NILAI BUDAYA DALAM KAKAWIN
BRAHMANDA PURANA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NILAI BU DAYA DALAM KAKAWIN BRAHMANDA PURANA
Pengkaji: Drs. I Nyoman Sukartha Ors. Ida Bagus Mayun Drs. I Wayan Rupa
Penyempuma :
Drs. I Made Puma
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA
PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusan~ tara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jende- raJ Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-na5kah lama di antaranya naskah yang berasal dari Bali, tepatnya ko- leksi Perpustakaan Naskah Fak-sastra UNUD Denpasar yang berjudul Brahmanda Purana isinya tentang Kepemimpinan yang semua ajarannya dilandasi oleh ajaran-ajaran agama Hindu.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai artistik, nilai kultural, nilai Etis-moral Religius. Nilai-nilai yang tertuang dalam naskah ini dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami te- rima dengan senang hati.
Harapan kami, semoga buku ini dapat memberi sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.
iii
Proyek Penelitian Dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Sri Min tosih NIP. 130 358 048
iv
AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang Jain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala pandangan- nya. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling penger- tian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Peneliti- an dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Nilai Budaya Dan Kakawin Brahmanda Purana.
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka peng- galian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan
v
Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya ke- lemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam penerbitan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Direktur Jenderal Kebudayaan
2;/j
Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902
vi
ISi
Hal a man
KAT A PENGANT AR............................. iii SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN.. v DAFT AR ISi................................... vii
Bab I Pendahuluan .............................
- 1 Latar Belakang Masalah .. .....................
- I La tar Belakang ...........................
1.1.2 Masalah. ............................... 4
1.2 Tujuan.................................... 5
1.2.1 Tujuan U!llum........................... 5
l. 2. 2 Tujuan Khusus........................... S
1.3 Teori..................................... 5
1.4 Ruang Llngkup.............................. 6
- I La tar Belakang ...........................
- 5 Metode Pengkajian........................... 7
1.6 Pertanggung jawaban Penulisan................. 8
1.6.1 Tahap Persiapan..........................
1.6. 2 Tahap Penulisan Laporan................... Bab 2 Kakawin Brahmanda Purana oleh aksara dan oleh Bahasa.............................. l 0
vii
3.1 Sinopsis 11 O
3. 2 Catatan Tentang Kakawin Brahmanda Purana 112
3.3 Nilai Budaya Dalam Kakawin Brahmanda Purana.... 113
3 .3. 1 NilaiArtistik.. 114
3.3.2 Nilai Kultural............................ 124
3.3.3 Nilai Etis-Moral-Religius.................... 126
Bab 4 Relevansi dan Peranannya Dalam Pembinaan Dan
Pengembangan Kebudayaan Nasional.......... I 30
Bab 5 Kesimpulan Dan Saran..................... 133
5. I Kesimpulan 133
5. 2 Saran..................................... I 33
KEPUSTAKAAN............................... 135
DAFTAR INFORMAN 137
........ ... .........
viii
PENDAHULUAN
1.1 Latar BeJakang MasaJah
J. J. J Latar Belakang Panorama alam yang indah, keramah-tamahan pendu- duknya merupakan modal Jasar kesohorannya Bali sebagai salah satu tujuan wisata di mata dunia. Di sisi lain, keluhuran budaya yang punya ciri khas tersenidri, berperan aktif di dalamnya dan sekaligus merupakan urat nadi kepariwisataannya. Karena- nya tepatlah Bali dijadikan daerah pariwisata budaya. Budaya Bali yang demikian kompleks dan beragamnya ikut memperkaya budaya bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan pasal 32 UUD 1945 yang menyatakan bahwa: "Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerh-Oaerah di seluruh Indonesia. terhitlmg sebagai budaya bangsa." Bertolak dari kenyatan di atas, maka kebudayaan Bali perlu digali, dibina dan dikembangkan seirama dengan kemajuan ja- man. Salah satu aspek budaya yang berperan aktif sebagai pen- dukung kebudayaan Bali ialah kesenian yang berkait secara
Salah satu bidang seni yang sampai saat ini amat digemari masyarakatnya adalah seni sastra khususnya sastra klasik. Kenyataan ini tidaklah ber- lebihan, karena seni sastra klasik boleh dikatakan merupakan modal dasar kebudayaan Bali dan bersifat universal. Karena sifat keuniversalannya ini maka bila sastra k.lasik dibina dan dikem- bangkan, berarti beberapa unsur dari tujuh unusur budaya seperti yang dikemukakan Koentrjaningrat (tt:9) secara tidak langsung terkena pula di dalamnya.
Sastra klasik di Bali kebanyakan masih tertulis dalam daun lontar dengan aksara Bali dan memakai bahasa Jawa Kuna atau Kawi Bali sebagai media pengantarnya. Untuk mengetahui kandungan isi dan nilai yang ada di dalamnya, diperlukan pengetahuan yang cukup memadai terutama tentang aksara Bali dan Bahasa Jawa Kuna / Kawi. Bila dikaitkan dengan keadaan masyarakat sekarang, terlebih bagi generasi mudanya, sudah terdapat kesenjangan yang melebar. Bila keadaan ini dibiarkan berlarut, terus tanpa ada usaha ke arah yang positif, tentunya kelestariannya tidak dapat dipertahankan. Karenanya perlu adanya usaha penyematan kelestariannya. Usaha yang dimaksud tentunya dengan jalan menyelaraskan dengan pola pikir dan pengetahuan masyarakat masa kini. Contoh yang paling dekat seperti mengadakan pengalihan aksara atau translirerasi ke dalam aksara Latin dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat yang lebih luas. Salah satu jenis sastra klasik di Bali adalah Kakawin seperti. Kakawin Ramayana, Bharata Yudha, Arjuna Wiwaha, Bhoma, Sutasoma, Niti Sastra, Brahmanda Purana dan lain-lainnya. Dari deretan kakawin terse but, ternyata Kakawin Brahmanda Purana sebagai hasil karya sastra klasik sampai saat ini kurang populer bagi kalangan penggemar sastra klasik Bali. Hal ini disebabkan karena kakawin ini tergolong kakawin muda (baru). Atau ada juga yang menggolongkan kakawin ini minor (ban- dingkan dengan Poerbatjaraka, 1957 dan Zoetmulder, 1983). Kakawin Brahmanda Purana ini tergolong muda atau minor karena karya sastra ini lahir di Bali pada masa pemerin-
Purana sampai saat ini kurang mampu menarik minat para peneliti khususnya peneliti karya sastra klasik. Hal ini dapat diketahui dengan belum adanya hasil penelitian tentang karya sastra ini. Kary a Raksasa yang menyangkut Sastra J awa Kuna seperti Kalangwan oleh Zoetmulder hanya sepintas menyinggung karya sastra ini ke dalam jenis kakawin minor, yaitu kakawin yang ditulis terbentang sejak lahir akhir kerejaan Majapahit sampai abad ke-19, atau lebih dari 3 (tiga) abad, mengenai asal usu) penulisannya beberapa ditulis di Bali (Zoetmulder, 1983 :
480). Demikian pula Poerbatjaraka dalam Kepustakaan Jawa (195 7) ada membicarakan naskah Brahmanda Purana, tetapi setelah diteliti yang dibicarakan ternyata naskah Brahmanda Purana Prosa dan jauh berbeda dengan kakawinnya. Bertolak dari keadaan itulah akan dicoba mengangkat kakawin Brahmanda Purana ini sebagai obyek penelitian. Dan ini mutlak perlu dilakukan untuk mengungkapkan nilai-0ilai luhur yang terkandung di dalampya. Seperti telah diketahui, bahwa di dalam naskah kuna terkandung ide-ide atau gagasan utama, termasuk pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat bersangkutan seperti ajaran agama, filsafat, perundang-undang- an, sejarah dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai lihur yang dituturkan sesuai dengan tradisi masyarakat yang bersangkutan pula. Selain menyediakan data dan informasi tentang budaya masyarakat, juga memiliki kekayaan untuk pendewasa- an mental yang dapat menjadi penangkal terhadap ekses-ekses yang ditimbulkan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan mode- ren. Bertolak dari kenyataan itu, maka konsepsi pembangunan yang diterapkan di negara kita adalah konsep keselarasan
Purana yang akan dijadikan obyek penelitian adalah naskah kakawin Brahmanda Purana milik Fakultas Sastra Universitas-Udayana Denpasar dengan nomor kropak 3 7 5. Hal ini dilakukan karena naskah ini lengkap, lebih jelas dibaca serta memiliki frekwensi kesalahan yang piling kecil bila dibandingkan dengan naskah Brahmanda Purana lainnya. Mengingat penelitian ini tidak bersifat filologis maka perbandingan naskah tidak dilakukan dalam tulisan ini.
1.1.2 Masalah Berkenaan dengan latar belakang tersebut di atas yang menjadi topik masalah dalam penelitian ini adalah sebagai beri- kut : ( 1) Masih banyaknya naskah-naskah yang disimpan di rumah- rumah penduduk, perpustakaan milik lnstansi pemerintah maupun swasta. Naskah ini terbuat dari bahan yang mudah rusak oleh pengaruh cuaca dan lama kelamaan akan hancur sehingga isinya yang berharga akan lenyap pula. Untuk itu dilakukan penyelamatan dengan berbagai upaya seperti : alih aksara, alih bahasa dan pengkajian yang kemudian hasil penelitian itu diinformasikan ke berbagai daerah di Indonesia.
(2) Seberapa jauh naskah itu mengandung nilai-nilai termasuk nilai kejiwaan yang dapat diresapi, dihayati sebagai pegang- an hid up lahir batin.
(3) Sejauh mana relevansi dan peranannya dalam pembinaan dan pengem bangan kebudayaan Nasional.
T11juan Umum Sen1ra umum penelitian terhadap Kakawin Brahmanda Purana ini ikut menunjang perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia yang hendak dimajukan sehingga tidak mungkin di- biarkan tl'rsdenggara tanpa ketentuan arah serta tanpa mem- perha tikan keberagaman masyarakat dengan segala kebutuhan yang timlrnl dalam proses perkembangan masyarakat. Dengan demikian jdaslah tujuan penelitian kebudayaan daerah ini yaitu dala111 rangka pengembangan kebudayaan Nasional sebagai landasan yang memperkaya dan mewamai kepribadian Nasional Indonesia.
1.2.2 T11/11an Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah seberapa jauh Kakawin Hrahmanda Purana mengandung nilai budaya masyarakat dan liubungan timbal balik unsur tersebut dengan masyarakat. Sehingga dengan demikian diharapkan sumbangan nilai-nilai itu hcrguna bagi manusia untuk menjadikan dirinya lebih manusiaw1.
1.3Teori
Untuk 111embantu memecahkan permasalahan dalam penelitian ini dipl·rlukan suatu teori karena teori mempunyai peranan amat penting bagi berhasilnya suatu penelitian. Dalam penelitian ini akan Jiangkat teori yang cocok untuk mendeskripsikan unsur nilai yang terkandung di dalamnya yang secara fungsional membangu11 struktur sastra. Maka dengan demikian dibutuhkan teori struf.. tur dan teori nilai. Penganul paham strukturalisme mengatakan, bahwa melalui pendekata11 struktur sastra dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang bulal. Jibangun oleh unsur yang saling berkaitan antara satu denga11 yang lainnya. Hubungan unsur-unsur itulah yang membangun struktur secara keseluruhan. Sedangkan unsur-unsur itu sendiri membangun makna dalam hubungan keseluruhan (Nani Tololi Via Yudiono 1986 : 52).
Pada hake.Katnya analisis struktur bertujuan membongkar dan memaparkan secermat mungkin, seteliti mungkin, se- mendetail mungkin, sedalam mungkin keterkaitan dan keterja- linan semua unsur-unsumya, serta semua aspek-aspeknya karya sastra yang besarna-sama menghasilkan makna menyelu- ruh (Teew, 1984 : 135 ). Tetapi dalam analisis ini yang ditekan- kan adalah analisis nilai atau nilai budayanya sedangkan teori struktur diangkat sifatnya sebagai penunjang sehingga hubungan timbal balik struktur cerita itu dapat diketahui secara jelas.
Di dalam masyarakat sesungguhnya kita berhadapan dengan norma dan nilai. Dengan demikian sastra jelas menunjukkan atau mencerminkan norma, yakni ukuran prilaku yang oleh anggota masyarakatnya diterima sebagai cara yang benar untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu. Sastra juga mencerminkan nilai-nilai yang secara sadar diformulasikan dan yang diusahakan untuk dilaksanakan di dalam masyarakat oleh war- ganya (Damono 1979 : 4-5).
Di samping itu karya sastra juga merupakan pengejawantah- an usaha sastra sastrawan di dalam mengabdikan nilai-nilai kehidupan (S. Suharianto 1982 : 20). Atau nilai dapat juga dikatakan sebagai konsep yang abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bemilai dalam kehidupan manusia.
1.4 Ruang Lingkup
Untuk menghindari Iuasnya permasalahan yang akan dikaji, maka diperlukan ruang lingkup penelitian. Karena sering kali peneliti demikian bersemangat meneliti sehingga lupa atau
mengJ(.aji nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam naskah Brahmanda Purana dan sepintas tentang strukturnya. Sehingga dapat dirumuskan sebagai oerikut : Sinopsis, Catatan tentang naskah. oilanjut1<:an dengan pengungkapan nilai budaya dari isi naskah, alih aksara dan alih oahasa, relevansi dan peranann ya dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan Nasional. Demikianlah ruang lingkup dalam tulisan ini. Dengan ruang lingkup ini dinarapkan dapat menganalisis secara lebih memadai.
l .5 Mcftode Pengkajian
Metode merupakan cara yang terat ur oan berpikir oaiK untuk mencapai maksud atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan sesuatu Kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (Tim Penyusun. 19 88. 580). Di dalam penelitian ini lebih menekankan pada stuJi kepustakaan. Sebelum sampai pada pembahasan terlebih dahulu dipelajari dan diteknui Ieteratur-literaturnya yang ada kaitan- nya dengan pbyek penelitian serta mengumpulkan teori-teori yang dikemukakan para ahli yang dapat menunjang analisis. Studi kepustakaan dilakukan untuk membantu merumuskan berbagai permasalahan, me rum uskan konse µ dan kerangka teoritis untuk kepentingan analisis. Misalnya dalam mendapat- kan naskah, penulis mengadakan penjajagan ke berbagai tempat penyimpanan yang ada di Bali baik perpustakaan milik pemerin- tah, Swasta, Geria, Puri, Jeroan, rumah budayawan dan yang lainnya. Dalam mengadakan penjajagan ini tidak terlepas pula dengan metode wawancara. Pada prinsipnya metode ini berguna sebagai interaksi antara peneliti dengan informan agar menda- patkan data yang valid, serta dalam wawancara tidak sembarang memilih anggota masyarakat, dan mereka yang dijadikan informan harus tahu dengan obyek yang kita teliti.
Yang dimaksud dengan metode ini adalah pengubahan tata tulis dari tata tulis aksara daerah/traidisional menjadi tata tulis yang menggunakan aksara Latin, tanpa mengubah bahasa yang tujuannya tiada lain adalah untuk mempermudah pembacaan teks tersebut. (Tuti Munawar, 1991 : 3). Terjemahannya dilakukan secara ideomatik dengan ber- pedoman pada (Nida, 1969 dan Catfod, 1979). Dikatakan bah- wa terjemahannya ini tidak mengurangi hakekat dari sumber. Di samping itu pula mengikuti kaidah/Pedoman Umwn Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan yang dikeluarkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Sedangkan metode Filologi dalam penelitian ini tidak ban yak digunakan, karena tidak melakukan perbandingan naskah secara terperinci hanya saja keterlibatannya seperti memilih naskah yang sifatnya sedi- kit mengalami kesalahan, pencarian naskah, dan diterapkan analisis des.kriptif oerdasarkan teori sturuktural.
1.6 PertanggWtgjawaban Penulisa.1
1. 6.1 Tahap Persiapan Tahap persiapan ini meliputi pengarahan dan penjelasan teoritas maupun teknis mengenai penelitian. Kemudian menja- barkan persiapan penelitian yang didasarkan pada TOR yang telah ditentukan. Oleh karena dalam penelitian ini yang menjadi bahasan/obyek adalah naskah, maka sebelum terjun lapangan diadakan pertemuan team untuk membahas naskah mana yang cocok dijadikan obyek penelitian. Setelah dibuat kesepakatan, barulah terjun lapangan dengan sasaran ke perpustakaan peme- rintah, swasta, geria, purijeroan yang sampai saat ini masih me- nyimpan naskah kuna. Bersamaan dengan itu dilakukan pula studi kepustakaan sebagai penunjang dalam mengadakan analisis.
Penulisan lapiran akhir disesuaikan dengan kerangka Japoran dan sistem penulisan laporan yang telah ditentukan oleh buku petunjuk (TOR) pelaksanaan penelitian. Isi masing- masing bagian telah pula dijelaskan oleh buku petunjuk tersebut sehingga memudahkan untuk membuat laporan. Untuk penulisan laporan ini sebelumnya dilakukan juga beberapa kali diskusi dan pemeriksaan hasil tulisan. Setelah hasil tulisan itu diperiksa dan diteliti ternyata dirasa tidak ada kesalahan, maka siap masuk proses pengetikan dan pencetakan. Akhirnya tersajilah laporan untuk dievaluasi oleh team pu- sat.
AKSARA DAN ALIH BAHASA KAKA WIN BRAHMAN DA PURAN A
2 .1 Alih Aksara
Om Awighnammastu nama siddhyam
SARO ULA WIKRIDHITA
- Om Sang Hyang Paramartha sunya wekas ing suksma wi- bhuh wlryyawan, manggeh munggwi ring antapadma ginelar dening siwanggo- ttama, sang mawak dasamurtti astha tanu ring pujadi yoga smreti. ring rupadi akara Om ring ujar ing sastrati sliksmeniwtl.
- P~hning adwaya-adwayajiiana kiteka rwa wekas ning dadi. tawat ring tiga moksa margga usiren sang siddha yogi swara, utpati sthiti lina nahanta samyaning antakanung tinut, sunya dwiira kiteki pinerihawaning mantuk haneng sfmyata.
- Donkwangarcana jong bhatara Paramartha sang paramaneng jagat,
yyawan, sang sri prakerti wirya nama nira suddha brahmanangsa- nulus, prajneng sastra suslla subrata supunya masih ing wiku.
- Yan ring rupa huwus lewas twakira wus ekel pwa anglud kiris, apan sering sira mopawasa satata tapwan turung ring bra ta, embuh wayawa ruksa malyus akisut wungkut nira tardahat, ngunin dug lagi anwam araras lwir srl ginndratmaja
- Ndan sangke sira kedwakon rumacanang tatwadi parttama, brahmandha puranengaran pamekas ing suksmii rasa nye- niwo, ewuh ngwang rumaseng twas arddha ri rusit ning bhasa yangde rapuh. kawat jrih karanangku mamrih amangun lambang lewes tan luhung.
- Ring piirwwa ng usana tambayan iking tatwe inucap sang kawi. wwanten rakwa narendra wena karengo kyating jagat dus- kreta, antyan teka dursilanya sama dana wyarthaka tan hana, anghing dhanda jugeki karmma nira ring rat dusta ngapa- krama.
- Murkkanastika lobha moha tama tar pan lit purih ning pra- bh u, wetning klesani sang kaki pwa sakaring renanyan renanyan angawasa, metri karuna Jen upeksa mudita nissasaneng ksatria, byaktekan sira tan pangumbara karaksaning jagat wighna ya.
- Rug tang paryyangan geni hotra tama dan puja haneng dewata, mangkin haruharang watek rsi kabeh tatan haiiangenake,
nihan hetu niran ahtlm sahana sang brahmarsi ring kahya- ngan, kapwa rampaka yar mara ri kahanan sang sri sunilatmaja.
- Saprapta nira sang watek rsi kabeh ngkane harep sang prabhu, ndatan gorawa sang narendra lumiyat mamideraken wulat, mojar sang paramilrsi he prabhu nihan ramanta mangke dateng, mamrih majarike Wl'kangku ri hulah sang natha dharmot- tama.
- Ring dik~adi ngaranya rakwa angulah dnarma brata mwang tap a, nda yeka ginawe ngku tan mapakene denta temah ilal&pa, satu warsa narendra sampun angadeg bhupalaka tan kurang, mangka rakwa lawasku tan hana maweh bhogadi danotta- ma.
- Wetning tan hana yajiia punya ginawe deningjagat durbala, nda,h mangke tanayangku yar pahuwusan denta amangun duskreta, mula brahmana wangsa putra bhagawan atrin wisesanjaya, tustus ning maramarsukang bhuana sang meh j°'iwitan tana- ku.
- Najar sang paramarsi mukya bhagawan anggiro tudhatreja, ndan sang sri nrepa wena mangkin angadeg kaduracara nira, mingk.ing-mingkingakcn ta bhawa nira Jud maguywa..guywe sira, mojar wak prakata tcher mijil ikang twas kangkara nistura.
- He sakweh kita nagna bhanggan umarah tatwopadesa nghulun, nda tan wruh kari tar wulat pwa kita ring dharme~tanagkwi sarat, ndayung wantena yogya mangpanga ike dhannanurage nghulun, tan pang rengwa tatan manon lewiha sangke sanghulun ring jagat.
lawan paryyangan !en yasa, lawan tang mangulang gulang mwang ika punyanTng maha srestiya, punyangkwiki kabehnya yan hana manah kuntunwana brasta ya, mwang sakweh nikanang jagat milu geseng nissesa dadya hawu.
- Yadyastun kumlem ring amawa ya rarem ring maha sagara, yawwat ng wang maharep uminduhur anunda nunda nangkwi ri ya, apan tan hana mewehang tekap i sang pragwiwaka sakti ya, sasing sadya kasiddha de nira maharaja diraja prabhu.
- Nahan ling naranatha wena ati bangga murka mohanaput, wetning tan kawenang kumola tekap i angkara wena dhipa, ngka ta kroda madeg maharsi wekasan makrak masingha- kreti, l
- Kroda sri naranatha wena mamales mamrep ng gulung sa- hasa. Kantep kombaki sang maharsi katiba kweh kedekan lud tin ur, abyuran pada katresnan katahurag sakwehnya mungguwing sabdha, kabwang dwastha tikang corancang inidek !en tang binabar be bar.
- ngka ta sri bhagawan muwah ywa mapulih mamrep su- nilatmaja,
20. Mangkin krura silih sikep silih ubut ngrenggut ginantus di- nuk. romawra makusut lukar badanira singsal katimpal waneh, wetning suwyana bandu tan dadi tiba sor sang sumilatmaja, ndah yekan pinupuh lengon ira kiwah de sang mah a pandita. 21. Kagyat sang prawarsi denya metu tang wang krura rupa ri ya. arddha tenggek agong awaknya akhireng warnnanya kadya banjana. wetning durbala sang narendra penaribhaweka de sang sri, min tan ugraha maryy a n ugraha tekap sang wiprarddhalara.
22. Resresan pwa narendra wena lumiyat ring rupa sang mayati. mengas-mengas ika wulatnya nisada nenggah wuwusnyalara, ndah yekan tineke ta rakwa nisada de sang mahapandita, ye kita ng nisada kasaktinika himper wena kalperi ya.
23. Apan sari nikang gelen-geleh ikang twas wena natha para- bhu, manak tang nisada ya teka sawaran sakwehnya katan waneh, ngkaneng parswa nikang giri prakasiteng windhyadri nama nika, kadyangga nikanang pradesa kumuranya tonggwaning sa- gara.
24. Ndan sakweh nika tan waneh guna ginengnya sagananya kabeh, norang dharmma gawenya amati-01atika ring alas durgama, baryyan ratri mamet mrga pwan umahas pantan hanang hawara. saksat singha padhanya tulya nika ring sardulawikridita.
m:i tangnya tinelah narendra prtu de nira para.ma wisesa pandita.
- Prajap.1ti sira n urun ring ale ping m uka saha kawacanya tan hi Jang, dudu Iawan i sang yayah nira ta dharma nira minaki ci tta-ning sarat, kawredyanira dharmma murti saha.nanya tekap i narendra wiryyawan, ya teka Iumpas pranantika i sang bapa mulih ing acintya sunyata.
- Samangkana tinemwa de sang ati bagya phalaning awkati d11armika, kasor saphalaning mayajna yasa punya saphala ning atirtna yatraya, ikang sakala niskala pwa phalaning t wnemu phala suputra digjaya, apan wenang ika swadharma ye umentasa halaning adharma dus kreta.
- Na hetu nira yan winursita bhiseka pati tekap i sang watek rsi, dhateng bhatara sagara tumut hari giri pa.ti jahnawi sira, mawamreta umunggwi kundi manikarja panira-nira sang nareswara,
O. Suka twas ika sawang ing nagara tan hana kahala-halanya ring praja, luput sahananing jagat ta ya pininta lwih haji sawuntu ga- lengan,
Sampun rakwa lawas narendra umadeg ratu tan hana parang- muke haji, saksat sakti bhatara wisnu sakalomi langakena kalengkaning jagat, mawas rakwa kadanasura nira ring sarat anginaki cittaning marek, mukya sang rsi sewa sogata samarsa amuji guna sang nares- wara.
- Mangke sri naranatha yajna dinamel nira atisaya dibya tan sipi, pretta yajna ngaranya yajna nira sang prabhu ginelar ira ya takrama, kala sri naranatha kinwam angucur minak ulih ira sang yajamana, ngke sruha minantra de nira yajur sruti tekap ira sang mahamuni.
- Nahan he tu nikang pwa suta pangaranya wijil ika wikara tang stuti, wanten widhya salah prayoga tekap ing sagama tatan anuta ring krama, hetunyan stuti dan manut wijil ikang stuti tekap ira sang yajamana, dadyakon ta ri sang supaksan angenakne widhi maka sud- dhaning yasa. ·
- Samadhya pwa kucur nikang minak aton tekap ira paramarsi ngarcana, wwanten warna wikara metwa sakaring dilah ira jatha wedadbhuta, ndah yekan pangaran wikara tama tan hana tinemu nikadi warnana,
ya, apan denya wikara rakwa umijil saka ri widhi kasudhaning mala, nda yeka magada pwa wastunika de para rsi pangarannya tan waneh, apanyan magada pwa ya wekas ikang sama ri wetu nika- nang arcana.
- Ngka rakwa humarep pwa warna ya wikara ri narapati karwa ring sab11a, sanya-sanya umastawa yasan sang prabhu ri angen-angen- nya mangkana, ton de sang paramarsi kapwa ya teher winuwusan ira sang sumewaka, mastutya guna sang nareswara kamung magada ya gawenta nityasa.
- Apan reh kita lagya siswa tam a tar wruha ri guna narendra ring paraja, mwang teka ri kapurnaning yasan i sang prabhu wihikan ira ya kawruhan, naling sang paramarsi mogna umatur suta magada ri jong mahamuni, bagya yan hana sabda sang rsi marah-marah i ri kami ring sayogyana.
- Singgih tan wihanga maneh-maneh i sang rsi samuhuna pada sang yati, ngunyahyU11 iki sanghulU11 marang umastawa kunang ika tan wruha ngh ul un, hetunyan humeneng tatan wani lumanggyana sawacana sang muniswara, nahan ling nika sang maharsi sumahur duga-dugan umarah ya ta krama.
suta J eni pamujinin kamarma rum nika.
- N11. Sang siptan ri huwus swa yajna ginawe nira atawa kuneng pirang tahw1. µrapta sri pandyaminta tadahan ira mapakna punya sang rsi. tan kantun tikanang sarat sama dateng ri haji malaku bhukti he sira. herunyan patadah ngaranya amalakwa panganen ika suska malapa.
- Kepwan sri naranatha wena suta tanwr W1a masungana bliuk- tyan bhaksana, an sampun alilang pwa sesin ikanang pura para wasa punya- kenira, kewalya warayang nira mwang ika tangkulak ira kawacanya tan tumut, nguni kala nikanang swayajna nira kari tan ilu karika pinu- nyaken.
- Mopek tambek i sang nareswara tatan hana ri sirang upa- yangenaka, madeg angkara ning twas ardna mapanan dadi metu iKa mohaning dadi,
tan simpang kadi sabda sang prawara pandita ikanang asilt maweh ilik, narendra prtu masih ing jagat um on laranika ya ta he tuning gelong.
- Madeg tang abhimana jati karatun rumasuk i kawacanya bhisama, mwang langkap nira len warastra nira wus dinamel ira tinalyaken ira, apan lwir dwanining laras nira winentang ira kadi kagendra manglayang, wanten hunining gelap sayuta himper ika kadi 1<:arugang ambara.
Mun tab krodha nira ng narendra prtu sahas ika kadi kala- geni kadbhuta, lwir kalantaka mawa dnanda maharep lumburak ikangjagat raya, tan Jen sri pretiwi kasengit ira yen usir ira maharep mamat- yani, trasares kumeter mahisiki tinut palayu nira tekap nares- wara.
SRAGUHARA
Tatkalanyan layu sri pretiwi patipurug puh ndatan wruh ing paranya, lungangilya ri durgadbhuta sira matakut ton sira krura rupa, meh-meh yan kagraha de narapati karananyasalin warna beda. ndah mogha nandaka rupa wanita malayu yeka madres lari- nya.
- Nda tan maryyatinut de nrepati paranikang lembu sighra ya lumpat, wentang tekang sudanwa warayang ira murub tulya bahni · prabanya,
mangkin kepwan bhatari ksiti siran umahas mosyan amrih umetya, ngka cakra para cakra kumuliling irikang madhyaning loka-loka.
- Prapteka ring jana loka sira ta umahas mwang tapo loka sighra, nda ngkaneng satya loka bhramita mabayangan brahma lokan paranya, yekan tan sah tinut de narapati saparan hyang pretiwyan panggilya, mangkin mingsor maring manusa pada ya tinut de nirang wena putra.
- Mangkin kepwan bhatari pretiwi salakun tan hana tan tinut, tan wruh ing deyanya tatan hana wenang atulung kalaning duhka mangke, mawas rakwa tatan yogya mamapagakna sakti wiryya pra- bhawa, na hetunyan madeg manglalu marepaken sang hatur agni rodra.
5.Ngkan tinghal pwa sireng bhyoma metu karatihanyan sel ring swakarmma, sungsut sakweh nirang dewa gana rsiganeng antariksa tuminghal, kapekanyan pamuja ri sira sang anahen duhka, bhara pra- meya, waktra mwang tang bnuja angga mawasika tumut ungkara dewa sanggha. - Lumra tang puspa warsenggana saha lawan ganda wija pra- meya, dening kweh sang watek siddha gana jaya-jaya hyang preti- wiyati duhka, mwang sabdarum akoh sri pretiwin ahuripanambahi sri narendra, tatan dadya tatan masiha ri kita tuwin dadyaning dharma murtti.
kii- pralaya.
- Yeking rat kelikanta paka luputa nikeng rat karih de narendra, nda yekangde swa doseng haji duweg ikanopaya mangke kinaryya, sugyan mangke kasiddha tekap ika gumawe karyya-kinar- yyadenta, manggeh mangde pageh kirtti haji gumawayang haywa ning rat sapuma.
Apan ring sri narendra nrepa pangaran ika sang prabnu swastaning rat, singgih mangke ujaming wedi pejahamene panggUhen de narendra,
Ndah nda mangke hidep ning hulun i haji kunang sang hulun merih swakaryya, lawan sri bhumi nathar kumira-kirar. iking rat sulabhan katemwa, apan don ing ujar kwiki umatuha ri jong taryasihkun nga- wesa, yadyan tiryak pwa yoninya pejahana ike byakta angde swa wighna. J 3. Tawat ring stri lewes papanika sama-sama ring kretaghna salanggya, tunggal rakwe pejahning bhawa ika gumawe papa ning wang mama ti, yadyastun kweh nikasung suka yan asubha margganya angde swa duhka, yeka kengot marendra atikaya halanikangam bahe.king wimargga,
W ASANTA TILAKA
I. Naling wasundara ri sang prabhu bhakti matwang, sang wena putra sumahur ibu haywa mangka, wruh ta nghulun ri ujarta sadharma sastra, tan yogya yeka laku sang wara dharma budhi,
- Akeh pejah ywa maka dinya sukanya waknya, mwang donya yan mapakna sukaning sawijya, ya swartha kewala ngaranya agong halanya, tan yogya yeka laku sang wara dharma budhi,
- Mangke pejahta aparan pwa rinasa den ta, tan dharma karana ngaranya tekapku mangke, apan pejahta magawe hayuning swaloka, mwang sang maharsi sama tusta tekapKu mangke,
ha hapa sangsaya tekapku mene riking rat, apaku tan wenanga dnarana ri hidepnya.
- Du sajna natha aparan pwa pakon narendra, ngke ta nghulun mituhu rakwa pakonta natha, ha hanakangku kita yan humidep pakonku, rapwan kitat pretiwi rakwa ngaranta ring rat.
- Du sajna natha kapanku wihang pakonta, tat sangsaya prabhu saling ta kutan wikalpa, yadyan hana bwati pakonta muwah rikeng wang, byaktan kasida sapakonta tekapku mangka.
- Rakryan anakku kita masku nihan pakonku, denya teka sidha gawayenta hanung yasanta, rapwan hana pwa haranning bhuwana ywa denta, byaktan katon pwa kamahatmyananaku mangke.
- Om sajna natha bapa sanghulun haywa kepwan, ngke ta nghulun gumawayang naya yogya dahat, ndameta natha wurukangku kinon anuswa, suswangku yekane pineh mara de bapangku.
- Nyang bhumi mandala pinaka sudanganya denta. rapwan hana haranikang bhuwana suterepti, naling wasundara sukangen-angen narendra, de sang anak pretiwi dewi ngaranya tan !en. 11. Ngka sang narendra prtu sighra lemah kinaryya, ikang lebak hinurugan i ruhur sinasap, nang sela-sela pinupul kalawan samanya, sampun sapuma sinasap ginawe pakuwan.
kapna ya tolahannya, gorasku yekana balikwata sahananya.
- Na ta nimitta hana harakaning swaloka, tan len sukirtti haji wena sutati bhara, yadyapi kateka mangkya pinangguhing wang. manggeh swadharmma haji sang hurip ing swaloka.
- Tan dwa ngrengo ta sira sang rsi siddha sanggha, prapta ng sirarpadha mapinta kasih narendra, milwa meha pwa ri sirang wara sikya dewi, dadya sinanmatha sapitnta kasih nira ngka.
- Hyang soma rakwa wurukanya pameh bhtari, dhang hyang wrehaspati mameh sudhanganya candra, kapwa pareng ta sira gatri sudhanganya tan Jen, pohanya rakwa tapa Jen saha puja mantra.
- Mwang mangrengo ta sira sang para dea sanggha. kapwa pareng sira mapatra kasih narendra. milwameha ywari mahisiki atar wanehan. 1capwa wineh ta sira de nrepati wena putra.
Ngka sang hyang indra wurukanya pamehnga
Sang hyang pitara wara detya ya naga yaksa, mwang raksasa pwa ya pareng saha widhyadara; gandara len sahana wreksa tumut kabehnya, lawan latangkura pareng pwa mapinta kasih. 21. Iatan hana sinalahan ri pamintananya, na ta matangnya ya mameh karika kabehnya, sang hyang pitara rumuhunya mameh sutrepti, byaktan sudhangnya ya pirak mara puma dibya
- Sang hyang yama pwa wurukanya marek manuswa, swada mijil pehan ika sakaring susunya, mannanya trepti sakaring parama swadhyaya, sang hyang pitara sahanyanya sapurna denya,
- Mangka ikang asura syariti sudangnya, werocanan kasipuputra maka wuruknya, sang pandhya sukra ya mameh wiku dibya, sakti, na tang bala metu lawan ta ya maya suKsma.
- Na donya sakti nikana surati dibya, na ng indra jala pinakadi lekasnya nyidra, ring timira pwa wekasing bali bancanatah, byakta pamurtyan ika raksasa rodra rupa.
- Nang naga tekana padomilu yar paminta, kapwa sinanmata paminta pamehnya mangke, sang taksaka maka wuruk wasuki pwa yameh, na tang waluh maka sudhangnya kuwungnya malwa.
- Racun upas mwang ika sarwa wisa pehanya, na hetu sarwa wisa sakti nikang si sarpa, mwang yaksa raksasa pisaca milwa pwa yameh, sang wisrawatmaja danendra wuruknya tan len.
Raja ta nabha ya kinon ameha prayatna, yaksadipatisaya wirya niran susakti, rajata nabha bapa sang wara mani wara, tan Jen sudang nira apatra supatra dibya.
Dadya mijil ksira wasundari sakamantya, ananta ardhana ngaranya lewes gunanyan, ananta ardhana adresya ya suksma tatwa, tatan katon wekas ikang guna ya adresya.
- Gandarwa apsara ya rowang ira an pameha, sang citraratha ya wuruknya kulapsaraya, gandarwa sang wararuci pwa ameh sutrepti, parnah swa putra muni padma yta sudhangnya.
- Gandarwa susya pinakaksi rawi pawitra, na marmaning suka rikang mawangi suganda, gandarwa apsara sutrepti rikang sumannrik, salwir nikang mawangi yeka maweh praharsa. 3 1. Hyang parwata pwa sira kapwa pareng ywa mameh, sang hyang himadri pinakadi wuruknya sasri, sang hyang sumeru ya mameh pinaka dikara, yeka sudhangnya watu ya mreta pehananya. 3 2. marmanikatisaya bhawa ikang osadhi. ngkaneng gunung makadi ring bhimawan sumeru, nang wreksa yekana tumut ya memeh bhatari, plaksa wuruk palasa ya sudhanganya mabhra.
- Nyang wina gandapura ho pinaka pehanya, na ta matangnya ginetes tumuwuh ya malwi, yadyapi tunwana kunang meletik kabehnya, mangka prasutya nikanang kayu mangkanatah.
- lnganya mangkana ta de prabhu wena putra, mamrih sum ad ya ri pehanira loka dewi, atyan ta dibya nikanang wara tatwa suksma, tar yogya yan warahening mageleh cemer. ya.
- Ring papa karma ta ya sisya ta tan bratanya, denyat pawitra prtu raja kojarannya, apan wenang ika mamredyakenang yasagong, mwang swargga loka phala yar katemu pwadenya.
UM I. Hana ta gunung rarnya temen, ring jam bu warsa ya tong gwan ikana, pajajarnya daksinotaranya, pitu kwehnya trikulwan wetan ikahen.
- Tulya padma yweninget-inget, mara padu yanalihaken, asta dala tulya nika, kesaranya surneru gunung agong.
- Tulya talaga ikanang jam bu warsa, sakweh nikangjana padewakanya, nanawidha tang manik haneriya, tulya turut ikanang kumudasri
- Ndan parinci nikang gunung wiwaksan, saka kidul deyaning amilanga, ring himawan purwaning amaraha, gunung agong lor ikang bnarata warsa.
- Tumut pwa ring hema kutha, gunung suwarna lewu halep ikana, tulya aditya wahu metu, mabang katon denikang mas.
Lor nika gunung ya sasri ya, ring nisada ngaran ika, gunung gangsa pawak ikahen, atyanta ring bhaswara mawa ring langit.
Kidul sangke sweta nila parwata, gunung agong atisaya ruhurnya, cutra wedumya manik akweh rikana, kresna kara senonika ring langit. I I. Awelu panapaknya rikang pretiwi, apasagi pangadegnya ri ruhur, nanawidha wama nikang manik, haneng parswa nikanang gunung magong.
- Ngkana madya ya tonggwaning meru, gunung maha rarnya atisayeng gong, atyan tekana ruhumya, lwir linggodbhawa dumudug tekeng langit.
- Ngka tonggwan prajapati guna haneriya, mwang unggwan pupwaning puser hyang brahma, metu sakeng angga pradana, sianangguha ri hari gunung surneru.
- Mas manik puti akweh parswanyaa wetan, nda yeka brahrnana tatwanika, parswa kidul manikuning akweh hana ngka, adwa payana katatwan ika.
I 5. kulwa nireng kadi he laming kum bang, kresna kara manik akweh rikana, sudra yekana tatwanya, parswanya ler manik bang makweh iriya.
I 6. Ksatriya yekana tatwanya, catur wama rupaning manik ta malah, samangkanekang gunung sumeru, kongang sangke ng akasa de sang sidarsi
1 7. Prabna swara katon ikang gunung sumeru, apan koparenggan de nikang manik, nanawidha tekana rupanya, tan kinawruhan rucira milange riya.
I 8. Kunang wetan ing sumeru wiwaksan, gunung agong ati sobhita, ring malyawan ngaranya, mawan pucaknya yaya misraheng langit.
I 9. Kulwan ing meru hana ta gunung ng agong, aruhur dudug rasa tekeng bhuwah pada, paripurnatyanta halepnya, gandha madana ngaranya tan len.
- Samangkanakweh nikang gunung agong, ringjambu dwipa kahanan ikana, siddha carana kwehane riya, sura gandarwa len widyadhara akweh. 21. Lonislanya sangke kapwanya gunung, wan ten teka sangang iwu yojana, hana wanwa kumililing ring meru, ilewretta pangaran ikahen,
- Telung ayuta pangiwu yojana, lwa nikanang ilewretta, kunang ika katapak denikang meru, sayuta nemang iwu yojana.
24. Kapatitis de nikang meru !or kiclul, yeki ceti pangaranika, sangang iwu patengah nikang ceti, samangkana !wan ikanang ilewtetta.
25. lkana kidulning sumeru, !wan ikang ik wretta !waning meru, sarnangkana upa laksana muwah, lwir nikana ya kulwan wetan.
26. Nda tucapang sapta warsa ringjambu dwipa. ikang gunung pada ya konggwaning warsa, !wan ika rwang iwu yojana, padi1atika samangkanatah.
27. Lor nikana mwang pangidulnya, ngaran ika ring nisada nila, kunang pangulwanya mwang pangetan ika, padha ta sumengke ring jam bu dwipa.
28. Hana ta gunungpadha kapwanya gunung, tatar padha lawani sabha nila, apa dumeh mangkana, awelu tangjambu dwipa kahananya.
29. lkang nila nisada katengah, adanya tekanangganika, ikang sweta !or nikang nila, hemakuta kid ul nikang nisada.
30. Apan riheng nimitanya atendek, kasor kalih denikang nisada nila, rwa welas iwu yojana, astha y uta walung iwu kayojananya.
Padha kapwa ya kinamanan, de nikang nadi nadi saprakaranya, ya matangnya ati durgga, sarapan ika ring desantara.
AN USTUP
l. Kuneng kidulning himawan, salor nikang tasik asin, bhatara warsa ngaranya, desa gong maha ramya ya.
2. Yapwan salor ning himawan, kakidul ri hema kutha, ikim purusa ngaranya, desa gong tyanta pawitra.
- Kalor dening hema kutha, kakidul dening nisada, hari warsa ngaran ika, desa gong maha sobhita.
- Kunang kalor nikang nila, kakidul denikang sweta, ing ramyaka ngaran ika, desa gong tyanta subhiksa.
- Yapwan kalor nikang sweta, kakidul dening srenggawan, iranyaka ngaran ika, desa gong supurna dibya.
- Kalor denikang srenggawan, kakidul ring tasik asin, kuru warsa ta ngaranya. desa gong kadi swargga ya.
- kuru warsa panepi lor, supurnatyanta mottama, ya tonggwan sang sajna nguni, atemu ri hyang patangga.
- Nda nikang bhatara warsa, panepi kidul katengahnya, yuga pat kahanan ika, mwang suka duhka satata.
- Lwir danwe naya tinalyan, bhatara warsa pradesa, hana wulan pinarwa, ikanang kuru warsa.
- Ing hari warsa pradesa, ramya mwang hiranyaka, makusa pangetanika, kahanika kebehnya.
Ya teka tiga yojana, patiga ning ilewretta, apanika rwang mangkana, kadohnya sangke nisada.
- Gunung wetaning sumeru, sewu yojana sengernya, lu majur mangalor. dudug ring nila parwwata.
- Kunang ika pangidulnya, dudug ika ring nisasa, imalyawan ngaranika, gunung agong pawitranya.
- Desa wetraning malyawan, kulwan ikang tasik asin, ring byadraswa ngaranika, rwang iwu tigang laksa ya. l 7. Samangkana pangulwanya, yojana nika tar wan eh, kuneng kulwan ing sumeru, desanung maha subhiksa.
- Wetan ikang asin, ketu mala pangaranya. gandha madana dungunya, gunung agong sobhita ya.
Pangalor mwang pangidulnya, dudug ring nisada nila, samar ngkana warsa nika, tulya kadi ring bhadraswa.
- Kamadhya ikanang sumeru, de nikang gandha madana, .Kalawan ikang malyawan, mwang ikang nila nisada. 2 1. Kuang ruhur ning sumeru, walung lansa patangewwa, tanemya irika lemah, salaksa ri patangewwa.
- Panapaknya rikang lemah, triguna teka wistara, wantah ri patang laksa ya, kalawan ri wwalung iwu.
- Aamangka welu ning meru, panapak ikana ri sor, mwang pasaginya ring ruhur, nemang laksa patangewwa.
- Ileana sahaning gunung, atyanta kadibya nika, kapwa sahana nikanang, osadhi lata kabehnya.
- SuKa tang dewata kabeh, danawa gandarwapsara, yaksa kalawwan raksasa, widyadaei kweh irinya
Kuang ikanang sumeru, gunung lir kidul ika, kuwan mwang pangetanika, panepi !or kuru desa, kapwa mujgkuraken warsa.
Mangkana wamna nikang setri, kresna kadi indiwara, kapwa ya priya darssana, koneng-uneng ni hayunya. 3 1. Panasa irikang desa, atyanta pawitranika, kahenti sadrasa denya, aranikang wwang ri ngakana,
- Pinehnya wwah nikang nangka, wenika ya tinahapnya, phala mreta ya ngaranya, angdadi tustastisaya,
- Dirghayusa ta ya kabeh, sayuta warsa huripnya, satata gosti gawenya, saminya malapamreta.
muwah wamna nikanang setri, tan pendah lwir padma.
- Mwang priya darsana ta ya, saleir ning magawe raga. nityasa nginakang akung, ya tika pinakolahnya.
- Lwir wulan sedeng purnama, bungah ikana mukanya, mwang ika dubeni hawaknya, kadi tis ning sasa dhara.
- Kunang kasun awak ningjalu, kapwa ya teka mahanget, aw or gandhaning sarira. lwir asep gandhanya sumerak.
Warsa kalor nikanang nila, kakidul dening swetaka, ring ramyaka ngaranika, desatisaya ramya ya.
- Kunang ikang wwang ri ngkana, tusta tikangen-angennya. ndatan pacalanjanmanya, lituhayu sahananya.
- Hananya grodha ardha gong, ronya padapanya reneh, atnyan ta ikaneki wahnya, kama prada ika wahnya,
- Sakahyu ing wwang amangan. yateka maka rasanya. wwenikang wah ininumnya. yatangde dirghayusa. 4 7. Sayuta warsa huripnya. nogroha nirupa drawa. suka sadha salawasnya. susuila dharmma gawenya.
Kunang !or nikang swetaka, kakidul dening srenggawan. ring ranyaka ngaranika, warsa agong tyanta sobhita.
Tulya yaksa pangawaknya, sugih mwang priya darsana, salaksa sewuhuripnya, lawan satus lima welas, 5 I. Kay u rah u rikang dasa, tan pahingan inak wahnya, kahenti sadrasa denya, hara nikang wwang ri ngkana. 5 2. Sa tus tahun umangannya, tatan keneng Iara lapa. duh ni wahnya ininumnya, ya tangde dirghayusa ya. 5 3. K unang ikanang srenggawan, tri srengga ngaranya waneh. apan tiga pucak nika, aryan ta ring mottama ya.
- Tunggal ika manimaya, sasiki kanakammaya, sawiji ya ratna maya, asawung-sawung tajanya.
- Warsa lor nikang tri srengga, ring kuru yeka ngaranya, kalpataru kweh iriya, madu phala ika kwellnya,
Tanpatara kambang akweh. dodot rahayu kambangnya, sarwa bhusana wah nika, muwah sarwa kama prada.
Lawan hana kalpataru. ksira ngaranya sawaneh, sadakala ya kumucur. amreta sangke kambangnya.
- Kalpa ksira pangaranya, suka tikang wwang minumnya. maphala kadirghayusan. ya tika hurip tikang wwang.
- Satus Iaksa lima welas, mwang lenah-lemahnyamanik. lebu-lebunya kanaka, saka sada wwang ri ngakan.
- Tan hana kasangsayanya. satewek tuwuhnya dadi, tatar keneng Iara soka tusta citta sahananya. 61. Dewa curaka tatwanya, tumurun sangke swargga ya, tan leteh kawwang nika. mituna ya ta wijilnya.
- Mituna yeka ngaranya, kambar metu salakibi, makyren wwang sanak nike, mangka purihning dadinya.
- Suka ramya patemunya, apan pada lituhayu, susila sih kinasihan, silih iring suwalambek,
- Kunag lor nikang himawan, kidul nikang hema kuta, ikim purusa ngaranya, atyanta koneng-unengnya.
Kaui mas sampung sinangling, rupa nikang wwang ri ngkana, kadi apsari polannya, srenggana manis wulatnya.
- Ta ra Iara tara kingking. alilang teka manahnya, kapwa weruh tayeng inggita. minaki cittaning swami.
- Hana mebulu dibya rasa. umungguh rikang desa, pinaka ha.ran ikang wwang, wah duhnyatyanta surasa.
- Lor nika ring hari warsa, putih rupanya wwang ngkana, kadi pirak wus angling, tatan pacalan kanehnya. 7 1. Aamangkana tekanang setri, tulya kadi ng kim purusa, dadi ning dewa dadinya, tumurun saking swargga ya.
- Ikang ininumnya kilang, tebu ika kapinangannya, purisan ikana sepah, tan hana mambe dugandha.
Ya matangnya dirghyusa, sahananing wwang ri ngkana, Jewih tusti kurang krodha, sangtikajnana jatinya.
- Desa Jor ing ilewretta, tan apanas katatwanika. apan teja sang hyang aditnya, tatan teka ya rinaka.
- Tunun teja nika manik, pager tunjung i kambangnya, ya ta sumeno rikana. rahina wengi satata.
- lkanang wwang dirghayusa, lwir tunjung warnna nikang wwang, lwir tujung wangi-wanginya, dala ning tunjung matanya,
- Dewa yoni katawanya, tatan pahingan hayunya, hayu sangke sang ibunya, halep ya sangke yayahnya.
- Mawelu ika jatinya. warsa ngka ring ilewretta _ nandi nagara bhawanya, langgula iKawa lwirnya.
- Lor nikanang ilewretta, katapak denikang meru, tigang laksa parangewa, kalwaning meru juga ya.
Pangetan mwang pangulwanya, duuug tekang tasikulwan, kalawan ikana wetan. icamadya tang ilewrwtta.
8 7. Hana ta lwah magong suci. hireng hilinya mahening, kresna kadi silanjana, jamna rasa wati ngaran.
iiana ta wit ikangjambu. sudarsana ngaran ika. kanenah tuwuh nika kid ul.
- Te pet sangkeng meru madhya. kanenah !or dening nisada. kadohnya sangka ri meru. tigang iwu yojana,1ya,
- Ngkaneng ilewretta kidul, pangadegan ikang jam bu. atnyanta pawitra nika, sada kala kambanga wan. 91. Paranti ning rsi gana. maka hara ta wah nika, k uneng ruh ur nikang jam bu. san i yuta yojananya.
- Kaharas-aras tang swargga, takep ipang nikang jam bu, wadilika tan kalemahan, yatika mijil am re ta.
- Temahan ika Iwah agong, atisaya pawitanya, paher mas pinaka wwenya. jati suddha ta rupanya.
- 1.umuliling pwa yeng rneru, hilinikangjarnbu nadi, rurnarnpuh sangkanya nguni, kadi rnekalaning rneru.
Ya tekana inimunya, dening wwang ring ilwretta, atyanta maha rasanya, tusta citta pwa ya denya,
- Jara mretyu tatan hana, lara lapa angelamg-ngelih, sarwa duhka pwa tan hana, suka harsa sahananya. 9 7. Wah nika ya nhinuktinya, kunang dawani pang nika, sakrosa lor kidul ika, pangetan mwang kulwan ika.
- Mwang wangke nikang wwang mati, tekeng purisya heyehnya, hinelo de nikang lemah. nugraha hyang caturmuka. PRAHARSINI
I. Sang siptan huwus ikanang pata wiwaksan, nda ngkaneng himawan ikin muwah winama, yaksa raksasa ya pisaca munggwi ri ya, tang tunggal asabha-sabha sU1Ca mahanya. - Ring hemakutha ta kunang sabha rikana, gandarwwapsara gana yar sukameng-ameng, ngkana ring giri nisada sabhaywa naga. mukya taksaka wasuki pwa yadikara.
- Ndah ngkaneng giri wara wiryya ring meru, mwang ring nila giri sabha-sabha teka ngkane, sang brahmanrsi sahaya siddha carana ya, ngka ring swetta asura danawa sabha ngka.
Noah ngka wanten talaga atilengong, ring syacoda pwa pangaran ikahen, atyanta nirmala ya pawanatah, bapetang padma ri tengah ikarum.
- Taman sang citraratha ya mahalep. akweh tang puspa ri tepi majajar, sumrak gandhanya mawangi ya marum, darppang reng-reng bhramara wilasita.
UODHAKA
- Onya ta sang ratu ti ngkana dibya, sang mani bhadra ta sajna tamoli, yaksa narendra sirati wibhawa, guhyaksa wadya nirardya mekweh.
- Mandakini mwang acoda nadi ngka, kapwa pawitra padagung ikang lwah, mandakini umili mangwetan, ikang acoda mili ya tangetan.
- Ndah atemu pwa ya ri wekasanya, apan ikana angetan ilinya, dadyatemu pwa ya mogha lilinya, ring tasik asin nika ya ti ban ya.
- Geneya sakeng giri pucak himadri, ngka ta gunung sipi sangghya ngaranya, ngingi kalohata ya ta pucaknya, parwwata mas kadi tejaning arkka.
- Jong nikang adri hana pwa ya kirna, lohi ta ya ngaraniya pawitra, tira nika talaga ati ramya, nJan ri wisoka yate ngaranya.
- Koneng-uneng ra kuneng ta pangennya, mwang hana ta ratu ring sipi sanggya. sang maniwara sang ajna nira ngka, yaksa nareswara sang prabhu wiry ya.
BHUJAGA PRAYATA
- Haneng neriti pwa sakeng parwwatagong, gunung mas arunya ngaranya suteja, ya ta cangkrama maha nila kantha, karing pun ca wan mas pucaknyati sobha.
- Asangkya rnaniknya lewih suprakasa, matangnya sinang awargga ya koperenggan, lawan tanakirna ri jong ning arunya, ri solodhaka ya ngaranyarda sudda.
- manguwan hilinyanggalw1 tang ya madres, angulwan ngidul pwa hili wwe caksu, matangnyan tumampuh silodhaka tirtha, angulwan dudug ring tasik mala wana.
- haneka sira raja ring munca wana, sirang dumra lihitya sajrnanya tan Jen, nda yaksa dhipati prasasta, kares dening angdoni ring lagi-lagi
- ikalasa bayabya nikyati ramya, hana pwa gunung kyati ring rati suddhi. pucaknya ri hiranya srengga ngaranya, mani maya apurwa mabhra pradipta,
- hana pwa ya taman maha di bya malwa, ri jongnyeka hiranya srenggati suddha, manik mottama pwa ya tirancanya, suwarna dedet ya ta puma heningnya.
karing windusara prasiddha ngaranya, ngkaneng asrama ngka ri hiranya maya. maha raja bhagirathekang usana, prasidha pageh denya angarcana hyang.
Nda yeka pratijna narendra rikeng twas. hilang bhasma sang mungguha Ian wibhukti. ya keliya de sri maha gangga dewi. ya tangde sapurna swajati wimala.
- Kunang tan hana sri maha gangga dewi, ri bh ur loka suska tatan pwa ya toya, nya sambanda cala-calanta rasika, mulih ta siromantuk ing somaloka.
MATAMAYURA
I. Mangkin madhora sirang dewata sanggya, kapwamintasih ri bhatara smara satru, kon sang dewa rsya ya umunJang pwa bhatari, tatar angga sri wara
- Dady a min ta pwa sira welyan ri bhatara, ndah ngka yan siddha taruhun ta sira rat, yeka tampuhnya kapilaja ta bhatara, sambadanya tan lumeburang bhuwana kweh.
Na hetunya sang paramarsi pwa manemban. mwang sakweh sang dewa gana kapwa t umuta, mulya mintasih ri sira sri sata rudra, icela sang hyang bhawari paminta nira hyang.
Ngka kon dewi gangga turun ta sighra, temp uh ya man ten ri jatha sri sada rudra, nda ingkana pwa ya tewekeni menaga dewi, byakteka naran tri patandewa watek nyang. SARDHULA WIKRIDHITA 1. Ndah yaken tri patengaran rasika sang sri nimenaga jahnawi, marmanyan tri patha niruktya nira bhur bwah swah krama- nyerika, apanyan umijil ri wimba nira sang sang hyang sri mrega lancana, nda soma pada ta ngaran hada hadaning teja sang hyang wulan.
- Prapteka sira ring suralaya rika mywa haneng swarggga ya, nda tap wan teka ring jagat turun ira srj dewi ganggodhoka, ndan ring byoma jugan katon tekap ikang janmerikang bulata, maya karaniran Katonya ya kumendeng ring langit Jirgghya ya.
- Ndah win tang ya watang eueur ya gumuling mawas haneng butala, atyantekana harsaningjana kabeh ton ta sireng ambara. mangke pwa sira yar tumampuha ri jatha sri jagat karana, nda tap wan umili pangem beng irikang salang-salang tan turun.
- Wanten pwa sira sirat-siratnya umijil ring bahu sang hyang siwa, yeka rakwa tumampuhing hana ranya srengga tatar waneh, wwe kunta temahanya yekaraniki ring windu saradbhuta, asri ramya biKang taman-taman adoh ri nandana dinya ya.
- Sambanda pwa tatan wineh bhatari sri wara hyang nadi, wetning sungsut ira bhatari ri siran dewi pwa tatar manut, ardha kimburu rakwangen-angen ira ri sri girindratmaja, tansah rakwa bhatara kalih apupul ramya pwa sadampati.
kon ta sri wara nila kanta masihe sri natha satya brata,
I 0. Tan len donya kahilyaning hawu nira sang mangdadeken sira. amogha pwa hilang gelong nira bhatara sri girindra sira, na hetunya hinilyaken tekap ira sang hyang jagat karana. henak tanduk irang galuntang ngatumampuh ring hirarnya maya.
I 1. Ndah yekan pwa ya tambaying sira bt1 atari gangga ta yomili, ngkaneng butala yomanyuttawuni sang pitta pejah sangsara. mangka rakwa teweknya jahnawi rnaran gangeki mangken huwus, saprapta nira mahitala rika prapitwa ta yornili.
PR TWIT ALA
I. samapta nika saptaning lwah ipadum nikang jahnawi, tiga pra ya ngawtanalari nikan pwa ardhaya gong, tiga pwa ya angulwana lari nikati suJdha lilang, ya tunggal angidul Jatinya ati niramalanya suci.
2. kunang pwa ya patunggalanya ranikang nadi ngetana, inandini nadi-0adi pawani pwa tirthotama. kunang pwa ya angulwa naran ikanang Jwa arddha ma110, sita mwang ika eksu sindu pangaranya tumottama.
3. Kunang pwa angidul haranya ikana ri bhagirati, apan anak ira tekap nira nrepati bhagirata. samangkana katatwanocapa nirang maha pandita, denya tumutur Jarinya ri lari nirang bhupati.
4. Nahan ta ya padum nikang Jwa ati sobha ramyalango, aneka tikanang pradesa pinaranya tan kawruhan, nda tita rasika hilinya ati nirmala Jwa dalem. sungengnya ati ghora tumus tekeng sagara.
5. Tangeh yan ucapaken yasa nirang mah a jahnawi, pirang nagara yan tinoyana gawe hayu mwang saw ah. lawan ta suka sang mahardhika saharsanangarcana, prasidha hurip ing umubeki sapretwitala.
JAGADHITA
I. Ewuh ng wwang angitung halep-halep ikang nagara uharata warsa warnanen, mewiwana salaksa 1
ya. kin twa sapta samudra hilwakna mama wekas i paramartha durlabha, yeka wistara bhara pangarari iking katha tekap ira sang kawiswara, marmanyang ratu ring dwipa tatan hana ngutus umiket palambanga.
- Ndan sakweh nira sang kawindra ring ng usana maharep angiket pralapita, tan len bharata warsa tatwa kidul ing himawan ika winarna ring karas, ngka rakwan sahanan catur yuga tikang jagat amuhara harsaning mango. len sangke rika ring dwipantara kaping rwa juga yugani kan da tan kalen.
SRAGDHARA
I. Ndah wanten parwwatagong kumulilingi rika jambu warsa pradesa, lor wetan mwang kidul kulwani pajajar ika katrini pwa sasr- ga, akemkem ring tasik lawana kahananika pwa yagongnya sampat, lawan teka ruhurnyan sama-sama mawelu lwir nurojar ma bunter.
2. Nda !or ing jambu warsa pwa pangaranika kapwa teka sasar- ga. ring candra mwang rikangka kunang ika kahana ring drona yekenaranya, kulwan ring jam bu warsa pwa paduluranika yeka kapwa sa- kanda, ring soma mwang wara haywa sama-sama nikan parwwata bhada rakwa.
hyapg samira, ndan ring pantaraning menaka kalawan ikang sakra hanyat gun ung ngga, yekonggwan apuy ira bhagawan orwa munggwing samudra.
~ 4. Wetan ring jambu warsa prakasita hanata parwwatagong sapurna, dhumra mwang dumdubhi Jen sabha giri sawawa ram ya kapwati sobha, ndah yeka dwa dasa parwwata kahananikaring tasik lawa- neka, manten rakweka sambar ta kamuka wadnawakakyating ageni rodra.
- Ndan ring purweng usaneka kacarita nikang parwwata krura karma. denya kapwa heJar kadbhuta hana ta sayojana maJwa he- lamya, bhangga bhogan ngeJayang ring Jangit ameng-ameng atyanta babarika kagulung len kasudul kasungsang.
- Akweh tang swargga mawreg binuru kabarasat sirna akweh katimpal, anglah tekang watek hyang padhanangis anseJ karma ring purwwa janma, sakweh ning hyang maranak maJa jong ngasasaran mungsi sang hyang surendra, kapwanuntung anaka potraka Juda gagawan setrinya ta bwat Jakunya.
Sapraptanyeka min ta sraya ri suku nirang wretta madandan, ratag tekang watek hyang mijila saha Jawan sanjatan yati rodra, sang hyang sakromane keni ng gaja pati angagem bajra dandati tiksna,
Krodhambek sri surendra dadi sira numeleg matta-matangga sighra, bajratiksnojwalabhra pinuter ira ulap lwir hyang arkka sahasra, yekan sighra dinukta ng gunung ika katiba ring tasik byakta sirna, rampung-rampung helarnya ta ya wenang urniber untuhing jero samudra.
- Yeka kapwanya sighra larutika mangidul jerih ri sang hyang surendra, ndatan maryya tinut de surapati kidul ing jambu warsa binajra, tan dwa teka pegat lahuyang ika katiba katrini kapwa mangelah, ngka sesanyan angulwan lakukina numurud yeka sighran binajra.
sang hyang apampati maka pura suprabhatah, dening prabhawa nikanang mani suprakasa.
mtur prabhu ngka, hyang dasa loka pangaran ira suprabhawa, hyang suryya kapwa manapak sira sari-sari, kalaniran kulilingan dumelo pradesa.
- Ping pat gumanti ya hider nira ring sasandhya, madhyahna ring amarawatya lawan mahendra, wahomijil pwa sira ring yama mangkanatah, madhyahna ring suka surup pwa sireng bhawari.
- Madhyahna ring yamuni rakwa sire syad ha, wahwomijil pwa sire ring suka mangkanatah, madhyahna ring bhawari soma puri hana ngka, wahwa surup ya pakatonan ireng mahen dra.
- Madhyahna ring suka pura ta sire kamantyan, wahwomijil pwa sira ring bhawari katona, madhyahna ring amarawatya sirar teka ngka, wahwa surup ya pakatonan ireng yamuni. I 0. Madhyahna ta sira ri sopuri pwa ya ta, wahwomijil pwa sira ring amarawati ngka, madhyahna ta sira ri sang yada yamuni ngka, wahwa surup sira katon suka rajya mangko.
1 l. Na de nira pwa magawe wengi sari-sari, ngka jyoti cakra tinapak pwa ya witanganya, adres lakunira ri daksina yana mangke, lwir hru lepasnya tama tan papahi hidepnya.
KRETI
- Nda nihan pwa ya kramani teja nira sira bhatara bhaskara, sama tisnira mwang ika somyanira rinasa denikang praja,
1 harah-harah pwa denira, yatika katisnan ira mangkin aruhur i kaya madohaken, irika pwa somya nira sangsaya manginaki cittaning sarat, ri telasnya ngatamana konang unang ikana somya yan katon.
- Udaya pwa wastunika ton ira ya tikana purwwa tan kalen, ikang astamana wekasing wwang ika hana tumingha sira, ya tikana pascima ngaranya saka harepa de niran laku, sakiwa kidul ngaranika saka tengen ika !or pwa tan waneh.
- Satata pwa tan hana waneh Iaku nira ya yangulwan juga, ya matangnya uttara ngaranya giri wara sumeru de nira, ika Ioka-lika sahananya karika juga tan hana waneh, kakidul pwa de nira bhatara parama siwaditya tan kalen.
WIKRETI
I. Nda yeki kalarangku de wacana sang nrepa wara mahisin pareng hulun ri denyan asada amakon rumacanang carita parama tatwa durlabha, sang asta guna panditeng jagat anindya tuhu-tuhu widagda ring Iango tatan wenang awas panumpeki pakon ira manahila tan wruhing krama. 1lki brahmanda purana samapta, maka druweying phakultas sastra udayana ing denpasar panegaran badung. Pascat tinular duk ing we, anggara manis wara uye tanggal ping panca, sasih kadasa, sangang bangsit ulungdasa pat warsa- ning Ioka. Anging ksantabyakna wirupaning aksara, denyan akweh kang meredpati kunang, tan elik gunuywan, sinurat olih ida made oka, ring griagung banjarangkan, panegaran klungkung.
Siwa maha utama, Dengan sepuluh perwujudan, berbadan delapan saat dipuja dengan yoga semerti utama.
- Kupasan dari pengetahuan keesaan engkau dan bersumber dari dua perwujudan, Juga mengenai tiga jalan mencapai moksa yang hendak di- tuju oleh orang yang telah berhasil sebagai yogiswara, Lah ir, hidup, dan mati, begitulah bahwa takdir kematian itu harus dituruti, Pada gapura kekosongan ini engkau diutamakan sebagai sarana pulang ke alam baka.
- Demikianlah tujuan hamba memuja ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan jiwa alam se mesta, Singkatnya bergelar sang praketi wirya nama beliau saleh keturunan brahmana suci, Mahir dalam ilmu pengetahuan berbudi luhur gemar berpuasa, Dermawan dan kasih sayang kepada para pendeta.
Dalam hal usia beliau telah Janjut kulitnya keriput serta amat kurus, Sebab baginda sering berpuasa dan tiada hentinya melaku- kan nazar. Tambahan pula badan beliau kecil kurus kering keriput agak bungkuk walaupun tiada keras, Dahulu ketika beliau masih remaja berparas bagai Dewi Giri Putri.
Berkat beliaulah yang menyuruh menggubah filsafat Adi- parwa Utama, Berjudul Brahmanda Purana yang isinya amat utama untuk dipedomani, Sulit saya rasakan dalam hati bingung akan sulitnya bahasa itulah yang menyebabkan kacau, Bertolak dari rasa takut itulah sebabnya saya berusaha mengarang kakawin yang sudah tentu amat tidak baik.
- Pada zaman dahulu dalam cerita klasik sebagai permulaan cerita ini seperti yang diceritakan seorang pengarang, Ada konon seorang raja bernama raja Wena terkenal di dunia berperilaku jahat, Berlebihan kejahatannya, tidak ada rasa welas asil1 dan pemurah, Namun hanya hukum rin1ba yang dilaksanakan di dunia murka dan bertindak kejam.
- Angkara murka, kafir, tamak dan lalim tidak mematuhi aturan seorang raja, Karena dosa ayahnya itu juga ibunya yang menguasainya, Tidak memiliki rasa cinta kasih mawas cinta sesama, peri- kemanusiaan dan aturan seorang raja, Karenanya pasti ia mendapat bencana dan lalai dalam me- merintah
- Hancurlah semua tempat peribadatan ageni yotra dan pe- mujaan kepada Dewa tidak ada, Semakin sedihlah sekalian para resi tidak ada yang mem- bahagiakan, Itu sebabnya berundinglah sekalian para resi di Sorga, Lalu semua serempak akan datang ke Istana Sunilatmaja.
- Setibanya para resi di hadapan sang raj a. Beliau memandangnya dengan tidak hormat bahkan me- malingkan muka. Lalu berkatalah para resi: "Wahai raja Wena beginilah maksud kedatanganku".
I 0. Ketika diwisuda/dilantik seharusnya mengutamakan kebajikan mawas diri dan melakukan tapa. Hal itu yang kami kerjakan na.mun kamu malah menyebab- kan derita dan kelaparan. Sudah seratus tahun tiada kura.1g engkau menjadi raja. Selama itu pula kami tidak mendapat suguhan dan derma.
- Masyarakat tidak ada melakukan upacara karena situasi kacau. Mulai saat ini hentikanlah ulahmu yang tidak baik itu. Sebab engkau adalah keturunan brahmana yang bernama Bhagawan Atrin nan utama. Juga keturunan orang bijak yang selalu mengutamakan ke- bahagiaan dunia.
- Begjtulah nasehat para resi terutama Bhagawan Anggira kepada raja Wena. Namun raja Wena semakin marah lalu berdiri dengan som- bong. Malahan dengan angkuh tersenyum sinis beliau. Lalu membentak dan bersikap durhaka dan congkak.
- Kamu semua bersikap lancang berkotbah filsafat agama kepadaku, Namun tiada sadar dan tak tahu akan darma dan kebajikan yang aku utamakan di dunia, Siapakah yang mampu menandingiku dalam hal darma dan kemashuran, Belum terdengar dan belum terlihat ada yang mampu me- lebihi diriku di dunia. 14 Dalam hal kesenangan apalagi dalam hal kebesaran tidak ada yang menandingi aku ini, Tidak tahu engkau ·akan kesaktian raja Wena yang mengiris- kan hati,
Untuk mewujudkan mengayomi serta itu sumbangan tulus ikhlas, Semuanya itu adalah sumbanganku dan bila aku bermaksud membakarnya hanguslah semuanya, Serta seluruh dunia ikut hangus tiada bersisa menjadi abu.
- Walaupun ku tenggelamkan di samudra pasti tenggelamlah ia di lautan, Begitu juga bila aku bermaksud melemparkannya ke angkasa pasti aku kuasa, Sebab tidak ada kesulitan bagi orang besar maha sakti, Setiap yang dikehendaki pasti berhasil oleh raja-diraja.
- Begitulah ucapan raja Wena yang diliputi ha ti sombong dur- haka dan tamak Sebab tidak kuasa menahan diri dari kemarahan hatinya, Ketika itu seluruh para Resi menjadi marah lalu memekik bagai auman seekor singa, Semua menerjang dengan merebut untuk menangkap raja Wena.
- Marahlah raja Wena lalu membalas memukul dan menggulat dengan perkasa, Dibantingnya dan dilemparkannya para Resi semua lalu jatuh dan diinjak-injak lagi, Semua yang ada di ruang sidang berhamburan ketakutan lari tunggang langgang. Yang ada di terali diterjang dan ditendang lalu berhamburan lari tunggang langgang.
- Kala itu para Resi balik menyerang dan memukul raja Wena, Raja Wena tiada mundur malahan mengamuk bagai gajah menandingi banteng,
Para Resi bersama-sama merebut, menggulat dan menjam- bak rambut raja Wena.
- Semakin seru saling tangkap saling serbu dan saling tikam, Rambutnya terurai kusut karena pengikatnya lepas ter- pental, Karena terlalu lama bergumul akhirnya raja Wena jatuh dan kalah, Kala itu tangan kirinya dipukul oleh para Resi. 2 l. Para Resi terkejut sebab mendadak muncul manusia ber-. wajah menyeramkan, Kepalanya amat besar, badannya hitam legam bagai aspal, Karena menderita raja Wena dikalahkan oleh para Resi.
22. Raja Wena amat takut ketika memandang wajah sang Resi, Lalu berpaling kepada sang Nisada yang menyatakan raja Wena menderita, Ketika itu juga Nisada (dinasehati) oleh sang Resi, Begini Nisada, kesaktianmu hampir sama dengan raja Wena. - Oleh karena sumber segala bentuk kejahatan adalah raja Wena, Berputra engkau Nisada yang tiada beda menjadi pemburu, Tinggal di lereng gunung Windia pada bagian lambungnya, Yang merupakan perkampungan di tepi pantai samudra.
- Dan tiada lain mereka semuanya menekuni satu propesinya, Bukan kebajikan yang diperbuatnya namun membunuh di hutan rimba, Siang malam mencari Harimau menjelajahi rimba sebab tidak ada yang menghalanginya, Bagaikan seekor singa atau harimau yang amat garang.
Siwa Agni, Sebab terkahir dari lengan raja Wena yang terpukul, Karena itu para Resi utama memberi nama raja Pretu.
- Bagaikan Praja Pati (Dewa Brahma) turun begitu hal ketam- panannya dan baju yang digunakannya, Berbeda dengan ayahnya, beliau selalu berbuat kebajikan yang menyenangkan hati masyarakat, Perkembangan dan penyebarluasan darma itu dalam segala bentuknya oleh beliau diutamakan, Hal itu yang membebaskan roh ayahnya kembali ke alam Sorga.
- Begitulah yang akan dijumpai oleh mereka yang berputra amat bajik sebagai pahalanya, Kalah pahala beryadnya, berbuat jasa dan berderma serta pahala dalam melakukan perjalanan suci. Dalam wujud tampak dan tidak tampak pahalanya akan dijumpai bila berputra mulia, Sebab hanya darma yang dapat membebaskan kejelekan dari adarma dan kelaliman.
- Lalu beliau dinobatkan menjadi raja oleh para Resi, Dewa la utan bersama Dewa Jahnawi juga datang, Membawa air penghidupan bertempat dalam kendi manikan untuk menyucikan raja Pretu,
Pretu mashur disegani masyarakat, Sesudah raja Pretu dinobatkan sebagai raja ia menganut aliran Wisnu, Tiada diceritakan kegembiraan beliau para Resi dan selurul1 rakyatnya kala raja Pretu bertahta.
- Karena baginda sangat arif selalu mem benahi dan menata negaranya, Karena itu baginda dijuluki maharaja oleh seluruh rakyatnya di wilayahnya, Bagindalah raja pertama yang dikagumi oleh para raja di dunia, Dikasihi beliau oleh para dewa karena amat bakti kepada dewa terutama kepada Dewa Siwa.
- Ketika beliau bercengkrama di tepi la ut menikmati indah- nya panorama laut, Badai samudra besar baginda lewati bagai berjalan di daerat, Ketika ingin berwisata di darat untuk menikmati keindah- an pemandangan, Gunung yang menghalangipun menjadi datar begitu pula gundukan tanah.
Akhimya negara baginda aman sentosa tan pa bencana selama baginda bertahta, Harga barang murah semua, potensi laut dan gunung tiada kurang, Padi tumbuh subur dan berbuah le bat tanpa ada yang menanam, Susu yang diperah mengalir terus sekehendak masyarakat menikTRatinya.
Rakyat di negeri baginda amat bahagia tiada bencana, Rakyat bebas dari pajak begitujuga pemilik sawah, Para menteri tak kena pajak baik pada saat ia keluar mau- pun pada saat berbelanja, Itu sebabnya rakyat takluk dan hormat kepada beliau se- bagai pengayom masyarakat.
JAGADHITA
Sudah lama beliau bertahta tiqak ada musuh berani kepada- nya, Bagai kesaktian Dewa Wisnu yang menghancurkan segala kejahatan di dunia, Baginda amat dermawan dan selalu mem bahagiakan hati masyarakat, Terutama para pendeta Siwa Budha merasa senang dan me- nyanjung beliau.
- Kini dikisahkan baginda melakukan yadnya yang tiada sa- manya, Korban suci untuk roh para !eluhur yang telah disiapkan selayaknya, Kala itu baginda disuruh memercikkan minyak oleh sang Resi, Ditempatkan dalam mangkok yang telah dimentra dengan yajur Weda sruti oleh sang pendeta.
- Ketika se bagian minyak ttu tumpah terlihat oleh pendeta yang memuja, Ada warna tidak baik keluar dari nyala tungku pemujaan perak, Hal itu disebut noda dan warna itu takkan bisa ditemui, Brahmana utama dari empat marga yang terlahir melalui japa mantra.
Suta dan Magadha lalu menjawab. Syukur berkat perkataan sang pendeta mengajarkan kami ten tang kebenaran.
- Ya hamba tak menolak dan menjunjung tinggi dulu kaki sang pendeta. Semula hamba bermaksud memuja tapi hamba tiada tahu. Karenanya hamba diam namun bukan berarti mengingkari perkataan sang pendeta. Begitulah kata-kata sang Suta dan Magadha lalu sang pendeta menjawab menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Suta dan Magadha menyembah beliau. Raja Pre tu amat gem bira atas kekusukan puja dan puji mereka.
I 0. Semenjak itu baginda dipuja dan dihormati oleh Magadha dan We talika. Saat itu baginda raja menghadiahkan tempat tinggal di wilayah Magadha yang subur. Tidak kurang sandang pangan papan dan ke bahagiaan. Mereka amat gembira menikmati kebahagiaan berkat ke- murahan baginda raja Pretu.
- Dikisahkan setelah beberapa tahun yadnya beliau dilakukan. Datanglah sang pendeta minta makanan serta imbalan sesuai yadnya itu. Begitu pula semua rakyat beliau berdatangan mohon se- dekah dan makanan. Karena rasa lapar dan dahaga lalu memohon karunia baginda.
- Raja Pretu bingung sebab tidak dapat memenuhinya mem- beri makanan dan minuman Sebab seluruh isi istana sudah habis tanpa sisa disedekahkan. Hanya busur dan anak panah serta bajunya yang belum disedekahkan. Hanya itu yang tertinggal ketika beliau beryadnya.
- Bingung perasaan sri baginda tidak ada jalan ke luamya. Lalu timbul naf su angkaranya dan ke luar pula sifat tamak- nya yang amat panas. Tidak salah ucapan sang pendeta sebab dari cinta kasih bisa menimbulkan dendam. Raja Pretu yang semula menyayangi rnkyatnya setelah me- lihat penderitaannya berbalik menjadi marah.
burnng garnda sedang melayang. J uga bagai sejuta halilintar menggelegar mau menghancurkan angkasa.
- Kemarahan raja Pretu berkobar bagai Kala Geni menakut- kan. Laksana dewa Maut memegang gada ingin menghancurkan tiga dunia. Tidak lain kemarahan beliau ditujukan kepada Sri Pretiwi yang sedianya akan dibunuhnya. Gemetar ketakutan (Dewi Pretiwi) lari terbirit dikejar oleh baginda raja.
SRAGDHARA
I. Ketika Dewi Pretiwi lari tak tentu arah dan tak tentu tempat ditujunya. Berlari menuju tempat persembunyian karena takut me- liha t wajah raj a Pre tu yang luar biasa. Hampir saja tertangkap oleh sri baginda itu sebabnya beliau berganti wujud. Berwujud seekor lembu betina yang lari amat kencang.
2. Tiada hentinya dikejar oleh raja Pretu ke mana lari lembu itu dengan cepat melompat. Dibidikkan panahnya yang bercahaya bagai api menyala. Dewi Pretiwi semakin bingung terus menyusup bernsaha bersembunyi. Terns berputar-putar mengelilingi bagian dunia.
3. Sampailah ia di tempat manusia lalu segera masuk ke ~empat pertapaan. Terns masuk ke satya loka dan terns Iagi menuju Brahma loka.
Begitu terus dikejar oleh sang raja ke manapun Dewi Pretiwi bersembunyi. Semakin ke bawah menuju ke alam manusia namun terus dikejar.
- Semakin bingunglah Bhatari Pretiwi karena ke manapun lari- nya selalu dikejar. Tidak tahu (apa yang harus dilakukan) dan tak ada yang menolong pada saat kesusahan. Lagi pula pasti tidak mampu melawan kesaktian, keper- kasaan dan wibawa (sang raja). ltu sebabnya pasrah berdiri menghadapi sang raja yang bagai kobaran api.
- Ketika itu Hyang Basundari menengadah ke angkasa nampak sifat kewanitaannya serta meratapi karma dirinya, Para dewa dan para resi yang ada di angkasa sedih melihat- nya, Semua mengucapkan puja mantra kepada Hyang Basundari yang menanggung duka nestapa, Wajah tangan dan sekujur tubuhnya nampak berkeringat disertai dengan Om kara pujian para dewata.
- Hujan bunga sangat deras dari angkasa disertai wangi-wangi- an dan bija yang tak terhitung banyaknya, Karena banyak para dewa yang mengucapkan weda mantra ke hadapan Hyang Basundari yang menanggung duka, Dengan kata-kata yang manis menyarankan agar Hyang Basundari bersujud kepada baginda raja Pretu, Pasti baginda raja akan mengasihimu karena sesungguhnya beliau penjelmaan yang menghayati dharma.
- Demikian sabda dari angkasa Hyang Basundari laku ber- jalan untuk menyembah, Setibanya lalu merangkul kaki raja Pretu dengan berlinang air mata lalu berkata, oh baginda raja, Apa gerangan dosaku sehingga aku hendak di bun uh, Makanya baginda raja bersikeras akan membunuhku kata- kanlah.
Oh baginda raja Pretu apakah baginda tidak menyadari dalam hati, Perbuatan menyakiti seorang wanita adalah perbuatan yang sangat hina, Tambahan pula apabila baginda raja akan membunuhku sekarang, Oleh perbuatan baginda raja siapakah yang dapat me- nyangga dunia ini.
- Karena aku adalah penyangga dan penyelamat dunia ini, Bila baginda bersikeras untuk membunuhku, pasti dunia ini akan kiamat kembali pada sumbernya. tiada lain bagindalah yang dituduh sebagai penyebab ke- hancuran dunia ini. I 0. Sri baginda membenci dunia ini apa salahnya terhadap baginda raja, Hal itu menyebabkan dosa diri baginda raja maka lebih baik pekcrjaan yang baginda lakukan, Agar tetap ajeg amal kebajikan baginda dalam mengupaya- kan kesejahteraan negara.
- Oleh karena kekuasaan baginda hanya untuk mensejahtera- kan kesentosaan masyarakat luas, sri baginda akan mem- buktikan sendiri kata-kataku yang takut akan dibunuh, Bila berkenan di hati baginda saya bermaksud bersama-sama mewujudkan kebahagiaan masyarakat dan pasti akan ber- hasil, Bila baginda membunuhku betapa hukum karma yang baginda temukan.
- Kini niat saya sampaikan ke hadapan baginda untuk me- ningkatkan karya yang berpahala, Bersama sri baginda untuk menyiapkan agar masyarakat menemukan kesejahteraan Tujuan kata-kataku ini ke hadapan sri baginda tiada lain ter- dorong oleh rasa kasih sayang, Kendati binatang pun lari bila sri baginda tega membunuh- nya pasti akan menyebabkan bencana.
Suatu makhluk yang dibunuh itu menyebabkan pembunuh- nya akan menemukan bencana, Kendati sudah memberikan aneka kesenangan namun di- landasi oleh perilaku yang tidak baik hal itu menyebabkan penderitaan, Hal itu patut sri baginda ingat bencana bagi orang yang ber- perilaku tidak baik
WASANTATlLAKA
I. Demikian petuah Hyang Basundari kepada baginda raja Pretu dcngan penuh horrnat, Raja Prctu lalu menjawab oh Hyang Basundari janganlah demikian, Hamba rnenyadari petuahmu yang berlandaskan ajaran agama, Patut dcngarkan oleh orang yang berbudi luhur.
2. Membunuh mengorbankan orang banyak hanya untuk kepentingan diri sendiri, Atau untuk kepentingan dan kesenangan seseorang, Hanya untuk kesenangan belaka namun bencananya sangat besar, Hal itu tidak patut dilaksanakan bagi orang yang berbudi luhur.
3. Kini mengenai ajal itu bagaimana menurut hematmu, bukankah perbuatanku ini berlandaskan dharrna, karena ajalmu akan menyebabkan kebahagiaan dunia, demikian pula para resi semua berbahagia oleh tindakanku ini.
4. Oh Hyang Basundari bila engkau berkeinginan untuk hidup terhindar dari maut, patuniJah segala kata-kataku olehmu,
Oh sri baginda apa yang sri baginda rnaksudkan, aku akan mematuhi segala perintah baginda, engkau kuanggap putraku bila mematuni niatku, agar engkau tetap dijuluki pengayom negara.
- 011 sri baginda mana mungkin aku menolak perintanmu, janganlah merasa ragu segala kata-katamu akan kutaati, meskipun maksud sri baginda kepadaku merupakan beban yang sangat berat, pasti akan berhasil segala apa yang sri baginda maksudkan.
- Oh p 11triku Hyang Basunoari yang ak u sayangi beginilan maksudku, bila berhasil anaknda kerjakan maka anaknda telan berbuat am al ke bajikan, agar anaknda menyiapkan makanan untuJ( Kesejanteraan masyarakat, bila berhasil maka terbuktilah keluhuran budi anaknda.
- Oh ayahnda raja Pre tu jangnlah knawatir (risau), sekarang anaknda mencari upaya yang benar, ayahnda carilah seseorang yang akan kuajarkan untuk meng- olah susu, ayahnda perahlah susuku ini.
l 0. Ayahnda bumi sewilayah kerajaan ini patut dimanfaatkan sebagai sarana tempatnya, agar ada sumber penghidupan yang mensejahterakan masyarakat.
dihuni oleh manusia, oleh baginda raja Pretu juga diberi narna asrama, ketika itu baginda raja Pretu mematuhi petunjuk Hyang Basundari, sang hyang swayambuwa dimohon untuk mengajar sri baginda.
- Sang hyang swayambuwa tidak menolak permintaan raja Pretu untuk mengajarkannya, ketika itu baginda raja Pretu bersiap untuk memerah susu hyang basundari, permukaan bumi yang merupakan alas penadahnya, akhimya tumbuhlah jenis ubu-ubian sebagai hasil baginda memerah.
Dan itulah merupakan makanan poKok yang mensejantera- kan masyarakat, sejak itu penduduk magada mengerjakan sawah ladangnya, dan sejak itu pula masyarakat menekuni bidangnya masing- masing, selanjutnya mereka memperluas areal persawahan serta meningkatkan produksinya.
Dewa pitara detya naga dan yaksa, turut serta raksasa dan widyadara, gandarwa dan segala jenis· pohon kayu sem uanya mengikuti, tumbuh-tumbuhan yang merambat semuanya mohon dika- sihani.
oewa pitara yang mengawali memerah sangat sempuma, ditadah dengan periuk perak yang bentuicnya sangat sempurna.
- Dewa yama juga tidaK ketinggalan turut memeran, "swada" yang keluar dari susu itu, maka berhasil dan memuaskan berkat upaya yang sempurna, yang memberikan kepuasan hati para pitara.
- Demikian pula para asura periuk besi dan timan sebagai alas penadahnya, sang werocana kasipuputra yang mengajarKan memerah, bagawan sukra yang maha sakti turut juga memerah, ketika itu kekuatan gaib yang tampak keluar.
- Maka itu kekuatan para asura tiada bandinganoy 2 tipu muslihat dilaksanakan olehnya dengan gaib, ketika saat gelap mereka akan membuat bencana, demikianlah perwujudan watak raksasa yang luar biasa.
- Para naga juga memohon untuk ikut serta memerah susu itu, permintaan naga itu dipenuhi dan ikut memerah, sang taksaka dituntun oleh sang wasaki ketika memeraJ1, buah maja sebagai tern pat menadah Iubangnya sangat besar.
- Racun dan segala jenis bisa hasil perahannya, oleh karena itu maka bisa ular menjadi sangat ampun, demikian pula yaksa raksasa pisaca bersama-sama memerah, bagawan wisrawa lah tiada yang mengajarkannya. apabila engkau ingkar tidak urung engkau akan menemui ajal, pasti dalam sekejap engkau akan kubunuh.
yang menyertai memerah, sang citrarata adalah apsara utama yang mengajarnya, gandarwa wararuci yang memerah dengan baik (apik), beliau adalah putra pendeta, bunga teratai sebagai alat penadahnya.
- Susu perahan para gandarwa itu ba W1ya harum dan suci, maka itu para gandarwa senang dengan wangi-wangian, memang para gandarwa dan apsara memakai wangi-wangian, segala bau harum itulah menyenangkan hatinya. 31. Hyang parwata pun turut juga memerah, hyang himadri selalu membimbingnya, diawali oleh hyang sumeru yang memerah, batu merupakan alat penadahnya dan hasil perahannya ada- lan air kehid up an. 3 2. Bermula dari sana adanya jenis tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat-0batan yang mujarab, yang tumbuh dipegunungan utamanya di gunung sumeru, semua pohon kayu juga turut serta memerah, pohon palaksa yang menuntunnya serta daun palasa yang indah sebagai alat penadahnya.
- Wina dan gandapura itulah hasil perahan yang keluar, maka itu kendatipun dipotong pasti ia akan tumbuh kem-bali, sekalipun di bakar ia akan tum buh kem bali, demikian sesungguhnya riwayat pohon gandapura itu.
- Demikianlah kebijakan baginda raja Pretu, mengupayakan memerah air susu dari hyang Basundari, sungguh tak temilai yang maha utama itu, tidak patut diajarkan kepada orang yang nista yang mungkin akan menodainya.
Ada sebuah gunung yang sangat mempesona bertempat di Jambu warsa, berjajar dari bagian utara ke selatan, tujuh buah jumlahnya masing-masing tiga buah di Timur dan Selatan.
- l.aksana teratai bila dipikirkan keadaannya, bila saja dipindahkan ke empat sisi sudut, ibarat delapan lembar alas daun. demikianlah kilauan gunung Semeru yang besar itu.
- Tambahan pulajambuwarsa Laksana telaga, seluruh rakyat penghuninya itu diibartkan ikan, aneka permata juga terdapat di sana, demikianlah aneka ragam teratai yang indah di sana.
- Kini dikiaskan masing-masing gunung itu, kita akan awali menghitung dari bagian selatan, bermula kita kisahkan gunung himawan, merupakan gunung besar di bagian utara bratawarsa.
jauil, adzpun di sebelah selatan gunung Srenggawan itu, adalah gunung Sweta yang indah permai.
- Di sana banyak terdapat batu permata putih, merupakan batu-batuan pada puncaknya, memantulkan cahaya putih ke angkasa, sehingga nampak seperti sinar bulan.
- Gunung Nila berada di sebelah selatan gunung Sweta. gunung itu besar dan sangat tinggi, pada puncaknya banyak terdapat permata biduri, memancarkan sinar kehijau-hijauan ke udara.
- Dan di tengah-tengah adalah gunung Semeru, gunung itu besar dan sangat indah, demikian pula tak terhingga tingginya, seperti permata gaib (linngobawa) menjulang ke angkasa.
Pijakan kaki gunung itu bundar pada tanah, demikian pula batas ketinggiannya, di sana terdapat beraneka permata, pada lambung gunung mahameru yang besar itu.
Pada gunung itulah tempat hyang Prajapati, di sana pula tempat paha dan pusar dewa brahma, yang lahir dari keutamaan badan lahiriah, yang dijuluki ari-ari gunung Semeru.
- Emas dan perm a ta putih ban yak terdapat pada lam bungnya di se belah timur, di sanalah sumber filsafat golongan brahmana, pada lambung di sebelah selatan banyak terdapat permata berwarna kuning, di sanalah sumber filsafat adwipayana.
- Di bagian barat terdapat warna hitam seperti sayap kum- bang, di sana banyak terdapat batu permata yang berwarna hitam, di sana merupakan tempat golongan sudra, dan pada lambungnya di sebelah utara banyak terdapat perrnata merah.
- Itulah disebut golongan para ksatriya, dengan em pat jenis warna permata yang tak terhingga, demikianlah keadaan gunung Semeru itu, dilihat dari angkasa oleh para sidaresi.
- Gunung Sumeru tampak indah berkilauan, karena dihiasi oleh beraneka permata, perrnata itu sangat banyak dan beraneka ragam, sehingga tidak dapat untuk menghitungnya.
- Kini dikisahkan keadaan sebelah timur gunung Sumeru itu, ada gunung besar dan hercahaya kemilauan, itulah yang disebut dengan gunung Maliawan, puncaknya sangat tinggi menyatu dengan langit.
Di sebelah barat gunung Mahameru itu terdapat gunung yang sangat besar, menjulang tinggi laksana sampai ke angkasa, gunung itu sangat indah menawan, tiada lain gunung Gandamadana.
Demikianlah bilangan gunung-gunung yang sangat besar, yang terdapat di wilayah Jambudwipa, banyak para Dewa dan para Resi yang menghuninya, Dewa Gandarwa juga Bidadara tak terhitung banyaknya. 2 1. Jarak antara semua gunung itu, kira-kira ada sembilan ribu yojana, ada wilayah yang mengelilingi gunung Sumeru itu, itulah yang bemama gunung llewretta.
- Luas hamparannya tiga ju ta em pat ribu yojana, demikianlah luas daerah ilewretta itu,. sedangkan luas pijakan kaki gunung Mahameru itu, satu ju ta enam ribu yojana.
- Laksana api bercampur dengan asap, tampak terlihat berkat pancaran sinamya, luasnya satu juta delapan ribu yojana, demikianlah wilayah ilewretta itu.
- Tepat dari gunung Mahameru ke utara dan ke Selatan, itulah yang disebut dengan ceti, sembilan ribu yojana garis tengah wilayah ceti, demikianlah luas wilayah ilewretta it u.
- Di se belah selatan gunung Sumeru itu, illewretta itu sama luasnya dengan gunung Sumeru, demikian keadaan selanjutnya dikisahkan, keadaan yang di barat maupun yang ada di timur.
- Dikisa hkan dalam kurun waktu tujuh tahun di Jambudwipa, semua gunung memiliki wilayah. dengan luas areal dua ribu yojana. demikianlah keadaan masing-masing gunung itu.
Di bagian utara maupun bagian selatannya, itulah yang dinamakan Nisada Nila, adapun di bagian barat dan di bagian timurnya, sama-sama menanjak menuju wilayah Jambudwipa.
Karena mendatar maka tampak rendah, kedua gunung itu kalah dengan gunung nisada nila, yang tingginya masing-masing dua belas ribu yojana, sedangkan gunung nisada nila tingginya delapan ribu yojana. 31. Demikianlah keadaan gunung di sebelah barat dan timur, hanya gunung himawanlah yang puncaknya tinggi, masih kalah tingginya dua ju ta yojana, oleh gunung nisad nila tersebut.
- Adapun bilangannya yang pasti, delapan puluh ribu yojana, di sebelah barat dan timur demikian adanya, tiada bedanya bila dibandingkan.
- Adapun panjangnya ke utara dan ke selatan, sama-sama dua ribu yojana, luas antara wilayah dengan wilayah yang lain, dengan luas yang sama yakni sembilan ribu yojana.
- Panjangnya membujur ke timur tidaklah sama, di antara semua gunung-gunung itu, karena tidak sama panjangnya membujur ke timur, ada beberapa gunung yang menyelanya.
- Semua itu bagaikan dipagari, oleh beberapa sungai, maka itu medannya (keadaannya) sangat berat, untuk mencapai daerah yang lain.
ANUSTUP
- Ke selatan dari gunung himawan, di sebelah utara dari lautan asin, itulah wilayah barata war-sa, daerah yang luas dan sangat mempesona.
- Lagi pula di sebelah utara gunung himawan, ke selatan dari gunung hemakuta, wilayah itu bernama kimpurusa, daerah yang sangat luas dan subur,
- Ke arah utara dari hemakuta, dan ke arah selatan dari gunung nisada. daerah itu bemama hariwarsa, wilayah itu sangat subur dan luas.
- Dan di antara gunung Nila, ke selatan dari gunung Sweta, itulah yang bernama wilayah rameyaka, wilayah itu luas dan sangat subur.
- Bila ke utara dari gunung Sweta, di sebelah selatan dari gunung Srengga yang tinggi, itu adalah ·wilayah irania, wilayah itu luas dan sangat subur,
- Ke arah utara dari gunung Srengga, di sebelah selatan dari laut asin, wilayah itu disebut Kuru, wilayahnya sangat luas bagaikan sorga.
- Di pesisir utara wilayah Kuru, sangat indah dan tidak ada bandingnya, di sanalah tempat sang sadnya di masa lalu, bersebadan dengan hyang patangga.
Lagi pula Baratawarsa itu pada pesisir bagian selatan, di sanalah keadaan yang tepat, dalam keadaan duka maupun suka.
- Seperti tali busur yang dibidikkan, demikian keadaan Baratawarsa itu, tampak bagaikan bulan dibelah dua, itulah yang disebut daerah Kuru.
- Keadaan wilayah hariwarsa, sama indahnya dengan wilayah irania, membentang luas ke bagian timur, demikian keadaannya masing-masing.
- Adapun gunung ilawrettaitu, sesungguhnya adalah bundar, pada !em bung gunung semeru, berada pada lembung bagian selatan
- Keadaan wilayah jambudwipa, ke utara dari gunung nisada, keadaan gunung ilewretta, sangat jauh dari gunung semeru.
- Bilangannya itu tiga yojana, ketinggian gunung ilewretta itu, demikian keadaan kedua gunung itu, jauh berbeda dengan gunung nisada.
- Adapun gunung di sebelah timur gunung sumeru, seribu yojana jarak jauhnya, memanjang dan membujur ke utara, menjulang sampai ke gunung nila.
- Dan bagian ke arah selatan, menjulang gunung nisada, itulah yang bernama gunung maliawan, gunung itu besar dan sangat suci.
I 7. Demikian pula ke arah bagian barat, bilangan luasnya tiada berbeda, dan di sebelah barat gunung semeru itu. terdapat wilayah yang sangat subur.
I 8. Di sebelah timur lautan asin, wilayah itu bernama ketumala, dengan gunung-gunung gandamadana. gunung itu besar dan sangat indah.
- Di sebelah utara dan selatannya. menjulang tinggi gunung nisada nila, tidak jelas tampak wilayahnya, ibarat seperti di bandrasua.
- Gunung semeru ada di tengah-tengah, di antara gunung gandamadana, dan juga gunung-gunung maliawan, serta oleh gunung nila nisada. 2 I. Ada pun tinggi gunung semeru itu, delapan puluh empatribu yojana, dan pangkalnya yang terpendam ke tanah, empat belas ribu yojana.
22. Adapun pangkalnya yang masuk ke tanah, kira-kira sepertiga dari keseluruhannya, tidak lebih hanya empat puluh yojana, dan delapan ribu yojana. - Demikianlah kebundaran gunung itu, bagian pangkalnya masuk ke tanah, dan bilangan tingginya, enam puluh empat ribu yojana.
Semua gunung-gunung itu sungguh sangat utama adanya, berjenis-jenis terdapat di sana, tumbuh-tumbuhan merambat sebagai bahan obat-obatan.
- Para Dewata bersuka cita, Danawa Gandarwa dan Apsara, yaksa demikian pula raksasa, demikian pula Bidadari banyak pula di sana.
- Tambahan pula gunung Semeru itu, di bagian utara maupun di bagian selatan, demikian pula di bagian barat dan timurnya, sama-sama membelakangi wilayah yang luas.
- W ilayah Badrasua berada di pesisir tim ur, Baratawarsa ada di sebelah selatan, kurudesa ada di pesisir utaranya, dan Kutamala berada di sebelah baratnya.
- Adapun penduduk wilayah ketumala, warna kulitnya hi tam, penjelmaan orang-orang yang beramal kebajikan, demikianlah riwayat mereka itu.
- Mereka sangat ramah dan berbudi luhur, juga memiliki kekuatan tanpa bandingnya, teguh iman dan sangat berwibawa, serta taat melakukan peraturan.
- Demikian pula warna kulit wanitanya, kehitam-hitaman seperti bunga teratai biru, namun mempesona untuk diteladani, kecantikan parasnya sangat menawan hati.
- Di wilayah itu banyak terdapat buah nangka, yang sungguh sangat bergizi, itu disebut air buah kehidupan, yang menyebabkan mereka sangat bahagia.
Seperti bulan pada saat purnama, keceriaan wajah mereka, demikian pula kewelesan tubuhnya, seperti kesejukan sinar rembulan.
- Adapun keadaan tubuh para prianya, suku badannya selalu hangat, berbau dengan harum wangi tubuhnya, bagaikan dupa wangi harum semerbak. 41. Adapun minuman masyarakat di sana, buah air mangga sungsang, maka itu mereka menjadi awet muda, masyarakat di wilayah badrasua.
- Tidak terkena wabah penyakit dan bencana kelaparan, selama mereka hidup. semuanya panjang umur, usia mereka mencapai satu ju ta tahun.
- Dikisahkan wilayah sebelah utara gunung nilasrengga di sebelah selatan gunung swetaka, itulah yang disebut wilayah ramyaka, wilayah itu sangat subur dan indah mempesona.
- Keadaan masyarakat di wilayah itu, perasaan mereka selalu merasa puas dan gembira, penduduknya tidak ada yang cacat, semuanya berparas tampan dan molek.
- Ada pohon beringin yang sangat besar, cabang dan daunnya sangat rindang, demikian buahnya sangat enak, buahnya selalu menyenangkan hati.
Sekehendak hati mereka memakannya, buah itulah yang dinikmati olehnya, air buah itu pula yang diminumnya, hal itu menyebabkan mereka panjang umur. 4 7. Mereka mencapai usia satu ju ta tahun, tidak terkena wabah dan bencana, mereka selalu gembira, berbudi susila dan selalu melakukan dharm.a.
Bentuk tubuh mereka seperti yaksa, kaya memukau untuk diteladani, usia mereka mencapai sebelas ribu tahun. dan juga seratus lima belas tahun
- Di wilayah itu tumbuh kayu rahu, tak terkira nikmat rasa buahnya, mengalahkan enam jenis rasa, itulah makanan pokok penduduk di sana.
- Ratusan tahun lamanya makan buah itu, tidak terkena sakit dan kelaparan, mereka minum air buah kayu rahu, ha! itu yang menyebabkan mereka panjang umur.
- Adapun gunung srenggawan itu, disebut pula tri srengga, karena gunung itu berpuncak tiga, gunung itu sungguh sangat utama.
Puncak yang pertama berupa permata putin, puncak yang kedua berupa emas, dan puncak yang ketiga berupa ratna, di man a pancaran cahayanya menyatu. 5 5. Wilayah di sebelah utara gunung tri srengga itu, dapat dise but daerah kuru, kalpataru banyak yang tumbuh di sana, buahnya menghasilkan madu yang sangat bermanfaat.
Tidak bermusim semuanya berbunga, sutra yang indah merupakan bunganya, buahnya terdiri dari beraneka busana, dan segala yang menyenangkan hati terdapat di sana.
- Dan ada pula pohon kalpa taru, yang juga dis1..•but ksira (susu), yang setiap saat mengucur, memercikkan air kehidupan mengalir dari bunganya.
- Ada juga yang disebut kalpaksira, setiap orang yang memiminumnya merasa sangat gembira, akan mendapat pahala panjang umur, itulah yang 1ncnghidupi semua orang.
- Masyarakat di sana hid up mencapai usia satu juta lima belas tanun, lagi pula tanahnya dari permata, demikian jug;1 Jebunya dari serbuk emas, masyarakat di sana selalu senang dan merasa bahagia.
- Tidak ada yang dikawatirkan olehnya, selama mercka hidup di wilayah itu, tidak terken;1 wabah penyakit maupun kesusahan, mere~a itu sclalu bersuka cita.
- Mereka itu <.fo.cbut dewa cuta, yang menitis dari alam sorga, penjelmaan ilu tanpa noktah, mereka itu la11ir kembar.
- Adapun yang disebut mituna, lahir kembar laki perempuan, lalu kawin dcngan saudara kembarnya itu, demikianlah kcadaan kelahirannya.
- Sebagai pasangan suami istri sangat bahagia, karena sama-sama berwajah tampan dan molek, berbudi lunur saling mengasihi, selalu rukun -;aling percaya diri.
·mereka hid up mencapai usia satu juta tahun.
6 7. l..aksana emas ketika selesai disepuh, demikian wama kulit penduduknya, seperti prilaku apsari, pandangan matanya sangat manis.
- Mereka tidak terkena wabah penyakit dan tidak merasa sedih, pikirannya sangat damai dan suci, mereka menghayati isyarat prilaku, yang menyebabkan puas hati suaminya.
- Ada buah ambulu yang rasanya nikmat, yang tumbuh di wilayah itu, yang merupakan makanan pokok penduduk di sana, air buah ambulu itu rasanya sangat enak.
- Sedangkan di sebelah utara itulah wilayah hariwarsa, penduduk di sana wama kulitnya putih, seperti perak selesai disepuh, mereka itu bersih tanpa noda. 71. Demikian juga para wanitanya, seperti penduduk di kimpurusa, mereka itu adalah titisan dewa, yang menjelma dari alam sorga.
Hal itu yang menyebabkan mereka panjang umur, seluruh penduduk di wilayah itu, sangat ramah dan tidak lekas marah, selalu bersuka cita dan mendambakan kedamaian.
7 5. Di wilayah se belah utara ilewretta, wilayah tersebut tidak panas, karena pancaran sinar matahari, tidak menembus ke wilayah itu.
- Hanya pancaran sinar permata yang gemerlapan, dan dipagari oleh bunga teratai, di mana bunga teratai itu selalu bercahaya, siang malam tidak henti-hentinya.
- Penduduk di wilayah itu semua panjang umur, wama kulit mereka seperti bunga teratai, harum badannya bagaikan keharuman bunga teratai, dan matanya seperti kelopak bunga teratai.
- Menurut sejarah mereka adalah titisan dewa yoni, kemolekan wajah mereka tak terkira, melebihi wajah ibunya, dan juga melebihi ketampanan wajah ayahnya.
Di se belah utara ilewretta, yang merupakan kaki gunung semeru, dengan bilangan tiga puluh empat ribu yojana, demikian pula panjangnya gunung semeru membujur ke barat.
Dengan bilangan sebelas ribu yojana, sejajar dengan gun ung gandamadana, jumlah bilangan selanjutnya, tiga puluh empat ribu yojana. 8 1. Adapun panjang gunung gandamadana itu, demikianlah keadaannya membujur ke utara, menjulang hingga sampai ke gunung nila, yang ke arah selatan sampai ke gunung nisada.
- Ada pun tinggi gunung gandamadana itu, empat pulw1 ribu yojana, pijakan kaki gunung itu ke bagian barat, adalah seribu yojana.
- Di se be I ah tim ur gun ung semeru adalah gunung maliawan, jarak antara gunung maliawan dan gunung semeru, adalah seribu yojana.
- Sama dengan gunung gandamadana, ke utara maupun ke arah selatan, demikian pula keadaan tingginya, sama-sama tidak ada bedanya.
- Ke bagian timur dan barat, memanjang ke pesisir barat, demiKian juga bagian yang memanjang ke arah timur, tepat berada pada pertengahan gunung ilewretta.
- Ada sungai besar yang airnya jernih, warna airnya bersih kehitam-hitaman, pekat menyerupai batu hitam, itulah yang disebut suangai jambarasawati.
- Adapun sejarahnya semula, dikisahkan ada pohon jam bu, yang juga bemama sudarsana, pohon jambu itu tumbuh di bagian selatan.
Pada bagian selatan gunung ilewreta, di sanalah pohon jambuitu tumbuh, sungguh sangat menawan dan suci, setiap saat berbunga dan berbuah.
- Merupakan tempat persinggahan para resi, untuk menikmati buah jam bu itu, adapun tinggi pohon jam bu itu, adalah satu j uta yojana.
- Sorga bagaikan disundulnya, oleh cabang pohon jam bu itu, akarnya yang tidak masuk ke dalam tanah, akar itu mengeluarkan air kehidupan.
- Airnya menjadi sungai yang sangat besar, airnya yang sangat suci dan bersih, mengalirkan air emas, yang benar-benar suci.
- Airnya mengalir mengelilingi gunung semeru, dan aliran sungai jam bu itu, menyatu kembali pada sumbernya semula, seperti melingkari gunung semeru.
- Air sungai itulah yang ciiminum, oleh masyarakat di wilayah ilewreta, rasa air itu sejuK dan sangat nikmat, yang dapat membangkitkan suka cita.
- Tidak ada orang yang tua renta maupun mati, sakit kelaparan lesu dan letih, segala bentuk Iuka juga tidak ada, mereka semuanya bersuka cita.
i t~, tak terhingga di bagian utara dan selatan, demikian juga di bagian timur dan di bagian barat.
- Adapun mayat orang yang sudah meninggal, kotoran maupun air kencingnya, meresap diserap oleh tanah, berkat anugrah dewa brahma.
PtlAHARSINI
I. Tidak dikisahkan lebih jauh wilayah desa itu, kini kembali diceritakan keadaan gunung himawan, yaksa pisaca dan raksasa yang mengunjungi tempat itu, mereka semua bergembira mendirikan tempat tinggal. Selanjutnya disebutkan gunung hem akuta, para gandarwa apsara bersuka cita mengunjunginya, sedangkan gunung nisada itu dihuni oleh para naga, se bagai manggala adalah naga taksaka dan naga basuki.
3. Dan di gunung semeru, juga di gunung nila yang merupakan tempat tujuan, oleh para brahmana resi dan para dewa, se dangkan gunung sweta merupakan tujuan wisata bagi as ura dan danawa,
4. Lagi pula bagian dari puncak gunung imadri itu, adalah gunung kelasa yang terletak di tengah-tengah, gunung itu merupakan tujuan wisata bagi dewa wasrawana, oe liau bersuKa cita diikuti oleh abdinya para yaksa.
BRAHMARA WILASITA
I. Pada kaki gunung kelasa terdapat telaga yang indah, yang disebut telaga mandodaka, air telaga itu sangat bersih dan sejuk. di sana banyak bunga teratai yang sedang mekar.
Di bagian timur laut terdapat sebuah gunung, merupakan anak gunung himawan yang tiada bandingannya, gunung itu bemama sawala giri, seperti cahaya bulan puncaknya indah menawan.
- Di sana terdapat telaga yang sangat indah, telaga itu bemama swacoda, sangat sejuk karena angin berhembus sepoi~epoi, di tengah telaga itu banyak bunga teratai yang baunya sangat harum.
- Itulah taman sang citrarata yang sangat indah, aneka pohon bunga berjajar di pinggimya, hanya semerbak harum mewangi, kumbang berterbangan asyik mengisap madu.
DO DHAKA
I. Di sana bertahta seorang maha raja, baginda bergelar manibafra tiada yang melebihi, baginda adalah raja yaksa yang sangat berwibawa, serta banyak mempunyai rakyat.
2. Di sebelah tenggara dari puncak gunung imadri, di sana terdapat gunung yang bemama sipisanggya, dan puncaknya berupa besi, bersinar kekuning-kuningan laksana sinar surya.
3. Dan di bawah gunung itu terdapat pula, sungai lohita yang sangat suci, pada pinggimya terdapat telaga yang sangat indah, telaga itu terkenal bemama wisoka.
BHUJlGA PRAYATA
l. Di sebelah barat laut dari gunung yang besar itu, itulah gunung emas arunia namanya, di sana merupakan tempat dewa siwa bercemkrama, pada puncak gunung yang tinggi.
Tak terhitung permata yang masyur keindahannya, maka itu sorga menjadi kemilauan diperindah olehnya, serta tak terhitung banyaknya di kaki gunung arunia itu, dan itulah sungai silodaka yang sangat suci.
- Airnya mengalir ke barat bergelombang sangat deras, juga airnya mengallr ke selatan, arus airnya sampai ke muara sungai silodaka, mengalir ke barat menuju ke lautan asin.
- Ada seorang raja yang bertahta di muncawana, tiada lain baginda bergelar dumralohitya, baginda seorang raja yaksa yang sangat masyur, ditakuti oleh pihak lawan sejak dahulu kala.
- Di bagian barat daya gunung kelasa itu sangat indah, di sana terdapat gunung yang telah masyur di dunia, puncaknya bernama irania, dengan aneka permata berkilauan menakjubkan.
Di sana terdapat telaga yang luas dan sangat indah, airnya sangat suci yang ada pada kaki gunung irania, yang ditata dengan aneka pennata yang sangat indah, serbuk emas yang merupakan pasirnya sangat indah.
Itulah tujuan utama baginda dalam hati, demi terbebasnya segala bentuk penderitaan lelunur baginda yang sudah mati, agar dihanyutkan oleh dewi gangga, sehingga menjadi sempurna kembali mencapai kesucian.
- Namun dewi gangga sedang tidak ada, di dunia kering kerontang tidak ada air, nal itu menyebabkan beliau sangat maskul, beliau kembali pulang ke somaloi
MATTA MAY URA
I. Para dewata semakin merasa sedih, lalu mohon bantuan !ce hadapan dewa siwa, agar menyuruh para resi :mtuk mengundang dewi gangga, namun dewi gangga tidak berkenan me men uhi undangan itu
2. Akhirnya mohon agar dewa siwa berkenan selaku pengganti, maka itu dewa siwa mendahului turun ke dunia, ketika itu tersentuhlah ikat kepala dewa siwa, dimaksudkan agar seluruh dunia tidak menemukan kehan- curan.
SARDHULA WIKRIDHITA
l. Bermula dari sanalah dewi gangga diberi nama tripata, nama tripata bermakna dapat mengayomi ketiga bagian dunia, dan saat ia ke luar bersamaan dengan sinarnya bulan, maka disebut pula soma yang sama dengan sinar bulan.
2. Ketika dewi tripata sampai di sorgaloka dan mensejahtera- kan sorga, dan tidak sampai ke bumi curahannya dalam bentuk hujan, oleh penghuni dunia terlihat berada d i angkasa, dalam bentuk abstrak ia tampak mengendap di angkasa luar.
3. Demikian pula bin tang di angkasa bertaburan nampak jelas. penghuni dunia sangat gembira melihat beliau itu di angkasa. dan ketika ia menyentuh ikat kepala dewa s1wa, namun tidak jatuh mengalir hanya menggenang pada se-langkangan tangan dewa siwa.
4. Namun ada pula percikan yang tu mpah dari se langkangan tangan dew a siwa, tiada lain air itulah yang jatuh di hu tan srengga, akhirnya menjadi pusaran air dan Jisebut windusa ra ya ng menakjubkan, tarn an itu indah menawan tiada jauh dari nandana.
- Namun dewi tripata tidak diperkenankan melanjutkan per- jalanan, dewa siwa sangat sedih bingung karena tidak disertai oleh permaisurinya, pikiran dewa siwa tergugah membayangkan wajah sri dewi putri, maka dewa siwa selalu bersama-sama bersuka cita pada satu singgasana.
- Demikianlah kemasgulan pikiran dewa siwa yang dirahasia- kan dalam hati, dewa siwa tiba-tiba turun saat dewi gangga melaju ke bawah, segera membangun tambak dari tanah menjulang tinggi, tambak dewa siwa memanjang sampai ke maha patala.
- Demikianlah niat dewi gangga disadari oleh dewa siwa, dewa siwa pun marah dan mengisap habis dewi gangga, karena lama ia diisap dan marasuk ke badan dewa siwa, dan kekuatan dewi gangga tidak mengalir akhirnya kering dan tidak tampak
- Ketika itu dewa siwa memandang dan terlihat olehnya se- orang pertapa, tiada lain adalah raja bagirata yang tekun melaksanakan nazar, hanya otot saja yang tampak tanpa daging pucat dan lemas, pandangannya sayu sangat lapar karena lama melaksanakan nazar dan ta pa.
Dewa siwa sangat gembira melihat maha raja bagirata yang tekun melaksanakan tapa, iapun sadar dengan pesan dewa brahma di masa lalu ke- padanya, menyuruh dewa siwa agar mengasihi raja bagirata yang tekun melaksanakan nazar dan tapa, beliau mengharapkan agar dewi gangga berkenan turun ke dunia.
Tujuan beliau tiada lain agar abu leluhur beliau dihanyut- kan. akhirnya amarah dewa siwa kepada sri giri putri pun sirna, maka itu dewa siwa berkenan menghanyutkan debu ter- sebu t, banjir besar yang sangat deras melanda wilayah irania.
- ltulah merupakan awal dari dewi gangga mengalir, di atas bumi menghanyutkan abu orang yang telah mati dan menderita, dan sejak itu pula dewi jahnawi juga bernama dewi gangga, setibanya di mahitala terus menghanyutkan abu jenasah.
PRETWI
I. Demik.ianlah keadaan tujuh buah sungai yang telah ditentu- kan pembagiannya oleh dewi jahnawi, tiga buah sungai mengalir ke timur al irannya sangat deras, tiga sungai lagi mengalir ke barat yang sangat jernih dan suci, satu sungai lagi mengalir ke arah selatan yang airnya sangat bersih.
2. Adapun nama masing-masing sungai mengalir ke timur, sungai inandini, dan pawani yang airnya sangat utama, adapun sungai yang mengalir ke arah barat yang airnya sangat bersih, sungai sita, caksu dan sindu yang maha utama.
3. Dan yang mengalir ke arah selatan sungai itu bernama bagirati, karena merupakan putra dari raja bagirata, demikian kisahnya yang diceritakan oleh pendeta agung, oleh karena alirannya selalu mengikuti perjalanan raja bagirata.
4. Demikianlah keadaan masing-masing sungai itu yang indah
dan mempesona, tidak terhitung banyaknya wilayah yang dialirinya, tidak dikisahkan aliran airnya sangat deras lebar dan dalam, arusnya deras bergelombang dan mengalir ke laut.
- Panjang bila dikisahkan amal jasa Dewi Jahnawi, beberapa wilayah dilimpahi air untuk beryadnya maupun bertani, para arif bijaksana sangat bergembira sambil memuja, air itu merupakan kehidupan rakyat serta menyuburkan permukaan bumi.
JAGADHITA
I. Orang akan menemukan kesulitan untuk memaparkan ke- indahan Barata Warsa itu beribu, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan bilangannya tiada kurang, di masa lalu banyak pujangga bertempat tinggal di sana dan menciptakan karya sastra, namun tidak dapat untuk menghitungnya dan yang pertama kali adalah Resi Romarsana.
2. Pujangga di seluruh dunia tidak dapat mengisahkan ke- indahan Barata Warsa itu apalagi untuk menjelajahinya, demikian pula ketujuh samudra bila turut ambil bagian, untuk mengisahkan keadaannya yang sangat kompleks, maka itu oleh pujangga besar kisah ini sangat rumit namun sangat utama, karena itu para raja di pulau Jawa tidak pernah menyuruh para pangawi untuk menggubahnya.
3. Di masa silam banyak para rakawi bermaksud menggubahnya, tiada lain negara bharata warsa yang terletak di sebelah gu- nung Himawan itulah yang diangkat dalam karya sastra, lagi pula dengan adanya empat musim yang menyebabkan kesenangan para pujangga,
selain itu di bharata Warsa hanya terdapat dua musim yang tidak jauh berbeda.
SRAGDHARA
l. Dan terdapat gunung-gunung besar yang mengelilingi daerah Jambu Warsa, di bagian barat, di bagian utara, timur dan selatan masing- masing terdapat tiga buah gunung berbaris menyatu, kaki gunung itu terendam di laut asin demikian pula besarnya hampir sama, demikian pula sama tingginya serta bentuknya yang bundar
seperti susu yang bulat.
- Di sebelah utara Jambu Warsa terdapat beberapa gunung yang letaknya berdampingan itulah gunung Candra Kangka dan Drona yang masyur, demikian pula di bagian barat Jambu Warsa terdapat gunung yang memanjang, itulah gunung Soma dan Gunung Warayua yang sejajar dengan gunung Bada.
- Di sebelah selatan Jambu Warsa terdapat gunung yang sama besarnya seperti bersaudara, gunung Cakra gunung Walaha dan gunung Menaka yang masyur bersahabat dengan dewa angin dan antara gunung Menaka dan gunung Sakra terdapat se- buah gunung besar, di dasar laut itulah tempat dapur magma bhagawan Wurwa.
Di sebelah Timur Jambu Warsa terdapat gunung besar yang masyur keindahannya, yakni gunung Dumra, gunung Dumdubi, gunung Saba yang sama indah berkilauan demikianlah dua belas gunung itu pangkalnya terendam di laut asin, dengan suara gemuruh membentuk kepala kura api yang luar biasa.
Pada masa silam dikisahkan gunung-gunung itu sangat luar biasa bahkan mencapai satu yojana lebar sayapnya itu, bangga terbang di angkasa bercengkrama dan selalu ber- pindah-pindah, semuanya bersikap angkuh saling bentur menggelundung menyundul dengan posisi terbalik
- Sorga menjadi hura-hura diserbu hingga porak poranda ada pula yang terpental, para dewata mengeluh meratapi karmanya pada saat men- jelma, para dewa dan putra-putranya lari tunggang langgang me- nuju dewa indra, semuanya menuntun anak dan cucunya demikian pula istri para resi langkahnya tertatih-tatih.
- Setibanya lalu mohon bantuan dewa indra dan dewa indra pun bersiap-siap, memerintahkan para dewa agar ke luar dengan perlengkapan senjata yang ampuh, dewa indra menunggangi gajah yang sangat besar serta memegang bajra dan penggada yang tajam, dan segera berangkat bersama-sama para dewa dan para resi dan apsara.
- Dengan serempak lalu mengkerubut melepaskan panah ada yang menombak dan melepaskan cakra, namun gunung yang merupakan musuh itu tidak gentar ketika dipanah oleh pasukan para dewa, semua anak panah itu terpental tidak dapat melepaskan sehelai bulu sayap gunung itu, ha! itu yang menyebabkan para dewa dan para resi sangat kecewa.
- Pasukan para dewa sangat marah terus menyerang meng- hujani dengan senjata utama, namun musuh itu semakin perkasa memekik dengan gegap gem pita,
musuh itu semakin marah serta menerjang para dewa dan para resi menjadi ketakutan, semuanya mundur lari tunggang langgang menuju ke be- lakang dewa indra.
I 0. Dewa indra sangat marah dan ia menyambuk gajah tung- gangannya yang buas, senjata bajra yang tajam itu diputar-putarnya menyilau- kan laksana seribu sinar ma tahari. gunung itu segera dihantamnya dan jatuh terpental ke dasar laut dan hancur berkeping-keping, sayapnya terputus tidak kuasa terbang dan jatuh ke tengah samudra.
I I. Dan semua lari ke arah selatan takut ke hadapan dewa indra, terus dikejar oleh dewa indra sampai ke selatan jambu- warsa sambil melepaskan bajra, ketiga sayapnya terputus dan ketiga pula terjerembab, sisa dari ketiga gunung itu yang lari ke arah barat segera dihantam dengan senjata bajra.
- Sayapnya hancur terpental akhirnya jatuh ke samudra tan pa kekuatan, segera melayang ke utara sampai di sebelah utara jambu- dwipa, seketika sayapnya dibidik dengan senjata bajra terus jatuh dan terpelanting, tan pa sisa semuanya jatuh ke dasar samudra.
13.Setelah gunung itu hancur dan jatuh ke tengah samudra, para dewata tersenyum kegirangan karena tidak mungkin ada bencana selanjutnya, tidak lain dewa indralah yang menjadi pembicaraan para dewata karena ia telah menyelamatkan sorga, akhirnya semua kembali bersama anak cucu serta para re- maja yang bagaikan bunga harum semerbak.
W ASAN TA TILAKA
- Selanjutnya dikisahkan puncak gunung manasa di bagian utara, itu yang dise but wilayah manasotara, di sanalah istana dewa indra yang sangat indah, tepat mengarah ke punggung gunung semeru.
- Adapun yang disebut wisoka itu luas dan indah, dan mahendra keindahannya sangat mengagumkan, badan gunung itu laksana emas dan permata yang berkilau- an, tidak disadari karena siang dan malam hampir sama.
- Dataran rendah di bagian selatan sangat luas, itulah daerah yamuni yang indah mempesona, di sanalah istana dewa yama yang sangat indah, yang menangani keadilan mengenai baik buruknya perbuat- an orang-0rang di dunia.
- Ada pula dataran yang lokasinya di bagian barat, disebut wilayah suka, sungguh sangat indah, di sanalah istana dewa waruna yang megah, berkat aneka sinar permata yang sangat utama.
- Di sebelah utara terdapat dataran yang sangat luas, dataran itu bemama bawari yang masyur kesuburannya, di sanalah istana dewa daneswara yang indah gemerlapan, sangat berwibawa memiliki kekayaan emas, permata dan perak.
Demikian keadaannya selaku penguasa keempat wilayah masing-masing, disebut dewa di aloka yang sangat berwibawa, setiap hari matahari memancarkan sinamya, ketika berputar menyinari dunia ini.
Hingga sore hari matahari berputar em pat kali, pada tengah hari matahari menyinari amarawati dan mahen- dra, kemudian baru tampak terbit di yamaloka demikian adanya, tepat tengah hari menyinari wilayah suka dan terbenam di bawari.
- Demikian pula pada saat tengah hari matahari menyinari yarn uni, selanjutnya baru akan terlihat di wilayah suka, pada tengah hari pula matahari nampak di bawari dan so- mapuri,. dan kemudian baru tampak terbenam dari gunung mahen- dra.
Te pat tengah hari matahari menyinari sukapura, dan baru tampak terbit di bawari, dan juga tepat tengah hari baru sampai di amarawati, dan tampak terbenam di yamuni.
I 0. Selanjutnya saat tengah hari matahari menyinari sopuri, dan baru tampak terbit di amarawati, tepat tengah hari pula matahari menyinari yadayamuni, dan baru tampak terbenam di sukarajaya.Demikianlah matahari itu menyebabkan malam hari, cakra api yang dipijak itulah bintang yang gemerlapan, matahari dengan cepat berada di bagian selatan, tak ubahnya seperti anak panah yang terlepas dari busur keadaannya.
KR ET I
l. Demikianlah keadaan pancaran sinar matahari itu, sejuk dan kedamaiannya sama saja dirasakan oleh penghuni dunia, demikian pula ketika matahari ada di gunung udaya dan tepat di tengah-tengah angkasa, wilayah itu pada saat tengah hari merasa sangat panas.
- Dan setiap wilayah yang dilintasi oleh matahari itu, dirasakan panas terik ketika matahari semakin memuncak tinggi selanjutnya menjauh, ketika itu kesejukkannya menyenangkan perasaan masyara- kat, dan ketika hampir terbenam terlihat sangat indah mempe- sona.
- Bila matahari tampak di gunung udaya tiada lain itulan arah bagian tim ur, dan ketika matahari hampir terbenam dilihat oleh masyara- kat, itu adalah wilayah bagian barat yang di tuju oleh matahari itu, baik dari arah kiri, arah kanan, arah selatan dan utara sesungguhnya tiada lain.
- Se bagaimana biasa matahari itu terbenam pasti ke barat, maka itu gunung semeru tetap berada di sebelah utara matahari itu, dan semua loka-loka itu sesungguhnya tiada lain, ada di sebelah selatan dari perjalanan matanari itu.
WIKRETI
I. Nah, hal ini yang kusedihkan karena titah baginda ratu kepadaku, Karena baginda yang menitahkan menggubah cerita filsafat hakiki yang ten tu tak berhasil. orang arif bijaksana di dunia, berkuasa dan betul-betul mahir dalam kakawin. Tiada mampu menolak perintah baginda sehingga tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Selesailah sudah kakawin Brahmandha Purana ini. Milik Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar daerah Bandung. Selesai disalin pada hari: Selasa Umanis Wuku Uye. Penanggal (paro terang) ke 5, bulan kesepuluh (April) tahun Saka 1884 (1962 masehi). Namun maafkanlah bentuk tulisannya se bab banyak kurang dan terhapus. tidak akan malu ditertawakan. Ditulis oleh Ida Made Oka dari geria agung Banjarangkan Klungkung.
BUDAY A DALAM KAKAWIN BRAHMAl'IDA PURANA
Diceritakan pada zaman dahulu, ada seorang raja yang ber- nama raja Wena, raja ini terkenal karena kejahatannya, mem- punyai prilaku yang tidak baik, tidak memiliki sikap ramah dan pemurah, suka berbuat sewenang-wenang, angkara murka tidak percaya dengan adanya kebenaran, tidak mematuhi ajaran agama (dharma) dan kewajiban sebagai seorang raja.
Sifat~ifat ini semakin terlihat dengan dihancurkannya tempat persembahyangan, serta melarang rakyat melaksanakan upacara. Hal tersebut membuat para Resi sedih dan tidak per- nah merasakan kebahagiaan dan kedamaian di Sorga. Kemudian para Resi mengadakan pertemuan yang hasilnya disepakati untuk memberikan nasehat atau petuah kepada raja Wena. Tiada diceritakan perjalanan para Resi, sudah sampai di hadapan raja Wena, dalam pertemuannya itu tidak tampak ke- ramah-tamahan. Para Resi lalu memberikan nasehat a tau petuah kepada raja Wena untuk melaksanakan ajaran agama. Petuah itu tidak diterima bahkan menyebabkan terjadinya perkelahian sengit, sating pukul, saling tikam dan saling gulat.
Pretu sangat tampan dan selalu melaksanakan ajaran agama dan menyebarluaskan kepada masyarakat. Di samping itu beliau juga sering melaksanakan Yadnya sehingga menyebabkan raja Pretu dinobatkan menjadi raja oleh para Resi. Raja Pretu me- merin tah dengan penuh kearifan serta memugar dan menata negaranya dengan baik serta berbhakti dengan tulus ikhlas ke- nadapan Dewa Siwa, sehingga dijuluki maharaja oleh seluruh rakyat di negaranya. Semenjak raja Pretu memerintah, negaranya aman sentosa, tidak ada bencana mengancam. Begitu j uga dalam bidang per- tanian telah berhasil tumbuh dengan subur. Masyarakat dibe-baskan membayar pajak, termasuk para menteri dan para pe- milik sawah.
Tiada berselang beberapa lama setelah yadnya dilaksana- kan, tiba-tiba datanglah seorang pendeta mohon makanan serta imbalan, termasuk rakyatpun berdatangan pula minta sedekah dan makanan karena merasa lapar dan dahaga.
Raja Pretu menjadi marah karena tidak dapat rnemenuhi perrnin taan para pen de ta dan seluruh rakyat. Kernarahan ini ditujukan kepada Hyang Basundari Jan hendak dibunuh. Ke- tika ditangkap, Hyang Basundari bergan ti rupa rnenjadi seekor lembu betina yang larinya sangat kencang. Para Resi sedih rne- lihat Hyang Basundari rnenanggung duka nestapa dan akan dibunuh oleh raja Pretu. Kemudian para Dewa dan para Resi rnengucapkan puja mantra kepadanya. Seketika itu hujan turun sangat deras, para Dewa dan para Resi menyarankan agar ber- sujud dihadapan raja Pretu. Dengan sujud ini, akhirnya raja
Catatan tentang naskah Kakawin Brahmanda Purana
Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar memiliKi Lembaga Pustaka Lontar yang sampai saat ini menyimp:rn lontar ± 690 buah judul. Lon tar-Ion tar terse but diklasifikasikan menjadi 7 jenis yaitu:
(1) Tutur Tutur ini berisikan tentang petuah, taqwa yang secara tidak langsung berhubungan dengan agama.
(2) Usada Naskah ini berisikan tentang pengobatan tradisional. cara pengobatannya, obat-0batnya dan jenis.jenis (nama pcnya-kitnya).
(3) Babad Naskah ini berisikan tentang uraian sejarah dan asal-u~11l/ sejarah keturunan dan silsilah.
(4) Geguritan Termasuk Kidung dan Geguritan.
(5) Kakawin (puisi jawa Kuna yang mengikuti aturan guru la- ghu).
(6) Wariga Naskah ini berisikan tentang cara mencari hari baik (pedl'- wasan) dan mencari hari tertentu yang sifatnya kurang baik.
(7) Puja Mantra Tercakup golongan ini adalah mantra dan weda-wcda. Naskah Kakawin Brahmanda Purana yang diangkat sebattai kajian analisis termasuk golongan yang ke-5 yaitu jenis kakawin.
batik kecuali pada lembaran pertama Jitulis pada bagian b (lb). ldentitas lain yaitu tiap-tiap halaman ditulisi 4 baris kalimat.
3.3 Nilai Budaya dalam Kakawin Brahmanda Purana Seperti telah dipaparkan dalam bab pendahuluan, bahwa sastra klasik khususnya kakawin amat kaya akan nilai budaya bangsa. Nilai yang dimaksud tentunya lebih banyak bersifat rokhani yang tidak akan basi di tengah arus kemoderenan jam an sampai kapan pun. Dengan demikian dapat dikatakan betapa lunurnya nilai budaya yang dimiliki leluhur bangsa kita. Warisan yang mengandung nilai luhur seperti itu amat sayang kalau sampai ditelantarkan, apalagi sengaja dimusnahkan. Justru se- baliknya, kita patut menundukkan kepala dan berbangga akan keluhuran warisan para pendahulu kita. lmbalan seperti itu rasanya belum cukup bila tanpa ada usaha menggali, membina dan mengembangkannya sebagai tindak pelestariannya. Kakawin Brahmanda Purana sebagai salah satu warisan budaya bangsa tidak luput dari pernyataan di atas. lni terbukti dengan banyaknya nilai terkandw1g di dalamnya. Nilai suatu karya sastra baru dapat dijumpai setelah melaku- kan penilaian terhadap karya sastra terse but. Untuk menilai sebuah karya sastra lama seperti kakawin dibutuhkan kemampu- an untuk mengetahui konvensi bahasanya, konvensi sastranya dan konvensi budayanya. Penilaian sebuah karya sastra erat nubungannya dengan kritik atau keritik selalu berhubungan dengan nilai (Tarigan 1984: 194). Nilai yang dimaksud berupa :
1. Nilai hedonoik yaitu nilai yang mem beri kesenangan secara langsung.
2. Nilai artistik
10).
Bila suatu karya sastra memenuhi norma-norma yang di- tuntut oleh seni sastra, maka karya tersebut dikatakan bernilai. Untuk memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra di- perlukan suatu kreteria sebagai bahan bantu (walau bersifat tidak mutlak dan subyektif) .Bila kita memperpadukan argu- mentasi struktural, realistik dan moral, maka ini membantu kita dalam menilai sebuah karya sastra (Jan Van Luxemburg cs 1986: 72). Dalam penelitian ini tidaklah dimaksudkan untuk mencari secara mendalam ''bagaimana nilai kakawin Brahmanda Pu- rana"? Namun tulisan ini hanya mencoba mengungkap nilai apa yang terkandung di dalamnya dengan mencoba mengait- kan dengan pendapat Josep T. Shipley yang dikutif oleh Henri Guntur Tarigan (1984) seperti terse but di atas. Pendapat ini pun masih perlu disederhanakan dengan hanya mengam bil beberapa nilai saja seperti nilai artistik (estetika), nilai etis (etika), nilai religius (ketuhanan) dan nilai kultural (anthropo- logis).
3.3.1 Nilai Artistik Bila suatu karya dapat memanifestasikan suatu seni atau keindahan maka dapat dikatakan bahwa karya itu memiliki nilai artistik atau nilai keindahan.
Untuk mendapatkan kakawin yang bermutu dan indah hendaknya ketiga konvensi ini harus dipenuhi, setidaknya mendekati. Dalam bidang bahasa, sebuah kakawin harus memakai bahasa Jawa Kuna sebagai bahasa pe- ngantar. Bahasa Jawa Kuna yang digwrnkan harus dirangkai dan ditata seindah mungkin untuk menimbulkan kenikmatan bagi pembacanya.
Tentunya sang pujangga dalam menata dan merangkai bahasa agar mencerminkan keindahan harus memiliki jiwa seni dan ketrampilan khusus dalam bidang itu. Tanpa itu "Candi pustaka" (kakawin) yang diciptakannya tidak akan mampu mempesona dan menghanyutkan penikmatnya. Dalam usaha- nya untuk menciptakan keindahan, penyair atau sang kawi juga bertindak sebagai yogin. Puisi bagi seorang kawi juga merupakan semacarn yoga, yaitu suatu usaha untuk melakukan hubungan dengan Tuhan (A. Teeuw, 1984: 355). Bagi seorang kawi, yoga yang dilakukannya adalah mengarang syair sebagai pengagung- an Tuhan lewat manifestasinya sebagai Dewa Keindahan (Ka- langwan). Dengan demikian ia adalah "mango", yaitu abdi keindahan (Zoetmulder, 1984: 203). Am al bakti lewat karangan indah sebagai salah satu Karma Yoga, maka sang "Mango" akan mampu mencapai tujuan akhir agamanya yaitu "Moksar- tham Jagadhita" (kebahagiaan dunia dan akhirat) dan lepas dari belenggu rangkaian reinkarnasi.
Bertolak dari pemyataan di atas, maka kalangan atau kakawin merupakan "can di bahasa" yang kaya akan keindahan. Butir-butir bahasa yang ditata secara artistik mencerminkan estetika yang bemilai tinggi. Keartistikan sebuah kakawin a tau puisi Jawa Kuna tentunya terletak pada bahasanya sebagai bunga hiasnya. Bunga hias puisi Jawa Kuna dikenal dengan se- butan Alamkara atau Alangkara. Alamkara atau Alangkara, secara leksikal berarti 'perhiasan '. Secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu:
Old Javanese Ramayana, An Exemplary Kakawin to is Form And Content, VK. AWL 65 1958 karya Hooykaas). Selan- jutnya Hooykaas mengatakan l.Jahwa hiasan semacam itu merupakan usaha penyair untuk menciptakan sebuah con- toh atau model kakawin yang nantinya akan menjadi kon- vensi kakawin.
Hiasan bunyi bahasa yang disebut Alamkara dibagi menjadi dua yaitu Anuprasa dan Yamaka.
1) Anuprasa berarti asonansi (aliterasi) maksudnya adalah hiasan puisi yang menitik beratkan pada persamaan konsonan (p urwakan ti). Oalam kakawin Brahmanda Puran.i, Anuprasa dapat di- lihat pada wirama (pupuh) II bait ke-8. Rikala niran ahyun ameng-ameng ing tasik angusiri ramyaning pasir akas wway ikanang tasik wenang inambahira kadi um- bah ing lemah rikalanira ameng-ameng ing nagara miyat i ramyaning praja kalet tekap nikang gunung tern bahan arata sahanan ikang mahidara Terjemahannya: Tatkala beliau ingin bercengkrama di laut (ingin) menik- mati keindahan lautan Air lautan pasang namun beliau mampu melewatinya bagai (berjalan) di tanah, Ketika beliau ingin bercengkrama di daeratan untuk menyaksikan keindahan daratan, Terhalang oleh Gunung, namun semua gunung dan ju- rang menjadi datar.
Baris l dengan memainkan konsonan nasal 'ng' dan konsonan 'R'. Baris ke-2 dengan memakai konsonan 'k' dan aspirat 'h'. Baris ke-3 kembali dengan memainkan nasal 'ng' dan baris ke-4 dengan konsonan dental 't'.
2) Yamaka ialah asonansi yang bentuknya lebih sistematis dari anuprasa namun batas-batasnya kurang jelas (Hooykaas 1958 : I 0). Dalam yamaka hiasan bunyi bahasa yang di- pakai adalah perulangan dalam stanza (bait) dari kata-kata atau suku kata (silabel) yang sama bunyinya, namun me- miliki arti berbeda. Yamaka dalam kakawin dikenal 5 ma- cam yaitu Kanci yamaka, puspa yamaka, padadyanta yamaka, vrnta yamaka dan padanta yamaka. Kanci yamaka adalah perulangan dalam bait kakawin di mana silabel atau kata terakhir pada suatu baris menjadi silabel atau kata pertama pada baris berikutnya. Puspa yamaka dimaksudkan adalah perulangan dalam suatu bait kakawin, di mana suku kata atau kata terakhir setiap barisnya sama. Padadyanta yamaka adalah bait kakawin yang silabel atau kata-kata depan semua barisnya mempunyai perulangan. Atau setiap barisnya dimulai dengan perulangan (kata ulang). Padanta yamaka adalah bait kakawin yang setiap barisnya diakhiri dengan perulangan kata atau silabel. Vrnta yamaka maksudnya ialah bait kakawin yang kata pertama se tiap barisnya sama.
2. Arthalamkara artinya ialah hiasan dengan permainan kata berdasarkan arti katanya. Dalam ka kawin dikenal beberapa jenis arthalamkara seperti:
1) Rupaka (metapora) di mana I obyek diperbandingkan dengan I obyek standar.
Upreksa. perumpamaan dengan satu kata yang me- miliki bentuk dan arti yang berbeda.
6) Wibhawana ialah menyatakan sesuatu yang ada tanpa sebab
7) Ati sayokti ialah perumpamaan dengan membandingkan sesuatu yang bersifat absolut.
8) Varta: melukiskan sesuatu sesuai dengan apa adanya.
9) Virodha: melukiskan suatu tindakan dengan hasil yang berlainan.
10) Ninda stuti: menyalahkan suatu perbuatan dengan puji- an dan memuji suatu perbuatan dengan celaan.
11) Nidarsana: perumpamaan di mana obyek yang dium- pamakan dianggap benar-benar ada.
12) Yatha Sangkwa: yaitu rangkaian atau susunan yang di- katakan dengan satu ungkapan (kata).
13) Visosekti: ialah menarik perhatian yang dipusatkan pada sifat khusus dari suatu obyek.
14) Upanyasa: menyatakan sesuatu namun tujuannya lain.
15) Ananvaya: perumpamaan dengan membandingkan ben- da itu sendiri (tanpa bahan banding lain). Bunga hias kakawin seperti Alamkara di atas yang paling
banyak dimiliki oleh Kakawin Ramayana. Sehingga Hooykaas (1958) menganggap pengarang Ramayana ingin membuat satu model kakawin yang nantinya ditiru dan dijadikan kon- vensi bagi pengarang kakawin belakangan. Tetapi kenyataannya, tidaklah semua bagian alamkakara itu ditiru dan dimiliki oleh
Zoutmulder, 1983 : 480) tidak mengandung semua jenis alamkara seperti yang disebut di atas. Jenis alamkara yang tidak ada dalam kakawin ini adalah Sabdalam kara terutama bentuk yamaka. Singkatnya bentuk yamaka tidak dimiliki oleh kakawin Brahmanda Purana. Selain yamaka, semua jenis lain dapat di- temukan dalam kakawin ini. Bertolak dari kenyataan itu, akan timbul pertanyaan: ''mengapa yamaka tidak dimiliki oleh se- bagian besar kakawin dan juga kakawin Brahmanda Purana. Apakah bentuk itu tidak dikenal atau memang dikenal oleh pengarang kakawin, tetapi pengarang ingin menyimpang dari konvensi yang ada, atau ingin membuat model baru?". Pertanyaan seperti di atas kurang layak bila dijawab dalam penelitian ini. Mengingat penelitian ini bukan dimaksudkan membicarakan konvensi dan sosiologi sastra. Penelitian ini hanya ber- tujuan untuk menjangkau dan mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam kakawin Brahmana Purana, maka jawaban di atas tidak dimuat dalam penelitian ini .. Itu berarti, sekaligus memberi peluang bagi peneliti lain untuk mengungkapnya dalam pendekatan yang berbeda. Berbeda halnya dengan bentuk yamaka. Hampir seluruh jenis arthalamkara terkandung atau dimiliki oleh kakawin Brahmana Purana. Namun dalam tulisan ini tidak semua jenis arthalamkara terkandung atau dimiliki oleh kakawin Brahmana Purana. Namun dalam tulisan ini tidak semua jenis arthalamkara yang ada dikemukakan contoh-contohnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi format dan uraian yang menjemukan. Bait-bait contoh yang diajukan dalam tulisan ini dianggap sudah cukup mewakili, seluruh arthalamkara yang terkandung dalam kakawin Brahmanda Purana ini. Di sisi lain, juga karena penelitian ini tidak membicarakan konvensi kakawinnya. Bait yang dimaksud ialah:
Pesis bagai suara senjata guruh yang mengelegar, seperti hendak menghancurkan angkasa.
Varta wirama I bait 4 Yan ring rupa huwus lewas twakira wus ekel pwa anglud keris, apan sira mopawasa satata tapwan ring brata, embun wayawa ruksa malyus a.kit wrengkut nira tar dahat, ngunin dug lagi anwam araras lwir sri girindratmaja.
Terjemahan: Wajah beliau menandakan telah berusia lanjut, kulitnya keriput dan amat kurus sebab baginda sering berpuasa dan tidak hentinya melaku- kan tapa brata, tambahan pula badan beliau agak kecil kurus kering, keriput dan agak bungkuk walau tiada keras.
ad a yang menandingi aku ini, Engkau tidak tahu akan kesaktian raj a Wena yang mengiris- kan hati,
Begitu pula wibawaku yang luar biasa bagai kobaran api yang dasyat,
Mana mungkin orang berani menatap wajahku yang menga- lahkan sinar seratus ribu matahari.
Virodha
Viroda maksudnya adalah suatu tindakan yang hasilnya ber- lainan dengan tujuan sernula. Jenis virodha Japat ditemukan ualam wirama permulaan kakawin ini dan juga wirama ketiga. Oalam wirama pertama dilukiskan para resi mengadakan perun- dingan. Tujuannya untuk menyadarkan raja Wena yang berpri- laku jahat, kejam dan menyimpang dari ajaran agama. Namun raja Wena justru acuh tak acuh akan keda,tangan para Resi, dan semua nasehatnya tidak dihiraukannya. Pada akhirnya marahlah raja Wena dan terjadi perang antara raja Wena mela-
ae- ngan puncak kemarahannya mengajar Dewi Pertiwi. Untuk itu akan dikemukakan :2 bait contoh saja.
Wirama, III bait I 2
Kepwan sri nara natha wena suta tan wruha masunga bhuk- tyan bhaksana, an sampun alilang pwa ikanang pura parawasa punyakenira, kewalya warayang nira mwang ika tangkulakira kawacanya tan tumut, nguni. kala nikanang i;wayadnya nira kari tan milu karika pinunyaken.
Wirama, III bait ke-13
Mopek tambek i sang nareswara tatan hana ri sira ng upa- yangenaka, Madeg angkarani ng twas arddha mapanas adadi metu ikanang mokani ng dadi, Tan simpang kadi sabda sang prawara pandita ikanang asih maweh ilik,
Prtu masih ing jagat umon Iara nika ya ta hetuni ng gelong.
Terjemahannya:
Wirama III bait ke-12 Bingunglah raja Wenaputra, tiada mampu menyedekahi makanan dan minuman, Sebab seisi lstana sudah habis tanpa sisa disedekahkan, Hanya busur, anak panah dan bajunya yang tidak ikut disedekahkannya, Hanya itu yang tersisa tak ikut disedekahkan dahulu ketika beliau beryadnya.
Wirama, III bait ke-13. Bingung perasaan baginda dan tidak ada upaya dan pikiran yang menyenangkan, Karena sangat panas hatinya, tim bullah na fsu angkara- nya, loba dan tamak, Tidak salah seperti ucapan pendeta da ri cinta kasih menim- bulkan dendam, Raja Prtu yang semula mencintai rakyatnya, setelah melihat penderitaannya berbalik menjadi murka. Seperti telah dipaparkan di atas, bahwa seluruh jenis arthalamkara terkandung dalam kakawin Brahmanda Purana. Namun untuk menghindari uraian yang berkepanjangan dan menjemu- kan, maka contoh-contoh di atas dicukupkan dan dirasa sudah cukup mewakili dari seluruh arthalamkara yang ada.
Bertolak dari kenyataan di atas, ma ka dapat dikatakan bahwa kakawin Brahmanda Purana, kaya akan permainan bunyi bahasa dan permainan makna kata. Kalimat-kalimat perumpamaan seperti lazimnya sastra klasik khususnya kakawin amat banyak dijumpai. Hal semacam tu akan memperindah pengungkapan ceritanya. Sehingga meni mbulkan gaya tarik tersendirinya yang mampu menghayutkan pembacanya. Kare- naya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kakawin Brahmanda Purana kaya akan kandungan nilai artistik.
Salah satu cabang seni yang sampai saat ini masih hidup .clan ber~embang dengan baik adalah seni suara klasik seperti makakawin atau mabebasan.
Makeka win maksudnya adalah suatu aktivitas olah vokal menyanyikan kakawin sesuai dengan pola gum laghu (metrum) menyanyikan kakawin sesuai dengan pola guru laghu (metrum) sedang mabebeasan adalah makekeawin (menyanyikan kakawin) yang kemudian diikuti dengan penerjemahan ke dalam Bahasa Bali). Kadang-kadang disetai pula ulasan berupa komentar. Dari kedua pengertian tersebut dapat diketahui bahwa mabebasan memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan makakawin. Karena dalam mabebasan sudah terkandung pengertian makakawin,ditambah lagi dengan adanya penerjemahan. Di Bali tradisi mabebasan lebih banyak didominasi oleh kalangan generasi tua. Sedang generasi muda sudah jarang yang mau menekuninya. Waiau demikian kehidupan mabebasan di Bali boleh dikatakan cukup baik. Hal ini dapat diketahui banyaknya perkumpulan atau sekeha mabebasan (pesantian) yang hidup di Bali. Dalam pesantian itulah para aktivitas mabebasan melakukan olah sastra, berupa pembahasan terhadap sastra kakawin.
OM, merupakan kata suci dalam agama hindu. Kata OM merupakan perpaduan dari aksara A untuk memuja dewa Brah- ma, U untuk memuja dewa Wisnu dan M untuk memuja dewa Siwa. Perpaduan A, U dan M menjadi OM, merupakan ucapan suci untuk Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam agama Hindu. Ucapan suci OM ini terdapat pada permulaan bait (sebelum bait I wirama I) dalam kakawin ini. Bhatari Pratiwi dalam Budaya Hindu, adalah dewa Bumi (tanah) dalam wujud sebaga wanita cantik. Nama-nama benda lain seperti :parhyangan yang berarti " tempat suci". Jam bu warsa artinya nama lain dari India. Jambu Dwipa (nama lain pulau Jawa). Bajra berarti 'genta" Japa, brata, samadhi artinya mantra puasa dnn semadhi dnn lain sebaganya.
Seoenarnya masih banyak nama-nama benda, tempat dan istilah-istilah yang tergolong ke dalam kebudayaan materi yang ada dalam kakanwil tersebut. Namun contoh-contoh di atas dirasa sudah cukup mewakilinya. Contoh-contoh Iain dapat dilihat dal<111 teksnya.
Bertolak dari uraian di atas, maka tidak berlabihan bila dikatakan bahwa kakanwin Brahmanda Purana mengandung nilai kultural yang cukup penting.
Suseno 1984 : 6).
Moral berarti 'akhlak' dan religius berarti 'yang berhubungan dengan agama' (John. M. Echols dan Hassan Shadily, 1983 : 385 dan 4 76 ). Jadi nilai etis moral-religius dimaksudkan adalah suatu nilai yang mengandung pendidikan sopan-santun (etika) yang berlandaskan pada ajaran-ajaran agama.
Dalam ha! ini tentunya pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan rohani khususnya tentang moral. Dari uraian tersebut akan timbul pertanyaan : adalah kalimat-kalimat dalam bait kakanwin ini mengandung suatu ajaran yang berhubungan ma- salah pendidikan moral susila yang berketuhanan ? Untuk men- jawab pertanyaan tersebut di atas, tentunya amat mudah jawabnya : 'ada '. Kakawin Brahmanda Purana merupakan cipta sastra kakawin yang memuat ajaran-ajaran agama Hindu Tentunya ia kaya akan nilai keagamaan.
Dalam ajaran agama Hindu etika atau susila merupakan kerangka dasar agama Hindu yang kedua yaitu setelah 'tatwa' (filsafat) dan sebelum ritual (upacara). Jelasnya kerangka dasar agama Hindu adalah Tatwa (filsafat), susila (etika) dan upacara (ritual).
Etika atau susila dalam pandangan agama Hindu adalah tingkah laku yang baik yang berdasarkan dhanna. Manusia sebagai makhluk Tuhan, hendaknya seluruh gerak, pikiran dan ucapnya dilandasi cinta kasih yang tidak dibatasi oleh demensi ruang dan waktu. Konsep cinta kash inilah yang merupakan semboyan dalam pandangan agama Hindu dan terkenal dengan istilah "Tat Twam
Asi" yang artinya 'itu adalah kamu'. Menyakiti makhluk lain i tu berarti menyakiti diri sendiri. Men cela dan menjelekkan diri sendiri. Singkatnya segala pikiran, ucapan dan perbuatan yang dilakukan manusia pada dasarnya adalah untuk dirinya sendiri. Makanya manusia dituntut untui berpikir, berkata dan bertingkah laku yang baik, yang dalam istilah kehhinduannya disebut dengan istilah Trikaya Parisudha (tiga perbuatan baik). Bila ketiga elemen dari trikaya Parisudha ini mampu dijalan- ka dengan baik, maka kebaikan pula yang akan diterimanya sebagai pahala. Kebaikan yang dimaksud sudah tentu kebaikan dalam arti luas. Begitu pula sebaliknya. Bila segala gerak, cipta dan karsa yang dilakukan tidak baik, maka ketidakbaikan, kehancuran yang akan dideritanya. Tegasnya segala sesuatu pasti ada imbalan sesuai dengan hukum sebab-akibat. Hukum sebatrakibat dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Karma Phala. Karna berarti 'perbuatan' dan phala .berarti 'buah atau has il'.
Kakanwin Brahmanda Purana merupakan cipta sastra yang penuh dengan ajaran budi pekerti yang berketuhanan. Terutama pada bagian awal ceritanya. Raja wena merupakan sosok figur yang lupa akan kuasa Tuhan. Pemujaan terhadap Tuhan tidak pernah dilakukan, apalagi perhatian terhadap periradatan seperti Pura, tidak ada sama sekali, malahan dihancurkan. Dalam pemerintahannya, norma-norma hukum sudah tidak diperhatikan lagi. Hanya ketamakan, kekejaman dan kesewe- ngan-wenangan yang dilakukannya. Jelasnya, sikap raja Wena tidaklah mencerminkan prilaku seolah raja mulia, sehingga rakyat merasa tidak aman, sengsara dan kelaparan terjadi di wilayah kerajaannya. Hukum karma phala berlaku pula bagi raja Wena dengan kalahnya melawan para Resi dari Sorga. Hal ini tercermin dalam Wirama I bait ke-6 sampai dengan bait ke-24 dan wirama II bait ke-l.
Sebagai contoh akan dikemukakan beberapa bait saja, yang dirasa sudah cukup mewakili uraian di atas, contoh selengkap- nya dapat dilihat dalam naskah di depan.
puja haneng dewata, mangkin haruhara ng watek rsi kabeh tatan hana nge- naka, nahan hetunira ahom sahana sang brahmarsi ring kah- yangan, kapwa rampaka yang mara ri kahanan sang sri suni- latmaja.
Terjemahannya :
6.-Sebagai pendahuluan cerita ini, jaman dahulu kala dalam cerita klasik seperti yang dikisahkan oleh pengarang, Konon tersebutlah raja Wena termasyur di dunia namun berprilaku jahat, amat jahat, tak mengenal welas asih dan pemurah, amat jahat, tak mengenal welas asih dan pemurah, selalu menjalankan hukum rimba di dunia, murka dan bertindak bengis.
7.-Angkara murka, kafir, tamak, lalim dan tidak mematuhi aturan seorang raja.
l::erunding sekalian para Resi di Sorga, Lalu serempak semua akan datang ke Istana raja putra Sunila.
Dengan melihat contoh bait-bait kakawin di atas, tercermin pula pendidikan moral. Bagaimana buruknya bila manusia berprilaku jahat, angkara, bengis dan tidak berprikemanusiaan. Terlebih lagi tidak ingat akan kuasa Tuhan. Bila ini gerjadi pada diri seo rang manusia, tentu dia tidak akan selamat. Tuhan pasti akan memberi ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya. Namun bila manusia mampu bertindak jujur, adil, penyabar, punya rasa cinta kasih kepada sesama dan ingat dan pasrah akan kuasa Tuhan, maka keselamatanlah yang akan dijumpai- nya.
Bertolak dari uraian di atas maka da pat dikatakan betapa padau1ya nilai ajaran etis, moral dan ke-Tuhanan yang dikan- dung ol eh kakawin Brahmandha Pu,rana ini.
IV RELEV ANSI DAN PERANANNY A DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KE BUDAY AAN NASIONAL
Kebudayaan bangsa seperti yang termaktub dalam UUD 1945 Pasal 33, adalah kebudayaan timbul sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Bertolak dari kenyataaan itu, maka seluruh kebudayaan daerah berperan aktif di dalamnya. Pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, dunia sudah terasa semakin sempit. Kemajuan Teknologi menetapkan bangsa Indonesia pada era industrialisasi dan era informasi. Itu berarti memiliki kedudukan yang sederajat dengan negara-negara lain termasuk negara-negara maju. Keadaan ini mengakibatkan semakin bertambah seiring dan rapatnya hubungan antar bangsa. Keadaan tersebut sudah tentu membawa dampak tersendiri. Pengenalan budaya asing, penambahan devisa negara, merubah pola hidup dan lain sebagainya merupakan dampak positifnya. Di sisi lain akan membawa pula dampak negatif seperti : semakin melunturnya budaya daerah dan Nasional.
Prasasti-prasasti berbahasa Jawa Kuna. banyak di temukan dan menyingkap hal-hal yang bersifat bersejarah. Begitu juga batu- batu bertulis, pahatan-pahatan seniman kuni pada candi-candi. Sastra babad juga banyak menyingka p sejarah bangsa. di samping unsur sastra yang bermutu tinggi. Karya prosa seperti sastra parwa dan karya puisi seperti kakawin, walau tidak meng- andung unsur sejarah secara langsung, namun di dalamnya terkandung kristal-kristal ajaran rokhani ya ng luhur. Nilai ajaran yang terkandung dalam sastra Jawa Kuna perlu disebarluaskan, untuk diketahui, dipahami. dan dihayati dan diamalkan oleh bangsa Indonesia. Pembinaan dan penge mbangan kebudayaan dalam ba bagai aspeknya, merupakan Jangkah tepat yang di- canangkan pemerintah dalam Pelita III dan berlanjut pada Pelita IV. Di Bali realisasi Pelita tersebut terwujud dalam ben- tuk :
Sayembara penulisan sandiwara, derama. geguritan, ka- kawan dan sebagainya. Penyalinan beberapa naskah sastra J awa Kuni. Penyalinan naskah-naskah pengobatan (usada) Sayembara kakawin, mabebasan dan pembacaan teks naskah Weda yang disebut dengan Utsawa Dharma Gita dan sebagainya. Kakawin Brahmanda Purana merupakan sastra yang berbahasa Jawa Kuna. Karya ini kaya akan nilai yang berbahasa Jawa Kuna. Karya ini kaya akan nilai yang amat luhur. Sebagai bagian dari sastra Jawa Kuna, tentunya relevan dan berperan dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan Nasional. Istilah-istilah, ungkapan-ungkapan yang timbul dari bahasa Jawa Kuna, sering didengar dan terpakai dalam forum yang bersifat nasional, baik formal maupun non formal. Tokoh-
Sastra Jawa Kuna. Baik tarian yang bersifat sakral maupun yang disuguhkan untuk tontonan urn um. Kenyataan seperti tersebut di atas, menggambarkan betapa besar peran Sastra Jawa Kuna bagi bangsa Indonesia. Karenanya perlu dibina dan dikembangkan lebih serius lagi. Pembinaan dan pengembangan yang lebih intensif tentunya untuk menangkal dampak negatif budaya asing. Itu berarti pula sebagai usaha pelestarian di samping untuk merogoh dolar demi kesejahteraan bangsa.
,., Alih a ksara dan alih bahasa Kaka win Brahmanda Purana merupakan langkah tepat untuk menjembatani jurang pemi- sah antara sastra klasik dengan masyarakat. sehingga jang- kauan pembacanya semakin meluas.
3. Kakawin Brahmanda Purana kaya akan nilai budaya. karenanya patut dihayati, dipedomani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sastra Jawa Kuna Umumnya dan Kakawin Brahmanda Purana khususnya relevan dan memiliki peran cukup pen- ting bagi pembinaan dan pengembanga n kebudayaan Nasi- onal.
5.2 Saran
1. Usaha penelitian Naskah Kuno hendaknya lebih diting- katkan lagi, di samping penyebar luasannya, guna meng-
Sastra J awa Kuna merupakan sastra pramoderen Indonesia yang unggul. Karena itu usaha pelestarian dan inventarisasi naskah secepatnya diintensifkan mengingat banyak naskah-naskah kuno yang masih tersimpan di tangan masyarakat dan di berbagai perpustakaan di Juar negeri.
Catford, J.C, 1974 A. Linguistic Theory of Translation London Oxford
Damono. 1979. Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Echols. M. John dan Hasan Shadily. Kamus lntigris-Indonesia 1983 Jakarta :Gramedia. Harjana, Andre. 1981. KritikSastro Sebuah Pengantar Jakarta: Gramedia. Hoykaas. C. 1958 The Old. Javanese Ramayana, An Exempfory Kakawin to ist Form and Content VK. AWL. 65. Leiden.
Koentjaraningrat .... tt Persepsi Tentang Kebudayaan Nasio-
nal. Luxemburg, Jan Van dkk, 1984. Pengantar flmu Sastra (di lndonesiakan oleh Dick Hartoko) Jakarta : PT. Gramedia. Munawar, Tuti, 1991. Alih Aksara da n Alih bahasa dalam Naskah Kuna (Makalah) Jakarta. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjenbud Depdikbud. Poerbatjaraka, 1957. Kepustakaan Jawa Jakarta. Jambatan Swastika, I Made 1986. Kkanwil Dimbiwicitra Suntingan Naskah, Struktur dan Fungsi. Denpasar FS. Unud.
Suseno. Fran Magnes 1984. Etika Jawa, Sebuah Analisis Falsa- fah Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta : Gramedia.
Teeuw, A. 1984 Sastra dan fl mu Sastra Pengantar Teori Sastro. Jakarta: Jamba tan. Tan, Melly, G. 1977 Masalclz Perencanaan dalam Met ode Penelitian Masyarakat. Koentjaraningrat (ed) Jakarta PT. Gramedia. Tim Penyusun. 1988 Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta : Depdikbud RI. Suharianto, S. 1982 Dasar-Dasar Teori Sastra. Widya Duta Surakarta : Widya Duta. Tarigan, Henri Guntur. 1984 Prinsip-Prinsip Dasar Sastra Bandung : Angkasa. Yudiono KS, 1984 Te/ah Kritik sastra Indonesia Bandung : Angkasa. Fugene A. Nida dan Charles R. Taber 1974. Referentill Meaning dan Connotative Meaning dan Transfer dalam the Theori and Practice of Translation. Laiden Zoetmulder, 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang Diterjemahkan oleh Dick Hartoko Sj. Jakarta : Jambatan.
Um ur 50 tahun Pendidikan Tamat SMP Pekerjaan Karyawan Gedong Kirtya, Singaraja Bali. Alamat Desa Banyuning, Singaraja, Bali.
Nama I Ketut Swija BA Um ur 47 tahun Pendidikan Sarjana Muda Pekerjaan Karyawan Gedong Kirtya, Singaraja
Bali. Alamat Gedong Kirtya Singaraja, Bali.Nama I Wayan Turun Um ur 38 tahun Pendidikan SMTA Pekerjaan Karyawan Museum Negeri Propinsi
Bali Ala mat Desa Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur.