Fragmen Naskah
Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang
Fragmen Naskah
Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang
Direktorat lnternalisasi • Nilai dan Diplomasi Budaya
Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2013
Pengarah: Prof. Dr. Kacung M arij an
Penanggungjawab: Diah Hari anti
Penulis: Eko Wahyunings ih
Alih Aksara dan Bahasa: M ega Fairayanti
Editor: Dr. Hasa n Djafar
Redaksi: Li en Dw iari Ratnawati Erna Febriani St. Prabawa Siti Khoirnafiya h Sri Sol i khatu I
Perwajahan: Sukasno
DIREKTUR lNTERNALISASI NILAI DAN DIPLOMAS! BUDAYA
P e1iama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat-Nya buku tentang Naskah Boek Koenta_ ra Raja Niti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang dari Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2013 dapat diterbitkan.
Penerbitan buku ini merupakan bagian dari Kegiatan Pencatatan Kekayaan Budaya Takbenda untuk memperkenalkan kepada masyarakat mengenai sa lah satu kekayaan budaya takbenda Indonesia yang berupa naskah.
Warisan budaya takbenda menurut Konvensi UNESCO tahun 2003 diwujudkan pada tradisi dan ekspresi lisan; seni pertunjukan; adat isitiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai a lam dan semesta; serta kemahiran kerajinan tradisional.
Naskah, sebagai salah satu wujud dari Warisan Budaya Takbenda merupakan wujud dari tradisi dan ekspresi lisan masyarakat setempat dalam melakukan pendokumentasian mengenai sejarah suatu masyarakat atau suku bangsa. Naskah-naskah kuno merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang tidak ternilai.Menurut data sensus tahun 20 I 0 lndonesiamemiliki 1.128 suku bangsa yang tentunya memiliki pula tradisi lisan. Dan sampai saat ini keberadaana naskah-naskah kuno tersebut banyak yang tak terlacak lagi.
Penerbitan buku ini merupakan salah satu usaha untuk melakukan pendokumentasian agar kita dapat melakukan pengumpulan data mengenai tradisi lisan. Hal ini juga sudah merupakan upaya pelestarian terhadap naskahnaskah kuno warisan budaya bangsa Indonesia.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita, tidak saja sebagai pengetahuan tetapi juga sebagai dokumen kekayaan budaya yang sangat penting. Lain dari itu kami mengucapkan terima kasih kepada penulis, editor dan tim penyusun yang telah beke1ja menyusun buku ini sampai dapat diterbitkan.
Jakarta, Desember 2013
Direktur Internalisasi Nilai
dan Diplomasi Budaya
Diah Harianti
P enerbitan ini merupakan hasil penggarapan dari bagian (fragmen) sebuah naskah tradisional tentang adat Daerah Lampung. Naskah ini ditulis dengan aksara Lampung yang dikenal sebagai Hat Lampung Tumbai, yang tergolong ke dalam tulisan Lampung Lama. Naskah tersebut adalah naskah salinan milik Hadji Zakaria dari Pampangan, yang disalin pada tanggal 14 Februari 1924 dari naskah yang berjudul Baek Koentara Rad.fa Niti Oetoek bergoena adat Lampung Penggir, Poebion dan Toelang Bawang. Buku adat Lampung ini asalnya dari Dalom' Pampangan, Pangeran Ratu Paksi. Amat disayangkan naskah asli maupun selinannya dari buku adat Lampung ini tidak diketahui lagi keberadaanya. Sumber yang digunakan oleh para penggrap naskah tradisi adat Lampw1g ini hanyalah berupa fotokopi yang dibuat sekitar tahun 1980-an dari sebuah naskah salinan milik Hadji Zakaria dari Pampangan, Lampung.
Naskah Koentara Radja Niti dari daerah Lampung ini merupakan sebuah naskah yang berisi aturan adat yang berlaku khususnya di daerah Lampung Peminggir, Pubian dan Tulang Bawang. Aturan adat ini merupakan tradisi budaya yang penuh dengan berbagai kearifan sebagai cerminan pandangan hid up orang Lampung sejak masa lampau. Tradisi adat yang tercermin dalam naskah Koentara Rad.fa Niti dapat ditelusuri kembali dari sumbernya yang telah ada sejak masa perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha hingga masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Pada masa itu telah dikenal kitab-kitab hukum yang digunakan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat dalam naungan isntitusi-institusi kerajaan maupun adat. Sebagai contoh dapat disebutkan kitab Kutii.ra Miinawa. Praniti Raja Kapa-kapa dan Kitab Purwiidigama yang merupakan kita-kitab hukum Jawa Kuno, kitab Undang-undang Tan.Jung Tanah sebuah kitab hukum Malayu
Kuno dari daerah Kerinci, dan Kuntara Raja Niti yang merupakan sebuah kompendium jurisprudensi yang disusun kembali pada masa kerajaan-keajaan Islam. 2
Naskah Koentara Radja Niti yang disajikan dalam penerbitan sekarang ini baru merupakan hasil penggarapan dari sebagian isinya, yaitu baru meliputi 30 pasal dari seluruhnya yang berjumlah 236 pasal. Sehingga dapat kiranya dikatakan bahwa isi naskah yang sudah tergarap itu baru merupakan fragmen dari keseluruhan isi naskah. Seperti diakui oleh para penggarap naskab, hal ini disebabkan harena terkendala oleh kemarnpuan untuk mengaliahaksarakan dan mengalibbahasakan selw-uh isi naskah tersebuh. Mudahmudahan pada kesempatan lain isi Koentara Radja Niti yang berasal dari daerah Lampung ini dapat diselesaikan. Ketigapuluh pasal tersebut meliputi: (1) Pi 'ii Pesenggiri, tentang adat "perangai yang keras" atau rasa harga diri, (2) Juluk Adek, tentang adat nama gelar sebelum dan sesudah menikah, (3) Nemui Nyimah, tentang ada sopan santun, (4) Nengah Nyappur, tentang adat pergaulan dan beriteraksi, (5) Sakai Sambayan, tentang adat hidup tolong-menolong dan bergotong-royong dalam bermasyarakat.
Dari ketiga puluh pasal tentang aturan adat Lampung tersebut telah terpetik sejumlah kearifan budaya lokal yang sangat penting untuk membina dan memperkokoh jatidiri bangsa. Oleb karenanya penerbitan fragmen naskah Koentara Radja Niti ini mempunyai arti penting dan patut kita sambut, dan disebar-luaskan.
Akhirnya saya mengharapkan agar upaya penulisan dan penerbitan buku-buku tentang kebudayaan dapat ditingkatkan, di samping terus meningkatkan pula usaba memelihara dan mengembangkan kebudayaan tradisional mau pun kebudayaan nasional.
Jakarta, I Februari 2014
Dr. Hasan Djafar
Editor ara Lampung merupakan salah satu warisan budaya yang emiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya Lampung. enurut fungsinya Aksara Lampung digunakan dalam pembuatan atau penulisan naskah. Pada umumnya Naskah Lampung berisi tentang pengobatan, peramalan, mantra, syair cinta, pantun, tata aturan hukum dan ilmu pengetahuan.
Naskah Boek Koentara Radja Niti merupakan naskah salinan dari Koentara Radja Niti yang berisi tetntang tata aturan hukum adat Lampung. Naskah ini merupakan warisan budaya intelektual bangsa Lampung dari masa lampau yang isinya masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat pada masa kini. Dengan pengalihan aksara dan pengalihan bahasa diharapkan naskah ini dapat menjadi salah satu bahan informasi tentang kekayaan budaya tulis yang mencerminkan kecerdasan tinggi suku bangsa Lampung. Tentu saja banyak sekali hal-hal yang menjadikan kekurang lengkapnya tulisan ini, namun kami telah mencoba mengungkapkannya untuk dapat dikenal oleh masyarakat luas, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita dan juga generasi mendatang.
Kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan ini kami ucapkan banyak terima kasih, kritik dan saran kami terima dengan senang hati dan tangan terbuka.
Bandar Lampung, 2013
Tim Penulis
SAMBUTAN ................. ... ........... .......... ............................................................ Ill PENGANTAR EDITOR .................................................................................... v PENGANTAR PENULIS .................................................................................. v11 DAFTARISI BABI PENDAHULUAN BABU NASKAH BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK BOERGUNAATOERAN ADAT LAMPOENG POEMINGGIR, POEBIAN DAN TOELANG BAWANG .. .................. .............. .. 3 1. Naskah ............................ .. ........ ........................................... 3 2. Alih Aksara . . .. .. .. . . . .. . .. ... ... .. .. .. . . .. . . . . .. ... . . . .. .. .. .. . . .. .. . . ... .. . . .. . . .. .. 19 3. Alih Bahasa ..................................... ..................................... 33 BAB III NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH BOEK KO ENT ARA RADJA NITI OENTOEK BOERGUNAATOERAN ADAT LAMPOENG POEMINGGIR, POEBIAN DAN TOELANG BA WANG.. ... ............................... 49 A. Pandangan Hidup Orang Lampung ...................................... 49 B. Pi-ii Pesenggiri ............ ........ ....................... .... ...................... 52 C. Juluk Adek .. .................... .. ...................... .... ........ ................ .. 53 D. Nemui Nyimah ................... .. ................................................ 56 E. Nengah Nyappur ................. ........................ ................... ....... 64 F. Sakai Sambayan ........ .... ........... .. ......................................... .. 70 BAB IV PENUTUP ......................................................................... .......... 81 DAFTAR PUSTAKA .............................. .. ............................................ .............. 84
H idup di tanah pusaka peninggalan Datuk Nan Em pat dengan harapan kiranya bisa menjadi semakin besar sehingga bisalah kelak dihuni dan tempat kehidupan yang baik bagi keturunannya.
Sekala Brak - Takit Pesagi adalah tempat asal mula orang Lampung -
Turun menghilir dalam gelombang bukanlah berarti terpecah belah -
Justru hendaknya bisa menjadi sama berkembang -
Hukum - Kuntara, Pranata Adat Pi'il Pesengiri pada saat itu sungguh dipegang teguh oleh semuanya -
Demikianlah halnya aksara, budi bahasa dalam tegur sapa -
Demikianlah bait syair yang ada dalam pustaka Lampung terpadu indah dengan doa dan harapan untuk mencapai kesejahteraan bagi masyarakat di bumi Lampung.
Bahasa merupakan hal sangat penting dalam pengenalan pengetahuan terhadap kebudayaan suatu Suku Bangsa. Bahasa juga alat utama yang dipakai oleh manusia untuk mengabstraksikan realitas dan memberikan informasi tentang realitas. Lebih jauh lagi bahasa menjadi lebih berarti apabila memiliki tulisan, karena dengan tulisan lebih bertahan lama dalam merekam apa yang ada dalam masyarakat pemilik bahasa. Maka dari itulah keinginan untuk mengenal, menggali dan melestarikan kebudayaan Lampung tidak dipisahkan dari pengenalan dan pengetahuan tentang tulisan dan bahasa Lampung.
Naskah Koentara Radja Niti Oentoek bergoena atoeran adat Lampoeng minggil~ Poebian dan Toelang Bawang merupakan naskah dari hasil foto copy ditahun 1980 an. Naskah tersebut dialih aksara dan alih bahasakan oleh Mega Faivayanti. Kami sudah mencoba mencari naskah aslinya namun sampai dengan sekarang belum berhasil kami temukan.
Naskah ini keseluruhan berisi 236 pasal narnun karena terkendala dalarn alih aksara dan alih bahasa karni hanya rnarnpu rnengalih aksara dan rnengalih bahasa sebanyak 30 pasal, rnudah-rnudahan diwaktu lain karni dapat rnenyelesaikan kekurangannya.
Dalarn rnengarnati huruf dan bahasanya naskah ini rnasuk dalarn kategori Naskah Larnpung Pertengahan. Masyarakat Larnpung rnenyebut tulisan Larnpung sebagai Surat Lampung, Sukhat Lampung atau Hat Lampung. Sedangkan di Surnatera Selatan disebut sebagai surat Ugan atau surat Ulu. Tulisan Larnpung disebut tulisan Ka Ga Nga karena huruf awal dari urutan abjadnya berbunyi Ka Ga Nga. Pada rnasa kini orang Larnpung rnengenal tulisan Larnpung dalarn dua rnacarn, yaitu tulisan Lampung Lama dan tulisan Lampung Sekarang. Tulisan Larnpung Lama terdiri dari variasi bentuk Hat Lampung Ho, Hat Lampung Jebi, Hat Lampung Tumbai. Tulisan Larnpung Sekarang terdiri dari variasi bentuk Hat Lampung Ampai, Hat Lampung Angka, Hat Lampung Ganta (Pudjiastuti, 1997).
Suku bangsa Larnpung rnernpunyai bahasa dan tulisan tersendiri. Bahasa Lampung lazim disebut umung Lampung, Cawo Lampung atau cawa Lampung. Bahasa Lampung mempunyai dua dialek, yaitu dialek A (Api) dan dialek 0 (Nyow). Dialek A dipakai oleh masyarakat Larnpung yang beradat Pepadun kelompok rnasyarakat Pubian Telu Suku dan Buay Lima serta seluruh masyarakat Larnpung yang beradat Saibatin. Dialek 0 dipakai oleh rnasyarakat Larnpung beradat Pepadun kelornpok A bung dan Mego Pak Tulang Bawang (Hadikusuma, 1989).
Naskah Koentara Radja Ni ti ini menilik dari tulisannya rnerupakan variasi tulisan Hat Lampung Tumbai. Dengan tulisan ini diharapkan dapat mernbuka rnernori kolekstif ten tang adat budaya, dapat kita aktualisasikan dalarn kehidupan masyarakat majemukjuga dalarn kemajuan pengetahuan.
Direktorat lnternali sasi Nilai dan Diplomas i Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaa n Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013
Dalom = dalem (?) gelar Pasirah, pemimpin wilayah kecil. Lihat: Junaiyah dkk, Kamus Lampung Indonesia. (Jakarta: Pusata Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), 1985:73
2 Lihat: Th.GTh. Pigeaud, Literature of Java, vol l (the Hague: Martinus Nijhoff), 1967:304-3 14. Lihat pula: Uli Kozok dkk, Kitan Undang-undang Tanjung Tanah (Jakarta: yayasan naskah Nusantara/Yayasan Obor Indonesia),2006
2
NASKAH BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK BOERGUNA ATOERAN ADAT LAMPOENG PEMINGGIR, POEBIAN DAN TOELANG BAWANG
A. Naskah
uff5 Ot j
r:;~ .f~ a
o~~ 67o~a &Vz:?c..~ ~c
L ~ ~ . o "-" / ,,....,,e • ;?'/ ' C7,¢A~ ,,.,:- <7v~ /
<i52;cJ'( od~. lN 'd Cjevuu1~ Siex-eom. ~0Jyn,r'\.-acv1"' -==- ~e,ntr"t,CW\ ~ Cfo»-vt:11
.("'. 7" "f' " ,;-,r,,.. ...( J '7 '--y .., /'>
• ../1 ~ ~ .:4/ --t"t _...... ,., _.._, (j/ - - --(! z ,.., /(-- ~/ ~~ .:: I '> ,-(" ""'I 'T -;<- ;{"I C// ~ ~;:,..'; ' -1 ~ .,..-- . t'--_ A'! /'"?' __..; ,_.,_..._ -"'\'.J ~ ......,., ~/ ' ., _., I I ,., ........ ~ ~ /") ........, ---a...- , I •/ f ..__ 1 ,,., '-f<'-- -- "'!. _.,,,, ._:: ~~~ ..-$'? ~ ..,,._ -7 ~ u-/ '-r- // J...-/ _A ..;- ,;.,"' ~ ~-"A .,, /'f"' 'J'- _.-c... A/...,., J - -T- ,.,, --:---/ /1 ? , ,.,, --L.- ....,_, ; /I /{ '7 .,.,.,-..- ~ J- J· ..-(7 ~-."' _.:; \ -6'- . fr y .. ,,.-f> t.Y ~ --;,_ y , I __,,<.- ,..._,,..,.., ,1.-.._ _,4 <'- --n;r'--- .; ~ ......... A ") r )'' I ..A -o/ .-...v- ~ ,r- -!'~ - ·....-"" -/'ii...---' ~ ......, < ~ ..,, " ,, ,., _,~ ,,,._- y,__ _,-<.,II '-r ,:. _ ,-f' (>., _,..-..,,.. .A>/ --71'4"'- 'l ~? . ~ ;---s_: ~,, - ./'-> ~ c;., / ~ u; ~ ;:,;('"'A_" ,-..,... ~ ~ . ,, ~ _ A,., "fl n·___.. ...4'- \ '"N .. 1-- ~ ....., "( u...."' , ·- .;-t ~ , --->'' , (.).- ~ . ..-<. .. ---~/ Q-· ~ ~ -"'-'/ /-P" ....,, / ~ ,,--.,// ,/'-' ~/ ...:..4--- .....--.. f'/ u, ./'- c--p/:.._, ..:l ,,,..,, ....... "1>/ _,.t' --7' <J--.:. -=-(, () '<:> ~ --- - -43/ Lt.- -}/ " f .....,, // ....-<. ~ 'T ......, _..!., ...... " ,..._....,.. , I' o.Y,.. ,,-.!-' ~ ~ / / .,,('> ,.....,_ ,,,.., .-p " " ~ ,, ,_.,..( ~ _,.., or';. ...."() ~ // -r- - ~,,,..,, ~ ~ _..,,,, _,,._ ~ ,,, ..v ,,, _,--"'? --77/ ...-a.- --<-_ --:::;-
| 7 | ||||||||||||
| 一 | i | 9 | 7 | C | ||||||||
| x | 二 | ” | ||||||||||
| C& | 2 | c | 4, | ~ | ||||||||
| R | : | ” | 一 | 00 | ||||||||
| i | r | |||||||||||
| 2 | i | 刀 | , | 1. | ||||||||
| 80 | ~ | 2 | 2 | 二 | ||||||||
| 5 | n | R | I | |||||||||
| a | """"'-= ,, | ... | ||||||||||
| j | 一 | e | 3 . | |||||||||
| 一 | ~"'( :/ | .;. | ||||||||||
| R | s | n | 3 | ~ :!7 ...,,. , | .)- | |||||||
| 2 | -<. | 7 | 6. | |||||||||
| a | 4 | r , ...,, .A- | 2 | |||||||||
| 7 | ¿ | J | ~ | ,,._ "'J../ ..;;. | J 1. | |||||||
| 2 | J | J | ~ | .7 . L.<). | ||||||||
| o. | ||||||||||||
| ..,, | ~ | 一 | i/ - | |||||||||
| 1 | / t. · 1".3 . | |||||||||||
| ,,.... . | 4 | ,,,.... ..Y/ 4- | 心 | ; ..;.. | ||||||||
| R | 山 | J-/ .,.. | is | |||||||||
| R | 4 | y' | o.f' I t.-;;: _,....- "''-?' <i | i6 | ||||||||
| a | 5 | in | ||||||||||
| 一 | 4 | "r'"/ '-'- ,,,.,..<--P | z | 4 | ||||||||
| 7 | ~ | 一 | 2 | T | C | 一 | 19. | |||||
| “ | 公 | eo. | ||||||||||
| 心 | 2 | x | 5 | 2 | ||||||||
| 二 | 5 | 1 | e | 22 | ||||||||
| 2 | 2 | ..y _,.,... ,,, 7- | 2 ,_/. | |||||||||
| 2 | 心 | 一 | 2 | ::z ~ | ||||||||
| 4 | é | d | J.. {, . | |||||||||
| y | 2 | d | t/ ,l./ | |||||||||
| f |
~ ...,._ ..; .d- '7 ->----. -1\- -;:I- I 5 /I I 7 I' 7>/ <./ ..,, ,-0 - <>-' :,.:.6/ ~ ...,,....., # .....,// ,...._ <./....:... ,,,._,... ~ ...... ,_:;, ;;..__ ""' _.,..:. ,,..... ,,,.:/ .y ~ -n .h ,,,..., ~ _,r7 .--.z./ ....._..p / f./J • " ...,..,. ?-" _;, / ~ .,,r;: ~ 4 ~ ........ ~ ,. ... ,,/ . ~'9 ~ _.,,, _..._ // .., ~ __..., .1' - ¥'£} ~ ..-- :.'fl/ f..,(""" · r---¥'.& · ,._,..., ..; ..... _ ,,..... ~ ..; ,j3_ ./,/ . ' - ,;.,-_ -/6 - ,...._ // ~ · '-"'"o/ 4. '-V s ....... ~ \ \ ~ -? -n _,/ 0 'f 7 \.-.:. \ .r/ - \\ ..._// _;;...., . '--(' _rT'/ ~ ....,..~/ ..,..., ....Go/ ...,., ....,,/ -7/ ....<./ ...J, ' ......,_ l.V .j:> ~ .... / ""' .J \j - J..- ·Y. ..,., _,,.._ ....... s-;z. ' ....v _-n/ ~ v y ..,...r ... _ Lf,., ~ r U- -n/ ~ ~ ~ -/ •Y. ~ 4- -t'...VC/ ..Z ""-" _., v/ rr- - _.,, -1-- ..A5-',... 49 --:.- ~ ~ ~ ,,,, ".-y u: ;.:! ....-u.- _,.., , . ,,.._:. A- _ij ~ I. _.,, _,, -f/ ~ .,...._ - .rt4 ,,,-.... .4 I ...,, ";· r-r. .......... s7-
..:; ~. I ,y ~ VJ ,, ~ ... '-' ..,., ;. ~ _,,.; ., ~ .-'"'- _.;.-,., ...,. --r>/ ~ 7:.. ,,,,., ~ --L>'J ,.....,,,,. ,c- ' r;:·t· (" ~- J.- ""' .. ./- 1.1,;. .., ...,,_ ,,-.-- --7 u.- ? ~ - ..;': ~/f<"\---f _,>l.. .,., ~ ..,., '::"/ ..s- <"')., b ""' u-- -f1 I tr:_ ---/ ...--- '!' / ~/ '1 cJ.-' I I / _;; -d ,~ _\ -1?. ~ "!i _A. v.;'I -f'! /'/ _/> I 'f."<-·-<- ' -c/_1 cJ,, '7' / <..-; -17 if ....Al --n/ __,,_. ,"t- .;_, ?1- --rz -11-- ... \~ __., " ,..., ~ ""-'-: "" ·A. (..,. c.:;; r--- "u.-/ 7' ,...._ .y ,A..1 ,_.___,,,, -u.. --ny -h / ...-£._ "'?..---7 o4._.,,.,.;). ~ ....-z.,--......4-,1 ~ 6 J' ...,,. ~ ~ t, (' ~ ,, -J"J ,_ <-- ..) - "'"" ,, ___ .°'- I <-17' < <Y ~ }.. . .J- (; ./ -r _.., ....,, r . <r:: --?-"' u.- 71' .) ./7 u--,;tJ· .....C. «--/' I/ '\ {, /7: ,....-.-_; ../'7..., <-;.
I . -- -\ ,, r -~ ~ ..s; -\..J /_ J- ._., -,1 P-r> , .,,..,,___, ~ ' - .s. iYA µ..q . ,t; I Ai .......-z,. -1 . ~ '-'-' I~, , !"Y _,, / -.: , ..,, ~ - __, J:.·.0-.» .As. '\ .. ~-,' "''-'::""' ...,,%. h> ;..:~ -~ ~ ~ •'-",...-<.. <L- s ;- ~ ../7 "~/,_u~, ..... ...-... .p.. ~ o?J.j' c.1 \ ......... ,,_ c.P _....,;. t-4 cJ.-/"--<? r.v/ A ~ ~ _.3.,-v ~ , rQ.. _,./ ...& ...,, ,J- ..-1"1 ., --.....-r , , - 5 7' ? ., ~ ,....., -1(, ~ 'r" -s .A ...,..,. // ...-1'/ ,.-- c.v-/ ...: <....,;:' .....,, ,__/I _,A /Q..- I...-$/
J "'.....,...,.. .....-.y \ er: ......s I ..-£ I/ ~ L- ...-, ..-c- ~ ..-('> 0 :;..-;:, '("'Y-- t.J-/ c..j .., ., I .x>/ '-, ..-(' ..-<.-/> of>:._ --r>/ --r ~ ,.,..., ()... ..., _A ' r1::/ ,...,.f' ,, - A: I -17 'f} .....-6 t.-, ':f"/ / v ,xi_..-11 ~ " r ,....,,., 7 /?" /> ,1 ....-<- /") /"\_I/ <....-:;: !") _.-("> /"' /L ,.,._, ~
4 5 """ / (._ ,,.., ,. ~ '-' '\.""'I ~ s .,, ... - 'f° ._.,., -n -,i__, ~ /.-- \_.t.. ' / <.Y, '"'"...,, " __.-<.. ~ ,. ""-- t-' ---- \,. . ~ "'~ .....-./ ,t. ...... ,. / / ,, < .-i .,,. ~ .... ~/(..-~tk ........ "" ,, J; .... '"Tl/ . ~ '"'- ~ '-r° ~ "h:J.- N --4 ·~ ,-1'> I '-' ..-tiJ- --S/ ~ -<.. " ' '-' "
-1 ' .-, .., ~ , -1) ;-<.. ~,, tt- .;) ~- . \ ' /'o /1 ? - I • ....-<:>,.. --!! ""' ._y 'j<f>/ t..Y ')'- -::! ..A- - ~ \ "" ........ - .--? ., ......., J~ ....?" ch. A' --1"' ..f .....s.. .,JJ -1!> f r' "\.) ~ ~ " . ?, \ \.} /_ ~fl ...,,. .,_ ~ ) """" _,, '\ I\" ...u , ..-<. A · -<"'/ t! ....{/ .!> ~ ~ ' -"'\ "'-' ,~ "-...u" .,.:, (.J' ,....._/ ~ --r;. ~ +-t 1J. . _.,.._, '/ 7 , , ' /f: ,........,, ....,, -' -"'7 --$ ....._; ' -o/ -r, ,......,, t..,7 ,,,., <-1' --rt/ _,,.,' .......,- , "'1" --l'•\.>A _;., ./1 J-! -?-" A°' f -<:.. _...'(),,, ~ ~ '< _,21 <>? .-cJ ~ ""'.'.?.!.> ::,., " Jt., --o A ~ <-.... "......_ ~ -9-- -t. ~ :::..,> . , ..,.. ...... ~ \.. ..--... _,_ '-<' ,\ ., ~ c...:/ ? -r> ....._ I ~ 7-.r/ Lr'"'" ./?_, -2 ~ ~ ....--ri ...,., -4/ '-" ,,..:.. / ...;:- .A ..-<:. ~~ ~ <.-<- ,.._.._ ..,c.V/ v .,,.,"' ~ -ti '..Y 7 ~ ,...... q/~ ~ ..,_,.. "J./ 'f /1 ~ ,....,, ,,,...! _,,;/ ...-a£."' '-4.., _,,.;:: --fJ v -
i l( ..... / -? .. " "'1>/ .;,,, /fl (. - ,,.,, /(' CA.- <.)/ ..-.-t>/<r... .., · <-," ,.,; ., h / ,, /"r" \ h/ "'1" .__. ..A.! ,....,, "'--" ..A ry _.., ---!'/ __,, J ~ ___.... I " ...;,., '-' ......,, .4 c.y.-,
~ _., ~ -n'<'t_... ,,..... "'"/ .J,' '? u.. -n/ A '"'.>"" -y o/' r-- ~_j · , ~
.&;... ....;,.....d' ~
I <'·- ~ ....£. ~ -¥' ".;, -<-.,__,,.... I.· """=-' - ,,,,.,~ ~, -<. ~ ~ .-7: .,_ ...,_ -11/ ...2 -<.. _-V/ '-- -r/ _.,.," ~ ~ ~ <Y ~/ _;; ._,_ -'Y ._ .,.y ~ 74'> ru- ~ _1/ ./>' ~ ,,. ....,__ ...._ :> ,.,., _J.-/ '->
' "" L.," ,,.... " ..A) ..,, .., .. A ? ~ ,,.-.-11..> LJ; .-a..... -..).. / ' -1 --.... -\ . "' ' -4.J .......... ...,.._ 'f·' t'f.:::. ~ .>-... -C-- " ,i... " "'- rf--" -.Jr- -<> ._, .--.........-u..- \.J./..-... _ __, ~ .('1 ~..,... ...J ~ ->-.... iJ .4 --<- ~ /") ,,.s;:; ~"'- c..,,). - '-' -n/ ~ u ,-r. I w .:_, - L ? "-...._, ,,,..... ¥ \ .'.'\ J \ . ~ 1' ' -' . \ I
_..,_. , '-k' -11/-.>..> __,,,, ~ n-- ~ - -r>/ ./.· <k --77/ S· .._y -r>/ b I ...,. ... '-f
? __..._, _ Y-\ I _.,.., _/if d ,\ .)\
I - (, ,,,., " -r- --?,. -:r' /-.,,...., ...,., --r' ,,,.., " \ •', \ ,. LJ.- l ,
-.!...--" '- .. I . ~~ tiY....,,/_J,, ~-41/ ,., f l - - j. . _,,..., -r;_ /{!_. __, '-fl , .J· y--"" I ~ t./ .)
"">-. -.!)-, ......._ ., .--.__ ,,. I ? ......... ._,--- ....J-, /7 .... .. .) J 1- ·,'\"' · ........ "' --rV /"-< -4 ,1. _A, 7:,, "'- ~ _,.,_ .__ ,__ _ •.) .; ~ ' ;...._ ~ rc..J.., .........) .J- -rif <>< ~/"' \ .;_ Lt-- ...,, / -p~ _..;, __,.., -4/ .-.... ~ LY/"' "f'oJoT7/ •-· "~ ~ L,..- ....{/ ~,, /"? ----':: ./?.., <>- --r>/ ,,..__ ->- c.Y/.-- 'r -5 ~~ c!!
.J
" n:}·- l I - ~· .J4- \ - .r-~ \ ' ...,../ ,,..c:;. ft/ // -"? ~ .. -::! .__ -,-) ......._ ~ ..>- _;a ,_ --r?/ \ ,, _..., C / (./"
-• ,/'" - <>,__:-_ .. ,,. ~ ·v .,,,.,,, ~·~ .... - .a- \ """' t""t- ;, ~ J.· ,_;, \ _,,,..," /y /..J-. _...,,/_,...__ "'-.... ..-..... """ u-/ j . _,,I ...,,,. -:>-- / LY /7 /I .,.,.. I r-.. -<>-\ '° ~-,_ _.A. ,, '-- &. ,_;, -\ ~ A.- ,,..,,/ _,,.,' -" -i-:: '--: 11 ).., I 7" ,,,,., ...-{/ ;... "!'!. ~ ' ilf- 't ..... \.. I I - ......... I £ · · J · ~ /'?" ,.,., .r;?...- c..5- 1 -< .:>-. .. r-\ }? ___, A> // ""' ·<-- ..,. ,._. ~ ~ ,_ ... I _,..,..~/ .-'\, "T ..A --:-/ 1 ,, ~ .u .,Iv _,_,""C ........, ' -- .J- .J., / t.V,,,. ..A.- i.L- u.- ....,..,/ ,.,., ,,,..,.,._"" -"f.-" ., '/ • ., .,. 11 ...... II W-/--- '-(' ~ U/ .-,,;......_ .,.,.{, "' """ "' ."" iJ. -r> I _,,.,• -r>I C, '<:--- "- ·\ . -" · .._!; .At /Y t.., ~1 , '<. :;...,..~...-(...~~ y /]' 6- J -,, ,f A'~ ......-... ,.en ~ ~ ; •"7 ---"I/ "J/ ~ ~/ A~ ..A ~~I <..--- • .,... I.-.-- . _.:,,;:, '""-' _,,... i.{! /;.., 7' ......, ,1 ..;.- -fJ /.-n-- - - -?.-,/ I ...-\,
+ _,,.,., ..Pf cl ~ ._y ~ ,...,/ c.Y /'? U../ "1-.. ~<' · .... _ ./'( /" /f) ,,_,:i ...,..._ ..... ...-6_ .,__ < - ~ ~ ,- ,,_ s/.,_ &" - '-', /Y ........ _ ..+,. ""'"'? ~ "f"' ,-...../----. / • n-- L7- --? --c "" ....,., ( /L- _, ...J-/
_r ...,__ J. . _, ~ _,._, ti' .A ,,,.y ~ y ;r> / tf'. ~ _,..._ , --1" J-/ 4-"" ...;: .,.,.<- ..-:::>- --r"' y- ..,, ;f>/ '-(' /'T' I .J,I ..-u!:- ..-<. h _,_,,, ...-a._ ...s ~ ,,.J, ~ ~.., t., ..,, - / A"1' ,.,.., v ""-"~' ...;"' :..,,.~
-"' A I c.J.., /> ~ ,/_ ;f'- -"! ~ ,.h '1 U.-_ ....._ ~, - /.:j J:- /("' ~ ,,...._,->-/ -o:::- ~ A'~ ~ / ~ !...,.,/ .v -r I .-J, , .....-a.J /" "/I"? /7' _....,. ~ -:i..- ,,.._/ " _;.,/ '1"- :;.. / _jJ ~ ), '-rR ......z ~· /-, ~/ _,J ,.J, , ,..,,,1 ,,,..._ ].,,/ <.],. "'1' / ,...S I __.<.., --;:;. _..j! _; _.4 _,., '?.,, / _.I., __,., '7 1
U./ 4 /I - ~ u.- ""/ ,...._. ..-:i.- ..-('-- ...-........ ~ "'( -'1' ~ <...t-/ U: I~ - ~ - _A, ,, ' --::r- 't;Z_ ~ _,.(, u/ '-::. ~ s ~ ,A. __, 11 ---=i--1 ~ Ill ,,ff, _;," "'""-- ~ /('- /7 "'11./ V./ _...,, % r-. . -..I l_J ...._ ''· ~ /
~'-41-0:-~v jp
i- " ,, ,,,,, A " ~ ...,-- (/ ,.., __.., /'l '---" • ~ --0..-~ -'I"/ ../.) --J/ ,-(" _.a ,, ,....,1.,. '- ~
J!I -"1"-/ '11<;? - tY /f""" A ~ --r-k.,-c:. ,,.,, ~ _..,.., '"? ./"> J- __,,/ ~'1'-- J:. .-<' A -c ---~ --1'" ........,.~/ ~ /1 ,....Al ....... ~ ..... ,,..... ....,, ? ../'>
/- .l · " - i (;. '-r:.11 tf - l
L.; - /-> /7 ;J_,, / '-r /"7 /? --t.. --?-" _II .--r'- _......., .....,.. / .----' I/ "---- A"-' _u.-/ c.- ~ (/ u--_ .,,,,..__" ~ .._;_ --- ____.,., / // /
...,._ _, ~ v .....-v <-r 5' J- ---h /('--' ____.L, ~ (._/ -u....- (.;, "<-- '- c..-/ ...,.., (..., ~ ~ ..-u... -41
? ....,., ~ I __..<'.> --? __, // __..,, ~/ /1 ,,, ---y --n --t:.. ~ ..--....-// ~
/'1 -17 '""'-" ~ J/ _,-d/ ....,, '::!'/ ~I ? - -n ---c "-r'/
....,,, ............... __,.<j "" .!.n / ___ __.-4 .__ e,1 I " l./ ...!-,-. / _,,., _'-"'/ ~ -- II ..A /I I ' ...4 ~ ~ -<I {/' in/
<.J--., ~_,,..... .., /-, "'<- / ~ ----s # '-f ----4/ ~ ? "' . /'-/ , ..,.....,, ;- (../ -- I/ A.. -:>- / ....-- ~/ '-- /""'-- //
/ I c_;_, A ' _;£? _,.,Al,,.
1- ........-u..- _./..., -Q.....- ~
J,..
0 ~ ---n/ !, Lr _,...,/ ,..., ,.., ~ .....-u.-- __,...., .., -<2....-- LJ// /fl- ..fa/ er .-,- <-r- _,,,,,... .... -1"'- ./'r-/ ./"'- . - -- ....A>v- '7 / /
Lr'...- ;f I '-/ ....-p ~ ......-, .,.,,.., .._.. ---- ~ .......,_ " ' '7 ......-0..-? _,,.,.., -Y .......-,7 ,..,._ ,,., .., --c ~ '-- ,,,..,;'.? t.., ~ (._., /I '7 - ' -ri.:!- ...-.z.-- .,("? ......._ ........, _..,. -. ...., ,.., ~ ,, ........., .,,,.., ,.,. ,.,...-<- ........., ....-"'-- ,......., -,,, ,.,.,-..., V'-- /'-" ,..., ,-1-, ,,,., c.Y .....- __, .., _,..,~/ ,,,., - , ~ ~ t--, ';:'--/ c..,.- .....,..,1 /'- ~-- '-(.. ,...;z.... ---r- _......, ~ ,,...._- /) <->:. ~ - , J J- -<- .........., ,,-- ., .----,- .--1 ._, <-- (......- ...--- ......., c......- ~
'? "1 -? /'"' /? ...-<... ....v Pl -\~ ..,.._, ..-<1.- -;9:::- :::- ,, ....-5 ' .__ / ~II ,, -' ~ " ----/ .._,., '-1- -Al .._..,.., .,, -1' --r- L-- ? '<., ____ .__../ .,...., -r>/ ~ - /7 I' '1';: ~ _,,..-" '>/ u,"' ., /1 ?I A (./ ,..__ .A'1 ,.,..,.. ~ .........,_ -:! .A '-(.. 4_ A ' ,, t;, ,, '-1-:. ~ -+ ...,. C!. ., <J--; __-<. .A ~ ,,,.. 7/ _,-fl ? 4 Ai .l"I' 5/ _-t, ...--<'.. _,, <Y __.., '-'-" --t:- ----:- - -
_.£, _.A --17/ ? c:. ~/ //? , --n ___.,..., ,,.._ ,..,., ...t! /7 0 ? ..-<! =? I ., ~ .... _,.. ....,..._ _..,., .......- _.,., _.-., -a__... !' ""'-' ......_ ---17 ! '--r .__/ '"\'" t-.; __,., ~ t-. q ,..,,,.,_ '--- -T>/ -"fl r , _1 ,,,..... ct- '-r:. .-<. 4"7 <-- A"> ~II '-r' ...,. ....,__/ ..-ii..- c...J-/ ~ __..c, -1""7 --<'7 ,_, --::::-d'--
,. <./~ 1-r '71 ~ /0, ,...f' ,.,.._ 11 ,.J, c..,- -v '-(' -<' _..h/~ /) /('-' ~ -<" ~ ~
,, --:--/ ,,, ,, ~ ...., _...-<., -f' ~ " - ~ '1' ,,,,.,_, ....,., ..-<> ~ '7' ....,, / /f'V _A t.J- ?J"
_.,,,,-.. It /( -p :;!-/ --y _....(.. _,,.., '"" ~ 'C. ""'-- ....,. __., ~ -n/ ,,("' .A 4 ' ";::; ..J., f / ~ ,,.,, -11.-' '--' -1:, ci/ /' , t./ ~ /I ,{" ,.._ c--:l ~ ~ ..("'"' , -""';:. ..... -- --4 0 // ..V/ '-' --?. 'r- -f-/ ----- LJ; / 4' -</ .rf'-' / A """' ufa/ ~ <..-1-- <. -~_.-<., .-$A. .... ,, ,., ,, ,, >1 --1"' - ,;f'-' -'-1 u-;. A ../,"'> _.i," -- A" ~ ~ ., _..)./ ' ,, ,., --t!..-' /'7 """" ~ '-r ~ _..... _......(, ~ -11 • ,1 --n/ .., v A- ,,., /I _.., ,/'> ~ --¥"' ~/ Lr I I / v --=:P- A _...-d '/ ........... .....,-. <-r <-r; ----- ~ /';: _..,., .-J., A,, - LI- .-'(,, --::::. ,,
J..-1.. - I .,. ~/ I v- ~ ...J,/~,,. t...r' I.A.-' --"'- ,,-n 4 .A--/,....~ ff ,,,& __,., ~/ ~ -4 .,,.("> <' ...-1'.l c, t I :.,/ ,_!, ;I <;1 <..- __,, ~ ,,,.,.., ,....._. /"-- (_.., ,,, t--f' ~ i ,, '--" £-L-. -...-<. J-:_ v LA- -r./ ~= /'1 I ,, ,..,., ...-(' ~ ..-<"" A 'r _...,,... ~ ,.,.., -:o/.., -1'- .,. ,, __.._ (___.- _,, -n/ .....__ -- ,.-, "" _-<-/ -;::::>_..
B. Alih Aksaara
Ausubillahi minasaitonirojim
Bismilahirohmanirohim tikala alam sudah cukup tidak kurang apa-apa segala cukup segala malaikat dan sah bat segala nabi-nabi mangka ada nabi penutup ya bemama nabi Rasulullah solah hualaihi wasallam Ibunya Aminah Bapaknya Abdullah di pranakkan di Mekkah wafatnya di Madinah ya ngalahirkan kitap 104. Seratus pak buah kitap akan tetapi sebanyak-banyaknya itu kitap kaluwaran juga da khe khor an tiga puluh jus maka berhipun kaluwar itu kitap tiga (3) perkara 1. tasaup 2. pakih 3. sarak
Itu dipagai du wa yang nomor satu lebih keras dia punya suruh dan lebih keras diya pula cegah itu pegangan sikala nabi-nabi dan sikala ulama-ulama sikala uliya-uliya dan sikala wali-wali dan sikala alim-alim dan sikala sentarisentari yang sudah menuntut igama islam seperti sembahyang lima waktu dan sebagainya. --=- kl itu yang nomor 2 itu bemama raja niti bagiyan artinya pegangan segala sultan-sultan segala ratu-ratu dan segala raja-raja dan segala batin-batin dan segala dalom-dalom dan punyimbang-punyimbang dan radinradin raya-raya minak-minak dan kimas-kimas dang pisa dan bubangken dang tukorkhan dan sai tunjattan musti perkaraken lebih dulu ngadap di hokum sai benor-benor.
Inilah hukum majapahit raja di jawa tikala belum campokh cina bulanda lagi tahun 1001. Mangka ya muntah di pusiban anggun-anggun tanggal 14 bulan muharam hari senin. Mangka ya berkata katanya hu patih
Hu ta Tamunggung Singadipati ta musti kumpulkan segala rakyat di dalam negeri majapahit - jangan tinggal-tinggal satu biji sebentar juga musti datang menghadap dekat pusiban anggun-anggun. Mangka mu nyawut Tamunggung Singadipati Ya Gusti ku sai hata Tuwan akan diturut lalu iya dipukul gung sa angina lalu kaliling negeri Majapahit dengan sebentar sudah datang seperti semut beriring-iring ngadap sernuwa di pusiban anggun-anggun ternpat Ratu ngaturken sambah semuwa rakyat kecil dan besar (sekhanta) orang banyak selalu memandang Ratu Majapahit makai pakayan rnatanya terang cah yanya terang bersemu manis katanya lemes diya duduk se pagu kakinya kanan diatas kakinya kiri tangannya kanan menungkal di ya punya pipi tangannya kiri memegang diya punya Ibu mangka diya berkata katanya makai suara pertengahan kecil tidak besar tidak akan tetapi terlalu terang gigi-giginya putih berkilat-kilat bibirnya manis . Hai Tumenggung Si ngadipati kamu si karang mernigang buku tanganmu kanan memigang potelot nuliskan saya masan menurutkan saya punya hukum anak sa lah anak sanalah culuk sa lah culuk tinyetok dan semua orang banyak musti dingarkan saya pula ajaran mu. Jalankan budi anak Raja mu dirikan tata ugama Anak Ratu -
Sewaktu Ratu Majapahit gumana nerangkan hukum Tumenggung Singadipati tanggal 14 bulan Muharam hari Senin tahun 1001 mangka disalin Sutan Puger Gedung Inton di Banten mare di tulat Ratu MinangkabaJh di salin lagi di Lamasa Kepampang ya di tunda hukum Sai Kala Berak -1/
Muyuh ni Tiyuh 2
Senang Negeri 3
Ganjaran Humbul 4
Kahalauyan Humbul 5
Ganjaran Bator 6
Kaliyoman Bator 7
Ganjaran Punyimbang 8
Kaliyoman Punyimbang 9
Ganjaran Maranai 10
Kaliyoman Maranai 11 Ganjaran Muli 12 Kaliyoman Muli 13 Kaliyoman Lambang 14 Gan j aran Lambang 15 Ganjaran Bebai Punyimbang 16 Kaliyoman Bebai Punyimbang 17 Ganjaran Bebai Pupatih 18 Kaliyoman Bebai Pupatih 19 Ganjaran Pupatih 20 Kaliyoman Ragah Pupatih 21 Anggauan ni Maranai 22-23 Pi' il 5 Perkara 24 Anggauan ni Punyimbang Ngelawan Adik Warini 25 Sai Ngalakon Tiyuh 26 Punawai hukum jama ram 27 Pakham ram di tawai 28 Tilik indai 5 perkara 29 Kekuatan budi dan hakal 30 No. 2. Muyuh ni Tiyuh 10 perkara 1. Satu kutum di mukak di bulakakng 2. Mak bepukalan ragah
21
3. Mak busessat
4. Mak bulanggar mak bumasigit
5. Mak ngangantu kalekup
6. Mak bugeduk
7. Hon kikhuk tiyuh mak ngenah dandan Batin
8. Mak bukahendak
9. Kurang kan an
10. Punyimbang lorn tiyuh mak sai tungkul.
No.3 . Senang Negeri 6 perkara
1. Cawa sepuluh sudi cukup
2. Muli Meranai lamon sai ranta sapun
3. Raji ni sabar
4. Anak buwah maka kakira
5. Tanam tumbuh sai lamat
6. Pungulu ni pulanggar
No. 4. Sejarah humbul 5 perkara
1. Satu nemuiken luhur tandang utawa himpun manuk utawa himpun tahlui
2. Kerangan cum cam da i mawat darak
3. Jingaman kundar bersih di bah di lambung pukalan deras
4. Rang laya gawang
5. Ju wa l bukhunang sai tan ta kajang dan Punyimbnag ni ngedok hajat mak ngunut kekurangan di humbul bakhih tani ngalah pukajang jenong tani sina pun.
No. 5. Helau ni humbul 5 perkara
1. Mak mukitayan
2. Pukalan lamon suwa bulik
3. Mikhak di bubuwahhan sai k:hanta peros hati
4. Asa ni rasah
5. Punyimbang ni ngedok gekok ya mak mulang ditiyuh. Sana jenong duluk mak mungun tiyung jenong dukuk sina pun rici ni kurang cakal
No. 6. Ganjaran Bator 3 perkara
1. Ngangas ngudut Punyimbang ni mak kurang
2. Punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon
3. Punyimbang ni hi pal wat ubat ni di ya layin dua ulah bator ni di ya.
Minak ngulah hi nabak jenong bator sina pun wajip juga tiangguki pandai di ram Bator.
No. 7. Kaliyoman Bator 4 perkara
1. Punyimbang ni temuri ulah ngilui han kiya
2. Pukakas Punyimbang ni tucar ala ngalebon
3. Punyimbang ni peros hati lorn tayuhan
4. Punyimbang ni ngalegoh mak di ulihni rinci ni kurang bijak jenong Bator sina pun dang ti angguhi pandai di lorn Bator.
No. 8. Ganj aran Punyimbang 3 perkara
1. Kahandak sungi kiya rnak dalarn
2. Ping rnuhan ni sai ngayah di ngangas ngudut saranta pengan pedorn
3. Tiga Kapa kudan lorn tiyuh unyin wa lorn sesat rnak telanjak dilorn tetingan.
No. 9. Kaliyornan Punyirnbang 5 perkara
1. Rulung ni peros hati
2. Rulung ni cetong ni sepekkon rulung bakih
3. Mak delorn pak ni pudalang sai nayuh
4. Mak ni turnpak tangguh pengalaman
5. Mutuskon pukara ya rnak sek nirnbang hukurn. Rincini kurang pandai mak rnurelukon badan jenong Punyirnbang sina pun.
No 10. Ganjaran Muranai 12 perkara
1. Manandi Induk Bapak
2. Rabai di Arna Karnaman
3. Sirnah bulebah
4. Manis kata dan manis rnuka
5. Harnpang injak
6. Tugai kakayan pakat di bai pakat di ragah goh pakat di sanak pakat di taha
7. Nguncang kahendak
8. Ika ni ulih Tuha Batin
9. Di kakhabaiyan Muli Meranai
10. Ngajaga rulung
11 . Ngajaga tiyuh
12. Di mak dapok mak hon sai tuha lapah nayuh . Sina nama bujang putera patah-patah didalam kampung jenong muranai sina pun.
No.11. Kaliyoman Muranai 6 perkara
1. Mak di pahit hon gulam
2. Mak di gawai hon pungalakun
3. Mak di ulihmu ileum
4. Mak di penah hon pangan
5. Mak minsa nganjam bidak
6. Kabetohan tengah idoran. Rinci ni kurang bebas di Muranai sina pun. Padah ni titih hati.
No.12. Ganjaran Muli 5 Perkara
1 . Laman pumayinan
2. Di unyai ho hun nyangsang
3. Lamen serukur
4. Sai tuha ni sampai buson
5. Jejuluk ni terang denggak di ciba putari mutor tiyuh jenong muli sina pun.
No.13. Kaliyoman ni Muli 7 perkara
1. Arnbin ni sungi
2. Mutayan di asuk ga
3. Putus kakanan
4. Kili carnbai di induk ni
5. Nganjarn tapis
6. Hunutu galepung mak ngrannya
7. Lapah rnidang kepik ni di sularn Kemaman ni
Rincini si wat cawajenong muli sina pun tangga ni duko anajak ngalajau pulaya.
No.14. Kaliyornan ni Lambang 5 perkara
1. Mutayanni mak geluk bubar
2. Tipak ni kurang gancang
3. Mak nu tu beduk
4. Singhil ni ni lebon
5. Sihung ni nyenyau
Kak rincini teledor ulah kurang biyasa jenong Lambang sina pun.
No.15 . Ganjaran Lambang 4 perkara
1. Kulik ni bersih
2. Teladas
3. Mak pu mabok
4. Sai nutuk mak kung lekas tangan ni mena nyambuk.
Rinci ni pikiran kebas hina !uni mak sangkut jenong Lambang sina pun.
No.16. Ganjaran Bubai Punyimbang 6 perkara
1. Adik Wari ni mak sungkan reti da hati ni tandok
2. Badan sekelik ni pagun ngerim reli hakal ning tagom
3. Jenganan ni rajin reti hati ni mukmin
4. Temui ni mak silip
5. Punguten ni mak kurang rang
6. Hati ga pagor ni lapang
No.17. Kaliyoman Bebai Punyimbang 5 perkara
1. Jenganan ni mak risai
2. Induk lok hanta ra sai lijung ratong
3. Bebai ramik mak tuntut diya
4. Hun sai di dapot sai pagar-pagar
5. Hanekan kanan sai lojor-lojor
Bebai Punyimbang kurang tegar kak rinci mak lesor jenong Bebai sina pun.
Cuba ki metu upok rik gulubang Bai Punyimbang sai kedau cadang mak hun pandai di sai hanarai.
No.18 . Ganjaran Bebai Pupatih 7 perkara
1. Sarangan ni mak kurang
2. Biyas ni cecak
3. Kan ni mak mawas manam
4. Temui ni pagun bugula
5. Panjang makuk ni rajin
6. Mak putus di bubangik
7. Pungatakni ti unggak-unggak Sina pantas angguran Bebai Pupatih.
No.19. Kahalayan Bebai Pupatih 5 perkara
1. Temui kebetohhan pangan nginum ni mak ngedok hi wan
2. Puntungni basah
3. Nginum mak bu wai
4. Rani karnarau biyas ni lutok
5. Gelas piringni kotor
Rinci ni kurang lesor jenong Bebai sina pun seperti binatang bebai .
No.20.Ganjaran Ragah Pupatih 7 perkara
1. Temui tigoh ya ngampoh ngangas
2. Sanggan talam mak tukor
3. Sulan mu tayan mak kaliru
4. Kak arnbarran mak tilidor
5. Rarai ni kelar
6. Pandai nyanang
Patih ra lis di dalam kampung jenong Patih sina pun
No.21. Kaliyoman Ragah Pupatih 8 perkara
1. Temui ni tigoh mak ngedok ni nangguh
2. Mak rakik tintor
3. Kan ambaran ma was man am
4. Pungalaku ni budu
5. Pangatuha ni bebal
6. Suku mak ragom
7. Ka hendak libuk
8. Gulai kambing antawa kibau mak bangik saranta salah rasa suwadi ngundang hakal jenong Patih sina pun.
No.22. Sai manih pun angguwan ni Muranai dang manjau di lorn rulung nanti rumpok mak siri laju ni ngajawal pi' il dan pusang giri hina rai di sai kilik, mak sai tulungan di sakik sukor -=-
No.23 . Sai munih pun dang manjau di sai kelik rumpok mak para caya laju ni narai di sai kelik ngajuwal pi'il dan pusang giri dami ana pun seperti beduk di tengah wai karam huluwan urung mak buritan karam munih ya mula tetap purahu di tengah way ancak ram rengong-rengong angkan sina munakai.
No.24. Pik ii 5 perkara
1. Raja ni pik il Bebai
2. Punyimbang ni pik il ta muli
3. Induk ni pik il tudau
4. Anak bai pik ii tecawa
5. Anak ragah pik ii talagai
No.25. Ya mula ni kidah pun angguwan ni Punyimbang ngalawan adik wari dang kurang pinggung pikir. Angka jaman mak ahir dang kurang mati dan kurang angik-angik angka ni lagi dapok.
No.26. Sebab sai ngucakan tiyuh 7 perkara
1. Bebai
2. Muli
3. Dau
4. Kanan
5. Tanam tumbuh
6. Sisikan
7. Punyawa
No.27 . Sina nimba ni tawa duh anak duh ya umpu duh muli duh meranai duh sai bah duh ya rata -
Dang langkang dang bugudang mari tiyah mak rangga dang mungah dang carakah mara tiyuh mak belah dang sampai dang rameba mari Kaman mak layau mik umban kita randah di lingga di punyawa sebab sai ngeba ram petinah nyata 4 perkara
1. Sikara
2. lung ba luba
3. Asa-asa
4. Para caya
Sebab ni pun sai kara dibadingi Hukum ngan kita siri.
Sai kara di gogah H ukum ngan kita salah Sai kara di pandai Hukum ngan kita rabai Sai kara di dapok Hukum terlebih dapok dan ngan kitang dapok Sai kara di pintor Hukum nganti ka depor.
No.28. Ya mula ni kidah pun puluh pandai
Sai belas ngulih ulih katapi puluh tawai sai belas pilih
No.29 Mari jenong jalema pandai ya ngaja lan ko titik tindai 5 perkara 1. Rasa-rasa 2. Habak-habak 3. Kira-kira 4. Imbang ambang 5. Julung ungai
No.30. Dau karana ni pun bulan gelap lagi terang hari panas lagi dingin hari hujan lagi kering gunung tinggi lagi rendah ayar mili lagi sangkut angin lalu lagi buranti hambak gumulung lagi tenong api ngamakan lagi padam bumi libar lagi tamiring Disebabkan budi dengan hakal apalagi orang hid up anak-anak dan permili jangan bertunggu di budu kamu nanti cadang dibudu Jangan pintar nanti kamu cadang dipintor = - - - Sanak si pandai kayin kimena tuba di budu kayin ko duri Sebab ki lapah ngelapah jalema bertaje peng jaweh bakal ram tijajau = Itulah sebab kita berjalan awas-awas iwen-iwen jangan takut jangan dibulakang di mukak ada macan - - - Jangan takut jalan di belakang di mukak ada harimau Seperti berjalan dipohon duri alun-alun sampi pagun Jambat-lambat asal selamat lama-lama kita datang kalu ada musuh Di jalan jangan berlari sebelumnya tentu karena pantangan Adok Punyimbang belum perang sudah Iuka sudah Iuka belum Iuka sudah mati
C. Alih Bahasa
Ausubil lahi minasaitonirojim
Bismilahirohmanirrohim tatkala alam sudah cukup tidak kurang apaapa segala cukup segala malaikat dan sahabat segala nabi-nabi mangka ada nabi penutup ya bemama nibi Rasulullah Solah hualaihi wasalam Ibunya Aminah Bapaknya Abdullah diperanakkan di Mekah wafatnya di Madinah ya nglahirkan kitap 104 seratus empat buah kitap akan tetapi sebanyak-banyaknya itu kitap keluar juga da khe kur'an tiga puluh jus maka berhimpun keluar itu kitap tiga (3) perkara 1. tasaup 2. pakih 3. Saarak, itu di pagai duwa yang nomor satu lebih keras dia punya suruh dan lebih keras dia pula cegah itu pegangan segala nabi-nabi dan segala ulama-ul ama segala uliya-uliya dan segala wali-wali dan segala alim-alim dan segala santri-santri yang sudah menuntut agama islam seperti sembahyang lima waktu dan sebagainya -
kl itu yang nomor 2 itu bemama rara niti bagian artinya piagam segala Sultan-sultan segala Ratu-ratu dan segala Raja-raja dan segala Batin-batin dan segala Dalom-dalom dan Punyimbang-punyimbang dan Radin-radin Raya-raya Minak dan Kimas-kimas.
Jangan berkelahi dang berselisih jangan tukarkan dan jangan saling menyalahkan musti diperkarakan lebih <lulu menghadap atau dihukum yang benar-benar.
Inilah hukum Majapahit Raja di Jawa tatkala belum bercampur Cina Belanda lagi tahun l 001. Maka ya Pusiban anggun-anggun tanggal 14 bulan Muharam hari Senin, maka ya berkata katanya hu patih hu engkau Tumanggung Singadipati se lanjutnya musti kumpulkan segala rakyat di dalam negeri Majapahit. Jangan tinggal-tinggal satu bijji sebentar juga musti datang menghadap dekat pusiban anggun-anggun. Maka menyahut Tamunggung Singadipati semua kata Tuwan akan diturut lalu iya dipukul gung lalu keliling negeri Majapahit.
Dengan sebentar sudah datang seperti semut beriring-iring menghadap semua di pusiban anggun-anggun. Tempat Ratu ngaturkan sembah semua rakyat kecil dan besar seRANta orang banyak selalu memandang Ratu Majapahit, memakai pakaian matanya terang, cahyanya terang bersemu manis perkataannya lembut, dia duduk bersila kakinya kanan menyilang diatas kakinya kiri. Tangannya kanan menopang dia punya pipi tangan kirinya memegang Ibu maka dia berkata perkataannya rnemakai suara pertengahan kecil tidak besar tidak akan tetapi terlalu terang gigi-gigi putih berkilat-kilat bibimya manis.
Hai Turnenggung Singadipati kamu sekarang memegang buku tanganmu kanan memegang pensil tuliskan pesan saya menurutkan saya punya hukum anak salah anak dipersalahkan tangan salah tangan yang berbuat dan semua orang ban yak mesti mendengarkan ajaran saya, jalankan budi semua anak Raja dirikan tata hukum anak Ratu
Sewaktu Ratu Majapahit gumara nerangkan hukum Tumenggung Singadipati tanggal 14 bulan Muharam hari Senin tahun 1001 maka disalin Sutan Puger Gedung Inton di Banten kemudian diikuti Ratl1 Minangkabau ya disalin lagi di Lemasa Kepampang ya ditingkatkan hukum Sai Kala Berak.1/
Sakitnya kampung 2
Senangnya negeri 3
Sejarah pedukuhan 4
Bagusnya pedukuhan 5
Ganjaran Bator 6
Malunya Bator 7
Ganjaran Punyimbang 8
9 Malunya Punyimbang 10 Ganjaran Bujang Malunya Bujang 11 12 Ganjaran Gadis 13 Malunya Gadis 14 Malunya Lambang 15 Ganjaran Lambang 16 Ganjaran Perempuan/Istri Punyimbang 17 Malunya Perempuan/Istri Punyimbang 18 Ganjaran Perempuan/Istri Pupatih Malunya Perempuan/lstri Pupatih 19 Ganjaran Pupatih 20 Malunya Pupatih 21 Angguwan Bujang 22-23 Pik il 5 perkara 24 25 Angguwan Punyimbang 26 Sebab rusaknya kampung 27 Punawi hukum jama ram Pahhan ram di Tawai 28 Tilik Indai 5 Perkara 29 Kekuatan Budi dan Hakal 30
No.2. Sakitnya kampung ada 10 perkara
1. Satu kutun di muka di belakang
2. Tidak punya pangkalan I tempat mandi laki-laki
3. Tidak punya Sesat/Balai Adat
4. Tidak ada Musholla dan Masjid
5. Tidak pun ya penutup bubungan
6. Tidak punya beduk
7. Orang rnasuk kampung tidak rnelihat adanya dandan Batin
8. Tidak punya keinginan
9. Kurang makan
10. Punyimbang tidak cakap
No.3 . Senangnya negeri 6 perkara
1. Berbicara sepuluh kata sudah cukup
2. Bujang Gadisnya sopan santun
3. Rajanya sabar
4. Anak buah menggunakan barang-barang punya kira-kira
No.4. Sejarah pedukuhan 5 perkara
1. Menernukan orang mencan sayuran atau menernukan kumpulan ayarn bertelor
2. Jemuran cum cam dai tidak ada di darat
3. Tempat mandinya bersih di bawah di atas, aliran sungainya deras
4. Jalan rayanya bersih
5. Jual barang serta tikar. Punyimbangnya tidak mencari keuntungan dipedukuhan lain bertani ngulah puhajang itu nama tani nya pun
No.5. Bagusnya pedukuhan 5 perkara
l. Tidak saling mencari sesuatu
2. Tempat mandinya banyak dan bagus
3. Ingin punya sesuatu serta asem hati
4. Anjingnya kurus
5. Punyimbangnya saat ada hajatan dia tidak pulang kampung. Itu namanya duduk tidak makan terong, dipedukuhan itu tidak kurang usaha
No.6. Ganjaran Bator ada 3 perkara
I. Sirih dan rokok Punyimbang tidak kurang
2. Punyimbangnya tidak asem hati saat ada hajatan
3. Punyimbangnya walau ada obatnya berarti bukan untuk membuat masalah dikampung yang lain.
Minak ngulah ni nabak namanya Bator itu wajib juga dianggap pintar di Bator lain.
No.7. Malunya Bator 4 perkara
1. Punyimbang apabila ada tamu tidak diperhatikan
2. Pakaian tidak sesuai dengan pakaian Punyimbang
3. Punyimbangnya asem hati dalam hajatan
4. Punyimbangnya tidak berinisiatif untuk memennc1 sesuatu dan kurang bijak
Namanya Bator itu punjangan diikuti oleh yang pintar di dalam Bator.
No.8 . Ganjaran Puny imbang 3 perkara
1. Keinginannya diungkapkan tidak dipendam
2. Tempat pakaian, tempat sirih, tempat rokok serta tempat tidur selalu ada
3. Keadaan apapun dalam kampung atau dalam rumah tidak kelihatan oleh orang lain
No.9. Malunya Punyimbang ada 5 perkara
1. Kelompok barisannya tidak baik hatinya
2. Kelompok barisannya diatur oleh kelompok kampung lain
3. Tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan
4. Kurang berpengalaman
5. Memutuskan perkara tidak imbang hukum
Rincinya ini kurang pandai tidak memikirkan badan, ini namanya kepala adapat itu pun_
No.10. Ganjaran Bujang ada 12 perkara
1. Hormat kepada Jbu Bapaknya
2. Takut kepada Ayah dan Pamannya
3. Selalu suka memberi
4. Manis kata dan manis muka
5. Cekatan tidak berat melakukan sesuatu
6. Sering melakukan musyawarah dengan para ibu, dengan laki-laki bergaul dengan anak-anak
7. Punya inisiatif
8. Dia selalu dicari oleh Tua Batin
9. Disegani oleh Gadis dan Bujang
10. Menjaga kelompok barisannya
11 . Menjaga kampung
12. Selalu siap sedia bila orang tua tidak dapat hadir dalarn hajatan . Itu namanya Bujang Putera Patah-patah di dalam kampung, itu Bujang namanya pun
No.11. Malunya Bujang ada 6 perkara
1. Tidak manis perkataan dalam pemberitahuan hajatan
2. Tidak mempunyai kelakuan yang baik
3. Tidak ada mencari ilmu
4. Tidak mempunyai simpanan makanan
5. Tidak dapat meminjam bidak (kain bidak)
6. Kelaparan dalam bermain
Rinci ini kurang bebas di Bujang itu pun
No.12 . Ganjaran Gadis 5 perkara
1. Banyak permaianan
2. Disayang orang-orang
3. Banyakjahitan
4. Orang tuanya sampai bosan
5. Juluk (panggilan Adok) terang di atas dan di bawah.
Peteri muter kampung namanya Gadis itu pun
No.13. Malunya Gadis ada 7 perkara
1. Tempatnya ambin bambu
2. Mainannya terlalu jauh
3. Putus makanan
4. Minta sirih dengan orang tuanya
5. Meminjam tapis
6. Orang menumbuk tepung tidak pemah diajak
7. Berangkat main selalu diiringi oleh Pamannya.
Rincinya ini ada yang membicarakan tentang Gadis ini pun
No.14. Malunya Lambang 5 perkara
1. Memberi tahu sessuatu kepada orang lain tidak pemah selesai
2. Langkahnya kurang cepat
3. Tidak mukul beduk
4. Ikat kepalanya hilang
5. Sihung (pesihungan ? tempat ramuan asah gigi) tidak ada rasa.
Rincinya ini teledor karena kurang terbiasa namanya Lambang ini pun
No.15 . Ganjaran Lambang 4 perkara
1. Kulitnya bersih
2. Sampai dasar
3. Tidak pemabok
4. Yang memberi perintah belum sampa1 dia (Lambang) tangannya sudah menyambut.
Rinci ni pikiran bebas kesana-kesini tidak susah nama Lam bang ini pun.
No.16. Ganjaran Wanita (Isteri) Punyimbang 6 perkara
1. Saudara-saudaranya tidak segan dekat dan hatinya baik
2. Dengan saudaranya suka menasehati dan berakal tajam
3. Tempatnya rajin artinya hatinya mukmin
4. Tamunya tidak ada yang luput dari perhatiannya
5. Tempat berkumpul tidak kurang ruangan
6. Hatinya selalu lapang
No.17. Malunya Wanita (Isteri) Punyimbang 5 perkara
1. Tempatnya tidak bersih
2. Orang tua yang datang tidak kerasan
3. Perempuan ramai (banyak) tidak mengikuti dia
4. Orang yang didapur selalu kekurangan
Rinci ni tidak malu namanya perempuan ini pun.
5. Makan-makanan selalu tidak rapi. Wanita (Isteri) Punyimbang kurang nasehat.
Coba kalau mendapat umpatan dan gelombang perempuan (Isteri) Punyimbang mempunyai kesalahan tidak dapat hanarai.
No.18. Ganjaran Perempuan (Isteri) Pupitih 7 perkara
1. Tempat penyimpanan kayu bakar tidak kekurangan
2. Berasnya banyak
3. Makanannya tidak siang malam
4. Tamu datang masih ada gula
5. Raj in membersihkan piring dan mangkok
6. Tidak putus dengan keenakan
7. Pemberiannya kepada orang lain selalu ada ltu pantas untuk keberadaan wanita pupatih.
No.19. Malunya Wanita Pupatih 5 perkara
1. Tamunya kelaparan, makan minurnnya tidak ada
2. Kayu bakamya basah
3. Minum tidak ada air
4. Hari kemarau berasnya hancur
5. Gelas piringnya kotor.
Rincinya kurang atau memalukan namanya wanita itu pun sepe1ti binatang betina.
No.20. Ganjaran Laki-l aki Pupatih 7 perkara
1. Tamu datang ia menghargai dengan menyirih
2. Penggunaan talam menurut aturan tidak tertukar
3. Tikar pemberian tidak ke liru
4. Makanan belambaran tidak teledor
5. Langkahnya cepat
6. Pintar mengatur sebagai Pangatuha Penglakau
7. Pandai memukul canang
Patih harus di dalam kampung namanya Patih itu pun.
No.21. Malunya Laki-laki Pupatih 8 perkara
1. Tamunya datang tidak ada tempat permisi
2. Tidak rata pembagian
3. Makanan Aturan siang malam
4. Penglakunya bodoh
5. Pangatuhanya bebal
6. Suku tidak menyatu
7. Keinginannya membingungkan
8. Sayur kerbau atau kambing tidak enak serta salah rasa, hiasan untuk ngundang berakal ini namanya Patih ini pun
No.22. Satu lagi pun angguwan Bujang jangan berkunjung di dalam kelompok barisannya nanti orang tidak menghargai selanjutnya menjual piil dan pusanghiri. Hina kita disaudara tidak saling membantu kesusahan dicela.
No.23 . Satu lagi pun jangan berkunjung di saudara, orang tidak percaya selanjutnya saudara yang malu ngejual dan pesunggiri demi anak pun seperti beduk di tengah iar, karam ? tidak ada buritan karam juga dia, maka tetap-tetap perahu ditengah air, lebih baik renggang-renggang angken itu dipakai .
No.24. Pik il 5 perkara
1. Rajanya berpik il wanita
2. Punyimbangnya berpik ii gadis
3. Ibunya berpik ii genit
4. Anak wanitanya berpik ii berbicara
5. Anak laki-lakinya berpik il bermain terus.
No.25. Pada awal mulanya ini pun anggauwan ini Punyimbang ngelawan adik warei jangan kurang dipikir. Karena jaman tidak akhir, jangan kurang cincin, karena dia belum mati tidak kurang ingat-ingat karena dia lagi mampu/dapat.
No.26. Sebab merusak kampung 7 perkara
1. Wanita
2. Ga dis
3. Uang
4. Makanan
5. Tanam tumbuh
6. Pendengaran
7. Pembicaraan
No.27 . Itu sebabnya tawa duh anak duh ya gad is duh, bujang duh, semua duh ya rata . Jangan sembarangan dan bugudang karena kampung tidak rangga. Jangan juga jangan serakah maka kampung tidak terpecah belah jangan sampai dan jangan semberonono karena jaman tidak layau biar terbuang kita rendah dari pembicaraan, sebab yang membuat kita pitenah ada 4 perkara.
1. perkara
2. Kurang hati-hati
3. Tidak dapat dipercaya
4 . Percaya
Sebabnya pun perkara dibagi-bagi hukumnya kita siri.
perkara di gagah
hukumnya kita salah
perkara di pandai
hukumnya kita ketakutan
perkara yang dapat
hukumnya terlebih dapat dan
membuat kita dapat
perkara yang pintar
hukumnya sampai ganti dapur.
No.28. Ya mulanya ini pun sepuluh pandai sebelas mencari tetapi sepuluh tawai sebelas pilih.
No.29. Nama orang yang menjalankan penilaian terhadap sesuatu hal ada 5 perkara.
1. Rasa-rasa
2. Raba-raba
3. Kira-kira
4. Imbang-imbang
5. Julung ingai
No.30. Kekayaan karenanya pun bulan gelap langit terang, hari panas lagi dingin, hari hujan lagi kering, gunung tinggi lagi rendah, air mengalir lagi sangkut, angina lalu lagi berhenti, ombak bergelombang lagi tenang, api berkobar lagi padam, bumi lebar lagi temiring.
Disebabkan budi dengan hakal apalagi orang hidup, anak-anak dan famili jangan bertemu karena bodoh kalian, nanti rusak karena bodoh. Jangan pintar nanti rusak karena pintar.
Anak yang bisa suruh duluan . Tua kalau bodoh suruh belakangan. Sebab kalau berjalan menghadapi orang bertaje_peng jaweh membuat kita kerasan.
Itulah sebabnya kita berjalan awas-awas, kira-kirajangan takut,jangan di belakang, di depan ada macan- - -
Jangan takut jalan di belakang, di depan ada harimau seperti be1jalan dipohon duri alun-alun sampi masih lambat-lambat
asal se lamat lama-lama kita datang kalau ada musuh dijalanjangan berlari sebelumnya tentu karena pantangan.
Adak Puny imbang belum perang sudah Iuka sudah Iuka belum Iuka sudah mati = - - -
NILAl-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK BERGUNA ATOERAN ADAT LAMPOENG PEMINGGIR POEBIAN DAN TOELANG BAWANG
A. Pandangan Hidup Orang Lampung
P endangan hidup adalah suatu konsep yang dimiliki dan berlaku dalam masyarakat, umunmya merupakan pendapat dan pe1timbangan untuk menanggapi dan menerangkan segala hal yang terjadi dalam kehidupan (Suyono, 1985). Untuk mengetahui pandangan hidup orang Lampung kita kenal terlebih dahulu daerah Lampung.
Dilihat dari segi budaya daerah Lampung adalah meliputi wilayah Provinsi Lampung dan Komering, Kayu Agung di Sumatera Selatan, Cikoneng di Banten. Orang Lampung atau suku bangsa Lampung yang mendiami daerah tersebut diatas menggunakan bahasa daerah Lampung, memiliki huruf Lampung disebut had Lampung, surat Lampung atau aksara Ka Ga Nga. Dari segi bahasa Orang Lampung dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu berlogat bahasa A atau Api dan berlogat bahasa 0 atau Nyou. Pertama logat A dapat kita lihat orang Belalau, sepanjang Teluk Semangka, Teluk Lampung, Krui, Komering, Kota Agung, Sungkai, Way Kanan, Pubian dan Melinting. Oleh Van der Tuuk disebut kelompok Pubian. Kedua, logat bahasa 0 ata u Nyou adalah Abung dan Tulang Bawang, oleh ,Van der Tuuk disebut kelompok Abung. (Hadikusuma, 1985). Dilihat dari adat istiadatnya Orang Lampung terdiri dari Adat Peminggir atau Pesisir atau Saibatin dan Adat Pepadun atau Abung. Orang Lampung beradat Peminggir keseluruhannya berlogat bahasa A a tau Api, tetapi bagi orang Pepadun sebagian berdialek bahasa 0 tau Nyou dan sebagian lagi berdialek bahasa A atau Api.
1 . 1vf e li.n ting, 1vfaringgai 2. Pesisir Rajabasa 3 . Pesisir T eluk 4. Pesisir Semangka Ad.at Peminggir Dialek A 5. Pesisir Krui ~Iill 6. Belalau, Ranau 7. Kome:ring 8. Kayu Agung 9. \\layKanan 10. Sungkai 11. Pubian Adat Pepadun 1 . Abung Dialek 0 (Nyou) 2. Tulang Ba\;\rang (Hadikusuma, 1985)
PETA PROVINS! LAMPUNG
Cakak Pepadun merupakan penobatan dengan pemakaian yang rumit, menyembelih sejumlah kerbau dan mengeluarkan sejumlah uang yang telah sudah ada ketentuan-ketentuannya.
Dalam hal-hal kekerabatan orang Lampung memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan. Misalnya tutur panggilan pada lingkungan kekerabatan selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dilingkungan adat. Dari tutur panggilan itulah akan diketahui bagaimana strata seseorang dalam masyarakat adat sekaligus mencerminkan pandangan hidup orang Lampung dalam bermasyarakat. Pandangan hidup orang Lampung dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri tertulis dalam Kitab Koentara Radja Niti. Kitab ini memuat berbagai perihal peraturan yang harus dijadikan panutan oleh seluruh orang Lampung (Hadikusuma, 1985).
Dewasa ini masih dapat ditelusuri bahwa para Tetua Adat masih berpegang teguh pada Kitab Koentara Radja Niti ataupun salinaimya lazin disebut Boek. Naskah salinan umunmya dipegang oleh para Tetua Adat baik pada kelompok Adat Peminggir ataupun kelompok Adat Pepadun, walaupun kemungkinan salinan tersebut tidak bersifat utuh.
B. Piil Pesenggiri
Menurut Hilman Hadikusuma Piil Pesenggiri berarti perangai yang keras, tidak mau mundur terhadap tindakan dengan kekerasan lebih-lebih yang menyangkut tersinggungnya nama baik keturunan, kehormatan pribadi dan kerabat. Dalam arti yang umum dinyatakan sebagai rasa harga diri.
Adat istiadat Lampung menurut masyarakatnya untuk mampu hidup terhormat, mereka harus bekerja ulet, berilmu dan berharta. Para pendahulu suku bangsa Lampung telah memberikan petuah-petuah berdasa rkan pada Kitab Koentara Radja Niti bahwasanya mereka harus mampu bergaul dan bermusyawarahagarterjagakehormatannya.OrangLampungmemilikipemimpin adat dengan sebutan Sebatin atau Saibatin untuk yang beradat Peminggir dan Penyimbang bagi masyarakat Pepadun. Bagian awal Naskah Koentara Radja Niti menyebutkan bahwa naskah ini merupakan pegangan bagi para Sultan, Ratu, Peny imbang, Radin, Radja, Minak dan Kimas. Sebutan-sebutan tersebut diatas merupakan strata kepemimpinan adat yang ada dalam wilayah Lampung dan masih berlaku sampai dengan saat sekarang. Citera kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari sistem budaya yang dimiliki oleh suatu bangsa ataupun suku bangsa. Sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian konsep yang hidup dalarn alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat dan dianggap penting dalam kehidupan (lkram: 1988). Pemimpin adalah seorang atau sejumlah orang yang mampu memerintah, menyuruh dan melindungi warga masyarakatnya karena kewibawaan, kekuasaan dan wewenang yang dimiliki berdasarkan adat istiadat dan hukurn dalam masyarakat pendukungnya (Suyona, 1985).
Dalam kelompok adat Lampung Peminggir seseorang yang lahir dari keluarga kebanyakan tidak memungkinkan untuk meningkatkan statusnya hingga mendapatkan pangkat dalam keadatan. Kelompok adat Lampung Pepadun memperbolehkan anggota masyarakatnya meningkatkan status kedudukan adatnya dengan cara rnelaksanakan Cakak Pepadun.
Piil Pesenggiri merupakan rasa harga diri, dengan kesadaran rnengajarkan bahwa hidup rnanusia akan mencapai kebahagiaan, jika dapat mengembangkan keselarasan baik dalarn hidup sebagai pribadi, hubungan dengan masyarakat, untuk kemajuan lahiriah ataupun kebahagiaan batiniah. Pada dasarnya rasa harga diri sangat besar manfaatnya dalam menunjang pembangunan, karena didalarnnya terkandung rnakna menghargai dan berjiwa besar. Hal ini tercermin pada unsur yang rnelekat dalarn Piil Pesenggiri - rasa harga diri, Juluk Adek - bernama bergelar, Nemui Nyimah - terbuka tangan, Nengah Nyapp ur - hidup bermasyarakat, Sakai Sambayan - tolong rnenolong (Hadikusuma, 1985).
C. JulukAdek
Juluk Adek bagi orang Lampung adalah suatu keharusan untuk mempunyai Juluk dan Adek. Juluk adalah nama yang diberikan kepada seseorang yang belum menikah, baik laki-laki ataupun perempuan. Apabila sudah dewasa dan berumah tangga akan mempunyai Adek atau gelar yang diresmikan dan diupacarakan didepan para pemuka adat dan kaurn kerabat. Selain Adek yang diresmikan dalam upacara adat biasanya disertai dengan Amai untuk pria dan lnai untuk perempuan. Amai dan lnai merupakan panggilan adat para kerabat, sehingga dalam kehidupan sehari-hari yang dipanggil adalah nama Amainya bagi laki-laki yang sudah menikah dan lnainya bagi perempuan yang sudah menikah.
Contoh : - Laki-laki :
Na ma Baharudin
Juluk Ratu Gusti
Adek Pangeran Ratu Gusti
Amai Amai Pangeran
- Perempuan :
Nama Yasmin
Juluk Ratu Pengatur
Adek M inak Ratti Pengatur
lnai lnai Ratu
Pengantin Lampung Beradat Pepadun
Pengantin Lampung Beradat Saibatin
Rangkaian upacara pemberian Adek (Gelar)
D. Nemui Nyimah
Orang Lampung dalam tata aturan Kitab Koentara Radja Niti diharuskan memiliki kemampuan untuk menghargai orang lain. Sikap Nemui Nyimah dapat dia1tikan santun, sepe1ti seseorang sedang menghormati tamu dan menghargainya, berasal dari kata Nemui, berarti suka menerima tamu dan Nyimah suka memberi. Untuk mampu menghargai orang lain atau tamu yang datang, mereka akan menghidangkan makanan dan minuman. Tentu saja untuk dapat menjamu tamu ataupun menyelenggarakan perhelatan dengan berbagai hidangan harus memiliki prasarana dan sarana yang cukup. Untuk melakukan semua itu diperlukan sikap yang produktif agar menghasilkan dana untuk pembuatan rumah sebagai tempat tinggal sekaligus dapat menampung tamu saat ada perhelatan. Dengan tuntutan harus bersikap produktif inilah orang Lampung akan bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ru mah Trad is ion al Lampung
Pada umumnya rumah tradisional Lampung merupakan rumah dengan ukuran yang cukup besar. Dalam struktur pembidangan rumah terlihat pembagian ruang, baik untuk pemakaian sehai-hari ataupun saat diadakan perhelatan adat.
Contoh struktur pembidangan rumah didaerah Belalau, Lampung Barat
1. Beranda
Merupakan ruangan lebar terbuka pada rumah bagian depan, biasanya berdinding setengah tiang (andangandang). Dalam kehidupan sehari-hari untuk tempat duduk melepas lelah setelah selesai bekerja, saat perhelatan adat, sebagai tempat duduk para pria dari golongan rakyat biasa.
2. Lapang Luar : Ruang pertarna pada bagian rumah (Baca : Lapang Luakh). Dalam kehidupan sehari-hari untuk tempat rnenerima tamu atau ruang tamu utama. Saat upacara adat berfungsi sabagai tempat duduk para tamu pria dari golongan strata atas (Tetua Adat).
3. Bilik Kebik Tempat tidur anak laki-laki tertua pewans utama rumah dan barangpemanohan. Bagi orang Lampung Peminggir anak laki-laki tertua adalah Saibatin keluarga.
4. Bilik Tebelayar (Baca : Bilik Tebelayakh) Tempat tidur anak laki-laki kedua
5. Tengah Resi (Baca : Tengah Khesi) Merupakan tempat yang luas sebagai area keluarga.
6. Serudu (Baca : Sekhudu) Ruang dibagian belakang dan merupakan tempat para perempuan.
7. Dapur Adalah ruang untuk meramu dan masak-memasak makanan untuk disantap oleh se luruh anggota keluarga.
8. Garang (Baca : Gakhang) adalah tempat untuk mencuc1 peralatan dapur.
Foto dapur tradisional lampung
Foto Garang (Gakhang)
(Dengan ukuran + 15 x 30 m)
1. Serambi Ruang terdepan pada sebuah rumah biasanya dipasang dinding setengah tiang (andang-andang) berfungsi sebagai tempat rnenerima tamu.
2. Ruang Tengah Tempat duduk adat anggota kerabat pria.
3. Kebik Temen Kamar tidur utama, untuk anak Peny imbang Bumi
4. Kebik Rengek Kamar kedua, untuk anak Puny imbang Ratu
5. Kebik Tengah Kamar ketiga untuk anak Puny imbang Bat in.
6. Ranjang Tundo Kamar keempat untuk anak Punyimbang Raja.
7. Lapang Agung Tempat duduk, bersidang kaum wanita anak isteri anggota kerabat Puny imbang
Kamar untuk isteri, anak sebah (isteri atau anak dari 8. Seleh Sukang keturunan rendah).
9. Tengah Resi (Baca: Tengah Khesi): Kamar untuk isteri atau anak keturunan beduwon (pembantu, budak).
10. Jusewu Kamar untuk isteri anak lambang, yaitu bawaan Ratu ketika kawin.
11. Ruang tern pat isteri anak gundik yang asalnya sebagai bawaan isteri .
12. Dapur Ruang tempat memasak
13. Tengah Taneh Ruang tempat kediaman taban dan keturunannya (taban adalah orang yang tidak diketahui asalusulnya).
Selain struktur pembidangan rurnah yang dapat menunjukkan strata kepemi likan dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari juga saat perhelatan adat. Orang Lampung juga memiliki Balai Adat yang disebut sesat. Bentuknya bangunan bertiang panggung dan berdidnding setengah tiang dengan ruangan luas tidak disekat-sekat.
Struktur Pembidangan Balai Sesat.
1. Anjung Serambi Sesat untuk tempat musyawarah kecil (tidak banyak pesertanya), juga sebagai tempat masuk ke ruangan dalam.
2. Gajah Merem Tempat para Punyimbang beristirahat saat upacara adat atau rapat adat belum dilaksanakan.
3. Pusiban - Tempat siba (menghadap saat pertemuan) bagi para Puny imbang.
- Tempat menarai, menuturkan sastra lisan, miyah damar saat melaksanakan rangkaian upacara adat.
4. Ruang untuk menempatkan seperangkat taio balak, yaitu seperangkat instrument tradisional Lampung untuk mengiringi rangkaian upacara adat.
Dengan melihat struktur pembidangan bangunan tradisonal Lampung kita dapat melihat bahwa mereka telah mempersiapkan tempat bagi para tamu. Sikap sating menghargaijuga tergambar pada acara muda-mudi yang diatur oleh kaidah adat seperti Miyah Damar, yaitu salah satu forum pertemuan bujang gad is disertai dengan menari dan menyanyi. Dalam acara ini dipandu oleh seseorang yang mengaturj alannya acara dengan aturan adat. Ada juga acara Nyambai, sekelompok bujang gadis akan maju dalam arena pertemuan, mereka menari dan menyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair-syair percintaan. Setelah kelompok pertama selesai akan diganti oleh kelompok berikutnya sampai seluruhnya mendapat kesempatan maju ketengah arena. Acara Nyambai umumnya dilakukan malam hari dalam rangkaian upacara perkawinan. Dalam bentuk lain ada yang disebut Manjau dan Sasiah, keduanya merupakan bentuk perkenalan bujang gadis, kegiatan ini biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi . Seorang perjaka ditemani oleh seorang kawan akan mendatangi rumah seorang gadis pilihannya. Dari bawah rumah panggung sang pe1jaka akan rnemberi kode tertentu. Misal dengan menyalakan korek api atau senter dibagian belakang rumah atau dekat kamar sang gadis. Gadis yang telah mengetahui isyarat tersebut akan mendekati dinding tempat berasalnya cahaya. Setelah mereka berdekatan tetapi tetap terpisahkan karena si gadis di dalam rumah dan si perjaka diluar rumah (bawah lantai). Mereka akan berpetatah-petitih menanyakan nama, alamat dan maksud kedatangan.
Contoh syair muda-mudi dalam bahasa Lampung logat Api :
Perjaka Khepa inda-indani kik nyakakjambu landa Kehepa indani kik ny awaken kehaga Artinya: Bagaimana bi la seandainya kupetik jam bu belanda Bagaimana bila seandainya kumulai bicara.
Ga dis Mak salah ni kik cakak kik jambu khadu mesak Mak salah ni kik cawa, kik abang khadu haga Artinya: Silahkan dipetik bi la j am bu sudah masak Silahkan bicara bila abang bersedia.
Logat Bahasa Nyow :
Perjaka Jak Menggala haguk Pagardewa Tahulu Way Kanan dan Way Kiri Kik nyak cawo ago Wat kudo harapan nanti Artinya : Dari Menggala ke Pagardewa Bertemu sungai Way Kanan dan Way Kiri Bila saya menyatakan keinginan Apakah nanti ada harapan.
Ga dis Radu (baca khadu) kena pungguk, mak guno hellaw bunyi Niku burung dilawok, mak kurang batang hari.
Artinya:
Sudahlah burung pungguk, tak guna indah suara Dikau burung dilautan, tak kurang aimya.
Dari syair-syair diatas kita dapat mengetahui bahwa mereka pandai bersilat lidah, sehingga berbalas syair dapat menghabiskan waktu yang panjang. Para perjaka mempunyai banyak syair untuk menyatakan keinginan, namun para gadis lebih banyak lagi untuk menghindar. Biasanya para gadis selalu merendah, itulah cara mereka menghormati agar pihak lain tidak tersinggung. Itulah Nemui Nyimah.
E. Nengah Nyappur
Orang Lampung mempunyai sifat Nengah Nyappur. Nengah berarti berada ditengah-tengah orang lain terbuka tangan dalam arti suka bergaul, sedangkan Nyappur berinteraksi dengan masyarakat luas. Kehidupan yang terbiasa luwes dalam masyarakat menjadikan mereka suka memberi dan menerima serta pandai menghargai orang lain. Namun dalam arti yang lebih luas mereka dalam bermasyarakat memiliki daya saing. Untuk berdaya saing tentunya mempunyai kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Sumber daya manusia yang unggul memang telah dimiliki oleh orang Lampung dengan adanya sumber daya budaya . Hal ini telah terpatri dalam kehidupan seharihari dan dalan tata aturan adatnya. Dalam naskah Boek Koentara Radja Niti disebutkan dalam pasal nomor : 10, 11 , 12, dan 13 tentang bagaimana sebaiknya seorang bujang atau gadis menjalani hidup bergaul dalam masyarakat adatnya. Mereka hams menghormati orang tua, kerabat pihak ayah ataupun ibu dan para tetua adat. Mereka harus dapat menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan upacara-upacara adat. Mempunyai perlengkapan pakaian yang dikenakan saat perhelatan adat. Misal kain bidak untuk para bujang dan kain tapis bagi para gadis. Bagi masyarakat Lampung terdapat adat membawa sesan. Sesan adalah barang-barang yang dibawa oleh mempelai perempuan saat keluar dari rumah menuju tempat mempelai laki-laki.
Diantara barang-barang (sesan) yang dia bawa terdapat hasil kerajinan semasa masih gadis, dapat berupa kain tapis, kain sulaman untuk taplak meja, sprei lengkap dengan sarung bantalnya.
Pada masa dahulu seorang gad is Lampung dituntut untuk pandai membuat kerajinan tangan dan membuat kuliner tradisional. Untuk dihargai dan juga menghargai orang lain seorang gadis dituntut produktif. Dengan sifat Nyimah seseorang tidak boleh pasif, hams aktif mengeksplor diri dari lingkungannya agar mendapat hasil maksimal. Setelah mampu mengeksplor dan mendapatkan hasil maka ia akan mampu Nengah Nyappur di tengah masyarakat.
Kembali lagi pada persoalan sesan, hal itu bukan sekedar barang bawaan tetapi lebih jauh dia telah dididik oleh orang tuanya untuk disiapkan menjadi perempuan dewasa dan patut dihargai baik sebagai isteri ataupun sebagai calon ibu yang mempunyai kepiawaian akan meneruskan mengajarkan membuat sesan bagi para putrinya.
Fata membuat kain temm
Fata membuat kain tapis
Foto kain tapis pucuk rebung
Foto kain tapis
Sifat produktif masyarakat Lampung dapat dicermati da lam kea rifan lokalnya. Kearifan lokal terdapat pada masyarakat di daerah Lampung Barat untuk membuat Repong Damar.
Repong Damar adalah hutan tanaman damar yang ditanam secara turun temurun oleh masyarakat setempat, dengan tata cara anak lahir minimal menanam satu pohon damar, anak dewasa dan menikah minimal menanam satu pohan damar. Demikian seterusnya sampai sang nenekpun akan menanam pohon damar apabila sang cucu lahir. Dengan demikian kita dapat mengetahui kepiawaian cara ber:fikir jauh kemasa depan. Penanaman pohon damar yang menghasilkan getah damar dengan harga tinggi, berarti telah mempersiapkan rencana matang untuk pembiayaan hidup si anak pada masa mendatang. Secara ekonomis dana telah tersedia , secara sosial anak telah dipersiapkan untuk masuk dalam lingkungan pemilik repong damar dan secara lebih luas menunjukkan pelestarian bumi dari pemanasan global. Sungguh suatu kearifan lokal Lampung yang sangat penting artinya bagi kehidupan dimasa sekarang dan masa yang akan datang, bukan hanya untuk Lampung namun bagi Indonesia dan juga dunia. Dengan adanya basil ekonomi orang Lampung dapat mewarnai pergaulan bagi masyarakat sekitar ata upun masyarakat luas.
Foto Repong Damar
Foto getah damar
Dari kemampuan produktivitasnya yang berdaya saing tinggi mereka memiliki kemampuan ekonomi menjadikan mereka memiliki rnateri yang berlebih. Kemampuan materi menjadikan mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang sekolah yang lebih tinggi sehingga terlahir sumber daya manusia yang potensial dapat berada ditengah masyarakat untuk meraih kemajuan. Mampu memberi manfaat positif kepada lingkungan berarti mengayomi sesama, mengedepankan sifat asah, asih dan asuh. Asah, berusaha untuk maju dengan segala daya upaya. Asih, memberikan ilmu atau pengetahuan ya ng dimiliki kepada orang alin. Asuh, mampu menjadi pengasuh pengayom ata upun pelindung kepada masyarakat disekitarnya. Seperti dituliskan dalam Kitab Koentara Radja Niti (pasal 27, 28, 29). "Perhatikan amanal bagi kaum kerabat, baik yang muda ataupun y ang tua, baik masih remaja laki-laki ataupun p erempuan, baik Puny imbang ataupun bukan Puny imbang. Janganlah langguk janganlah angkuh, agar negerimu aman. Jangan suka mencela atau menghina pada yang hina,jangan meninda kepada orang yang tertindas, jangan menyakiti orang yang sakit, lebih baik merendah diri, berbudi bahasa lemah lembut, sopan santun karena pangkal celaka itu ada empat, jalan angkuh, loba (tamak), prasangka dan terlalu p ercaya. Akibat yang angkuh pada hukum tempatnya jatuh. Angkuh karena mampu, hukum lebih mampu, angkum merasa pintar para hukum jua tempatnya takluk. Oleh karenanya sepuluh kita tahu, sebelas kita bertanya. Sepuluh kali kita berguru ditimbang aka! benar salahny a. Orang yang pandai adalah orang yang pandai tilik tindai. Tilik tindai dengan rasarasa, imbang-imbang, julang ungai. Jika bulan gelap nantikan terang, jika hari panas nantika sejuk, jika hari hujan nantikan kering, jika gunung tinggi cari yang rendah. Air yang mengalir ada muara tempat ia berhenti,jika angin bertiup kencang nantikan terang, ombak bergulung tunggukan tenang, api menyala ada waktunya padam, bumi yang luas ada batasny a.
F. Sakai Sambayan
Tatakehidupan orang Lampungmengenal kerja sama dalam bermasyarakat, yaitu tolong menolong disebut sakai atau sesakai dan bergotong royong disebut sambayan atau sesambaiayan. Dalam bermasyarakat dituntut untuk mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang ada disekitamya baik susah ataupun senang. Untuk memenuhi hajat hidupnya, baik dalam kehidupan yang berkaitan dengan mata pencaharian ataupun kegiatan adat mereka lazim untuk bekerja sama. Kegiatan yang disebut tolong menolong umurnnya terjadi antar perorangan atau untuk seseorang walaupun dike1jakan secara beramai-ramai dan berlaku saling bergantian.
Gotong royong umurnnya bekerja sama mengerjakan pekerjaan secara beramai-ramai untuk orang banyak atau untuk kepentingan umum. Sakai Sambayan ini wujudnya tidak terbatas pada bantuan tenaga saja tetapi juga pada bantuan dana. Sisi lain makna dari Sakai Sambayan dapat diterjemahkan pemanfaatan. Tolong menolong dan gotong royong dapat berupa kemampuan orang Lampung dalam membina keluarga. Bagi mereka terdapat adat angken atau angkenan atau minday . Baik angken atau minday dalam prakteknya adalah hubungan persaudaraan atau dua orang atau dua keluarga bagaikan saudara kandung, walaupun sesungguhnya tidak ada pertalian darah. Biasanya angken atau minday ditandai dengan proses upacara yang dihadiri oleh masyarakat sekitar dan para kerabat.
Pada masa dahulu angkenan umumnya terjadi karena adanya sistim bercocok tanam dengan lokasi yang luas. Luasnya lokasi untuk penanaman membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Tenaga kerja ini tadak dapat dicukupi oleh jumlah tenaga dalam keluarga, sehingga mencari orang lain diluar keluarga sebagai pembantu bercocok tanam. Orang yang membantu ini biasanya tinggal dilokasi bercocok tanam dengan menempati bangunan sederhana. Dalam waktu yang cukup lama dan adanya saling kepercayaan, si pemilik tanah akan memberi atau menyerahkan sebidang tanah kosong untuk digarap dengan pembagian hasil yang telah disepakati, misalnya hasil dibagi dua, setengah bagian untuk si empunya tanah dan sebagian untuk si penggarap. Umumnya para pekerja tadi masih belum berkeluarga, disebut bujangan atau babujangan. Bagi para babujangan yang tekun akan mendapatkan hasil yang bagus dan pada akhimya memiliki dana untuk membeli tanah garapan sendiri. Apabila Tuan tanah menilai babujangan telah berhasil dalam bekerja biasanya akan dicarikan jodoh baik dengan orang suku Lampung atau suku lain. Apabila babujangan ini dari luar suku Lampung maka akan diLampungkan terlebih dahulu, yaitu dengan cara diaku atau diambil menjadi anak orang Lampung setelah diupacarakan, maka telah resmi menjadi orang Lampung.
Sebagai masyarakat agraris orang Lampung mengenal sistim membuka hutan untuk dijadikan lahan area bercocok tanam, terutama untuk berkebun dan tananaman keras. Apabila seseorang telah menetapkan lokasi untuk bercocok tanam, maka para tetangga atau kerabat akan membantu menebang kayu dan membersihkan semak belukar. Selanjutnya mengadakan pembakaran tunggultunggul kayu dan akar pepohonan. Selama proses pembakaran dan pembersihan lahan mereka akan menjaga loksai secara bersama-sama sampai pekerjaan tuntas. Hal tersebut dilakukan saling berganti sehingga seluruh kelompok tersebut memiliki areal tanah siap tanam. Cara bekerja saling tolong-menolong dilanjutkan pada penanaman dan memanen hasil. Namun pada saat ini sistim ini telah berkembang dengan adanya sistim upah ataupun bagi basil.
Fata kebun Lada
Fata kebun kapi
Foto kebun singkong
A pabil a ada anggota masyarakat mendapat musibah, misa lnya kemati an maka orang akan be rdatangan membantu me lanca rkan pengLlfusan si mati dengan me rnandikan, mengafani sampa i dengan peng ubu ran . Para ibu akan be rdatangan rn embawa beras dan bahan sayLU· mayur dan rnereka rnernasak be rsama-sama untuk orang-orang yang rn embantu bekerj a. Dengan dern ikian orang sekita r akan datang menolong tanpa dirn inta te rl ebih dahulu dan akan berl angsung sampai dengan se lesa i semua kegiata n.
Foto orang berdoa saat ada musibah
Dibidang lain misalnya akan ada perhelatan perkawinan, segenap kerabat akan berkumpul dan membahas rencana perhelatan serta pembagian beban dan tugas. Pembagian tugas biasanya berkaitan dengan biaya atau dana sedangkan tugas adalah hal-hal bersifat pekerjaan fisik. Pembagian kedua hal ini tentu saja berdasarkan status dalam keluarga atau dalam kedudukan adat. Seseorang berkedudukan adat lebih tinggi maka beban akan lebih berat, namun untuk pekerjaan fisik biasanya berdasarkan tuturan dalam keluarga. Misalkan seorang benulung maka beban kerja akan lebih besar karena harus bertanggung jawab dalam urnsan perke1jaan dapur dan kerja fisik lainnya. Benufung adalah anak-anak (perempuan atau laki-laki) dari saudara perempuan ayah, mereka berkewajiban tolong-menolong dalam kekerabatan, tetapi tidak mempunyai hak mengatur dalam perhelatan adat.
Fata gadis menerima tamu dalam acara Perkawinan Adat lampung Pepadun
Foto makan bersama dalam acara adat Lampung Pepadun
Foto masak-memasak
Fata arak-arakan pengantin Pepadun don Saibtain
Fata arak-arakan sunatan
Pad a kegiatan gotong-royong tidak hanya dilakukan oleh para tetangga dan kerabat saja tetapi dapat melibatkan antar kampung. Hal ini dikarenakan gotongroyong dikerjakan dalam rangka kepentingan masyarakat umum. Misalnya saja memperbaiki jalan dan jembatan kampung yang rusak, membersihkan pangkalan mandi, mendirikan surau, balai sessat, menangkap ikan (melawai), membersihkan atau merapikan pemakaman umum.
Dalam Koentara Radj a iti terdapat pasal yang menyebutkan bahwa yang rnembanggakan desa atau kampung adalah :
1. Memilki surnber air bersih
2. Memiliki sumber protein hewani yang berlimpah (dari peliharaan ayam ataupun ikan disungai).
3. Tidak rnengalami paceklik karena rnemiliki tanarn turnbuh sebagai cadangan makanan .
4. Tidak mendatangkan bahan makanan dari tempat lain, karena warganya rajin bercocok tanarn dan memiliki hasil berlimpah.
Karena hal tersebut merupakan kebanggaan desa konsekwensinya setiap orang harus mematuhi dan menghormati kesepakatan kebanggaan desa. Dengan demikian mereka wajib menj aga kebersihan sungai atau sumber air, agar ikan disunga i tetap berlimpah.
Pada sebuah desa yang subur dan rakyatnya rajin bercocok tanam maka pernanfaatan Jahan tadi akan menjadi sumber kemakmuran, mencukupi kebutuhan rnasyarakat desa. Untuk memenuhi kebutuhan protein bewani pada masa dahulu orang Lampung mernelihara kerbau yang diliarkan, apabila dibutuhkan akan ditangkap oleh pemiliknya dibantu warga setempat. Protein lain yang bisa mereka budidayakan adalah ikan, terutama ikan air tawar. Masa dahulu setiap desa memiliki kolan adat milik masyarakat yang fungsinya pada suatu saat akan ditangkap ikan dikolam tadi secara beramai-ramai seluruh anggota masyarakat.
Foto kolam ikan
Foto kerbau berkubang
Foto kebun say ur
Foto sungai dip edalaman untuk pangkalan mandi
Pada masa dahulu kegiatan bergotong-royong merupakan keputusan rapat para pemangku adat. Dalam pelaksananaannya akan melibatkan segenap masyarakat, biasanya para laki-laki dewasa yang akan bekerja dilapangan, sedangkan para ibu dan gadis-gadis akan memasak untuk mempersiapkan makanan. Setelah peke1jaan selesai seluruh yang beke1ja akan makan bersama, disusul oleh para ibu-ibu dan gadis-gadis. Itulah tolong-menolong dan gotongroyong yang disebut Sakai Sambayan.
Foto makan bersama setelah bergotong royong
Foto makan bersama acara adat Lampung Saibatin
Piil Pesenggiri melahirkan tata nilai dan norma-norma dilingkungan adat istiadat Lampung, selanjutnya akan terwujud dalam pola tingkah laku, pola interaksi antar sesama manusia dan juga dengan a lam lingkungannya.
Dari norma-norma yang didasari oleh pandangan hidup orang Lampung memi1iki kearifan dalam menjaga lingkungan, menjaga ketertiban dan menjaga persatuan. Dal am menjaga lingkungan terpatri dari ajaran yang ada pada Koentara Radja Ni ti bahwasanya kampung tidak boleh nampak kumuh, jalan dan jembatan serta sarana urnurn harus bersih. Rumah tidak boleh kotor, karena apabila rumah dan perabotan kotor maka orang yang datang bertamu enggan untuk mencicipi makanan yang disediakan apalagi untuk bermalam.
Menjaga lingkungan tidak hanya fisik dari alarn saja tetapi didalamnya termasuk lingkungan batin atau tata cara hidup manusianya. Hal ini terdapat pada larangan yang tertulis dalam Koentara Radja Ni ti antara lain, jangan membunuh, jangan menghambat jalannya air, jangan rnelanggar sumpah, jangan merubah surat pe1janjian, jangan menerima suap, jangan merubah keputusan tua-tua adat, jangan merusak hutan, jangan menjual hewan basil tangkapan, jangan berbuat yang tidak senonoh. Dengan demikian hal ihwal cara-cara bermasyarakat yang akan mendapatkan kemaslahatan selama hidup bermasyarakat telah diatur denganjelas pada Kitab Koentara Radj a Niti. Menjaga ketertiban dengan Nengah Nyappur orang Lampung memiliki kemampuan untuk membina hubungan antar sesama anggota masyarakat. Tertulis dalam aturan Koentara Radja Niti antara laian jangan sombong, jangan mencela, jangan menyakiti orang lain, jangan ceroboh, jangan berlagak pintar padahal sebenarnya bodoh, jangan menjadi pengecut, jangan berkhianat tidak memngakui kesalahan dan kekeliruan . Hal ketiga adalah menjaga persatuan, tuntutan bersakai sambayan dan nemui nyimah akan melahirkan sikap saling membantu, sa1ing menghargai sehingga te1jadi hubungan yang baik, tercipta kesatuan dan persatuan. Disebutkan dalam Kitab Koentara Radja Niti bahwasanya harus ada hubungan baik antara kawula muda dan para generasi tua, sehingga mereka dapat saling bahu-membahu dalam berbagai keadaan antara lain : patuh kepada orang tua, sopan kepada paman, bersikap pemurah, manis muka manis kata, ringan tangan, penurut, seia-sekata para pemuda dan kaum tua, setia dan siap membantu untuk menggantikan yang tua. Dari aturan adat tersebut berarti para kawula muda selalu hormat dan bertanya apa yang akan dilakukan untuk mengemban tongkat estafet kepemimpinan. Kaum muda berusaha untuk maju dan mencari bekal pengetahuan guna mengemban tugas dimasa medatang dengan berbagai tantangan yang ada. Generasi tua juga dituntut untuk seia-sekata dengan sesama generasi tua baik laki-laki atau perempuan. Bahkan bagi pemimpin adat dituntut dengan aturan adat agar berprilaku : sabar, manis muka, manis kata, mengalah dalam berdebat, tidak boros, siap berbaris di depan berarti siap bertanggung jawab, pandai mengambil hati, tidak mudah putus asa dan selalu memberikan pengharapan atau support. Sikap asah, asih dan asuh itu menurut Koentara Radja Niti hams ada pada jiwa seluruh orang Lampung terlebih lagi para Punyimbang dan Sebatin. Mereka menjadi suri tauladan dan mempunyai kemampuan untuk menetapkan keputusan yang tepat dalam mengatasi permasalahan. Apabila kita cermati sebetulnya terdapat persamaan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang mengajarkan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani.
Bahwasanya para Pinisepuh, Para Tetua Adat, Punyimbang, Seba tin harus mempunyai keteladanan yang baik bagi masyarakat. Kemudahan masyarakat untuk mencapai cita-cita adil makmur atau menghasilkan suatu produk yang bermanfaat dikarenakan para pemirnpinnnya memberikan dorongan dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk ma ju. Tentu saja kemajuan yang dicapai oleh generasi muda tidak luput dari arahan-arahan yang bijak serta suport yang selalu membangkitkan semangat untuk meraih hasil lebih maksimal.
Ada hal menarik yang menjadi diterima oleh suku bangsa lain yang datang ke Larnpung dengan adat angkenan, yaitu berkembangnya cambor sumbay atau kuruk adat. Perkawinan yang terjadi karena perjodohan antara Babujangan dengan suku bangsa Lampung ataupun dengan suku bangsa lainnya melahirkan keluarga yang masuk dan mengikuti adat istiadat Lampung. Dengan status saudara angkenan keluarga barn tersebut menjaga dan menjalaninya dengan kesadaran. Dalam kehidupan masyarakat masa kini masih dapat kita temui eratnya pertalian keluarga angkenan. Sebagai contoh, penulis pernah bertemu satu keluarga yang diangken oleh orang Lampung di daerah Labuhan Maringgai Lampung Timur. Angkenan sudah lama berlangsung kurang lebih tahun 1969 an, diberikannya sebidang tanah sebagai areal perkebunan. Keluarga barn tersebut dimasukkan dalam adat Melinting yang ada di Labuhan Maringgai. Kurang lebih pada tahun 2000 an keluarga yang diangken mempunyai hajat perhelatan perkawinan salah seorang anaknya, maka keluarga besar dari pihak yang mengangken ikut berperan aktif dalam perhelatan tersebut mulai dari genersi pertama, kedua dan ketiga yang masih anak-anak. Dengan melihat keadaan seperti itu dapat ditarik benang merah dengan berbagai aturan yang ada dalam Koentara Radja Niti bahwasanya dengan unsur Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan akan meningkatkan derajat seseorang menjadi Berjuluk Adek
Setelah empat unsur terpenuhi sabagai puncaknya melahirkan manusia yang ber Piil Pesenggiri. Demikian kiranya adat angkenan sebagai salah satu adat Lampung yang disadari dan dihayati oleh kedua belah pihak, yaitu orang yang memiliki adat budaya Lampung dan orang yang masuk dalam adat budaya Lampung terbukti dapat menciptakan harmonisasi bermasyarakat dan dipatuhi oleh generasi berikutnya dari kedua belah pihak.
Adiwimarta, Sri Sukesi 1977 Pendar Pelnagi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Bukri
1987 Sejarah Daerah Lampung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung.
Hadikusuma, Hilman 1985 Adat Jstiadat Daerah Lampung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung.
Hadikusuma, Hilman 1989 Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, Bandung, Mandar Ma ju.
lkram, Achadiati 1988 Bunga Rampai Bahasa, Sastra dan Budaya, Jakarta, lnternusa.
Kessing, Roger M 1989 Antropologi Budaya, Jakarta, Erlangga .
Mardiwarsito L 1981 Kamus Jawa Kuna - Indonesia, Ende: Flores
Mulyadi, S. W.R. (Editor) 1999 Naskah Dan Kita, Fakultas Sastra Universitas Indonesia [Lembar Sastra, No. 12].
Puspawij aya, Ri zani
2005 Susunan Masyarakat Adat Lampung, Maka lah Disampa ikan Pada Fakul tas Hukum Uni versitas Lampung (Maka lah Seminar, tidak diterbitkan)
Suyono, Ariyono
1985 Kamus Antropologi, Jakarta, Akademia Presindo.
Utama, M uhajir
1993 Pembinaan Budaya Dalam Lingkungan Keluarga Daerah Lampung, Departremen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung.
Wahyuningsih, Eko
20 10 Katalog Pameran Pelangi Aksara Nusantara, Museum Lampung.
饼
Direktorat lnternalisasi • Nilai dan Diplomasi Budaya . .
Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan