Baca PDF (OCR): Maigezine April2020

36 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 135 ms

Daftar isi
  1. BAGI BUNYI BAGI
  2. CERITA
  3. BagiBunyi Redra Ramadhan
  4. Semacam
  5. Pengantar: Berbagi
  6. Bunyi, Berbagi
  7. Cerita
  8. Ehanya menyalin dan memuat
  9. Salam berbagi bunyi dan cerita!
  10. Apa Daya Bunyi
  11. Dari Bengkel Kayu Yang
  12. Berdebu?
  13. Lkali tertunda sejak Juli 2019,
  14. Bagi Yayat Afrizhal, dalam penyajian
  15. Videoge Live Sessions dicobakan
  16. dengan cara yang biasa saja,
  17. menampilkan musik apapun
  18. menyesuaikan sumbangsih para
  19. penampil jika konsep itu kelihatan bagong.
  20. Videoge Live Sessions #2: Videoge Live Sessions #4:
  21. "The Reason" - Hoobastank (Cover) "Fix You" - Coldplay (Cover)
  22. Videoge Live Sessions #4: Videoge Live Sessions #6:
  23. "Love of My Life" - Queen (Cover) "Here Without You" - 3 Doors Down
  24. Videoge Live Sessions #4: "Karena Kutahu Engkau Begitu"- Andre Hehanussa (Cover)
  25. Kisah
  26. Sekawanan Bmusik dengan lagu-lagu
  27. Remaja dan
  28. Sekelompokke atas pentas? Cerita ini
  29. Musik di
  30. “Kota Baru”
  31. Panggung semacam inilah yang
  32. Kawan Yang Terus
  33. Mendentum- kan Bunyi
  34. Kke atas, saya pernah
  35. Teka-Teki-Santai
  36. Rilis Musik
  37. Rilis Musik
  38. NENGENG
  39. Gabriel Nobear
  40. TAKKAN TERGANTI
  41. Dobbie Jacson
#04 APR 2020
EDISI KHUSUS
BAGI
BUNYI
BAGI CERITA

Diluncurkan oleh videoge yang merupakan saluran produksi dan kolektif, dokumentasi pengetahuan dan merekam pengalaman optimisme berupa audio-visual, buletin, katalog, dan lain sebagainya.

www.issuu.com/maigezine [email protected] Videoge Maigezine

EDISI 04, APRIL 2020 (ISSUU #4)
diterbitkan oleh:
Videoge House
LABUAN BAJO,
Lingkungan Waenahi,
dekat Hutan Mahoni,
Wae Kelambu, Manggarai Barat,
Flores, Nusa Tenggara Timur,
Indonesia.
[email protected]

www.about.me/videogehouse www.linktr.ee/maigezine

EDISI KHUSUS

BAGI BUNYI BAGI

CERITA

Maigezine

Kontributor Adrian Imaduddin Alexander Wempi Manggol Amir Hamza Ancis Lehot Asdhika Dhevon Dede Heryadi Didie Ristadi Dobbie Jacson Fatma Ishaka Gabriel Nobear Hans Kopa Irland Nirwana Firdaus Kholik Raisha Aqilah Salsabila Robin Arys

Redaksional Aden Firman

Penyelia Aksara Zulkifli Madide

Rancang Grafis & Tataletak lumisdsgn

Projek Kolektif Videoge Live Sessions #BagiBunyi Ingatan Kolektif

Videoge Live Sessions

Project Manager Yayat Afrizhal

BagiBunyi Redra Ramadhan

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Semacam

Pengantar: Berbagi

Bunyi, Berbagi

Cerita

Maigezine berasal dari dua kata: ‘maige’ dan ‘zine’. 'Maige' kosa kata Manggarai yang mengandung arti ‘ajakan’, sedangkan ‘zine’ adalah singkatan dari 'magazine' yang dituturkan dalam Bahasa Inggris dari bahasa German yang berarti majalah, buletin, jurnal, review dan lain serupa itu. Maige-zine dari dua kata yang digabungkan agar menyerupai kata Maga-zine. (Penjelasan tentang Maigezine itu sendiri selengkapnya baca Edisi 02, Oktober 2019)

disi perdana Maigezine

Ehanya menyalin dan memuat

kembali narasi dalam video yang didokumentasikan dari sebuah kegiatan pendermaan di momen ramadan, Juni 2019 lalu ke dalam terbitan tulisan. Cara itu mulanya hanya mengujicoba mendokumentasikan kegiatan kita sendiri kedalam bentuk tertulis.

Dok. oleh Irfan Seraja

Kemungkinan untuk membuat Maigezine barangkali dapat berkali-kali terjadi bilamana membawanya dalam serupa buletin, konsep majalah atau terbitan-terbitan berkala dari kebanyakan yang ada. Rupanya itu bisa diupayakan meski dalam proses pencarian bentuk. Itupun kembali diterbitkan berselang selama empat bulan untuk edisi keduanya.

Meski yang diharapkan Maigezine sebetulnya dapat terbit dalam dua bulan sekali. Kelihatannya, konsistensi waktu penerbitannya seperti itu masih dalam kedambaan. Maigezine tampaknya belum menemukan cara yang “disiplin” agar dapat dimuat dalam waktunya yang tetap. Begitu pula dalam terbitannya, memang tidak berangkat dari tema-tema

BAGI BUNYI BAGI CERITA

yang ditentukan. Apa yang dimuat di dalamnya tampak acak dan penuh dalam penyusaian aktivitas dari kegiatan oleh inisiatif individu maupun teman-teman di komunitas.

Edisi ketiganya serupa dengan edisi kedua yakni membantu merekam apa-apa yang terjangkau saja. Dari membantu mendokumentasikan secara tertulis kegiatan teman, kolektifitas kerja dan kegemaran di dalamnya.

Ketiga edisi ini memang menjangkau pada hal-hal yang kelihatannya amat kecil dan jangkauannya amat dekat, semacam upaya membicarakan sendiri apa yang dikerjakannya secara mandiri atau dengan kata lain perihal independensi di dalamnya. Meskipun sempat juga disebut sebagai ajang berkarya dan arena belajar bersama.

Secara tak terduga, edisi keempatnya lantas membawa Maigezine dalam terbitan khusus. Edisi Khusus yang dimaksudkan memungkinkan mendekati terbitan yang agak tematik. Tetapi, justru lebih kelihatan diuntungkan dengan aktivitas yang spesifik yang kebetulan terjadi sebab kegemaran segelintir teman di

BAGI BUNYI BAGI CERITA

musik. Maka itu, agaknya yang mudah terdokumentasikan justru apa yang terjadi dekat-dekat ini.

Maigezine Edisi Khusus: Bagi Bunyi, Bagi Cerita merupakan pokok pembicaraan dalam edisinya yang keempat, yang sesungguh disambut dari kegiatan dan aktivitas, respons, rekam ingatan hingga angan-angan kita di musik, atau apa saja yang terjangkau yang kita tampakkan melalui kegemaran sekalipun adalah hobi atau bahkan beririsan dengan pekerjaan.

Yang utama bagi Maigezine sebagai peralatan kerja untuk membicarakan apa yang kita alami. Hanyalah salah satu cara dari ragam pendekatan untuk merekam pengetahuan melalui proses dari pengalaman biasa kita sehari-hari.

Lagi pula, agaknya, merekam kegemaran di musik biasanya akan turut membicarakan manusia-manusianya, konteks dan situasi atau apa-apa saja yang bertalian ada di dalamnya yang mungkin dapat berkembang namun sebagai sesuatu yang dapat dipelajari.

Salam berbagi bunyi dan cerita!

Waenahi, 22 April 2020 Aden Firman

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Foto oleh Yayat Afrizhal

VIDEOGE LIVE SESSIONS

Apa Daya Bunyi

Dari Bengkel Kayu Yang

Berdebu?

“Kita terlalu banyak membangun dinding dan tidak cukup banyak jembatan“ — Isaac Newton

antaran Musik Hibah berkali-

Lkali tertunda sejak Juli 2019,

kegiatan itu lantas meretas menjadi Videoge Live Studio Session pada tiga bulan berikutnya. Musik Hibah hanya menuai ekspektasi. Bahwa membangun apresiasi seni yang terkandung di dalamnya cenderung altruistis. Padahal inisiasi itu muncul justru untuk melayani kebutuhan diri kita sendiri. Sebab dari suka musik maka diadakanlah sesuatu baginya.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Sebagaimana kegiatan lainnya. Tenaga, waktu dan berpikir demi kegiatan ini rupanya belum cukup membawa Musik Hibah benar-benar terjadi. Sudah biasa jika ada kendala teknis. Biasa pula kegiatan begini membutuhkan biaya. Keterlibatan lain pihak dalam berbagi keperluan agar kegiatan itu dapat hidup dari dukungan, apa lagi. Ataukah kegiatan semacam itu memang belumlah siap dibikin.

Tapi, setidaknya ide Musik Hibah sudah pernah ada. Demikian memancing ide-ide lain mungkin dapat mekar. Walaupun ide itu sudah ada tapi, beride saja kelihatanya belumlah cukup. Kadang kala kita perlu membikin peristiwanya untuk merayakan idenya itu.

Musik Hibah merupakan pertunjukan musik yang diagendakan secara berkala sebagai kegiatan serta apresiasi yang diharapkan sekaligus kegiatan penggalangan dana dalam rangka pengadaan sound system dan alat musik untuk dimanfaatkan oleh perkumpulan inisiatif untuk sesuatu yang mungkin berkelanjutan diadakan.

Perkumpulan yang saya maksudkan adalah dari Rumah Lukis Kampoeng Air, Videoge House, Komunitas Unusually dan segelintir inisiatif individu. Sayangnya, ketimbang Musik Hibah tak sempat jua digelar, lantas bentuknya pun berkembang menjadi kegiatan yang lebih ramping melalui live music dan recording yang diinisiasi oleh Videoge.

Sejak Juli e-flyer Musik Hibah telah terbit di media sosial. Selebaran daring di atas adalah publikasi terakhir yang hampir diluncurkan kembali. (Artwork: Maigezine)

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Sesi perdana live music dan recording dikemas dalam terbitan video. Nama proyeknya, Videoge Live Studio Session dengan menampilkan solo gitar dari Redra Ramadhan. Ia mengubah lagu “Hanya Rindu”-nya Admesh Kamaleng menjadi instrumen gitar untuk sesi perdana.

Tetapi, dalam mewujudkan sesi kedua, proyek musik ini mengalami kerenggangan jadwal penerbitan videonya selama tiga bulanan sebab kepatuhan kepada konsep. Yakni menyajikan video musik

Bagi Yayat Afrizhal, dalam penyajian

Videoge Live Sessions dicobakan

dengan cara yang biasa saja,

menampilkan musik apapun

menyesuaikan sumbangsih para

penampil jika konsep itu kelihatan bagong.

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

hanya bagi karya dari musisi timur Indonesia. Tetapi, cara itu tampak muskil kembali ditampilkan dalam bentuk aransemen untuk instrumental gitar yang mestinya terbit dua kali dalam sebulan.

Untungnya proyek musik itu kembali terjadi. Sempat kembali dibicarakan lagi namun memberinya nama yang baru. Rupanya hanya mengalami sedikit perubahan nama dari "Videoge Live Studio Session" menjadi "Videoge Live Sessions" yang disingat VLS berkat buah obrolan bersama Yayat Afrizhal, sekaligus belakangan “menodongnya” sebagai project manager.

Bagi Yayat, dalam penyajian VLS dicobakan dengan cara yang biasa saja yakni menampilkan musik apapun menyesuaikan sumbangsih para penampil jika konsep itu kelihatan bagong.

VLS merupakan salah satu proyek berseri oleh Videoge yakni sesi perekaman langsung audio dan video musik dari penampil yang kebetulan adalah teman, juga teman dari teman yang ikut bersumbangsih.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Video musik VLS ini diterbitkan di kanal Youtube dan dipublikasikan oleh Maigezine. Namun cenderung yang ditampilkan adalah lagu-lagu yang di-cover. Belum ada yang menampilkan karya sendiri. Rasanya memang itu menjadi cara termudah menyajikan sumbangan penampilan dan kegemaran kita di musik. Meski sesungguhnya di antara yang tampil sudah memiliki karya lagu dan garapan instrumental yang diciptakan sendiri.

Intens bertemu Yayat Afrizhal terjadi ketika saya ikut bergabung bersama homeband yang dibentuknya bersama Olik dan Dobbie Jacson. Kelompok akustik yang dibentuknya sejak 2016 yang nama bandnya adalah inisial dari nama ketiganya: Y.O.D Acoustik. Band yang bahkan dibentuk sebab dari momentum peresmian nama lama untuk peluncuran dari tampilan baru dari sebuah restoran di Jalan Soekarno Hatta, kurang sedikit letaknya di antara Kampung Cempa dan Kampung Tengah.

Untungnya, di luar dari reguler band itu, obrolan bersama kae Yayat yang bertaut dengan kegemaran

BAGI BUNYI BAGI CERITA

main musik atau membincangkan kemungkinan membikin sesuatu yang kecil dari kegemaran itu memang lebih cenderung terjadi ketika nongkrong biasa sehari-hari.

Saya tidak pernah membayangkan kelak akan bertemu dan melakukan sesuatu bersamanya melalui kegemaran yang sama. Namun dalam ingatan saya, terkait hobi di musik, Yayat memang sempat merintis usaha penyewaan studio musik yang diberinama Eighty Five di salah satu ruangan di begkel kayu di Langka Kabe yang juga adalah rumahnya sejak 2010 di pasca pernikahannya.

Mesti keberadaan Eighty Five hanya sebentar, persis selama dua tahun, namun saya belakangan makin sering melihat alat-alat musik bekas dari studionya itu rupanya masih diletakkan di atas sofa ruang tamu dan di gudang rumahnya. Sayangnya hanya tersisa bass, gitar elektrik dan sebuah speaker aktif.

Untungnya, kini di salah satu sisi dinding luar ruangan studionya lantas menjadi latar artistik dalam menggelar Videoge Live Sessions di antara mesin ketam, mesin potong

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Suasana live music & recording Videoge Live Sessions di bengkel kayu Rukun Jaya, jalan Langka Kabe, Wae Kelambu. (Foto: Aden Firman)

beserta tumpukan kayu, meja, kursi, lemari, dan sejenisnya itu yang sedang dalam pengerjaan di sana.

Kata kae Yayat, dinding itu sampai hari ini nyaris tak banyak yang berubah. Debu yang melekat dari serbuk kayu dan jaring laba-laba yang menempel dinding bengkel pekarangan rumahnya juga kelihatannya tak dibersihkan dalam waktu yang cukup lama. Namun beberapa hari saya menuliskan catatan ini bengkel kayu itu

rupanya dalam perbaikan lantai dan dinding, juga serbuk kayu dan debu yang sedikit dibersihkan setelah ada banjir akibat hujan.

Saya masih ingat betul isi obrolan singkat sempat terjadi bersamanya ketika suatu hari, sekiranya sembilanan tahun yang lalu ketika berada di dalam studio. Mungkin kae Yayat sudah lupa obrolan sekilas itu. Ketika saya bersama tiga orang teman yang patungan untuk menyewa studio selama satu jam dari sebagian sisa uang jajan. Tak saya ingat persis apa yang membuat obrolan singkat itu tiba-tiba terjadi. Tetapi Ia sempat

BAGI BUNYI BAGI CERITA

punya mimpi untuk membikin festival musik di kampung halaman. Namun cita-cita itu tampak tak kunjung jua hingga hari ini.

Saya baru mengerti bahwa agaknya gairah semacam itu hanyalah bentuk nuraga untuk mengajak teman-teman di lingkungannya yang suka dengan musik demi merasakan ruang ekspresi bersama-sama atau mungkin setidaknya hobi di musik itu dapat tersalurkan. Agaknya begitu. Mungkin kedambaan seperti itu datang tidak dalam bentuk festival musik tetapi justru datang dalam bentuk yang lain yakni justru sesuatu yang kecil dan terjangkau.

Apa yang saya dengar dari obrolan intim bersamanya kerap Ia akui bahwa keterampilan bermain alat musiknya justru pas-pasan. Tapi, kegemaran di musik kelihatannya terawat baginya hingga berusia jelang kepala empat—yang begini-begini juga kadangkala jadi gentusan bagi saya secara personal untuk tetap menggemari musik di kampung.

Di masa lalu, sejak merantau dan sekolah menengah pertama ke

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Makassar tahun 1999. Rupanya Ia tinggal di lingkungan dengan anak-anak muda yang gemar pula dengan musik. Mungkin hobi musik kae Yayat kian terpapar dari sana. Tetangganya sebagian besar adalah anak-anak band yang suka memainkan lagu-lagu bergenre rock. Sempat pula ikut tampil reguler di salah satu hotel di Jalan Sultan Hasanuddin bersama homeband di sana. Tampak gecul juga sebab sempat mengikuti audisi pencarian bakat atas dorongan seorang vokalis yang usianya lebih tua darinya ialah teman bergaul sehari-harinya.

Singkatnya, sebelas tahun diperantauan namun membawanya kembali pulang kampung dan justru merintis usaha penyewaan studio musik untuk beberapa saat.

Setahuku pernah ada juga satu dua penyewaan studio sebelumnya di sebuah ruko dekat lampu merah di sebelah kanan jalan menuju Bandar Udara dan rumah serupa kios yang dindingnya kelihatan ditutupi dari papan-papan tua di pinggir jalan lingkungan Sernaru. Namun yang ingin saya bilang—bagiku atau mungkin bagi kita di masa itu

bahwa memiliki satu set alat musik band lengkap dengan ruangan kedap suara (ataupun tidak kedap suara) adalah sesuatu yang amat mewah sebab kelangkaannya di “kampung” Labuan Bajo.

Hal itu, bagi masa bulug saya, keberadaan studio musik itu adalah ruang ekspresi terbaik yang sadar atau pun tidak, kelihatannya ingin sekali kita alami seperti remaja yang menggebu-gebu—mungkin

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Keberadaan sedikitnya studio di masa itu setidaknya, bagi saya, adalah semacam keberuntungan. Maksud saya, untung saja mengalami dan sempat bermain alat musik di dalam sebuah studio (semi) kedap suara sementara di tengah keterbatasan akses dalam banyak hal. Terutama, yang sepertinya jadi yang terpenting, adalah kehadiran studio musik di kampung menjadi “efek samping” yang sedikitnya tampak

Live music di suatu malam di bulan Februari 2019 di salah satu kafe di Labuan Bajo. (Foto: Aden Firman)

juga sebagian kita berfikir hal yang serupa tentang ini.

memengaruhi perjalanan dan kegemeran saya main gitar— semacam sesuatu dari masa lalu yang agaknya memengaruhi pribadi saya hingga hari ini. Padahal di

BAGI BUNYI BAGI CERITA

sepanjang dekade tahun yang sama, di tempat-tempat lain seperti kota-kota besar atau daerah yang kebetulan lebih dulu diuntungkan menjadi tumbuh justru lebih lebar jangkauan dan terpapar manfaatnya dari akses internet yang marak sekali untuk menggali referensinya.

Namun kenyataan hari ini sekaligus menjadi situasinya, yang kita “miliki” soal ruang pertunjukan atau ruang ekspresi musik di kota wisata kita ini ialah apa yang menjadi alasan kita ingin menikmatinya, salah satunya yang cukup intens yakni dengan cara mengunjungi beberapa kafe atau bar, lounge, dan hotel sebagai hiburannya. Agaknya itu sementara cukup membuat kita tampak terjelak. Semoga saya keliru.

Di tempat seperti itu intensitas dan ruang pertunjukan musik agaknya cenderung menonjol terjadi. Setidaknya tiap jelang akhir pekan atau dalam waktu yang berkala. Ruang pertunjukan yang saya maksudkan adalah termasuk macam rupa penunjang yang tersedia di dalamnya. Dari

BAGI BUNYI BAGI CERITA

set panggung, lighting, sound system, penonton dan lain sebagianya. Meski tidak semua tempat memiliki itu, namun satu-dua ruang ekspresi musik agaknya dapat kita sebut penting keberadaannya sebagai salah satu ruang penyaluran ekspresi musik. Meskipun hanya ruang tampil bagi kelompok musik sebagai hiburan kepada pengunjung setempat dan wisatawan namun menjadi salah satu cara juga untuk mencukupi kebutuhan finansial di tengah macam-macam pekerjaan di dunia kepariwisataan setempat.

Kesayuan dan sekaligus menjadi keberuntungannya, penunjang pertunjukan atau ruang ekspresi musik seperti panggung, lighting, sound system yang mendingan, kehadiran penonton dan penunjang lainnya tidak lebih banyak bisa kita temui daripada event yang digelar oleh perusahaan tertentu dan pemerintah. Akibatnya, kita bahkan dapat menemui pula kegiatan musik yang memang segmennya amat kecil lantas dapat terjadi di mana saja. Daya bunyi berdentum dari sebuah bengkel kayu hanyalah misal yang datang dari segelintir orang yang menggemari musik di kota ini.

VIDEOGE LIVE SESSIONS Project Manager
merupakan seri YAYAT AFRIZHAL
audio-visual dari
Live Recording & Mastering
Videoge yang menyajikan
ADEN FIRMAN pertunjukan musik
sekaligus live Documentation
recording atas urunan VIDEOGE Teamworks
dari kolektif pertemanan
Production
yang gemar musik dan

VIDEOGE videografi.

Videoge Live Sessions #1: Videoge Live Sessions #4: Hanya Rindu-Andmesh Kamaleng "Karena Kutahu Engkau Begitu" (Guitar Instrumental Redra Ramadhan)- Andre Hehanussa (Cover) 4:09 menit 03:46 menit

Videoge Live Sessions #2: Videoge Live Sessions #4:
"The Reason" - Hoobastank (Cover) "Fix You" - Coldplay (Cover)

04:01 menit 06:08 menit

Videoge Live Sessions #3: Videoge Live Sessions #5: "Always with You, Always with Me " "Wherever You Will Go" - The Calling (Cover)

- Joe Satriani (Guitar Instrumental) "Andai" - Gigi (Cover)
04:53 menit 03:55 menit 05:59 menit

Videoge Live Sessions #4: Videoge Live Sessions #6:
"Love of My Life" - Queen (Cover) "Here Without You" - 3 Doors Down

03:47 menit (Cover) 04:11 menit

Videoge Live Sessions #4: "Karena Kutahu Engkau Begitu"- Andre Hehanussa (Cover)
#bagibunyi bersama ADEN FIRMAN #bagibunyi bersama IRLAND

@adenafirman @irland.z

#bagibunyi bersama GABRIEL NOBEAR #bagibunyi bersama DR
@gabriel_nobear @didieristadi

Playlist

Bagi

Bunyi

#bagibunyi bersama ROBIN ARYS

@offsch_Maigezine

) ( COLLAGE ART BY ADRIAN IMADUDDIN

INGATAN KOLEKTIF Dokumentasi pribadi di suatu acara di Hotel Pelangi (2011). Foto ini disematkan ke dalam tulisan semata kebutuhan mengindahkan dan tidak tersedianya dokumentasi dari tulisan ini. Namun beberapa lagu yang dibicarakan dalam tulisan ini akan ikut diterbitkan dengan "berat hari" di www.soundcloud.com/adenafirman

Kisah

agaimana bisa kelompok

Sekawanan Bmusik dengan lagu-lagu

ciptaannya sendiri bahkan

Remaja dan

tidak pernah mereka bawakan

Sekelompokke atas pentas? Cerita ini

barangkali bisa menjadi

Musik di

pertautannya.

“Kota Baru”

Persis di penghujung tahun 2007, Catatan ini sempat terbit di Floresmuda sekelompok kawanan remaja (Dot) Com dan dimuat kembali di blog Adenafirman (Dot) Wordpress (Dot) tingkat sekolah menengah atas Com pada Februari 2018 dan tulisan ini dengan penuh percaya diri lantas mengalami sedikit pembaharuan isi. membuat sebuah band.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Dengan sebuah harapan masa remaja ‘kampung’ yang sesungguhnya, mungkin mereka sadari bahwa kelompok musik yang mereka buat merupakan band yang bahkan sama sekali tidak akan membawakan lagu-lagu mereka di atas panggung pentas.

Penyebabnya barangkali bisa jadi atau bisa juga tidak datang dengan alasan yang ini; karena band yang mereka bikin ini ada di ‘kampung’—sesungguhnya saya hanya ingin bilang, persoalan yang mungkin semua orang tahu bahwa keterjangkauan atas akses kita dan kesempatan apresiasi yang terbatas adalah persoalan yang kerap menjadi kenyataan untuk sebuah daerah yang baru ingin tumbuh misalnya Labuan Bajo. Sebuah kota baru di ujung barat Pulau Flores adalah 'kampung' yang saya maksud.

Tempat aku sedari kecil diasuh dan dibesarkan kedua orang tuaku—saya akan mencoba menyebut 'kota' untuk kata ganti tempat 'Labuan Bajo' walau pun terus terang saja, saya merasa masih belum terbiasa menyebut kata keterangan 'kota' yang

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

disematkan di depannya, meskipun sebagaimana secara administratif memanglah 'ibu kota' kabupaten.

Yang saya tahu, di masa lalu kita ('masa lalu' yang saya maksudkan adalah rentang waktu sembilan tahun dari tahun 2000-an) setidaknya ada empat kesempatan apresiasi yang mungkin dapat dijangkau dan barangkali sudi untuk disebutkan sebagai panggung untuk remaja di kota kecil kita ini.

Pertama, di hajatan 17 Agustus yang digelar pemerintah di pelataran kantor bupati setiap tahunnya.

Di hajatan seperti itu Anda akan mudah bertemu dengan ratusan anak dari berbagai sekolah dan tingkatan. Lengkap juga dengan para guru serta barisan para pegawai dinas pemerintah yang akan bubar barisannya usai upacara bendera. Biasanya sebagian dari barisan upacara itu akan ikut bergabung bersama warga setempat (saya kira bahkan warga dari Labuan Bajo dan sekitarnya) sengaja berdatangan hanya untuk menonton item-item penampilan atraksi dan seni yang disuguhkan.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Situasi semacam itu lumayan menggairahkan sebagai ajang unjuk gigi melalui atraksi dan seni. Barangkali Anda atau pun secara berkelompok dapat mendaftarkan diri terlebih dahulu bila ingin menjadi peserta penampil untuk menunjukkan karya-karyamu di acara semacam ini. Kami pernah mencobanya meski pun melalui pertunjukan tatap muka: teatrikal dan rampak perkusi. Kami yang saya maksudkan adalah sekelompok mahasiswa rantau yang mudik untuk berlibur (Baca: Katalog "Mencari Kemerdekaan di Hari Kemerdekaan" di https://issuu. com/maigezine/stacks).

Panggung apresiasi yang kedua, temuilah kesempatan itu dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an.

Setidaknya kawan bermusik Anda bisa diajak untuk mewakili kampung atau RT/RW-mu untuk membawakan lagu-lagu kasidah yang biasanya dimentori para guru mengaji atau bisa juga menemani langsung kemunitas ibu-ibu pengajian yang gemar menyanyi.

Panggung semacam inilah yang

rupanya mempertemukan pemain gitar dan pemain drum dengan ‘remaja kampung’ yang membuat kelompok musik dengan nama yang aneh: Aksesoris Band.

Panggung ketiga adalah arena bermain musik yang paling mudah dijangkau. Anda hanya menyewa tempat dan alat musik di studio musik bersama-sama.

Setidaknya cara ini bisa berguna untuk menyalurkan kesenangan bermusik Anda bersama kawan satu band.

Bila uang ternyata tak cukup untuk menyewa studio, biasa kita akan mencoba dengan cara patungan. Kadang bila alat instrumen kurang, bermain ganti-gantian tetap saja menyenangkan—di masa lalu, ada dua studio yang saya ketahui; lokasi pertama sebuah gedung mirip toko di sebelah kanan jalan raya setelah beberapa meter dari lampu merah menuju bandar udara dan yang kedua; sebuah ruang yang dihimpit mebel dan toko persis di perempatan Langka Kabe (nama studio saya sempat lupa dan mengira studio ini tidak

BAGI BUNYI BAGI CERITA

memiliki nama ketika tulisan ini diluncurkan. Belakangan saya baru tahu namanya adalah studio Eighty Five).

Berikutnya, panggung musik di salah satu bar yang cukup tua di pesisir utara kota yakni Paradise Bar Labuan Bajo.

Saya pernah membayangkan bagaimana bisa bermain di tempat ini. Meski belum pernah menemukan kesempatan itu. Remaja seperti saya akan merasa itu keren sekali. Pikiran itu muncul belakangan setelah kakak dari pemain keyboard dari kelompok musik kami pernah menjadi basis untuk homeband di tempat itu.

Di suatu waktu, masih di masa lalu, setelah bermain di acara lomba musik akustik yang digelar oleh sekelompok tim sukses (acara menjelang Pilkada), seorang drummer yang saya ketahui berasal dari bar itu tiba-tiba muncul dari arah penonton. Ia datang menghampiri salah satu dari kami dan menawarkan hal yang membuat saya iri. Rupanya dia

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

dan band-nya membutuhkan seorang pemain keyboard.

Saya tahu betul kawan saya ini lumayan alim hanya untuk menolak tawaran itu lantaran bila setiap pekan usai tampil, dia akan membawa pulang beberapa botol bir ke rumah yang bisa jadi itu terlarang untuk keluarga yang religius. Kendati pun saya dan dia tahu kalau skill bermain musik kami memanglah pas-pasan.

Seperti yang saya duga, kesempatan itu benar-benar hanyalah sebuah tawaran.

Bar itu memang menggoda. Panggung dan pencahayaan panggungnya juga instrumen musik beserta perangkat pertunjukan yang tersedia menjadi barang yang sempat saya anggap mewah. Pikiran itu menjadi ekslusif sebab perangkat musik (instrumen gitar dan bass elektrik, drum dan sound system) serta pendukung pertunjukan live music yang saya tahu di masa lalu hanya ada di tempat seperti itu di Labuan Bajo.

Anda dapat bermain di tempat semacam itu bila memang Anda atau kelompok musikmu dapat menirukan lagu-lagu berbahasa Inggris. Bermain

BAGI BUNYI BAGI CERITA

dengan persis seperti dalam kaset yang tersebar yang semua orang akan tahu bila Anda ketahuan berimprovisasi. Walaupun yang saya ketahui bahwa lagu-lagu berbahasa Indonesia dan lokal amat langka terdengar dari pengeras suara yang terpancar bila saya sedang nongkrong di lokasi yang dekat dengan bar itu. Mungkin sebab tamu mereka yang berkunjung bukan hanya pelancong lokal melainkan melayani wisatawan asing.

Suara musik yang dimainkan kadang dapat Anda dengar saat malam di setiap akhir pekan yang terpancar dari puncak bukit di tepi pantai di mana bar itu berdiri. Lagu-lagu regge sudah seringkali terdengar.

Di masa sekarang ini mungkin bisa menjadi pengeculiannya. Lagu-lagu dari Ivan Nestorman dengan berjudul “Mogi” yang amat populer itu misalnya.

Bagi saya, bunyi-bunyian khas Flores yang disuguhkan melalui lagu-lagunya, agaknya memberikan pengalaman mendengar dan bernyanyi kita yang terasa berbeda dengan lagu-lagu lokal yang biasa kita dengarkan. Jangan-jangan

BAGI BUNYI BAGI CERITA

ciutan “Salam Neo Tradisi” yang diunggah 31 Januari 2017 melalui akun twitter (@nestornation) untuk penggemar Ivan Nestorman ini bisa jadi penanda bahwa bunyi-bunyian masa lalu yang kita kenal memang telah ‘terbarukan’.

Apakah bukan hanya saya saja yang merasa bahwa bila memainkan lagu “Mogi” itu seperti meningkatkan kepercayaan diri saat menyanyikan lagu dengan bahasa sendiri. Bagi saya itu terasa akrab sebab lantaran lahir dan dibesarkan di daratan Flores. Meski sesungguhnya saya tidak mengetahui seutuhnya arti dan terjemahan syair lagu itu.

Padahal Ivan telah berkiprah di dunia musik bahkan sekira 20 tahun lalu. Selain belakangan, secara tidak sengaja, sebetulnya lebih sering saya berkunjung ke akun media sosialnya dan menemukan videonya di Yutube, musisi jazz papan atas nasional yang tampak akrab bermain musik bersamanya. Begitu juga Ia yang di kenal sebagai “Seniman unik dari Flores” yang membawa musik ciptaannya ke panggung Internasional. Tapi, lagu-lagunya bahkan seperti baru saja tiba di telinga kita.

Sependek yang saya tahu. Demikian kini kabar gembiranya ialah perangkat-perangkat dan kesempatan belajar, sekiranya untuk menemukan pengalaman apresiasi serta bercebur diri dalam belajar bersama, berbagi dan berkelindan bahkan mudah dijumpai di arena belajar komunitas orang muda di kota kecil kita ini.

Atau tidak menjadi pengecualian juga bila mengikuti ritme “kids jaman now,” bahwa Anda dapat menerima manfaat dari perangkat teknologi dan media internet sebagai alat bantu untuk mendapatkan bagaimana menjangkau dan menyodorkan kesenangan Anda.

Tetapi, bagaimana bila kesempatan semacam itu hanya tersedia di masa kini?

Tunggu dulu. Di masa lalu, kelompok musik kawanan ‘remaja kampung’ itu rupanya berencana merekam lagu-lagu mereka sendiri ke dalam kaset pita kosong yang didapatkan di sebuah toko kecil aneka elektronik Toko Tanjung di Gunung Laiba di batas Utara Kampung Air.

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Mereka seperti tampak serius dengan band yang mereka bikin. Sekira empat atau lima lagu berhasil mereka rekam dengan audio tape milik salah satu dari mereka. Lagu-lagu yang berisi tema kasih sayang yang amat galau, remaja yang tampak dirundung kasmaran.

Setelah tamat sekolah, mereka jatuh pada pilihan kuliah. Itu berarti memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman—di kabupaten kami belum ada kampus atau institusi pendidikan setingkat itu; kabar yang beradar baru akan dirintis sebuah kampus dengan menggunakan citra komodo sebagai nama universitas.

Sementara masih tak ada pilihan lain. Bila ingin kuliah berarti meninggalkan kampung halaman. Dengan begitu, band yang dibikin benar-benar hanyalah semata sebuah kesempatan dan kesenangan yang menghiasi masa remaja mereka bersama lagu-lagu kasmaran ciptaannya sendiri yang bahkan tak pernah sampai di telinga para pendengar.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

POSTER BY LUMISDSGN (2020)

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Dok. Drumband MAN MABAR INGATAN KOLEKTIF

Kawan Yang Terus

Mendentum- kan Bunyi

Catatan ini sudah pernah dimuat di blog Adenafirman (Dot) Wordpress (Dot) Com pada Juli

2018.
etika di sekolah menengah

Kke atas, saya pernah

merasa sangat yakin sekali bahwa bila seleksi untuk menjadi kelompok pemain drumband sekolah akan berpendar juga di tangan orang ini; dia-lah Siswanto Gunawan. Mengapa begitu? Bacalah paragraf berikut!

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Dia teman saya sedari kecil. Setahu saya sejak sekolah dasar, dia adalah bocah yang pendiam dan bahkan jarang sekali bercengkrama bersama teman kelasnya yang lain. Begitu juga sudah termasuk saya.

Kebetulan, kami memang berada dalam kelas belajar yang sama sampai kami menyelesaikan sekolah dasar. Tapi, justru menjadi sangat akrab untuk tahun-tahun berikutnya.

Bermain dalam kelompok drumband belumlah pernah terbayangkan bagi bocah seumuran itu. Apalagi alat dan kesempatan mendengar dan melihat langsung pertunjukan gemuruh bunyi drumband ataupun kombinasi musik semacam itu tidaklah pernah mengisi “pengetahuan mendengar” di masa kecil. Jangankanlah lagi alat musik lainnya yang memanglah betul langka wujudnya. Kecuali, Anda ingin membaca paragraf selanjutnya.

Setelah selesai sekolah dasar, kami justru bertemu lagi di sekolah lanjutan tingkat pertama, SMPN 1 Komodo. Namun kami terpisah saja ruang kelas. Dengan begitu,

BAGI BUNYI BAGI CERITA

peluang untuk menjadi sahabat karib belumlah begitu terjadi. Akibatnya, perihal tentang dirinya hanya tampil menjadi “kejutan” bagi saya sendiri dalam paragraf-paragraf yang berisi masa lalu ini.

Saya tidak pernah mengira dia bisa bermain gitar, sehingga dia menjadi salah satu nama yang sering disebut-sebut ketika pelajaran Muatan Lokal (Mulok) yang dihantarkan guru kami yang berdiri membawa pelajaran itu di depan kelas.

Dia bahkan menjadi salah satu siswa yang diberangkatkan ke ibu kota provinsi untuk satu event yang digelar khusus untuk sekolah setingkat itu. Mereka menjadi duta sekolah untuk pertunjukan musik lokal dan lagu lawas yang sudah diaransemen dengan gaya tersendiri untuk ditampilkan di Kupang. Sedang saya hanya ingin bermain bola kaki bersama tim kelas.

Mendapatkan kesempatan macam begitu amat keren bagi seumuran itu, kegiatan yang bisa jadi idaman- lah. Orang tua bisa dibuat bangga. Tapi saya tidak tahu kalau sekarang, ya.

Setahuku, memang dia salah satu nama yang bisa bermain gitar yang cukup diandalkan di sekolah. Dia gemar bermain gitar hanya dengan satu demi satu sentuhan nada saja, maksud saya dia suka sekali melodi. Tapi, sambil bernyanyi. Sering sekali saya temui dia memetik gitar dengan gaya semacam itu. Kepalanya juga sedikit dia angkat, tapi seakan sambil melihat sesuatu yang nan jauh di ufuk. Ini seperti berlagak pamer saat bernyanyi, tapi bukan, rupanya itu teknik dia mengambil nafas.

Menyanyi dengan sebuah gitar saja bagi saya tampak menawan, mendingan diiringi sentuhan manis dengan akor-akor yang biasa saja. Tapi, cara menikmati musik semacam dia itu menjadi terasa aneh saja bagi saya yang sementara itu baru belajar memainkan gitar.

Di sekolah yang dulu, siswa-siswi diuntungkan boleh membawa gitar ke ruangan kelas bila di hari tertentu mendapatakan giliran mata pelajaran Mulok. Ini bisa menjadi alasan yang saya kira menyenangkan bagi setiap peserta belajar yang ingin membawa dan jika punya alat musik sendiri.

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Ketika jam istirahat belajar sudah tiba. Jeda yang singkat itu menjadi kesenangan lain bagi siapa saja di antara para peserta belajar yang membawa alat musik ke sekolah. Begitu juga dia yang sering saya amati duduk bermain gitar di bawah pohon di halaman sekolah bersama teman-teman perempuan di kelasnya. Di dalam kelasnya memang lebih banyak jumlah siswi dibanding siswa.

Sampai di sini, cerita tentang dirinya dan drumband tidaklah bisa saya ceritakan. Yah, memang tidak ada cerita untuk itu di masa SMP. Lantas mengapa dia bisa membangun kepercayaan sekolah mengasuh dan membawa marching band sekolah hingga kini? Sampai di sini, saya harap Anda tak ingin meloncat ke cerita masa kini dulu.

Kalau saya tidak salah ingat, pengetahuan langsung mengenali drumband itu, saat kita duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama. Ketika saya hanya baru mengenal akor dasar gitar dan cara meniup suling yang terbuat dari plastik, juga saat saya lebih cenderung suka bermain sepak bola dalam perlombaan sekolah antar kelas.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Anto dengan trumpet di tangannya dan berpose bersama siswa (Dok. Drumband MAN MABAR, 2015)

Di situlah dentuman bunyi drumband pertama saya dengar. Kombinasi tabuhan yang kompak terpancar dari tentangga sekolah kita yang dekat, SMK ST. Ingatius Loyola Labuan Bajo. Yakni Lingkungan sekolah di seberang jalan yang dikenal memiliki fasilitas belajar yang memadai. Adalah penampil drumband pertama yang kita ketahui. Bila bunyi bergemuruh lagi di kala sore, maka pertanda latihan mereka sedang digelar kembali. Pemandangan itu sering terdengar katika kelas belajar sore ataupun jadwal pertanian (kerja bakti untuk membersihkan sekolah) diadakan lagi.

Tak ada imajinasi drumband untuk jenjang usia remaja kami. Gitar akustik standar masih menjadi

BAGI BUNYI BAGI CERITA

satu-satunya alat musik yang bisa disentuh dan dipelajari diantara teman-teman yang beruntung sudah memilikinya.

Di kesempatan belajar mengasah daya kreasinya, saya menyaksikan permainan gitarnya kian hari makin “gagah” saja. Sementara di dalam lubuk hati saya, ingin pula untuk terus melatih permainan gitar saya di mana dia-lah yang sempat saya anggap rival bermainan gitar.

Terus terang saja, saat itu saya tak ingin pula ketinggalan cara darinya. Begitu gairah jenjang usia remaja saya “membakar” keinginan itu. Walaupun kesenangan bermain gitar lantas membawa kami untuk bersama membikin sebuah kelompok musik. Itu terjadi di tahun pertama sekolah menengah ke atas, sekolah yang kini menjadi tempat dia menggawangi dan mengasuh ide-ide garapannya ke dalam kombinasi musik yang terus diperbaharuinya.

Ketika bersekolah, ruang kelas yang berdekatan membuat kita sering bertemu. Hingga tahun kedua pilihan jurusan kami juga sama, memilih kelas Bidang

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Berfoto bersama, drumband sekolah angkatan kedua di area parkir kantor bupati (2007)

Bahasa. Selain di luar sekolah pun kita nampaknya semakin rajin ketemu sebab kelompok musik yang begitu saja dibentuk. Sekawanan yang suka main musik yang akhirnya tidak pernah menampilkan dan membawakan lagu-lagu yang dibikin sendiri itu. Untungnya, mereka malah sering tampil dalam kelompok drumband sekolah.

Di tahun pertama kami sekolah, rupanya pihak sekolah kita telah memesan paket instrumen standar drumband. Itu menjadi tahun pertama grup marching band sekolah diinisiasi. Bersamaan pula pelatih muda yang didatangkan dari Kupang yang membimbing dan memberikan kesempatan latihan teman-teman dalam beberapa waktu.

Tiga tahun pertama, formasi pemain drumband untuk peniup trompet, duo Quarto Drum, dan satu penabuh Bass bahkan tak pernah tergantikan, semacam menjadi pemain tetap. Selain saya diminta menabuh di Duo Quarto Drum, salah satu diantaranya adalah dia yang meniup trumpet.

Anehnya, Anto satu-satunya siswa yang diperbolehkan membawa pulang satu alat drumband untuk dia latih di rumahnya. Bibirnya sering saya lihat pucat kehitaman. Juga, dia yang pernah mengaku suatu ketika perutnya terasa sangat perih, rahangnya kram sebab terlalu sering meniup trompet.

Tiga tahun berlalu, ketika angakatan kami akhirnya tamat sekolah. Barulah setiap tahun formasi pemain tetap itu menjadi terus terbuka, berganti- ganti menjadi bagian dari grup

BAGI BUNYI BAGI CERITA

itu. Rupanya tak lama, kabarnya dia lantas diminta untuk memandu drumband oleh pihak sekolah.

Saya yang terlanjur meyakini kejutan-kejutan darinya, mungkin juga bagi tim drumband kala tampil bahwa tiap lengkingan getaran trompet berbunyi, setiap itu pula semangat kian terbakar.

Siapakah dari siswa-siswi terpilih ketika tahap seleksi drumband pertama sekolah, bisalah jadi adalah diantara mereka yang diketahui mampu meletakkan keterampilannya bermain gitar atau menjaga tempo permainan sambil bernyanyi dengan akurat di lingkungan sekolah. Seperti halnya dia, sambil melantunkan melodi namun sembari terus bernyanyi. Maka, akan mudah bagi Anda untuk menjadi bagian dari tim drumband sekolah. Meski kadang-kadang justru karena ada siswa-siswi yang berprestasi dan punya gaya dan berdandan yang mencolok dibanding yang lain juga cenderung dikutkan ambil bagian.

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Soal itu tentu bisa menjadi hal yang biasa saja bagi masa-masa di sekolah. Mungkin bagi setiap siapa saja yang memahami kesenian musik kombinasi seperti demikian di manapun terjadi. Tetapi, saya seakan membangun pengecualian daripada seluruh paragraf di atas.

Bahwa bukanlah saya atau Anda yang lolos seleksi di sana, lalu dikemudian hari turut menggelar pula upaya yang sama menjadi pelatih drumband di tempat yang sama karena ketekunan. Sekalipun telah percaya diri bahwa Anda akan melaluinya karena memang saya atau Anda bisa.

Tetapi memutuskan dengan sadar demi menyerahkan diri kepada kesulitan yang beragam atau yang tidak pernah kita duga ialah pengecualian yang saya maksudkan. Bahwa bekerja dengan mengandalkan daya kreasi semacam ini seolah terus membahayakan diri sendiri. Sebab jika tidak, siapa pun Anda akan dituduh tidak kreatif. Bukan begitu?

) ( DRAWING BY FATMA ISHAKA

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

Teka-Teki-Santai

1.
2. 3.
4.
5. 6.
7.
8.
9.
10.

MENDATAR MENURUN
4. Covid-19 1. Gambar pulau dalam mata uang lima puluh ribu rupiah
5. Alat musik yang dipetik 2. Tarian perang Manggarai
7. Cabul (Istilah Labuan Bajo) 3. Lampu merah Labuan Bajo
8. Komodo 9. Alat pengatur tempo 10. Ketawanya orang Kampung Air 6. Tipu (Istilah Labuan Bajo)

TTS disusun oleh Zulkifli Madide @zulkiflimadide Olah Gambar oleh lumisdsgn @thelumis

Rilis Musik

Rilis Musik

NENGENG

Gabriel Nobear

"Nengeng", lagu ciptaan Gabriel Nobear berbahasa daerah Manggarai yang dirilis di kanal Youtubenya dalam bentuk video lirik pada 1 April. Lagu ini mengandung cerita jenaka dalam kehidupan sehari-hari di kampung halaman. Gabriel Reo @gabriel_nobear

TAKKAN TERGANTI

Dobbie Jacson

Satu judul lagu dari Dobbie Jacson ini bertema kerinduan dan ungkapkan perasaan bahagia kepada pasangan hidupnya. "Mungkin secara tidak langsung, mengahdirkan rasa syukur kepada sang khalik yang sudah memberikan pasangan yang luar biasa," akunya. Dobbie Jacson @dobbiejacson

BAGI BUNYI BAGI CERITA

BAGI BUNYI BAGI CERITA

Edisi 04, April 2020 | ISSUU #04

) ( DRAWING BY RAISHA AQILAH SALSABILA

Maigezine | Produksi, 2020