buletin triwulan
BOSARA
(Media Informasi Sejarah dan Budaya Sulsel)
BOSARA
BOSARA
BOJARA BOJARA
BOSARA
DEPARTEMEN PEÑDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI KAJIAN SEJARAN DAN NILAI TRADISIONAL MAKASSAR Nomor : 14 Tahun VI/1999 ISSN:1410 - 7074
Buletin"BOSARA" (media informasi sejarah dan budava Sulsel) penanggung jawab Kepala Balai Kajian Jarahnitra UP
pelaksana redaksi
Dra. Masgaba
editor: Drs. H. Muh Yunus Hafid Nur Alam Saleh tata usaha Umar D, Dahlia N, Rustam Alamat redaksi Balai Kajian Sejarah & Nilai Tradisional Jalan Sultan Alauddin Km 7 Telp. 885119-S83748 Makassar
2p
beeHigasm9d510
025/
DAFTARISI
Halaman Pengantar Redaksi
Sawerigading : Antara Mitos dan Sejarah
1 Oleh : Drs. M. unus .af..Ritus Torisalo Di Palakka Kabupaten Bone. Oleh:Pananrangi Hamid.. 5
3. Azas-Azas Ajaran Aluk Todolo Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Sosio Religius
Masyarakat Toraja Oleh: Drs. Petrus Kana... 15
- Sistem Distribusi Buah Jeruk Manis Di Desa Batangmata Kabupaten Selayar Oleh: Drs. Syamsul Bhr.. 23
5. Spesialisasi Lapangan Kerja Masyarakat Pendatang Di Kota Rantepao Kabupaten Tana Toraja
Oleh: Pananrangi Hamid... 29
- Kalindaqdaq Agama Dalam Lontar Mandar Oleh : rs. Suradi l. .. 42 7 Asal Usul Nama dan Ringkasan Isi Naskah Lontara Pattapingang Mandar Dan Kajian Atasnya (1) Oleh: Drs. Suradi Yasil .. 60
8. Menelusuri Jejak Perjuangan La Maddukelleng Melawan Belanda Hingga Di Anugerahi
Pahlawan Nasional Oleh: Drs. Faisal... 67
- Beberapa Toponimi Kabupaten Luwu Oleh : Drs. Syahrir il... 76
- Nilai Budaya Dalam Permainan Anak-Anak Suku Bangsa Mandar Oleh : Nur Alam alh.. 83
Keterangan Kulit Depan :
Sejumlah hasil terbitan buletin Bosara dengan latar belakang lipak sabbe (sarung sutera)
i
Pengantar Redaksi
Syukur Alhamdulillah Senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat dan taufiknya jualah sehingga Buletin Triwulan BOSARA dapat kembali hadir untuk menjumpai pembacanya. Tanpa terasa waktu yang terus bergulir, kini Bosara telah memasuki tahun ke enam. Apabila ditinjau dari usianya memang masih terlalu muda. Bahkan bila diibaratkan seorang anak manusia, ia masih dalam mencari bentuknya. Kami sangat menyadari bahwa dalam usianya yang relatif muda ini, pengasuh belum dapat memberikan yang maksimal kepada pembacanya. Namun kami tetap akan memberikan yang terbaik, serta senantiasa berupaya membenahi segala kekurangan-kekurangan yang ada. Mengawali Triwulan pertama Tahun Anggran 1999/2000, maka BOSARA pada edisi Nomor 14 Tahun VI 1999 kembali menyuguhkan berbagai tulisan menarik diantaranya adalah sebagai berikut :Sawerigading : Antara Mitos dan Sejarah, Ritus Torisalo Di Palakka Kabupaten Bone, Azas-Azas Ajaran Aluk Todolo Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Sosio Religius Masyarakat Toraja, Sistem Distribusi Buah Jeruk Manis Di Desa Batangmata Kabupaten Selayar, Spseialisasi Lapangan Kerja Masyarakat Pendatang Di Kota Rantepao Kabupaten Tana Toraja, Kalindagdaq Agama Dalam Lontar Mandar, Asal Usul Nama dan Ringkasan Isi Naskah Lontara Pattapingang Mandar Dan Kajian Atasnya (1), Menelusuri Jejak Perjuangan La Maddukelleng Belanda Melawan Belanda Hingga Di Anugerahi Pahlawan Nasional, Beberapa Toponimi Kabupaten Luwu, Nilai Budaya Dalam Permainan Anak-Anak Suku Bangsa Mandar Semoga dalam usianya yang keenam ini, Buletin BOSARA dapat memberikan bahan informasi baik mengenai sejarah maupun budaya daerah Sulawesi Selatan. Demikian juga kami tetap mengharapkan sumbang saran dalam rangkaian untuk lebih meningkatkan kwalitas sajian maupun kesempumaan BOSARA sebagai media informasi Sejarah dan Budaya Daerah Sulawesi Selatan
Salam Redaksi,
:i
SAWERIGADING: ANTARA MITOS DAN SEJARAH Oleh: M. Yunus Hafid"
- Pendahuluan Perbedaan antara mitos dengan sejarah ialah bilamana ceritera masa lampau itu tidak didukung oleh fakta-fakta sejarah maka ia menjadi mitos. Biasanya fakta-fakta sejarah berupa bukti-bukti arkeologis, arsip-arsip tertulis atau informasi dari para pelaku sejarah. Cerita rakyat pada umumnya dapat dibagi tiga yaitu : 1. Mitos (myth) 2. Legenda (Legend) 3. Dongeng (falk tale). Dalam bahasa Yunani mitos diartikan ceritera yang tidak benar terjadi(fiksi)dan dianggap berlawanan dengan ilmu. Menurut R. Bascom (1965 b:4) mitos adalah ceritera rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh para empunya ceritera. Mitos ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa dan terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan kita kenal sekarang serta terjadi pada masa lampau. Sedangkan legend adalah ceritera rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mitos yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi tetapi tidak suci. Berbeda dengan mitos legend ditokohi manusia walaupun adakalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. sebaliknya dongeng adalah ceritera rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waku maupun tempat.
- Ceritera Sawerigading (Dikutip dari RA. Kern : X, XII) Ceritera Sawerigading yang termuat dalam Sureq Galigo dimulai ketika para dewa-dewa di langit bermufakat untuk mengisi dunia ini dengan mengirim Batara Guru anak Patotoe di langit dan We Nyili'timo anak guru ri Salleng di Paretiwi (dunia bawah) untuk menjadi penguasa di bumi. Dari perkawinan keduanya ini lahirlah putera mereka yang bernama Bataralattuq, yang kelak menggantikan ayahnya penguasa di Luwu. Dari perkawinan Bataraguru dengan beberapa pengiringnya dari langit sertapengiring We Nyilitimo dari Paretiwi lahirlah beberapa orang putera mereka yang kelak menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu, sekaligus pembantu Bataralattu. Setelah Bataralattu cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengngeng, anak La Urunpessi bersama We Pasauleng di Tompotikka. Sesudah itu Bataraguru bersama isteri kembali lagi ke langit. Dari perkawinan keduanya lahirlah Sawerigading dan Tanriabeng sebagai anak kembar emas yaitu seorang anak laki-laki dan seorang perempuan. Berdasarkan pesan Bataraguru kedua anak kembar itu dibesarkan terpisah agar kelak bila mereka menjadi dewasa tidak akan saling jatuh cinta.
- Makalah dalam seminar : Luwu dalam lintasan sejarah Budaya, dan Ethos Pembangunan, 14 Desember 1998
di Palopo yang diadakan oleh Balai Arkeologi Ujung Pandang
Namun demikian suratan menentukan yang lain, sebab dirantau Sawerigading mendapat keterangan
bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tanriabeng namanya. Sejak
itu hatinya resah, hingga pada suatu saat ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya. Maksudnya itu mendapat tantangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri,rakyat dan tumbuh-tumbuhan seluruh negeri bersedih kebingungan. Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri
Cina memenuhi jodohnya di sana, I We Cudai namanya. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng. Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina We Tenriabeng sendiri naik ke langit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri langi. Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhimnya berhasil juga Sawerigading mengawini We Cudai yang tunangannya (Settiabonga) sudah lebih dahulu dikalahkan dalam suatu pertempuran di tengah laut dalam perjalanan menuju Cina. Mereka hidup rukun damai dan mmperoleh tiga orang anak yaitu I Lagaligo, I Tenridio dan Tenribalobo. Dari seorang selimya (I We Cimpau) memperoleh seorang anak bernama We Tenriawaru. Dalam pada itu Lagaligopun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika, inginlah I We Cudai berkunjung ke negeri suaminya, menjumpai mertua yang belum pernah dilihatnya. Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu, ketika hendak bertolak ke Cina, bahwa seumur hidupnya tidak akan lagi menginjakkan kaki lagi di tanah Luwu. Tetapi sayang akan isteri, anak dan cucu dibiarkan sendiri berlayar tanpa ditemani, akhirnya iapun ikut serta. Setiba di Luwu Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa-dewa yang ada di bumi harus segera kembali ke langit atau paretiwi, dengan meninggalkan masing-masing seorang wakil. Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing, Sawerigadingpun bersama anak, isteri dan cucu-cucunya pulang ke Cina. Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke Paretiwi. Di sana ternyata ia disambut gembira oleh penguasa di sana untuk menggantikan neneknya sebagi raja Peretiwi. Di Paretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian di kawinkan dengan anak We Tenriabeng di langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu untuk menjadi raja di sana. Akhirnya tibalah saatnya pintu langit ditutup sehingga penguasa yang ada di Paretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk memperbaharui daerah mereka sebagai penguasa.
- Pandangan Tentang Nilai-Nilai Budaya Dalam Ceritera Sawerigading Cerita Sawerigading oleh para ahli dipandang dari berbagai sudut, dapat dikemukakan sebagai berikut: Fachruddin Ambo Enre dalam disertasinya Ritumpana Welenrenge (1983) mengemukakan tiga jenis tentang naskah Sureq Galigo yaitu sebagai naskah mitos dan legenda, sebagai naskah sejarah dan sebagai hasil karya sastra suci. Pendapat yang menyatakan sebagai mitos dan legenda cukup beralasan sebab didalam cerita tersebut terdapat ciri-ciri ceritera yang berkaitan dengan mitos penciptaan oleh dewa di langit dengan
mengirim anaknya Bataraguru dan We Nyililttimo ke bumi. Bataragurulah yang menciptakan gunung,
sungai, hutan dan danau. Menyusuri kehadirannya di sana muncullah tanaman seperti : ubi, keladi, pisang, tebu dan lain-lain. Kekuatan supernatural yang dimiliki para tokohnya seperti naik ke langit, turun ke Paretiwi, atau menyeberang ke maje(dunia roh), kemampuannya meredakan angin ribut dan halilintar. kesanggupannya menghidupkan kembali orang mati dalam perang, gambaran tentang berbagai macam upacara, ritus dan aspek budaya lainnya merupakan ciri-ciri cerita mitos yang umum. Pandangan yang menyatakan bahwa ceritera Sawerigading sebagai ceritera legenda berdasarkan pada benda-benda alam yang dihubungkan dengan tokoh Sawerigading seperti Balupolo di dekat Malili dikatakan bekas tertimpa pohon Walenreng yang rebah karena ditebang untuk dijadikan perahu oleh Sawerigading. Batu cadas yang terdapat di daerah Cerekang yang banyak diambil untuk dijadikan batu asah, disebut sebagai kulit bekas teraan pohon Walenreng itu. Di gunung Kandora dan Mangkendek, Tanah Toraja terdapat sebuah batu yang dianggap penjelmaan We Pinrakasi isteri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput oleh Sawerigading di dunia roh. Setiba kembali di bumi ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Jamallomo anak tersebut kemudian menjelma menjadi batu. Gunung batu di daerah Bambapuang (Enrekang)yang dari jauh nampak sebagai anjungan perahu, dianggap sebagai perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Gong besar yang terdapat di Selayar dianggap pula gongnya Sawerigading yang selalu dibawa berlayar dan dibunyikan setiap ia mau masuk di pelabuhan. Demikian pula kepingan perahu yang terdapat diBantoteqni dianggap perahu Sawerigading. Pandangan yang menyatakan bahwa ceritera Sawerigading mempunyai nilai sejarah yaitu adanya kronik di Bone, Soppeng yang menyatakan bahwa raja pertama mereka adalah Tomanurung yang bersumber dari keturunan Sawerigading. Demikian pula kaum bangsawan di Sulawesi Selatan termasuk di Luwu menganggap bahwa Lagaligo dan Sawerigading adalah nenek moyang mereka. Silsilah rajaa-raja di Sulawesi Selatan (Lontaraq Pangariseng) di puncak silsilah itu terdapat tokoh-tokoh Lagaligo, Sawerigading, Bataralattu, dan Bataraguru. Menurut Mills bahwa yang menciptakan silsilah raja-raja bersambung dengan Sawerigading adalah para raja-raja itu sendiri untuk memperoleh legitimasi magis-religius yang menurut dugaannya meniru model-model kronik Jawa. Sebenarnya mereka tidak menyebut tokoh Sawerigading sebagai tokoh sejarah tetapi mereka mengklain bahwa tokoh-tokoh itu benar pernah ada, walaupun sebagian besar ceriteranya adalah fiksi. Ceritera Sawerigading dianggap sebagai karya sastra oleh beberapa tokoh antara lain Raffles, Matthes, RA. Keru, A Zainal Abidin Farid. Menurut A. Zainal Abidin Farid ceritera Sawerigading adalah sastra kuno yang dianggap suci oleh orang Bugis tetapi bukan sejarah.
- Nilai-Nilai Budaya Dalam Ceritera Sawerigading Dalam ceritera Sawerigading dapat diungkap beberapa nilai budaya antara lain :
a. Nilai Religius yaitu kepercayaan pra Islam yang menggambarkan dunia ghaib dan konsep kejadian manusia. Dalam ceritera ini digambarkan dunia gaib yaitu dunia dewa-dewa di langit, di bumi(mulatau) yang keturunan dewa-dewa. Šeiring dengan perkembangan Islam dan agama lain di Luwu maka nilai
religius dari cerita ini lambat laun akan mengalami kepunahan, karena tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat.
b. Nilai Sejarah dalam ceritera Sawerigading dapat dilihat faktanya dengan adanya silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan yang menghubungkan keturunan mereka dari Sawerigading. Namun demikian fakta sejarah itu perlu mengalami telaah kritis dengan memilah-milah antara fakta sejarah dengan cerita mitos yang telah diselipkan dalam penyusunan silsilah tersebut.
c. Nilai-nilai dan legenda sangat dominan dalam mewarnai ceritera Sawerigading. Terbukti dengan alur ceritera, tokoh ceritera, tempat dan peristiwa ceritera sesuai dengan ciri-ciri yang dikategorikan cerita mitos dan legenda.
d. Walaupun ceritera ini kurang bernilai sejarah dan lebih dominan bernilai mitos dan legenda, tetapi pengungkapan bukti-bukti yang bernilai arkeologis dapat menjadi panduan dalam merekontruksi sejarah kebudayaan di Suławesi Selatan. Semboyan daerah Luwu sebagai bumi Sawerigading, artinya masyarakat Luwu mengindetifikasi jati diri mereka dengan seorang tokoh mitologis yang mempunyai implikasi positif dan negatif, Mungkin dapat dibandingkan dengan menyebut Irak (Persia) bumi Abunawas.
Daftar Bacaan
- Ambo Enre, Fachruddin, Ritumpanna Walenrenge, Disertasi UI, Jakarta 1983
- Ahmad Yunus, dkk, Lontarak Luwu, Depdikbud, Jakarta, 1992
- Daeng Patunru, Abd Razak, Sejarah Bone, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1989.
- Daeng Patunru, Abd. Razak, Sejarah Gowa, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1989.5. Danandjaya, James, Folklor Indonesia, Grafti pers, Jakarta 1984
- Kern. R.A., ILagaligo, Gajah Mada, University Press, Yokyakarta, 1989
- Siertjo Koolhof,ILagaligo, KTILV dan Djambatan, Jakarta, 1995
RITUS TORISALO DI PALAKKA KABUPATEN BONE
Oleh: Pananrangi Hamid
- Pendahuluan Di daerah Sulawesi Selatan memang terdapat aneka ragam sistem upacara ritual yang berorientasi pada pemujaan terhadap roh-roh halus, dewa-dewa maupun benda-enda sakral. Walaupun demikian sampai sekarang belum ditemukan adanya sumber-sumber tertulis mengenai sistem kepercayaan maupun sistem ritus khusus mengenai torisalo (Orang sungai). Padahal, berdasarkan sumber-sumber lisan termyata diberbagai daerah dalam provinsi Sulawesi Selatan dikenal adanya mahluk torisalo yang menjadi obyek pemujaan dan persembahan warga masyarakat setempat. Istilah Torisalo sebenamnya berasal dari gabungan kata to yang berarti orang dan risalo yang berarti di sungai. Dalam konteks ini digunakan sebagai suatu istilah untuk menyebut sejenis mahluk turunan manusia yang lahir dalam wujud buaya dan hidup di dalam air (sungai; danau;) sebagaimana halnya binatang buaya. Menurut informasi yang diperoleh dari berbagai sumber lisan, maka ciri khas yang membedakan torisalo dari binatang buaya ialah jumlah dari kaki-kakinya, pada torisalo terdapat lima jari-jari disetiap kakinya sedangkan jari-jari kaki buaya hanya empat buah. Dalar kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan termasuk warga masyarakat Bone di daerah Palakka dan sekitarnya torisalo itu dipandang sebagai makhluk sakral yang mempunyai kekuatan sakti, melebihi manusia biasa. Berdasarkan atas kekuatan sakti yang dimilikinya, maka makhluk torisalo itu jugadianggap mampu memberikan bantuan dan pertolongan kepada manusia. Namun di lain sisi, dapat pula mendatangkan bala bencana, baik berupa banjir maupun berupa kebakaran dan berbagai jenis penyakit yang kadangkala berakhir dengan kematian orang-orang yang menjadi korbannya. Relevan dengan kepercayaan tersebut, maka sejak lama banyak warga masyarakat di kawasan ini mengembangkan sistem ritus torisalo atau persembahan sesajian kepada makhluk saklar yang disebut torisalo itu. sebagian kelompok masyarakat Bugis menyebut upacara ritual tersebut dengan istilah massorong ri salo e (menyodorkan sajian di sungai) atau seringkali juga disebut mattoana torisalo (menjamu orang sungai). Masyarakat Palakka di kawasan Tana Bone menyebut ritus torisalo dengan istilah mappano atau lengkapnya mappano ri saloe (menurunkan sesajian di sungai). Menyadari uniknya sistem ritus torisalo yang pada dasarnya termasuk salah satu fenomena kehidupan sosial religius pada masyarakat pendukungnya, maka dalam artikel ini akan diungkapkan mengenai ritus torisalo di daerah Suawesi Selatan khususnya di daerah Palakka Kabupaten
Bone. Setelah itu dikemukakan bahasan khusus mengenai deskripsi upacara ritual torisalo di Palakka kemudian disusul dengan beberapa analisis, tentang fungsi upacara tersebut menurut pandangan masyarakat pendukungnya.
2.Gambaran Umum Kepercayaan Torisalo di Palakka Sejak zaman dahulu Palakka di kenal sebagai sebuah wilayah kerajaan yang terhitung cukup kuat di antara kerajaan kecil lainnya di kawasan Tana Bone. Nama daerah ini juga seringkali dikaitkan dengan nama Arung Palakka, alias Datu Mario La Tounru Petta Malampee Gemmekna. Selain itu, Palakka juga terkenal dengan sungainya (Sungai Palakka) yang sangat angker, karena banyk dihuni oleh jenis binatang reptil berupa buaya, di samping torisalo. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan, ternyata sampai sekarang sebagian besar warga masyarakat Palakka tetap mempertahankan sistem kepercayaan terhadap torisalo maupun sistem ritus, untuk pemujaan dan persembahan sesajian kepada torisalo bersangkutan. Dg. Tare (67 th), salah seorang dukun (medicine man) yang banyak pengalaman dalam hal memimpin torisalo menginformasikan antara lain bahwa: Sitongennadeknaceddimi torisaloriawaripalakkayakkenneppamaegatorisaloritiwipoletoliliri tomatowanna. Naiya mua appakku iyyak, engka riyaseng Baco Palakka, dinrunna anakna Puang Beddu, riyasengnge kamendan pile (wawancara, Tanggal 7 Mei 1999) Artinya (terjemahan bebas) Sebenarnya tidak hanya satu saja torisalo di Palakka melainkan banyak torisalo dibawa dari berbagai penjuru oleh orang tua mereka. Ada pun turunan saya ada yang bernama Baco Palakka, kembaran puteranya Puang Beddu, yang bernama komandan Pile Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui bahwa salah satu torisalo yang menjadi penghuni sungai Palakka ialah Baco Palakka, saudara kembar komandan Pile. Menurut informasi lain, yakni Dg. Gangggang menjelaskan bahwa Komandan Pile itu adalah seorang menteri Polisi di zaman kekuasaan NICA. Beliau bertugas sebagai polisi kerajaan di daerah Wajo sampai tahun 1950 yang lalu (wawancara tanggal 7 Mei 1999). Informasi tersebut dibenarkan oleh Ny. Hamidah (65 tahun). Informan ini masih terhitung adik kandung dari mendiang komandan Pile.Menurutnya, Komandan Pilemeninggal dunia akibatkecelakaan yang disengaja oleh seelompok tentara KNIL, karena komandan Pile ketika itu banyak membantu laskar pemuda yang sedang berjuang membela kemerdekaan Indonesia. Jenazah beliau dikebumikan di Kompleks Taman Makam pahlawan di watampone (Wawancara tanggal 8 Mei 1999). Berdasarkan informasi tersebutjelaslah bahwa komandan Pile ternyata sudah lama meninggal dunia, tewas sebagai seorang pahlawan bangsa Indonesia, namun saudara kembarnya yang lahir dalam wujud torisalo masih hidup hingga sekarang. Sang torisalo yang bernama Baco Palakka itu seringkali mengajukan tuntutan atau protes terhadap saudara kandung maupun kemenakan dan anak cucu-cucunya apabila merasa dilupakan. Tuntutan tersebut biasanya disampaikan melalui salah seorang anggota kerabat dalam keadaan trans. Dalam hal ini orang yang sedang trans itu berbicara sendiri di luar kesadarannya, di mana Baco
Palakka atau keturunannya meminta sesajian. Apabila permintaan itu tidak diindahkan maka biasanya ada anggota keluarga dekatnya yang jatuh sakit, jatuh bangkrut atau mengalami aneka macam musibah. Demikianlah, maka sampai sekarang segenap anggota kerabat, baik kerabat dekat maupun kerabat jauh
dari Baco palakka tetap mempertahankan, sekaligus juga melaksanakan upacara ritual, untuk
mempersembahkan sesajian di sungai Palakka. Tradisi ini pun dilakukan oleh anggota kerabat lainnya, baik yang berasal dari daerh lin di luar wilayah Tana Bone. Gejala ini membuktikan, bahwa sistem ritus torisalo memang mencakup kehidupan masyarakat luas, terutama di kawasan pedalaman daerah Bone, wajo, Soppeng, dan sekitarnya. Deskripsi mengenai ritus torisalo di Palakka dikemukakan secara khusus pada bahasan berikutnya dalam artikel ini.
3.Deskripsi Pelaksanaan Ritus Torisalo di Palakka
a. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Upacara ritus
1. Waktu Pelaksanaan Upacara ritus Pada zaman dahulu pelaksanaan upacara ritual berkaitan dengan persembahan sesajian kepada torisalo senantiasa berlangsung di siang hari. Sekarang, waktu pelaksanaan upacara tersebut mengalami perubahan, sesuai dengan tahap upacara dimaksud. Pada tahap pertama, yaitu tahap pembacaan do'a selamatan umumnya dilakukan di waktu sore hari atau pun selepas waktu magrib. Tahap kedua, yaitu tahap persembahan sesajian berupa telur ayam kepada torisalo biasanya dilakukan pada waktu pagi hari. Rincian mengenai jenis kegiatan pada masing-masing tahap upacara tersebut akan dikemukakan secara khusus pada bagian lain dalam artikel ini.
2. Tempat Pelaksanaan Upacara Ritus Sama halnya dengan tempat pelaksanaan upacara, maka pada zaman dahulu tempat
penyelenggaraan upacara ritual torisalo berlangsung di dua tempat, yaitu di bubumparanie yang terletak di Sungai Palakka dan di pekuburan Petta Bettak e. Namun saat ini sebagian darai tahap upacara tersebut diselenggarakan pula di dalam rumah keluarga yang menjadi pelaksana teknis hajatan dimaksud.
b. Peralatan Upacara
1). Wadah Bahan Sesaji
Ritus atau upacara ritual torisalo, sebagaimana telah diungkapkan di muka merupakan suatu jenis upacara persembahan sesajian kepada torisalo. Sehubungan dengan itu diperlukan adanya berbagai jenis tempat menyimpan bahan sesajian bersangkutan, antara lain sebagai berikut : talang atau baki sebanyak delapan buah, masing-masing untuk tempat sesajian torisalo-e; arwah Petta-e;arwah leluhur lain; mahluk halus penungggurumah orang yang berhajat; mahluk halus penunggu rumah tempat diadakannya ritus; tempat menyimpan buah kelapa muda dan pisang. piring secukupnya gelas tempat air minum secukupnya.
2). Perangkat alat perdupaan
-gerabah tempat pembakaran dupa
- dupa secukupnya arang/bara api
3). Kain putih Kain putih satu lembartermasuk peralatan dupa cara ritus yang harus disiapkan. Kain ini digunakan
sebagai alas baki yang berisi bahan sesajian.
4). Bantal kepala Dalam pelaksanaan ritus torisalo disiapkan pula sebuah bantal kepala yang berfungsi sebagai
pengalas baki tempat sesajian. Bantal ini lebih dahulu dibungkus atau ditutup dengan kain putih seperti disebutkan pada point (3) di atas.
5). Bahan sesajian Bahan sesajian pada pelaksanaan upacara ritus torisalo di daerah Palakka terdiri atas:
satu baki sesajian untuk torisalo (Baco Palakka) berupa ketan berwarna hitam; ketan berwarna
putih; ayam masak dua piring (lihat foto 1); serta sebuah kelapa muda dan satu sisir pisang manis.
Foto 1
Bahan Sesajian Untuk Torisalo/Baco Palakka
Satu baki sesajian untuk arwah Petta Betta-e, berisi bahan sesajian sama dengan sesajian yang dipersembahkan kepada torisalo-e. -Dua baki untuk sesajian bagi arwah/mahluk halus penunggu rumah pihak yang melaksanakan hajatan terdiri atas: nasi ketam hitam; nasi ketan putih; masakan daging ayam; tompi-tompi (jenis lauk yang terbuat dari bahan kelapa dan ikan berbentuk segitiga); salonde (sejenis tauge) seperti terlihat pada foto 2. Satu baki untuk sesajian untuk para leluhur, terdiri atas : ikan bakar; tompi-tompi; salonde; ikan masak; ikan goreng; udang goreng; udang kecil-kecil yang ditusuk menyerupai tusuk sate.
- Satu baki untuk sesajian pemilik rumah yang ditempati melaksanakan upacara ritual Dua bungkus rokok dan dua kotak korek api Bahan makanan untuk perjamuan bagi segenap peserta upacara
Gambar 2 : Bahan sesajian untuk roh halus penunggu rumah
c. Pemimpin dan peserta upacara ritus Menurut tradisi setempat, sesuai pula dengan hasil pengamatan langsung di lapangan, maka penyelenggaraan ritus torisalo di daerah Palakka Kabupaten Bone dipimpin oleh seorang dukun (medi- cine man). Sebenarnya dukun yang biasa memimpin upacara ritus torisalo di daerah Palakka cukup banyak, namun dalam kasus ini dukun yang memimpin upacar ialah Dg. Tare. Dukun ini mempelajari tata cara memimpin upacara dari almarhum ayahnya sendiri yang selama hidupnya juga selalu memimpin upacara serupa. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ritus torisalo sang dukun yang memimpin upacara tersebut bertanggungjawab untuk menyampaikan sesajian kepada masing-masing roh halus, termasuk roh torisalo. Dalam konteks ini sang dukun berkomunikasi dengan torisalo melalui sistem do'a dan mantera-mantera, seperti terlihat pada foto 3 di bawah ini
Foto 3 Dukun sedang membacakan Do'a dan mantera sebagai media komunikasi dengan pihak
torisalo dan arwah leluhur
Mengenai peserta upacara terutama terdiriatas keluargayang sedang melakukan hajatan bersangkutan, di samping sanak kerabat dan tetangga dekat. Banyaknya peserta upacara tidak tertentu. Dapat hanya terdiri dari anggota rumah tangga batih, dapat pula dihadirioleh beberapa unit keluarga, bahkan juga tidak dibatasi bagi orang-orang di luar anggora kerabat sendiri
d. Jalannya upacara ritus
1) Tahap persiapan Jenis kegiatan pada tahap persiapan upacara ritus torisalo tampaknya sangat sederhana, yakni
hanya mengadakan bahan baku, baik berupa ayam kurban, di samping beras maupun berupa bumbu-bumbu masak. Setelah semuanya sudah siap, maka sang dukun diminta kesediaannya untuk melakukan pemotongan seluruh ayam yang disediakan untuk bahan sesajian dan bahan perjamuan. Dalam proses pemotongan ayam tersebut pelaksana upacara ritus harus waspada dan sangat berhati-hati, karena setiap bagian tubuh dari ayam yang telah dipotong itu merupakan wabah penyakit bagi ayam lain yang menyentuh, apalagi yang memakannya. Karena itu bulu-bulu maupun anggota badan lainnya dari ayam kurban harus ditanam di dalam tanah. Proses pemotongan ayam terlihat dalam foto berikut ini:
Foto 4 Dukun/Pemimpin Upacara Ritus Sedang Memotong Ayam
2) Menyiapkan Bahan Sesajian Setelah pemotongan hewan kurban, para kaum ibu mulai sibuk mempersiapkan daging ayam dan seluruh bumbu-bumbunya, kemudian menanak nasi dan memasak daging ayam. Setelah siap, maka proses selanjutnya ialah menyalakan seluruh bahan sesajian di ruangan khusus yang sudah disiapkan lebih dahulu. Proses pengaturan bahan sesajian harus dilakukan oleh orang-orang yang memang sudah berpengalaman, sebab apabila tata letak bahan sesajian itu sendiri tidak tepat, maka dapat menimbulkan kemarahan torisalo ataupun arwah leluhur yang akan diberikan sesajian bersangkutan (lihat foto 5 di bawah ini).
Foto 5 Seorang wanita sedang mempersiapkan bahan sesajian
3) Pembacaan do'a dan mantera-mantera Manakala seluruh bahan sesajian sudah siap ditalakan, maka sang dukun/pemimpin upacara ritus dimintakan kesediaannya untuk membacakan doa dan mantera-mantera, sekaligus mempersembahkan arwah dari bahan sesajian tersebut kepada roh-roh halus dan torisalo dimaksud. Dalam hal ini pemimpin upacara berturut-turut membacakan do'a dan mempersembahkan sesajian sebagai berikut:
(a) Membacakan do'a dan mempersembahkan sesajian kepada arwah Petta Betta-e
(b) Membacakan do'a dalam rangka mempersembahkan sesajian kepada torisalo
(c) Membacakan do'a dalam rangka mempersembahkan sesajian kepada arwah leluhur yangsudah me ninggal dunia.
(d) Membacakan do'a dalam rangka mempersembahkan sesajian kepada roh halus yang dianggap sebagai penjaga atau penunggu di rumah tempat tinggal dari keluarga yang menyelenggarakan upacara ritus bersangkutan. Suasanan pada saat pembacaan do'a oleh pemimpin upacara dapat dilihat pada foto 6 di bawah ini.
Foto 6 Pemimpin Upacara Ritus Torisalo SedangMembacakan Do'a Disaksikan OkhPesertaUpacara
4) Makan Bersama
Setelah tahap pembacaan do'a berakhir, maka tahap upacara selanjutnya ialah makan bersama. Dalam hal ini penyelenggara upacara bersama dengan pemimpin dan peserta upacara melakukan makan bersama. Acara makan bersama tersebut tidak hanya berarti menyantap bahan perjamuan yang memang disiapkan di hadapan masing-masing peserta upacara, tetapi juga menyantap bahan sesajian yang sudah dibacakan mantera-mantera atau pun do'a dalam rangka persembahan kepada torisalo dan arwah leluhur. Ini berarti pula, bahwa persembahan sesajian kepada torisalo dan unsur-unsur roh-roh halus lainnya tidak lebih daripada sekedar suatu simbol. Kalaupun memang benar sesajian tersebut dipersembahkan
kepada torisalo, maka yang dipersembahkan itu tidak hanya arwah daripada sesajian di maksud, bukan
fisiknya.
5) Kunjungan ke bubumparani-e Apabila seluruh rangkaian upacara seperti disebutkan di atas tadi berlangsung dalam rumah, maka tahap upacara berikutnya berlangsung di luar rumah. Tahap ini sebenarnya dimaksudkan sebagai rangkaian acara persembahan sesajian kepada torisalo dengan cara membuang telur ayam keair di bubun- parani-e yang terletak di pinggir sungai Palakka. Bahan sesajian tersebut tidak lebih dari tiga butir telur ayam kampung yang masih mentah. Menurut hasil pengamatan langsung di lapangan, maka ternyata bahwa persembahan sesajian berupa telur ayam tersebut tidak diterima secara fisik oleh torisalo. Ini sesuai dengan kenyataan, bahwa begitu pemimpin upacara melepaskan telur ke dalam sungai, begitu anak-anak yang memang sudah bersiap di tempat itu segera memperbytkannya. Kenyataan tersebut sekali lagi membuktikan, bahwa kalau pun memang torisalo menerima persembahan dimaksud, maka yang diterimanya hanyalah arwah dari telur bersangkutan, sedangkan fisik dari telur-telur itu jelas menjadi santapan anak-anak yang berhasil mendapatkannya melalui perebutan dengan sesama teman-temannya.
6) Siarah ke keburan Petta Betta-e Petta Betta-e sebenarnya adalah sebutan terhadap seorang raja yang ada pada masa hidupnya permah memerintah di kerajaan Palakka. Raja ini dikatakan betta (nakal),terutama karena keberaniannya dalam menghadapi setiap tantangan, termasuk memerangi saudara kanduingnya sendiri bernama Petta Saruk. Raja tersebut dianggap pula sebagai cikal bakal bangsawan Bugis di daerah bersangkutan, sehingga setelah wafatnya, rakyat setempat tetap memujanya, sekaligus memberinya persembahan sesajian seperti diuraikan di muka. Semua itu dilakukan oleh warga setempat, untuk mengharapkan berkah dan terhindar dari malapetaka akibat kutukan raja yang dianggap bertuah tersebut. Pada acara siarah kuburan tersebut, pemimpin upacara biasanya memberikan persembahan berupa do'a menurut ajaran dan syari'at Islam. Namun di lain sisi para pesiarah kadang kala secara tidak sadar atau pun secara sadar berniat, bahwa apabila dia memperoleh rezeki yang banyak atau pun terhindar dari penyakit, maka mereka niscaya datang kembali untuk bersiarah di pemakaman itu.
Perilaku masyarakat dalam hal siarah kubur iersebut kadangkala diisukan sebagai suatu tindakan syirik oleh sebahagian ulama. Namun lepas dari kaitan ajaran dan norma Islamiyah, siarahkubur itu sendiri merupakan salah satui fenomena sosio religius dalam kehidupan masyarakat Palakka dan seki- tarnya.
Fungsi Upacara Ritual Torisalo Dalam Kehidupan Masyarakat Pendukungnya Salah satu fungsi sosial dariritus atau upacara religi padaumumnya ialah untukmengintensifkan solidaritas masyarakat (W. Robertson Smith, Dalam Koentjaraningrat, 1987: 67) Bertumpu pada teori tersebut, maka secara hipotesis dapat dikatakan, bahwa ritus torisalo pada hakekatnya berfungsi pula sebagai media untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat pendukungnya. Kebenaran hipotesis ini dapat dibuktikan melalui beberapa fakta sebagai berikut:
1) Ritus torisalo mendorong semangat persatuan dan kesatuan masyarakat Kenyataan menunjukkan, bahwa warga masyarakat Palakka saat ini tidak lagi terkeonsentrasi secara penuh dalam wilayah administrasi Palakka. Banyak di antara mereka yang merantau ke berbagai penjuru dunia. Namun demikian, pada saat-saat tertentu para perantau tersebut kembali ke negeri asalnya, yaitu Palakka, antara lain untuk melakukan ritus torisalo. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ritus tersebut para sanak kerabat, handai taulan dan teman sejawat akan saling bertemu satu sama lainnya. Dalam konteks ini ritus torisalo tidak hanya akan mempersatukan kembali anggota masyarakat setelah lama saling berpisah, dalam arti fisik. Tetapi lebih dari itu, ritus torisalo itu sendiri akan mendorong proses persatuan dan kesatuan sosial secara psikhis. d
2) Ritus torisalo membangkitkan sikap śaling membantu antara sesama anggota masyarakat Berdasarkan kenyataan di lapangan, jelas bahwa pelaksanaan ritus torisalo tidak akan berjalan lancar tanpa adanya saling membantu antara sesama warga atau antara sesama anggota kerabat. Sebagai bahan pembuktian, dikemukakan contoh sebagai berikut: Pada tanggal 5 Mei 1999 yang lalu empat unit keluarga meninggalkan Kota Makassar menuju ke Bone untuk melakukan ritus torisalo di Palakka. Setelah tiba di Bone, keempat unit keluarga tersebut menyerahkan kepada sanak keluarganya sejumlah uang, untuk biaya pengadaan bahan sesajian. Setelah bahan baku disiapkan, lalu anggota kerabat dan tetangga dekat datang membantu proses penyiapan bahan sesajian yang dimaksud. Pada tahap awal, calon pemimpin upacara diundang untuk memotong hewan kurban dan selanjutnya hewan kurban tersebut dibenahi lalu dimasak dan disajikan oleh segenap anggota keluarga secara bersama-sama. Proses bekerja bersama dalam rangka pelaksanaan ritus torisalo itu berlangsung sampai upacara usai, dimana anggota unit-unit keluarga yang berkepentingan itu sendiri melaksanakan hajatnya atas bantuan orang lain. Ini berarti, bahwa melalui media ritus torisalo, anggota keluarga dan bahkan juga anggota masyarakat bersangkutan telah saling membantu untuk satu tujuan dan satu kepentingan bersama.Kesimpulan Kepercayaan terhadap torisalo tersebar cukup luas di berbagai wilayah di kawasan jazirah Sulawesi Selatan, termasuk daerah Palakka Kabupaten Bone. Kepercayaan tradisional tersebut sejak lama mendorong timbulnya sistem ritus atau upacara yang bersifat ritual terhadap unsur torisalo yang dianggap memilikikepribadiantersendiri. Sungai Palakka merupakan salah satu tempat yang banyak dihuni oleh torisalo. salah satu di antaranya bernama Baco Palakka, keturunan Puang Beddu yang pada mulanya lahir secara kembar bersama Puang Pile, seorang Menteri Polisi di zaman kedudukan Nica di wajo. Sebagian anggota masyarakat setempat percaya, bahwa Baco Palakka sebagaimana halnya torisalo lainnya memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia; namun di lain pihak juga mampu menimbulkan bala bencana dan malapetaka kepada mereka yang melupakannya. Karena itu mereka melakukan upacara ritual dalam rangka persembahan sesajian kepada torisalo, termasuk Baco Palakka. Pelaksanaan upacara ritual di satu sisi berfungsi untuk mengintensifkan solidaritas sosial antara warga masyarakat. Sedangkan di lain sisi upacara ritual itu berfungsi sebagai aktivitas religius untuk mendorong rasa solidaritas antara manusia dan torisalo, sebagai bagian dari tata alam raya.
Daftar Bacaan Firth. R : Tjiri-2 dan Alam Hidup Manusia, Terjemahan B.Mochtan-S.Puspanegara, Sumur Bandung,
Bandung
Koentjaraningrat: Sejarah Teori Antropologi, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta Limbong L. Emiaty: Sistem Upacara Keagamaan di Kecamatan Mamasa Dati II Polmas, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang Linton, Ralph : The Studi of Man, Jemmars Bandung.Manyambeang, Abd. Kadir, dkk : Upacara Tradisional Dalam Kaitannya dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Propinsi Sulawesi Selatan, Depdikbud, Ujung Pandang Salam, Dra. Rahayu: Nilai-Nilai Budaya yang Terkandung Dalam Upacara Tradisional Pajukukang di Kabupaten Bantaeng Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang. Salim, Drs. Muh : Pau-paunna Meompolo,Tranliterasi, Diterbitkan Khusus Untuk Bahan Penataran Guru Bahasa Daerah Bugis. Subagya, Rahmat : Agama Asli Indonesia, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Lokal Caraka Indonesia Yusuf, Wiwiek P, dkk : Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sulawesi Selatan, Depdikbud Ujung Pandang
ASAS-ASAS AJARAN ALUK TODOLO DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN SOSIO RELIGIUS MASYARAKAT TORAJA DI KABUPATEN TANA TORAJA Oleh: Drs. Petrus Kanna
- Pendahuluan Tiap masyarakat manusia memiliki sistem kepercayaan yang menjadi dasar fundamental dalam setiap sistem religi (religion) berasal dari kata religare yang berarti mengikat atau menahan diri. Bertolak dari batasan etomologis tersebut, maka dengan menyadur konsep terminologis dari buku TheFabric of Society, A. Rahman Rahim menta'rifkan pengertian religion atau agama sebagai : Tali yangmengikat bersama-sama anggota masyarakat melalui pengorbanan danpemujaan yang sama terhadap kekuasaan di mana mereka merasa tergantung" Saduran tersebut menunjukkan, bahwa dalam setiap sistem religi setidaknya terdapat unsur kekuasaan dimana manusia merasa tergantung. Perasaan ketergantungan itulah yang menjadi faktor pendorong bagi manusia untuk melakukan penyembahan, pemujaan dan pengorbanan kepada-Nya. dalam konteks ini Firth menyatakan, bahwa ".dalam tiap-tiap masyarakat orang percaya akan wujud- wujud dan kekuatan-kekuatan halus yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan manusia" Relevan dengan pandangan tersebut, Rachmat Subagya mengonsepsikan, bahwa “".. Dalam lubuk hatinya manusia merasa adanya suatu zat gaib yang menaungi hal ihwal insani. Dalam suka-dukahidupnya manusia menyapa yang Ilahi itu untuk memohon perlindungan terhadap bahaya yang mengancamnya dari pihak musuh, entah bencana alam, entah penyakit, hantu atau manusia yang bertuah" 3). Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, sebaliknya menta'rifkan zat gaib itu dengan menggunakan istilahkekuatan supernatural yang juga merupakan salah satu komponen utama dalam setiap sistem religi. Demikianlah maka Direktorat tersebut, mendefinisikan bahwa: Sistem religi adalah serangkaian kepercayaan mengenai kekuatan supernatural, aktivitas upacaranya, serta sarana-sarana yang menghubungkan manusia dengan kekuatan supernatural (...). Kekuatan supernatural memiliki simbol (ucapan, tulisan, perilaku, dan benda-benda budaya) yang komunikatif dengan manusia 4)
1). A. Rahman Rahim, Filsafat Islam, Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 1975, h.1
2)R. Firth, Tjiri-tjiri dan Alam hidup Manusia, Suatu Pengantar Antropologi Budaya, Tjetakan kedua, Sumur Bandung, Bandung, 1960, h 1990 Rahmat Subagya, Agama Asli Indonesia, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1981, h.64
3)
4) Direktorat Jarahnitra, Kebijakan Teknis Operasional Direktorat Jarahnitra Depdikbud Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Jarahnitra, Jakarta, 1998, h.53-54
Bertolak dari defenisi tersebut, maka secara konsepsional dapat dikatakan bahwa sistem religi dalam suatu masyarakat manusia dapat dikaji dan diungkapkan keberadaannya dengan cara menelusuri konsepsi tentang kekuatan supernatural yang secara tradisional telah tumbuh dan mendapatkan dukungan dalam masyarakat bersangkutan. Salah satu sistem religi yang terhitung unik dan spesifik dikawasan jazirah Sulawesi Selatan ialah sistem kepercayaan Aluk Todolo. Dalam konteks sejarah Kebudayaan Toraja.
L.T. Tandilintin menyatakan antara lain sebagai berikut :
Aluk Todolo ini sudah dianut oleh suku Toraja sejak kira-kira abad ke-IX Masehi, yang dahulunya dikenal sebagai ajaran hidup dan kehidupan Aluk Pitung Sa'bu Pitu Ratu' Pitung Pulo Pitu atau aluk sanda pitunna(..) ini adalah ajaran hidup dan kehidupan yang lahir dari asās unimisme tua (Uranimisme) dengan mendapat pengaruh dari ajaran hidup Konfusis dan ajaran hidup Hindu.). Mengacu pada kutipan tersebut maka secara hipotesis dapat uikatakan, bahwa aluk todolo sebagai suatu sistem religi dilandasi oleh emosi keagamaan atau getaran jiwa terhadap kekuatan supernatural yang bersifat animistis. Sejalan dengan itu, masyarakat penganut aluk todolo di kawasan Tanah Toraja masuk kategori penganut agama leluhur yang memuja dan menyembah kepada unsur gaib, sesuai dengan ajaran aluk todolo itu sendiri. Bertolak dari pokok-pokok pikiran, maka fokus perhatian dalam pembahasan artikelini diarahkan pada usaha pengungkapan gejala sosio releligius masyarakat Toraja, khusus mengenai :
- Asas-asas ajaran aluk todolo; dan
- Implementasi ajaran aluk todolo dalam kehidupan ritual.
- Pengertian Aluk Todolo Secara etimologis istilah aluk todolo berasal dari bahasa Toraja dan merupakan gabungan dua buah kata yaitu kata aluk dan kata todolo. Kata aluk mempunyai tiga pengertian, yaitu : agama, aturan, dan upacara. Sedangkan kata todolo merupakan kata jadian yang berasal dari kata to (berarti orang), dan kata dolo berarti dahulu. Apabila kedua kata tersebut digabungkan menjadi satu (todolo),maka artinya adalah orang dahulu, leluhur, nenek moyang. Berdasarkan uraian tersebut, masyarakat Toraja umumnya menta'rifkan istilah aluk todolo dalam tiga pengertian, yaitu : -Aluk Todolo dalam pengertian agama leluhur -Aluk Todolo dalam pengertian aturan-aturan yang ber sumber dari leluhur di zaman lampau
- Aluk Todolo dalam pengertian upacara tradisional yang diwarisi leluhur. Pandangan tersebut didukung para pakar dan budayawan Toraja, antara lain L.T. Tandilintin.
Menurut pakar ini, dikatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Toraja istilah aluk todolo tidak selamanya berarti suatu agama atau suatu sistem keyakinan. Lebih dari itu, istilah aluk todolo dapat diartikan sebagai suatu perangkat aturan-aturan. Dapat pula berarti suatu upacara ritual 6)
5) L.T. Tangdilintin, Upacara Pemakaman Adat Toraja, Yayasan Lepongan Bulan (Yalbu), Tanah Toraja, 1981, h.2.
6) Ibid
- Asas-Asas Ajaran Aluk Todolo Sama halnya dengan setiap sistem religi yang merupakan salah satu gejala universal dalam kehidupan masyarakat manusia di seluruh penjuru dunia, maka aluk todolopun memiliki seperangkat ajaran-ajaran keagamaan yang bersifat asasi. Asas-asas pokok dari ajaran aluk todolo yang diwarisi dan diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya di kawasan Tana Toraja, adalah sepertitertera di bawah ini:
3.1. Ajaran tentang sistem kepercayaan dewa Secara konsepsional sistem keyakinan dalam suatu religi, menurut Koentjaraningrat adalahberwujud pikiran dan gagasan manusia yang menyangkut antara lain konsepsi dan keyakinan manusia tentang Tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang, hantu dan mahluk-mahluk halus lainnya ". Dalam ajaran aluk todolo sistem keyakinan itu disebut aluk tellu oto'na
L.T. Tangdilintin menta'rifkan aluk tellu oto'na sebagai kesatuan dari tiga oknum yang dipuja
dan disembah oleh penganut aluk todolo 8, masing-masing terdiri atas :
3.1.1. Puang Matua Komponen pertama dan utama dalam sistem keyakinan aluk tellu oto'na menurut ajaran aluk todolo ialah keyakinan dan kepercayaan terhadap Puang Matua yang harus dipuja dan disembelih, sebagai oknum Sang Pencipta semesta alam. Dalam hal ini masyarakat Toraja penganut aluk todolo beranggapan bahwa sang pencipta semesta alam yang lazim dikenal dengan nama Puang Matua itu bersemayam di atas langit bagian utara. Sesuai dengan anggapan tersebut, maka penjuru dunia yang mencakup bumi dan langit bahagian utara disebut ulunna langi' atau karopokna langi (kepala langit).
3.1.2. Deata-Deata(dewa-dewa) Unsur gaib kedua yang juga dipuja dan disembah menurut ajaran aluk todolo ialah dewa-dewa.
Dewa dalam bahasa Toraja disebut deata, sedangkan deata yang dipuja dan disembah oleh masyarakat pendukungnya ada tiga unsur yang secara bersama-sama berfungsi sebagai sang pemelihara, di samping juga memberi hidup dan mengatur seluruh ciptaan Puang Matua. Menurut Mosses Empang, dkk. daeta- daeta tersebut terbagi menjadi tiga karena peranannya, masing-masing sebagai berikut:
1). Deata Tangana Langi' (Dewa penguasa langit atau banua atas)
2). Deata kapadanganna (Dewa penguasa bumi atau banua tengah)
3). Deata To Kengkok yaitu dewa penguasa isi atau perut bumi (banua bawah). Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa ajaran aluk todolo menggonsepsikan adanya struktur
dewa-dewa yang tersusun secara vertikal. Puang Matua di satu pihak dipandang sebagai dewa tertinggi yang berperanan sebagai pencipta sarwah sekalian alam. Sedangkan di lain pihak deata-deata berkedudukan
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antorpologi, Cet-II Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1987
8)
L.T. Tangdilintin, Op. Cit, h. 3 Mosses Eppang, dkk., Trankripsi Hymne Pasomba Tedong Upacara Tradisinal Keselamatan Toraja Daerah Sulawesi Selatan, Laporan Penelitian, Depdikbud, Ditjenbud, Dirjarahnitra Proyek IDKD Sulsel, Ujung Pandang 1984/1985
h. 12.
sebagai pemelihara, penguasa, dan pengatur kehidupan ciptaan Puang Matua, baik di petala langit maupun di permukaan bumi dan juga dipetala bumi. Apabila Puang Matua sebagai dewa tertinggi atau dewa yang dianggap Sang Pencipta sarwah sekalian alam itu diyakini bersemayam di bagian karopokna langi'(bagian utara), maka sebaliknya deata-deata dianggap bersemayam di bagian timur yang disebut matallo. Konsep ini menunjukka bahwa Puang Matua tidak hanya mempunyai fungsi dan peranan tersendiri yang berbeda dari para dewa, tetapi tempat bersemayamnya pun berbeda.
3.1.3. Tomembali Puang
Oknum ketiga yang disembah dan dipuja masyarakat Toraja khususnya bagi mereka yang
menganut kepercayaan aluk todolo ialah tomembali puang. Oknum ini sebenarnya adalah arwah leluhur yang dianggap telah menjelma menjadi manusia setengah dewa. Menurut ajaran aluk todolo tomembali puang itu berperan sebagai pemelihara, pengawas, serta pemberi berkat kepada manusia turunannya yang masih hidup di dunia. Tomembali Puang sebagai unsur gaib yang juga wajib dipuja dan disembah sebagaimana halnya puang matua dan deata-deata, maka tomembali puang itupun mempunyai tempat bersemayam tersendiri, yaitu di langit bagian sebelah barat yang dalam bahasa Toraja disebut matampu'na langi' (barat). Sehubungan dengan itu, upacara ritual yang berorientasi pada persembahan pemujaan tomembali puang, selamanya dilakukan di bagian sebelah barat dari bangunan rumah adat yang lazim disebut tongkonan
3.2. Ajaran tentang Ada' A 'pa Oto'na (Adat dan Moral) Ada' A'pa Oto'na adalah salah satu ajaran aluk todolo yang berkaitan dengan empat asas berupa aturan dan ketentuan mengenai empat hal pokok sebagai berikut :
3.2.1. Ada'na ma'lolo tau Asas ini mencakup segala aturan dan ketentuan aluk todolo yang mencakup seluruh proses hidup dan kehidupan setiap individu. Ada'na ma'lolo tau terbagi ke dalam empat tingkatan, masing- masing terdiri atas :
- Ada' dadinna ma'lolo tai (Adat lahir manusia);
- Ada' tuona ma'lolo tau (Adat kehidupan manusia); -Ada' meombana ma'lolo tau (adat tentang kepercayaan dan Pemujaan manusia kepada Tuhannya)
- Ada' matena ma'lolo tau (Adat kematian dari manusia); Keempat unsur yang tercakup dalam konsepsi ajaran ada' ma'lolo tau tersebut menunjukkar
bahwa ajaran aluk todolo memberikan pedoman hidup bagi penganutnya, untuk secara berkelanjuta menata dasar-dasar kehidupannya, sejak masa kelahiran sampai memasuki proses kehidupan sebaga mahkluk manusia, di mana mereka harus percaya dan menyembah kepada Tuhan sang pencipta, sang pemelihara, dan sang pemberi berkat. Bahkan ajaran aluk todolo telah merincikan pula aturan-aturan tentang urusan kematian seorang inividu.
3.2.2. Ada'na Patuona Asas ini mencakup pengertian sebagai aturan dan ketentuan baku mengenai memanfaatan segala jenis ternak dan hewan. Dalam hal ini termasuk femamfaatan hewan kurban yang disiapkan untuk menjadi sesajian kepada ketiga unsur supermatural, baik Puang Matua maupun deata-deata dan tomembali puang atau todolo.
3.2.3. Ada'na tananan Asas ini adalah ajaran aluk todolo, khusus mengenai kehidupan dan pemamfaatantanaman, termasuk pula tempat tumbuhnya tanaman-tanaman dimaksud.
3.2.4. Ada'na bangunan banua
Asas ini mencakup ajaran aluk todolo, khusus mengenai aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang mengatur pembangunan dan pemamfaatan rumah (tongkonan).Salah satu ketentuan pokok dalam proses pembangunan setiap rumah adat Toraja yang disebut tongkonan ialah bangunantersebut harus selalu menghadap ke utara. Ketentuan ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat Toraja, bahwa Puang Matua (sang pencipta) bersemayam di atas langit bagian sebelah utara.
4.Upacara-Upacara dalam ajaran Aluk Todolo Asas-asas ajaran aluk todolo seperti telah diungkapkan dimuka secara umum adalah berupa gagasan-gagasan vital yang bersifat abstrak. Sehubungan dengan itu perangkat ajaran-ajaran tersebut hanya mungkin dimplementasikan dalam kehidupan nyata melalui sistem upacara ritual. Asas-asas ajaran aluk todolo khusus mengenai acara ritual terpateri dalam konsep aluk simuane tallang silau'eran.
L.T.Tangdilinting menta'rifkan konsep ini, sebagai ajaran aluk todolotentang“"Upacara untuk keselamatan danupacarauntukkematianyangdinyatakan sebagaiasasupacarayang berpasangandanberlawanan" Kutipan tersebut menunjukkan, bahwa masyarakat Toraja menganut aluk todolo tidak hanya melakukan upacara ritual yang berkaitan dengan suasana berduka. Sesuai dengan konsepsi ajaran aluk todolo tentang upacara berpasangan dan berlawanan seperti disebutkan di atas, maka secara gris besar kelompok masyarakat penganut aluk todolo membagi upacara ritual dalam dua bagian utama, yaitu upacara selamatan dan upacara kematian dan pemakaman. Dalam pelaksanaan upacara ritual yang merupakan implementasi dari ajaran aluk todolo, maka seluruh proses upacara itu sendiri harus disesuaikan dengan asas ajaran tallu Oto'na maupun ada' a'pa' oto'na. Dalam konteks ini setiap upacara yang dilakukan untuk pemujaan dan persembahan kepada Puang Matua harus diselenggarakan di bahagian sebelah utara rumah tongkonan. Ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat pendukung dan penganut aluk todolo yang beranggapan bahwa Puang Matua itu bersemayam di atas langit bahagian utara atau di ulunna langi'. Upacara persembahan kepada deata-deata dilakukan di bahagiann sebelah timur rumah, sesuai dengan anggapan bahwa para deata-deata yang dipuja dan disembah bersemayam di ufuk timur.
10 L.T. Tangdilintin, Op.Cit. h. 7
Upacara pemujaan terhadap tomembali puang sebaliknya dilakukan di bahagian sebelalh rumah, karena segenap tomembali puang dianggap bersemayam di ufuk barat. Sedangkan upacara untuk mengenang roh-roh orang mati yang masih berstatus bombo dilakukan melalui upacara ma'nene atau lao lako tomatua di bahagian pollo'na !angi' (bahagian selatan). Jenis-jenis upacara ritual yang termasuk dalam konsepsi ajaran aluk simuane tallang silau, eran dapat diungkapkan secara pokok-pokok di bawah ini :
4.1. Upacara Rambu Tuka' Secara garis besar upacara rambu tuka' atau lazim juga disebut upacara rampe matallo, adalah jenis upacara yang bertalian dengan keselamatan dan kehidupan makhluk ciptaan Puang Matua di atas muka bumi. Upacara ini mencakup paling kurang empat upacara pokok, yaitu upacara:
4.1.1 Upacara ma'lolo tau, yaitu upacara yang berkaitan dengan kehidupan manusia, mulai dari upacara kelahiran, perkawinan, dan kebahagiaan.
4.1.2. Upacara ritual yang berkaitán dengan kehidupan, pemamfaatan dan pemeliharaan hewan ternak terutama jenis ternak yang lazim digunakan sebagai sesajian dalam upacara persembahan kepada ketiga oknum yang terkait dalam alutallu oto'na. Jenis upacara ini diatur pelaksanaannya dalam aluk na patuoan.
4.1.3. Upacara yang berkaitan dengan penggunaan tanah dan manfaat tanam-tanaman, Upacara ini terselenggara menurut ajaran alukna tanaman
4.1.4. Upacara ritual yang berkaitan dengan pembangunan rumah dan pemakaiannya. Jenis upacara ini terselenggara menurut konsepsi ajaran aluk todolo, khusus menyangkut alukna bangunan banua. Setiap jenis upacara tersebut dibarengi persembahan sesajian kepada deata-deata maupun Puang Matua. Persembahan sesajian díberikan pula kepada unsur Tomembali Puang, sebagai permohonan restu atas setiap jenis dan tingkatan upacara yang segera akan dilaksanakan ataupun sedang direncanakan pelaksanaannya. Semua itu sebagai imlementasi asas ajaran aluk todolo, berkenaan dengan aluk tallu oto'na. Dalam hubungannya dengan persembahan sesajian melalui perangkat upacara rambu tuka' atau rampe matallo dikenal berbagai jenis dan tingkatan upacara dengan jenis sesajian dan sasaran persembahan yang berbeda-beda antara satu dari yang lainnya. Wiwiek P. Yusuf, dkk., telah mengindentifikasikan sekurang-kurangnya sembilan jenis upacara rambu tuka' sebagai berikut:
1. Kapuran pangngan
2. Piong sanglampa
3. Ma'paling
- Ma'tadoran
Ma'pakande deata do banua
6. Ma'pakanda deata diong padang
Massura'tallang
- Merok
9. Ma'bua
Dari seluruh rangkaian upacara ritual yang termasuk kategori upacara merok dan ma'bua' dipandang paling tinggi. Pelaksanaan kedua jenis upacara tersebut dilengkapi dengan pembacaan hymne massomba tedong (menyucikan kerbau).
4.2. Upacara Rambu Sclo Dalam pengistilahan bahasa daerah Toraja upacara rambu solo lazim pula disebut upacara rampe matampu', yaitu kedukaan yang berkaitan dengan peristiwa kematian dan pemakaman. Upacara ini termasuk salah satu bagian dari ada'ma'lolo tau, khusus menyangkut ada matena ma'lolo tau Demikianlah, maka pelaksanaan upacara kematian dan pemakaman pada masyarakat Toraja adalah termasuk salah satu implementasi dari ajaran aluk todolo. Dari hasil studi kepustakaan ditemukan aneka ragam prosedur dan bentuk upacara terkait dalam upacara rambu solo', namun dalam artikel ini bahasan dibatasi hanya menyangkut ketentuan yang berlaku umum di kalangan masyarakat Toraja penganut aluk todolo. Tahap-tahap upacara rambu solo adalah sebagai berikut :
1. Ma'dio tomate (Memandikan orang mati)
2. Ma'balun (Mengafani jenazah)
3. Ma'doya (berjaga)
4. Ma'bolong (menghitamkan pakaian)
5. Ma'batang
6. Ma'peliang (Pemakaman)
7. Kumande (makan nasi)
8. Membase (membersihkan diri) Dalam penyelenggaraan upacara rambu solo' tersebut senantiasa dibarengi dengan persembahan
hewan kurban, baik berupa kerbau maupun berupa babi dan ayam. Upacara rambu solo'khusus tahap upacara pemakaman biasanya diselenggarakan di sebuah lapangan yang sudah dilengkapi denganbangunan rumah darurat untuk tempat menginap bagi para peserta upacara. Bangunan tersebut dinamakan lantang, dibuat atas biaya bersama antara segenap anggota keluarga bersangkutan.
- Kesimpulan Aluk todolo adalah salah satu sistem religi yang secara tradisional telah dianut oleh warga masyarakat Toraja sejak abad ke IX Masehi dan tetap diwariskan secara turun temurun hingga sekarang. Sebagai suatu sistem religi, aluk todolo mempunyai asas-asa ajaran yang tersimpul pada aluk tallu oto'na dan ada' a'pa' oto'na. Aluk tallu oto'na mencakup sistem keyakinan terhadap tiga unsur gaib, yaitu Puang Matua (Sang Pencipta Semesta Alam), Deata-deata sebagai pemelihara ciptaan Puang Matua, dan Tomembali Puang (Roh Leluhur) sebagai pemberi berkat kepada manusia. Ada'A 'pa Oto'na mencakup empat asas, terdiri atas Ada'malolo tau (kehidupan manusia), Ada'na patuoan (kehidupan hewan dan ternak), ada'na tananan (kehidupan tanaman), dan ada'na bangunan banua (ajaran tentang pembangunan dan pemamfaatan rumah/tongkonan). Ajaran aluk todolo melalui upacara ritual yang secara garis garis besar meliputi upacara rambu solo' dan upacara rambu tuka'. Upacara rambu tuka' mencakup upacara kerlahiran, perkawinan,
perkawinan, kehidupan hewan, kehidupan tanam-tanaman, dan bangunan rumah. Sedangkan upacara
rambu solo'meliputiupacara kematian dengan seluruh rangkaiannya.
Daftar Bacaan
1. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Kebijakan Teknis Operasional, Jakarta, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1998
Eppang, Mosses, dkk., Transliterasi Hymne Passomba Tedong Upacara Tradisional Keselamatan
Toraja Daerah Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek IDKD Sulsel, 1984/1985Firth, R., Tjiri-2 dan Alam Hidup Manusia, Suatu Pengantar Antropologi Budaya, Bandung, Sumur
Bandung, 1988Hamdan, Faisal, Saroan, Sebuah Pranata Sosial di Tana Toraja, Laporan Peneltitian, Ujung Pandang
Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 1976Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antroplogi, Jakarta, Universitas Indonesia (UI-Press), 1987
Rahman, A. Rahim, Filsafat Kebudayaan, Ujung Pandang, Lembaga Penerbitan Universitas
Hasanuddinm 1976Subagya Rahmat, Agama Asli Indonesia, Jakarta, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka
1981Tangdilintin, L.T., Tongkonan dengan Seni dan Konstruksinya, Yayasan Lepongan Bulan (YALBU),
1976Tangdilintin, L.T., Upacara Pemakaman Adat Toraja, Cetakan II, Tana Toraja, Yayasan Lepongan
Bulan (YALBU), 1976Yusuf. Wiwik, P., Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sulawesi Selatan, Ujung Pandang,
Depdikbud, 1992/1993
SISTEM DISTRIBUSI BUAH JERUK MANISDI DESA BATANGMATA KABUPATEN SELAYAR Oleh : Drs. Syamsul Bahri
I. Pendahuluan Distribusi dalam pengertian umum diartikan sama dengan pemasaran. Menurut Philip Kotler, dalam tulisan Faisal, Dkk, mengartikan pemasaran adalah kegiatan mamusia yang diarahkan untuk meneruskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Sedangkan menurut Mubyarto dalam tulisan yang sama, mengartikan pemasaran itu sama dengan tataniaga atau distribusi, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Bertolak pada konsep tersebut diatas, para petani yang akan menyalurkan buah jerukmanisnya sebagai hasil produksi, untuk sampai ke konsumen yang membutuhkannya, tentunya mereka tidak akan terlepas dari pada apa yang dinamakan kegiatan distribusi atau pemasaran. sedangkan dalam proses pemasaran hasil produksi, untuk sampai ke konsumen yang membutuhkannya, tentunya mereka tidak akan terlepas darí pada apa yang dinamakan kegiatan distribusi atau pemasaran. Sedangkan dalam proses pemasaran hasil produksi buah jeruk manis di desa Batangmata Kabupaten Selayar, ditempuh, yaitu cara pemasaran langsung ke pasar-pasar lokal, dan cara pemasaran dengan mengandalkan para pedagang perantara mendatangi areal pengembangan tanaman jeruk manis. Kedua cara tersebut secara umum dapat dikatakan diberlakukan pula pada petani-petani jeruk manis yang ada di daerah lain. II. Sekilas Keberadaan Tanaman Jeruk Manis Di Desa Batangmata Kabupaten Selayar Berdasarkan ceritera yang sudah menjadi dasar dikalangan masyarakat Selayar dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahwa keberadaan tanaman jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar di tandai dengan adanya kisah sebuah perahu. Perahu tersebut saat melakukan pelayaran mengalami nasib sial, yakni terkena musibah karam atau terdampar di daratan Pulau Selayar akibat hempasan ombak yang cukup dahsyat. Perahu yang dimnaksud setelah mengalami karam, para penumpangnya tertolong ole warga masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut (Desa Batangmata). Saat kegiatan pertolongan pada penumpangnya perahu yang mengalami musibah tadi, para tenaga penolong menemukan pula di atas perahu beberapa jenis buah-buahan. Dan salah satu di antara buah-buahan yang ditemukan di atas perahu sempat diambil oleh tenaga penolong (warga masyarakat Desa Batangmata), walaupun sebenamya buah yang diambil tadi tidak diketahui sama sekali manfaat dan kegunaannya, namun karena keinginan mereka untuk tetap mengambil buah tersebut langsung dikupas. setelah buah yang diambil tadi dikupas,ternyata pada isi buah ditemukan biji-bijian. Oleh karena yang mengambil dan mengupas buah tadi adalah seorang
petani, maka biji dari buah tersebut dicoba ditanam sekitar areal pekarangan rumah tempat tinggal mereka. Setelah usai penanaman biji dari buah tadi sudah berumur beberapa minggu dari saat mulai ditanam, biji tersebuí iumbuh beberapa pohon. Bahkan berselang lebih kurang dua tahun usia tanaman tersebut sudah menampakkan buah seperti bentuk buah pada saat pertama kali ditemukan di atas perahu naas itu. Disaat buah tadi sudah mencapai masa petiknya, dalam hal ini buah tersebut sudah masak, para petani penanam bijitadi mencoba memetik dan bahkan langsung merasakan buah tersebut. Setelah buah tersebut dicoba dimakan, ternyata mereka menyukai buah yang ditanam oleh karenarasanya enak dan manis. Setelah petani merasakan buah yang ditanam tadi, mereka berusaha memberikan nama pada buah yang dimaksud untuk membedakan dengan buah-buah lain.ya yang sebelumnya mereka sudah kenal. Untuk memberikan nama buah tadi, masyarakat setempat bermusyawarah. dalam kegiatan musyawarah, diputuskan bahwa buah tadi diberi nama sesuai nama kebangsaan orang-orang yang berada di atas perahu yang mengalami karam itu, yakni orang berkebangsaan Cina. Oleh karena perahu itu berpenumpang orang Cina, maka disepakati buah itu dinamakan jeruk Cina atau dalam bahasa Selayar disebut munte cina. Jadi berdasarkan catatan sejarah dan peristiwa, tanaman jeruk manis yang dikembangkan di Kabupaten Selayar pada umumnya, berawal dari tanaman atau biji jeruk manis yang berasal dari negeri Cina. Bahkan karena mempunyai latar belakang keberadaannya dari Negeri Cina, Sehingga jenis tanaman tersebut dapat juga dinamakan jeruk Cina atau monte cina (Bahasa Selayar). III. Sistem Distribusi Buah Jeruk Cina Mencermati pengertian daripada distribusi itu sendiri, yaitu menyebarkan atau menyampaikan sesuatu barang-barang dari produsen (petani) kepada konsumen atau pemakai, maka cara mendistribusikan sesuatu hasil pertanian, seperti buah jeruk manis yang dihasilkan para petani, tidak terlepas dari tiga komponen dasar yang saling terkait antara satu dengan lainnya. adapun ketiga komponen dimaksud, yaitu prinsip distribusi, sarana distribusi, serta sasaran distribusi.
3.1. Prinsip Distribusi Petani jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar melihat prinsip distribusi dari kepentingan ekonomi. Berkaitan dengan kepentingan ekonomi,makaprinsip pendistribusian hasil produksibuah jeruk manis oleh petani yang bermukim di Desa Batangmata Kabupaten Selayar dilakukan dengan mengacu pada dua prinsip, yaitu passumbe dan abbalu.
(1). Passambe Passambe (bahasa Selayar), artinya menukar. Pengertian menukar disini, dalam ilmu ekonomi barter, yaitu pertukaran barang dengan barang yang lain jenis.
Kegiatan passambe terhadap petani jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar, terjadi apabila seorang petaní membawa bauh jeruknya ke pasar untuk dijual. Dan dalam kegiatan transaksi jual beli buah jeruk di pasar ternyata ada sebahagian yang tidak laku atau tidak habis terjual, maka umumnya buah jeruk manis tersebut oleh petani ditukar dengan jenis barang lain yang nilainya sebanding, seperti buah jeruk ditukar dengan ikan basah, ditukar dengan garam dan lain sebagainya.
(2) Abbalu
Abbalu merupakan satu kata dalam bahasa Selayar, yang artinya menjual. Kegiatan menjual hasil produksi buah jeruk manis oleh masyarakat petani jeruk di Desa Batangmata Kabupaten Selayar ditempuh dengan cara menjual langsung di rumah yang mana pembeli datang langsung menjual di pasar, serta menjual langsung di lokasi perkebunan yang mana para pedagang mendatangi lokasi perkebunan buah jeruk manis. Penjualan langsung dengan teransaksi dilakukan dirumah petani, umumnya pembeli adalah pedagang perantara dengan bentuk pembelian adalah borongan dan eceran. Penjualan oleh petani yang teransaksinya dilakukan di lokai pengembangan tanaman buah jeruk manis (kebun), bentuk penjualannya adalah cara borongan, yaitu pedagang membeli secara keseluruhan buah jeruk, baik setelah buah jeruk di panen maupun pada saat kondisi buah jeruk belum dipetik (dipanen). Sedangkan penjualan eceran yang transaksinya dilakukan di lokasi perkebunan, para pedagang pembeli hanya memilih buah atau memetik buah yang dianggap baik.
3.2. Sarana Distribusi Untuk mendistribusikan buah jeruk manis sebagai hasil produksi para petani, sarana distribusi merupakan salah satu faktor penentu, baik yang berhubungan dengan alat angkut (taranfortasi), maupun wadah yang digunakan untuk mengangkut buah jeruk yang akan didistribusikan. Alat angkut digunakan masyarakat petani menyalurkan buah jeruk, yaitu:
(1) Sepeda Dayung Sepeda dayung merupakan salah satu alat angkut yang digunakan petani mendistribusikan buah jeruknya. Penggunaan sepeda dayung sebagai alat angkut pendistribusian buah jeruk manis dilakukan saat pedagang menjajakan jeruk manis berkeliling kampung. Dalam menjajakan buah jeruk manis dengan menggunakan sepeda dayung, para penjaja memaki alat bantu berupa sebuah wadah. Wadah tersebut terbuat dari anyaman daun kelapa yang menyerupai keranjang. alat ini masyarakat setempat menyebutnya kohele Keranjang tempat buah jeruk manis tersebut dua buah ditempatkan pada stir sepeda dayung, yaitu satu sebelah kanan dan satu sebelah kiri. Sedangkan dua buah keranjang lainnya ditempatkan di samping boncengan sepeda, yaitu satu dikiri dan satu dikanan.
(2) Sampan Dayung Sampan dayung merupakan pula salah satu jenis alat angkut bagi masyarakat petani jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar. Alat angkut ini digunakan di air. Penggunaan sampan dayung disaat para petani akan mendistribusikan buah jeruknya di wilayah pulau-pulau kecil yang masih mudah terjangkau. Pengangkutan buah jeruk manis dengan menggunakan sampan dayung, para petani menempatkan buah jeruk pada sebuah wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Barang tersebut menyerupai keranjang. Selain alat angkut disebutkan di ats, kegiatan penyalaluran buah jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar masih dijumpai cara-cara lain, seperti mengangkut menggunakan tenaga manusia, yakni dengan cara menjunjung buah jeruk menggunakan alat bantu bakul. Palembara atau pemikul buah jeruk dengan alat bantu keranjang dari anyaman bambu sertaalat pemikul dari bambu. Sedangkan cara lainnya adalah memikul buah jeruk. hanya cara memikul dimaksud disini alat bantu yang digunakan berupa karung goni atau dapat juga menggunakan keranjang dar anyaman daun kelapa. Ketiga cara tersebut dilakukan saat memasarkan buahjeruk manis, kebanyakan dilakukan apabila petani bersangkutan memasarkan langsung buah jeruknya ke pasar. Selain itu, pemasarannya pun dalam partai kecil.
(3) Sepeda Motor Menggunakan sepeda motor saat memasarkan buah jeruk manis, umumnya dilakukan para pedagang yang membeli buah jeruk manis di lokasi perkebunan dan memasarkannya ke pedagang eceran yang tersebar ke pelosok-pelosok perkampungan dimana jarak jelajahnya antara 50-100 Km.
(4) Mobil
Mobil,selain digunakan sebagai sarana angkutanmanusia, juga difungsikan sebagai sarana angkutan untuk pendistribusian buah jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar. Pendistribusian dengan menggunakan kendaraan beroda empat ke atas adalah dalam kapasitas partai besar. Dan tujuan pemasarannya adalah di luar wilayah Kabupaten Selayar, seperti diantaranya ke Kotamadya Makassar yang seterusnya diantar pulaukan.
(5) Kapal Motor Peran kapal motor, selain sebagai sarana angkutan manusia di wilayah perairan, juga digunakan sebagai sarana angkutan saat mendistribusikan buah jeruk manis. Sasaran pendistribusian buah jeruk manis dengan menggunakan alat angkut kapal motor adalah apabila pemasarannya pada wilayah pulau-pulau kecil yang jaraknya cukup jauh dari wilayah pengebangan buah jeruk manis. Jadi dapat disimpulkan bahwa sarana distribusi jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten
Selayar pada dasarnya bukan merupakan faktor penghambat, Walaupun diketahui bahwa Kabupaten Selayar merupakan wilayah kepulauan. Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya sarana transfortasi darat dan air.
3.3. Sasaran Distribusi Pada prinsipnya, jaringan distribusi hasil perkebunan melibatkan berbagai lembaga resmi, seperti diantaranya Koperasi Unit Desa (KUD) dan pasar, Namun berdasarkan perolehan data atau informasi, petani jeruk manisdi Desa Batangmata Kabupaten Selayar umumnya menjadikan pasar dalam pengertian umum sebagai sasaran utama dalam pendistribusian buah jeruk manis. Sedangkan jaringan lainnya yang sifatnya pilihan alternatif kedua bagi petani jenuk manis adalah pedagang penjaja dan pengusaha.
3.3.1. Pasar
Pasar dimaksud disini adalah pasar dalam pengertian umum, artinya tempat berlangsungnya transaksi jual beli berbagai jenis kebutuhan hidup manusia. salah satu jenis hasil perkebunan diperjual belikan di pasar adalah buah jeruk manis. Mengingat kondisi pasar umum yang ada tersebar diberbagai perkampungan dalam wilayah kerja Kabupaten Selayar, termasuk pasar di Desa Batangmata, kegiatannya diatur secara bergiliran. Seperti halnya pasar di Desa Batangmata Kabupaten Selayar kegiatatannya dua kali dalam satu minggu, yaitu pada hari Senin dan hari Sabtu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bila musim panen jeruk manis memanfaatkan dua hari pasar tersebut untuk memasarkan secara langsung hasil produksinya. Hanya saja, kegiatan penjualan buah jeruk manis yang dilakukan langsung di pasar, volume penjualannya relatifkecil. Hal ini disebabkan karena penjualan langsung yang dilakukan di pasar, hasilnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, seperti untuk membeli beras, ikan, gula pasir, dan kebutuhan pokok lainnya.
3.3.2 Pedagang Penjaja Pedagang penjaja merupakan pula salah satu jaringan pendistribusian buah jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar. Terjadinya transaksi jual beli antara petani sebagai pemilik buah jeruk dengan pedagang penjaja kebanyakan dilangsungkan di lokasi sentra produksi (kebun) atau rumah petani. Transaksi jual beli jeruk manis natar petani dan pedagang penjaja adalah dalam jumlah kecil. Ini disebabkan karena ada pedagang penjaja kebanyakan tingkat pembeliannya didasarkan pada besar kecilnya wadah yang digunakan dalam menjajakan buah jeruk manis
3.3.3 Pengusaha (Pedagang borongan) Pendistribusian buah jeruk manis yang dilakukan petani di Desa Batangmata Kabupaten Selayar dalam partai besar, jaringannya adalah melibatkan pedagang besar atau pengusaha.
Kegiatan transaksi jual beli buah jeruk manis bila melibatkan pedagang besar sebagai sasaran pendistribusian dilangsungkan di iokasi perkebunan. Bahkan transaksinya terkadang dilangsungkan sebelum memasuki musim panen. Sistem penmbeliannya adalah dengan membeli secara keseluruhan buah jeruk manis dalam satu areal perkebunan, artinya pembelian secara borongan. Jadi dapat ditarik kesimpulan, bahwa sasaran distribusi atau jaringan pemasaran buah jeruk manis oleh petani di Desa Batangmata Kabupaten Selayar, selain memanfaatkan pasar sebagai sasaran umum penjualan, juga para pedagang penjaja dan pengusaha atau pedagang borongan tak luput dari sasaran pemasaran. IV. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka pada bagian akhir daritulisan ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
- Prinsip distribusi bagi petani jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar dilakukan atas dasar kepentingan ekonomi yang terwujud dalam bentuk kegiatan passambe (barter) dan abbalu (menjual)
- Sarana distribusi buah jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar, meliputi: Sepeda dayung, perahu dayang, sepeda motor, mobil, dan kapal motor. Selain menyangkut sarana angkutan, sarana distribusi ditunjang pula adanya beberapa jenis wadah penampungan buah jeruk manis, seperti : bakul, karung, dan keranjang.
Sasaran mendistribusikan buah jeruk manis di Desa Batangmata Kabupaten Selayar, meliputi: pasar umum, pedagang penjaja, dan pengusaha atau pedagang borongan.
Sumber BacaanDengirate, Muis, 1988, Pola Distribusi Dalam Masyarakat Petani Jeruk Manis Di Desa Batangmata
Kabupaten Selayar, Skripsi, UNHAS, UP.Faisal, Dkk. 1994/1995, Dampak Perkembangan Ekonomi Pasar Terhadap Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat di Sulawesi Selatan, Depdikbud, Ujung PandangHamid, Pananrangi, 1994/1995, Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Tradisional di Galesong,
Depdikbud, Ujung Pandang.Syamsul Bahri 1998/1999 Dampak Tanaman Eksport Terhadap Lingkungan Budaya di Kecamatan
Panca Riajangh Kabupaten Sidenreng Rappang, Depdikbud, Ujung Pandang
SPESIALISASI LAPANGAN KERJA MASYARAKAT PENDATANG DI KOTA RANTEPAO KABUPATEN TANA TORAJA Oleh:Pananrangi Hamid
- Pendahuluan Rantepao adalah sebuah kota kecil di kawasan Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo yang pada saat ini lebih di kenal dengan nama Tana Toraja. Letak geografisnya berada di daerah perbukitan, diapit pada bagian sebelah utaranya dengan barisan pegunungan sesean dan gunung Kendora pada bagian sebelah selatan. Sedangkan pada bagian sebelah barat terdapat puncat Gunung Karoa di Kecamatan Saluputti. Berdasarkankan letak geografisnya yang berada pada ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut, maka Rantepao sejak lama dikenal sebagai kota sejuk dengan panorama alam yang sangat indah di kawasan jazirah Sulawesi Selatan. Keindahan alam Tana Toraja ditambah dengan corak kebudayaannya yang unik dan spesifik ternyata menjadi daya tarik tersendiribagi daerah bersangkutan, sehingga banyak dikunjungi wistawan, baik dari mancanegara maupun domestik. Meningkatkan pendapatan daerah, tetapi sekaligus pula mendorong pertumbuhan Rantepao menjadisebuah kota wisata yang menjadi kancah pertemuan berbagai suku bangsa yang datang dari berbagai penjuru dunia. Pertumbuhan Rantepao menjadi sebuah kota wisata ternyata pula mendorong pertumbuhan dan perkembangan lapangan kerja terutama di sektor informal, antara lain seperti perdagangan, usaha kerajinan dan jasa. Sejalan dengan itu, Rantepao secara berangsur-angsur menjadi ramai bukan hanya karena banyaknya kunjungan wisatawan setiap tahun, tetapi juga karena banyaknya penduduk pendatang yang bermigrasi ke daerah tersebut. Kelompok penduduk pendatang yang bermigrasi ke Tana Toraja dan berdomisili di kotaRantepao tidak hanya terdiri atas suku-suku bangsa yang berasal dari daratan Sulawesi Selatan, tetapi banyak diantara mereka berasal dari Tanah Jawa dan Flores Nusa Tenggara Timur (NTT). Tiap kelompok migran menumbuhkembangkan sistem mata pencaharian yang bersifat khas, sebagai sumber penghidupan masing- masing. Keadaan sperti itu memang seringkali terjadi di wilayah perkotaan, baik di kota-kota kecil maupun di kota metropolitan seperti Kota Jakarta. Gejala tersebut malahan telah menarik perhatian para pakar sejak lama. Hugo (1986:69) menyatakan antara lain, bahwa yang amat menarik di berbagai kota besar di Indonesia adalah berkumpulnya para imigran yang berasal dari daerah tertentu dalam suatu kelompok yang sama pekerjaannya. Namun jauh, sebelumnya, yaitu sejak tahun 1974 Mahmuddin telah lebih dahulu mengungkapkan bahwa orang sering menentukan daerah asal seseorang, jika mengetahui apa
pekerjaan orang itu. Selanjutnya pakar tersebut memberikan contoh, misalnya sopir-sopir bus dan kondekturnya di Jakarta berasal dari daerah Sumatera Utara, padagang-pedagang kaki lima dari Sumatera Barat, para buruh pelabuhan biasanya datang dari daerah Pantai Utara Jawa Barat (Lihat Hugo, 1986:
69).
Berdasarkan kutipan tersebut, maka secara hipotetis dapat dikatakan, bahwa keanekaragaman suku bangsa dan daerah asal penduduk di suatu kota akan mempengaruhi jenis lapangan kerja tertentu yang tumbuh dan berkembang di daerah bersangkutan. Sebaliknya keanekaragaman jenis pekerjaan yang dipilih oleh kelompok suku bangsa tertentu dalam suatu kota atau tempat tertentu, akan mencerminkan daerah asal masing-masing kelompok suku bangsa bersangkutan. Bertolak dari hipotesis tersebut, fokus bahasan dalam artikel ini diarahkan pada usaha mengungkapkan masalah kanekaragaman sukubangsa dan spesialisasi lapangan kerja yang menjadi pusat konsentrasi dan sumber pendapatan bagi kelompok imigran, khususnya di Kota Rantepao Kabupaten Tana Toraja
- Lokasi dan Keadaan Geografis Tana Toraja pada zaman dahulu merupakan suatu wilayah àdat yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo. Nama ini kemudian mengalami perubahan menjadi Tana Toraja pada permulaan abad ke-17, di mana waktu itu Tondok Lepongan Bulan Tana Metarik Allo sudah mengadakan hubungan atau kontak dengan kerajaan-kerajaan lain disekitarnya, antara lain seperti Kerajaan Sidenreng, Bugis. Luwu(L.T. Tangdilintin, 1974:2). Salah satu satuan pemukiman penduduk yang termasuk dalam wilayah adat Tondok Lepongan Bulan Tanah Metarik Allo atau Tana Toraja ialah Rantepao. Nama Rantepao baru dikenal sesudah jatuhnya Tana Toraja ke dalam kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda. Sebelum itu, wilayah Rantepao bernama Rante Benduru. Dalam hal ini kata benduru (Sejenis buah-buahan) yang banyak tumbuh di daerah tersebut dan sangat digemari oleh anak-anak gembala (Lexy: Wawancara Tanggal 17 Mei 1999). Lokasi Rantepao terletak pada KM. 18 sebelah utara kota Makale atau sekitar 128 Km sebelah utara kota Makassar. Secara Adminstrasi Kota Rantepao berada dalam wilayah pemerintahan Kelurahan Rantepao kecamatan Rantepao Kabupaten Tana Toraja. Namun secara historis, wilayah Rantepao di masa silam termasuk salah satu daerah tersendiri dalam wilayah adat yang lazim disebut Padang diambe'i atau Wilayah persekutuan adat Pekamberan(Wiwiek P. Yusuf, dkk, 1992:11). Kota Rantepao secara geografis berada di kawasan pegunungan dengan panorama yang sangat indah (Lihat Laporan Hasil Penelitian Moses Eppang, dkk 1984/1985 : 16 dan Emiaty Limbong Lola, 1995 : 157) dengan ketinggian tidak kurang dari 700 meter di atas permukaan laut (Kecamatan Rantepao Dalam Angka 1998). Melihat data tersebut, jelas letak Sesean Matallo yang berada pada ketinggian 1.060 meter di atas permukaan laut (Faisal hamdan, 1976: 12). Namun demikian suhu udara di daerah Rantepao dan sekitarnya cukup rendah, terutama wilayahnya dikelilingi oleh tiga barisan pegunungan masing-masing adalah Gunung Keroa yang terletak di Kecamatan Saluputti, Gunung Sesean, di Kecamatan Sesean; serta gunung Kandora yang berada di kawasan Sangalla. Luas kota Rantepao seluruhnya meliputi areal seluas 0,51 % jika dibandingkan dengan luas Kecamatan Rantepao. Menurut data yang termuat dalam buku Kecamatan Rantepao Dalam angka 1998,
ternyata bahwa dari seluruh luas wilayah Rantepao terdapat tanah sawah seluas 11 Ha. Selebihnya adalah tanah pekarangan seluas 7 Ha. Suhu udara di daerah tersebut berkisar antara 14 ° C. sampai 26° C, sedangkan curah hujan mencapai rata-rata di atas 2.000 mm dengan frekwénsi berkisar 140-190 hh per tahun. Keadaan ini turut dipengaruhi oleh peredaran musim yang terjadi setiap tahun. Sampai dengan tahun 1999 masyarakat Toraja hanya mengenal dua musim yang datangsilih berganti, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau berlangsung selam kuranglebih tiga bulan, mulai bulan Juli sampai dengan bulan September setiap tahun. Sebaliknya musim hujan berlangsung sekitar sembilan bulan, mulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Juni. Perhitungan ini bersifat relatif dan seringkali berubah jika terjadi gangguan musiím.
- Kependudukan dan Latar Belakang Suku Bangsa
3.1. Kependudukan Penduduk Kota Rantepao pada tahun 1998 meliputi 1.649 jiwa, terdiri atas penduduk laki-laki sebanyak 820 jiwa atau berkisar 49,,73 %. Selebihnya adalah penduduk wanita sebanyak 829 jiwa dengan persentase sebesar 50,27 %. Keseluruhan jumlah penduduk tersebut terbagi menjadi 246 uni keluarga memiliki anggota keluarga sekitar 6,7 jiwa. Keadaan ini mencerminkan bentuk rumah tangga yang bersifat extended family (keluarga luas), terdiri atas keluarga batih dan anggota keluarga lainnya seperti keluarga yunior, saudara dan anak kemenakan. Dari seluruh jumlah penduduk tersebut setidaknya dapat dibagi menjadi enam kelompok menurut golongan usia. apabila penggelongan tersebut lebih dirinci menurut jenis kelaminnya maka secara keseluruhan penduduk Kota Rantepao terbagi menjadi 12 kelompok menurut tingkat usia dan jenis kelamin dengan frekwensi dan persentase seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1 Komposisi Penduduk Dirinci Menurut Usia dan JenisKelamin Di Kota Rantepao tahun 1998
| Tingkat Usia | Banyaknya Penduduk | Jumlah | Persent. | |
|---|---|---|---|---|
| Wanita | ||||
| 00-04 05-09 | 59 | 42 | 101 220 | 13.34 6.13 |
| 10-14 | 188 99 | 186 | 374 205 | 12.43 22.63 |
| 260 105 | 288 96 | 548 201 | 12.19 | |
| Jumlah | 820 | 829 |
No. (Tahun) Laki2 (%) (jiwa) 109 111 106 15-24 25-49 33.23
123456 50 Keatas
1.649 100.00
Sumber : Papan Potensi Kantor Lurah Rantepao Data tersebut membuktikan, bahwa dari seluruh kelompok penduduk di Kota Rantepao ternyata kelompok anak yang berusia rata-rata 00-04 tahun merupakan kategori usia dan jenis kelamin yang paling sedikit jumlahnya, yaitu tidak lebih dari 101 jiwa atau berkisar 6.13 %. sedangkan golongan yang
peling banyak jumlah penduduknya ialah mereka yang berusia antara 25-49 tahun dengan frekwensi tidak kurang dari 548 jiwa atau berkisar 33.23 %. Gejala tersebut mencerminkan dua hal pokok. Pertama, tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Rantepao termasuk rendah hal mana terbukti dari kecilnya persentase golongan penduduk 00-04 tahun. Kedua, terdapatnya selisih cukup menonjol antara penduduk laki-laki dan penduduk wanita yang berusia rata-rata 25-49 tahun. Dalam hal ini jumlah laki-laki hanya meliputi 260 jiwa (15.77 %), se-
dangkan penduduk wanita mencapai 288 jiwa atau tidak kurang dari 17,74 %.
Gejala tersebut dipengaruhi oleh tingginya tingkat mobilitas penduduk Toraja, terutama melalui proses migrasi baik dalam bentuk urbanisasi maupun transmigrasi spontan ke berbagai pelosok tanah air. Asumsi ini dilandaskan pada kenyataan, bahwa sejak lama masyarakat Toraja memang amat gemar merantau, sebagaimana tercermin pada ungkapan :male mambela (pergi jauh) atau dalam istilah lain dikatakan : male mambela tondokna tau (pergi jauh ke negeri orang). Hasil penelitian pustaka menunjukkan bahwa dalam tahun 1975 atau berkisar 24 tahun yang lalu di Kotamadya Ujung Pandang saja terdapat 40.000 jiwa atau berkisar 7 % sampai 8 % dari seluruh jumlah penduduk Ujung Pandang ketika itu (Lihat Hasil Penelitian Idurs Abustam, 1975:24). Sumber lain, yaitu Pananrangi Hamid, dkk. (1986:13) menyatakan bahwa sampai dengan tahun 1983 di Kelurahan Bara-Baraya Kotamadya Ujung Pandang saja terdapat sebanyak 276 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari Suku Toraja. Relevan dengan kedua hasil penelitian tersebut, Lurah Rantepao (Informan)menyatakan, bahwa sejak lama hingga sekarang banyak warga Toraja dari daerah Rantepao berurbanisasi secara sirkuler ke kotamadya Ujung Pandang maupun ke Kota Pare-Pare. sebagian dari mereka meninggalkan tanah keiahirannya menuju ke kota untuk mencari nafkah, tanpa membawa isteri dan anak-anak Demikianlah, maka Kota rantepao sampai sekarang ada kecenderungan penduduk wanita yang berusia
antara 25-49 tahun jauh lebih banyak jumlahnya daripada penduduk laki-laki(Hasil wawancara, Tanggal
18 Mei 1999).
3.2. Latar belakang suku bangsa Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo yang sekarang bernama Tana Toraja, termasuk Rantepao pada zaman dahulu merupakan wilayah persebaran satuan-satuan pemukiman penduduk dari suku bangsa TOraja. Namun menjelang saat-saat berakhirnya dominasi kaum kolnial Belanda sampai masa pendudukan bala tentara Dai Nippon banyak pedagang Bugis dari kawasan Tana Ogi(tanah Bugis) mermigrasi ke daerah tersebut, dimana mereka berdomisili dan melakukan aktivitas pencaharian hidup. Setelah zaman kemerdekaan datang pula ke Rantepao kelompok Imigran dari daratan Tanah Jawa, baik kelompok suku bangsa Jawa maupun kelompok suku bangsa Sunda dari Jawa Barat. sesudah itu menyusul pula kelompok migran dari suku bangsa Makassar dan suku Manggarai dari provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sampai sekarang belum ditemukan data terinci mengenai jumlah riel suku bangsa pendatang di
kota Rantepao, namun dari beberapa sumber informan diperoleh keterangan, antara lain bahwa"sebahagian besar warga masyarakat pendatang di kota Rantepao berasal dari suku bangsa Bugis, Makassar, dan Jawa (Matius Rante Pasang, Wawancara, Tanggal 17 Mei 1999). Informasi lain diperoleh dari R.R. Paonangan (Camat Rantepao) antara lain sebagai berikut : Menurut kenyataan, tana Toraja memang merupakan sebuah wilayah administrasi dengan latar belakang demografis yang cukup majemuk, terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa yaitu :
a. Suku bangsa Toraja, sebagai penduduk asli;
b. Suku bangsa Bugis
c. Suku bangsa Makassar
d. Suku bangsa Jawa
e. Suku bangsa Sunda
f. Suku bangsa Ambon dan
g. Suku bangsa Manggarai (Hasil Wawancara, Tanggal 17 Mei 1999). Kelompok suku-suku bangsa tersebut datang dari daerah asal yang berbeda-beda. Suku bangsa
Bugis misalnya banyak yang berasal dari daerah Bone, Wajo, Sidrap, Soppeng, dan Luwu (M. Tonapa, Lurah Tallung Lipu Matallo, Wawancara, Tanggal 18 Mei 1999). Suku bangsa Manggarai rata-rata berasal dari Flores. Sebaliknya hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kelompok suku bangsa Makassar yang bermigrasi ke kota Rantepao berasal dari daerah Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa penduduk Kota rantepao bukan hanyamajemuk karena latar belakang suku bangsanya beraneka ragam, tetapi juga karena daerah asal mereka yang berbeda-beda. Namun demikian para penduduk migran itu sendiri memiliki kesamaan di satu sisi, yakni mereka bermigrasi ke kota kecil tersebut dalam rangka usaha meningkatkan tarafhidup masing-masing. Dalam usaha mancapai tujuan tersebut, masing-masing migran bersangkutan menumbuhkembangkan sistem mata pencaharian tertentu, sesuai dengan pengetahuan budaya dan keterampilan teknis yang dimilikinya. Demikianlah, maka tampak adanya kecenderungan bagi setiap kelompok migran yang berasal dari suku bangsa dan daerah tertentu untuk memilih jenis lapangan kerja yang sama. Sehubungan dengan itu pula, eksistensi kelompok-kelompok migran di Kota Toraja dapat diungkapkan dengan cara mengkaji spesialisasi sektor usaha/kerja yang menjadi pusat konsenterasi dan sumber penghidupan masing-masing suku bangsa bersangkutan.
- Spesialisasi Lapangan Kerja Menurut Suku Bangsa Menurut hasil observasi lapangan, sampai dengan medio tahun 1999 secara garis besar ditemukan adanya lima jenis mata pencaharían yang menjadi sumber pendapatan penduduk, masing-masing seperti tertera dalam tabel berikut ini :
Tabel2 Banyaknya Penduduk Dirinci Menurut Mata PecaharianDi Kota Rantepao Tahun 1999 No. Mata Pencaharian Banyaknya Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
- Pertanian 3.09
51
1.94
Industri 32 114 6.91 PegawaiNegeri/ABRI 128 7.76
Perdagangan
27 1.64 Sopir Penarik Becak 20 1.21
234567 Tidak bermatapencaharian 1.277 77.45
Jumlah 1.649 100.00 Sumber: Kantor Kelurahan Rantepao. Menurut data tersebut maka terbukti bahwa dari seluruh penduduk Kota Rantepao yang jumlahnya meliputi 1.649 jiwa hanya terdapat 372 orang (22.55%) yang sudah bermata pencaharian tetap. Selebihnya penduduk sebanyak 1.277 jiwa atau sekitar 77.45 % tidak bermatapencaharian. Dari seluruh penduduk yang bermatapencaharian, kelompok pedagang dan kelompok PNS ternyata lebih menonjol daripada kelompok lainnya. Dalm hal ini kelompok PNS dan ABRI menempati urutan kedua dengan jumlah seluruhnya mencapai 114 orang (6.91%). Apabila jenis-jenis mata pencaharian tersebut dirincikan menurut suku bangsa dan daerah asal tenaga kerja yang ada, maka diperoleh spesialisasi lapangan kerja sebagi berikut:
4.1. Suku Bangsa Toraja Menurut hasil pengamatan langsung di lapangan ternyata, bahwa suku bangsa Toraja di Kota
Rantepao terserap dalam beberapa lapangan pekerjaan yang bersifat khas atau spesial, yaitu :
- Sektor pertanian; -Sektor industri dan kerajinan; -Sektor perdagangan dan kerajinan; -Usahajasa/sopir, dan
- Sektor kepegawaian dan ABRI Dari warga masyarakat umum maupun dari unsur aparat Kantor Lurah Rantepao diperoleh
infromasi, bahwa jumlah petani di daerah tersebut tidak lebih dari 51 orang dan seluruhnya terdiri atas suku bangsa Toraja. Demikian pula sektor industri dan kerajinan hanya dikelola oleh suku bangsa Toraja, baik proses produksi maupun proses pendistribusian. Dalam sektorperdagangan kebanyakan suku bangsa Toraja memilih spesialisasi sebagai pedagang eceran atau pedagang racangan, sedangkan barang dagangan yang diperjualbelikan antara lain sayur mayur, bahan makanan dan bahan kebutuhan sehari-hari, termasuk ikan untuk komsumsi rumah tangga. Aktivitas usaha mereka dilakukan, baik di dalam pasar yang selalu bergilir dari satu kampung ke kampung lainnya maupun dipinggir-pinggir jalan (Lihat Foto 1).
Foto 1 Pedagang Toraja Sedang Berjualan Sayur dan Bahan Makanan Sehari-hari di pinggir Jalan
PembangunanKota Ranteapo Warga suku bangsa Toraja yang memilih pekerjaan sopir sebagai sumber penghidupan tampaknya menempati semua jenis kendaraan bermotor, seperti bus umum, truk, pick-up, dan jenis angkutan kota yang terdiri dari mobil-mobil bus mini
4.2. Suku bangsa Bugis Suku bangsa pendatang yang terhitung paling lama serta paling banyak jumlahnya di Kota Rantepao ialah suku bangsa Bugis. Pendatang pertama dari daerah Bugis diperkirakan sudah bermigrasi ke daerah tersebut sejak zaman penjajahan kaum kolonial Belanda, jauh sebelum hari Proklamasi Kemerdekaan. Para migran Bugis ketika itu terdiri atas pedagang yang cukup besar peranannya untuk mensuplai berbagai kebutuhan penduduk setempat. Sebagian warga Rantepao memandang migran Bugis sebagai pedagang yang cukup tangguh dan tanggap terhadap perkembangan pasar, sehingga mereka rata- ratamemilikimobilitasyang tinggi,hal mana memungkinkan merekauntuk beralih dari sektor perdagangan yang satu ke sektor perdagangan lainnya yang dianggap lebih menguntungkan. Spesialisasilapangan kerja yang dikembangkan para migran Bugis tergambar dalam infomasi sebagai berikut: Orang-orang Bugis pendatang di Kota Rantepao ini kebanyakan bekerja sebagai pedagang yang memperjualbelikan berbagai barang dagangan, seperti : ikan; kerbau; tembakau tabung; barang kelon- tong; tekstil; dan pakaian; Adapuyla di antara mereka bekerja sebagai pengusaha konfeksi; dan tukang jahit (Matius Rante Pasang, Wawancara Tanggal 17 Mei 1999) Berdasrkan infromasi tersebut dapat diketahu bahwa para imigran Bugis di kota Toraja umumnya memilih spesialisasi lapangan kerja yang memang erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan bagi kebanyakan penduduk. Namun dari hasil pengamatan langsung dilapangan terlihat adanya gejala umum menunjukkan, bahwa kelompok migran Bugis yang berasal dari daerah tertentu biasanya memilih jenis lapangan tertentu pula. Sehubungan dengan itu dapat dikemukakan spesialisasi lapangan kerja suku
bangsa Bugis menurut daerah asalnya sebagai berikut:
4.2.1. Suku Bugis asal daerah Bone Sampai dengan medio tahun 1999 setidaknya ada empat sektor perdagangan yang dipilih sebagai sumber mata pencaharian bagi para migran asal daerah Bone di kota Rantepao, yaitu :
- sektor perdagangan ikan -sektor perdagangan kerbau; -sektor perdgangan barang kelontong; serta -sektor perdagangan tembakau tabung. Dalam sektor perdagangan ikan migran Bugis asal daerah Bone berperanan sebagai pedagang
antara dan dapat dibagi menjadi dua golongan menurut jenis usahanya. Golongan pertama terdiri atas pedagang ikan segar antar kabupaten. Mereka menggunakan modal uang cukup banyak, baik untuk membeli ikan dari pihak nelayan produsen di wilayah produksi (ceperti Bone, Luwu, Barru) maupun untuk biaya angkutan barang dari daerah produksi ke Rantepao. Pengiriman ikan segar dari lokasi produksi ke lokasi pemasaran menggunakan peti kemas yang dibuat
Foto 2 Kemasan Peti-Peti Ikan Milik Pedagang Bugis Yang Bertempat Tinggal Di Jalan Kartika
Kota Rantepao Menurut Talebe (Informan), seorang pedagang ikan yang telah bermigrasi ke Rantepao sejak zaman pendudukan Jepang, dikatakan bahwa para pedagang Bugis yang melakukan aktivitas perdagangan antarkabupaten umumnya memasarkan barang dagangan melalui agen penjualan masing-masing. Adapula di antara pedagang mendistribusikan barang dagangan melalui pedagang eceran (Wawancara, tanggal 22 Mei 1999). Ini berarti bahwa pedagang antar kabupaten tidak berhubungan langsung dengan pihak konsumen akhir, tetapi mereka menggunakan pedagang antara, baik agen penjualan maupun pedagang eceran. Golongankeduaterdiriatas pedagang eceranyangmemilikimodalkerja relatif sangatterbatas. Pedagang Bugis tersebut melakukan aktivitas penjualan ikan segar di pasar umum maupun di pinggiran jalan umum. Šalah sat lokasi yang digunakan untuk berjualan ikan di kota Rantepao ialah sekitar Jlaan Pembangunan dan Jalan Niaga (lihat foto 3).
Foto 3 Lokasi Penjualan Ikan Segar Oleh Pedagang BugisAsal Bone Di Jalan Pembangunan
dan Jalan NiagaDi Kota Rantepao Dalam sektor perdagangan kerbau, pedagang Bugis asal Bone umumnya mendatangkan kerbau dari daerah Bone atau Luwu, untuk kemudian di jual di Kota Rantepao. Sebaliknya pedagang kelontong umunya mendatangkan barang dagangan dari Makassar.Barang-barang tersebut kemudian didistribusikan melalui dua cara. Pertama, pedagang bersangkutan mendistribusikan barang dagangannya melaluipedagang eceran. Cara kedua, ialah pedagang antar kota itu sendiri menjual dagangannya langsung kepada konsumen. Salah seorang pedagang Bugis yang dikenal cukup tangguh dan bermodal besar di KotaRantepao ialah H. Salahuddin. Pedagang ini memiliki sebuah toko yang cukup besar, penuh dengan barang kelontong. Pada mulanya pedagang ini hanya berjualan di dalam tokonya, namun sekarang beliau juga melakukan kegiatan penjualan di pasar-pasar, sedangkan urusan toko dipercayakan kepada isterinya. Dalam sektor perdagangan tembakau tabung, para pedagang Bugis asal daerah Bone mendatangkan barang dagangan dari daerah asal sendiri. Barang tersebut kemudian dipasarkan langsung kepada pihak konsumen, baik di dalam pasar lokal maupun di kaki lima. Salah seorang pedagangtembakau tabung yang berjualan di kaki lima ialah Pak Arsyad. Pedagang ini berjualan di kaki lima dengan memilih tempat mangkal di dekat jejeran pertokoan yang sangat strategis letaknya.
4.2.2. Suku bangsa Bugis asal daerah Sidrap dan Luwu Migran Bugis asal daerah Sidrap yang berdomisili di kota Rantepao tidak terlalu banyak, itupun sebagian besar termasuk kategori migran sekuler. C.L.Palimbong (Informan)menginformasikan, antara lain bahwa kelompok migran asal sidrap kebanyakan bekerja sebagai pengusaha angkutan kota maupun pengusaha angkutan antar kota dengan mengerahkan armada angkutan penumpang berupa jenis mobi kijang/panther(Wawancara, Tanggal, 17Mei 1999) Kelompok migran Bugis yang berasal dari daerah Luwu, tepatnya kota Palopo kebanyakan mempunyai pertalian kekerabatan dengan orang-orang Bugis asal daerah Bone. Mungkin karena itu, orang-orang Luwu juga kebanyakan memilih sektor pekerjaan sebagai pedagang kerbau, di samping
merekamenjadipedagang ikan. Ini berarti bahwakelompok migran asal daerah Luwumemilikispesialisasi lapangan kerja lebih kurang sama dengan kelompok migran dari daerah Bone.
4.2.3. Suku bangsaBugis asal daerah Wajo dan Soppeng Kelompok migran Bugis khususnya yang berasal dari daerah Soppeng tampaknya memiliki spseialisasi pekerjaan yang hampir sama dengan orang Wajo. Mereka juga mengembangkan usaha penjaitan pakaian. Para pengusaha penjahitan tersebut, baik orang-orang Wajo maupun orang-orang Soppeng cenderung untuk memanfaatkan tenaga kerja (tukang jahit) yang berasal dari daerah sendiri. Demikianlah maka kota Rantepao cukup banyak tukang jahit yang berasal dari Wajo dan Soppeng. Usaha penjahitan milik orang-orang Wajo dan soppeng kelihatannya terkonsentrasi di pusat kota Rantepao, menempati lantai dua di pusat pertokoan sekitar Jalan Mappanyukki. Tempat ini memang sangat strategis, palagi lokasinya berdekatan dengan pasar, pusat perbelanjaan, dan pusat kegiatan ekonomi kota. Keberadaan usaha penjahitan tersebut tidak hanya dapat menampung tenaga kerja yang memiliki ketempilan teknis jahit menjahit, tetapi juga menjadi daya tarik yang ikut mempengaruhi peningkatan arus migran spontan dari daerah asal ke Rantepao.
4.3. Suku Bangsa Makassar Menurut hasil observasi di Kota Rantepao kelompok migran yang berasal dari suku bangsa Makassar cukup banyak. Mereka memiliki spesialisasi lapangan pekerjaan, terutama dalam tiga sektor usaha sebagai berikut : Kelompok suku bangsa Makassar yang berasal dari daerah Gowa umumnya memiliki jenis mata pencaharian sebagai penjual makanan khas, yaitu penjual Coto Mangkasara. Sebaliknya migran Makassar yang berasal dari daerah Maros dan Pangkep membuka usaha penjualan Sop Saudara. Mereka melakukan aktivitas pencaharian hidup dalam tenda plastik yang sangat sederhana, sehingga dapat dipasang dan dibongkar setiap hari. Kelompok suku bangsa Makassar lainnya membuka usaha penjualan kue-kue yang disebut buroncong kelompok penjual buroncong termasuk pedagang keliling. Mereka menjajakan dagangannya ke seluruh penjuru kota dengan menggunakan gerobak dorong. Selain dari kelompok Migran Makassar yang bekerja sebagai pedagang makanan, terdapat pula cukup banyak migran Makassar, terutama yang berasal dari daerah Takalar dan Jeneponto yang bekerja sebagai penarik beca. Menurut Dg. Gassing (Informan) dikatakan, bahwa sekarang jumlah penarik beca yang semuanya berasal dari kelompok suku bangsa Makassar sudah mencapai ratusan orang. Mereka tersebar di berbagai kelurahan dalam wilayah Kecamatan Makale dan Rantepao. Para penarik beca yang berdomisili meliputi 20-an orang, akan tetapi setiap saat jauh lebih banyak becak yang lalu-lalang untuk mencari dan mengantarkan penumpang. Ini disebabkan oleh banyaknya penarik becak dari luar setiap hari masuk ke kota Rantepao untuk mencari nafkah (Wawancara, Tanggal 17 Mei 1999). Berdasarkan hasil wawancara tersebut jelaslah bahwa keberadaan migrab Makassar di Kota Rantepao tidak hanya telah ikut mempopulerkan pemamfaatan sistem angkutan tradisional yang disebut becak, tetapi sekaligus juga mendukung pemenuhan dengan biaya angkutan yang relatif sangat murah. Sebagai bahan illustrasi dikemukakan foto 4.
e38
Foto 4 Dg. Gassing (Informan) Seorang Migran Makassar Yang Sejak Lama Bekerja Sebagai
Penarik Becak Di Kota Rantepao
4.4. Suku bangsa Sunda, Jawa, dan Manggarai Lokasi pemukiman kelompok migran Sunda di Kota Taoraja tersebar di sekitar Jalan Konstan dengan spesialisasi lapangan pekerjaan secara garis besar terdiri atas pedagang keliling dan pengusaha pabrik. Nanang (Informan) menginformasikan bahwa sebagian besar suku Sunda di Kota Rantepao bekerja sebagai pedagang keliling. Barang daganganmereka beraneka macam, antara lain kain celana,jam/ lonceng, berbagai jenis lampu hias/lampu taman, baraang kerajinan, dan lainnya. Selain itu terdapat sekelompok migran asal Sunda yang bekerja sebagai karyawan pada pabrik roti, milik pengusaha sesama suku bangsa (Wawancara, tanggal 25 Mei 1999). Dari hasil wawancara tersebut terbukti bahwa para migran Sunda di Kota Tana Torajamemiliki spesialisasi lapangan kerja sebagai pedagang keliling,di samping mereka sebagai karyawan pabrik roti. Ini berarti pula bahwa terdapat warga Sunda yang bergerak dalam sektor industri pembuatanroti yang cukup mampu menampung tenaga kerja sesama suku bangsa sendiri. Kelompok migran Jawa yang sampai sekarang berdomisili di Kota Rantepao memiliki spesialisasi sebagai pengusaha makanan. Sebagian dari mereka berasal dari banyuwangi, Probolinggo, dan Surabaya, Sebagian pula berasal dari lokasi transmigrasi di Tanah Luwu. Dari hasil pengamatanlangsung di lapangan kelompok migran Jawa terbagi dua kelompok menurut lapangan pekerjaannya. Kelompok pertama terdiri atas migran Jawa yang berjualan makanan (mis, bakso, nasi campur, gado-gado) dengan menggunakan gerobak dorong. Gerobak tersebut tidak hanya digunakan untuk menjajakan makanan dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi juga digunakan sebagai tempat berjualan di pinggir-pinggir jalan atau di kaki lima, terutama di Pojok Jalan Niaga dan Mappanyukki Kelompok migran Jawa lainnya membuka rumah makan di mana mereka menyiapkanberbagai jenis masakan khas Jawa. Rumah-rumah makan milik orang Jawa tersebar di berbagi ruas jalan, antara lain seperti Jalan Dipanegoro Kota rantepao, Slamet (Informan) menginformasikan, bahwa sampaisekarang cukup banyak juga migran Jawa berjualan kerupuk dan jamu (Wawancara, tanggal 25 Mei 1999).
Berbeda dari suku-suku bangsa lainnya yang memiliki spesialisasi sebagai pedagang ataupun pengusaha, maka kelompok suku bangsa Manggarai dari Flores memiliki spesialisasi sebagi karyawan. Sebagian dari mereka bekerja sebagai spesialis bidang pembukuan di perusahaan-perusahaan, losmen dan usaha pertokoan. Sebagian pula memilih pekerjaan sebagai pelayan toko. R.R.Paonangan (Informan) menganggap orang-orang Manggarai itu sebagai kelompok migran yang rata-rata memiliki ketabahan dan kejujuran, sehingga mendapatkan kepercayaan dari pihak atasan maupun pelanggang mereka(Wawancara, Tanggal 17 Mei 1999). Berdasarkan uraian umum tersebut jelaslah bahwa kelompok migran yang cukup majemuk dengan latar belakang suku bangsa dan daerah asal yang berbeda-beda di Kota Rantepao memiliki spesialisasi lapangan kerja tersendiri. Keadaan itu memungkinkan bagi setiap peneliti untuk menjajaki latar belakang suku bangsa dan daerah asal setiap migran dengan cara menelusuri jenis pekerjaan yang menjadi sumber penghidupannya.
- Kesimpulan Kota Rantepao adalah salah satu satuan pemukiman suku bangsa Toraja di wilayah Tondok Lepongan Tana Matarik Allo yang sekarang disebut Tana Toraja. Masyarakat Toraja di daerah tersebut kemudian mengadakan kontak sosial budaya (Social and cultural contact) dengan kelompok suku-suku bangsa lain yang datang ke daerah Rantepao sebagai migran spontan. Kelompok migran yang pertama kali bermigrasi di di Kota Rantepao terdiri dari pedagang-pedagang Bugis dari Bone, Luwu, Wajo, dan Sidrap. Sesudah itu datang pula kelompok migran dari suku bangsa Jawa, Sunda, Makassar, dan Manggarai. Terkonsntrasinya kelompok suku-suku bangsa tersebut menumbuhkan kota Rantepao menjadi sebuah kota majemuk denganlatar belakang suku bangsa dan daerah asal yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa yang bermukim di Kota Rantepao memiliki spesialisasi lapangan kerja, di dalam mana warga sesama suku bangsa atau sesama daerah asal dapat ikut berperan aktif untuk mencari sumber penghidupan masing-masing. Suku Toraja kebanyakan bekerja sebagai petani, industrikerajinan, pedagangjasa/sopir serta pegawai dan TNI/POLRI. Kelompok migran Bugis yang masing-masing berasal dari Bone, Sidrap, Luwu, Wajo, Soppeng mempunyai pekerjaan yang bervariasi seperti migran Bone kebanyakan bekerja sebagai pedagang ikan, kerbau, kelontong, dan tembakau tabung. Migran asal Sidrap dan Luwu pekerjaannyasebagai sopir angkutan kota, angkutan antar kota, pedagang kerbau dan ikan. Orang-orang Wajo dan Soppeng sebagian besar berusaha dibidang konveksi dan perdagangan tekstil. Demikian pula migran Makassar pada umumnya sebagaitukang becak, dan jualan kue. Sedangkan migran lainnya asal Sunda bergerak di bídang jualan jam dan lampu hias. Migran Jawa, kebanyakan berjualan bakso, mie, usaha jamu kebanyakan berjualan bakso, mie. Usaha rumah makan dan migran asal Manggarai kebanyakan sebagai karyawan toko/perusahaan. Demikianlah laatar belakang suku bangsa dan daerah asal setiap migran di Kota Toraaja secara relatif dapat diduga dengan menelusuri pekerjaan yang dipilihnya sebagai sumber pendapatan
Daftar Bacaan Abustam, Muh. Idrus, 1975: Tukang Sepatu Toraja di Ujung Pandang, Suatu studi mengenai Proses perpindahan dan Penyesuaian Cara Hidup di kota, Laporan Penelitian, PLPIIS, Ujung Pandang Badan Pusat Statistik, 1999: Kecamatan Rantepao Dalam Angka 1998 Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Toraja Mantri Statistik Kecamatan Rantepao. Eppang Moses, dkk., 1984/1985 : Transkripsi Hymne Passomnba Tedong Upacara Tradisional Keselamatan Toraja Daerah Sulatan, Naskah Tidak Terbit, Proyek IDKD Daerah Sulawesi Selatan. Hamdan, Faisal, 1978 : Saroan Sebuah Pranata Sosial Di Tana Toraja, Laporan Penelitian, Naskah Tidak Terbit, PLPIIS, Ujung Pandang Hamid, Pananrangi, dkk., 1986 : Dampak Modernisasi Terhadap Hubungan Kekerabatan Daerah Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ujung Pandang Hugo, Graeme, 1986 : Migrasi Sirkuler, Dalam Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, berjudul “Kemiskinan di Indonesia", Yayasan Obor Indonesia, Jakarta Limbonglola, Emiaty, 1995: Sistem Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Toraja, Dalam Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal kebudayaan Balai Kajian sejarah dan Nilai tradisional Ujung Pandang, Ujung Pandang Tangdilintin,L.T. 1974: Toraja dan Kebudayaannya, Kantor Cabang IILembaga sejarah dan Antropologi, Ujung Pandang Yusuf, wiwiek P, dkk., 1992: Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Selatan, Ujung Pandang Daftar Informan
- C.L. Palimbong (51), Staf Kantor Bupati KDH Tana Toraja
- Lupi Jimmy (31), suku Jawa, Penjual Mie dan Bakso
- Matius Rante Pasang (43), Suku Toraja, Pegawai Depdikbud Kabupaten Tana Toraja
- M. Arsyad (54), Suku Bugis Bone, Pedagang Tembakau Tabung.
- M. Tonapa (35), suku Toraja, Lurah Tallunglipu Matallo.
- Nanang (36), Suku Sunda dari Tasikmalaya, Pedagang jam/lonceng
- R.R. Paonangan (49), suku Toraja, Camat Rantepao.
- Salahuddin (53) suku Bugis, Pemilik Toko Salmah
- Sumiaty Mama Toni (27), suku Jawa asal Sukamaju Luwu, Pedagang gado-gado
KALINDAQDAQ AGAMA DALAM LONTAR MANDAR Oleh Suradi Yasil
1. Pengantar
Lontar/naskah kuno Mandar sebagai peninggalam lelehur di daerah ini berisi berbagai ilmu pengetahuan dan informasi budaya masa lampau masyarakat pendukung kebudayaan Mandar. Demikianlah, dalam lontar Mandar ditemukan sejumlah kalindaqdaq yang berisi ajaran agama Islam (agama mayoritas orang Mandar yang masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad ke-16 M). Kalindaqdaq agama yang terdapat dalam lontarak milik satu keluarga di Pamboang, kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Selatan, dibicarakan dalam uraian di bawah ini:
2.Seratus Tujuh Belas Bait Kalindaqdaq Agama DalamlontarMandar yangmenjadisumbertulisan initertulis seratustujuh belas baitkalindaqdaq
agama. Ke-117 bait kalindaqdaq agama dimaksud ialah sebagai berikut. Bahasa Mandar
- Issang Ajappui toi sareaqna Muhammaq Muhammad iya maqissang lawangan di aheraq
2. Muaq meloqi muissang
lawangan di aheraq
peqayappui Puang Afla Taqala
- Pamasseqi sahadaqmu mesa Alla Taqala Nabi Muhammaq suro niatappaqi
4. Appeq rokonna sahadaq
daqdua paralunna dan tiga belas napattongangi ate
5. Appeq sukkuqna sahadaq
syahadat appeq saraqassana
Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia
- Ketahui dan pahami juga syariat yang dibawa dia yang mengetahui seluk beluk di akhirat
- Kalau engkau ingin tahu seluk beluk di akhirat fahami sedalam-dalamnya Allah Taala
- Kuat-kokohkan syahadatmu bahwa Allah itu Esa dan Nabi Muhammad rasul yang dipercayai
- Ada empat rukun syahadat dua períunya napau lila dibenarkan oleh hati
5. Ada empat syarat sempurnanya
empat syarat syahnya
appeq marrusaq meloq diayappui
6. Muaq meloqi muissang
apponganna sahadaq pepatto moqo di sipaq duappulo
7. Ajappui tongang-tongang
i sipaq duappulo suraq bebastaq lambiq lao aheraq
- Iyya-iyyanamo tau Mappake suraq bebas iqdami tuqu marakkeq peparessa
- Muaq iqdao manini narua péparessa
| nyamang semata | maka segalanya nikmat | |
|---|---|---|
| mettama di suruga mettama di suruga | 10. Pabila nikmat semata | masuk ke dalam surga |
| apaq amao sanganna | tak terhingga rasanya | |
| 11. Atutui sitinjamu | 11. Telitilah ristijamu | |
| maniniq di junnuqmu | hati-hati mandi junubmu | |
| maccuci sitinjana | laksana dia | |
| junnuqmu sitinjamu | membersihkan junub dan istinjamu | |
| sigai tobaq diolo tang matemu | sebelum engkau mati |
Iyyannaq nyamang semata apiananna
dan empat juga yang membatalkan yang perlu difahamisedalam-dalamnya.Jika engkau ingin tahu asal usul pangkal syahadat hendaklah baca tentang sifat dua puluh
- Fahamilah sebaik-baiknya sifat yang dua puluh itu surat bebas kita sampai ke ahirat
- Siapa-siapa saja diantara kita yang mempunyai surat bebas maka tidaklah ia takut kepada pemeriksa
Kalau engkau kelak tak kena pemeriksaan
paccinna batang lambiq lao aheraqTo mapaccing dijuqnuqna alai rapang bulawang pura sappur
- Iyannaq muajappui Keqdeang toi Sambayang lima waktu
- Parri-parriqi sambayang di tang lappasna waktu
- Da mutattangi sambayang muaq sabaq linodi
masuk ke dalam surga kebahagiaannya
pembersih tubuh sampai ke akhirat
- Bagi yang bersih junubnya bersih juga istijanya emas yang sudah disepuh
- Pabila engkau paham sedalam-dalamnya maka tegakkanjuga sembahyan yang lima waktu
14.Bersegeralah sembahyang sebelum waktu berlalu dan cepat-cepatlah tobat
15.Janganlah lalaikan sembahyang kalau hanya sebab duniawi
boleh jadi engkau menduga musanga adi na satuo-tuomu akan hidup abadi
- Di kuqbur pao manini 16. Kelak nanti engkau dikubur matindc mesa-mesa akan tidur sendirian annaq polemo barulah datang. .passoso alabemu penyesalan dirimu
- Da musosoi batangmu 17. Janganlah engkau sesali dirimu
| iyamo ilalai capoq maturug | sadari saja lalai yang engkau turut | ||
|---|---|---|---|
| lutta musaolai | malas yang kau ikuti | ||
| 18. Nauang damai kuqbur | peao sakkao mai oroang kuqbur oroang kasi-kasi | 18. Kubur menyeru kemari (dunia) | datanglah selengkapnya pemukiman di kubur tempat yang begitu miskin |
| 19. Meqillong damaikuqbur | peao sakkao mai oroang kuqbur taqlalo mapattanna | 19. Kubur menyeru kemari (dunia) | pemukiman di kubur begitu gelapnya |
| 20. Meqillong damai kuqbur | dao mai pacapaq sapo di kuqbur andiang tidoanna bayang di kuğbur dao mai pacapaq litaq dipatindi ummoro di dunnia batang di lalang kuqbur unnaq salamaq | 20. Kubur menyeru kemari (dunia) 21. Kubur menyeru kemari (dunia) 22. Apakah yang harus dilakukan | jangan datang dengan kelalaian tak mempunyai tangga dan pintu rumah di kubur jangan datang dengan kelalaian rumah di kubur tanahlah tempat tidur selama tinggal di dunia diri di alam kubur |
| 23. Arioi bicaranna | Puang Alla Taqala Annaq salamaq batang di lalang kuqbur | 23. Patuhi firman-Nya | Allah Taala supaya selamat diri di alam kubur |
| 24. Atappaqi bicaranna | suro Alla Taqala | 24. Percaya sabdanya | Rasul allah Taala |
datanglah selengkapnya
- Meqilang damai kuqbur
- Apadi nanipogauq
supaya selamat
anna malagaSupaya lapang batang di lalang kuqbur diri di alam kubur
- muaq diang atonammu 25. Jika engkau berbatasan da leqbaq musekkoqi jangan menyeberang ke batas orang
| annaq malenggang batang di lalang kuqbur | supaya lapang diri di dalam kubur | |
|---|---|---|
| dao mangoa bega annaq malonggang | janganlahengkau loba supaya lapang | |
| batang di lalang kuqbur | diri di dalam kubur | |
| pamalappuqi lao | 27. jika engkau berbicara | berkata jujurlah |
| boyang di lalang kuqbur | rumah di dalam kubur itulah pintu | |
| 28. Tobakangngi siriate tattangngi valiq balla | 28. Tobatkanlah iri hati | tinggalkan kemunafikan |
| iya kasorna batang di lalang kuqbur | karena ituiah kasurnya diri di dalam kubur | |
| tattangi ceko-ceko langiq-langiqna | hindari kecurangan itulah langit-langit | |
| batang di lalang kuqbur | diri di dalam kubur | |
| tattangi puji ale | 30, Tinggalkan sifat takbur | tinggalkan rasa berbangga diri |
| kota ittanna batang di lalang kuqbur | 31. Berendahatilah selalu | itulah kota intan diri di dalam kubur tinggalkan berkata dusta |
| napepaq lokoq | itulah jati tirai hiasan |
- Muaq diang na mabure
- jika ada harta yang akan kau bagi
- Muaq diang mubicara baqbalanna
- Tianggalkan aniaya
Tobakangngi gauk bawang
30. Tobakangngikataqborang
Pakatunai alemu tattangngi loso-losong batang di lalang kuqbur
- Laku-lakui pattolong Tau nigauk bawang lipaq sabbena batang di lalang kuqbur
33. Pelipaqitemimbelang
pandei totambaqi ande raginna batang di lalang kuqbur
- Anauangi paqmaiq ituna kasi-asi pappenyamanna batang di lalang kuqbur
Sambayang annaq sulakka annaq lao mapia
diri di dalam kuburTolonglah selalu orang yang teraniaya itulah sarung suteranya diri di dalam kubur
- beri sarung orang yang telanjang beri makan orang yang lapar itulah komsumsi makanan diri di dalam kubur
- belas kasihanilah orang yang hina miskin itulah pemberi kenikmatan diri di dalam kubur
- Sembahyang dan sedekah dan tutur terpuji
iya haqdonna batang di lalang kuqbur
- Ingganna gauq mapia annaq karana Alla iyamo tuqu pebogang di akhirat
- fyannaq muayappui pura nipau-pau salamaq moqo ummoro di kuqburmu
- Iyannaq salamaq moqo ummoro di kuqburmu nyamang semata lambiq lãao aheraq
- Iyannaq nyamang semata lambiq lao aheraq apiananna apaqamo sangan
40. Ayappui tongang-tongang
rokong sappulo tallu sarunna batang lambiq lao akhirat
- Muaq meloqi muissang rokong sappulo tallu pepatto moqo di sipaq duappulo
- Mesa sipaq napsiah limai sallawiang pitu maqani jari sappulo tallu
- Jumallai nafsiah maqani sallawiang limai pole rokong sappulo tallu
- Appeq sipaq pole dindo appeq pole diama limai pole di puang mappancaji
Pasijumallai lao sipaq pole diama
itulah pengawal penjaga diri di dalam kubursegenap perbuatan baik dilakukan karena Allah maka itulah bekal ke akhirat
- Bila kamu telah paham sedalam-dalamnya apa yang telah dibicarakan maka engkau pun selamat tinggal di alam kubur
- pabila engkau telah selamat tinggal di alam kuburmu nikmat semata hidup di akhirat
- Bila sudah nikmat semata sampai ke akhirat kebaikannya tak terhingga rasanya
- Fahami sebenar-benarnya rukun tiga belas pengawal batang hidup di akhirat
41.jika engkau ingin tahu rukun tiga belas engkau bacalah sifat dua puluh - satu sifat nafsiah lima sifat salbiah tujuh ma'ani jadilah tiga belas
- Jumlahkan nafsiah ma'ani dan salbiah dan lima lagi rukun tiga belas
- Empat sifat dari ibu empat dari ayah dan lima lagi dari Allah yang menciptakan
- Jumlahkanlah itu sifat dari ayah
annaq menjari agar tercipta rukun tiga belas rokong sappulo tallu
- lyannaq muayappui 46. Bila engkau paham sedalam-dalamnya rokong sappulo tallu rukun tiga belas rapangmi tuqu ibarat engkau diang uluareqmu mempunyai saudara
| 47. Moaq meloqi muissang | tandana luluareq | 47. Kalau engkau mau tahu | ciri adanya saudara |
|---|---|---|---|
| pepatto moqo dibatang alebemu | dirimu sendiri | ||
| 48. Daqdua nababa ate | lima nababa lila annang di tubu | 48. Dua terpaut dikerjakan hati | dan enam pada tubuh |
| 49. Pasijumallai kassaq | taqayong tagarud anna menjari rokkong sappulo tallu | 49. Jumlahkan qashshad | agarmenjadi |
| 50. Iyannaq muayappui 52. Muaq keamaqmi lino | rokong sappulo tallu rapammi lopi sadia parebana sadia parebana marakkeq massobalang iqdami tuqu tibaluluq dunnia moppoq aheraq paqda lino muita paqda lino muita pole nasangmi | 50. pabila engkau faham sedalam-dalamnya 51. perahu mana saja 53. jika akherat telah muncul | rukun tiga belas ibarat perahu lengkap sedia peralatannya yang lengkap sedia peralatannya maka tidaklah ia takut berlayar dunia tergulung maka akhirat pun muncul dunia ini tak lagi kau lihat dunia tak kau lihat |
| 54. Mau sangapa paccalla | di batang alewata natopa toi | 54. Walau berapa banyaknya siksa | menimpa tubuh kita rukun tiga belas |
| 55. Iyannaq muatutui | 55. Bila engkau faham dan tekun melaksanakan |
engkau pandang telitilah
lima terpaut dikerjakan lidah jari sappulo tallu semuanya menjadi tiga belas ta'yun dan ta'rud rukun tiga belas
- Iya-iyannamo lopi
- Pabila alam kiamat
- Muaq moppoqi aheraq
maka semua pun datang paccalla di batataq siksaan bagi tubuh kita
semua akan sirna rokong sappulo tallu rokong sappulo tallu rukun tiga belas
salamaq moqo lambiq lao aharaq
56. Iyannaq salamaq moqo
lambiq lao akherat nyamang semata mettama di suruga
57.Ayappui tongang-tongang rokonna asallangang modalna batang lambiq lao aheraq
58. Moaq meloqi muissang rokonna asallangang pepattomoqo dikittaq Beajuri
59. Muag iddai muissang membaca beajuri pattuleq moqo lao ditopanrita
60. Iyannaq muayappui rokonna asallangang rapang to dagang narioi puanna
61. Iya-iyannamo tau sumaro dilambana tattumitau narioi puanna
62. Iya-iyannamo tau narioi puanna nyamang semata mettama di suruga
63. Iyannaq nyamanq semata mettama di suruga apiananna apaq amo sangana
64.Lima rokong asallangang appeq asukkuranna appeq marussaq meloq niayappui
65. Iyannaq muayappui rokonna asallangang
engkaupun selamat sampai ke akhirat
- Pabila engkau telah selamat sampai ke akhirat nikmat semata masuk ke dalam surga
- Fahami sebenar-benarnya rukun Islam itulah modal diri sampai ke akhirat
- Pabila engkau mau tahu rukun Islam bacalah sungguh Kitab Baejuri
- Pabila engkau tak tahu membaca kitab beajuri maka bertanyalah kepada alim ulama.
- Pabila engkau faham sedalam-dalamnya rukun Islam ibarat orang berdagang yang diridhai oleh Tuhannya
- Siapa saja orangnya yang beruntung dalam pengembaraannya pastila dia orang yang diridhai oleh Tuhannya
- Siapa saja orangnya yang diridhai oleh Tuhannya nikmat semata masuk ke dalam surga
- Bila nikmat semata masuk ke dalam surga kebaikannya tak terlukiskan
- Lima rukun Islam empat kesempurmaannya empat yang membatalkan hendaknya difahami sedalam-dalamnya
- Pabila engkau faham sedalam-dalamnya rukun Islam
ibarat perahu rapammi lopi
| pura tulaq barai | telah diberi tulaq bara | ||
|---|---|---|---|
| 66. Iya-iyannamo lopi | pura tulaq uarai iqdami tuqu malikaq nisobalang | 66. perahu mana saja | telah diberi tulaq bara tidaklah perahu itu oleng ketika dilayarkan |
| 67. Maingaq di sambayanna | matutu di sakkaqna rapangmi lopi diangmo rurunganna | 67. Selalu ingat pada sembahyangnya | teliti membayar zakatnya ia ibarat perahu sudah punya muatan |
| 68. Muaq purai mururang | rokonna asallangang rapang to dagang | rukun Islam ibarat perantau pedagang |
lawai dilambanna
- Ajappuitongang-tongang rokonna akannyangang sulona batang lambiq lao aheraq
- Muaq meloqi muissang rokonna akannyangang peppatto moqo di kittaq saraqassa
- Muaq iqdai muissang mambaca saraqassa pattuleq moqo lao ditopanrita
72. Arua ponnana tappaq
tatallu parallunna annang rokonna meloq niajappui
- Iyannaq muajappui rokonna akannyangang rapangmi lopi diangmo lanteranna
- Iya-iyanamo lopi sundallaq lanterana iqdami tuqu natanduq kappal apin
- Sangatus dappa sakkaqna leteang di akeraq napilletei
- Pabila engkautelah memuat (mengerjakan) beruntung besar dalam kembaraannya
- Fahami sedalam-dalamnya rukun iman itulah suluh bagi diri sampai ke aheraq
- Pabila engkau mau tahu rukun iman engkau lihat dan bacalah pada kitab syariat yang sah
- Pabila engkau tidak tahu membaca kitab syariat yang sah maka bertanyalah kepada para alim ulama
- Delapan pohon keimanan tiga penopang penting enam rukunnya yang harus difahami sedalam-dalamnya
- Pabila engkau faham sedalam-dalamnya rukun iman ibarat perahu sudah mempunyai lentera
- Perahu mana saja yang berlentera terang ben derang maka tidaklah ia akan ditabrak kapal api
- seratus depa lebarnya titian perjalanan di akherat tempat meniti
tosibolong tappaqna bagi orang yang teguh imannya
- Rapang beluaq sallambar
Bagai selembar rambut titian perjalanan di akherat
leteang di akeraq napilettei tempat meniti tosisaraq tappaqna bagi orang yang tak berimanDemikian sulit sukarnya
- Iya begamo parriqna
titian perjalanan di akherat leteang di akeraq ada tujuh kantor pitui kattor
| oroang peparessa | tempat pemeriksaan | ||
|---|---|---|---|
| annaq sala balinna ranaka nitappai Bemmeqi tau maccapa-capaq rokonna assalangang doraka di indona penduang pitu dibuang di ranaka | 78. Pabila kita diperiksa 79. Hai neraka,tunggilah 80. Siapa saja dia | dan salah menjawabnya maka kita pun terjatuh keneraka menadah orang yang suka membantah pada rukun islam tidak perduli durhaka kepada ibunya empat belas kali dibuang ke dalam neraka | |
| 81. Iya-iyanamo tau | madosa di amanna nasirappai ular di kuqbur pai | 81. Siapa saja dia | berdosa kepada bapaknya kelak nanti di alam kubur ia jadi rebutan ular |
| 82. Ranaka jagai mating | to tammadiang niqauk pabbali-bali dindo di amanna | 82. Hai neraka, tungguilah | sipembandel kepada ibu bapaknya durhaka |
| 83. Dosa di indo di ama | 83. Dosa kepada ibu dan bapak |
- Muaq niparessa tau
- Ranaka jagai mating topabaro-baroang
Iya-iyanamo tau
taqulle usuatang dangnganang bodi dosa di tau laengPepembaliqmaq di lino usosomi batangngu temmappogauq rokonna asallangang
Tennaq pendaqdua doqdo nabattangang kindoqmu namalamoqo
tak mampu kutanggung bertambah lagi dosa kepada orang lainKembalikanlah aku ke dunia aku sudah menyesal tidak melaksanakan rukun Islam
- Andaikan engkau dua kali di kandung oleh ibumu tentu engkau bisa
membaliq pendaqdua
86. Usosomi todiq batang ngu
pepebaliqmaq todiq
na mattobakang gauq pura lalou
87. Muaq malao membaliq
di areqna indomu malao tuqu membaliq pandaqdua
88. Ummarraq siola sangiq
aqadappangammaq todiq iqdai ulle sessa tammalawangang
89. Tobaq di lino di tia mala niaqdappangang
tobat akeraq iqdami nitarima
90. Polemi tang mubellinna
suro Alla Taqala tammakanynyamu paunna topanrita
91. Nileleangi suruga
andiang mattawari ranaka banggi musiluba-lubai
92. Iyannag muajappui suro Alla Tagala
tattumi tuqu mepanganro-nganroang
- Muaq tania nabitta Mappanganro-nganroang tattumi tau mettama di ranaka
- Sengali maninabitta Meppanganro-nganroang anna maqdappang Puang Alla Taqala
95. Arakkeqitongang-tongang
Puang Alla Taqala maqdappangai
kembali kedunia dua kali
- sungguh aku menyesali diri kasihan, kembalikanlah aku untuk bertobat pada apa-apa yang telah kuperbuat
- Kalau engkau dapat kembali ke dalam kandungan ibumu maka engkaupun bisa kembali kedunia dua kali
88. Maraung marintih bersama tangis
beri ampunlah aku aku tak mampu
disiksa tak henti-hentinya
- Hanya tobat di dunia yang bisa dimaafkan tobat di akhirat tidak berterima
90. Datang hasil kebandelammu
terhadap rasul Allah Taala dan kau tidak percaya kata-kata para ulama
91. Surga dijajakan kesana kemari
tidak ada yang menawar hanya neraka
yang kau berlomba perebutkan 92. Pabila engkau faham sedalam-dalamnya
siapa itu rasul allah Taala pastilah itu dia memohon ampun bagi kita
- Kalaulah bukan nabi kita yang memohonkan ampun tentu pastilah kita masuk ke dalam neraka
- Kecuali bila nabi kita yang memohonkan ampun barulah diampuni Allah Taala
- Takutlah sebenar takut Kepada Allah Taala semoga kita diampuni
anna meamasei dan dirahmatinya
- Teguh tekadkan dalam hati
- Sikkkarruangi di ate da mubata-batai
jangan diragukan
| akkuasanNa | kekuasaan-Nya | |
|---|---|---|
| Puang Alla Taqala | 97. Teguh tekadkan dalam hati | |
| da murangngaselai nabi Muhammad mepaqnganro-nganroang | jangan engkau bimbang ragukan Nabi Muhammad | |
| 98. Tomarakkeq di Puanna | 98. Bagi yang takut kepada Tuhannya | |
| Masiriq di nabitta suruga naoroi | 99. Pabila engkau memilih | serta malu kepada nabinya |
| suruga muoroi anynymanganna | surga yang akan kau tempati kenikmatannya | |
| apaq amo sangana | tak terlukiskan lagi |
Tuhan Allah Taala
- Sikkkarruangi di ate
yang memohon ampun untuk kita
diamemilih napemilei surga yang akan kau ditempatinya
- Iyannaq mupemilei
- Ajappui sareaqmu issangi tarekaqmu iya maqissang lawangan di akeraq
- Ala sambarei lino Aheraq peqoloi tattu akeraq orang situngguang
102. Tobaq memangoq di lino
diolo tammatemu iqdammunaung tanna ottongngi litaq
- Tallui saraqna tobaq napau saraqássa iyamo tuqu meloq diyappui
- Laku-lakui tobakang muaq diang salammu dapa diamundi músoso alabemu
- Duappuloi wajiqna nabali mustahele mesa harusna
- Fahami sedalam-dalamnya hukum agamamu dan ketahuilah tarikatmu dia yang mengetahui keadaan di akhirat
- amalkan urusan dunia sebagian pusatkan perhatian ke akhirat karena pastilah akhirat itu tempat kediaman abadi
- Tobatlah semasa di dunia sebelum engkau mati sebelum engkau tertindih tanah
- Tiga syaratnya untuk tobat menurut syariat yang sah itulah dia yang hendaknya difahami sedalam-dalamnya
- Tobatlah sungguh-sungguh tobat jika engkau menanggung dosa janganlah kelak dibelakang hari engkau menyesali dirimu
- Dua puluh sifat wajibnya bertentangan dengan yang mustahil satu yang harus
meloq niayappui hendaklah difahami sedalam dalamnya
| 106. Di lalang dua di kaca | membolong di alepuq | 106. Semasih aku di dalam kaca | membenam padu di dalam alif |
|---|---|---|---|
| Puang Alla Taqala | saling mengenal jelas Tuhan Allah Taala | ||
| 107. Tennaq dadi sipag pitu | makkeqdeq mallindui saemaq sita Puang Alla Taqala mekkeddaq arasia sipannasai tulungaq dikarrou tatarimammaq di perau-rauqu barakkaq salawaqu tatarimammaq | 107. Andai bukan sifat yang tujuh 109. Ya Tuhanku Allah Taala 110. Bismillah jadikanlah fatiha | tegak melindungi Tuhan Allah Taala saling mengenal jelas tegaklah rahasia Tuhan Allah Taala tolonglah aku dalam harapan mohon terimalah permohonanku berkah dari salawat kepada nabi permohonanku mohon terimalah |
| 111. Saeyyang borraqdi tia | tonanganna nabitta sita Alla Taqala naola dai | 111. Adalah kuda burak | kendaraan nabi kita dipakainya ke atas berjumpa dengan Allah Taala |
| 112. Apa daiq nalambai | sambayang lima waktu daiq maqala | 112. Apa gerangan maksudnya keatas | berjumpa dengan Alla Taqala sembahyang yang lima waktu ke atas menjemput |
sipennassal
sudah lama kuberjumpa
- Ditallanna sipaq pitu 108. Ketika lenyap sifat yang tujuh Puang Alla Taqala
- Puangngu Alla Taqala
Sumilla ala pateha di perau-rauqu
sita Alla Taqala
Iqdaq tia cappuq rannu 113. Sungguh aku tak putus harapan muaq di lino duaq pabila aku masih di dunia andiang tau tak ada manusia na sisaraq dalleqna yang akan berpisah dengan rezkinya
114.Diang dalle dalleq tongang114. Ada rezki sebenar rezki
andiang dalleq tomo tiada rezki adalah juga rezki andiangtomo tak ada lagi tala tanditarima semuanya kita terima
- Andiang tannitarima 115. Tiada yang tak diterima muaq iyamo pole kalau itulah yang datang parriq palakang andaipun kesulitan
| nibilang dalleq tomo | itu pun adalah rezki juga | |
|---|---|---|
| 116. Innamo nanioroi lino nipeqanganni | 116. Dimanalah kita bermukim | dunia yang diperpegangi |
| akeraqlao nipelarangang toi | 117. Cepatlah tegakkan salat | juga penuh larangan karena ke akhirat |
| di tallapasna waktu dapa dí mundi | sebelum lewatnya waktu janganlah kelak |
- Baleq lubai sambayang músoso alabemuengkau menyesali dirimu
- Kata-Kata Kunci Menelaah ke 117 bait kalindagdag tersebut diatas, didalamnya terdapat kata-kata/istilah-istilah berbagai hal yang berhubungan dengan kepercayaan Islam yang dianut dan hidup dalam pikiran etnis Mandar. Kata-Kata/istilah-istilah dimaksud ialah aherag "Akhirat " dan kugbur"kubur" masing-masing 19 kali, Puang Alla Tagala "Tuhan Allah yang Maha Agung" 12 kali, rokong sappulo tallu "rukun tiga belas" 10 kali, sambayang " sembayang" 7 kali, rokonna asallangang " rukun Islam" 6 kali, suruga" surga" 5 kali,sahadag " Syahadag " dan rnaka "neraka" masing-masing 4 kal, sipag duappulo "sifat dua puluh", sitinja "istinja", jugnug "junug", Muhammad/nabi Muhammag "Muhammad/nabiMuhammad" masing-masing 3 kali, salamag "selamat", kittag "kitab", topanrita 'ulama", dosa'dosa'masing-masing 2 kali, dan sareag 'syariat', lima wakttu lima waktu', tobag ' tobat' suro Alla Tagala' rasul Allah yang Maha Agung', sulakka'sedekah', keamag 'kiamat' sakka'zakat', tappag 'iman', doraka'durhaka',tarekag tarikat', alepuk'alif, sumilla'"bismillah', dan 'saeyyang borrag kuda burak masing-masing 1 kali.
- Kajian Isi dan Informasi Wujud Kebudayaan Hasil Karya Manusia.
4.1 Rukun Islam. Rukun Islam (dalam arti umum) diungkapkan secara langsung dan tidak langsung dalam balindagdag nomor 57,58,59,60,61,62,63,64,65,66,67,68,79,dan 84. Rukun Islam itu mengucapkan dua kalimat syahadat, menegakkan salat,berpuasa dibulan Ramadhan, naik haji bagi yang sanggup,dan mengeluarkan zakat.Siapa saja yang telah melaksanakan rukun islam ini sesuai kaidah-kaidahnyamaka yang bersangkutan akan selamat dan berbahagia di dunia dan diakhirat nanti.
4.2. Syahadat. Rukun Islam yang prtama ini diungkapkan dalam bait-bait kalindagdag nomor 3, 4, 5, 6. Intinya: diserukan/ditekankan supaya mengimani sedalam-dalamnya tentang keesaan Allah dan kerasulan/kenabian Muhammad, dianjurkan untuk memahami apa-apa saja yang merusak/membatalkan dan yang mendukung supaya syahadat itu berpungsi sebaik-baiknya, dan bahwa syahadat itu berangkat dari sifat yang dua puluh.
4.3 Sembahyang
Rukun Islam yang kedua ini diungkapkan dalam bait-bait kalindagdag nomor 13, 14, 15, 35, 67, 112, dan 117. Intinya : diserukan supaya sembahyang wajib(yang lima waktu itu: Subuh,Lohor, Asar,
Magrib, da Isya) ditegakkan, dilaksanakan sesuai waktu yang ditentukan, apapun harus ditinggalkan dan
bersegera menegakkan sembahyang apabila waktunya telah masuk, dan berita naiknya nabi Muhammad ke langit menerima sembahyang dari Allah.
4.4 Zakat rukun islam yang ke empart ini ,{ dan ajaran memberikan sedekah kepada orang miskin} di
ungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 67 (dan nomor 35). Intinya : supaya kita ( kaum muslimin)
berhati-hati(dan bersungguh-sungguh)menjalankan ibadahmengeluarkan sakat dan memberikan sedekah
ini.
4.5. Puasa dan Menunaikan Ibadah Haji
Rukun Islam yang ketiga dan kelima yaitu berpuasa di bulan ramadhan, dan ketanah suci Mekah menunaikan Ibadah Haji (bagi yang sanggup )tidak diungkapkan secara eksplisit daląm kalindaqdaq tersebut di atas. Tapi keduanya tersembunyi didalam bait nomor 1, 57,58,59,60,61,62,63,64,65,66,67,68,79,dan 84. Didalam kalindaqdaq itu diseruhkan supaya syariat termasuk rukun Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad hendaklah di ketahui, dan di pahami sedalam
- dalamnya. Dengan demikian di isyaratkan supaya semua rukun Islam dan Rukun Iman dipahami serta dilaksanakan sebaik-baiknya.
4. 6. Rukun Iman dan Iman
Rukun Iman (arti umum), dan Iman itu sendiri diungkapkan secara langsung dan tidak langsung dalam kalindaqdaq nomor 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75 dan 76. Dikatakan bahwa orang yang memahami Rukun Iman akan selamat di Akhirat melewati berbagai halangan. Secara simbolis digambarkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki pelita penerang menuju Akhirat, titian orang yang berpisah dengan imannya ibarat sebesar rambut besarnya, sedang orang tetap bersama imannya berjalan di atas jalan selebar 100 depa.
4.7. Iman kepada Allah Mempercayai adanya Allah Yang Maha Esa dan beriman kepada-Nya (mengikuti apa yang
diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya) diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor2, 23, 95 dan 96. Hanya dengan demikian manusia dapat " mengetahui seluk beluk di Akhirat kelak ", dan Allah akan mengampuni segala dosa yang diperbuatnya.
4.8. Iman kepada Rasul Allah
Mempercayai adanya Rasul dan beriman kepadanya (mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya) diungkapkan secara langsung dan tidak langsung dalam kalindaqdaq nomor 24, 90, 92, 93, 94, 97, 98 dan 99 supaya manusia " mempunyai tempat yang lapang didalam kubur kelak ", tidak akan menyesal di Akhirat, dan Rasul akan memohonkan ampun bagi manusia yang percaya itu. Dengan demikian, manusia tersebut akan selamat di Akhirat kelak.
4.9. Iman kepada Ketentuan Rejeki Mempercayai bahwa rejekitu telah ditentukan kadarnya oleh Allah SWT. Diungkapkan dalam
kalindaqdag nomor 113, 114 dan 115. Secara langsung menyiratkan ketentuan tentang ada atau tidak adnya rejeki yang diperoleh oleh seseorang.
4.10. Beristinja dan Mandi Junub Anjuran supaya seorang muslim beristinja (membersihkan dubur dan kemaluan sebelum berwudhu
)dan wajib mandi Junub kalau yang bersangkutan dalam keadaan kotor karena keluar mani atau bersetubuh, diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 11, 12 dan 13. Hanya dengan demikian terpenuhilah sebagian syarat supaya seseorang itu bersih dan kembali ke Akhirat dalam keadaan ibarat emas yang tak diragukan lagi.
4.11. Keadaan di Álam Kubur Sebagaimana keadaan di Alam kubur dan seruan supaya manusia membersihkan diri sebaik-baiknya
dan selengkap-lengkapnya sebelum " bertempat tinggal di Alam kubur ", diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24 dan 37. Dikatakan bahwa ketika seorang diri di Alamkubur, orang yang berdosa menyesal tidak mengikuti perintah Agama semasa hidup di dunia; secara simbolik digambarkan bahwa " rumah di kubur " itu gelap sekali, tidak mempunyai pintu, tidur beralaskan tanah, tidak ada tikar, semuanya bagi orang yang durhaka. Tapi bagi orang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya tidak akan mengalami penderitaan / kesulitan di Alam kubur.
4.12. Jangan Loba, Iri Hati, Munafik, Menganiaya, Curang, Takabur, Berbangga Diri dan
Berbohong. Anjuran kepada manusia supaya jangan bersifat loba, iri hati, munafik, menganiaya, berbuat curang, takabur, berbangga diri dan berbohong, diungkapkan berturut-turut dalam kalindaqdaq nomor 25, 26,28,29, 30 dan 31. Sebab dengan meninggalkan perbuatan/hal-hal buruk itu seseorang akanmemperoleh fasilitas dan keselamatan di Akhirat kelak.
- Berbicara Jujur, Rendah Hati, Menolong Orang yang Teraniaya, Bantu Orang
Miskin, Berbuat Baik. Anjuran kepada manusia supaya bersifat/melakukan perbuatan terpuji yaitu rendah hati, menolong orang yang teraniaya, dan membantu orang yang miskin/melarat diungkapakan dalam kalindaqdaq nomor 27, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38 dan 39. Dengan sifat-sifat demikian / melaksanakan apa yang dianjurkan tersebut maka manusia akan selamat sejahtera di Alam akhirat.
- Berbicara Jujur, Rendah Hati, Menolong Orang yang Teraniaya, Bantu Orang
yang telah memahami dan melaksanakan / menegakkan isi Sifat yang Tiga Belas itu, secara simbolis
digambarakan bahwa yang bersangkutan di Akhirat telah mempunyai saudara, ibarat perahu yang sudah
lengkap peralatannya siap berlayar tanpa rasa cemas/takut; yang bersangkutan akan selamat di Akhirat
nanti.4.15. Memahami Sifat Dua Puluh
Anjuran untuk memahami Sifat Dua Puluh Diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 7, 8, 9 dan 10.
Sifat Dua Puluh adalah sebagian dari sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah SWT, menurut kepercayaan
Agama Islam. Siapa saja yang telah memahaminya dengan sebaik-baiknya, maka yang bersangkutan akan
selamat di Akhirat nanti. Secara simbolis dikatakan bahwa yang bersangkutan itu telah memiliki surat
bebas dari pemeriksaan sampai yang bersangkutan masuk Surga.4. 16. Durhaka kepada Ibu dan Bapak
Nasihat supaya tidak durhaka kepada orang tua (Ibu dan Bapak ) dan balasan bagi yang tak mengindahkan nasihat itu diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 80, 81, 82 dan 83. Orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya kelak akan dibuang " Empat Belas kali "(dalam arti sangat banyak) ke dalam neraka, dan akan di terkam diperebutkan oleh banyak ular. Orang yang demikian sangat menyesal atas perbuatan dosa (durhaka kepada orang ) yang telah dilakukannya itu.- Menyesali Perbuatan dan Ingin Kembali ke Dunia. Orang yang menyesali perbuatan dosa-dosanya selama di dunia dan bermohon agar dikembalikan
ke dunia untuk bertobat, akan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah, secara langsung dan tidak langsung dalam kalindaqdaq nomor 84, 85, 86, 87,88 dan 89. Tapi permohonannya yangdisampaikan dengan " penuh isak tangis " itu tidak bisa dikabulkan karena " ia tidak dikandung dua kali oleh Ibunya ", hanya tobat di dunia yang bisa diterima, sedang tobat di Akhirat tidak diterima oeh Allah SWT. 4.18. Tobat
- Menyesali Perbuatan dan Ingin Kembali ke Dunia. Orang yang menyesali perbuatan dosa-dosanya selama di dunia dan bermohon agar dikembalikan
Bertobat itu hanya bisa dilaksanakan selama hidup di dunia. Tentang tobat diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 89, 102, 103 dan 104. Bagi yang berdosa bertobatlah bersungguh-sungguh di dunia ini supaya kelak di Akhirat tidak menyesali diri ( yang tidak ada gunanya lagi).
4.19. " Melihat dan Berpadu " dengan Tuhan "Melihat dan Berpadu " dengan Tuhan Yang Maha Agung diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor
106, 107, 108. Hal gaib yang penuh rahasia itu telah berlangsung ketika yang bersangkutan (manusia) masih berada didalam " kaca " dan berpadu dalam kandungan " alif". Tapi pada bait lain dikatakan juga bahwa andaikata bukan karena " sifat yang tujuh dari manusia ", maka ia sudah akan lama bertemu saling mengenali sejelas-jelasnya dengan Allah SWT. Dan ketika " sifat yang tujuh " dari manusia itu lenyap, maka iapun dalm kerahasiaan bertemu dengan Allah sejelas-jelasnya.
4.20. Permohonan kepada Allah
Manusia sebagai makhluk lemah dibawah kekuasaan Allah selalu memohonkan pertolongan kepada-Nya. Hal itu diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 109, 110.
4.21. Kuda Burak Kendaraan Nabi Muhammad Pada waktu Nabi Muhammad berangkat ke langit menemui Allah untuk menerima perintah
sembahyang wajib dari Allah, ia " mengendarai " apa yang disebut Burak. Hal itu diungkapkan dalam kalindaqdaq111.
4.22. Kiamat Secara sederhana langsung dinyatakan bahwa apabila dunia ini telah digulung maka kiamatpun
terjadi, Akhirat muncul dan dunia ini lenyap. Pada saat itulah siksaan mulai dirasakan ( bagi yang berdosa). Hal tersebut diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 52 dan 53.
- Menampik Surga / Kebaikan memburu Neraka Manusia menampik Surga (maksudnya perbuatan baik, menuruti perintah Allah dan Rasul-Nya),
dan berlomba-lomba masuk neraka (maksudnya melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya ), diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 91.
- Menampik Surga / Kebaikan memburu Neraka Manusia menampik Surga (maksudnya perbuatan baik, menuruti perintah Allah dan Rasul-Nya),
4.24. Seimbangkan antara Dunia dan Akhirat Memperhatikan dan mencintai dunia haruslah diseimbangkan dengan kecintaan kepada Akhirat.
Hal itu diungkapkan dalam kalindaqdaq nomor 101. Ditekankan bahwa akhirat adalah tempat yang sesungguhnya, tempat yang abadi.
4.25. Lain-lain Lain-lain pokok persoalan diungkapkan dam kalindaqdaq nomor 44, 77,78, 105 dan 116. Berturut-
turut berisi ajaran bahwa ada empat sifat yang berasal dari Ibu, empat dari Bapak, dan lima dari Allah; tentang kesulitan perjalanan dan pemeriksaan di Akhirat; terjatuh kedalam neraka ketika manusia salah menjawab pertanyaan dari pemeriksa; ada dua puluh sifat wajib bertentangan dengan yang mustahil, satu sifat harus, kesemuanya hendaklah diketahui; dan pernyataan betapa sukarnya keadaan di dunia, karena di dunia sulit, di akhirat juga penuh dengan halangan.
4.26. Informasi Wujud Kebudayan Hasil Karya Manusia Dari kalindaqdaq-kalindaqdaq yang dikaji ditemukan kata-kata ynag menunjukkan wujud
kebudayaan hasil karya manusia /dipakai pendukung kalindaqdaq tersebut. Kata-kata itu adalah lopi perahu', sulo 'suluh', lantera'lentera', kappal api, 'kapal laut', leteang,'titian', kattor, 'kotor', lipaq saqbe, 'sarung sutra', tidoang, ' pintu' dan tappere,'tikar'. Ada dua wujud kebudayaan karya manusia dalam kalindaqdaq-kalindaqdaq yang dikaji ini yang merupakan ciri khas dari kebudayaan Mandar, yaitu perahu dan sarung sutra. Perahu, sesuai geografi dan kondisi alam di wilayah Mandar yang bagian baratnya merupakan pantai /laut yang membentang dari Binung Kabupaten Polewali Mamasa, melewati sepanjang pantai/ laut. Kabupaten Majene sampai ke ujung utara Kabupaten Mamuju, maka masyarakat pantai di daerah ini sejak dahulu menghasilkan karya budaya yaitu perahu. Perahu yang menjadi alat transportasi laut dari pantai ke pantai dan dari pulau ke pulau oleh penduduk / rakyat Mandar. Penduduk /rakyat Mandar sejak dahulu terkenal sebagai pelaut ulung yang mengarungi lautan / samudera di bumi Nusantara sampai ke luar Negeri. Salah satu jenis/tipe perahu tradisional Mandar yang khas diproduksi oleh orang Mandar
sendiri ialah jenis perahu Sandeq. Jenis perahu ini yang menjadi lambang daerah Kabupaten Majene Propinsi Sulawesi-Selatan (perahu Sandeq asli bukan miniatur) itu juga yang menjadi mascot pameran Bahari dari pulau ke pulau tingkat dunia di Museum Nasional Perancis yang berlangsung selama sepuluh bulan (1997-1998 ). Jenis Sandeq yang menjadi pilihan pertama sebagai mascot pameran hasil seleksi penyelenggara pameran di antara sekian jenis perahu tradisional di seluruh dunia. Pameran tersebut telah disaksikan oleh sekitar sepuluh juta pengunjung. Peristiwa ini telah diberitakan oleh harian-harian yang terbit di Ujung Pandang. Penulis simpan Kliping berita dimaksud. Tentang Sandeq perahu tradisional Mandar ini penulis telah mengulasnya dalam terbitan " BOSARA " beberapa waktu lalu). Sarung Sutera. Sarung Sutera merupakan hasil karya kerajinan tradisional wanita Mandar sejak dahulu. Sampai sekarang sarung sytera masih diproduksi di daerah ini. Industri rumah tangga itu dapat dijumpai di kampung-kampung /desa-desa Lambeg, Karama, Balanipa, Tammangngalle, Galung, Sabang Subik, Pambusuan, Bala, Camba-camba, Palece, Lembang-lembang dan sejumlah tempat lainnya. Bahan baku sutera yang digunakan memproduksi sarung sutera asli tersebut sebagian didatangkan dari luar daerah/negeri (hasil impor) dan sebagiannya lagi berasal dari Kabupaten Soppeng, Kabupaten Gowa, dan dari Kabupaten Polewali Mamasa (semuanya dalam wilayah Propinsi Sulawesi-Selatan. Kampung Pallis, Desa Tammangngalle, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polmas sudahpuluhan tahhun memproduksi sutera asli. Usaha produksi sutera alam tersebut dirintis dan dikembangnkan sampai menjadi salah satu mata pencaharian petani di Kampung Pallis oleh Alimuddin Gani ( kini pensiunan guru/mantan Kepala SD Negeri Pallis ). Pemasaran Lipaq Saqbe Mandar (sarung sutera Mandar ) tidak hanya di pulau Sulawesi tetapi juga ke pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sejak dahulu sarung sutera Mandar telah sampaike daerah Minangkabau. Para Datuk di sana rata-rata memiliki sarung sutera yang berasal dari daerah Mandar (tapi di Minangkabau, dahulu dikenal dengan nama Sarung Bugis ). Setiap kali ada upacara adat, maka sarung sutera Mandar dipakai oleh para bangsawan di Minangkabau.
- Penutup Demikianlah kajian awal penulis terhadap 117 bait kalindaqdaq bertema keagamaan yang berasal
dari naskah tua / lontara Mandar dari daerah Pamboang, Kabupaten Majene Propinsi Sulawesi-Selatan.
Daftar Pustaka
- Koentjaraningrat. 1983. Kebudayaan Mentalis dan Pembangunan, Jakarta, PT. Gramedia
- Yasli, Suradi dkk, 1984/1985. Inventarisasi, Transkripsi, Penerjemahan dan Penulisan LatarBelakang
Isi Naskah Kuno / Lontar Mandar Daerah Sulawesi -Selatan, Depdibud, Proyek Inventarisasi Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Dirjen Kebudayaan, Depdikbud.
ASAL USUL NAMA DAN RINGKASAN ISI NASKAH LONTARA PATTAPPINGANG MANDAR DAN KAJIAN ATASNYA
(1)
Oleh: Suradi Yasil
1. Pengantar
Di Sulawesi Selatan terdapat empat suku bangsa yaitu suku bangsa Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Tiga di antara suku-suku bangsa tersebut mempunyai peninggalan naskah tuayang disebut lontara, yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan dan informasi lainnya tentang masa lampau. Dalam kajian ini akan dikaji salah satu lontara Mandar yang oleh pemilik tempat lontara itu ditemukan disebut Lontara Pattappingang. Mengapa disebut Lontara Pattapingang?.Pattapingang artinya perbatasan. Di dalám lontara ini ada uraian tentang batas-batas dan penetapan batas-batas di wilayah kekuasaan para raja/penguasa setempat di dalam lingkungan tertentu di Mandar. Ketika orang- orang Mandar ingin mengetahui batas-batas tersebut lalu merujuk kepada lontara tersebut, maka akhirnya lontarak itu dikenal oleh penduduk di Pamboang dengan sebutan Lontara Pattapingang.
2.Keadaan dan Asal Naskah
Naskah sumber yang dipakai mengadakan kajian ini ialah naskah yang telah ditranskripsi kedalam ejaan Latin dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Drs. Suradi Yasil dkk. Trankripsi atau alih aksara dari lontara yang telah ditemukan di Pamboang Kabupaten Majene Provinsi Sulawesí Selatan. Keadaan naskah aslinya masih bagus dan jelas terbaca.
3.Bahasa dan Tulisan Naskah
Bahasa yang digunakan dalam naskah ialah bahasa Mandar (sebagianbesar), Bugis dan bahasa Arab, sejumlah baris di beberapa halaman menggunakan bahasa Makassar, sebaris dua menggunakan bahasa Indonesia. Naskah ditulis dengan menggunakan alat yang disebutkalla dengan memakai tinta yang berwarna hitam. Aksaranya ialah aksara lontara yang dikenal juga dengan nama aksara Bugis Makassar. Pada beberapa tempat dalam naskah ditemukan aksara Arab yang digunakan menulis ayat-ayat suci AlQuran dan Hadis serta beberapa nama dan kata Arab.
- Isi Lontara Pattappingang
Naskah kuno Pattappingang berisi hal-hal sebagai berikut: (1) Asal mula dan silsilah keturunan kelompok manusia dari Toraja dan persebarannya, (2) Todilaling kembali ke Napo Mandar,
(3) Tomepayung, (4), Tonijalloq, (5) Daetta, (6) Todigayang, (7) Todiboseang (8) Tomatindo di Burio,
(9) Tolambussuq, (10) Tomatindo di Busu, (11) Tomatindo di Langgana, (12) Tomatindo di Marica, (13) Permusyawaratan Raja Balanipa Mandar dengan Raja Bone, (14) Mula adanya Pabbicara diKerajaan Pamboang, (15) Perkawinan Tonisora dengan Tawulanjuwung, (16) Tonisaro Menjadi Raja Pamboang,(17) Ipakolaq Membunuh Raja Pamboang, (18) Isalarang Idaeang Mallari tomatindo di agamana, (19) Idaeng Mallawa terbunuh, (20) Silsilah keturunan Hadat di Pamboang Tomatindo di Agamana dan, (21) Keturunan (silsilah) Tonisesseq di Tingalor, (22) Pertemuan Raja Balanipa, Sendana, dan Pamboang, (23) Jimat Bucicit, (24) Penguatan Persekutuan Tujuh kerajaan di Temmajarra, (25) Beberapa Aturan (adat), (26) Pembangunan Mesjid Pada Awal Masuknya Islam di Pamboang, (27) Puanna Idaqi menjadi Pabbicara Kaiyyang di Pamboang, (28) Perjanjian di Lanrisang, (29) Perjanjian Salemo, (30) Silsilah Imawara-Idaeng Manyepa, (31) Kisah Amanna I Kalima. (32) Pesan Leluhur, (33) Pertenntangan antara Daeng Palalo dan Daeng Masseleq, (34) Raja Balanipa Menyerang dan Mengalahkan Kamande, (35) Daetta Alu dan Taramanuq Bertemu, (36) Perang Sepang, Batas Daerah dan Aturan di Perbatasan, (37)Peraturan (bassiq di Pamboang, (38) Nasihat-Nasihat, (39) Tata Cara Menghadap/Mengabdi Kepada Raja, (40) Aturan Yang Berhubungan Dengan Budak di Pamboang, (41) Kisah Nabi Dicukur, (42) Mantra bagi Orang Sakit, (43) Azimat Untuk Merukunkan Kembali Rumah Tangga yang pecah (44) Dialog Nabi Muhammad dengan Tuhan, (45) Nasihat Nabi Muhammad kepada Puterinya Fatima, (46) Kisah Wafatnya Nabi Muhammad, (47) Asal Usul Keturunan I Puang di Salewang, (48) Asal-Usul keturunan I Puang Masinang, (49) Menetapkan perbatasan wilayah kekuasaan Pamboang, Banggae, Balanipa, dan Sendana, (50) Manfaat (jadi obat) burung belatuk, (51) Kisah Tawaddud, (52) Mantra pemanggil/penguat semangat, (53) Kisah hidup neneq Roppoq yang datang ke Pamboang, (54) Silsilah Imappanganro (I Daeng Sijarra) Raja Pamboang, (55) Tanda/Ramalan Cuaca, (56) Riwayat I Daeng Sirua dan Daeng Palulung dan Keturunan Keduanya, (57) Ilmu Tentang Iklim Cuaca Selama Satu Tahun, (58) Penjelasan Tentang Gempa, (59), 60, tentang gerhana, (61) Yang menghidupkan dan Memudarkan Kerajaan, (62) Karaeng Labbakang ke Pamboang dan Keturunannya Ke sana, (63) Catatan Pribadi Penulis Lontara, (64) Sekilas Tentang Nabi Muhammad, (65) Kisah Fatimasang, (66) Syair dan Lagu I Sagala (Puisi Agama).
4.1. Asal Mula dan Silsilah Keturunan Kelompok Manusia di Toraja dan Pesebarannya Dikatakan bahwa manusia pertama kali muncul di Ulu Saqdang yang disebut Tonipanung di Langiq (Orang yang Diturunkan dari Langit). Dia yang kawin dan memperisterikan wanita yang disebut Tokombong Dibura (Orang yang Muncul di Atas Busa Air). Keduanya melahirkan anak yang bernama Towanua Pong. Towanua Pong kawin dengan I Londoq Beluaq. Towanua Poang bersaudara dengan Ilaso Kepang, Ilando Guttu, Usuq Sambabang (tinggal di Karananangang), Topaqdorang (memperisterikan I Ratibia dan melahirkan Tasuidi). Tasuidi memperanakkan Sibanangang (ke Mamasa dan Massupuq). I Pongkapadang (tinggal di Mabuliling) Adiknya Pongkapadang bernama To Palu (Yang memperisterikan I Sanrabone). I Sanrabone dikawini To Pole di Makka (melahirkan anak yang bernama Tawelorate). Towelarate memperanakkan Tometeqeng Bassi (Orang yang Bertongkat Besi). Tometeqen Bassi memperanakkan Tomateqeng I Daeng Lumalle yang beranak dua belas orang ? Pen). Kesebelas anaknya itu berturut-turut ialah (1) I Daeng Tomanang (tiba/tinggal?) di Pequrangang, (2) I Lamber Susu, (3) I Daeng Manganak, (4) I Sabalima (tiba di Tabang), (5) I Pullao (tiba di Ulu neneknya Tobala), (6) Taudari (tiba di Mamuju), (7) Daeng Palulung (tiba dan tinggal di Sendana), (8) Tonipikuq (tiba di Malaqbu), (9)
Talaqbinna (tiba diMambu, dialah neneknya Tonipadangaq), (10) Tomeppaniqbulu (tiba di Botinglangiq), dan (11) Tupalli. Tupalli itulah memperankan Towittoeng. Towittoeng meimperanakkan Taurra-urra. Taurra-urra kawin dengan orang dari Lemo dan melahirkan anak yang bernama Weapas. I Weapas diperisterikan oleh Puang di Gandang. Dari perkawinan itu lahir Tonilaling (dikenal sebagai Raja Balanipa yang pertama).
4.2. Tonilaling Kembali ke Napo Mandar Tonilaling lama tinggal di Gowa. Ia kawin dengan putri Raja Gowa. Dari perkawinan itu melahirkan empat orang anak. Tonilaling ikut berperang melawan musuh-musuh kerajaan Gowa. Pada waktu itu orang/penduduk di Napo di bawah penindasan Raja Lenggo, Raja Passokorang, Raja Titting, Raja Lomboq dan Raja Sajoang. Maka bermusyawaralah para bangsawan Napo lalu mengirim utusan ke Gowa menjemput Tonilaling, supaya Tonilaling memimpin mereka melawan Raja Lenggo. Adapun oleh-oleh yang di bawa Tonilaling ke Napo sebagai hadiah dari Raja Gowa ialah dua buah gong yang bernama Tagbilowe dan I Katapang, dan I Naga (tombok). Semua raja yang menindas orang Napo diserang dan dikalahkannya.
4.3. Tomepayung
Raja Balanipa yang kedua ini, putera Tonilaling (Raja Balanipa yang pertama) melebarkan sayap dan membesarkan Balanipa. Dialah yang memperkenalkan ungkapan sumpah : Dao pacinna di kaiyyang, Paliliq, Iqda toag yau namacinna dimagdese-deseang. Mesa tappakira-kira, mesa tappa belai. Iyyaiyanámo tau mappelei pura loana, diongani balimbunganna dibaoan arrianna. Madondong duangbongi annaq diang parriqna Balanipa, magqgannadi anna itaq sirannuang. Nauamo to Paliliq, Muaq inda bandaq nabeor bose, naessaq galagang, nawitting laya maumi naiganna, muaq melalang pottana bandi. Apa daga anna dibabai malela mammusug. Ia topa pura laona. madondong duangbongi annag diang talloq maririnna Balanipa messuluq di roppong uwe meppiring di balimbing, tanggarug tallulur tang mammar tang mangapa tuomi tang mate, mapiami tang kadaeq. Sangnga iyya damo tia da mupandeiang roppong pelangomu da mupadunduang uai malimmu, Gauqnamo balimbing napo, peqitannamo uwe napeqitang. Anna muag mupandedi pelangona mupadundui wai maling macinna toqo di kaiyyangnga pakkira-kira togo di Balanipa, Iyyamo tuqu ullallasani pura lona. (Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih : Janganlah engkau menginginkan kebesaran, Paliliq, saya juga tidak akan menginginkan ketidakbesaran. Yang satu tidak berniat buruk, yang satu tidak menceraikan/menjauhi. Siapa-siapa diantara kita yang meninggalkan/melanggar janji sumpahnya, dibalikkan bubungannya, dibalikkan tiangnya, Besok lusa Balanipa mengalami kesulitan, kita yang saling membantu dan saling mengharap. Berkatalah orang Paliliq, asalkan kami tidak terpukul dayung dijepit galagang tertarik layar, biarlah cukup sekian, asal kami berjalan melangkah di dataran. Demikian maka malela (nama sejenis keris, SY) masuk arena pertempuran/ peperangan. Dan juga sumpah yang telah diucapkan, besok lusa ada keluarga bangsawan dari kerajaan Balanipa menyeruak hutan rotan dan berlindung di akar kayu dalam daerahmu, selamatlah ia tak lecek tak bengkak, tak memar dan tak apa-apa, hidup baiklah ia tak bersentuh keburukan apapun. Cuma saja jangan beri makanan beracun dan minuman yang keruh. Akan hal tata gaul dan adat istiadat, ia harus memakai tata gaul hutan rotan dan adat istiadat akar kayu. Tapi kalau engkau memberinya makan dengan racun, engkau memberinya minum dengan air keruh, demikian pula engkau
menginginkan kebesaran dan bermniat jahat kepada Kerajaan Balanipa, maka dialah itu yang melepaskan atau melanggar sumpah yang telah diucapkannya). Raja Tomepayung juga yang mendatangi dan menghajar Kerajaan Passaokorang raja yang berlaku sewenang-wenang terhadap kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
4.4. Tonijalloq,
Raja Balanipa yang ke-3 menggatikan Tomepayung. Dia yang menyatakan dimana api menyala (maksudnya dimana sengketa timbul), disitu juga padam(maksudnya di tempat itu juga diputuskan dan diselesaikan).
4.5.Daetta Daettamenggantikan Tonijalloq mendudukitahta di kerajaan Balanipa. Daettamenjadi raja Balanipa yang ke-4. Tidak lama sesudah ia dilantik menjadi raja, berkumpul dan bermusyawarah kembalikerajaan- kerajaan di Pitu Baqbana Binanga, saling menguatkan janji yang telah diikrarkan sejak pemerintahan Tomapayung. Di bawah pemerintahannya, raja Pedang di serang dan dihancurkan oleh gabungan kerajaan-kerajaan di Pitu Baqbana Binanga, karena Raja Sendana dipermalukan oleh Raja Podang yang bergelar Tomettanduk (Orang Yang Bertanduk). Daetta juga menyerang sayoang. Daetta jugamengadakanperjanjian dengan kerajaan Taramanuq. Bahwa Balanipa tidak akan menganggu kedaulatan Taramanuq. Pada masa pemerintahan Daetta agama Islam masuk ke kerajaan Balanipa yang diterima baik oleh kerajaanBalanipa. Agama Islam itu dibawa oleh I Tuang di Benuang alias To Salamaq di Binuang. Shalat Jum'atdan zakat fitrah diterapkan di kerajaan Balanipa. Dengan restu Daetta, santri yang 40 orang banyaknya (murid Tuanta Salamaq di Benuang) yang disebut Mokikng memperoleh fasilitas dan perlakuan khusus/istimewa dalam kerajaan. Mereka dalam lontar ini dinyatakan tannaimbui anging tannaruai allo, tandi pamangngi, tammepamanangngi, tang namepasusui, tang maqjagai, tang mandengnge-dengngeqi tang mandudungi, tang mambullei, apaq anaqna Tuatta assituruanna Daetta. (Terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang lebih : Tidak kena hembusan angin tak tertimpa sinar matahari, tidak dijadikan hamba sahaya, tidak menyusukan, tidak diberi tugas menjaga keamanan, tidak memikul, tidak menjunjung, sebab mereka adalah anak atau murid Tuatta Tosalamaq di Benuang dengan persetujuan Daetta). Di bawah pemerintahan Daetta, pengaruh agama Islam dinyatakan bahwa aturan/adat di bawah bimbingan khotbah (dakwah), bersandar pada kekuatan tongkat kadi, dan mendalami ajaran tasauf. (selalu mengucapkan puji-pujian kepada Allah).
4.6. Todigayang Todigayang (Orang yang Ditikam) menggantikan Daetta menjadi Raja Balanipa. Kerajaan-kerajaan yang bergabung dalam Pitu Baqbana Binanga kembali berkumpul menegakkan ikrar persatuan dan persaudaraan. Šesudah para raja di Pitu Baqbana Binanga tersebut mengadakan musyawarah dan kembali ke kerajaan masing-masing, saudara Todigayang mendatangi raja Balanipa itu dan menikamnya sampai tewas. Itulah sebabnya ia bergelar Todigayang.
4.7. Todiboseang Todiboseang menggantikan Todigayang menjadi raja Balanipa. Di bawahpemerintahannya kerajaan Balanipa bertambah kuat. Dia membangun pasukan pekerja menebas hutan sebanyak 80 orang, pasukan penyumpit 100 orang, dan pasukan penyerang 80 orang. Ia membangun istana yang besar terdiri dari
63.
tujuh petak, tiga buah panggung kehormatan di depannya, pandai emas di arah pelaminan, pandai besi di arah serambi, pelarut dan penempa logam, pelukis dan pengukir kayu di bagian belakang istana. Raja inilah yang memerangi Kerajaan Kaili. Ia pergi berperang dengan menaiki perahunya Itandijoqjoq. Ia meninggal dunia da!am perjalanannya itu dan dibawah pulang dengan perahunya yang didayung, dan sejak itu ia bergelar Todiboseang (Orang yang Didayungkan)
4.8.Tomatindo di Burio Tomatindo di Burio menggantikan Todiboseang menjadi raja Balanipa. Ia adiknya Todiboseang. Ia tidak lama memerintah. Ia dimaksulkan dan mati dibunuh, karena ia tídak menepati apa yang telah diikrarkan dalam persekutuan Pitu Baqbana Binanga.
4.9. Tolambusuq Raja Balanipa ini memerintah hanya 2 tahun. Ia dibenci para bangsawan dan raja-raja disekitar kerajaan Balanipa karena ia memerintah dengan mempraktikkan penyelesaian perkara dengan cara main bunuh.
4.10. Tomatindo Di Buttu Tomatindo di Buttu bergelar juga Todiparaq di Galesong atau Todipossoq di Galesong. Dalam perang Gowa-Bone Toamtindo di Buttu membantu Raja Gowa. Raja Balanipa ini mati dalam peperangan ini Gowa-Bone tersebut.
4.11.Tomatindo di Langgana Dalam pemerintahan Raja Balanipa ini ia mengatakan kepada anggota persekutuan Pitu Baqbana Binanga bahwa jika ada tiga anggota bersekutu berselisih maka empat anggota lainnya yang ada memperbaiki/mendamaikan. Jika empat anggota berselisih maka tiga anggota lainnya memperbaiki/ mendamaikan. Terjadi perang antara Balanipa dengan Bone ketika Tomatindo di Langgana memerintah. Dalam perang inilah sosok Daeng Riosoq Tomatindo di Marica dari kerajaan Balanipa memperlihatkan kwalitasnya sebagai ksatria yang hebat. la berhasil mempertahankan kerajaan Balanipa dari serangan musuh.
4.12. Tomatindo di Marica Tomatindo di Marica dikenal juga dengan nama Daeng Riosoq. Ia menggantikan Tomatindo di Langganna menjadi raja Balanipa. Ia mengadakan musyawarah/perjanjian dengan Raja Bone.
4.13. Permusyawaratan Raja Balanipa dengan Raja Bone Isi/inti permusyawaratan atau pembicaraan antara raja Balanipa dan raja Bone ialah bahwa Balanipa Mandar dengan Bone itu bersaudara. Diantara keduanya saling menghormati kedaulatan, masing-masing memakai hukum/adat sendiri, tidak akan saling menganggu, dan tidak akan mengingkari perjanjian ini. Permusyawaratan itu terjadi di Lanrisang.
4.14. Mula Adanya Pabbicara di Kerajaan Pamboang Paqbicara (satu jabatan hadat) di Pamboang mula-mula dipegang orang dari Passokkorang. Orang itu pada awalnya datang di Kayu Paqdis di daerah Pallarangang. Orang itu bemama Tomellu-melluangang. Keturunan Tomellu-melluangang itulah yang menjadi paqbicara di Pamboang.
4.15. Perkawinan Tonisora dengan Tawulanjuwung
Tonisora yang akhirnya diangkat oleh hadat Pamboang menjadi Raja Pamboang, padahalia berasal dari bangsawan di Puttanoeq Sendana kawin dengan Tawulangjuwung (puteri Raja Puttanoeq).
4.16. Tonisora menjadi Raja Pamboang Tonisora-yang menantu raja Puttanoeq Sendana itu pergi berburu rusa dan babi. Dalam perburuan mereka berjumpa dengan orang Pamboang yang lagi bertukang. Ketika mereka (orang-orang Pamboang bersama hadatnya) makan bersama dengan Tonisora dan memperhatikan bahwa Tonisora berbudi baik dan berperilaku hati-hati. Setelah hadat Pamboang mengetahui asal-usul Tonisora, merekameminta supaya Tonisora berkenaan menjadi Raja Pamboang. Orang-orang Pamboang sementara tidak mempunyai raja. Raja sudah dipecat dan belum ada penggantinya. Tapi Tonisora tidak dengan sendirinya bisa menjadi raja Pamboang karena ia harus mendapat restu dari raja sendana (karena Raja Sendana telah memelihara Tonisora dan mengangkatnya menjadi anaknya). Akhirnya Tonisora menjadi Raja Pamboang
4.17. Ipakkola membunuh Raja Pamboang Ipakkola ini adalah suruhan Raja Mosso (saudara/kakak Raja Pamboang sendiri). Raja Mosso menjadi sakit hati karena pada suatu acara resmi kerajaan di Sendana, tempat duduk raja Pamboang lebih mulia/tinggi dibandingkan tempat duduk Raja Mosso. Raja Pamboang diperlakukan demikian karena kerajaan Pamboang itu adalah anggota Persekutuan Pitu Baqbana Binanga, artinya kerajaan Pamboang itu adalah kerajaan besar di Mandar, sementara kerajaan Mosso itu hanyalah bagian dari kerajaan Sendana yang artinya hanya sebuah kerajaan kecil. Pada mulanya raja Mosso berupaya menjatuhkan Raja Pamboang dari tahtanya. Upaya itu tidak berhasil karena rakyat Pamboang sayang dan setia kepada Rajanya. Lalu ia pergi minta bantuan Raja Balanipa. Dengan tipu muslihat akhirnya Ipakkola bisa menyusup ke istana raja Pamboang. Pada suatu kesempatan Ipakkola menikam Raja Pamboang sampai mati. Setelah hadat bersidang, diambil kesepakatan untuk menjemput Raja Mosso yang akan dinobatkan menjadi raja Pamboang menggantikan adiknya yang telah mati tu.
4.18. Isalarang Daeng Mallari Tomatindo di Agamana Tomatindo di Agamana inilah Raja Pamboang yang pertama menerima agama Islam yang datang di bawa oleh Sayyid Zakariah bergelar I Puang Disoba. Semua orang Pamboang memeluk agama Islam
4.19. Idaeng Mallawa Terbunuh Idaeng Mallawa, setelah membunuh Idaeng Mamata (Panglima Perang Kerajaan Pamboang merangkap raja Pallarangang) di mesjid karena dendam, ia melarikan diri ke Gowa bersama para pengawalnya. Tiga tahun kemudian ia kembali. Lalu raja Pamboang Tomatindo di Agamana memerintahkan hadat Pamboang untuk menangkap dan membunuh I Daeng Mallawa dengan jalan menjerat lehernya. Ia tidak boleh dibunuh dengan besi, demikian titah raja.
4.20. Silsilah Keturunan Tomatindo Diagamana Tomatindo di Agamana Raja Pamboang ini kawin beberapa kali.Ia kawin dengan seseorang yang kadar kebangsawananya setengah, melahirkan anak yang bernama I Patima. Lalu ia mengawini anaknya
Raja Podang, melahirkan satu orang putera (Tomessawe di Kappal) dan seorang puteri (Puatta di Boqdi).
Tomasawei di Kappal kawin dengan puteri Raja Banggae, melahirkan dua orang puteri yaitu Tomatindo di Masigi dan Puatta Buta. Puatta Boqdi kawin dengan Sayyid Zakariah (pembawa agama Islam ke Pamboang). Dari turunan Tomatindo di Agamana ada yang menjadi raja dan ada yang memegang hadat seperti Kadi Pamboang, ada yang menjadi Rapang KaiyyanBna Bondeq, ada yang menjadi Paqbicara Bondeq.
4.21. Keturunan (silsilah) Tonisesseq di Tingalor Tonisesseq di Tingalor (gelar) berasal dari langit. Ia anak keempat yang bernama Imandaraq, dari tujuh bersaudara bidadari. Ia terjatuh ke bumi. Ia tercebur di laut di daerah antara daerah Raja Ikan Hiu dan daerah raja Ikan Merah yang sedang berseteru. Ia diselamatkan oleh Raja Ikan merah. Ia dikawini oleh Raja Sarijawa bergelar Tomadappaqe ri Lappaq Tallang (sarijawa adalah Raja Beras). Dari perkawinan itu lahir Ilissiq Manurung Putera lissiq Manurung memperisterikan puteri Raja Padang yang merupakan cikal bakal anak turunan yang selalu menjadi raja Podang.
4.22. Pertemuan Raja-Raja Balanipa, Sendana, Banggae, dan Pamboang Sesudah Kerajaan Passokorang dihancurkan oleh Kerajaan Balanipa, berlangsunglah pertemuan raja-raja Balanipa, Sendana, Banggae, dan Pamboang. Dari permusyawaratan mereka ditetapkan bahwa kerajaan Balanípa menjadi Ketua (dalam lontara disebut Muane Suami'), Sendana menjadi wakil ketua (dalam lontara disebut Baine 'Isteri'), sedang Banggae dan Pamboang menjadi anggota (dalam lontara disebut Anaq Anak'). Di sepakati pula bahwa Sendana, Banggae dan Pamboang akan menerima/ menampung para warga Passokkorang yang bercerai berai karena dikalahkan/dihancurkan oleh Balanipa. Keempat raja itu saling berjanji untuk bantu membantu dalam kesulitan, akan sehidup semati menghadapi musuh dari luar, saling menghormati kedaulatan dan kehormatan kerajaan (permusyawaratan inilah yang menjadi kelak titikawal dan cikal bakal menjadi Pitu Baqbana Binanga setelah kerajaan-kerajaanTappalang, Mamuju, dan Benuang menjadi anggota persekutuan)
4.23.Jimat Buciciq Lafal yang sisebut buciciq dituliskan pada mangkuk putih lalu diisi air dan diminumkan kepada wanita hamil yang sakit ulu hatinya, atau merasa sakit/berat/susah karena kandungannya. (
BERSAMBUNG....
Daftar Bacaan Koentjaraningrat. 1983: Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Gramedia Jakarta Suradi Yasil dkk. 1985 : Inventarisasi, Transkripsi, Penerjemahan dan Penulisan Latar Bela kang Isi Naskah Kuno Lontar Mandar Daerah Sulawesi Selatan, Proyek IDKD, Ditjen Kebudayaan Depdikbud
MENELUSURI JEJAK PERJUANGAN LAMADDUKELLENG MELAWAN BELANDA HINGGA DIANUGRAHI PAHLAWAN NASIONAL Oleh: Drs. Faisal
A. Pendahuluan Pada Senin pagi tanggal 9 Nopember 1998 dalam suatu upacara di Istana Merdeka yang dipimpin Presiden B.J.Habibie, LaMaddukelleng dianeugrahi gelar PahlawanNasinal.LaMaddukelleng merupakan orang ke empat putera daerah Sulawesi Selatan yang dianugrahi pahlawannasional, sebelumnya yaitu Sultan Hasanuddin, R.W. Monginsidi, dan Syekh Yusuf. Selama hidupnya, La Maddukelleng selalu mengutamakan dan memperjuangkanpersatuan dan kesatuan dikalangan masyarakat pribumi. Sewaktu masih remaja, ia rela meninggalkan Wajo untuk merantau demi keutuhan persaudaraan tellumpoccoe. Sebab setelah peristiwa di Cenrana, Raja Bone La Patauk meminta kepada Arung Matoa Wajo La Salewangeng agar La Maddukelleng diekstradisi ke Bone untuk diadili. Dengan sendirinya, Arung Matoa Wajo pasti akan membela La Maddukelleng. Namun, atas inisiatif sendiri La Maddukelleng pergi merantau untuk menghindari perang saudara yang akan menghancurkan kedua belah pihak. Selama di perantauan, La Maddukelleng menjadi orang yang disegani baik di darat maupun di laut. Kemudian ia kawin dengan puteri Sultan Pasir, selanjutnya menjalankan fungsi isterinya selaku Sultanah Pasir. Namun demikian, kesuksesan yang ia capai di daerah rantau tidak melupakan penderitaan dan kunkungan sebangsanya atas penindasan Belanda. Atas dasar itu, ia pun kembali ke daerah asalnya wajo memerangi Belanda bersama sekutu-sekutunya dan mengusirnya ke luar dari Sulawesi Selatan. Setelah Belanda meninggalkan Sulawesi Selatan, La Maddukelleng kemudian menggalang persatuan dan kesatuan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya. Uraian lebih detail mengenai perjuangan LaMaddukelleng mulai dari perantauan hingga kembali ke Sulawesi Selatan memerangi Belanda, kemudian menggalang persatuan dan kesatuan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dipaparkan pada bagian-bagian khusus dalam tulisan ini.
B. Latar Belakang Keluarga La Maddukelleng La Maddukelleng dilahirkan kira-kira pada tahun 1700 di Paneki, suatu negeri yang dibentuk oleh pelarian orang-orang dari Mampu (Bone) pada abad XV. ayahnya bernama La Mattaesso To Maddettia, Arung Paneki, saudara Ranreng Bettempole Daeng Situju Papongkae. Ibunya bernama We Tenriampareng atau biasa pula disebut We Tenriampak, Arung Singkang.
Menurut Andi Makkaraka Arung atau Ranreng Betempola yang dikutip oleh Andi Zainal Abidin (1994:8), bahwa La Maddukelleng adalah keturunan langsung tiga orang Arung Matoa Wajo yang paling terkenal karena keberaniannya dan kecakapannya yaitu : La Tadamparek Puang riMaggalatung (1419-1521), La Mungkace To Uddamang (1967-1607) dan Sangkuru Patauk Mulajaji bergelar Islam Šultan Abdurrahman yang memeluk agam Islam pada tahun 1610. Selain itu, ia juga keturunan langsung La Tiringeng To Taba Arung Simattempola, negarawan terpandai di Wajo yang telah mengukuhkan konsep hak asasi rakyat yang dikenal dengan istilah ade 'amaradekangenna to wajoe. Menurut Tromp dan Mees, Bahwa La Maddukelleng kawin dengan seorang puteri Bangsawan Kutai. Namun, Andi Zainal Abidin memperkirakan bahwa La Maddukelleng kawin dengan puteri sultan pasir. Oleh karena dalam lontarak Sukkuna Wajo diungkapkan bahwa sebagian orang pasir tidak mau mengakui isteri La Maddukelleng sebagai ratu, sehingga terpaksa La Maddukelleng menaklukkan Pasir. Kemudian ia menjalankan fungsi isterinya selaku Sultanah Pasir dari tahun 1726 sampai dengan 1756. Adapun anak-anak La Maddukelleng diantaranya adalah Petta To Sibenngareng, Petta To Rawe, Petta To Siangka, dan La Tombong To Masekutta. Cucu La Maddukelleng dari Petta To Sibengareng kawin dengan Sultan Muhammad Idris (Sultan Kutai) yang datang ke Wajo untuk membantu nenek mertuanya La Maddukelleng memerangi Belanda dan sekutunya. Sedangkan La Tombong To Masekutta menjadi Panglima Wajo, merangkap pula jabatan patola, arung singkang dan ranreng talotenreng.
C.Kehidupan La Maddukelleng di Perantauan Sebelum memaparkan tentang kehidupan La Maddukelleng di perantauan, terlebih dahulu dipaparkan mengenai sebab yang melatarbelakangi sehingga La Maddukelleng sebagai pewaris tahta Arung Paneki dan Arung Matoa Wajo rela meninggalkan Wajo untuk merantau ke Johor dan Kutai (Kalimantan Timur). Pada suatu hari, kira-kira dalam tahun 1713 Arung Matoa wajo La Salewengeng berangkat ke Cenrana untuk memenuhi undangan Raja Bone La Patau Matanna Tikka yang mengadakan pesta sabung ayam dan berburu rusa. Pada saat itu, La Maddukelleng yang baru saja disunat juga ikut serta membawa tempat sirih Arung Matoa Wajo. Sementara pesta berlangsung, tiba-tiba terjadi huru-hara, karena orang-orang Wajo menudu Ponggawa Bone (Panglima Besar Bone) melakukan kecurangan. Terjadilah perselisihan yang disusul tikam-menikam. La Maddukelleng turut pula menikam beberapa orang, sehingga peristiwa itu menimbulkan 19 orang Bone dan 15 orang Wajo tewas (Zainal Abidin, 1994 : 8).
Setelah peristiwa itu, Raja Bone meminta kepada Arung Matoa Wajo agar semua orang wajo termasuk La Maddukelleng terlibat pada kerusuhan itu diekstradisi ke Bone untuk diadili. Arung Matoa Wajo menjawab menjawab permintaan Raja Bone, bahwa sipenikam telah melarikan diri. Jawaban itu harus dipercayai oleh Raja Bone, sesuai hasil perjanjian di Timurun pada tahun 1582 antara tiga kerajaan itu tidak saling membuka rahasia dan harus saling percaya mempercayai. Kendati demikian, La Maddukelleng memilih pergi merantau, karena apabila ia tetap tinggal di wajo akanmenimbulkan retaknya persaudaraan yang bermuara pada permusuhan.
Atas dasar itu, La Maddukelleng memohon kepada Arung Matoa Wajo untuk pergi merantau. Pada saat itu, Arung Matoa Wajo menanyakan mengenai kesiapan bakal yang akan dibawa. Dijawab oleh LaMaddukelleng sebagai berikut : Bokokku masagena ri aleku sigennekeng nyawaku. Naia bokokku, Puang, upe'na Petta I Wajo sibawa berakka'na Wajo. Naia modalakku tellumi, seuwani lemmanna lilaku, maduanna terenna ujung gajakku, metellunna lekkena lasoku Artinya: Bekalku cukup pada diriku segenap nyawaku. Adapun bekalku Tuanku. Kemujuran Pemerintah Eksekutip Wajo. Adapun modalku hanya tiga yaitu : pertama, lemah lembut lidahku; kedua, tajam ujung kerisku; dan ketiga, ujung kontolku (Zainal Abidin, 1976:9). Setelah pamitan, La Maddukelleng bersama ratusan pengawal berangkat ke Paneki. Pimpinan rombongan terdiri atas pemberani-pemberani yaitu Arung Tak, La Deliek, Kapitan Lauk (laksamana) La Banna To Assak dari Pammana dan Puanna Pabbola. Tujuan mereka adalah Johor, Malaysia untuk menemui saudara La Maddukelleng bernama Daeng Matekko. akan tetapi, Daeng Matekko telah meninggal dunia dan sebagian harta kekayaannya di ambil oleh To Pasarai, sepupu sekali raja Bone Batari Toja Daeng Talaga yang bermukim di Tobonio (Kalimantan Timur) Sebelum ke Kalimantan Timur, La Maddukelleng berhasil membentuk armada bajak laut di Johor. Armada yang dibentuk itu kemudian beroperasi di peraiaran selat Malaka sampai Sulawesi Tengah. armadanya sering disebut Gorak e (bajak laut) yang berjumlah 40 perahu layar, dipersenjatai secara modern. Ia ditakuti oleh sesama bajak laut. Walaupun demikian, sebenamnya ia tidak mengganggu perahu-perahu orang nusantara (Indonesia), akan tetapi hanyalah perahu-perahu Belanda yang mengangkut barang dagangan, seperti cengkeh, lada, pala, dan hasil bumi lainnya, termasuk hasil hutan. Šasaran lainnya adalah perahu-perahu yang berasal dari negara lain yang dianggapnya pro Belanda. La Maddukelleng menyerang sesama bajak laut, misalnya Bajak lautmengindanau,Fhilipina Selatan(Zainal Abidin, 1994:13). Menurut Tromp dan Mess yang dikutip Zainal Abiidin (1994 : 12) mengemukakan bahwa sebelum La Maddukelleng menaklukkan Pasir dan Kutai, pekerjaan yang dilakukan adalah membajak perahu-perahu. Sehingga lautan tidak aman untuk dilayari. Ia berpangkalan di Pulau Laut. Setelah mempersunting putri Sultan pasir, pekerjaan bajak laut ditinggalkan. Ia punmelarang anak buahnya untuk melakukan pekerjaan sebagai bajak laut dan menganjurkannya untuk berdagang. Sewaktu isterinya dinobatkan menjadi ratu, sebagian rakyat Pasir tidak menyetujuinya. Sehingga La Maddukelleng menaklukkan Pasir. Orang-orang pasir pernah melawan melarikan diri ke Kutai. La Maddukelleng tetap mengejarnya, dan meminta kepada Sultan Kutai agar menyerahkan para pelarian itu. Oleh karena tidak diindahkan, maka Kutai pun ditaklukkan. Sewaktu isterinya sebagai Ratu Pasir, yang menjalankan roda pemerintahan ialah La Maddukelleng selama sepuluh tahun, sehingga ia pun digelari sebagai Sultan Pasir
D. La Maddukelleng Kembali ke Wajo Melawan Belanda
Setelah empat tahun La Salewangang To Tenrirua menjadi Arung Matoa Wajo, sudah banyak
senjata api berupa bedil dan meriam yang dibeli dari luar negeri. Telah dibangun dua buah geddong
(semacam gudang besar), satu untuk menyimpan bahan makanan dan satu untuk menyimpan senjata
mesiu. Telah dibentuk pula pasukan bersenjata yang telah terlatih. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan
diri dalam memerdekakan Wajo dari kunkungan Belanda dan sekutunya di Bone. Untuk memperkuat pasukan, Arung Matoa Wajo mengutus orang untuk mengantarkan kepada surat La Maddukelleng Sultan Pasir. Dalam surat itu dinyatakan bahwa Wajo sudah siap perang untuk memerdekakan dirinya dari penjajahan Bone dan Belanda. Diharapkan pula agar La Maddukelleng segera kembali ke Wajo untuk memimpin perlawanan itu. Setelah menerima utusan Arung Matoa Wajo, dengan segera La Maddukelleng memanggil pasukan lautnya untuk berkumpul. Setelah berkemas, armada La Maddukelleng dipimpin oleh dua orang Kapitang Lauk (laksamana) ialah La Banna To Assak dan Puanna Pabbola. Bergabung juga sukarelawan orang Pasir, Kutai, dan Samarinda. Mereka memakai 40 buah perahu jenis bintak yang dilengkapi dengan meriam. Sedangkan anak buahnya semuanya memakai senjata bedil. Pasukan La Maddukelleng sangat pemberani dan berpengalaman dalam pertempuran laut sewaktu menjadi bajak laut. Dalam perjalanan kembali ke Wajo, mereka melalui Mandar dan menyerang Arung Lipukasi di Ululabuang dan merampas sebuah perahu milik orang Manngarencanga. Dari sana ia pergi ke Binuang. Dua belas orang diantaranya pergí kepasar, tetapi sial, mereka dikeroyok oleh orang-orang Binuang. Sebagai pembalasan, To Assak menyerang orang-orang Binuang sehingga menimbulkan banyak korban dan harta benda mereka dirampas, serta membakar rumah-rumah orang Binuang yang ada di pesisir pantai. Setelah meninggalkan Binuang, mereka singgah bermalam di Puteangin, disebelah barat Pancana. Dari sana mereka berlayar ke selatan dan singgah membakar pulau Salemo, Sabutung, Laia, Kulambi, Katintinh, Balang Lompo, Balang Caddi, dan pulau-pulau lainnya. Para nelayan yang ditemui semua diusir. Kemudian melanjutkan pelayaran ke pulau Lae-Lae di depan Kotana Balandae ri Juppandang (Makassar). Gubernur Belanda di Makassar memerintahkan Kapitang Malaju (Kapitang Melayu) bernama Ance Beda dengan satu pasukan tentara Belanda menyerang Pulau Lae-Lae, tapi mereka dipukul mundur hingga di pinggir kota Makassar. Akhirnya, armada La Maddukelleng dapat berlabuh di pelabuhan kerajaan Gowa. Di pelabuhan itu, mereka didatangi oleh Mappasempek Karaeng Bonto Langkasa dan Tumabicara Butta Gowa I Mangona. Mereka menyepakati untuk menggalang persatuan guna mengusir Belanda dari Makassar. Setelah sepuluh hari lamanya di pelabuhan itu, armada La Maddukelleng berlayar menuju Bone. Semua kampung-kampung di bawah kekuasaan Blone atau Belanda dirampoknya, dan kemudian berlabuh di Ujung Palette. Namun, La Maddukelleng dilarang mendarat di Palette, maka ia terus berlayar ke Doping. Sesampai di sana, mereka menunggu berita dari Arung Matoa Wajo La Salewangeng To Tenriruwa.
Dalam musyawarah Tellumpoccoe yang membicarakan kedatangan La Maddukelleng, Raja
Bone menuduhnya sebagai orang bersalah, sebab melakukan 7 macam kejahatan, antara lain : 1) membunuh
seorang suruhan Bone, 2) Merampas harta To Pasarai di Tobanio, 3) menyerang Mandar, sahabat Bone,
4) membakar pulau-pulau di depan kota Makassar, 5) mengusir nelayan-nelayan di perairan Makassar,
6) menyerang Kompeni di Makassar, dan 7) memasuki pelabuhan Ujung Palette dengan perahu-perahu aneh, sedangkan Raja Bone adalah wanita (Zainal Abidin, 1976 : 12). Berdasarkan hasil musyawarah itu, Tellumpoccoe (kecuali Wajo) menghendaki agar La Maddukelleng dibiarkan atau diusahakan mendarat untuk diadili. Diutuslah I Jakkolo untuk menyampaikan hasil musyawarah Tellumpoccoe. Tanpa ragu-ragu mendaratlah La Maddukelleng dikawaloleh anak buahnya pada tanggal 24 Mei 1736, kemudian melanjutkan perjalanan ke Singkang. Dalam perjalanan mereka singgah bermalam di Rumah Arung Penrang. Di sana sekitar 700 orang Penrang menggabungkan diri kepada pasukan La Maddukelleng. Setelah sampai di Singkang, Tellumpoccoe meminta kepada Arung Matoa Wajo agar La Maddukelleng dipanggil untuk disidang di Tosara. Tanpa ragu-ragu La Maddukelleng dikawal kurang lebih 1000 orang pasukannya menghadiri persidangan itu. Dalam persidangan, LaMaddukelleng membantah semua pelanggaran yang dituduhkan kepadanya dengan alasan yang logis dan dipercaya. Jawaban La Maddukelleng atas bantahan semua yang dituduhkan kepadanya tidak ditanggapi oleh Tellumpoccoe, maka La Maddukelleng memohon diri kembali kembali ke Singkang. Setelah tiga hari lamanya, merekapun dibenarkan tinggal di Singkakng. Atas bujukan Arung Matoa Wajo agar La Maddukelleng dapat memahami keinginan Tellumpoccoe, maka mereka berangkat meninggalkan Singkang menuju Paneki. Di sana ia dilantik menjadi Arung Paneki menggantikan ayahnya La Mataesso To Maddetia. Paneki merupakan daerah taklukan Bone, sehingga orang-orang Bone bersama Soppeng menyerang Paneki, dan membakar rumah-rumah yang ada di perkampungan seputar Paneki. Atas tindakan itu, mengakibatkan Arung Matoa Wajo marah, dan mengajak orang-orang Wajo yang selama ini berdiam diri untuk turut angkat senjata mempertahankan Wajo bersama-sama La Maddukelleng. Pada saat perang berkecamuk di Paneki dan sekitarnya, datanglah bantuan musuh yang terdiri dari orang-orang Belanda dan sekutu-sekutunya yaitu Bone, Soppeng, Lima Ajattapareng, Pitu Babanna Binanga, Buton, Ennennge Masserempulu, Tallu Lembanna, dan Luwu. Wajo dalam kondisi terkepung dan terdesak, sehingga memaksa Arung Matoa Wajo untuk bermusyawarah dengan Petta Ennennge di Tosora. Ia menyampaikan bahwa beliau tidak mampu memimpin pertempuran karena sudah tua, sehingga perlu Arung Matoa yang dapat mempertahankan Wajo. Maka sepakatlah menunjuk La Maddukelleng sebagai Arung Matoa wajo. Arung Matoa Wajo La Maddukelleng didampingi oleh perangkat pemerintahan masing-masing Petta Ennennge (enam bangsawan) semacam dewan eksekutif yakni tiga panglima perang yang disebut Pillak (Berbendera merah), Patola (berbendera aneka warna), Cakkuridi (Berbendera kuning). Dan tiga ranreng, serta Arung Patappulo yang bertindak selaku legislatif (Zainuddin Umar, PR, 12-11-1998). Setelah La Maddukelleng, menjadi Arung Matoa Wajo, maka dilakukanlah musyawarah bagi seluruh panglima perang Wajo. Dalam musyawarah itu disepakati bahwa mulai besok dilakukan penyerangan kepada musuh. Pilla Pallawa Gauk bersama Kapteng Lauk La Banna To Assak diberi tugas untuk menyerang menghadapi pasukan Soppeng dan Tanete. Sedangka Patola Wajo La Tombong To Masekutta diberi tugas ke utara menghadapi pasukan Luwu dan Buton. La Maddukelleng danbeberapa
panglima lainnya seperti La Mangambei, La Jumak, Cambang Balolok, dan To sanrek tetap ditempat untuk mempertahankan Tosora dari gempuran pasukan Belanda bersama sekutunya Bone di bawah pimpinan Steinmetz. Serangan Pila Pallawa Gauk bersama La Banna To Assak, mengakibatkan orang-orang Soppeng dan Tanete terdesak hingga banyak terjun ke sungai. Sulledatu Soppeng La Cenring Arung mari-mari hampir saja mati terbunuh kalau tidak melarikan diri dan bersembunyi di Bukit Tampangeng. Serangan itu mengakibatkan beberapa panglima musuh seperti Arung Ujung To Assetuang, Arung Bulu Matanre To Appetuju, Arung Mario Riwawo Puanna Wesse, Arung Kirung-Kirung, dan Arung Umpungeng atas nama Soppeng menyerahkan diri dan mengucapkan sumpah untuk tidak memerangi Wajo lagi. Dari Tampangeng, pasukan Pilla Pallawa Gauk dan La Banna To Assak menyerang orang Batu-Batu yang telah menduduki Tempe. Setelah menaklukkan Tempe, mereka melanjutkan serangan ke daerah-daerah yang berkhianat kepada Wajo, seperti Wage, Caleko, Canruk, Ugik, dan Liu. Serangan ke daerah-daerah ini dibantu oleh Petta Puanna We Abang, penguasa Sompek. Setelah penyerangan itu, Pasukan Pilla Gauk dan La Banna To Assak melakukan serangan kepada pasukan Belanda yang bergabung dengan Bone yang sedang berperang dengan La Maddukelleng di Tosora. Akan tetapi To Marilaleng Bone menghentikan serangannya dengan alasan kehabisan peluru. Namun tidak dipercaya oleh Steinmentz, bahkan curiga kalau bersekonkol dengan orang Wajo, sehingga Van Johan Soutiyn memerintahkan pasukan Belanda kembali ke Makassar. Di tempat lain, Pasukan Patola Wajo menumpas musuh-musuhnya La Tombong To Massekutta menyerang orang-orang Luwu dan Buton, sehingga orang-orang tersebut melarikan diri dengan perahunya. Selanjutnya menyerang orang-orang Maiwa, Pitu Riasek, dan Cakke. Kemudian melanjutkan serangan kepada orang-orang Mandar, Ajattappareng, Tellu Lembanna, Enrekang, dan Sidenreng. Kesemuanya itu berhasil dilumpuhkan. Keberhasilan pasukan Wajo menumpas musuh-musuhnya disemua sektor, mengakibatkan wajo lepas dari kunkungan Belanda dan Bone. Musuh-musuh yang masih hidup dan menyerah tidak dibunuh atau diperbudak bahkan tidak dilucuti, karena hal itu dianggap sirik atau mempermalukan, yang berarti menurunkan harkat dan martabat semua manusia, cukup saja kalau musuh berjanji tidak lagi akan memihak Belanda (Zainuddin Umar, Ibid). Sewaktu perang berkecamuk di Wajo, sekutu La Maddukelleng, I Mappasempek Karaeng Bontolangkasa dan Arung Kaju, juga melakukan penyerangan terhadap Belanda yang bermarkas di Maros. Penyerangan itu dimulai pada tanggal 26 Juli 1736 dan berhasil direbutnya pada tanggal 7 Desember 1736. Penyerangan ini dimaksudkan untuk memecah belah kekuatan Belanda yang menyerang Wajo. setelah merebut Maros dan Camba, Pasukan I Mappasempek Karaeng Bontolangkasa dan Arung Kaju menyerang dan merebut Pangkajene, Segeri, Mandalle, dan Labbakkang. Pertempuran itu berlangsung selama 15 bulan. Akhirnya pasukan I Mappasempek Karaeng Bontolangkasa dan Arung Kaju dapat dipukul mundur dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Smout setelah mendapat bantuan dari orang-orang Tanete dan Mandar. Dalam pertempuran itu, Arung Kaju tewas dalm perang. Setelah La Maddukelleng membebaskan Wajo dari kunkungan Belanda dan Bone, maka La
Maddukelleng mempersatukan kembali kerajaan Bone, Soppeng, Wajo (Tellumpoccoe) yang pernah
bermusuhan akibat kehadiran pihak Belanda. Gubernur Andrian Hendrik Smout memperoleh laporan tentang rujuknya Wajo, Bone dan Soppeng, maka diutuslah Karaeng Galesong membawa surat yang isinya meminta persahabatan dengan Belanda. La Maddukelleng Arung Matoa Wajo menolak permintaan Belanda untuk bersahabat dengan Wajo. Pada tanggal 12 Nopember 1738, datang lagi suruhan Gubernur Smout yang kedua kalinya untuk meminta bersahabat dengan Wajo. La Maddukelleng tetapmenolak termasuk pemberian Gubernur Smout juga ditolaknya. Kemudian berkata : Pemerintah Wajo tidak pernah mengharapkan dan menginginkan pemberian orang Belanda, tapi yang diinginkan oleh pemerintah Wajo adalah supaya orang-orang asing (Belanda) pergi dari Sulawesi Selatan, dan tidak mencampuri urusan Tellumpoccoe. Kalau tak ada bangsa asing yang mengacau ketiga kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Perjanjian tahun 1582 rusak karena campur tangan Belanda(Zainal Abidin, 1994:45). Setelah Bone, Soppeng, dan Wajo dipersatukan kembali dan dibebaskan dari kunkungan Belanda maka La Maddukelleng bersama 300 orang pasukan bersenjata lengkap berangkat ke Makassar untuk menyerang Belanda agar mau meninggalkan Sulawesi Selatan. Pasukan Là Maddukelleng tiba diMakassar pada tanggal 5 April 1739, bermalam di Malingkeri bersama utusan Karaeng Bontolangkasak yang menjemput di Sumangki. Kedatangan pasukan La Maddukelleng membuat Mangkubumi Gowa Abdul Kadir I Mappasanrek Karaeng Majannang bersma keluarga pergi ke Kampung Baru dengan membawa benda- benda kalompoang untuk meminta perlindungan kepada Belanda. Demikian pula Raja Gowa I Mallagauk bersama To Mailalang Lolo Karaeng Pabbineang menyingkir ke Kampung Baru dengan tujuan sama pada tanggal 7 April 1937. Akibat pengungsian Raja Gowa, La Maddukelleng mengusulkan kepada para pejabat Kerajaan Gowa agar mengangkat I Mappasempek Daeng Mamaro Karaeng Bontolangkasak menjadi Raja Gowa. Setelah pelantikan itu, La Maddukelleng mengirim utusan kepada Gubernur Smout dengan alasan harus minta izin dahulu dengan pimpinan Belanda di Batavia. Atas penolakan itu, pada tanggal 16 Mei 1739 La Maddukelleng bersama Karaeng Bontolangkasak mulai menyerang markas Belanda di Benteng Rotherdam dan Ratu Bone We Batarai Toja yang sudah lama melarikan diri ke Bontoalak. Pasukan La Maddukelleng memulai penyerangan di Tamakjene dan memukul mundur musuh sampai ke Kampung Beru. Sedangkan pasukan Karaeng Bontolangkasak menyerang Maricaya. Pada tanggal 19 Mei 1739, sebagian pasukan La Maddukelleng dari Bone, Soppeng dan Tanete melarikan diri bergabung dengan Ratu Bone We Batari Toja. Sisa orang Wajo dan pasukan dari Pasir dan Kutai yang menyertai La Maddukelleng berperang terus hingga memukul mundur musuh sampai ke Bontoala. Pada tanggal 8 Juli 1739, Bontoala berhasil didudukinya dan istana Arungpone yang dinamakan Saodenrae dibakar. Pasukan Karaeng Bontolangkasak yang ditemani orang-orang Tallok menyerang Maricaya, dipukul mundur ke Jongaya oleh Belanda. Di sana dipukul mundur ke Malengkeri hingga ke Mangasa. Sebelum ke Bontoparang, Karaeng Bontolangkasak memanggilLa Maddukelleng untuk berunding. Dinasehatinya La Maddukelleng supaya kembali saja ke Wajo, karena pasukannya dari Bone, Soppeng dan Tanete telah memihak kepada Belanda.
Sekembalinya ke Wajo, La Maddukelleng mengadakan konsolidasi pasukan, karena didengar kabar bahwa Belanda akan mempersatukan kembali lilik passeajingeng (daerah yang pernah bergabung dalam persemakmuran Wajo). Yang menghianat dikenakan denda seperti; Sidenreng; Rappang, Enrekang Baroko, Lempoang, Kading, dan Mengek. Sedańgkan yang netral seperti Kassak dan Batulappak diberi peringatan keras. Dan yang membantu Wajo seperti Kassak dan Batulappak diberi peringatan keras. Dan yang membantu Wajo seperti Pituriawa dan Maiwa dinaikkan statusnya sebagai anak manis. Gubernur Smout mengutus Ance Kamarong menemui La Maddukelleng untuk mengadakan perjanjian perdamaian. Utusan itu telah menemui La Maddukelleng sebanyak dua kali, tetapi tetap ditolak. Mengakabitkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Admiral Smout berlabuh di Cenrana pada tanggal 24 Desember 1740. Pasukan itu diperlengkapi 42 meriam, sejumlah martil dan granat. Kedatangan pasukan Belanda disambut dengan serangan oleh pasukan La Maddukelleng. Dua kali dilakukan penyerangan, tapi selalu dipatahkan oleh Belanda. Ketika serangan pertama dapat dipukul mundur, pasukan Belanda yang bergabung dengan Bone, tidak melakukan penyerangan kepada orang-orang Wajo, sebab Gubernur Smout memikirkan tentang adanya berita mengenai pemberontakan orang-orang Cina di Jawa. Tapi setelah penyerangan kedua La Maddukelleng dapat dipatahkan, pasukan Belanda dan Bene mengejar orang-orang Wajo. Namun dalam pengejaran, mereka mengalihkan ke Peneki dan Penrang, serta membakar rumah-rumah yang telah dikosongkan oleh penghuninya. Atas usul La Oddanriuk Datu Tanete, maka pasukan Belanda, Bone, dan Tanete merebut Lagosi. Dari sana mencoba menyerang Tosora ibukota Kerajaan wajo, tapi gagal karena berhasil dipatahkan oleh Pilla Pallawagauk dan La Banna To Assak. Kemudian Pilla Pallawa Gauk dan La Banna To assak pergi ke Patila dan Tampangeng menyerang orang-orang Soppeng. Selanjutnya ke Lagosi menyerang dari belakang pasukan Belanda, Bone, dan tanete. Sementara dari depan, Pasukan La Maddukelleng di Tosora menembaki dengan meriam.
Pada saat pasukan Belanda, Bone, dan Tanete menyeberangi sungai dan Tanronge ke
Campeddok, Pasukan La Maddukelleng menembakkan meriamnya ke bendungan yang sebelumnya dipenuhi dengan bangkai binatang dan mayat manusia, sehingga menimbulkan wabah penyakit. Pasukan Belanda yang masih hidup terbawa hanyut oleh air, meriam-meriam yang mereka bawa tenggelam di air. Pasukan La Maddukelleng dari atas tepi sungai menembaki mereka sehingga banyak yang gugur.
Setelah peristiwa itu, orang-orang Wajo menarik naik meriam-meriam itu, sehingga tempat itu
dinamakan Abbatakeng Mariannge di Campeddok.
Pasukan Belanda, Bone, dan Tanete yang masih hidup terpaksa mundur dengan menggunakan
perahu menelusuri sungai ke Cenrana. Selama perjalanan, mereka ditembaki oleh pasukan Pallawagauk, La Banna To Assak, dan pasukan inti La Maddukelleng. Pasukan Belanda, Bone, dan Tanete terus dikejar sampai ke Cenrana. Ditempat itu, pertempuran terakhir La Maddukelleng. Pasukan Belanda, Bone, dan Tanete terus dikejar sampai di Cenrana. Di tempat itu, pertempuran terakhir La Maddukelleng melawan Belanda, sehingga mengakibatkan pula Masjid Cenrana terbakar.
Karena terdesak, pasukan Belanda kembali ke Makassar, dan tiba di sana pada tanggal 20 April
1741.
E. Penutup
Uraian ringkas tersebut di atas menggambarkan bahwa La Maddukelleng adalah seorang nasionalis, ia memiliki wawasan kebangsaan dan jiwa patriotisme. Olehnya itu, ia berusaha menggalang persatuan dan kesatuan di antara raja-raja di Sulawési Selatan untuk mengusir Belanda. Kemerdekaan Wajo dari kunkungan orang-orang Bone dan Belanda adalah bukan tujuan akhir dari perjuangan La Maddukelleng. Tapi yang dicita-citakan adalah bagaimana mengusir Belanda dari Sulawesi Selatan. Sebab selama mereka berada di daerah ini, maka mereka akan selalu mengacaukan persatuan dan kesatuan, serta menghalangi orang-orang Sulawesi Selatan untuk berdagang. La Maddukelleng menginginkan agar fungsi Bandar Makassar sebagai pelabuhan internasional dikembalikan sama dengan keadaan tahun 1667. Walaupun La Maddukelleng tidak dapat mengusir Belanda dari Sulawesi Selatan, tapi ia telah berjasa mematahkan menopoli Belanda di Nusantara. Begitu pula dominasinya yang kuat ataskerajaan- kerajaan besar dan kecil utamanya di Sulawesi Selatan. Sepeninggal La Maddukelleng pada tahun 1765, perlawanan terhadap dominasi Belanda tetap berkecamuk. Hal ini merupakan jiwa patriotisme yang ditinggalkan oleh La Maddukelleng kepada sanak keluarga dan generasi berikutnya. Daftar Bacaan Abdurrazak Daeng Patunru : Sejarah Bone Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1984 Abdurrazak Daeng Patunru : Sejarah Gowa Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1993 Abdurrazak Daeng Patunru : Sejarah Wajo Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1983 Farid. A. Zainal Abidin : La Maddukelleng, Pahlawan yang tak Kenal Menyerah, Bingkisan, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1967 Farid. A. Zainal Abidin : Munculnya Kerajaan Elektif Wajo Suatu Percobaan Untuk Menemukan Hari Jadi Daerah Wajo, CV. Pawakkang, Ujung Pandang, 1995 Farid. A. Zainal Abidin: Kiat-Kiat Kepahlawan La Maddukel leng, Arung Matoa Wajo Dalam Usaha Mengusir Orang-Orang Belanda dari Makassar, CV. Pawakkang, Ujung Pandang, 1994 Farid. A. Zainal Abidin : Sekali Lagi La Maddukelleng Arung Singkang Kantor Cabang IILembaga Sejarah dan Antropologi, Ujung Pandang, 1976 Mattulada : Menyusuri Jejak Kelahiran Makassar dalam Sejarah, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 1991 Umar, Zainuddin : La Maddukelleng Pahlawan Nasional, Beperang Melawan Belanda dan Sekutunya, Harian Pedoman rakyat, Ujung pandang, 12 Nopember 1998
BEBERAPA TOPONOMI KABUPATEN LUWU Oleh: SyahrirKila
I. Pengantar Toponimi adalah asal usul penamaan suatu tempat atau daerah. Penelusuran toponomi pada hakekatnya adalah merupakan usaha untuk menggali dan mengungkapkan kembali perjalanan sejarah dan budaya yang terdapat di balik nama suatu tempat budaya yang terdapat dibalik nama suatu tempat. Secara sadar atau tidak bahwa peristiwa yang diabadikan pada penamaan suatu tempat adalah pada dasarnya merupakan momen yang spesifik dan unik yang mempunyai arti khusus bagi masyarakat pendukungnya. Penamaan-penamaan suatu tempat bagi orang-orang Luwu,sejak zaman kerajaan telah mengenal lewat berbagai dongeng atau legenda yang didalamnya banyak berceritera mengenai asal usul penamaan suatu tempat atau daerah yang disesuaikan dengan kondisi pada masa itu. Pengungkapan asal usul nama tempat atau daerah dipandang perlu untuk mengetahui latarbelakang pemberian sesuatu nama. Para pendahulu kita menganggap bahwa pemberian suatu nama bukanlah sekedar nama, namun memiliki suatu makna atau dasar dan tujuan tertentu. Kabupaten Luwu yang ada sekarang merupakan bekas kerajaan yang cukup besar di Sulawesi Selatan selain kerajaan di Gowa dan Bone, pada mulanya berpusat di Pattimang, masuk wilayah kecamatan Malangke sekarang. Pada abad ke-17, pusat kotaraja dipindahkan ke Palopo, dan sampai sekarang menjadi ibukota kabupaten. Menurut catatan sejarah, Kabupaten Luwu mempunyai kekayaan sejarah dan budaya yang sangat berharga dan tergolong tua. Sejak berdirinya kerajaan Luwu yang bercorak tradisional yang didirikan oleh Batara Guru hingga sampai kepada Datu Luwu yang ke-13 (Datu Maoge), maka yang menjadi pegangan hidup masyarakat adalah kepercayaan tradisional yaitu kebiasaan- kebiasaan atau adat istiadat yang percaya kepada roh-roh nenek moyang dan kepada Batara Guru serta Syiwa. Namun dengan masuknya agama Islam, maka kepercayaan lama berangsur-angsur mulai diperbaharui atau disusupi pengaruh budaya Islam. Seiring dengan perkembangan kerajaan dan terbukanya hubungan keluar daerah kerajaan menyebabkan daerah ini sering mengalami pergolakan baik itu antara kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan maupun yang berada di luarnya,termasuk bangsa asing, terutama Belanda dan Jepang. Komplik yang terjadi sering tidak dapat dihindari sehingga melahirkan peperangan yang membawa penderitaan, baik lahir maupun bathin.
Terjadinya komplik dan peperangan menandakan bahwa daerah ini mempunyai sumber daya alam yang begitu potensial bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat. Sebab itu, tidak mengher- ankan bila daerah ini mempunyai banyak peninggalan-peninggalan bersejarah penting dan merupakan bagian dari khasana budaya bangsa yang perlu untuk digali karena memiliki makna dan nilai yang cukup tinggi karena dapat berfungsi sebagai bakti sejarah, sumber sejarah dan cermin sejarah. Salah satu peninggalan sejarah di daerah Luwu yang akan diuraikan pada bagian ini adalah Toponomi sebanyak 5 buah (lima penamaan tempat). II. Deksripsi Toponimi II.1. Tamuku Desa Tamuku adalah salah satu nama desa yang terletak pada Kecamatan Bone-Bone, pada zaman Belanda, desa ini adalah merupakan suatu distrik yang bernama distrik Tamuku. Daerahini paling sering dikunjungi oleh Datu Luwu, dan oleh penguasa setempat (Jernang) selalu menempatkan "datu" pada suatu daerah yang dinamakan “tanah welaro". Tanah ini kemudian menjadi tempat peristirahatan datu bersama rombongannya jika berkunjung ke daerah ini. Untuk mengurus segala kebutuhan dan urusan ke dalam “tanah Welaro"maka atas persetujuan "Datu Luwu", Jennang kemudian mengangkat seorang kepercayaannya untuk menjadi "Paramata" Sementara itu urusan ke luar daerah adalah menjadi tanggung jawab Jennang sendiri, termasuk menghubungi (mengundang) para to makaka (penguasa para daerah Lili yang ada di Luwu), bilamana datu Luwu akan mengunjungi wilayah"tanah Welaro". Oleh karena setiap kunjungan datu Luwu ke wilayah"tanah Welaro"selalu mendapatsambutan yang meriah oleh penduduk setempat dan para undangan. Maka atas inisiatif Jennang, para undangan yang datang untuk bertemu dengan datu, khususnya para to makaka bersama pemuka-pemuka ma- syarakatnya ditempatkan pada suatu daerah yang berada sebelah timur "tanah Welaro". Maka untuk membedakan "tanah Welaro" sebagai tempat peristirahatan datu dengan tempat para tamu yang datang untuk bertemu dengan datu, maka daerah yang berada pada sebelah timur wilayah "tanah Welaro"oleh datu Luwu diberi nama "daerah tamuku". Tamuku dalam bahasa daerah setempat berarti sama dengan "tamu saya" atau dalam artian suatu tempat khusus untuk menempatkan para tamu Jennang yang diundang untuk datang bertemu dengan datu. Pada akhirnya tempat tersebut oleh pemerintahsetempat dijadikan sebagai satu buah desa yang cukup subur. Untuk melengkapi "tanah Welaro" sebagai tempat peristirahatan datu, maka di daerah ini terdapat pula suatu tempat yang dinamakan sebagai "tanah Sanggonto". Daerah ini adalah merupakan wilayah tempat rekreasi dan bersukaria datu Luwu bersama pengikutnya.
I.2. Laranduk Penamaan Kampung Laranduk bermula dari perselisihan yang terjadi antara Puang Matoa Binturu yang tidak mau tunduk atas perintah penguasa Aring Larompong yang membawahinya. Pembang- kangan yang dilakukan oleh Matoa Binturu mengakibatkan terjadinya penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat Binturu. Puncak kemarahan Arung Larompong terjadi saat beliau bersama pembesarnya mengunjungi Puang Matoa Binturu, dimana kedatangan beliau bersama rombongannya bukannya disambut
dengan gembira,melainkan beliau diserang secaratiba-tiba dengan berbagai senjatatajam. Arung Larompong tidak kuasa menahan serangan Puang Binturu bersama pengikutnya, sehingga beliau kembali ke Larompong dan beberapa diantara pengikutnya yang mengalami cedera. Sebagai balasan atas perlakuan Puang Matoa Binturu, maka Arung Larompong menghentikan semua pasokan berupa bahan makanan yang pada dasarnya memang didatangkan dari Larompong untuk rakyat Binturu. Pasokan-pasokan tersebut kemudian ditempatkan pada suatu wilayah tertentu yang tidak termasuk wilayah Binturu dan setiap orang yang mau membeli bahan-bahan kebutuhan sehari-hari pada tempat tersebut harus seisin dengan Arung Larompong atau petugas yang telah ditunjuk. Kondisi ini mengakibatkan rakyat Binturu mengalami krisis kebutuhan sehari-hari karena adanya aturan yang dikeluarkan oleh Arung Larompong. Rakyat Binturu tidak mungkin untuk berbelanja pada wilayah-wilayah sekitar Larompong karena takut sebab telah menyerang Arung Larompong dan rombongannya dulu. Kegelisahan terjadi dikalangan rakyat Binturu lalu disampaikan kepada Puang Matoa. Akhirnya Puang Matoa Binturu mengirim utusan ke Larompong dan memohon kiranya Arung Larompong dapat mengenal bebas segala kebutuhan pokok dan bersedia untuk berunding. Hasil perundingan antara keduanya adalah rakyat Binturu dan Puang Matoa diharuskan pindah ke dalam Kota Palopo dengan pertimbangan bahwa Kampung Binturu sudah tidak cocok untuk ditinggali karena alamnya ganas sehingga segala kebutuhan sehari-hari harus didatangkan dari daerah sekitarya, utamanya dari Larompong. Isi perundingan tersebut di atas adalah sebenarnya atas saran dari Datu Luwu sendiri, dengan catatan setelah Puang Matoa bersama rakyatnya akan diberikan suatu wilayah baru dengan penguasaan penuh. Oleh Datu Luwu akhirnya diberikan suatu wilayah yang terletak antara Surutanga dan Songka (sebelah selatan kota Palopo) dan wilayah ini lalu diberi nama Binturu Baru. Keberadaan Puang Matoa Binturu beserta rakyatnya membuat keresahan bagi warga penduduk yang ada di sekitarnya. Keresahan tersebut terjadi karena adanya kebijaksanaan (hak istimewa) yang diberikan oleh Datu Luwu terhadap Puang Matoa dan rakyatnya. Hak istimewa itu adalah bahwa semua kerbau, kambing, ayam dan sebagainya yang ditangkap oleh para pendatang baru tersebut adalah menjadi haknya untuk dimakan. Penduduk asli yang ada disekitarnya menganggap bahwa hal itu sudah melanggar hak azasi, sehingga oleh Datu Luwu bermaksud memindahkan Puang Matoa dan rakyat pada suatu daerah yang bernama Murante. Akhirnya mereka dipindahkan ke wilayah Murante dengan dipandu oleh Tomakaka Buntu, satibanya di wilayah itu, Tomakaka Buntu menunjukkan suatu daerah yang dianggap baik untuk dijadikan sebagai tempat perkampungan. Akan tetapi Puang Matoa Binturu tidak senang atas penunjukkan tersebut dan menjawab bahwa "Janganlah Saudara menunjukkan tempat kepada saya, nanti saya yang cari sendiri sesuai kehendaknya. Dengan menggunakan sebuah tongkat (tombak) yang menurut anggapannya
adalah bertuah, Puang Matoa Binturu kesana kemari menancapkan tombaknya tak ubahnya bagai orang
kerasukan. Sementara rakyatnya memperhatikan perilaku pemimpinnya sambil berharap-harap cemas tentang apa yang akan terjadi. Entah berapa lama Puang Matoa Binturu menancapkan tombaknya ke tanah, dan pada tempat dimana ia menancapkan tombaknya ke tanah dan pada waktu yang bersamaan terpencar air keluar dari dalam tanah yang bersumber dari satu mata air (wai tuwo) yang takkan kering
sekalipun musim kemarau. Dengan keluarnya air tersebut, Puang Matoa akhirnya berseru kepada rakyatnya bahwa "disinilah kita akan tinggal". Oleh karena tancapan (randukan bahasa setempat) tombaknya sehingga ditemukan air keluar dari dalam tanah maka oleh Puang Matoa tempat perkampungan baru tersebut dinamai Laranduk. Akhirnya Puang Matoa Binturu mempunyai satu perkampungan baru yang diberi nama Laranduk. Menurut perhitungannya bahwa tempat baru tersebut akan menjadi suatu perkampungan yang aman dan sejahtera karena kekayaan alamnya. Dalam perkembangannya gelar Puang Matoa pun diganti namanya menjadi Ma'dika Laranduk, wilayah ini sekarang masuk Kecamatan Larompong. II.3. Lampuawa Kampung Lampuawa terletak dikaki "bukit Pongkose" dan ditengah-tengah perkampungan ini mengalir sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Karena jernihnya air sungai tersebut, sehingga bilamana tertimpa cahaya matahari akan berkilau bagaikan intan berlian. Penduduknya ramah tama dan simpatik, gadis-gadisnya berkulit kuning langsat bahkan banyak yang mirip dengan gadis-gadis cina.
Kampung Pongkose yang letaknya agak di atas ketinggian dibanding Kampung Lampuawa, sehingga bilamana penduduk kampung ini melihat ke bawah, maka akan nampak aliran sungay yang memanjang bagaikan ular yang merangkak meliuk-liuk. Air sungai ini akan memantulkan cahaya bagaikan sebuah pelita (lampu) bila tertimpa sinar matahari, sehingga orang/penduduk kampung Pongkose yang melihatnya dari atas bukit menyebutnya "Lampu Riawa" (= bagaikan lampu menyala di bawah sungai). Dari kata "Lampu riawa (= bahasa Bugis) yang mengalami perubahan sesuai dengan bahasa setempat menjadi lampuawa. Karena itu, masyarakat kampung Pongkose kemudian menamakan sungai tersebut sebagai Sungai Lampuawa. Karena keindahan alam di sepanjang aliran sungai tersebut, sehingga penduduk kampung-kampung yang ada di sekitarnya tertarik untuk datang mandi-mandi pada waktu senggang. Dari hari ke hari sungai lampuawa semakin terkenal sebagai suatu tempat permandian yang sudah dan banyak dikunjungi orang. Oleh karena itu, rumah-rumah yang ada disepanjang aliran sungai Lampuawa berkembang menjadi suatu perkampungan yang ramai, dan orang-orang yang ada disekitarnya menamakan perkampungan tersebut“Kampung Lampuawa". Kampung Lampuawa akhimnya berkembang begitu cepat, karena penduduk yang ada disekitarnya banyak pindah ke kampung ini, termasuk kampung Pongkose yang berada di atas bukit Pongkose. Kampung Pongkose yang berdiri sebelum terbentuknya kampung Lampuawa, akhimya menjadi bagian dari ke tomakakaan lampuawa, karena pada saat itu Kampung Lampuawa telah diberi otonomioleh datu Luwu sebagian suatu ketomakakaan, dimana kepala pemerintahannya diberi gelar tomakaka.Pada saat ini kampung Lampuawa menjadi Desa Lampuawa dengan jumlah penduduk sekitar 2.228 jiwa(Laporan Kasi Kebudayaan Kecamatan Bone-Bone, tahun 1978). II.4. Larompong Sebelum nama Larompong diketahui orang, maka disebelahan selatannya terdapat satu perkampungan yang dinamakan Rantebelu. Kampung ini adalah merupakan suatu kerajaan kecil yang berpemerintahan sendiri, kehidupan para masyarakat aman dan tenteram serta makanan yang berkecukupan karena alamnya yang subur. Karena kesuburan dan ketenteraman masyarakatnya, sehinggaKerajaan
Wajo berniat untuk menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya. Untuk merealisasikan maksud Kerajaan Gowa tersebut, maka diutuslah seseorang untuk menemui penguasa Rantebelu untuk menyampaikan maksud raja Wajo. Setelah utusan diterima oleh penguasa Rantebelu dan dijamu sebaik mungkin, maka utusan tadi lalu menyampaikan maksud kunjungannya, yaitu untuk mengajak penguasa Rantebelu agar wilayahnya digabungkan masuk ke Kerajaan Wajo. Ajakan untuk bergabung dengan Kerajaan Wajo ditolak oleh penguasa Rantebelu, sehingga utusan Wajo kembali dengan harapan hampa karena apa yang diharapkan oleh rajanya tidak tercapai. Setelah raja wajo mendengar penjelasan dari utusan, maka beliau sangat murka dan memerintahkan agar wilayah Rantebelu di serang dengan kekuatan besar agar dapat ditundukkan. Pada pihak penguasa Rantebelu menyadari sepenuhnya bahwa penolakan untuk bergabung bersama wajo adalah suatu jawaban yang sangat tepat namun akibatnya pasti ada. Karena itu beliau telah mempersiapkan segalanya termasuk kemungkinan serangan dari raja Wajo. Semua lasykar dan rakyat Rantebelu dipersenjatai ala kadarnya untuk menjaga kemungkinan seperti tersebut di atas. Di Wajo sendiri tidak kalah sibuknya, apalagi setelah raja Wajo memanggil dan mengumpulkan semua anggota hadatnya untuk bersidang dalam rangka penyerangan Rantebelu yang dianggap telah menghina Kerajaan Wajo. Hasil sidang dewan hadat merekomendasikan agar penyerangan ke Rantebelu segera dilaksanakan. Penyerangan akhirnya dilaksanakan yang dipimpin langsung oleh raja Wajo, namun penyerangan yang dilakukan sebanyak dua kali oleh beliau tidak ada yang berhasil, bahkan sebaliknya lasykar Wajo terpukul mundur. Paska pengunduran lasykar Wajo dimeriahkan oleh lasykar-lasykar Rantebelu bersama masyarakatnya. Setelah selesai bersenang-senang karena berhasil menghalau lasykar-lasykar Wajo, maka penguasa Rantebelu mengingatkan kembali agar tetap waspada terhadap serangan ulang dari Kerajaan Wajo. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, maka penguasa Rantebelu memerintahkan agar membuat pagar penghalang pada daerah yang dianggap paling rawan yaitu bagian utara Rantebelu yang berfungsi sebagai pelabuhan laut. Setelah penguasa Rantebelu memberikan wejangan-wejangan, beliau lalu berkata dalam bahasa daerah setempat "Oh, tobuda, Rompai tondota, dan natama balingta atau oh, to buda rompongi tondota, dan natama balingta Artinya: "Hai lasykarku dan rakyatku, pagarilah kampung kita, agar musuh tak dapat masuk dan menyerang kita". Sepanjang wilayah-wilayah yang telah dipagari tadi yaitu sepanjang Buntu Kapu hingga ke pantai teluk Bone, akhirnya dinamakan Larompong. Kata ini berasal dari kata Rompai atau Rompong-i (bahasa daerah setempat) dan akhirnya mengalami penambahan kata La di depan kata Rompong-i menjadi Larompong. Wilayah ini sekarang telah menjadi nama kecamatan yaitu Kecamatan Larompong.
II.5. Balandai Pada tahun 1906, suatu pagi yang cerah rakyat yang kebetulan mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan kaget melihat kedatangan tiga buah kapal besar yang berbendera Merah-putih-biru. Bendera tersebut oleh rakyat setempat disebut sebagai bendera si angkara murka yaitu Belanda. Nelayan-nelayan yang melihat kedatangan kapal-kapal tersebut segera menghentikan kegiatannya dan naik ke daratan untuk melaporkan hal tersebut baginda datu Luwu (yang menjadi datu saat itu adalah Andi Kambo Opu daeng Ri Sompa). Mendengar laporan para nelayan tersebut, maka segera datu Luwu menindak lanjuti dengan segera memanggil anggota hadatnya untuk membicarakan masalah tersebut. Sementara itu, gong istana segera dibunyikan sebagai isyarat adanya bahaya yang akan dihadapi, dilain pihak rakyat dan pasukan kerajaan berkumpul dalam keadaan siaga untuk mempertahankan wilayahnya. pasukan pengawal pantai terus dilipat gandakan mereka terus meronda mulai dari Benteng Tompotikka yang memanjang dari utara ke selatan yaitu dari kampung PanjalaE hingga sampai ke kampung Binturu. Sementara datu Luwu bersama anggota hadatnya bersidang pada hari pertama kedatangan Belanda, maka muncullah seorang yang bernama "Daeng Paroto" (suku Bugis) sebagai utusan dan juru bicara Belanda yang diantar oleh salah seorang pengawal istana Kerajaan untuk menghadap raja (datu). Utusan Belanda akhirnya menyampaikan keinginan Belanda kepada datu bersama hadatnya untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan Kerajaan Luwu. Maksud Belanda ditolak dengan halus oleh datu Luwu secara halus dengan alasan bahwa masih ada salah seorang anggota hadat yang tidak hadir yaitu Opu Pabbicara Andi Tadda Opu To Sangaja yang sedang berada di luar daerah. Berita kedatangan Belanda juga diberitahukan kepada Andi Tadda dengan harapan beliau dapat membawa bantuan dan segera kembali, lalu bantuan yang beliau bahwa ditempatkan díPonjalae dan sepanjang Benteng Tompotikka. Belanda sangat kecewa mendengar jawaban datu Luwu yang menolak ajakannya untuk bekerjasama dan ini berarti pertanda kegagalan Belanda untuk menguasai Kerajaan Luwu. Ketidak puasan Belanda, kemudian ditindak lanjuti dengan mengirim seorang opsir Belanda yang ditemani oleh Daeng Paroto untuk menemui Andi Tadda Opu To Sangaji di Panjalae. Setelah utusan Belanda tiba, dikemukakanlah maksud kedatangannya untuk membuat suatu perjanjian kerjasama antara keduanya. Apa yang diharapkan utusan tadi ternyata tidak berbeda dengan jawaban datu Luwu yaitu menolak permintaan tersebut. Karena merasa tidak mendapat sambutan seperti yang diharapkan, lalu utusan tadi membuat ulah yang kurang sopan dihadapan Andi Tadda, sehingga Andi Tadda sangat marah atas perlakukan opsir tersebut dan menampar mukanya dengan menggunakan tempat air ludah yang penuh dengan ludah yang berwarna merah (air ludah bercampur makanan sirih).alasan bagi Belanda untuk menyerang Kerajaan Luwu, namun Belanda tidak bisa menembus benteng pertahanan pasukan Kerajaan Luwu yang begitu kuat. Berkali-kali sekoci-sekoci Belanda berusaha untuk menembus blokade-blokade tersebut tapi selalu gagal. Akhirnya Belanda menyewa dua orang untuk menjadi mata-mata dan mencari tempat yang aman untuk mendaratkan pasukannya. Berdasarkan informasi kedua informantersebut, maka disepakati daerah Lapae-pae yang paling strategis sebagai tempat pendaratan.
Dengán taktik yang jitu, Belanda membordir pusat kotaraja pada waktu dini hari sehingga membuat panik penduduk. Sementara pasukan Belanda yang lain berusaha untuk mendaratkan pasukannya namun mendapat perlawanan dari pasukan pengawal pantai yang dipimpin oleh To Ije. Pertempuran pun terjadi antara keduanya dan To Ije bersama pasukannya tidak bisa melakukan perlawanan yang maksimal karena mereka-mereka yang ditempatkan di Lapae-pae tidak bisa difungsikan karena sumbunya telah basah. Menyadari kesulitan yang dihadapi, beberapa orang anak buah To Ije menyarankan agar Mandar untuk mencari bantuan, namun To Ije menolak lalu berkata,"hari ini aku akan tewas bila Belanda berani menginjakkan kakinya but, To Ije yang disertai seoranng anaknya menyerang Belanda yang sudah mulai mendarat dan berhasil membunuh beberapa orang sebelum dia dan anaknya tertembak. Beberapa orang sebelum dia dan anaknya tertembak. Setelah keduanya tertembak, tiba-tiba muncul saudaranya yang bernama I Karepu dan menyerang Belanda, namun dia juga ikut tertembak hingga mati. Dengan tertembaknya ketiga orang tersebut, maka dengan mudah tentara Belanda dapat mendaratkan pasukannya dengan leluasa karena penjagaan hampir tidak ada lagi. Semua pasukan Belanda naik di Lapae-pae dan seterusnya memasuki kota Palopo dan menghancurkan pertahanan-pertahanan Kerajaan Luwu yang berlapis-lapis. Dari peristiwa pendaratan Belanda(= Belanda Naik) kemudian rakyat merubah nama Lapae-pae menjadi Balandai yaitu dari asal kata “Belanda Naik". Kampung Balandai hingga kini menjadi suatu nama yang abadi bukan karena terlukis dengan tetesan darah perlawanan; To Ije, Laso' dan I Karepu serta beberapa orang yang tak diketahui namanya, Kampung Balandai hingga kini masuk wilayah pemerintahan Kecamatan Wara Utara.
Penutup Kelima toponimi yang terdapar di daerah Luwu seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa empat diantara toponimi tersebut terjadi karena adanya suatu peristiwa yang terjadi di daerah yang bersangkutan. Karena itu orang-orang yang terlihat maupun tidak terlihat dalam peristiwa itu mengabadikan peristiwa tersebut menjadi nama tempat. Tentu saja tidak semua peristiwa dapat dijadikan nama daerah dimana peristiwa itu terjadi, kecuali jika hal itu dianggap penting dan unik, serta mengandung nilai sejarah dan nilai budaya. Keempat toponimi tersebut adalah Balandai dan Larompong, Tamuku serta Laranduk, sedang satu diantaranya terjadi karena dikaitkan dengan keadaan alamnya yaitu Lampuawa.
Daftar BacaanSanusi Daeng Mattata, 1967."Luwu Dalam Revolusi stensilan.
- Laporan Kasi Kebudayaan Kabupaten Luwu Tahun 1981-1982 tentang Sejarah dan Nilai Tradisional
Kabupaten Luwu (Hasil Wawancara).
NILAI BUDAYA YANG TERKANDUNG DALAM PERMAINAN ANAK-ANAK SUKU BANGSA MANDAR Oleh : Nur Alam Saleh
A. Pendahuluan Suatu permainan anak adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses hidup anak-anak yang mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak itu sendiri. Karena selama seorang anak tidak tidur atau sedang melakukan sesuatu pekerjaan yang tidak pasti, maka ia akan bermain-main. Sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya permainan itu menigisi sepenuhnya hidup anak-anak, mulai ia bangun sampai tidur dan terkadang beristirahat kalau telah lelah, bahkan inipun jarang terjadi. Bagi seorang anak yang sepanjang hari tidak melakukan aktivitas dalam hal bermain-main, maka anak tersebut kemungkinan dalam keadaan sakit, baik jasmani maupun rohani. Demikianlah sehingga kemanapun kita pergi di dunia ini, maka akan menemukanberaneka ragam bentuk dan jenis permainan anak-anak, mulai dari bentuk yang paling sangat sederhana seperti permainan yang terbuat dari kulit jeruk sampai kepada bentuk permainan yang serba kompleks, serba elektronik yang biasanya merupakan hasil produk luar negeri dan dimainkan oleh anak-anak diperkotaan Baik permainan yang bahan bakunya dapat dan mudah diperoleh disekitar lingkungan tempat tinggal kita maupun jenis permainan infort, tentunya terdapat berbagai perbedaan terutama dari segi bentuk dan penggunaanya. Namun demikian pada hakekatnya setiap permainan diwaktu senggang atau rekreasi.menurut James Danadjaja fungsi lain dari permainan adalah sebagai media belajar, terutama bagi anak-anak. Disamping itu dapat pula berfungsi paedagogik untuk mendidik para pelakunya berjiwa sprotif. Pada dasarnya permainan anak-anak itu selalu nilai pendidikan, baik yang menyangkut tumbuhnya jasmani maupun berkembangnya jiwa. Dalam kehidupan masyarakat kota maupun desa terdapat berbagai bentuk permainan anak-anak, yang dimainkan baik secara individual maupun secara kelompok. Permainan itu sendiri dapat dibagi menjadi dua, yakni permainan untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Untuk permainan bermain sifatnya hanya mengisi waktu senggang. Sedangkan permainan bertanding sifatnya lebih terorganisir. dimana dimainkan minimal dua orang dengan konsekwensi kalah atau menang. Permainan pertandingan ini dapat pula dibagi menjadi permainan yang menggunakan akal dan siasat, serta permainan untung-untungan (Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, T.th:42). Dimasyarakat desa biasanya pada waktu sore hari anak-anak telah berkumpul untuk bermain bersama. Permainanpun akan lebih semarak pada saat terang bulan, mereka bermain hingga larut malam.
Sebaliknya anak-anak yang tinggal di perkotaan mempunyai bentuk permainan yang ada di desa. Hal tersebut menunjukkan adanya berbagai kelompok sosial yang berbeda ditandai oleh adanya berbagai kelompok sosial yang berbeda pula dalam kehidupan masyarakat. Sehubungau dengan permasalahan pokok tersebut di atas, maka berikut ini akandikemukakan masing-masing tentang selayang pandang dan beberapa permainan anak-anak Mandar, unsur-unsur nilai budaya dalam permainan anak-anak Mandar.
B. Selayang Pandang dan Beberapa Permainan Anak-anak Mandar
1. Selayang Pandang suku bangsa Mandar Dalam peta suku bangsa, Mandar berada pada bagian barat sebelah utara Sulawesi Selatan, dengan wilayah pemukimannya tersebar di daerah-daerah pesisir pantai, mulai dari kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) sampai ke kabupaten Mamuju dimana tentunya termasuk daerah Kabupaten majene. Didalam wilayah pemukiman itulah masyarakat suku bangsa Mandar mengembangkan aktifitasnya dan saling berinteraksi dengan sesamanya, berdasarkan atas pola tingkah laku yang diterima, dihayati dan ditaati bersama dikalangan para pendukungnya. Walaupun dalam banyak hal kebudayaan suku bangsa Bugis dan Makassar, namun seperti juga dengan sub etnis lainnya yang ada di tanah air ini, maka Mandar juga memendam potensi kebudayaan yang menandai eksistensinya sebagai salah satu kekayaan budaya nasional yang beraneka ragam. Šuku bangsa memiliki bahasa sendiri, mempunyai sejarah dan peradaban sendiri, mandar banyak mengukir pentas sejarah perjuangan bangša yang tidak kurang heroiknya di masa lampau. Pada masa lampau di daerah Mandar terdapat kerajaan-kerajaan yang disebut Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu. Adapun kerajaan Pitu Babana Binanga terdiri atas kerajaan Sendana, Kerajaan BanggaE, Pamboang, Tappalang, Mamuju dan Binuang. Sedangkan kerajaan yang tergabung dalam Pitu Ulunna Salu. terdiri atas Kerajaan Rante Bulahan, Mambi, Matangnga, Tabang, Aralle, Tabulahan, dan Bambang.
2. Beberapa Permainan Anak-Anak Mandar Sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti kapan mulai tumbuh dan berkembangnya permainan anak tradisional suku bangsa Mandar. Demikian pula halnya dengan siapa pencipta setiap permainan rakyat itu, tidak ada keterangan yang jelas secara pasti menyebutkannya. Namun demikian dari hasil penelitian yang pernah dilakukan di daerah itu, maka ditemukan sejumlah jenis p[ermainan anak-anak tradisional yang sebagian besar sampai saat ini masih sering diselenggarakan, diantaranya adalah permaianan makbenteng, mammaling, simaraq-maraqdia, mappuccaq, massilieloq, makkanrepaqm maqgasing, siseppaq, marragang, dan lain sebagainya. Dari beberapa permainan anak-anak tersebut di atas dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin para pemain, yakni permainan yang hanya dapat dilakukan oleh anak laki-laki saja dan ada pula yang hanya dilakukan secara bersama laki-laki maupun perempuan. Permainan yang hanya dilakukan oleh anak-anak perempuan adalah permainan mapuccag dan massileloq. Sedang jenis permainan anak laki-laki hampir semua permainan yang telah disebutkan di atas
dapat dilakukan, terutama yang menggunakan fisik daiam bermain. Demikian pula jenis permainan yang dilakukan secara bersama-sama antara anak-anak laki-laki dan perempuan seperti simaraq-maraqdia, Beberapa permainan lainnya dapat dilakukan secara perorangan dan perkelompok. Permainan perorangan yakni satu iawan satu atau duel seperti dalam permainan siseppaq dan maqgasing serta makkanrepaq. Namun untuk permainan yang satu ini dapat pula dilakukan secara individu maupun kelompok. Sedang permainan yang dilakukan secara berkelompok dan melawan kelompok yang lain, terdapat dalam permainan permaianan maqbenteng, mammaling, simaraq-maraqdia. Disamping itu ada juga permainan yang dilakukan antara satu dengan yang lain, misalnya yang terdapat dalam permainan massileloq. Untuk melaksanakan setiap permainan ini, biasanya berlangsung pada suatu tempat tertentu, seperti di tanah lapang, halaman rumah, atau teras rumah sesuai dengan jenis dan bentuk permainannya. Demikian pula dengan peralatan permainan anak-anak Mandar ini nampaknya sangat sedrhana dan mudah didapatkan disekitar tempat tinggalnya. Sarana pembuatan permainan anak-anak tersebut juga memerlukan sesuatu keterampilan khusus, seperti halnya dalam permainan maqgasing. Sebelum permainan tersebut dimulai maka terlebih dahulu disepakati aturan mainoleh para pelaku permainan. Hal ini dimaksudkan agar supaya permainan dapat berjalan dengan lancar dan untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan dalam permainan itu, Untuk memulai permainan biasanya dilakukan undian dengan cara sut maupun dengan cara lainnya yang disepakati bersama. Tentang tata cara permainan anak-anak suku bangsa Mandar ini pada umumnya terikat oleh suatu ketentuan, sehingga terkadang diperlukan wasit. Namun biasanya yang bertindak selaku dari kalangan mereka sendiri atau bahkan diambil dari penonton sebagai alat pengentrol jalannya sebuah permainan. Dalam sejumlah permainan ini biasanya diakhiri dengan konsekwensi kalh atau menang. Bagi yang kalah mendapat hukuman. Namun ada juga jenis permainan yang tidak mempunyai konsekwnsi menang atau kalah, dimana setelah mereka merasa puas dan lelah lalu berhenti dengan sendirinya.
C. Kelompok dan Jenis Permainan Anak-Anak Mandar Keanekaragaman bentuk dan jenis permainan anak-anak yang ada, maka dapat dikelompokkan berdasarkan dengan maksud yang terkandung di dalamnya seperti, permainan mencoba kekuatan dan kecakapan, permainan yang bersifat menirukan, dan permainan yang bertujuan melatih pancaindera. Dalam permainan mencoba kekuatan dan kecakapan jasmani ini yang secara tidaklangsung disadari oelh anak-anak. Hal ini dapat ditemukan pada permainan anak-anak Mandar, seperti pada permainan permaianan makbenteng, mammaling, siseppaq, dan lainnnya. Dimana pada permainan tersebut memang sangat diperlukan suatu kecakapan dari para pelakunya. Permainan makbentengmisalnya, adalah permainan untuk merebut benteng pertahanan lawan, dengan cara melalui suatu pertarungan yang ketat dalam menerobos kelompok pasukan pemain lawan yang disebut jowak. Demikian pula permainan mammaling yakni dengan melakukan ancang-ancang yang tidak beraturan, berlari kekiri dan kekanan seperti orang yang tidak sabar, agar dapat mengacaukan pertahanan lawan atau penjaga garissehingga lolos dari tangkapan lawan.
Permainan yang bersifat menirukan sesuatu perbuatan, dimana watak menirukan itu banyak sekali dilakukan oleh anak-anak, sehingga dalam permainannyapun terdapat hal serupa. Misalnya dalam permainan simaraq-marqdia dan massileloq. Simaraq-maraqdia adalah sutu permainan raja-raja, dimana dalam bahasa Mandarnya kata maraqdia berarti raja atau penguasa dalam suatu daerah tertentu. Sang raja atau penguasa inilah yang memimpin jalannya permainan, dengan membawahi dua kelompok yang berlainan (lawan) secara bergiliran saling melapor kepadanya. Permainan lainnya yang juga menirukan sesuatu adalah massileloq. ssileloq berarti melakukan suatu permainan yang para pelakunya berjejer memanjang kebelakang seolah-olah menyerupai ekor. Dalam permainan tersebut terdapat gerakan-gerakan yang meliuk-liuk dan berputar kekiri maupun kekanan. Sedang permainan yang semata-mata bertujuan untuk melatih panca indera, yakni dengan melatih ketajaman alat pendengaran, penglihatan, menghitung bilangan secara cermat, memperhitungkan jarak dan lain sebagainya. Permainan semacamini dapat ditemukan pada permainan seperti, simaraq-marqdia dimana kedua kelompok pemain saling memperhatikan dan mengamati secara saksam sebelum memberikan laporan kepada pemimpin permainan yang sekaligus bertindak sebagai raja. Demikian pula halnya dalam permainan mappucaq diperlukan kecermatan dan kehati-hatian ketika sedang membuang keatas biji-bijí permainan. Bagaimana menerka dengan benar biji mappuccaq yang sementara digengam oleh lawan main,dan sebagainya. Sebenamya hampir semua jenis permainan rakyatmemerlukan ketajaman setiap panca indera, terutama permainan yang ada kaitannya dengan keolahragaan, seperti pada permainan maqbenteng, mammaling, makkanrepaq, dan siseppa. Apabila permainan-permainan tersebut dapat dikemas dan dibina secara baik, termasuk dibuatkan peraturan-peraturan yang lebih sempurna, maka niscaya permainan anak-anak tradisional tersebut akan lebih digenari, dibandingkan denganjenis permainan yang datang dari luar.
D. Nilai Budaya Dalam Permainan Anak-Anak Mandar Adapun nilai-nilai budaya yang dapat ditranformasikan dengan melalui permainan anak-anak suku Mandar ini, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Unsur kegembiraan dan hiburan Pada umumnya setiap anak-anak akan merasakan suatu kegembiraan apabila sedang bermain, baik itu permainan tradisional maupun bukan. Bermain itu memang merupakan dunianya bagi anak-anak, karena mempunyai kedudukan dan arti yang sangat penting dalam kehidupannya. Demikianlah dalam permainan anak-anak Mandar hampir semuanya mengandung unsur kegembiraan bagi anak-anak yang melakukannya. Sebagai salah satu contoh permainan yang banyak mengandung unsur kegembiraan didalamnya adalah permainan massileloq. Dínamakan massileloq, karena cara permainannya menyerupai ekor atau ular. Manakala permainan sedang berlangsung maka terjadilah gerakan meliuk-liuk atau berputar kekiri dan kekanan para pemain yang berdiri berjejer memajang kebelakang. Terjadilah gerakan yang meliuk-liuk itu, dikarenakan untuk menghindari sergapan pemaian yang berperan sebagai paqbaluq atau penjual. Dalam permainan ini selain terdapat unsur kegembiraan juga sekaligus merupakan sarana hiburan dikala senggang, sebagai pengisi waktu istirahat.
- Unsur Pendidikan Umumnya setiap permainan anak-anak itu selalu mengandung unsur pendidikan di dalamnya, baik yang menyangkut pertumbuhan jasmani maupun untuk perkembangan jiwanya. Disampingh itu sebuah permainan dapat membantu anak-anak mempersiapkan diri dalam bergaul dengan sesamanya dalam língkungan sekitarnya. Dalam sebuah permainan anak-anak biasanya mempunyai tahap-tahap dan aturan-aturan yang cukup ketat, yang harus dipatuhi bersama. Apabila terjadi suatu kecurangan maka pelaku akan dikucilkan dari gelanggang permainan. Sehingga dengan demikian anak-anak dapat belajar secara tidak langsung dari aturan tersebut, untuk mematuhi dan bersikap yang baik menurut dan aturanyang ada dalam sebuah permainan. Anak-anak akan mempunyai rasa tanggung jawab baik terhadap dirinya maupun orang lain. Sebagai contoh jenis permainan yang mengandung unsur pendidikan, diantaranya adalah permainan maqbenteng. Dalam permainan tersebut dibuat sejumlah peraturan yang berkaitan dengan permainan maqbenteng. Pada saat terjadi pelanggaran yang dilakukan pemain, maka kentongan berbunyi satu kali. Demikian pula ketika saling menyerang tidak diperbolehkan menyakiti atau melukai lawan. Peraturan-peraturan tersebut harus dipatuhi oleh sesama pemain.
- Unsur strategi dan keterampilan Dalam berbagai permainan anak tradisional suku bangsa Mandar menggunakan unsur strategi dan keterampilan, diantaranya adalah permainan makkanrepaq dan sisepaq serta beberapa jenis permainan lainnya. Permainan sisepaq misalnya seorang pemain harus mempunyai strategi dan keterampilan untuk mengalahkan lawan-lawannya lewat kakinya yang dipergunakan menyepak atau menendang lawan mainnya. dalam pola tingkah laku dan aturan permainannya terkandung suatu nilai dan norma yang harus dipatuhi secara bersama. Misalnya dalam pertandingan tidak boleh berbuat curang dan mencelakakan teman sepermainan, karena sifat permainan sisepaq ini sangat mudah mengundang bahayasehingga diperlukan kekuatan fisik, kelincahan tubuh untuk bergerak dalam memperdayakan lawan.
4. Unsur kejujuran dan sportifitas
Seperti halnya dengan jenis permainan Jainnya, maka dalam permainan anak-anak tradisional banyak mengandung nilai-nilai kejujuran dan sportifitas. Hal tersebut dikarenakan pada permainan anak- naka tersebut, tidak terlalu mengandalkan dengan cara beradu fisik antara satu dengan yang lainnya, seperti permainan silat maupun yang lainnya. Demikianlah sehingga unsur-unsur kecurangan dalam permainan anak-anak tradisional jarang terjadi. Kendatipun demikian tidaklah berarti bahwa kecurangan dalam permainan tradisional itu tidak ada, karena pada dasarnya setiap permainan apapun dilakukan maka ada kecenderungan untuk berbuat kecurangan apabila ada kesempatan. Demikian pula halnya dalam permainan anak-anak simaraq-marqdia, terutama peranan pemimpinnya yang juga bertindak selaku wasit atau juri dari permainan tersebut. Manakala sang pemimpin hanya berpihak pada satu kelompok tertentu untuk dimenangkan, maka ia akan mencoba untuk tidak berbuat jujurterhadap kelompok lainnya. Sebagaimana diketahui permainan ini terdiri atas dua kelompok,
dengan seorang pemimpin yang sekaligus bertindak selaku wasit/yuri. Masing-masing dari kedua kelompok tersebut, secara bergiliran melakukan pelaporan terhadap pemimpin, yang terlebih dahulu dilakukan undian dengan sut tentang siapa yang memulai permainan. Disamping nilai kejujuran perlu untuk ditegakkan, maka nilai sportifitas dalam permainan
harus pula dijunjung tinggi. Hal ini dapat dijumpai pada permainan yang sifatnya kompetatif atau
bersifat pertandingan.
- Unsur Solidaritas Unsur solidaritas dapat ditemukan pada setiap pertandingan kelompok melawan kelompok lain, dimana masing-masing kelompok tersebut merupakan satu kesatuan. Dalam setiap kelompok terdiri dari individu-individu. Setiap individu itu berkewajiban untuk saling membantu, saling tolong menolong dan saling menjaga keutuhan kelompoknya Sebagai contoh dapat dilihat pada permainan mammaling dimana permainan tersebut memerlukan satu kekompakan kelompok. Dalam permainan yang biasanya dilakukan olehdua kelompok atau regu, dengan masing-masing tiga sampai empat orang pelaku untuk setiap kelompok. Apabila salah satu anggota kelompok pemain penyerang tersentuh oleh pemain lawan, maka otomatis kelompok tersebut kembali menjadi penjaga. Sebaliknya apabila salah seorang kelompok penyerang lolos dari penjagaan dan kembali pada garis start, maka dinyatakan sebagai kelompok pemenang yang disebut pessuh (bahasa lokal).
- Unsur Demokrasi Unsur yang paling dominan dalam setiap permainan anak-anak tradisional adalah nilai demokrasi. Dalam melakukan suatu permainan tidak terlihat dari kedudukan maupun golongan seseorang, melainkan siapa yang terampil dan cekatan dalam permainan tersebut. Demikian pula dalam menentukan siapa yang akan memulai suatu permainan, maka terlebih dahulu dilakukan sut atau bentuk undian yang lain guna menentukan siapa yang menang atau yang kalah. Siapa yang memulai dan siapa yang menjaga. Siapa yang urutan pertama, kedua dan seterusnya memulai memainkan permainan, seperti pada permainan mappuccaq yang dimainkan secara bergiliran. Demikian pula halnya dalam pemilihan ketua kelompok pemain, dilakukan secara demokrasi berdasarkan kesepakatan bersama diantara anggota pemain. Biasanya yang diangkat menjadi ketua kelompok itu, mempunyai kelebihan dibandingkan dengan anggota kelompok lainnya.
E. Penutup
Sebagai uraian terakhir dari tulisan ini, berikut ini dapat dikemukakan beberapa simbulan dan saran-saran.
1. Kesimpulan
Bahwa kendatipun telah sejak lama masyarakat suku bangsa Mandar mengenal permainan
anak-anak tradisional, namun tidak dapat diketahui secara pasti kapan mulai tumbuh dan berkembang, serta siapa pencipta dari setiap permainan rakyat tersebut.
Kelompok dan jenis permainan anak-anak tradisional terdiri atas permainan yang mencoba kekuatan dan kecakapan, permainan yang bersifat menirukan, dan permainan yang melatih panca indera. Adapun nilai-nilai budaya yang dapat ditransformasikan dengan melalui permainan anak-anak Mandar, antara lain adalah unsur kegembiraan dan hiburan, unsur pendidikan, unsur strategi dan keterampilan, unsur kejujuran dan sportifitas, unsur solidaritas, dan unsur demokrasi.
2.Saran-saran Sebaiknya setiap permainan anak tradisional yang terdapat di daerah-daerah perlu untuk dilestarikan, dibina dan dikembangkan. Permainan anak-anak tradisional yang ada di setiap daerah perlu mendapatkan tempat dan dijadikan sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah. Dengan melalui permainan anak-anak ini, dapat ditransformasikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, guna menunjang usaha pendidikan dalam menuju pembentukan manusia seutuhnya. Daftar Bacaan James Danandjaja : Foklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, Dan lain-lain, Penerbit PT. Pustaka
Utama Grafiti, Jakarta, 1994
Drs. Makmun Badaruddin, Dkk : Permainan Anak-anak Daerah ulawesi Selatan, Proyek IDKD, Dep
dikbud, 1983 Drs. M. Yunus Hafid : Pembinaan NIlai Budaya Melalui Permainan Rakyat Daerah Sulawesi Sela tan, Proyek P2NB Sulsel, 1997/1998
Foto-foto Permainan Anak-Anak/RakyatSuku Bangsa Mandar
Foto 1 Permainan Simaraq-Maraqdia
Foto 2 Permainan Mappuccaq
Foto 3 Permainan Makkarempaq
Foto 4 Permainan Massileloq
Foto 5 Permainan Maggasing