KATALOG PAMERAN
WARISAN
BUDAYA
BERSAMA
MUSEUM NASIONAL 2005
UMi fLl!'JTV.CV- (~-g-.2~
m
Layout: Fotografi :
| !tie van Hou t | Trigangga | Ben Grishaaver | |
|---|---|---|---|
| Nico de Jonge | Oting Rudy Hidayat | Monique Koek | |
| Sri Hardiati | W ahyu Ernawati | ||
| Nanda na Chutiwongs | lrwan Zulkarnain | Disain Cover/Grafts: | |
| Pauline Lu nsigh Scheurleer | Hari Budiarti | ||
| Intan Mardiana | Harm stevens | Sutrisno | |
| Francine Brinkgreve | Bambar1g Suheru |
!tie van Hou t Trigangga Ben Grishaaver
|Edi Sedyawati Pieter ter Keurs|Itie Hout|Trigangga |Endang Nandana Chutiwongs|Irwan Wahyu Lunsigh Cover/Grafis:||
Untuk merealisasikan harapan tersebut telah dijajaki kemungkinan mengadakan pameran bersama an tara MNI dan RMV. Pameran yang berjudul "Warisan Budaya Bersama" (Shared Cultural Heritage) ini disepakati diselenggarakan di dua tempat, Jakarta dan Amsterdam. Tahun ini, selama 3 bulan (Agustus -Nopember 2005) pameran akan berlangsung di Museum Nasional, Jakarta. Setelah itu pameran akan berpindah 3 bulan berikutnya (Desember 2005- Februari 2006) di De Nieuwe Kerk, Amsterdam. Pameran di Museum Nasional akan menampilkan koleksi etnografi dan arkeologi berjumlah 329 buah, terdiri dari 151 koleksi milik MNI dan 178 koleksi milik RMV. Keterangan sebagian besar koleksi dapat dilihat dalam katalog penuntun pameran dan katalog edisi luks/ lengkap ini. Mudah-mudahan kerjasama antara MNI dan RMV ini merupakan langkah awal menuju kerjasama pameran berikutnya untuk memupuk persahabatan yang lebih erat antara kedua negara, khususnya antarmuseum. Akhirnya, kepada semua pihak yang ikut membantu terselenggaranya pameran ini, baik dalam hal materi pameran maupun finansial, khususnya KLM Cargo yang telah mengupayakan pengiriman koleksi dari Belanda ke Jakarta dan sebaliknya, kami sampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Penghargaan dan ucapan terima kasih, kami tujukan pada De Niuwe Kerk yang telah memberikan bantuan dan kerja sama yang baik bagi terseleggaranya pameran ini dan juga kepada Shell Companies dan Star Energy. Saya juga sangat berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung terselenggaranya pameran ini, yang tidak mungkin saya sebut satu satu persatu. Terima kasih.
Jakarta, Agustus 2005 Kepala Museum Nasional
Ora. Intan Mardiana N.,MHum
MENTERI KE BUDAYAAN DAN PARIWISATA
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera untuk kita semua, Pertama-tama kami sampaikan ucapan selamat atas terbitnya buku katalog untuk pameran bertajuk "Shared Cultural Heritage". Dalam sejarah, hubungan Indonesia dan Belanda telah lama terjalin dan mengalami pasang-surut. Namun di bidang kebudayaan perlu jalinan lebih erat antara Indonesia dan Belanda. Hubungan yang erat telah mendorong untuk saling memahami adat-istiadat dan kebudayaan masing-masing. Pada masa lalu, rasa keingin-tahuan telah mendorong orang Belanda melakukan ekspedisi ke berbagai tempat yang jauh dan sulit dijangkau, pendokumentasian, dan pengumpulan benda-benda etnografis, purbakala, dan lain-lain, untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas perlu dibangun "jembatan kebudayaan, yang pertama adalah menjembatani antar man usia : membangkitkan rasa ingin, berjiwa seni, saling menghargai, berprinsip positip dan saling memotivasi. Kedua, kebudayaan yang mejembatani antar suku bangsa; dengan keanekaragaman suku bangsa di indonesia, terbuka kesempatan bagi setiap individu atau kelompok masyarakat untuk mempelajari adat istiadat budaya suku lainnya, yang pada gilirannya menciptakan bangsa yang harmonis. Ketiga, kebudayaan sebagai jembatan antar bangsa dimana kita saling mengenal, menghormati, dan mengapresiasi kebudayaan bangsa lain, yang pada akhirnya kita dapat hidup secara berdampingan dan harmonis. ltulah tujuan akhir yang kita dambakan bersama. Berdasarkan atas hal tersebut di atas, maka di Batavia (Jakarta) didirikan himpunan atau perkumpulan ilmiah yang ingin mejembatani budaya antar bangsa, bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tanggal 24 A pril 1778. Himpunan yang sejenis sudah lebih dulu berdiri di Haarlem, Belanda tahun 1752. Tujuan utama dari Bataviaasch Genootschap adalah menganalisis semua aspek kebudayaan di wilayah Nusantara beserta masyarakat pendukungnya melalui penelitian-penelitian ilmiah oleh para ahli. Oleh sebab itu, berdasarkan kebijakan yang berlaku saat itu, semua benda budaya yang dikumpulkan dari berbagai daerah oleh para kolektor dikirimkan ke Bataviaasch Genootschap di Batavia. Sejak tahun 1862, berdasarkan Ketetapan Pemerintah Hindia-Belanda, secara resmi telah disepakati pembagian koleksi untuk Bataviaasch Genootschap dan Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden. Jadi, banyak koleksi dari Indonesia yang berada di Rijksmuseum voor Volkenkunde yang sebenarnya sama dengan yang dimiliki Bataviaasch Genootschap (sekarang: Museum Nasional). Namun demikian, masyarakat Indonesia perlu melihat warisan budaya mereka yang selama ini disimpan di museum-museum luar negeri. Oleh sebab itu, kami sangat mendukung upaya penyelenggaraan pameran bersama, antara Museum Nasionallndonesia dan Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden (Belanda) di Jakarta, yang bertema "WARISAN BU DAYA BERSAMA" (Shared Cultural Heritage). Akhirnya, kepada semua pihak yang telah berupaya keras untuk mewujudkan terselenggaranya pameran ini, khususnya kepada Rijksmuseum voor Volkenkunde, De Nieuwe Kerk, dan KLM Cargo, kami sampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan buku katalog ini dapat membuka wawasan masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam pameran "WARISAN BU DAYA BERSAMA", dan merangsang inspi rasi dan daya kreativitas dalam menumbuhkembangkan kebudayaan nasional. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Jakarta, 15 Agustus 2005 Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,
~~ IR. JERO WACIK, SE
v
lll
SAMBUTAN MENTER! KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA v
DAFTAR lSI VII
l. RIWAYAT PENGUMPULAN ARTEFA K DAN PENELIT IAN KOLEKSI
II. KOLEKSl ARKEOLOGJ 14
A. Koleksi dari Singasari 14
B. Koleksi dari Borobudur 22
C. Koleksi dari Muteran 24
D. Koleksi dari Puger Wetan 34
E. Kol eksi dari Combre 37
III KOLEKSI ETNOGRAFI 39
A. Sumatera 39
B. Jawa 42
C. Bali 48
D. Khasanah Lombok 58
E. Kalimantan 66
F. Sulawesi 73
G. Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua 80
V II
PENGUMPULAN ARTEFAK
DAN PENELITIAN KOLEKSI
Pengumpulan dalam Konteks Kolonial
Wa I au pun Bntnvinstf1c Gcnootscltap VIlli Kunstcn en Wctcnsclwppcn jau h lebi h tua daripad a l\ijksl1t ll scu !ll l'oor llo /kc nkundc, kedua lembaga itu m em punya i banyak persamaan. llmu pen getahuan o leh kedua lembaga senan tiasa d ianggap ya ng terpenting dan sepanjang :1 bad ke-19 bcrkembang hal yang sam a d a Ia m kebijaksanaan peng umpulan koleksi. Sejak 1862 seca ra resm i telah disepakati pembagian ko le ksi untuk Batavia maupun Leiden, te tapi sebelu m itupun secara teratur tela h te rjadi pe mbagian an tara kedua museum. Titik tolak dari proyek kerjasama Warisan Budaya Be rsam a Jndo nesia-Be la nda a nta ra Museum N asional di Jakarta da n Rtjkslnu sc/1111 voor llo /kcnkundc di Leiden, ada lah u ngkapan dalam Notu len rap at dari Bntnvinnsclic Gcnootsclwp d a ri ta hun 1863:
" .... Dengan Ketetapan pe merintah No.2Lertanggal24 Mei 1862 telah ditujukan
suatu undangan kepad a kepala- kepala pemerintah daera h di Hindia Belanda agar sed apat mu ngkin m e m bua t sebanyak mungkin kumpulan koleksi e tnog rafi u ntu k kepentingan pcmeri n tah dan m e ngirimkan nya ke Bntnvinnsclic Gcuootsclinp. D ire ksi lembaga in i di minta untuk segera memberitahukan kepada p e m e rintah, barang-ba rang a pa v ang telah di tcrima berkat perintah peng umpula n te rsebut dan m emberitahukan barang-ba rang a pa yang ingin dipertahanka n untuk kole ksi Gcnootsc1 117p dan sclebihnya agar dikirim ke negeri Belanda un tuk dijad ika n koleks i ctno logi di n egara itu" (NCB '1863: 150-15-1).
Ketetapan Pemerintah te rsebut diterbi tkcln sebagai akibat da ri nota Dr. Leem a ns, pada saat itu dircktur M useum Etnog ra fi maupu n Museum P urb<1ka la di Leide n. Leem a ns tclah mc minta kepada pemcrintah kolonial untuk mempertimba ngkan pengumpulan kolcks i o le h pa ra pcjabal (pcgawa i) kolonia l dan sclanjutnya membagikannya an ta ra Bn tnuinnsc/ic Gcnootscltap dan RtjkslllllSC/1111 wor \lo/kcnkuudc yang ketika itu masih bernam a 's Riiks Etlinogmfiscft Musc11111 (Museum Etnografi Ke rajaan). Museum Lciden ini telah mempunyai kolebi bcnda-benda Jepang ya ng penting ya ng berasc1l d a ri Von Siebold, pendiri museum terscbut, di samping suatu koleksi ya ng menarik pcrhati an dan berasal dari H india Bclanda. Tetapi tujuan Leem ansadalah u ntuk mengembangkan koleksi Museum Leide n, tid ak saja dengan koleksi yang be rasa l dari jepc1ng dan Hindia Belc1n da, te ta pi juga berascll dMi seluru h dun ia. Museu m Etnografi Kerajaan harus menjadi museu m umum llmu Bangsa-ba ngsa, tetap i Hind ia Bel a nda harus berpe ran penting dalam perluasan tersebu t. Pengga nti Leem an, ya itu L. Serruricr telah menunjang tujua n ini
"Direksi masih berharap pengetahuan sesuai dengan ilmu pengetahuan dari kepala-kepala pemerintah daerah yang hampir semuanya anggota Bataviaascbe Genootschap, agar mereka akan menyambut undangan ini karena walaupun koleksi etnografi Bataviaasche Genootschap dalam ban yak hal boleh dikatakan istimewa, tetapi masih jauh dari sempurna dan boleh dikatakan tidak lengkap dan belum memenuhi syarat-syarat dari suatu museum etnografi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mengenal kebiasaan, adat, kerajinan, pertanian, dan sebagainya" (ibid:
151). Tetapi negeri Belanda tidak dilupakan oleh Bataviaasch Genootschap. "Di sam ping itu negeri Belanda sebaiknya juga mempunyai museum Etnologi agar rakyat dapat memperoleh gambaran dari bangsa-bangsa di Indonesia yang telah ditundukkan oleh pemerintah Belanda" (ibid: 151). Secara resmi Bataviaasch Genootschap boleh menentukan apa yang harus ditinggal di Batavia dan apa yang akan dikirim ke negeri Belanda. Tetapi dalam prakteknya rupanya ada persaingan tertentu antara Batavia dan Leiden. Pada bulan November 1889 dalam Notulen dapat dibaca suatu reaksi keras dari pengurus Bataviaasch Genootschap atas tuntutan Museum Leiden terhadap koleksi etnologi dari pemerintah Hindia Belanda. Rupanya atas prakarsa Museum Lei den dinyatakan keraguan atas kemampuan Batnviaasch Genootschap untuk memperkenalkan koleksi secara ilmiah dan diminta agar dikeluarkan peraturan seandainya Bataviaasch Genootschap dibubarkan, apa yang akan terjadi dengan koleksi-koleksi? Pengurus B.G. bereaksi dengan keras: " Lembaga kami selama 111 tahun telah melalui berbagai keadaan sulit dan berubah-ubah tetapi dapat bertahan dan dengan rendah hati kami menyatakan bahwa menurut kami pada saat ini belum waktunya untuk membicarakan peninggalan kami" (NBG, 1889: 143). Mungkin Leiden sering dianggap sebagai kota akademis yang tidak banyak bersentuhan dengan lapangan. Sebagian besar anggota Bataviaasch Genootschnp selama bertahun-tahun tinggal di Hindia Be Ianda, sedangkan para konservator Leiden belum pernah melihat Hindia Belanda. Tetapi bagaimana pun juga BG dan Rijksmuseum voor Volkenh111de tidak dapat lepas satu dengan yang lainnya. Walaupun pengumpulan koleksi oleh kedua lembaga tidak selalu dilakukan secara konsekuen, dan para kolektor (pengumpul) secara tidak langsung juga melakukan pengumpulan koleksi untuk museum Belanda lainnya, tetapi tampaknya dengan sadar dilakukan suatu kebijakan pengumpulan di mana pelaku-pelaku utamanya adalah BG dan Museum Etnografi Kerajaan. Karena itu memang banyak koleksi yang dibagi an tara kedua museum tersebut. Sebelum kita membicarakan konteks pengumpulan khusus pada abad ke-19 di Indonesia, maka perlu dikemukakan hal-hal mengenai gejala pengumpulan dan mengenai kolonialisme, atau hubungan-hubungan kekuasaan dalam rangka mana koleksi yang telah dibicarakan dikumpulkan. Setiap orang mengenal fenomena mengumpulkan. Walaupun anda sendiri
manu ~ ia senang dikelilingi o leh benda-benda y ang memberi kenya m ana n. Pengumpu lan secara fana tik adalah cetusan e kstrim dari kebiasaan itu, namun dalam kehidupan sehari -ha ri pun ta mpak juga mekanisme seperti itu. Kita semua ingin memanipulasikan li ngkungan kita agar kita merasa nyaman berada dalam lingkungan itu. Kita membeli pakaian yang kita su kai atau mengatur seisi rumah kita dengan cara tertentu. Kita memp unyai gagasan tertentu me ngen ai hal-hal semacam itu dan kita akan marah kalau sesuatu yang menarik untu k diselidiki, tetapi dalam buku ini kami tidak a kan mc mperbincangkan sisi psikologis d ari sifat pengumpulan. [ni bukan be rarti bahwa sisi tersebut tidak pe nting dalam situasi yang akan ka mi gambarkan selanjutnya. Alasan perora ngan m emang kadangkala juga disebut. Tetapi dalam banyak kasus kita tidak mengenalinya dan d a lam banyak hal o leh pcngumpul dan atau penyelidik hal tersebut dikaburkan (diselubun gi) d engan alasan yang dilihat dari sudut politik a tau m oral dianggap lebih tcpat. Buku ini rnembahas pengumpula n ma teri arkeologi dan etnologi dalam konteks kolonial. Ada dua a lasan mengapa di si ni dibicarakan bentuk khusus pengumpulan. Pertama, materi yang dikumpulkan boleh dikatakan la in daripada yang lain. Banyak benda untuk waktu yang lama dianggap sebagai sesua tu yang langka, benda-benda yang aneh yang berasal dari bangsa-bangsa yang jauh. Ked ua, boleh dikatakan bahwa keadaan ketika itu adalah suatu keadaan kekuasaan yang tak berimbang. Walaupun seorang peneli ti atau pengu mpul beri tikad baik, tetapi o rang itu (dalam konte ks in i perempuan ti dak a tau hampi r tidak berperan) merupakan bagian I eksponen dari suatu sistem ko lonial. Keba nyakan penduduk tidak mampu bepergian jauh (walaupun ke inginan tersebut ada) dan banyak koleksi yang kita bahas ini d ianggap sesuatu yang eksotik, aneh, berasal dari negeri nan jauh. Pada umumnya boleh dikatakan bahwa dunia aneh dan eksotik itu hamp ir tidak dikenal, hanya adanya kein ginan untuk melihat sesuatu yang aneh pasti mc mainkan pcran pad a kunjungan kc koleksi etnografi.Tetapi keinginan untuk me nge tahui sesuatu yang ti dak sela lu disebabkan o leh keinginan untuk mendapat penge rtian yang lebih mendalam. Kei nginan untuk mengetahui juga bisa disebabka n untuk pembenaran dunia kita sendiri, yang terbatas. Sering hal ini me mbentuk sua tu purbasangka tcrhadap yang lain. Agar lebih baik memahami koleksi e tnografi, scbaiknya aspek in i perlu di pertimbang kan. Dapat dikatakan agak aneh bahwa figur seorang pengumpul (kolektor) untu k waktu yang lama tidak disebut-sebut d alam penelitia n ilmiah. Kebanyakan pe nelitian dari koleksi museu m seca ra implisi t menganggap bahwa bend a itu membe rikan gambaran-gambara n yang netral dari suatu masyarakat d an bahwa benda-benda tersebut sebagai bcnda mati yang sccara s tatis menunggu interprctasi d ari para ilmuwan. Dalam pcnelitia n pcnting d ari Scrruricr mengenai wayang purwa hampi r tidak adil cil tatan mengenai asal kol eksi yang dijadi kan s umbcr penelitiannyil. Serru rier memang menyebu t nilma para ko lektornyil, te ta pi tidil k mem pe rhil ti kiln konteks pengumpuliln sebagai su atu fakta yang dapilt memberi kan arti. Siapilkilh kolektor-kolcktor wayang tersebut? Bagaimanil hubungan mereka de ngan masyarakat lokaJ? Apakah wayang te rsebut scngaja dibuat untuk kolektor itu? Bilil demikian bagaimana pengaruh ini tcrhadap pena mpilan wayang tersebut? Bil a tidak demikian
, _)
Volkellkunde dan mereka banyak menulis tentang materi ini dan motif hiasan diatasnya yang sangat memukau. Tetapi bagaimana hubungan mereka dengan para pembuat (pengrajin)? Apakah yang dikumpulkan itu barang yang telah dipakai a tau khusus dibuat untuk diperdagangkan? Dalam koleksi Leiden kami jumpai kulit kayu bergambar lengkap dengan harganya. Rupanya kulit kayu bergambar merupakan suatu komoditi yang sangat digemari dan dijual dalam pameran-pameran tahunan dan sebagainya. Kami yakin bahwa budaya material dari Sulawesi Tengah jauh lebih luas dari pada hanya kulit kayu bergambar. Mengapa tidak dikumpulkan benda-benda lain? Bukankah koleksi seperti koleksi Adriani dan Kruijt memberikan suatu gambaran yang tidak benar dari budaya darimana koleksi tersebut berasal? Selanjutnya contoh dari EEWG Schruder yang telah menu lis tentang etnografi terpenting dari Pulau Nias (1917). Deskripsinya yang amat rinci tentang Nias Utara, Tengah, dan Selatan sama sekali tidak mencatat tentang konteks yang menjadi dasar pengumpulan koleksi tersebut. Kalau kita memperhatikan koleksinya (Seri RMV I No. 1552, 1620. 1629, 1658, 1691, 1798, dan 1895) dapat diperkirakan bahwa patung-patung kayu tersebut buatan baru. Tidak ada kesan bahwa patung-patung itu tua / pernah dipakai. Seberapa jauh gambaran tentang Nias yang disajikan melalui koleksi Schruder dapat dipercaya? Dosen Lei den A A Gerbrands adalah salah satu orang pertama yang membuat laporan panjang-lebar mengenai konteks sosial-kultural dari benda-benda yang diperoleh. Pada dasarnya penulisan konteks ini merupakan bagian yang esensial dari strategi penelitiannya. Beliau ingin menunjukkan bahwa pada suku Asmat dari bar at day a Irian, gay a individu juga ada dalam masyarakat tanpa tulisan dan bahwa pemahat patung kayu Asmat pun dapat dikenali seperti halnya kita mengenali lukisan dari Vermeer, Rembrandt a tau van Gogh. Beliau berhasil dengan rencananya, karena bukunya "Wow I pits" (1967) bersama koleksi Asmatnya (RMV seri No. 3790) adalah suatu dokumen unik, baik mengenai gaya perorangan pada orang Asmat maupun mengenai cara beliau melakukan penelitiannya dan hubungannya dengan para informannya, terutama para pembuat patung kayu. Situasi-situasi yang digambarkan Gerbrands berbentuk anekdot (lelucon) sehingga beliau pernah mendapat kritikan bahwa cara tulisannya terlalu jurnalistik. Malahan beberapa peneliti menganggap gambarannya kurang serius. Tetapi justru karen a keterbukaan dan cara pelapora1mya, Gerbrands dapat dikatakan menjadi pelopor penelitian konteks pengumpulan, suatu cabang dari antropologi budaya yang sangat berkembang pada tahun sembilahanpuluhan dari abad ke-20. Suatu buku penting tentang keterlibatan koleksi museum dengan konteks historis dimana koleksi itu dikumpulkan, adalah buku Nicolas Thomas (1991) berjudul "Entangled Objects" (Obyek-obyek yang bersangkutpaut). Pengumpulan benda dari budaya lain tidak lepas dari konteks historis, tetapi juga harus diperhitungkan pe ndapat setempat mengenai perdagangan tukar-menukar. Buku Thomas ini diterbitkan ketika antropologi budaya menaruh perhatian pada peran perdagangan dalam memberi suatu makna pada suatu benda.Pengumpulan materi etnografi juga
bagia n dari p e rd aga ngan tukar-menukar dengan segala prose~ politiknya yang terka it d e ngan itu. ltu b ukanlah la lu-lintas sa tu arah, w a la upun p e ngumpul sering be rpe ndapat d em iki<1 n. Pe nduduk loka l juga m e mpunyai pe rana nnya, serta juga m encoba m e ngambi l keuntungan dengan pengumpu l. Sering ada ke untungan m a te ril tetapi juga keuntu ngan politik. Pasti h u b u nga n d e ngan pa ra kole kto r ba ra t m end o ngkrak p res ti ~e dari orang-orang yang membangun su a tu hubungan dengan merekVcrce uixrtc Oos t-lurli:.cltc Co 111 pagu ie) ka I au menu rut pato kan ja m an seka ra ng tida kl a h besa r, lagi pula tuju a n merc ka adalah mcnghasilkan ua ng dari pe rdaga ngan. Ruang kapal haru s te rsedia u ntuk mengangkut ba rang ( mua ta n) ya ng d a pat dijua l, tid ak saja a nta ra Ind onesia d an Bc landa ktapi tc ruta m a d a la m pe rdagangan di w ilayah A sia. Pad a saal tcrscbul mem ang banyak bcnda-be nda ta han la m a d a ri Asia Tenggara sa mpa i ke Eropa, da n khususnya di A m sterd a m dipe rdagang kan bend a -bend a e tnografi, teta pi ~a nga t ~c dikit yang akhirnya sampai di suatu museum a nta r ba ngsa. Be nda-benda tcrsebut menjadi kol e ksi pribadi d a ri pa ra raja d a n o rang kaya; ke banyakan m u seum il mu bangsa-bang,1 ba ru didirikan dala m a bad ke-19. Ba ru se telah VOC d ibubarkan mulailah kehad ira n m useu m-museum e tnogra fi. Sete la h VOC d ihapus maka penguasaan ha rla mi lik d i T imu r dia lih ka n kc p ad a negara Be la nda. Sejak itu tc rjad i pc rluasan tcrus- me nerus d a ri pe nga wasan mili ter d a n po liti k di seluru h kepulauan nusanta ra, su,llu p roses ya ng be rj a la n tc rus hingga a w al a bad ke-20. Pad a sa a t yang sam a pcrha ti a n i lm iah terhada p l ndonesia mend a pat d orongan yang besa r. lni di w ujud ka n dala m kcgiatan- kcgia tan Natuurkuudigc Con uuissic ( Ko mis i llmu A lam) ya ng did irika n pada ta h un 1820 oleh raja W ille m I dengan tujuan m eng umpulkan lebi h ba nyak pengetahuan ten tang vvilayah jajahan d i sebera ng la ut. Pad a bab selanjutnya saya kembali pad a pcrjalanan ke s udu t-sud u t te rj a uh d a ri nusan ta ra yang d i lakuka n pa ra a nggota kom isi tcrsebu t. Walau pun d i kataka n si fa tnya ilmia h, te tapi tida k perna h te rp isah d ari politik. Seca ra tcratur kita mcmbaca laporan m e ngena i tc mpa t berl a bu h kapal ya ng ba ik (bagi p ihak militcr pun c;a ngat pcnti ng)
Orang yang namanya erat dikenal dalam sejarah Singapura, Thomas Stamford Raffles juga meninggalkan jejak di Indonesia. Sebagai kuasa dari kepulauan Hindia ia sangat mendorong penelitian ilmiah. Buku tulisannya sendiri yang fenomenal, yaitu History o!Java (Sejarah Jawa) diterbitkan pada tahun 1817. Setelah Napoleon dikalahkan dan pemerintah Belanda memerintah Indonesia lagi dengan segera diperintahkan untuk meneruskan penelitian ilmiah mengenai negara dan budayanya. Pada tahun 1815 Prof. CGC Reinwardt dikirim ke Indonesia untuk menganjurkan agar penelitian digalakkan. Reinwardt menganjurkan agar di Buitenzorg (kini Bogor) dibangun Kebun Tumbuh- tumbuhan, suatu taman botani yang sampai sekarang masih ada. Ia juga memperhatikan peninggalan Hindu-Budha di Jawa yang waktu itu masih ditutupi semak belukar. Beberapa tahun setelah itu, ialah pada tahun 1820, mulailah masa jaya dari "Natuurkundige Commissie in Nederlandsch Indie·". Dalam laporan-laporan komisi ini secara teratur disebut karya Reinwardt dan jelaslah bahwa anggota-anggota dari ekspedisi yang diadakan oleh Komisi ini menganggap Reinwardt sebagai pelopornya. Namun Komisi dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang dikerjakan oleh Reinwardt. An tara tahun 1820 dan 1836 beberapa anggota Komisi ini telah menjelajahi beberapa bagian dari nusantara dan telah mengumpulkan berbagai koleksi di bidang geologi, botani, zoologi, dan etnografi. Banyak dari hasil tersebut dikirim ke negeri Belanda/Leiden. Bagian sejarah alam disimpan di Museum Naturalis, tetapi koleksi etnografi lebih sukar dilacak. Hampir semua anggota berkebangsaan Eropa mengumpulkan materi etnografi, tetapi bukan merupakan sesuatu kebiasan untuk mendokumentasikan koleksi dengan baik dan disimpankan dalam museum. Museum ilmu bangsa-bangsa pada waktu itu belum ada di Eropa, dan yang dimasukkan ke Bntaviaasch Genootschap sekarang tidak dapat dilacak lagi. Akhirnya Museum Leiden memperoleh dua bagian dari koleksi ilmu bangsa-bangsa dari anggota Komisi tadi. Benda-benda koleksi H.Macklot diambil alih oleh Philip Frans von Siebold, dokter berkebangsaan Jerman yang belakangan menganjurkan kepada raja Willem I untuk mendirikan museum ilmu bangsa-bangsa di dalam negeri dan ia menjadi direktur pertama dari Museum Leiden. Koleksi Macklot sekarang menjadi bagian dari seri 1
Rijksn/II SC I/111 uoor Volkeukuude. Kolcksi Sa lomon Muller pun baru di kemudian hari sa rnpai di Leiden. Baru pada tahun 1864 ko le ksi Muller diperoleh oleh Museum Etnografi Kerajaan dan terca tat de ngan nornor seri 16. Pada tahun 1839-1844 te rbit "Vcrlinudeliugcu Over De Nntuurlijke Gesechiedeuis z• ou dcr Nederlnurlsche O ve rzees clle Be: ittiugeu Door De Lerlcu Ocr Nn tuurkuudigc Coll/11/iss ic £ 11 Audcrc Schrijuers uitgegeucu op /nsf un u rlcr Kouig (Karangan mengenai Sejarah A lam dari Milik N egeri Belanda di seberang I aut ditulis oleh a nggota-anggota Kornisi Ilmu Alam dan penulis- penulis lainnya, diterbitkan atas perintah Raja) oleh CJ Temm i nck. Laporan resmi dari akti vi tas Komisi llmu A larn mcmbcrikan gambaran yang baik rncngenai apa yang ingin dicapai. Bagian etnografi dari publikasi Temminck ini pad a tahun 1857 dite rbitka n ulang di bawah redaksi Salomon Muller, tetapi sebagian besar gamba r ditiadakan. Sekali-sekali tulisan dala m buku ini rn emberikan kesan bagairnana n1ate ri etnografi dikumpulkan. Sering itu dikumpulkan secara kebetulan saja. Tidak ada ketcntuan apa yang harus d ipilih I dikumpulkan dan didokurnentasi dengan baik. Pad a suatu perjalanan kc pantai selatan Irian pad a tahun 1828, ia lah wilayah Marind Anirn, diadakan kontak d cngan warga setempat. Salomon Muller menuturkan bagaimana semuanya dilakukan dengan sa ngat bcrhati -hati. Berjam-jam diadakan komunikasi dengan gerakan anggota badan (penerjernah orang Maluku tidak mengerti bahasa lokal); tampaknya sernua betialan dengan baik, sampai a nggota ekspedisi memutuskan untuk kembali ke perahunya karena matahari mulai terbenam. Penduduk mencoba menghalang i keberangkatan anggota ckspedisi dengan mengayuh sa mpan balik dan ketika hal tersebut tidak berhasil me reka rn elemparkan tombak mereka. Lalu dile paskan te mbakan, teta pi tidak ada yang ma ti. Kare na ketakutan penduduk lari masuk ke hutan d an beberapa di antara mereka telah mcninggalkan tombaknya d i pasir yang kemudian dipungut oleh anggota ekspedisi d an dibawa serta. Kebanyakan a nggota ekspedisi dari Komisi me ningga l dunia. C uaca tropis pada awal abad ke-19 meminta banyak korban. Sa lomon Muller salah satu anggota Komisi yang dapat menuturkannya kembali.
Tempat Penemuan Benda Arkeologi
Kol eksi yang berasal d a ri lima tcmpat penc muan akan d ibahas secara panjang Iebar dalam Bab II (a rtikc l d ari Sedyawati, Endang, C huti wongs, Mardiana d an Lunsingh Scheurleer) dari buku edisi lengkap / luks ini, tctapi ada beberapa catatan me ngcnai pcngumpulan kole ksi arkeologi pad a abad ke-19 yang perlu dikemukakan di sini. Di sa mping benda-benda etnogra fi, peninggalan arkcologi maupun sejarah memang mcnarik perhatian orang asing yang datang dan menjajah Indonesia. " Dil e ttanti" dan "antiquarianism" yang menjadi trend d i e ropa pada abad ke- 16 sa m pai a bad ke- 18 juga d ibawa serta ke neg a ra- nega ra nan jauh, teru ta m a ke negara yang dijajah sepe rti Indonesia pada s,1at itu. Deskripsi terdahulu dari benda-benda ya ng mena rik (kare na lang ka a tau anehnya) termasuk ya ng dibuat oleh Scippio mengcnai pcninggalan megalitik di wilayah Bogor di Jawa Barat pada tahun 1687, dan dcskripsi mengenai kampak neoli tik dari tembaga m aupun batu yang dibuat oleh Rumphius d a n ditcrbitkan pada ta hun 1705 dalam buku nya O'A ll/boiu sclic Ra ri l!'i rskoll/ er.
Alons pada tahun 1733 membuat laporan dan deskripsi mengenai reruntuhan kompleks Candi Prambanan di Jawa Tengah. Hanya setengah abad kemudian, yaitu pada tahun 1778 suatu organisasi yang terdiri dari orang-orang yang secara serius tertarik pada ilmu dan seni didirikan di Batavia, yaitu Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (lihat artikel dari Endang Sri Hardiati mengenai sejarah lembaga ini). Minat mereka termasuk juga terhadap sejarah dan arkeologi dan oleh karena itu mereka juga mengelola koleksi-koleksi yang terkait dengan kedua disiplin tersebut. Ketertarikan pada reruntuhan Candi Prambanan terus berlanjut: Francois Boeckholtz membuat deskripsi rinci pada tahun 1790 sebagai bagian dari manuskriprtya berjudul Beschrijving van het Eyland Groot Java (Risalah mengenai Pulau Jawa Besar) dan kemudian pada tahun 1805 HC Cornelius mebuat gambar dari reruntuhan candi atas perintah Gubernur Pantai Timur-Laut Jawa. Pemerintahan Inggris yang singkat di Indonesia yang dipimpin oleh Sir Thomas Stamford Raffles dari 1811 sampai 1816 juga memberikan perhatian besar terhadap peninggalan arkeologi. Buku Raffles The History of Java (Sejarah Jawa) yang diterbitkan pada tahun 1817 juga memuat gambar-gambar dari candi dan area kuna, antara lain reruntuhan dari candi Siva Prambanan. Perhatian pada penelitian arkeologi berkembang pada abad ke-19 di Eropa, dan demikian pula di Hindia Belanda seperti yang ditunjukkan oleh buku Raffles tadi dan selanjutnya oleh pembentukan komite untuk penelitian arkeologi pada tahun 1822 dan lagi-lagi pembentukan suatu perkumpulan yang bernama "Archeologische Vereeniging" (Perkumpulan Arkeologi) pada tahun 1875. Suatu pene{lluan yang spektakular pada tahun 1891 adalah tengkorak dari apa yang dikenal sebagai Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di Trinil, Jawa Timur oleh Eugene Dubois. Seorang seniman dan fotografer yang amat berbakat yaitu I. van Kinsbergen, sejak 1862 berg a bung dengan para arkeolog di lapangan, dan secara intensif telah membuat foto-foto dari situs dan artefak yang telah ditemukan, termasuk artefak-artefak yang pada akhirnya disimpan di beberapa museum. Foto-fotonya bersama dengan foto-foto dari Cephas merupakan bagian terbesar dari koleksi foto dari Dinas Purbakala. Awal abad ke-20 merupakan suatu momentum dalam sejarah penelitian arkeologi di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1901 membentuk "Commissie in Nederlandsch-Indie voor Ouheidkundig Onderzoek op Java en Madura" (Komisi di Hindia Belanda untuk Penelitian Purbakala di Jawa dan Madura) untuk meneliti peninggalan arkeologi di pulau Jawa dan Madura. Ketua pertama adalah Dr. JLA Brandes dan pada tahun 1910 dialihkan kepada Dr. NJ Krom. Komisi ini secara berkala menerbitkan ROC (Rapporten van het Oudheidkundig Commissie), Laporan Komisi Purbakala, di samping itu juga menerbitkan beberapa monografi dengan data fotografis dari berbagai candi yang berbeda-beda, seperti tandi Jago (1904) dan Singasari-Panataran (1909) yang semuanya ditulis oleh Brandes sendiri. Sebagai bukti tentang keseriusan pemerintah kolonial dalam mengajukan penelitian, komisi ini lalu diubah menjadi kantor pemerintah pada tahun 1913 dengan nama "Oudheidkundige Dienst" (OD) Dinas Purbakala, pada permulaannya tetap di bawah pimpinan NJ Krom. Sejalan dengan status badan pemerintah maka dinas ini diberikan tug as yang lebih nyata an tara lain membuat inventaris arkeologi, memeriksa dan memelihara peninggalan lama, merencanakan dan mengimplementasikan upaya untuk menyelamatkan monumen dan artefak, mendokumentasikannya, dan sebagainya.
dari laporan d inas purbaka la ini disebu t RO D (Rnp porle11 z> au O udiiCidk uudige Dieus t). Sctelah masa jabatannya berakh ir Krom sendiri me nu li s buku-buku yang fc nom enal yaitu : luleidiug tot de Hiudu jllVilil SChe Ku ust (Pen ganta r te nta ng Kcseni a n Hindu-Jaw a), jilid I, LI, dan lll yang d iterbitka n pad a tahun 1923 dan Hi udu favnau sche Geschiedenis (Sejara h Hindu Jawa) d ite rbitka n pada tahun
- Da ri tahun 1915 sampai 1936 ahli yang memimpin dinas in i ad ala h Dr. FD K Bosch. Sela ma kepemimp in a nnya tugas D inas P urbakala itu d ipe rluas, m enca ku p konservasi d an restorasi monumen -monumen. Demikian p u Ia pad a waktu ya ng sam a dikelua rka n pe ratu ra n pe rundang -u ndangan resmi un tu k melindung i peninggala n a rkeologi d an seja ra h oleh pemerintah kolonial. Nama nya " Monume nten O rdona nsi" dikelu arkan pad a ta hun 1931. O leh pemerintah Ind o nesia kem udian d iubah menj adi U U. no. 5 tahun 1992 te n ta ng Be nda Cagar Budaya. Setela h Bosch, Dr. WF Stutte rheim me njadi ke tua nya dari 1936 sampai 1939. Keti ka dila ku kan restorasi d an a kti v itas pe nyela m a ta n di la pa ngan d a ta ng lah ta hu n- tahun perang d an keadaan tida k m e ne ntu. Ba ru p ad a tahun 19 53 d iangka t seorang ketu a secara resmi ia la h R. Soekmono, lulusan jurusan arkeologi pertama dari U ni versitas Indonesia. Beli au di ke mudia n hari juga mem im pin proye k restorasi Borobud ur ya ng diba ntu o le h U NESCO (1970-1 983). Warisan dari adm ini strasi Bela nd a, dalam hal ini be rhubungan d e nga n pe ngelolaa n buk ti-bukti arkeo logi dan seja ra h, te la h d ia lihka n ke pad a pe me rinta h Indonesia. Indo nesia ha rus be rte rim a kasih d apat belaja r dari pelaksanaan kegia tan Be la nda be rkenaan dengan konsep peneliti an ilmiah. Setelah Ind onesia me rdeka pad a ta hun ·1945 d a n khusus se telah pembentu kan kehidupan s ip il yang manta p dan pe nga lihan O udl1cidkulldige Dicust ke pi hak lndonsia s udah tentu te rj adi perubahan na ma. Kantor Bel and a ini menjadi " D inas P urbakala" d an kemudia n berubah menjadi " Le mbaga Purba kala d an Peninggalan Nasional". Pada ta hu n 1975 ka ntor ini dipecah me nj adi dua: satu k hu su ~ untuk penelitian arkeologi dengan na ma " Pusat Penelitian A rkeologi Nasiona l", sed a ngka n yang lain mengkhususkan d iri pad a registrasi, ko nservasi, d a n restorasi se hingga me m butuhkan a hl i k imia dan insiy ur ba ngunan. Bagian ini be rnama " Direktorat Sejarah dan Pu rba kala", yang kemudian hari menj ad i " Dire kto rat P erli ndungan d an P em binaan P e ningga la n Sejarah da n Purba ka la". Kedua kan tor itu bcrnaung di baw a h Di re ktorat Jendera l Kebudayaan sampai ta hun
- Te tapi d e nga n pe ruba ha n-perubaha n ka bine t setelah kepreside na n Dr. BJ H abibie, ma ka di rekto ra t je nderal itu d al a m kead aan teranca m da n di kemudian hari d i ba wa h presiden-presiden be ri kutnya sem ua kantor (direkto ra t maupun pusat) ditiad a ka n d a n d ijadika n ka ntor asisten d epu ti. Semua ca bang di p ro pinsi, baik d ari direktorat maupu n pusat penelitian, akhi r-akhi r ini sekaran g d alam posisi tid ak me ne ntu, a pa kah akan be rad a di bawa h pemerintah daerah atau merupaka n sua tu kesatua n koord i nasi nasiona I.
Kolektor Perorangan, Pegawai Pemerintah, Para Penyebar Agama (Zending dan Misi)
Da la m bagian keti ga buku in i ya ng terpenting adalah pengkategori a n yang lu as dari pa ra kole kto r ( pe ng um pul) p e roranga n. Wa la upun semu a kole ktor mem p unya i kesamaan d a la m konte ks kolo ni alnya tetapi te rli ha t banya k pe rbed aan indi vidua l. Lata r bcla kang pa ra ko lektor berbeda-beda dan ca ra meng umpulka n
Pada bulan Mei 1840 von Rosenberg sampai di Jawa dan ia ditempatkan di Sumatera di mana ia menjadi pembantu ahli geologi Junghuhn. Ia pun sering mengambil bagian dalam ekspedisi militer ke daerah Batak, suatu daerah yang pada waktu itu belum sepenuhnya didalam genggaman Beland a. Mung kin selama peri ode itulah ia mulai mengumpulkan berbagai benda dari daerah Batak. Salah satunya adalah tongkat upacara yang disebut "tunggal pmza/uan" (RMV 79-3) yang mungkin dikumpulkan pada tahun 1850, tetapi dalam catatan von Rosenberg, yang dipublikasikan maupun yang tidak, tidak ada keterangan kapan dan dalam keadaan apa tongkat itu diperoleh. Rosenberg sering menulis tentang kampung-kampung yang ditinggal penduduknya bila ten tara datang sehingga sukar sekali untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Tampaknya Rosenberg mengambil keuntungan dari informasi bahwa penduduk meninggalkan kampung kalau patroli datang. Sejak 1845 Von Rosenberg ditempatkan di generate staf di Padang, Sumatera Barat sehingga makin banyak kesempatan untuk mengembangkan perhatiaannya. Ia banyak mengerjakan pekerjaan kartografi, dan ia pun sempat menjelajahi pulau-pulau di sebelah barat Sumatera. Pada tahun 1847 dan 1849 ia pergi ke Kepulauan Mentawai dan pada tahun 1825 ke Pulau Enggano. Sejak itu ia mulai menerbitkan pengalaman-pengalamannya dan artikel-artikelnya muncul terus menerus. Ia adalah salah satu di antara orang-orang pertama yang mempublikasikan keterangan yang dapat dipercaya mengenai penduduk Enggano. Sudah tentu pekerjaannya masih jauh dari cara yang benar untuk melakukan penelitian lapangan seperti yang kita lakukan sekarang. Rosenberg hanya tinggal dua minggu di Enggano dan karena sakit tidak dapat memasuki pedalaman tetapi boleh dikatakan bahwa ini sudah suatu langkah awal yang berarti. Seperti telah dikemukakan mutu dari pengamatan ilmu bangsa-bangsa dalam abad ke-19 makin baik. Von Rosenberg pun sudah mulai ke arah ini walaupun sebenarnya bukan seorang etnograf, pada tahun 1855 ia menjadi pegawai Dinas
Ba tavia dan pad a ta hun '1Wi9 ia meni nggalkan tcntara. Ia menjadi bagian d a ri pc me rintah koloni a l dan ia beba~ u ntuk melakuka n peneli tian ilmiah. Seja k itu ia mc nga ra hka n d iri pad a Indo nesia bagia n timu r. Ia sudah pernah ke Iria n Jaya tcta pi seka ra ng ia dapa t pula meng unjungi Maluku, Kepu lauan Nusa Tenggara d a n Sula wesi. Tulisannya te tap te rb it secara bcrka la, tetapi seperti juga pene li ti terd a hulu ia sering disera ng penyakit tro pis. Ia berhenti bekcrja p ada ta h un 1871. Sekemba linya di Ero pa Von Rosenberg di,1nugcrahi berbagai tanda jasa dari ncgeri Be la nd a ma upun d a ri bcbe ra pa bagiil n Jerma n a nta ra lain d ari tempat ke lah ira nnya d i Hessen. Pad a ta hun 1878 te rbi t buku Der Mnla ysisc/Jc 1\rchipl'i ya ng m e ngga mba rka n pengala ma nnya selam a di Indo nesia. Ia meninggal pada ta hu n 1888 di Den Haag. Kehi d upa n Rosenberg yang san gat prod uktif tidak dapa t d imuat d a la m d a la m bebe ra pa a linea saja. Ia ban yak menu li s dan scbagai pegawai pencliti tc lah menje laja hi ba nya k d acra h d i N u santa ra. D i Ba ta via von Rosenberg juga terliba t d a la m Batm•ionsc!Jc Gcnootschnp unn Ku nstcn and Wctcnschnppcn. Ia sering d isebut d a lam No tulcn, teruta ma sebagai penyumba ng koleksi, teta pi ia juga lcrlibat d i bagian -bagian la in d a ri lembaga in i. Ia menu li s d a la m TBG, majalah lem baga ini, d an ia juga me mbc ri saril n mc ngena i pe mbagia n kategori dari b ta log pe rtama. U ntuk ketera ngan lebih rinci tc nta ng pe ran Von Rosenbe rg dala m perkembangan Batnvinnsc! Jc Genoo tschnp saya me nunjuk pada buku sejarawa n Hans G root yang akan d itcrbitkan pada tahun
2006.
Sejumlah Pameran Kolonial, Pasar M alam Tahunan dan Pameran Dunia
Da lam buku ini scca ra lc ngkap d imuat su mber-~umbe r dari kole ksi ka re na d a la m ba nyak ha l kole ksi- ko leksi te rsebu t merupakan kolcksi yang d ibagi. Te ta p i aspe k pe mbagian koleksi an ta ra Ba tavia dan Leiden tidak tcrl,1 lu jelas dala m ka tegori Pa me ra n- Pa me ra n Koloni a l. Dari pa meran perd aga ngan kolonia l yang be rska la lu as pad a tahun 1883 d i A m sterd a m ba nyak benda / mate ri dimasukka n ke Rijksnu JSC /111 1 uoor Vo lkc nkunde (seri 370) be rka t u paya a ktif da ri d irekturnya, Serrurie r, te ta pi sepa nj ang pc ngetahuan kam i tida k ad a satu bendapun yang di kembal ikan di Batavia. Secara inside ntil Leiden mene ri ma materi / bend a dari pameran-pameran yang diad a ka n di Indonesia, te ruta ma di Batavia dan S urabaya, tetapi kebcrad aan ma te ri / bend a di Hindia Be Ia nda agak sulit dil acak. Tampaknya ban yak bend a yang d iju a l d i pasara n d an te rnyata tidak ad a kebijakan u ntuk menycrahkan bcnda-be nda ya ng be rasa l d a ri pa meran ke Bn tnuinnsc/Jc Gcnootscl111p. U ntuk suatu anali sis yang ba ik tenta ng pame ra n- pame ran ko lo ni a l bacalah bu ku dari Marieke Bloem bergen (d a la m buku cdisi lcng kap / luks).
Hadiah
Be rbagai hadiah d ari raja- raja Indonesia kepad a pcnguasa Beland a di simpan di Museum. Da la m kasus tc rten tu ka mi telah dapat me nc lusuri ba hwa hadiah -hadia h itu te la h dibagi antara Bn tm•innsc!J c Gcnootsc!Jnp dan Riiks nuJ scunJ c•oor Vo lkenkunrlc. Teruta ma d a la m konte ks seja ra h Ba li yang ru m it-sua tu sejarah a li ansi, pena klu kan d a n ke ke rasan -terd apa t sejumlah contoh yang baik. Da lam buku edisi leng kap / luks bab mc ngenai Bali ya ng ditulis ol e h Fra nci ne Bri nkgrcvc hal in i diba has lebih rinci.
II
BUDAY A BERSAMA. Ungkapan berbahasa Inggris : "Shared Cultural Heritage" dapat diartikan dengan dua cara, yaitu "warisan budaya yang dibagi" atau "warisan budaya yang bersama". Dalam buku ini, dan dalam pameran yang disertai buku ini sebagai katalogus kedua arti digunakan. Koleksi yang telah kami teliti dalam rangka proyek ini merupakan pembagian antara Batavia dan Leiden, tetapi koleksi ini berasal dari suatu jenis sumber yang sama yaitu kolektor, penyumbang atau tempat penemuan arkeologi. Walaupun dibuat di berbagai daerah di Indonesia koleksi ini merupakan warisan yang dimiliki Belanda dan Indonesia bersama dengan demikian harus dibahas secara bersama, secara ilmiah maupun politik. Penelitian mengenai konteks pengumpulan untuk pembahasan ini sangat esensial. Hanya kalau kita mengetahui lebih banyak dari konteks pengumpulan dari koleksi historis, dan kolonial maka kita dengan mata terbuka dapat memperhatikannya sekarang. Hanya dengan demikian kita dapat merencanakan suatu kerjasama yang benar-benar bermanfaat. Untuk masa yang sangat lama di dunia museum tidak ada perhatian terhadap konteks pengumpulan. Dalam pada itu telah terjadi perubahan-perubahan, tetapi pada tahun 1991 I 1992 pad a tiga pameran Indonesia yang besar yang diadakan di negeri Belanda masih ditentukan pada sifat estetika dan etnografi yang terbuka pad a cara bagaimana benda-benda itu sampai di dunia barat. Peneliti Amerika Margaret Wiener pada tahun 1994 telah melancarkan kritik pedas atas penyelenggaraan pameran Courts Arts of Indonesia oleh Asia Gellery di New York; pameran yang di negeri Belanda juga dapat dilihat sebagai pameran
dari " Kunsth.1 l" d i Ro tterdam. Dcmikian pula pamercln-pam e ran bc:-,ar yang d a ta ng d a ri A me rika ke negeri Be Ia nda (Tile Sculpture of lndone~in, diadakan di ie uwe Ke rk di Amste rda m dan Beyond tile ja m Sen diadakan d i RijkSII IUSCU/1 1 z>oor Volkc nkun dc d i Le i den) d a pa t d ikritik d engan car a yang sam a. Bc nda-bendanya san gat heba t diserta i d engan inform Jsi yang mena ri k mengenai arkcologi, sejarah a tau e tnografi, tetapi tidak ad a ceritera tc ntang konteks peng u mpulannya. rad a pa me ran ma upun di d alam ka talog tid ak d isinggu ng bagaimana bcnda-bcnda te rsebut sampai pad a kole ks i-koleksi negara- negara barat. Apalagi bagaimana kontcks pengumpulan ini te la h me mpen ga ruhi panda nga n barat terhadap budaya-budaya yang la in itu. Me m a ng da la m p royek ini ka mi tidak dapat mela ku kan scgalanya. Masih te rsisa ba nyak pe rta nyaan yang bel urn bi sa tcrjawab, dalam ka lJiog ini. Tcta p i secara e ksplis it ka mi ingin mi nta perhatian untuk hal-ha l yang dahulu tida k d isi nggung: ka rena taku t a ka n konsekue nsi poli ti k I budJya a tau ka rena ku rang pengetahua n atau ka rena d ia nggap ti dak perlu. Ka m i minta perha ti an khusus untu k cerita yang sangat mena rik ten ta ng konteks pengu m p u lan: sepotong seja rah kolo nial d engan ko lc ksi-koleksi sebagai bahan refere nsi. Ba nyak yang dapal d iperoleh d<1 ri scjarah pe ng umpu la n ko leksi. De mi kian me ngena i situJsi d an motivasi dari ilktivitas pengumpula n. D ua masya ra ka t te la h da n masi h sa ling be rte mu melal u i keberadaa n koleksi, d a n de ngil n d e mikia n juga m useum-museum. Masyarakat Be landa telah mempe rke na lka n ko nsep ins titus io na l b a ru, ya itu m useu m, dan m asyarakat In donesia mod e rn me ngad o psi d a n me ngem bangkannya. Wa ri san dalam bentuk apapun, yang d a la m ko nsep -ko nsep e tnik tradis io na l kebanyakan dilindungi terhadap kctc rliba ta n yang tc rl a lu umum sekarang be rad a d a la m museu m Indonesia modern dan menj adi be nd a umum d an terbuka terhadap penelitian il m iah.Wa risan budaya orang Indonesia, a pa kah itu d ibida ng etnografi, a rkeologi, alau sejarah, atau apapun, me rupabn bagia n d a ri ide ntitas budaya Indonesia. Warisan masa lalu dapat dibuat ole h sua tu ke lo m pok etnik te rtcntu. Namun, karena kelompok-kelompok etnik yang ba nyak itu te la h me mbua t sumpa h bersam a (1928) un tuk bcrsatu scbagai suatu ba ngsa ba ru, yaitu b <1 ngsa Indo nesia, ma ka semua warisan dari berbagai kelo m pok etnik seka ra ng bo le h cli a nggap sebagai wa ri san bersa m a oleh seluruh bangsa. Agar pe rasaan be rbagai d a la m p ersatu a n d apat d ipupu k maka pengumpulan mengena i seja ra h Ind o nesia ha rus cukup d isosia li sasika n. Artefa k dari jama n yang la lu d apa t dig una ka n sebagai a lat stril tegis sebagai sarana mene mo nik untuk mengajar sejarah (seja ra h u m um, seja ra h kebudayaan a tau sejarah kesenian). Museu m d a pat me ngoptima lka n fu ngsi ini denga n mem perliha tkan :-,ajian yang me na rik da n tc re ncana be rsama dengan berbagai laya nan informasi berupa label, gra fik, seleba ra n d an media e lektron ik inte ra kti f. U ntuk pe ngunjung yang lebih lua:-,, be nda-benda museu m yang berasal d a ri b e rbaga i b e ntuk kebud ayaa n di Indonesia juga dapat berfu n gs i untu k mengemba ng ka n ke mamp ua n tolcran:-,i. Di perlukan p ikiran yang te rbuka untu k d a pa t me nerima suatu u ngkapan bu daya yang "aneh". Dala m hal ini, a hli -a hli Bela nda d a la m bidangetnografi dan a rkeologi Indonesia sudah ten tu sangat me ngenal obyek studi ini, sehingga wa ri san budaya Indonesia sama sckali tidak a ne h untuk mereka. ya ta nya oleh para ilmuwan Indonesia mcreka dianggap scbagai a nggota ke lua rga.
KOLEKSI ARKEOLOGI
A. Koleksi dari Singhasari/Singosari
~di &dyauwi
Masa Singhasari berlangsung sangat singkat dalam perjalanan sejarah kuno Indonesia, tetapi memberikan kontribusi yang besar dalam beberapa bidang kehidupan masyarakat. Kerajaan Singhasari mulai muncul dipanggung sejarah Jawa Kuna dengan tampilnya Ken Arok yang telah berhasil mengalahkan raja Kadiri, Kertajaya. Ken Arok kemudian menyatukan Tumapel dan Kadiri menjadi kerajaan yang lebih kuat, yaitu Singhasari. Ken Arok yang mempunyai nama abhiseka Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi a tau Sri Girinatha ini juga merupakan pendiri Dinasti Girindra, yang nantinya akan menjadi penguasa kerajaan Singhasari dan Majapahit. Sejak pemerintahan Wisnuwardhana (1248-1268), Singhasari mulai berkembang menuju sistem pemerintahan yang lebih man tap dan kokoh. Pad amasa itu struktur kerajaan terdiri dari daerah-daerah yang disebut bhiimi dan niigara sebagai ibukotanya. Masing-masing bhiimi dipimpin oleh tokoh yang merupakan anggota keluarga kerajaan. Sepeninggal Wisnuwardhana, puteranya, Krtanagara menggantikan menjadi raja. Raja Krtanagara mulai meluaskan pengaruh Singhasari ke luar Jawa, untuk mencapai kesatuan Nusantara. Krtanagara mengirimkan ekspedisi ke Malayu dan Bali. Kontrol atas Malayu sangat diperlukan dalam rangka menahan masuknya pengaruh Mongol, dengan kaisarnya Kubhilai Khan, ke nusantara. Usaha pembentukan imperium ini belum tercapai seluruhnya terpaksa terhenti karena Krtanagara wafat akibat serangan mendadak oleh penguasa Kadiri, Jayakatwang. Pembentukan suatu imperium dapat mempunyai efek yang menyentuh berbagai segi kehidupan, misalnya standarisasi warna dalam bahasa, seni, dan adat-istiadat. Juga munculnya birokrasi dan sistem manajemen. Imperium ini baru tercapai pada masa kejayaan kerajaan Majapahit, pada abad ke-14. Kecuali pemantapan dalam sistem pemerintahan, masa Singhasari juga menandai terjadinya "koalisi" antar agama Hindu-Siwa dan agama Budha, dan munculnya pemujaan terhadap Siwabuddha. Koalisi tersebut tidak untuk kedua agama, tetapi hanya untuk mengkristalkan tokoh. Kompleks percandian Singhasari sebenarnya terdiri dari sebuah candi induk dan beberapa candi kecil di sekitarnya. Tetapi semua candi kecil sekarang sudah runtuh, tak ada sisanya lagi. Tinggal candi induk yang masih berdiri kokoh, yang
Pada penampil pintu, terdapat relung pintu, sebelah luar. Tidak ada eandi lain yang mempunyai bilik pada kaki eandi seperti eandi Singhasari ini. Bilik-bilik eandi tersebut dulu berisi area-area dewa pantheon Hindu, yang ditempatkanmenurut ketentuan yang berlaku pada eandi-eandi di Jawa, yaitu Durga Mahisasuramardini di bilik utara, Ganesa di bilik timur (di belakang pintu masuk), dan Agastya atau Siwa Mahayana di bilik selatan. Di kanan-kiri pintu masuk terdapat area Mahakala dan Nandiswara. Kecuali Agastya, keempat area yang berasal dari bilik-bilik dan relung itu sekarang disimpan di Rijksmuseu 111 voor Vo/kerkunde, Lei den. Area yang berasal dari bilik utama (tengah) tidak pernah ditemukan. Di dekat eandi Singhasari, dulu terdapat batur, mungkin semaeam bangunan teras terbuka, dari bangunan ini berasal Nandi besar yang sekarang disimpan di RMV, Leiden. Area Brahma (yang sekarang di Leiden) mungkin dulu di tempatkan di eandi Fa tau G bersama-sama dengan area-area pendeta yang sekarang tidak ada lagi (hila:ng, terba kar) Area Bhairawa (sekarang di Leiden) yang menurut laporan Rugelhard ditemukan di dekat eandi induk, mungkin berasal dari eandi B, bersama-sama dengan area Parwati (masih in situ)dan area Camundi (sekarang di museum Trowulan). Area nandi besar yang sekarang di Museum Nasional Indonesia berasal dari sekitar eandi F. Area Praji1aparamita, satu-satunya area yang jelas menunjukkan sifat budhistis, diperkirakaJl berasal dari eandi E atau eandi Wayang. Area Ganesa dari pereandian Singhasari dulu ditemukan di alun-alun, tidak jauh dari dwarapala, sekarang disimpan di National Museum of Bangkok.
Durga Mahi§asuramardini
Batu; Singosari, M alang, Jawa Timur; Abad ke-13; No.inv. 1403-1622 I RMV, Leiden
Area Durga yang sedang men galahkan asu rn ya ng berbentuk mnhi~ n ini berasal d a ri eandi induk Singasari, aslinya m en empa ti bilik di sisi utara eandi tersebu t, seb agaimana a r ea tok oh kedewataan ini selalu ditempa tkan di s u a tu eandi Siw a di Jawa. Durg a M ahi§as uramarrdini seb en a rnya merepresentasikan konsep mahiJsaktr, yaitu D ewr sebagai tujuan tertinggi dalam pe mujaa n, yan g juga c_iiidentifikasikan sebagai dewi pasangan Siwa, Wi § ~1u, m aupun Brahma. Wujud sebagai p e n a kluk m nh i ~nsura llll dieeritakan dalam mitos yang berkaitan den gan pemujaan D ewr: ia a d alah konve rgen si d ari kekuatan seluruh dewa-d ewa, dan semua senj ata yan g dipegan g n ya pun m erupa k a n 'sumbangan ' atau ' persembahan ' d ari dewa-dewa tersebut:>
A rea Singasari ini memperlihatkan tata ad egan yan g simboli s dan pemahatan yang halus dan mendetail. Penaklukan d e m on berupa kerbau liar itu digambarkan dengan justru kerbau itu d ala m posisi tunduk dan ten an g; d em ikian p ula wujud aslinya beru pa asu ra yang muneul dari leh ernya yang tertebas itu (di sini digambarkan keeil) n am pak diten an gkan oleh salah satu tangan dewi yang dile takkan di a tas kep alanya. Sikap tungkai d ewi dalam nlrdhn sthana d an torso yang sedikit ditarik ke arah kiri seperti mengambil an ean g -an ean g m en yiratkan d en gan halus bahwa dewi ini sedang berperang melawan a su ra yang merupakan musuh d ewa-de wa itu. Kehalusan p ah a tan tampak pada pola-pola hias dari pakaian d an perhiasan yan g dikenakan d ewi mau pun mahisa.
***) Be rkaitan dc ngan pe makn aa n ini, dapa t diajukan ta fs ira n bahwa kc lo m pok ya ng man tap dalan1 pe rca ndian H indu-Siwa di Jaw a, ya ng terdiri dari Siwa, Ourga, Gancsa dan A gastya, sebcnarnya juga menga ndung persa maa n denga n** konscp raja cakravarti, ya ng lcngkapnya terd iri d ari : raja, permaisuri, scnapati, dan pu ro hita.
| konvergensi dari kekuatan seluruh | melawan asura yang merupakan musuh |
|---|---|
| dewa-dewa, dan semua senjata yang | dewa-dewa itu. Kehalusan pahatan |
| dipegangnyapun | tampak pada pola-pola hias dari pakaian |
| dewa-dewa tersebut.") | maupun mahisa. |
Mahakala
Batu; Singosari, Malang. Jawa Tirnur; Abad ke-13; No.inv. 1403-1623 / RMV
Tokoh ini adalah penjaga pintu kahyangan kediaman Siwa. Dalam sastra keagamaan India memang disebutkan bahwa dewa Siwa mempunyai berbagai perwujudan, an tara lain sebagai Mahakala. Namun dalam restrukturisasi pantheon Hindu di Indonesia, Jaw a khususnya, posisi Mahakala beserta pasangannya, Nandrswara, adalah sebagai penjaga gerbang kahyangan Siwa, dan dengan demikian tidnk sama dengan Siwa. Dalam kenyataan <>epasang tokoh tersebut, yang masing-masing ditandai oleh atribut gada dan trisula, terdapat dalam banyak eandi Siwa di Jaw a, dan keduanya menempati relung a tau panel di sisi kiri dan kanan pintu menuju ruang utama di mana terdapat area Siwa. Penjelasan mengenai jatidiri mereka muneul dalam kakawin S111nrndahana (pupuh VI bait 7) dari zaman Kadiri, di mana dikatakan bahwa andrswara Rudradasa dan Mahakala Veka-Vibhuti adalah para penjaga gerbang kahyangan Siwa. Julukan mereka pun menunjukkan bahwa Nandrswara adalah "abdi Siwa" dan Mahakala adalah "anak dari Vibhuti", jadi jelas tidak identik ataupun merupakan perwujudan dew a Siwa.
Area Nandrswara
Batu; Singosari, Malang, Jawa Timur; Abad ke-13; No.inv. 1403-1624 I RMV
Nandrswara, seperti halnya Mahakala, adalah penjaga gerbang kahyangan Siwa. Keduanya menempati relung atau panel di sisi kiri dan kanan pintu menuju ruang utama di mana terdapat area Siwa.
1403-1680 I RMV
Area ini ditemukan di situs pereandian Singhasari, namun mestinya tidak di eandi induk yang berisi area-area pantheon ke-Siwa-an utama yang lazim. Ada dugaan area ini berasal dari bangunan yang dalam laporan-laporan terdahulu disebut sebagai "Candi B". Tulisan "eakraeakra" terdapat pada bagian atas sisi depan dari stela yang merupakan landasan belakang dari area ini. Tokoh ini digambarkan penuh dengan tanda-tanda demonik, yaitu: mata terbuka Iebar, mulut terbuka dan memperlihatkan deretan gigi dan taring, tubuhnya telanjang, namun mengenakan sejumlah perhiasan yang serba berupa deretan tengkorak atau kepala orang (pada jamang, subang, kalung panjang, dan kelat bahu), dan tempat berdirinya pun terdiri dari deretan tengkorak. Tokoh inisetengah duduk, bertumpu pada punggung seekor serigala. Ia bertangan empat. Dua atribut yang dipegang tangan belakang merujuk kepada tanda-tanda Siwa, berupa trisula dan damaru, tangan kiri depan menyangga kubah tengkorak yang diperlakukan sebagai wadah, dan tangan kanan depan membawa pisau / belati besar. Masih merupakan pertanyaan yan~ belum terjawab, apakah tokoh ini dimaksudkan sebagai salah satu perwujudan Siwa, dan apa pula kaitannya dengan area-area lain dalam situs kepurbakalaan yang sama. Area dengan eiri-eiri ikonografik seperti ini merupakan satu-satunya temuan yang dikenal hingga kini.
I
Batu; Singosari, Malang, Jawa Timur; Abad ke-13; No.inv. 1403-1681 I RMV.
Area yang berasal dar~ eandi induk Singhasari ini (bilik timur) memperlihatkan sejumlah eiri khusus, yaitu: duduk di atas deretan tengkorak, dan eara duduknya adalah mahtirajalrla, dengan lutut kanan yang diangkat. Ini merupakan satu-satunya eontoh area dewa ini dengan eara duduk demikian. Adapun tempat duduk yang berupa deretan tengkorak didapatkan pada beberapa area Gal}esa lain dari 'masa Jawa Timur', seperti yang dari situs pereandian Singhasari juga yang kini disimpan di Museum asional di Bangkok, dan sebuah area dari Jimbe yang kini ada di desa Bara, daerah Blitar. Ketiga area itu juga sebagai subang dan hiasan mahkota. Area eandi Singhasari ini membawa mangkuk ditandai dengan tengkorak kubah tengkorak di kedua tangan depannya, sedangkan tangan belakang membawa kapak di kanan dan tasbih di kiri (suatu penempatan yang terbalik jika dibandingkan dengan kebanyakan area dew a ini di Jaw a Tengah). Sifat-sifat 'dahsyat' itu mungkin merujuk pada tugas khusus dewa ini untuk menaklukkan musuh dewa-dewa, seperti dieeritakan dalam kakawin Smaradahana.
P. 64 em; L. 30 em;
Awal abad ke-13; No. inv. 324 e I MNI.
Nandi adalah nama lembu jantan
putih berekor hitam yang menjadi wahana (kendaraan) dewa Siwa. Nandi melambangkan kewajiban keagamaan dan moral, keadilan dan hukum (dharma). Nandi juga menggambarkan kekuatan dan sifat jan tan serta aspek kesuburan dew a Siwa. Nandi ini berukuran keeil dibandingkan nandi lain yang juga ditemukan di pereandian Singasari. Hiasan yang digunakannya juga lebih sederhana dibandingkan dengan nandi yang lebih besar.
Area Nandi
Batu; Singosari, Malang, Jawa Timur;
T. 126; L. 81; P. 196 em; Abad ke-13; No. inv. 324 d I MNI. Nandi ini berbaring dengan kaki depan dilipat ke belakang, di atas lapik berbentuk oval, berhiaskan pola daun. Nandi yang merupakan wahana Siwa ini digambarkan sangat indah, memakai perhiasan raya, berupa kalung dengan bandul berbentuk genta, dan memakai pelana di punggungnya dengan hiasan bunga padma mekar. Nandi ini merupakan eontoh gaya kesenian masa Singhqsari.
Yoni
Batu; Singosari, Malang, Jawa Timur;
T. 27 em; P. 32,5 em; L. 32 em; Abad ke-13; No. inv. 363 a (3549) I MNI. Yoni merupakan lapik untuk menenpatkan lingga. Yoni ini berbentuk kubus, memiliki eerat pada satu sisinya. Cerat ini berfungsi untuk mengalirkan air yang disiramkan ke atas lingga. Pada umumnya, di dalam suatu eandi, eerat ini diarahkan ke utara.
P rajitaparamita
Batu; Singosari, Malang, Jawa Timur;
T. 126 em; Abad ke-13;
o. inv. 1403 (XI 1587) I M I.
Prajnaparamita adalah Dewi Kebijaksanaan Utama dalam pantheon Budhis. Area dari pereandian Singasari ini merupakan area terindah dari pereandian Singasari, mungkin terindah yang pernah D. Monnerau, seorang residen Malang pada awal abad ke-19, mungkin ditemukan di Indonesia, tidak hanya karena keindahan pahatannya tetapi juga kondisinya yang utuh. yang pertama kali menyebut area ini sebagai "Puteri Dedes" dan menyebut reruntuhan eandi tempat ditemukannya area tersebu t sebagai "eungkup Putri". Nama Ken Dedes tetap melekat pada area ini meskipun tidak terbukti kaitannya dengan tokoh Ken Dedes, ratu yang menurunkan raja-raja Singh asari. Pada tahun 1820 area Prajilaparamita ini diberikan kepada Prof.
C.G.C. Reinward dan pad a tahun 1822 dibawa ke Be Ianda dan kemudian disimpan di Rijksmuseum voor Volkenkunde, lei den. Pada tahun 1978, dalam rangka program kerjasama kebudayaan Indonesia-Belanda, area ini dikembalikan kepada negara Republik Indonesia, dan disimpan di Museum Nasional. Dewi ini duduk bersila di a tas padmasana, sikap tangannya dalam dharmaeakra mudra mengajarkan "kebenaran" dalam agama Budh a. Terdapat tangkai teratai mulai dari samping belakang pahanya, tangkainya yang panjang melingkari Jengan kirinya dan bunganya yang setengah mekar muneul di atas bahu kirinya. Di atas bunga terse but terdapat pustaka, kropak yang berisikan kebijaksanaan utama. Perhiasannya yang raya, pahatan wajahnya yang halus membuat area ini tampak sangat anggun.
I MNI.
Biasanya genta binatang yang berukuran lebih besar (tinggi ±1.5-20 em) digantungkan di leher sapi, kerbau, kuda, kambing. Namun genta ini yang berukuran kecil, mungkin ge.1ta ini untuk digantungkan di leher binatang yang berukuran keeil seperti binatang peliharaan. Genta berbentuk kepala manusia, sepertinya seorang wanita karena rambutnya digelung. Berhidung dan bertelinga besar, rah ang kanannya telah rusak. ·
B. Koleksi dari Borobudur ~~~ulaf!lfJ J.vi 'J()a.Jtdiaii datiL rJUuulwut @wliliMllt~ Borobudur adalah monumen budhis terbesar di Indonesia, merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan dijadikan warisan dunia (world heritage) sej ak tahun 1991. Borobudur dibangun di atas sebuah bukit yang terletak di sebelah utara Bukit Menoreh, dikelilingi pegunungan dan gunung berapi. Di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, di sebelah timur laut G unung Sumbing dan di belakang Sumbing terdapat Gunung Sind oro, Gunung Prahu dan Pegunungan Oieng. Borobudur adalah sebuah stupa dengan teras berundak, tingginya 31,5 m dan lebar sisnya 113 m, struktur bangunannya mempunyai 10 teras, yang terdiri dari 6 teras berdenah bujursangkar dan 4 teras berdenah lingkaran. Pada teras berdenah bujursangkar terdapat 4 tingkatan lorong yang masing-masing dikelilingi oleh pagar langkan. Baik pagar langkan maupun dinding lorong dihias dengan relief eerita dan 1212 panel relief pengisi bidang. Relief eerita menggambarkan Lalitawistara (riwayat kehidupan Siddharta Gautama sampai menjadi Buddha), dan eerita-eerita agama Budha, yaitu Jataka, Awadana, Gandavyuha, dan Bhadraeari. Relief eerita juga dipahatkan pada kaki tertutup, yaitu eerita dari naskah Mahakarmawibhangga. Relief pengisi bidang kebanyakan menggambarkan makhluk-mahkluk khayangan, seperti apsara, widyahara, dan gandharwa. Mereka ini adalah para penari, penyanyi, dan pemain musik di kahyangan. Oalam kosmologi budhis, alam semesta ini mempunyai 3 wilayah atau lingkarandunia, yaituKamadhatu (dunia yangpenuh keinginan / nafsu), Rupadhatu (dunia yang mempunyai bentuk) dan Arupadhatu (dunia yang tidak mempunyai bentuk). Penghuni Rupadhatu masih mempunyai raga halus, tanpa mempunyai nafsu, selalu bermeditasi ada pun penghuni Arupadhatu adalah mereka yang bahkan tidak memiliki lagi raga halus, mereka menyebar di wilayah ini sesuai dengan tingkatan meditasi mereka yang sudah sangat tinggi. Borobudur oleh para ahli dianggap sebagai replika kosmos menurut kosmologi budhis tersebut, sehingga ke-10 tingkat teras dari bawah: kaki tertutup melambangkan Kamadhatu, 4 lorong dengan relief eerita menggambarkan Rupadhatu dan teras berdenah lingkaran dan stupa induk melambangkan Arupadhatu.
relung-relung yang terdapat sebagian atas pagar langkan terdapat area Buddha. Area-area Buddha tersebut berbeda pada masing-masing arah mata angin, sesuai dengan Buddha Tathagata yang menguasai mata angin tertentu. Pada sisi timur terdapat area Buddha Aksobhya, di sisi selatan terdapat Buddha Ratnasambhawa, disisi barat terdapat Buddha Amitabha, dan pad a sisi utara terdapat Buddha Amoghasiddhi. Pada pagar langkar tingkat ke lima hanya terdapat satu jenis Buddha yaitu Wairoeana. Dengan demikian total keseluruhan area Buddha di relung adalah 432 buah. Ditambah dengan area Buddha yang ada di dalam stupa yang b rlubang-lubang sebanyak 72 buah dan sebuah area Buddha yang belum selesai yang berasal dari stupa induk, maka jumlah <;eluruh area Buddha di Borobudur adalah 505 buah. Dalam pameran ini ditampilkan sebuah area Buddha Amitabha yang berasal dari sisi barat eandi Borobudur, area Buddha yang belum selesai yang menurut eatatan lama berasal dari stupa induk, benda-benda lain dari stupa induk {area, keris, talam), dan benda-benda yang ditandai di halaman eandi, yaitu genta perunggu, stu pika dan tablet tanah liat.
Area Dhyani Buddha Amitabha
Batu; Borobudur, Magelang, Jaw a Tengah;
T. 106 em; L. 102 em; Abad ke-9;
o. inv. 226 I MNI.
Amitabha adalah salah satu Tathagata atau Dhyani Buddha yang menguasai arah mata angin sebelah barat. Duduk bersila di atas lapik teratai ganda bentuk lonjong. Sikap tangannya bersemadhi (dhyanamudra). Sesuai dengan arah mata angin yang dikuasainya, maka Budha Amitabha diletakkan di sisi barat pada eandi Borobudur.
Area Buddha
Batu; Borobudur, Magelang, Jawa Tengah; Abad ke-9; No. inv.-/ Balai Konservasi Borobudur Ada dua pendapat mengenai "unfinished" Buddha ini, yang pertama adalah Buddha yang memang tidak diselesaikan oleh pemahatnya, dan yang kedua adalah kegagalan sang pemahat dalam membuat sebuah area Buddha. Hal ini dikarenakan area tersebut bentuknya tidak proporsional apabila dibandingkan dengan area Buddha lainnya.
30,5 em; D. 33 em; Abad ke-9; No. inv. 7975 I MNI.
Genta yang berasal dari halaman sebelah barat eandi Borobudur ini ditemukan pada tahun 1951, di antara reruntuhan fondasi bangunan, mungkin pendopo. Diduga genta ini dulu dipasang di pendopo tersebut yang dulu diperuntukkan bagi para pendeta atau para peziarah yang datang ke eandi Borobudur.
Stu pika
Tanah liat; Borobudur, Magelang, Jawa Tengah;
T.12 em; Abad ke-9; No. inv. 8311 e / MNI Stupika adalah miniatur stupa, dibuat dari tanah liat. Stupika Borobudur tidak dibakar. Ditemukan dalam jumlah besar pada tahun 1974, di sisi barat daya halaman eandi, bersama-sama dengan tablet tanah liat berelief Buddha a tau Bodhisattwa. Stupika merupakan persembahan seorang umat kepada Sang Buddha, untuk
mendapatkan pahala. Mempersembahkan stupika yang mengandung mantra budhis bisa diangap sebagai mempersembahkan permata yang langka.
C. Koleksi dari Muteran
rJ)mditu .12.. Jekeuvleet<
Kebijakan pemerintah Hindia Belanda untuk membuka tanah seluas-luasnya untuk lahan pertanian, pembangunan jalan, jembatan, jalur kereta api, pengairan dan sebagainya seeara tidak langsung memuneulkan temuan-temuan yang tidak disengaja. Pada tahun 1881, beberapa orang petani di Desa Muteran, Keresidenan Surabaya, Jawa Timur (kini masuk dalam wilayah Keeamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur), seeara tidak terduga menemukan wadah logam besar berisi berbagai jenis benda dari emas dan perak saat sedang menggarap lahan pertanian mereka. Pada tanggal4 Oktober 1881, museum Bataviaaseh Genootsehap sekarang Museum Nasional Jakarta, diberi tanggungjawab untuk menyimpan 27 benda purbakala temuan dari Desa Muteran. Sebagian temuan Muteran lain yang sama
Aksobhya), hiasan dada, tutup kepala, tusuk konde, kalung, kelat bahu, ikat pinggang, eermin, pinggan, gelang kaki, penutup sarung keris dan lempengan-lempengan emas. Temuan Desa M u ter anini sering diperbandingkan dengan temuan spektakuler berupa benda-benda dari emas di Desa Wonoboyo, namun dari segi kualitas dan estetika, temuan Desa M u teran dianggap kurang bernilai jika dibandingkan dengan temuan Wonoboyo. Berdasarkan lokasi penemuannya diduga temuan Muteran ini berasal dari masa raja Sindok hingga masa Majapahit, sekitar abad ke-10- ke-14 Masehi.
A rea Kuwera
Emas dan Perak; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 8,5 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.9 (552 a / 2997) I MNI Duduk di atas bantalan bunga teratai ganda yang terletak di atas tatakan segi empat berundak-undak. Kaki kirinya diletakkan di atas bantalan teratai, sementara itu kaki kanannya dibiarkan menjuntai ke bawah. Tangan kanan bersikap varamudra di atas lutu t. Tangan kirinya menggenggam sebuah kantong uang di atas paha. Memiliki prabhamandala ganda. Prabhamandala yang pertama berhias motif ikal, menempel pada bantalan teratai dan terbuat dari perak, di atasnya terdapat sebuah payung (ehattra) yang juga terbuat dari perak. Prabhamandala yang kedua lonjong pipih, menempel di belakang pundak, dan terbuat dari emas.
A rea Yak~i
Emas dan Perunggu; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timtu;
T. 9 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.49 (552 b I 2998) I MNI Duduk dengan sikap padmasana di atas bantalan bunga teratai ganda yang terletak di atas tatakan persegi em pat. Tangan kanan bersikap varamudra di atas lutut, tangan kiri menggenggam sebuah bola keeil. Terdapat prabhamandala berbentuk oval dihiasi motif ikal yang menempel pada bantalan teratai, dan di atasnya terdapat sebuah payung (ehattra).
I MNl
D uduk den gan sikap padmasan a di atas ban talan bunga teratai berkelopak ganda yang terletak di atas tatakan segi em pat berundak-undak. Kedua tangan bersikap dharmaeakramudra (memutar rod a dharma), berambut ikal agak besar dan memiliki usnisa. Pada bagian belakang badan terdapat prabhamandala dan sebuah ehattra yang terbuat dari perak. Pada p undak belakang area juga terdapat prabhamandala berbentuk pipih lonjong dan terbuat dari emas. Wairoeana menguasai mata angin di pusat.
Area Dhyani Buddha Wairoeana
Em as dan perak; Desa M uteran, Trowul an, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 10 em; Akhi r abad ke-10; No. in v. 1403-2780 I RMV D uduk den gan sikap p admasana d i a tas ban talan bunga teratai berkelop ak ganda yang terletak di atas ta takan segi em pat berundak-undak. Kedua tangan bersikap d harmaeakram udra (mem utar roda dharm a), berambut ikal agak besar dan mem iliki usnisa. P ad a bagian belakang bad an terdap at prabhamandala dan sebuah ehattra yang terbuat dari perak. Pad a pundak belakang area juga terdapat prabhamandala berbentuk pipih lonjong dan terbuat dari emas. Wairoeana menguasai m ata angin d i pusat.
Area Dhyani Buddha Wairoeana
Emas dan perak; Desa M uteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 9,4 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1403-2 781 I RMV Duduk dengan sikap pad masan a di atas ban talan bunga teratai berkelop ak ganda yang terletak di atas tatakan segi em pat berundak-undak. Kedua ta ngan bersikap dharmaeakramudra (memutar roda dharma), berambut ikal agak besar dan memili ki usnisa. Pada bagian belakang bad an terd apat prabhamandala dan sebuah ehattra yang terbuat d ari perak. Pada pundak belakang area ju ga terdapat prabham andala berbentuk p ipih lonjong d an terbuat dari em as. Wairoeana mengu asai mata angin di pusat.
I RMV
Duduk dengan sikap padmasana di atas bantalan bunga teratai berkelopak ganda yang terletak di atas tatakan segi empat berundak-undak. Kedua tangan bersikap dharmaeakramudra (memutar roda dharma), berambut ikal agak besar dan memiliki usnisa. Pada bagian belakang badan terdapat prabhamandala dan sebuah ehattra yang terbuat dari perak. Pada pundak belakang area juga terdapat prabhamandala berbentuk pipih lonjong dan terbuat dari emas. Wairoeana menguasai mata angin di pusat.
Cermin Tanpa Pegangan
Em as; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
D. 15 em; T. 3,6 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.119 (1126) I M Berbentuk bulat pipih berlapis emas yang dihiasi dengan motif sulur-suluran, rantai dan manik-manik, bagian t pi membulat. Pad a bagian tengah bidang eermin terdapat peneu, yaitu hiasan menonjol berbentuk membulat setengah lingkaran. Cermin memiliki fungsi praktis sebagai alat berhias dan fungsi religius sebagai benda upaeara.
Cermin Tanpa Pegangan
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
D. 15 em; T. 3,6 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1403-2792 I RMV Berbentuk bulat pipih berlapis emas yang dihiasi dengan motif sulur-suluran, rantai dan manik-manik, bagian tepi membulat. Pada bagian tengah bidang eermin terdapat peneu, yaitu hiasan menonjol berbentuk membulat setengah lingkaran. Cermin memiliki fungsi praktis sebagai alat berhias dan fungsi religius sebagai benda upaeara.
Perunggu; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Tirnur;
D. 35 ern; T. 36; Akhir abad ke-10-13; No. inv. 1243 I MNI Wadah ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian tutup dan bagian badan. Seeara keseluruhan wadah ini berbentuk silinder. Antara bagian tutup dan badan disarnbung dengan pengunei di sisi kanan dan kiri. Wadah ini oleh rnasyarakat J awa dikenal dengan sebutan 'dandang' yang digunakan untuk rnengukus nasi.
Kalung
Em as; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Tirnur;
P. 10 ern; Akhir abad ke-10; No. inv. 1486 I MNI
Terdiri dari 5 buah bandul. Bandul yang letaknya di tengah berbeda bentuknya dari ke-4 bandul lainnya, yaitu berbentuk seperti daun palem rnuda, panjangnya 7 ern, sedangkan ke-4 bandul yang lain berbentuk seperti tangkai buah jambu mede, panjangnya 4,8 ern. Pada setiap bandul terdapat bagian yang berbentuk silinder dan berlubang untuk tali.
Kalung
Ernas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Tirnur;
P. 7 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1403-2785 I RMV
Terdiri dari 4 buah bandul kalung yang
berbentuk seperti tangkai buah jarnbu rnede,
panjangnya 4,8 ern. Pada setiap bandul terdapat bagian yang berbentuk silinder dan berlubang untuk tali.
10,5 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1495 I MNI
Merupakan perhiasan yang berbentuk helai daun berhias motif untaian manik-manik di pinggirannya, dan motif sulur-suluran di bagian tengah.
Bandul Kalung
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
P. 13 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1403-2784 I RMV Merupakan perhiasan yang berbentuk 5 helai daun berhias motif untaian manik-manik di pinggirannya, dan motif sulur-suluran di bagian tengah.
Ikat Pinggang
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
P. 7/57 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.1036 (1524) I MNI Ikat pinggang ini terdiri dari 8 buah jajaran genjang yang terpisah. Bagian tepinya dihias dengan motiflidah api kemudian bagian dalamnya hiasan motif untaian ratna dan ikal. Pada bagian tengah dari setiap jajaran genjang terdapat 2 buah batu pasangan yang mengelilingi sebuah batu persegi. Panjang setiap jajaran genjang adalah 7 em, dan panjang ikat pinggang seeara keseluruhan adalah 57 em.
Ikat Pinggang
Em as; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
P. 4,5-6 em; Akhir abad ke-10; No. inv. 1403-2786 I RMV Ikat pinggang ini terdiri dari 11 buah lempengan berbentuk persegi.
ke-10-13; No. inv. A.955 (1262) I MNI Gelang kaki wadah berbentuk lingkaran yang berongga, di dalamnya berisi tanah liat. Terdapat hiasan timbul di bagian yang berongga itu berupa bundaran-bundaran yang berjumlah 30 buah. Tebalnya antara 1,5 -1,7 em.
ke-10-13; No. inv. 1403-2789 I RMV
Gelang kaki wadah berbentuk lingkaran yang berongga, di dalamnya berisi tanah liat. Terdapat hiasan timbul di bagian yang berongga itu berupa bundaran-bundaran yang berjumlah 30 buah.
Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
D. 9,6 em; Akhir abad ke-10-13; No. inv. A.960 (1263) I MNI. Gelang kaki ini berbentuk lingkaran, memiliki lubang-lubang besar sebanyak 16 buah yang diapit 16 buah lubang lainnya yang lebih keeil. Fungsi lubang-lubang ini masih belum diketahui dengan pasti.
Gelang Kaki Wadah
Em as; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
D. 7,7- 9,5 em; Akhir abad ke-10-13;
o. inv. 1403-2790 I RMV
Gelang kaki ini berbentuk lingkaran, memiliki lubang-lubang besar sebanyak 16 buah yang diapit 16 buah lubang lainnya yang lebih kecil. Fungsi lubang-lubang ini masih belum diketahui dengan pasti.
I MNI
Firing bulat ini dibuat dengan teknik tempa dan solder. Bagian kaki, meskipun kakinya sudah hilang, ada bulatan bekas menempelnya kaki tersebut. Di antaranya terlihat ada tulisan berbahasa dan beraksara Jawa Kuna yaitu: bhattrra kaki l~t.abhaya brat dhtr 11 brat nin mas su lmtr 15, yang menunjukkan berat benda tersebut.
Kelat Bahu
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 9,8 em; P. 21,2 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.964 (1482) I MNI
Keyura atau kelat bahu berfungsi sebagai perhiasan yang digunakan seeara melingkar
pada bahu. Kelat bahu ini dibuat dengan
menggunakan teknik tempa, dan didekorasi dengan menggunakan teknik repouse, yaitu pembuatan dekorasi dengan penempaan dari sisi belakang sehingga menimbulkan hiasan seperti relief. Kelat bahu umumnya dikenakan pada lengan oleh keluarga raja atau bangsawan.
Kelat Bahu
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 15,5 em; P. 21,5 em; Akhir abad ke-10; No. inv. A.965 (1482) I MNI Keyura atau kelat bahu berfungsi sebagai perhiasan yang digunakan seeara melingkar pada bahu. Kelat bahu ini dibuat dengan menggunakan teknik tempa, dan didekorasi dengan menggunakan teknik repouse, yaitu pembuatan dekorasi dengan penempaan dari sisi belakang sehingga menimbulkan hiasan seperti relief. Kelat bahu umumnya dikenakan pada lengan oleh keluarga raja atau bangsawan.
ke-10; No. inv. A 966 (1482) I MNI
Keyura atau kelat bahu berfungsi sebagai perhiasan yang digunakan seeara melingkar pada bahu. Kelat bahu ini dibuat dengan menggunakan teknik tempa, dan didekorasi dengan menggunakan teknik repouse, yaitu pembuatan dekorasi dengan penempaan dari sisi belakang sehingga menimbulkan hiasan seperti relief. Kelat bahu umumnya dikenakan pada lengan oleh keluarga raja atau bangsawan.
Penutup Kepala
Emas dan batu kristal; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 16,2 em; A khir abad ke-10; No.inv. 1403-2783 I RMV
Fragmen Kelopak Bunga Teratai
Emas; Desa Muteran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
T. 7 em; Abad ke-10; No.i1w. 1403-2787a-e I RMV Tiga fragmen dari lingkaran berbentuk kelopak bunga teratai
Lembaran Berbentuk Daun
Emas; Desa M u teran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur;
P. 7 em, L. 2,5 em; Abad ke-10; No.inv. 1403-2788a-e I RMV
Puger Wetan
dnlan Jllav.dimtla
Sekelompok area Buddha emas dan perak ditemukan di desa Pu ger Wetan, keeamatan Puger, kabupaten Jember, Jawa Timur. Penemuan area-area tersebut merupakan hasil ekskavasi tahw1 1834. Wilayah ini terletak di pesisir pantai selatan Jawa Timur, yaitu 113° -114° BT dan 8° -9° LS. Pada saat ini wilayah tersebut merupakan lahan pertanian penduduk setempat dan tidak ditemukan sisa-sisa peninggalan arkeologis yang bersifat monumental. Namun, di sekitar keeamatan Gumuk Mas yang berbatasan langsung dengan keeamatan Puger ditemukan beberapa peninggalan arkeologis antara lain eandi Gumuk Mas yang bersifat budhis (tinggal struktur pondasi dari bata) dan peninggalan dari masa Prasejarah. Di Kotablater, kabupaten Jember yang berjarak sekitar 10 mil dari keeamatan Pu ger, ditemukan area Buddha perunggu yang sekarang menjadi koleksi Museum Nasional. Museum Nasional menyimpan beberapa area Buddha yang terbuat dari emas dan perak. Area-area tersebut merupakan area Tatagatha Buddha, Bodhisattwa, dan area-area dewa serta dewi. Beberapa area telah musnah akibat kebakaran p ad a pameran besar di Paris pad a tahun 1931. Selain di Museum Nasional Jakarta, Museum Nasional Etnologi di Leiden, Belan da juga menyimpan 5 area Buddha emas yang berasal dari desa Puger Wetan. Kelompok area Buddha ini menampilkan gaya yang memiliki kemiripan satu sam a lain, dalam pembuatam1ya memperoleh inspirasi dari Bih ar dan Bengal di India Timur Laut. Hal itu dapat diamati dari gayanya yang memegang dan menggoyangkan ujung jubahnya, dengan rambut yang relatif ikal, dan membentuk usnisa. Beberapa area menunjukkan perbedaan hubungan gaya dengan India Bar at dan Tenggara, sebagaimana ditw1jukkan dengan waj ah yang lebih Iebar, batas rambut di kepala yang tegas, badan yang ramping. Area-area tersebut kemungkinan berasal dari periode sekitar abad ke-8- 9 Masehi.
A rea Buddha
Emas dan perunggu;
Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 10,5 em; Abad ke-8-9; No. inv. A 14 (598) I MNI Berdiri di atas bantalan teratai berbentuk bundar. Memiliki prabhamandala ganda. Prabhamandala yang pertama sudah patah, terbuat dari perunggu, menempel pada bantalan teratai, dan dihiasi jvala (lidah api). Prabhamandala yang kedua terbuat dari em as, berbentuk eincin, menempel di belakang pundak area. Mengenakan jubah yang disampirkan di atas pundak sampai ke siku, dan memakai upawita. Rambut ikal berukuran keeil- keeil dan memiliki u~Qisa. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri memegang benda yang belum diketahui.
Akeobhya
Perak; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 6 em; Abad ke-8-9; No. inv. A 54 (577) I MNI Duduk di atas banta] an teratai ganda di atas tatakan segi em pat berundak-undak, kedua kaki bersila dengan sikap padm<:;:sana. Rambut ikal keeil dan memiliki usnisa, daun telinga panjang. Tangan kiri bersikap bhumisparsamudra, tangan kanan bersikap varamudra di dalam pangkuan. Jubah menutup pundak kiri sampai pergelangan tangan kiri. Area Padmapani Perak; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 7,9 em; Abad ke-8-9; No. inv. A 40 (630) I MNI Berdiri, tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri memegang padma. Mengenakan kain dari pinggang hingga atas mata kaki, juga memakai perhiasan, memakai mahkota yang berbentuk kir¥tamakuta dengan Arnitabha di atasnya, daun telinga panjang. Area Boddhisattwa Perak; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 6 em; Abad ke-8-9; No.inv. A 59 (622) I MNI Duduk di atas bantalan teratai ganda berbentuk bundar, kaki kanan terjuntai ke bawah dan menginjak teratai ganda berbentuk bundar; kaki kiri di atas tempat duduk di depan perut. Mengenakan mahkota berbentuk kirita-makuta dengan Amitabha di tasanya. Daun telinga panjang. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri memegang 2 tangkai teratai yang telah patah. Mengenakan kain panjang sampai di atas mata kaki dan perhiasan. Area Dewi (Sakti) Perak; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 8,4 em; Abad ke-8-9; No. inv. A 61 (642) I MNI Berdiri, namun bagian kaki dan lapik telah hilang. Mengenakan pakaian dan perhiasan, serta mahkota yang berbentuk jatamakuta. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri memegang tangkai bunga teratai panjang yang patah di tengah dan kuntumnya hilang.
I MNI
Berdiri, namun bagian kaki dan lapiknya telah hilang. Mengenakan kain dari pinggang hingga atas mata kaki dan perhiasan, serta mahkota yang berbentuk kirrtamakuta. Pada bagian belakang badan terdapat prabhamandala berbentuk einein lonjong. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri bersikap vitarkamudra.
Area Dewa
Perak; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 8,3 em; Abad ke-8-9; No. inv. A 69 (653) I MNI Berdiri dengan pinggul mematah ke kanan (bhanga). Mengenakan kain dari pinggang hingga mata kaki dan perhiasan, serta mahkota yang berbentuk kirrtamakuta. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri bersikap abhayamudra.
Area Buddha
Perunggu; Desa Puger Wetan, Puger, Jember, Jawa Timur;
T. 15,3 em; Abad ke-8-9; No. inv. 601 I MNI Berdiri di atas bantalan teratai ganda berbentuk bundar yang terletak di atas tatakan empat persegi panjang berundak-undak. Memiliki prabhamandala ganda. Prabhamandala yang pertama menempel pad bantalan teratai, dihiasi motif lidah api (prabhavali). Prabhamandala yang kedua terletak di belakang pundak, berbentuk einein. Tangan kanan bersikap witarkamudra.
'dutau JJ/avdiaua
Sekelornpok area Buddha ernas ditemukan di Desa Cornbre, sekitar lereng Gunung Wilis, Tulungagung, Jaw a Timur, lokasinya sekarang kira-kira di sekitar hutan (a las) Jombret di Dusun Turi (Penampihan), Desa Geger, Keearnatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Tirnur. Wilayah ini merupakan bekas perkebunan teh yang saat ini telah menjadi lahan garapan penduduk setempat. Pada sekitar radius 1 km dari alas Jombret ditemukan beberapa peninggalan arkeologis, yaitu eandi Penarnpihan yang rnerupakan punden berundak-undak bersusun 3 teras, prasasti yang berangka tahun 898 dan 1460, area Buddha dari batu berangka tahun 1194, dan area paneuran. Museum Nasional Jakarta menyimpan 6 area Buddha emas yang berasal dari desa Combre. Umumnya area-area tersebut digambarkan berdiri di atas lapik yang berbentuk bunga padma, berarnbut ikal terdapat tonjolan di atas kepala (usnisa), pada dahi terdapat urna, rnemiliki rnuka yang lebar, dan telinga panjang. mengenakan jubah yang menutupi bahu kiri, pada bagian belakang terdapat prabhamandala. Area ditarnpilkan dengan sikap tangan abhaya mudra dan warn mudra. Selain di Museum Nasional Jakarta, Rijksmuseum voor Volkellkunde di Leiden, Belanda juga rnenyimpan 5 area Buddha emas yang berasal dari desa Combre. Berdasarkan gayanya kelompok area Buddha ernas dari desa Combre diperkirakan berasal dari a bad ke-10 -11 Masehi. Gay a pahatannya, bentuk wajahnya, bentuk asana-nya rnenunjukkan bahwa area ini mungkin berasal dari luar Indonesia.
Area Buddha
Em as; Desa Combre, Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur;
T. 7,5 em; Abad ke-11-12; No. inv. A 18 (597 e/ 4634) I MNI Berdiri, usnisa keeil, rambut ikal agak keeil. Tangan kanan bersikap vitarkamudra, tangan kiri menggenggam ujung jubah. Di belakang punggung terdapat tonjolan bekas menempatkan prabhamandala yang telah hilang. Memakai jubah yang menutupi bahu kiri ke bawah sampai di atas mata kaki, dan sebagian jubah dibiarkan menjuntai di lengan kiri.
I MNI Berdiri di atas b antalan bunga teratai bundar yang melebar di bagian bawah d an berongga. Tang an kanan bersikap abhaya-mudra, tang an kiri mem egang ujung jubah yang menutup bad an d ari pundak kiri d an melebar di bagian bawah. Berambut ikal agak besar dan memiliki usnisa, p ada dah i terdapat urna, dan telinga panjang. Pada bagian punggung terdapat einein untuk melekatkan prabhtrmandala yang telah hilang.
Area Buddha
Em as; Desa Cambre, Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur;
T. 6, 7 em; Abad ke-11 -12; No. inv. A 20 (596 el 4630) / MNI. Berdiri di atas tatakan bunga teratai ganda berbentuk bundar dan berongga. Tangan kanan bersikap waramudra, tangan kiri memegang ujung jubah yang menutupi dari atas bahu hingga ke sikunya sebelah kiri. Pad a dahi terdapat urna keeil. Siraseakra berbentuk lingkaran berhias lidah api (prabhavali).
Area Buddha
Em as; Desa Cambre, Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur;
T. 8, 2 em; Abad ke-11 -12; No. inv. A 25 (597 b I 4633) I MNI Berdiri den gan sikap " p atah an" (bhal'lga) pada pinggang, tangan kiri mem egang uj ung jubah (sal'lhati), tangan kanan bersikap waramudra. Berambut ikal agak besar dengan USJ)isa besar, memiliki urna keeil di dahi, daun telinga lebar, jubah menutupi pundak kiri, pundak kanan terbuka.
KOLEKSI ETNOGRAFI
A. SUMATERA
f/)iel.el< lei< ~ dan 'J()aun di.eo.nu
1. SUMATERA UTARA
Van Daalen dan Snouk Hurgronje di Gayo dan Alas Pada akhir abad ke-19, rakyat Aceh melawan dengan gigih pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1901 dan 1904 Letnal Kolonel G.C.E. van Daalen (1863-1930) menjadi panglima terpenting dalam memimpin ekspedisi militer ke Gayo dan Alas dan akhirnya pemberontakan dapat ditumpas tetapi telah memakan korban lebih dari 3000 orang. Van Daalen juga sangat tertarik pad a bahasa dan orang Aceh. Selama ekspedisi militer itu ia dan bawahannya mengumpulkan ratusan benda etnograii,
a.l. perhiasan berharga, pakaian dan senjata ritual yang semuanya diserahkan kepada Bataviaasche Genootschap. Pada saat itu ketua dari Bataviaasche Genootschap adalah Chr. Snouck Hurgronje (1857-1936). Cendekiawan ini adalah seorang ahli agama Islam, juga terlibat dalam peperangan di Aceh sebagai penasehat pemerintah Belanda. Ia juga mengumpulkan benda-benda untuk museum dari Bataviaasche Genootschap dan sebagian benda-benda yang diperoleh dari Van Daalen dikirim ke museum di Leiden bersamaan dengan dokumentasi etnografi yang cermat yang dibuat oleh Van Daalen.
2. SUMATERA TENGAH
Ekspedisi Sumatera Tengah Pada tahun 1873 Lembaga Geografi Belanda (Dutch Geographical Society) didirikan. Ketua pertamanya ialahProf. P.J. Veth menjadi pencetus ekspedisi Smatera Tengah yang didanai oelh perusahaan-perusahaan dagang. Di samping kepentingan ekonomis, keingintahuan juga memainkan peran penting, karena salah satu tujuannya adalah mengumpulkan bahan mengenai etnografi. Salah satu pemimpin ekspedisi ialah A.L. Van Hasselt (1848-1909) adalah seorang pegawai negeri di Sumatera. Selama ekspedisi ia terutama mengurnpulkan benda-benda untuk museum di Leiden. Walaupun ekspedisi ini tidak didanai oelh pemerintah dan semua anggotanya tidak membawa senjata, Van Hasselt ternyata tidak dapat melakukan apa yang diharapkan karena mereka dicegah untuk meneruskan perjalanan oleh rakyat setempat.
Oscar Helfrich Ketika Oscar Helfrich bertugas sebagai pegawai negeri (186 0-1958) ia sangat tertarik pada adapt-istiadat, tradisi dan bahasa rakyat setempat dimana ia bekerja. Pertama kali ia ditempatkan di Bengkulu, dikemudian hari ia ditempatkan di Enggano dan Pasemah. Ia mengumpulkan berbagai benda etnografi yang kemudian dibagi antara museum-museum di Batavia dan Leiden. Dokumentasi mengenai benda-benda yang dikumpulkan sangat mendetil. Pada tahun 1906 ia menjadi residen pertama di Jambi.
| Perisai | Penutup Kemaluan |
|---|---|
| Ka yu, rotan, batok kelapa Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai | Gayo, Aceh, Sumatera |
| P. 115 em | No. Inv. 1429-359/RMV (RMV) |
| No. Inv. 79-1/RMV (RMV) (halaman | (Sehalaman penuh) |
| penuh, ujung ke bawah) Dikumpulkan oleh C.B.H.von Rosenberg | Dikumpulkan oleh C.G.E. van Daalen |
| Jas | |
| Patung Nenek Moyang | Gayo, Aceh, Sumatera P. 152 em |
| Nias | No. Inv.1468-381/RMV |
| Kayu, T. 23.5 em No. Inv. 695-5/RMV Dikumpulkan oleh C.H.H. von | Dikumpulkan oleh C.G.E. van Daalen |
| Rosenberg | Gelang Spiral Kuningan |
| Hiasan Dada | Gayo, Aceh, Sumatera No. Inv. 10193/MNI |
| Aceh, Sumatera P.69 em No. Inv. 1429-116 / RMV | Dikumpulkan oleh C.G.E.van Daalen |
| Dikumpulkan oleh C.G.E. van Daalen | Gelang |
| Perak | |
| Sabuk | Gayo, Aceh, Sumatera No. lnv. 11027 /MNI |
| Aceh, Sumatera | Dikumpulkan oleh C. G. E. van Daalen |
T.6cm
P. 69 em No. Inv. 1429-120/RMV Dikumpulkan oleh C.G.E. van Daalen
C.G.E. van Daalen
Pedang
Gelang
| Perak | Aeeh, Sumatera | |
|---|---|---|
| Gayo, Aeeh, Sumatera | No. Inv. 9159 / MNI | |
| No.lnv. 11045 / MNI | Berasal dari orang-orang yang gugur | |
| Dikumpulkan oleh C. G. E. van Daalen | Dikumpulkan oleh Dr. Snouek |
Hurgronje
Tempat Sirih
Daun pandan Alas, Aeeh, Sumatera
o. Inv.11300 / MNI
Dikumpulkan oleh C. G. E. van Daalen
| Jas Kecil | Tenunan |
|---|---|
| Katun dan serat | Katun, mika dan benang emas |
| Jambi | Mandailing, Sumatera |
| L. 137,5 em RMV 268-65 | L. 60 em |
RMV268-118 Ekspedisi Sumatera Tengah Ekspedisi Sumatera Tengah
| Sirih A tau Kotak Tembakau | Hiasan Perahu Kuno |
|---|---|
| Kuningan | Kayu dan kerang Nautilus |
| Mandailing, Sumatera | Enggano, Bengkulu, Sumatera |
| P. 18 em | P. 38 em |
| RMV 268-226 | RMV 820 - 76 b |
| Ekspedisi Sumatera Tengah | Dikumpulkan oleh 0. H elfrich |
B. JAWA
Hadiah-hadiah
Raja-raja dari kerajaan Jogyakarta dan Surakarta mengirimkan berbagai hadiah, antara lain senjata-senjata yang indah, kep ada para gubernur jenderal Belanda. Biasanya para gubernur tidak menyimpannya sendiri, tetapi hadiah -hadiah itu diteruskan ke m useum dari Bataviaasche Genootschap atau setelah mereka meninggal dijual kep ada museum di Leiden. Sultan H amengkub uwana VI dan Sultan Mangkunegara IV pernah memberikan hadiah kepad a Gubernur Jenderal P ahud (1856-1 860) d an G ubernur Jenderal Sloet van de Beele (1861- 1865).
Serrurier
Beberap a cendekiawan terkemuka mempunyai hubungan baik dengan museum-museum dan melakukan penelitian dengan menggunakan koleksi-koleksi museum di Leiden dan Batavia. Salah satu di antara mereka adalah L. Serrurier yang p ernah menj abat sebagai direktur Rijks Ethnografisch Museum dan kemudian menjadi kurator dari museum Bataviaasche Genootschap. Beliau telah menulis buku berju dul "Wayang Poerwa" (dihias dengan gambar-gambar indah dan diterbitkan pada tahun 1896) berdasarkan koleksi-koleksi wayang di museu m Leiden dan Batavia.
E. Jacobson
Beberapa waktu sebelum tahw11868 museum dari Bataviansche Genootschap menerima seperangkat topeng wayang dari E. Jacobson yang mempunyai p erusahaan dagang di Surabaya. Anak dari E. Jacobson, juga dikenal sebagai E. Jacobson menyukai musik. Ia membuat makalah ten tang industri gong di Semarang dan mengumpulkan benda- benda untuk koleksi museum d i Leiden.
J. E. Jasper dan Mas Pirngadi
Perhatian terhadap seni d an kerajinan Indonesia muncul lagi sekitar tahu n 1900 disebabkan oleh politik kolonial baru. J.E Jasp er, seorang pegawai negeri sipil (1874-
1945) yang kemudian menj adi gubernur Jogyakarta telah melakukan penelitian yang mendalam dari bidang-bidang tersebut. Ia juga menyelenggarakan berbagai pameran untuk mempromosikan kerajinan-kerajinan tradisional. Ia bekerjasam a dengan seorang pelukis Jawa yaitu Mas Pimgadi. Mereka berdua melakukan penelitian dan telah menghasilkan lima jilid buku yang
P. Rouffaer
Seperti Jasper, G.P. Rouffaer mempunyai minat besar terhadap kesenian dan kerajinan Indonesia. Ia menggunakan koleksi-koleksi dari museum di Leiden dan Batavia untuk menu lis buku mengenai penelitiannya di bidang batik.
Hadiah
Tombak kebesaran (Tombak ligan)
Besi, nikel, emas, kayu, permata Yogyakarta, Jawa Tengah
P. 207 em No. Inv. E 636 (1660a)/ MNI Mata tombak berbentuk kepala burung dengan paruh panjang, dinamakan ba11yrzk angrem, atau angsa mengeram. Antara tahun 1856 dan 1860 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Pahud, oleh Hamengkubuwono VI
Tombak kebesaran (Tombak ligan)
Besi, nikel, emas, kayu, permata Yogyakarta, Jawa Tengah
P. 206 em No. Inv. E 637 (1660b) / MNI Pangkal mata tombak berhias burung garuda bermahkota, ujung tombak keluar dari paruh garuda. Pola pamor pada mata tombak disebut pamor nziring. Antara tahun 1856 dan 1860 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Pahud, oleh Sultan Hamengkubuwono VI
a. Pedang pendek dalam sarung (Pedang luwuk) Besi, nikel. emas, perak, permata, kayu Surakarta, Jawa Tengah
P. 67,5 em No. Inv. E 632 (1671) / MNI Pedang hias dengan hulu emas. Cinein di pangkal hulu (selut) dihias berlian. Bilah pedang mempunyai pamor beras wutah, dan hiasan di bagian bawah terdapathiasan naga bermahkota dari emas, bertatahkan batu mulia yang juga menghias lidahnya. Hiasan emas pada hulu dan sarung keris yang terdiri dari motif bunga dan daun dibuat dengan teknik tempa. Antara tahun 1856 dan 1860 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Pahud oleh P.A.A. Mangkunegara IV
Emas, besi, nikel, kuningan, gading, berlian Surakarta, Jawa Tengah Panjang sarung: 30,5 em No. Inv. 982-1 / RMV Patrem biasanya dipakai oleh kaum perempuan. Bagian antara pegangan dan bilah keris keris terbuat dari emas bertatahkan berlian. Gagangnya terbuat dari gading, dihias dengan ukiran bunga dan daun. Pada sarungnya terdapat kait dari emas berbentuk kumbang. An tara tahun 1861 dan 1865 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Sloet van Beele, oleh Mangkunegara IV a dan b merupakan senjata hias, yang dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Ch. F. Pahud (1856-1 861) dan L.A.W.J. baron Sloet van Beele (1861 -1865) oleh Pangeran A dipati Arya Mangkunegara IV.
Keris dan Sarung Keris Emas, besi, nikel berlian Surakarta, Jawa Tengah
P. 46,7 em No. Inv. 1089-2 / RMV Bilah keris mempunyai tiga lekukan (Juk) dan pada kedua sisi terlihat kepala kala emas bermahkota. Sarung emas dihias dengan gambar burung merak dari email hijau bertatahkan berlian. Antara 1861 dan 1865 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Sloet van de Beele oleh P.A.A. Mangkunegara IV Serrurier Wayang Kulit, gunungan Kulit yang dilukis, tanduk Surakarta, Jawa Tengah
P. 91,5 em No. Inv. 1925 / MNI Sebelum dan sesudah pagelaran wayang di mulai, dan sebagai tanda rehat, tokoh wayang ditaneapkan pada sisi kiri dan kanan gunungan a tau kayonan (pohon). Pada atap bersayap dari bangunan yang diapit oleh dua penjaga, terlihat sebuah kolam dengan ikan, simbol sumber kehidupan. Dari sumber ini muneul pohon kehidupan, dengan burung dan kera pada dahannya dan dua ekor maean berhadapan di kiri dan kanan batang pohon. Di tengah pohon, terdapat kala bermata satu. Gunungan adalah simbol dari keseluruhan dan kesatuan alam semesta. Pada tahun 1871 dihadiahkan oleh P.A.A. Mangkunegara IV
RMV, folio 553
Gambar liB dari map gambar dari buku "Wajang Poerwa" oleh Lindor Serrurier, 1896. Episode dari lakon Abiyasa yang termasuk salah satu mi tos a tau legenda Jaw a tertua. Di dalam cerita ini, mahadewa Batara Guru (berdiri di atas lembu jantan Nandi, di gambar sebelah kiri depan) dan para dewa (dewa atau batara dari kiri ke kanan): Indra, Braluna, Wishnu, Surya, Basuki dan Bayu membantu tokoh utama Abiasa untuk mempertahankanhaknya atas tahta kerajaanAstina. Dalam suatu perkelahian, Semar pembantu setia Abiasa memohon pertolongan Batara Guru yang "diikuti oleh para dewa turun dari tahtanya di langit, untuk membantu mengatur di dunia". Mula- m ula ia memohon pertolongan dari Batara Yamadipati, penguasa dunia bawah, yang terlihat di sebelah kanan pada akhir prosesi para dewa.
Jacobson
Topeng Pen tul, Pembantu Panji Kayu, multi warna Jawa Tengah
P. 15,5 em No. Inv. 1772/MNI Dihadiahkan sebelum 1868 oleh Edw.Jacobson
Topeng Kiana Tujung Seta, lawan Pan ji Kayu, multi warna Jawa Tengah
P. 15 em
No. lnv. 1808 / MNI Dihadiahkan sebelum tahun 1868 oleh Edw. Jacobson
Topeng Kuda Narawangsa, istri Panji yang berubah menjadi pria Jawa Tengah Kayu, m ulti warna
P. 12,5 em No. ln v. 1809/MNI D ihadiahkan sebelum tahun 1868 oleh Edw. Jacobson
P. 15,5 em No. lnv. 1825 / MNI Dihadiahkan sebelum tahun 1868 oleh Edw. Jacobson Kelima topeng ini dipakai dalam teater topeng, dan ceritanya diambil dari lakon Kuda Narawangsa, dengan Panji sebagai tokoh utamanya.
Pekalongan, pantai utara pulau Jawa
Katun, prada. Gam bar batik di atas kain
P. 139 em No. Inv. 1575-2 / RMV Gambar bergaya wayang, menggambarkan dari epik Mahabharata. Tokoh paling kiri adalah Bima dengan pembantu-pembantunya atau para punakawan Semar, Petruk dan Nala gareng. Kain ini mungkin dimaksudkan sebagai taplak meja, diciptakan oleh Nona Haigh ton. Dibeli tahu n 1906 dari perusahaan Jacobson & Van den Berg & Co.
Pirngadi
Motif A nyaman, Poleng gambir saketi Carik bambu polos dan berwarna Singaparna, Jawa Barat
P. 29 em No. In v. 1647-515 / RMV Motif ini dianyam lurus. Motif wajik (poleng) dengan nama "seratus ribu (saketi) kotak sari gambir" merupakan salah satu motif anyaman yang dibuat untuk Jasper ketika ia meneliti anyaman. Dikumpulkan sebelum 1908 oleh J.E. Jasper Rouffaer Kain P enu tup Kepala Katun, prada Pamekasan, Madura
P. 93 em No. lnv. 370-604/RMV Motif burung berwarna eoklat, tanaman, dedaunan dan bunga pada Jatar putih, dibuat melalui proses batik. Bagian-bagian yang terlihat setelah kain penutup kepala ini dilipat, dihias dengan prada. Dibeli oleh Internationale Koloniale en Uitvoerhandelstentoonstelling 1883
| . ~· | .. | .. | • •. | •r. · ~ | . | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| . | · ~ | . | - | ||||||
| ~-· | . """ ' L R:f. ~! | ,. : .. - · ~ • l | . .. .. • • • | ' ~· | . | ... " ~ ~-~:o()>:~-o-~·.o-·~- | . .. | . |
Motif Batik, Semen tukul (semen bersemi) Katun Yogyakarta, Jawa Tengah
o. Inv. 847-84/RMV
Dikumpulkan sebelum 1891 oleh I. Groneman
Motif Batik, Kawung Kemplang (daun tebu yang dijemur) Katun Yogyakarta
P.54,5 em No. lnv. 847-84 / RMV Dikumpulkan sebelum tahun 1891 oleh I. Groneman
P. 52 em No. lnv. 847-11 6 / RMV Dikumpulkan sebelum 1891 oleh I. Gronem an
C. BALI (jraneine rJ3tdnllijveo.fJ Hadiah-hadiah Pada abad ke -19 Bali terbagi dalam beberapa kerajaan -kerajaan kecil yang m asing -masing berdiri sendiri-sendiri. Ad a beberapa kerajaan yang setia pada pemerintah Belanda waktu itu d an terjadilah penukaran hadiah antara kedua belah pihak an tara lain raja-raja Karangasem dan Gianyar memberikan seperangkat hadiah yang berharga termasuk peralatan m akan sirih kepada pemerintah kolonial. H adiah-hadiah tersebut dibagi an tara museum Bataviaasche Genootschap dan Rijks Etnografisch Museum. Benda-benda yang paling berharga ditunjukan kepada mereka ya ng berkedudukan tinggi d alam hirarki pemerintah. Aksi-aksi Militer Terhadap Badung dan Tabanan, 1906 Pad a tahun 1906 suatu aksi militer ditujukan kepad a kerajaan Badung di Bali Se latan. Karena tid ak in gin menyerah kepada pihak Belanda, raja d an seluruh ke lu arga nya melekukan "p uputan" a tau bunuh diri. Ketika hal tersebut terjadi benda- bc nda milik istana di D enpasar dirampok oleh tentara. Belakangan benda-benda •, ·r-.cbut diserahkan kep ada museum Bataviaasche Genootsclwp (2 45 benda) dan Rijks, I uogrnfisch M useum (186 benda). Koleksi-koleksi tersebut tidak saja meliputi benda-benda yang terbuat dari emas dan perak, tetapi juga berbagai tenunan dan benda-benda ritual I keagam aan. Tidak lama setelah aksi mili ter di Badung, raja Tabanan juga di Bali Selatan, menyerahkan diri kepad a pihak Belanda, tetapi ketika dalam penj ara raja tersebut bunuh diri. Setelah kejadian itu kontroli r di Tabanan menyelen ggarakan pelelangan dari berbagai benda yang indah untuk membantu keluarga raja tersebut. Pelukis W.O.J. N. N ieu wenkamp men ghadiri lelan g tersebut dan m embeli berbagai obyek untuk museum di Leiden. Museum di Batavia juga kebagian benda-benda yang berasal d ari lelang ini. Aksi-aksi Militer Terhadap Klungkung 1908 Pad a tahun 1908 suatu aksi militer dituju kan kepada kerajaan Klungkung. A pa yang terjadi di Badung juga terjadi di sini, raja dan keluarganya bunuh diri di depan tentara kolonial. Benda-benda yan g diram pas d iserahkan kepada pemerintah d an diberikan kepada Museum di Ba tavia dan di negari Belanda. Perhiasan dan berbagai macam keris serta senjata-senjata lain ternyata sangat berharga.
"Lamak" yang kemudian ia jual kepada M I. Ia juga mempunyai koleksi lukisan tradisional Bali yang diberikan kepada RMV setelah ia wafat.
Hadiah
Kotak kecil dengan kem enyan padat dan kemenyan bubuk (setanggi)
Em as Karangasem Bali
o. Inv 13990 (E. 837) MNI dan 13991 (E. 838)/M
Kotak ini merupakan bagian dari sebuah hadiah yang dipersembahkan Raja Karangasem kepada Gubernur Jenderal, berkenaan dengan penyerahan jabatan kepada sepupunya. Melalui keharuman kemenyan dapat disampaikan pesan-pesan tertentu. Pada tahun 1908 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz, oleh Gusti Cede Jelantik, Raja Karangasem
Wadah air dalam keranjang anyaman, dengan corong emas, Caratan
Gerabah, rotan yang diberi warna, emas Karangasem, Bali T: keranjang 45 em RMV 770-2 dan 2a Bagian dari hadiah yang lebih besar, yang juga menca ku p kotak-kotak sirih. Pada tahun 1889 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk, oleh Raja Karangasem
P isau dalam sarung
Perak, tanduk, kayu, bermacam warna Buleleng, Bali Utara
P. 50 em No. lnv. 1050-2/RMV Kemungkinan besar pisau ini dipergunakan untuk upacara ritual. Sarungnya dihias dengan motif bunga dan didekorasi dengan ukiran kepala kala, kamng boma. Pada tahun 1864 dihadiahkan kepada Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele, oleh I Gusti Ngurah Ketut Jelantik, raja Buleleng
tal:mn 1903 dihadiahkan kepada residen Bali dan lombok, oleh Dewa Cede Raka, walikota Cianyar
b. Dua kotak untuk tembakau dan gambir (sari tumbuh-tumbuhan), Klopok Emas, perak Cianya1~ Bali Kedua kotak ini merupakan bagian dari satu set pekinangan. Kedua kotak ini mempunyai hiasan ukiran, di dasarnya berupa sebuah bunga berkelopak 8, dan di atas tutupnya yang bulat diukir bunga dengan berkelopak 14. Pada tahun 1903 dihadiahkan kepada kontrolir H.J.E.F. Schwartz, oleh Dewa Cede Raka, walikota Cianyar
Kemben, Kampuh
Sutera, prada Cianyar, Bali
P. 154 em No. Inv. 1436-15/RMV Motif segitiga pada ujung kain, disebut tumpal yang diprada. Pada tahun 1903 dihadiahkan kepada residen Bali dan Lombok, oleh Dewa Cede Raka, walikota Cianyar
Puputan Badung dan Tabanan
Keris
Besi, nikel, kayu, gading Badung, Bali
P.: 36,5 em No. Inv. 12965/MNI Pegangan keris yang terbuat dari gading berhiaskan tokoh raksasa, yang fungsinya adalah untuk melindungi si empunya keris Diperoleh sewaktu puputan Badung
13008 (E. 943)/M
Pemotong pinag yang dihias emas untuk membelah buah pinang (bagian dari sebuah set pekinangan). Ujungnya berbentuk kepala kuda, dihias dengan swastika atau motif banji dan motif-motif matahari lain. Diperoleh sewaktu puputan Badung tahun 1906
Hiasan Rambut
emas, permata, tanduk Badung, Bali
P. 21 em No. Inv. 13040 (E. 936)/MNI Dipakai oleh perempuan bangsawan pada perayaan tertentu. Bunga emas dengan permata sebagai jantungnya diikat pada sebuah tusukan dari tanduk. Diperoleh sewaktu puputan Badung, tahun 1906
Mahkota, Gelung
Emas, permata, merah delima (ruby), rotan Badung, Bali
T. 35 em No. Inv. 13065 (E. 899)/MNI Mahkota yang indah ini dipakai pada waktu ada upaeara, seperti pernikahan anggota keluarga raja. Pad a bagian belakang mahkota emas ini, terlihat 175 permata keeil dan kepala gajah, karang asti, untuk menolak bala. Diperoleh sewaktu puputan Badung tahun 1906
Pada bagian atas setiap daun pintu terlihat ukiran seekor burung dan di bawahnya seekor hewan mitologis. Badannya adalah badan singa bersayap, kepalanya kelihatan seperti karang asti (kepala gajah) dengan tonjolan seperti lidah api. Pada bagian tengah kedua belah daun pintu terdapat dua hewan bersayap. Pada pintu sebelah kiri, hewan tersebut memiliki buntut seekor kera, kepalanya bermahkota, lidahnya laksana lidah naga. Pada daun pintu sebelah kanan, hewan tersebut memiliki kepala dan ekor burung. Dikumpulkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp pada tahun 1906
Pintu Puri
Kayu, dieat dan diprada Tabanan, Bali
T. 260 em No. Inv. 1586-32 / RMV Pintu puri yang berasal dari Tabanan ini, dihias dengan ukiran berwarna hitam dan diprada, dalam lima kotak. Pada daun pintu sebelah kanan, terlihat motif hewan dari atas ke bawah: seekor maeam, seekor babi hutan berhadapan dengan seekor burung beo, seekor banteng, seekor rusa berhadapan dengan seekor burung dan seekor singa bersayap. Pada daun pintu sebelah kiri: seekor kuda, seekor burung berhadapan dengan seekor rusa, singa, anjing berhadapan dengan kuda dan gajah. Dikumpulkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp tahun 1906 Panel Tern pat Tidur (yang dilukis, Parba) Kayu, dilukis Tabanan, Bali
P. 159 em No. Inv. 1586-33 / RMV Lukisan menggambarkan episode dari Ramayana. Pada bagian bawah, Laksmana bertempur melawan Indrajit yang berdiri di atas kereta. Di bagian tengah, Rama
W.O.J. ieuwenkamp tahun 1906
Sepasang Giwang, Rumbing
Emas, merah delima (ruby) Tabanan, Bali
P. 6,1 em No. lnv. 1586-113/RMV Dipakai oleh para pria bangsawan Dikumpulkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp, tahun 1906
Tempat Meletakkan Keris
Kayu, bermaeam warna, prada Tabanan, Bali
T. 77 em No. Inv. 1586-142/RMV Patung berbentuk raja raksasa, terlihat dari mahkota dan taringnya. Di tangan kanan ada tempat untuk keris. Sabuk pinggangnya dihias dengan kepala kala yang besar dan yang diprada. Kaki mempunyai motif kembang yang diprada dan seekor kera di bagian tengah, sebelah depan. Dikumpulkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp, tahun 1906
Keris dalam Sarung
Ema, besi, nikel, kayu Badung, Bali
P. 69 em
o. Inv. 1602-12/RMV
Pam or keris berbentuk a wan. Pada bagian atas pegangan emas terlihat sebuah lengkungan emas, yang di bagian tengah berakhir dalam kuneup bunga. Sarungnya terbuat dari kayu pelet, kayu berlidah api, sebagian tertutup emas, dan ukiran dengan motif tanam-tanaman. Diperoleh sewaktu puputan Badung tahun 1906
Keris
Besi, nikel, kayu Badung, Bali
P. 61,5 em No. lnv. 1602-17 / RMV Bilah keris memiliki tujuh lekukan dan dihias dengan seekor naga di sam ping seekor rusa kecil. Diperoleh sewaktu puputan Badung tahun 1906
Kotak Taji
Badung, Bali Kayu, bermaeam warna, metal
P. 18,8 em N o. Inv. 1602-169 / RMV Kotak ini dihias dengan gambar dari eerita Ram ayana, antara lain gambar tokoh H anoman Diperoleh sewaktu puputan Badung tahun 1906
Puputan Klungkung
Wadah Pekinangan, Lelancang
Emas, kayu, dilukis dan diprada Klungkung, Bali
P. 44 em No. Inv. 14830 (E. 749) / MNI Wadah emas berbentuk oval yan g diukir sangat indah berdiri di atas kaki dari kayu, dim aksudkan sebagai pekinangan. Motif hiasan berupa bunga dan hewan seperti burung, rusa, maeam dan ular. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Kotak Tembakau
Em as, permata Klungkung, Bali
P. 15 em No. Inv. 14837 (E. 786) / MNI Kotak ini berbentuk ikan bersayap dan merupakan b agian dari p ekinan gan. Kepala ikan dihias dengan permata merah d e lim a (ruby). Sayap b agian kanan berfungsi sebagai penutup. D iperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
P. 20,5 em N o. Inv. 14867 (E. 810) / MNI Tempat minyak berbentuk piala, didukung oleh kepala seekor burung. pada bagian belakang berbaring lembu Nandi, wahana dewa Siwa. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Wadah Air Suci Berkaki Tiga, Siwamba
Perak, emas Klungkung, Bali
T. 25,5 em No. Inv. 14866 (E. 811) / MNI Kaki hga berbentuk bunga lotus ganda yang diukir, yang bersandar pada kaki dan berakhir dalam bentuk singa yang sedang jongkok. Wadah ini dipakai oleh para pendeta untuk mempersiapkan air suei, tirta. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Perhiasan Dada
Emas, berlian, merah delima (ruby) Klungkung, Bali Panjang liontin: 12,8 em No. Inv. 14891 (E. 821) / MNI
Perhiasan berbentuk jantung, dihias dengan ukiran bunga dan ornamen burung dan diberi berlian dan merah delima (ruby). Kalung dihiasi dengan manik- manik emas.
Milik Pangeran Dewa Gede Agung, diperoleh sewaktu puputan tahun 1908
P. 91 em 14892 (E. 14892)/MNI Rehab mt dihias sangat indah. Merupakan bagian dari orkes yang mengiringi tarian drama Gambuh. Tongkat penggesek dan lengkungannya dieat merah dan dihiasi emas. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Keris dalam Sarungnya
Emas, besi, nikel, perak, gading, permata Klungkung, Bali
P. 70 em No. Nv. 14909 (E 794) / MNI Pegangan keris dihias dengan figur raksasa, bagian atas dari sarungnya terbuat dari gading yang di tutup dengan em as dan perak dan dihias dengan ukiran motif bung a. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Keris dalam Sarung
Emas, besi, nikel, permata Klungkung, Bali
P. 74 em No. Inv. 14912 (E. 795) / MNI Bilah keris memiliki 13 lekukan. P egangan keris dihias dengan figur raksasa, sarungnya terbuat dari kayu lidah api (kayu pelet), diselimuti emas, dihias dengan ukiran bermoti£ bunga. Diperoleh sewaktu puputan, tahun 1908
Resink
Patung Kecil Seekor Domba
Perunggu, dibuat menurut teknik a eire perdue Jawa Timur, abad ke 14-15
T. 11,5 em No. lnv. 8276 / MNI Di zaman Jawa Kuno, mungkin patung domba ini dipakai sebagai mainan anak. Berdiri di atas sebuah d asar dengan empat roda yang kuat dan sebuah kait sebagai ala t menarik. Dikumpulkan sebelum tahun 1955 oleh Ir. Th. A Resink
Pura, Lamak
Katun, tenunan, dihias dengan tenun pakan tambahan Badung,Bali
P. 154 em No. lnv. 23937 I MNI Lamak dipakai untuk menghias tempat-tempat pemujaan dan sebagai alas persembahan. Bagian atas menggambarkan 5 figur perempuan, atau cili. Di bawahnya terlihat motif jam pasir yang disebut juga ibu, yang menunjuk pada kesuburan lbu Pertiwi. Di bawahnya lagi terlihat motif balok a tau mas-masan, dan motif geometris ini diulangi lagi di bagian bawah lamak. Motif segitiga pada bagian pinggir dan bawah kain tersebu t dinamakan gigin barong, gigi seek or hew an mitologis yang melindungi manusia. Dikumpulkan tahun 1930an oleh Ir. Th. A. Resink Kain dilu kis, dip akai sebagai penutup langit-langit tempat tidur Katun, dilukis Kamasan, Klungkung, Bali
P. 270 em No. Inv. 4491-65/RMV Penggambaran eerita Garudeya, yang merupakan bagian dari Adiparwa. Setelah Garuda berhasil memperoleh minuman sumber kehidupan untuk membebaskan ibunya dari suatu kutukan, ia diserang oleh para dewa yang h endak menghalanginya. Garuda yang memegang vas dengan sumber kehidupan (amerta) dikelilingi oleh dewa utara, timur, barat dan selatan, yaitu Kuwera, Indra, Baruna, dan Yam a. Sebelah kiri dan kanan terdapat dewa dari Zenith dan Nadir. Sebelah kiri bawah : Twalen, pembantu atau figur pelawak. Dikumpulkan tahun 1930an oleh Ir. Th. A. Resink
K ain dilukis, dipakai sebagai tirai, Langse
Katun, dilukis Kamasan, Klungkung, Bali
P. 240 em No. Inv. 4491-81/RMV Terlihat kalender astrologi, palalintanga n. Baris teratas terdiri dari 8 kotak, menggambarkan hari minggu hingga hari Sabtu, menggambarkan dewa, figur wayang, pohon dan burung yang bisa mempengaruhi kelima hari dalam satu minggu. Kelima baris berikutnya dengan masing-masing 7 kotak memperlihatkan tanda-tanda zodiak dari bulan yang mempunyai 35 hari, didasarkan pada kalender pakuwon. Baris ke 7: tujuh hewan yang dengan sifatnya masing-masing dapat mempengaruhi kehidupan seseorang yang lahir di bawah tanda zodiak di atasnya. Pad a baris paling bawah: 12 dewa yang mempengaruhi orang-orang yang lahir di bulan yang bersangkutan. Dikumpulkan tahun 1930an oleh Ir. Th. A. Resink
LOMBOK
Raja Anak Agung Gde Ngu rah Karangasem ad alah pewaris tahta yang membangun puri a tau istana yang merupakan bukti kehadiran kerajaan Karangasem d i Lombok. Kerajaan ini disebut juga kerajaan Mataram, tetapi kemudian berganti nam a m enjadi Cakranegara. A nak Agung Gde N gurah Karangasem memerintah sejak tahun 1872 hingga Belanda menyerang Mataram pada tahun 1894. Serangan Belanda tersebu t terkenal dengan ekspedisi Lombok. Pada tanggal 7 Juni 1843 Belanda berhasil masuk ke Lombok dan mengikatkan d iri membuat perjanjian dengan Mataram. Adapun isi perj anjian tersebut ad alah Mataram m engakui kekuasaan Belanda, dan tidak menyerahkan pulau ini kepada bangsa lain, wajib mengu tus u tusan ke Batavia, bersedia melindungi kepentingan Belanda, adapun pihak Beland a berjanji untuk tidak akan campur tangan d alam pemerintahan Mataram. Bagi Belanda perjanjian tersebut hanyalah sesuatu yang bersifat form alitas saja, karena mereka sendiri tidak mentaatinya sedangkan M ataram sebaliknya harus mentaati perjanjian terse but. Pad a dasarnya itu merupakan salah satu taktik Belanda yang ingin menguasai Lombok dan menggeser Inggris yang sudah terlebih d ahulu mempunyai hubungan perdagangan dengan Mataram. Upaya pemerintah Beland a un tuk menguasai Lombok ad alah mengirim suatu ekspedisi rniliter ke Lombok. Ekspedisi pertama dilakukan pada Oktober 1894, pada ekspedisi kedua b ulan November 1894 Belanda melakukan penyerangan bertubi-tubi dan lebih dahsyat dari serangannya di Mataram. D alam eksped isi militer kedua ini sekitar 5000 lebih serdadu yan g dibagi dalam em pat pusat penyerangan d apat segera menduduki benteng di M ataram dan pasukan lainnya terus mendesak puri Cakranegara. Raja dibawa dan diasingkan di Batavia hingga beliau wafat pada 20 Mei 1895 dan dikuburkan di Karet dan baru tahun 1943 beliau diperabukan di Lombok. Karena raja Lombok wafat di Batavia maka beliau dikenal juga dengan sebu tan Dewata di Betawi. Pada kesempatan itu Belanda telah membawa harta pusaka kerajaan yang berupa perhiasan emas serta benda berharga lainnya. Ada p un benda-benda yan g dijarah oleh pasukan Beland a di bawa ke Batavia un tu k sebagian disimpan di museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en W etenschappen, dan sebagian lagi di bawa ke Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden .Tahun 1977 ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia den gan pem erintah Belanda untuk mengembalikan sebagian harta p usaka kerajaan Cakranegara kepad a pem erintah Rl. Maka pad a tahun 1978 disepakati pengembalian khasanah Lombok sebanyak 243 buah koleksi emas dan perak yang untuk selanjutnya disimpan di M useum N asional di Jakarta. Semen tara itu sejurnlah 220 buah koleksi m asih menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden dan dipamerkan di sana.
4,9 em x 3,5 em No. Inv. 7955b (E1086b)/MNI Subang emas berbentuk daun dalam seni hias masa klasik ini berbentuk kerang yang merupakan pola yang mendapat pengaruh India. Berhias krawangan motif sulur dan pinggiran motif ikal. Sebagai pusat sebuah permata mirah besar dikelilingi 8 butir permata mirah delima, pada bagian ujunggnya terdapat sebutir berlian. Subang ini bertangkai untuk dimasukkan ke dalam lubang telinga dan sebagai tutupnya lempengan emas bentuk bunga dengan sebutir mirah ditengahnya.
Cincin
Emas, batu alam Lombok D2em No. Inv. 8033 (E1041)/MNI Cinein emas berbentuk kupu tarung dihias dengan batu saphir hitam dan dua butir batu merah de lima pada kedua sisinya. Emban tengah dikelilingi motif tum pal yang dibentuk oleh 3 butir botoran keeil-keeil dan lubang cinein berukir motif ikal daun.
Cincin
Emas, berlian, mirah Lombok 1,5 em x 2,5 em No. Inv. 8045 (E1046)/MNI Cinein emas bentuk sritammz, pada emban besar terdapat 9 butir permata, permata pusat dikelilingi oleh 8 butir permata lainnya yang merupakan kesatuan pada emban bentuk oval berpinggiran motif tajuk bunga.
Bros
Emas, berlian Lombok 4,5 em x 4 em No. Inv. 8059 (E1086)/MNI Bros emas berbentuk jajaran genjang, berhias krawangan motif sulur ikal, sebagai pusat sebutir permata berlian kuning dan pada embannya dikelilingi 8 butir permata yang lebih keeil.
Sirih
Emas, perak Lombok 19, 5 x 6,5 em 1894/ 1977 No. Inv. 4905-28 (LB 32) / MNI Wadah daun sirih dari perak bertutup emas, berbentuk persegi panjang dengan bagian atas lebih Iebar, pada seluruh sisinya berhiaskan sulur-sulur. Bagian tutup dihias batu mirah dan intan. Wadah ini merupakan bagian dari perangkat pekinangan.
4905-57 (LB 65e)IMNI Pemotong buah pinang berbentuk tokoh punakawan yang bernama Togog. Togog merupakan salah satu punakawan dalam dunia pewayangan yang muneul dalam lakon Ramayana atau Mahabarata bersama tokoh-tokoh Kaeip merupakan bagian dari peralatan makan sirih. Pada bagian belakang kepala sampai badan bagian belakang dihias dengan emas, demikian juga tangkainya. Dalam figur ini Togog digambarkan memakai keris.
Wadah Tembakau
Em as Lombok 18,5 em No. lnv. 4905-117 (lb 294)IMNI Wadah tembakau dari emas, berbentuk raksasa duduk. Bagian perut dapat dibuka dan ditutup sebagai pintu untuk memasukkan atau mengeluarkan tembakau.
Cincin
Emas,batu kristal Lombok D 2,2 em No. lnv. 4905-103(LB 262) I MNI Cinein emas dengan hiasan batu kristal hi tam berbentuk oval. Emban einein dikiri dan kanan menggambarkan kura-kura atau burung yang distilir, ekornya menjadi bagian lingkaran einein dan jambulnya membentuk eakar yang meneengkeram batu. Bagian bawah batu ditatah motif sulur bunga timbul. Demikian juga bagian bawah luar einein bermotif gores.
Cinein
Emas,batu Lombok D 2,3 em No. In v. 4905-114 (LB 290) I MNI Ci nei n emas dengan hiasan batu mirah besar dibagian puneaknya dan motif kepala ka la pada kedua sisinya.
6 1
Pada bagian tengah berbentuk bulat berhiaskan sebutir berlian besar di puneaknya.
Bros filigran emas, berbentuk eeplok bunga yang mempunyai 8 segi yang setiap seginya dihias dengan batu berlian keeil sedangkan pada bagian tengah terdapat sebutir berlian yang besar.
Bros
Emas, berlian Lombok 4em No. Inv. 4905-133 (LB 315)/MNI Bros em as, krawangan berbentuk eeplok bung a, bersudut 6 yang membenh1k kelopak bunga, masing-masing kelopak diisi 3 tangkai bunga dan diselingi dengan sebutir permata diantara kelopaknya. Pada bagian tengah dihias dengan permata keeil dan sebutir pennata besar berbentuk belah ketupat dibagian tengahnya.
Kacip
Emas, besi Lombok 19 em x 7,6 em 4905-57 (LB 65e) I MNI Pemotong buah pinang berbentuk tokoh punakawan yang bernama Togog. Togog merupakan salah satu punakawan dalam dunia pewayangan yang muneul dalam lakon Ramayana atau Mahabarata bersama tokoh-tokoh Kaeip merupakan bagian dari peralatan makan sirih. Pada bagian belakang kepala sampai badan bagian belakang dihias dengan emas, demikian juga tangkainya. Dalam figur ini Togog digambarkan memakai keris.
18,5 em 4905-117 (lb 294) I MNI Wadah tembakau dari emas, berbentuk raksasa duduk. Bagian perut dapat dibuka dan ditutup sebagai pintu untuk memasukkan atau mengeluarkan tembakau.
Cincin
Emas,batu kristal Lombok D 2,2 em 4905-103(LB 262) I MNI Cinein emas dengan hiasan batu kristal hi tam berbentuk oval. Emban einein dikiri dan kanan menggambarkan kura-kura atau burung yang distilir, ekornya menjadi bagian lingkaran einein dan jambulnya membentuk eakar yang meneengkeram batu. Bagian bawah batu ditatah motif sulur bunga timbul. Demikian juga bagian bawah luar einein bermotif gores.
Cincin
Emas,batu Lombok D 2,3 em 4905-114 (LB 290) I MNI Cinein emas dengan hiasan batu mirah besar dibagian puneaknya dan motif kepala kala pada kedua sisinya.
Jimat
Emas, perak Lombok 21,5 x 17 x 1,5 em No.inv. 2364-145/RMV Jimat berbentuk kalung dengan hiasan berupa lempenganlempengn emas dan perak berbentuk binatang]aut seperti kepiting dan ikan serta uang kepeng. Kedua ujung rantai dikaitkan dengan tabung keeil dari emas.
Bros
Emas, berlian Lombok 4,8 x 7,5 em, 0,023kg No. Inv. 2364-320 / RMV Bros emas bentuk tetasan airmata bersusun, bagian atas lebih keeil. Bagian bawah lebih besm~ bennata berlian besar di tengah, dikelilingi 9 butir berlian kecil. Sekeliling berlian terdapat hiasan motif lidah api, motif ini melambangkan kesaktian.
Bros
Emas, permata Lombok 5,5 X 3,8 X 2,2 CM No. lnv. 2364-396 /RMV
Bros emas berbentuk ceplok bunga, bagian tengah dihias dengan sebutir pennata besar berwarna kuning.
I RMV
Kain sutera dengan warna dasar merah kuning dan hijau, di bagian bawah dihias dengan benang emas yang membentuk motif tumpal. Kain ini digunakan sebagai tutup kepala. Motif tumpal adalah deretan segitiga sama kaki dan biasanya diisi dengan motif lainnya misalnya sulur-suluran. Pemakaian motif tumpal yang paling sering digunakan adalah pada kain tenun dan batik, khususnya pada kain sarw1g. Motif tumpal pada kain sarung yang berbentuk melintang disebut kepala adalah bagian depan dalam memakai sarung. Motif tumpal juga disebut pucuk rebung karena meyerupai batang bambu muda yang baru tumbuh.
Bros
Emas, berlian, mirah Lombok 2,3cm No. lnv. 2364-345 a-f/RMV Bros em as berbentu k belah ketupat yang ditumpuk membentuk segi delapan. Motif krawangan membentuk ceplok bunga dengan sebutir berlian besar sebagai puncaknya dan dikelilingi delapan butir permata mirah.
cine in
Emas, mirah Lombok 2,3 em No. Inv. 2364-0-15 / RMV Cincin emas dengan embanan bulat berhias butiran-butiran bulat dan motif garis sebagai pengikat batu. Pada kedua sisi terdapat hiasan batu mirah.
Kotak Tembakau
Perak Lombok 5 x 12,7 x 11,1 em No. Inv. 2364-51 / RMV Kotak tembakau dibuat dari perak berbentuk hati. Pada bagian tutupnya digrafir motif sulur-sulur bunga dan · daun.
Perak, emas, berlian Lombok 2,2 x 2 x 0,7 em No. Inv. 2364-300/RMV
Cinein perak berlapis emas, bermata lima butir batu berlian, sekeliling berlian dihias pola garis dan daun.
Bros
Em as Lombok No. Inv. 2364-150 / RMV Leiden
Bros emas berbentuk eeplok bunga mawar, motif krawangan bersudut dua belas, masing-masing sudut diberi sebutir permata. Sebagai pusat adalah eeplok bunga keeil dengan sebutir permata sebagai pusatnya. Namun, sekarang semua permata sudah hilang.
1900, tiba di Long Iram tanggal 3 Desember 1900 dan di Batavia tanggal 31 Desember 1900. Kemudian Nieuwenhuis diangkat menjadi penasehat pemerintah untuk urusan Kalimantan. Pada tahun 1903 seorang kontrolir p emerintah dalam negeri E.W.F. van Walchren, memudiki sungai Berau sampai di Apo Kayan, ia menetap selama enam bulan da pada tanggal12 Nopember 1905 melakukan suatu ekspedisi ke Bulungan (Kalimantan Timur) sampai tanggal 11 April 19 06. Ia juga berperan dalam menyelesaikan perseteruan an tar suku Kenyah di Apo Kayan. Artefak yang dikumpulkan Nieuwenhuis dan Walchren merefleksikan ketertarikan mereka pada kebudayaan suku bangsa Dayak yang mereka kenai dengan baik.
Topeng
Kayu Kayan, Kalimantan
P.40; 1. 13,5 em No. Inv. 1219-341 / RMV Topeng dengan dagu dan telinga panjang, mata terbuka lebar, hiasan sulur dan garis. Digunakan oleh laki-laki suku Dayak Kayan pada upacara kesuburan. N ieuwenhuis
I RMV Berbentuk oval dengan hiasan kepala hewan dan ekor pada ujung dan pangkalnya Digunakan oleh warga suku Dayak Kenyah sebagai tempat sesajian saat pelaksanaan upacara panen. Nieuwenhuis 1893-1894
Tempat duduk
Kayu Kayan, Kalimantan Tengah
h. Scm No. Inv. 1219-51 I RMV Berbentuk bulat dengan lubang di tengah. Terdapat hiasan berbentuk kepala binatang semacam kura-kura. Digunakan sebagai tempat duduk kepala adat saat musyawarah pada suku Dayak Kayan Nieuwenhuis 1893-1894
M otif Tato
Kayu Kayan, Kalimantan Tengah
p.24.5; I. 4.5 em No. lnv. 1308-321 I RMV Berbentuk persegi panjang, berhiaskan motif naga yang memiliki makna kekuatan unsur alam bawah. Nieuwenhuis 1896-1897
1308-301 I RMV Bermotif antropomorf atau manusia yan ~ digayakan, berwarna kuning, hitam, merah. Dipasang sebagai hiasan pada top1, digunakan saat pesta adat dan yang mengenakan dianggap mempunyai status sosiaf yang eukup tinggi N ieuwenhuis 1896-1897
Ambinan
Rotan, manik-manik Kenyah, Kalimantan
p.29; l. 27 em No. Inv. 12031 I MNI Sebagian besar suku Dayak menggunakan ambinan sebagai gendongan bayi sehingga ibu tetap dapat bekerja sambil menggendong. Dihiasi manik-manik bermotif geometris berwarna kuning,hijau, merah dan hitam.
V. Walchren
Tutup Keranjang
Manik-manik Kalimantan Barat
p. 16; l. 9.6 em 1308-288 I RMV Bentuk persegi panjang, pola hias motif manusia yang digayakan (antropomorf), berwarna putih, hitam, m erah. Nieuwenhuis 1896-1897
Mandau
Besi, rotan, manik-manik Kalimantan
p. 73 em No. Inv. 11997 I MNI Sebagai senjata perlindungan diri dan alat perlengkapan berburu bagi suku Dayak. Dihiasi dengan manik-manik dan bulu hew an. N ieuwenhuis
RMV Tabung untuk menyimpan anak sumpit ini sebagai pelengkapan berburu atau perlindungan diri pada suku Dayak Kayan 0 Dihiasi ukiran dengan motif sulur dan naga 0 Nieuwenhuis 1893-1894
Perisai/ Klebit
Kayu, Kalimantan Timur po 114 em 1. 34,5 em oo lnvo 1573-12/RMV Perisai digunakan kaum laki-laki sebagai alat pertahanan diri oleh suku Dayak dalam berperang 0 Diberi hiasan rambut sisi kiri-kanan serta atas -bawah, di bagian tengah terdapat hiasan pola kedok yang menyeramkano Van Walchren
lrw. 1573 -28 / RMV Rompi katun ini berhiaskan motif sulur warna merah dan terdapat bulu unggas, manik-manik serta kuku binatang di bagian depan dada. Digunakan oleh kaum lelaki pada pesta upaeara. Van Walchren
Bak Tinta
Kayu Kayan,Kalimantan Barat
t. 6 em; p. 22 em; l. 5 em No. Inv. 1219-176 / RMV Terdapat dua wadah bulat, penyangga berbentuk seperti hewan berkaki empat dengan hidung besar. Digunakan oleh suku Dayak sebagai wadah tinta a tau eampuran bahan pewarna tato. N ieuwenhuis
Topeng Budot
Kayu, kaea Kenyah, Apokayan
p. 38 1. 25 em No. Inv. 12057 / MNI Topeng dengan mulut terbuka, dagu panj ang, m ata terbuka lebar. Perpaduan hewan bentuk naga dan anjing atau disebut aso'. Digunakan oleh laki-laki d alam tarian hudo ' p ad a saat upaeara panen oleh suku Dayak Kenyah. Van Walchren
1060-321 RMV Berbentuk oval seperti buah labu, pada bagian atas terdapat pengait untuk dimasukan ke lubang telinga. Beban anting-anting ini seeara perlahan dapat menarik daun telinga lebih panjang dan ini menjadi tanda memasuki usia remaja bagi anak laki-laki suku Dayak Nieuwenhuis
Pisau
Kayu, besi,gading Kayan, Kalimantan
p.15,5 em 1. 3,5 em No. lnv. 1219-95IRMV Pisau dengan ujung runeing ini digunakan dalam proses pembuatan motif tato bagi suku Dayak Kayan. Gagangnya berbentuk kepala hewan dengan mulut terbuka Iebar. Nieu wenhuis
An ting-anting (Blahaung)
Kuningan Apo Kayan, Kalimantan tebal. 1,4 em; q luar. 4 em q dalam 1,2 No. lnv. 9872 a I MNI Penampang lintang bersudut, ujungnya tidak dipatri. Digunakan oleh suku Dayak Kenyah sebagai perhiasan telinga. N ieu wenhuis
Anting-anting (Hisang)
Kuningan Apo Kayan, Kalimantan
p.6,8 em I. 5 em No. lnv. 9874 I MNI Berbentuk spiral dan digunakan oleh suku Dayak Kayan sebagai hiasan telinga. Nieuwenhuis
I MNI
Gelang dengan ornamen flora dan fauna seperti ikan, kepiting dan sebagainya memenuhi seluruh permukaannya. Digunakan sebagai perhiasan gelang tangan oleh suku Dayak Kayan. Nieuwenhuis
Tabung
Bambu Apo Kayan, Kalimantan
p. 10,8 em l. 4,5 em No. Inv. 9942 b I MNI Berbentuk silinder dipenuhi dengan hiasan sulur daun. Digunakan sebagai wadah anak sumpit oleh suku dayak Kayan. Nieuwenhuis
Mangkuk ( Uwit)
Kayu Kalimantan Barat
p. 36; l. 18.7; t. 5,5 em No. Inv. 10870 I MNI Berbentuk oval dengan hiasan kepala hewan dan ekor pada ujung dan pangkalnya. Digunakan oleh warga suku Dayak sebagai wadah sesajian pada upaeara panen. N ieu wenhuis
Tabung
Bambu Uma Bahung, Kalimantan Selatan
t. 11,5 em dan 10,8 em .q. 4,2 em No. Inv. 9941 a,b I MNI Berbentuk silinder dipenuhi dengan hiasan sulur daun. Digunakan sebagai wadah anak sumpit oleh suku Dayak Van Walchren Tabung Bambu,Rotan Apo Kayan, Kalimantan
t. 32 em q. 6,5 em No. lnv. 12040 I MNI Berbentuk silinder dipenuhi dengan hiasan sulur daun,pada tutup dipenuhi motif kepala manusia. Digunakan sebagai wadah anak sumpit oleh suku dayak Kayan. Van Walchren
Anting-anting (Blahaung)
Kayu
p.6,3 em 1. 3,1 em No. lnv. 10016 I MNI Bentuk anting-anting merupakan perpaduan motif anjing dan naga atau aso'. Digunakan oleh kaum lelaki suku Dayak sebagai tanda memasuki usia remaja sebagai hiasan telinga. Nieuwenhuis
SULAWESI
1vwri rJJudicudi
Koleksi etnografi dari Pulau Sulawesi antara lain berasal dari berbagai sumber, yaitu dari para zendeling (penyebar agama Kristen Prostestan), dari ekspedisi militer, dan (c) hadiah keluarga Raja Bone dan Gowa kepada pemerintah Hindia Belanda.
Koleksi dari Para Zendeling Dr. Benyamin Frederick Matthes (1818-1908) adalah ahli bahasa dari Himpunan Injil Nederland. Matthes diutus ke Makasar pada tahun 1848 tmtuk mempelajari bahasa Makasar dan Bugis serta menerjemahkan Injil ke bahasa-bahasa tersebut. Oleh karena kegiatan zendingnya tidak dapat terlaksana, dia memb,1 k I i k. 111 dirinya untuk mempelajari bahasa Bugis-Makasar. Karya-karya Matthes ant.11 111 1 'Kamus Bahasa Makasar' (1959) dengan ilustrasi gambar benda-benda etnugrafi dari Makasar dan ' Kamus Bahasa Bugis' (1874). Di samping mempelajari bahasa, Matthes juga mengumpulkan benda-benda etnografi dari daerah ini yang sekarang tersimpan di RMV. Dr.A.C. Kruijt (1869-1949) dan Dr. Nicholas Adriani (1865-1962) adalah dua serangkai yang melakukan kegiatan zending di daerah pedalaman Sulawesi Tengah. Kruijt merupakan petugas zending yang pertama di daerah Poso, Sulawesi Tengah dan merupakan tokoh sentral yang telah mengubah kepercayaan masyarakat dari pemujaan terhadap nenek moyang menjadi penganut agama Kristen Prostestan. Sementara Adriani yang bekerja sebagai pegawai Lembaga Injil Nederland adalah ahli linguistik dan etnografi yang belakangan tiba di Poso untuk membantu Kruijt dengan menerjemahkan Injil ke dalam bahasa setempat (Bare' e). Kruijt dan Adriani mempunyai perhatian besar terhadap kebudayaan suku bangsa di Sulawesi Tengah dan Selatan dan menggambarkan secara detail kebudayaan dari orang yang hidup di wilayah tersebut. Di samping itu, mereka juga mengumpulkan benda-benda dari suku-suku bangsa tersebut. Kumpulan benda-benda etnografi dari mereka seperti pakaian kulit kayu yang jumlahnya sangat banyak tersimpan di berbagai museum seperti di MNI dan RMV.
Koleksi dari Ekspedisi M iliter Pada tahun 1905 Belanda mengadakan ekspedisi militer ke Sulawesi Selatan. Akibatnya kerajaan-kerajaan di wilayah itu seperti kerajaan Bone dan Gowa jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1906. Di sam ping menguasai daerah Sulawesi Selatan, kegiatan ekspedisi militer berhasil memperoleh benda-benda rampasan dari Kerajaan Bone dan Gowa yang selanjutnya diserahkan ke MNI dan RMV. Akan tetapi pada tahun 1931, koleksi dari Bone dikembalikan oleh pemerintah kolonial Belanda ke kerajaan tersebut. Sebagian koleksi dari Gowa yaitu keris, piring dan kalung juga dikembalikan ke kerajaan tersebut pada tahun 1938. RMV juga menerima ratusan perhiasan dan senjata dari Gowa tetapi pada tahun 1931 atas permohonan putra sulung raja Gowa yang gugur dalam pertempuran, semua benda-benda berharga tersebut dikembalikan.
Wadah Makanan (Baku)
Daun lontar Makasar, Sulawesi Selatan T: 10; D: 30 em No. Inv. 37-93 I RMV Wadah yang dibuat dari an yaman daun lontar. Dipakai sebagai tem pat makanan yang disajikan pada upaeara-upaeara dan aeara-aeara tertentu.
B.F. Matthes, 1864
I RMV
Baju perisai dipakai untuk melindungi badan dari serangan-serangan senjata kuat dan tajam. Di Sulawesi Selatan pakaian perisai ini dibuat dari tembaga. Dr. B.F. Matthes, 1885
Blouse (Lemba)
Kulit kayu, katun, pigmen Sulawesi Tengah 57 x 40 em No. Inv. 1232-99 I RMV Blouse sempit yang dipakai oleh kaum wanita. Dibuat dari kulit kayu (juya) yang dihiasi dengan teknik bordir. Pakaian kulit kayu yang dihias pada permulaan abad ke- 20 masih dipakai untuk upaeara-upaeara. Dr. A.C. Kruyt, 1899
Ikat kepala untuk wanita (Ta li Bont o)
Bambu, kulit kayu, pigmen Napu, Sulawesi Tengah D : 14,5 em No. Inv. 1759-19 I RMV Tali bonto dipakai untuk menjagaagar rambut tidak mengenai muka. Ikat kepala ini dibuat dari kulit kayu p utih yang bagus yang ditempel pad a sepotong bambu tipis. Kulit kayu dilukis dengan warna merah dan hi tam, dengan sentuhan kuning, dalam motif geometris (garis-garis, tumpal, dan segi tiga). Dr. A.C. Kruyt, 1911
(Ambulea)
Kulit kayu, pigmen Pebato, Sulawesi Tengah P: 140 em No. Inv. 1759-47 I RMV Ambulea adalah jubah yang kedua sisinya terbuka dan mempunyai lubang untuk kepala. Ambulea ini dihias dengan motif geometris dalam warna kuning, eoklat, merah, dan hitam. Pada masa lampau pakaian ini dipakai pada waktu upaeara penyembuhan atau oleh para peserta pada pesta pengayauan. Dr. A.C. Kruyt, 1911
! kat kep ala untuk laki-laki (Siga)
Kulit kayu, pigmen Tolampu, Sulawesi Tengah 100 x 45 em No. Inv. 8840 I MNI Warna dan motif siga berbeda-beda, disesuaikan dengan berapa kali si pemakai terlibat dalam pengayauan. Bagian tengah siga ini bermotif empat kelopak bunga dan di pinggirannya terdapat motif berbagai hewan. Dr. N. Adriani, 1932
Sarung (Pauba)
Kulit kayu, pigmen Poso, Sulawesi Tengah 120 x 80 em no. Inv. 9203 I MNI Sarung ini mempunyai hiasan petondu- oiale (tanduk kerbau-burung terbang), kelopak bunga, ular, dan motif figur man usia. Dr. N. Adriani, 1900
Wadah kapur
Buah labu Poso, Sulawesi Tengah 16 x 5 em No.Inv. 9213 I MNI Wadah ini digunakan untuk menyimpan kapur. Wadah ini memptmyai lubang pad a Iehernya dan dari lubang ini bubuk kapur dikoeok keluar a tau dipukul pelan-pelan. Dibuat dari buah labu dan berhiaskan motif tumpal, motif geometris dan kepala kerbau. Teknik pembuatan hiasan dengan eara digores dengan besi panas. Dr. N. Adriani, 1900
Kulit kayu, pigmen To Lage, Sulawesi Tengah 87 x 87 em No. Inv. 20706 I MNI Ikat kepala untuk laki-laki berwarna merah dan hi tam, bagian tengahnya bermotif garis silang dan di beberapa bagian terdapat motif tanduk kerbau (petundo). Dr. N. Adriani, 1913
Pauba
Kulit kayu, pigmen To Lage, Sulawesi Tengah 280 x 90 em No. Inv. 20709 I MNI Sarung yang dilukis warna violet yang bidangnya antara lain dihias motif khas daerah Sulawesi Tengah yaitu petondu-oiale, matahari, dan bintang. Dr. N. Adriani, 1913
Hiasan Kepala (Tamada)
Bulu, rotan, katun, kawat Gorontalo, Sulawesi Utara T: 24; D: 19,5 em No. Inv. 776-14 I RMV Hiasan kepala, bagian dari salah satu dari tujuh perlengkapan kostum seorang penari.
G.W.W.C. Baron van Hoevell, 1890
Topen g (Pemia)
Kayu, pigmen Lage (?), Sulawesi Tengah 46, 5 x 14,5 em No. Inv. 776-37 I RMV Topeng berbentuk figur laki-laki ini diduga berasal dari daerah Lage, Sulawesi Tengah dan digunakan untuk upaeara keagamaan.
G.W.W.C. Baron van Hoevell, 1890
0: 12; Tebal: 2,2 em
No. lnv. 808-1 I RMV Gelang berbentuk belah kangkung dan ujungnya berbentuk kerucut terpotong yang dihias dengan tekruk filigran. Hadiah dari Ratu Bone, 1890
Gelang
Emas, permata jakut Gowa, Sulawesi Selatan 0: 10; Tebal: 2,5 em No. Inv. 808-2 I RMV Gelang yang dihias dengan teknik filigran dan granulir dengan motif sulur-suluran. Hadiah dari Ratu Bone, 1890
- \ ,.
Kalung
Em as
•Gowa, Sulawesi Selatan • ••o. lnv. 808-3 I RMV
Kalung rantai dengan hiasan uang kepeng berinskripsi•• huruf Arab Melayu. Kemungkinan kalung ini
berfungsi pula sebagai jimat.
·-·Hadiah dari Ratu Bone, 1890
Cupu
Keramik Vietnam, emas, perak Gowa, Sulawesi Selatan 12,5 x 7 em (Diarn.) No. Inv. E.SSO (12532 ) I MNI Guci keramik bulat dengan gJasir putih kebiruan yang mempunyai hiasan garis-garis biru tua yang membentuk segi delapan. Guci ini berasaJ dari Vietnam. Dari gayanya, hiasan emas pada badan kerarnik dan tutupnya kemungkinan dibuat di Indonesia. Ekspedisi militer Bone, 1906
P : 50 ern No. lnv. E.590 (12469 ) I MNI Keris kebesaran gay a Bugis, bilah keris berparnor dan bergagang berbentuk patung H in du yang dibu at dari ernas. Bagian bawah sarung keris dihias dengan lajur-lajur ernas daun dan bagian atas palos. Ekspedisi rniliter Bone, 1906
Besi, ernas, batu perrnata, kain katun, kayu Gowa, Sulawesi Selatan P: 51,5 ern No. lnv. E. 593 (12468) I MNI D i Sulawesi keris ad alah sirnbol kekayaan dan rnerupakan bagian d ari pakaian u p aeara. M odel keris ini rnenyerupai keris Bali yang hulu atau pegan gannya berbentuk anthropornorphis. Bentuk sarung keris Sulawesi adalah datar, pada bagian bawah rnenonjol dan rnernbentuk sepatu. Ini juga rnengindikasikan bahwa keris ini tidak disisipkan ke sabuk tetapi diikatkan pada pinggang. Ekspedisi rniliter Bone, 1906
Gelang
Ern as Gowa, Sulawesi Selatan D: 16 ern No. Inv. E.523a,b (12476a,b) I MNI Gelang berben tu k dua kepala naga dan badan ular rnenyatu di tengah yang berfungsi sebagai pernbuka dan penu tup. Ekspedisi rniliter Bone, 1906
Penutup kelamin (Jempang)
Gowa, Sulawesi Selatan Ernas, perak 6 x 5,6 em Ekspedisi rniliter Bone, 1906
E.530 (1 25 93) I MNI Berbentuk h ati d an berukiran sulur-suluran bunga dibagian luarnya. Berfungsi sebagai p akaian sehari-hari yang digunakan sebagai penutup kelarnin oleh anak perernpuan bangsawan pada jarnan dahulu
Sepasang anting-anting yang dihiasi dengan permata jakut.
Cupu adalah bagian dari peralatan menginang atau pakinangan yang digunakan sebagai tempat ramuan sirih. Bahannya dibuat dari emas yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah kaum bangsawan atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi dalam masyarakat. Ekspedisi militer Bone, 1906
Cupu
Emas Gowa, Sulawesi Selatan T: 3,5; 0: 3,7 em No. Inv. E. 536 (12565) I M Cupu berbentuk bulat, hiasan pada wadah dan tutup bermotif bunga dan sulur- suluran. Keseluruhan hiasan dibuat dengan teknik tempa. Eksp disi militer Bone, 1906
Keranjang (Baku Bodo)
Oau n lontar, benang emas Bone, Sulawesi Selatan T: 9; L: 16,5; 0: 21 em No. Inv. 799-11 I RMV
Perak Gowa, Sulawesi Selatan P: 7,5; 0: 1 em No. Inv. E.526a,b (12574a,b) I MNI
Ekspedisi militer Bone, 1906
Cupu
Em as Gowa, Sulawesi Selatan T: 5; 0: 3,8 em
o. Inv. E.535 (12566) I M I
Keranjang yang dibuat dari anyaman daun lontar dan benang emas. Oalam kehidupan masyarakat Sulawesi, keranjang mempunyai peranan yang penting sebagai tempat menyimpan makanan, peralatan menjahit dan wadah pakaian. Wadah seperti ini digunakan untuk menghidangkan makanan pada tamu-tamu pada upaeara-upaeara dan aeara-aeara tertentu. Hadiah dari Ratu Bone, 1890
MALUKU, NUSA TENGGARA TIMUR DAN PAPUA
- Maluku Denda Pada aw al a bad ke-1 9 pegawai p emerintah di Malu ku selama perjalanan dinasnya ju ga dijadikan h akim dalam m en entukan hukuman a ta u d enda bila terj adi pelanggaran sesuai dengan adat setempat. Oleh sebab itu p ada tahun 1887 berbagai benda emas (piring d an nam pan emas) diserahkan ke tangan pemerintah Kolonial yang kemudian disimpan di M useum Bataviaasche Genootschap.
J.G.F. Riedel (1832-1911) P ad a p ertengahan abad ke-1 9 banyak pegawai pem erintah kolonial mulai
menunjukkan p erhatian m ereka terhadap ilmu etnologi. Mereka mulai sadar bahwa pengetahuan mengenai adapt istiadat setempat sangat penting dalam memerintah suatu daerah. Salah satu p egawai pemerintah yang melakukan pen elitian etnografis adalah
J.G. F. Riedel. Ia melakukan p enelitiannya di berbagai daerah di Indonesia Timur. D isamping itu ia juga mengumpulkan berbagai obyek yang ada hubungan dengan itu. Banyak benda yang dikumpulkan Ried el disimp an di Museum Bataviaasche Genootschap d an di Rijks Etnographisch Museu m di Leiden. Ia mengirimkan berbagai obyek yang menarik dari Minahasa dan Gorontalo ke Batavia, dan obyek dari M aluku ke Leiden.
G.W .W .C. Baron van Hoevell (1848-1920) Selain Riedel, G. W.W.C. van H oevell juga seorang p egawai negeri yang pada
abad ke-19 men gumpulkan benda-benda untuk kedua museum. Van H oevelllebih mementingkan pengetahuan mengenai bangsa-bangsa darip ad a sesi politiknya. Perha ti an terha d ap ilmu san gat b esar dan ia merasa b erkewajiban untuk men g ungk apka n segala h a l yan g m ungkin belum dike tahui d an yan g didokumentasikan dengan san gat teliti. Ia juga suka membantu peneliti-peneliti lain dalam bidang tersebut. Seperti Riedel, Van H oevell aktif meneliti adapt-istiadat di M aluku d an Sulawesi
- Nusa Tenggara Timur
B.A.G Vroklage (1897-1951) Untuk wakil-wakil dari agama dan gereja, pengumpulan data mengenai etnografi
diperlukan untuk mendap a t pengetahuan lebih mendalam tentang orang-orang setempat agar d ap at digunakan d alam p enyebaran agama Kristen. Tujuan utama mereka adalah sebanyak mungkin mendapatkan rakyat yang ingin menjadi umat Kristiani sehingga pengetahuan ten tang kebiasaan penduduk setempat menjadi amat penting. P ad a p eriod e 1936-1 938, B. A. G. Vroklage mewakili gereja Roma-Katolik di berbagai tempat di N usa Tenggara Timur. Ia bekerja sebagai seorang etnolog d an pendeta dan khususnya dari Timur d an Flores. Ia telah m engumpulkan koleksi-
Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden dan scbagian kecil disimpan di Museum Ratavinnsc/1c Gcuootsc/111p.
P. Middelkoop (1895-1973)
P. Middelkoop adalah pendeta dan ahli bahasa yang bertugas menyebarkan
agama Kristen. Selama 35 tahun, mulai dari tahun 1922 sampai tahun 1957 ia bekerja di daerah A toni di Timor. Karena bakat bahasanya Middelkoop dengan segera dapat menguasai bahasa Timor sehingga terjadi perhatian yang amat besar terhadap budaya Atoni. Ia menulis artikel-artikel etnologi termasuk buku-buku dan ia menjadi kolektor yang sangat selektif mengenai obyek-obyek etnologi. Bersma dokumentasi yang sangat baik ia menyumbangkan koleksinya kepada museum-museum di Batavia dan di Leiden.
3. PAPU A
P. Wirz (1892-1955) Salah satu ahli etnologi yang professional yang bekerja di Papua adalah P. Wirz.
Sejak tahun 1915 secm·a teratur ia mengunjungi pulau ini untuk mengadakan penelitian lapangan dari berbagai kelompok etnis yang ada di pulau tersebut. Ia melakukan penelitian pada suku Marind-amin di pantai selatan, tinggal di teluk Geelvink dan Humboldt (sekarang teluk) mendaki pegunungan di sebelah barat dan timur dan melakukan perjalanan ke Teluk Papua dan aliran sungai Sepik. Selama melakukan penelitian ia mengumpulkan berbagai benda karena takut akan menghilang mengingat pengaruh budaya barat demikian besar. Sebagian besar benda-benda yang dikumpulkan oleh Wirz disimpan di berbagai museum di barat an tara lain. museum di Leiden. Museum Bataviaasche Genootschap hanya menerima sebagian kecil dari benda-benda tsb.
G.A.J. Van der Sande (1863-1910)
Pada awal abad ke-20 banyak pihak tertarik untuk melakukan penelitian ilmiah tentang Papua. Berbagai organisasi dengan tujuan untuk menambah pengetahuan dan mengeksploitasi secara komersial bagian tropis dari negeri Belanda mendanai perbagai perjalanan penelitian ke pulau ini. Dokter tentara G.A.J. Van der Sande anggota tim ekspedisi Wichmann pada tahun1903 mengadakan penelitian sepanjang pantai utara bagian penjajahan ini. Vander Sande mempunyai dua tugas ialah meneliti penduduk setempat secara fisis antropologis dan mendokumentasi serta membuat peta dari daerah tersebut. Untuk mencapai hal ini ia telah mengumpulkan berbagai obyek etnografi yang diserahkan kepada Museum dari Bataviaasche Gellootschnpp dan Rijksmuseum voor Vo/ke11kunde di Leiden, setelah ia menyelesaikan tugas-tugasnya. M useum di Leiden setelah itu masih menerima koleksi berbagai benda yang berasal dari Nusa Tenggara Timur yang dikumpulkan Vander Sande pada ekspedisi kedua ke daerah itu.
Papua (1907-1915)
Pemerintah Hindia Belanda tidak selalu menugaskan tentara kolonial untuk melakukan kekerasan. Pada tahun-tahun 1907-1915 diadakan ekspedisi d amai yang dilakukan oleh tiga detasemen tentara ke Papua dan pulau -pulau M aluku. Walaupw1 di sana sini dihadang oleh sikap perm usuhan dari penduduk setempat dan sukarnya daerah yang dijelajahi, tetapi boleh dikatakan bah wa eksplorasi ini berhasil. Wilayah yang san ga t luas d apat d ibuatkan peta, ditemukan penduduk yang hid up sangat terisolasi dan dikumpulkan ribuan benda yang berhubungan dengan bidang etnografi. Sebenarnya semua benda harus diserahkan kepada M useum dari Bataviaasche Genootschap, tetapi oleh komandan militer A.J. Gooszen sebagian besar dari benda tersebut, bertentangan dengan instruksi yang telah diberikan, disampaikan kepada Museum di Leiden.
Tombol Tongkat Pendeta, seka'd
Kuningan M inahasa, Sulawesi U tara
T. 10,5 em No. Inv. 11 707 MNI D ikum pulkan oleh J.G.F. Riedel (1905) Hiasan tombol berasal dari Minahasa, yang terbuat d ari kuningan merupakan salah satu benda yang paling indah yang dikumpulkan oleh J.G.F. Riedel untuk M useum Batavia. Tombol hiasan ini- dipakai di ujung tongkat para pendeta -dibuat setempat dan dinam akan seka 'd. Tetapi di dalam dokumentasi serta gambar yan g dibua t oleh Rie d el, ia menamakan tombol ini oint dan dikatakan berasal dari luar daerah M inahasa.
Piring Emas
suasa emas d an perak Le ti, Maluku
D. 20 em M ilik Pemerintah, sebagai barang denda diperoleh melalui Pemerin tah Hindia Belanda (1887) Di paruh kedua abad ke 19, di kepulauan Maluku, dalam perjalanan dinas, para pegawai negeri sering kali berfungsi sebagai hakim. Bila terjadi pelanggaran adat, mereka sering menghukum dengan mengharuskan membaya r denda menu rut tradisi setempat. Melalui eara ini di pulau Leti, pemerintah kolonial memperoleh berbagai piring 'em as', yang d iserahkan kepada M useum Batavia pada tahun 1887 untuk disim pan. Lihat juga M I 6791e I E 1130, 6791d I E 1129, 6792b I E 1126 dan 6792e I E 1119.
G.W.W.C. van Hoevell (1890)
G.W.W.C. Van Hoevell mengumpulkan busana menari Jaki-laki maupun perempuan. Ia mengirim hasil kumpulannya ini pada tahun 1890 dilengkapi foto para penarinya ke Rijks/1/uset/111 voor Volkellkunde. Tidak lama kemudian ia menu lis mengenai topik ini dan memakai salah satu foto sebagai eontoh sebuah ilustrasi berwama. Terlihat seorang penari Gorontalo, memakai hiasan dada katun dengan warna dominan hijau.
Miniatur Patung leluhur
Kayu Pulau Kei, Maluku
T. 84 em No. lnv. 6705/ MNI Diperoleh dari G.W.W.C. van Hoevell (1888) Ketika tinggal di kepu lauan Kei pada tahun 1887, G.W.W.C. van Hoevell membiarkan patung leluhur (sedeu) penduduk. Dengan demikian ia menghindari adanya 'vakum religius', yang digunakan agama Islam. Van Hoevel tidak membawa patung-patung leluhur tersebut, tetapi ia menggambarkannya dan membuat sebuah miniatur. Ia men girim patung ini yang mungkin diinspirasikan oleh sedeu Werwat dari desa Gelanit, ke Museum Batavia. Patung Werwat tahun 1914, melalui m iliter di Irian Jaya, tiba di Rijksn1usettm r>oor Vo/kenkt111de di Leiden pad a tahun 1914 (RMV 1889-2, li h at lanjutan dari bab ini).
Gendang
Kayu, kulit kambing, rotan, ta li Belu, Timor
T. 103 em No. lnv. 2380-255/ RMV D ikum pulkan oleh B.A.G. Vroklage (1939)
Detil dari sebuah patung leluhur
Batu Belu, Timor
T. 107 em No. [nv. 22463a/ MNI Dikumpulkan oleh B.A.G. Vroklage (1938
P. 82 em No. Inv. 2663-7 /RMV Merupakan bagian dari pakaian upaeara seorang pengayau Dikumpulkan oleh P. Middelkoop (1947) Pemakaian ikat kepala pada pelaksanaan upaeara pada masa Middelkoop sudah banyak ditinggalkan. Gambar yang unik ini, dibuat oleh rekan Middelkoop di desa Sebau pada tahun 1941. Patung berhala (Atoni litit lomi) Batu A toni, Timor
T. 42 em No. Irw. 19321 / MNI Dikumpulkan oleh P. Middelkoop (1927-1928) Karena pengetahuannya yang luas mengenai bahasa lokal dan minatnya yang besar terhadap etnologi, P. Middelkoop berhasil memberikan keterangan yang sangat berharga pada benda-benda yang dikumpulkannya. Menurut Middelkoop, patung berhala ini berfungsi sebagai dewa pelindung, dan ditempatkan di dalam sebuah rumah yang diperuntukkan bagi aeara-aeara pengayau. Tanduk yang menonjol di bagian belakang kepala diimaginasikan sebagai ikatan rambut orang Timor. Gambar hew an di atas ikatan ram but itu, merupakan gambar kadal, seekor ayam jantan dan 5 kalajengking.
Patung Leluhur (Sedeu) Kayu Kepulauan Kei, Maluku
T. 165 em No. Inv. 1889-2 / RMV Patung ini menggamb arkan Werwat, salah sa tu Jeluhur yang penting dikumpulkan oleh A.J. Gooszen (1914)
Leluhur
Kayu Kepulauan Kei, Maluku
T. 80 em No. Inv. 1889-15IRMV Patung ini menggambarkan putri Werwat (RMV 1889-2) Dikumpulkan oleh A.J., Gooszen (1914) Werwat dan 'putrinya' pada tahun 1911 I 12 difoto tempat di pusat ritual desa Gelanit. Tidak lama kemudian kedua patung dipindahkan dari kepulauan Kei oleh seorang anak buah dari komandan A.J.Gooszen.
Patung Leluhur (Korwar) Kayu, tengkorak, tanah liat. katun. tali Biak, Irian Jaya
T. 50 em No. Inv. 17632IMNI Dikumpulkan oleh W.K)-I. Feuilletau de Bruyn (1916)
| Wadah Sagu untuk U pacara | Wadah Sagu untuk Upacara |
|---|---|
| Tanah liat | Tanah liat |
| H umboldtbaai. Irian Jaya | Humboldbaai, Irian Jaya |
| D. 33 em | D. 32 em |
| No. Inv. 1528-36IRMV Pada dinding wadah terdapat gambar | o. Inv. 1528-37 I RMV |
| mirip seekor buaya | mirip ikan pari |
(1906) (1906)
Pada dinding wadah terdapat gambar
Dikumpulkan oleh G.A.J. van der Sande Dikumpulkan oleh G.A.J. van der Sande
Hiasan Perahu
Kayu Sentani, Irian Jaya
P. 66 em No. Inv. 18277 IMNI Dikumpulkan oleh J.P. Wirtz (1922)
Tongkat Upacara
Kayu Sentani, Irian Jaya
P. 52 em No. Inv. 18365 / MNI Dikumpulkan oleh P. Wirtz (1922)
dan Penutupnya Daun lontar Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan
D. 30 em Piring untuk makanan di pakai di dalam upaeara Dikumpulkan oleh B.F. Matthes (1864)
Tameng Perang
Kuningan Sulawesi Selatan
T. 65 em No. lnv. 522-1 / RMV Dikumpulkan oleh B.F. Matthes (1885).