KAJIAN ISi NASKAH KUNO HIKAYAT SEUKREUET MAWOT DAN
HIKAYAT PUTROE BULUKEIH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PENGUNGKAPAN LATAR BELAKANG DAN KAJIAN ISi NASKAH KUNO
HIKAYAT SEUKREUET MAWOT DAN HIKAYAT PUTROE BULUKEIH
Ors. M. Alamsjah, B. ( Ketua ) Ors. Husni Hasan ( Anggota) Ors. Nurdin, AR ( Anggota ) 0 a r w i s, BA ( Sekretaris )
Penyempurna Ors. Rosyadi
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUD AYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NU SANTAR A
PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nu- santara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naska11- naskah lama diantaranya naskah "Hikayat Seukreuet Mawot" dan "Hikayat Putroe Bulukeih" yang berasal dari Daerah Istimewa Aceh Naskah ini berisi dua cerita, yang pertama cerita tentang maut dan yang satunya lagi berisi cerita tentang Putri Balkis yang dapat membunuh Raja lain di Kerajaan Yaman.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini ad alah nilai keagamaan, kepahlawanan dan nilai-nilai sosial yang dapat me- nunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. O!eh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.
Harapan kami, semoga buku ini dapat memberikan sum- ba ngan ya ng berarti da11 bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.
iii
Sri Mintosih NIP. 130 358 048
JENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya -karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggo ta masyaraka t un tuk me mperluas cakra wala pandangan- nya ..
Un tuk membantu mempermudah pe mbinaan sating penger- ti an dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat rnaje rnuk itulah pernerintah telah melaksanakan berbagai program. baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersum ber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada Ln1u mnya. Salah sa tu usaha itu adalah Bagian Proyek Peneliti-an dan Pengkajian Ke budayaan Nusan tara. Menginga t arti pentingnya usaha tersebut. saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Pengungkapan Latar Belakang
Dan Kajian Isi Naskah Kuna Hikayat Seukreuet Mawot Dan Hikaya t Putroe Bulukeih
Saya mengharapkan de ngan terbitnya buku ini. Maka peng- galian ni lai-nilai budaya yang terkan dung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di dae rah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan v
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya ke- lemahan dan kekurangannya yang masih terdapa t dalam pener- bi tan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Direktur Jenderal Kebudayaan
~/)
Prof. Dr. Edi Sedyawati
vi
PEN G ANT AR ........ .. .................. lll
SAM BUT AN DI REKTUR JENDERAL KE BUDAY AAN. v DAFT AR ISi vii
Bab I Pendahuluan ............................
1.1. Latar Belakang..... ....... ..........
I. 2. Maksud dan Tujuan................... 4
1.3. Ruang Lingkup...................... 5
1.4. Metode Pengkajian................... 6
I. 5. Pertanggungjawaban Penulis............ 8
Bab 2 Alih Aksara............................. 9 Bab 3 Alih Bahasa............................. 5 5 Bab 4 Kajian lsi Dan Nilai Tradisional Yang Terkan- dung Di Dalam Naskah.................... I 0 I Bab 5 Relevansi Dan Peranan Naskah Dalam Pembi- naan Dan Pengembangan Kebudayaan Nasional. 106 Bab 6 Pen u t up............................. 107 Daftar Kepustakaan............................. I 08 Lampiran-Jampiran............................. I 09
vii
| KATA PENGANTAR .. | iii | |
|---|---|---|
| SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN. | ||
| DAFTAR ISI | vii | |
| Bab 1 Pendahuluan .. | 1.1. Latar Belakang .. | 1 1 |
| 4 | ||
| 1.4. Metode Pengkajian. | 5 6 | |
| 8 | ||
| Bab 2 Alih Aksara. . | 9 |
PENDAHULUAN
Peranan kebudayaan daerah dalam pembangunan kebudayaan maupun pembangunan Nasional adalah sangat penting. Se- perti diamanatkan dalarn GBHN 198 8 bah wa pem bangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan budaya. Penjelasan di atas bermuara ke dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945", bahwa kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak- puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia ter- hitung sebagai kebudayaan bangsa". Upaya menggali kebudayaan daerah memerlukan data dan informasi selengkap dan sebaik mungkin, sehingga keanekara- garnan kebudayaan daerah dapat dipadu untuk mewujudkan satu kesatuan kebudayaan nasional. Unsur-unsur budaya inilah yang memberikan corak monopluralistik kebudayaan nasional Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Salah satu sumber informasi kebudayaan daerah terekam di dalam naskah kuno yang merupakan arsip kebudayaan yang mengandung berbagai data dan info nnasi tentang kesejarahan, nilai tradi sional, hukurn dan kebudayaan daerah umumnya. Naskah-naskah kuno memuat
50 tahun, berdasarkan Monumen Ordonansi STLB. 238. 1931. Jadi naskah kuno yang diteliti diterjemahkan dikaji dan dianalisa adalah naskah-naskah kuno yang telah berusia di atas 50 tahun. Kajian-kajian isi dan pengungkapan la tar belakan g isi naskah kuno telah mampu menguak tabir yang menyelimuti sejarah bangsa Indonesia. Di be rbagai daerah di Indones ia dan di Aceh khususnya naskah kuno masih memiliki fungsi di dalam masyarakat seperti misalnya Hikayat Perang Sabi! yang telah dapat membakar semangat masyarakat di dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dewasa ini naskah-n::iskah kuno itu tersebar di pelosok-pelosok, kadangkala tidak terurus yang dimiliki oleh pribadi-pribadi yang karena ketidakm engertiannya sebagai sum- ber informasi itu sepertinya terlupakan. Sebagian kecil dari pa- danya. orang-orang yang mengerti akan isi yang terkandung di dalam naskah kuno itu menye ral1kan ke museum-museum untuk disimpan dan dirawat. yayasan-yayasan dan pribadi-pribadi yang berminat menyimpannya dengan baik. Naskah-naskah ini umumnya ditulis dengan bahasa Aceh berhuruf Arab, sehingga suli t bagi ge nerasi muda untuk rnem- bacanya. Akibatnya rnereka tidak te rtarik yang pada gilirannya tidak mengerti akan isi yan g terkanclung di dalamnya. Ditinjau dari isi naskah-naskah kuno te rsebut mengandung ide -ide. gagasan gagasan, berbagai macam pengetahuan alarn semesta obat-obatan, sejarah ten tang al am semesta menurut per- sepsi budaya masyarakat pendukungnya. Tidak kurang juga mengandung ajaran agam a. filsafat, perundang-undangan. ke- senian dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai-nilai luhur. nasehat. heroisme yang dituturkan sesuai dengan tradisi masyarakat bersangkutan.
"Hikayat Seukreuet Mawot'" dan "Hikayat Putroe Bulukeih".
Hikayat Putroe Bulukeih di dalam naskah disebut Balkis. Sedangkan putroe artinya putri. Jadi hikayat Putroe Bulukeih menurut ucapan orang Aceh dapat diartikan "Hikayat Putri Balkis". Judul berikutnya adalah "Hikayat Seukreuet Mawot". Seukreuet artinya suatu keadaan yang mencekam saat-saat menjel ang meninggal. Sementara mawot artinya maut atau meninggal. Jadi seukreuet mawot artinya keadaan mencekam menjelang meninggal. Pengkajian ini dilakukan atas dua judul naskah dengan per- timbangan kedua hikayat tersebut merupakan satu kesatuan sehingga sulit untuk dipisah-pisahkan. Kedua hikayat itu berasal dari Kabupaten Pidie. Peneliti mengambilnya di Gampong Tan jong ( Meunasah Kaye Ray a) Kecamatan Bandar Baru ( lueng Pu tu}. Naskah ini kepunyaan Tgk. Abd. Wahab Ahmad. berumur 74 Tahun. pekerjaan tani serta pendidikan tertinggi- nya HIS dan Day ah (Pesantren).
Uk uran naskah 15,8 x I 0,8 Cm den ga n tebal 90 halaman. Kedua naskah ini ditulis dengan tinta hitam berhuruf Arab. berbahasa Aceh. Masing-masing halaman kebanyakan terdiri dari 13 baris dan ada pula yang terdiri dari 5 baris. Pada um umnya naskah di Aceh ticlak diketahui pengarang- nya. De mikian pula naskah ' 'Hikayat Se ukreue t Mawot'' dan " Hikayat Bulukeih" tidak diketahui penulis dan tahun penulis- an serta penyalinann ya. Tetapi peneliti me mperkirakan naskah in i sucla h berumur lebih dari I 00 tahun. Ini dibuktikan dari kertas yang digunakan dan penulisannya.
Nas kah ini sekarang oleh yang empunya diserahkan kepada Drs. Nurdin AR, Staf pada Museum Negeri Aceh yang menjadi salah seorang Tim Peneliti.
pen~mbangan adat istiadat serta kebudayaan pada umum- nya.
1.2 Maksud dan Tujuan.
1.2.1 Banyaknya naskah yang sekarang disimpan di rumah sebagai benda-benda pusaka turun-temurun kadangkala tidak dirawat. Padahal naskah-naskah ini terbuat dari bahan yang mudah rusak, baik dimahn bubuk, maupun suhu udara. Pada gilirannya hancur tidak dapat dibaca lagi serta isinya yang sangat berharga itu ikut lenyap pula. Penelitian ini dimaksudkan untuk menginventarisasi judul-judul naskah yang sekarang ber- ada atau dimiliki oleh masyarakat. Berangrnr-angmr dikaji dan diungkapkan isinya. Diharapkan dapat diterbitkan untuk di- salurkan ke tengah-tengah masyarakat.
1.2.2 Minat kaum muda untuk menjadi ahli pemaskahan sangat sedikit. Apabila orang yang bisa menulis dan mem- baca naskah secara tradisional kian berkurang dan akhimya habis, tradisi pernaskahan akan mati. Sedangkan sesungguhnya dalam tradisi itu terkandung nilai-nilai yang sangat tinggi dan amat bermanfaat bagi pen~mbangan kebudayaan nasional, atau sekurang-kurangnya menjadi perbendaharaan yang dapat memperkaya khasanah· kebudayaan daerah dan dapat memperkaya kebudayaan nasional.
1.2.3 Penelitian ini juga sangat penting karena dapat memberikan manfaat ganda, artinya di samping hasiln ya di- sebarkan ke tengah-tengah masyarakat, dapat memberikan pe- ngertian dan kesadaran bagi pemilik naskah agar naskah.-naskah tersebut disimpan dengan baik.
1.2.4 Bagi masyarakat yang men~rti isi naskah itu terutama generasi tua, karena mengandung nilai-nilai psikologis
peg;mgan hidup. Pada gilirannya generasi muda pun diharapkan akan tertarik pada nilai psikologis yang ter- kandung dalam naskah itu asalkan kendala kesulitan membaca aksara dapat diatasi.
t .3 Ruang Lingkup
Pembangunan nasional di dalam PJPT-I tidak semuanya berdampak positif, namun ada juga berdampak negatif. Hal-hal yang berdampak negatif misalnya pola hidup kosumtif pada se- bahagian masyarakat yang mengarah pada invidualistis terutama masyarakat di kota-kota, karena kota sebagai pusat interaksi masyarakat bukan tidak mungkin Gampong juga dapat dilanda hal serupa. Melebamya kesenjangan sosial dan melemahnya mental spiritual merupakan sisi lain dari perubahan masyarakat. Di samping menurunnya disiplin nasional dan masalah-masalah lingkungan hidup adalah masalah-masalah yang harus diantisi- pasi sejak dini dalam men ghadapi PJPT- II. Bagi Dae rah Istime- wa Ace h hal-hal yang menyentuh nasi onalisme dan heroisme yang merupakan ciri khas masyarakat dikembangkan untuk mengisi dan menggerakkan pembangunan nasional. Oleh karena itu naskah kuno yang digarap seyogianya mengandung nilai budaya yang dapat mencegah melebamya jurang pemisah antara kaya dan miskin dengan mengembangkan semangat kesetia- kawanan sosial. Dal am hubungan ini banyak di antara isi naskah kuno yang memuat tentang tata krama pergaulan hidup yang berlandas kan aja ran-ajaran agama. seperti sikap berusaha untuk me wujudkan kesejahteraan, sikap tolong menolong dan kegoton groyongan yang telah berkembang sejak lama. Tidak kalah pen tingnya naskah yang mengandung kesejarahan yang meliput nilai kejujuran, kegigihan dan kepahlawanan. Disamping itu naskah kuno yang digarap meng;mdung nilai budaya yang mencenninkan manusia yang tekun bekerja, dapat mengendali- kan diri, mempunyai jiwa pengabdian, mempunyai budi pekerti luhur dan kepemimpinan yang arif bijaksana. Oleh karena itu pemilihan kedua judul ini mempunyai relevansi dengan ruang lingkup kajian yang disebutkan di atas. Pada umumnya naskah
Pengkajian
Untuk melakukan penelitian dan penerjemahan serta penga- nalisisan isi naskah kuno digunakan metode analisis isi. Sebe- lumnya peneliti melaksanakan usaha-usaha inventarisasi naskah kuno, kemudian diseleksi guna menentukan naskah mana yang digarap, sesuai dengan kepentingannya. Naskah yang digarap belum pernah diteliti maupun dikaji secara tuntas. Pemilihan naskah ditetapkan yang paling tua, yang paling lengkap dan huruf-hurufnya masih jelas dapat dibaca. Setelah penetapan judul dilakukan kegiatan berikutnya adalah transliterasi ke dalam huruf latin, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya dikaji dan dianalisis latar belakang dan isinya yang dikaitkan dengan berbagai kegiatan sosial, ekonomi dan keaga- maan sesuai dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam rangka usaha pengkajian isi naskah kuno di Daerah Istimewa Aceh dilakukan beberapa tahapan kegiatan sebagai berikut :
1.4.1 Tahapan Persiapan
Kegiatan yang rlilakukan pada tahap ini antara lain :
a. Pengarahan pada tim peneliti.
b. Menyeiapkan pedoman penelitian dan study kepustakaan.
c. Inventarisasi naskah, seleksi dan penetapan judul naskah.
d. Menyusun daftar kepustakaan.
e. Menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh tim peneliti.
f. Dan lain-Jain yang berhubungan dengan persiapan.
Pada tahap ini tim menyiapkan pedornan penelitian dan melakukan studi perpustakaan untuk mengurnpulkan infor- masi atau data-data yang diperlukan. Kegiatan ini mernerlukan waktu dua minggu sejak minggu ketiga sampai dengan minggu keem pat Nopernber 1992.
1.4.3 lnventarisasi, seleksi dan penetapan judul naskah. Pada tahap ini semua data ten tang naskah kuno dikurnpulkan, lalu diseleksi dan ditetapkan judul yang akan dikaji. Kegiatan ini m embutuhkan waktu lebih kuran g satu minggu yaitu pada minggu pcrtama bulan Desember 1992.
1.4.4 Transliterasi dan penerjemahan. Setelah ditetapkan judul yang akan dikaji kemudian nakah ditransliterasi atau dialihaksarakan ke dalam huruf latin berikut nya diterjemahkan ke dalarn bahasa Indonesia. Se telah pekerjaan ini selesai dilak ukan analisis. Kegiatan ini mem bu- tuhkan waktu dua bulan, yaitu sejak minggu kedua Desember 1992 sarnpai dengan minggu kedua Februari 1993.
I .4 .S Tahap evaluasi laporan.
Kegiatan pada tahap ini ialah rn e ngevaluasi semua draf laporan. Ben tuk ke giatanny a adalah: disk usi final. perbaikan redaksi, mendesain kulit, penggandaan dan cetak. Kegiatan-kegiatan ini membutuhkan waktu selarna dua minggu sejak minggu ketiga Februari 1993 sampai dengan minggu pertam a bulan Maret 1993. Laporan penelitian ini disusun dengan menggunakan sistim digital. Dengan Demikian penyusunan seluruhnya diperinci da-Iam enam Bab, sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, yang isinya menyangkut Iatar belakang
V Bab ini mengkaji relevansi isi naskah dan peranannya dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan na- sional.
Bab VI Kesi mpulan dan saran-saran merupakan hasil atau ke- simpulan dari kajian isi naskah.
1.5 Pertanggungjawaban Penulisan Untuk memperoleh data yang dapat dipertan ggungjawabkan tentang naskah kuno. maka tidak terlepas dari inventarisasi naskah-naskah kuno. penyeleksian judul naskah dan isi yang rele- van untuk dikaji. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Kecamat- an Bandar Baru. ( Lueng Pu tu, yaitu Gampong Tanjong a tau se- karang disebut Meunasah Kayee Raya di Kabupaten Pidi. Penelitian dilakukan pada Museum Negeri Aceh, lembaga-lembaga dan pribadi-pribadi yang diperkirakan atau dike tahui menyim- pan naskah-naskah kuno. Kegiatan ini dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari: Ors. M. Alamsjah B, Ors. Nurdin AR. dan Oarwis, BA.
I teuseubot nilam firman Allah, narit
nyang indah sit mulia I meujampu ngon hadih Nabi, tango beusare dumna gata I nyoekeu kisah yoh jeued mawot, nyan teuseubot lam calitra/ neupeujeued sidroe malaikat, rupaji hibat sit thatraya/ nilanget kon troih u bumoe, mawot sidroe nyang that raya/ nyan ngon gagah amat
sangat, lagi kuwat ngoy peurkasa/ neuboh rante tujoh ploh ribee, sit lam teunte Allah Ta'ala/ neuraya rante bukon bubarang, ngon peunanyang si antara/ tujoh retoih thon peurjalanan, peunanyang rante nyan ban si neuna/ meunan neuproe hay keubeusaran, peurintah Tuhanteu nyang esa/ yoh masa nyan sit ka keuh leumah, lam peurintah Allah Ta'ala/ neuboh ngon dindeng siploh katoe, hantam sidroe na eu rupa/ malaikat meuribee-ribee, han sidroe thee mawot neupeuna/ pihak baten lorn teu buni, gohlom neubri ji eu rupa/ teumpat jihan meukeutahuan, keudeungaran meung suara/ masa neupeujeued Na bi Adam, dua ngon tuan Siti Hawa
yoh yan mawot neupeuleumah. teugeudi Allah neupeunyata/ bak izraiy firman Allah, poteu Allah neume usabda/ mawot jinoe kukeubah bak kah. goga izraiy pe u- eklc seum bah h u bak Allah nyang that 111 ul ia / Ya Tuhanku nyangka tase ubot. toh beu mawot ya Rabbana / hamtom lagoe na neudeungo, hana teu sidroe dilee nyangka/ toh beu mawot nyang tapeugah, tapeule umah meu eu rupa/ tronkeu firman nibak Halarat. habeh meu sambat tiree dumna/ teubuka tiree siploh katoe. m awot sidroe leumah nyata/ habeh teukeujeot malaikat, ji eu mawot hibat rupa/ lhe uhnyan mawot neuyue teureubang, rasa meuguncang alam donya malaikat. ji eu ma wot hi bat rupa/ lheuhnyan mawot neuyue teureubang, rasa me uguncang alam donya malaikat habeh pangsan, han jitujan teungeut
Ion ma wot sidroe. lalu jimeuhey meugeumpita/ keekeu ma wot nyang tueng nyawon g, ge unap gampong habeh dumna / kupeucre aneuk keupiatu, tinggay judo ngon rumoh tangga / habeh kupe ucre aduen ngon adoe. han meusidroe teugoh se utia/ habeh kupeucre nyangjudo, teumango-mango tinggay esa/ han leubeh bak kee sidroe, lam ke ureunda be usoepi kumita / lorn te useubut lam riwayat, malek mawot nyan pe uet muka/ meunankeu khulukji teuteuntee. di bak ul ee saboh muka/ ngoy nyan jitueng nyawong nabi, malaikatpi sare
manusia/s:t:ej keu u nap Malek Mawot, ji-eu geusurat sipeu tanda/ leumah bak surat kakeu meusoe, peuet ploh peuet uroe treut lam donya/ dua titek srej diyub Arasy, ji-eu le pantaih sigra-sigra/ nyan keu peurintah
MawoL bak ure ueng nyang sukreue t jipeuteuka/ saja teudong di hada pan, rupaji nyan ureueng nadeu 'a/ soe beu teudong di nab ku nyoe. peue be uet keuh keunoe kapeuteuka/ maka seu-ot
Malek Mawot, kah katok had teuka masa/ kupeucre aneuk keu piatu. tinggay judo ngon rumoh tangga/ arta kahimpon jimeubuleueng, habeh kajiteueng keu pusaka/ ban jideungo narit meumeunan, jipaleng keu tuan droe ngon muka/ ho jipaleng ho jipandang, Mawot teudong ho jihila/ beu habeh tatuntut nyan bak sukreuet, bak han le that kabinasa/ nyan teuseubut yohmasa sukreuet, jinan le that teuka cuba/ yoh masanyan teuka ceetan, jipeucaboy iman dum manusia/ jipeucaboy sangat gundah, jiyue takubah ngon agama/ baksit kakeumeueng keumudahan, kakheuen keu Tuhanku nyan dua/ nyan keu bahaya nyang that sangat, iblih laknat jipeudaya/ ie pihade jiba sajan, yoh masa nyan that bit dahaga/ hateji peudeh
sisat. jihkeu umat nyang ceulaka/ jitrenkeu teuma Male k Mawo t, Malaikat azeueb sajan seure uta/ jiteueng nyawong ureueng nyang maksiet, peudehji sangat han teuceurita/ jipeu-ekkeu nyawong nibak teL1-ot, teLllheueh nyan LI pL1sat ma LI dada/ troihkeu nyawong ubak haleukom. sinankeu meuhimpon sikutika/ ere keunyawong nibak badan. jiba le sajan bak Hak Ta ' al a / jijak bak Malaikat azeueb. maken sangat that keLlnong seksa /
seubab mate jih lam taqlid, nyawong jiteubiet lam anggeeta/ ureueng nyan mate la-eh iman, ileymeeji tan na sampureuna/ miseue kameng geupluek udep-udep, meunan jigareb sangat seksa/ ji peuseumah le bak Halarat, nyawong simaksiet nyang seulaka/ trenkeu fireuman nibak Halarat, sigra ka-intat hulam donya/ troih keu nyawong bak badan manyet, yohnyan nilanget tren suara/ kadeungo kay aneuk Adam, uroe malam kah lam lupa/ kaseutot donya geunap uroe, mate kah keudroe dilam deesya/ keu seumbahyang keu ka-ingat keu ibadah that kalupa/ donya kaikot kakeu tinggay, toh keu beukay nyang na kaba/ areuta kahimpon kakeu tinggay, jinoe kah rugoe dilam donya/ jinoe tinggay adeuen ngon adoe, kahkeu sidroe jinoe geuba/ habeh keu haba geupeudapat, manyet pithat duka cita/ yohnyan
manyet kateuhanta, dong meulingka dum ceedara/ peunoh keu rakyat di ulee di kaki, jimoe dum sare tuha muda/ladom damoh bakji seubak, hareuem meuteulak bak hak Ta'ala/ Malek Mawot dong di pinto, ji-eu laku rakyat dumna/ pakon beukamoe dumna rakyat, pakon sangat that bit duka/ hana sidroe kah
kureueng umu, pakon syeungoy duka cita/ han
sidroe kah kureueng keuseuki, pacon kamoe soe anianya/ beukit kamoe kareuna kee sidroe, kucok nyoe han ngon karonya/ beukit kamoe kareuna ureueng nyang mate, hanle reuseuki dilam donya/ deumi Allah dum tamate, dum teusara geuteueng nyawa/ meunan heuproe hay keubeu saran, teukeudi Tuhan nyang kuasa/ habehkeu haba.
lalu jiseurot sigra / saboh pasay diureueng lakoe. ngon jipoh droe lorn poh dada/ jipriek ngon ij a jiplah ngon bajee. jitok ul ee lorn poh dada/ rasa jila wan y ohnyan Tuhan. jiteueng ngon leumbang alat se uny ata / yohnyan ga doihkeu akay. kakeu zaway ngon bicara/ meunan keu fi-e ureueng nyan g sisat. sapat-sapat di lam dada/ nyan keu ureueng nyang kalham im an. yoh masanyan pungo gila / yohnyan m anyet geupeumanoe. kakeu hase dum ceedara/ jinan jingo ul eh manyet. nyan nilanget tren suara/ kadeungo hay aneuk Adam. jinoe kawom keu srah m uka/ toh beu jaroekeu nyang kuwat. di lee kah that bit peukasa/ pakon jinoe habeh lam bat han
sapatle na meuguna/ toh be u lidah nyang fasihah. dilee kah that bijaksana/ p akon jinoe kakeulu lidah, han sipatah na suara/ toh beusahabat handai teelan, toh beurakan yoh dilam donya/ jinoe h abeh Jagoe kacre, han sidroe le nyang na seutia/ ka hase ie geupeurnanoe, alat di hasoe geucok dumna/ geucok teungkulok dibak ulee, ija ngon bajee geucok dumna/ yoh masanyan manyet that jigareb. nisrek u m eugreb tango suara/ soe beusaleh peu menoeku nyoe, tanna Jagoe meuseuksama/ pakon tareuntok alat di hasoe,. saketku nyoe han teu ceurita/ nyang han deungo jig~ueb yohnyan, meula-enkan jen ngon manusia/ geucuco ie geupeumanoe, geu-uet
akhirat. geujok
bak teumpat haru hara/ han kawoe le nyan kah keunoe, kajak siseuen ngoe seulama-lama/ geupeutren manyet nirumoh inong, jinan keu nyawong meusuara/ na tadeungo dumna sahabat, kee nyoe bek that pantaih taba/ yohnyan geupeudeuek manyet di leuen, lalu jimuhon bak rumoh tangga / na tadeungo dumna teutuan, kupeumeusan he ceedara/ tinggay aneuku piyatu, tinggay judo ngon ru moh tangga / wahe aneuk tangke hate, bek kameupake ngon ceedara/ areuta kutinggay aneuk kameubuleueng, bek kameutampeng ngon ceedara/ bek keutuwo keukee sidroe, beugeunap uroe kala kee doa/ uroe malam aneuk kaleuengjaroe, nyan bak
I bak sis euen
nyoe habeh geupulang, bukon beubarang gata hina/ ji apet ngon kubu gata that gundah, miseue peuneurah ngon klaih tuha/ habeh meureumbeuej sipa nyangbe. peutoih ngon awe dum binasa/ habeh teugeuncot hasoe nilam klaih, kareuna geutamah
Potallah neubri izin, yohnyan jitron u lam donya/ kakeu leumah ji-eu kubu, ngon kulet lhu dum barangna/ ka ile nilam babah. peunoh kalimpah dum bak suka/ nyawong pijimoe amat sangat, keu
tuboh that jimeuncinta/ jipeuraple ubak kubu, nyawong pi syeungoy dukacita/ wahe euntong badan nyang gareb, wahe nasib badan nyang hina/ yohna udep hana ingat, nyoekeu teumpat keusakitan wahe peucintaan lam seungsera/ nyoe keu teumpat nyang that seusay, gadoih akay ngon bicara/ nyawong pijiwoe teuma ninan,tinggay badan dilam duka/ geunap umu limong uroe, ny awong !om lagi jiemeucinta/ jipeuseumbah bak Halarat, jijak eu jasad pakri rupa/ Po teu Allah Neubti izin, lalu jitren hu Ian donya I jikalon teubiet nilam babah, nanoh ngon darah meubura-bura/ teubiet lam babah nilam hidong, ni!am geulingyeueng punoh mulut meubeuranga/ nyawong
pi jimoe amat sangat, ji-eu keu jasad kabinasa/ wahe jasad lam peucintaan, bukan keuhinaan that bit gata/ masa dilee han ta ingat, jinoe keu ulat peubinasa/ kulet ngon asoe habeh jipajoh, jinoe kareuntoh dum anggeeta/ nyawongjimoe teuma ninan, tinggay keu badan lam binasa/ umu tujoh uroe, nyawong lam lagi jimeucinta/ lorn jimeuhon nibak Tuhan, jijak eu badan pakri rupa/ sajan troih nyan bak kubu, ji-eu hanco dum anggeeta/ jiteuka nyawong that peucintaan, ji-eu keubadan kabinasa/ he beuaneuk ayah tuan, ho beurakan dum ceedara/ aduen ngon adoe gampong laman, pakon beu jinoe han jicinta/ masa dilee
maksiet, nyawong pithat dilarn seksa/ ge uboh bak badan unggai h nyan g hi tarn. jipo le lan am lam neuraka/ keu makanannji boh zaqorn keu rnin oman ie teumbaga / jideuek keutuan bak buket Sijjin, teumpat rn e uneu-en gunong neuraka/ saboh fasay nyang meumfeu-at. kubri in gat dumna gata/ beuta ingat durnna sahabat. ny.ang me um fe u-at beuna keurija/
seupeurti ban hadih Nabi, durn beusare neuyeue keureuja/ nyan g meudharat bek tapeubuet, nyan tateebat keu beusigra/ pakon beu-o teu bak taseumbah Tuhan, nyan nibak tan ka Neupeuna/ Neupeuleubeh gata ensan, nibak nyang la-en sit that mulia/ Po teu hanta langet ngon beumoe, kon ge utanyoepoteu peuna/ Heupeul eubeh nyan nibak laen, Po teu/ peutren hulam donya/ po teu peujeued keu khalifah, sit that indah di ateueh donya/ Poteu Neubri taja rajaan. Neubri lawan rn euseusuka/ ka Neubri nyawongteu ngon hayawat, Neubri jasad teumpat rupa/ Neubri hidong teu ngon babah, Neubri lidah ngon juru bahasa/ Neubri geulinyeueng ngon tame ungo, ngon tameu-eu Neubri mata/ Neubri jaroe teu ngon gaki, Neubri hate ngon bicara /
"Thalabu '1-ilmi faridhatun 'ala kulli muslimin wamuslimatin", tuntut ileumee droe sit peureulee, tameu guree dumnagata/ ureueng lakoe ureueng binoe, tameureunoe dum tuha muda/ beukit tabuka yoh masanyoe, page deudoe dilam teunuha/ ngon badanteu ka leumbot, lagi
lorn ngon akay teuka zaway, ngon peuneungo inga-inga/ seubab badan di idan-idan, gadoih keutahuan ngon ke ukira / na meung bacut takeumeueng teuntut, troih si jeum-at takeu kira/ tajakkeu jinoe tameureunoe, dumna geutanyoe tapeusigra/ ta-ibadat keu beukuwat, nyan tateebat dumna gata/ beutagaseh keusewnbahyang, uroe malam bek talupa/ beukit tan taibadat, gadoih peungingat sia-sia/ bak han dilee t ~ibadat, deudoe gata that keunong seksa/ di akhirat seksa sangat, nyan seubab that darohaka/ dumna teu tuan ta seumbahyang, beuna meurijang ampon deesya/ keu ibadat beutagaseh, amay saleh beutakeurija/ si-uroe simalam limong watee, sunat peureulee beuhabeh taba/ laen nibaknyan
tabaca Qur'an, beuleuen Ramadhan tapuasa/ zakeuet ngon pitrah nyan pi tabri, ta-ek Haji soe nyang kuasa/ rukon limong wajeb ta tanyong, nyan keu bulueng Iseulam dumna/ laen nibaknyan taseubot kalimah. keu Patollah bek talupa / masa taduek masa tadong, tapeuteudong nyoe dua/ keu Patollah beuta-ingat, Nabi Muhammad bek tal upa/ beureukat syeupeu-at Nabi Muhammad, tapeuroleh rahmat dumna gata / Nabi Muhammad leubeh that sangat, kaseh keu urn at si ttan tara/ seupeurti ban firm an Allah, dum neupeugah ubak gata/ hana teubuni barang ileumee. dum neubri thee neucalitra/ Nabi Muhammad sit that beuna, hana dusta/ neuyeue tasyuko nyan keu Tuhan. nikmat irnan tapeumeuseura/ beutatakot bahaya mate, nyan bek aniaya/ peukeurjaan
Puteu Allah yang neukalon. Neupeu-arnpon barang deesya/ beukit mate dilam ta-at, donya akhirat bahagia/ beukit mate dilam maksiet. donya akhirat sit ceulaka/ nyankeu mate beutaturi, bak sudahri tapeucaya/ nyan tatuntut ubak guree, beuna ileumee nyang seumpureuna / beukit na base keuleung- kapan, barang kajan jitren neugisa/ hase nyawong beutaturi, beuhabeh sri tapeureksa/ keutika had nyan bak
seukreuet, Malaikat peuet yohnyan teuka/ troih keusidroe malaikat, kee keu sahabat asay mula / kee keu nyang peutimang reuzeuki, manyet ngon le lam kukira/ jinoe kahabeh beukay reuzeuki, han sapatle dilam donya/ teuka sidroe treut malaikat, dilam khitrnat dua nyangka/ saj an troih bak aneuk Adam, meubri seleuem nyang seujahtra/ kee nyoe sidroe malaikat, kee sahabat nyang peutama/ kupeutimang keu minuman, barang nyang ie dilam donya/ bak siseuen nyoe habeh minuman, tinggay teukeudi Tuhan seb dum nyang ka/ teuka sidroe treut malaikat, dilam khitrnat teulhee keu nyangka/sajan troih bak aneuk Adam, meubri saleuem nyang seujahtra/ kee nyoe nyoe sidroe malaikat, kee keusahabat amay mula/ kee keu nyang peutimang nafaih, peutimang habeh lam anggeeta/ bak siseuen nyoe habeh
de, jinoe tinggay bak Hak Ta ' ala/ jibri keu jaweueb uleh nyawong, Malek Mawot teudong sikutika/ beukit nyo gata nibak Halarat, toh alamat kakeutaba/ masa away Neupeujeued kee, Ne upeutamongku dilee lam angeeta/ hana sidroe nyang na seksa, toh beu janji nibak Ta'ala/ Malek Mawot woe u Halarat Allah, jipeuseumah sigra-sigra/ kujak teueng nyawong ulon sidroe, tahat bit reugoe jibri dakwa / beuna jinarit ulonkeu nyan, pakri beutuan tabicara/ Jeumah rupa laysa kamislihi, pakri beutuan tabicara/ leumah rupa Jaysa kamislihi, nyawongpi beurahi dilam dada/ nyawongjiteubiet dilam badan,jipeumeuesan bak anggeeta/ me um beuri leungkap jasad, jipeugah am anat sump ah seutia/ kee nyoe Jeupah bak siseuan nyoe, di akhirat deudoe bek talupa/
hade jitanyong man rabbuka/ soe beu Tuhan toh beu Nabi, jitanyong sri peue agama / jitanyong imum teumpat kiblat, jitanyong soe beu ceedera/ lalu jijaweueb ngon lidah nyang paseh, narit nyang saheh ma jibuka/ Allah Tuhan Muhammad Nabi, Iseulam jikheuen nyan agama / Qur'an imum kakbah kiblat. umat Muhammad dum ceedara/ nyan keu !seularn dumna mukmin, nyan ke u kawom dilam donya/ meunankeu feureuman nibak Tuhan, be una keu ulon kubri dakwa/ ulon keu nyoe sit that saleh, nyanke u yang sah hasoe syeureuga/ ulon keu nyoe sit that ingat, lam ibadat nantiasa/ ulonkeu nyoe sit that saba, buet nyang beuna dum jimita/ kaneuyue ba
ke_u reuncong nyan di gaki, di sapay le panta naga/ kilat baho ji meusimplah, rupa ji indah sit tan tara/ geuboh di reukueng biramani, dum meusudi ngon mutia/ peunoh keu euncien dum di jaroe, patam di bak dhoe ji meucahya/ ngon samlakoe bukon beubarang,
miseue buleuen trang teungoh peumama/ yoh nyan manyet ji meu tanyong,. soe beuteudong samlakoe rupa/ han tatusoe ulon te u nyoe, kucre meunoe dengon gata/ kee keu amay teu nyang saleh. nyang that tagaseh meuseutia/ bit na ceedara teu di ateueh bumoe, hana sidroe nyang na seutia/ nyan keu balaih ta ibadat, karonya alat nilam syeureuga/ nyan keu balaih ta-ek haji, keureuncong di gaki geukaronya/ nyan keu balaih taseum bahyang sunat, di sapay keu alat panta naga/ nyan keu neuboh simplah. tanda Allah natiasa/ nyan keu balaih that tabakti, biramani neu karonya/ nyan keu balaih euncien di jaroe, reuroe taba ca do-a/ nyan keu balaih cahaya di dhoe. tasujud reuroe bak musalla/ nyan keu alat ta keureujeuen.
"Wa kafa billahi syahida, wallahu yuhibbul muhsinin, wal mukminina ghafura", teuseubot nilam Quranul Karim, seugala mukmin arnpon deesya/ habeh kisah haba mawot, tanda kiarnat meuceulityra/ tamat hikayat cara Aceh, haba saheh kucalitra/ tamat hikayat bak buleuen Rabioy Away, jinankeu asay mula rahasia/ tamat bilkhayri.
Putroe Bulukeih
Ajayib subhanallah, tango ku kisah kucalitra/ bahasa Arab dilee lafay, pueh takeunay habeh makna/ deudoe nibak nyan bahasa jawoe, soe han teupeue han that me uguna/ jinoe kukisah ngon bahasa ·droe, saleh nasoe galak baca/ geunantoe ta meubeurakah, tango kisah kucalitra/ Amma bakdu keumudian nibak nyan, tango keu tuan kucalitra/ tango haba putroe Bulukeh, kisah habeh asay mula/ putroe zameun di nanggroe Yaman, tuan putroe nyan ureueng riba/ bundaneu tuan aneuk raja jen, ayah neuteuma aneuk manusia/ ccuco Umrah aneuk Dusyarah,
Siti Umrah geuboh nama/ aneuk pi saboh si droe tunggay. sabet keu nyan saboh tanda/ neurasi nan putroe Bulukeih. that bit areh panyang bicara / that meutuah tuan putroe, akhe deudoe neu te umee raja / neumeunan ayah panglima Dusyarah, hulee balang meugah that bak raja/ le kheurajeuen raja sureujoe. raja meu-ujoe si asoe neuraka/ jikeurajeuen di naggroe Yaman, di nanggroe nyan dijih istana/ nanggroe pi rame ureueng pi le that. nan pi meuhat geuboh nama/ peurtama Yaman ke udua Dhaknan. keulhee geupeunan nanggrroe Saba/ rakyat that bahra di nanggroe Yaman, mideuenji teuma luiah raya/
ureueng nanggroe meukeukatoe, sit tan sunyoe keunan teuka/ keunan meuhimpon dum jimeu-en, rame peukan mideuen raja / nyan keu raja teulalu kuwat, dumna rakyat ji aniaya/ dumna rakyat jipeutakot, gob jireubot jitueng hareuta/ jipeu-adat saboh peukeujaan, roh-rok zameun han jilupa/ ji-yeue tueng aneuk ureueng binoe, sigala nanggroe dum jiyue ba/ patna aneuk nyang goh meujudo, meunankeu napsu jiyue mita/ meunankeu nap suji nyang khabeh that, jiyue sasat sigala donya/ jiyue pileh bak huleebalang, yang seudang-seudang muda/muda/ keutika had uroe jeum 'at, geujak peu intat ubak raja/ sajan katroh keunan teulheueh jiseuteuboh
| ~~·-....fi.adhe.,.jituengJiik~ u~uengmuda / | ||
|---|---|---|
| __ | : :·; | |
| (·. -:,~·_·{\ ! : .:f '~.| | !•......t~..(....~r -' |
-:~:~·.:.:.: ~::~: ": ',; \'·! l
f 1 ~ ~· ~ ,!
. 4. (' '
· ~· ~'.'l~~~~re~~~~~-~£ihf~
g;ita / ulonteu bek that tapeureukab, pike seukeujab tuan panglima, nyan keu teungku geujak ge udong, hireuen
Um rah geuboh nama/ na meurupa samlakoe hana la wan, han sipadan ngon jen rim ba/ kulet leucen tuboh peungeuroe, mee talhoih droe Jeumah muka/ nyan keu jen ny ang samlakoe, puja putroe tuha panglima/ neumeu- aneuk raja jen pi na sidroe, ureueng binoe sit jroh rupa/ neurasi nan Siti Umrah. sit nyan saboh tan ceedara/
badan je ujang diri seudang, na ban bin tang di uadara/ paleuet gaki ji that Jipeh, diri ji beuteh tron pisa/ punggong anggon keu-ieng sedang. troih u manyangri geuputa/ sapay bulat ri geurawot, aneuk jaroe cit ri ge ujangka/ tuboh meulu-lu ban bintang timu. ban panyot hu tujoh mata/ nyankeu tuan putroe. meukawen deudoe ngon panglima/ uroe pika akh e asa. neuteumeung bungka tuan panglima / neteumanyong ubak lasyka. neutanyong khaba peue bicara/ geutanyoe uree te uka seupot. uroe nyoe padot teuka seunja/ bah gata d um ny an di sinoe. bak malam nyoe dalam rimba/ peue neutanyong tuanku bak kamoe, ban nyang takheuen dum meurila/ ohban neujak sajan rakyat, neumita teumpat ne ume use unia/ neupeuteupat
rot panglima, neubloh uteuen ulam rimba/rot pi teupat lanja neujak, seun seureuta meureumpok kayee raya/ neutangah u manyang langet han leumah, rasa han basah ujeuen teuka/ sinan neupiyoh neumeuteudoh, neu-eh di yup kayee raya/ kayee raya manyang beuna, meupet teuma si rimueng teuka/ teuka rakyat pi ji-eh dum, teudu-du di yup beuna kayee raya/ uroe pi malam sepo seupeuet. that meukulumat leupoih isya/ lalu meusuara jen lam uteuen, meubunyoe-bonyoe dum-dum anika/ seuteungoh ri seupot geundrang, peh ngon canang alat raja/ ladom meuhareubab ngon keudangdi, seupot keucapi su nakara/ mong-mong ngon canang meugurancang, ngon ngon geundrang bunyoe suara/ ladom bunyoe ureueng meunyanyi, rame bunyi suara
reupana/ ladom bunyoe ureueng meudangdi, bunyoe rame di lam rimba/ lalu meusuara sidroe ceetan, bunyoe jiban teuga raya/ habeh teukeujot dumna rakyat, kuyuet teumakot ngon panglima/ pluengkeu rakyat jak peuhaba jidong lingka tuan panglima/ keudeh tuanku taminah, ninoe bak teumpat nyoe tameuseunia/ kareuna teumpat nyoe teumpat iblih, han jeud ta-eh jipeubinasa/ teuka seuneu-et panglima Dusyarah, bek tangundah dumna gata/ talakee idin bak ureueng po teumpat, geutanyoe sisat meureuraba/ tuan panglima lakee idin, nyan ubak jen di lam rimba/ tapeu-idin tuan teumpat keu kamoe, meu kheuheudak piyoh droe meuseunia/ kamoe nyoe tuan bek tacaboy, ineuturot fi-e ban digata/ ohban rakyat
hankeu soe eh tuan malam nyoe, kuyue meunyanyoe ban digata/ ohban rakyat neuyue meunyanyoe, kiam bunyoe sigala rimba/
jen ureueng binoe habeh dum pungo, mangta jingo
suara panglima/ beurahikeu aneuk raja ureueng binoe, galak
jikalon tuan panglima/ ohban jipeurab unab jidong,
sinan neupandang neupeunyata/ kelakuan lang geumilang, hireuen neupandang tuan panglima/ beu-ok panyang neu-eu seupangkee, sanggoy lipat lhee ban kipaih cina/ miseue buleuen tengoh putik, meunankeu siliek kilat muka/ miseue buleuen bacut reudee, meusinee-sinee ta-eu cahaya/ kilat gigoe naban manikam, peuguih malam ban peurnama/ beurahi gadoih ngon akay, han na khaba pungo gila/ jen pi gadoih le ngon seukeujab, that seukeulumit siklep mata/ panglima
puleh nibak pungo, neumeuhaba le ngon raja/ tadeungo hay raja, tabri kumeukawen ngon gata/ keu jeunamee dum tala kee, meuseuki siribee pi sit kuba/ teuka seuneu-ot teuma raja, lalu jikheuen bak panglima/ hana patot tuanku talakee meukawen, ngon kamoe jen kureueng bangsa/hana layak talakee kamoe, tamita bangsa droeteu manusia/ nyan tapike ho bak hate droe, patot kamoe takeumee meung meutuha/ panglima dengo haba meunan, bungehkeu yohnyan mirah ngon mata/ laman han kabri raja jen aneuk keu kamoe, teumpatkeu nyoe habeh binasa/ peungeuih ngon huteuen ha beh kuyue cah, kuyue peureubah ngon kayee raya/ bek mee kadong le teupat, kuyue tamon sigala rimba/ teulheueh nyan kutamon oh sare tho, kuba spuy kupeunyala/
gp.ta / kamoe nyoe teumpat kon di mideuen, droe lam uteuen gampong rimba/ pat na gunong nyang meuglong, sinan keu gampong ru- moh tangga/ pat na uteuen nyang simang-simang, pat na kayee nyang raya-raya/ laen nibak · nyan te umpat kamoe, pat na bumoe ie me um a ta / !adorn teumpat mee di manyang, di ateueh awan di udara / nyan keu teumpat dumna kamoe, pakri beujinoe ta-anianya/ bit pi tango tuan kamoe, jen aneukkee le na meung dum gata/ panglima ngo khaba meumeu- nan, weueh hate putoih asa/ manyoh hate akay pi seusat, seubab deudam that aneuk raja / panglima tamse narit lhee patah, tango kupeugah tuan bak gata/ sangkira jeuneh bungong kayee, di ateueh ulee rok-rok masa/ sangkira jeuneh nyan makanan,
kupeure ulan siklep mata/ umpama ban ijakeu nyan ha loih, galak kutroih bek binasa/ panglima duek teuku-ko. ie mata ro nyan u da-da/ weuehkeu hate raja jen ponang, teuma sayang jih ke u panglima/ teuka kri narit te urna raja jen, jibri keu reuweueng khaba nyang ka/ bak Potallah hana meuhat, teutapi bak adat jeuheut that raya/ ka peuteumeuen bak Potallah, ku pabanbah han ku rila/ panglima ngo khaba meunan. neumeu- rakan ngon raja/ neumeututo leumoh leumbot, neupeumangat hate raja/ leumoh le hate raja Umrah, mangp.t jingo suara tuan panglima/ tuan panglima lorn mangat hate, neupeugah iqrar ubak raja/ geutanyoe beuthat tameugaseh, na bak ubah tabri tanda/ niphon jinoe troih an deudoe, na bek sunyoe jam pang teuka/ tatueng ulon teu keumeulintee, supaya tateumaee kayem mulia/ raja jen ngo
Poteu malam nyoe neumeukeurija/ habeh teuka dum hulee balang. ka jitamong ubak raja/ jidongjiyup peudana seumbah, jeunjong khalifah ubak raja/ deelat dirgahayu tuanku kamoe, tayue tron dum kateuka/ peue beu haba nyang tapeugah, nyan takisah tacalitra/ tango haba nyoe sipatah, kukheuheundak peugah ubak gata/ Poteu Siti kukheuheundak peukawen, kukeumeung teueng manusia/ nyan keu haba kamoe peugah, beuna salah takheuen beurata/ syahi alam deelat tuanku ampon, beuna keu meunan ban nyang sabda/
keu tuanku han peue salah, euntong meutuwah manusia/ jinoe pi tuan hankeu na syok, bak han teujalok meutan gata/ geuleueng tika tujoh lapeh, geuboh di ateueh keuta rakna/ rakna mutu meukike, panglima tamong le ubak raja/ geupeugatif Siti Umrah, geupeunikah ngon tuan panglima/ di hadapan di nab meujeulih, sigala aneuk jen di lam rimba/ teuleueh geupeugatib teuka dendayang, ji beu-<>t rijang u ateueh keuta/ nam tujoh droe aneuk jen nyang seudang, meuseu-subang muda-muda/ nam tujoh droe nyang mat kipah, jipot reu-<>h tuan panglima/ nyang suleueng ranub nyang boih supah, nyang sampoh reu-<>h nyan bak muka/ teuma tujoh droe nyang pot asoe, dua lhee droe nyang meucakra/ neungieng u wie hu ceumeurlang, unun neupandang leumah cahya/ Siti geupeudeuek di geuninreng, panglima keureuling
Siti Umrah indah rupa / dumna dendayang mangat hate, ji-eu Si ti meu-en mata, rupa pi han leubeh kureueng, miseue geutimang lam neuraca/ umpama ban meuih peulanggi, patot keu jeudo deungon panglima/ na sijeumeueng neuduek di sinan, geubet hidangan u nab panglima/ sange ngon seuhab dumji in tan, ji seu joe ngon kasab ruma / talam pirak cawan intan, peunuman batee meutia/ sineule-neule jiboh cawan, eunkot seukalian jeuneh rupa/ manyang lapeh nyan oh beuteh, eungkot meujeu jeuneh dum aneka/ kageubet ngon hidangan, manyang dulang nyan oh dada/ sidroe dendangyang jimat bate, ie rah jaroe tuan panglima/ bu pi bulat panyang-panyang, bruih pi seunang ri geujangka/ umpama ban bungong mulu
sit meululu puteh safa, Panglima suleueng siti Um rah, geunab lhee babah hasek muka/ teulheuh makeuen geucok dulang, geupinah rijang hidang raya/ rakyat pi ji eh dum kapangsan, dum kateunget di ateueh ge uta/ panglima ehle kateungeut, ma ta pi teupet malam jula/ Si ti pi ji-eh di geunireng, panglima paleng neumeuseunha/ neuseuteuboh ngon siti Umrah, teungeutji dum rata-rata/ hana si droe pi na ingat, dum ji teungeut rata-rata/ han keuna soe le peucaboy, jen kajiwoe bak pan glim a / uron pi faja ka trok beungoh, habeh beudoih bala teuntre / mata uroe pi teupanca, neukeumeueng bungka tuan panglima/ Siti.Umrah nyan pi teupanca, neukeumeueng bungka tuan panglima/ Siti Umrah nyan ka ayay, peuhase beukay tuan pan glim a/ jiboh makanan lam hidangan
Poteu buleuen judo raja / beuphet kulet aneuk ku, beulanjut umu, saleh meusyeuhu sigala donya/ teukeudi Allah meunan teuseubot, seubab teukeujot neu-eu rupa/ neupajoh ranup dua lhee gapu, nyan neuseumbo jeub anggota/ neuseumbo le troih u gaki. punoh keu sare troih u dada/ mangat hate Si ti Umrah, mulia bak mbak tuan panglima/ aneuk neumat miseue bungong, manga t hate nang suka cita/ man yak neupike neurasi nan, zurratul Yaman neuboh nama/ dedoe oh rayek ka toe baleh, Putroe Bulukeih neuboh nama/ lhee uroe na man yak u Iua, deudoe teuma ka mate ma/ panglima mee di yup kayee, tum pang ulee ro mate/ le mata ile troih u bumoe, meuteutaloe
Um rah pika hilang, habeh dendayang pungo gila/ ka mc ug uncang ngon meulinggoe, dendayang poh droe lam istana/ teuka ra kyat sigala gunong, ngon hulee balang dum barangna/ rakyat ji moe dalam hute uen, di yup beuralcuen ma teunganga / panglima hireuen ka neukalon, meujeulih jen ban man usia / panglima pi lawet dilam uteuen, um u si be uleuen dalam rimba/ aneuk neukubah bak jen uteuen, neyuyeue peu meu-en jipe u- lihara / nyoe pi aneuk raj a jen bak gata kukeubah, kubri peunayah hak di ga ta / aneukku beuget kapeutimang, ban miseue nangji peulihara/ panglima bungka nilam huteuen, panglima woe u nanggroe Saba/
meungne u-ingat pi sit tanle, seubab mate ditan bunda/ han keu natom le neuteu-oh, hate beukah tuan panglima/ han tom neu-ingat keu meneu-en, han tom neu-inga t neujak m e uru ~a/ sajan neu-ingat aneuk lam uteuen, na ri ujeuen tcuro ie mata/ saleh aneukku ka mate, trep kaku ere dal am rimba/ watee suboh bungka di naggroe, leuho uroe t roih lam rimba/ neusambat nincong neume ukumaih, neutamong lanja u lam rimba/ ka neuteungoh nyan saboh cot, neupcu teupat rot dilee nyang ka/ rot pi teupat lanja neujak, seurcuta meureumpok kayye raya/ leupaih neutamong u yub kayce, neutamong le rijang lam istana/ tuan putroe plueng neung- meeung, neujak ampeuengayahneu teuka/ neu-eukeu aneuk puek neuturi, teupike bak hate tuan panglima/ jehdum lawe t
hana kujak, jeh bude aneukku karaya/ aneuk neucok rijang- rijang, neupeudeuk di geunireng muda bahlia/ teuka kri narit tuan putroe, neupeugah dore bak ayahanda/ ulon tabawoe tuanku nyoe u nanggroe. nyanyi di sinoe aneuk digata/ nyanyi keu jen tuanku nyang pat takeubah, jikheun payah jipeulihara/ bacut salah tuanku jikeurantang, jiyue woe bak wang ubak gata/ jinoe pi tuanku bek takeubah le. tabawoe bak wali u nanggroe Saba/ kanyoe tuanku laman tan nang mbah, kureueng indah geupeumilia/ geumarit pi hay wang leubeh kureueng, hansoe linteueng oh tan gata/ jinoe pi tuanku bek keubah le, tabwoe bak wali u nanggroe Saba/ panglima ngo haba meunan, ka teupike sikutika/ pakri beu aneuk gata kubawoe, that bit dajeue raja
Saba/ keurajeuen pi that lagi ngon kuwat, dumna rakyat jianiaya/ dumna rakyat jipeutakot, gob jireubot jitueng areuta/ la-en nibaknyan bit ji dajeue, aneuk ureueng binoe dum jiyue ba/ nyankeu seubab aneuk nyang ku takot, nyan jireubot jiteung gata/ kareuna ulon geucok nanggroe, malee kamoe ubak donya/ kutheun gata aneuk nibak malee, saleh kuteumee ateueh sula/ teukakeu narit tuan putroe, sit that ragoe jiboh dakwa/ bek tagondah tuanku droe, nibak kamoe saboh bicara/ bek beu tuanku nyan tatakot, meung goh ma wot han binasa/ lagi goh tuanku izin Allah, tapaban bah takeu reuna/ jan tapeugot meuligoe saboh beuteuga, tapeudong di lua nanggroe saba/ tatueng ulon ninoe lam uteuen, tabawoe le lam istana/ bek tagindah beu hay wang droe, aneuktuse nyoe jiprang
raja/ panglima ngo haba meunan, kateupike sikutika/ panglima pike umu sikeujab, neumarit-marit ngon aneukda/ pakri takheun talawan, toh pakri ban bijeh mata/ padumna ta-udep aneuk gata ureueng binoe, kamoe ureueng lakoe han kuasa/ teuka kri narit tuan putroe, sit ragoe bijaksana/ gata ureueng lakoe tuanku keukeurasan, tuanku talawan ngon alat seunjata/ tamita leumbeng pi nyang tajamn sigo tatob ji beufana/ kamoe ureueng binoe han keukeurasan, bah meu lawan cara syuhada/ tangoe keu tamse narit lhee patah, bek that gundah tuanku gata/ umpama ban ureueng teupet, peuna ji-ingat masa nyindra/ masa isya jipeuyoh droe, teukeujot uroe ji-eu kajula/ meunankeu tamse narit kamoe, ureueng binoe jiprang raja/ panglima ngo haba meunan, neupeurigab bungka nilam rimba
habeh neuba jen ureueng lakoe, jak tuengpoh putroe peugot istana/ jen nyang utoih pi tujoh droe, nyang ragoe bijak sana/ peutama utoih jiteumarah, kayee seunang ban geujangka/ keudua utoih jiceumulek, barang pucok mee jipeuna/ keupeuet utoih jiteumuleh, meujeuneh-jeuneh seundi warna/ keulimong utoih jimeurapat, kayee rapat han sapat bila/ keunam utoih jimeu-uke, bungong pi hade dalam rika/ keutujoh utoih jimeupanee, nyang peunyeuree peugot istana/ rakyat pi le that meureuribee, peutron kayee nilam rimba/ kayee arong peuet-peuet sagoe, nyan seureuyoe tameh istana/ ladom teumarah ladom peumeuheuet, ladom pi nyang jeued meujangka/ dua lhee reutoih jen nyang utoih
9i han jithee, meuligoe geupeudong lam nanggroe Saba/ beumeung raja pi han jithee, sajan jiteumee
pi ka leungka/ panglima neubeulanja dua lhee kator, alat putroe neuyue teumpa/ habeh cukop dumna alat, meuih nam reutoih brat habeh ke alat putroe rimba/ dua lhee reutoih tayeuen pirak, dua lhee reutoih tayeuen suasa/ na lhee reutoih bate pirak, dua lhee reutoih bate sua sa/ na lhee reutoih kreh nyang meuteurapan, lhee reutoih puan nyang meupeumata/ na lhee reutoih sange ngon seuhab, meusalob kasab simeumata/ meundam meuih meudam intan, peunuman batee mutia/ la-en nibaknyan gleueng ngon su bang, alat peukayan di anggeeta/ pihak meugaseh putroe Bulukeih, alatji habeh ayah neupeuna/ bak meusampe nyan aneuk jen uteuen, bekna peue kheun ubak donya/ meunan neupike ubak hate, ka meusampekeuh ka neuba/
panglima jak u lam uteuen, neujak tueng putroe u lam rimba/ aneuk neubawoe ka u nanggroe, lanja putroe kakeu neuba/ jeh dum rakyat meukeukatoe, jen lam uteuen habeh neuba/ ji-intat putroe nyan u nanggroe, jipeutron u istana/ lawet bak lawan putroe di sinan, keudeungroan troih bak raja/ masa nyan raja pi beurangkat, neujak ngon rakyat meusesuka/ neubeurangkat seuleueng dua boh blang, meureumpok teudong meuligoe raya/ neupeudong sikeujab teungoh beurangkat, neupiyoh si-at sikutika/ salang nejeu-oh that samlakoe, saleh na putroe lam istiana/ oh sare deuh nyan neupandang, bukon bubarang sukacita/ sajan leumah di babah pinto, hijo biro pancawarna/ neu-eu ngon uke pi that indah, Subhanallah sit that kaya/ neuyue tamong sidroe ureueng lakoe, jak
sabda tatamong dalam meureucu alam. tatamong tuan dibeu sigra/
dendayang ngo haba meunan, jijak le yohnyan pantaih sigra/ jiduek di ateueh peurmadani, ateueh kurusi nyang that mulia/ ji-eu keuta saboh di dalam, tamah manikam nyang meucahya/ dum dendayang meuseusubang, jeunjang-jeunjan g muda-muda/ tuan putroe langgeumilang, badan seudang gohlom ray a/ kakeu ji eu nyan ka leumah, panglima Dusyarah keu ayahanda/ nyan ji kalon panglima di sinan, jiteubiet le yohnyan pantaih sigra/ ka jiteubiet lanja u blang, jidong ngadap deelat raja/ syahi alam deelat tuanku ampon, peujala ulon halarat mulia/ uonteu kalon tuanku alat meuligoe, patot nyo asoe tuanku gata/ durn dendayang meuseusubang, jeunjang-jeunjang muda-muda/ tuan putroe tuanku langgeumilang, badan seudang gohlom raya/ ban raja ngo haba
nyan. neuwoe le yohnyan lam istana/ troihkeu raja u meureu cu alam, neupangge le rijang tuan panglima/ na kadeungo ayoh hay bujang, sabda kajak tueng tuan panglima/ bujang deungo haba meunan. jijak le yohnyan pantaih sigra/ troihkeu bujang nyan u dalam, neupangge ngon tuan panglima/ gata tuan poteu meuchen, neukeumeung meuteumeung nyan ngon ga ta / ban neudeungo haba meunan. neujak le yohnyan pantaih sigra / troih panglima u meureucu alam, neudong ngadap deelat raja / syahi alam deelat tuanku ampon, ulon tasron
droe ka teuka/ beumate kah panglima pindoe, pakon beu meunoe kah panglima/ barang peukeujaan han lagee kapeugah, han tom leumah keunoe teuka/ kapeugot meuligoe lam nanggroe nyoe, han izin kamoe pi kakeureuja/ kameu-aneuk pi na haba sidroe, ureueng binoe that jroh rupa/ pakon han meunan kapeuseumbah, kabek peuleumah ka-eu rupa/ dikah kachen aneukeu sidroe, sigala nanggroe la-en kuyue ba/ panglima ngo haba meunan, ka geumeuta ngon anggeeta/ ka meutat-tat ngon ulee teu-ot, kaneudee lat sigra-sigra/ syahi alam deelat tuanku ampon, ulon teu meukawen yoh meurusa/ ulon tuanku meu-aneuk sidroe, ureueng binoe nyo siripada/ umu lhee uroe tuanku nyan na manyak, nang pi mate beu sripada/ kuyur peu-upah bak jen uteuen, kuyue peumeu-en jipeulihara/ lorn karayek ka toe
baleh, jilakee woe u nanggroe Saba/ jipeugot meligoe tuanku na tara nyoe, sit areuta doreji pusaka/ meunan tuankau meuih dipeubicah, areuta peureunah bagi bak bunda/ jiba muday tuanku nilam uteuen, pusaka zameun bak tu ji raja/sahkeu beuna panglima ban tapeugah, han beurakah tacalitra/ jinoe pi tabri dikeu kamoe, kulakee jinoe aneuk gata/ lah pihak gata panglima na kugaseh, kubri meujeuleh kupeumulia/ panglima ngo haba meunan, ka neupike sikutika/ panglima pike umu sikeujab, neumuhon teubiet le bak raja/ syahi alam deelat tuanku ampon ulonteu jak tanyong bak putroe rimba/ panglima teubiet le nidalam, hate bimbang dalam dada/ troih panglima u meureucu alam, neumeututo nggon aneukda/ wahe aneuk raja that meuchen,
jilakee meukawen aneuk ngon gata/ saleh keubit saleh keuhan, saleh man sang gata jiba/ teuka seuneu-ot tuan putroe, sit that ragoe jiboh dakwa/ sit nyan tuanku nyang kalakee, euntong kuteumee ban kupinta/ droeneu saleh neutem peusayang, aneuk jen uteuen hina/ kuteumeung nanggroe nyoe kukeumudi, gaseh peumuri po meukuta/ jinoe pi takheun nyo hay wang mangat hate, neubeu-ot ulee uleh sripada/ rasa iujak ateueh angen, rasa kupo u udara/ hana leubeh nibak nyoe meugah, that meutuwah putroe rimba/ jinoe pi takheun kutem meukawen, takheun that meuchenku keu raja/ panglima ngo haba meunan, neujak le yohnyan ubak raja/ neudong di yub peurakna seumbah, junjong khalifah deelat
neubeu-ot ulee beu sripada/ rasa jijak ateueh angen, rasa jimeu-en u udara/ hana leubeh nibak nyoe meugah, that meutuwah putroe rimba/ jinoe pi tuanku jitem meukawen, jikheun that meuchen ji keu raja/ ban raja ngo haba meunan, ka teuseunyum le ngon muka/ jinoe pi takheun panglima that, k uagaseh that kupeumul ia / raja peugot saboh surat, neuyue jak in tat bak putroe rimba/ na tadeungo tuan putroe, beurahikeu asoe ku keu gata/ beurahikeu asoe geumeuta, salang meung
haba gohlom rupa/ lheueh neusurat ma neulipat, neuyue peu-intat bak panglima/ panglima teubiet le nidalam, surat neureugam sajan neuba/ troih panglima nyan u dalam, neupeujok surat bak aneukda/ putroe neu-eu le ngon surat, neu-eu keu nari t narit peue be u sabda/ sajan ngon lheueh neubaca surat, ne ubalaih le narit raja / putroe peujok maboh surat, ne ubalaih nari t ni bak raj a/ deelat tir gay u beu tuanku, ulon that rinduku keu sripada/ manyoh hate uroe malam, syahi alam kukewneung plueng jak eu rupa/ lagi goh tuanku ga ta kutumee, hateku layee ban bun gong mala/ umpama taple ie tanoh crah, meunakeu gadoh habeh fana/ tacuba jak meu-en tuanku lam meuligoe kamoe, ta-eu peuriasan lam istana/
Saba/ nakeu jarak lheueng dua boh blang, meukheundak jak tueng put roe rim ba/ raja ek le meureucu alam, neucok alat keurajeuen neubungka/ neutron lam istana mong-mong ngon canang, meugeurangcang gong ngon geundrang bunyoe suara/ panglima dilee le bungka, jak peugah haba bak aneukda/ wahe aneuk peucukop droe, raja jinoe keunoe jiteuka/ tuan putroe kan neuhase droe, ka neuboh proe ampeueng raja/ neupeunguy dendayang na tujoh droe, nyang sam binoe-sam binoe aneuk jen rimba/ neupileh ri badan jeunjang, kuletji ban bunggong jeumpa/ neuboh di ulee minyeuk
neuhoy, lipat sanggoy kipang tiga/ neuboh di geulinyeueng subang meuteurapan, sulue intan pudi ngon mutia/ azimat meuih ikay makhoe, gleueng di jaroeji meugeunta/ jiguy ija sutra, kasab rumi simeumata/ beeji limpah meuhayak hayak, bee kheuleumbak bee cendana/ neubohkeu bungong campu bawu, neuyue tatang lam ceurana/ tujohji nyan nyang meu-ampeueng, jisipre- uek bungong ubak raja/ tuan putroe neu-ek u meureucu alam, neubuka bu- bong tingkab
istana / neu-eukeu rakyat ka peunoh blang, neuyue jak ampeueng
bak ayahanda tuanku tajak nyan pantaih-pantaih, takheun bek leupaih dilee sigra/habeh teukeujot dumna aneuk jen, hantom jikalon manusia/ ladom pungo ladom bimbang, jikeumeung teureubang u udara/ tuan putroe nyan han ek mat, jikeumeung lum pat ubak keuta/ neubeurangkat meung droeneu sidroe, bahle deudoe rakyat
teuka/ ban raja ngo haba meunan, neutinggay di blang bala teuntra/
neubeurangkat teuma neusidroe, neupeurab droe bak
pinto istana/ neupeudong gajah di babah pinto, neutron lalu ateueh rungka/ ohban neujak lalu-lalu, troih bak pinto nyang peutama/ ohban leupaih le neutamong, geu hambo bungong ateueh jeumala/ raja kalon ureueng mat bungong, neusangka putroe jijak peuteuka/ neukeumeung drop pi ji surot, nyan ji deelat jipeumulia/ syahi alam deelat tuanku ampon, nyoe ulon hamba sahaya/ ban raja ngo haba meunan, neusurot le yohnyan malee muka/ ohban neujak lalu-lalu, troih bak pinto nyang keudua/ ohnan leupaih le neutamong, geuhambo bungong ateueh jeumala/ raja kalon ureueng mat bungong, sambinoe keu nibak nyangka/ ohban neu-ingat keu nyang beunoe, bukon putroe bak geukira/ ohban neujak lalu-lalu, ban tujoh pinto habeh dumna/ neuduek
di aeteueh peurmadani, ateueh keurusi riyang that mulia/ dumna dendayang meuseusubang, jeunjang-jeunjang muda-muda/ neungieng u wie hu ceumeurlang, unun neupandang limpah cahaya/ nam tujoh nyang mat kipaih, jipot reu-oh nibak muka/ raja Sareh mabok keudroe, neusangka putroe sinan seureuta/ tuan putroe dalam keuleumbu, teungeut peupadu gohlom jaga/ na sikeujab beudoih tuan putroe, meucukob droe meuteumeung ngon raja/ neusokkeu euncien di bak jaroe, in tan ngon pudoe meupeunnata/ gleueng ngon subang me uteurapan, sare dum nyang meucalitra/ neucintra / neuguy ija nyang haloih umpama ha sab, neuguy meuleukab bak angge ta/ habeh leungkap peukayan u asoe, seupeurti uroe teungoh ek cahaya/ beu-ok panyang teugeureubang, bungong karang di ulee jeumala/ neubok bak
Sareh reubah pangsan, hana tujan pungo gila/ tuan putroe duek di geunireng, sampeng-sampeng di wie raja/ raja puleh nibak pangsan, neupeutoe le neumeuse'unda/ tuan putroe neupubla droe, neumeuse jeueb sagoe keuta/ na si jeumeung neuduek di sinan, geubot hidangan u nab raja/ han that neupajoh keu makanan, di kamoe nyamang meu-eu gata/ ohban geupinah teuma hidangan, bak dendayangjuru bahasa/ putroe yue peugot saboh treut hidangan, neuboh di dalam cawan piala/ dalam cawan meujeuneh-jeuneh, dalam ie mameh cati rasa/ raja jeb le ngon
ie mameh, oh ka habeh limong piala/ ka neupeuyoh na seukeujab neutakot mabok uleh raja/ ta jeb digata tuan putroe, ka dikamoe cuba rasa/ putroe jeb le rijang-rijang, tu joh cawan kabeh fana/ ka neupeuyoh na sikeujab, lorn neuyue jeb ubak raja/ raja jeb rijang-rijang, lhee boh cawan habeh fa na/ raja mabok rubah pangsan, hana tujan teunget nyindra/ tuan putroe suet le ngon peudeueng, neukoh reukueng, manyet teulinteueng dalam istana/ geuboih manyet raj a sareh, nyan di gaki neuyeue hila/ putroe me u-uroh panglima Du syarah, kaneupeuleumah manyet raja/ panglima suet le ngon peudeueng, neukoh rupang neukeumeung ga ntung ulee u pinto istana/ teuka kri narit panglima Du syarah, ka neupeugah bak aneukda/ wahe aneuk po aneuk boh hate,
barangna/ geupeuduek di Jeuen peurakna seumbah, jeunjong khalifah di Jeuen istana/ na sijeumeueng jiduek sinan, geubet hidangan sigra-sigra/ sajan ngon lheueh geubet hidangan, tuan putroe tron Jam istana/ na tadeungo hulee balang, sabda tamakeuen
seu-on jaroe ateueh ulee, ri geumanoe ro ie mata/ pakon beu meunan neum eupeurango, aneuk dikamoe peue neuyue ba / aneuk peureumoh han ek
meubri, neuyue poh mate kamoe dum na/ seu-on jaroe ateueh ulee, ri geumanoe ro ie mata/ bek that gundah huleebalang, kujak peuseumbah ubak raja/ tuan putroe ek u meurcu alam neupajoh ranup si gapu, neutron laju neupeugah sabda/ na tadeungo huleebalang, han geumaklum lorn haba gata/ ban po teudengo haba meunan, that amarahneu keu gata/ neukeumeung grop neumeugaki, ka neusuet le peudeueng ray a/ ulon teu mat ka dijaroe, neupatah kamoe ban meupubla/ pihak ulonteu neugaseh, dum peue neupateh han meudakwa/ huleebalang ngo haba meunan, huleebalang moe keumong ngon ma ta/ aneuk peurumoh meu han ek meubri, tayue poh mate kamoe dumna/ teuka kri narit tuan putroe, neupeuhaba sigra-sigra/
Sareh, mangat hate rakyat dumna/ huleebalang dum mangat hata, geuboh putroe geunantoe raja/ geutot keu beude dua seun tujoh, neumeung kukoh keu beude dua seun tujoh, neumeung kukoh putroe ji raja/ donya pi teutap
kheurajeuen, di nanggroe Yaman putroe Bulukeih peutimang donya/ umu siploh thon putroe keurajeuen, keudeungoran bak saboh raja/ meungah putroe u nanggroe Syam, bak Sulaiman kheurajeuen raya.
BAHASA
A. Hikayat Seukreuet Mawot
Bisrni '1-Lahi 'r-Rahrnani 'r-Rahirn
Dengar kukisah yang tiga pangkat, khabar maut bercerita/ tersebut dalarn firman Allah, ucapan indah sangat mulia/ bercampur dengan hadits Na bi, dengar bersama semua anda/ inilah kisah saat terjadi maut, i tu tersebut dalarn cerita/ dijadikan seorang malaikat. rupanya hebat tiada tara/ dari langit sarnpai ke bumi, maut sendiri yang raya/ pun gagah arnat
Ya Tuhanku telah Kau sebut, manakah maut ya Rabbana/ mengapa tak pernah terdengar, tak seorang pun juga/ maut itu yang manakah, tampakkanlah kulihat rupanya/ turunlah firman dari Halarat, habir ter sambat tirai semua/ terbuka tirai sepuluh kati, maut sendiri tampak nyata/ terkejutlah semua malaikat, melihat maut he bat rupa/ kemudian maut Disuruh terbang, rasa bergoncang alam dunia/ malaikat semua pingrnn, tak merasa tidur
terlena/seribu tahun lamanya pingsan, kemudian mereka jaga/ malaikat menaikkan sembah, kepada Allah yang mulia/ ya Tuhanku Engkau telah jadikan, yang bersifat dan berupa/ siapa gerangan lebih besar dari maut, yang mewujud telah Kaucipta/ begitulah sembahnya kepada Tuhan, turunlah firman yang maha mulia/ sekalian makhluk memang Kuciptakan, maut sendirian yang sangat raya/ selain Aku semua mati, maut ini semua kau rasa/ pada Izrail firman Allah, maut padamu yang mengira/ ya Tuhanku bagaimana kupe gang, Kau suruh menimangnya terlalu raya/ turunlah firman dari Hadarat. jangan gundah duka cita/ Kukarunia padamu kuat, daripada maut kau perkasa/ setelah mendengar
firman Allah, pergilah ia untuk mencoba/ Izrail
pegang maut sendiri, hendak takutkan diri tiada
kuasa/ ya Tuhanku bolehlah kujamah, karuniakan kuat dari Anda/ kemudian maut meminta ampun, lalu bermohon bersuara/ berilah izinku maut sendiri, lalu memanggil bergempita/ akulah maut yang menjemput nyawa, genap kampung semuanya/ kuperceraikan anak jadi piatu, tinggal jodoh dan rumah tangga/ habis kuperceraikan abang dan adik, tak satu pun teguh setia/ habis kuperceraikan yang berjodoh, termangu-mangu tinggal esa/ tiada lebih daripadaku sendiri, dalam keranda besi pun kucari/ lagi-lagi tersebut dalam riwayat. malik maut itu empat muka/ begitulah kejadiannya tertentu, di hulu sebuah muka/ dengannya dijemput nyawa Nabi, malaikat lagi sama
bawah arasy, dilihatnya pintas segera-gera/ itulah perintah
yang sangat dahaga/ hatinya perih
bukan sekarang, tak tertimbang hangus dada/ ten tang kepala syetan bertandang, air dipegang satu piala/ orang sekarat sangatlah gerah, susahnya tak tercerita/ berikan air padaku sedikit, aku sangat amat dahaga/ air kubawa hendaklah kau teguk, engkau sangat kulihat siksa/ dengarlah kukatakan kata sepatah, kukatakan padamu satu rahasia/ kukatakan tak siapa jadikan alam, Nabi Adam tak ada pencipta/ andai kau turut perkataanku ini, air kuberi dengan suka cita/ Orang sekarat cum a berdiam diri, tiada apa pun diberi dakwa/ jauh dari kepala lalu ke kaki, digerakkan lagi piala/ lagi diminta air padanya, gerah- nya nian tak tercerita/ andai kau turut yang kukatakan
r-·· -· ""~-· ~~---~ ~·~----
t t.j~. ~, ... ·" v~ ?.~,(,_ r'.; ft.J i
i I i.I~~-~\~,~.~~ ~., ~,~ -.'2~·\i'-.... ~.~ t
I D1rH£1,_10t'lA1 Tr'J\0r...il f
D!T .JEN NSSF DEi-'>;~1.• 0 P AR m1, an u en en ta/ Rasulullah kau katakan berkah, kabar fitnah semua perbola/ apa kau sakit kata sepatah, katakanlah segera/ siapa yang ikut kata syetan, karam iman di dalam dada/ ia ma ti dalam sesat, dialah urn at yang celaka/ turunlah malik maut, malaikat azab besertanya/ menjemput nyawa orang maksiat, perihnya sangat tak tercerita/ dinaikkanlah nyawa kepada lutut, kemudian kepada pusat lalu ke dada/ sampailah nyawa kepada halkum, di situ berhimpun seketika/ cerailah nyawa dari badan, dibawalah kepada Hak Ta'ala/ dia pergi kepada malaikat azab, semakin sangat kena siksa/
terlena/seribu tahun lamanya pingsan, kemudian mereka jaga/ malaikat menaikkan sembah, kepada Allah yang mulia/ ya Tuhanku Engkau telah jadikan, yang bersifat dan berupa/ siapa gerangan lebih besar dari maut, yang mewujud telah Kaucipta/ begitulah sembahnya kepada Tuhan, turunlah firman yang maha mulia/ sekalian makhluk memang Kuciptakan, maut sendirian yang sangat raya/ selain Aku semua mati, maut ini semua kau rasa/ pada Izrail firman Allah, maut padamu yang mengira/ ya Tuhanku bagaimana kupe gang, Kau suruh menimangnya terlalu raya/ turunlah firman dari Hadarat. jangan gundah duka cita/ Kukarunia padamu kuat, daripada maut kau perkasa/ setelah mendengar
firman Allah, pergilah ia untuk mencoba/ Izrail pegang maut sendiri, hendak takutkan diri tiada kuasa/ ya Tuhanku bolehlah kujamah, karuniakan kuat dari Anda/ kemudian maut meminta ampun, lalu bermohon bersuara/ berilah izinku maut sendiri, lalu memanggil bergempita/ akulah maut yang menjemput nyawa, genap kampung semuanya/ kuperceraikan anak jadi piatu, tinggal jodoh dan rumah tangga/ habis kuperceraikan abang dan adik, tak satu pun teguh setia/ habis kuperceraikan yang berjodoh, termangu-mangu tinggal esa/ tiada lebih daripadaku sendiri, dalam keranda besi pun kucari/ lagi-lagi tersebut dalam riwayat. malik maut itu empat muka/ begitulah kejadiannya tertentu, di hulu sebuah muka/ dengannya dijemput nyawa Nabi, malaikat lagi sama
bawah arasy, dilihatnya pintas segera~era/ itulah perintah
yang sangat dahaga/ hatinya perih
bukan sekarang, tak tertim bang hangus dada/ ten tang kepala syetan bertandang. air dipegang satu piala/ orang sekarat sangatlah gerah, susahnya tak ter- ceri ta / berikan air padaku sedikit, aku sangat amat dahaga/ air kubawa hendaklah kau teguk, engkau sangat kulihat siksa/ dengarlah kukatakan kata sepatah, kukatakan padamu satu rahasia/ kukatakan tak siapa jadikan alarn, Na bi Adam tak ada pencipta/ andai kau turut perkataanku ini. air kuberi dengan suka cita/ Orang sekarat cum a berdiam diri, tiada apa pun diberi dakwa/ jauh dari kepala la.Ju ke kaki, digerakkan lagi piala/ Iagi dimin ta air padanya, gerah- nya nian tak tercerita/ andai kau turut yang kukatakan
ini, air kuberi dengan suka cita/ Rasulullah kau katakan berkah, kabar fitnah semua perbola/ apa kau sakit kata sepatah, katakanlah segera/ siapa yang ikut kata syetan, karam iman di dalam dada/ ia ma ti dalam sesat, dialah urn at yang celaka/ turunlah malik maut, malaikat azab besertanya/ menjemput nyawa orang maksiat, perihnya sangat tak tercerita / dinaikkanlah nyawa kepada lutut, kemudian kepada pusat lalu ke dada/ sampailah nyawa kepada halkum, di situ berhimpun seketika/ cerailah nyawa dari badan, dibawalah kepada Hak Ta 'ala/ dia pergi kepada malaikat azab, semakin sangat kena siksa/
mayat. seketika di langit turun suara/ dengarlah hai anak Adam, siang ma lam kau dalam lupa/ kau ikut dunia genap hari. matimu sendiri dalam dosa/ pada sembahyang pada mengingaL pada ibadat sangat kau lupa/ dunia kau ikut sudahlah tinggal, manakah bekal yang kau bawa/ harta kau himpun sudahlah tinggal, kini kau rugi di dalam dunia/ kini tinggal kakak dan adik, engkaulah sendiri kini dibawa / habis !ah khabar diperdebat, mayat pun sangat duka cita/ saat
may at tel ah terhan tar, berdiri melingkar sem ua saudara/ penuh- lah rakyat di kepala dan kaki, menangisi semua tua muda/ sebagian sibuk menyebak, hararn m utlak pada hak Ta'ala/ malik maut berdiri di pin tu, melihat laku rakyat semua/ mengapa menangis semua rakyat, mengapa sangat amat duka cita/ tak seorang pun berkurang rizki, mengapa menangis siapa yang aniaya/ jika menangis karenaku sendiri. kuambil, kuambil ini bukan tidak dengan kuruni/ jika menangis karena orang yang ma ti, habis rizkinya di dunia/ demi Allah semua kita mati, semua sama diambil nyawa/ begitulah perihal kebe- saran, takdir Tuhan yang kuasa/ habislah khabar
malik maut, lalu surut ia segera/ satu pasal orang lelaki, dengan memukul diri lagi pukul dada/ merobek kain mem belah baju mengetok hulu memukul dada/ rasanya mela- wan T uhan, mengambil lembing alat senjata/ saat itu hilanglah akal, sudah ngawur bicaranya/ begitulah fiil orang sesat, sesak-sesak di dalam dada/ itulah orang yang tenggelam iman, ketika itu sangat gila/ ketika mayat dimandikan, sudah lah siap semua saudara/ dengarlah hai anak Adam. kini kaum- mu membasuh muka/ manakah tanganmu yang kuat, dahulu kau sangat perkasa/ mengapa kini semua lam bat, tiada
lagi yang berguna/ manakah lidah yang fasih, dahulu engkau amat bijaksana/ mengapa kini kelu lidah. tak sepatah pun suara/ manakah sahabat handai taulan. manakah rekan saa t di dunia/ kini mengapa semua bercerai. tak seorang lagi yang setia/ siaplah air dimandikan, alat di badan dicopot semua/ dicopot tengkuluk. dari kepala. kain dan baju dicopot semua/ saat itu mayat sangatl ah garib. di sy rik ke magrib terdengar suara / en tah siapa yang memandikanku ini. mengapa tiada lagi seksama/ me ngapa kau runtuhkan alat di badan. sakitku nian tak ter- cerita/ yan g tak me ndengar garibnya itu. melai nkan jin dan manusia/ dicucur air dimandikan, digosok -
pegangk3n saudara/ kau c ucur air padaku yang sejuk, pe rlahan kau gosok semua anggota/ setelah mandi diberi kafan pada kaki, diikat sampai ke dada/ ten tang kepala hendak diikat, saat itu mayat bersuara/ adakah kau den gar handai taulan, jangan !ah tuan ditutup muka/ beril ah kulihat saat berkumpul, sarnpai datang semua saudara/ pada hari ini kesudahan, pe rceraian ku dengan anda/ setelah dikafani selesai, sebagian ditaruh dalam keranda/ saat itu mendengarlah m ayat, dari langit turunlah suara/ dengarlah hai anak Adam, pelayaran tiada bekal dibawa/ kini dibawa engkau ke akhirat, diserahkan
kepada tem pat baru haru hara/ tak kembali lagi engkau ke sini. pergimu ini selarn a-l amanya/ diturunkan mayat dari rumah, di sanalah nyawa bersuara/ adakah kau dengar semua sahabat. aku jangan sangat pin tas kau bawa / saat itu dil e takkan mayat di halaman. lalu ia mohon pada rumah tangga/ adakah kau dengar semua tuan. aku berpesa n hai sa udara/ tinggal anakku piatu. tinggal jodoh dan rumah tangga/ wahai anak tangkai hati. jangan bertengkar sama saudara / harta kutinggal anak kau bagi kan, jangan bertengkar sama saudara/ jangan lupakan aku sendiri, hendaklah genap hari kau berdoa/ siang malam kau telentangkan tangan. jangan
buk
Ya Ilahi Oya Rabbi, berilah aku kembali ke dunia/ kali ini aku beribadat, aku bertaubat segera-segera/ turunlah firman dari Hadarat, tam- bahlah sanga t i tu kau ganda/ mengapa kini ia se- salkan diri, dahulu tiada saat di dunia/ tibalah azab berbagai-bagai, dibawalah rantai dari neraka/ diberi belenggu dan pasung, di hidung kunci
tern baga/ bahrullah azab yang lain, berapa kiraan semua anggota/ untung orang yang maksiat, sampai kiamat tiada reda/ jika ada untung malam jumat, di sanalah sesaat reda/ selain daripada se tahun sekali, bulan Ramadhan yang mereda/ tersebut nyawa pada badan, sangatlah percin taan akan anggota/ tiga dari anak Adam di dal am kubur, genap malam nyawa be rein ta / meminta pergi melihat badan, saat itu bermohon pada Hak Ta'ala/ Tuanku Allah berilah izin, saat itu turun ke dunia/ tampaklah ia melihat kubur, kuli tnya terkelupas semuanya/ mengalir dari mulut, penuh berlimpah ke muka/ nyawa pun menangis amat sangat, akan
lagi pun bercinta/ dipersembahkan pada Hadarat. melihat jasad bagaimanalah rupa/ Tuanku Allah berilah izin, lalu ia turun ke dunia/ dilihat keluar dari mulut, nanah dan darah berbusa-busa/ keluar dari mulut dan hidung, dari telinga penuh mulut menganga/ nyawa
pun menangis amat sangat, melihat jasad telah binasa/ wahai jasad dalam percintaan, bukan kehinaan sangat-Jah anda/ masa dahulu tak kau ingat, kini ulat pembinasa/ kulit dan daging habis dimakan, kini runtuh semua anggota/ nyawa kembali dari sana, tinggallah badan dalam binasa/ umur tujuh hari, nyawa Jagi pun bercin ta / lagi bermohori pada Tuhan, melihat badan betapakah rupa/ seraya sampai kepada kubur, dilihatnya hancur semua anggota/ tibalah nyawa sangat bercintaan, melihat badan telah binasa/ kemanakah anak ayah tuan, kemanakah rekan semua saudara/ kakak dan adik kampung halaman, mengapakah ini tiada dicinta/ masa dahulu
ingat semua sahabat, yang manfaat hendaklah kerja/
bagaikan hadits Nabi, semua sama disuruh kerja/ yang melarat jangan dibuat, hendaklah tau bat segera/ mengapa malas kau sembah Tuhan, daripada tiada tel ah Dicipta/ Dilebihkan anda insan, dari yang lain sangat mulia/ Tuhan hantarkan langit dan bumi, bukankah kita Tuhan yang cipta/ dilebihkan dari yang lain, Tuhan turunkan ke dunia/ Tuhan memberi mahkota kerajaan, Diberi lawan bersesuka/ Diberi nyawa dan hayawat, Diberi jasad tern pat rupa/ Diberi hidung dan mulut, Diberi lidah juru bahasa/ Diberi telinga alat mendengar, alat melihat Diberi ma ta/ Diberi tangan dan kaki, Diberi hati alat bicara/
makna/" Thalabu '1-llmi Faridhatun 'ala kulli muslimin wamuslimatin", tuntut ilmu itu sendiri perlu, kau ber- guru semua anda/ lelaki dan wanita, belajarlah semua tua rnuda/ bila dibuka masa kini, kelak nanti saat menua/ badan saja telah lembut, lagi
pergilah belajar kini, semua kita ini segera/ beribadahlah yang kuat, bertaubatlah semua anda/ hendaklah kasihkan sembahyang, siang malam janganlah lupa/ jika tiada ibadat, hilang pengingat sia-sia/ kalau tak
membaca Quran, bulan Ramadhan kita puasa/ zakat dan fitrah pun diberi, naik haji siapa kuasa/ rukun lima wajib ditanya, itulah bagian Islam semua/ selain itu sebutlah kalimah, kepada Allah janganlah lupa/ saat duduk dan berdiri, tegakkanlah ini dua/ kepada Allah hendaklah diingat, Nabi Muhammad jangan dilupa/ berkat syafaat Na bi Muham mad, memperoleh rahmat semua anda/ Na bi Muhammad lebihlah sangat, kasihkan umat tiada tara/ seperti bak firman Allah, semua dititah kepada anda/ tak tersembunyi sebarang ilmu, semua diberi tahu dicerita/ Nabi Muhammad sangatlah benar, tiada dusta/ menyuruh syukur kepada Tuhan, nikmat jadikan mesra/ hendaklah takut bahaya ma ti, i tu jangan aniaya/ pekerjaan
semua bid'ah tengkar khianat, itu sangat besar dosa/ makanan yang hararn jangan dimakan, suci- lah badan dan nyawa/ pekerjaan itu sangatlah disabar, buatan benar dicari semua/ min ta tolong kepada Allah, berm oh on titah yang sejah tera/ siang malarn telentangkan jari, janganlah sunyi memohon do'a/ Tuan kita Allah melihatkan, Diberi arnpunan barang dosa/ bila mati dalarn taat, dunia akhirat bahagia/ bila mati dalarn maksiat, dunia akhirat memang celaka/ itulah ma ti hendaklah diketahui, hendaklah diperi dipercaya/ itu dituntut kepada guru, hendaklah ada ilmu yang sempurna/ jika ada hasil kelengkapan, kapan-kapan kembalimu ia tiba/ hasil nyawa hendaklah diperi, hendak semua peri diperiksa/ ketika had pada
sekarat, malaikat empat saatnya tiba/ sarnpailah seorang malaikat, akulah sahabat asal mula/ akulah pemegang rizki, mayat lagi banyak kukira/ kin habis bekal rizki, tiada lagi di dunia/ tiba lagi seorang malaikat, dalam hemat sudah dua/ seraya sampai kepada anak Adam, memberi salam yang sejahtera/ aku ini seorang malaikat, aku sahabat yang pertarna/ aku pemegang minuman, barang air di dunia/ sekali ini habis minuman, tinggal takdir Tuhan cukup yang sudah ada / tiba seorang lagi malaikat. dalarn hemat sudah tiga/ seraya sampai kepada anak Adam, memberi salam yang sejahtera/ aku ini seorang melaikat, akulah sahabat asal mula/ akulah pemegang nafas, pemegang habis dalarn anggota/ sakali ini habis
· wama mukanya semua putih, sangatlah persis limp ah cahaya/ sebagian cahayanya bak matahari, sangat cemerlang hebat rupa/ membawa bedak dan bau-bauan, membawa kafan dari surga/ duduk bersama semua melingkar/ malik maut setentang dada, hai nyawa
yang sangat adil, kini tinggal pada Hak Ta'ala/ diberil ah jawab oleh nyawa, malik maut berdiri seketika/ jika benar anda dari Hadarat, manakah alamat engkau bawa/ masa awal Diciptakan aku, Dimasukkan aku dulu ke dal am anggota/ tak seorang pun menyiksa, manakah janji dari Hak T.a'ala/ malik maut kembali ke Ha darat Allah. dipersembah segera-segera/ aku menjemput nyawa hamba seorang, sangatlah rugi ia memberi dakwa / benar katanya hambamu itu betapakah tuan kita bi cara / tampak rupa laysa Kamitslihi. nyawa pun birahi di dalam dada/ nyawa keluar di dalam jasad, dikatakan amanat sumpah se ti a/ aku lepas pada sekali ini. di akhirat nan ti janganlah lupa/
malaikat menaikkan segera-segera / berduyun-duyunlah malaikat, pintu langit pun terbuka/ yang di Ian git semua bertanya siapakah nyawa sangat mulia/ itulah nyawa orang mukmin, yang sangat yakin pada agama/ dipersembahlah kepada Tuhan, nyawa si mukmin yang berbahagia, turunlah firman dari Tuhan, pergi turunkan pada anggota/ dibawa jenazah itu ke kubur, lalu diletakkan segera-segera / setelah ditanam ditalkin, yang lain mengamin semua/ seraya usai ditanam, pulanglah kaum tua muda/ setelah itu tiba mungkar wa nakir, pergi dengan takdir Allah Ta'ala/ mungkar wa nakir telah berdiri,
hadir bertanya man Rabbuka/ siapakah Tuhan manakah Nabi, ditanyai apakah agama/ ditanya imam tempat kiblat, ditanya siapakah saudara/ lalu dijawab dengan lidah yang fasih, kata yang sahih lalu dibuka/ Allah Tuhan Muhammad Na bi, Islam dikatakannya agama/ Quran im am Ka'bah kiblat, ummat Muhammad semua saudara/ itulah Islam semua mukmin, itulah kaum di dalam dunia/ begitulah firman dari Tuhan, benarlah hambaku memberi dakwa/ hambamu ini sangatlah salih, inilah yang sah isi surga/ hambamu ini sangatlah ingat, dalam ibadat senantiasa/ hambamu ini sangatlah sabar, buatan benar dicari semua/ Disuruhlah bawa
- tikar/ kain lapis manyat
hamparan, dan perhiasan dari surga/ malaikat membawa semua perhiasan, tikar hamparan sememata/ luas kubur penuh hamparan, penuhlah di sana setentang mata/ baunya pun harum campur baur, menyala kuburnya bercahaya/ tiba seorang lelaki, bagus memakai sangat majilis rupa/ penuhlah alat semua di badan, pakaian dipakai alat surga/ memakai keroncong itu di kaki, di lengan lagi panta naga*/ kilat bahu nya bersimplah**, rupanya indah tiada tara/ pakai di kerongkongan biramani***, semua bersendi mutia/ penuhlah cicin semua jari, patam**** di dahinya bercahaya/ lagi gagah bukan sembarang,
tamsil bulan terang tengah purnama/ saat itu mayat hendak ber- tanya, siapakah berdiri tampan rupanya/ takkah kau kenal hambamu ini, aku bercerai tadi dengan anda/ akulah amal mu yang salih, yang sangat kau kasih bersetia/ meski ada saudara mu di atas bumi, tak seorang pun yang setia/ itulah balas kau ibadat, karunia alat di dalam surga/ itulah balas naik haji, keroncong di kaki Dikarunia/ itulah balas kau sembahyang sunat, di lenganmu alat panta naga/ itulah di pasang simplah, tanda Allah senantiasa/ itulah balas sangat bakti, biramani Dikarunia/ itulah balas cincin di jari, hari-hari memba- ca doa/ itulah balas cahaya di dahi, bersujud hari-hari pada musalla/ itulah alat kerajaan
motif sejenis perhiasan/ gelang. sejenis perhiasan disangkut di bahu dan bersilang di dada. *** perhiasan bermotif ular berkepala dua. *** perhiasan sejenis mahkota.
di dalam surga/ sampailah pada hari kiamat, dalam rahmatlah senantiasa/ nyawa pun indah sangat, pada Hadarat sangatlah mulia/ Disuruh letakkan di dalam badan unggas yanghitam, terbanglah kemudian ke dalam surga/ lalu ia hingga di bukit 'llliyin tempat bermain gunung surga/ Jannatu Adnin, di situlah nyawa Nabi semua/ nyawa orang yang mati syahid, pada Hadarat memanglah sangat mulia/ ia dalam surga Jannatul Firdaus, di sanalah khusus berhimpun semua/ nyawa anak orang Islam, pada burung yang putih safa/* nyawa anak segala kafir, ia melingkar di dalam surga/
pada hari kiamat, memberi khidmat kepada isi surga/ tuan semua hendaklah selamat, semua umat hendaklah sentosa/ hendaklah syafaat engkau ibadat, hendaklah bertaubat daripada dosa/ berkat syafaat Nabi Muhammad, di dalam rahmat dan sejahtera / Amin ya Rabbal Alamin, kabul mukmin mohon doa/ mintakan rahmat kepada Allal1, "Wakafa billal1i syahida, Wallahu yuhibbul muhsinin. walmukminina ghafura", tersebut di dalam Qurannul karim, segala mukmin ampun dosa/ habis kisal1 kabar maut. tanda kiamat bercerita/ tarn at hikayat cara Aceh, kabar saheh kuceri ta / tamat hikayat pada bulan Rabiul Awai, di situlah asal mula rahasia/ "Tammat bilkhayri "
- Pu tih bersih.
Putroe Bulukeih
Bismi '1-lahi 'rahmani 'r-Rahim.
Ajaib subhanallah, dengar kukisah kucerita/ bahasa Arab dahulu lafal, payah dikenal habis makna/ lalu kemudian bahasa Jawi, siapa tak tau tak- kan berguna/ kini kukisah dengan bahasa sendiri, entah siapa suka membaca/ pengganti kita berberakah, dengar kisah kucerita/ Amma bakdu kemudian dari itu, dengarlah tuan kucerita/ mendengar khabar putri Balkis, kisah habis asal mula/ putri zaman di Negeri Yam an, tuan putri nan orang rimba bundanya tuan anak raja jin, ayah nya juga anak manusia/ cucu Umrah anak Dusyarah
Siti Umrah diberi nama/ anak pun sendiri tunggal, tetaplah itu suatu tanda/ dikasih nama putri Balkis, sangatlah arif panjang bicara/ sangat bertuah tuan putri, akhir nanti menj adi raja/ bemama ayah Panglima Dusyarah, hulubal ang megah sangat pada raja/ banyak kerajaan raja tirani, raja beruji si isi neraka/ ia berkerajaan di negeri Yaman, di ne~ri itu ianya istana/ negeri pun ramai orang pun banyak sangat. nama pun berh ad diberi nama/ pertama Yaman kedua Dhaknan, ketiga diberi nama negeri Saba/ rakyat sangat bahara di negeri Yaman, medannya juga luas raya/
unipama bak melur cina/ sebab dapat ia beranak pada jin, kerap bermain ia ke dalam rimba/ buatannya setiap hari pergi ke hutan, per- buruan pergi menangkap rusa/ genap bulan memang
tak teduh, pergi makan menjangan dan rusa/ tiba pada bukit suatu waktu, tertentu pada suatu masa/ pada suatu hari pergi ke hutan, pergi bermain makan rusa/ sandang pakaian pun sangat lamak, pakaian bermain ke dalam rimba/ tengkuluk silang di kepala, kain baju tak terharga/ seraya sampai pakaian di badan, umpama hari sedang naik cahaya/ pergi hari ia menghala, bersama laskar serta dibawa/ dua tiga ratus rakyat menggiring, pembawa aring ke dalam rimba/ yang membawa pedang yang bawa lahuri, yang membawa lem bing alat senjata/ duli dan negeri tak sangat jarak, setengah hari berjalan sampai ke rimba/ begitulah jauh duli dan negeri, pergi dan kembali sampai sebatas senja/
pan glima pun sampai ke gunung Yaman, memasuki hutan bukit rusa/ masuknya lepas ia menyuruh pasang aring, dan disuruh pasang alat penahan rusa/ tuan panglima berdiri di hulu, memasukkan anjing pergi mengindera/ sementara memasukkan anjing, keluar- lah dulu raja jin rimba/ ia merupakan dirinya bak rupa menjangan, ia keluar kersak-kersuk ke depan panglima/ rakyat mendekat dan menangkap, disangka menjangan keluar dalam rimba/ semua rakyat senang hati, mendapat rizki itu tiba/ seraya ditangkap diberi tali, ia mengatakan diri pada panglima/ kami baru sampai ke sini, rusa lelaki tuan panglima/ kau dengarkah teungku sendiri, kutampakkan diriku pada anda/ hambamu jangan sangat kau sekap, pikir sekejap tuan panglima/ itulah tuanku sendiri, heran
segera-se~ra/ hai raja jin jangan gundah, demi Allah tak kuaniaya/ jin pun pulang tiada lawan, tak sepadan dengan jin rimba/ kulit licin tubuh cemerlang,dapatlah bercerrnin diri tampak muka/ itu-lah jin yang lelaki, poja putri tua panglima/ beranak raja jin pun seorang, orang bini elok rupanya/ diberi nama Si ti Umrah, hanya satu tiada saudara/
badan jenjang diri sedang, adalah bak binatang di udara/ telapak kakinya sangat tipis. diri betisnya turun sama/ pinggul anggun pin ~ang sedang, sampai ke atas rasa diputur/ lengan bulat rasa diraut, anak jari rasa dijangka/ tub uh berlulur bak bin tang timur. bak lampu bemyala tujuh mata/ itulah anak tuan putri, kawin nanti dengan panglima/ hari pun sudah akhir asar, hendak berangkat tuan panglima/ ia bertanya pada laskar, bertanya khabar bicara/ hari kita tiba sore, hari ini berapa tiba senja/ biar anda semua di sini, malam ini dalam rimba/ apa ditanya tuanku kepada kami, apa yang dikatakan kami rela / seraya beranjak bersama rakyat, mencari tempat istirahatnya/ meluruskan
jangm dicabuli, karni turut fi'il bagaikan anda/ semua rakyat
tiadalah yang tidur tuan malam ini, kusuruh bernyanyi seperti anda/ seraya rakyat disuruh bernyanyi, gaduh bunyi segala rimba/ jin orang bini semua jadi gila, enak men den gar suara panglima/ berahilah anak raja orang bini, suka melihat tuan panglima/ seraya merapat ke depan berdiri. di sana dipandangi dipernyata / kelakuan gilang gemilang, he ran memandang tuan panglima/ ram but panjang sepan gk uan, sanggul Ii pat tiga .bak kipas Cina/ semisal bulan sedang muda, begitu kiranya solek kilat muka/ tamsil bulan sedikit redup, sayup-sayup terlihat cahaya/ kilat gigi bak manikam, terangmalam bak purnama/ berahi Jagi hilang aka.I, tiada khabar mabuk gila / jin pun hilang dengan sekejap, sekelumit sekejap mata/ panglima
sembuh dari gila, berbicaralah dengan raja / dengarlah hai raja, berilah aku kawin dengan anak anda/ akan mas kawin sebanyak kau min- ta, meski seribu akan kubawa/ lalu sebutlah raja, dan berkata pada panglima / tiada patut tuanku meminta kawin, dengan kaum jin kurang bangsa/ tiada layak kau min ta kami, carilah bangsamu sendiri manusia/ pikirkan ke mana hati sendiri, patut kami menjadi orang tua/ panglima dengan khabar demikian, bengislah nian merah pun mata/ bila tak kau beri raja jin anakmu pada kami, tempatmu ini ha bis binasa/ teranglah h utan ha- bis kusuruh tebas, kusuruh rebahkan pohon raya/ jangan betah kau tin ggal lagi di tempat, kusuruh tumpuk segala rimba/ setelah kutumpuk dan kering, kubawa api kupemyala/
deng~u khabar demikian, sedih hati putus asa / tersentuh hati aka! pun sesat, sebab dendam sangat anak raja/ panglima tamsil kata tiga patah, dengarlah titah tuan pada anda/ sekira jenis bunga layu, di atas hulu setiap masa/ sekira jenis makanan,
kutelan sekejap ma ta/ umpama bak kainm u yang ha- lus, suka kutaruh jangan binasa / panglima duduk terpekur, air mata tumpah ke dada/ sedihlah hati raja jin ponang, lalu sayang ia akan panglima/ berkatalah raja jin, diberi- lah peluang khabar yang ada/ pada tuan kita Allah tiada berhad, te tapi pada adat jahat raya/ sudah pertemuan pada tuan kita Allah, bagaimanakah tak kurela / panglima den gar khabar demikian, ia berkawan den gan raja / ia bertutur lemah lembut, membuat senang ha ti raj a/ ki ta ini hendaklah sangat berkasih, agar tak ubah diberi tanda/ mulai kini sampai nan ti, jangan sunyi kapan pun tiba/ teri malah ulun- mu akan menentu, supaya kita bertemu mulia/ raja jin men den gar
Siti Umrah, dipemikah dengan tuan panglima/ di hadapan muka majelis, segala anak jin dalarn rimba/ setelah dinikahkan datang dayang-dayang, diangkat cepat ke atas keuta/ enarn tujuh anak jin yang sedang, bersesubang muda-muda/ enam tujuh yang memegang kipas, mengipasi peluh tuan pan glim a/ yang menyulang sirih yang buang sepah, yang menyeka peluh pada muka/ lagi tujuh orang yang mengipas badan, dua tiga orang yang bercengkerarna/ melihat ke kiri nyala cemerlang, kanan di- pandang tarnpak cahaya/ Siti didudukkan di sarn ping, panglima kerling
dengan ekor mata/suka hati panglima Dusyarah, Siti Umrah indah rupa/ semua dayang senang hati, melihat Siti
bermain mata/ rupa pun tak lebih kurang, misal ditimbang
dalam neraca/ umpama bak emas pelangi, patut jadi jodoh dengan panglima/ adalah sejenak duduk di sana, diangkat hidangan ke depan panglima/ sangai dan neuhab semuanya intan, disu- ji dengan kasab roma/ talam perak cawan intan, peunuman batu mutia/sebanyak-banyak ditaruh cawan, ikan sekalian jenis rupa/ tinggi lapisnya sebatas betis, ikan berje- nis segala aneka/ telah diangkatlah hidangan, tinggi dulang sebatas dada/ seorang dayang meme gang betil, air
cuci tangan tuan panglima/ nasi pun bulat panjang-panjang.
beras pun senang bak dijangka/ umpama bak bunga mulu
memang semua putih safa/ panglima sulang Siti Umrah, genap tiga suap geleng muka/ setelah makan diambil dulang, dipindahkan hidang raya/ rakyat pun tidur semua pingsan, semua tertidur di atas keuta/ panglima tidurlah telah ngantuk, malam larut terpejam mata/ Siti pun tidur di samping, panglima berpaling ia bersenda/ ia bersetubuh dengan Siti Umrah, tiba gairah tuan panglima/ takdir Allah semua rakyat, ngantuk semua rata-rata/ tiada seorang pun yang ingat, semuanya ngantuk rata-rata/ tak lagi ada yang mencabuli, jin kembali dari panglima/ hari pun fajar datang pagi, bangun semua bala tentera/ matahari pun terpancar, hendak berangkat tuan panglima/Siti Umrah pun telah ayal, mempersiapkan bekal panglima/ taruh makanan dalam hidangan,
Umrah, rnulia pada ayah tuan panglima/ anak dipegang tamsil bunga senan g hati mama suka cita/ budak dipikir dirasi nama, Zurratul Yarnan diberi nama/ tiga hari lahir budak ke luar, kemudian rn atilah mama / panglima rnenangis di bawah pohon, to- pang kepala tumpah air ma ta/ air m ata mengalir sampai ke bumi. bertetali
wahai· anak bukanlah alang, daripada ·ma ti ibu cukuplah mati bapa/ panglima menangis di bawah pohon, bertopang kepala · melimpah air mata/ panglima duduk ·tei'pekur, airmata · · tum pah ke dada/ ' ·' raja Um rah pun telah,hi1'ang, semu.a dayangj'adi gila/ · bergoncanglah m ahJ.i ga:i;; cfayan'g·mem-tikul diri dld-beuraleuen lagi menganga/ ' · ·. 't· : '. ' panglima!heran me-Iihatnya:, majeHs jin baki mal'lusia/.; panglima pun·lam) · • • · panglima berangkat dari hutan, panglima pulang ke negeri Saba/ ' ; ·1 • • :" •, ' · L <::.: ':; • ·,. ,,. !,. _,,
;·r·'.
ingat pun ia tiada Iagi,' 5etfab ma ti buhdailya/ tak pernah lagi ia tahu, 'hatl p'ecafl 'tu~m pan glim a /. II tak pernah diirigat ak
ulun bawakan pulang tuanku ke negeri, nan di sisi anak di anda/ ia nan kepada jin tuanku titipkan, dikatakan pay ah dipelihara/ sedikit salah tuanku digerantang, disuruh pulang pada wang kepada anda/ kini pun tuanku jangan tinggal lagi, bawalah pada wali ke negeri Saba/ benarlah tuanku hamba tiada ibu bapa, kurang indah dipermulia/ bicaranya pun hari wang lebih kurang, tak siapa melintang saat tiada anda/ kini pun tuanku jangan tinggalkan lagi, bawalah kepada wali ke negeri Saba/ panglima mendengar khabar demikian, ia berpikir seketika/ bagaimanakah anak engkau kubawa, sangatlah dajal raja
Saba/ kerajaan pun sangat lagi kuat, semua rakyat dianiaya/ semua rakyat dipertakut, orang direbut diam bi! harta/ selain demikian ia pun dajal, anak orang bini semua disuruh bawa/ itulah sebab yang ku- takut, itu direbut diambil anda/ karena ulun diam bi! negeri, malu kami kepada dunia/ kutahan anda nak dari pada malu, entah kutemu di atas sula/ sampailah ucap tuan putri, sangatlah enak diberi dakwa/ jangan gundah tuanku sendiri, daripada kami suatu bicara/ janganlah tuanku jadi takut, sebelum maut takkan binasa/ lagi belurn tuanku izin Allah, bagaimanakah dika- rena/ sempat terebut mahligai satu yang tegar, kita dirikan di luar negeri Saba/ jemputlah ulun dalam hutan, bawakan kembali ke istana/ jang;m gundah wahai wang sendiri, anakmu ini memerangi
panglima dengar khabar demikian, terpikir ia seketika/ panglima pikir umur sekejap, berucap-ucap dengan ananda/ betapa kau katakan melawan, manakah jalan biji ma ta/ berapal ah hidup nak an da orang bini, kami lelaki tak kuasa/ datanglah ucap tuan putri, sangatlah ahli bijaksana/ anda orang laki tuan kekerasan, tuanku melawan dengan alat senjata/ mencari !em bing pun yang tajam,. sekali tusuk ia fan a/ kami orang bini tak kekerasan, biar melawan cara syuhada/ dengarlah tamsil kata tiga patah, jangan gundah tuanku anda/ umpama bak orang ngantuk, adakah mengingat semasa pulasnya/ masa isya merehat diri, terkejut hari telah larut dilihatnya/ begitulah tamsil kata kami, orang bini memerangi raja/ panglima dengar khabar demikian, dipersiap berangkat dari dalam rimba/
habis diajak jin orang laki, pergi ban tu putri ban gun istana/ jin yang sampai pun tujuh diri, yang ahli bijaksana/ pertama tukangmenarah, kayu senang bak dijangka/ kedua tukang menim bang, siap ruang sangat biasa/ ketiga tukang menatah, barang pucuk diadakannya/ keempat tukang menulis, berjenis sendi warna/ kelima tukang merapat, kayu rapat tak ter- bela/ keenam tukang mengukir. bunga pun hadir dalam reka/ ketujuh tukang memandai, yang penyeru bangun istana/ rakyat pun banyak beribu. turunkan kayu dari rimba/ kayu arung empat persegi, sungguh adi tiang istana/ sebagian menaruh sebagian memahat, sebagian pun yang dapat menjangka/ dua tiga ratus jin yang pandai,
bunga · dihalus. ukfrist~ni:al/ Juas ruarlg ~mpat persegi, tempat istirahat dirinya/ dibuat pintu papan- ' ' kuari;_ ipak.u: b'esi₁kmrci:tembaga/ ldintlingnya pun sem ua rapqt >di· lllila:r -ciicat· den.gan. air perada·/- · di atas bubun.gs-"alur..bayung, di bawah burbung cerada/ perada/ dibuatlah saflUl:trbayung.,i. ·d.itnrilHah.:gasing · · tt: ;» tampuk men'gust;:if,dibuat·pintu·1J.a:pal'l kuari,. '·. 1. 1 "· papan empat segi chrar>7
| i.. •· ', | ||
|---|---|---|
| sangat;ley>as;: panj~1cng1Juas; til?;l | fiL ! •-'· : | : " |
| dibuat ! keutarsattrdii.' dialariks~b.uah. |
tiang tinggi p.uluhi.
hasJa/J;dibuati.u,<ir -da;Fdi-rumbi;. .diberi Sen di ....,
batu ml.itia:( : · :-·. manikam yang.:bet!C:ahaya'/i buju-r' dan.11ntang embang.empat .. •• ..,
(·,..
segi, tempat istirahat dirinya/ disepit dinding empat persegi, intan dan pudi bertatah ratna/ PllFa, rrwl:\H.~i, ew-patp~rs~.gi; jil). s~n.gat 1 .. ahli di pertua/ ~i,t;i.. tRJ}g~q;ili ~.e ·a i;is; ~angegal<,i dt,in~a / · Ajaib Subhanallah, sangat klutlif?h; P.l!t,rj rimba/ tiga h~rj. tiga...:~~}am. m:aplj.gai 1 dihu'at, ~~les~i)ah cukup ha bis pum~/, Clr:}ng,~~~ij ·P:411 talb,. 1 .· ... tahu, mahligai dipirikan;dal~ n~geri Saba/ d;in raja pun tak tahu, seray11 p~r.temu ,.
pun telah purna/ panglima berbelanja dua tiga kati, alat putri disuruh tempa/ habis cukup semua alat, emas enam ratus berat jadi alat putri rimba/ dua tiga ratus kendi perak, dua tiga ratus kendi suasa/ ada tiga ratus batil perak, dua tiga ratus batil suasa/ ada tiga ratus keris yang berterapan, tiga ratus puan yang berpermata/ mundam emas mundam intan, penuman batu mutia/ selain demikian gelang dan su- bang, alat pakaian di anggota/ pihak dikasih putri Balkis, alatnya habis ayah sedia/ agar sempurna anak jin hutan, jangan terkatakan pada dunia/ begitu terpikir pada hati, telah sampailah sudah dibawa/
panglima pergi ke hutan, jemputkan putri ke dalam rimba/ anak dibawanya ke negeri, lekas putri ia bawa/ semua rakyat berkekati, jin di hutan habis dibawa/ ia mengantar putri ke negeri, dituruni di istana/ lama kelamaan putri di sana, kedengaran sampai pada raja/ masa itu raja pun berangkat, pergi bersama rakyat bersesuka/ berangkat ia selang dua bentang sawah, bertemulah mahligai raya/ berhenti sekejap sedang berangkat, istirahat sesaat seketika/ salang dari jauh amat lelaki, entah ada putri dalam istana/ seraya tampak ia memandang, bukan sembarang suka cita/ seraya tampak di depan pintu, hijau biru pancawarna/ dilihat ukir pun sangat indah, Subhanallah sangat- lah kaya/ disuruhnya masuk segenap lelaki, pergi
melihat putri betapakah rupa/ orang laki beranjak lekas-lekas, masuk bergegas segera-segera / terkejutlah penghulu pintu, dari mana orang ke sini tiba/ dihunus pedang hendak dicincang, berlarilah ia pada raja berdiri menghadap, dan didaulat pintas segera / syahi alam daulat tuanku. tak diberi masuk dalam istana/ seraya raja dengar khabar demikian. sungguh kesalahan kusuruh anda/ ketika disuruh pergi orang bini, rupa sang bini dayang dibawa/ orang bini pergi lekas-lekas, segera masuk ke pintu istana/ tercenganglah penghulu pin tu, indah laku orang tiba/ pergi persembah pada tuan putri, orang bini sendiri tiba/ tuan putri dengar khabar demikian, sabdanya masuklah segera / dayang dengar khabar demikian, pergi seketika pintas segera/ sabda masuklah ke dalam mercu alam, masuklah tuan segera/
r-~~~~~.~~ij~L.n, dijejaklah kemudian pintas
1D~t~~U!::>.; ~ ~ i--------
'-"fa-dud uk di atas permadani, di atas kursi sangat mulia/
dilihat keuta sebuah di dalam, tam bah manikam yang bercahaya/ semua dayang bersesubang, jenjang-jenjang muda-muda/ tuan putri gilang gemilang, badan sedang belum raya/ telahlah dilihat tampak sudah, panglima Dusyarahlah ayahanda/ ia melihat panglima di sana, keluar ia kemudian pintas segera/ keluar ia segera ke padang, berdiri menghadap daulat raja/ syahi alam daulat tuanku ampun, perhambaan ulun hadharat mulia/ ulunmu lihat tuanku alat mahligai, patutnya isi tuanku anda/ semua dayang bersesubang, jenjang-jenjang muda-muda/ tuan putri tuanku gilang gemilang, badan sedang belum ray a/ seraya mendengar khabar
seg;:ra / sampai pan glim a ke mercu alam, berdiri menghadap daulat raja/ syahi al am daulat tuanku ampun, ulun dipanggilakn
telah tiba/ matilah kau panglima dengki, mengapa begini kau panglima/ barang pekerjaan tak seperti kau katakan, tak pernah datang ke sini tiba/ kau bangun mahligai dalam negeri ini, tak izin kami pun k au kerja/ kau beranak pun ada khabar seorang, orang bini sangat elok rupa/ mengapa tak kau persembahkan, kau tak tampakkan kulihat rupa/ kau sayangkan anakmu sendiri, segala negeri lain kusuruh bawa/ panglima dengar khabar demikian, gemetarlah anggotanya/ bergetarlah lutut, ia berdau- lat sege ra-segera / syahi alam daulat tuanku ampun, ulun mu kawin saat mencari rusa/ ulun tuanku beranak sendiri, orang bini sripada/ umur tiga hari tuanku ada budak, ibunya pun mati hay sripada/ kusuruh upah pad a jin hutan, kusuruh permain dipelihara/ lagi besar mendekati
balig, ia minta pulang ke negeri Saba/dibangun mahligai tuanku sebesar ini, dengan hartanya sendiri pusaka/ begitulah tuanku emas dipecah, harta pernah bagian dari bunda/ dibawa modal tuanku dari dalam rimba, pusaka zaman pada kakeknya raja/ sahlah benar panglima yang kau katakan, tak barekah engkau cerita/ kini pun berikan dia pada kami, kuminta kini anak anda/ untunglah anda panglima kukasih, kuberi majelis kepermulia/ panglima dengar demikian, berpikirlah ia seketika/ panglima pikir umur sekejap, bermohon keluar- lah pada raja/ syahi alam daulat tuanku ampun, ulunmu pergi tanya pada putri rimba/ panglima keluar- lah dari dalam, hati bimbang dalam dada/ sampai panglima ke mercu alam, bertuturlah dengan ananda/ wahai anak raja berkehendak,
minta kawin dengan ananda/ entah benar entah tidak, entah mungkin anda dibawa/ datang bersahut tuan putri, sangat lihaidiberi dakwa/memanglah tuanku itu kuminta, untungkudapat bagai kuminta/ ayahanda entah mau menyayang, anak hutan hina dina/ dapat negeri ini kukemudi, kasih terkenali tuan mahkota/ kini pun katakan ya hai wang senang hati, diangkat kepala oleh sripada/rasa kujejak di atas angin, rasa kuterbang ke udara/ tiada lebih dari ini megah, sangat bertuah putri rimba/ kini pun katakan aku mau kawin, katakan sangat berkehendak aku pada raja/ panglima dengar khabar demikian, pergilah kemudian kepada raja/ berdiri di bawah perakna sembah, junjung khalifah daulat
Sripada/ rasa dijejak atas angin, rasa bennain di udara/ tiada lebih dari pada ini megah. sangat bertuah putri rimba/ kini pun tuanku mau kawin, dikatakan sangat hendak nya akan raja/ seraya raja mendengar khabar demikian, terse- nyumlah mukanya/ kini pun katakan panglima sangat, kukasih amat kupermulia/ raja buat sebuah surat, disuruh antar kepada putri rim ba / adakah kau dengar tuan putri, berahilah badan- ku kepada anda/ berahilah badan sangat gemetar, salang pun
khabar belum rupa/ setelah disurat lalu dilipat, disuruh an tar pada panglima/ panglima keluar dari dalam, surat dipegang bersama dibawa/ sampai panglima itu ke dalam, diserahkan surat pada ananda/ putri melihat surat, melihat ia kata apakah sabda/ setelah mem baca surat, ia membalas kata pada raja / putri serahkan sebuah surat, mem balas kata kepada raj a/ daulat dir- gahayu ya tuhanku, ulun sangat rindu kepada Sripada/ rindu hati siang malam, syahi alam hendak ku berlari pergi melihat rupa/ lagi belum tuanku anda ke temu, hatiku layu bak bunga mala/ umpama tertumpah air ke dalam celah tanah, begitulah amblas habis fana/ cobalah bermain tuanku ke dalam mahligai kami, lihatlah perhiasan dalam istana/
lagi sripada/ setelah disurat lalu dilipat, disuruh an tar pada ayahanda/ panglima keluar dari dalarn, surat digenggarn bersarna dibawa/ sarnpai panglima ke mercu alam, berdiri menghadap daulat raja / diambil surat di tangan, lalu diserahkan kepada raja/ raja bukalah surat, dilihatnya kata apakah sabda/ setelah membaca surat, disuruh kerah rakyat semuanya/ bujang dengar khabar demikian, pergi ia kemudian pintas se~ra/ dirusuhnya pergi panglima men teri, tuan ki ta malam ini berpesta/ datanglah rakyat dan hulubalang, di luar di padang orang kekaya/ berdiri di bawah perakna sembah, junjung khalifah daulat raja/ syahi alam daulat tuanku arnpun, kami disuruh
diseranta/ datang bersahut raja sripada, cepat-cepat ia bersabda/ kami kerah semua rakyat, hendak berangkat bersesuka/ kemana berangkat tuanku kini, manakah negeri ya sripada/ tak begitu jauh berangkat kami, dekat di sini negeri Saba/ adalah jarak selang dua bentang sawah, hendak menjemput putri rimba/ raja naik- lah ke mercu alarn, mengarnbil alat kerajaan berangkat ia/ diturunkan dari istana mung-mung dan canang, bergerancang gong dan genderang bunyi suara/ panglima dahulu berangkat, pergi sampaikan khabar pada ananda/ wahai anak percukupkan diri, raja kini ke sini tiba/ tuan putri berisap diri, telah berhias menghadap raja/ menghiasi dayang tujuh orang, yang perempuan anak jin rim ba/ dipilih yang badan jenjang, kulitnya bak bunga cempaka/ dibubuh di kepala minyak
neuhoy, lipat sanggul kepang tiga/ dibubuh di telinga subang berterapan, sulur intan pudi dan mutia/ azimat emas ikay makhoe, gelang di tangannya bergenta/ dia memakai kain sutra, kasab roma sememata/ baunya limpah semer- bak, bau kelembak bau cendana/ dibubuhlah bunga campur baur, disuruh pegang dalam serana/ tujuhnya itu yang menghadang, menabur bunga kepada raja/ tuan putri naik ke mercu alam, dibuka bubung tingkap istana/ dilihatlah rakyat penuh padang, disuruh hadang pada ayahanda/ tuanku pergi pintas-pintas, katakan jangan lepas dahulu mereka/ habis terkejut semua anak jin, tak pernah ia melihat manusia/ sebagian gila sebagian bimbang, hendak terbang ke udara/ tuan putri tak sanggup meme gang, hendak melompat dari keuta/ berangkatlah ayahanda sendiri, biar nanti rakyat tiba/ seraya raja dengar khabar demikian, ditinggallah di padang bala tentara/ berangkatlah ia sendiri, mendekatkan diri pada
pintu istana/ dihentikan gajah di depan pintu, turun lalu dari atas rangka/ seraya berjalan buru-buru, sampai ke pintu yang pertama/ seraya lepas ia masuk, dihambur bunga ke atas jemala/ raja melihat orang pemegang bunga, disangka putri pergi menghampirinya/ hendak ditangkap pun di- surut, ia mendaulat dipermulia/ syahi alam daulat tuanku ampun, ini ulun hamba sahaya/ setelah raja mendengar khabar demikian, ia pun surut kemudian malu muka/ seraya berjalan buru-buru, sampai ke pintu yang ke dua/ seraya lepas ia masuk, dihambur bunga di atas jemala/ raja melihat orang pemegang bunga, lebih cantik ia dari yang telah ada/ seraya mengingat pada yang tadi, bukan putri pada kekira/ seraya berjalan buru-buru, ketujuh pintu habis semua/ia duduk
di atas permadani, di atas kursi yang amat mulia/ semua dayang bersesubang, jenjang-jenjang muda-muda/ melihat ke kiri cahaya cemerlang, kanan dipandang limpah cahaya/ enam tujuh yang memegang kipas, mengipas peluh pada muka/ raja Sareh mabuk sendiri, menyangka putri di sana serta/ tuan putri dalam kelambu, tidur beradu belum jaga/ lalu sekejap bangun tuan putri, mempercukupkan diri bertemu dengan raja/ memakai cicn di jari, intan dan pudi berpermata/ gelang dan subang berterapan, sama semua yang bercendera/ memakai kain halus umpama
asap, pakai melekap pada anggota/ habis lengkap
pakaian di badan, seperti hari sedang naik cahaya/ berambut panjang terurai, bunga berkarang di atas jemala/ dibubuh pada
neuhoy, dilipat sanggul panta tiga/ tuan putri tu run Jari kelam bu, pergi berlalu ke de pan raja / enam tujuh ratus pelayan mengiring, tuan putri turun kepada raja/ raja rebah pingsan, entah kapan tergila-gila / turun putri duduk di samping, samping-me nyamp ing di kiri raja/ raja pulih dari pingsan, me ndekat ia bersenda/ tuan putri melepaskan diri, bergeser ke setiap segi keuta/ baru se- saat duduk di sana. diangkat hidangan ke depan raja/ tak banyak ia makan, kami berkesempatan melihat anda/ seraya dipindah hidangan, pada dayang juru bahasa/ putri suruh buat satu lagi hidanga n, dibubuh di dalam cawan piala/ dalam cawan berjenis-jenis, dalam air manis tinggi rasa/ raja meminum
air m anis, setelah habis lima piala/ ia berhenti sekejap, ditaku t mabuk oleh raja/ minumlah anda tuan putri, c ukup di kami -.·oba rasa / putri minumlah cepat-cepat, tujuh cawan habis fana / berhentilah ia sekejap, lagi dis uruh minum kepada raja/ raja min um cepat-cepat, tiga cawan habis fa na/ raja 111abuk rebah pingsan, tak sadarkan pulas ti durnya/ tuan putri menghunus pedang, memotong kerongkongan 111ayat terlentang dalam istana/ dibuang may at raja Sareh. itu di kaki disuruh hela / putri memanggil panglima Dusyarah. diperlihatkanlah mayat raja/ pangli ma hunus lagi pedang, dipotong cincang hendak menggantung kepala ke pintu istan a/ datanglah kata panglima Dusyarah, ia bertitah p;_ida ananda/ wahai anak sibuah h a ti,
bemrnfakat dengan guna- ngan, bikin makanan selengkapan jenis semua/ dan makan banyak lagi, sangat tampak tinggi rasa / dibubuh makanan dalam hidangan, semua pinggannya suasa/ dibubuh talam pun semua perak, dibubuh cawan semua permata/ sabda rakyat yang duduk di padang, masuklah cepat bala tentera/ sabdanya masuk ke dalam, masuk cepat orang kekaya/ hulubalang den gar khabar demikian, masuklah kemudian semua yang ada/ didudukkan di halaman perakna sem bah, jenjang khalifah di halaman istana/ sekejap ia dudukdi sana, diangkat hidangan segera-segera/ dan setelah diangkat hidangan, tuan putri turun dalam istana/ adakah kau dengar hulubalang, sabda makanlah
dang, tuan turun dalam istana/ tuan putri turun dalam mercu al am, masuk pada rakyat semua yang ada / adakah kau dengar hulubalang, tuanmu persembah kepada anda/ tuanmu tidur dalam mahligai,- kami ganti barang sabda/ disuruh pergi jemput anak orang kampung. semua kau himpun ke sini kau bawa/ hendak dipilih yang terasa jenjan g, yang sedang sedang akan dayang isi istana/ hulubalang den gar khabar demikian, jadi me rah padam m asam m uka/ menjunjung tangan di atas kepala, rasa berrnandi tumpah air mata/ mengapa demikian anda berperangani, anak kami mengapa di suruh bawa/ anak bini takkan
kami beri, suruhkan bunuh mati kami sem ua / junjung tangan di atas kepala, rasa berrnandi tumpah air mata/ jangan gundah hulubalang, kupersembahkan kepada raja/ tuan putri naik ke mercu alam makan sirih sekapur, turun melaju sampaikan sabda/ adakah kau dengar hulubalang. tak dimaklurn khabar anda/ ketika tuanmu dengar khabar dernikian, sangat arn arahnya pada anda/ ia hendak meloncat dengan kaki, dihunus lagi pedang raya/ ulun pegang di tangan, ia patuh karni mernbela/ pihak ulunrnu dikasih, sernua patuh tak didakwa/ hulubalang dengar khabar dernikian, hulubalang menangis bengkak rnata/ anak bini kami tak beri, suruh bunuh rn ati karni semua/ datang]ah kata tuan putri, berbicara segera-segera/
jangan sangat gundah hulubalang, dengarlah kukatakan kepada anda/ kini pun ada suatu padan, maukah kabul dari anda/ biar kubela anda kini, anakmu orang bini tak kuberi dibawa/ biar kubela anda kini, maukah kami diangkat jadi raja / hulubalang dengar khabar demikiap, mereka menghadap sem uanya/ hulubalang menghadap berkekati, diangkat putri ganti raja/ diletuskan bedil nubat, diberi kuasa putri rimba/ ditampakkanlah kepala raja Sareh, senang ha ti rakyat semua/ hulubalang semua senang hati, diangkat putri ganti raja/ diletuskan bedil dua kali tujuh, hendak di kukuh putrinya raja/ dunia pun tetap
kerajaan, di negeri Yaman putri Bulukeih mengatur dunia/ umur sepuluh tahun putri kerajaan, kedengaran kepada seorang raja / megah putri ke negeri Syam, kepada Sulaiman kerajaan raya.
ISi DAN NILAI TRADISIONAL YANG TERKANDUNG DI DALAM NASKAH
A. Hikayat Seuekreuet Mawot Hikayat Seuekreuet Mawot menceritakan tentang terjadinya maut dengan rupa yang cukup indah dan besar, namun tak se- orang pun pernah melihat dan tidak diketahui tempatnya. Demi- kian hebat maut diciptakan Al lah. apalagi manusia, alam dan se- gala isinya. Maut a tau nyawa dapat di cabut oleh malaikat yang m emang bertugas untuk i tu. Sia pa saja apakah orang muslim, Nasrani, oran g-o rang durhaka dan sebagainya akan mengalaminya. Orang-orang muslim yang taat mendapat tanda-tanda yang ber- bahagia, sebaliknya orang-orang muslim yang durhaka mendapat tanda-tanda murka. Diumpamakan orang-orang murka mem- bawa surat yang hitam kelam. Sementara orang-orang yang sa- leh / taat m embawa surat yan g bercahaya. Dije laskan pula suatu kondisi a tau keadaan yang mencekam pada saat menjelang meninggal. Semua yang dimiliki akan diting- gal, harta yang banyak, isteri cantik, handai taulan dan sebagainya. Pada saat itu iblis pun datang menggoda agar meninggalkan
I 01
agama. Orang yang kurang beriman, maka ia akan terpengaruh, dan mendapat siksaan yang maha dahsyat. Pada saat itu nyawa datang dan mengatakan bahwa hayatnya lalai pada agama dan hanya memikirkan keduniaan, padahal itu semua akan diting- gal, tanpa satu orang pun yang dapat mendampingi perjalanan ke alam baka (barzah).
Diceriterakan tentang kegiatan-kegiatan apabila seseorang meninggal dunia mulai dari keluarnya nyawa, dimandikan, dikafankan, dimasukkan ke dalam keranda, sampai ke liang lahat. Nampaknya semua merupakan nasehat atau peringatan bagi orang-orang yang masih hidup.
Sepanjang perjalanan menuju kuburan nyawa diibaratkan dapat bersuara, menitip pesan bahwa "kita'' akan bertemu di akhirat. Keadaan di dalam kubur diungkapkan sebagai penuh penderitaan seperti dihimpit tiada tara, dengan siksaan-siksaan dan seakan nampak neraka. Bagi orang-orang yang maksiat siksaan itu tidak luput sampai dengan hari akhirat. Diungkapkan pula setelah beberapa hari nyawa datang melihat jasad, diper- saksikan keluar nanah dan darah melalui mulut. hidung, telinga tiada putus-putusnya. Di samping itu kelihatan ulat sedang me- rusak kulit, memakan daging sehingga runtuh semua anggota badan. Selanjutnya diceritakan di liang lahat dimasukkan sang- kakala, semua yang maksiat tetap dalam siksaan. Demikianlah digambarkan siksaan-siksaan di dalam kubur, sehingga berikut- nya dinasehatkan agar menghindari mungkar dan mengerjakan yang makruf serta tauoat dan ibadat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia dilahirkan sebagai Khalifah di muka bumi. diberikan ma ta, hi dung, nyawa dan hay at (tub uh) a tau jasad yang cantik, mulut, lidah untuk berbicara telinga untuk mendengar. mata untuk melihat, tangan dan kaki juga hati. Kesemuanya di- peruntukkan kepada hal-hal yang benar, bermanfaat, bersyukur dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Mahluk diberikan daya pikir dan aka! untuk beramaL saling menghormati, saling kenal, jangan khianat sesamanya, bersama-sama berm ufakat. dan menghonnati orang tua. Memberi salam sesama muslim,
bersalaman / bermaafan tanda mulia. Dianjurkan untuk menun- tut ilmu baik lelaki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Cinta akan sembahyang, karena orang yang durhaka akan mendapat siksa di akhirat. Lakukan sembahyang lima waktu sehari semalam selain dari membaca Al-Qur'an, berpuasa di bu-Ian Ramadhan, membayar zakat, naik haji, umumnya menjalan- kan rukun lima. lngat akan Nabi Muhammad, syukur kepada Allah, takut akan mati bagi yang maksiat. Memakan makanan yang haram hendaknya dijauhkan agar suci badan dan nyawa, seraya berdo'a kepada Tuhan, belajar kepada guru agama yang mempunyai ilmu yang sempurna. Apabila kaum mukmin me- ninggal, setelah dikuburkan akan datang malaikat Munkar Nang- kir menanyakan siapa Tuharunu, apa agamamu, imam dan kib- latmu, dan siapa saudara-saudaramu. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan ucapan yang benar, apabila ia seorang muslim yang taat dan beriman. Digambarkan pula bagaimana kesenangan di alam barzah bagi m ukmin yang taat akan ke-lslamannya, kuburannya luas mendapat wangi-wangian dan bercahaya terang berderang. Di seluruh badan diberikan perhiasan seperti bulan purnarna. Se- mua amalannya datang, begi tu setia kepadanya. Demikianlah balasan-balasan yang diberikan kepada orang yang beram al saleh ..
B. Hikayat Putroe Bulukeih
Dalam hikayat diceritakan Putroe Bulukeih berasal dari negeri Yaman. lbunya anak Raja jin dan ayahnya anak manusia. Negeri Yaman sangat ramai. Rajanya memerintah dengan se-mena-mena, dan ia senang akan gadis-gadis cantik. Hulubalang Dusyarah, ayah Putroe Bulukeih, sangat gagah, sering bepergian dalam rimba sehingga ia mendapat anak dengan jin. Ia senang berburu rusa dengan serom bongan bala tentara serta perleng- kapan senj ata. Jarak antara tempat tinggal dengan perburuan lebih kurang satu hari perjalanan. Suatu ketika ia menangkap rusa. Rupanya rusa itu sebenamya adalah jin yang menyerupai rusa. Kemudian terjadi dialog antara Hulubalang Dusyarah de-
ngan jin yang menyerupai rusa tersebut. Panglima Dusyarah ber-. janji tidak akan menganiayanya. Jin diberi nama Umrah, digam- barkan sangat cantik sehingga panglima kawin dengannya. Setelah dialog yang panjang tentang kasih cinta, disepakati perkawinan antara Panglima dan Siti Umrah yang merupakan anak dari raja jin. Dirayakanlah upacara perkawinan ini dengan penuh ke- megahan dan perlengkapan yang sangat mewah. Usai perkawinan besok paginya panglima akan kembali ke negerinya. Tuan puteri mempersiapkan perbekalan untuk diperjalanan. Sedang beberapa bulan panglima kembali menjenguk istrinya dan anaknya sudah lahir. Sang ayah membelai anaknya dan diberi nama Zuratul Yaman. Ketika sudah dewasa dipanggil Putroe Bulukeih. Tiga hari setelah ia lahir ibunya meninggal. Sang panglim a sangat bersedih. Peristiwa ini mengguncangkan istana. Sang bayi diti- tipkan, sementara panglima kembali ke negerinya. Waktu terus berl alu. Suatu ketika, panglima berhasrat menjumpai anaknya.
Perjumpaan sang ayah dengan anak mempunyai makna ter- sendiri. Si anak menghendaki agar dibawa ke negeri ayahnya. Ayah keberatan, karena di sana sang raja memerintah semena- mena, rakyat ditakut-takuti, harta rakyat dirarnpas, gadis di- perkosa. Akhirnya anak itu dibawa pulang oleh anayhnya dan ditempatkan di luar kerajaan Saba, di sana didirikan istana. Setelah dewasa sang anak berniat akan melawan pemerintah/raja karena zalim. Menurut si ayah ha! itu adalah tidak mungkin karena ia seorang perempuan, tetapi ia tetap berkeyakinan dapat melawan raja. Kernudian sang putri mengumpulkan se11ala jin dan mendirikan istana yang dikerjakan secara gotong-royong dan selesai seketika. Akhirnya raja tahu siapa yang mendirikan istana tanpa izin.
Sang Raja meminta agar Putroe Bulukei h mau kawin dengannya. Sang ayah lalu menanyai anaknya. Sang Putri setuju dengan permintaan agar sang raja dapat melihat is tan a sang putri dan di sana dijadikan pusat kerajaan. Sarnpai istana sang putri,
raja dijamu dengan segala kemewahan. Raja duduk berdamping- an dengan putri sambil minum-minum. Sang putri menyegukkan minuman. Karena terlalu banyak minum sangraja pingsan. Saat itu sang putri mengambil pedang dan membunuh sang raja. T uan putri memerintahkan agar semua isi istana raja diko- songkan dan diserahkan kepada sang putri. Saat itu pula sang putri memegang tampuk pemerintahan berpusat di Yaman. Cerita ini memberikan kesan bahwa orang yang mabuk akan kecantikan, kemewahan, dan memerintah sewenang-wenang tak akan bertahan lama.
V RELEV AN SI DAN PE RAN AN N ASKAH
DALAM PEMBINAAN DAN PEN.GF.MBANGAN KEBUDA Y AAN NASIONAL
Hikayat " Seukreuet Mawot" menggambarkan bagaimana pedihnya seseorang muslim yang maksiat pada saat-saat nyawa keluar dari tubuhnya. Bagaimana azab yang terjadi di alam bar- zah, ~iksaan di dalam kubur yang serba pedih. Bagi muslim yang shaleh dil?fUTlbarkan sebagai hal yang enak gembira, demikian pula di dalam kubur, terdapat keadaan yang menyenangkan sekaan-akan terlihat surga. Muslim yang shaleh/taat menerima surat perhitungan dengan tangan kanan, dengan penuh ceria. Sebaliknya yang durjana menerima surat itu dengan tangan kiri denJ?an perasaan yang oanas, mengeri~an Hikayat ini memberi kesan kepada masyarakat agar manusia/ masyarakat senantiasa taat, karena di dunia ini hanya sementara yang kekal abadi adalah di akhirat. Hikayat ini juga mengajar- kan agar umat manusia cerdas, dan selalu menuntut ilmu, agar ia dapat berbahagia di dunia dan akhirat. Dalam Hikayat Putroe Bulukeih _dapat kita menl?fUTlbil mak- na bahwa memerintah tidak boleh semena~mena, harus menurut rule of the game, jangan mabuk cinta, kemewahan dan terlena dengan kecantikan, karena itu akan meruntuhkan moral. Apabi- la moral runtuh maka kekuasaan pun hilang seketika.
VI
PENUTUP
- llikayat "Seukreuet Mawot" berorientasi kepada agama Islam. Apabila dibaca dan ditelusuri dari halaman ke halaman sem ua isinya mendidik manusia agar taqwa, dengpn gambaran azab yang maha pedih bagi mereka yang tidak beriman dan bertakwa.
- Hidup ini terdiri dari hidup di dunia, alam barzah/alam kubur dan alam akhirat. Menguasai dunia dengan ilmu peng!- tahuan, lapang di alam Barzah dengan ilmu pengetahuan dan berbahagia di akhirat juga dengan ilmu pengetahuan. Manusia dianjurkan menuntut ilmu pengetahuan mulai dari ayun- an sampai ke Jiang kubur.
- Dalam hidup ini hubungan kemanusiaan hams dijalin dengan sopan santun, saling menghormati, bermaaf-maafan, saling memperhatikan antara satu den g;;m yang lain. Jika ini tercapai kehidupan manusia aman tenteram.
- Hikayat "Putroe Bulukeih" melukiskan tidak tanduk seorang raja yang kejam, zalim, perampas dan semena-mena. Sang raja mabuk dengan kecantikan dan kemewahan tidak dicintai oleh rakyatnya, sehingga akhirnya kerajaan itu run- tuh.
KEPUSTAKAAN
Djajadiningrat, Hoesin, R.A. DR. Atjehsch-Nederland
sch Woordenbock. Landsdrukkerij, 1934.Gibb, H.A.R., dan J. H. Krammers. Th e Excyclopaedia of
Islam. Leiden : E.J. Brill, 1 953.Iskandar, Teuku, DR. De Hikajat Atjeh. S. Cravenhage
Martinus Nijhoff, 1958.Kreemer, J. Atjeh. Leiden: N.V. Bochandel en Drukkerij,
E.J. Brill, 1923.- •. Marbawy, Idris, Al-Qamus (Arab-Melayu). Mesir : Mustafa
Al-Baby Al-Halaby wa Awladuhu, 1350
H.
6. Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta, PN. Balai Pustaka, 1984
- Sheikh Salim, Otman bin, Sheikh, B.A. (Ed.) Kamus Dewan.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia,
1989.
8. Snou<>k Hurgronje, C. DR. De Atjehers. Leiden. Batavia
Lansdrukkerij, E.J. Brill, 1853.
- Yunus, Mahmud, Prof. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/ Penafsir Al-Qur'an, 1973. iO. Zainuddin, H.M. Tarich Atjeh dan Nusanf(1ra,Medan Pustaka Iskandar Muda, 1960.
Lampiran
PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH
C
P.wch
U
03 Sad:1-4
- Aceh Besar
- Aceh Pidie
- Aceh U tara
- Aceh Timur
- Aceh Barat
- Aceh Selatan
- Aceh Tengah
- Aceh Tenggara Batas Kabupaten Batas Kereta Api Sun gai 0 20 1A2
P. 5.n, a9
服