Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
JAKARTA
Milik Depdikbud i Tidak Diperdagangkan I
KAJIAN NILAI LINGKUNGAN HIDUP DALAM TEKS KAKAWIN DURMANGGALA
DAN TEKS KAKA WIN ATLAS BHUMI DALAM UPAYA MENGONDISIKAN
LINGKUNGAN LEST ARI HARMONIS
D EPARTEMEN PENDIDIKAN DAN K EBUDAYAAN RI JAKARTA
DALAM TEKS KAKAWIN DURMANGGALA DAN TEKS KAKAWIN ATLAS BHUMI DALAM UPAYA MENGONOISIKAN LINGKUNGAN LESTARI HARMONIS
Tim Penulis Dahlia Silvana Herliswani I Made Suparta Penyunting Soi mun Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang Diterbitkan oleh : Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Jakarta 1997 Edisi 11997 Dicetak oleh CV EKA DHARMA
JENDERAL KEBUDA YAAN
Penerbitan buku sebagai upaya untuk memperluas cakrawala budaya masyarakat patut dihargai. Pengenalan aspek-aspek kebudayaan dari berbagai daerah di Indo nesia diharapkan dapat mengikis etnossentrisme yang sempit di dalam masyarakat kita yang majemuk. Oleh karena itu, kami dengan gembira menyambut terbitnya buku hasil kegiatan Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisi onal Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Penerbitan buku ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia. Upaya ini menimbulkan kesalingkenalan. dengan harapan akan tercapai tujuan pembinaan dari pengembangan kebudayaan nasional.
Berkat kerjasama yang baik antara ti m penulis dengan para pengurus proyek buku ini dapat diselesaikan. Buku ini belum merupakan hasil suatu penelitian yang mendalam sehingga masih terdapat kekurangan-kekurangan. Diharapkan hal tersebut dapat disempurnakan pada masa yang akan datang.
v
Prof Dr. Edi Sedyawati
Pendidikan dan Kebudayaan melalu i Proyek Pe ngkajian dan Pembinaan Nilai -n ilai Budaya Pusat telah melakukan pengkajian naskah-naskah lama d i antaranya Kajian Nilai Lingkungan Hidup dalam Teks Kakawin Durmanggala dan Teks Kakawin A tlas Bhumi dalam Upaya Mengondisikan Lingkungan Harmon is.
Nilai-nilai yang terkandung dalam naskah atau dokumen tertulis melalu i semua aspek kehidupan budaya bangsa mencakup bidang- bi dang tilsafat, agama, kepemimpinan, aJ aran. dan hal lain yang menyangkut kebutuhan hidup. Karena itu menggali, meneliti, dan menelusuri karya sastra dalam naskah-naskah kuno di berbagai daerah di lndonela pada hakekatnya sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Kami menyadari bahwa kajian naska h ini belum mendalam sehingga hasilnya pun belum memadai. D iharapkan kekurangan- kekurangan itu dapat disempurnakan pada masa yang akan datang.
Semoga buku ini ada manfaatnya serta menjadi petunjuk bagi kajian selanjutnya
vii
penulis dan semua pihak yang telah membantu sehingga terwujudnya karya ini, disampaikan terima kasih.
Jakarta, November 1997 Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat Pemimpin,
Soejanto, B.Sc NIP.130604670
DAFTAR ISi
Halaman
Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan............................. v
Kata Pengantar........................................................................... v11
Daftar Isi...................................................................................... 1x
Bab I Pendabuluan
I. I Latar ........... ........................................ ..........................
Masalah .. ................................. ...... ........ ....................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ........... ............................................. 4
1.4 Metodologi Penelitian .................. .. ....... ...................... 6
Pertanggung Jawaban Penulisan ................................ 7
1.2
1.5
Bab II Alib Aksara Teks Kakawin Durmanggala dan Teks Kakawin Atlas Bhumi
2.1 Deskripsi Naskah .. .......... ........... ......... .......... .. ........... 9
2.1. l Naskah Kakawin Durmanggala .................................. 9
2.1.2 Naskah Kakawin Atlas Bhumi .............. ..................... 11
2.2 Dasar Transliterasi dan Terjemahan .. .................. ...... 13
2.3 Alih Aksara Teks Kakawin Durmanggala. ... ............. 15
2.4 Alih Aksara Teks Kakawin Atlas Bhumi .................. 30
Bab III Alib Bahasa Teks Kakawin Durmanggala dan Teks Kakawin Atlas Bbumi
3.1 Alih Bahasa Teks Kakawin Durmanggala................ 45
ix
| Daftar Isi. | ix | |
|---|---|---|
| Bab I | Pendahuluan Latar .... | 1 |
| 4 | ||
| 1.3 | 4 | |
| 1.4 Bab II 2.1.1 | Metodologi Penelitian... Pertanggung Jawaban Penulisan Teks Kakawin Atlas Bhumi Deskripsi Naskah.. | 6 7 9 |
| 2.1.2 | Naskah Kakawin Atlas Bhumi. | 11 |
| 13 | ||
| 2.3 | Alih Aksara Teks Kakawin Atlas Bhumi... Teks Kakawin Atlas Bhumi | 15 |
| 3.1 | 45 |
x -.
Alih Bahasa Teks Kakawin Atlas Bhumi .... ...... ........ 60
Bab IV Analisis Nilai-Nilai Lingkungan Hidup
-l. I Konsep Dasar Orang Bali Tentang Semesta Alam... 78
-l .2 Nil a i-nil a i Yang Te rkandung Dalam Teks
Kakawin Durmangga la .... ..... ....... ............... ................ 80
Geja la Alam Sebagai Ciri Buruk .......... ................ .. ... 8 I
Gejala Alam Sebagai Ciri Baik ...... .... ... ................. .... 86
Raja dan Pendeta. .. ................. ... .... .. .. ............ ...... ..... ... 88
-l .2.4 Dewa dan Kekuatan Sakti ... ... .................. ... .... ..... .... .. 89
Gerhana Bulan dan Matahari .. ... ...... .... ........ ... ..... .... .. 91
4.3 Nilai-nilai Yang Terkandung Da lam Teks Kakawin
Atlas Bhum i ........ ........... ........... ............. .... .... ........ .. .... 94
Penciptaan Bumi dan Segala lsinya ....................... ... 95
Pembagian Bum i .... .... .................. .. ........ ..................... 96
Bab V Nilai-nilai Lingkungan Hidup :
Sesuatu upaya mengondisikan lingkungan
lestari barmonis ................. ........... ....... ........... ......... .. I 0 I
Bab VI Simpulan dan Saran
6.1 Simpulan ............ ....... .... ... .. .... ....................... .... ........... I07
6.2 Saran .................. ..... ...... ....... .. .............. ............. ........ ... I I0
Daftar Pustaka I I 3
-'·-'
4.2.1
4.2.2
4.2.3
4.2.5
43.1
4.3.2
..........................................................................
| lestari harmonis .. | 101 | |
|---|---|---|
| Bab VI | Simpulan dan Saran | |
| 6.1 | Simpulan. Saran | 107 110 |
PENDAHULUA N
Dalam dasa warsa terakhir ini, studi terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup, terutama masalah degradasi bio-fisika lingkungan alam tempat manusia hidup semakin mendapat perhatian serius baik di kalangan akademis, pakar lingkungan hidup, rnaupun lembaga-lembaga pemerhati lingkungan pada umumnya. Perhatian itu merupakan sesuatu yang wajar dan cukup beralasan. Kompleksnya pelbagai masalah lingkungan, seperti : polusi udara, pencemaran air, kebakaran hutan, sampah industri, erosi dan banjir, menurunnya kondisi sumber daya alam yang disebabkan oleh kerusakan dan perusakan baik sengaja ataupun tidak disengaja, sampai bahaya radiasi ujicoba senjata nuklir, secara global Iangsung menyangkut masalah hidup dan kehidupan manusia di muka bumi In I.
Di sarnping itu, masalah lingkungan hidup juga mendapat perhatian yang mendalam di kalangan para seniman dan penyair/ pengarang. Kelompok masyarakat ini lah yang pertama-tama "menyerukan" -- tentu lewat karyanya -- berkenaan dengan kenyataan perusakan dan kerusakan serta degradasi lingkungan alam. Bagi para
"protes" terhadap kerusakan lingkungan yang dilontarkan para penyair melalui karya-karyanya merupakan satu diantara cara yang konstruktif. Hal ini dapat dilihat seperti ada tema lingkungan hidup dalam sajak Jerman tahun tujuh puluhan yang dikemukakan oleh Dr. Licia Hilaman (Disertasi Lucia Hilman: 3 Januari 1996). Ungkapan tentang lingkungan serta pelbagai konsep dan pemikiran yang bertautan dengannya telah jamak dikemukakan karya-karya sastra klasik sejak berabad-abad yang lampau. Seperti yang dapat kita simak dari karya-karya sastra Jawa Kuna, misalnya dalam Kakawin Ramayana, Arjunawijaya, dan sebagainya. Ungkapan tentang perusakan hutan juga dapat kita lihat pada relief bagian Karmawibangga dari candi Borobudur.
Berkaitan dengan realitas itu, penelitian terhadap masalah nilai tentang lingkungan hidup yang diungkapkan dalam naskah-naskah Bali, baik naskah yang berupa dichtum (teks yang bersifat sastra) maupun schriftum (teks tulisan pada umumnya) sangat menarik untuk dikerjakan. Pengkajian nilai-nilai tersebut sangat penting dilakukan, pertama, karena secara integral tidak dapat dialiensi dari sistem nilai budaya yang dalam naskah-naskah kuna itu merupakan satu diantara produk budaya masyarakat setempat yang di dalamnya sarat dengan kandungan pelbagai nilai budaya, terutama termasuk nilai tentang lingkungan hidup itu sendiri. Lebih dari itu, nilai yang diungkapkan itu perlu ditinjau sehubungan dengan relevansinya dalam upaya mengkondisikan lingkungan hidup yang lestari-harmonis dalam masyarakat kita umumnya di masa pembangunan ini. Di samping itu, pengkajian terhadap nilai-nilai tentang lingkungan hidup yang di dalam naskah-naskah kuna Bali itu belum pernah dilakukan oleh peneliti- peneliti sebelumnya.
Berdasarkan pemikiran itu, dalam penelitian ini bermaksud menelusuri dan mengkaji lebih jauh tentang nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan lingkungan hidup yang terdapat dalam naskah-naskah kuna Bali dan relevansinya dalam kelestarian lingkungan di masa pembangunan ini. Untuk mencapai tujuan itu, analisis nilai dilakukan
nasl.. ah Bali yang dipandang mengungkapkan -- baik secara eksplisit atau implisit -- tentang amanat lingkungan hidup, yaitu antara lain : kakawin Durmanggala, kakawin Atlas Bhumi, Asta Kosala-kosa/i, usada Sawah. dan sebagainya. Juga didukung oleh sumber-sumber dari prasasti (inskripsi) Bali Kuna, maupun oleh sumber-sumber yang berupa awig -awig (hukum adat tertulis) serta dresta (hukum ada tertulis) dan konsep-konsep dresta (tradisi-tradisi) dan konsep-konsep equlibrium tradisional yang turut berpengaruh dan menentukan upaya untuk mengkondisikan lingkungan hidup yang lestari-harmonis, seperti : konsep Tri Hita Karana, konsep "kayu-kayu larangan" (R. Goris, 1974, him. 1,22-32), dalam hat ini dikenal konsep "terang" dan diversifikasi kayu/ pohon yang mendapat perlindungan adat dan relegius. konsep "hutan larangan". dan sebagainya. Semua itu akan dijadikan satu d iantara dalam menelusuri nilai-nilai tentang lingkungan hidup yang tertuang dalam naskah- naskah kuna Bali.
Di samping itu, sumber-sumber pustaka yang berkenaan dengan nilai-nilai lingkungan hidup dalam sistem kebudayaan Bali juga diambil dari pelbagai pembicaraan yang parsial sedikitnya menyinggung hat tersebut, antara lain dapat dilihat dalam bukunya I Made Suasthawa Dhannayudha, yaitu Filsafat Adat Bali ( 1991 ). Dalam buku ini kita dapat menyimak tentang kosep Tri Hita Karana yang dijadikan pedoman dalam penataan lingkungan hid up khususnya dalam sistem adat Bali.
Lebihjauh, pembicaraan masalah tentang lingkungan hidup secara
sepintas juga dapat kita simak dari buku R. Goris, yaitu : Beberapa Data Sejarah dan Sosiologi dari Piagam-piagam Bali. Dalam tulisannya ini Goris mengungkapkan tentang disebutnyajabatan Hutu Kayu dalam prasasti Bali Kuna serta-merta dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam mengawasi kayu-kayu larangan. Ada beberapa jenis kayu yang dilarang ditebang secara sembarangan, tanpa izin karena secara hukum (adat-kerajaan) telah mendapatkan perlindungan (cagar a lam) yang disahkan-seperti yang disebutkan berulang-ulang di dalarn beberapa prasasti-misalnya : kemiri, bodhi. sekar kuning, waringin, puntaya, mendeng, kamalagi, jeruk, wunut, ano, dan sebagainya.
Masalah utama yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah nilai tentang lingkungan hidup. Upaya pengkajian terhadap nilai-nilai tersebut dilakukan dengan bertitik tolak dari naskah-naskah kuna (klasik) Bali, baik naskah Bali yang dipandang sebagai dichtum (teks naskah yang bersifat sastra) maupun yang dipandang sebagai schriftum (teks naskah tulisan pada umumnya). Lebih dari itu, juga dilakukan tinjauan mengenai relevansi dari nilai-nilai lingkungan hidup yang lestari-harmonis dalam pembangunan ini.
Sehubungan dengan itu, ruang lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan berikut ini :
I. Konsep apa yang melatar nilai-nilai tentang lingkungan hidup yang terungkap dalam naskah-naskah kuna (klasik) Bali itu.
2. Nilai-nilai lingkungan hidup yang berkenaan dengan apa saja yang dikandung di dalamnya.
3. Bagaimana relevansi nilai-nilai lingkungan hidup tersebut ditinjau dari segi upaya merekondisikan lingkungan lestari-harmonis dalam masa pembangunan ini. Ketiga pertanyaan itu akan dijadikan pedoman untuk mengarahkan dalam upaya menelusur dan mengkaji unsur nilai-nilai lingkungan hidup yang terkandung dalam naskah-naskah kuna Bali.
1.3 Tujuan Penelitian Secara garis besar tujuan penelitian ini dibagi menjadi tujuan teoritis dan tujuan praktis. Tujuan teoritis yang dimaksud di sini adalah usaha untuk mengungkapkan nilai-nilai yang dikandung dalam karya tertentu yang dalam hat ini adalah naskah-naskah Bali yang berupa dichtum dan schriftum dengan menerapkan teori (kritik) tertentu. Pengkajian terhadap sistem nilai lingkungan hidup yang merupakan unsur isi dari naskah-naskah itu baru dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mendekati unsur kebahasaan yang membungkusnya. Lebih dari itu, berdasar pada naskah-naskah itu secara teoritis juga dimaksudkan untuk mengungkapkan konsep-konsep, pemikiran-
masya ra kat Bali tentang alam lingkungan tempat tinggalnya.
Secara praktis, usaha pengkajian nilai-nilai lingkungan hidup dalam naskah-naskah kuna Bali ini dimaksudl...a n untuk meninjau lebih jauh segi relevansinya terutama dalam upaya merekondis ikan lingkungan hidup yang lestari-harmonis d i masa pembangunan ini. Hal ini rnas ih rnernungkinkan untuk dilakukanjika implementasi nilai-nilai tersebut dilihat dalarn hubungan fungsionalnya sejauh tidak sarna sekali bertentangan dengan kernajuan ya ng ingin dicapai dalam pernbangunan. Seperti konsep hutan larangan dan relevansinya dengan peraturan jalur hijau yang ditetapkan peme rintah: dari segi ini kita dapat melihat pandangan rnasyarakat dari d ulu hingga kini berkenaan dengan konsep tata ruang desa, kota, dan tata lingkungan pada umumnya.
Konstribusi yang dapat diberikan hasi l penelitian ini -- seperti halnya penelitian tentang nilai-nilai sosiokultural pada umumnya -- tentu tidak dapat dipersamakan denga n hasil sebuah mesin penggilingan padi atau seperti makan cabe, melainkan konstribusinya baru dapat dilihat dalam proses pembangunan yang panjang ini. Hal ini juga dimungkinkan jika didukung oleh berbagai faktor lainnya yang dalam hal ini lebih determinan penga ruhnya. Pengkajian nilai- ni lai ini pada dasarnya sangat penting artinya dalam proses menumbuhkan kesadaran mental-moral-spritual dalam rangka untuk berperan aktif mengupayakan merekondisikan kelestarian lingkungan hidup secara serius terancam kerusakan untuk kembali menjadi harmonis.
Seperti kita ketahui masalah mental dan moral yang rendah merupakan satu diantara faktor relatifberpengaruh terhadap kerusakan dan perusakan lingkungan hidup di samping faktor industrialisasi, kependudukan, teknologi nuklir, dan faktor-faktor lainnya. Sebagai contoh, misalnya kasus pencurian kayu di hutan, import gelap sampah non-organik adalah kasus-kasus yang pertama bersumber pada adanya degradasi kesadaran mental-etik-moral yang rendah. Hanya atas ada dasar keinginan mendapatkan keun tungan ekonomi pribadi, tak menghiraukan ancaman lingkungan yang ditimbulkan.
I isan dari orang-orang dan peri laku yang dapat diamati. Sehubungan dengan prinsip tersebut, maka dapat diket~hui, bahwa deskripsi yang ditujukan di sini didasarkan atas analisis data yang berupa ungkapan-uangkapan verbal yang bersumber pada naskah-naskah kuna Bali (klasik) Bali.
Karena itu, dalam hal inijuga diterapkan metode penelitian filologi (kritik teks), terutama berkenaan dengan tata kerja untuk mengidentifikasi naskah-naskah itu, mengungkapkan latar belakang teks dan asal-usul naskah hingga upaya transliterasi dan terjemahan teks. Selanjutnya, teks yang disajikan ini dapat dipandang setidak- tidaknya sebagai bahan bacaan yang memadai untuk kepentingan dan tujuan analisis nilai-nilai lingkungan hidup yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, kajian terhadap nilai-nilai lingkungan hidup dalam naskah-naskah kuna (klasik) Bali ini paling tidak dibekali oleh adanya beberapa konsep, antara lain : (I) konsep tentang naskah-naskah Bali sebagai satu diantara sumber nilai-nilai terutama nilai lingkungan hidup dan nilai budaya Bali pada umumnya, (2) konsep tentang adanya konsepsi lingkungan hidup lestari-harmonis menurut pandangan masyarakat Bali terutama yang direformulasi kan dalam awig-awig adat tertentu, yang disebut Tri Hita Karana, yakni sebuah konsepsi tentang tata ruang lingkungan yang dinamis, (3) sehubungan dengan hal di atas, bahwa secara historis terutama berdasar data-data inskripsi pada prasasti Bali, dikenal adanya konsep kayu-kayu larangan (dan hutan larangan), (4) konsep adanya berbagai faktor yang saling berpengaruh dan determinan yang dapat mengancam secara serius berpengaruh dan determinan yang dapat mengancam secara serius kerusakan dan perusakan lingkungan hidup, (5) konsep adanya peranan ritus-ritus keagamaan yang secara simbolis masih dipercaya di dalam memelihara tatanan lingkungan hdiup yang lestari-harmonis, karena
(6) konsep ahimsa dan
tatwamasi, (7) konsep tentang lingkungan yang lestari-harmonis atau sebaliknya. (8) konsep tentang adanya relevansi nilai-nilai lingkungan tcrsebut di dalam proses pembangunan ini. da lam arti seluas-luasnya. Semua konsep di atas tentunya akan me njadi pedoman dalam menengahkan analisis yang akan dilakukan l)leh tim penulis.
Selanjutnya, has il a nalisis data ini d isajikan dalam mode l deskriptif-analitik sesuai dengan cara berpikir deduktif-induktif. Secara garis besar s istematika penyajiannya adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan; Bab II Alih Aksara Teks Ka "-asin Durmang gala dan Teks Kakawin Atlas Dhumi; Bab Ill Ali h Bahasa Teks Kakawin D urmanggala dan Teks Kakawin Atlas Bhum1: Bab IV Analisis Nilai-nilai Tentang Lingkungan Hidup: Bab V Nilai-nilai Lingkungan Hidup; suatu upaya merekondisikan lingkungan lestari-harmonis: Bab VI Kesimpulan dan Saran; serta Daftar Pustaka.
1.5 Pertanggung Jawaban Penulisan Pengkajian naskah dari daerah Bali ini d ilakukan oleh tiga orang terdiri atas seorang ketua dan dua orang anggota dengan pembagian tugas cukup merata. Adapunjadwal pengkajian ini dimulai pada bu Ian April I 996, mempersiapkan penyusunan TOR, bu Ian Mei sampai Juni penelitian kepustakaan dan penyeleksian naskah, bulan Juli sampai September penyusunan data dan alih aksara dan alih bahasa. Kemudian, pada Oktober sampai Desember penganali sasian dan pengkajian naskah. Bulan Januari sampai Februari penyusunan naskah dan penilaian naskah hasil akhir dan bulan Maret 1997 naskah sudah siap untuk dicetak.
AKSARA TEKS KAKA WIN DURMANGGALA DAN TEKS KAKA WIN ATLAS BHUMI
2.1 Deskripsi Naskah
2. 1.1 Naskah Kakawin Durmanggala Naskah Kakawin Durmanggala yang digunakan ini diangkat dari koleksi Pustaka Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar. Teks naskah tersebut ditulis di atas 13 lempir (lembar) daun lontar ( Borassus flabelli formis) berukuran panjang 45 cm dan lebar 3,5 cm, sehingga disebut dengan naskah lontar, suatu istilah yang membedakan dengan jenis naskah lain seperti naskah daiuwang atau naskah kulit kayu atau bambu, yang secara kodikologis hampir kurang dikenal dari tradisi penaskahan di Bali. Naskah ini diikat dengan tali benang, serta tersimpan dalam kropak (peti) dengan nomor kode : krop. 386, No. Rt. 570. Teks naskah Kakawin Durmangala disurat menggunakan aksara Bali yang ditera pada kedua sisi lontar, yaitu mulai dari sisi "I b" (rekto) kemudian dilanjutkan pada "a" (verso). Bahasa yang diguna kan sebagai media pengungkap dalam jenis sastra Kakawin ini adalah bahasa Jawa Kuna. Perlu diberikan beberapa catatan di sini, bahwa bahasa Jawa Kuna yang digunakan itu, dalam batas tertentu ternyata
menunjukkan adanya interferensi unsur-unsur bahasa Jawa Tengahan bahkan unsur-unsur bahasa Bali.
Kenyataan demikian rupanya berkaitan dengan masalah sumber tekstual dan latar kultural karena karya itu dilahirkanjustru memberi ciri tersendiri apabila dibandingkan denganjenis cipta sastra kakawin dari masa sebelumnya, yakni pada masa kakawin atau karya-karya sastra Jawa Kuna yang berasal dari tradisi Bali menunjukkan adanya hubungan yang cukup erat, baik dari tekstual, kultural, ataupun lin- gual.
Pada bagian akhir teks terdapat catatan dari penyalin yang berbunyi : puput ring tahun 1962", artinya "selesai pada tahun 1962". Menurut catatan dapat diketahui bahwa naskah kakawin Durmangga/a ini selesai pada Lembaga Pustaka Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, pada tahun 1962. Sayang sekali, tidak disebutkan di sini sumber teks naskah ini. Dalam tahun Pigeaug 1970:230 disebutkan naskah dengan nomor kode 4 7 .040 (Lor 3852 (8)) yang berjudul Durmanggala-subhamanggala ning yudha, tapi yang dimaksudkan jelas bukan Kakawin Durmanggala ini. Dengan kata lain, di sini kita tidak temukan Kakawin Durmanggala, begitu pula dalam pada koleksi Kirtya. Jadi mungkin teks sumbernya itu diambil dari masyarakat; dari Puri dan atau Geriya.
Di samping itu, kami juga tidak mengetahuai penggubah karya sastra ini, serta tahun berapa digubah. Menurut hasil pembacaan teks belum kita temukan suatu identifikasi yang cukup kuat menunjukkan untuk itu. Setelah melihat keterangan yang terdapat pada katalog naskah lontar FS. Unud, dan menyimak pengguanan bahasanya, dapat diperkirakan bahwa teks ini berasal dari sekitar akhir akbad ke -18 sampai awal abad ke -19.
Lebih dari itu, dapat dikemukakan di sini, bahwa struktur teks Kakawin Durmanggala tersusun dalam bentuk pola sargah. Dari segi in i kita ketahui, bahwa sejauh ini jenis karya satra kakawin yang rne miliki struktur teks serupa adalah Kakawin Ramayana (karya sastra yang paling tua dari tradisi sastra Jawa Kuna) dan Kakawin Durmanggala ini meniru pola struktur teks keduajenis sastra kakawin
tapi dugaan tentang adanya kem ungkinan itu cukup kuat. Untuk mengetahui tentang penerapan konsep sargah sebagaimana yang digunakan dalam ketiga sastra kakawin tersebut atau sastra kakawin lain yang menggunakan pola serupa, serta konsep sargah dalam sastra Sansekerta, karena istilah itu berasal dari bahasa Sansekreta. perlu dilakukan penelitian tersendiri.
Dilihat dari bentuknya, Kakawin D urmanggala ini dapat digolongkan ke dalamjenis karya Jawa Kuna yang murni puisi. Dalam sastra kakawin ini tidak kita temukan penggunaan unsur-unsur naratif sebagaimanajenis sastra kakawin yang memiliki struktur cerita-epik umumnya. Melainkan sebaliknya, penggunaan bahasanya cukup I iris. Dari segi kandungan isinya, Kakawin Durmanggala ini secara spesifik mengungkapkan nilai-nilai yang berkai tan dengan kelestarian lingkungan hidup yang dilatar belakangi ajaran-ajaran Hindhu dan telah "dikawinkan" dalam kebudayaan Bal i.
Pengungkapan nilai-nilai kelestarian lingkungan hidup dalam teks naskah Kakawin Durmanggala itu terlihat ada kaitan yang cukup erat dengan bidang wariga, yaitu suatu sistem perhitungkan astronomi tradisional dalam masyarakat Hindhu-Bali (mungkin koheren dengan parimbon yang dikenal di Jawa). Secara harfiah, durmanggala berarti "tanda atau isyarat (alam) yang tidak baik". Dari pemberianjudulnya itu,jelaskah bahwa penggubahan Kakawin Durmangga/a dimaksudkan untuk mengetahui, memahami berbagai gejala alam lingkungan. Dari timbulnya gejala-gejala alam itu dapat kita simak adanya nilai-nilai yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup.
2.1.2 Naskah Kakawin Atlas Bhumi Naskah Kakawin Atlas Bhumi, yang digunakan ini adalah naskah lontar milik Ida I Gustri Putu Jlantik dari Puri Gobraja, Singaraja. Teks Kakawin Atlas Bhumi ini ditulis di atas 11 lempir lontar, mulai dari sisi I b-24b (24 halaman), yang menggunakan aksara Bali. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Kuna, tetapi memperhatikan adanya serapan kosa kata bahasa Bali dan Melayu.
Pada bagian kolofon terdapat keterangan angka tahun 1900(?); tapi belum jelas bahwa hal ini menunjukkan tahun penciptaan karya sastra kakawin tersebut. Selanjutnya, terdapat juga keterangan yang menyebutkan bahwa lontar ini selesai ditulis (dalam arti : disalin) (puput sinurat) pada hari Kemis (Wreh = Wrehaspati), Umanis (U= Umanis), wuku Matal, tanggal 9 November 1989. Penyalin bernama I Ketut Sengod, dari Dusun Pidpid, Kelurahan Pidpid, Kecamatan Abang, Karangasem.
Selanjutnya, naskah ini diangkat dalam Proyek Tik Dokumentasi Kebudayaan Bali. Selesai dialih aksarakan pada tanggal 2 Mei 1992 oleh I Nyoman Putra Sarjana. Sayang sekali, transliterasi yang dibuat oleh I Nyoman Putra Sarjana sangat kacau dan sangat banyak melakukan kesalahan salin. Hal ini menunjukkan bahwa pengalih-aksara mengerti huruf Bali tapi kurang memahami kaidah-kaidah bahasa Jawa Kuna dalam teks ini dan tanda-tanda diakritis yang diberikan kurang lengkap, sehingga menimbulkan pemenggalan kata yang salah dan dapat berakibat fatal terhadap makna teks.
Di samping itu, pengalih-aksarajuga kurang memahami kaidah-kaidah sebuah karya sastra kakawin. Hal ini dapat dilihat dari hadil alih aksaranya, yang dalam hal ini kita tidak menemukan sistem pembagian menurut metrum. Hal ini diabaikan sama sekali, sehingga sangat mengacaukan teks dan menyulitkan ketika ingin melakukan pengecekan kembali. Karena itu, pengedisian teks Kakawin Atlas Bhumi dilakukan dengan pengecekan ulang demi menyempumakan al ih aksara terse but.
Secara urn um, teks Kakawin Atlas Bhumi ini barisi tentang uraian letak geografi, keadaan lingkungan alam negara-negara di dunia serta keadaan sosio-budaya penduduknya. Perlu didasari bahwa adanya perbedaan letak geografis, keadaan lingkungan alam serta berbagai macam keadaan sosio-budaya penduduk dunia ini merupakan satu kesatuan tatanan yang secara kodratifmembangun keseimbangan alam semesta. Masalah yang dihadapi belahan bumi yang satu akan menimbulkan kegoncangan dan ketidak seimbangan di belahan bumi yang lainnya; ha! ini yang menjadi amanat pengarang. Setiap individu
Dasar Transliterasi dan Terjemahan
Transliterasi (alih aksara) dan terjemahan (alih bahasa) merupakan langkah pertama yang sangat penting artinya dalam upaya untuk mengetahui dan mengungkapkan nilai- nilai sosio-budaya yang terkandung di dalam teks naskah lama itu. N amun, hingga kini upaya pengalih aksaraan satu jenis teks naskah. sc perti halnya dengan teks naskah yang ditulis dengan aksara Bali, m i~a lnya, masih dihadapkan pada berbagai masalah. Seperti kesulitan dalam koherensi dan kosistensi ejaan yang dipilih, serta relevansinya baik dari segi kepentingan ilmiah maupun budaya.
Teks naskah Kakwin Durmanggala ini. seperti halnya dengan teks Jawa Kuna, Tengahan, atau Bali pada umumnya, ditulis dengan aksara Bali yang menggunakan sistem ajaran purwa dresta (ketentuan lama). Pada tahun 193 I, karena suatu alasan praktis, ejaan tersebut disederhanakan oleh H.J.E.F. Schwartz yang dilakukan dengan cara menghilangkan aksara murda (n, s, d), mahaprana (gh, ch, jh, th, dh, bh, ph), dan swara dirgha (vokal panjang). Penyerderhanaan ini ternyata menimbulkan protes keras dari guru-guru pada masa itu.
Karena itu, pada Pesamuhan Agung (kongres) bahasa Bali yang diselenggaarkan tanggal 23 s.d. 26 Oktober 1957 diputuskan bahwa ejaan bahasa Bali -- terutama dengan huruf Bali -- dikembali kan ke ejaan purwa dresta. Upaya untuk melakukan alih aksara teks-teks tersebut di atas kemudian banyak mengacu terbitan teks Kakawin Ramayana oleh H. Kern ( 1900), Kakawin Brarata Yudha oleh J.G.H. Gunning ( 1903) dan terbitan lain serupa.
Ses uai dengan pemikiran itu, upaya pengalih-aksaraan teks Kakawin Durmanggala ke dalam huruf Latin akan didasarkan pada :
(a) acuan alih aksara teks naskah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan/ Bali yang relevan, dan (2) sistem ejaan yang di pi I ih untuk kepenting an ini dipandang sesuai dengan kondisi tekstual, serta dapat mencer minkan
.II (untuk baik), .. .!loll (untuk pergantian sargah (bab) dan metrum.
Dalam upaya penerjemahannya dilakukan dengan menerapkan metode penerjemahan semantik (semantic translation). Hal ini dimaksud untuk menjembatani penyepadanan makna dalam Bahasa Sumber (Bsu.) dengan tetap memberi penekanan pada kode budaya Bahasa Sasaran (Bsa.). Dengan demikian, pembaca diharapkan dapat menyimak dengan Iebih mudah memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam Kakawin Durmanggala seperti yang dimaksudkan oleh pengawinya (penggubah).
D i samping itu, usaha penerjemaahan dengan penerapan metode tersebut juga menyadari bahwa penerjemahan bukanlah semata-mata usaha memindahkan arti dari bahasa ke bahasa yang lain, tetapi juga melakukan transformasi makna, nuansa bahasa, nilai budaya yang terungkap secara idiomatik dalam bahasa bersangkutan. Penentuan cara yang dipilih itujuga relatiftergantung pada bentuk danjenis teks Bahasa Sumber (Bsu.) yang tentunya memiliki bermacam-macam fungs i.
Dengan dem ikian, penentuan cara penerjemahan semantik (semantic translation) untuk teks Kakawin Durmanggala dipandang relevan karena melihat : (a) teks tersebutjenis teks sastra, yakni dalam bentuk kakawin (semacam pusi), (b) sebuah teks sastra, tentu teks di atas memiliki beberapa fungsi antara lain adalah fungsi estetik, dan
(c) karena teks tersebut merupakan teks sastra, sudah tentu pula sangat
k.aya dengan bentuk-bentuk ungkapan budaya.
2.3 A/ill Aksara Teks Kakawin Durmangga/a
Pratama Sargah
I
I. [ I b] "Awighnamastu". Singgih yan siddha ng ambek pratihata Bhagawan Garga anindya wagmi/ Sangke sang yogi ngunin prakacita Bhagawan Atri rakwan pangajya/ Mangken pintonaken ring bhuwana ri wijiling sarwa mahot patadi/ Sangkalfl)na lwirya kapwa padha-padha kawenang maca yeka padudwan//
2. Ghorii mapyak pupak ning glap angudanken ghurl}ntaning bhumi lindhu geter/ Sanghyang Aditya kala nganaticayang rodra haneng diganta/ Sang_hyang Candra praba kalangana wtu hudan renwa lumra prakifl)na// Moghab-ang teja sanghyang Rawi kala sumurup mwang munggwi parwwatabang//
3. Kroramuk pwng sapi Jen manuk amanganikanaknya tapwan katre~qa/ Lawan tekang kenas len mahisa wara kbo sata centen itik len/ Sar -- [ 2a] - wwendah deng molah malaki ta ya anung yogya tanggeh pakastrT/ Nda metweka anakyo metu ya ta masalin bhina rupa wirupa//
4. Len tang andha salah rupa kadi ta ya anung rupa ngunin tinonton/ Swasta ng rat yan tu jun ring kasanga n kasapuluh byakta mangde suka ng rat/ Yan lyan sangkerika byakta maharis ikanang bhumi bhuppa clfl}na/ Anya kasta wegang sok huler angigit-igit nitya yangde wi~trQna//
5. Aditya mandhara song nira ya ta pakuning paficat ara grehnya/ Mwang dik deca panas jwalita tuwitama tan bahni tejarddha mahos/
Len tang cabda gumentar prasarita weleking renwa dening samlra/ Lu111ra m.eltuk tekeng ambaratala 111angasut teja sanghyang patangga//
- Yapwan manngeh tujuh ring maca ri sedheng ikang Jyestha Asada ram ya/ Swa--[ 2b]-stekang rat kuneng lyan sakarikana mawh durbbhalang rat kajarnya/ Madres tampuh nikang warga pariya maharis tan dadi lwirya ruksa/ Mwang gong duhka ni sang bhupati pinarawaceng catri sarodra yam rep//
- Lawan btang wangka tatan pakilatuwi taman tampuhing warsa hetu/ Moghalit lwah hil[nya ng giriwara dumadak gunutr agrah gum enter/ Singgih yan Kaea karwaticaya karananing swastaning rat pwo den ya/ Nging yan fen byakta ya ngde maharisa hana ning bhumi sasabnya tan krah//
- Akweh tang wwang pejah den kurisan apf ifeg fyan ngising mwang urem kweh/ Mafwang tang wwang ndatan lawang fwang ika kinawaceng utpatatyanta durgga/ Tan wring de kang jagat nismita padha makucem tan hanang rat pwa tsuta/ Kewran sakweh nirang sajjana padha gum far peh nikang jfiana cuddha//
- [3a] Len fen sangke rikanung taraka hana katon ring fangit tan kameghan/ Nda mafica deca yatonggwanika amareki wimbaning suryya racmi/ Angken ratyomarek ring caci padha sumeno fwir nikatyanta sacn/ Mwang tekang cabda tatan pakarana karengo de nikang wwang sarajya//
I 0. Kandyangganya ng lawu mwang wma nangidung-idung parcwaning parwatadri/ Len tang honyii tangis tan pakala muni taman pawakard-dha ya masrak/ Anyat rwa song sumapang I irang umetu mapang kapwa makambang awwah/ Tunggal tang nyli mtu rwa phalanika kadi tan jatimula wirupa//
I I. Mangka tunning pisang rwa tlu yata mamunuh witnya metwa wirupa/ Yapwan mangg.eh rikang lek ng Cujimaca Kapat swasta tang rat pwa de nya/ Yan len pwanung yatangde haru-haru nikanang bhiimi arddhati kasta/ Wreddha caryyati duhka prabhu winaca tekeng wadwa medi pwa minggat//
- Len tang wastwa matis tan matis apanasho u~n.a na~t!l kabehnya/ Mwang tang hostra layii ghumnita padha sasaran len gagak bhinna cabda/ Mogha n ton yak~a len ra"""ksasa nangidung-idung ring hawan kapwa ram ya/ Yapwan munggwing maca ring Kalima sama sameng Po ~ya yangde subhikso//
- Yan lenanung wijilnyaticaya ya maharis tekanang bhlimi magrah/ Sabsab sangklrnna yangde paralaya pejah ikangjadma aneka n~~a/ Tan waktan wwang rare tan pacara kinawacang kiila utpata rodra/ Kepwan sakwh nikang wwang padha mawedhi tumon de nikang rat wiclrnna//
Prodbhuteka kawandna lakibi ya ta katon ring hawan krura rupa/ Lawan paksa pwa yanak tlu hana ta mapangsu kwaca kanya bhinna/ [4a] astam tang lembu lawan sapi yatika manak pai'ica katrinya sap ta/ Mapang samteka crengginyan ahulu ya mapang bhinna rupa wirupa//
Mangka ng wek len asu ndan manaka ya ta salah rupa kapwa prabheda/ Manggeh ring leknya tan Swa ng Kapitu kunang aneng Phalgunatyanta dibya/ Swatekang bh-umi yan le ri metu nika mawas durbbala ng rat pwa den ya/ Wagy-ut patang hudan tan pakala dinuluring bayu bajra ngalisius//
- Trang trang bhyomapanas lwir kadi taya srnangang wanwa makweh katunwan/ Byakta ng rat c~rnna tan wun parawaca tekap ing bahni tulya pracandha/ _ Hetunyan yatna ring niti sahana-hana sang labdha ri yoga sandi/ Niriwighn-astu pra~asteng bhuwana ri pangemitnyeng sarat dibya jati//o//
Dwitiya Sargah
II
I. Ngakaneng ambara megha kandhel ahireng lwir meru ghorangjlag/ ( 4b] Praptang rat ri hudan matis makcehan byakta alatyan taya/ Mwang yan soak mahiwol tikang jaladara ngkane langit pwa hireng/ Baptekang mu~ika ndatan papegatan mwang tang walang sok pen uh //
2. Cwefakara nikang limut maneseking ambara tan pantara/ Nastang pak?i padha pejah wa pwa yan ana tan wring paranyan tiba/ Yan mahning mayaning hi ma ~ahananing lwah ~u~ka makwh iweh/ Prang durggrahya mahati bhisana wijil ning utpatatyanta ya//
3. Lyan tang wangkawa mafica-deca ya katon byakta maweh nasta ya/ Sang senadipati n paratra nguniweh sang sthapaka hantu ya/ Mwang mant;:-i nira sang narendra ya pejah yatna ta sang bhupati/ Lawan sang wiku siddha mrih ajong ning rat pageh nice.ala//
- Lwir karadbhuta wangkaw-a metu rikang dik de~a ning ambara/ Byakta sang Prabhu yar paratra inajar ning utpata tan waneh/ [Sa] Mwang yan wangkawa metwa ring kayu-kayu tang wwang larajar nika/ Astam sangka rikang wukir karananing prang byakta yeki n dateng//
S. Yan ring a~~mi ring tretiya mtu ning utpata tapwan urung/ Sang ~ri Bhiipati dosa yang dwa-da~i ~irn~a ng we~ma kapwa tu nu/ Ring trayo-da~i wadwa minggat inajar lungha pwa yamrih silib/ Mangka ng du - Ndan ring pafica- da~i pwa yar wetu nikang utpata duhkeng tuhan/ Akweh rehnya padudwa-dudwan irikang mac-a gatinya n dhateng/ Surry-agrakalangan nirantarantara panas tang rat mahatyad bhuta/ Kweh ning Jyostisa yatna-yatna ri dhateng ning utpafa met hayu//
- Lawan sang Naranatha tan pale-paleh ring rat prayat-nangmit/ Puja dhyana lawan praya~cita ta ginong rapwan prasid-dha hayu/ Swasfa ning bhuwanandha yeka gawayen nitya karaksa prihen/ [Sb] Nirwighna prabhu cakrawarti gunawan byakta ng jagat digjaya//o//
Tretiya Sargah
III
I. Wara ta waraheken ring c.astrajfia hin inget-inget/ Wulan aticaya somya pratang graha ya mangani/ Pitu diwaca halanya tan sobha ya ta wu lati/ Karanani hayu ning rat mwang praya~c ita damelen//
2. Walu kahudan umeltuk yekanung krepa wadaya/ Padha-padha juga yeng senawadabhya tinenger/ Aticaya ri halanyan cuska ng rat padha malarang/ Marahaken i panas ning wwang kapwa Iara kabalik//o//
Caturtama Sargah
IV
I. Sanghyang candra ring udayar lumong sateja/ nang wintang marek ingadhah ring urddha teja/ Tum pang mesi ngaran ika mahati dibya/ Tu~t!lng rat hayu tikanang sarajya ~obha//
-
- Punggwi urddha juga ya tonggwanya S'!-cri / Llngfa nungkuli ri se'no nikang cacangka/ [6a] Pur~nang bhumi padha sahar~a yenajarnya/ Byakta hyang ~a~i sira amreteng sarajya//
- Yapwan ler ning ulan ikang taraka runggu/ Mil.bang teja nika kadi pwa bahni untab/ lahru yekana injarnya rakwa tan len/ Yekanung samaya suluh ngaranya ring rat//
- Len tan~ wintang mangapiti teja ning c!ic.angka/ Munggwi lor pwa siki daksineka nunggwa/ Madhya hyang Caci sumeno tamar kameghan/ cobha ng rat inajaraken mahati dibya//
- Tat kalan hamene ring ambara Hyang lndu/ Honyang witang ageng ane harep nirangka/ Yakanung pangaran ika pratifa bhuta/ Bhi~~i ng rat pati winarahnya tan anolin//
- Wingking ning ning wulana para taral<.a runggu/ Mabang jwakita kumefier katon pradipta/ Durbhiksa bhuwana musuh dhateng manunwa/ Heren tang malawasa nung dhateng tigang lekpa//
- [6b] Meh lunghang caci dinulur nikang tarangga/ Wuntat ning bayu kahananya rakwa tan doh/ Wwanten bhupati mati lingnya tan hadwa/ Nghing salek lawas ika yan dateng mikalpa//
Yan ring Aircani nira tang taraka runggu/ Mungg~ng ~gni ta ya kuneng tatan hana swang/ Kapwa tan hayu saparanta mogha duhka/ Mwang tang ~atru teka ya tenajarnya tan krah//
- Ton tang wintang aparek angapit cacangka/ Munggwi for kidul i tengah bhat.ara Candra/ Durgrahya pedah inusung-usung sinenggah/ Dhanggurwa pejah inajar jagat wi~irnna// I 0. Tan madoh kahanan ikang wintang tumibang/ Purwa paccima mangapit bha!ara Candra/ Pikulning kunapa ngaranya ka~t.a bhagna/ Sabsab kweh nrepa tanayeka dukha kingking//
- Yan munggwi niriti nikang caci pwa rungu/ Nang wintang sasiki ri wingkingan nira ngkcil Anwal kendhangran ika mahati kasta/ Mretyu prodbhuta ya padhanya ring yuganta//o//
Pancama Sargab
v
I. Mangka ng watek Hyang amangun yuga k~la ring rat/ Sanghyang Wasundara mayuga sakeng salila/ Ring kacamiisa dinamel bhuwanandha lindhu/ Swasta nikang bhuwana donira ta~ hanolin//
- Tatkala mangkana sayogya ta sang masadhya/ Plijabrata pwa gawayen magawe kadibyan/ Pindrih wina~a nikanang mala duhka wighna/ Cobha ng bungah sahananing bhuwanandha tu~!al/
- Ri~g Bhadrawada ri samangkana yeka lindhu/ ~ri Gangga Dewi sira yugala dewa dibya/ Sthityang jagat pwa inajar tam a tar kawighana/ Nirwlghna sang prabhu tekeng batamantrl tusta//
We~ryawa pwa sira yu-gala mre"ddhyaken rat/ Kweh ning tawun nadi lawan phala kapwa mendhuh/ mandhen tikang kujana budhi padha tiharsa//
- [7a] Ring Karttikati~aya dibyaning andha lindhu/ sanghyang Prajapati mayuga alah saharsa/ Abyut ikang pari sameka alah ywa mendhuh/ Lawan hudan pwa ya nirantara ya tumempuh//
- Manggacirolaha nikang bhuwana prakampa/ Hyang lcwarekana mayuga mangambe'k-ambek/ Akweh j~hat marana wre"ddhi ya tenajarnya/ agring tikang bhumana tan hana tu~!a budhi//
- Sanghxang Uma pwa sira yugala Posya Ii~dhu/ Durbhik~a tang bhuwana kapwa alah makingking/ Bap tekanang marana kali kabeh mamungpang/ Len tang sasab pahila tagwan akweh paratra//
- Ndan ring Magha pwa ya dhateng wara bhumi molah/ Sanghyang Guru pwa sira yugala tan hanolin/ Dubhala sang prabhu lawan wiku kapwa dunka/ Nityeka yan dinalhing kujanarydha ".t~na//
- Ring Phalguna p~aya teka ng bhaya bhumi molah/ Hyang Rudra Bhi~al!a mayuga sirar kamantyan/ [8a] Sarang tikang nagara len pahila ndatan swang/ Ghurnnang jagat pwa inajarnya ta yatna-yatna// I 0. Nang Centra mica ri sedheng nikang andha kegu/ Cri Pre~taraja sir~ yu-gala lud sadarppa/ Kapwa galak sahaning len swami krah/ Len tang hudan apunya durbalang andha ya terang//
J. Nda Wecaka ticaya ramya ning andha lindhu/ Tan wyadi wreddhi hayuning wija yan ti nandur/ Meltik wawang pwa lumung tama tar wikalpa/ Hyang <:;:angkara pratita yugala weh sah ar~a//
12. Hyang Sambhu yugala sadarppa sire kamantyan/ Ring Jyestha kampita tikang bhuwana prakampa/ Durbala t~ng bhuwana len bhaya nitya mewe.h/ Kweh tang dagang inawit ing kalanan ri nampak//
13. Rin g Asadha pwaya mahadbhuta bhum i lindhu/ Cri Nagaraja sira yugala yeka molah/ Trang trang tikang nagara durbhaga tanpa raryyan/ [8b] Sabsab lawan marana wre.dhhi matambeh asring//o//
Durggartbasad Sargah
VI
I. Nanten teki warah nikang c;ruti kayatnakna ri sira mamet hayu/ Lwir ing Candra supur'"!na kagraha ri sapta wara ya pawarahnya kawruhi/ Ring Su-ryyati~ayeka durbala tekapnya Iara kateka ring sedheng rare/ Yan ring candra mahati kasta wara taskara satat maliweran ing jagat//
2. Byakta salara ningjagatraya yaning kuja-kujana padha gawe halal Nasta ng satwa phalanya ring bhre.gu pe] ah kalara-lara tatan tu I us waras/ Ngkiineng wakpati donya kasta tikanang kapini malara <;:Oka kasyasih/ Kawya durbala sang Narerdra yani<;:ori hudan apunya tas kara ngasut//
3. Sanghyang Suryya Raditya kagrahana tambara wesi malaran ing jagatraya/ Ring Coma pwaya sarwa wija nika tan dadi temah ika ruk.sa ning sarat/.
c;:rl bhupilaka duhka sangacaya yaning sura guru pawarahnya nityasa//
- Ring Sukra pwaya wreddhi tang Iara lawan mara!'la dadi de nya tan wurung/ Ngkaneng Cori taman pwa wreddhi hananing lawana jawuh amresti tan pegat/ Yeka lot maka cihna ring sakala ma~dala pinahayu sang Naradhipa/ Kapagwakna de minindra sira karwa gumaway ika haywan ing praja//
- Peh ning cukla yaning pratiphadha wicesa manemu suka wiryya tan sipi/ Ping rwa sing ginawe prasiddha sakaten ya ta katewasa nganguren Ian go/ Yeka tu~t.a ning kadang alah gereme ning ulah arjja dampati/ Mukta kleca niroga tan hana ka~ang~aya nmg ulah amukti nityasa//
- Haywa lobha kaping patanya bhaya wighna kate.mu ya kabhuktya tan wurung/ Paficerdnya ya teka wreddhi suta maywani yata kahalepnya tan luput/ [9a] Hopenya newangi twas addha ati duhkita wacana niki ndatan wan eh/ P~ndrih saptani janman angdadi sabhagya satata naya wre.ddhya wiryyawan//
- Wwanten duhka ni kasta dusta yadiyan anakbi magawe putek ha ti/ Janjan buddhi tatan wruhing hayu maweh Iara sang anemu duhka tan sipi/ Kahinyan patita ng sutati<_;aya tan patepi katemu duhka ning dadi/ Ah ndyeking daca deca yogya kahanan karana nika panemwa tu~~a ya//
dac_i gawayen \Huha ri sapatuduh nikang tuham / Kedwa-da~ya manahkwa sewai... a saduh[a puhara nika tan wenang luput/ Ndatan matraya deca haywa subhagan "- atmu saparaning mahet-h.etan/. Duhka- patya dinaca nitva kagling katemu cinalaning tuhan- tuhan//
- [I Oa] A Ah ndyonggwana ngalima v. e las i tuwuhku kapalang- alanging samangdadi/ Yan peten rikaramya ning .Vang a kuren saha tanaya manemwake"n hayu/ Swasta ning dadi tan hanang bhay~ hi"' eh kaluputan ikanang hala hay u/ Hingananyan tama tan dari ri dadi manusa yata oatitah jagat pati//
- Sang S apta'. ~ i s 1ra prasiddha guru n1 ng wulanti~a y a yogya darccanan/ Danghyang wa kpati dibya yeka gurun in g ~rewana nipuna ring Suralaya/ Ndatan ping rwa ni c.anta kewla tanand \ a saphala winuwusjagat guru/ Candra~ujya mahati dibya paka gurwaning angusir acintya
- A~~he~waryya sira byapaka suya<_;a praka~ita paramartha tan wan eh/ Lam lam buddhi sang amrih ing guru warottama yatika inisti n~ng hati/ · · <;:imna syuh nikanang malendriya ta Cukra guru ning asurati dibya ya/
saphala pinaka-crayeng hayuH ·
- [I Ob] Manggeh saddhaka waya Anggira sayogya maka guru nirang watek resi. Limpad ring parama-rtha cu-nya wekasing sinamaya ring ane·mwake·n licin/ · _ Sangsiptanya tatan waneh lagi inarccana yatika winusti ring hati/ Byakta pataka hurung juga yadin tan ataturi ng adharma nitya ta// I 4. Nyang durgghasthana tithi cukla kahananyan angawit umaha mamaficana/ Ring purwa stha ri ekanawami kaping rwa dacami ya ta uttra nglare/ Ping rweka daci agni deca rika ping rwawlas siki Niritya tan wan eh/. Ring trayodaci pai'ica daksina ya tonggwan ika sapala yeka kawruhi// ·
- [I la] Ngkane Paccima sad caturdaci ya tonggwan ika mengadangahya bancana/ Ping Saptanileming Wayabya sumurup mangawaca kaduskretan/ Ring Astami ri purnna Airsaniya ta sthana nika mangawit ndatan du rung/ Nahan hetuni sang wruhing naya se.minggaha ri se.dhengiran mamet hayu//
- Wwanten teki waneh kayatnakna dagdhikarana pangaranya rengwaken/ Ngkiine Cukra raditya ring dwitiya Anggara dacami ya rakwa tonggwan·a/ · Munggwi Wraspati tretiya rika ping sad ika ya kahananya tan wan eh/ Ring saptami ri Budha len pwa C~neccara mangawita haywa tan wruha//
- Sakweh ing hayu karyya ~lrryna ya gesong din aha winaca ya tern ah hawu/
Apan tulya kala gn i tan wurung ngaweh larajatunu phalanya tan han a/ Sangk.sepanya ndan ting.et tingetaken ha la hayu nika tan wawang. la tu / [ 1 I b j Rapwan tan hana wighna don ya) adi) an lurne.kasakna san g rnamet hayu//o//
Saptama Sargah
VII
Pu-nva Jyostisa dharmrna laksana yatenike tineinahaken prala-pita/ lnder ning Rawi teja minde'r anapak dwadaca raci ya teki rengwaken/.. Kur'icin ring dharani mna yoga tujunen ameneri ri sedhe.ng nikang pa ti / Byakta mur muliheng niracraya yadin pejah angusir i teja nin g rawi// ..,
.... H onya~g de~a kidul wekas nilaku sang hyang Aru~a Yama Loka
yak menga/ Yatna ng Jyotisa haywa mentasakni ng bhuwaha hin~b ikang Suralaya/ Prapta ng Jyesta rika n panumpak angalor Iaku nira n iringi watek resi / Mongkab tang babahan rikang surapadha ri datengira bhatara Bhaskaral/
- Yan ring Karttika wecaka ndan ame.ner hyang Aruna ring udaya yang katon/ [ 12a] Mwang sanghyang Caci Ptlrnna tan patatalan yata para ning ane·mwaken hayu/ Yekanung yuga phat ngaranya kur'ici dharana paka margga tan wurung/ Mukta kle9a wicuddh-a tn patatalan lepasa mene ri sandi ning taya//o//
I.
3.
4.
5.
I.
Asthamas Sarggah
VIII
Kala dac:a muka pwa ya nihan mateki talingen/ Windhu c;irahnya Purwwa siki nang ~irerthani mawit/ Rwa pwa cirahnya paccima ring agni deca katiga Mdya ya pat cirahnya. atibhlsanadbhuta.. katon// ·
Panca ~irahnya ring bayu muwah ri Daksina ya nem/ Sapta ~irahnya urddha walu Uttradbhuta mangang/ Sanga c:irahnya Neriti sakala rodha mangawil/ Yatna ta sang wruhing nanya yadin sira palekasa//
Kala Mangap ngaranya kina yatna denta ya tmen/ Ndya ta cak aywa ngulwan atibhisti rakwa katmu/ [I 2b] Wraspati was ya durkabha yadin lumakwa mangidul / Durgrahya ring Budha pwan aja murwwa bhlSana dhate.ng//
Ring rahu haywa nguttara alah pwalanya kate.mu/ Yatna humerikang greha ri kala rodra ya mangap/ Kala Sudhangastra tiksna humadang waeh pwa magalak/ ~ukla jugeka nut wulan atah nda haywa kapurug//
Jyesta yang hamisani sadhaha ning rwa nilara/ Ring <:;:rewaneka ring daca digantara kyamanasi/ Ping Pitu kala Bhadrawada mogha duhkita magong/ Ring Katiga pwa tang tiga Ka pat ya tang pati [Tlas] ! lo! I
Badhanawamas Sarggah
IX
Pratipada agra rtng dwa daci Asadheka daci ring crewana winuswus/ Kuneng iki sapta Bhadrawada ring tretiya masacujya rakwa tikahen/ C aduti dikarttika pratita c:ukla yeka patipata rakwa mapageh/ Da~ami ri Margga~lrsa pitu Posya ri dwitiya Magha mac:a sakala//
Trida~a ri Phalguneka nawa C etra paficami ri wecaka patipata/ Yata magawe swadurbala ri gong ni karyya sahananya tan hana ha jong/ Pati patak.a temahnya ya matangnya singgahana de mahajana dangu/ Karana nira ndatan wawang ngaweh rikang diwa wicudha yeki din lo//
- Hana taya Karnacula pangaranya ring titi ya tonggwananya mapare/ Bhre-gu waya te kaping rwa cura gurwa ring dacami ~ukra ya sapta ya hana/ Ya marika kapwa mangjana anung ri so ma yata ping pat arddha mah ala/ Sama-sama anggare tiga ya karnacUJa pangaranya haywa kapurung//
- Talikunapa pwa teki pangaranya nunggw1 wara Landhep mg Wukir atah/ Nguni uninang Kura!1thil ana tolu Gumreg ana ring bhre"gu pwaya tali/ Wariga anung wareh ri Warigadya n ing Julung i Sungsang ang-Dungulana/ [13b] yata kahanan rikang tali Wrehasoati ya tonggwananya ta kalen//
- Kuningan i Langkir ing tali Maahasya len wara Julung putut pwa ya hanung/ Pahang ika ~ukra kahananyan anglarani tan hurung pwa jatalu/ Katamapi Kurwlut Mrakiha Tambir ing wara Madhangkunga nda ri Matal/ Sura guru yeka tonggwan ika tan waneh tinget-tinget nda haywa malupa//
- Kunang iki ring Uye Manahil ing Prang i Bala Ugu ndatan hana luput/
Kalawu Dukut lawan Watugunung ri Sinta wara Anggarekana ta! i/ Aditi waneh ri cori juga tan bhima1~dhana luput sakeng tali-tali/ loll
Puput ring tahun 1962 Druwen Phakultas Sastra Uddayanna Denpasar.
2.4 Alih Aksara Teks Kakawin Atlas Bhumi
I
[I b] " Ong Awighnamastu "
I. Sri wagiswari sarining parama tatwa wekas ing ati suksma ring sarat/ mungwing padma wisega nityasa inarccana menu ing atma bandhana/ Ong karatmaka yoga puputing samaya nira sang arya pandhita/ litning buddhi cinandhi ring hrdhaya sastra na madhangi ri bhumi mandhala//
2. Doning mast~ti nityasa ngusapi carananijong saraswati/ sidhaning mana buddi sirna ya maran tulusa tumemu suddha nirmala/ mogha tan raketing prabahcana teher wenanga manuti soktaning aji [2a] mwang tan keweha nang prayogan ingamet guna manaluri reh kawiswara//
3. Ngunl kala ri tan hana ng bhuwana rakwa teka ri rawi soma lambana/ nghing Hyang Suksma wisesa tunggala menresti ya karanan i honyan ing jagat/ sapta dwepa ngaranya sagara kasapta kumalilingi tungga tunggala/ manggeh rakwa bhatara manu sira tambayi nika Sang Naraahipa//
4. Nahan kritti Bhatara Suksma tinuting bhuwana sahana sesining jagat/ ngkan wanten suba-suba karma ginawe nguni yuni usukundha neng sarat/ prajna mudha sudharma dusta nguni weh
Utpati sthiti Ima rakwa temahanya dinameli tuduhnya nityasa//
- Sapta dwepa ngaranya sapta gananing dwepati dibyottama ring jambhu dwipa kalraning tasik asin salwanya kapwa pageh/ ngkane hengnya saka dwipa pwa kinasut dening ksira sagara/ len pwekang kusa warsa salmali lawan kroficadi tan popama//
- Gomedha dwipapuskara dwipa nahan saptanya kokteng aji / tan tunggal pwa pasirnya ta pwa mangasut dibya nikang mangdamel/ ramya rehnya matundha-tundha ginawe de Hyang Jagat Karana/ [Ja] tan bedha pwa tawangnya yar pitu lapis yonggwan watek dewata//
II
I. Sampun sampurna rehyan pratihata tataning swarga loka pradipta/ wintang-wintang ywa manjrah matusi wu niyuta laksa kotya prameya/ manggeh pandham nikang ratri na mandha ngirikang bhur bhuwah swah prakirnna/ mukyekang candra teja nisi sahana nikang rat mahadibya jati// -- Tekwan Sang Hyang Wiwaswan pratihata ginawe dipaning rat _ya suddha/ masrik magrib ya tongwan ni ra nakulilingan salwan in g marttya loka/ (Jal tistis ring kala sandya nisi rowana ikang lalana ng langwan/ refigreng matra rarab truh peyehi pater ika ngde kung ing raga citta// Tan ngeh yadyan wiwalal tekwan ring marrtya-loka winumusakcna rehnyan maha ram ya sobha/ len pweng jembaring sagara lawana ya gong gambhiratyanta ring jro/ manggeh karwa ng gune kangjanapada ri wiyarning tasik lawanalwa// Lwaning Jambhu-dwipa ngk-an tujarak-en ika rehnyan maha tyanta ring gong/ mewiwu swarajyan ratu meratu mabap laksa kotya ywa lumra/ [4a] tambing-tambinya wetan kaya wi sahananing nuswa kificitya rakwa/ manggeh ring clnarajya sapina sukita tang kota makwah dulurnya//
Nanteii pwekang wates lor pirangiwu tataning kota asya prameya/ pulwa bap tan papetang ganalalit ayutan wongnya wedranya sobha/ tekwan tambingya kulwan dudugi tasikulon ring luropa pwa tan len / yekatonggwan ikang Nasrani sahana nika wang putih Bangsa Kristen//
- Ujungnya ri kidul kolon kaletaning pasir ri kidul i bumi Turkiya/ ring Absi pangaranya Rajya Jajahan lima puluh i [4b] tahunya tar kurang/ ireng pwa sahana-nya tang wang i rika lakibi parama wiryya dhanyawan/ satunggal ika sang narendra nika dibya siniwi ratu koti monca rat//
- Dudung nagara ng Absi kiiicit ika reh rinarapati Sadat Kabul Bumar/ ikang telas alah te.kapnira jayeng samara sura yaning sarat kabeh/ sawarsa jajahanya yekana mubeng taya kateka ring ~bsi Jembra/ kalina ni jayadimurtti ya tinutnya kalaha nikang Absi sowanga//
- Matunggal ika risnya tambiriki tor nagara gong i Mesir kuta dikaJ muwah ring Asakan dareya ri tunis kabawahi pada [5a] rum mareswara/ ya Turki yata rum ngaranya winuwus prakasita ratu Eslam ing jagat/ putih sama sawarnna rakwa kalawan nasarani padha bhumi Erupa//
- Ri wetan ika kota rum iya ta let pasir anaking esa-m prajadhika/ minger pwa mangidul ngitan satimur ing Mesir ika ring Arab ya tar kalen/ pirang kuta kalebwa ring tanah pirang iwu ratu monca-nagara/ ribah dadi Yaman Mekah mudhalimpah magarabi judha mohalar malut// I 0. Sawetan ing Arab ri Persi pangarangnya sana kuta mudhayi neng dhangu/manut siluki tambiring tasikidul pajajari nagari [5b] nya ngetana/ sawetan ika nagari Hindu panganya negara parama adi ring alep/ wiyar kadi samapta ring tanah Arab para ratu matus ewu ka-dbhuta// 11. Kidul sakaring Hindu rajya hana nusa mari langonya weh lulut/ ri Lengkapura nguni rakwa pangaranya kahana nika !_atna komala/ Dasasnya sira sang pratista bhinatara rinaturi ngatita rakwa ya/
Puri selaneki pangaranya paraning adagang mapet dhatu//
- Sawetan ikang Hindu kota ya ri Banggala ngaran ika rajya Lenhawa/ [6a] teher pwa manirang mangetan angidul kuta Siyem ika ramya weh lengong/ ri pu-rwwa nikanam ngaranya ya muwah tumewu gelangi banca Cina ya/ wiwaktani tengah-tengahnya ya pirang iwu karatuni Jambumandhala//
- Muwah waluyanang katha sakiduling Siyam i Malaka namaning praja/ kidulnya lahut ing Bhratawara bhumi Majajra nirang katon lengong/ Sumatra Yawa Raja Bahlika dulurnya saah Sasaki nusa Sembhawa/ palori si timur wekasnya yadi warnana tumelunga pindha langkapa//
- Lorning bhumi ri Yame rakwa yata let pasir a-[6b] nak araras katon/ sabrang ning Melayii nagaranya jana Burniya tiga Yama gongnya ta pwa ya/ anghing kalwang ika jananya makedhik kurangisi tuwi logra yak liyat/ puiijul gongnya hane rikang Bratawarsa taya anunga yogya nyandhaka//
- Wetanyeka ri Mangkasar tanah agong rukuna ni nagaranya jembara/ imper kapwa kawandha manglahani rupani tanah ika ng amberkambeki/ akweh rakwa bahwahnya tan winuni rehnya patatni sarajya-rajya ya/ wetanyang jrah ikang swanusa ya ri Moluka bu [7e] ru haru bhumi Te.mnati/
III
I. Hanekin rajya gong nipouna wetuning kancana tuwi/ yata rwa- rwan tandhes mangitan angidul kadbhuta alep/ ikang lor sabumya agongika jajahanyan padha lengong/ kapamah nyeka tut jajaran ikanang Burniya pada//
2. lkang timbangnyekin kidula ika gonya parimita/ sakalwanye kang bharata taya nung nyandhaka tuwi/ watesnya anggeh kilyan mayuhi patengahning Yawa pada/ ring Ostralya mwang ring Papuwa pangaranya pratihata//
- Parnah kidu I saka rikang Bharata pwa yeka/ [7b] wetanya rakya ya lumangkugni Bharataswa/ wetan kulon yan abener saka bhumi Bumi/ akweh swanusa ri iringnya taman wiwaksan//
- Lor wetaning nagara Burniya kapwa ramya/ ring nusa Manila ngaranya nakeh dulurnya/ sampun parek la~utaning wara bunwa Cina/ lor nyeka nusa ri Jepan kapasuk pacinan//
- Akwh yadin tujara pulwa kawengkwa Cina/ heman ta ikwanika wongnya kabeh paciiian/ lawan muwah taya hanang tinanem narendra/ muang mantri mukya tinuduh juga raksakanya//
IV
I. Nahan gantya nikung katha ajarakena ng jana pada patatanya wamnanen/ ring Eropa patungga-tungga Ian ikang para ratu kang amonca bhupati/ ngkanah wetan atandhesing nagari Asya kapasuk i kulon pinarddhika/ ring Ruslan pangaranya dibya tama tan hana madhanika jembaring praja//
2. Tan waktan ratu mewu laksa kapasuk maturakena sukambanging sarat/ ring liplan kalawan ri kula nika rakwa ratu wadaha mukya ring sabha/ mwang sri polani kapwa dibya nguni mantri ni yuta menuhi na - [8a] gara ramya arsaja//
3. Sri Ruslan ratu dibya mantra kajana priya nira katekeng puratara/ ring musko pangaranya kota nira ramya pinage rana ring mahacala nasrani yeks rakwa gamananya satewek ika honyanengjagat/ sasrl denya kulit pelak sahaningjana rika na sabangsa-wakwa ya//
4. Ngkanah rertya mudhapya nama watesing jajahan ikana bhumi Turki ya/ ring Bulgaryya kota pareking kahana nira nareswara arumi/ ring kastambul ar~nya rajya subhageng tri bhuwana guna sura ring rana/ nghing Sri Ruslan ike padhanya ratu ring sa- [9a] bhuwana wara wirya wesrawan//
5. Akweh pwang ratu monca negri kapasuk kabawahi padrum naradhipa/ montneh ro pura kota serpya ri Rumanya ngalabani ri Bosnya ta pwa ya/ mwang sri natha lipadya rakwa winuwus ratu
bala kosa wahana pi rang ~uti ni yutana war~na sagara//
- K ilyan sangka ri Ruslaneki hana rajya atisaya rarasnya warnnitan/ ring Proesen aranya rakwa mawiyar jajahan i kana mafico bhupati/ dwetes lan ri kidulnya yapwan iki lornya dha na marika na-maning praja/ [~b] Skandlnapya teher ri lornya yata let pasir anapungi Ru slan idu Lor//
- Kil yan sangka ring nagri Porsen anirang siluki pasisi rudra desana/ ring Nederlan aranya Balgya ni kidulnya padha kdhiki mulaning praja/ awiyar rukana ni nagaranya rakwa yapranseman pwa teher kidulnya ring ls pan ya kidulnya ta pwa mawelu jajahan ika luwas kalalawana//
- Kilyan Spanya ri Potugis juga tepang watesanika narisnya tunggala/ tekwan rak~a kidul pasirnya tutugi apirika juga ng Absi tunggala/ [I Oa] Algris tonisika urutnya mangitan lalumayu I Mesir prajadhika/ tan waktan gil i nuswa yeka ngademit katihalangi ri madhyaning lahut//
- Itserlan tengahan sawetar ikanang parane samani kadi ring alep/ e~~enrik juga wetaneki riwinen ngarani prua nikajana praya/ ltserlan ri kidulnya kota ring ltalya c pangaranika pafijang adbuta/ ring turyan aran ing kadhatwanika rank a akdukani Sang Naradhipa//
v
I. Krikenlan ratu mofiea bhumi ujunging swarumi ri kudl/ sampun rakwa kaadghine ring nrpari Turki ya ngaranika/ [!Ob] nusa kai:idh ya pafijang ademit malang pwa ri lahut/ timbang-timbanga lor kidul sana ri kota metsi rasika//
2. Ngkanah ngagniya sangka ring Rusa nemung pasir ngawataran !waning Bharata Yawa kantunika gohgnya kimputi lemah/ kulwan lor panepinya Ruslan ikidulnya Persinya teher/ wetan rakwa ri Asya bhumi pane"pinya tawwa rasika//
- Mombak lwir tataning samodra gung angambek-ambek ngenoh/ nusa alit ri te.ngah-te'ngahnya magilang-gilang winulatan/ tan montra tepunging susagara nag·ong ri dunya rasika/ [ 11 a] punjul gcingnya sahonyanging danu asin ri jambu nagara//
- Nederlan darati kulonya sagara gong/ letning lnglan ika sunu-~a karwa dibya/ ring Nirlan juga ri kulonya kapwa tunggal/ akweh tang dwipa ya mangapinga pwa ramya//
- Inggris wangnya wasa-wasitwa rakwa dibya/ yonggwaning wara guna kaya karya naya/ sampun kodrat ikana tang susuksma ya gong/ salwaning Erupa wineh samangka rehnya// ·
- Lorning Nirlan ikana let pasir yan angdoh/ kulwan dinya juga teher ya let samudra/ ring Islam ngaranika nusa dibya/ [I lb] tunggal wangnya padha putih lawan Eropa// ·
- Lorning dinjuga kalangan susagara lwa/ ring trang spil ngaranika nusa wara rodra/ wangnya akeh agohg aluhur maha pragaldha/ pa~tes kral gati nika bondha yudha ring prang//
- Akweh yang tucapa tikang swamarttya loka/ nusa mpeya nita latah sarat Eropa/ ngwang matranggita tama tar sph.ute kita pwa/ nda aywa nuhuti kamin pakirttya lambang//
- Sangke kardufia tinemungkwa matra-matra/ parnnaing satu pura len kasir-kasirnya/ sastra Erupa ya susah gatingkwa wacan/ am pun rehnya kalepatannya ring palambang// I 0. [I 2a] Hana ta muwah swaloka ya su dirgha nagong rasika/ ujungi kidulnya yar lumiwating nagarin papuwa. Angongiki lornya nanghing ngatepung panepungnya malit/ dadi ya karun-karun sajuga tor sajugan ri ngidul// I I. Satupa ngaranya rakwa ry Amerika banwa magcing/ tepini kulonya kapwa manirang ridulor kagenin/ penuhi pulonya tan winuni yeka magong madhenit asilurupan pasirnya manengah ri te'ngahnya lengong//
VI
I. Kulwan doh saka nagri Erupa titimbangan abenera let payo nidhi/ [ 12b] tekwan pwang ri kidul Amerika titimbanga nikana ri bunwa aprika/ tak~ih rehnya nalet swa sagara nadoh kira-kirana lawas panabranga/ tan wak tan dhratanya yan wenanga rakwa pira-pira tamar kinawruhan//
2. Lor wetan sakaring Amerika na lor saka nagara? Eropa yan du lor/ ring Grun Ian pangaranya Jeinbara wiyar lura-lurah inatamya rakwa ya/ lor wetan saka sya bhumi ya ta lor banera saka Jepan sukota ya/ manggeh rakwa hane Amerika muwah pangaran kana kota ·tar waneh//
3. Madagaskar aranya nuswa agong teher adawa/ [ 13a] sakaring ngabasi wetan yonggwa~ya pareparekan/ para-paraning animpang phalwa gong saka S'ara~i/ lamanya rika unungair lndya bharata ngadagang//
4. Nahan tantra nikan Amerika kidul winuni pangabaran rineng- waken/ witning wwang bungawan kukum saka Jropa paupulanikan hanerika/ tekwan ring alawas-lawas dadi penuh wang iraka namangun disottama/ dhistrik mwang saka lirnya ta pwa minaha maniru-niruri selwaning prajii//
5. Bahsa mwang gama S'astra lnggris apageh linaku tuwi pangang- geping sarat/ nghing mantri pradhaneki tar hana hanung na- [13b] rapati ginawerya ta pwa ya/ sampun ngganya pageh kamuktya nika tar hana malangi tikang parang muka/ gantya-gantya asing sutak~a!la sudharmma susila ya ingangkating sarat//
6. Atha sampuning bsuki rehnya manemu suka bhoga wiryyawan/ ati tusta langkepa senaha pirang iwu napeka tantara/ bhanawan paka prang apenuhjaga-jaga nika raksaning praja/ saha safijatanya pamapagnya yadi tinekaning parang muka//
7. Naratan resik juga ngalamnya sadawa ta nika mangun rimangi/ duduging pasir palabuhanya tinepa ri tepinya (I 4a] lenglega/ tamu phalwa barnyag apenuh wira-wira taya songga runggi ya/ na mirah kalin saha pangan nusirusirana gampiling laku//
lor teher amagehi rehnya ring dangu/ kutireng kabeh sajuga warnna kalawanika bunwa aprika/ mapageh tamar hana wenang mangurangi kuwasanya ringjadag/ yan apeki rakwa gamananya widhi juga ku mawruhe ri ya//
- Awi carita rarasning dwepamerika ya kabeh/ muwah ucapen ikang rat India bhrata winuwus/ matepang ika kabehnya mulanyang ri dangu-dangu/ [14b] karana nika ya rantas kambah denika ngudadi// I 0. Dukalam ikanan Sang Sri kanwanggeh ratu ri Varna/ juga milani pagasnyan dening sagarana misah/ muwah ihelem ika ndah mantenyan paleta pasir/ lawasa walahu aklam Hyang Suk~ma juga ngudani//
- Mangka rakwajinarwa ring rukuning aksara nipuna ri tingkahing sarat/ sangke nu~a ri Yawa mulanika rakwa para ngulama marnna ring katha/ nahan don kwa panirwa matra minaha anglipu-lupurana ring hranging ati/ ndan duran kawasanya rakwa pinakang rimananh i ngamaca amangun wiwal//
- [ 1 Sa] Mangke rakwa ngala, kamuktyan ikanang sarani saga la rupa ring sarat/ tan fen Hyang Parame~t.i Suk~ma tumitah ala-ayujuga selwaning sarat/ akweh Sang Ratu Indra tandha sadarum ri dalem ika raneki ta pwa ya/ wetnyan rakwa sinung we'nang syapajugan luputa tuwi ri pange'duming widhi//
- Salwaning bharafangsa bhumi mi la dibya parama guna santening sarat/ sre'sti hyang gal)a nguni ri ngusai:ia kahana nira Sang Gunottama/ kyating S~i Nrepa Pandha wendra nguni weh narapati Ari~urtti kesawa/ sirnnang rakwa kabeh musuh nira tekap ni kasu- [I Sb] tapanirati digjaya//
- Bhoma mwang nrpa Kangsa dewa malilang tekapiran ati sura nitiman/ tan waktan ratu mofica bhumi marerem mihati sira susakti ring sarat/ asring rakwa mareng suralaya pinet sura ya tekap i sang sureswara/ sakning detya Niwatakawaca tekap nira parawasa sima ring ral)al/
· ~-
- Pinten ~o.tya turun-turun padha manemwa kena suguna dibya susramaf:kyating natha udhayana swara ry astina parama wi~esa ringjaga.t/ mwang sang Sang sf.I Aridharmma malawa nrpeswara ratu pinakadi manggala. [I 6a] saksat Hyang Tri Purantaka nggehira ring sabhuwana ati sura digjaya//
- Akweh yan caritan turutnya kateke alamira naranatha Janggala/ tan swang ring guna sura ring rana paratha nipuna pi nujing purantara/ mangke kambahi bhlna wangsa ya mangembanga kuwasani kadi ringjagat/ ing hanyantarawang katon ry hananing parama guna manemwa wa~t~wan//
VII
I. Lingning susastra dinamel nira sang munindra/ tan bongfa yeki magawe subhage rikang rat/ yadyan suwangsa paracidra ya dusta budhi/ tan len rikang kujana rehnya wimoha ngambek//
2. [I 6b] Yadyan ta sawaka n ikang wang ak irttya yogya/ manggeh sudharmma juga tan paka budhi du~t!if byaktan panemwa wara wiryya magong prabhanya/ sih ning bhatara karananya maweh kawUlyan//
VIII
I. Nghing yan langgeng icoba tar alang-alang marih sudharmma dhika/ lila ambek saba ring titah ala ajong dheryya pageh nongga ya/ trptyambek tuwi satya hetuning agong sihning bhatare ri ya/ ridha swasti supumi:ia donya manemung wieyyadi tan popama//
2. Sang sampoun k!"la dhik~itambeka pageh lwir byoma suddha lilang/ [I 7a] nirtang moha wimargga len siya-siya pamrih nireng swartta ya/ tan len donya katemwaning jfiana gineng peh ning jayogrswaran/ yatnang niti dimen taman kalebetan ring twas tiwas tan padon//
3. Wang ring bharata war~a ngiini manu rakwa gamana nika sewa sogata/ mwang Brahma gamasewa rakwa gama tunggala winuwusi
Pinandhika/ anghing Buddha gameki honya tapainya
kalakani sewa tatwa ya/ tunggal rehnya tekeng tekan parama budha parama siwa rakwa tunggala//
- Ndah ngka tonggwa nikang catur jana manut ru-[17b] kunani Gama Hindu rakwa ya/ Hindustan kapasuk ri Jambu Nagarekina magehana manu tatwa ya/ mangke rakwa salin jaman bharata Yiiwa Malayu nabhi duta kanggepi/ anghing rakwa ri kota bahlika teher manuta masehi manu tatwa ya//
- Mulanyang ratu Yawa meslami manut sarak i rasulullah minulyaken/ wwanten swatmaja rajasan nrpati Abhra Wijaya ratu we la ring dangu/ yeka rakwa wineh marang tanaya Arya Dharmara ri palimbang angdiri/ Rakryan Raja Sutan Patah ngaran niran litu hayu nipuneng rananggana//
- Sampunyang diwasang tuwuh nira .......... ka [I 8a] suguna sastra nltiman/ ngkan malwl dhateng ing Yawa Dwipa mangowa hana gamana ning sarat kabeh/ ngkalah Sri Nrpa Rama Abhra Wijaya pesa rinabasa rananggana/ tumpes mwang ratu mofica nagri ya asing lumuha manuta Eslaming jagat//
- Bhrastang rat manu mulya yeki ri Yawa Dwipa parawasa sima tar pagap/ lorodnyan pangelun dhadhal mara ri Bahlika nagara- nagara inungsi rakwa ya/ wanten rakwa kahampi ring tana Barangbangan angenesa wringolaha/ sakning rajya supit urang ya ta dumeh male·- [I 8b] dug asasaran mare waneh//
- Tan warnnan ilanging musuh makin agong kudratira naredra Mislama/ salwaning Wilatikta ta pwa sinadar sahana-hanani sang watek ratu/ dhistrik banwa telrnng padas sapinasuk jajahanika telas kalalwana/ tan waktan ibu kota sampun aradin panata gama manut sarat rasul//
- Pahami manahkwa abhra wijayeki rakwa ya dudung jayarsa si dangu/ kang umalahangjaya prabu gatinya yeki ta turun-turunya rasika/ manuti aranya abhra wijayeki rakwa tineher nikang sanagara/ [19a] kira-kira bab kaping tri ya turunya nguni ri narendra Arsa Wijaya// I 0. Tatan ujaren sapolahi kanang wanging bharata Yawa rakwa ri dangu/ kateka rike dhatang sagala bangsa tumrapa kabehnya tan
rak""a winuwus lropa nagara/ lawan ing Amerika p\ a tekaning srpadbhuta ri salwa ning sabhu\- ana// I I. Kunang ilawasnya rakwa satengah tahun masa ri ka-ti sa n sanagara/ tuwi tama tar samong satibaning Jawah tapi kadang-kadang karirisan/ [ J 9b j tibani hidanya kentel aputih sawang sapanabur riyah mahurahan/ yadi pinulung pungut pi Ii-piling muwah drawa gatinya yar dadi banyu//
IX
I. Pafijangning rajani lumangkuning rah inten/ hetunyan padha marumer patangga teja/ sakwehning damelika rakwa tan kagindhal/ mangka pweki rimasaning sreping sarajya//
2. Sang Hyang Ngwe wahu gumawang katon kagenyan/ kinten wontena satabeh barung sudipta/ lumrang phaljaya sumaput marantaya akrep/ imper wwang hrbuka putih ring antariksa//
3. Kaywan rat kuwu-kuwu kalraring swaphalja/ om srekenya padha kabeh katon prasudha/ [20a] len pwekang ri natar ika penuh matimbun/ yan kambah panuda rikat nikang lumampah//
4. Wwening tus karasa rasin lawan pasefijang/ mwang kundhi prasama bekung kiran sakerttas/ nda yapwan wahu ininum dinang pwa rehnya/ tan waktan metiga susu len minyaknya//
5. Lwahnyagong padha ya kabeh samangka rehnya/ inggan syandana lumaris ane luhumya/ asrang rampka madulur ikang wang akweh/ sangkep bajwa pira lapis kasut darumpa//
6. Trangning ngwe tardata lalun suntiksna rakwa/ bhrasta ng suska sahananing dukut kakaywan/ [20b] go mwang kufijara piyaran mamuktyan suska/ mangkin srepnya ya rumesep tekeng swacitta//
x
I. Kaphal geng amawan swabahni ginulag-gulanga tuwi ri madyaning dharat/ ri denya tama tar laku pwa sdhenging tis atisaya
mahanglare ati / ikang lauta neki rakwa ya mawas mare-mi banyu nika pwa tar wurung/ yadin ta yan amombakan mawalikan maniru riketering labuh kapat//
XI
I. Kanteli toyaning lwah asawang kacamaka gurilap/ ingga sastra len kaduwa asta tinapaka leyo/ ramya mijah tikang wang i luhumya kasukan a-[2 la] ngidung/ ler pamake ksut ya malunas wesi makasa lengong//
2. Honya madung-madungwa ya gawe luwanga kinapakan/ hingga dhateng rikang bafiu arginali kinuwatan/ nggonya maweh swatoya irikang gaja kuda piharan/ mwang sapi hota yekana kabehnya dinusa kinimum//
3. Satwe ry otaneki ya kabehnya kalaran akuru/ terwilu len kenas kasarakat tuna pangana aking/ muwang kebeking swaphalja magawe ribedi laku nikaJ pestika geinpuranya yadiyan hana mara buburu//
XII
I. [21 b] Tistis masa ritunggang adri nummr angin amawa sughandaning sekar/ megh-a bang mamutih haneng dasa digantaranamenuhi imbanging langit/ genter mandrana gatra-gatra ridu tor kadi re-ngih ingarum kinolaken/ kuntul morma kuyap- kuyap kadi anyang lengong angayuhi lambungin wukir//
2. Wwang ring jro nagareki riimya mapupul-pupul atisaya tusta arsaja/ munggwing mandhapa kasrepan pwa makemul-kemul angesesan ardha lenglenga/ Illa rehnya wisik-wisik saha guyunya sahaja mamanis wulatnika/ sumrak gandha nikenya/ marmriki sirir ning a- [22a] nila nagawe sreping hati//
3. Lunghang kala pirantajinya ilanging sejuki sahana bhumi Erupa. Wahwaron tahening wanantara latanglung asemi tekaping hudan wengi/ akweh ramya katon mahang jrah araras rum imangi
prafa/ saksat kendran angin dharat alep ikang sanagara masinang prabha swara//
- Pinggirning lwa haneka rakwa ya rumah lengong aradin amindha ring tulis/ sampan phalwa penuh hane palabuhanya padha inuparengga ring raras/ len pwekang awaning sephur tinapising wesi tinata jugaka tut awan/ [22b] tri mdho karya marampaking alun-alun atisaya magawe manah rimang//
- Akweh rakwa ya de nikang dana teher miresepakena rehnya nityasa/ tan waktan ri pekenya ramya tar ilang tanana kena risesiningjagat/ mwang srining sananning patukwan araras cara- cara nikang ambeka-ambeka/ sotantang sarining swarajya winuwus rasika kahananing gunottama//
- Kirnang rakwa gudang-gudang kahananing sagala pagawayan haneng sarat/ pandhiya mas wara loka karyya leh anguni weh damela pataruhan hanerika/ [23a] wanten pwang patanah lawan pagedahan padu kula pata rupa tan s~anga/ pabrik-pabrik hane kawarna ginawe teka paparamarosan itiman//
- Wesma gongjuga tongwaning pangecapan buku pira-pira warnna padika! tan tunggal pwa urupnya len bahasa rakwa papupulanikan hane rika/ mwang gambar pwa anekawarna saha karpala ya rana ri tingkahingjarat/ manggeh rakwa badhe dinol buka pirang iwu karangani sang wruhing mango//
- Akweh tonggawanika gugurwana maEa nulisa sagalang ilmu ring sarat/ [23] Doktor mwang Panujum palak padha sumanggraha sahana nika pwa tar kurang/ len te1rnng sananing bisung saha mamar winuruk ika kumawrunghang aji/ anghing rakwa sanes pwa rupani urupnya rajin ikana Mister angdamel//
- Krtang rat makete'r tikang kujana ring salwanya kapwa pageh/ sampun rakwa pinet lakung ala ajong tinrap rikang nagara/ anghing rehnya awis hukum kapati yan binwang tarungkwan laku/ mwang arthan wara karya rakwa sinilihning dosa tan wyartha ya// I 0. Sam pun titi tarn a tika tang palambang ulihing [24a] wiguna kasarakat/ bhramtambeki pamarupuhing swasang-sara n agong
ry ati / panggil wenanga lumipura swaduhka minaha pwa miketa kakawin/ ampun rasika tekap i sang munlndra kawi sastra sujana gunawan//
Tlass// Babonnyane lontar drewen Ida I Gusti Putu Jlantik/ ring Singharaja/ Puri Gobraja/ Singharaja// 1900// Puput sinurat ring dina/ Wreh/ U/ ware Matal/ thithi/ tang/ ping/ 10 / sasih/ Ka/ 51 rah / I/ teng/ I/ isaka/ 1911 // Tanggal masesi / 9 November 1989// f24b] Sinurat alih sang apanlah/ I Ketut Sengod/ saking desa Pidpid kaler kawuh margga/ warga Pasek/ kalurahan Pidpid/ kacamatan Abang/ kabupaten Karanghasem// lti kakawin Atlas Bhumi//
"Semoga tiada halangan"
I. [I b] Sujud(ku) bi la sudah dapat melaksanakan sesuai dengan rencana dengan teguh meniru Bagawan Garga yang menguasai segala ilmu pengetahuan/ ajarkan dari Bagawan Atri pada masa larnpau yang sangat terkenal/ sekarang ini dapat disaksikan d i rnuka bu mi munculnya ciri-ciri buruk dan sebagainya/ yang timbul silih berganti, semua itu antara lain sesuai dengan rnasing-masing bulan (sasih) dan musirn//
2. Petir bersuara gernuruh menakjubkan d isertai hujan rnenyebab- kan bumi gempa/ matahari dikelilingi sinar berkat yang a mat manakjubkan di langit/ demikian pula bu Ian dikelilingi sinar berkat yang disertai hujan debu yang deras/ juga tarnpak sinar rnatahari kemerah-merahan sewaktu terbenam dan terbitnya di gunung sebelah timur//
3. Sapi mengamuk dengan ganasnya selain itu burung-burung
memangsa anaknya tanpa ada rasa kasih sayang/ ada pula kijang,
(2a) kerbau, badak, kambing, ayam, babi dan titik/ mereka berprilaku aneh berpasangan dengan perempuan beda jenis/ kemudian lahir anaknya berbeda rupa dan perilakunya//
4.Lain lagi telur warnanya lain tidak seperti warna aslinya pada masa lalu/ bumi menjadi tenteram bila ciri-ciri itu muncul di saat sasih kesangka kedasa yang sesungguhnya membuat rakyat merasa bahagia/ bilamana selain dari sasih tersebut menyebabkan bumi kekeringan dan kepala negara mengalami kehancuran/ ada banyak tikus merusak dan ulat menggigit-gigit yang menyebabkan kehancuran//
5.matahari menyinari sinar kuning ke bumi dan petir muncul dari semua arah/ serta di seluruh pelosok desa-desa mengalami kepanasan matahari terik yang tidak bermanfaat/ selain itu suara gemuruh disertai putaran debu yang ditiup angin kencang/ terbang berhembusan sehingga ke udara meliputi sinar matahari//
6. Bilamana keadaan ini muncul di saat sasih Jestra Sada bumi (2b) menjadi tenteram/ tetapi selain dari itu menyebabkan bumi menjadi kacau/ hujan jatuh terus-menerus tumbuhnya pada menjadi kurus dan segalanya menjadi rusak/ kepala negara mengalami penderitaan yang luar biasa dihancurkan oleh musuhnya yang bengis di dalam pertempuran//
7.Selain itu ada pelangi tidak bercahaya dan petir yang menyebabkan jarang jatuhnya hujan/ maka kecil aliran air yang keluar dari lobang gunung yang tiba-tiba disertai lahar jatuh dari puncak gunung sehingga terjadi gempa/ Tetapi bilamana ciri-ciri itu muncul di saat sasih Karo menyebabkan bumi menjadi tenteram/ bilamana selain dari sasih tersebut menyebabkan negara kelaparan dan penyakit berjangkit tak henti-hentinya//
8.Banyak orang yang mati disebabkan berak sampai pingsan serta muntah berak tak bertenaga/ manusia tinggal hidup sedikit dan lagi tidak henti-hentinya mereka dikuasai oleh ciri yang buruk/
- Diumpamakan seperti rebab dan seruling serta nyanyian terdengar dari kaki gunung/ selain dari itu ada tangan terus- menerus disertai suara serat dan jelas tanpa badan/ ada lain pohon pinang bercahaya serta enaujuga bercabang semuanyajuga berbunga dan berbuah/ demikian pula pohon kelapa tumbuh bercabang dan buahnya tidak seperti semua bentuknya// I I. Demikian pula tumbuh bunga pisang dua sampai tiga buah yang keluar dari batangnya alamat kurang baik/ bilamana tumbuhnya itu tepat sasih Ketiga Kapat menyebabkan bumi makmur/ selain dari itu dari sasih itu muncul ciri-ciri itu bumi menjadi (3b) sangat kacau/ mereka yang bijaksana merasa kecewa, kepala negara mengalami kehancuran serta rakyatnya mabuk-mabukan langsung pergi langsung meninggalkan negaranya//
- Ada pula yang disebut sejuk tetapi bukan sejuk melainkan panas terik yang menyebabkan terbakar keseluruhannya/ serta kijang- kijang lari terpencar-pencar mengalami kesakitan lain lagi burung gagak suaranya agak lain/ yaksa dan raksasa dilihat dengan nyata bemyanyi di jalan mereka riang gembira/ tetapi di sasih kelima dan kanem itu bertanda membuat kemakmuran//
Bilamana lain dari itu munculnya menyebabkan negara menjadi kelaparan dan kesakitan/ banyak wabah penyakit berjangkit yang menyebabkan kekacauan dan kematian pada binatang dan manusia banyak yang mati/ tiada ketinggalan termasuk bayi tanpa mempunyai kekuatan dikuasai cuaca yang buruk/ sebanyak manusia merasa susah dan takut menyaksikan bum i kehancuran//
Di jalan tampak seram laki dan perempuan hanya badan tanpa kepala sangat menakjubkan/ serta burung mempunyai anak tiga ekor ada pula bercumbu menguasai perempuan yang tidak sama/ demikian pula lembu dan sapi yaitu mempunyai anak ( 4a) lima tiga dan sampai tujuh ekor/ serta tanduknya bercabang tujuh buah dan bulunya bercabang-cabang sangat lain rupanya//
- Demikian pula babi dan anjing mampunyai anak beda rupa semuanya sangat berlainan/ sesungguhnya bila setiap kepitu dan Kaulu itu beralamat mulia/ bumi menjadi makmur bilamana munculnya lain dari sasih tersebut, kenyataan membuat kehancuran olehnya/ gelap gulita membawa hujan terus menerus disertai angin ribut yang kencang//
- Lang it cerah memantulkan panas terik seperti membakar bum i banyak hutan yang musnah/ bumi itu pasti terkikis habis dimusnah kan oleh api yang dahsyat/ itu sebabnya patut waspada dengan perilaku bagi orang yang bijaksana yang telah berhasil yoganya/ bilamana sudah demikian maka jauhlah bencana semoga bumi menjadi makmur karena yang melindungi bumi nurgat surya//o//
Dwitya Sargah
II
I. Di langit tampak mendung hitam yang tebal seperti gunung besar tegak (4b) menjulang tinggi di malam hari turun hujan lebat terus menerus itu sesungguhnya bertanda sangat buruk/ serta bilamana mendung di langit tebat sekali berwarna hitam / tikus banyak tak putus-putusnya serta belalang banyak sekali//
2. Mendung berwarna putih memenui langit dengan tiba-tiba/ burung-burung musnah banyak yang mati mereka tidak tahu tujuan terbangnya banyak yangjatuh/ bilamana bersih bayangan mendung itu berarti sungai-sungai banyak yang kering banyak yang menderita/ perangpun berkecamuk sangat dahsyat bilamana muncul ciri-ciri buruk yang demikian//
3.Selain itu bilamana tampak mendung muncul di semua arah itu berarti penyebab kekacuan/ serta pembesar negara akan meninggal ikut serta para pendeta/ serta para menteri sang raja akan meninggal, maka waspadalah sebagai raja/ didampingi oleh sang pendeta untuk berdoa agar bumi menjadi makmur dan tenteram//
4.Bilamana pelangi seperti mendung yang tebal di langit, berada di pelosok desa-desa/ sesungguhnya sang Raja wafat bilamana ada ciri buruk seperti itu/ bilamana muncul pelangi di antara (5a) pohon-pohon kayu manusia banyak menderita/ walaupun pelangi itu muncul di gunung pertanda ada perang//
5. Bilamana ciri-ciri itu muncul pada bulan gelap kedelapan dan bulan gelap ketiga kekacuan tidak akan dapat dihindari/ sang Raja bersalah bilamana ciri-ciri itu muncul pada bulan gelap keduabelas dan bangunan banyak yang hangus terbakar/ bilamana ciri-ciri itu muncul pada bulan gelap ketigabelas rakyat banyak pergi pada bulan gelap keempat belas istri para pejabat banyak menanggung penderitaan//
6.Bilamana ciri buruk itu mencul pada bulan gelap kelima belas banyak majikan mengalami penderitaan/ banyak kenyataan yang timbul ciri-ciri buruk berbeda-beda datangnya/ matahari gerhana dan sinarnya selalu berlingkaran itu pertanda bumi panas terik/ banyak sekali cahaya tanda-tanda buruk, maka waspadalah dari timbulnya ciri-ciri buruk untuk mencari kebaikan//
7.Demikian pula sang raja jangan segan-segan melindungi negara/ puja di sana serta upacara penyucian dilakukan agar mencapai kemakmuran negara/ ketentraman negara serta membangun wihara agar selalu dilindungi dengan seksama/ bilamana sudah (5b) demikian sang Raja akan terhindar dari mala petaka dan terkenal negara mendapat kemenangan//o//
Tretiya Sargah
III
I. Diucapkan di dalam sastra sangat berbobot hendaknya jangan dilupakan/ sinar bulan pumama sangat indah kemudian gerhana/ demikian pula pada bulan ketujuh muncul gerhana bulan yang menyebabkan sinamya menjadi gelap/ agar bumi itu menjadi makmur harus dibuatkan upacara pembersihan//
2. Hujan debu berterbangan, itu disebut membuat penyakit/ itu tanda- tanda rakyat akan menanggung penderitaan/ itu bukan main buruknya semua rakyat menjadi panas dan kesakitan/ itu ciri-ciri timbulnya penyakit manusia yang berulang-ulang kali//o//
Caturtama Sargah
IV
I. Bulan berada di sebelah timur bersinar cerah mendekat di atas di bawah sinar bulan/ itu sangat mulia sekali disebut tumpang mesi/ bumi dan semua rakyat menjadi makmur dan tentram//
2. Bilamana hanya satu berada di atasnyajuga disebut baik/ bilamana (6a) letaknya di bawah bulan/ juga membuat bumi makmur/ se- sungguhnya bulan itu memberikan kesejukan seluruh negara//
3. Bilamana kedudukan bintang itu di sebelah utara bulan/ sinamya merah seperti api berkobar/ itu pertanda akan terjadi kekeringan/ itu dapat digunakan sebagai alat ukur untuk kehidupan manusia di bumi//
4. Lain lagi bintang-bintang mengapit sinamya bulan/ yang satu tempatnya di sebelah utara, yang satu lagi berada di selatan/ bulan itu berada di tengah-tengah sinamya cemerlang tanpa mendung/ itu disebut bumi akan makmur keberadaanya akan makmur sekali//
5. Bilamana bulan itu tepat berada pada belahan bumi/ kemudian ada bintang besar muncul di hadapan bulan itu/ keadaan yang diikian itu disebut buruk/ bumi menjadi kacau balau banyak pembicaraan tidak ada ujung pangkalnya//
I 0. Muncul bintang itu tidakjauh tempatnya/ berada di sebelah timur dan barat mengapit bulan/ itu disebut pikul kunapa (usungan mayat) keberadaan itu kurang baik/ banyak berjangkit penyakit dan para pembesar mengalami kesedihan//
I I. Bilamana bu Ian itu berada di sebelah barat daya/ serta ada bintang muncul di belakangnya/ itu disebut anwal kendang bukan main buruknya/ sama hebatnya seperti sang kalantata di masa datang waktunya 360 tahun//o//
Pancama Sarga
v
I. (7a) Di situlah para dewa berkumpul yang dilakukan di bumi/ dewa Wasundari sedang beryoga dengan tekunnya/ apabila di saat sasih kasa bumi itu ditimpa gempa/ maka bumi tersebut menjadi tenteram dan makmur//
- Pada saat yang demikian itulah sepantasnya bagi mereka yang berkemauan melakukan/ puja brata untuk mencapai kemulian/ untuk melengkapi noda/noda dan bencana pada diri manusia maka bumi menjadi makmur dan semua rakyat merasa bahagia//
- Pada bulan Bhadrawada jika terjadi gempa/ Dewi Gangga beliau yang beryoga sebagai dewa yang bijaksana/ untuk menjaga dunialah katanya agar tidak terhalang/ tidak akan mendapat halangan dan rintangan sang Raja serta semua mentrinya senang//
- Bilam.ana timbul gempa dahsyat di waktu sasih ketiga/ Dewa Wisnu bertemu menyelamatkan bumi/ maka banyaklah tanaman- tanaman tumbuh subur dengan lebatnya/ (7b) orang-orang yang jahat menjadi sadar mereka semuanya berbudi mulia//
- Bilamana timbul gempa dahsyat di sasih kapat/ dewa Prajapati beryoga dengan tekun/ padi-padi serempak menguning dengan megahnya/ disertai dengan hujan yang turun terus menerus//
- Bilamana timbul gempa di sasih kalima/ Dewa lswara beryoga dengan dahsyatnya/ banyak timbul penyakit dan penjahat yang disebabkan oleh sasih tersebut/ bumi menjadi kelaparan tidak ada yang merasakan bahagia//
- Bilamana timbul gempa di sasih kanem Dewa Uma beryoga/ bumi menjadi kacau semua rakyat kesusahan/ banyak penyakit bejangkit dan keributan yang membangkang/ selain penyakit banyak terjadi percekokan yang menyebabkan calon istrinya sampai mengalami kematian//
- Bilamana timbul gem pa di sasih kapitu/ Dewa Guru beryoga yang menyebabkan antara lain/ sang raja dan bung Pendeta merasa kesusahan/ serta beliau dituduh jahat yang menyebabkan bumi menajdi hancur//
- Bilamana timbul gempa di sasih Kaulu/ Dewa Rudra (Sa) beryoga di saat itu / bumi menjadi kelaparan lain bagi terjadi pertengkaran di setiap saat/ itu ciri-ciri bumi akan hancur maka berhati-hati lah//
Bilamana timbul gempa di sasih kasanga/ dewa Sri Preta Raja beryoga sangat ganasnya/ menjadi galak yaitu sapi dan ajing bertengkar sama kawannya/ selain itu hujan api yang menghancurkan bumi dan terjadi kelaparan//
- Bilamana terjadi dahsyat pada sasih Kadasa/ terhindar dari wabah penyakit tanaman pada menjadi subur berbuah lebat/ segala tanaman cepat besar terhindar dari penyakit/ Dewa Sangkara melakukan yoga memberikan kebahagiaan//
- Dewa Sum bu beryoga dengan ganasnya/ di saat sasih Jastra yang menyebabkan bumi gempa sehingga bergoyang/ bumi menjadi hancur lain lagi bencana berat timbul tak henti-tentinya/ banyak padagang yang dirampas oleh penjahat//
- Di bulan (sasih) Sada terjadi gempa dahsyat/ Sri Naga Raja beryoga selalu bergerak/ bumi menjadi kekeringan dan kelaparan terjadi terus-menerus/ wabah penyakit merajalela
(8b) terus bertambah tak henti-tentinya//o//
Durgathasad Sargah
VI
I. lni ada petunjuk petuah ucapan Sruti hendaknya waspadalah bagi mereka yang ingin mencapai kebaikan agar diketahui terjadinya gerhana bulan di saat hari-hari tersebut/ bila gerhana bulan di saat hari-hari tersebut/ bila gerhana terjadi hari Minggu itu pertanda sangat buruk banyak bayi menderita di masa kecilnya/ bila terjadi hari Senin itu pertanda kurang baik banyak penjahat selalu mundar mandir di muka bumi//
2. Sungguh-sungguh bumi menjadi kacau apabila terjadi gerhana pada hari Selasa banyak ciri-ciri yang menimbulkan tanda buruk/ binatang-binatang musnah apabila gerhana jatuh pada hari Rabu banyak pula yang mati tidak disembuhkan penyakitnya/ apabila jatuh pada hari Kamis menyebabkan banyak para perempuan menderita/ apabi la jatuh pada hari Ju mat sang Raja merasa red ah dan apabila jatuh pada hari Sabtu akan terjadi hujan api dan penjahat banyak berkeliaran//
- Apabila matahari gerhanajatuh pada hari Minggu bumi menjadi kelaparan/ bila jatuh pada hari Senin gejala tanaman palawija menjadi rusak/ bi la jatuh apda hari Selasa banyak pendusta (9a) danjatuh pada hari Rabu segala binatang peliharaan menderita penyakit/ Sang Raja menanggung nestapa bila menurut ajaran Dewa Guru selalu//
- Apabila jatuh pada hari Jumat penderitaan berkelanjutan dan penyakit berjangkit yang tidak dapat dihindari/ bila jatuh hari Sabtu keadaan lautan menjadi suram hujan jatuh terus menerus/ itu agar selalu digunakan sebagai pegangan dari ciri-ciri nyata di muka bumi untuk mencapai kebaikan oleh sang Raja/ hendaknya selalu dibicarakan bersama sang Pendeta karena beliau berdua yang dapat membuat ketentraman negara//
- Bilamana jatuh pada bulan terang pertama sama-asma mulia menjumpai kebahagiaan yang luar biasa/ bisa jatuh pada bulan terang kedua segala pekerjaan berjalan lancar demikianlah keberhasilan seorang pengarang menciptakan sebuah keindahan/ bilamana jatuh bu Ian terang ketiga keluarganya merasa senang melihat sang Raja bersama permaisurinya/ lenyap segala keburukan tidak ada keraguan hati di dalam bertindak selalu mendapatkan keberhasi Ian//
- Bilamanajatuh pada bulan terang keempatjanganlah bersifat aku niscaya menjumpai bencana yang tidak dapat dihindari/ bilamana jatuh pada bu Ian terang kelima hari itu sangat baik mengupacarai putra/ (9b) bilamanajatuh pada bulan terang keenam menjadi sakit hati yang berkelanjutan/ bilamana jatuh apda bulan terang ketujuh yang menjelma sebagai manusia menjadi bahagia serta anaknya hidup bahagia yang berkepanjangan//
- Bilamana jatuh pada bulan terang kedelapan timbul kejahatan yang diperbuat oleh istri menyebabkan pikiran keruh/ bilamana jatuh pada bulan terang kesembilan timbul suaranya banyak tidak tahu sopan santun menambah sakit hati kepada orang yang sangat menderita/ perilaku yang demikian akan menjatuhkan martabat
putaranya sehingga menjumpai kesengsaraan yang berkepanjangan hidup sebagai manusia/ bilamana jatuh pada bulan terang kesepuluh itu sangat baik yang menyebabkan menjumpai suatu kebahagiaan//
- Bilamana jatuh pada bulan terang kesebelas sudah pasti agar mampu mengerjakan atas pemtah majikannya bila jatuh pada bu Ian terang keduabelas bagi mereka yang ingin minta pertolongan mendapat sakit hati yang tidak dapat dihindari/ bila jatuh pada bulan terang ketiga belas akan manjumpai kebahagiaan ke mana ia pergi di tempat persembunyian/ bila jatuh pada bulan terang keempat belas akan menjumpai kesengsaraan yaitu cercaan yang diperlukan oleh majikannya//
- Bila tepat jatuh pada bulan pemama di dalam kehidupan akan tidak berhasil selalu dibencanai oleh sesamanya/ (I Oa) bila dicari keindahan hidup di dalam bersuami istri serta putra putri menjumpai keaikan/ kebahagiaan hidup sebagai manusia tanpa ada bencana, itu sangat berat karena baik dan buruk tidak dapat dihindari/ kesimpulannya "manusia tidak boleh iri hati itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa//
- Sang Sapta Resi yang dimikian hebatnya ditiru mahir menghitung bulan dan matahari/ Bagawan Wakpati sangat mulia sebagai guru suci serta bijaksana di Surga/ dan lagi bukannya dua sebutan darma itu melainkan hanya dua yang pantas sebagai guru di bumi/ sasih ketiga sangat mulia sebagai landasan menuju jalan Moksah// 11. Bulan (sasih) Kapatjatuh pada hari kajeng di saat matahari berada pada belahan bumi sangat baik melaksanakan penabisan para resi-resi/ pada sasih kelima jatuh pada hari pasah adalah jalan suci untuk menabiskan para resi agar mencapai kebijakan/ apabila Sad Guna itujatuh pada hari pekenan sangat baik untuk mencapai kemahiran Weda-weda sama seperti Bagawan Wakpati/ sesungguhnya kebahagiaan yang mulia di dalam diri adalah perwujudan guru sebagai penyucian (pembinaan) orang bersifat jahat//
psa
(I Ob) jasa yang mulia/ belau berbudi teguh untuk rnencapai kemuliaan seorang guru utarna yang diharapkan dalam hati/ untuk melenyapkan hatinya yaitu Bagawan Sukra sebagai guru para Detia yang utama/ paling awal hanya beliau yang diharapkan sebagai guru yang pantas dirnintai kebajikan//
- Sesungguhnya Bagawan Anggira yang dikukuhkan sebagai pendeta sepantasnya sebagai guru resi-resi/ tembus menguasai kesucian beliau mendapat anugrah untuk mencapai kebebasan/ tiada lain lagi yang dipuka diharapkan dalam hati/ sesungguhnya pasti lenyap walaupun kejahatan dan kegelapan batin yang dimiliki//
- Adapun yang disebut dengan kedudukan Durga yang jatuh pada pang long dan pananggal penyebab awal dari bencana/ kedudukan nya di timur jatuh pada bu Ian gelap pertama dan kesembilan serta pada bulan gelap kedua dan kesepuluh tidak boleh pergi ke utara alamat kurang baik/ pada bulan gelap kesebelas tidak boleh pergi ke tenggara dan pada bulan gelap keduabelas tidak boleh pergi ke barat daya/ apabila pada bulan gelap ketiga belas dan kelirna tidak boleh pergi ke selatan hendaknya agar diketahui//
- (I la) Kedudukan durga ada di barat yangjatuh pada bulan gelap keenam dan keempatbelas, di sanalah tempatnya sebagai bencana/ apabilajatuh pada bulan gelap ketujuh dan kelimabelas, bertempat di barat luat yang menyebabkan menjumpai keburukan/ bilamana jatuh pada bulan gelap kedelapan dan kelimabelas, bertempat di timur laut awal dari keburukan/ demikianlah sebabnya bagi mereka yang bijaksana hendaknya hindari pada waktu hari itu untuk mencapai kebaikan//
Adapula yang lain sepantasnya diwaspadai yang disebut dagdikara, di saat hari Jumat dan Minggujatuh apda bulan terang (pananggal) dan hari Selasa jatuh apda bulan gelap kesepuluh, di saat hari Kamis jatuh pada bulan terang keenam di saat hari Rabu jatuh pada bulan gelap ketujuh dan lain lagi awalnya dari hari Sabtu hendaknya jangan dilupakan//
Segala bentuk kerja yang baik hancur lebur olehnya menjadi berantakan/ karena tidak ada bedanya seperti Kala Geni yang sud ah pasti mem berikan kesengsaraa n yang menyebabkan kesedihan / kesimpulannya "hendaknya diingat-ingat sebaik- baiknya asal mula timbulnya baik dan buruk itu, janganlah cepat- cepat bertindak/ (I I b) agar tidak mengalam i bencana bagi mereka yang bermaksud mencari kebaikan//o//
Saptama Sargah
VII
I. ( 11 b) Berawal dari sinar matahari yang baru terbit itulah yang disebut dengan Darma Laksana (Sanghyang Dhanna) yang ditulis yang dijadikan karangan/ peredaran sinar matahari berputar menuruti dua dasa rasi nah dengarkanlah/ yoga itu digunakan sebagai landasan di muka bumi sebelum saatnya meninggal dunia/ akhirnya akan bebas kembali ke Surga walaupun mati roh itu menyatu di si si Siwa//
2. Varna Loka yang terbuka apabila peredaran matahari menuju ke selatan/ waspadalah pada saat sasih Jesta, janganlah mem bakar mayat karena surga itu tertutup/ bilamana sasih Jesta matahari bergerak menu juke utara mengiringi para Resi/ ter bukalah pintu Surga itu di saat beliau datang menghadapi dewa Surya//
3. Bilamana sasih ke-4 dan ke-10, di sana tampak matahari tepat ( l 2a) pada belahan bumi/ serta pada bu Ian pernama tanpa mendung pada waktu itu sangat baik untuk menjumpai kebaikan/ ikut sertakan melaksanakan yoga, pada hari itu disebut kunci Dama sebagai jalan yang pasti/ untuk melenyapkan kegelapan batin sehingga menjadi bersih tanpa noda, untuk mencapai kesempurnaan di waktu Moksa//o//
I. Ada yang disebut dengan Desa Kalamuka, nah dengarkanlah/ sirahnya o, tenggeknya I, tidak boleh pergi ke timur akan men dapat bencana/ sirahnya 2, tenggeknya 3, tidak boleh pergi ke barat/ sirahnya 4, sangat berbahaya dilamana pergi ke dalam//
2. Si 1 .1hnya 5, tenggeknya 6, tidak boleh pergi ke timur/ sirahnya 7, tenggeknya 8, tidak boleh pergi ke utara/ sirahnya 9, tenggeknya I, tidak boleh pergi ke barat daya Sang Kala Rodra berada di situ/ maka waspadalah bagimu mereka yang bijakasna jika akan bertindak//
3. Berikut ini ada yang disebut Kala Mangap hendaknya waspadalah/ sebagai berikut ini;janganlah pergi ke barat pada hari Senin akan menjumpai kesusahan yang berat/ bilamana hari Kamis/ pada hari ke timur alamatnya kurang baik//
4. Pada saat rabujangan pergi ke utara akan menjumpai keburukan yang amat sangat/ hendaknya tinggalah di rumah sebab saat itu Sanghyang Kala menganga mulutnya/ lain lagi ada yang disebut Kala Dangastra sangat ganas sekali yang menghalangi dengan ganasnya/ yang hanya dipengaruhi oleh Kala Dangastra yaitu pada saat bu Ian terang saja janganlah dilanggar//
5. Pada bulan (sasih) Jyestajatuh pada bulan terang ke-1, dan pada sasih sada jatuh pada bulan terang ke-2, yang sangat membahayakan/ pada sasih Kasa jatuh pada bu Ian terang ke-10 tidak boleh memanjat alamatnya urang baik/ pada sasih karo jatuh pada pulan ke-7, akan menjumpai kesengsaraan yang berat/ pada sasih ke tiga jatuh pada bulan terang ke-3 dan ke-4, akan menjumpai kematian, demikianlah penyelesaian kedelapan ikatan itu//o// [Tamat]
59
Sargah
IX
I. Berawal dari bulan terang pertama dan bulan terang keduabelas sasih Sada dan sasih Kasa jatuh pada bulan terang kesebelas/ kemudian sasih Karo jatuh pada bu Ian terang ketujuh, dan sasih ketigajatuh pada bulan terang ketiga/ pada bulan terang keempat sasih kapat patipara itu jatuh pada bu Ian kelima dan bu Ian gelap ketujuh pada sasih keenam dan bulan terang kedua jatuh pada sasih ketujuh//
2. (I 3a) Bulan (sasih) kedelapanjatuh pada bu Ian terang ketigabelas dan pada sasih kesembilan jatuh pada bulan terang kesembilan dan bulan gelap kelima patiparajatuh pada sasih kesepuluh/. Dari yang tersebut di atas penyebab dari keburukan, kerja apa yang dilakukan akan tidak berhasil baik/ karena itulah rnasa lalu dihindari oleh orang-orang yang bijaksana/ itulah sebabnyajangan cepat-cepat petunjuk yang baik//
3. Ada pula yang disebut karena sula yang selalu digunakan sebagai pegangan/ hari Rabu jatuh apda bulan terang kedua, hari Kam is jatuh pada bulan gelap kesepuluh, dan hari Jumat jatuh pada bulan ketujuh/ kesemua itu sama demikian, tetapi pada hari Sen in jatuh apda bulan gelap keempat/ sama pula pada Selesa Jumat jatuh pada bu Ian ketujuh/ kesemua itu sama demikian, tetapi pada hari Seninjatuh pada bulan gelap keempat/ sama pula pada Selasa Jumat jatuh pada bulan ketujuh/ kesemua itu sama demikian, tetapi pada hari Senin jatuh pada bu Ian gelap keempat/ sama pula pada Selasa jatuh pada bulan gelap ketiga yang disebut karma sula janganlah melanggar//
4. Adapula yang disebut Taliwangke yang jatuh pada uku landek dan ukir/ terutama pada uku Kurantil, Tofu, Gumbreg, Taliwangek itu jatuh apda hari Rabu/ pada uku Wariga, lain lagi uku Warigadean, Julungwangi, Sungsang dan Dungulan/ itulah yang ditempati ( l 3b) oleh Taliwangke yang jatuh pada hari Kam is//
- Demikian pula uku Langkir, Medangsia, Julungwangi, dan Pujut/ Paang Taliwangke itujatuh pada hari Jumat yang beralamat buruk menimbulkan kematian yang tidak dapat dihindari/ demikian pula uku Krukut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Mata)/ tiada lain jatuh pada hari Kamis hendaknya diingat-ingat dengan cermat jangan sampai lupa//
- Selanjutnya uku Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, semuanya tidak ada yang luput/ semuanyajatuh pada hari Senin mulai dari uku Wayang seterusnya/ uku Kelau, Dukut, Watugunung dan Sinta, Taliwangke itu jatuh pada hari Selasa/ hanya hari Minggu dan Sabtu tidak terikat oleh Taliwangke//o// Selesai ditulis tahun 1962 kepunyaan Fakultas Sastra Universitas Udayana.
3.2 Alih Bahasa Teks Kakawin Atlas Bhumi
I
"Semoga Tiada Halangan"
I. llmu pengetahuan itu sangat sulit dan amat sukar bilamana direnungkan di dalam hati/ ilmu pengetahuan itu bersemayam pada lubuk hati yang suci selalu dipuja yang menjiwai semua mahhluk hidup/ beliau berwujud Tuhan yang disemayamkan di hati oleh Sang Pendeta yang bijaksana/ yang diutamakan di dalam hati yang suci/ beliau merupakan ilmu pengetahuan yang memberikan sinar di muka bumi//
2. ltulah tujuan hamba selalu sujud memberikan debu di telapak kaki Hyang Dewi Saraswati / agar dapat mengendalikan melenyapkan hati yang kotor semoga berhasil mencapai kesucian yang tulus/ semoga hamba terhindar dari malapetaka dan terus melaju menuntut ilmu pengetahuan/ serta tiada merasa keberatan menenangkan jiwa mencari penghidupan meniru perilaku Sang Yogiswara//
3. Pada masa lampau sebelum adanya dunia matahari bulan keadaan masih/ tetapi dengan sakitnya Tuhan Yang Maha Kuasa/ beliau
pulau tersebut sesungguhnya masing-masing dilingkari samudra yang luas/ beliaulah yang dipuja-puja sebagai perwujudan Dewa Brahma oleh mereka dari keturunan para raja-raja//
- Demikianlah ciptaan Beliau yang diterima oleh semua mahluk hidup di muka bumi persada/ selain itu beliau juga menciptakan perbuatan yang baik dan yang buruk di muka bumi/ demikian pula pintar/ bodoh. Pembohong/ serta bai k buruk suka duka yang tidak dihindari / penyebab dari lahir hidup dan mati hanya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa//
- Hanya dari ketujuh kepulauan tersebut yang mendapat bilangan paling terbaik/ di samudra India merupakan lautan asing tampak indah dan airnya tenang/ tetapi selain dari kepulauan tersebut semuanya digenangi oleh lautan susu/ la in pula kepulauan Kusa/ Salmali dan Kroncadi yang tiada bandingannya//
- Termasuk kepulauan Gomedha/ pulau Puskara/ dari ketujuh bagian pulau tersebut yang ditulis di dalam karangan/ serta lautannya yang berbeda-beda tampak indah mengelilingi kepulauan tersebut/ itu sebabnya tampak berbeda-beda keindahannya yang diciptakan oleh Dewa Brahma/ keadaan tidak berbeda dari muka bumi menuju ke atas/ juga berlapis tujuh tempat para dewata//
II
I. Setelah sempuma menciptakan beliau/ keadaan surgaloka menjadi kokoh dan bersinar cerah/ ribuah juta banyaknya bintang-bintang bertaburan bersinar terang cemerlang/ ibarat lampu di malam hari yang menerangi muka bumi dan ruang angkasa seluruhnya/ terutama sinar bu Ian purnama yang menerangi seluruh bumi yang demikian sejuk dan mulianya//
2. Tetapi matahari selalu menyinari cahayanya ke bumi dengan sinarnya yang cerah/ terbit dan terbenam dari tempatnya mengelilingi seluruh bumi persada/ di kala senja sinarnya sejuk membuat bagi mereka yang menikmati keindahan panorama/ mendung tipis menjatuhi hujan gerimis disertai suara petir yang halus membangkitkan rasa asmara//
Sadar Kabul Bumar/ yang telah dikalahkan olehnya/ memenangkan di dalam pertempuran dari seluruh dunia. Selama setahun lamanya negarajajahan itu diperangi sehingga sampai di negara Absi yang luas itu/ wafatnya Jayadimurti kemudian itu serta kalahnya negara Absi tersebut//
Manunggal kekuasaannya itu sampai di sebelah utara negara Mesir yang besar itu/ serta sampai ke Asakan/Dareya/ Tunis/ di bawah kekuasaan raj a Rum/ negara Turki juga disebut negara Rum yang telah dikenal di bunia di bawah kekuasan Raja Islam/ penduduknya sama-sama berkulit putih dengan orang Nasrani dan penduduk negara Eropa//
Di sebelah timur negara Arab disebut negara Parsi pada masa lampau adalah negara Mudhayi/ yang di sebelah selatan negara tersebut terbentang lautan secara banyak kepulauan mem bentang lautan secara banyak kepulauan membentang ke timur/ di sebelah timurnya adalah negara Hindu yang amat elok permai/ keadaan negara tersebut sangat luas hampir sama dengan negara Arab yang memiliki ratusan ribu raja-raja yang dahsyat//
- Di sebelah selatan dari negara Hindhu terletak sebuah negara yang indah tak henti-hentinya menarik hati wisatawan/ negara tersebut bemama Lengkapura adalah tern pat permata yang mulia- mulia/ yang dikuasai oleh Raja Rawana yang tidak mau menerima nasihat orang lain pada masa lampau/ Lengkapura itujuga disebut Selan yang didatangi oleh kaum saudagar untuk mencari perak perunggu dan lain-lain//
- Di sebelah timur negara Hindhu adalah negara Benggala yang disebut juga negara Lenhawa/ apabila terus menuju ke arah tenggara terdapat negara Siyem yang amat ramai serta mempersona/ di sebelah timurnya disebut negara Nikanam di situ terdapat pelabuhan kapal Cina/ bila disebutkan di tengah- tengahnya terdapat ribuan raja-raja di negara Batara Warsa//
- Diulang kembali membicarakan/ sebutkan yang berada di sebelah selatan negara Siyem adalah negara Imalaka/ di sebelah selatan negara Batara Warsa banyak terdapat kepulauan yang tampak mempersona/ yaitu pulau Sumatra/ Jawa/ Bali/ Lombok/ Sumbawa/ Ator serta Timor Timur yang bentuknya melengkung seperti kasur//
- Di sebelah utara pulau Jawa yang dikelilingi oleh samudra yang tampak indah/ adalah Sabrang Melayu yang pula disebut pulau Borneo (Kalimantan) yang luasnya tiga kali pulau Jawa/ tetapi
I. Ada negara besar yang sangat mulia memiliki tambang emas/ itulah dua-duanya pulau yang terbentang ke arah tenggara tampak seram dan indah/ yang di sebelah utara Borneo (Kalimantan) adalah pulau besar yang menjadi jajahan sama-sama nampak indah/ yang tempatnya menyatu dengan wilayah pulau Borneo (Kalimantan)//
2. Bilamana dibandingkan dengan yang di selatan besarnya tiada bandingnya/ di sebelah baratnya adalah Barata Warsa negara pal- ing besar yang membentang/ batas sebelah baratnya kira-kira pertengahan pulau Jawa/ selain itu negara Australia dan yang disebut negara Papua//
3. Arah selatan dari negara Barata Warna itu/ di sebelah timurnya itu melewati negara Barata Warsa/ di sebelah timur laut lurus dari pulau Borneo/ banyak kepulauan di samping tidak dapat dihitung//
4. Di sebelah timur laut pulau Borneo sangat ramai/ yang disebut negara Manila dan banyak yang lainnya/ yang berbatasan dengan lautan lepas negara Cina/ di sebelah utaranya adalah negara Rijepan tennasuk daratan Cina//
5. Banyak sekali bila dibicarakan negara yang dikuasai oleh Cina/ tetapi sayang penduduk di sana semuanya orang Cina/ ada pula yang memang ditaruh oleh sang Raja serta terutama para menterinya yang disuruh untuk mengawasinya//
IV
I. Demikianlah jalannya ungkapan itu agar diketahui oleh semua manusia di muka bumi tentang seluk beluknya/ di Eropa banyak raja-raja berdiri sendiri disertai para mentri dan bupati/ tetapi di sebelah timur di ujung negara Asia termasuk di sebelah baratnya yang dikuasai/ oleh negara tersebut yaitu negara Ruslan yang sangat mulia tiada yang menandingi luasnya itu//
2. Tidak diceritakan raja-raja ikut masuk membayar pajak bumi/ negara Liplan dan negara Kurla sebagai raja penasehat di dalam persidangan/ ikut serta raja Polani yang semuanya amat mulia pada masa lalu yang paling awal memberikan sebagai pelaksanan penasehat/ ibarat lautan manusia kelihatan para tentra dan para mentri yang jutaan jumlahnya memenuhi bumi persada begitu ramai dan tentram//
3. Raja Ruslan amat bijaksana telah terkenal ke seluruh dunia/ beliau sebagai penguasa di negara Mosko yang amat ramai yang dibatasi oleh negara Mahacala/ yang pula disebut negara Nasrani yang kerjanya membuat senjata dan musik/ penduduk di sana semuanya satu bangsa tampak asri berkulit putih//
4. Yang terletak di sebelah baratnya disebut negara Nudhapya berbatasan dengan negara Turki/ di sebelah selatan adalah negara Bulgaria yang dekat dengan kerajaan Rum yang disebut pula Kastambul adalah kerajaan yang terkenal di tiga dunia yang memiliki keberanian di medan tempur/ tetapi Raja Ruslan itu adalah negara kaya dan terkemuka//
5. Banyak para raja manca negara yang mendukung di bawah kekuasaan raja Rum/ antara lain negara Monaneh/ Ropura/ Serpya/ serta negara Rumania yang ikut membantu negara Bosnia itu/ serta raja Lipadya itu adalah seorang raja bijaksana yang berkuasa di negara tersebut//
6. Di sebelah barat dari negara Ruslan ada sebuah negara yang sangat indah bila dibicarakan/ negara itu disebut negara Proesen yang sangat luas dikuasai oleh manca bupati/ di sebelah selatan negara tersebut adalah negara Dweseslan dan di utaranya adalah negara
belah utaranya adalah negara Skandinavia yang dibatasi oleh lautan yang membatasi negara Ruslan di sebelah utara//
- Di sebelah barat negara Porsen yang agak piring pantainya berkelok-ketok gelombangnya besar/ negara tersebut bernama Nederlan serta di sebelah barat negara Belgia masih ada sedikit kepulauan/ di sebetah setatan negara tersebut terletak negara tspanya yang tampak luas yang dijadikan persinggahan//
- Di sebelah barat Spanya terletak negara Portugis yang berbatasan tunggal/ tetapi lautan yang di sebetah selatan adalah negara Afrika dan berbatasan dengan negara Absi/ kemudian urutannya ke timur negara Algaris Tonasika dan berbatasan dengan Mesir/ tidak diucapkan Semenanjung itu kecil yang merintangi di tengah lautan//
- Negara Itserlan terletak di tengah-tengah di sebetah timurnya tertetak negara Parane yang tidak ada menandingi keindahan nya/ kemudian di sebetah timur negara Estenrik adatah negara Riwinen yang penduduknya kebanyakan terkenal/ di sebelah setatan negara ltserlan adalah negara Italia yang luas sekali/ tempat tinggat sang raja disebut Turyan//
v
I. Tempat raja manca negara disebut negara Krik Etan yang berada di ujung setatan negara Rum/ yang sudah dikuasai oteh raja Turki tersebut/ negara Kandhya bentuknya membujur panjang metintang di tengah samudra/ pada cela-ceta di sebetah utara dan setatan di sanalah tempatnya negara Mesir//
2. Kemudian di sebetah tenggara dari negara Rusa (Rusia) terdapat samudra yang tuas/ Barata Warsa tebih tuas dan besamya metebihi dari negara Kimputi/ negara Ruslan tertetak di ujung sebetah barat tentunya dan negara Persya tertetak di sebetah setatan negara tersebut diatas/ di sebetah timur negara Asia pada ujung negara terse but tam pak kosong//
3. Getombang air taut besar sekali ditempuh angin kencang/ di tengah-tengah lautan ada putau kecit tampak bergoyang-goyang/
bukannya bulat atau lurus keadaan lautan yang luas di dunia ini / besar suara ombaknya sebesar suara danau asin di Jambu negara//
- Di sebelah utara negara Nederlan lautan membentang luas sekali/ yang dibatasi oleh negara lngkan/ kedua negara tersebut sangat mulia/ di sebelah utaranya adalah negara Nirlan yang perbatasannya sama/ banyak negara kecil yang membentang tampak indah//
- Negara lnggris penduduknya semua pandai-pandai di dalam penguasaan ilmu pengetahuan/ di situlah tempat menimba ilmu pengetahuan yang kaya dengan pertimbangan/ itu sudah kodrat alam/ di situ tempat menimba ilmu berkualitas tinggi/ senegara Eropa diberi wewenang di dalam pelaksanaan yang sedemikian itu//
- Di sebelah utara negara Nirlan dibatasi samudra yang luas/ demikian pula di sebelah baratnya dibatasi pula oleh samudra/ di situlah negara tersebut bernama negara Islam yang sangat mulia/ penduduk di situ semuanya berkulit sama dengan penduduk Eropa/ I
- Di sebelah utaranya tampak bersih keindahan lautnya mempersona negara tersebut bernama negara Trangspil/ yaitu negara pemberani dan bengis/ penduduknya kebanyakan tinggi lagi besar sangat pemberani/ pantas kuat sekali sangat mahir di medan tempur//
- Banyak bi la diucapkan kepulauan itu/ negara Mpeyan suka berjudi/ itulah keburukan dari negara Eropa tersebut/ hamba sedikit menjelaskan agar saudara tidak tergesa-gesa/ agar tidak menuruti kami menciptakan karangan//
- Hamba dapatkan sedikit dari negara Kardun/ perkiraan dari negara Satupa demikian pula serba gaya pakaiannya/ sastra negara Eropa sangat sukar/ sesungguhnya hamba membacanya/ "maafkanlah" banyak kalimatnya kurang sempurna yang ditulis di dalam karangan// I 0. Ada pula sebuah negara besar yang makmur/ ujung sebelah selatan negara tersebut melewati negara Papua/ negara tersebut lebih
besar di sebelah utaranya kemudian selanjutnya lurus mengecil/ jadi kedua negara tersebut hampir sama batas utara dan selatan//
I I. Negara tersebut Satupa/ negara terbesar di negara Amerika/ pantai baratnya sama miring ke utara dan ketenggara/ terdiri dari banyak kepulauan besar dan kecil yang tidak terhitung jumlahnya/ air lautan itu berputar-putar di tengah-tengah tampak indah//
VI
I. Jauh di sebelah barat dari negara Eropa/ pantainya lurus dibatasi oleh samudra/ tetapi di selatan negara Amerika pantainya itu sehingga sampai di negara Afrika/ keadaan juga dibatasi lautan yang kira-kira penyebarannya jauh seh.li/ entah berapa besar negara itu tidak terhitung dan tidak diketahui/
2. Di sebelah timur negara Amerika menuju ke utara dari negara Eropa/ di utaranya adalah Grunlan negara yang besar dan luas sehingga dataran rendahnya/ di sebelah timur dari negara Asia yaitu ke utara lurus dari negara Japan yang termulia/ adalah negara Amerika dan tiada lain lagi//
3. Negara Madagaskar yaitu negara besar dan panjang/ tempatnya berdekatan di sebelah timur dari negara Absi/ adalah tempat pelabuhan kapal-kapal besar dari Nasrani/ cukup lama mereka menunggu di pelabuhan itu para pedagang dari negara India//
4. Demikianlah pemerintah negara Amerika Selatan adalah pengembara pada masa lampau/ asal mulanya orang Bungawan yang melarikan diri dari negara Eropa kemudian berkumpul di negara Amerika/ lama-kelamaan kemudian penduduk di sana menjadi penuh membangun rumah permanen/ distrik serta segalanya itu dapat ditiru dari negara lain//
5. Pegangan bahasa serat sastra Inggris sesungguhnya yang tetap digunakan diutamakan oleh dunia/ tetapi mentri perempuan be I um ada yang diangkat sebagai pejabat oleh raja tersebut/ kedudukan beliau sudah kuat di dalam memperoleh kemakmur an yang menyebabkan tidak ada pemberontakan/ disaat pergantian pejabat
I 0. Pada masa lampau Sri Kanwa menjadi raja di pulau Jawa/ asal mulanya menya_tu kemudian dipisahkan oleh lautan/kemudian seterusnya keadaan itu dibatasi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa pula//
I I. Demikianlah dari ikatan kedua itu/ manusia berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan yang sangat diutamakan di muka bumi/ asal mula para ulama menulis karangan berawal dari pulau Jawa/ demikian lah timbul keinginan hamba sedikit untuk meniru/ sebagai penghibur hati di dalam keresahan/ tetapi jauh sekali per bedaannya itu/ seperti apa yang diharapkan oleh di pembaca/ tiada lain hanya membuat silang pendapat//
- Sekarang sangat berbeda dari masing-masing kehendak manusia sebagai sarana dan segala rupa yang ada di muka bumi/ tiada lain Dewa Guru yang Maha Agung sebagai penguasa baik dan buruk d i muka bumi persada ini / banyak raja India bertanda mulia yang te rnama disaat sebagai penguasa/ karena beliau membe ri kebebasan terbatas/ siapa saja yang sesungguhnya yang akan terjadi dari takdir Tuhan//
- Keseluruhan Barata Warsa memang subur sebagai sumber usaha dunia/ adalah ciptaan Dewa Guru pada masa lalu yang ditulis di dalam usaha yang dilakukan oleh orang bijaksana/ ketermasyuran S ri Darmawangsa pada masa lampau demikian pula Sri Kresna/ semua musuh beliau hancur disebakan oleh topan yang mulia pada akhirnya mendapat kemenangan//
- Barna dan Kangsa putra Basudewa dibunuh oleh Kresna dan Arjuna yang pemberani dan bijaksana/ tidak diucapkan dari Raja Manca negara takut melihat beliau yang sangat sakti di bumi/ mereka sering menghadap ke surga atas panggilan Dewa Indra/ kemudian Niwatakawaca dibunuh oleh Arjuna, hancur lebur di medan laga//
- Entah berapa lamanya turun-temurun semuanya berhasil mengenyam kemuliaan dan sangat berani/ Raja Udayana sangat terkenal di negara Astina dan sangat sakti di bumi/ serta Sri Darma Malawa adalah sebagai raja pertama/ tiada lain di dunia beliau disebut Dewa Siwa dan pemberani memenangkan pertempuran//
- Ba nyak bilamana diceritakan kelangsungan kerajaan negara Janggala/ tidak kurang dengan akal/ pemberani dipertempuran/ bertujuan kemuliaan serta dipuji di lain negara/ sekarang banyak didatangi oleh wangsa yang berbeda-beda di dalam mengembang kan kekuasaan beliau di bumi/ sesungguhnya tampak jelas dari keseluruhan orang yang bijaksana mendapat pujian//
VII
l. Ucapan sastra utama yang diciptakan oleh sang pendeta bijaksana/ bukan sembarang orang yang dapat membuat dirinya terkenal di
VIII
I. Jika beriman teguh tidak lalai melaksanakan kebenaran yang mulia/ berarti ikhlas/ sabar menanti selalu tekun menunggu biarpun yang baik atau yang buruk/ berperilaku disiplin sangat setia yang menyebabkan menjumpai kebahagiaan yang tiada taranya// Bagi mereka yang telah disiplin diri/ berperilaku taat seperti langit tanpa mendung/ tidak menjadi orang pemabuk lain lagi bekerja sia-sia yang tidak bermanfaat/ perilaku sang yogiswara/ waspada dengan kepandaian tidak berbangga hati namun selalu menganggap diri miskin// .). "\ Penduduk di negara Barata Warsa pada masa lalu memeluk agama Siwa dan Budha/ kemudian agama Brahma dan agama Siwa itu adalah sebutan tunggal yang disebut oleh sang pendeta/ tetapi agama Budha itu tiada berbeda yang dilakukan oleh agama Siwa/ pelaksanaannya tunggal dari awal sampai seterusnya/ kemudian Siwa dan Budha itu tunggal//
4. Di situlah tempatnya Catur Wangsa menyatukan diri sesuai dengan agama Hindu tersebut/ negara lndustan juga termasuk penduduk Barata Warsa yang tekun memeluk agama Siwa/ sekarang sudah terjadi perubahan jaman negara Barata Varna Melayu mengutamakan nabhi (Islam)/ tetapi hanya di pulau Bali terus taat menganut agama Hindu//
5. Awalnya Raja Varna yang mengislamkan sesuai dengan Sarakirasululah yang memulainya/ raja Abra Wijaya kerajaan
lalu mempunyai seorang putri/ putrinya itu dinikahkan dengan putranya Arya Damar yang bertempat tinggal di Palellfbang/ putranya bernama Raja Sultan Pasah berwajah tampan dan terkenal di medan tempur//
- Setelah cukup beliau/ sangat mahir di dalam penguasaan ilmu sastra/ kemudian kembali datang ke pulau Jawa melenyapkan semua agama di muka bumi/ di situ Raja Abra Wijaya mengalami kekalahan/ terus mendesak dihancurkan dipertempurkan/ keter- desakan serta raja manca negara yang tertindak ikut mengislamkan bumi//
- Hancurnya agama Hindu berawal dari pulau Jawa sehingga lenyap tidak tersisa/ perginya ke daerah Brangbangan bersembunyi tanpa berdaya/ hancurnya istana Supiturang yang menyebabkan mereka melarikan diri terpencar-pencar menuju orang lain//
- Tidak diceritakan setelah habis musuh beliau/ kekuasaan Islam semakin luas/ seluruh kekuasaan Majapahit itu beralih agama termasuk semua raja-raja/ distrik/ wilayah/ sampai Padas termasuk jajahannya yang semuanya sudah dikuasainya/ tidak diucapkan ibu kotanya sudah bersih/ semua penduduknya menganut agama Sarakrasul//
- lngatlah perkataan Abra Wijaya itu bukannya Jayarsa pada masa lalu/ yang mengalahkan Jaya Prabu (Jaya Katong) sesungguhnya warisan beliau/ namanya sesuai dengan leluhur Abra Wijaya yang diperkirakan oleh rakyat/ kira-kria tiga ratus kali keturunan yang berawal dari raja Abra Wijaya// I 0. Tidak diceritakan keadaan penduduk pulau Jawa pada masa lampau/ yang banyak didatangi dari segala penjuru yang tidak dapat dihitungjumlahnya/ ada pula yang datang dari negara Eropa/ selain itu dari negara Amerika dan dari Serpa adalah negara angker bila dibandingkan dari semua negara tersebut// 11. Kemudian setelah setengah tahun lamanya mereka mengenyam ketentraman/ sesungguhnya tidak pernah merata turunnya hujan kadang-kadang hanya hujan gerimis/ dikala hujan jatuh bentukny a kental berwarna putih seperti lumpur lembut
berhamburan/ bilamana dipungut kemudian digulung/ akhirnya hancur menjadi air/
IX
Sepanjang luas kerajaan disinari oleh cahaya merah putih/ yang menyebabkan sinar matahari sedikit surarn/ segala yang dikerjakan mereka itu tidak sempurna/ demikianlah ciri-ciri di saat kerajaan itu mengalami kehancuran//
Matahari baru terbit tampak di tenggara/ kira-kira setelah setabuh gamelan lamanya matahari itu tampak bersinar/ salju berserakan meliputi dengan tebalnya//tampak di udara seperti orang berbedak putih//
- Pohon kayu dan rumah penduduk ditimbuni salju/ sepanjang tempat pemujaan semuanya tampak putih cemerlang/ selain itu di halaman juga penuh timbunan salju/ bila dilalui sangat meng halangi bagi mereka yang berjalan kaki //
- Air terjun dan telaga merasa asin/ serta semua air yang berada di dalam bak tampungan menjadi beku seperti/ keras putih/ kemudian baru susu dan lain lagi minyak//
- Semua sungai yang besar-besar keadaanya juga sama/ sehingga kereta berkuda dapat berjalan di atasnya/ banyak orang serempak berduyun-duyun/ lengkap dengan sepatu//
- Sinar matahari tidak begitu panas/ hancur dan menderita segala rumpu dan pepohonan/ sapi serta kijang-kijang berkeliaran memakan rumput dengan sedihnya/ semakin menderita sehingga merasuk ke dalam hati sanubari//
x
I. Kapa! besar berlayar tampak seperti api yang berkobar-kobar di tengah lautan/ itulah sebabnya mereka tidak berlayar dikala sepi yang menyebabkan mereka menderita/ keadaan lautan itu sudah jelas/ tidak akan dapat terhindar dari tenggelam/ demikan pula gelombang ombaknya besar meniru suara petir di saat sasih kapat//
I. Air sungai kental bercahaya seperti kaca/ sehingga kedua belah tangan tampak terbayang/ manusia beramai-ramai di atasnya bernyanyi beriang-riang/ mereka memakai kasut kaki yang dilapisi besi keras yang indah//
2. Mereka menepuk-nepuk air dengan telapak tangannya/ kemudian mereka tiba membawa air bersih/ di tempat kuda dan gajah peliharaannya untuk diberi air/ selain itu sapi unta semuanya dimandikan dan diberi air minum//
3. Semua binatang lindung kehausan dan kurus/ yaitu terwilu dan kijang berkeliaran kurang makanan sehingga kurus kering/ serta sernuanya dipenuhi salju yang mereka terhalang dalam perjalanan/ pasti berhasil tujuannya di pemburu bilamana datang untuk berburu//
XII
I. Ha wa mulai sejuk di kala rnendaki gunung/ angin berhernbus rnembawa harurnnya bau bunga/ rnendung berwarna merah putih di udara rn ernenuhi lang it/ terdengar suara petir di sebelah utara sangat ha I us seperti gad is cantik meringih disaat senggama/ burung bangau terbang berke lip-kelip/ ta rnpa k indah sepe rti kabut menuju Kak i gunung;. Orang di dalam istana ramai berkumpul-kumpul rn ereka amat leg.a hatinya / meraka yang ada di balai mandhapa merasa ked ing inan memakai selimut sangat menakjubkan/ perilaku bebas berb isik-bisik sarn bil tertaa pandangan matanya amat manis/ bau pakaiannya sangat harum keti ka ditiup angi n yang membuat hati tertarik// .., Setelah waktu berlalu entah berapa lamanya/ setelah lenyap musim -'. di ng. in di seluruh negara Eropa/ barulah pepohonan di hutan bersem i de mikian pula pohon bata mulai bersemi ketika kena huj an di waktu malam/ banyak tampak keindahan mempersona yang mengharukan hati mereka yang berada di istana/ tiada bedanya seperti sorgaloka turun ke bum i keindahan negara tersebut be rs inar cemerlang//
- Di pinggir sungai itu ada bangunan rumah yang indah dan bersih bentuknya sangat bagus/ di pelabuhannya penuh sampan dan kapal yang dihiasi dengan beraneka warna/ selain itu ada pula rel kerata api yang dilandasi dengan besi yang ditata rapi sepanjang jalan/ trim dan kereta memenuhi alun-alun yang sangat membuat hati terharu//
- Banyak cara olehnya memperlakukannya/ bilamana selalu dipikirkan keadaan itu/ tidak disebutkan di pasarnya sangat ramai/ tidak kurang dari seluruh hasil bumi/ serta keindahan dari segala barang jualannya sangat menarik/ dengan segala cara berbeda- beda menjajaginya/ demikian pula bila dibanding-kan dengan kemewahan istana yang didatangi oleh orang bijaksana//
- Banyak gudang segala bentuk kepegawaian ada di negara tersebut/ termasuk pantai emas/ selain itu ada loka karya untuk memamerkan hasil pekerjaannya/ ada pula pabrik keramik dan pabrik kaca yang sama indah dan sama bentuk tiada kekurangan/ beraneka macam pabrik yang dibangun oleh para ahli sesuai dengan bidangnya//
- Bangunan besar tempat pengecapan buku-buku yang beraneka warna bentuknya/ tidak sama huruf dan bahasanya semua terkumpul berada di situ/ serta gambaran yang beraneka warna dan karpa yang dibentangkan dipamerkan di tern pat tersebut tiada lain tampak seperti bangunan badhe yang dihiasi dengan ribuan karangan oleh beliau yang pandai mengarang//
- Banyak tempat perguruan membaca menulis segala bidang ilmu di dunia/ antara lain/ doktor serta ahli nujum ilmu falak semuanya disediakan tiada kurang/ lain lagi segala biksu masuk mempelajari untuk mengetahui ilmu pengetahuan/ tetapi sangat berbeda rupa hurufnya yang diciptakan oleh Haji Mister//
- Negara tersebut sangat tentram dan makmur/ mereka yang jahat merasa takut mulai sadar/ baik dan buruk itu telah diambil kemudian diterapkan di negara tersebut/ tetapi pelaksanaannya bebas hukuman mati/ mereka dibuang ditempat terpencil/ walaupun dibayar dengan uang, itu tidak berarti, tapi dia tetap dosa//
I 0. Cukuplah sudah karangan ini yang ditulis oleh si bodoh tak beriman/ kebingungan yang menghancurkan sehingga sengsara berat; semoga lenyap di lubuk hati-sanubari/ dengan harapan semoga berkurang kedukaan; itulah sebabnya hamba menulis kakawin (ini)I semoga hamba dimanfaatkan oleh pendeta bijaksana yang paham dalam segala bidang ilmu pengetahuanl/ o II
ANALISIS NILAI-NILAI TENT ANG LINGKUNGAN HIDUP
Derap pembaharuan di masa kejayaan Kerajaan Hindu telah menggema ke seluruh pelosok Nusantara. Sekitar raturan tahun yang sudah lewat, reruntuhan kebudayaan Hindu telah berserakan di beberapa tempat yang secara perlahan-lahan disusun kembali. kemudian berkembang dan tumbuh secara pesat. Kebudayaan Hindu di persada bumi Indonesia keberagaman dalam keseragaman. tumbuh kembang sesuai potensi dan kondisi masing-masing kawasan melalui proses adaptasi yang terus menerus serta berkelanjutan.
Bali sebagai satu di antara masyarakat yang terbanyak mendukung kebudayaan Hindu di Indonesia ini, tidak pernah kehilangan kontak dengan pusat-pusat orientasinya seperti Gunung Agung, laut selatan, danau, sungai, dan tempat-tempat lainnya yang dianggap kermat. Bali sebagai suatu lingkungan sosial yang dapat dikatakan klasik, lingkungan terbangunnya antik dan lingkungan alamnya unik namun mereka tidak menutup diri terhadap pembaharuan.
Bentuk-bentuk kebudayaan luar yang tetap mencoba masuk dalam rangka penyebaran agama, kiprah koloni atau gejolak ekonomi global dan kepariwisataan, adakalanya nampak menggebu dan sangat bemafsu ingin merontokkan budaya lama. Budaya luar juga ingin berdiri di atas puing-puing budaya lama yang semakin lama semakin redup
Satu diantara cara untuk mempertahankan berbagai gejolak yang hadir di sekitar kehidupan masyarakat Bali adalah tetapi menjalankan kegiatan agamanya. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu merasakan adanya kekuatan agama yang mereka miliki, segala hambatan dan tantangan akan dapat diatasi. Apalagi agama unsur agama Bali tercakup hampir sempurna dalam konteks budaya Bali. O leh sebab itu dapat dikatakan agama Hindu yang dianut masyarakat Bali adalah kebudayaan Bali itu sendiri.
4.1 Konsep Dasar Orang Bali Tentang Semesta Alam Konsep dasar orang Balai mengenai alam semesta atau Bhuana Agung adalah Stana Tuhan Yang Mahakuasa. seperti yang disebut kan dalam Yajur Weda, XXX, I sebagai berikut : i:,yavasyam idam sarwam. Jagatyat kimcajagatyajagat artinya Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa berstana di dalam semesta yang bergerak atau yang tidak bergerak. Jadi seluruh alam semesta dengan segala isinya merupakan stana Tuhan, artinya tidak ada bagian dari alam ini yang tidak dikuasai dan tidak diketahui oleh Tuhan. Ajaran inilah yang merupakan dasar untuk berperilaku setiap orang Bali terutama mereka yang menganut agama/ kepercayaan Hindu-Bali. Menurut kepercayaan Hindu-Bali, alam ini terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berjiwa dan tidak berjiwa. Bagian yang berjiwa adalah mahkluk hidup atau Sarwa Prani terdiri atas tawira atau tumbuh-tumbuhan, Janggama atau hewan, dan Praja atau manusia. Bagian yang tidak berjiwa terdiri atas lima unsur yaitu : Pertiwi atau bumi, Apah atau api, Bayu atau angin, Teja atau air, dan Akasa atau angkasa. Kelimanya biasa disebut Panca Maha Bhuta. Adanya penataan wilayah atau Palemahan dalam hukum Hindu-Bali, terlihat jelas
Selanjutnya, menurut hukum Hindu-Bali, Tuhan turun atau Awatara menjiwai tiga alam ini. Di Bhur Loka, Tuhan menjadi Siwa, di Bhuwah Loka, Tuhan menjadi Sada Siwa dan di Swah Loka, Tuhan menjadi Parama Siwa. Dengan kata lain, Tuhan adalah j iwa dari ketiga alam ini atau Tri Bhuwana yang sering disebut dengan Sang Hyang Tri Purusa.
Ada dua cara penataan yang dilakukan manusia di alam semesta ini, yaitu secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal bermakna bahwa manusia dalam hidupnya harus mendaki dari hidup sebagai makhluk yang tanpajiwa meningkat menjadi makhluk yang berjiwa, kemudian maju terus menjadi makhluk yang berjiwa bijaksana. Kata M .uusiu, mempunyai arti yang sudah memiliki kebijaksanaan dan dari sinilah terus meningkat menjadi suci dan kembali ke alam Tuhan. ~ ecara horizontal bermakna manusia menyelenggarakan hidupnya di alam yang disebut Mandala, terbagai menjadi tiga yaitu Nista Mandala. Madya Mandala dan Utama Mandala. Di alam semesta ini, manusia melakukan kegiatannya baik untuk dirinya sendiri maupun dengan sesama dan dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hubungan yang terjalin harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya, dengan sesamanya dan dengan sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lebih lanjut dijelaskan dalam Bagwadgila III. 10: manusia atau Praja harus selalu berhubungan harmonis berdasarkan Yadnya, antara sesama manusia, kepada Tuhan atau Praja Pali dan dengan alam lingkungannya atau Kamadhuk. Konsep seperti ini, lebih dikenal dengan istilah Tri Hila Karana, yang mempunyai arti sebagai berikut : Tri artinya tiga, Hila artinya bahagia atau sejahtera, dan Karana artinya penyebab. Apabila ketiga unsur yang tercakup dalam konsep Tri Hita Karana, yaitu manusia, Tuhan, dan alam lingkungan dapat menjalin hubungan yang harmonis, maka selanjutnya akan tercapai kebahagiaan.
Se lain hakikat Bhuwana Agung. terdapat juga hakikat Bhuwana A/it yang terdiri atas lima unsur juga. Dalam kitab Wrhaspali Tattwa disebut bahwa Bhuwana A lit terdiri atas tiga bagian yaitu Stu/a Sasira,
Suksama Sasira. dan Ania Karana Sasira, yang ketiganya di sebut Tri Sasira. Tujuan Tuhan memberikan manusia Tri Sasira itu adalah untuk alat mendapatkan Dharma, Artha. Kama. dan Moksa atau yang bi sa dikatakan sebagai tujuan hidup manusia di muka bumi.
Bhuwana Agung sebagai wilayah atau palemahan untuk men dapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksa, maka terlebih dahulu manusia harus berbuat atau beryadnya kepada Bhuwana Agung. Karena itu, di dalam Saracamuscaya 135. ada di sebutkan kewajiban untuk menyejahterakan alam atau Bhuta. A lam yang pertama-tama disejahterakan adalah alam lingkungan hidup yaitu tempat tinggal manusia. Setelah tercapai kesejahteraan alam lingkungan hidup, maka manus ia akan mendapatkan keempat tujuan hidup.
Jadi, tujuan pelestarian dan penataan palemahan adalah untuk petama-tama mensejahterakan Sarwa Prani dengan tujuan untuk tetap terj amin tegaknya manusia mendapat C atur Warga atau Catur Purusartha. Konsepsi kitab suci Hindu-Bali ini, menyebabkan manusia Hindu demikian tingginya menghormati dan menyayangi alam dengan segala isinya. Dan ini pula yang menyebabkan banyak dilangsungkan upacara-upacara untuk melestarikan alam semesta dengan segala isinya. Upacara ini yang disebut Bhuta Yadnya. Tujuan Bhuta yadnya adalah memotivasi umat Hindu-Bali secara ritual dan spritual agar selalu berusaha menyejahterakan alam lingkungan. Bhuta Yadnya bukanlah untuk menyembah alam, tetapi memberikan kasih sayang pada alam dan segala isinya.
4.2 Nilai-nilai Yang Terkandung Dalam Teks Kakawin Durmanggala
Kakawin Durmanggala adalah sebuah hasil sastra kuno yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuna. Dalam karya sastra kuna ini, tersirat sejumlah ilmu pengetahuan mengenai isi bumi, gejala alam dan keadaan alam. Secara umum, teks Kakawin Durmanggala mengetengahkan tentang gejala-gejala alam yang mengandung nilai-nilai ilmu pengetahuan yang pada dasarnya mengajatakan kepada manusia tentang sumber malapetaka. Sumber-sumber malapetaka yang
.J.2. 1 Gejala Alam Sebagai Ciri-ciri Buruk Pada bagian pertama teks Kakawin Durmanggala, ayat kedua
(2), disebutkan : Petir bersuara gemuruh menakjubkan disertai hujan menyebabkan bumi gem pa/ matahari di kelilingi sinar berkat yang amat menakjubkan di langit/ demikian pula bulan dikelilingi sinar berkat yang disertai hujan debu yang deras/ juga tampak sinar matahari kemerah-merahan sewaktu terbenam dan terbitnya di gunung sebelah timur// Akibat petir yang muncul dengan suara yang bergemuruh, akan terjadi gem pa yang menimbulkan kekacauan di bumi. Banyak binatang yang mengamuk seperti sapi berlari dengan ganasnya, burung-burung memangsa anaknya, kijang, kerbau, kambing, ayam, babi dan itik saling berperilaku aneh, berpasang-pasangan dengan perempuan beda jenis dan kemudian lahir anaknya berbeda rupa dan perilaku.
Munculnya matahari yang mengeluarkan cahaya kuning ke bumi dan petir terjadi di segala penjuru bumi disebutkan pada bagian pertama ayat kelirna (5) :
Matahari rnenyinari sinar kuning ke bumi dan petir dari sernua arah/ serta di seluruh pelosok desa-desa rnengalarni kepanasan rnatahari terik yang tidak berrnanfaat/ selain itu suara gemuruh disertai putaran debu yang ditiup angin kencang/ terbang berhembus sehingga ke udara meliputi sinar matahari//
Bila kemunculan matahari yang bersinar kuning tidak pada bu Ian J estra Sada maka akan mengakibatkan bumi menjadi kacau, hujan yang turun terus menerus membuat tanaman padi menjadi kurus dan rusak. Peperangan terjadi di mana-mana, kepada negara akan mengalami penderitaan yang luar biasa karena serangan musuhnya yang kuat dan dahsyatnya sehingga menghancurkan bumi.
Pada waktu tertentu, misalnya pagi hari dan sore hari, di langit muncul pelangi yang tidak mengeluarkan cahaya disebutkan pada bagian pertama ayat ketujuh (7) :
Sela in itu ada pelangi tidak bercahaya dan petir yang menyebabkan j arang jatuhnya hujan/ maka kecil aliran air yang keluar dari lobang gunung yang tiba-tiba discrtai lahar jatuh dari puncak gunung sehingga terjadi gempa/ Tetapi bilamana ciri-ciri itu muncul di sasih Karo menyebabkan bumi menjadi tenteram/ bilamana selain dari sasih tersebut menyebabkan negara kelaparan dan penyakit tak henti- hentinya//
Dilanjutkan kemudian pada bagian kedua ayat keempat ( 4), disebutkan munculnya pelangi dan mendung yang tebal di langit:
Bilamana pelangi seperti mendung yang tebal di langit, berada di pelosok desa-desa/ sesungguhnya sang Raja wafat bilamana ada ciri-ciri buruk seperti itu/ bilamana muncul pelangi di antara pohon-pohon kayu manusia banyak menderita/ walaupun pelangi itu muncul di gunung pertanda akan perang//
Akibat munculnya pelangi tersebut maka banyak orang yang kan mati disebabkan berak sampai pingsan serta muntah berak sampai tidak bertenaga. Manusia yang hidup di bumi akan tinggal sedikit dan
munculnya keadaan yang aneh pada tumbuhan pisang tersebut maka terjadi pula keanehan di bumi. Udara yang sejuk terasa tidak sejuk karena teriknya matahari menyebabkan terbakar bumi. Binatang kijang berlari terpencar-pencar ke segala penjuru dan mengalami kesakitan, burung gagak mengeluarkan bunyi yang lain dari biasanya, yaksa dan raksasa terlihat bernyanyi-nyanyi di jalan bersuka ria. Negara akan kacau, banyak dari rakyatnya kelaparan dan kesakitan karena diserang wabah penyakit. Termasuk bayi-bayi akan mengalami kesakitan akibat cuaca yang buruk. Binatang di bumi akan berperilaku aneh, lain dari biasanya seperti lembu atau sapi mempunyai anak yang memiliki tanduk bercabang tujuh dan berbeda rupa dari indunya.
Awan yang muncul di langit dengan tebalnya berwarna hitam disebutkan pada bagian kedua ayat pertama ( 1) :
Di langit tampak mendung yang tebal seperti gunung besar tegak/ menjulang tinggi di malam hari turun hujan Jebat terus menerus itu sesungguhnya bertanda sangat buruk/ serta bilangan mendung di langit tebal sekali berwarna hitam/ tikus banyak tak putus-putusnya serta belalang banyak sekali//
Wabah penyakit akan muncul di bumi yang disebabkan banyaknya tikus yang berkeliaran dan meninggalkan kuman penyakit. Manusia
banyak yang diserang oleh kuman penyakit tersebut, serta belalang berterbangan di udara dalam jumlah yang banyak, sampai menutup pandangan mata. Demikian pula halnya apabila muncul awan mendung yang berwarna putih disebutkan pada bagian kedua ayat kedua (2) :
Mendung berwarna putih memenuhi langit dengan tiba-tiba/ burung-burung musnah banyak yang mati mereka tidak tahu tujuan terbangnya banyak yang jatuh/ bilamana bersih bayangan mendung itu berarti sungai-sungai banyak yang kering banyak yang menderita/ perangpun berkecamuk sangat dahsyat bilamana muncul ciri-ciri buruk yang demikian//
Apabila keadaan mendung yang hitam digantikan secara tiba-tiba oleh mendung berwarna putih dan menutupi seluruh permukaan bumi, itu pertanda bahwa bumi akan mengalami kekacaunjuga. Banyak burung yang musnah karena bingung tidak tahu arah tujuan terbangnya, sungai-sungai menjadi kering dan menusia akan menderita kehausan serta perang terjadi di mana-mana. Para pemimpin negara yaitu sang raja dan mentrinya akan mengalami sakit sampai meninggal dunia.
Gerhana matahari yang terjadi di bumi dan mengeluarkan sinar yang berputar melingkar terlihatjelas oleh mata disebutkan pada bagian kedua ayat keenam (6):
Bilamana ciri buruk itu muncul pada bulan gelap kelima belas banyak majikan mengalami penderitaan/ banyak kenyataan yang timbul ciri-ciri buruk berbeda-beda/ matahari gerhana dan sinarnya selalu berlingkaran itu bertanda bumi panas terik/ banyak sekali cahaya tanda- tanda buruk, maka waspadalah dari timbulnya ciri-ciri buruk untuk mencari kebaikan//
Bumi akan mengalami kepanasan yang sangat dahsyat, sehingga manusia banyak yang mati kepanasan. Tiada lagi tempat berlindung, manusia akan musnah dari permukaan bumi.
Selanjutnya kedudukan bintang dan bulan di langit sebagai pertanda bahwa bumi akan mengalami kekacauan, disebutkan pada bagian keempat dalam beberapa ayat yaitu :
lagi bintang-bintang itu di sebelah Utara bulan/ sinarnya merah seperti api berkobar/ itu pertanda akan terjadi kekeringan/ itu dapat digunakan sebagai alat ukur untuk kehidupan manusia di bumi//
Ayat kelima (5):
Bilamana bulan itu tepat berada pada belahan bumi/ kemudian ada bintang besar yang muncul di hadapan bulan itu/ keadaan yang demikian itu disebut buruk/ bumi menjadi kacau balau banyak pembicaraan tidak ada ujung pangkalnya//
Ayat keenam (6) :
Bilamana kedudukan bintang mendekat di belakang bulan/ Sinarnya merah padam mengkilat tampak berkedip-kedip/ itu pertanda bumi akan kacau dan musuh banyak datang menghancurkan/ waktunya itu tidak berselang lama hanya tiga bulan dari munculnya ciri-ciri itu//
Ayat ketujuh (7) :
Di dalam perputaran bulan itu, selalu diikuti oleh bintang/ bila dihitung tempatnya tidakjauh dari bulan tersebut/ bukan lain sebutan itu, ada pembesar yang wafat/ tetapi satu bulan jaraknya dari munculnya ciri-ciri buruk itu//
Ayat kedelapan (8) :
Bilamana bintang itu muncul di sebelah Timur Laut/ demikian pula muncul di sebelah Tenggara/ kesemuanya itu tidak baik kemana kita selalu mendapat bencana/ serta didatangi musuh yang bukan main banyaknya//
Ayat kesembilan (9) :
Bilamana tampak bintang mendekat mengapit bulan/ kedudukan bintang itu berada di Utara dan Selatan bulan tersebut berada di tengah- tengah/ itu ciri-ciri berjangkitnya penyakit, kemudian banyak yang mati berusung-usung/ termasuk pemimpin nasehat wafat dan bumi akan menjadi hancur//
Ayat kesepu luh (I 0) :
Muncul bintang itu tidakjauh tempatnya/ beradadi sebelah Timur dan Barat mengapit bulan/ itu disebut pikul kunapa (usungan mayat) keberadaan itu kurang baik/ banyak berjangkit penyakit dan para pembesar mengalami kesedihan//
Ayat kesebelah (11):
Bilamana bulan itu berada di sebelah Baratnya/ serta ada bintang muncul di belakangnya/ itu disebut anwal kendang bukan main buruknya/ sama hebatnya seperti sang Ka/antaka di masa datang waktunya 360 tahun//o//
Kemudian timbulnya hujan disertai debu menyebabkan bumi menjadi kacau disebutkan pada bagian ketiga ayat kedua (2) :
Hujan debu berterbangan, itu disebut membuat penyakit/ itu tanda- tanda rakyat akan menanggung penderitaan/ itu bukan main buruknya semua rakyat menjadi panas dan kesakitan/ itu ciri-ciri timbulnya penyakit manusia yang berulang-ulang//o//
Kesengsaraan yang dialami manusia di bumi yang disebakan datangnya hujan debu menutupi seluruh permukaan bumi, terlihat dari banyaknya manusia yang sakit dan menderita akibat penyakit tersebut. Kesakitan yang tiada taranya diderita manusia di bumi, dan berulang-ulang sampai manusia itu meninggalkan bumi (mati). Dan segala isi bumi akan musnah sama seperti halnya manusia mengalami kem usnahan.
4.2.2 Gejala Alam Sebagai Ciri-Ciri Baik Demikian sesungguhnya ada gejala alam yang terjadi di bumi adalah awal kebahagiaan bagi manusia, karena pertanda bumi akan baik dan makmur. Bumi akan mengeluarkan kebaikannya, karena tumbuh-tumbuhan akan tumbuh subur dan menghasilkan buah yang lebat. Bumi akan menjadi tenteram dan manusia yang tinggal di bumi akan mendapat kebahagiaan pada waktu tertentu. Munculnya hal-hal yang aneh bagi pandangan manusia, terutama dalam dunia fauna atau hewan disebutkan pada bagian pertama ayat keempat (4):
Pada bulan kesebelas, ada rnuncul rnatahari yang mengeluarkan sinarnya berwarna kuning, rnaka itujuga pertanda bahwa bumi akan tenteram (tertulis pada bagian pertarna ayat kelirna dan keenarn ). Pada bu Ian kedua, rnuncul pelangi yang tidak bercahaya dan petir yang rnenyebabkan jarang turun hujan rnaka itu pertanda bahwa burni akan rnenjadi tenterarn (tertulis pada bagian pertarna ayat ketujuh). Di saat bulan kelirna dan keenarn, rnuncul rnatahari yang rnengeluarkan sinar yang cukup terik, dan udara yang sejuk, itu pertanda bahwa burni akan rnakrnur (tertulis pada bagian pertarna ayat keduabelas).
Selanjutnya kedudukan bu Ian dan bintang di langit akan rnembawa kernakrnuran bagi burni disebutkan pada bagian keernpat dengan ayat sebagai berikut :
Ayat pertarna (I) :
Bulan berada di sebelah Timur bersi nar cerah/ ada bintang mendekat di atas dan di bawah sinar bulan/ itu sangat rnulia sekali disebut turnpang mesi/ burni dan sernua rakyat rnenjadi rnakrnur dan tentrarn//
Ayat kedua (2) :
Bilamana hanya satu berada di atasnyajuga disebut baik/ bilarnana letaknya di bawah bu Ian/ juga rnernbuat bumi rnakrnur/ sesungguhnya bulan itu rnernberi kesejukan seluruh negara//
Ayat keernpat (4) :
Lain lagi bintang-bintang rnengapit sinarnya bulan/ yang satu ternpatnya di sebelah Utara, yang satu lagi berada di Selatan/ bulan itu berada di tengah-tengah sinamya cemerlang tanpa mendung/ itu disebut burni akan rnakrnur keberadaannya akan makmur sekali//
dalam naskah Kakawin Durmangga/a secara berulang-ulang, bahwa raja dan para mentrinya serta pendeta mempunyai peran yang sangat penting dalam melestarikan lingkungan alam dan segala isinya yang disebut dengan lingkungan hidup. Seperti sudah dijelaskan, ada 3 unsur yang banyak terdapat di alam lingkungan ini yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ketiga unsur ini tidak terlepas satu dengan lainnya, melainkan saling terkait sehingga membentuk satu ikatan yang kuat.
Raja dan pendeta adalah wakil Tuhan yang berkedudukan di bumi ini dan dianggap lebih pantas mengatur bumi ini di antara ciptaan Tuhan lainnya. Oleh sebab itu, sebagai makhluk yang diberi wewenang dalam mengatur keseimbangan alam dengan lingkungan hidup, mau tidak mau raja dan pendeta harus segera mengerti apabila terjadi gejala-gejala alam. Raja yang mempunyai kekuasaan tertinggi sebagai kepala negara wajib melindungi rakyatnya dibantu oleh para mentrinya, sedangkan pendeta sebagai tokoh agama wajib memberitahukan kepada pengikutnya tentang pelaksanaan ajaran-ajaran agama yang disesuaikan dengan pelestarian alam lingkungan termasuk lingkungan hidup. Disebutkan antara raja dengan pendeta harus terjadi hubungan kerjasama, pada bagian kedua ayat ketujuh (7) :
Demikianlah pula sang raja jangan segan-segan melindungi negara/ puja di sana serta upacara penyucian dilakukan agar mencapai kemakmuran negara/ ketentraman negara serta membangun wihara agar selalu dilindungi dengan seksama/ bilamana sudah demikian sang Raja akan terhindar dari malapetaka dan terkenal negara mendapat kemenangan//
Munculnya gejala alam terutama yang bemilai buruk terhadap bumi, maka sang raja harus berembuk dengan sang pendeta untuk segera menghindar dari malapetaka yang bakal terjadi. Disebutkan pula pada bagian keen am ayat keempat ( 4) :
Apabila jatuh pada hari Jumat penderitaan berkelanjutan dan penyakit berjangkit yang tidak dapat dihindari/ bi la jatuh pada hari Sabtu keadaan lautan menjadi suram hujan jatuh terus menerus/ itu agar selalu digunakan sebagai pegangan dari ciri-ciri nyata di muka
Pendeta karena be liau berdua yang dapat rnernbuat ketentrarnan negara//
Menurut keyakinan sang raja dan pendeta, rnaka satu diantara usaha yang harus dilaksanakan untuk dapat rnenghindarkan diri dari gejala alarn yang rnerupakan ciri buruk adalah rnernbuat upacara pernbersihan. Disebutkan pada bagian ketiga ayat pertarna (I) :
Diucapkan di dalarn sastra sangat berbobot hendaknya jangan dilupakan/ sinar bulan purnama sangat indah kemudian gerhana/ demikian pula pada bulan ketujuh muncul gerhana bulan yang menyebabkan sinarnya menjadi gelap/ agar bumi itu menjadi makmur harus dibuat upacara pembersihan//
Dem ikian besarnya peranan raj a dan pendeta untuk menyelamatkan manusia di muka bumi dengan melakukan puja brata disebutkan pada bagian kelima ayat kedua (2) :
Pada saat yang demikian itulah sepantasnya bagi mereka berkemauan melakukan/ puja brata untuk mencapai kemuliaan/ untuk melenyapkan noda-noda dan bencana pada diri manusia maka bumi menjadi makmur dan semua rakyat merasa bahagia//
./.2. ./ Dewa Dan Kekuatan Sakti Seperti sudah dijelaskan, bahwa dewa-dewa di dalam kehidupan rnasyarakat Bali merupakan manifestasi Tuhan. Mereka percaya bahwa para dewa adalah titisan Tuhan dan ditempatkan tidak sama dengan manusia yaitu di Swah Loka. Dari tern pat ini, para dewa yang dianggap suci memantau kegiatan manusia di muka bumi. Karena itu, dewa mempunyai tugas untuk mengatur kehidupan alam dan sekaligus menyelamatkan lingkungan hidup. Dalam kepercayaan Hindu-Bali, peranan dewa sangat erat kaitannya dengan gejala-gejala alam yang rnuncul di bumi, disebutkan dalam beberapa ayat yaitu :
Ayat pertama (I) :
Disitulah para dewa-dewa berkumpul yang dilakukan di bumi/ dewa Wasundari sedang beryoga dengan tekunnya/ apabila di saat
Pada bulan Bhadrawadajika terjadi gempa/ Dewi Gangga beliau beryoga sebagai dewa yang bijaksana/ untuk menjaga dunialah katanya agar tidak terhalang/ tidak akan mendapat halangan dan rintangan sang Raja serta semua mentrinya senang//
Ayat keempat (4):
Bilamana timbul gempa dahsyat di waktu sasih ketiga/ Dewa Wisnu bertemu untuk menyelamatkan bumi/ maka banyaklah tanaman-tanaman tum buh subur berbuah dengan lebatnya/ orang-orang yang j ahat sadar mereka semuanya berbudi mulai//
Ayat kelima (5) :
Bilamana timbul gempa dahsyat di sasih kapat/ Dewa Prajapati beryoga dengan tekun/ padi-padi serempak menguning dengan megahnya/ disertai dengan hujan yang turun terus menerus//
Ayat kesebelas (I I) :
Bilamana terjadi dahsyat pada sasih Kadasa/ terhindar dari wabah penyakit tanaman padi menjadi subur berbuah lebat/ segala tanaman cepat besar terhindar dari penyakit/ Dewa Sangkara melakukan yoga memberikan kebahagiaan//
Adakalanya para dewa yang menguasai jagat raya (bumi) ini menjadi luar biasa marahnya, karena kelakuan manusia yang tidak semena- mena menimbulkan terjadinya gempa, disebutkan pada bagian kelima dalam beberapa ayat yaitu :
Ayat keenam (6) :
Bilamana timbul gempa di sasih kelima/ Dewa lswara beryoga dengan dahsyatnya/ banyak timbul penyakit dan penjahat yang disebabkan oleh sasih tersebut/ bumi menjadi kelaparan tidak ada yang merasakan bahagia/
Ayat ketujuh (7) :
Bilamana timbul gempa di sasih kanem Dewa Uma beryoga/ bum i menjadi kacau semua rakyat kesusahan/ banyak pen yak it
calon istrinya sarnpai mengalarn i kernatian//
Ayat kedelapan (8) :
Bilarnana tirnbul gernpa di sasih Kapitu/ Dewa Guru beryoga yang rnenyebabkan antara lain / sang Raja dan bung pendeta rnerasa kesusahan/ serta beliau dituduh berbuatjahat yang rnenyebabkan burni menjadi hancur//
/\yat kesembilan (9) :
Bilarnana tirnbul gernpa di sasih Kaulu/ Dewa Rudra beryoga di saat sasih itu/ burni menjadi kelaparan lain lagi terjadi pertengkaran disetiap saat/ itu ciri-ciri bumi akan hancur rnaka berhati-hatilah//
Ayat kesepuluh (I 0) :
Bilarnana timbul gernpa di sasih Kasanga/ Dewa Sri Preta Raja beryoga sangat ganasnya/ rnenjadi galak yaitu sapi dan anjing bertengkar sama kawannya/ selain itu hujan api yang menghancurkan burni dan terjadi kelaparan//
Ayat keduabelas ( 12) :
Dewa Sumbu beryoga dengan ganasnya/ disaat sasih Jastra yang menyebabkan bumi gempa sehingga bergoyang/ burni rnenjadi hancur lain lagi bencana berat tirnbul tak henti-hentinya/ banyak pedagang yang dirarnpas oleh penjahat//
Ayat ketigabelas ( 13) :
Di bulan (sasih) Sada terjadi gernpa dahsyat/ Sri Naga Raj a beryoga selalu bergerak/ burni rnenjadi kekeringan dan kelaparan t~rjadi terus menerus/ wabah penyakit berjangkit rnerajalela terus bertambah tak henti-hentinya//
.J. 2. 5 Gerhana Bulan dan !vlatahari Gej al a alam yang tampak mendominasi pengetahuan yang di rn il iki masyarakat Bali adalah tentang gerhana, baik itu gerhana rnatahari atau bulan. Pengetahuan yang di sarnpai kan melalui gejala alam
tersebut, tampaknya menjadi dasar untuk berperilaku oleh sebagian besar mereka. Hampir seluruh ayat yang ada pada bagian keenam mengetengahkan tentang gerhana bulan, matahari, dan bulan terang serta hari terjadinya, dikaitkan dengan akibat yang akan dialami manusia di muka bumi ini. Tentang gerhana bulan disebutkan :
I. Apabila terjadi hari Minggu, itu pertanda sangat buruk, banyak bayi akan menderita di masa kecilnya.
2. Apabila terjadi hari Senin, itu pertanda kurang baik, banyak penjahat selalu mondar mandir di muka bumi.
3. Apabila terjadi hari Selasa, itu pertanda buruk, binatang-binatang musnah.
4. Apabila terjadi hari Rabu, itu pertanda buruk, banyak binatang yang mati tidak dapat disembuhkan penyakitnya.
5. Apabila terjadi hari Kamis, itu pertanda tidak baik. banyak perempuan menderita.
6. Apabila terjadi hari Jumat, Sang Raja merasa resah.
7. Apabila terjadi hari Sabtu, akan terjadi hujan api dan penjahat banyak berkeliaran. Demikian pula dengan gerhana matahari, disebutkan sebagai berikut:
I. Apabila terjadi hari Minggu, bumi menjadi kelaparan
2. Apabila terjadi hari Senin, segala tanaman palawija menjadi rusak.
3. Apabila terjadi hari Selasa, banyak pendusta.
4. Apabila terjadi hari Rabu, segala binatang peliharaan menderita penyakit, dan raja menanggung nestapa.
5. Apabila terjadi hari Jumat, penderitaan berkelanjutan dan penyakit berjangkit yang tidak dapat dihindari.
6. Apabila terjadi hari Sabtu, keadaan lautan menjadi suram hujan jatuh terus menerus. Terjadinya bulan terang di dalam kehidupan masyarakat Bali, selanjutnya disebutkan :
I. Apa jatuh pada bu Ian pertama, maka sama-sama mulia menjum pai kebahagiaan yang luar biasa.
2. Apabilajatuh pada bulan kedua, segala pekerjaan berjalan lancar demikianlah keberhasilan seorang pengarang menciptakan sebuah keindahan.
3. Apabila jatuh pada bulan ketiga, keluarganya merasa senang melihat sang raja bersama permaisurinya. Lenyap segala keburukan tidak ada keraguan hati di dalam bertindak selalu mendapat keberhasilan.
4. Apabilajatuh pada bulan keempat,janganlah bersifat aku niscaya akan menjumpai bencana yang tidak dapat dihindari.
5. Apabilajatuh pada bulan kelima, sangat baik melakukan upacara keluarga terutama upacara putra.
6. Apabila jatuh pada bulan keenam, menjadi sakit hati yang berkelanjutan.
7. Apabila jatuh pada bulan ketujuh, menjelma sebagai manusia menjadi bahagia serta anaknya bahagia yang berkepanjangan.
8. Apabila jatuh pada bulan kedelapan, timbul kejahatan yang diperbuat oleh istri yang menyebabkan pikiran menjadi keruh.
9. Apabilajatuh pada bulan kesembilan, manusia berperilaku tidak sopan santun, baik itu dalam berbicara maupun dalam bertindak sehingga hubungan di dalam keluarga menjadi renggang dan menuju kesengsaraan. I 0. Apabila jatuh pada bu Ian kesepuluh, sangat baik yang menyebabkan manusia mengalami kebahagiaan. 11. Apabilajatuh pada bulan kesebelas, manusia mampu mengerjakan atas perintah majikannya.
12. Apabila jatuh pada bulan keduabelas, mereka yang ingin minta pertolongan mendapat sakit hati yang sulit untuk dihindari.
13. Apabila jatuh pada bulan ketigabe las, akan menjumpai kebahagiaan dimanapun ia tinggal.
.. akan menjumpai kesengsaraan yaitu cercaan dari majikannya.
- Apabilajatuh pada bulan purnama, di dalam kehidupan manusia di bumi ini akan tidak berhasil, selalu mendapat bencana dari sesama manusia. Pada saat ini, gereja alam yang diungkapkan di dalam naskah Kakawin Durmanggala masih sangat dipercayai oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu-Bali. Kepercayaan mereka itu dituliskan kedalam penanggalan (kalender) Bali. Dalam penanggalan yang hampir dimiliki oleh setiap keluarga Bali, dijelaskan antara lain mengenai hari, bulan terang dan bulan gelap serta kejadian alam yang akan terjadi dikaitkan dengan hari-hari tertentu. Pada bagian keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan dari naskah Kakawin Durmanggala ini menuliskan tentang hal-hal tersebut. Cara menghitung keadaan bulan dan matahari yang secara mahir dilakukan para dewa dan guru zaman dahulu tertulis dengan biak di dalam penanggalan tersebut. Di dalam setiap bulannya, ada hari-hari tertentu yang melarang manusia melakukan aktivitasnya sehari-hari, misalnya hari Nyepi, atau harus mengurungkan niat untuk bepergian jauh ke lain tempat karena akan ada musibah yang akan terjadi. Selain itu, ada hari yang dipercayai sangat baik untuk melaksanakan upacara, terutama upacara penyucian diri. Adapun tujuan itu supaya manusia di bumi umumnya, masyarakat Bali khususnya dapat mengingat dan melaksanakan hari-hari yang disebutkan dalam penanggalan tersebut, karena dengan menjalankannya tercapai keseimbangan antara manusia dengan lingkungan alamnya terutama lingkungan hidup tempat manusia tinggal.
4.3 Ni/ai-Nilai yang Terkandung dalam Naskah Kakawin Atlas Bumi Kakawin Atlas Bumi juga sebuah hasil karya sastra kuna yang dituliskan sama seperti Kakawin Durmanggala yaitu menggunakan bahasa Jawa Kuna. Dalam naskah ini, tersirat ilmu pengetahuan urn um yang banyak mengetengahkan tentang bumi dan pembagiannya, atau yang lebih dikenal saat ini sebagai ilmu Bumi. Berkaitan dengan ilmu
Yang Maha Kuasa atau Sang Hyang Widhi sesuai dengan rencanaNya. Sebagai utusan Sang Hyang Widhi di bumi ini adalah para pendeta yang mampu menguasai selain ilmu keagamaanjuga ilmu tentang bumi dan segala isinya. Sebagai manifestasi Tuhan, para pendeta mempunyai tugas memberikan pengajaran kesucian kepada manusia dan inilah ilmu bumi yang dikuasai oleh mereka.
./. 3. 1 Penciptaan Bumi Dan Segala Isinya Menurut para pendeta, pada mulanya Tuhan menciptakan bumi untuk dijadikan sebagai istananya. Dengan mengambil wujud seorang dewa, Tuhan menciptakan bumi seperti yang disebutkan pada bagian pertama ayat ketiga (3 ); Pada masa lampau sebelum adanya dunia matahari bu Ian keadaan masih/ tetapi dengan saktinya Tuhan Yang Maha Kuasa/ beliau sendiri yang menciptakan adanya dunia/ ... Kesaktian yang dimiliki oleh Tuhan dalam menciptakan bumi ini pertama sekali dengan memunculkan tujuh buah pulau dengan samudera yang luas. Lebih lanjut dari ayat ketiga ini adalah : ... dari ketujuh pulau tersebut sesungguhnya masing-masing dilingkari samudera yang luas/ beliaulah yang dipuja-puja sebagai perwujudan Dewa Brahma oleh mereka dari keturunan para raja-raja// Setelah menciptakan ketujuh pulau dan samudera yang luas dan indah, maka Tuhan menciptakan tata surya seperti bintang, bulan, dan matahari. Tata surya ini adalah sebagai sumber kehidup an bagi manusia di muka bumi ini. Kejadian ini disebutkan pada bagian kedua ayat pertama (I) : Setelah sempurna menciptakan beliau/ keadaan surgaloka menjadi kokoh dan bersinar cerah/ ribuan juta banyaknya bintang-bintang bertaburan sinar terang cemerlang/ ibarat lampu di malam hari yang menerangi muka bumi dan ruang angkasa seluruhnya/ terutama sinar bulan purnama yang menerangi seluruh bumi yang demikian sejuk dan mulianya//
Sumber kehidupan yang terutama sekali di bumi ini adalah datangnya sinar matahari yang terang benderang pada pagi harinya. Aktifitas manusia di bumi diawali dengan munculnya sinar matahari di ufuk Timur kemudian diakhiri pada saat matahari akan terbenam pada sore harinya. Sinar kemilau kuning keemasan pada senja hari tatkala matahari akan kembali keperaduannya membuat manusia bergairah hidup terutama bagi mereka yang senang menikmati keindahan panorama. Munculnya mendung tipis sertajatuhnya hujan gerimis disertai suara petir yang halus membangkitkan rasa asmara kepada manusia yang mendengarnya.
Setelah menciptakan bumi, maka dilanjutkan dengan menciptakan isi bumi terutama makhluk hidup yang bakal tinggal dan menetap di muka bumi. Makhluk hidup itu adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Setelah merasa bahwa ciptaanNya sudah baik, maka Tuhan menciptakan perilaku manusia yang saling bertolak belakang seperti baik dan buruk, pintar dan bodoh dan bijaksana dan pembohong. Hal ini disebutkan pada bagian pertama ayat keempat (4):
Demikianlah ciptaan Beliau yang diterima oleh semua makhluk hidup di muka bumi persada/ selain itu beliau juga menciptakan perbuatan yang baik dan buruk di muka bumi/ demikian pula pintar/ bodoh/ bijaksana/ pembohong/ serta baik buruk suka duka yang tidak dapat dihindari/ penyebab dari lahir hidup dan mati itu hanya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa//
Setelah merasa bahwa yang diciptakan Tuhan baik adanya, maka Tuhan menentukan akhir dari kehidupan makhluk hidup tersebut. Baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai batas waktu untuk hidup di muka bumi ini, yang masing-masing sudah memiliki garis kehidupan (takdir).
4.3.2 Pembagian Bumi
Pengajaran pendeta melanjutkan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan negara Barata Warsa yang sangat luas, disebutkan pada bagian kedua ayat keempat (4) :
Keadaan negara Barata Warsa tersebut sangat luas dan besar/ beribu-ribu kerajaan yang dikunjungi oleh ratusan ribu Raja Adi Kuasa dari lain negara/ ...
Utara adalah benua Asia yang tersebar luas, di sebelah Barat terbentang lautan lepas sampai ke Eropa, di sebelah Selatan adalah negara Turki bagian dari negara Absi, disebutkan pada bagian kedua ayat ketujuh (7) :
Negara Absi itu bukannya negara kecil yang dikuasai oleh Sadat Kabul Bumar/ yang telah dikalahkan olehnya/ memenangkan di dalam pertempuran dari seluruh dunia/ selama setahun lamanya negara jajahan itu diperangi sehingga sampai di negara Absi yang luas itu / ...
Kejayaan negara Absi yang dipimpin oleh seorang raja terkenal sampai ke seluruh pelosok dunia. Sampai akhirnya negara ini kalah setelah wafat sang pemimpin Jayadimurti. Di sebelah Utara negara Absi adalah negara Mesir, sampai di Asakan, Dareya, Tunis adalah daerah di bawah kekuasaan raja Rum. Hampir seluruh penduduk yang berdiam di sini beragama Islam. Di sebelah timur negara Rum adalah Esam, di sebelah Tenggara dan Timur dari Negar Mesir adalah negara Arab. Di sebelah Timur negara Arab adalah negara Parsi, di sebelah Selatannya adalah lautan yang berisi banyak kepulauan membentang sampai ke Timur, di sebelah Timur adalah negara Hindu yang sangat luas wilayahnya. Di sebelah selatan negara Hindu adalah negara Lengkapura, di sebelah Timur negara Hindu adalah negara Benggala, di sebelah Tenggara adalah negara Siyem, di sebelah Timurnya adalah negara Nikanam (disebutkan pada bagian kedua dari ayat kedelapan sampai ayat keduabelas).
Selanjutnya disebutkan, di sebelah selatan negara Batara Warsa terdapat kepulauan yang tampak mempesona dengan segala keindahannya yaitu pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Alor serta Timor Timur. Di sebelah Utara pulau Jawa yang dikelilingi oleh samudera yang luas dan indah terdapat pulau Borneo atau Kalimantan. Di sebelah Selatan ada pulau Makasar dan di sebelah timumya tampak berjajar kepulauan Maluku, Buru, Haru, dan pulau Ternate (bagian kedua ayat ketigabelas sampai kelimabelas).
Cina (disebutkan pada bagian ketiga mulai ayat pe11ama sampai ayat kelima).
Di sebelah timur ncgara Asia terdapat sebuah negara yang besar dan berjaya yaitu negara Ruslan yang dipimpin oleh seorang Raja. Raja Ruslan adalah penguasa di negara Mosko yang berbatasan dengan negara Mahacala. Di sebelah barat ada negara Mudhapya yang berbatasan dengan negara Turki. Di sebelah selatan adalah negara Bulgaria yang biasa disebut Kastambul. Di sebelah barat negara Ruslan ada juga negara Proesen yang dipimpin oleh para bupati. Di sebelah selatan negara ini ada negara Dweseslan dan di sebelah utaranya adalah negara Amerika dan negara Skandinavia. Di sebelah barat negara Porsen adalah negara Nederlan yang bcrbatasan dengan negara Belgia, yang di sebelah selatannya terletak negara lspanya. Di sebelah barat lspanya terdapat negara Portugis, di sebelah selatannya adalah negara Aprika yang berbatasan dengan negara Absi. Ke arah timur ada negera Algris Tonasika yang berbatasan dengan Mesir. Di tengah-tengah ada negara ltserlan, yang di sebelah timumya terletak negara Parane dan di sebelah selatan adalah negara Italia (disebutkan pada bagian keempat ayat pertama sampai kesembilan).
Negara Krik Elan berada di sebelah selatan paling ujung negara Rum dengan negara Kandhya melintang di tengah samudera. Di sebelah utara dan selatan negara Rum adalah negara Mesir. Di sebelah tenggara negara Rusia terdapat samudera yang luas. Negara Ruslan berada di sebelah barat dan negara Persia terletak di sebelah selatan, di sebelah timur adalah negara Asia.
Di sebelah utara negara Nederlan membentang lautan yang luas sekali yang dibatasi oleh negara lngkan. Di sebelah utara negara Nederlan adalah negara lrlan. Di sebelah utara negara ini terdapat samuderayang luas. Demikian pula di sebelah barat terdapat samudera.
Negara Eropa adalah sebuah negara yang besar dan makmur. Negara ini berada di ujung sebelah selatan yang melewati negara
Papua adalah negera Amerika dikelilingi oleh sejumlah besar kepulauan yang besar maupun kecil (disebutkan pada bagian kelima ayat pertama sampai kesebelas).
Di sebelah barat negara Eropa terdapat samudera, tetapi di sebelah selatan negara Amerika terdapat negara Afrika. Di sebelah timur negara Amerika terdapat negara Jepang yang terletak di benua Asia.
Di sebelah timur negara Absi adalah negara Madagaskar, yaitu sebuah negara besar yang terkenal dengan pelabuhannya yang besar.
Penduduk yang mendiami negara Amerika pada umumnya berwarna kulit putih dan menganut agama Nasrani, sedangkan penduduk yang mendiami negara Afrika pada umumnya berkulit hitam dan beragama Islam (disebutkan pada bagian keenam ayat pertama sampai kesembilan).
SUATU UPAYA MENGONDISIKAN LINGKUNGAN LESTARI-HARMONIS
Pembangunan suatu daerah atau bangsa selalu didasarkan pada pemanfaatan suatu sumber daya alam. Makin banyak suatu daerah mempunyai sumber daya alam dan makin efisien pemanfaatan sumber daya alam tersebut, maka semakin baiklah akan tercapai keadaan ekonomi daerah atau bangsa tersebut.
Dalam pokok-pokok materi GBHN, sub D yaitu Pembangunan Lima Tahun keenam menyebutkan bahwa ada tantangan yang masih harus dihadapi, salah satunya adalah :
Pembangunan yang makin meningkat dan bertambahnyajumlah penduduk juga akan dihadapkan pada kondisi sumber daya alam yang makin terbatas, khususnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharuhi. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yaitu lahan, air, dan hutan serta pola tata ruang masih sebelumnya dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sehingga perlu terus diperhatikan bersamaan dengan pemeliharaan kelestarian fungsi lingkungan hidup, antara lain, yang berkaitan dengan upaya pelestarian daerah resapan
dan daerah penyangga air ....
Untuk menjamin kelangsungan pembangunan terutama bidang ekonomi, maka perencanaan, penggunaan, pengelolaan, dan
penyelamatan sumber daya alam itu perlu dilakukan dengan cermat, dengan memperhitungkan hubungan-hubungan ekologi yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat yang merugikan bagi kelangsungan pembangunan menyeluruh.
Pengertian nilai dalam hal ini -- terutama dari konsep kebudayaan- -ialah sesuatu yang berwujud ide, sifatnya abstrak, namun ada dalam kehidupan manusia. Dikatakan sistem nilai adalah konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagaian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia, yang bila dikonkretkan menjadi pengetahuan yang berisi aturan, hukum, dan norma yang digunakan sebagai pengendalian sosial.
Dalam naskah Kakawin Durmanggala diungkapkan mengenai semesta alam dan isinya. Hampir keseluruhan naskah ini berisikan sejumlah pengetahuan khususnya mengenai gejala-gejala alam yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Demikian indahnya si pengarang memberitahukan kepada pembaca, bahwa para dewa yang merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa atau Sang Hyang Widhi menjaga dunia ini dari kehancuran dengan jalan menyuruh manusia harus melaksanakan berbagai upacara terutama upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Sebagai utusan para dewa di muka bumi ini, adalah para raja dan pendeta yang mempunyai tugas mulia menjaga manusia dari nestapa dan menjalankan aturan-aturan agama yang pada akhirnya mencapai satu keseimbangan antara manusia dengan alam lingkungannya yang biasa disebut lingkungan hidup.
Aturan, hukum, dan norma yang berfungsi sebagai pengendali sosial tersebut dituliskan ke dalam beberapa buku atau kitab yang sampai sekarang ini dijadikan sebagai pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Bali untuk bertindak dan berperilaku, antara lain Kitab Bagawadgita, Saracamuscaya, Brahma Purana, dan Cankya Nitisastra. Di antara kitab tersebut di dalamnya terdapat konsep Tri Hita Karana yang terkenal dan diperjelas lagi dalam beberapa lontar yang berisikan ajaran-ajaran mengenai keseimbangan antara
manusia dengan lingkungan tern pat manusia tersebut bertempat tinggal. Beberapa contoh yang dapat dilihat tertulis pada lontar Manawa Swarga 18. disebutkan dilarang menebang pohon tanpa ijin Raja dan kalau ada yang melanggar akan dihukum denda. Selain itu dalam kitab Manawa Dharmasastra IV. 52 dan 56. disebutkan pelarangan pengotoran air sebagai berikut :
IV. 52 : Pratyagnim pratsuryam ca pratisomodakad wijan, pratigan pratiwatam ca prajna nasyati mehatah.
Artinya : Amat dilarang kencing dalam air sungai, menghadapi api, matahari, bulan menghadap Brahmana, sapi atau arah angin, Kalau hal itu dilakukan maka kecerdasan orang itu akan sirna.
IV. 56 : Napsu mutram purusan wa sthiwanam wa samutsrjet. amedhypa lipta menyadwa lohitan wa wisani wa.
Artinya : Hendaklah ia jangan melemparkan air kencingnya atau kotorannya ke dalam air sungai, tidak pula ludah, juga tidak boleh melemparkan perkataan yang berisi hal-hal yang tidak suci, tidak pula kotoran-kotoran yang lain, tidak pula darah atau hal-hal yang berbisa.
Dalam lontar Mpu Kuturan disebutkan pula adanya larangan untuk kencing dan berak di air yang sedang mengalir. Dalam Mitologi Siwagama tersirat cerita bahwa amat dilarang merusak air sungai, danau atau sumber air lainnya dan laut serta gunung karena dalam cerita terse but dijelaskan bahwa untuk menyelamatkan manusia Dewa Wisnu turun menjelma menjadi Naga Basuki. Mulutnya masuk ke laut, tubuh sampai dengan ekornya menjadi gunung. Barang siapa yang merusak air laut, sungai, danau, dan hutan tentunya akan di "pongor" atau dikutuk oleh Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu. Demikian pula tanah yang merupakan larnbang Naga Ananta Boga penjelmaan Dewa Brahma untuk menyuburkan tanah. Barang siapa yang merusak proses alami tanah, dan udara. Semua bentuk-bentuk alarn itulah sebagai sumber kehidupan Sarwa Prani. Sarwa Pami yang sejahtera merupakan sumber kehidupan dari makhluk hidup yang lainnya terutama manusia.
Dalam kebudayaan Bali dikenal adanya konsep Madya Mandala yaitu pada prinsipnya madya mandala adalah wilayah peruntukkan permukiman manusia atau penduduk. Wilayah permukiman bukan
sebagai tern pat manusia berteduh dari guyuran air hujan dan sengatan matahari, atau sebagai tempat beristirahat, atau tidur saja, melainkan sebagai suatu wilayah untuk kegiatan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya secara lahir dan batin. Dalam kitab Cankya Nitisastra 1,9 disebutkan syarat-syarat suatu permukiman yang ideal yaitu pada setiap permukiman harus ada lima unsur yang memenuhi kehidupan manusia yaitu :
- Rajah adalah pemimpin atau penguasa yang harus ada di setiap permukiman untuk mengatur dan mengkoordinasikan segala keperluan hidup di wilayah permukiman tersebut.
- Strotiya adalah pendeta sebagai penuntun doa atau pemujaan dalam kegiatan agama untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan.
- Dhanikah adalah orang kaya yang sifatnya dermawan sebagai tempat penduduk untuk mendapatkan bantuan dana untuk permodalan kegiatan ekonominya.
- Vaidyaslu adalah ahli pengobaan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pemeliharaan kesehatan dan pengobatan bagi yang sakit.
- Nadi adalah sungai yang berfungsi untuk irigasi, sanitasi, dan kebutuhan air lainnya karena manusia tidak akan dapat hidup tanpa ada air. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap permukiman manusia harus memenuhi syarat tersebut, karena hal itu berarti setiap wilayah permukiman harus diperuntukkan sebagai wilayah pemerintahan (civic centre), sebagai wilayah tern pat orang suci, tern pat berusaha dalam artian ekonomi, tempat menjaga kesehatan atau untuk pengobatan dan di setiap permukiman yang baik harus ada sungai yang dengan bebasnya tanpa diganggu mengalirnya. Untuk menumbuhkan dan membina kemakmuran ekonomi yang merupakan swadarma dari Waisya Warna maka di dalam kitab Bhagavadgila, 44 disebutkan agar umat manusia mengupayakan adanya tiga usaha ekonomi yaitu : Krsi (pertanian), Goraksya (peternakan), dan Vanijyam (perdagangan). Untuk memenuhi kegiatan ekonomi ini harus ada pula wilayah yang khusus yaitu wilayah untuk
Penataan tersebut haruslah dijamin untuk tidak dilanggar, karena pelanggaran tata palemahan itu dapat rnengurangi proses kemakmur an yang seimbang antara pertanian, peternakan, dan perdagangan.
Sebagai upaya lainnya yang harus d ilakukan manusia untuk menjamin terjalinnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya, maka yang terlebih dahulu mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti yang tertulis dalam Pancasila s ila pertama (I) yaitu : Ketuhanan Yang Maha Esa.
Seperti sudah dijelaskan bahwa masyarakat Bali yang beragama Hindu-Bali, memiliki satu kepercayaan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa atau Sang Hyang Widhi menguasai seluruh jagad raya ini. Konsep Tri Hita Karana, yang menekankan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya dan manusia dengan Tuhan penciptanya. Hubungan antara manusia dengan Tuhan dinyatakan bahwa manusia melakukan berbagai upacara dan sembahyang di pura, dengan harapan Tuhan akan memberikan kebutuhan manusia dan melindungi dari berbagai bencana dan malapetaka. Satu diantara wujud ucapan syukur yang datang dari manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa adalah dengan menjalan kan segala perintahNya dan melaksanakan sembahyang.
Sementara itu, dalam naskah Kakawin Atlas Bumi berisikan pengajaran sang pendeta kepada manusia. Pendeta sebagai manifestasi dari Tuhan di muka bumi ini mempunyai pengetahuan yang luas tentang alam sernesta ini. terutama tentang pembagian burni dan penduduknya. Dikatakan, awal penciptaan Tuhan terhadap alam ini ialah rnenciptakan tujuh buah kepulauan yang sangat baik dan indah yang terletak di lima benua yaitu benua Amerika, Eropa, Aprika, dan
Australia. Setelah itu, Tuhan melanjut kan ciptaanNya kepada tata surya yang akan menjadi sumber bagi ciptaan sebelumnya. Yang termasuk ke dalam kelompok tata surya tersebut antara lain matahari, bintang, dan bulan.
Selanjutnya, Sang Hyang Widhi menciptakan makhluk hidup untuk mengisi tujuh pulau tersebut. Tempat tinggal makhluk hidup yang diciptakan tersebut berbeda-beda, ada yang hidup di udara, di air, dan di darat. Satu diantara yang hidup di darat adalah manusia. Manusia yang tinggal di tujuh kepulauan tersebut masing-masing memiliki ciri khas yang merupakan faktor pembeda yaitu warna kulit, bahasa, dan agama, yang pada akhirnya membedakan antara satu dengan yang lainnya. Ciri khas yang paling membedakan adalah warna kulit, misalnya manusia yang tinggal di Eropa berwarna putih, yang tinggal di Asia berwarna kuning dan di Afrika berwama hitam. Se lain warna kulit, bahasa yang dipergunakan oleh penduduk yang mendiami bumi ini juga sangat berbeda-beda. Untuk mempersatukan seluruh manusia di muka bumi ini, maka dijadikanlah bahasa lnggris sebagai bahasa perhubungan atau yang lebih dikenal sebagai bahasa I nternasional.
Pengajaran pendeta kepada manusia yang paling utama ialah untuk mencapai kebaikan di bumi ini. Diwajibkan setiap manusia berbuat kebaikan antara sesama manusia. Manusia harus memiliki sifat sabar, disiplin, rendah hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela misalnya mabuk-mabukan. Menjalankan perintah agama yang sesuai dengan agama yang dianutnya adalah bentuk penga jaran yang selanjutnya diberikan oleh pendeta kepada manusia. Selain itu melakukan segala bentuk kebenaran, yang merupakan hasil perilaku manusia yang tampak sehari-harinya. Apabila manu sia sudah dapat menjalankan pengajaran tersebut, maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan di bumi ini.
VI
SIMPULAN DAN SARAN
Lingkungan hidup sebagai media hubungan timbal batik antara makhluk dengan faktor-faktor alam terdiri atas bermacam-macam proses ekologi yang merupakan suatu kesatuan yang mantap. Proses tersebut merupakan mata rantai atau daur penting yang menentukan daya dukung lingkungan hidup terhadap pembangunan. Daur yang penting bagi kehidupan manusia di antaranya adalah daur hidrologi. yang mengatur tata perairan, baik yang berhubungan dengan al iran air dalam berbagai bentuknya., maupun lingkungan hid up bagi makh luk tertentu; daur hara, yang mengatur rantai makanan yang sangat berpengaruh terhadap perimbangan antar jenis dan antara populasi makhluk; daur energi dan bahan yang mengatur penggunaan dan perubahan bentuk energi mulai dari sumber energi matahari yang merupakan sumber energi dasar bagi kehidupan sampai sumberenergi yang dipakai untuk keperluan metabolisme makhluk hidup; dan daur-daur lain yang merupakan struktur dasar ekosistem.
Dikaitkan dengan hasil kegiatan pembangunan yaitu berupa pencemaran oleh bahan yang dihasilkan oleh pembangunan telah menambah beban pada aliran bahan, dan dapat pula terjadi gangguan yang mendasar terhadap proses ekosistem tersebut. Gangguan dalam hentuk pencemaran dalam banyak hat masih dapat diatasi dengan
I07
penggunaan berbagai teknologi pencegah pencemaran lingkungan, tetapi gangguan yang mendasar terhadap struktur dasar ekosistem merupakan gangguan yang tidak mungkin diatasi oleh kemampuan manusia. sehingga gangguan seperti ini harus dihindari, karena gangguan terhadap struktur dasar ekosistem tersebut berarti gangguan terhadap lingkungan hidup, yang sesungguhnya menjadi tujuan pokok setiap kehidupan manusia di bumi.
Dalam hal pertambahan penduduk dan penyebaran penduduk yang kurang serasi sangat mempengaruhi kerusakan sumber-sumber daya alam clan lingkungan hidup. Berkaitan dengan hal itu, maka kemiskinan telah menambah besar tingkat kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dalam hubungan ini telah ternyata bahwa tekanan penduduk yang terjalin erat dengan kemiskinan telah mendorong penduduk untuk mengolah tanah dengan cara-cara yang merusak kelestarian kesuburannya. Karena kesuburannya berkurang, penduduk lalu membuka hutan-hutan yang lebih subur melalui pembakaran dan perladangan berpindah yang sangat merusak kelestarian hutan-hutan tersebut. Dengan demikian luas tanah-tanah kritis bertambah, yang berakibat penurunan mutu kehidupan yang lebih parah lagi karena kerusakan-kerusakan yang timbul oleh banj ir dan erosi serta kekeringan yang melanda daerah-daerah tersebut.
Dapat dikatakan bahwa akibat pembangunan terjadi perubahan terhadap permukiman dan lingkungan hidup. Hal ini tercermin antara lain, keadaan perumahan yang tidak sehat, kekurangan penyediaan air minum yang bersih, dan kesehatan lingkungannya yang tidak memadai. Untuk hal-hal tersebut maka diperlukan usaha-usaha pembinaan lingkungan hidup tentunya.
Ketika masalah-masalah lingkungan menjadi isu global atas kerusakannya akibat eksplotasi manusia yang serakah, yang dengan berlebihan, maka semua agama atas nama manusia terpanggil untuk bisa memberi kontribusi moral guna menghentikan nafsunya yang serakah tersebut.
Ajaran agama Hindu-Bali yang tedapat pada beberapa naskah, umumnya menekankan pada penghormatan terhadap alam semesta beserta isinya. Satu diantara ajarannya adalah manusia diharuskan
Pada prinsipnya bertujuan agar manusiajangan berbuat tidak semena- mena terhadap bumi dan segala isinya, artinya jangan merusak kelestarian alam seperti sungai, danau, taut, dan udara karena unsur- unsur tersebut adalah · sumber kehidupan manusia. Jelaslah dalam pandangan ajaran agama Hindu-Bali, kemanung galan alam semesta dan semua makhluk hidup beserta seluruh isinya adalah suatu yang berkausalitas, yang menunjukkan bahwa kebersatuan dalam ekosistem dan ekologi sangatlah penting. Kausalitas ini tergambar mulai dari jasad renik hingga kehidupan manusia. Dalam hat ini, manusialah yang memegang peranan yang paling penting dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan alam lingkungannya terutama lingkungan tempat manusia terscbut mcnetap dan bcrtcmpat tinggal. Apabila sudah tercapai kcseimbang an antara manusia dcngan alam lingkungannya maka akan muncul satu bentuk kchidupan yang serasi, harmonis, dan lestari.
6.2 Saran Kebudayaan daerah merupakan satu diantara sumber yang sangat potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional. karena dari kebudayaan daerah tersebut akan muncul ke permukaan bentuk-bentuk karakteristik kepribadian suku-suku bangsa yang pada akhirnya menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Perlu kiranya digali kembali budaya daerah yang termuat dalam naskah Kakawin Durmanggala dan Kakawin Atlas Bhumi. Selanjutnya pengetahuan mengenai isi alam dan gejala-gejala alam terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam dan pengetahuan mengenai pembagian bumi dan penduduknya yang masing-masing memiliki perbedaan masih sangat relevan untuk disebarluaskan kepada masyarakat, terutama generasi muda saat ini. Pengajaran tentang bagaimana menjaga kelestarian alam lingkungan dan isinya serta menjalin hubungan antarbangsa dan negara untuk tercapainya kehidupan yang selaras. serasi, dan seimbang. Memang tidak dapat dibantah, bahwa pengetahuan yang tersirat dalam kedua naskah tersebut baik pada kurun waktu tertentu belum tentu masih efektif pada waktu sekarang ini. Hal ini disebabkan telah berkembangnya pengetahuan mengenai alam dan lingkungan hidup sejalan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang canggih. yang mengakibatkan perubahan di sana sini. Bagaimana pun juga, pengetahuan yang berisikan norma, aturan, dan hukum yang dianut oleh suatu masyarakat merupakan suatu pengendali sosial. Bagi mereka yang tidak mau mengerti dan tidak menjalankan nya, maka akan mendapat akibat perbuatannya tersebut, terutama dari Tuhan sebagai pencipta.menetap dan bertempat tinggal. Apabila sudah tercapai keseimbang antara manusia dengan alam lingkungannya maka akan muncul satu bentuk kehidupan yang serasi, harmonis, dan lestari.
I. Baroroh baried, Siti dkk PENGANTAR TEORI FILOLOGI 1994 Yogyakarta : Seksi Filologi FS.
Universitas Gajahmada.
Ginarsa, Kt BHUANA TATWA MAHARSI 1979 MARKANDEYA Singaraja: Balai
penelitian Bahasa.Goris, R PRASASTI BALI (I & II) Jakarta : 1954 Lembaga Bahasa dan Budaya. FS
Sastra & Filsafat UI
4.-----------BEBERAPA DATA SEJARAH 1974 DAN SOSIOLOGJ DARI PIAGAM-
PIAGAM BALI Jakarta: Bhratara.
Hilman, Lucia TEMA LINGKUNGAN HIDUP 1996 DALAM SAJAK JERMAN TAHUN
TUJUH P ULUHAN Ringkasan Disertai Pasca Sarjana UI. Depok.Moleong, Lexy. J METODOLOGI PENELITIAN 1994 KUALITATIF. Bandung: Remaja
Rosdarkarya.Robson, S.O PENGKAJIAN SASTRA-SASTRA
TRADISIONAL INDONESIA. dalam majalah Bahasa dan Sastra No. 6, Th IV. Jakarta; Pusat Pene titian Bahasa.
PRINCIPLES OF INDONESIAN 1988 PHILOLOGY. Dordrect-Hotland : Foris Publications.
Soerjani. M dan Samad.B MANUS/A DALAM KESERA 1983 SJAN l/NGKUNGAN. Lembaga
Penerbit F.E.UI. Depok.Sudikno, Antariksa SEBUAH PERMASALAHAN DI 1988 DALAM LINGKUNGAN.
Yogyakarta: Liberty 1 1. Wiana. Kt TATA PALEMAHAN MENURUT HUKUM HINDU.Westa, Wayan. I. TUMPEK KAN.DANG DAN EKO
LOG/ KESEJMBANGAN.Warren, Carol ADAT AND DINAS BALINESE 1993 COMMUNITIES IN THE INDO
NESIAN STATE.Kuala Lumpur: Oxford University Press.Wulan, R. M. Sri KODIKOLOGI MELA YU DI IN 1994 DONES/A Depok: F.S.UI.