mo Bone / Kere nungaiya ikautong I Asembang I Kaddoktikno nu I.

    -

  18. Nakana mo (... ) tommo ansembangi kaddok tinno ku I Kuniyak mo tugguruk rijarangku I Jari mi kamma I Am- minro mi tau wa anraik mae I

  19. Tallun-taung I Assulu ki Damanyuara I Antama KaraeJig Baine ya / Aren-na I Basse Daeng Singara I
  20. Narapiki mi attuppak katowang awang na bosi-bosi I As- suro palak kerowang I Ammole-mole i I
  21. Nakana mo bainen-na Gallaranga I Manan-na Kerowang I

le na-bali I Battu mange/ Nakana mana Tok&owang I Tak kulle nabali I Nakkaraeng I

  1. Nakana mo Karaenga I Bajik pi nikarrukang I Katirik na I Nipasuluk mi ri kakaraengan-na I I 02. Tallun-taung naparikalen-na I Gallaranga I Nampa nabali- yan ngang I Mange jannam-mi kakaraengan-na I
  2. Narapiki mi I Antalle I Tauwa ri Dongang I Anraik mi tauwa I ri Pall~ngu I Apparuru I Nakanre mi juku ri Jangan commoka
  3. Nakana mo Karaeng Illang Bainea I Kere mae pammata- ngan na I 05. Nakana Jangan-cokmo ka I Taena mo tanijama I Lakupa- ressai I Caukang I Jarimi kamma I
  4. Nakana I Kere mae pammantangan-na nikana Pinje Tam- bung I Taena mo tanijama I Lakuparessa i I Caukang I Jarimi Kamma I
  5. Nigilingi bicara ya I Nakana Karaeng llambaineya / Ikau Dadamangemba I ansambeyang-ngak an talle ri Dongang / Punna sallang nubaliyannga ulunnu I Nakusare ko I anu ri ulungku wa I
  6. Nigiling-ngi bicara ya / karaenta Baliya anibaineyang-ngi anak na Gallarang Rappoala I Anak mi lbakkak Daeng Lompo I Sisarikbattang-ngi Daeng Anneng I Damanga- gang I Damangemba.
  7. Damangemba antalleri Dongang I Akbunduk I I Lanngi I Iballe ri Dongang I Rikawao I Ki niawang I I Puniajatting mate tonngi I lballe I ri Bon to-Bon to niyawang I
  8. Nakana mo Bone I Ker~ mae I Niyawang I Tau jarreka ri- yadanna I Nikana Bonto-Bonto I

Bone I leya ko I Kana ko majarrek na-jarreka ri- yads na I Iya mi anak na nikana ilalang Damanyallang / Iya minjo allebbasa ki Ijatting I Narapiki mi antama ri batat- tanaya ri C~nrana I Taina Gallarang passangalin-na Kalom- powangnga I

  1. Damangagang Karaeng I Narapi ki Molong Ruwa tappelaki bis~ gallanga I
  2. Nakana mo Karaenga I Ri Bangkala I Kabbuluareng nga- sen-na Bangkalaka I Na pelaki I Bise gallanga I Na-sum- mikna malompo I
  3. Sore mi ri Cenrana I Na alle mi baju gandun-na / Na panai- ki songkok na I Na naik ri Makkadanna tana I
  4. Nakana-mo makkadanna tana I Anngapa-ko Bangkala ?
  5. I Macang ku-boya /
  6. Nakana-mo Bone / La-nuapai I Macang ? Punna la-nu alle- nijannangngi ta-ku sareyangko I Punna anjannangngi ku- sareyangko I
  7. Nakana-mo tu-malompo / Ku-alle anjannangngi I
  8. Nakana Bone I Singkamma-mi injo Bangkala I
  9. Ta-ni pallamullamungang-ko Bangkala I Ta-ni rusuk uyun- nu / Ta-ni rokkai basse-nu I Ta-ni pattanang-tanangangko Aktete-jako ri yagang malambusuk nu I Na-nukalepek cu- pak-nu / Nannusung gantan-nu / Na butta kana ceko I Ka- iya nusama turuk-ki I Najarrekiyang-ko bone-nu I

    121. Am-minro-mi assuluk mae I

  10. Ganna-ki tallum-bangngi I Nisuro kiyoki surowa I

  11. Nakana mo tu-malompo / Mange-ko ri karaenga I Kana tas- singgonaya I Ma-ko buttaya I

I Tiya-i lingu kamma ri tu-malompo / Ammattik. iji songok-ku I Ta-rapaka-i sul~ngka-ku I Siyagang tu-malompo anngerangngi butta-ya I Baji-ki mae-na na-pauwangngak kamma teya-ku / Na-karrungang tappe- rekku na-tannangngang pallungang-ku I

  1. Na-kana-mo I Akkana harang-ko ri Mollonruwa I Nukana / Kab buluarang ngaseng tu-Bangkala-ka I Kaddek nukana paja-anrong I Telang anrong sipak tonji I Tinro-ma antu I
  2. Nigilingi bicaraya I Nakana Dama Tulung I Niya ku-palak/ Tu-Malompo ! Ku-pala-ki ri-kau nibuwang to-appaka / Gentong I Jonggo I Tuju I Bicara I Jarimi kamma I Gallarang ri y~lo I Daeng ri Gentung / Daeng ri Jonggo passa- bakken-na na-gallarang mamo I Jarimi kamma I
  3. Na-kana mo Damatulung / Kupalaki rikau tu Malompo ! Sareyam-mami riyolo daengku Damanunjungi kakaraeng- angnga lnakke-mi ni-karaeng / Sabak cacci-caddi injak I Jari-mi karaeng Damangunjungi I
  4. Iya bassi Gentung / Ikaddo Tuju / ldekde Jonggo / Bincara
  5. Narapiki Ilarumpone / Naik mi tauwa ri Rampegading ak- kusiyang I Karaenga siyagang gallaranga / Amminromi tauwa naik mae I
  6. Siyapa sallo-na I Amminro mi naik karaenga I Akbaine-miri Cikowang I Ijuwecta bainen-na I
  7. Anak mi Damapa / Da Mattiro I
  8. Nigilingi bicaraya I
  9. Akrangga-sela mi pammaik na gallaranga angkana sikai- langi rum-Pone baine I
  10. Niyak mi gallaranga appa-ka I Mattangnga ri tumalompo I
  11. Nakana mo tu-malompo I Anggapa kontu-anri nu-niyak nga-seng appak si-sarikbattang I

I Niyak mo daeng ! bajik ki-tannang karaeng da-

eng !

  1. Nakana mo tu-malompo I Apa saba niya karaeng anreik ?
  2. Nakana I Tu-allarnmanraki butta I Tala iya memang niyal-Ie ilalang ri Bone I
  3. Nakana mo tu-malompo I. .. I saribattang I Ka-inakke-ji anngalle-i lalang ri Bone / Na-baji-ki mange ni-yalle /
  4. Battu-mae / Nikarrangang tapperek-na I Ni-tannangang pak lungan-na I
  5. Nakana-mo I Tiya-i ku-pakaija-ija I Nakana sareyang-ngak bateya I 14 2. Battala-ki ku-passareyang I Kuntu-na Dale Sanrang ku-pi nawang I
  6. Nakana I Tayang-ngak ri baribbasa-ka I
  7. Nakana I Lakeyak mai I Saribattang I Ka-kunn~ ballak-ku !
  8. Ammungko ri baribbasa-ka I Nimangei ni-buno I Ni-yap- paki anjoreng ri-yallutangan-na I Na-alle-mi bateya I Si-ye- rangngammi ri Bone I
  9. Battui naik I Nakana Bone I Punna niya pisangkanna pak julului I Punna niya tana ni-parek ball cerak I Pak-sabak- k!n-na takull!ya-i si-panggali riyatorang-nga si sanggasili I Nakana mateya ni-kaparisang I 14 7. Iya-minyo ta-na-kaluppa Lowe Parang-Calla ball cera
    .148. Jari-mi Datulung karaeng / Ni-lembasaki ri sarikbattanna I ldora Daeng Tapa I Ammantang ri Pattiro I
  10. Narapi-ki ni-bundu Botto Siyang I Teyai sisakla Gowa I Na nisawuru-ki / Niondangi tugowa-ya sanggen-na pangka bi- nanga-ya I

  11. Nakana-mo somba-ya I Munuk ngondang mamo Bangkala I Pasitaba-mami I lya-minjo pessabakkenna nataba Tetebatu

  12. Daeng Tapa Damajareki assambeyangi karaeng ri Bangkala Assuluki I Da Mannaggala karaeng I Assulu-ki Idulla Karaeng I Sisarikbattangi I Damannaggala I Daeng Tadamakana annganakkangi I
  13. Narapi-kimi antama abbunduk ri Peneki I Karaeng Cammo Karaeng I Tallun taumpi tauwa ilalang ri Bone I Narapiki mi lari karaeng Cammo I Nilembasami ri mappakaraleleng I Nilembakkam-mi bunduka I Ammaliyam-mi ri Peneki I Battui assuluk mae tauwa jari-mi sisala pattujuwang tauwa I
  14. I Mappa Damattiro ambaineyangi sarikbattanna Karaeng Leklenga / lya-minjo akbundu sisarikbattang tu-Bangka-laka / Nisauruk-mi Damattiro I Jannam-mi kakaraengan- na I
  15. Karaeng Leklenga annganakkangi I Tokka I Annganak- kang-i I Aadang I Rumpa Da Mamakkang I Ilammi Karaeng Lelenga I
  16. I Tokka Akballikballiyangi tauwa I Akbunduk-mi tauwa ri Baddok Kalolaka I An tama-mi ri Baddok si-yanriyanri- yang.
  17. Nakana-mo Karaeng-ngilanga ri Segeri I Assuluk-makkam- mako / Nassulu anggejarre I
  18. Nakana-mo / Taena na-kuerok I Jari-mi naung ri babang I Am minro-mi naik mae I
  19. Siyapa sallo-na / naik-mi tauwa akbunduk ri Segeri I Am- bali-balianngi tauwa I Tallun-taungi tauwa I Niopok-mi I Tae-na pakkuburan-na I lya minjo passabakken-na naum- mi Damakkulleri Segeri I
  20. Battui naung I Nakana-mo Arumpone I Siyagangi Arung

Sareyangi Karaeng Bangkala Batenu I Jari-mi nisareyang Damakkulle I Jannam-mi kakaraengan-na I

  1. Narapi-kimi akbunduk Damanjarungi I Nisauruk-mi Da- man-jarungi I Siyaganngi Daeng Riyolo I Matemi Damarorong I Si bakji-mi Dalewa I Nibuno-mi Damarorong / Naum-mi ri Mandallo I Akbaine-mi Daeng Riyolo I Anak cerak-na tu-mai lalang Bone I I Coe arenna I Anak-mi Karaeng Battuwa ri Jumpandang I
  2. Ni-gilingi bicaraya I Paksabakkenna mange jurubasa lom- powa ri arumpone I Sisala-i bicaran-na I Nisambila pap- penruwang I Nassui tu-malompowa I Nibajji memangi arum-pone anjo allowa I
  3. Aklampa memangi anjo allowa I Ni-pinawam-mi I Nirapiki ri Labbo Tanggaya I Nakana Karaeng Bangkal I Ta-reppe- kai lauwa puwang I Amminroki I
  4. Nakana-mo Bone I Amminro-mako Da Mapalang I Pak- boyangi kalennu kabajikan I
  5. Paksabakkenna na-kimange ri Kumpaniya I Damakkulle Karaeng ri Bangkala I Daeng Riyolo assambeyangi karaeng ri Bangkala I I Malallu assambeyangi karaeng ri Bangkala I Si-sarikbattangi lpung Kope I I Passiring I I Damangasa / Annganakkangi karaen ta ri Bungay a I Karaen ta ri Lure I Annganakkangi Karaeng Bodowa I Siyanganngi imanna Lure I Imana Lure Akkalabini lamakkaraeng Daeng Tulolo / Anakmi Iyali Da Maniwe I P ASSALAK APP ANN ASAI BICARANNA KARAENG LOE
  6. Pasalak appannassai bicaranna Karaeng Loe Ri Ban taeng Lakipadada Akkoko nikanre lamullamun-na /
  7. Mange-mi na-alle puke-na Karaeng Loe Ri Ban taeng na- natayangi I

ni-puke I Nalullong puke-na I Tassambangi pak kaik-na I

  1. Nalullom-mi naung ri Paratiwi I
  2. Pakrisik-mi pammaek-nya gaukanngi ri Bantaeng I Jari-mi anngalle raukang ri munconga I Sanggen-na narapik-na Pa ratiwi apparek raukang nisambik I Ni-ulorok naung ri Pa ratiwi I Camba na-takdongkokki I
  3. Naiak-mo anak-anak palle jekne I ri Paratiwi I
  4. Nakana-mo Lakipadada I Anngapai na-sino kamma tauwa antama ri pakrasangenga I
  5. Nakana-mo I Anak-na karaenga ri Paratiwi naik ri lino akkarena-karena I natuddok katinting I
  6. Nakana-mo I lnakke aktuwa-jak akballe-i I Ak-lampa-mi/ Battu-mi I Antama I
  7. Nakana-mo palle jekne-ka/ Niya tau ipantaran akkana ri nakke attuwa-jak amballei I
  8. Nakana-mo Karaenga / mange-ko angkiyo-ki I
  9. Battui mange I Nakana-mo I Nasuro kiyok-ko Karaenga I
  10. Mang'!-mi I Battu-mi mange nakana-mo I karaenga I Anngis sengko appakballe I
  11. Punna nakana karaenga I Nakana-mo annanta ko pakali tuju laklanna I
  12. An a arnmi, na-kereng I
  13. Amminro-mi assulukang / Akkana / Teya-ko sungkei sak-genna tuju allowa I
  14. Aklarnpa-mi I NabCsok-mi naik ri lino I
  15. Ganna-ki tuju allo I Nacinik-mi I Takbosarak-mi I

I Battui naik Lakipadada ri lino I lya seng naboya mate ta-matowaya malolo pulanaya assukan- na lino anngele tabusa napajokjo assulokanna lino I Iyami- njo aklanggai langika takbu salaya I

  1. Niyak-mo tau towa rtagang sibuntulan I Nakana tau towaya akkulle-i I
  2. Mange-mi attapa I 186, Nakana-mo tau towaya I Barak tinro-ko I Nakana-mo ta-tinrowak I Tinromako I Ta-tinrowak / Nakana-mo I Bub- buk sambenngi bassi-nu nakucinik /
  3. Nabubbuki bassinna I Pinra-mi I Bassi-nu cinik-mi / Ni-to- tok-mi ta-jariyai tapa-nu I lya-mintu ta-mate ta-matowa
    I ya-mi I ......... I Iya-namo na-ka-erokanga Allataala I Iya-
    mintu selek-na Lakipadada na-selek assulukanna lino battu ri Paratiwi niparek gaukang ri Gowa I Iyami nikana SU-DANGA RI GOWA I Salama I Tamat /

PASSALAK APPANNASAI BICARA MARIYOLOWA

  1. Passalak appannassai .bicara mariyolowa / Sabak-na ri yolo bate salapangi ri Gowa / Anjo punggawa Lakiyung si pakbelangi karaen-na jin Sallenga /
  2. Nakana karaen-na Jin Sallanga I Allei mae anak-nu I Naki- pasiyangangi anak-ku I Nakipakkibaliyangan mae ri lilino I Jari-mi kamma I
  3. Mange-mi ri Tamalate I Ammempo ri Tamalate / Ammempo allapara tappere bodo-na I Angerang ( ... ) sipue-na I Irate saloko katin-na I
  4. Nicinik-mi ri anak-anak pa-kalawakia I Lari-mi mange ri balla akpau-pau turunngaseng-ko annyomba I

Turunngasem-mi annyomba I Akkana sombang karaen-nu tu Gowa / Jari-mfannyomba I

  1. Iya-mi nikana Tumenanga Ri-Lakiyung I Iya-mi annganakkangi Tumenangan rigamacca-na I Iyami annganakkangi Tumenanga Ripapambatunna I Annganakkangi Tumenanga Rita pa-na I
  2. Iya-mi na-ni-pantama-i Bone nibunduk I Nisauruk-mi I Ni rappa-mi sarikbattan-na arumpone niyerang asuluk mae ri Jumpandang ni-bolik I Ni-cokko ammole-mole mange sombaya I
  3. Niya sekre awattu assekre-sekre ri Ballak Lompowa I Niya ngasenngi Batesalapanga I Bate Anak Karaenga I Niyak ton ngi Boto Lempangang I
  4. Nakkana / Niya sallang jari-na Gowa Appatinopang appa- tingara-i buttaya ri Gowa I
  5. Nakkana Karae-nta Bontonompo I Niyanakkam-mi boto I
  6. Nakkana I Nitiyanangam-mi I
  7. Ni-buno-mi tu-tiyananga /
  8. Narapi-ki niyak ngase-ng tauwa / Nakana-mo karaenta Tompobalang I Nakana niya iji boto I
  9. Nakana-mo botowa I Niyanakkam-mi I Nibunoi anak-anak- anaka I
  10. Siapa sallo-na aksekre-sekre-mi seng tauwa I Nakana-mo karaenta Tompobalang I Niya iji boto I
  11. Nakana-mo botowa I Mangeri tedong I Nibuno-i anak- anaka
  12. Sallo-sallo-i / Aksekre-sekre tauwa ri Balla Lompowa I Nakana-mo karaenta Botonompo I Niya iji boto I

ak~lek-mi /

  1. Nclkana-mo karaenta Botonompo I Antekamma naniyak-seng akpare-ki tauwa buwan-buwan na-ni-paksekre tauwa si Gowa
  2. Narapi-kimi aksekre / Akraga-mi .tauwa I Nakana-mo karaenta Tompobalang I Niyak-mi boto I
  3. Nakana-mo I Taena-pi I
  4. Nakana-mo karaenta / Barambammak-seng I Ammenteng tong-sako Baso I Naun ton-sako Basok I
  5. Naum-mi I Baso ammentenngi ri bangken-na sapana-ya I Nirappe-imi ri raga I Na-sempak-mi raga-ya I Turun-mi ilau kan-na Balla Lompowa I Nasempak-mi assulukan-na bataya Na-sempak-mi antamangan-na bata-ya I Patanrappa bangken-na bayang I
  6. Nakana-mo karaenta Bontonompo I Akjokjo I lya-minjo /
  7. Battu-mi ni-bulek bantilika naung ledeng na-inung / na- labbusu-ki nainung iyatu ri allonna I Nassungasemmi-tauwa I Aklampa ngasemmi somba baineya I
  8. Aklampa balla maraeng akbanngi / Aklettek-letteki tinro / Akpada mange-mi ri romanga I Sibulangi ni-leyo I Karaenta Karunrung I Arung Mampu appangerangangi kaddok I
  9. Sibulangi nileyo nampa aklampa antama ri Bone / Siyapa sallo-na I Nitannam-mi Arung Palakka /
  10. Ni-gilingi bicaraya I Nakkana sombaya aksuro anngawan- ngi bingkung siyagang pak irawangan-na sapanaya I Ni suro Boto Lempangan I Boto Lasang I Kajao Liddong I Ni suro boto-i I
  11. Nakana Boto Lempangan I Bingkung siyagang pak I

I lya K.ajawo Llddong ka-nan- na I Kitik laki siyagang kitik gana I

  1. Ni-kekkese-ki / Jari kitik laki siyagang kiti gana /
  2. Nakkana sombaya I La-lompo-i Bone I
  3. Aksuron-ngerangi dMd!sang patompulo I Assllro boya ja- ngang sambuluwa sassaraya I
  4. Battuin-tama I Nakkana Bone siyagang Kajawo Liddong I Assuron-ngeranngangi jarung patampulo I Jangan sambulu sassaraya akjarung / Dekdek pangkuluk patampulo / Be- rang patampulo I Bingkung I Lading I Pak I Aksuro boya dadik tedong laki I Iya nisamballe ni-pappakalu nampai-nikanre I
  5. Nakkana sombaya I La-lompo-i Bone I
  6. Ni-tena-i akpallaga / Ansuron-ngerangi tedong lompo I
  7. Nakkana Kajawo Liddong aksuro boya anak tedong ni- pa-sissallak anron-na I
  8. Narapi-kimi na-paklaga / Lari-mi mange annusu I Jarini- sauruk lompowa I
  9. Anjo lompo-na Gowa paksabakken-na I Nakkana Banjara I Maka niya lompowang kakaraengan-ku I
  10. Nakkana ngasem-mo tauwa I Taena ku-wasseng I Naya-mo anak-anak akkana / Niya iraya ri Gowa I
  11. Aklampa-mi biseyan-na karaenga ri Banjara I Patam-pulo ulowan-na / Antama-mi ri binanga-na Gowa na-kana la · mangek-kusiyang ri Gowa I Niyak-mi akkusiyang I
  12. Nak-kana bate salapanga ri Gowa I An-ngapa-ko Banjara nu-niya I
  13. Nak-kana mae-yak kusiyang ri karaeng-ku I Siyapa sallo

ammole-mole naik / Si-taban-ngi taena-na pak kusiyang I

  1. Niyak-mi nawa-nawan-na erok anngalle ulo-na sombaya I Na na-la-natobo na-cini ki ulo-uloroka I akcaramming sam- ba ya I
  2. Nakana-mo I Anjo Sombaya I Anngapa-ko Banjara I Am- minro-mako kalau I Battuko sikammaya anjo / Punna ta- battu wako ri tallun bulanga kupa-kalau-kiko /
  3. Na-rapiki tallunbulan I Battu-mi I Tura..erang tanra-cella ri ballak e Banjara I Iya-mi sabak na ammina wang Banjara ri Gowa I
  4. ~kre bicara paksabakken-na Manila Nam-minawang ri-Gowa
  5. Kambarak kakan-na Gowa anjo karaenga ri Manila I Niya anak-na baine tetterek-mi lari-lari I Pinruwang-tuju pak- tarin ting-na assulu-an tama I
  6. Aklampa-mi paktampa-ya mange ri Manila I Aksulu-anta- ma ta-nicini-kai allayang I
  7. Susa-mi karaenga ri Manila I Aklampa-mi ni-boya I Patam- pulo olowan-na biseyan-na I
  8. Na anjo anak-anaka ni-tiyanangangi ri soma baine-ya ri Gowa/
  9. Ni-lassukangi ri somba baineya / Sore-mi ri Maccini-Som- bala /Naik-mi Manilaya akkusiyang Manilaya I
  10. Nakkana karaeng Tompobalang / Anngapa ko Manila I
  11. Na-kana / Anakku ku-boya /
  12. Na-kana karaen-ta Bontonompo / Kere anak nu I
  13. Nakana I Anjo anakku I Sakbi si-Gowa tauwa I

I Punna kamma kanan-nu Manila I Urang

sambe-ki ak-kana I Jari-mi sibasa-i I

  1. Nakana sombaya I Anjo anak-nu pakamma-minjo I Nubat- tu-akkusiyangi / lya-minjo sabak-na nam-minawang ri Gowa /
  2. Narapi-kimi antama annarima sambukati ri Bone I Ribokoi Tallo I
  3. Jari-mi anraik ri Timoro I Battui anrai ri Timoro I Ni-suro kiyo-ki tau barani-na karaenga ri Timoro ri karaenga ri Tallo I
  4. Battui naik mae patampulo sannging tinakke salendang bara pasambang I
  5. Nakana karaenga ri Tallo I Iakau-mi tau barani-na ka raenga ri Timoro I
  6. Nakana / Inakke -minne /
  7. Kamma tommin-jo pale tau barani-na karaenga ri Timoro I
  8. lkatte iya tau baraninta / Selek tatarapang taliwan nang bulo-bulo saloko-kati tak-sekrenna / Erok-ko ku-pa kamma /
  9. Akkana mi tu-barani-na karaenga ri Timoro I Erok-ki iya karaeng I
  10. Punna erok-ko alleyanga alun-na karaen-nu I
  11. Jari-mi kamma / Na-alle alunna karaen-na I
  12. lya-mi paksabakken-na nam-minawang Timoro ri Gowa I
  13. Nigilingi Bicaraya / Boto-na Bone Kajawo Liddong I La Pa- llaga ri Wajo I Lamellong ri Luk I Sipakbelanngi I

tempo na Kajawo I Mange mi bemben na-bakji I Leb- baki annganre na-onjo-ki pannganreyan-na I

  1. Nikiyo-ki / Mange-mi / Ukok unti napannganre-i I Na- onjoki pannganreyan-na I
  2. Ni-gilingi bicara-ya I Boto Umpangan anjo Boto Lempang- an I
  3. Niya sekre a-wattu aklampa-lampa I anrapi-ki kaloro I Ero-ki ak-limbang I
  4. Na-kana / Sangge apa jekneka anak-anak !
  5. Teya-i linguak / iya boto I Iya towa I Ikatte anak-anak I lkatte nakutaknan I
  6. Na-tempa kayuwa akkana I Katojenna-ko panrita kamma makontu I
  7. Iya-minjo paksabakken-na taena-mi botowa I
  8. Ni-gilingi bicaraya I
  9. Nalanngere-ki somba baineya ilalang ri Bone nitannang-Arung Palakka I La-ni-pantamai ni-boya I
  10. Aklampa-mi anrai ri Butung / Bantaeng akpau siyagang-Silayara I Akkana I Anraiki ri Bu tung I
  11. Battui anraik na-kana-mo ri karaenga ri Butung I Tak-galak-kak na-kiewa Gowa !
  12. Na-kana karaenga ri Butng / Teyai bangsa kamma ikatte anruppai sanjata-na Gowa I Niyak-ja iya belakbelak-ku ilauk jangan bulekleng bangken-na I Lekleng tottok-na I
  13. Niyak-mi sombaya ri Gowa amparessai Butung / Akka-na niya-ki I Latunruk ri buttaya ri Butung I

  14. Akkana-mi Butung I Ku-patunranngi ala niya-ka ri tom pok-na butta-ku I

  15. Bantaeng appau Silayara akkana-kana I Jari-mi sibakji I Akbundu nirante binangaya !
  16. Batu-mi kappala tallumbatua I Nisauruk-mi tu-Gowa-ya / Mate-mi karaenga ri Laikang I Ni-yalle-mi Da-Marannu I Tani aren-na I Ni-eram-mi naik ri biseyanga I
  17. Battui naik ri kappala-ka I Nakana-mo I Latunru I 0 Da marannu I Pa-kabaji-ki pam-maek-nu I Ka-anjo nau-nu ri Macinisombalak sangge erok-ku ri-kau / Sangge teyanu ku-cinik I Baran na-kellai Allataala nu-battu kalau na-ku- luwariyan-ko anu tau sekre-nu I Kulabbui-yang-ko anu bodo-nu I
  18. Ni-gilingi bicaraya I
  19. Iya-minjo I Latunru jari-mi na-baeneyang /
  20. Akbakkak-mi buttaya ri Laikang sakgen-na tete Boneya /
  21. lyanjo I Latunru amininawam-mi ri kappala tallum-batua/ Battui kalauk ri karaeng-nga ri Balanda I
  22. Ang-ngapa-ko sodara I
  23. Nakana sombaya /Mae-ko na-ki-bunduk Gowa /
  24. Nakana karaenga ri Balanda I lnai nu-agang I
  25. Nakana I Tu-rateya I
  26. Nakana karaenga ri Balanda / Anjo inakke bunduk-ku ta-Iebbak I Siyapa pariaman-na kudallekang I
  27. Na-kana sombaya / Tujunku-tommin-tu I Jarimi kamma aklampa / Akbaju karoro mange ri Pariyaman ri karaen-nga ri Pariyaman I

Siyapa sallo-na I Nak-kana karaenga I Apa todong jama- jaman-nu ri pakrasangen-nu /

  1. Nakana I Akkoko-wa / Akbilaya /
  2. Nisuro pakdeddekang pangkuluk I ni-panngalleyang rau-kang Jawa naparek bila / Akbelaki bulo karisa-ka/ Uk-baki akbelak aklampa-mi I
  3. Ni-mariyangngi-mi bulo karisa-ka /
  4. Jari-mi ni-beta Pariyaman / Beta-na I Latunruk Pariyaman I
  5. Nampa anraik kappalak Tallun-Batua I Ambakuriki Jum-pandang akbilu-ki Lae-Lae I Ampala bui takkang bassia I Takkan-na Bui-buiya / Nakasanarang tu-ribiring kasikia na-kagegeran anak-anak pagaddea na-kaurliyang papekang- na-kalarakan padanggang nakaragarang bone-na Ballalom- powa I
  6. Nak-kana Tu-manggau-ka ri Moncong / Anak tau rewataya/ bau tembanga bawa-na I Ri nauson bete-bete-a /
  7. Akkana / Kiyo-kiyokan-ki I Caddaga ri Katempang / Lolo-Tangka ri Garassi I
  8. Niya tojen-minjo mae I Caddaga ri Kat~mpang Lolo Tangka ri Garassi I bakka Dangerate Niaki anak-anak dindonga Cucon-na Barasammannga Tu Malompowa I Rengke Juru basaya I Depo Pabeyanga I Sadolla Abbangkuriki Jumpandang Abbiluki Lae-Lae

lrenke Juru Basaya I Depo Pabeyanga I Sadolla

  1. Nakana I Caddaga ri Katempang / Iya Kanan-na I Tu mang-gauka ri Moncong Anak tau rewata-ya Bau tembanga bawa-na Rinausong bete-bete-a Ammali -·yanki ri butta-ta Bali ri pakrasang-ngen-ta Battu bajik ta-nikulle nitowana Battu kodi ta-nikulle nita rangga Battukik akbalu na-taena tu-lammalli Battukik lam-mmalli ·na-taena ni-balukkan Taena inrang-inranna buttaku Cekka-na pakrasanngen-ku Manai-ki ewangan Makkompania Manaung tong-ngi berasaku akbakukang Jangan-kue-lenra-lenra Tedongku ayo-ayowa-ka
  2. Nakana Juru Basa I Depa / Tabattu baji Tabattu kodi-yak I Makjiran-ji kuboya Ambon-ji kuluyo-luyo Kaddok pepek-ku Sawalak-na ewangan-ku

Jenne Sagantuju-wa rappa-na / lannge jaran-na karaen-ta Bon tonompo siyagan ngi karaen-ta Tompobalang I

  1. Anjo irawa ri kappala-ka sikaluk-kalu-ki I Na-naik ri tangnga bangngi-a aksassangngi mariyang ri Pattingallowang I
  2. Patan-rappa sikabtHlain-na nipaklappo-ki I Jari polongi mariyang gallanga ni-piklappok-ki camba-jawa / Ringgik I Siyagang rupiya I
  3. Nibuntuluki turung-ngasem-mi tauwa ang-ngalle I Ni- belak mi na-nitunu /
  4. Tallun bulang-ngi I Battu-mi pole I Ni-mariyang-ngi-mi- pole I Jarimi bangka Sambopu I
  5. Naik-mi Jurubasaya ldepo I Tu Malompowa I Rekke / Pabeyanga I Sadolla appalak ammalli butta sibatu kukku- luk/Ni-p~rassi-i ni-paktambung sakgenna tugguruk-na / Na- naalle na-darisi I Nampa natattang I Na-kana sakgen-na butta-ku I
  6. Jari-mi am-mantang ri Jumpandang I Nisuro parek-mi ko- taya ri Tunisomba-ya I Battu ri-Kuring niyalle / Sitaro lima-ji tauwa I Bata-ya ri Gowa ni-erang kalauk niparek kota I Jari-mi cakdi Gowa !

    PASSALAK MtPANNASSAfNIYAK NA LANRA LEKLENG

RI UJUNG MONCONG

  1. Niyak-na lanra lekleng ri Ujung Moncong I Iya-mi na suro palak karae"nga ri Gowa ri karaeng Ujung Moncong I Ta-na-passare-yangi / lyami na-ni-panaiki Ujung Moncong

  2. Akkalibbongi tauwa ri Ujung Moncong / Tallun-taungi ni- bunduk /

  3. Na-anjo karaeng Ujung Moncong si-pakbelang-ngi karaeng Barisalo I
  4. Na-assengi tu-Gowaya I Battu-mi natannang taun-na ri ....
    .......... I Angerang-ngas!ngi kalung-kalung ri Allu Tiworang
    I Ni-songke-mi I Na-kana belan-na kara~ng-Bori /

  5. Iya-mi na-ni-sauruk-mo Ujung Moncong / Siwali antakga laki bainen-na siwali antakgala-ki selek-na / Nissuruk mo Ujung Moncong / Jarimi ni-alle-mi lanra leklenga /

  6. Naik mi lpung-Tamparang ampangkulu-ki lanra leklengnga Na-pangkuluk mi/tuju allo-i na-pangkuluk nampa anrakba ilauki ri Macui I
  7. Akparessa-mi tum-mangkuluk Puntamparang I Aklalo mi ga uk-na na-tudduki-mi tauwa Puntamparang I
  8. Am-mangkuluk-mi tauwa ni-parek biseyang mampasom- baratu biseyang makinna-ya I Aklalo-mi gauk na Puntam-. · parang I
  9. Lekbak-mi biseyang mampaksombaratu siyagang biseyang makinna-ya I
  10. Si~taba-mi / Naum-mi passaraung kayuwa / Si-taba-mi ni pangkuluk mi ulun-na passaraung-kayua / Mate mi passa- rawung kayuwa I
  11. Batu-mi suro-na sombaya akkumisi kamateyan-na lpung Tamparang I ·
  12. Jari-mi akparurung tauwa ri Ujung Moncong naung riGowa
  13. Na-rapi-ki baribbasa ammepek-mi laiya I Na-pasappik ri bidak-na / Tama-mi ri embaya na-sapui-mi matan-na I Am

jekne matan-na akkalatta bibenek-na antakga- lak pangulu selek-na / Ak-kereng j!kne matan-na I

  1. Nakana Sombaya I Apa gauk-na lpung Tamparang I ·
  2. Nakana Ujung Monconga I Eroki naalle ta-anngerang kad- daro ruwam-batu sekre lennyung sekre niya bulun-na /
  3. Na-pikkiri-ki sombaya kuntu tojeng-ngi kanan-na karaeng Ujung Moncong anak-anak tau towa I Jari taena boyan-na kamateyan-na Puntamparang I
  4. Am-minro-mi karaeng Ujung Moncong naik mae I
  5. Selama !

    PASSALAK AMPANNASAI PANNAPPUKINNA SARAKA

  6. Miti niya baine erok ri burakne / Burakne erok ri baine na-sitaba na-cini sara-ka miti ni-paknikka I Siratanga na- tani-pasiratang annyakringi ri buttaya /Kamma tonji anu ta-siratanga na-nipasiratang annyakringi ri buttaya I

  7. Maka-ruwana / Niya baine aklampa ri ballak-na na-taena sakbin-na akkulle-i ni-baliyang ri ballak-na I Niya baine aklampa ri ballak-na tiyanang anngan-ni burakne I Akkulle nipakrisi buraknea nakana ikau-ka ta-ikau barang erok-na tallasak-mi ninikka I
  8. Maka-talunna parakara niya tau niya buraknen-na silari- yang · burakne maraeng ayak-mi emba / Ni-balukang- ngi burakneya tallun-pulo baineya patampulo nisar!yang bal lin-na burakneya niyalleya bainen-na alle-i pa-sunrang teya mi bainen-nu I Akbaine-ko maraing I

Parakara niya bain~ ta-nikayu-kayui ri buraknen-na I Ta nigangangi sibilanngan bangngi eddami I Erok abburakne akkulle abburakne sabak idda-mi / Anjo baineya na-erok abburakne eroki ni-pakanre ni-balanjai I Anjo buraknea na-erok akbaine eroki ni-pillipakki /

  1. Maka-limana I Niya tau tianang I Ata ampa-kamma-i I Akkulle-i ni-pangngalleang burakne siratannaya /
  2. Parakara maka-anan-na I Niya burakne erok akbaine niya bainen-na na-e"ddami na-erok akburakne akkullei akburakne /Mate-mi buraknenna bainea mate tommi buraknenna bainea akkullei akbaine buraknea akburakne baineya. Miti niya sunranna iyami nikana kaddok lannge /
  3. Makatujun-na I Burakne angngerang anak baine angngeran anak I lya-mi sarikbattang pauwang I Akkulle-i si-bai- neyang I
  4. Sekre bicara I Niya tau sibayuangan / Irate-mi pasunranna na-silariyang buraknea / Ni-betami sunranna / Baine nilari- yang amminro-i sunran-na lappak pinruwai sun ran-na /
  5. Sekre pole / Niya tau bunting na-tiya bajik / Amminroi pasunran-na / naiya ongkosok maraingang si -tokkong-ngi
  6. Niya na-unrang si-kaero-ki I Gesaraki nikka-na I Ta-nipak- nikka tau naunranga silariyang /
    332.Parakara maka-sagantujun-na I Niya tau sisarikbattang- burakne / Baine-mi I Niya anak-na burakne sitau I Mate mi anggena mange-mi ambaineyangi bainen-na sarikbattan na I Akbaine anak ao-na I Mate anak ao-na mange-mi ambai- neyangngi bainen-na anak ao-na I Iyami nikana tambung karoppo I
  7. Maka-salapan-na I Niya tau akkalabini I Taena anak-na niya baran-baranna cakkarak-no I Nibage tallu-i I Si tawan

baine kamma-tonji bage-na I

  1. Maka-sampulo-na I Parakara niya barang sisala I Sipato ki mange ri warisik-na I Kammaya tedong I tana / bulaeng I Simaraiangan I Sunranna baineya sisala-na bainea tedong I tana I anaba-i buraknea bage lima I Kamma-tonji bainea bage tuju I AMPANNASSAI BAGE-NA IY ANGASENG SINGKAMMA BA GEA
  2. Ampannassai bage-na iya ngaseng singkamma bagea I Anjo ikatt! limantawangkik I Uruk-na nyawa-ta tawan-na Mala- kalamauk assibawan-na oloka I Bukunta tawa-na buttaya I Barambaranta tawan-na barisikta I Parek bajik- ta tawan- nai tau kijekkongia I
  3. Maka-sampulo-na aksekre / Niya tau kalumannyang taena- bija-bijan-na na-mate taniassengai I lya-mi niawang ni tuma- teang I Lappasak allo-na I lyami barambaran-na iya mi ni- pan tama baetalamala I
  4. Iya-mi nia tau mate taina apan-na / Iyami nia-alle ni-paro- ko I
  5. Niya tau akkalabini taena anak-na kalumannyang / Niya anak katuwon-na barisik burakne barisik baine I naniya inran-na I Gaji tuk-keke kalibbong I Tumbule-ka / Nang- ngalle jeknek / Nuktumateang / Nutawa baran-baran-na barisik burakne barisik baine I Bage tallu-i I Ruwa ri burak- n~a sekre ri bainea I
  6. Maka-sampulo-na anruwa / Niya tau bunting na-ta-nakul- lea na-baji-ki akkulle-i ammaliyang pansunran-na amma- liang si-baliang para passare-na siratanga / Kamma-ya

I Naiya kammaya kanrejawa-y~ ta-sipato-kai sibaliyangang sabak nikan-rei I Angngerang-ko kanrejawa I Nitajang-ko kanre apa-nga I Jai-ko nipainung-ko jekne bambang kanrejawa I

  1. Ampannasai parakara maka-sampulo-na tallu I Niya tau silariyang I Ganna-ki tallun-bangngi mange-mi surowa ri angge-na ri anron-na I niya-ki iyanu siyagang iyanu siratangi ta-siratangai iya kanan-na taena pangngis sengku nakana-ka siratangi nakana-ke tasiratangai I lya mi ki-parek awalli ri baineya I Nakipannassa sunran-na siratanna-ya /tedong sitai agan-na sanra I tau sitai agan na sanra / Selek lollong taliwannang sitai agan-na's -anra / Nautungi anak laburu-ki I
  2. Maka-sampulo-na anngappak I Niya tau lebbak akburakne/ Mate buraknen-na niya erok amboyai I Nikutaknangi bai- nea I Niya ambuyako I Iya kanan-na ikau ngasen-jintu-kammaya iyami tugguruk sunranna / Sekre nakana tutaena ya iya buraknenku / Sekre taena nakkana / Ruwa battu wan-na I Sekre erok sekre t!ya I
  3. Maka-sampulo-na lima / Naiya anak lolota akkullei ni piro- kolo siagang ataya I akkullei kipirokolo I Naiya ata taya takulleyai tukguruk sunranna I Nakana iya tommi-pakja- wak-ku paktana barakku I
  4. Naiya maradeka-ya akkullei tungguruk sunran-na I
  5. Naiya akdiya I Takulleyai tugguruk sunran-na I
  6. Maka-sampulo-na ang-ngannang I Niya tau akbaine taena pasunranna kammaya akdiya / Akkule-i kalen-na na-pak-sunrangan / Iyami nikana buwa bakkak I Annabai anak tawang lappasak sunran-na I Naiya natassunranga tujupi anak nagappa anak tawang I lyami nikana puppusuk appo- lo sitau I Tamat I

I Niya emba akrungan I Iya emba akrungan akrurungi buraknen-na bainen-na nu-mange ri yallak-na I

34 7. Maka-ruwan-na I Emba tun tungan aktuttungi siyagang buraknen-na nu-mange ri yallak-na aktuttung I

  1. Maka-tallun-na I Emba kanre I Ang-nganre-i siyagang bu raknen-na nu-mange ri-yallakna /
  2. Maka-appak-nya I Emba katinrowang / Akjulu paklungan I
  3. Maka-sampulo-na sagantuju / Niya tau akbarakkambui anak-anak nipasusu I Ammari sikali annusu-mi seng I Punna kipintallung assami si-sarikbattang ana-ka anjo tu ma- raenga I
  4. Maka-sampulo-na salapang I Ampannasa-i bicaran-na taena barisik ilalang-ngan buraknen-na na-bainen-na I Kaanjo ricakdi-na akkulle-i kibau kibau laso-na anakta / akkulle- tongi kibau sombon-na anakta ikatte anggena-ya
  5. Na-taena barisik ilalang-ngan buraknen-na na-bainen-na Mitti mate burakne-ya mange ribainea / Mate bainea mange ri burakne-a baran-baran-na !
    353.Naiya sisala-ya akkulle-i mange memang ri barisik-na / ............. I Ka-anjo lak-gesarak-ji sallang punna mate nga- seng sallang I Na-pada ni-tawa baran,-baran-na sabak taena- na anak-na I
  6. Tamat / Alkalamu wallahu a'lamu bisshawab I
TAENA TALLA SA KODI BAJIK MATE
0 SATTU
AHA SANNENG
0 SALAS A
000 00 0 ARABA
0 0 0 0 0 0 HAMISI
0 0 0 JUMA

355.

I Ku-panaik jarang balibi I Ku-pakkasiwiangan ri Ka raenta I Makdanrannga I Sampulonngappak I Riballiangi jaranga I

  1. Na-niak I Juru tulisika I Panngeranganngak I Surak bilan- nga I
  2. Iya minne doangan nibaca ri sampulona bulang Muharram/ Nanibaca anne I
  3. BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM / ALLAHUMMA SHALL! 'ALA MUHAMMADIN WA ALA ALI MUHAMMADIN / WA BARIK WA SALUM ALA JAMI-' IL ANBI- Y A-I WALMURSALI-NA / SUBHANA LLAHI MILAUL MIRANA / WA MUNTAHIL 'ILMU / WA MUBLIGUR RIDHA / WA ZI NATUL 'ARSYI / LA MALJA-A WA LA MANJA-A MINALLAHI ILALLAHI SUBHANAL-LAHI / ' ADADASSAF'I WAL WATRI WA 'ADADA-KALIMA -TIHI / WA ANTA RABBIL 'ARSYIL 'ADZIMU / MA-SY A ALLAHU KANA WA MA-LAMY AKUN / WA LA HAOULA WA LA KUMW AT A ILLA BILLAHIL 'ADZIMU / I'LAM INNALLAHA ' ALA KULLI SY AI-IN WADIRUN / ALLAHUMMA INNI A'UDZU BIKA MIN SY ARRI NAFSI WA MIN SY ARRI KULLI DAABBATIN ANTA AKHISUN BINA-SHIYATINA / INNA RABBII 'ALA SHIRA TIN MUST AQIM /
  4. Kuntalle ri Laikang I Labbiak si-bilanngan siyagang I Akkutaknangi / Anrong tau ri Laikang I Iya kananna Ka- raeng Popo (... ) Ta-na ruwapa nawa-nawangku I ri Kara- engku / Kammangasemminjo / Kananna si-anrong tau I Ri Laikang I
  5. Naniak Nasara I Siagang Rukuruku I Anngeranngi paksam- bikna I Ruwa Reala I Ri Karaenga ri Bangkala I
  6. Naniak tu-Pallenguka / Anraik / Anpanaik paksambik-na/ ri Bangkala / Ruwa reala naerang paksambi ri karaennga

Pallenguka I Napina wanngi parapiki I Tanisareanngai ri palukkaka I Apaji naniak karaeng Pallengu assiagang anrong taunna / Akkana kana ri Bngkala I Apaji naiamo nagaukang I Anrong tau wa karaenga ansuro pinawanngai tedonnga I Ganna tujui siagang anak buraknea I lrawanganna bung laklanga na alle sampulo sekre tedong I

  1. Muharrang I Sagantujunna I Nahassa lompo I
  2. Sapareng I Sampulona I Nahasak lompo I
  3. Rabil Awwal I Patambannginna I Nahasak lompo I
  4. Rabil Akhir I Sagantujuna I Nahasak lompo I
  5. Jumadil Awala I Ruampulona I Nahasak lompo I
  6. Jumadil Aherek / Ruwampulona I Nahasak lompo I
  7. Rajja I Sampulona anruwa I Nahasa lompo
  8. Sa'ban I Ruwampulona assalapang I Nahasa lompo I
  9. Rumallan / Ruwampulona antuju / Nahasa lompo I
  10. Sawala / Ruwampulona assagantuju I Nahassa lompo I 374 Dzulqaiddah / Ruwampolona I Nahassak lompo I
  11. Sdulhajji / Ruwampulona assagantuju I Nahassa lompo !

PASAL YANG MENJELASKAN KARAING UJUNG MON-CONG KEDAT ANGAN BANRIMANURUNG

  1. Karaeng Parigi, bersama isterinya---Acla_ sebuah tabung bambu (tempat) anak panahnya, di bawah serta pergi ke
    1 ) Kapasa. (untuk) berladang. (serta) bennukim di sana.

2 3 )

  1. Ada tenunannya yang ditenun). Sesudahnya masuklah ia di samping suaminya.
  2. Dengarkanlah suara tenunan. Ia pun pergilah ke rumah4 ) .. Ada bekas (tenunan) pada bahan tenunannya.
  3. Maka was-waslah perasaan hatinya.
  4. Sampai keesokan harinya. Ia pun masuk ke dalam tenunannya. Keluarlah ia dari tenunannya, pergi duduk di samping suaminya. Ia pun mendengarkan suara tenunan.
    5

  5. Merayaplah ia ke sana). Ditemukannyalah Maka berkata- lah ia, tinggallah pada-ku, karaeng !
    1) Nama aebuah tempat di daerah BanakaJa.
    2) Kain yana dalam proaea penenunan.
    3) SNudah Mleaai mencerfakan tenunan kain.
    4) Rumah tempat melakukan keliatan menenun kain.
    5) Ke tempat kerja di mane ia b1ua menenun kain.

  6. Be~erapa lama kemudian, tibalah saatnya berpesta.

  7. Pergilah Karaeng Pauranga, untuk berburu di bagian barat (yaitu) Saluka.
  8. Sampailah ia ke areal pertanian, maka ia berkatalah lepas- kanlah anjing itu
    8 )

  9. Dilepaskanlah (anjing itu). Datanglah ia
    9 ) (sambil) basah kuyup.

  10. Ia 1 0 ) pun dibuntuti. Ditemukannyalah sumur Loya. Di- dapatinyalah11) kulit jeruk yang terlilit dengan rambut panjang. l 5. Berkatalah ia dalam hatinya, ada rumah yang terletak di dekat sini. Ditemukannyalah sebuah gubuk ladang.

  11. Muncullah seorang wanita. Berkatalah wanita itu dengan ucapan sopan, hamba hanyalah ata wahai karaeng. 1 7. Masuklah ia 1 1 ) maka ia pun berkatalah ada anak gadismu wahai towa1
    2 ). Berkatalah orang tua itu, tidak ada.

7) Maksudnya oranc uiD& ltu.
8) AnJlna. pemburu YaDI bluanya dlbawa ..ta oleh banpawan a tau pun &n11ota muyarakat dalaln menanakap blnat&DI buruan.
9) AnJlna pemburu ltu kemball ke tuannya denaan tubuh buah.
10) AnJlna YaDI baab kuyup itu dlikuti oleh tuannya.
11) la, maksudnya ll pemburu ltu
12) Towa, 1ebui&D/pan1sll•h kepada oran1 tua/laDjut ulla.

Carilah! Dilihatnyalah rambutnya di dalam barn bu.

1 4 )

  1. Berkatalah apa itu di dalam bambu petung? Ia pun ting- gallah memperisterikannya.
    5 )

  2. Berkatalah ia1 saya ke timur dahulu. Kelak akan ku suruh jemput jualah engkau, jikalau sudah tiba saatnya. 21. Karaeng Pauranga pun ke Timurlah Setelah tiba di ti- 6 mur1 ), maka setelah tiba saatnya disuruhnyalah orang ke
    1 7 ) barat (untuk) menjemputnya

1 1 9 )

  1. Tiba di barat a) berkatalah (ia) tuanku yang meni- tahkan hamba nienjemput paduka.
    2 0 )

  2. Berkatalah kembalilah engkau duluan ke timur. Banri Manurung pun lalu mengabil batang bambu itu lalu dibe- lahnya. Kemudian ia berkata jikalau engkau betul Pantirta, jadilah engkau manusia. Maka menjelmalah ia menjadi manusia.
    2 1 )

  3. Itulah yang mengusungnya ke timur. Setelah tiba ia
    2 2 ) pun melek-a.n selama tiga malam. (Selanjutnya) iapun kembalilah ke barat, bersama Karaeng Pauranga.

  4. Setelah berlaku tiga malam dititahkanlah kepada suruhan
    2 3 Karaeng Kalimporo, untuk meminta isterinya). Jikalau engkau menyerahkannya akan baguslah jadiriya, (tetapi) jika engkau tidak menyerahkannya maka buruklah jadinya.

13) Mabudnya Ill oranc tua, pemWk rumah ladan&.
14) Mabudnya Ill pemburu berkata kepada Ill Towa. Hi) st pemburu Y&nl telah menjadi 9uami anc pdia ajaib.
16) Tempat dnaal Ill suami terletak di baclan tlmur.
17) Mabudnya menjemput permaiauri/lsteriDya di buat.
18) Tempat tiDaa1 Ill uteri.
19) Si orana 1uruhan.
20) BamimaDurun&/l&nl permailuri berkata pada 1uruhan.
21) MaUudnya manUlia jejadian, penpwal Banrimanurun&.
22) Melek..n, adalah upacara/pe1ta tradilllonal di mana orana-orana pada berlaca/ ttdak ttdur.
23) Mabudnya i8teri Karaenc Pal.lr&nl&. yaitu Banraimanurunc.

ia 2 4 ) me- minta isteri tua.

  1. Berkatalah Karaeng Pauranga. Takkan kupersembahkan is- teriku, kecuali aku sudah meninggal.
  2. Berkatalah Karaeng Pauranga
    2 5 ). Bagaimanalah kita ini. Berkatalah Banrimanurung. · Nasibku jualah sehinga kita bakal diperangi.

  3. Berkatalah Banrimanurung, jikalau engkau. memang Panrita besar, jadilah manusia. Maka menjelmalah ia menjadi manusia. Maka menjelmalah ia menjadi manusia. Ia pun berperanglah. la
    2 6 ) pun dipencundangi. Diuberlah ia ke timur (sampai) ke Bonto Matene. Maka jadilah Kalimporo taklukan dari Ujung Moncong

  4. Muharram, 1245 Hijriah.

  5. Dialihkan pembicaraan. Anaknya Banrimanurung bersama Karaeng Pauranga, I Batara Langi dan Liampayabang.
  6. Batara Langi inilah yang memperisterikan anaknya Kojaya_ Ia pun melahirkan tiga orang anak.
  7. Massaguling, Sawempalage, perempuan bergelar Golla Tauwa.
  8. Massaguling pergi ke Garassikang. Sawempalangi pergi ke Punagaya. 3 5. lyampayabang berjodoh dengan Karaeng Tamamapa, lahirlah Palembanawa, menikah dengan Golla Tauwa maka lahirlah Latena Bangkala.
  9. Latena Bangkala menikah dengan puterinya Karaeng Lowe ri Marusu, lahirlah Puwang Kope.
    24) MU.Udnya, Karaenc Kalimporo. 2&) Karaenc Pauranp berkata kepada l.sterinya.
    26) Maksudnya Karaenc Kalimporo keluar 1111bapi pecundanc, ditaklukkan oleb luykar manWlla jejadian para penpwal Banrimanuruna.

Sombaya 2 7 ) menikah dengan Puterinya Karaeng Lowe ri Marusu lahirlah Karaenta2 8 ) Bilik Tangngaya, kawin dengan karaeng Labbuwa Tali Wannanna, lahirlah Karaenta ri Bungaya, bersama Karaenta ri Lure Itulah Karaenta Labbuwa Taliwannanna (. ) yang beristeri di Lantang. Lahirlah I Madidi Daniram- pe, pemilik Cokkong Lowe di Lantang.

  1. Pembicaraan dialihkan. Karaeng Canrapole mengadu ayam jago dengan Arung Bulo-Bulo. Dipertaruhkannya negeri bersama isinya. Terbunuhlah ayam milik Cinrapole. Maka diambil alihlah negeri dan segenap isinya, kemudian lewatlah Karaeng Labbuwa Taliwannanna. Maka diambil- nyalah ayam andalannya (yaitu), BALU BAINEA BATIJ LAPPA MA TTUPPUW A. CIPPAK SIRAE-RAE ya ayam jagonya sang Bissu 2
    9 )

  2. Berkatalah Karaeng Labbuwa Taliwannanna. Berapa (banyak) taruhannya ayam jagomu wahai arung Bulo-Bulo3 ° ). Ia berkata hasil kemenanganku31 41. Ayam pun dilepaskan, maka ayam jago milik Labbuwa-Taliwannanna telah terdesak. Ia pun memberi semangat kepada ayam jagonya sambil berkata mati betullah gerang- an Batu Lappa Mattuppuwa Cimpa Siraeraeya. Maka terbunuhlah ayam jago milik Arung Bulo-Bulo.

  3. Arung Bilo-Bulo pun dipencundangi. Itulah sebabnya sehingga ada angsa, kuda, kambing dan kodok di Bangkala.
    Gelar tenebut meajadi 1ebutan dan
pangU•n baci Mt:iap nja yana: bertakhta di
bidana: keapmaan. banpa BUiiis di Sul-Bel.
31. Maksudnya taruhannya adalah ae1enap ne1eri dan lslnya yana: telah dimenaDI· kan dalam adu ayam aebelumnya.

27) Gelar nja berdaulat di kenjaan Gowa.
28) Tuan klta, juajunpn klta, paduka, bqinda.
29) Blau, aclalah tokoh apma dan ahli ilmu pib, penuehat nja-nja BUiiis di
30) Bulo-Bulo aclalah aalah 1atu wilayah kerajaan di daerah pemukiman suku

atu stn11a•n• kenjaan Gowa.

Pembicaraan dialihkan. Karaenga ri Bungaya yang melahir- kan Tumena ri Pakaru, Karaeng ri Balang. Tibalah saatnya ( .. ) naik ke Taruwang. Taruwang dipanggil di waktu sore hari, ia bersama ·Bangkala isterinya.

  1. Tiba di atas, di luar Tabu-Tabuanga (maka) Karaeng Taruwang pun diserang oleh Kare Pasere.
  2. Matilah Karaeng Taruwang, isterinya pun dirampas. Ia pun disuruh mengutuinya
    3 2 )

  3. Maka dahinya pun terkena tetesan air susu. Berkatalah Sombaya
    3 3 ). adakah bayimu?

4 7. !ya, wahai junjungan hamba.

  1. (kalau begitu) sebaiknyalah engkau pulang.
  2. Ia pun kembalilah naik ke atas.
  3. (ternyata) isteri Karaenga ri Bangkala, saudaranya telah meninggal. Diketahuilah oleh Karaeng Bangkala maka ia pun dipanggilah. 51. Berkatalah ia, aku naik ke mari hanyalah karena puteraku
  4. Berkatalah Karaeng Bangkala, Anakmulah yang (sebaik- nya) kita jemput dari atas. Jadilah (anaknya) diambil, maka kepadanya pun dilimpahkan negeri Camba Cambaya.
  5. Kembalilah ia naik ke atas, maka ia pun disambut oleh orang-orang Layu di Tabinjaj. Ia dinobatkan menjadi karaeng di Layu. Sesudah itu ia pun naik lah menjadi karaeng di Taruwang.
  6. Pembicaraan dialihkan. Bekas isteri Karaeng Taruwang diperisterikan oleh Karaeng Bangkala. Puteranya naik ke
    32) Kare Puere menyuruh l.steri rampunnya untuk mencaharikAn kutu di atu kepalanya.
    33) Sombaya, lalah raja yanc sedan& duduk/menduduki tahta kerajaan Puere ketlka itu.

Sombaya. Saya suruh panggil engkau, wahai Karaeng Garassikang. Pergilah ge- rangan engkau (untuk) mengambilkan anjingku di Dima. Nantilah sesudah lewat tiga tahun baru engkau kembali.

5 7. Setelah cukup tiga tahun, datanglah Karaeng Garssikang membawa anjing (sebanyak) dua ekor.

  1. Terdengarlah (kabar) bahwa ia telah berlabuh di Macini Seombala, maka disuruh isinyalah air ke dalam cerek, kemucian diletakkan di ujung tangga.
  2. Datanglah Karaeng Garassikang membawa anjing. lapun membersihkan kakinya, kemudian naik ke atas rumah langsung duduk di belakang pintu
  3. Berkatalah Karaeng Garassikang. Anjing itu sudah ada, wahai paduka junjungan hamba.
  4. Berkata sombaya. Maafkanlah aku, wahai Karaeng Garassikang!
  5. Berkata Karaeng Garassikang, hanya karaeng-lah yang biasanya memaafkan hambanya, (sebanyak) tigakali.
  6. Berkatalah34) kurelakan keinginanmu Apa (pun) ke- hendakmu pada diriku.
    64. Berkatalah
    3 5 ) itulah tugas hamba sebagai hamba.

34) Makaudnya, Sombaya berk:aa kepada Kuunc Guumlwl
35) Mabudnya, Kuunc Guu.ikanc berkaa (uniuk meojawab/menanaapt Uah Sombaya).

  1. Berkatalah Sombaya, ambillah anakmu lbaratkan emas (baiklah) ia disepuh, dinamakan Makarae Datu Lolo.
  2. Maka diboyongnyalah naik ke Balang. Itulah yang me- nikah dengan anak dari jUnjungan kita di Lure, bemama Imana Luru. Lahirlah si Ali, Damaniwing Karenta Mene ri Pakaru Karaeng ri Bangkala.
  3. Maka datanglah utusan dari Sumbaya. Berkatalah Karenga ri Balang, I Damaniwing menggantikan aku. I Gamma- jating menggantikanku (di) Lappa. Ada pun Layu mem bawahi wilayah-nya Barana. Tuwa di Barana.
  4. Setelah tiba di Gowa, Damaniwing pun dipersilahkan du- duk. Damaniwing lalu di layani di atas pendopo, sementara itu Karaenga ri Layu dilayani pula di emper pendopo. la pun melirik ke arah bawah3
    6 ) maka dilihatnyalah Karaenga ri Layu. Maka karaeng Bangkalapun menyepak piringnya.

  5. Berkata Sombaya. Apa itu gemerincing (bunyinya) ? Berkatalah3
    7 ), piring-piring sating bersentuhan, wahai junjungan hamba.

7 0 Pada pagi harinya, pergilah ia ke Bone. Berkatalah Bone, apa persoalannya. Berkatalah Bangkala, persoalannya (ialah) Karaeng Layu dilayani di emper pendopo.

  1. Bene pun menerimanya. Kemudian ia didudukkan me- nuru t kebiasaannya, oleh Bone.
  2. Ketika Sombaya tahu bahwa Karaeng Bangka murka, maka sombaya pun segera mengirim utusan untuk menyusulnya.
  3. Berkatalah Karaenga Ri Layu, datang lagi utusan dari Sombaya. Sebaiknya kita menunggu (kedatangannya)
    36) Pendopo o:ran& Mu-terdili atu baneunan panauna. baOan lantal di.lebut bagian atu clan kolonpiya di.lebut bagian bawah.
    37) Maksudnya, Karaenc Banp•I•.

8 ). Saya telah melakukan kesalahan, sedangkan saya bersauda- ra misan dengannya.

  1. Berkatalah Karaeng Bangkala, dengarkanlah wahai untus- an ! aku tidak akan kembali kecuali apabila da binatang liar terlepas ke seberang lautan yang kembali (ke tempat semula). Pulanglah engkau, wahai utusan !
  2. Kembali sang utusan itu ke Gowa. Setelah tiba di sana, disampaikannyalah ucapan Karaeng Bangkala, bahwa tidak ada binatang liar yang terlepas ke seberang lautan yang kembali lagi. ltulah Damanawing.
  3. Setibanya di Bangkala ia pun pergi ke Karaeng Bangkala. Namun ia tidak sudi terpisah dari Gowa. Jadilah ia digantikan kedudukannya. Ada pun I Pung Majatti I Mangun Damanawing tidak ingin lekang dari Gowa-nya.
  4. Jadilah ia digantikan dari kebesarannya. ltulah sebabnya maka tiada lagi Daeng Ri Jonggo, Daeng Ri Gentung, kecuali hanya ada Kalompowang. Dia pulalah yang me-
    38) Kata UDIJkapan, menUDJukkan bahwa ia takkan pemah kemt.11 •be1etmU\a halnya btnataDI liar Yan& takkan pemah kemt.11 ke kU\dauc manekata Ndab lepad ke Mberanl lautan atau pun aliran 1unpi.

Singara I Mohamma Damanyuwara yang menggantikannya Karaeng ri Bangkala.

  1. Damanyuwara Karaeng di Bangkala ketika orang pergi ke barat, di Kapara bersama dengan I Cula. Damatangke Salewatang
    4 0 ) di Bangkala, melahirkan I Gappa Damang- alle.

  2. Ia 4 1 )
    bersama Bone. Ditaklukkannyalah Kapara. Berkatalah Bone. Mintalah ! apa-apa yang kalian inginkan.

  3. Ada yang merampas budak. Ada yang merampas pisang Jawa, mangga Jawa, pipit Jawa, tekukur Jawa, buah- buah Jawa
    4 2 ), Jati Jawa, Asam Jawa.

  4. Berkatalah Bone. Mintalah ! apa yang engkau inginkan.

  5. Berkata Nasara
    4 3 ) saya meminta (untuk) menghidupkan orang ma ti. 4 4 )

  6. Berkata Sombaya. Kululuskan permintaanmu Nasara! tetapi engkau tidak mengambil hak-haknya Bangkala. Hak-haknya Lakiyung. Hak-haknya Palakka pun engkau tidak boleh am bil.

  7. Setiap orang membuat gubuk, masing-masing member- sihkannya pula. Masing-masing mengambil benderanya di · waktu subuh hari.
  8. Biasa pula benderanya Bara (dan) Berowangin di susun di depan gubuknya.
41 ) 42) Mabudnya, Banpele.
Salah bekaa wflayah kerajaan Yan&
43 ) penabuil pram di kecamatan BanaJra]a, tepatnya Mabudnya membela, menolona orang tertlndu.

39) Mabudnya daerah Jonao dan Gentuna.
40) Salah aelar/jabatan dalaln zaman ken.jun.
43) buab
atu Sejema anaur. ruanya eepat·mania. atu aat In! merupakan •buab dusun
d-Bontonumu

  1. Diketahuinya (hal itu) oleh Bone, maka dipanggilnyalah Barana ( dan) Beroangin.
  2. Sampai di sana, berkatalah Bone. Mengapa (benderamu) bersusun, tidak sendiri-sendiri, padahal engkau tidak memiliki (bendera seperti) itu.
  3. Berkatalah Barana (dan) Berowangin. Sebabnya kami buat demikian, karena kami berdua sedangkan hanya ada satu gubuk. Kalau sudah subuh kami pun sudah pergi, masing- masing mencahari kayu-kayuan lapuk, dedaunan yang dapat dimakan.
  4. Berkatalah Bone. Akan ku (suruh) naik Barana. Berkatalah Bone. Berapa jauhnya sampai ke Barro
  5. Berkata Barana. Tiga hari tiga malam baru sampai. Tanete demikian pula. Bulukumba demikian juga. Binamu kalau kita berangkat di pagi hari maka kita akan tiba di sana pada saat matahari condong ke barat. Ada pun Bangkala, jika kita berangkat pada pagi hari, kita akan tiba di sana se- belum ma tahari menjadi terik.
  6. Berkatalah Bone. Bone-Bangkala (lah) engkau padang. Tidak ada (nian) tata-tertibmu. Engkau bersaudara (de- ngan) Baru, Tanete, Bulukumba, Bangkala, Binamu, Laikang, Barana, Berowangin. Jikalau engkau bepergian (dan) ada tambahanmu (. .)
  7. Berkatalah Bone, mana yang engkau suka sekiranya engkau pula yang memikul perbekalanmu.
  8. Berkatalah ia, biarlah saya sendiri yang memikul perbe- kalanku, (kalau perlu) biarlah aku turun dari punggung kudaku. Demikianlah akhirnya. Maka rombongan pun kembalilah ke timur.
  9. Tahun (kemudian), Damanyuwara pun turun takhta dan naiklah ke atas takhta Karaeng Baineya yang bemama I Basse Daeng Singara.

penglmJan. Ia pun meminta di Kerowang dengan berulang-kali.

  1. Berkatalah isteri si Galarang. Asal orang Kerowang, tidak boleh menyahut, tidak boleh menyembah. Setibanya di sana, berkatalah ia biar orang Kerowang tidak sudi menya- hu t, (apalagi) menyembah. 1 01. Berkatalah Karaenga. Baiklah ia menangisi (.... ) Ia pun dikeluarkan dari jabatannya
    4 4 ).

  2. Tiga tahun sesudah diambil alihnya Galaranga, barulah ia taat (namun) kekuasaannya sudah beralih menjadi jannang
    4 5 )

  3. Tibalah saat orang-orang menyeberang ke Donga. Orang-orang pun sudah berangkat ke timur, di Pallengu, untuk membuat perisapan. Jangan Commok pun menyantap ikan.

  4. Berkatalah Karaeng Illang Baineya. Di mana gerangan tem- patnya.
  5. Berkata Jangan Commoka, tiada yang tak dikerja- kan. Akan kugeledah di sebelah barat. Demikianlah kete- tapannya.
  6. Berkatalah ia. Di manakah tempat tingalnya yang disebut Pinje Tabbung. Tiada lagi yang takkan dilakukan. Akan kugeledah di sebelah barat. Jadilah demikian.
  7. Pembicaraan dialihkan. Berkata Karaeng llang Baineya. lakau Damangemba yang mewakiliku menyeberang ke Donga. Jikalau kelak engkau mempersembahkan kepadaku kepalanya, niscaya akan kuberikan pula kepadamu apa- apa yang dikepalaku. ) Dtturunkan dui takhta kenjun.
    45) Kedudukan •ti.sai Gelaranl 1udah berubah meujadi illlDUlll. yaitu pensuua di nqerl taklukan.

Damangemba.

  1. Damangemba menyeberang ke Donga (untuk) berperang. Ia tewas di seberang di Donga (dan) ia dikebumikan di Kawao. I Pung Majatti tewas pula di sebelah. dikebumikan di Bonto-Bonto.
  2. Berkatalah Bone. Di mana gerangan dikebumikan siorang yang teguh pendiriannya itu Dikatakan, di Bonto-Bonto.
  3. Berkata Bone. Janganlah kalian berkata teguh, kecuali memang teguh dalam kata-katanya. Puteranyalah yang dinamakan Ilala Damanyala. Dialah yang memikul ljatti. Tibalah pada saat memasuki pusat negeri di Cenrana. Tidak ada Galarang kecuali Kalompowanga.
  4. Damangagang Karaeng. Ketika tiba di Mollong Ruwa, hilanglah dayung-gelang itu.
  5. Berkatalah Karaeng Bangkala. Kabbuluareng ngaseng itu-Bangkalaka4
    7 ) Dihilangkannya dayung gelang, padahal kumisnya tebal-tebal.

  6. Berlabuh-lah di Cenrana. Diambilnyalah baju belacunya, lalu dikenakan kopiahnya, kemudian naik di (hadapan) mangkubumi.

    115. Berkatalah sang mangkubumi. Mengapakah dikau wahai Bangkala?

lain, sebapi pensuncJtapan raaa jengkel, kemaraban karena
>J6-111r tu-Ban6lscllo • tu -Ban61tola • seauatu hal. = semua oronir-oron6 Ba>J6lto orang-orana

46) Karaenta junjungan kita.
47) Kobbulua1'11nir= kata wnpatan Yan& biaaa diucapkan 1e1eoran1 kepada orang

Banlkala.

  1. Engkau tidak dijadikan juru-tani, Bangkala! kerismu tidak dipatahkan, padimu takkan dikurangi ikatannya. Berjalanlah di atas jalanmu yang lurus, sambil mengempit takaranmu, tanpa berkata bohong, sebab dialah hasil pilihanmu semua, untuk meningkatkan penghasilanmu.
  2. Kembalilah ia ke marl.
  3. Setelah cukup tiga malam. maka dipanggilnyalah sang utusan.
  4. Berkatalah tu-Malompo. Pergilah ke Karaenga. Sampaikan (kepadanya) bahwa negeri (ini) tidak menyukaimu lagi.
  5. Berkatalah Karaenga. Kenapa sampai tu-Malompo demiki- an pelupa. Keringatku masih menetes. Silangan kakiku pun belum rapat
    4 8 ). Aku bersama-sama tu-Malompo membina negeri sampai jalannya lancar. Namun ia memu tuskan kehendaknya padaku. Dugulungkannya tikarku dan disiapkannya bantalku 4 9 ).

  6. Berkatalah (tu-Malompo) engkau telah mengumpat di Molonruwa. Engkau berkata "Kabbuluareng ngasen tu Bangkalaka ''. Sekiranya engkau hanya berkata "Paja-

    Mu-•can benlla. Dalaln hal

llli lnllab 1iJa11C11D bid belum rapat, berarU ' ·

48) Sebe11tmen1 ltebluun onna YaD& duduk
49) Mabudnya, yana benancltuan cUcabut dUi Jab&Wlllya.

buuan ~··.

0 ) ada baiknya, aku tidak arnbil perduli.

  1. Dialihkan pembicaraan. Berkata Darnatulung. Ada yang kuminta, wahai tu-Mulompo. Ku-mohonkan padarnu agar diberi hukuman kepada keempat orang itu, (yaitu). Gentung, Tuju, Jonggo, Bincara. Jadilah demikian. Galarang dulu, Daeng Ri Gentung, Daerang Ri Jonggo Itulah sebabnya sehingga (hanya) tinggal Galarang. Demikianlah adanya.
  2. Berkatalah Damatulung. Kuminta padarnu wahai Tu-Malompo ! Serahkanlah dahulu kepada kakanda Darnanun- jungi, tarnpuk pemerintahan itu. Biarlah aku digelar karaeng, sebab aku masih kanak-kanak. Maka jadilah Dama- ngunjungi Karaeng.
  3. Gen tun adalah senjata
    5 1 ).. Tuju adalah makanan 5 1 ). Jonggo (dan) Bicara adalah penempah 5 3 ).

  4. Pada masa I Larumpone, rakyat pun naik ke Rarnpenga- ding menghaturkan sembah sujud (bersama) sang Karaeng (dan) Galarang. (Sesudah itu) orang-orang pun kembalilah ke marl.

  5. Beberapa waktu lamanya. Kembalilah Karaenga naik. Ia pun beristerilah di Cikowang. I Juweda isterinya.
  6. Lahirlah Damappa. Darnattiro.

    13 2. Dialihkan pem bicaraan.

  7. Gelisahlah perasaan ha ti Galaranga, karena Rum-Pone-Baine (Sang ratu Bone) wafat.
    50) Umpatan yens benrt:l ' paniat(nya) lbumu. Kemaluannya lbumu.
    51) BenancsunGawab dalaJn uruan keamanan; ~aiaan.
    52) BenancsunGawab dalaJn uruan panpn; keMjabterun.
    53) ~awab dalaJn uruan perlelllkapan peranc.

Orang mau merusakkan neri. Sekiranya sejak mula kita memang mengambil Bone 5 4 ).

  1. Berkatalah Tu-Malompo ( ... ) saudara, karena sayajugalah yang mengambilnya di Bone. Maka baiklah kita pergi memboyongnya.
  2. Tiba di sana. Digulungkannya tikar dan disiapkannya bantalnya.
  3. Berkatalah. Tidak usah menunggu lagi. (Maka) iapun ber- kata berikan kepadaku bendera itu
  4. Berat aku menyerahkannya. Titahnya Dale Sanrang yang kutaati.
  5. Berkatalah ia. Tunggulah aku esok pagi.
  6. Berkatalah (ia) Kemanakah aku hendak pergi, wahai saudara! sedangkan di sini rumahku
  7. Keesokan paginya, ia pun didatangi (dan) diperangi. la niyappakki
    5 5 ) di perumahannya. Diambilnyalah bendera itu, kemudian dibawanya ke Bone:

  8. Tiba di sana, berkatalah Bone. Kalau ada larangannya C>4) Maluudnya menpnp•t -oranc tokoh dart Bone menjadi Karaena. C>C>) Nlyappa'kl • dikeroyok oleh empat oranc (empat kekuatan yang bergabung).

Paran- calla.

  1. Maka jadilah Damatulung (sebagai) Karaeng. Ia didukung oleh saudaranya, ldora Daeng Tapa, berkedudukan di Pattiro.
  2. Didapatinya
    5 6 ) masa penyerangan ke Botto (dan) siyang. Ia mengalami kekalahan. Orang-orang Gowa itu dikejar sampai Pangka-Binangaya 5 7 )

  3. Berkatalah Sombaya. Hentikanlah pengejaran, wahai Bangkala ! ( .. )

  4. Daeng Tapa Damajarreki, menggantikannya sebagai Karaeng di Bangkala. Ia keluar, I Damannaggala menjadi Karaeng. Ia keluar
    5 8 ) I Dulla menjadi Karaeng. Ia bersaudara dengan I Damannaggala, keturunannya Daenta Da Makkana.

  5. Tibalah pada masa peperangan di Peneki. Karaeng Cammo memerintah
    5 9 ). Tiga tahun lamanya orang (berada) di Bone. Sampai Karaeng Cammo melarikan diri. la pun ter- bunuh di Mappakaraleleng. Maka usailah peperangan, lalu kembali ke Peneki. Ketika tiba kembali (di tempat asalnya) terjadilah pertikaian antara sesamanya.

  6. I Mappa Damattiro memperisterikan saudaranya Karaeng Lelleng. Dia itulah bersaudara yang berperang (melawan) orang-orang Bangkala. Damattiro ditaklukkan, maka ke- kuasaannya pun berubah menjadi Jannang.
    56) Dalam mua pemerintahannyalah tez:ladi peperanpn di daerah Botio dan atyana.
    57) Suatu daerah Yalll terleiak di ..idtar Percabanp.n altran 8UJIPi. ~) Mabudnya, berhenti dari jabatannya •balai karaena. 1>9) Mabudnya, memePD& tampuk pemedntahan.

  7. Karaeng Lelleng melahirkan I Tokka, melahirkan I Adang I Rumpa Da Mamakka. Karaeng Lelleng pun wafatlah.

  8. I Tokka (lah) yang memimpin orang banyak, maka pecah- lah peperangan di Baddok Kalola. Mereka pun menyerbu Baddo.
  9. Berkatalah. Karseng llanga ri Segeri
    6 0 ) Keluarlah secara diam-diam, namun ia keluar dengan gagah berani.

  10. Berkatalah, aku tidak sudi. Jadilah ia turun ke Baban, kemudian kembali naik ke marl.

  11. Beberapa lama (kemudian), orang-orang pun pergilah ber- perang di Segeri. Mereka sating berhadap-hadapan (bertarung) selama tiga tahun. Maka ia pun tewaslah Tidak ada kuburannya. Itulah sebabnya maka Da Makkulle turun ke Segeri.
  12. Tiba di bawah
    6 1 ), berkatalah Bone bersama Arung Panca- na, serahkanlah benderamu kepada Karaeng Bangkala. Maka diserahkanlah kepada Dammakkulle, dan wilayah kukuasaannya pun menjadi daerah taklukan.

J 60. Tibalah masa peperangan Damanjarungi. Damanjarungi pun kalah (lah). Ia bersama dengan Daeng Riyolo. Tewaslah Damarorong. Ia bertarung (melawan) Dalewa, maka terbunuhlah Damarorong. Ia pun turun ke Mandalle (dan) Daeng Riyolo pun menikah dengan puteri Mangkubumi (dari) kerajaan Bone, bemama I Coe, maka lahirlah Karaeng Battuwa Ri Jumpandang.

  1. Dialihkan pembicaraan. Sebab-musabab kedatangan Juru Basa Lompowa pada Arumpone. Terjadi perselisihan paham sehingga Tu-malompowa menjadi murka, maka Arumpone pun dideranya hari itu juga.
    60) Gem anumerta, makaudnya rid• YUi& wafat di Seaeri.
    61) Maksudnya, Seleri (wilayah Panakep •Junnc).

Kembali.Iah engkau, Damappala. Carikan- lah kebaikan (bagi) dirimu sendiri. ltulah sebabnya maka kita datang (ke pihak) Kompeni.

  1. Damakkulle Karaeng ri Bangkala. Kemudian digantikan oleh Daeng Riyolo (sebagai) karaeng di Bangkala. I Mallalu menggantikannya Karaeng di Bangkala. Ia bersaudara dengan I Pung Koppe. I Passiring. ldamangasa, melahirkan jujungan kita di Bungaya, Karaenta ri Lure, melahirkan Karaeng Bodowa (bersama suaminya) I Mana Lure. I Mana Lure menikah dengan La Makkaraeng Daeng Tulolo lahirlah I Ali Da Maniwe. PASAL YANG MENGUNGKAPKAN RIWAYAT KARAENG LOE
  2. Pasal yang mengungkapkan perihal Karaeng Loe di Bantaeng. Kalipadada berladang (dan) tanamannya dirnakan (oleh binatang).
  3. Maka pergilah ia mengambil tombaknya karaeng Loe Ri Bantaeng, kemudian ditungguinya.
  4. Sempat (babi itu) di tombak (namun) tombak itu dibawanya berlari. Kaitannya tersangkut.
  5. Dibawanya turun ke Paratiwi
    6 3 )

62) Maluudnya, Arumpone Peral mentnge!ken ne1eri, sebqai tanda proia aw perlakuan N·Malompo aw dkinya.

perlakuan N·Malompo dkinya.
di durah SulawNl Selatan, dunia ierbqi menjadi (petala Jansl.t); bwni benua, y8iN benua
(peiala bwni) benua iN menjadi tempat bermuldm dilebui PaNtlwl. DUlm mitl1oO' dJMbuikul bUawa ke· makbluk bidup termMUk
mUhluk imani. .

63) Paratlwl adalah ideniik denpn kata bwni'. Menurui Comnoeony

''petal& tip aw yaq dbebui lno sebapt benua ienph; dan benua bawah yaq tip bqi

perasaan hatinya Baginda Karaeng Loe Ri Ban- taeng (karena tombaknya hilang). Maka diambilnyalah ro- tan dari hutan, kemudian dibuatnya anyaman/tali (lalu) diulurnya turun ke Paratiwi. Ia [erjatuh di atas pohon asam.

l 70. Muncullah (seorang) bocah (yang) akan mengambil air di Paratiwi.

I 71. Berkatalah Lakipadada, kenapa gerangan demikian sepinya orang-orang yang berkunjung ke perkampungan?

l 72. Berkatalah (si bocah tadi), puterinya Karaenga ri Para tiwi naik ke bumi bermain-main, kakinya tertusuk duri.

  1. Berkatalah (Lakipadada), saya sanggup mengobatiliya. Ia pun pergilah. Tiba di dalam.
  2. Berkatalah bocah pengambil air itu, ada seseorang di luar yang menyampaikan padaku (bahwa) ia sanggup mengobatinya.
  3. Berkatalah Sang Karaeng, pergilah engkau (untuk) me.- manggilnya.
  4. Setibanya di sana, berkatalah (bocah itu), Tuah (Lakipadada) disuruh panggil (oleh) Karaenga (Raja Paratiwi)
  5. Ia pun pergilah (masuk ke dalam istana raja Paratiwi). Tiba di sana, raja pun berkata "Tahukah engkau meng~ obati (orang sakit)?
  6. Kalau paduka raja menitahkannya (lalu) berkatalah ia, si- apkanlah pakalli sebanyak tujuh potong.
  7. Masuklah ia (Lakipadada) mengais (mengorek)nya.
  8. (Setelah itu) kembalilah ia (lakipadada) ke luar sambil berkata "janganlah engkau membukanya sampai tujuh hari'.

Sesudah cukup tujuh hari (raja pun) menjenguk (puteri- nya), namun ia (sang puteri) sudah hancur berserakan.

  1. Dialihkan pembicaraan. Setelah Lakipadada tiba kembali di atas bumi, dicarinyalah pula (ilmu) tentang awet muda, tak lapuk oleh usia tua.
  2. Ia pun bertemu dengan seorang orang tua. Berkatalah orang tua itu, bisa!
  3. Pergilah ia bertapa.
  4. Berkatalah si orang tua itu, mungkin engkau tidur. Ber- talah ia (Lakipadada), aku tidak tidur. Sudahkah engkau tidur? Saya tidak tidur Berkatalah (orang tua itu), coba engkau cabut kerismu agar aku mengamatinya.
  5. Ia pun menghunus kerisnya (temyata) sudah berubah. Lihatlah kerismu. Sudah ditakdirkan (bahwa) tapamu gagal (untuk beroleh ilmu) hidup kekal dan awet muda ( ... ) ltulah yang dikehendaki (oleh) Allah Taala. Keris yang diselipkan (di pinggang) Laki Padada sewaktu ke luar dari Paratiwi itulah yang kemudian dijadikan simbol kebesaran di (kerajaan) Gowa. ltulah yang diberi nama SUDANGA RI GOWA. Wassalam. Tamat.

    PASAL YANG MENERANGKAN PERIHAL SEJARAH LAMA

  6. Pasal yang menerangkan perihal sejarah lama, sebab (pada masa) dahulu Gowa itu adalah Bate Sapalang. Adapun punggawa Lakiyung itu bersahabat dengan raja Jin Islam.

  7. Berkatalah Rajanya Jin Islam Bawalah anaJanu kemari

  8. Maka keduanya pun pergilah ke Tamalate, bermukim di Tamalate. Keduanya duduk di atas hamparan tikar- nya yang mungil, sambil membawa (... ) yang sepotong dengan mengenakan mahkota bertatahkan emas.

  9. Ia pun terlihatlah oleh bocah-bocah angon. Maka ber- lari-larilah sang bocah angon itu kembali ke rumahnya memberitakan (bahwa) pergilah kalian semua menghaturkan sembah-sujud!
  10. Mereka pun pada datanglah menghaturkan sembah (sambil) bertaka 'SOMBANG KARAENNU TUGOWA YA" Jadilah mereka menyembah.
  11. Beliaulah yang bernama Tumenanga ri Lakiyung. Beliaulah yang melahirkan Tumenanga ri Gamaccana. Beliaulah yang melahirkan Tumenanga ri Papambatunna, melahirkan Tumenanga ri Tapana.
  12. Ketika itulah Bone diserbu (untuk) diperangi, maka takluklah (Bone). Saudara Arumpone pun ditawan, lalu diasingkan dari negerinya. la ditempatkan di Jumpan- dang. Beliau disembunyikan dengan ketat.
  13. Ada suatu waktu diadakan pertemuan di Balla Lompowa64). Hadir semua (anggota) Bate Salapanga6
    5 )

(serta) raia:raja bawahan. Hadir pula Boto Lempangan.

  1. Berakatalah6 6 ). Akan ada kelak pemimpin yang bakal menaklukkan Gowa.
    64) Balla-Lompowa • rumah yan1 besar, lekalilua menjadi nama/sebui&li ball IsiaDa Ra.ta Gowa. 61i) Pua pejabatfnja dari kuembllan kerajaan yan1 terpbunl di bawah kerajaan Puaat Gowa.
    66) Boto Lempanpn. Muyarakat Sulawem Selatan, termuuk muyarakat Bucb-Makauu 18Jak zaman ld1am mencenal tokoh tertentu Y&nl d!Mbut "Soto", yaitu OftDI uil-bljabana Y&nl luaa pensetahuannya sehincla mampu meramal periatiwa Y&nl baka1 ter!adi.

  2. Ketika anggota majelis sudah berkumpul (pula). Berkatalah junjungan kita Karaeng Tompobalang (sambil) bertanya bahwa apakah ia (bakal penakluk itu) masih ada 6 7
    ), wahai Boto?

  3. Berkatalah sang Boto itu. Ia sudah dilahirkan (ke atas bumi). Maka dibunuhlah semua bayi.

  4. Beberapa waktu berselang, orang-orang pun pada berkumpul. Berkatalah junjungan kita Karaeng Tompobalang. Apakah masih ada, Boto?
  5. Berkatalah sang Boto itu. la sudah (seusia) bocah angon Maka dibunuh (pulalah) segenap bocah.
  6. Setelah agak lama (sesudah itu) diadakan pula pertemuan di Balla Lompowa. Berkatalah junjungan kita Karaeng Boto Nompo. Apakah ia masih ada, wahai boto?
  7. Berkatalah (sang boto). la sudah menyelipkan keris di pinggangnya.
  8. Berkatalah junjungan kita Karaeng Botonompo, supaya dia (calon pemimpin itu) datang (sebaiknya) dibuat, diadakan suatu keramian dan kita menghadirkan seluruh penduduk di Goawa.
  9. Ketika (seluruh penduduk) sudah berkumpul maka diada- kanlah sepak-rga.
    6 8 ) Berkatalah Bagianda Karaeng Tompo Balang, apakah ia sudah hadir, wahai Boto?

67) Mabudnya, apakah a-cal.on penakluk ltu mulh hidup dU1 loloe dui pembu- nuhan m-1 Y&DI sudah dilakukan terbadap 1emua wanla hamil.
68) Sepak rap adUah Jenla pemia1nan/oleh rap mcgetonai J'llllC pemah populer di kaw-Ja.dzah Sulaweill Selaan. Perm.Unan bd dlpmad bUk oleh nkyai blaa maupun kaum banpawan loll:al.

wahai Baso!

  1. Maka turunlah Ibaso berdiri di ujung tangga. Raga pun mengenai kakinya. Maka disepaknyalah raga itu sampai ke bagian sebelah barat Balla Lompowa. Disepaknya (pula) sampai ke bagian luar benteng. Di sepaknya (lagi) sampai masuk ke bagian dalam dari benteng, kakinya melayang (setinggi) empat depa (di atas bumi).
  2. Berkatalah Karaenta Botonompo (sambil) menudingkan jari telunjuknya, itulah dia.
  3. Datanglah orang mengusung kendi tempat air, maka habis- lah seluruh isinya dia minum. Murkalah semua orang, se- genap Somba wanita pun (puteri-puteri istana) pada pergi.
  4. Mereka sama pergi ke rumah lain untuk bermalam. Ia tidur (sambil)° berpindah-pindah tempat
    6 9 ). Mereka sama masuk ke dalam hutan. Satu bulan lamanya Karaenta Kanmrung di kepung. Raja Mampu yang mengirim- kan makanan.

  5. Setelah terkepung selama satu bulan barulah ia masuk ke-Bone. Beberapa lama kemudian ia pun dinobatkan (men- jadi) Arung Palakka.

  6. Dialihkan pembicaraan. Berkata sombaya, menikahkan agar ditanarnkan cangkul dan pahat di bawah tangga. Boto Lempangan, Boto Lassang, Kajao Llddong70> disuruh me- nembaknya.
    69) Menurut ceritera lepndarU di daerah Sulawui Selatan, Ibuo •dal.ah putera Karaenc Karunruna. Karaena Karunruna .. ndJri adalah lalah .. oran1 tawanan peranc dari kera,laan Bone. Puteranya, yaitu Ibuo kemudian dlltenal .. bagai La Tounru Petta MalampeE Gemmekna, Datu Mario Arun& Palakka Tori SompaE
    70) Kajao Liddona dikenal di daerah Bone clan daerah Bullis umumnya sebapi "Kajao Laliddona" (Kajao; orana tua yanc berual dari kampunc Laliddona-Bone). Tokoh ini termuuk cendekiawan tradlaional Yan& turut mempelopori "Trialianai TellumpoccoE" Bone-Wajo-Soppena

Sobaya. Bone akan menjadi besar.

  1. (Sombaya) mengirimkan empat puluh landasan penempaan besi (serta) menyuruh carikan ayam berbulu hitam pekat. 22 l. Setibanya di Bone, berkatalah Bone beserta Kajao Liddong, menyuruh bawakan jarum empat puluh batang, ayam berbulu hitam pekat, menempah empat puluh bilah kampak, empat puluh bilah parang, cangkul, pahat, meni- tahkan agar dicarikan susu kerbau-jantan. Itu yang dipo- tong, untuk dimakan.
  2. Berkatalah Sombaya, Bone bakal menjadi besar.
  3. Ia ditantang (untuk) mengadu kerbau (dan) dititahkannya untuk mengirimkan seekor kerbau besar.
  4. Kajao Liddong pun memerintahkan (agar) dicari seekor anak kerbau (kemudian) dipisahkan dari induknya.
  5. Tibalah saat (kerbau itu) diadu. Maka (anak kerbau itu pun) larilah menyusu
    71 ) sehingga kerbau yang .besar itu jadi kalah.

  6. Asal mula besarnya Gowa. Berkatalah Banjara. Apakah ada yang lebih besar dari kekuasaanku ?

  7. Berkatalah semua orang, tidak ada yang kami tahu. Ter-
    71) Karena be berapa diplaabkan dari induknya, ma.ka ketika melihat kerbau beAr milik raja Gowa se1eralah anak kerbau millk KaJao Liddons menyeruduknya, karena disanska induknya Y&ns siap disedot air ausunya. Akibatnya, kerbau besar itu kewalahan.

bocah berkata, ada di belahan timur sana (yaitu) di Gowa.

  1. Maka berlayarlah perahu Karaenga ri Banjara, empat pu- luh bahtera. Mereka pun masuk ke muara sungainya Gowa 72 )
    katanya bermaksud pergi menghaturkan sembah jusud di Gowa. Mereka pun datanglah menghadapkan sembah sujud.

  2. Berkata Bate Salapanga ri Gowa. Apa maksud kedatangan- mu, Banjarak ?

  3. Berkatalah ia, kami datang untuk menghaturkan sembah sujud pada paduka junjungan hamba. Beberapa kali ia datang (ke istana) namun kebetulan tidak ada (aktivitas) pe- nyembahan.
  4. Timbullah niatnya untuk menikam diri Sombaya, namun tiba-tiba dilihatnya Sombaya sedang bercermin.
  5. Berkatalah Paduka Sombaya. Mengapakah engkau, wahai Banjarak ? Kembalilah ke barat
    7 3 ). Datanglah (kembali) dalam waktu sekian. Jikalau engkau tidak datangjuga tiga bulan kemudian, aku akan datang memerangimu.

  6. Setelah sampai tiga bulan, maka ia pun datanglah (ke Gowa). Itulah sebabnya sehingga Banjarak ikut pada Gowa.

  7. Satu riwayat sebab-musabab sehingga Manila mengikut di Gow a.
  8. Kakak kembarnya (raja) Gowa itu raja di Manila. Ada anaknya perempuan, sudah kuat berlari-larian. Dua kali tujuh 7 4 )
    dayang-dayangnya yang keluar masuk.

72) Maksudnya aliran sun1ai yan1 bermuara ke laur dalam wilayah kekuasaan kera-Jaan Gowa.
73) Makaudnya ke Banlar Y&nl terletak di ballan barai.
74) Plnruwans tuju ~ duakall iUJuh, maksudnya empat belu. Pada zaman dahulu muyarakat Sulawesi Selatan biuanya menyebut bilanpn puluhan denaan cara perkalian, miaalnya dalam bahua Bulls bilanlan 27 lazim disebut telluk-kue- ra (3 x 9).

Setelah dilahirkan oleh Permaisuri, berlabuhlah ia di Maci- ni Sombala. Orang-orang Manila itupun naiklah (ke istana) menghaturkan sembah sujud.

  1. Berkatalal1 Karaeng Tompo Balang. Mengapakah engkau wahai Manila ?
  2. Ia menyahut, aim mencari anakku.
  3. Berka ta Karaenta Boto Nompo. Yang mana akmu?
  4. Berkatalah, itu anakku. Seluruh penduduk di Gowa jadi saksi.
  5. Berkatalah Gowa. Kalau demikian ucapanmu wahai Manila, baiklah kita bicara bergantian. Mereka pun sating mufa- kat.
  6. Berkata Sombaya. Itu anakmu, biarkanlah demikian. Da- tanglah engkau mengabdi padanya. Itulah sebabnya, se- hingga Manila n:ienurut pada Gowa.
  7. Tibalah saat orang pergi ke Bone (untuk) menerima upeti. Tallo belakangan.
  8. Jadilah (Tallo) ke Timor. Tiba di Timor, disuruhnyalah memanggil orang beraninya raja Timor, oleh Tallo.
    75) Penjemput, maksudnya petupa khu.ua Yan& diutua oleh raja Gowa untuk mencidult puteri raja Manila. Petuau ini tidak terlihat denaan indera pencllhat- an berkat ketin&&ian Umunya (llmu pib).

  9. Datanglah mereka sebanyak empat puluh orang, masing-masing dengan tinangke dan kain selendang yang diselem- pangnya.

  10. Berkatalah Karaenga ri Tallo. Kaliankah orang beraninya Karaenga ri Timoro ?
  11. Ia pun berkata, sayalah ini !
  12. Be_gitulah gerangan orang-orang beraninya Karaengari Timoro.
  13. Adapun orang-orang berani kami (di Tallo), masing-masing mendapatkan keris bertatahkan emas, gelang mas dan des- tar mas. Maukah engkau kuperlakukan ser:upa itu ?
  14. Berkatalah orang beraninya Karaenga ri Timoro. Tentunya kami ingin, wahai paduka.
  15. Jikalau engkau inginkan (seperti itu) maka ambilkanlah kepala rajamu !
  16. Demikianlah adanya. Diambilnyalah kepala rajanya. 25E. Itulah sebabnya maka Timor menurut di bawah kekuasaan Gow a.
  17. Dialihkan pembicaraan. Boto-nya Bone Kajao Liddong, La Palloge di Wajo (dan) I Lamellong di Luwu bersahabat.
  18. Pada suatu waktu Kajao Liddong pergi ke (... ). Seusai bersantap maka diinjak-injaknya piring nasinya.
  19. Ketika ia diundang, mereka pun pergilah. Maka tempat nasinya (terdiri atas) daun pisang. Diinjak-injaknyalah tempat nasi (daun pisang) tersebut.
  20. Dialihkan pembicaraan. Boto Lempangan.
  21. Ada suatu ketika ia mengembara. Tibalah ia pada suatu anak sungai (sedangkan) ia ingin menyeberang.

Panrita (tokoh agama; alim-ulama) jadilah seperti itu.

  1. Itulah sebabnya maka tiadalah sang Boto.
  2. Dialihkan pembicaraan.
  3. Baginda Ratu mendengar kabar berita, bahwa Arung Palakka berada di Bone, maka dikejamya ke sana.
  4. Ia (Arung Palakka) sudah pergi ke timur, di Buton. Banta- eng bersama Selayar (yang) melaporkan, bahwa ia pergi ke Bu ton.
  5. Setibanya di (bagian) timur, berkatalah ia kepada Raja Buton, bantulah aku dan marilah kita melawan Gowa.
  6. Berkata Karaenga (sang raja) di Buton. Bukanlah orang se-
    76 perti kami ini yang pantas menghadapi senjatanya Gow) Tetapi ada jugalah sahabatku di barat sana (yaitu) si ayam jago yang hi tam kakinya hi tam pula paruhnya.

  7. Datanglah Sombaya ri Gowa memeriksa Buton. Baginda raja Gowa berkata apakah I Latunru
    7 7 ) berada di Tanah Buton?

  8. Berkatalah Buton. Kukatakan yang sebenamya, bahwa ia (I Latunru) tidak berada d'i atas tanahku.
    76) Maluudnya, raja Buton menyadari kemampuannya Yan& amat terbatu, aehin&· &a merua tidalt mampu m•nsimban&i kekuatan kenjaan Go-.
    77) Maayarakat Makaaar di Gowa menyebutnya Andi Mappatunru, aedan&kan orana Bucil menaenalnya denaan iia La Touiiru. Dlalah Arun& Pelakka Malam· pee Gemmekna, Petta Torisom.pae Matinroe ri Bontoala.

Selayar mengisahkan (bahwa), jadilah mereka bertarung, berperang. Nuara sungai pun ditu- tup.

  1. Datanglah Kappala Tallumbatua (Kapal yang tiga buah itu) maka kalahlah orang-orang Gowa. Tewaslah Karaeng Laikang. Tertawanlah Damarannu yang bemama I Tani. Ia pun dinaikkan ke atas bahtera.
  2. Tiba di atas bahtera, berkatalah I Latunru. Wahai Damarannu. Tenangkanlah perasaan hatimu, sebab jika engkau (kelak) berlabuh di Macini Sombalak maka itu semata-ma- ta karena kecintaanku pada dirimu. Demikian tidak tega- nya aku menyaksikan engkau (bersusah hati). Semoga Allah Ta'ala menurunkan rahmat-Nya sehingga engkau tiba di bagian barat. Akan aku perluas wilayahmu yang sempit itu (dan) kuperpanjang kekuasaanmu yang terbatas itu.
  3. Dialihkan pembicaraan.
  4. Itulah I Latunru, jadilah ia memperistrikannya.
  5. Bertambah besarlah
    7 8 ) negeri laikang (mencapai) sampai ke Teteboneya.

  6. Adapun I Latunru tersebut, ikut (berlayar) di atas Kappala Tallumbatua. Tiba di barat 79) bertemu dengan Karaenga ri Balanda
    8 0 ).

  7. Mengapakah engkau, wahai saudara !

  8. Berkata Sombaya81) marilah kita perangi Gowa (bersama- sama).
  9. Berkata Karaenga ri Balanda, siapa sekutumu?
    78) Maksudnya membenlkak, bertambah luaa wilayahnya.
    79) Maksudnya, tiba di Batavia. Oran1 Buila zaman dahulu menyebutnya Jaket- tara.
    80) Pembesar keralaan Belanda di Batavia. 8 1) Maluudnya, Arunl Palakka.

Berkata Karaenga ri Balanda. Adapun saya, peperanganku saja belum usai. Aku (sedang) menghadapi (negeri; keraja- an) Pariaman.

  1. Berkatalah Sombaya, itu pun tugas saya. Maka jadilah de- mikian. Ia .kemudian pergi dengan mengenakan baju goni, menuju ke Pariaman sekalian bertemu dengan raja Paria- · man.
    8 3 ).

  2. Maka ia (I Latunru) pun menyahut, perladangan Me- nangkap ikan84 ).

  3. Maka (baginda raja) pun menitahkan (agar) ia dibuatkan
    8 5 ). kapak, diambilkan rotan-Jawa (un tuk) dibuatnya bila 8 6 la (lalu) merambah hutan bambu-karisak). Sesudah merambah hutan bambu, ia pun pergi.

  4. Ditembaknya rumpun bambu itu dengan meriam.

  5. Maka takluklah Pariyaman. Taklukkannya I Latunru, Pri- aman.
  6. Sesudah itu berlayarlah Kappala Tallumbatua (menuju) ke 8 7 ). timur Mengarah ke Ujung Pan dang, berbelok masuk
    8 8 ). ke Laelae, membuang jangkar Jangkarnya Bui-Buiya. Sehingga paniklah orang-orang pesisir pantai, membuat hi- ruk pikuk anak-anak pedagang, nelayan berlari-larian, sau- dagar pada mengayuh bahatera, penghuni istanapun sama bertempik-sorak.

8 2) Turateya = Wilayah persebaran orang Makasaar di bagian selatan, seperti Takalar, Jeneponto, Bantaena.

83) Bercocoktanam di ladang.
84) Nelayan yang melakukan kegiatan penan&kapa,n ikan dencan menaaunakan peralatan bila, yaitu belahan bambu dihubunakan denaan tali. Alat ini sejen.is perangkap, ditaricapkan di lautan dalam radius terientu.
85) Alat penangkapan ikan serupa perangkap (lihat No. 84).
86) Jen.is bambu Perin&.
87) Dari Batavia/Jakarta menulu ke timut, yaitu U. Pandang.
88) Jenia jangkar model kuno, berbentuk bulat panjang, mirip tonckat terbuat dari bahan besi.

Si anak Dewata, 9 0 ). yang mulutnya berbau wangi semerbak 1 )

  1. bahwa "Kiyok-kiyokanki''9 I Caddaga di Katempang. Lolo Tangka di Garassi.
  2. Sungguh telah datang gerangan I Caddaga di Katempang Lolo Tangka di Garassi I Bakka Dange Rate Telah datang anak-anak dindonga cucunya Barasammanga· Si-pembesar, I Rengke Sang juru bahasa, I Depo Sang Pabeyan, I Sadolla Menyambangi Jumpandang Mengitari (pulau) Laelae Mem buang jangkar Jangkarnya Buibuiya Sebaiknya engkau ke barat Sang pembesar, I Renke Sang Jurubasa, I Depo Sang Pabeyan, I Sadolla
  3. Berka ta I Caddaga ri Katempang, demikian ucapannya. Sang penguasa di Moncong Sianak Dewata Yang (wangi seperti) ikan terribang mulutnya Kembalilah ke negeri tuan pulanglah ke kampung tuan
    89) Sana pe111uaaa, raja di Monco111;
    90) Wan&i aeperti lkan tembaD, (aejenls lkan kecil beniaik dan banyalt tUlaJllDya)
    90) Selenls pantun Yan& dinyanyika,n, atau dlucapkan denpn Januam 1uara lthu- sua.

ap~pun hut~g negeriku Keburukan kampungku Tetap di atas (utama) kesatuan dan persatuan Kami persembahkan beras berbakul Ayam nan banyak (berkandang) Kerbau kami yang berpasang-pasangan

  1. Berkata I Depo, si Juru Bahasa. Kedatanganku bukan dengan maksud baik Kedatanganku bukan dengan maksud buruk I Makjiran jualah yang kucari Ambon jualah yang kuidamkan
    9 2 ). Hasil jerih-payahku 9 3 ). Taklukkan (atas) kekuatan persenjataanku

  2. Adapun baginda junjungan kita Tompobalang, sampai pada wilayah perairan yang kedalamannya mencapai tujuh depa
    9 4, adalah tempat permandian kudanya bersama junjungan kita Karaeng Botonompo.

  3. Adapun keadaan di kapal kacau balau. Maka naiklah (mereka) di waktu tengah malam menembaki Patingallowang9 5) dengan meriam.

  4. Meriam itu diledakkan dalam jarak empat depa, sehingga meriam kuningan itu jadi patah (karena) diledakkan bersama asam serta ringgit (mas) dan kepingan uang rupiah (mas).
    92) Kaddok pepek " Puin&-i>u,ini .ua .. 1aa kebakaran, mabudnya necert taklukan Yanc IUdah dibumibansuskan.
    93) Nqeri Yanc ditaklukkan denpn .kekuatan bersenjata.
    94) Tempat permandian· k;uda, maksudnya wilayah kekuuaan.
    95) Sa1ah utu wilayah ken.Jun Gowa di peaWr pantai.

  5. Ketika diketemukan
    9 6 ) maka: berdatanganlah penduduk untuk mengambil (uang mas tersebut). Hutan belukar itu- pun dirambah dan dibakarnya 9 7 ).

  6. Tiga bulan kemudian, ia pun datang kembali dan ditem- bakinya pula dengan meriam, sehingga bobollah Sombao- pu.

  7. Maka naiklah I Depo, si Jurubahasa. Sang pembesar, I Rengke. Sang pabeyan, I Sadolla untuk bermohon agar diperkenankan membeli tanah sebanyak satu zak terbuat dari bahan kulit kerbau, berisi penuh sampai meluap. Kemudian (tanah itu) diguguskan (menyerupai) garis ke sekeli- lingnya. (sesudah itu) berkatalah ia inilah batas tanahku.
  8. Maka mereka pun menetaplah di Ujung Pandang, lalu pa- duka raja yang disembah (Tunisombaya) disuruh mendiri- kan kota. Ba ta dari Gowa yang diangkut ke barat
    9 8 ) dari Kuring dengan cara diedarkan dari tangan ke tangan, untuk bahan bangunan (pembuatan) kota. Maka jadi sunyilah Gowa.

PASAL YANG MENJELASKAN PERIHAL LANRA LEKLENG DI UJUNG MONCONG

  1. Ada sebatang kayu lanra Lekleng9
    9 ) di Ujung Moncong. Itulah yang disuruh minta oleh baginda raja Gowa kepada baginda raja Ujung Moncong, namun tidak diperkenankan. Itulah sebabnya, Ujung Moncong diserang.

  2. Orang membuat lubang perllndungan di Ujung Moncong. Tiga tahun lamanya diperangi.
    96) Maksudnya uanc rinUit dan ruplah1!188 yang telah ditembakkan benama semburan meriam ditemukan oleh penduduk.
    97) Hutan belukar dirembah dan dibakar untuk mencambil uanc mas Yan& laruh ke tempat tenebut.
    98) Mabudnya dari Go-ke.Ulunc Panclanc.
    99) Sefenil kayu hitam Yan& amat kuat, sehinUa ta.ban dibuat baban pembuatan perahu: bahtera.

  3. Adapun raja Ujung Moncong bersekutu dengan raja Bori Salo.

  4. Setelah orang Gowa mengetahuinya10
    0 ), maka ditempat- kanlah lasykarnya di (... ). Mereka semua membawa kalung-kalung1° 1 ) dari Allu (sampai) ke Tirowan, maka di- bukanyalah (lubang perlindungan; tempat persembunyian), karena mereka menyangka sekutunya, Karaeng Bori (yang datang).

  5. Itulah sebabnya maka Karaeng Ujung Moncong kewalahan. Sebelah tangannya merangkul permaisurinya, sedangkan tangannya yang sebelah lagi menggenggam keris pusaka- nya. Jatuhlah (ke tangan orang Gowa) Ujung Moncong dan dirampasnyalah Lanra Lek/eng itu.

  6. Maka datanglah /pung Tamparang 102 ) menebang Lanra Lekleng itu dengan kapak. Ditebasnyalah selama tujuh hari baru rob oh ke bagian bara t.
  7. I Pung Tamparan pun memeriksa I memilih orang-orang yang akan disuruh menetak (pohon lanra lekleng). Maka tindak lakunya pun sudah melampaui batas kemanusiaan dan Ipung Tamparan mendendangi orang.
  8. Orang-orang menetak pohon tersebut untuk dibuat perahu "mappasombaratu "
    1 0 3 ) dan perahu "makinnan "104 ). Perbuatan lpun Tamparang pun makin menjadi-jadi (bu- ruk) nya.

  9. Selesailah pembuatan perahu mappasombaratu dan perahu makinnaya itu.
    100) Makaudnya oran1 Gowa menaetahui adanya penekutuan antan Uluna Mon- cona dan Boria.lo.
    101) Sejenla kentonpn bambu YaDa dipntunekan pada batanc leher kerbau.
    102) Gelar b&li oran1 Yan& tersolona ahli kelautan.
    103) sejenla penhu tradiaional.
    104) Sda

Setelah itu I Pung Tamparan pun turunlah, maka kepala- nya pun dipenggal (dengan kapak), sehingga ia mati.

  1. Datanglah utusan Baginda Sombaya (untuk) mengusut perihal kematian I Pung Tamparang.
  2. Maka bersiap-siaplah orang Ujung Moncong un tuk pergi ke Gowa.
  3. Ketika hari sudah pagi diambilnyalah (sejumput) jahe, ke- mudian diselipkan pada gulungan kainnya. Ketika sampai di ambang pintu ia pun menggosok matanya dengan jahe, sehingga air matanya bercucuran
    1 0 5 ), bibirnya gemetaran, lalu dipegangnya hulu keris pusakanya dengan air mata berderai.

  4. Berkatalah Sombaya, apa kesalahan yang dilakukan ( oleh) lpung Tamparang ?

  5. Berkata orang Ujung Moncong, ia mau mengambil pohon Ian ra lekleng tanpa membawa dua buah tempurung kela- .pa, satu di ·antaranya licin/halus dan satu pula yang ber- bulu1°
    6 ).

  6. Maka baginda raja (Gowa) pun berpikir bahwa benar juga- lah penyampaian raja Ujung Moncong, baik anak-anak maupun orang dewasa. Maka tidak diusutlah kematian I Pung Tamparang.

  7. Maka pulanglah raja Ujung Moncon~ naik ke negerinya.
  8. Selamat.
kan pada kelopak mata.
menancant unuan 11<>1ial-keacamaan termuuk unuan kawin-mawin.

105) Air mata bercucunn, a.ldbat rua perih YaDI timbul karena jahe Yan& di&osok·
106) Maksudnya lembap yattu lembap

ank, k•pm1en Yan& bel1anl&unGawab

PASAL YANG MENJELASKAN KEPUTUSAN SY ARI' AT

  1. Kalau ada wanita berkeinginan pada laki-laki, laki-laki berkeinginan pada seorang perempuan dan sarak
    1 0 6 ) meman- dang hal itu sudah pantas, maka ia dinikahkan. Sesuatu yang sudah berpadanan dan tidak sepadankan maka akan membaw~ bencana bagi negeri. Demikian pula hal yang tidak berpadanan, namun disepadankan maka akan meng- akibatkan terjadinya bencana dalam negeri.

  2. Yang kedua, kalau ada oran gya.ngminggat dari rumahnya, sedangkan ia tidak mempunyai saksi maka ia dapat digugat di ruma.hnya. Jikalau ada perempuan datang ke rumah seorang laki-laki, kemudian (perempuan itu hamil, maka si laki-laki bertanggungjawab menikahinya, demi kelangsung- an hidupnya.

  3. Yang ketiga, jikalau ada seorang (wanita) mempunya.i suami, kemudian minggat bersama dengan lelaki lain dan ia sudah keluar dari rumah, maka si laki-laki dikenakan denda sebanyak 30 dan si wanita sebanyak 40, kemudian diserah- kan kepada laki-laki yang dirampas isterinya dan kepada- nya (bekas suami) dikatakan, ambillah ini sebaga.i beaya mas kawin, karena isterimu tidak sudi lagi bersamamu. Maka kawinlah (dengan) wanita la.in.
  4. Perkara, kalau ada wanita tidak diberikan beaya hidup oleh suaminya selama seratus malam, maka jatuhlah iddahnya. Apabila ia ingin bersuami tidak dapat dihalangi, karena iddahnya sudah jatuh. Adapun wanita itu bersuami, tidak la.in karena ia ingin diberi makan dan dibelanja.i. Sedangkan laki-laki itu beristeri, karena ingin diurus.

  5. Yang kelima, Uikalau) ada orangyang hamil (dan) yang menghamilinya adalah hamba-sahaya, maka dapat diambil- kan (dicarikan; digantikan) dengan laki-laki lain yang se- patasnya.

  6. Perkara yang keenam, ada laki-laki yang ingin beristeri (dan) ada wanita Uanda) yang ingin bersuami, maka dia boleh bersuami. Bagi wanita yang sudah mati suaminya, dan bagi laki-laki yang sudah meninggal isterinya, maka si laki-laki dapat beristeri dan si wanita dapat bersuami la- gi. Sekiranya ada maskawinnya, maka itulah yang disebut hasil jerih-payahnya.
  7. Yang ketujuh, si-laki-laki membawa anak (dan) si wanita membawa anak, maka (anak) yang· bersaudara (tidak se- ayah dan tidak seibu) itu dapat menjadi suami-isteri.
  8. Satu kasus, ada orang bertunangan. Mas kawinnya sudah dibayarkan (oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita), ke- mudian si laki-laki minggat bersama wanita lain, maka maskawinnya sudah hangus
    1 0 7 ). Kalau siwanita yang dilari- kani o s) maka maskawinnya dikembalikan sebanyak dua kali lipat109 ). ·330. Satu (kasus) pula. Ada wanita bersuami sedangkan ia tidak sudi berbaikan ( dengan suaminya)11 0 ). Maka maskawinnya (harus) dikembalikan (kepada pihak laki-laki).

  9. Ada orang yang diajaknya sating bercintaan, maka nikah- nya putus tanpa dinikahkan dengan orang yang minggat bersamanya.

  10. Perkara yang kedelapan. Ada laki-laki bersaudara. Salah seorang (di antaranya) menikah dan melahirkan seorang 107 ! Maskawin menjadi hak si wanita, tidak ada hak llilelaki.
    108) Makaudnya pihak wanita min&&at bersama lelaki laki.
    109) Mabudnya, duakali lipat dari lumlah Yan& telah diterima sebelumnya· dari pihak lelaki.
    110) Tidak ada k-uaian. sehinc&a keduanya bercerai.

Satu bagian untuk si wanita dan dua bahagian jatuh ke tangan pihak laki-laki. Pembagian untuk ahli waris laki-laki dan wanita demikian pula adanya.

  1. Yang kesepuluh. Perkara, ada harta warisan yang seharus- nya jatuh kepada ahli warisnya, seperti kerbau, tanah emas, dan lain sebagainya. Maskawinnya si isteri, misalnya kerbau, tana. Maka bagian laki-laki adalah seperlima dan bagian si wanita adalah sepertujuh. YANG MENERANGKAN PERIHAL PEMBAGIAN SEGALA SESUATU
  2. Yang menerangkan perihal cara membagi segala sesuatu. Adapun kita (manusia) terbagi atas lima bagian. Pertama, nyawa kita adalah bagiannya Malaikat Elmaut dan makan- an buat ulat. Tulang kita adalah bagiannya tanah. Harta- benda, adalah bagian untuk ahli waris kita. Amal kebaikan kita adalah bagian untuk orang yang kita curangi.
  3. Yang kesebelas. Ada orang kaya yang tidak beranak sam- pai meninggal dunia. Hanya digunakan untuk penyelengga- raan (upacara) kematian. Setefah lepas harinya112) maka harta bendanya dimasukkan ke Baetul-mal.
    111) Tumpanc-tindih, tidak dibenarkan dalam muyankat.
    112) Hari ketlp, ketujuh, keempatpuluh clan hari kMeratua.

laki- laki dan perempuan (maka) harta bendanya digunakan, untuk melunasi hutangnya, upah bagi orang yang mengusung- nya, upah bagi orang yang mengambilkan air, (serta) beaya upacara kematiannya. Kemudian harta bendanya engkau bagi menjadi tiga bagian. Dua bagian untuk ahli waris laki-Iaki, satu bagian untuk a,hli waris perempuan.

  1. Keduabelas. Ada orang menikah, sedangkan ia tidak mam- pu berbaikan 11
    4 ) maka maskawinnya dapat diperoleh kem ball. Sedangkan hadiah, pemberian masing-masing seperti kain sarung dikembalikan pula kepada masing-masing pihak. Adapun seperti kue-kue (makanan kecil) tidak wajar dikembalikan, sebab sudah dimakan. Engkau membawa makanan kecil, tetapi engkaupun telah dijamu dengan makanan kecil (kue apam). Engkau membawa rombongan yang jumlahnya banyak (dan semuanya) diberi jamuan air panas dan makanan keci111 6 ).

  2. Yang menerangkan perkara ketigabelas. Ada orang yang "silariang"116 ). Setelah cukup tiga malam, maka utusan- mu pergilah menemui ayah-bundanya (membawa kabar) bahwa si anu bersama si anu. Keduanya sepadan atau tidak sepadan117) tidak ada pengetahuan saya (mengenai hal
    113) Harta kekayaan Yan& ada di baital mal dilunakan untult penpdaan kain kafan Yarli disumban&kan kepada seaorana (miskin) Y•lll meninual dunia.
    114) Maksudnya, iateri tidak sudi menerima tali perkawtnannya denpn suami Yan& telab menikahinya aehin&&a keduanya terpakaa bercerai, sebelum melakultan hubunaan kelamln aeb•1•im.•n• layaknya Or&lll yan1 suami-isteri. 116 ! Menurut tradiai setempat proses pemikaban antan aeoran1 lald.uki dan seo- rang wanita diserta denpn berbapi tahap upacara di mana diadakan perJa- muan, maka aemua. jamuan tenebut tldak pantas dikemballkan bila terJadi perceraian antan auami dan ilterinya.
    116) Kawin lari ataa dar kesepa.katan kedua belah pihak.
    117) TerJaclinya perkawinan antan seorane laldUki dan aeorane wanita diwarnai oleh ke"aepadan" an strata aoaial antan·kedua plhak benanekutan.

itu). Apakah ia menganggapnya sepadan ataupun tidak sepadan. Oleh sebab itu dilimpahkanlah perwalian bagi pihak wanita, Kemudian ditegaskan maskawinnya yang pantas (yaitu) : kerbau satu tai118) sebagai borg, orang satu tai sebagai borg. Badik bersama rangkanya satu tai se bagai borg. Apabila mereka telah melahirkan anak maka semuanya sudah laburuk 1 1 9 ).

  1. Yang keempatbelas. Ada orang telah bersuami (dan) suaminya meninggal
    1 2 0 ), kemudian ada laki-laki yang meminangnya. Maka wanita itu diberitahu (bahwa) ada laki-laki yang mengajukan pinangan kepadamu. Apabila berkata "terserah pada kalian bagaimana baiknya" maka itulah pertanda maskawin (dapat) ditetapkan. Satu berkata, "memang aku tidak mempunyai suami". Satu {pula) yang tidak memberikan jawaban sepatah kata pun (maka) ada dua pengertiannya. Yang satu (berarti) bersedia mene- rima pinangan, yang satunya (berarti) tidak bersedia mene- rima pinangiln (atas dirinya).

  2. Yang kelimabelas. Ada kita punya anak bayi, dapat diasuh oleh hamba sahaya. Dapat pula diasuh sendiri. Adapun hamba sahaya tidak boleh gugur maskawinnya, sebab kata- nya "Itulah gerangan sumber penghidupanku".

  3. Adapun orang merdeka
    1 21 ) dapat saja gagur maskawinnya.

  4. Adapun akdiya tidak dapat gugur maskawinnya.

  5. Yang keenambelas. Ada laki-laki tidak mampu membayar- kan maskawin, seperti golongan akdiya. Dapat saja dirinya
    118) Satu ''tali" nilainya sebeaar Rp. 16.
    119) Laburuk (Mk.a). artlnya impu; lunu; Bore tak kembali.
    130) Mabudnya wanita bentatu.s janda, karena auamtnya telah mentnual dunia. Dalam kebidupan orana Makaaar, aeorana ianda dlnthbhn seielah lebih dahulu memlnta penetujuan Yan& benanakutan.
    121) Oran& merdeka diaebut tu·maradelra atau tu•am-lr, molr•udnya bulran ~wan dan bukan pula bamb& Abaya.

yang dijadikan maskawin. Itulah yang disebut buah yang beranak. Maskawinnya dianggap lunas setelah ia memper- oleh bagian anak. Ada pun tanggungan maskawin baru akan lunas setelah ia beroleh 7 (tujuh) orang anak. Demiki- anlah yang disebut pupus dengan seorang anak. Tamat.

  1. Yang ketujuhbelas. Ada hal beriringan. Adapun soal beriringan (ialah) seorang suami beriringan dengan isterinya, kemudian kamu pergi ke antara keduanya.
  2. Yang kedua, perihal bergandengan (yaitu) seorang suami bergandengan dengan isterinya, lalu kamu masuk (datang) di an taranya. ·
  3. Yang ketiga, perihal makan. la makan bersama suaminya, lalu engkau datang mengantarainya.
  4. Yang keempat. Perihal tidur (yaitu) sebantal dua kepala.
  5. Yang kedelapanbelas. Ada orang sesusuan. Berhenti sekali, kemudian menyusu lagi. Kalau sudah tiga kali berulang, maka sahlah anak-anak tersebut bersaudara.
  6. Yang kesembilanbelas. Yang menerangkan (bahwa) tidak ada ahli waris yang lebih dekat122) dari dua orang suami isteri. Sebab dikala masih kanak-kanak, seorang ibu bisa mencium kemaluan anak laki-lakinya, dapat pula sang ayah mencium kemaluan anak wanitanya.
  7. Maka tidak ada waris yang lebih berhak dari dua orang yang suami-isteri. Jikalau si-suami meninggal dunia maka warisan jatuh kepada isterinya. Jikalau si-isteri meninggal, maka warisan jatuh kepada suaminya.
  8. Adapun harta benda yang tidak bersesuaian dapat saja di-
    limpahkan memang kepada ahli warisnya ( ......... ) sebab
    itu bakal tanggal juga, kelak apabila keduanya meninggal dunia. Maka harta bendanya pun dibaginya sebab ia tidak memiliki anak.

122) Mabudnya lebih berhak dart waril lainnya.

~ 0 0 "' ::s (JQ c: "i::l ::r: .... Q. c: °' .., c: :><;"' ~ °' .... :;.;- ~ ~ .... -
0 0 0 0 0 0 0 I\ !__ 0 v |I\ I () v I\ 0 0 0 0 0 0 0 Sabtu Ahad
0 0 0 0 0 00 0 I\ I v | Senin
0 I\ I I |0 0 0 0 0 0 0 Selasa
0 0 0 00 0 I|v I/ I|0 0 Ra bu
0 \ I/ f|v 0 0 0 0 0 0 0 Ka mis
oo 0 0 0 0 I\ / v |0 0 Jumat
95
355.
Baik Mati
Buruk Hidup
Kosong
O O O
O O Sabtu
O O O
O 0
O 0 Ahad
O O
O 0 0
0 0 Senin
O 0 O
0 0 O
0 0 Selasa
0 O O
O 0 O
O 0 Rabu
0 O O
0 O 0
O 0 Kamis
0 0 O
0 0 O
O 0 Jumat
O O O

4 ). Kuda tersebut dibeli seharga empatbelas.

  1. Kedatangan si Jurutulis, membawakan-ku, surek bilannga12 s)
  2. lnilah do'a yang dibaca pada (tanggal) sepuluh Muharram, maka dibacalah ini.
  3. Bismillahirrahmanirrahim. Allahummashalli 'Ala Muhammadin Wa 'Ala Ali Muhammadin. Wa Bariq Wa Sallam 'ala jami'il anbiya-i wal mursali-na. Subhanallah, mila-ul mira-na. Wa muntahil ilmu. Wa mublighur-ridha. Wa zina- tul arsyi. Laa maljaa-a wa laa manjaa-a minallahi ilallahi subhanallahi. Adadas-shafi wal watri wa 'adada kalimaa- tihi. Wa anta rabbil arsyil adzim. Maasyaa Allahu kaana wa maalam yakun. Wa laa houla wa laa kuwwata illa bil- lahil 'adzim. I'lam ! innallaha 'ala kulli syaii-in qadiirun. Allaahumma innii a'udzu bika min syarri nafsii wa min syarri kulli daabbatin anta aakhisun binaashiyatihaa. Inna rabbii 'alaa shiratin mustaqim.
  4. Aku menyeberang ke Laikang. Saya bersama-sama seba- nyak seratus orang lebih, untuk memin ta keterangan (dari) tetua di (negeri) Laikang. Demikian ucapan Karaeng Popo,
    1 2 6 ) ( ... ), kami belum membagi perhatian dari baginda tuan hamba. Demikian itulah pengakuan segenap rakyat di Laikang.

123) Muyarakat Makaaar biuanya membedakan kuda-kuda itu menurut perbedaan warna bulunya. Kuda-balibi, maksudnya ialah kuda Yan& bulunya berwarna.
124) Makdanranga (Mka) adalab eebuah 1elar ball pejabat dalam atruktur pemertn- tahan kerajaan. Wilayah kekuaaaannya eet;ln&kat densan di.ltrilt pada zaman pemerintahan Kompent Beland&, tepatllya kurana-lebih nma densan wilayah kecama~ aekarana.
125) Surek bilannga (bahua Makaaar), berarti aalah aatu jenill lontank Yan& me- muat cata~ barian.
126) Mabudnya tetap aetla, tidak men1kh!en1t atu kepemimpinan rajanya.

Sekali waktu, kerbau milik orang-orang Pallengu 1 29 ) dicu- ri orang. Maka dibuntu-tinya sampai ia ketemu. Namun pencuri itu tidak mau menyerahkan (kerbau curian itu) Maka Karaeng Pallengu bersama dengan tetua (pejabat) lo- kal menghadap ke Bangkala, untuk memberi laporan. Namun kebijakan baginda raja hanya menyuruh mereka untuk terus membuntuti kerbau itu. Mereka berteman sebanyak 7 orang, kerbau itu diambilnya di bagian bawah bulaklanga, sebanyak sebelas ekor.

  1. Bulan Muharram, hari ke-delapan adalah "naas besar".
  2. Bulan safar, hari ke sepuluh adalah naas besar.
  3. Rabi'ul Awai, hari keempat adalah naas besar.
  4. Rabi'ul Akhir, hari kedelapan adalah naas besar.
  5. Jumadil awal, hari keduapuluh adalah naas besar.
  6. Jumadil akhir, hari keduapuluh adalah naas besar.
  7. Bulan Rajab, hari keduabelas adalah naas besar.
  8. Bulan Sa'ban, hari keduapuluh sembilan adalah naas besar.
    127) Nasarak, adalah beka.s kerajaan kecil di bawah kekua.saan bas;inda raia Bangkala. Sekarang Naaarak hanya berstatus dusun dalam wilayah administrasi Desa Bontorannu, Kecamatan Ban&kala.
    128) Sesuai denpn Jetak lokaai Pallengu yang berada di bagian barat pusat kerajaan Ban&kala. 12!!) Salah satu kerajaan kecil dalam wilayah kekua.saan raia Bangkala.

adaJ.ah naas besar

  1. Bulan Syawal, hari keduapuluh delapan adalah naas besar.
  2. Bulan Zdulqaidah, hari keduapuluh adalah naas besar. 37 5. Bulan Zdulhajji, hari keduapuluh delapan adalah naas besar.

ANALISIS ISi

4.1. Konsep Tentang Sejarah Dan Nilai Budaya.

Dari hasil transliterasi dan terjemahan yang telah disajikan di muka terlihat secara jelas bahwa lontarak "Ampan nassai Ka- raing Ujung Moncong" memuat catatan tentang informasi kesejarahan dan sosial budaya, termasuk jaringan nilai-nilai yang hidup dan mendapatkan dukungan dari anggota masyara- kat Makassar di daerah Bangkala Dati II Jeneponto. Dalarn upaya memperoleh ketajaman analisis yang bertalian dengan latarbelakang nilai dan isi lontarak tersebut dipandang perlu adanya kesepakatan, kesatuan bahasa tentang konsep sejarah maupun nilai-nilai budaya.

Dalam penelitian ini batas pengertian sejarah didasarkan pada konsep yang dirumuskan oleh G. R. Pantouw, bahwa "Sejarah senantiasa berkenaan dengan suatu kejadian atau peristiwa di waktu lampau dalam hubungan dengan tindakan seorang pelaku sejarah" (1968).

Bertolak dari konsep tersebut, maka pengertian sejarah yang tercakup dalam catatan kuno naskah lontarak senantiasa mencakup unsur pokok yang terdiri atas ~ kejadian atau peristiwa sejarah; pelaku sejarah; serta adanya unsur waktu atau

masa berlangsungnya suatu peristiwa sejarah. Selain itu peristiwa sejarah pun senantiasa mencakup pengertian adanya ruang tertentu, tempat berlangsungnya peristiwa sejarah dimaksud. Segenap unsur kesejarahan inilah yang menjadi sasaran pemba- hasan dalam pengkajian ini.

Apabila konsep sejarah mencakup pengertian yang meli- batkan berbagai gejala yang bersifat konkrit sehingga dapat oiindera, maka sebaliknya pengertian nilai-nilai budaya mencakup suatu sistem (cultural value system). Dalam penelitian ini digunakan definisi operasional yang telah dikembangkan oleh Koentjaraningrat dengan rumusan sebagai berikut:

Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup (1974: 32).

Sejalan dengan rumusan tersebut, Koentjaraningrat me- ngonsepsikan sistem nilai budaya itu sebagai ide-ide yang bersifat abstrak dan tidak dapat diamati dengan indera penglihatan, sebab letaknya berada dalam alam fikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam karangannya yang berjudul "Kebudaya- an, Mentalitas dan Pembangunan", sarjana tersebut menegaskan antara lain bahwa "Adat dapat dibagi lebih khusus dalam empat tingkatan, ialah (1) tingkat nilai budaya ( ... ) yang paling abstrak dan luas ruang lingkupnya ... " (1974 : 21 ).

Pandangan ini menunjukkan betapa abstrak dan luas ruang lingkup ide-ide yang termasuk dalam pengertian nilai-nilai budaya, kendati pun demikian masyarakat Makassar sejak zaman lampau telah berhasil merefleksikan konsep nilai-nilai budaya mereka dalam karya tradisional yaitu lontarak. Ini berarti pula, bahwa jaringan nilai-nilai budaya daerah Sulawesi Selatan khususnya yang tumbuh dan mendapatkan dukungan dari masyarakat Makassar dapat ditelusuri keberadaannya me- lalui penelitian dan pengkajian lontarak.

Dalam rangka kajian dan analisis menyangkut nilai-nilai budaya yang tercakup dalam naskah kuno Lontarak Anpan

nassai Karaing Ujung Moncong ini, maka pembahasan mengacu pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Clyde Kluckhohn dan Sutan Takdir Alisjahbana. Menurut Kluckhohn, semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan didunia itu sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia, yaitu :

1) masalah mengenai hakekat dari hidup manusia;
2) masalah mengenai hakekat dari karya manusia;
3) masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu.
4) masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya;
5) masalah mengenai hakekat dari hubu.ngan manusia dengan sesamanya (Disitir oleh Koentjaraningkar, 1974 : 34-35). Berdasarkan kerangka konsep ini, sikap dan tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan kelima masalah pokok ter- sebut senantiasa berorientasi pada sistem nilai budaya yang tumbuh dan didukung oleh suatu masyarakat tertentu, terma- suk individu-individu sebagai bagian dari masyarakatnya. Se- baliknya S. Takdir Alisjahbana mengonsepsikan adanya enam nilai pokok dalam setiap kebudayaan (1977 : 10), yaitu:
1) Nilai teori, ialah proses penilaian yang bertujuan menge- tahui alam sekitar;
2) Nilai ekonomi ialah proses penilaian yang bertujuan meng- gunakan benda-benda dan kejadian-kejadian menurut logika efisiensi ke arah guna yang sebesar-besarnya untuk hidup dan kesenangan hidup;
3) Nilai agama, ialah proses penilaian yang berorientasi pada pengekspresian rahasia dan kebesaran hidup serta dalam se- mesta di mana manusia merasa azmat, penuh dengan ke- gemeteran dan ketakjuban.
4) Nilai seni, ialah proses penilaian yang berientasi pada peng- ungkapan rasa keindahan.
5) Nilai kuasa, yaitu proses nilai yang berorieptasi pada hu-

antara manusia dengan sesamanya berdasarkan autoritas dan kuasa;

6) Nilai solidaritas ialah proses penilaian yang berorientasi pada hubungan cinta, persahabatan, simpati antara manusia dengan sesamanya. Segenap komponen nilai-nilai budaya tersebut demikian ab- strak sifatnya sehingga tidak dapat diamati dengan indera penglihatan, bahkan tidak dapat diraba dengan tangan. Namun keberadaannya senantiasa dapat ditelusuri dengan memperha- tikan refleksinya, baik melalui sikap maupun tindakan warga masyarakat. Selain itu latarbelakang nilai budaya dapat pula dipahami melalui refleksinya yang tercermin pada benda-benda hasil kebudayaan fisik-material. Dalam konteks ini kebudayaan bukan hanya merupakan refleksi, akan tetapi sekaligus di- warnai oleh segenap jaringan nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat manusia akan secara langsung mempengaruhi timbulnya anekaragam kebudayaan yang unik dan spesifik, sesuai dengan keunikan dan spesifikasi sistem nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat pendukungnya. Batas pengertian kebudayaan yang dimaksudkan dalam pe- nelitian dan pengkajian ini dilandaskan pada konsep operasi- onal yang dirumuskan oleh S. Budhisantoso, sebagai :... keseluruhan perwujudan tanggapan aktif manusia terhadap lingkungannya dalam proses adaptasi, baik yang berwujud sistem nilai dan gagasan vital maupun perwujudan dan pemyataan sistem nilai dan gagasan vital yang hidup dalam lingkungan masyarakat pemangkunya... (1983 : 113). Konsep ini sejalan dengan eksitensi makhluk manusia yang bukan hanya tunduk pada keadaan lin8kungan, akan tetapi mampu mengadakan penyesuaian diri, sekaligus memberi- kan tanggapan aktif terhadap tantangan lingkungan sekitarnya. Kemampuan ini didukung oleh potensi super organik yaitu kebudayaan yang dimilikinya. Betapa besar arti dan peranan kebudayaan dalam proses kelang;ungan hidup makhluk manusia,

sehingga Parsudi Suparlan menghayati kebudayaan itu sebagai "Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menginterpretasikan dan mema- hami lingkungan yang dihadapi ... " (Suparlan 1981 : 4).

Sebagian pengetahuan budaya dan nilai-nilai tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Makassar terpateri dalam tradisi tertulis berupa naskah kuno lontarak. Sebagai suatu dokumentasi tradisional maka lontarak Makassar memuat anekaragam catatan ten tang kejadian ataupun peristiwa tertentu yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu pula Aneka peristiwa terjadi atas dukungan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial dan berbudaya. Demikianlah, maka unsur-unsur kebudayaan, ter- masuk jaringan nilai-nilai budaya tradisional yang hidup dan mendapatkan dukungan dari masyarakat pemangkunya dapat ditelusuri melalui upaya penelitian dan pengkajian naskah kuno lontarak.

4.2. Sejarah Ujung Moncong Dan Perkembangannya.

Ujung Moncong dan Peranan Tu-Manurunga

Pada zaman silam kerajaan Bangkala merupakan salah satu pusat kerajaan orang Makassar di daerah Jeneponto. Kerajaan ini didukung oleh beberapa kerajaan kecil di sekitarnya, antara lain Pallengu, Garassikang, Jonggo, Gentung, Barana, Beroangin, Nasara, Ujung Moncong dan kerajaan Kalimporo. Kerajaan kerajaan kecil terse.but merupakan daerah otonom yang men- jalankan sendiri pemerintahan dan berbagai aspek kehidupan sosial sendiri-sendiri. Namun demikian, mereka senantiasa harus memperhatikan saran, usul, ataupun perintah dari kerajaan pusat (Bangkala) yang melindunginya.

Selain mengadakan kontak dengan kerajaan pusat, setiap kerajaan kecil di wilayah Bangkala mengembangkan hubungan, komunikasi dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Ke-

rajaan-kerajaan kecil itu pun hidup secara rukun antara sesama- nya. Kerukunan tersebut kemudian mengalami goncangan, bahkan seringkali timbul pertikaian, kesalahpahaman dan juga konflik. Malahan, pertikaian dan kesalahpahaman itu berkembang sedemikian rupa dan tidak jarang berakhir dengan peperangan yang meminta korban nyawa dan harta benda.

Salah satu peristiwa sejarah yang tercatat dalam nas- kah lontarak Anpannassai Karaeng Ujung Moncong' ialah peperangan antara kerajaan Kalimporo dan Ujung Moncong. Peperangan tersebut timbul karena adanya suatu perbedaan kepentingan antara raja Kalimporo dan Karaeng Pauranga yaitu, menyangkut urusan Banrimanurung, isteri Karaeng Pauranga.

Banrimanurung itu sendiri adalah seorang tokoh mitologis yang biasa dikenal sebagai tu-manurung, maksudnya orang yang turun dari kahyangan. Anggapan masyarakat setempat di daerah Bangkala tentang adanya tu-manurung adalah berlan- daskan pada peristiwa munculnya seorang tokoh yang tidak diketahui asal-usulnya. Demikianlah, tu-manurung dikenal sebagai tokoh yang berasal dari alam gaib, titisan dewa-desa yang bersemayam di kahyangan. Sebagai titisan dewa-dewa kahyangan, tu-manurung' itu biasanya mempunyai ilmu pe- ngetahuan dan kemampuan mengatasi kekuatan dan pengetahu- an rata-rata manusia biasa. Semua itu seringkali diungkapkan sebagai suatu keluarbiasaan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Keluarbiasaan Banrimanurung, sebagai seorang tokoh tu-manurung, antara lain. tidak diketahui asal-usulnya; mempunyai kemampuan untuk menghilangkan diri dari pandangan manusia; mampu menyembunyikan diri di dalam sebatang bam- bu; mempunyai kekuatan dahsyat untuk melumpuhkan lawan di dalam pertempuran; mempunyai ilmu untuk mendatang- kan lasykar yang terdiri dari makhluk halus dari dunia gaib mempunyai wajah sangat cantjk dengan rambut halus berge- lombang, sehingga mampu memikat hari laki-laki pada umum- nya.

Tu-manurung yang kemudian dikenal sebagai Banrimanurung itu datang dan berdiam di rumah sepasang suami-isteri, yang hidup sebagai petani ladang. Peladang itu sendiri adalah penduduk asing yang sengaja datang ke tempat itu membuka tanah perladangan. Setelah berselang beberapa waktu lamanya datang pula ke tempat tersebut seorang pangeran yang sedang melakukan perburuan. Pemburu inilah yang bemama Karaeng Pauranga, seorang pangeran dari Bantaeng. Pangeran ini mem- punyai seorang saudara laki-laki yang menikah dengan salah seorang puteri dari Raja Kalimporo.

Setelah Karaeng Paurangan memandang wajah puteri Banrimanurung, ia pun jatuh cinta dan keduanya mengikat tali perjodohan, hidup sebagai suami isteri. Beberapa waktu berselang Karaeng Paurangan ·memboyong isterinya ke Kalimporo, namun Karaeng Kalimporo temyata jatuh hati pula kepada Banrimanurung yang secara sah telah menjadi isteri Karaeng Pauranga.

Sebenamya kedatangan Banrimanurung di Kalimporo bu- kanlah untuk menetap, melainkan hanya merupakan kunjungan kekeluargaan, dalam rangka pelaksanaan pesta perjamuan yang diadakan oleh Raja Kalimporo. Seusai pesta perjamuan Banrimanurung pun kembali ke Ujung Moncong bersama- sama dengan suaminya. Tetapi tidak lama setelah mereka tiba kembali di Ujung Moncong datanglah utusan raja Kalimporo membawa amanah atau perintah, agar Karaeng Pauranga sudi menyerahkan isterinya kepada Karaeng Kalimporo. Titah ini disertai ancaman, bahwa penolakan Karaeng Pauranga akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri.

Menghadapi ancaman tersebut, Karang Pauranga menjadi agak sedih dan berdukacita, sebab bagaimana pun juga ia me- nyadari betapa besar kekuatan lasykar yang berdiri di pihak raja Kalimporo. Namun di lain sisi ia sendiri tidak akan rela melepaskan isterinya, kendati pun nyawa taruhannya. Dalam keadaan yang serba ragu dan bimbang, tibalah lasykar kera- jaan Kalimporo di Ujung Moncong. Pada saat Karaeng Pauranga mulai dirambati perasaan cemas dan putus asa menghadapi

ancarnan bahaya yang mungkin sewaktu-waktu melandanya, tiba-tiba Banrimanurung menggunakan kesaktian dan mantera- nya, maka menjelmalah pasukan bersenjata dari ruas-ruas barn bu. Mereka itulah yang kemudian menghancurkan kekuatan laskar raja Kalimpro, bahkan peperangan antara kerajaan tersebut berakhir dengan tragis bagi pihak raja Kalimporo. Laskarnya bukan hanya dinyatakan kalah dalam perang, malahan Kalimporo menjadi taklukan dari kerajaan Ujung Moncong.

Dari kisah tersebut dapat ditarik · beberapa saripati dan mengangkat nilai-nilai budaya yang termuat di dalamnya, yaitu

l. Masyarakat Makassar di daerah Bangkala, termasuk Kalim-

poro dan Moncong, sejak lama telah mengenal sistem ke- percayaan tradisional yang berorientasi pada makhluk halus berupa dewa-dewa yang berasal dari alam gaib. Keha- diran manusia dewa dalam kehidupan umat manusia di bumi bertujuan untuk membantu pahlawan kebenaran dalam upaya menegakkan keadilan dan ketenteraman.

  1. Tu-Manurung sebagai makhluk suci keturunan dewa-dewa, senantiasa memihak kepada kaum lemah, kaum yang ter- tindas, kaum yang hidup dalam kemiskinan, karena senantiasa berusaha mencari rezeki secara halal, melalui cucuran keringat sendiri. Fenomena ini tercermin dalam tokoh Karaing Parigi bersama isterinya yang dengan susah payah telah membuka tanah perladangan di hutan belantara yang berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan Ujung Moncong Pasangan suami-isteri petani inilah kemudian mendapat- kan keberuntungan, karena datang tokoh Banrimanurung yang kemudian menikah dengan Karaing Pauranga. Alur ceritera ini menonjolkan nilai religius dan ekonomi yang pada hakikatnya menekankan, bahwa manusia hanyalah berusaha mencari rezeki, sedangkan selebihnya ditentukan oleh dewata, sebagai unsur pencipta dan penguasa di alarn ray a.

  2. Tokoh raja Kalimporo, menunjukkan figur dari watak atau sifat manusia yang tidak terpuji. Tokoh ini berusaha me- maksakan kehendaknya, untuk merampas hak (isteri) orang lain demi kesenangan dan kepentingan diri pribadi. Tokoh seperti ini jelas menyimpang dari ketentuan nilai keadilan sosial' sekaligus bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila, karena. tidak mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan; Jauh dari sikap adil; Merusakkan keseimbangan antara hak dan kewajiban; mencerminkan pemerasan terhadap orang lain, dan melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.

  3. Tokoh. Karaing Pauranga, merupakan figur yang mencerminkan watak sejati dan kepribadian luhur, hal mana terli- hat dalam kesediaannya mempertahankan hak (isterinya) dengan taruhan nyawa, kendati pun ia menyadari adanya kekuatan pendukung yang jauh lebih minim jika diban- dingkan dengan pihak la wan. Karena kebesaran jiwa dan ke- teguhan hati, serta itikad baik dan niat suci mempertahankan kebenaran, Karaing Pauranga akhimya dapat melum- puhkan kekuatan lawan. Semua itu dimungkinkan oleh adanya restu dan bantuan para dewa. Keadaan ini kemudian menjadi suri tauladan bagi warga masyarakat setempat, untuk senantiasa mempertahankan hak, keluarga serta bangsanya dengan taruhan nyawa.
  4. Tokoh Karaing Parigi bersama isterinya mencerminkan betapa tingginya nilai karya bagi masyarakat Makassar. Karaing Parigi meninggalkan negeri kelahiran untuk me- rambah hutan dan pembukaan lahan pertanian di Kapasaka salah satu bagian wilayah Ujung Moncong. Ia hidup dari pertanian, sementara isterinya menenun kain, untuk kepentingan diri dan suaminya. Karaeng Pauranga, termasuk pangeran yang mau bersusah payah melakukan kegiatan perburuan binatang di hutan belantara, kendati pun rakyat senantiasa siap melakukan titahnya, untuk menangkap binatang buruan kapan saja, di mana saja tanpa kehadiran sang pangeran di medah perburuan. Tokoh seperti inilah yang

biasanya mendapatkan Sa.nggahan dari warga atau pun rak- yatnya.

Dari hasil kajian kepustakaan dapat diketahui, bahwa ke- adaan masyarakat dan suasana sosial budaya yang menyertainya di lingkungan suku bangsa Makassar terjadi pula di tempat lain di kawasan jaziran Sulawesi Selatan. Kepercayaan tradisio- nal yang bertalian dengan kehidupan dan alam gaib misalnya, ditemukan pula dalam pergaulan hidup orang-orang Toraja, Mandai, dan Bugis.

L.T. Tangdilintin, seorang budayawan Toraja, mengung-
kapkan tentang Tu-Manurung yang disebut Tmbarolangi, se- dangkan Pananrangi Hamid (1978) menulis teniang adanya tokoh Manurung di Ulaweng (sekarang kecamatan Ulaweng Dati II Bone). Selanjutnya dalam lontarak Bone dan Soppeng dapat ditemukan mitos tentang tu-manurung "Matasi lom- pok-e", yaitu manurunnge ri Matajang-Bpne serta Manuring- nge ri Toro-Bone, Manurunnge ri Sekkanyili-Soppeng. Bahkan banyak lagi tokoh Manurung yang muncul di berbagai negeri di Sulawesi Selatan. Pada umumnya Tokoh Manurung itu muncul ke sebuah negeri yang sedang mengalami kekacauan, di mana tidak berlaku lagi hukum keadilan dan peradilan. Dalam lontarak Bone (Koleksi Abu Hamid) disebutkaji bahwa "sebelum datangnya tokoh Manurunngeri Matajang yang digelar Mata silompok-e, manusia hidup bagaikan ikan. Ikan yang lebih besar memang- sa ikan-ikan kecil. Hukum tidak berlaku lagi, peradilah pun sudah dilupakan orang. Kalau pun ada hukum maka hukum rimbalah satu-satunya hukum yang berl.~u. Dalam kondisi seperti itulah, tokoh to manurung tiba munctil di antara rakyat, kemudian oleh rakyat ditokohkan menjadi raja berdaulaf' Penobatan raja Bone yang bergelar Mangkauk itu didahu- lui dengan ikrar, perjanjian antara rakyat dan raja: · Menurut perjanjian tersebut, raja berkuasa sepenuhnya atas rakyat, asal saja raja mampu dan bersedia menjaga keamanan, kemasla- hatan rakyat. Manakala baginda raja digantikan oleh keturun-

annya, sebagai pemegang tampuk kerajaan maka perjanjian itu pun diwariskan bersama tahta kerajaan. Berdasarkan ikrar ini maka setiap raja Mangkauk yang menyimpang atau khianat dari sumpah setia itu, niscaya akan menghadapi perlawanan rakyat. Sebagai bahan perbandingan dapat dikemukakan, misal- nya, seorang raja Bone bernama Lainca telah berlaku sewenang- wenang dengan cara membakar negeri, membunuh-bunuhi rakyat. Sebagai konsekuensi logis dari perbuatannya, raja La Inca memenemui ajalnya setelah menghadapi amukan rakyatnya sendiri. Perilaku yang tercermin dalam watak tokoh Lainca di Bone, kurang lebih mempunyai kesamaan dengan watak buruk dari raja Kalimporo di daerah Bangkala-Makassar.

Silsilah Keturunan Banrimanurung

Dalam lontarak Ampannassai Karaing Ujung Moncong tercatat pula silsilah keturunan Banrimanurung, serta hubungan kekerabatannya, baik secara vertikal maupun hori- zontal. Salah seorang cucu Banrimanurung, bernama Labbua Taliwannanna termasuk tokoh legendaris dalam sejarah kerajaan Bangkala. Tokoh ini lahir dari psangan suami-isteri La Tena Bangkala dengan puteri Karaeng Lowe di Marusu. Selanjutnya, Karaeng Labbua Taliwannanna menikah, memperisterikan puteri raja Gowa, maka lahirlah puterinya yang bemama Karaenta ri Bungaya dan Karaenta ri Lure. Silsilah keturunan Tokoh Banrimanurung tersebut me- nunjukkan, bahwa raja Bungaya-Gowa masih bersaudara dengan raja Lure di Jeneponto. Ini berarti pula, bahwa persatuan dan kesatuan antara kerajaan pada zaman lampau dapat tercapai melalui hubungan perkawinan dan pendekatan kekeluargaan. Dalam perjalanan sejarahnya, terbetik dalam lontarak mengenai adanya kebiasaan kaum bangsawan dan raja-raja di abad lampau yang gemar berjudi. Salah satu peristiwa perjudian di daerah Makassar pernah terjadi antara Karaeng Canrapole dan Arung Bulo-Bulo. Perjudian dilakukan dengan menggunakan ayam sabungan, dimana kedua pihak mempertaruhkan negeri masing-masing bersama isinya. Pertarungan itu dimenangkan

oleh raja (arung) Bulo-Bulo, berarti Karaeng Canrapole kehi- langan seluruh negeri bersama isinya.

Ketika itu, kebetulan lewatlah di tempat tersebut Karaeng Labbua Tali Wannanna. Melihat peristiwa kekalahan Karaeng Canrapole, Karaeng Labbua Tali Wannanna pun terjun dalam gelanggang adu ayam dan menantang Karaeng Bulo-Bulo yang barusan memenangkan Karaeng Canrapole. Setalah menetapkan kata sepakat menyangkut taruhan yaitu seluruh negeri dan isinya, masing-masing pihak melepaskan ayam jagonya Ter- nyata ayam jago Karaeng Tali Wannanna lebih unggul dan mampu memukul roboh ayam jago milik Arung Bulo-Bulo. Akibatnya, seluruh negeri dan kerajaan Bulo-Bulo menjadi taklukan Karaeng Labbua Tali Wannanna. · Kegemaran berjudi, utamanya menyabung ayam bagi raja-raja lokal dan kaum bangsawan tersebut bukan hanya ditemukan dalam wilayah daerah Makassar, melainkan ditemukan hampir di seluruh penjuru jazirah Sulawesi Selatan. Bahkan perjudian seperti itu pun sudah digemari anggota masyarakat sejak zaman Sawerigading. Pananrangi Hamid mengungkapkan dalam karyanya berjudul Pau-Paunna Sawerigading ( 1988) bahwa Sawerigading maupun puteranya yang tersohor yaitu La Galigo adalah putera mahkota kerajaan Luwu yang amat gemar menyabung ayam. Bahkan, Sawerigading bersama pengawalnya seringkali melakukan sabungan ayam di atas armada laut. Namun demikian perjudian (menyabung ayam) digemari pula oleh para pangeran dari Malaka (Baca Pau Paunna Sawerigading, Buku-1, 1986). Alur peristiwa ini menonjolka:n sifat heroik yang dipe- rankan oleh tokoh Karaeng Labbua Tali Wannanna, di mana ia membela rakyat Canrapole dari perbudakan raja Bulo-Bulo, namun dalam waktu yang bersamaan rakyat ~ulo-Bulo menjadi budak akibat ulah rajanya yang gemar berjudi, apalagi perjudian itu mempertaruhkan negeri dan rakyatnya. Tradisi meng- adu nasib peruntungan melalui arena sabung ayam tersebut adalah salah satu hal yang tidak dibenarkan lagi saat ini, bukan hanya karena termasuk larangan yang diatur dalam undang-

Garmsikang

Karaeng Taruwang mempunyai seorang isteri yang tersohor kecantikannya Hal itu sampai pula ke pendengaran Kare Pasere, sehingga timbullah niat jahat dalam hatinya untuk me- rebut isteri orang. Demikianlah, pada suatu kesempatan Kare Pasere membunuh Karaeng Taruwang, kemudian isterinya di- rampas pula

Peristiwa lain yang hampir sama dengan musibah yang melanda keluarga Karaeng Taruwang terjadi pula pada keluarga Karaeng Garassikang. Karaeng tersebut mempunyai isteri yang sangat cantik pula Pada suatu waktu Sumbaya memanggil Karaeng Garassikan menghadap ke istana raja. Baginda raja Sumbaya menitahkan kepada Karaeng Garassikang untuk berangkat ke Bima dengan penegasan bahwa : Karaeng Garassikang harus mengambilkan anjing milik Baginda di Bima; serta Karaeng Garassikang harus tinggal di daerah terse but selama tiga tahun. Demi kesetiaan dan pengabdian terhadap raja dan kera- jaan, maka Karaeng Garassikan pun berangkat ke Bima. Setelah tiga tahun berada di Bima, kem balilah ia ke negeri asal dan segera memberi laporan kepada baginda Raja ten tang kedatang- annya kembali. Namun, temyata isteri yang ditinggalkannya selama bepergian itu telah melahirkan putera yang merupakan titisan darah Baginda Raja sendiri. Menghadapi kenyataan tersebut Karaeng Garassikan hanya dapat mengurut dada dan tidak dapat berbuat apa-apa Bahka11 sesuai dengan titah raja selanjutnya, maka putera yang dilahir- kan oleh isterinya itu diambil dan kemudian dirawatnya sebagai- mana halnya anak-anak kandungnya sendiri. Kedua peristiwa yang termuat dalam catatan lootarak itu menunjukkan betapa besar kekuasaan raja-raja lokal dahulu ·

kala. Mereka be bas berbuat sewenang-wenang demi kepe~tingan diri sendiri, tanpa memperhitungkan etika dan moral. Watak dan sifat seperti ini jelas tidak dapat dipertahankan lagi saat ini, karena bertentangan dengan Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, juga bertentangan dengan Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahkan termasuk penyimpangan dari bu tir-bu tir sila kerakyatan.

Persetukuan Bone dan Bangkala

Sejak lama Bangkala termasuk salah satu kerajaan lokal yang berada di bawah naungan kerajaan Gowa, namun kemu- dian Bangkala memisahkan diri dan membawa diri kepada penguasa kerajaan Bone (meminta perlindungan). Peristiwa ini diakibatkan oleh perasaan emosi, tepatnya ketersinggungan pribadi raja Bangkala atas pelayanan raja Gowa terhadap Karaeng Layu (keluarga raja Bangkala) yang dinilai kurang pantas. Persoalannya waktu itu ialah Karaeng Bangkala bersama Karaeng Layu menghadiri perjamuan di istana raja Gowa. Dalam pada itu Karaeng Bangkala dijamu di dalam pendopo ~ sedang- kan Karaeng Layu hanya dijamu di pinggir atau di luar pendopo. Keadaan itu ditanggapi oleh Karaeng Layu sebagai perlakuan yang tidak adil dan tidak pantas. Sebagai tanda protes atas perlakuan baginda raja Gowa, Karaeng Bangkala segera menendang hidangan yang ada di depannya. Bahkan keesokan paginya ia langsung meninggalkan arena perjamuan, langsung menuju ke Bone. Kedatangannya disambut secara wajar dan sejak saat itu terjalinlah persahabatan antara kerajaan Bone dan Kerajaan Bangkala. Selaku rentetan logis dari persahabatan tersebut, maka pada suatu waktu kerajaan Bangkala bersama-sama dengan kerajaan Bone melakukan penyerbuan ke Kapara. Temyata kerajaan Kapara tidak cukup kuat menghadapi serangan dari kerajaan yang berglibung itu, sehingga ia dinyatakan takluk. Pada saat itu, pihak kerajaan Bone memberi kebebasan kepada segenap sekutu-sekutunya untuk meminta dan mengambil apa yang diinginkannya, sebagai rampasan perang.

karajaan bawahannya pun melakukan rampasan (perang) sesuai dengan keinginan masing-masing. Kerajaan-kerajaan kecil yang turut di da~am peperangan tersebut antara lain : Barana, Beroangin, Nasara dan berbagai kerajaan kecil lainnya. Pada waktu itu Karaeng Nasara menyatakan, bahwa kami hanya meminta satu hal, yaitu annallasia tumate (menghidupkan orang ma ti).

Permintaan Karaeng Nasara tersebut merupakan ungkapan yang mempunyai arti dan makna simbolik, bahwa ia mohon diberi wewenang untuk membela orang-orang yang terkena hukuman mati atau memberikan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang mengalami penganiayaan, penderitaan dan kemelaratan.

Harapan dan permintaan Karaeng Nasara itu terkabul, sehingga sudah menjadi watak umumnya penduduk Nasara sampai sekarang, yaitu gemar memberi pertolongan kepada siapa pun yang memerlukannya Hal ini diungkapkan pula dalam lapoi:an hasil penelitian Pananrangi Hamid (1986). Dalam zaman pembangunan sekarang persatuan dan kesatuan bangsa memang sangat diperlukan dalam rangka upaya mem- percepat proses pencapaian tujuan nasional, namun orientasi- nya haruslah mencakup wawasan yang lebih luas yaitu wawasan nasiooal. Persatuan dan kesatuan kedaerahan atau pun antar suku-suku bangsa tidak pantas lagi dipertahankan. Demikian pula sistem ekspansif antar wilayah kekuasaan tidak mungkin dibiarkan berlanjut, karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kendati pun demikian, jiwa dan semangat persatuan yang dilandasi dengan kesetiakawanan, permufakatan dan saling membantu dapat terus dibina dan dikembangkan menjadi persatuan dan kesatuan yang mencakup seluruh masyarakat Indonesia, bukan lagi ke daerah seperti halnya persekutuan Mattellumpoccoe (Bone-Wajo Soppeng), dua cappagala (Lu- wu-Gowa) Pi.tu ulunna satu-pitu babbana binangka (tujuh kerajaan di daerah hulu Sa'dang dan tujuh kerajaan di muara), lima ajat tapparang (lima kerajaan di se~lah barat danau

Pananrangi Hamid, 1983, 1989).

Sebaliknya sifat tolong-menolong seperti halnya masyarakat Nasara perlu terus dibina dan dikembangkan secara meluas, karena memang sangat diperlukan dalam rangka menopang kelancaran pembangunan nasional. Ada pun tenggang rasa seperti yang ditonjolkan oleh Karaeng Bangkala termasuk nilai luhur yang patut disebarluaskan, kendati pun cara penyampai- annya harus disesuaikan dengan prinsip demokrasi, tidak secara emosi dan tanpa perhitungan. Dalam konteks ini penonjolan emosi pribadi maupun emosi kelompok hanya mungkin men- datangkan perpecahan di antara bangsa, sehingga sedapat mungkin dikikis secara tuntas.

Penobatan Damangunjungi Menjadi Karaeng Bangkala

Dalam sejarah pemerintahan di kerajaan Bangkala pernah Damatulung diorbitkan menjadi Karaeng, menduduki tahta kerajaan, namun yang bersangkutan menyerahkan tahta itu kepada Damangunjungi .. Alasannya, karena Damatulung masih berusia sangat muda di samping itu Damangunjungi masih kerabat sendiri. Ini menunjukkan, bahwa Damatulung berpikir- an luas, sehingga rela menyerahkan tahta kerajaan kepada orang lain, demi kemaslahatan·. negeri. Watak dan sifat seperti ini bukan hanya terpuji, tetapi juga sangat perlu dikembangkan kepada segenap masyarakat Indonesia, sehingga turut mem- perkuat jiwa kesatuan dan persatuan bangsa. Peristiwa yang hampir sama dengan penobatan raja Bangkala tersebut ditemukan pula di daerah Bone. Dalam lontarak Bone disebutkan, antara lain bahwa seorang Mangkauk (Raja) Bone mempunyai dua orang putera, namun ibu kedua anak tersebut berasal dari wanita biasa (bukan bangsawan). Karena itu baginda raja menunjuk salah seorang kemanakannya (anak dari saudara perempuannya) yang bernama Kerampeluwak untuk mengambil alih tahta kerajaan. Keputusan raja tersebut diterima dengan senang hati, baik oleh rakyat maupun oleh kedua putera kandungnya sendiri.

dinobat- kan menjadi raja dalam usia baru menjelang dua hari, tepatnya masih bayi. Peristiwa ini menunjukkan, bahwa masyarakat Sulawesi Selatan termasuk masyarakat Makassar dan masyarakat Bugis mempunyai jiwa besar, sekaligus bersifat mengalah demi terwujudnya persatuan dan kesatuan negeri. Sifat luhur seperti ini patut ditumbuhkan, sekaligus disebarluaskan dan ditanamkan dalam jiwa generasi muda Indonesia. Kendati pun pengangkatan seorang pucuk pimpinan dalam lembaga pemerintahan tidak dapat dilandaskan semata-mata pada unsur keturunan, melainkan atas dasar kemampuan/kepemimpinan- nya.

Peperangan Ujung Moncong dan Gowa

Sebagaimana halnya kerajaan-kerajaan kecil lainnya di daerah Bangkala maka kerajaan Ujung Moncong pun pada zaman dahulu berada di bawah naungan kerajaan Gowa. Kendati pun demikian kerajaan Ujung Moncong merasa tetap berhak mengatur kehidupan masyarakat dan pemerintahan sendiri. Berdasarkan prinsip ini, pihak pemerintah kerajaan Ujung Moncong pada suatu waktu menolak permintaan kerajaan Gowa yang menginginkan pohon kayu lanrak lekleng yang tumbuh di wilayahnya. Penolakan tersebut menyebabkan pihak kerajaan Gow a me- ngirimkan lasykar bersenjata untuk memerangi Ujung Moncong. Lasykar kerajaan Gowa ketika itu dipimpin oleh Ipung Tamparang, sedangkan pihak kerajaan Ujung Moncong dibantu oleh negeri sahabat yaitu Borisalo. Setelah terjadi pertempuran selama tiga tahun, akhirnya Ipung Tamparang bersama lasykamya berhasil membobolkan kekuatan gabungan Ujung Moncong. dan Borisalo. Akibatnya, pohon kayu Lanrak lekleng yang menjadi penyebab sengketa itu pun jatuh ke tangan lpung ramparang. Pohon lanrak lekleng itu kemudian disuruh tebang, se- terusnya disuruh buatkan perahu, rnµnun demik:ian rakyat se-

Sikap dan tindakan lpung Tamparang terlalu menonjolkan superioritas indivisualnya, apalagi dengan dukungan keraja- an Gowa yang berada di pihaknya. Padahal di lain pihak, masyarakat Ujung Moncong termasuk masyarakat yang menghormati serta menjunjung tinggi nilai solidaritas, cinta- kasih antara sesama manusia. Demikianlah maka lpung Tam- prang dibunuh, karena dipandang menginjak-injak kehormatan dan harga diri mereka.

2) Tindakan masyarakat Ujung Moncong yang berusaha mene- gakkan martabat dan kehormatan negerinya dengan cara membunuh Ipung Tamparang termasuk tindakan heroik menurut pandangan masyarakat setempat. Namun di lain pihak, tindakan terse but sudah termasuk tindakan "main hakim sendiri", sehingga tidak dapat dibenarkan, meng- ingat negera kita yang merupakan negara hukum.
3) Keputusan raja Gowa termasuk tindakan bijaksana, sehingga perselirihan antara kedua belah pihak tidak berkepanjangan.

Pada suatu waktu tanaman Lakipadada mendapatkan gangguan babi hutan.

Dalam upaya menyelamatkan tanamannya dari gangguan babi hutan, Lakipadada lalu menyiapkan tombaknya dan me- nunggaui ladangnya. Ketika babi itu muncul, Lakipadada lalu menombaknya, namun ternyata tombak itu terkait pada tubuh si babi dan dibawanya berlari turun ke paratiwi (alam di bawah bumi). Lakipadada pun menyusul buruannya melalui sebuah liang, dengan menggunakan seutas tali. Setelah tiba di bawah bumi, Lakipadada baru tahu bahwa babi yang menjadi buruannya adalah manusia jejadian dan ia adalah puteri raja. Dari

Lakipadada. Tombak itulah yang kemudian diambil kembali oleh Lakipadada setelah membunuh sang babi, lalu dibawanya ke atas bumi dan dijadikan simbol kerajaan di Gowa.

Mitos ini mengesankan, bahwa masyarakat Makassar pada abad lampau memandang tinggi nilai-nilai kepercayaan tradisi- onal yang berorientasi pada kegaiban dan keajaiban. Sesuai dengan kepercayaan tersebut mereka yakin, bahwa cikal bakal dan simbol kerajaannya merupakan titisan dewa-dewa sehingga tidak mudah punah.

Nilai religius seperti ini dapat bennanfaat untuk mem- perkua t kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan konsepsi agama dan kepercayaan yang berlaku di Indone- sia. lni berarti pula, bahwa orientasi penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat menjadi lebih kukuh apabila diji- wai dengan keteguhan hati sebagaimana kepercayaan nenek moyang terhadap makhluk gaib yang diyakini kebenarannya. Tegasnya masyarakat masa kini dapat mengambil pelajaran dari leluhur, tentang cara memperkuat iman dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

P~ang Surut Kerajaan Gowa Kerajaan Gowa sepanjang sejarahnya mengalami masa pa- sang surut. Pada mulanya kerajaan ini menguasai berbagai kerajaan baik di wilayah Sulawesi Selatan mau pun pulau-pulau lain di sekitarnya. Dalam lontarak ampannassai Karaeng Ujung Moncong disebutkan wilayah kekuasaan Gowa, antara lain mencakup hampir seluruh kerajaan lokal di jazirah Sulawesi Selatan di samping kerajaan-kerajaan lain seperti Buton, Timar, Banjar, Dima, bahkan pengaruh meluas sampai ke Filipina. Setalah melalui kurun waktu cukup lama, kekuasaan Gowa atas wilayah taklukannya melemah untuk pada akhirnya ber- akhir sama sekali.

peme- rintahan baginda raja Gowa Tumenanga ri Papambatunna. Ke- tika itu kerajaan Gowa mengadakan penyerangan ke daerah Bone dan menaklukkan daerah tersebut sehingga banyak pejabat setempat dijadikan tahanan politik. Dominasi kerajaan Gowa atas Bone berlanjut sampai bangkitnya Arung Palakka yang menyusun dan mengadakan perlawanan, untuk membe- baskan negerinya dari tekanan pihak Gowa.

Para boto (ahli nujum, tukang ramal) di Gowa telah me- nyatakan sejak awalnya bahwa akan lahir seorang kesatria, pendekar yang bakal merun tuhkan kejayaan Gowa. Sesuai dengan ramalan tersebut maka para penguasa di Gowa telah menitahkan agar semua wanita hamil dibunuh, bahkan semua anak laki-laki yang lahir ke dunia segera harus di bunuh. Namun temyata bahwa calon pendekar itu tetap selamat dari pem- bunuhan, sampai ia menjadi dewasa. Dialah Arung Palakka. Setelah tiba saatnya, Arung Palakka mulai menyusun kekuatan lasykar Bugis. Namun lasykar tersebut belum cukup kuat untuk melumpuhkan kekuatan Gowa, .sehingga ia melaku- kan perantauan ke tanah Jawa melalui Buton, untuk mencari pendukung. Demikianlah, pada akhimya Arung Palakka ber- sekuru, bekerjasama dengan pihak Kompeni Belanda. Dalam pada itu Arung Palakka membantu Belanda menghadapi pertem- puran di Pariaman (Sumatera), setelah itu barulah ia kembali ke Sulawesi untuk menuntut balas atas kerajaan Gowa.

Penyerangan Arung Palakka ke Gowa didukung oleh ber- bagai kerajaan Bugis lainnya ditambah pula dengan bantuan pihak Kompeni Belanda. Demikianlah, Gowa terpaksa menanda-

tangani perjanjian Bungaya pada tahun 1667, hal mana me- mungkinkan daerah-daerah taklukannya menjadi bebas. Sejak masa itu pulalah Arung Palakka menjadi raja berdaulat.

A Muhammad Ali mengungkapkan dalam salah satu karya tulis (1976), antara lain bahwa pengalaman-pengalaman pahit yang dialami oleh Arung Palakka selama menjalani kehidupan sebagai tawanan di kerajaan Gowa telah membangkitkan sema- ngatnya ·untuk berjuang membebaskan diri dan segenap rakyat Bugis dari cengkeraman pemerintah Gowa. Demikianlah Arung Palakka bersama dengan beberapa orang sahabat dan teman seperjuangan berangkat ke Batavia untuk mengadakan kontak dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda, melalui Pimpinan Kompeni. Arung Palakka dan beberapa ratus lasykarnya tiba di Batavia pada tahun 1663.

Sekitar tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Nopember 1666 Arung Palakka bersama dengan armada laut yang dipimpin oleh C. Speelman berangkat dari Batavia menuju ke Makassar. Pada tanggal 17 Desember 1666 pasukan gabungan ini tiba di perairan Makassar, namun pada tanggal 22 Desember 1666 armada gabungan (Arung Palakka/C. Speelman) meninggalkan pula Makassar menuju ke Buton. Selanjutnya pada tanggal 18 Agustus 166 7 mereka mulai menyerang benteng pertahanan kerajaan Gowa. Penyerangan itu berakhir dengan bobolnya kerajaan Gowa, ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 Nopember 1667.

Penandatangan Perjanjian Bungaya bukan hanya berarti jatuhnya kekuasaan Gowa terhadap kekuatan bersenjata Kompeni Belanda,, akan tetapi sekaligus menjadi pertanda bebasnya tanah Bugis dan rakyatnya dari cengkeraman kekuasaan Gowa. Bahkan, lebih jauh lagi pihak Kompeni Belanda beroleh kebebasan mengembangkan pelayaran niaga ke bagian Timur dengan Makassar sebagai pelabuhan tran_sito dalam rangka perdagangan rempah-rempah. Sementara di lain pihak Arung Palakka sejak saat itu memegang kendali pemerintahan kerajaan di Tanah Bugis, dengan gelar Petta Torisompe (ba- ginda raja yang disembah).

Bone-Soppeng dari kerajaan Gowa adalah suatu tindakan kepahlawanan dan tidaklah salah kalau La Tenri Tatta kita beri julukan PEJUANG KEMANU-SIAAN DAN PAHLA WAN BONE-SOPPENG .. :' (lihat Hamid, 1976 15-16). Pernyataan tersebut mungkin mengandung kebenaran apa- bila dilihat dari pihak kerajaan Bone-Soppeng dengan wawasan terbatas, namun di lain pihak terdapat pula kenyataan yang telah menimbulkan berbagai akibat fatal bagi masyarakat dan perkembangan daerah Sulawesi Selatan pada masa sesudah bobolnya kerajaan Gowa, antara lain sebagai berikut

1) Kompeni Belanda beroleh kesempatan seluas-luasnya mengeruk kekayaan bumi Indonesia, untuk memperkaya pemerintah dan negeri Belanda sendiri.
2) Kompeni Belanda menjadi leluasa menanamkan penga- ruhnya diberbagai negeri, untuk kemudian mengadu domba antara rakyat setempat. Akibatnya, ketahanan dan perta- hanan rakyat berangsur-angur menjadi terpecah-belah, sehingga mudah dipatahkan bagi kekuatan Kompensi Belanda.
3) Makin lama main kukuh cengkeraman Kompeni Belanda terhadap pemerintahan kerajaan lokal, sehingga akhirnya seluruh wilayah Sulawesi Selatan telah menjadi daerah jajahan pada tahun 1904, ditandai dengan bobolnya perta- hanan kerajaan Bone (baca Rumpakna Bone, Pananrangi Hamid, 1988).
4) Perang pembebasan rakyat dan tanah Bugis dari dominasi kerajaan Gowa yang berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya telah menelan kurban jiwa dan harta benda, bukan hanya di kalangan lasykar Gowa tetapi juga dipihak pendukung-pendukungnya antara lain seperti Wajo. Menurut pemberitaan lontarak Bugis, maka ' kerajaan wajo kehilangan lasykar dalam perang Gowa sebanyak

504 orang". Malahan setelah Gowa dinyatakan jatuh ke tangan Arung Palakka/Kompeni Belanda, Arung Palakka masih melanjutkan penyerbuan kepusat kerajaan Wajo (sekutu Gowa) di mana Tosora (kota raja Wajo) dibumi- hanguskan dan tercatat sebanyak 997 lasykar tewas di medan peperangan.

Kenyataan tersebut menunjuklcan, bahwa perjuangan Arung Palakka untuk membebaskan rakyat dan negari Bone dari dominasi kekuatan/kekuasaan Gowa di masa yang lampau telah menimbulkan kerugian cukup besar bagi rakyat Sula~esi Selatan. Bahkan peperangan yang berlangung cukup lama itu telah mengambil ribuan jiwa lasykar sebagai tumbalny'ci. Namun demikian peristiwa sejarah tersebut bukan hanya sekadar menjadi kenangan masa lampau tanpa arti dan tanpa makna, akan tetapi seyogyanya dijadikan bahan pelajaran_ dan pere- nungan untuk memperkuat nilai-nilai luhur bangsa, terutama menyangkut

1) Nilai religius yang menjurus pada pemanfaatan ramalan ahli nujum (para normal) tanpa menghiraukan pertimbangan akal dan pikiran logis dapat membawa musibah, sebagai-mana halnya pembunuhan orang-orang hamil dan kanak- kanak yang pernah terjadi di daerah Gowa pada zaman Botolempangan.
2) Nilai kuasa yang menjurus pada kesewenang-wenangan, tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali musibah baik bagi individu maupun masyarakat.
3) Nilai persatuan dan kesatuan yang dilandasi oleh nilai solidaritas merupakan potensi kekuatan bangsa yang perlu dibina, untuk menghadapi segala kemungkiilan yang dapat timbul dari pihak luar.
4) Emosi centris dapat menjurus pada perpecahan bangsa, sehingga perlu dikikis secara tuntas demi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa secara optimal.

Selatan sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai so- lidaritas yang mencerminkan sifat kegotongroyongan di dalam suasana kekeluargaan. Mereka cinta damai dan mempunyai loyalitas tinggi terhadap sesama warga. Prinsip mereka ter- cermin dalam konsep 'sirik na pacce'. Secara harfiah, sirik berarti malu, sedangkan pacce berarti perih (dalam hati). Na- mun dalam arti maknawi, sirik meruJjakan konsep budaya yang berarti "harkat' sebagai makhluk insani yang berhak mem- peroleh perlakuan layak sebagai manusia. Sebaliknya, konsep pacce, berarti perasaan perih dalam hati, tanda turut merasakan kesusahan yang dialami oleh sesama warga dan kerabat.

Berdasarkan pada prinsip sirik na pacce tersebut, warga masyarakat Makassar senantiasa berusaha mempertahan- kan, membela harkatnya sebagai manusia. Sejalan dengan itu mereka pun senantiasa rela berkorban untuk turut membela harkat anggota keluarga dan kerabat yang sedang mengalami hal atau sesuatu yang dapat meruntuhkan harkatnya,' terutama yang menyangkut urusan kawin-mawin atau pun pelanggaran susila. Sebagai contoh dapat dikemukakan illustrasi di bawah ini

Apabila seorang wanita yang sudah menikah dan masih tetap hidup rukun bersama dengan suaminya secara sah, kemudian minggat bersama dengan lelaki lain, maka timbul kasus si.rik dalam keluarga bersangku tan

Dalam kasus tersebut pihak suami disebut tunipakasirik (orang yang dijatuhkan harkatnya), sedangkan pihak isteri dan lelaki yang minggat bersamanya disebut tu-mappakasirik (orang· yang menjatuhkan harkat orang lain). Dalam hal ini ke- tentuan adat setempat membenarkan bagi tu-nipakasirik mene- gak.kan kembali sirik,nya dengan cara melakukan tindakan fi- sik terhadap tu mappakasi.rik. Bahkan segenap sanak kerabat- nya pun merasa terpanggil untuk menuntut bela atas musibah

ifii disebut tu-masirik (orang yang ikut terjatuh harkatnya). ·

Dalam upaya menegakkan kembali sirik tersebut, seringkali tu-mappakasirik harus mengorbankan nyawa. Namun tuntut bela seperti itu hanya boleh dilakukan sepanjang tumappaka- sirik masih berada dalam masa pelarian, ditemukan di jalanan atau di luar rumah. Manakala yang bersangkutan sudah berada dalam perlindungan seseorang, maka tu-nipakasirik serta tu-masirik tidak berhak memberi hukuman.

Bagi masyarakat Makassar penyelesaian kasus seperti itu biasanya ditangani oleh tokoh masyarakat termasuk pemerin- tah setempal atau pun petugas sarak (Imam Kampung). Dalam hat ini tu-mappakasirik diharuskan menyerahkan sejumlah uang kepada pihak tu-nipakasirik (bekas suami) disertai penyam- paian bahwa isterinya tidak sudi lagi hidup dengannya, maka uang tebusan diberikan kepadanya agar ia mencari isteri yang baru. Cara penyelesaian seperti ini diatur di dalam ketentuan hukum yang disebut sarak (syari'at).

Apabila dikaji secara saksama, jelas aturan hukum tersebut dimaksudkan sebagai aturan hukum menurut syari'at Islam, namun dalam kenyataannya masih berbeda pula dengan aturan-aturan yang berlaku dalam hukum Islam. Sejalan dengan itu mungkin lebih tepat kalau dikatakan, aturan sarak yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Makassar di daerah Bangkala Dati II Jeneponto. Lepas dari mumt atau tidak, konsekwen atau tidak hukum sarak itu berasal dari syari at Islam, namun kenyataannya bahwa adanya perangkat aturan tersebut cukup potensial sebagai unsur pengendali sosial (social control). Berbagai kasus sirik dapat diselesaikan dengan menggunakan pennappukinna saraka Sementara di lain segi, konsep sirik napacce, termasuk nilai luhur yang amat potensial guna pembentukan, pembinaan dan pengukuhan persatuan dan kesatuan masyarakat. Bahkan Muhammad Hisyam memandang siriJc. itu sebagai 'sumber nilai dalam pemeliharaan emosional dan sentimen kekerabatan serta harga diri yang dapat merembes ke dalam berbagai segi

Sirik menirnbulkan rasa kesatuan kekelu- argaan dan sekaligus rasa malu yang sangat besar ... " ( 1985 :

145). lstilah persatuan dalam kehidupan orang Makassar menca- kup pengertian perpaduan yang utuh dan dalam ungkapan ba- hasa daerah setempat dikonsepsikan sebagai Akbulo sibatang, maksudnya bersatu bagaikan sebatang bambu. Demikianlah dikenal ungkapan yang menyatakan ' lkambe Mengkasaraka, punna tasirik, Pacce seng nipabbulo sibatang' Maksudnya, : "Kita orang Makassar, kalau bukan karena sirik, maka paccelah membuat kita bersatu"
4.5. Sistern Matapencaharian Dan Nilai Waktu Sistem Mata Pencaharian Dalam era pembangunan dewasa ini masyarakat Makassar, termasuk masyarakat kecamatan Bangkala mengenal dan menekuni berbagai jenis ma tapencaharian hid up, seperti perta- niah, penangkapan ikan, pegaram, perdagangan, buruh, pega- wai/ ABRI dan kerajianan/industri. Namun pada zaman yang lampau, jenis mata pencaharian menurut pemberitaan lontarak kelihatannya agak terbatas, hanya meliputi. pertanian ladang disebut pakoko; berburu, disebut akjonga, pelayar atau pa- biseang; pedagang atau padanggang. Setiap jenis pencaharian hidup tersebut dilakukan secara tekun, giat dan tak mengenal lelah. Namun demikian para anggota masyarakat bukan hanya menggantungkan seluruh ida- man dan harapannya pada hasil kegiatannya semata, melainkan juga merasa perlu memohon do 'a restu dari sang Hyang pencip- ta. Dalam hubungan itu. anggota masyarakat biasa melakukan berbagai upacara tradisional yang bertalian dengan kegiatan pencaharian hidup. Upacara yang biasa dilakukan, antara lain upacara pra- panen dan upacara pascah panen. Upacara ini erat kaitannya dengan kepercayaan pada unsur kekuatan gaib di samping

Galesong Dati II Gowa. Imam Suprayogo (1985) menyatakan dalam laporan hasil penelitiannya, antara lain bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang dipeluk oleh segenap warga masyarakat di · Galesong, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka umumnya belum berani melepaskan diri dari kepercayaan yang diwarisi dari nenek moyang. Pada umumnya nelayan mengunjungi tempat keramat sebelum memulai kegiatan penangkapan ikan, agar karenanya mendapat rezeki yang banyak dan keselamatan. - Kutipan ini menunjukkan, bahwa pemujaan tempat-tempat keramat biasanya dilakukan warga masyarakat sebelum memulai kegiatan pencaharian hidup dengan dua tujuan. Pertama, sebagai permohonan do'a restu agar usaha mereka mendatangkan hasil yang memadai; dan kedua sebagai tolak bala dari segala kemungkinan yang sewaktu-waktu dapat terjadl baik terhadap diri sendiri maupun keluarga dan warga masyarakat. Dalam kajian-kajian yang menggunakan pende- katan Antropologis upacara pemujaan tersebut dihayati sebagai ritus yang berorientasi pada sistem kepercayaan dinamisme atau pun animisme. Demikianlah, A. Rahman Rahim menegaskan, antara lain bahwa : · Dari berbagai sumber kepustakaan ternyata bahwa tradisi berupa upacara bersifat magis dan religius bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Makassar di daerah Jeneponto saja akan tetapi terdapat pula dalam masyarakat lainnya di berbagai penjuru dunia. Demikian, rnisalnya Imam Suprayogo menyatakan dalam laporan penelitiannya antara lain bahwa:

Islam adalah satu-satunya agama yang dipeluk oleh segenap
warga masyarakat Galesong ( ...................... )
mereka masih mempercayai terhadap kekuatan gaib atau benda-benda keramat lainnya ... ( 1985: 11 dan 14 ).

Selain kepercayaan masyarakat Galesong yang masih ter- paut dengan kekuatan-kekuatan gaib dan benda-benda kera-

Pananrangi Hamid menunjukkan pula adanya tradisi orang Bugis di daerah Soppeng, yaitu "me- lakukan pembacaan surek (lontarak Galigo) dalam rangkaian upacara prapanen" (l 986). Informasi yang kurang lebih sama diperoleh pula dari warga desa Mulamenre 'e Dati II Bone (Hasil wawancara pada tanggal 15 Juli 1990). Semua itu meru- pakan bentuk religi yang disebut oleh A. Rahman Rahim sebagai "agama non wahyu) yang bertumpu pada konsep kepercayaan kesucian (holiness) atau mana menurut pengisti- lahan orang Melanesia dan disebut feitish dalam bahasa Portu- gis" (l 976:6) Kepercayaan terhadap benda-benda sakral dan kekuatan gaib dengan demikian termasuk salah satu gejala sosio-religius yang dikenal pula dalam berbagai masyarakat Makassar di Jeneponto.

Nilai Sosial Selain latar belakang nilai sakral atau pun nilai magis dan nilai religius, lontarak Ujung Moncong mempunyai nilai sosial. Pendekatan ini bertolak dari suatu kenyataan, bahwa masyarakat Makassar di desa Banrimanurung dan daerah Bangkala pada umumnya sampai sekarang tetap mempunyai ke- cenderungan mempertahankan secara ketat sistem stratifi.kasi sosial menurut hubungan darah atau asal-usul keturunan. Berdasarkan latar belakang dan asal-usul keturunan maka anggota masyarakat di daerah Bangkala pada zaman dahulu terbagi menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu "bija karaeng" (keturunan bangsawan) : "bija tusamarak/maredeka" (keturunan orang biasa/ orang merdeka), serta ' bija ata" (keturunan budak belian dan hamba sahaya). Ketiga golongan masyarakat ini tersusun secara bertingkat atau berlapis. Keturunan karaeng adalah lapisan paling atas. Golongan · maradeka/tusamarak adalah lapisan menengah; dan akhirnya golongan atas meru- pakan lapisan paling rendah. Perbedaan antara masing-masing golongan dan golongan lainnya bukan hanya menyangkut perbedaan strata dan lapis-

kedudu- kan dan peranan (status and roll) bersama segenap hak dan kewajiban setiap orang, baik dalam kehidupan bermasyarakat atau pun pemerintahan. Dalam konteks ini golongan bija karaeng berhak atas tahta kerajaan maupun jabatan dan ke- kuasaan dalam lembaga pemerintahan kerajaan, sementara di lain pihak golongan tusamarak dan bija ata berkewajiban memberikan seluruh pengabdiannya demi kepentingan raja bersama kerajaan.

Setelah melalui proses perkembangan sejarah yang cukup lama, kini sudah terjadi perubahan sosial, terutama berupa hilangnya sistem perbudakan. Demikianlah maka dapat dikata- kan bahwa masyarakat Makassar terutama generasi muda umumnya tidak mengenal lagi adanya anggota masyarakat keturunan ata atau pun bekas keturunan ata. Namun demikian mereka tetap mengenal adanya lapisan bija karaeng dan lapisan tusamarak. Sejalan dengan itu pola hubungan antara indi- vidu dari lapisan sosial yang berbeda terutama masih terasa pengaruhnya dalam sistem pemilihan jodoh. Dalam hal ini anggota masyarakat menganggap ideal apabila terjadi ikatan perjodohan antara seorang laki-laki dan seorang wanita dari lapisan yang sama. Kalau tidak, maka laki-laki bangsawan pada umumnya tidak dianggap tercela apabila mereka nemikah dengan wanita yang berasal dari keturunan tusemarak. Namun sebaliknya orang tua dan segenap kaum kerabat keturunan bangsawan akan menentang perjodohan antara anak perem- puan mereka dengan laki-laki dari keturunan tusamarak. Sesuai dengan sistem pemilihan jodoh tersebut maka setiap laki-laki yang mengajukan pinangan kepada seorang wanita, apalagi kalau wanita tersebut keturunan bangsawan maka biasanya pinangan itu tidak langsung diterima tanpa menelusuri lebih dahulu perihal asal usul keturunannya. Dalam rangka inilah lontarak Banrimanurung dapat menempati peranan penting, karena di dalamnya tercantum silsilah keturunan raja-raja Bangkala mulai dari Banrimanurung sampai pada generasi-generasi yang lebih kemudian. Demikianlah

Psikhis

Secara psikhis keberadaan lontarak Ujung Moncong merupakan suatu kebanggaan sosial bagi warga masyarakat pendukungnya. Kebanggaan tersebut timbul atas dasar kesa- daran di samping keyakinan bahwa Banrimanurung sebagai tokoh mitologis dan sekaligus tokoh legendaris sejak zaman lamapu telah mengukir berbagai peristiwa sejarah dan kisah patriotisme, terutama berkat kesaktian yang dimilikinya sebagai tumanurung. Kisah patriotisme itu pun kemudian dilan· jntkan oleh para anak cucunya, sehingga kerajaan Bangkala tetap langgeng dan mampu mempertahankan eksistensinya dari dominasi, atau pun ekspansi kekuasaan yang seringkali dipaksakan oleh kerajaan-kerajaan besar di masanya. Bahkan munculnya tokoh Banrimanurung di kawasan Bangkala sejak zaman dahulu telah secara langsung menumbuhkan semangat juang serta keberanian warga masyarakat untuk menentang setiap bentuk kezaliman atau pun kelaliman, kendati pun dengan taruhan nyawa. Kegagah-perkasaan Banrimanurung yang sampai saat ini dipandang sebagai kisah legendaris, antara lain tampak pada lontarak di dalam mana tercatat bahwa ". suatu ketika, baginda Karaeng Kalimporo menitahkan menitahkan orang suruhannya untuk menjemput Banrimanurung di tempat kediamannya, baik suaminya rela atau tidak. Titah baginda tersebut temyata ditampik, sehingga baginda raja mengirim lasykar untuk menghancurkan Banrimanurung bersama suaminya. Namun ketika itu Banrimanurung berhasil mema tahkan kekuatan baginda atas bantuan manusia jejadian yang setia membela tuannya".

Kisah legendaris tersebut biasanya diulang-ulang oleh warga setempat, sehingga timbullah keberanian mereka m~men tang setiap pemerintah yang berbuat sewenang-wenang dan

bertindak lalim. Selain itu tertanam pula rasa kebanggaan dalam hati sanubari segenap warga masyarakat. Mereka bangga, karena tokoh Banrimanurung itu tennasuk leluhur mereka sendiri. Mereka pun pada akhirnya bangga karena kisah legen- daris dari tokoh tumanurung serta keperkasaan pemimpin rakyat di zaman silam tetap terpateri dalam lontarak. Keada- an ini berati pula, bahwa bagi masyarakat Bangkala lontarak Banri Manurung dipandang sebagai naskah kuno yang mem- punyai nilai psikhis.

Nilai Ilmu

Dalam usaha memperoleh kesejahteraan hidup di dunia, masyarakat Makassar di daerah Bangkala mengembangkan ber- bagai macam lapangan pencaharian hidup. Jenis-jenis matapencaharian yang menonjol di daerah tersebut antara lain terdiri atas. pertanian, penangkapan ikan laut, perikanan darat, serta produksi garam. Jenis-jenis matapencaharian tersebut secara langsung mengaitkan manusia dengan aspek alam sekitar, baik berupa lahan produksi maupun sumber daya alam seperti cuaca, musim dan lingkungan perairan.

Selain dari semua aspek tersebut, warga masyarakat setempat pun tahu dan sadar bahwa setiap jenis usaha dan kegiatan pencaharian hidup itu berlangsung adanya dalam suatu kurun waktu tertentu. Bahkan proses hidup dan kehidupan itu pun hanya mungkin berlangsung dalam suatu teng- gang waktu, sehingga mereka senantiasa berusaha mengetahui kualitas waktu menurut kepentingan hidup dan kehidupannya. Dalam hubungan itu Lontarak Ujung Moncong dipandang sebagai sumber pengetahuan, karena di dalamnya tennuat pengetahuan budaya berkenaan dengan kualitas waktu yang berlangsung dari hari ke hari. Menurut konsep budaya orang Makassar pengetahuan tentang waktu-waktu baik dan buruk itu disebut kutika Demikian pentingnya peranan kutika dalam kehidupan warga masyarakat, sehingga dijadikan pedoman untuk memulai sesuatu pekerjaan, baik menyangkut lapangan pencaharian

pun bimbingan pengetahuan tentang waktu sedangkan konsepsi pengetahuan tradisional yang bertalian dengan kualitas waktu itu terpateri di dalam naskah kuno lontarak Ujung Moncong. Demikianlah, lontarak Ujung Moncong sampai sekarang tetap lestari dan dimanfaatkan oleh masyarakat pendukungnya sebagai sumber pengetahuan tradisional.

Nilai Hokum Per~epsi masyarakat Bangkala tentang lontarak Ujung Moncong bukan hanya menyangkut anekaragam nilai yang diungkapkan di atas, melainkan di dalamnya terkait pula nilai hukum Dalam konteks ini nilai hukum berorientasi pada pengertian tentang perangkat pola tingkah-laku ideal, berupa aturan-aturan adat, khusus menyangkut urusan per- jodohan dan pembagian harta warisan.

Berdasarkan aturan-aturan adat tersebut warga masyarakat setempat biasanya dapat menyelesaikan ketegangan sosial yang timbul, melalui pendekatan kekeluargaan. Dalam rangka proses penyelesaian ketegangan atau pun konflik yang timbul antara sesama warga maka orang tua-tua biasanya memegang peranan penting sebagai pihak penengah. Namun demikian para orang tua tersebut sekurang-kurangnya harus membekali diri dengan pengetahuan hukum berkenaan dengan kasus yang sedang dihadapi. Pengetahuan hukum tersebut sebagian dapat dihapal serta diketahui secara meluas di kalangan warga masyarakat, namun sebagian pula hanya mungkin diperoleh melalui lon- ratak. Demikianlah maka lontarak Ujung Moncong sampai sekarang tetap dipandang mempunyai nilai hukum.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa hakekat keberadaan dan kelestarian naskah kuno lontarak Ampannassai Karaing

dukung- an berupa latar belakang nilai yang dihayati oleh masyarakat pemangkunya. Tegasnya, naskah kuno lontarak dimaksud, tetap mengandung nilai luhur yang amat penting artinya dalam proses kehidupan anggota masyarakat setempat. Sejalan dengan itu lontarak pun tetap dipelihara, dihormati dan di- muliakan sebagai benda sakral atau pun sastera suci. Akibat- nya, nilai-nilai luhur yang dikandungnya pun tetap terpendam, sehingga penting digali, dikaji, dianalisa serta disebarluaskan bagi kepentingan pembangunan bidang kebudayaan.

KEPUSTAKAAN

Solidaritas Dalam Masyarakat Kecil, Studi Kasus di Desa Rumbia Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto, Dalam "Panorama Kehidupan Sosial", LEPHAS, Ujung Pan-dang.

Sejarah Perjuangan La Tenri Tatta Datu Mario Arung Palakka, Kantor Cabang II Lembaga Sejarah dan Antropologi, Ujung Pan dang.

S. Perkembangan Sejarah Kebudayaa.n Indo-
Takdir nesia Dilihat Dari Jurusan Nilai-Nilai,

  1. ldayu Press, Jakarta.
    Bierstedt, Robert : The Social Order, International Student 1970 Edition, McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo, Japan.

Budhisan toso, Masalah-Masalah Penelitian Kebudayaa.n, Dalam Hasil Seminar Penelitian Kebuda- yaan, Direktorat Jarahnitra, Dirjen Kebu- dayaan, Jakarta.-

Human Types, Terjemahan B. Mochtan 1960 S. Puspanegara, Sumur Bandung, Bandung.

Field, Robert The Little Community, Peasant Society 1985 and Culture, Terjemahan Daniel Dhakidae dengan judul "Masyarakat Petani dan Kebudayaan", C.V. Rajawali, Jakarta.-

Hamid, Abu A/at-a/at Kerajaan Sulawesi Selatan (Dae- 1974 rah Bone), Fakultas Sastra Unversitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

Sistem Kebudayaan dan Peranan Pranata 1982 Sosial Dalam Masyarakat Orang Makassar, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

Hamid, Pananrangi : Pengaruh Teknologi Modern Terhadap 1983 Struktur Masyarakat Makassar di Benteng Jeneponto, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pan dang.

Kesadaran Budaya Tentang Ruang Pada 1985 Masyarakat di Daerah Sulawesi Selatan, Proyek IDKD, Ujung Pandang.

Upacara Pertanian Tradisional Daerah 1985 Soppeng, Balai Kajian Jarahnitra. Ujung · Pan dang.

Upacara Bissu di Leppangeng Segeri, 1985 Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.

Upacara Panen di Gowa, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.

Ceritera Rakyat Sawerigading, Buku-1 Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.

Ujung Pandang.

Lingkungan Budaya dan Adat-Js tiadat Masyarakat Bakaru, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang.

Hisyam, Muhammad: Sayyid-Jawi, Studi Kasus Jaringan Sosi- 1985 al di desa Cikoang Kecamatan Mangara- bombang, Kabupaten Takalar, Ed. Mu- khlis-Kathryn Robinson, LEPHAS, Ujung Pandang.

Kaseng, Syaharuddin: Transliterasi dan Terjemahan Lontara 1986 Bilang Raja Gowa dan Tallo, (naskah-Makassar), Depdikbud Proyek La Galigo, Ujung Pandang.-

Koentjaraningrat : Kebudayaan. Mentalitet dan Pembangun- 1974 an, PT. Gramedia, Jakarta.

Beberapa Pokok Antropologi Sosial. P.T. 1977 Dian Rakyat, Jakarta.

Linton, Rlph The Study of Man, Terjemahan Drs. ls- (t.t.) maun, Jemmars, Bandung.

Mattulada Seke/umit Pandangan Antropo/ogi Terha- 1968 dap Sekularisme, Sekularisasi dan Moder- nisasi Menurut Pancasi/a & UUD-1945, Majalah Tjitabudi No. 4-7, Unhas.

Peranan Leadership Dalam Mengatasi Hambatan Perkembangan Masyarakat O/eh Pola Pikir Tradisional, Majalah Uni- versitas Hasanuddin, No. 1, Ujung Pandang.

Punagi, A. Abubakar:Nilai-Nilai Hidup dan Adat Jstiadat Bugis, 197 6

Rahim, A. Rahman: 1975

Safwan, dkk. Ed.,: 1981

Subagya, Rachmat: 1981

Suprayogo, Imam: 1985

Tadjri, Imam 1982

Warrouw, S.J. Dr .. Med. 1970

Naskah Kuno

Sa tu lukisan analitis An tr.opolo- gi Po/itik orang Bugis, Gajah Mada Univer- sity Press, Yogayakarta.

Kan tor Cabang II Lembaga Sejarah dan Antropologi, Ujung Pandang

Adat lstiadat, Yayasan Kebudayaan -

Sulawesi Selatan, Ujung Pandang.

Fi/safat Kebudayaan, LEPHAS, Ujung Pandang.

Sejarah Pendidikan Daerah Sulawesi Selatan, Proyek IDKD, Ujung Pandang.

Agama Asli Indonesia, Yayasan Cipta Lokacaraka, Jakarta.

Warisan Budaya Karaeng Galesong, Stu- di Kasus Perkawinan di Desa Galesong Dalam editing Mukhlis-Kathryn Robinson, "Panorama Kehidupan Sosial", LEPHAS, Ujung Pandang.

Sekali Layar Terkembang Pantang Surut ke Belakang, PLPIIS, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

flmu Penge tahuan dan Pengalaman Dalam Masyarakat Pembangunan. Majalah Universitas Hasanuddin, No. 1, Ujung Pandang.

Lontarak Bugis, Koleksi Imam Kampung Wajo, Ujung Pandang.

Lontarak Bugis, Koleksi Tomailalang, La- wu.

Lontarak Bone Wajo Soppeng, Koleksi Dr. Abu Hamid, Ujung Pandang.

Lontarak Luwu, Koleksi Museutn La Ga- ligo, Ujung Pandang.-

Pada Upacara Peirngatan Ulang -Tahun ke-25 Universitas Gajah Mada, Tanggal 19 Desember 1974 di Yogyakarta.

Pada Peringatan Dies Natalis Ke-XXV Universitas Indonesia, Tanggal 15 Februa- ri 1975 di Jakarta.

TAP MPR-RI Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

1988.

Undang-Undang UUD-1945 serta Penjelasannya.

IDENTIFIKASI NASKAH

  1. Judu Naskah (LONTARAK ANPANNASSAI
    KARAING UJUNG MONCONG)

  2. Pemilik N askah Haji Manggassingi Dg. Ni'rang.

  3. Tempat Naskah Desa Banrimanurung, Kecamatan
    Bangkala, Kabupaten Daerah Ting- kat II Jeneponto.

  4. Nomor Naskah Tidak bemomor.

  5. Jenis Na&kah Ben tuk Prosa.
  6. Tgl. Penulisan Tahun 1245 H. (1824 M)
    Tahun penulisan naskah terkan- dung dalam lembaran kedua; baris ke-5 d.b. (Lihat Fotokopi/Lampir- an II).

  7. Tempat Penulisan Tidak disebutkan.

  8. Ukuran Naskah Panjang 32 Cm
    Lebar 21 Cm

  9. J umlah Halaman 57 (limapuluh tujuh) lembar.

J umlah Baris

a. Halaman awal
b. Halaman khusus
11. Jenis Tulisan
12. Panjang Baris
13. Alas Tulis
14. Warna Tinta
15. Cap Kertas
16. Isi Naskah
15 (limabelas) baris; Tidak beraturan, kadangkala tiga baris, ada pula yang memuat sam- pai setengah halaman (Lihat Fotokopi/Lampiran III).

Aksara Makassar dan huruf "Arab" (Lihat fotokopi/Lampiran IV).

28Cm.

K e r t a s.

Hit am.

Tidak jelas.

a. Passalak Anpannassai Karaing Ujung Moncong Kabattuanna Banrimanurung (memuat catatan tentang sejarah Ujung Moncong; cikal-bakal dan silsilah ke- turunan Banrimanurung; Sejarah perkembangan kerajaan Bangkala dan ekspansinya).

b. Passalak A mpannassai Bicaran-

na Karaeng Loe (menerangkan

tentang Lakipadada dan petua- langannya di petala bumi; mitos tentang simbol kerajaan Gowa yang dise but "sudanga)

c. Passalak Anpannasai Bicara Ma- rio Iowa (catatan tentang kerajaan Gowa dan superioritasnya terhadap segenap wilayah domi- nasinya; mengungkapkan pula perihal I Latunru (Aru Palakka)

sebagai tokoh legendaris, peju- ang pembebasan Tanah Bugis dari dominasi Gowa);

d. Passalak Ampannassai Niyak na Lanrak Lekleng ri Ujung Moncong (memuat catatan tentang pohon kayu 'unik yaitu kayu "lanrak Lekleng" yang menjadi asal-usul timbulnya pertikaian an tara pihak Gowa dan Ujung Moncong. Pertikaian itu menim- bulkan peperangan selama tiga tahun, berakhir dengan takluk- nya kerajaan Ujung Moncong, namun Punggawa kerajaan Gowa mengalami nasib tragis dan mati dengan kepala terpenggal).
e. Passalak Anpannassai Pannapu- kinnasaraka (memuat catatan tentang ketentuan hukum yang bertalian dengan kasus perka- winan dan pembagian harta wa- risan).
a. Jarak _antara baris pertama dan baris terakhir rata-rata berkisar 17 cm;
b. Keadaan naskah dapat terbaca secara jelas, namun kesulitan sering kali timbul akibat.bentuk aksaranya terhitung cukup tua. Namun pada akhirnya segenap kesulitan dan hambatan dapat diatasi, berkat bantuan pemilik naskah dan informan.

ー 85

にら R

とそーwgThTWTEんととょら

に

NNN2MXA inuvXANnixroevn

のっ~っう~うのふんっらっへ

NEらXとベ

∞ 2 入3J 一 xXx 1713 234n6

Ts

っとらーそーーとーーとこ8そんにらしんんに

の

Rーとと