Baca PDF (OCR): WAWACAN ASEP OGIN

154 halaman · 149 halaman diproses dengan OCR· 210411 ms

Daftar isi
  1. WAWACAN ASEP OGIN
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. OGIN
  4. (Kajian dan Analisis)
  5. Tim Penulis/Pengkaji
  6. KEBUDAYAAN
  7. GBPH. Poeger
  8. Sri Mientosih B.A
  9. NIP. 130 3 58048
  10. PE NDAHULUAN
  11. BAB II ANALISIS STRUKTUR
  12. 5. Metodologi
  13. ANALISIS STRUKTUR
  14. Pu tri Bidayasari.
  15. \yi Lasmaya mcmbesarkan hati sang putri untuk tidak ragu-ragu
  16. 2.4. 2. T e m a
  17. tokoh Nyi Nurhayat, permaisuri I Baginda
  18. Untuk membubuhbn ketegangan pada episode percintaan
  19. 2. 4.3. Penokohan dan Karakternya
  20. OGIN DALAM PEMBANGUNAN/ANALISIS NILAI
  21. 3.2. Nilai Buuaya
  22. Artinya :
  23. KESIMPULAN DAN SARAN
  24. 4. 1. Kesimpulan
  25. KEPUSTAKAAN
  26. ---, Terjemahan dan Kajian Wawacan Piwulang Is tri,
  27. ASEP OGIN
  28. DANGDANGGULA
  29. Bag:awan Ratu Pandita.
  30. S IN 0 M
  31. PUCUNG
  32. KIN ANTI
  33. Pancatandran bicara lagi.
  34. PANGK UR
  35. Ill. Tidak berapa lama, tiba di hadapan Lasmaya, beras diletak-
  36. M I J I L
  37. MAGATRU
  38. KIN ANTI
  39. PUCUNG
  40. M I J I L
  41. DANGDANGGULA
  42. PANGKUR
  43. DANGDANGGULA
  44. I\11 JI L
  45. \1A SKUMAMBANG
  46. KIN ANTI
  47. PANGKUR
  48. (, A M B Ll H
  49. M I J I L
  50. AS MARANDANA
  51. DANGDA NGGU LA
  52. KIN ANTI
  53. DANGDANGGULA
  54. PANGKUR
  55. DURMA
  56. ASMARANDAN A
  57. sse Kalau hcgitu harusnya, nyai punya pcrmintaan, su paya semua
  58. lagi, nyai jangan salah faham.
  59. MASKUMAMBANG
  60. DANGDANGGULA
  61. benai sekali ucapan ·
  62. DURMA
  63. di gerbang negeri.
  64. KASRENG
  65. DANGDANGGULA
  66. S I N 0 M
  67. Sabang kaget.
  68. PA NGKUR
  69. ASMARANDANA
  70. GAMBUH

WAWACAN ASEP OGIN

(Kajian dan Analisis)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

OGIN

(Kajian dan Analisis)

Tim Penulis/Pengkaji

Prof. Dr. S. Budhisantoso Konsultan
Drs. R o s y a d i Ketua
Drs. H. A. Yunus Anggo ta
Ora. Tatiek Kartikasari Anggota

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1991 / 1992

KEBUDAYAAN

Usaha untu mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etnosentris yang dilandasi oleh pandangan stereotif. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sum- bangannya dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengertian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk 1tulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul " Kajian dan Analisis Wawacana Asep Ogin".

Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini, maka penggali- an nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkatkan se- hingga tuj uan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita Jaksanakan dapat segera tercapai.

iii

GBPH. Poeger

NIP. 130 204 562

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Ke budayaan telah mengkaji dan menganaHsis naskah-naskah lama di antaranya naskah Jawa Barat yang beijudul Wawacan Asep Ogin isinya tentang seorang raja yang beristeri dua. Yang satu baik dan yang satu lagijahat. Pihak yang baik akhirnya men dapat kebahagia- an.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai kebaikan dan keluhuran budi akan selalu menyingkirkan kejahat- an dan iri hati yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.

Kami menyadari bahwa buk.u ini masih mempunyai kelemahan- k elamahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.

Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.

v

~:;z{

Sri Mientosih B.A

NIP. 130 3 58048

vi

PE NDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masa1ah..................
I. 2. M as a 1 a h...........................
1.3. T u j uan.............................
1.4. Ruang Lingkup........................
1.5. Metodologi............................

BAB II ANALISIS STRUKTUR

    1. Batasan Pengertian......................
    1. Ringkasan Cerita.......................
    1. Analisis Bentuk/ Struktur Luar.............

      2.4. Analisis Isi / Struktur Dalam...............

      2.4. 1. A1ur / Plot.......................

      2.4.2. T e m a.........................

      2.4.3. Penokohan dan Karakternya.........

      BAB III SUMBANGAN NASKAH WAW ACAN AS EP OGI N DALAM PEMBANGUNAN / ANA LISIS NILAl
    1. ldentifikasi Nilai ........................
    1. Nilai Budaya ...........................
    1. Nilai Moral ............................


      3.4. Etika Kehidupan Keluarga


      vli

1 3 6 7 8

9 9 25 2 7 28 31 35

39 40 41

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan........................... 45
4.2. Saran-saran............................ 46
DAFTAR KEPUSTAKAAN......................... 49
LAMPIRAN..................................... 51
TERJEMAHAN NASKAH WAWACAN ASEP OGIN ......

viii

3:2 UUD 1945, bahwa: "Kebuclayaan lama dan asli yang terdapat ~bagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-claerah eli seluruh Indonesia terhitung sebagai kebuclayaan ba n gs::~".

sang:at crat kaitan- nya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat di mana naskah-naskah tersebut lahir dan mendapat dukungan. Di berbagai daerah di Indonesia, naskah kuno masih memiliki fungsi kultural dalam masyarakatnya. Di Bali misalnya, penulisan naskah dcngan meng- g:unakan rontal masih tetap dilakukan hingga kini. Di daerah lain, bah an yang digunakan selain ron tal, juga bam bu daluang, dan ba- n yak yang sudah menggunakan kertas, semua ditulis tangan dengan huruf-huruf daerah yang bersangkutan, ada pula yang mcng- gunakan aksara Arab atau Latin sebagai pengaruh kebudayaan asing. Bahasa yang dipakai biasanya bahasa daerah dengan gayanya yang khusus yang bcrbeda dari bahasa schari-hari. Bcrkat adanya tradisi itu, karya tertulis yang menganJung berbagai bahan-bahan keterangan mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat di masa Iampau yang ditulis oleh pujangg:a pacta abad-abad yang lalu, masih dapat kita baca sampai sekarang.

Ditinjau dari wujudnya, naskah-naskah kuno tersebut adalah benda budaya (material culture) berupa hasil karangan dalam bentuk tulisan. Namun demikian, naskah-naskah kuno tersebut bukanlah kumpulan tulisan yang tanpa makna, melainkan di da- lamnya mengandung ide-ide, gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan, ajaran-ajaran moral, filsafat, ke- agamaan dan unsur-unsur lain yang mendukung nilai-nilai luhur.

dan pengkajian naskah-naskah kuno terse but mutlak perlu dilak u- kan untuk dapat mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terkandung d1 dalamnya. Selanjutnya hasil pengkajian itu perlu diinformasikan kepada masyarakat luas guna menjalin saling pengertian di antara bcrbagai suku bangsa yang ada di Indonesia, sehingga dcngan de- mikian dapat mcnghilangkan sifat-sifat ethnocentris dan stereotype yang berlebihan serta menghindari terjadinya prasangka sosial budaya yang buruk. Yang menjadi permasalahan ialah belum mcratanya kesadaran tentang arti dan pentingnya peranan naskah-naskah kuno dalam rungka Pcmbangunan Nasional secara keseluruhan. Bahkan ada keccnderungan semakin tersisihkannya naskah-naskah kuno im seh ubungan dengan semakin giatnya usaha pengadopsian te knologi dan ilmu pengetahuan yang berkiblat ke negara-negara maju, dan semakin langkanya orang-orang yang mau menekuni dan me- mahami naskah-naskah kuno tersebut. Pengadopsian teknologi dan ilmu pengetahuan mem ang perlu untuk mempercepat proses pembangunan, tetapi proses itu pacta akhirnya menuntut penye- suaian sosial budaya dalam proses penyerapannya untuk menghindari timbulnya kesenjangan budaya (culture lag). Dalam hal ini, naskah-naskah kuno selain menyediakan data dan informasi ten tang aspek sosial budaya m asyarakat, juga memi- liki kekayaan rohani yang dapat menjadi penangkal terhadap ek- scs-c kses yang ditimbulkan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Di sinilah arti pentingnya naskah-naskah kuno sebagai su mber potensial yang dapat dijadikan se bagai kerangka acua n bagi ~uatu pengambilan keputusan, di samping naskah kuno itu sendiri merupakan obyek pembangunan dalam arti sasaran yang harus di kaji clan dilestarikan keberaclaannya.

  1. Masalah Sa lah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal clan sangat lwsar artinya bagi kehidupan manusia, adalah unsur bahasa. Me- nurut Myers, bahasa adalah alat komunikasi antar manusia; dan mcnurut Hockett merupakan milik manusia yang sangat berharga ( Si ti Ba roroh Baried, 1978: I 7). Dengan bahasa man usia meng-

penerasi selanjutnya. Melalui kemampuan berbahasa pula, lahir berbagai cerita rakyat dan karya-ka rya sastra. Pada dasarnya karya sastra atau karya seni adalah pencermin- an, pembayangan atau peniruan realitas, dan bahkan karya seni dapat dipandang sebagai dokumen sosial (Teeuw, 1984:224). Akhli yang lain mengatakan, bahwa karya sastra akan mengandung unsur sosial yang penting dalam realitas sosial yang dilukiskan- nya atau dengan kata lain, sebuah unsur penting dalam realitas sos1al akan terlihat dalam karya sastra yang melukiskan realitas itu. Paling kurang karya itu akan menolak unsur-unsur yang ber- asal dari realitas lain (lJmar Yunus, 1983 :57).

Ini berarti bahwa pujangga ingin mengangkat, mengabadikan dan menggam bark an gagasan-gagasan a tau pun peristiwa-peristiwa yang berlangsung pada zamannya. Hal ini sejalan pula dengan pen- dapat Pigeaud dan Berg, yang menyatakan bahwa karya sastra di samping dapat dilihat sebagai dokumen sejarah, juga sebagai tulisan yang memberi makna pada hal-hal yang hakiki bagi anggota masyarakat bersangkutan (Teeuw, I 984:241 ).

Demikian pula halnya ctengan karya-karya sastra Sunda, yaitu karya sastra yang dikarang oleh para pujangga Sunda dan mencer- minkan gagasan yang didukung oleh masyarakat Sunda. Dalam dunia sastra Sunda dikenal suatu bentuk karya sastra yang disebut waiVacan. Karya sastra wawacan ditulis dalam bentuk puisi tradisi- onal Sunda yang menggunakan pupuh. Dalam lingkungan masyarakat Sunda, wawacan ini merupakan karya sastra sejenis teater baca dan satu tipe dengan macatJGt pada masyarakat .Jawa. Apabila ditinjau asal usulnya, bentuk karya sastra wawacan adalah pengaruh dari kesusastraan .Jawa yang mulai masuk pada pertengahan abad ke 17. Pada masa Sultan Agung bertahta di Mataram, seni sastra Jawa masuk ke daerah Pasundan melalui para priyayi, santana ningrat pembesar Sunda yang mengapresiasi sastra dan bahasa Jawa. Pada waktu Pangeran Ranggagempol berkuasa di Sumedanglarang (kerajaan penerus Pajajaran), dia sangat menghormati Sultan Agung Mataram, sehingga pada waktu itu bahasa dan tulisan Jawa sering digunakan dalam surat me- nyurat yang sifatnya resmi. Bersamaan dengan itu sastra Jawa pun

puis1 tradisional yang cl isebut pupuh. Terdapat 17 macam p upu h yang dikenal rlalam dunia sastra Sunda, vakni: armarandana, balakbak, dandanggula, JUrudemung, durma, kinanti, gambuh, si nom, gurisa, magatru, maskumam bang, pucung, lam bang, lad rang, pangkur, mijil dan wirangrong.

Karya sastra wawacan ini mencapai puncaknya pada abaci ke

  1. Dalam a baci itu banyak lahir karya-karya sastra Sunda dalam hentuk wawacan. Di antara karya-karya tersebut adalah Wawacan Ranggawulung, Wawacan Surianingrat, Wawacan Suriakanta, Wawacan Amir Hamzah, Wawacan Danumaya, dan Wawacan lndra Bangsawan. Karya-karya wawacan yang disebutkan di atas semua- nya anonim, tidak diketahui siapa nama pengarangnya. Pacta abaci ini juga, yakni pertengahan abaci 19 di kalangan sastrawan Sunda J ikenal seorang pujangga Sunda yang bemama H. Muhamad Musa. Be liau sangat berjasa bagi perkem bangan seni sastra Sunda. Salah satu jasanya yang sangat besar adalah mulai diterapkannya aturan tanda baca dan pengaturan tulisan dalam sctiap karangan y ang di- t uLis denga n huruf Latin. Bcliau pun ban yak menghasilkan karang- a n dalam bentuk wawacan. eli antaranya adalah Wawacan Panji- wulung, Wawacan Alimuhtar, dan Wawacan Raja Sudibya. Pada kurun waktu berikutnya, yakni pacta awal abaci 20 semakin banyak para pengarang: Sunda yang mcnulis karya-karya sastra wawacan. Di antara mercka adalah Rd. Sacadibrata, Rd. Vle med Sastrahadiprawira, Tb. Jayadilaga. Masnatawisastra, R. ivfahyar Anggakusumah, M. Sastradirej a, M. A. Salmun, dan R. Siti Hadijah. Terkenalnya para pengaran)l ini bersamaan ctenan adanya perubahan di kalangan dunia sastra Sunda, eli mana pacla masa itu ka rya-karya wawacan tidak lagi berupa karya anonim. De n)!an demikian, maka semakin banyak para pengarang Sunda yang dikenal oleh masyarakat. Pcrke m bangan ini sejalan pula de- ngan semakin berperannya Balai Pustaka sebagai badan penerhit hu k u-buku bacaan. Pad a mas a i tu pu Ia R. Su riadirej a menu lis Wawacan Purnama Alam, sebuah karya sastra asu dalam arti buka n saduran dari karya asing dan bernilai besar. Pacta masa jayanya karya sastra wawacan, yakni pacta zaman se bclum perang kemndekaan. pembacaan wawacan merupakan

Pembacaannya dapat dilakukan setiap saat dan di mana saja, terutama pada rna- lam hari di mana orang-orang tengah beristirahat. Pembacanya biasanya duduk di tengah-tengah para penikmat, lalu dia melan- tunkan wawacan itu dalam irama tradisional. Selain sebagai sarana hiburan, seni wawacan ini juga berfungsi sebagai sarana peildidik- an dan penanaman nilai-nilai budaya, karena di dalam karya sastra wawacan tersebut selain terkandung nilai seni, juga terkandung pesan-pesan budaya.

Sayang sekali dalam perkembangan selanjutnya. terutama sete- lah alam merdeka, karya sastra wawacan ini makin terdesak oleh karya sastra bentuk lain, misalnya cerpen dan novel. Dan pada masa sekarang, akhir a bad 20 tidak ada lagi karya sastra Sunda dalam bentuk wawacan. Bahkan banyak di kalangan masyarakat Sunda sen- diri yang tidak mengerti dan tidak mengabaikan karya sastra Sun- ·da tradisional. Hal ini pula yang menjadi masalah dalam penulisan ini. Adapun yang menjadi permasalahan khusus adalah berkaitan dengan kandungan nilai budaya dari salah satu karya sastra Sunda tradisional dalam bentuk wawacan yang berjudul "Wawacan Asep Ogin" (WAO). Masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai luhur apa saja yang terkandung di dalam naskah WAO?
  2. Sejauhmana relevansi dan kontribusi nilai-nilai yang terkandung dalam WAO terhadap pembangunan dewasa ini?
  3. Tujuan
    3.1. Tujuan Umum Hasil analisis dan pengkajian naskah wawacan Asep Ogin diharapkan dapat memberi masukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, khususnya kebudayaan Sunda, yang pada akhirnya dapat memberikan arah dan sasaran yang tepat dalam rangka pembangunan nasional, khususnya di sektor kebudayaan.

3. 2. T ujuan Khusus
I) Untuk mengungkapkan dan m endeskripsikan nilai-
n ilai budaya yang terkandung: di dalam naska h Wawacan Asep Ogin. Dengan terungkapnya nilai-nilai dalam naskah ini, m aka diharapkan dapat lebih memperluas cakrawala berpikir masya- rakat Sunda dalam m enghadapi transfo rmasi budaya yang sen a nt iasa berlangsung.

~) Hasil peng: k ajian dan analisis naskah WAO ini diharapkan da p

4. Ruang Lingkup
4. 1. Rwmg Lingkup I:'m piris( Mareri) Naskah yang menjadi bahan pengkajian cl an penga nalisisan dalam tulisan ini adalah naskah " Wawacan Asep Ogin'' yang telah di tc rjcmahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh T im Pe- neliti clan Penulis Proyek lnven tarisasi dan D ok umentasi Kebudayaan Dacrah .la wa Barat. A dapu n naskah aslinya di- tu lis dalam bahasa Sunda.
4. 2. Ruang Lingkup Pembahasan ( Teoritis) Sebagaimana k arya- karya sastra lainnya, Wawacan Ascp Ogin mcmpunyai dua bentuk, yakni aspek bcntuk dan aspek isi. Adapun yang dimaksud dengan bentuk karya sastra adalah ca ra pcngarang dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya, sedang:ka n yang dimaksud dengan aspek isi adalah ide-ide atau gagasan yang ingin disampaikan ( Bu di Darma, 1984 :27). Da lam penulisan ini kedua aspek di atas sama-sama men- dapat perhatian, baik aspek bentuk maupun isinya. Adapun siste matika pembahasannya dapat dirumuskan sebagai berikut : Ba b I Pe ndahuluan, meliputi : Ja tar belakang m asalah, masalah, t ujuan, ruang lingkup dan m etodologi.

bagi lagi masing-masing ke clalam beberapa seksi.

Bab III Sum bangan naskah W AO dalam Pem bangunan, meliputi pembahasan nilai-nilai luhur yang terkan- dung eli dalam W AO serta relevansinya dengan pcm- bangunan. Bab IV Kesimpulan dan Saran-saran. Terjemahan naskah WAO sendiri dicantumkan eli dalam lam- piran.

5. Metodologi

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah content analysis, yaitu suatu pendekatan yang difokuskan pada pemahalT'.- an isi pesan atau gagasan pengarang. Untuk memahami ide-ide atau gagasan pengarang ini, dilakukan pula pendekatan ekstrinsik, yak- ni pendekatan yang dilakukan dengan cara mengaitkan karya sas- tra dengan masyarakatnya.

ANALISIS STRUKTUR

    1. Batasan Pengertian Pada dasarnya setiap karya sastra terdiri atas dua aspek, yakni as pek bentuk dan aspek isi. Aspek hcntuk biasa juga disehut dc- ngan struktur luar, dan aspek isi merupakan struktur dalam. Budi Darma mengatakan, bahwa yang dimaksud aspek bentuk karya sastra adalah cara pengarang dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya, sedangkan yang dimaksud dengan aspek isi adalah ide-ide a tau gagasan yang ingin disampaikan (1984 : 27). Struktur luar atau aspek bentuk suatu karya sastra menyang- kut penggunaan bahasa, pemilihan kata-kata dalam kalimat, idiom- idiom, dan sebagainya. Struktur luar suatu karya sastra dengan mudah dapat segera diketahui. Sedangkan struktur dalam atau aspek isi suatu karya sastra meliputi alur, tema, misi (pesan-pesan), penokohan dan perwatakannya serta peranannya dalam keseluruh- an lakon. Tidak sererti aspek bentuk, untuk mengetahui struktur dalam suatu karya sastra, tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi diperlukan pemahaman yang mendalam atas karya sastra yang ber- sangkutan. Hal ini disebabkan karena suatu karya sastra membuat banyak unsur yang satu sama lain saling berhubungan secara fung- sional, saling mengkait dan sating melengkapi, membangun karya sastra itu sebagai suatu bentuk yang utuh.

Berdasarkan kedua aspek struktur itulah naskah Wawacan Asep Ogin ini dianalisis. Sebelum masuk pacta pembahasan lebih lanju t, berikut ini terlebih dahuh.t akan disajikan ringkasan cerita Wawacan Asep Ogin.

2.2. Ringkasan Cerita WAO Dahulu kala tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Madursan. Yang menjadi raja di negeri itu adalah seorang ratu Islam ber- darah wali, cucu Nabi Yusuf, putra Baginda Han1Zah. Dia adalah Baginda Ma ' ruf, yang terkenal sebagai seorang ratu yang adil dan bijaksana. Baginda Ma'ruf beristri dua. Istri yang pertama adalah seorang janda bekas istri Patih Astina, bernama Nurhayat. Adapun istri baginda yang kedua bernama Nyi Dewi Lasmaya. Dewi Lasmaya adalah putri wiku Begawan Mudali, dan ibunya bernama Arnarlaela. Dari suaminya yang pertarna Nyi Nurhayat mempunyai dua orang putra, Sabang dan Saka. Kedua anak itu tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di istana Madursan. Walaupun Sabang dan Saka adalah anak tirinya, tetapi Baginda Ma'ruf sangat menyayanginya. Negara Madursan memiliki dua orang patih yang gagah per- kasa, Den Jaka Budiman dan Raden lndrapura. Negara Madursan membawahi lima tumenggung yang takzim kepada Baginda Ma'ruf. Pacta suatu ketika Nyi Lasmaya merasakan adanya tanda-tanda kehamilan pacta dirinya. Dia sering merasa lesu dan sudah dua Baginda Ma'ruf sangat bahagia mendengar kabar itu. Baginda sangat mengharapkan lahirnya seorang anak dari darah dag:ingnya sendiri. Rupanya harapannya itu akan segera terkabul. Hamilnya Nyi Lasmaya rupanya menimbulkan rasa iri di hati rnadunya, Nyi Nurhayat. Dia tidak menghendaki Nyi Lasmaya mempunyai anak karena menurut anggapannya apabila Nyi Lasmaya rnelahirkan, maka kasih sayang baginda akan tercurah kepada anaknya itu. Bahkan kedudukan putra mahkota mungkin tidak akan jatuh ke tangan Sabang dan Saka, melainkan pastilah kepada anak yang akan dilahirkan oleh Nyi Lasmaya. Karena itu diam-diam dia mempunyai itikad tidak baik kepada Nyi Lasmaya. Tetapi perasaannya itu tidak diperlihatkannya kepada siapapun.

ditutup rapat-rapat. Petu njuk itu dituruti oleh Nyi Lasmaya tanpa ada sedikit pun rasa c: uriga. Padahal Nyi Nurhayat telah bersek ongkol dengan dukun hayi yang bernama lndung Saltim. Bayi yang dilahirkan oleh Nyi Las maya adalah seorang anak laki-laki yang berparas sangat tampan. Ke tika bayi itu lahir, dengan cepat Nyi Nurhayat dibantu oleh lndung Saltim men ukar bayi itu dengan tiga ekor binatang, seekor anak kucing, anak kera, dan anak tiung (burung beo). Ketiga ekor binatang itu dilumuri darah dari rahim Nyi Lasmaya, lalu dibungkus dengan kain dan dibaringkan di si si Nyi Lasmaya. Sedangkan bayi yang dilahirkan o lch Nyi Lasmaya dibungkus dengan kain, Jalu dimasukkan ke dalam sarah dan ketn udian dibuang ke segara. Setelah beres, Nyi Nurhaya t mengutus seorang ponggawa memberi k abar kepada Bagi nda Ma'ru f di hutan Unggara. Bagi nda Ma ' ruf sangat bahagia mendengar kabar itu Bergegas dia bersama patih dan para ponggawanya kembali ke istana un tuk melihat anaknya yang baru lahir. Ketika mendapati kenyataan. bahwa anaknya yang lahir dari rahim Nyi Lasmaya be rupa tiga ekor binatang, bagi nda sangat murka. Baginda m emerintah kan Patih Budiman mem bunuh Nyi Lasmaya dan ketiga ekor binatang itu. Meskipun Nyi Lasmaya meratap memohon ampun, tetapi bagi nda tidak menggubrisnya. Atas usu l Patih Budiman, akhirnya Nyi Lasmaya tidak dibunuh, tetapi dibuang ke hutan Danaka dengan h arapan akan mati juga karena kelapar::t n.

Un- tunglah ada tiga ekor binatang yang setia menemaninya. Ternyata ketiga ekor binatang yang menyertainya itu apat berkata-kata seperti manusia. Ketiga ekor binatang itu dibt!ri nama Pancatandran untuk.. kera, Panjimasang untuk kucing, dan Panjilayang untuk nama tiung. Pancatandran menceritakan keadaan yang sebe- narnya, bahwa putra Nyi Lasmaya yang sesungguhnya adalah sc- orang anak laki-laki berparas tampan. Bayi itu dibuang oleh Nyi Nurhayat ke segara, dan sebagai penggantinya adalah mercka bertiga.

Demikianlah, akhirnya Nyi Lasmaya menjalani hidup di tengah hutan belantara itu bersama ketiga ekor binatang yang telah dianggap sebagai putranya. Demikian pula ketiga ekor binatang itu telah menganggap Nyi Lasmaya sebagai ibunya. Pancatandran, Panjimasang dan Panjilayang selain dapat berbicara seperti man usia, juga sangat cekatan. Berkat kesigapan dan kecekatan ketiga binatang itulah Nyi Lasmaya dapat mempertahankan hidupnya. Ke- butuhan makannya sehari-hari disediakan oleh Pancatandran dan Panjimasang. Adapun keperluan pakaiannya disediakan oleh Panjilayang. Bahkan Pancatandran dan Panjimasang telah berhasil pula mengambil pedang pusaka milik Nyi Lasmaya yang tertinggal di Istana Madursan. Pedang itu adalah sebilah pedang sakti pusaka peninggalan ayahnya, yakni Begawan Mudali. Demikianlah, Nyi Lasmaya dengan ketabahannya dapat mcng- atasi berbagai penderitaan hidup di tengah hutan belantara di- temani dengan setia oleh ketiga anak angkatnya yang berwujud binatang.

Selanjutnya dikisahkan anak Nyi Lasmaya yang dibuang ke segara oleh Nyi Nurhayat. Di atas sebuah gunung, konon ada sebuah negeri yang seluruh penghuninya berupa jin. Negeri itu bernama Malebah. Yang men- jadi ratu di negeri itu adalah seorang jin Islam yang amat sakti her- nama Antaboga. Permaisuri ratu berparas rupawan dan berhati mulia, namanya Nyi Antamaya. Negeri Malebah sangat kaya dan subur.

Pada suatu ketika Ratu Antaboga tengah memeriksa keadaan di pantai. Tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya di tengah-tengah segara yang diombang-ambingkan ombak. Kian lama cahaya itu semakin mendekat. Ternyata cahaya itu keluar dari dalam sarah. Raja Antaboga sangat tertarik. Diambilnya sarah itu, lalu dibuka- ny a. Ternyata di dalamnya ada seorang bayi mungil terbungkus kain yang berlumuran darah. Raja Antaboga memangku bayi itu dibawa pulang ke istana, lalu diperlihatkan kepada permaisurinya. Nyi Antamaya sangat senang melihat bayi itu. Dia memang sangat mendambakan mempunyai seorang anak. Bayi itu kemudian dipelihara oleh Raja Antaboga dan permaisurinya. Raja jin memberi nama anak itu Amarsakti, Nyi Antamaya memberi nama Rahaden Samudra, Patih Naga Puspa memberi nama Raden Somadiningrat, Mantri memberi nama Raden Amarlaela, dan Patih Andaka memberi nama Radeh Mudali Somanti. Dengan kesaktiannya, Raja Antaboga telah dapat mengetahui asal usul bayi itu. Bayi itu ternyata adalah putra Nyi Lasmaya yang dibuang ke tengah segara oleh Nyi Nurhayat. Demikianlah putra Nyi Lasmaya akhirnya dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh Raja jin dan permaisurinya. Adapun yang ditugaskan sebagai pengasuhnya adalah jin Samad dan Samud. Waktu anak itu sudah dapat betjalan, Raja Antaboga memerintahkan seorang tukang kamasan membuatkan sebuah kereta kuda yang seluruhnya ter- bu at dari emas untuk anak itu. Diceritakan anak itu telah berusia 7 tahun. Dia mulai dididik dan diajari membaca Al-Qur'an oleh Raja jin. Ketika Amarsakti berusia 10 tahun, dia mulai diajari ilmu kebatinan, ilmu kegagahan dan kesaktian serta bermacam-macam ilmu lain. Pada suatu hari Raja Antaboga memanggil Amarsakti. Sang raja menceritakan asal usul Rd. Amarsakti. Diceritakan bahwa Amarsakti bukanlah anak kandungnya, tetapi anak manusia, keturunan raja, cucu maharesi. Diceritakan pula bahwa ibu kandungnya adalah Nyi Lasmaya yang dibuang oleh madunya ke tengah hutan karena rasa iri, dan dia sendiri dibuang ke tengah segara. Adapun ayah kandungnya adalah Baginda Ma'ruf yang menjadi raja di negeri Madursan. Selanjutnya Raja jin menyuruh Amarsakti menjemput ibunya yang tengah menderita di hutan Da naka.

berpe-:: san kepada Amarsakti agar jangan sekali-kali menaruh dendam dan sakit hati kepada ayah kandungnya. Tidak menunda-nunda lagi, Amarsakti segera pergi ke hutan Danaka ditemani oleh pengasuh- nya, Samad dan Samud.

Pertemuan ibu dan anak itu sangat mengharukan. Untunglah ada tiga binatang yang lucu, Pancatandran, Panjimasang dan Panji- layang. Dengan kelakarnya mereka bertiga dapat menghibur hati ibu dan anak itu. Bahkan ketiga binatang itu memanggil Aka (kakak) kepada Amarsakti. Akhirnya Raden Amarsakti membawa ibu dan ketiga saudara angkatnya ke istana raja jin di Malebah. Kedatangan mereka disambut gembira oleh raja jin, permaisuri dan seluruh rakyat Malebah. Demikianlah, akhirnya ibu dan anak itu dapat hidup bersama dalam suasana bahagia di negeri Malebah.

Setelah Rd. Amarsakti cukup dewasa, Raja Antaboga menyu- ruhnya mengembara untuk mencari ayahnya sambil memperdalam ilmunya. Ia dibekali sebatang tongkat sakti yang didalamnya berisi selaksa jin, dan sebuah meriam sapujagat. Apapun yang diinginkan akan dikabulkan oleh tongkat sakti itu. Berangkatlah Rd. Amarsakti ditemani oleh jin Samad dan Samud mengembara di atas bumi. Dalam pengembaraannya, Amarsakti menyamar sebagai seorang anak gem bala, sesuai dengan pesan ratu jin urituk tidak memamerkan ketampanan dan kepandaiannya.

Dikisahkan pengembaraan Rd. Amarsakti telah sampai pada se buah hutan belantara. Kebetulan di hutan itu Baginda Ma'ruf sedang berburu bersama patih dan para prajuritnya. Kctika Amarsakti sedang berjalan, ada beberapa ekor rusa yang berlarian ke arahnya karena dikejar-kejar oleh prajurit Madursan. Dengan ke- saktiannya, Amarsakti menyem bunyikan rusa-rusa itu dan kemudian menyulap seekor sapi yang sangat besar dan kuat, lalu dia duduk berteduh di bawah pohon ingin melihat ayahnya.

Sapi itu ditembaki oleh prajurit Madursan, tetapi tidak mem- pan. Kemudian sapi itu dikeroyok oleh para prajurit, tetapi malah

p

Waktu Baginda Ma 'ruf siuman, dia menanyai siapa yang telah mcnolongnya. Dijawab oleh para prajurit bahwa anak gembala itulah yang telah menolongnya. Kepada raja, Amarsakti mengaku bernama Sarah. Sebagai tanda terima kasih, raja membawa si Sarah ke istana untuk dijadikan pelayan dan ternan bermain kedua anak- nya, yakni Sabang dan Saka. Semenjak itu si Sarah tinggal di istana Ma dursan sebagai pesuruh. Tetapi rupanya Nyi Nurhayat dapat mengetahui siapa sebenarnya si Sarah yang menjadi pelayan itu. Dia tahu bahwa si Sarah itu sesungguhnya adalah putra baginda yang telah dibuangnya dulu. Timbul niatnya untuk mengenyahkan SJ Sarah. Dia lalu membujuk raja agar menyuruh Sabang dan Saka mencari pedang raja yang hilang. Kepada Sabang dan Saka dia berpesan agar membawa si Sarah. dan di tengah hutan si Sarah harus dibunuh. Siasat Nyi Nurhayat berhasil. Di tengah hutan belantara Sarah dibunuh oleh Sabang dan Saka. Kepada raj a mereka mengatakan


Cerita beralih pada sebuah negeri yang subur makmur, yakni negeri Mulki. Rajanya seorang ratu Islam yang agung, bernama Maharaja Darmasakti. Permaisuri baginda bernama Putri Ratu Aryawulan. Maharaja Darmasakti mempunyai seorang putri yang amat cantik jelita, bernama Putri Bidayasari. Sang putri baru ber- usia 13 tahun. Putri Bidayasari sangat gemar pada bunga-bunga. Oleh karena itu Raja Mulki membuat sebuah tamansari yang di- namai Karang Sidakarya. Di taman itu tumbuh berbagai jenis bunga yang indah dan harum serta berbagai macam buah-buahan. Yang memeliharanya ialah Ki Kuwu Tani.

Walaupun usia sang putri masih sangat muda, tetapi kecantik- annya telah menjadi buah bibir raja-raja dan para bangsawan di negeri-negeri lain. Sudah 100 raja yang mengajukan lamaran kepada Baginda Raja Mulki untuk dapat memperistri sang putri, namun sebegitu jauh belum ada seorangpun yang diterima.

Sementara itu pengembaraan Rd. Amarsakti yang menyamar sebagai Sarah telah tiba di Karang Sidakarya. Dia berhenti di de- pan sebuah rumah di dalam taman itu, lalu duduk di beranda. Rd. Amarsakti merubah lagi penyamarannya. Kali ini ia tidak menyamar sebagai seorang anak gembala, melainkan seorang yang bermuka buruk dan berkulit hitam legam.

Belum berapa lama dia duduk, keluarlah Ki Kuwu Tani. Dia terkejut melihat ada seorang anak bermuka hitam legam tengah duduk di' beranda rumahnya. Ketika ditanya oleh Ki Kuwu Tani, anak itu mengaku bernama si Ogin. Si Ogin bercerita bahwa dia

se dang mengembara mencari orang tuanya. Kuwu Tani merasa tc rtarik, lalu dia memelihara si Ogin. Semenjak itu Rd. Amarsakti yang m enyamar sebagais si Ogin tinggal di Karang Sidakarya se- bagai an ak angkat Ki Kuwu Tani. Pekeijaannya sehari-hari ialah_ memelih ara kebun dan taman milik sang putri. Sejak kebun itu dipelihara oleh si Ogin, maka buah-buahan pun tumbuh semakin su bur dan bunga-bunga berkembang mekar. Berita tentang kecantikan Putri Bidayasari telah sampai pula ke negeri Madursan. Rd. Sabang yang telah menginjak usia remaja sangat tertarik mendengar kabar tentang kecantikan sang putri. Dia mulai terkena panah asmara. Setiap hari keijanya hanya mela- rn un. fbunya, Nyi Nurhayat cukup awas melihat perubahan sikap anakny a. Di a lalu menanyainya. Rd. Sabang pun berterus terang, bahwa dia ingin melamar Putri Bidayasari, putri Baginda Raja "vl ulki. Pe rmintaannya segera dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Segeralah dipersiapkan segala sesuatunya, kain, perhiasan emas permata yang sangat banyak dan berbagai barang-barang mewah mtuk cl ipcrse m bahkan kepada sang putri. Maka be rangkatlah rom-

)()J1gan Rd. Sabang yang dipimpin oleh Pa tih Budiman dan Pa tih lnd rapura. Singkat ccrita, lamaran itu disambut baik oleh Baginda Maha- raja Darm asakti. Bahkan sesuai dengan permintaan Bagin da Ma'ruf, Rd. Sabang dan Saka disuruh tinggal di istana Mulki selama 3 bu- lan untuk lebih mendckatkan Rd. Sabang kepada Putri Bidayasari. ' arn un ternyata Putri Bidayasari sendiri tidak menyenangi ke- hadiran Rd. Sabang dan Saka. Bahkan dia mem bC' nci Rd. Sabang yang telah melamarnya Selama Sabang tinggal di istana Mu lki sang putri tidak pernah memberikan sikap yang manis, bahkan bcrsuapun dia enggan. Pada suatu hari sang putri mohon izi n kepada ayahnya akan pcrg i ke Karang Sidakarya. Baginda mengabulkannya. tetapi harus ,J itcma ni o kh Rd. S<1 bang. Walaupun merasa kesal, akhirnya sang putri mcnurut j uga. Maka disiarkanlah berita oleh para ponggawa. hahwa sang putri akan berkunjung ke Ka ra ng Sidakarya. Rakya t pun sibuk. mempersiapkan penyambutan. T anpa ada seorang pun yang tahu. si Ogin didatangi o leh j in Samad dan Samud yang mem- hawa scikat ke mbang berwarna wa rni cla n baunya semerbak. Kcm h8 n!! itu ditanam oleh si Ogin di taman Sirl akarya.

Tibalah sang putri di Taman Sidakarya. Dia bcrkdiling menik- mati keindahan taman. Tiba-tiba dia tcrtegun, karena hidungnya mencium bau yang sangat sem crbak. Dia lalu mcncari sum bcr wewangian itu, tcrnyata datangnya dari tanaman bunga yang bcr- aneka warna. Sang putri sangat tcrtarik pada kcindahan dan kc- haruman bunga itu. Tengah dia mcnikmatinya, tiba-tiba matanya melihat ada seorang anak laki-laki bcrkulit hitam sepcrti dandang tengah duduk di atas pohon. Putri mcmanggil orang itu turun. lalu mcnanyainya. Anak itu ternyata si Ogin. Sambi! tcrscnyum- scnyum lu cu si Ogin bercerita tentang bunga yang sangat dikagumi oleh sang putri. Bunga itu ditanam olchnya, dan kctika putri mc- nanyakan nama bunga itu. si Ogin mcnjawabnya 'kcmbang cntah apa n~u11a ny ~~ ".

Mclihat tingkah laku dan banyolan-banyolan si Ogin yan!,! lu cu, sang putri tcrtarik. Maka sang putri pun mengajak Ogin tinggal di istananya. Scjak itu huhungan putri dc ngan si Ogin mcnjadi akrab. Di mana pun salt!! putri bcrada. di sana pula si Ogin menycr- tainya. ***

Nun jauh di sana. ada scbuah kcrajaan raksasa bernama Keraja- an Ceiung Keraton. Rajan ya adalah raksasa sakti clan tcrmashur bcrnama Gumanti. Pcnnaisuri Raja Cumanti bcrnama Randasari, putri Purbalaksa. scorang raja raksasa dari negcri Dcwong. Yang menjadi patih eli Kcrajaan Ceiung Keraton adalah Patih Dirgabahu dan .layakclana, dua patih raksasa yang san gat sakti.

Kon oii. Raja Cumanti tclah mcndcngar pula tcntang kabar kecantikan Putri Bidayasari clari ncgc ri Mulki. Pada suatu kctika clia mcmerintahh.a11 Patih Dirgabahu untuk mcnculik sang putri Bicla yasari. Sang patih pun segera mclaksanakan perintah rajanya. Dengan mcnggunakan kcsaktiannya, Patih Dirgabahu tcrbang kc negeri Mulki. Setibanya eli negeri Mulki, Dirgabahu menerapkan aji sirep, sehingga dengan leluasa dia membawa putri Bidayasari ke luar keraton Mulki, lalu dia terbang .akan menycrahkan sang putri kepada Raj a Gumanti.

Seluruh isi keraton Mulki gcger kctika kecsokan paginya mere- ka mengetahui bahwa Putri Bidayasari telah hilang. Baginda Mulki

scgera mcmcrintahkan para patih dan selurull p rajuritnya untuk m cncari sang pu t-ri. Si Ogin berkata kepada Baginda bahwa dia akan m cminta tolong kepaJa bekas maj ikannya mencarikan sang p utri. Baginda Mulki mcnjanjikan kepada si Ogin. bahwa siapapun yang dapat n1c ngcm balikan sang putri, ma ka dia akan dijadikan m cnantunya. Sctclah menJapat perkenan Bagi nda, si Ogin pun :-,cge ra berangkat. Di tempat yang sepi d ia segera berganti rupa. "-.i ni dia mcnampakkan wuju d nya yang asl i. seorang satria tampan dan gagah perkasa. Dc ngan mcnunggang kuda sakti nya yang ber- nama Gclap Puspa. Am a rsak t i m e lcsa t a mat kc nc ~m g. t

Sc m cntara itu Patih Di rgabahu yang tc lah bc rhasil mcnculik l'u tri 13i dayasari tcnang- tcna ng saja tcrbang di a ngkasa. Pikirnya tal-; ada scorangpun yang akan sanggup m cnyusul nya. Karcna se- nangnya tc laJ1 bcrhasil mclaksanakan titall rajanya, d ia m enjadi k ngah. Dalam sckcjap saja kuda Gclap Puspa y ang d itunggangi o lc h Rd. Amarsakti tclah tiba eli hadapannya. Scccpat kiJat Gelap Puspa m cncrjang kepala Dirga bahu hingga ra ksasa itu scmpoyong- an. Belum scmpat dia mem pcrbaiki posisinya, d ia telah diterjang Ll gi o leh Gclap Puspa h ingga kcpalanya pccah, dan raksasa it u ma ti sckc tika. Putri Bidayasa ri yang tc ngah dibo pong o lell patih raksasa itu tcrlcpas. Dcngan sigap Rd. A m arsakti mcnyambamya, Ldu mcndudukkannya di atas kuda.

Kctik a tcrsadar, Putri l3idayasari sanga t takjub m cl ihat ada ... coran g satria tampan dan gagah eli hadapannya. Sang p utri lalu menany ai asal usul satria itu. Kd. A marsakti pun lalu memper- kcnalkan namanya. Kem ucli an Rd. Amarsakti m enceritakan bahwa -., j Ogin itu adalah bekas budaknya yang kini tc lah dipe lihara oleh sa ng putri. Dari perke nalan itu tumbuh lah benih cinta di hati sang p utri. D ia mcngajak R d. Amarsakti untu k mengantarnya pulang ke is tana Mu lk i. te tapi R d. Ama rsakti m cnoJaknya karena sang p utri telah d itunangkan dengan Rd. Sabang dari Madursan. Sang pu tri pun bcrkcras in gi n mcngaj a k A m a rsa k ti ke kera tonnya, !-..a rena dia ticlak sudi dijocloh kan kcpada R d. Sabang. i\khirny a d iaturlah si asat oleh m c reka be rdua. Sang pu tri akan m cngajukan pcrm intaan kcpada ayahnya agar di carikan seckor kucing, scekor

kera dan seekor tiung yang dapat berbicara. Setelah itu, rnaka rne- reka pun berpisah. Sang putri kernbali ke istana Mulki, dan Amarsakti setelah tidak tampak oleh sang putri kern bali pad a penya- rnarannya sebagai si Ogin. Kernbalinya Putri Bidayasari ke istana Mulki disarnbut dengan sukacita oleh ayah dan ibu serta seisi istana. Dia dihujani pertanya- an oleh ayahnya. Sang putripun rnenerangkan bahwa yang rne- nolongnya adalah seorang satria gagah perkasa dari negeri Malebah, bekas rnajikan si Ogin. Beberapa hari setelah putri Bidayasari kernbali ke istana Mulki, dia segera rnenjalankan siasat yang telah di- rencanakannya dengan Amarsakti. Sang putri rnengajukan perrnintaan kepada ayahnya agar dicarikan seekor kera, seekor kucing dan seek or tiung yang dapat berbicara. Perrnin taan sang pu tri lalu dijadikan sayernbara oleh raja Mulki. Barang siap~ yang dapat rnemenuhi perrnintaan sang putri, rnaka akan dijadikan suarni putri Bidayasari.

Mendengar sayembara itu Rd. Sabang rnerasa arnat susah, tetapi segera dihibur oleh Baginda Mulki bah wa say em bara i tu hanya ditujukan kepada raja-raja dari 100 negeri yang telah lebih dahulu rnengajukan lamaran. Bagairnanapun permintaan sang putri itu tidak mungkin dapat terpenuhi. Mendengar penjelasan baginda, maka terhiburlah hati Rd. Sabang.


Sudah lima bulan Rd. Sabang tinggal di istana Mulki. Selarna itu pula dia merasa kecewa karena sang putri yang dirindukannya tidak pernah rnernberikan budi yang manis. Raja Mulkipun belum mern berikan kepastian kapan dia akan dipersandingkan dengan sang putri. Sudah harnpir habis kesabarannya. Apalagi rnelihat tingkah laku si Ogin yang sangat akrab dengan sang putri. Setiap saat mereka bercengkrarna dan bercandaria. Sernakin irilah Rd. Sabang menyaksikannya. Pada suatu ketika si Ogin minta izin kepada sang putri akan kem bali ke Sidakarya menernui Kuwu Tani yang menjadi orang tua angkatnya. Putri rnengizinkannya hanya 7 hari. Maka pergilah

Ogin. Setelah agak jauh dari is tan a Mulki, dia segera mem baJ1 wujudnya menjadi seorang satria, lalu t erbang ke angkasa menuju ke rajaan Malebah. Sctibanya di MalcbaJ1 d ia minta kepada raja ~ntaboga agar melamarkan Putri Bidayasari un tuk menjadi istri- nya. Surat Jamaran itu akan diantarkan oleh tiga ekor binatang yang telah menjadi saudara angkatnya, yaitu Pancatandran, Pan- jimasang dan Panjilayang. Kecsokan harin ya pcrgilah Rd. Amar- sa k ti menunggang kuda Gelap Puspa. ditemani olch tiga saudara :mgkatnya.

Singkat cerita, mereka telah tiba di istana Mulki. Rd. Am ar- sakti menyuruh ketiga binatang itu mcnghadap Raja Mu lki untuk menyerahkan surat. Ketiga binatang itupun segcra mcmasuki istana. Kcbdulan di mandapa tengah berkumpul R aja Mulki bersama para patih dan mantri kerajaan. Pancatandran segera menghatur- kan surat kchadapan Baginda. Beginda takju b mclihat ketiga ckor binatang itu dapat berbicara seperti manusia. Bahkan ketika raja mcnyuruh tiung untuk berdendang, burung itupun dapat melaku- kannya.

Raj a Mulki lalu membaca isi surat itu. Selesa i mcmbaca su ra l sa ng raj a tampak kebingungan. Orang yang m engutus ketiga bi- na tang in i mengajukan lamaran untuk mcmpcristri Putri Bidayasa ri. padahal sang putri telah ditunangkan dengan Raden Sabang. Ba- gi nda lalu memanggil sang putri. Sang putripun ditanya pendapat- nya tentang isi surat itu. Tanpa ragu Putri Bidayasari mengatakan bahwa lamaran itu patut diterima, karena orang itulah yang telal1 menyelamatkannya dari tangan raksasa penculik. Selain itu pengi- rim surat ini telah dapat memenuhi permintaannya untuk mencari- kan seeko r kera, seekor kucing dan seekor tiung yang dapat berbicara. Dengan demikian, maka orang itu telah memenangkan sayembara. Putri Bidayasari lalu mem bawa ketiga ekor binatang yang lucu itu ke dalam keputren. Baginda Mulki bertambah bimbang mendengar jawaban pu tri- nya. Dia lalu menanyai pendapat Patih Durjaman. Mcnurut Patih Durjaman sang putri harus segera dikawinkan dengan Raden Sabang karena Baginda Mulki telah berjanji kepada Baginda Ma 'ruf, o rang tua Rd. Sabang. Maka Bagincla lalu m engutus seorang k urir mcngirimkan surat kcpada Baginda Ma'ruf di Madursan yang isi-

Pu tri Bidayasari.

Ketika menerima surat dari caJon besannya, Baginda Ma'ruf sangat bersukacita. Dia segera bersiap-siap akan pergi ke negeri Mulki untuk mengawinkan anaknya. Seribu prajurit segera disiap- kan. Tidak ketinggalan kedua patihnya, Patih Budiman dan In- drajaya m enyertai raj a dan perm aisuri Nyi Nurhayat.

Berhari-hari perjalanan Raja Ma dursan bersa ma rombongan- nya, akhirnya sampailah mereka di negeri Mulki. Bertemulah kedua raja besar itu. Mereka segera terli ba t dalam pem bicaraan, merencanakan hari pernikahan putra-pu tri mereka. Disepakati, bahwa pernikahan akan dilangsungkan dua hari lagi.

Kabar tentang hari perkawinan Putri Bidayasari dengan Rd. Sa bang didengar pula oleh si Ogin. Dia segera mem in ta izin kepada sang putri akan pergi menjemput ayah dan ibu pungutnya. Setelah keluar dari istana Mulki, si Ogin segera beralih rupa pada wujud aslinya. Dengan m enunggangi kuda Gelap Puspa seccpat kilat dia terbang ke negeri Malebah. Raja Antaboga menyambut kedatangan Rd. Amarsakti. Dia meny uruh Amarsa kti agar bersiap-siap ka- rena akan dinikahkan dengan Putri Bidayasari besok hari.

Keesokar.. harinya Rd. Am arsakti dengan didampingi ibunya, Nyi Dewi Lasmaya telah berdandan rapi sehingga nampak agung. Para prajurit jin dan dayang yang cantik-cantik telah siap meng- iringi Rd. Amarsakti dan Nyi Lasmaya. Oleh Raja Antaboga ibu dan anak itu dibekali jimat Sutra Wulung Bebeningan dan dinase- hati agar mereka tidak menuruti nafsu. Setelah segalanya siap, dengan menaiki kereta em as Rd. Amarsak ti dan ibunya diiringkan oleh prajurit jin dan para dayangnya berangkat menuju ke negeri Mulki.

Dalam sekejap saja mereka telah tiba di negeri Mulki. Para bangsawan negeri Mulki dan kerajaan Madursan yang tengah ber- kumpul merasa takjub melihat kedatangan rombongan Rd. Amarsakti yang begitu agung bagai satria dewata, dan Nyi Lasmaya yang cantik bagai bidadari, yang diiringkan oleh para pengiring yang semuanya tampak gagah dan berwibawa. Baginda Mulki terpesona oleh keagungan mercka. Setelah

'>aJar dia scgera mcnyambut rombongan itu. menanyai siapa, dari mana clan apa maksucl kedatangan mereka Nyi Lasmaya menje- laskan. bahwa mereka datang dari negeri Malebah, mengantarkan anakny a yang akan mcmkah hari itu juga dengan Putri Bidayasari. T crkcju t Baginda Mulki mendengar penuturan Nyi Lasmaya. Dia tampak bimbang. Dcngan suara perlahan dia mengatakan bahwa Putri Bidayasari akan din.ikahkan esok hari kepada Rd. Sabang da ri ncgcri Madursan. Nyi Lasmaya tetap berkeras akan mengawin- ka n anaknya kcpada Putri Bidayasari ha ri itu juga.

Raj a Mulki lalu memanggil Putri Bidayasari. Sang Putri datang hnsama Pancatandran, Panjimasang dan Panji!ayang. Dia langsung mcnyalami Nyi L:Jsmaya dengan takzim. kcmudian menyalami Rd. \marsakt i, scmcntara kctiga binatang itu duduk di sarnping Nyi Lasmay

\yi Lasmaya mcmbesarkan hati sang putri untuk tidak ragu-ragu

mcncrim:1 lamaran putn:111ya. Adapun soal Baginda Ma'ruf, ay ah Rd Sabang. Nyi Lasmayalah yang akan mcnghadapinya, karena d1a adalall musuh bebuyutannya.

Ny i ' urllaya t yang juga berada di sana menggigil karena ma- rah nya mclillat cbn me ndengar kata-kata Nyi Lasmaya, bekas 1 1adunya. Nyi Nurhayat mcnghampiri Ny i Lasmaya dan mencaci- lll; Jkinya Nvi La-;maya membalasnya dengan membeberkan ke- husukan hati ) i Nurhayat yang telah meni stainya kctika dia me lahi rkan dulu.-r erjacl il ah pertengkaran di an tara dua putri yang bennadti itu. ya ng bcrlanjut dengan pertempuran. Nyi urhayat tcrnyata bukanlah lawan Ny i Lasmaya murid dan anak angkat raj a jin Antaboga yang sakti itu. Dengan sekali sabetan Pl'-

d.J n ~; s <~j;t Nvi Nurll:t yat ma li dl'ng;Jn ll'hl'f pt tt us. Melihat ibunya rnati. Rd. Sabang segcra maju sambil mcng- hunu<; pcdan)!nya. tctapi dia dihadang oleh Pa ncatandran. Dia c!i- lakari olch kcra itu hingga tewas. Rd. Saka segera memburu. tdapi dia juga di hadang olch Panjimasang, dan diapun mati di
t.mgan Pancatandran. Bag in da 1\ila'ruf mcmerintahkan Patih f' :iman dan lndrajaya

Pancatanclran clan Panjimasang. Nyi Lasmaya segera menggunakan jim at Su tra Wulungnya, clipukulkan pada Baginda Ma'ruf dan kedua patihnya, hingga mereka bertiga jatuh tak berdaya lagi.

Melihat banyaknya prajurit yang mengepung Pancatandran dan Panjimasang. Rd. Amarsakti memerintahkan Panjilayang untuk menghadapi para prajurit itu. Panjilayang terbang melayang-layang mematuki mata para prajurit Madursan. Kocar kacir pasukan Madursan menghadapi tiga ekor binatang yang sakti itu. Mereka semua berlarian menyelamatkan diri. Demikian pula para bangsawan dan prajurit negeri Mulki semua bersembunyi.

Nyi Lasmaya menghampiri Raja Mulki. Dia minta maaf kepada Raja Mulki karena telah membuat keributan di negeri itu. Nyi Lasmaya lalu menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana hubungannya dengan raja Madursan. Diceritakan bahwa Raja Madursan adalah bekas suaminya, yang karena hasutan Nyi Nurhayat telah mem- buang dirinya ke hutan Danaka. Dijelaskan pula bahwa Rd. Amarsakti itu adalah putra kandung Raja Madursan yang dibuang ke !aut oleh Nyi Nurhayat ketika dia dilahirkan.

Baginda Ma'mf yang sudah tak berdaya itu ikut mendengarkan penuturan Nyi Lasmaya. Kini sadarlah dia, bahwa selama ini clia telah dihianati oleh Nyi Nurhayat, istrinya yang pertama. Dia meminta maaf kepada Nyi Lasmaya, tetapi Nyi Lasmaya tidak sudi mengampuninya. Dia bertekacl akan membunuh bekas suaminya bescrta kedua mentrinya. Kemudian Baginda Ma 'ruf meminta maaf kepada putranya, Rd. Amarsakti. Raden Amarsakti mau mengakui Baginda Ma'mf sebagai ayahnya, tetapi dia tidak bisa mengampuninya karena dia ingat akan penderitaan ibunya. Raja Mulki mencoba menyabarkan hati Nyi Lasmaya, tetapi diapun tidak berhasil. Pada saat itu datanglah Raja jin Antaboga. Dia mengingatkan Nyi Lasmaya untuk tidak mengumbar nafsu amarah, dan agar Nyi Lasmaya mau mengampuni bekas suaminya. Malahan dia menyuruh Nyi Lasmaya untuk minta maaf kepada Baginda Ma'mf atas sikapnya yang kasar itu. Akhirnya Nyi Lasmaya menurut. Dia membebaskan Baginda Ma 'ruf clan kedua patihnya, lalu dia meminta ampun kepacla bekas suaminya. Mcreka- pun saling memaafkan.

Setelah suasana pulih, maka dilangsungkanlah pernikahan Rd. Amarsakti dengan Putri Bidayasari. dan Baginda Ma'ruf di- nikahkan kembali dengan Nyi Lasmaya. Setelah selesai pemikahan mereka, Raja Ma'ruf dan permaisuri l.> ewl Lasmaya kembali ke negeri Madursan, sedangkan Rd. Amarsakti teta.p tinggal di istana Mulki bersama istrinya, Putri Bidayasari.

2.3. Analisa Bentuk/Struktur Luar WAO Naskah Wawacan Asep Ogin adalah sebuah karya sastra Su nda klasik yang ditulis dalam bentuk wawacan. Secara etimologis, kata wawc1 can berasal dari kata waca, yang artinya baca. Secara kcseluruhan wawacan dapat diartikan sebagai suatu bentuk karya sastra berupa lakon atau hikayat yang penyampaiannya dengan cara dibacakan. Adapun bahasa yang digunakan dalam naskah WAO aclalah bahasa Sunda yang merupaka n bahasa induk rnasyara- kat di dacrah J awa Barat. Karya sastra wawacan ditulis dalam ben tuk puisi tradisional yang sangat terikat oleh ketentuan-kctentuan khusus ( dangding) dan membentuk pola-pola tertentu. Dangding terdiri atas beberapa buah purm h. Dalam dunia sastra Sunda dikenal 17 macam pupuh, yaitu: pupuh dangdanggula, asmarandana, kinanti, balakbak, sinom, pangkur, durma, gambuh, pucung, magatru, maskumam~ hang, gurisa. ladrang, lambang, wirangrong, j urudemung, dan miji/. Masing-masing pupuh mempunyai watek (sifat) tersendiri yang melukiskan situasi atau suasana yang tengah berlangsung dalamla- kon, seperti suasana sedih, marah, cinta kasih, dan sebagainya. Sebagai contoh, pupuh asmarandana, asal dari kata smara yang artinya 'berahi', asmara; dan kata dahana yang artinya api. Pupuh asmarandana biasanya dipakai untuk menggambarkan situasi atau suasana asmara atau cinta kasih. Pupuh da ngdanggu/a biasanya digunakan untuk melukiskan suasana kegembiraan, keindahan dan kesenangan. Sedangkan pupuh balakbak biasa dipakai untuk melukiskan adegan atau perkataan yang berisi le lucon.

Pola ini adalah sudah baku. Kita bandingkan dengan salah satu pada (bait) dari pupuh asmarandana yang tercantum dalam W AO (pupuh VI :96):

I Pedang dipesat ku putri (8 - i)
II III kabeh bencar rujat rajet IV teu pisan taya karina diguratkeun ka panjara (8 - (8 - (8 - a) e) a)
V VI tinggulitik kawas kapuk VII banget karamatna pedang kai nu palohara (7 - (8 - (8 - a) u) a)

Kadang-kadang bunyi vokal pacta suku kata terakhir ( engang) dalam padalisan Ill berubah menjadi o. Selanjutnya contoh pola pupuh kinanti

I Budak leutik bisa ngapung (8 - u)
II III nguriling kakalayangan IV neangan nu-amis-amis babaku ngapungna peuting (8 - (8 - (8 - i) a) i)
V VI naon bae nu kapanggih sarupaning bubuahan (8 - (8 - a) 1)

Kita bandingkan lagi dengan salah satu pada (bait) pupuh Kinanti yang tertulis dalam WAO : I Pancatandran pok piunjuk (8 -u) II ka Lasmaya sarta sidik (8 -i)

III darma wawayangan bae (8-e)
IV raga taya pangawasa (8-a)
V lamun kasasar lampah (7-a) (8−u)
VII badan anu katempuhan (8−a)

-- a) (8 -i) (8 -a) (8 -- i)

Jeiaslah, bahwa penulisan Wawacan Asep Ogin ini memperhatikan atau mematuhi pola-pola yang telah dibakukan dalam seni sastra puisi Sunda.

Secara keseluruhan bangunan W AO ini terdiri dari: I 0 pupuh dandanggula (152 pada); 4 pupuh sinom (53 pada); 3 pupuh pu- cu ng (8 2 pada); 4 pupuh kinanti ( 93 pada); 5 pupuh pangkur (79 pada); 6 pupuh asmarandana (99 pada); 5 pupuh mijil (8 4 pada); 1 pupuh magatru (18 pada); 4 pupuh durma (5 7 pada); 1 pupuh wirangrong (17 pada); 2 pupuh maskumambang (42 pada); 2 pu- pu h gambuh (34 pada); 1 pupuh kasreng (4 pada).

Dari perincian di atas tampak, bahwa pupuh yang paling sering digunakan adalah pupuh dandanggula dan jumlah pada ( bait)nya pu n paling banyak, menyusul pupuh asmarandana, pupuh mijil dan se teruskan. Adapun jenis pupuh yang digunakan adalah 13 macam pupuh.

2.4. Analisis lsi/ Struktur Dalam WAO Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa untuk me- ngetahui strutkur dalam suatu karya sastra diperlukan pem ahaman dan kajian yang cukup da1am terhadap karya sastra yang bersang- ku tan. Dalam hal ini ada beberapa teori untuk menjelaskan struktur dalam. Pertama, konsep yang diajukan oleh Aristoteles yang mengatakan, bahwa karya seni itu adalah "a unified whole". yang kemudian dijelaskan oleh Suiastin Sutrisno dalam pembicaraannya mengenai Hikayat Hang Tuah -Analisis Struk tur dan Fungsi ( 1979:3 64), bahwa setiap teks merupakan suatu kesatuan yang didu kung oleh bagian-bagiannya, membawakan suatu pesan yang terkandung dalam tema poko k. Tiap bagian atau unsur karya itu merupakan bahan organik pembangun hasil seni itu. Jadi apabila ad a bagian yang dibuang atau ditempatkan di tempat lain, maka hal ini akan sangat mengganggu efek keutuhan karya sastra itu. _Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam setiap kajian struktur, kese-

to- laknya adalah keseluruhan. Dalam keseluruhan itu bagian-bagian atau unsur-unsur tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Setiap bagian atau setiap unsur harus disoroti dalam kon- teks cerita itu, sedangkan cerita itu sendiri sebagai suatu keseluruhan harus ditempatkan dalam keseluruhan kode dan konvensi sastra budaya masyarakat yang bersangkutan.

Teori lainnya mendasarkan pada struktur pembagian isi su-atu karya sastra yang terdiri atas "harrnoni-disharmoni-hanno- ni ". Teori ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada bagian awal cerita biasanya digambarkan suasana harmoni suatu kesatuan. Kesatuan ini bisa berupa kelompok masyarakat, keluarga, atau- pun suatu kerajaan, di mana pelaku utama me~adi bagian di da- lamnya. Kemudian cerita masuk ke dalam unsur khaos, berupa konflik yang menyebabkim terjadinya disharrnoni/gangguan ter- haclap penggambaran suasana harmonis. Unsur khaos ini juga biasa- n}"a berupa ujian bagi tokoh sentral dan sekaligus ajang penggem- blengan mental bagi sang tokoh cerita. Sela~utnya cerita diakhiri dengan happy ending, di mana sang tokoh dapat mengatasi segala rintangan dan cobaan, dan dia dapat mengembalikan lagi suasana harmoni. Dalam menganalisis isi a tau struktur dalam W AO ini, penulis mendasarkan pada teori "harrnoni-disharmoni-harmoni" Pemi- lihan teori ini erat berkaitan dengan fungsi cerita itu sendiri bagi masyarakat Sunda, yakni sebagai sarana penyampaian nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral, di mana hidup suatu konsep nilai, bahwa yang baik akan dapat mengalahkan atau menghancurkan yang tidak baik/jahat. Adapun pembahasannya meliputi pemba- hasan alur/plot, tema, penokohan dan watak para tokoh serta peranan para tokok dalam keseluruhan lakon.

2.4.1. Alur / Plot Ada berbagai pengertian mengenai konsep alur/plot yang telah dikemukakan oleh para akhli sastra. Satu di antaranya dikemukakan oleh E.M. Foster yang mengatakan, bahwa plot adalah pen- ceritaan sebuah peristiwa van~t menekankan hubungan sebab aki-

tekan- an sebab akibat, dijalin dengan melibatkan konflik atau masalah yang pada akhimya diberi peleraian (E.M. Foster, dala.n Subardi, et.al, 1978 : 88). Plot merupakan nafas cerita. Dialah yang menggerakkan semua peristiwa. Lebih dari itu, plot berbicara mengenai sebab-sebab atau latar belakang suatu peristiwa. Ada dua jenis plot yang kita kenai, yakni plot Jurus dan plot sorot balik. Plot lurus diawali dengan perkenalan para tokoh, kemudian peristiwa-peristiwa yang mengikutinya, dan diakhiri dengan penyelesaian. Adapun plot sorot balik (flash back), yaitu susunan alur dengan gerak maju mundur, mulai dari tengah dan memotong kejadian. Plot sorot balik (flash back) biasanya terdapat dalam cerita berbingkai, yaitu dalam satu cerita, sitokoh bercerita lagi atau menceritakan lagi kejadian-kejadian pada waktu yang lebih awal.

Penulisan W AO tampaknya menggunakan plot lurus. Cerita ini diawali dengan perkenalan para tokoh, yakni para tokoh di negara Madursan, tempat di mana tokoh sentral lahir. Baginda Ma'ruf beristri dua, yang pertama bernama Nyi Nurhayat, dan yang kedua Nyi Dewi Lasmaya. Mereka hidup dengan rukun sampai Nyi Dewi Lasmaya mengandung. Keadaan ini melukiskan suasana harmoni. Suasana harmoni ini berlansung sampai menj elang kelahiran Rd. Amarsakti, sang tokoh sentral. Kehamilan Dewi Lasmaya rupanya menimbulkan rasa iri di hati permaisuri pertama. Dia khawatir kedua anaknya, Sabang dan Saka akan tersisih dengan lahirnya putra Dewi Lasmaya. Dari sini cerita sudah mulai masuk pada unsur khaos, yang diawali dengan kehamilan Dewi Lasmaya, lalu diikuti oleh peristiwa dibuang- nya Dewi Lasmaya· oleh raja dan anaknya oleh permaisuri petama. Selanjutnya diceritakan serangkaian kejadian yang mengisahkan penderitaan Dewi Lasmaya di tempat pembuangannya. Rangkaian kejadian ini merupakan gambaran suasana disharmoni yang dialami oleh tokoh-tokoh sentral, yakni Dewi Lasmaya dan Rd. Amarsakti, anaknya. Kesengsaraan Dewi Lasmaya dan putranya berakhir sampai da- tangnya pertolongan dari raja jin Antaboga. Dikisahkan ketika bayi Dewi Lasmaya lahir, bayi itu dibuang oleh ibu tirinya ke tengah

laut, lalu digantikan dengan tiga ekor binatang, yakni seekor kera, seek or kucing dan seek or tiung (burung beo ). Bayi itu kemudian di- temukan oleh raja jin Antaboga dan selanjutnya dipelihara oleh raja jin dan permaisurinya, yang kebetulan tengah mengida~n-idam kan punya anak. Putra Dewi Lasmaya yang kemudian diberi 5 buah nama, yakni Rd. Amarsakti, Rd. Samudra, Rd. Soma Adi- ningrat, Amarlaela, dan Rd. Mudali Somanti, hidup bahagia di negeri Malebah. Pemaparan peristiwa itu merupakan penggambar- an suasana harmoni bagi tokoh sentral, Rd. Amarsakti. Suasana harmoni ini terganggu pula ketika Raja Antaboga menceritakan siapa sesungguhnya Rd. Amarsakti dan bagaimana asal usulnya. Rd. Amarsakti merasa berduka dan tim bul sakit hati terhadap ayah kandung dan ibu tirinya yang telah menganiaya dia dan ibunya. Dia kemudian menjemput ibunya di hutan Danaka untuk diajak tinggal bersama di negeri Malebah. Kejadian selanjutnya, Rd. Amarsakti pergi merantau untuk mencari ayahnya. Berbagai ujian fisik dan mental dialami oleh Rd. Amarsakti di dalam perantauannya yang menyamar sebagai seorang penggembala dengan nama Sarah, dan kemudian mengganti penyamarannya sebagai seorang tukang kebun yang lucu dengan nama Ogin. Dia menolong Baginda Ma'ruf dari amukan seekor lem- bu sampai kemudian dia dibawa ke istana Madursan. Di sini kern- bali dia mendapatkan ujian fisik. Dia dibunuh oleh dua saudara tirinya. yakni Sabang dan Saka, tetapi kemudian dia diselamatkan oleh Raja Antaboga. Peristiwa lain yang dialami dalam pengem- baraannya yaitu pertemuannya dengan Putri Bidayasari, putri Baginda Raja Mulki. Diam-diam dia jatuh cinta kepada sang putri. Di sini pun dia mendapatkan ujian fisik dan mental. Dia harus bertempur dengan patih raksasa yang menculik Pu tri Bidayasari. Dia juga diuji ketahanan mentalnya ketika dia mendapati kenyata- an bahwa Putri Bidayasari yang dirindukannya ternyata membalas cintanya, tetapi dia harus merahasiakan keadaan dirinya yang sebe- narnya, sesuai dengan pesan Raja Antaboga. Puncak ketegangan berlangsung ketika terjadi pertempuran antara Dewi Lasmaya dengan madunya, Nyi Nurhayat, dan be- kas suaminya, Bi.ginda Ma'ruf. Waktu Baginda rviulki akan meni- kahkan putrinya, Badayasari dengan Rd. Sabang yang waktu itu dihadiri oleh Baginda Ma 'ruf bersama permaisuri serta kedua~

Putri Bidayasari. Pertemuan yang menegangkan itu berlanjut dengan pertempuran yang menewaskan Nyi Nurhayat dengan kedua putranya, Rd. Sa- bang dan Saka. Pacta waktu ketegangan sedang memuncak, yaitu ketika Dewi Lasmaya berkeras a.kan membunuh Baginda M.a'ruf, be kas suaminya, pengarang menghadirkan Raja Antaboga sebagai tokoh yang dapat mengatasi ketegangan. Raja Antaboga dapat menyabarkan Dewi Lasmaya, sehingga dia tidak jadi membunuh bekas suaminya, bahkan dia bersedia memin ta maaf kepada bekas suarninya itu.

Cerita berakhir dengan happy ending, yaitu dengan rnenikah- nya Rd. Amarsakti dengan Putri Bidayasari, dan berkumpulnya kembali Dewi Lasmaya dengan llaginda Ma'ruf. Dewi Lasmaya dan Baginda Ma'ruf kembali ke negeri Madursan, sementara pu tra mereka, Rd. Amarsakti bersama istrinya tinggal menetap di negeri Mulki. t(clak Rd. Amarsakti akan menggantikan mertuanya meme- gang tah ta di negeri Mulki. Pacta bagian akhir cerita ini, suasana harmoni kembali dicapai. J elaslah, bahwa alur cerita WAO mengikuti pola "harmoni-dtsharmoni-harmoni". Apabila ditinjau dari struktur waktu dan ra ngka in peristiwa yang dijalin, tampa.k merupakan alur lurus atau tunggal Artinya, peristiea-peristiwa yang dilukiskan dalam crita ini berlangsung dalam satu garis lurus. secara berurutan mulai dari kehamilan Dewi Lasmaya, lahirnya Rd. Amarsakti, dlsusul dengan penderitaan Rd. Amarsakti menjadi dewasa sampai menikah. Jadi, alur cerita ini lums, semua peristiwa tida.k terjadi pada dua tingkat waktu yang berbeda, tidak seperti pada cerita berbingkai, di mana se orang pelaku mengisahkan lagi suatu cerita dari zaman yang Je bih dulu dari zam annya.

2.4. 2. T e m a

Semua karya sastra dalam bentuk apa pun, baik puisi maupun prosa pastilah mempunyai tema tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh 1 Wayan Jendra, bahwa tema adalah sesuatu yang dianggap paling menonjol yang mewarnai kehadiran suatu karya sastra

Pendapat lain yang sejalan denganpendapat di atas di- kemukakan oleh Jakob Sumardjo (1984:57), yang mtmgatakan bahwa tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita. Selanjutnya dijelaskan, bahwa cerita bukan hanya sekedar berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi susun- an bagan itu sendiri harus mempunyai maksud tertentu. Pengalam- an yang dibeberkan pada sebuah cerita harus mernpunyai permasalahan. Jadi, membicarakan masalah tema berarti mengupas tentang masalah pokok. Dapatlah dikatakan bahwa terna ini adalah gagasan atau ide-ide utama yang ingin disampaikan oleh pengarang, baik secara implisit maupun eksplisit. Tidak selamanya suatu cerita atau suatu karya sastra mempunyai tema yang tunggal. Mungkin saja dalam sebuah cerita terkandung beberapa tema yang dipandang oleh pembaca sebagai unsur-unsur yang menonjol dalam cerita tersebut. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sudut pandang orang-orang yang bersangkutan. Selain itu, menentukan tema suatu karya sastra dapat juga ditin- jau dari sudu t pandang pengarangnya.

Kendati di dalam sebuah cerita terkandung beberapa tema, tetapi kita dapat menentukan mana tema yang pokok, dan mana yang merupakan tema sampingan. Untuk kedua macam tema ini, l Wayan Jendra mengistilahkan tema utama dan tema sampingan, atau tema mayor dan tema minor (ibid : 8). Di dalam W AO terdapat beberapa unsur yang menonjol yang dapat dipandang sebagai tema-tema cerita itu. Pertama adalah mengenai ajaran moral tentang kebaikan dan keburukan. Setelah menelaah keseluruhan isi cerita dalam W AO dapat disimpulkan gagasan utama atau pun inti permasalahan cerita ini, bahwa yang tidak baik (jahat/buruk) bagaimana pun pada ahirnya akan dapat dikalahkan oleh yang baik dan yang benar. Adapun senjata utama bagi kebenaran adalah kesabaran, ketabahan, kejujuran dan ketak- waan. Para pembaca WAO akan dapat dengan mudah menentukan mana yang jahat dan mana yang baik yang disimbolkan pada sifat dan tindakan para tokoh cerita. Kejahatan diidentikkan dengan sifat-sifat iri, dengki, cemburu, munafik (di depan bermuka manis, tetapi diam-diam mempunyai niat yang keji). Sifat-sifat ini dipei::

tokoh Nyi Nurhayat, permaisuri I Baginda

Ma' ruf, sebagai simbol tokoh hitam /j ahat. Sedangkan sifat-sifat yang baik dan benar dipersonifikasikan pada tokoh Dewi Lasmaya, yang digambarkan sebagai orang yang sabar. jujur, setia dan tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidu p. Dia adalah simbol putih yang membawa misi kebaikan dan kebcnaran. Konflik antara Nyi Nu rhayat dengan Dewi Lasmaya adalah simbol konflik hitam dan putih, atau jahat dengan baik, yang akhirnya dimenang- kan oleh Dewi Lasmaya sebagai pihak yang benar.

Dari sini kita dap

Selain tema utama seperti yang diu raikan di atas, masih ada beberapa masalah yang cukup menonj ol dala m cerita in i, yang cia- pat kita panuang sebagai tema-tema sampingan cerita ini. Pertama adalah mcngenai percintaan. Adegan percintaan dalam cerita ini melibatkan 3 tokoh, yakni Putri Bidayasari, Rd. Amarsakti, dan Rd. Sabang. Putri Bidayasari berada di antara dua tokoh pemuda yang dilukiskan dengan sifat-sifat yang berlawanan. Satu pihak, yakni Rd. Amarsakti dilukiskan dengan sifat-sifat kegagahan, sa kti dan berani. sedangkan pihak lain, yakni Rd. Sabang dilukiskan dengan sifat-sifat cengeng, penakut clan lemah. i

Untuk membubuhbn ketegangan pada episode percintaan

mi, pengarang memasukkan pihak lain, yakni rajJ rJksasa yang ber- nama Raja Gumanti. Kehadiran tokoh ini tampaknya clisengaja oleh pengarang untuk menambah " bumbu" ketegangan fisik dalam adegan percintaan, karena persaingan cinta antara Rd. Sabang clengan Rd. Saka tidak cligambarkan secara persaingan fisik, melain- kan persaingan dalam sifat dan perilaku. Rd. Sabang clengan ke-

toR:oh Raja Gumanti dalam episode percintaan ini hanya sebagai perantara atau media untuk mengkontradiksikan sifat-sifat kedua tokoh tersebut.

lni dibuktikan dengan peristiwa penculikan Putri Bidayasari oleh Dirgabahu, patih raksasa yang diperintahkan oleh Raja Gumanti. Menghadapi peristiwa itu Rd. Sabang hanya bisa menangis dan berkeluh kesah tanpa ada upaya untuk mengatasinya. Lain hal- nya dengan Rd. Amarsakti yang dengan gagah berani dapat mem- buktikan kesaktiannya dengan membunuh sang raksasa penculik, dan membebaskan sang putri. Sang putri pun langsungjatuh cinta kepadanya.

Pada episode percintaan ini pun ternyata pesan utama atau tema utama cerita ini yakni pesan moral bahwa yang baik akan dapat mengalahkan yang jahat, tetap dipertahankan. Rd. Amarsakti yang berdiri di pihak yang baik, sebagai tokoh putih, dapat mengalahkan saingannya, yaitu Rd. Sabang yang berdiri di pihak yang tidak baik, sebagai tokoh hitam. Mengenai pemilahan ataupun kontradiksi an tara putih dan hitam ini nanti akan lebih jelas diba- has dalam pembicaraan mengenai tokoh-tokoh dan perwatakan- nya.

Tema sampingan yang kedua adalah mengenai balas dendam. Episode ini digambarkan melalui tokoh-tokoh Dewi Lasmaya, Nyi Nurhayat, dan Baginda Ma'ruf. Diceritakan bahwa tatkala Dewi Lasmaya melahirkan bayinya, dia dihianati oleh madunya, Nyi Nurhayat yang merasa takut putranya akan tersisih dengan lahir- nya putra Dewi Lasmaya dari darah dagingnya Baginda Ma'ruf. Kare!"1anya bayi yang baru lahir itu dibuang oleh Nyi Nurhayat, lalu digantikan dengan tiga ekor binatang. Nyi Dewi Lasmaya sen- diri akan dibunuh oleh Baginda Ma'ruf, tetapi akhirnya dibuang ke hutan Danaka. Peristiwa ini menyebabkan kesengsaraan yang ber- kepanjangan dialami oleh Dewi Lasmaya. Selama itu dia menaruh dendam sakit hati kepada orang-orang yang telah mencelakakan- nya.

Puncak ketegangan terjadi ketika Dewi Lasmaya dikonfron-

tasikan dengan satru-satrunya. Konflik Dewi Lasmaya dengan Nyi N urhayat diakhiri dengan meninggalnya Nyi Nurhayat di tangan De wi Lasmaya. Maka terbalaslah sudah dendam Dewi Lasmaya atas Nyi Nurhayat. Di sini tergambar pula tema utama cerita ini, yaitu dikalahkannya kejahatan oleh kebaikan. Yang menarik dalam episode dendam ini, ialah penyclesaian akhir dari dendam Dewi Lasmaya terhadap bekas suaminya, Baginda Ma' ruf. Dendam itu tidak diakhiri dengan dihilangkan- nya salah satu tokoh yang bersengketa, melainkan diselesaikan dengan peleraian. Dikisahkan, waktu Baginda Ma'ruf sudah tidak berdaya, Dewi Lasmaya berkeras akan m embunuhnya untuk rn embalas sakit hatinya. Raja Mulki berusaha m elerai mereka, tc- tapi tidak berhasil. Dewi Lasmaya tetap berkeras akan membunuh bekas suaminya. Akhirnya datanglah tokoh Antaboga, raja jin Is lam yang dapat menyadarkan dan melembutkan hati Dewi L asmaya. Dengan demikian, maka dendam itu diakhiri ctengan ke- bijaksanaan dan kebesaran hati, bukan dengan kekerasan. Dari uraian di atas, jelaslah mana yang menjadi tema utama, dan ma1 w yang dapat dipandang sebagai tema-tema sampingan dalam ce ri ta ini. Mungkin saja pembaca lain ak an menemukan tonjolan-tonjolan lain y ang dapat dipandang sebagai tema-tem a <;.tm pingan, sela in dari tema-tema yang telah dikemukakan di sini.

2. 4.3. Penokohan dan Karakternya

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa tema u tama WAO ada-Iah kon tradiksi antara baik dan buruk-putih dan hitam, di mana ke baikan pada akhirnya akan dapat mengalahkan kejahatan. ~esu ai dengan tem a utamanya, maka struktur penokohannya pun secara tegas dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok berdasar- kan peran para tokoh dan hubungannya terhadap tokoh sentral. Pola hubungan para tokoh ini dapat ditelusuri dengan terlebih da- hulu menentukan tokoh utamanya. Selanj utnya ditelusuri pola hubungan ini yang berpusat pada tokoh sentral, dengan pola hu- hu ngan re lasi clan oposisi.

Ditinjau clari judulnya, Wawacan Asep Ogin berkisah tentang Asep Ogi n. Nama Asep Ogin di sini hanyalah merupakan salah satu

yang dipakai oleh Rd. Amarsakti dalam pennya- marannya. lkngan mclihat pada judul. maka dapatlah ditentukan, bahwa tokoh sc ntral cerita ini adalah Rd. Amarsakti. Selain itu masih ada tokoh-tokoh lain yang apabila dilihat dari frekucnsi pemuncu lannya dalam kese !uruhan lako n cukup menonjol, yakni Dewi Lasmaya, itu kandung Rd. Amarsakti. Selcngkapnya tokoh-tokoh ceri ta in i adalah:

a) Tokoh U rama.·
I) Rd. Amarsak ti, putra Baginda Ma'ruf dari perrnaisuri Dewi Lasmaya. yang pada waktu Jahir dihuang o!eh ibu tirinya. :2) Dewi Lasmaya, permaisuri kedua Baginda Ma ' ruf yang di- hianati olch madunya hingga dia clibuang olch raja kehutan Dana b.
3) Pu tri Biclayasari. putri Raja Mulki yang kemudian menjadi istri Rd. Amarsakti.
b) To k ofz f> £' 111 ba IIlii :
I) Baginda Ma 'ruf, raJ<;t negeri Madursan, ayah kandung Rd. Amarsak li.
2) Ny 1 Nu rhaya t, permaisuri pcrtallla Baginda Ma ' ruf yang mcnghianati Dewi Lasmaya.
3) Rd Sab 4) l'vlaharaja Dannasakti, raj a lh:gt.:·ri Mulki, ayah ka nd ung Pu tri Bidayasari.
5) Putri Ariawulan, permaisuri Maharaja Darmasakti. ibu kandung putri Bidayasari.
6) Ki Kuwu Lurah dan istrinya, orang tua angkat Rd. Amarsakti dalam penyamarannya sebagai si Ogin.
7) Rd. Durjaman, patih negeri Mulki.
8) Rd. Jaka Budiman dan Rd. lndrajaya. dua patih ncgen Madursan.
9) Antaboga, raja jin Islam dari negeri Ma!ebah yang m ~ me lihara Rd. Amarsakti dan Dewi Lasmaya.

0) Nyi R a tu Antamaya, permaisuri raja Antaboga. I I) R aja C umanti, raja dari negeri raksasa Gelung Keraton.
12) Dir)!abahu, patih negeri Gelung Kcrato n.
13) Pencatandran, Panjimasang, Panjilayang, tokoh-tokoh bi- na tang yang menjadi saudara angkat Rd. Amarsakti. Scmua tokoh di atas mempunyai peranan yang cukup peting
clal am kcscluruhan jalan cerita, dengan penggambaran sifat dan karaktem ya masing-masing. Penggambaran watak para tokoh ini mt>ru pakan sarana yang membentuk peristiwa dan mengarahkan jalannya cerita menuju suatu tujuan seperti yang telah diarahkan okh pengarang ( Subalidinata, 1982 : I 04 ).

Dc ngan menclaah perwatakan para tokoh. m aka struktur penokohan pun dpat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok Bercla- sarkan tema utamanya, maka pola struktur penokohan dapat eli- ta nk mclalui penelaahan pola hubungan para to koh terhadap tokoh sentral. Pola hu bungan ini mengacu pacla pola hubungan relas1 dan oposisi. artinya apakah tokoh tcrtcntu merupakan ka- wall /sc ku tu piha k tokoh sentral ataukah lawanfmusuh / oposisi tl.'rhadap tokoh se ntral. Tokoh-tokoh yang berpihak/ bcrdiri el i pillak tokoh se ntral sclanjutnya akan disebut se bagai tokoh pitih. dan yang menjadi oposisi pada tokoh sentral disebut tokoh hitam. Pembagiannya adalah seperti berikut :

u) /'uko /i Putili :
1) Rd Amarsa kti
2) Dewi Lasmaya
3) Pu tri Bidayasari
4) Pancatandran. Panjimasang dan Panjilayang.
S) Raja An taboga dan pcrmuisurinya.
6) Ki Kuwu Lurah clan istrinya.
7) Sa m ad dan Samuel (dua tokoh jin pengasuh Amarskati).
hJ /'okuh llira111 I Oposisi:

1) Bagindu Ma'ruf

Patih Dirgabahu

6) Rd. Jaka Budiman dan lndrajaya Selain kedua kelompok tokoh di atas, ada pula beberapa to-
koh yang dalam sikapnya tidak berdiri pada salah satu pihak dari kedua kelompok di atas. Tokoh-tokoh ini selanjutnya disebut saja sebagai tokoh yang netral. Mereka adalah Maharaja Darmasak- ti dan permaisurinya, Ratu Ariawulan.

OGIN DALAM PEMBANGUNAN/ANALISIS NILAI

    1. ldentifikasi Nilai Pengertian nilai yang dimaksud di sini adalah apa· yang dikemu- kakan oleh Poerwadarminta, yaitu kadar isi yang memiliki sifa t- sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan ( 1985). Bertolak dari pengertian itu, maka dalam suatu karya sastra akan terkandung banyak nilai, yaitu selain dari nilai sastra- nya itu sendiri yang lebih cenderung pada nilai estetis, juga terdapat nilai-nilai budaya, nilai sosial, keagamaan dan nilai-nilai moral. ilai estetis dapat dipahami melalui penelaahan intuisi dan apresi- asi yang menyentuh aspek rasa. Sedangkan untuk memahami nilai-nilai budaya, nilai sosial, keagamaan dan nilai moral suatu kary a sastra memerlukan pendalaman pemahaman Jatar belakang sosial bu daya masyarakat di mana karya sastra itu lahir dan didu- kung. Ak an tetapi aspek-aspek nilai tersebut satu sama lain sating terkait dan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu kandungan nilai suatu karya sastra (lama) me- rupakan unsur yang hakiki dari karya sastra i tu secara keseluruhan. Pengungkapan nilai-nilai yang terdapat di dalam suatu karya sastra, bukan saj a akan memberikan pengertian tentang Jatar belakang sosial budaya masyarakat pendukung karya sastrayang bersangkut- an, melainkan juga akan dapat mengungkapkan ide-ide atau gagas- an si pengarang dalam menanggapi situasi-situasi yang ada di se -

kelilingnya. Hal ini dimungkinkan, karena karya sastra adalah tu- angan kemampuan pengarang dalam mengekspresikan situasi yang ada pada iamannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Sapardi Djo- ko Damono bahwa sastra mencerminkan norma, yakni ukuran perilaku yang oleh anggota masyarakat diterima sebagai cara yang benar untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu. Sastra juga mencerminkan nilai-nilai yang secara sadar diformulasikan dan diusahakan oleh warganya dalam masyarakat. (1979:4-5).

3.2. Nilai Buuaya

Koentjaraningrat mengatagorikan kebudayaan ke dalam tiga aspek, yaitu aspek ideal atau aspek tata kelakuan, aspek kelakuan, dan aspek hasil kelakuan (aspek materi). Aspek tata kelakuan secara lebih terinci menurut jenjang abstraksinya terdiri dari sistem nilai, sistem norma, sistem hukum dan aturan-aturan, yang kese- muanya ini berfungsi untuk menata kehidupan manusia dan mc- rupakan pola bagi perilaku manusia. Aspek ini biasa disebut adat istiadat.

Menurut Nugroho Notosusanto, sistem nilai budaya ini merupakan inti kebudayaan. Sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan menata elemcn-elemen yang berada pada struktur permukaan (surface structure) dari kehidupan manusia yang meliputi: perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Yang tergolong dalam prilaku meliputi perilaku seni, perilaku ri- tual, perilaku ekonomi, perilaku politik, dan perilaku dalam kehidupan lainnya (Geriya, 1986. 26). Aspek yang kedua adalah aspek kelakuan manusia. Aspek ini merupakan kesatuan gejala yang dapat diamati secara langsung yang terdiri dari kelakuan berpola dan berhubungan dengan status dan peranan tertentu di dalam masyarakat. Aspek yang kedua ini dapat dilihat dari interaksi dan komunikasi antar manusia dalam. masyarakatnya. Adapun aspel} yang ketiga adalah aspek hasil kelakuan yang biasa juga disebut sebagai material culture. Ketiga aspek kebudayaan ini memiliki kaitan struktural maupun fungsional. Dalam hal ini Koentjaraningrat menjelaskan bahwa aspek yang lebih konkrit berfungsi membangun aspek yang lebih abstrak (Geriya, 1986 :27).

" Wa wacan Asep Ogin" dilihat dari wujudnya merupakan kebudayaan materi (material culture). Tetapi ia bukan hanya sekedar kumpulan tulisan yang tanpa makna, melainkan di dalamnya ters1mpan sistem ide atau )!agasan-gagasan yang mencerminkan nilai budaya masyarakat Sunda, di mana karya sastra ini lahir dan mendapat dukungan. Nilai-nilai luhur inilah yang merupakan kontribusi naskah ini dalam pcm bangunan, khususnya di bidang kebudayaan.

3.3. Nilai Moral Konsep nilai moral berkenaan dengan masalah pengakuan baik dan buruk. Sebagaimana dikemukakan oleh Poedjawijatma, bahwa rn oralitas atau kesadaran moral adalah pengakuan manusia menge- nai adanya baik dan buruk ( 1983: 13 0). Sebagai dasar pengakuan, mak a moralitas merupakan standar penilaian. Adapun yang menjadi " hakim" atau alat penilainya adalah kata hati atau disebut juga hati nurani (Rosyadi, 1988: 101 ). Dalam hal ini Poedjawi- ta tma menjelaskan lebih lanjut, bah \va kata hati dapat diper- gunakan sebagai alat pengontrol. Sebelum tindakan diadakan, dapat berfungsi sebagJi penerang, sedangkan setelah tindakan fungsinya sebagai hakim, yaitu mengakui kl baikan dan keburukan tindakannya yang telah terlaksana karena p1lihannya sendiri (ibid: l 31). Di dalam Wawacan Asep Ogin kontras 'ln tara haik dan huruk mi tampak sangat jelas. Kedua sifat ini seolah-olah dua kutub yang dikontradiksikan secara frontal. Sehagaimana umumnya pada lakonlakon yang bertemakan budi pekerti, kontradiksi antara baik dan buruk ini selalu diakhiri dengan kemenangan pihak yang baik dan kehancuran pihak yang jahat/buruk. Begitu pula halnya dengan lakon Asep Ogin, pihak-pihak yang semula tertindas, namun dengan kesabaran, ketabahan dan perjuangannya akhirnya dapat mengangkat dirinya sebagai pihak yang berjaya dan men- dapatkan kebahagiaan. lnilah pesan moral yang sekaligus me- ru pakan sumbangan naskah ini bagi pembangunan, khususnya di bidang moral spiritual.

Keluarga adalah kelompok sosial terkecil yang menjadi dadar terbentuknya kelompok sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Di dalam ke1uarga inilah permu1aan ber1angsungnya proses en- kulturasi atau penanaman nilai-nilai budaya pada seseorang indi- vidu yang menjadi bekal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas da1am masyarakat (Rosyadi, 1988: 112). Kelestarian suatu keluarga sangat. bergantung pada kemampuan masing-masing- individu pembentuk keluarga tersebut, yakni suami, istri dan anak-anak (ke1uarga batih) dalam menjalankan fu ngsi dan peranannya masing-masing. Setiap kebudayaan memberikan batas-batas ya ng tegas pada setiap unsur pokok yang membentuk rumah tangga, yakni suami dan istri, tentang kedudukan dan peranannya, seta hak dan kewajiban- nya yang pada dasarnya mempertegas kembali kodrat mereka dalam visi budayanya (ibid : 112). Pada masyarakat Sunda, suami berkedudukan sebagai kepala kelaurga yang berkewaji ban memim- pin dan membimbing istri dan anak-anaknya untuk hid up menurut polapola yang telah baku di dalam masyarakatnya. Suami harus meletakkan dasar akh1ak bagi anggota keluarg-a nya yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku seluruh anggo ta keluarganya. Dari pihak istri, dia harus menaruh hormat dan patuh kepada suami dan mematuhi segala sesuatu yang telah cligariskan oleh suami, serta setia. Kesetiaan seorang istri terhadap suami nya dalam arti selalu menemani suami, baik dalam keadaan susah maupun senang dan setia dalam menanggulangi masalah rumah tangga da1am keadaan apapun (Hari Waluyo, dkk, 1988 : 1 0).

Dalam naskah Wawacan Asep Ogin, tatakrama suami istri di- tampilkan; bahkan pelanggaran/penyimpangan atas tatakrama tersebut beserta sanksinya juga digambarkan. Ini terlihat pada episode ketika permaisuri Baginda Ma 'ruf yang bernama Dewi Las- maya melahirkan, dia dihianati o1eh madunya, Nyi Nurhayat. Baginda Ma'ruf ketika mendengar cerita Nyi Nurhayat bahwa istri- nya bukan melahirkan manusia, melainkan 3 ekor binatang, tanpa periksa 1angsung mempercayainya bahkan menghukum dan akan membunuhnya. Sudah barang tentu tindakan suami yang seperti itu bukanlah sifat ideal masyarakat Sunda. Tetapi justru denga n

pacta bagian akhir cerita. Setelah Dewi Lasmaya dapa t mengalahkan bekas suaminya itu, dia berkeras akan membunuh- nya untuk melampiaskan dendam sakit hatinya. Hal ini tidak dibenarkan dalam tata kehidupan masyarkat Sunda. Betapapun suami telah berbuat salah, seorang istri harus senantiasa memaafkannya. Seperti dinyatakan dalam naskah ini, yaitu pada bait ke 785 yang berbunyi seperti beirkut:

Lamun hanteu ngampura lalaki maneh kudu neda dihampura nyium dampal masing sareh maneh ulah ngaberung napsu doraka mungpang ka aing pek neda dihampura lam un hayang lu lus ratu jin geus teu katingal musna leungit ti payuneun raja Mulki nga huleng Dewi Lasmaya (785)

Artinya :

kalau tidak memaafkan la ki-laki engkau harus memaafkannya mencium telapak kaki dengan merendah engkau jangan mengumbar nafsu berdosa tak menurutiku ayoliih meminta maaf kalau in!tin lulus ratu jin sudah tidak nampak musna hilang dari hadapan raja Mulki tcrmenung Dewi Lasmaya

"berbicara" dan menentukan sikapnya. Segala perilakunya telah ditata oleh sang suami. Hal ini khususnya berlaku di kalangan menak (bangsawan) pada masa jayanya feodalisme.

Kini zaman sudah berubah, keadaan pun telah ikut berubah. Kedudukan istri dalam rumah tangga tidak lagi statis, melainkan sudah lebih dinamis. Seorang istri tidak lagi dituntut untuk tunduk dan patuh secara total, tetapi sudah memiliki kewenangan "berbicara" lebih banyak. Namun demikian, konsep setia dan taat kepada suami masih tetap berlaku, hanya penerapannya kini sudah lebih demokratis.

KESIMPULAN DAN SARAN

4. 1. Kesimpulan

Wawacan Asep Ogin adalah sebuah karya sastra Sunda klasik yang ditulis dalam bentuk wawacan. Wawacan adalah hikayat / lakon yang ditulis dalam bentuk dangding, yaitu ikatan puisi yang sudah tertentu untuk melukiskan hal-hal yang sudah tertentu pula. Dangding terdiri atas beberapa pupuh. Dalam kesusastraan Sunda dikenal 17 macam pupuh yang masing- masing memiliki ka- rakteristik dan menggambarkan situasi yang tengah berlangsung di dalam cerita, seperti suasana sedih, marah, cinta kasih (asmara), kedamaian, dan sebagianya.

Secara keseluruhan, bangun Wawacan Asep Ogin ini terdiri dari : I 0 pupuh dangdanggula, 4 pupuh sinom, 3 pupuh pucung, 4 pupuh kinanti, 5 pupuh pangkur, 6 pupuh asmarandana, 5 pupuh mijil, I pupuh magatru, 4 pupuh durma, I pupuh wirangrong, 2 pupuh maskumambang, 2 pupuh gambuh, dan I pupuh kasreng. Ja di keseluruhannya berjumlah 48 pupuh yang terdiri dari 13 jenis pupuh. Wawacan Asep Ogin berkisah tentang seorang permaisuri dan ~orang putranya yang dibuang oieh raj a akibat hasutan permaisuri kedua. Berl

Ogin ini adalah konflik antara kejahatan dan kebaikan/kebenaran; bahwa kejahatan pada akhirnya pasti akan dapat ditumpas oleh kebaikan. Tema ini mengandung ajaran moral yang tinggi yang mencerminkan pan- dangan hidup orang Sunda, yaitu sikap hidup yang dipandang luhur oleh orang Sunda : sifat sa bar, tabah dan pemaaf, serta kasih sa yang.

Aspek lain yang dapat diungkapkan dari lakon Asep Obin ini adalah tentang etika kehidupan keluarga. Dalam wawacan ini di- lukiskan betapa sikap yang kurang bijaksana dari seorang suami dapat menghancurkan kehidupan rumah tangga. Baginda Ma'ruf yang kurang periksa mempercayai begitu saja hasutan yang dilem- parkan oleh istri keduanya atas istri pertamanya. Akibatnya, istri pertama dan anaknya mengalami kesengsaraan dan derita yang sangat panjang, dan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga- nya sendiri. Sebaliknya, istrinya (Dewi Lasmaya), betapapun beratnya derita dan kesengsaraan yang dialaminya, tetapi ia harus tetap berpegang teguh pada tata nilai masyarakat Sunda yang mengharuskan seorang istri bersedia memaafkan suami betapapun sang suami telah berbuat kesalahan. Seorang istri harus tetap menjunjung dan menghormati suami dalam keadaan apapun. Itulah nilai kesetiaan seorang istri dalam tata nilai masyarakat Sunda.

Dalam kenyataannya ternyata bahwa sistem nilai budaya Sunda dapat bersifat lebih fleksibel sesuai dengan keadaan dan turitut- an zaman. Manifestasi kesetiaan seorang istri Sunda masa kini tidak lagi bersifat kaku, melainkan sudah lebih demokratis. Namun demikian prinsip pokoknya masih tetap bertahan.

4.2. Saran-Saran Dengan memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Wawacan Asep Obin, maka dapat disimpulkan bahwa kadar isi wawacan ini masih relevan dengan situasi dan kondisi pembangun-

Ogin dapat memberikan sumbangan yang sangat besar bagi pembinaan sikap dan mental masyarakat, sebagai "makanan rohani" dan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang lebih bersifat humanistis. Meskipun ada beberapa hal yang apabila dilihat secara sepintas dapat menimbulkan kesan negatif, seperti sikap seorang: is tri terhadap suami yang harus tunduk, berbakti dan mengabdi tanpa syarat, tetapi apabila dikaji lebih mendalam akan menumbuhkan pengertian bahwa suami dan istri harus tetap berpijak pada kodrat- nya. Wanita hendaknya tetap bersikap sebagai wanita, dan pria tetap sebagai pria. Pria (suami) adalah se bagai pemimpin dan ke- pala di dalam keluarganya dan wanita (istri) sebagai pendamping- nya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: I ) Melihat kadar isi dan bobot nilai yang dikandung oleh naskah Wawa can Asep Ogin, maka sudah sepantasn yalah naskah ini tetap dipelihara dan dilestarikan.

2) lsi Wawacan Asep Ogin ini perlu dimformasikan kepada masyarakat luas sebagai bahan untuk memperkaya khasanah budaya dan sastra Sunda yang mengandung pengetahuan humaniora.
3) Kegi atan penelitian dan pcngkajian naskah-naskah lama ya ng mengandung bobot nilai yang tinggi perlu terus dilakukan dan un tuk lebih ditingkatkan lagi.

KEPUSTAKAAN

Ayatrohaedi, dkk., Tatakrama di Beberapa Daerah di Indonesia. I 984/1 985 Proyek Pengembangan Nilai Budaya, Depdikbud, Jakarta.

---, Terjemahan dan Kajian Wawacan Piwulang Is tri,

I 988 Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Depdikbud, Jakarta.

Bu dhisantoso, S., " Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengem bangan 1982/1983 Kebudayaan Melalui Kegiatan Enkulturasi", dalam Ana/isis Kebudayaan, Tahun Ill No. 3 Depdikbud, Jakarta. Da mono, Sapardi Djoko, Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar 1978 Ringkas, Pusat Pem binaan dan Pengem bangan Bahasa, Depdikbud, J akarta. Da rma, Budi, "Mula-Mula Adalah Tema ", dalam Cerpen Indonesia I 983 Mutakhir; Antologi Esai dan Kritik, PT. Grame- dia, Jakarta. Djundjunan, Otje dan Karna Yudibrata, "Etika dan Tatakrama 1985 Sunda Masa Lalu dan Masa Kini ", dalam Kea da- an dan Perkembangan Bahasa, Sastra, Etika, Tatakrama dan Seni Pertunjukan Ja wa, Bali dan Sunda (Soedarsono. editor), Javanologi, Y ogyakarta. E-.kadjati, Edi S., Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya, Giri- \ 984 mukti Pusaka, Jakarta.

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, PT. 1982 Gramedia; Jakarta.

Linton, Ralph, Antropologi, Suatu Penyelidikan tentang Manusia, 1984 PT. Jemmars, Bandung.

Mangunwijaya, Y.B. Sastra dan Religiusitas, Sinar Harapan, 1982 Jakarta.

Muhammad, Abubakar, Membangun Manusia Seutuhnya Menurut

t. t. Al-Qur'an, AI- lkhlas, Surabaya.
Munawir, E.K. Imam, Asas-Asas Kepemimpinan dalam Islam, Usa-

t. t. ha Nasional, Surabaya.
Mustapa, H. Hasan, Adat lstiadat Orang Sunda, Terjemahan oleh 1985 Maryati Sastrawijaya, Penerbit Alumni Bandung. R o s y a d i, Kajian dan Ana/isis Hikayat Budistihara, Proyek 1988/1989 Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusanta- ra, Depdikbud, Jakarta. Kajian dan Ana/isis Serat Wirawiyata, Proyek 1989/1990 Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusanta- ra, Depdikbud, Jakarta. Warnaen, Suwarsih, Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercer- 1987 min dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda jilid I, Sundanologi, Bandung.

ASEP OGIN

DANGDANGGULA

I. Dangdanggula yang mulai ditulis, layang Sunda cerita zaman dahulu, zaman ajar yang ulung, disebut sang maha wiku, dari kabar ahli yakin, tegasnya pertapaan, ahli nujum yang agung, sakti sangat kuat bertapanya, agamanya anutan Nabi Musa, disebutkan kalamullah.
2. Yang dianut sahabatnya Nabi, waktu itu Kangjeng Nabi Musa, yang berkeraton di Mekah, rakyatnya berbaur serasi, Islam kafir tidak perduli, pada waktu itu, semuanya bersatu, terlalu panjang ceritanya, bila ditelusuri sampai masa kini, putus(kan) dulu oleh cerita.
3. lni yang mula akan ditulis, yang disebut Layang Sunda, yaitu dikisahkan, ada seorang ratu, turunan Islam berdaarah walL memegang negara Madursan, cucu Nabi Yusuf, anaknya Baginda Hamzah, termashur bijaksana dan adil, Baginda Ma'ruf namanya.
4. Yang mengisi negeri Madusari, alkisah raja beristri dua, yang tua dan yang muda, istri yang tua, mantan istri patih Astina, Sabang -Saka putranya, Saka yang bungsu, (sedang) istri kedua, namanya Nyi Lasmaya Mahadewi, belum mempunyai anak.

Bag:awan Ratu Pandita.

  1. Yang menjadi patih, di Madursan den Jaka Budiman, patih luar sudah termashur, sebagai wakil ratu, patih dalam ada lagi, yang mengurus (urusan) dalam, mengurus barang ratu, nama(nya) Raden lndrapura, patih (yang) dua sudah akrab jadi satu, gagah dan perkasa.
  2. Yang dibawahi oleh negeri Madursan, ada lima tumenggung yang gagah, hormat dan takzim kepada sang raja, sekarang di- ceritakan, Nyi Lasmaya permaisuri Gusti, berkata kepada sua- minya, yaitu kangjeng ratu, hamba ingin memberitahu, perasaan seperti sedang mengidam saya (ini), sering sekali lesu.
  3. Dan dalam dua bulan, hamba tidak datang bulan, sang raja segera menjawab, duh Dinda sangat syukur, semoga oleh yang Maha Suci, betapa ingin punya anak, semoga mulus, syukur kalau dikabulkan, tidak pilih perempuan maupun lelaki, agar bahagia hidupnya.
  4. Dikisahkan lama kelamaan putri, Nyi Lasmaya tampak hamilnya, delapan bulan hamilnya, segera sang raja berkata, kepada patih Raden Budiman, berkata kangjeng raja, patih hari esok, kumpulkan semua ponggawa, serta semua pemburu semua hadir ada, demikian pula pamatang.
  5. Kita berburu ke distrik yang sepi, tern pat kijang dan rusa, hutan unggara yang ramai, mari kita segera, sebab Nyi Lasmaya tigin, kandungannya delapan bulan, dekat pada waktu, melahirkan Nyi Lasmaya, penanggalan karena itu kita pergi, berburu ke hutan unggara.
  6. Kemudian raja berkata kepada putri, memberi amanat kepada Nyai Nurhayat, wanti-wanti Nyai, Nyi Lasmaya harus (di) urus, serta perhatikan yang teliti, jaga dengan seksama, kalau-kalau akan melahirkan, segeralah kami beritahu, kirim surat suruh prajurit, yang cepat ke Unggaran.

Unggara, sudah terpasang tenda di hutan kayu, mempersiapkan pemondokan.

IS. Tidak diceritakan keadaan kangjeng Gusti, yang sedang ber- sukaria di hutan Unggara, sekarang kita ceritakan, yang di- tinggal di keraton, Nyi Lasmaya permais uri Gusti, sudah ge- nap se mbilan bulan, seperti yang aka11 melahirkan, berkata kepada yi Nurhayat, yaitu permaisuri yang tua, segera wak- t u itu juga ditengok.

  1. Nyi Nurhayat sudah bulat hatinya, berniat akan menjerumus- kan Lasmaya, Nyai Lasmaya ada, Nyi Nurhayat lalu berkata, apakah akan melahirkan Nyai, Lasmaya segera menjawab, mungkin karena (merasa) pusing, harus bagaimana Aceuk, beri ta hulah saya, karena saya tidk tahu. 1 7. Nyi Nurhayat menjawab sambil tertawa, Nyai waktu Kakak mau melahirkan, begitu pula tidak tahu apa-apa, tapi diaj ari oleh ibu, mata tidak boleh melihat, begitu pula telinga, harus ditutup oleh malam, mata ditutup dengan getah, kata Lasmaya apakah maksudnya, bisa buta mendadak.

lalu dibungkus oleh kain, dibuang ke segara.

  1. Bayinya lalu ditukar, oleh binatang yang telah (di) sedia(kan), anak kucing dan kera, yang ketiganya ciung (burung beo), dilumuri dengan darah, serta ditutupi, hewan yang tiga itu, Lasmaya sudah dibukai, mata telinga mendengar seperti biasa, sudah bersih badannya.
  2. Nyi putri disuruh duduk bersandar, Nyi Nurhayat berkata lagi, kepada dukun pelan-pelan, serta sambil tersenyum, bukalah bayi itu, sudah waktunya dibersihkan, Nenek Saltim lalu, membuka kain penutup bayi, berteriaklah Nenek Saltim, oh alangkah banyaknya. 2 2. Aduh monyet Gusti dengan kucing, dan ini ada tiung/ciung juragan, ternyata hewan semua, baru kali ini selama hidup, ada yang melahirkan kucing, pacta kelimis tubuhnya, kenapa putra ratu, ketiga-tiganya binatang, Nyi Lasmaya ketika sudah melihat, disinomkan oleh binatang.

    S IN 0 M

  3. Menjerit menangis Nyi Lasmaya, duh Kakak bagaimana ini, saya mendapat cobaan, betapa kangjeng Gusti, murka kepada saya, padahal saya sungguh-sungguh, tidak berubah pikiran, mengabdi kepada Gusti, mengapa begini banyak cobaan.

Ya Allah Yang Kuasa, aduh Kakak bagaimana saya, Nyi Nurhayat berkata, sudahlah Nyai jangan menangis, sudah takdir Nyai, jangan putus asa jangan bingung, walaupun rupanya hewan, tentu akan dikasihi, serta akan dapat dipekerj akan.

  1. T idak usah berputus asa, su dah suratan nasib Nyai, kera untuk dij adikan penjaga pintu, kucing untuk penghalau tikus, ciung untuk mainan Nyai, Nyi Nurhayat segera mengutus, hulubalang ke Unggara, membawa su rat cepat-cepat, membe- rikan kabar Lasmaya sudah melahirkan.
  2. Waktu itu surat sudah dikirim, hulubalang yang gesit, tidak dikisahkan diperjalanannya, sudah bertemu dengan Gust1. tidak banyak bicara lagi, karena gembira hati ratu, saat itu lalu bubaran, dari hutan semua pulang, patih, mantri, pama- tang semua bubar.
  3. Tidak diceritakan di perjalanannya, raja suda h tiba di negen, dan terus berangkat, ke rumah putri Lasmaya, diiringkan oleh patih mantri, semua ponggawa turut. akan menjenguk, semua masu k ke rumah, begitu tiba raja langsu ng memeriksa. 2R. Memeriksa mana putranya, perempuan atau lelaki, dijawab oleh Nurhayat, inilah putra Tuan hamba, mari silakan lihat. begitulah rupanya, Menjerit tangis N yi Lasmaya, duh G usti ampunkan hamba, tidak menyeleweng ham ba mengabdi kepada paduka.
  4. Baginda raja berkata, tegak tak mau duduk, tak layak meng- ampuni, Lasmaya nelangsa sedih, menangis tersedu-sedu, raj a tak henti membentak-bentak, tidak disangka yang busu k hati, ternyata kamu martabat binatang.
  5. Tidak sudi aku memaafkan, aku menjad1 jijik, selama beristri engkau, terkena martabat iblis, raja tidak mau duduk, menje- ga saking marahnya, Lasmaya memohon ampun, tidak di- gubris oleh Gusti, raja segera berkata kepada patih Budiman.

PUCUNG

  1. Raden patih berkata kepada ratu, duh gusti Baginda, ijinkan saya berkata, semoga sesuai dengan kalbu.
  2. Bukan hamba menolak titah ratu, menjaga kemungkinan, mahan petunjuk hamba, mungkin ada yang bilang raja kurang dirgama-nya.
  3. Sekarang kalau paduka setuju, lebih baik kita buang saja, ke dalam hutan belantara, agar tidak usah kita bunuh. 3 5. Toh pasti ia akan mati, karena tidak makan, kurang makan kurang minum, supaya tidak lari penjarakanlah ia.
  4. Terserah kamu patih, aku tahunya mati saja, si Lasmaya si iblis, apapun aku tahunya mati saja.
  5. Raden patih mundur dari hadapan ratu, lalu berkata, di paseban dengan mantri, menyiapkan dongdang untuk menggotong. 3 8. Sudah siap orang yang akan menggotong, diselang cerita, nenek Sal tim membawa pisau, terlihat itulah jimatnya dukun peraji.
  6. Pisau sekin oleh kucing diambillalu, dari sampingnya, dukun itu tidak mengetahuinya, sudah siap Nyi Lasmaya di dalam usungan.
  7. Tidak diperbolehkan mem bawa pakaian oleh ratu, memakai baju rombeng, Nyi Lasmaya prihatin, bajunya hanya yang melekat di badan.

50 orang, Nyi Lasmaya tobat tidak dihiraukan.

42. Raden patih pemimpinnya sangat ribut. tidak henti-hentinya di perjalanan, berjalan siang malam, tUJUh hari tujuh mal am di jalannya.
43. Yang dituju hutan Danaka di gunung. hutan sangat rawan, banyak ular banyak pacet, banteng macan srigala singa dan badak.
44. Ulat di pepohonan penuh, kalajengking dan kelabang, apalagi bunglon dan toke, korek-korek tuweuw gagak berteriak..
45. Di atas kayu banyak monyet dan lutung, menimbulkan ke- ngerian, hewan semua teriak, layaknya menyambut yang datang.
46. Bahkan Jutung meloncat pada kayu betung, seram pikiran- nya, binatang bersuara semua, bajing kuning liar panj ang ekornya. 4 7. Nyi Lasmaya menangis di atas gunung, badak bergerak-gerak, sedangkan kadal merayap-rayap, membuat kecil hatl. 4 8. Sudah sampai ke Danaka (di) kaki bukit, jurang sangat dalam. mega hitam bak malam hari, ge lap tak pernah kena sinar
49. Raden patih dan pengiku tnya sudah sedia, menebangi kayu- kayunya, kayu yang sebesar pinggang, tertindih teramat sangat.
50. Nyi Lasm aya sudah masuk ke penjara, lalu berkata, Lasmaya kepada den Patih, eh Kang Patih saya minta maaf. 51. Dalam keadaan begini tak mungkin lagi hid up, pasti saya meninggal, menjawab Raden Patih, lnsya Allah saya maafka n. 52 Saya sebetulnya sangat khawatir, hanya maklum sedang saat- nya, ikut kepada raja, bila tidak menurut tentu mendapat celaka.

  1. Lalu berkata monyet kucing dan ciung, ibu jangan susah, dalam hati ibu, untuk makan ada kami bertiga.
  2. Sangat kaget Lasmaya lalu bertutur, ah ternyata anak-anak, kalian dapat bicara, habis pucung kinanti yang menerima.

    KIN ANTI

6 2. Pancatandran lalu bertutur, kepada Lasmaya dengan jelas, saya akan bicara, kepada ibu yang lebih jelas, saya hanyalah pengganti, putra ibu sebetulnya lelaki.

  1. Gemuk berkulit kuning halus, diberikan oleh raja putri, kepada orang yang serahasia, setelah dibungkus kain, entah dibawa ke mana, saya tidak tahu pasti.

Pancatandran bicara lagi.

6 5. lya waktu di sana, di negara tidak beres, mau berkata tidak bisa bersuara, baru ada dalam pikiran, tapi tidak bisa berucap, namun mata sudah melihat jelas.

  1. Dewi Lasmaya lalu bertutur, ah anak-anak biarlah, Allah yang lebih tahu, kalian juga anakku, kata siapa bukan anak, se- moga saja kalian dapat prihatin.
  2. Takkan salah aku menyebut, Tandran lalu bicara lagi, harap ibu jangan susah, untuk makan ada saya, mau apa pun boleh, tidak akan saya tolak.
  3. Lalu sang kera mengajak, kucing disebutnya adik, mari adik kita pergi, Layang yang diam di sini, adik Layang jangan pergi, tunggu ibu di sini.
  4. Sebab kakak mungkin jauh, mencari yang manis-manis, kalau- kalau ada sesuatu, kata ciung tentu saja, Panji Masang lalu berkata, kepada Tandran sambil tertawa.
  5. Aka saya punya raut, waktu akan berangkat dari negeri, ini (pisau) raut sangat bagus, mungkin milik Nenek Saltim, di- simpan di sampingnya, lalu saya ambil. 7 1. Untuk aka ini raut, kata Tandran terima kasih, lalu diam bil oleh Tandran, sam bil dilihat-lihat, ini adalah pisau rajang, senjata dukun beranak.
  6. Tandran Masang berangkatlah, pergi berdua ke bukit, akan memetik buah-buahan, sedang kucing pergi meminggir, memasuki perkampungan, kampung yang subur makmur.
  7. Tingkahnya tidak di~eritakan, karena sang kucing, sampai dapat bepergian, ditemani oleh yang pasti, kucing telah mem- peroleh hasil, ketupat dan daging rimpi.

  8. Pulang dari kampung yang subur, membawa ketupat dan daging, kalau hewan yang biasa, tidak akan bisa karena kucing, dibarengi Yang Kuasa, tidak mengherankan jika membawa barang.

  9. Kera membawa buah-buahan, di atas kepalanya, duku mang- ga dan kokosan, lebih dari kera yang lain, dapat membawa sesuatu tidak mengherankan, sebab dibantu Yang Gaib.
  10. Waktu itu sudah bertemu, Tandran Masang berhasil, lalu berkata Pancatandran, mari Dik kita pulang, khawatir pada ibu sudah lama, kalau-kalau terjadi sesuatu.
  11. Karena Layang yang menunggu, tidak akan seperti kita Dik, Tandran Masang sudah pada pulang, ke kaki gunung sudah sampai, pe.tjalanannya sangat cepat, tidak menengok ke be- lakang.

    PANGK UR

  12. Kaget hati Nyi Lasmaya, wahai anak-anakku ternyata kalian bisa, buah-buahan sudah disodorkan, kucing mempersembah- kan ketupat, dengan rimpi yang sudah dibakar empuk, di- makan oleh Nyi Lasmaya, diterima dengan senang hati.

  13. Pagi-pagi ciung be.tjalan, waktu pulang membawa baju dengan kain, lalu diberikan kepada ibu, Nyi Lasmaya berkata, ternyata anakku mampu, bisa bemsaha, ah anak-anakku syukurlah.
  14. Lasmaya tiada kesusahan, sama sekali tidak merasa putus asa, bersyukur kepada Gusti Yang Agung, sudah enak di penjara, satu ketika Nyi Lasmaya berkata, kepada Pancatandran dan Masang, anak-anakku aku mohon.
  15. Tandran Masang hams pergi, ke negara tapi hams hati-hati, masuklah ke mmah ratu, di mmahnya Nyi Nurhayat, ajimat- ku ada di dalam kelambu, tamsir warisan dari Ama, jimatku tiada duanya.

mo- nyet kucing.

  1. Tidak dikisahkan di perjalanannya, tiba magrib di kota Mad u- sari, Panca Panji sudah tiba, kira-kira waktu isya, kucing berkata dengan kera, kakak tunggulah saya, saya akan melihat- lihat dulu.
  2. Kata Tandran jangan lama, tapi kakak merasa lapar, rasanya ingin makan, Dik kalau pedang su dah didapat, harus menda- pat makanan yang bagus, bawa ke sini, tak ut keburu pingsan. pingsan. 8 7. Panji Masang lalu berangka t, sudah tiba di rumahnya kang- jeng Gusti, tampak di rumah berkumpul, dengan permaisuri Nurhayat, sang kucing berjalan ke depan ratu, mengais-ngais kepada raja, kaget lalu berkata, Ini kucing bagus sekali, kata Nurhayat itu kucing Patih, kucing sudah masuk ke kamar, terns ke ranjang, lalu kucing menengok ke atap, lalu naik membuat lubang, membuka sa tu gen teng.
  3. Setelah membuat tidak turun ke bawah, lalu sang kucing ke- dapur, menemukan hidangan unggu l, segala makanan, dari sana kucing ke lu ar, membawa macam-macam makanan, sampailah ke bawah pohon pacar.

  4. Kera bergegas menanya, mana dik makanan yang manis- manis, perut kakak keroncongan, diberikan oleh Panji Masang, makanan (itu) oleh kera diambil lalu, dimakan sangat lahap, adat kera tidak hilang.

  5. Enguk-engukan bersuara, ngak- ngak-nguk-nguk dagunya me- ngembung, dikemil adatnya kera, sudah kenyang makannya, lalu kera bertanya kepada Masang, bagaimana pedangnya ada, kata Masang sudah dapat ditemukan.
  6. Di atas tempat tidur, saya sudah buat lubang untuk jalan, naik ke bilik dapur, mari kak sudah waktunya, mumpung ra- tu belum masuk, mereka berdua sudah naik, su dah sampai di atas.
  7. Lalu ditunjukkan oleh Masang, itu kak pedangnya tergan- tung, Pancatandran lalu masuk, ke lubang atap, lalu pedang digapai sampai terpegang, berdua lalu turun, tanpa aral lalu pedang dibawa. ASMARANDAN A
  8. Pancatandran pun pulanglah, berjalan saling mendahului, tidak diceritakan di jalannya, subuh sudah tiba di penjara, terlihat oleh Lasmaya, girang lalu berkata, eh anak-anak ter- nyata bisa.
  9. Pedang diangsurkan, diambil oleh Nyi Lasmaya, terima kasih kalian bisa mengambil, saya sudah tidak khawatir, walau di hutan belantara, sebab pedang sudah didapat, hanya ini yang kuingat.
  10. Pedang dihunus oleh putri, digariskan ke penjara, semua han- cur lebur, tiada ya!lg bersisa, kayu yang sangat besar pun, berjatuhan seperti randu, berkat tuah pedang.

Pancatran- dran lalu berkata, a yo Masang kit a cari aka!, bam bu ilalang kita tebas, kata Masang marilah, monyet kucing menebangi.

  1. .Mon yet menyeret kayu, kucing juga menyeret, tidak heran kucing bekerja, apalagi monyet, hanya tidak hilang sifatnya, ingat pada martabat kera, engguk-enggukan berbunyi.
  2. Tandran sudah mem babat ilalang, ilalangnya sudah ban yak, kita ringkaskan saja, tempat tidur sudah sedia, cukup untuk sendiri, tapi tak jelas bentuknya, ~e pe rt i gubuk penangkap burung. I 01. Nyi Lasmaya senang hati, melihat t ingkah anak-anak, sung- guh mengagumkan, cekatan seperti manusia, sudah lama lalu berkata, Tandran sudah membuat t ungku, mencari dandang serta kukusan.
  3. Pancatandran menjawab sambil tertawa. menyeringai sambil bersuara, baiklah ibu, pekerj aan itu amatlah mudah, ayo Ma-sang kita mencari, luluskan kemauan ibu, mencari dandang dan kukusan. I 03. Adik Layang harus diam, ibu tunggui oleh La yang, adik ja- nganlah Jengah, kalau-kalau terjadi sesuatu, sebab kakak ten- tu lama, berdua mereka pergi, menuju ke perkampungan.
  4. Menemukan satu kampung besar, tapi sepi tak ada orangnya, pintunya dikunci semua, ditarik sekali terbuka, Tandran sudah masuk ke ctalam rumah, cepat-cepat mengambil dandang, sekalian dengan kukusan. I 0 5. Masang mengambil baku! kecil, kata Ta ndran bawa dengan dulang, yang dibawa dulang besar, berat dan sulit, centong kipas nasi kukusan, dari rumah sudah pada turun, sambil saling mendahului.

  5. Sudah sampai ke Lasmaya, perabot disimpan Tandran meng- ajak, mari dik masih kurang, karena harus memperoleh beras- nya, terasi cabe dan garam, kata ciung tentu s.aja, harus cobek dengan muntunya.
    I 07. Kata Tandran tak perlu bicara, kamu bisa menasehati, kat a tiung kalau-kalau kamu lupa, karenanya diberi tahu, betul kata Panji Masang, lalu mereka berangkat, menuju ke dangau Ia dang.

I 08. Menemukan sebuah dangau besar, tapi tidak ada orangnya, jauh sedang pada kerja, Tandran masang lalu masuk, ke dangau dan membuka-buka, ditemukan sekarung penuh, Panji Masang meraba-raba.

I 09. Ke langit-langit lalu menemukan, tiga ruas ditutupi, diambil dibawa semua, ruas terasi dan garam, ruas lombok kering, ada cobek dengan muntu, oleh Pancatandran dibawa.

  1. Ada kantong gandawesi, diam bil oleh Pancatandran, ke da- lam karung sudah disusun, ada monyet lebih kuat, beras sekarung dipanggul, kucing berjalan dengan tiga kaki, yang satu lagi mem bawa ruas.

    Ill. Tidak berapa lama, tiba di hadapan Lasmaya, beras diletak-

kan di depan, berikut semua hasil, Pancatandran berkata lagi, Masang segeralah buat tungku, habiskan asmarandana.

M I J I L

  1. Mijil untuk bersenang-senang hati, Nyi Lasmaya tenang, menanak nasi sendiri, serta tidak kurang rizki, monyet dengan kucing, tukang berusaha.
  2. Sedang ciung mengurus baju dan kain, kerudung dan selen- dang, pakaian yang bagus-bagus semua, baju kain selalu sedia, kerudung begitu pula, semua hasil ciung.

kucing membawakan daging, rembang terung kol, kacang buncis berbagai sayur semua, sang monyet sanga t tera mpil, melebihi manusia, sungguh-sungguh dan giat.

I 15. Nyi Lasmaya berkata lagi, kepada Tandran perlahan, anak. - anak carilah tempat yang bagus, tempat bagus yang dekat air, sebab saya kasihan, kepada Tandran yang repot.

I 1 f.,_ Sore pagi Tandran mengambil air, repot memiku1 lodong. sekarang carilah cepat, dangau yang berdampingan dengan air, Pancatandran pergi, bersama Masang sudah berangkat.

1 I 7. T idak lama sudah mendapatkan, sebuah dangau kelihatan. dangau ladang bagus dan besar, ada pancuran dengan airnya. dan banyak lagi, macam-m acam sayur.

1 I S. J agu ng terung sekul serta kuny it. kukuk dan baligo, buah manggis sudah sedia. kecipir roay kac mg leunca hiris, kol dan seledri, kecipir bawang kencur.

J 19. Yang menjaga lelaki bertiga, o rang kuat sem ua, Pancatan dran berk

1.2 0. Kita bunuh te1aki yang tiga, semua bia r m ati, sekarang kita diam saj a, sebab kalau siang takut keli hatan, monyet dengan kucing, mengintip di tempat rimbun. I 21. Ringkas cerita sudah malam. di danga u sudah sepi, lalu masuk kucing dengan monyet, yang tidur bertiga diam saja, tanpa ayala, ditusuk dibunuh. I 22. Digusuri malam itu, cligusuri semua, ke j urang tak akan terti- hat, kata monyet ayo sekarang dik, kita diam saj a, pulang besok saja.
123. Diceritakan esok harinya berembug, Pancatandran berkata, adik Masang segera pulang saja, ibu suruh ke sini, kakak mau tinggal saja, menunggu ibu datang.

juga ada semua, cerek kukusan tersedia, dandang dan kipas nasi, cobek dengan muntu.

I 25. Ada semua tidak akan susah lagi, Panji segera pergi, tidak diceritakan lamanya, ke Danaka sampailah sudah, sebab perjalan- an kucing, tidak pernah berhenti.

MAGATRU

I 26. Panji Masang berkata kepada Lasmaya, ibu silakan pindah, menemukan tempat lebih baik, ladang berdampingan air, pan- curan airnya mengalir.

I 27. Perabot tidak usah dibawa, pepohonan sudah sedia, segala ada di sana, kayu bakar banyak dan kering-kering, Nyi Lasmaya berkata perlahan.

  1. Marilah Layang mumpung pagi, Nyi Lasmaya sudah berang- kat, naik kucing sang ciung, kalau jalan sudah biasa, di depan berjalan tenang. I 29. Tidak diceritakan di perjalanannya sebab terburu-buru, sampailah ke dangau, Nyi Lasmaya lalu masuk, di dangau melihat darah, Tandran ini darah apa.
  2. Panji Masang menjawabnya, yang punya dangau disembelih, dibunuh oleh kak Tandran, Lasmaya menjawab lagi, cuci ja- ngan sampai kotor.
  3. Nyi Lasmaya keluar dari dangau, lalu berjalan membawa tam- sir. mengelilingi luar dangau, sambil membaca mantera, ber- putar sambil mengaji. 1'32. Sim isim mohon dikabul, karna Allah Yang Rakhim, jalan ke dangau menjadi semak, tak ada jalan sedikitpun, ladangnya- pun tak kelihatan,
  4. Senang hati ada di dalam dangau, Nyi Lasmaya senang hati, tenang menyepi di dangau, tak kekurangan (tak) khawatir, memanen padi memetik jagung.

terombang- ambing.

13 5. Masih mengambang tubuhnya di tengah taut, alkisah ada satu negeri, gunung Malebah termasyur, ra tu jin Islam yang sakti. Antaboga sudah terkenal.

  1. Di negeri Malebah jin semuanya, tak ada seorangpun man usia, pangkat ponggawa pengagung, tegap gagah karena jin, Man tri patih dan kaliwon. 13 7. Kaum wanitanya cantik-cantik, istri ratu jin. Nyai Antamaya ratu, istri mulia berbudi, kekayaann ya tcg uh.
  2. Nyata benar kota itu di atas gunung, negeri yang sangat kaya, gunung-gunung menjulang tinggi, gunung perunggu dan besi. juga gunung emas perak.
  3. dan tembaga rajasa sudahlah tentu, timah dan kuningan sari, tak kurang barang serambut, ratu itu sangat kaya, juga me- miliki !aut.
  4. Suatu ketika meronda ke !aut, dengan pepatih Naga Puspa, kereta emas berkilau, ditarik dua ekor kuda, sais jin berik ut lopor.
  5. Setelah menjelajah lalu sa ng ratu pulang, di tengah jalan sang- aji, melihat cahaya di laut, raja berkata kepada patih, berhen- ti sebentar.
  6. Apakah itu bercahaya di tengah !aut, lihatlah itu di air, apa itu yang berkilau, sangat takjub sang aj i, apa itu yang meman- c? r
  7. Keretanya oleh raja dibawa ke tepi !aut, raj a berkata kepada patih, dan dipikir oleh sang ratu, sebab belum dapat diterka, tam bah heranlah dia.

san!!at kaget, dengan keris berteriak, ternyata seorang anak kecil, kaget sang raja memeriksa.

  1. Ada apa termangu patih, patih menjawab ia Tuanku, ini apa yang dibungkus, bayi sangat montok, raja ke1uar dari kereta, diburunya sang bayi, dirangkul oleh ratu, patih merasa lebih bahagia, ayo ce pat kita pulang, raja sudah naik kereta. 14 7. Segeralah pulang dengan perasaan gem bira, tidak diceritakan 1amanya di jalan, sudah tiba di keraton, raja Antaboga berkata, tergesa-gesa kepada istri, Nini kesini cepat, bahagia sebesar gunung, saya menemukan emas, Nyi Ratu Antamaya segera keluar, ketika sudah melihat.
  2. Segera1ah dipeluk sang bayi, sambil diayun, aduhai Raden si tampan, anak ibu yang lucu, sayang-sayang anakku sayang, ari deung anaking tingpang, tingdeng anaking tingpung, aduh ibu punya harta, untuk ujang, iwing-iwing piang-piang.
  3. Kakek 1agi menyusuri tebing, ihu sedang sangat ingin, ibu punya anak tampan, demp!ung utilingtingpung, aduh aki sung- guh beruntung, segera1ah beri nama, raja jin lalu berkata, tentu saja anak kita, si tampan yaitu Amar Sakti, kata ibunya lakadalah.
  4. Saya akan mem beri nama lagi, kepada si ujang Rahaden Sa- mudra, kata ratu jin betu1 juga, raden patih menyembah, memberi nama putra gusti, Raden Soma Adiningrat, kata ratu jin cocok, mantri Budi lalu berkata, hamba akan memberi nama, Raden Amar Lae1a.

15 2. Yaitu kakeknya Begawan Mudali, So manti itu adalah ibunya, nama Amarsakti, jelas dibuang bisa hidup, sebab didampingi yang pasti, sedang Raden Samudra, di air mengapung, adapun Amarlaela, kalau tidak tahu yaitu neneknya, Siti Amar Lae-Ja.

I 53. Dan nama Somaningrat, hari senin dike temuka~nya, soma yaitu senin, ningrat adalah ratu, anak ini tid ak salah lag i, tentu jadi raja, ratu paling besar, semua nama bawaannya, syukur tidak beda dengan keadaannya, sy ukur alhamdulillah.

I 54. Sang bayi sangat dikasihi, raja putri tak ada pekerj aan, hanya memomong anak saja, diceritakan sang bayi, yaitu Raden Amarsakti, diasuh oleh dua jin, namanya Sa mad dan Samud. satu ketika Antaboga, mengutus memanggil kamasan di ne- geri, bernama Raden Wiruna.

  1. Sudah tiba di hadapan G usti, hei Wiruna segeralah, buatkan kereta yang bagus, tetapi se mua dari emas, kudanya juga emas, kendaraan untuk si ujang, sudah bisa berjalan, dituntun oleh jin Samad, di belakang dipayungi Samud, puntas benar tampaknya. I 56. Belum terbukti sudah senang hati, sudah undur Raden Wiruna, dan menyembah lalu mundur, bekerja terburu-buru, tak diceritakan lamanya, kereta sudah tersedia, dilapisi emas, sangat bagus merakitnya, sudah dibawa ke hadapan G usti. raja sedang di mandapa. I 57. Segera o leh Wiruna itu kereta, dipersem bahkan kepada raja, sambil menyebut mahir betu1, kepada anaknya lalu berkata, ujang ama punya pedati, cobalah kendarai, tuntun oleh jin Samad, di belakang yang memayungi, sa ng putra sudah naik pedati, raja bersorak-sorak.

  2. Sangat suka cita melihat sang putra, sudah pamit Raden Wiru- na, dari raja mendapat persen, banyaknya tidak disebutkan, ratus ribu entah1ah, tapi romannya berseri, sekarang dicerita- kan, sang putra sudah besar, makin besar cahayanya makin bersinar, habis oleh dandanggula.

    KIN ANTI

  3. Kinanti pelipur kalbu, sang putra sudah berahi, tujuh tahun tidaklah kurang, saat-saatnya dididik, sudah diajari membaca Qur'an, oleh sang ratu jin.

  4. Dalam waktu tiga tahun, belajar ilmu kebatinan, sesudah tamat putra, belajar lagi ilmu, kegagahan kesaktian, lulus se- gala macam ilmu.
  5. Sudah genap sepuluh tahun, usia sang putra, 1alu dipanggil oleh ayahnya, yaitu o1eh sang ratu jin, Amarsakti menghadap, duduk bersila di hadapan Gusti.
  6. Raja Antaboga berkata, ujang sadarilah, akan kekayaan bapak, sebab anak hanya satu, tunggal hanya kau seorang, yang wa- jib memiliki negeri. I 63. Harus sering pergi ke gunung, harta bendaku periksa, gunung emas dan perak, gunung timah dengan besi, gunung tembaga rajasa, gunung suasa dan manik.
  7. Sedang itu yang banyak, dari situ juga kelihatan, gunung siang tentu saja, tiap gunung tak tertukar, gunung kambing serta domba, kerbau rusa begitu pula.
  8. Dengan kuda yang indah, sepasang bulunya sama, tinggi besar tiada berbeda, kuda siluman sepasang, di ista1 yang ter- jaga, itu untukmu pribadi.
  9. Pelog emas dengan degung, salendro perak dan besi, keretas emas untuk ujang, kuda siluman sepasang, dan kamu jangan ragu, kenali semua jin.

I 72. Ibumu saat melahirkan, ketika bayi lahir, ditukar oleh binatang, berupa kera ciung kucing, dikatakan putra raja, sedangkan ujang dibuang ke air.

  1. Karena itu ayahmu rnarah, malu mempunyai anak kucing, ibumu lalu dibuang, ke Danaka hutan belantara, dkurus oleh tiga hewan, sangat mengasihi monyet kucing. I 74. Berwatak sabar sang ciung, pikiran monyet dan kucing, un- tuk apapun terbuka, ujang janganlah bersedih, kepada hewan yang tiga, walaupun bukan manusia.
  2. Apalagi itu ciung, yang mengurusi baj u dan kain, ibu ujang Nyi Lasmaya, putri Begawan Mudali, sekarang ada di Danaka, dibuang oleh ayahmu. 17 6. Namanya Baginda Ma'ruf, ayahmu pribadi, tapi jangan sekali- kali, ingi n balas menghina, jangan se kali-kali.
  3. Yang waspada Gusti Agung, kita hanyalah dapat bergerak, segeralah cari Nyi Lasmaya, olehmu harus terbawa, bawalah ke sini, hewan yang tiga jangan ketingg;~l m.

eli elepan, sudah keluar elari negeri.

  1. Sekarang diceritakan, di Danaka nyi putri, sedang senang diri- nya, memanen jagung memetik padi, panen dan menjemur eundan, makanan tingga1 mengambil. 1 81. Berkat Allah yang Agung, huma itu musnah hi1ang, tidak di- temukan oleh yang punya, tiada ja1an setapak, sekalipun itu di Jadang, kata si empunya hutan.
  2. Anak-anak yang diceritakan, Tandran masang seelang ber- main, di atas bertiga, ciung di atas pohon kayu, melihat ke utara ke timur, samar-samar tampak1ah Raden Amarsakti.
  3. Kata ciung itu dia, kak agan datang, Pancatandran segera na- ik, ke atas supaya jelas, sambi1 berkata betulkah, habislah suclah kunanti.

    PUCUNG

  4. Tembang pucung panji layang sambil turun, ia pu1ang duluan, tielak eliceritakan Jamanya, sam bi1 kaget menemui Nyi Lasmaya.

  5. Ibu kebetulan berani buntung, putra ibu datang, tielak lama 1agi, samar-samar sudah terlihat di jalan. I 86. Lebih kaget 1agi Lasmaya berkata, akan menjemput putra, seolah sudah ter1ihat, diceritakan Tandran Masang yang menjemput.
  6. Waktu bertemu Tandran Masang ke depan, se1amat datang Juragan, saya menunggu-nunggu, sekarang senang Tuan sudah datang.

Sakti seraya berkata, nanti dulu, sebab aku lebih heran, dan baru menemukan kera bisa berbicara.

  1. Apalagi kucing yang menganggap saudara, dan kalian datang, menemuiku mau apa, Panca Panji berkata kepada Juragan.
  2. Aka di sini sedang mengasuh ibu, yaitu ibu Tuan, dijaga siang dan malam, siapakah sebenarnya ibu saya. 19 1. Pancatandran menjawab istrinya ratu, nyi Dewi Lasmaya, itulah ibu Tuan, berkata Amarsakti ya betul berangkatlah duluan.
  3. Panca Panci berjalan di depan, tidak berana lama, sang ibu ada di tempat, segeralah dirangkul putranya.
  4. Menjerit menangis sambil bertutur, Raden tak disangka, terkabul maksud ibu, dengan Raden segera bertamu. I 94. Nyi Lasmaya menangis tersedu-sedu, Raden tak disangka, Den putra menghibur, sudah masuk ke dangau dengan tiga he wan. 19 5. Hormat takzim kucing monyet dan cmng, Raden berkata, ibu saya ingin bertanya, bagaimana sampai ada di sini.
  5. Nyi Lasmaya lalu berkata kepada putranya, begini nak, waktu ibu akanmelahirkan, yaitu waktu melahirkan ujang.
  6. lbu bertanya kepada Nurhayat madu ibu, ibu dihianati, sebab ibu belum tahu, mata kuping oleh Nurhayat ditutupi. I 9 8. Sedang raja ayah ujang sedang tidak ada, sedang berburu, waktu ujang sudah lahir, diganti oleh tiga hewan ini.
  7. Sedangkan ujang mungkin dibuang ke laut, oleh si Nurhayat, ketika ayahmu datang, murka pacta ibu tidak mengampuni.
  8. Nah sekian ibu berpesan pada Agus, pesan ibu, kepada tiga hewan ini, jangan malu mengakui saudara karena hewan.

Dapat hid up hingga kini ibu, oleh ketiga anak itu, Raden putra lalu lalu menjawab, tentu saja ibu kasihan.

  1. Walau hewan mereka tentulah saudaraku, yaitu darah saya, waktu lahir dari ibu, kata siapa bukan saudara.
  2. Sekarang marilah kita pulang ibu, ke gunung Malebah, di sana di ibu saya, yaitu ratu jin di negeri gunung Male bah.
  3. Nyi Lasmaya lalu turun dari dangau, mengelilingi ladang, Berkat Allah Yang Maha Pasti, tampaklah ladang yang padi- nya menguning.
  4. Tiga orang yang dulu menunggu, sudah hidup lagi, menggeliat bagai bangun tidur, hanya letaknya agak jauh dari dangau.
  5. Berkeliling sudah masuk lagi ke dalam dangau, mengelilingi ladang, kepada putranya berkata perlahan, marilah Raden dan anak-anak semua.
  6. Kata Raden mari kak mumpung pagi, Tandran Masang menjawab, mari Raden turut saja, sudah keluar dari dalam gunung Dan aka.

    M I J I L

  7. Samad Samud lebih dahulu, mclihat jalan lapang, Tandran Masang di belakang raden, sedang tiung biasa menaiki kucing, Raden Amarsakti. di belakang ibu.

  8. Sepanjang perjalanan Tandran dan kucing, bersenda gurau, sang kucing yang cerewet, katanya agan dulu saya, sang
  9. Waktu ibu berkata ingin rimpi, lalu saya pergi, memasuki rumah orang kaya, waktu sampai naik ke bilik, dari dapur lalu meminggir, waktu saya masuk.

21 1. Waktu saya naik ke langit-langit, menyusuri pago, entah apa ada yang jatuh, dan cempor karena sudah malam, semuanya jadi bangun di rumah jadi ribut.

2 1'2. Pad a kaget kata kucing, langit-langit dicabik, ada wadah mungkin tersenggol, yang jatuh menim pa piring, saya sangat kaget. dan pelita di atas.

2 13. Saya hampir terkencing-kencing, bersem bunyi di dalam ke- ranjang, tampak cahaya pelita, untung saja tidk sampai kencing, karena takutnya, untuk tidak ditemukan oleh mereka.

2 14. T api sudah mengam bil 3 kerat daging, kat a Tandran berkata, si kucing suka ngomong tak karuan, masa sampai terkencing-kencing, sampai berak mustahil, karena memang itu bohong.

2 15. Biar terberak-berak dan terkencing-kencing, itu tidak bohong, Panji Masang menjawab pada monyet, si dekok ini suka mele- cehkan, akan perkataanku, tidak seperti monyet.

2 16. Kepergok orang suka menyeringai, terberak-berak, sudah bia- "" bnak si monyet, kalau kaget terus berak sambil menyeringai, Panca Tandran tertawa, sambil engguk-enggukan.

2 17. Sifal monyet tidak hilang, Panji Layang berkata, sayapun pernah kaget, waktu saya datang membawa kain, dari kota Derwa ti, mencarikan untuk ibu.

2 1 8. Kain ibu dijemur di bilik, sudah dilipat lagi, saya masuk saja ke bawah, melihat lipatan kain, saya mengambil satu, lalu pulang buru-buru.

2 19. Tambah-tambah ketahuan orang, saya dikejar-kejar, ada yang membawa sumpitan, saya terbang makin tinggi, orang-orang menjerit-jerit, katanya itu tiung.

2 20. Mencuri kain yang bagus, Iekas kejar, kejar saja kata yang lain, mereka menjerit-jerit, macam-macam orang, menyumpahi hantu.

DANGDANGGULA

  1. Sudah keluar dari hutan barribu, sudah ke perkampungan, tak lama ditempuhnya, sudah tiba di jalan mulus, banyak warung terlihat, semua kaget yang melihat, yang pacta di warung, baru kali ini, ada kera bisa tertawa, dan berbicara ba- hasa manusia.
  2. ltu lagi beo menunggangi kucing, tapi orang ngomong tidak beda, malu oleh yang punya monyet, Pancatandran berkata, apakah agan ini negeri, Raden tertawa menjawab, kakak ini kampung, bangsa jin bukan manusia, rakyatnya semua bangsa jin, lelaki dan perempuan.
  3. Tak diceritakan lamanya di perjalanan, sudah sa mpai di kaca- kaca alun-alun sudah tampak, beringin rindang, sudah masuk ke dalam negeri, perjalanan sangatlah cepat, tiba di alun-alun, ke pura kota Malebah, masuk ke dalam den putra ke dalam puri.
  4. Di hadapannya patih dan mantri, semua kaget melihat Lasmaya, raja jin segera memburu, nyi Lasmaya dirangkulnya, aduh Nyi Lasmaya, saya enak perasaan, sudah berkumpul, tak ada lagi yang dikuatirkan, Nyi Lasmaya mari bersama ibu ke rumah, bawa itu anak-anak.
  5. Nyi Lasmaya dibawa ke rumah, Panca panji begitu pula La- yang, kepada Lasmaya berkata perlahan, Nyai anak-anak urus, silakan makan minum, sesuka hati kalian, oleh Lasmaya urusi, Nyi jangan ragu-ragu, anak ibu tiada lagi hanya nyai, ibu senang pikiran.

  6. Lamanya dari negeri Madusari, sampai ketemu dengan putra, tidak senang tidak buruk, dan pacta suatu saat, sang ratu jin berkata lagi, kepada Amarsakti putra, ujang harus menurut, pepa tah bapak, sudah waktunya ujang mengembara ke negeri, harus tahu ayah. 23 I. Tapi hati-hati jangan ketahuan, cari kesempatan dan hati- hatilah, jangan menampakkan ketampanan, kan sudah cukup memiliki ilmu jin, tapi harus disertai penakawan, jangan ber- jalan sendiri, bawa Samad Samud, ba walah senjata ini, untuk Agus jimat ini lebih sakti, tingkat rajadimaya.

  7. Bentuknya tidak istimewa hanya bambu, namun beruas panjang di dalamnya, sang ratu jin berkata perlahan, uj ang ini tongkat leluhur, di dalamnya selaksa jin, dan meriam sapuja- gat, untuk menghadapi musuh, apa saja keinginan, di dalam tongkat segala ada, tidak ada kekurangan.
  8. Dan bapak punya seekor kuda, siluman namanya Gelap Pus- pa, lebih sakti serta kuat, kuda itu untuk Agus, sebab bukan siapa-siapa lagi, yang bakal memilikinya, hartamu semua, makanya harus sekolah, harus pintar sebab turunan bupati, tentu Agus jadi raja.
  9. Tapi di mana saja tergantung takdir, jangan heran kehendak Yang Kuasa, di mana takdirmu, tentunya di sanalah engkau menetap, syukur kalau di sini, yaitu kalau takdir, Amarsakti menjawab, terima kasih bapak, hamba akan pergi ke Madu- sa ri, mohon restu dari bapak.

PANGKUR

  1. Jauh perjalanan Raden Putra, Samac! Samuel di hutan mem- bimbing, turun gunung naik gunung, siang malam perjalanan, tidak khawatir karena sudah penuh ilmu, jin siluman pada tahu, kepacla Raden Amarsakti. 23 7. Tersebutlah putra Antaboga, diceritakan sudah sangat jauh dari negeri, menempuh hutan memanjat tinggi, rusa begitu banyak, timur barat selatan utara berseliweran, rusa tak henti-hentinya, terhalang langkah Raden Sakti.
  2. Ternyata ada yang mengejar, kangjeng gusti dari Madusari, yaitu Bagincla Ma ' ruf, yang sedang berscnang-sena ng, bcrsama semua pepatih dan tumenggung, demang biskal dan mahjan, yaitu kepala mantri.
  3. Raden putra terhalangi, sebab rusa lurus ke arah den Sakti, mau melangkah ragu-ragu, ingat pada pesan, membawa tong- kat rajadimaya si hantu, raden berhenti tidak berjalan, sebab rusa membuatnya pusing.
  4. Dipukulkanlah tongkatnya, sambil berkata hai rusa menghi- langlah, hilanglah rusa bersembunyi, menghilang tak kelihat- an, sangat sepi hening lir gaang katinjak, hanya ada yang terli- hat, di depan seekor sapi.
  5. Besar tiada bandingnya, lalu dike rum uni kora wa prajurit, namun seperti sa pi tangguh, ditem baki tidak bergeming, pada kaget Raden diam di tempat sepi, ingin tahu berhasil- nya, yang menangkap itu sapi.

:242. Sudah ta kluk balad korawa, ada seo rang tumenggung yang berani, menghunus pedang lalu maj u, namanya tumenggung Rangsang, langsung menyerang niatnya Raden Tumenggung, masih jauh sudah terlihat, lembu memburu lebih gesit.

:243. Diburu tumenggung Demang, maksudnya mau diburu oleh sapi itu pedangnya lepas ke belakang, diserang ditanduki, ditanduki hingga ususnya terburai, matilah Tumenggung Rangsang, usunya terburai-burai.

  1. Terlihat oleh Raden Majran, kepada tumenggung raden MaJran itu masih saudara, terhenyak sambil bernafsu, engkau sapi mangsaku, senjataku sudah diasah tiga m inggu, majulah sang Maj ran, belum sampai pada maksudnya.
  2. Lem bu sudah menghentak mengejar, menyeranglah kepada Majran itu sapi, ditabrak sekali rubuh, pedangnya pun terle- pas, sa ng Majran terlentang kerepotan, diinjak pada perutnya. usus Majran terburai.
  3. Man tri Majran sudah mati, terlihat oleh Aria Jipang meng- hambur, membawa pistol pengusir musuh, j edor pistol ditem- bak kan, Jembu itu berasap lalu menyeruduk, Demang .lipang terjengkang, bengong kurawa dan patih. :2 47. Demang Jipang prajurit andalan, tak berdaya meninggal di- am uk sa pi, tidak ada yang berani menolong, karena takutnya, sebab sapi itu sangat gesit, tampaknya bukan sapi biasa, tidak mempan pedang dan bedil.
    248. Rahaden Patih Budiman, cepat lari mcmberi tahu kangjeng gusti, terengah-engah bak terburu-buru, segera raja memerik- sa, ada apa patih seperti yang gugup, raden patih bertutur, benar paduka gusti.
    249. Ka bar buruk hamha sampaikan, rusa tidak ada satu pun. hanya ada seekor lembu, luar biasa gagahnya, Mas Tumenggung Demang dengan Jipang mati, Mantri Maj ran tewas, sapi tidak mundur oleh bedil.

Tumenggung yang dua sampai meninggal, ketiga Majran mantri, apalagi para pemburu, banyak yang mati, diamuk oleh sapi itu, seperti hantu saja, tak bisa dipandang enteng ratu.

  1. Kangjeng ratu mendengar penuturan patih, merah padam mukanya, hei Patih Budiman, kamu terkenal gagah, masa sampai kalah oleh sapi, tak punya malu, tidak pantas benar.
  2. Jangankan bertemu badak dan gajah, baru seekor sapi saja, ayo makan sama kamu, tidak malu sampai lari, sungguh patih kurang-berbudi, baru saja tenaga sapi seekor.
  3. Kalau begitu patih kamu kurang ajar, ayo tangkap itu sapi, bacok tembak tangkap, masa tidak mati, engkau patih pe- nakut, kalah oleh binatang, apalagi oleh dua ekor sapi. 25 4. Raden patih beranjak dari hadapan raja, pusing tidak me- nyembah lagi, disingsingkan bajunya, engkau lembu akan ku- hajar, ayo bertarung· dengan ku, segeralah diburunya, gagah itu raden patih.
  4. Saling dorong dengan lembu sama kuatnya, tanduk lembu tidak mempan, kepada patih tidak mempan, patih ditanduki, lebih kuat Raden Patih, sama kuatnya, basah oleh Judah sapi.
  5. Raden patih dibantingkan oleh sapi, jatuh jauh den Patih, jatuh di hadapan raja, kaget raja berkata, kenapa kamu Patih, segera bangun, saya dilemparkan oleh sapi.
  6. Berkata raja betul sapi itu gagah, saatnya harus denganku, raja segera dandan, mengenakan pedang pusaka, dari palang- gon sudah pergi, pergi dengan semangat, tidak berpikir pan- jang lagi.
  7. Ditetjang- sapi ditangkap kepalanya, sapi menubruk keras, berderak suaranya, menubruk kangjeng raja, tapi tidak goyah sedikitpun, kuat sang raja, ditonton mantri bupatl.

259. Tak ada yang berani membantu, menendang-nendang sang sapi, dan bertambah sengit, mata m erah bagai kalayar, saling dorong itu sapi, dengan kangjeng raja, raja didorong ke ping- gJr.
.2 60. Dan raja tidak ingat akan senjata, tubuhnya sudah telanjan)!, pedang tcrtindih, sapi semakin mendorong, sudah sangat repot kangj eng raja, tidak bisa be rgerak, ditonton mantri bupati. 26 I. Walau kasihan tapi apalah daya, sc bab membantu tidak berani, takut sekali, Tersebutlah o rang yang sedang berteduh. Raden dengan dua jin, dipegang tanduknya. ditarik pedang gusti. 2o 2. Ka sihan den putra kepada kangjeng raja, sa pi disembelih. disembclih oleh raden putra, mem akai pedang kangjeng raja, jatuhlah itu sapi, terpotong tubuhnya. bersoraklah kurawa mantri. 26 3. Ramai bersorak karena girangnya. raja pingsan tak ingat-ingat, kakinya tertindih. o leh sapi sudah kerepotan, berkata sambil tak sa dar, keras yang bersorak. terd engar oleh kan)!- jcng raja.

DANGDANGGULA

2h4. Wak t u sadar melihat pada sa pi, serta sorak sorai tiada hent1. karena suka hati, sudah pulih kcsadaran ratu, memeriksa keadaan badannya, bajunya semua rusak, ludah sa pi basah. raja be rkata ini siapa. yang menolongku waktu tidak sadar. raden patih lalu berkata.

26 5. Abdi gusti tiada ya ng berani, yang bisa mcnolong paduka. semua ha n ya terlongong. pertolongan kepa da tuan, itu ada scorang anak, yang sedang berteduh, di bawah pohon ka yu, disem belih oleh anak itu, ternyata tidak seberapa tenaga sa pi itu, clitangkap oleh itu anak.

yang menolong, waktu saya sedang tak berdaya. raclen putra benar gusti, yang menolong raja.

  1. Itu sapi oleh saya Llisembelih, kata raja aku sa ngat gembira, kamu pemberani, kalau kamu tidak menolong, mungkin saya mati oleh sapi, siapa namamu nak, den putra menjawa b, nama saya si Sarah. berkata raja kam u anak Llari mana, si Sarah lalu menjawab.
  2. Kampung saya pegunungan tinggi, berkata raja sedang apa kamu, sampai berada di dalam, semak, Sarah m enjawab, sedang m encari kerba u, kabur takut oleh pemburu, larinya suka jauh, berkata raja kebetulan, bagaimana kamu bisa me- nolongku, kalau tidak ada kamu celakalah.
  3. Maukah kamu ikut ke negeri, sebab saya ingin membalas budi, kata Sarah mau saja, tidak banyak bicara, sudah dipanggul itu sapi, si Sarah turut pada raja, semuanya bubar pulang, dari tempat berburu semuanya, tiJak diceritakan di jalannya, tibalah di negara.
  4. Raj a istri kaget mclihat sapi, kepada Sarah Nu rhayat mena- tap ini anak sangat jelek, Nurhayat lalu bcrkata. anak siapa ini hitam, seperti anak tukang ladang, cepat raja menjawab, memang orang pegunungan. scbabnya d ibawa oleh saya, ingin membalas budi. '27 1. Waktu saya sedang cli cabik sapi, sudah sangat kepayahan, malah Tumenggung pada mati, keduanya yang perlu, untuk pesuruh anak-anak, sebagai rasa terima kasih, suruhlah ia m asuk, turut anak kita, anak gunung mudah- muctahan prih- atin, nyi Nurhayat menj awab. 2 72. Tentu saja harus membalas budi, kamu Sarah di sini harus betah, turut kepacla tuan mudamu, belajar jangan d usun, harus menyem bah pad a majikan, Nurhayat segera mengambil, kain dan baju, ikat kepala yang agak baik, didandani pa kaian yang bersih, tidak lama datang anaknya.

213. Kanjeng raja kepada pu tra nya berkata. mi ujang ama mem- ba wa anak. bawalah untuk pcs uruh. si Sarah anak gunung, mudah-mudahan betah el i si ni. untuk pcngawal ujang, pe rhati- ka nla h sebab jauh, Raden Sabang menjawa b, kc marilah Sarah hersam aku, kam u Sarah pengawal. 2-..J.. Diccntakan jin dua !)embimbing, dari negeri pu lang ke Ma- lc hah. disuruh o lch Raden. sudah berangkat, mcmbawa tongka t ajirnat, tongka t raj a cl im aya, kcpada jin sudah mengha- dap, anak sudah bertemu bapaknya. lebi h senang hati raja jin. ka ren,l putra sudah kc negara.
.2.., "· Tundalah dan mari kita ki<>ahkan, Bagu:-. Sar~:~h di negeri la- manya. tiga tahun jadi pesuruh, pada saa t ka ngj eng ratu. mena se hati putranya. uj ang harus sekolah. anak-anak menu- ru t, pada patih Raden Budiman, dua putra gusti hersekolah, ketiganya pes uruh si Sarah. 27() l\amun karena suruhan Custi. ke pada pu tran ya agar dengan Sa rah. d isuruh gia t se ko Ia h. man 1111 tut ilmu harus tam at, 5>i Sarah harus mengerti. sa mhil ujang scnctin, tentu rnenj adi ratu. karenanya jangan ditinggal. ke eko lah ba wa lah sebagai pes umh. namu n sudall sangat terkcnal.
277. D1 clalam kota Maclu sari. ada anak pLsuruh putra raja. pa nclai nwnuli-, pa ndai bicar:t. sem ua ba hasa dikuasai. m~:~ lah gurunya "LillliJ 1 ra den Pat ill Bu diman. sudah ka lah mcngajar, sucl ah ha hi~ ilmu nya. lcbih lw run anak gunune Iarang hati, putra raja ~lllldt 1nalu WIR A NGRON<; 27 '-:. Wakt unya belajar mcnulis. Sabang Saka le bih bodoh. Sarah ya nf termashur. bahkan Nurhayat melihat. waktu secla ng be- laja r. tli Raden Patih Budiman.
279. Dipclotot1 oleh Patih, Sabang Saka dan dibcntak. Sarah du- duk d1 bawah. pura-pura rnenulis, J...a rena te1 hadap panaka- wa n. walau hena r dihma.

  1. Bila Sarah ditempeleng, walau pintar tetap jelek, sikap pana- kawan ratu, sedikit tidak bertingkah, karena memang ada di bawah, diam ketiga-tiganya.
  2. Sabang Saka lebih sayang, terhadap Sarah tak menyalahkan, siang malam suka berkumpul, si Sarah tak boleh jauh, makan minum dengan Sarah, siang malam tak berpisah.
  3. Tersebutlah Kangjeng Gusti, sejak saat Lasmaya lolos, tak ada lagi yang diingat, kecuali pedang yang jadi pikiran tetap tak ditemukan, dicari ketiap negara.
    283. Sering pusing Kangjeng Gusti, kepada ponggawa memarahi, kepada Patih berkata kasar, pedang hilang tak ditemukan, patih ponggawa negara, takut Kepada Kangjeng Raja.
  4. Heran ponggawa Bupati, kehilangan pedang dari keraton, sudah lama semuanya bingung, siapa yang berani mencuri, tak ada kabar sedikitpun, tak tahu entah kemana.
  5. Suatu saat Kangjeng Gusti, Baginda Ma'rup sang katong, sedang duduk tampak bingung, pada kursi tempat Gusti, sedang mengingat-ingat pedang, di hadapannya Permaisuri.
  6. Nurhayat berkata kepada Gusti, sambil berbisik-bisik, malam tadi pukul satu, ternyata ada yang datang, kepada hamba bertutur. perkara pedang tersebut.
    287. Kalau dicari oleh Patih, Mantri ataupun Kaliwon, tak akan ditemukan, coba oleh anak-anak, Sabang saja suruh pergi, tak lama pasti ditemukan.
  7. Sekian ilapat hamba, tapi entah kalau bohong, namun yakin ini sungguh, segera sang Raja berkata. itu nyai tak kan salah, ilapa t tak akan gaga!.
    289. Keesokannya Raja berkata, berkata pelan pada putranya, Ujang Ama menyuruh, sekarang segera berangkat, carilah pedang ama, semoga engkau temukan.
    290. Raden Sa bang bertutur ta 'dz.im, perkataan ama saya mengerti, namun saya tidak sanggup, sebab sipencurinya, bukan orang sembarangan, karena mencuri itu pedang.

29 1. Sambil masuk ke dalam rumah, m enandakan seorang jagoan, kalau da pat saya ketahui, hanya untuk mati menyerahkan nyawa, duh mungkin saya celaka.

292. Sekian fi kiran saya, yang bodoh tak tahu apa-apa, berkata lagi Kangjeng Ratu, berangkat adalah keharusan, membukti- kan kemungkinan, jangan menolak suruhan.
293. Sabang Saka lalu berangkat undur dari dalam keraton, bermain di Alun-alun, mereka tidak memikirkan, akan perkataan sang Raja, tidak punya keberanian.
294. Habis bermain lalu pulang, berkata kepada ibunya, disuruh pergi oleh ratu, ibu saya tak akan berangkat. melaksanakan suruhan, bila pergi saya celaka.

I\11 JI L

29 5. Habis wi rangrong disambung mij iL karena hampir terlihat, sangat sunyi di dalam rumah, bertiga di dalam rumah, Nurha- yat berbta kepada anaknya pelan.

  1. Begini Ujang harus surti, ibu yang berkata, menceritakan impian ibu, pcdang yang hilang itu, kata impian jelas, kalau tidak olehmu.
  2. Karena itu Ujang harus pergi, berjalan sam pai terlaksana ibu mendapat impian, hanya pikiran ibu bimbang, dari sejak bertemu. dcngan si Sarah makl um.
  3. Ditambah bukti oleh pcngetahuan, pandai clapat bertutur. segala sesuatu cepat bisa, terhadap nama itu ibu mengerti Sarah itu pasti, yaitu anak temuan.
  4. ltu anak si Lasmaya iblis, ia anak raja, tentu ujang akan ter- sisihkan. oleh Sarah nanti eli akhir, ibu tambah benci, sej ak pertama bertemu.

  5. Namun jagalah rahasia ini, kalau diperiksa, oleh ayah ujang hati-hatilah, si Sarah bila dibiarkan pasti diakhirkan mcnyi- sihkan, bakal menjadi ratu. 30 I. Sedang ujang akan tersingkirkan, karena itu janga n bodoh, segcralah pergi ke hutan, bcrpura-pura dengan rapih, berang- kat dengan si Sarah, di hutan lalu bunuhlah.

  6. Kalau si Sarah sudah mati, fikiran ibu bebas, diri ujang yang dijaga itu, jangan dipcrmalukan diakhir, ibu sangat memben- cinya, sejak pertama bertemu.
  7. Namun jagalah rahasia ini, kalau diperiksa. oleh aya h ujang hati-hatilah, dimangsa badak katakan pada gusti, kalau sudah dimengerti, itu rah(:lsia ibu.
  8. Sekarang ujang harus pcrgi, scdiakan peralatan, lalu si Sarah bunuh, yang diharap agar tak kelihatan, Den Sabang berkata, si Sarah lalu dipanggil.
  9. Bagus Sarah masuk ke dalam rumah, Nurhayat bcrkata pclan, si lakan maka n bersama si Sarah, segera laksanakan tit(:jh gusti. pedang segera cari, semoga ditemukan.
  10. Raden Sabang berkata lagi. kepada si Sarah pelan. Sarah sc- karang kita pcrgi, kita cari pcdang gusti. scnwga saja bcrhasil, kita mcncmukannya.
  11. Sarah mcnjawab saya akan ikut. silakan a~>an anom. kc man(! saja saya kan menyertai, kepada gamtJaran yang pengasih. saya tak akan mungkir, siang malam patuh.
  12. Sudah dan-dan anak-anak, lubuk panah pistol,1yi Nurhayat berkata pacta anaknya, itu ujang harus kau camkan. saclarilah si Sarah. kalau sudah sampai di gunung.
  13. Jangan suruh berjalan di belakang, kalau-kalau lcngah, sudah pergi mereka bertiga, raden membawa busur dan panah. tidak pula ketinggalan. membawa pistol lubuk.

  14. Tersebutlah sudah jauh dari negeri, memasuki hutan belan- tara. raden melirik si Sarah. Sarah kamu jangan di belakang. berjalanlah duluan, berjalan sambil m cnunduk. \ 11. Merambah hutan jangan mcnoleh. lihatlah ke depan. tabu bcrjalan di hutan begitu. Sarah bcrj al.tn lebi h dulu, Sabang el i bebkang, dan berjalan relan. \ 12. Sudah agak jauh Sarah bcrjalan, radcn Sabang 1upa, gila hi- lang si fat baik. men a rik busur se kuatnya. Sarah terkena sasaran. oleh panah lalu jatuh. 1 13. T cn).!kuk n ya terkcna panah. rackn Sabang mcm buru, lalu mcm bacok kepalanya, dicincangnya sekaligus, scpnti scrpihan kayu, di atas rerum putan.

    \1A SKUMAMBANG

i 14. Bcrserakan sayatan kulit daging tulang. m enjadi berserakan. bak kcmba ng ros dipetik, ditaburkan di tana h.

\15. Sa bang Saka saat itu lalu pergi, tidak diccritakan di j alannya. sudah tiba di negeri. la1u menghadap ayahanda.

  1. Mc rengek keduanya menangis, di hadapan raja, sang raja J..a- get bc rtanya. kenapa raden anakda '17. !Ja tang-datang mcnangis sepcrti yang 1-..csakitan, ceritakanlah. Ra den Sabang berkata takLim, saya ini baru pulang. 31 K. Mc ncari pcdang saya siang malam. bersam a si Sarah, bert1ga kami bcrangkat, tapi tak ditemuka n juga. \19. Waktu saya berniat pulang, bertiga dengan Sarah, lalu berhe n- ti di bawah pohon kayu, di hutan Ba ndaralas. i 20. Ka ta say a a yo mari kita pulang, d ari ~a na ada baclak. badak i tu scdang mengangin. si ka pn ya m en a k u tkan. ~21. Sa ya mengajak Sarah pulang, badak itu ga lak. waktu saya mengaj ak pulang. badak itu olch Sarah

Sarah lebih berani, hanya sekejap saja.

3 23. Tak d isangka dimakan oleh badak yang sedang ngangin, seraya diberi umpan, habis kulit dan dagingnya, sampai tu- lang-tulangnya.

324. Saya menangis karena sakit, ingat kepada Sarah, tidak mau dikasihani, kenapa ia terlalu berani. 3 25. Diajak oleh say a pergi, karen a ada badak, kangjeng raja ber- ka ta, sudahl ah raden jangan bepergian. 3 26. Soal si Sarah biarlah karen a dia sudah mati. jangan dipikir- kan, tidak bakal sakit hati. coba ka lau ujang.
327. Tidak akan dapat ditimbang dipikir, karenanya ujang, jangan pergi ke hutan lagi, soal pedang suclah tidak ada.
328. Biarlah jangan menambah celaka, banyak penggantinya, soal pedang tidak terlal u susah, tadinya pun untung-untungan. 3 29. Biar saja nanti j uga pasti ketemu, yang mencuri pedang, am a tidak ambl hati, yang sudah hilang ya bagaimana.
330. Senang sekali putra mendengar perkataan, dan berkata hore, sanga tlah senang hati, tidak akan mcndapat malu.

KIN ANTI

  1. Tiba-tiba terjadi gempa, angin sepoy bertiup, hujan panas tak merata, ke gunung Malebah sampai, lantaran ada yang clibu- nuh, sepoi-sepoi angin dingin.
    332. Angin ke keraton masuk, oleh ratu jin terlihat, putranya sudah dibunuh, di hutan Malebah jelas, lalu berkata pacta istri- nya, Nenek anak kita celaka.

Mcnunggu ratujin datang, ketika datang ratu jin. berdiri di depannya. sambil mcmbaca isim, ratu jin lal u berkata, coba bangunlah raden.

  1. Ba ngunlah den Bagus, waktu mciJhat ra tu jin, bapak dari mana. di sini bertemu dengan saya. ba pak saya dibunuh. raja jin ce pat berkata. 33 7. Bapa mcncari Agus, kalau-kalau tcrlanjur pikir, raden putra menj awab. tidak punya dosa saya, kenapa di bunuh, bcrkata lagi sang ratu jin. 33H. Bc tul Agus. karena itu bapak datan!!. schah raden tidak ber- dosa, kalau berniat balas dendam, jangan sckali-kali punya niat itu, kalau ingin mulya diri. 3JlJ. Sc karang pulanglah, kcmbali lagi ke ncgara, ujang jangan ragu-ragu, menghadap kepada kangjeng gusti, raden putra menj awab. kalau saya kembali ke negeri.
  2. Sucl ah tcntu malu oleh ratu. sebab sa ya waktu pergi, cl isuruh mencari peclang. bagaimana kalau tidak terbawa, pastilah marah kangjeng raja, tentu saya lebih malu.
  3. Ra tu jin berkata lagi, tentu saja raden, beginilah pedang itu. warisan kakek nak, diam bil oleh ibu ujang, yang mengambil m onyet dan kucing. 34 2. Sekarang pedang itu Agus, ada pact a tangan ibumu, sebab wari san ayahnya, tapi kalau engkau m alu, takut dimarahi ratu, coba bapak kan membuk tikan.
  4. Ya ng serupa clengan pedang ratu, ratu jin m embuat dari kayu, serupa pcdang, sangat bagus, setelah berupa pedang, diberi- ka n kl·pada den sakti.

  5. Beginilah rupanya agus, pedang milik gusti, yang sedang di- cari, segeralah sekarang pulang, pedang ini bawa serta, beri- kan kepada rama gusti.

  6. Tentu girang sang ratu, sebab itu pedang g:usti, tapi ujang jangan lama, ce patlah pergi, kalau sudah diterima pedang, kamu cepat pulang.
  7. Ratu jin menghilang dari depan, raden putra lalu pergi, ke negara membawa pedang, di jalan jalannya cepat, datangnya sedang sangat sepi, di dalam tak ada orang. 34 7. Sedang menyendiri kangjeng ratu, bagus Sarah berjalan, sudah terlihat oleh raja, kaget sambil berkata, itu dia si Sarah, katanya kamu sudah mati.
  8. Dimangsa badak di gunung, itu seperti pedangku, betul kata Sarah, diam bil pedang oleh raja. se raya berkata sukurlah.

    PANGKUR

  9. Segera sang raja memcriksa, ceritakanlah Sarah padaku, ini pedang bisa ketemu, di mana ketemunya, bagus menja- wab ratu, di kaki gunung Danaka, ditemukannya oleh saya.

  10. Ada di dalam penjara. yang menjaga monyet tiung dan ku- ci ng, pacta tidur sangat nyenyak, lalu saya mengendap-endap, tidak ketahuan oleh binatang ya ng tiga, dan perempuan begi- tu pula, lalu diambil itu pedang.
  11. Setelah didapat itu pedang, saya lari takut keburu pacta ba- ngun, kangjeng raja baru tersenyum, berkata dalam hati, tidak salah si Lasmaya itu pasti, tidak sempat berkata, si Sarah lalu pamit.
    352. Perginya permisi dulu, mau pulang sebentar saya, ingin ber- temu dengan ibu, di gunung dengan bapa, kata raja bagus kalau ke gunung, tapi kamu jangan lama, harus cepat-cepat pulang.

tidak abn lama seminggu saya, berkata raja segera, ini saya bekali, untuk mengirim ibumu di gunung, ini uang seratus rupiah. si Sarah menjawab tidak m au.

  1. Saya tidak akan membawa apa-apa, lebih kaya ibu bapak saya, tiada kesusahan kaya raya. saya sudah berkata, sambil pergi Sarah berkata pada ratu, la lu pcrgi cepat-cepat, selamat dari dalam puri.
  2. Tak ada yang memperhatikan, bagus Sarah sudah merambah hutan lagi, siang malam mcnyusuri gunung, tidak hirau mi- num makan, tidak tid ur bertapa sambi ! berjalan, sangat ikhla bertapanya, bagus Sarah siang malam. 3 56. Pri ba hasa kangkung gunung d isebut saladalz reuma, kita t un- da yang sedang mengembara. si Sarah merambah hutan, lain kali kita ceritakan lagi.
  3. Sekarang diceritakan, negeri Mulki \ll aharaja Darmasakti, ratu Islam ratu agung, negeri subur makmur. permaisurinya putri Ariawulan ratu. punya seorang anak. perempuan masih anak-anak. 3 58. Tiga belas tahun usianya, lebih cantik namanya Bidayasari. dikasihi oleh ayah ibu. maklum satu-satunya, patih di negeri Mul kiah terkenal, namanya Raden I urjarnan, patih yang terkenal sangat sakti.
  4. Senapati negara Mulkiah. tiada lagi hany:.~ raden Du rjaman patih, dipercaya kangjeng ratu. sedang kesenangan raja, sudah memiliki karangsari lebih bagus, namanya Karang Sida- karya, kebun warna warni.
    360. Yang menjadi lurahnya, sudah terkenal lurah kebun bapak tani. yang mengurus wila yab ra tu. empat puluh banyaknya, yang biasa bekerja di kebun ratu, dan gudang-gudang sedia. yaitu milik gusti. 36 1. Aneka macam bunga-bungaan. segala macam bunga dari negeri lain, ada di kebun sang ratu. dan segala macam buah- buahan, itu juga ada di kebun ratu. dan semua umbi-u mbian, sem uanya aneka macam.

pacta kempung yang bcsar dan banyak rumah-rumah berjajar, ditambah gudang dan lum bung, ter- nyata Karangsidakarya.

  1. Yaitu sayuran gusti, sarah masuk ke sana, tapi tak ada orang tampak, berisik di rumah, sepertinya sedang makan, Sarah eli beranda duduk, sudah berganti lagi rupanya.
  2. Hitam legam seperti dandang, membacakan materanya, di beranda duduk bersila, beranda kuwu tani, lalu ada seorang, laki-laki dari rumah turun, melihat si Sarah di beranda.
  3. Dihampiri sambil tertawa, kamu anak dari mana, sangat hitam seperti dandang, Sarah lalu menjawab, saya datang dari hutan, mencari bapak dan ibu, mudah-mudahan ada yang suka.
  4. Didiami oleh saya, lalu orang itu memberi tahu, ibu ada anak tampan, sangat mirip dandang, kepada nenek memberi tahu, nenek tani segcra turun, menghampiri seraya bertanya.
  5. Kamu anak dari mana, dan siapa nama kamu, apa yang kamu cari, Sarah lalu mcnjawab, saya dari hutan datang. tidak me- ngetahui ayah dan ibu, seingat saya hanya sendiri.
  6. Nama saya si Ogin, mencari ibu dan bapak, nenek tani men- jerit, ambu-ambu engkau ujang, tcrnyata engkau datang, diharap-harap oleh ibu, olell bapak suka dicari.
  7. Sudah jangan pergi saja, jangan pergi ke hutan, bapakmu sudah tua, kamu harus betah di rumah, kasihan bapakmu, pu- lang magrib pergi subuh, mengepalai anak-anak.

Ogin, dibawa masuk ke rumah, nenek tani sangat cerewet, kakek si Ogin datang, sudah merasa bosan merambahi hutan, kata bapaknya cepatlah makan, makanlah di sa na mumpung ada.

3 72. Si Ogin sudah betah diam, sudah menetap di Sidakarya, ambu Ogin sudah tersohor, bapak Ogin sudah terkenal, serta lebih menyayangi, si Ogin sa ngatlah baik budi, rajin bert anamnya.

  1. Kalau siang mencangkul si Ogin. kalau menanam ubi dulu, pagi-pagi menanamnya, puk ul em pat sudah bertunas, kalau sore ditanamnya, pagi-pagi sudah direbus, heran orang Sidakarya. 3 7 4. Ka la u menan am kem bang si Ogin, pagi-pagi menanam kern- ba ng. la ngsung saja akan merekah, si Ogin suka menanam buah, petctan yang ditanam, sore h ari m t! nanam manggis, pagi-pagi sudah matang. 37 5. Leb1h sayang bapak Ogin, ini anak bagaimana, bertanam tidak menjengkelkan, sudah penuh dt Sidakarya, segala ta- naman, sayuran bertambah bagus, se telah punya anak.

    (, A M B Ll H

37 6. Sekarang dikisahkan. di negeri Mulk 1ah ratu, yang punya anak gadis, yang menjadi kembang keraton, Nyi Bidayasari muda.

377. Usia empat belas tahun. sedang saat nya bintang tirnur, cantik- nya pcmbawaan. buk an cantik di bikin-bikin, bersinar mem- buatnyn san)!at menarik.
. '78. Tcr ~ta r kc ratu-ratu la in. malah sudah ada yang datang, me- la mar •kcpada kangjeng gu sti, belum ditcrima oleh ratu, sebab putri masih muda.

  1. Apalagi jika sudah menjadi ratu, dinaungi payung agung, se- bab masih kanak-kanak, tapi tak dapt dibendung, raja-raja berda tangan.
  2. Seratus yang sudah pasti, raja-raja yang datang, belum ada yang diterima, sebagian raja mengutus, sebagianjaksa kaliwon.
  3. Datang bergantian para ratu, yang lain menunggu, jawaban dari kangjeng gusti, sebagian pulang lagi, habis ongkos habis sa bar.
  4. Kita tunda raja yang seratus, nanti diceritakan lagi, yang sudah melamar putri, kini diceritakan, di Madusari keraton.
  5. Para putra yang dimanja, serta Baginda Ma'ruf, raden Sabang sudah berani, karena terlalu dimanja, walau kepada anak tiri.
  6. Sudah tidak ragu hati ratu, dianggap sulung dan bungsu, apapun keinginan sang anak, tak pernah ditolak, Nurhayat hatinya senang.
  7. Pada suatu waktu, anak-anak berdandan rapi, akan berpesiar, dilihat oleh kangjeng ratu, menaiki kereta milor.
  8. Kusir bersinar pakaiannya, lopornya pun demikian, hanya tidak memakai payung kuning, tapi tidak kurang pantas, sais lopornya sudah cocok.
  9. Perginya ke pasar baru, melihat orang berkerumun, yang sedang membeli barang antik, tuan-tuan yang dikerumuni, berdesak-desak melingkar.
  10. Tuan Muljad yang dikerubungi, itu yang membuat ribut, sedang berjualan kain, raden dari kereta turun, kepada Tuan Muljad lalu melihat,
  11. Lalu melihat-lihat sutra bagus, sutra pangsi yang dituju, lalu membeli kakak adik, kepada Tuan Muljad lalu berkata, perasaanku sangatlah murah.

Barang di Mulki sedang laku, sebab banyak ratu-ratu, yang melamar putri, sudah ada raja seratus, yang masuk ke keraton.

  1. Belum diterima oleh ratu, sebab masih kanak-kanak, sedang- sedangnya perawan cilik, cantik bukan buatan, putri Bidayasari muda.
  2. Rad en Sabang lalu berkata, apa benar putri cantik. Tuan Muljad menjawab lagi, sungguh-sungguh istimewa, habis di- gambuh lelakon ini. DANGDANGGULA 3 Y6. Manis- manis penudingnya sari,dangdanggula masuk pribahasa, sudah terasa manisnya, tapi di mulut saja, seperti yang akan ditulis, lalu masuk pada kesedihan, menuruti nafsu, memaju- kan alam yang sudah lewat, itu sebabnya akan ditulis. lantar- an cl ari kabar. 3<)7. Den Sa ban ke kereta naik, dengan adiknya segera pulang, terhadap cerita tidaklah lupa, tiap hari tampak bingung, ingat pada omongan Muljad, putri yang sangat cantik, raden Sabang murung, karena ingin bertemu, dengan putri yang ber- nama Bidayasari, putri yang teramat cantik.
  3. Raden Sabang sering menangis, satu ketika ibunya berkata, kenapakah ujang, badan ujang sudah kurus, dan kelihatannya raden suka menangis, cobalah ibu ingin tahu, den Sabang menjawab, ibu saya sedih, ingin pada putri Bidayasari, putri raja Mulkiah.

  4. Takkan diabaikan oleh Gusti, siapa lagi kalau bukan ujang, makanya jangan bersedih hati, Nurhayat lagi bertutur, mem- bungkuk-bungkuk di hadapan gusti, memberitahukan raden Sabang, akan maksudnya itu, dinasehati oleh raja, dan segera dijawab oleh kangjeng gusti, kata raja bagus sekali.

  5. Ingin memperistri Bidayasari, putri mashur kanda Darmakaya, di negeri Mulkiah tersohor, tentu saja setuju, masa dito- lak, mengambil mantu anak kita, pastilah suka cita, segeralah bersiap, barang intan untuk melamar putri, semua yang bagus-bagus.
  6. Kain harus ada lima kodi, yang baik harus ada se tengahnya, sutra-sutra yang aneh, banggala dan istambul, pendeknya harus sedia, jangan ada yang kurang, Nurhayat sudah pergi, belanja ke pasar Yogya, sebab dekat dari Yog:y a ke Madusari, memueLi bermacam barang.
  7. Lima kodi kain untuk putri, tiga kodi yang menengah, dan sutra yang unik, sedia gelang kalung, dan sedia kurabu cin- cin, yang bermacam-macam intan permata, emas semuanya, ringkas cerita, sudah sedia Nurhayat segala jenis. raja mem- beri uang.
  8. Kepada Nurhayat raj a berkata, ini uangnya sepuluh laksa, ba- rangnya sediakan sendiri, kalau sudah cukup tersedia, barang-barang segala jenis, sediakan gotongan, den patih dipanggil, datang ke hadapan raja, raden patih Budiman mendengar tu- turan, dengan patih Indrapura.
  9. Berkata raja kepada dua patih, harus pergi ke negeri Mulkiah, menghadap kepada raja sang katong, melamar putra ratu, yang bernama Bidayasa ri, putra kanda Darmakaya, dua patih harus, pergi mengiringkan gotongan, dengan surat untuk melamar putri, dan lima puluh gotongan.

4 06. Serta harus siap prajurit, untuk mengantar nanti di jalan, karena perjalanan jauh, dan bekal harus cukup, bersama dengan anakku, raden Sabang harus, pergi dengan patih seka- rang, biarlah menunggu di sana di neg:eri Mulki, dan pasrah- kan sekalian.

  1. Hitung-hitung perkenalan kepada putn, agar akrab dua tiga bulan, tidak akan khawatir hatiku, kita tinggal menunggu, undangannya untuk kawin, tentu ada lagi surat, dari Mul- kiah ratu, diceritakan besoknya sudah sedia, raden Sabang kakak adik makin gagah, sama-sama anak muda tampan.
    S I N 0 M

  2. Menggelegar meriam akan berangkat, gotongan bersama prajurit, lima puluh tidaklah kurang, sersan kepalanya berbaju bagus, demikian pula kedua patih, lndrapura berada di depan, sebagai senapatinya, Patih Budiman di belakang, naik kuda membimbing raden dan komandan.

  3. Di petjalanan bersuka ria, terompet menj erit-jerit, berjalan tak terburu-buru, sebab perjalanan siang malam, berhenti jika saa t makan minum, senang hati serdadu, sesudah makan berangkat lagi, lamanya tak ditulis, tibalah mereka di pusat kota. 41 0. Beristirahat di kaca-kaca, memasang meriam sekali, kaget yang ada di negara, raja memanggil raden patih, Durjaman sudah menghadap, dasar prajurit unggul, siaga kalau siang, kalau malam tambah waspada, ada musuh tidak pernah men- dadak. 4 11. Ada panggilan sudah sedia, menaiki kud:1 dengan gagah, di Mulki andalan perang, tiada Jain raden patih, datang menghadap gusti, cepat raja berkata, patih prajurit sedia, apa itu harus jelas, apakah musuh atau hanya orang yang Jewat.

Patih Durjaman berkata, segeralah terangkan, sebab kakang baru bertemu, raden patih Budiman memberitahukan.

  1. Dinda ini patih Madursan, hendak menghadap pacta gusti, utusan ratu Madursan, menyerahkan surat kepada gusti, radcn DUJjaman berkata, masyaallah adik terima kasih, mari1ah bersama kita pergi, dan ini prajurit, suruhlah ke tangsi den);!an kepalanya.
  2. ltu tangsi sangat dekat raden patih la1u berkata, kepada sersan dan ajudan, bunyi terompet akan berangkat, maju akan ke tangsi, sersan tuan rumah menyambut, menyembelih sapi dan memasak, untuk menyuguhi prajurit, raden patih sudah tiba di manclapa.
  3. Serta berserakan gotongan, majulah ke muka raden patih, menghaturkan surat kepada raja, raden Sabang dan adiknya, duduk di belakang patih, bersila duduk agak menunduk, surat clibaca oleh raja, sudah tamat clapat dipahami, kata raja kepada patih raden Budiman.
  4. Hei Raden Patih Madursan, ini surat sudah diterima, surat sudah dapat dimengerti, yaitu melamar nyi putri, dan sudah pula difahami, beribu-ribu terirna kasih, sama sekali tak ada halangan, mem baca surat serta bukti, senang seka1i jika se- karang berbesan.

gusti, karenanya sang putra dibawa, agar bisa berkenalan dulu, sesuai denga n ucapan gusti, terima kasih karena tak be- da faham.

  1. Sang raja Mulki menjawab, kepada Durjaman patih, segeralah patih berangkat, barang-barang dan uang, berikan kepada raja is tri, dan ini surat dari ratu, serta itu raden putra, ujang se- gera lah ke rumah, tidak perlu merasa canggung dan ragu-ragu.
  2. Barang-barang sudah diangkat, dihaturkan kepada raja istri, raden Sabang sudah dibawa, ke rumah oleh raden patih, duduk di permadani, agak malu dan menunduk, dihadapi o leh ibunya, yang menyuguhi nyi putn, macam-maca m makanan yang manis-manis. 4 22. Yang di latar sama-sama duduk, menghadapi makanan dan minuman, serta saling berkata-kata, patih yang dua dimanja. Indrapura Budiman patih, dari negeri Madursan, dengan pribumi bercampur, bcrsuka ri a makan-makan, ·ct'engan semua ponggawa dari negeri Mu lki, Tumenggung demang arya. 4 23. Prajuril ya ng ada di tangsi, tuan sersan pribumi menghormati, menyembelih sapi tiap hari, tiga hari para tamu, tak putus dijamu gusti, sutlah tiga malam lamanya, di Mulki keraton, la lu pamitan kepada raj a, Raden patih budiman menghadap gusti, ham ba akan pulang. 4 24. Bc rk ata raja bagus sckali, patih, ini surat berikan kepada raj a, dan sampaikan jawaban, kepada raja terima kasih, selamatlah pa tih, hanya tunggulah dulu, dua tiga bulan, den patih meng- ia kan, sudah berbunyi suara terompet di tangsi, prajuritnya berbaris dulu.

  3. Sudah per)!i bubar semuanya, dan terburu-buru ingin Iekas bubar tak diceritakan lamanya, raden patih dan serdadu, sudah tiba di Madusari, lalu menghadap raja, diberikan surat dari ratu, dibaca sudah difahami, berkata raja kalau surat sudah diterima, berikut barangnya syukurlah.

  4. Raden patih sudah pulang ke rumah, tak banyak yang dita- nyakan, sudah ketahuan begitu, gembira hati ratu, begitu pula raja istri, Nurhayat lebih senang, tunda dulu cerita, di Madusari kisah, sebab menunggu surat undangan dari Mulki, sekarang kita ceritakan.
  5. Yang ditinggal di negara Mulki, raden Sabang yang sedang berkenalan, lalu ia menunggu, tetapi nyi putri tidak akur, dan tidak memberi budi, tabiatnya ketus, bila sudah memba- wa suguhan, cepat membuang muka, selama den Sabang ber- ada di Mulki, tidak mau bertutur kata.
  6. Raden Sabang sebulan sudah lebih, di Mulkiah tidak pernah bersentuhan, namun Sabang suka cita, karena melihat putri cantik, tak banyak yang dipikirkan, dan pacta suatu ketika, nyi putri berkata, menghadap kepada ibunya. ibu saya ingin menghibur hati, ingin main ke Sidakarya.
  7. Memetik kembang akan ke bapak tani, saya saja dengan para emban, ingin menghibur hati, ibunya segera menjawab, aduh nyai jangan cepat-cepat pergi, kita beri tahu dulu, kepada rama prabu, jangan terlalu menuruti kata hati, utamanya beritahu dulu gusti, sebab jauh petjalanan.
  8. Segeralah menghadap dengan ibu putri, lalu minta izin lalu kata raja, baik sekali namun lihat, lamanya dua minggu, akan memanggil para priyayi, yang punya bagian jalan, harus ke- adaan bagus, jembatan yang rusak, harus diperbaiki dulu, dua minggu lamanya.
  9. Nyi putri dengan ibu kembali, kangjeng raja memanggil para pembesar, semua sudah datang, lalu sang raja berkata, sekarang saya memerintahkan, jembatan harus bagus, jangpn ada kekurangan, semua harus bersih, perbaiki pagar-pagar.

43 2. J alan besar sapu yang bcrsih, d ua minggu harus sudah siap, saya akan memeriksa kcbun, semuanya harus baik, tangan- tangan harus dengan kayu, pagar-pagar diratakan, dedaunan rim bun dipapas, jangan ada kekurangan, sekarang kerahkan- lah priyayi, harus bersih semua jala n.

  1. Kampung kepalai oleh polisi, mantri mahyan sudah undur dari raja, perintahnya sudab beres, tiap hari sibuk, tak lama semuanya siap, bapak tani diperintah, kebun harus bagus, yang bekerja begitu banyak, pagar jalan diperiksa, dipotong agar rata. 4 43. Sewilayah raja tak ada yang menganggur. Ogin bertanya pada bapaknya, bapak ini mau ada apa, keli hatannya sangat sibuk, tiap hari kesana kemari. pundulz dan pacalang, bekerja ter- buru-buru bapak Ogin menjawab, karena gusti pemilik ka- rangsari, akan ke sini meronda.
  2. Sebab lama raja tidak datang, sekaranglah tampaknya akan datang karenanya kebun harus beres, suka diperiksa oleh ratu. besok bari tentu datangnya, di jalan sudah siap, tanda- nya sudah datang yang mcngiring putri. mant ri kaliwon dan jaksa.
  3. Se rta emban sepuluh berkumpul, dua pe ngasuh sejak kecil. semu (j kcreta sudah siar, Raden Sabang pun ikut scrta, di- minta o leh kangjeng g:us ti, berclandang clengan acliknya, memi lih bak.1afll, dan mcmakai topi kano man, kakak beradik satria lebih gaga h. di ccritakan yang ada di kebun.
  4. Anom Ogir. di kebun mcmcriksa, sendirian sekitar pukul em-pat, menyendiri di kebun. pacta waktu hampir magrib, da- tanglab suruhan jin. mcmbawa kembang dari Malebah, di- su ruh o leh ra tu, yaitu raja Antaboga, sudah diterima kembang oleh Asep Ogin, ditanam di tempat sayuran. 4 3R. Samad Samud sudah pulang. itu kembang tidaklah umum, harumnya Jan rupanya, warna kcmbang serat us, sedangkan pohonnya hanya satu, kembangnya bermacam-macam, putih dan biru, merah kuning ungu merah muda, hij au jingga menambah indah, se ratus macam wanginya.

M I J I L

  1. Diceritakan berangkatlah nyi putri, mengendarai kereta, para emban selir ikut semua, jaksa kaliwon dan mantri, semuanya pada ikut, dan penunjuk jalan.
  2. Tidak diceritakan di jalannya, rombongan sudah sampai, nenek tani gugup memerintah, anak-anak gelar permadani, tikar sulam juga, untuk pengiring ratu.
  3. Sudah tiba di pelataran putri, para emban berkumpul, nyi putri berkata pada nenek tani, tidak akan ke rumah dulu nek, mau ke kebun sa ya, mari ikut nek.
  4. Nenek Ogin turut di belakang, sudah tiba di kebun, nenek membawa baku] yang besar, para emban selir semua ikut, ram ai berceloteh, memetik bunga indah.
  5. Lebih tajam penciuman putri, dan bertanya apa, yang harum beraneka macam ini, melihat-lihat nyi putri, oh alangkah banyaknya, dipetik lalu dicium.
  6. Tapi itu bukan yang dimaksud, putri berjalan ke barat, dan melihat ke atas, tidak lama tampak oleh putri, lalu berkata kepada nenek, bunga apa itu.
  7. Pohonnya hanya satu-satunya, kembangnya bermacam-macam, lalu terlihatlah, bertanyalah nyi putri, anak siapakah ini.
  8. Ambu Ogin menjawab anak saya, putri berkata lagi, siapa nama anak itu, am bu Ogin berkata pad a putri, iya si Ogin, putri berkata lagi.
  9. Sedang apa kamu diam di sana, si Ogin menjawab, sedang me- nunggui kern bang aneh, putri berkata lagi pad a nenek, bunga apa kek, bapak Ogin menjawab.
  10. Bapak Ogin menjawab putri, entahlah tidak mengerti, si Ogin- lah yang menanamnya, nyai putri berkata pacta si Ogin, kemarilah Ogin, berdirilah kamu.

  11. Lalu berdiri si Ogin sambil tertawa, kepada putri lalu melihat, kata putri ayolah cepat, kemarilah ke dekatku, si Ogin men- dekati, putri bertanya lagi.

  12. Bunga apa Ogin bagus harum, si Ogin menjawab, entah kern- bang apa namanya, putri mencubit si Ogin, sambil menjerit, si Ogin berguyon.
  13. Yang betul bicaranya Ogin, si Ogin menjawab, bunga apa entah namanya, em ban ikut mencubit, yang betul kamu Ogin, Ogin menjawab saya betul. 4 5 2. Kata putri kenapa ribut Ogin, si Ogin menjawab, terasa nyut- nyutan kulit dicubit, hebat sekali orang-orang cantik, putri mencubit lagi, bibir lalu hidung.
  14. Kata si Ogin kecoa sakit. menggigit hidung, sampai bentol ini hidung raden, kata nyi putri kamu raden Ogin, si Ogin ter- kekeh, raden saya cuma hidung. 4 54. Nyi putri berkata pacta kakek, kakek saya berpesan, bunga entah apa namanya ini, segeralah bawa ke negeri, ditanam di puri, bunga samar kalbu.

    AS MARANDANA

4 5 5. Dari kebun semua pulang, si Ogin tidak boleh jauh, oleh putri disuruh cepat, si Ogin bukannya cepat-cepat, malah berjalan di belakang, cepat dusun cepat dusun, didorong oleh nyi em ban.

4 56. Si Ogin sambil tertawa, kepada putri mcndekati, lalu kainnya dicolek. kata nyi emban tidak sopan, si Ogin menatap siem- ban, memangnya kenapa, biar saja jangan usilan.

4 57. Sudah sa mpai di rumah nenek, su J ah sedia makanan, para menak merapikan diri, untuk makan di ruangan depan. Raden Sabang ditemani, berjejer di de pa n kumpul, terlihat oleh nyi putri.

  1. Putri berkata kepada nenek, saya makan di dalam saja, en beranda biarlah para menak, putri m emerintah bawalah, putri makan di dalam rumah, di luar hanya laki-laki saja, mantri kaliwon dan jaksa.
  2. Raden Sabang kakak beradik, bersama para menak di depan, pcrcmpuan semua di dalam, berkata putri Ogin kemarilah, b~:rsamaku di rumah, jawab si Ogin kcnapa begitu, kenapa tidak seragam.
  3. Putri mencubit si Ogin, kamu hanyak omong, segeralah ke sini, ke sini ke dalam rumah, clisuruh Iekas-lekas oleh cmban, <;i O~in den~an putri duduk, si Ogin mcndekati. 46 I. Nyi em ban bcrkata sam bil tertawa. aih-aih baru kali ini, umumnya anak kampung, bau badannya tidak sedap, seperti b
  4. Kata Ogin ah tabu, jangan suka memuji-muji, justru saya bau kambing, karena diberaki cccak. dan diberaki kampret, nyi em ban jangan begi tu. usil pada tubuh saya.
  5. Tertawalah para perempuan, si Ogin tidak kepalang, seperti sl:'sebrcd. putri lalu berkata. Ogin kamu dapat menembang, si Ogin lalu mcnjawab. entahlah mungkin bisa.
  6. Berkata putri ayolah Ogin, apa saj a yang bisa. kata Ogin baik tunggulah, mau memikirkan d ulu lagun ya, mau pucung as- marandana, bisa tidak bisa pastilah Juput, sekarang saya menembang.
  7. lndung munding bapa munding, dijampe ku anak cina, munding ge lain pihape, gagandekan dina biruang, dituruban ku kalumpang, jeruk purut buall randu, di huma loba hangasa.
  8. Indung kuring bapa kuring, ca pena kabina-bina, kuring oge milu hese, ngaladenan nu keur luang, turug-turug kudu !em- bang, mun teu nurut meureun bendu, kumaha teuing nya rasa.

  9. Kata putri siapa Ogin, yang akan marah sama kamu, si Ogin tam bah sesebred, contang batu digaganga n, entah apa lanjut- nya, kata nyi em ban kemudian, coba sesebrednya yang bagus.

  10. Sedang para emban p utri, semuanya cantik-cantik, tapi namanya jelek-jclek, karena keinginan raja, ~ mban yang sepuluh, namanya sudah diatur, pertama yang tercantik.
  11. Disebut oleh kagnjeng gc.sti, nyi mas koneng disebutnya, yang kedua nyi mas bopeng, nyi mas dengkeng yang ketiga, nyi kekeng emban keempat, yang kelima disebut nyi mas tcnggeng 4 70. Yang keenam emban putri, nyi mas kejeng disebutnya, yang ketujuh emban teleng, nyai keeng kedelapan, sama dengan yang kesembilan, sedang emban kesepuluh, nyai bendeng disebutnya. 4 7 1. Dan ada inang pendidik, yang sudah sangat tua, rambutnya sudah pu tih semua, sebagai ibu pungutnya, nyi putri ibu me- nyebutnya, yaitu yang mengasuh, memelihara sem enjak lahir. 4 ' 2. Para emban merasa malu, oleh inang pembimbing itu, yang namanya inang: kejen!?,, dan anaknya cantik sckali, regeng cli - <;eb utnya. nyai putri berkata lagi, Ogin kamu tcmbang lagi
  12. Kata si 0gin tidak mau, t.idak mengerti la ~ unya, sekaran ~ ganti saja, sebab tembang kadang sa lall. lagunya asmarancl a na, silakan ga nti pupuh, pupuh dangdanp baru bisa.

    DANGDA NGGU LA

  13. Jeruk purur tangka/ fJ/ tring. dieu!lteutJa /1 n c !Ulllgka hopeng. anu gcu/is bagja kuring, sugan diean ugkeun jaga. geutah nangka dileugeutan ti ayeuna. emban bopeng mencubit sam- marah, kamu ini nama orang lam, olehmu disebut-se but, kata si Ogin ah tidak, itu kan si.1i11dirall.

4 7 5. Masing asak-asak ngejo, bisi tu tung tamagana geheng, masing asak-asak nenjo, bisi kaduhung jagana, menembangnya harus jelas, dari sekarang emban geheng, mencubit pipi si Ogin, dan memarahi kegelian, engkau tahu namaku, dari siapa engkau tahu namaku.

4 76. Si Ogin entahlah, itu kan regeng, itu kan sisindiran, sejak dulu masih kanak-kanak, biar nama dikagumi, jadi tontonan, daun hampu kacapiring, angeun waluh diadonan geheng, anu lucu bagja kuring, anu jauh ngadagoan, kuda nu panjang ceulina, gede-gede hanjakal teu laksana.

KIN ANTI

4 77. I nang sepuluh lalu berkata, kepada si Ogin sam bil tersenyum, kamu ini sungguh bisa, tak kusangka ceriwis, si Ogin lalu menjawab, ah itu masih ada lagi.

4 78. Tapi tidak memakai lagu, oleh inang saya malu, sebab juragan sudah tua, bukan em ban isim puri, namun sisindiran iya, coba dengarkanlah.

4 79. Piring dituruban cnok, ditumpangan rujak hui, aing bare to mah dneok, aeyuna geus nini-nini, si Ogin duduk bersila, sambil tertawa terbahak-bahak.

4 8 0. Tampak cemberut inang sepuh, kamu kterlaluan, nama orang tua dirusak, kata si Ogin tidak tahu, karena tidak tahu nama- nya, itu kan kawih saya.

  1. Inang sepuh berkata lagi, ayo Ogin cerita lagi, ceritakan se- muanya, kata si Ogin baiklah, karena disuruh, kalau begitu mau berpikir.
  2. Mabuk cadas ngaguruntul, nyengir ngan karek kurisi, kacapiring buah nona, dituruban daun pacing, malati kem bang an- tanan, dipake sayang japati.

  3. buuk bodas huntu rugul nyengir ngan kari gugusi, taya pupu- rieunnana, gada kawas lanjam ramping, budimah geugeulisan- an, dahayang keneh lalaki.

  4. Yang tertawa bergemuruh, yang di beranda yang di rumah, inang sepuh juga terkekeh. benar serba tahu si Ogin, boleh saja saya tidak marah, karena sudah terasa olehku.
  5. Raden Sabang lalu berkata, ini budak kakak nyai, dulu sama begini, persis seperti si Ogin, namanya si Sarah, namun sayang sudah mati.
  6. Dimakan badak di gunung, kalau ada sangat cocok, nakalnya seperti ini, ceriwis kaya si Ogin, cuma kalau si Sarah gungul, Bidayasari berkata.
  7. Takkan bicara denganmu, tak malu ikut bertutur, mati hidup terserah saja, jangan mengambil hati, si Ogin tertawa terba- hak. sambil sisindiran lagi.
  8. Bareto ngajaring kuntul, dibeu!eum dina durukan, barero mah kuring gundul. ayeuna mah geus huukam, yang mende- ngar tepuk Iangan, tertawa Bidayasari.
  9. Kata mantri pagi-pagi, mungkin itu si Ogin, sarang walik di tegalan, kata emban terdengar Ogin, kata juragan di depan. apakah isinya Ogin.
  10. Kata si Ogin kalau begitu. benar saya mengerti, nyi emban tidak akan tahu, pindah duduk mungkin saya, tidak akan mengiringkan juragan, begitulah isinya.
  11. Nyieun kajang di citepus, balikna kajang padati, dieun teupan ciung bodas, kuntul diudag dadali. m ela k bonteng eli sagara. diinum caina asin.
  12. Nyi embang ta,J 'a kabecus, kabeukina nyiwir pipi, lamun dici- ummah puas, ku budak gwzgul sakali, nyi bopeng taya kaera. mun dicium ku si Ogin.

  13. Emban bopeng lalu melempar, sambil berkata kepada si Ogin, silakan cium aku olehmu, tentu aku gembira Ogin, jawab si Ogin ah tidak, tentu tidak sebab malu.

  14. Sarung golok ditumbu, saya tutup membaca sindir, kincir besi alat jahit, malu oleh yang sedang duduk, niru menum- pang di kepala, terima kasih hamba kepada gusti.
  15. Putri berkata kepada si Ogin, Ogin engkau bersamaku saja, ikutlah ke negara, diam bersamaku, kerjamu cuma tembang, kata si Ogin cntahlah.
  16. Kalau diberikan oleh ibu, oleh bapak tentu ikut, karena ingin naik kereta, bila jalan kaki tak mau, putri pun lalu terse- nyum, Ogin habis dcngan Kinanti.

    DANGDANGGULA

  17. Dandanggula pajukan pikir, selewatan membuat heran, se- karang kita kisahkan, raden putri lalu berkata, kepada nenek ini si Ogin, oleh saya mau dibawa, tinggal di keraton, bapak Ogin lalu menjawab, perkara anak dibawa oleh gusti, kakek pasrah saja.

  18. Apalah artinya anak gusti, bahkan hamba pun milik tuanku, silakan saja bawa, kalau ada di keraton, mudah-mudahan jadi prihatin, putri lalu berkata, memeriksa dahulu, kek apakah sudah siap, bunga yang dipetik kakek, dibawa ke negara.
  19. Bapak Ogin menjawab putri, terima kasih soal itu bunga, bunga sudah digotong, ratna putri berkata, mari Ogin bersamaku, nyi putri sudah berangkat, si Ogin tak ketinggalan, dibawa serta ke negara, dan duduknya pun tak jauh dari putri, berdampingan dalam kereta.

Tidak diceritakan di jalannya, sudah tiba di dalam negara, bersama-sama datangnya, dengan bunga yang indah itu, sampailah ke Jatar mandapa, semua kaget yang melihat, demikian pula para menak, segera duduk kangjeng raja, ber- tanya bunga apakah itu nyai, baru kali ini ama melihatnya.

  1. ltu bunga berwarna warni, putri menjawab benar gusti, entah apa namanya, semuanya tidak tahu, raja melihat pacta si Ogin, nyai itu anak siapa, begitu hitam lega m, nyi putri lalu mela- por, ia adalah anak kakek tani, si Ogin namanya. 'i 02. Se babnya saya bawa kemari, sengaja climinta untuk panaka- wan, kalau setuju untuk pesuruh, bahkan bunga yang bagus ini, si Oginlah yang menanamnya, lalu sang raja memeriksa, kepada si Ogin, bunga apakah itu namanya, jawab si Ogin benar tuanku, itu bunga entah apa namanya.
  2. Tertawalah ponggawa dan mentn, baru kali ini tahu nama hunga, bunga entah apa namnya. ditanam di keraton, kata gusti kepada si Ogin, mudah-mudahan engkau betah, tinggal di keraton, pantas menjadi pesuruh agan, saat itu putri sudah ke rumah, si Ogin dibawa serta.
  3. Para emban berkumpul tiap malam, di keputren selalu ramai, si Ogin menyebabkan ramai. para selir kangjeng ratu. senang melihat si Ogin, tak ada yang membenci, sekarang kita kisah- kan, ada sebuah negara. kerajaan yang Raja Gumanti, perja- lanannya, 'i 05. Da ri Mulkiah sangat jauh, di jalannya setahun tidak kurang, nama negeri itu Gelung Keraton, rajanya raksasa termasyur, bernama Gumanti, patihnya ada dua, semuanya raksasa. keduanya gagah perkasa, yang satu bernama Dirgabahu, ke- dua Jayakalana. 'i 06. Dirgabahu paman kangjeng gusti, sedang terhadap Jayake- lana, sa ng raja masih saudara, anak bungsu pa tih ratu, sedang istri sang raja, adalah anak Purbalaksa. raja raksasa masyur, dari negara Dewong asalnya, petjalanan dari kotaraja gusti, sclama 3 tahun.

ltu putri namanya Randasari, yaitu istri sang raja Gumanti, putri cantik serta muda, anak raksasa badannya bagus, raksasa menak nyi Randasari, Raja Gumanti juga, tampan muda ratu, cuma ada saja cirinya, meski tampan muda sang raja gusti, tampak punya taring.

  1. Meski raksasa mempunyai ciri waktu, dikisahkan pada suatu masa, memanggil paman patih, tidak lama sudah datang, ke hadapan gusti, lalu berkata, hei paman patih agung, ke- menakanmu akan menyuruh, ke Mulkiah paman mengambil putri, putri raja Mulkiah.
  2. Menurut kabar cantik itu putri, berapa lama di perjalanan, Patih Dirgabahu menjawab, ke Mulki selama setahun, namun kalau jalan kaki, jika dengan cara terbang, tak akan setahun, kata raja hayo berangkat, hati-hati paman patih kalau putri tidak didapat, potong leher badan paman.
  3. Patih Dirgabahu menjawab lagi, paman akan menuruti perin- tah, semoga saja berhasil, sang putri dapat dibawa, segera paman bergegas, sekarang paman akan berangkat, kata raj a segeralah, jangan ada gangguan di ja1a n, tindak tanduk se- biasa pencuri, am bil dari belakang.

    PANGKUR

5 1 1. Patih Dirgabahu berangkat, membaca ajian raksasa sakti, terbanglah tinggi mengawang, disertai angin barat, sangat cepat dan sampailah di mega biru, tak diceritakan di jalannya, sampailah ke negeri Mulki.

  1. Sekitar pukul dua belas, waktu ma1am datangnya ke dalam puri, hening di dalam keraton, pu tri sudah tidur 1elap, di- kasur sendiri tak ditemani, raksasa pencuri sanga t senang, 1angsung menemukan putri.

walangkang sudahlah masuk, raksasa segera ke luar, segera terbang dari keraton, menapak di angkasa. sambil merasa risi.

51 4. Diceritakan yang di padalema 11, pagi-pagi para em ban menangis, lalu lapor kepada ratu, menjerit sambil meratap, aduh gusti celaka isi keraton, agan putri ti dak ada, yaitu dibawa maling.

  1. Ada bekas yang ditinggalkan, bukan tapak kaki manusia kare- na sanga tbesar, panjangnya tiga tunj uk. dan alangkah lebar- nya, itu tentu raksasa bukan orang, raja gugup lalu pingsan, raja istri menjerit-jerit.
  2. Gempar di dalam negara, lonceng goyang dan bedug ditabuh, raden patih sudah datang, mengumpulkan pasukannya, dan terompet tambur di tangsi gemuruh, bersiap pahlawan pe- ra ng, Sa bang tampak menangis. 51 7. Sambi! dandan naik kuda, seolah-olah ikut serta dengan prajurit, segeralah sang raja memanggil. raden Patih Durjaman, ayo patih segeralah susul maling, telusuri bekas- bekasnya. keluarkan semua prajurit. 51 13. Mcriam berbunyi menggelegar, semua beranpkat mengiringi raclen patih, Sabang pun ikut-ikutan, ka...ak bera dik naik kuda, benringan menaiki gunung, yang mencuri di angkasa. yang mengejar jalan kaki.
  3. Di mana akan terawat, tenang-tenang saja pe rjalanan raden patih, tersebutlah ya ng ditinggalkan. raja di padalcman, me- lihat Ogin ke keputren tampak sedih, ketika datang kangjeng raja, si Ogin berdiam diri.
  4. Lalu sang raja berkata, kepada si Ogin bcrmanis muka, si Ogin 1alu menjawab, dub gusti bagaimana, wal au saya susah pu n tidak pantas. tidak1ah mufakat, kalau saya pergi.

Ogin menyusul putri, pastilah saya punya kaul, engkau akan diberi pangkat, dan di- hormat dengan ganj aran, dinobatkan di Mulkiah, diangkat penghulu negeri.

  1. Si Ogin lalu menjawab, sumpah buntung janji itu sangat kecil, lalu kata kangjeng ratu, apa kecil menurut kamu, kata si Ogin tak berarti itu janj i, lagi pula hamba tak layak, menjadi penghulu negeri.
  2. Mengukur diri sendiri, paling-paling cuma untuk jadi modin, kata kangjeng ratu, iya akupun cuma kalau, bahagia kalau engkau dapat menyusul, si Ogin lalu berkata, sekarang per- misi hamba.
  3. Akan pergi dulu sebentar, akan menemui bekas majikan saya, mau meminta tolong, lalu kata kangj eng raja, siapapun yang dapat menyursul, akan dijadikan menantu. 5 26. Kata si Ogin itu dia, itulah yang hamba tunggu-tunggu, men- dapat hadiah yang tentu, sebab untuk diri hamba, hanya ber- harap hadiah saja, si Ogin menari-nari, pergi dnri hacla pan gusti.

    DURMA

  4. Hanya sekejap raden sudah sampai ke jalan, Gelap Puspa kuda sakti, sudah tersedia, sudah dihiasi, dan pakaian, raden lalu berdancian, bersikap satria bupati.

  5. Lalu memanggil kuda dan berangkat, susul raksasa cepat, larilah itu kuda, bagai kilat menantang hujan, am at kencang bagai burung rajawali, amatlah kencang, tersebutlah ra ksasa si pencuri.

'i 29. Lnak -e nak berjalan eli angkasa. sebab tak kuatir. ia berada di angkasa, bcrjalan dengan tenangnya. le bi h awas Gclap Saksi, mclc ~at. kuda menghentak lebih cepat.

'i W. Samar-.,cllnar Di rgabahu terlihc~t I Cf!!lll1llruh Gelap Saktl, rnencium bau raksasa, suc!ah terdcngar oleh raksasa. tapi tak d ihiraukannya, dikiranya cuma J ngm. tcnang berjalan sam bil bern)anyi.

531 .. \'gagulimpong putri in)'lillg gating nwnra ng, ngagalantir putri geu!J s. 111011 tong gumanyang nnmg11 m ng. W7 l'ang iyang bagja uang. tenang-tenang saja itu bapak mallng, tak dik etahuinya. kaki lucia lcbih ccpat

SJ 2. Di teJ]anglah kcpada si raksasa, sl.!mpoyongan diterjang lag1. terbelah tersembur otak si raksasa. kan tungnya hampir putus, terj atuhlah nyi putri, scgeralah dia m b1l. clinaikkan ke atas k ucl a

  1. Buta 1atuh mcnimpa pohon hingga rob:;'l, pccah kepalany;: ra ksasa sudah ma ti, radcn sudah cepa 1 perg1. lalu menanya nyi putri, so pan dan hormat. mohon rna<. f sa) a gusti.
  2. Akan bertanya tuan dari mana, dan ~iar< namanya, saya baru hertcmu. dan bagaimana ceritanya. tu 111 mcnyusul ham ba, stapa yang memberitah ukan. raden p11tra J lu menjawab 'i35. Nya1 J.; akak dulu punya budak. namanya si Ogin, lari dan Malebah. kampung di pe)! unung.an. su la h dianggap hilang saja, Ltrena lamanya, tau-tau kemann.
    536. Datang sambil menangis, katanya tolong .;;aya, se dang menda pa t kcsusahan, yang sangat besar, majikan dimangsa bantu nyi putn sambil menepuk, ah masa h:gin' Kak. 53 7. Kalau dimakan mungkin saya mati. raden rutra lalu berkata ka ta st Ogin waktu datang, waktu da t an.~ ke \1alebah, kalau ttdak datang si Ogin, dati mana tahu. d.111 nama Kanda nyai 53X. am<' yang perta ma Raden Arnarsakti. kedua Raden ~ 1udali. ketiga Somaningrat, Amarlaela kccmp.tt. kclima Sa mudra nyai, ~cka ran)!. Kanda ingin amanat p 1da w ai.

Sungguh bahagia nyai memelihara itu budak, buktinya sekarang nyai, bisa menolong diri nyai, Kanda bisa menolong, dari marabahaya, itu dikarenakan, si Ogin yang membawa hasil.

  1. Syukur anak itu ada pada nyai, tapi itu si Ogin, sangat perasa, suka minggat adatnya, asal melihat budi jelek, ngambek adatnya, sangat sukar diredakan.
  2. Karena itu nyai harus maklum, pasti itu si Ogin. kalau mene- mukan kesusahan, pastilah datang pada Kanda, raden tidak melihat-lihat, putri berkata, mariKanda kita pulanfl.
  3. Lalu turun kuda ke bawah, setelah tiba di pusat negeri, lalu berhenti di sana, putri lalu berkata, marilah kita pulang, jangan tanggung-tanggung, mari Kanda kita pulang.

    ASMARANDAN A

  4. Raden putra lalu berkata, Kakak tidak akan pergi bersama, nona sendiri saja, putri mencubit tangan, kenapa begitu Kanda, marilah kita cepat, menghadap ayah bunda.

  5. Pasti tak terkirakan, ayah bunda merasa kaget, dan bertemu Kanda, tentulah sangat suka cita, raden putra lalu menjawab, si Ogin mengatakan begitu, pada Kanda waktu ciatang.
  6. Agan majikan hamba, sekarang sedang tunangan, hanya ting- gal pernikahan, kepada orang dari Madursan, demikian kata si Ogin, Kanda akan segera pergi, tak ada lagi pengharapan.
  7. Putri memukul dan mencubit, sangat menyakitkan perkataan, itu cuma alasan saja, mengapa tak ada pengharapan, karena saya orang hina, masya Allah mengapa begitu, engkau bagai- mana saya. 54 7. Lalu menjawab raden sakti, sekarang mau pulang. gunung besar putri memegangi, tangan, nanti dulu. kalau mau pulang saya ikut. susahlah bila berpisah.

ceuli. meong congkok sa ba goah, cing atuh kumaha bae, kauntun tipung katambang beas, iraha pikeun laksana, tambang kulit huntu tikus, hanget geregeteun pisan.

  1. Mari Kanda kita pulang, jangan banyak pendengaran, sebab kalau pun diri saya, sudah ditunggui si Sabang, putra orang Madursan. namun saya tidak mau, walau setuju ayah bunda.
  2. Bagaimanapun hati ingkar, tak kan dapat dirayu, tak sucli sama sekali, semoga sekarang Kanda. mengikat janji, karena saya sudahlah tentu, takan mendua tekad. 55 1. SepanJang hanyat saya, lebih baik mati tak bersuami, bila belum terlaksana. bersama Kanda Somaningrat, coba bagaima na hati Kanda, berilah saya kepastian, ucapan yang sesung- guhnya. 55~ Raden putra lalu berkata. syukur nyai bcrkata. suka hati terlaksana, bukankah kanda sudah melamar. dahulu ke Sidakar- ya, kepada si Ogin berikrar, dahulu dengan bunga. 553 Sekarang nyai, kalau pergi dengan Kanda, tidaklah pantas, bisa berakibat jelek pada dirimu, membawa sial pada ibu ba- pak, sebab itu sudah tentu. harus ditaati sungguh-sungguh.
  3. Dan kata si Ogin, nyai sudah dilamar. oleh seratus raja bcsar, sckarang bagaima na harusnya, mcmbuat sudah ibu hapak. sebab sc mua menunggu-nunggu. apak:.Jh akibatnya.

    sse Kalau hcgitu harusnya, nyai punya pcrmintaan, su paya semua

cliam, harus membuat sayembara, kepada semua raj a-raja, a ta u kepada yang jauh, siapa-siapa yang bisa memenuhi.

556 Minta monyet clan kucing, tiung yang bisa menembang, monyet kL1cing bisa bicara. kucing yang bisa bicara, bisa bicara scperti manusia, yang de111ikian itu. hanya Kanda yang punya.

7Begitulah permintaan nyai, beritakanlah eli negara. kanda menolong nyai. terhadap ayahanda yang sudah, dan terhadap dirimu. supaya aman sentosa, semuanya merasa tenteram.

lagi, nyai jangan salah faham.

  1. Kalau kanda ikut pulang, menjelekkan ibu bapak, Raden Sabang tentu bengong, Jtau heran, kan saya sudah lama, eli sini menunggu-nunggu, begitulah kata Sabang nanti.
  2. Termenung Bidayasari, sebab tak mendengarnya, raden putra sudah pergi, mula-mula perlahan-lahan, agar tidak terlihat, lalu tergesa-gesa, diganti dengan Maskumambang.

    MASKUMAMBANG

  3. Nyi putra mencari-cari sambil menangis, duh kanda ke mana, meninggalkan hamba, rasanya dianiaya.

  4. Jadi saya sendirian pergi ke negeri, masa Allah kanda, tidak kusangka, berkata-kata sambil pergi.
  5. Tak henti-hentinya air mata tangis, sudah jauh perginya, dari tempat yang tadi, tidak dikisahkan eli jalannya.
  6. Sudah terlihat nyi putri oleh si Ogin, cepat didekati, begitu bertemu si Ogin tertawa, selamat bertemu gusti selamat.
  7. Tidak disangka gusti datang lagi, siapa yang kuat, mengejar paduka, duh gusti syukur selamat.
  8. Nyi putri berkata sambil mencubit, engkau selalu menggoda, kamu kenapa diam saja, kenapa tidak berkata.
  9. Punya majikan tampan muda serta sakti, kenapa kamu bicara bahwa saya akan kawin, kata si Ogin memang benar.
  10. Kenapa tidak dibawa oleh gusti, .putri tidak menjawab, ka- rena kamu lancang mulut, sambil mencubit dan mengomeli.
  11. Coba kalau kamu dulu berkata, waktu mengirim bunga, itu melamar saya, kata si Ogin lupa.

  12. Sumpah buntung tidak ingat sam a sekali. putri sepanjang ja- lan, terus-terusan memukul dan men cubit, kepada si Ogin dan ngomel.

  13. T idak lama sudah sampai kc alun-alun kaget yang meliha t, berhamburan datang pacla gusti. f!U!!UP ihu dan bapak. 7 5 2. KangJcng raja keluar dari dalam puri, mcnangis ibunya. kc Ia tar paseban pu tri, scgera dirangJ...ul I'll trinya.

5'3. Ter ungku-ungku ibu bapak mcnangis, rutri sudah dibawa. ke rumah dengan p;ua istri, girang di dalam hatinya.

5'4. Bersamaan datangnya dengan raden patih, yang sudah menca- ri. tapi Juput tidak ketemu, karena (iJc an eli bawah.

.5 5. Bcrkata raja pada Patih Dur.1aman, sudahlah sudah datang, yang btsa ternyata si Ogin, raja kepada putri rncmeriksa. 5'6. Siapa yang sudah bisa menyusul nyai. ama ingin tahu, nyi putri menjawab manis, ya, baiklah ayahanda. 5'7. Satria bckas majikan si Ogin, dari gunung Malebah, tampan m uda pilih tanding, raden anom Somaningrat
.5.., 8. Kenapa ti dak dibawa sama nyai, bersama-sama kc negara. nyi putri menjawab lagi, ya dia tidak ma LL
5..., 9. Katanya pada hamba tidak beram, mcnghadap ayahanda, dan kepada ibu berpcsan, dia hanya berkata.
580. Hanya menolong pada yang sedang kesusahan, begitu katanya, sang raja berkata lagi, ya syukur alhamdulillah.
581. Begitulah pcrtolongan Rabbul alamin. ada yang kasihan kc pada ayahanda, dan nyai. terima kasih sekali.
58.2 Setelah lama nyi putri Bidayasari. menghadap ayahanc1 a. sedant.> berktimpul eli pancaniti. nyi putri la lu berkata. SX ~. Hamha sampaikan pada ayahanda. mempunyai keinginan, ingin monyet dan kucing, yang bicara seperti manusia

pacta patih, mantri dan keliwon, segera- lah sayembarakan, apa permintaan putri, segera surati, semua ratu-ratu.

  1. Sudah keluar semua patih mentri, di depan berkumpul, me- nyurati tiap kabupaten, sudah berangkat kuda-kudanya, berlarian kencang. yang dekat yang jauh.
  2. Sudah menerima semua bupati, semua bersungguh-sungguh, mencari tiung kucing dan monyet, diceritakan Raden Sabang lagi, sangat susah, roman mukanya murung.
  3. Diketahui oleh kangjeng gusti, lalu diperiksa, ujang jangan bersusah hati, karena ada permintaan nyi putri, ujang jangan khawatir, permintaan itu,
  4. Hanya untuk raja yang seratus, yang melamar dahulu, mak- sudnya supaya diam, itu rahasia si nyai, sebab tidak akan ter- bukti, permintaan seperti itu.
  5. Takan menjadi keributan bupati, agar ujang tenang, tidak akan ada yang merongrong, Raden Sabang.mendengarkannya, berseri lagi mukanya, tidak lagi merengut.
  6. Diceritakan para patih mantri, di dalam negeri juga, di desa- desa mencari monyet, ku~ing tiung namun tak ditemukan, tersebutlah di luar negeri, ada suatu dukuh.
  7. Namanya dukuh Wanasari, yang punya paku>von, Ki Mas Demang ldong namanya, yang terkenal di Wanasari, punya monyet dan kucing, menjadi bahan berita.

<=i95. Berdatangan patih dan mantri, permis1 kimas demang, kata demang silakan duduk, saya sungguh merasa kaget, tidak bia- sanya, mengunjungi gunung.

  1. Lalu berkata seorang patih, sebabnya datang, katanya demang punya monyet, menurut kabar monyet bisa berkata, demang menjawab lagi, itulah monyetnya.
  2. Benar bisa bicara seperti manusia, Ku d ng bisa bicara, saya punya monyet bisa berkata, kata salah seorang bupati, syu- kurlah, itu yang dicari. 5lJ8. Berilah keterangan, harganya yang pasti, ki mas demang menjawab, hewan dua limatarus ringgit. silakan kalau berani, kucing dan monyet.
  3. Ada seorang patih yang waspada, nant 1 dulu jangan buru- buru, soal harga gampang tidak sukar, coba dulu harus yakin, kalau benar berbicara, bisa bicara monyet.
  4. Baru bertanya harga yang pasti, ki Mas Demang rnenjawab, mari kita coba saja dulu, lalu berkumpul para bupati, Jaya Jdong pergi, membawa lidi cambuk. 60 l. La lu dicambuk monyet supaya bicara. tidak mau bicara. dipukuli monyet itu malah melawan, walau terus dicambukL membuat terkencing-kencing, lalu berak,
  5. Sangat heran Jaya !dong malu, sebab berbohong, kera yang dapat berbicara. tak ctibuktikannya. lalu pada kucing, yang sedang berjemur.
  6. La lu berjongkok di hadapan kucing. De mang Jaya !dong, lalu di senti! kuping kucing itu, disuruh bicara itu kucing, disentil sekerasnya. kucing lalu bangun.
  7. Ka rena merasa disentil keras, kucing menyergap, hidung Mas !dong dicakar. terkelupas hi dung sa kit, nuka penuh darah. hekas ca karan.

kucing dicakar tentu saja sakit, mukanya bcrlumuran. tertawalah patih mantri semua. serta semua pada pulang, habiskan olch kL1cing. terkesima oleh monyet.

D U R M A

6 06. Diam semua raja seratus negara, tetap tak menemukan, di- rasa tidaklah umum, hanya tiung yang bisa bersuara, itupun sangat terbatas. tidak jelas, apalagi monyct dan kucing.

  1. Diceritakan yang ada di dalam pura, Raden Sabang berkata. sudah lima bulan, menunggu pernikahan, belum rtda pcrkata- an gusti, masih dimungkiri, Sabang dengan nyi putri.
  2. Luput saja katanya mcnolak, tak jinak hati putri, si Ogin lalu melapor, hamba permisi clulu, ingin pergi takan lama, akan ke Sidakarya, menemui ibu dan bapak.
  3. Terlalu lama tidak bcrtemu ibu dan bapak. raden putri berkata, baiklah Ogin pergi, tapi kamu jangan lam:1, berjanjilah tiga malam, di Sidakarya, kamu cepat-cepat pulang 6 i 0. Kalau lebih tiga malam rasanya. engkau akan kususul. kata si Ogin baiklah, dua minggu hamba pulang, berkata putri jangan Ogin. dan dicubiti, si Ogin Jalu pergi.
  4. Sudah terbang di angkasa, kc Malebah sudah sampai, datang- nya ke pada!eman, kaget raja Antaboga, kenapa radcn lama sekali. baru datang. apa m aksud yang sesungguhnya. 6 1 2. Raden putra menjawab kepada kangjeng raja, bapak sekarang saya mau sekarang melamar muclah-mudahan diterima, saya sudah ingin menikah. sef?:eralah melamar, kepada putri Bida- yasari. 61 3. Namun suratnya akan men) uruh kakak Tandran, bcrsama dengan kucing, disuruh menghadap, kepada raja menyerahkan surat, suruh pergi cepat-cepat untuk melamar, putri Bidaya- sari.

ketiganya, Gelap Puspa sudah sedia, raden Somaningrat, berkata kepada tiga binatang, mari kak kita pergi, Gelap Puspa, kita naiki bersama. ·

  1. Pancapanji sudah menaiki kuda, berempat dengan raden sak- ti, menjelajahi angkasa, terbang sangat tinggi, kata tiung angin kencang, kalau say a jatuh, saya tidak akan begitu susah. 6 18. Tidak susah karena dapat terbang, tapi kalau kakak Panji, begini tingginya, terjatuh sampai ke bawah, alangkah susah- nya, kata Pancatandran, si beo banyak bicara.
  2. Tak keruan si beo berbicara, se maunya saja, tiung menjawab, si degul suka penasaran, kala u tidak ngoceh, mudah-mudah- an jatuh, jatuh yang keras.
    620. Kata monyet kalau jatuh aku bisa, berpegang pacta pohon, sa mpai ke bawah. ka ta kucing kala u ada pohon. kalau tidak ada pohon, ticlak bisa menyangkut. Pancatandran hanya ter- tawa.
  3. Tapi kucing lebih bisa meraba, kata tiung pasti, tidak lama sudah sampai, ke pusat negara, radcn anom Amarsakti. t urun kc bawah, ke tanah suclah sarnpai. 6 22. Raden duduk dihadapi tiga hewan, lalu berkata lagi, kakak putri segera cari, kalau-kalau ada yang mengganggu, sudah pergi Pa nca Panji. biasa perginya, tiung rnenunggangi kucing.

yang di pasar ribut, baru kali ini menemukan, kera yang berdandan, dan kucing berkalung bagus, dari manakah mereka.

  1. Lalu dijawab oleh kucing, saya akan menghadap raja, meng- antarkan surat ke dalam, yang berbicara sangat kaget, aih-aih bisa bicara, kata Panca Tandran tentu saja, ini kan sengaja.
  2. Bengong semua yang melihat, kita seumur hidup, sekarang baru melihat, monyet kucing seperti manusia, seumur hidup, namun monyet beribu-ribu, tak berbicara sepcrti orang.
  3. lni sangatlah nyata, milik siapakah, bukan orang sembarang- an, tersebutlah monyet sudah tiba, lalu masuk ke mandapa, para menak sedang berkumpul, patih mantri dan ponggawa.
  4. Majulah monyet menghadap raja, sambil menyodorkan surat, menghormat sambil jongkok, menyembah mundur Panca Tandran, setelah surat diterima, takjub raja, karena heran- nya.
  5. Setelah lama raja berkata, memeriksa Pancatandran, sambil berkata perlahan, monyet siapakah yang menyuruh, kamu membawa surat, Pancatandran menyembah menjawab, gusti saya yang menyuruh.
  6. J'vfajulah kucing ke hadapan gusti, berkata kepada raja, gusti saya ingin bertanya, diberikan atau tidaknya, yaitu putra gamparan, hamba minta kepastian, kangjeng raja lalu berkata.
  7. Sambi! melihat pada Panji, ujang nanti dulu. aku sanga t he- ran, karena hewan bisa bicara, serasa dalam mimpi, baru seumur hidup, monyet kamu sia pa nama.
  8. Sembah sujud hamba, nama hamba Pancatandran, nama itu beo, yang dikenal Panji Layang, sedang kucing Panji Masang, masya Allah kata ratu, sungguh serasi.

melil,lat, Tandran kamu bi~a tembang, Pan- catandran menyembah menjawab, sungguh sayang hamba. menembang tidaklah bisa, entah kalau itu tiung, ada kalanya bersenandung.

  1. Lalu kata raja, tiung kalau bisa m~'nembang, malah lebih aneh, yang akan mengambil hidangan, iringilah dengan tern-bang, apa saja asal enak, nanti kamu diberi hadiah.
  2. Majulah tiung ke hadapan raja, duduk menghadap raj a. Panjimasang lalu berkata, bernyanyilah adik Layang, Kakak yang memberi senggaknya.
  3. Jangan dulu senggak, si kucing sok tahu, senggak belum wak- tunya, kata Masang lagi, tak merasakan yang malu, paling hanya engguk-enggukan. kebiasaan monyet mandah. 63 6. Ki Tandran tertawa, si kucing ada-ada saja, yang menembang belum mulai, engkau sudah engguk-enggukan, Panji Layang lalu melapor, bersila di hadapan gusti, saya akan menembang. 63 7. Masya Allah kangjeng gusti, kepada ham ba menyuruh tern-bang, tapi se moga saja, tapi lagu sinom tidak bisa, hanya bisa Asmarandana, demi perintah tuanku, takut dianggap tidak setia. 63 ~. Sumangga luang cikopi, lumayan tanzba hanaa ng, rencangnya taya nu sae, lain nyaah ngan reu aya. da n ngan sakiru ayana. gamparan abdi panuhun, kedah y asa /o londokan.
  4. Kucing bcrkata pada gusti. tembang ini harus dijawab. berkata gusti ayo oleh kamu, siapa yang bisa menjawab, harus kucing yang menjawab, kata Tandran aduh-aduh, si kucing. kebetulan.
  5. Ayo cepat jawab saya, karena kamu sok tahu, Panjimasang menjawab lagi, nanti dulu dekok, tembang tak akan bertanya, tidak seperti kamu, dengarkan sa ya akan tembang. 64 1. Nuhun teuing dipaparin, eukeurmah ha naang pisan, ngucur kesang reujeung cape, lain darang balangsiar, datang aya nu disiar. lzw1 teu cundu k isuk-isu k, hese bijil ti panjara.

Panjimasang, susah benar si monyet, susah keluar dari negara.

  1. Terbahak kangjeng gusti, ini sangat mencengangkan, dan lucu sangatlah aneh, raden patih lalu berkata, dan semua para me- nak, betul sekali ucapan raja, apalagi pemiliknya.
  2. Panjimasang bertanya lagi, bagaimanakah yang tadi itu, apakah gusti menerimanya, meminta jawaban tuanku, diluluskan ataukah tidak, meminta keterangan yang pasti, mendengar ucapan Tuanku.
  3. Berkata raja nanti kucing, suratnya belum dibaca, Pancatandran berkata lagi, ham ba tidak akan pulang, karen a sudah di- amanati, kata majikan harus tunggu, kalau-kalau ada yang mengganggu.
  4. Tertawa raden patih, Pancatandran berkata lagi, bukan ucapan main-main, kalau ada yang berani, kepada putri mengganggu, monyet tidak akan mundur, semua pahlawan perang.

    DANGDANGGULA

  5. Kata raja ini sungguh, menyenangkan, setiap perkataannya bagus, lalu raja berkata, ini suratnya patih, isinya melamar, oleh karena itu, apakah harus dipercaya, ini hewan atau dibi- kin kurir, den patih lalu menjawab.

  6. Benar sekali kata gusti, harus dipercaya itu surat, karena da- tangnya, tentu diutus, sebabnya menghadap pacta gusti, tentu itu utusan, betul harus begitu, dan percaya sungguh, kata raja coba panggil agan putri, tidak lama menghadap.
  7. Berkata raja kemarilah nyai, bagaimana ini ada surat, melamar nyai, bukankah sudah ada yang pasti, bagaimana tindak- anmu, dan inilah permintaan, mana yang dimaksud, ayah minta kepastian, jawab putri walau ini belakangan, tapi itulah yang mem bela.

Panjilayang.

  1. Kemarilah kalian kata putrL lalu ikut Panca Panjilayang, sudah masuk ke keraton, kata Ogin aih monyet, aih-aih de- ngan kucing, paduka dari mana, nyi putri berkata, kamu pura-pura, sudah tahu majikanmu yang diiringkan, masih berta- nya dari mana.
  2. Kata si Ogin hamba sesungguhnya, dulu belum ada itu, monyet kucing baru beo, itu pun dalam sangkar, bicaranya juga baru sedikit, ucapannya tidak keras, bicaranya kulhu, ahad senin dan selasa, tidak sampai pact a kamis terlalu panjang. keburu lari kupu-kupunya.
  3. Kata putri ayo menembang Ogin, tapi yang aneh sinom lagunya, ka ta si Ogin baiklah, Jagunya lampuyang ruung, tidak bisa sinom pangrawit, kata nyi emban terserah kamu cepat- nya menembang, tembangnya lamrJU yang. mernakai hades lagunya dan palasari, sangatlah bagus suaranya.
  4. Kuda belang kuda hideung, dipake narik kGJJiting, hentu me- lang henteu nineung, enya ge aya nu cicing. Japati di laiVang kori, tikukur ngapung ka Bandung, jala k ngapak. ka Sumedang, jalanna ka palasari, sukur pundung da mungkin teu pati hay ang. Nyi emban menepuk pipinya, siapakah itu Ogin, yang marah tapi ingin, kata si Ogin itu sindir. Soang lain entog lain, moat salah ari kitu, hayam bodas ngapak. sawah, geus ngahintul tikiwari, simp gejos mun kuring mah ha/imunan.
  5. Kita kisahkan lagi kangjeng gusti, yang sedang bermusyawa- rah, perihal surat yang dibawa rnonyet, sebab itu sudah pasti, yang menolong sewaktu kena malapetaka, menolong dari kesusahan, sampai jadi baik kembali, bagaimana kalau dito- lak, lamarannya memenuhi syarat nyi putri, tentu jadi keje- lekan.

benai sekali ucapan ·

paduka, namun menyebabkan 'kejelekan, tak ~da manis lebih dulu, terima kasih dan diterima, semua barang-barangnya, Jamaran sudah lulus, dan yang bersangkutan, sudah menung- gu dua tiga bulan, bagaimana dengan itu.

  1. Walau sakti bisa mendapatkan putri, hamba rasa tak malu mengalaminya, baru dengan lamaran, hamba ada permintaan, sebab tentu ada persoalan, murka raja Madursan, sudah pasti ribut, pasti tidak bisa ditahan, oleh karena dihianati, saya tak sanggup menahannya.
  2. Raja agung dalem Madusari, sangat murka kalau Raden Sabang, disingkirkan begitu saja, raja lah.l berkata, mari kita mu- fakat patih, bagaimana baiknya, aku
    • agak bingung, den patih menyem bah, maksud kan meminta pendapat ham ba, baik laksanakan dulu.

  3. Menurut hamba jika sudah menikah, kelanjutannya terserah mereka, sebab paduka sudah cukup, penyerahan sudah putus, terserah pacta nyi putri, sudah tak wajib memaksa, tidak ataukah mau, itu bukan kewajiban kita, begitulah pendapat hamba, tak akan terjadi kerusuhan.

  4. Kangjeng raja termenung tidak bicara, setelah faham lalu berkata, betul sesuai dengan hati, iya betul harus begitu, Raden Sabang bila telah menikah, mau berbaik hati silakan, kalau tidak ya terserah, tak akan menjadi sebab, dan selain itu, tidak menghapuskan kebaikan.

    DURMA

  5. Sudah sepakat patih Durjaman, dengan semua mantri, sang raja berkata, segeralan buat surat, sekarang ke Madusari, mengundang pernikahan, untuk menentukan pernikahan.

  6. Sebab perkawinan tergantung pada Madursan, kita berembug lagi esok ataukah lusa, raden patih lalu menulis, sudah di- tandatangani oleh raja, surat sudah dicap. dikirimkan oleh prajurit.

di gerbang negeri.

  1. Diceritakan Raden Sabang mendengar berita, yang melarnar putri, tarnpak agak susah, diketahui oleh sang raja, kangjeng raj a lalu berk ata, kepada Raden Sabang, ujang jangan susah pikiran. 66 7. Benar banyak yang rnelamar, oleh ama tidak diterima, kan ada ujang, yang sudah lama mengenal, bahkan rarna gusti. clalem Madursan. sekarang. sudah diundang.
  2. Bahkan sekarang pikiran arna, akan menikahkan ujang kepada putri. temuilah ia oleh ujang, nanti rn alam segeralah ternui, bcrm ainlah di puri, jangan ragu-ragu. bersama caJon istrimu
  3. Ke tika malam Raden Sabang rnernberitahu, akan menemui nyi putri, syukur kata raja, ujang segeralah temui, temuilah nyi putri, Sabang dan Saka. lalu pergi. 6 70. Pukul tuJuh sudah datang ke pada leman. diketahui oleh SJ Ogin tapi tidak terlihat, Sabang dudukn ya di latar, di gelap malam Sabang mengintip. mendengar tembang, sindirn ya si nom si Ogin. S I N 0 M
  4. Da w z ru hur digculangan, k udu ras kadiri kuring, hui manis nasolokan. tete/a kuring nu sidik, kamana jala n ka cai. kaditu ka ka1 •u ~empur. kayu sempur ngarangra ngan. kamana pikeun ngajadi. ka urang dapur anu eukeur tetemhangan.

Ogin, kata si Ogin mau apa, itu kan coma sindir, tulang kapindingan biwir, puguh sindir mah sok buntu, leupeut leuweung kejo leuweung, akan meneruskan sindir tadi, bukan sinom dengan Kasreng saja lagunya.

KASRENG

  1. Nyieun sasak di cileuntik, pelak kuring geus kcmbangan, sieun teh aya nu ngintip, basa kuring tetembangan. eta kasreng, ari kasreng ka si dengkeng.
  2. Nyi Dengkeng mencubit pipinya, kamu membawa-bawa saya. dan kamu tahu namaku, siapa yang memheritahu namaku, si Ogin menjawah sambil tertawa, sumpah tenggeng kalau begitu, kata nyi Tenggeng kamu lagi, kata siapa nama saya, kata si Ogin sumpah kejeng itu sindir.
  3. Nyi Kejeng mencubit kupingnya, kamu membawa-bawa saya, semua sebut jangan kepalang, ibu sepuh kalau berani, ayo kamu sebut lagi, wah kata si Ogin leluhur, itu tidak akan di- lewat, dan Nyi Regeng tidak akan ketinggalan, sumpah kejeng ibu sepuh terbahak-bahak.
  4. Benar si Ogin waspada, tahu namaku, lagi Ogin kamu tern- bang, yang belum disebut tacli, kata Ogin boleh saja, melan- jutkan kasreng yang baku, karena sinom tidak bisa, siapa tahu ada sindir lagi, walau sedikit oleh kasreng agak meriah.
  5. Kalangkang heulang galatik. ditempo kunu ngaliwat, kuring tembang tileuleutik, teu poho moal kaliwat. lamun kasreng ari kasreng ka Nyi Te!eng.
  6. Anak ha.mm guwang gawing, anak gagak disaa k, meureun kuring cape teuing, pada nyiwit pada neJJak, eta kasreng ari kasreng ka Nyi Bopeng.
  7. Sumpit wadah ana k ucing, kuda paranjang ceulina, anu ngintip geus ngabandif!g, risina kabina-bina, ari kasreng eta kasreng ka Nyi Geheng.

Ogin, para istri bergembira, mendengar kawin si Ogin, dihibur oleh si Ogin, sekitar pukul sepuluh, berhenti si Ogin menernbangnya, yang mengintip sangatlah kesal, pariuk jangkung peueut kimpel ditungkusan.

DANGDANGGULA

68 2. Raden Sabang tarnbah dekat mengintip, yaitu tepat pacta lu- bang kori, lebih tajarn penciuman monxet, Tandran duduk- nya mundur, ke dekat pintu yang terbuka sedikit, dihalau oleh Pancatandran, Sabang merasa kaget, disangkanya ada maling, yang mengintip akan rnencuri, kalau rnau rnasuk rnasuklah.

  1. Raden Sabang rnasuklah ke rurnah, sambil berkata kukira manusia, yang menghalauku barusan, kukira bukan monyet, goblok engkau tak sopan, aku bakal jadi menantu raja, Sabang sambil berdiri, karnu rnonyet kurang ajar, aku ini caJo n suami nyi putri, kata Tandran perduli arnat.
  2. Kenapa engkau mengintip, seperti kelakuan pencuri, Raden Sabang menjadimurka, mencabut keris akan menusuk, namun ekor lebih cepat, mengenai pelipis, Sabang terjatuh, oleh Panji cliburu, sudah cliterkam pundaknya, sambil berkata aku terkam, kata Tandran jangan. 6H5. Saka melihat kakaknya sudah roboh, mengh unus pedang akan bunuh Tandran, lebih dulu ekor mengenai punggung, Sa ka pun diterkam, kakak beradik tak sadarkan diri, bi arkan kata Pancatandran, kalau mau mengum bar nafsu, ayo cepat ba ngun, kerahkan semua temanmu, yang akan membela kamu.

  3. Raden Sabang pergi sambil menangis, kakak beradik melapor kepada raja, putra paduka tidak pantas, mau berjinah dengan monyet, mereka selalu berduaan, sungguh tidak patut, ma- nusia berjinah dengan binatang, berkata raja tidak mungkin ujang, itu hanyalah mainan. 6 87. Besok akan ama periksa, sebab sekarang sudah malam, dan lagi tak mungkin, raja juga beratus-ratus, yang mengingini nyi putri, ayo segeralah tidur, Sabang Saka habis aka!, sebab bicara hanya untuk menutupi malu, sudah diterka oleh gusti. kenapa matanya berair. 6 88. Diceritakan pagi-pagi patih, menghadap kepada raja, mela- porkan semua sudah beres, di tangsi tempat serdadu, rumah- rumah sudah bersih, penghormatan sudah dipasang, setiap warung, dan para nyai pilihan, yang akan menjemput tamu sudah siap, sepuluh untuk bendera. 6 89. Sudah sedia di negara !Vfulki, kita ceritakan raja di Madursan, mengumpulkan balatentara semua, karena ada undangan ratu, dari Mulkiah akan mengawinkan, sekarang segeralah berdandan, patih dua ikut, dan balatentara, kaum wanita harus mengiringkan raja istri, tandu joli dan kereta. 6 90. Dan tentara seribu dipilih, siapkan kepalanya, menunggangi kuda yang gagah, dan para pekerja, harus dua ratus, untuk seratur gotongan, dan yang harus menunggu di negeri, de- mang Jaya Santosa. 6 91. Besok kita harus berangkat, jangan sampai ada kekurangan, perempuan harus semua, diceritakan esoknya, sudah ber- bunyi terompet berbaris, sudah diatur barisan, seribu di muka, di belakang seribu tentara, karena perjalanan jauh merambah hutan, menggelegar meriam berangkat. 6 92. Berbaris rapi semua, sangat panjang, berpakaian bagus-bagus, joli kereta dan tandu, bergemuruh para prajurit, berjalan tak terburu-buru, sedang kangjeng ratu, berjalan dengan tenang, diapit oleh dua patih, kudanya berjalan tenang.

  4. Tidak berhenti siang dan malam. di perjalanannya berse- nang-senang, hanya berhenti untuk makan saja, lamanya tidak diceritakan, sudah tiba eli batas kota, barisan itu, ber- siaplah serdadu, menggelegar meriam dipasang, sudah di de- ngar o leh raja di Pancaniti, segeralah ditugaskan. 6 94. Raden Patih Budiman sudah sibuk, para menteri mengumpul- kan kepalanya, semuanya dipilih, prajurit yang sepuluh, ber- dandan dinas dan gagah, kuda sandel Makassar, japing me- makai kuluk, juragan patih yang menjemput, menaiki kereta inclah. berangkatlah mereka semua. 69 5. Ticl ak diceritakan perjalanan raden patih, sudah tiba eli batas negara. patih segera turun, lalu menghormat pada raja, berkata raja aih patih, ke mana kangjeng raja, mengapa tidak clatanr, menjawab patih Durjaman, sudah diwakilkan pada hamba, yang clitugaskan oleh raja.

  5. Raden patih berkata pada gusti, semua para tentara, dan ke- pal anya semua, silakan berangkat duluan, dan semua prajurit, semua sudah sedia, kata ratu syukur, berkata kepada letnan komandan, pergilah semua ke tangsi, dan bubarkan barisan. P UCUNG
  6. Kangjeng raja lalu berkata pada patih, hei Patih Durjaman. silakan engkau pergi lebih dulu, bersama tentara para mantri dan goto ngan. 69 8. Para istri berangkat duluan, para is tri pembesar, dan sem ua korawa, kangjeng raja menaiki kereta.
  7. Dik awal oleh para priyayi, kanan kiri lima, keretanya berjalan pe rl ahan, kudanya diiringkan o leh se mua.
  8. Kuda berjalan dengan gagahnya, sandel dan Makassar, kuda berjalan menyamping, ada seorang tua kampung wakil lurah.

  9. Di belakang kudanya berjalan dan memanggut, ia adalah Ki Jahinam, sudah tidak melihat apa-apa, matanya tertuju pacta kepala kuda.

  10. Topinya sudah melorot pacta pundak, keringat tidak dirasa, keringat mengucur dengan ingus, kuda manggut Jahinam pun manggut.
  11. Ternyata latah mas tua kampung, sudah basah bajunya, oleh keringat sampai kotor, terlihat Jahinam mengangguk-angguk.
  12. Semua tertawa melihat ki mas tua kampung, banyak yang diusap, melap keringat dan ingus, topinya menempel di pundak.
  13. Tidak lama sudah sampai di alun-a1un, datang yang menjem- put, semuanya priyayi, kangjeng raja sudah turun dari kereta.
  14. Kangjeng raja Mu1ki sudah turun, pergi dengan istrinya, di paseban sudah bertemu, saling berangku1an raja-raja dan istri-istrinya.
  15. Sete1ah itu pergilah kc keraton, diiring para korawa, laki- 1aki dengan laki-laki, lalu semua masuk ke padaleman.
  16. Para istri dari Madursan berkumpul, di rumah semuanya, bersama raja istri, Ra de n Sabang kakak bcradik datang.
  17. Raden Sabang la1u menya1ami ibunya, dan duduknya dekat, oleh ibunya dimanja, empat bulan dengan ibu tidak bertemu.
  18. Die1us-e1us Raden Sa bang o1eh ibunya, sudah duduk semuanya dirapikan senwa barang-barang, istri-istri duduk semua berjajar. 7 1 I. Penuh di da1am rumah oleh perempuan, tamu pribuminya, segera berkata raja Mulki, kepada raja Madursan berkata tenang. 71 2. Dinda kanda ingin mengatakan, agar semua tahu, esok atau !usa, pernikahan itu sekarang sudah waktunya.

  19. Si Alkani dan si Tayud juga, ronggeng yang biasa, nyi Darsiah orang Dano, pcnabuhrfya biasa Jayamanggala.

  20. Tuk::lng g~.: nd ang Pak Alwani yang biasa. adapun penarinya, si Sunarya saja. reog topeng degung serimpi dan wayang. 7 1 K Kc tiganya berkumpul eli dalam kaum. a was jangan terlambat. perintah pada patih sudah sclesai, lalu mundur dari hadapan raja. 7 1 Lalu mcnyebarkan scmua perintah ratu, d iceritakan eli pada- lcman, si Ogin yang diceritakan, kepada nyi putri si Ogin berkata. 7'20 Hamba pamit mau kc kampung. akan mcm bawa bapak, dan ibujanjinya dulu. bila ada pcsta kerarnaian, saya harus disusul. 721 ltu du lu permintaan ibu. ingin tahu pesta, putri menjawab pada Ogin. jangan dua malam kamu kalau pulang. 7"22 Kalau kwat dua malam akan disusul, kata Ogin tidak akan, hanya semalam ticlak bo hong, clitambah sia ng harinya.
  21. Setelah itu O?in lalu pergi, ke Jatar belakang, hanya sekejap sudah menghilang, sudah tiba di negeri fVfal ebah.
  22. Sa ng ratu j in berkata mcnyambut kcdatangannya, engkau akan mcnikah. ayolah bcrsihkan badan. sudah cukup cngkau menghinakan d iri.
  23. Antar oleh nyi Lasmaya besok, naik kereta emas, cliceritakan esok harinya, sudah siap semua bangsawan dan priyayi.

S I N 0 M

  1. Pukul enam sudah siap, berdandan Raden Amarsakti, Dewi Lasmaya sudah berdandan, cantik bagai bidadari, bercahaya gilang: gemilang, bagai dew a ta serta agung, mem buat silau yang memandang, dinasehati oleh ratu jin, sekalian diberi ajimat.
  2. Sutra wulung bebeningan, itu ajimat sang ratu jin, untuk menghadapi perang, walau musuh beribu-ribu, dipukulkan sekali, roboh oleh sutra wulung, sang ratu jin berkata, hei Lasmaya ingatlah, jangan sekali-kali mengumbar nafsu.
  3. Kereta emas sudah sedia, sair lopornya jin, yang memayungi jin wadai, kuda siluman sepasang, sepasang tiada tanding, kuda besar lagi tinggi, kusirnya bermahkota, membuat heran yang melihat, melihat kuda kusir dan kereta.
  4. Berjalan sampai di batas kota, batas negeri Mulkiah, mereka melewati pasar, kaget semua orang, memburu ke jalan me- nyaksikan, dari pasar ke alun-alun, sampailah ke pancaniti, para bangsawan sedang berunding, semuanya sedang berkumpul.
  5. Para bangsawan yang sedang berkumpul, semua turun dari pancaniti, payung agung bercahaya, sudah sampai ke pancaniti, sebagian para menteri, melihat kuda tinggi-tinggi, sebagian lagi melihat kereta, sebagian lagi melihat kusir, tak ada tan- dingannya di Mulkiah. 73 1. Demikian pula juru payungnya, sepatunya emas kuning, pa- kaian berkilauan, membuat silau yang melihat, kumis jam- bang melintang, dari kereta lalu turun, gugup sang raja Mulkiah, mengambil kursi untuk duduk, sampai lupa tidak menyuruh ponggawa. 73 2. Mengambilnya sendiri, tidak ingat menyuruh lagi, heran semua yang ada, bengong semua bupati, apalagi ponggawa dan mantri, semuanya terkesima, terkesima oleh sang juwita, pribumi semua diam, semua terkesima tidak ada yang bicara.

rect a sang raj a Mulki, meng- hadap lalu berkata, karena merasa mal u. berkata raja Mulki. maafkan adik ratu, adik dari mana, apa maksud kedatangan- mu, karena baru kali ini didatangi oleh dewata.

  1. Scgeralah nyai terangkan, Dewi Lasmaya berkata, terima kasih segera ditanya, sesungguhnya saya, kampung saya sangat jauh, dari kota Madursan di gunung, negara gunung Malebah, maksud saya kemari, kedatangan saya akan meng- antarkan ini anak saya. 73 5. Maksunya akan menikah, kepada putri Bidayasari, hari ini juga, terkejut sang raja Mulki, berdebar hatinya, terpaku tidak berkata-k ata, karena bingungnya raja, bingung hati raja Mu lk i, pucat dunia serasa sempit.
  2. Mu ka sa ng raja pucat, setelah lama baru berkata, suaranya sa ngat pelan, dengarkanlah oleh Adiik, scka ra ng ini sedang berunding, kami berkumpul, tiada lain maksudnya, yaitu mengenai perkawinan, yang direncanakan hari esok. 737Akan menikahkan anak saya, kepada putra gusti, dari negeri ~adu rsa n, Dewi Lasmaya berkata, yang besok biar saja, yang saya maksud adalah hari ini, harus hari ini, apa yang menjadi halangannya.
  3. Halangan se perti itu, jangan dianggap sulit, cuma raja dari Madursan, itu bagian saya, sedang begitu datang Panca Panji, kepada Lasmaya lalu memburu, kata monyet ibu selamat datang, mereka duduk tidak pergi lagi, kangjeng raja lalu me- manggil putri. 739 Nyai ramanda ingin bertanya, bagaimana sikap nyai, nyi putri malah menyalami, kepada Lasmaya sangat hormat, menyalami Raden Sakti, dicubit tangan nya mundur, kanda ke terlaluan, itu ada ibu malu, Raden Sa ba ng melihat mata- nya bcrair.

Selama eli Mulkiah, jangankan cliajak ketawa, sang raja ber- tanya la~i, bagaimana tindakan nyai, menjawab kepada ayah- nya gusti, saya tidak sudi dari dulu, saya tidak mau kepada den Sa bang, ia sangat cengeng, baru dipukul kera saja sudah menangis.

  1. Apabgi menghadapi raksasa, saya tambah benci, kata Lasmaya sckarang, kepada putri Bidayasari, jan~an banyak yang dipikir. perkara Baginda Ma'ruf, tidak bisa terbang: ke angka- sa. ibu yang berani menampar. sl' bab ibu musuh dari dahulu.

741. Baginda Ma 'ruf bcrkata, ini bagaimana, mengingkari janji, walau pada orang kecil, sudah pasti mcndapat aib, dulu kalau mau menolak. jangan menerima lamaranku, hitung berapa lamJ, anaku eli sini disuruh mcnunggu.
743. Sekarang engkau berhianat, membuat aib, Lasmaya berkata lagi, biarkan jangan didengar, orang yang tak berbudi, berkata yang bukan-bukan, menceritakan soal lamaran, pelit dengan uang sedikit, lebih baik nyai pergilah bersenang- senang.
744. Naiklah kereta emas, pergilah berpesiar, karenanya oleh ibu dibawa, ini kereta untuk nyaj, sengaja 1. .111tuk pesiar, tak ada yang menghalangi, tak perlu dikuatirkan. ibu sangat kaya, tidak akan kalah oleh orang dari Madursan.
745. Kaget hati Nurhayat, menghampiri Lasmaya Dewi, gemetar saking malunya, raja Mulki menarik putri, lalu dipapah ke rumah, ini pasti bakal terjadi keributan, Nyi Nurhayat lalu menjawab. kamu be ~itu sombong, sombong membeberkan kekayaan.
746. Aku juga orang kaya, tidak sombong tidak besar kepala, engkau raja aku pun raja, kamu kaya apalagi aku, engkau sakti apalagi aku, tidak seperti engkau sombong, menjawab Dewi Lasmaya, engkau tukang memfitnah. dasar dayang anak jelata.

  1. Kata Lasmaya ayo maju, kalau benar engkau berani, aku tidak akan beranjak, siap jiwa raga, pilihlah kulit yang tipis. kalau engkau sudah ingin mampus, jangan hanya sesumbar, majulah ke sini, nyi Lasmaya berdiri lalu mendekati.
  2. Bunuhlah aku olehmu, kalau kami tidak berani, majulah de- ngan suaminya, aku tidak akan mundur, siang malam berani, Nyi Nurhayat bertambah nafsu, saking marahnya memuncak, diayunkan pedang sekuatnya, mengenai kepala Lasmaya. 7 52. Lasmaya malah sengaja menyodorkan tubuhnya, dihantam pedang lagi keras sekali, Lasmaya tidak bergeming, dihantam pcdang sudah tiga kali, sama sekali tidak bergeming, Nurha- ya t semakin bernafsu, kemarahan memuncak tapi tenaga ha- bis, nyi Lasmaya berkata bengis, tiga kali kamu sudah mem- bacokku.
  3. Sudah nista madya utama, engkau sudah tiga kali, mengayun- kan pedang, sekarang adalah giliranku, kepadamu tiga kali, aku tidak berniat membunuh, tidak berniat membinasakan, hanya sekedar memenuhi kewajiban, hutang pedang harus dibayar oleh pedang.

Sabang kaget.

7 55. Mencabut keris raden Sabang, niatnya akan men'l.balas den- dam, apa daya ekor datang, menyambar pipinya, raden Sabang roboh, lalu oleh kucing diterkam, di tekuk-tekuk den Sa bang, seketika itu juga mati, Raden Saka maju sambil meng- ayunkan pedang.

7 56.· Disambut pacta jidatnya, oleh ekor Tandran lagi, raden Saka sudah menggeletak, diburu lagi oleh kucing, terputuslah, tenggorokannya lalu mati, Baginda Ma'ruf berkata, berteriak amat keras, sungguh gila engkau patih Mulkiah.

7 57. ltu binatang merusak, bukannya ditangkap dari tadi, engkau tidak ada daya sama sekali, gila semua orang Mulki, hei ayo Budiman patih, prajurit suruh maju, Budiman menyeru pa- sukannya, oleh Lasmaya terlihat, membuka ajimat benten Raja Dimaya.

  1. Sutra wl'!ung ajimatnya, dipukulnya kedua patih, Budiman dan lndrapura, keduanya tak bisa bangun lagi, tak berdaya lagi, sang raja Baginda Ma'ruf, sama-sama roboh, di halaman rumah, kata Lasmaya T andran pundurkan prajurit.

    PA NGKUR

  2. Kata prajurit Madursan, ayo bunuh cuma seekor kera, raden Amarsakti berkata, li hatkan kak Layang, begitu banyak prajurit mengepung Tandran, tiung terbang pergi, mencegat para prajurit.

  3. Prajurit membabat membacok, Pancatandran mundur sedikit, prajurit riuh bersorak, cepat ambil sumpitan, kita bunuh dengan sumpitan itu kucing, jawab Layang tidak akan mempan, dengan mimis juga tidak akan mati.

sa kti, bukan pepaya makananku, kera tidak pernah memakan ke- cipir, kami ini semuanya bangsawan sejati, prajurit saling bentak, ccpat monyet bunuh mati.

  1. Sedang berkata tanpa diketahui, mata dipatuk tiung sekali, aduh kawan tolong, mata hilang sebelah, para prajurit ribut meng:tduh-aduh, tiung berkoar keras, ayo mata cepat ganti. 7(> 3. Prajurit negeri Madursan, semua t.1 ku t hatinya ciut, hening dihalaman keraton, menak Mulki semua lari, semua bersem- bunyi di tempat rang aman, Budiman dan lndrapura, lumpuh tidak berdaya. '64. Ba ~ inda Ma ' ruf sang raja, terlentang d1 sal uran air, di panya weran menggeletak, Nyi Lasmaya berkata, kepada raja dari neg<'ri Mulkiah, marilah kemari, kanda raja dari Mulkia h.
  2. Adik mohon maaf, karena adik berperang t:Jk adil, dengarlah adik akan bertutur, mungkin belum mengetahui, keadaan adik waktu dahulu, adik sedang diperis trL oleh sang ra_1a Madusari. 76 6. Kangjeng raja negeri Madursan, yang sekarang meringkuk di got, nah nyai ini istri dia, ketika di Madursan, dengan Nurhayat adik ini dimadu, adik istri yang kedua, Nurhayat yang rertama. 7h /. Waktu adik akan melahirkan, waktu itu saya belum tahu. bagaimana caranya m elahirkan, raja waktu .itu tidak ada. sedan!! berburu, aclik cliurus oleh Nurhayat, tak curiga sedikit pun. 7h8. Karena aclik ini clara, kata Nurhayat mata dan kuping harus ditutup rapat, clilapisi malam ditutup, diikuti kata-kata Nu r- hayat, karena katanya kalau tidak hegitu bakal lumpuh, istri yang baru pcrtama melahirkan, pantang melihat darah.
  3. Wak tu bayi itu lahir, lalu dibuang ke ai r oleh Nurhayat, di- ganti o le h kera tiung dan ketiganya k ucing, dan anak itu ada- la h in i. anak raj a Madursan, yaitu R :~

Ketika datang kangjeng raja, sangat murka memarahi habis- habisan, adik tidak diampuni, dimarahi l-labis-habisan, bahkan adik harus dibunuh, oleh kakang patih Budiman, adik minta ampun tidak dihiraukan.

  1. Kemudian adik dibuang, lalu dibuang ke Danaka hutan rim- ba, di samakan dengan monyet, adik dipenjara, tapi saya mendapatkan cobaan seperti itu, tidak putus asa, mengingat sudah takdir.
  2. Karena sedang cinta pada Nurhayat, raja tak berpikir lagi, tidak waspada, seperti tidak punya agama, masa manusia beranak kera, karena itu sangat sakit, saya disebutnya iblis.
  3. Adapun itu yang dua, yang kini sudah terkapar mati, itu anak tiri ratu, anak Nurhayat, raja Mulki tak berkata-kata, termangu tak berucap, mendengar penuturan putri.
  4. Setelah lama lalu berkata, emh adik tak disangka, pantas kalau begitu, adik sangat kasihan, kalau begitu sungguh dinistai oleh madu, Nyi Lasmaya berkata, nah inilah anak prihatin.
  5. Tak kepalang tanggung, sekarang ini raja Madusari, oleh saya akan dibunuh, dengan patih ketiganya, coba hadapi kalau engkau gagah, tidak malu kalah oleh perempuan, hanya gagah di mulut saja.
  6. Berkata sang baginda raja, aduh nyai maafkan lahir dan batin, kakang terima salah, sungguh kurang beragama, dosa besar pada nyai maafkanlah, Nyi Lasmaya berkata, sudah bukan masanya lagi.
  7. Tiada kata maaf, lebih baik mati saja, suami saya sudah punya, lebih tampan dari kamu, dan saya ini hanya sekedar bermartabat kera, tidak layak memaafkan, karenanya harus disembelih.
  8. Kepalang bermartabat hewan, sudah tidak dianggap manusia lagi, anaknya juga hewan semua, karenanya sekarang, jangan heran kalau berani membunuh, karena memang martabat hewan, tak akan menge mbalikan yang manis.

  9. Lebih baik pikirkan jalan kematian, aku tidak akan mengam- puni, sang baginda berkata perlahan, kepada putranya minta maaf, raden yang baik budi, raden putra menjawab, mohon dimaafkan dunia dan akhirat, gusti adalah ayah saya, namun ada satu hal. 7 8 1. Semuanya pun salah, tak benar-benar di pikir, batin ibu yang sabar, isi hati ibu, itu sangat tidak teliti, berkata lagi nyi lasmaya, ujang betu I begitu, seperti kata ujang, betul begitu menjawab pada rama gusti, ujang memang tidak apa-apa. 78 2. Raja Mulki berkata, hai adik mas ratu yang indah, kanda ingin bicara, hal ini yang dimaksud, lul us putra dan putri, namun menurut kakak, tidak akan senang hati, karena melihat orang tua, begitu juga kakak sendiri, tidak akan senang hati.

  10. Karena kurangnya kulawarga, coba pik ir oleh nyai, bagaimana akan senang hati, semoga diterima ucapanku ini, kakak mohon pada nyai, itulah permintaan kakak, Lasmaya menjawab, walau bagaimana, hati adik sukar un tuk bersih, karena sudah keterlaluan.
  11. Merusak diri anak, karenanya saya memberanikan diri, wala u bagaimanapun kepada orang yang tiga, satu raja dan dua pa- tih, tak akan dilewatkan, walau selembar rambut, tenang yang berbicara, tiba-tiba datanglah raja jin, berdiri di hadapan semua. 7 8 5. Raja Mulki terkejut pindah duduknya, karena baru melihat kali ini. agak malu serta terpana, ratu jin lalu berkata, oh Lasmaya

cia- tang, siang maupun malam tidak ada halangan, tidak terha- langi oleh laut atau pasir, pastilah datang.

  1. Raja Mulki lalu berkata lagi, baru kali ini kakak melihat, seumurhidup baru tahu, kalau nyai tidak taat, pad a nasehat nyai khawatir, Lasmaya lalu berkata, betul begitu, kalau sudah ditemui oleh bapak, sepatah kata kalau tidak clitaati celaka, syukur kata raja Mulki.
  2. Nyi Lasmaya segera beranjak, lalu dikebutkan ajimatnya, sang raja dan patihnya, sudah pulih kembali, bcrkumpul di Pancaniti, Lasmaya mencium kaki, memohon ampun, kepada sang raja Madursan, sama-sama bersih hatinya, saling mema- afkan. 7 90. Menghadap semua yang di Pancaniti, kepada sang ratu dan sang raja, sudah duduk semua, sekarang cliceritakan, Panca Tandran dan Panji Masang, serta Panji Layang, sedang berpe- rang, hancur prajurit Madursan. hampir habis sc mua tentara prajurit, semua balatentara.
  3. Yang dua ribu banyaknya, yang tinggal hanya tujuh ratus, banyak yang mati, sisanya yang tujuh ratus, itupun banyak yang rusak, yang tangannya dan pundaknya prajurit, clilukai tiung, beratus yang buta, apalagi yang digigit oleh kucing, balatentara semuanya rusak.
  4. Ada yang putus daun telinganya, ada yang putus tengkuk- nya, oleh Tandran dihancurkan semuanya, pipi dan hidung- nya putus, bekas ekor seperti bekas sapi, kera tidak bisa di- tahan, raden putra berkata, kepada ibunya melapor, ibu lihat- lah Pancapanji, bila cti biarkan semua akan hancur.

pencaniti, kakak kita berhenti dulu, kucing menuruti- nya. mundur Tandran dan Masang. begitu pula Panji Layang mu ndur, la lu menghadap kepada ibu.

  1. Tangah penuh berlumuran darah, lalu berka ta lagi Pa ncatan- dran, mengapa juragan dihentikan, kepalang akan kuhancur- kan, tentara Madursan, mari adik maju lagi. semua biar hancur, karena berani m enghina, menganggap kita mahluk ren- dah. tak ada sopan santun.
  2. Raden putra lalu berka ta lagi, sudah takluk semuanya pada kita, karenanya dihentikan, kata Tandran tentu saja, baikla h kalau begitu, kukira karena apa, tadinya akan digem pur. kcpalang biar semuanya ma ti, biar hancur semua prajurit. di ccritakan prajurit Madursan. 7 96. Tujuh ratus prajurit ya ng mati, ditam bah yang hangus badan- n ya. yang buta begitu j uga, yang sumbing p utus hidungnya, yang hidungn ya rusak, dicakar kucing, pipi bengkak, yang buta, yang matanya hilang scbelah. dipatuki Panji Layang. 79 7. T crlalu banyak bila ditulis, sekarang kita singka t, kini dice ri- ta kan, ya np ada di Pancaniti, yaitu raja Mulkiah, mengadakan ru ndingan, mengajak patih Durjaman, sekarang segera pimpin siarkan untuk helat. 79X. B c~ok kita selamatkan pernikallan, pengan tinnya sckalig us dua, nyi Lasmaya dan putri, Madursan harus, menikah kepada nyi lasmaya, kcdua Bidayasari. m enikah kepada putra ra tu. yang bernama Amarsakti, semuanya scgera uncla ng.
  3. Segcralah sekarang sebarkan uncl angan patih, besok jam de Ia- pan siang, kita helat diam-diam saja, tidak usah ramai-ramai, setelah bubar susah lagi, pesta m inum dan makan, kita ber- ~wmpu l bersama, undarig scnlU a yang ada, begitu saja raden patih, mundur patih Durjaman.

  4. Diceritakan esok harinya, sudah sedia makanan, sudah sedia dan beres, pukul delapan sudah tiba, penghulunya sudah datang, dengan para pengikutnya, khalifah sudah datang, yaitu untuk menyaksikan yang menikah, segeralah dilang- sungkan akad nikah.

  5. Yang pertama raja Madusari, yaitu kepada nyi Lasmaya, setelah beres, kemudian Bidayasatun, menikah pada Raden Amarsakti, lalu dilakukan lagi akad nikah, setelah itu, sudah selesai pengantin baru, yang lama yan)! baru demikian pula, sudah selesai lalu berdoa.
  6. Sarna-sarna mem baca amin, setelah selesai berdoa, lalu dilan- jutkan, makan bersama, makan lahap sekali, setelah makan-makan, kangjeng raja berkata, menghaturkan terima kasih pada semua, kepada semua yang hadir, kemudian bubar.

    ASMARANDANA

  7. Sekarang diceritakan lagi, sudah lulus yang menikah, pesta sudah selesai, hanya belum diangkat raja, sebab belum waktu- nya, sedang menanggapi ibu bapak, putra putri sama mulya.

  8. Pada suatu ketika, kangjeng prabu dari Madusari, akan kern- bali sedang berkumpul di mandapa, lalu menasehati putranya, raden ama akan pulang, sudah lam a meninggalkan negeri.
  9. Didu'akan siang malam, harus taat pada ibu bapak, raden harus telaten, itu hewan yang tiga, yang selalu membantu, Nyi Lasmaya berkata, engkau di sini dengan majikan.
  10. Tak ada yang membela, hanya Panca Panji dan Layang, kepada ibu juga telaten, sekarang ibu akan pulang, kalian harus rukun, jangan bertengkar, harus saling memaklumi.
  11. Panji Layang berkata sambil menangis, saung leutik pangjaga- an duh abdi kumaha bae, tarumpah dipepentulan, gamparan mulih ay euna, beas ngaprul dina ny iru, iraha panggih jeung agan.

8 08. Buntul jarum peujil samping, matak kelar pipikiran. rai bedil pondok pestol. lobar teuing rarasaan. ditinggalkeun ku du - nungan. ngan bati ngerera b jan tung, nalangsa jewzg Iaiii ball tJO lah.

GAMBUH

k 09. Dewi Lasmaya bcrkata, kepada Bidayasari menan tu. nyai ibu m a u pulan)!. didu'akan semoga mulus. d uduk d i dalam kc· ra ton.

H l 0. Turutilah naschat ibu. kcpada anak-anak yan!! tiga. haru:-. ber- bcla s kasih. ternan sepi di keraton. ana k-anak t ukan ~ hc r- guyon.

K 11. Panji Masang menycmbah dan berkata. tJi/cu/cuJ'all :;indu/, gay ung, 11\ 'Ur iwur batik deui. k endang didikiran m u /u d. 11giringmah sumuhun kodor.

8 12. Khawatir dari dulu. tuanj! muda tak ut marah, kalau ditinggal olehku. pastilah merasa piatu, tidak ada yang mengeong- ngeong.

8 13. Kata Tandran mengumpat, si kucing yang kurang ajar. mentang-mentang kamu kucing, suka ngomong tak karuan. bisanya hanya mengeong.

8 14. Panji Masang mcnjawab kccut. tidak seperti m o nyet buruk, engguk-enggukan ucapannya, kerjan ya mencuri pisang, kala u lari sambil berak.

  1. Kera tertawa terbahak, menghabiskan yang lain, apaka h ada monyet putih, Dewi Lasmaya berkata, sudahlah jangan tcrus hcr)!uyon. 8 16. Ka ta k ucing kenapa i bu, /auk kam ra dina baru. me/a /, eurilz di SGl1llli. melak k.apas jadi randu, ny ieun peso jadi bedog

~ 1 7. Bareru IIWii ngusu/i ibu. uyeunu 111alt ;mrra raflt. cnggus lwei- ra ka gw r i. !Hllt.mna tell 111 iii k lu! ndu. horeng It! II 1odo bureru.

81 8. Tertawa1ah petra ratu. 1aki pcrcmpuetn gcmuruh, kata Lasma- ya 1ya. dllah.-anak aku ~t h.hahilu- cong.

  1. Kangjcng raja sudah turun. putra putri sudah di clcpan. mc- nyedietkan <; cgala ~l'S LI J tu. mcnyiapkan unt uk kiriman. h. l· kcreta ~ udah naik. 8 ~0. Tiba eli babancung agung, parJ bangsawan scmua menghor- mat. bcgitu pula raj a Mulki. clengan istri salinl! merangh.ul. meng!!elegar meriam waktu duhu r. 8 ~ I. Di depan belakang ~e rdadu. tcro mpct ditiup. penghormatan raja Mulki. upacara ya ng di depan. yang bcran!! kat sudah pcrgi. 8~ 2. Tibanya ticlak diceritakan, sebagaimana layaknya ratu, rasa- nya tidak begitu penting, terlalu lama lagu gambuh, yang datang masuk ke gedung.