Baca PDF (OCR): Koentara radjaniti oentoek bergoena atoeran adat lampoeng peminggir, poebian dan toelang bawang Fragmen naskah.tif

98 halaman · 98 halaman diproses dengan OCR· 116080 ms

Daftar isi
  1. Fragmen Naskah
  2. Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir,
  3. Poebian dan Toelang Bawang
  4. P ra Raja N iti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng
  5. PENGANTAR PENULIS
  6. Bandar Lampung, 2013
  7. Tim Penulis
  8. BOEK KOENTARA RADJA NITI
  9. OENTOEK BOERGUNA ATOERAN ADAT
  10. LAMPOENG PEMINGGIR, POEBIAN
  11. DAN TOELANG BAWANG
  12. uff5 Ot j
  13. o~~ 67o~a &Vz:?c..~ ~c
  14. ~ "-" / ,,....,,e • ;?'/ ~ ' JC7,¢A~ ,,.,:-
  15. <7v~ /s ~/
  16. Cjevuu1~ Siex-eom. ~0Jyn,r'.-acv1"'
  17. -==-~e,ntr"t,CW\ ~ Cfo»-vt:11
  18. .("'. 7"
  19. 3.1.
  20. FT {
  21. よっよ
  22. そッtう fd3
  23. ARHN6
  24. RTYAそやイイリす
  25. 心 力 n 心2 为
  26. 5 a x
  27. つっ 7241 4
  28. C 2 2 7 42. S yb
  29. e ne 43-
  30. 小小441.
  31. 刀 , 46 # つ 一
  32. ク49
  33. S" 50. 7
  34. 刀 2 一
  35. 。 1
  36. 之T
  37. L Jan5F
  38. メ 。 20
  39. 5" ~9 7 59
  40. 山 E
  41. RHSA8
  42. ko 乐 P 5a C e 5
  43. U 57
  44. 2O 刀 S π/ , 七
  45. 4. 一 17
  46. TT 心 , 1 2
  47. 4 で TP
  48. dhs.t 从 3 a C 16
  49. 4 方 3 4 1 1
  50. 4. π e
  51. 5 π 4 al
  52. π π o ~
  53. 222 2
  54. 9 つ七
  55. 山 つ 0 个 Y eTin
  56. ら 9
  57. らーん
  58. 刀 Y 冬
  59. Mab. P 4 3. e
  60. d っ 2 1力 S
  61. Moy 3
  62. 5 x u1
  63. 家 4
  64. Ae g.
  65. 心 T
  66. 56 N, 71 P C 刀 e
  67. 石 N刀 ↑ 4
  68. Le e2Cr 。
  69. 心 2
  70. 3 T Un 51
  71. 2 入
  72. C 2,d
  73. 41. 3 π 4 子 C1
  74. 3, 45"
  75. 4 44S 一3っ 2T
  76. ふ5个 C 1
  77. 5 21
  78. 一x, 山 乃
  79. Me i4. 4"—375.
  80. 3 4 Xtra
  81. # 2/4
  82. 2必 2a C
  83. 4 で #1 C T/
  84. A 410.1n
  85. 是 3+1, 一
  86. 二 3
  87. っよっ
  88. #32 つ
  89. J.n 卫 n S 一
  90. Nu ns.nurC んっ
  91. T 90
  92. 心 m 5 e 不
  93. 5? #1
  94. y 心 4 π/
  95. 山 1
  96. つ r Y 一
  97. 4 T 4
  98. chke,so 7 ご 品 03.7
  99. 一 17 X
  100. 4つ 2 3
  101. J 2 ス. ご C
  102. y 2 F
  103. 心85-3 2e
  104. (っ>7 9
  105. X5 Y
  106. C 心
  107. 衣 之
  108. -3 2= 4
  109. RH14
  110. つ e
  111. 心5.515
  112. Fう
  113. Moae 力1 Y
  114. くSrl
  115. 3っ
  116. MheR 2
  117. T Sko25,s" 入
  118. ?5 2JトLJ
  119. S Eト
  120. 2っ
  121. イ 1的
  122. 示 Mr
  123. トPT
  124. Ma s. 7 ふ 2
  125. 2. Teladas
  126. ARHAI26
  127. 3. Tempat mandinya bersih di bawah di atas, aliran sungainya deras
  128. 4. Anjingnya kurus
  129. 1. Sirih dan rokok Punyimbang tidak kurang 2. Punyimbangnya tidak asem hati saat ada hajatan
  130. dipohon duri alun-alun sampi masih lambat-lambat
  131. YAN G TERKAND UNG DALAM NASKAH
  132. BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK BERGUNA
  133. ATOERAN ADAT LAMPOENG PEMINGGIR
  134. POEBIAN DAN TOELANG BAWANG
  135. A. Pandangan Hidup Orang Lampung
  136. P pe1timbangan untuk menanggapi dan menerangkan segala hal
  137. PETA PROVINS! LAMPUNG
  138. B. Piil Pesenggiri
  139. Pengantin Lampung Beradat Saibatin
  140. Rangkaian upacara pemberian Adek (Gelar)
  141. 7. Dapur: Adalah ruang untuk meramu dan masak-memasak
  142. keluarga. 8. Garang: (Baca : Gakhang) adalah tempat untuk mencuci
  143. RK58
  144. 1111
  145. Logat Bahasa Nyow :
  146. F. Sakai Sambayan
  147. MR78
  148. GAVVADVODANODONY
  149. Tiakk tuk ual

Fragmen Naskah

Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang

营 科 营 C C

Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir,

Poebian dan Toelang Bawang

Direktorat lnternalisasi•Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta

KOEN TARA RAD JAN IT I OEN TOEK BER.GOENA ATOE RAN ADAT LAMPOENG PEM INGG I R. POEB IAN DAN TOE LANG BAWANG

Pengarah: Prof. Dr. Kacung M arij an

Penanggungjawab: Diah H ari anti

Penulis: Eko W ahyunings ih

Alih Aksara dan Bahasa: M ega Fairaya nti

Editor: Dr. H asa n Djafar

Redaksi: Li en D w iari Ratn awati Ern a Febriani St. Prabawa Siti Kh oirnafiya h Sri So l i kh atu I

Perwajahan: Sukas no

Direktorat lntern alisasi Nilai dan Diplomas i Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaa n Kementeria n Pendidikan dan Kebudayaa n 20 13

NILAI DAN DIPLOMAS! BUDAYA

e1iama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat-Nya buku tentang Naskah Boek Koenta_

P ra Raja N iti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng

Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang dari Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2013 dapat diterbitkan.

Penerbitan buku ini merupakan bagian dari Kegiatan Pencatatan Kekayaan Budaya Takbenda untuk memperkenalkan kepada masyarakat mengenai salah satu kekayaan budaya takbenda Indonesia yang berupa naskah.

Warisan budaya takbenda menurut Konvensi UNESCO tahun 2003 diwujudkan pada tradisi dan ekspresi li san; seni pertunjukan; adat isitiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai a lam dan semesta; serta kemahiran kerajinan tradisional.

Naskah, sebagai salah satu wujud dari Warisan Budaya Takbenda merupakan wujud dari tradisi dan ekspresi li san masyarakat setempat dalam melakukan pendokumentasian mengenai sejarah suatu masyarakat atau suku bangsa. Naskah-naskah kuno merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang tidak ternilai.Menurut data sensus tahun 20 I 0 lndonesiamemiliki 1.128 suku bangsa yang tentunya memiliki pula tradisi lisan. Dan sampai saat ini keberadaana naskah-naskah kuno tersebut banyak yang tak terlacak lagi.

iii

Penerbitan buku ini merupakan salah satu usaha untuk melakukan pendokumentasian agar kita dapat melakukan pengumpulan data mengenai tradisi lisan. Hal ini juga sudah merupakan upaya pelestarian terhadap naskah- naskah kuno warisan budaya bangsa Indonesia.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita, tidak saja sebagai pengetahuan tetapi juga sebagai dokumen kekayaan budaya yang sangat penting. Lain dari itu kami mengucapkan terima kasih kepada penulis, editor dan tim penyusun yang telah beke1ja menyusun buku ini sampai dapat diterbitkan.

Jakarta, Desember 2013 Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya

Diah Harianti

enerbitan ini merupakan hasil penggarapan dari bagian (fragmen) sebuah naskah tradisional tentang adat Daerah Lampung. Naskah ini ditulis dengan aksara Lampung yang dikenal sebagai Hat Lampung Tumbai, yang tergolong ke dalam tulisan Lampung Lama. Naskah tersebut adalah naskah salinan milik Hadji Zakaria dari Pampangan, yang disalin pada tanggal 14 Februari 1924 dari naskah yang berjudul Baek Koentara Rad.fa Niti Oetoek bergoena adat Lampung Penggir, Poebion dan Toelang Bawang. Buku adat Lampung ini asalnya dari Dalom' Pampangan, Pangeran Ratu Paksi. Amat disayangkan naskah asli maupun selinannya dari buku adat Lampung ini tidak diketahui lagi keberadaanya. Sumber yang digunakan oleh para penggrap naskah tradisi adat Lampw1g ini hanyalah berupa fotokopi yang dibuat sekitar tahun 1980-an dari sebuah naskah salinan milik Hadji Zakaria dari Pampangan, Lampung.

Naskah Koentara Radja Niti dari daerah Lampung ini merupakan sebuah naskah yang berisi aturan adat yang berlaku khususnya di daerah Lampung Peminggir, Pubian dan Tulang Bawang. Aturan adat ini merupakan tradisi budaya yang penuh dengan berbagai kearifan sebagai cerminan pandangan hid up orang Lampung sejak masa lampau. Tradisi adat yang tercermin dalam naskah Koentara Rad.fa Niti dapat ditelusuri kembali dari sumbernya yang telah ada sejak masa perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha hingga masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Pada masa itu telah dikenal kitab-kitab hukum yang digunakan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat dalam naungan isntitusi-institusi kerajaan maupun adat. Sebagai contoh dapat disebutkan kitab Kutii.ra Miinawa. Praniti Raja Kapa-kapa dan Kitab Purwiidigama yang merupakan kita-kitab hukum Jawa Kuno, kitab Undang-undang Tan.Jung Tanah sebuah kitab hukum Malayu Dalom = dalem (?) gelar Pasirah, pemimpin wilayah kecil. Lihat: Junaiyah dkk, Kamus Lampung Indonesia. (Jakarta: P usata Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), 1985:73

v

30 pasal dari seluruhnya yang berjumlah 236 pasal. Sehingga dapat kiranya dikatakan bahwa isi naskah yang sudah tergarap itu baru merupakan fragmen dari keseluruhan isi naskah. Seperti diakui oleh para penggarap naskab, hal ini disebabkan harena terkendala oleh kemarnpuan untuk mengaliahaksarakan dan mengalibbahasakan selw-uh isi naskah tersebuh. Mudah- mudahan pada kesempatan lain isi Koentara Radja Niti yang berasal dari daerah Lampung ini dapat diselesaikan. Ketigapuluh pasal tersebut meliputi: (1) Pi 'ii Pesenggiri, tentang adat "perangai yang keras" atau rasa harga diri, (2) Juluk Adek, tentang adat nama gelar sebelum dan sesudah menikah, (3) Nemui Nyimah, tentang ada sopan santun, (4) Nengah Nyappur, tentang adat pergaulan dan beriteraksi, (5) Sakai Sambayan, tentang adat hidup tolong-menolong dan bergotong-royong dalam bermasyarakat.

Dari ketiga puluh pasal tentang aturan adat Lampung tersebut telah terpetik sejumlah kearifan budaya lokal yang sangat penting untuk membina dan memperkokoh jatidiri bangsa. Oleb karenanya penerbitan fragmen naskah Koentara Radja Niti ini mempunyai arti penting dan patut kita sambut, dan disebar-luaskan.

Akhirnya saya mengharapkan agar upaya penulisan dan penerbitan buku-buku tentang kebudayaan dapat ditingkatkan, di samping terus meningkatkan pula usaba memelihara dan mengembangkan kebudayaan tradisional mau pun kebudayaan nasional.

Jakarta, I Februari 2014

Dr. Hasan Djafar Editor

2 Lihat: Th.GTh. Pigeaud, Literature of Java, vol l (the Hague: Martinus Nijhoff), 1967:304-3 14. Lihat pula: Uli Kozok dkk, Kitan Undang-undang Tanjung Tanah (Jakarta: yayasan naskah Nusantara/ Yayasan Obor Indonesia),2006

vi

PENGANTAR PENULIS

ksara Lampung merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya Lampung. Menurut fungsinya Aksara Lampung digunakan dalam pembuatan atau penulisan naskah. Pada umumnya Naskah Lampung berisi tentang pengobatan, peramalan, mantra, syair cinta, pantun, tata aturan hukum dan ilmu pengetahuan.

Naskah Boek Koentara Radja Niti merupakan naskah salinan dari Koentara Radja Niti yang berisi tetntang tata aturan hukum adat Lampung. Naskah ini merupakan warisan budaya intelektual bangsa Lampung dari masa lampau yang isinya masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat pada masa kini. Dengan pengalihan aksara dan pengalihan bahasa diharapkan naskah ini dapat menjadi salah satu bahan informasi tentang kekayaan budaya tulis yang mencerminkan kecerdasan tinggi suku bangsa Lampung. Tentu saja banyak sekali hal-hal yang menjadikan kekurang lengkapnya tulisan ini, namun kami telah mencoba mengungkapkannya untuk dapat dikenal oleh masyarakat luas, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita dan juga generasi mendatang.

Kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan ini kami ucapkan banyak terima kasih, kritik dan saran kami terima dengan senang hati dan tangan terbuka.

Bandar Lampung, 2013

Tim Penulis

vii DHR

Ill
SAMBUTAN.....................................................................................................
PENGANTAR EDITOR.................................................................................... v
v11
PENGANTAR PENULIS..................................................................................

DAFTARISI

BABI PENDAHULUAN
BABU NASKAH BOEK KOENTARA RADJA NITI
BOERGUNAATOERAN ADAT LAMPOENG POEMINGGIR,
POEBIAN DAN TOELANG BAWANG .. .................. .............. .. 3
1. Naskah 3
2. Alih Aksara .... .. .. ..... ... ... ... .. .. .. .... .................... ........... ...... .... .. 19
3. Alih Bahasa 33
BAB III NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM
NASKAH BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK
BOERGUNAATOERAN ADAT LAMPOENG POEMINGGIR,
POEBIAN DAN TOELANG BAWANG.. ... ............................... 49
A. Pandangan Hidup Orang Lampung ...................................... 49
B. Pi-ii Pesenggiri ............ ........ ....................... .... ...................... 52
C. Juluk Adek .. .................... .. ...................... .... ........ ................ .. 53
D. Nemui Nyimah 56
E. Nengah Nyappur ................. ........................ ................... ....... 64
F. Sakai Sambayan ........ .... ........... .. ......................................... .. 70
BAB IV PENUTUP ......................................................................... .......... 81
DAFTAR PUSTAKA .............................. .. ............................................ .............. 84

OENTOEK

viii

  • Takit Pesagi adalah tempat asal mula orang Lampung -
    Turun menghilir dalam gelombang bukanlah berarti terpecah belah-Justru hendaknya bisa menjadi sama berkembang-Hukum -Kuntara, Pranata Adat Pi'il Pesengiri pada saat itu sungguh dipegang teguh oleh semuanya-Demikianlah halnya aksara, budi bahasa dalam tegur sapa-Demikianlah bait syair yang ada dalam pustaka Lampung terpadu indah dengan doa dan harapan untuk mencapai kesejahteraan bagi masyarakat di bumi Lampung. Bahasa merupakan hal sangat penting dalam pengenalan pengetahuan terhadap kebudayaan suatu Suku Bangsa. Bahasa juga alat utama yang dipakai oleh manusia untuk mengabstraksikan realitas dan memberikan informasi tentang realitas. Lebih jauh lagi bahasa menjadi lebih berarti apabila memiliki tulisan, karena dengan tulisan lebih bertahan lama dalam merekam apa yang ada dalam masyarakat pemilik bahasa. Maka dari itulah keinginan untuk mengenal, menggali dan melestarikan kebudayaan Lampung tidak dipisahkan dari pengenalan dan pengetahuan tentang tulisan dan bahasa Lampung. Naskah Koentara Radja N iti Oentoek bergoena atoeran adat Lampoeng Peminggil~ Poebian dan Toelang Bawang merupakan naskah dari hasil foto copy ditahun 1980 an. Naskah tersebut dialih aksara dan alih bahasakan oleh Mega Faivayanti. Kami sudah mencoba mencari naskah aslinya namun sampai dengan sekarang belum berhasil kami temukan.

30 pasal, rnudah-rnudahan diwaktu lain karni dapat rnenyelesaikan kekurangannya. Dalarn rnengarnati huruf dan bahasanya naskah ini rnasuk dalarn kategori Naskah Larnpung Pertengahan. Masyarakat Larnpung rnenyebut tulisan Larnpung sebagai Surat Lampung, Sukhat Lampung atau Hat Lampung. Sedangkan di Surnatera Selatan disebut sebagai surat Ugan atau surat Ulu. Tulisan Larnpung disebut tulisan Ka Ga Nga karena huruf awal dari urutan abjadnya berbunyi Ka Ga Nga. Pada rnasa kini orang Larnpung rnengenal tulisan Larnpung dalarn dua rnacarn, yaitu tulisan Lampung Lama dan tulisan Lampung Sekarang. Tulisan Larnpung Lama terdiri dari variasi bentuk Hat Lampung Ho, Hat Lampung J ebi, Hat Lampung Tumbai. Tulisan Larnpung Sekarang terdiri dari variasi bentuk Hat Lampung Ampai, Hat Lampung Angka, Hat Lampung Ganta (Pudjiastuti, 1997). Suku bangsa Larnpung rnernpunyai bahasa dan tulisan tersendiri. Bahasa Lampung lazim disebut umung Lampung, Cawo Lampung atau cawa Lampung. Bahasa Lampung mempunyai dua dialek, yaitu dialek A (Api) dan dialek 0 (Nyow). Dialek A dipakai oleh masyarakat Larnpung yang beradat Pepadun kelompok rnasyarakat Pubian Telu Suku dan Buay Lima serta seluruh masyarakat Larnpung yang beradat Saibatin. Dialek 0 dipakai oleh rnasyarakat Larnpung beradat Pepadun kelornpok A bung dan Mego Pak Tulang Bawang (Hadikusuma,

1989). Naskah Koentara Radja Ni ti ini menilik dari tulisannya rnerupakan variasi tulisan Hat Lampung Tumbai. Dengan tulisan ini diharapkan dapat mernbuka rnernori kolekstif ten tang adat budaya, dapat kita aktualisasikan dalarn kehidupan masyarakat majemukjuga dalarn kemajuan pengetahuan.

BOEK KOENTARA RADJA NITI
OENTOEK BOERGUNA ATOERAN ADAT
LAMPOENG PEMINGGIR, POEBIAN
DAN TOELANG BAWANG

uff5 Ot j

/r:;~ .f~ a ~-

o~~ 67o~a &Vz:?c..~ ~c

L ~. o

~ "-" / ,,....,,e • ;?'/ ~ ' JC7,¢A~ ,,.,:-

<7v~ /s ~/

Cjevuu1~ Siex-eom. ~0Jyn,r'.-acv1"'

-==-~e,ntr"t,CW\ ~ Cfo»-vt:11

.("'. 7"

"f' " ,;-,r,,.. ...( ..,J '7 '--y /'>

X 2 4— Js

3.1.

立 2

F 3 正 2 4 ふっ

人 1 小

FT {

5R

四 ~4 4

2 π n # T r

よっよ

そッtう fd3

ARHN6

RTYAそやイイリす

2 ~7

4 小

y

Y2 A 2 22万

24.
也 ~イィッ

7R

I

2 E Y

C 4 2
i
力 つ 3 山
3 、 - 1 3 一

.1 KO 心 11 1 1 1 e 0 心 △ 5 二 π 3 25
4 Z0. 1 V 一 P 4Li.

心 力 n 心2 为

2.
y n 分 ~ 山 办 上 33 五 n d一 一 r 1 e4…2 为 34. 山 山 4 20 5 史 山 品从 π1/35 V m 4 5 4 I 7 06 2 水 m 一 y m 刀τ 2 0 2 2 58.

5 a x

U刀 1 つ E e N 39 s 力 ^-00 1 乃 3 40 # P V m

つっ 7241 4

C m

C 2 2 7 42. S yb

心 V

e ne 43-

n Sつ √, μ

小小441.

1 C T ~ 45 T 山 S 5 V π。

刀 , 46 # つ 一

二 ~ ~11l 5 -. D 4山 4TJA 2 T 形 っ 对/ ~5 2

40.
刀 a 刀4 マ Tx

ク49

P 4 7

S" 50. 7

T 2 a 2 卫 NN C T 刀 e51. 20 V 2 C 刀 s 山 4 i T 心T x 山π 2 5 x151 π/ π n 心 e 山 3 52 t 91 2 山 J M 心 7 4 SU-

刀 2 一

山 n 心 4

  1. 2 42 π 54.

    。 1

证 sr 55

之T

元 分 ≤力 4~ 56. of e n 力 P

L Jan5F

λ 山 5p. 2 2 が' 37

メ 。 20

山 Nm 个

5" ~9 7 59

~ 7 V 4 2 2 人 4 n 5 60. 正 7 力 心 S 刀P bo P 分 361

山 E

RHSA8

2è G

  1. un

    ko 乐 P 5a C e 5

i. 上 e 3
1 4一か TTI

  1. 山C / 1の~ 1a
    enπ 1
1
J 一 71

U 57

$ 7 山 山 4 上 ~

  1. 丸2
    9 7 5 dedo 1 6 4 一 1 1 4

4 m

2O 刀 S π/ , 七

4. 一 17

π/ 2 七 卫 二

TT 心 , 1 2

k了4 u°ol 一

4 で TP

6 s e J C e

dhs.t 从 3 a C 16

~2 て 2 个7a 心 T 1

4 方 3 4 1 1

22 か#x C

  1. 7 飞 3 J
    2G 0

4. π e

4 か′π λ 4

5 π 4 al

6 U1 ~ 7~ n 2 C 心 ” v r S心 m i wcふ飞如 4一 と 2 T 4 e x 加 っ T 3-

π π o ~

44 3" 4c V ~ e P T 131 3c

222 2

m 心

  1. ~ u 0 e 2 J 2 N 3

    9 つ七

2 as x 4

山 つ 0 个 Y eTin

S 力 a 刀 4~14 1 人 2 ~11 Cp ↑ asn

~ らィ5刀re dNe.5. 江 一

ら 9

πu 1 215 2 2 Un ~ 7 A 1

らーん

  1. 5 π
    Tm e C 17 4π e3 つ 5 C つ'a 0% d Y u ↓n/山 i 2 2 ~ 7 14 u" —3 P, 4 刀 せ

刀 Y 冬

P つ 也 3 S 山 πと 七 七 2 \m と 一 2 2 5 1 42

Mab. P 4 3. e

飞 Cー 2 U d 2 11 2 1 一 ~ n 山 7 YX π1 7 ć 7 2 n 4 2 T/ m つ C /54 xV0. 2 S" 入 ~ —π P 己1 一 ~ ~1os Sx,C 心 3 u r ~ 0, 4 3 π~11 1 心 つ u

d っ 2 1力 S

0 4 M~11 人π1力 4 9 万 20 A ュ 21 つ 书 R と 9 4 7 t 山2 で

3 U 5
P 1 人
> 7

Y し1 4 S P u入4 V 2 2

Moy 3

2 、 n 4 1~41 J e 27 つ 2 刀 x 7 A2 个 マー nyl

  1. n山 也 si ~ Cつ 4uS
    S 4 7 →i1 1 ~ つっ ~ T1 X y 1 记 3力 π 4 2 S Tへ3 2 1 s π 4 e 7G 7 7 " 2 个 C J m i 32 Mo o 3. uy 一 1 C 5 i 5一0 7 is 2 2 0/ n n

  2. 力1 4 3 π C S=つ
    γ 5 1 J万 心 = 1

RIW10

3-つへ a 云 刀 4 un T 2 # 山' 2个 2 u f FT Dかっ 4二 T 布

5 x u1

22 こ 了 m 5 7 刀 Am e

家 4

Ae g.

i1 e と Aa5 n 2 3 2节 2 べ $5i2

J. C 31

一 L C u
一Te 2 -n

si Fつ T/

  1. 4 e
    3 ~ πy 2#一π か

  2. π 力
    V u 山π/ # が '5 S P 5 山 à 2 π 1 山 2~ $ ご 刀 π1 が つ 入 ~ 4 π心C 9d 5 心 T 7 9 5 八 2 5 3 171 ó 山2 E' 心 1 mi泌 刀 中 1山 s 一 4 T

心 T

d 2 ~ 1 1 T 4 3 n 4 3-山r ~ 4 5 4. 4 c 4 万 T 4力 # N 3 s c à Tπ/ 心 C 3

56 N, 71 P C 刀 e

7 3 x/3T π 2 L 山 Cπ 刀 m x で 41つ π/ $ P S" γ sπ

石 N刀 ↑ 4

3 4 2 b n 人 π 2 队 9 中1つ4 つ 2 大 P 5 り

Le e2Cr 。

2i 1 1 二 —# 2 a 18 山 一 C d 4 u5n1 A 3 hn p/ TI / x 7 0Ne 2 1

心 2

↓ C s πe 子 入 C cn 1

3 T Un 51

C T πe乃ぐ 山 つ 1 / 3 2 6 e a π π 2 ii-c4oe C5

1 Ls ~ 1 3 山 71x1himr

2.4 3 215"-8
π X π云

2 入

ππ1 & 山 以 4 1 C ← t 冬" 57 5 # 六 一 s 出2 4 π/ 6T5 iγ" 边7 d 4力44 山 e33X —3

2 一 5
5 1 1
, や e
t 7 0 人 と
3 S 7 2 2

C S s 8 2 X 7 1 c ioisS" 山 4 2 i1 π i 2 x 人 2 V. 山 2 <= 名. π ni 7 1 3 π 5 7 5

C 2,d

41. 3 π 4 子 C1

3, 45"

5 个R一π/与 つ e 2) 0 一 一 山 u" 一# 心39乃 2 in 2 20 5 1 is-刀 uc7R5 2 つ427

八 7 2 J5
7 2 r U
:2 2
5
广

. e i-个51 1 山-3人

  1. 4 L c n ン 4 π πC1 3ρ 3 F 7

    4 44S 一3っ 2T

ふ5个 C 1

π

  1. つ三4 u X 力
    x ~ C11 C T

  2. Ci つ 4C

    5 21

2 42 ~

一x, 山 乃

つ Jπ ~ ~ i yπ一 C w 11 它 1; 2 D u ~ 55力 正

Me i4. 4"—375.

5 5 Cへ 5 5. 1 1 u"4π/ ~47 -3Sっ 2 e C ēB P/3τ

  1. 4 π/
    X 4力 一 3S= 5 3 m 5

R12

5 元 u

3 4 Xtra

, 山 A

# 2/4

一 心2t rh6 一 1 e a 个 C 人 hois-X&. 5 7 7 2 0; J a- 、 i-r 23 4 一 一 ~ 一 上 C 3-4 f r R √. 21 4π1 i 一 P41一 i 1

1.か
1 2 つ 7

2必 2a C

C π′4 了

4 で #1 C T/

1 力 2 Y ~山人 C 7 7 5 J i6-7 6 4

A 410.1n

1 一 T : e 一 C s 孔 1 一

是 3+1, 一

2, 27 2 C 分 2 a π'

二 3

4 P 1 一) 心

っよっ

J-a山 3 J 山 91 9 n 57 1 1 二 ↓D

#32 つ

K r 5 # T

J.n 卫 n S 一

.1
6 n i 1

Nu ns.nurC んっ

T 90

心 m 5 e 不

n 七 15 i 1 一 e 2 i-力 m T つハ 7

  1. 0
    n 3 五 元 ai 3-4 1 T wd M 4 # h,心 5 sぶ ~か2 5

5? #1

C 力 m 1 4 41 π

y 心 4 π/

山 1

π

つ r Y 一

2 3 区 e CO 出 书

4 T 4

1 1n 4 一 力 S T A1 7 入 i 心 s 4 3e 4 し D 0 で C'

chke,so 7 ご 品 03.7

r ν T 4 一

一 17 X

u T/ 1 1 771 ftJ 5C

  1. 4 ュ 山/
    乃 L 一 7

41.λ

4つ 2 3

2 山 π 一7 C 2 4 1 八 2

J 2 ス. ご C

131 4 is 乃 w 4 I 2 Lx 4 ~ 心 x T iY dheig. 9 力 反 i-山 刀 T 子 4

y 2 F

2-Ji

  1. 5 7 光 # イ u
  2. 乃 L
    T1 82 8

  3. /
    S 7 F 52 51 C 75 n 7 力 d つ

心85-3 2e

3 7 心 41 1 4

(っ>7 9

1 N-e n g n1 C e C T CS. 7T L 。 心 a X T/

i. 41
- a 4 7 A π 小/ 1 五 山 fiael 2 L 刀 心 T/ 山 1 27 π 4π - 2 7 & 7 2

X5 Y

51 c 1 S π 1 sr 4r 2 2 7 t s m

C 心

n 一 P 2s 7 化 r — J P 3 c L t 9 3 A 7 V r 1 7 CT n e 力 e af 114 5 B T y

衣 之

  1. 7C
    つ s i 4 i→ 加 n1 P

-3 2= 4

2 2 a ~ 21 01 21

RH14

sっ 也山 N2山 乃山 C n20.

つ e

4∈t t

心5.515

TY ~-d 23 e y

Fう

山.

Moae 力1 Y

くSrl

y

π ksas.

S

F1 1121 分 乃

3っ

R

MheR 2

T Sko25,s" 入

m 0

?5 2JトLJ

Cつ "

TLE TT F 一 限3 g( FFF ~ S 1 つ1 4-7C V 1

山 4_″ pu

1 "

50 1 C e J

π 子 1 6F

S Eト

KHAI16

中 S n 1 山/ 1e川 xっ 7" 一 P 2 つ" つ 7 S 4 F ~11 π 分 丁 力 一 241 A 1 T 一 -- 1 11 n C 号 4十1 力 C T1 1 っ Te SCC T π 力 s 4 C u

  1. 江 C36
    J s" L か 二 31 4 ご M "7 r 21 3 ~31 Y (> 1一1 山 4 2 ~ C5′ dM02 275-

.29π
个~ 刀2 π n ~ e i J e

  1. S
    山 S 4T/ 3 力 π S π ω1 # R 2 つ一 S 一一 14 3π ≤3 n 1S″ πu e つ

2っ

力 一 7 , u 2 4T F C 3 C 一 FY

三 ん P9p

イ 1的

示 Mr

トPT

Ma s. 7 ふ 2

R18

Seratus pak buah kitap akan tetapi sebanyak-banyaknya itu kitap kaluwaran juga da khe khor an tiga puluh jus maka berhipun kaluwar itu kitap tiga (3) perkara 1. tasaup 2. pakih 3. sarak

Itu dipagai du wa yang nomor satu lebih keras dia punya suruh dan lebih keras diya pula cegah itu pegangan sikala nabi-nabi dan sikala ulama-ulama sikala uliya-uliya dan sikala wali-wali dan sikala alim-alim dan sikala sentari- sentari yang sudah menuntut igama islam seperti sembahyang lima waktu dan sebagainya.--=-kl itu yang nomor 2 itu bemama raja niti bagiyan artinya pegangan segala sultan-sultan segala ratu-ratu dan segala raja-raja dan segala batin-batin dan segala dalom-dalom dan punyimbang-punyimbang dan radin- radin raya-raya minak-minak dan kimas-kimas dang pisa dan bubangken dang tukorkhan dan sai tunjattan musti perkaraken lebih dulu ngadap di hokum sai benor-benor.

Inilah hukum majapahit raja di jawa tikala belum campokh cina bulanda lagi tahun 1001. Mangka ya muntah di pusiban anggun-anggun tanggal 14 bulan muharam hari senin. Mangka ya berkata katanya hu patih

Hu ta Tamunggung Singadipati ta musti kumpulkan segala rakyat di dalam negeri majapahit -jangan tinggal-tinggal satu biji sebentar juga musti datang menghadap dekat pusiban anggun-anggun. Mangka mu nyawut Tamunggung Singadipati Ya Gusti ku sai hata Tuwan akan diturut lalu iya dipukul gung sa angina lalu kaliling negeri Majapahit dengan sebentar sudah datang seperti

1001 mangka disalin Sutan Puger Gedung Inton di Banten mare di tulat Ratu MinangkabaJh di salin lagi di L amasa Kepampang ya di tunda hukum Sai Kala Berak - 1/

Muyuh ni T iyuh 2
Senang Negeri 3
Ganjaran Humbul 4
Kahalauyan Humbul 5
Ganjaran Bator 6
K aliyoman Bator 7
Ganjaran Punyimbang 8
Kaliyoman Punyimbang 9
Ganjaran Maranai 10

~20

Kaliyoman Bator 7
Ganjaran Punyimbang 8
Kaliyoman Punyimbang 9

16
Kaliyoman Bebai Punyimbang 17
Ganjaran Bebai Pupatih 18
Kaliyoman Bebai Pupatih 19
Ganjaran Pupatih 20
Kaliyoman Ragah Pupatih 21
Anggauan ni Maranai 22-23
P i' il 5 Perkara 24
Anggauan ni Punyimbang Ngelawan
Adik Warini 25
Sai Ngalakon Tiyuh 26
Punawai hukum jama ram 27
Pakham ram di tawai 28
Tilik indai 5 perkara 29
Kekuatan budi dan hakal 30

Punyimbang

N o. 2. Muyuh ni Tiyuh 10 perkara

  1. Satu kutum di mukak di bulakakng
  2. Mak bepukalan ragah

Senang Negeri 6 perkara

  1. Cawa sepuluh sudi cukup
  2. Muli Meranai lamon sai ranta sapun
  3. Raji ni sabar
  4. Anak buwah maka kakira
  5. Tanam tumbuh sai lamat
  6. Pungulu ni pulanggar
  7. Sejarah humbul 5 perkara
  8. Satu nemuiken luhur tandang utawa himpun manuk utawa himpun tahlui
  9. Kerangan cum cam da i mawat darak
  10. Jingaman kundar bersih di bah di lambung pukalan deras
  11. Rang laya gawang
  12. Ju wal bukhunang sai tan ta kajang dan Punyimbnag ni ngedok hajat

Pukalan lamon suwa bulik

  1. Mikhak di bubuwahhan sai k:hanta peros hati
  2. Asa ni rasah
  3. Punyimbang ni ngedok gekok ya mak mulang ditiyuh. Sana jenong duluk mak mungun tiyung jenong dukuk sina pun rici ni kurang cakal
    No. 6. Ganjaran Bator 3 perkara

  4. Ngangas ngudut Punyimbang ni mak kurang

  5. Punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon
  6. Punyimbang ni hi pal wat ubat ni di ya layin dua ulah bator ni di ya. Minak ngulah hi nabak jenong bator sina pun wajip juga tiangguki pandai di ram Bator.
    No. 7. Kaliyoman Bator 4 perkara

  7. Punyimbang ni temuri ulah ngilui han kiya

  8. Pukakas Punyimbang ni tucar ala ngalebon
  9. Punyimbang ni peros hati lorn tayuhan
  10. Punyimbang ni ngalegoh mak di ulihni rinci ni kurang bijak jenong Bator sina pun dang ti angguhi pandai di lorn Bator.

  11. Ganjaran Muranai 12 perkara

  12. Manandi Induk Bapak
  13. Rabai di Arna Karnaman
  14. Sirnah bulebah
  15. Manis kata dan manis rnuka
  16. Harnpang injak
  17. Tugai kakayan pakat di bai pakat di ragah goh pakat di sanak pakat di taha
  18. Nguncang kahendak
  19. Ika ni ulih Tuha Batin
    ~24

Sina nama bujang putera patah-patah didalam kampung jenong muranai sina pun.

No.11. Kaliyoman Muranai 6 perkara

  1. Mak di pahit hon gulam
  2. Mak di gawai hon pungalakun
  3. Mak di ulihmu ileum
  4. Mak di penah hon pangan
  5. Mak minsa nganjam bidak
  6. Kabetohan tengah idoran. Rinci ni kurang bebas di Muranai sina pun. Padah ni titih hati.
    No.12. Ganjaran Muli 5 Perkara 1. Laman pumayinan

  7. Di unyai ho hun nyangsang

  8. Lamen serukur
  9. Sai tuha ni sampai buson
  10. Jejuluk ni terang denggak di ciba putari mutor tiyuh jenong muli sina pun.

S ccs

No.13. Kaliyoman ni Muli 7 perkara

  1. Ambin ni sungi
  2. Mutayan di asuk ga
  3. Putus kakanan
  4. Kili cambai di induk ni
  5. Nganjam tapis
  6. Hunutu galepung mak ngrannya
  7. Lapah midang kepik ni di sulam Kemaman ni Rincini si wat cawa jenong muli sina pun tangga ni duko ana jak ngalajau pulaya.
    No.14. Kaliyoman ni Lambang 5 perkara

  8. Mutayanni mak geluk bubar

  9. Tipak ni kurang gancang
  10. Mak nutu beduk
  11. Singhil ni ni lebon
  12. Sihung ni nyenyau Kak rincini teledor ulah kurang biyasa jenong Lambang sina pun.
    No.15. Ganjaran Lambang 4 perkara

  13. Kulik ni bersih

    2. Teladas

  14. Mak pu mabok

  15. Sai nutuk mak kung lekas tangan ni mena nyambuk. Rinci ni pikiran kebas hina luni mak sangkut jenong Lambang sina pun.

    ARHAI26

Punguten ni mak kurang rang

  1. Hati ga pagor ni lapang
    No. 17. Kaliyoman Bebai Punyimbang 5 perkara

  2. Jenganan ni mak risai

  3. Induk lok hanta ra sai lijung ratong
  4. Bebai ramik mak tuntut diya
  5. Hun sai di dapot sai pagar-pagar
  6. Hanekan kanan sai lojor-lojor Bebai Punyimbang kurang tegar kak rinci mak lesor jenong Bebai sina pun. Cuba ki metu upok rik gulubang Bai Punyimbang sai kedau cadang mak hun pandai di sai hanarai.
    No.18. Ganjaran Bebai Pupatih 7 perkara

  7. Sarangan ni mak kurang

  8. Biyas ni cecak
  9. Kan ni mak mawas manam
  10. Temui ni pagun bugula

Panjang makuk ni rajin

  1. Mak putus di bubangik
  2. Pungatakni ti unggak-unggak Sina pantas angguran Bebai Pupatih.
    No. 19. Kahalayan Bebai Pupatih 5 perkara

  3. Temui kebetohhan pangan nginum ni mak ngedok hi wan

  4. Puntungni basah
  5. Nginum mak bu wai
  6. Rani karnarau biyas ni lutok
  7. Gelas piringni kotor Rinci ni kurang lesor jenong Bebai sina pun seperti binatang bebai.
    No.20.Ganjaran Ragah Pupatih 7 perkara

  8. Temui tigoh ya ngampoh ngangas

  9. Sanggan talam mak tukor
  10. Sulan mu tayan mak kaliru
  11. Kak arnbarran mak tilidor
  12. Rarai ni kelar
  13. Pandai nyanang Patih ra li s di dalam kampung jenong Patih sina pun
    No.21. Kaliyoman Ragah Pupatih 8 perkara

-=-

No.23. Sai munih pun dang manjau di sai kelik rumpok mak para caya laju ni narai di sai kelik ngajuwal pi ' il dan pusang giri dami ana pun seperti beduk di tengah wai karam huluwan urung mak buritan karam munih ya mula tetap purahu di tengah way ancak ram rengong-rengong angkan sina munakai.

No.24. Pik ii 5 perkara

  1. Raja ni pik il Bebai
  2. Punyimbang ni pik il ta muli
  3. Induk ni pik il tudau
  4. Anak bai pik ii tecawa
  5. Anak ragah pik ii talagai

Sebab sai ngucakan tiyuh 7 perkara

  1. Bebai
  2. Muli
  3. Dau
  4. Kanan
  5. Tanam tumbuh
  6. Sisikan
  7. Punyawa
    No.27. Sina nimba ni tawa duh anak duh ya umpu duh muli duh meranai duh sai bah duh ya rata-Dang langkang dang bugudang mari tiyah mak rangga dang mungah dang carakah mara tiyuh mak belah dang sampai dang rameba mari Kaman mak layau mik umban kita randah di lingga di punyawa sebab sai ngeba ram petinah nyata 4 perkara

  8. Sikara

  9. lung ba luba
  10. Asa-asa
  11. Para caya Sebab ni pun sai kara dibadingi Hukum ngan kita siri.

Sai kara di gogah Hukum ngan kita salah Sai kara di pandai Hukum ngan kita rabai Sai kara di dapok Hukum terlebih dapok dan ngan kitang dapok Sai kara di pintor Hukum nganti ka depor.

No.28. Ya mula ni kidah pun puluh pandai Sai belas ngulih ulih katapi puluh tawai sai belas pilih

No.29 Mari jenong jalema pandai ya ngajalan ko titik tindai 5 perkara

  1. Rasa-rasa
  2. Habak-habak
  3. Kira-kira
  4. Imbang ambang
  5. Julung ungai
    No.30. Dau karana ni pun bulan gelap lagi terang hari panas lagi dingin hari hujan lagi kering gunung tinggi lagi rendah

Sanak si pandai kayin kimena tuba di budu kayin ko duri Sebab ki lapah ngelapah jalema bertaje peng jaweh bakal ram tijajau =

Itulah sebab kita berjalan awas-awas iwen-iwen jangan takut jangan dibulakang di mukak ada macan - - - Jangan takut jalan di belakang di mukak ada harimau Seperti berjalan dipohon duri alun-alun sampi pagun Jambat-lambat asal selamat lama-lama kita datang kalu ada musuh Di jalan jangan berlari sebelumnya tentu karena pantangan Adok Punyimbang belum perang sudah Iuka sudah Iuka belum Iuka sudah mati

Solah hualaihi wasalam Ibunya Aminah Bapaknya Abdullah diperanakkan di Mekah wafatnya di Madinah ya nglahirkan kitap 104 seratus empat buah kitap akan tetapi sebanyak-banyaknya itu kitap keluar juga da khe kur ' an tiga puluh jus maka berhimpun keluar itu kitap tiga

(3) perkara 1. tasaup 2. pakih 3. Saarak, itu di pagai duwa yang nomor satu lebih keras dia punya suruh dan lebih keras dia pula cegah itu pegangan segala nabi-nabi dan segala ulama-ulama segala uliya-uliya dan segala wali-wali dan segala alim-alim dan segala santri-santri yang sudah menuntut agama islam seperti sembahyang lima waktu dan sebagainya- kl itu yang nomor 2 itu bemama rara niti bagian artinya piagam segala Sultan-sultan segala Ratu-ratu dan segala Raja-raja dan segala Batin-batin dan segala Dalom-dalom dan Punyimbang-punyimbang dan Radin-radin Raya-raya Minak dan Kimas-kimas. Jangan berkelahi dang berselisih jangan tukarkan dan jangan saling menyalahkan musti diperkarakan lebih

Sewaktu Ratu Majapahit gumara nerangkan hukum Tumenggung Singadipati tanggal 14 bulan Muharam hari Senin tahun 1001 maka disalin Sutan Puger Gedung Inton di Banten kemudian diikuti Ratl1 Minangkabau ya disalin lagi di Lemasa Kepampang ya ditingkatkan hukum Sai Kala Berak.1/

Sakitnya kampung 2
Senangnya negeri 3
Sejarah pedukuhan 4
Bagusnya pedukuhan 5
Ganjaran Bator 6
Malunya Bator 7
Ganjaran Punyimbang 8

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perempuan/lstri Pupatih 19 Ganjaran Pupatih 20 Malunya Pupatih 21 Angguwan Bujang 22-23 Pik il 5 perkara 24 Angguwan Punyimbang 25 Sebab rusaknya kampung 26 Punawi hukum jama ram 27 Pahhan ram di Tawai 28 Tilik Indai 5 Perkara Kekuatan Budi dan Hakal

Sakitnya kampung ada 10 perkara

  1. Satu kutun di muka di belakang
  2. Tidak punya pangkalan I tempat mandi laki-laki
  3. Tidak punya Sesat/Balai Adat
  4. Tidak ada Musholla dan Masjid
  5. Tidak pun ya penutup bubungan
  6. Tidak punya beduk
  7. Orang rnasuk kampung tidak rnelihat adanya dandan Batin
  8. Tidak punya keinginan
  9. Kurang makan
  10. Punyimbang tidak cakap
    No.3. Senangnya negeri 6 perkara

  11. Berbicara sepuluh kata sudah cukup

  12. Bujang Gadisnya sopan santun
  13. Rajanya sabar
  14. Anak buah menggunakan barang-barang punya kira-kira
    No.4. Sejarah pedukuhan 5 perkara

  15. Menernukan orang mencan sayuran atau menernukan kumpulan ayarn bertelor
    . ~

S

  1. Jemuran cum cam dai tidak ada di darat

    3. Tempat mandinya bersih di bawah di atas, aliran sungainya deras

  2. Jalan rayanya bersih

  3. Jual barang serta tikar. Punyimbangnya tidak mencari keuntungan dipedukuhan lain bertani ngulah puhajang itu nama tani nya pun
    No.5. Bagusnya pedukuhan 5 perkara

  4. Tidak saling mencari sesuatu

  5. Tempat mandinya banyak dan bagus
  6. Ingin punya sesuatu serta asem hati

    4. Anjingnya kurus

  7. Punyimbangnya saat ada hajatan dia tidak pulang kampung. Itu namanya duduk tidak makan terong, dipedukuhan itu tidak kurang usaha
    No.6. Ganjaran Bator ada 3 perkara

1. Sirih dan rokok Punyimbang tidak kurang 2. Punyimbangnya tidak asem hati saat ada hajatan

  1. Punyimbangnya walau ada obatnya berarti bukan untuk membuat masalah dikampung yang lain. Minak ngulah ni nabak namanya Bator itu wajib juga dianggap pintar di Bator lain.

Punyimbang apabila ada tamu tidak diperhatikan

  1. Pakaian tidak sesuai dengan pakaian Punyimbang
  2. Punyimbangnya asem hati dalam hajatan
  3. Punyimbangnya tidak berinisiatif untuk memennc1 sesuatu dan kurang bijak Namanya Bator itu punjangan diikuti oleh yang pintar di dalam Bator.
    No.8. Ganjaran Puny imbang 3 perkara

1. Keinginannya diungkapkan tidak dipendam
2. Tempat pakaian, tempat sirih, tempat rokok serta tempat tidur selalu ada
3. Keadaan apapun dalam kampung atau dalam rumah tidak kelihatan oleh orang lain
No.9. Malunya Punyimbang ada 5 perkara

1. Kelompok barisannya tidak baik hatinya
2. Kelompok barisannya diatur oleh kelompok kampung lain
3. Tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan
4. Kurang berpengalaman
5. Memutuskan perkara tidak imbang hukum Rincinya ini kurang pandai tidak memikirkan badan, ini namanya kepala adapat itu pun_

Ganjaran Bujang ada 12 perkara

  1. Hormat kepada Jbu Bapaknya
  2. Takut kepada Ayah dan Pamannya
  3. Selalu suka memberi
  4. Manis kata dan manis muka
  5. Cekatan tidak berat melakukan sesuatu
  6. Sering melakukan musyawarah dengan para ibu, dengan laki-laki bergaul dengan anak-anak
  7. Punya inisiatif
  8. Dia selalu dicari oleh Tua Batin
  9. Disegani oleh Gadis dan Bujang
  10. Menjaga kelompok barisannya
  11. Menjaga kampung
  12. Selalu siap sedia bila orang tua tidak dapat hadir dalarn hajatan. Itu namanya Bujang Putera Patah-patah di dalam kampung, itu Bujang namanya pun
    No.11. Malunya Bujang ada 6 perkara

  13. Tidak manis perkataan dalam pemberitahuan hajatan

  14. Tidak mempunyai kelakuan yang baik
  15. Tidak ada mencari ilmu
  16. Tidak mempunyai simpanan makanan
  17. Tidak dapat meminjam bidak (kain bidak)

Orang tuanya sampai bosan

  1. Juluk (panggilan Adok) terang di atas dan di bawah. Peteri muter kampung namanya Gadis itu pun
    No.13. Malunya Gadis ada 7 perkara

  2. Tempatnya ambin bambu

  3. Mainannya terlalu jauh
  4. Putus makanan
  5. Minta sirih dengan orang tuanya
  6. Meminjam tapis
  7. Orang menumbuk tepung tidak pemah diajak
  8. Berangkat main selalu diiringi oleh Pamannya. Rincinya ini ada yang membicarakan tentang Gadis ini pun

No.14. Malunya Lambang 5 perkara

  1. Memberi tahu sessuatu kepada orang lain tidak pernah selesai

  2. Langkahnya kurang cepat

  3. Tidak mukul beduk

  4. Ikat kepalanya hilang

  5. Sihung (pesihungan ? tempat ramuan asah gigi) tidak ada rasa.

Rincinya ini teledor karena kurang terbiasa namanya Lambang ini pun

No.15. Ganjaran Lambang 4 perkara

  1. Kulitnya bersih

  2. Sampai dasar

  3. Tidak pemabok

  4. Yang memberi perintah belum sampai dia (Lambang) tangannya sudah menyambut.

Rinci ni pikiran bebas kesana-kesini tidak susah nama Lambang ini pun.

No.16. Ganjaran Wanita (Isteri) Punyimbang 6 perkara

  1. Saudara-saudaranya tidak segan dekat dan hatinya baik

  2. Dengan saudaranya suka menasehati dan berakal tajam

  3. Tempatnya rajin artinya hatinya mukmin

  4. Tamunya tidak ada yang luput dari perhatiannya
    41R

Punyimbang 5 perkara

  1. Tempatnya tidak bersih
  2. Orang tua yang datang tidak kerasan
  3. Perempuan ramai (banyak) tidak mengikuti dia
  4. Orang yang didapur selalu kekurangan
  5. Makan-makanan selalu tidak rapi. Wanita (Isteri) Punyimbang kurang nasehat. Rinci ni tidak malu namanya perempuan ini pun. Coba kalau mendapat umpatan dan gelombang perempuan (Isteri) Punyimbang mempunyai kesalahan tidak dapat hanarai.
    No.18. Ganjaran Perempuan (Isteri) Pupitih 7 perkara

  6. Tempat penyimpanan kayu bakar tidak kekurangan

  7. Berasnya banyak
  8. Makanannya tidak siang malam
  9. Tamu datang masih ada gula
  10. Raj in membersihkan piring dan mangkok
  11. Tidak putus dengan keenakan

Pupatih 7 perkara

  1. Tamu datang ia menghargai dengan menyirih
  2. Penggunaan talam menurut aturan tidak tertukar
  3. Tikar pemberian tidak keliru
  4. Makanan belambaran tidak teledor
  5. Langkahnya cepat
  6. Pintar mengatur sebagai Pangatuha Penglakau
  7. Pandai memukul canang Patih harus di dalam kampung namanya Patih itu pun.

Pupatih 8 perkara

  1. Tamunya datang tidak ada tempat permisi
  2. Tidak rata pembagian
  3. Makanan Aturan siang malam
    4. Penglakunya bodoh
    5. Pangatuhanya bebal
  4. Suku tidak menyatu
  5. Keinginannya membingungkan
  6. Sayur kerbau atau kambing tidak enak serta salah rasa, hiasan untuk ngundang berakal ini namanya Patih ini pun
    No.22. Satu lagi pun angguwan Bujang jangan berkunjung di dalam kelompok barisannya nanti orang tidak menghargai selanjutnya menjual piil dan pusanghiri. Hina kita disaudara tidak saling membantu kesusahan dicela.

No.23. Satu lagi pun jangan berkunjung di saudara, orang tidak percaya selanjutnya saudara yang malu ngejual dan pesunggiri demi anak pun seperti beduk di tengah iar, karam ? tidak ada buritan karam juga dia, maka tetap-tetap perahu ditengah air, lebih baik renggang-renggang angken itu dipakai.

Pik il 5 perkara

  1. Rajanya berpik il wanita
  2. Punyimbangnya berpik ii gadis
  3. Ibunya berpik ii genit
  4. Anak wanitanya berpik ii berbicara
  5. Anak laki-lakinya berpik il bermain terus.
    No.25. Pada awal mulanya ini pun anggauwan ini Punyimbang ngelawan adik warei jangan kurang dipikir. Karena jaman tidak akhir, jangan kurang cincin, karena dia belum mati tidak kurang ingat-ingat karena dia lagi mampu/dapat.

No.26. Sebab merusak kampung 7 perkara

  1. Wanita
  2. Ga dis
  3. Uang
  4. Makanan
  5. Tanam tumbuh
  6. Pendengaran
  7. Pembicaraan

Percaya Sebabnya pun perkara dibagi-bagi hukumnya kita siri. perkara di gagah hukumnya kita salah perkara di pandai hukumnya kita ketakutan perkara yang dapat hukumnya terlebih dapat dan membuat kita dapat perkara yang pintar hukumnya sampai ganti dapur.

Sebab kalau berjalan menghadapi orang bertaje_peng jaweh membuat kita kerasan.

Itulah sebabnya kita berjalan awas-awas, kira-kirajangan takut,jangan di belakang, di depan ada macan- - -

Jangan takut jalan di belakang, di depan ada harimau seperti be1jalan

dipohon duri alun-alun sampi masih lambat-lambat

asal selamat lama-lama kita datang kalau ada musuh dijalanjangan berlari sebelumnya tentu karena pantangan.

Adak Puny imbang belum perang sudah Iuka sudah Iuka belum Iuka sudah mati = - - -

YAN G TERKAND UNG DALAM NASKAH

BOEK KOENTARA RADJA NITI OENTOEK BERGUNA

ATOERAN ADAT LAMPOENG PEMINGGIR

POEBIAN DAN TOELANG BAWANG

A. Pandangan Hidup Orang Lampung

endangan hidup adalah suatu konsep yang dimiliki dan berlaku dalam masyarakat, umunmya merupakan pendapat dan

P pe1timbangan untuk menanggapi dan menerangkan segala hal

yang terjadi dalam kehidupan (Suyono, 1985). Untuk mengetahui pandangan hidup orang Lampung kita kenal terlebih dahulu daerah Lampung.

Dilihat dari segi budaya daerah Lampung adalah meliputi wilayah Provinsi Lampung dan Komering, Kayu Agung di Sumatera Selatan, Cikoneng di Banten. Orang Lampung atau suku bangsa Lampung yang mendiami daerah tersebut diatas menggunakan bahasa daerah Lampung, memiliki huruf Lampung disebut had Lampung, surat Lampung atau aksara Ka Ga Nga. Dari segi bahasa Orang Lampung dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu berlogat bahasa A atau Api dan berlogat bahasa 0 atau Nyou. Pertama logat A dapat kita lihat orang Belalau, sepanjang Teluk Semangka, Teluk Lampung, Krui, Komering, Kota Agung, Sungkai, Way Kanan, Pubian dan Melinting. Oleh Van der Tuuk disebut kelompok Pubian. Kedua, logat bahasa 0 atau Nyou adalah Abung dan Tulang Bawang, oleh ,Van der Tuuk disebut kelompok Abung. (Hadikusuma, 1985). Dilihat dari adat istiadatnya Orang Lampung terdiri dari Adat Peminggir atau Pesisir atau Saibatin dan Adat Pepadun atau Abung. Orang Lampung beradat Peminggir keseluruhannya berlogat bahasa A a tau Api, tetapi bagi orang Pepadun sebagian berdialek bahasa 0 tau Nyou dan sebagian lagi berdialek bahasa A atau Api.

Pembagian Dialek Bahasa dan Adat Lampung
C~Iill 1. 1vf e li.n ting, 1vfaringgai 2.. Pesisir Rajabasa Pesisir T eluk 3 .. 4.. Pesisir Semangka 5. Pesisir Krui 6. Belalau, Ranau 7. Kome:ring 8.. Kayu Agung 9. \layKanan 10. Sungkai 11. Pubian Ad.at Peminggir Adat Pepadun
Dialek 0 (Nyou) 1 .. Abung 2.. Tulang Ba\;\rang
so (Hadikusuma, 1985)

u *

=

PETA PROVINS! LAMPUNG

Cakak Pepadun merupakan penobatan dengan pemakaian yang rumit, menyembelih sejumlah kerbau dan mengeluarkan sejumlah uang yang telah sudah ada ketentuan-ketentuannya.

Dalam hal-hal kekerabatan orang Lampung memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan. Misalnya tutur panggilan pada lingkungan kekerabatan selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dilingkungan adat. Dari tutur panggilan itulah akan diketahui bagaimana strata seseorang dalam masyarakat adat sekaligus mencerminkan pandangan hidup orang Lampung dalam bermasyarakat. Pandangan hidup orang Lampung dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri tertulis dalam Kitab Koentara Radja Niti. Kitab ini memuat berbagai perihal peraturan yang harus dijadikan panutan oleh seluruh orang Lampung (Hadikusuma, 19 85).

Dewasa ini masih dapat ditelusuri bahwa para Tetua Adat masih berpegang teguh pada Kitab Koentara Radja Niti ataupun salinaimya lazin disebut Boek. Naskah salinan umunmya dipegang oleh para Tetua Adat baik pada kelompok Adat Peminggir ataupun kelompok Adat Pepadun, walaupun kemungkinan salinan tersebut tidak bersifat utuh.

B. Piil Pesenggiri

Menurut Hilman Hadikusuma Piil Pesenggiri berarti perangai yang keras, tidak mau mundur terhadap tindakan dengan kekerasan lebih-lebih yang menyangkut tersinggungnya nama baik keturunan, kehormatan pribadi dan kerabat. Dalam arti yang umum dinyatakan sebagai rasa harga diri.

Adat istiadat Lampung menurut masyarakatnya untuk mampu hidup terhormat, mereka harus bekerja ulet, berilmu dan berharta. Para pendahulu suku bangsa Lampung telah memberikan petuah-petuah berdasarkan pada Kitab Koentara Radja Niti bahwasanya mereka harus mampu bergaul dan bermusyawarahagarterjagakehormatannya.OrangLampungmemilikipemimpin adat dengan sebutan Sebatin atau Saibatin untuk yang beradat Peminggir dan Penyimbang bagi masyarakat Pepadun. Bagian awal Naskah Koentara Radja Niti menyebutkan bahwa naskah ini merupakan pegangan bagi para Sultan, Ratu, Peny imbang, Radin, Radja, Minak dan Kimas. Sebutan-sebutan tersebut diatas merupakan strata kepemimpinan adat yang ada dalam wilayah Lampung dan masih berlaku sampai dengan saat sekarang. Citera kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari sistem budaya yang dimiliki oleh suatu bangsa ataupun suku bangsa. Sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian konsep yang hidup dalarn alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat dan dianggap penting dalam kehidupan (lkram: 1988). Pemimpin adalah seorang atau sejumlah orang yang mampu memerintah, menyuruh dan melindungi warga masyarakatnya karena kewibawaan, kekuasaan dan wewenang yang dimiliki berdasarkan adat istiadat dan hukurn dalam masyarakat pendukungnya (Suyona, 1985).

Piil Pesenggiri merupakan rasa harga diri, dengan kesadaran rnengajarkan bahwa hidup rnanusia akan mencapai kebahagiaan, jika dapat mengembangkan keselarasan baik dalarn hidup sebagai pribadi, hubungan dengan masyarakat, untuk kemajuan lahiriah ataupun kebahagiaan batiniah. Pada dasarnya rasa harga diri sangat besar manfaatnya dalam menunjang pembangunan, karena didalarnnya terkandung rnakna menghargai dan berjiwa besar. Hal ini tercermin pada unsur yang rnelekat dalarn Piil Pesenggiri- rasa harga diri, Juluk Adek- bernama bergelar, Nemui Nyimah-terbuka tangan, Nengah Nyapp ur-hidup bermasyarakat, Sakai Sambayan-tolong rnenolong (Hadikusuma, 19 85).

C. JulukAdek Juluk Adek bagi orang Lampung adalah suatu keharusan untuk mempunyai Juluk dan Adek. Juluk adalah nama yang diberikan kepada seseorang yang belum menikah, baik laki-laki ataupun perempuan. Apabila sudah dewasa dan berumah tangga akan mempunyai Adek atau gelar yang diresmikan dan diupacarakan didepan para pemuka adat dan kaurn kerabat. Selain Adek yang diresmikan dalam upacara adat biasanya di sertai dengan Amai untuk pria dan lnai untuk perempuan. Amai dan lnai merupakan panggilan adat para kerabat, sehingga dalam kehidupan sehari-hari yang dipanggil adalah nama Amainya bagi laki -laki yang sudah menikah dan lnainya bagi perempuan yang sudah menikah.

Ratti Pengatur lnai Ratu

Pengantin Lampung Beradat Pepadun

Nama : Yasmin
Juluk : Ratu Pengatur
Adek : Minak Ratu Pengatur

Pengantin Lampung Beradat Saibatin

Rangkaian upacara pemberian Adek (Gelar)

Orang Lampung dalam tata aturan Kitab Koentara Radja Niti diharuskan memiliki kemampuan untuk menghargai orang lain. Sikap Nemui Nyimah dapat dia1tikan santun, sepe1ti seseorang sedang menghormati tamu dan menghargainya, berasal dari kata Nemui, berarti suka menerima tamu dan Nyimah suka memberi. Untuk mampu menghargai orang lain atau tamu yang datang, mereka akan menghidangkan makanan dan minuman. Tentu saja untuk dapat menjamu tamu ataupun menyelenggarakan perhelatan dengan berbagai hidangan harus memiliki prasarana dan sarana yang cukup. Untuk melakukan semua itu diperlukan sikap yang produktif agar menghasilkan dana untuk pembuatan rumah sebagai tempat tinggal sekaligus dapat menampung tamu saat ada perhelatan. Dengan tuntutan harus bersikap produktif inilah orang Lampung akan bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ru mah Trad is ion al Lampung

umumnya rumah tradisional Lampung merupakan rumah dengan ukuran yang cukup besar. Dalam struktur pembidangan rumah terlihat pembagian ruang, baik untuk pemakaian sehai-hari ataupun saat diadakan perhelatan adat.

Contoh struktur pembidangan rumah didaerah Belalau, Lampung Barat

3

5 6 7 2 1

8 4

  1. Beranda Merupakan ruangan lebar terbuka pada rumah bagian
    depan, biasanya berdinding setengah tiang (andang- andang). Dalam kehidupan sehari-hari untuk tempat duduk melepas lelah setelah selesai bekerja, saat perhelatan adat, sebagai tempat duduk para pria dari golongan rakyat biasa.

  2. Lapang Luar : Ruang pertama pada bagian rumah (Baca : Lapang
    Luakh). Dalam kehidupan sehari-hari untuk tempat menerima tamu atau ruang tamu utama. Saat upacara adat berfungsi sabagai tempat duduk para tamu pria dari golongan strata atas (Tetua Adat).

  3. Bilik Kebik : Tempat tidur anak laki-laki tertua pewaris utama
    rumah dan barang pemanohan. Bagi orang Lampung Peminggir anak laki-laki tertua adalah Saibatin keluarga.

  4. Bilik Tebelayar : (Baca : Bilik Tebelayakh)
    Tempat tidur anak laki-laki kedua

  5. Tengah Resi : (Baca: Tengah Khesi)
    Merupakan tempat yang luas sebagai area keluarga.

  6. Serudu : (Baca : Sekhudu)
    Ruang dibagian belakang dan merupakan tempat para perempuan.

7. Dapur: Adalah ruang untuk meramu dan masak-memasak

makanan untuk disantap oleh seluruh anggota

keluarga. 8. Garang: (Baca : Gakhang) adalah tempat untuk mencuci

peralatan dapur.

RK58

Foto dapur tradisional Lampung

1111

Foto Garang (Gakhang)

Cantoh struktur pembidangan rumah tradisional di daerah Abung
8 10 12 5 3
1 2 7 4 6 9 11 13

(Dengan ukuran + 15 x 30 m)

  1. Serambi
  2. Ruang Tengah
  3. Kebik Temen
  4. Kebik Rengek
  5. Kebik Tengah
  6. Ranjang Tundo
  7. Lapang Agung
    R uang terdepan pada sebuah rumah biasanya dipasang dinding setengah tiang (andang-andang) berfungsi sebagai tempat rnenerima tamu. Tempat duduk adat anggota kerabat pria. Kamar tidur utama, untuk anak Peny imbang Bumi Kamar kedua, untuk anak Puny imbang Ratu Kamar ketiga untuk anak Puny imbang Bat in. Kamar keempat untuk anak Punyimbang Raja. Tempat duduk, bersidang kaum wanita anak isteri anggota kerabat Puny imbang

Orang Lampung juga memiliki Balai Adat yang disebut sesat. Bentuknya bangunan bertiang panggung dan berdidnding setengah tiang dengan ruangan luas tidak disekat-sekat.

Struktur Pembidangan Balai Sesat.

4 2

Serambi Sesat untuk tempat musyawarah kecil (tidak banyak pesertanya), juga sebagai tempat masuk ke ruangan dalam.

Tempat para Punyimbang beristirahat saat upacara adat atau rapat adat belum dilaksanakan.

Pusiban- Tempat siba (menghadap saat pertemuan) bagi para Punyimbang.

  • Tempat menarai, menuturkan sastra lisan, miyah damar saat melaksanakan rangkaian upacara adat.
  1. Ruang untuk menempatkan seperangkat taio balak, yaitu seperangkat instrument tradisional Lampung untuk mengiringi rangkaian upacara adat. D engan melihat struktur pembidangan bangunan tradisonal Lampung kita
    dapat melihat bahwa mereka telah mempersiapkan tempat bagi para tamu. Sikap sating menghargaijuga tergambar pada acara muda-mudi yang diatur oleh kaidah adat seperti Miyah D amar, yaitu salah satu forum pertemuan bujang gad is disertai dengan menari dan menyanyi. Dalam acara ini dipandu oleh seseorang yang mengaturjalannya acara dengan aturan adat. Ada juga acara Nyambai, sekelompok bujang gadis akan maju dalam arena pertemuan, mereka menari dan menyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair-syair percintaan. Setelah kelompok pertama selesai akan diganti oleh kelompok berikutnya sampai seluruhnya mendapat kesempatan maju ketengah arena. Acara Nyambai umumnya dilakukan malam hari dalam rangkaian upacara perkawinan. Dalam bentuk lain ada yang disebut Manjau dan Sasiah, keduanya merupakan bentuk perkenalan bujang gadis, kegiatan ini biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Seorang perjaka ditemani oleh seorang kawan akan mendatangi rumah seorang gadis pilihannya. Dari bawah rumah panggung sang pe1jaka akan rnemberi kode tertentu. Misal dengan menyalakan korek api atau senter dibagian belakang rumah atau dekat kamar sang gadis. Gadis yang telah mengetahui isyarat tersebut akan mendekati dinding tempat berasalnya cahaya. Setelah mereka berdekatan tetapi tetap

Silahkan dipetik bi la jam bu sudah masak Silahkan bicara bila abang bersedia.

Logat Bahasa Nyow :

Perjaka Jak Menggala haguk Pagardewa Tahulu Way Kanan dan Way Kiri Kik nyak cawo ago Wat kudo harapan nanti Artinya : Dari Menggala ke Pagardewa Bertemu sungai Way Kanan dan Way Kiri Bila saya menyatakan keinginan Apakah nanti ada harapan.

Orang Lampung mempunyai sifat Nengah Nyappur. Nengah berarti berada ditengah-tengah orang lain terbuka tangan dalam arti suka bergaul, sedangkan Nyappur berinteraksi dengan masyarakat luas. Kehidupan yang terbiasa luwes dalam masyarakat menjadikan mereka suka memberi dan menerima serta pandai menghargai orang lain. Namun dalam arti yang lebih luas mereka dalam bermasyarakat memiliki daya saing. Untuk berdaya saing tentunya mempunyai kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Sumber daya manusia yang unggul memang telah dimiliki oleh orang Lampung dengan adanya sumber daya budaya. Hal ini telah terpatri dalam kehidupan sehari- hari dan dalan tata aturan adatnya. Dalam naskah Boek Koentara Radja N iti disebutkan dalam pasal nomor : 10, 11, 12, dan 13 tentang bagaimana sebaiknya seorang bujang atau gadis menjalani hidup bergaul dalam masyarakat adatnya. Mereka hams menghormati orang tua, kerabat pihak ayah ataupun ibu dan para

Pada masa dahulu seorang gad is Lampung dituntut untuk pandai membuat kerajinan tangan dan membuat kuliner tradisional. Untuk dihargai dan juga menghargai orang lain seorang gadis dituntut produktif. Dengan sifat Nyimah seseorang tidak boleh pasif, hams aktif mengeksplor diri dari lingkungannya agar mendapat hasil maksimal. Setelah mampu mengeksplor dan mendapatkan hasil maka ia akan mampu N engah Nyappur di tengah masyarakat.

Kembali lagi pada persoalan sesan, hal itu bukan sekedar barang bawaan tetapi lebih jauh dia telah dididik oleh orang tuanya untuk disiapkan menjadi perempuan dewasa dan patut dihargai baik sebagai isteri ataupun sebagai calon ibu yang mempunyai kepiawaian akan meneruskan mengajarkan membuat sesan bagi para putrinya.

temm

Fata membuat kain tapis

WANNY

Foto kain tapis pucuk rebung

Foto kain tapis

67OR

produktif masyarakat Lampung dapat dicermati dalam kearifan lokalnya. Kearifan lokal terdapat pada masyarakat di daerah Lampung Barat untuk membuat Repong Damar.

Repong Damar adalah hutan tanaman damar yang ditanam secara turun temurun oleh masyarakat setempat, dengan tata cara anak lahir minimal menanam satu pohon damar, anak dewasa dan menikah minimal menanam satu pohan damar. D emikian seterusnya sampai sang nenekpun akan menanam pohon damar apabila sang cucu lahir. D engan demikian kita dapat mengetahui kepiawaian cara ber:fikir jauh kemasa depan. Penanaman pohon damar yang menghasilkan getah damar dengan harga tinggi, berarti telah mempersiapkan rencana matang untuk pembiayaan hidup si anak pada masa mendatang. Secara ekonomis dana telah tersedia, secara sosial anak telah dipersiapkan untuk masuk dalam lingkungan pemilik repong damar dan secara lebih luas menunjukkan pelestarian bumi dari pemanasan global. Sungguh suatu kearifan lokal Lampung yang sangat penting artinya bagi kehidupan dimasa sekarang dan masa yang akan datang, bukan hanya untuk Lampung namun bagi Indonesia dan juga dunia. Dengan adanya basil ekonomi orang Lampung dapat mewarnai pergaulan bagi masyarakat sekitar ataupun masyarakat luas.

Foto Repong Damar

"Perhatikan amanal bagi kaum kerabat, baikyang muda ataupun yang tua, baik masih remaja laki-laki ataupun p erempuan, baik Puny imbang ataupun bukan Puny imbang. Janganlah langguk janganlah angkuh, agar negerimu aman. Jangan suka mencela atau menghina pada yang hina,jangan meninda kepada orang yang tertindas, jangan menyakiti orang yang sakit, lebih baik merendah diri, berbudi bahasa lemah lembut, sopan santun karena pangkal celaka itu ada empat, jalan angkuh, loba (tamak),

tilik tindai. Tilik tindai dengan rasa- rasa, imbang-imbang, julang ungai. Jika bulan gelap nantikan terang, jika hari panas nantika sejuk, jika hari hujan nantikan kering, jika gunung tinggi cari yang rendah. Air yang mengalir ada muara tempat ia berhenti,jika angin bertiup kencang nantikan terang, ombak bergulung tunggukan tenang, api menyala ada waktunya padam, bumi yang luas ada batasnya.

F. Sakai Sambayan

Tatakehidupan orang Lampungmengenal kerja sama dalam bermasyarakat, yaitu tolong menolong disebut sakai atau sesakai dan bergotong royong disebut sambayan atau sesambaiayan. Dalam bermasyarakat dituntut untuk mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang ada disekitamya baik susah ataupun senang. Untuk memenuhi hajat hidupnya, baik dalam kehidupan yang berkaitan dengan mata pencaharian ataupun kegiatan adat mereka lazim untuk bekerja sama. Kegiatan yang disebut tolong menolong umurnnya terjadi antar perorangan atau untuk seseorang walaupun dike1jakan secara beramai-ramai dan berlaku saling bergantian.

Gotong royong umurnnya bekerja sama mengerjakan pekerjaan secara beramai-ramai untuk orang banyak atau untuk kepentingan umum. Sakai Sambayan ini wujudnya tidak terbatas pada bantuan tenaga saja tetapi juga pada bantuan dana. Sisi lain makna dari Sakai Sambayan dapat diterjemahkan pemanfaatan. Tolong menolong dan gotong royong dapat berupa kemampuan orang Lampung dalam membina keluarga. Bagi mereka terdapat adat angken atau angkenan atau minday. Baik angken atau minday dalam prakteknya adalah hubungan persaudaraan atau dua orang atau dua keluarga bagaikan saudara kandung, walaupun sesungguhnya tidak ada pertalian darah. Biasanya angken

Pada masa dahulu angkenan umumnya terjadi karena adanya sistim bercocok tanam dengan lokasi yang luas. Luasnya lokasi untuk penanaman membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Tenaga kerja ini tadak dapat dicukupi oleh jumlah tenaga dalam keluarga, sehingga mencari orang lain diluar keluarga sebagai pembantu bercocok tanam. Orang yang membantu ini biasanya tinggal dilokasi bercocok tanam dengan menempati bangunan sederhana. Dalam waktu yang cukup lama dan adanya saling kepercayaan, si pemilik tanah akan memberi atau menyerahkan sebidang tanah kosong untuk digarap dengan pembagian hasil yang telah disepakati, misalnya hasil dibagi dua, setengah bagian untuk si empunya tanah dan sebagian untuk si penggarap. Umumnya para pekerja tadi masih belum berkeluarga, disebut bujangan atau babujangan. Bagi para babujangan yang tekun akan mendapatkan hasil yang bagus dan pada akhimya memiliki dana untuk membeli tanah garapan sendiri. Apabila Tuan tanah menilai babujangan telah berhasil dalam bekerja biasanya akan dicarikan jodoh baik dengan orang suku Lampung atau suku lain. Apabila babujangan ini dari luar suku Lampung maka akan diLampungkan terlebih dahulu, yaitu dengan cara diaku atau diambil menjadi anak orang Lampung setelah diupacarakan, maka telah resmi menjadi orang Lampung.

Sebagai masyarakat agraris orang Lampung mengenal sistim membuka hutan untuk dijadikan lahan area bercocok tanam, terutama untuk berkebun dan tananaman keras. Apabila seseorang telah menetapkan lokasi untuk bercocok tanam, maka para tetangga atau kerabat akan membantu menebang kayu dan membersihkan semak belukar. Selanjutnya mengadakan pembakaran tunggul- tunggul kayu dan akar pepohonan. Selama proses pembakaran dan pembersihan lahan mereka akan menjaga loksai secara bersama-sama sampai pekerjaan tuntas. Hal tersebut dilakukan saling berganti sehingga seluruh kelompok tersebut memiliki areal tanah siap tanam. Cara bekerja saling tolong-menolong dilanjutkan pada penanaman dan memanen hasil. Namun pada saat ini sistim ini telah berkembang dengan adanya sistim upah ataupun bagi basil.

Foto kebun lada

Foto kebun kopi

R72

A pabil a ada anggota masyarakat mendapat musibah, misaln ya kemati an maka orang akan berdatangan membantu melancarkan peng Llfu san si mati dengan mernandikan, mengafani sampa i dengan peng uburan. Para ibu akan berdatangan rn embawa beras dan bahan sayLU· mayur dan rnereka rnernasak bersama-sama untuk orang-orang yang rn embantu bekerj a. D engan dern ikian orang sekitar akan datang menolong tanpa dirninta terl ebih dahulu dan akan berl angsung sampai dengan selesai semua kegiatan.

Foto orang berdoa saat ada musibah

Pembagian kedua hal ini tentu saja berdasarkan status dalam keluarga atau dalam kedudukan adat. Seseorang berkedudukan adat lebih tinggi maka beban akan lebih berat, namun untuk pekerjaan fisik biasanya berdasarkan tuturan dalam keluarga. Misalkan seorang benulung maka beban kerja akan lebih besar karena harus bertanggung jawab dalam urnsan perke1jaan dapur dan kerja fisik lainnya. Benufung adalah anak-anak (perempuan atau laki-laki) dari saudara perempuan ayah, mereka berkewajiban tolong-menolong dalam kekerabatan, tetapi tidak mempunyai hak mengatur dalam perhelatan adat.

Fata gadis menerima tamu dalam acara Perkawinan Adat lampung P epadun

Foto makan bersama dalam acara adat Lampung Pepadun

Foto masak-memasak

P epadun don Saibtain

Fata arak-arakan sunatan

a kegiatan gotong-royong tidak hanya dilakukan oleh para tetangga dan kerabat saja tetapi dapat melibatkan antar kampung. Hal ini dikarenakan gotong-royong dikerjakan dalam rangka kepentingan masyarakat umum. Misalnya saja memperbaiki jalan dan jembatan kampung yang rusak, membersihkan pangkalan mandi, mendirikan surau, balai sessat, menangkap ikan (melawai), membersihkan atau merapikan pemakaman umum.

Dalam Koentara Radj a iti terdapat pasal yang menyebutkan bahwa yang rn embanggakan desa atau kampung adalah :

  1. Memilki surnber air bersih
  2. Memiliki sumber protein hewani yang berlimpah (dari peliharaan ayam ataupun ikan disungai).
  3. Tidak rnengalami paceklik karena rnemiliki tanarn turnbuh sebagai cadangan makanan.
  4. Tidak mendatangkan bahan makanan dari tempat lain, karena warganya rajin bercocok tanarn dan memiliki hasil berlimpah. Karena hal tersebut merupakan kebanggaan desa konsekwensinya setiap orang harus mematuhi dan menghormati kesepakatan kebanggaan desa. Dengan demikian mereka wajib menjaga kebersihan sungai atau sumber air, agar ikan disungai tetap berlimpah. Pada sebuah desa yang subur dan rakyatnya rajin bercocok tanam maka pernanfaatan Jahan tadi akan menjadi sumber kemakmuran, mencukupi kebutuhan rnasyarakat desa. Untuk memenuhi kebutuhan protein bewani pada masa dahulu orang Lampung mernelihara kerbau yang diliarkan, apabila dibutuhkan akan ditangkap oleh pemiliknya dibantu warga setempat. Protein lain yang bisa mereka budidayakan adalah ikan, terutama ikan air tawar. Masa dahulu setiap desa memiliki kolan adat milik masyarakat yang fungsinya pada suatu saat akan ditangkap ikan dikolam tadi secara beramai-ramai seluruh anggota masyarakat.

Foto kolam ikan

Foto kerbau berkubang

MR78

Foto kebun sayur

Foto sungai dipedalaman untuk pangkalan mandi

79R

Setelah peke1jaan selesai seluruh yang beke1ja akan makan bersama, disusul oleh para ibu-ibu dan gadis-gadis. Itulah tolong-menolong dan gotong- royong yang disebut Sakai Sambayan.

Foto makan bersama setelah bergotong royong

Foto makan bersama acara adat Lampung Saibatin

Pesenggiri melahirkan tata nilai dan norma-norma dilingkungan adat istiadat Lampung, selanjutnya akan terwujud dalam pola tingkah laku, pola interaksi antar sesama manusia dan juga dengan a lam lingkungannya.

Dari norma-norma yang didasari oleh pandangan hidup orang Lampung memi1iki kearifan dalam menjaga lingkungan, menjaga ketertiban dan menjaga persatuan. Dal am menjaga lingkungan terpatri dari ajaran yang ada pada Koentara Radja Ni ti bahwasanya kampung tidak boleh nampak kumuh, jalan dan jembatan serta sarana urnurn harus bersih. Rumah tidak boleh kotor, karena apabila rumah dan perabotan kotor maka orang yang datang bertamu enggan untuk mencicipi makanan yang disediakan apalagi untuk bermalam.

Menjaga lingkungan tidak hanya fisik dari alarn saja tetapi didalamnya termasuk lingkungan batin atau tata cara hidup manusianya. Hal ini terdapat pada larangan yang tertulis dalam Koentara Radja Ni ti antara lain, jangan membunuh, jangan menghambat jalannya air, jangan rnelanggar sumpah, jangan merubah surat pe1janjian, jangan menerima suap, jangan merubah keputusan tua-tua adat, jangan merusak hutan, jangan menjual hewan basil tangkapan, jangan berbuat yang tidak senonoh. Dengan demikian hal ihwal cara-cara bermasyarakat yang akan mendapatkan kemaslahatan selama hidup bermasyarakat telah diatur denganjelas pada Kitab Koentara Radja Niti. Menjaga ketertiban dengan Nengah Nyappur orang Lampung memiliki kemampuan untuk membina hubungan antar sesama anggota masyarakat. Tertulis dalam aturan Koentara Radja Niti antara laian jangan sombong, jangan mencela, jangan menyakiti orang lain, jangan ceroboh, jangan berlagak pintar padahal sebenarnya bodoh, jangan menjadi pengecut, jangan berkhianat tidak memngakui kesalahan dan kekeliruan. Hal ketiga adalah menjaga persatuan, tuntutan bersakai sambayan dan nemui nyimah akan melahirkan sikap saling membantu, sa1ing menghargai sehingga te1jadi

8 1

Sikap asah, asih dan asuh itu menurut Koentara Radja Niti hams ada pada jiwa seluruh orang Lampung terlebih lagi para Punyimbang dan Sebatin. Mereka menjadi suri tauladan dan mempunyai kemampuan untuk menetapkan keputusan yang tepat dalam mengatasi permasalahan. Apabila kita cermati sebetulnya terdapat persamaan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang mengajarkan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani.

Bahwasanya para Pinisepuh, Para Tetua Adat, Punyimbang, Seba tin harus mempunyai keteladanan yang baik bagi masyarakat. Kemudahan masyarakat untuk mencapai cita-cita adil makmur atau menghasilkan suatu produk yang bermanfaat dikarenakan para pemirnpinnnya memberikan dorongan dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk ma ju. Tentu saja kemajuan yang dicapai oleh generasi muda tidak luput dari arahan-arahan yang bijak serta suport yang selalu membangkitkan semangat untuk meraih hasil lebih maksimal.

Ada hal menarik yang menjadi diterima oleh suku bangsa lain yang datang ke Larnpung dengan adat angkenan, yaitu berkembangnya cambor sumbay atau

Sebagai contoh, penulis pernah bertemu satu keluarga yang diangken oleh orang Lampung di daerah Labuhan Maringgai Lampung Timur. Angkenan sudah lama berlangsung kurang lebih tahun 1969 an, diberikannya sebidang tanah sebagai areal perkebunan. Keluarga barn tersebut dimasukkan dalam adat Melinting yang ada di Labuhan Maringgai. Kurang lebih pada tahun 2000 an keluarga yang diangken mempunyai hajat perhelatan perkawinan salah seorang anaknya, maka keluarga besar dari pihak yang mengangken ikut berperan aktif dalam perhelatan tersebut mulai dari genersi pertama, kedua dan ketiga yang masih anak-anak. Dengan melihat keadaan seperti itu dapat ditarik benang merah dengan berbagai aturan yang ada dalam Koentara Radja Niti bahwasanya dengan unsur Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan akan meningkatkan derajat seseorang menjadi Berjuluk Adek

Setelah empat unsur terpenuhi sabagai puncaknya melahirkan manusia yang ber Piil Pesenggiri. Demikian kiranya adat angkenan sebagai salah satu adat Lampung yang disadari dan dihayati oleh kedua belah pihak, yaitu orang yang memiliki adat budaya Lampung dan orang yang masuk dalam adat budaya Lampung terbukti dapat menciptakan harmonisasi bermasyarakat dan dipatuhi oleh generasi berikutnya dari kedua belah pihak.

Sri Sukesi 1977 Pendar Pelnagi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Bukri 19 87 Sejarah Daerah Lampung, Departemen Pendidikan dan K ebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung. Hadikusuma, Hilman 1985 Adat Jstiadat Daerah Lampung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Lampung. Hadikusuma, Hilman 1989 Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, Bandung, Mandar Ma ju. lkram, Achadi ati 19 88 B unga Rampai Bahasa, Sastra dan Budaya, Jakarta, lnternusa. K essing, R oger M 1989 A ntropologi Budaya, Jakarta, E rlangga. Mardiwarsito L 19 8 1 Kamus Jawa Kuna-Indonesia, E nde: Flores Mulyadi, S. W.R. (Editor) 1999 Naskah Dan K ita, Fakultas Sastra Universitas Indonesia [L embar Sastra, No. 12].

2005 S usunan Masyarakat Adat Lampung, Makalah Disampaikan Pada Fakultas Hukum U ni versitas Lampung (Makalah Seminar, tidak diterbitkan) S uyono, Ariyono 1985 Kamus A ntropologi, Jakarta, Akademia Presindo. Utama, M uhajir 1993 Pembinaan Budaya Dalam Lingkungan Keluarga Daerah Lampung, D epartremen P endidikan dan Kebudayaan K antor W il ayah P rovin si Lampung. Wa hyuningsih, Eko 20 10 Katalog Pameran P elangi Aksara Nusantara, Museum Lampung.

GAVVADVODANODONY

KH86

营饼

Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tiakk tuk ual

Jakarta