Baca PDF (OCR): Pengungkapan Isi dan Latar Belakang Nilai Budaya Naskah Kuno Damayanti.tif

115 halaman · 114 halaman diproses dengan OCR· 145912 ms

Daftar isi
  1. PENGUNGKAPAN ISI DAN
  2. LATAR BELAKANG NILAI BUDAYA
  3. NASKAH KUNO
  4. "DAMAYANTI"
  5. PENGUNGKAP AN lSI DAN
  6. LA TAR BELAKANG NILAI BUDA YA NASKAH KUNO
  7. ''DAMAYANTI''
  8. Jakarta, September 1987
  9. Hal.
  10. PENDAHULUAN
  11. 1.1. Latar Belakang dan Masalah
  12. 1.1.1. Latar Belakang
  13. Thjuan K.husus
  14. Jangkauan
  15. TRANSLITERASI/ ALIH AKSARA
  16. Ong Awighnam Astu Nama Sidem.
  17. Pupuh Durma:
  18. Puh Sinom:
  19. Pu.h Durma:
  20. Puh Mijil:
  21. Puh Samarandana :
  22. Puh Demung Sawit:
  23. Puh Sinom :
  24. Puh Dangdang:
  25. Puh Dangdang:
  26. II. Wantah ke Sang Prabu NaJa, pamargin idane wiakti. natcr
  27. Puh Ginanti:
  28. Puh Ginada:
  29. Puh Durma :
  30. Pupuh Donna
  31. Pupuh Sinom
  32. Puh Ginanti
  33. 8. Pendeknya perkataan hamba Tuanku, seolah-olah mem-
  34. Pub Ginada
  35. Pub Pangkur
  36. Puh Ginada
  37. 11. Cepat beliau menampakkan, wujud Dewata sesungguhnya,
  38. Puh Durma
  39. Puh Dangdang
  40. Pub Samarandana
  41. Pub Ginada
  42. Pub Demung Sawit
  43. Puh Ginada
  44. Puh Sinom
  45. Puh Pangkur
  46. 1 I. Puh Demung
  47. Pub Ginanti
  48. Puh Ginada
  49. Puh Durma
  50. Puh Kumambang
  51. Puh Sinom
  52. Kerangka isi cerita.
  53. ANALISA lSI GEGURITAN NALA DAMAYANTI
  54. 4.2. Nilai Budaya;'dalam ~gui(ta~ Nala Damayanti
  55. Geguritan Nala · Diunayanti merupakan salah satu hasil
  56. .,,. f;egiiritan ·~ala· ~~ayanti ~~a,~ny~a· n.t.en~njqlk~n id~ :s~ntial
  57. DAN SARAN
  58. PUSTAKA
  59. .. ..... ~
  60. ••. :· (.• /
  61. .....

PENGUNGKAPAN ISI DAN

LATAR BELAKANG NILAI BUDAYA

NASKAH KUNO

"DAMAYANTI"

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA TAHUN 1987/1988

Tidak diperdagangkan

PENGUNGKAP AN lSI DAN

LA TAR BELAKANG NILAI BUDA YA NASKAH KUNO

''DAMAYANTI''

TIM PENELITI/PENULIS Drs. Ida Bagus Gede Widana Drs. Ida Bagus Mayun

EDITOR Drs. A. Yunus Drs. Suradi HP.

DEP ARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN DIREKTORA T JENDERAJ., KEBUDA Y AAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDA Y AAN NUSANTARA TAJi~ 1987/1988

PENGANTAR

Geguritan Nala Damayanti ini adalah hasil penelitian dari Drs. Ida Bagus Gede Widana, dan Drs. Ida Bagus Mayun, yang dibiayai oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Jakarta pad a Tahun Anggaran 198 6/198 7. Geguritan Nala Damayanti adalah suatu karya sastra tradisional Bali yang ceritanya dijalin dalam bentuk pupuh atau tembang-tembang seperti tembang Durma, Sinom, Ginanti, Ginada, Pangkur, Mijil, Dangdang, Smarandana, Demung, dan Adri.

Dalam Geguritan Nala Damayanti ini yang ditonjolkan adalah mengenai keteladanan seorang gadis sampai menjadi seorang isteri. Damayanti yang dijadikan sebagai tokoh wanita ideal dan merupakan cermin nilai budaya luhur yang harus di- ingat dan dianut oleh setiap wanita yaitu hormat kepada guru rupaka (orang-tua); etika sebagai wanita (menjaga kesu- cian dan martabat wanita); etika sebagai isteri yang disebut sadhwi (harus baik dan setia terhadap suarni); taat melaku- kan tatwa, susila, upacara (dalam keadaan susah sekalipun); menghormati setiap tamu yang datang; percaya kepada hukum kar111il-phala dan taat terhadap perkataan.

iDi masih perlu disempurna~ kan karena memang keterbatasan pengelolaan dan keterbatasan tenaga peneliti yang dapat mengkaji lebih lengkap dan sem- purna. Oleh karena itu, semua saran maupun perbaikan yang disampaikan akan diterima dengan senang hati. Walaupun demikian, kami tetap berharap semoga sumbangan pikiran ini dapat menggelitik minat budayawan lain untuk melaksana- kan perbaikan mengenai hal-hal yang masih perlu disempurna- kan.

Atas hasil jerih payah yang sangat berharga ini, Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ke- dua peneliti karya sastra ini, dan begitu pula, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Drs. A. Yunus dan Drs. Suradi HP penyempuma. naskah serta semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini.

Jakarta, September 1987

Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengk~ian Kebudayaan Nusantara

Drs. l.G.N. Arinton NIP.030104524

ii

DAFTAR ISI

Hal.

Kata Pengantar iii Daftar Isi 1

I. Pendahuluan

II. Transliterasi/Alih Aksara 5
III. Terjemahan/Alih Bahasa 46
IV. Analisa Isi.. 90

V. Kesimpulan dan Saran
107 Daftar Pustaka.

iii

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Masalah

1.1.1. Latar Belakang

Geguritan Nala Damayanti (disingkat GNU) adalah produk sastra Daerah Bali, dan merupakan warisan budaya yang · tidak ternilai harganya. Oleh karena itu ia (GND) juga sebagai unsur kebudayaan Bali, yang ikut memperkaya khazanah budaya Nasional. Sebagai unsur kebudayaan, GND merupakan pernyataan gagasan dan perasaan seorang seniman. Sungguhpun merupakan pernyataan gagasan dan perasaan seorang seniman, tetapi ia tidak dapat bebas dari dominasi kebudayaan tempat ia dibesarkan (Santoso, 1982: 27). Oleh karena itu, GND ikut berperan sebagai media tidak langsung melestarikan nilai-nilai gagasan vital, serta keyakinan yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan yang masih perlu diungkapkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga teJjalin hubungan antar daerah yang lebih erat lagi. Dalam hubungan ini, pengungkapan nilai-nilai sastra daerah (termasuk GND) ke dalam bahasa Indonesia, dirasakan turut menunjang dalam usaha mengisi kebutuhan akan warisan nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia.

bent~ pupuh atau tembang. Dari hasil penelitian kepustakaan diperoleh keterangan, bahwa cerita Nala Damayanti pernah diterbitkan oleh Pustaka Balimas Denpasar berjudul Kisah Putri Damayanti Dikutip dari Cerita Hindu (Mahabharata), (1958) oleh I Gusti Alit Deli. Di dalam buku tersebut diceritakan kembali kisah Damayanti mengalami penderitaan disebabkan suaminya, Prabu Nala kalah bermain judi melawan Puskarapati. Akan tetapi dalam buku tersebut uraiannya tidak bersifat analisis. Oleh karena itu dalam kaitan transmisi nilai-nilai tradisional ke dalam budaya Indonesia, maka GND sangat perlu diteliti untuk ke- perluan di atas. Penelitian terhadap sastra-sastra tradisional Bali (ter- masuk GND) penting artinya dalam rangka pembinaan sastra daerah itu sendiri. Pengungkapan nilai-nilai yang terdapat dalam GND ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam rangka pembinaan dan pengembangan sastra dan budaya daerah, dalam rangka pembinaan dan pengembangan sastra dan budaya Nasional. Sebagaimana diketahui, bahwa GND ini sebagai bentuk sastra tradisional Bali adalah merupakan salah satu produk cipta sastra nusantara, maka hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian-penelitian amanat terhadap karya sastra daerah lainnya di Nusantara.

1.2. Masalah Berdasarkan latar beJakang di atas, tampak jelas bahwa suatu karya sastra sebagaimana halnya dengan kesenian dapat digunakan sebagai pembangkit rasa senang (pleasureable sensa- tion). Menurut S. Suharianto (1982: I 0' faedah karya sastra adalah berguna dan menyenangkan. Hal ini mengundang mak- sud bahwa di dalam menikmati suatu karya sastra pembaca akan mendapatkan dua akibat yaitu menyenangkan bila perasa- an pembangunan kebudayaan dalam arti luas.

Thjuan K.husus

Selain tujuan umum seperti telah diuraikan di atas, secara khusus penelitian ini dimaksudkan untuk menggali nilai-nilai tradisional yang terdapat dalam naskah-naskah kuno (lontar), khususnya yang terdapat dalam lontar Geguritan Nala .Dama yanti. Usaha ini mengandung arti turut memelihara serta me- nyelamatkan peninggalan kebudayaa n dalam bentuk naskah lontar yang sampai kini dianggap sebagai aspek budaya bangsa yang masih hidup yang banyak menyimpan misteri kehidupan.

1.4. Metode Penelitian ini menggunakan naskah lontar sebagai sumber data. Dengan demikian untuk dapat mengetahui isinya ter- lebih dahulu harus disalin ke dalam huruf latin, selanjutnya diterjemahkan. Oleh karena itu dapat dideskripsikan bahwa penelitian ini secara garis besar meliputi tiga tahapan, ( 1) tahapan pertama transkripsi (alip. aksara), (2) tahapan kedua pener- jemahan (alih bahasa), dan tahapan ketiga berupa analisis (ulasan). Masing-masing tahapan di atas digunakan metode kerja tersendiri. Transkripsi (alih aksara) naskah GND ini menggunakan ejaan bahasa yang disempurnakan ditetapkan dengan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/u 1974 (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1 97 6 : IV). Terjemahan naskah GND adalah bersifat idiomatik dengan berpedoman pada teori terjemahan yang dikembangkan oleh Nida (1969) dan Cat Ford (1979). Dapat dikatakan bahwa terjemahan yang diberikan ini tanpa mengurangi hakekat bahasa sumber. Tetapi ·pada batas-batas tertentu dituntut keidioma- tikan yang menghendaki agar penerjemah dapat membebaskan diri dari aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa sumber ter- sebut sebagai pemah dikatakan oleh Maurits Simatupang (tt,75). Di samping itu perlu dijelaskan bahwa beberapa kata dalam bahasa sumber yang tidak terdapat paduannya tidak diterjemahkan, hanya diberikan keterangan di dalam kurung.

Jangkauan

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas serangkaian dengan penelitian ini, maka secara singkat disusun analisis dari segi isinya membicarakan sinopsis cerita sebagai pemaham- an awal cerita, nilai agama, nilai etika dan nilai estitika.

TRANSLITERASI/ ALIH AKSARA

Ong Awighnam Astu Nama Sidem.

Pupuh Durma:

  1. Dunna girang milu pongah ngngaweggita, durung tatas ring sastra aji, muang basa basita, sok mengadu tabah, ne kaanggen basa Bali, alus kasar, tani karwan pupuh- gending.
  2. Kolug kikuk paiketing basa suara, mangda guyuning ang api, doning kedamangripta, pan tan mangda bagia, kan dehan lara prihatin, pangetekning, kirajah tamah mamurti.
  3. Sane mangkin indang pisan palilayang, bilih sida puma kidik. jalarin mangrenga, kacaritan ida, sira sang maraga motani, taler ida, tan kaluputang prihatin.
  4. Turing asering nandang lara kawirangan, sangsara me- wami-warni, suka Ian duh kita, sakadi inucap, maring Wana Parwa nguni, ne subaga, Sri NaJa muang Damayan- ti.
  5. Malih sing nya wenten kagunan nya matra, ring sang maut- saheng kerti, nyipta sasolahan, merih ramianing negara, asung taWadan adi, ring para wang, sawonging negara krami.

~a, Udiano Sadi desa, greha pawi- tra negari, Bali Dwipa, makastana ngwang mang rinci.

  1. Saha kala sunia duipa naga rupa, sewu wolung atus luwih, wolung puluh ika, asakanikang rat, dewasaning ngwang anggurit, rengwa kena, wasitania ring sor iki.
  2. Purwa kata biseka Sri Darmawangsa, Prabu Astina negari, kena nayopaya, de Sri Kuraqata, .Duryudana araniyeki, asubaya, masuki atoh nagari.
  3. Asing salah sayogya ninggal negara, rolas warsa tan pawali, prade yan kaciryan, tumampak ring Astina, rolas tahun buin mewali, ngwantunana, kadi kekalah nenguni. I 0. Sapunika pamutus rasa alap kena, sami sampun mangadia- nin, girang Duryodana, dinia gandiara raja, ratu ning naya kastuti, Sang Sakunia be cundang eager tinating.

    Puh Sinom:

I. Kacerita sampun gelar, ikang batoh tempek kalih, Korawa law an Pandawa, pada ngadu kaweruh sami, tan ti ramia nikaqg judi, carita sang Sri Darma Prabu, gelis alah ring pasucian, pra korawa gerang *sami, wen ten ngidung, wenten ngigel pajalingkrak.
2. Sang Sri Darma malaradan, atinggal paseban gelis, pamargine jado-jado, kayun peteng tan patanding, dening sampun kalah janji, tur sami munggah ring serut, jengah tong dadi jengahang, pamargine pati sili, srayang-sruyung, sing jalan ~ jalan mage biag.
3. Katon ida ninggal wesma, panjake kagiat sami, ring ban cingah mabiayutan, paduut pagerong ngeling, prabudanda panditadi, nyadia ngiring sang maulun, pada ngetut gagelis- an, pamargan sang Darma Pati, laki wadu, tua anuam sagrehan.
4. Nging Sang Nata nora ledang, pangda mlentangin pamar- gin, sinamian pada katulak, panjake mawuwuh sedih, pi- sadiannya kama sami, *sabaya it~ ring prabu, yadin tekeng

pul~ sang mawetu blasak, atmane saksat kaambil, ngiring ida sang Nrepati, kawala kurungan kantun, rikiring jagat Astina, dening jati srusa baktia, ring sang prabu, Darma putra kalokeng rat.

Puh Ginanti:

  1. Tan lingan Astina nagantun, pinah sampun doh ring margi. liwar wawengkon Astina, ring madianing wanagiri, sira sang Sri Darmawangsa, waluya kadi tanginin.
  2. Duhka bara ikang kayun, dekas-dekes sada titir, manyese- lang pura kerta, kene palan nyane tami, tuting jagat *bareng sungkan, apa anggon murnang jani.
  3. Nanging sing ja ada liu, sajaba tuniane besik, pati minuda- ning lara, wau sapunika mangkin, osek pangrawose samia. Sri Darma sedeng tinarigkil.
  4. Antuk pra Dwija kumpul, tanlen tatuweking arsi, sadia pacang mangiringang, saparan seluan *sang aji, tur pateh sampuh masikian, pacang maturunin sedih,
  5. Wenten satunggaling Biksu, wreda tapa pandita adi, lintang kangen miarsayang. panyelsel Sri Darmapati, mijil peh pakayun ida, ngupapati sang Nrepati.
  6. Bilih matra puma kayun, ida sang menandang sedih, raris nesek umatura, Duh ratu sang Sri Bupati, sampun ratu nyelsel raga, elingang kayun Nrepati.
  7. Sang lumingga ring iratu, *mula sarira motani, luput saking krya ala, sappakriyan mala sami, pada tan wenten tuma- mah, balik ngemit Sri Bupati.
  8. Cutet atur titiang ratu, sat nangi sampuh malinggih, saksat nasikin sagara, sami wenten ring Nrepati, masa tan mantuk ring cita*, titiang kwanten mapakeling.
  9. Sampun mabawosang ratu, mitengguh tan wenten malih, anak sekadi idewa, sangsara tan kadi-kadi, meh tan sida ban naanang, lara bara tan patanding.

Prabu Nala.

  1. Nunggwing Nisada negara, kadatuan sang seri Bupati, kocapan prabu taruna, sedek ida makalangun, ring taman idane mulia, manggih paksi, rupania kaunang-unang.
  2. Wulu kuning sawang mas, yukti membuh ngulanguni, malih ne ngaran suacita, pan sang paksi langkung weruh, masuara kadi manusa, rika raris, sinekep adeng-adengan.
  3. Sang paksi atur pranata, "inggih ratu titiang uning, iratu raja wibawa, saluaning jagat punika", Nata Nala semu smita, mamiarsi, pangalem sang paksi ika.
  4. Paksi bagus matur muah, "Ratu titiang taler uning, wiaktinnya kayun idewa, kala-kala keneng, sungsut, ewuh kasamunan cita, napi malih, nuju tan akeh pakaryan.
  5. Ngame-ngame padagingan, boya ke kadi puniki, sendi- kan Sri Maharaja, sang Nala tumulia tanya, "ih sang paksi, uli dija iba nawang. ·
  6. Paksi bagus tan pangucap, wekasan jag mituduhin, ature sakeng pasaja, melad prana ngetus kayun, punika wen ten pawisfra, ayu 1uih, pantes nyanding sang Narendra.
  7. Manohora pati brata, wicaksana stiti bakti, ·tui tan wenten mangasorang, ring saluaning buana agung, yadin sasoring akasa, luhur pritiwi, patu t dadi kern bang jagat.
  8. Nawi ratu durung wikan, ring raja Bima pinuji, nateng widarba nagara, madruwe putria ayu nulus, rauh mankin dereng krama, tui tan kidik, prabu rauh nglamar.
  9. Darmayanti sajnyanira, sampunika atur sang paksi, nenge- deng kayun sang Nata, tur pamuput dadi tumbuh, me1ed kayune marabian, punang paksi, sumenggep dados jalaran. Puh Pangkur:
  10. Risampun Ida Sang NaJa, mamiarsa kasanggupanikang paksi, sane manyukaning kayun, paksi gelis kalebang,

peksi kang binuru Dama- yanti, matur ring ida sangarum, "Duh Dewa Ratu Sang Diah, ring Nisada negari wenten sang Prabu, raja truna inucap, anglewihi ratu sami.

  1. Yadin yan ring kawibawan, makamiwah yan ring kalu- huran budi, sang maraga kadi iratu, sang ngasorang pra- wanita, yan pitulus mawiwah·a ring iratu, punika -maka ja- tinnya. jatu karma kang linuih."
  2. Raja putri mangandika, "Yaning saja buka rawos iba paksi, kema iba age mabur, parek maring Nisada, keto masih atu- rang ring Nala prabu'·, sampunika antuk ida, mapiteket ring sang paksi.
  3. Ikang paksi gelis tulak, nguningayang ring ida sang Nala- pati, kadi piteket sangayu, Sri Nala langsung suka, sat waluya sampun kagambel ring kayun, sang Diah malih tuturang, sakatinggal dening paksi.
    Puh Jinada :

I. lnggih kawiaktinika, gatra kang winuat paksi, gelis ugi rumesepa, mantuk ring kayun sangayu, sendikan Sang Ratu Nala, darta sami, an tuk ipaksi nguninga.
2. Atura mangela-ngela, melad prana ngumad ati, ngrencem cita sang rumenga, kayun sang putri kapulut, katujuing Sang Prabu Nala, tuin tan uning, sat kadi sampun ma- nunggal.

  1. Manggep tenggep utsaha, nunggil dauh Damayanti, tan marl ngreka ring cita, sampunapi yaktin ipun, Swarnan ida Sang Sri Nala, manut wreti, ne katrima ring sang pak- sia.
  2. Raja Nala mengpeng anuam, kelus agung ngulsnguni, sybudi darma susila, wicaksana ngelus nagantun, yukti pangucap lpaksia, Damayanti nyujatiang ngucap ring cita.
  3. Sakadi orti inucap, taler naen kapiarsi, yan tan pisan nawi pindo, Damayanti bungsang kayun, buyar tong kena tup- tupang, tunggal wengi, tan nyidayang sirep melah.
  4. Kayun uyang maplasadan, mategep rupaning kapti, kaptin sang rara ayu anom, ngapti pasangan sapaut, nemanut sekadi cipta, krana dadi, kenake sadina tuna.
  5. Musnan wadanan Sang Diah, muuh-uuh acum lesit, raga etuh lambes kambang, dadoyanne mangan minum, ring saksana dadi tuna, sendik niki, gelis uning Raja Bima.
  6. Sinah kuanten ajin ida, lintang bingung makayunin, gelis sengin probadan<\a, adi mantri pa.tuh agung, sane yogya kaparcaya, kaarsanin, pituduh miwah pengajah.
  7. Pangajahe wus katrima, akehan pateh miuning, raja putri nenten sungkan, mawinan kenake mundur, ban pakayune tan triptia, buyar sai, sapunika sujatinnya.
  8. "Ratu sinah manyidayang, nyeta ring kayun sang aji, sampunapi goyang ira, sang rara Anom sampun duur, ngayunin titahnya wekas, durung pasti, kari kumbeng kawengian.
  9. Sampunika paungunnya, sira sang mawerda mantri, sang Nata tumuliayatnya, ring putri nira gunguyung, pasaur ida tan sinah, macutetin, "Titiang nenten sampun napia.
  10. Ratu sampun memangetang, ngayunin I Damayanti," sampunika antuk ida, nyalimur kayun s~g guru, Nata lintang cestakara, sane mangk.in, milih margine pastika.
  11. Ne yogya anggen mumayang, ngimpasang ida sang putri, saking kagoncangan cita, miwah tan tereptining kayun, raris sri Maraja Bima, mapakardi, raja karya suayambara.

Swarga.

  1. Sendik pakayun sang Diah, raja putri Damayanti, sang mustikaning kalangwan, arsa milih suamin ipun, sira sang mantuk ring cita, ika tui, maka jatu karmania.
  2. Sesampun gatra karenga, antuk pradewa suargi, pamutus pangrawos dewa, pradewa praya tumut, ngamiletin masu- ambara, marebutin, mikolih sang Damayanti.
  3. Tanasuwe raris mamarga, sirang catur dewa sami, Hyang Indra Geni Weruna, miwah dewa yama tumut, maawan kreta ngambara, kaksi.sami, saseluan ring sor andarat.
  4. Pan sampun tampek samaya, praja Widarba nagari, kem- bahin ratu taruna, saking sakehing nagantun, ne banget lot mengeniang, Damayanti, kalokeng rat sasila arja. 21 Wreti suayambara ika, gelis ugi kapiuning, ring ida sri raja NaJa, ugi gelis da lumaku, mungsi Widarba nagara, ngemiletin, ring karya asuayambara.
  5. Sri NaJa parcayeng cita, yan ida pacang kapilih, reh paksi kekasih ida, manyinahang sarnpuniku, tan kawasiteng Nisada, cariteng margi, manggih ring dewa patpat.
  6. Manut wacananing dewa, kocap pacang manyarengin, asuambara ring Widarba, satunggil ring dewa catur, ma- pesengaH Sanghyang lndra, andadlih, Sri Nala tan tekeng tuas.
  7. Ngamolihang setri Widarba, sang asajnya Damayanti, ka- sengguh Sri Raja NaJa, nganggen sarwa mantra kang wus, malarapan antuk pasia, nenten becik, pamargine sarnpu- nika.

Sri Raja Nala.

  1. "Ih kita Marajal Nala, ratu susila ayu budi, manawi ta cening suka, mandadi potusan ingsun," Nala gelis matur pranata, saur bakti, " inggih titiang sairingi."
  2. "Yan keto dewa lautang, ngungsi Widarba nagari, orahin ni Damayanti, ring jeroning suambara mebesuk, apang ya mamilih bapa, salih tunggil, catur dewa aneng suarga.
  3. Eda pisan kanti lempas, anak lenan bakat pilih," sampu- nika seken pisa, wakian Sanghyang Sata Kretu, tuah saking tatuiyan, sabda niki, ngremukang kayun Sri Nala.
  4. Sawet ning banget matungkas, ring sukseman kayun sang aji, kawulan muatang raga, ne jani cen pacang anggo, ne patut pacang dumunang, ·ne kapindrih, punapi kabuatan ngraga.
  5. Napi ke buat anak !ian, tuin dewa sinung linggih, rames pakiber wirasa, pawiadin pitaken karo, ring jroning kayun Sri Nala, sang sabudi, prade asing tur kajana nurageng rat.
  6. Kaget kabuataning dewa, pacang kasampingan ugi, kabuatan ngraga arepang, laksana kadi puniku, pinih patut turing nyandang, nika tui, pamineh ring kayun ngraga.
  7. Nanging Ida Prabu Nala, malih eling ring prejanji, napi ko sanggup punika, ne becikan pacang jabud, Sri Nala ma- wuwuh bungsang, bingung paling, taler nglaut ka Widarba.
  8. Mandados utusan dewa, nganutin kadi prejanji, boya ja potusan ngraga, sakadi untengning kayun, kadi duk wau memarga, saking puri, panujune ka Widarba.
  9. Yadin kapayune ooyag, duur langu tidong gigis, nanging sang kadi Sri Nala, pasti kasadia neda? lungsur, diapin mula kasayangang, dening gumi, yan kantos nyabud pra- janjian.

prapta, kamengan ngaksi sang putri, Sri NaJa ngucapeng cita, tuhu saja ling sang paksia, Damayanti ayu ngayang, tan patanding, sayang pan tan karman raga.

  1. Damayanti karman dewa, dewek sok potusan ugi, boya ja manglamar ngraga, punika anggen manyalimur, nung kulang kayune pusang, rahat sedih, ring ajeng Sang Damayanti.
  2. Damayanti gelis manyapa, ature pranata aris, "ngih titiang daweg nunasang, Nawi ratu NaJa Prabu, ane kawasitengja- gat, ratu luih, prajnyan santa sadu darma.
  3. Sampunika atur sang Diah, tan sah ngatugtug ring arsi, runtag sang putri duk nika, baget maka binan ipun, ring karuntagan Sri Nala, yang sang putri, runtag mawor kayun girang.
  4. Girang ngedot ring Sang Nala, mangden kasidan masan- ding, ring ratu NaJa motama, Sri NaJa tan sampunika, runtag kayun sang Sri NaJa, wus katindih, dekdek nyag mahabara.
  5. Lungan Sri Nala irika, sumasat kadi miuning, cihnaning raja wibawa, rauh seri Nala mariku, tan kadianak ngara- ga, Damayanti, matur malih ring Sri Nala
  6. "Duh singgih ratu sang Nata, suwe antuk titiang wiakti, mangajap-ajap idewa, kadi dasuh ngapti jauh, ngayam- nyam lebuh pakat, alai nganti, bau mara ratu prapta.
  7. Kabatek plentangin adat, tata kramaning dumadi, mi- wah tata kasusilan, yan tan sampunika ratu, bilih titiang sampun lunga, atur bakti, pedek ring jeng Sri Narendra.
  8. Sampunika atur ida, nyelsel raga ngasih-asih, nemuwuh- uwuh nekdekang, kayun sang Sri Nala prabu, Damayanti tur asumpah, tungguing urip, tan marabi yan tan Sri Nala.
  9. Malih pasaksian punika, pinih banget kekayunin, tansah mangresresin cita, NaJa tan kuasa sumaur, kadi togoge pangsegang, sue-sue, wau nyidayang ngandika.

nuturang· raga, "mriki beli kadi mangkin, marupa dados potusan, nging pitresnan beli mulus, pamantukan ring idewa, Damayanti, sengka beli nglebangJda.

  1. Adi manis Damayanti, aduh sayang Damayanti," mana- ngis Sri Raja Nala, ngisek-isek putus-putus, sarwi ida mi- dartayang, ring sang putri," punapiluir baos dewa.
  2. Yaning beli mangrasayang, yan kapo tuah beli dadi, adua ring awak padidian, adi sida urip adung, ring sam ping sang catur dewa, salih tunggil: sakadi am pun inucap.
  3. ldepang ja Damayanti, I Nala tan nehen urip, ring jagat traya," Damayanti panjang atur," duh nguda asampunika, an tuk beli, sotaning dados man usa.
  4. Kadi titiang mawak waduan, titiang wenten kuasan diri, kadi manusa uripa, titiang taler kuasa tumut, yadin sane pilih titiang, nista tui, nak leyan tan kuasa ngalarang.
  5. Sampunika ugi titiang, ring sendiking milih suami, weka- sing mabuat pisan, wet panguripan satuuk, sami guman- tung irika, buat punapi, kapaksa milih anak lian.
  6. Yadin molih linggih dewa, uningang ugi puniki, pepastin laksanan titiang, beli ugi sampun mundur, malih tan patut ajeriha, nggih piarsi, sane pacang pilih titiang.
  7. Ne munggah ring manah titiang, nut timbangan titiang ugi, sampunika uningayang, ring ida sang dewa catur, sinah sane pilih titiang, tan len beli, ringjroning pasuayambara."
  8. Sri Nala tan maha ring tuas, jroning angga luwes ramping, kaungguan jiwa purusa, ne uning nindihin patut, maka miwah pandreweyan, antuk niki, ida angob turing girang.
  9. Madulur gaok Ian girang, Sri Nala parek mawali, atur uninga ring dewa, pitelas atur sangayu, kanggek sang catur dewata, pada muni, kapagehan Damayanti.
  10. Kukuh ring paminen ngraga, tan sudi aserah yuakti, ring para pamutus anak lian, yadin dewa sinung lungguh, nging dewa tan kurang naya, mileg kapti, Damayanti ring paseban.

Sang Diah, tan sida yan inargami, manis nyurnyur, ngasorang pasisir karo.

  1. Sedeng itep midartayang, pesengan praratu sam i. maka-miwah raja putra, kancit keaksi de Sang Pu tri, jadma lima ngadeg sami, sami-sami rupan ipun, samatra tan wenten bina, satunggal ring ne satunggil, saksat lima, prabu NaJa ne sinamian.
  2. Yadin putri Damayanti, sampun tangeh jroning kapti, ring jadma patpat punika, tan len catur dewa wiakti, Indra Geni Waruneki, maka miwah Yama ikut, manyamar ma- nyuti rupa, mawesa NaJa Bupati, ngennya nyaru, ngebang tanda kadewatan.
  3. Reh catur dewa inucap, dados NaJa makasami, kranakeh NaJa sinamian, lali mapupulan sami, sinah Dewi Damayanti, bingung ngaksi ring pakayun, ring cenne patut pi- liha, ne gumanti kang kaesti, tan jalian, Ida Sang Sri NaJa Nata.
  4. Nging cen Nalane sujatia, reh lalima NaJa sami, boya dugi maka lima, ne sujati Nalapati, sajatinya wantah siki, nging yadin sira sangayu, banget kabingungan cipta, tan jantos peteng ring ati, netran ipun, kari muasta durung ulap.
  5. Manggeh kari ida nyidayang, nguasa ragan dan Sang Putri, priindik kadi punika, nggawe arti kang linuwih, buat ring asing wang sami, ritatkalania tinempuh, angarep aken wiawara, wiadi agung langkung sungil, tan patanggu, tan keni antuk nuptupang.

"Duh pukulun dewa luih,. sweca ratu nyacirenin, sujatin pragan iratu, pretandaning kade- watan, cihna yang ratu ne mangkin ne cen ratu, Prabu Nalakang sujatia.

  1. Sajroning Bhatara sowang, sweca ratu nganggen ciri, mang- da keni antuk titiang, ngelingin Bhatara ndiri, pabinan dewa ring jadmi, rika sang dewata catur, langkung gaok ring suacita, ring buat susatian sang putri, jati nulus, pinu- nase kedagingan.
  2. Ge1is ida manyihnayang, pragayan dewata jati, gubahan sakara katon, ne kanggen Bhatara sami, tan midep layu sadidik, kekeh kadi wau ketus, carma etuh kadi suba. Netrane tan goyang wiakti, busanannya, tan karaketan dening 1emah.
  3. Sarira tan pawayangan, suku tan panginjek kstii, nanging ring sami panira, Prabu Na1a katon ngepil, pringete mem- bah mijil, maka raga kaput ebuk, pangaksian idane acak, gubahan sekare kaksi, sami layu, Prabu Nala semu wirang.
  4. Damayangi gelis maturu, "aduh siwan titiang beli, sadia titiang manggih ida, saking tuni ban medasin," Sang Nala makesiab nolih, jejehe mawor u1angun, nging tan sang putri ngeraga, suka girang jroning kapti, janten campuh, ring Sri NaJa makaronan.
  5. Saking tuni banget runtag, pakayune tan sah rim-rim, ru- masa tan manda bagia, saksana mangkin mewali, sami kalih kab1aburin, kasusupin suka kayun, "Sang putri 1awan sang Putri, b1ebegan kayune nampi, gelis nyunyur, Damayanti ring Sang NaJa.
  6. Kampil tepining busana, ingisenan sarwa sari, ring bau Narendra Nala, ciri pamilihan enti, Damayanti mo1ih

Prabu Nala ne kasumbung, saksana yon ring water ngan, suryake mawanti-wati, sawang kerug, ngejer ma- ngempengan jagat.

  1. Suara gemuruh karenga, prasama suka mamuji, sobagian Sang Nata Nala, Raja Nala ngadeg agelis, samipa sang raja putri, sarwi ngentegang pakayun, telas keblaburan suka, tresnan asih ring raja putri, wor *welas hyun, sat kadi ring panumpenan.
  2. Asru sang NaJa ngandika, "Nrima sih Sang Raja putri, ratu sang murtining raras, langkung antuk Beli nampi, pisarat paswecan Adi, tan sida antuk manebus, sajaba siki memanjak, mengayahin sai-sai, somur idup, dadi pan- jak kaketokan."
  3. Prabu Nala saha sumpah, ring Sang Dewi Damayan ti, sanggup susatia masetria, salami tungguing urip, tan pacang ngaro pawestri, "Duh ratu Bhatara catur, saksianing nggih atur titiang, yan prade mresaring janji, ledang ratu, nike- lang dosa ring titiang."
  4. Manggut pradewata samian, tur sung nugra Sriaji, kasakti- an rupa-rupa, sakarep yogya ingangge, ring masa punapi ugi, tetep weruh mamarga 1urus, tan basmi dening apunia, tan pepada ngolah bukti, kuasa ngucur, geni toya ring samasa.
  5. Pamuput nugrahan Dewa, pacang wenten putra kalih, ring putusning wara nugra, para dewata mur sami, mantuk ring suarga malih, miwah sagung para ratu, sami ngungsi purin ida, kari sang rua sadampati, sida ngetut, sopacaraning pa- ngantian.
  6. Sam pun tu tug pawarangan, parabian ida kalih, sang Pu tri lawan sang Putra, weh kayogya anyar mangkin, ne kakai- dinin sang kalih, keh anak sami manyumbung, Damayanti Jan sang Nala, wantah mula adung yakti, Damayanti, ayu luih nindiyeng sarat.
  7. Sang Nala bagus tan pira, kalokeng rat Sri Bupati, Damayanti putring raja, Nala masih ratu luih, lantur pakraman sang kalih, sih gumasih tu t ta dulur, kayun trepti budi

Parabiane dabdab rnelah, sapocara rahat sarni, ·duweg rnanirnpalang raga, catur dewa nene nguni, jatiniatan saking tui, rnialang pakrarnania wau, ida saking ledang pisan, ngaksi kasadian sang kalih, punapiluir, ne kalaksa- nayang dipidan.

  1. Kewala panayopaya, nyugjugin kayun sang kalih, arnbul napi jatinika, paincep kayun sang kalih, dewa surnangsa- yeng kapti, ring pitresnan da sangayu, ring Ida Maraja NaJa, napi tan saking kekardi, de Sang NaJa, tan saking turnbuh ngaraga.
  2. Yan tresna saking pakaryan, gelis bureng anyud sarni, kaapus ban Buta Kala, dewa kurnandel ring kapti, margin kaurip neriki, ring Maya Pada tan lurus, jatinia miluk- ilukan, kala-kalabek baan dui, ne mawisia, yan pakrarnan tan saking tuas.
  3. Parabiane tan tekeng u tas, tan padasar tresna asih, pi- tresnane sarnpun~a, sinah telah anyud yakti, kawiaktin ida sang kalih, rnarginnya tan salami lurus, ring sedeng- mg kala masa, taler wenten bayeng margi, ne misadia, megat pakaron sang rua. Puh Pucung:
  4. Wetning sarnpun, larni atinggal nagantun, Sri Maraja NaJa, ne *rnangkin ida amuit, setri kakung, ring sira Sang Raja Birna.
  5. Praya rnantuk, maring Nisada nagantun, carita wus memar- ga, akeh wong pada mangiring, laki wadu, agung alit sapa- grehan.
  6. Tan kaitung, wadua Widarba nagantun, pada girang lunga, mekadi kadang sang Pu tri, saha dulur, raja bran a sarwa. mulia
  7. Tandua rauh, ring praja Nisada sarnpun, tan ti sukanira, Raja Nala lawan patni, wada tutut, satitah ida sang Nata.

warnan ipun, putra putri kar- wa, tulia rama rena neki, ngetus kayun, satsat maniking hredaya.

  1. Tuhu-*tuhu, sukanira sang maulun, Sang Narendra Dwita, Damayanti Ian Sri Aji, Nala prabu, ri kaanan anakira.
  2. Tuhu-tuhu, tan anang baya pakewuh, sarupa bancana ring lagi katekeng mangke, sudirga ayu, sakula warga sang Nata.

    Pu.h Durma:

  3. Wantunana satulak watek Dewata, saking asuambara rtguni, ring margi katemua, rong diri gandarwa, dua para kalawan kali, saking suwarga, sedeng nglanturang pamar- gi.

  4. Pacang milet ring karya pasuambara, ne buat ring Damayanti, tan ti krodamira, ri sampunya mangrenga, pamilih- an sampun enti, tur tan manuta, ratu manusa kapilih.
  5. Gandawa Rua nuuh gila getingira, ngrenga nama NaJa pati, yadin wus kapungua, dening pradewata, mangden Sang Gandrawa kalih, geng sapura, tan memanjangan ring ati.
  6. Kali manggeh memanah pacang ngualesang, ring sang sapa sira ugi, ne ulah presangga, sane ngonistayang, kawangan kang luih inggil, saking manusa, mawarna tangtangan pasti.
  7. Tur memanah ngruntuhang Sri Nata Nala, ipun ndewek pacang ngranjing, ring kayun Sri Nala, nanging ki duapara, ring batun cukian mangranjing, saking rika, denia mango- lah tangkis.
  8. Roras warsa laminia kikali dusta, menyantos mangepet singse, salami punika, tan polih jalaran, manguasa kayun sangaji, Prabu Nala, sang keanansa.du budi.
  9. Null wenten rupa kasisipan mantra, teleman upacara suci, punika makrana, kali polih awanan, ngranjingi kayun sangaji, tur agelisa, mujuki Puskara Pati.
  10. Ban duwegnya kiduapara mongbongang, mentetin Puskara Pati, mula dasar ngemar cita, pamuput punika, ledang sang Puskara Pati, manuutang, ring sapanangtanging kali.

Sri Puskara rakanira Prabu nala, wus ditangtang toh acuki, cukian gelis linakuan, Raja Nala kalah, trusan tan nahen molih, wetning ida, kawasesa dening kali.

  1. lka krana ida tan nyidayang nagkekang, seneng kayune macuki, p1aliane terus-terusan, tan rerenan sadina, bulan- bulanan mecuki, nging sang Nala, adoh para pacang molih.
  2. Sarwa ratna manimaya Ian rajata, mas sarwa busana adi, kuda Ian kereta, sarupan kasugian, sampun kekawonang sarni, de Sang Nala, mablulangan manglisti.

    Puh Mijil:

I. Luir pamungu kekasian Sang Aji, ne sujati tuon, jati- jati pitresnan baktine, malih juru pakeling sangaji, miwah wadua sami, pada ngaturang pamungu.
2. Pamungune tan nyilahin sami, sami pada kasor, yan papasang pangraket senenge, sane sampun mangangkeb ring ati, tur sam pun mamurti, ngawonang Ida Sang Prabu.
3. Akeh atur da Sang Damayanti, Sri Nala mamongol, Damayanti gelis tangeh kayune, karuntuhan Prabu Nala pasti, sirang raja putri, gelis sengin kusir ipun.
4. lkang kusir kin on de Sang Pu tri, mangda gelis kalak on, makta kuda kekasih rajane, minakadi putra nira kalih, kari alit-alit, aturin Sri Bima Prabu.
5. Sueca ida ditu mangaubin, sang kusir makaon, ngiringang hyun Sri Raja Patnine, duk punika cukian sedeng rame, trus-trusan ugi, tan pacaryan nyang adauh.
6. Jantos kasugiane telas sami, padrewian sang katong, sane marupa raja branane, minakadi wengkan jagat sami, telas tan makari, kakaonang sang Prabu.
7. Sane mangkin ne me wasta karl, padrewian sang katong, sakewanten Sang Damayantine, tumuli Sang Puskara bupati, ngandika ring ari, "Damayanti tohang luung."
8. Kadi paminta Puskarapati, yan ring Nala katong, daet banget nglitangin batese, tata cara kasusilan urip, mendem santa budi, ngentikang brahmantian kayun.

Sang Sri NaJa, matangi mangebras, ngelus raja busanane, sapanganggen da Sang Prabu, sane. tan kena inargi, sarnalih ring puputnya, antuk mapakayun, jaba nuuh kawirangan, lawan sanak, atinggal pase bail gelis, iniring Narendra Ow ita.

  1. Yaning kadi dan Sang NaJa ndiri, sendik nika, tan mawasta tawah, pan sira kayun acuki, nging kadiida sangayu, tan patut arnanggih wisti, nika ne ngranayang, kayun Nala kadi sunduk, kala nyingak rabin ida, satia nu tug, ring ke- sah nira Sang Aji, Sri NaJa sedeg ngandika.

    Puh Samarandana :

  2. "Duh dewa atman beli adi, sampun ugi samilua, tan kanten tujuan beline, parnargine murang-murang, tani karwan nyjekan, sayang beli ring iratu, ring pacang nahen sang- sara."

  3. Atur Dewi Damayanti, " Duh ratu panembahan titiang, satiba paran beline, titiang ny adia sairinga, sareng sabaya ita, sampun ratu walang kayun, ring pangincep manah ti tiang.
  4. Tan lami wus ning acuki, saindik Sang Raja Nala, ring na- gara Nisadana, kadi tingkah mabayangan, tan kanten pa- jenekan, tan wenten genah mangaub, makadi buating ra- yunan.
  5. Pan sirang Puskara Pati, mbiaktang kasisipan pejah, ring sapasira jadmane, purun manulungin ida, Sang Maraja NaJa, sarnpunika ne kadauh, rika ring wengkon Nisada.
  6. Katuwon ida sang kalih, memargi kalunta-lunta, tan ke- tang baya kewuhe, tui mangguhang kasangsaran, tan purun nak nulunga, kaluen memaksa terus, sapanjang parnargin ida.
  7. Pinah sarnpun doh memargi, raris ngeranjing ring wana lua, sarwa woh rayunanne, sasoroh akah-akahan, ne we tu ring

Y an kudang dina memarga, tan wen ten panuju pasti, Sri Nala raris manyingak, sakumpul paksi mabur, tumuli raris nedunang, Sri Bupati, sawang kadi semu samita.

  1. Kadi cumager ring cita, mangkin polih yunan becik, raris ida managelang, panganggen ida puniku, ring luhuring paksi ika, saksatjaring, sampunika kayun ida.
  2. Nanging tan pamanda bagia, paksi ika mabur malih, mung- gah mangeberang wastra, sarwi ipun gelur-gelur, nyjailin Sang Prabu Nala, "Ih Bupati, iba tuah gendeng-gendeng- an.
  3. Kadi kibatun cukian, tan marasa emed ring ati, salamin ba nu mangelah, kamben abidang ne buuk, "sampun nika denia ngucap, Nala Pati, banget merasa kabingungan.
  4. Sang Nala raris ngandika, "Aduh adi Damayanti, mangkin beli tan madrewia,"napi ugi telas sampun, duh adi jiwa at- man titiang, cingak adi, puniki marupa marga.
  5. Y an adi jani memarga, nuutang rurung puniki, wekas adi pacang tiba, maring widarba nagantun, "saksana risampun ida, Nala Pati, mangandika sampunika."
  6. Nyalempoh Narendra Dwita, sigsigan ida manangis, san- tukan marasa ring cita, ne kasiptayang Sang Prabu, tan leyan indik inapasah, Damayanti, maatur madulur sembah.
  7. "Duh ratu bataran titiang, boya-ke iratu karl, muatang manjakang titiang, malih kawentenan ipun, sedeng abeh kadi mangkia", Damayanti, malih matur ring Sang Nala.
  8. "Edot kayune mapasah, ring titiang sakadi mangkin, adoh- an ratu entunggang, pang tan nggoda hyun iratu," sam pun nika atur ida, Damayanti, banget kapalingan tita.
    Puh Samarandana:

  9. Damayanti ngaraseng ati, *priindikan kadi mangkia, sujati tan wenten saja, panglipur pinih utama, ring sang pinaka

Sri NaJa ngandika malih, "Duh mas mirah beli dewa, nawi becikan budaJe, mentukin, praja Widarba, pamargi- ne doh pisan, malih tan kanten panyujur, jaba muwuh kesedihan.

  1. Bell kangen pisan adi, sayang ring anggan idewa, sinah sanyeneng ratune, tan nahen sibin sangsara, sakadi ne mangkia, nika banget mangremuk, kinaJa tuah nista da- ma."
  2. Damayanti matur aris, "Aduh sasuwunan titiang, yan ratu sareng kayune, ring titiang mangda matuang, panga- uban ring Widarba, ngiring sareng uti ragu, sinah yayi ledang pisan."
  3. Nanging kadi NaJa Pati, sakarin idane belsa, turing kanista damane, mangdoh wenten kayun ida, malih pacang matu- lak, ngaranjing ring puri agung, ne nahen kaonin ida.
  4. Kadi Prabu suka sugih, kakuehaning raja bran a, an tian maha wibawane, miwah genging pangawasa, ida tan sam- punika. durus sedih mangu-manguh, prabu NaJa mangandi- ka.
  5. "Aduh Adi jiwan Beli, kadi patu t baos ida, ngegarang idep beline, nanging yan malih panjangang, yan kadi kayun ida, sampunapi adi ayu, yan beli sarengka Widarba.
  6. Duk rauh beline riin, sopacara kaprenatan, punapi pantes mangke, rauh beline mariki, sumaur Damayan ti' a, eh uripne puniku, tui tuah miluk-kilukan.
  7. Kadadosanne sampun niki, gumanti sampun pastika, sang- saya manggeh kayune, Sri NaJa raris anyana, ngayunin pacang marga, ninggalin ida sangayu, sayan adoh mangu- mbara. I 0. Pangkalihan ring sang putri, ngilidang paragan ida, antuk wartran sang putrine, kancit kapanggih pondokan, doh tengahing alas, genah nyane mangalasut, nyanding taru rob arembiak.

Yaktin ipun Sri Nala tan sirep jati, nging mawi sirepa, mangrereh dalihan becik, mangalihin rabin ida.

  1. Santukan dekdek kayune tan sipi, dening kapisadian, pakayunan Diah Damayanti, sareng ngiring pamargan- nya.
  2. Ne punika muarna panigtigan malih, ne muwuh ngrence- mang, pakayun Sri Nala malih, enyag tan kena tup tupang.
  3. Risampuning leplep sirep Damayanti, irika Sri Nala, ndresdesang ida matangi, mandesekin patnin ida.
  4. Tur karas suabawan sang kadi ratih, tui tan kadisuba, ka- ayon Diah Damayanti, madulur kawelas arsa.
  5. "Duh aringku sapantinggal beli mangkin, budal ugi ida, ngungsi widarba negari, sampun malih ngrereh titiang.
  6. Sumasatang I Nala ya suba mati, tan nyandang antosang, mungguing rauh nyane ma1ih, rereh ja pasangan Iian.
  7. Ne saimbang ne bisa ngledangin ati, ne sukat nyida yang, ngardi kasobagian adi, salamin ida mayusa. l 0. Adi mirah adi mustikaning bumi, papujaning manah, mungguh ring telenging ati, rumaket tan dadi belas
  8. Adi agung kasujatian manah beli, kagungan pitresna, pamantuka ring iadi, antuk kaurip ne enyag.
  9. · Nika karana I Nala mutus ring ati, nganggen margiika, kedeh ngamudalang adi, mangda adi sauninga.
  10. Manah beli mrasa tan nyidayang adi, ngantenin idewa, sadina kadi punika, masane kari mapanjang.
  11. Ne kaanggen pidabdab ne anyar malih, santukan punika, suastiastu tininggal adi, Beli luas kamurangan.
  12. Luas beli-beli mawehang ring adi, kaelahan manah, sai kawisik sang aji, angrong kama pate1ahan.
  13. Sinah kuanten Ida Diah Damayanti, tan wenten miarsa, 1ep1ep sirep da sang putri, Sang Nala ndresdesang.

., Majalaran antuk pedang, ne kapanggih reka tuni, nuli Ida Prabu Nala, neres wastran da Sang Putri, ne atenga ida ngangge, saparon Ida Sangayu, irika raris memargi, ning- galin ida Sang Pu tri, ngan tun-an tun, margine saking pon- dokan.

  1. Dereng wenten kudang tindak, sah sakeng podokan nguni, biahpara pakayun ida, tumuli raris mawali, malih tunggil ida ngaksi, arinda Narendra wadu, merem maguyang ring lemah, angngane kan ken sapalih, tan patudung, tan padin- ding ring pamereman.
  2. Sa wang kadi semu sami ta, lupu ting duhka prih a a tin ring Ida prabu Nala, tan keneng ampet kang tangis, sarwi me- ngasih-asih, nunas sweca Batara agung, mangden sida arin ida, Damayanti manggih becik, bagia nulus. suka tan paba- lik duhka.
  3. Prabu Nala mangebrasang, pamargi da tan panolih, ngalah- an Narendra Dwita, nanging tan Ialis mamargi, cokore kadi selingkadin, tan sah kabim bangan kayun, kategul ban rasa tresna, minakadi kayun asih, ne nulakang, ngedeng ngajak kepondokan.
  4. Nanging ipun Kali Dusta, satata polih ngalangin, pamuput Sri Raja Nala, nyidayang nurusang pamargi, pamargi ma- duluran bingung paling, tan madrewwe galang kayun, ma- ngumbara jroning wana, tan kanten sane kaungsi, murang laku, tan carita ring wenginia.
  5. Ring sampun tatas rahina, raja patni wus atangi, lintang kagiat ring cita, reh sang Nala da tankari, ring samping ida sang putri, raris ida kauk-kauk, ngawasitin suaminida, mu- tus tan wen ten nyaurin, rika ida, rahat kaebukan cita.

  6. Antuk kasih sayang ida, ring Ida Sri NaJa Pati, malih sumangsayan ida, ring titah ganti ndrepati, ngelisang ida mamargi, mrika-mriki pati purug, manawi manggih prah- cihna, jalaran mangetut buri, nemawanan, memanggihin Prabu NaJa.
    Pupuh Ginanti:

I. Ngalantur pamargan sang arum, tan pangitung bayeng margi, ne nyangkalen ragan ida, ring saksana ida raris, si- nauting ula layah, ring wana sengka durgami.
2. Yadin Sang Narendra wadu, nandang kalaran ne mangkin, ring cangkem ning ula gora, tan banget karaseng ati, pan bangetan kayun ida, ngayunin Sang NaJa Pati.
3. Pang sampun ida Sang Prabu, kapiasem jroning kapti, miwah manyelselang raga, sing kaget wekas mawali, ju- meneng sakadi suba, malih yaning ida uning.
4. Priindik Narendra wadu, prade jantos mangemasin, mawit kasingsalan ida, punika ne kakayunin, antuk Sang Narendra Dwita, tan kayunin raga niri.
5. Carita wenten wong maburu, ngrenga suara jerit-jerit, panangis Narendra Dwita, tulung-tuung sadatitir, agelis juru boros ika, rauh ring linggih Sang Pu tri.
6. Pamburu sahasa nulung, nyibak tendas ning lalipi, saksama lalipi pejah, Raja Putri luput saking, panyangkalan ikang ula, raris ngandi.ka Sang Putri.

Putri mawuwus, midarta sendik ta tuni, ka- batek kaayon ida, i juru bores kapingin, tur mamancih duracara, pamantuka ring Sang Putri.

  1. Raja Putri gelis weruh, ring laksana wong puniki, raja putri lin tang kroda, nuli wen ten metu saking, lam ben Sang Narendra Dwita, sabda malandep maingid.
  2. "Th maka sujatin ipun, kewala Sri Nala Pati, kang masesa dewek titiang, punika I Damayanti, nunas ica ring Bhatara, sang misesa jagat sami.
  3. Madak niki wong pamburu, keni gelis ipun mati, kakenan raja pinulah, .. wetning kasiatan Sang Putri, mapinunas ring Bhatara, saksama pem buru mati.

    Puh Demung Sawit:

  4. Sampun !ami Raja Putri, manglalana, mamargJ. nng wana agung, kakuehan bay_a agung, nanging pan teguhing ati, samatra tan winisesa, denikang sarwa baya agung, kewala gelenga, ngayunin titah sang suami, kala satunggiling dina. rauh ring patapan agung.

  5. lkang saran a sunia tistis, liniputan, rasa ati gem bira kayun, muang trepting kayun, ungguania kadi siningid, ring pantaraning wala lua, para tapa girang kayun, ring rauh Sang Diah, sang a tapa pranata aris, someh gipih denia ngucap, mangde paritusteng kayun.
  6. Langkung seleg tapa ngapi, miresepang, sendikan ida sang arum, sang sedih kelangkung, ring puput atur Sang Pu tri, sang atapa raris ngucap, "sampunang ugi i ratu, makayun sangsaya, sampunan maren mangesti, Ratu titiang uning pisan, kanten ring kadibia saksun.
  7. Raja putri pacang malih, kapanggiha, ring Ida Sang Nala Prabu, minakadi ipun, Sang Prabu malih mawali, umadeg mandadi nata, kadi ne sampung ka sumbung, saluir raja drewia, sakasugihan sangaji." sampunika sabdan tapa, ring Ida Sang Nrepa wadu.

"Sapasira inggih ida muah punapi, luir sane kayunang ida."

  1. Sampun sami sinauran, antuk Ida Raja Putri, sapa taken jadma ika, tumuli Sang Nreap wadu, ngandika turing ata- nya, indik margi, tujun pamargin i dagang.
  2. Kapireng dagang punika, manyujur gedi nagari, satunggi- ling kuta praja, pangadeg Prabu Subau, rika nyarengang raga, ring sang sami, sakumpulaning dagang.
  3. Tumuli raris mamarga, sinareng dagang puniki, rikala sedek kawenginan, pacta milih genap ipun, riring pinggir ning danu ika, wenia ening, malih keh padangnya rika.
  4. Nanging sawawun i jadma, maka miwah ubuan sami, kaba- tek ban sanget uwon, maka sami pacta turu, kancit rauh gajah alas, maka sami, paksannya manginem toya.
  5. Gelis ipun polih ngungas, bon gajah ubuan puniki, raris ipun metu kroda, sahasa galak mangamuk, mangrusak gajah umahan, pan ring ati, sinengguh maka musuhnya.

Sapaliltan alit pisan, kumpulan dagang puniki, polih nga- luputang siki

  1. Sadia tan lama wekasan, tumuli ida memanggih, akudang- kudang Brahmana, ne nyujur cedi negantun, lrika Sang Raja Dwita, tansah niring, tur rinaksa sareng samian.

    Puh Sinom :

  2. Carita ida sam pun prap ta, maring puri Ku ta Cedi, nanging Sang Narendra Dwita, anggan _ida langkung daki, resem manyenebin ati, mangkin ida sampun langkung, ring gopuran nikang kuta, gatrane amiug agelis, Jero Kuta Agung, sarauh Narendra Dwita.

  3. Tatan kantos akijapan, Raja Putri katut buri, ban kumpulan rare kual, pasaliab ring margi-margi, " Sampun nika nggi sang putri," riwekasan raris rauh, maring satunggiling genah, tatan adoh saking puri, purin ida, Sang Narendra Cedi Raja.
  4. lbun ida patni Cedia, ngaksi putri Damayanti, kwentenan- nya sampunika, marasa kangen jroning kapti, tan kuala sungkan punik~ taler kaayon sang arum, sane banget ka- bobotang, antuk raja Dwita Cedi, nanging saru, kapendem ring jroning cita.
  5. Raris ida mawecana, ring jadma pangayah istri, ngiringan Ida Sang Diah, mangaranjing sajroning puri, ri sampun Sang Nala patni, puput midartayang atur, saindik pemar- gin ida, ne rangkting rahat nyedihin, nanging nyaru, pe- seng ne kari karn bang.

  6. Nala patni kapiserahang, antuk pramisuara Cedi, ring pu- trin ida Sang Nata, sun aneda pasajnyaneki, mangda sareng ring sang putri, Sang Putri Cedia sumanggup, pacang mitulung Sang Diah, ngayonin Sang Damayanti, sakawe- ruh, sakasidan antuk ida.
    Puh Pangkur:

I. Walinin malih carita, tan sue ri sampuning Nala Pati, ngawonin rabinda ikut, raris ida manyingak, geni murub sakadi tingkah mamuun, endihnya mangarab-arab, jeroning wana puniki.
2. Saking jeroning geni ika, karengi suara sekadi ngauk- ngaukin, mabuat nunas pitulung, Prabu Nala gelis prapta, "Ratu mariki gelis tulung titiang ratu," Sampunika daging suara, kene kapireng de sangaji.
3. Ring tatkala Prabu Nala, sedeng meweh kaleson ngrereh margi, nuuk geni sedeng murub, rika wenten kacingak, ula agung mangliker ring luhuringbuh, kiula raris matura, ring Ida Sang Nala Pati.
4. "Niki titiang ula raja, wetning te mah Ida Sang Maha- yati, ne ngranayang titiang rumpuh, malih tan kuasa molah," jantos rauh sang ajagnya Nala Prabu, ida reke mitulunga, "Sueca ugi ratu mungkin.
5. Angkid titiang i sangsara, mangden luput saking baya- ning ageni, antuk pasuecan I Ratu, titiang sadia malesa, antuk sane wekas maguna ring Ratu," sampunika atur. sang Ula, ring Ida Sang Nala Pati.
6. Risampun ida nyidayang, ngaluputang ula saking baya pati, tumuli ula mangugut, Ida Sang Prabu Nala, pandodos- nya wami ndatan kadi sampun, mabibayan bawan ida, ula raja matur aris.
7. "Titiang nguah warn an Sang Nata, suksaman ipun mangda tan wenten nak uning, ngelingin bawan i ratu, upase ranjing~m: titiang, jeroning tanu tan nggoda kenak i ratu, nging racun I Kali Dusta, ring anggan Sang Nata mangkin.

Sang Bauka pepatih ndrapati, dumadak Ratu kasinung, sakadi kusir raja, Retu Parna wus pascating pangaweruh, ring sendiking ajajudian, kinasungan ring n drapa ti. I 0. Satmaka dados paselang, kawidagdan i ratu ngoreng asu- aji, wekas ring sarnpun i ratu, mandreweyang kaweruh ika, kala rika ratu nyidayang mawantun, misesa jagat sang Nata, mapanggih ring putra patni.

  1. Yan iratu mapikarsa, warnan ratu sekadi sane nguni, tunggalang kayun i ratu, pamantuka ring titiang, malih tutup sasarnin ragan iratu, antuk puniki wastra, titiang ngaturin ndrapati."
  2. Sapuput atur punika, muksah ilang Raja Ula ring paling- gih, tumuli rari s mawantun, maring karaton nira. dening sampun telas kapisisip ne sampun, pun Ki Ula Raja, ka- langkung panrimeng ati.

    Puh Dangdang:

I. Cinarita Sri NaJa mamargi, menyujurang Ayudia Negara, irika mandados kusir, kusir Retu Parwa Prabu, ri sedek kala puniki, Ida Sang Prabu Birna, polih gatra sampun, titah ganti ne katiba,ring putranda, sira Sang Diah Damayanti, karua Jan mantunira.
2. Gelis ida maputusan mangkin, wangsa Brahma, genep ngas- ta desa, rauhing ne nyebit-nyebit, serek mangdan nua ka pangguh, mantu muang Sang Raja Putri, sating tunggiling potusan, tebeng Cedi sampun, Damayanti wus katingal, ri saksana sarnpun sinah kaelingin, yadin maar kasedihan.
3. Kipotusan narnpekin sang putri, mapiuning mungguing padeweknya, tur ngrauhang ring Sang Putri, gatra manye- nengang kayun, saking yayah miwah bibi, minakadi sa-

Sang Raja Patni Nala.

  1. Ring sampunnya Putr .1 Damayanti, sauninga sang Brahmana ika, Sudewa aran puniki, Saritah sidaran ipun, ne rangkung karaket becik, tumulia Ida Sang Diah, nangis segu-segu, kadi tan keneng ampetan, jantos ida, Raja Putri Cedi Pati, miarsa sendik punika.
  2. Sapa sira sujatin puniki, sangadiah ne puma yuwatia, pinariksa den atiti, wau ida tatas weruh, yan Ida Sang Damayanti, putrin arin ida ngraga, putri null nusung, iniring saka pranatan, ring kadatuan, ajinda Sang Raja Pu tri, maring Widarba negara.
  3. Rika Ida Pu tri Damayan ti, mapanggiha, ring sakula warga, minakadi putra-putri, nanging tan Panala Prabu, ring sam- ping sang Damayanti, Ida Sang Raja Dwita, doh marasa sukeng hyun, sarauhe ring Widarba, ring enjiula, sadereng Hyang Surya majil, mangutus pirang Brahmana.
  4. Manyerepang suaminda san~ putri, Damayanti, ring sage- nah-genah, madulur piteket niki, "Mangdenta sira sang ko- tus, saparan ungguan kang kongsi, keni sami manggita- yang, gending niki ratu, sampunika antuk Sang Diah, tur' kapatut, antuk ajinda Sang Putri, kadi niki pidartannya.
  5. Patang pada akeh ikang gending, sami-sami malianan tern- bang, dados pilih-pilih wiji, manut seneng sang kautus, daging gending pateh sami, pisan adri ping rua sinuam, kaping telu demung kaping pat tembang dangdang, sowang-sowang, kadiniki daging gending, sane pacang katem- bangang.
    Puh Adri:

  6. Duh Dewa Ratu pajudi agung, ring dijajua Ratu mangkin, ne ninggalin titiang riin, ngrampasin panganggen ulun, ne karl sapalih ipun, mangkin setrinta dahat sedihe, sedeng nyantos baos ratu, ne wijiling latin ida, maka panalimur branta.

Sinom:

  1. Duh Dewa Sang pajudi, ring dija jua Ratu mangkin, ne pe- cak ninggalin titiang, ngrampasin titiang pengangge, ne kart wan tllb sapalih, mangkin sen trinta sedih ngunngun, sedeng karl menyantosang, ketelan baosta mangkin, maka tamba, penalimur manah lara. Puh Demung:
  2. Duh ring dija ratu mangkin, sang pajudian, ne ninggalin titiang dumun, ngrampasin panganggen ulun, ke nari wan- tah sapalih, mangkin setrinta sedih pisan, sedeng nyantos baos Ratu, sane mijilling lambeta, maka panalimur sedih, tetambaning manah lara, amunika atur ulun.

    Puh Dangdang:

  3. Duh ring dij a jua I Ratu mangkin, sang pajudi, ne ninggalin titiang, ngrampasin titiang pengangge, sane sapalihan ipun, mangkin setrinta manandang sedih, sedeng kari manyan- tosang, ketelan baos I Ratu, ne mijiling latin ida, maka tamba, panalimur manah sedih, am unika atur titiang.

  4. Prade wenten anak manyaurin, saindikan gegitan punika, sang katos maka samine, mangda jagra mapakayun, sauni- nga sakaluir, sapratingkahing wong ika, muah midarta atur, ring Ida Sang Rc:ija Dwita, Damayanti, sang mungguing Widarba mangkin, tumut ngiring y ayah rena. Puh Sinom :
  5. Tan alami pingenania, sang Brahmana gelis mawali, tur raris ida uninga, sendikan idane nguni, ngendingang gitan sang putri, ring kraton yodia rtagantun, purin raja Retu Parna, siki tan wenten nyaurin, yadin raja, rniwah sakeh pangiringny a.
  6. Ngih sakesah sakeng pura, mamanggihin anak bentir, turing parupannya mala, limannyane bawak gati, nyujur

Sampun niki denia ngucap, "Wanita kang satia brati, ne nyidayang magehang awak, pacang manggih ayu wredi, yadiapi kalahin suami, kasusilania puniku, prasida maawak gelar, kukuh bakuh tan sinipi, maka payung, mangeng- kebang ragan ida

  1. Samalihnya tan madrewia, rasan gedeg maring suami, maka rniwah tan ja duka, ring jadma kang wastraniyeki, karampas dening paksi, nemapasah ring siriku, banget nandang kasangsaran," sampunika denia ngeling, kusir wau, sampun nika atur potusan.
  2. Ri sam pun Narendra Dwita, miarsa cerita puniki, agelis ngamargiang potusan, Sudewa ka Yodia puri, paminta ni yeki, Nalapatni ri sang ·ketus, "Tulung gelis manangkila, ring Ratu Parna Bupati, sampun iki, antuk matur maring ida.
  3. lnggih putri Raja Bima, asajnya Sang Damayanti, maka- yun pacang ngawentenang, karya pasuambara malih, miwah yan Sudewa prapti, rika ring yodia nagantun, uningayang ring sang Nata, manut pakayun sang putri, Damayanti, sampun niki pidarta yannya.
  4. Sane benjang punang dina, sampun mijil Sanghyang Rawi, ida pacang mamiliha, suami kaping karwa malih, ne mandados krana wiakti, pan tan wenten bukti pang- guh, sendik ida Prabu NaJa, nyeneng tan nyenenge mangkin, sampunika, doning malih masuam bara.
  5. Risampun ida sang Nata, Retu Parna mamiragi, pinguninge Sang Sudewa. Retu Parna gallis mamargi, ring kusir idane mangkin, Bauka pangaran ipun, turing banget mapikarsa, kawicaksanan sang kusir, mangurengang, paling gihan tan pep ada.
  6. "Manira mabudi luas, ngungsi Widarba negari, tur mang- den kasidan tiba, sajroning adina pasti, reh dinane buin

Putri Damayanti kowus, mangada yang pasuambara. malih sapisan ne jani," sampunika, wacana Sang Retu Parna. I 0. Miarsa baos-baos ika, pakayun Sang NaJa Pati, waluya sakadi ngemar, punapi sang Damayanti, kadi kabingungan mangkin, antuk kaduhkitan kayun, utawi ungkur punik.a, wenten nayopaya silib, napi krana, pawistri tan teguing- cita.

II. Wantah ke Sang Prabu NaJa, pamargin idane wiakti. natcr

nin kayun sang putria, ngandapang linggih sang putri, pantes putri Damayanti, tan malih tresna ring kayun. nging pateh ke sampunika, antuk putri Damayanti, mapa- kayun, marep putra-putrin ida. I 2. Yadin sampunapi jua, Prabu NaJa patut uning, turing polih bukti terang, ring sampun ida mejanji, ring Retu Parna Bupati, pacang muat da sang prabu maring Widarba negara. ring jroning sadina pasti. raris ida, milih kuda ring gedog- an. I 3. Kuda pinasang ring kreta, Retu Parna munggah agelis, ring salun siandanan ida, Bauka raris ngoregin, becatnya sakadi angin, tan bina sakadi paksiyu, kala mabur ring akasa, sampunika NaJa Pati, malaibang, kreta ring luhuringjurang. I 4. Ring luhuring gunung alas, maring danu-danu tre bis, inggih sadaweg punika, sabidang kampuh ndrapati, keles keam- pehang angin, Retu Parna gelis muwus, maring kusir umandega, mangambil kampuh mawali, nanging ida, Prabu NaJa umatura.

  1. Tan nyidayang malih Narendra, punik.a wastra ndrapati. Huyojana ring ungkuran, sengka ri raga ndrapati, antuk becate ngangobin, saksana sang karwa rauh, maring sa- tungiling wana, rika wenten taru panggih, wereksa agung, wibidaka pangarania.

    Puh Ginanti:

  2. Sri Ratu Parna amuwus, ring sira Bauka kusir, tonen ka-

Parna mangkin.

  1. Gecekang Sang Nala Prabu, reh kad; eseking pamargi, nanging ida Prabu Nala, tan nglingu baos sangaji, sesampun puput ngawilang, Sri Nala maatur aris.
  2. Yakti tan pasama ratu, ~awicaksanan ndrapati, yakti da- hat mangangobang, uruk ugi titiang mangkin, sendik kaweruh ra tu ika, mangda ti tiang gelis uning.
  3. Sang Sri Retu Prana Prabu, kaselek banget ngayunin, rika- la sedek punika, tan madrrewe kayun malih, leyan ring mangda gelisa, serek nglan turang pamargi.
  4. Sang Retu Parna mawuwus, kaweruh mangitung puniki, nunggil ring kaweruh pajudian, ne kadrewe ban nireki, yan kita suka mangajah, kaweruh mangoreg asuaji.
  5. Nira maweh weruh judiku, waluya pangentos neki, muput sida kadi ika, risampun sang Nala Pati, manrima kaweruh punika, kali dusta musna gelis.
  6. Medal saking jroning kayun, Ida Sang Nala Bupati, pra- mangke rumasa ledang, e beking pramana kapti, madre- we pangebras cita, gelis munggah kreta malih.
  7. Yakti tan simpang puniku, kadi baos Ulapati, Kali Dusta nandang lara, kabaran panes tan kadi, krana pangrasaning widia, Kikali kapati-pa ti.

Prabu Nala manggeh kari, saking ledang Retu Parna, nganggen kang kaweruh asuaji, kudang kang pinecut ika dahat keras lakuni yeki.

  1. Saksat sang_ kalih puniku, sakadi madruwe kampid, tan sida yan inargama, pan becate tidong gigis, tan carita maring awan, saksana rauh pramangkin.

    Puh Ginada:

  2. Rikala dina nyoreyang, nuli ida sami prapti, ngenjek Widarba negara, suara gumerdeg gumuruh, saking rodan kreta ika, nengkejutin, sakaanan ring ambara.

  3. Makadi sakuehing kuda, padruwen Sang Nala Pati, ne wenten ring pagedongan, ring purin ida sang Prabu, sinamian mawetu blasak, sawet niki, karauhan pagustiannya.
  4. Makadi sang Damayanti, miarsa suara ayuh puniki, kadi suaran toya blabar, turun r.ing masa kapitu, sarwi ida manyujurang, maring arsi, ring rongan bale riajengan.
  5. Mangdaning polih manyingak, kayun ida sampuniki, I dewek bani nyinahang, mungguing ne rauh puniku, tan !ian ring Prabu Nala, ida pasti, yan tilik uni ning kreta.
  6. U nining kre ta punika, ngawenin ku Iegan a ti, sadinaning mangke lega, ida mawali i ringsun, yan tan wenten sampunika, leheng mati, aduh Ratu Prabu NaJa.
  7. Sampunika kebecikan, pakayunan Sang Nala Pati, Prabu Nala titiang Dewa, tuhu Juih bawan Ratu, surawani dana punia, kalingganan kayu, satia.
  8. Ring saka luir pendikan, ida inggih pinih inggil, ring sami ratu sewosan, tan madenin Nala Prabu," sampunika antuk ida, Damayan ti, sakadi mangajap tawang.

    Puh Durma :

I. Daweg nika Retu Parna Nata yodia, turun saking pa- dati, tur nyingak mideran, saha kangob-angoban, sarwi ngrereh tanda ciri, pacang wen ten, pasuam bara nebjing.

"Rauh titiang mariki muki kasobagian, ring padanira ndrepati," Prabu Bima kagiat, yen kewala buat punika, boya dugi ida prapti, ban kadohan, genah Ayodya nagari.

  1. Nanging langkung pranata Sang Raja Bima, tumuli maatur aris, Ngiring nggih Narendra, mararyan ajahan Ratu sinah sane mangkin, banget kalesuan, becik nglumah rumiih."
  2. Ring sarnpunnya sarnpunika Retu Parna, tumuli makalah uri, ngranjing pasarengan, ne mula kacawisang, ring ida sang Nrapati, sakewala, Bauka tan milu ngranjing.
  3. Sang Bauka nyujur maring pagedogan, ngingu kuda kuda- niyeki, tumuli manegak, luhuring jan kreta, anggen pa- raryanan kidik, sarwi ngawas kawentenan rika sarni.
    Puh Kumambang:

I. Ndrepa Wadu, Sanga Diah Darnayanti, banget rumasa, su- mesel ri jroning kapti, antuk ida sampun nyingak.
2. Retu Parna, tumedun saking padati, miwah kusir ida nging dija jua Nala Pati, mataken ring jroning ci ta.
3. Raris ida, ngutus pangayah pawestri, buat buat map panggiha, nakenin kusir ndrepati, sira jatinnya punika.
4. Nawi ipun, sauninga nyang akidik, sendik Prabu Nala, tur nembangin gita malih, ring arep kusir punika.
5. Sendik nika, ipun naen many au tin, kala gita ika, gendingan Brahmana nguni, ne kautus antuk ida.
6. Nanging ipun, pangoreg kreta puniki, ipun sumaura, "Titiang puniki nggih kusir, juru rateng Ratu Parna.
7. Ring dija jua, sira Sang Nala Bupati, tan ja wen ten anak, pacang midep mangelingin, krana ragan ida cacad.
8. lnggih ida, kadi manyarnar ring bumi, satata nglalana, sawengkon jagat puniki, kewanten Sang Nala ngraga.

  1. Mungguing gita, sakadi nucap ituni, ipun manyaurang, pa- teh sakadi ne nguni, manggawe kangen pangrasa." Puh Sinom:
  2. Risampun sendik punika, sami katuring Sang Putri, antuk ipun i panjroan, matam beh ngagengang mangkin. pamar- nan Sang Raja Putri. kusir niki NaJa Prabu, wangjero malih kamargiang. panggih ring Bauka malih, saha muus. mapa- teket ring potusan.
  3. Mangda ipun tetes pisan, ring solah bawan sang kusir, tur raris manguningayang. ring ida sang Damayanti, yaning wenten kapanggihan sendik indik nekawuwus. sasorohing kasaktian, sakaluiring tawah panggih, ne punika, mangda sami k aun in gang.
  4. Wek as an i wong panjrowan. ri ng saksana rauJ1 ge lis. tu r parek ring jeroning pura, i wang jero matur aris, ring ida Sang Raja Putri, Gaok titiang ratu agung, wet durung naen ngantenang, salamining titiang urip, Jangkung tawah, ka- wentenan ne ton titiang.
  5. Yaning Bauka mamarga, nglintang kuri andap alit, tan ipun ngaedang sikian, nging korine mawuh inggil, taler yan ring rurung cupit, dados linggah rurung wau, yan ipun nglintang irika, malih yan i pun mabudi, wenten banyu, puput ban memandreng wadah.
  6. Ring saksama wadah ika, madaging toya pramangkin, malih yan sagegeman padang, ne sinarin matanai, manda- dos puun gelis, limannya kaugang ratu, irika ring jeroning genia, nanging tan gesen yuakti, jaba nika, wenten malih sane tawah.
  7. Manggemel akatih sekar, antuk limannya padidi, turing panggamele keras, nging sekar tan layu kidik, kangkat muwuh seger malih, ambunnya maweweh arum, yan sai-

hang ring ne tunian, sampunika ne pinanggih, antuk titiang", Sang Putri raris ngandika.

  1. Abaang ugi manira, reratengan nya sakedik, ne kacawis ring gustinnya, kalih sasampun Sang Putri, ngecapang sa- drasa neki, tan wen ten bandingan ipun, yan m ungguing sakadi ida, tan kapi tan weruhan malih, raris ida, lempor nangis kesedihan.
  2. Ida tan malih sangsaya, sambil ngusap toyan aksi, ida mituduh panjrowan, ngiring putran ida kalih, ke kandang kuda di tuni, agelis Bauka andulu, alit alite punika, gagison ipun mamargi, manyagjagin, ida sang kalih punika.
  3. Raris kagelut kaaras, ikang rare maka kalih, ngeling Bauka mangsegan, rare kambil kemban raris, nangis katurunang malih, sang kusir raris mawuwus, "Warnan ida peteh pisan, ring pianak titiang padidi, to makrana, titiang ngame- suang yeh rna ta.
  4. Nanging sampunang i dewa, malih ngrauhin mariki, krana kabecikan parab, idewa m\dep kaili, antuk indike puniki", sampunika denia muwus, miteket ring sang panjrowan, i wangjero tulak gelis, nguningayang, sakadi ne luir pang- gihnya.
  5. Ring sampun Ida Sang Diah, Raja Putri Damayanti, mami- reng atur panjrowan, ring kangen manah sang kusir, ninga- 1in putra nikeri, raris sasampuning adung, kayun rama re- nanira, Sang Prabu Ian Prameswari, ring Widarba, kadi kayun putrin ida.
  6. Raja Putri ngandikayang, manfa Sang Bauka Tangkil, ring Ida Sang Raja Putria, manangis Sang Nala Pati, saka aksi Sang Para Putri, ring ajeng Sang Nala Prabu, mabusa- na kasedihan, Raja Putri, sareng nangis, memanggiha, suami tu1ak kadi mangkia.
  7. Tumu1a ida atanya, "Duh sira Bauka kusir, nawi kita ma- manggiha, ring sang sujana 1e1aki, ne kucap 1uhuring budi, ne ninggalin istrin ipun, sedeng nidra jroning wana, napi kasisipan mami, jantos titiang, kakalain antuk ida.

dewlHlewa, tan ke titiang pitresnan sib, ring manah susatia bakti, tan ketitiang dados ibu, saking pu·tra putrin ida, tan ke ida duka riin, ring paseban, pasti ngucapan prajanjian..

  1. Y aning saking jati saja, Litiang satata puniki, dados kaoda- gan ida", sambil nangis NaJa Pati, nyaurin sabdan Sang Putri, "Titiang ne majudi ratu, titiang ne ngetohang jagat, titiang ninggal istrin mami,nanging boya, saking manah tiang ninggal istrin mami, nanging boya, saking manah titiang bawak.
  2. Kali dustane ngogokang, titiang ngardi sapuniki nging ne mangkin sampun titiang, lempas ring gegaman kali, ring raub titiang mariki, wantah mangrereh I Ratu, duh Ratu sayangang titiang, napi krana ratu mangkin, mangedotang, mamilih suami kaping rua".
  3. Madu1ur angga mangetor, Raja Putri Damayanti, gelis ida midartayang, nayopayan ida singid, tur raris madewa saksi, yan sira saking satuhu, manggeh tetap satia brata, ring ida sang maraga suami, ring laksana, yadin ringjroning suacita.
  4. Raris wenten ujan bunga, turun nyiramin sang Putri, ka- renga suaran tetabuhan, saking suarga loka jangih, sasam- pun punika mangkin, Ida Sang Sri Nala Prabu, mangrum- bungin ida, antuk wastrane piningit, paweh ipun, Ula Raja maring ida.
  5. Saksana masalin bawa, kadi waman ida riin, tur rarir ida nglisang, meluk rabi Raja Pu tri, sadaweg punika ugi, putri Damayanti nguntu1, ngilidang prabun ida, ring dada Sang Nala Pati, saba ngrasa, sane mangagob-ngagobang.
  6. Muali malih mangelingang, saluir kasengsaran nguni, ne sampun margining ida, tan pira 1edang ndrapati, bapa ibu Damayan ti, maka miwah waduan ipun, tatkala pada mang- renga, Sang nala sampun mawali, mangkin ida, sajroning ipun sinamian.

Prabu, sang asajnya Damayanti, saksana mawarni kenak, sawang dukut etuh aring, rikalaning masa panes, siramin sabeh tan enti.

  1. Saksana marupa lumlum, ne nyegerang sing mangaksi, makadi Sang Nata Nala, satmaka nireki, sami oneng ino- nengan, tansida antuk ngupami.
  2. Carita Retu Parna prabu, ri sampun ida miarsa, ring saka- luiring pidarta, ne sampun sinah kabukti, riki ring puri Widarba, ngucap nulurin pamuji.
  3. Milet suka girang kayun, ring sogagian NaJa Pati, malih sasampun punika, ida matulak mangraris, budal ring nagaran ida, ngangge kusir lian malih.
    PuhDurma:

  4. Wus sawulan laminia Sang Prabu Nala, ring puri nirang bupati, Sri Raja Bima, wekasan ida mamarga, nyujur Nisada negari. mapalinggihan. kreta petak dahal mule.

  5. Kala rika jda nangtanR rekan ida, mangdanya malih acuki, "Titiang malih sadia, molih kasugihan", sampun nika atur neki, "Margi kakam, macuki sapisan malih.
  6. Ratu titiang atoh saana-anania, ratu ngangge toh negari, titiang sapa drewian, Damayanti tan kasah, urip titiang Ratu malih," sampunika, panangtang Sri Nala Pati.
  7. Sri Puskara ica mokak sadurunge, sampun ngrasa seneng gati, pacang mandereweyang, Damayantia putria, ning sapisan mulang cuki, Prabu Nala, molih nisada negari.
  8. Tekeng jiwanira Sang Prabu Puskara, "sampUJ} kabi cundang sami, nging jatinnya, sakadi ida, Sang Sri Nata, Nala, pun mula luhuring bUdi, magandika, ida makadi puniki.
  9. "Titiang nenten pacang sarnisisip kaka, buat ring cora puniki, p1.m. tan kaka ngraga, sane makayunan, tan saking pakaryan diri, ngingjatinnya, saking upayaning kali.

·mantuka ring kaka, malih titiang mangatu- rang, sapalih krajan puniki, kliliran yayah, ke kadrewia denta nguni.

  1. Rasan manah titiang mantuka ring Kaka, tcill wenten pa- cang maganti, sanak manggeh asanak, matunggilan ibu bapa, Kaka Puskara ne mangkin, madak Kaka. panjang yusa ayu wre di.
  2. Sampunika Puskara saha pamuja, Prabu NaJa rari s mawali. ring purinira ngraga, ring jny ana ngucap sobagia. tan katuna ati, sampunika, ring kayun Sang NaJ a Pati. I 0. Sakuehing wang asuryak-suryak gembira, pan raja ni a wus mawali, kang mula misesa, yang buat ring Narendra, ipun raris mapakardi, upacara, sane dahar angaluihi.
    II. Raja Putri Damayanti sinarengan, putra kalih mawali, maring jroning pura, lama pingenania, Sang Sri NaJa kari urip, nggeh sobagia, k;;rrwa patni putra putri.

  3. Tan kakurang sarwa brana sarwa mulia, tuhu-tuhu raja luih, sane langkung kuasa, tur kajana pria, yan bandingang ratu sami, sakideh nia, tan pepada NaJa Pati. Puput: Pepaletan daging carita:
    I. Panglangkara.

  4. Pandawa (Prabu Darmawangsa. ring Astina) kalah acuki, atinggal negara, kalaran ring alas kalalipur antuk Sang Pandita tapa wreda rika caritan Prabu NaJa muang raja putri Damayanti sungguh bagia sangsara.
  5. Sang NaJa (Prabu taruna ring Nisada), ring taman ma- mangguh paksi, ikang pakai inutus maka ceti mapanggih ring Raja Putri Damayanti (Putri Raja Widarba).
  6. Raja Putri Damayanti kena kamaraga (raga cita) de sang NaJa.
  7. Sang Raja Birna akinkin mangun suaraja karya asuam bara. sendik Sang Raja Putri Damayanti mamilih suami, tur

Prabu Nala ring tengah awan kacunduk ring dewa catur, Nala inutus maka ceti dening dewa apang nge1emes ring Diah Damayan ti, Prabu Nala kaposekan kayun mangguh kaayon Damayanti, Damayanti makeling Nala Prabu.

  1. Raja Putri Damayanti muang para raja makadi dewa wus kumpul ring paseban, Putri Damayanti dahal kabingung- an mamilih Nala Prabu, pan kena mayaning catur dewa, pamuput Nala kena kapilih, maka suami.
  2. Prabu Nala patni Raja Putri Damayanti mulihing Nisada, Prabu Nala kalah acuki 1awan sanaknia Prabu Puskara, saking panayopayan Gandarwa rua, kali muang duapara.
  3. Prabu Nala karwa setri Damayanti stinggal kadatuan mabayangan ring alas kawirangan dening paksi mayaning duapara, sang rua kasedihan sating rumrum.
  4. Raja Pu tri Damayan ti sedeng nidra karumrum tiningal ring tengahing alas, Damayanti. senauting u1a, tinulung dening juru boros.
  5. Raja Putri Damayanti olih wisik ring patapan prana sunia ring tengahing wana 1ua.
  6. Raja Putri Damayanti manggih pupulan pangalutur mangi- nep ring panggiring danu, ring panginepan biur karauhan gajah alas.
  7. Raja Putri Damayanti malayu, wekas macampuh lawan para Brahmana anyujur Cedi negara, tur sinanyut dening Raja Patni Cedi Raja.
  8. Kacerita Prabu Nala ring wana olih ngluputang Ula Raja saking baya geni, Sang Nala tinuduh kinon asewah man- dadi kusir Prabu Retu Prabu ring Ayodya.
  9. Prabu Bima olih gatra sendik Pu tri Damayanti muang putra mantu Nala Prabu atinggal negara, gelis ngutus para Brahmana asaserep, wekasan raja putri Damayanti pinangguh ring Cedi, Raja Putri Damayanti tulak mating Widarba, sangke rika ngutus para Brahmana anyerep Prabu Nala,

Pama Prabu, yan raja Putri Damayanti ngadakaken suayambara milih suami kaping rua.

  1. Prabu Retu Parna lunga maring Widarba, ring a wan panggih wereksa agung mangaran Wibidaka, Sang NaJa atukar kaweruh judi lawan kaweruh ngotrg asuaji ring sang Retu Pama Prabu.
  2. Ridatang Prabu Retu Pama ring Widarba, Putri Damayanti angwaspada seolah bawanikang kusir Bauka, kudu weruha ri sajatinikang Prabu Nala, pamuput sang karwa papanggih Iiniputan rasa angangob-angobin.
  3. Prabu Nala setri Raja Putri Damayanti ruang putra nira kalih, mulihang Nisada, Prabu Puskara tinangtang tur alah acuki dening Nala Prabu ikang jagat mawali kawasesa dening Prabu Nala muah, mangk'

BAHASA

Ya Tuhan, doaku semoga tidak aral melintang.

Pupuh Donna

  1. Dengan pupuh Durma ikut tertarik mengarang, belum sempurna memiliki pengetahuan, dan gaya bahasa sastra, hanya mengadu kepongahan, yang dipakai bahasa Bali, alus dan kasar, notasi nyanyian tidak menentu.
  2. Sangat bodoh terhadap bahasa yang indah, mungkin me- nimbulkan bahan tertawaan, hanya tertarik mencipta, karena tidak menemui kebahagiaan, sebagai tempatnya ki rajah tamah (pikiran loba) berkuasa.
  3. Sekarang coba saja dihibur, mungkin bisa sedikit gembira, dengan cara mendengar, tentang kisahnya, beliau yang berjiwa sempurna, beliau juga, tiada luput dari kesedihan.
  4. Dan seringkali ditimpa kesusahan, penderitaan bermacam- macam, misalnya suka dan duka, s9'erti yang tercantum di dalam Wana Parwa, yang tersohor, yaitu ·kisah Sri Nala dan Damayanti.
  5. Dan sedikit pun tidak ada manfaatnya, kepada orang yang mengusahakan perbuatan baik, melaksanakan tingkah laku

Udiana Sadidesa, gria Pawitra Negari, pulau Bali, sebagai tempat tinggalku mencipta.

  1. Sakakala suniang duipa naga rupa, seribu deJa pan ratus deiapan puluh, tahun saka saatku menggubah, dengarlah karangan di bawah ini.
  2. Permulaan cerita tersebut Sri Darmawangsa, raja negeri Astina, kena tipu muslihat, oleh raja Kuru, Duryodana namanya, betjanji bermain dadu mempertaruhkan negeri.
  3. Yang kalah patut meninggalkan negeri, dua belas tahun tidak kembali, jika kentara, kelihatan di Astina, duabelas tahun Iagi kembali, dihukum Jagi seperti kekalahan sebe- lumnya.
  4. Demikianlah keputusan yang diambilnya, semua telah se- pakat, gembira DuJi'odana, di sinilah raja Gandarwa, rajanya pnipu terkenal, Sang Sakuni telah yakin mem- peroleh kemenangan.

    Pupuh Sinom

I. Uiceritakan telah bersiap-siap, para penjudi terbagi dua kelompok, Korawa melawan Pandawa, sama-sama menga- du kepandaian, tiada hentinya keramaian judi, dicerita- kan Sang Sri Darma Prabu, cepat kalah di dalam petjudi- an, para Korawa menjadi sangat senang, ada yang me- nyanyi, dan ada yang menarijingrak-jingkrak.
2. Sri Darmawangsa berbaris-baris, segera meninggalkan per- judian, petjalanannya tiada menentu, hati gelap tiada bandingannya, karena telah kalah petjanjian, dan semua tertuang dalam surat (tulisan), panas tidak ada yang di- marahi, petjalanannya tiada menentu, di petjalanan ter- jatuh.
3. Tampak beliau meninggalkan istana, seluruh rakyatnya menjadi kaget, di bancingah (halaman istana) ribut, ber-

peijalanan Sang Yudistira, laki perempuan, dan tua muda bersamaan.

  1. Tetapi sang raja tidak berkenan, agar jangan merintangi peijalanan, semua pada ditolak, seluruh rakyat menjadi sedih, kerelaannya semua, suka terhadap raja, walaupun sampai di Yamaloka (sorga), tetap akan mengikuti, se- bagai pertanda, pembayaran hutang budi.
  2. Jadi bengong berpikir-pikir, perhitungannya berputar- putar, ditidurkan menjadi tidak nyenyak, seolah-olah jiwanya telah tercabut, mengikuti beliau sang raja, hanya badannya masih di sini, di negeri Astina, karena betul- betul sangat bakti, terhadap sang raja, Yudistira ter- kenal di dunia.

    Puh Ginanti

I. Tidak diceritakan lagi negeri Astina, kira-kira telah jauh di peijalanan, lewat perbatasan Astina, tiba di tengah hutan dan pegunungan, beliau sang Darmawangsa, seolah-olah seperti dibangunkan.

  1. Sangat marah hati beliau, mendeham terus-menerus, menyesali perbuatannya terlanjur, beginilah hasilnya di- terima, sampai pun dunia ikut bersedih, apakah dipakai melenyapkan.
  2. Tetapi tidak ban yak jumlahnya, kecuali hanya satu, ber- bekalkan kesedihan, setelah demikian, kini pembicaraan ramai, Sri Darmawangsa sedang dihadap.
  3. Oleh para pendeta, berkumpul, tujuannya tiada lain, rela akan menyertai, arah peijalanan sang raja, dan seluruh hatinya menyatu, a,kan memikul kesusahan.
  4. Terdapatlah seorang pend eta, pertapa tua nan mulia, sangat iba mendengarkan, penyesalan Sri Darmapati, keluarlah perasaan pikirannya, menasehati sang raja.

"Aduhai Tuanku Raja, janganlah Tuanku menyesali diri, tabahkanlah pikiJan Tuanku.

  1. Yang berstima di hati Tuanku, orang kelahiran utama, luput dari perbuatan tercela, segala perbuatan jahat, tidak ada yang masuk, ke dalam tubuh Tuanku.

    8. Pendeknya perkataan hamba Tuanku, seolah-olah mem-

bangunkan orang yang telah duduk, seperti membuang garam ke laut, seluruhnya telah ada pada Tuanku, masak- an tidak masuk ke dalam pikiran, hamba hanya memper- ingat.

  1. Janganlah Tuanku mengatakan, menyana tiada lagi, orang seperti Tuanku, amat sengsara, rasanya tidak dapat dita- han, sengsara tiada bandingannya.

    Pub Ginada

  2. Ini ada sebuah cerita, baik!ah Tuanku mendengarkannya. raja seperti Tuanku, sengsaranya persis sama, rasanya me- lebihi penderitaan, ratu utama, bernama Prabu NaJa. Bertempat di negeri Nisada, istana beliau, konon seorang raja masih perjaka, pada saat beliau bercengkrama, di tamannya sangat indah, menemukan seekor burung, rupa- nya seperti kunang-kunang.

  3. Bulunya bercahaya keemasan, sungguh bertambah mempe- sonakan, lagi yang menarik hati, oleh karena burung itu sangat pandai, bersuara seperti manusia, di situlah kemu- dian, ditangkap secara pelan-pelan.
  4. Si burung bersuara menghormat, "Ya Tuanku hamba me- ngetahui, Tuanku raja berwibawa, di seluruh kerajaan ini", Raja Nala berkulum senyum, mendengarkan, pujian burung itu.
  5. Burung elok itu lagi berkata, "Tuanku hamba juga menge- tahui, sesungguhnya perasaan Tuanku, suatu saat dihing- gapi kesedihan, sulit karena pikiran suram, apalagi tatkala tiada pekerjaan.

  6. Mengharapkan sesuatu, tidakkah seperti ini, keadaan Tuanku Raja'', Sang Nata lalu bertanya, "Aduhai dikau burung, dari mana Anda mengetahuinya ?"

  7. Burung elok itu tak bersuara, kemudian memberikan pe- tunjuk, perkataannya sungguh-sungguh, menarik hati dan mempesona, "Di sana terdapat seorang gadis, cantik molek, cocok mendampingi Tuanku.
  8. Teramat setia terhadap Tuanku, bijaksana dan hormat, dan tiada yang mengalahkan, di se1uruh jagat raya, walaupun di bawah 1angit, di atas tanah, patut menjadi wanita te- ladan (kembangjagat).
  9. Mungkin Tuanku bel urn mengetahui, ten tang Raja Bima yang terpuji, raja negeri Widarba, memiliki putri cantik molek, sampai sekarang belum menikah, sungguh sangat banyak, raja datang melamar.
  10. Damayanti namanya," demikianlah perkataan si burung, yang menarik hati sang raja, akhirnya menjadi tumbuh- lah, keinginannya melakukan perkawinan, burung itu, sanggup menjadi penghubung.

    Pub Pangkur

  11. Setelah beliau Sang Nala, mendengarkan kesanggupan burung itu, yang menyenangkan hati, burung itu cepat dilepaskan, kelihatan mengangkasa, bergulungan beterbangan, ke kerajaan Widarba, menghilang tiada berbekas lagi.

  12. Setiba di tempatnya, lalu turun mendekat ke hadapan Diah Damayanti, ketika dilihat burung itu, cepat be1iau Diah Damayanti, beserta inangnya sibuk, ikut mengejar si burung, ke~ginannya'Untuk menangkap.
  13. Tetapi burung itu mempercepat, beterbangan kian ke- mari, setiap yang didekati terbang, 5etiap inangnya meng- haJau seekor burung, lain-lain perpisahannya, dan sama- sama berjauhan,jauh di luar penglihatan.
  14. Di saat itu, burung yang dikejar oleh Damayanti, ber- kata kepada sang putri, "Aduhai Tuanku Raja Putri,

Nisada terdapat seorang raja, raja yang her- status perjaka, mengalahkan raja-raja lain.

5. Walaupun dalam hal kewibawaan, akan keluhuran budi, orang yang berlaku seperti Tuanku, yang mengalahkan para wanita, jika jadi kawin dengan raja tersebut, itulah sesungguhnya, jodoh yang paling utama.
6. Tuan Putri lalu berkata, "Jika betul seperti perkataanmu burung, kesanalah kamu segera terbang, menghadap ke Nisada, demikian pula katakan pada Prabu Nala", demikianlah caranya, berpesan kepada si burung.
7. Burung itu cepat bertolak, melaporkan kepada Sang Nala- pati, seperti saran Damayanti, Sri Nala sangat gembira, bagaikan telah dipegang dalam hati, Sang Diah Damayanti lagi diceritakan, ketika ditinggal oleh si burung.

Puh Ginada

l. Ya sesungguhnya, berita yang disampaikan oleh si burung, cepat sekali meresap, masuk ke dalam hati Damayanti, se- gala perkataan Prabu Nala, semua diceritakan, oleh si burung menyampaikannya.
2. Perkataannya tersendat-sendat, meluluhkan perasaan dan menarik hati, menusuk hati yang mendengar, pikiran Damayanti bagaikan diiris, oleh Sang Prabu Nala, sungguh tiada terasa, seperti telah menyatu.
3. Selalu berusaha, setiap saat Damayanti, tiada henti meren- canakan di hati, setelah kesungguhannya, perkataan Sri Nala, sesuai dengan berita yang diterima melalui si burung.
4. Raja Nala sedang perjaka, wajah berwibawa mempesona, berpikiran saleh, bijaksana memerintah negeri, betul perkataan si burung, Damayanti semakin sungguh-sungguh berkata di hati.
5. Seperti berita yang disampaikan, juga pernah didengar, jika bukan sekali mungkin dua kali, Damayanti sedih pe- rasaannya, kacau tiada dapat diredakan, setiap malam tidak dapat tidur.

kums kering, gairah makan dan minum, seketika menjadi berkurang, tentang hal ini cepat diketahui oleh Raja Bima.

  1. Jelas saja ayahandanya, sangat bingung memikirkan, cepat dipanggil para pejabat istana, adi mentri dan patih agung, yang patut dipercaya, dimintai petunjuk dan saran.
  2. Sarannya telah diterima, kebanyakan mengatakan, Raja Putri tidak sakit, yang menyebabkan kegembiraannya musnah, karena pikirannya tidak tentram, kacau tems-me- nerus, demikianlah sesungguhnya. I 0. Tuanku jelas mampu, menerka di dalam hati Tuanku, bagaimanakah goyahnya, seorang gadis yang telah remaja, memikirkan masa depannya, tidak menentu, masih dili- puti kegelapan.
    1 l. Demikianlah perkataannya, beliau mentri yang tertua, Sang Raja lalu bertanya, kepada putrinya seketika, jawab- annya tiada menentu, secara singkat, "Hamba tidak apa- apa. I~-Tuanku janganlah memikirkan hamba (Damayanti)", demikianlah caranya, menghibur hati ayahandanya, raja sangat !.mdiman, sekarang memilih jalan yang jelas.

  3. Yang patut dipakai menghibur, menghindarkan sang putri, dari goncangan pikirannya, dan tiada tentram pikirannya, lalu Sri Raja Bima, melaksanakan, karya besar sayembara.

  4. Itulah salah satu jalan, Raja Putri Damayanti, memilih jodoh, pasangan yang serasi, berdasarkan sayembara, tiada lama, sayembara cepat disiarkan.
  5. Sampai ke luar negeri, desa yang jauh dilalui, seluruh negeri sampai ke sorga, beritanya gemuruh, serempak para raja, terutama dewa yang berada di surga.
  6. Pacta saat itu, terdapat dua orang pendeta surga, bernama Bhagawan Narada, Bhagawan Parwata mengikuti, datang

..

  1. Ten tang keinginan Sang Diah, Raja Damayanti, yang men- jadi mustika. kekaguman, berkeinginan memilih suami, siapa yang berkenan di hatinya, itulah sungguh-sungguh, sebagai jodohnya.
  2. Setelah didengar berita, oleh para dewata di surga, ke- putusan pertimbangan para dewata di surga, semuanya akan ikut serta, mengikuti sayembara, berlomba, untuk mendapatkan Sang Damayanti.
  3. Tak lama kemudian, para dewata, yaitu Hyang lndra A~eni Bruna, dan Dewa Yama turut, berkendaraan kereta me- ngembara, dilihatlah semuanya, seluruh dunia (daratan).
  4. Karena telah dekat perjanjian, wilayah kerajaan Widarba, didatangi oleh raja perjaka, dari seluruh negeri, yang sangat berkeinginan mendapatkan, Damayanti, terkenal di dunia, karena tingkah lakunya utama. ·
  5. Berita sayembara itu, cepat saja diberitahukan kepada Sri Nala, cepat beliau berjalan, menuju kerajaan Widarba, mengikuti, upacara sayembara.
  6. Sri Nala yakin pikirannya, pasti beliau akan dipilih, karena burung sahabatnya, menyatakan demikian, tiada diceritakan Nisada, diceritakan di jalan, bertemu dengan empat orang dewata.
  7. Menurut sabda para dewata, konon akan menyertai, ber- sayembara di Widarba, salah seorang catur dewata, bernama Hyang lndra, menuduh Sri Nala tidak dengan ikhlas.
  8. Mendapatkan gadis Widarba, yang bernama Damayanti, Sri Raja Nala dituduh, disebutkan memakai mantra-mantra, oleh si burung, tidak patut cara yang demikian.
  9. Kesetiaan semacam itu, cepat musnah tanpa bekas, perka- winan seperti itu, mempercepat perceraian, dan akibat perceraian itu, sun&,ouh-sungguh menyebabkan tenangnya negara.
  10. Harapan yang tidak mulus itu, patut ditunda kini, demiki-

Sri Raja Nala.

  1. "Aduhai engkau Raja Nala, raja susila dan budiman, mung- kinkah ananda bersedia, menjadi utusanku," Nala cepat- cepat berkata hormat, berjawab sembah, Ya hamba bersedia,"
  2. Jika anda demikian lanjutkanlah, menuju kerajaan Widarba, beritahukan Damayanti, di dalam sayembara nanti, agar memilih ayahnda, salah seorang, catur dewata yang berada di sorga.
  3. Jangan sekali sampai ingkar, orang lain dipilih, demikian- lah sangat serius perkataan Sanghyang Sata Kertu, memang berdasarkan hati yang sungguh-sungguh, perkataanku, meremukkan Sri Nala.
  4. Oleh karena sangat bertentangan, akan tujuan pikiran Tuanku, semula kepentingan pribadi, kini mana yang akan dipilih, yang patut akan didahulukan, yang dipilih, apakah kepentingan pribadi. 31. Apakah kepentingan orang, sekalipun dewa yang utama, banyak rasa pertimbangan dan beberapa pertanyaan, di dalam hati Sri Nala, orang yang budiman, dan disenangi masyarakat.
  5. Tahu-tahu kepentingan dewata, akan dikesampingkan, kepentingan pribadi diutamakan, perbuatan seperti itu sangat patut, itulah sesungguhnya, pendapat dalam hatinya sendiri.
  6. Tetapi Prabu Nala ingat lagi, akan janji, apakah itu sang- gup, yang lebih baik akan mencabut, Sri Nala bertambah gusar, resa gelisah, tetapi pergi juga ke Widarba.
  7. Menjadi utusan Dewata, menepati perjanjian, bukanlah utusan pribadi, seperti inti pikirannya, pada saat berangkat dari rumah, menuju ke Widarba.
  8. Walaupun pikirannya remuk, bingung tidak sedikit, tetapi Sri Nala, pasti bersedia mengorbankan diri sendiri, walaupun disenangi oleh masyarakat, jika sampai mencabut perjanjian.

"Maafkan hamba bertanya, mungkinkah Anda Prabu Nala, yang dikenal oleh dunia, sebagai raja utama, bijak- sana pemaaf dan budiman."

  1. Demikianlah perkataan Sang Diah, tiada henti melirik- nya, berdebar raja putri saat itu, sangat berbeda debaran hati Sri Nala, jika raj a putri, berdebar bercampur hati gembira.
  2. Gembira menginginkan Prabu Nala, agar dapat bersanding, dengan raja Nala ut~ma, tetapi Prabu Nala tidak demikian, debaran hati Prabu Nala, habis ditindih, oleh perasa- an hancur yang membara. 41. Kehadiran Prabu Nala disitu, seolah-olah memperkenalkan, tanda-tanda kewibawannya, kedatangan Prabu Nala ke sana, tidak keperluan sendiri, Damayanti berkata lagi ke- pada Prabu Nala. 4 2. "Duhai Tuanku Raja, sungguh lama olehku, mengharapkan Tuanku, seperti burung dasih (sebangsa gagak yang matanya merah) mengharapkan hujan, pada musim panas, sampai kekeringan menunggu, baru kali ini Tunku datang.
  3. Disebabkan oleh halangan tradisi, tatakrama menjadi ma- nusia, dan tatasusila, jika tidak demikian Tuanku, mung- kin hamba telah pergi, berdatang sembah, kehadapan Tuanku Raja."
  4. Demikianlah perkataannya menyesali diri, menyedihkan dan semakin meremukkan, hati Prabu Nala, Damayanti bersumpah, seumur hidup, tidak bersuami jika selain Prabu Nala.

"Kanda kemari saat ini, selaku utusan, tetapi cinta Kanda sangat tulus, terhadap dirimu, Damayanti, sulit Kanda melepaskan Adinda.

  1. Adinda Damayanti yang manis, duhai kesayanganku Damayanti," menangislah Prabu, dengan rasa terbata-bata, lalu beliau menceritakan, kehadapan sang putri, "Segala per- kataan Adinda.
  2. Jika Kanda merasakan, jika memang Kanda boleh, bohong terhadap diri sendiri, Adinda tercapai hidup berdampingan, dengan catur dewata, salah seorang seperti telah dikatakan.
  3. Andaikanlah, Damayanti, tiada tahan hidup, di alam raya", Damayanti panjang perkataannya, "Aduhai kenapa Kanda demikian, oleh karena kewajiban sebagai manusia.
  4. Seperti hamba ini berstatm wanita, hamba memiliki hak emansipasi, selaku manusia yang masih hidup, juga berhak menentukan, walaupun yang hamba pilih, orang hina sekali pun, orang lain tidak berhak melarang.
  5. Demikian saja hamba, perihal penentuan calon suami, akhirnya sangat penting, untuk kebahagiaan hidup, semua tergantung di sana, untuk apa, dipaksa memilih orang lain.
  6. Walaupun mendapat tempat para dewata, katakan saja demikian, kepastian perbuatan hamba, Kanda saja jangan mundur, dan tidak patut khawatir, ya buktikanlah yang akan Hamba pilih.
  7. Yang berkenan di hati hamba, menurut pertimbangan Hamba juga, demikian disampaikan, kehadapan catur dewata, jdas yang Hamba pilih, tiada lain hanya Kanda, di dalam sayembara".
  8. Prabu Nala tidak tenang di hati, keadaan tubuhnya ramping, dihinggapi oleh j~wa berani, yang tahu membela kebenaran, dan juga hak milik, karena inilah beliau men- jadi gembira.

rnemasuki arena persidangan, lengkap dengan perhiasan serba mulia, banyak wan ita istana mengikuti, kagum wa nita semuanya, me- nyaksikan keca ntibn Damayanti, tidak mampu jika di- andaikan. amat manis, mengalahkan manisnya madu.

3. Sedang sibuk menyebutkan, nama-nama raja pesertti, semua perjaka, tiba-tiba dilihat oleh Da mayanti, lima orang manusia sedang berdiri, yang rupanya sama, sedikit pun tiada beda, antara satu dengan yang lainnya, seolah-olah kelimanya sama, berlaku sebagai Prabu Nala.
4. Tetapi Putri Damayanti, telah mengetahui di hatinya, ter- hadap empat orang manusia itu. tiada lain adalah catur dewata, yaitu Indra Geni Waruna dan Yama, menyamar berganti rupa, berbentuk Prabu NaJa, dipakai berpura- pura menyembunyikan tanda-tanda kedewataannya.
5. Karena catur dewata terse but, menjadi Nala semuanya, karena banyaknya Nala, semua pula berkumpul, jelas Dewi Damayanti, bingung melihat di hati, yang mana patut dipilih, yang memang akan dipilih, tiada lain, beliau Prabu Nala.

walaupun Sang Damayanti, sangat kebingungan, tidak sampai kegelapan di hati, matanya masih tetap belum silau.

  1. Masih tetap beliau mampu, menguasai dirinya, perihal demikian itulah, menunjukkan orang utama, terhadap semua orang, tatkala beliau disentuh, menghadapi masa- lah, walaupun besar dan sulit, tak berpangkal, tidak mampu menyusurinya.
  2. Bagaimana cara yang ditempuhnya, Raja Putri berpikir- pikir, membedakan kelima orang tersebut, agar dapat di- capai, yang memang diharapkan, karena menghadapi si- tuasi yang sulit, Raja Putri memejamkan mata, menghe- ningkan pikiran sekarang, seraya menghormat, kepada sang catur dewata.
  3. Konsentrasi menyatukan plkiran, menyembah kehadapan catur dewata, tiada hentinya berkata dengan gemetar, "Daulat Tuanku Dewata yang Mulia, berkenan Tuanku memperlihatk.an ciri-ciri diriMu sesungguhnya, tanda- tanda kedewataan, yang mana Tuanku Prabu Nala sesungguhnya.
  4. Di dalam diri Tuanku, berkenan Tuanku memakai ciri-ciri, agar dapat olehku, mengingati Tuanku masing-masing, per- bedaan antara dewata dengan manusia, di situlah empat orang dewata, sangat kagum di hati, akan kesetiaan Damayanti, benar-benar tulus. permfutaannya dikabulkan.

    11. Cepat beliau menampakkan, wujud Dewata sesungguhnya,

penggunaan kembangnya tampak, yang dipakai semua oleh dewata, tidak bisa layu sedikit pun, segar seperti baru di- petik, kulit kering seperti emula, matnya tidak goyah sedikit pun, pakaiannya tidak dilekati tanah.

  1. Badan tidak memiliki. bayang1m, kald tidak menginjak tanah, tetapi di antarartYa, Prabu Nala tampak memojok, keringatnya mengalir ke luar, seluruh bad~nnya dihi.Jfggapi deb~. matanya berkedip-kedip, penggunaan kembangnya dilihat, semua layu, Prabu Nala bermuka masam.

Damaya,nti cepat berkata, "Aduhai jiwaku Kanda, syukur Hamba menemui Kanda, dari tadi kuperhatikan," Prabu Nala terkejut meno1eh, takutnya bercampur gembira, tetapi tidak hanya Sang Putri saja, gembira da1am hati, jelas bercampur, dengan Prabu Nala keduanya.

  1. Sejak tadi sangat gemetar, hatinya terus-menerus ketakut- an, merasa tidak menemui kebahagiaan, segera kini kern- bali, keduanya dibanjiri, disusupi kegembiraan, Prabu Nala dan Damayanti, terbengong menerima, cepat tuju, antar keduanya.
  2. Diambil ujung kainnya, diisi bermacam-macam bunga, di puncak Prabu Nala, tanda pemilihan telah selesai, Damayanti mendapatkan suami, Prabu NaJa yang dipuji, segera suasana semarak, sorak sangat gemuruh, menyerupai guruh, gemetar meributkan negri. I 6. Suara gemuruh terdengar, semua pada memuji, keberhasil- an Sang Raja Nala, Raja berdiri cepat, segera Sang Raja Putri, seraya memantapkan perasaan, habis dibanjiri kegembiraan, setia kasih terhadap Raja Putri, bercampur kasihan, seolah-olah seperti dalam mimpi.
  3. Seraya Prabu NaJa berkata, menerima cinta Sang Raja Putri, "Tuanku yang bertubuh simpatik, terlalu banyak olehku menerima, bobot keikhlasan Adinda, tidak mampu olehku menebus, selain hanya menghamba.
  4. Prabu Na1a disertai sumpah, terhadap Sang Damayanti, sanggup setia beristri, seumur hidup, tidak membagi kasih sayang, aduhai Tuanku para dewata, saksikanlah kata-kataku, jika ingkar terhadap jani, rela Tuanku, men- jatuhkan dosa padaku.
  5. Mengangguk sekalian para dewata, lalu dianugerahi sang Raja, bermacam-macam kesaktian, sega1a sesuatu yang di- kehendaki, pada saat kapan saja, tetap tabu bertindak yang benar, tidak musnah oleh api, tiada tersaingi mencari rejeki, dapat menuju air dan api, pada saat tertentu.
  6. Seusai pemberian anugrah oleh para dewata, akan melahir- kan dua orang putra, selesai memberikan anugrah itu,

para dewata musnah sekalian, kembali ke alam surga, dan para raja, semua menuju rumahnya masing-masing, masih sepasang sejoli, sampai mengikuti, upacara pernikahan.

  1. Setelah selesai upacara pernikahan, perkawinan beliau berdua, antara Prabu Nala dan Damayanti, diberikan tanggung jawab baru, yang dilakukan oleh mempelai, banyak orang memuji, Damayanti dan Prabu Nala, me- mang sungguh serasi, Damayanti cantik dikagumi dunia.
  2. Sa!lg Nala amat tampan, raja yang terkenal di dunia, Damayanti putri raja, dan Prabu Nala juga raja utama, ber- langsunglah kehidupan berumah tangga, saling kasih-mengasihi seia-sekata, pikiran dan perasaan menjadi tentram, yang perernpuan tahu rnenghorrnat suarni, yang laki-laki tahu mengasihi istrinya.
  3. Kelangsungan rurnah tangganya berlangsung dengan har- monis, tutur sapanya selalu hormat, pandai rnembawa diri, catur dewata yang dahulu, sesungguhnya itu tidak serius, menghalangi perkawinannya. bdidu sangat senang, melihat kebahagiaan mempelai ber lua, segala yang diperbuat dahulu.
  4. Hanya godaan, menguji pikinn mempelai berdua, seberapa sesungguhnya, kesungguhan k. eduanya, Dewata sangat kawatir akan harapannya, kesctiaan Damayanti, terhadap Prabu Nala, apakah tidak dipaksakan; apa tidak muncul dari hatinya.
  5. Apabila kesetiaan yang dib uat-buat, cepat luntur musnah semua, dilenyapkan oleh bura k.o.la, para dewat yakin terhadap harapannya, keadaan kehidupan di sini, di dunia tidak kekal, sesun&,auhnya berliku-liku, kadang-kadang di- penuhi oleh kebohongan, yang berbisa, jika perkawinan tidak berdasarkan cinta.
  6. Perkawinan tidak didasari cinta, tidak didasari kesetiaan, kesetiaan yang demikian, jelas cepat akan luntur, keadaan mereka berdua, perjalanan hidupnya tidak selalu sempur- na, pacta saat tertentu, · mendapat godaan, yang menye- babkan putusnya perkawinan mereka.

ke keraj&.an Nisada, diceritakan telah berangkat, banyak orang mengikuti, laki perempuan, besar kecil, berbondong-bondong.

  1. Tak terhitung rakyat kerajaan Widarba, semuanya gembira berangkat, misalnya keluarga sang putri, disertai harta benda serba mewah.
  2. Tak beberapa lama telah tiba, di kerajaan Nisada, tiada henti kegembiraannya, Prabu Nala dan istrinya, selalu mengikuti perintah raja.
  3. Oleh karena raja bijaksana, memerintah negara, tak beberapa lama di istana, seperti yang dianugrahkan dahulu, kini lahirlah, dua orang putra laki-laki dan wanita.
  4. Sangat sempuma, wajah mereka mengagumkan masya- rakat, kedua putra raja itu, selalu tunduk kepada orang tuanya, sehingga senang hatinya, bagaikan permata hati.
  5. Betul-betul kegembiraan mereka, raja berdua, Damayanti dan Sri Aji, Prabu Nala, dengan kehadiran putranya.
  6. Benar-benar tidak memiliki kesusahan, yang berupa ben- cana sampai saat ini, panjang umur, seluruh keluarga istana.

    Puh Durma

I. Diceritakan sekembalinya para dewata, dari sayembara dahulu, bertemu di peijalanan, dengan dua orang setan, Dwapara dan Kali, dari sorga sedang melanjutkan peijalanan.

  1. Akan mengikuti sayembara, yang menginginkan Damayanti, alangkah marahnya, setelah mendengar sayembara telah berakhir, dan tidak sesuai, karena seorang raja yang dipilih.

Sri Nala, dia sendiri akan masuk, ke dalam hati Sri Nala, tetapi Ki Duapara, menjelma menjadi dadu, dari situlah, caranya membalas dendam.

  1. Dua belas tahun lamanya Ki Kali Dusta, menunggu waktu yang tepat, selama itu, tidak dapat jalan, mempengaruhi hati Tuanku, Prabu Nala, yang memiliki pikiran budiman.
  2. Dan terdapat sedikit kesalahan, lalai melakukan upacara suci, itu yang menyebabkan, Kali dapat jalan, memasuki pikiran Tua~ku, dan sangat cepat, menggoda Puskara Pati.
  3. Oleh karena pandainya Ki Duapara mengadu, mendorong Puskara Pati, memang dasar berhati lemah, pada akhirnya, senanglah Sang Puskara Pati, mengikuti, akan tantangan Sang Kali.
  4. Sri Puskara kakaknya Prabu Nala, telah ditantang taruh- an beJjudi, judian cepat dilakukan, Raja Nala kalah, terus-menerus tidak pernah mujur, oleh karena beliau diken- dalikan oleh Kali. I 0. Itulah sebabnya beliau tidak dapat mengekang, senang hatinya beJjudi, judian itu terus-menerus, sehari pun tiada hentinya, berbulan-bulan beJjudi, tetapi Prabu Nala, jauh kemungkinannya akan menang.
  5. Beraneka manikam dan perak, perhiasan emas yang serba mewah, kuda dan kereta, berbagai bentuk kekayaan, telah semua dihabiskan, oleh Prabu Nala, amblas tiada ter- sisa.

Pemberitahuan itu semua tidak dihiraukan, semua kalah jika dibandingkan dengan perasaan senang, yang telah me- rasuk di hatinya, dan telah berkuasa, mengalahkan Prabu NaJa.

  1. Banyak kata-kata Sang Damayanti, Sri NaJa membisu, Damayanti cepat menyadari dirinya, akan keruntuhan Prabu NaJa, beliau raja putri. cepat beliau memanggil.
  2. Kusir itu disuruh oleh Sang Putri. agar cepat dijalankan. membawa kuda kesayangan raja, terutama kedua putra- nya, masih kecil-keciL berikan Sri Bima Prabu.
  3. Senang beliau di situ, menyaksikan si kusir pergi. mengi- kuti kehendak sri permaisuri. ketika itu perjudian sangat ramai. terus-menerus saja, tiada berhenti sedikit jua.
  4. Sehingga amblas semua kekayaannya, milik sang raja. yang berupa benda kerajaan, seperti seluruh wiJayah kerajaan, habis tiada tersisa, dikalahkan oleh raja.
  5. Kini yang masih tinggaJ, milik sang raja, hanyalah Sang Damayanti, lalu Raja Puskara, berkata kepada adiknya, "Baik juga Damayanti sebagai taruhan".
  6. Seperti permintaan Puskara Pati. jika Prabu NaJ a, sangat meJewati batas, etika sebagai manusia, memandam perasaan yang saJah, menumbuhkan kemarahan pikiran.

    Puh Dangdang

  7. Diam seribu basa tidak berbicara, Sang Sri NaJa, bangun dengan cepat karena marah, membuka pakaian yang me- wah, yang dikenakannya, tidak dapat ditahan, lalu se-telah selesai, oJehnya berpikir, selain menambah rasa malu, terhadap keluarga, cepat meninggalkan persidangan. di- ikuti oleh Raja Putri.

berjudi, tetapi seperti Damayanti, tidak patut menemui kesusahan, itulah yang menye- babkan, hati Prabu Nala menjadi kasihan, saat melihat istrinya, setia mengikuti, dengan keberangkatannya, Prabu Nala lalu berkata.

Pub Samarandana

I. ·• Aduhai adinda permata hatiku, jangan saja mengikuti, tujuan Kanda tidak tentu arah, pergi berkelana, tidak tentu langkah, kasihan Kanda terhadapmu, akan menang- gung derita."
2. Jawaban Dewi Damayanti, "Aduhai Tuankujunjung hamba, kemana pun tujuan Kanda, Hamba bersedia mengikuti, ikut sehidup semati, janganlah Tuanku berkecil hati, ter- hadap kejujuran hati Hamba.
3. Tak lama berakhir perjudian, perihal Prabu Nala, di negeri Nisada, seperti halnya bayangan, tampa~ tidak tetap, tidak ada tempat meminta, misalnya tentang makanan.
4. Oleh karena Puskara Pati, benar-benar akan menghukum mati, kepada siapa saja, berani menolong beliau Prabu Nala, demikianlah diumumkan, di wilayah Nisada.
5. Segera mereka berdua, berjalan tidak menentu, tidak di- hiraukan berbagai macam rintangan, walaupun menemui penderitaan, tidak berani orang menolong, walau lapar di- tahan saja, sepanjang perjalanan.
6. Mungkin telah jauh berjalan, lalu masuk ke dalam hutan, makanannya berjenis buah-buahan, beraneka umbi-umbi- an, yang tumbuh di atas, tetapi masih terasa lapar, yang menimbulkan rasa penderitaan.

Pub Ginada

L Telah beberapa hari berjalan, tidak tentu arah, Sri Nala lalu melihat, segerombolan burung beterbangan, semakin menurun, Prabu Nala menjadi gembira.

burung itu beterbangan lagi, dan se- makin ke atas menerbangkan pakaian, seraya ia berteriak- teriak, mengejek Prabu Nala, "Hai raja memang kegila-gila- an.

  1. Seperti biji dadu, tidak merasa bosan di hati, selama Tuanku rilasih memiliki, secarik kain yang sudah usang'', demikian kata si burung, Prabu Nala merasa sangat kebingung- an.
  2. Prabu Nala lalu berkata," Aduhai Damayanti, kini Kanda telah miskin, apa pun tidak Kanda miliki, Adinda permata hatiku, lihatlah adinda, inilah satu-satunya jalan.
  3. Jika adinda kini berangkat, mengikuti arah ini, akhirnya adinda akan tiba di negeri widarba", seketika setelah Prabu Nala, berkata demikian.
  4. Tetjatuh Tuanku Raja berdua, terisak-isak beliau menangis, karena merasa di hati, yang diisyaratkan raja, tiada lain tentang perpisahannya, Damayanti berkata seraya ber- sujud.
  5. "Aduhai Tuanku junjungan hamba, tidakkah Tuanku me- merlukan Hamba lagi, sebagai abdi Tuanku, dan keadaannya, kritis seperti sekarang ini," Damayanti lagi berkata kepada Prabu Nala.
  6. "Berhasratkah hati Tuanku untuk berpisah, dengan Hamba sekarang, buanglah Hamba jauh-jauh Tuanku, agar jangan menggoda hati Tuaanku," demikianlah kata-katanya, Damayanti, menjadi sangat bingung hatinya.
    Puh Samarandana

I. Damayanti merasa di hati, keadaannya seperti sekarang, betul-betul tidak ada, pelipur hati yang utama, oleh suami- nya, selain hanya melaksanakan kesetiaan sejati, dan abadi mencintai suami.

Prabu Nala berkata lagi, "Aduhai adinda pennata hatiku, rasanya lebih baik anda pulang, kembali ke negeri Widarba, perjalanan masih jauh, tak tentu yang dituju, selain hanya menambah kesedihan.

  1. Kanda sangat iba, kasihan terhadap dirimu, jelas seumur hidupmu, belum pernah ditimpa penderitaan, seperti se- karang, hal itu membu;tt hati Kanda remuk, tetapi Nala memang hina dina".
  2. Damayanti lalu berkata, "Aduhai junjunganku, jika Tuanku menghendaki, agar Hamba pulang ke Widarba, sebaik- nya Tuanku bersama-sama saja, jelas ayahnda sangat gem- bira".
  3. Tetapi Prabu Nala, memang beliau pesimis dan sangat hina dina, tidak mungkin niatnya, akan kembali lagi, memasuki wilayah istana, yang pernah ditinggalkannya.
  4. Sebagai seorang raja kaya dan berbahagia, dilimpahi keka- yaan, sangat besar wibawanya, dan berkekuasaan besar, beliau tidak akan demikian, menjadi sedih tersedu-sedu, Prabu Nala berkata.
  5. "Aduhai Adinda permata hatiku, rasanya betul perkataan Adinda, membesarkan hatiku, tetapi kalau diperpanjang, jika menurut pikiran Adinda, bagaimanakah jadinya Adinda, jika Kanda ikut ke Widarba.
  6. Tatkala kedatangan Kanda dahulu, dengan upacara ala ke- raton, apakah kini pantas, kedatangan Kanda ke sana dengan keadaan begini," menjawab Damayanti, "Memang- lah kehidupan ini, sungguh sangat berliku-liku.
  7. Keadaan seperti ini, memang sudah sura tan Tuhan", tetap khawatir hatinya, Prabu Nala lalu mencari akal, memikir- kan tentang jalan, untuk meninggalkan Damayanti, sema- kin jauh mengembara.
  8. Berdua dengan Damayanti, menyembunyikan diri mereka, dengan sarong isterinya, tiba-tiba dilihatlah sebuah pon- dok, jauh di tengah hutan, tempat itu terpencil, disandingi kayu-kayuan yang rimbun.

01eh karena sangat kepayahan kedua orang itu, laJu me- reka mengasuh, tak lama kemudian tertidur, disebabkan ter1alu payah.

  1. Sesungguhnya Prabu NaJa tidak tidur 1elap, tetapi ber- pura-pura tidur. mencari jalan yang baik, meningga1kan isterinya.
  2. 01eh karena sangat hancur, dengan kerelaan hati Damayanti, selalu mengikuti perjalanannya.
  3. Itulah yang merupakan pukulan, yang menambah menyu- sahkan, hati Prabu Nala lagi, hancur tak dapat ditahan.
  4. Setelah Damayanti tidur lelap, saat itu Prabu NaJa, pelan- pelan bangun, mendekati isterinya.
  5. Dan dicium muka istrinya yang cantik, sungguh tidak seperti semu1a, kecantikan Damayanti, disertai rasa kasih sa yang.
  6. "Aduhai Adindaku, setelah Kanda kini tinggalkan, pulang saja Adinda, menuju Widarba, jangan lagi mencari Kanda.
  7. Anggap saja Si NaJa telah mati. tidak usah ditunggu, ke- datangannya 1agi, carilah suami lain saja.
  8. Yang setimpal dapat menyenangkan hati, yang kira-kira mampu, membuat kebahagiaan Adinda, seumur hidupmu.
  9. Adinda permataku mustika dunia, pujaan hati, merasuk di dalam sukma, merekat tak dapat terpisah. I l. Adinda sesungguhnya pikiran Kanda, sangat sayang, terha- dap dirimu, tetapi karena kehancuran kehidupan kita ini. I 2. Menyebabkan I NaJa memutuskan dalam hati, mengambil ja1an ini, ingin untuk memulangkan Adinda, agar Adinda mengetahuinya.
  10. Hati Kanda merasa tak tega, melihat Adinda, sehari-hari- an seperti ini, masih panjang masanya.
  11. Yang dipakai persiapan yang baru lagi, oleh karena itu, se- moga Adinda selamat kutinggalkan, Kanda pergi tak tentu arah.
  12. Kepergian Kanda berpisah dengan Adinda, atas keringan-

Pada saat itulah, Ki Gandarwa Kali, Si Cora Dusta Pra- kosa mendapat kemenangan lagi, seperti yang diharapkan perhitungan sejak dulu, sangat menyenangkan hati, karena marahnya tidak sedikit, tidak menghiraukan, orang yang sedang kesusahan.

  1. Melalui senjata pedang, yang dijumpai tadi, lalu Prabu Nala, merobek kain sang putri, yang setengah beliau mema- kainya, dan setengah lagi istrinya, saat itu lalu beliau berjalan, meninggalkan sang putri, tertahan-tahan perjalanannya dari pondok itu.
  2. Belum ada beberapa langkah, pindah dari pondok tadL bingung pikirannya lalu kembali lagi, setiap beliau melihat, permaisurinya tidur terlentang di tanah, tubuhnya tampak mulus, tidak ditutup tanpa dinding tempat tidur.
  3. Seketika berubah wajahnya, dihinggapi rasa prihatin, Prabu Nala, tidak bisa dibendung tangisnya, mohon belas kasihan Tuhan, agar istrinya dapat, menemui kebaikan, penuh ke- bahagiaan, suka tanpa diikuti duka.
  4. Prabu Nala membangkitkan semangat, berjalan tidak me- noleh, meninggalkan istrinya, tetapi iklas berjalan, kakinya seperti terhalang, pikirannya tak henti-henti bimbang, di- liputi oleh rasa setia, terutama rasa belas kasihan, yang me- ngemballkan, menarik ke pondok itu.
  5. Tetapi Kali Dusta, selalu dapat menghalangi, akhirnya Prabu Nala, mampu meneruskan perjalanan, disertai rasa bingung, tidak memiliki hati yang terang, berjalan ke dalam hutan, tiada tentu yang dituju, perjalanannya ngawur, tidak diceritakan malamnya.
  6. Setela pagi hari, raja pu~ri telah bangun, sangat kaget di hati, karena Prabu telah tiada, di sampin.gnya, lalu beliau

tidak ada menja- wab, di saat itulah, sangat bingung hatinya.

  1. Keliling dicari-cari, sayang tidak dijumpai, akhirnya me- nurun terbanting, termenung jauh pikirannya, perhitung- annya kian-kemari, ditidurkan panas, pikirannya terus was-was, penglihatannya semakin takut, teringat beliau, kepada orang yang telah meninggalkannya (suaminya).
  2. Diliputi suasana sekeliling, sunyi sen yap tiada apa-apa, Damayanti sangat sedih, sangat kebingungan, dan sangat takut, lalu menangis tuan putri, hanya bersedih beliau, yang menyebabkan dari sepi itu, mampu beliau, menghi- bur hati.
  3. Oleh karena kasih sayangnya, kepada Prabu Nala, dan di- khawatirkannya, jika saatnya mendapat bencana, memper- cepatlah perjalanan beliau, kian kemari tiada tentu arah, mungkin pula menemui tanda-tanda sarana mencari jejak, yang menyebabkan, menemui Prabu Nala .. Puh Ginanti
  4. Berlanjut perjalanan sang putri, tidak menghiraukan hala- ngan di jalan, yang membahayakan dirinya, seketika itu juga, menjadi haus dan kelaparan, di dalam hutan lebat dan angker.
  5. Walaupun Damayanti, sekarang berada, pada mulut ular, tidak keberatan dirasakannya, karena Iebih berat hatinya, memikirkan Prabu Nala.
  6. Karena Prabu Nala, telah bersedih dalam hati, dan menye- sali diri, apakah akhirnya tidak kembali, bertahta seperti dulu, dan Iagi jika beliau mengetahui.
  7. Tentang tuan putri, jika sampai menemui bahaya, mungkin datang nasib sialnya, itu yang diperkirakan, tentang istrinya, tidak terlalu memikirkan dirinya saja.
  8. Diceritakan ada seorang pemburu, mendengar suara ber- teriak-teriak, tangisan Tuanku Damayanti, minta tolong terus-menerus, cepat pemburu itu, datang ke tempat Damayanti.

  9. Pemburu seraya menolong, membelah kepala ular itu, se- keti.ka ular mati, raja putri luput dari, ancaman si ular, lalu sang putri berkata.

  10. Tatkala sang putri berkata, menerangkan keadaannya tadi, karena kecantikannya, si pemburu jatuh cinta, dan berke- hendak memperkosa, diri sang putri.
  11. Raja putri cepat mengetahui, akan tindakan orang terse- but, raja putri sangat marah, seraya keluar, dari bibir Damayanti, kata-kata sangat tajam.
  12. ''Cih sesungguhnya, hanya Prabu Nala, yang menguasai diriku, ini Damayanti, mohon perkenan Tuhan, Penguasa seluruh dunia.
  13. Semoga pemburu ini, agar cepat mati, kena kutukan", karena berhasil Damayanti, memohon kepada Tuhan, seke- tika pemburu mati.

    Pub Demung Sawit

I. Telah lama raja putri, mengembara, berjalan di hutan, ter- lalu banyak halangan besar, tetapi karena keteguhan iman- nya, sedikit pun tidak dapat ditimpa, oleh segala rintangan yang besar, hanya serius memikirkan nasib suaminya, setiap hari, hanya mendatangi pertapaan yang mulia.
2. Tempat itu kosong dan sejuk, serta diliputi hati yang gembira, dan hati sejahtera, tempatnya tersembunyi, di antara sungai, para pertapa senang hatinya, dengan ke- hadiran Damayanti, pertapa sangat hormat, sibuk menya- pa, berusaha menghibur hati Damayanti.
3. Sangat serius pertapa meladeni, mendengarkan, semua perkataan sang putri, yang sangat bersedih, setelah selesai perkataan sang putri, sang pertapa lalu berkata, "Jangan- lah Tuanku, merasa khawatir, · jangan. berhenti berdoa, Tuanku hamba sangat memahami, terlihat dari pandang- an mata Hamba, (penglihatan tembusan pandang seperti Dewa).

Prabu NaJa, rupa- rupanya, Tuanku Raja lagi kembali, menduduki singga- sana seperti telah dipuja-puja, segala wilayah kerajaan, ke- kayaan kerajaan kerajaan dimiliki kern bali", demikianlah kata-kata pertapa, kepada Damayanti.

  1. Setelah berakhir pembicaraannya. diungkapkan. segera pertapa itu lenyap, seluruh tubuhnya dari pandangan ma-ta, seperti Jenyapnya impian, saat baru bangun tidur. setelah Damayanti. mendapat petunjuk jalan, setelah hilang lelahnya, berjalanlah Damayanti lagi.

    Puh Ginada

  2. Berkeliling Damayanti, selalu menahan kesedihan. setelah beberapa hari di hutan, dari kejauhan melihat, rombongan pedagang, seluruhnya, akan menyeberangi sungai yang luas.

  3. Cepatlah beliau datang ke sana, tetapi setelah tiba di situ. akhirnya menimb)Jlkan kebingungan, karena wajah Damayanti, berwajah sangat nista. diliha t oleh gerombolan pedagang itu.
  4. Rupa pucat ditutupi tanah, dan tubuh kurus kering. diri- nya tampak separuh, setiap orang yang ditujunya terkejut. semua melarikan diri, ada yang jahil, ada yang menghina.
  5. Tetapi ada pula yang menolong, disertai rasa kasihan, semua mendekati beliau, lalu bertanya secara sopan. "Siapa- kah Anda, dan apa pula, yang akan Anda kehendaki".
  6. Setelah semua dijawab, oleh Damayanti, pertanyaan orang tersebut, lalu Damayanti, berkata dengan nada bertanya. ten tang arah, yang akan dituju oleh para pedagang.
  7. Didengarlah dagang itu, menuju negeri Cedi, Wilayah Kuta praja, pemerintahan Prabu Subau, di situlah mengekor. kepada semua orang, segerombolan dagang itu.
  8. Lalu beijalan, bersamaan dengan pedagang itu. pad a sa at kemalaman, memilih tempat masing-masing, di tepi sungai. airnya jernih, dan rumputnya rimbun,

peliharaan itu, lalu ia menjadi marah, seraya mengamuk dengan garang, merusak gajah peliharaan itu, karena dalam hati, dianggap sebagai musuhnya.

  1. Menendang dan menginjak, segala yang dilihat dilawan, dari segenap penjuru, didengar suara gemuruh, teriak- teriak bergalauan, seperti ketakutan, tunggang 1anggang menyembunyikan diri.
  2. Sebagian kecil saja, gerombo1an pedagang dapat menghin- darkan diri, dari bencana besar itu, syukurlah tuan putri, Damayanti, terhindar dari ancaman maut.
  3. Tetapi para pedagang itu, menuduh Damayanti, menyebab- kan bahaya tadi, disertai lari tunggang 1anggang, Damayanti dapat terlepas, dari derita, yang sangat menyusah- kan.
  4. Untunglah tak lama kemudian, la1u · ia menjumpai, para brahmana, yang menuju negeri Cedi, di situlah tuan putri, tews mengekor, dan dijaga bersama-sama.

    Puh Sinom

  5. Diceritakan beliau telah tiba, di istana Kuta Cedi, tetapi Damayanti, tubuhnya sangat kotor, menjijikkan perasaan, kini beliau telah lewat, di pintu gerbang kota, berita cepat tersebat, di istana, tentang kedatangan Damayanti.

  6. Tak sampai sekejap mata, raja putri diikuti, oleh sekelom- pok anak-anak jahil, berkeliaran di jalan, "Demikiankah tuan putri", akhirnya berdatangan, dari seluruh pelosok, yang tidak jauh dari istana, keraton raja Cedi.
  7. Permaisuri Raja Cedi, melihat putri Damayanti, keadaan- nya demikian, merasa kasihan hatinya, bukan hanya sakit- nya, juga kecantikan Damayanti, yang sangat diberatkan, oleh Raja putri Cedi, tetapi samar, dipendam di dalam hati.

peijalanannya, yang sangat menyedih- kan, tetapi menghindar, dengan namanya samar-samar.

  1. Damayanti diserahkan, oteh Permaisuri Raja Cedi, kepada putri sang raja, diminta kesediaannya, agar bersama-sama sang putri, sang putri Cedi bersedia, agar menolong Diah Damayanti, memulihkan kecantikan Damayanti, sesuai dengan pengetahuan, dan semampu olehnya.

    Puh Pangkur

· 1 0 Kembali diceritan lagi, tak lama setelah Prabu Nala, me- ninggalkan istrinya, lalu beliau melihat, api berkobar seperti kebakaran, sinarnya merah padam, di dalam hutan itu. 20 Dari dalam api tersebut, terdengar suara seperti memang- gil-manggil, memerlukan pertolongan, Pra~u Nala segera mendekat, "Tuanku ke sinilah cepat tolong hamba", demikian isi suara tersebut, lalu terdengar oleh Prabu Nalao

  1. Tatkala Prabu Nala, sedang kesusahan mencari jalan, me- nembus api yang sedang berkobar, di situ kemudian di- lihat, ular besar melingkar di tanah, ular tersebut berkata, kehadapan Prabu Nala.
  2. "Hamba ini raja ular, oleh karena kutuk sang mahayati (orang suci), yang menyebabkan Hamba lumpuh, dan tidak mampu bergerak", setelah datang Prabu Nala, beliau konon menolongnya, "Relakah Tuanku menolong kini. 50 Mengangkat Hamba yang hina dina, agar terhindar an cam- an api, karena pertolongan Tuanku, Hamba rela memakan, untuk kemudian berguna bagi Tuanku", demikian per- kataan ular tersebut, kepada Prabu Nala.
  3. Setelah beliau berhasil, menghindarkan ular daci ancaman maut, kemudian ular itu menggigit, Prabu Nala, sehingga rupanya berubah tidak seperti semula, berlainan wibawa- nya, ular besar itu lalu berkata.

"Hamba merubah rupa Tuanku, tujuannya agar tak ada orang rnengetahui, rnengingat wajah Tuanku, racunnya Hamba rnasukkan, ke dalarn tubuh tidak menggoda, pe- rasaan Tuanku, tetapi racun Kali Dusta, kini di dalam tubuh Tuanku.

  1. Dia akan menderita kesakitan, tak terhingga karena racun Hamba ini, silahkan Tuanku berjalan, menuju ke Ayodia, menghadap Raja Retu Parna, yang tersohor, kemudian ber- henti di situ, di situ rnenghadap kepada raja.
  2. Tuanku memakai nama samaran, Sang Bauka nama Tuanku, semoga Tuanku diperkenankan, sebagai kusir raja, Retu Parna telah lihai, dengan masalah perjudian, diserah- kan kepada Tuanku.
    I 0. Sebagai pengiring berjudi, kepintaran Tuanku mengolah Retu Parna, kemudian setelah Tuanku, memiliki pengeta- huan seperti itu, saat itulah Tuanku berhasil kembali, menguasai negeri rnilik Tuanku, dan bertemu dengan perrnaisuri.

  3. Jika Tuanku -berkeinginan, rupa Tuanku seperti semula, satukan pikiran Tuanku, menuju Hamba, dan tutuplah se- luruh tubuhmu, Tuanku, dengan kain ini, Hamba berikan Tuanku".

  4. Seusai perkataan itu, lenyap raja ular itu dari penglihatan, kemudian kembalilah, ke istananya, karena telah selesai masa hukumannya, raja ular sangat senang di hati. Puh Dangdang
  5. Diceritakan Prabu Nala berangkat, menuju negara Ayod- dia, di situ menjadi kusir, kusir Prabu Retu Parna, tatkala itu, Sang Prabu Bima, telah memperoleh berita, memang telah saatnya bertemu, dengan putrinya, Sang Diah Dama- yanti, kedua dengan rnenantunya.
  6. Cepat beliau kini rnengirim utusan, para brahrnana ke se- genap delapan penjuru, sarnpai pun tempat yang sekecil- kecilnya, berusaha agar diternuinya, menantu dan putrinya, para utusan rnenyebar, telah ramailah negeri Cedi,

Si utusan mendekati sang putri, mengatakan tentang diri- nya, dan menyampaikan kepada Sang Putri, berita menye- nangkan hati, dari ayah dan ibunya, begitu pula sanak ke-Juarga, walaupun putra-putrinya, keduanya laki perem- puan, semua diceritakan, oleh si utusan yang telah mengetahui, Raja Putri Damayanti.

  1. Setelah Tuan Putri Damayanti, mengetahui brahmana itu, Sudewa namanya, Sarutah saudaranya, yang sangat dekat, lalu Sang Damayanti, menangis tersedu-sedu, seperti tidak bisa ditahan, sampai Raja Putri Cedi, mendengar hal itu.
  2. Siapakah itu sesungguhnya, Sang Diah yang sangat sem- purna, diperiksa oleh tamu, baru.beliau tahu, bahwa beliau Damayanti, putri adiknya sendiri, Sang Putri lalu disong- song, diiringi dengan kehormatan, di keraton, ayahanda- nya Sang Putri, ke negeri Widarba.
  3. Di situlah Putri J)amayanti, berjumpa dengan seluruh ke- luarganya, terutama putra-putrinya, tetapi tidak disertai Prabu Nala, di sisi Sang Damayanti, beliau Raja Putri, alangkah gembiranya, setiba di Widarba, keesokan hari- nya, sebelum matahari terbit, mengutus para brahmana.
  4. Melacak suaminya Sang Putri, Damayanti, di segala pen- juru, disertai petuah begini, siapa pun yang diutus, setiap tempat yang dituju, harus dapat menyanyikan, syair ini Tuanku, demikian pesan Sang Diah, dan dibenarkan oleh ayahndanya Sang Putri, seperti ini keterangannya.
  5. Empat bait jumlah nyanyian itu, semuanya berlainan tern- bang, boleh dipilih salah satu, terserah kegemaran yang diutus, isi nyanyian semua sama, pertama Adri, kedua Si- nom, ketiga Demung, keempat te111bang Dangdang, masing- masing, seperti ini isinya nyanyian, yang akan dilagukan.
  6. PUh Adri "Aduhai Tuanku penjudi besar, di manakah Tuanku se- karang, yang meninggalkan Hamba dahulu, merampas selu-

· yang hanya masih di tubuh saja, kini istri- mi.l sangat sedih, sedang menunggu kata-kata ·ruanku, yang diucapkan oleh bibir Tuanku, sebagai pelipur kesedihan".

  1. Puh Sinom "Aduhai Tuanku Sang Penjudi, di manakah Tunaku saat ini, yang dahulu meninggalkan Hamba, merampas pakaian- ku, yang tinggal hanyalah badan saja, kini istrimu sedih sekali, sedang menanti-nanti, ucapan suaramu kini, sebagai obat, pelipur hati kesedihan".

    1 I. Puh Demung

"Aduhai di mana Tuanku kini, Sang Penjudi yang meninggalkan Hamba dahulu, merampas pakaian Hamba, yang tinggal hanyalah badan saja, kini istri Tuanku, sedih sekali, sedang menanti kata-kata Tuanku, yang keluar dari bibirmu, sebagai obat hati kesakitan, demikian kata Hamba". I 2. Puh Dangdang "Aduhai di manakah Tuanku kini, Sang Penjudi, yang meninggalkan Hamba, merampas pakaian Hamba, yang seluruhnya di badan, kini istri Tuanku menderita kesedihan, sedang menanti kata-kata Tuanku, yang keluar dari bibir Tuanku, sebagai obat, pelipur hati sedih, demikian kata-kata hamba".

  1. Jika ada orang menjawab, tentang nyanyian itu, para utus- an seluruhnya, agar siaga berpikir, mengetahui segala se- suatunya, tentang keadaan orang itu, dan menerangkan laporan, ke hadapan Raja Putri, Damayanti yang kini her- ada di Widarba, mengikuti ayahndanya. Puh Sinom
  2. Tak lama berselang, brahmana segera kembali, dan lalu beliau mengetahui tentang keadaannya dahulu, menya- nyikan syair Sang Putri, di negeri Ayodia, di istana Retu

ia berkata, wanita yang setiabrata (setia terhadap suami), yang mampu tabah hati, akan menemui kebahagiaan, sekalipun ditinggal suami, kesusilaannya itu, inampu bertindak teratur, tetap kokoh pendirian, se- bagai payung, menyembunyikan dirinya.

  1. Dan lagi tidak memiliki, rasa benci terhadap suami, begitu pula tidak marah, kepada orang yang sarungnya, dirampas oleh burung, yang berpisah dengan itu, sangat menderita kesusahan, demikianlah ia menangis, kusir yang tadi, demikian laporan utusan itu.
  2. Setelah Raja Putri, mendengar cerita itu,. segera meme- rintahkan utusan, Sudewa ke istana Ayodia, serius per- mintaannya, Damayanti kepada utusan, bantulah cepat menghadap, kehadapan Raja Retu Parna, demikian, cara- nya berdatang sembah kepada beliau.
  3. "Daulat Tuanku Raja Bima, tuanku Damayanti berke- inginan mengadakan, pelaksanaan sayembara lagi, dan juga jika Sudewa tiba, di negeri Ayodia, laporkan kepada Raja, sesuai dengan kehendak Tuan Putri) Damayanti, begini keterangannya.
  4. Pacta keesokan harinya, setelah muncul sang surya, beliau akan memilih, yang kedua kalinya lagi, yang menjadi pe- nyebab sesungguhnya, karena tiada bukti ditemui, tentang Prabu Nata, masih hidup atau tiada saat ini, demikianlah, sebab-musababnya lagi melaksanakan sayembara.
  5. Setelah Sang Raja, Retu Parna mendengar, laporan Sang Sudewa, Retu Parna segera berangkat, kini dengan kusir- nya, Bauka namanya, dan sangat meminta, kepintaran sang kusir, mengendalikan, pedati yang tiada banding- annya.

"Aku mau bepergian, menuju ke negeri Widarba, dan agar mampu tiba, dalam waktu satu hari, karena besok pagi, Putri Damayanti diberitakan, melakukan sayembara, se- kali lagi," demikian kata-kata Sang Retu Parna. I 0. Mendengar ucapan demikian, hati Prabu Naia, tampaknya seperti acuh saja, apakah kini Damayanti, seperti kebi- ngungan, karena kesedihan hatinya, mungkin di baiik itu, terdapat siasat tersembunyi, apa sebab, seorang istri tidak tabah hati. II. Betui-betui Prabu Naia, beliau berjalan, meiukai hati Sang Putri, merendahkan diri Sang Putri, pantas pula Damayanti, tidak lagi setia di hati, namun demikian1ah, memikir- kan putra-putrinya.

  1. Walau bagaimana pun, Prabu Na1a patut mengetahui, dan mendapati bukti terang, sete1ah beliau bernyanyi, kepada Raja Retu Parna, akan memerlukan Sang Raja, di negeri Widarba, dalam jangka sehari, lalu beliau memilih kuda di kandangnya.
  2. Kuda dipasang pada kereta, Retu Parna segera naik, ke keretanya, Bauka lalu mengemudikan, cepat seperti angin, tak beda seperti burung, di saat terbang di angkasa, demi- kianlah halnya Nala Pati, mengemudikan, melarikan kereta di atas jurang.
  3. Di atas hutan dan gunung, di tepi-tepi danau, ya tatka1a itu, selembar selendang Tuanku, terlepas dihembuskan angin, Retu Parna segera berkata, "Wahai pengemudi ber- henti sejenak, kembali mengambi1 selendang", tetapi Prabu Nala berka ta.
  4. "Tidak bisa kembali Tuanku, sarong Tuanku itu, seribu meter di belakang, sulit pada diri Tuanku, karena ter- lalu cepat," segera kedua orang itu tiba, di tengah hutan, di situ dijumpai pepohonan, pohon besar, Wibidika nama- nya.

    Pub Ginanti

I. Sri Retu Parna berkata, kepada pengemudi B~uka, lihatlah

Yang satu tentang hal itu, yang lain tentang hal ini, daun pepohonan itu, telah jatuh di bumi, berjumlah seratus !em- bar lebih, daun pohon itu tinggal.

  1. Banyak kumpulan daun itu, kedua rantingnya, berjumlah lima juta, daun buah pohon itu, sembilan puluh lima.
  2. Ya saksikanlah itu kusir, benar dan tidaknya", seketika kusir Bauka, menghentikan kudanya, dan turun dari kereta, si kusir lalu berdatang sembah.
  3. "Agar jelas buktinya, percuma menebang pohon ini, dan menghitung daunnya, sampai buahnya satu persatu, walau- bagaimana pun, cara Tuanku Retu Parna sekarang.
  4. Mempecepatlah Sang Prabu NaJa, karena terdesak akan waktu, tetapi beliau, tidak menghiraukan, perbuatan Tuanku Raja Retu Parna, setelah selesai menghitung. Prabu NaJa lagi berdatang sembah.
  5. "Benar:-benar ti(;lda tandingannya. kepandaian Tuanku. sungguh sangat mengagumkan, ajarkanlah Hamba ini. tentang Tuanku yang demikian, agar Hamba cepat mengeta- huinya".
  6. Sri Retu Parna, terdesak memikirkan, pada saat itu, tidak memiliki aka! lagi, selain hanya agar cepat, serius melanjut- kan perjalanan.
  7. Sang Retu Parna berkata, dapat menghitung itu, menyatu dengan kepandaian berjudi, yang dimilikinya, "Jika Anda mau mengajarkan, pengetahuan mengendaiikan kuda. I 0. Aku memberimu pengetahuan berjudi,seolah-olah penggan- tinya, berakhir tercapai seperti itu," setelah Prabu Nala, menerima pengetahuan itu, Kali Dusta menghilang lagi. I I. Keiuar dari dalam hati, Sang Raja. seketika menjadi gem- bira, sempurna roman mukanya, memiliki perasaan se- nang. cepat menaiki kereta lagi.
  8. Benar tidak ingkar seperti perkataan raja ular, Kali Dusta menderita kesakitan, dibakar panas tak terhingga. karena mendapat pengetahuan demikian. Ki Kali disiksa terus.

  9. Petjalanan Prabu Nala masih tetap dilanjutkan, karena berkenan Retu Parna, memakai kepintaran mengenda1ikan kuda, kuda dicemeti sehingga sangat cepat 1arinya. ·

  10. Seolah-o1ah kedua orang itu, seperti memiliki sayap, tidak mampu jika disamakan, akan kecepatannya, tak dicerita- kan di ja1an, seketika tiba di tern pat.

    Puh Ginada

  11. Tatkala senja hari, seraya mereka tiba, menginjak negeri Widarba, suara galau berguruh, dari bunyi kereta itu, me- ngagetkan, gembira berada di angkasa.

  12. Seperti se1uruh kuda, milik Prabu Na1a, yang berada di kandangnya, di istana beliau, seluruhnya menjadi gelisah, disebabkan kedatangan tuannya.
  13. Seperti Sang Damayanti, mendengar suara yang gemuruh itu, bagaikan air bah, yang tetjadi di masa bulan Januari, seraya beliau menuju ke depan, ke ruangan pelataran depan..
  14. Agar dapat melihat, pikiran beliau begini, "Aku berani memastikan, bahwa yang datang ini, tiada lain adalah Prabu Nala, pasti beliau jika ditilik dari suara keretanya.
  15. Suara kereta itu, membuat hatiku gembira, hari ini juga, be1iau kepada ku, jika tidak demikian, lebih baik mati, aduhai Tuanku Prabu Nala.
  16. Demikian kebaikan, hati Prabu Nala, Prabu Nala-ku Tuanku, sungguh tampan paras Tuanku, pemberani dan derma- wan, dihinggapi pikiran yang setia.
  17. Ten tang segala sesuatunya, beliaulah paling utama, dengan raja-raja yang lain, tidak ada menyamai Prabu Nala", demi- kianlah tindakannya, Damayanti seperti berharap.

    Puh Durma

1.. Saat itu Retu Parna raja Ayodia, turun dari keretanya, seraya melihat berke1iling, dan dipesona oleh suasana, lalu mencari tanda-tanda, akan diadakan, pelaksanaan sayem- bara besok.

ten~g kedatangannya, di sana Retu Parna, segera menerangkan, kepada yang menanya, Retu Pama lalu berkata, kepada Tuanku, Raja Negeri Widarba.

  1. "Kedatangan Hamba ke sini, mengadu nasib kehadapan Tuanku Raja", Prabu Bima kaget, jika keperluan itu, tidak beliau datang, karena terlalu jauh, letak negeri Ayodia.
  2. Tetapi Raja Bima sangat ramah, lalu berkata, "Silahkan Tuanku, berhenti sejenak, jelas Tuanku kini sangat lesu, sebaiknya Tuanku mengasuh dulu".
  3. Setelah demikian Retu Pama, lalu ke belakang, masuk ke tempat tidur, yang telah disiapkan, oleh Tuanku Raja, tetapi sayang, tidak ikut Bauka ke dalam.
  4. Sang Bauka menuju ke tern pat kandang kuda, memberes- kan kudanya, lalu duduk, di atas kereta; dipakai tempat mengasuh sejenak, seraya memperhatikan keadaan di sana.

    Puh Kumambang

  5. Tuanku Raja Putri, Sang Diah Damayanti, merasa sangat menyesal di hati, karena beliau telah melihat. '"' Retu Parna turun dari kereta, dan pengemudinya, tetapi di mana pula Prabu Nala, bertanya ia dalam hati.

  6. Lalu beliau, mengutus inang pengasuhnya, keperluan un- tuk bertemu, yaitu menanyakan pengemudi Tuanku, siapa sesungguhnya itu.
  7. Mudah-mudahan dia, mengetahui sedikit, tentang keadaan Prabu Nala, dan menyanyikan lagu lagi, di depan kusir itu.
  8. Tentang hal itu, dia pernah menjawabnya, saat lagu itu, dinyanyikan oleh seorang brahmana dulu, yang diutus oleh Damayanti.
  9. Tetapi dia, pengemudi kereta itu, ia menjawab, "Ya Hamba ini seorang sais, juru mudi Retu Pama.
  10. Di mana pun jua, beliau Prabu Nala, tidak akan ada, orang menginptnya, karena tubuhnya cacat.

Yang mengetahui, akan dirinya sendiri, dan lagi beliau, yang menjadi belahan, dirinya kedua.

  1. Tentang lagu, seperti yang ditembangkan, dia menjawab, sama seperti dahulu, membuat hatijadi kasihan.

    Puh Sinom

I. Setelah hal itu, semua dilaporkan. kepada Tuan Putri, oleh inang pengasuhnya, kini bertambah besar, terkaan Raja Putri, bahwa kusir itu Prabu Nala, seorang inang pengasuh lagi diperintahkan, lagi bertemu dengan Bauka, seraya berkata, menegaskan kepada utusan.
2. Agar ia tabu betul, kepada tingkah laku si kusir, dan lalu melaporkan, kepada Damayanti, jika ditemui. segala se- suatunya, dilaporkan sejenis kesaktiannya, segala sesuatu yang aneh ditemui, yang demikian, agar semua dilaporkan.
3. Akhirnya si inang pengasuh, seketika datang dengan cepat, lalu menghadap ke istana, inang pengasuh lalu berdatang sembah, kehadapan Raja Putri, "Kagum Hamba Tuanku, karena belum pfrnah menyaksikan, selama hidup Hamba, sangat aneh, keadaan yang hamba saksikan.
4. Jika Bauka beJjalan, melewati pintu rendah dan kecil, dia tidak merundukkan tubuh, tetapi pintu bertambah besar, juga jika pada jalan kecil, menjadi luas jalan itu, jika ia lewat di situ, dan jika ia berkehendak, menciptakan air, cukup dengan memandang tempat itu.
5. Seketika tempat itu, menjadi berisi air, dan jika menggenggam rumput, yang disinari matahari, cepat menjadi terbakar, tangannya dibakar Tuanku, di dalam api itu, tetapi sama sekali tidak terbaka_r, selain itu ada lagi yang aneh.
6. Menggenggam sekuntum bunga, dengan tangannya, dan genggamannya erat-erat, bunga itu tak layu, kemudian bertambah segar, baunya bertambah harum, jika dibanding-

Sang Putri lalu berkata.

  1. Bawakan saja aku, masakannya sedikit, yang disiapkan untuk Tuannya, dan setelah Sang Putri mengenyam rasa- nya, tiada bandingannya, jika memang seperti beliau, tidak mungkin tidak mengetahui, lalu beliau, lesu menangis kesedihan.
  2. Beliau tiada lagi khawatir, sambil mengusap air mata, beliau menyuruh inang pengasuh, mengiringkan kedua putranya, ke kandang yang tadi, segera Bauka meman- dang, anak-anak itu, cepat-cepat dia berjalan, menyong- song, beliau berdua itu.
  3. Lalu dirangkul dan dicium, kedua anaknya, Bauka menangis tersedu sedan, lalu anak-anak itu diambil dan dipang- ku, tetapi diturunkan lagi, si kusir lagi berkata, "Rupa- nya persis sama. dengan anak kandungku sendiri, itu yang menyebabkan, saya mengeluarkan air mata.
  4. Tetapi janganlah -Anda. lagi mendatangi saya ke sini. karena kebaikan nama, Anda bisa tertarik, oleh hal yang begini", demikian perkataannya, menegaskan kepada inang pengasuhnya, inang pengasuh segera kembali, melaporkan, seperti apa yang telah disaksikan. 11. Setelah/Sang Diah, Putri Damayanti, mendengar laporan si inang pengasuh, karena kangennya hati si kusir, menyaksikan putra Damayanti itu. lalu setelah sepakat, pikiran orang tuanya, sang raja dan permaisuri. di Widarba, seperti pendapat putrinya. 1 2. Tuan Putri memerintahkan, agar Sang Bauka menghadap, kepada Raja Putri, menangislah Prabu Nala. saat dilihat Raja Putri, di hadapannya, Prabu Nala berpakaian jorok, Tuan Putri, ikut menangis, menyaksikan suaminya, kern- bali saa t ini.
  5. Lalu beliau bertanya, "Wahai dikau si Bauka, mungkinkah Anda menjumpai, seorang lelaki sujana. yang tersohor budiman, yang meninggalkan putrinya, sedang tidur di

beliau", sambil menangis Prabu Nala, menjawab sabda sang Putri," Hambalah yang penjudi Tuanku, Hamba mempertaruhkan negeri, Hamba meninggalkan istri, tetapi bukan, pikiran saya yang sempit.

  1. Kali Dusta yang mendorong, Hamba berbuat begini, tetapi saat ini Hamba telah, terhindar dari kekuasaan Kali Dusta, kedatangan Hamba ke sini, hanya mencari Tuanku, wahai Tuanku yang Hamba cintai, apa sebabnya Tuanku kini, menginginkan memilih suami kedua kalinya.
  2. Disertai oleh tubuh gemetar, Raja Putri Damayanti, cepat beliau menerangkan, daya-upayanya yang tersembunyi, lalu melakukan sumpah, jika ia memang sungguh-sungguh, atau tetap melaksanakan satiabrata (setia kepada suami), dalam tingkah laku, maupun di daJam hati.
  3. La1u terjadi hujan bunga, tunm menyirami Sang Putri. ter- dengar suara game1an, dari surga sangat nyaring, seteJah demikian, kini Prabu Nala, menutup tubuhnya dengan sa- rung sakti, pemberian, raja uJar kepadanya.
  4. Seketika berganti mpa, wajahnya seperti semu1a, dan lalu beliau mempercepat, memeluk istrinya Raja Putri, tatkala itu pula, Damayanti mendekap, menyembunyikan kepala- nya, pada dada Sang Prabu NaJa, dan terasa sangat mem- pesonakan.
  5. Kembali lagi mengingatkan, segala penderitaannya, yang teJah dijalani, tak terhingga gembira hati Tuanku Raja, ayah dan ibu Damayanti, dan semua rakyatnya, tatkaJa semua mendengar, Prabu NaJa teJah kembali, kini beliau, teJah berada di tengah-tengah rakyatnya.

Prabu Nala, seketika berwajah gembira, seperti rumput kekeringan, tatkala musim pa- nas, disirami air hujan terus-menerus.

  1. Seketika menjadi hijau, menyegarkan hati yang melihat, seperti Prabu Nala, seolah-olah belaburnya (hujan pada musim kemarau), semua senang-menyenangi, tidak dapat diumpamakan.
  2. Diceritakan Retu Parna, setelah beliau mendengar, tentang duduk perkaranya, yang telah jelas dibuktikan, di situ di istana Widarba, berkata menyertai pujian.
  3. Ikut bergembira hatinya, akan kebahagiaan Prabu Nala, dan setelah demikian, beliau lalu kembali, pulang ke ne- gerinya, memakai kusir yang lain lagi.
    Pub Durma

l. Setelah Prabu Nala sebulan lamanya, di istana Tuanku Raja, Sri Raja Bima, kemudian beliau berangkat, menuju negeri Nisada, mengendarai kereta putih sangat mewah.
2. Saat itu beliau menantang kakaknya, agar lagi berjudi, "Hamba lagi berkeinginan memperoleh kekayaanku", demikianlah kata-ka tanya, "Marilah Kanda berjudi sekali lagi.
3. Tuanku Hamba mempertaruhkan segala sesuatu yang Hamba miliki, Tuanku memakai taruhan negeri, Hamba segala kekayaan, termasuk pula Damayanti tiada luput, jiwaku lagi" ,. demikian tantangan Prabu Nala.
4. Sri Puskarapati tertawa sangat angkuh, sebelumnya, me- rasa sangat senang, akan memiliki Putri Dan1ayanti, tetapi sekali melepaskan dadu, Prabu Nala, mendapatkan kembali negeri Nisada.

Sampai pun jiwa Prabu Puskarapati, telah dikalahkan semua, tetapi seperti beliau, Prabu Nala memang berbudi luhur; beliau berkata seperti ini.

  1. "Adinda tidak akan menya1ahkan Kanda, akan kejahatan ini, karena bukan Kanda sendirian, yang berpikir, tidak dari perbuatan sendiri, tetapi sesungguhnya, karena daya upaya Kali.
  2. ltulah yang menyebabkan Hamba menemui penderitaan, Hamba mengurungkan niat menghukum mati, kepada Kanda, dan Adinda mempersembahkan,. se1uruh kerajaan ini, warisan ayah, yang dahulu memang Kanda miliki.
  3. Rasa hatiku terhadap Kanda, tiada akan mengganti kela- hiran kita, berasal dari satu leluhur yang sama, Kanda Pus- ara sekarang, semoga Kanda, panjang umur dan sejahtera.
  4. Dibegitukan Puskara disertai hormat, Prabu Nala lalu kern- bali, ke istananya sendirian, merasa bahagia dalam hatinya, tidak berkurang di hatinya, demikianlah, perasaan Prabu Nala.
  5. Semua rakyat bersorak-sorak gembira, karena rajanya telah kembali, yang dulu memerintah, untuk Raja Prabu Nala, mereka lalu membuat, upacara, yang sangat mewah me- riah.
  6. Raja Putri Damayanti bersamaan, dengan kedua putranya kembali, ke istana kerajaan, lama kira-kira, Prabu Nala se- lama hidup, sela1u menemui kebahagiaan, bersama istri dan kedua putranya. 1 2. Tidak kurang kekayaan serta perhiasan mewah, sungguh raja utama, sangat berkuasa, dan termasyur, jika diban- dingkan dengan semua raja lain, semua tidak ada me- nyaingi Prabu Nala. Se1esai.

    Kerangka isi cerita.

I. Pendahuluan, 2. Pandawa (Prabu Darmawangsa di Astina) kalah main dadu, menderita di hutan dihibur oleh pen- deta pertapa tua, Di situlah diceritai kasih hidup Prabu

Prabu NaJa (raja muda Widarba). Di tamannya menjumpai seekor burung, burung itu diutus sebagai duta untuk bertemu dengan Raja Damayanti, (putri raja Widarba).

  1. Raja Putri Damayanti kena asmara oleh Prabu NaJa.
  2. Sang Raja Bima bersiap-siap meJaksanakan upacara sayem- bara, perihaJ Sang Raja Putri Damayanti, memilih suami, dan teJah diumumkan ke beberapa negeri, sampai pun sorga.
  3. Prabu Nala di tengah jaJan, bertemu dengan catur dewata, NaJa diutus sebagai duta oJeh dewata merayu Diah Damayanti, NaJa lemah hatinya menyaksikan kecantikan Diah Damayanti. Damayanti memperingatkan Prabu NaJa.
  4. Raja Putri Damayanti, dan para raja seperti para dewata teJah berkumpul di persidangan, Damayanti sangat bingung memilih Prabu Nala, karena kena siluman oJeh para dewata akhirnya Prabu NaJa juga dapat dipilih sebagai suami.
  5. Prabu Nala dan permaisurinya, Raja Putri Damayanti puJang ke Nisada, Prabu NaJa kaJah bermain dadu mela- wan saudaranya Prabu Puskara, berkat daya upaya dua orang gandarwa yaitu Kali dan Duapara.
  6. Prabu NaJa berdua dengan istrinya, Damayanti mening- galkan istana terhukum di hutan disiksa oJeh seekor burung penjelmaan Duapara, dua sejoli itu kesedihan saiing kasihi.
  7. Raja Putri Damayanti sedang tidur dirayu ditinggal di tengah hutan, Damayanti dililit uiar, ditoiong oleh pem- buru.
    I 0. Raja Putri Damayanti mendapat sabda di pertapaan Prana Sunia di tengah sungai yang terdapat dalam hutan. II. Raja Putri Damayanti menjumpai segerombolan saudagar menginap di tepi danau, di penginapan riuh karena ke- datangan gajah hutan. I2. Raja Putri Damayanti beriari, akhirnya bergabung dengan

~rabu Nala bertukar pengetahuan peJ.judian dengan pengetahuan mengemudi kereta dengan Retu Parna. 1 7. Setiba Prabu Retu Parna di Widarba, Damayanti menyeli- diki tingkah laku roman muka Bauka, sepenuh hati menge- tahui akan kebenaran Prabu Nala, akhirnya kedua pasang- an itu beJ.jumpa diliputi rasa yang saling mengharukan.

  1. Prabu Nala dan istrinya, Damayanti dan kedua putranya, pulang ke Nisada, Prabu Puskara ditantang beJ.judi lalu di- kalahkan bermain dadu oleh Prabu Nala. Kerajaan kern- bali diperintah oleh Prabu Nala lagi, Puskara diberikan ke- rajaannya seperti semula oleh adiknya, Prabu Nala. Lontar ini disalin oleh I Gusti Agung Gede Rai, di Puri Anyar, dusun Tingas, desa Tingas, kelurahan Mambal, kecamatan Abiansemal. Lontar ini selesai disalin kembali (diturun) pada hari Senin Umanis Watugunung (salah satu wuku yang berjumlah tiga puluh), tiga hari setelah bulan purnama, bulan Februari,

1960.
-

ANALISA lSI GEGURITAN NALA DAMAYANTI

4.1. Sinopsis Geguritan Nala Damayanti Analisis nilai-nilai -yang terdapat di dalam karya sastra. dapat ditinjau gerak-gerik maupun dialog-dialog tokoh cerita- nya. Untuk mempermudah kepentingan tersebut di atas, maka sebagai pemahaman awal suatu karya sastra rupanya sangat per- lu disertai sinopsis cerita seperti di bawah ini. Darmawangsa putra sulung Pandawa ditantang bermain dadu oleh Duryodana dengan mempertaruhkan kerajaan. Ka- rena di dalam perjudian tersebut Darmawangsa kena tipu mus- lihat Korawa, akhirnya beliau menderita kekalahan. Sebagai sangsi dari kekalahannya mempertaruhkan kerajaan, maka para Pandawa dibuang ke hutan selama duabelas tahun. Di dalam pembuangannyaa di hutan, para Pandawa dihibtir oleh pertapa dengan memberi contoh kisah Nala Damayanti yang mengalami nasib yang sama seperti· Pandawa, yaitu menderita kesedihan akibat kalah bermain judi. Prabu Nala seorang raja perjaka dari Nisada sedang ber- cengkrama di tamannya, didatangi oleh seekor burung ajaib berwarna kuning keemasan. Burung tersebut sebagai pembawa

Prabu Nala. Setelah diceritakan tentang kecantikan Damayanti kepada Nala, lalu burung itu terbang ke Widarba untuk memberitakan tentang ketampanan Prabu Nala.

Dengan adanya informasi kedua belah pihak yang disam- paikan oleh si burung tersebut, maka Damayanti menjadi mu- rung karena jatuh cinta terhadap Prabu Nala. Tentang kesusah- an Damayanti diketahui oleh ayahnya, Raja Bima sehingga beliau mengambil prakarsa melaksanakan sayembara bagi Damayanti untuk memilih suami.

Berita sayembara di Widarba cepat tersebar ke seluruh pe- losok kerajaan, bahkan sampai ke sorga. Pada saat berita sayembara tersebar, kebetulan pendeta sorga seperti Bhagawan Narada dan Bhagawan Parwata meninjau keadaan di dunia lalu beliau menyampaikan informasi tersebut ke sorga. Sehingga catur dewata yaitu Dewa IJ?.dra, Ageni, Waruna dan Yama ingin ambil bagian dalam sayembara di Widarba. Dalam perjalanan mereka menuju Widarba, para Dewata bertemu dengan Prabu Nala untuk tujuan yang sama, mengikuti sayembara. Pada kesempat- an ini para Dewata menyuruh Prabu Nala menjadi duta ke Widarba, menyampaikan pesan kepada Damayanti agar dalam sayembara nanti memilih para Dewata sebagai suami. Oleh karena Prabu Nala sangat hormat kepada para Dewata, sehingga dengan rasa berat menyampaikan pesan kepada Damayanti.

Setiba di istana Widarba, Prabu NaJa sangat terpesona me- lihat kecantikan Damayanti. Di situlah mereka berdua saling mengatakan maksudnya. Prabu Nala sangat sedih, karena keda- tangan ke istana sebagai utusan Dewata. Akan tetapi Damayanti seorang wanita berpendirian tegas, tetap menolak ke- hendak Dewata supaya dipilih dalam sayembara. Satu-satu- nya pilihan Damayanti adalah Prabu Nala. Setelah terjadi per- janjian antara dua sejoli itu dengan tekad bulat untuk saling mencintai, maka Prabu Nala segera mohon diri kembali meng- hadap para Dewata.

demikian, lalu Damayanti bersujud kepada para Dewata agar menam- pakkan diri sebagai wujud semula. Permohonan Damayanti di- kabulkan oleh para Dewata, sehingga Damayanti dapat meng- ingati wajah Prabu Nala yang sesungguhnya. Kala itulah Damayanti memilih Prabu Nala sebagai suami, dengan mengalungkan bunga di lehernya. Dengan berakhirnya sayembara tersebut, lalu semua peserta meninggalkan istana Widarba. Demikian pula setelah beberapa bulan di Widarba, lalu Prabu Nala kern- bali ke negeri Nisada. Setelah beberapa lama Damayanti ber- putra seorang lelaki dan seorang perempuan. Sekembali para Dewata dari mengikuti sayembara di Widarba menuju sorga, di tengah jalan bertemu dengan dua orang Gandarwa Duapara dan Kali yang ingin mengikuti sayembara. Setelah diberitahukan oleh para Dewata bahwa sayembara telah selesai dan ·dimenangkan oleh Prabu Nala, lalu kedua Gandarwa itu sangat marah. Kemarahannya itu disalurkan dengan jalan memasuki tubuh Prabu Nala agar ia ingin her- judi. Godaan Gandarwa tersebut berhasil dengan baik, yaitu Prabu Nala timbul hasratnya untuk bermain judi dengan kakak kandungnya, Pusparapati. Karena godaan kali yang sangat dahsyat itu, menyebabkan keinginan Prabu Nala berjudi se- makin besar, sampai-sampai ia mempertaruhkan semua .keka- yaannya dan kerajaannya. PeJjudian tersebut berakhir dengan kekalahan di derita Prabu Nata. Setelah habis hak miliknya, kini Prabu Nala pergi ke hutan dengan Damayanti, karena tiada berani orang menolongnya. Sebelum amblas kekaya- annya dalam peJjudian, Damayanti sempat melarikan kedua putranya ke Widarba. Sampai di tengah hutan tujuan mereka tiada menentu, sehingga Prabu Nala, menjadi bingung dan kasihan melihat istrinya, Damayanti. · ikut menderita kesedihan. Prabu Nala

petjalanan Darnayanti yang tiada me- nentu itu, akhirnya sarnpailah ia di negeri Cedi dengan mengikuti segerombolan dagang. Raja Cedi memungut Damayanti, lalu dihaturkan ke Widarba. Demikian pula setelah Prabu Nala lama terlunta-lunta di hutan, lalu ia bertemu dengan seekor ular besar yang ber- nama Naga Raja yang sedang terbakar. Ular tersebut me-. minta pertolongan kepada Prabu Nala, agar dirinya diangkat dari nyala api tersebut. Setelah Prabu Nala menolong ular tersebut, lalu ia digigit oleh ular tadi sampai sumbing. Tuju- annya untuk memasukkan bisanya untuk membunuh Gan- darwa (Kali) yang terdapat dalam diri Prabu Nala. Saat ular tersebut menggigit, Prabu Nala diberikan petunjuk agar kelak menyamar dengan nama Bauka dan mengab.di sebagai kusir Raja Retu Parna di Ayodia, untuk menukar pengetahuan me- ngemudi dengan pengetahuan judi. Selesai memberikan petunjuk, ular tersebut segera musnah. Bauka dengan rupa yang sumbing pergi menghambakan diri sebagai kusir ke Ayodia kepada Raja Retu Parna. Setelah beberapa lama di Ayodia, datang utusan untuk menyelidiki jejak Prabu Nala. Utusan tersebut curiga, karena lagu yang dinyanyikannya dijawab oleh kusir Bauka. Hal itu disampai- kan kepada Damayanti, sehingga seketika tirnbul hasratnya untuk mengadakan sayembara memilih suami kedua kalinya. Dalam rangka mengikuti sayembara di Widarba, Retu Parna dikusiri oleh Bauka. Di tengah jalan Bauka diajarkan pengetahuan judi dengan menghitung daun dan buah pohon Wibi- dika. Sebaliknya Bauka mengajar Retu Parna cara mengemu- dikan kereta. Di Widarba Damayanti bingung karena belum juga ia menjumpai Prabu Nala sampai saat menjelang sayembara dilaksanakan. Dengan jalan yang sama, yaitu menyanyi- kan lagu yang disuruh oleh Damayanti lalu Bauka menjawab.

it"' .. Damayanti denpn dua orang putranya, lalu men- datangi Bauka karena ia. te~. · Jl}.eY~.~ifii bahwa_ itulah · Prabu Nala. Prabu .Nala se,gera meru~~ ~aj~. ~eper:ti ~emula dengan menyatukan ,pikiran menyemball na_gara]a. SeteJah Damayanti bertenu~ dengan Prabu Nala, iai\1. me.reka kemb~li ke Nisada ~ ~ .. ·.. '.. untuk menan tang P\lskarapati berma.in judi. Oleh. karena Prabu Nala telah memiliki pengetahuari Judi d(\n ~ekuatan Kali telah dilumpuhkan oleh nagaraja JaJu-Puskarapati kaiah berml:lin judi mempertari.lhkan ·negerinya melawan Prabu NaJa·. Kembali-Jah kini kekuasaan Prabu ,NaJa sep~rti sebelumi1ya..

4.2. Nilai Budaya;'dalam ~gui(ta~ Nala Damayanti

Geguritan Nala · Diunayanti merupakan salah satu hasil

cipta sastra Bali. Oleh karena :itu cermin budaya masyarakat Bali · akan ·· terpantul di ' dalamHya: Walaupun merupakan per- ·nyataari gagasan · dan perasaa:n seorang seniman, tetapi ia tidak dapat bebas dari dorilinasi kebildayaan tefnpat ia dibesarkan (Santoso, · 1982:2.1). Untuk kepentingan di atas, yaitu men- deskripsikan dominasi 'kebudayaan-Bali sebagai teinpat · GND diciptakan, maka sejumlah nilai yang terpantul di dalamnya akan dh,u:aikan di·\Jawah ini...

4:2.1-. Nilai Etika dalam 'Geguritan Nida Damayanti

.,,. f;egiiritan ·~ala· ~~ayanti ~~a,~ny~a· n.t.en~njqlk~n id~ :s~ntial

tentaJ!g te~dan seorang)stri ya~g,idealyang meiupakari cermin n~ai ~~~~Jil, masy~kat, papa~ J~fl.1~.n~Y,a., liaf t~ry~but dit~tip kan · pada to~oh uta,ptany~, yait!-1 Qap:~ayanti. Tolwb utam,a .se- lalu menampilkan. nilai-nilai 1.itiur dalam bertmdak, berkata dan beiPilcir. Unt~k- kep~ntiniari .. memJ>uktikan ·hai te;sebut di atas, marl.ki'ta .-. nik. -mati)cutjp~; •' ~ ·.. dj;birwah. ini. ....... .•.

... 5ang Nata tumuli'atanya, ring putiiniia guriguyung, pasaudda tan 'sinah, niacutetin, "Titiang rtent'eil ' sipunapia (GND, Pangkur: ·lembar ·8 b).;., ·

"Hamba tidak apa· apa. Ratu sampunang mangetang, ngayunin I Damayanti' ', sampunika antuk ida, nyalimur kayun sang guru,.. (GND, Pangkur : Jembar 8b). Tuanku janganlah terlalu berat. memikirkan hamba (1 Damayanti). demikian caranya, menghibur hati ayahnya.

Melihat kutipan di atas, menunjukkan bahwa betapa hor- matnya Damayanti terhadap orang tuanya. Walaupun Damayanti sesungguhnya sedang ditimpa oleh perasaan berat, yaitu sedang jatuh cinta terhadap Prabu NaJa. Karena hubungan cinta mereka "jauh di mata dekat di hati", sehingga Damayanti selalu merasa tersiksa, sampai-sampai tidak ingat mengerjakan sesuatu, sampai pun makan dan tidur. Dalam keadaan kesusahan itu, Damayanti ditanyai oleh ayahnya, namun tetap menu- tupi perasaan yang sedang diderita. Dengan perasaan halus ia menyatakan kepada -ayahnya, bahwa dalam dirinya tidak ter- jadi apa-apa. Tindakannya tersebut bertujuan untuk menghibur ayahnya. Karena ia tidak mau menyusahkan orang tuanya, walaupun dirinya sedang menderita kesusahan teramat berat. Perbuatan Damayanti di atas, didasari oleh nilai budaya Hindu, yaitu setiap orang hendaknya hormat terhadap guru rupaka (yang menciptakan kita). Betapa berat tugas orang tua melahirkan. memelihara dan mendidik sampai dewasa. Walaupun tugas yang demikian berat, selalu dikeJjakan berdasar- kan rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak. Selain guru rupaka (orang tua yang menciptakan), ada lagi yang mesti dihormati oleh umat Hindu di dalam hidupnya, yaitu kepada pengajar/pendidik (guru pangajian); kepada pe- merintah (guru swadyaya); kepada Tuhan sebagai penguasa tertinggi (guru wisesa). Konsep di atas dalam agama Hindu ciisebut catur guru (lihat Rintia, 19 77 : 2 5). Tindakannya yang lain tentang rasa hormat Damayanti kepada orang tuanya, dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Sinom: !em bar 48 b). Setelah beliau Sang Diah, Raja Putri Darnayanti, mendengar kata- kata inang pengasuhnya, ten tang rasa kangen hati si kusir, melihat putranya, setelah mufakat, dengan pikiran kedua orang tuanya, Tuanku Raja dan pennaisuri, di Widarba, seperti pikiran putrinya.

Dengan kutipan di atas dinyatakan bahwa betapa pun ya- kinnya Damayanti terhadap tindakannya telah benar, namun ia selalu mohon pertimbangan kedua orang tuanya. Karena ia memaklumi orang tuanya lebih banyak "makan garam kehidup- an", sehingga mengetahui mana perbuatan yang patut dilakukan dan yang tidak. Dalam hal ini Damayanti telah yakin bahwa kusir Bauka adalah suaminya, tetapi ia tetap mohon pertimbangan kepada orang tuanya, apakah berkenan seorang raja putri mendatangi kusir. Setelah direstui oleh kedua orang tuanya, barulah ia diiringkan kedua putranya dan beberapa inang pengasuhnya. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terlalu me- rendahkan martabat kebangsawanannya, karena mendatangi lelaki sehingga ia pergi diiringi oleh inang pengasuhnya. Damayanti seorang wanita ideal pada jamannya, sehingga ia selalu patuh terhadap norma-norma yang berlaku bagi wanita. Mari kita nikmati kutipan di bawah ini.

Kabatek plentangin adat, tatakramaning dumadi, miwah tata kasu- silan, yan tan sampunika Ratu, bilih titiang sampun lunga, atur bak- ti. pedek ring jeng Sri Narendra (GND, Jinada: lembar 12b ). Disebabkan oleh halangan adat, tatakrama menjelrna sebagai wanita, dan tatasusila, jika tidak demikian Tuanku, mungkin hamba pergi, menghamba, kehadapan Tuanku.

Melalui kutipan di atas betapa patuhnya Damayanti terhadap norma-norma yang berlaku bagi seorang wanita pada jamannya. Jika norma-norma tersebut dilanggar, maka dianggap sa-

raja-putri dadining wong kagundikan winacakrama haneng nagara ya wong hadu-hadu wipata hamurang lampah (Pisacarana, II : 7). Bagairnana keinginan adinda apakah ingin bersuamikan aku, sayang tidak. dapat kupenuhi, Aku ini kuat pada pendirian, taat pacta ajar- an agama, tidak beristri apabila tidak cocok dengan kehendakku. Rupanya kedatanganrnu ini semata-mata menodai kesucianku. Lak- sana bisa yang kelihatannya arrreta, bagaikan kernatian yang ber- badan wanita. Mengenai kedatanganrnu tadi, namun janganlah me- nyebabkan hatirnu kesal. Keburukannya aku katakan dalam pan- dangan umum, jika seorang wanita merayu lelaki, jelaslah martabat kewanitaannya menjadi rendah. Perbuatan yang demikian, tidak dilakukan oleh wanita yang luhur. Apalagi seorang putri raja. Hanya seorang gundiklah yang senang melakukan perbuatan serupa itu. Akibatnya menyebarkan keburukan dalam masyarakat. Cih wanita kesasar tidak. mengetahui tingkahlak.u yang baik.

Dengan perbandingan di atas, rupanya Damayanti sangat menghindari cemohan yang merendahkan martabat kewanitaannya, yaitu wanita yang mendatangi/merayu lelaki dianggap perbuatan yang biasa dilakukan oleh seorang gundik. Di sam- ping itu dianggap juga sebagai bisa yang dapat mematikan, se- hingga menyebarkkan keburukan di masyarakat. Selain perbuatannya di atas, sifat-sifat keteladanan Damayanti dapat diikuti pada kutipan di bawah ini.

Atur Dewi Damayanti, "Duh Ratu panembahan titiang, satiba paran Deline, titiang nyadia sairing:a, sareng sabaya ita, sampun Ratu walang kayun, ring pangincep manah titiang (GND, Srnarandana : lembar 23a).

"Duhai Tuanku junjungan Hamba, ke- mana pun tujuan Kanda, harnba bersedia mengikuti, ikut suka dan duka, janganlah Tuanku berkecil hati, akan ketulusan hati harnba.

Pada kutipan di atas, dinyatakan bahwa Damayanti selalu ingin bersama menanggung penderitaan yang dihadapi oleh suaminya. Sehingga secara ikhlas Damayanti menyarankan suaminya, agar ia tidak diragukan tentang kesetiaannya mengikuti suaminya. Selanjutnya kita ikuti pula kutipan bait di bawah ini.

Antuk kasih sayang ida, ring Ida Sri Nala Pati, malih sumangsayan ida, ring titah ganti nrepati, ngelisang ida mamargi, mrika-mriki pati- purug, manawi manggih pracihna, jalaran mangetut buri, ne mawa- nan, manggihin Prabu Nala (GND, Sinom: Iembar 29b). Karena rasa sayangnya, terhadap Prabu Nala, juga dikhawatirkan, ten tang nasib suaminya, ia mempercepat perjalanannya, kian kemari tiada menentu, mungkin dilihat ciri-ciri, sebagai jalan mengikuti, yang menyebabkan, dapat menemui Prabu Nala.

Pada kutipan- di atas, dinyatakan bahwa alangkah setia- nya Damayanti terhadap Prabu Nala. Kian kemari beliau men- carl suaminya dalam hutan dengan tidak menghiraukan ling- kungan yang begitu lebat. Walaupun ketika tidur ditinggal- kan pergi oleh Prabu Nala, namun ia tidak menunjukkan sikap dendam terhadap suaminya, bahkan berusaha mencari jejak suaminya. Nilai etika yang lain tercantum dalam GND, dapat kita nikmati pada kutipan di bawah ini.

... pakayun Sang Nala Pati, waluya kadi ngemar, punapi Sang Damayanti, kadi kabingungan mangkin, antuk kaduhkitan kayun, utawi ungkur punika, wenten nayopaya sihb, napi krana, pawistri tan teguhing cita (GND, Sinom: lembar 4Ia).... pikiran Sang NaJa Pati, seperti tidak bergiarah, apakah Damayanti, seperti kebingungan kini, oleh karena kesusahan hatinya, atau belakangan ini, ada siasat tersembunyi, apa sebab, seorang istri tidak teguh pendirian.

se- tia, karena terburu-buru untuk mencari suami lagi. Oleh karena di dalam ajaran agama Hindu ada sejumlah kriteria seorang istri diperkenankan mencari suami lagi, dan begitu pula sebalik- nya. Kriteria terse but an tara lain : ditinggalkan oleh suami dengan tanpa alasan; ditinggalkan mati oleh suami dan suami yang tidak dapat menciptakan keturunan (mandul). Sedang- kan tindakan Damayanti dianggap terlalu terburu-buru oleh Prabu Nala, karena beberapa lama ditinggalkan suami ia telah mencari suami lagi. Akan tetapi terkaan Prabu Nala sangat ke- liru, karena pemilihan suami kedua kalinya merupakan siasat untuk menemukan suaminya. Siasat Damayanti berhasil untuk menemukan suaminya, karena dengan adanya sayembara ter- sebut menyebabkan Prabu Nala datang ke Widarba sebagai kusir Ratu Parna. Dengan demikian berakhirlah perpisahan antara Damayanti dengan suaminya, Prabu Nala. Selanjutnya kita · nikmati juga nilai yang dititipkan dalam GND, seperti kutipan di bawah ini.

Raja Bima ne tan pisan sauninga, sendik nayopayaneki, sane ka- margiang, antuk Sang Damayantia, nyapa Retu Parna Pati, sapranata. ring ida sang wau prapta (GND; Durma : lembar 45a). Raja Bima yang samasekali tidak mengetahui, tentang daya upaya, yang dilakukan, oleh Sang Damayanti, menyapa Raja Retu Parna, sangat hormat, terhadap orang yang baru datang (tamu).... " Ngiring inggih Narendra, mararyan ajahan, Ratu sinah sane mangkin, banget kalesuan, becik nglumah rumiin (GND, Durma : lembar 45a).... "Silahkan Tuanku, beristirahat sejenak, Tuanku kini jelas, sangat kelelahan, sebaiknya tidur dulu.

Dengan melihat kutipan di atas menunjukkan bahwa Raja Bima sebagai penguasa di Widarba dalam hatinya merasa dilam- paui, karena tidak mengetahui rencana anaknya, yaitu mengada- kan sayembara pemilihan sebagai suatu siasat agar Prabu Nala

kembali ke Widarba. Akan tetapi beliau sebagai tuan rumah, walaupun memendam rasa marah dalam hatinya, namun ia tetap bersi.kap ramah terhadap tamu. Bahkan beliau dengan sangat hormat mempersilakan tamu tersebut agar berkenan ber- istirahat pada balai-balai yang telah disiapkan. Demi.kianlah nilai-nilai yang tercakup dalam eti.ka, yang terdapat dalam Geguritan Nala Damayanti.

4.2.2. Nilai Estetika dalarn Geguritan Nala Damayanti Seperti telah disebutkan dalam uraian eti.ka, yaitu ide sentral yang ditonjolkan adalah tentang keteladanan seorang wanita. Demikian pula dalam uraian ini, akan tetap mengacu kepada ide sentral tersebut di atas. Untuk membukti.kan halter- sebut mari kita nikmati kutipan di bawah ini.... Damayantia atur sumpah, tungguing urip, tan marabi yan tan Sri Nala (GND, Jinada: lembar 12b).... Damayanti mengucapkan sumpah, seumur hidup, tidak akan kawin selain Prabu Nala. Dengan kutipan di atas menunjukkan bahwa Damayanti sangat kokoh terhadap pendirian, sekalipun Dewa yang memi- nangnya ia tetap tidak akan kawin. Hanya satu yang diharapkan yakni Prabu Nala. Pada kutipan berikut dapat pula kita ikuti sifat keteladanan Damayanti. "Ih maka sujatmipun, kewala Sri Nala Pati, kang masesa dewek titiang, puniki I Damayanti, nunas ica ring Betara, sang misesa jagat sami (GND, Ginanti: lembar 30b ). "Hai sesungguhnya, hanya Prabu Nala, yang menguasai diriku, ini Damayanti, mohon takdir Tuhan, yang menguasai alam semesta. Madak niki wong pemburu, keni gelis ipun mati, kakenan raja pinulah", .. (GND, Ginanti: lembar 30b).
Semoga pemburu ini, cepat menemui maut, kena kutuk, ..........
Melalui kutipan di atas membukti.kan bahwa Damayanti selalu setia terhadap suaminya, sekalipun dalam keadaan sepi

ingin diperkosa oleh pemburu, tetapi ia tetap menolak. Dan bahkan mengutuk pemburu itu agar cepat menemui maut. Saat itu pula menyatakan kesetiaannya terhadap Prabu NaJa bahwa dirinya hanya dapat dikuasai oleh Prabu Nala. Selanjutnya dapat dinikmati kutipan berikut tetap ber- kisar tentang keteladanan Damayanti.

Yadin putri Damayantia, sampun tangeh jeroning kapti, ring jadma patpat punika, tan len catur dewa wiakti (GND. Sinom : lembar lSb ). Namun tetap putri Damayanti, mengetahui dalam hati, terhadap ke- empat orang tersebut, tiada lain catur Dewata sesungguhnya ... Manggeh akari ida nyidaang, nguasa raganda sang putri, priindik
kadi punika, nggawa kang linuih, .... (GND, Sinom: lembar lSb).
Tetap tabah, sang putri mengendalikan dirinya. hal seperti itu,
membuktikan orang utama, ....

Kutipan di atas membuktikan bahwa Damayanti seorang wanita yang bijaksana _dalam melakukan tindakan yaitu da!Jm situasi mendesak tetap mampu menguasai dirinya. Untuk mem i- lih suami yang dikehendaki, maka Damayanti memuja carur Dewata. sehingga tampaklah Prabu Nala sesungguhnya. Selain nilai keteladanan Damayanti, juga terdapat nilai sisipan yang dititipkan mela1ui tokoh pendamping. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

" Ih kita maraja Nala, Ratu susila ayu budi. menawi ta cening suka. manadi potusan ingsun", Nala gelis matur pranata, saur bakti. ''Ing- gih titiang sairinga". (GND, Jinada : lembar lOb). "Hai engkau Prabu Nala. raja susilawan dan saleh, mungkinkah anakku rela. menjadi utusanku ", Nala cepat berdatang sembah menghormat, menjawab, "Hamba bersedia, ..

Dengan kutipan diatas menunjukkan bahwa Prabu Nala mengorbankan kepentingan pribadinya, yaitu tidak berhak ber- bicara atas nama pribadinya, karena ia telah rela menjadi utusan Dewa. Hal tersebut didasari atas konsep satya wecana yaitu apa yang diucapkan harus dilakukan dengan sungguh-sung-

guh. Dalam hal ini Prabu Nala sudah terlanjur bersedia mengi- kuti kehendak Para Dewata, sehingga kepentingan pribadinya dikorbankan. Godaan para dewata terhadap Prabu Nala dan Damayanti hanya bersifat ujian tentang kesetiaan cinta kedua pasangan itu. Mari kita nikmati kutipan tentang hal tersebut, di bawah ini. Kewala nayopaya, nyugjugin kayun sang kalih, ambul napi jatinika, paincep kayun sang kalih, Dewa sumang-sayeng kapti, ring pitres· nada Sangayu, ring Ida Maraja Nala, napi tan saking kakardi, de Sang Nala, tan saking tumbuh ngraga (GND, Sinom: lembar 19a). Hanya bersifat siasat, menguji kemauan kedua pasangan itu, seberapa jauh kesungguhannya, kemauan kedua pasangan itu, Dewata kha- watir pikirannya, akan kesetiaan Damayanti, terhadap Prabu Nala, apakah tidak dibuat-buat, oleh Prabu Nala, tidakkah dari tumbuh sendiri.

Melihat kutipan di atas, menunjukkan bahwa Para Dewata tidak bermaksud menjerumuskan kedua pasangan tersebut, me- lainkan hanya menguji kesetiaan pasangan tersebut. Jika cinta- nya tidak didasari oleh rasa cinta suci, maka perkawinannya tidak akan kekal. Demikianlah nilai yang tercakup dalam nilai estetika yang terdapat dalam Geguritan Nala Damayanti.

4.2.3. Nilai Agarna dalarn Geguritan Nala Damayanti Dalam kajian aspek ini, kita dapat telusuri melalui tokoh Prabu Nala. Untuk mencari nilai-nilai tersebut, mari kita nikmati kutipan di bawah ini. Null wenten rupa kasisipan matra, tlernan upacara suci, punika mak- rana, Kali polih awanan, ngranjingin kayun sangaji tur agelisa, mu- juki Puskarapati (GND, Durma: lembar 21a). Dan rupanya terdapat sedikit kesalahan, teledor melaksanakan upacara suci, itulah sebabnya, Kali dapat jalan, memasuki pikiran raja, dengan cepat mempengaruhi Puskarapati.

Dengan kutipan di atas dapat dilihat bahwa Prabu NaJ a karena ketelodarannya melakukan upacara suci dapat dimasuki pikirannya oleh Kali. Dengan godaan itulah, Prabu _Nala men- jadi bingung timbul hasratnya untuk bertindak mengikuti nafsu. Pelaksanaan upacara suci di atas penting dalam agama Hindu, karena merupakan bagian dari kerangka agama Hindu yaitu ta- ta, susila dan upacara ( Rintia, 1977 : 2).

Selain nilai di atas, terdapat juga beberapa nilai yang ter- tuang di dalam GND. Untuk kepentingan hal tersebut dapat dilihat melalui kutipan di bawah ini.

Pamungune tan nyilahin sami, sami pada kasor, yan papasang pang- raket senenge, sane sampun mangangkeb ring ati, tur sampun ma- murti, ngaonang ida sang prabu (GND, Mijil: lembar 21 b). Semua nasehat tidak dihiraukan, semua kalah, jika dibandingkan dengan rasa loba, yang telah berada di hati, dan terlalu berkuasa, mengalahkan sang raja.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Prabu NaJa dalam ke- adaan jiwanya tidak seimbang itu sulit mengendalikan pikirannya. Sehingga semua nasehat yang ditujukan kepadanya tidak pemah digubris. Bahkan nafsunya semakin berkobar, yaitu di dalam peijudian semakin besar taruhannya, sampai pun negara ikut dijadikan taruhan.

Setelah Prabu Nala menderita akibat berjudi, lalu ia ter- lunta-lunta di hutan. Di dalam hutan, ia dapat menolong ular yang lumpuh akibat kutuk maharesi. Karena pertolongannya itu ia diberikan bisa untuk melumpuhkan kekuatan Kali di dalam tubuh Prabu NaJa. Hal tersebut dapat kita buktikan pada kutipan di bawah ini.

"Niki titiang ula raja, wetning temah Ida Sang Mahayati, ne ngranayang titiang rumpuh, malih tan kuasa molah ", jantos rauh
sang asadnya NaJa Prabu, ida reke mitulunga, .... (GND, Pangkur :
lembar 35a).

"Hamba ini nagaraja, karena kutuk maharesi, yang menyebabkan hamba lumpuh, dan tiada mampu bergerak", kemudian datanglah Prabu Nala, beliau lalu menolong,...... upase ranjitlggang titiang, jeroning tanu fan ngoda kenak i ratu, nging racun I Kali Dusta, ring anggan Sang Nata mangkin (GND, Pangkur: lembar 35b ).

... bisa itli saya masukkan, ke dalam tubuh dan tidak menggoda pe- rasaan Tuanku, tetapi racun I Kali Dusta, di dalam tubuh Tuanku kini Ipun pacang nandang lara, tan paingan sengkaring upas puniki,... (GND, Pangkur: lembar 35b). Dia akan menderita kesakitan, tidak terhingga akibat bisa ini, ...

Melihat kutipan di atas, kita mendapat hikmah ajaran karma phala yaitu segala perbuatan selalu mendatangkan hasil. Dalam hal ini, akibat pertolongannya terhadap naga-raja akhir- nya Prabu Nala dapat bebas dari godaan Kali di dalam tubuh- nya. Selanjutnya kita lihat nilai agama melalui tokoh Damayanti di bawah ini.

... sang atapa raris ngucap, "Sampunang ugi i ratu, mapakayun sengsaya, sampunang maren mangesti", (GND, Demung Sawit: lembar 3Ia).... pertapa lalu berkata, jangan Tuanku selalu berkecil hati, jangan berhenti berdoa", ...

Dengan kutipan di atas menunjukkan bahwa Damayanti dinasehatkan agar jangan berkecil hati di dalam menghadapi pen- deritaan. Di samping itu, agar jangan pula berhenti berdoa ke- pada Tuhan. Karena orang yang tawakal akan selalu dikasihi Tuhan. Demikianlah dapat dideskripsik~m nilai-nilai agama yang terkandung di dalam Geguritan Nala Damayanti.

DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Dari seluruh u.raian di atas dapat dijabarkan kesimpulan yang merupakan jawaban permasalahan sebagai berikut. (l ). Geguritan Nala Damayanti sebuah karya sastra Bali yang dibangun oleh pupuh Durma, Sinom, Ginanti, Ginada, Pangkur, Mijil, Dangdang, Smarandana, Demung Sawit dan Adri. Pupuh yang dipergunakan membangun GND. telah mengikuti konvensi pupuh yang umum disebut padalingsa.
(2) Geguritan Na!a Damayanti memiliki susunan seperti : manggala berisi penyebutan sumber penciptaannya dari Wana Parwa, isinya pertama-tama menceritakan Darma- wangsa kalah bermain judi. Kemudian baru menceritakan kisah Damayanti sebagai contoh dari penderitaan Panda- wa. Penutup/ko1opon menerangkan identitas penyalin naskah GND, yaitu keturunan seorang bangsawan bernama I Gusti Gede Rai dari Tingas, kelurahan Mamba!, kecamat- an Abian-semal. Disalin tanggal 15 Februari 1960.

(3). Geguritan Naill Damayanti yang diciptakan di Bali, se- hingga pantulan nilai-nilai budaya masyarakat Bali terdapat di dalamnya. Adapun nilai-nilai yang menonjol (mayor) adalah keteladanan seorang wanita ideal, yaitu hormat kepada orang tua, etika sebagai wanita (tidak boleh mendatangi lelaki); etika sebagai istri (harus setia terhadap suami), tawakal berdoa (dalam keadaan susah sekalipun). Di sam ping itu terdapat pula nilai-nilai sampingan (minor) seperti sikap hormat terhadap tamu, percaya dengan hu- kum karma phalll (setiap perbuatan akan mendatangkan hasil), dan taat terhadap perkataan (satyawacana).
5.2. Saran Geguritan ·Naill Damayanti karya sastra Bali yang bersum- ber dari Wana Parwa. Oleh karena itu dalam melihat nilai-nilai yang dituangkan secara menyeluruh maka perlu diadakan studi perbandingan dengan sumbernya.

PUSTAKA

Agastia, Ida Bagus Gede, 1980. "Geguritan Sebuah Bentuk Sastra Bali" (Paper Sarasehan Sa stra Daerah Pesta Kesen i- an Bali ke 2). Budhisantoso, S. 1982. "Kesenian dan Nilai-nilai Budaya" da- lam Ana/isis Kebudayoon Tahun II No. 2. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Deli, I Gusti Ketut. 1958. Kisah Putri Damayanti Dikutip dari Cerita Hindu (Mahabharata). Denpasar : Penerbit Pustaka Balimas. Esten, Murshal. I 978. Kesusastroon Pengantar Teori dan Seja- rah. Bandung : Penerbit Angkasa. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan I 976. Pedoman Ejaan Bahasa Daerah Bali, Jawa dan Sunda ·yang Disempurnakan. Jakarta : Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indo- nesia dan Daerah. Rintia. I 977. Buku Istilah-istilah Agama Hindu Dengan Materi Pokok Buku Upadesa dan Tuntunan Wariga.

10 7

Denpasar: Kantor Departemen Agama Kabupaten Badung Seksi Bimas Hindu dan Budha. Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra, Surakarta: Widya Duta.

AR

Geguritan NaJa Damayanti, kropak 6; ronta1 118. Koleksi Perpustakaan Lon ta-r Fakultas Sastra Universitas Udayana. Geguritan Salia, kropak 1 08; jumlah lontar 24 lembar. Koleksi Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. Kidung Pisacarana, karya Ida Pedanda Made Sidemen, Geria Aseman Banjar Taman Sari Sanur.

: ... ~ :·~
..... :.

J' \ ..

(

.. ..... ~

-\ "\•

••. :· (.• /

.. .~~.

'

.....

. ...