Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan
SERAT DEWI MALEKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian
Kebudayaan Nusantara 1992-1993
Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan
SERAT DEWI MALEKA
Tim Peneliti/Penulis Prof. Dr. S. Budhisantoso : Konsultan Dra. Tuti Munawar Penulis
Editor Drs. Zulyani Hidayah
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudyaan Nusantara Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Jakarta, 1992/1993
JENDERAL KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengem bangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala pandangan stereotif. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sum- bangannya dalam pem binaan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengertian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul "Serat Dewi Maleka ". Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini, maka penggali- an nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkatkan se- hingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.
iii
disadari
| Namun demikian | perlu | bahwa | bu ku-buku | hasil pe | |
|---|---|---|---|---|---|
| nerbitan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara | |||||
| ini baru merupakan langkah awal, dan ada kemungkinan masih ter | |||||
| dapat sempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan pengungkapannya. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mem bantu pener bitan buku ini. | kelemahan dan | kekurangan. | Diharapkan hal ini dapat di Jakarta, Direktur Jenderal Kebudayaan | Nopem ber | 1992 |
Drs. GBPH. Poeger NIP. 130 204 562
iv
KATA PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian clan Pengkajian Kebudayaan Nusan tara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah daerah Jawa berhuruf pegon yang berjudul Seral Dewi Maleka isinya tentang Ajaran Moral dan Keagamaan, juga merupakan Roman masa lampau de.ngan sakahutama seorang raja wanita
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai pendidikan dan agama yang merupakan pengendali dalam me nyaring masuknya unsur-unsur asing yang tidak sesuai dengan keperbadian bangsa yang dapat menunjang pem bangunan, baik fisik maupun spirituil. ·
Kami menyadari bah wa buku ini masih mempunyai kelemah han-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, se mua saran untuk perbaikan yang disampaikan aan kami terima dengan senang hati.
Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.
v
~b{ ~~~intosih NIP. 130 358 048
Sam bu tan.. ...... .....................-....... •.. iii
Kata Pengantar.................................... v
Daftar Isi vii
BA B Pendahuluan ..... ........................
l. l. Latar Belakang dan Masalah ........... l
l. 2. Tujuan Penelitian ................... 4
l. 3. Metode Penelitian ............ ....... 5
I. 4. Deskripsi, Sistem Transliterasi dan lain-
lain .............................. 6
l. 5. Sistimatika Penyajian ................ 10
BA B 2 Alih Aksara dalam alih Bahasa .. .. ........... 11
BAB 3 Analisis Kandungan lsi ..................... l 01
- I. Ringkasan Ceritera.. ... .. .. .. ....... I 01
- Analisis Isi dan Konsep Nilai-Nilai Luhur. 10 7
BAB 4 Kesimpulan dan Saran ... ... ... .......... .. 125
- Analisis Isi dan Konsep Nilai-Nilai Luhur. 10 7
1.1.2. Masalah
Naskah-naskah kuno Nusantara umumnya hanya disimpan, dikoleksikan, dan sebagian telah terawat dengan baik. Namun da- Sebagian besar belum digarap. Adanya khasanah naskah Jawa yang ditulis dengan aksara Arab *(Pegon)* juga belum banyak dikenal. Masyarakat umumnya tidak berminat membaca naskah kuno, lebih-lebih generasi muda. Selain bahasa dan aksaranya susah dibaca karena tidak dikenali, kekunoan materi juga sering menjadi kendala yang tidak kecil. Sebagai salah satu unsur warisan budaya masa lampau, naskah-naskah kuno memuat nilai-nilai budaya za mannya. Di dalamnya terpateri gagasan, pengalaman jiwa pengarang, serta mengandung nilai-nilai luhur yang merupakan amanah dan perlu dilestarikan untuk difahami generasi penerus bangsa. Nilai-nilai luliur yang tersirat dan tersurat dalam naskah-naskah kuno dapat didayagunakan apabila naskah-naskah itu digarap, dibaca, diteliti, ditransliterasi, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan dan disebar-luaskan.1. 2. Tujuan Penlitian
1.2.1. **Tujuan Umum** Penelitian ini bertujuan menyajikan suatu suntingan teks, terjemahan, analisis isi dan mengangkat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan dihasilkannya transliterasi dan terjemahan teks, diharapkan masyarakat luas dapat mengenal dan membaca naskah Dewi Maleka, serta memahami berbagai ajaran yang terkandung di dalamnya. Selain itu, penelitian ini merupakan upaya penggarapan naskah kuno Nusantara, khususnya naskah Jawa beraksara Pegon yang kini merupakan naskah langka. Di samping itu juga terkandung maskud untuk turut memelihara, menyelamatkan, dan meles- tarikan peninggalan kebudayaan Nusantara yang berupa naskah kuno. l..ebih-lebih mengingat, bahwa dalam naskah-naskah kuno banyak terkandung berbagai hal yang kini belum terungkap. Se bagai tam bahan bah an pustaka, hasil peneli tian ini juga bermanfaat sebagai pelengkap koleksi di berbagai perpustakaan yang kini sedang digalakkan. n:iengungkap dan mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno, khusus- nya naskah Dewi Maleka sebagai kesusastraan pesantren yang juga berisi ajaran moral dalam arti luas. Dengan pengkajian dan pengungkapan nilai-nilai budaya ter- sebut diharapkan dapat menumbuhkan minat masyarakat terhadap karya sastra lama, sastra daerah, terutama di kalangan generasi muda. Dalam menghadapi derasnya arus modernisasi dan era globali- sasi yang tidak terelakkan lagi, nilai-nilai lama yang positif justru perlu diperkenalkan dan tetap dipertahankan. Karena ia bisa men- jadi semacam pengendali dalam menyaring masuknya unsur-unsur asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. 1.3. Metode Penelitian Sebagai langkah pertama penelitian ini digunakan metode riset perpustakaan, dengan melakukan penelusuran /pemilihan naskah yang akan digarap, dan penelaahan literatur. Dalam penelitian ini disajikan suntingan teks/ transliterasi dan terjemahan, dengan obyek penelitian pada naskah Serat Dewi Maleka koleksi Perpustakaan Nasional RI yang merupakan naskah tunggal. Karena itu, sebagai dasar transliterasi dipergunakan metode naskah tunggal dalam bentuk edisi standar, yaitu menyajikan naskah dengan mengadakan pem betulan kesalahan dan ketidak- ajegan. Sedang ejaannya disesuaikan dengan ketentuan yang ber- laku sekarang, yaitu *Ejaan Bahasa Jawa Yang Disempurnakan.* Se- lain itu diadakan pembagian kalimat/ kata, digunakan huruf besar, pungtuasi, dan diberi komentar mengenai kesalahan-kesalahan teks (Baroroh, 1985: 69). Selanjutnya digunakan metode deskriptif analitis, dengan men- coba mengungkapkan kandungan isi, dan melakukan pencatatan konsep-konsep ajaran yang terdapat di dalamnya. Ukuran sampul 21 x 16 cm. Teks Dewi Maleka ditulis pada kertas berukuran 21 x 16 cm, dengan kolom tulisan berukuran 14 x 11, 5 cm, yang dikelilingi garis rangkap. Tebal 95 halaman, 6 *pupuh.* Tiap halaman rata- rata terdiri dari 12 baris tulisan, kecuali halaman permulaan dan terakhir. Teks ditulis dengan tinta hitam, menggunakan aksara Pegon, aksara Arab berbahasa Jawa, dalam bentuk tembang *(macapat).* Pada *wadana* naskah ini, halaman 1-2, berilustrasi gambar tumbuh- tumbuhan dan bunga teratai. Pada bagian tepi teks tertulis nomor *pada* (bait) tiairtiap *pupuh.* Setiap nama *pupuh* diapit tanda gambar menyerupai kupu-kupu atau daun, dan setiap *gatra* (baris) menggunakan tanda seperti aksara hamzah (Arab) atau s (Latin) yang dilingkari goresan pensil wama merah. Kertas berwama putih kekuning-kuningan. Namun secara keseluruhan keadaan naskah cukup baik. Naskah ini tidak berangka tahun, tidak ada manggala dan kolo- fon yang menyebut nama penulis/penyalin dan tahun penulisan/ penyalinan. Jenis kertas yang digunakan diduga kertas Eropa, namun tidak ada *chain line* (garis-garis vertikal) dan *laid lines* (garis-garis horizontal pada tiap inci) yang dapat dipakai sebagai tolok ukur perkiraan umur kertas. Dengan demikian sangat sulit untuk menentukan usia naskah. 1.4.2. Sistem Transliterasi, dan lain-lain Sistem Transliterasi Naskah Serat Dewi Maleka yang digarap adalah naskah J awa yang ditulis dengan aksara Arab (Pegon). Agar mudah difahami *U* = B/b (_/ = Sh/sh*U* = N/n *c..:;)* = T/ t.J, = Th/ th *)* = W/ w| c: J /j | Ng /ng | )2J H/ h |
|---|---|---|
| = | ||
| = = | = | = |
| = | = | |
| = |
.) R/ rLYQ/q Ny /ny
J Z/zJ=K /k = Dh / dh
*(_JN* S/s J L / I = G/gCf Sy/sy M/m C/ c
*f* Yokal A/ a = E/e *(pepet)* I/i ~... E/e *( taling)* / U/u /... = O/o Vokal Rangkap dan Konsonan Rangkap Dalam teks Serat Dewi Maleka tidak dijumpai vokal rangkap seperti halnya bunyi au, ai, oi dalam sastra Melayu. Sedang perangkapan vokal atau perangkapan konsonan ditransliterasi sesuai dengan tata bahasa Jawa dan Ej aan Bahasa Jawa Yang Disempur- nakan. Aksara Arab, khususnya aksara Pegon, tidak mengenal konso- Padahal banyak kata-kata bahasa Jawa yang meng- gunakan konsonan rangkap. Dalam mentransliterasi, apabila diper- lukan, digunakan konsonan rangkap sesuai tata bahasa Jawa. Hal ini terutama bertujuan untuk memenuhi *gum ll'ilangan.* ketentuan jumlah suku kata pada tiap-tiap *gatra* atau baris suatu tembang.| Contoh : | pawesteri | atau pawestri |
|---|---|---|
| kerama mubeyar mering | atau krama atau mubyar atau mring | |
| Ta sydid ( | . ) ditransliterasikan dengan konsonan rangkap. | |
| Contoh : | Allah \ h. 27| |
| sajroning ngayat — sajroning ayat \h.15| | |
|---|---|
| sareng ngumure | sareng umure \h.22</td> |
| yen nora | yen ora\h.43</td> |
I .... / = sebaiknya dihilangkan
\ .... \ = halaman naskah; untuk mempermudah pengecek- an.Sistem Terjemahan clan lain-lain
Mengingat tidak semua pembaca dapat menguasai bahasa Jawa dengan baik, maka seluruh teks perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam menterjemahkan teks digunakan sis tern terjemahan be bas, namun tidak menyim pang dari isi teks. Walaupun demikian sedapat mungkin diusahakan untuk menterjemahkan kata demi kata, selama hal ini tidak merusak makna kata itu sendiri. Dalam penyusunan ringkasan ceritera dianut sistem berdasar- kan *pupuh.* Diawali dengan nomor *pupuh* (dengan angka Roma- wi), dan nama *pupuh.* Walaupun dalam naskah hanya dinyatakan dengan *ssasmitaning tembang* yang terdapat pada akhir *gatra* *pupuh* sebelurnnya. Contoh : *pungkuran* \ h.10 \ = Pangkur *madu gendhis\h.23* \ = Ohan dhanggula *seri nata* \h.39 \ = Sinom Selanjutnya dicantumkan jumlah *pada/bait* tiap *pupuh,* dan nomor halaman naskah (dengan angka Arab). Selain itu disertakan pula kutipan teks naskah yang diambil dari 1arik pertama bait pertama dan 1arik terakhir bait erakhir tia~tiap *pupuh.* Untuk mempermudah pencarian data dalam teks, baik transliterasi maupun terjemahan, maka pada setiap akhir suatu konsep dalam analisa disertakan nomer *pupuh* (dengan angka Romawi), dan nomer *pada* (dengan angka Arab). Contoh : (Pupuh Ill, 6) (Pupuh II, *5-*7) Sistimatika Penyajian Penyajian penelitian ini diawali dengan bab pendahuluan yang berisi latar belakang dan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, deskripsi, sistern transliterasi dan lain-lain, serta sistirna- tika penyajian. Bab kedua khusus berisi a1ih aksara atau transliterasi teks (lengkap ). Bab ketiga merupakan terjemahan atau a1ih bahasa, dari bahasa Jawa ke dalarn bahasa hidonesia Bab keernpat adalah analisis kandungan isi yang rneliputi ringkasan ceritera, analisis isi dan konsep nilai-nilai luhur. Bab kelirna memuat kesim- pulan dan saran.AK.SARA DAN ALIH BAHASA
ALlli AKSARA
A. Asmarandana I. Ingkang pinurwa ing kawi, nalendra Ngerum negara, bisikani- ra sang katong, Maharaja Saringalarn, darbe putra satunggal, pawestri ayu pinunjul, kaloka manca negara 2. Dewi Maleka nameki, wong ayu madya utarna, awas (sa) barang karyane, atetep ngibadahira, sabar kalih wicaksana, abangkit ing barang ngilmu, usul suluk Jawa Arab. 3. Kawiryan wibawa mukti, sasedane ingkang rarna, sangsaya wuwuh baktine, wong ayu tanpa tandinga, respati yen ngan- dika, piniharsa manis arum, kadi ngilapena jiwa. 4. Pinunjul sekeh pawestri, pilih-pilih kang madhaha, cacade estri lungguhe, emane tan (pa) periya, sektine meh obra, sujana ing barang kewuh, jetmika alus pesaja. *5.* Tan arasa \ h. 2 \ apalakrami, meksih arnomong sarira, dereng tutuk sasejane, sakeh nata tinampikan, tan arsa dipun lamar, yen sampun tumekeng kayun, nadyan kere dadi krarna 6. Sasedane sang aji, kang putri gantine nata, sajenenge sang lir sinom, luwih saking ramanira, jenengak:en agarna, akarya ngasal lumintu, abyek adil palamarta. 7. Kasusra yen ratu luwih, sang nata Ngerum negara, yen ratu -<- Ngandika sang nata dewi, dhateng Patih Mangkupraja, manira arsa atakon,_ duk jumeneng kanjeng rama, paran ngiimunika, manira pan arsa weruh, yen sah arsa sang geya. I l. Yen si ngilmu tanpa dalil, manira tan arsa mimba, Iah bapa tanbuh rasane, ki patih Iah awot sekar, pukuiun nuwun duka, suwargi kanjeng perabu, sami Ian ngilmu panduka.
- Sukur sewu bapa patih, yen mufapat ngiimunira, menek salisir ngilmune, manira arsa tatanya, maring sira pateya, Ian sakehe mantriningsun, manira pan duwe soal.
- Sapa jawab soal mami, kathahe satus perkara, Iah den jawab kabeh, sewabaranin~un \ h.4 \ patya, negara Ngerum kasra- ha, Ian sejroning periyeku, isun nyethi amawongan.
- Sewabaraningsun patih, lamun tan ana kang jawab, pasti sun tugeI gulune, nulya sira undhangana, sakeke wong negara, ketib modin Ian pangulu, Iawan marbote pisan. I 5. Ki patih wirang kepati, mering wau amiarsa, timbalanira sang katong, Ian para mantri sedaya, angenes ing pangulate, sinawang cahyane biru, tan ana purun ngucapa.
- Ki patih sigra nglekasi, ing sewabaraning nata, sing sapa jawab soale, ing soal satus perkara, pasthi jumeneng nata, amangku ing negara Ngrun, sarta /a/krama ratu emas.
- Sapa wonge ingkang bangkit, anjawab soaling sang nata, sanadyan kisih kekere, wong fakir ngarif kasihan, sakehe wadyabala, pan sami konjem tumungkul, tan ana wani jawa- ba.
- Mas bagus miharsa warti, ing sewabarane nata, ing Ngerun mangke prajane, tumulya akeh melana, amelas asih lampah- nya, lumampah ing siang dalu, nora lali solatira. 3 1. Kawan dinten kawan latri, kawamaha lampahira, wus prapta Ngerum negarane, majeng datan penikelan, nuju (lagya) pepakan, andhe:r aneng tarub agung, Kyai Patih Mangku- praja.
- Nuiya wau kinen linggih, ki patih aion wecana, dhateng Ki Bagus Ngalime, ing pundi ingkang pinangka, miwah ingkang sinedya, Ian sinten sinambatingrum, umatur bagus kasiyan.
- Awasta \ h.8 \ pun NgabduI Ngalim, tetiyang saking Turkus- tam, ing Mesir mangke jajare, inggih kang kawula sedya, anglabeti sewabara, umarak dhateng sang pra bu, wanodya Ngerum negara.
- Milanipun ajeng panggih, Ian amba arsa miharsa, ing soalira sang katong, menawa amba kaduga, jawab soaiira sang nata, yen tan jawab soalipun, pinejahan Iangkung karsa. 3 5. Yen kejawab soaI aji, punapa jangji sang nata, ki patih ngeres manahe, seksana malebeng pura, matur dhateng sang nata, ingawe dhateng sang prabu, patih majeng a wot sekar.
- Patikbra anuwun runtik, ing jawi wonten dhatengan, Turkes- tam anggane, NgabduI Ngalim narnanira, sri padhita utama, tinggal kawula pukuiun, Ian sing ajawab ing so aI. 3 7. Fakir sampun den timbali, wus prapti ngarsa sang nata, ngandika wau sang katong, Iamun sira nora jawab, soal satus perkara, \ h.9 \ sayekti weias katengsun, aningali maring sira.
- Tan wande sira ngemasi, ingkang aneng Ngerum negara,
| 40. | Sampun karsane Hyang Widi, temahan purun kawuia, umarah | |
|---|---|---|
| dhateng panduka, kados pundi ta sang prabu, saking cupet kang manah. | sang katong, | |
| 4 I. | Sang nata melas ningali, saature fakir ika, binoja krama ta mangk e, panas Ian satu arum, cengkuweh Ian gendhis sela. | sesuguh awama-warna, akathah dhadhaharan, her |
| 42. | Kalawa kalawan roti, sumaji mungge ng ngarsa, ki patih ika \ h. l 0 \ rowange, para nyai kawandasa, rinengga ing busana, kinen angala den tamu, semune ingkang angga wanda truna. | |
| 43. | Para tumon wong mangkene, muga pinaringna ingwang, baguse sawetara, jetmika aluse semu, gulu midang makam dawa. | nyai kawandesi, samya mangke gugu nemen, durung |
| 44. | Kang sawiji anahuri, duwea laki mangkana, kawula ngedan anglam ong, sa wiji nulya (a)ngucap, duwea laki mangkana. kawula sun sembah setahun, tingjerebles sing ngabegja. | |
| 45. | Ana sa wiji pra nyai, golongku ming lir wong edan, tan betah ngampet ngucap. keparat kepruken ngalu, sereden maring pungkuran. | karsane, sekula arsa |
| B. | Pupuh Pa ngkur |
menawa sagah kawula, jawab soal
ngerangkul, ki patih nulya
I. Sang nata dewi ngandika, ing wardaya semune wong puniki. kaya trahe wong lumuhung, nyamur ing lampahira, sun de du- ga wetara ing samunipun, kaya \ h.11 \ nora pantes uga. yen trahe wong bedak iki. Sang nata malih ngandika, soalingsun !ah jawaben den gelis. sa tus perkara ta iku, perincinen sewang-sewang, yen kajawa b Umatur fakir kasiyan, ngilminipun mufaka t sa ng aji. yen karsa kajeng sa ng prabu, panduka lafatna. *kul/11 syaiin halikul* *ilia wajahahu,* sakehe suwiji-wiji rusak, nangi ng Allah nora gingsir.- Ngabdul Ngalim tinakonan, dene sang nata ing Ngerum sang pra bu estri, eh fakir apa rumuhun, dinadekaken pangeran, fa kir matur kalawan murade huruf puniku. lafat k un fayakun ugi.
- Sang nata m·alih ngandika, saking ngendi angsalira Dul Ngalim, ingkang tinakonan matur, saking labete bapa, duk tu- metes dumunung aneng ing banyu, mesem sang prabu wano- dya, ana kerasa \ h. 12 \ ing ati.
- Lah endi dalile uga, yen tan patut Ian dalil isun tan apti, akeh ngilmu tanpa guru, taklid ngilmuning syaitan, lamun jawab soalingsun ingkang satus, lah ta sira jawab fataku(na) nafsan puniki.
- Ngabdul Ngalim aturira, y akhruju min bainis shulbi wa tta- raib. atakon malih sang prabu, maring ngendi lunganira, fakir matur lagana pan tegesipun, marga lama tanpa wadon, sang nata atakon malih.
- Angendi panggonanira, ingkang nyata Ngabdul Ngalim anahuri, inggih am ba ing kubur, tegese malih sang nata, apa kang danadekaken karuhun, besuk Ngabdul Ngalim aturira, kholaqnaahu minannari.
- Kang aran semu jalnira, Ian jalira akarep saking nyaman, iya iku trigelu abutut, kadi ula sawiji, lir kalajengking buntu- tupun, malih ataken sang nata, akarep apa kang dadi. I 0. Ngabdul Ngalim aturira, \ h.13 \ saking iblis sang nata atakon malih, apa ika nora weruh, ing karya pisan-pisan, panggawe- ne amangan kalawan kinum, fakir matur jungkat, Nabi Musa kang linuwih.
l l. Ataken malih sang nata, fakir pira kehe ingkang nora maregi,
Ya nitis tanpa biyang, Nabi Ngisa tanpa un~ atakon malih sang prabu, apa igkang papangan, nora metu ing dunya puniku, lan ora saking akhirat, syeh fekir am atur arsi.
- lnggih punika ingundhngan, Nbi Ngisa pinaido ing wong kafir, mukjizat pangane agung, ayat anzil ngalaina, maidatan minassama 'i puniku, ataken malih sang nata, dhateng Ki Ngabdul Ngalim.
- Eh fekir pirang perkara, ingkang loro-loro puniku singgih, Ki Ngabdul Ngalim umatur, inggih sawelas perkara, rina wengi estri kelawan kakung, suwarga lawan \ h. 14 \ neraka, wong islam lawan wong kafir.
- Segara lawan dharatan, pati urip ngaras kalawan kursi, luh kelawan kalam iku, birahi lawan ngakad, sampun jangkep sawelas sang ayu amuwus, apa kang saking lemah, ingkang saking langit endi.
- Ature fakir ing nata, inggih punika sholate wong mukmin, ataken malih sang prabu, kang luwih pelak ngamal kita, li- nampahan ta puniku, angling fakir atine manusa, sang nata a taken malih. I 7. Kang laut apa arannya, Ngabdul Ngalim ature amelas asih, pan saking Bagendha Enuh, dhatenge angin taufan, tinging fakir saking suwarga asalipun, sang nata mangke ngandika, sarwi a takon malih.
- Endilah dalile uga, fakir matur minalaili bi lil jannati, ataken malih sang prabu, dhteng fakir matur kasiyan, saking pundi amale kuda punika, ingkang fakir saking suwarga, saksana ataken malih.
- Lah endi dalile uga, fakir matur \ h. 15 \ wal jaili minal jan - nati, ngandika sarining ayu, endi asale menda, fakir matur suwarga asale wedhus, sajroning ayat nganam minal jannati.
- Sang nata malih ngandika, saking endi asale kang turanggi,
atannya malih.
2 1. Apa ingkang lunga teka, rina kelawan wengi, atannya malih sang prabu, ana kayu satunggal, anduweni kalih welas epangi- pun, epange ingkang satunggal, godhongipun tigangdesi.
- Godhonge sami sisih pethak, miwah ireng bagus santri ana- huri, ingkang aran kayu iku, semunipun pamulannya, kalih welas godhong dina tigang puluh, sisihan ireng lan pethak, punika rina lan wengi.
- Sang nata dewi ngandika, apa anak dinadekaken karihin, Ki NgabduI Ngalim umatur, putrane Nabi Adam, ingkang aran Kabil \ h. I 6 \ puniku, sang nata malih ngandika, ataken dhateng Ki NgabduI Ngaiim.
- Pira kehe ingkang kitab, kang tinurunaken lawan endi, kitab masyhur kartg mansuh, kitabira satus papat kathahipun, kang satus mansuh sedaya, sakawan masyhur puniki.
- Kitab Tauret Nabi Musa, Nabi Ngisa katurunan kitab Injil, Zabur maring Nabi Dawud, Furqon Nabi Muhammad, tinging nata pira nabi kathahipun, Ian pira nabi utusan, kang syarengat pira nabi.
- Kang syarengat tanpa kitab, ingkang kitab syarengate tan mawi, ingkang syarengat puniki, nora kaiawan kitab, fekir matur kathehe nabi puniki, pan sakethi kalih Iaksa, kawan ewu kahe na bi.
- Lan kehe nabi utusan, tigang atus tiga welas puniki, kang darbe syarengat iku, mapan nenem kathahnya, wastanira Nbi Adam Nabi Enuh, Ibrahim Musa Ian Ngisa, Nabi Muhammad sinelir.
- Kang kitab tanpa syarengat, pan titiga kang parab \ h. I 7 \ Esis, seket kehe kitabipun, Idris pan tigang dasa, Nabi Dawud katurunan kitab Zabur, kang syarengat tanpa kitab, amung Nabi Enuh puniki.
Kang syarengat mawi kitab, Ielima Nabi Adam linuwih,
Nabi Muhammad satunggal, nama Qur'an dene kang aran nabi, sabab anampani wahyu, salebeting supena, ingaranan nabi utusan puniku, sabab nemu sih pangeran, alantaran Jabarail. 31. Ngabdul Ngalim sampun lama, aneng pura sinengker maring sang dewi, dene soal dereng putus, kajawaban sedaya, Ngabdul Ngalim kyai patih kanthinipun, Ian ketib modin sedaya, mondhok aneng masjid alit. 3 2. Pinanjang panggonanira, estri tinon kumendhung-mendhung rawit, anglir kadya wong mematu, kang \ h. 18 \ wong angreksa iku, tuwa anom gedhe cilik saheya tumut, abungah manahe suka, rerebutan angladeni.
- Kalangkung sinuba-suba, aseluran para nyai anggili, angladosi kotang tamu, pan sami katuwukan, ketib modin karkate sami kongsi amikul, dhasar sang putri alamar, Ian ana semu- ning galih.
- Paringan saking jro pura, sekelangkung khurmat sang aji, bura t kuning burat biru, burat jenar kupu-kupu, pan her mawar kang kinarya toyanipun, kasturi dhedhes cenchana, campur bawur sekar adi.
Sinalinan sedaya, kang rumeksi mring Ki Ngabdul Ngalim, pinaringan ki pangulu, kuluk kulambi dhesthar, ketib modin pasholatan kalawan kuluk, pra samya bungah sedaya, ketib modin Ian priyayi. 3 6. Ngabdul Ngalim pinaringan, pinantes busana miwah adi, wong bagus asalin kampuh, saya imbuh angera arsa, \ h. 19 \ wus sembada jumenenga Ratu Ngerum, semune anak meng driya, bay a iku gusti mami. 3 7. Tan wande rejuwita, kemengena gegese ingkang galih, dene kang wong samya kakung, kasmaran pangulatan, estri malih mangsa tinora wuyung, kaselak sang nata medal, bubar wong neng jero masjid.
Pinarak aneng kanthil denta, pan ingayap ing sakehe pawes- tri, ki patih acaos sampun, angiring wadyanira, priyayi caos roaring sang prabu, kantun Ngabdul Ngalim dhewek, ngandika sang nata dewi.
- Sang nata alon ngandika, eh fakir aja ta sira mulih, yen du- rung soal puniku, kajawab sedaya, nora kena sira fekir man- tuk, yen lestari soal ingwang, sakersane sun turuti.
- Sang nata malih atannya, pira kehe nabi jumeneng aji, Ki Ng;ibdul Ngalim umatur, kehe sangang perkara, ingkang nama nabi sholeh \ h. 20 \ Na bi Hud, kelawan Bagindha Iskhak, Bagindha Yusuf nerpati.
- Lan Nabi Dawud Suleman, nabi kita Muhammad kang sine- lir, ataken malih sang prabu, lah sapa ratu ika, kang gadhe kang kathah balanipun, fakir matur pan ketiga, Jeng Nabi Yusuf nerpati. 4 2. Kalih Bagendha Suleman, katigane Ngabdul Kurnen nerpati, ngandika malih sang prabu, sapa ratu kafir ika, ingkang gedhe linging fekir inggih tetalu, Firngon Namrud Ian Sadah, sang raja andangu malih.
- Apa lawane suwarga, pira kehe Ngabdul Ngalim anahuri, pepitu suwarga luhung, namane lawang ika, darussalam ngandika malih sang prabu, pira kthahe naraka, fakir matur malas asih.
- Pitu kathahe aran ngandika, kapindhone aran welilazha sangir ping tinganipun, sangir ping sekawan, nama jakhim kaping limane puniku, suji kaping nem punika, ping pitu jahanam puniki.
- \ h.21 \ Sang nata malih atannya, eh ki fakir apa aran sawiji, fakir kasiyan umatur, punika wujudllah, nateng Ngerum malih pamuwuse arum, awit jisim patang perkara, lah ika arane ugi.
- Fakir ngarif aturira, kang sekawan arane singgih, geni angin lemah banyu, sang nata angandika, ana dalapan lelima kathahe puniku, Syeh Ngarif atur wecana, inggih lima ingkang margi.
ugi, lelima pan we ktu nipun. ataken malih sang nata, marga roro kasih epang tetelu. sawiji nenem epangira, Ngabdul Ngalim ma tur arsi.
4 9. Kang wolu pikukuh iman, ingkang nene m punika rukune singgih, ngandika malih sa ng prabu, kang pitu- puti a pa. linging \ h. 22 \ fakir bu mi langit pi tu-pi tu, neraka sap ta punika, suwarga pepitu singgih.
- Sa ng na ta malih atannya, gawe siji pan padha Ian sede si, Ngabdul Ngalim mangke matur, inggih punika ngamal, (kang) satunggil winales ing Hyang sapuluh, atannya malih sang nata. pira na bi kang m aksih urip. 5 1. Kang tinakenan aturira, pan sakawan nabi kang maksih urip, Nabi ldris m aksi h wujud, Ngisa Ian Na bi Ilyas, Nabi Khi dir puniku maksih ngumur, pan sereng umure dunya, sang prabu ata nnya malih. 5 2. Endi enggone nabi sakawan, fakir ma tur ingkang kalih wonten ing langit, tunggal Ian malaikat iku, Nabi Idris Ian Ngisa, nabi kalih kang wonten ing bumi iku, a wasta Bagendha Uy as, kelawan Bagendha Khidlir.
- Khidlir mider ing segara, nabi Ilyas, dhara tan den ideri, dene nabi iku, kang a neng ing dale m suwarga, Nabi Ngisa aneng langit kaping pat iku, sa ng \ h. 23, na ta a Ion ngandika, sa b- dane lir madu gendhis.
C. Dhandhanggula - Lawan pira manusa puniki, kang binendon dening pangeran, ingowahaken rupane, kang dadi hewan iku, aneng dunya fekir nahhuri, kehe sedasa perkara, sang nata amuwus, lal1
1Kinapakaken wong iku puniki, awan guntur malih wong kamasan, goroh ika asale, bine ndon ing Hyang Agung, dadi paksi kalong puniki, kelawan wonten wanudya, tuhu kang balil u, asuci nora bisa ajina bat, hedl nifas wiladah ngipi, rinupakaken ing pangeran.
- Lawan waten sawiji wong BabiL niyup geni ing tekanira. Raja Namnid pangabonge, segot pakartinipun, duk binesmi Nabi Ibrahim, kang niy up geni ika, dinukan Hyang Agung. rinupakaken Iuba-l uba, kaping lima waten utang anilih, ing zaman Nabi Adam.
- \ h. 24 \ Penahure maha den kurangi, pan binendon dening Nabi Adam, pan dadi babi rupene, lawan wong ado! tuku, peni (m )bange dipun kurangi, dinadekaken bahak, ika malih puniku, haking wong den ilang-ilang, kang maha rinupakaken wong puniki, dadi upas barongan.
- Waten malih wong ngungaungai, menek kayu bungah duk tumingal, Ibra him du k pangobo nge. rinupakaken wong iku, dadi ukab-ukab Ian mallih, kapertesan biyang, kalane puniku, m apan lagi sembahyang. anak teka gumuyu ngege t- egeti, binendon ing pangeran.
- Dinadekake n wong puniku kucing, angandika sang nata wanodya. apa kang peri amale, Ngabdul Ngalim um atur. amal ipun peripun iki, !ah inggih saking donga kang cahya macur, ninggih mangke malaikat. saking api peri lawan wi- da dari. taken malih sang nata.
- Lah ta fekir ngandi anggone ngusik, anggone \ h. 25 \ ngakal lawan enggone napas, syeh bagus alon ature, birahi enggone jantung, enggone napas beta! makmur. ing utek jatinira, ngandika sa ng prabu. ngendi ati pernahira, fekir matur tanpa dunung enggone ngati, sum ram bah aneng driya.
- Tannya malih wau sri bupati, eh ta fekir pan juga, makjuja. punika apa asale, Ian pira gedhenipun. Ian rupane kadi pu- napa, syeh ngarif umatu rira, ka ng putra Nabi Enuh. kathahe
malih (a) ngandi- ka, sa pa kang akeh syukure, maring pangran kang agung, sapa akeh sebute singgih, umatur bagus kasiyan, inggih Nabi Enuh. kathah syukur ing pangeran, dzikire kathah sebute Hyang Widi, sang nata angandika.
- Nabi sa pa ingkang sabar galih, sapa nabi, h. 26 \ alim pangawikan, sapa kang urip tingale, Syeh Ngarif lawan Nabi Ayub sabar ing galih, kang alim pangawikan, Nabi Khidlir iku, kang arif mungguh pangeran, tuhu Nabi Muhammad sinelir, a tan nya malih sang nata. 11. Lawan pira yuswane jeng nabi, rusulullah aneng dunya. lawan pira martabate, mapekik alon umatur, inggih kang yuswane nabi sinelir, sawidak tigang warsi, Dal tahunipun. ing sasi Rabingulawal, dina Isnen tanggal kalih welas enjing. sinarekaken neng Madinah. I ~ -Kala y uswa ka wan dasa warsi, tinurunan mangke ping sapi- san, J abarail dhawuhe, duk yuswa kalih likur, tinu runan qur'an ta singgih, sajenenge aneng dunya katurunan wahyu, Jabrail ingkang perapti, pan sakethi kalih laksa anuruni, wahyu ing nabi duta. J 3. Dene Nabi Adam kang linewih, wahyuning Hyang ping kalih \ h. 27 \ welas, Na bi Enuh ing jenenge, ka turunan ing wahyu. pan ping seket Nabi Ibrahim, malih pitung dasa, Nabi Musa pa tang puluh, Na bi Ngisa ping sadasa, taken malih seri bupa ti. dhateng fakir kang wignya.
- Suwarane kang sinelir, kaya apa Jibrail iku, tumekeng kiyamat tern be, apa ingkang tumurun. Ngabdul Ngalim lawan nahuri, tumurun ping sadasa sawurine ra sul, dinuta dening pangeran, amemundhut kehe sedaya perkawis, waket dina kiyamat.
- Angandika sang nata amanis, apa ingkang pinundhut ing pangeran. kang tinakenan ature, inggih ingkang pinundhut.
khilawat punika, anges- rahaken jasade, la wan tegese asy hadu, anekseni ing dalem ati, la ilaha illallah la nafi puniku, nafi janis ingkang mada. pange- rane jumeneng akodim, kacagah khuruf la.
- Lan malihe ilaha puniki, anapekaken nafi akirat, ilia matasna walere, illallah isbat iku, pan tatapi pangeran yekti, asinem- bah ing sejagat, maha mulya agung, sang /h.29/ nata malih ngandika, sifat ingkang kalih dasa dipundi, perincine sewang- sewang.
- Linging fekir ature amanis, ingkang dhihin sifat wujud ika, nafsiyah ika wastane, kang pasthi ananipun kaping kalih qidam puniki, dhihin tan kadhihinan, anane Hyang Agung, kaping tiga sifat baqa, tegesipun alanggeng tan kena rusaki, mungguh dzate pangeran.
- Mukhalafatuhu /ii khawaditsi, aperbeda lawan kang anyar, punika uga tegese, ping lima sifat qiyamu, bi nafsihi jumeneng pribadi, ping nem wahdaniyat tegese yaiku, dzat sifat nora lantaran, kaping pat sifat kodrating Hyang Widi, tegese Allah kuwasa.
- Kaping wolu iradat puniki, tegesipun pangeran kang karsa, ping sanga ngilmu sifate, tegese pangeran weruh, ingkang
kang lam but, nora samar pangulatan, pasthi weruh pi tung bumi pitung langit, tan kena ginoro/ h.30 / han.
- Dalilipun ghalamul ghaibi, wasy ahadati tegese punika, weruh ing nora katone, sifat kaping sapuluh, sifat khayot mungguh Hyang Widi, urip tan lawan nyawa, mukhalafa h iku, ping sawelas sifat samang, tegesipun pangeran amiharsa, datan mawi kerana.
- Kaping rolas sifat basar singgih, tegesipun ningali pangeran, dahatan wiyose, mukhal wuta Hyang Agung, tiga welas kalam puniki. tegese angandika, tan suwara tan khuruf, mukhal bisa ing Hyang Sukma, ping pat belas sudira kang kuwasa singgih, mukhal kang apus Hyang Sukma.
25. Ping li mo las muridan puniki, tegesipun pangeran kang karsa, tan mawi angen-angen mangke, mukhal kescreng Hyang Agung, andade kaken kang mumkin, ik u nembelas sifa t ngali111an, tegese we ruh ping pitulas sifat klzayya11 tegesipun, pangeran Ian pasthi kang urip, pan ora nyawa. - Mukhal kang mati anane Hyang Widi, / h. 3 1 I ping wolulas samingan puniki, tegese kang miharsa kabeh sangalas punika, bashira11 ingkang ningali, ora lawan netra mukhal wuta iku, rong puluh mutakaliman. tegesipun kang ngandika tanpa lathi, mukhal kang bisu pangeran.
- Mila wonten sifat kalih desi, ing masyhur wajib angawruhana, ing wo ng ngakil baligh kabeh, estri kalawan kakung, wajib ika padha ngawruhi, sifate Allah sadaya, dene maksih agung, sang nata malih ngandika sifate hyang kang manjing istighna puniki, pira kang manjing iftikar.
- Aturira Ki Mas Ngabdul Ngalim, ingkang manjing istighna sawelas, iftikar sanga kehe, istighna sifat wujud, qidam baqa mukhalafatuhu lil khawaditsi, qiyamu bi nafsihi samang basar kalam ika, samingan basiran iku jangkepipun, mutakalimam puniki, tegese angandika.
- Pan sesanga ifrikar puniki. ll'akhdaniyar kudrat Ian iradar,
khayot Ian malilzat kodiran Ian muridan ika, Ian ngalimam khay yan punika, sampun jangkep sesanga ngandika sang prabu, sifat rongpuluh punika, ingkang manjing khuruf lakadipun, pinten mangke punika.
- Ngabdul Ngalim anahuri, inggih gangsal pan sifat 11a/siy ah. punika wujud tegese, sifat salbiyah punika, pan sakawan ingkang manjing, qidam kalawan baqa, 11111khalafatuh11 lil kha- waditsi iku qiyamu hi nah·i/1i ika, angandika sang nata atakon malih, pin ten kang manjing ilaha. 31. lngkang nenem puniki kang manjing, pan tetelu ma 'ani sifa t kang tetiga. samang basar kala111 mangke, lawan sifat tetelu, mangnawiyah ingkang manjing. samingan basiran ika mutaka- liman ika, pan sampun jangkep punika, atakon malih sang nata alon amanis. maring santri kang wignya. 3 2. Pin ten sifat kang manjing ilia ika, mung satunggal sifa t wahdani_mlz. esa dzat esa sifate, ataken / h.33 / malih sang prabu, ingkang manjing illallah puniki, sakawan puniki sifat ko drat Ian iradat. ngilmu kyay)"(111 mangnawiyah ingkang manjing, maring illallah.
- Pan kelawan punika kang manjing, sifating kadiran muridan, kang kuwasa karsa mangkah. khayyan 11ga!i111an ika. ing sal- bivah iku sawiji, wahdaniy ah punika, esa dzat sifatipun, tan khuruf nora rowangan nora susun balung susum ge tih daging singgih, sifat nora wilangan.
- Angandika sang nata amanis, atine mukmin umahing Allah, punika apa tegese, Nga bdul Ngalim umatur, inggih punika ujaring khaditz, pangandikane sukma sun dadekaken ika, anak putune Adam kang malige sun, aras dadane ika, sajerone dada nala.
- Jroning ati fuoda nameki, jrone fuod jinem aranira, jroning jinem iku tibenge, jrone tibeng puniku, ingaranan punika ka pti, sajrone kapti punika rasa kaptinipun, / h.3 4 / sajrone rasa punika, tan aliyan yen anaha malih, anging isun kang ana.
Prabu estri a Ion atakon malih, mangke A llah ing jerone asya, Ian kaya paran tegese, Ngabdul Ngalim umatur, maha suci Allah kang akadim, nora zaman nora makam, tan ngisor tan Julrnr, tan kalebu tan kejaba, nora pisah nora awor sakeh ing-kang duma di. sang nata gawok ing driya.
3 7. Nora kena manusa akibir. majanani ing pada rnanusa, yen waged a pa cacade, pangcran kang maha agung, akuwasa daling dasih. sang nata sru tobat, .ngujub riyanipun, wong riya antuk duraka. tembe m ati bisuk aneng nyarnani. apa mung- gah suwarga.
- Ni mas putri sangsa ya gumati. sampunira kesa put ing driya, sangsaya geges galihe, sang Jewi nulya ngadhaton. Jajcng sare nungkemi guling, saking trahe kesuma, pepelinge guru, bra(ng) ta nora / h.3 5/ ketara, m ung scmune ariyemyem ga- dhuhan kingkin, tindak tanduking karya.
- G urunipun ni mas prabu estri, aneng ngarga asru tapanira, awater terus tingale, wenll1 dereng tinutur, ge ne bukti rahina wengi, dhahar suruping ngarga, pisa ng se kulipun, sampun pirsa yen sang nata. darbe tarnu abangkit, bagus wijiling tapa.
- Sun dongakken anak prabu estri, atulusa dadi kramanira, aja akeh-akeh cobane, kocapa raden ayu. animbali dhateng kyai patih, den padha rumaksaha, maring tamuningsun, sa ndika ature ki patya, pan sedaya pra mantri lelurah sami. angestokaken tim balane nata. 41. Amiyos sang perabu esteri, neng pendhapa ingiring pawong- an, asri tinon ing warnane, rimongnya cindhe wungu, tinretes ing toya mas adi, sinjang geringsing mubyar, apinjung sutra Ja ·.vas, saya imbuh raga / h.36/ krana, wewangunan angelir golek adi. sumber kang giwangkara.
42. Pineremas duduk inten wilis, rema Jemes ketel ngandhan- andhan, amemak angrawit sinome, sengkang bapang rnancur, wus anglaras lir widadari, se rnu anerenggilang, manis yen di- nulu, k uninge asor perada, kaduk luwes jetmika alus ing budi, sa ndyah alo n ngandika.
4 3 Pan sabda sang perabu esteri, angelir widadari suwarga, ki- nahot manca warnane, eserne lir kilat abrung, gebyar-gebyar lir daru ngalih, sumawut cahya padhang, pan gurune ngayu, pilih ingkang madhaha, 111 ung cacade eserne kinarya sandi, akeh santri kedanan. 4-t Kyana patih umarak nging gusti, (para) rnanteri lelurah sedaya, andher neng taru b agunge, angandika sang pra bu, endi patih tetamu mami, kyai patih geruwalan nimbali sang bagus, anak /h.37/ mas jengandika, den tirnbali dhumateng sang prabu estri, nulya prapteng ing ngarsa.
4 ~ Angandika sang prabu esteri, pira kehe pekarernan ika, inggih tetiga wiyose, nabi kerem ing dzat iku, kaping kalih pera wali, mapan kerem ing sifat, ping tiganipun, wong mukmin kerem ing af ngal, angandika wau ta sang prabu estri, pira kehe kang iman.
4 r.:i Bagus fekir matur tegiga singgih, dhihin ma'sum wastane ika, imane kang nabi kabeh, ping kalih iman matzbung, imane malaikat singgih, iman kang kaping tiga, iman makbul pu- niku, imane mukmin sedaya, sampung jangkep punika tetiga singgih, ratu mas atur kawula. 4 -Angandika sang prabu esteri, fekir apa sirahe kang iman, Ian iman apa atine, Ian apa badanipun, lawan apa cahyane singgih, Ian pepetenge / h.38/ iman apa, Ian mamanisipun, Ian apa thukuling iman, !ah ta paran khitmating iman puniki, Ian syarengating iman.
4 5 La wan wijining (iman) punapi, law an apa oyoding kang iman, iman apa umahe, Ian apa godhongipun, Ian kulite iman punapi, paran arannya iman, jawaben sedarum, Ian apa gawe- ne iman, Ngabdul Ngalim ature amelas asih, sarwi ajawab soal.
4 9. Fekir matur maring prabu estri, dene wahu sirahe kang iman, .a zlaha illallah mangke, muhammadar rasulullah ika, ingkang ati punika singgih, inggih amaca qur'an, iman padanipun akeh-akeh dzikir. cahyanipun iman bener ingkang ati, ashidik / ing/ pangucapira.
- Manisipun ka ng iman punika, tuhu asuci tegese, thukule iman ika, za kat fitrah kang den lampahi khik mate iman punika, wedi ing / h. 39/ Hyang Agung tegese wedi punika, anglam- pahi fardlu la wan wajib, kang su nat linampahan. 51. Sarengate ingkang iman singgih, angalalaken reke ingkang kha lal. kang kharam kinaramake. wijining iman ngilmu. umahe iman punika bekti, godhonge iman punika, madhe p maring Hyang Agung. kulite kang iman wirang, ing pangeran ingkang maha suci, uteke iman donga. 5 :2. Oyoclipun kang iman puniki, ikhlas manah muhung maring Allah. ka ng iman reke umahe, a tine mukmin ika, sembahyang su nat puniki, nyawane iku hidayat Hyang Ag ung, sa mpun kajawa b sedaya, anga ndika wau sang prabu esteri, sarwi ngu- sap sri na t a.
D. Sinom
I. Sang na ta dewi ngandika. endi tasik tanpa tepi, tinga lipun wong ma'rifat, sa ng nata atakon m alih. papan tan mawi tulis, sa mi uga ta sang prabu, tinga le wong / h. 40 / sujana, sa te nga he para wali, linging nata tunjung kang tan mawi toya. ") Umatur fekir kasiyan, semunipun eroh idhofi. sang prabu geya ngandika, pan damar rnurub tanpa geni, tan mawi li sah ugi, iya nora lawan sumbu, Ngabdul Ngalirn turira. surnbune dzating Hyang Widi, rnutlak miwah kang tan kena kawo- woran.
3. Sang nata malih atannya, dhahon ijo tanpa warsi, bagus fekir aturira, sampune arupa jalmi, urnis
3. Sang nata m alih atannya, dha hon ijo tanpa warsi, bagus fekir aturira. sam pune arupa jalmi, uripe kang sajati, angling malih ta sang prabu, pundi rnangke tenunan, se ntek pisan anigasi, c ucul ta mpar sampurna p en igasira.
4. Syeh bagus atur wacana, tingale ka ng sarnpun jati, anungga la- ken ing karsa, sa ng nata atannya rn alih, tanggal pisan kang
purnami, abunder ing sasinipun, sareng lawan grahana, Ngab-
dul Ngalim anahuri, akeh dumadi ing mangke kang kadi kuna.
- Ngandika kusuma rara, / h. 41 / apa aran ngarasy kursyi, Ngabdul Ngalim aturira. pangayunipun kang surgi, malaikat kang rumeksa sa mi. ananarik surya iki, agenge mangke kang surya, tigangatus dina iki, Ian sawidak dunya m engke kang surya.
- Enggone langit kaping pat, ingemot pedhati, kupinge padhati ik a, tigangatus kehe singgih, Ian sawidak kehe kuping, siji-siji dhadhanipun, tigangatus Ian sawidak, sadhadhane kang ana- rik. kathahipun tigangatus malaikat.
- Punjul sawidak punika, malaikat ingkang narik, yen kala surya grahana, kale bu ing bahrut nini, ing langit kaping pat singgih, se da yane lam aikat iku, agung kaplered enggone lu- mampuh, katungkul awas ningali, ingkang wong duraka ing Allah aneng dunya.
- Sarta nedhaken apura. wela~ malaikat ningali, durakane wong / h. 42 / punika, padatan emut Hyang Widi, welas temen su n iki, temah manira katungkul. welas tinga li sira, sa bab kadu- kan tan singgih, milanipun kajub aneng sagera edat ika.
- Tinarik pedhati ika, lumer kadi kalebu bumi, khakekate kang ye kti ika, sumurup dhateng maninggil, seba maring pangeran, kalanipun mendhuwur, tengah wengi ika, asru sujud dhuma-teng kang maha suci, agengipun ing mangke ingkang wulan. I 0. Sawidak dunya punika, n ggene langit kapisan singgih. tan arsa sujud ika, sulaya maring Hyang Widi, mung sapisan semadi, tetkala purnan1a sujud, mila cela cinela, bisa ge dhe bisa cilik, tegesipun binendon dhateng pengeran. I I. Satengah khadis tafsir ika, milanipun ingkang sasi, bisa cilik ge dhe ika, weruh yeng m eteng kang rabi, umure jagung pari, weruh tuwa enomipun. / h. 43/ yen ora mangkanaha. tan we ruh wewilangan singgi h, inggih punika se mune kodrat iradat.
- Sang nata dewi ngandika, dhuma teng Ki Ngabdul Ngalim.
Saptu, kelawan dina Akhad, Ian Isnen dina kang nami, Jan milane ana kang dina Salasa. I 3. Lan Re ba narnaning dina, mas pekik alon nahuri, dina Ju- mu'ah punika, angezhohirken Hyang Widi, ing Nabi Adam dhihin, duk semana zhohiripun, Jestari Ja wan Hawa, tan kena pisah sadimi, dina Saptu zhohire Jara ka penak.
J 4. Dene mangke dina Ahad, akarsanipun Hyang Widi, ngezhohiraken becik Ian ala, ing dina Isnen puniki, ngezhohiraken Hyang Widi, iya maring Kanjeng Rasul, ing dina Salasa ika, andade kaken iman taukhid, makrifat kelawan islam.
I 5. In g dina Re bo kang nama, karsanipun ing Hyang Widi, turuni- pun / h. 44/ kang syarengat, tarekat khakekat singgih, milane dina Kamis, turuna kang limang wektu, sa mpun jangkep sa ng nata, sang nata prabu atanya malil1, endi tasik kang tan mawi dharatan.
I 6. Ngabdul Ngalim aturira, tasik ingkang tan pa tepi, tingalipun wong makrifat, taken malih sang nerpati, papan tan mawi tulis, sami uga ta sang pra bu, tingalipun wong sujana, satenga- he para wali, sekar tunjung kang tanpa toya. I 7. Sang nata ayu ngandika, amesem atukup Iathi, eseme wraga kerana, sapolahe aweh brangti, ngicang alis angeliring, Ki Ngabdul Ngalim tumungkul, salih pinj ung sang retna, jingga pineremas adi. amatesi yen amucang masaa n. I 8. Lancang pangidon neng ngarsa, sedaya cethi neng ngarsi, manggung her panas ngarsa, sedaya dipun paringi, Ngabdul Ngalim sine lir, atunggal Ian patihipun, / h. 45 / sandeyah wus tumingal, pan ngucap jeroning ati, punjul dhewek wong iki pasem onira.
- Kaya nora wingung uga, yen jumenenga nerpati, kaya ta nora wiranga, sineba ing para mantri, tampur manca negari, kaya nora mundur ing kewuh, upamane sawunga, geledheg kaya am bati k, sisikipun kaya meneng ing kalangan.
20. Sawung wido semu abang, lancure teka jelanthir, kluruke am-
tir kadi wong rni- dang geni, panggodhane belis laknat ingkang samar.
- Arnrih barang rnalebua, ing naraka ika benjing, / h. 46 / rna- nungsa kirang prayitna, durneh-durneh yen wus alim, apan malih wong jahiL pan agung ing lenanipun, sang nata malih atannya, apa luwih agung iki, tinging wong langgeng iman ing Hyang.
- Sang nata malih atannya, apa ingkang luwih pahit, Ian apa kang legi dhewek, fekir matur angesemi, atine tiyang meskin, upamane butrawangsul, manis kang luwih pelak, atinipun wong sugih, sajatine tan weruh ewuhe setan.
- Ngandika Retna Maleka, endi desa kang linuwih, Ian endi desa kang ala, tinging fekir anahuri, ngakherat desa kang becik, yen antuk sahe Hyang Agung, kang asor desa dunya, sang nata atannya malih, endi a bot ingkang luwih saking arga.
- Mas bagus alon wecana, inggih sernune puniki, kang becih pangucapira, sakecap nebut Hyang Widi, tannya malih sang aji, peteng lewih saking dalu, padhang luwih rahina, / h. 4 7 / Ngabdul Ngalirn anahuri, luwih peteng wong tan wruh mung- guhing sarak.
- Padhang luwihing rahina, atine kang wus ngalirn, sang nata m alih a tannya, kang jero Ju wih jeladri, inggih sam purnaning gusti, dhurnateng kawulanisun, atannya malih sang nata, adhem luwih saking warih, lawan apa atos luwih saking sela.
- Ature fekir kasiyan. tumaninah sabar galih, kangjrone nafsu- ne se tan, sekeh coba den singgahi. pan eting (mring) Hyang Widi, atos luwih saking watu, nggih punika ati kufur, kang ngangge budi serani, linggih nata sampun leres kang sandika.
- Sang prabu wau ngandika, apa panas luwih geni, fekir alon
iku, peksane angungkulana, temahan asor pinanggih, angandika sang dewi muktining pura.
- Lan apa abot punika. ingkang luwih saking arcli, kang lanclhe p luwih curiga, aturipun Ngabdul Ngalim, wong andhap asor ing jalmi, punika jawab pukulun, landhep luwih curiga, pasemu- nipun puniki, atinipun pandhita para ngulama. 31. Pandhita para ngulama. kang sampun ngarif Hyang \Vidi, bo ten pandhita kang mim ba, kang esak munggeng Hyan g Widi, ngulama ingkang ngalim, munggeng Hyang kang Maha Agung, nora ngalim sulapan, ngalimipun ingkang yek ti, nggih punika sang nata jawab kawula. 3 2. Ngandika malih sang nata, akeh endi lanang Ian estri, linging fekir / h. 49/ aturira, semune kathah wong estri, nadyan lanang tan jati, estri uga tegesipun, tan weruh lanangira, sang ayu atannya malih, akeh endi wong urip lawan wong pejah.
- Pira tengere pejah, Ngabdul Ngalim m atur aris, pan inggih limang perkara, tengeripun tiyang ma ti, lamun tan udani. pan asa sar pejahipun, tatkala asekarat, se tan belis marepeki, marahe nasarken pangestunira.
- Lamun wong sekarat ika, tingale rupa putih, punika panutan kita, Na bi Muhammad sinelir. aja ningali malih, lamun tingali sireku, ijo iki malaikat, Jabarail iku singgih, lamun peteng punika pan belis laknat.
Pujine lafazh syahadat, sarta maknanipun singgih, lamun ani- ngali a bang, punika iya penasaran, nasaraken punika, / !ah / poma aja sira /sira/ tinut, pujine punika la ilaha illallah / h.50/ ika, kang sinembah pangerane wong sejagat. 3 6. Lam un kuning tingalira, aja ngestokaken si nggih, punika
Pan kalih khewan punika, khewan ghairunathiqi. tegese tan bisa rasan, pangucap kang ala becik, kebo jaran Ian sapi, Ian sakeh (kewan) sedarum, sang nata (malih) ngandika. milane manusia iki. ingaranan khewan nathiqi punapaha. 41. Nadyan silih manusaha, nama khewan wenang ugi. dene samya mahluking Hyang, manusa tan udani, lungguhe ing-kang jalmi, khewan uga jenengipun, sang nata angandika, dhumateng kang para mantri. Iah mufakat ngilmune ke lawan sir a.
4.2. Sedaya samya awot sekar. tan saged amba mahoni. kados hotcn angsal \ h.52, uga. amanggih tetiyang kekalih. kang mimba memper meri. sewu satunggal tan antuk. wong bagus tulus utama, wong santri wasis ing krami. mung cacade dereng mengku negara. 4 3. Nga bdul Ngalim tan gawokan, pengaleme para mantri. aturi- ra wong suwita, amrih kandele ing gusti, pisaha aneng margi,
Sang dewi malih ngandika, dhumateng Ki Ngabdul Ngalim, Nabi Adam ingkang yuswa, Ian yuswane Nabi Ibrahim, Ian Nabi Musa iki, !ah ta pira yuswanipun, kelawan Nabi Ngisa, lah pira yuswaneki, atur kawula yen suwawi karsa nata. 4 5. Nabi Adam ingkang yuswa, sangang atus tahun kehe singgih, punjul sangang puluh, h.53 \ warsa, Nabi Enuh yuswaneki, sewu warsa puniki, Nabi Ibrahim kang ngumur, patang puluh limang warsa. Na bi Musa yuswaneki, sajenenge mangke amung satus warsa.
4 6. Nabi Isa yuswanira, tigang atus tahun singgih, punjul tigang puluh warsa, sampun jangkep sang aji, sang nata ngandika aris, milane mayit ingedus, Ian pinendhem ing Jemah, Ian m alih mayit puniki, krananipun sinembahyanga ken ika.
4 7. Lan tinelekinaken punika, karanipun ingkang mayit, Ian sinedh ekahan ika, telung dina pitung dineki, apanta kawan dasa, sa ng fe kir alon aturipun, milane m ay it dinedusan. dene asal saking warih. pinendhem punika singgih. asa lipun manusa pan saking Jemah.
4 8. Mila sinalataken ika, asal 11 ur 'adim wujud mayit, dene tinele- kim puniki. angsal marga \ h.54 \ kimayit. anut nabi si neli r. sipanga te aneng kubur, amrih eling pangeran. Jan eling maring ka njeng nabi. lawan malih e ling marang malaikat.
- Lawan eling ingkang Qur'an. lawan dina ingkang ak hi r. lawan we ruh kiblatira. lawan weruh sanak neki. eling panut- an singgih. ga ma Islam den awernh. Ian weruh ima nira. Ian ka'bah kiblate reki, Jah punika sa ng nata jawab kawula.
- Milam· sinedhekahan. pitung dina kawan desi. Ian weton kang nelung dina. tumeka sewu neki. pejah gesa nge ri zki. punika sa rnpun. lawan sihe wong sanakan. wilangen lawan ka ng mati. sampun jangkep sang nata jawab kawula. 51. Sang nata malih atannya. wong mati neng kubur iki. apa
Anuiya sira atannya, manusa !ah kadi pundi, den becik pangucapira, jawabira den nastiti, sapa pangeranmu mayit, sapa mayit nabimu. Ian sapa panutanira, Ian sapa sanakireki, Iawan malih punapa agamanira.
- Lawan apa kiblatira, bapa biyangira endi, imanira iku sapa. lah jawaben dipun gelis, yen antuk sihing Hyang Widi, anulya sira sumahur, Allah pangeran amba, dzat sifat kang maha suci, nabi kita Muhammad Jeng Rasulullah.
- Panutan kula punika, kitab Qur'an puniku singgih, sanak kawuia \ h. 56 \ punika, mukmin lanang Iawan estri, agama Na bi Ibrahim, kiblat kawula punika, ing Makah ka ' batullah, kang imam Imam Syafi'i, weneh ana ingkang anut Ahmad.
- Ana ingkang anut ika, Maliki Imam Hanafi, sapa bapa biyangira, bapa Adam ing wewangi, bungah malaikat iki, iya bener jawabipun, manusa antuk rahmat, kinasihan ing Hyang Widi, cinawisan suwarga kang luwih mulya.
- Karun Wanakirun ika, inggitik kanan kering, sampun jembar kuburira, malaikat angaken dasih, pinajang pajang rawi, asri tinon yen dinulu, ye n tan antuk tulunging Hyang, tanbuh sahure kang jalmi, gerayahan tanbuh kang den ucapena.
- Gumeter sariranira, derodhogan untu gathik, karoso kadudo- nira, aranipun awak mami, aneng dunnya tan ngaji, tan arep akeh pitutur, fardlu, h. 57 \ wajib tan wikan, maksiyat kang den lampahi, wus kaluwih kaduwung tan kena molah.
- Karun Wanakirun ika, panggadane wanti-wanti, remak rem pa lir gelepung, nanging nora mati-mati, pulih ginada malih, ngandika malih sang prabu, Ngabdul Ngalim lah iya,
jawaben soal iku maning, yen wus tutug sun ganjar asmarandana.
Asmarandana
I. Atanya malih sang aji, pinten dadine manusa, nembelas iku wiyose. kang saking pangeran, roh napas dadi iman. tutur kitab tufah iku, pamiharsa Ian paningal. Penga bu pengerasa singgih. wewalu saking bapa biyung. sekawan bapa wiyose, balung otot kulit ute knya. saking biyang sekawan, daging getih jrohan susum, wus jangkep nembelas ika.
3. Sang nata atanya malih, apa 1srnrng suwarga. neraka apa isine, Ngabdul Ngalim aturira. isine \ h.5 8 \ kang suwarga. akathah ing warnanipun, langkung pclak tiningalan.
4. Kum endhung-mendhung angrawit, pajangan asri kawury an. kinahot manca wamane, widadari tan kena ngetang. kursi gadhing tinretes, dhaharan sumaji sampun, wowohan sumaji ngarsi.
S. Bengawan toyanya / a / wening, kang t aman asri kawuryan. pethetan turut pinggire, dene wau kang dhaharan. sumaji aneng ngarsa, kang cinipta aneng ngayun, bisa lunga bisa teka.
6. Arum-arum kuning wangi, ganda mulet kang suwarga, neraka isine, amis bacin pitung buminya, nanah awuk toyanira. gejahan lawang belenggu, rante padha mara dhewek.
7. Kalabang Ian kalajengking, katunggeng kalawan ula, samya padha nyokot kabeh, wong kang aneng jro neraka, Ian padha tan zakot, dadi geni murub-murub. ting jelerit padha wuda. \ h. 59 \
8. Kayu zaqum den pangani, pangelede sere t kasap, lir pinarud gorokane, yen kala dadi wisuna, panas perih arushap, ting geledheg wetangipun. beledang ana rong dandang.
Andangu malih sang aji, manusa mangke punika, pin ten mangke panggonane, Ngabdul Ngalim aturira, inggih sangang pekara, duk gesang mangke puniku, aneng dunya madu ke- wala. I I. Panggenanipun punika, duk gesang aneng dunya, ping kalih ku bur enggone, ping tiga ara-ara makhsar, ping pat telaga kasyar, ping lima aneng teraju, binobot ing malaikat.
I 2. Ping neme wowot puniki, wowot shiratal mustaqim neraka iku ngisore, yen \ h.60 \ tan bisa nguwot ika, katadhahan neraka, pasthi wong iku kacegur, den tadhahi ing curiga.Pan wot shiratal mustaqim, unggahipun sewu warsa, sewu warsane luhure, hudunipun sewu warsa, dados tigang ewu warsa, Ian gedhene wot puniku, serambut pinara sapta.
- Landhep luwih pedhang tamsir, manusa nguwot punika, ana lir kilat lampahe, yen antuk pitulunging Hyang, masih wong nguwo t iku, ana kaya angi n iku, ana lir semut lampah- nya.
- Ana lir walang lumaris, ngarekel banjur atiba, ping pat ika enggone, aneng telak marut punika, ping wolu gunung ing- rap, kaping sanga ne puniku, aneng suwarga neraka. I 6. Sang nata atanya malih, pira tengere wong munggah, suwarga !ah ya pira tengere, Ngabdul, h.61 \ Ngalim aturira, inggih kawan perkara, dhihin lampah wajib fardlu, ping kalih ati kang seja.
- Sarta lawan sabar galih, ping tiga weruh kasucian, iya sucine badane, kaping pat lama ing arta, tegese awelasan, maring wong kawelas ayun, anulungi barang karya.
- Prabu kenya taken malih, tengere wong aneng nraka, lah ya pira tengere, Ngabdul Ngalim aturira, inggih kawan perkara, dhihin tan arsa pitutur, fardlu wajib datan arsa.
Ping kalih ulat aruntik, sarta kereng berangasan, ping tiga tan weruh sucine, anggon gawe sampun kadonya ping pat kumed ing arta, tan welas ing kawlas ayun, pinter barang kang ala. 2 0. Andangu malih sang aji, pira kehe nafsu ika, lawan apa gawene, Ian ing ngendi dunungira \ h.62 \ Ngabdul Ngalim aturira, Ielima kathahe napsu, punika atur kawula. 2 1. Dhihin luamah puniki, ing ngeperu ungguhira, inggih kase- reng ga wene, ping kalih napsu amarah lungguhe aneng manah, lawange ing mata iku, karyane suka abunga. 2 2. Rupane abang puniki, ping tiga napsu supiyah, ing limpa ika lungguhe, lah ika dipun prayitna, gawene amemada, iya marang liyanipun, angalem ing duwekira.
- Lawan malih napsu iki, mutmainah ingkang nama, aneng jantung ika lungguhe, dene wateke ika, anteng nembah Hyang Sukma, tan pegat siyang Ian dalu, anging Allah kang kacipta.
- Sang nata bu bar tinanggil, lumebet ing gayapura, ora dhangan lan1pahe, ana kerasa ing driya, wus pasthine awak ingwang, tekdire Allah kang agung, janjine dasih punika. \ h.63 \
- Akrama oleh wong santri, ingsun temah mangku iya, sena- dyan santri wiyose, kaya nora lisemana, tempur perabu patya, sun sawang kaya tan kantun, angadu pasemunira.
- Mung sata pan kari, kumpul Ian wijil kencana, kaya kum- pulan kabehe, wong bagus teka jatmika, sa ng putri alon ngandika, em ban inya Iawan babu, timbalana bapa patya.
- Lah sira Iungaha aglis, emban inya owat sekar, sampun perapta ing wismane, ki patih tampi timbalan, pekenira ngandika, dhumateng sang dewi ra tu, anulya ki patih mang- ka t.
- Gegenj angan nulya prapti, ing ngarsane sang nata, sang putri pangandikane, !ah kepriye bapa patya, wus pasthine awak ingwang semune ing janjiningsun, kala wan ing sewubara.
Sewubara ningsun dhingin, lamun ana ingkang jawab, sena- dyan \ h.64 \ silih kakere, pesthi pesarah negara, Ian ingsun amawongan, sumangko pan uwis rampung, soal manira ka- jawab.
- Wong liyuk anduweni janji, dinukan maring pangeran, wedi manira wekasan, Ian ora mungguh suwarga, Ian iya bapa patya, gawanen iya sang bagus, maring wisma pakenira.
- Bebesanan lawan mami, manira waged kewala, tembe besuk nggawene, iya ing awak manira, lumuh mangke pinaesan, wirang mering wadya ningsun, ta pamane la wan sira.
- Lawan undangana sami, sakehe wong negara, manteri pung- gawa lawan lurahe, lawan wong desa sedaya, poma dipun- sumekta, iya sagegamanipun, ajana kang kaliwatan.
- Hagung gawene iku patih, mung kari sumedya candra, !ah ta undhangana kabeh, nulya ma.11gke lekasana, Ngabdul Ngalirn den kareksa, wedhak \ h.6 5 \ lulure puniku, keya patih nulya medal.
- Sang putr1 gadhuhan kikin, saundure kyai patya, kelang- kung katon langene, tan damar guling anatas, sineba ing pawongan, emban inya lawan babu, sedalu nora ngandika.
- Sang dewi angles kang galih, gadhuhan la.wan kasmaran, rere nem-neman semune, kadya pocang kabaratan, miyut mentul angereras, wong ayu agandrung-gandrung, lir wida- dari suwarga.
- Kang netra balut amanis, wadana asang, wulan micis utah sinome, rema lemes ngandhan-andhan, bahu angelar wijang, tangane amatrem kunus, se mbada lamun lelewa. 3 7. Gung gawene sampun prapti, untabe wong sanegara, wong desa pra manca kabeh, aseluran samya prapti, para mantri sedaya, pra bupati samya kumpul, kasukan neng kepatiyan. \ h.66 \
- Pepak ingkang wadya mantri, arame asukan-sukan, kang wadya bungah manahe, meragat tanpa wilangan, kebo sapi Ian menda, banyak ayam ulam eloh, gumuruh wong sanegara.
Ki patih bungah kang galih, angluwari sewabara, penikahira sang katong, samya mangke sukan-sukan, pepak ander se- daya, nambut gawe aneng tarub agung, kang gendhing amanca warna.
- Ki patih muwah sang aji, samya mangke bebesanan, mantri separo gehaton, arame aneng pagelaran, pepak kang bala kustim, sang puteri wakid punika, pangantene sasengguhan.
- Lir brondong kang bedhil muni, paglaran Ian kapatiyan, kang non ton tam buh kathahe, gedhe cilik anom tuwa, lali gawene wismane, arame tabuhan umyung, rebab sulinge anglela. 4 2. Suka bungah \ h.6 7, ingkang mantri, kaya wong menanga yuda, abro sinang busanane, anglirta se kar setaman, jeje l andher kang mulat, tontonan asri dinulu, pelak amanca warna. 4 3. Kesaru utusan prapti, emban inya Ian pawongan, amiyak wong se ba mangke, andhawuhaken ti mbalan, timbalane sang nata, penikahe kanjeng ra tu, inggih sa dinten punika.
Lan malih karsa sang dewi, wanci bedbug wayahira, gamelan munyaha kabeh, tumbak ules lawan be nang, gendera Ian senjata, lawan iku payung agung, wetokena saking pura. 4 5. Dha wuhana mring ki pa tih, Ki Demang Surakencana, pa tih jro ika miyose, !ah sami dipun pryitna, timbalane sang nata, !ah sampun manira mantuk, sampun rampung sediya. 4 6. Patih jro utusan aglis,, h.68 \ dhateng Patih Mangku praja, timbalane sang lir sinom, anunten nikahena, ing sadinten punika, kinen ngarak ngalun-alun, laj engena maring pura. 4 7. Sandika ature ki patih, Ngabdul Ngalim pinaesan, binusanan asri tinon, kampuhe amurub muncar, penisete renda mub- yar, kuluk rendan dhasar wungu, renda(ne) jene tinatah. 4 8. Dhuwunge sampun winangking, ladeyane sinasotya, kusuma putri pujine, ukiran cularinusa, sesumping nawaratna, wong sigit im buh bagus, lir Na bi Yusuf kang warna. 4 9. Ki Pangulu Mutangalim. pandhita para ngu lama khati b
Sampune dipun ijabi, panikahira sang nata, sangang talam salawate, tumulya wau \ h.69 \ angarak, pepak kang wadya bala, senjata pa ting jelegur, tambure munya bebarengan.
- Miwah sa keh kang ningali, tumpang tindhih tetunjangan, gedhe cilik tuwa anom, gajah barong aneng ngarsa, kalwan ula naga, buron alas wis pinutut, kang sipat buron sedaya.
- Garudha dipun titihi, dhumateng pangantenira, raja asmara wangune, payung agung susun tiga, mantri payung an sedaya, abro sinang yen dinulu, lir pendah wana kesuma.
- Wakile sang nata dewi, pinaesan binusanan, !ah tatanen dipun age, baya iku nulya prapta, enggal ingkang pawongan, lah payo ka(n)ca den gupuh, manu pengan ten perapta.
- Sang putri manggu ng alinggih, pinarak / a / neng kursi denta, pina tek nawaratnane, ingayap \ h. 70 \ para bayada selir se daya, miwa h rabine mantri sedarum, ingayap wanten ing ngarsa.
- Sang put1i salin wewangi, Semita Resmi punika, sampun wiraga sam une, anglir widadari kendran, tan kena inga- lingan. se nadyan wakil sang ayu, tan sa mar ingkang tumi- ngal.
- Asmara(ne) wus perapti, laj eng dhateng dalem pura, pina(ng}- gihan para sinom, rabine mantri sedaya, miwah ingkang pawongan, sang putri isin tumungkul, wirang maring wadya- nira. 5 7. Amadeg wijil ping kalih, sa kehe para punggawa, m antri la wan lelurahe, m ung Ki Patih Mangkupraja, la wan Sura ka(n)cana, kang wenang dhateng kedhaton, panga( n)tene karo ingayap.
Kang ngadhepi para selir, rabine mantri sedaya, dereng carem sa(n )dyah mangkc, ingayap aneng jro gubal1, kineb- utan wanu \ h. 71 \ dya, d hecl haharan sampun katur, arame gamelan /ma/ munya.
Dawa (ta) tinutur malih, tigang Iastri tigang dina, kang caos wus bubar kabeh, ka(n)tun Patih Mangkupraja, Iawan Sura- kencana, acaos siyang Ian dalu, sang dyah meksih ewa- ewa.
- Sampu ne samadya sasi, sang dewi welas ing priya, alulut maring kakunge, acampuh paguting tingal, sembada Iewanira, campur putri Iawan kakung, lir thathit barung Ian kilat.
- Tan ana kaciwa malih, sa ng putri lawan kang priya, samya tunggal ing galihe, samya wajibing kancana \ h. 72 \ bungah Ki Mangkupraja, sa ng putri tunggal ing kayun, sy ukur sewu pasihan. 6 3. Busanane salin-salin, dhasar wong bagus pesaja, aliron peng- gonane, kang rayi lawan kang raka, sigegen kang kocapa, gurunipun nimas ratu, ingkang tapa nga rdi Leka.
- Pa(n)dhita Sa(s)mitajati, karsane tuju kang putra. dene wus mari gawene, mila ti(n)jo mring sa ng ratna, menek wani ing priya, tem ah duraka ing Hy ang Agung, syukur bektiya ing priy a.
- Wan cinipun tengah wengi, jumerojuk sang pa(n)dhita, lajeng male bet kedhaton, kakang sahos tanpa kena, lebete sang padhita, wau sandyah ayu weruh, yen gurune perapta.
- Sandyah nulya tedhak mijil, lajeng anu(ng) kemi pada, panger- an guruku tembe, kawula (datan uninga), datan ngipi ta n duga, yen panduka \ h.73 \ mangkya rawuh, ati( n)ja dhateng kawula.
- Sang aji asmara angling, !ah ta yayi iku sa pa, sa ng dewi alon ature, pange ran guru kawula, kang langkung sa king bapa, ka ng wismeng pucuking gunung, ngardi Leka perta pannya.
- Sang aji nulya nu(ng)kemi, ing nga rsa(ne) padanira, temen kiyahi wiyose, ka wula kalangkung su ka, ing serawuh sa-m- peyan, (pra)sasat ketibanan daru, sayekti inga ken bapa.
Kal angk ung kusuma dewi, kedhayohan gurunira, pan asan get
Lakinira aku nini, iya trahing waliyullah, ing Turkustam negarane, ma(n)di barang ingkang karsa, sandik(a) ing waca- na, sujana ing barang ngilmu, andhap asor loma ing arta.
- Terutus ujarku dhingin, \ h. 74 \ besok ana bisa jawab, suolira ta mangke, ingkang satus perkara, pasthi jumeneng nata, dadi Ian lakimu besuk, tur bagus bakti pangeran.
- Lan malihe sira nini, anuta Dewi Fartimah, oleh bekti ing lakine, atas paken Rasulullah, marak mering kang putra, Fartimah poma / a /nakingsun, bekti(a) ing lakinira.
- Padha Ian bekti Hyang Widi, nimas wong bekti ing priya, aja sira angas mangke, aja ngrasa akerama, anggonen gusti- nira, ing dunya akhirat iku, lah ta poma la(m )pahana.
- Umur pira isun nini, yen tan mangko marakena, mangsa luput mati mangko, Ian mangsa ngalusungana, aturira sang ratna, inggih leres bapa guru, pangandika madurasa.
F. Dhandanggula
I. Kyai Agung Sela \ h. 7 5 \ kang winarni, gadhah tangan Ka(n) jeng Sultan Demak, sekelangkung jatmikane, Kyai Agung pitutur, mering anak putunireki, lah rare sun pepoyan, mering sira putu, padha sira pirsakena, tuturingsun dudu layang dudu tulis, pan pepali aranira.
2. Pali iku estu kena barkete, tur selamet lawan kuwarasan, pepali iku mangkene, poma /a /ja /a /gawe angkuh, aja ladak (Ian) aja jahil, aja budi serakah, Ian aja celamut, Ian aja guru aleman, aja mamak wong ladak pan gelis mati, aja manah angiwa.
3. Aja saen pan den idhep ngisin, sira ngagungaken awak(ira), wong urip pinten baguse, aja lali met bagus, iku dudu (dudu) mas picis, Ian (ya) dudu sandhangan dudu rupa iku, wong bagus pakewuh pisan, m /en /yang sepadha /kang/ urip prihen \ h. 76 \ padha asih, perak ati rupanya.
a ti. pan dadi panangaran.
- Datan wuranga ta ngidhe p ngi sin, isin iku pan kalih pcrkara, sawiji / isin/ mring pangerane, dene ping kalihipun, dipun isin padhaning jalmi, yen kalakuan wiwang, separone arus. dipun etut darbe kadang, wong sesanak aja pegat ngati-ati. yen jeneh dadi ala.
- Aja sira watek suka sugih, aja sira (a)watek dahuwe n. aja
(a)watek anguthuh, (kurang I gatra), aja watek ngaruh-aruhi. aja guru aleman, aja utang sanggup, medhukun becike dina. mematenge lamun sira no ra yekti, pan dadi sirahing cala. - Pom a-pom a sira aja drengki / de rawi/, \ h.77 \ aja angremeh Ian aja canthul, angrusak mama k anggepe, aja de la p alengus, pan wong urip den ngati-a ti, aja manah angiwa. ala kang ti- nemu, sing sapa a tine ala. nora wa ndc ing be(n)jang sir a pinanggi h, wong ala an emu ala.
- Sapa ingkang dhasarken apik / nora/, nora wande sira manggih harja, dhawuh sa turun-turune, poma aja kumingsun, aja ladak Ia n aja jahil, aja manggung sembrana, dadi kaparan tutuh, dadi kaparan tiwas, lamun a na wong manterap iku den wedi, milane iku uga.
- Balikan ta tirunen ageli s, jalma paterap sira kasihan, apan arahen berkate, amberkati wong iku. datan wanang tan sira
(a)ji, pegat (a)ngati-ati, (kurang I gatra), dadi tan (sa)wiyah- wiyah, poma-poma lamun sira urip, aja kibir Ian / aja/ sum u- ngah. - Aja derengki ing (sa)samine, (kurang 2 gatra), iku \ h.78, walat ka ng agung, pan wong urip, den ngati-ati, aja nga ku kedhotan, aja gunggung ngilm u, aja ngaku sugih japa, aja gunggung lakunira pribadi, miwa h mring kadangira. 11. Aja sira nge ndalaken sugih, aja sira kapingin kedhaton, ka- kuwasan apa dene, aja watek ahumuk, aja dhalang ngaku hu(n)dhagi, aja budi sudagar, aja budi qah um, jangjine zakat
Pan kocapa /lah / jalma kang sejati, iya iku gurune pandhita, tan katara ing lakune, tan acagah tan shahum, tan atapa ora
(a)mutih, nanging tansah prayitna, iku lakunipun, prayitna ing awakira, mung sanake punika kang den kawruhi, sanakira rat buana.
15. Banyu geni bumi klawan angin, langit lintang srengenge rem bulan, punika sa nake ka beh, jalma kang salah iku, sa- kathahe satru nareki, mulane ana walat, lir kang tinemu, jalma kang luhur iku, lanang wadon sakehe sanakireki, mulane dadi harja.
16. Man ah kang lumrah arahen, h. 80 \ kaki, aja sira darbe manah (ala), siya-siya mring / ing/ padhane, aja / a/guru ing nafsu, ing wong urip den budi asih, poma den serata(na), (sakeh) lampah ayu, piliyan kang tekeng mulya, lampahira akeh katut dcning iblis, lulus(a) lampahira. J 7. Wong jatimika reke akeh asih, den rumasa sira kawlas arsa. amet rasane wong akeh, aja sira / uga/ wilangun, karya solah ing Iola kaki, u(m)bale dadi tadha, weruh(a) ing laku, wus katereng ing kagungan, sabudiyan mangkana ika wong lu wih, atine kang den reringe. J 8. Dedukanan ing manahireki, yen lelungan sira mering paran, pasthi padha adoh wonge, cakranen jroning qalbu, aja ngaku budi sawiji, ajana gegujengan, iku dudu semu, den prayitna
- Nyinggahana yen amapak estri, ulatira aja samu giwang, pan nora nana becike, iku memurung laku, (pan) sandhangan amigunani, lamun dalu yakina, manah m ering dudu, anglinga- ken pan cula, (ang)lir wirang yen sisip maring ing pati, yen orane salewengan.
- Sesanakan aja nguciwani, nora kendel /a nggenira sanakan, aja dursila lampahe, inggenge wong mitra karuh, tata krama adipun becik, yen (sira) kekadang(an), aja silih ukur, aja watek adedurna, \ h.82 \ wong sesanak aja sira amboseni, (kurang 2 suku kata) maring wong tuwa.
22. Wong ngatuwa lamun miturturi, tarimanen asih mering sira, mung saamrihe alane, saujar(e) tinurut, sa mpunana sinuk- meng ati, lamun ujar p(a) aran, sidikena wau, simpenen aneng wardaya, den prayitna sira angga dhuhe ngelmi, watune
(a)neng punca. - Darya iku (ka) lamun (a)majil, kadya ge ni sangamilamila, aprang /arcu/ Ian arjunane, ajura lamun bendu, benduk saya sine(n)dhal uning, langit angebeki buwana. kurda karema- nguh, burn danba kagila-gila, sang arjuna angling nulya ma- rani, eling sinala mala.
- Nala mala pan sirnaning ati, panca driya akeh kang mangka- na, sira ingina dhwe, yen sarta dereng \·cruh. panunggale sa wiji-wiji, balikta takokena, m aring \ h. 83 \ wong kang luhung, yen sira marak pa(n)dhita, ngrasanana molana weka- sa n pa ti, Ian sampurnaning raga.
Raganira reke den nastiti, yen angucap Iawan garwanira, den ismu(a) asmarane, dadining wong estri lulut, Iamun sira
Alaning wong ika bodho meskin, barang karya ika padha cuwa, mapan tan ana rupane, kadi anggening ranu, yen tinilar toyanya / wa/ sepi, ganggengipun pan sirna, tur ati Ian tu( n)j ung, peksine tan ana sa ba, kadya tunggul tan ana purnamaneki, \ h.85 \ burone tan ana saba.
- Tan sinaba ing wong bodho meskin, lanang wadon kabeh sami ewa, kadang warga buwang kabeh, tan ana arsa ngruruh, anjagani karsanireki, mangkana ing parting~ah, ewuhing tumuwuh, yen reke amicaraha, lamun bodho anggedhongana mas picis, punika kang dadi rega. 31. Luwih rega wong putus ing gawe, sugih ngamal mring kang winarahan, aksara lawan tegese, lamun sira den wuruk, aja sira peksa gumakit, nadyan silih bisaha, den nedya mituhu, ing yen tan woning tegese, wipalane tuhu wekca memarahi, sa wirasaning sastra. 3 2. Sastra iku tan kena lini(n)dhih, amertani padhange sarira, amadhangi jagat kabeh, budi nora kalurung, weruh ala kala-
\ becik, wipalanipun dunnya, mas picis punika, den aku kena dening nyawang, dadi pager ali ng-aling ing nyamani, lupu ting kira-kira.
- Utamane wong urip puniki, barangkala sinung kamurahan. den e(ng)gal iya syukure, anejaha ati mumpung, mumpung kuwat agawe bekti, bokmenawa kinebat, atemahan ge tun. apan uga kanugrahan, peparingan rizeki saking Hy a ng Widi, karyanen tuku swarga.
- Urip iku tan kena pinasthi, dhatan kena anjaluk semaya. miwah nedhang apa mane h, anging Allah kang agung, kang akarya pati Ian urip, miwah ing ajalira, tan kena dinunung, amuhung ing karsa Allah. awakira lir serah mu(ng)geng jeladri. anut sakarsa Allah.
- Utarnane reki in g wong sugi h, pan o lehe saking guna kaya. \ h.87, iku ngamal ingkang bening. yen saking cacahipun, ananira reke wong sugi h, yen saking rabinira, as ru wirangi- pun, anane wong sugih ika, yen tan nya(n )cl hang amangan ke- lawan bukti, ika kelabu ina.
- Ingkang luwih inanira kaki, aneng dunnya tekeng akhirat, aksara de n ta( m)pik kabeh, rukune im an tan weruh, rukune Islam pan o ra uning, saguna kayanira, tan berkat/ i/ tinemu. pan cladi kafir cilaka, upamane wong iku pan kacli belis. pasthi aneng neraka. 3 7. Ananira wong jurjana kaki, yen konangan anemu cilaka, / Ian/ ananing ratu / ta/ singgihe, yen ana wong darbe atur, nuli dera parisani, iku kalebu ina, pan jenenge ratu, inanira sang pa(n )dhita, yen tan darbe, ing m anah nampik asilih, \ h.88 \ iku kalebu ina.
- Sang pa(n)dhita Ian sang ratu sami, ananira pan kadi jeladra. kadi wisa pangucape, wisane prawan sepuh. katumpangan ram but kekalih, wisane kang jurjana, reke anut wulu, wisani- pun sekul ulam, yen tan eca, temahan brangta pribadi, ika kang kaya wisa.
- Wisanira reke wong abukti, yen tan halal suci wahunira. pesthi rusak wekasane, aja sira wilangun, ing busana kang
luwih adi, kaliwat ing busana, ing wanita iku, kang payudara wanita, ing pa(n)dhita wisane wong sakti Iuwih, miwah dha- teng pepengan.
- Pepangan(an) iku kang linuwih, nora nana angluwihi pohan, miwah asih ing sanake, nora ngluwihi sunu, lamun satru telenging ati, gething tan \ h. 89 \ kena ilang, lamun dereng lapur, narima pasrah ing Allah, iya ika anut lampahira nabi, kang sisihan ing Hyang Sukma.
- Lampah nabi iku kang linuwih, apare(n)tah maring kabeci- kan, cegah m a'siyat lampahe, amung wong hina pugung, bagus nora bisa ing ngalim, lir upamane sekar, aran waribang iku, tiningalan m uru b sinang, yen den aras, tan ana wangini- reki, kucem eman bagusira.
- Bagusira wong putus ing ngilmi, kadi anggane madu Ian pohan, piring putra wewadhahe, mangkana asor belilu, lir wewadhah dhedhak kang prapti, gate! separanira, den rubung ing semu t, tan ana sucini ra, wa(n )ten malih wong asor warne- ki, ngilminipun reke sawetara.
- Upamane wong tan wruh ing kawi, lir ka(n)coha tan kena tiningalan, kang citra tam buh \ h. 90 \ warnane, saujar-urari- pun, nora nana se munireki, apan kedah apeksa, ami(n)dha wong luhur, sejatine iku mudha, pan ketara pangucape amrih dhiri, wrengkeng / na/ ta(n) ge lem kalah.
- Pan ing ngriku nyatane yen jahil, meksih mudha akeh ujarira, kadi ajun tuk pamane, lamun kirang isinipun, sayektine pan kocak kacik, lamun kebek kang toya, tetek kang ponang ajun, upamane wong medzarat, akeh ujar akeh nyawaning wong meskin, dennya a met pengasilan.
- Pengasilan kang den ati-ati, amemadha kaya wong rubiyah, sarwi putih panganggone, polahipun pas adu, halal haram kang den rasani, iku lam be la(n)dhungan, dhestare anggem- bul, sereban akuleweran, perandene kawruhe den gawe \ h. 9 1 \ asil, ngi lm une dadi pametan.
Pametane pan nora sathithik, dipun awor kalawan agama, okehe (leh)-olehe, kang sa wen eh pitekur, aneng pasar a teken ecis, angalosod aneng lemah, keskule ing ngayun, anyipta tibanging arta, kang saweneh andhedhekah ander pati, a- ngungsi mring si naya.
4 7. Mring sunaya ragane kepati, kekebonan kelawan agaga, (kurang 2 suku kata) kapas kang den reke, aja sira katungkul, (ing)kang nusup ing wana giri, aneng pangajaran, kethone suwakul, pan meksih anyipta reruba, pepantese wong aneng pucuking ngardi, nenggih nora mangkana.
- Yen angalap tan arep sadiyadik, lamun ana wong ngare kang prapta, pan agalak penjaluke, anjaluk kudhi Ian pacul, tatah wadung Ian lading pengirise, / a/ nggennya, h. 92 \ amet pangasilan, den samar ing laku, winor lawan basa krama, pan paliyan tekeng pa(n)dhita luwih, akeh kang kama anda- ka.
- Kam a(n)daka kang den ati-ati, pengawadon kinarya alingan, semune enur den gawe, den sami andhedhukun. wong teta(m) ba amrih wejani, yen wong wadon merta(m)ba, kang ayu punika, tingale kumedhep tesmak, pangucape nora waras sira nini, yen nora sun /e/ dusana.
- Yen sun dusi patelesan putih, .anggawaha sholawat setalam, sarta Iawan kula(m)bine, Ian koboan bokor stus, wus temunu ujaring wangsit, yen nora kelakon, bektine tan tulus, nora waras laranira, sang pa(n)dhita Iir bujangga a(n)tuk wangsit, wilane amrih reruba. 5 I. Amrih dunnya pa(n)dhita kang bangkit, lir sam bate kang asaba \ h. 93, rawa, amerih samar ulame, adi-adi tan ayun, yen sa thi thik di pun tam bah(i), kadi tan arsa ulam, p olahe pisadu, kudu pamerih kang kathah, sekathahe (kurang 3 suku kata) kang dipun uwis, saweneh maring guwa.
~iganan temahan(e), kalingan rowang luhung, nora gelemf,'gedhonge picis, emas la wan salaka, wigati tinemu. pituture sang pa(n)dhita, upamane asrepe ngebun Ian warih, maksih ingaranan wedang. 5 7. Ngamal I um rah kang madhangi ati, fardhu sunah iku lakona- na, aja tunggal syarengate, \ h.95 \ jku marga kang agung, batal kharam kang den tinggali, halal wenang sinadang, kang penganggo iku, lampahe sa rengat(ira), anut Nabi Muhammad ingkang sinelir, (kurang 2 suku kata) kang atas Allah.
- Pan sakehe jalma kang dumadi, lamun sira sinung kanugrahan, rumasaha peparinge, dadi ridho tinemu, manahira awa- sing ja ti, amrih mulya ngakherat, iku seja tinipun, milane angiyata pati, kanugrahan kinarya sanguning ngurip, lawan sanguning akhirat.
wande wong ngurip puniki, sami mulih mering ajal(ira), tan kena dinuga reke, anom Ian tuwanipun, pasthi sira ka- te kan pa ti, mangsa ngelu(ng)sungana, wong ngurip puniku, aja katungkul ing dunnya, mu(m )pung urip amerih sangu- ning pati, duk kuwat kawarasan.
Tamat wallahu a'lam. Pupuh Ngabdul Ngalim, pupuhe.
AUHBAHASA
A. Asmarandana
I. Yang diceriterakan dalam awal tembang, kisah raja negeri Ngerum (Rum), sang raja bergelar, Maharaja Saringalam (Sari'alam), mempunyai seorang putera, puteri sangat cantik, termashur di berbagai negara.
2. Dewi Maleka namanya, seorang puteri cantik, cukup sempur- na, maha tahu apa kewajibannya, tetap ibadahnya, sabar dan bijaksana, pandai dalam berbagai ilmu, ajaran ilmu Jawa dan Arab.
3. Luhur hidup dengan senang, setelah ayahnya wafat, bakti- nya makin bertambah, puteri cantik tak ada bandingnya, kalau berbicara menarik hati, didengar manis menyenangkan, bagai menghayutkan jiwa.
4. Melebihi semua puteri, jarang yang menyamai, cacatnya dalam kedudukannya sebagai wanita, sayangnya tidak ber- suami, saktinya hampir rusak, pandai dalam mengatasi berbagai kesulitan, tingkah lakunya bertata krama halus bersa- haja.
5. Tidak ingin \ h. 2 \ berumah tangga, masih berkenan menga- suh diri, belum tercapai cita-citanya, banyak raja ditolak, tidak mau dipinang, namun apabila sudah sampai karsanya, walaupun penemis menjadi suami.
6. Sepeninggal sang raja/ ayahanda, puterinya menggantikan menjadi raja, selama pemerintahan sang raja muda, le bih dari ayahandanya, baik dalam mendirikan agama, senantiasa berbuat kebaikan. terbuka adil kasih sayang.
7. Termashur sebagai ratu terkemuka, sang raja negara Ngerum. bahwa ratu kini lebih dari yang lain, (diceriterakan) tatkala keluar duduk (di singgasana) dihadap, segenap perjurit, diiringi para bangsawan alim ulama cerdik cendekia, dike- lilingi tirai gemerlapan.
8. Terlintas bau harum mewangi, diselubungi bau-bauan riuh
\h.3 \ kijang dan ardawaleka (benda upacara yang menyerupai naga).
Sapu tangan emas sawunggaling (benda upacara menyerupai ayam dari emas), bokor emas di belakang, kendi be}isi par- tula, pangidonnya kiri kanan, sesajian bertutup di belakang, berjajar dengan jepun (ayam berbulu halus), sudah sampai di balai penghadapan.
I 0. Sang raja puteri bersabda, kepada Patih Mangkupraja, aku mau bertanya, tatkala kanjeng rama bertahta, apa ilmunya. aku ingin tahu, apabila sah akan kuangkat setinggi-tingginya.Jika ilmu itu tak berdalil, aku tidak mau serupa itu, ya bapa tidak tahulah rasanya, ki patih pun menyemhah. ham ba mohon ampun, alamrhum kanjeng rama, ilmunya sama de-ngan ilmu tuan ham ba. l 2. Syukur sekali bapa patih, kalau sama sejalan ilmunya. aku mau bertanya, kepadamu patih, dan sekalian menteriku. aku mempunyai soal.
- Siapa yang dapat menjawab soalku, seratus perkara banyak-' nya, jaw a blah semua, say em baraku \h.4 \ patih, (maka) negara Ngerun (akan) diserahkan, dan dalam pada itu. aku akan menjadi seorang abdi perempuan.
- Sayembaraku patih, apabila tidak ada yang bisa menjawab. pasti kupenggal lehernya, maka segeralah kau umumkan. kepada semua orang di segenap negara, ketib lebai dan penghulu. serta sekalian pegawainya juga.
- Ki patih malu sekali, tatkala mendengar perintah sri baginda. dan para menteri semua, sedih raut mukanya, sekilas tampak biru cahayanya. tidak ada yang mau berucap.
- Ki patih segera mem ulai, pada sajem bara raj a, barang siapa dapat menjawab soalnya, yaitu soal seratus perkara. pasti
negara Ngerum. serta mempersunting ratu emas.
l 7. Barang siapa yang berhasrat, menjawab soal sri baginda. walaupun keluarga pengemis, orang fakir miskin 'bijaksana yang terkasih, (maka) segenap bala tentara. sekaliannya tunduk kepalanya ke bawah, tidak ada yang berani menjawab.
- Semuanya malu sekali, bupati menteri semua, ulama pendeta semua, seorang pun \h.5, tidak ada yang dapat menjawab, pada soal sri baginda, maka kepalanya melekat ke bawah tunduk semua, tatkala sang raja puteri. l 9. Sri baginda selesai dihadap, masuk ke dalam puri, alangkah senangnya, upacara sang raja, sawunggaling sapu tangan emas, paidon (tempat ludah) cerana (tempat sirih) di depan, seperti tatacara ayahnya.
20. Memang citranya berlebihan, bagaikan bidadari surga, muda
tampangnya, berusia tujuh belas tahun, pandai berhasil dalam karya, kependetaannya (keahliannya dalam ilmu agama) berlebihan, lebih banyak rupa kurang perumpamaan.
- Termashur tersebar indah, wanita cantik melaksanakan ke- pendetaan, ahli ilmu agama, kuat agamanya, tak henti-hen- tinya beribadah, terus menerus setiap hari, pandangannya dinamis pandai khatam dalam berbagai kitab sastra.
- Sesampainya di dalam puri, dikerumuni oleh dayang-dayang, bersabdalah sri baginda, tak terlahir pada bibirnya, aku agak marah, kepada semua pendeta Ngerum, bagaimanakah tuan- tuan semua.
- Makin terkejut dalam hati, Ratna Maleka murka sekali, ki patih segera berkata, memang, h.6 \ sudah mendapat wangsit, ki patih telah menduga, pada wangsit sri baginda raja, ki patih segera keluar.
- Cepat-cepat dirnulai, seperti sabda sri baginda raja, sekalian pendeta diolah, oleh Sang Ratna Maleka, karena dibunuh, pemikiran sri baginda raja, pendeta Ngerum kufur.
25. Setelah beberapa lama. Ratna Male ka bertahta, famanya antara. sudah empat tahun, termashurlah raja puteri, mem- bunuh pendetanya, tersiar di berbagai negara.
26. Di Iuar negeri dan di pulau Jawa, mendengar berita, bahwa Ratna Maleka disegani, raja adil paramarta (bercita-cita tinggi, baik budi pekertinya, berbelas kasihan), taat menjalankan perintah ag$11a, maka gantilah yang diceritakan, ada seorang fakir miskin. 2 7. Bernama Ngabdul Ngalim, seorang warga negara Mesir, masih muda tarnpangnya, elok tampan tiada bandingnya. dalarn hal ilm u agama sanga t pandai, sanga t keras tapanya/ i badah- ny a, berhati sabar bijaksana.
28. Ngabdul Ngalim masih perjaka, baru mutai dewasa, \ h. 7 \ melekat ketiga sifat agaknya. memancar cahayanya, Iebih bersinar serba lengkap, kuning tinggi perawakannya gagah, agak menyamar lakunya.
29. Tidak ada yang mengecewakan lagi, seorang santeri yang pandai mengatur, konon rela suka memberi, suaranya bagai- kan ga ung angkasa, banyak wanita jatuh cinta, janda banyak minta mau ikut, janda kembang banyak tergila-gila. 3 0. Mas bagus mendengar kabar, ada sayem bara raja, di Ngerum kini kerajaannya, segera banyak berkelana, belas kasihan jalannya, berjalan siang malarn, tiada lupa sholatnya. 3 I. Empat putuh hari empat puluh malam, tersebutlah perjalan- annya, sudah sampai di negara Ngerum, (masuk) maju tidak berliku-Iiku, (kebetulan pada waktu itu) sedang lengkap bersaf-saf duduknya di tarub agung, Kyai Patih Mangkupra- ja. 3 2. Kemudian dipersilahkan duduk, ki patih bertanya perlahan-Iahan, kepada Ki Bagus Ngalim, dari mana (ananda) berasal, dan apa tujuannya, serta siapa namanya, maka sang bagus menjawab.
33. (Hamba) bemama Ngabdul Ngalim, orang dari Turkusman (Turkestan), di Mesir kini jajarnya, adapun tujuan ham ba,
- Sudah kehendak Hyang Widi, akhirnya hamba mau, meng- hadap sri baginda, barangkali hamba sanggup, rnenjawab soal tuan hamba, bagaimana gerangan sri baginda, karena sangat pendek akal budi (harnba).
- Sri baginda kasihan rnelihatnya, setelah fakir (si misk in) berdatang sembah itu, sekarang dijarnu (rnakan dan minum)
h.10 \
temannya, para nyai empat puluh orang, dihiasi dengan busana (yang indah-indah), diperintahkan memikat sang ta- mu, agaknya yang masih muda-muda tampangnya.
- Para nyai empat puluh orang, sekaliannya sangat patuh, belum pemah melihat orang seperti itu, semoga aku di- hadiahi, bagusnya/eloknya beberapa, selalu dengan sopan santun, agak halus, lehernya jenjang panjang.
- Yang seorang menjawab, seandainya (aku) mempunyai suami seperti itu, aku menggila meraban meracau, kemudian seorang (yang lain) berkata, seandainya (aku) mempunyai suami se perti itu, akan kusembah setahun, masing-masing yang berbahagia berucap apa saja.
- Ada seorang nyai, (ia berkata) golonganku hanya seperti orang gila, tidak tahan menahan keinginannya, orang seperti aku akan merangkul, ki patih lalu berkata, bedebah pukul- lah dengan penumbuk padi keparat kepruken alu. seretlah ke belakang.
B. Pangkur - Sang raja putri bersabda, di dalarn hati agaknya orang 1111. seperti trah keturunan orang besar. menyamar dalam perja- lanannya, se mentara dugaanku agaknya, seperti, h. 11 \ tidak pantas, kalau (ia) keturunan orang kecil. .., Sri baginda bersa bda lagi, jawablah soalku segera, ada seratus perkara itu, rincilah masing-masing, kalau terjawab soalku yang seratus (itu), barangkali (aku) bisa memberi hadiah. mungkin bisa membalasnya.
da, apabila tuan hamba berkenan mengabulkan, (akan) lafalkan katakan, kullu syaiin halikun ilia wajhahu. tsegala sesuatu akan binasa, kecuali dzatNya ), semua tyang ada di dunia ini) masing-masing rusak. tetapi Allah tidak bergeser.
- Ngabdul Ngalim ditanya, oleh sri baginda di Ngerum sang raja pu teri, hai fakir apa yang Oebih) dahu lu diciptakan Allah, fakir menyembah dengan artinya, huruf itu, lafaJ kun fayakun (jadilah maka lalu jadi) juga.
S. Sri baginda bertanya lagi, dari mana asalnya Dul Ngalim. yang ditanya menjawab, dari jasa ayah, ketika menetes ber- tempat di air, (maka) tersenyum sang raja puteri, ada terasa \ h. 12 \ dalam hati. - Manakah juga dalilnya, kalau tidak sesuai dengan dalil aku tidak sudi, banyak ilmu tanpa guru, taklid (pengikut) ilmu- nya se tan, bila terjawab soalku yang seratus, silahkan jawab fatakuna nafsan (maka ia menjadi jiwa) ini.
- Ngabdul Ngalim menyembah yakhruju min lxlinis shulbi wattara ib, (yang keluar dari tulang sulbi, tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan), sri baginda bertanya lagi, ke mana perginya, fakir menyembah, sendirian (tidak beranak dan tidak beristeri) artinya, karena lama tanpa wani- ta, sri baginda bertanya lagi.
- Di mana tempatnya, yang nyata Ngabdul Ngalim menjawab, y a tuanku ada di kubur, artinya lagi sri baginda, apa yang diciptakan dahulu, kemudian Ngabdul Ngalim menyembah. khola knahu minannari (kami jadikan dari api).
- Yang bernama samaran Jalnira, dan Jalira berkehendak dari ny amam, yaitu tiga gelu berekor, yang satu seperti ular, ekomya seperti kala jengking, sri baginda bertanya lagi, apa maksudnya yang jadi (dijadikan dari apa).
- Ngabdul Ngalim menja wab, \ h. 13 1 dari iblis sri baginda bertanya lagi, apa itu tidak tahu, pada kaiya sama sekali, kerjanya (hanya) makan dan minum, fakir menyembah terkejut, Nabi Musa yang paling unggul.
Sri baginda bertanya lagi, fakir berapa banyaknya yang tidak membuat kenyang, dari ayah dan dari ibu. maka fakir me- nyem bah. sekarang ini ada lima banyaknya. Adam Hawa lahirnya. baginda soleh ini.
1 2. la menitis tan pa ibu, Nabi Ngisa (Isa) tan pa suara, besarnya bgi sri baginda, makanan apa, yang tidak keluar di dunia ini. dan tidak dari akherat. syeh fakir segera menjawab.
- Yaitu diundangkan/ diumumkan. Nabi Mu sa dicela oleh orang kafir. mukjizat makannya agung, ayat an:: il ngalaina. maida- ran m i11assama "i (turunlah hidangan dari langit) itu, sri baginda bertanya lagi kepada Ki Ngabdul Ngalim.
- Hai fakir berapa perkara, yang dua-dua itu sebenarnya, Ki Ngabdul Ngalim menyembah, ada sebelas perkara, (yaitu) siang malam perempuan dan laki-laki, surga dan \ h. 14 \ nera- ka, orang Islam dan orang kafir.
- Lautan dan daratan. mati hidup aras dan kursi luh dan kalam. berahi dan akad, sudah genap sebelas, sang puteri bersabda, apa yang dari tanah. mana yang dari langit.
- Jawab fakir kepada raja, yaitu sholatnya orang mukmin, bertany a lagi sri baginda. yang lebih padat amal kita, dija- lankan itu, fakir berkata hatinya manusia, sri baginda bertanya lagi.
- Yang Iaut apa namanya, Ngabdul Ngalim jawabnya belas kasihan, kan dari Baginda Nabi Nuh, datangnya angin lautan, kata fakir dari surga asalnya, sri baginda sekarang bersabda, sambil bertanya lagi.
- Mana pula dalilnya, fakir menjawab minal /aili bi Iii jannati (dari malam di surga), berkata sang puteri dari mana asalnya kambing, fakir menyembah, kambing berasal dari surga, di dalam ayat nga.nam minal jannati (kambing dari surga).
- Sri baginda bersabda lagi, dari mana asalnya kuda, Ngabdul Ngalim menyembah, dari langit asalnya, kata raja dari mana kuda itu, itu dari batu, sri baginda bertanya lagi.
- Apa yang pergi datang, siang dan malam, bertanya lagi sri
sebuah kayu, mempunyai dua belas cabang, ca- bangnya yang satu, daunnya tiga puluh.
- Daun-daunnya bersisik putih, dan hitam santeri yang tampan menjawab. yang dimaksud kayu itu, agaknya pemulanya, dua belas daun (bulan) hari tiga puluh, sebelah hitam dan pu tih, itu siang dan malam.
22. Sang raja puteri bersabda, anak apa yang dijadikan dahulu, Ki Ngabdul Ngalim menyembah, putera Nabi Adam, yang bernama Kabil \ h.16 \ itu, sri baginda bersabda lagi, ber- tanya kepada Ki Ngabdul Ngalim.
23. Berapa banyaknya kitab, yang diturunkan dan mana kitab yang termashur (dan) yang mansuh (terhapus), kitabnya ada seratus empat banyaknya. yang seratus terhapus semua, yang empat termashur ini. - Kitab Taurat Nabi Musa, Nabi Ngisa (Isa) dituruni kitab Injil, Zabur kepada Nabi Daud, Furqon (Qur'an) Nabi Mu-hammad, sabda raja berapa nabi banyaknya. dan berapa nabi utusan, yang syari'at berapa nabi.
25. Yang syari'at tanpa kitab, yang syari'atnya tidak dengan kitab, yang syari'at ini. tidak dengan kitab. fakir menyembah banyaknya nabi ini, ada satu kethi (seratus ribu) dua laksa (dua puluh ribu ). em pat ri bu banyaknya nabi.
26. Dan banyaknya nabi utusan, ada tiga ratus tiga belas ini, yang mempunyai syari'at itu. ada enam banyaknya. bemama Nabi Adam. Nabi Enuh, Ibrahim. Mu sa dan Isa. Nabi Muhammad namanya. 2 7. Kitab yant tan pa syari'at, ada tiga yang bernama \ h. I 7 \ Nabi Esis, sebanyak Jima puluh kitabnya, Nabi Idris tiga puluh, Nabi Daud dituruni kitab Zabur. yang syari ' at tanpa kitab, ini hanya Nabi Enuh. Yang syari'at dengan kitab. ada lima. Nabi Adam paling besar, kitabnya sebanyak sepuluh. Ibrahim ada sepuluh. Nabi Musa satu Taurat itu. Na bi Isa kitabnya satu. bernama lnjil.
29. Nabi Muhammad sa tu. bernama Qur'an adapun yang bemamaNgabdul Ngalim sudah lama, di dalam pura dikurung sang puteri, adapun soal belum selesai, dijawab semua, Ngabdul Ngalim ditemani kyai patih, dan ketib modin semua. ber- malam di mesjid kecil. 3 I. Tempatnya dihias, puteri tampak samar-samar kecil, bagai- kan orang mengam bil menantu,, h.18 \ orang yang melayani itu, tua muda besar kecil semua iku t, gem bira ha tiny a senang, berebut melayani.
- Berlebihan dijamu disambut dengan segala kehonnatan. berduyun-duyun para nyai terus menerus tiada henti-henti- nya. melayani tamunya, sampai mereka kekenyangan, ketib modin berkatnya sampai dipikul, memang sang puteri ingin melamar, dan ada hati agaknya.
- Pemberian dari dalam pura, sri baginda sangat hormat. horeh (param) kuning. boreh bini. boreh m erah kup11-k1.11m. air mawar yang dipakai sebagai airnya. kasturi dhedhes ce ncl ana. bercampur bawur (dengan) bunga yang indah-indah.
- Se mua yang menjadi Ki Ngabclul Ngalim diberi ganti pakaian. ki penghulu dikaruniai. kuluk (mahkota) baju ikat kepala. ketib modin peralatan sholat dan kuluk, mereka semua gem-bira. ketib modin dan priyayi (bangsawan).
35. Ngabdul Ngalim dikaruniai, pakaian yang pantas dan bagus. orang tampan berganti kain pakaian. makin bertambah 111L'- narik hati. \ h.19 \ sudah pantas dino batkan menjacli Raja Ngerum (Rum), agaknya menjelma dalam hati. kiranya ( ba- rangkali) itu tuan hamba. 3 7. Tidak tahan ratna juwita (sang puteri). hilang ak::il merana dalam hati. sedangkan orang yang sama-sama laki-laki. jatuh cinta kelihatannya. apalagi perempuan masakan ticlak cinta. keburu sa ng puteri keluar, (maka) bubarlah orang-orang yang ada dalam masjid.
{tempat tidur putih seperti gading).
dikelilingi sekalian para puteri, ki patih sudah berkawal, mengiring wadya bala (prajurit), priyayi bangsawan berkawal kepada sri baginda. hanya tinggal Nga bdul Ngalim seorang diri. (maka) bersabda sang raja puteri.
3q_ Sri baginda bersabda pelan. hai fakir janganla11 engk au pulang kalau soal itu belum. di jawab se mua, tidak boleh engka u pulang fakir, apabila kekel (terjawab semua) soalku. sekehendakmu aku turuti.
- Sri baginda bertanya lagi, berapa banyak nabi yang menjadi raja. Ki Ngabdul Ngalim menjawab. banyaknya sembilan perkara. yang bernama Nabi Sholeh \ h. 20 \ Na bi Hud. dan Baginda Ishak, Raja Baginda Yusuf. 41. Dan Nabi Daud Suleman, nabi kita yang bernama Muham- mad. sri baginda bertanya lagi, dan siapakah itu raja, yang besar yang banyak pengikutnya, (maka) fakir menjawab ::ida tiga. (yaitu) Raja Kanjeng Nabi Yusuf. 4 2. Dan Baginda Suleman, yang ke tiga Raja Ngabdul Kurnen, sri baginda bertanya lagi, fakir siapa itu raja, yang besar (maka) fakir menjawab yaitu ada tiga, Fimgon (firaun), Nam rud dan Sadah. sang raja bertanya lagi.
- Apa kelebihan surga, berapa banyaknya (maka) Ngabdul Ngalim menjawab, ada tujuh surga yang luhur mulia, pintu- nya bernama, darussalam (maka) sri baginda bersabda lagi, berapa banyaknya neraka, (maka) fakir menyembah berkata kasihan.
- Tujuh banyaknya bernama ngedi. kedua bernama weli lazha, sangir yang ketiga, sangir ke empat, yang bernama jakhim yang kelima itu, siji yang ke enam ini, ke tujuh jahanam. 4 5. \ h. 21 \ Sri baginda bertanya lagi, hai ki fakir apa nama yang satu, (maka) fakir kasihan menyembah, itu wujudullah (wujud Allah), Raja Ngerum lagi sabdanya manis, dari mayat ada empat perkara, lah itu juga apa namanya.
- Fakir arif bijaksana menjawab, ada empat namanya yang
~nar, api angin tanah air, sri baginda bersabda. ada Iima banyaknya diambil itu, Syeh Ngarif menjawab. iya ada Iima jalan.
-i 7. Syahadat dan sholat, serta puasa di bulan Ramadhan. zaka t haji li manya, yang kuasa perjalanannya, sabda raja ada lima cara itu. menahan makan kelima. sembah Ngabdul Ngalim.
- Di dalam kelima dalil. sholat itu juga, li ma waktunya. (maka) sri baginda bertanya lagi, dua jalan dengan tiga cabang, yang satu ada enam cabangnya. Ngabdul Ngalim segera menyembah. 4 9. Yang kedelapan pengkokoh iman, yang keenam itu rukunnya nyata. sri baginda bersabda lagi. yang tuj uh. tujuh apa, ka ta \ h. 22 \ fakir bumi langit tujuh-tujuh. neraka itu tujuh. surga juga tujuh.
- Sri baginda bertanya lagi. membuat satu samalah dengan se puluh, sekarang Nga bdul Ngalim menyem bah. yaitu amal. ya ng satu dibalas oleh Alah sepuluh, (maka) sri baginda bertanya lagi, berapa nabi yang masih hidup.
- Yang ditanya berdatang sembah, ada empat na bi yang masih hidup. Nabi Idris masih berwujud, (Nabi) Isa dan Nabi llyas. Nabi Khidir itu masih berumur, bersama-sama dengan umur dunia, ( maka) sri baginda bertanya lagi.
- Di mana tempatnya em pat nabi, (maka) fakir menyembah yang dua ada di langit, menjadi satu dengan malaikat, Na bi Idris dan Isa, dua nabi yang ada di bumi, bernama Baginda Il yas dan Baginda Khidhir.
- Khidhir berkeliling di lautan, Nabi Ily as daratan dikelilingi, adapun nabi itu, yang ada di dalam surga. Na bi Isa di langi t ke e mpat sang \ h.23, raja bersabda pelan Iembut, sabdanya Iaksana madu gula.
C. D handhanggula
I. Dan berapa manusia ini, yang dimurkakan oleh Allah, diru- bah rupanya, (ada) yang menjadi hewan, di dunia (maka)
jual beli, tim bangannya dikurangi, dijadikan bahak, lagi pula itu, hak orang dihilang-hilangk£!n, maka orang ini dirupakan, menjadi upas buronan.
- Ada lagi orang naik-naik, memanjat (pohon) kayu gembira ketika melihat, Ibrahim ketika pem bakarannya, orang itu dirupakan, menjadi ukab-ukab dan lagi, keadaan biyang (ibu ). pada waktu itu sedang melaksanakan sem bah yang. anak datang tertawa mengejutkan, dimurkai Allah.
- Orang itu dijadikan kucing, sang raja puteri bersabda. apa yang peri amalnya. Nga bdul Ngalirn ·menY"em bah, amalnya peri pun ini, juga dari dunia yang bercahaya memancar. yaitu malaikat kelak, peri dan bidadari dari api, sri baginda berta- nya lagi.
- Ya fakir di mana tempatnya ngusik, tempatnya, h. .25 \ akal dan tempatnya nafas. syeh bagus menjawab pelan. berahi tempatnya di jantung, tempatnya nafas di baital makmur, di otak sebenarnya, bersabda sri baginda, di mana tempatnya hati, fakir menjawab tempatnya hati tanpa letak (tem- pat), ada di seluruh batin.
Sri baginda bertanya lagi, hai fakir juga makjuja, itu apa asalnya, ada seberapa besarnya, dan rupanya seperti apa, syeh arif jawabnya, putera Nabi Nuh, banyaknya tak ter- hitung, yang kecilnya itu kecil-kecil, sampai hari kiamat.
- Seisi dunia dimakani, (maka) sri baginda bertanya lagi, siapa yang banyak syukurnya, kepada Allah, Yang Maha Besar, siapa yang banyak doanya juga, (maka) menjawab sang bagus kasihan, ialah Nabi Nuh; yang bersyukumya kepada Tuhan, dzikirnya banyak menyebutkan Hyang Widi, sri baginda ber- sabda
IO. Na bi siapa yang sabar ha ti, siapa nabi \ h. 26 \ alim pengetahuan, siapa yang hidup tajam pengliha tannya, Syeh Arif dan Nabi Ayub yang sabar hati, yang alim pengetahuan, itu Nabi Khidhir. yang arif kepada Tuhan, sungguh bernama Nabi Muhammad, sri baginda bertanya lagi. 11. Dan berapa usia Kanjeng Nabi, Rasulullah di dunia, d:m berapa martabatnya, sang pekik menjawab pelan, umur nabi ialah, enam puluh tiga tahun, Dal tahunnya, pada bulan Rabi'ulawal, hari Senin tanggal dua belas pagL dimakamkan di Madinah.
12. Tatkala berusia empat puluh tahun, (maka) untuk pertama kalinya, perintah Jabarail, selanrn dua puluh dua tahun, maka diturunkanlah Qur'an, selama dunia dituruni wahyu, Jabarail yang datang, ada satu kethi dua laksa (seratus dua puluh ribu) menurunkan, wahyu kepada nabi utusan.
13. Adapun Nabi Adam yang berlebihan, wahyu Allah dua belas kali \ h. 27 \, Na bi Nuh dalam kedudukannya. kcturunan wahyu lima puluh kali, (dan) Nabi Ibrahim, tujuh puluh kalL Nabi Musa empat puluh, Nabi Isa sepuluh kalL bertanya lagi sri baginda, kepada fakir yang pandai. I 4. Suaranya yang terdengar, seperti apa Jabarail itu. sampai hari kiamat kelak, apa yang diturunkan, Ngabdul Ngalim sambil menjawab, turun sepuluh kali dibelakang rasuL di- utus oleh Allah, mengam bil banyaknya perkara semua. sampai batas hari kiamat.
- Sri baginda bersabda dengan manisnya, apa yang diambil diminta Allah. yang ditanya menjawab. yang diambil diminta, oleh Allah Yang Maha Suci. pertarna mengam bil (mint a) berkah dunia. dan keadilan raja. kasih sayang sanak saudara. dan susuh payah o rang tua dalam berbagai hal yang dipikir- kJn. dan rnalunya pendeta. I o. Mengam bi! pernberian orang kaya. rnengarn bil malunya wa- nita. mengarnbil imannya mukmin. dan \ h.28 \ Qur'an diambil. Sang Ratna Maleka berkata. la ilaha illallah (tidak ada Tuhan melainkan Allah) apa artinya, Muhammad Rasulullah. bagaimana artinya masing-masing, dan farclhunya syahadat acla berapa. I 7. Ngabclul Ngalim berkata manis. fardhunya ada empat. yang pertama bernama tasdik, ta 'dzim keduanya. yang ketiga ini k hu11nal. yang keempat khilawat. adapun artinya. tasdik betul dalam ucapan, memuliakan ta'd:: i111 (membesarkan) kepacla Allah. clan artinya khurmar.
- Memuliakan Nabi Allah, artinya khila1·val (menyepi) itu. menyerahkan jasatnya/ badannya, dan artinya asy hadu ber- saksi di dalam ha ti, la ilaha illallah la nafz itu. tidak ada jenis yang menyamai. tuhannya bertahta dengan k odim (kekal ), ditopang dengan huruf la.
- Dan lagi ilaha ini, menerimakan akherat, ilia matasna artinya. illallah tersebut itu, ialah tuhan yang benar, disembah oleh ·orang sedunia, maka m ulya clan maha agung, sang \ h. 29 \ raj a bersabda lagi, sit' at yang dua puluh bagaimana. rinciannya masing-masing.
20. Berkatalah fakir. dengan manisnya, yang pertarna sifat w ujud. nafsiy ah itu narnanya, yang pasti adanya yang kedua ini qidam dahulu tidak kedahuluan, adanya Tuhan yang Maha Agung, yang ke tiga sifat baqa artinya kekal, tidak dapat rusak, adapun dzatnya Tuhan. 2 1. Mukhalafatuhu Iii khawaditsi, berbeda dengan yang baru, ini juga artinya, yang kelima sifat qiyamu (hu), binafsihi berdiri sendiri, keenam wahdaniy ah artinya yaitu, dzat sifat
tidak ada yang menciptakan, ketujuh sifat kodrat ing Hyang Widi, artinya Allah Maha Kuasa
Kedelapan itu iradat, berarti Tuhan yang berkehendak, ke sembilan ngilmu sifatnya, artinya Tuhan mengetahui, yang gaib yang berwujud, yang hidup yang kebanyakan, yang menyamar yang halus, tidak samar penglihatan, pasti melihat tujuh humi tujuh langit, tidak dapat dibohongi \ h.3 0 \
Dalilnya 'ghalimul ghaibi, wasyahadati artinya, melihat dalam tidak tampak, sifat kesepuluh, sifat khayyat pada Hyang Widi, hidup tidak dengan nyawa, mukhalafah itu, ke sebelas sifat samang(sama '), artinya Tuhan mendengar, tidak dengan sebab. Kedua belas sifat basar, artinya Tuhan melihat, sangat maka, mustahil buta Hyang Agung, tiga belas ini kalam, artinya bersabda, tanpa suara tanpa huruf, mustahil bisa pada Hyang Sukma, keempat belas ( qadirun) sangat berani juga yang (maha) kuasa, mustahil ditipu Hyang Sukma. Kelim a belas ini muridan. artinya Tuhan yang berkehendak, tidak dengan angan-angan (pikiran ), mus tahil terlam bat (kalah) Hyang Agung, menjadikan yang mukmin, itu enam belas sifat ngaliman artinya (maha) tahu, ketujuh belas sifat khay yan artinya, Tuhan dan pasti yang hidup, tetapi tidak bernyawa.
- Mustahil kalau wafat adanya Hyang Widi, \ h.3 1 \ kedelapan belas ini samingan, artinya yang mendengar seluruh alam semesta itu, basiran yang melihat, tidak dengan mata, mustahil buta itu, dua puluh mutakaliman, artinya yang bersabda tanpa bi bir, mustahil kalau bisu Tuhan. 2 7. Karena itu ada sifat dua puluh, yang terkenal wajib diketahui- lah, oleh semua orang dewasa, perempuan dan laki-laki, sekaliannya itu wajib memahami, semua sifat-sifat Allah, Yang Maha Agung, sri baginda bersabda lagi (tentang) sifat Tuhan yang termasuk istighna ini, berapa yang masuk iftikar
- Sem bah Ki Mas Ngabdul Ngalim, yang termasuk istighna ada sebelas, iftikar sembilan banyaknya, istighna sifat wujud,
gidam baqa mukhalafatuhu lil khawaditsi, qiyamuhu binaf - sihi sama ' basar kalam, sama 'an basiran itu lengkapnya, mutakaliman ini, artinya bersabda.
- Adapun kesembilan iftikar ini, wakhdaniy at kudrat dan iradat, ilmu \ h.32 \ khayyat dan melihat kodiran muridan itu, dan aliman khayyan itu, sudah genap sembilan bersabda sri baginda, sifat dua puluh itu, berapa yang termasuk huruf lakadnya, berapa itu sekarang.
- Ngabdul Ngalim menjawab yaitu, yang lima yang termasuk sifa t nafsiy ah, wujud artinya, sifa t salbiy ah itu, ada em pat yang masuk qidam dan baqa, mukhalafatuhu lil khawaditsi qiyamuhu binafsihi itu, bersabda sri baginda bertanya lagi, berapa yang termasuk ilaha.
- Yang enam inilah yang masuk, yang tiga memberi ma'ani sifat yang tiga, sama' basar kalam dan sifat ketiga, mangna- wiyah yang masuk, samingan basiran mutaka/iman itu, sudah genaplah itu. bertanya lagi sri baginda dengan manis lemah lembut, kepada santri yang pandai. 3 2. Ada berapa sifat yang termasuk, ilia itu, ada satu sifat wahdaniy ah, esa dza t esa sifatnya, bertanya \ h. 33 \ lagi sri baginda, yang masuk illallah ini, ada empat yakni sifat ko- drat iradat, ilmu khayyan manawiyah yang masuk, dalam illa/lah. 3 3. Dan dengan itu yang masuk, sifat kadiran muridan. yang kausa karsa, kha.vyan ngaliman itu, dalam sa!biyah itu sa tu. yaitu wahdaniy ah. dzat esa sifatnya, tan pa htiruf tan pa teman tanpa susun tulang sungsum darah daging. sifat tak terhitung. 3 4. Sri baginda bersabda dengan manis, artinya mukmin rumal1 - nya Allah. itu apa artinya Ngabdul Ngalim menyembah. yaitu kata yang tersebut dalam khadis. sabda Tuhan kujadi- kan itu, anak cucu Adam, aras dadanya itu, di dalam dada hati.
- Dalam hati fuoda namanya, dalam fuod namanya jinem. dalam jinem itu tibenge. dalam tibeng itu dinamakan ka11ti
dalam rasa itu, tidak ada lagi yang lain, kalau ada lagi, tetapi aku yang ada.
3 6. Raja puteri berlaha-lahan bertanya lagi, kini Allah ada di dalam a.sya. dan bagaimana maknanya, Ngabdul Ngalim me- nyembah, maha suci Allah yang bersifat kadim (kekal), tidak zaman tidak makan, tidak atas tidak bawah, tidak di dalam tidak di luar, tidak pisah tidak campur dengan semua yang dijadikan, sri baginda heran dalam hati.
- Manusia tidak boleh takabur, memanusiai pada sesama manusia, kalau bisa apa cacatnya, Tuhan Yang Maha Agung, berkuasa Jahirnya abdi perempuan, sri baginda segera tobat, menyatakan senangnya, orang sedang mendapat durhaka / dosa, akhirnya mati kelak dalam neraka, atau naik ke surga.
- Ni mas puteri makin sayang, sesudah terselimuti di dalam batin, makin merana hatinya, sang dewi lalu masuk ke dalam pura. Ja lu tidur memeluk guling, karena trah kusuma / darah bangsawan, peringatan guru, gila asmara tidak \ h.35 \ tampak. ha nya tampaknya agak Juyut m anis matanya terkena rindu sekali, tingkah laku yang dikerjakan.
- Guru ni mas raja puteri, digunung keras tapanya, awas terus penglihatannya, tahu sebelum dikatakan, makannya siang dan malam, makan terbenamnya gunung, pisang nasinya. (belian) sudah tahu bahwa sri baginda mempunyai tamu pandai. elok tampan keturunan pertapa.
- Aku doakan anak prabu puteri, semoga tulus selamat menjadi suamimu. jangan banyak-banyak cobaannya. tersebutlah ra- den ay u, memanggil kyai patih, kalian jagalah /urnslah. ke- pada tamuku. ya tuan ham ba sembah ki patih. maka semua para mantri lurah sekaliannya, mentaati perintah raja.
- Sang raja puteri keluar. di balai {rumah bagian depan) diiring- kan da yang-dayang, asri indah tampak warnanya. rimongnya cindai ungu. dihiasi dengan air emas yang indah-indah. kain geringsing menyala-nyala, memakai pinjung kain sutera lam:i. makin tambal1 raga \ h.38, karena, bentuk (perawakannya)
42. Dihiasi dengan emas intan hijau, rambutnya lemas tebal sedikit berombak, anak rambutnya tebal lagi halus. bersubang bapang memancar, sudah selaras seperti bidadari. agak meneranggilang, manis kalau dilihat. kuningnya di bawah perada, lebih luwes tingkah lakunya halus budi pekertinya, sang puteri bersabda pelan. 4 3. Sabda sang raja puteri, bagaikan bidadari surga. berlebihan berwarna wami, senyumnya laksana kilat bersinar gemerlap- an, gebyar-gebyar seperti daru pindah tempat, terpencar ca- haya terang benderang, menjadi gurunya cantik, tidak ada ang menyamai, hanya sayang senyumnya dikulum, di buat sandi, banyak santri tergila-gila.
44. Kyai patih menghadap kepada tuannya, para mantri lurah semua, berkumpul di tarub agung, maka brsabda sri baginda, patih mana tamuku, kyai patih terkejut dan gugup terburu- buru memanggil sang bagus, anak \ h. 3 7 \ mas anda, dipang- gil oleh sang raja puteri, kemudian sampailah di hadapan.
45. Sang raja puteri bersabda, berapa banyak kesenangan itu, yaitu ada tiga adapun, nabi hanyut di dalam dzat, kedua para nabi, banyak pada sifat, ketiga, orang mukmin hanyut dalam af'al (perbuatannya), maka bersabda sang raja puteri, berapa banyak iman.
46. Bagus fakir menyembah ada tiga juga, pertama ma 'sum nama- nya, imannya semua nabi, ke.dua iman matzbung, imannya malaikat, iman yang ketiga, itu iman makbul, imannya mukmin semua, sudah genap itu tiga mac am, ratu mas jawab hamba. 4 7. Bersabda sang raja puteri, fakir apa kepalanya iman, dan apa artinya iman, dan apa bedanya, dan apa cahayanya juga, dan kegelapannya (rintangannya) \ h.38 \ iman apa, dan manisnya, dan apa tum buhnya iman, lah bagaimana khitmat- nya iman ini, dan syaratnya iman.
48. Dan tumbuhnya (iman) bagaimana, serta apa akamya iman, rumahnya iman apa, dan apa daunnya, dan apa kulitnya
- Manisnya iman itu, artinya benar-benar suci, tumbuhnya iman itu, zakat fitrah yang dilaksanakan. khidmatnya iman itu, tah u kepada \ h.39 \ Hyang Agung. artinya takut yaitu. menj alankan fardhu dan wajib, yang sunah dijalankan. 51. Syari 'atnya iman yakni, menghalalkan semua yang halal. yang kharam dikharrnkan, bijinya iman adalah ilmu, rurnah- nya iman itu bakti, daunnya iman itu, menghadap dengan khusuk kepada Hyang Agung, kulitnya iman adalah malu, kepada Tuhan Yang Maha Suci, otaknya im an doa.
52. Akhirnya iman ini, ikhlas hati hanya kepada Allah, yang iman se mua rumahnya, hatinya mukmin itu, sembahyang sunah ini, nyawanya itu hidayat petunjuk) Hyang Agung, sudah terjawab semua, maka bersabda sang raja puteri, sambil mengusap sinom (anak rambut bagian muka).
D. Sinom
I. Sang raja puteri bersabda. mana lautan tak bertepi, penglihat- an orang ma'rifat, sri baginda bertanya lagi, papan tidak dengan tulisan, sama juga sri baginda, penglihatannya orang \ h.40 \ cerdik pandai, seperti para wali, sabda raja tunjung yang tidak dengan air. - Menye mbah fakir kasihan, agaknya eroh idhoji (sandaran), sri baginda segera menjawab, lampu meny ala tanpa api, juga tidak dengan minyak, iya tidak dengan sum bu, Ngabdul Ngalim menyem bah, sum bunya dzatnya Hyang Widi, mutlak dan yang tidak dapat dicampurkan.
Sri baginda bertanya lagi, daun hijau tanpa tahun, bagus fakir katanya, sesudah berupa manusia, hidupnya yang sejati, bersabda lagi sri baginda, sekarang mana tenunan, menenun sekali jadi, membuka tali sempurnalah putusnya.
- Syeh bagus berkata menyem bah, penglihatannya sudah nya- ta, menyatukan karsa, sri baginda berkata lagi, tanggal satu bulan purnama, bundar bulannya, bersama dengan gerhana, Ngabdul Ngalim menjawab, banyak kejadian dewasa ini yang menjadi kuno.
- Bersabda raja puteri, \ h.41 \ apa yang dinamakan ngarasy kursyi, Ngadul Ngalim katanya, di hadapan surga, para malaikat yang menjaga, menarik surya ini, besarnya matahari nanti, tiga ratus hari, dan enam puluh dunia nanti mata- harinya.
- Tempatnya langit keempa t, dimuat pedati, telinga pedati itu, tiga ratus banyaknya, lan enam puluh banyaknya telinga, masing-masing dadanya, tiga ratus da11 enam puluh, sedada- nya yang menarik. banyaknya tiga ratus malaikat.
- Lebih enam puluh itu, malaikat yang menarik, kalau ketika gerhana matahari, termasuk dalam jelas (barut) tuan puteri, di Jangit keempa t, semua malaikat itu, seketika sangat ber- kurang keberanian jalannya, asyik awas melihat. orang yang durhaka kepada Allah tatkala di dunia.
- Serta memohonkan ampun, kasihan malaikat melihat durha- kanya orang \ h.4 2 \ itu, biasanya ingat Hyang Widi. kasihan sekali aku ini. akhirnya aku asyik /lek.a, kasihan melihat ka- mu, sebab mendapat murka, karena itu dimasukkan dalam samodera edzat.
- Itu ditarik pedati. meleleh seperti dimasukkan ke dalam bumi, itu hakekatnya yang benar, mengetahui kepada ke atas. menghadap kepada Tuhan, tatkala ke atas itu tengah malam. sangat sujud kepada yang maha suci, besarnya bulan kelak.
l O. Enam puluh dunia itu, tepatnya di langit pertama, itu tidak mau sujud berselisih kepada Hyang Widi, hanya sekali semadi.
be- sar, kalau isterinya hamil, umurnya jagung padi, melihat tua mudanya, \ h.43 \ bila tidak demikian, tidak mengerti perhitungan, yaitu agaknya kodrat iradat.
- Sang raja puteri bersabda, kepada Ki Ngabdul Ngalim, apa juga sebabnya, ada hari Jum'at, dan hari Kamis itu, serta dengan hari Sabtu, dan hari Ahad, dan hari Senin namanya, dan karena itu ada hari Selasa.
- Dan Rabu namanya hari, mas bagus menjawab perlahan, hari Jum 'at itu, melahirkan Hyang Widi, pada Na bi Adam da- hulu, tatkala itu lahirnya, lestari dengan Hawa, tidak bisa berpisah satu dim, hari Sabtu lahirnya sakit enak.
- Adapun hari Ahad, kehendak Hyang Widi, melahirkan baik dan buruk, pada hari Senin ini melahirkan Hyang Widi. yakni ke pada Kanjeng Rasul, pada hari Selasa itu, menjadi- kan im an taukhid, makrifat dan islam.
- Pada hari yang bernama Rabu, karsa Hyang Widi, turunnya \ h.44 \ syari 'at, tarekat khakekat. karena itu hari Kamis, turunnya lima waktu, sudah genap tuan ham ba. sri baginda bertanya lagi, mana laut yang tidak dengan daratan.
- Ngabdul Ngalim sem bahnya, Jaut yang tan pa tepi, itu peng- lihatan orang makrifat, bertanya lagi sri baginda, papan tidak dengan tulisan, sama juga tuanku, pandangannya orang curiga. di tengah-tengah para wali. bunga tunjung (teratai) yang tanpa air.
- Sang raja ayu bersabda. senyumnya menutupi bibir. senyumnya menyenangkan menyebabkan mabuk, tingkah lakunya membuat gila asmara. mengintai alis menge rling. Ki Ngabdul Ngalim menundukkan kepala. sang pu teri berg.an tr kain. berwarna jingga dihiasi warna emas yang indah. pantas s~ kali kalau berdiri.
- Lancang cerana paidon di depan, semua cethi inang penga-
20. Ayam jago wodi (bulu di punggungnya bertepi hijau) agak merah, lancurnya panjang bagus, kokoknya berkali-kali, barisnya rapi, kaki putih jalu tajam, seperti pisau raut sabatu, ayam jago yang lama dalam kurungan, kemungkinan mau pada darah ( berani berlaga), hanya sayangnya kurang berani mau mencoba.
21. Sri baginda bertanya lagi, apa yang lebih jelek ini, sembah fakir kasihan. orang syak kepada Hyang Widi, wawasan hatinya, belis setan laknat yang diturut, yang baik tidak mau, bagaikan orang minum api, godaan belis laknat yang samar.
22. Agar semua masuk, di neraka itu kelak, \ h.46 \ manusia kurang waspada, mentang-mentang sudah alim, lagi pula orang jahil, itu besar lengahnya, sri baginda bertanya lagi, apa yang lebih agung, katanya orang yang kekal iman kepada Tuhan.
23. Sri baginda bertanya lagi, apa yang lebih pahit dan apa yang paling manis, fakir berkata sambil tersenyum, hatinya orang miskin, seumpama bratawali (daun yang pahit sekali), manis yang _lebih sangat, adalah hatinya orang kaya, sebenarnya tidak mengerti repotnya setan.
24. Berkata Ratna Maleka, mana desa yang paling baik, dan mana desa yang paling jelek, kata fakir menjawab, di akherat desa yang baik, bila mendapat kasih Hyang Agung, yang rendah adalah desa dunia, sri baginda bertanya lagi, mana yang beratnya lebih berat dari pada gunung.
25. Mas bagus berkata perlahan-lahan, ini agaknya, yang baik
\ h.47 \ Ngabdul Ngalim menjawab. yang lebih gelap. adalah orang yang tidak tahu ten tang syarak (hukum agama ).
26. Yang terang lebih dari siang adalah hati orang alim, sri baginda bertanya lagi, yang dalam lebih dari laut. yakni kesem~ purnaan Tuhan, terhadap hambaNya, bertanyalagi sri baginda, dingin iebih ·dari pada air, dan apa yang lebih keras dari pada batu. 2 7. Sembah fakir kasihan, tumaninah sabar ha ti, terhadap dalam- nya nafsu setan, semua cobaan disirnpan (dihindari), ingat kepada f-Jyang Widi, yang keras lebih dari pada batu, yaitu hati kufur, yang ternpatnya pada budi nasrani, maka duduk- lah sri baginda (karena) sudah betul sernua.
28. Sri baginda bersabda lagi, apa yang panas lebih dari api. fakir berkata pelan, ini agaknya, hati orang dengki, sri baginda lagi bertanya, apa yang tinggi lebih dari langit itu, sang bagus menjawab, yang ditanya ratu mas orang \ h.48 \ berani mengalah.
29. Akhirnya luhur itu, berani mengalah dipakai, sang raja pu teri bersa bda, rend ah le bih dari tanah, itu orang yang ba- n yak budi, itu tidak akan kalah, terpaksa melebihi, akhirnya rendah yang diternukan, bersabda sang dewi yang berbahagia di istana.
30. Lha apa yang berat itu, yang lebih dari gunung, yang tajam lebih dari keris, sembah Ngabdul Ngalim, orang yang rendah hati terhadap manusia, itulah jawab hamba, yang tajam lebih dari keris, agaknya ini hati pendeta para ulama. 3 I. Para pendeta dan ulama, yang sudah arif kepada Hyang Wid i, bukan pendeta yang serupa, yang sakit hati terhadap Hyang Widi, ulama yang · alim, terhada p Hyang Yang Maka Agung, bukan alim sulapan, alimnya benar-benar, ya itulah sri baginda jawab hamba. 3 2. Bersabda lagi sri baginda, banyak mana laki-laki dan perem- puan, kata fakir \ h.49 \ sembahnya, agaknya banyak orang
h50 \,yang disembah tuhannya orang sedunia.
- Apabila kuning tampaknya, jangan dianut itu, atulah godaan-godaan, supaya semua lenyap, doanya illallah, Allah Tu- han hamba, yang agung maha mulya, dzat sifat Hyang Widi, apabila tidak tahu sekarat pasti sesat.
- Sri baginda bertanya lagi, dan banyak mana orang mati, lebih banyak orang hidup, jawabnya banyak orang yang mati, walaupun hidup tanpa pengetahuan, itu seolah-olah mati juga, sri baginda bersabda lagi, nyawaku yang mati, ada di mana apa kumpul apa pisah.
- Nyawa tuan nanti tidak pisah, tetap masih bersanding, bagaikan layang-layang putus, demikian it~ naiknya, lebih sulit sri baginda, kalau salah atau keliru menjadi kufur. perbuatannya belis laknat, lewat jalan yang membingung- kan, lebih sempit tidak enak laju imannya.
- \ h. 51 \ Sri baginda bertanya lagi, apa putih lebih putih, yaitu hatinya orang islam, ikhlasnya yang sebenarnya, apa hitam lebih manis, hatinya orang sering kufur, berapa hewan, ada dua itu tuanku, hewan nathiqi artinya itu.
- Yang kedua hewan itu, hewan ghairunathiqi, artinya tidak
·yang tidak· mengerti, kedudukannya sebagai manusia, hewan juga namanya, sri baginda bersabda, kepada para menteri, sesuai ilmunya dengan anda.
4 2. Semu menyembah, hamba tidak dapat menjawab, seperti tidak mendapat \ h. 5 2 \ juga, menemukan dua orang, yang menyamar menyerupai anak bebek, seribu satu tak menda- patkannya, orang bagus tulus utama, orang santri pandai dalam tatakrama, hanya cacatnya belum memerintah negara.
- Ngabdul Ngalim tidak heran, terhadap pujian para menteri, katanya orang mengabdi, agar dipercaya oleh tuan(nya), wala upun berpisah di jalan, som bongny a pasti som bong, tidak akan menyapa tidak baik, orang santri yang seperti ham ba, pujiannya agaknya memuji sri baginda.
- Sang dewi bersabda lagi, kepada Ki Ngabdul Ngalim, usia Nabi Adam, dan usia Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa ini, berapa itu usianya, dan Nabi Isa berapa usianya, jawab ham-ba apabila berkenan kehendak baginda.
- Usia Nabi Adam sembilan ratus tahun banyaknya. Jebih sembilan puluh \ h. 53 \ tahun, Nabi Enuh (N uh) usianya ini seribu tahun, usia Nabi Ibrahim, empat puluh Jima tahun. Na bi Musa usianya, selama hidupnya waktu itu hanya seratus tahun.
- Nabi Isa usianya tiga ratus tahun, Jebih tiga puluh tahun. sudah genap sri baginda, (maka) sri baginda bersa bda dengan Jemah lembut, mengapa mayat dimandikan, dan dimakam- kan di dalam tanah, dan mayat itu, dengan disembahyang- kan. 4 7. Dan di telekinkan itu, kepada mayat dan disedekahi itu. tiga hari tujuh harinya, lagi pula empat puluh (harinya ).
sang fakir dengan perlahan-lahan katanya. makanya mayat dimandikan, karena berasal dari air, dimakamkan di dalam tanah itu (karena ), asal manusia dari tanah.
4 8. Maka disholatkan itu, (karena l asal Murad in wujuJ ma ya t. adapun ditelekin ini, {supaya) mendapat jalan \ h.54 \ si maya t. ingat kepada nabi. manfaatnya dalam ku bur. agar ingat Tuhan, dan ingat kepada Kanjeng Nabi. dan lagi ingat kepada malaikat.
- Dan ingat kepada Qur'an, dan hari yang akhir. dan tahu kiblatnya, dan mengerti saudaranya, ingat panutannya, agama Islam diketahui, dan mengerti imannya. dan ka'bah kiblatnya juga. itulah sri baginda jawaban hamba.
- Makanya disedekahi (dibuatkan selamatan), tujuh hari ke- empat puluh, dan weton yang ketiga hari, sampai seribu harinya itu, karena mati hidupnya rezeki, itu sudah, dan belas kasihnya orang persaudaraan, hitunglah dengan yang mati, sudah genap sri baginda jawab ham ba.
- Sri baginda bertanya lagi, orang mati dukubur ini, apa yang datang itu, dan apa kerjanya, Ngabdul_ Ngalim menjawab, malaikat yang datang, deilgan Wanakirun itu, bertanya yang \ h. 5 5 \ buruk baik, dan lagi ditanya agamanya. · 5 2. Bertanya menakutkan, menggertak mengejutkan, suaranya memenuhi jagat, gadanya (pemukulnya) yang paling atas, besi seberat seri,bu kati, runcing tajam mengkilat ujungnya, puncaknya sampai pada langit bumi ini, gertaknya bersalah- an menakutkan mengamang-amang godanya.
- Kemudian ia bertanya, hai manusia bagaimana, baik-baiklah kau ucapkan, jawabmu yang hati-hati, siapa Tuhanmu mayat, mayat siapa nabimu, dan siapa panutanmu, dan siapa sanak saudaramu ini, dan lagi apa agamamu.
- Dan ·apa kiblatmu, ayah ibumu mana, imammu itu siapa, dan jawablah segera, apabila mendapat kasih Hyang Widi, lalu ia menjawab, Allah Tuhan hamba, dzat sifat yang maha suci, nabi kita Muhammad Kanjeng Rasulullah.
ham ba yakni, kitab Qur'an itu memang betul, sauda- ra hamba \ h.58 \ ialah mukmin laki-laki dan perempuan, agama Na bi Ibrahim, kiblat ham ba ialah, ada di Mekah ka'batullah, imam hamba Imam Syafi'i, sebagian ada yang menganut Ahmad.
- Ada yang menganut, (Imam) Maliki Imam Hanafi, siapa ayah ibumu, bapa Adam namanya, senang malaikat ini, ya betul jawabnya, manusia yang mendapat rahmat, dikasihi oleh Hyang Widi, disediakan surga yang sanga t mulya/ bagus.
- Karun Wanakirun itu, memukul kanan kiri, sudah luas ku- burannya, malaikat mengaku abdi, matahari dihiasi, indah tampaknya kalau dilihat, apabila tidak mendapat pertolong- an Tuhan, entah bagaimana manusia m enjawab, kebingung- an tidak tahu yang diucapkan.
- Bergetar badannya, menggigil gemeretuk gigi bersentuhan. terasa pertengkarannya, hamanya diriku di dunia tidak mengaji, tidak mau menerima ban yak nawehat. fardlu \ h. 5 7, wajib tidak mengerti, maksiat yang dikerjakan, sudah sangat menyesal tidak bisa bergerak lagi. 5 9. Karun Wanakirun itu, memukulnya dengan gada berganti- ganti, hancur luluh seperti tepung, tetapi tidak mati-mati. se telah sembuh dipukul lagi, (maka) bersabda la gi sri baginda. Ngabdul Ngalim sudahlah, jawablah soal itu lagi. kalau sudah se lesai kukaruniai asmarandana ( asmara).
E. Asmarandana
I. Bertanya lagi sri baginda, berapa terjadinya manusia, adapun itu ada enam belas, yang dari Tuhan, roh nafas menjadi iman, diutarakan dalam kitab tufah, pendengaran dan penglihatan. - Pengabu perasaan yang sebenarnya, ada delapan dari ayah ibu, adapun dari ayah ada empat, tulang otot kulit otak- nya, dari ibu ada empat, daging darah isi badan sumsum,
IO. Sri baginda bertanya lagi, manusia itu kelak, berapa tempatnya kelak, Ngabdul Ngalim sembahnya, ada sembilan perkara, tatkala hidup, di dunia bertengkar sahaja.
- Itu tempatnya, ketika hidup di dunia, yang-kedua tempatnya di kubur, ketiga padang makhsar, keempat telaga kosyar (kautsar), kelima di teraju, ditimbang oleh malaikat.
h.60 \ tidak bisa meniti, ditadahi neraka,
orang itu pasti tercebur, ditadahi di keris.
- Adapun titian Shiratal mustaqim. naiknya seribu tahun, seribu t ahun atasnya, turunnya seribu tahun, jadi tiga ribu tahun, dan besarnya titian itu, sebesar ram but dibagi tujuh.
- Pedang-pedang tajam sekali, orang yang meniti itu, ada yang jalannya seperti kilat, apabila mendapat pertolongan Tuhan, dan lagi orang meniti itu, ada yang seperti angin, ada yang jalannya seperti semut.
- Ada yang seperti belalang berjalan, merayap lalu jatuh. keempat itu tempatnya, dilangit-langit mulut angin, kede- lapan gunung ingraf. yang kesembilan itu, di surga neraka.
- Sri baginda bertanya lagi, berapa tandanya, orang masuk surga, su rga ada berapa tandanya, Ngabdul \ h.61 \ Ngalim menjawab, yakni empat perkara, pertama melaksanakan wajib fardlu, kedua ha ti yang niat.
- Serta dengan sabar hati, ketiga tahu kesucian, yaitu suci badannya, keempat murah hati (dermawan) pada harta. artinya murah berbelas kasihan, kepada orang belas kasihan, menolong dalam berbagai karya (perbuatan). I 8. Raja puteri bertanya lagi, tanda-tanda orang di neraka, ada berapa tandanya, Ngabdul Ngalim menjawab, yakni empat perkara, pertama tidak mau menerima nasehat, fardlu waji b tidak mau.
- Yang kedua air mukanya sedih, serta galak pemarah, yang ketiga tidak tahu sucinya, telah dikerjakan di dunia, keempat kikir ddalam harta, tidak tahu sayang dan belas kasihan, pandai dalam berbagai hal yang tidak baik. 2 0. Bertanya lagi sri baginda, ada berapa banyak nafsu, dan apa kerjanya, serta..,,.di mana tempatnya \ h.6 2 \ Ngabdul Ngalim menjawab, ada lim banyaknya nafsu, itu jawab hamba. 2 1. Yang pertama ini luamah, di empedu tempatnya, yakni keras hati pemarah pekerjaannya, yang kedua nafsu amarah,
25. Menikah mendapat orang santri, akhirnya aku juga memang- kunya, walaupun santri adanya, agaknya tidak memalukan, bergaul berkumpul dengan para raja (dan) patih, aku lihat tempatnya tidak ketinggalan, dalam mengadu semuanya.
26. Hanya satu yang ketinggalan, berkumpul 2 7. Duduklah errgkau segera, em ban inya abdi perempuan me- nyembah, sudah sampai di rumahnya, ki patih menerima perintah, ia berkata kepadanya, sabda sang raja puteri, ki pa tih Jal u berangka t.
28. Cepat-cepat lalu sampai, di hadapan sri baginda, sang puteri bersabda, !ah bagaimana bapa patih, sudah k~pastian diri- ku agaknya pada janjiku, terhadap sayembara.
29. Sayembaraku dahulu, apabila ada yang menjawab, walaupun \ h.64 \ bernama kere (pengemis, fakir miskin), harus menye- rahkan negara, dan aku mengabdi, sekarang sudah selesai, soal-soalku dijawab.
30. Orang mengelak mempunyai janji, dimurkai Tuhan akhirnya aku takut, dan tidak naik surga, dan ia bapa patih, bawalah
'. h.65 \ lulurnya itu, kyai pa tih lalu keluar.
- Sang puteri terkena rindu, sepeninggal kyai patih, sangat kelihatan senangnya, tidak ad'! pelita guling semalaman. dihadap oleh dayang-dayang, emban inya dan babu. semalam tidak berkata. 3 5. Sang de wi tenteram hatinya, memperoleh sesuatu dan jatuh cinta, anak muda-muda layaknya, seperti pohon pinang kena angin. meliuk-liuk memantul memberahikan, orang cantik gila asmara, bagaikan bidadari surga.
- Matanya balut manis, mulut muka tidak sabar, sinomnya seperti bulan kecil-kecil halus berjatuhan, rambut lemas ikal pandan, bahu seperti sayap wijang, tangannya seperti keris kecil terh unus, serba sesuai dalam gerak lakunya. 3 7. Kerjabesarnya telah tiba, dihantarkan orang satu negara, masyarakat pedesaan handai taulan semua, berbondong- bondong datang, para mantri semua, para bupati berkumpul, bersukaria di kepa tihan \ h. 66 ,.
- Lengkap dengan prajurit pengawal menteri/ mantri, ramai bersukaria, para prajurit pengawal gembira hatinya, tersebar tidak terhitung, kerbau sapi dan kam bing, itik ayam ikan, ramai gemuruh orang satu negara.
Ki patih gembira hatinya, melaksanakan niat sayembara, pernikahan sri baginda, kini sekaliannya bergembiraria, lengkap datang semua, bekerja di tarub agung, bunyi gending
Ki patih dan sri baginda, kini berbesanan, menteri/mantri separo keraton ramai di pagelaran, lengkap dengan prajurit berpakaian kebesaran, sang puteri nomor satu, penganten- nya tampak angkuh. 41. Bunyi senapan bagaikan berondong, di pegelaran dan kepatih- an, yang menonton bukan main banyaknya, besar kecil tua muda, sampai-sampai Jupa kepada pekerjaan di rumah, bunyi-bunyian ramai gemuruh, (bunyi) rehab serulingnya menghayutkan mengelu-elukan. 4 ~. Bersukaria \ h.6 7 \ para menteri/mantri, seperti orang me- nang perang, semarak berkilauan pakaiannya, bagaikan bunga setaman, penuh sesak ,berlapis-lapis yang melihat, tontonan indah dilihat, bagus beraneka warna. 4 3. Mendadak utusan datang, emban inya dayang-dayang dan ab- di dalem, menyibak orang-orang yang sedang menghadap, melaksanakan perintah, perintah sri baginda, pernikahannya sang raja, ialah satu hari itu.
- Lagi pula kehendak sang puteri, pada waktu bedug tengah hari waktunya, supaya gamelan berbunyi semua, tombak ulas selongsong kain dan benang, bendera dan senjata, dan itu payung kebesaran, keluarkanlah dari dalam pura.
- Perintahkanlah kepada ki patih, Ki Demang Surakencana, patih dalam itu keluarlah, sekaliannya hendaklah berhati- hati, perintah sri baginda, sudahlah aku puJang, persiapan sudah selesai.
- Patih dalam segera memerintahkan,, h.68 \ kepada patih Mangkupraja, perintah sang raja puteri, lalu nikahkanlah, dalam sehari itu, disuruh mengarak melalui aJun-alun, lanjut- kanlah ke pura. 4 7. Ya tuanku sem bah ki pa tih, NgabduJ Ngalim didandani, dipakaikan pakaian yang indah-indah tampaknya, kain kam- puhnya bagaikan menyala berkilauan, ikat pinggangnya berenda bernyata-nyala, kuluk (mahkota) berenda dengan
Penghulu Mutangalim, para pendeta dan ulama, ketib modin dan pegawainya, sekaliannya disuruh menjemput. untuk m erestui akad nikah, pernikah an sang puteri yang cantik jelita, dengan Ngabdul Ngalim.
- Setelah selesai diijabkan, pernikahan sri baginda, sedekahny a sembilan talam, kemudian semua itu \ h.69, diarak, lengkap dengan para prajuri t kraton, suara senjata m enggelegar ber- kali-kali, ge nderangnya berbunyi bersam a-sama. 5 1. Dan semua yang menyaksikan, tumpang tindih atas mengatasi saling menerjang, besar kecil tua muda, gajah besar berada di depan, bersama ular naga, hewan buruan hutan yang sudah dijinakkan, yang bersifat buruan semua. 5 2. Burung garuda dinaiki, oleh pengantinny a, raja asmara bentuknya, payung kebesaran bersusun tiga. para menteri/ mantri memakai payung semua, merah bersinar-sinar gemer- lapan kalau dilihat, bagaikan hutan bunga.
- Wakil wang raja puteri, didandani dipakaikan pakaian yang indah-indah, aturlah segera, barangkali sebentar lagi datang. cepat-cepat para abdi dalem, marilah teman-teman segeralah, menanti datangnya pempelai.
- Sang puteri sementara duduk, bersemayam di kursi gading. yang dihiasi berbagai ratna mutu manikam, dihadap, h. 70 \ para bay ada selir semua, dan isteri para menteri/mantri semua, duduk berbanjar ada di depan.
- Sang puteri berganti nama, yaitu Semita Resmi, sudah gay a agaknya, laksana bidadari keinderaan, tak bisa ditutupi, walaupun wakil sang ayu, tidak ragu-ragu yang melihat.
- Asmara sudah datang, lalu pergi ke dalam pura, bertemu dengan para puteri, istri menteri/mantri semua, dan para
Pada acara yang kedua, (di antara) sekalian menteri/ mantri dan lurahnya, hanya Ki Patih Mangkupraja, dan Surakencana, yang boleh masuk kraton, berhadapan bersama kedua mem- pe lai.
- Yang menerima para selir. isteri menteri/mantri semua, se karang sang de wi belum memadu kasih, disandingkan di dalam tirai, dikerumuni para puteri, \ h. 71 \ hidangan sudah dipersem bahkan, ramai gamelan berbunyi.
- Setelah sri baginda bertem'J isteri menteri/mantri semua, ( mereka) berkawal menghadap setiap malam, ramai bermain bersukaria. ada yang membaca, ada yang mendongeng, ber- ceritera. ada yang bercakap- cakap, sebagian bermain kartu dan dakon (congklak).
- Panjanglah di ceritakan lagi, tiga hari tiga malam. yang berka wa l sudah bubar semua, tinggal Patih Mangkupraja, dan Surakencana, berka wal siang dan ma lam, sang pu teri masih malu-malu. 6 1. Sesudah be berapa bulan, sang dewi merasa kasihan di dalam hati, jinak tersangkut ha ti cinta kasih kepa da suaminya. pertemuan pandang mulai bertempur. serba lengkap tingkah lakunya, bercampurlah puteri dengan suami, bagaikan hali- lin tar bersam a dengan kilat.
62. T idak ada yang kecewa lagi, sang puteri dengan suaminya, menjadi satu h atinya, menunaikan kewajiban emas, ·, h. 72 \ gembira Ki Mangkupraja, sang puteri menjadi satu dalam kehendak (satu cita-cita), syukur beribu-ribu terima kasih. - Pakaiannya ganti-gan ti, memang orang elok {lagi) sederhana, bergantian tempatnya, adinda dengan kakanda, hentikanlah maka tersebutlah, guru ni mas ratu, yang bertapa di gunung Leka.
- Pendeta Sasmitajati, keinginan tertuju kepada puterinya, karena sudah selesai hajatannya, sebab itu meminjam sang
tfaru saja, hamba tidak melihat, tidak mimpi tidak menduga, bahwa tuanku \ h. 73 \ sekarang datang, meninjau ham ba.
- Sri baginda asmara berkata, ya adinda itu siapa, sang dewi berkata pelan, pangeran (ini) guru hamba, yang lebih dari ayah, yang tinggal di puncak gunung, gunung Leka Pertapa- annya.
- Sri baginda lalu bersujud, di hadapan kakinya, betul kyai, hamba sangat senang, pada kehadiran tuanku, seolah-olah kejatuhan daru ( pertanda kebahagiaan), benar-benar hamba anggap ayah.
- Lebih-lebih kusuma dewi, ketamuan gurunya, ~angat menye- salnya, dijamu dengan berbagai jamuan, tak diceriterakan yang menyajikan, sang pendeta sabdanya manis, anak dewi mengabdilah.
- Suamimu itu nini, juga trah (keturunan) waliyullah. di Turkustam negaranya, sakti mujarab berhasil apa saja yang dikehendaki, benar dalam bicara, cerdik pandai dalam berbagai ilmu, sopan santun murah hati (dermawan) dalam harta.
- Cari ke mana-mana kataku dahulu, \ h. 74 \ kelak ada yang bisa menjawab, soal-soalmu itulah nanti, yang seratus perka- ra, pasti menjadi raja, kelak menjadi suamimu, lagi pula elok tampan berbakti kepada Tuhan.
- Dan lagi engkau nini, contohlah Dewi Fartimah (Fatimah), (dalam hal) baktinya kepada sang suami, atas perintah Rasulullah, datang kepada anandanya, Fartimah anakku
semoga berbakti kepada suamimu.
- Dan berbaktilah kepada Hyang Widi, ananda orang berbakti kepada suami, jangan engkau berani menggertak nan ti, jangan merasa bersuami, pakilah sebagai tuanmu, di dunia akhirat, ya semoga Jaksanakanlah.
Umur berapa aku nini, kalu tidak sekarang segera datang, masa akan (aku) terhindar dari mati sekarang, dan masa akan menjadi kepompong, maka kata sang puteri, ya betul bapa guru, sabda tuanku.
F. Dhandhanggula
Kyai Agung (Ageng) Sela \ h. 7 \ diceriterakan, mempunyai teman Kanjeng Sultan Demak, selalu dengan sangat sopan santunnya, nasehat Kyai Agung, kepada anak cucunya, hai anak-anak aku akan berkata, kepadamu cucu, harap engkau ketahui, · nasehatku bukan su~at bukan tulisan, melainkan pepali namanya. Pepali itu sungguh mengena berkahnya, lagi pula selamat dan sehat, pepali itu demikian, te,ristimewa jangan}ah sombong, jangan bengis dan jangan jahil (suka mengganggu ), jangan berbudi. serakah (loba, tamak), dan jangan panjang tangan, dan janga,n suka dipuji, jangan membabi buta, (karena) orang angkuh lekas mati, jangan berhati serong.
- Jangan suka cminta-minta tetapi tahu malu,. engkau mengaku besai.-dirimu, orang hidup seberapa bagusnya, jangan lupa mencari yang baik, itu bukan harta benda kekayaan, dan bukan pakaian (yang mentereng), itu buka:n rupa, orang elok susah juga, terhadap sesama yang hidup h'endaklah engkau kasih sayang, menarik hati perangainya.
- Jangan engkau mendambakan harta benda, jangan engkau men darn bakan busana, jangan men dam bakan ada kecang-
Pangerannya (Tuhannya), adapun yang kedua, malu kepada manusia, apabila kelakuannya setengah-setengah, diturut (karena) mempunyai saudara, orang persaudaraan jangan berhenti berhati-hati, apabila demikian menjadi tidak baik.
- Jangan engkau bertabiat senang kaya, jangan engkau bertabiat suka mencela, jangan bertabiat sering suka bertengkar, jangan bertabiat suka mengusik, jangan manja, jangan ber- hutang sanggup, mengadu keberanian setiap hari, akhirnya kalau engkau tidak benar, akan menjadi kepala jahat/cela.
- Hubaya-hubay a (semoga, hendaknya) terutama engkau jangan dengki, \ h. 77 \ jangan meremehkan dan jangan tidak sopan, merusak sembarangan anggapnya, jangan suka minta-minta cepat merasa tersinggung, karena itu orang hidup berhati-hatilah, jangan berhati serong (m aka) kejelekan yang diperoleh, barang siapa berha.ti jahat, mau tidak mau pada akhirnya engkau akan bertemu, orang jahat menemui keja- hatan.
- Barang siapa mendasarkan pada kebaikan, maka engkau akan memperoleh selamat sejahtera, sampai keturunannya, semoga jangan tinggi diri, jangan suka marah dan jangan suka meng- ganggu, jangan senantiasa alpa, menjadi sasaran disalahkan, menjadi sasaran tewas/ celaka, apabila ada orang menerapkan itu takutilah, sebabnya itu juga.
- Sebaliknya tirulah segera, manusia yang menerapkan belas kasihan, ambillah berkahnya, orang itu memberi berkah, tidak bisa bukan engkau, tidak hati-hati menjadi tidak semena-mena, semoga kehidupanmu, jangan · takabur dan jangan serakah.
IO. Jangan dengki terhadap sesama, \ h. 78 \ itulah yang besar, karena orang hidup, berhati-hatilah jangan mengaku merasa memiliki kekebalan, jangan menyombongkan ilmu, jangan
I~. Tukang cuci menjual daging penjual terasi dan kapur sirih, pembantai pemutih pemberi warna, itu tidak menjadi besar, hindarilah kata-kata itu, pada orang hidup ditandai, karena bertemu dalam bahasa, sudah kelihatan pada air muka ( se- mu), memang sudah kelihatan pada airmuka ( ulat ), kalau orang jahat walaupun itu tadi yang baik, yang jujur·sudah ada (kelihatan) di air muka ( cahya).
- Barangkali engkau kelak, kalau kelakuan anak cucumu, \ h. 79 \ dan keturunannmu, apabila telaksana menjadi orang besar, memerintah sesama manusia, jangan semena-mena, menjadi tidak kekal, pegawainya menjadi terlindung, kalau sem- barangan menyuruh kepada orang kecil, jangan semena-mena.
- Maka tersebutlah manusia yang sejati, yaitu guru pendeta, tak tampak lakunya (tingkah laku perbuatannya), tidak me- ngurangi makan tidak berpuasa, tidak bertapa tidak mutih, tetapi selalu awas (waspada), itu perbuatannya, waspada .pada dirinya, hanya saudaranya yang diberi tahu, sanak saudaranya alarn semesta.
- Air api bumi dan angin, langit bintang matahari bulan, itu semua saudaranya, manusia yang salah itu, banyaknya musuh ini neraka, karena itu jangan bertulah, seperti yang didapat, manusia yang luhur (mulia) itu, laki-laki perempuan semua saudaranya, karenanya menjadi selamat sejahtera.
- Hati yang wajar ambilah, jangan engkau punya hati jahat, sewenangwenang kepada sesama, jangan berguru kepada nafsu, kepada orang hidup berbudi bekas kasih, terutama tulislah, segala perbuatan tingkah laku yang baik, pilihan
'.telah ·tarnpak pada keagungan, dernikian itu budi orang yang tinggi ilrnunya, hatirnu yang dihati-hati karena curiga.
- Kemarahan pada hatimu ini, apabila engkau bepergian ke mana- mana, tentu jauh orangnya, ingat-ingatlah dalarn ha ti, jangan mengaku berbudi pekerti baik, jangan ada berkelakar, itu bukan sernu (air muka), swaslah (waspadalah) perbuatan- m u, jangan engkau congkak \ h.8 1 \ dan jangan mernbuat malu menghina ( teks tidak lengkap ).
- Jangan rnenghina kepada orang bodoh dan miskin, jangan lalu menertawakan orang hina, (itu) tidak ada bedanya, karena se ka liannya turnbuh/ada, dijadikan/diciptakan oleh Hyang Widi, diberi cecelupan, semua yang diciptakan, berternu di angkasa (ternpat yang lapang), dalarn hal rejeki itu hiasan, tidak dapat disirnpan.
- Simpanlah apabila rnenjernput perern puan, raut rnukamu jangan berubah sedikit, karena tidak ada baiknya, itu rnengu- rungkan perbuatan, pakaian yang berguna, kalau rnalarn yakinlah, hati kepada yang bukan-bukan, mengatakan yang kesana kernari tanpa tujuan, seperti rnalu apabila keliru kepada kernatian, apa bila setidak-tidaknya selewengan. 2 1. Persaudaraan jangan rnengecewakan, tidak berhenti persauda- raanmu, jangan berbuat jahat, orang persaudaraan, tata krama yang baik, kalau engkau persaudaraan, jangan saling rneng- ukur /rnenghitung, jangan berwatak seperti Duma perlin- dungan, \ h. 82 \ orang persaudaraan jangan engkau rnern- bosankan kepada orang tua.
- Apabila orang tua rnenasehati, terirnalah (karena) sayang kepadarnu, hanya bertujuan pada jeleknya, apa katanya ditu-
23. Daya kekuatan itu kalau keluar, seperti api menyala-nyala, perang melawan Arjuna, hancurlah kalau marah, kemarahan makin disentakkan kelihatan, langit memenuhi jagat, marah makin kedengaran, mengejar akal/ kecerdikan menakutkan, Sang Arjuna berka ta lalu mendekati, ingat kesalahan dosa / kesengsaraan.
24. Kesalahan dosa kesengsaraan hilang dari hati, panca indera banyak yang demikian, engkau dihina sendiri, bila belum mengetahui, persatuan masing-masing, kembali tanyakanlah, kepada \ h.83 \ orang yang pandai, apabila engkau mengha- dap pendeta (guru), bicarakanlah bahwa pada akhirnya ada pati (kematian), dan kesempumaan raga /jasmani. 2 5. Berhati-hatilah dengan ragarn u, kalau bercakap-cakap dengan isterimu, hendaklah agak dengan asmara, (dengan demikian) kaum wanita menjadi jinak, apabila .engkau memperoleh kesulitan, dalam peperangan, bicarakanlah itu, keteguhan kesaksian, engkau suruh teman-temanmu mengikuti, dapat- lah berbuat baik/ yang patut dilakukan.
26. Berbuatlah kebaikan sepantasnya kaki, bila ada orang ber- tapa, mengucapkan sumpah serapahnya, kalau ada lakunya, pengucapannya manakala bertemu, dan dalarn tingkah laku- mu, pertemuanmu, apabila ada pendeta, intailah dalam ma- kan dan tidur, serta kebersihan hatinya.
27. Apabila bersihkan tingkah lakunya berhati-hati, yaitulah tanda-tanda pendeta, karena \ h.84 ·, kelihatan air mukanya, apabila ada yang mengaku, kurang pangan katakanlah oleh- mu ini, kenyataan diri, pertemuanmu dengan orang dahulu- dahulu, teman-teman kenalan telah mengikuti tingkah laku- mu, berani mengalah hatinya.
28. Tanda-tanda pada orang satu-satu, ketahuilah seumpama ia, seperti kaca berisi air, semua isinya kelihatan, segala warna tampak dari luar, seperti halnya manusia, mau tidak mau
, h.85 \ binatang tidak ada yang berkeliaran di situ.
- Tidak didatangi orang bodoh miskin, laki-laki perempuan semua tidak enak, sanak keluarga membuang semua, tidak ada yang mau menyapa, mengandalkan kehendaknya sendiri, demikianlah pada tingkah laku, tidak enak pada pertum buh- an, apa bila berbicara, kalau bodoh walaupun menyimpan bergedung-gedung harta benda, itu yang menjadi harga/ nilai.
- Lebih berharga orang yang selesai dalam karya ( dapat menye- lesaikan sesuatu yang berguna), kaya amal kepada yang diajarkan, aksara dan maknanya, apabila engkau diajar. jangan engkau merasa pandai, walaupun (sebenarnya) me- mang bisa, hendaknya berkeinginan patuh, kalau tidak (,) banyak artinya, hasilnya benar-benar, dapat menelaah segala makna sastra.
- Sastra itu tidak bisa dikalahkan, menyebabkan terangnya jas- mani, menerangi seluruh alam semesta, budi baik tidak hilang, mengetahui baik dan buruk \ h. 86 \, tidak (ada) faedahnya dunia, kekayaan harta benda itu. dianggap milik- nya boleh dipandang. menjadi pagar tutup dalam menikmati, salah dalam perkiraan.
- Lebih utama pada orang hidup ini, apabila tatkala memper- oleh kemurahan, segeralah bersyukur, bertujuanlah hati pada wa ktu yang baik, senyampang kuat berbuat bakti, barangkali dipercepat, akhimya menyesal, karena kemurahan juga, pemberian rezeki dari Hyang Widi, gunakanlah untuk membeli surga.
- Hidup itu tidak dapat dipastikan, tidak dapat minta tangguh.
Yang Agung, yang membuat mati dan hidup, serta ajalmu, tidak bisa ditum- pangi, hanya pada karsa Allah. dirimu bagaikan menyerah di tengah lautan, menurut a pa yang dikehendaki Allah.
- Lebih utama pada orang kaya, karena memperolehnya dari natkah, \ h. 87 \ itu am al yang jernih, kalau dari bilangannya, adanya orang kaya, kalau dari isterinya /suaminya, sangat memalukan, adanya orang kaya itu. apabila tidak berpakai- an dan makan, itu termasuk hina.
- Yang lebih hina lagi, di dunia sampai akherat, aksara (ilmu) ditolak semua, rukunnya iman tidak tahu, rukun islam juga tidak mengerti, seluruh nafkahmu, tidak berkah, akan men- jadi kafir celaka, umpama orang itu seperti iblis, pasti di neraka. 3 7. Ada orang yang jahat tabiatnya, apabila ketahuan menemu- kan celaka, dan adanya raja sebenarnya, apabila ada orang yang bertanya, lalu dilihat olehnya, itu termasuk hina, karena yang bernama raja, hinanya sang pendeta, kalau tidak mempunyai, di hati saling menolak, \ h.88 \ itu termasuk hina.
- Sang pendeta dan sang raja sama, adanya sebagai lautan, seperti biasa ucapannya, bisanya gadis tua, dengan dua helai rambut di atasnya, bisanya orang jahat, itu menurut bulu, bisanya nasi lauk pauk/ gading, kalau tidak enak, akhirnya jatuh cinta sendiri, itu yang seperti bisa.
- Bisanya orang makan (makan-minum), kalau semula asalnya tidak · halal dan suci, pasti rusak akhirnya, jangan engkau senang, pada pakaian yang bagus-bagus, berlebihan dalam busana, pada wanita itu, payudara wanita, pada pendeta bisa orang yang sangat sakti, serta pada makanan.
- Makanan yang berlebihan itu, tidak ada yang melebihi susu, dan kasih sayang kepada sanak saudaranya, tidak melebihi anak, apabila musuh di tengah hati, benci sekali tidak dapat hilang \ h.89 \, apabila belum melapor, menerima berserah
Perbuatan nabi yang baik itu, memerintahkan pada kebaik- an. mencegah maksiat perbuatannya. hanya orang yang hina se kali, elok tidak pandai dalam ilmu, se perti umpama bunga, itu bernama waribang (kembang sepatu merah), kalau dilihat menyala bercahaya, apabila dicium tidak ada harumnya, pucat sayang eloknya.
- Eloknya orang yang pandai dalam ilm u, bagaikan perawakan mad u dan susu, piring anak (piring kecil) tempatnya, demikian rendah durhaka, seperti tempat dedak yang datang, ga ta l ke mana-mana, dikerumuni semut, tidak ada sucinya (bersihnya), ada lagi orang yang rendah warnanya ini, ilmunya itu hanya sedikit.
- Umpama orang tidak melihat pada kawi (kata-kata pujangga), seperti teman tidak dapat dilihat, citranya entah seperti apa warnanya \ h. 90 \, semu ayang dikatakan, tidak ada yang berarti, karena harus memaksa, seperti orang luhur, se benar- nya itu kecil, karena kelihatan ucapannya untuk harga diri, kaku tidak mau mengalah.
- Justru di situ kelihatan kalau jahil, masih muda/kecil tetapi banyak ngomongnya, seperti ejun (belanga) mata air umpa- manya, kalau kurang isinya, sebenarnya selalu kocak akan tumpah, apabila airnya penuh, tenanglah ejun tersebut, um- pamanya orang fakir miskin, banyak omongan banyak nyawanya orang miskin, mencari belas kasihan.
- Penghasilan yang dihati-hati (dihemat), menggunakan seperti orang rubiyah, serba putih pakaiannya, gerak geriknya cocok, halal dan haram yang dibicarakan, itu bibir kepanjangan, ikat kepalanya bersama-sama menjadi satu dengan, serban berjurai-jurai, meskipun demikian pengetahuannya dibuat \ h. 91 \ hasil, ilmunya menjadi pencaharian.
- Pencahariannya tidak sedikit, dicampur dengan agama, ba- nyaknya pendapatan, yang sebagian berdiam diri, di pasar bertongkat cangkuk, duduk di tanah tidak pergi-pergi, pes-
, 92 \ mencari- nya penghasilan, hendaklah (di)samar dalam laku perbuat- an, dicampur dengan basa krama, maka sebagian sampai menjadi pendeta yang pandai, · banyak kata yang bukan-bukan.
- Kecurigaan yang dihati-hati, wanita dipakai untuk tameng, agaknya nur/cahaya dibuat, mencari dukun, orang berobat supaya sembuh, apabila orang perempuan yang berobat, ini yang cantik, matanya membelalak tidak berkedip, katanya engkau tidak sehat nini, kalau tidak kumandikan.
- Apabila kumandikan dengan memakai kain putih, membawa- lah se dekah setalen (dua puluh lima sen), serta dengan baju- nya, dan bokor seratus, sudah hanya demikian kata wangsit, apabila tidak dilaksanakan, baktinya tidak tulus, tidak sembuh sakitmu, sang pendeta bagaikan pujangga mendapat wangsit, maka dari itu supaya dengan suap. 51. Agar dunia pendeta yang pandai, seperti mengeluhnya yang pergi berkeliaran mencari makan di rawa \ h.93 \, agar ikan- nya tidak dapat melihat dengan terang, indah-indah tidak mau, kalau sedikit ditambah, seperti tidak mau ikan, tingkah lakunya tidak dipedulikan, berkeinginan harus mendapatkan
Orang berderma timbangan tidak benar, yang memiliki kekayaan, apabila tidak ada sedekahny a, se perti halnya pemakaian air, yang \ h. 94 \ dibendung tidak dapat mengalir, akhirnya menjadi berbeda, terbawa akarnya/ pangkalnya, bah- kan larut yang terkumpul, umpamanya orang kaya tidak mau sedekah kaki, itu perumpamaannya.
- Yang diinginkan tadi siang malam, dunia itu disangka awet, karena itu benci sekali, kepada yang mem beri nasehat, dengan dana sedekah kaki, itulah budi sasar, penglihatannya ke jalan, tidak ingin sengaja punya amal, di dunia dipakai be- kal mati, tidak akan berganti kulit.
- Tidak selamanya hidupmu kaki, seperti memakai isteri ber- sanggama, tidak tahu sakit asmara akhirnya, tertutup oleh teman yang pandai, tidak mau gedungnya uang ketip (se- puluh sen), emas dan perak, penting didapat, nasehat sang pendeta, seumpama dinginnya embun dan air, masih disebut wedang air panas.
Amal biasa yang menerangi hati, fardhu sunah itu kerjakan- lah, jangan satu syariatnya, \ h. 95 \ itu jalan yang agung, batal haram yang ditinggalkan, halal bisa disandang, yang dipakai itu, perbuatan syariatmu, menurut Nabi Muham- mad yang din am ai, yang diridhoi Allah. ( teks tidak lengkap ).
Maka semua umat yang dijadikan, apabila engkau memper- o leh anugrah, merasalah pemberianNya, menjadi rela diper- oleh. hatimu awas dalam nyata, agar supaya mulia/ bahagia di akherat, itu sebenamya, karena itu kuatkanlah maut, anugrah (rezeki) dipakai sebagai bekal hidup, dan bekal akherat.
- Pada akhirnya orang hidup ini, se mua pulang ke ajalnya. tidak dapat diperkirakan, muda dan tuanya, engkau tentu kedatangan maut, tidak akan berganti kulit. orang hidup itu, jangan hanya di dunia, senyampang hidup carilah bekal maut, ketika masih kuat dan sehat. Tamat. wallahu a'lam Kisah Ngabdul Ngalim dalam bentuk tembang.
KANDUNGAN ISi
3.1. Ringkasan Ceritera Pupuh I. Asmarandana, 45 pada (bait), halaman I -10. Ing/(£lng pinurwa ing kawi, ......, sereden mring pungkuran. Tersebutlah Maharaja Saringalam (Sari'alam) di negeri Ngerum (Roma) mempunyai seorang puteri bernama Dewi Maleka. Ia seorang puteri yang sangat cantik, sabar, bijaksana, dan pandai dalam berbagai ilmu. Kalau berbicara menarik hati, bisa mengatasi berbagai masalah. Tingkah lakunya halus bersahaja. Sang Puteri belum mau berumahtangga, karena cita-citanya belum tercapai. Raja dari berbagai negara telah datang melamarnya. Semua lamar- an itu ditolak. Namun apabila sudali. sarnpai waktunya, walaupun pengemis akan menjadi suami. Setelah ayahandanya wafat, Sang Dewi menggantikan ayahnya sebagai raja, dan kebetulan memiliki ilmu yang sama. Pemerintahan Raja Puteri lebih baik dari pada ayahnya. Baik dalam mene- gakkan agama, maupun dalam pemerintahan se nantiasa berbuat kebaikan, penuh kasih sayang, terbuka, adil, dan bijaksana Dewi Maleka menjadi ratu terkemuka, termashur sampai di manca negara. Pada suatu hari Raja Puteri Dewi Maleka bersamayam di sing- gasana, dihadap segenap prajurit, para bangsawan, alim ulama, dan
IOI
cerdik cendekia. Dikelilingi tirai gemerlapan, terselu bung bau- bauan harum, lengkap dengan berbagai alat upacara kebesaran kerajaan. Pada kesempatan yan g baik itu Sang Dewi menyampai- kan keinginanny a un tuk mengadakan say em bara. Barang siapa yang dapat menjawab soal seratus perkara akan dinobatkan menjadi raj a. memerintah negeri Ngerum, dan mempersunting Sang Dewi. Beliau akan menjadi isteri yang se tia, walaupun peserta say em bara dari keluarga pengemis a tau fakir miskin. Sebaliknya apabila tidak ada yang dapat menjawab akan dipenggal lehernya. Pada bupati, menteri, ulama, dan pendeta di negeri itu tidak ada yang dapat menjawab soal Sri Baginda. Sekaliannya malu, menun- dukkan kepala. Kira-kira sampai empat tahun bertahta belum juga ada yang dapat menjawab soal-soal Baginda. Maka Sri Baginda m urka dan mem bun uh pendetanya. Diceriterakan ada seorang pemuda perjaka. baru menginjak usia dewasa. la seorang fakir miskin dari negeri Turkustam (Tur- kistan, Turki), warga negara Mesir, bernama Ngabdul Ngalim lAbdul'alim). Walaupun miskin, ia seorang pemuda tampan, elok parasnya tiada bandingnya, kuning, tinggi, gagah perawakannya, sangat pandai dalam ilmu agama, keras tapanya, berbudi luhur, sabar, dan bijaksana. Ngabdul Ngalim mendengar khabar tentang adanya sayembara di negeri Ngerum. Maka pergilah ia meninggal- kan nege rinya untuk berkelana. Setelah berjalan siang malam selama empat puluh hari empat puluh malam, sampailah ia di ngeri Ngerum dan diterim a oleh Kyai Patih Mangkupraja, serta dipersembahkan kepada raja. Dengan segala kerendahan hati Nga bdul Ngalim menghadap Sri Baginda Ratu Dewi Maleka. la dijamu makan dan minum. Para dayang-dayang, empat puluh orang banyaknya, tertarik akan ketampanan dan keelokan paras sang perj aka.
Pupuh II. Pangkur, 5 3 pada, halaman 10 -23. Sang nata dewi ngandika, ......, sabdane lir madu gendhis. Sri Baginda mulai curiga, bahwa mungkin perjaka Ngabdul Ngalim bukanlah orang biasa, melainkan bangsawan yang menya-
mar sebagai fakir miskin hina para. Raja puteri mulai menyampai- kan soal sebanyak seratus perkara, disampaikan sebagai pertanyaan lisan dan langsung dijawab oleh Ngabdul Ngalim. Soal-soalnya tentang keagamaan Islam, berkisar pada ilmu tauhid, dan diseling dengan kata-kata bahasa Arab. Setelah larut malam, Ki Ngabdul Ngalim bermalam di sebuah mesjid kecil bersama Kyai Patih, Ketib dan Modin. Tempat itu telah dihias, semua gembira, berebut melayani. Di situ Ngabdul Ng alim dijamu dan disam but dengan segala kehormatan dari dalam pura. Ki Ngabdul Ngalim dan semua yang menjaga dikaruniai pakaian yang indah-indah, yaitu kuluk, baju, ikat kepala untuk Ki Penghulu. Peralatan sholat dan kuluk untuk para modin, serta seperangkat pakaian yang bagus untuk Ki Ngabdul Ngalim. la makin menawan hati, seolah-olah telah pantas dinobatkan menjadi raja di negeri Ngerum. Sang Dewi tidak tahan melihatnya, hilang akal merana dalam hati, duduk di kanthil gadhing, dikeli- lingi para dayang-dayang. Sang Puteri berharap Ngabdul Ngalim dapa t meneruskan sayem bara, bisa menjawab pertanyaan-pena- nyaan bagin da raja, dan tidak pulang dahulu. Keesokan harinya tanya jawab segera dimulai lagi, dari pertanyaan tentang kenabian. sampai rukun Islam dan keimanan.
Pupuh Ill. Dhandhanggula, 52 pada, halaman 23 -39.
La wan pira manusa puniki, ......, sarwi ngusap sri nata. Pertanyaan dilanjutkan dengan ilmu tauhid, tentang manusia yang dimurkakan Allah, peri dan bidadari, makna dua kalimah syahadat, sifat dua puluh, dan seterusnya. Semua pertanyaan sri baginda dapat dijawab dengan lancar oleh Ki Ngabdul Ngalim. Sang Dewi makin sayang kepadanya, batinnya makin merana. Sang Dewi masuk ke dalam puri, tidur memeluk guling. Ki Patih diperintahkan untuk mengurusi tamunya. Tersebutlah guru Sang Dewi yang siang malam bertapa di gunung mengetahui semua yang terjadi atas diri Sang Puteri. Beliau mendoakan semoga perjaka itu tulus menjadi suaminya.
Dengan diiringkan para dayang-dayang, Sang Puteri keluar di balai penghadapan. Mengenakan kain geringsing, rimong cindai ungu, berpinjung kain su tera dengan hiasan air emas menyala- nyala. Rambutnya tebal, ikal, se dikit lemas. Kulitnya kuning, luwes tingkah lakunya, halus budi bahasanya, laksana bidadari surga. Setelah beristirahat sejenak. ki patih, lurah, dan para menteri/ mantri berkumpul di Tarub Agung. Ki Patih terkejut tatkala Sang Dewi menanyakan di mana tarnunya. Maka ia segera me- manggil Sang Bagus dan dipersem bahkan di hadapan Sang Dewi. Pertanyaan dilanjutkan tentang keimanan. Semua dapat dijawab dengan lancar dan benar.
Pupuh IV. Sinom, 59 pada, halaman 39 -59.
Sang nata dewi ngandika, ......, yen wus tu tug sun ganjar asmarandana.
Sang Raja Puteri bersabda lagi, menanyakan. hal-hal yang berhubungan dengan ilmu tauhid sarnbil berfilsafat. Dimulai dari pertanyaan "mana lautan yang tak bertepi' ', dan seterusnya. Dilukiskan sikap Sang Puteri tatkala mengajukan pertanyaan sam bil tersenyum, dan tingkah lakunya mem buat gila asmara. Ki Ngabdul Ngalim hanya menundukkan kepala. Waktu istirahat Sang Dewi berganti pakaian warna jingga, dihiasi warna emas yang indah-indah. J arnuan makanai:i kecil dan minum dikeluarkan. Sang Puteri makin mantap akan keunggulan Ki Ngabdul Ngalim, dan bersabda dalarn hati : " Kalau ia dijadikan raja, saya kira tidak canggung. ·Di hadapan para menteri juga tidak memalukan, ia bisa berhubungan dengan manca negara." Diumparnakan sebagai seekor ayam jago wido yang lama dalarn sangkar, ia berani berlaga tetapi kurang berani mencoba. Pertanyaan dilanjutkan lagi berkisar pada ilmu keimanan, kenabian, ajaran budi pekerjti, sampai tentang orang mati dan keadaan dalarn kubur. Semuanya dapat dijawab dengan tepat oleh Ki Ngabdul Ngalim.
Pupuh V. Asmarandana, 74 pada, halaman 59-74.
Atanya malih sang aji, ...
.. .. pangandika madu rasa.
Pertanyaan dilanjutkan dari terjadinya manusia, isi surga dan neraka, sampai hal-hal yang menyangkut ajaran budi pekerti se- perti sifat dermawan, penolong, adanya macam-macam nafsu pada manusia, dan nasehat dalam menghadapi naf su-naf su terse- bu t. Maka berakhirlah tanya jawab soal seratus perkara. Semua dapat dijawab dan diterangkan, bahkan diuraikan dengan jelas oleh Ki Ngabdul Ng alim. Dengan rasa gem bira Sang Dewi masuk ke dalam pura. Lalu merenungi nasibnya, bahwa sudah takdir Allah Yang Mah a Agung, ia harus menepati janji, menikah dengan seorang santeri fakir miskin tetapi pandai dalam ilmu, elok rupawan, tampan, halus tingkah lakunya. Ada satu kekurangannya ialah bahwa ia mungkin bukan bangsawan. Sang De wi memerintahkan inang pengasuh memanggil Kyai Patih. Sampai di penghadapan, Ki Patih diberi tahu bahwa sayem- bara sudah selesai dan Sang Puteri ingin menepati janji. Maka Ki Patih m embawa Sang Bagus ke rumahnya untuk dirawat dengan bedak lulur, serta mengundang orang seluruh negara. Sang Dewi merasa se nang, tenteram bercampur rindu. Ki Patih menyiapkan berbagai hal di Tarub Agung, dibantu para menteri, bupati dan segenap masyarakat. Penduduk pedesa- an dan handai taulan datang berbondong-bondong bersukaria di Kepatihan. Tak terhitung jumlah kerbau, sa pi, kambing, itik, ayam dan ikan yang disiapkan. Gending gamelang bergema. Bu- nyi rebab, seru!ing, ramai mengelu-elukan. Pa kaian berkilauan bagaikan bunga se taman. Penonton periuh sesak berlapis-lapis, tua muda, besar kecil, bukan main banyaknya. Pada sa:at yang ditentukan, yaitu waktu bedug tengah hari, upacara pernikahan dilangsungkan. Sang Bagus dirias dengan pakaian serba indah. Kain kampuhnya berkilauan bagaikan menyala. Ikat pinggang dan mahkotanya berenda bertatahkan emas dengan warna dasar ungu. Keris diselipkan di pinggang, dengan lan deyan berhiaskan intan permata. Ki Penghulu Mutangalim, para pendeta, ulama,
peg~wainya menjemput dan merestui akad nikah Sang Dewi Maleka dengan Ki Bagus Ngabdul Ngalim. Setelah sele- sai, Sri Baginda memberi sedekah sebanyak sembilan talam. Ber- tepatan dengan itu semua gamelan berbunyi. Berbagai bendera, senjata, dan payung kebesaran keluar dari dalam pura. Kemudian semua diarak melalui alun-alun, lengkap dengan barisan prajurit kraton. Suara senjata menggelegar bertubi-tubi. Genderang berbunyi bersama-sama. Gajah besar berjalan di depan, bersama ular naga dan binatang buruan yang telah dijinakkan. Kedua mempe- lai naik burung garuda, berpayung kebesaran susun tiga. Para menteri perpayung kemerahan, bersinar gemerlapan bagaikan hutan bunga. Wakil Sang Puteri dirias dengan pakaian dan perhiasan serba indah. Sang Puteri Dewi Maleka berganti nama Semita Resmi. Cantiknya laksana bidadari Keinderaan. Pada acara yang kedua hanya Ki Patih Mangkupraja dan Sura- kencana yang boleh masuk kraton, berkawal siang malam. Sang Dewi masih malu kepada suaminya. Para selir dan isteri menteri turut berkawal setiap malam, ramai bersuka 'ria. Ada yang mem- baca, ada yang bermain kartu dan congklak. Tersebutlah Pendeta Sasmitajati, guru Sang Dewi Maleka yang bertapa di puncak Gunung Leka, pada tengah malam tiba-tiba datang masuk kraton. Tak seorang pun melihat kedatangannya, kecuali Sang Dewi yang langsung bersujud di kaki. Beliau diperke- nalkan dengan Sri Baginda Raja Ngabdul Ngalim yang juga lalu bersujud di hadapan kakinya. Kedatangan Sang Pendeta disam but gembira, dan keduanya benar-benar menganggap sebagai ayah. Sang Pendeta bersyukur dan memberi tahu kepada Sang Dewi bahwa suaminya adalah keturunan waliyullah, sakti, cerdik, pan- dai dalam berbagai il~u, sopan, dermawan, dan seterusnya. Selanjutkan Sang Dewi dinasehati agar baik-baik melayani suami, dengan mencontoh Dewi Fatimah dalam baktinya kepada suami. Jangan lupa berbakti kepada Tuhan.
Pupuh VI. Dhandhanggu1a, 59 pada, ha1amati 74 -95.
Kyai. Agung Sela kang winami, ......, duk kuwat kawarasan.
Diceriterakan Ki Agung (Ag~ng) Sela, teman Sultan Demak, memberi nasehat kepada anak cucu. Nasehatnya sebagian besar berupa larangan yang dinamakan pepali. Berbagai naseha t dan larangan tersebut disampaikan agar anak cucunya hidup selamat. Diuraikan dari larangan dan nasehat yang mendidik moral budi pekerti sampai hal-hal yang bersifat keagamaan Islam·. Misal, jangan som bong, jangan bengis, jangan jahil, dan seterusnya sampai nasehat yang bersifat ajaran ag~ma agar senyampang masih hidup, masih kuat dan sehat, hendaklah mencari bekal maut. Karena pada hakikatnya semua yang hidup ini akan mati, kembali ke ajalnya.
- Analisis Isi Dan Konsep Nilai-nilai Luhur Dari edi~i teks di atas, baik hasil transliterasi, terjemahan, maupun ringkasan ceritera, tampaklah bahwa naskah Serat Dewi Maleka koleksi Perpustakaan Nasional RI yang bernomer Br. 18 ini berisi dua teks yang berbeda. Teks pertama adalah teks Dewi Maleka yang merupakan teks utama, sesuai judul naskah. Sedang- kan teks kedua berisi teks Pepali Ki Ageng Sela yang mungkin merupakan teks tambahan atau sisipan. Teks ini terdapat pada pupuh terakhir, yaitu pupuh VI. Ditulis dalam tembang Dhan- dhanggula, sebanyak 59 pada.
Teks Dewi Maleka
- Analisis Isi Dan Konsep Nilai-nilai Luhur Dari edi~i teks di atas, baik hasil transliterasi, terjemahan, maupun ringkasan ceritera, tampaklah bahwa naskah Serat Dewi Maleka koleksi Perpustakaan Nasional RI yang bernomer Br. 18 ini berisi dua teks yang berbeda. Teks pertama adalah teks Dewi Maleka yang merupakan teks utama, sesuai judul naskah. Sedang- kan teks kedua berisi teks Pepali Ki Ageng Sela yang mungkin merupakan teks tambahan atau sisipan. Teks ini terdapat pada pupuh terakhir, yaitu pupuh VI. Ditulis dalam tembang Dhan- dhanggula, sebanyak 59 pada.
Teks Dewi Maleka yang merupakan teks utama terdiri dari lim a puluh, pup uh I -V, dengan rincian sebagai berikut :
Pupuh I ditulis dalam tern bang Asmarandana, terdiri dari 45 pada (baik). Teks ini merupakan bagian awal dari suatu rangkaian ceritera kisah Dewi Maleka dan Ngabdul Ngalim. Diceriterakan mulai dari asal usul sampai pertemuan kedua in- san tersebut, serta pengungkapan masalah yang dihadapi Sang Dewi.
Pupuh II dalam tembang Pangkur, sebanyak dari 53 pada. Ceritera diawali dari kecurigaan Sang Puteri atas pengakuan Sang Perjaka, kemudian mulai tanya-jawab atas pertanyaan
sayembara yang seratus perkara, sampai masa istirahat yang pertama. Pupuh III ditulis dengan tern bang Dhandhanggula, terdiri dari 52 pada. Berisi pelaksanaan sayembara. Semua pertanyaan Sang Puteri dapat dijawab oleh Ngabdul Ngalim. Sang Puteri makin sayang kepadanya.
Pupuh IV adalah tembang Sinom, sebanyak 59 pada. Isi, meneruskan tanya jawab soal-soal sayembara yang juga dapat dijawab dengan baik. Pertanyaan makin meningkat, berkisar pada ilmu tauhid yang sebagian besar disampaikan dengan perumpamaan dan berfilsafat. Sang Puteri makin mantap.
Pupuh V ditulis dalam tembang Asmarandana, terdiri dari 74 pada, merupakan tahap penyelesaian. Diawali dengan meneruskan tanya jawab atas pertanyaan-pertanyaan terakhir sayembara, perkawinan antara keduanya, sampai datangnya Sang Guru Pendeta Sasmitajati untuk memberi nasehat Sang Dewi, dan membuka rahasia Sang Pemuda yang selama itu tersem- bunyi. Akhir ceritera, keduanya hidup bahagia sebagai suami isteri. Ngamdul Ngalim dinobatkan sebagai raja di negeri Ngerum dan mempersunting Sang Retna Dewi Maleka.
Dengan uraian tersebut jelaslah bahwa unsur-unsur penceritaan yang meliputi tahap awal atau pendahuluan, pertemuan, pengung- kapan masalah, konflik, dan penyelesaian atau tahap akhir yang merupakan pengembalian tatanan kehidupan, dapat dipenuhi oleh pengarangnya. Berdasar hal tersebut teks Dewi Maleka dapat digolongkan sebagai ceritera roman, suatu roman percintaan yang diungkapkan secara halus. Hal ini oleh pengarang dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan, yaitu penyampaian ajaran-ajaran Islam, ajaran-ajaran moral Islami. Tokoh-tokoh dalam ceritera ini memiliki pola perilaku yang khas, sebagai tokoh-tokoh religius.
Berdasar kandungan isinya, teks Dewi Maleka termasuk salah satu sastra didaktis yang menampilkan dua tokoh ideal pada za- mannya (zaman penciptaan karya sastra tersebut). Yaitu tokoh wanita Dewi Maleka, seorang puteri raja/raja pu teri yang can tik jelita, arif bijaksana, dan pandai dalam berbagai ilmu, serta seorang
tokoh pria ideal Ngabdul Ngalim yang tampan, religius dan pandai dalam ilmu agama. Keduanya merupakan sosok manusia ideal dalam sastra Jawa umumnya, dan sastra Jawa Kuno khususnya. Menurut Sudewa dalam penelitannya tentang Serat Nitisastra dan Panitisa tra, profil manusia ideal dalam sastra didaktis tampak bergeser dari zaman ke zaman. Sosok manusia ideal dalam sastra Jawa Kuno mementingkan segi-segi religius mistik dalam tindakan- nya di tengah m,asyarakat. Ketika karya sastra didaktis itu ditran- sformasi ke dalam sastra Jawa Baru menjadi sosok yang bersikap sosial dengan jalan berderma kepada pengikutnya, menolong faki r miskin, dan hidup rukun dengan sesama (Sudewa, 1991 : 7). Se lain itu tampaknya ada tujuan pengarang, ingin meraih emansipasi, mengangkat derajat wanita. Hal ini ditampilkan mela lui t okoh Dewi Maleka sebagai puteri raja yang kemudian me njadi raja puteri yang bijaksana. Namun demikian ia harus tetap se laras dengan kodrat, harkat dan martabatnya sebagai wanita. Teks De wi Maleka adalah suatu karya sastra yang tampaknya berasal dari kalangan pesantren. Hal ini terbukti dengan isi teks yang Jebih menekankan pada pemahaman ajaran-ajaran Islam. Menurut Simuh, ciri sebuah kesusastraan santri adalah :
Bagi para santri, syariat merupakan dasar yang fun damental. Oleh karena itu kepustakaan yang berkembang dalam pesantren dan surau-surau, berdasarkan dan bertalian dengan syariat. Dan syariat merupakan ukuran untuk membedakan antara ajaran yang lurus dan benar dengan ajaran yang me nyimpang dari tuntunan Islam. Dengan demikian kepustakaan Islam pesantren sangat terikat dengan syariat. Syariat dalam pengertian yang luas disebut sy ara ', yang berarti agama (Simuh, 1988 :2).
Dari kutipan tersebut makin jelas bahwa yang dimaksud dengan kesusastraan pesantren adalah terikat erat dengan syariat. Syariat adalah suatu peraturan yang diciptakan Allah agar manusia berpegang kepadanya dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan saudaranya sesama muslim dan lingkungannya (Sjaltout I, 1972: 22-2 3). Jadi yang dimaksud dengan syariat adalah peraturan yang diciptakan Allah untuk mem bedakan antara ajaran yang lurus dengan ajaran yang menyimpang dari tuntunan Islam dalam ber-
hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam lingkungannya. Dalam pendahuluan telah diutarakan bahwa teks Dewi Maleka oleh Poerbatjaraka telah disinggung sebagai salah satu teks yang berasal dari kalangan pesantren (Poerbatjaraka, 1950 : 110-111 ). Teks Dewi Maleka ini berisi berbagai ajaran yang berkaitan dengan kedudukan seorang muslim. Dimulai dari ajaran mengenai konsep Tuhan, dilanjutkan dengan penciptaan dan seterusnya, sampai pada konsep ganjaran yang diterima, surga atau neraka. Semua itu menggunakan ajaran-ajaran Islam sebagai tolok ukur- nya. Beriku t ini akan diuraikan konsep nilai-nilai luhur yang ter- dapat di dalam Serat Dewi Maleka.
- Konsep Tuhan Di dalam teks ini konsep mengenai Tuhan adalah suatu dzat yang esa. Dzat ini disebut sebagai wujudullah atau wujud Allah (lihat Pupuh II, 45). Sedangkan konsep pengakuan yang dilakukan oleh seorang muslim akan keesaa'n Tuhan, yang juga disebut sebagai syahadat memiliki beberapa proses. Pengakuan itu juga dikenal dengan nama sy ahadat fardhu yang terbagi dalam 4 tahapan. Pertama tasdik membenarkan dengan ucap- an, kedua tadzim dengan mengagungkan Allah. Ketiga khur- mat yang berarti menghormati nabi Muhammad, dan khilawat membasrahkan jasad kepada Allah (Pupuh Ill. 17-18). Teks Serat Dewi Maleka juga menguraikan tentang pengakuan kebesaran dan keagungan Tuhan melalui makna kata asyhadu dan /ailaha illallah di dalam hati (Pupuh III, 19). Uraian mengenai sifat 20 yang wajib ada pada Allah juga disinggung beserta maknanya (Pupuh Ill, 19-33). Rumah Allah ada di dalam hati seorang makmin, ini ditunjuk- kan melalui firman Allah yang berarti Aku jadikan anak cucu Adam singgasanaKu, aras di dada, di dalam dada ada hati, di dalam hati ada fuoda, di dalam fuoda. ada jinem, di dalam jinem ada kehendak, di dalam kehendak ada rasa. dan di dalam rasa hanya Aku yang ada. Demikian ajaran yang ter- dapat di dalam teks Serat Dewi Maleka (Pupuh Ill, 34-35).
(Pupuh Ill, 36).
Berkaitan dzat Tuhan, hubungan antara Tuhan dan hambaNya tampak akan mem beri kesenangan. Seperti diuraikan berikut ini mengenai 3 kesenangan yang diterima oleh hambaNya adalah ketika nabi tenggelam dalam dzat, ketika wali tenggelam di dalam sifat. dan saat orang mukmin tenggelam di dalam afngal (P upuh III, 45).
- Penciptaan Pen ciptaan ini adalah asal usul terjadinya sesuatu, dimulai dengan asal usul manusia yang disebutkan berasal dari ayah dan ibu, disertai dengan dalilnya y akhruju min bainis shulbi wartaarib (Pupuh II. 5-7). Lafal kun f'ayakun (Pupuh IL 4) yang pertama dijadikan Allah. I bli s diciptakan dari api (Pupuh II, 8-10). Anak pertama y ang diciptakan Tuhan adalah anak Na bi Adam. bernama Kabil ( Pupuh II, 22). Malaika t. peri, bidadari berasal dari api (Pupuh III, 6 ). Juja Makjuj a, putra Nabi Nuh yang kecil-kecil dan tak terhi- tung banyaknya yang m emakan seisi dunia hingga hari kiamat (Pupuh II I. 8-9). Arti nama-nama hari dalam seminggu dan sebab-sebab diciptakan yang berhubungan dengan suatu peristiwa (Pupuh IV, I 2-1 6 ). Proses terjadinya manusia. diawali dengan roh nafas yang menjadi iman berasal dari Allah. kemudian dengan indra pen- cium. perasa. pendengar. dan penglihatan. Sedangkan yang berasal dari aya h ada lah tulang. otot. kulit dan otak. Berasal dari ibu adalah daging. darah. isi perut dan sumsu m (Pupuh \ '. 1-2 ).
Perkara 2-2 berisi uraian mengenai dua sifat yang selalu berto- lak belakang yaitu siang malam, laki-laki perempuan, surga neraka. Islam kafir, laut darat, mati hidup, arasy kursy. /uh kalam. birahi akad (pupuh IL 14-15). Yang berasal dari tanah dan langit adalah shalatnya orang mukmin ( Pupuh II, 15-16). Yang lebih kental dari am al adalah hati (Pup uh II, 16 ). -Yang datang dan pergi adalah siang dan malam ( Pupuh II, 20). Uraian mengenai perlambang waktu, hari, bulan dan tahun ( Pupuh II, 20-2 1). -Apa yang 7-7 tingkatannya, jawabnya adalah bumi langit 7, neraka 7, dan surga 7 (Pupuh II, 49). Birahi tempatnya rasa, jantung tempatnya nafas, Ba eta/ Makmur tempat di otak (Pupuh III, 7). Hati tempatnya di dalam batin ( Pupuh III, 7). Laut tak bertepi adalah pandangan orang makrifat (Pupuh IV. l ). Teratai tanap air, pralambang untuk roh idhofi (Pupuh IV, 1-2). Daun hijau terus selama 1 tahun, artinya hidup yang sesung- guhnya (Pupuh IV, 3 ). Menenun sekali jadi adalah pandangan yang sejati (Pupuh IV, 4): Tanggal l purnama bulan bulat bersamaan dengan gerhana, artinya banyak kejadian yang akhirnya jadi kuno (Pupuh IV,
4). Perlambangnya waktu (Pupuh IV, 5-1 1 ). Yang paling buruk adalah orang yang ragu kepada Tuhan (Pupuh IV, 21,22).
(Pup uh IV, 24-25 ).
Lebih le bih gelap dari malam adalah orang yang tak mengerti aturan agama ( Pupuh IV, 25). Le bih terang dari siang adalah ha tin ya orang alim (Pupuh IV,
26). Lebih dalam dari laut adalah kesempumaan Tuhan kepada hambaNya (Pupuh IV, 26). Lebih dingin dari air adalah orang yang sabar, tawakal dan se lalu ingat pada Tuhan (Pupuh IV, 26). Lebih keras dari batu adalah hati orang yang kufur (Pupuh IV,
27). Lebih panas dari api adalah hati orang yang dengki (Pupuh IV,
28). Lebih tinggi dari Jangit adalah orang yang berani mengalah (Pupuh IV, 28). Lebih rendah dari tanah adalah orang berbudi (Pupuh IV, 29). Lebih tajam dari pisau adalah orang yang rendah hati (Pupuh IV, 30-3 l ). Lebih banyak wanita daripada pria, karena ada pria yang bukan pria, wanitajuga namanya (Pupuh IV, 32). Orang mati lebih banyak dari yang hidup, karena walau hidup tetapi tak mengerti, sehingga bagaikan orang mati (Pupuh IV,37). Lebih pu tih dari warna putih adalah hati orang Islam yang ihlas (Pupuh IV, 39).
Yang sangat hitam adalah hati orang yang kufur (Pupuh IV,
39). Di Dunia ada 2 hewan yaitu hewan nathiqi dan hewan ghairun- nathiq i. Ghairunnathiqi adalah hewan yang sesungguhnya, sedangkan hewan nathiqi adalah manusia yang tidak mengerti kedudukannya sebagai manusa (Pupuh IV, 39-41 ).
4. Nabi Mukjijat Nabi Isa yang mendatangkan makanan dari langit, pada ayat an zil ngalaina maidatan minassama 'i (Pupuh II, 13 ). J umlah nabi yang diturunkan Allah adalah 124 ribu. terdiri dari 313 nabi utusan dan 6 nabi syariat yaitu Adam, Nuh, Ibrahim. Musa, Is a dan Muhammad (Pupuh II, 25 -26). Nabi utusan adalah nabi yang menerima wahyu di dalam mimpi dengan perantara Jibril (Pupuh II, 29). -Nabi yang menjadi raja adalah Nabi Sholeh, Nabi Hud, Nabi Ishak. Nabi Yusuf, Nabi Daud, Nabi Suleman dan Nabi Muhammad (Pupuh II, 40-41 ). Raja besar yang banyak pengikutnya adalah Nabi Yusuf, Nabi Suleman, dan Raja Ngabdul Iskandar Zulkarnain Kur- nen (Pupuh II, 41-42). -Raja besar yang lainnya adalah Fir'aun
1 Nall!rud, dan Sadah (Pupuh II, 42).
-Nbi yang masih hidup adalah Nabi Isa, Nabi Ilyas, Nabi Idris. dan Nabi Khidir (Pupuh II, 50-51 ).
-Tempa t Na bi Idris dan Na bi Isa di langit bersama malaikat, sedangkan Nabi Ilyas yang mengelilingi daratan, dan Nabi Khidir yang mengelilingi !au tan (Pupuh II, 5 2-5 3 ).
Nabi Nuh banyak berzikir, Nabi Ayub sabar, Nabi Khidir alim berpengetahuan dan Nabi Muhammad arif kepada Allah (Pupuh III, 9-10).
50 wahyu, Nabi Ibrahim 70 wahyu, Na bi Musa 40 wahyu, Nabi Isa IO wahyu (Pupuh 111, 13 ).
Usia Nabi Adam adalah 990 tahun, Nabi Nuh 1000 tahun Na bi Ibrahim 45 tahun, Nabi Musa I 00 tahun, dan Nabi Isa 330 tahun (Pupuh JV, 44-46).
- Riwayat Hid up Na bi Muhammad Teks Serat Dewi Maleka menguraikan juga tentang sejarah wafatnya Nabi Muhammad. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad wafat pada usia 63 tahun, pada tahun Dal, hari Senin pagi, tanggal 12 Ra biulawal, dan dimakamkan di Madinah ( Pupuh III, 11 ). Pada usia 40 tahun Nabi Muhammad mendapat wahyu yang pertama, dan selama 23 tahun Al Quran diturunkan, terdiri dari 120 wahyu (Pupuh III, I 2).
- K.itab -Di dalam teks Serat Dewi Maleka juga disebutkan mengenai kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, dimulai dari jumlah kitab yaitu ada I 04 terdiri dari I 00 kitab yang mansuh (ter- hapus) da n 4 kitab yang masyur (terkenal). Keempat kitab yang masyur adalah kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran Pupuh II, 23-24). Kitab yang diberikan Allah tanpa syariat, untuk Nabi Sis sebanyak 50 kitab, Nabi Idris 30 kitab, dan Nabi Daud yaitu kitab Zabur. Sedangkan syariat tanpa kitab diberikan kepada Nabi Nuh. Syariat dengan kitabnya diberikan kepada Nabi Adam 10 kitab. Nabi Ibrahim 10 kitab, Nabi Musa Taurat. Nabi Isa lnjil, dan Nabi Muhammad Al Quran (Pupuh II, 27 -29).
(Pupuh II, 4 7).
Rukun Iman disebutkan ada 6, tetapi tanpa rinciannya (Pupuh II, 49).
Iman terbagi menjadi 3 bagian yaitu, Iman ma 'sum imannya para nabi. Iman matzbug imannya para malaikat, dan Iman makbul imannya para mukmin (Pupuh III, 46).
Juga diuraikan struktur iman, dimulai dari kepala hingga dasarnya (Pupuh III, 47-52).
- Manusaia Manusia yang dimurkai Allah dan dijadikan hewan adalah Bani Israil, dan pem buat emas yang memaki Nabi Muhammad lalu dijadikan guntur dan petir. Sedangkan wanita yang tak bersuci atau jinabat saat setelah selesai mendapat haid, nifas. waladah dan lain-lain dijadikan kalong (Pupuh III, 1-2). Orang Babilonia (Namrud) yang membakar Nabi Ibrahim dijadikan laba-laba. Orang yang berhutang dan membayar de- ngan kurang pada zaman Nabi Adam dijadikan nabi. Sedangkan orang yang berjual beli tetapi timbangannya dikurangi, dijadikan badak (Pupuh III, 3-4 ). Orang yang menghilangkan hak orang lain, dijadikan binatang beracun. Orang yang tertawa senang saat Nabi Ibrahim dibakar dijadikan uget-uget atau cacing (Pupuh III, 4- 5). Anak yang mengejutkan ibunya saat sedang sembahyang, dijadikan kucing oleh Allah (Pupuh III, 5-6). Disebutkan juga mengenai tempat manusia di alam ini. Per- tama di dunia, l~edua di alam kubur, ketiga di padang masyar, keempat di Telaga Kautsar, kelima di Traju tempat penimbang- an arnal oleh para malaikat, keenam titian Shiratal Mustaqiem,
Surga atau Neraka tergantung amal perbuatannya (Pupuh V, 9-15).
Manusia yang memiliki pertanda akan diterima di Surga adalah : Pertama, mengerjakan yang wajib di dalam ajaran agama. Kedua. berhati sabar. Ketiga, menjaga kesucian badan. Keempat pandai melakukan hal yang buruk serta kikir (Pupuh V, l 8-19). Banyaknya nafsu yang ada pada manusia adalah sebagai beri- kut: Satu, nafsu /uamah tempatnya di empedu sifatnya pema- rah. Kedua, nafsu amarah tempatnya di hati sifatnya suka bersenang-senang. Ketiga, nafsu supiyah tempatnya di limpa sifatnya suka menghina orang lain dan menyanjung diri sendiri. Keempat, nafsu mutmainah tempatnya di jantung sifatnya tenang, suka menyem bah Tuhan siang dan malam (Pupuh V, 20- 23).
- Setelah Datangnya Kematian Manusia yang telah menjadi may at terdiri dari: api, angin, air dan tanah (Pupuh II, 45-46). Yang diambil oleh Allah dari mayat, adalah : syahadat, shalat, puasa, zakat daP haji (Pup uh II, 46-4 7). Adapun sebab-sebabnya mayat dimandikan karena mayat itu berasal dari air, sedangkan sebabnya dikubur karena berasal dari tanah. Mayat dishalatkan agar si mayat dapat mengikuti jaln yang lurus yaitu jalannya Nabi Muhammad (Pupuh IV, 46-4 9). Sebabnya ada orang menyedekahi mayat setelah wafat 3 hari, 7 hari, 4 0 hari hingga I 000 hari, adalah untuk mengenang hubungan dan kasih sayang orang bersaudara dengan si mati yang telah selesai (Pupuh IV, 50). Di dalam kubur mayat akan ditanya oleh 2 malaikat yang di- sebut di dalam teks sebagai Karun Wanakirun atau Malaikat
Siapa Tuhanmu, jawabnya Allah. Siapa Nabimu, jawabnya Muhammad. Siapa penuntunmu, jawabnya Al Quran. Siapa saudaramu, jawabnya muslimin dan muslimat. Di mana k.iblatmu, jawabnya Ka'bah di Mekah. Siapa imammu, jawabnya Imam Syafi'i. Siapa orangtuamu, jawabnya Adam. Demikianlah manusia yang mendapat rahmat Tuhan. Bagi yang tak dapat menjawab pertanyaan malaikat dan tak mendapat pertolongan Tuhan akan digada hingga hancur, tetapi tidak bisa mati. Ini disebabkan ketika di dunia tak pernah mengaji dan berbuat baik (Pupuh IV, 55-59).
- Kiamat Pertanda akan datangnya kiamat adalah apabila Allah telah mengam bil berkahny a dunia, adilnya seorang raja, kasih sa- yangnya sanak saudara, penderitaan oraBgtua, rasa malunya pendeta, kemurahan hati orang kaya, rasa malunya para wani- ta, imannya orang mukmin dan Al Quran (Pupuh III, 1 5-16 ). Pada saat seseorang mengalami kiamat kecil atau sekarat, orang itu akan melihat cahaya putih. Cahaya ini berasal dari Nabi Muhammad, sedangkan bila melihat cahaya hijau itu berasal dari Malaikat Jibril. Cahaya hitam berasal dari Iblis, harus dilawan c!engan membaca doa syahadat. Cahaya merah menyesatkan, jangan diturut, namun bacalah doa la ilaha illallah. dan cahaya kuning adalah penggoda dilawan dengan illallah (Pupuh IV, 3 2-36).
11. Ganjaran Di dalam teks juga terdapat konsep nilai tentang ganjaran yang diterima oleh seseorang dari Allah. Apabila melakukan amal sekali akan mendapat ganjaran 10 kali oleh Allah (Pupuh II,
50).
Surga
Kedudukan surga juga disinggung pada teks ini. Ada beberapa benda yang disebutkan berasal dari surga, seperti angin taufan yang diturunkan pada zaman Nabi Nuh disebutkan berasal dari surga. Disebut juga mengenai dalilnya yang berbunyi minallaUi bi l jannati (dari malam di surga). Sedangkan beberapa hewan seperti kambing dan kuda disebutkan berasal dari surga juga, dengan dalilnya nganam minal jannati kambing dari surga) dan kuda berasal dari langit (Pupuh II, 1 7-19).
Pintu surga yang bernama Darussalam disebut di dalam teks Serat Dewi Maleka (Pupuh II, 43).
Isi surga di dalam teks ini digam barkan memiliki segala yang indah-indah, taman yang asri dan sungai-sungai yang menga- lir jernih. Semua yang tnggal di dalamnya selalu muda dan tak pernah tua a tau meninggal (Pupuh Y 3-4 ).
- Neraka Tingkatan-tingkatan di dalam neraka terbagi menjadi neraka Ngedi, neraka Wilazha, neraka Sangir, neraka J akhim, neraka Siji, dan neraka Jahanam (Pupuh II, 44 ). Adapun isi neraka yang digambarkan semua serba menjijikkan, baunya amis dan bacin, berukuran 7 dunia, airnya dari nanah, rantai dan belenggu datang mengikat, semua binatang ber- bisa menggigit penghuni neraka, tak ada yang mati dalam sik- saan itu ( Pupuh Y, 4-8). Selain konsep ajaran Islam, seperti tercermin dalam pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Maleka kepada calon suaminya Ngabdul Ngalim, dalam teks Dewi Maleka juga terkandung beberapa konsep ajaran, nilai-nilai luhur yang diungkapkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya, baik sebagai pribadi maupun dalam hubung- annya dengan tokoh lain. Misal : Dewi Maleka sebagai pribadi. Sikap dan tingkah laku Dewi Maleka saat menduduki tahta kerja- an, saat mengajukan pertanyaan kepada calon suaminya, hingga
menerima Ngabdul Ngalim sebagai suami. Berikut ini diuraikan mengenai sikap dan tingkah laku beberapa tokoh yang patut di- catat.
Disebutkan Dewi Maleka adalah seorang puteri yang cantik jelita. Kecantikannya bagaikan pepatah " lebih banyak rupa dari perumpamaan". Ia juga mengerti akan kewajibannya, sabar dan bijaksana, taat, berbakti, bertingkah laku halus, taat menjalankan perintah agama, dan pandai dalam segala ilmu baik Jawa atau Arab. (Pupuh I, 2-21 ).
Tersebutlah Ngabdul Ngalim seorang warga negara Mesir, pemuda tampan pandai dalam ilmu agama dan taat beribadah. Ia berhati sabar, dan bijaksana. Perawakannya gagah, tinggi, berkulit kuning. Bila berbicara suaranya menggema membuat banyak wanita jatuh cinta. Kebiasaannya suka memberi sede- kah. (Pupuh I, 22-29).
Sri Baginda Dewi Maleka menjamu fakir miskin dengan hidang- an bermacam-macam (Pupuh I, 40).
Dewi Maleka sangat menghormati tamunya. Ia memberi ma- kanan berlimpah ruah dan pakaian yang indah kepada Ngabdul Ngalim (Pupuh II, 31-36).
Sang Puteri Dewi Maleka mulai jatuh cinta kepada Ngabdul Ngalim sang pengembara (Pupuh II, 37)
Walaupun sedang jatuh cinta, Raja Puteri pandai menguasai diri. Sementara itu Raja Puteri memerintahkan aparatnya menjaga dan mengurus tamunya (Pupuh III, 38-40).
Dengan pakaian terhias bagus serta diringi dayang-dayang, Dewi Maleka tampak bagaikan bidadari. Tingkah lakunya lu- wes, halus budi pekertinya, bila tersenyum dikulum sehingga membuat orang tergila-gila (Pupuh III, 41-43).
Dewi Maleka mnyadari takdir Allah se bagai seorang abdi wanita (Pupuh V, 24-27). Raja Puteri menempati janji untuk menikah dengan Ngabdul Ngalim (Pupuh V, 28-3 3 ).
Puteri jatuh cinta. kepada Ngabdul Ngalim (Pupuh V, 34 36 ).
Para pe nduduk bekerjasama dengan prajurit, menteri dan hulubalang lainnya mempersiapkan pernikahan Sang Puteri ( Pupuh V, 3 7-40).
Berbagai bunyi-bunyian ramai terdengar, para menteri bersu- karia. Keinginan .Sang Raja Puteri agar pada waktu bedug tengah hari semua gamelan berbunyi. Semua tanda kebesaran kerajaan dikeluarkan, semen tara Ngabdul Ngalim didandani ( Pupuh V, 41-48).
Akad nikah antara Ngabdul Ngalim dan Dewi Maleka dilaku- kan depan penghulu Mutangalim (Pupuh V, 49-50).
Pengantin diiringi oleh berbagai binatang buruan yang telah dijinakkan. Pengantin pria datang ke tempa t pengantin puteri mengendarai burung garuda (Pupuh V, 51- 53).
Sang Puteri duduk di kursi gading, dihadap oleh isteri para Menteri. Sang Puteri berganti nama menjadi Semita Resmi ( Pupuh V, 54-55).
Pengantin putera bertemu dengan pengantin puteri. Dalam acara ini hanya Ki Patih Mangkupraja dan Surakencana yang boleh masuk berhadapan (Pupuh Y, 56-5 7).
Selama tiga hari tiga malam Sang Puteri belum bercampur dengan suami. Para isteri menteri, Ki Patih Mangkupraja dan Surakencana asyik menemani sam bil berge m bira (Pupuh V, 58-60). Se telah be berapa bulan lamanya Sang Puteri baru mau bercampur dengan suaminya (Pupuh Y, 61-62).
Tersebutlah Pendeta Sasmitajati, seorang pertapa, guru Sang Puteri datang menjenguk pada saat tengah malam (Pupuh V, 63-65 ).
Sang Puteri memperkenalkan gurunya kepada sang suami (Pupuh Y, 66-69).
Sang pertapa menasehati Sang Puteri agar mencontoh Dewi
V, 70-74).
Teks Pepali Ki Ageng Sela
Selain teks Dewi Maleka, naskah ini juga berisi teks Pepali Ki Ageng Sela, yang terdapat pada pupuh VI atau pupuh terakhir. Dalam teks terse but ditulis Ki Agung Sela. Tentang hal ini ada dua kemungkinan. Pertama, teks tersebut digubah dari sastra lisan, artinya diperoleh secara lisan, dan kemudian digubah dalam ben- tuk tembang. Suatu hal yang menguatkan hal ini adalah adanya perbedaan antara teks yang satu dengan yang lain. Kedua, pe- nulisan Ki Agung Sela, memang disengaja oleh penulisnya dengan maksud untuk lebih megnagungkan nama Ki Ageng Sela. Seperti halnya dengan teks Serat Dewi Maleka, teks Pepali Ki Ageng Sela juga berisi berbagai ajaran mengenai nasehat-nasehat yang diberikan oleh Ki Ageng Sela kepada anak cucunya. Nasehat-nasehat itu berupa ajaran untuk membentuk watak, moral, budi pekerti; sesuai dengan tata nilai budaya masyarakat pendukungnya. Berikut ini akan diutarakan mengenai ajaran, nasehat. atau konsep nilai-nilai luhur yang terdapat dalam teks terse but:
I. Jangan sombong (Pupuh VI, 2, 10, 18).
2. Jangan bersikap bengis dan membabi buta (Pupuh VI, 2, 7).
3. Jangan jahil atau usil {Pupuh VI, 2, 6)
4. Jangan mencuri (Pupuh VI, 2).
5. Jangan suka dipuji ( Pupuh VI, 2)
6. Jangan berhati serong ( Pupuh VI, 2)
7. Jangan suka meminta-minta (Pupuh VI, 3)
8. Berbuat baik terhadap sesama (Pupuh VI, 3, 8)
9. Jangan men darn bakan harta benda yang berlebihan (Pupuh VI, 4) I 0. Jangan suka mencela ( Pupuh VI, 6). I I. Jangan suka bertengkar (Pupuh V I, 6) l 2. Jangan manja (Pu puh VI, 6)
13. Jangan berjanji bila tak sanggup (Pupuh VL 6)
14. Jangan dengki (Pupuh VI, 7)
VI, 7)
- Jangan cepat tersinggung (Pupuh VI, 7) l 7. Berlaku sopan santun (Pupuh VI, 7)
- Agar suka berbelas kasihan (Pupuh VI, 9)
- Jangan bersifat seperti pedagang atau lebai yang memanfaat- kan pekerjaannya dalam pergaulan, selalu melihat untung rugi (Pupuh VI, 11)
- Watak seseorang terlihat dari air muka dan tutur katanya (Pupuh VI, 12). 2 1. Jangan berlaku semena-mena bila jadi orang berada ( Pupuh VI, 13).
- Manusia sejati seperti seorang pendeta yang tak tampak pada perilakunya, namun selalu bertindak hati-hati dan waspada Sanak saudaranya adalah alam semesta (Pupuh VI, 14).
23. Manusia yang salah selalu banyak musuhnya (Pupuh VI, 13) - Jangan ngumbar nafsu (Pupuh VI, 16)
- Mengerti tentang tingkah laku (Pupuh VI, I 7)
26. Jangan menghina orang yang kekurangan (Pupuh VI, 19) - Selalu menjaga perasaan orang lain (Pupuh VI. 20)
28. Dalam suatu persaudaraan tidak sating mengukur atau meng- hitung, dan tidak bersikap seperti Duma (Pupuh VI,21) - Memperhatikan nasehat orang tua karena rasa sayangnya (Pupuh VI, 22)
30. Bila bercakap-cakap dengan istri hendaknya dengan penuh
rasa ka sih sayang (Pupuh VI, 25) 31. Berbuat baik serta perhatikan tingkah laku seseorang untuk mengetahui wataknya (Pupuh VI, 26-30) 3 2. Agar memahami pentingnya karya sastra (Pupuh VI, 31-33)
- Allah yang memiliki hidup ini (Pupuh VI, 34)
- Lebih utama adalah orang kaya yang mem peroleh nafkahnya bukan berasal dari keluarga (Pupuh VI, 3 5)
- Orang yang hina adalah orang yang men olak pengetahuan dan tak mengerti rukun iman dan rukun Islam (Pupuh VI.
36) - Makan m inum hendaknya berasal dari bara ng yan g halal dan suci. J angan berlebih-lebihan dalam berbusana (Pupuh VI,
39)
(Pupuh VI, 40)
- Kehinaan bagi orang tak berilmu adalah bagaj bunga wari- bang (bunga kembang sepatu m~rah) yang terlihat menyala namun tidak harum baunya. Orang berilm)..I adalah seperti madu dan susu di atas piring kecil, y ang selalu dikerumungi semut ( Pupuh VI, 41-42)
- Orang yang banyak cakap adalah tanda orang yang tak.berilmu. bagai jun kurang isi selalu kocak ingin tumpah (Pupuh v l, 43-44)
- Banyak pendeta palsu, oleh karena itu harus berhati-hati (Pupuh VI, 45-5 2) 4 1. Jangan menganggap hidup di dunia ini kekal (Pupuh VI, 53-56) 4 2. Amal sebagai penerang hati, karena hidup di dunia ini tidak dapat diduga saatnya harus kembali (Pupuh VI, 57-59) Demikianlah nilai-nilai yang terdapat dalam teks Serat Dewi Maleka dan teks Pepali Ki Ageng Sela.
KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan hal-hal seperti di bawah ini.
l. Khasanah naskah kuno Nusantara, sebagai salah satu warisan rekaman budaya tertulis masa lampau, merupakan salah satu cagar budaya nasional yang perlu dilestarikan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang umumnya tetap relevan dan bermanfaat sejak dahulu sampai sekarang dan masa menda- tang. "' Masuknya Islam di pulau Jawa, yang pada awal perkembang- annya mendapat lahan subur di daerah pesisir pantai utara pulau Jawa, juga berpengaruh dalam karya sastra. Dengan demikian sesuatu karya sastra merupakan pencerminan masya- rakat dan lingkungan zamannya. Pertumbuhan pesantren sebagai pusat studi keagamaan Islam masa itu mampu mengganti- kan fungsi mandala-mandala Hindu, yang di samping sebagai pusat keagamaan juga pusat penciptaan karya sastra.
- Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan hal-hal seperti di bawah ini.
- Naskah Serat Dewi Maleka adalah suatu karya sastra Jawa yang dihasilkan dari lingkungan pesantren. Sebagai salah satu karya sastra pesantren, naskah Serat Dewi Maleka memaparkan ajaran moral, baik ajaran keagamaan Islam, ajaran moral Islami,
Pepali Ki Ageng Sela (dalam teks tertulis Ki Agung Sela), sebagai teks tambahan atau sisipan.
- Berdasarkan bentuk dan isi ceritera, teks Dewi Maleka merupakan suatu karya sastra yang dapat digolongkan ke dalam bentuk sastra roman. Sebuah roman Islam yang dikemukakan dengan sangat halus, untuk mencapai efek tertentu yaitu pe- nyampaian ajaran-ajaran Islam, ajaran-ajaran moral Islami.
- Selain itu berdasar isinya, kedua teks tersebut merupakan sastra didaktis, berisi ajaran-ajaran yang baik seperti tersebut di atas. Selanjutnya berdasarkan pengamatan fisik naskah itu sendiri, dapat diduga bahwa naskah ini berasal dari pes1m pantai utara pulau J awa bagian timur, dan mungkin ditulis pada sekitar abad ke-1 9.
- Sebagai naskah pesantren literatur, teks Dewi Maleka tidak hanya mengandung ajaran agama Islam, tetapi juga ajaran moral Islami dan budi pekerti. Dari analisis edisi teks dapat di- angka t berbagai konsep nilai-nilai luhur yang meliputi konsep tentang: Tuhan, pencipta.an, falsaf:ih, Nabi, riwayat hidup Nabi Muhammad, kitab, keimanan, manusia, keadaan setelah datangnya kematian, kiamat, ganjaran yang diterima, surga dan neraka.
Dari teks Pepali Ki Age ng Sela dapat diungkap adanya berbagai
Dengan menelusuri berbagai uraian di a tas dapa t diperoleh informasi, bahwa sejak ratusan tahun yang lalu bangsa Indone- sia telah memiliki kebudayaan yang tinggi, yang hingga zaman modernisasi/ globalisasi dengan teknologi serba canggih seperti sekarang ini, juga masih relevan untuk diestafetkan kepada generasi muda sebagai generasi penerus bangsa.
4.2 Saran-saran
I. Khasanah naskah kuno Nusantara sebagai salah satu kekayaan budaya nasional perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Naskah-naskah tersebut perlu segera diselamatkan, dilestari- kan, dan didayagunakan.- Menginga t kondisi materi naskah yang kini umumnya sudah lapuk karena tua usia, maka ia perlu men dapat penanganan dan perawatan secara intensif, baik perawatan yang bersifat pencegahan maupun perbaikan? sesuai kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan konservasi.
- Naskah-naskah kuno, khususnya naskah-naskah milik keluarga yang be I urn terawat baik, perlu segera diselamatkan dan di-Jestarikan. Berbagai upaya dapat dilakukan. Antara lain dengan menyerah kannya atau menitipkannya kepada Jem baga yang memiliki sarana dan prasarana memadai dalam pengamanan dan pelestarian naskah. Selain itu dapat/ perlu dilakukan pembuatan re produksi seperti pembuatan microfilm. microfiche. print ing/pho roprin r. scanning/ photo scanning. foto-foto repro- duksi. slide. salinan. dan lain-Jain.
- Naskah-naskah kuno perlu didayagunakan, perlu dialih-aksara- kan. dialih-bahasakan. dan bentuk pengalihan lain seperti alih eja. transkripsi dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. dari naskah tak tertulis menjadi naskah tulisan tangan, dan seterusnya.
- Selanjutnya agar naskah-naskah kuno lebih berdayaguna, ia
ke- budayaan nasional yang penanganannya dilaksanakan secara bertahap dan terus menerus, maka upaya penyelamatan, pelestarian, dan penggarapan naskah kuno Nusantara yang telah dirintis selama ini perlu diteruskan, bahkan ditingkatkan.
Abrams, M.H. 198 l. A Glossary of Literary Terms. New York, Chicago, San Francisco, Dallas, Montreal, Toronto, London, Sydney Holt, Rinehart and Winston.
Awaluddin. Sifat Dua Pu/uh. Jakarta: M.A. Jaya.
Baried, Siti Baroroh, dkk.
- Pengantar Teori Filologi. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
De Graaf, Th. G. Th. Pigeaud l 986 Kerajaan-Kerajaan Isltim di Jawa. Peralihan dari Maja- pahit ke Mataram. Jakarta : Grafiti Press
lkram, Akhadiati 1980/1981 "Perlunya memelihara Sastra Lama ". Analisis Kebudayaan, Tahun I, nomer 3. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap- pen. 19 33. Jaarboek. Bandung : A.C. Nix & Co. Mulyadi, Sri Wulan Rujiati 19 80/1981 "Dunia Naskah dan Suatu Jaringan lnfonnasi di
Analisis Kebudayaan, Tahun I, nomer 3. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nasar, H. A. Rasjied.
- Rintisan Tauhid. Bandung: PT. Alma'arif.
Padmosukotjo 196 7 Ngengrengan · Kasusastraan Djawa. Jilid 1- 11. Jogjakar- ta : Hien Ho Sing.
Pigeaud, Th.G.Th. · 1967 Literature of Java. Catalogus Raisonne of Javanese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and other Public Collection in the Nederlands. Jilid I. The Hague : Martinus Nijhoff. Poerbatjaraka, R.M.ng., P. Voorhoeve dan C. Hooykaas. 1950 /ndonesische Handschriften Bandung: Lembaga Kebudayaan Indonesia
Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran Departemen Agama RI. 1986/1 987 Juz 'Amma dan Terjemahannya. Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran Departemen Agama RI. Pusat Pem binaan dan Pengem bangan Bahasa. 1977 Pedoman Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan d an Kebudayaan RI. Sim uh 1988 Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Suatu studi terhadap Serat Wirid.Hidayat J ati. Jakarta : UI-Press. Sjaltout, Sjaich Mahmoud. 1972 Islam Sebagai Aqidah dan Sjariah. Jilid I-II. Terjemahan Prof. H. Bustami A. Gani dan B. Hamdany Ali M.A. Jakarta : Bulan Bintang. Soebadio, Haryati 19 75 " Penelitian Naskah Lama Indonesia". Buletin Yaperna nomer 7, Tahun II, bulan Juni.
1980 " Mencari Akar Kebudayaan Nasional ". Analisis Kebudayaan, Tahun I, nomer I. Jakarta : Departemen Pen- didikan dan Kebudayaan.
Soeryohoedoyo, R.M.
Pepa/i Ki Ageng Selo. Surabaya : CV. Citra Jaya.
Sudewa, Alex.Mencari Sosok Seorang Hero. Pidato Dies disampaikan pada peringatan Dies Natalis XXXVI IKIP Sanata Dharma 26 Oktober 1991. Jogyakarta: IKIP Sanata Dharma.
Tjandrasasmita, Uka I 976 Aspek-aspek Arkeologi Indonesia. Sepintas mengenai peninggalan Kepurbakalaan Islam di pesisir utara Jawa. Jakarta : Proyek Pelita Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan Nasional.