Baca PDF (OCR): Dharma sasana.tif

155 halaman · 155 halaman diproses dengan OCR· 207358 ms

Daftar isi
  1. DHARMA SASANA
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. L D t. ~A_J
  4. DHARMA SA ANA
  5. Sri Mintosih, BA.
  6. JENDER AL KEBUDAY AAN
  7. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  8. Jakarta, Agustus 1992
  9. Direktur Jenderal Kebudayaan
  10. ..... ..........
  11. ..............
  12. ... ..
  13. ...............
  14. 1.4 Ruang Lingkup
  15. 1.5 Metode Penelitian dan Pengkajian
  16. AKSARA NASKAH DH A RMA SASANA
  17. PUPU H IISMARANDANA
  18. PUPU H III SINOM
  19. PUPUH IV PUCUNG
  20. PUPUH V MIJIL
  21. KUMAMBANG
  22. PUPUH VII DANDANG
  23. PUPUH VIII PANGKUR
  24. PUPUHIX GAMBUH
  25. PUPUH X GIRISA
  26. PUPUH XI DURMA
  27. PUPU H xn JURU-DEMUNG
  28. PUPU H XIII MEGA TRUH
  29. PUPUH XIV DANDANG
  30. PUPU H XV PUCUNG
  31. PUPUH XVI DANDANG
  32. Katuturane kalintang lewih, kocap sane tan rnadaging cacad,
  33. PUPUH CVII PUCUNG
  34. PUPUH XIX PUCUNG
  35. panggawe ju ti, saturun arya damar.
  36. Sinom
  37. 1. Sinom seperti Kartasura, digunakan menjalin lagu, melan-
  38. jutkan cerita tersebut, yang disebutkan dalam cerita, peri-
  39. Pupuh Pucung
  40. PUPUH VI KUMAMBANG
  41. PUPUH VII DANDANG
  42. PUPU H VIII PANGKUR
  43. PUPUH IX GAMBUH
  44. PUPUH XI DURMA
  45. PUPU H XII JURU DEMUNG
  46. PUPU H XIII MEGATRUH
  47. PUPUH XIV DANDANG
  48. PUPUH XV PUCUNG
  49. PUPUH XVI DANDANG
  50. PUPUH xvn PUCUNG
  51. PUPUH XIX PUCUNG
  52. PUPUH XX DANDANG
  53. (Bhagawad Gita XVI, syair 2)
  54. I) rupa, yaitu kemampuan pengamatan yang cermat me-
  55. "Dewa Ciwa" be rad a. •
  56. '' ... yan raksasa prakreti dusta ya tu tunamwa,
  57. cootoh kalimat sebagai berikut.
  58. Maksudnya :
  59. membunuh bayi-bayi perempuan pada orang-orang Toda mau-
  60. Maksudnya :
  61. Cukup banyak contoh ungkapan rasa bakti terhadap orang-
  62. 5 .1 Arah Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan
  63. Peranan Nilai "Dharma Sasana"
  64. Nilai Kepemimpinan
  65. Pengguguran Kandungan
  66. Saran-saran
  67. -------1972. Beberapa Pokok 4ntropologi Sosial. Ja-
  68. -------. 1986. Bahan Penataran dan Bahan Referensi Pe-
  69. Um u r

DHARMA SASANA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Milik Depdikbud Tidak diperdagangkan

L D t. ~A_J

DHARMA SA ANA

OLEH :

Drs. I Gusti Ketu t Gede Arsana Drs. Ida Bagus Made Suasta Ors. Ida Bagus Mayun

Editor :

Kencana Sem biring

DEPAR T EM EN PENDI DIKAN DAN K EBUDAYAAN DIREKTO RAT JENDER AL KE BUDAYAAN DI REKTORAT SEJARA H DAN N ILAI TRADI SION AL BAGIAN PRO Y EK PENE LITI AN DAN PE NGKAJI AN K EB UDAYAAN NUSA NTARA TAHUN 1992 I 1993

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat J enderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah la- ma di antaranya naskah kuno Bali yang berjudul, Dharma Sasana isinya tentang etika kehidupan kemasyarakatan yang berpedom- an pada ajaran agama Hindu memuat tuntunan kehidupan yang luhur.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai kepemimpinan, nilai pengendalian diri dan nilai tata susila yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spiri- tuil. Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang d1sampaikan akan kami terima dengan senang hati.

Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbang- an yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.

iii

cf/;~14

Sri Mintosih, BA.

NIP. 130 358 045

iv

JENDER AL KEBUDAY AAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) ·merupakan si kap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa Keterbukaan sedemi- kian itu akan membru:itu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan s1kap etnosen tris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yan g ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sumbangannya dalam pembinaan persatuan dan ·· kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengerti- an dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat ma- jemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program. antara lain dengan menerbitkan buku-b uku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Ba- gian Proyek Penelitian dan Pengkajian Ke budayaan Nusantara. Mengingat arti pen tingnya usaha terse but, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Dharma Sasana.

v

mengharapkan dengan terbitnya buku ini, maka peng- galian nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkat- kan sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.

Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal, dan ada ke- mungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharap- kan Ila! ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang teru tarn a yang berkaitan den gan teknik pen gkajian dan peng- u ngkapannya. Akhirnya saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.

Jakarta, Agustus 1992

Direktur Jenderal Kebudayaan

Ors. GBPH. Poeger NIP. 130 204 562

vi

ISi Halaman

..... ..........

K ATA P E NGANTAR ............. iii
SAMBUT A N DIREKTU R JENDE RAL K EBUDA Y AA . v
DAFT AR I SL...................... ............ vii
BAB I. .
.......................... 9
....... 9

N.
PENDAHU L U AN .........
..

I. I L a tar Belakang Masalah I
I. 2 Pokok Masalah
I. 3 Tujuan............... 7
1. 4 R uang Lingkup.........
I. 5 Met ode Penelitian dan Pen gkajian
I. 6 Pe rtanggungjawa ban Penulisan.......... I I
A K SARA SA-
SANA.... 13
ALIH BA HASA DH ARMA SA 5A NA........ 38
66
84
94

.......5

NASKAH

BA B IL A LlH DHARMA
BA B II I. BA B IV. N ILA I DHA RMA SASANA.. 4. 1 Ni lai Ke pemimpinan. 4. 3 Ni lai Ta ta Susila 4. 2 Nilai Pengendalian Diri ...... ..............
vii

..............

... ..

...............

KATA PENGANTAR. iii
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN .
DAFTAR ISI. . BAB I. vii

V. RELEV ANSI DAN PERANAN NILAI "DHARMA SASANA" DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDA Y AAN NASI(}
NAL ................................. 122

5.1 Arah Pembinaan dan Pengembangan Ke- budayaan.......................... 122
5. 2 Relevansi dan Peranan Nilai "Dharma Sasana"........................... 125
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN...... 139

KEPUSTAKAAN....................... 142 DAFTAR INFORMAN.................. 145

viii

|KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN .|139|

PENDAHULUAN

I. I La tar Belakang Masalah Perhatian mengenai hubungan karyJ sas tra dengan nilai yang berlaku di dalam masyarakat ct kup banyak menjadi perhatian para ilmuwan khususnya mereka yang menaruh perhatian te rhadap sosiologi sastra. Dalam lal ini Supardi Djoko Damone ( 1978: 1) mengkonfirmasi hubu ngan tersebut. Karya sastra diciptakan ol eh sastrawan untuk dinikma ti, dipahami, dan di manfaatkan ol ~h masyarakat. Sastrawan se bagai pencipta adalah anggota masyarakat. Ia terikat oleh status sosial tertentu, sedangkan sastra pada hakikatnya adalah lembaga sa;ial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa itu sendiri adalah ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan. dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Dalam pengertian ini kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dengan seseorang, antarmanusia, dan antarperis- tiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimana- pun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hltin seseorang yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Norma maupun nilai pada hakikatnya tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya juga sastra diciptakan

Oleh karenanya, dalam cakupan yang lebih luas yang m ensarikan aspek sosio-kultural nilai 1 merupakan pedoman tertinggi bagi sistem prilaku manusia (Koentjaraningrat, 1980:25). Mengingat bahwa nilai tersebut merupakan pedoman tertinggi bagi prilaku manusia di dalam lingkungan ke budaya- annya, maka nilai yang termuat dalam sastra biasanya terdirt atas ungkapan perasaan serta kesa daran yang penuh dari pen- ciptanya. la diciptakan bukan hanya sekadar untuk menghibur semata-mata melainkan lebih jauh dari itu, yaitu upaya trans- forma tif. Hal ini juga pernah ditegaskan oleh Suharianto (1982 :

18) ketika mencoba menelusuri perjalanan karya sastra tersebut. Demikian juga Suyitno (1986: 3) mensinyalir bahwa tercipta- nya karya sastra tidak semata-mata sebagai dorongan hasrat keindahan, melainkan juga sebagai hasrat menyampaikan pikiran-pikiran, pendapat-pendapat dan perasaa n sesuatu. 1 Soerjono Soekanto, dalam karyanya berjudul Beberapa Teori Sosio/ogi tentang Sm1ktur Masyarakat. Jakarta : CV. Rajawali, 1983:55, memandang penting- nya sistem nilai tersebut bagi pergaulan hidup manusia. Hal itu disebabkan oleh:
(a) nilai meru pakan abstraksi dari pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, (b) nilai-nilai tersebut senantiasa diisi dan bersifat dinamis, dan (c) nilai-nilai merupakan kriteria untuk memilih tujuan hidup, yang terwujud dalam perikelakuan.

"Dharma Sasana" yang hidup di Bali seperti halnya juga karya-karya sastra lainnya pada dasarnya bukan semata-mata bersifat susastra (belles letteres) seperti ditegas- kan ol eh Suastika (1985: I) karena di dalamnya senantiasa juga mencakup aspek kepercayaan, adat-istiadat, ritual, tuntunan etika, maupun aspek kehidupan sosial -budaya lainnya secara luas. Dalam masyarakat Bali tradisional hubungan antara sastra dengan agama Hindunya hampir tidak bt sa dipisahkan. Sastra biasanya dimanfaatkan sebagai medi a agama ol eh karena itu keduanya mempunyai persamaan yang fundamental, yaitu nilai- nil ai perasaan yang luhur, alam metafisis yang seringkali men- jiwai keduanya secara serempak (E ddy, 19 79 : 19). Walaupun "Dharma Sasana" banyak memuat etika agama Hindu namun dalam pengklasifikasiannya tidak termasuk golongan smerti agama. 1 Smerti dapat ch golongkan menjadi 2 (dua) bagi an pokok, antara lain :

1) gol ongan agama smerti terdiri atas :
(a) su tra (dalam bentuk puisi) misalnya:
(1) Dharma sutra,
(2) Brahma sutra,
(3) kalpa sutra,
(b) sas tra (dalam bentuk prosa), misalnya:
(I) Dharma sastra,
(2) Niti sastra,
(3) epik/i tihasa (Mahabharata dan Ramayana);
2) golongan bu kan agama, terdiri atas :
(a) purana (cerita sejarah agama zaman purba,
(b) babad (silsilah leluhur ), Georga Santayana seorang filoso f. novelis dan pe nyair Amerika membuat ru-
musan tafsir yang agak ekstrirn yaitu dikatakan bahwa sastra adalah semacam agama dalam bentuk yang tidak jela s, tanpa memberi petunjuk tentang tingkah laku yang harus diperbuat oleh pembacanya dan tanpa ekspresi ritus (Jakob Sumardjo, 1986 :3).

"Dharma Sasana" berbentuk puisi Bali tradisional yaitu geguritan yang ditulis dengan huruf Bali dengan menggunakan bahasa Bali Kapara dan bahasa Jawa Kuna yang dirangkai dengan menggunakan beberapa pupuh seperti: pupuh Ginanti, Semarandana, Sinom, Pucung, Mijil, Kumam- bang, Dandang, Girisa, Durma, Juru Demung, Megatruh.

Naskah geguritan "Dharma Sasana" selesai ditulis pada tahun 1825 C (l 903 M). Hal ini dapat ditemukan pada lontar- nya adalah 14 lembar, dengan ukuran panjang 51 ,5 cm, lebar 3,5 cm. Lontar ini ditulis empat baris setiap halaman sehingga satu lembar lontar bolak-oolik berisi delapan baris, hanya saja l em bar terakhimya terdiri a tas tiga baris. Warna tulisanny a adalah hitam dengan menggunakan bahan penghitam seperti arang kemiri.

Naskah lontar "Dharma Sasana" disimpan di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, jalan Ni as 13 Sanglah Denpasar, Bali. Lon tar ini di beli di Singaraja seki tar bulan Februari 1981 yang pada mulanya milik I Gusti Putu Jelantik. Sampai saat ini masih disimpan pada sebuah keropak yang belum berisi nomor bersama-sama dengan naskah-naskah lainnya seperti: "Gita Sancaya", "Sewa dharma", "Ratna wiwarjja", "Niti Raja Sasana", "Hradaya Sastra", "Cara Melayu", dan "Nengah Jimbaran". Turunan (salinan) dari lontar terse but pernah dilakukan oleh Gedong Kirtya Singaraja (Bali) dengan nomor lib. 764/3 dengan tanggal pengetikan 10-10-1975 atas nama penyalin/alih aksara I. K. Win di a. Nilai-nilai yang termuat sebagai materi utama dalam naskah tersebut adalah etika kehidupan kemasyarakatan yang banyak berpedoman pada ajaran agama Hindu.

" Dharma Sasana" meliputi nilai kepe- mimpinan, pengendalian diri, tata susila. dan sebagainya. lde- ide, gagasan-gagasan u tama tersebut pada hakikatnya mencakup konsep dasar mengenai kehidupan, yang dicita-citakan. Di dalamnya terkandung pikiran-pi ki ran terdalam mengenai tuntunan kehidupan manusia dalam masyarakat yang dipedcr mani oleh etika agama Hindu. Tuntunan hidup ke masyarakatan yang terkandung dal am " Dharma Sasana' meliputi konsep dasar mengenai apa yang sebaiknya dilakukan dan sebaliknya apa pula yang seharusnya tidak dilakukan. Mengingat "Dhanna Sasana" banyak memuat t untunan ke- hid upan yang luhur, maka penelitian, ahh aksara, alih bahasa. kajian nilai naskah tersebut dipandang sangat penting. Di sam- ping bennanfaat bagi media informasi dalam memupuk saling pengertian di antara suku bangsa di tanah air, kegiatan ini juga penting bagi us aha penangkal dampak ntgatif dari pengadopsi- an teknologi dan ilmu pengetahuan modem. Hal ini sekaligus berarti bahwa pembangunan manusia Indonesia se utuhnya yang menitikberatkan pada adanya keserastan dan keseimbangan lahir dan batin dapaf diwujudkan. Pengkajian dari naskah kuno terse but juga terkait dengan adanya upaya pelestarian keberada- an nya khususnya dalam pembangunan bidang kebudayaan.

1.2 Pokok Masalah Sementara kebudayaan daerah dar kebudayaan nasional tidak lagi menjadi masalah mendasar
1 ( antara lain karena yang satu dianggap sumber daya untuk yang lain). Namun sekarang bagaimana mengembangkan peranan similaritas dan diversitas- nya dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan; masih

1 Sejak diikhtiarkannya mengenai konsensus nasional mengenai "Kebudayaan Nasional Indonesia dan bahkan telah mendapat legitimasi dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 32) bahwa kebudayaan nasional Indonesia adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah (asli maupun yang baru) yang bermuarakan dari kepribad~ an bangsa Indonesia.

Untuk menghubungkan dan mengembangkan relasi antar-kebudayaan tersebut (daerah, nasional dan asing) sesuai dengan cita-cita yang berasaskan kepribadian bangsa yang bertujuan membentuk dan membina "manusia Indonesia seutuhnya" maka peranan "Nilai budaya daerah " mutlak tetap diletakkan sebagai sentrum. Jika dikaitkan dengan asas " Trikon " 1 sebagai dasar aj aran Ki Hajar Dewantara maka nilai budaya daerah di Indonesia menempati posisi inti (sentrum) dan secara konsentris menjadi pemandu dalam seluruh proses pembinaan dan pengem- bangan kebudayaan nasional. Persoalan yang harus dijawab da-Jam ha! ini adalah inventarisasi dan dokumentasi sebanyak mungkin nilai-nilai kebudayaan daerah yang benar-benar meme- nuhi syarat sebagai puncak-puncak kebudayaan. Selanjutnya adalah persoalan mengenai upaya mengomunikasikannya ke dalam masyarakat yang Jebih luas. Persoalan inventarisasi dan dokumentasi tampaknya sudah banyak teratasi sekalipun upaya-upaya lebih Janjut masih terus dilakukan. Namun masalah lain yang memerlukan perhatian yang lebih khusus yaitu upaya memperkenalkan sentrum-sentrum lokal itu ke ruang lingkup nasional. Problemanya terletak pada hakikat yang ada pada sentrum-sentrum kebudayaan itu sendiri. Dalam mengomunikasi- kan antar sentrum kebudayaan akan dihadapkan kepada adanya unsur-unsur kebudayaan yang menekankan diversitasnya, bah- kan singularitasnya tetapi ada pula unsur-unsur yang menunjuk

2Konsep kebudayaan umat manusia atau kebudayaan dunia diambil dari buku

S. Takdir Alisjahbana : Socio-Cultural Creativity in the Converging and Restructuring Process of the New Emerging Word. Jakarta : Dian Rakyat, 1983:91 -92. Sebelum- nya juga pernah dikutip oleh lgnas Kleden dalam bukunya : Sikap flmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES, 19 87: 16 1. Asas " Tri-kon " yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara terdiri atas paham- paham: konsentrisitas, kontinuitas, dan konvergeasi. Pembahasan mengenai gagasan ini pernah dilakukan oleh Daoed Joesoef: "Ki Hajar Dewantara & Kebudayaan Nasional", dalam seri karangan di Sinar Harapan. Jakarta, 25 -27 Februari 1985.

Contoh untuk hal ini misalnya dalam mengkaj1 naskah " lontar Bali" yang cenderung bersifat unicum. Aksara yang digunakan dalam lontar tradisional adalah aksara Bali, dan bahasanya adalah bahasa Bali Kapara/ Kawi atau Jawa Kuno Demikian kandungan nilai yang ada di dalamnya cenderung navestistik si fatnya dan dituangkan melalui imajinasi yang se ringkali bersifat fiktif. Jika dikaitkan dengan " Trikon " kedua yaitu kontin uitas dari nilai itu sendiri. Apakah nilai yang terkandung di dalamnya ma- sih dapat dikonsumsi dewas a sekarang d an di masa mendatang? Selanjutnya apakah dapat konvergensi un tuk mengikuti gerak kebudayaan yang mengacu kepada kebudayaan dunia?

Berdasarkan uraian di atas ad a beberapa masalah pokok yang ingin dipecahkan dalam kaj ian ini, yaitu :

l) ingin mengalih aksarakan naskah lontar " Dharma Sasana", dari pemakaian huruf Bali ke dalam h uruf Latin;
2) in gin mengalihbahasakannya ke d al am bahasa Indonesia;
3) nilai-ni lai kehidupan kemasyarakatan apakah yang ditandas- kan dalam naskah tersebut?
4) bagaimana relevansinya dengan pem binaan dan pengembangan kebudayaan nasional?
1.3 Tujuan Sebagai bagian dari sastra Bali. naskah " Dharma Sasana '' me ru pakan wahana bagi tersimpannya nil ai-nil ai budaya luhur dalam kehidupan masyarakat Bali. De ngan demikian, kajian nas kah ''Dhamrn Sasana" bermaksud menginformasikan haki- katnya ke pada masyarakat secara lebih luas. T ujuan tersebut sekaligus mempunyai relevansi teoretis yang di dalamnya men- cakup pembinaan, pengembangan, pewarisan dan pelestarian

" Dharma Sasana ") semula hanya cen- derung mengandung fenomena yang sangat lugas, penuh imagi- natif dan bersifat fiktif maka melalui kajian ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi lebih realistis. Dengan demikian, diharapkan dapat berperan lebih luas sebagai misi pelayan- an informatif. Untuk mengembangkan fungsi dan peranannya langkah-langkah pemecahan masalah seperti telah disebutkan di atas dirasakan sangat penting. Dengan demikian, bertolak dari masalah yang ada, kajian ini mencakup tujuan teknis aplikatif yakni :

1) Penyelamatan dari kemungkinan rusak atau musnahnya naskah kuno tersebut. Hal ini didasarkan atas pemikiran ba11wa naskah kuno itu terbuat da1i daun Ion tar dan jarang sekali ada copynya. Untuk itu perlu ada upaya pencetakan (dalam bentuk kertas) dengan jumlah yang cukup.
2) Terkait dengan tujuan di atas, upaya pencetakannya ke dalam bentuk kertas dengan omset yang lebih banyak juga ber- tujuan memperluas jangkauan persebarannya.
3) Mengingat semakin terbatasnya kalangan masyarakat yang dapat menulis, membaca dan juga memahami isi naskah kuno tersebut maka langkah-langkah alih aksara, alih baha- sa, kajian nilai dan mengaitkan dengan relevansi pembinaan kebudayaan di masa kini dan mendatang dapat lebih terko- munikasi secara lebih luas.

"Dhanna Sasana" yaitu terutama nila1-nilai kepemimpinan, penge ndalian diri. tata susil a, dan lam sebagainya, adanya penge rtian dan pemahamannya diharapkan dapat menun- tun prilaku dalam kehidupan, baik dalam ruang lingkup terbatas maupun dalarn ruang lingkup yang tidak terbatas. Di dalamnya mencakup tuntunan p 'llak u bennasyarakat. berbangsa dan bernegara serta dalam pergaulan in temasio- nal. Le bih jauh Jagi menurut konseps1 keyakinan diharapkan juga dapat menjadi bagian iman yang mem bekali ma- nusia pada saat akhir hayatnya.

1.4 Ruang Lingkup

Sesuai dengan maksud dan tujuan yang telah diuraikan di atas, ruang lingkup kajian naskah "Dhanna Sasana" saat ini meliputi :

I) alih aksara naskah lontar asli yang diberi judul " Dhanna Sasana'" dari tulisan/aksara Bali yang j umlah lembar lontar- nya 14 lembar ke dalam aksara Latin;
2) alih bahasa dari bahasa Bali Kapara dan Jawa Kuno ke da-Jam bahasa Indonesia;
3) ru ang lingkup materi yang dianalisis dalam kajian ini meliputi nilai-nilai utama yang di tandaskan dalam naskah "Dharma Sasana " yaitu meliputi : nilai -nilai kepemimpinan, pengendalian di ri dan tata susila. Selanjutnya dikaitkan dengan peranannya dalam pembinaan dan pembangunan kebudayaan nasional.

1.5 Metode Penelitian dan Pengkajian

Metode penelitian yang digunakan d1 sini terutama adalah berdasarkan pengumpulan data yang lazim digunakan dalam langkah-langkah filologis. Langkah ini j uga dibantu dengan teknik transliterasi dan terjemahan.

I) tahap mencari naskah. Pusat-pusat kegiatan ini terutama adalah riset kepustakaan khususnya perpustakaan lontar yang ada di beberapa wilayah di Bali seperti: Gedong Kirtya di Singaraja, Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universi- tas Udayana, Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Museum Bali, dan tempat-tempat lainnya seperti beberapa kolektor lontar yang tersebar di sekitar Bali;
2) tahap pemilihan naskah. Terkumpulnya sejumlah naskah dari hasil kegiatan pertama selanjutnya dilakukan pemilihan naskah. Tahap ini dilakukan berdasarkan atas beberapa ketentuan seperti : pemilihan naskah menurut keaslian, umur, dan juga materi. Ketentuan keaslianl}ya didasarkan pada persyaratan seperti: belum pe mah dianalisis, dan belum disadur/disalin. Umur naskah lebih dari 50 tahun dan masih utuh. Materi mengandung nilai yang dipandang dapat ber- manfaat secara luas dalam masyarakat;
3) tahap alih aksara. Aksara yang digunakan naskah " Dhamrn Sasana" adala11 aksara Bali dan selanjutnya dialihkan ke dalam aksara Latin;
4) tahap alih bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali Kapara dan Jawa Kuna dan selanjutnya dialihkan ke dalam bahasa Indonesia. Kegiatan tahap ketiga dan keem- pat ini diupayakan seteliti mungkin sesuai dengan kaidah- kaidah yang berlaku dalam metode transliterasi pada umum- nya. Sesungguhnya istilah transliterasi mengandung penger- tian penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf. dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Pedoman transliterasi dari aksara Bali ke aksara Latin telah ada dalam buku yang berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Daerah Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali " karangan I Nengah Tinggen (1971 ), nanrnn pedoman ini kurang praktis dalam penerapannya. karena banyak menggunakan tanda diakritik. Keadaan ini

Yang Disempumakan. Berdasarkan uraian inilah, maka dalam transliterasi (alih aksara) geguntan "Dharma Sasana" ke dalam huruf Latin disesuaikan dengan naskah aslinya. Dengan penyajian seperti ini diharapkan tujuan kajian dapat diwujudkan, karena teks disajikan secara utuh. Dalam hal ini diusahakan ciri-ciri teks aslinya dan penafsiran yang ber- tanggung jawab dapat mempermudah pemahaman terhadap te ks dengan tetap berpedoman pada sistem ejaan bahasa Bali yang disempurnakan;

5) tahap analisis isi terutama digunakan melalui content ana- lysis. Langkah ini meliputi upaya 1 ienginduksi, merumus- kan. dan menganalisis. Pada tahap terakhir ini juga dibantu oleh metode pustaka terutama sebagai referensi dalam analisis sesuai dengan ketentuan penulisan ilmiah;
6) un tuk mendapatkan beberapa keterangan lisan yang me- nyangk ut isi naskah juga dilakukan melalui wawancara ter- ut ama kepada para fakar yang d1anggap menguasainya.
1.6 Pe rtanggungjawaban Penulisan Pada dasarnya seluruh tahapan kegia tan penulisan ini di- laksanakan secara serempak oleh personalia tim. Narnun meng- ingat sifat penulisan ini adalah in terdis1pliner maka rangkaian kegiatan penulisan ini juga digarap sesuai dengan bidang ilmu yang relevan. K ~gia tan alih aksara dan alih bahasJ dilakukan oleh personalia yang memiliki latar belakang dis1p li11 bahasa dan sastra daerah. sedangkan kajian nilai. anaJisis dan kaitannya dengan pe mbi naan serta pengembangan kebudayaan nasional digarap oleh personalia yang memiliki latar belakang disiplin ilmu-ilmu sosial (dalam haJ ini Antropologi). Mengi ngat naskah lontar " Dharma Sasana" (aslinya) sudah pemah dialihaksarakan oleh pihak Gedong Kirtya Singaraja, dan sesuai dengan penerapan metode fi lologis, maka naskah

bahkan persis sama.

Karena penulisan ini banyak memerlukan infonnasi lisan maka langkah-langkah tersebut dilakukan melalui konsultasi dengan beberapa fakar di bidang itu. Dalam hal ini diperlukan infom1asi da1i para· kolektor lontar. fakar yang ditugaskan me- nangani perpustakaan lontar seperti staf Gedong Kirtya singa- raja. staf Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Uda- yana Denpasar. dan lain-lain.

AKSARA NASKAH DH A RMA SASANA

PUPUH I GINANTI

lb. I. Gi rang milu ngawe kidung. manga rang sekar Ginanti. na- ngi ng cara Kartasura, wiraose cara Bali. cara Bali alus- kas ar, sawupan madukan kedik.

  1. Basa cara Jawa Melayu. sara sang mawos ngicain, nanging sampun banget duka. kawi ti was ngipil-ipil, durung cacep mamantesang, genah basa manut dong ding.
  2. Kocape wirasan tutur, ngetus ring Pasrada-niti, gebogan Cantaka-prawa. sat anggon pangeli ng-eling. ulahing sang sinewaka, tembangang dadosang gending.
  3. Nurut ina dagingipun. bilih wenten saru kedik, mangde sang baos mburuang, tetampene mangde becik, kocape brata nembelas, anggon-anggon sang siniw1.
  4. Gi ri-brata yang kasatu, Indra-brata kaping kalih, tiga Mreta- warsa-brata, papat Yama-brata lewih, kalimane Gnibrata, kaping nem Lawana-brati.
  5. Mrega-brata kaping pi tu, ping kutus Si nga-brateki, ping sia Anila-brata, Sata-brata kaping das1. ping solas Mayurabrata. roras Cantaka-brateki.

  6. Mreta-warsa-brata iku, amreta toyaraneki, tan pegat nguni- ngi wadwa, warsa ujan artineki, tingkahe niwakang dana, den watra aja mapilih.

  7. Yam a-brat a tingkahipun, yen midanda tan papilih, tu tujone asing salah, yan sampun maserah ring wengi, undangen pituturana, dandane tulakang malih.
    2b. l 2. Gni-brata tingkahipun, maniru kramaning geni, gelise ne- lasang angkrah, sampun palen-palen ugi, tingkahe ngrusak durjana, sampun ngantos lama-lami.

  8. Lawana bratanipun, lawana yaktine pasih, yen wonten si- siping wadwa, ne mungguh akedik-kedik, den arnot dudun ing wadwa, sampurane kadi pasih.

  9. Mrega-brata tingkahipun, ring sadarben wadwa sami, kadi buron ngeton janma, den eling maring Hyang Widi, aj angga- we wadwa susah, becik ngicen ring ngambilin.
  10. Singa-brata wastanipun, pangraksane ring negari, kadi si- ngangraksa alas, reh raksa-rumaksa kalih, Ratu rajeg saking wadwa, wadwa kreta saking gusti.
  11. Anila brataranipun, anila punika angin, yan amagut satru mara, gelise den kadi angin, aja kari taha-taha, patiurip saking Widi.
    3a. l 7. Satu-brata tingkahipun, sata ayam yaktineki, tingkah solahe ring wadwa, tingkah solahe ring rabi, punika den kadi ayam, samian kapadaning sih.

sling wad-da, itu Raja akal tinggi.

  1. Kaganila-brata iku, kaga-nila gagak paksi, yan niwakang dosa pejah, maumang Punggawa sami, yan paten matut durusang, yan durung j antosang ugi. 2 1. Wyagra-brata wastanipun, wyagra macan yaktineki, yan tan olih durung mara, ring Ratune sampun lewih, yan durung keraos sida, durung patut kamarganin.
  2. Cundaga-bratanipun, cundaga lutung sayekti, irengan yan Bali pisan, mamilih pangan ne suci matutang linggih dan solah, sampun cara o rang tani.
    3b. 23. Walesa-brataranipun, walesa kaluang sayakti, yen durung bisamet pangan, anake tan den lum barin, punika yen karya sarat, sampun ngutus wong tan uning.

. 24. San1p un tamat tindihipun, bratane sasiki-siki, sane pasal ping nem belas. yan samp un dados mamargi, lulut kang wadwa samian, desa-desa kreta sami.

PUPU H IISMARANDANA

l. Smarandananggen nyalinin. masih Cdra Surakarta, yen cara Bali beyeye, ninggarang ikete rusak saking pangaban tem- bang, yan tembangang Jawa saru, matah sigug dadi antar. ' Malih kawitang mangurit, ngetus canta utama, saking tutur pinangkane, kocape wiwinin manah. ne mentik karahayuan, nesampun ngasorang satru. satrune nenem ring manah.
3. P unika patut karyanin, yadian sarupa sajanma, tan bina un- te ng manahe, pada nganggo Widi tunggal. ne sajati ninnala, ring Ratu Pandita patuh, sinadian ring wong sabarang.

man~h sajati, panjang yan sami tuturang, akedik yan ringkes bongkos, yan jujuh sayan ngejohang, yan pan- deng sayan ilang, yan game! sayan ngaruwung, yan sebetang sayan susah.

  1. Yan kangenang say an sedih, yan jejehang say an maras, yan tambetang sayan belog, yan lilayang sayan puma, baniyang sayan antar, yan langgengang sayan kukuh, yen hlasang sayan galang.
  2. Malih walinin milangin, satrune nenem ring raga, ne sai ngamprag manogdod, mamurung sadya utama, ne nuduh kasangsaran, sane mawasta Sadripu, punika musuh sanyata.
    4b. 9. Alasya wau sasiki, kalih nidra tiga bay a, ri kaping empat tresnane, ping lima punika raga, pupute mawasta sad, dwesane kaping nem ipun, nanging kari basa lawas.

  3. Yan ring basa turah mangkin, lasya may us tuna manah, nidrane buat kalalen, bayane takut gringgingan. tresna bwat karaketan, ragane demen ulangun, dwesane buat elikan.

  4. Yen punika durung becik, tunggu-tungguane ring manah, yen teher iwang tetampen, makadi iwang trebakan, gelis ya matuptupan, pabalike dadi musuh, panglarage sami keras.
  5. Mangda pateh makasami, ring asikine matungkas, yekti ke- weh ngamel benteng, merangin yen kari taha, tatan ben- tenge bedah, yen sajati-jati purun, menang reh mula nem- purang.
  6. Punika pinehin sai, sampun salah reresepan, sami kutang

Panuj une mangden becik. pamukule sampun ngawag. reh satu akeh iribe, katah m usuh cara rowang, rowang mapinda- pinda, sasolahan cara mus uh, punika m angden waspada.

PUPU H III SINOM

l. Sin om cara Kartas ura, anggen masali tang gen ding, sam bung- an kanda punika., ne kocap wah u ring gurit. tingkahe anga- mong budi, yan wenten magatra tumbuh, mangden dasarin kedas. sarta alus Jurus ati, saking alus, Jurus mencarang petungan. Pangawase mangden terang. yen samp un narawang hening, hininge ne jati mulya, punika amongin sahi, cacepang ma- ngelingin. ande putih-putih liyu, samp unan kasamaran, yen samar tan w urung dadi. sasar-susur paling kadakep ban setan.
Sb. 3. Kahuningan ora gadwa, celange n gawasin gumi, ala-ayu nora samar, sarwa-sarwane ring gumi, pantesang mangden pasti. tut saking pantes dadi patut, saking patut nandanang. manyujuh manahe ening, saking hening, ngawe twang dadi celang.

  1. Saking celang mamantesang, punika ya bolak-balik, sajatine nemu-gelang, asing dalih kapituwi, dalihang kangin kangin, yen dalihang kawuh kawuh, dalihang cacad cacad, yan dalihang Jewih lewih, katempuhan, dalihang ne kaden melah.
  2. Yen jati melah karahayuan, yan tosmg ngadoang urip, yan buruk kirangan manah, ngaruruh ne mangden nyarik, reh tegehan ring langi t, abote pacang man ujuh, kranakeh gege- laran, manyedenang ngetut buri, bilih-bilih, ne nongos pacang ngeniyang.

PUPUH IV PUCUNG

l. Sekar pucung, pasaline masih nglan tur, tetembangan J awa, kocape ne munggueng gurit, masih nustus, katuturan satua la was.
2. Tan saking wruh, ngapus kidung tutur-tutur, boya saking ingan, praya ngrangsuk ring budi, sampurayang, ugi sang maos samian.
3. Wiwitipun, saking manah rangkung kolug, nyadia mangrenga yang, kojaran sastra sakedik, anggen tungtung, memerangin ati salah.
4. Susah ibuk, katindihin manah bingung, saking katambetan, metek bintange ring langit, bilih kangkat, polih mauncab amedang.
5. Sidamangguh, manah rahayu asemut, saking lintang Joba. dumadi terlalu miskin, bas tong ada, guna rahayu amatra.
6. Anggen sangu, padewek durungkapangguh, ne jati pagehang. dumadak ica Hyang Widi, negeri Badung, kaicenin karaha- yuan.

PUPUH V MIJIL

l. Panyambunge ring gending Pamijil, nutugang wiraos, nyari- tayang kojaran tuture, nanging tembang sami cari Jawi, kaon cara Bali, ring Pamijilipun. "' Inab-inab katah kang ngicain, gending rare ngangon, papan- tese Pamijil Baline, krana ngangge Mijil cara Jawi, mangde pantes kedik, reh ngunggahang tutur.
6b. 3. Mangde sampun sang maos nampenin, katarka geguyon. saantukan Pamijil tembange, bebakuhan boya Mijil gudig. Mijil nabuh sering, caritagung-agung.

  1. Kocap reke tuture puniki, ayu lintang kahot, saking ling Sang Pandita, ngunine, jati-jati tuhu sila-yukti, yogya tuten dening, sang misadya ayu.

I 0. T opeksane uninga ring becik, solah tmgkahing wong, mitu- turin i tambet-ayune, muditane kayun legeng budi, nora sakit ati. kawehin pitutur. I I. Sa malihe ne mawasta metri. tingkahe kabaos, mapitutur sabda rahayune, ring sasaman-saman ing urip, punika den eling, sang masadya ayu. J 2. Sakadidik indayang karyanin, ingan apatelon, aparampat sadadi-dadine, apadasan kanggiang ug1 riin, nanging prihang mal ih, sampun surud-surud.

  1. Sangh yang Dhanna punika pisinggih, iringang sapakon, sampun ngantos dadi patilare, re h H yang Dharma ri kalan ing Kali, kadi pyanak lanji. tan wenten mangaku.
    7b. J 4. Mi wah nora arsa mangakuin. lingi ng tutur kahot. saking Sa- racamwacaya linge, krana tatasang mangkin ngelingin, mangde sida keni, Sanghyang Dharma sungsung.

KUMAMBANG

  1. Ring Kumambang sambungang kandane malih, masih tembang Jawa, nadian cara Bali kengin, wireh tembang pada melah. Nging sampura antukan pada makedik. gelis matimbal- tim bal, mangde kehan ngangge gending. angge malajah ma tern bang.
  2. Sambungane tuture malih wiwitin, kandan Sanghyang Dharma, krana mangden sida keni, reh kocap ring Bhisma-parwa.
  3. Prabhu Kresna mambawosang duke nguni, ring Sang Aryar- juna, kawijayan kapanggihin, asingkahanan Hyang Dharma.
  4. Krana ruruh saratang mangden kapanggih, yuadin salah tunggal, anggen pangukuh ring ati, bagia yen keni samiyan.
  5. R eh adasa Hyang Dharma kojar ing Aji, ring Wrati-sasana, Dasadharma wastaneki, ne mangkin cacak tuturang.
    8a. 7. Dreti satu ksamane ring kaping kalih, dama kaping tiga. asteya kaping patneki, socane ring kaping lima.

  6. lndriyanigraha ring kaping nemneki, hrih kaping pituna, widya kaping kutus malih, satyane ring kaping sia.

  7. Akrodane punika puput ping dasi, malih pidartan, dretine ambeke hening, ksama madan kopasaman.
  8. Madan dama punika saktin ing budi, ne madan as teya, punika tan ati maling, tan cidra ring apa-apa.
  9. Soca ngaran camana bhasma senanadi, indriyanigraha, indri- yane mangde hretin, prih punika madan erang.
  10. Madan widya ne tatas weruh mangaji, ne mawasta satya, pi teher tan mi tya budi, akroda tan kenen g kroda.
  11. Nging punika tetanpene mangde becik, pastiang ngresepang, ne kanggo miwah ne tosing, kari katah paplutan.

PUPUH VII DANDANG

8b.1. Dandang-gula anggen matimbalin. m asih nglantur gending cara Jawa. sambungan kandan dhannane. lanturang tuturi- pun. kecape ring kojaran aji. maan kirt1 pandita. sang nyadia ngarajegang Sanghyang Dharrna, man gden kukuh ngardana H yang Dharma sahi, ring Asta pangredanan. Nora sida Sanghyang Dharma keni. yan tan sari-sa ri mangre- dan:.i. puniki pangredanane. akut us wilangipun. siki bakti ping kalih asih, ·kaping tiga gorawa ring kaping patipun. kawastanan mahardika, kaping lima sambega kaping nem malih. kawastanin malemba.

  1. Kaping pitu sanisnu puniki, pup ut ~ aping k utuse karuna, jumuang malih wilange. ne bakti was tanipun. budi weruh angalap-sor malih, asihe kawastanan tan kedeh tan kudu, manyaratang cecadangan. gorawane tan pati cacad-cacadin. ring wong dumadi jadma.
    9a. 4. Ne rna wasta mahardika malih, m anat galang tan pataleteh- an. ne mawasta sambegane, tan ngak u sarwa wastu, ne mawasta malem ba majjh, tan gila ngeton ala, tan girang ring luhung. sanisn une kawasta/-nan, tan mujiyang akeh tan ngawada ke dik, yan manggih sarwa-sarwa.

  2. K:.iruna tan masabdanglarani, kalan mg ngeton wong Iara ti"was. tambet pengkung sasolahe, -;ampun genep akutus, Astapangardanaraneki, pangredanan m g dharma, yan sam- pun karangsuk, punika ne karajegang, Sang Dharma ma- lingga ri jron ing ati, ngardiyang karahayuwan.

    PUPUH VIII PANGKUR

I. Salitang gen ding Pangkurang, masih nurut tatepak cara Jawi. yan lanturang masih Jiyu, kanda-kan dan ing dharma, bilih- bi lih satusan masewu-sewu, laksan rawuh rin g ketiyan, p unggalang ambil akedik.

PUPUHIX GAMBUH

  1. Salinin tembang Gambuh, gentling Jawi Bali basanipun, manuturang ne mawasta Astadewi, cacakanipun akutus, mamingungang manah belog.
  2. Jaya-sidi kasatu, catur-asihi ping kalihipun, kaping tigane mawasta Umadewi, camundi kaping patipun, makrodi ping lima reko.
  3. Nern Durga-dewi iku, tan sinine punika ping pitu, ring pu- pute kaping kutus kawilangin, wastane wigna kasebut, kang kinangken musuh abot.
  4. Wiwitin malih ngitung, jaya-sidi bisa sugih agung, pang- ucape aku sugih Jewih sakti, ngagu guna wangsa tuhur, na- nging pangangkene linyok.
  5. Lewih sakti tan tuhu, iku, tur tan asih ring jagat wong, boleh bilang sudah masuk jaya-sidi, catur-asini puniku, pratingkahe ne kabawos.
  6. Nggawe elik satuwuk, elikingjagat solah wong iku, tur capa-Ja ulahe ring bapa-bibi, nadyan ring sanaman ipun, ngunggu- lang degag kimaon.

Uma-dewine iku, solah tingkahe mangaku-aku, sampun mawak Hyang Suksma ring dalem ati, r ginggilang dewek satu- wuk, punika pamineh borok.

  1. Camundi wastanipun, pamanahan kabyaparan bingung, nora manut ring kautaman ing budi. pangucape sasar-susur, punika tan patut anggo.
  2. Makrodine puniku, barayegan manah sering besus, nora arsa atut ring wong lyan, malih, ngubuhm brangti satuuk, tan uning ring ati polos. I 0. Budine sandeh jambul, adat satata bnngat-bringut, nesahika kawastanin makrodi, ngicalang manah rahayu, ngalan- tangang manah belog.
    11. Ring Durga-dewi iku, ul ah tan nggawt jagat rahayu, demen fl etik maneluh miwah mandesti, tan waneh ngardi leletuh. punika setan mawak wong ( 11 ).
  3. T atsini wastan ipun, manah peteng kasamaran bingung, m uji-m uji wong dosa salah pangesti, sasabdane nora patut, ngampakang dadalan kotor. ( 12)
  4. Ne wigna was tan ipun, pratingkahe 11t mangingu turu, ulah dosa tan santosa ring wi yadi, punika genep akutus, ngang- krahin marga krahayon.

    PUPUH X GIRISA

  5. Salinin tembang Girisa, masih cara gending Jawa, kocap ne madan patita, pratingkahe dadi janma, kojaring Wreti-sasa- na, tingkahe majaju angan, punika patut elingang, mangde manut linging sastra.
    l la.2. Sampung ngangge ne patita. kojar ing sastra-utama, punika patut pagehang, ne mangkin cacak tuturang, kranane salah juangan, mangrabinin ibu salah, mangrabinin nini salah, nadian bibi miwah nyama.

nama, ento madan kaponakan. manyo- mahin mantu salah, nyuang tumin masih salah. sanadian manyuang ipah. manyuang somah i pa.man.

  1. Miwah nyuang rabin matua, rabin ing sapangalapan, nyuang warang masih salah, miwah ngalancubin matwa. yadian somah kaponakan, nyuang somah man tu salah, miwah nyuang somah nyama, punika sami patita.
  2. Miwah ne madan brahmatya, tunggil ring sane brunaha. mateni rare ring basang, nanging Brahmatyane kalah, bru- nana wantah sanunggal, ne mangkin rnalih lanturang, krarna- ne madan Brahmatya, punika dahat naraka.
    11b.6. Ngamatiang rare Brahmatya, sanadian istri-utarna, miwah mateni belingan, mateni lembu sakandang, mejah brahrnani brahmana, miwah nyedayang pandita, rniwah wiku watek puja, nyedayang ratu malinya.

  3. Punika sarnpun nglaliang, reh kalintang ageng pisan, naraka- ne kang Brahrnatya, manda ring sipat manusa, Sanghyang Indra rnasih naraka, ngamargiang ulah Brahmatya. kocap ring Anggasti-prawa, baos Bhagawan Anggira.

    PUPUH XI DURMA

  4. Pasaline masih Jawi tern bang Durma, nglanturang tutur ling- ing, Barati-sasana, tingkahe salah buat, ne madan Sadatatayi, nenem kawilang, ulahe rangkung sisip.

  5. Kapisane ulahe neluh rnangleyak, mangawe sarang gumi, ring kaping kaliha, tingkah becik mangupas, kaping tigane samalih, ne ngarnuk ngawag, makrana salah-pati.
  6. Kaping pate ne murugul ngguragada, lebih-lebihing sisip, sane kaping lima, jadmane nunjel umah, saking laksana tan yukti, makrana corah, miwah makrana maling.
    I 2a. 4. Kaping neme misunaken Prabhu ika, mawasta sad tatayi, dosa lintang sarat, ring sakala-niskala, punika regeding gumi, kawah majalan, id up sami ring anjing.

steya. masih cacakan sisip. ulahing sajadma, tan wenten patut t ulad, mangden doh ring kahyun sami, ulah punika. yen mrihang manah suci.

PUPU H xn JURU-DEMUNG

  1. Sampun nyandang pasalinang, am btlang ka Juru-demung tatembangan Jawa ng]antur, manuturang tingkah steya. ulah jadmane tan sad u, tunggile rin g As tad us ta. mangguh ring Agama Man u. Nanging asia kawilang. mawak malin g yang kasa tu. manayab ping kalihipun. mangutile kapin g tlga, mlagandang kaping patipun, mangentale kaping lima. ri ng kaping neme anum- p ung.
  2. Pitune mungpung strin ing ljan, mbaranang ring kaping ku- tus, al wan kaping sianipun, ne alwan to kawastanan, ng)ak-sanayang krama jaruh, mal Jemes wang tingkah, samian steya puniku.

    PUPU H XIII MEGA TRUH

  3. Pasalitang t ungkapang tembang Megatruh, nglantur san1i gending Jawi, solah manahe tan pat ut. akan yan cacakang sami, mungguh ring tuture kahot.

  4. Wireh bas kalamian jagate puput, pakardin Ida H yang Widhi, krana katah sastra t utur, mabacak ne ala-becik, yen kumpul bilih agedong.
  5. Nanging becik yen samian sampun pangguh, punika galih- galihin, tatasang nampi ring kahy un akeh dora akeh yakti. makrana saking pangraos.
  6. Katempuhan ngelingin ne jati patut. reh tan wenten dados gisi, sekenang suratang paku, yen sampun swatahe keni, bilih-bilih usan k umor.

Yan tan pateh boya ndugi dados patuh, kadi ngawijilang napi, yan tan mula nyimpen dumun, punika durung sajati, wen tene kewala ba.

PUPUH XIV DANDANG

I. Pasaline malih Dandang-gendis, sarwi anggen painget matem- bang, tetabuh gending Jawane, miwah papatutipun, nanging keni wau akidik, kalian durung sinah, patute manyukup, po- lihe nuptup-nuptupang, ri kalane antara inget ring gending, anggen ngingerang tern bang.
2. Dandang-gula tembang manyurarit, yan blegang t~buh cara Sola, banget begah banget, mapilih swara alus, miwah renge jejangkan Jawi, tan dadi mbakan asal, yen ngerengang em- buh, tembange maburacukan, turut pupuh pangagenge pa- tang siki, alitan malih papat.
3. Munyi tunggal samine du da ding, sayin cara iras gender wa- yang, Dandang-gula Pamijile, Asmarandana Pucung, Masku- mambang miwah Ginanti, sami madasar tunggal, kedik se- wosipun, samian ngidupang rengan, nadian ageng nadian alit manyurarit, masih munyi turut pat.
4. Yan ring Jayendriya sanget layin, krana bingung ngaresep, resepan, ngelingin pateh swarane, keh tungkas dawuh pupuh, kasaruwang pambero ngiring, andang-andangan sabda, yen sampun manyukup, tatekep miwah tatepak, twara am- bat manise yen Dandang-gendis, tembangan cara Sala.
5. Wiwit Sinom ring Girisa tunggil, wiwit Durma ring Megp- truh, tunggal, Gambuh Pangkur ndewek-

Bah tern bang gaglebugan, sayawining tern bang gede, akehan matah kaku, Smarandana patute tunggil, ring patut Dandang-g ula, yan Bali manabuh, ·cara tabuh babarongan, kurang raras pantese nagih cegirin, miwah cedugin kendang.

  1. Juru-demung yan kanggeang nyarik, ngambil sayih Ginanti nyumuang, wang, ring wus tampek pamadane, cara Pamijil patuh, sadian tern bang mula ring Bah kadi anggan ing wan- da, jinada panglipur, mawatek ing tembang nunggal, akeh dados tabuhin reng cara Jawi, nging kehan ngender wayang.

    PUPU H XV PUCUNG

l. Malih nyambung, pasaline tembang Pucung, ne mangkin liwatang, mingetang papatut ge nding, malih nyumu, ngetu- tang painge t manah.
2. Lintang tuyuh, abote karangkung-rangkung, dumadi ma.\1U- sa, yen durung madasar ening, jatan bingung, kene iwang keto salah.
3. Saminipun, kadi awak bonyo berung, .tan pakulit ninglas, jajerone paguraming, isi pelud, ngalenteng montal-ontalan.
4. Kija laku, nyingidang ngengkebang buruk, yan mangungsi galang, keni panes buka lantig, ngungsi singub, waya te ga- rang jagjagin.
5. Ngungsi semput, mirib bakal ul uh legu, ngisel ka langgatan, waya kasarap ban nyingnying, patituyud, reh katah ngadut sandeya.

JO. Awak milu, bisa tungkas dadi musuh, mamunduwang papa, sahi mangaruh-aruhin. kene temu, siguge ngempuwang ma- nah. 11. Dija ruruh, ne dadi tagihin tulung, sawat lebih sawat, liwat saru Jiwat singit, saking lac ur, katawengan katambetan.

  1. Deklak-dekluk, padewekan pati-ancuh, pati guragapan, ka- langkahan Jemah-latri, lengak-lenguk, menek langit tuun tan ah.
  2. Nglayang-nglayung, ngajap manggih rasa ayu, sakingkurang tyaga, ngecapang rasane pahit, krana tuyuh, sahi man an dang pangenan.

    PUPUH XVI DANDANG

I. Patimbale ngawali-walin, bolak-balik malih Dandang-gula, ngungguhang sedih manahe, yen lanturang mandudut, pedas katah manak penakit, pisan Jipur-lipurang, kocape ring tutur, punika anggen lalawat, bilih-bilih sida matanekan kidik, dados tamban kanerakan.
2. Ne kaprihang ring Sang Sadu sami, ndatan lian sarin ing ka- patian, pamoring Taya-suksmane, ring Mahapadma mung- guh, reh punika wiwitin sami, sami sadaging jagat, sami- saminipun, nadian P ancamahabuta, akasa teja bayu apah pritiwi, medal saking punika.

Dandang-bang- bungalan, ne sampun sinah jatine, tan saking katah angkuh, gepeh-gepu polah keh mijil, sami mapawanengan, kadados- anipun, putih barak biru samar, sawarnane watese kari ngi- wangin, ring ne mawasta nyata.

  1. Ande capung ngumbara ring langit yan matingkah ring tanah tan tanah, ring kayu boya kayune, ring batu boya batu, ring parigi boya parigi, ring apa boya apa, saru lebih saru, tingkah manone ring awak, sajatine ada matukul ring ati, mati tan tumut pejah.
  2. Panengeran sang polih sajati, lebih -lebih eweh mijatiang, boya saking kasaktiane, boya saking pangawruh, boya saking mamaling-maling, boya saking kadiran, boya saking purun, boya saking tan pasomah, boya saking nidayang makeh marabi, punika pingit pisan.
  3. Pawilangan trigana linewih, kari tin ggang yen pupuh punika, kari kumuran nyatane, madukan ala-ayu, dados nyasar dados menerin kari keh pasimpangan katah galang semput, ande kadi ngalungayang, ngungsi paran kesahe saking paling- gih, mangden saking irika.
  4. Sakatahing jadma sor ing langi t, sawateke madaging angkih- an, miwah madaging matane, sanadyan buron semut, miwah asing kutun ing gumi, samian mamerihang, ne utama nerus, sane tan kena in ucap, nging sida tan sidane Hyang Widi uning, ringjadma arang wikan.

Katuturane kalintang lewih, kocap sane tan rnadaging cacad,

kojaring Slokantarane, sane sarnpun kasurnbung, tur sinern- bah rnatra rnadaging, kedik-kedik ing cacad, durung nerus ayu, rnanda ring jadrna rnanusa, krana becik tan paticacad- cacadin, reh pada rnisi cacad.

  1. Gunung ageng ne sarnpun kapuji, dingin sanget cacade irika, Hyang Surya panes tejane, Hyang Wulan rnesi bungkut, sagarane matoya pahit, Sanghyang Indra capala, Wisnu rna- ngon lembu, Hyang Sangkara nilakanta, keni wisya kalakuta duke rihin, kala ngiyid Mandara.
  2. Sekar tunjung bunga pinih lewih, yan resepang masih misi cacad, reh saking latek wijile, candana dewan kayu, gook- nyane misi lilipi, punika rnangde cacad, ngaba ala-ayu, rang- kung sengka rnangirnpasang, nincap arah nadyan cacad mangde kidik, tan

    PUPUH CVII PUCUNG

  3. Sekar Pucung, sarnbungan pangarang tutur, nurut tatwa lawas, ne rnanggeh utarna riin, saking sarnpun, mupakat para Pan di ta.

  4. Sane kukuh, rnanurut Agarna Manu, Manu-garna Brahma, kocape ring linging Aji, ngarnbil nustus, saking tutur Slokan- tara.
  5. Kocapipun, kayowanan rupa bagus, punika tan Jana, yadian sugih mas pipis, boca awet, jagi dados papalaran.
  6. Malinipun, pitresna sane kalagu, ring kadang sawitra, makadi ring anak rabi, taler boya, awet dados papalaran.
  7. Krana suluk, Sang Sadu nyadia ngawangun, ne awet papalar, punya kirti Ian sarnadi, tapa brata, puja yoga karajegang.
  8. Palanipun, yen punya-dana kawangun, parnalesing Dewa, nganut kalane rnarnargi, yan Pumarna, yan Tilem niwakang pun ya.
  9. Punya satu, palannya tikel sapuluh, yan kala Grahana, pa- lane malih nglangkungin, tikel satus, punyane sane sanung- gal.

Sang Sadu mapunya, tikel sewu ne asiki, palanipun, pamalese saking Dewa.

  1. Yan ring nuju, Yuganta-kala Sang Sadu, masang dana-punya, palane karangkung lewih, tan pawates, palan ing punya satunggal.
  2. Molihipun, yan antara kalanipun, tan Tilem Pumama, miwah tan Busuwakranti, ndatan Kanya-ganta yuganta-kala.
  3. Masanipun, nggelarang punya Sang Sadu, tunggal mulih tunggal, yan punya ring kadang/aji, punya t unggal, palane nikel sapisan.
  4. Yang Sang Sadu, munyain Brahmana-wiku, punyanye satunggal, tikel seu palaneki, yan munianin, Brahmana-sida- pandita.
  5. Napi malih, yan Dewa-paraga sampun, punyane sanunggal, tan pawates palaneki, saking sampun, kojaran sastra-utama.
  6. Kandanipun, tingkah danane kawangun, nganggo nista madya, yan maweh twak ulam nasi, sarwa pangan, kawastanan dana nista.
  7. Maweh kampuh, wastra sarwa alus-alus, miwah madanayang, mas salaka sanadian pipis, ne puniku, kawastanan dana madya. '
  8. Malih ipun yan mawehang anak eluh, tur panake daha, punika ne pinih lewih, kawastanan, ika utaman ing dana.
  9. Maweh tutur, kojaran Sastra rahayu, kaajahin dharma, antuk Sang Pandita lewih, palanipun, ngasorang dana samian.
  10. Malihipun, budine kinangken patut, ri kala mapunya, kewala budi maening, tan kataman talutuh miwah tan suka.
  11. Punyanipun, yadian kidik yan manurut, manah karahayuan, punika palane lewih, manah lila, rahayu magawe pala.

  12. Yadin liu, punyane yan ora manut, manah karahayuan, upami padang tuh-garing, katibanan, genine kadi kukunang.

  13. Pedas puhun, dadi awu tan paunduk, krana sang mapunya, nglanggengang budi suci mangden sampun, ical palan ing sadana.
  14. Malihipun, tingkah kirtine kawangun, dadasare tunggal, matatakan budi ~uci, kadi tutur, kocap ing arep punika.
  15. Semer satus, yen kardiang palan ipun, punika kasoran, ring palan telaga asiki, telaga satus, kasor dening yadnya pisan.
  16. Yadnya satus, kasor dening putra satu, ya putra-wisesa, pageh ring yoga-samadi, miwah suluk, ngawangunang ta pa bra ta.
  17. Putra satus, kasor ika palanipun, ring brata kasatyan, brata satya pinih lewih, nadian istri, utamane satyabrata.
  18. Brata liu, nging kasatyan lewihipun, sanadyan kapapan, kaluwihan pinih lewih, krana kukuh, Sang Sadu ngamel kasatyan. 2 7. Paranipun, yan linyok ring sato asu adasa tahunnya, linyok ring jadma mamanggih, satus tahun, papa kinla ring kawah.
  19. Sewu tahun, papane linyok ring ratu, papa tan pahingan, linyok ring Pandita-lewih, saminipun, papane linyok ring dewa. '
  20. Wenten mungguh, ujar linyok tan pamangguh, papan ing dadi wang, panca nreta wastaneki, kapisane, ri kalan ing mangot-sawa.
  21. Kalihipun, kalan ing manomah wadu, sane kaping tiga, ujar ing arep maurip, kaping pate, ujar karaksan ing wita.
  22. Genepipun, kaping limane mungguh, kalan ing geguyuan, yan lian saking puniki, ujar adwa, tan wurung mamanggih papa.

Sarasamwacaya.

PUPUH XVIII DANDANG

l. Pasaline sabilang masalin, sasampune nyacak tembang-tembang, kewala Dandang-gulane, matimbal -timbal Pucung, panglanture tembang kakalih, anggen nyambung-nyambung- ang, kaketusan tutur, polihe nuptup-nuptupang, cacarangan saking Agama ka riin, anggen tamban biapara.
2. Kocap reke ring tuture mawit, ne mawasta Sarasamwacaya, baas Bhagawan Biyasane, punika ne kasumbung, antuk para Pandita sami, pada muji ngastawa, ri dibyan ing tutur, punika patut elingang, sakatahe manusa pada nglakonin, tuduh Agama Brahma.
3. Kandanipun ne mangkin wiwitin, maparah pat dadi Catur-jadma, jadma patang pangkat reke, Brahmana yang kasatu, Ksatriyane ring kaping kalih, ring Wesya kaping tiga, Tri- wangsa kawuwus, samalihe kawastanan, makatiga siki maparab dwijati, reh wenang sinangskaran.
4. Panutuge Sudra ping patneki, ekapati kang kadi punika, tan dadi pasangskarane, punika kandanipun, Catur-jadma kojar ing Aji, nanging malih rerehang, tateranganipun, linging Bhuwana-purana, saking kecap Bhatara Siwa ne ri Bhagawan Wasista.
5. Sane mangkin kewala mingetin, ling mg tutur Sarasamwacaya, lalakonan Catur-jadmane, sane patut kagugu, sang ru- maga Brahmana lewih, mangaji masaratan, mayadnya kawangun, miwah maweh dana-punya, manelebang matirta mahati suci, miwah mawarah-warah.
6. Makadine laku ngawikanin, samalihe nanggap dana-punya, puniki malih ulahe, ring Sang Brahmana mungguh, brata ro- welas cacakaneki, sapisan madan dharma, satya ping rohi-

  1. Malih ulah ing Ksatria lewih, teher malajahin Sanghyang Weda, pageh magnihotrane, magawe yadnya putus, ngraksa jagat miwah nagari, pariksa ring sawadwa, ngardi karahay wan, ring sawatek kula-gotra, makadi ne ngawenang dana samalih, dharman ing Ksatriya.
  2. Miwah ulah ing Wesya samalih, muruk ri Sang Brahmana Ksatriya, miwah nggelarang punyane, kalan diwasa ayu, miwah mujar i Hyang Triagni, miwah madumdumana, ri sawatekipun, punika bratane Wesya, saking bawos Bhaga- wan Byasane rihin, ring Sarasamwacaya.
  3. Ulah Sudrane ungguhang malih, sakti sumewa ring Sang Brahmana, miwah ring Ksatriya Wesyane, punika ne kagugu, mangden paritusta sang trini, olihnya manyewaka, ilang papanipun, sampun madan sida-karya, bratan Sudra ucapan wandah akidik, nyewaka ring Triwangsa.

PUPUH XIX PUCUNG

1. Malih Pucung, pasaline wantun-wantun, ngalanturang kanda, saking kojaran ing Aji, fiambet iiambung, tutur Bhuwana- < purana.
2. Jadma catur, catur papat artinipun, cacakan punika, ne kocap wahu ring gurit, mijil saking, sarira Bhatara Brahma.
3. Ne kawuwus, Resi Siwa Budha mungguh, winastan Brahmana, Ratu miwah kadang Aji, Raj a-putra, punika madan Ksatriya.
4. Malih ipun, wong tani tan salah dunung, santana Kabayan, miwah wong singgih ring tani, ring desanya, juga iku ngaran Wesya.
5. Juru prahu, juru dagang malihipun, juru patitihan, ya Sudra wastane ugi, wen ten malih, jadmane petang prakara.
6. Ne tan metu, saking Brahmana wiwitipun riin pancakrama, plukutus candala kalih, kaping telu, sad-melecca papat sad-tucca.
7. Pancakrama, ring candala boya anut, candala malecca, sadtucca punika tunggil, nging genahe, masih nganggo nista mad ya.
8. Sarni sampun, ring Bhuwana-purana mungguh, irika pasti- yang, cacakane siki-siki, ne mawasta, pancakrama Ian candala.
9. Miwah ipun, mlecca sad tucca puniku, ne mangkin liwatang, sewosin pangambil malih, wireh nustus, ngambil katuturan law as.
10. Linging tutur, Bhargawa-siksane mungguh, pitutur Bhaga- wan, Rama-parasune nguni, ring s1syane, maparab Sang Abhidwaja.
11. Ulah patut, ne magehang wangsa ruhur, sanadyan Brahmana, utama kojar ing Aji, yan tan patut, ulahe ngutang ka- wongan.

PUPUH XX DANDANG

  1. Patimbalang malih Dandang-gendis, ngalanturang tutur kala- wasan, ling ing Kirti-Pandawane, malih walinin jumput, pi- tuture Hyang Dharma nguni, ri Sang Panca maha buta, kasidan ing ayu, punika mangden waspada, salamine rasa- rasanen ring ati, rancanaken ring manan.
  2. Mangden sampun ngawagang patitis, kawenangang maguru ping sapta, yen durung terang pamanggihe, nora papa katemu, kanistane yan lintang saking, maguru ping sawelas, masih tan mamangguh, ika ngaran papa nista, ring aguru ping pitu ping lima masih, kawastanan ring Madya.
  3. Utamanya maguru kaping tri, utaman ing utama sapisan, wenten malih palenane, madya yan kaping telu, ne apisan utama jati, nanging itung-itungan, ri Sang Tusti-Wiku, puniki kandan ing sastra, Kirti Pandawa ingetaken ring ati, kecap Bhatara Dharma.
  4. Ling ing Nitisara kocap malih, tingkah jadmane masasem- bahan, kapiteketang patute, Padanda Wahu-Rawuh, rihin ngiket ngangge kakawin, mawasta Nitisara, mangkin malih duduk, unggahang ka Dandang-gula, anggen surat pakeling tabuhi gending, tingkahe ngangkat sembah.

panggawe ju ti, saturun arya damar.

  1. Kalih masa pupute katulis, ring Buda Paing Krulutnya, ring kaping anem tanggale, Kadasa Sasihipun, Isakane malih wilangin, kalan ing seu domas, limang puluh catur, pupute sedek rahina, sawatara tiga cara Bali, pawilangan Wariga. lti Kidung DHARMA-SASANA samapta, kaketusan saking tutur nguni-nguni. TELAS

SASANA

Pupuh Ginanti

  1. Dengan hati gembira penulis turut mengarang nyanyian, mengarang dengan menggunakan ginanti, namun seperti irama Kartasura, dengan menggunakan bahasa Bali, yang memiliki rasa bahasa hormat dan tidak hormat, namun se- dikit agak bercampur.
  2. Dengan bahasa Jawa Ivielayu, terserah pembaca memaafkan, namun jangan marah, sebab penulis sangat miskin berusaha mengumpulkan, belum memahami cara-cara menempatkan kata-kata dan tata letak irama.
  3. Tersebut dari isi cerita, memetik pada kitab pasrada niti. kumpulan Cantaka Parwa (kitab Cantaka Parwa) sekadar untuk bayangan perilaku seorang pemimpin, dinyanyikan dijadikan sebuah nyanyian.
  4. Adapun mengenai isinya, apabila ada yang kurang sempur- na, supaya pembaca memperbaiki, sehingga dapat diterima dengan baik, diceritakan ada enam betas pantangan, yang dilaksanakan oleh pemimpin.
  5. Giri bra ta yang pert am a, indra bra ta yang kedua, yang ke- tiga mreta wama brata, yang keempat Yama brata, kelima- nya gni brata, yang keenam lawana brata.

yang_ kedelapan singabrata, yang kesembilan anila brata, sata brata yang kesepuluh, yang kesebelas mayura brata, yang ked ua belas adatah cantaka brata.

  1. Kaganila brata adalah, bagian yang ketiga belas, wyagra- brata yang keempat belas, yang kelima belas cundaga brata, dan yang terakhir adalah, walesa brata
  2. Kembali sekarang dibicarakan, bicarakan/dibahas satu per- satu, yang disebut girl brata, seperti gunung diterpa angin, apabila datang musuh menyerang, jangan mundur, hadapi sampai mati.
  3. Yang disebut Indra brata, hati-hati mengatur rakyat, jangan mempercayakan seorang saja, menghuk un (apabila) membe- narkan, mengampuni orang yang bers alah, buatlah rakyat menjadi senang. l 0. Mreta warsa brata maksudnya, amreta adalah air, tidak hen- ti-hentinya menasihati rakyat, warsa artinya hujan, dalam memberikan suatu pemberian/harta benda, supaya sama janganlah pilih kasih.
  4. Yama brata adalah, apabila menjatuhkan hukuman tidak pilih kasih, tujuannya adalah setiap kesalahan, apabila telah diserahkan, berikan nasihat, dan berikan hukuman.
  5. Gni brata maksudnya adalah, meniru keadaan api, cepat me- nyelesaikan masalah, jangan ditunda-t unda, dalam membas- mi kej ahatan, jangan menunggu lama-lama.
  6. Yang dimaksud dengan lawana-brata demikian, lawana se- sungguhnya adalah samudra, kalau ada kesalahan rakyat, yang ternyata hanyalah kesalahan kecil, supaya diusahakan kesalahan itu, diampuni seperti kesempurnaan samudra.
  7. Seperti perilaku binatang, terhadap kepunyaan rakyat se- mua, se perti binatang melihat manusia, begitu ingatnya te r- hadap Tuhan, jangan membuat rakyat sengsara, lebih baik memberi daripada menerima.

  8. Seperti perilaku singa, dalam memerintah suatu negara, seperti singa menguasai hutan, saling jaga di antara keduanya, raja kuat karena rakyat, rakyat makmur karena raja.

  9. Yang dimaksud dengan anila-brata demikian, anila itu adalah angin, kalau menghadapi musuh maju, kecepatannya supaya seperti angin, jangan masih pikir-pikir, mati dan hidup ditentukan Tuhan.
  10. Sata-brata perilakunya, sata sesungguhnya adalah ayam, perilaku terhadap rakyat, perilaku terhadap istri, semua itu supaya seperti ay am, sama-sama mendapatkan kasih. I 8. Yang dimaksud dengan mayura-brata demikian, mayura sesungguhnya adalah merak, perilaku supaya seperti merak, makan tidak sembrono, jangan sampai salah ucap, walaupun terhadap wanita cantik.
  11. Yang dimaksud dengan cantaka-brata demikian, cantaka artinya burung kelik, tidak mengharap pemberian rakyat, namun raja tetap sayang, maka selalu dicintai rakyat, itu- lah raja bijaksana.
  12. Yang dimaksud dengan kaganila-brata demikian, kaganila adalah burung gagak, kalau hendak menghukum mati, merapatkan semua mentri, kalau memang dibenarkan semua maka dilaksanakan, kalau belum disetujui tunggu dahulu. 21. Yang disebut wyagra-brata demikian, wyagra sesungguhnya harimau, apabila belum yakin belumlah dilaksanakan, bagi raja yang bijaksana, kalau belum pasti berhasil, belum tepat untuk dilaksanakan.
  13. Yang dimaksud dengan cundaga-brata demikian, cundaga sesungguhnya adalah lutung, irengan kalau bahasa Balinya, memilih makanan yang bersih, menyesuaikan kedudukan dan perilaku pengantar, janganlah seperti orang kebanyakan.
  14. Yang dimaksud dengan walesa-brata demikian, w alesa sesungguhnya adalah kalong/kelelawar, kalau belum mampu memperoleh makanan, anaknya belum dilepas, demikian

Pupuh Semarandana

I. Semarandana digunakan untuk menggantikan, juga seperti irama Surakarta,. apabila seperti masyarakat/orang Bali di sebut bayeye, untuk menjelaskan kesalahan karangan, ka- ren a pembawaan irama, apabila diiramakan seperti Jawa, agak kabur, mentah dan salahnya menJ adi jelas.
2. Mulai lagi menyusun (dengan irama) mengutip dari cerita ut ama, yang bersumber pada tutur, d1se but dari sumber pikiran, yang menimbulkan keselamatan, yang telah menga- lahkan musuh, yaitu enam musuh dalam pikiran.
3. Itulah yang patut dikerjakan, mesk1pun sesama manusia, tuj uan (pikiran)nya tidak berbeda, sama-sama percaya kepada Tuhan, yang memang benar-benar suci, kepada Pende- ta juga sama, sekalipun pada sembarang orang.
4. Tetapi sulit mengingatnya, yang benar sangat utama, jarang kekramatannya dapat dilihat, seperti minyak dalam santan, seperti bayangan pada kaca, seperti api pada kayu, semua itu ada sekaligus juga tiada.
5. Ad anya itu pada yang benar, tidak ada pada yang tidak benar, maju mundur bergeser-geser, berputar sangat cepat, sedikit menjadi banyak, semua salah semua benar, membi- ngungkan pikiran yang bodoh.
6. Untuk menjelaskan tentang kebenaran, panjang apabila diceritakan, singkat apabila dirangk um, apabila diambil semakin kosong, apabila dipandang semakin menghilang, apabila digenggam semakin habis, apabila disedihkan semakin susah.

  1. Apabila dalam bahasa Indonesia (sekarang), lasya adalah malas dan bodoh, nidra adalah tidur, baya adalah takut dan rag u-ragu, tresna adalah cinta kasih untuk keakraban, raga adalah senang keindahan, dwesa adalah membenci.
    / l l. Apabila pemahaman itu belum baik, tempatnya di dalam hati, apabila masih salah terima, seperti salah sangka, segera berkumpul banyak, berbalik semua semua menjadi musuh, akibatnya/ penderitaannya nanti akan semakin besar.

  2. Agar sama semua, apabila ada satu yang berbeda pendapat, memang sulit menjaga benteng, memerangi apabila masih dalam pikiran, jelas benteng itu tembus, apabila benar- benar berani, maka akan menang karena memang bertempur.

  3. ltulah yang pa tut dipikirkan, selalu,jangan salah pengertian, tinggalkan semua pakai semua, perbuatan di dunia, hendak- nya selalu siaga, supaya jangan salah memakamkan, yang dipilih supaya jelas.
  4. Tujuannya supaya baik, jangan berbuat ngawur, sebab banyak kemungkinan yang kurang jelas, banyak lawan yang berpura-pura teman, teman yang berpura Oawan), tingkah lakunya seperti musuh, itulah supaya diwaspadai.

Sinom

1. Sinom seperti Kartasura, digunakan menjalin lagu, melan-

jutkan cerita tersebut, yang disebutkan dalam cerita, peri-

laku membawa pikiran, apabila ada supaya berdasarkan kesucian, serta hati yang halus dan lurus, karena dari yang halus, mulus memancarkan pertimbangan.

  1. Pe rha tiannya supaya jelas dan terang, apabila telah terasa hening, hening yang betul-betul multa, itulah yang dipakai pedoman sehari-hari, biasakanlah mengingatnya, umpama wama putih-putih yang banyak, janganlah ragu-ragu, apabila ragu-ragu, maka akan menyebabkan, bingung/ tersesat, akan di terkam setan.
  2. Ke benaran tidak ada duanya, ketajaman pikiran melihat dunia, baik-buruk tidaklah kabur, semua yang ada di dunia, disesuaikan supaya pasti, dari yang sesuai menjadi benar, karena kebenaran mengarahkan, IT enuju pikiran yang hening, karena hening, menyebabkan menjadi pandai/ terang.
  3. Karena ketajaman menyesuaikan, itulah dipelajari secara berulang, yang sesungguhnya sangat sesuai, setiap nasihat dipatuhi, dinasihati ke timur, ya ke timur, apabila dinasihati ke barat, ya ke barat, dinasihati yang cacat, ya cacat, apabi.la dinasihati yang baik, ya ba1k, dilaksanakan, dinasihati yang dikira baik.
  4. Apabila benar baik dipelihara/ diselamatkan, apabila tidak menyia-nyiakan kehidupan, apabila buruk kurangi/hinriari pikiran, mencari sesua tu supaya sampai selesai, seba b lebih tinggi daripada langit, sangat susah mencapai, karena banyak pedoman, yang selalu menuntun dan belakang, apalagi, yang diam -diam dapat menemukan.

    Pupuh Pucung

l. Pupuh pucung digunakan untuk melanjutkan, dengan lagu irama jawa, tersebutlah dalam karangan ini, memetik sari- sari, dari cerita lama.

Susah dan bingung, tertekan oleh pikiran yang bingung, lantaran kebodohan, menghitung bintang di langit, mudah- m udahan dapa t, men am bah sediki t pengetahuan.

  1. Agar dapat menemui, pikiran yang baik walaupun sedikit, karena terlalu loba, menjelma menjadi orang misk.in, sebab tidak ada, kebaikan sedikit pun.
  2. Inilah sebagai bekal, yang belum rnenemukan jati diri, yang dipegang teguh, mudah-mudahan berkat rahma t Tuhan, agar negeri Badung, mendapat keselamatan. Pupuh Mijil
  3. Dilanjutkan dengan pupuh rnijil, untuk menyambung pem- bicaraan, menceritakan isi nasihat, namun dengan tembang lagu Jawa, (kalau seperti Bali) tidak baik, dalam penampil- an.
  4. Barangkali banyak yang menertawai, karena nyanyian penggern bala, kalau rnenggunakan lagu Bali, itulah sebab- nya memakai Mijil seperti Jawa, supaya sesuai sediki t, sebab mengungkapkan nasihat.
  5. Agar jangan pem baca beranggapan, seperti bersendagurau, sebab rnenggunakan lagu rnijil, pupuh mijil bukanlah pupuh rendahan, pupuh rnijil sering (digunakan), (menceritakan) menceritakan keagungan.
  6. Diceritakan konon tutur ini, sangat baik dan utama, ini dari nasihat pendeta zaman dahulu, yang benar-benar rnemahami ajaran kesusilaan, harus ditiru oleh, orang yang menghendaki kebaikan.

adaiah, meiek pada maiam hari.

  1. Berusaha mengingat-ingat Iagi, kebenaran yang utama, yang disebut santa adaiah tidak ingkar denga!1 janji, semuanya terpusat pada satu pikiran, sehingga seiamat selalu, buatiah supaya tetap kokoh.
  2. Karuna adaiah, belas kasih pada sesama makhiuk hidup, yang disebut karuni, sayang kepada sesama makhiuk hidup, walaupun kepada binatang, ituiah (di sebut) karuni, disebut namanya. I 0. Topeksa adalah mengenal perbuatan baik, perbuatan dan tingkah Iaku manusia, menasihati yang tidak baik agar menjadi baik, mudita adaiah pikiran yang ikhlas tanpa pamrih, tidak merasa saki t ha ti, apa biia di beri petuah. I I. Adapun yang dinamakan metri, adalah tingkah laku yang, menasihatkan tentang kebaikan, sesama makhiuk hidup, yang seiaiu diingat, orang yang berbuat kebaikan. I 2. Coba Jaksanakan sediki t demi sediki t, waiaupun sepertiga, sedapat mungkin seperempat, walaupun hanya seperse- puluh, tetapi usahakan Iagi, jangan berpuas diri.
  3. Sanghyang Dharma yang diutamakan, Iaksanakan sesuai dengan nasihat, jangan sampai ketinggaian, sebab Sangh yang Dharma pada zaman kaii, seperti anak haram, tidak ada yang mengakui.
  4. Serta tidak ada yang mau mengakui, begituiah disebutkan daiam tutur utama, yang di'sebutkan dalam kitab Sarasa-

baik-ooik, supaya dapat, kebenaran (Sanghyang Dharma) dipegang teguh.

PUPUH VI KUMAMBANG

I. Pada pupuh Kumambang dilanjutkan membicarakan kanda kembali, juga pemakai tembang Jawa, walaupun seperti tembang Bali juga bdeh, sebab pupuh itu semuanya baik.
2. Tetapi mohon maaf karena hanya sediki t- sediki t, cepat berganti-ganti, supaya banyak memakai tembang, dipakai belajar menyanyi.
3. Lanjutan tutur itu kembali diceritakan, perihal kanda Sanghyang Dharma, supaya semua dapat dimengerti, sebab itu ada pada Bhisma-parwa.
4. Prabhu Kresna yang membicarakan pada waktu dulu, ter- hadap sang Aryarjuna (ksatria Arjuna), sebabnya menda- patkan kemenangan, hal itu diberikan oleh Hyang Dharma.
5. ltulah sebabnya dicari supaya betul-betul dapat ditemui, walaupun salah satu, dipakai pedoman dalam hati, berbaha- gia bila diketahui semua.
6. Sebab sepuluh ajaran Hyang Dharma diungkapkan dalam ajaran ilmu pengetalman, pada Wrati-Sasana, sepuluh ajaran dharma namanya, sekarang satu per satu diceritakan.

PUPUH VII DANDANG

I. Lagu dandang gula dipakai menggantikan, masih seperti lagu Jawa, melanjutkan pembicaraan tentang dharma, lanjutan ceritanya, diceritakan dalam ajaran sastra suci, Kerti Pandawa namanya, orang yang mencari kebaikan, menegakkan Sanghyang Dharma, supaya tetap kokoh melaksanakan ajaran dharma selalu, dengan delapan pangredanan.
2. Tidak akan dapat mencapai Sanghyang Dharma, apabila tidak selalu dipuja, inilah yang disebut pangredanan, delapan jumlahnya, yang pertama bakti yang kedua asih, yang ketiga

Yang ketujuh Sahisnu, yang terakhir kedelapan karuna, di- ceritakan kembali satu per satu, yang disebut bakti adalah, berbudi baik dapat merendahkan di n sendiri, yang disebut asih adalah, tidak dengan penuh harapan tidak sepenuh hati, mengharapkan sisa-sisanya, gorawa adalah tidak saling cela, antara manusia (sesama manusia).

  1. Yang disebut mahardika adalah, pikiran terang tan pa cacat, yang disebut sambega adalah, tidak 11engakui segala benda yang ada, yang disebut melemba adalah, tidak benci melihat yang tidak baik, tidak bergembira melihat yang baik, yang disebut sahisnu adalah, tidak memuji, ang banyak dan tidak mencela yang sedikit, apabila melihat bermacam-macam.
  2. Karuna ad al ah tidak berbicara yang menyakiti, pad a saat melihat orang miskin, bodoh tingkah lakunya bandel, su- dah le ngkap delapan, asta pangradana 1tu, pemujaan kepada dharrn a, apabila telah diresapkan, itulah yang dilaksanakan, Sanghyang Dharma melekat dalam hati, membuat kebaha- giaan dan keselamatan.

    PUPU H VIII PANGKUR

I. Diganti dengan lagu pangkur. masih tt.:t ap lagu Jawa, apabila dil anj utkan masih banyak, aj aran-aj aran dharrna itu, yang masih ratusan, ribuan, sampai jutaan sepuluh jutaan, diring- kas diambil sedikit.
2. Di pakai ingatan dalam pikiran, mudah -mudahan dapat melekat sedikit, sebagai obat pikiran bingung, menyembunyi- kan kebingungan, untuk mengukuhkan pikiran agar terus kukuh, selalu sujud kepad a Tuhan, ;ehingga mendapatkan kesucian dalam kehidupan.
3. Lagi pula supaya dapat, keselamatan mulai hidup sampai mati, tidak menjumpai. perbuatan yang kotor, segala macam

PUPUH IX GAMBUH

  1. Diganti dengan tembang gambuh, lagu Jawa, dengan bahasa- nya bahasa Bali, yang menceritakan (yang bemama) Asta dewi, macamnya/bagaiannya delapan, membingungkan pikiran yang bodoh.
  2. Jaya Sidi yang pertama, catur-asini yang kedua, yang ketiga bernama Uma dewi, camundi yang keempat, makrodi yang kelima itu.
  3. Yang keenam Durga dewi itu, tan sinine itu yang ketujuh, terakhir yang kedelapan disebutkan, namanya Wigna disebutkan, yang dianggap musuh yang berat.
  4. Ulangi lagi membicarakan, Jaya sidi pandai, kaya, dan agung, katanya aku kaya dan aku sakti, aku pandai, derajat aku paling tinggi.
  5. Te ta pi sebenamya berbohong, sangat sakti tetapi tidak sakti, dan tidak kasih sayang kepada dunia orang itu, dapat dikatakan sudah masuk Jaya sidi, Catur asini itu, perbuatan yang disebutkan/dikatakan.
  6. Melakukan kekacauan seterusnya, dibenci oleh jagat tingkah laku orang itu, dan dengki tingkah lakunya terhadap ayah dan ibunya, dan juga terhadap saudara sesamanya, selalu dengki yang dilakukan.
  7. Uma dewi itu, perbuatannya selalu sombong, menganggap Hyang suksma berada dalam hatinya, mengagungkan diri selalu, itu pikiran yang buruk.

Camundi namanya, pik.iran menderita dan bingung, selalu rag u-ragu, tidak sesuai dengan budi luhur, kata-katanya tidak terarah, hal itu tidak pantas dipakai.

  1. Makrodi adalah, sedik.it-sedik.it ribut pikiran sering cembe- rut, tidak mau mengikuti orang lain memelihara sifat pemarah selamanya, tidak tahu dengan hati jujur. I 0. Pikiran nya bercabang, tingkah lakunya plintat-plintut, yang demikian disebut pemarah, menghilangkan pikiran baik, memperpanjang pikiran bodoh. I I. Yang disebut Durga dewi adalah, sifa t membuat dunia tidak damai, senang meracuni, menerapkan/melaksanakan ilmu hitam, tidak bosan-bosan membuat kekeruhan, itu adalah setan berwujud manusia.
  2. Tatsini (namanya) adalah, pikiran gelap diseliputi kebi- ngungan, memuji orang-orang yang berdosa dan menyim- pang jalan pik.irannya, kata-katanya tidak benar, membuka peluang ke jalan yang kotor.
  3. Yang disebut Wigna adalah, perilakunya tidur atau melem- pen, ulahnya berdosa tidak mengh1raukan orang yang sa- kit, itu telah lengkap delapan, sebag ai hambatan jalan me- nuju keselamatan. PUPUH X GIRISA
  4. Diganti dengan pupuh girisa, masih tetap lagu Jawa, konon yang bernama patita, segala tingkah laku menjadi manusia, termuat dalam wreti sasana, tata cara perkawinan, itu hams diingat, agar sesuai dengan yang termuat dalam sastra.
  5. Jangan melaksanakan yang patita, d1m uat dalam sastra uta- ma, itu hams dikukuhkan, sekarang satu per satu ceritakan, tingkah laku yang salah memperistn, memperistri ibu salah, memperistri nenek salah, demikian juga bibi dan saudara- nya.

  6. Salah apabila memperistri anak, walaupun memperistri kemenakan, yang masih bersaudara, itu disebut kemenakan, memperistri menantu salah, memperistri saudara tiri juga salah, atau juga memperistri ipar, memperistri istri paman.

  7. atau juga memperistri istri mertua, istri dalam satu saudara, memperistri besan juga salah, juga memperistri mertua, atau juga memperistri keponakan, memperistri menantu salah juga memperistri istri saudara, itu semua patita.
  8. Ada lagi yang disebut brahmatya, sejenis dengan brunaha, membunuh bayi dalam kandungan, tetapi brahmatya itu masih lebih rendah, memang masih termasuk brunaha juga, sekarang kita lanjutkan ceritakan, apa yang disebut brahmatya, perbuatan itu sangatlah berdosa.
  9. Membunuh bayi disebut brahmatya, sama juga dengan brunaha (walaupun istri utama), dan menggugurkan kandungan, membunuh lembu satu kandang, membunuh brahmana brahmani, membunuh orang bijaksana, dan pendeta, apalagi membunuh raja.
  10. Itu jangan dilupakan, sebab besar sekali (dosanya), neraka- nya (orang yang melakukan) brahmatya, bertentangan dengan sifat manusia, Sanghyang Indra juga neraka, melaksa- nakan perbuatan brahmatya, disebutkan dalam kitab Ang- gasti Parwa, disebutkan oleh Bhagawan Anggira.

    PUPUH XI DURMA

  11. Penggantinya tetap lagu Jawa dengan tembang Durma, melanjutkan cerita ucapan, yang disebutkan dalam Barati sasana, perbuatan yang salah be rdosa, sad tetayi namanya, enam jumlahnya, perbuatan yang betul-betul salah. ' Yang pertarna ad alah perbuatan yang disebut neluh mangle- yak, membuat dunia menjadi keruh, dan tandus, dan yang kedua, perbuatan yang meracuni, dan lagi yang ketiga, mengarnuk tanpa sebab, yang menyebabkan kematian tidak wajar.

Yang keempat disebut mengamuk dan merusak-rusak, benar-benar salah sekali, yang kelima, orang yang membakar rumah, dari perbuatan yang tidak baik, menyebabkan ke- jahatan, juga menyebabkan menjadi pencuri.

  1. Yang keenam memfitnah (seorang) raj a, itulah yang disebut sad tetpYi adalah, sangat dosa sekali, baik di alam nyata maupun di alam tidak nyata, itu menjadi kotoran dunia, yang disebut kawah berjalan, kehidupan yang sama seperti anjing.
  2. Ada lagi perbuatan yang disebut steya, juga bagi an perbuatan yang salah, perbuatan sesama manusia, yang tidak patut di tiru, agar jauh dari pikiran kita semua, perbuatan seperti itu, apabila menginginkan kesucian hati.

    PUPU H XII JURU DEMUNG

I. Sudah saatnya pergantian lagu, mengalih ke lagu juru demung, masih menggunakan irama Jawa, menceritakan perilaku steya, perilaku manusia yang tidak jujur, sama dengan asta dusta, dimuat dalam ajaran manu.
2. Te tapi jumlahnya sembilan, yang pertama pencuri, yang ke dua pema bu k, pencopet, yang ket1ga, memperkosa yang keempat, pembohong yang kelima, yang keenam merampok hak orang lain.
3. Be rzina dengan istri orang lain, be r1 udi yang kedelapan, al uan yang kesembilan, yang disebu t aluan adal ah, melak- sanakan perbuatan ca bul, menuruti perilaku yang salah, semuanya disebut steya.

PUPU H XIII MEGATRUH

I. Me ncoba mengungkapkan dengan tem bang mega truh, semua dil anjutkan dengan lagu Jawa, ulah dan pikiran yang tidak benar, apabila disebutkan semua jumlahnya banyak, dibuat dalam ajaran yang utama.

aua yang patut dipegang, pastikan menulis dengan baik, apabila dugaan itu tercapai, apalagi telah jelas.

  1. Dari yang banyak menjadi sedikit lebih sering benar, apabila sediki t ya memang sedi kit, itu sering salah sangka, menyangka yang utama itu sedikit, untuk apa terlalu banyak bicara.
  2. Itulah sebabnya sukar mengingat yang benar-benar baik, apabila yang di sini belum pasti, seumpama memikat burnng puuh, membawa pemikat ular, kapan kebenaran itu dapat dicapai.
  3. Apabila memang tidak sama mustahil akan menjadi sama, seperti mengeluarkan sesuatu, apabila tidak menyimpan terlebih dahulu, itu belum pasti ada, adanya itu barn dalam pem bicaraan.

    PUPUH XIV DANDANG

  4. Diganti lagi dengan lagu dandang gendis, juga digunakan untuk mengingatkan, tembang, iramanya lagu Jawa, dan juga syarat-syaratnya, namun barn diketahui sedikit, yang lainnya belum pasti, yang benar telah sesuai, dapat dengan mengumpul-ngumpulkan, pada saat ingat dengan nyanyian, digunakan untuk mengingatkan tembang.

  5. Dandang gula tembang yang manis, apabila benar-benar ditaruh seperti Solo, sangat begah sangat nyengek, mernili11 suara yang halus, dan notnya menurnt not Jawa, tidak boleh diubah, apabila dikeraskan jadi kurang, lagunya berham-

Permulaan sinom dengan girisa adalah tunggal, demikian juga durma dengan megatruh tunggal, gambuh dan pangkur menyendiri-menyencliri, membawa persyaratan masing- masing, memang sanga t berbeda kedengaran, tidak masih seperti gender wayang, memang telah lain, namun apa bila orang yang pandai, semua bisa cliatur sediki t-sedikit, dalam mencari kebenarannya.

  1. Walaupun cara-caranya dari Jawa, seperti cara Jogyakarta dan Surakarta, aturannya memang berbeda, Semarang dan Ke du, Surabaya Kudus/Betawi, Kediri Purbolinggo, ada per- bedaannya, tatacara menabuh tembang, apalagi tatacara di Banyuwangi, sudah sangat berkurang caranya menabuh.
  2. Karena telah biasa seperti di Bali, tem bang di Bali tidak banyak variasinya, berbeda halnya dengan kakawin, ke ba- nyakan kurang memuaskan, tembang semarandana sebenar- nya menunggal, dengan tembang dandang gula, apabila orang Bali menyanyikan bagaikan gamelan barong, kurang. serasi seharusnya cliberi suara gong, dan bunyi kendang ..
  3. Nyanyian demung yang dipakai mengawali, terlebih dahulu mengambil perbanclingan tembang ginanti, apabila telah

PUPUH XV PUCUNG

  1. Dilanjutkan lagi, dengan tembang pucung, sekarang tinggal- kan, sebagai persyaratan tembang, mulai lagi, menuruti kata hati.
  2. Payah sekali, beratnya bukan main, menjadi manusia, jika belum didasari dengan pemikiran-pemikiran yang suci, pasti akan bingung, begini salah begitu salah.
  3. Keberadannya, seperti badan yang busuk, sama sekali tidak ada kulitnya, isi bagian rongga perutnya berisi jentik- jentik, isinya keluar, menjulur sambil bergerak-gerak.
  4. Ke mana mestinya, menyembunyikan keburukan, kalau ingin menuju tempat yang terang, bagaikan kena panas yang menyengat, menuju tempat yang gelap sunyi, jelas direbut oleh semut berejog.
  5. Menuju ke tempat yang sempit, kemungkinan akan ditelan nyamuk, bersembunyi di atas pelapon/langgatan, akan dima- kan oleh nyingnying/anak tikus, tidak menentu, karena banyak membawa prawasangka/ragu-ragu.
  6. Apa yang tumbuh, di hatinya selalu mengundang musuh, selalu was-was, begini takut begitu merasa ngeri, lebih payah lagi, dibebani oleh pemikiran yang penuh kelobaan.
  7. Tamah itu adalah musuh, ingin mengekang dan menguasai, menyiksa-nyiksa diri, perbuatannya membuat penyakit, i tu yang men ye ba bkan, akhirnya menemukan penderitaan.
  8. Disangka bijaksana, temyata mempelajari hal-hal yang jahat, memberi petunjuk/jalan, jika diikuti kita akan ter- sesat, akhimya menipu, memang kebiasaan bagi orang- orang yang berhati jahat.

Sangat miskin, menjadi orang dengan seribu miskin, kaya dengan kebodohan, untuk besar tetapi buta dan tuli, biar- kan miskin, memelihara ketamahan itulah kesalahannya.

  1. Karena turut, perbedaan pendapat menjadi musuh, me- ngum pulkan dosa, menakut-nakuti, ini yang dijumpai, kesalahan melaksanakan maksud.
  2. Di mana di cari, yang dapat dimintai tolong, sangat jauh sekali, sangat suram dan sangat tersembunyi, dari kemis- kinan, dihambat oleh kebodohan.
  3. Le mah lunglai, perwujudan acuh tidak acuh, dengan penuh ragu/ bim bang, diliputi siang malam, pikiran tidak menentu, menengadah langi t menunduk tanah.
  4. Pi kiran tidak menentu, mengharapkan kebahagiaan, karena ku rang persiapan, merasakan kesengsaraan/ kepahitan, karena payah, selalu menyandang kekesalan.

    PUPUH XVI DANDANG

I. Berganti dan memulai lagi, kembali tembang dandang gula lagi, menyatakan kesedihan hati, apabila terus dituruti, pasti banyak menjadi penyakit, lebih baik dihibur, terda- pat pada tutur, itulah digunakan sebagai pedoman, dipilih- pilih agar mendapat yang baik sediki t. menjadi obat kesengsaraan.
2. Yang diharapkan oleh sem ua orang suci, intinya tiada lain tentang kematian, agar dapat menunggal dengan Yang Mahaesa, berada pada Maha Padma, sebab dari itulah asal- nya semua, semua isi dunia, se muanya itu, termasuk juga Panca Maha Bu ta, a wan, sinar tenaga air tanah, tim bul dari itu.
3. Yang disebut pranawa sebenarnya, yang telah berisi windu dan berisi nada, apabila bukan Okara asl~ ma sih dapat dinya takan, bel um nya ta bel um berwujud, bel um disebu t ny ata, semuanya belum pasti, masih dalam pertanyaan, masih mentah segera mematikan api, dari takut panas.

yang· telah pasti ke benarannya, bukannya dari banyak keangkuhan, bermacam perbuatan yang muncul, semua ada batasnya, keberadaannya, putih merah biru masih samar, dari batas warnanya dapat rnenyalahkan, dengan yang disebut nyata/benar.

  1. Bagaikan capung melayang-layang di udara, apabila ber- tengger di tanah bukan tanah, pada kayu bukan kayu pada batu bukan batu, pada tangga bukan tangga, pada apa pun juga, samar lebih samar, perbuatan Sanghyang Manon di dalam badan, sesungguhnya ada bercokol di dalarn hati, ma- ti tidak diikuti kematian.
  2. Penafsiran beliau yang telah mengetahui kebenaran, sangat sulit membuktikan, bukan karena kesaktian, bukan karena penge.tahuan, bukan karena mencuri, bukan karena keuta- maan, bukan karena berani, bukan karena brahmacari, bukan karena memiliki banyak istri, itu yang dirahasiakan sekali.
  3. Perhitungan triguna yang utama, lebih mudah menyele- saikan itu, belum jelas kenyataannya, percampuran kebaik- an dan keburukan, bisa lepas bisa juga tepat, masih banyak cabangnya, banyak terang banyak sempit, bagaikan dalam perjalanan, mencari tempat tujuan dari tempat asal, supaya dari sana.
  4. Seluruh manusia yang ada di bumi, semua yang masih ber- nyawa, dan yang berpenglihatan, demikian juga semut, dan juga seluruh penghuni dunia, semua memerlukan, yang utama, yang tidak dapat disebutkan, namun berhasil dan

  5. Ceritanya berfilsafat tinggi, dikatakan tidak ada cacatnya, yang disebutkan dalam Slokantara, yang sudah temama, dan berisi mantra-mantra puja, sedikit cacatnya, belum sempurna seluruhnya, apalagi terhadap manusia, sangatlah baik apabila tidak sating cela, karena semua memiliki ke- kurangan.

  6. Gunung besar yang sudah dipuji, tempatnya terlalu dingin, matahari yang panas sinarnya, pada bulan terbayang orang bungkuk, lautan airnya pahit, Sang Hyang Indra capala, Wisnu menggembala lembu, Hyang Sangkara berleher hitam kena racun kalikuta pada zaman dahulu, pada saat memin- dahkan Gunung Mandara. '
  7. Bunga tunjung yang paling suci, kalau direnungkan masih ada cacatnya, karena timbul dari lumpur, cendana dewanya kayu, lubangnya dihuni ular, itulah cacatnya, membawa baik buruk, sangat sulit untuk dihindari menuju arah walau- pun cacat supaya sedikit, tidak akan menemui kesengsaraan.

    PUPUH xvn PUCUNG

l. Pupuh pucung, menyambung karangan cerita, berdasarkan filsafat dulu, yang dahulu masih tetap utama, memang sudah, dari dahulu, kesepakatan para pendeta.
2. Yang masih kokoh, sesuai dengan aJaran (Agama) Manu, ajaran Manu-gama Brahma, yang d1sebutkan pada ilmu pengetahuan, dengan mengambil intisarinya, dari cerita Slokantara.
3. Katanya/disebutkannya, keremajaan dan wajah tampan, itu semua tidak lama, meskipun kaya akan emas dan uang, tidaklah lama, akan bisa dinikmati.
4. Lagi pula, cinta kasih yang dijalin, kepada handai taulan, (begitu) pula kepada anak dan lstri, JUga tidak, bisa lama/ dinikmati.

Satu punia, pahalanya berlipat sepuluh, kalau waktu ger- hana, pahalanya lagi bertambah, sampai berlipat seratus, pahala dari satu punia.

  1. Kalau pada, zaman Kanya-Ganta, sang Sadu melaksanakan punia, satu punia berlipat seribu, pahalanya, pembalasan dari Dewa (Tuhan).
  2. Jika pada waktu, zaman yuganta, waktu sang sadu, melaksanakan dana punia, pahalanya kelewat baik, tidak ada batas- nya, pahala dari satu punianya.
  3. Lagi pula, jika di antara waktu itu, tidak Tilem juga tidak Pumama, dan juga tidak Basuwakranti, tidak waktu kanya-ganta dan waktu Yuganta.
  4. Pada saatnya, sang sadu melaksanakan punia, satu punia kembali satu, kalau punia kepada keluarga raja, satu punia, pahalanya berlipat sekali.
  5. Jika sang Sadu, berpunia kepada Pendeta Brahmana, punianya yang satu pahalanya akan berlipat seribu, kalau berpunia, kepada Brahmana yang sudah menjadi Pendeta.
  6. Apa lagi, kepada yang telah menjadi dewa, punia yang satu, pahalanya tiada batas, karena memang sudah dari dahulu, tertuang dalam kitab ajaran utama.
  7. Adapun caranya, perbuatan dana yang dilakukan, menggu- nakan tingkatan kecil dan sedang, kalau memberikan air nira daging dan nasi, segala makanan, dinamakan dana yang kecil.
  8. Memberikan kain, segala pakaian yang halus-halus, juga memberikan, emas perak dan begitu juga uang, yang begitu, dinamakan dana yang sedang.

pemberian dana.

  1. Lagi pula, pikiran yang dianggap benar, pada saat memberikan sedekah, seharusnya pikiran itu bersih, tidak ternoda/ berisi, kotoran d~n agar ikhlas.
  2. Sedekahnya, meskipun sedikit tetapi berdasarkan, pikiran yang tulus ikhlas, semua itu pahalanya baik, pikiran be- bas/senang, pahalanya membuat kita selamat.
  3. Meskipun banyak, pemberian kita yang tidak sesuai, sesuai dengan pikiran ·yang tulus ikhlas, seperti rum put yang ke- ring, dikenai, api sebesar kunang-kunang.
  4. Pasti terbakar, menjadi abu tidak ada gunanya, itulah sebab- nya orang memberikan sedekah, menetapkan pikiran yang suci dan tulus ikhlas, supaya tidak menjadi, hilang pahalanya semua dari Pemberian kita.
  5. Lagi pula, perbuatan yadnya yang kita lakukan, berdasarkan tunggal, beralaskan pikiran yang suci, seperti ajaran suci keagamaan, yang tersebut di atas itu.
  6. Seratus sumur, kalau dibandingkan pahalanya, semua itu kalah, oleh pahala satu telaga, telaga yang seratus, kalah oleh satu yadnya.
  7. Seratus yadnya, kalah oleh seorang anak, kalau anak itu saleh (suputra) selalu menjalankan yoga dan samadi, apa- lagi dilaksanakan dengan tekun, membangun tapa brata pengen~alian diri.
  8. Putra seratus, dikalahkan oleh pahala, dengan brata kesetiaan, brata satya/kesetiaan yang paling utama, menjadi seorang istri, brata kesetiaan memang yang paling utama.

  9. Macamnya brata memang banyak, namun brata kesetiaan yang paling utama, walaupun sengsara, keutamaan yang paling utama, orang bijaksana memilih kesetiaan.

  10. Pahalanya/akibatnya, apabila sewenang-wenang pada anjing, sepuluh tahun lamanya, ingkar pada manusia akan menemu- kan, seratus tahun, merana di alam neraka, seribu tahun.
  11. Seribu tahun dosanya, dosanya apabila ingkar kepada raja, dosa yang sangat besar, apabila berdusta kepada pendeta, sama dengan, berdusta kepada para dewa.
  12. Ada disebutkan, berkata bohong/ingkar tidak akan mene- mukan (kebahagiaan), dosa menjadi manusia, pancanreta namanya, pertama, pada waktu mengadakan pesta.
  13. Yang kedua, pada waktu membohongi istri, yang ketiga, berkata bohong demi kesehatah jiwa, yang keempat, berkata bohong untuk melindungi jiwa ..
  14. Lengkapnya, yang kelima disebut, pada waktu bersenda- gurau, selain itu, perkataan yang bersifat mengadu/bohong, pasti akan mendapatkan dosa/sengsara.
  15. Maksudnya, agar jangan salah terima, dalam menyebutkan kata-kata bohong, carikan sumbemya yang lain lagi, disebut pada kitab, Sarasamuscaya. PUPUH XVIII DANDANG
    l. Pergantian setiap pergantian, setelah mengecek segala tembang, namun dandang gula, berganti~ganti dengan pucung, dilanjutkan dengan dua tembang, yang digunakan untuk melanjutkan, petikan nasihat, yang didapat dari me- ngumpul-ngumpulkan, dari cabangnya agama dahulu, se- bagai obat kesengsaraan.
  16. Tersebutlah pada sumber tutumya, yang disebutkan pada kitab Sarasamuscaya, disebutkan oleh Bhagawan Byasa, itu yang termasyur, oleh semua pendeta, semuanya memuja

Uraiannya sekarang dimulai, empat tingkatan atau derajat manusia, yang pertama brahmana, yang kedua ksatria, yang ketiga wesya, ketiga itu disebut triwangsa, dan juga disebut, ketiganya disebut juga dw1jati, sebab dapat didiksa.

  1. Selanjutnya yang keempat adalah sudra, yang tergolong ini hanya dapat melakukan ekajati, tidak boleh didiksa, begitu disebutkan, catur' jadma dalam ajaran suci. tetapi hendaknya Jagi dicarikan, keterangannya, dari kitab Bhuwana purana, dari sabda Betara Siwa dahulu, pada Bhagawan Wasist a.
  2. Sekarang tinggal mengingatkan saja ucapan pada ajaran Sarasamuscaya, kewajiban dari keempat manusia itu, yang patut ditiru, seorang brahmana utama, seharusnya mem- pelajari ilmu pengetahuan, mengadakan yadnya, memper- dalam budi pekerti, dan memberikan sedekah, memperda-Jam aj aran suci, dan memberikan nasehat.
  3. Melaksanakan dan harus menjadi pe.rdeta, dan juga dapat menerima sedekah, dan Jagi yan g patut dilaks anakan, seorang yang disebut brahmana, ada d L.a belas brata disebutkan, yang pertama disebut darma, yang kedua sa tya, yang ketiga tapa, yang keempat dana, dru yang kelima disebut wimatsaritwa.
  4. Yang keenam disebut harih, yang kttujuh disebut titiksa, yang kedelapan anasuya, yang kesemb!lan yadnya, yang ke- sepuluh dana, yang kesebelas dreti, yang kedua belas ksama, sekarang dijelaskan lagi, pembagiannya satu per satu, danna tidak perlu dikupas tetap dharma.
  5. Sa tya artinya pageh/teguh, tapa arti1 ya pengendalian diri. mengurangi indria, yang diyana nam anya, ksama artinya se- lal u ingat, wima saritwa, artinya tidak irihati, herih artinya berani, kapan saatnya berani harus d1ketahui, titiksa tidak pemarah.

Sanghyang Wed a.

  1. Tekun melaksanakan gnihotra, melaksanakan yadnya sam- pai tuntas, menjaga bangsa dan negara, memperhatikan ke- butuhan rakyat, menciptakan kesejahteraan, untuk semua rakyat/keluarga, memperhatikan untuk menggali dana, demikian kewajiban seorang pemimpin.
  2. Dan kewajiban wesya adalah, belajar pada sang brahmana dan ksatria, dan melaksanakan korban/sedekah, pada hari yang baik, memuja pada Hyang Triagni, dan membagi pem- bagian supaya adil, pada sesamanya, demikian kewajiban wesya, yang disebutkan Bhagawan Byasa dahulu, dalam Sa- rasamuscaya.
  3. Kewajiban Sudra juga disebutkan, berbakti dengan tulus pada Sang Brahmana, juga pada ksatria wangsa dan wesya, itulah patut dilaksanakan, membuat keselamatan yang tiga itu, olehnya mengabdi, hilanglah dosanya, telah dapat di- anggap berhasil, kewajiban sudra disebutkan sedikit, mengabdi kepada triwangsa.

    PUPUH XIX PUCUNG

l. Lagi pupuh pucung, penggantinya berulang kali, melanjut- kan pem bicaraan, dari ucapan sastra, mengam bil melanju t- kan, dari tutur bhuwana purana.
2. Jadma catur (empat golongan manusia), catur artinya empat,pembaginya itu, yang disebutkan tadi dalam nyanyi- an, yang muncul dari, badan Betara Brahma.
3. Yang disebutkan, Resi Siwa Budha, disebutkan brahmana, ratu dan sanak saudara, raja dan putra-putranya, itu dfsebut ksatria.

seorang pem ban tu, dia berkasta sudra, ada lagi, manusia em pat kel ompok.

  1. Yang tidak kelihatan, asalnya dari kasta brahmana, yang pertama pancakrama, yang kedua plekutus candala, yang ke tiga, sad melecca, yang keempat sad tucca.
  2. Pancakrama, pancakrama dengan c.andala tidak sesuai, candala memecca; sad tucca itu tunggal, tetapi tempatnya, masih memakai tingkatan rendah dan sedang.
  3. Semua telah, terdapat pada Bhuwana-purana, di sana tentu- kan perhatikan satu per satu, yang bernama (Jisebu t), pancakrama dan candala.
  4. Melecca sad tucca itu, sekarang dilewati, yang lainnya di- bicarakan lagi, sebab memetik, pada tutur dahulu.
  5. Yang disebutkan pada tutur, terdapat pada Bhuwana siksa, nasihat Bhagawan, Rama Parasu dahulu, pada pengab- dinya/muridnya, bemama Sang Abdidwaja.
  6. Perbuatan yang benar, yang menegakkan wangsa utama, walaupun keturunan brahmana, utama disebutkan dalam ajaran suci; apabila tidak benar, (disebut) perbuatan me- ninggalkan keturunan (kewajiban).
  7. Supaya sesuai, walaupun keturunan dewa, kalau tidak benar, berbuat som bong/wimoha, menjadi orang baik dan kaya, orang baik, apabila tidak berbuat sesuai dengan dharma.
  8. Akan menjadi, orang yang sangat hina dan miskin. apabila orang daridra/ hina, masih perbuat tidak be no.r, akan menjadi binatang, lebih nista daripada binatang yang hina.
  9. Juga melanjutkan, masih tetap berbuat tidak benar, menjadi binatang kidang, binatang kidang apabila (berouat) tidak

PUPUH XX DANDANG

  1. Sekarang diganti dengan pupuh Dandang gendis, melanjut- kan ajaran dahulu, yang disebutkan dalam kerti Pandawa, lagi kembali dipetik, nasihat Sanghyang Dharma dahulu, pada Sang Panca Pandawa, berhasil baik, itu supaya diresap- kan / di waspadai, rasa-rasakan/resapkan selalu dalam hati.
  2. Agar jangan sembarangan percaya (bertujuan), dapat oela- jar/bertanya pada guru tujuh kali, apabila belum jelas pemahamannya, agar tidak dosa ditemukan, apabila lewat (dari itu), akan hina, berguru sebelas kali, juga tidak ditemukan, itu disebut sangat dosa, pada berguru tujuh kali lima kali, disebut yang menengah.
  3. Utamanya berguru tiga. kali, lebih utama daripada utama yaitu berguru sa tu kali, ada lagi pembagiannya yang lain, madya apabila yang ketiga, yang sekali sangat utama, tetapi dipertimbangkan pada Sang Wiku. Ini disebutkan dalam ajaran sastra, disebut kirti Pandawa resapkan dalam hati, ajaran Betara Dharma.
  4. Pada kitab Niti Sastra juga disebutkan, tatacara orang bersembahyang, yang disebutkan tata sembah benar, oleh Pedanda Wau Rauh, dahulu membicarakan dalam bentuk kakawin, yang bernama Nitisara, sekarang lagi dipetik, di- cantumkan dalam pupuh Dandang gula, untuk mengingat- kan irama nyanyian, dalam membicarakan tingkatan sembah.

Sembah orang perempuan terhadap suaminya, batas ujung jarinya, batas ujung jarinya di bawah dagu, apabila kepada raja, sampai sebatas ujung hidung, apabila pada leluhur (pitra) di tengah-tengah alis, apabila pada guru pengajian, pada dahi (lelata), apabila pada guru pasangkaran (nabe), pada batas kepala seperti menyembah Tuhan, ada lima macam sembah.

  1. Maafkan saya pengarang yang sangat bodoh, mengarang tutur untuk mengingatkan diri, bukannya menganggap gampang, namun untuk menghilangkan kebingungan, agar dapat terhibur sedikit, mudah-mudahan berhasil, mendapat- kan keselamatan, semasih hidup maupun setelah mati, semoga bebas dari perbuatan tidak baik, keturunan arya damar.
  2. Dan waktunya selesai ditulis, pada hari Buda Paing uku Krulut, pananggal keenam, sasih kesepuluh, tahun lsaka, seribu delapan ratus, lima puluh empat, selesai pada waktu siang hari, kira-kira dauh telu seperti sebutan orang Bali, dengan perhitungan wariga. Ini Kidung Dharma Sasana selesai, dipetik dari tutur.
    HABIS

SASANA

Agama yang kita anut seringkali dituntut ikut bertanggung jawab atas adanya norma-norma susila yang baik yang diberla- lakukan dalam masyarakat, maka fungsinya juga adalah menye- leksi atau menyortir kaidah-kaidah yang ada. Mengukuhkan kaidah-kaidah yang baik dan menolak kaidah-kaidah yang buruk untuk ditinggalkan sebagai larangan.

Sebagaimana adanya hukum agama yang menjalin kotnpleks kebiasaan dengan kadar moral yang bervariasi, dari yang berbobot moral (harus) turun ke yang berkadar moral kepantasan hingga yang berbobot sopan santun berupaya menuntun manu- sia didalam kehidupan ini. Hal itu berarti bahwa gejala moral merupakan suatu sikap yang mengarah kepada nilai-nilai keba- jikan. Sikap seperti itu diperlukan dan bahkan dituntut dari individu dalam rangka interaksi sosialnya. Gejala moral dan masyarakat merupakan dua unsur yang terkait satu sama lain- nya secara sibernetik. Masyarakat lahir dari adanya proses interaksi dari sekumpulan gagasan, cita-cita, ide-ide, dan sebagai- nya yang terpolakan ke dalam norma-norma ataupun nilai-nilai bersama (Durkheim, 1977: 7--9). Selanjutnya, norma-norma ataupun nilai-nilai bersama ini mengendalikan pola interaktif tersebut sehingga terjaminlah keteraturan sosial itu.

Perjalanan memperlihatkan manusia itu se bagai pemikir, perencana, pelaksan a, pemelihara dan sebagainya. Akan te tapi, sebaliknya manusia pun bisa bertindak sebagai perusak, penghancur, pemusnah, dan sebagainya.

Di dalam Bhagawad Gi ta XVl 1 syair 2 dan seterusnya dapat dijumpai kalimat-kalimat yang mengungkapkan dualisme sifat yang ada pada diri manusia. Di satu sis1 sifat manusia disebut daiwi sampat apabila diwamai oleh sifat-sifat keluhuran budhi (sifat "kedewaan "), sedangkan sebaliknya bisa disebut asuri sampat tatkala diwamai oleh sifat-sifat ''keraksasaan ". Bunyi kalimat untuk sifat-sifa t pertama adalah sebagai berikut :

Sebelumnya juga pernah dibahas oleh Prof. Dr. Ida Bagus mantra dalam bukunya Ta ta Susi/a Hindu Dhanna. Denpasar : Institut Hindu Dharma, 1967, ha- laman 13.

" ... ahimsa satyam akrodhas tyagah cansir apaicunam daya bhuseesu aloluptwam mardawam hris acapalam ... "

(Bhagawad Gita XVI, syair 2)

Maksudnya:

Tiada menyakiti makhluk lain, berpegang kepada kebenar- an, tidak pemarah, melepaskan diri dari ikatan duniawi, tenteram, tidak suka memfitnah, kasih sayang terhadap sesama makhluk, tidak tamak, lemah lembut, sopan santun, dan teguh akan iman.

Sedangkan kalimat untuk sifat kedua, berbunyi sebagai ber- ikut :

" ... dambho darpo simani ca krodhah parusyam ew a ca ajnanam ca bhijatasya partha sampadam asurim ... " (Bhagawad Gita XVI, syair 4)

Maksudnya:

Sifat megah, sombong dan congkak, murka, kasar dan bebal, hai Arjuna, semuanya ini lahir dari sifat keraksasaan (asuri sampat). Pada hakikatnya kedua bagian sifat ini juga dapat ditemu- kan dalam naskah Dharma Sasana yang merupakan bagian dari ajaran Smertti. Uraian selanjutnya akan memetik beberapa butir dari pokok-pokok nilai utama yang terdapat dalam naskah ter- sebut antara lain: butir-butir nilai utama dalam kepemimpinan, pengendalian diri dan tata susila.

"Swamin '', sedangkan kekuasaannya biasanya disebut ' 'Kra Nrttin", artinya mencakup berbagai aspek kehidupan seperti keadilan dan juga dharma. Sesungguhnya banyak terdapat pandangan mengenai persya- ratan dalam sistem kepemimpinan tersebut. 1 Di antaranya dapat disebutkan di sini seperti berikut.. Menurut teori Hindu kuno yang pernah dimuat dalam buku Substance of Hindu Policy yang disusun oleh Chandra Prakash Bhamsari, menyebutkan 6 syarat seorang swamin (pemimpin) atau lazim disebut "Sad Warnaning raj an1ti" atau "Sad Sasana" yaitu 6 (enam) sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (raja), yaitu :

l) abhicanika, yaitu memiliki kemampuan daya tarik (daya pikat) sehingga mampu menarik perhatian publik secara kondusif;
2) prajna, yaitu memiliki kebijaksanaan te rutama dalam setiap pengambilan keputusan;
3) utsaha, yaitu memiliki inisiatif atau day a kreativitas sehingga pada akhimya akan melahirkan gagasan-gagasan dinami- ka yang positif;
4) atma sampad, yaitu menjunjung tinggi hakikat moral yang luhur sehingga dapat menjadi panutan bagi rakyatnya;
5) sakya saman ta, yaitu memiliki kemampuan atau daya kon- trol yang kuat terhadap berbagai masalah yang muncul di bawahnya. Dengan demikiaan, setiap keputusannya dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul dapat terlaksana secara cermat dan tepat; 1 Buku Niti Sastra karangan Ketut Pasek, dkk. yang diterbitkan oleh Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agarna RI sebelumnya telah menyadur beberapa nask:ah/lontar atau buku-buku yang berkaitan dengan kepemimpinan.

6) aksudra parisatha, yaitu kemampuan dalam memimpin rapat-rapat (sidang). Setiap keputusan yang diambil dapat merupakan itikad kebersamaan kendatipun terdapat berbagai pandangan atau argumentasi yang berbeda-beda. Prof. M. Yamin dalam bukunya yang berjudul "Tata Negara Majapahit", (paiwa III him. 102) menyebutkan ada empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (raja) atau disebut "Catur Kotamaning Nrpati'', antara lain :
I) jnana wisesa sudha, yaitu memiliki pengetahuan yang luhur dan suci khususnya mencakup berbagai seluk-beluk bidang kerohanian;
2. kaprahitaning praja, yaitu memperhatikan secara sungguh- sungguh penderitaan rakyatnya, lebih jauh harus berupaya mengatasi kesulitan yang dihadapi rakyat, baik secara ma- terial maupun imaterial;
3) kawiryan·, yaitu memiliki watak pemberani demi menegak- kan kebenaran;
4) wibawa, yaitu penampilan yang berwibawa, baik dalam hu- bungannya dengan sesama maupun bawahannya. "Lon tar Raja Pa ti Gundala " juga memuat mengenai hakikat dari kepemimpinan tersebut. Ada tiga upaya utama (tri upaya sandhi) yang harus disadari oleh seorang pemimpin, an tara lain:

I) rupa, yaitu kemampuan pengamatan yang cermat me-

ngenai roman muka rakyat yang dipimpinnya. Roman muka biasanya sekaligus mencerminkan aspek psikologis dari seseorang. Oleh karenanya seorang pemimpin harus dapat memahami perasaan rakyatnya. Apakah ia dalam keadaan bahagia ataukah menderita (?);

2) Wangsa. yaitu pengetahuan yang luas mengenai susunan masyarakatnya (stratifikasi sosial). Dengan _pengetahuan tersebut seorang pemimpin dapat menentukan pende- katan yang tepat menurut berbagai macam kepentingan yang sifatnya berstrata di masyarakat;

"Siwa Budha Gama Tattwa" menyebutkan ada lima upaya (pan ca upaya sandhi) yang harus dipegang teguh da-Jam sistem kepemimpinan, antara lain:

I) maya, artinya berupaya menghimpun informasi;ldata yang selengkap-lengkapnya mengenai masalah-masalab yang ada di sekitarnya;
2) upeksa, yaitu memiliki kemampuan yang cermat dalam menganalisis data tersebut sehingga permasalahan yang ada dapat diletakkan sesuai dengan propo rsinya;
3) indra jala, kemampuan yang cermat untuk mencarikan jalan keluar pada setiap permasalahan yang timbul;
4) wikrama, mencakup upaya pemecahan masalah secara sistematis;
5) lo kika, pemecahan masalah yang sistematis tersebut harus didas arkan atas pertimbangan yang masak dan logis sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Apabila diperhatikan dari beberapa kutipan naskah/lontar maupun buku-buku yang telah di unukan di atas tampaknya memiliki kesetaraan dengan inti pokok Dharma Sasana yang akan diuraikan selanjutnya khususnya mengenai kepemimpinan. Dharma Sasana
1 pad a dasarnya memuat nilai-nilai kepemimpinan secara lebih Juas jika dibandingkan dengan naskah/lontar maupun buku-buku yang diacu di atas.

"Danna Sasana" dapat digolongkan sebagai "smerti" yaitu bagian dari kitab suci ("Sruti") tetapi bukan agama. Uraian lengkap mengenai penggabungan "smerti" ini dapat dibaca dalam kitab Murddha : Agama Hindu (Indonesia) bagian I. Jogya- karta : Yayasan Dharma Laksana Saraswati, 1966.

Sasana pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih rinci dari Asta Brata 2 yaitu ajaran Sri Rama kepada Gunawan Wibisana dalam RamaY.ana. Jika dalam Asta Brata mencantumkan 8 (de- lapan) landasan sikap mental bagi seorang pemimpin, maka Dharma Sasana merincinya ke dalam 16 butir (sodasq brata) yang menjadi pedoman utama dalam kepemimpinan, yang me- liputi :

  1. gi.ri brata, yaitu sifat-sifat ksatria yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Pantang menyerah jik.a berhadapan dengan musuh dan kalau dipandang perlu harus bertempur sampai titik darah penghabisan;
    2) Indra brata, yaitu sikap yang cermat di dalam setiap peng- ambilan keputusan. Setiap adanya pengaduan rakyat harus diteliti kebenarannya dan tidak mudah percaya kepada pengaduan yang tidak jelas asal mulanya;
    3) Mreta warsa brata, yaitu mengisyaratkan agar seorang pim- pinan dapat berlaku adil, bisa diibaratkan sebagai curahan air hujan yang membasahi bumi;
    4) Yama brata, yaitu ketegasan dalam menegakkan hukum se- hingga keadilan dapat ditegakkan;
    5) Gni brata, yaitu kecermatan dan kecekatan dalam menyele- saikan masalah;
    6) lawana brata, yaitu kebijaksanaan dalam mengampuni kesalahan-kesalahan kecil terlebih-lebih yang dilakukan secara tidak sengaja oleh seseorang;
    7) mrega brata yang mengisyaratkan agar berusaha lebih ba- nyak memberi daripada menerima; 2 Asta Bra ta (8 landasan sikap mental) seperti: Indra brata, Y ama bra ta, Surya brata, Candra brata, Bayu brata, Denadha (Kwera) brata, Baruna brata, dan Agni brata. Periksa buku : Niti Sastra oleh Ketut Pasek, dkk., Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agam a RI, 1982.

10) Sat a brata, yaitu kemampuan untuk membagi kasih yang merata terhadap semua rakyat; I 1) may ura brata, yaitu sikap selektif terhadap usaha pemenuh- an kebutuhan, b_aik itu makanan maupun kebutuhan seks;
12) can taka brata, yaitu tidak semata-ma a mengharapkan pem- be rian rakyat dan berusaha menjaga hubungan harmonis antara rakyat dan pimpinan sehingga tumbuh rasa saling mencin tai;
13) kaganila brata, setiap pengambilan keputusan harus didahu- lui oleh adanya musyawarah, terleb1h -lebih dalam menja- tuhkan eksekusi (hukuman mati);
14) wyagra brata, yaitu upaya untuk mencapai suatu keberhasil- an terhadap tujuan-tujuan yang telah ditetapkan;
15) cundaga brata, yaitu kemampuan adaptasi terhadap perkem- bangan di sekitar;
16) walesa brata, yaitu lebih mengutamakan kepentingan rakyat kecil, terlebih-lebih mereka yang benar-benar membu- tuhkan perhatian. Seperti telah diuraikan pada alinea di atas bahwa Dharma Sasana pada dasamya adalah bagian dari ' Smerti " bukan agama oleh karenanya bagian-bagian pendahuluan dari isi lontar ter- sebut tampak memuat tentang aspek dari kehidupan kemasya- rakatan itu khususnya mengenai kepemimpinan. Beberapa butir mengenai sikap dalam sistem kepemimpinan (16 brata) di an- taranya ada yang dapat disetarakan dengan Asta Brata yang terdapat dalam epik Ramayana yang merupakan bagian dari "smerti" agama.

" Lon- tar Dharma Sasana ", butir 8. lb di atas), maka Agni brata mengibaratkannya bagaikan api yang berkobar dan membasmi. Disebutkan dalam " Ramayana" (sarga 21 ). "... lanang gesengi satru bahni brata calakta rimusuh yeka puw asing saina santa sima pasah yetekana sinanguhagni brata ... ". Yang mempunyai maksud membasmi musuh itu adalah Agni brata. Semangat membasmi musuh itu sebagai kobarannya setiap musuh yang akan dihadapi hancur berantakan. Yang de- mikian itulah brata-nya Sang Hyang Agni. Aspek nilai yang menonjol dari butir Indra brata yang terdapat dalam Dharma Sasana terutama adalah nilai " kecermat- an" dalam setiap pengambilan keputusan. Dalam kakawin " Ramayana" (sarga 21) istilah Indra brata yang menjadi bagian dari Asta brata dapat ditemukan juga. Dalam Ramayana lebih ditekankan adanya hubungan keselarasan antara pemimpin dengan rakyatnya yang diibaratkan bagaikan air hujan yang berasal dari uap air yang pada akhimya juga turun menyirami bumi. "... Nihan bratani Sang Hyang Indra ta pan sira ngudana- ken tumrepting jagat. Sirata suladanta Indra bra ta. Subhana- ya undanta menghabirat ... ". Maksudnya: Inilah brata-nya Sang Hyang Indra yang patut diikuti. Be- liaulah yang menurunkan hujan untuk kemakmuran jagat. Be- liau patut diikuti yang disebut 'Indra brata tujuan utamanya adalah menyuburkan rakyat. Tampaknya makna Indra brata yang terdapat dalam " Ramayana" lebih mendekati makna.

"Dharma Sasana" maupun dalam "Ramayana" dapat dij umpai istilah Yama brata. Kedua sumber tersebut pada hakikatnya menonjulkan "penegakan hukum" sebagai aspek nilai yang dominan. Di dalam "Ramayana" (sarga 21) dituijs :

" ... Y ama brata dumandha karena ala sirakana malung ma- ting yar pejah umelwa kita malwa ngalah salah asing ngu- mamrang sarat prih pa ti ... ". Maksudnya: Brata Sang Hyang Yama menghukum orang yang berbuat salah. Beliaulah yang menghukum roh ·pencuri kalau sudah mati. Patutlah kita ikut menghukum orang yang bersalah. Setiap yang membikin kacaunya masyarakat patut dilenyapkan. Ya ma brata dalam naskah Jawa K uno yang dise but Cilakrama adalah merupakan brata pengendalian diri untuk menca- pai kesempumaan rohani dan kesucian batm berupa dharma dan moksa. 1 DalamWrhaspati Tattwa, Yama brata lebih diartikan sebagai suatu peraturan kesusilaan yang dapat dibagi menjadi 5 (lima) macam seperti : ahimsa, brahmacari, satya, ayawahara, dan astainya. " ... Ahimsa ngaranya tan pamati-mat1 brahmacarya nganya tan ahyun arahbya, satya ngaranya tatan mityawacana, aw-yawaharika ngaranya tan awiwaha, tan adol awelya, tan pagunadosa, astainya ngaranya tan amaling-maling tan anga- lap drewyaning lyan yan tan ubhaya". 2

Maksudnya:

Ahimsa adalah tidak membunuh, brahmacari namanya tidak beristri, satya namanya tidak berdusta, A wyawaharika namanya

Sebelumnya juga pernah disadur oleh penulis lainnya yaitu Drs. LB. Oka Puniyatm adja, dalam : Cilakrama. Penerbit Parisadha Hindu Dharma Pusat, 1976. 2Periksa : " Wrhaspati Tattwa", dalam An Old Javanese Philosophical Tex, edited by International Academy of Indian Culture, Nagpur 1957, halaman 6.

Tattwa·• diprediksi- kan sebagai dua gejala yang bersifat ambivalen. Hukum adalah untuk keadilan; dan sebaliknya, keadilan dapat ditegakkan me- lalui hukum. Hukui;n dai:i keadilan menurut pandangan di atas selalu dikonfirmasi ke dalam nilai kebajikan. Oleh karenanya, kebajikan itu sendiri pada dasarnya bersumber pada diri manusia itu sendiri. 1 Oleh karena itu, setiap keputusan hukum selalu didasarkan atas prinsip keadilan dan bukan persoalan salah- benar yang ditentukan oleh sesama manusia. Hal itu berkaitan erat dengan adanya kemungkinan "turn" atau " papa" yang dilakukan manusia _itu sendiri. Disebutkan dalam ''Whrespati Tattwa", sebagai berikut : " ... atyanta kasyasih ning atma sajna Bhatara, ndya teka luputa ring "papa", matangnyan lepasa sangking papa nera- ka ... ". Maksudnya : Manusia itu tidak lepas dari turu atau papa atau lupa. Dan oleh karenanya kesadaran akan " sang dirilah" merupakan ha- kekat ajaran kebajikan tersebut (yan .matutur ikang atma rija- tinya). Yama brata dalam Dharma Sasana juga menandaskan adanya usaha "menasehati" sebelum hukuman itu dijatuhkan. Hal ini dimaksudkan agar manusia yang papa/turu itu dapat menya- dari kesalahannya. Kesadaran .diri itu dalam ''Whrespati Tattwa" adalah "pawak Bhatara" ("tiada beda badanmu dengan badan-

1 Sebelumnya juga telah mendapat uraian dala!n buku : Fungsi Upacara Ciwa- ratri di Bali, oleh I Gusti Ketut Gde Arsana, dkk. Yogyakarta: Departemen Pendidik- an dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan : Proyek Penelitian dan Peng- kajian Kebudayaan Nusantara, 1985, halaman 70..

(Tuhan)". Jadi hanya Tuhan saj a yang dapat menentukan hakekat ke benaran.

Bagaimapa misalnya sampai terjadi suatu keputusan hukum yang sangat kontropersial antara Y ama dengan Ciwa terhadap Lubdhaka dalam kisahnya pada Ciwaratnkalpa. 1 Menurut Yama hukuman yang pantas untuk dijatuhkan terhadap Lubdhaka ad al ah neraka, sedangkan Ciwa (dewa tertmggi) justru memutus- kannya agar roh Lubdhaka mendapat sorga. Esensi nilai yang dapat dipetik dari kisah Lubdhaka tersebut adalah hakikat "kebajikan" itu sendiri yang sebetulnya bersumber pada kesa- daran asasi dari manusia itu sendiri. Dengan demikian, seorang yang kebetulan memegang wewenang atas suatu keputusan hukum hendaknya berpegang pada hakekat nilai terse but.

L ubdhaka dalam Ciwaratrikalpa memberikan cermin, bahwa sekalipun dalam hidupnya ia termasuk manusia keji (pembu- nuh), namun pada saat tertentu ia juga mampu menemukan hakikat di rinya; dan oleh karenanya, Ciwa menilai bahwa Lubdhaka mampu membinasakan " papa nerakanya" dan dapat mencapai hakikat hidup yang utama. "Papa" atau kehilapan itu juga seluruhnya berasal daripada Nya. Dalam bait dari "Puja Homa" (Devi Sudarsana, 19 57: 13-18) terpetik sebagai berikut:

" agni-madhye Ravie caiva, Ravi-m adhyestu candramah, candra -madhye bhavec chukhah, cukla madhye sthitah Civah ... ".

1 Periksa beberapa buku/ naskah yang pernah membahas tentang Ciwaratrikalpa seperti antara lain : Agama Tirtha : Five Studies in Hindu-Balinese R eligion,

C. Hooykaas. Amsterdam, 1964, halam an 191 -23 6, A Missing Piece of Balinese Painting of the Ciwaratrikalpa, P.J. Worsley, BKI 126, 1970. Fu ngsi Upacara Ciwa- ratri di Bali, I Gusti Ketut Gde Arsana, dkk. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pem,binaan Kebudayaan Nusantara.

"Dewa Ciwa" be rad a. •

Membicarakan "papa" neraka dan tercapainya hakekat hi- dup yang utama pada dasamya identik dengan pengertian bertobat (conversion) dalam arti religius. Secara psikologis, per- tobatan dapat dipandang sebagai runtuhnya suatu sintesis mental tertentu, kemudian digantikan dengan sintesis mental baru. " Sintesis mental" merupakan susunan kesadaran dan kelakuan manusia di sekitar suatu "set" keyakinan tertentu yang merupakan tempat sentral dari kepribadian. W. James (1958: 16) dalam kar)ranya berjudul The Varieties of Religi.ous Experience, me- ngatakan "set" atau kumpulan key akin an itu sebagai "the habitual centre of his (manusia) personal energy". Selanjutnya di- katakan: bila kita menyatakan bahwa seorang manusia bertobat, maka hal ini berarti bahwa ide-ide beragama yang dahulu berke- dudukan periferial dalam kesadaran religiusnya kini berkedu- dukan sentral. Tujuan religiusnya kini merupakan pusat habitual energi orang bersangkutan. Dalam "Bhagawad Gita X, syair 20" juga tertulis antara lain. 1

" ... Aham atma gudakeca sarwabhutacayasthitah aham adic ca madhyam ca bhiitanam anta ewa ca... ".

Maksudnya : "Wahai Arjuna, Aku adalah Atma, yang bersemayam di dalam hati semua makhluk, dan Aku awal mula, pertengahan dan akhir makhluk itu ''.

1 Sebelumnya juga telah dikutip dalam buku : Dharma Prawrtti Castro. Dikelu- arkan oleh Parisada Dharma Hindu Bali. Denpasar, 1960, halaman 30.

" ... ya ca 'pi sarwabhutanam bijam tad aham Arjuna na tad asti wina yat syan may a bhlitam caracaram ... ".

Maksudnya: "W ahai Arjuna, Akulah benih segala makhluk, dan tidak ada suatu ciptaan yang bergerak maupun hdak bergerak, tanpa Aku".

Seorang filosof bernama Nicolaus ssanus mensinyalir bahwa dalam setiap penegakan keadilan selalu merupakan upaya falsifikasi dan verifikasi pengenalan berstrata yaitu melalui pengenalan indra, rasio dan intuisi. Stratum terakhirlah yang menurutnya merupakan esensi dari apa yang disebut "Kebenar- an" abadi. Dalam pandangan imanen mungkin sejajar dengan sebutan " ilham " (divine inspiration) yaitu bisikan kalbu, suara hati atau kesadaran tertinggi. Apa yang disinyalir oleh filosof di atas tampaknya manifes dengan apa yang pernah di- kemukakan oleh Martin Heidegger: ".. Derruf kommt aus mir doch uber mich ... " (suara itu datang dari Ku, akan tetapi juga di atas diri-Ku). Jadi dapat dikatakan bahwa suara hati (intuisi) itu adalah jelmaan dari ilham (Mudlor Achmad, t. t. : 25 -26). Mengingat proses "kesadaran tertinggi" itu selalu melalui tiga stratum pokok pengenalan maka jarak stratum yang satu dengan yang lainnya ditempuh melalui perjalanan hidup yang panjang. Rentangan waktu inilah sebetulnya merupakan kesem- patan bagi manusia untuk merancang tujuan tersebut. Kesem- patan merancang (verifikasi dan falsifikasi) harus diberikan kepada insan hukum apakah berupa pertobatan ataupun sekali- gus pengampunannya. Butir lain dari "Dharma Sasana" juga menandaskan peluang itu dalam menegakkan apa yang disebut- kan sebagai Lawana brata. Atau sekurang-kurangnya setiap ke- bijaksanaan keputusan hukum juga harus merupakan proses per-

timbangan matang yang dicapai melalui musyawarah. Untuk yang disebut terakhir ini telah diisyaratkan dengan Kaganila brata sebagai aspek nilai dalam " Dharma Sasana". Setiap proses peradilan (wiwadartha)1 , memuat pandangan Hindu selalu didasarkan sekurang-kurangnya atas 4 (empat) dasar pertimbang- an pokok, yaitu :

1) dharma yaitu p~raturan yang telah diterima sebagai dasar yang mengikat termasuk di dalamnya adalah hukum tertulis dan tidak tertulis;
2) wyawahara yaitu bentuk perkara seperti perdata ataupun pidana;
3) charitra yaitu duduk perkara atau kejadian yang memerlu- kan pemecahan atau penyelesaian;
4) rajasesana ( ajna) yaitu keputusan a tau ketetapan hakim yang mengetuai proses peradilan itu sendiri. Sedangkan sumber hukumnya berpedoman pada 4 (empat) sumber hukum pula, antara lain :
1) kitab suci dari agama, termasuk Dharma Sastra-nya;
2) Arthasastra atau ilmu politik;
3) Wyawahara atau wyawaharikasastra atau perundang-un- dangan (hukum) positif;
4) samstra dan Nyaya yaitu ad at dan penalaran (ratio). Butir lain dari enam belas brata dalam "Dharma Sasana" adalah Mrega brata. Di sini ditandaskan agar seorang pimpinan harus beritikad : "memberi" lebih banyak daripada "meneri- ma". Esensi nilai yang tertanam dalam brata ini didasarkan atas kesadaran pengorbanan diri sendiri untuk mencapai kebahagia- an. Semasih manusia hanya mengutamakan badannya, ia selalu berusaha untuk "mengambil", karena badannya hanya da- pat hidup dengan unsur tersebut. Dalam pandangan Hindu 1Periksa kembali kitab:
Niti Sastra, oleh Ketut Pasek, dkk. Proyek Pembinaan Mu tu Pendidikan Agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI.

"mengambil', sedangkan jika tingkat yang kedua ia cenderung "memberi" karena ia telah menuju Paratrna. Pada tingkat ini manusia berupaya melaksanakan "Yajnam sanata- nam" yaitu penyaluran tenaga atas dasar pengorbanan yang kekal. Ia selalu berupaya untuk menyalurkan tenaganya (ter- masuk berderma) demi kebahagiaan bersama. 1 Tandaran nilai ini tampaknya juga dapat dirakit dengan be- berapa butir brata lainnya dalam Dharrna Sasana seperti : singa brata, sata brata, rnayura brata, can taka brata, dan walesa brata. Kelima brata ini pada prinsipnya juga mengandung nilai-nilai dasar bagi sistem kepemimpinan seperti. stabilitas, kasih, pengekangan nafsu, mengutamakan kepentingan umum, dan sebagainya. Keseluruhan esensi hakikat nilai kepemimpinan tersebut di atas dalam konsepsi Hinda lazim disebut "kebebasan dari sifat-sifat asiiri sampat a tau Asura ". Dalam Manu Smrtti IV, 22 6, 1 dan seterusnya pernah menyebutkan, sebagai berikut. "... croddhayestam ca pustam ca nityam kuryadatandritah, craddhakrte hyaksaye te bhawatah swagatairdhanaih ... " Maksudnya : "hendaklah ia dengan penuh keyakinan dan rajin mengada- kan korban dan api unggun. Kalau ini dilakukan dengan

1Bandingkan pula dengan uraian tentang "yadiia ", dalam kitab : Dhanna Prawrtti Castra. Denpasar, dikeluarkan oleh Parisadha Dharrna Hindu Bali, 1960: 13 -19. IDikutip dari kitab : Tata Susila Hindu Dharma. oleh Prof. Dr. LB. Mantra. Denpasar, Penerbit Institut Hindu Dharrna, 1967:46.

".

Namun kendatipun demikian kebajikan yang dilakukan tersebut juga harus didasarkan atas sikap hati-hati, karena kadang-kadang pula bisa menjadikan orang celaka .. Seperti dise- butkan dalam Ramayana VI, 21, 2 sebagai berikut. " ... sulabhah purusa rajan satatam priyawadinah, apriyasya ca pathyasya wakta crota ca duslabhah ... ". Maksudnya : Wahai raja sungguh mudah menemui orang yang selalu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, namun sukar mendapatkan orang yang suka mendengar, dan mengucapkan kata-kata atau ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan tetapi bermanfaat". Tandasan nilai tersebut juga menjadi bagian ter- sendiri dari brata kedua dari "Dharma Sasana", yaitu Indra brata. Di sini diingatkan agar seorang pimpinan harus tetap ber- hati-hati terhadap pengaduan rakyat terlebih-lebih yang tidak jelas asal-mulanya.

Bagian lain dari enam belas brata dalam "Dhanna Sasara" terdapat butir brata yang disebut wyagra brata dan cundaga brata. Kedua butir brata ini akan dirakit menjadi satu karena pada hakikatnya keduanya menandaskan nilai-nilai yang saling bantautan satu dengan lainnya dalam sistem kepemirnpinan. Wyagra brata lebih menekankan pada upaya mencapai tujuan dalam kehidupan kelembagaan sedangkan cundaga brata menandaskan adanya kemampuan adaptabilisasinya. Tujuan dalam kehidupan kelembagaan pada dasarnya ber- eksistensi ganda, yang secara garis besarnya mengacu kepada adanya equalibrium dari faktor internal dan eksternal.

2Periksa kembali: Kitab Dharma Prawrtti Castra. Denpasar, dikeluarkan oleh Parisada Dhanna Hindu Bali, 1960:63 -64.

" Rama- yana" dapat ditemukan.kalimat : "... ksayan ikang papa·nahan prayojana ... ". Maksudnya, melenyapkan penderitaan itulah tujuan kita menjelma. " ... Gumawe sukan nikang rat kininki- nira ... ". Maksudnya: membuat kesejahteraan masyarakat se- lalu diusahakan. Tujuan dharma negara Majapahit misalnya, ialah untuk mencapai kedigwijayaan atau lengkapnya kadigwi- jayaan ira narendra ringpraja. Prof. N.J. Krom menerjemahkan- nya dengan arti : 'kekuasaan memerintah yang berbahagia oleh Sang Prabhu bagi kejayaannya. Karena kekuasaannya memerintah untuk menciptakan kebahagiaan itu. Sang Prabhu mencapai kejayaan di masyarakat, sedangkan S.M. Willema mener- jemahkannya dengan arti : 'kemenangan dari berbagai-bagai negara di dalam semua hal ". Tujuan negara Sri Wijaya ialah : Sri Wijaya jaya sudha yatra sudhiksa, yang artinya : 'karena perjalanan suci Sri Wijaya mencapai kemenangan sejati' (Ke- tut Pasek dkk., 1982. 53-55).

Equalibrium dalam konteks di atas manifes dengan tan- dasan nilai yang terkandung dalam wyagra brata maupun cundaga brata karena mencakup implikas1 yang komprehensif baik bagi upaya mencapai kesejahteraan sebagai aspek dasar dalam kehidupan negara, maupun aspek suplemen atau deri- vatifnya yaitu menentukan ketahanannya. Dalam pengertian dinamika atau pengembangannya kedua aspek di atas amat ditentukan oleh kerangka sistem dari equalibrium itu sendiri. Di dalam pandangan Hindu juga termuat mengenai hakikat utama dalam pengembangan sistem politik seperti itu. Di dalam kitab Manusmrti ditemukan ajaran yang d1sebut "Dhannasidhi- yartha" misalnya. Di dalamnya disebutkan ada 5 (lima) dasar

yaitu hakikat kekuatan atau kemampuan yang inhem pada bangsa itu sendiri (sumber daya alam dan manusia);

3) desa, yaitu hakikat geografi atau wilayah;
4) kala, yaitu aspek waktu seperti
(a) masa lampau (atita),
(b) masa sekarang (wartamana), dan
(c) masa yang akan datang (nagata);
5) tattwa, yaitu ideologi. Dari sudut kemampuan adaptabilitasnya, Niti Sastra men- cantumkan 8 (delapan)
1 hakikat pen ting yang. perlu diperhati- kan dalam pengembangan equalibrium tersebut antara lain :

1) swami (raja) yaitu unsur kepala negara;
2) amatya, yaitu unsur menteri/para pembantu kepala negara;
3) janapada, yaitu unsur rakyat dan wilayah;
4) Durga, yaitu usur kekuatan pertahanan;
5) kosha, yaitu unsur kekayaan alam;
6) bala, yaitu unsur kekuatan angkatan bersenjata;
7) mitra, yaitu unsur sekutu atau negara sahabat;
8) ari, yaitu unsur musuh a tau negara lawan.
4.2 Nilai Pengendalian Diri Seperti telah mendapat uriaan dalam alinea-alinea terda- hulu bahwa dalam diri manusia itu sendiri terkandung dualisme pikiran yang satu sama lainnya berada dalam keadaan berten- tangan. Di satu sisi manusia dapat berprilaku manurut takaran 1oalam Niti Sastra sebetulnya hanya 7 (tujuh) unsur penting yang ditandaskan dalam sistem politik tersebut yaitu disebut " Sapta Angga". Unsur terakhir yaitu " Ari" tidak dirnasukkan secara khusus. (Bandingkan pula dengan uraian Ketut Pasek dkk., 1982:125).

" Upani sa d" 1 pun keadaan tersebut juga pernah dimuat, antara lain : " ... Devaya ha prajapatyfill, deras casuras ca, tatah kaniyasa eva devah, jyayasa asurah, ta esu lokes apardhanta, te he deva acuh, hantasurah yajna udgithenatyayameti (Radhakrishnan, 1953: I 54 ). Maksudn ya : ".. Ada dua golongan keturunan dan Prajapati, ialah dewa- de wa dan raksasa-raksasa, dari keduanya ini dewa-dewa lebih muda, dan raksasa di satu pihak lebih tua, mereka be rkelahi satu sama lainnya (untuk menguasai) dunia ini, de wa- dewa berkata, " mari, marilah Iota mengalahkan raksasa-raksasa itu dengan jajna melalui udghi ta".

Dualisme pertentangan yang mengisi pikiran manusia seperti itu seringkali mewamai tema-tema cerita terutama dalam epos Ramayana maupun Mahabharata. Dalam Ramayana misal- ny a, penggambaran pikiran manusia seperti itu dilukiskan melalui adanya penampilan tokoh Rama yang mewakili sifat-sifat daiwi sampat dan Rawana mewakili sifat-sifat asuri sampat. Demikian pula dalam Mahabharata digambarkan melalui pertentangan kerajaan Pandawa dengan Korawa yang sesungguhnya berasal dari satu garis silsilah keturunan. Di al og pertentangan pikiran tersebu t juga dapat ditemukan dalam bagian lain dari Ramayana seperti antara lain :

11 Gede Sura dalam tulisan berjudul : Pengenda/ian Diri don Etika dalam Ajaran Agama Hindu (Skripsi Sl). Denpasar : Fakultas Agama dan Kebudayaan IHD· 1983, juga pernah mengutipnya. Uraian uraian selanjutnya juga akan menggunakan tulisan tersebut sebagai bahan acuan.

" ... E Ramabhadra atimuda dahat mapunggung, tatan emas pinaka don mami yan parangke, tar mangsa tan apa mahangrabasa juga ngke, tar mangsa tan apa mahangrabasajuga ngke, dharma swabhawa mami tan hana sadha budhi ... ". Maksudnya :

" ... Hai Rama, amat bodoh kamu amat dungu, bukan emas tujuanku datang ke sini, bukan daging, bukan apa-apa. Hanya sengaja akan merusak saja, Kewajiban dan sifat kami raksasa, ialah menjadi musuh dunia.

'' ... yan raksasa prakreti dusta ya tu tunamwa,

jatingku suddha karatun ya ta, tukangkan, sakweh nikang adhama raksasa satruning rat, tatan patangjwa sahananya ya patyangengkwa ... ". Maksudnya : "... sifat raksasa yang jahat kauturuti, sifatku ialah sifat raja suci bersih, itulah yang kuturut, segala raksasa yang jahat musuh dunia, tidak dapat dielak-elak lagi, semuanya akan kubunuh". Dialog dualisme hakikat yang senantiasa mempengaruhi pikiran manusia seperti terurai di atas jika dikaitkan dengan pengendalian diri maka diantaranya akan muncul hakikat "variant" yang menengahi hakika t kon tradi ktif. Manusia dihadapkan kepada "pilihan", penyeleksiail, clan pertimbangan- pertim bangan yang mengacu kepada tujuan prilaku. Apakah ia memilih yang baik (menurut takaran moral) ataupun memilih yang tidak baik, merupakan dilema dalam dialog pikiran manusia. Kemampuan untuk menjadikannya variant di antara dualisme pertentangan pilihan itu dalam ajaran Hindu biasanya disebut "wiweka". (Nyoman Kajeng dkk., 1970/1971:7). ' 'Wiweka" dalam pandangan Hindu pada hakikatnya menco- ba memberikan perbedaan destingtif antara prilaku manusia dengan binatang. Manusia berprilaku berdasarkan akal budi

Pandangan Hindu juga mem bedakan kecenderungan- ke- cenderungan yang terjadi dalam piki.ran maupun prilaku manusia. Konsep "triguna" merangkumnya ~e dalam 3 (tiga) sifat prilaku tersebut yang pada dasarnya mengacu kepada prilaku dasar, yai tu raj as dan ta mas dan bagian dari " triguna" merangkum prilaku-prilaku yang tidak baik seperti: sifat-sifat congkak, iri hati, usil, sombong, rrialas, bodoh, nafsu birahi besar dan sebagainya, sedangkan sattwam merangkum prilaku yang baik seperti: kemampuan membedakan antara yang baik dan tidak baik, benar-salah, bijaksana (dharma putus), dan seterusnya (Su darsana, Devi, 196 2: 15 ).

Un tuk meletakkan sattwam tersebut sebagai unsur sentral dalam prilaku menurut takaran moral diperlukan upaya-upaya pengendalian diri. Relevansinya terkait dengan upaya-upaya penyortiran dari adanya stimulasi rangsangan-rangsangan, ooik yang menyentuh bagian- oogian organisme maupun psikologis (Philip H. Mitchell, 1956: I ). Rangsangan-rangsangan yang menyentuh piki.ran manusia elemen-elemen organisme manusia itu dalam pandangan Hindu secara luas dikenal dengan musuh- m usuh yang ada pada diri manusia. Hal itu misalnya dikenal dengan istilah-istilah "sadripu", "astadewi", dan "sad tatayi", dan sebagainya. Dalam naskah "Dharma Sa~ ana" ketiga komponen musuh yang terdapat pada diri manusia tersebut juga menjadi bagian utama dalam uraiannya. Walaupun makna da ri ketiga komponen musuh tersebut di atas hakikatnya tidak berbeda dengan makna yang terdapat dalam ajaran-ajaran Hindu, namun istilah-istilah yang menjacb bagian dari komponen-komponen tersebut di tulis agak berbeda dalam " Dharma Sasana".

"Tharma Sasana" terdiri atas 6 (enam) musuh yang terdapat dalam diri manusia antara lain :

1) alasya, sifat-sifat malas, a tau bod oh;
2) nidra, adalah pelupa;
3) baya, adalah sifat penakut dan gugup;
4) tresna, adalah cinta kasih;
5) raga adalah senang akan keindahan;
6) dwesa adalah kecantikan. Asta dewi terdiri atas 8 (delapan) musuh yang harus diken- dalikan dalam upaya mencapai kerahayuan, antara lain :
I) jaya sidi, yaitu mengaku diri kaya raya dan sakti;
2) catur asini, yaitu sifat merusak ketentraman umum, dengki terhadap sanak famili, dan lain-lain;
3) uma dewi, yaitu sifat-sifat sombong dan menganggap dirinya dewa dari segala dewa;
4) camundi, yaitu pikiran menderita, bingung, kata-katanya ti dak terarah;
5) makrodi, yaitu suka bertengkar, cemburu, egois, pemarah, tidak berpendirian, dan lain-lain;
6) Du,rga dewi, yaitu membuat keonaran, meracuni, senang melakukan praktek magis (black magic), dan sifat-sifat setan lainnya;
7) tatsini, yaitu pikiran gelap, memuji-muji orang yang ber- dosa, berkata yang tidak benar;
8) wigna, yaitu suka tidur menuruti kemauan, tidak pernah merasakan ketentraman batin. Sad tatayi2terdiri dari 6 (enam) perilaku yang menyim- pang atau salah antara lain : !,,Sad Ripu" dalam kitab Murdha, Agama Hindu (Indonesia) I karangan I Gusti Ketut Adia Wiratmadja, 1966 :68 memakai istilah-istilah seperti : kama, lobha, mada, krodha, moha dan matsarya. 2 " ... Dalam kitab : Murdha, Agama Hindu I, 1966:68, digunakan istilah-istilah seperti : agnida, wisada, atharwa, sastraghna, dratikrama, rajapisuna yang terangkum ke dalam sat tatayi.

kematian orang lain secara tidak wajar;

5) membakar rumah, jahat, mencuri;
6) memfitnah. Pada bagian tertentu dalam "Dharma Sasana" juga disebutkan beberapa konsep lain yang hakikatnya juga mencakup perilaku menyimpang seperti: steya dan asta dusta. Dari sudut takaran moral barangkali 6 (enam) jenis musuh yang ada pada diri manusia (sat ripu) itu masih dapat dianggap sebagai bagian dari sifat-sifat kewajaran yang ada pada manusia secara universal. Hampir tidak ada orang yang sama sekali tidak pernah mengalami sebagian atau keseluruhan dari keenam sifat-sifat yang mewarnai sad ripu terse but. Oleh karena itu, perilaku yang dipengaruhinya dianggap masih berada dalam batas-batas atau kadar moral yang wajar, sedangkan jenis-jenis musuh diri manusia yang lainnya, sebagian atau keseluruhannya seperti as ta dewi, sad tatayi dan asta dusta cenderung mengarah kepada perilaku -perilaku di luar batas moral. Oleh karena berkaitan langsung dengan adanya konsekuensi yang dapat merugikan orang lain dalam lingkup yang tidak terbatas. Walau- pun demikian jenis musuh diri yang tersebut pertama sekalipun kadang-kadang juga paling mungkin terjadi adalah konsekuensi-kose kuensi tertentu terhadap dirinya sendiri. Di bawah ini akan disajikan dua buah kisah cerita dan " Tantri Kamandaka"
1

yang menggambarkan tentang cont oh kurang terkendalinya pikiran manusia yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari sad ripu tersebut. Dalam kisah pertama, diceritakan seorang Brahmana yang sedang menuju perjalanan pulang seusai menyelesaikan pela-

1Kisah cerita ini sebelumnya juga pernah dimuat dalam kitab : Sarwacastra, jilid I, oleh R.D.S. Hadiwidjana, Joygjakarta : UP Indonesia, 1968:44- 45.

jarannya. Di tengah perjalanan Brahmana tersebut menemukan seekor harimau yang sekarat dipatuk ular berbisa. Oleh karena rasa kasihannya amat mendalam melihat keadaan harimau itu, Brahmana lupa akan segala akibat yang mungkin timbul. Selanjutnya tanpa berpikir panjang harimau itu dijampinya sehingga dapat siuman kembali. Ketika telah sadarkan dari harimau itu berucap; "Waah inilah makananku yang lezat pemberian Dewa Rudra .. .. oh benar-benar dapat memenuhi selerakU ... ". Demikian ucap harimau dan diterkamnya tubuh Brahmana itu dan dilalapnya sampai habis. Kisah yang lainnya, menceritakan kisah seorang raja yang sedang memadu asmara dengan sang permaisuri yang sangat cantik di sebuah taman bernama Sidempati. Beliau dikawal oleh seekor kera kesayangannya bernama Garubuh. Kera tersebut dinilai memiliki kecerdasan dan ketci.ngkasan seperti manusia, hingga dianggap mampu mengatasi berbagai tantangan yang dapat mengancam keselamatan sang Raja.

Ketika sang Raja mulai bercengkrama beliau bersabda kepada Garuooh: " ... hai kera kesayanganku, jagalah kesela- matanku di kala ak-u tidur. .. barangkali ada musuh-musuh yang mengancamku... hendaknya engkau lenyapkan apa saja yang mengganggu tidurku. Gunakanlah pedangku ini untuk menebasnya". Demikian sabda sang Raja. Selanjutnya, ketika sang Raja tidur dengan lelapnya di- dampingi oleh sang permaisuri yang cantik jelita datanglah dua ekor lalat yang menghinggapi leher sang Raja dan permaisurinya. Mengetahui akan hal itu teringatlah sang kera pesan yang pernah disabdakan kepadanya. Pedang yang dipegangnya lalu dihunusnya dan ditekankannya keras-keras pada lalat tersebut sampai-sampai memutuskan leher sang Raja dan permaisurinya. Matilah sang Raja dan permaisurinya akibat kece- robohannya sendiri. Terna cerita di atas adalah sebagian dari sekian banyak c ootoh yang berhubungan dengan adanya musuh-musuh pada

Oleh karena itu, Sarasamuscaya 1 menganjur- kan sebagai berikut :

''. .. pratyaham prasyavekseta, hyatmano vrtamatmana, kinume passubhistalyan, kinmu sat purusaih saman. Matang- nyan haywa tan pawiweka, awakta pwa umangen-angena ulahnyawakta sari, linganta, salah kariki ulahta, yukti karika, pada lawan pasu kariki ta mangke pada sang pandeta ku nang, demiki prawrttinta, mangkana linganta sari yatna tutura ri prawrttinta... ".

Maksudnya: " ... oleh karena itu jangan hendaknya tanpa pertimbangan, hendaknya anda memikirkan perbuatan dari anda sehari- hari, pikir anda: " Apakah salah perbuatan ini atau benar- kah? Sama dengan hewanlah atau sama dengan sang pandi- takah tingkah lakuku ?" Demikian hendaknya pikiran anda dari hari ke hari dan anda senantiasa menasehati diri menge- nai perbuatan anda itu. Keselamatan, keringanan, kebaha- giaan hidup ki ta amat bergantung kepada pikiran dan ke- mampuan pikiran kita berwiweka dan karena itu setiap gerak tindakan ki ta hendaklah selalu berdasarkan wiweka. ,,

Kesanggupan manusia untuk mengadakan penyeleksian dari keterkaitan hubungan antara daya sentuh rangsangan indrya maupun pikiran adalah sangat penting bahkan kadang-kadang sangat mutlak. Antara pikiran dan indrya dalam konsep pengendalian diri ad alah merupakan hubungan sibeme~ik. 2 Indrya paling sensi tif tersentuh oleh rangsangan duruawi, dan sekaligus

1Dikutip dari Kajeng, 1970/1971/:2 14.

2 Hirarkhi sybernetic system pernah digunakan oleh Talcott Parsons secara luas dalarn teori tindakan sosial (General Theory of Action System). Salah satu bukunya berjudul The Social System, New York : Free Press, 1964 juga menggunakan teori tersebut.

cootoh kalimat sebagai berikut.

" ... Atmanam rathinam veddhi, sariram ratham tu buddhim tu saradim viddhi, manahpragraham eva ca ... ''. Maksudnya :

". Ketahuilah bahwa sang pribadi acialah "Tuannya" kereta, baclan adalah kereta, ketahuilah bahwa kebijaksanaan itu adalah kusir, clan pikiran adalah tali kekangnya ... ". " ... Indriyani hayan ahur vesayanis tesu gocaran atmamen- driya mano yuktam, bhaktety ahur mamisinah ... ". Maksudnya : ., .. indrya, mereka menyebut, adalah kuda, sasaran indriya adalah jalan, sang peribadi dikem bangkan dengan badan, indrya clan pikiran ialah yang menikmati, demikian orang- orang pandai menerangkannya... ". ". yas to avignanavan bhavaty ayuktena manasa sada tatyendu yangavasyani dustasva wa sarathen ... ". Maksudnya : " dia yang ticlak memiliki kesaclaran, yang pikirannya tidak terkendalikan, yang indryanya ticlak dapat diawasi, semuanya itu adalah laksam kuda-kuda binal bagi si kusir. Sad ripu, asta dewi, sad tatayi, steya dan asta dusta seluruh- nya merangkum clan menjadi cermin dari perilaku manusia yang tidak mampu mengendalikan indryanya.

Dalam takaran moral seharusnya hubungan sibemetik i tu berada dalam suatu kemampuan pikiran (informasi) mem-

1 Lihat dan bandingkan dengan tulisan S. Radhakrishnan dalam : The Principal Upanisada. London : George Allen & Muwin Limited, 1953 :623 -- 624.

ka.ma raga (cinta kebenaran), lobba/irsya (haus il mu pengetahuan yang berguna), moda/ mado. (senang mempelajari filsafat-filsafat agama), krodha/lavesa (koreksi diri), molui (mengejar kedamai- an), dan matsarya (ingin mencapai kel ahiran budhi), dan lain- lain. Apabila hal tersebut dapat terus dil aksanakan maka musuh- musuh lainnya yang ada dalam diri seperti: sad tatayi, steya dan asta dusta dapat diubah arahnya ke dalam apa yang lazim disebu t " Sad guna" yang terdiri atas: sandhi (mampu mengatasi kesulitan), wigraha (banyak memiliki sahabat), jana (dipercaya), sana (sanggup adaptasi terhadap lingkungan), wicesa (bijaksana dalam menaklukkan lawan) dan sraya (simpatik dan cepat mendapat uluran bantuan). A khirnya sebagai aspek psikologis pengendalian diri men- cakup ke mauan dan kemampuan seseorang untuk meletakkan dasar-dasar disiplin pribadi, sehingga asas keselarasan, keserasi- an dan keseimbangan menjadi fondasi kokoh dalam mental manusia. Disadari memang hal itu tidak secara mudah dapat dicapai namun dengan adanya tekad dan usaha pada diri masing- masing lambat laun akhirnya juga akan dapat tertanamkan. Dalam " Dharma Sasana" juga diakui hal itu, namun tetap dianjurkan agar usaha-usaha pengendalian diri terus diupaya- kan secara bertahap. Seperti yang tercantum dalam "Dharma Sasana" (7a) :

" ... sakadidik indayang karyanin, ingan apatelon aparam- pat sadadi-dadine, apadasan kanggeyang ugi rihin, nanging prihang malih, sampun surud-surud.. "

1Periksa kembali kitab : Murdha Agama Hindu I, 1966:69.

meras·a cepat puas akan hasilny a.

4.3 Nilai Tata Susila Butir-butir pokok yang lainnya dalam nas.kah "Dharma Sasana" cukup banyak dapat ditemukan tuntunan-tuntunan etika baik berupa beroogai suruhan, larangan maupun hal-hal lain yang hakikatnya mengacu kepada perilaku yang telah digariskan menurut takaran norma susila. Dalam "Dharma Sasana" ditemukan misalnya seperti: ajaran mengenai dasakrama, paramarta, dasa dharma, asta pangredana dan sebagai- nya, yang hakikatnya juga berintikan ajaran-ajaran etika. Dasakrama paramarta memuat 10 (sepuluh) cara (perilaku) untuk mencapai kebahagiaan hidup antara lain :
1) tapa, yaitu pi.kiran suci;
2) brata, yaitu pengendalian diri;
3) semadi, yaitu tidak tidur semalaman suntuk;
4) sansa, yaitu setia dengan kata-kata;
5) samata, yaitu konsentrasi pikiran;
6) ka.runa, yaitu menjalin kasih terhadap sesama;
7) ka.runi, yaitu menjalin kasih dengan elemen alam lainnya seperti: kepada binatang, tumbuh-tumbuhan dan seba- gainya;
8) topeksa, yaitu dapat membedakan antara yang baik/benar dan yang salah;
9) mudita, yaitu dapat menerima nasehat orang lain;
10) metri. yaitu berbuat dan berbicara yang sopan. Dasadharma terdiri atas 10 (sepuluh) nasehat yang diberikan kepada Arjuna oleh Prabu Kresna dalam "Bisma Parwa" yang isinya antara lain :
l) dreti, yaitu pikiran suci;

IO)akroda, yaitu sabar. Asta pangradana terdiri atas 8 (delapan) sumber keteguhan iman, antara lain :

I) bakti, yaitu dapat merendahkan diri;
2) asih, tidak mengharapkan imbalan at as jasa yang pemah di- ulurkan;
3) gorawa, yaitu tidak saling mencela antara sesama;
4) mahardika, yaitu berpikir cemerlang;
5) sam bega, yaitu tidak tergoda oleh benda-benda duniawi;
6) malemba, yaitu dapat mengerti dan menerima kenyataan baik ataupun buruk;
7) sahismu, yaitu tidak memuji yang banyak dan tidak mencela yang sedikit;
8) karuna, tidak menghina orang yang lemah atau miskin. Tata susila yang berlandaskan etika agama Hindu dapat di- jumpai dalam beberapa buku misalnya Sarasamuccaya, Agastas- tyaparwa dan lain-lain, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat ditemukan dalam kitab Dhamapada dan Sang Hyang Kamaha- yanikan. Dalam hubungannya dengan etika, hampir semua buku tersebut di atas memberi perhatian utama terhadap elemen-elemen padan seperti organisme fisik (tangan, kaki, punggung dan

Pemanfaatan dari ketiga elemen utama itu juga dapat berada dalam keadaan dualis- me pertentangan. Di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan kebaikan dan sebaliknya dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan buruk. Dalam pandangan Hindu jika ketiga elemen tersebut dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan kebaikan maka berkembanglah ia menjadi trikaya parisudha (terdiri atas : "kayika", "vacika", dan " manacika parisudha"). Perkem- bangan elemen selanjutnya akan mensarikn keseluruhan dari tata susila tersebut. "Kayika parisudha" yang mencakup pemanfaatan sumber daya fisik (badan) menurut tata susila diarahkan kepada peri- laku yang dapat bermanfaat baik bagi kepentingan dirinya sen- diri maupun untuk orang lain. Tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina dan sebagainya, hanya merupakan sebagian saja dari larangan-larangan yang ditandaskan dalam hal itu. "Dharma Sasana" seperti telah mendapat uraian dalam alinea-alinea ter- dahulu banyak menekankan larangan-larangan seperti itu misalnya yang dirangkum ke dalam apa yang disebut " sad tatayi". Termasuk juga dalam upaya pemanfaatan sumber daya fisik secara tepat guna disarikan pula ke dalam beberapa butir "Asta pangradana". Contoh-contoh yang relevan misalnya sambega, malemba dan sahisnu. Pemanfaatan sumber daya fisik secara tepat dan berguna juga dapat berarti sebagai upaya membatasi dan mengontrol fungsi alat-alat pancaindra (mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit) untuk tidak secara leluasa mencari kenikmatan. Demiki- an pula mengesampingkan objek-objek (suara yang merdu, pe- mandangan yang indah, bau yang harum, makanan yang lezat, benda-benda yang mahal, dan sebagainya) juga terangkum ke dalamnya. Sloka 26 "Bhagawad Gita " juga menyebut :

"

Maksudnya:

" ... ada yang mengorbankan penghhatan dan pancaindra lainnya dalam api disiplin yang lain mengorbankan objek suara dan objek Jainnya dalam api nafsu keinginan ... " (N yoman S. Pendit, 1967: 114).

"Wacika parisudha" mencakup perkataan yang benar dan baik. Kata-kata dalam konteks tersebut diletakkan pada posisi yang cukup sentral, karena disinyalir dapat membawa kebaha- giaan, rasa simpati atau menggelorakan semangat, dan sebagai- nya. Di sisi lain dapat juga sebaliknya ya1tu menjadi racun yang menghancurkan dan merusak. Dalam Sarasamuccaya juga di- sebut :

" ... vaksaya ka vad anannispat anti yairahatah socati rat-ryahani, parasya va marmasute patanti tasmaddhiro navas- rjet paresu. Ikang ujar ahala tan pahilawan hru, song kab-nya sakatempuhan denya juga alara, ·esep ri hati, tatan ke- neng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, matangnyat tan inujaraken ika de sang dhira purusa, sang ahning maneb manahira ... ".

Maksudnya: " ... Perkataan yang mengandung maksud jahat tiada beda dengan anak panah yang dilepaskan. Setiap yang ditempuh- nya merasa sakit. Perkataan itu meresap ke dalam hati, sehingga menyebabkan orang tidak bisa makan dan tidur pada siang dan malam hari. Oleh sebab itu, pe rk ataan yang demikian tidak diucapkan oleh orang budiman dan wira perkasa, pun pula oleh orang yang suci bersih hatinya (Nyo- man Kajeng, 1970/1971:90).

·saty a dari unsur "Dasadharma" menandaskan agar janji yang dicetuskan dengan perkataan harus ditepati. Upaya untuk mencapai semua itu adalah terpulang kepada kesadaran diri dan ketenangan hati atau suci. Dengan demikian, melalui pikiran suci (tapa), konsentrasi (samata), pengendalian diri (brata) yang disarikan oleh ajaran Dasakrama paramarta dalam " Dharma Sasana" menandaskan nilai-nilai tata susila (dalam ucapan kata-kata) yang cukup esensial. "Manacika parisudha" dalam konsep "trikaya parisudha" merupakan elemen sentral dari dua elemen yang telah disebut di atas. Jika dikaitkan dengan konsep sistem sibernetik maka elemen terakhir ini merupakan pusat pengendali yang mempe- ngaruhi kedua elemen lainnya (kay ika dan wacika). Apabila informasi yang mengendalikannya menginstruksikan agar orga- nisme untuk bertindak atau tidak, berkata sopan atau kasar dan seterusnya, maka elemen-elemen tadi akan selalu mengikuti. Atau dengan kata lain badan dan alat-alat bicara keseluruhan- nya berada dalam proses pengendalian pikiran. Tapa sebagai butir " Dasakrama paramarta" dan Dreti _sebagai butir "Dasadharma" merupakan bagian dari contoh pikiran yang berfungsi sebagai pengendali, dan mendapat perhatian penting dari "Dharma Sasana". Posisinya diletakkan sebagai urutan pertama di an- tara butir-butir yang lainnya, sedangkan butir-butir yang lainnya baik dalam "Dasakrama paramarta" maupun "Dasadharma" selalu berada di bawah kontrolnya.

Sarasamuccaya ayat 8 2 juga menyebutkan : "... sarvam pasyati caksusman manoguktena caksusa, manasivyakula jate pacyannapi na pasyati.

".

Maksudnya :

" ... Dan lagi sifatnya pikiran itu, bahwa mata dikatakan dapat melihat berbagai barang, tidak lain hanya pikiran yang menyertai mata itu memandang, maka jika pikiran bi- ngung atau kacau, tidak turut menyertai mata sungguhpun memandang kepada suatu barang, tidak terlihat barang itu olehnya, sebab pikiran itulah sebenamya yang mengeta- hui; sebab itu maka sesungguhnya pikiranlah yang meme- gang peranan utama (Nyoman Kajeng, 1988 /1 989:45).

A steya atau juga dalam ajaran "Dasadharma" yaitu menan- daskan agar manusia senantiasa dapat menghindari diri dari go- daan benda-benda duniawi, semuanya ditentukan oleh pikiran dan termasuk mata. Jika pikiran dapat membentuk iman (dama) maka kebutuhan yang sifatnya membantu ketidaksempumaan organisme dapat diarahkan kepada pemenuhannya yang berdaya guna. Tidak semata-mata mengagung-agungkan kemewahan (porsi banyak) dan sebaliknya mencela yang sederhana (porsi kecil). Nilai ini j uga telah di tandaskan oleh butir sahisnu dalam " Astapangradana" ataupun butir indriyanigraha (mengekang hawa nafsu) dalam ajaran "Dasadharma' Sarasamuccaya (ayat

80) juga disebutkan : "... mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, cubhacubhasvavasthasu karyam tat suvyavasthitam. Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring cubhacubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng ... ''.

Maksudnya:

" ... Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya naf- su, ialah yang menggerakkan perbuatan yang baik ataupun yang buruk, oleh karena itu pikirkanlah yang segera pa tut diusahakan pengekangannya/pengendaliannya (Nyoman Kajeng, 1988/ 1989:44).

Hu bungan keselarasan antarsesama manusia maupun dengan elemen alam lainnya (seperti kepada binatang, tumbuh-tum- buhan dan sebagainya) juga merupakan unsur penting yang ditandaskan dalam "Dharma Sasana". Hakikat tersebut muncul dalam ajaran "Dasakrama paramarta" dengan butirnya yang disebut " karuna dan karuni " misalnya. Demikian pula butir ksama dalam "Dasadharma" juga menandaskan pentingnya nilai kasih antara sesama dalam diri manusia. Dalam ki tab Sanghyang Kahamayanikan butir-butir tersebut biasanya di- rangkum sebagai ajaran catur paramita, yaitu (4) em pat ajaran mulia tentang cinta kasih kepada semua makhluk. Cinta kasih menyangkut martabat manusia menjadi makhluk yang mulia di dunia ini. Bila manusia kehilangan cinta kasih maka ia akan kehilangan perikemanusiaannya. Ia dapat berperilaku semena- mena tanpa perasaan. Untuk menghindari perilaku seperti itu dalam ajaran Hindu telah digariskan oleh ajaran yang disebut "ta ttvam asi" ("engkaulah itu") ajaran kasih kepada sesama.

Di samping ketiga bagian nilai utama yang dikelompokkan ke dalam nilai kepemimpinan, pengendalian diri dan tata susi- la, pada bagian akhir dari " Dharma Sasana" masih terdapat beberapa butir nilai lainnya yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam bagian nilai utama di atas. Nilai-nilai terse but antara lain: pantangan dalam perkawinan, menggugurkan bayi dalam kandungan, dan kewajiban untuk melakukan sedekah.

Pantangan Perkawinan "Patita" sebagai konsep dalam "Dharma Sasana" menandaskan adanya pantangan perkawinan yang berdasarkan hubungan

kekeraba tan. Di sini hanya disebutkan anggota-anggota keke- rabatan yang tidak dibolehkan untuk melakukan hubungan perkawinan, dan tidak disebutkan adanya derajat dari pantangan perkawinan itu sendiri. Maksudnya, pengertian pantangan perkawinan, apakah berlaku sebagai keharusan (mutlak) araukah hanya berada dalam derajat yang di.;tnJurkan (tidak mutlak). Oleh karena pada dasamya, baik dalam s1stem perkawinan (sistem pembatasan jodoh) dalam masyarakat Bali ataupun secara I uas dalam berbagai kebudayaan lainnya, pantangan perkawinan seperti itu biasanya dapat dipanda ng dari dua sudut, yaitu deraja t pantangan yang mutlak, dan tidak mutlak. De rajat mutlak lebih be rsifat mengharuskan dengan pihak siapa seseorang diperbolehkan melakukan hubungan perkawinan dan sebaliknya, dengan siapa seseorang dilarang untuk melakukannya. Di dalam "Q.idamani" 1 misalnya, ternyata pan tangan perkawinan yang berlaku universal di Bali diakuma- lisikan ke dalam dua daerajat, yaitu gamia gamana merupakan pantangan perkawinan yang berderajat m L tlak (dilarang mutlak) dan oleh karenanya harus dicegah. Ol eh karena daerajatnya dilarang mutlak, maka jika seandainya dt langgar, hal itu akan berkembang menjadi suatu pelanggaran adat yang vatal atau dise bu t " amanasi rat". Pada masa-masa vang lampau terutama ketika masih berlakunya sistem kerajaan Hindu, pelanggaran semacam itu akan mendapat hukuman mati. Hukuman mati di! aku kan dengan cara menenggelamkan yang bersangku tan ke dalam das ar laut, atau lazim dinamakan ' kelebok ring segara". Larangan perkawinan yang berderajat mutlak itu di tentukan atas adanya pertalian keluarga dekat seperti an tara saudara sekandung, atau saudara angkat yang disetarakan dengan saudara kandung, (teman" di -ia" atau dinyama") terma suk juga dengan saudara tiri ataupun di antara mereka yang berada

1u raian ringkas mengenai "cudam ani" pernah dituliskan oleh I Gusti Ketut Kaler dalam buku : "Cu damani " Perwiwahan /Perkawinan dalam Masyarakat di Bali. Buku tersebu t tidak mencantumkan tahun dan penerbitnya.

dalam hubungan semenda (karena ak:ibat perkawinan) seperti: menantu atau mertua.

Gamia atau sumbang merupakan ben tuk pantangan perkawinan namun larangannya tidak berlaku secara mutlak tetapi biasanya dianggap tidak baik ("amanasi awaknia priawak"). Dengan demikian, apabila dilanggar biasanya tidak berkait dengan hukum adat. Tetapi hal itu biasanya dapat dikonpensasi melalui tindakan ritual terten tu yang lazim dinamakan "bayuh". •J- Pada masyarakat Bali umumnya, pantangan perkawinan yang dapat dicakup ke dalam pengertian gamia seperti misal- nya antara seorang laki-laki kawin dengan seorang wani ta yang berkedudukan selaku nenek atau bibi tingkat sepupu sekali atau sepupu dua kali (nenek atau bibi "dimisan" atau "di- mindon "). Pertalian kel uarga yang leoih jauh dari garis tersebu t dianggap sudah tidak termasuk "gamia" lagi. Malahan, apa bila si laki-laki yang berada pada gradasi yang lebih tinggi dan si wanita berada setingkat atau dua tingkat di bawahnya (paman dengan kemenakan pada tingkat misan atau mindon) perkawinan seperti itu justru dianggap ideal. 1 Dalam pandangan orang Bali lazim disebut "praru ngemban putra".

Di dalam konsep "patita" yang di tekankan dalam "Dharma Sasana", pantangannya lebih diartikan sebagai perilaku tidak baik atau "salah". Syair yang berbunyi di bawah ini menegas- kan tekanan arti dari pantangan terse but, yai tu sebagai beriku t :

" ... kocap ne madan patita, pratingkahe dadi janma, kojaring wrati-nanana, tingkahe majajuwangan, punika pa- fu t elingang, mande manut linging sastra, sampun ngangge ne patita, kojar ing sastra-utama, punika patut pagehang, ne mangkin cacak tuturang, krama/-ne salah juwangan, mangrabinin ibu salah, mangralinin nini salah, nadyan bi bi miwah nama, iwang manomahin panak, yadyan nyu-

lKoentjaraningrat (1972:92) menyebut orientasi pemilihan jodoh seperti itu sebagai marriage preferences.

wang kaponakan, nanging ne wahu di nama, en to madan kaponakan, manomahin mantu salah, nyuwang tumin masih sal a11, nadyan nganyuwang ipah, manyuwang somah i panan. Miwah nyuwang rabin matwa, rabin ing sapangalapan, ny uwang warang masih salah, miwah ngalancubin matwa, yadyan somah kaponakan, nyuwang somah mantu salah, miwah nyuwang somah gama, punika sami patita... ".

Maksudnya:

' ... Konon yang bernama " patita, segala tingkah laku menjadi manusia, termuat dalam "Wreti Sasana", tata cara perkawinan itu hams diingat agar sesuai dengan yang termuat dalam sastra. Jangan melaksanakan "patita", di muat dalam sastra- u tama, itu hams dikukuhkan, sekarang satu persatu di- ceritakan, tingkah laku yang sal ah memperistri, memper- is tri ibu salah, demikian juga bi bi dan saudaranya. Salah apabila memperistri anak, walaupun memperistri kemenakan, yang masih bersaudara, itu disebu t kemenakan, memperistri menantu salah, memperistri saudara tiri juga salah, atau juga memperistri ipar, memperistri istri paman. Atau juga memperistri istri mertua, istri dalam satu saudara, memperistri besan juga salah, juga memperistri mertua, atau juga istri keponakan, memperistri istn menantu salah, juga memperistri saudara, itu semua " patita '.. .'.

Be rdasarkan ku tipan di atas tampakny a ada dua hal pokok yang dapat dikaji antara lain : (1) tidak di bedakan secara jelas derajat dari pan tangan perkawinan terse but sehingga konsep " patita" hanya diartikan sebagai pengertian yang sangat umum yaitu perilaku "salah" dalam perkawinan. Di dalamnya tidak diidentifikasi batas-batas dari "patita" itu sendiri. Apakah perilaku perkawinan yang salah terse but berada pada derajat ga mia- gemana ataukah hanya terbatas pada derajat gamia, (2) terkait dengan hal itu, tampaknya dalam konsep " patita" seol.ah-ol.ah tidak ada batasan yang jelas mengenai pemilihan jodoh ter-

sebut. Sejauh rnana batasan pernilikan jodoh yang dianggap ideal, apakah rnernperistri bi bi, a tau kernenakan, dan rnernperistri ipar terse but juga dianggap salah (?) A tau dengan lain perkataan, seakan-akan pernbatasan jodoh dalarn perkawinan itu harus berada di luar eksogarni yang sangat luas dan seakan-akan tidak ada batasnya.

Eksogarni mernang pada dasarnya rnencakup pengertian yang arnat relatif dan selalu harus diterangkan eksogarni itu di I uar batas apa. Apakah eksogarni yang dimaksud itu rnencakup di luar batas-batas hubungan genealogis, teritorial, etnis, dan se- terusnya.

Larangan perkawinan yang disebut incest dan eksogarni sebetulnya telah Jama rnenjadi bahan studi di dalarn ilrnu-ilrnu sosial khususnya. 1 Banyak fakar di bidang ilrnu-ilmu sosial mernandang kedua soal itu (eksogarni dan incest) adalah rne- miliki pertalian hubungan yang sangat erat satu dengan Jain- nya. Hal tersebut terutarna ketika para fakar itu rnernpersoal- kannya, apakah perkawinan antara orang yang berhubungan kerabat darah dekat itu baik atau sebaliknya buruk untuk keturunan. Salah seorang Antropologi bernarna G.A. Wilken, pemah menyangkal pendapat seorang dokter bemarna N.P. van der Stok yang menyatakan bahwa perkawinan antara dua orang kerabat darah dekat itu buruk untuk keturunan. Wilken se- lanjutnya rnenunjuk beberapa contoh ·bahwa tidak sepenuhnya rnenjarnin terjadinya keturunan yang sehat apabila perkawinan tersebut berlangsung antara pria dan wanita yang berada dalarn hubungan kerabat jauh atau sama sekali tidak berada dalarn hubungan kekerabatan.

Sebagai lanjutan dari celaannya, kernudian Wilken rnenyata- kan bahwa banyak contoh dari adat yang rnalaha.n rnewajib-

luraian lengkap mengenai hal ini, periksalah misalnya karangan Koentjaraning- rat dalam buku berjudul : Metode-Metode Anthropologi dalam Penyelidikan-Penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta, Penerbit Universitas, 1958:77 -84.

kan perkawinan antara orang-orang kerabat dekat yang tertentu, namun ada adat lain di sampingnya melarang perkawi nan antara orang-orang kerabat dekat yang tertentu, namun ada adat lain di sampingnya melarang perkawinan dengan ke ra bat-keral>at jauh yang tertentu (Koentjaraningrat. 1958: 78 -- 79).

Manifes dengan pandangan Wilken di atas, tampaknya bagi masyaraka t Bali, orientasi pemihhan jodoh (marriage preferences) dalam batas hubungan ke kerabatan dekat justru dipandang ideal apabila seorang laki-lakl yang berkedudukan sebagai paman menikahi keponakannya (dalam tingkat misan a tau mindon). Hal tni seperti tel ah diuraikan di depan lazim disebut "prahu ngemban putra". Dem ikian juga perkawinan antara laki-laki dengan wani ta yang berkedudukan selaku nenek a tau bi bi setingkat atau dua tingkat di atasnya juga dapat dimasukkan sebagai gamia saja dan bukan gamia-gerriana. Le bih jauh lagi be berapa wilayah di sekI tar Bali, seorang du da dapat di benarkan untuk mengawini iparnya (adik almarhum bekas istrinya). Atau juga sebaliknya, tidak adanya larangan yang mutlak apabila seorang janda dikawini oleh ipar (saudara laki-laki almarh um bekas suaminya). Kedua contoh y ang tersebut teraklur ini dalam ilmu-ilmu sosial lazim dinamakan adat sororate dan leviraat, dan sekaligus juga telah mendapat perhatian banyak fakar tersebut seperti misalnya G.A. Wilken (Koentjaraningrat, 1958:82 --83).

Pengguguran Kandungan Kebiasaan untuk melakukan pemb unuhan bayi ataupun menggugurkan bayi dalam kandungan dalam suatu adat biasa- nya oleh para ahli ilmu-ilmu sosial serin gkali dikaitkan dengan analisis mengenai bentuk keluarga. Bentuk keluarga itu, apakah cenderung poligami ataukah poliandri. Kebiasaan pembunuhan bayi (semasih dalam kandungan atau sesudah lahir) dikaitkan dengan upaya menciptakan dengan paksa suatu perimbangan populasi ataupun perimbangan jenis kelamin.

W.H.R. Rivers pernah mencatat mengenai kebiasaan untuk

membunuh bayi-bayi perempuan pada orang-orang Toda mau-

pun secara luas pada penduduk pribumi di India dan Tibet. Alasan pembunuhan bayi-bayi perempuan itu dimaksudkan un tuk menciptakan secara paksa suatu perbedaan perim bangan jenis kelamin, dengan demikian berkembanglah dengan subur- nya adat poliandri di daerah itu. Mengingat sedikitnya populasi wanita menyebabkan seorang wanita dapat menjadi istri dari sejumlah laki-laki. Di sini seorang wanita yang kawin dengan seorang laki-laki juga dapat menjadi istri dari saudara-saudara laki-laki suaminya. Jika seorang wanita dikawinkan semasa anak, maka kewenangan untuk menjadi suaminya dicadangkan untuk semua saudara-saudara lelaki yang akan dilahirkan (T.O. lhromi, 1984 : 88). Namun dalam kebudayaan manusia masa kini maupun dalam pandangan Hindu sejak lampau sampai saat ini praktik pembunuhan bayi tersebut sangat dilarang. Di dalam pandangan Hindu maupun juga dalam "Dharma Sasana" perilaku semacam itu dipandang sebagai perbuatan yang sangat keji dan berdosa berat. Konsep "brahmatya" atau "brunaha" adalah merupakan perbuatan pembunuhan bayi (brahmatya) dan pengguguran kandungan (brunaha) dapat juga mencakup pembunuhan terhadap lembu yang sedang bersenggama, membunuh para pen- deta (brahmana), membunuh orang-0rang yang bijaksana/raja, akan mendapat hukuman berat di neraka.

Kutipan di bawah ini menandaskan perilaku yang disebut brahmatya ataupun brunaha, sebagai berikut :

" ... Miwah ne madan Brahmatya, tunggil ring sane brunaha, mateni rare ring basang, nanging brahmatyane kalah, brunaha wantah sanunggal, ne mangkin malih lanturang, kramane madan Brahmatya, punika dahat naraka. Ngamatiyang rare Brahmatya, sanadyan istri-4tama, miwah mateni belingan, mateni lembu sakandang, mejah Brahmana-Brahmana, miwah ii.edayang Pandita, miwah wiku watek puja, iiedayang Ratu malihiia.

P unika sampun nglaliyang, reh kalintang ageng pisan, nara- kane kang Brahmatya, manda ring sipat manusa, Sangh yang Indra masih naraka, ngamargyang ulah Brahmatya, kocap ring Anggasti-prawa, bawas Bhagawan Anggira ... ".

Maksudnya:

" ... Ada lagi yang disebut brahmatya, sejenis dengan brunaha, membunuh bayi dalam kandungan, tetapi brahmatya itu masih lebih rendah, memang masih termasuk brunaha juga, sekarang kita lanjutkan ceritakan, apa yang disebut brahmatya, perbuatan i tu sangatlah berdosa. Membunuh bayi disebut brahmatya, sama juga dengan brunaha, dan menggugurkan kandungan, membunuh lembu bersenggama, membunuh brahmani-brahmana, membunuh orang bijaksana, dan pendeta, apalagi membunuh raja. Itu jangan dilupakan, sebab besar sekali dosanya, nerakanya orang yang melakukan brahmatya, termasuk sifat-sifat ma- nusia, Sanghyang Indra juga neraka, melaksanakan perbuatan brahmatya, disebutkan dalam kitab anggasti parwa, disebutkan oleh Bhagawan Anggira .. .'

Melakukan Sedekah Punia atau sedekah sebagai tandasan dalam "Dharma Sasana" mencakup beberapa prinsip, sepert1: hakikat materi (kekayaan) yang sifatnya tidak kekal, keikhlasan sebagai dasar utama dari punia tersebut, ketepatan pemberian punia, serta pahalanya. Materi atau kekayaan _yang telah dip upuk pada akhimya juga hams disedekahkan apabila kekayaan tersebut ingin dapat dinikmati sebagai kebutuhan jasmaniah maupun rohaniah (ke- selamatan akhirat). Syair tertentu dari " Dharma Sasana" me- nandaskan melalui kalimat sebagai berikut " ... Krana suluk, sang sadu iiadya ngawangun, ne awet papalar, punya kerti lan samadi, tapa brata, puja yoga kara- jegang ... ,,.

" ... Dhanena kin janna dadati nasnute balena kin yena ripun na badhate, srutena kin yena na, dharma macaret kimatnana yo na jitendriya vasi. Ndya kari doning dana, yan tan dinakkena, tan bhutin, mangkanang kasaktin, tan padan ika yan tan sadhana ning mangalahanang · musuh, mangkanang aji, tan padon ika, yan tan suluha ring dharmasadhana, mangkanang buddhi kaprajnana tan padon ika yan tan pangalahakenendriya, tan pangawasakenang rajah tamah ... ".

Maksudnya:

" ... Apa gerangan gunanya kekayaan bila tidak untuk di- sedekahkan dan untuk dinikmati. Demikian pula kesaktian, tidak ada gunanya jika bukan alat untuk mengalahkan musuh. Demikian pula ajaran suci tidak ada gunanya bila tidak untuk suluh dalam pelaksanaan dharma. Demikian pula budhi yang arif bijaksana tidak ada gunanya bila tidak untuk menaklukkan hawa nafsu, agar tidak dikuasai rajah tamah ... " (Nyoman Kajeng, 1970/1971 : 125).

Dari kalimat-kalimat di atas, baik. dalam " Dharma Sasana" maupun Sarasamuccaya menandaskan agar segala potensi (ma- terial maupun imaterial) sebagai nilai tambah dapat disumbang- kan bagi kesejahteraan orang lain, karena pada akhimya dengan adanya sumbangan (punia) yang ikhlas akan membawa keten- teraman bagi diri sendiri. Manu Smrtti IV, 226 juga men ye but kalimat yang memiliki makna setara, yaitu sebagai berikut : " ... croddhayestam ca purtam ca nityam kuryadatandri- tah, croddhakrte hyaksaye te bhawatah swagatairdhana- ih ... ".

Maksudnya:

' ... Hendaklah ia dengan penuh keyakinan dan rajin meng- adakan korban dan api unggun. Kalau ini dilakukan dengan keyakinan dan kekayaan yang didapat secara halal, akan langgeng (Mantra, 1967 : 46).

Se tiap pemberian sedekah (punia) hendaknya selalu mem- perhitungkan ketepatannya, baik sasarannya ma upun waktu melakukannya. Ketepatan sasaran pemberian punia adalah ha! yang sangat penting terutama untuk menghindari penyalah- gunannya. Sebab jika ber-dana punia kepada orang-orang dustacara, orang jahat, maka sumbangan itu akan menjadi sia- sia, dan bahkan adakalanya akan disalahgunakan. Akibatnya justru akan menyebabkan celakanya orang lain. Demikian dalam Sarasamuccaya menganjurkan agar puma diberikan kepada orang-orang berikut ini :

" ... caritraniyatra rajan, ye krsah krsvrttayah, Arthinasco- pacchanti tesudattam maha phalam. Lwirning yurti ikang wewehana dan& wwang suddhacara, wwang daridra, tan panemu ahara, wwang mara angegong harep kuneng, ikang dana ring wwang mangkana agong- p halanika... ".

Maksudnya: ' ... Orang yang diberikan dana, ia ah orang yang berke- lakuan baik, orang miskin, yang tidak berolah makanan, orang yang benar-benar mengharapkan bantuan, pemberian dana kepada orang yang demikian besar pahalanya (Kajeng, 1970/1971: 132).

Jika µ unia yang disumbangkan tersebut tidak ses uai dengan sasarannya, tanpa keikhlasan, ataupun tidak pada tempat dan waktu, maka punia semacam itu berubah maknanya menjadi "tarnasika danarn" (atau sedekah haram) Akan menjadi lebih hararn lagi apabila sumbangan (punia) ) ang diberikan itu di-

dasarkan atas harapan balas secara timbal-balik (principle of resiprocity).

Di dalam Bhagawad Gita XVII 21 -22 1 juga telah ditun- j ukkan secara jelas tata cara pemberian sedekah (punia) itu dengan kalimat-kalimat, sebagai berikut :

" ... yattu pratyupakarartham phalam uddisya wa punah, diyate ca pariklistam tad danam rajasam smrtam ... ".

Maksudnya:

'... Akan tetapi sedekah yang diberikan dengan harapan untuk mendapatkan balasan atau dengan tujuan untuk men- dapat pahalanya di kemudian hari, atau kalau sedekah itu menyebabkan sakit hati (orang yang diberi), sedekah itu disebut sedekah yang penuh dengan harapan untuk men- dapat untung (rajasika danam) .. .'.

" ... Adecakale yad danam apatrebhyacca dityate, asat- krtam awajnatam tat tamasam udahrtam ... ".

Maksudnya :

'... Dan sedekah yang diberikan tidak pada tempat dan waktunya, atau diberikan kepada orang yang tidak layak menerima, dengan cara yang tidak menyenangkan atau dengan penghinaan, dikatakan sedekah haram (tamasika danam) .. .'.

Dalam epos Ramayana j uga ada digam barkan kekeliruan Dewi Shinta dalam memberikan sedekah (dana punia) kepada seorang pendeta palsu sebagai penyamaran dari raja Alengkapu- ra bernama Rawana. Melalui dalih sebagai seorang brahmana (pendeta) Rawana menggunakan tipu muslihatnya untuk men- culik Shinta yang berada di dalam suatu garis lingkaran pengaman yang dibuat oleh adik iparnya yang bernama Laksamana. Garis lingkaran pengaman tersebut memang dimaksudkan un-

1Karya Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, berjudul: Tata Susi/a Hindu Dhanna, 1967 :47 -48 juga mengutip kalimat-kalimat dalam Bhagawad Gita itu.

Oleh karena ia tidak mengetahui bahwa yang diberikan sedekah itu adalah brahm ana palsu, maka dengan segala ketulusan hati sedekah terseb ut disuguhkannya kepada pendeta tersebut. Kekeliruan- nya inilah pada akhimya membuat Shinta dic ulik oleh raja Alengka dan selanjutnya berkemban g menjadi ajang pertempur- an sen git antara Rama dengan Rawana. Konsekuensi dari kon- fron tasi ini mengakibatkan jatuhnya korban dari kedua belah pihak, baik harta benda maupun jiwa raga yang tidak sedikit. Dalam " Dharma Sasana " prinsip-prinsip pahala dari pemberian sedekah (punia) selalu juga dikaitkan dengan ketepatan sa- saran dari punia tersebut. Konfirmasi dari prinsip pahalanya sangat transenden sifatnya (dunia akhirat yang dapat menentu- kan) dan tidak bisa diharapkan. Di sam ping prinsip pahalanya bersifat transindental, juga memiliki gradasi yang amat tergan- tung pada ketepatan waktu pemberian sedekah tersebut. Jika pemberian sedekah (punia) itu dilakukan pada saat-saat yang tepat sesuai dengan petunjuk dharma (misalnya p umama, ti/em, waktu bulan gerhana, waktu zaman kanya, ganta), maka grada- sinya akan menjadi berlipat-lipat. Dalam " Dharma Sasana" disebutkan gradasi-gradasi itu dengan kalimat-kalirnat sebagai berikut : " Palanipun, yan punya-dana kawangun, parnalesing De wa, nganut kalane mamargi, yan pumarna, yan tilem ni wakang punya. Punya satu, palanna tikel sapuluh, yan kala grahana, palane malih nglangkungin, tikel satus, punya- ne sane sanunggal, yan manuj u, kanya-ganta kalanipun, Sang Sadu mapunya, tikel sewu ne as1ki, palanipun, parnale- se saking Dewa. Yan ring nuju, yuganta-kala Sang Sadu ma- sang dana punya, palane karangkung luwih, tan pawates "

Satu punia, pahalanya berlipat sepuluh, kalau waktu ger- hana, pahalanya lagi bertambah, berlipat seratus, pahala dari satu punia. Kalau pada waktu zaman kanyaganta, Sang Sadu melaksanakan punia,. satu punia berlipat seribu, pahalanya, pembalasan dari Dewa. Jika pada waktu, zaman yuganta, waktu Sang Sadu, melaksanakan dana punia, pahalanya kelewa t baik, tidak ada ba tasnya ... '.

Tingkat gradasi sebagai dana dari pemberian sedekah dengan keikhlasan (punia) ditentukan j uga oleh jenis materialnya. Gradasinya bertingkat kasar (nis ta), sedang (madya), sangat utama, dan paling mulia.

Adapun jenis-jenis material atau objek yang dapat disede- kahkan menurut "Dharrna Sasana" seperti: makanan, minuman, kain/ pakaian yang halus, emas, perak, uang, gadis perawan, ilmu pengetahuan atau nasihat-nasihat suci, dan sebagainya. Menurut tingkat gradasinya, pemberian sedekah berupa makanan, dan minuman tergolong dana kasar, sedangkan pemberian sedekah berupa kain atau pakaian yang halus, emas, perak, dan uang tergolong dana sedang. Pemerintah sedekah berupa gadis perawan tergolong dana sangat utama, sedangkan yang bergradasi paling mulia apabila punia itu dapat berupa ilmu pengetahuan ataupun nasihat-nasihat suci yang berrnanfaat bagi tuntutan moral. Tingkat gradasi darijenis material atau objek yang dijadikan punia dapat ditemukan dalam bait-bait kalimat dalam "Dharrna Sasana", sebagai berikut : " ... Kandanipun, tingkah danane kawangun, nganggo nis- tamadya, yan maweh twak ulam nasi, sarwa pangan, kawas- tanan dana nista.

Pandita lewih, palanipun, ngasorang dana samiyan ,,

Maks udnya : '... Adapun caranya, perbuatan dana yang dilakukan, menggunakan tingkatan kasar dan sedang, kalau memberikan air nira daging dan nasi, segala makanan, dinamakan dana yang kasar. Memberikan kain, segala pakaian yang halus-halus, juga memberikan, emas perak dan begitu JUga uang, yang begitu, dinamakan dana yang sedang. Lagi pula, kalau memberikan seorang gadis lagi pula masih perawan, itulah yang paling baik, yang disebut dana yang paling utama. J ika memberikan nasehat, yang disebutkan dalam ilmu pengetahuan suci, mengajarkan ajaran dharma, oleh sang pen- deta yang mulia, pahalanya, mengalahkan semua pemberian dana ... '.

Di antara berbagai jenis punia yang telah disebutkan di atas bahwa punia yang berupa ilmu pengetahuan ataupun nasehat-nasehat adalah merupakan derma yang dianggap paling m ulia. Tampaknya logis, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan itu sendiri adalah merupakan kebutuhan yang sangat hakiki bagi manusia. Dengan ilmu pengetahuan itu manusia akan dapat berbuat untuk melangsungkan eksistensmya, baik dalam meme- nuhi kebutuhan jasmani maupun rohani yang bermanfaat sepan- jang hidupnya. Dalam pandangan orang Bali secara luas terdapat. suatu konsepsi mengenai mulianya tingkat gradasi bagi orang-orang yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada

" guru pengajian". Di samping memberikan ilmu pengetahuannya, guru pengajian sekaligus pula dipandang sebagai sumber yang dapat dimintai nasehat-nasehat maupun tuntunan moral. Dengan demikian, guru pengajian juga sekaligus disebut dhanna a tau sabda. Mengingat jasanya yang demikian mulia bagi kepentingan kemanusiaan maka guru pengajian sudah sepantasnya mendapat balasan yang setara khususnya oleh para anak didiknya (sisya). Bentuk pembalasan dalam konsep ini lebih ditandaskan melalui pengungkapan hati sanubari yang sangat mendalam, yaitu di- seb ut "bakti". Konsep ini dapat mencakup pengabdian yang tulus, pengorbanan (yadny a), kesetiaan, maupun bentuk ungkapan lainnya yang secara mendasar dilandasi oleh konsepsi tri kaya parisudha.

Cukup banyak contoh ungkapan rasa bakti terhadap orang-

orang yang telah menyumbangkan ilmu pengetahuan ataupun nasehat-nasehat seperti tersebut di atas digambarkan dalam epos Mahabharata, misalnya. Bagaimana "bakti" dan pengabdian para ksatria Pandawa dan Korawa terhadap seorang mahagurunya yang bemama Drona. Demi mengungkapkan rasa baktinya se gala perintah yang diberikan sang Guru dilaksanakan dengan segala ketulusan hati oleh para muridnya. Tidak terkecuali, sekalipun perintah tersebut akan berakibat terhadap pengorbanan jiwa maupun raga. Oemikian juga di dalam Adiparwa diceritakan mengenai ungkapan rasa " bakti" sang murid yang bemama : Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda kepada mahagurunya ber- nama Bhagawan Domya. Inti ceritanya :

1) Sang Utamanyu menunjukkan rasa baktinya untuk memba- las jasa sang gurunya melalui pengorbanannya untuk berse- dia menggembalakan lembu gurunya tanpa meminta imbal- an apa pun. Oleh karena dahaga dan laparnya ketika sedang menggembala ia terpaksa memakan apa saja yang ditemu- kan, dan kebetulan ada pohon jarak, akhirnya getah pohon

Sang Arunika tidak segan-segan bersedia menjadi empangan (pembendung air) untuk mengairi sawah gurunya yang se- dang mengalami kekeringan;

3) Sang Weda mengabdikan diri pada gurunya dengan penuh keikhlasan dan sujud demi memperoleh ilmu pengetahuan. Demikian pula dalam cerita Mahabharata lainnya dicerita- kan cara pengungkapan rasa bakti oleh seorang murid bemama Barn bang Ekalawya kepada guru yang sanga t ia muliakan. Isi Ringkas Ceri ta Ekalawya adalah putra dari Heranyadanuh telah lama mendengar tentang Bhagawan Drona sebagai seorang mahaguru besar yang berhasil mendidik para satria Astina (Pandawa dan Korawa). Termasuk ayahnya sendiri juga mendengar ketersohor- an nama mahaguru tersebut. Mengingat Ekalawya adalah seorang anak yang berbakat khususnya dalam ilmu memanah, maka ayahnya bemiat untuk mendidiknya kelak kemudian kepada Bhagawan Drona. Sebelum diputuskan untuk berguru kepada mahaguru tersebut ayahnya selalu membimbing putra- nya un tuk mempelajari dasar-dasar teknik ilmu memanah. Oleh karena bakatnya itu hampir seluruh pengetahuan yang diajarkan ayahnya dapat ditangkapnya dengan sangat memuaskan. Selan- jutnya, ketika Ekalawya mulai menginjak dewasa (sekitar umur 14 tahun) ia disarankan oleh ayahnya agar mendalami penge- tahuannya kepada Bhagawan Drona. Dengan tekad yang besar dan bersungguh-sungguh Ekalawya berjalan kaki menuju Astina. Perjalanan yang amat panjang itu dengan berbagai rintangan yang muncul ditempuhnya dengan dasar kemauannya yang keras. Pada akhimya ia pun dapat me- nemui Sang Mahaguru Drona. Ketika mengutarakan maksudnya untuk bemiat secara sungguh-sungguh berguru kepada Drona maka Ekalawya mulai mematuhi perintah Drona. Ia diperintah-

serta dorongan yang sangat bijaksana dari sang Ayah, Ekalawya berupaya memperdalarn ilmu pengetahuan itu tanpa bimbingan langsung dari Sang Guru yang sangat di- kaguminya. Narnun untuk memantapkan keyakinannya ia men- ciptakan sebuah patung Drona yang selalu ditempatkan di seki- tar tempatnya berlatih. Setiap memulai pelajarannya, Ekalawya selalu menyembah patung itu dan dengan rasa bakti yang besar ia selalu menyata- kan kesetiaannya kepada Drona. Ia dapat membayangkan sang guru seolah-olah Dronalah yang membimbingnya dalarn mene- kuni ilm u memanah yang sedang diperdalarnnya.

Mengingat bakat serta ketekunannya itu akhirnya Ekalawya dapat menguasai ilmu pengetahuan tersebut secara sempurna. Selanjutnya, pada suatu ketika Ekalawya pergi berburu ke hutan. Di tengah hutan ia pun bertemu dengan Arjuna salah seorang anak didik kesayangan Drona yangjuga memiliki pengetahuan semp urn a di bi dang panah-memanah. Akhirnya diceri ta- kan terjadinya pertempuran yang sengit di antara kedua jago tersebut. Mengingat kemampuannya cukup seimbang maka tidak ada yang kalah atau menang. Narnun demikian, Arjuna sem- pat merasa kelabakan menghadapi ketangkasan Ekalawya yang tidak disangkanya memiliki pengetahuan memanah sesempurna itu. Semua kejadian itu dilaporkan kepada Drona dan bahkan Drona menjadi sangat terkejut mendengar bahwa katanya Ekalawya juga adalah muridnya. Drona merasa kurang enak kepada Arjuna, oleh karena tidak seorang pun dikatakannya yang dapat menandingi kemarnpuan Arjuna. Dengan perasaan kesal Bhagawan Drona mendatangi Ekalawya untuk membuktikan

"Apakah engkau yang bernama Ekalawya, muridku yang setia ?" "... ya hambalah Ekalawya, hamba murid padu- ka yang tidak p unya apa-apa, kecuali hanyalah kesetiaan," jawab Ekalawya sejujurnya. Untuk siapakah engkau abdikan kese tiaan itu ? Jawabnya, untuk T uanku Sang Mahaguru p ujaanku ... Kalau engkau benar-benar muridku yang setia dan berbakti, lak ukanlah "punia" terhadap gurumu. Ekalawya menjawab, sekalipun harus de ngan nyawa ataupun raga hamba jika tuanku mengharapkan dari hamba, akan hamba persem bahkan sebagai tanda " bakti" kepada sang guru. Oh muridku yang setia, persembahkanlah ibu jari tanganmu kepadaku sebagai tanda baktimu kepadaku ! Tidak berpikir panjang lagi Ekalawya memotong ibu jari tangan kanannya dan mempersembahkannya kepada Drona. Hanyalah Arjuna yang menguasai ilmu pengetahuan me- manahku yang paling sempurna, tiada orang lain yang mampu menandinginya ... selamat tinggal Ekalawya. Sambil tertawa ge lak, Drona berucap terima kasih Ekalawya ... memang sudah merupakan takdirmu, kamu bu- kanlah pemanah yang baik karena ib u jarimu telah tiada. Hanyal ah Arj una yang menguasai ilm u pengetahuan mema- rahku yang paling sempurna, tiada orang lain yang mampu menandinginya... selamat tinggal Ekalawya. Ekalawya mulai menyadari dirinya telah tertipu. Sambil menahan rasa sakit dan membersihkan tetes darahnya yang mengucur dari bekas potongan ib u jarinya ia te tap menyem- bah sang guru itu melalui patung. "Kesetiaanku hanyalah un tukmu, guruk u, bukan untuk Drona".

"punia" sebagai unsur nilai yang ditandaskan dalam " Dharma Sasana". Bait terakhir itu berbunyi, " ... maweh tu- tur, kojaran sastra rahayu, kaajahin dharma, antuk sang pandi- ta luwih, palanipun, ngasorang dana samiyan". Dengan demikian sumbangan berupa ilmu pengetahuan yang bermanfaat terse but merupakan tingkat gradasi yang paling mu- lia dan bahkan dianggap tiada bandingnya. Tingkat gradasi ke- muliaannya itu juga telah dijelaskan melalui cerita-cerita di atas, dan bagaimana cara mengungkapkan penghargaan terhadap ha! itu. Hampir semua cerita di atas amat menekankan adanya ung- kapan hati nurani yang paling mendasar untuk menyatakan kemanfaatan dari ilmu pengetahuan itu. Secara pragmatis gam- baran itu diungkapkan melalui adanya rasa "bakti" yang penuh keikhlasan untuk menyatakan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan itu, dan oleh karenanya tidak ada taranya untuk memberi balasnya, sekalipun hams ditebus melalui jiwa mau- pun raga. Unsur nilai penting yang terpetik di sini adanya prinsip-prinsip yang paling mendasar di dalam konsep "punia" tersebut. Niscaya rupanya jika "punia" yang didermakan itu berupa se- tumpukan harta tetapi tanpa didasarkan atas prinsip dasarnya seperti keikhlasan. Tanpa berdasarkan bukti-bukti yang otentik untuk berpra- sangka, apakah murid-murid dewasa ini dapat menunjukkan sikapnya sebagai seorang yang telah menerima ilmu pengetahuan dari gurunya di sekolah ? Kecenderungan yang sering terjadi adalah semakin lemahnya hubungan prinsip dasar seperti di atas tertanam dalam kehidupan guru -murid dalam sistem pen- didikan dewasa ini. Seakan-akan berkem bang suatu nilai bahwa "menghormati guru hanyalah kewajiban murid ketika berada di dalam lingkungan sekolahnya saja. Namun jika telah tamat a tau keluar seringkali tidak terdapat lagi hubungan. Ada semacam anggapan bahwa guru adalah "pekerja" yang telah diupah, dan

" p unia" akan menj adi semakin melemah. Ti dak ubahnya ibarat iklan berdalih derma. Terlebih-lebih jika sampai terjadi sikap-sikap manipulatif yang secara sengaja ber- maksud memasang iklan dalam media massa kem udian didalih- kan melal ui usaha-usaha derma. Hal ini misalnya un tuk meng- hindari tari f biaya iklan yang dirasakan c ukup mahal. Dapat di- bayangkan betapa terombang-ambingnya nilai-nilai luhur yang sesungguhnya menjadi akar dalam " punia ' itu sendiri. Perl u j uga dicantumkan di sini pem unculan sikap-sikap manipulatif dari kegiatan-kegiatan derma yang seringkali santer menjadi isu dewasa ini. Banyak bertebaran para pemungut "sumbangan sosial" ke rumah-rumah ataupun ke kantor-kantor instansi. Mungkin sebagian di antaranya perlu dic urigai, karena kemungkinan adanya penyalahgunaan dan hakikat nilai tersebut da n dimanfa atkan untuk t ujuan yang menyimpang. Dengan dalih sebagai petugas dari suatu yayasan sosial tertentu se perti itu panti-panti sosial kemanusiaan yang bahkan dilengkapi dengan atribut-atribut maupun surat-menyura t yang sangat meyakinkan, mereka itu dengan agak memaksa meminta sum-

bangsih dari para dennawan. Guna menghindari kemungkinan adanya praktek-praktek manipulasi itu pada banyak kantor instansi, swasta maupun pemerintah sering terpampang tulisan, seperti misalnya: "Tidak melayani sumbangan apapun", dan atau "Tidak melayani penjualan buku-buku, tiket pertunjukan atau barang-barang lainnya yang bersifat sumbangan, harap maklum". 1

Praktek-praktek-yang sifatnya manipulatif yang berdalih derma kemungkinan juga dapat dilakukan untuk maksud-maksud memasarkan barang-barang dagangan. Melalui teknik yang serupa tidak jarang para penjaja barang seperti berupa buku-buku tuntunan rohani/ agama, barang-barang hasil kerajinan tangan, dan lai:n sebagainya mendatangi rumah-rumah ataupun kantor-kantor instansi, dengan berdalih yang sama berupaya menarik simpati para calon dermawannya dengan menyuguhkan barang-barang tersebut. Mereka seringkali menyebut dirinya sebagai petugas sosial dari suatu yayasan (apakah yayasan agama, panti-panti sosial kemanusiaan, ataupun kelompok karang taruna, dan lain sebagainya). Dengan demikian, mereka meng- harapkan agar para dermawan dapat tergugah hatinya dan secara ikhlas mau menyumbangkan uangnya sebagai derma. Seringkali mereka-mereka itu adalah para pedagang asongan yang berdalih sebagai petugas sosial kemanusiaan. Dengan teknik pemasaran- nya i tu mereka dapat menjajakan barang-barang dagangannya secara lebih mudah. Isu se rupa juga pemah santer terjadi di sekitar Denpasar. Modus operandinya dilakukan melalui teknik yang agak berbeda yaitu berkedok sebagai seorang tokoh agama (pemangku) dan mengatakan dirinya adalah utusan (wangsi t) dari suatu kuil suci tertentu di Bali. Dengan menggunakan atribut-atribut pemangku (biasanya berpakaian adat Bali serba putih) mereka mendatangi para calon dermawannya untuk mempersembahkan

1oua contoh papan bertulis seperti tersebut di atas adalah rekarnan dari hasil pengarnatan di beberapa kantor instansi pemerintah maupun swasta di sekitar Denpasar.

" keikhlasan". Nilai ini adalah inti sel utama yang menjadi landasan pokok dalam se tiap menyelenggarakan derma (punia). Di sisi yang lainnya tandasan nilai progresifnya diakum ul asikan ke dalam prinsip dasarnya yang lain, yaitu nilai cermat ataupun ketepatan di dalam melakukannya. Di samping cermat atau tepat dalam hal waktu melak ukan derma juga cermat atau tepat memilih sasarannya. Di si nilah Ietak pleksibilitas dari tandasan nilai-nilai derma (punia) yang terkemas dalam " Dharma Sasana" tersebut. Makna pentm g yang dapat dipetik dari sifat-sifat pleksi bilitasnya itu terutama dalan1 upaya untuk mengaktualisasikannya dalam perkembangan masa kini dan masa yang akan datang.

V

RELEV ANSI DAN PERANAN NILAI "DHARMA SASANA" DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDA Y AAN NASIONAL

5 .1 Arah Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan

Strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan yang telah mendapat legitimasi Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32 tampaknya memiliki relevansi dengan asas "Tri-kon" yang per- nah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Rumusan Undang-Undang Dasar '45 ten tang kebudayaan bangsa, 1 yaitu "kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia sel uruhnya, termasuk kebudayaan lama atau asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 itu juga ditunjukkan ke arah mana kebudayaan itu hams diusaha- kan, yaitu menuju ke arah kemajuan adab budaya dan persatu- an, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia".

lDikutip dari bahan penataran UUD 1945. P4, GBHN Jakarta, 1984:324.

"Tri-kon", yang terdiri atas paham : konsentrisitas, kontinuitas dan konvergensi. 1 Konsentrisitas menekankan adanya suatu inti (sentrum) dari mana suatu perkembangan budaya mulai digerakkan; perkembangan ini pada tahap lebih lanjut akan kembali memperkuat inti tersebut. Kontinuitas menunjuk perkembangan suatu kebudayaan dalam waktu: hari ini adalah lanjutan hari lampau, dan akan berlanjut ke hari esok. Konvergensi menunjuk gerak kebudayaan dalam ruang, di mana kebudayaan nasional bersama-sama dengan kebudayaan bangsa lain, akan menuju ke satu kebudayaan dunia: kebudayaan limat manusia. 2

Inti (sentrum) sebagai landasan fundamental dari kebudayaan bangsa Indonesia adalah berakar dari budaya Indonesia sen- diri termasuk yang lama atau asli. Puncak-puncak kebudayaan yang ad a di daerah-daerah di seluruh Indonesia merupakan sel-sel utama yang menjadi inti dari kebudayaan bangsa. Dalam lingkup dae rah sel-sel utama ini merupakan akumulasi dari nilai-nilai budaya utama yang mengandung gagasan-gagasan vital, ide -ide yang luhur dan menjadi dasar pandangan hid up para pen- dukung kebudayaan yang bersangkutan. Nilai-nilai budaya utama tersebut terus diupayakan untuk digali, diinventarisasi, dan didokumentasikan. Dengan adanya upaya tersebut pada akhirnya akan memberikan konfirmasi balik yaitu kokohnya inti yang melandasi seluruh perkembangan kebudayaan itu sen- diri baik dalam dimensi waktu maupun ruang. Anggapan yang memandang kebudayaan baru sebagai kebudayaan yang terputus dari tradisi biasanya timbul sebagai akibat adanya sikap yang meragukan relevansi dan peranan nilai-nilai tradisional tersebut dalam perkembangan kebudayaan.

I Pembahasan ten tang gagasannya ini pemah dilak ukan oleh Daoed J oesoef, "Ki Haj ar Dewantara & Kebudayaan Nasional", dalarn Seri Karangan di Sinar Harap- an. Jakarta, 25 -27 Februari 1985. 2 Pe riksa dan bandingkan dengan uraian lgnas Kleden, "Kebudayaan : Agenda Buat Daya Cipta", Sikap flmiah dari Kritik Kebudayaan. Jakarta, LP3ES, 1987: 155 -161.

Sikap ini mensinyalir bahwa sistem budaya itu dinilai tidak cu- kup kuat lagi untuk menjadi landasan sistem sosial sebagai aki- bat terjadinya perubahan pada lapisan (landasan) material kebudayaan tersebut. Konsekuensi dari sikap seperti itu akan me- nim bulkan pandangan yang sangat apriori terhadap kebudayaan seperti antara lain: pertama, memandang kebudayaan itu sema- cam entropi, di mana sistem nilai budaya tradisional masih ada tetapi dianggap kehilangan dayanya untuk memotivasi dan me- ngontrol sistem sosial yang ada saat ini. Kedua, memandang sistem nilai budaya itu telah tiada/m usnah dalam alam kognitif dan normatif manusia, dan dianggap hanya tinggal peranannya sebagai embel-embel belaka dan terbatas berfungsi sebagai hias- an fungsional lagi terhadap cara pikir dan cara tingkah laku walaupun masih dapat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memperlihatkan diri. Ibarat drama, kebudayaan tidak lagi berfungsi sebagai skenario, tidak juga sebagai perfonnance di atas pentas, tetapi hanya sebagai decor theatral, atau setting yang diperlukan hanya untuk menciptakan suasana. Pada titik itu kebudayaan dipandang berhenti sebagai pandangan hidup dan dianggap hanya berperanan sebagai gaya hidup. Ketiga, kebudayaan dipandang atas cara yang serba estetis: tradisi, dihayati tidak terutama sebagai landasan kosmologis dan Iandasan etis kebudayaan, tetapi lebih dipandang dengan selera es tetis. Kebudayaan dianggap seakan-akan suatu fashion yang nilainya dipertaruhkan dalam kadar pembaruannya. Kebijakan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasi- onal pada hakikatnya juga mencakup upaya-upaya mempertaut- kan antara bentuk kebudayaan tersebut. Langkah inventarisasi berkisar pada pengurnpulan bahan-bahan kebudayaan yang be- rupa nilai-nilai yang seringkali masih terkemas dan tercecer di wilayahnya. Selanjutnya diadakan dokumentasi untuk di- informasikan secara luas. Demikian dalam upaya mengkaji naskah-naskah tradisional, seperti lontar Bali juga bertujuan menggali, dan selanjutnya menginformasikannya ke seluruh Indonesia.

Peranan Nilai "Dharma Sasana"

Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang ter- kandung dalam " Dharma Sasana " cukup relevan dan berperanan bagi upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Kendatipun terdapat sifat-sifat intuitif, imajinatif bahkan sifat-sifat fiktif di dalam cara penuangannya, secara akumulatif pikiran, gagasan serta ide-ide yang terdapat dalam " Dharma Sasana" tampaknya dapat memperkokoh eksistensi dari kebudayaan nasional. Uraian selanjutnya dtharapkan dapat mem- perlihatkan keterpau taannya.

Nilai Kepemimpinan

Pola interaktif yang berasaskan pada hubungan keseraian dan keseimbangan antara pemimpin dan rakyat merupakan esensi penting yang ditandaskan di dalam brata kepemimpinan. Dari enam kelas butir brata kepemimpinan yang ditandaskan dalam " Dharma Sasana", sekurang-kurangnya ada lima prinsip utama yang mengacu kepada asas hubungan tersebut di atas, yaitu sikap keberanian (ksatria), keadilan, kecermatan (dan atau mawas diri), kesederhanaan dan sikap bermusyawarah.

Sikap keberanian (ksatria) mencakup sikap tegas dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan baik yang berasal dari dalam dirinya sendin maupun yang datang dari luar. Menegakkan kebenaran merupakan prinsip yang esensial dalam sikap tersebut. Jika pada masa revolusi fisik dalam menegakkan cita-cita proklamasi kemerdekaan sikap keberanian (ksatria) itu menjadi pendorong semangat per- juangan menentang kekuatan penjajah Pada saat ini dalam menegakkan dan mengisi cita-cita kemerdekaan, sikap keberanian (ksatria) diarahkan sebagai pendorong semangat dalam pembangunan. Tantangan yang dihadapi dalam era pembangunan ini adalah sangat berat, dan oleh karenanya di- perlukan mental yang tangguh. Di Dalamnya mencakup keberanian untuk mengambil, melaksanakan, dan menegakkan keputusan yang telah ditetapkan.

"tepat guna". Bagi penampilan gaya hidup, sikap hidup se- perti ini dapat dihindari munculnya kecemburuan sosial, sedang- kan dalam pemanfaatan sumber daya lebih mengacu kepada pemanfaatan yang berasas guna dan efektif. Sikap bermusyawarah adalah kesanggupan untuk menjadi- kan dialog kepada semua pihak dan sekaligus dapat menghargai sumbangan pemikiran yang muncul. Dengan demikian, tiap keputusan merupakan aspirasi semua pihak. Sikap yang berlandaskan pada nilai-nilai yang telah disebut- kan di atas amat penting dalam perkembangan masa kini. Di samping mengandung esensi keteladanan juga sekaligus akan menumbuhkan inspirasi positif bagi masyarakat luas. Dengan demikian, prinsip-"ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani" 1 mampu mewamai pola kepemimpinan bangsa sesuai dengan cita-cita Pancasila.

Nilai Pengendalian Diri Seorang Antropolog-filsuf Jerman bemama Arnold Gehlen, 2

pernah memberi definisi tentang manu~ia sebagai tnakhluk bebas lingkungan (umweltfreies wesen). Sifat tersebut meng- akibatkan kedudukan manusia terhadap lingkungan adalah labil. Labilnya kedudukan manusia terhadap lingkungan ini karena morfologis (yaitu menurut bentuk konstitusi tubuhnya) manusia adalah "binatang" yang paling lemah peralatan tubuhnya dibandingkan dengan binatang-binatang lainnya. Organ- organ tubuhnya belum disesuaikan secara pasti dengan ke- butuhan dan dengan lingkungan.

1Lihat buku UUD 1945, P4, & GBHN, 1986:293. 2Pendapat tersebut dikutip dari lgnas lcleden l.987 :: 142.

Perkembangan kebutuhan ini dimungkinkan da1am kebudayaan, karena terhadap kebutuhannya manusia selalu dapat memberikan Respons yang bersifat kebudayaan, yang mengakibatkan pemenuhan kebutuhan pada tingkat biologis justru menimbul kan kebutuhan baru. Hal itu terkait dengan kecenderungan yang ada pada manusia, yang senantiasa mengembangkan kehidupannya sampai titik derajat yang seakan-akan tanpa batas. Kemampuan manusia untuk me lakukan hal itu kadang-kadang menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi masalah-masalah dasar yang harus diatasinya, apabila ia ingin mempertahankan eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut eksistensinya secara fisik, akan tetapi juga secara psikologis. Tanpa memerlukan penelitian khusus tampaknya kita dapat berprasangka, bahwa usaha-usaha yang dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut selalu terus berkembang. Kebutuhan-kebutuhan akan .Pangan, papan dan sandang misalnya, se bagai bagian dari kebutuhan bio-sosial atau fisik berupaya dipenuhi seoptimal mungkin. Pada titik tertentu mungkin masih dapat disebut sebagai batas takaran

1Periksa dan bandingkan dengan bahasan Koentjaraningrat mengenai teori !ungsional B. Malinowski dalam buku berjudul Sejarah Teori Antropologi Seri I, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia, 1980 170-172.

"keinginan meraih lebih" di luar batas-batas kemampuannya yang se- sungguhnya terbatas ada pada dirinya maka persoalan dilematis psikologis mulai menghadangnya. "Menghalalkan semua cara" tampaknya salah satu konsekuensi dari dilema di atas: korupsi atau penyalahgunaan wewenang, pencurian, perampokan, teror dan sebagainya merupakan sebagian dari contoh-contoh yang sering muncul ke permukaan.

Sifat-sifat keserakahan yang dilukiskan melalui figur raksasa dalam ajaran-ajaran agama mulai merasuk dalam diri manusia. Menghalalkan semua cara demi tercapainya kebutuhan yang kadang-kadang di luar batas wajar selanjutnya juga menye- babkan manusia berperilaku di luar batas-batas takaran moral ( asuri sampat). Pertengkaran, pergolakan, pembunuhan, pemer- kosaan dan tindakan-tindakan kriminalitas lainnya mewarnai perilakunya dalam kehidupan ini.

Di dalam "Dharma Sasana" sebagian atau keseluruhan dari kecenderungan sifat-sifat manusia itu juga mendapatkan tandasan. Sad ripu, Asta dewi yang kedua-duanya dianggap sebagai musuh-musuh yang bersemayam dalam diri manusia, dan sad tetayi sebagai perilaku yang dianggap menyimpang menurut takaran moral, adalah contoh-contoh yang disebutkan · se bagai tindakan amoral. Semua contoh di atas merupakan akibat yang tidak ter- pisahkan dari adanya kecenderungan manusia untuk berupaya memenuhi kebutuhan bio-sosio, psikologis atas dasar kepenting- annya sendiri. Masalah "keperdulian ", baik terhadap sesama, ataupun lingkungannya dalam arti luas, tampaknya tersisih dalam hakikat dirinya. Memang tidak ditemukan secara khusus dalam "Dharma Sasana" mengenai petunjuk yang dapat dilakukan oleh manusia dalam mengatasi musuh-musuh yang bersemayam pada diri manusia tersebut. Tetapi tandasan nilainya selalu menekankan agar manusia senantiasa mewaspadai musuh-musuh itu. Upaya

" Dharma Sasana '' adalah dengan " pengendalian diri " yaitu mencakup adanya usaha-usaha manusia untuk mewaspadai dan sekaligus menghmdari dan meniadakan dorong-d orongan nafsu naluriah seperti itu pada diri masing- masing.

Walaupun tidak persis sama, dalam 'Pancasila " pun menan- daskan pentingnya pengendalian diri 1 bagi terciptanya kese- larasan, keserasian, dan keseimbangan bagi berkembangnya eksistensi manusia tersebut. Rumusannya secara singkat sebagai sikap hidup, adalah (1) kepentingan peribadinya tetap diletak- kan dalam kerangka · kesadaran kewajibannya sebagai makhluk sosial dalam kehidupan masyarakatnya, dan (2) kewajibannya terhadap masyarakat dirasakan lebih besar daripada kepentingan peribadinya. Dengan demikian, nilai pengendalian diri tersebut dapat berperanan dalam pembinaan sikap dan keperibadian bang,5a yang menj unjung tin ggi harkat manusia yang manusiawi, dan sekaligus j uga menj adi dasar terbentuknya keperibadian yang mawas diri. Sikap ini akan semakin pen ting, terlebih-lebih dalam menghadapi globalisasi yang melanda duma dewasa ini.

Nilai Tata Susila Nilai tata susila adalah tahap yang paling luhur yang di- hayati sebagai sistem kognitif yaitu berupa kerangka pengetahuan dan keyakinan yan g memberikan pedoman bagi orientasi setiap orang yang hidup dalam kebudayaan. Selanjutnya, kebudayaan itu sendiri adalah pengetahuan kolektif (shared know- ledge), yang akan menentukan persepsi bagi perilak u individu yang mendukungnya. Persepsi individu dalam tata susila selalu melibat aturan tingkah laku yang realistis dan beraturan (on to- logi dan kosmologis). Oleh karena itu, diterima sebagai pan- dangan hidup. Apakah di dalamnya mencakup yang material maupun spiritual. Di samping itu, tata susila sebagai sistem nilai

1Periksa kembali buku : Bahan Penataran UUD 1945, P4 dan GBHN, 1986 285-287.

juga mencakup peraturan dari nilai-nilai tersebut. Pada titik inilah ditentukan: apakah sistem nilai itu dapat dijelmakan menjadi sistem tingkah laku, perbuatan dan tindakan. Dalam hal ini masih tampak adanya timbangan yang memberi peluang terhadap pilihan dalam tindakan yang bertata susila. Tetapi tidak sampai kepada tindakan yang bertentangan dengan aturan- aturan nilainya. Kalau hal ini terjadi maka tindakan tersebut akan dikatakan asusila. Dalam "Dharma Sasana" yang menekankan nilai tata susila dengan ajarannya yang disebut: Dasakramaparamarta, Dasa Dharma, dan As ta pangradana, tidak memp unyai maksud agar individu dapat melakukan seutuhnya dari keseluruhan butir yang ditawarkan. Setidak-tidaknya diharapkan dapat melakukan sebagian dan secara terus-menerus berupaya meningkatkannya. Hal ini disadari mengingat adanya beberapa kemungkinan seperti: sifat-sifat relatif dari persepsi individu tersebut, kemampuan indria, dan berbagai pengaruh keadaan yang berkembang.

Adan ya persepsi relatif terhadap nilai-nilai yang diharapkan, seperti misalnya apa yang disebut dengan "benar" dan "salah" memberi petunjuk bahwa ajaran "tata susila" dalam "Dharma Sasana" bukan memutlakkan satu nilai utuh dalam tindakan. Melainkan hanya menganjurkan suatu nilai kehidupan un tuk berusaha dilaksanakan. Kemampuan indria, mencakup adanya kemungkinan manusia i tu kadang-kadang lupa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pedoman tingkah laku dalam tata susila. Misalnya satya dalam Dasa Dharma mengharapkan agar orang teguh akan janji. Jika misalnya ia lupa akan janjinya itu tidak berarti ia telah mengingkari satya. Pengaruh keadaan yang berkembang pada diri manusia yang memungkinkan ia tidak seutuhnya dapat berperilaku sesuai dengan tata susila, misalnya karena sakit. Pada kondisi seperti ini tidaklah dianjurkan melaksanakan "semadi" (dalam arti tidak tidur semalaman suntuk) seperti yang terdapat dalam dasakrama paramarta.

"Dharma Sasana" itu tidak memutlakkan suatu peraturan nilai yang berderajat "hams" maka nilai tata susila itu tampaknya banyak yang dapat dipetik dan diterapka~ dalam kehidupan masa sekarang. Atau dengan kata lain, ntlai-nilai tata susila dalam "Dharma Sasana" secara umum masih dapat relevan dengan kebutuhan perilaku manusia masa kini dan mendatang.

Tidak tergolong ke dalam tiga nilai utama yang telah diuraikan di atas, tampaknya masih terdapat beberapa nilai yangjuga secara um um memiliki relevansi dalam pembinaan dan pengem- bangan keb udayaan nasional. Nilai-nilai yang akan diuraikan se- lanjutnya merupakan butir-butir bagian akhir dari "Dharma Sasana" yaitu di antaranya: · pantangan dalam pembatasan perkawinan, menggugurkan bayi dalam kandungan, dan nilai pemberi- an sedekah.

Pantangan Perkawinan. Nilai yang mengatur batas-batas hubungan dalam perkawinan yan g disebut " patita" secara umum cukup relevan dengan kebudayaan kita yang juga menjunjung tinggi harkat manusia yang beradab. Adanya berbagai ketentuan yang mengatur hubungan perilaku seksual pada hakikatnya akan memperkokoh eksistensi manusia di dalam pranata keluarganya. " Patita" seperti telah mendapat uraian dalam seksi-seksi sebel umnya, berintikan suatu larangan di sekitar hubungan-hubungan perkawinan. Larangan itu mencakup keten tuan-keten tuan yang menegaskan batas-batas perilaku: de nga11 siapa seseorang di- larang melakukan hubungan perkawinan. Larangan seperti itu penting, te rlebih-lebih untuk membatasi ruang gerak dari ke- mungkinan munculnya praktek-praktek promisuittas akibat se- makin lemahnya pranata kekerabatan dalam mengatur hubungan antar insan. Adanya pengaturan kelakuan-kelakuan seksual seperti itu menyebabkan seorang laki-laki dalam pengertian ma- syarakat tidak dapat bersetubuh dengan sembarang wanita lain tetapi hanya dengan satu atau beberapa wanita tertentu yang telah dilegitimasi melalui perkawinan. Hakikat dari suatu per-

Pranata tersebut sekaligus merupakan embrio dari keseluruhan sistem kemasyarakatan yang ada, termasuk dalam sistem kebangsaan dan kenegaraan. Mengingat fun gsi maupun peranannya yang hakiki itu maka pranata keluarga merupakan pusat utama dari proses intemalisasi, sosiali- sasi maupun enkulturasi dari cakal bakal terbentuknya keperibadian bangsa. Pranata keluarga yang sehat selanjutnya akan menumbuhkan keperibadian bangsa yang sehat pula. Dengan demikian, pengaturan kelakuan seksual melalui berbagai keten- tuan' seperti "patita" itu misalnya, akan memperkokoh eksis- tensi manusia yang hidup di dalamnya sebagai m.anusia yang beradab. Relevansinya j uga erat terkait dengan ci ta

Pengguguran Kandungan

Terkait pula dengan upaya pembinaan institusi keluarga, konsep "brunaha" a tau " brahmatya" masih memegang peranan penting. Karena pada dasamya konsep tersebut juga mengacu kepada upaya-upaya pembinaan moral. " Brunaha" atau "brahmatya" seperti telah mendapat uraian pada seksi-seksi terdahulu adalah merupakan praktek-praktek perilaku yang telah menyim- pang dari harkat kemanusjaan. Praktek menggugurkan bayi

lperiJcsa dan bandingkan pula dengan uraian-uraian buku: UUD 1945, P4, dan GBHN, 1984:295.

" brunaha" misalnya, menjadi semakin urg~n dalam menghadapi berbagai bentuk per- gaulan remaja yang sedang berkembang. Praktek perilaku sema- cam itu tidak jarang menjadi isu di dalam kalangan remaja. Mun- culnya isu-isu seperti : kumpul kebo, free sex, dan sebagainya adalah sebagian saja dari contoh-contoh yang mengarah kepada penyimpangan moral.

Di dalam kebudayaan kita di Indonesia yang menganut prin- sip bahwa setiap hubungan seksual antara laki-laki dan perempu- an dengan segala konsekuensinya harus secara terintegratif ter- kait dengan pranata perkawinan. Oleh karena itu, tumbuhnya cabang bayi dalam kandungan adalah proses lanjut dari terse- lenggaranya pranata itu. Hubungan seksual di luar nikah seperti banyak disinyalir terjadi pada-kebudayaan Euro-Amerika 1

tidak boleh terjadi dan berkembang di dalam kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, harus diadakan berbagai upaya pence- gahannya. Di sinilah urgensi peranan nilai-nilai yang telah diurai- kan di atas menjadi semakin sen tral. Bahkan dalam berbagai segi dituntut ikut bertanggung jawab atas perkembangan moral itu sendiri. Dengan demikian, tidaklah beralasan jika masih ada kalangan yang menilai secara apriori bahwa ajaran-ajaran moral yang seringkali terkemas dalam kaidah-kaidah agama hanyalah dogmatis sifatnya. Ajaran-ajarannya harus semakin ditampilkan ke permukaan dan diletakkan sebagai bobot sentral dari fondasi perkembangan moral itu sendiri.

lPeriksa uraian T.O. Ihromi, dalam buku: Pokok-Pokok Antropologi Budaya, 1984:87.

peiwujudan dari esensi tolong-menolong ataupun gotong ro- yong yang dilembagakan melalui pranata agama (Hindu). Di dalamnya tercakup suatu keyakinan bahwa demrn yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dapat memberi arti terhadap ke- hidupan ini. Bukan saja kepada orang lain yang menerimanya tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dalam konsep agama (Hindu) derma (dana punia) juga menjadi bagian penting dari tujuan agama dan oleh karenanya merupakan salah satu kewajiban penting. Dana punia bukan saja berwujud material tetapi juga dapat beiwujud nonmaterial. Oleh karena itu, di samping derma dapat beiwujud berbagai finansial fisik, dapat juga dilakukan melalui sumbangan pemikiran yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Termasuk juga di dalan'lnya seperti petuah-petuah suci, ataupun nasehat-nasehat yang berguna bagi akhlak moral. Bahkan dalam keyakinan Hindu, punia dalam wujud terakhir ini diyakini memiliki gradasi utama dan. sangat mulia pahala- nya. Nilai-nilai yang telah disebutkan di atas di samping relevan dengan kebudayaan Indonesia juga memiliki peranan yang se- makin strategis di dalam rangka pembangunan. Tertanamnya sikap untuk mendermakan secara ikhlas berbagai nilai tambah yang ada merupakan potensi penting bagi tercapainya tujuan pembangunan itu. Pada bagian lain dari " Dharma Sasana" yang masih terkait dengan derma (punia) ditandaskan pula mengenai cara-cara dalam pelaksanaannya. Setiap melakukan derma (punia) harus

Shinta ketika ia memberikan sedekah kepada orang yang tidak te pat menerima- nya, yaitu brahmana palsu siluman dari Rawana. Temyata se- dekahnya justru mencelakakan dirinya sendiri. Suluh-suluh yang telah ditandaskan d1 atas menjadi semakin penting dalam perkembangan masa im maupun mendatang. Tumbuh dan berkembangnya sikap dan peril.aku untuk berder- ma dalam masyarakat perlu terus dipupuk. Tetapi asas nilai ter- se but juga harus dibarengi dengan tumbuhnya nilai-nilai lainnya yang bersifat progresif, seperti ketelitian ataupun kecermatan, dan lain -lain. Berdasarkan uraian-uraian yang telah dipaparkan dalam alinea-alinea terdahulu, tampaknya moto. " membangun tradisi tanpa sikap tradisional" 1 menjadi dasar dan landasan pemikiran dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Moto atau pemyataan di atas mengacu kepada suatu implikasi bahwa kemunculan sikap-sikap modem1tas yang .dipacu oleh gerakan kebudayaan baru tidak serta merta berada dalam jarak yang terputus dengan tradisi. Kerangka pemikiran inilah selan- jutnya menjadi landasan dalam membina dan mengembangkan

1Moto ini sebelumnya adalah suatu judul bab dan serangkaian uraian mengenai dilema kebudayaan di Indonesia yang mengisi buku : Sikap Rmiah dan Kritik Ke bu· day aan. Igni Kleden, 1987 :214.

hams dibangun. Di sini amat diperlukan usaha yang dilandasi oleh kesadaran dan disiplin yang ketat dengan tetap berpedoman pada usaha-usaha tradisi tetapi sekaligus ti- dak menyerah pada sikap tradisional dan membuka ufuk baru bagi perkembangan. Sudah jelas bahwa bidang apa pun yang ingin dilakukan tan pa berlandaskan pad a tradisi itu sendiri niscaya akan menghadapi sekurang-kurangnya salah satu dari dua kesulitan berikut. Pertama, kesulitan bagi seseorang untuk mengetahui state of the art dari suatu perkembangan. Kedua, gerak perkembangan yang bersifat progresif sulit dilakukan karena pemberian yang dilakukan (misalnya karena ketiadaan tradisi yang bisa direferensi) bisa saja merupakan pengulangan belaka dari apa yang sebelumnya pemah dilakukan.

Oleh karena itu, peranan nilai hars dapat diarahkan kepada upaya-upaya seperti: (1 ) penata sikap tingkat laku, (2) pem- bentuk identitas, dan (3) pembangunan kualitas manusia. Sesuai dengan sifatnya, nilai ekspresif pada dasamya cende- rung ditandai oleh sejumlah ciri seperti misalnya, satia, mengu- tamakan sifat-sifat kolektif, anonim, dan mistis maupun mitolo- gis. Namun nilai-nilai ini adalah merupakan initi dan karakter dasar dari perilaku kehidupan sebagian besar bangsa kita dan oleh karenanya sangat sentral posisinya, sedangkan nilai progra- sif pada umumnya ditandai oleh sejumlah ciri antara lain misalnya, dinamis, individualisme, egoisme, intelektualisme, dan maupun materialisme. Namun mengingat nilai-nilai ini bukan merupakan inti dan karakter dasar bangsa kita maka posisinya berada pada posisi peri-perial. Upaya untuk menyeleraskan hu- bungan dua diktum nilai tradisi di atas kiranya pendekatan

"diterima" atau " ditolak ", melainkan untuk dipertimbangkan kembali, dikerjakan kembali dan disesuaikan kembali sesuai dengan keperluan baru. Demikian misalnya secara tidak disadari telah merasuk ke dalam tradisi kita suatu nilai, seperti menghar- gai waktu, efisien, cermat, dan lain sebagainya. Begitu pula secara tiak disadari tidak sedikit nilai trad1sional yang sesungguh- nya pernah mengakar dalam kebudayaan kita menj adi semakin melemah peranannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh- contoh un tuk yang tersebut terakhir ini cukup banyak ditemu- kan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa saj a di antaranya se perti: nilai-nilai kesehatan tradisional, nilai anak dalam keluar- ga, nilai-nilai hubungan interaksi sosial, dan lain sebagainya. Selanj utnya, pendekatan tersebut memang tampaknya lebih menekankan adanya proses evolusi yang pada akhirnya dapat menyentuh kesadaran sosial secara luas. Proses berlangsungnya ad opsi nilai semacam ini memang relatif lama dan bahkan kadang-kadang tidak disadari seutuhnya kapan hal itu mulai ber- langs ung. Pembinaan dan pengembangan di sini lebih diartikan

Pada bagian yang lainnya terutama untuk menghindari munculnya penyalahgunaan dari hubungan integratif nilai-nilai tersebut seperti misalnya adanya praktek-praktek manipulasi, pengawasan (kontrol) tetap dirasakan perlu. Pengawasannya bu- kan saja dilakukan oleh pemerintah tetapi juga melalui kontrol sosial. Tanpa adanya pengawasan (kontrol) pengawinan dari dua diktum nilai (ekspresif dan progresif) dikhawatirkan dapat diarahkan menjadi suatu praktek-praktek manipulasi. Contoh- contoh tersebut terakhir ini dapat disebutkan misalnya bersatu- nya nilai derma atau "punia" dan nilai pengumpulan dana (ka- pital) diarahkan untuk tujuan-tujuan yang menyimpang. Atau iklan-iklan yang berdalih derma, dan lain sebagainya.

VI KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN

Berdasarkan uraian-uraian di atas beberapa kesimpulan yang dapat ditarik antara lain adalah :

1) naskah lontar "Dharma Sasana" berbentuk puisi Bali tradi- sional yaitu geguritan yang ditulis dengan huruf Bali dan menggunakan bahasa Bali Kapara dan Jawa Kuna. Geguritan ini dirangkai dengan beberapa pupuh seperti: Ginanti, Semarandana, Sinom, Pucung, Mijil, Kumambang, Dandang, Girisa, Durma, Juru Demung, dan Megatruh;
2) nilai-nilai yang terkemas di dalam lontar " Dharma Sasana" pada umumnya berintikan ajaran agama Hindu. Namun walaupun demikian, " Dharma Sasana" tidak tergolong ke dalam Smertti agama. Nilai-nilai tersebut adalah merupakan landasan-landasan dasar dari tuntunan perilaku di dalam ke- hidupan manusia di Masyarakat;
3) nilai-nilai dasar tuntunan prilaku yang ditandaskan di dalam " Dharma Sasana" pada hakikatnya m.encakup. nilai-nilai tuntunan dalam kepemimpinan, pengendalian diri, dan nilai-nilai tata susila.
(1) Nilai-nilai yang ditandaskan dalam tuntunan kepemimpinan terutama bertujuan membentuk sikap dan perilaku kepemimpinan yang teladan dengan memegang

teguh prinsip-prinsip utama seperti : keberanian, keadil- an, kecennatan, kesederhanaan dan sebagainya.

(2) Nilai-nilai pengendalian diri menekankan adanya ke- mauan dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri atau mawas diri dari berbagai pengaruh, baik diri atau mawas diri dari berbagai pengaruh, baik internal maupun eksternal.
(3) Nilai-nilai tata susila menandaskan adanya berbagai perilaku yang dilarang, dan yang dianggap baik untuk dilaksanakan serta bobot takaran moralnya; dari yang berbobot moral harus turun ke bobot moral yang di- anjurkan;
4) Secara akumulatif relevansi dan peranan nilai-nilai "Dhanna Sasana" dalam upaya pembinaan dan pengembangan ke- budayaan nasional adalah cukup manifes. Walaupun cara penuangan ide-ide dan gagasan-gagasannya masih bersifat intensif, imajinatif dan bahkan ada yang fiktif, namun secara esensial nilai-nilai yang dikandungnya penuh dengan ajaran-ajaran kebajikan yang relevan dengan nilai-nilai yang terdapat di dalam Pancasila. Oleh karena itu, ciri-ciri tradisionalnya yang cenderung bersifat unicum tersebut dapat dikembangkan menjadi landasan dasar dalam pembinaan keperibadian bangsa Indonesia secara universal. Memetik intisari dari kajian nilai yang tersurat dan tersirat pada bagian-bagian terakhir dari naskah lontar "Dhanna Sasana" terse but tampaknya nilai-nilai seperti tanggung jawab sosial, kemanusiaan, tenggang rasa, serta nilai-nilai yang bersifat cermat merupakan landasan pokok dari kemasan nilai nilai dari naskah tersebut. Hal itu tampak, baik dari kajian pantangan perkawin- an, pengguguran bayi ataupun pembunuhan bayi maupun kajian mengenai sedekah (punia).

Saran-saran

I) Naskah "lontar" kuno sebagai salah satu karya sastra tradisional di Bali pada umumnya berintikan nilai-nilai

Pembinaan dan pengembangan nila ... sebagai sel inti dari kebudayaan daerah dapat bermanfaat secara komprehensif yaitu kokohnya sel-sel inti terse bu t bagi eksistensi kebudayaan, baik kebudayaan di daerah maupun kebudayaan nasional.

3) Manfaat lainnya yang segera dapat dirasakan adalah semakin kayanya kebudayaan nasional diwarnai oleh sel-sel inti kebudayaan daerah yang tersebar di Indonesia. Hal ini sekaligus pula diharapkan memberikan konfirrnasi b~i dalam mengurangi atau kalau mungkin meniadakan sikap-sikap sterio tipe dalam pandangan kebudayaan dari masing-masing daerah di Indonesia.
4) Kokohnya sel inti kebudayaan terse but diharapkan pula merupakan kerangka acuan bagi pola adaptabilitas dalam menghadapi perkembangan kebudayaan yang cenderung mengarah semakin gelobal. Hal ini sekaligus diharapkan menjadi landasan dasar bagi pengembangan keperibadian bangsa Indonesia.
5) Upaya-upaya transforrnasi nilai budaya diharapkan tetap mengarah pada konsepsi :
(a) pemantapan nilai ekspresif,
(b) pengem bangan nilai progresif, dan
(c) tetap menjaga hubungan selaras antara nilai ekspresif dengan nilai progresif, sehingga setiap perkembangan adalah merupakan proses dinamik yang tetap berlan- daskan identitas yang utuh.

Achmad, Mudler. t.t. Manusia & Kebenaran (Masalah Pokok Filsafat): Surabaya: Usaha Nasional.

Adia Wiratmadja, I Gusti Ke tut, dkk. 1976. Murdha Agama Hindu (Indonesia). Jogyakarta: Yayasan Hindu Dharma Laksana Saraswati.

Alisjahbana, S. Takdir. 1983. Socio-Cultural Creativity in the Converging and Restructuring Process' of the New Emer- ging World. Jakarta: Dian Rakyat.

Arsana, I Gusti Ke tut Gde. 1985. Fungsi Upacara Ciwaratri di Bali. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra, Sebuah Peng- antar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengem- bangkan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Devi, Sudarsana. 195 7. Wrhspati-Tattwa. International Acade- my of Indian Culture. Durkheim, Emille. 1977. Over Moralitet, translated by K.L. van der Leeuw, Bomm Meppel. Eddy, Tusthi. 1979. 'Beberapa Hubungan Pen ting antara Sastra dan Agama ", Warta Hindu Dharma, nomor 143 tv1ei.

RDS. 1968. Sarwacastra, jilid I. Jogjakarta: UP Indonesia. Hooykaas, C. Agama Tirtha: five Studies in Hindu-Balinese Religion. Amsterdam, 1964.

lhromi, T.O. 1984. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: PT. Gramedia. James, W. 1958. The Varieties of Religious Experience. New York : Mentor Books. Joesoef, Daoed. 1985. 'Kihajar Dewantara & Kebudayaan Na- sional ", Seri Karangan di Sinar Harapan. Jakarta25 -27 Februari. Kajeng, I Nyoman dkk. 1988/ 1989. Sarasamuccaya. Pemda Tingkat I Bali, Proyek Penyuluhan Penerbitan Buku Agama. Kaler I Gusti Ketut. t t. Cudamani: Pewiwahan /Perkawinan dalam Masyarakat Hindu di Bali. Tanpa penerbit.

Kleden, lgnas. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Ja - karta : LP3ES. Koentjaraningrat. 1958. Metode-metodt Antropologi dalam Penyelidikan-penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Universitas

-------1972. Beberapa Pokok 4ntropologi Sosial. Ja-

karta: PT. Dian Rakyat. -------1980. Sejarah Teori A n tropologi (Seri Teori-teori Antropologi Sosio/ogi) I. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press). Mantra, Ida Bagus. 1967. Tata Susi/a Hindu Dharma. Denpasar: lnstitut Hindu Dharma. Mitchell, Philip H. 1956. A. Texbook Jf General Physiology). Tokyo: Kogakusha Company Ltd Parisadha Dharma Hindu Bali. 1960. Dharma Prawrtti Castra. Denpasar: Parisadha Dharma Hind u Bali.

Parsons, Talcott. 1964. The Social System. New York: The Free Press.

Pasek, I Ketut dkk. 1982. Niti Sastra I. Proyek Pembinaan Mu- tu Pendidikan Agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI.

Pendit. Nyoman S. 1967. Bhagavadgita. R.I. Lembaga Penye-Jenggara Penerjemah dan Penerbit Kitab Suci Weda dan Dammapada.

Puniatmadja, I.B. Oka. 1976. Cilakrama. Jakarta: Parisada Hindu Dharma.

Radhakrishnan, S. 1953. The Principal Uppanisada. London : George Allen & Muwin Limited. Sono Harbangan Siagian. 1986. Agama-agama ai Indonesia. Se- marang: Satya Wacana.

Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Teori Sosiologi1tentang Struktur Masyarakat. Jakarta: CV. Rajawali.

Sumardjo Jakob dkk. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia. Suastika I Made. 1985. · 'Konsepsi Kelepasan Se orang Penyair (Studi Pendahuluan Karya-karya Ida Pedanda Made Sidemen)'". Maka/ah dalam Seminar Baliologi Denpasar Sura, I Gede 1983. Pengendalian Diri dan Etika aalam jaran Agama Hindu (Skripsi). Denpasar: Fakultas Agama dan Kebudayaan, lnstitut Hindu Dharma. Worsley, P.J. 1970. 'A Missing Piece of Balinese Painting of the Ciwaratrikalpa", BK/ 126.

-------. 1986. Bahan Penataran dan Bahan Referensi Pe-

nataran UUD 1945, P4, GBHN. Lon tar Dharma Sasana. Koleksi Perpustakaan Lon tar Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Jalan Nias 13, Sanglah Denpasar Bali. Disimpan dalam sebuah kropak tanpa nomor.

INFO AN

I. Nam a I Ketut Dana
Jenis kelamin Laki-laki
Tempat lahir Br. Tegal Singaraja 5 2 tahun
Pendidikan PGSLP
Pekerjaan G uru
2. Nama J ero Mangk u Gria
J enis kelamin Laki-Jaki
Tempat Jahir Br. Galiran Singaraj a
Um ur 4 7 tahun
Pendidikan SD
Pekerjaan Dalang Wayang
3. Nama I Gede Kompyang
J enis kelamin Laki-laki
Um ur 4 9 tahun
Pekerjaan Petani
Tempat lahir Br. Penaban, Karangasem
4. Nama M angk u N garsa
J enis kelamin Laki-laki
Umur 53 tahun
Pekerjaan Pegawai Gedong Kirtya
Tempat lahir Br. Tegal, desa Sinabun, Sawan,

Um u r

Singaraja

Jenis kelamin Laki-laki
Umur 49 tahun
Pekerjaan Petani
4. Nama Mangku Ngarsa
Jenis kelamin Laki-laki
Umur 53 tahun
Pekerjaan Pegawai Gedong Kirtya
Jenis kelamin Laki-laki
Tempat lahir
Umur 52tahun
Pendidikan PGSLP
Pekerjaan Guru
2. Nama Jero Mangku Gria
Jenis kelamin Laki-laki
Umur Tempat lahir 47 tahun

Umur 45 tahun Pekerjaan Penari topeng Tempat lahir Br. Pemuji, desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung

  1. Nam a' •Ida Bagus Sunu Jenis kelamin Laki-laki Umur 69 tahun Pekerjaan Pensiunan Peg. Negeri Sipil Tempat lahir Geria Pidada, Br. Sengguan, Klungkung
  2. Nama Ida Bagus Sunu Pidada J enis kelamin Laki-laki Umur 58 tahun Pekerjaan Ketua Badan Pelaksana Pembina Lem-
    baga Adat Kecamatan Klungkung Tempat lahir Geria Pidada, Br. Sengguan Klungkung