Baca PDF (OCR): Buku Pengayaan Pendidikan Budi Pekerti Untuk Pasraman.tif

97 halaman · 91 halaman diproses dengan OCR· 113050 ms

Daftar isi
  1. PENDIDIKAN
  2. BUDI PEKERTI
  3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
  4. Pemerintah Bali dalam mewujudkan Ajeg Bali.
  5. AN KEPALA DINAS KEBUDAYAAN PROVINSI BALl
  6. Sekian dan Terima Kasih.
  7. Om Shantih, Shantih, Shantih Om
  8. Denpasar,24 Desember 2014
  9. M Hindu Indonesia Dcnpasar telah dilibatkan dalam kerjasama penyusu -
  10. Daftar lsi ................................................................................................................................ ix
  11. BAB I
  12. TUHAN MAHASEGALANYA
  13. SMahatahu dan Ma hakarya. Tuhan disebu t Mahaac! a karena Tuhan ada di ma -
  14. -' ~
  15. .J" .. ·,r ,r--1\ ·>r-'\r-\K-~
  16. ~:4"-~--"..-,-.....,.-.. _ r ~ ~--- ·
  17. BAB II
  18. SUSILA KEHIDUPAN
  19. Kanugerah pikiran (idep), gerak/ tenaga (b ayu), dan sua ra (s abda). Bandingkan
  20. 2. Berpikir Positif
  21. 3. Sopan Berbicara
  22. 4. Perilaku Santun
  23. 5. Tuhan Bersama Kita
  24. 6. Patuh kepada Orang Tua
  25. 7. Hormati Guru
  26. 8. Taat Pada Pemerintah
  27. 9. Pengendalian Diri
  28. 10. Mengekang Hawa Nafsu
  29. 11. Perbaiki Mental
  30. 12. Akhlak dan Moral yang Baik
  31. 13. Bakti kepada Tuhan
  32. 15. Bersahabat dengan Alam
  33. BAB III
  34. LIMA KEWAJIBAN
  35. 2. Rsi Penerima Wahyu
  36. 4. Memanusiakan Manusia
  37. BABIV
  38. HIDUP SEJAHTERA DAN BAHAGIA
  39. Kpakaian (sandang), dan mempunyai rumah (papan). Jika hidup sejahtera
  40. I. Tuhan Sang Penolong
  41. 2. Merawat Pura
  42. Mantram Tri Sandya
  43. Patut dihormati sebagai sumber ilmu pengetahuan
  44. 0111 Bmhma putri maha dewi
  45. Om Awighnam Astu Nama Sidham
  46. Om Sidhirastu Tad Astu Swaha
  47. Om Santih, Santih, Santih, Om
  48. Brahmawanitwa Ksatrawani Sajata
  49. Wahyu Dadhami Bhratrwyasya Wadhyaya
  50. lo.Doa 1\llenolak Baha)·a:
  51. 0 111 0111 Astn ,\Julitl Baytl)'tl
  52. Langkah-langkah Praktek Yoga Surya Namaskara
  53. 5. Menolong Sesama
  54. 6. Rela Berkorban
  55. 8. Seni Kehidupan
  56. 9. Teladan Yang Baik
  57. 10. Bermain Memupuk Kebersamaan
  58. 11. Mencintai Alam
  59. 12. Merawat Alam
  60. Memelihara Tumbuhan dan Hewan
  61. Menjaga Kelestarian Udara
  62. Menjaga Kesuburan Tanah
  63. 13. Aku Datang pada-Mu Tuhan (Tirtayatra)
  64. ·-(..,.,
  65. 14. Makna di Balik Simbol
  66. 15. Rasa Bahasa
  67. Belajar Bahasa Sanskerta
  68. Belajar bahasa Kawi
  69. Daftar Pustaka
  70. I I

BUKUPENGAYAAN

PENDIDIKAN

BUDI PEKERTI

UNTUK PASRAMAN

.. ~·~ :io·; t

dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Konsultan: D r. A de Makmur K, M.Phil

Tim Penyusun : Dr. ld a Bagus Dharm ika, M.A D r. Jr. E. D ew i Yulia na, M.S i. D rs. I G usti Ketut W ida na, M.Si I Kadek Sa tria, S. Ag D r. D rs. I Nyom a n Ra ka, M.Pd I G de Wid ya Suksma, ST., M. Ag

Ko ntributor: Siti D loya na K, Ernayanti, Dam ardjati, M. Fadhla n, Robby A, Ria Andayani, Swety Firmanti, Bachrud in

Penyunting Bahasa: Dr. Muji 'zah

Tata letak: Genardi A tmadiredja

Foto Sampul:

Dok. P uslitba ng Kebudayaan

Penerbit P usat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Balitbang, Kemdikbud jln jenderal Sudirman -Senayan, Gedung E Lantai 19, Jakarta 12041

Diterbitkan pertam a kali oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan jakarta, 201 4

Cetakan Pertama, 201 4

H ak cipta dilindungi oleh U ndang- U ndang D ilarang mengutip atau memperbanyak sebagaian atau seluruh buki ini tanpa izin tertulis dari Penerbit Perpustakaan nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Buku Pengayaan Pendidikan Budi Pekerti untuk Pasraman. ---jakarta: P uslitbang Kebudayaan, 201 4 x+ 90 him: 17.6 x 24,9 em Bibliografi -Glosari ISBN 9 78-602- 14893-8-3

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan

Seg'h Puj; don Sy u k"' tmumh hanyo kep

Tidak henti -hentinyan kita menunduk ka n kepala karena hanya dengan kehendak-Nya kita mampu mewujud kan keinginan dan cita -cita luhur untuk mendukung kcg iatan budaya sekaligus si~tem re li gi yang menj ad i anutan masyarakat Bali. Da lam kesempatan ini, saya selaku Ke pa la Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Bal itbang, Kementerian Pendid ikan dan Kebudayaa n menyambut baik, penerbitan buku yang menjadi pengayaan bahan aja r Pasraman.

Bertolak dari penelitian tahun 201 2 ten tang Desa Budaya di Bali, para peneliti dari Puslitbang memperoleh informasi }'ang sa ngat pcnting, selain basil penelit ia n itu sendiri yakni peran desa budaya, juga rekomendasi ya ng bersumber dari kehendak para pemangku De.'>a Pakraman agar keg iatan ditindaklanjuti denga n Penguatan Pasraman sebaga i Lembaga Pe ndidikan Ad at, sebuah lembaga pendidikan adat yang hi ngga kin i masi h tetap d ipcrtaha n ka n eksistensi nya, ka rena menjad i lembaga yang melestarikan ni lai budaya dan membentengi tradi:-.i dari ma.<, uk nya nilai budaya asing.

Mencermati tindaklanjut kegiatan tersebut, Pusat Penelitian dan Pcngembangan Kcbudayaa n, sebaga i lembaga ya ng 111Cillpunya i tuga.<, dan ru ngsi pc ngemba nga n kebudayaa n, termasu k d i dala m nya menc

Melalui se rangkaia n kegiatan dan kcrja ~a ma dcnga n Uni vers itas Hindu Indonesia di Ba li, dan dukungan dari Dinas Kebudayaan, Dinas Pcndidikan, Majelis Utama Desa Pakraman, Majelis Madya, dan Majeli s Alit, kcpa la desa Pakraman di seluruh Prov in si Ba li, akhirnya bu ku pcngayaan bahan ajar Pa~ra man dapat diwujudkan. Dukungan yang sangat bcrarti juga saya terima dari Dr. Ade Makmur Kartawinata M.Phil sebagai konsultan ya ng ten1s mendampingi pe neliti selama

Pemerintah Bali dalam mewujudkan Ajeg Bali.

Kepada saudara-saudara yang saya sebutkan di atas, saya sampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas budi baik saudara-saudara semua. Saya juga berharap agar kerja sama yang telah terbangun ini bisa berlanjut di kemudian hari, dengan mengembangkan budaya lainnya untuk kemajuan pembangunan kebudayaan Indonesia secara umum.

AN KEPALA DINAS KEBUDAYAAN PROVINSI BALl

Om Suastynstu,

Dengan menghaturka n Sesantiangayu bagia, atasa sungkertawaranugraha Ida Sa ng Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, yang menyayangi dan mengasihi kita semua, dan telah memberikan anugerah kepada kita semua.

M engacu kepada cita -cita ba ngsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter ya ng sesuai dengan kepribadian Indonesia, tidak semata- mata mengandalkan pendidikan formal melalui lembaga sekolah, aka n tetapi bisa diwujudkan dengan peran ~ e rt a masyara kat sebagai penduku ng Kebudayaan. Oleh karena itu integrasi antara pcndidikan da n kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan, perilaku dan hasil karya manusia sangat diperlu kan dalam proses pembelajara n dan upaya adaptasi terhadap lingkunga nnya.

M asya rakat Ba li, sekalipun berada di te ngah perkembangan zaman ya ng d itanda i denga n semakin meni ngkat nya peran teknologi komunikasi, namun tradisi yang diwarisi dari leluhurnya hingga kini tetap terpelihara dengan baik. Salah satu tradisi tersebut ada la h Pasra man sebaga i lembaga pend id i ka n ad at yang didu ku ng oleh warga desa adat "Pakraman''. Secara harafi a h, Pasraman merupakan lembaga pendidika n yang mentransmisika n berbagai pengetahuan "adat'' seperti Budi Pekerti, Kesenian, ketrampilan dalam membuat perlengkapa n upacara, dan elemen budaya Bali la innya. Kegiatan Pasraman, pada um umnya diperuntukan kalangan muda, khususnya siswa sekolah antara kelas 4(empat) sa m pai denga n kelas 6(enam). Aka n tetapi sesuai dengan perkembanga n zaman, bu ka n hal yang mustah i I apabila Pas raman juga d i man faatkan untuk menyampaikan berbagai hal untu k kepentingan perbaikan kehidupan adat di D esa Pakraman.

Jika kita menyimak ko ndisi berbudaya m asyarakat Indonesia umumnya, khususnya Bali dewasa ini keberadaan Pa sraman sesungguhnya diharapkan mampu menjadi le mbaga yang akan membentengi anak-a nak dari pengaruh negatif n ilai asing yang masuk hingga kesendi -sendi kehidupan keluarga. Pasrm nan yang dikelola oleh para pemangku adat di Desa Pakraman, diharapkan menjadi oasc yang akan memberikan pengaruh positif dan sirama n batin dengan n ilai- n ilai ya ng bersumber dari kearifan lokal Bali, sehingga d ikemud ian hari ana k-anak itu akan tumbuh menjadi m a nusia yang me miliki kepribadian dan karakter ya ng kokoh sekalipun hid up ditengah -tengah globalisasi dengan nila i- nilai universal.

Dengan hadirnya, buku pengayaan untu k lembaga pendidikan adat Pa sraman, sudah tentu metode pembelajaran d i lembaga te rsebut aka n semakin terstruktur, karena ada pedoman yang menga rahka n para tutor ke ti ka menyampa ika n berbagai hal yang

Saya yakin buku pengayaa n ini sangat bermanfaat untuk kemajuan dan perkembangan Pasraman dimasa yang akan datang. Oleh karen a itu, saya sangat menyambut baik hadirnya buku pengayaan adat "Pasraman" ini.

Kepada Pimpinan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan seluruh jajarannya sebagai pihak yang menginisiasi kelahiran buku in\ Rektor dan para penulis dari Universitas Hindu Indonesia di Bali, Ketua Majelis Utama Desa Pakraman ProvinsiBali, Majelis Madya Desa Pakraman Kabupaten/Kota se-Bali dan Majelis Alit Oesa

Pakraman Kecamatan se-Bali Para PerbekeJ, Bendesa Desa Pakraman seJuruh Bali, baik selaku pribadi maupun sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas dukungannya untuk bersama-sama menyelamatkan anak bangsa melalui pendidikan adat dan budaya, semoga Sang Hyang Wldhi Wasa membalas budi baik lbu dan Bapak semua.

Harapan saya, semoga kerja sama yang baik ini akan menjadi tonggak kebangkitan budaya Indonesia dalam menyikapi perubahan zaman, dan secara khusus saya juga menghimbau agar Buku ini menjadi salah satu pedoman untuk mewujudkan Bali yang Shanti Lan Jagadhita yang kita cita-citakan bersama.

Sekian dan Terima Kasih.

Om Shantih, Shantih, Shantih Om

Denpasar,24 Desember 2014

NI P 19580105198603 t 0 14

erupakan suatu kehormatan sekaligus penghargaan bagi Universitas

M Hindu Indonesia Dcnpasar telah dilibatkan dalam kerjasama penyusu -

nan buku Budi Pekerti, pedoman pengayaan bagi Pasraman tingkat Sekolah Dasar yang dikelola Desa Adat di Bali. Tidak mudah memang mewujudkan suatu model buku Budi Pekerti berbasis ajaran Hindu, agar dalam penyusuna- nnya tidak menimbulkan kesan sebagai buku agama Hindu. Akan tetapi berkat kerjasama intens antara PL1sat Penelitian dan Pengem-bangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Universitas Hindu Indonesia Denpasar, telah berhasil diwujudkan buku Budi Pekerti dimaksud. Kehadiran buku Budi Pekerti ini menjadi penambah khaz- anah perbendaharaan kepustakaan m ateri ajar Budi Pekerti, sekaligus sebagai bahan pengayaan bagi Pasraman tingkat Sekolah Dasar yang kini kian tumbuh berkembang di Desa -Desa Adat di Bali. Keberadaan buku Budi Pekerti ini tentunya akan semakin be manfaat apa- bila pesan dan amanat di d alam buku ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk direalisasikan ke dalam sikap, perbuatan atau perilaku sehari-hari. Jika manfaat ini dapat dicapai, tentunya apa yang diharapkan dalam proses pembe- lajaran di Pasraman akan menampakkan hasilnya dalam kehidupan bermas- yarakat di masing-masing Desa Adat di Bali. Sebagai sebuah basil karya cipta, tentu tidak lepas dari cela, untuk itu den-gan rasa !ega, kami sangat berterimakasih jika mendapatkan masukan, sa-ran ataupun kritik dari semua pihak guna penyempurnaan materi buku Budi Pekerti ini.

lriduJ lntionesiaili>ellpqsasa

lSI

Sambutan
Kepa la Pusat Penelitia n dan Pengembangan Kebudayaan ....................................... iii

Sambutan
Kepala Dinas Kebudayaan Prov i nsi Bali ......................................................................... v

Kata Pengantar .................................................................................................................... vii

Daftar lsi ................................................................................................................................ ix

BABI
TUHAN MAH ASEGALA NYA ............................................................................................... l
BAB II
SUS I LAK EHIDUPAN .............................................................................................................. 9
BAB Ill
LIMA KEWAJI BA N .............................................................................................................. 27
BABIV
HIDUP SE JAHTERA DA N BAHAG!A ................................................................................ 35

BAB I

TUHAN MAHASEGALANYA

egala yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tu ha n. Tuhan c!iseb ut juga ida San - ghyang Widhi Wasa. Tuhan adalah Mahasegalanya, Mahaada, Mahakuasa,

SMahatahu dan Ma hakarya. Tuhan disebu t Mahaac! a karena Tuhan ada di ma -

na -mana memenuhi sel uruh alam semesta in i. Tuhan disebut Ma haku asa karena ha-nya Tuhan ya ng berkuasa atas seluruh ciptaannya. Tuhan disebut Mahatahu karena Tuhan mengetahui sega la kejadian di du n ia ini. Tu han disebut Ma haka rya karena at as kenya Tu hanlah, dun ia beserta segala is i nya terLIS bergera k mel a ngsu ngka n ke- hidupan tiada henti.

  1. Tuhan Sang Pencipta Alam yang indah in i adalah ciptaa n Tuhan. Tu han menciptakan seluru h makhluk, seperti tumbuh -tumbuhan, hcwan, dan man usia. Tidak ada sa tupun man usia di dun-ia ini ya ng mampu menciptakan sa lah satu di antara makhluk hidup itu. Adakah di antara kita, teman, saudara atau dirimu sendi ri yang mampu me nciptakan pohon lengkap denga n bunga dan buahnya? Ad akah di antara kita yang mampu mencip-takan gajah, kuda, bu rung, bebek, ayam, dan hewan lainnya? Adakah di antara kita yang bi sa membuat gunung, bukit, !aut, danau, dan sungai? Pasti tidak bukan7 Bukti itulah ya ng memperlihatkan bahwa wala upun diciptaka n Tu han se bagai makhluk sempurna, manusia tetap memiliki keterbatasan. Sesungg uhnya ma nusia tid ak ada apa-apanya dan tidak bera rti apa-apa d i hadapan Tuhan. Ma nusia tetaplah ma-nusia mes kipun pintar sekalipun. Manusia ti dak akan mampu menciptakan apa pun. Tanah, air, api, angin, dan langit atau ruang angkasa adalah ciptaan Tuhan ya ng

PF.NGAYAAN PENDIDIKAN BUfll PEKERTI UNTIJK PASRAMAN

menyebabkan seluruh makhluk dapat melangsungkan kehidupannya di atas bumi ini. Manusia hanya bisa berbuat dan menciptakan segala alat perlengkapan dalam hidupnya yang bahan-bahannya sudah diciptakan Tuhan.

Lalu, siapakah yang mempunyai kekuatan mencipta, memelihara, dan kemudian mengemhalikan seluruh ciptaan-Nya kembali ke asal mula?

Tuhan Ma ha besa r dan Tak Terpikirkan Acintya

Jawabannya adalah Tuhan. Tuhan adalah pencipta segala yang ada, alam se- mesta beserta segala isinya. Tuhan juga yang memelihara seluruh makhluk ciptaanya. Tuhan menyediakan makanan bagi setiap makhluk hidup di dunia ini. Semua makhluk hidup diciptakan untuk saling menghidupi makhluk lain. Tumbuh-tumbuhan menjadi makanan bagi binatang. Binatang bisa menjadi makanan bagi sesama binatang, sedangkan manusia bisa memakan tumbuhan dan juga binatang.

Tuhan Mahabesar dengan segala ciptaan-Nya. Itulah sebabnya sebagai ham- ba Tuhan, kita hendaknya patu h dan tunduk pad a ajaran Tuhan. Tidak sepantasnya kita melanggar perintah Tuhan yang menyebabkan kita berdosa dan mendapat pen- deritaan.

  1. Semua Manusia Bersaudara Kehidupan bersa ma dalam sua ~a 11a per~auclaraan acla lah dambaan kita Jsemua. Namun, harapan itu t 1dak selalu dapat diwujudkan. Ada~aja persoalan mun-cul dan seringkali menjadi masalah. jika permasa la han tidak clapat di selesaikan, ti-dak jarang timbul pertengka ran, bahkan terjad i perkelahian. Hal itu te rjadi karena sifat keakuan eli antara kita masih belum bisd dikendalikan. Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Se mua pihak mau nlt.'na ng sendiri dan pihak ya ng sa tu bermak- sud mengalahkan pihak lain. Apakah kalian mengalami persoa la n clemikian?
    '\

-~ 'i

J

Scm ua M anu ~1a Bc 1 sc~uc!dra

jika kita menya dari, semestinya sikap pern1 usuhan itu tidak bolch terjadi sebab sebe- narnya sc mua manusia adalah bersaudara. O leh karena b er~a ud ara, sesama manusia harus saling mengasih i. Tuhan saja menciptakan scmua makhluk dengan cinta kasih, mengapa kita tidak mencontoh sifat Tuhan yang 1\Jahakasih itu? Bagaimana ca ranya7 Ca ranya adalah di antara kit a sebagai se ~a ma mdnusia tidak boleh membeda -beda-kan satu dan ya ng lainnya.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Meskipun di antara kita banyak perbedaan, suku bangsa, warna kulit, adat-istiadat, bahasa, agama, dan lain-lain, semua manusia adalah sama, berasal dari ciptaan Tuhan yang Mahakasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan pada diri manusia sesungguhnya untuk melengkapi kekurangan orang lain. Demikian pula sebaliknya, kelebihan orang lain adalah bagian penting untuk melengkapi kekurangan kita. Itulah sebabnya kita tidak boleh melihat orang lain dari perbedaaannya. Lebih baik kita memandang orang lain dari persamaannya sehingga di antara kita bisa selalu berjalan bersama-sama sebagai sesama saudara.

Jika ada di antara kita melakukan kesalahan semata-mata karena mereka lupa, kewajiban kitalah untuk mengingatkannya. Mereka yang mengalami penderitaan, kemi- skinan, dan kebodohan adalah bagian dari kekurangannya yang menjadi kewajiban kita untuk membantu. Singkatnya, semua di antara kita adalab bersaudara. Dengan persaudaraan itulab, secara bersama-sama kita bisa melangkab untuk memajukan kebidupan ini, menuju kebidupan yang lebib baik, sejabtera dan bahagia.

  1. Tanam Padi Panen Padi Pernabkab kalian melihat para petani di sawab? Apakab yang mereka lakukan? Mereka menanam berbagai baban pangan untuk memenubi kebutuhan kita se- lain untuk dijual. Apakab yang mereka tanam? Jika mereka menanam padi, pernabkab mereka memanen jagung? Tentu tidak. Jika menanam padi pasti yang dipanen adalab padi. Itulab gambaran tentang akibat perbuatan yang akan selalu mendatangkan basil. Apabila seseorang melakukan perbuatan baik, mereka akan mendapatkan kebaikan. Begitu pula sebaliknya, jika mereka melakukan kejabatan, mereka pun akan mener- ima basil perbuatannya yang setimpal. Tuhan adalab saksi agung yang mampu men- getabui segala perbuatan manusia. Tuban mencatat setiap perbuatan kita dan akan memberi imbalan sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Oleb karena itu, marilah kita selalu melakukan perbuatan baik dan benar. Dengan berbuat baik dan benar ke-bidupan kita akan selalu dilindungi dan diberkabi Tuban. Apakab landasan kita dalam berbuat:
    1) setiap perbuatan bendaknya selalu berdasarkan ajaran kesusilaan,
    2) lakukan perbuatan atau pekerjaan sebagai suatu kewajiban,
    3) tidak mengbarapkan hasil dari perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan,
    4) tidak menyakiti orang lain atau makbluk hidup lainnya,
    5) tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain,
    6) selalu membuat orang lain senang,
    7) saling mengasibi dan menyayangi, dan
    8) saling mengbargai dan menghormati.

--. /

\~· ····· \""·-

-' ~

Ap;1 y ang Dit analll, ltu y ang D ipetik

  1. Mulai Berbuat Mulia Se ti ap yang lah ir ke dunia ini past i akan ke mba li kepada ~ u m be r n ya. Siapa- kah sumber asa lmula ke hidu !Ja n in i, tent unya Tuhan, bu kan ? jika ~ e t iap orang dapat menj alankan ajaran atau peri ntah Tuhan, kelak akan dapat kembal i pada Tuhan. Se-baliknya, kalau seseorang masih saja melakuka n pe rbuatan tidak baik atau dosa, ia akan menga la mi kelahiran kem bali. Kembali pada kehidupan di dunia ini. Tujuannya untuk memperba iki kembali pe rbuatannya agar ti dak melakukan kesalaha n dan dosa lag i. Menyad ari hal itu, kita sebagai hamba Tu han sudah se mesti nya har u ~ tcrus berusaha untuk selalu berbu at mulia. Caranya, denga n ti dak henti-hentinya memperbaiki diri aga r terhindar da ri perbuatan sa lah atau ja ha t ya ng aka n bera kibat dosa yang menye-babkan kita aka n menga lam i kela hiran ke mbali ke dun ia ini. Apa saja yang mesti dilakukan'

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK PASRAMAN

.J" .. ·,r ,r--1\ ·>r-'\r-\K-~

~:4"-~--"..-,-.....,.-.. _ r ~ ~--- ·

Kemuliaan dengan Be rbagi

1) rajin berbakti ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, dan para guru. Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan dan memelihara kehidupan kita. Kemudian orang tua melahirkan, merawat, dan mendidik kita sejak kecil hingga menjadi orang yang baik dan berguna. Lalu, guru di sekolah membuat kita bisa menulis, membaca, dan menghitung serta membimbing kita agar menjadi anak berbudi pekerti luhur.
2) menjaga dan memelihara alam lingkungan sebagai anugrah Tuhan. Keindahan alam pegunungan, hamparan sawah menguning, !aut biru dengan pantainya, hutan dengan keasrian pepohonannya dan sebagainya adalah sederetan mahakarya cipta Tuhan yang dianugerahi kepada kita untuk dimanfaatkan, dirawat, dan dijaga kele- starian nya.
3) selalu berbuat mulia, penuh kasih, dan saling menyayangi antarsesama manusia bahkan juga kepada makhluk hidup lainnya. Apa pun perbedaan kita, baik suku, ras, golongan, dan agama, semuanya adalah sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang patut kita jaga dan cintai.

  1. Kembali kepada-Mu Tuhan Ke manakah manusia pergi setelah kehidupan di dunia ini? Pernahkah ka-lian berpikir demikian? Manusia dicipta ka n Tuhan melalui perantaraan orang tua kita yang melahirkan. Selanjutnya, kita menjalani kehidupan in i dan pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Pada saat it ulah kita akan sadar bahwa segala yang ada di dunia ini dengan berbaga i kehidupan nya akan mengalam i masa akhir, terma- suk manusia dengan segala apa yang dimi liki. Se tela h akhir kehidupan ini, pada saat meninggalkan dunia ini, apa yang kita mi liki tidak akan dibawa. Kehidupan dengan segala keadaannya, entah itu keba hagiaan ataupun penderitaan hanyalah sebagai pelengkap perjalanan hidup. Pada akhirnya semuanya akan kita tinggalkan. Oleh sebab itu, kita tidak perlu membanggakan apa lag i menyo mbongkan diri tentang apa yang kita mi liki yang sebenarnya bukan hak kita. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. jalani hi dup ini apa adanya sesuai petunjuk Tuhan. Namun demikian, kita harus tetap berusaha agar kehidupan ini menjadi lebih baik, lebih sejahtera, dan bahagia. jadi, jalan terbaik bagi kita untuk bisa kembali pada Tuhan adalah dengan se lalu patuh dan mengikuti ajaran-Nya serta menghindari la-rangan-Nya.

PENGA YA A N PEND IDIK AN BUD I PEK F. RT IUNTLJK PAS RA MAN

BAB II

SUSILA KEHIDUPAN

elahiran sebagai manusia adalah uta ma d an mulia. A rtinya, manusia itu adalah makhluk utama dan mulia. Makh luk uta ma karena Tuhan memberikan

Kanugerah pikiran (idep), gerak/ tenaga (b ayu), dan sua ra (s abda). Bandingkan

dengan tumbuh-tumbuhan yang hanya mendapat anugerah gerak (bay u) dan hewan mendapat anugerah gerak atau tenaga (bay u) d an suara (sa bda).

Selalu Menghormat dan Memberi Salam

Dengan kelebihan pikirannya, manusia bisa mem pertimba ngkan segala sesuatu se-

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

belurn berbuat. Dengan pertirnbangan pikiran itulah rnanusia dapat rnernilah dan rnernilih sesuatu yang baik dan benar serta yang tidak baik dan tidak benar. Manu- sia juga rnulia karena sebagai ciptaan Tuhan yang paling sernpurna, rnanusia dapat rnernuliakan dirinya dengan selalu berbuat baik. Untuk rnenjaga keutarnaan dan kernuliaan itu, rnanusia wajib rnelaksanakan ajaran kesusilaan dalarn kehidupannya.

a) jika seekor kijang yang berbahagia dengan rurnput dan buluh rnuda, perhi- asan ernas itu tidak berarti apa-apa.
b) seekor kera yang berbahagia dengan buah-buahan pada pohon-pohon kayu, rnutiara itu tidak ada artinya.
c) seekor babi yang gernbira dengan rnakanan yang sudah busuk, bau bunga harurn itu tidak berarti apa-apa.
d) bagi rnanusia, susila kehidupan (dengan berbuat baik) itulah yang harus diutarnakan dan dilakukan walaupun kadang-kadang tidak rnenggernbira- kan.
Susila kehidupan rnengarahkan kita untuk selalu berbuat baik dan benar. Dalarn susila kehidupan, kita diajarkan untuk rnenjalin hubungan bakti atau cinta kasih, tidak saja ke hadapan Tuhan, rnelainkan juga kepada sesarna rnanusia dan alarn serta lingkungan sekitar.

1. Deritamu Deritaku Juga "Kita sesungguhnya satu, ia, mereka juga adalah kita, segala kekurangan mereka adalah bagian dari kita, aa adalah aku juga". Pernahkah di antara kalian rnendengar ungkapan ini? Tentu pernah, bukan. Sesungguhnya kita lahir ke dunia yang sarna, sebagai sesarna rnakhluk ciptaan Tuhan yang berkewajiban untuk saling rnengasihi dan rnernbantu. Ibarat buah pisang yang banyak, narnun hidup dalarn satu pohon, atau butiran buah kelapa yang turnbuh dalarn satu pohon, dernikian juga rnanusia yang begitu banyak perbedaan, tetapi sernuanya sarna sebagai sesarna rnakhluk Tuhan. Ternan, saudara, orang tua adalah rnutiara-rnutiara yang harus kita cintai rneskipun rnasing-rnasing penuh dengan kekurangan. Itulah kesernpatan bagi kita untuk rnernbantu atau rnenolong agar rnereka tidak jatuh pada keadaan yang rnern- buat kehidupannya menderita. "Deritarnu adalah deritaku juga" adalah untaian kata indah yang rnengajarkan kepada kita untuk saling rnernperhatikan orang lain. Mulai dengan rnenjaga perasaann- ya, lalu rnengasihi dan menyayangi hingga siap rnernbantu bila diperlukan. Mari kita belajar untuk turut rnerasakan penderitaan orang lain. Jika ada orang lain, entah itu saudara, ternan, tetangga atau siapa pun yang sedang rnengalarni kesedihan, kesusah- an atau penderitaan, belajarlah untuk turut rnerasakan penderitaan rnereka.

PENGAYA A N PENDIDIK AN B UD! PEKERTI UN TUK PASRAMAN

Dengan turut merasakan penderitaan ora ng lain akan menumbuhkan keinginan un-tuk membantu atau memberi pertolongan. Perbuatan membantu orang lain, apalagi kepada orang yang sedang menderita adalah bagian dari bakti kita kepada Tuhan. Jadi, bakti kepada Tuhan tidak hanya dengan cara memuja dan menyembah Tuhan, tetapi dapat juga dengan turut merasaka n penderitaan orang lain dan kemudian segera memberikan pertolongan.

Memberi pertolongan adalah bagian dari kebaikan kita untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Jika orang lain menderita, kita juga turut merasakan pender- itaannya. Sebaliknya bila orang lain bersenang hati, kita pun turut merasa senang. Kamu senang aku juga senang, kamu menderita aku juga menderita.

,·.f.

----l:-l,

l

Membersihan Rumah dan Tempat Suci

2. Berpikir Positif

Manusia adalah makhluk berpikir. Apa pun bentuk perilaku manusia pas- tilah berawal dari pikirannya. Pikiran sebagai penggerak dari semua perkataan dan perbuatan. Pikiran disebut sebagai raja dalam diri manusia. Pikiran yang menentu- kan, apakah kita akan melakukan kebaika n atau sebaliknya melakukan kesalahan.

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Karena pikiran rnenjadi pusat gerak perkataan dan perbuatan, kita harusnya selalu rnernurnikan pikiran kita. Salah satu caranya adalah dengan selalu berpikir positif.

Berpikir positif artinya rnengarahkan pikiran agar selalu rnernikirkan hal-hal yang baik dan benar serta berguna. Seseorang yang selalu berpikir positif akan disenangi banyak orang karena senantiasa rnernbawa kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Selain itu, orang yang berpikir positif dia akan selalu sehat sebab pikirannya selalu bersih dari hal-hal yang buruk. Mereka yang berpikir positif juga diliputi perasaan tenang dan darnai. Sebaliknya, rnereka yang selalu berpikir negatif akan rnernbuat dirinya selalu gelisah, bingung, bahkan tubuhnya pun rnenjadi tidak sehat akibat pikirannya yang tidak sehat atau bahkan sesat.

3. Sopan Berbicara

"Dengan kata-kata kita akan bahagia, dengan kata-kata kita akan mendapatkan ternan, dengan kata-kata kita bisa menderita, dan dengan kata-kata pula kita akan mendapatkan kematian". Pernahkah kalian rnendengarkan kata-kata di atas? Ya, rnanusia dalarn kesehariannya tidak bisa dilepaskan dari kata-kata. Manusia selalu berkata-kata untuk berkornunikasi dengan orang lain. Orang yang baik akan selalu berbicara dengan kata-kata yang sopan, lernah lernbut, dan tidak rnenyakiti perasaan orang lain.

Dengan rnengungkapkan kata-kata baik saat berbicara, kita bisa rnendapatkan ternan, bahkan kebahagiaan. Sernua orang pasti akan senang dan bahagia jika rnerniliki ternan yang pandai berbicara sopan. Kita sering rnenernui suatu rnasalah bisa disele- saikan dengan cara berbicara sopan. Kernarahan pun bisa juga diredarn dengan men- gucapkan kata-kata sopan yang rnenyejukkan.

Apakah kita sudah sopan dalarn berbicara? Jika belurn, rnulailah dari sekarang berbicara dengan sopan karena berbicara sopan akan rnendapatkan kebaikan dan keba- hagaiaan. Sebaliknya, jika senang berbicara tidak sopan, apalagi berkata-kata kasar, kata-kata itu hanya akan rnernbuat orang lain rnarah dan rnenirnbulkan rnasalah sehingga bukan ternan dan kebahagiaan yang didapat, tetapi penderitaan bahkan kematian pun bisa rnenimpa kita, gara-gara salah dalam perkataan.

4. Perilaku Santun

Apakah dian tara kalian punya ternan usil, suka rnengejek, gernar rnenggang- gu, dan senang rnernukul? Nah, orang seperti itulah yang disebut dengan orang yang berperilaku tidak baik dan tidak santun. Dalarn kehidupan kita sehari-hari, perilaku demikian sangat tidak disukai karena hanya akan rnenirnbulkarr rnasalah dan rnen- datangkan penderitaan. Oleh karena itu, rnenjadi kewajiban kita untuk selalu berperilaku santun. Caranya berperilaku santun, di antaranya sebagai berikut

PENGA YA AN PENDIDIKA N BUD / PEK ERT I UN TUK PASRAMAN

1) sebelum berbuat, pikirkan terlebih dahulu, apakah perilaku kita akan mem-buat orang lain senang, sedih, atau tersinggu ng.
2) jangan sekali -kali melakukan sesuatu yang membuat orang lain kesal,jengkel, atau marah.
3) selalu membuat orang lain senang dan bahagia, jangan sampai menyakiti perasaan atau fisik orang lain.
4) bersikaplah rendah hati, bukan rendah diri.

5. Tuhan Bersama Kita

"Tu han adalah a sal mula semua yang ada d i ala m in i ". Semua makhluk adalah ciptaan Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan juga. Di dalam diri manusia terdapat Tuhan (Brahman) yang disebut dengan Atman (percikan sinar suci Tuhan). Oleh se-bab itu, Tuhan yang disebut juga Guru Swadhyaya selalu ada dan hadir bersama kita. Manusia hanya seringkali tidak mengetahui dan tidak menyadari keberadaan Tuhan di dalam dirinya. Akibatnya manusia melupakan Tuhan yang telah memberikan ber- macam anugrah kehidupan. Manusia yang melupakan Tuhan biasanya perilakunya menyimpang dari ajaran Tuhan. Agar tida k lupa kepada Tuhan, kita harus "Pusatkan pikiranmu pada Tuhan, berbakti pada Juhan, bersujud pada Tu han, sembahlah Tu - han, dan jadikan Tuhan sebagai tujuan tertinggi, maka kita akan mencapai Tuhan ". Apa saja yang dapat kita laku kan sebagai w ujud bakti kepada Tuhan? Laksanakanlah hal -hal berikut

1) persembahan (yadnya) seperti menghaturkan sesaji (b anten) berupa canang, soda atau pajati.
2) persembahyangan Tri Sandhya (persembahyangan tiga kali sehari dengan melantunkan puja-puji kebesaran nama Tuhan), dilanjutkan dengan Panca Sembail (bakti kepada para Dewata sebagai perwujudan Tuhan), dan
3) ucapkan doa-doa per mohonan setiap akan melakukan suatu kegiatan.
Dengan cara persembahan dan persembahya ngan serta berdoa, tentunya Tuhan akan selalu bersama kita. Saat kita melakukan sujud bakti itu hendaknya dijalankan dengan

1) rasa percaya dan keya kinan tinggi kepada Tuhan,
2) hati yang bersi h dan suci, dan
3) sikap pasrah, tulus ikhlas, dan tanpa pamrih.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PA SRAMAN

Raj in Semba hya ng Bersa ma di Sekolah

Perbuatan menghaturkan persembahan dan melakukan persembahyangan serta ber- doa itu akan memberi banyak manfaat, diantaranya

1) membersihkan pikiran kotor,
2) meningkatkan kesucian diri,
3) memurnikan hati,
4) melatih memusatkan pikiran,
5) mengendalikan emosi, ambisi, dan hawa nafsu,
6) menumbuhkan keharmonisan dalam kehidupan, dan
7) menjadi lebih rendah hati, tunduk, dan pasrah kepada kuasa Tuhan.

PEN DIDIKA N BU DI PEKERT I UN TUK PASRAMAN

6. Patuh kepada Orang Tua

Anak yang baik selalu patuh pada orang tua. Salah satu bentuk patuh dan bakti pada orang tua disebut guru rupaka, yaitu bersikap patuh dan hormat pada orang tua, baik ayah maupun ibu. Orang tua (ayah dan ibu) dipandang sebagai per- wujudan Tuhan di dunia. Dengan bersikap patuh dan hormat pada orang tua, berarti kita patuh pada Tuhan dan kita akan memperoleh kebahagiaan.

Zaman sekarang, sikap bakti kepada orang tua sudah sangat berkurang. Ban-yak orang tua merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai atau tidak dihormati oleh anak-anaknya. Bahkan, ada orang tua ya ng dititipkan di panti jompo karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Keberadaan orang tua dianggap sudah memberatkan dan membebani kehidupan anak-anaknya.

Pantaskah seorang anak memperlakukan orang tuanya demikian' Sangat tidak pantas, bukan? Orang tua sudah melahirkan kita, merawat, membesarkan, kemudian menyekolahkan dan menjadikan kita orang berguna. Oleh karena itu ke-beradaan orang tua tidak ubahnya bagaikan Tuhan itu sendiri yang berada di ten-gah -tengah kita.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Sewajarnya seorang anak patuh dan hormat serta menghargai orang tuanya. Perilaku itu dapat ditunjukkan dengan cara

1) selalu memberi perhatian,
2) senantiasa menunjukkan rasa kasih sayang, dan
3) setiap saat merawat dan melayani kebutuhan hidupnya.
Bakti kepada orang tua wajib ditunjukkan, terutama pada saat mereka masih hidup dan memasuki masa tua. Pada waktu itu, mereka sudah tidak bekerja dan kondisi badan sudah tidak kuat lagi, bahkan sering sakit-sakitan. Mereka memerlukan perhatian dan curahan kasih sayang dengan memberikan perhatian yang dilandasi kasih sayang. Dengan begitu, orang tua sangat senang dan bahagia. Pada sadarnya orang tua tidak mengharapkan kemewahan hidup pada masa tuanya, tetapi hanya perhatian.

Sebenarnya setiap anak yang dilahirkan mempunyai hutang kepada orang tua yang disebut pitra rna. Hutang dalam hal ini bukan berupa hutang uang tetapi hutang kewajiban untuk berbakti kepada orang tua yang disebut juga guru rupaka. Caranya berbakti kepada orang tua bukan dengan memberi limpahan materi atau kemewahan hidup, tetapi memberikan perhatian, penghargaan, penghormatan, curahan kasih sayang, merawat, dan melayani orang tua semasa hidupnya.

"fika bulan itu lampu pada waktu malam, surya itu lampu dunia di siang hari, darma (kebenaran) itu lampu ketiga dunia ini, maka seorang anak!putra yang baik itu adalah cahaya bagi keluarga". Bisakah kita menjadi cahaya yang membawa kebahagian bagi keluarga? Jika bisa, kita akan mendapatkan pahala berupa

1) pujian atas kebaikan (kirti),
2) kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia (ayusa),
3) kekuatan dan keteguhan (bala), dan
4) nama harum (yasa)

7. Hormati Guru

Jika Tuhan menciptakan semua makhluk di dunia, orang tua melahirkan kita di muka bumi, dan seorang guru juga dapat melahirkan seorang anak. Anak yang bagaimana yang dilahirkan guru? Anak yang semula tidak mengetahui apa-apa, setelah ia belajar dari guru, ia menjadi tahu sesuatu. Dari anak yang bodoh menjadi anak yang pintar-pintar, dari anak yang tidak baik menjadi anak yang baik, dan dari anak yang belum bermanfaat menjadi anak yang berg una. Dari situlah peran seorang guru yang mulia. Nasihat dan pelajaran patut dipahami dan ditiru. Oleh karena itu, jika orang tua dihormati layaknya sebagai Tuhan, seorang guru yang disebut guru

PE NCAYAAN PEND I DIK AN fllJD I PEKE RT I UNTU K PASRA M A

pengajian patut juga dihormati bagaikan Tuhan.

"Orang yang rnengajarkan ilrnu keduniawian dan ilrnu pengetahuan Weda, serta ilrnu pengetahuan kerohanian dan ilmu pengetahuan lainnya, orang itulah yang pertarna-tarna wajib diberikan penghorrnatan ". Menghormati guru bukan berarti sang guru minta dihormati, apalagi disebut gila hormat. Hormat kepada guru mer- upakan kewajiban seorang siswa. Dengan jasa, pengabdian, dan pengorbanan guru, semua orang ya ng mau belajar dengan tekun, rajin, da n disiplin akan menjadi pintar dan beriman sebagai bekalmenuju keberhasi lan dalam kehidupan.

Bayangkan, jika di dala m kehidupan in i tidak ada guru. D unia akan diliputi kegelapan pikiran (bodoh) dan tidakada pikiran untuk maju menuju kehidupan ya ng sejahtera dan bahagia. Lihatlah sekarang, denga n jasa, pengabdian, dan pengorbanan seorang guru, pahlawa n tanpa tanda jasa, in i lah i rl ah orang-orang sukses. Mereka ada ya ng menjadi bidan, perawat, dokter, poli si, ten tara, jaksa, hakim, pengacara, no- taris, pengusaha, menteri, dan presiden karena jasa para guru.

r

Honna t kepada Guru dengan Raj in Belaja r

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Lalu apa bentuk rasa bakti yang dapat ditunjukkan siswa kepada gurunya? Bakti itu dapat dimulai dengan menunjukkan

1) sikap hormat dan selalu menghargai,
2) mendengarkan setiap pelajarannya,
3) menjalankan nasihatnya,
4) memenuhi kewajiban sebagai siswa,
5) patuh dan tidak melawan perintah guru,
6) tidak bersikap kasar dan angkuh (alpaka guru),
7) suka membantu guru, dan
8) selalu ingat pada jasa, pengabdian, dan pengorbanan guru.

8. Taat Pada Pemerintah

. Pemerintah adalah penyelenggara urusan kebangsaan dan kenegaraan. Pemerintah adalah pengayom dan pelindung segenap lapisan masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk menyelenggarakan urusan kebangsaan dan kenegaraan pemerintah membuat peraturan atau undang-undang yang mengatur hak dan kewajiban warga negara, di antaranya membaya,r pajak. Pajak diperlukan sebagai pendapatan negara yang dipergunakan untuk mod- al pembangunan bagi rakyat di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu setiap warga negara wajib patuh dan tunduk pada segala peraturan perundang-undan- gan negara. Ketaatan atau kepatuhan kepada pemerintah sama artinya berbakti kepada guru wisesa. Tanpa pemerintahan, nasib ban gsa dan negara beserta rakyatnya akan sengsara dan tidak sejahtera. Pemerintah yang baik akan selalu memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat untuk kesejahteraan mereka. Pemerintah berke- wajiban mengantarkan seluruh rakyatnya mencapai kehidupan yang adil, makmur, sejahtera, dan bahagia. Selain hak, setiap warga negara juga memiliki kewajiban yang harus dilak- sanakan. Kewajiban rakyat adalah turut membantu pemerintah dalam penegakan hukum. Penegakan itu di antaranya sebagai berikut

1) jika di jalan raya, kita wajib mematuhi rambu-rambu lalu lintas,
2) jika memiliki kendaraan bermotor, kita wajib membayar pajak,
3) jika telah bekerja atau punya usaha wajib, kita harus membayar pajak peng- hasilan, dan
4) jika membangun rumah, kita wajib mengurus izin mendirikan bangunan.

BU D! PEK ERTI UN T U K PASRAM A N

9. Pengendalian Diri

Manusia adalah makhluk sempurna karena Tuhan menganugerahkan pikiran, hati, dan badan. Pikiran digunakan untuk mempertimbangkan, hati untuk merasakan, dan badan untuk melakukan sesuatu. Aga r pikiran, perasaan, dan perilaku dapat berjalan baik dan benar, diperlukan pengendalian diri. Ada beberapa ajaran yang dapat dijalani untuk menguatkan pengendalian diri, yaitu

1) ahimsn: welas asih, memiliki sifat kasih, tidak suka menyakiti perasaan atau fisik orang lain, apalagi membunuh,
2) brahmacari: memanfaatkan masa muda untuk tekun belajar, menuntut ilmu pengetahuan, dan ilmu kerohanian,
3) satyarn : jujur atau tidak suka berbohong,
4) asteya : tidak suka mencuri, dan
5) aparigraha : tidak menerima sesuatu apa pun yang berasal dari perbuatan tidak baik.
Dengan pengendalian diri itu, perilaku kita akan selalu berada pada jalur yang benar dan baik. Dengan begitu kehidupan kita selalu dalam berkah Tuhan.

10. Mengekang Hawa Nafsu

Selain pengendalian diri, kita juga diwajibkan untuk mengekang hawa nafsu karena kalau hawa nafsu tidak bisa dikekang kehidupan kita akan berjalan dengan liar. Kita dapat terjerumus pada kehidupan ya ng salah dan sesat. Bentuk-bentuk sikap pengekangan hawa nafsu itu adalah seperti berikut

Tidak Ego cla n Sporll f

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

1) mengekang nafsu, ego, agar kita tidak mementingkan diri sendiri (anresang- sia),
2) mengekang keangkuhan agar kita suka memaafkan kesalahan orang lain (ksama),
3) mengekang kebohongan agar kita tetap setia (satya),
4) mengekang kebencian agar kita lebih mengasihi sesama makhluk (ahimsa),
5) mengekang kesombongan agar kita dapat menasihati diri sendiri (dama),
6) mengekang kemarahan agar kita memiliki sifat penyayang (priti),
7) mengekang kebiasaan bohong agar kita lebih terbuka dan jujur (arjawa),
8) mengekang nafsu kotor agar kita memiliki hati yang bersih dan suci (prasa- da),
9) mengekang perkataan agar kita bisa bertutur kata manis dan sopan (madu- rya), dan
10) mengekang sifat kasar agar kita tumbuh kelembutan dan kerendahan hati (mardawa).

11. Perbaiki Mental

Setelah pengendalian diri dan pengekangan hawa nafsu, kewajiban kita selanjutnya adalah melakukan perbaikan mental agar semakin hari perilaku kita semakin positif. Cara memperbaiki mental, di antaranya adalah

1) selalu menyucikan diri lahir dan batin (sauca),
2) menentramkan hati agar tidak mudah resah (santosa),
3) tahan uji terhadap segala cobaan dan godaan (tapa),
4) terus belajar mendalami ilmu kesucian (swadhyaya), dan
5) raj in sembahyang dan mengucap doa untuk memuja kebesaran Tuhan (iswara pranidana).

12. Akhlak dan Moral yang Baik

Sebagai hasil pembelajaran diri dalam bentuk pengendalian diri, pengekangan hawa nafsu dan perbaikan mental, akhlak dan moral kita meningkat ke akhlak moral yang lebih baik. Akhlak moral yang baik ditandai dengan tampilan perilaku:

1) selalu iklas berkorban dan beramal demi kepentingan orang lain (dana),

2) tidak pernah berhenti melakukan pemujaa n kehadapan Tuhan (ijwa),
3) tidak mudah menyerah, teguh, dan tahan terhadap segala keadaan (tapa),
4) selalu merenungkan Tuhan (dhyana),
5) bisa menahan diri, tidak mengumbar keinginan nafsu biologis (upasthani- graha),
6) membatasi d i ri dalam hal makan dan m i nu m (upawasa),
7) berhati -hati dalam be rtutur kata agar terucap dengan santun (mona),
8) membersihkan atau memurnikan hati dari segala kekotoran dengan jalan ru-tin sembahyang dan berdoa (snan a),
9) disiplin dalam belajar (swadhyayn), dan
10) meneguhkan sikap untuk selalu taa t akan su mpah atau janji (bra ta).

13. Bakti kepada Tuhan

Menyadari bahwa Tu han itu adalah segal a-galanya, sikap terbaik yang harus ditunjukkan sebagai umat beragama adalah denga n selalu berbakti kepada Tuhan. "Selalu mengagung-agungkan Tuhan, berusaha dengan teguh m em egang sumpah su - jud kepada Tuhan dan dengan disiplin berbakti kepadn-Ku ", Peril akt1 itu wajib dilaku-kan manusia sebagai hamba Tuhan.

Tuhan adalah Mahabcsar dengan segala cip taan -Nya. Man usia ya ng mendapat kemuliaan dan kesempurnaan dari Tuhan mempu nya i kewajiban menunjukkan rasa baktinya dengan teguh dan d isiplin. Karena denga n rasa ba kti itu, Tuhan akan selalu memberikan anugerah kehidupan dan memberika n perlindungan terhadap apa yang kita miliki. "M ereka yang m emuja Tuhan, selalu m erenungkan Tuhan, Tuhan akan bawakan m ereka segala apa yang kita tidak punya dan Tuhan nkan lindungi segala apa yang kita miliki "

Bakti kepada Tuhan tidak hanya d itunju kkan dengan melakukan upacara persembahan sesaji (ba nten) dan persemba hya ngan, tetapi sebaiknya diperlihatkan juga dalam bentuk bakti (pengorbanan dan pelayanan) kepada sesa ma dan makhluk hidup lainnya, seperti

1) memberi pertolongan atau bantuan kepada sesama manu sia yang tertimpa masalah atau musiba h, dan
2) memelihara, merawat, dan menyayangi makhluk lain, se perti tumbuh-tum-buhan dan binatang.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Memelihara dan Menyayangi dan Binatang

Dengan cara itu berarti kita telah menunjukkan rasa bakti kepada Tuhan. Tuhan Yang Mahakasih lagi Maha Penyayang dapat dipuja dengan cara mengasihi dan menyayangi makhluk lain sesama ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan semua makhluk adalah untuk saling menjaga, memelihara, dan menghidupi satu dengan yang lain demi keberlangsungan kehidupan makhluk di muka bumi ini.

14. Mencintai Sesama "Wahai manusia, tiada yang besar dan tiada yang kecil di antara kalian, semua adalah saudara, majulah bersama demi kemajuan". Oleh karena itu lindungilah manusia dan makhluk lain (dvepade catuspade) dengan cara saling mencintai dan peduli, baik dalam suka maupun duka. Tugas kita adalah menumbuhkan rasa cinta di antara sesama manusia sehingga atas dasar cinta itu timbul perilaku yang saling mengasihi dan menyayangi. Hanya dengan saling mencintai, mengasihi dan menyayangi itulah, kehidupan manusia yang banyak perbedaan ini bisa berjalan dengan tenang, rukun, dan damai.

BUD ! PEKERTIUNTUK PASRAMAN

Teman, sahabat, keluarga, bahkan orang la in yang belum dikenal adalah saudara kita Ijuga. Apa pun yang ada di dunia ini diciptakan Tuhan Yang Maha Esa beraneka rupa, bentuk, jenis, dan macam. Keanekaragama n ciptaan Tuhan itu tidak ubahnya seperti keindahan taman bunga. Ka rena isinya beraneka ragam, taman bunga itu menjadi indah mempesona.

Begitu pun keberadaan mahluk hidup lai nnya, termasuk manusia, semuanya adalah bersaudara (vasudhaiva kutumbakam). Seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar, satu sama lain tidak boleh sa ling m embenci apalagi memusuhi. Semestinya kita bisa melihat jiwa (atman) sendiri dalam diri orang lain sesama ciptaan Tuhan. Dengan cara itu kita akan melihat orang lain seperti kita melihat diri sendiri dengan rasa cinta.

Meskipun manusia cenderung lebih m enci ntai dirinya sendiri, rasa cinta tertinggi seharusnya ditunjukkan adalah cinta kepada Tuhan, ya itu dengan cara mencintai sesama dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Menjaga Ketertiban da n Suasana Harmo n is

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

15. Bersahabat dengan Alam

Sarvodaya adalah ajaran tentang kemakmuran bagi semua mahluk. Dalam ajaran itu dinyatakan bahwa alam beserta segala isinya adalah satu kesatuan yang saling menghidupkan. Jika alam rusak, semua makhluk akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Bahkan, ketika alam mengalami kerusakan parah, kehidupan di dunia ini pun tidak akan dapat berlangsung. Semua makhluk dapat mati lalu musnah.

Mengenai memelihara alam, kita perlu belajar dari kisah persahabatan antara Singa dan hutan yang menjalin hubungan dengan cara saling menjaga dan melind- ungi dari ancaman manusia yang suka merusak hutan. Singa bertugas menjaga hutan agar man usia tidak berani masuk dan merusak hutan. Hutan pun memberi pelindun- gan dengan menyediakan beraneka jenis makanan bagi Singa. Bayangkan, jika Singa tidak lagi bersahabat dengan hutan, lalu manusia dengan bebas masuk hutan, kemu- dian pohon-pohon besar ditebang. Seluruh isi hutan akan rusak dan Singa tidak lagi mempunyai tern pat tinggal untuk berlindung, sampai akhirnya Singa pun diburu dan dibunuh manusia.

Kisah persahabatan Singa dan hutan ini memberi pelajaran bahwa tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang bisa hidup tanpa pertolongan makhluk lainnya. Apa jadinya, jika hutan terus dirusak, suhu di bumi pun akan terus bertambah panas. Karena suhu di bumi bertambah panas, bencana kekeringan pun datang menimpa manusia. Akibat bencana kekeringan, panen akan gaga! dengan begitu tidak ada lagi sumber makanan. Lalu apa yang dapat dimakan manusia untuk melangsungkan ke- hidupannya?

Ketika hujan turun dan hutan sudah gundul, bukan berkah dan anugerah yang datang dan dinikmati dari air, melainkan musibah banjir yang membawa penderitaan bagi manusia. Apakah alam yang salah? Tidak, datangnya musibah seperti banjir lebih disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang terlalu serakah mengambil dan memanfaatkan isi alam. Jika hutan rusak, fungsi hutan untuk menyerap dan menyimpan air hingga menjadi mata air berubah menjadi air mata penderitaan manusia. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk yang tertinggi kedudukannya di antara makhluk hidup lainnya seharusnya menggunakan pikiran dan hatinya untuk bersikap hormat ke- pada alam, khususnya bumi. Bumi, tanah, dan air tempat kita berpijak merupakan kehidupan. Untuk itu, marilah kita bersahabat dengan alam, merawat bumi beserta segala isinya dengan rasa cinta.

PENGAYAA N PENDID I KAN BU D! PEKERT! UNTlJK PASRAMAN

Menjaga A lam da n ja ngan Buang Sampah Sembar-ang;u1

PENGAYAA N PENDIDIKA N BU D! PE KERTI UNT LJK PASHAM AN

BAB III

LIMA KEWAJIBAN

"Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan Tuhan Lelah menciptakan manusia melalui yadnya, dengan (ca ra) ini engkau akan berkembang, sebagaimana lembu perahan yang memerah susunya karena keinginanmu". Demikian amanat kitab Bhagawadgita (III.lO) yang maknanya mengajarkan kita bahwa dunia beserta segala isinya dicip- takan Tuhan melalui yadnya (pengorbanan).

Menyadari bahwa manusia d iciptakan Tuhan melal ui yadnya, umat Hindu berkewa- jiban untuk melaksanakan yadnya yang pelaksanaannya dengan "membayar hutang" yang jumlahnya ada tiga yang disebut tri rn a, yaitu:

1) dewa rna: hutang ke hadapan Tuhan beserta manifestasinya (dewa) yang telah menciptakan dunia beserta segala isinya
2) pitra Rna: hutang kepada para leluhur (pitara) yang telah melahirkan kita ke dunia
3) rsi Rna: hutang kepada para resi yang telah memberikan tuntunan suci kero- hanian.
Dalam utang (lri rna) itu, umat wajib "m embayar" dengan cara melaksanakan lima kewajiban yang disebut panca yadnya, yaitu:

1) dewa rna dengan melaksanakan dewa yadnya dan bhuta yadnya,
2) pitra rna dengan melakukan pitra yadnya dan manusa yadnya, dan
3) rsi rna dengan menjalankan upacara rsi yadnya. Kata yadnya sebenarnya berasal dari akar kata kata yaj berarti ' kurban suci'
pengorbanan atau persembahan. Dalam kaitan dengan tri kerangka agama Hindu, yadnya sering disandingkan dengan 'upacara' sehingga menjadi upacara yadnya. Up-

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK PASRAMAN

acara yadnya ini lebih menonjolkan praktik persembahan dalam bentuk menghatur- kan sesaji (ban ten) yang biasanya disertai juga dengan acara persembahyangan. Sebenarnya makna yadnya yang hakiki tidak terbatas hanya dalam bentuk persembahan sesaji (banten) semata. Ada makna yadnya lain yang tak kalah tinggi nilainya, yaitu

1) persembahan berupa ilmu pengetahuan untuk mengantarkan orang lain agar terbebas dari kebodohan,
2) pengorbanan harta benda (kekayaan), tenaga, pikiran, fasilitas, atau kesempatan untuk diberikan kepada orang lain yang memerlukan,
3) pelayanan atau pengabdian (seva) kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan,
4) penghormatan kepada siapa saja, seperti menghormati orang lain, orang tua, pemimpin, orang suci, tempat suci, dan simbol suci lainnya, dan
5) pengendalian diri agar tetap teguh menjalankan kebenaran (dharma). Makna yadnya yang selama ini dilaksanakan secara tradisi dengan persem-
bahan sesaji (banten) ada baiknya dimaknai juga dengan melakukan perbaikan perilaku seperti yang diuraikan berikut ini.

1. Menjadi Manusia Dewa Tuhan adalah pencipta seluruh makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Tuhan Mahabijaksana, menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan paling tinggi. Itulah sebabnya manusia tergolong makhluk uta- rna dan istimewa. "Menjadi manusia itu sungguh utama karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik; demikianlah keistimewaaan m enjadi manusia itu yang sungguh sulit diperoleh. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan lahir menjadi manusia sebaik-baiknya sebagai tangga menuju surga" (Sarasamuscaya, 5-6) Bagaimana mempergunakan kesempatan sebagai manusia agar kelak menca- pai surga? Caranya hanya dengan menjadikan diri manusia sebagai dewa. Tepatnya "menjadi manusia dewa" manusia yang berhasil menunjukkan perilaku kedewataan (daivi sampat). Ciri-cirinya kedewataan adalah
1) tidak gentar, suci hati, bijaksana,
2) mengabdi melalui ilmu pengetahuan, dermawan,
3) menguasai hawa nafsu, mau berkorban,
4) mempelajari kitab suci,

PENGAYAAN PE NDIDIK A N BU D! PE KE RT I UNT UK PA SRA MAN

5) disiplin diri dan jujur;
6) tidak menyakiti, benar, bebas dari amarah,
7) tidak ada keterikatan, tenang, tidak memfitnah,
8) kasih sayang kepada semua makhluk,
9) tidak dibingungkan oleh keingi nan,
10) lemah lembut, sopan dan berketetapan hati, dan
11) cekatan, suka memaaafkan (Bhagawadgita, XVI, 1-3) Orang yang telah berhasil menampilkan perilaku kedewaatan inilah yang
dapat disebut manusia dewa. Kehadiran para manusia dewa ini akan selalu memba- wa kesenangan dan kebahagiaan, tidak saja bagi dirinya dan keluarga nya, juga bagi orang lain, ba hkan seluruh makhluk d i dunia ini.

2. Rsi Penerima Wahyu

Rsi a tau resi dikenal sebagai penerima wahyu (ajaran) Tuhan. Rsi adalah manusia suci yang dipilih dan terpilih untuk meneri ma sabda Tuhan. "Para Rsi adalah mereka yang memiliki atau memperoleh mantra Ve da" (Ki tab N irukta, II.ll). Veda itu berisi ajaran Tuhan yang semula diterima para Rsi, kemudian diingat, lalu ditulis sebagai kitab suci. Kemudian kitab suci disebarkan kepada umat manusia untuk di- jadikan pedoman dalam kehidupan. Dengan demikian seorang resi menolong umat manusia dengan menyebarkan ajaran Tuhan agar kehidupan kita tidak salah jalan (sesat). " Dialah Rsi yang selalu m enolong umat m anusia" (Rgveda : 10.26.5).

Kita hendaknya selalu dekat dengan orang-orang suci. Caranya dengan mempelajari kitab suci Weda agar sempurna (cerdas) pengetahuan kita sebab Weda itu sangat takut terhadap orang-orang yang sedikit pengetahuannya atau bodoh. Sabda Tuhan " Wahai urnat-Ku, yang sedikit pengetahuannya, janganla h datang kepadaku" (Sa rasarnuscaya,

39). Mempelajari kitab suci Weda adalah salah satu cara bakti kita ke pada para resi atau orang-orang suci lainnya. Selain pa ra resi ya ng tergolong ora ng suci, ada juga pamangku (pinandita) dan sulinggih (pandita) yang dalam kehidupan kita selalu men-jadi penuntun sekaligus pemimpin pelaksanaa n upacara yadnya. Kepada orang-orang suci itu, kita patut menghormati, menghargai, dan member- ikan pelayanan. Jika dekat dan sering bergaul dengan orang-orang suci, kita akan mendapat pahala yang baik, "Mereka yang bergaul dengan ora ng suci akan terbebas dari kesengsaraan" (Ca nakya Niti Sastra, IV. 2).

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

  1. Menghormati Leluhur Leluhur adalah mereka yang telah melahirkan keturunan dalam keluarga, mulai dari orang tua hingga anak cucu. Leluhur tidak lagi ada di dunia karena telah mendahului kita, meninggalkan dunia ini, dan kini berada di alam dewa (swahloka). Sebagai keturunannya, kita semua adalah pewaris leluhur Iuanasah pitrvittasya rayo visurayah (Rgveda: 1.73.9). Oleh karena itu, kita sebagai keturunannya diajarkan untuk tidak melupakan bakti kepada para leluhur (tar malupeng pitra puja).
    Menghormati dan Memuja Leluhur agar Sejahtera

Kita wajib melakukan penghormatan atas jasa, pengabdian, dan pengorban para leluhur, di antaranya dengan menunjukkan rasa bakti. Wujud bakti itu antara lain dapat dilakukan di tempat suci milik keluarga yang disebut sanggah atau marajan.

PE NGA YAAN PENDI DIKAN BlJD I PE KERT I UNTU K PAS RAMA N

Selain menghaturkan persembahan, seperti canang, soda atau pajati, kita juga dapat melakukan persembahyangan disertai pengucapan doa-doa. Harapannya, agar para leluhur yang sekarang berkedudukan sebagai dewata di alam dewa (swahloka) berke- nan memberikan perlindungan kepada keturunannya dan memberikan anugerah be- rupa kehidupan yang penuh berkah, baik dalam bentuk keselamatan, kesejahteraan maupun kebahagiaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk bakti kepada leluhur dapat dilakukan dengan cara

1) menjaga nama baik leluhur,
2) menjaga nama baik keluarga, dan
3) menjalankan amanat atau petunjuk- petunjuk yang selalu menuntun kita ke arah kehidupan yang lebih baik dan benar.
"Wahai manusia, berjalanlah bersama-sama, berbicara dan berpikir bersama-sama. Para leluhurmu telah menjalani hal tersebut, demikian juga kalian wajib menjalankan hal tersebut" (Rgveda, 10.191.2).

4. Memanusiakan Manusia

Sesungguhnya dunia ini adalah rumah besar bagi semua ma nusia. Semangat kekeluargaan dalam rumah besar ini harus ditumbuhkan ke dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Contohnya adalah perilaku saling menghargai dan menghormati satu sama lain yang mendorong semangat memanusi akan sesama manusia.

Jika kesadaran "memanusiakan manusia" terus ditumbuhkembangkan, permusuhan tidak akan ada lagi di antara sesama manusia. Semua manusia bisa hidup rukun ber- dampingan. Semua manusia akan dapat merasakan indahnya hidup dalam perbe- daan dan dalam suasana penuh kerukunan dan kedamaian. Sesungguhnya, manusia baru bisa disebut manusia apabila ia telah mampu memanusiaka n manusia lainnya. Artinya, kita sudah memperlakukan orang lain seca ra manusiawi. Meskipun berasal dari keluarga berbeda-beda, dengan segala kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan, semua manusia adalah sama, sama-sama ci ptaan Tuhan. Mereka adalah saudara kita juga sehingga di antara manusia kita wajib saling mengasihi dan membantu dan tidak boleh saling membenci atau bermusuhan, apalagi sa ling menyakiti.

Memanusiakan manusia juga berarti cara ketika kita memperlakukan dan menjump- ai teman, sahabat atau keluarga sendiri yang kehilangan si fat-sifat kema nusiaannya. Kita ingatkan agar kembali pada sifat dasar man usia yang selalu berpijak pada ajaran susila, kebaikan, dan kebenaran. Oleh karena itu, sesungguhnya yadnya atau pen- gorbanan tertinggi dalam ajaran manusa yadnya adalah kesiapan mengorbankan

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

kepentingan diri sendiri untuk membantu sesama yang dilandasi hati bersih, tulus ikhlas, dan tanpa pamrih. Jadi, manusa yadnya tidak cukup hanya dengan melak- sanakan upacara persembahan sesaji (banten), tetapi jauh lebih penting dan bernilai lagi adalah rela berkorban untuk membantu atau menyelamatkan sesama manusia yang sedang mengalami kesedihan, kesakitan atau penderitaan, seperti

  1. Alam Subur Hidup Makmur Tuhan mencipta alam sebagai tempat seluruh makhluk berkehidupan. Jika alam dirawat, dijaga, dan dipelihara dengan baik, pasti alam menjadi subur. Kalau alam sudah subur, kehidupan semua makhluk pun akan makmur, akan hid up dengan senang, sejahtera, dan bahagia, "Tuhan mencipta, memelihara, dan mengembalikan dalam keharmonisan yang menyenangkan, menyejahterakan, dan membahagiakan" (Atharvaveda : 9.10.1).
    **':}dr. t=4':}dr. *t=4* PJ(l l'l'lar<1 "?alc""'U...- etya.-.

4:. r .. ' ..,. /

Memelihara Sawah Demi Kebahagiaan

PENG AYAA N PENDIDIKAN BU DI PEK ERT I UNT UK PA SRAMAN

"Sesungguhnya, keinginan uutuk mendapatkau kese nangan telah diberikan kepada- mu oleh Tuhan karena yadnyamu, sedangkan ia yang telah m emperoleh kesenangan tanpa menghaturkan yadnya sesungguhnya adalah pencuri " (Bhagawadgita, Ill, 12,

14). Kita harus menyadari bahwa Tuha n Yang Maha Pemurah telah memberikan banyak anugerah, maka menjadi kewajiban kita untuk menjaga, merawat, memeliha- ra alam ini agar kehidupan di dunia bisa tetap berlangsung dan anak cucu kita bisa diwarisi sesuatu untuk masa depan mereka. Manusia yang mempunyai kelebihan pikiran, jadi tidak boleh hanya berpikir dan bertindak untuk mengambil isi alam demi kepentingan diri sendiri tanpa mau berbagi dengan sesama dan makhluk hidup lainnya. Jika itu dilakukan berarti manusia sama dengan pencuri, mengambil isi alam ciptaan Tuha n untuk kepentingan diri sendiri. Lalu apa yang harus dilakukan ma nusia? Jawabannya sederhana, sebagaima- na diamanatkan di dalam kitab Bhagawadgita, III.l4: "Adanya mahluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yadnya, adanya yadnya karena karma". Ayat mengajarkan bahwa manusia harus berkarma atau berbuat nyata, yaitu menjaga kelestarian alam sehingga ala m tetap subur dan membawa ke-makmuran bagi seluruh penghuni bumi ini. Contoh perilaku it u adalah
1) melakukan penanama n pohon di lahan kosong, di rumah, di kebun, atau di hutan yang sudah gundul,
2) tidak menebang poho n sembaranga n,
3) tidak merusak lingkungan alam beserta m akhluk hidupnya,
4) tidak membuang sampah atau limbah seenaknya,
5) tidak mencemari sungai, danau, !aut, dan pegunungan, dan
6) jangan membuat polusi udara, air, dan polusi lainnya. Atas dasar itu, sebuah pengorbana n sejati dalam merawat alam ini tidak ha-
nya cukup dengan melaksanakan upacara bhuta yadnya, tetapi melakukan bhuta hita yaitu menyejahterakan hidup semua mahluk agar kehidupan di muka bumi ini terus berlangsung secara berkelanjutan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika se- lama ini kita lebih banyak melakukan upacara bhuta yadnya dengan mengorbankan makhluk lain seperti tumbuhan dan binatang, d a lam bhula hila, kita justru men-gorbankan keinginan dengan cara mengendalikan sifat " kebinatangan" kita, seperti tidak serakah atau berlebihan mengambil isi alam.

Tujuan bhuta hita itu adalah agar semua u nsur alam yang disebut panca ma- habhuta yang terdiri atas unsur tanah (p ertiwi), air (apah), sinar atau cahaya (teja), udara atau angin (bay u) dan langit (akasa) dapat dijaga, dirawat, dan dipelihara kemurniannya tanpa terkena pencemaran. Jika a m anat bhuta hila tidak dilaksanakan manusia, jangan terkejut, bencana a lam dapat datang setiap saat, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan keracunan, serta yang lainnya.

PF:N GAYAAN PENDIDIKA N BUDI PE K ER TI UNTU K PASRAMAN

BABIV

HIDUP SEJAHTERA DAN BAHAGIA

esejahteraan adalah harapan setiap manusia. Hidup sejahtera artinya manusia dapat hidup sebagaimana layaknya, dapat makan (pangan), menggunakan

Kpakaian (sandang), dan mempunyai rumah (papan). Jika hidup sejahtera

sudah terpenuhi, kebahagiaan pun dengan sendirinya akan datang. Kebahagiaan artinya kehidupan kita sudah diliputi suasana hati yang aman, nyaman, tenteram, rukun dan damai. Oleh karena itu, kehidupan manusia tidak cukup hanya berhasil mencapai kesejahteraan, tetapi harus juga diliputi rasa bahagia yang diberkahi Tuhan.

I. Tuhan Sang Penolong

Siapakah di antara kalian yang sudah hidup sejahtera dan bahagia? Semoga kita semua hidup sejahtera dan bahagia! Siapakah yang membuat kita bisa hidup sejahtera dan bahagia? Jawabannya adalah Tuhan. Tuhan adalah penyebab semua yang ada di dunia ya ng kita nikmati, baik kesejahteraan maupun kebahagiaan. Mengapa Tuhan? Tuhan adalah Sang Penolong.

Adakah di antara kalian yang suka m enolong? Pasti banyak bukan? Orang- orang yang suka menolong adalah m ereka yang memiliki sifat seperti Tuhan sebab Tuhan adalah Maha Penolong. Di dunia ini kita dapat menikmati isi alam untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup adalah berkat Tuhan. Tuhanlah yang memberikan semuanya. Tuhan selalu memberikan pertolongan kepada semua makhluk ciptaannya. Oleh sebab itu "Seseorang yang menerima Tuhan sebagai segalanya, ia tidak akan pernah hancur. Tuhan akan selalu m enjadi penolong bagi sernua umatnya yang meyakini bahwa Tuhan itu adalah segala-galanya. Kita tidak akan hancur, kalau kita yakin dan bersyukur bahwa Tuhan selalu ada dalam diri untuk memberikan pertolongan" (Rgveda, 1.91.8). Sifat Tuhan sebagai Sang Penolong dapat kita contoh dalam kehidupan sehari -hari, seperti

1) selalu melihat orang lain sebagaimana kita melihat diri sendiri,
2) menganggap orang lain sebagai saudara,
3) mudah tergerak untuk menolong orang lain yang sedang menghadapi masalah atau tertimpa musibah, dan
4) menolong orang lain a tau bahkan makhluk lain sebagai bagian dari bakti kita kepada Tuhan.
Hanya dengan cara itulah kita berharap semoga semua orang berbahagia, dan semoga semua penghuni dunia beserta segala isinya dapat hidup sejahtera dan bahagia atas pertolongan Tuhan" (sarva janah sukhino bhavantu, samastha loka sukhino bhavantu).

2. Merawat Pura

Setiap hamba Tuhan mempunyai tempat kita bertemu Tuhan. Tempat itu adalah pura, tempat suci, tempat Tuhan beristana. Kita wajib datang ke pura untuk mendekat, bertemu, bersujud, memuja dan memuji, kemudian menghaturkan persembahan dan melakukan persembahyangan. Di pura yang disucikan itu kita bisa berbakti seraya mengadu dan memohon pertolongan atau meminta anugerah. Sebagai tempat suci, pura mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan beserta segala manifestasi-Nya yang disebut dewa dan sebagai tempat suci untuk memuja leluhur yang telah disucikan yang disebut Ida Bhatara-Bhatari.

\'-\' ~. <~ ~ .

Memelihara Kelestarian Tempat Suci

PE NGA YAAN PENDIDIKAN BUD I PEK ER TI UNTUK PAS RAMAN

Di dalam pura umat Hindu, umat Hindu dapat menjalankan kewajiban baktinya yang berkaitan dengan

1) menghaturkan persembahan (sesaj i atau banten),
2) melakukan persembahyangan,
3) mengucapkan doa-doa permohonan,
4) melakukan meditasi atau samadi, dan
5) menjalin hubungan sosial kemasyarakatan d i antara sesama umat.
Pura merupakan tempat suci, maka setiap umat wajib merawat, memelihara, dan menjaga kesucian pura. Dengan tetap menjaga kesuciannya, Tuhan Yang Mahasuci akan senantiasa memberikan pancaran sinar suci nya kepada umatnya. Menjaga kesucian pura dapat dimulai dengan

1) melakukan kegiatan kebersihan secara rutin,
2) merawat keutuhan bangunannya,
3) memelihara keasrian lingkungannya,
4) menanam pepohonan atau tumbuhan, baik yang berbunga maupun berbuah,
5) rutin melakukan kegiatan persembahyangan, dan
6) setiap waktu tertentu menghaturka n persembahan (yadnya) Dengan cara itu, keberadaan pura sebaga i tempat suci akan selalu memberikan
sinar suci bagi tetap terangnya hati dan nurani umat. Dengan hati nurani yang terang itu, umat akan selalu dituntun ke jalan hidup yang baik dan bena r serta selalu berada dalam pelindungan Tuhan.

  1. Rajin Sembahyang Salah satu kewajiban penting sebagai hamba Tuhan aclalah melaksanakan perintah-Nya untuk menjalankan sujud bakti. Sujud bakti kepada Tuhan dilaksanakan melalui cara persembahan (menghaturkan sesaji atau banten) dan dengan cara persembahyangan. C a ra persembahyangan termasuk bentuk bakti kepada Tuhan yang paling mudah, murah, dan penuh berkah.

PA SRAMAN

Rajin Sembahyang da n Kesehatan )asma ni dan Roha ni

Bagi umat Hindu, manusia diwajibkan untuk menjalankan kewajiban sembahyang tiga kali sehari yang disebut tri sandhya, dengan tujuan sebagai berikut

1) sembahyang pagi hari untuk menguatkan keimanan.
2) sembahyang siang hari untuk melancarkan rejeki.
3) sembahyang malam hari untuk menyelamatkan kita dari kesalahan dan perbuatan dosa.
Selain melaksanakan persembahyangan, akan baik sekali jika disertai dengan mengucapkan doa-doa permohonan. Doa permohonan itu tidak harus diucapkan

dengan bahasa weda ( bahasa Sanskerta). )ika belu m bi~a atau belum ha fal, kita dapat juga mengucapkan dengan bahasa sehari- hari. Tuhan Mahatahu, dengan bahasa apa pun, atau tanpa menggunakan kata atau bahasa sekalipun me~ ki diucapkan dalam hati, Tuhan sudah mengetahuinya. Doa pemoho na n harus dila ndasi dengan hati yang bersih, tulus ikhlas, dan pasrah pada ke.hendak Tuhan. Di bawah in i mantrn111 lri sandya yang wajib diucapkan pada saat sembahyang:

Mantram Tri Sandya

Om Bhur Bvah Svah Tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat

Ya Tuhan! Kau penguasa ketiga dunia Kami memusatkan pikiran pada kecemerla ngan dan kemuliaan Hyang Widhi Semoga la berikan semangat pikiran kita

Om Narayana evedam sarvam yad bhutam yacca bhavyam niskalanko niranjano nirvikalpo nirakyatah suddho deva eko Narayana na dvit 'yo sti kascit

Ya Tuhan! Narayana adalah semua ini yang telah ada dan yang akan ada bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan sucilah Narayana la hanya satu tidak ada yang kedua

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PE:

Om Tvam sivah tvam mahadevah Isvarah paramesvarah Brahma Vishnusca Rudrasca Purusah Parikirtitah

Ya Tuhan! Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa

Om Papoham papakarmaham Papatma papasambhavah Trahi mam pundarikaksa Sabahyabhyantarah sucih

Ya Tuhan! Hamba ini papa, perbuatan hamba papa Diri hamba papa, kelahiran hamba papa Lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba

Om Ksamasva mam Mahadeva Sarvaprani hitankara Mam maca sarva papebyah Palayasva sada Siva

Ya Tuhan! Ampunilah hamba Hyang Widhi yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk bebaskan hamba dari segala dosa, 0 Hyang Widhi

PENG AYAA PENDIDIKA N HIJ DII'EK EKT I UN T LJK PASHAMAN

Om Ksantavyah Kayikodosah Ksantavyo vaciko mamah Ksantavyo manaso dosah Tat pramadat ksamasva mam

Ya Tuhan! Ampunilah dosa perbuatan ha mba Ampunilah dosa perkataan hamba Ampunilah dosa pikiran hamba Ampunilah hamba dari segala kelalaian ha mba Om Santih Santih Santih Om Ya Tuhan! Semoga damai, damai, damai, fa Tuhan '

Setelah selesai melakukan tri sandya, kita mlaku kan kra111aning sembah, dengan urutan sebagai berikut

I. Pertama sembah tanpa sarana, Om atnultaltw!lllllcl si1dd/[(l nulm sw!lha Artinya: Oh H ya ng Wid hi, atma atau jiwa da n kebenaran, bersihkanlah diri hamba
2. Kedua dengan menggunakan bunga berwarna putih, kita ucapkan Om Adityasya param jyoti rakta tejo narno 's tute sweta pankaja madhyastha bhaskaraya namo'stu tc> Artinya: Oh Hyang Wid hi, sinar H ya ng Su rya Yang Mahahebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja-Mu. Hyang Surya yang beristana di tengah -tengah teratai putih. Hamba memuja-Mu yang menciptaka n sinar matahari berkilauan.
3. Ketiga dengan mengg unakan kewangen atau bunga warna-warni dan mengucapkan : Om na111a dewn adhisthanaya sarwa wyapi wai siwaya padmasana eka pratisthaya ardhanareswaryai nama namah Artinya: Oh Hyang Widhi, yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

  1. Keempat dengan kewangen atau bunga warna-warni, kita mengucapkan Om anugraha manoharam dewa datta nugrahaka arcanam sarwa pujanam namah sarwa nugrahaka Dewa-dewi mahasiddhi yajiianya nirmalatmaka laksmi siddhisca dirghayuh nirwighna sukha wrddisca Artinya: Oh Hyang Widhi, pemberi anugrah, anugrah pemberian dewata, pujaan dari segala pujaan, hamba memuja-Mu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian dari para dewa dan dewi berwujud yadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.
  2. Kelima, kembali dengan tanpa sarana dan mengucapkan Om Dewa suksma parama acintya ya nama swaha. Om Santih, Santih, Santih, Om Artinya: Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu yang tidak terpikirkan. Semoga damai, damai, damai selalu. Puja untuk Pura Paibon, Pura Kawitan dapat dilakukan pada Kramaning Sembah ke tiga dengan kewangen atau bunga warna-warni: Om Brahma Wisnu Iswara dewam Tripurusa suddhatmakam Tridewa trimurti lokam sarwa wighna winasanam Artinya: Oh Hyang Widhi, dalam wujud-Mu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa Maha Suci, Tridewa adalah trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana. Puja untuk Pura Kahyangan Tiga Pura Desa dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen atau bunga warna-warni: Om Isanah sarwa widyanam Iswarah sarwa bhutanam, Brahmano' dhipatir brahma Sivostu sadasiwa Artinya: Oh Hyang Widhi, Hyang Tunggal, Yang Maha Kuasa menguasai semua

PF: NCA YAA PENDI DIKA N BlJ DI PF. KE RT I UNTUK PASRAMAN

makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.

Puja untuk Pura Kahyangan T iga Pura Pu seh dapat d ilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewa ngen atau bunga warna-warni:

Om, Girimurti 111ah inviryyam, Mahrldewa pmlistha linggnm, snrwadewa pmnamyana111 Sarwajagat pmtisthanam

Artinya: Oh Hyang Widhi, d isebut Girimurti Yan g Maha Agung, dengan lingga yang jad i sta na Mahadewa, semua dewa t u nduk pada-Mu.

Puja untuk Pura Kah ya ngan [iga Pura Dalem dapat dilakukan pada Kramaning Sembah Ill dengan kewa ngen atau bunga warna-warni:

Om, m tur du rgn mahnsakti Ca tur nsra mc Bhntrlri Siwa jngatpat i dewi Durgrlmasarira dew 1

Artinya: Oh Hyang Widi, sakti -Mu berwujud Catur Dewi, ya ng dipuja oleh catur asrama, sakti dari C iwa, Raja Semesta Al am, dala m wujud Dewi Durga.

Puja untuk Pura Prajapati dapat dilakukan pada K.ramaning Sembah II I dengan kewangen atau bunga wa rna-warni :

0111 Bra/una Prajapa tih srcstah swayo111bhur wnrado guruh padn111yonis co tur waktro Bralnnn sakaln111 ucyate

Artinya: Oh Hyang Widi, dalam wujud -Mu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua makhluk, pemberi anugerah mahag uru yang bersthana dalam bunga teratai, memiliki empat wajah dalam satu badan, Hyang Brahma Maha Agung.

Puja untuk Pura Segara /di Pantai dapat d ilakukan pada Kraman ing Sembah 11 1 dengan kewangen atau bunga warna-wa rni:

Om Nogendm kritra nn:trtina111 Gajcndm matsya wa ktmnrm1 Baruna dewa 111asarira111 sanvo jagat suddhatmaka111

Artinya: Oh 1-Iyang Wid hi, dalam wujud -Mu menakutkan sebagai raj a para naga, raja gagah yang bermoncong ikan, Engkau adalah Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memuja-Mu.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Puja untuk Pura Ulun Danu/Ulun Suwi dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen atau bunga warna-warni:

Om Sridhana dewika ramya sarwa rupawati tatha sarwa jfiana maniscaiwa Sri Sridewi namo'stute

Artinya: Oh Hyang Widhi, Engkau hamba puja sebagai Dewi Sri yang mahacantik, sumber dari kekayaan yang memiliki segala keindahan. Ia adalah benih yang maha mengetahui. Oh Dewi Sri, hamba memuja-Mu.

Puja untuk Dewi Saraswati dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen atau bunga warna-warni,

**Catatan : Puja dapat dipilih satu sloka atau digabung dari beberapa sloka, kecuali* sloka yang terakhir untuk penutup.

Om Saraswati namostubhyam Warade kama rupini Sidhir astu karaksami Sidhir bhawantu sadham

Oh Hyang Widhi dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, pujaan kami yang berwajah cantik, indah berandeng Berkuasa mempengaruhi kami Selalu berkuasa pada serba dunia

Om Pranamya sarwa dewanca Paramatma nama wanca Rupa sidhi karoksabet Saraswati nama myaham

Artinya: Oh Sang Hyang Saraswati, yang dihormati oleh semua dewa dewi Karena engkau adalah brahman yang dimuliakan merupakan wujud yang kuasa Kami muliakan Engkau dengan gelar Saraswati

Om padma patram wimalaksmi Padma k~ara nandini Nityam padma laya dewi Tubhyam namah Saraswati

Artinya: Oh Sang Hyang Saraswati, Engkau suci bersih bagai daun bunga teratai Berambut indah bagai sari bunga teratai Selalu ada di sekitar padma

UNT UK PA SRAMAN

Patut dihormati sebagai sumber ilmu pengetahuan

0111 Bmhma putri maha dewi

Brahmanye Brahma nandini Saraswati sajiina yani Praya naya Saraswati

Artinya: Oh Putri Sang Hyang Brahma, Engkau Dewi Yang Mahaagung selalu ada bersama Brahma diberi ge lar Saraswati yang indah mengatur semua mahluk

Om kawyarn wyakamnam tarkham Weda ~-astral// puranakam Kalpa sidhini lantrani Twam prasadal karoksabel

Artinya: Oh Sang Hyang Saraswati, Engkau mengubah segala ilmu tallwa Weda dan sastra, purana-purana, serta ilmu tantra yang menjiwai dan berkuasa sepanjang jaman Engkaulah penciptanya

Om sulabha /warn swara mantra Jrabh eyarn p!wlakam para Sarwa kle~a wina~anam Santhi twam sanggatol manam

Artinya: Oh Sang Hyang Saraswati, atas anugrah-Mu semoga doa kam i menjadi bertuah, mendatangkan segala kebaikan untuk seluruh dunia Semoga batin yang cemar dan kotor menjadi musnah Semoga damai dan bersatu batin kami kepada-Mu

Orn elani sarwa kannani Sarwa raga wina~annm Twam aharn sarwa sidhyantu Sarwa karya prasidhyaye

Artinya: Oh Sang Hyang Saraswati, berkenan kiranya Engkau menganugrahi perasaan batin yang indah, semoga yang menimbulkan penyakit menjadi musnah, berkenan kiranya engkau menganugrahi kami serba sejahtera, sehingga tugas karya ka m i terselesa i ka n

Selain persembahyangan tri sandya dan pa nca sembah, ada bai knya sebelum melakukan suatu kegiatan didahului dengan mengucapkan doa-doa seperti berikut ini

PENGAYA AN PE NDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PA SRAMAN

l. Doa Baru Bangun Pagi Om Jagrasca Prabhata Kalasca Ya Namah Swaha Artinya: Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, bahwa hamba telah bangun pagi dalam keadaan selamat.

  1. Doa Mandi
    a. Cuci Muka Om Cam Camani Ya Namah Swaha Om Waktra Parisudaha Ya Namah Swaha
    Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja-Mu, semoga muka hamba menjadi bersih

b. Menggosok Gigi Om Rahphat Astraya Namah Om Sri Dewi Bhatrimsa Yogini Namah
Artinya:Ya Tuhan, sujud hamba kepada Dewi Sri, Bhatari Yogini, semoga bersihlah gigi hamba

c. Berkumur: Om Ang Waktra Parisudhamam Swaha Artinya: Ya Tuhan, semoga bersihlah mulut hamba
d. Membersihkan Kaki Om Am Kham Khasolkhaya Iswaraya Namah Swaha
Artinya: Ya Tuhan, semoga bersihlah kaki hamba

e. Mandi : Om Gangga Amrta Sarira Sudhamam Swaha Om Sarira Parisudhamam Swaha
Artinya : Ya Tuhan, Engkau adalah sumber kehidupan abadi yang suci, semoga badan hamba menjadi bersih dan suci

  1. Doa pada Waktu Mengenakan Pakaian Om Tam Mahadewaya Namah Swaha

LINT lJK PASRAMAN

Om Blwsanam Sarira bhyo Parisudha m1W1 Swa ha Artinya: Tuhan dalam perwujudanmu sebagai Tat Pu rusha, Dewa Yang Maha Agung, hamba sujud kepadamu dalam mengg unakan pakaian ini. Semoga pakaian hamba menjadi bersih dan suci

  1. Doa Waktu Makan
    a. M enghadapi Maka nan Om Ang Kang Kaso lknya lea Na Yo Namah Swaha, Swa sli Swo sli Sa rwo Dewa Hhuta Pradhana Purusa Sang Yoga rn Namah
    Artinya: Oh H ya ng Wid hi yang Bergelar lcana ( bergerak cepat) para Dewa Bhuta n dan unsur pradhana purusa, para yogi, semoga senang berkumpul menikmati maka nan in i

b. Yadnya Sesa : Om Sarwa Bh uta Sukka Pretebhyah Swil ho Artinya: Oh Hyang Widhi, Semoga para Bhuta sena ng menikmati makana n ini da n sesudahnya supaya pergi, tida k mengganggu
c. Mulai Makan: Om Anugraha Amrtadi Sa njiwani Ya Na111a h Swalta Artinya: Oh Hyang Wid hi, semoga ma ka nan ini menjadi amerta yang mengh idupkan hamba
d. Sesudah Makan : Om Dir Ghayur Astu, Awighnam Astu, c; u/J iwm Astu Om Sriyam Blwwantu, Sukkam Bhawantu, Purnam Bhn wantu, Ksamasampurna Ya Namah Swalw Om Santih, San tih, Santih Om
Artinya: Oh Hyang Wid hi, semoga hamba panjang umu r, ti ada hala ngan, sela lu bahagia, tentram, senang dan semua menjadi sempurna Oh Hyang Widhi, Semoga Damai, Damai, Damai, Selalu

  1. Doa Memulai Pekerjaan :

    Om Awighnam Astu Nama Sidham

Om Sidhirastu Tad Astu Swaha

Artinya: Ya Tuhan, semoga atas berkenanmu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik

  1. Doa Selesai Bekerja I Bersyukur: Om Dewa Suksma Parama Acintya Ya Namah Swaha, Sarwa Karya Prasidhantam

    Om Santih, Santih, Santih, Om

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Parama Acintya Yang Maha Gaib Dan Maha Karya, Hanya Atas Anugrahmulah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik

Semoga Damai, Damai Di Hati, Damai Di Dunia, Damai Selamanya

  1. Doa Mohon Bimbingan : Om asato Ma Sadyamaya Tamaso Ma Jyotir Gamaya Mrtyor Ma Amrtam Gamaya Om Agne Brahma Grbhniswa Dharunama Syanta Riksam Drdvamha

    Brahmawanitwa Ksatrawani Sajata

Wahyu Dadhami Bhratrwyasya Wadhyaya

Artinya Tuhan Yang Maha Suci bimbinglah Hamba dari yang tidak benar menuju yang benar. bimbinglah hamba dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan yang terang. lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi. Tuhan Yang Maha Suci. Terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Weda Mantra dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada hamba (nafsu). Hamba menyadari bahwa Engkaulah yang berada dalam setiap insani (Jiwatman), menolong orang terpelajar, pemimpin negara dan para pejabat. hamba menuju engkau semoga melimpahkan anugerah kekuatan kepada hamba

  1. Doa Mohon I nspi rasi : Om Prano Dewi Samswati Wajebhir Wajiniwati Dhinam A winyawantu Artinya: Ya Tuhan dalam manifestasi Dewi Saraswati, Hyang Maha Agung D an Maha Kuasa, semoga Engkau memanca rkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran, dan lindungilah hamba selama-lamanya

  2. Doa Mohon Kecerdasan : Om Pawakanah Saras wati Wajebhir Wajiniwati Yajnam Wastu Dhiyawasuh Artinya: Ya Tuhan, sebagai man ifestasi Dewi Saraswati, Yang Maha Suci, anugera hilah hamba kecerdasan dan terimalah persembahan hamba in i

  3. Doa Belajar:
    a.Doa Waktu Mulai Membaca Kitab Agam a (Veda): Om Narayana, Om Saraswati jayo
    Artinya : Oh Hyang Widhi, Narayana O h Hyang Widhi (Saraswati) Semoga Hamba Menang (Berhasil) jaya

b.Doa Mulai Belajar : Om Purwe jato Brahmano Brahnwcari Dharmam Wasonas Tapasodatislal Tasmajjatam Brahmanam Brahma Iyestha/11 Dewascn Sarwe Amrttna Sa kama
Artinya Ya Tuhan, muridmu hadir dihadapanmu, O h Brahman yang berselimutka n kesaktian dan berdiri sebagai Pertama, Tuhan, anugrahkanlah pengetahuan dan pikiran yang terang. Brahman Yang Agung, setiap mahkluk ha nya dapal be rsinar berkat Cahaya-Mu yang senantiasa memancar

ll.Doa Memotong H ewan: Om Pasu Pasaya Wimahe Sirascadaya Dhimahi Tano jiwah Pra codayat Artinya Semoga atas berkenan dan berkahmu para pemoto ng hewan d ala m upacara kurban

suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan hamba memotong hewan ini semoga rohnya menjadi suci

12.Doa Mendengar Atau Melayat Orang Mati : Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu, Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha Artinya Ya Tuhan yang Maha Kuasa, semogalah arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganmu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Tuhan ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanmu
13.Doa Saat Sakit I Mohon Perlindungan Menghilangkan Kegel isaban: Om Trayam Bhakam Ya jamahe Sughamdin Pusthi Wardhanam Uhrwaru Kham Jwa Bhandhanat Mrityor Mukhsya Mamritat Artinya Oh Sanghyang Widhi Wasa, yang Maha Mulia. Kami memujamu, hindarkanlah kami dari keraguan ini. Bebaskanlah kami dari belenggu dosa, bagaikan mentimun lepas dari tangkainya, sehingga kami dapat bersatu denganmu
14.Doa Menghilangkan Rasa Takut: Om Om]nya jiwat Sarira Raksan Dadasime Om Mjum Sah Waosat Mrityun]aya Namah Swaha Artinya Oh Sanghyang Widhi Wasa Yang Maha Jaya yang mengatasi segala kematian kami memujamu. Lindungilah kami dari marabahaya
15.Doa Ulang Tahun Kelahiran: Om Dirgayurastu Tad Astu Astu Swaha Artinya: Oh Sanghyang Widhi Wasa semoga bahagia dan panjang umur atas karuniamu

PI:Nt,AYAAI\ I'F.ND ID IK AN llllllii'I.IASI

lo.Doa 1\llenolak Baha)·a:

0 111 0111 Astn ,\Julitl Baytl)'tl

0111 Sarwa D cli'U, St~rwn Sn njata, Sa rl\'ll ~\ ill'lltl Ya Ntinlaii,

Om A tmn Ra ksaya, St1rwa Satru, Willtlill)'il N<7nwh Swn//(/

Artinya Oh Sanghyang Widh i Wasa penakluk sega la m,\C

  1. Doa Sebelum Tidur : 0111 Asato M a Sa t Ga111nya, Tanwsu Mt1 /yotir Ca111nya Alrityor 1\/umritnn Canwya Artinya Oh Sanghyang Wid h i Wasa, luntunlah kam i dari Jdla n ~esal ke jalan ya ng benar, dari jalan gelap ke ja lan ya ng ler,tng hindarkan kallli dari kematian menuju kehidupan scjati
    4. Disiplin Diri M enj adi orang ya ng pribadi baik *(da/* i ~n 111p at) harus d im ulai de ngan di sip lin diri. Di sip li n artinya sikap dan pcrildku kita harus patuh, taal dan tunduk pada aluran. Mulai da ri pcraluran di rumah, sekola h, ka nlor, lingkungan masyara kat, dan atura n agama ya ng bersumber dari ajara n Tuhan. Di siplin ada lah kata ku nci sebuah kcberhasilan. ra npa d isiplin diri, apa pun yang diharapkan tidak a kan pernah lercapai. Sebaiknya, perilaku di siplin har us dimula i da r i d i ri send iri. Di r um ah m isalnya, mesk ipun lida k tertulis, telapi ada semaca m alu ra n di mana seluruh anggotd kelua rga sud ah mcngelahui apa -apa yang menjadi kcwajiban da n hak masing-ma~i ng. Tugas ini mi salnya membersihkan rumah, membanl u orang lua, mengasuh adik, merawa l kebu n, da n sebagain)'a. ~ctcla h kcwaJtban di la ksana kan tentu masi ng- mas ing anggota keluarga akatt mendapatkan hak nya, seperli menikmat i ma kanan, mendapal bekal sekolah, mcmperoleh had iah, dan la in sebagainya. Hal ya ng sama lcrjadi d t lingku ngan sekolah, ka nlor, lingku ngan masyara kat. Setiap orang mempunyai kewajtban dan hak masing-ma:, ingdi lempat- tempal terscbul. Sebagai umat be ragama at au ha mba Tuhan, at urdn <~la u ajaran add )'ang ttie ngikat kita, apa kewajiban kita ~cbaga i umat-ya dan ap<~ hak yang akan kita dapatkan. Dalam hal kewajiban misal nya, ~e b dgc~i umat beragama, wajib tnclabanakan perintah atau

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

ajaran-Nya. Contohnya, kita secara rutin, rajin, dan disiplin menjalankan kewajiban berbakti, seperti

1) sembahyang tri sandhya, tiga kali sehari,
2) memuja atau menyembah para Dewata melalui panca sembah,
3) mengucap doa-doa pujian dan permohonan,
4) melaksanakan yadnya (persembahan sesaji),
5) menunjukkan perilaku baik dan benar berdasarkan susila,
6) menjaga kesucian dan kesakralan tempat suci (pura),
7) membahagiakan keluarga dan orang lain, dan
8) merawat dan menjaga lingkungan alam
Dalam tingkatan lebih lanjut, disiplin diri dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan : Meditasi, latihan konsentrasi untuk memusatkan pikiran dalam memuja Tuhan. Di samping itu, kita juga harus melakukan praktik yoga, melatih diri dengan menyatukan sang jiwa (atman) dengan Tuhan (Brahman) yang dapat dilakukan dengan delapan tahapan, yaitu

1. yama, pengendalian diri,
2. nyama, pengekangan hawa nafsu,
3. asana,mengatur sikap duduk yang baik dan benar,
4. pranayama, pengendalian prana (nafas),
5. pratyahara, penarikan pikiran dari objek benda,
6. dharana, pemusatan pikiran, 7 dhyana, meditasi, dan
8. samadhi, luluhnya atau bersatunya sang jiwa (atman) dengan Tuhan (Brahman) yang disebut moksa sebagai ujuan akhir umat Hindu.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Yoga Su rya Namaskar

Sumber : www.Medindia.net

Yoga Surya namaskara adalah salah satu bentuk dari hatta yoga. Surya namaskara yang dapat diartikan sebagai penghormatan matahari adalah urutan umum hatha yoga asana. Asal-usulnya terletak pada penyembahan matahari atau dewa surya. Dalam yoga ini urutan gerakan dan pose dapat dipraktikkan pada berbagai tingkat kesadaran, mulai dari olahraga dalam berbagai gaya untuk lengkap sadhana yang mencakup asana, pranayama, mantra, dan chakra meditasi.

Langkah-langkah Praktek Yoga Surya Namaskara

1) Surya namaskara, harus dilakukan hanya pada saat perut kosong. Oleh karena itu, harus ada celah setidaknya dua jam setelah makan dan sebelum melakukan namaskara. Hal ini umumnya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan atau pada malam hari.
2) Surya namaskara dilakukan diatas tikar, bukan di lantai.
3) Dalam beberapa tradisi, 12 surya namaskara dilakukan pada salah satu latihan. Jika memulai praktik untuk pertama kalinya, biasanya dimulai dengan gerakan namaskara lebih sedikit, 3 sampai 6 gerakan per hari, dan lalu secara bertahap meningkat menjadi 12 namaskara.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

4) Shavasana dipraktikkan pada akhir praktik untuk beristirahat.
5) Pernapasan (pranayama) yang akan disinkronkan dengan asana.
6) Mantra yang diucapkan pada awal setiap namaskara surya, pengulangan aksara om dan mantram yang lainnya.
7) Ada total 8 postur yang berbeda dalam urutan 12 perubahan postur surya namaskara
8) Praktik postur yoga (asana) umumnya mengikuti praktik surya namaskara.
9) Dalam Hindu tradisional, surya namaskara selalu dilakukan menghadap ke arah terbitnya matahari (timur) atau tenggelamnya matahari (barat).
Nama gerakan surya namaskara di atas sesuai dengan nomor gambar.

  1. Pranamasana (posisi berdoa). Berdiri tegak dengan kedua kaki yang rapat atau sedikit renggang. Cakupkan kedua telapak tangan dan letakkan di depan dada (namaskara mudra) dan hembuskan nafas dengan kuat. Pertahankan konsentrasi kita pada mudra, tekankan pada kedua belah tangan.
  2. Hasta Uttanasana (posisi tangan diangkat). Angkat dan regangkan tangan diatas kepala, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lengku ngkan punggung dan reganggkan seluruh tubuh. Tarik nafas saat melakukan posisi itu. Regangkan kepala ke belakanag dalam posisi ya ng senyaman mungkin clan jaga lengkungkan punggung bagian atas.
  3. Padahastasana (membungkuk hingga mencapai kaki). Gerakan selanjutnya adalah membungkukkan badan ke depan mulai pinggul. Letakkan tangan pada lantai, masing-masing di samping kaki, dan poisi kepala sedekat mungkin dengan lutut. Kaki harus tetap lurus. Nafas dihembuskan pada saat melakukan posisi ini. Pertahankalah agar bagian punggung tetap lurus., dengan memfokuskan kesadaran kita pada panggul sebagai titik sumbu peregangan punggung, dan otot kaki.
  4. Asva Sancalanasana (posisi menunggang kuda). Letakkan kedua tangan pada kedua sisi kaki, tekuk lutut kiri sambil menarik kaki kanan sejauh mungkin ke belakang.jempol kaki dan lutut kaki usahakan menyentuh lantai. Condongkan panggul ke depan, lengkungkan tulang ke belakang dan menengadah. Ujung jari menyentuh lantai dan seimbangkan tubuh anda. Nafas ditarik semen tara dada ke depan dan menengadah. Pusatkan kesadaran anda pada dahi diantara dua alis mata. Anda akan merasakan peregangan itu dari paha anda bergerak ke atas tubuh dan menuju pusat a! is.
  5. Parvatasana (posisi gunung). Letakkan kaki kiri ke belakang dan berdampingan dengan kaki kanan. Perlahan-lahan angkat pantat ke atas

PENGAYAAN PENDID IK AN BUDJ PEKERTI UNTUK PAS RAMAN

sedikit demi sedikit dan rendahkan posisi kepala dan letakkan di antara kedua lengan, sehingga tubuh membentuk segitiga dengan lantai. Gerakan ini dilakukan sambil penghembusan nafas dada. Letakkan tumit pada lantai. Bungkukkan kepala sejauh mungkin, sehingga mata memandang lutut. Fokuskan keasadaran anda pada daerah leher.

  1. Astanga Namaskara (sujud dengan delapan anggota badan), Tekuk lutut ke lantai, kemudian letakkan dada dan dagu ke lantai, pertahankan agar pantat tetap berada di atas. Tangan, dagu, dada, lutut, dan jari menyentuh lantai, dan tulang belakang dilengkungkan. Nafas tetap dalam penghembusan seperti pada posisi 5. Hanya pada tahap ini penarikan dan penghembusan nafas berubah bergantian. Fokuskan kesadaran anda pada pusat tubuh atau pada otot punggung.
  2. Bhujangasana (posisi ular), Rendahkan pinggul sementara mendorong dada ke depan dan ke atas dengan bertumpu pada lengan, sampai tulang belakang melengkung dan kepala menghadap ke atas. Kaki dan perut bagian bawah tetap berada di lantai dan lengan menyokong tubuh. Nafas ditarik semen tara bergerak ke depan dan ke atas menuju posisi tersebut. Pusatkan kesadaran pada dasar tulang belakang, rasakan ketegangan dari penarikan tubuh ke depan.
  3. Parvatasana (posisi gunung), Pertahankan agar lengan dan kaki lurus. Sementara itu gunakan bahu sebagai titik putar, angkat pantat dan turunkan kepala seperti posisi 5. Lalu hembuskan nafas masih dalam posisi 5.
  4. Asva Sancalana (posisi menunggang kuda), Tarik kaki kiri ke depan dan meletakkannya dian tara kedua tangan. Secara perlahan-lahan letakkan lutut kanan ke lantai dan dorong panggul ke depan. Lengkungkan tulang belakang dan lihat pada pelaksanaan kembali posisi 4. Nafas ditarik sementara masih dalam posisi ini.
  5. Padahastanasana (tangan menyentuh kaki), Letakkan kaki kanan disamping kaki kiri dan luruskan; lalu tekuk ke depan dan naikkan pantat saat kepala didekatkan pada lutut. Tangan tetap di lantai disamping kaki. Sama seperti posisi 3. Hembuskan nafas sa at melakukan posisi in i.
  6. Hasta Uttanasana ( posisi mengangkat tangan), Angkat bagian atas tubuh, regangkan tangan diatas kepala. Lengkungkan punggung dan lakukan seperti pada posisi 2. Tarik nafas dalam melakukan posisi ini.
  7. Pranamasana (posisi berdoa), Luruskan tubuh setelah melakukan gerakan yang ke 11 dan cakupkan kedua tangan di depan dada, seperti pada posisi 1, kemudian hembuskan nafas.

Padmasana

Bermanfaat mendorong pertumbuhan yang baik pada anak dan mampu meningkatkan konsentrasi

Vajrasana

Gerakan ini bermanfaat untuk meningkatkan fungsi orga n pencernaan dan melancarkan peredaran darah

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Supta Vajrasana

Supta Vajrasana adalah gerakan yang berfungsi untuk menyelaraskan syaraf-syaraf tulang belakang dan meningkatkan kinerja hormon

5. Menolong Sesama

Salah satu ciri orang baik adalah suka menolong. Di dalam kitab Atharvaveda (10.10.3 1) dinyatakan. "Orang-orang yang suka menolong akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan dan dengan pertolongan-Nya mereka menikmati kehidupan di dunia ini''. Salah satu contoh perbuatan menolong adalah suka berdana punia (memberikan bantuan) yang menurut kitab Rgveda (10.107.2) akan mendapatkan pahala surga. Dengan berdana punia kekayaan yang kita miliki tidak akan pernah berkurang (Rgveda (10.117.1),

Hal itulah yang wajib dilakukan orang baik dengan berdana punia. Dana punia adalah salah satu cara menolong orang lain. Selain berdana punia, contoh perbuatan menolong lainnya adalah donor darah. Donor darah artinya seseorang memberikan darahnya secara sukarela kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Siapa saja yang membutuhkan donor darah ? Orang yang menderita kekurangan darah (anemia), orang yang sedang menjalani operasi, ibu hamil yang sedang melahirkan, atau organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia (PMI), dan lain-lain.

PENG AYAA N PENDID I KAN BUD I PE K ER TI UNTUK PA SR AMAN

Donordarah Sumber : www.health.com

lbu Mela hirkan Perlu Bantuan Dara h Sumber : www.health.com

Sebenarnya, melakukan donor darah itu banyak manfaatnya, baik bagi orang yang membutuhkan darah, maupun bagi pendonor yang memberikan darahnya. Bagi yang membutuhkan darah, donor darah dapat memenuhi kebutuhan darah bagi dirinya agar memperoleh kesembuhan, sedangkan bagi pendonor manfaa tnya adalah

Pikiran lebih stabil,

6) merupakan bagian dari periksa kesehatan,
7) mempersiapkan diri menjadi lansia yang sehat,
8) menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh
Sumber: www.bantusesama.com

Anak yatim-piatu

Selain melalui donor darah, perbuatan menolong sesama juga dapat dilakukan dengan membantu anak-anak ubuh (yatim piatu). Yatim Piatu artinya orang yang tidak lagi mempunyai ayah dan ibu. Misalnya kedua orang tuanya sudah meninggal. Sungguh malang nasib anak yatim piatu. Kal ian tentu tidak ingin menjadi anak yatim piatu, bukan ? Apalagi ada anak yatim piatu yang terpaksa meminta-minta demi untuk mendapatkan makanan. Bahkan jika malam tiba mereka harus tidur di tempat yang tidak semestinya, seperti di emperan toko, di pos jaga, di bale banjar, dan di pasar, dan lain-lain.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEK ERTI UNTUK PASRAMAN

Pasti kalian tidak mau mengalami nasib buruk demikian. Oleh karena itu, jika kalian lebih beruntungkehidupannya serta mempunyai kemampuan, marikita tolong mereka yang sebenarnya adalah saudara kita juga. Misalnya sekali -kali memberikan bantuan langsung kepada mereka a tau jika anak yatim piatu itu ditampung di panti asuhan, kita dapat berkunjung ke sana dengan membawa berbagai bantuan yang diperlukan, seperti baju layak pakai, beras, mie instan, buku, alat kelengkapan sekolah, jajan, dan minuman.

6. Rela Berkorban

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa " bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya". Apakah makna ungkapan itu? Makna ungkapan itu mengajak kita semua untuk menghargai jasa para pahlawan. Mengapa pahlawan perlu dihargai? Karena atas pengorbanan para pahlawanlah, negeri ini jadi merdeka, bebas dari penjajahan. Pahlawan telah mengorban jiwa dan raga untuk membela negeri ini. Oleh karena itu, pahlawan patut dihargai. Cara menghargai jasa para pahlawan dapat dilakukan dengan

1) meneladani jiwa kepahlawan, seperti pantang mundur dan rela berkorban,
2) menunjukkan semangat nasionalis, seperti siap membela bangsa dan negara dari ancaman musuh,
3) mencintai negeri sendiri, misalnya lebih menyukai produk dalam negeri, dan
4) memberikan perhatian, penghargaan dan pelayanan kepada para pejuang bangsa yang masih hid up.
7. Bernyanyi Sambil Belajar Ingatkah ~alian ketika masih kecil sering dinyanyikan lagu menjelang tidur? Orang tua begitu senang menyanyikan sebuah lagu untuk kalian agar cepat tertidur. Sambi! menggoyang-goyangkan badanmu atau menepuk-nepuk punggungmu, orang tua terus saja mendendangkan lagu hingga kalian tertidur lelap. Lagu "P utri Cening Ay u" adalah salah satu lagu Bali yang seringkali dinyanyikan untuk meninabobokan anak menjelang tidur. Mengapa dengan dinyanyikan lagu kalian cepat tidur? Sebenarnya, dalam alunan nyanyian sebuah lagu, meskipun terdengar sederhana mampu mengantarkan pikiran anak yang mendengar menjadi terlena. Setelah terlena, tidak lama kemudian anak terlelap tidur. Tahukah kalian bahwa selain dapat mengantarkan kita ke alam tidur, sebuah nyanyian atau lagu mengandung pesan? Ya, hampir semua lagu diciptakan untuk menyampaikan pesan. Itulah sebabnya, selain untuk menghibur, nyanyian atau lagu yang didendangkan juga mengandung pelajaran. Oleh karena itu, kita dapat belajar

PEN GAYA A N PEN DIDIK I\ N BUD ! PEK ERT I UNT UK PAS RA M A N

r

Bela Jar Matembang kepada Orang Tua sa mbi I bernya nyi u ntuk memeti k pelaja ran. Seperti contoh lagu a tau tembang pupuh sinom berikut ini yang mengandung ajaran etika. Dabdabang de wa dabdabang Mumpung dcwa kari alit Mela;ah ningkahang awak Dhar111a patule gugonin De nwmokak iri hatt Duleg kapin tlllak lacur De bonggan tcken awak Lagut c bisa mcmunyi Artinya secara umum adalah wahai para ge nerasi muda, bersiaplah dengan baik demi masa depan, mengingat ka lian masih kecil. Bel ajarlah berbuat yang baik. Darma itulah seharusnya d igunakan sebagai pedoman. janganlah sombong dan iri hati. jangan pula membedakan anak yang mi sk in walaupun kalian sudah bisa berbicara.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

8. Seni Kehidupan

Coba bayangkan, bagaimana kalau di dalam kehidupan ini tidak ada kesenian. Bisa dipastikan kehidupan kita akan kering atau gersang, sama sekali tidak tumbuh jiwa-jiwa yang halus dan lembut. Kehidupan yang tidak cukup hanya memikirkan pemenuhan kebutuhan badan berupa makanan dan minuman, tetapi juga kita wajib memenuhi kebutuhan jiwa, hati, atau rasa.

Jika dengan ilmu pengetahuan, kehidupan kita menjadi mudah, dengan agama hidup kita menjadi penuh berkah dan anugerah dengan seni, kehidupan kita menjadi lebih indah. Senilah menyebabkan kehidupan kita jadi indah. Oleh sebab itu, masyarakat Bali hampir tidak pernah hidup lepas dari kesenian.

Dilihat dari kelompoknya, kesenian di Bali dibagi menjadi tiga, yaitu

1) seni Wali, bersifat sakral (suci) yang hanya dipertunjukkan sebagai persembahan pada saat dilaksanakan upacara yadnya, dan biasanya dilakukan di pura. Contohnya Tari Rejang, Baris Gede, Barong, Topeng Sidhakarya, dan Sanghyang Dedari,
2) seni Bebali, tergolong setengah sakral dan lebih bersifat mendukung kegiatan upacara yadnya. Contohnya Tari Pendet, Topeng Pajeg, dan Gambuh,
3) seni Balih-Balihan, bersifat menghibur dan umumnya dipentaskan di luar area pura. Contohnya sendratari, Drama Gong, dan Bondres.
Belajar Megambe/ dengan Senang Hati

PENGAYA i\ N PF:NDIDIK AN BlJDI P~~I

Sebagai orang Bali sudah semes linya kita mengcna l kesenian Bali. Bi la perlu bisa mempraktikkannya. Mulai dari seni tabuh (karawitan) dengan berbagai macam gamelannya, ~eperti semar pegulingan, angklung, ge nder, dan rindik. La lu seni tari dengan beraneka jenis tarian nya, baik tari wali, beba /i ataupun ba /ih -balihan. Ked ua jeni s se ni ini (mena bu h dan menari) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisa hkan dan telah menjadi bagian penti ng dari ke budayaan da n kehidupan umat Hindu.

9. Teladan Yang Baik

Saat ini suli t sekali mencari teladan yang baik. Kebanyakan, anak-anak sekarang lebih menj adikan sosok as ing sebagai idola, seperti superman, spiderman, doraemon, dan sinca n. Sela in itu ada juga ya ng mengidol akan sosok pe nyanyi atau bintang sin etron yang justru seringkali memberikan teladan yang kurang baik, terutama dari penampilan dan gaya hidupnya yang kurang sesuai denga n susi la.

Lalu di manakah da n siapakah sosok yang dapat kita jadikan teladan ya ng baik? jawabannya ada pada cerita-cerita tra di sional ya ng sering disebut sa tu a. Sa tua itu ba nyak mengandu ng aja ra n kebena ran (satwam) ya ng bersu mber pad a ajaran agama. Sa tu a itu sebenarnya adalah cerita tentang aj aran kebena ran (aga ma) ya ng berisi beraneka amanat atau pesa n ya ng pat ut d ija d ik an tel adan ya ng ba ik.

Ada banyak satua ya ng dikenal, di antaranya salua men tiwns men sugih (cer ita orang kaya dengan orang miskin), sntun I K{l/ nbing ajak I Bojog (cerita kerja sama antara Kera dan Kam bi ng), sa tu a I Tuung Kun ing (ce rita tentang kehidupan keluarga bebotoh atau penjudi), dan m a~ih banyak lagi. Oi bawah ini dicerit aka n satu judul satua, ya ng dapat diambil hi kmah dan te ladannya, ya itu " Kisa h Empat Sekawan".

Pada za man du lu, d i sebuah desa tinggalla h empat orang sa habat. Na ma ke em pat sahabat itu Ra mu, Shamu, Kal u dan Lalu. T iga orang perta ma sama-sa ma terpelajar sehingga mereka pintar. Sementa ra, Si La lu karena tidak pernah belajar diangga p bodoh. Suatu hari, sebagai orang -orang terpelajar, Ramu, Shamu, dan Kalu hendak meninggalkan desa untuk mencari kebe runtungan. Sedangkan Si Lalu hendak ditingga lkan karena bodoh. Namun karena Si Lalu in gin turut sc rta, akhirnya dia di ajak juga. Di tengah perja lanan saat memasuki hutan, mereka menju mpai tumpukan tulang berserakan. Karena merasa memiliki kepinta ran, me reka bern iat mencoba ilmunya untuk menghidupka n kembali ma khl uk ya ng sudah berubah jad i tulang belulang itu. Meskipun sudah dilarang Si La lu, karcna dianggap bodoh, nasihat La lu tidak didengar. Akhirnya, seca ra bergi lira n ketiga sa habat it u mencoba ilmunya masi ng- masi ng.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Ramu mencoba ilmu merangkai kembali tulang belulang yang berserakan. Dilanjutkan Shamu yang memiliki keahlian menempatkan kulit, daging, otot, dan bagian tubuh lainnya, sampai akhirnya terbentuk menjadi seekor Singa. Tugas terakhir dilakukan Kalu yang sangat pandai menghidupkan makhluk yang sudah mati, dalam hal ini Singa.

Walaupun sudah diingatkan Si Lalu agar tidak mencoba menghidupkan Singa tersebut, karena singa dapat mengancam keselamatan mereka. Namun karena ketiganya merasa pintar, nasi hat Si Lalu yang dianggap bodoh tidak digubris. Begitulah akhirnya Singa tersebut berhasil dihidupkan kembali dan seperti diduga sebelumnya Singa itupun akhirnya menerkam ketiga sahabat Lalu hingga tewas. Sementara Si Lalu yang dianggap bodoh justru selamat. Hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari satua tersebut adalah

1) Hendaknya jangan sombong dengan kepintaran,
2) Jangan menganggap teman atau orang lain bodoh, dan
3) Janganlah menyalahgunakan ilmu yang dimiliki untuk pamer kepintaran.

10. Bermain Memupuk Kebersamaan

Tidak ada yang lebih indah dan menyenangkan dari dunia anak-anak yang selalu diwarnai dengan kegiatan bermain. Bermain aneka macam permainan tidak asing lagi bagi anak-anak yang kesemuanya sangat bagus untuk memupuk rasa kebersamaan. Ada berbagai macam permainan yang biasa dimainkan anak anak Indonesia, khususnya Bali. Sejumlah permainan tersebut, antara lain permainan tajog, permainan petak umpet, megala-gala, matembing, main dengkleng, dan meong- meongan.

Bermain Tarik Tam bang untuk Kebersamaan

Seiring kemajuan zaman, tampaknya semak in banyak jenis permainan tradisional yang sudah ditingga lkan, dan digantika n denga n permainan modern yang lebih mengandalkan teknologi elektronik. Contohnya permainan playstntion, game online, dan sejenisnya yang lebih banyak menonjolk an semangat indi vidual (perseorangan) dari pada memupuk kebersamaan. Selain itu, jenis permainan model game online itu tidak jarang menampilkan permainan adegan kekerasan, baik lewat perkelahian maupun peperangan.

11. Mencintai Alam

Manusia hidup di dunia harus sal ing n1enci ntai satu sama lain, tidak saja pada manusia manusia itu, tetapi juga pada hewa n, tumbuhan, dan alam sekitar. Manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitar, semuanya adalah ciptaan Tu ha n. Oleh karena itu, manusia wajib saling menjaga, menyaya ngi, dan mencintai sesama ciptaan Tuhan.

Alam memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan bagi manusia. Bila diperhatikan, alam dikelo mpokkan ke dalam 4 bagian yaitu

1) lapisan udara yang mengelilingi bumi,
2) lapisan air di bumi, baik berupa hujan, laut, danau, sungai, rawa, es, air tanah, dan air yang ada di atmosfer,
3) lapisan batuan yang menyusun ku lit bumi, termasuk tanah yang melapisi bumi, dan
4) kehidupan di bumi yang terdiri dari tumbuhan, hewan, dan manusia. Manusia, hewa n, dan tumbuhan dinamakan makhlu k hidup, sedangkan
udara, air, tanah, batuan dinamakan benda, mahkluk tidak hidup. Manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitar saling membutuhkan sa tu sama lain. Manusia, hewan,

6 5

PENGAYAA N PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

dan tumbuhan hidup di alam. Manusia, hewan, dan tumbuhan tidak bisa hidup tanpa dukungan alam. Alam merupakan sumber kehidupan bagi mereka. Kesemuanya memiliki potensi yang sa ling berkaitan dalam mendukung proses kehidupan.

Me nyiram Ta naman untuk Kesegaran Ud a ra

Tumbuhan bisa hidup karena ada dukungan alam. Tumbuhan memerlukan sinar matahari, udara, air, dan makanan yang didapat dari tanah dan semuanya berasal dari alam sehingga tumbuhan dapat menghasilkan akar, batang, daun, bunga, buah, biji, umbi, dan udara bersih (oksigen). Hewan untuk kelangsungan hidupnya memperoleh makanan dari tumbuhan dan ada hewan yang memperoleh makanan dari hewan lain. Namun, semua hewan memperoleh udara dan air dari alam.

Manusia memperoleh makanan dari tumbuhan dan hewan. Manusia juga memerlukan udara dan air dari alam sehingga manusia harus mencintai hewan, tumbuhan, dan alam sekitar. Dengan begitu, manusia sebagai ciptaan Tuhan harus mencintai sesama ciptaan Tuhan. Manusia harus mencintai alam.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Sumber:www.mewarnai.com

Seisi Alam Saling Membutuhkan

12. Merawat Alam

Manusia dalam hidupnya sangat tergantung pada alam. Alam wajib dijaga dan dirawat dengan baik. Alam akan tetap lestari jika dipergunakan dengan benar dan hemat. Alam akan tetap dapat digunakan dari generasi ke generasi yang akan datang bila dijaga dan dirawat dengan baik. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menjaga dan merawat alam, di antaranya seperti uraian di bawah ini.

Memelihara Tumbuhan dan Hewan

Tumbuh-tumbuhan yang hidup di alam dapat berfungsi untuk melestarikan air, udara, dan tanah. Akar tumbuhan dapat berfungsi sebagai penahan air sehingga tidak terjadi banjir dan tanah longsor pada saat hujan deras. Banjir dan tanah longsor menyebabkan lapisan tanah paling atas terkikis dan ikut hanyut. Padahal, lapisan tanah paling atas adalah lapisan yang paling subur. Hutan disebut sebagai paru-paru dunia. Tumbuhan yang ada di hutan menghasilkan udara bersih dan segar yang menyerap berbagai racun di udara akibat pencemaran. Hal ini terjadi pada saat tumbuhan melakukan proses tumbuh kern bang (jotosintesis), udara bersih dan segar sangat diperlukan makhluk hidup untuk bernapas.

Hewan juga sangat diperlukan oleh manusia, selain sebagai sumber makanan, juga dapat membantu pekeqaan manusia. Dengan demikian hewan harus dijaga dan dirawat juga dengan baik. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merawat tumbuhan dan hewan agar lestari di alam, antara lain adalah

PENGAYAAN PENDIDI KAN BUD I PEKERT I UN TUK PAS RA MAN

1) menanam pohon di setiap tanah kosong; satu orang menanam satu pohon atau lebih,
2) janganlah menebang pohon secara liar dan berlebihan,
3) janganlah membakar hutan,
4) menanami kembali hutan yang sudah gundul,
S) melarang kegiatan perburuan liar, dan
6) menjadikan kawasan -kawasan hutan tertentu sebagai eagar alam dan suaka margasatwa.
Penanaman Pohon. Menjaga Kelestarian Air Setiap makhluk hidup membutuhkan air, di antaranya manusia membutuhkan air untuk minum, mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain. Air untuk minum harus dimasak lebih dulu agar kuman-kumannya mati. Hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Tumbuhan memerlukan air untuk tumbuh dan berkembangan. Air merupakan karunia Tuhan yang harus dij aga keberadaan dan kebersihannya. Air yang kotor atau tercemar tidak dapat dimanfaatkan.

PENGAYAAN PENDIDJKAN BUDJ PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Dilarang Membuang Sampah di Sungai

Air yang kotor dan tercemar dapat membahayakan kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Oleh sebab itu, kelestarian air harus dijaga dan cara antara lain

1) menggunakan air sesuai kebutuhan,
2) tidak membuang sampah dan limbah pabrik di sumber-sumber air seperti )aut, danau, sungai, dan saluran air,
3) menghijukan lingkungan dengan penanaman pohon yang dapat berfungsi sebagai penahan dan penyimpan air, dan
4) membuang air limbah rumah tangga pada tempatnya, seperti air bekas cucian dan mandi diusahakan dialirkan ke saluran pembuangan.

PENG AYA AN PENDIDI KA N BU D! PEK ERTI UNTUK PASRAMAN

Menjaga Kelestarian Udara

Udara sangat penting bagi kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup di bumi membutuhkan udara. Manusia, hewan, dan tumbuhan memerlukan udara untuk bernapas. Tanpa udara, semua makhluk hidup akan mati. Asap pabrik dan asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Untuk itu, udara perlu dijaga kebersihannya dan untuk menjaga kebersihan itu dapat dilakukan dengan cara

1) mengurangi terj adinya pencemaran udara, sebaiknya di setiap tanah yang kosong ditanami pohon,
2) mengupayakan pengurangan pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin,
3) salah satu upaya pengurangan pembuangan gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasanga n penyaring pada cerobong asap pabrik, dan
4) mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak dan mencemari udara

Menjaga Kesuburan Tanah

Tanah merupakan tempat hidup bagi makhluk hidup. Semua hasil pertania n, perkebunan, tambang, dan basil bumi lainnya berasal dari tanah. Tanah yang subur dapat menghasilkan tanaman ya ng baik. Tanah yang tandus perlu diolah agar menj adi subur. Sampah dari daun baik untuk menyuburkan tanah. Untuk menjaga kelestarian tanah, tanamilah tanah kosong di sekitar kita agar tidak menj adi tandus. Tanah harus diolah dengan pengairan dan pemupukan yang benar.

Kelestarian tanah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membuang sampah di sembarang tempat. Sampah harus dibuang di lokasi pembuangan ya ng semestinya. Sampah ya ng kita buang umumnya terdiri atas sampah organik dan sampa h anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, contohnya daun-daun, sisa-sisa makanan, dan sebaga inya. Sampah anorga nik adalah sa mpah yang berasal dari benda tak hidup; contohnya sampah kaleng, botol, dan plastik.

Sampah organik dapat membusuk dan terurai oleh bakteri atau jamur sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan, sedangkan sa mpah anorganik tidak dapat terurai sehingga akan merusak kelestarian tanah. Oleh ka rena tanah, air, dan udara san gat penting bagi kehidupan, jagalah kelestarian tanah, air, dan udara di sekitarmu. Hal ini bertujuan agar tanah dapat terus memberikan manfaa t bagi kehidupan.

PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

13. Aku Datang pada-Mu Tuhan (Tirtayatra)

r=

·-(..,.,

l I I

,-

Pelaksanaan Tirtayatra.

Manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, hendaknya selalu mendekatkan diri dengan sang pencipta. Manusia seharusnya selalu ingin tahu dan mengenallebih banyak lagi tentang Sang Pencipta sehingga manusia senantiasa ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Pendekatan diri dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan tirtayatra. Tirtayatra berasal dari bahasa Sansekerta, tirta dan yatra. Tirta artinya pemandian, sungai, kesucian, air, toya atau air suci, sungai yang suci. Tirta mengacu pada wujud air, sedangkan yatra berarti perjalanan suci. Jadi tirtayatra adalah perjalanan suci untuk mendapatkan atau memperoleh air suci.

Tirtayatra di Bali dalam kesehariannya lebih dikenal dan dipahami sebagai tangkil (datang) lalu sembahyang ke pura-pura. Di dalam kitab Sarasamuscaya, 279 dikatakan tentang keutamaan tirtayatra. "Tirtayatra itu amat suci, lebih utama dari pensucian dengan yadnya, tirtayatra dapat dilakukan oleh siapa saja". Artinya

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

tirtayatra tidak memandang orang dalam statusnya, baik kaya maupun miskin. Dasar tirtayatra melalui pelaksanaan bakti yang tulus ikhlas, tekun, dan sungguh-s ungguh. Nilai kesucian atau kualitas kesucian tirtayatra lebih utama daripada membuat upacara banten walaupun upacara banten itu tingkatannya utama.

Tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk bersembahyang. Tirtayatra adalah perjalanan suci untuk melakukan persembahyangan ya ng di dalamnya terkandung pengendalian dan pengekangan diri. Pengendalian dan pengekangan diri tersebut misalnya tidak boleh marah, tidak boleh berkata kasar, dan tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. Perjalanan suci untuk melakukan persembahyangan ini akan mendekatkan diri di antara umat. Di dalam kegiatan tirtayatra akan terjadi suatu interaksi yang positif di antara para pelaku dan di dalam pelaksanaannya akan terjadi tegur sapa, suka duka, ca nda ria, dan interaksi sosiallainnya.

Tirtayatra juga mendekatkan umat dengan tempat suci atau pura. Umat akan mengetahui lebih dekat tentang situasi, lokasi, sejarah serta nilai kesucian, dan kebenaran yang terkandung pada tempat suci yang dikunjungi. Di samping itu, tirtayatra juga semakin mendekatkan antara umat dan Sang Pencipta melalui pemujaan yang dilakukan di tempat suci yang dikunjungi. Kedekatan -kedekatan tersebut akan semakin menambah kekaguman akan kemahakuasaan Tuhan dan meningkatkan rasa bakti kehadapan-Nya. Oleh sebab itu, rajin-rajinlah melaksanakan tirtayatra atau datang kepada-Nya dengan jalan menyucikan diri dan sembahyang. Sembahya ng adalah kewajiban bagi umat manusia, apa pun agama, kepercayaan, dan keyakinannya.

Tirtayatra di Pura Besar (K ahyangan jagat)

14. Makna di Balik Simbol

Sebagai umat beragama Hindu, kita wajib melaksanakan kewajiban yadnya. Upacara yadnya ini bertujuan untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, man usia dan sesama, dan manusia dan lingkungan alam. Dalam rangka menjaga hubungan inilah umat melakukan berbagai upacara yadnya. adapaun saran a pelengkap pelaksanaan upacara yadnya adalah upakara/sajen. Secara etimologi upakara berarti pelayanan yang ramah tamah atau kebaikan hati. Secara harafiah tata pelaksanaan suatu yadnya disebut Upakara. Kata upakara dalam bahasa Sansekerta berarti mendekati. Sarana ritual untuk upakara yang disebut banten merupakan salah satu bentuk dari pengejawantahan Veda. Artinya dengan membuat banten, kita sudah mengamalkan ajaran-ajaran Veda. Tahukan Anda bahwa Veda tidak mudah dipahami? Untuk mempermudah pemahaman itulah persembahan banten menjadi penting.

Ada beberapa makna dalam melaksanakan persembahan atau yadnya yaitu

1) sebagai pengejawantahan ajaran Veda, artinya melalui pelaksanaan yadnya atau persembahan itu kita sudah mengaplikasikan ajaran Veda,
2) sebagai cetus an rasa terima kasih artinya dengan beryadnya kita mengucapkan terima kasih atas segala anugerah Tuhan,
3) untuk meningkatkan kualitas diri. Artinya dengan yadnya kita akan mampu meningkatkan kualitas diri dari cobaan dan penderitaan untuk menuju kesejahteraan
4) sebagai salah satu cara untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Artinya dengan melakukan yadnya atau persembahan, kita melakukan hubungan kepada Tuhan. Karena keterbatasan kita sebagai man usia, yadnya itulah yang menghubungkan kita dan Tuhan, dan
5) untuk menyucikan, artinya dengan yadnya, kita memohon kesucian jasmani dan rohani. Ada beberapa jenis sarana upacara atau ban ten yang biasa digunakan sebagai
perlengkapan upakara dalam pelaksanaan upacara yadnya.

1) Saiban Saiban adalah salah satu sarana ritual yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan berbagai pengaruh negatif. Hal 1111 JUga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atau terima kasih kepada Tuhan atas segala anugerah yang telah diberikan. Saiban waktu pelaksanaannya setelah kita selesai memasak dan sebelum kita menikmati makanan. Hal ini mengajarkan kita bahwa dengan melakukan persembahan sebelum kita makan adalah suatu cara untuk menyatakan terima kasih atas karunia Tuhan.

Ba nten Sa iban

2) Segehan Segehan adalah salah satu persembahan yang ditujukan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan berbagai pengaruh negatif di alam ini. Dengan melakukan persembahan ini, kita akan terbebas dari gangguan dan pengaruh negatif dari alam. Persembahan dalam segehan beraneka ragam tergantung kepada siapa dan apa permohonan kita. Misalnya segehan pancawarna (lima warna menurut penjuru mata angin) bertujuan aga r keharmonisan muncul dari berbagai arah mata angin.
Segehan

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PAS RAMAN

3) Kwangen Kwangen adalah sarana upacara sebagai simbol dari Ongkara. Kwangen disebut sebagai perwujudan Tuhan dan aksara suci yang diharapkan dapat menyaksikan persembahan manusia. Kwangen dibuat dari daun pisang dengan bentuk tertentu dan juga janur yang dihias yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dan sangat indah. Kwangen memiliki unsur penting, yaitu porosan silih asih sebagai simbol tiga kekuatan, yaitu pencipta, pemelihara, dan pelebur. Setelah itu, kwangen diisi dengan bunga tiga warna lalu diisi uang kepeng sebagai pelengkap kwangen.
Sumber: www.radheyasuta.com Kwangen

4) Canang Canang adalah sarana pemupan yang terkecil bagi umat Hindu dan merupakan salah satu bentuk baktt. Bentuk persembahan ini berupa rangkaian bunga dan daun yang sangat indah. Canang dibuat dari janur yang dibentuk persegi empat, kemudian diisi beras kuning, pisang, kiping a tau jaja gina, porosan, dan urasari yang bagian atasnya diisi dengan bunga lima warna, yaitu putih di timur, merah di selatan,

kuning di barat, hij au di utara, dan kembang rampe diletakan di tengah-tengah. Rangkaian bunga simbol persembahan kepada pancadewata yaitu Iswara, Brahma, Mahadewa, Visnu, dan siwa.

www.ba ntenbali.com

Ca nang

5) Soda Soda adalah salah satu bentuk persembahan sederhana sebagai simbol alam semesta ini. Soda terbuat dari buah -buahan, makanan, dan bunga- bungaan. Soda bermakna ketulusan manusia dalam melakukan persembahan agar diberi kemakmuran oleh Tuhan.
Sumber: www.bantenbali.com

Soda

6) Pejati Pejati adalah sarana upacara yang terdiri dari daksina, soda dan peras. Pejati ini simbol keseriusan umat dalam melakukan persembahan. Semua sarana itu dipersembahkan di pelinggih dengan harapan Tuhan memberikan kesejahteraan dan kesehatan lahir dan batin.
www.bantenbali.com

Pejati

7) Klakat dan Klangsah Klakat adalah bentuk-bentuk sarana upacara yang digunakan dalam upacara bhuta yadnya. Klakat digunakan sebagai tempat hasil bumi atau persembahan, sedangkan klangsah digunakan sebagai atap tempat dilangsungkannya upacara. Klakat dibuat dari bambu, sedangkan dan klangsah dibuat dari daun kelapa yang sudah tua.
Sumber: Plusgoogle.com Klatkat

PENDIDIKAN BUD I PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Sumber: www.pinterest.com

Klangsah

PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

8) Sanggah Sanggah adalah sarana upacara yang digunakan untuk tempat sesajen atau persembahan.
Sumber: lpdkedonganan.com

Pembuatan Sanggah

9) Penjor Penjor adalah sarana upacara yang menggunakan bambu dan dihias dengan janur dan dilengkapi dengan basil alamnya. Penjor merupakan bentuk rasa syukur akan kesuburan dan juga sebagai salah satu penolak bala. Penjor terbagi ada dua, yakni penjor yang digunakan untuk upacara dan penjor untuk dekorasi untuk memperindah suasana. Jika penjor upacara lengkap dengan berbagai sarana upacara, penjor hiasan hanya berupa janur dan hiasan lainnya.

PENG AYAAN PENDIDIKAN BUDI PEK ERT I UNTUK PA SRAMAN

Penjor

Sumber : www.plusgoogle.com

Penjor Dekorasi.

15. Rasa Bahasa

Penggunaan bahasa Bali dalam pergaulan masyarakat Bali sebaiknya disesuaikan dengan sikap dan rasa bahasa. Mengapa harus memperhatikan rasa bahasa dalam berbahasa Bali? Apa itu rasa bahasa? Dalam masyarakat Bali, bahasa sering disebut rasa. Bahasa alus disa mpaika n oleh orang yang memili ki rasa yang lebih hal us kepada orang lain. Kepada siapa kita perlu berbahasa alus? Dalam konsep berbahasa, basa alus perlu disampaikan kepada orang yang lebih tua dan kepada orang ya ng kita hormati. Mari ki ta cerm ati kalimat bahasa Bali berikut ini

8 0

' ... Titiangjagi nunas, Bapa sa111pun ngajeng?

Dalam konsep sor singgih basa, kata titiang yang berarti saya, dan ka ta nunas ya ng berarti makan, termasuk ka tagori a/us sor. Dalam penggunaan berbahasa Bali, kata a/us sor biasanya dipakai untuk ngasorang raga (untuk merendahkan diri), si pembicara biasanya merendahkan diri di hadapa n lawan bi cara. Hal itu berbeda dengan rasa bahasa pada kata ngajeng ya ng artinya makan. Dari sis i rasa bahasa, kata ngajeng tergolong a/us singgih. Dalam pra klik berbahasa Ba li, ka la a/us singgih biasanya dipakai unluk ny inggihang (mengharga i) lawan bicara, alau nyinggih ang (menghormati) orang yang pantas dihormati.

Jika konsep berbahasa yang sa rat denga n rasa bahasa dipraktik kan dalam kehidupan umat manusia, akan terjadi suasana yang sal in g menghargai, sa ling menghormali, yang pada akhirnya aka n menimbulkan suasana hidup harmonis. Di Bali sekarang, masyarakat lebih cendrung menggunaka n bahasa Indonesia. Bagaimana denga n bahasa Indones ia? Bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan bahasa Bali, kurang mengenal tingkatan rasa bahasa. Hal it u dapal diketahui dari kalimat, Titiang jagi nunas, Bapa sampun ngaj eng? Jika ka limat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi sebagai berikut. 'Saya mau makan, apakah Bapak sudah makan? Apa baik buruknya bahasa yang mempunyai tingkatan rasa bahasa kal au dibandingkan dengan berbahasa dengan ba ha sa yang tidak mengenal tingkatan rasa bahasa? Mari kita cermati kalimat bahasa Indonesia berikut.

... Sa yo mau makan, bapak sudah makan ?

Kal i mat tersebut ad ala h kal i mat bah a sa Indones ia ya ng tidak men genal ti ngkata n rasa bahasa. Kata makan dapat d ipakai keti ka berbicara dengan ora ng tua atau dengan anak-anak. Kalimat ilu berbeda jika diucapkan dalam kalimat bahasa Bali. Kata nunas yang artinya makan biasanya dipakai unt uk diri se ndiri (si pembicara), sedangkan kala ngajeng ya ng arti nya 'makan ', biasanya untuk orang ya ng kita hormati. Orang yang perlu dihormati di antaranya orang tua, pejabat, dan orang ya ng belum kita kenai dengan baik.

Dalam contoh tersebul terlihat bahwa berbahasa Indonesia jauh lebi h mudah daripada berbahasa Bali ya ng memakai tingkatan rasa bahasa. Berbahasa dengan kalimat ya ng tidak memperhitungkan rasa bahasa ha nya mempcrhatika tingkal komunikatifnya, sedangkan berbahasa denga n bahasa yang menge nal tingkatan rasa ba hasa bukan hanya komunikatif, melainkan pembangunan suasana pergaulan. Perhatikan kembali beberapa kalimat berik ut ini

1) l Rntu mangkin jagi lung kija, til inn jagi ngiring,
2) sane dibi, titiang sampun mapajar ring ram man tiliange, dan
3) sira wastan ajin idane? Bapak titiange maadan l Gde Basur.

PENGAYAAN PENDIDIKAN BUD! PEKERTI UNTUK PASRAMAN

Belajar Bahasa Sanskerta

Bahasa yang digunakan dalam Weda adalah bahasa Sansekerta, nama Sansekerta dipopulerkan oleh Maharsi Panini, yaitu seorang penulis tata bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta. Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, bahasa yang digunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa atau sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tata bahasa Sansekerta ialah Rsi Panini yang kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya kitab Bhasa. Kemudian jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci. Berikut ini ada beberapa bahasa Sanskerta yang digunakan sehari-hari.

Indonesia Sanskerta
Selamat pagi, Selamat siang, dan Selamat sore Namaskarah
Selamat datang Svagatam
Hallo Harih Om
Siapa namamu? ....... (untuk laki-laki) Bhavataha nama kim?
Siapakah namamu? ... (untuk perempuan) Bhavatyaha Nama Kim?
Nama saya ...... (untuk laki dan perempuan) Mama nama
Baik sekali Bahu Uttamam.

Belajar bahasa Kawi

Bahasa Kawi adalah bahasa yang digunakan juga dalam kitab Ramayana. Contoh penggunaan bahasa itu seperti berikut ini

"Dewa kusala sa/am mwang dharma ya pahayun, Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan, Bhukti akaharepta wehing bala kasukan, Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika". (Kakawin Ramayana III, 54)

Terjemahan:

Pura-pura (tempat suci), rumah sa kit, dan pedarman agar diperbai ki dan diperbanyak. Biaya pembangunan mohon disimpan baik-baik. Nikmatilah apa yang kamu ingini dan berilah kesejahteraan, dharma, artha, dan kama.

UNT liK PI\SRAMAN

Daftar Pustaka

Sarasvati, Swam i Satyananda, el.a l. 20 01. Asann, Pra nayanw, M udm, dan Bandlw. Surabaya: Paramita. Tim Penyusun. 2014. Rangkwnan Materi Ajar Pasrm nan Fingkat Dasar. Denpasar : Pemerintah Prov insi Ba li. Biro Kesra Setda Provinsi Bali. Tim Penyusun. 2014. Maten Panduan Pa srn lll llll Re111aja. Un tuk lnstruktur. Denpasar: Pemerintah Prov insi Ba li. Biro Kesra Selda Ba li.

LAMPIRAN

PEKERTI HI'\'D U

KOMPETENSI KANDUNGAN
NO lSI KOGNITIF (pengetahuan) AFEKTIF (sikap) PSIKO MOTORIK (perilaku) MOTIVASI (mendorong) INSPIRASI (menjadi teladan) SUGESTI (memengaruhi) PROMOSI (meningkatkan) PERSEN-l TASE (%)
1 TATTWA Mengelahu1 Tu ha n Memercaya1. meyakin1 dan mengiman1 Ra11n sembahyang (bhakli) Semak1n yakm dan rajin menyembah Tuhan Meneladan1 ajaran Tuhan Melaksanakan perinlah Tuhan Menmgkatkan Sraddha dan bhakti kepada Tuhan 25
2 I SUSILA Mengetahu1 aJaran Suslla Bersikap ba1k dan benar Melaksanakan ataran kesusilaan / etika dalam berkeh1d upan Terdorong melakukan perbuatan balk dan benar Mencontoh perilaku orang- orang suci lngm berbual baik kepada sesama ciptaan Tuhan MenJalm keharmonisan hubungan. terutama dengan sesama dan makhluk h1du p lainnya 60 I
li "c"' Menge1at1u1 kewa11ban berupacara. beserta maknanya Memaluh1 Menaat1 Memprakt1kan sesua1 ketentuan Tergerak untuk melaksanakan kewatiban berupacara Mereal1sas1kan makna- makna d1bal1k S1mbol-s1mbol upacara Bahwa set1ap upacara akan mendapatkan pahala MenJadlkan upacara ntual sebaga1 penmgkatan perba1kan hubungan sosial mental. moral dan spiritual I I 15 I

Ii

I I

Melaksanakan Terdorong Mencontoh Menjalin keharmonisan
berkehidupan melakukan perbuatan baik Ingin berbuat
Mempraktikan Tergerak untuk Merealisasikan Menjadikan upacara/
ketentuan melaksanakan makna dibalik upacara upacara akan mendapatkan ritual sebagai peningkatan mental, moral dan spiritual

N ILA I-N ILA I BU DI PEKERTI HI NDU

NO NILAI MATERI POKOK DESKRIPSI NARASI (Kutipan teks/naskah/ cerita) ILUSTRASI (Gamba r/foto/ simbol/sket)
I TATTWA Panca Sraddha Brahman Atman Karmaphala Punarbhawa Moksa Lima kepercayaan, keyakinan dan atau keimanan Percaya pada Tuhan Yang Maha Esa Tuhan pencipta semua mahluk (alam. tumbuhan. hewan dan manusia) Tujuan hidup sebagai manusia adalah memperbaiki perbuata nnya Akibat perbuatan akan menimbulkan kelahiran kembali Tujuan akhir hidup manusia adalah kembali bersatu pada-Nya Bhagawad-gita Manusmrti Bhagawadgita Slokantara Slokantara Sarasamuscaya Swastika Acintya Bagan Mahluk ciptaan-Nya
II SUSILA TatTwamAsi Tri Kaya Parisudha Catur Guru Yama-Niyama Tri Hita Karana Sesama manusia adalah sama. sesama ciptaan Tuhan, karena itu waj ib saling mencintai dan tolong menolong Sebagai mahluk sempurna dan mulia manusia wajib berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar Kelahiran /kehadiran manusia tidak lepas dari peran empat guru : Tuhan pencipta, orang tua yang melahirkan dan merawat, guru di sekolah dan pemerintah selaku pengayom msyarakat Untuk meningkatkan kualitas diri manusia wajib melaksanakan ajaran Yama-Niyama Brata Guna mewujudkan harapan manusia agar dapat hidup sejahtera dan bahagia, maka wajib menjalin hubungan bhakti kepada Tuhan, hubungan sinergis dengan sesama manusia dan hubungan harmonis dengan alam lingkungan Niti Sataka Niti Sataka Manawadharmasastra Yoga Rg Veda
Ill UPACARA Panca Yadnya Dewa Yadnya RsiYadnya Pitra Yadnya Sebagai umat Hindu, wajib melaksanakan lima macam yadnya Persembahan bhakti kehadapan Tuhan dan manifestasi-N ya Persembahan bhakti kepada para Rsi penerima dan penyebar ajaran Tuhan Persembahan bhakti kepada orang tua dan para leluhur Silakrama Manawadharmasastra Niti Sataka Menawadharmasastra
(Kutipan teks/naskah/ cerita)
Manusa Yadnya Bhuta Yadnya Persembahan bhakti sesama manusia Persembahan rasa terimakasih kepada seisi alam semesta Menawadharmasastra Menawadharmasastra
IV MATER I PENUN-JANG Penunjang peningkatan keimanan Penunjang peningkatan rasa kasih PenunJang penmgkatan kepedulian terhadap alam Penunjang kemampuan berketeramp1lan upacara Penunjang kemampuan berbaha sa Tn Sandhya, Panca Sembah, doa-mantra (sehan-han), med1 tas1, yoga Matembang, Makidung, Menabuh, Menari Masatua. Permaman Tradisional, Tirthayatra, aktivitas cinta dan peduli lingkungan sosial dan alam Saiban, Segehan. Kewangen. Membuat alat peralatan (uparengga) · Canang. Soda, Pajati, Klakat, Klangsah. Sanggah, Penjor Bahasa Sanskerta. Bahasa Jawa Kuna, Bahasa Bali, Bahasa lnggris Catur Veda Samhita Silakrama Silakrama Silakrama Catur Veda samhita

(Gambar/foto/ simbollsket)

NO NILAI JUOUL BAB SUB JUOUL Metode Pembelajaran Media Pembelajaran
I TATTWA
Panca Sraddha Tuhan Maha Segalanya Ceramah, Diskusi, Gambar, LCD/ Proyektor, Kapur Tulis,
Brahman Tuhan Sang Pencipta Sarna Dengan Diatas (SDA)
Alman Semua Manusia Bersaudara Sda
Karmaphala Tanam Padi Panen Padi Sda
Punarbhawa Mulai Berbuat Mulia Sda
Moksa Aku Kembali Pada-Mu Tuhan Sda
II SUS ILA Susila Kehidupan Ceramah, Diskusi, Demontrasi Gambar, LCD/ Proyektor, KapurTulis
TatTwamAsi Deritamu, Deritaku Juga Sda
Tri Kaya Parisudha Berpikir Positif Sopan Bicara Perilaku Santun Sda
Catur Guru ---- Tuhan Bersama Kita Patuh PadaTua Hormati Guru Taat Pada Pemerintah Sda --
JUDUL BAB SUBJUDUL Metode Pembelajaran
Yam a : Ahimsa (tidak menyakiti apalagi membunuh Pengendalian diri (welas asih), Brahmacari (masa belajar menuntut ilmu (kejujuran/tidak suka bohong), Asteya (tidak kesucian), Satyam mencuri). Aparigraha (tidak menerima barang haram) Mengekang hawa nafsu Anresangsia (tidak memntingkan diri sendiri), Ksama (suka memaafkan kesalahan orang la in), Satya Uujur), Ahimsa (kasih sayang terhadap sesama makhluk), Dama (d apat menasehati diri sendin), Priti (kasih sayang yang mendalam). Ajarwa (kejujuran), Prasada (memiliki hati suci), Madurya (tutur katanya manis dan sopan santun), Martdawa (kelembutan hati atau tidak tinggi hati) Sda
Niyama Perbaikan mental : Sauca (suci lahir batin), Santosa (ketenteraman hati), Tapa (tahan uji), Swadaya (belaJar sendiri tentang ilmu kesucian), lswara Pranidana (sembahyang dan mencamkan puja mantra ditujukan kepada Tuhan) moral. Dana (tklas berkorban/beramal), ljwa Penmgkata n Akhlak (pemujaan terhadap Tuhan), Tapa (tahan uji), Upasthanigraha (menahan nafsu seksual), Upawasa (membatasi diri dalam hal makan, dan minum), Mona (menahan kata-kata, hati-hati dalam berbicara). Snana (membersihkan hati dengan Jalan sembahyang dan berdoa), Swadhyaya (belajar sendiri dengan tekun). Brala (laal akan sumpah, selia janji) Sda
Tri Hila Karana Bhakliku Pada-Mu Tuhan Menctnlai Sesama Bersahabal Dengan Alam Sda
Ill UPA CARA Ceramah, Diskusi, Demontrasi
Panca Yadnya Li ma Kewajiban - Sda
Dewa Yadnya ·- Menjad i. Manusia Dewa Sda
Rsi Yadnya Rsi Penerima Wahyu Sda

Pembelaja Media ran

Gambar. LCD/ Proyektor. Kapur Tulis

Pilra Yadnya Menghormati Leluhur Sda

SUB JUDUL Metode Pembelajaran
Memanusiakan Manusia Sda
Alam Subur Hid up Makmur Sda Ceramah, Diskusi, Demontrasi, Bernyanyi
Tuhan Sang Penolong Merawat Pura Rajin Sembahyang Disiplin Diri Sda
Menolong Sesama Rela Berkorban Bernyanyi Sambi! Belajar Seninya Kehidupan Teladan Yang Baik Bermain Memupuk Kebersamaan Sda
Mencintai Alam Merawat Alam Aku Datang Pada-Mu Tuhan Sda
Makna dibalik Simbol Saiban, Segehan Kewangen, Canang, Soda, Pajati Klakat, Klangsah Sanggah, Penjor Sda
Rasa Bahasa Sda

JUDUL BAB Pembelajaran Media

Manusa Yadnya Bhuta Yadnya IV MATERI Hidup Sejahtera dan Gambar, LCD / PENUNJANG Bahagia Proyektor, Kapur TulisI Peningkatan I keimanan

Peningkatan rasa kasih sayang

Peningkatan Kepedulian terhadap Alam

Peningkatan kemampuan berketerampilan upacara

Peningkatan kemampuan berbahasa

Pengembangan Kebuctayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan