Baca PDF (OCR): Aksara dan naskah kuno lampung dalam pandangan masyarakat lampung kini

92 halaman · 92 halaman diproses dengan OCR· 112624 ms

Daftar isi
  1. DAN NASKAH KVNO LAMPVNG
  2. DA LAM
  3. PANDANGAN MASYARAKAT LAMPVNG KINI
  4. H A. DI AH
  5. KUNO LAMPUNG DALAM PANDANGAN MASYARAKAT LAMPUNG KINI
  6. JENDERAL KEBUDAYAAN
  7. Prof. Dr. Edi Sedyawati
  8. IS i
  9. .............. ..................................
  10. ....
  11. ....
  12. ....
  13. PENDAHULUAN
  14. 1.2 Masalah
  15. /. 5. I Me rode Kepustakaan
  16. Bab I Pendahuluan
  17. Bab II Gambaran umum daerah Lampung
  18. Bab III Masyarakat Lampung
  19. Bab IV Bahasa Lampung
  20. Bab V Aksara Lampung
  21. Bab VI Naskah Kuno Lampung
  22. Bab VIII Kesi mpulan
  23. Lampi ran
  24. UMUM DAERAH LAMPUNG
  25. (4) Balikbukit
  26. Bcrtcmpat di
  27. 2. 5.2 Perkiraan Sejarah
  28. Maso Kedatangan Islam.
  29. LAMPUNG
  30. Silsilah menurut garis pria
  31. ~~:aman y OT/', /', I 0 y y I 0
  32. ,~~n I I ri L~g.~) ,.,
  33. ,-1-,
  34. Tingkat Apak-Kemaman
  35. Ti11gkat Umpu
  36. V Ti ngkat uyut
  37. BAHASA LAMPUNG
  38. MASY ARA KAT LAMPUNG
  39. Beradat Pepadun Beradat Saibatin
  40. Logat 'O' Logat 'A' Logat 'A'
  41. ( c) di pasar, dan
  42. b rakyat kepada p unyimbang tertingg1
  43. d menantu kepada mertua
  44. g mantera (meinang). dan
  45. h pekasih diri (ha/emu).
  46. Bcbandung dial ek .. A" ·
  47. PAHLAWAN RADfN INTAN KHUA
  48. Bebandung dialek--o-·
  49. PAHLAWAN REVOLUSI
  50. 1882 '
  51. v untuk pa dan bukan p. Kalau kedua tanda ini
  52. /1 LJ />J LU
  53. ta da na ca Ja nva
  54. w ;zu;-0')(/
  55. Aksara Lampung Sekarang
  56. /() /7 /1( lJ,/
  57. ~6~ ~ /f-1/7
  58. ta da na ca Ja nva
  59. ief $~ / YJ--1--
  60. Rc_iang Pascmah Batak Bugis Makasar
  61. 2 Lomba Penulisan Had Lampung
  62. KUNA LAMPUNG
  63. '' arisan budaya bangsa pada masa lampau. naskah kuna
  64. Robson ( 1978 26) menyebut kodikologi sebagai pelajaran
  65. Kulit Kavu Halim
  66. -/.. 3.2 Ti nta
  67. Kan a sastra
  68. 6 5. 1 Penulis Naskah
  69. SIMPULAN

Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA 1996/1997

DAN NASKAH KVNO LAMPVNG

DA LAM

PANDANGAN MASYARAKAT LAMPVNG KINI

H A. DI AH

~• r\ ~·;~

DIREJl. '-.-. ·' '" I .. ' • • • • ..; ,, ~. • L ..,~,A*,.***l** -, r;: ... ~.D!S --- IONIL

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA 1996/1997

KUNO LAMPUNG DALAM PANDANGAN MASYARAKAT LAMPUNG KINI

Penulis : Titik Pudjiastuti Penyunting : Ors. Muhammad Jaruki Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Diterbitkan oleh Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nil ai Tradision al Direktorat Jenderal Kebu dayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1996 Edisi 1996 Dicetak oleh CV. PUTRA SEJATI RAYA. Jakarta

JENDERAL KEBUDAYAAN

Penerbitan buku sebagai upaya untuk memperluas cakrawala budaya masyarakat patut dihargai. Pengenalan aspek-aspek kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat mengikis etnossentrisme yang sempit di dalam masyarakat kita yang majemuk. Oleh karena itu. kami dengan gembira menyambut terbitnya buku hasil kegiatan Proyek Pengkaj ian dan Pembinaan N ilai -nilai Buda ya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Penerbitan buku ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia. Upaya in i menimbulkan kesalingkenalan. dengan harapan akan tercapai tujuan pcmbinaan dan pengembangan kcbudayaan nasional.

Bcrkat kcrjasama yang baik antara tim penulis dengan para pcngurus proyek buku ini dapat diselcsaikan. Buku ini belum mcrupakan basil suatu penclitia n yang mcndalam sehingga masih terdapat kckurangan-kckurangan. Diharapkan hal tcrscbut dapat discmpurnakan pada masa yang akan datang

v

Sebagai penutup kami sampaikan terima kasih kcpada pihak yang tdah menyumbang pikiran dan tenaga bagi penerbitan buku ini.

Jakarta. Februari 1997 Direktur Jenderal Kebudayaan

Prof. Dr. Edi Sedyawati

Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat telah melakukan pengkajian naskah-naskah lama, di antaranya AKSARA DAN NASKAH KUNO LAMPUNG. Pandangan Masyarakat Lampung Kini.

Nilai-nilai yang terkandung dalam naskah atau dokumen tertulis meliputi semua aspek kehidupan budaya bangsa mencakup bidang- bidang filsafat, agama, kepemimpinan, aj aran, dan ha! lain yang menyangkut kebutuhan hidup. Karena itu. menggali, meneliti, dan menelusuri karya sastra dalam naskah-naskah kuno di berbagai daerah di Indonesia pada hakekatnya sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Kami menyadari bahwa kajian naskah ini belum mendalam sehingga hasilnya pun belum memadai. Diharapkan kekurangan- kckurangan itu dapat disempumakan pada masa yang akan datang

Scmoga buku ini ada manfaatm a serta menjadi petunjuk bagi kajian selanjutnya.

VII

Kepada tim penu li s dan scmua pi hak yang tclah membantu sehingga terwujudnya karya ini. disampaikan terima kasih.

Jakarta. Februari 1997 Proyek Pengkajian dan Pembinaan Ni lai-nilai Budaya Pusat Pemimpin,

Soeyanto BA NIP. 130604670

IS i

halaman SAMB UTAN DIREKTUR JENDE RAL KEBUDAYAAN .. v
KATA PE NGANTAR .............. ................................ .............. v 11
DAFTAR ISi . IX

BAB I PENDAHUL UAN
I I La tar Belakang ...................................................... Masalah ....... T ujuan ... ............ 3.. 4
I 4 Ruang Lingkup ............................. ............................. 4
14. 1 Si stern Pengetahuan ..................................... ............. 4
1.4.2 Si stern Keyakinan ............ ........... 6
1.4.3 Perilaku Masyarakat .................................................... Metode............................... . ... .................... 6 6
15.1 Met ode Kepustakaan .............. .................................... 6
1.5.2 Metode Observasi.. ............. 7
1. 6 Sistematika .......................... 7
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH LAMPUNG
2. I Letak Geografi ............................................................ 9
2.2 Keadaan Alam 12
2.3 Penduduk ........... ........................ . .................... 13
2.4 Latar Belakang Budaya. 14
2.5 Latar Belakang Sejarah. 15

12
13. .......

.............. ..................................

IX

KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI BABI PENDAHULUAN ix
1
1.2 3
1.3 4
Perkiraan Sejarah .............. 16
Masa Kedatangan Islam. ................................... 18
BAB III MASYARAKAT LAMPUNG
3. I Adat Istiadat ............. 19
3.2 lstilah Adat .................... ······ ···· ··· ··· ······ ···· ······· ... 22
3.3 Pandangan Hidup ............................................ .. 23
3.4 BAB IV BAH ASA L AMPUN G Hubungan Kekerabatan ..................... .. .. . . 24
4. 1 Pendahuluan................ .......... ................................... 29
4.2 Dialek Bahasa Lampung .. .......... ........... .. ...... . .... 29
4.3 Tingkat Tutur Bahasa Lampung. ................................ 32
4 .4 4 5 Bahasa Lampung Kini Pembinaan Bahasa Lampung ..................................... 39 ...................................... 3 8
BAB V AKSARA LAMP UNG
5.1 Sejarah Aksara Lampung ............................ 43
5.1.1 Asal Mula Aksara Lampung ...................... ............... 45
5.1.2 Cerita Rakyat. ....... ........................ 45
5.1 .3 Pendapat Para Peneliti ...................... ....... . .... 46
5 2 Aksara Lampung. ............ 46
5.2.1 Aksara Lampung Lama .. .......................................... 47
5.2.2 Aksara Lampung Sekarang ................................. 49
5.3 Perbandingan Aksara Lampung dengan Aksara daerah Lain ........... ............................. 5 2
5.4 Pemakaian Aksara Lampung ..................................... 55
5.4. 1 Masa Lampau .. . .. 55
5.4.2 Masa Kolonia! Belanda .................................... .. 59
5.4.3 Masa Kini. . 59
5.4.4 Usaha Pelestarian Aksara Lampung .. 59
BAB VI NASKAH KUNO LAMPUNG
6.1 Pengertian Naskah Kuna ............ .. ........ . ... 6 1
6.2 Bahan Baku 'Naskah kuno Lampung'. 63
6.3 Al at Tulis dan Tin ta. ....... .... 66

....

....

....

6.1 Pengertian Naskah Kuna 61
6.2 63
6.3 Alat Tulis dan Tinta 66
Masa Lampau. 55
5.4.2 Masa Kolonial Belanda 59
5.4.3 Masa Kini. 59

XI

6:11 Alat Tulis....................... ·· ········ ·····........ 66
6:12 Tin~................................................... 67
64 lsi Naskah Kuna Lampung................. 69

6)Penulisan Naskah dan Huruf yang dipakai........... 72
6)1 Penulis Naskah................... 72
652 Huruf yang Dipakai........................... 72

6.6 Tcmpat Penyimpanan Naskah Kuna Lampung....... 7:1
6.6.1 Masyarakat................................ 73
6.6.2 Lembaga Resmi........................ 74
6.7 Peneliti dan Hasil Pcnelitian............... 75
BAB Vil PANDANGAN MASYARAKAT LAMPUNG KINI TERHADAP AKSARA DAN NASKAH KUNA LAMPUNG

7.1 Pandangan Negatif....................................... 77
7.2 Pandangan Positif....................................... 79
BAB VIII SIMPULAN................... ·························....... 81

PENDAHULUAN

I. I Latar Be/akang Bertolak dari konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat ( 1974 : 15) bahwa salah satu wujud kebudayaan masyarakat dapat dijumpai dalam sistem gagasan, nilai, norma. dan peraturan. Sebagian dari gagasan, nilai. norma. dan peraturan tersebut umumnya tertuang dalam bentuk tulisan. Tu lisan memainkan peranan yang penting sekali dalam sejarah ma nu sia, kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan, kekuasaan, pol itik, dan sebagainya (Molen. 1985 : 3). Sebagai media komunikasi bahasa. tu li san juga mempunyai peranan yang amat besar dalam perkembangan kebudayaan suatu masyarakat. Dengan tulisan, ide-ide ya ng mendasari kebudayaan manusia dapat dialihkan menjadi simbol- simbol yang direkam pada media-media yang dapat disimpan dan dipi ndah-p indahkan. Agar ide-ide tersebut dapat dipahami oleh orang la in. simbol- simbol dimasyarakatkan dan di transformasikan kepada gene rasi berikutnya rn e la lui sistem sosial isas i yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat Ind onesia. terutama di Indonesia bagian barat. terdapat suku-suku bangsa ya ng 111 emiliki sistem aksara kuno. Salah satu di antara suku bangsa di Ind one sia yang memil iki sistem aksara kuno itu ada lah suku hangsa Lampung.

  • 8) balm a sistcm aksara kuno yang terdapat
    di Lampung sama dengan sistem tulisan Rejang dan Pasemah, untuk hurufnya mi rip dengan aksara Ka\Yi. Noeh ( 1971 4) menyebutnya sebagai tulisan Ka Ga Nga. yaitu sistem aksara kuno yang berasal dari India.

Pada masa lampau aksara kuno ini dipakai sebagai media komunikasi yang penting dalam masyarakat Lan1pung. Namun, pada saat ini aksara Lampung oleh masyarakatnya disebut dengan nan1a Surat Lampung atau Suk/wt Lampung atau Hat Lampung sudah tidak digunakan lagi sebagai media komunikasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa aksara Lampung sekarang sudah nyaris dilupakan oleh masyarakat pendukungnya sendiri. kebanyakan dari mereka sudah tidak mampu lagi menulis dan membacanya.

Aksara kuno Lampung sebagai fenomena yang pemah berkembang dalam kehidupan masyarakat dahulu, kita masih dapat menemukan sisa-sisa keberadaannya. Aksara kuno itu terukir dalam naskah-naskah kuno yang dapat disaksikan dalam beberapa acara khusus, di tempat- tempat tertentu yang disimpan oleh orang-orang tertentu.

Keterikatan orang pada tradisi lama seringkali juga menyebabkan berkembangnya keyakinan atau pandangan khusus kepada naskah-naskah kuno. Perekam budaya masa lampau ada yang menghadapi naskah kuno dengan sikap mengagumi atau bahkan mengkultuskannya, tetapi ada juga yang bersikap tidak perduli

Menghadapi fenomena itu, timbul pertanyaan• bagaimanakah sesungguhnya pandangan dan tempatnya naskah-naskah kuno dan aksara Lampung tersebut dalam masyarakat Lampung masa kini ? Untuk menjawab pertanyaan itu, akan diuraikan dalam bab-bab berikut secara nnc1.

Penelitian mengenai Lampung memang belum banyak dilakukan. Salah satu diantara para peneliti tentang Lampung adalah van der Tuuk. Hasil tulisannya mengenai Lampung cukup banyak. terutama yang berkaitan dengan masalah bahasa. aksara dan naskah Lan1pung. Sampai kini, karya-karya Van der Tuuk selalu dijadikan sumber acuan yang utan1a bagi para peneliti yang bcnninat meneliti Lan1pung dari segi kebudayaan.

yang juga pantas disebut namanya adalah Helfrich. meskipun karya tulisannya tidak seba.nyak van dcr Tuuk. Helfrich lebih i11cnekankan penelitiannya pada masalah sastra. yang di lak ukann ya patut dicatat

Sementara itu, beberapa putra daerah yang juga layak dicatat nan1anya adalah Noeh, Hadikusuma, dan Arifin. Ketiganya banyak mcneliti masalah bahasa dan kebudayaan Lan1pung

1.2 Masalah

Pada saat ini peranan aksara Latin dalan1 menggantikan aksara daerah dalam kebudayaan nasional telah demiki an dominan. Aksara daerah sudah semakin tersisih bahkan nyaris dilupakan oleh pendukungnyasendiri.

Sementara itu, naskah kuno sebagai monumen budaya tulis masa lampau, lebih diperlakukan sebagai benda antik saja. Penghargaan terhadap naskah-naskah kuno itu hanya karena bentuknya yang unik dan kelangkaannya. Oleh sebab itu, harga jualnya cukup tinggi. Pada umumnya orang tidak mengetahui bahwa dalam naskah kuno banyak mengandung informasi mengenai nilai-nilai budaya dan puncak-puncak kebudayaan asli yang amat diperlukan sebagai akar dan batang tubuh kebudavan nasionaL

Hal lni sesuai dengan bunyi pasal 32 UUD 1945 bahwa pemerintah mengembangkan kebudayaan nasional yang me rupakan hasil budidaya seluruh rakyat Indonesia, dan puncak-puncak kebudayaan lama dan ac;li terhitung sebagai kebudayaan Nasional.

Selain itu. berdasarkan UU No. 5 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor I 0 tahun 1993, bahwa naskah-naskah kuno termasuk sebagai benda cagar budaya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Oleh karena itu dianggap sebagai milik negara yang tidak boleh diperjualbelikan seenaknya.

· Berdasarkan hal-hal di atas. masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan dan penempatan naskah kuno dan aksara Lampung oleh masyarakat pendukungnya dalam pelestarian nilai-ni lai kebudayaan lama dan asli.

masyarakat Lampung terhadap naskah kuno dan aksara Lampung.

(3) Memahami \Vujud, arti dan fungsi 11ila1-nilai budaya lama dan asli yang terdapat dalam peril aku masyarakat Lampung. tcrutama dalam memandang dan menempatkan naskah kuno dan aksara Lampung. J. .J Ruang Lingkup Penelitian ini dibatasi pada tiga ha!, yaitu (I) sistem pengetahuan.
(2) sistem keyakinan, dan (3) perilaku masyarakat Lampung terhadap naskah kuno dan aksara Lampung. /. .J. J Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan, dalam penelitian ini akan membahas masalah bahasa, tulisan. dan kesusastraan Lampung dengan penekanan pada naskah kuno dan aksaranya. Hal itu sesuai dengan tujuan utama dalam penelitian ini. yakni mengenai naskah dan aksara Lampung. Untuk itu. penelitian mengenai bahasa hanya bersifat penegasan dari tulisan-tulisan terdahulu. Beberapa peneliti yang pernah meneliti masalah bahasa Lampung adalah (I) van der Tuuk ( 1868) meneliti masalah dialek bahasa Lampung, (2) Helfrich (1891) meneliti bahasa Lampung dialek Krui,
(3) Schroter (1937) menulis tentang tatabahasa Lampung, (4) Walker ( 1973) rn eneliti bahasa Lampung Pesisir dialek Way Lima. (5) Hadikusuma ( 1988) mcnguraikan sccara panj a ng lebar mcngenai bahasa Lampung lengkap dengan dialck. tata bahasa. peribahasa dan teka-teki dalam bahasa Lampung, dan (6) Arifin ( 1992) mcngungkapkan masalah tingkat tutur dalam Bahasa Lampung.

belum banyak dilakukan orang. Kebanyakan tulisan mengenai aksara Lampung hanya berupa pelengkap dari suatu karangan tentang Lampung atau karangan singkat yang khusus mengemukakan masalah aksara tanpa tinjauan sejarahnya. Meskipun demikian, kita masih dapat menemukan beberapa tulisan mengenai aksara Lampung, di antaranya adalah tulisan van der Tuuk (1868), Holle (1 882), El Lampung (1959), Bakr (1984), Noeh (1971), Hadikusuma (1988), dan Arifin (1993 ).

Sementara itu, penelitian mengenai naskah kuno Lampung, barn dilakukan oleh van der Tuuk (1868) yaitu menerbitkan edisi facsimile dari naskah-naskah Larnpung milik Gubemur Jenderal Sloet van de Belle dan Tim Proyek dari Departemen P & K Propinsi Larnpung, yang berupa transkripsi dan transliterasi empat buah naskah kuno Larnpung, koleksi Museum Negeri Larnpung, Ruwa Jurai ( 1990-1992).

Sesuai dengan tujuan utarna dari penelitian ini, masalah naskah kuno dan aksara akan dibahas secara agak mendalam, informasi disajikan secara terurai meliputi berbagai ha!.

Berkenaan dengan naskah kuno, penelitian ini membahas masalah bahan naskah dan cara pembuatannya, alat tulis, tinta yang digunakan untuk menulis, genre sastra yang terkandung dalarn naskah Larnpung, dan tempat penyimpanannya. Hal yang berkaitan dengan masalah aksaranya, akan ditinjau asal-usul tulisan, perbedaan dan persamaannya bentuk tulisan Lampung kuno dan baru pemakaian dan fungsi surat Lampung dahulu dan kini, jenis-jenis aksara Lampung yang dikenal masyarakat, dan cara-cara penulisannya, serta usaha untuk melestarikannya.

Masalah kesusastraan Lampung, sarnpai saat ini belum banyak menarik perhatian para peneliti, beberapa tulisan yang berhasil ditemukan adalah yang disusun oleh van Ophuijsen (1896), Helfrich (1915). dan Prahana (1993).

Dalam penelitian ini, masalah kesusastraan tidak akan dibahas secara panjang lebar tetapi hanya akan ditampilkan beberapa cerita yang relevan dengan tujuan penelitian, yakni yang ada kaitannya dengan masalah riaskah kuno dan aksara Lampung.

.+. 2 ,')'is rem Keyakinan Sistem keyakinan adalah masalah pandangan masyarakat
Lampung kini terhadap naskah kuno dan aksaranya yang pernah menjadi puncak kebudayaan di masa lampau.

Dalam penelitian ini akan dibahas beberapa hal yang berkenaan dengan masalah pandangan masyarakat terhadap naskah kuno dan aksara yang mereka miliki. Apakah mereka masih mengctahuinya '1 Apakah mereka masih dapat membaca dan menuliskannya'1Apakah mereka mempercayai kandungan 1s1 yang termuat dalam naskah-naskah kuno tersebut ')

1.4.3 Perilaku Masyarakat. Dalam penelitian ini masalah perilaku masyarakat berkaitan dengan naskah kuno dan aksara yang mereka miliki akan dibahas. Bagaimanakah tingkah laku mereka dalam menghadapi naskah kuno dan aksara Lampung ') Dikultuskankah ataukah diabaikan ·1Bila dikultuskan apa yang mereka lakukan dan jika diabaikan apa yang mereka perbuat terhadap naskah-naskah kuno dan aksara tersebut '1.
1.5 Metode Dalam melakukan penelitian ini, ditempuh dua metode penelitian. Pada tahap awal dilakukan metode kepustakaan, kemudian dilanjutkan dengan penelitian lapangan. pergi ke lokasi untuk bertanya dan menyaksikan secara langsung sikap dan tingkah laku masyarakat Lampung dalam menghadapi naskah kuno dan aksara Lampung.

/. 5. I Me rode Kepustakaan

Metode kepustakaan dilakukan sebelum melakukan penelitian lapangan ke masyarakat. yakni mencari dan mengumpulkan semua bahan referensi yang berkenaan langsung dengan masalah dalam penelitian ini Melalui bahan rcfercnsi yang berhasil dikumpulkan itu. akan di susun suatu pola penclitian lapangan yang relevan dengan tuj uan penelitian

5. 2 Me rode Observas1 Mctodc Obscrvasi dilakukan dengan mengunjungi lokasi
penelitian untuk menyaksikan dan bertanya langsung kepada masyarakat Lampung akan pandangan mereka mengenai naskah Kuno dan aksara yang mereka miliki.

1.6 Sistimatika

Bab I Pendahuluan

Dalam bab satu terdiri atas latar belakang. masalah, tujuan, ruang lingkup. metode dan sistematika.

Bab II Gambaran umum daerah Lampung

Dalam bab dua akan diuraikan pemahaman geografi yang dilengkapi dengan informasi mengenai keadaan alam, penduduk, latar belakang sejarah, dan latar belakang budaya.

Bab III Masyarakat Lampung

Pada bab tiga, masyarakat Lampung akan dilihat dari dua segi, yaitu masyarakat Lampung kuno dan masyarakat Lampung kini. Masyarakat Lampung kuno akan dljelaskan melalui cerita yang isinya menguraikan asal-usul suku bangsa Lampung, sedangkan masyarakat Lampung kini dijelaskan berdasarkan pengamatan dalam penelitian.

Bab IV Bahasa Lampung

Pada bab empat ini, bahasa Lampung akan dijelaskan dari berbagai ha!. yakni mengenai dialek yang dikenal di Lampung, sebutannya. dan tingkatan tutumya.

Bab V Aksara Lampung

Dalam bab lima ini. akan diuraikan tentang sejarah dari aksara Lampung. perbedaan dan persamaan bentuk aksara Lampung lama dan baru. jenis-jenis huruf yang dikenal. dan cara-cara penulisan aksara Lampung.

Bab VI Naskah Kuno Lampung

Pada bab enam ini. akan dijclaskan tentang bahan naskah dan alat tu lis yang digunakan. cara pembuatan naskahnya. tinta yang

digu11aka11. is i yang terkandung dalam naskah-naskah kuno Lampung. dan tempat-tempat penyimpanannya.

Bab VII Pandangan Masyarakat Lampung Kini Terhadap Aksara dan Naskah Kuno Lampung

Dalam bab tujuh ini akan diuraikan pandangan dan usaha-usaha pelestarian aksara Lampung yang dilakukan oleh masyarakat Lampung terhadap aksara yang mereka miliki. Selain itu, juga akan dijelaskan pandangan mereka terhadap naskah kuno Lampung yang mereka rniliki, dikultuskankah atau diabaikan.

Bab VIII Kesi mpulan

Bab delapan ini merupakan bab terakhir. Bab delapan ini berupa kesimpulan dari bab-bab sebelurnnya dan pandangan peneliti terhadap obyek yang diteliti.

Lampi ran

Pada bagian lampiran akan disajikan sejum la h foto-foto dari naskah kuno Larnpung, usaha pelestarian had Larnpung, teks lomba bebandung, teks soal ujian muatan lokal yang berlaku di SMP Negeri Lampung, dan daftar narasumber yang membantu penelitian lni.

UMUM DAERAH LAMPUNG

2.1 Letak Geografis Lampung adalah propinsi paling selatan pulau Sumatera. Lampung terbagi atas Kotamadya Tanjung Karang dan tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Teluk Betung, Kabupaten Metro, dan Kabupaten Kotabumi. Luas daerah Propinsi Lampung 35.37,50 kilometer persegi termasuk pulau-pulau yang ada di sekitar Teluk Lampung, seperti pulau Darot. pulau Lagundi. pulau Tegal, pulau Sebuku, pulau Kukus, dan pulau Tabuan, (Ensiklopedi Indonesia; 1950, Fachruddin. dkk, 1989/ 19 90:9). Daerah yang paling dekat dengan pulau Jawa, Lampung terletak antara 103 °.45' -105 °.50' Bujur Timur dan 3°.45,' -6°.45 Lintang Selatan. Batas-batasnya adalah sebelah barat berbatasan dengan Propinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia. di sebelah timur berbatasan dengan Selat Sunda, dan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa (Ensiklopedi Indonesia : 1950-51 ). Menurut Hadikusuma ( 1988 : 2) bahwa secara antropologi budaya daerah Ranau, Kome~ing. dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan, serta desa Cikoneng di Pantai barat Banten. Jawa Barat. sebenarnya juga termasuk daerah Lampung. Namun. secara geografts daerah-daerah itu tidak termasuk ke dalam Propinsi Lampung.

Mcngenai luas dacrah Propinsi Lampung sampai dengan tahun 1989 tcrdiri atas cmpat Dacrah Tingkat II. yaitu Kabupaten Lampung Utara tcrbagi atas 24 kecamatan. Kabupatcn Lampung Tengah terbagi atas 24 kecamatan, Kabupaten Lampung Sclatan terbagi atas 20 kecamatan, dan Kotamadya Bandar Lampung terbagi atas 9 kecamatail. Secara keseluruha.11 daerah Propinsi Lainpung terbagi atas 77 kecainatan.

Berikut ini adalah tabel kecamatan yang terdapat di daerah provinsi Lampung berdasarkan catatan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Kebudayaan Provinsi Lainpung. tahun 1989. (Fachruddin, 1989/1990: 12-1 ).

No. Kabupaten/Kodya Kecamatan

I. Kab. Lampung Utara (l) Pesisir Utara
(2) Pesisir Tengah
(3) Pesisir Selatan

(4) Balikbukit

(5) Belalau
(6) Sumberjaya
(7) Kasui
(8) Banjit
(9) Barada tu
(10) Bukitkemuning (11) BlambanganUmpu (I 2) Sungkai Utara ( 13) Sungkai (14) Tanjungrnja (15) Abung Baral (16) Abung Selatan (17) Abung Tmur ( 18) Kotabumi ( 19) Bahagu (20) Pakuon Ratu (21) Mesuji (22) TL Bawang Udik (23) TL Bwg Tcngah (2 -l) Menggala

Bertempat di

Punggungtampak Krui Biha Liwa Kenali Sumberjaya Kasui Banjit Barada tu Bukitkemuning Blambangan Umpu Negara Ratu Ketapan Tanjungraja Ogan Lima Kalibalangan

B. Abung Marga Kotabumi Mesir Ilir Pakuon Ratu S Pematan Kart a Panaragan Mcnggaln

Padangratu Padangratu Tengah (26) Ka lircjo Kalirejo

(3 1) Metro Metro
(4 1) Raman Utara Raman Utara Sep. Surabaya
(4 7) Lab. Maringgai Lab. Maringgai
(5 1) Pulaupanggung Pulaupanggung Kedodong

(26) Ka lircjo Kalirejo
(27) Bangunrcjo
(28) Terbanggi Besar Bandarjaya
(29) Gunungsungih Gunungsw1gih
(30) Trimurejo Trimurejo
(32) Bantu I Bantu I
(33) Ki bang Ki bang
(34) Punggur Punggur
(35) Pekalongan Pekalongan
(36) Batanghari Batanghari
(37) Sekampung Sekampung
(38) Sukadana Sukadana
(39) Seputih Mataram Seputih Mataram
(40) Seputih Raman Seputih Raman
(42) Seputih Banyak Seputih Banyak
(43) Rumbia Rumbia
(45) Purbolinggo Purbolinggo
(46) Way Jepara Way Jepara
(48) Jabung Punggungraharj o
(49) Wonosobo Wonosobo
(50) Kotaagung Kotaagung
(52) Talangpadang Talangpadang
(53) Pagelaran Pagelaran
(54) Cukuhbalak Cukuhbalak
(55) Pardasuka Pardasuka
(56) Sukoharjo Sukoharjo
(57) Pringsewa Pringsewa
(59) Gadingrejo Gadingrejo
(60) Gedongtataan Gedongtataan

Bangunr~jo

(4-l) Sep. Surabaya

.). ~ Kab. Lampung Se Iatan

(58) Kcdodong

(6 l) Natar Natar

Kabupaten/ Kodya Kccamatan
Kodya Bandar Lampung (62) Padangce rmin (63) Tanjungbintang (6.i) Ketibung (65) Sidomulvo (66) Kalianda (67) Palas (68) Penengahan (69) Tj. Karang Barat (70) Kedaton (71) Tj. Kara ng Pusat (72) Sukarame (73) Tj. Karang Timur o.:i) TL Betung Utara (75) TL Betung Barat (76) TL Betung Selatan (77) Panjang

Bcrtcmpat di

Padangcem1in Tanjungbintang Kctibung Si domulvo KaJ ianda Palas Pencngahan

.:i. Tanjung Kara ng Kedaton Tanjung Karang Sukarame Tanjung Karang Teluk Betung Teluk Betung Teluk Betung Panjang

2.2 Keadaan Alam Relief pertanahan daerah Lampung berupa gunung-gunung. Daerah perbatasan antara Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan. terdapat Bukit Punggur, Gunung H alumayus, dan Gunung Pesagi Gunung-gunung lainnya adalah Gunung Punggung, Bukit Gedung, Bukit Paneton, Bukit Bawa utung, Gunung Tangkitcumbi, Gunung Tanggamus, Gunung Pematangsulah, Gunung Ratai, Gunung Rajabasa, dan Gunung Tunggang. Di antara gunung-gunung itu. gunung yang tertinggi adalah Gunung Pesagi. tingginya mencapa i
2.232 meter dan yang terendah adalah Gunung B awangutung, tingginya hanya 1.0 42 meter (Ensiklopedi Indonesia · 1952) Selain kaya dengan gunung daerah Propinsi Lampung juga memili ki dua buah teluk besar yang tcrletak di scbelah selatan, yaitu Tcluk Lampung dan Tcluk Semangka. Lampung belahan Timur tcrdapat dataran rendah yang luas. Di dacrah itu pula mengalir sungai- su ngai bcsar, scpcrt1 Way Kunair. Way Tu lang ba\ang. Way

Way Mesuji. dan Way Scputih (Ensiklopcdi Indonesia :

19.5 L Fachruddin: dkk 1989/ 1990 9) Dacrah Lampung Sclatan dan Lampung Tengah merupakan daerah yang subur. Karena itu daerah-daerah tersebut dijadikan sebagai salah satu tempat tujuan transmigrasi di fndonesia Daerah Lampung Utara. mu lai \ilayah bagian tengah sampai dengan pantai timur Sclat Bangka. mcrupakan dataran rendah yang bcrcampur dengan ra\a- rawa. Berdasarkan laporan dari Kantor Wilayah Kehutanan Provi ns i Lampung. daerah Lampung masih mempunyai hutan yang cukup luas. yaitu I 233. J 14 hcktar are yang tcrdiri atas hutan lindung. hutan suaka alam, dan hutan produksi (Fachrudin. dkk 1989/l 990: 9 -I 0) Hasil bumi yang utama dari daerah Propinsi Lampung adalah kopi, lada. dan cengkeh 78 % nilai ekspor Lampung yang paling banyak berupa kopi. lada, dan karet. Selain itu. berdasarkan penelitian A eromagnetik (penelitian geofisika dari udara) yang dilakukan oleh Pertamina Unit III pada tahun 197 1-1972, dapat dipastikan bah\a Lampung. khususnya di daerah Lampung Tengah dan Utara juga mempunyai kandungan minyak dan gas bumi (Ensiklopedi: 1951-52)
2. 3 Penduduk Berdasarkan sensus penduduk tahun 1989, jumlah penduduk daerah Propinsi Lampung adalah 6.991.360 pwa (Fachruddin, 1989/ 1990 12) Namun. berapa jumlah yang pas ti dari penduduk Lampung asli yang bemama "Uhm Lappung" atau "Jelma Lampung" belum dapat dikctahui. Hadikusuma ( 1988 • 2) memperkirakan penduduk asli Lampung paling banyak hanya mencapai 30 %, ftupun tidak semuanya tinggal di daerah Propinsi Lampung. Selebihnya. adalah pendatang yang berasal dari seluruh Indonesia. yang terbanyak adaiah suku bangsa J ~ma. Sunda. Bali. Minangkabau. dan sebagainya Mclihat sedikitnya JUmlah penduduk asli Lampung diba.ndingkan dcngan penduduk Lampung pcndatang. Hadikusuma ( 1985 / 1986 20--21) mcngatakan balm a pcnduduk asli Lampung mcmang lambat

20 - 21 ). Dalam laporan penelitiannya yang berjudul .. Adat Istiadat Dacrah Lampung .. kelambatan ini disebabkan oleh beberapa hal :

I) karena mereka lambat menikah, umumnya wanita Lampting barn diizinkan menikah setelah bernmur l 8 tahun dan prianya bernmur 21 tahun.
2). perceraian selalu dihindari sebab sangat dilarang oleh hukum adat.
3). pernikahan dengan janda jarang terjadi, dan
4). beristri lebih dari satu hanya dilakukan oleh para pemuka adat atau orang yang mampu. Menurnt Hadikusuma (1989 : 4) yang dimaksud dengan 'Ulun Lappung ·atau ' Jelma Lampung" adalah semua orang yang asal-usul keturunannya dari zaman Tulangbawang dan Sekala Berak serta berbahasa dan beradat budaya Lampung. Selanjutnya Hadikusuma ( 1989 : 5), mengatakan bahwa, 'Ulun Lappung', atau 'Jelma Lampung · menurut pengertian masyarakat adat dapat digolongkan ke dalam dua golongan masyarakat. Golongan masyarakat yang pertama disebut ' Ulun Pepadun · (Abung) berdiam di daerah Abung, Tulangbawang, Waykanan/ Sungkai, dan P.ubiyan. Golongan masyarakat yang kedua dikenal dengan nama · utun Peminggir' (pesisir) berdiam di daerah pantai Lampung Selatan dari Melinting (Labuhan Maringgai), Meninting Rajabasa (Kallanda). Teluk Lampung, Teluk Semangka, BeialauKrni, Ranau. Komering/ Kayuagung. dan Cikoneng/Banten
2.4 Latar Belakang Budaya Lampung terkenal sebagai propins1 'Sang Bumi Ruwa Jurai', artinya bumi yang serba dua dalam kesatuan. Menurnt Hadikusuma ( 1989 4 ) bahwa Lampung adalah bumi kediaman mulia dari dua golongan masyarakat yang berbeda asal-usulnya. Keadaan yang serba dua itu dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, penduduk Lampung terdiri atas dua kelompok besar yaitu penduduk asli dan penduduk pendatang. Kedua, adat istiadat

mas~-arakat Lampung asli ada yang bcradat Pcpadun dan ada pula yang beradat Saibatin Ketiga. bahas suku bangsa Lampung asli mempunyai dua logat. yaitu logat--o-· dan logat "A.'. Penjelasan lebih tcrinci mengenai bahasa Lampung asli dapat dibaca dalam bab IV

Selain itu. daerah Propinsi Lampung memiliki bermacam-macam kesenian. di antaranya adalah seni suara dan seni sastra. Seni suara umpamanya. di Lampung tampil dalam bentuk yang disebut pattun. syaer. pisak'an. ringget. band11ng adi-adi. segata. dan wayak. Seni ini. pada masa dahulu selalu dilagukan secara perseorangan atau bersama-sama oleh para bujang dan gadis dalam suatu pesta adat. Namun pada masa sekarang, tidak dapat lagi melakukannya.

Seni sastra tidak begitu banyak jumlahnya, tetapi dalam beberapa cerita rakyat Lampung sudah ada yang dituliskan, di antaranya adalah Wewarahan Radin Jambat. dan Sipahit Lidah. Sementara itu, di kalangan masyarakat umum, khususnya pemuka adat (punyimbang) masih diketemukan kitab-kitab kulit kayu yang berisi bermacam-macam informasi dan tertulis dalam bahasa dan aksara Lampung Uraian lebih terinci mengenai masalah naskah Lampung dapat dibaca bab VI

2. 5 Latar Belakang Sejarah Masalah asal-usul nama dan sejarah Lampung sampai kim. masih belum jelas. Antara mitos dan legenda yang hidup di masyarakat dengan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di daerah Lampung tidak terdapat kesamaan, sehingga sampai kini masalah asal-usul nama dan sejarah Lampung tetap menjadi persoalan.
2.5.J Milos dan J,egenda Berdasarkan mitos dan legenda ~ · ang hidup di masyarakat Lampung diketahui bah\a asal-usul nama Lampung muncul dalam berbagai versi. Menurut orang-orang tua di Lampung. kata Lampung berasal dari ·anjak lambung ·. artinya dari atas. Maksudnya. nenek moyang orang Lampung berasal dari pegunungan. yakni dari dataran

Pcsagi. di scbclah timur danau Ranau atau hulu Way Semangka yang bermuara di Teluk Scmangka. Kota Agung (Hadikusuma. 1989:3)

Prahana ( 1993 ')) mengatakan bairn a kata lampung berasal dari kata lappung. bahasa Tapanuli yang bcrarti lu as. Kata ini diucapkan oleh Ompung Silamponga. salah seorang ompung dari daerah yang sekarang dikenal Tapanuli. Ketika itu Ompung Silamponga terkesan melihat dataran rendah yang luas dari atas sebuah bukit. Ompung Silamponga kemudian tinggal dan menetap di dataran rendah itu. Ompung Silamponga datang ke Lampung tanpa disengaja. Rakit yang ditumpanginya.dalam usaha menyelamatkan diri dari gunung yang meletus di daerahnya, terdampar di sebuah pantai. Dae rah itu sekarang dikenal dengan nama Krui, sedangkan bukit tempat ia melihat dataran rendah itu, kini disebut Sekala Berak atau dataran tinggi Belalau. kedua tempat itu terletak di Lampung Barat.

Menurut cerita rakyat, nama Lampung berasal dari nama Ompung Silamponga. tapi ada juga yang mengatakan dari kata lappung yang diucapkannya sewaktu ia melihat dataran rendah yang luas.

Menurut inforrnasi dari Hadikusuma. ( 1988 • 3) bahw·a pada tahun 1818 ditemukan scbuah buku berjudul Sajarah Majapahit. Dalam buku itu diceritakan, bahwa Dewa Sanembahan (Sic I) menikah dengan Widodari Sinuhung. Dari perkawinan itu lahir tiga orang anak, yaitu (I) Si Jawa. Ratu Majapahit, (2) Si Pasundan, Ratu Pajajaran, dan (3) Si Lampung, Ratu Belalau. Si Lampung yang berkedudukan di Sekala Berak. di kaki Gunung Pesagi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal orang Lampung.

2. 5.2 Perkiraan Sejarah

Kekurangan sumber mengenai asal mula nama dan sej arah Lampung menyebabkan munculnya berbagai pcndapat mengenai hal ini. Gabriel Ferrand, umpamanya menganggap nama Lampung berasal dari gabungan dua nama T olang-poh\a ng sebagai scbuah nama suatu daerah yang lokasinya bcrada di dacrah Tul<.lngba\rnng. Lampung Utara (Fachmddin. 1989/1990 28)

Yamin yang mengartikan kata 'To' atau 'Tu' adalah orang' (yang sakti), dan ' Lang Po-hwang · adalah Lampung. Jadi, kata To-lang-Po-diartikan utusan dari Lampung yang datang ke Cina pada pertengahan abad ketujuh.

Dalam kronik Yai-ping-huan-yu-chi tercatat dua negeri yang berurutan, yaitu to-lang dan pohwang sebagai sebuah negeri di Laut Selatan. Tetapi, apakah benar gabungan kedua nama itu menunjukkan nama sebuah kerajaan di daerah selatan dalam abad ketujuh yang dikenal dengan nama Tulangbawang. Menurut Krom dan Purbatjaraka dalam Fachruddin (1989/1990 : 28) bahwa yang dianggap berasal dari rangkaian nama To-lang dan P 'ohwang tidak perlu dilakukan karena bagaimanapu kedua nama itu adalah nama tempat yang berbeda dan keduanya masih perlu didentiflkasi.

Pada saat ini nama Tulangbawang dipakai sebagai nama daerah dan sungai di Lampung Utara bagian timur, kota kecamatan Menggala, dan nama desa Kampung Negara Tulangbawang di kecamatan Sungkai Utara.

Menurut Buchori, melalui Fachruddin batas pra sejarah dan sejarah daerah Lampung berpangkal pada abad ketujuh Masehi. Pendapatnya itu didasarkan pada prasasti tertua, Prasasti Palas Pasemah yang diperkirakan berasal dari abad ketujuh.

Perkiraan itu dikuatkan dengan diketemukannya prasasti di Kecamatan Jabung, Lampung Tengah, pada tahun 1985. menilik bentuk huruf dan isinya, prasasti ini juga diperkirakan berasal dari abad ke- 7 Masehi. Akan tetapi, De Casparis (1985 : 44) tidak sependapat dengan Buchari. Ia menduga batas pra sejarah dengan sejarah Lampung baru mulai sejak abad ke-11. Hal ini disebabkan dengan adanya prasasti yang ditemukan di Lampung, yaitu prasasti Harakuning di Kecamatan Balik Bukit, Lampung Utara dan prasasti Batu eedil di Kacamatan Pulau Punggung, Lampung Selatan, rhempunyai bentuk huruf yang sama dengan prasasti Ci Catih yang ditemukan di Kabupaten Sukabumi. Priangan Barat pada abad ke-11.

Maso Kedatangan Islam.

Menu rut Hadikusuma. ( 19 89 : '1)Islam masuk kc Lampung scjak abad kc 14--15 dari Pagamyung. Penycbamya adalah Empat Umpu yang terkenal sebagai Paksi Pak, yaitu Umpu Nycrupa. Umpu Bejalan Diway. Umpu Pernong. dan Umpu Blunguh.

Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk kc Lampung dari Aceh. Hal it u dibuktikan bah\rn di kampung Muara Batang. Kecamatan Palas, Lampung Selatan ditcmukan sebuah batu nisan yang bcntuknya mirip dengan batu nisan Malik As Saleh dari Aceh.

Selain itu, berdasarkan bukti-bukti yang ada tidak mu stahil pula bahwa Islam masuk ke Lampung dari Banten karena peranan Banten cukup kuat dalam pengembangan Islam di Lampung.

LAMPUNG

Masyarakat Lampung terdiri atas dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat asli dan masyarakat pendatang. Seperti telah disebutkan dalam bab II bahwa yang dimaksud masyarakat Lampung pendatang adalah para penduduk Lampung yang bersuku bangsa Jav.-a. Sunda. Minangkabau dan sebagainya. Dalam bab III ini, masyarakat Lampung pendatang tidak akan dibicarakan. Sebaliknya, masyarakat Lampung asli akan ditinJau secara agak mendalam. Oleh karena itu, untuk selanjutnya yang dimaksud dengan masyarakat Lampung di sini adalah masyarakat Lampung asli.

Adat-istiadat suku bangsa Lampung dapat dibagi menj adi dua kelompok besar. Kelompok pertama. masyarakat Lampung yang tinggal di ,,·ilayah pesisir. disebut suku bangsa Lampung Pesisir atau Lampung Pemingg ir. Mereka beradat Saibatin Kelompok kedua. masyarakat Lampung yang berdiam di sepanjang aliran sungai yang besar. disebut suku bangsa Lampung Darat atau Lampung Unggak. Mereka bcradat Pepadun.

Adat istiadat masyarakat Lampung beradat Saibatin dan Pepadun itu. masing-masing mcmpunyai ciri yang menonjol sehingga dapat dibedakan. Bcrikut adalah ciri-ciri adat kedua kelompok masyarakat tersebut yang dikemukakan oleh Hadikusuma ( 1989 118 -119)

Adat Saibatin Adat Pcpadun
I. Martabat kcdudukan adat Martabat kcdudukan adat
tetap tidak ada upacara dapat dialihkan dengan
peralihan adat. upacara singkat Pepadun
2. Jenjang kedudukan Sebatin Jenjang kedudukan punyimbang
tanpa nilai, tanpa tahta bernilai mcnumt kedudukan
Pepadun Pepadun
3. Bentuk dan sistem perka\inan Bentuk perkawinan dengan
dengan jujur dan semanda jujur setelah perkawinan istri ikut suami.
4. Pakaian adat hanva dimiliki Pakaian adat dapat dikuasai
dan dikuasai sebatin, siger dan dimiliki oleh mereka
(mahkota) sebelah. yang telah bermartabat adat, siger tamb.
5. Kebanggaan keturunan terbatas Selalu merasa bangga atas
hanya pada kerabat Sebatin. ketumnan yang baik.
6. Hubungan kekerabatan kurang Hubungan kekerabatan
akrab 7. Belum diketahui kitab pegangan Kitab-kitab hukum adatnva sangat akrab.
hukum adatnva. cukup banyak, antara lain

Kuntara. Raja Niti, Kuntara Sempuma Jaya, Kuntara Raja Asa, dan Kuntara Tulangbawang.

  1. Pengamh agama Islam lebih Pengaruh adat lebih kuat kuat. dari agama Islam.
  2. Peradilan adat mulai lemah. Peradilan adat masih kuat. M enurut Fachruddin (1989/1990 : 24 -25) bahwa ikatan kekerabatan suku bangsa Lampung yang beradat Pepadun terdiri dari cmpat golongan besar. yakni Abung Si" o Mego (Abung sembilan marga). Tulang Bawang Mego Pak (Tulang Ba\rnng empat marga). Pubian Tetu Suku (Pubian tiga suku). dan Buay Lima (Way Kanan). Masi ng-masing golongan ini masih dapat dirinc1 lagi menjadi beberapa huay (h ua,1~. Berikut adalah urutan buay yang terdapat dalam setiap golongan tersebut
4. Pakaian adat hanya dimiliki Pakaian adat dapat dikuasai
5. Kebanggaan keturunan terbatas Selalu merasa bangga atas (mahkota) sebelah. hanya pada kerabat Sebatin. dan dimiliki oleh mereka yang telah bermartabat adat, keturunan yang baik.

Bua' Um i

  1. Bua' Unrni
  2. Bua\' Uban
  3. Buay Subing
  4. Buav Beliuk
  5. Buay Kunang
  6. Buay Selagai
  7. Buav Anak Tuha
  8. Buay Nyerupa
    b. Tulang Bawang Mego Pak terdiri dari :
    I. Buay Bulan
  9. Buay Tegamon
  10. Buay Suai Umpu
  11. Buay Aji
    c. Pubian Telu Suku terdiri dari :
    I. Buay Buku Jadi (Bungkuk Jadi)
  12. Buay Nuwat 3 Buay Manyarakat dan Tamba Pupus
    d. Buav Lima terdiri dari :
    I. Buay Pemuka
  13. Buay Bahuga
  14. Buay Semangkuk
  15. Buav Baradatu
  16. Buay Barasakti. Ikatan kekerabatan suku bangsa Lampung beradat Saibatin terdiri
    dari

a. Peminggir Melinting (Meninting Rajabasa)
b. Peminggir Teluk
c. Peminggir Semangka
d. Peminggir Sekala Bcrak
e. Komering.

tiy 11h. onek. atau pekon. Dalam sebuah tiyuh terdapat beberapa bi/ik. yoitu tempat kediaman suku yang disebut buoy atau kebuoyon (Depdikbud 1985/1986 11. Fachmddin 1989/1990:24).

Buoy atau klen kecil anggotanya terdiri dari para individu yang mempunyai ikatan darah atau pcrtalian adat (meworei). Di setiap bilik terdapat mmah besar (tempat tinggal kcluarga) yang disebut n11wou bo!ok. n11wo11 menyonok. ata11 /ombon gedung artinya rumah kerabat (Depdikbud 1985/1986: 12)

Keluarga batih disebut menyanok. semnro11 atau sengalambon (serumah). biasanya terdiri atas ayah. ibu. dan anak-anak yang bclum menikah, kadang-kadang Juga nenek dan kakek (Depdikbud. 1985/ 1986 175).

Keluarga besar yang oleh orang Lampung dikenal dengan sebutan redik seke/ik atau ·yang dekat dan terikaf. anggotanya terdiri dari (I) sej umlah menyanak (01011 menyonok worei adalah semua kerabat yang sekcturunan), (2) adik warci (beberapa laki-laki yang bersaudara dari satu ayah beserta keturunannya), (3) orang-orang yang terikat dalam hubungan perka\'inan atau saudara angkat. ( 4) kerabat pihak ibu (kefamo). (5) kerabat nenek dari pihak ayah (lebu) (6) kemenakan dari saudara perempuan (binulung). saudara ibu (kenubi). (7) ipar kedua pihak (/okou). (9) para saudara perempuan (mind). dan (I 0) suami- suaminya (bengiyan).

Dalam masyarakat Lampung dikenal istilah p11nyimbang. yaitu istilah yang juga berkenaan dengan masalah kckerabatan. Menurut Hadikusuma ( 1989 17) bahwa kata p11nyimbang berasal dari pun berarti yang dihom1ati dan nyimbong artinya yang mC\arisi. Jadi. p11nyimbang bcrarti o rang yang yang dituakan karcna ia adalah pc\ aris mayor bcrdasa rkan garis kcturnnan laki-laki dalam kcluarga kcrabat atau keh uoyon.

S us unan kepunyimhangon (kcpcmi mpinan) kcrabat sclalu bcrurut di b;m·ah pimpinan punyimbang yaitu anak laki-laki tcrtua

huay balak (keturunan besar) dan punyimhang buay lunik (kcturunan kecil) yang memimpin jurai atau subbuay.

Punyimhang ini memegang peranan penting dalam suatu keluarga Lampung mulai dari keluarga batih sampai kepada buay. Tanpa adanya punyimbang. suatu kerabat akan buyar karena tidak ada yang mengatur atau tidak ada yang dituakan dalam musyawarah ketika peristiwa-peristiwa kekerabatan harus diselesaikan.

Pada masa dahulu seorang punyimbang adat (punyimhang tiyuh) dapat mengatur pemerintahan kampung dengan membentuk dewan kampung. Akan tetapi, pada masa sekarang fungsi dan peranan mereka hanya terbatas pada hubungan kekerabatan. Artinya, nilai kedudukan seorang punyimbang pada masa kini terbatas pada fungsi dan perannya sebagai pemerintahan adat kekerabatan. dan memelihara tata tertib keturunan kerabat sebagai sesepuh kebuwayan (Hadikusuma, 1989: 18).

3.3 Pandangan Hidup Menurut Hadikusuma (l 989 14--15) bahwa pandangan hidup orang Lampung disebut Pi-ii Pesenggiri. lstilah Pi-ii mengandung arti rasa atau pendirian yang dipertahankan. sedangkan pesenggiri berarti nilai harga diri. Jadi Pi-ii Pesenggiri secara singkat dapat diartikan sebagai rasa harga diri. Dalam Pi-ii Pesenggiri terkandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Pesenggiri. mengandung arti pantang mundur. tidak mau kalah dalain sikap dan perilaku. b J11l11k Adek. mengandung arti suka akan nama baik dan gelar yang terhonnat.
c. Nenml Nyimah. mengandung arti suka menerima dan memberi salam dalam suasana suka atau duka. d N engah Nyapur. mengandung arti suka bergaul dan bermusyawarah dalam memecahkan suatu persoalan.
e. ."i'akai .)'ambayan. mengandung arti suka menolong dan bergotong- royong dalam hubungan kekerabatan dan bertetangga.

J>i -il h :senggiri masih nampak nyata scbagai pcgangan hidup dalam masyarakat Lampung beradat pepadun. Tetapi di kalangan masyarakat beradat saibatin sudah mulai melemah dan hanya terbatas di kalangan pemuka adat. Hal ini mungkin karena pengaruh budaya dan pandangan hidup Islam

Menu rut Hadikusuma( 1989 I 06-- l 08) bahwa ban yak adat Lampung yang pada masa sekarang sudah tidak sesuai lagi dan patut ditinggalkan, seperti adat begawei cakak pepad11n (naik tahta adat) dan adat menonjolkan perbedaan asal-usul kcturunan. Namun demikian, masih ada juga adat yang sebaiknya tetap dipertahankan seperti adat yang terdapat dalam masyarakat beradat pepadun yang disebut adat me·warei, yaitu adat mengangkat saudara.

Fachruddin (1989 25) menyatakan bah\a memberi contoh penggunaan adat mewarei melalui peristi\a pernikahan. Pada masa dahulu, gadis-gadi s Lampung beradat pepadun dilarang menikah dengan pemuda dari suku lain. Namun, bila hal ini terjadi, pemuda dari suku lain tersebut harus diangkat dahulu menjadi anggota dari salah satu sub suku Lampung dengan cara menjalani adat mewarei. Apabila adat mewarei telah dijalani, barulah pemuda itu boleh menikah dengan gadis Lampung yang dikehendaki ( 1989/1990: 25).

3.4 Hubungan Kekerabatan Kata ganti hubungan atau istilah kekerabatan dalam bahasa Lampung disebut jeng/kedudukan/ tutu'H· atau t11t11r. yang berarti panggilan atau cara menyapa antara anggota kerabat yang satu dengan lainnya (Hadikusuma, 1988 : 61dan1985: 179). Dari istilah-istilah itu pula, kita dapat mengetahui jauh dekatnya hubungan kekerabatan, kedudukan, hak, dan kewajiban serta tanggung ja,,.:ab seseorang dalam hubungan kekerabatan. Sccara tidak langsung pula, istilah panggilan kekerabatan (111111w ata11 jeng) telah menentukan tugas dan peranan scseorang dalam pembagian kerja. baik dalam upacara adat maupun kehidupan sehari- hari. Seperti dalam suatu acara perka\·inan. 111111 r 11·ari. apak- kemoman. app11w. 11111p11. 111y11k. canggah. dan poyang tugasnya sebagai

ha1011gra 1011 (pcnanggungja\rnb pckc~jaan). Adapun ndai keminan. paro 111c11giya11. mint!. kelama. /elm. don lakau adalah para warga kerabat yang berfungsi sebagai pcnunjang dalam kegiatan kcr_jasama.

Bcrdasarkan garis ibu dan ayah. hubungan kekcrabatan orang Lampung sckurang -kurangnya dapat dalam lima tingkatan. yaitu tingkatan anak-kemenakan. tingkat adik-\ari, tingkat apak-kemaman, tingkat umpu, dan tingkat uyut-canggah. D i bawah ini adalah bagan istilah panggilan kekerabatan dalam tutur masyarakat Lampung berdasarkan silsilah -menurut garis pria -yang di susun oleh Hadikusuma (1 988 :60)

Silsilah menurut garis pria

v tingkat tuyut O tuyut canggah

~ I IV tingkat datak ~ nrk I tamong 6 bei 0 atuk 6 0

nvaik ~ umpu

III tingkat A B C D E F G H I J K L

~~:aman y OT/', /', I 0 y y I 0

II tingkat I ~ 3 4 ~ 7~8 t If 11

,~~n I I ri L~g.~) ,.,

1 r \

t ingkat /', /', l /', /', ~ l /', b /', anak ke- u mpu mcnakan

pna wanita keturunan perkawinan

Dalam penjelasannya, Hadikusuma menguraikan istilah panggilan kekerabatan itu sebagai berikut : I dan IL Tingkat anak kemenakan dan tingkat wari

6 0

,-1-,

L___J ==

anak

wari tutuk

wari akken

benulung

kelama

kenubi

le bu

III Apak kemaman

keminan

panggilan ayah ibu terhadap anak kandung, anak tiri. anak angkat, dan anak akuan (anak akkenan). istilah untuk menyebut saudara ikutan atau saudara tiri, yaitu saudara yang dibawa ayah tiri/ibu tiri. istilah untuk menyebut anak orang lain yang telah dianggap sebagai saudara. atau men11/11ng adalah istilah panggilan untuk kemenakan dari saudara perempuan (dalam bagan : I dan 2 adalah benulung dari Ego). atau kelamow/kelame adalah sebutan untuk anak dari saudara laki-laki ibu (dalam bagan: 8 dan 9 adalah kelama dari Ego). atau kenubei/nubi adalah sebutan untuk anak yang ibunya bersaudara dengan ibu Ego (dalam bagan: I 0 dan I I adalah kenubi dari Ego). adalah saudara karena neneknva adalah kerabat dari pihak ayah (dalam bagan no. 12).

atau akan. almyo. adalah panggilan untuk ayah Ego panggilan untuk scmu a saudara laki-laki a~ · ah atau ibu Ego atau minan/ odo\ /bibik adalah panggilan untuk semua saudara perempuan ayah a tau i bu Ego.

Tingkat Apak-Kemaman

Ti11gkat Umpu

umpu Umpu ::itau appm. scbutan untuk 111e11yebut kakck atau 11e11 ck. Ego juga mcmanggil kakek dengan istilah da111k tomang a111k sidi. yayik da11 sebagainya.

V Ti ngkat uyut

bll\ ut Buyut discbut juga tuyu t atau tuju untuk kakek da11 nenek dari aYah dan ibu. canggah sebutan untuk buyut laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu.

Istilah-istilah panggilan itu tclah diatur sedcmikian rupa tapi dalam hubungan sehari-hari semuanya telah disederhanakan. Umpamanya, panggilan untuk saudara kandung, tiri, angkat, atau akuan. jika lebih tua dari Ego, akan dipangggil dengan sebutan kakak ki_vai. pun. adin. at11, atau bat in. J ika lebih muda dari ego akan dipanggil adik atau nan1anya saja. Untuk tingkat apak-kemaman dalam kenyataan sehari-hari, Ego akan memanggil semua saudara laki-laki dari pihak ayah dengan sebutan apak. atau ditambah dengan gelarnya misalnya. Apak S11 t1 an (dalam bagan D adalah apak dari Ego). Sementara itu. panggilan untuk saudara pcrempuan ibu lebih tua dari ibu akan dipanggil \ak. Namun bila lebih muda akan dipanggil minan. odo\·. atau bibik. sedangkan suammya akan dipanggil mantu a/au mattuw atau paman

Menu rut Hadikusuma ( 1989 ')) bah\va pada saat ini sudah tidak begitu dikenal panggilan di atas sehi ngga keakraban hubungan antara satu kerabat dengan lainnya telah jauh berkurang. Keadaan ini tidak teriepas dari dampak modemisasi dan pengaruh asing yang masuk kc masyarakat Lampung. Muncul nya panggilan tante, oom. dan sebagainya menggantikan panggilan minan. odow (untuk bibi) dan man//1. ma//uw (untuk 00111) dianggap lcbih modern dan mudah mcngingatnya. S eme11tara itu. mcnurut Hadikusuma ( 198 9 : 23 ) balma orang -ora ng tu a di La mpung ta11 pa disadari juga ikut mcmpcrburuk keadaa11 karcna umumnya mercka tidak tertarik lagi mcncrangkan masalah hu bungan kckerabata11 itu ke pada a nak ketu ru 11 a11m ;:i.

BAHASA LAMPUNG

Bahasa Lampung adalah bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat Larnpung asli. Menu rut Hadikusuma ( 1989 : 10 8) bahwa bahasa Lampung hanya dipakai olch sekitar satu juta orang yang mendiami daerah Propinsi Lampung dan sebagian daerah Propinsi Sumatra Selatan, di sepan_1ang sungai Komering sampa1 Kayuagung. Dalam Encyclopaedie van Neder/ands -Indie, disebutkan bahwa bahasa Lampung adalah bahasa yang digunakan di daerah Karesidenan Lampung. Komering. dan Krui (1 896 : '))

Sej auh ini, bahasa Lampung merupakan bahan ka_1ian yang paling banyak menarik minat para peneliti kebudayaan. Beberapa peneliti asing yang telah menelitinya adalah : van der Tuuk ( 1872), van Royen ( 19 30). dan Walker ( 1973), scdangkan putra daerah yang juga aktif meneliti bah,,a lampung antara lain adalah Noeh ( 1979), Hadikusuma (198 8. 1989. 1994) dan Arifin (1992)

4.2 Dialek Bahasa Lampung Mcnurut van der Tuuk bahasa Lampung terdiri dari dua dialck. yaitu dialck Abung dan Publyan Mcnurut Hadikusuma ( 1989 7) balrna pendapat van dcr Tuuk kurang tcpat karena pembagian dialek dilihatnya dari masyarakat beradat pcpadun

Hadikusuma ( 1989 7) mcnganggap pcmbagian dialck menu rut van Royen lcbih tepat karena sesuai dcngan kcnyataan yang digunakan olch masyarakat dacrah Lampung. Van Royen membagi dialck bahasa Lampung menjadi dua dialek, sebaga1 berikut

(a) Dialek nyou : dipakai oleh orang Abung dan Tulangbawang.
(b) Dialek api : digunakan oleh orang-orang Belalau. Peminggir
Teluk Semangka, Teluk Lampung. Tulangbawang Ulu (Way Kanan/Sungkai). Komering. Krui. Melinting, dan Pubiyan.

Pemakaian kedua dialek itu, menurut van Royen (I 930 : ')) didasarkan pada lingkungan marga dan buay masing-masing. Jika dialek bahasa Lan1pung dikelompokkan berdasarkan logat daerahnya. Hadikusuma (1988 : 8 - 9) mengelompokkannya sebagai berikut

I. Dialek Nvou
a. Logat Abung: dipakai di daerah Kabupaten Lampung Utara Kecamatan Kotabumi, Abung Timur, Abung Barat, dan Abung Selatan. Kabupaten Lampung Tengah. Kecamatan Tertanggi Besar. Gunungsugih, Padang Ratu. Sukadana, Way Jepara, dan Labuhan Maringgai. b Logat Tulangbawang: dipakai di daerah Kabupaten Lampung Utara bagian timur, Kecamatan Menggala. Tulangbawang Tengah, dan Tulangbawang Udik.
2. Dialek Api
a. Logat Melinting Maringgai dipakai di daerah Kabupaten Lampung T engah Bagian Timur. Kecamatan Labuhan Maringgai dan Jabung.
b. Logat Melinting Rajabasa dipakai di daerah Kabupaten Lampung Selatan bagian timur. kecamatan Pcnengahan dan Kalianda.
c. Logat Peminggir Teluk dipakal di daerah Kabupatcn Lampung Selatan. Kecamatan Padang Cennin. Telukbetung. Selatan dan Utara. serta Kotamadya Bandar Lampung.

d. Logat Peminggir Pemanggilan: dipakai di dacrah Kabupaten Lampung Selatan bagian barat kecamatan Cukuh Balak, Waylima Kcdondong, Pardasuka. Talangpadang, Kotaagung. dan Wonosobo.
c. Logat Peminggir Pemanggilan Belalau-Komering Ulu : dipakai di daerah Kabupaten Lampung Utara, Krui, Sungkai Selatan dan Utara, Komering Ulu, Martapura. Muaradua, dan daerah Danau Ranau. f Logat Pemanggilan Jelma Daya: dipakai di daerah Kabupaten Lampung Utara: Kecamatan Pakuon Ratu, Bahuga, Belambangan Umpu, Baradatu, dan daerah Komering Ilir.
g. Logat Pubiyan: dipakai di daerah Kabupaten Lampung Selatan, di Kecamatan Kedaton, Natar, Gedongtataan, dan Pagelaran, sebagian Kecamatan Padang Ratu (Kabupaten Lampung Tengah bagian barat) dan sebagian Kecamatan Ketibung (Kabupaten Lampung Selatan). Dalam disertasi Walker (1973 ), bahasa Lampung dibedakan
atas dua dialek yang disebut dialek Abung dan Peminggir. Namun, kedua dialek itu masih dapat dibagi lagi menjadi beberapa subdialek atas dasar lokasi daerahnya. Menurut Walker bahwa dialek Abung memiliki dua sub dialek, sedangkan dialek Peminggir atau Pesisir mempunyai empat subdialek, yaitu Komering, Krui, Pubiyan, dan grup lain di daerah selatan. Adapun Hadikusuma membagi bahasa Lampung ke dalam dua dialek yang disebutnya dialek '·O " (Abung) dan dialek '·A" (Pemanggilan).

Dalam kebudayaan daerah Lampung, bahasa erat kaitannya dengan adat istiadat. Oleh karena itu, pembagian bahasa atas dialeknya sekaligus juga menunjukkan perbedaan adat istiadat masyarakatnya. Untuk jelasnya, beri kut ini adalah gambaran pembagian dialek bahasa dan adat istiadat daerah Lampung yang dikutip dari Fachruddin (11989/l 9,90 26)

MASY ARA KAT LAMPUNG

Beradat Pepadun Beradat Saibatin

Logat 'O' Logat 'A' Logat 'A'

I. Abung Siwo Mego I. Melilnting

  1. Mego Pak Tulangbawang 2. Rajabasa
  2. Teluk
  3. Semangka
  4. Sekala Berak
  5. Ranau
  6. Ka~u Agung
    Menurut Hadikusuma ( 1989 I 09) kedua dialek itu memang agak berbeda ucapannya, tetapi pengertiannya hampir sama. Dalam musya\"arah adat umpamanya, kedua dialek itu sebenamya dapat dipakai secara bersama-sama sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Lampung

4.3 Tingkat Tutur Bahasa Lampung Dala m tulisannya yang berjudul Bahasa Lampung (198 8). Hadikusuma mengatakan bahwa bahasa daerah Lampung tidak mempunyai tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa. Bahasa Lampung seperti halnya bahasa Indonesia tidak mengenal bahasa tinggi dan bahasa rendah. Kalau pun ada, tingkatan bahasa itu hanya digunakan dalam kerapatan adat atau pembicaraan sopan/hormat orang muda kcpada orang tua. Hadikusuma memberi contoh pemakaian tingkat bahasa itu dalam bentuk kata ganti nama diri, seperti untuk menyebut ( I) Orang pertama tunggal dalam kerapatan adat menggunakan kata hikam. sikam. ikam. atau sikinduwa.
(2) Orang kcdua tunggal yang dihormati digunakan kata sekam. puskam.
(3) Orang kedu a tu nggal dalam posisi sejajar atau mcrtua terhadap mcnantu dipakai kata ku ri atau meti ( 4) Orang kcdua tunggal dalam pos1s1 orangtua tcrhadap orang yang lcbih mu da digunakan kata nikll\r otm1 niku.

pun digunakan sebagai pcngganti kata · ruan · yang bisa berkonotasi tunggal a tau jamak. sedangkan pesemmpok atau kuti rumpok atau metei gepek untuk menycbut tuan- tuan yang terhormaf dalam suatu pertemuan adat.

Tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( 1985 / 1986 52) mengatakan bahwa bahasa Lampung tidak mempunyai tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa Perbedaan dalan1 tingkat tutur hanya pada kata ganti orang; antara orang muda dengan orang tua, antara sesama orang muda. atau antara sesama orang tua. Untuk menunjukkan kesopansantunan berbicara biasanya dengan melemahkan ucapan.

Berbeda dengan pendapat Hadikusuma dan Tim peneliti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan daerah Lampung adalah Arifin,(1992) dalam tulisannya yang berjudul " Upaya Perintisan Ketatabahasaan Lampung dalam Rangka Pemantapan Kebudayaan Nasional: Suatu Tinjauan Tentang Tingkat Bahasa. Tingkat Tutur Bahasa Lampung" mengatakan bahwa bahasa Lampung juga mengenal tingkat tutur sepcrti unggah-ungguh dalam bahasa Jawa. T ingkatan tinggi-rendah pemakaian bahasa dalam budaya Lampung disebut kicik kubasa Bukan itu saja, Arifin ( 1992 : 2) juga mengatakan bahwa bahasa Lampung pun mengenal tatacara berbicara yang disebut cawangicik-gumuk. dan tata krama berbahasa yang disebut tata-titi.

Dalam uraian selanjutnya, Arifin ( 1992 ?) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tingkat tutur dalam bahasa Lampung atau hadat lembaga cawa adalah gejala tingkah laku (sikap) dalam berbicara menurut adat sopan santun orang Lampung. Tingkat tutur itu tercermin bukan saia dalam sikap sewaktu berbicara (siapa yang berbicara. kepada siapa seseorang berbicara, dan apa bahan yang dibicarakan). melainkan juga terlihat pada kata ganti orang, pilihan kata. pembentukan kalimat. dan intonasi orang yang sedang berbicara kepada orang yang diajak bicara.

Menurnt Ari fin ( 199 2 ')) bahwa tingkat tutur bahasa Lampung berdasarkan tingkat pemakaian dan struktur kalimatnya ada lima tingkat tu tur (li mo hadat lemhaga cawa) sebagi berikut :

Cawa humakho/ kicik sanok Adalah tingkat tutur yang paling rcndah atau bahasa tingkat kasar Tingkat tutur ini .1arang terdengar karena memang dihindari oleh orang Lampung. Pembentukannya dengan menyebut bagian badan tertentu. sumpah serapah. dan nama hewan yang tidak disenangi perangai atau kegunaannya oleh orang Lampung Kata atau kalimat dari tingkat ini barn terdengar atau digunakan:

(a) apabila seseorang sedang marah (emosi atau bertengkar). contohnya rasokdo!fejo/ko diisaumu ' (makanlahl)
(b) di lingkungan yang tidak tertib (seperti di muara sungai). contohnya : babuido mayatmuno. dang dipaytih aku. masih
dije;oiko diingarmu 1 Artinya : babi kamu, jangan dimakan kataku. masih kau masukkan juga diinsangmu I

(c) di kalangan anak-anak muda. sebagai tanda kasih sayang atau keakraban, umpamanya: setuwa mati niku. hunya lagi artinya : binatang kau. kemarilahl
(2) Cawa pekhanti pukhanti · Adalah tingkat tutur biasa atau bahasa sehari-hari Bahasa dalam tingkatan ini digunakan
(a) seseorang yang berbicara dengan teman sebaYan\'a (rik karimpak. ;amou serurap).
(b) orang tua terhadap anaknya. orang yang lebih muda a tau tingkat kepunyimbangan adatnya lebih rendah.

( c) di pasar, dan

(d) di pertemuan yang tidak fom1al Contohnva : untuk menyebut ·saya · digunakan kata ganti nyak. untuk menycbut ·kamu · digunakan kata ganti nik11 Dalam kalimat. misalnya : pikha khegani cahimuno sang simpok. minan (berapa harga cabaimu sebungkus. bibi '))

Cmrn herik he/aw (bctik /hcla'' a rtinya bagus). Adalah tingkat tutur mcncngah (me madaan parrengahan). Bahasa dalam tingkatan ini umumnya digunakan ketika :

(a) menulis surat yang beri si bcrita.
(b) membcri perintah kepada yang lebih muda. ( c) memberi tun tu nan kepada teman sebaya/lebih muda
(d) mengajarkan scsuatu, ( e) mclarang sesuatu.
(f) menyampaikan perasaan kurang setuj u/ sependapat,
(g) yang lebih muda atau seorang anak berbicara kepada (ulun tuha-ina bapak) paman (kemaman) adik perempuan ayah/ibu (keminan). dan adik ipar (lah-11yang). Misalnya mengatakan · maksud · dengan rencaka. teman· dengan tingkok. dan sebagainya. Contoh dalam kalimat, misalnya Sakinduwa pungatupai. kemanakopai nakan pusekamno (artinya saya mohon, cegahlah dulu anakku itu)
( 4) Caw a bubanggan. Bahasa dalam tingkat tutur ini tem1 asuk yang halus, digunakan pada:

(a) maj lis (pev-.'akehan) yang resm1
(b) rap at adat
(c) pertemuan di ru mah orang yang dihormati
(d) surat permohonan
(e) pcngumuman mengena1 rencana pesta adat (rayuhan-gawi- gekhok)
(f) pembicaraan antar besan (pesahayan)
(g) saat melamar scorang gadis (rangguh ngita). dan
(h) mempersilahkan menyantap hidangan dalam suatu forum adat.

Contohnva : Kata 'panggil' dalam tingkat tutur pekhonti oda/ah 11kha11. dalam tingkat tutur betik ialoh kitaipai. dan dalam tingkat tutur bubanggan adalah kahagako pai Cont oh dalam bentuk kalimat Tabikpai sakinduwa j ipun. lainki basi sekhang. nuj11 ko tangguh. nyemuka i/ung ketirumpok. say .1emenong di pewakihan nekham rumpokpunun ··. Art in ya, .. Mohon maaflah kiranya. menyelang sedikit. membuka pertemuaq. ditujukan kepada tamu yang mulia yang hadir di majlis kita

-. II
1111.
(5) Cawa bubasa. Adalah tingkat tutur yang terhitung tinggi atau disebut bahasa t inggi Sifatnya luhur. saling memulyakan la,, a n bica ra. Intonasinya renda h tetapi jelas karena mcngarah kepa da perujaran kosa kata. Apabila dalam suatu perupran tidak ditemukan pµ. danan kata yang dianggap tinggi atau luhur. maka dalam ujarannya ditambah dengan kata sekam kh umpokp un (untuk saya/kami) atau keti khumpokpun (untukmu /ka li an) Bahasa dalam tingkatan cawa bubasa ini di pakai dalam
a. rapat kepala adat (himpun p11nyimbang)

b rakyat kepada p unyimbang tertingg1

c. pendamping punyimbang (punaka wan) kepada pzmyimbang lain

d menantu kepada mertua

c adik ipar perempuan kepada kakak sulung lak1-laki suaminya (sikha)

f adi k ipar laki-laki (sada) kepada kakak ipar sulung laki -laki istrinya (laka11 111 ho)

g mantera (meinang). dan

h pekasih diri (ha/emu).

Contohnya: Kata ·makanlah · dalam tingkat bctik diucapkan cccasdo. dalam tingkat bubanggan dinyatakan dengan r icacecaspai. tetapi dalam tingkat bubasa men.1adi rigag11rannekhamp11t.7. Dalam bentuk kalimat umpamanya: Tabikpai dianapun. pakba!agni be!ia11 Sakind11wajip1111 ny11h1111 11manati ading ketirumpok. nye!abakho anggok .. anggokni buway ketikhumpok. Artinya '· Maaflah kiranya. kakak suami yang terhormat, saya ini membm\a pesan suami. menyampaikan rencana anakmu/anakku ".

D alam percakapan sehari-hari, intonasi kata tanya bahasa Lampung tidak lazim dipakai. Dalam tuturan. kalimat tanya diketahui karena suatu kalimat mengandung kata tanya. seperti sapa (siapa), dan dipa (dimana), rarepa (kapan), mergapi (mengapa). Demikian pun halnya dengan intonasi kalimat perintah. Intonasi mi sering dihindari dalam tuturan karena untuk kesopansantunan apabila tidak hati-hati menggunakannya akan diartikan sebagai pernyataan marah atau kata-kata yang kasar.

Menurut Arifin (1992 · 9) bahwa sampai dengan tahun 1941 surat kaum muda-mudi di Lampung masih menggunakan bahasa dari tingkat tutur Cawa betik. Misalnya : Ai-ai nakan. ayo sukhat k11t11lar. nyampiko tikhamniati Ngimpoh di c11k11tni .1an. ki/11 /emotni ha ti ... Artinya ·· Kekasihku, ini suratku kukirim, membawa kerinduanku. Bersujud di kaki tangga. meminta iba.

Strnktur kalimat yang dipakai dalam suatu majlis. rapat. atau pertemuan resmi sering berupa sanjak dan bahasanya mengandung sastra. T ujuan seseorang berbicara dalam acara tersebut hanya untuk membuka pertemuan atau menyampaikan maksud ketrampilannya.

Sampai sekarang tatakrama dalam suatu pertemuan resmi atau rapat. masih dipegang teguh oleh sebagian bcsar masyarakat Lampung asli_ terutama mereka yang tidak .tinggal di kota.

Pada akhir ura1annya. Arifin ( 1992. 13) mengatakan karena hadar /embogu caH·a ini sudah terbiasa sejak kec il. penggunaannya sudah mcrcsap pada kepribadian pcmakainya. yaitu masYarakat Lampung

Oleh brcna iru. ''iba,,a orang tua. pcmimpin formal. dan non formal tampak dcngan nyata tanpa sugcsti. pemaksaan atau sanksi-sank si

4. 4 Bahasa Lampung Kini Menurut hasil pcnelitian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lampung dan Hadikusuma (1985/1986 • 52, 1989 • 109) bahwa bahasa Lampung sekarang hanya merupakan bahasa kerabat yang pemakaiannya terbatas di rumah, di kampung-kampung penduduk asli. dan pada \aktu pemusyawaratan adat. Bahasa Lampung jarang terdengar di tempat-tempat umum, seperti di pasar atau di kantor Sedikit sekali orang Lampung yang menggunakan bahasa daerahnya, kecuali di kalangan orang-orang tua, itu pun terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, tidak heran apabila kebanyakan anak-anak muda Lampung sekarang sudah kaku dan tidak lancar lagi berbahasa Lampung. Apalagi yang hidup di kota-kota besar. mereka sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya, mercka lebih suka berbicara dalam bahasa Indones ia. Menurut Hadikusuma ( 19 89 • 176) pada akhir-akhir ini bahasa dan sastra Lampung. baik yang berbentuk prosa maupun puisi seperti .\yair. pantun. bandung pisakan. segata. wayak. adi-adi. wewarahan. dan lain sebagainya dapat dikatakan sudah tidak dikenal lagi. Kalau pada masa dahulu. pesta-pesta adat selalu ramai dengan pembacaan sastra-sastra Lampung asli. Pada masa kini suasana itu sudah sangat jarang terdengar. Hal itu terjadi karena orang-orang yang pandai mencipta dan melagukan atau membacakan sastra-sastra Lampung asli itu sudah semakin berkurang jumlahnya. Melihat kondisi itu. tidak salah apabila ada orang beranggapan bahwa bahasa dan sastra daerah Lampung lambat laun akan punah, hilang dan tidak diketahui lagi. Sebab sekarang ini. gejala-gejala kc arah itu memang sudah tcrasa. Oleh karena itu, usaha pcnyelamatan buda,·a daerah Lampung harus segera ditangani. sebelum segalanya terlambat.

4.5 Pemhinaan Bahasa Lampung Dalam UUD 194.'i. pasal 36 mcnjclaskan balma bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia. di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri. yang dipclihara oleh rakyatnya dengan baik-baik. bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga olch negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. Bertolak dari pasal 36 UUD l 945 itulah, kelangsungan hidup dan pelestarian bahasa daerah Lampung juga menjadi beban dan tanggungja\ab pemerintah. Pemerintah juga \'ajib membina bahasa daerah Lampung dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia. Karena bahasa daerah Lampung merupakan khazanah kebudayaan Indonesia yang dapat dijadikan sebagai salah satu identitas Nasional. Berkenaan dengan itu. beberapa langkah usaha penyelamatan dan pelestarian bahasa dan sastra daerah Lampung telah dilakukan, antara lain sebagi berikut
(I) Menetapkan muatan lokal ke dalam kurikulum sekolah SD dan SMP. Sebagai langkah kongkrit kepedulian pemerintah terhadap pelestarian bahasa dacrah. telah ditetapkan bahasa dan aksara Lampung \ajib masuk kc dalam kurikulum sekolah dasar sebaga1 muatan lokal Ketetapan ini tertuang dalam Garis-Garis Besar Pro- gram Penga1aran (GBPP) Bahasa Lampung SD yang diputuskan pada tanggal 5 Maret 1990 Dcmikian pula untuk sckolah menengah pertama, bahasa dan aksara dacrah Lampung juga tclah ditetapkan oleh pemerintah untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah Di bawah ini adalah sebuah bukti dari muatan lokal yang telah diajarkan di sekolah mcncngah pertama. Teksnya diambil dari bahan cvaluasi sumatif catur \Yulan II Bahasa dacrah Lampung. untuk sekolah menegah pertama yang bcrlangsung pada tanggal 25 januari · 19 95. di ,,iJaYah Propinsi Lampung.

Bcbandung dial ek .. A" ·

PAHLAWAN RADfN INTAN KHUA

Karya: Raja Perbasa

Nabikpun nabik tabik Kususun niku sumbah Anjo ya bandung cutik Mahap kantu ya salah

Ngadenting bunyi besi Tanda pedang belaga Hukhik takhuhan mati Niatni Radin Intan Khuwa

Belanda musti malih Anjak bumi khan Lampung Henna niat mak bakhih Sampai mati diusung

Mula ya mawat nyekhah Najin panglima bela Kacak napas badan bupisah Jak ninggalkon Rajabasa

Oktober tanggal lima Walubelas lima enom Gugumi Radin Intan Khua Gugumi kena pakom

Khesan bubandung singkat Pahlawan Radin lntan Si tatulis disukhat Kham jejana ngangonkon

Teks bebandung dalam dialek .. A" · ini diciptakan oleh Said Arifin_ scorang punyimbang berasal dari Kedondong. Lampung Selatan yang bergelar Raja Perbasa Menurut Said Arifin ( 1992 : ) bah\'a nama Raja Perbasa mcnunjukkan fungsi dan kedudukan seorang punyimbang adat. bahwa ia adalah seorang punyimbang yang bertugas sebagai juru bicara adat.

Untuk menggairahkan minat bclapr bahasa dan sastra Lampung pada anak-anak muda Lampung. maka pada tahun 1994. Museum Ncgeri Propinsi Lampung .. Rm\a Jurai .. telah mengadakan lomba bebandung (mcmbaca puisi dalam bahasa daerah Lampung). Di ba\rnh ini adalah salah satu teks yang dilombakan tersebut.

Bebandung dialek--o-·

PAHLAWAN REVOLUSI

Karya: Stan Pangeran

Tabikpun ngalimporou Sikam nepang bebandung Sijoupun nyobou-cobou Bebandung laggau lappung

30 diujung bulan Ujung tahun nampuluh lemou Gugur tujuh pahlav.:an Cappak lobang buayou

Jaman perang gurela Ngusir ulun belandou Oktober Pancasila dan angkatan besejatou

Untung mak Jiu korang Gerakkan sa ·at senou (\attu scnou) Hari Angkatan perang Di bulan berikutnou

Salaman lain pungu Mahapjou ngalimporou Kattu salah keliru Mahap bcgadu dijou

Menu rut panitia pcm clcnggara. pcscrta yang mendaftarkan din da lam acara tcrsebut cukup banyak. tctapi s a~ · a n gnya pcscrta yang orang Lampung asli justru sangat scdik it .1umlahn~ · a

yang ditempuh pemerintah sampai saat lni belum begitu terasa hasilnya. Dengan di,,ajibkannya bahasa dan aksara dacrah Lampung masuk dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah pertama diharapkan kelak akan dapat menyelamatkan bahasa Lampung dari kepunahannya.

LAMPUNG

5.1 Sejarah Aksara Lampung Tulisan memegang peranan penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari, di bidang ilmu pengetahuan, kekuasaan politik, dan sebagainya. Tulisan juga menunjukkan perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan (Molen. 1985 : 3) Ilmu yang secara khusus mempelajari tu lisan adalah Paleografi. Kata Paleografi berasal dari bahasa Y unani : palaios (berarti kuno) dan gra fein (artinya menulis) Menurut Molen (1985 : 4) bahwa tugas utama paleograf adalah meneliti sejarah tu li san: melukiskan dan menerangkan perubahan bentuk tulisan dari masa ke masa. Selain itu, paleografi juga berfungsi sebagai ilmu bantu dari ilmu sejarah, antropologi. filologi, dan epigrafi, untuk membaca teks -teks tua, mcmberi tanggal pada dokumen yang tidak bertanggal. menj elaskan proses penyalinan naskah. dan lain sebagainya. Sa111pai saat ini, jumlah tulisan khusus yang mengkaji aksara Lampung dapat dikatakan masih sangat sedikit Kebanyakan tulisan yang ada sifatnya tcrbatas sebagai buku pelajaran untuk membaca dan mc nuli s. atau sckedar pcngenalan kepada bentuk tulisan Lampung. Tu li san yang mcmbahas masalah scjarah. perkembangan dan pc rubahan bentuk dan fungsi aksara Lampung masih sangat kurang

1882 '

1) dalam tulisannya yang berjudul l'ohel von
!11di.1chc Alphobeffen menyajikan perbandingan tulisan Lampung dengan dacrah lain. tctapi masalah scjarah dan perkembangan hurufu,. a tidak bam- ak dibicarakan. Kajian lebih mendalam mengenai aksara lampung oleh Van der Tuuk dalam tulisannya yang berjudul Les Monusrils Lampongs ( 1868). Berdasarkan basil penelitian naskah Lampung yang dilakukan oleh Baron Sloet van de Beelc ia menyatakan bahwa tulisan Lampung sebenarnya memiliki banyak variasi bentuk. Variasi itu terjadi karena pengaruh perbcdaan zaman dan daerah penulisannya.

Tulisan Holle dan van der Tuuk sangat berguna dan tetap dipakai sebagai sumber acuan bagi para peneliti kini. Namun mereka menyampaikannya belum berupa kajian yang tuntas. Oleh karena itu. penelitian mengenai seluk beluk aksara Lampung lni perlu dilakukan. Namun karena sumber dalam bentuk tulisan sangat sedikit. sehingga pendapat perseorangan yang diperoleh selama penelitian lapangan di masvarkat ikut diolah dalam tulisan ini.

Sejalan dengan pendapat van der Molen yang mengatakan tulisan menunjukkan perbedaan mendasar dalam peradaban manusia. Bakr ( 1 9.. 15) juga berpcndapat masyarakat yang memiliki tulisan lebih berarti daripada masyarakat yang tidak mempunyai tulisa n. Keadaan itu. sekaligus juga menunjukkan bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang besar dan berkebudayaan tinggi (ha!. 19) ltu sebabnya, suku bangsa Lampung patut berbahagia karena mempunyai tulisan sendiri

Tulisan Lampung atau aksara Lampung disebut oleh masyarakat Lampung dengan nama Had Lampung otau Suro! Lampung Noeh dan Bakr mengatakan aksara Lampung termasuk dalam rumpun tulisan KAGANGA. bentuknya mirip dengan aksara Rej ang. Pasemah. Batak. dan Makasa r. Namun. dari semua bentuk tulisan itu, menurut Hadikusuma ( 1988 • 18) tulisan Lampung paling mirip dengan tulisan Rejang.

M clihat keadaan di atas. timbul pertanyaan bagaimanakah sebcnarm a bcntuk tulisan Lampung itu. dari manakah asalnya.

s~jakah. dan bagaimanakah keadaannya kini' 1 Semua pcrtanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dija\'ab dengan mudah. mengingat selama penclitian. saya mendapat kesan balma pada masa kini sudah tidak banyak lagi orang Lampung asli yang mampu membaca atau mengetahui seluk beluk aksara Lampung dengan baik.

5. 1. 1 Asal Mula Aksara Lampung Selama penelitian diperoleh kesan bah\Ya legenda atau pun ccrita rakyat mengenai asal usu! aksara Lampung tidak begitu diketahui oleh masyarakat pendukungnya. Sementara itu, kebanyakan peneliti beranggapan bahwa aksara Lampung sebenarnya merupakan perkembangan dari aksara Devanagari yang berasal dari India.
5.1. 2 Cerita Rakyat Cerita Ajisaka sangat dipercaya oleh masyarakat Ja,,a sebagai cerita mengenai asal usu! aksara Jawa. Sebaliknya, kebanyakan orang Lampung asli tidak mengetahui cerita rakyat atau legenda mengenal asal-usul aksara Lampung: mengapa urutannya demikian. siapakah tokoh yang menciptakan, dan sebagainya. Berdasarkan penelitian hanya diperoleh satu versi cerita mengenai asal-usul aksara Lampung Versi ini diceritakan oleh Razi Arifin yang memperoleh pengetahuan itu dari neneknya (menurut Razi Arifin. cerita ini diwariskan secara lisan dan turuntemurun ). Razi Arifin. seorang penasihat hukum adat Lampung yang aktif melakukan penelitian mengena1 bahasa dan budaya Lampung Ari fin ( l 9 ) mengatakan bah,,a ia belum mengetahui mengapa aksara Lampung tersusun secara demikian (ka, ga. nga, dan seterusnya ) dan siapakah tokoh penciptanya. Arifin hanya menjelaskan mengenai bentuk hurufnya. yaitu aksara Lampung dahulu diciptakan oleh pcnduduk sebagai tanda-tanda yang digorcskan pada batang kayu dan jalan. Goresan-goresan itu d1maksudkan sebagai penunjuk arah atau tanda agar tidak tersesat. Tanda-tanda berbentuk goresan inilah yang kemudian pada perkembangannya menJadi aksara Lampung yang sekarang

51. 3 J>endapat Paro J>eneliti Kcbanyakan pcncliti. scpc1t1 \'an dcr Tuuk. Hadikusuma. Arifin. Walker. dan Tim Pcneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Lampung beranggapan bahwa aksara Lampung merupakan perkembangan dari aksara Devanagari yang Iengkapnya disebut Dewdott Deva .'•i'agari. Aksara Devanagari berasal dari India. Aksara itu dianggap suci karena sering dipakai untuk menulis kitab- kitab suci dalam bahasa Sansekerta dan sekarang diakui sebagai aksara resmi Republik India (Depdikbud. I 985/ 1986: 54 dan Arifin 19 ... ) Kerajaan Sriwijaya berkembang pada masa abad ke-7 sampai kc- I 3. Pada waktu itu penyebaran agama Budha yang menggunakan meneba rkan pengaruh yang besar sekali. Ketika Kerajaan Tulangbawang runtuh. orang Lampung banyak yang berhubungan dengan Sriwijaya Sejak itulah. secara berangsur-angsur aksara Palawa masuk dan mempengaruhi perkembangan aksara Lampung, sampai kepada bentuknya yang sekarang ( ArifinJ 9. ... 8 ) Menurut Hadikusuma (19. ) bahwa aksara Lampung sebenarnya adalah aksara yang dipakai oleh masyarakat di seluruh daerah Sumatra Selatan Orang-orang tua di daerah Sumatra Selatan kadang-kadang mcnyebut aksara Lampung dengan -- Surat Ulu" ' atau .. Surat Ugan· ·. Tetapi, pada kenyataannya -sejak masa sebelum perang sampa1 sekarang-aksara ini hanya dipaka1 oleh orang Lampung.
5.2 Aksara Lampung Tulisan Lampung inempunyai tiga macam unsur. yaitu (I) induk huruf (kelabai s11rat). (2) anak huruf atau tanda bunyi (benah surat). dan (3) tanda-tanda baca. Menulis aksara Lampung dari kiri ke kanan. Tulisan Lampung disebut juga tulisan KAGANGA karena huruf a\Yal dan urutan abjadnya berbunyi demikian Aksara Lampung scpcrti juga aksara Ja\ a merupakan aksara sukukata Artin\'a satu tanda bcrlaku untuk satu sukukata Oleh karena itu. orang Lampung menyebutnya scbagai tulisan Bosa;o karena sctiap hurufnya mcngandung buny1 a (Noah. hal. .+. Bakr. hal 20) Umpamanya aksara ,)-/ untuk tanda sa dan bukan untuk s.

v untuk pa dan bukan p. Kalau kedua tanda ini

didekatkan menulism·a *hv-*akan terbaca kata sapa yang artinya "siapa".

Aksara Lampung dengan berbagai kombinasi huruf dapat membentuk variasi bunyi. seperti mi, mu. to, te, dan sebagainya. Dengan demikian, susunan aksara Lampung merupakan gabungan dari dua cara penulisan, yaitu ( l) tulisan alfabetis dan (2) tulisan sukukata. Jenis tulisan semacam ini kemudian disebut sebagai tulisan semi- syliabis ( Ullman melalui van der Molen, 1994: 2).

Pada umumnya orang Lampung berpendapat bahwa bentuk aksara Lampung ada dua macam, yaitu aksara Lampung Lama dan aksara Lampung Sekarang. Kedua aksara ini mempunyai beberapa perbedaan. Perbedaan yang pertama adalah dari segi jumlahnya. aksara Lampung lama terdiri atas 19 huruf sedangkan aksara Lampung sekarang terdiri atas 20 huruf Perbedaan yang kedua. mengenai tanda bunyi dan ketiga adalah tanda bacanya. Berikut alfabet kedua macam aksara Lampung tersebut disertai dengan tanda bunyi dan tanda baca yang dikutip dari Bakr. Hadikusuma, dan Arifin.

5. 2.1 Aksara Lampung Lama ff) w

/1 LJ />J LU

? ka ga nga pa ba ma

A:( fY1 ~{YY"l lS/ J7

ta da na ca Ja nva

w ;zu;-0')(/

/f/ ~ Ya ra a la sa \Ya

LJl ha

M1 saln~ a. tanda yang lctakn~a di atas huruftanda/(1rhah. sedangkan tanda baca di bm, a h huruf kasrah. Bcrikut adalah tanda-tanda bunvi aksara Lampung berdasarkan tempatnya.

a) Tanda Fathah (di atas hurnf)
IJ

(I) 11 /an untuk bunyi l, tandanya
*("*

(2) 11/an untuk bunyi e, tandanya
(3) hi eek untuk bunyi e, tandan:va "
:::

(4) dar es untuk bunyi n. tandanya
(5) rejenjung untuk bunyi r, tandanya
""""'

(6) rek!ubang untuk bunyi ng, tandanya
b) Tanda Kasrah (di bawah hurut): ( l) bi tan untuk bunyi u, tandanya------
/

(2) teklungu untuk bunyi w, tandanya----
v

(c) Tanda di belakang huruf (sejajar hurut):
(I) teklingai untuk bunyi ai, tandanya--------t
(2) ke!engiyah untuk bunyi h, tandanya--- -----= Tanda baca dalam tulisan Lampung yang letaknya di belakang
huruf dalam posisi sejajar ada enam macam tanda baca sebagai berikut

( I) nengen untuk tanda huruf mati. tandanya I

(2) lrnma untuk tanda koma, tandanya = ~
(3) berad11 untuk tanda titik, tandanya = 0
(4) tanda sern. tandanya = 1/
(5) ng11/ih untuk tanda tanya, tandanya =
(6) ngemu!a tanda untuk permulaan katimat = Bentuk tu lisan Lampung Lama hanya dijumpai*dalam naskah-
naskah kuno Umpung yang bcrupa lcmbaran kulit kayu. bambu.

Pada. masa kini. orang Lampung asli yang dapat membaca atau mcnuhs tulisan lainpung lama sudah sangat jarang sekali. mungkin tinggal orang tua-tua saja Contoh bentuk tulisan Lampung Lama yang tertulis dalam naskah kuna dapat diuhat dalam lampiran.

5. 2. 2 Aksara Lamp11ng Seka rang Aksara Lampung Sekarang merupakan perkembangan dari aksara Lampung Lama. Menurut Razi Arifin bah\a bentuk tulisan Lampung sudah dikenal dan dipakai oleh masyarakat Lampung sejak tahun tiga pu luhan. Aksara Lampung sekarang berjumlah 20 huruf. dengan tambahan satu huruf gra. Bentuk tulisan dan beberapa tanda bunyi dan tanda bacanya juga berbeda dengan bentuk tulisan Lampung lama. Untuk itu orang yang dapat membaca jenis tulisan Lampung sekarang belum tcntu dapat membaca tulisan Lampung lama. Selain itu faktor bahasa juga menjadi kendalanya.

Aksara Lampung Sekarang

/() /7 /1( lJ,/

vLr" ka ga nga pa ba ma

l,.f- )

~6~ ~ /f-1/7

ta da na ca Ja nva

ief $~ / YJ--1--

Ya ra a la sa \Ya

(.;"'I~

ha gra

Seperti hatnya aksara Lampung lama. istitah tanda baca aksara Lampung sekarang juga mengikuti istilah tanda baca aksara Arab. I'arh ah untuk tanda baca ditempatkan di atas huruf dan kasrah adalah tanda baca yang ditempatkan di bawah huruf

(a) tanda fathah (di atas huruf) •
v ( l) utan untuk buny1 i, -------- contohn\'a ---------kita

(2) utan untuk bunyi e.--~--- -- contohnya ----------peta
(3) bi eek untuk bun\'i e t contohnva ---------- - kera
~ '------1 ~

(4) datas untuk bunyi n. _?.: ___ contohnya -------- sayan (= sendiri)
(5) teklubang untuk bunyi ng, ___ : ___ contohnya ----------- abang ( 6) rejengjung untuk bunyi r, _ ""----contohnva ------------ damar
b) Tanda kasrah (di bawah huruf) • ( l) hi ran untuk bunyi u. contohnya --------- huma
(2) bi tan untuk bum. ·i o. contohnv. a --------
I kota

(3) teklengu untuk bunyi w. contohnya ambaw bau)
u

c) Tanda di belakang hu ruf (sejajar hurut) ( I) teklingai untuk bunyi al, contohnya ----I sai (= satu)
(2) klengiyah untuk bunyi h, contohnya- --·US kamah (= kotor) Dalam praktek sehari-hari. tanda-tanda baca yang tetap dipakai datam menulis aksara Lampung sekarang adatah tanda nengen dan tanda beradu. sedangkan tanda-tanda lainnya jarang sekali digunakan. Tanda-tanda baca ini letaknya di belakang huruf dengan posisi sejajar. Beberapa tanda baca itu sebagai berikut :

(/) nengen untuk tanda huruf mati = /
(2) k11ma untuk tanda koma = V<
(3) berad11 untuk tanda titik = 0
,,

(4) tanda sern =
(5) ng11/ih untuk tanda tanya =
~

(6) ngem11/a untuk tanda pcmrnlaan kalimat =:ii-,. \ Jenis tulisan inilah yang sampai sekarang masih dikenal dan dipakai oleh masyarakat Lampung, baik yang tinggal di kampung- kampung pedalaman maupun yang di kota. Sependapat dengan van der Tuuk dalam Ari fin ( 19 1 ), Said A rifin. budayawan. dan punyimbang adat yang bertugas sebagai pacalang dan bcrgelar Raja Perbasa. juga mengatakan bentuk tulisan Lampung itu bermacam-macam. Menurut Said Arifin ada enam macam variasi had lampung yang diketahulnya sebagai berikut. ( 1) Had Lampung Ho
(2) Had Lampung Jebi
(3) Had Lampung Tumbal
(4) Had Lampung Ampai
(5) Had Lampung Angka
(6) Had Lampung Ganta Setiap bentuk tulisan had Lampung menunj ukkan pengaruh zaman ~· ang memasukmya. sehingga masing-masing tulisan mempunyai ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya dalam Had lampung T11mbai terdapat beberapa huruf yang mirip tulisan Arab Hal itu disebabkan dcngan munculnyal tulisan itu sejak [slam masuk ke Lampung. Adapun H od !.omp1111g Angka. beberapa aksaranya ada yang mirip dcngan angka Latin. Sebab bentuk tulisan ini muncul setelah orang Lampung mcngenal tulisan Latin. Adapun Had lamp11ng Ampoi. scbenarnya sama dcngan bcntuk H od f,omp1111g (lc1111C1. tetap1 Hod f,om;mng Ampm tidak mcmpunyai aksara gra. /-/ud /,m11p11ng Gonto. scsu ngg uhnya mcrupakan aksara gabunga n dari had Lampung mas\arakat pcpadun dan saibatin.

yang tersimpan di Museum Negeri Propinsi Lampung ''Rmva Jurai ''. Empat naskah di antaranva sudah dialihaksarakan oleh Said Ariftn.

Bentuk tulisan aksara Lampung dari Had Lamp11ng Ho sampai had Lampung Angka pada saat ini dikenal oleh masyarakat Lampung asli sebagai tulisan Lampung Lama, sedangkan Had lampung Ganta dikenal sebagai aksara Lampung Sekarang.

Pernyataan van der Tuuk dan Said Arifin mengenai variasi bentuk dan perkembangan Had Lampung, kiranya masih harus didukung oleh penelltian paleografi yang akurat Mallon ( dalam van der Molen 1985 : 10), seorang ahli paleografi Perancis, menyediakan suatu metode analisa tulisan yang disebutnya metode dinamis. Pendekatan analisa hurufnya meliputi lima segi.

I).. rupa bentuk lahiriah huruf;
tulisan:

2). sudut tulisan sudut antara posisi alat menulis dengan a rah
3). duktus urutan penulisan garis dan arahnya:
4). jukuran panjang-lebarnya huruf, dan
5). ketebalan garis tipis atau tebal.

Dengan dukungan penelitian paleografi yang menerapkan metode dinarnis ini, pernyataan van der Tuuk dan Said Arifin kiranya akan menjadi semakin kokoh. Namun. persoalannya adakah peneliti yang bersedia melakukannya '?

5.3 Perbandingan Aksara Lampung dengan Aksara Daerah Lain Menurut pengamatan van der Molen. berdasarkan tulisan Holle (1882) dan Pigeaud ( 1967). macam-macam tulisan yang masuk dan dikenal di Indonesia ada tiga macam.
I) Tulisan India. Tulisan Indonesia yang mempunyai tipe tulisan ini dapat dirinci lagi menjadi lima kclompok.

Ja,,a-Bali dipakai untuk menulis bahasa Jm\a. Sunda. Madura. dan Sasak.

(b) Kelompok tulisan Batak, dipakai untuk menulis bahasa-bahasa Batak. seperti Mandeling. Angkola, Toba. dan Daeri dengan variasi tulisannya.
(c) Kelompok tulisan Rejang-Lampung dipakai untuk menulis bahasa Melayu. Bengkulu, Krui, dan Lampung dengan berbagai variasi bentuknya.
(d) Kelompok tulisan Bugis dan Makasar dipakai untuk menulis bahasa Bugis, Makasar. Bima dan Ende.
(e) Kelompok Filipin dipakai untuk menulis bahasa Tagalok. Biko!, Bisaya, dan Pangsinal.
2). Tulisan Arab. Bentuk tulisan Arab yang dikenal di Indonesia ada dua macam,
a. Tulisan Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Arab
b. Tulisan Arab yang digunakan untuk menulis bahasa daerah,
seperti Melayu, Aceh. Ternate, Jawa dan Sunda. Pada susunan aksara Arab yang digunakan untuk menulis bahasa adalah bukan bahasa Arab yang terdapat pada beberapa aksara rekaan yang merupakan penyesuaian bunyi yang tidak dikenal dalam aksara Arab. Tulisan Arab dari jenis ini dikenal dengan nama Jawi, yang digunakan pada tulisan Arab yang berbahasa Melayu dan Pegon digunakan pada tulisan Arab yang berbahasa daerah.

3). Tulisan Latin Tulisan Latin merupakan jenis tulisan ketiga yang masuk ke Indonesia. Tulisan ini dikenal di Indonesia sejak abad ke-17. Namun digunakan secara praktis sebagai sarana tulis baru pada abad ke-19 (Pigeaud, ha!. 2 7) Dari pengelompokkan di atas. jclas bahwa tulisan Lampung termasuk dalam kelompok tulisan India dari kelompok tulisan RejangLampung Memang. kalau kita melihat daftar pcrbandingan tulisan Indonesia yang di susun olch Holle ( 1882). bentuk kcdua tulisan itu sangat mirip Jadi. sangat tepat jika Hadikusuma ( 1988

1.5) mengatakan balm a tulisan Lampung mirip dengan tulisan Rejang atau Rcncong. Karena kcdua tu!Jsan ini memang satu kelompok Scmentara itu, pendapat Noeh ( 19 4) dan Bakr ( 199 19) mcngatakan bahwa aksara Lampung mirip dengan aksara Rejang_ Pasemah, Batak, dan Makasar. kcmungkinan hanya didasarkan pada pengamatan selintas Mcnurut Holle, tulisan Lampung memang hampir sama dengan tulisan Rejang dan Pasemah, tetapi kalau dengan tulisan Batak dan Makasar tidak dapat dikatakan sama karena bentuk tulisannya berbeda ( l 882 :8) Untuk dapat mengetahui perbedaan bentuk dan susunan aksara-aksara tersebut berikut adalah daftar susunan aksara daerah Lampung, Rejang_ Pasemah. Batak_ Bugis, dan Makasar. Perbandingan Aksara Lampung dengan Aksara Daerah Lain No. Latin Lampung ReJang Pase mah Batak Bug is Makasar
I. Ka
2. Ga .., -'· Nga
4. Pa
.5 Ba
6. Ma 7 Ta
8. Da
9. Na l 0. Ca l l. Ja
12. N\a
13. Ya
14. A
1.5 La
16. Ra

Rc_iang Pascmah Batak Bugis Makasar

  1. Sa
  2. W a
  3. Ha
  4. G ra S usunan aksara dan bentuk tulisan dari aksara-aksara di atas dikutip dari Ensiklopedia Indonesia don Fabel van Oud-Fn Nieuw - lndische A phabetten (Holle. 188 2)
    5.4 Pemakaian Aksara Lampung SeJak sebclum perang dunia kedua. masyarakat Lampung telah mempelajari tulisan Lampung. baik dalam bentuknya yang lama maupun yang sekarang. Kedua jenis tulisan itu dipelajari bersama- sama baik secara informal di dalam keluarga maupun di sekolah- sekolah rendah. Mereka menggunakan kedua jcnis aksara itu untuk berbagai hal, dari alat komunikasi. sarana pergaulan sampai kepada penulisan surat-surat pcnting. Oleh karena itu. masyarakat Lampung dapat dikatakan sudah sejak lama bebas dari buta huruf pun terbatas pada huruf daerahnya.
    5.-/. 1 Maso Lampau Berdasarkan infonnasi Razi Arifin. Hadikusuma, dan Said Arifin. dimasa lampau, kira-kira tahun empat puluhan, semua orang Lampung asli pandai membaca dan menulis .rnrar Lompung Apabila ada orang yang mengaku dirinya scbagai orang Lampung, tetapi tidak dapat menulis dan membacanya. ia akan merasa sangat malu. Dengan kata lain. sampai sebelum perang dunia kedua .. rnrar lamp11ng sudah membudaya dalam kch1dupan masyarakat Lampung. Mereka memakai surat /,ampzmg untuk berbagai keperluan sebagai bcrikut. I. Sarana komunikasi Menurut Arifin ( 19. 12) balma Suro/ f,omp11ng dipakai sebagai al at komunikasi. sarana untuk sating bcrhubungan di antara

yang tinggal di pedalaman atau di kampung-kampung.

2 Sebagai alat pergaulan muda-mudi Pada masyarakat Lampung. muda-mudi tidak bisa bergaul dengan bebas karena pertemuan mereka diatur secara adat. Adat yang mengatur pertemuan muda-mudi disebut man/au muli. A dat manja11 muli yang menggunakan aksara Lampung sebagai sarana pergaulannya disebut miyah damau. Miyos damau adalah adat pertemuan muda-mudi secara beramai-ramai di tempat orang yang sedang mengadakan upacara adat atau kenduri (Depdikbud, 1985/ 1986 185). Arifin (19 12) menyebut adat miyah damau ini dengan istilah Jaga Damar atau Nyuwah Damar.

Dalam acara ini, para bujang dan gadis diatur dan dipimpin oleh kepala bujang dan kepala gadis yang disebut kepala meranai dan kepa/a mu/i Pada kesempatan itu, para bujang dan gadis dapat saling bercakap-cakap, sindir menyindir atau bersurat-suratan. Tidak jarang pula jaga damar ini kemudian menjadi arena untuk saling menguji kepandaian bersastra, baik secara lisan dalam bentuk seni suara klasik maupun secara tertulis dalam bentuk cara menulis surat.

Acara itu menarik mereka ketika mereka sating menguji kepandaian menulis had Lampung dalam bersurat-suratan. Menurut Said Arifin ada enam cara menulis Had Lampung yang harus dikuasai para bujang gadis agar mereka tidak mendapat malu dalam pertemuan yang mereka hadiri K eenam cara penulisan itu adalah sebagai berikut

a) cara tu/is osokh -osokh. yaitu menulis surat dengan had lampung yang disusun dengan cara berputar-putar (seperti spiral) tanpa tanda awal dan akhir kalimat. Cara membacanya bisa dari lingkaran yang paling dalam terus berputar ke luar atau sebalikm·a.
awal/akhir kalimat

awal/akhir kalimat

57

t11/ls lompot kijong. yaitu menulis surat dengan had lampung yang disusun secara melompat-lompat. Setiap kata huruf-hurufnya dipisahkan dan diletakkan dengan membentuk posisi empat sudut (segi empat). Cara membacanya tetap dari arah kiri ke kanan_ misalkan kalimat : siapa nama anda_ menulism·a 2 s1 ma \'a an 4 3 na pa da

c) cara tu/is cina, yaitu menulis surat dengan had Lampung yang disusun seperti tulisan Cina, yakni dengan urutan huruf dari atas ke bawah, siapa nama anda, dimana kampungnya, dituliskan
Si di ya ma pa na na kam ma pung an nva da

d) cara tu/is Arab. yakni menulis surat dengan had Lampung disusun seperti menulis tulisan Arab. yaitu dengan urutan huruf dari kanan ke kiri, misalkan: nama saya Ani 111 a ya sa ma na
c) cara tu/is lapak sekhom (semut berjalan), yaitu menulis surat dengan had Lampung dengan cara disambung seperti tulisan Latin yang disambung. misalnya : rumah saya dekat, menulisnYa

cara rulis Hay cambai. yaitu menulis surat dengan had Lampung yang ditulis di atas sehelai kcrtas dengan menggunakan gctah sirih. Kertas yang ditulisi dengan getah sirih. huruf-hurufnya tidak akan terlihat dengan mata telanjang. Untuk membacanya diperlukan keahlian khusus. Menurut Said Arifin. surat \Ya\ cambai mi harus dibaca dengan bantuan air. Caranya, adalah kertas surat harus di rendam dalam air secara sedikit demi sedikit sambil dibaca tulisannya, dan harus tetap dijaga agar kertas tidak terendam air secara sekaligus. Jika kertas itu terrendam air. huruf-hurufnya akan hilang.

g) cara tu/is batik. vaitu menulis surat dengan had Lampung dengan cara terbalik. M embaca tulisan seperti ini harus dengan bantuan sinar lampu. Caranya kertas ditera\angkan dan tulisan dibaca melalui pantulan cahaya lampu.
3. Sebagai alat untuk menulis hal-hal yang bersifat rahasia Had Lampung juga dipakai untuk menulis hal-hal yang sifatnya rahasia, terutama apabila orang Lampung tidak ingin maksud mereka diketahui .oleh orang lain yang bukan orang Lampung
4. Penulisan mantra. memang. petuah, dan larangan Banyak mantra. memang (doa dalam bahasa Lampung), petuah. dan larangan yang ditulis dengan menggunakan had lampung
5. Penulisan karya sastra dan hukum adat : selain untuk menulis hal-hal seperti yang telah diatas, had Lampung juga dipakai untuk menulis karya sastra dan masalah hukum adat, diantaranya adalah cerita Radin .Jambar. Ramayana (versi Lampung) dan buku Kuntara Raja Niti
6. Menulis surat-surat penting : menurut Arifin ( 19. 12), had Lampung digunakan pula oleh masyarakat Lampung asli untuk menulis surat-surat penting seperti surat jual beli dan surat perJan_pan

-l 2 Maso Kolonia/ Helando Menumt Bakr ( 19 .. • 15), bah\;a kctika masa penjajahan Belanda. aksara Lampung temyata juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. antara lain sebagai berikut.-

  1. Untuk menulis Surat Keputusan Pengangkatan Kepala Kampung (lihat lampiran dan)
  2. Untuk membuat surat daftar lahir atau Surat keterangan kematian
  3. Untuk membuat surat dinas lainnya 4 Untuk membuat cap stemp('.l Di bawah ini adalah contoh stempel yang dipakai oleh kebandaran Limau Cukuh Balak, terbuat dari perunggu, di dalamnya terdapat tulisan Lampung yang berbunyi • '· Bandar Limaw··. (Bakr, ha!. 18)
    5. 4. 3 Masa Kini Dari penelitian di lapangan diperoleh kesan bahv.a aksara L ampung pada masa sekarang juga tengah diusahakan untuk dibudayakan lagi. Hal itu terbukti dari pemakaian aksara Lampung untuk menulis sebagai berikut.
    I. nama jalan (lihat Lampiran)
  4. plat nomor alamat rumah (lihat lampiran)
  5. hiasan rumah (ilhat lampiran)
  6. undangan untuk pesta adat
    5. 4 . ./ Usaha Pelestarian Aksara Lampung Ari fin ( 19 9 12 13) mengatakan bah\Ya pada masa sekarang. aksara Lampung sudah mulai menghilang. Aksara Lampung hanya tinggal dikenali dan dimanfaatkan oleh orang-orang tua. sedangkan kalangan angkata n muda dan para cendekiawan suda h ti dak memerlukannya lagi. Mengingat keadaan ini kiranya perlu diambil langkah-langkah cepat dan penting untuk menyela matkan dan

mclcstarikan. serta mcmbudayakan kcmbali aksara Lampung kepada masyarakatnya. Bcrikut adalah bcbcrapa cara yang ditempuh untuk mc\ujudkan usaha terscbut

Surat keputusan Ten tang Penga_1aran Bahasa dan Had Lampung di SD. SMTP, dan SMTA Untuk menyclamatkan dan melcstarikan aksara Lampung dan kepunahannya. Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Lampung telah mengambil langkah yang tepat, yaitu dengan menerbitkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung Surat keputusan itu berisi ketetapan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Bahasa dan Had Lampung untuk pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama. dan Sekolah Menengah Tingkat Atas. Dengan keputusan in i. diharapkan kelak kalangan muda Lampung dapat sadar kembali akan asct budayanya sendiri

2 Lomba Penulisan Had Lampung

Langkah yang juga tidak kalah pentingnya telah ditempuh oleh Museum Negeri Propinsi Daerah Lampung --Ruwa Jurai, yaitu dengan menyelenggarakan lomba menulis dan membaca had Lampung pada tahun 1994. Menurut informasi pihak penyelenggara, peserta yang ikut dalam lomba ini cukup banyak jumlahnya dan ~ang menarik para peserta bukan han~;a orang Lampung asli.

KUNA LAMPUNG

6.1 Pengertian Naskah Kuna Dalam bab kelima telah disinggung bahwa aksara Lampung Lama pada saat sekarang masih dapat dijumpai dalam naskah-naskah kuna Lampung. Jika demikian, apakah naskah kuna Lampung itu masih ada, di mana disimpan_ apakah masih ada yang membuatnya, apa saJa is inya. dan seterusnya ? Untuk menja,rnb pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah ha! yang mudah mengingat sumber tertulis pun sangat sedik it. Namun demikian, melalui penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh para narasumber sewaktu penelitian lapangan, niasalah- masalah yang berkenaan dengan naskah kuna Lampung akan dapat diuraikan. Akan tetapi. sebelum masalah naskah kuna Lampung diuraikan untuk memberi gambaran yang tepat-akan dijelaskan lebih dahulu yang dimaksud dengan naskah kuna dan selukbeluknya. Kita menyadari betapa masih sangat sedikit pengetahuan kita tentang naskah kuna, meskipun studi mengena1 ha! itu telah lebih dari 200 tahun dilakukan. D al am buku Pengantar Teori Fi/o/ogi. Baricd ( 1985 54) membcri batasan mengenai naskah kuna. yakni semua bahan tulisan tangan yang menyimpan bcrbagai ungkapan pikiran dan perasaan. hasil budaya bangsa masa lampau. Adapun. DJamaris ( 1977 20) mengatakan bahwa naskah kuno adalah scmua peninggalan tertulis ncnck moyang kita yang ditulis pada kcrtas. rotan. lontar. dan kulit kan1.

'' arisan budaya bangsa pada masa lampau. naskah kuna

mcngandung informasi yang dipandang rclcvan dcngan kepentingan masa kini. Mclalui coraknya yang bcrbcntuk tulisan. naskah kuna dipandang mampu mcmperjclas informasi yang terdapat pada pcninggalan budaya berupa bangunan atau benda budaya lainnya. Oleh karcna itu. naskah kuna merupakan dokumen bangsa yang paling menarik bagi peneliti kebudayaan lama ( Soebadio. 197.5 : I I)

I !mu yang menggunakan naskah kuna sebagai obyek utama penelitiannya disebut filologi. Kata Filologi berasal dart bahasa Yunani: philos (= cinta) dan logos (= kata) Dalam perkembangannya. arti fllologi menjadi studi yang rnendasarkan kerjanya pada bahan tertulis dan bertujuan rnengungkapkan makna teks dalarn segi kebudayaan (Baried. 1985 3). Oleh karena itulah, sampai sejauh ini penelitian naskah-naskah kuna Indonesia kebanyakan hanya bertujuan menerbitkan teks dan mengkaji isinya. Padahal. dalam penelitian naskah kuna yang sesungguhnya. masalah aksara dan wujud fisik naskah juga harus ikut diteliti. Dengan demikian, informasi yang akurat berkenaan dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan suatu naskah dapat diperoleh.

Masalah yang berkaitan dengan aksara telah disinggung dalam bab kelima Oleh karena itu berikut ini akan dijelaskan secara singkat ha! yang berkaitan dengan masalah penelitian wujud fisik naskah.

Studi yang khusus mernpelajari naskah kuna dari segi wujud fisiknya disebut kodikologi. Mulyadi (1994 I) menyebutnya dengan istilah ilmu pernaskahan. Istilah kodikologi berasal dart kata Latin codex yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai naskah. Kata codex. dalam berbagai bahasa kemudian dipakai untuk mcnunjukkan suatu karya klasik berbcntuk naskah (Diringer. 1982 : 35 - 36)

Robson ( 1978 26) menyebut kodikologi sebagai pelajaran

naskah. scdangkan Barted mengatakan sebagai ilmu yang mempelajari scluk-beluk ( 1985 55) aspek naskah. scperti bahan. umur. tempat penulisan. dan perk raan penulis naskah Semcntara itu. Hem1ans dan Huisman (I Q80 6) mcnjclaskan bairn a istilah kodikologi ini scbcnarnya tclah diusulkan scjak tahun I q44 olch seorang ahli bahasa

Yunarn dari Pcrancis yang bcrnama Alphonse. Dain. Akan tctapi. istilah ini baru terkenal scjak bukunya yang bcrjudul Les Manuscrits tcrbit pada tahun 1949. Dain (1975 77) mcnjclaskan balrna Kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan ilmu yang mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah Kodikologi mencukupi antara lain sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat-tempat naskah, pen~usunan katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah-naskah.

Istilah lain untuk menyebut naskah adalah manuskrip. Kata manuskrip diambil dari ungkapan Latin yaitu codicesnianu scripti. artinya buku-buku yang ditulis dengan tangan (Madan dalam Mulyadi, 1994: 3).

Dalam bahasa lain. manuskrip dikenal dengan istilah handschrift (Belanda dan Jerman), manuscrit (Perancis). dan manuscript (lnggris). Dalam berbagai katalogus, kata-handscripl biasanya di singkat untuk bentuk tunggal dan HSS untuk jamak, sedangkan manuscript dan manuscrit disingkat MS untuk bentuk jamak disingkat HSS.

Setelah kita mengetahui gambaran yang berkaitan dengan masalah naskah kuna, sekarang marilah kita lihat ihwal naskah kuna Lampung. Oleh karena karangan-karangan mengenai naskah kuna Lampung sangat sedikit jumlahnya, untuk melengkapi data dilakukan penelitian lapangan. Dalam penelitian lapangan itu. beberapa orang Lampung asli yang dianggap mengetahui masalah seluk beluk naskah kuna Lampung diwawancarai. Berikut adalah uraian mengenal seluk beluk naskah kuna Lampung

6.2 Bohan Baku "Naskah kuno Lampung" Dalam bukunya yang berjudul Kodikologi Melayu di Indonesia. Mulyadi (1994 · 44) mengatakan yang dimaksud dcngan 'bahan (baku) naskah' atau 'alas naskah' adalah sesuatu yang dipakai untuk menulis sehingga terbentuk suatu naskah. Mcnunit informasi Razi Arifin, Tan11i zi Na\a\1. dan Said Arifin. bahan baku naskah-naskah kuna Lampung cukup banyak macamnya adalah sebagai berikut.

Kulit Kavu Halim

Naskah Lampung yang baha1111ya dari kulit kayu halim, bcntuknya semacam buku yang dilipat-lipat scperti alat musik akordcon. Contoh bcntuk naskah kuna Lampung dapat dilihat dalam lampiran.

Kulit kayu halim atau bawahhabak ha/im yang diambil untuk naskah adalah dari pohon yang muda karcna scratnya lcbar. dapat dilipat, berwarna putih mengkilat seperti, perak, kuat, dan awet (Heyne, 1987 : 1469).

Menurut Heyne ( 1987 : ?) pohon halim termasuk pohon kayu wangi seperti garu/gaharu atau cendana. Nama Latin pohon ini adalah Aquilaria Malaeceusis LAMK. termasuk suku Thymelaeaceae. Pohon ini tumbuh baik di tanah yang tinggi. Nama daerah pohon lni bermacam-macam, seperti alim (Batak Toba), karas (Indonesia), kepang (Belitung), dan karm (Mengkaras dan Minangkabau). Ciri- ciri pohon ini adalah tidak terlalu besar, lingkar batang bisa sampai 50 cm, dan tingginya 15 - 18 meter. Kulit kayu umumnya lap.cap keputih- putihan dan berdamar: kayunya' yaiig tidak berdamar be~ama putih, ringan dan lembut serta mempunyai bau yang khas (seperti garu atau cendana). sedangkan yang berdamar kayunya berwama gelap. berat. dan keras.

Menurut Heyne ( 1987 : 1469) bahan baku naskah kuna Lampung sama dengan Pustaha Batak Toba. Oleh karena itu proses pembuatannya pun diperkirakan kurang lebih sama. Sumber tertulis mengenai proses pembuatan bahan baku naskah Lampung tidak ada. Kebanyakan orang Lampung sudah tidak mengetahuinya lagi untuk itu. · proses pembuatannya akan dijelaskan melalui cara pembuatan pustaha Batak Toba. Berikut adalah proses pembuatannya seperti yang dituturkan oleh Heyne ( 1987 : ')) dan Teygeler (l 993 : ?).

Menurut Heyne ( 198 7 : 1469) setelah kayu alim dipotong, kulit dalamnya diambil. lalu diketam rata. Setelah itu, baru dilumuri dengan tajin. yaitu .air beras yang sedang dimasak.

Teygeler ( 1993 : 595--597) menguraikan cara pembuatan pustaha sedikit lebih terurai dari Heyne. Menurutnya. setelah batang kayu aliril dipotong. kulit dalamnya diambil lalu dipotong~potong scsuai

yang dikchcndaki Sctelah itu. diJcmur bcbcrapa saat dan kemudian diamplas dcngan daun yang kcras supaya halus. Terakhir. kedua permukaan (depan dan belakang) kulit dalam itu dilumuri dengan air beras.

Menumt Ari fin ( 19 ')) kulit kayu halim ini di daerahnya dikenal dengan nama handa/uang. artinya kulit kayu (dalam bahasa Jawa deluang) Pendapat ini saya kira kurang tepat karena meskipun kedua bahan naskah ini sama-sama dari kulit kayu, tetapi jenis kayunya berbeda Deluang, berdasarkan penelitian saya tennasuk jenis pohon rimba dari suku Moracea, nama Latinnya Broussonetia Papyr(fera Vent. nama daerahnya adalah sepuka11 (Indonesia), saeh (Sunda). dha/upang (madura), glugu (Ja,va), dan sebagainya. Adapun cirinya adalah pohonnya kecil, lingkar batang tidak lebih besar dari lengan manusia, dan tingginya hanya 3 - 4 meter (P udjiastuti, 1994 : 3) Cara pembuata n dluwang pun lebih rumit dan memerlukan waktu yang relatif lebih lama daripada pembuatan bahan naskah kulit kayu halim.

b) Barn bu Betung Bahan baku lain yang digunakan sebagai alas naskah untuk menulis naskah kuna Lampung adalah bambu betung. Nama Latinnya adalah Dendroca/amus Asper BACKER (D Flagedllifer MUNRO), sedangkan nama daerahnya, antara lain trieng betong (Aceh), pering betung (Lampung), awi betung (Sunda), deling petung · (Jawa). dan sebagainya. Bambu betung ini termasuk pohon dari suku Gigantochloa Dendrocalamus. Cirinya: merupakan pohon bambu yang sangat cegak, kuat merumpun, tingginya bisa sampai 30 meter, batang- batangnya tidak berjejalan dan buku-bukunya sangat jelas (Heyne. 1987 : 343) Menu mt Ari fin ( 19 : ')) bambu betung yang akan dipakai sebagai alas naskah Lampung harus direndam dalam air lebih dahulu untuk \'aktu yang cukup lama (perendaman ini akan membuat bambu menjadi ben\arna hitam) Setelah itu. ba ru bambu diangkat dan dijemur. untuk kemudian siap ditulisi.
c) Tanduk Binatang Tanduk binatang juga biasa digunakan ol eh orang Lampung dahulu sebagai bahan tulis menulis. Tanduk binatang yang dipilih

yang dibelah)

e) Kertas Jenis alas naskah yang juga cukup banyak dipakai untuk menulis naskah-naskah kuna Lampung adalah kertas. Meskipun selama penelitian di lapangan naskah-naskah kuna Lampung yang menggunakan bahan naskah kertas tidak diketahui jenis kertasnya, tetapi berdasarkan informasi Ricklefs dan Voorhoeve, naskah kuna Lampung juga ada yang bahan dasarnya kertas Eropa (lihat Ricklefs & Voorhoeve, 1977: 95).
6.3 A/at Tulis dan Tinta Sejalan dengan pengetahuan mengenai bahan naskah yang digunakan untuk menulis naskah-naskah kuna Lampung, perlu diketahui juga alat tulis yang digunakan untuk menulis bahan-bahan naskah tersebut. Apakah alat tulis yang digunakan dahulu sama atau berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Kemudian ba&aimana dengan tinta yang digunakan ·J Oleh karena sumber tertulis mengenai kedua hal ini sangat jarang, uraian di bawah ini adalah berdasarkan penjelasan dari para narasumber.
6. 3. 1 A/at Tulis Menurut infonnasi Arifin ( 19 : ·n bahwa alat tulis yang digunakan untuk menulisi bahan naskah Lampung ada dua macam. Setiap macam alat tulis digunakan untuk menulisi bahan naskah yang berbeda, tcrgantung pada sifat bahan naskahnya. Alat-alat tulis itu adalah sebagai berikut.
a) Lidi dari ijuk_ pohon enau (aren) Lidi dari ijuk pohon enau digunakan sebagai pena dalam menuliska1i aksara Lampung pada naskah yang bahan dasamya adalah

kayu halim. Lidi dari ijuk cnau ini discbut orang Lampung dengan istilah kemasi (Ari fin. 19 .. : 23)

Alat tulis dari lidi pohon arcn ini juga dikenal dan dipakai untuk menulisi p11 staha di Batak toba, ·dan naskah dluwang di Jawa, Sunda. Ban~U\"angi, dan Madura (Teygeler. 1993: 598. Pudjiastuti. 1994 : ')).

b). Lading lancip Lading /ancip artinya pisau yang tajam. Merupakan alat tulis berbentuk pisau kecil yang runcing dan tajam ujungnya. Lading lancip ini digunakan untuk menulisi naskah Lampung yang bahan naskahnya culrnp keras, seperti bambu, rotan. tanduk kerbau, tanduk sapi, dan tanduk menjangan. Jenis alat tulis berupa pisau kecil yang tajam ini juga dikenal di Bali. Alat tulis ini digunakan untuk menulisi lontar. yaitu bahan naskah traditional Bali yang berasal dari daun pohon ta! atau siwalan (Borassus jlabell~fer LINN). Di Bali alat tulis seperti ini dikenal dengan istilah pengutik. Untuk informasi lebih jauh mengenai lontar dapat dibaca pada karangan Ginarsa yang berjuduL The Lontar (Palmy ra) Palm (1975)

-/.. 3.2 Ti nta

Menurut Razi Arifin dan Said Arifin. tinta yang dipakai untuk menulis aksara di atas pada bahan naskah Lampungjuga cukup banyak macamnya, diantaranya adalah sebagai berikut.

a) Campuran buah deduruk dengan arang dan getah ka~u kuyung, Buah deduruk umumnya dikenal dengan nama buah tinta. Bentuknya kecil dan berwama birn keunguan serta agak lembut. Kalau buah itu ditekan akan keluar cairan berwama seperti tinta. Getah kayu kuyung adalah getah dari pohon kuyung. Menurut Heyne pohon ini sama dengan mcranti merah Nama Latinnya adalah .%orea Eximio SCHJ:FF (S' Sericeo Dyer. S S11hloc11nosa Schefi). sedangkan nama dacralmya adalah ka/11p (Indonesia), kclukup (Bangka), kuyung (S umatra Sclatan). meranti (Belitung), dan h111gknng daon (Lampung). Cirinya adalah pohon bcsar.

40 meter. dan gamangnya mencapai satu meter. Batang pohon ini bundar lurus. keras. dan awet. sedangkan teras kayunya berwarna coklat Pohon ini tumbuh di Sumatra Selatan, lebih kurang 400 meter di atas permukaan laut. Pohon ini mengeluarkan damar dalam jumlah besar yang keluar dari celah- celah kulit kayunya. Di Lampung, damar dari pohon ini dikenal orang dengan nama damar lungkong daon (Heyne. 198 7: 142 2). Getah yang dibuat dari campuran buah deduruk, arang dan getah kayu kuyung digunakan untuk menulis naskah kuna Lampung yang bahan naskahnya dari kulit kayu halim.

b) Campuran arang dengan buah serdang (Palm Kipas) Tinta jenis kedua adalah tinta yang juga dipakai untuk menulis naskah kuna Lampung yang alas naskahnya terbuat dari kulit kayu halim. Tinta jenis ini dibuat dari campuran arang dengan buah serdang. Menurut Arifin (19 : 24) yang dimaksud dengan buah serdang adalah buah dari pohon palm kipas. Berdasarkan informasi Heyne, pohon serdang adalah pohon palm kipas lampai. N ama Latinnya adalah Pholidocarpus Sumatrana BEC'C Ciri pohon ini tingginya mencapai 35 meter, batang kayunya sangat. keras dan awet. daunnya yang tua sangat baik untuk atap rumah. Pohon ini banyak terdapat di Sumatra Selatan, tumbuhnya secara berkelompok di atas tanah rawa-rawa bergambut (Heyne, 1987: 3 72 ). Sa yang Heyne tidak memberi keterangan mengenai sifat buahnya, sehingga buah serdang ini tidak dapat diidentifikasi secara lebih jelas.
c). Hapul dan kemiri bakar Jenis 'tinta' lain yang disebut oleh Said Arifin adalah hapul dan kemiri bakar: Kedua jenis "tinta · ini dipakai untuk naskah Lampung yang bahan naskahnya dari rotan, bambu. dan tanduk kerbau/ sapi/ menjangan. Sebenamya hapul atau kapur sirih dan kemiri bakar tidak termasuk jenis tinta karena pemakaiannya bukan dituliskan melainkan dilumurkan pada alas naskahnya. Akan tetapi, karena

yang ditorehkan pada alas naskah. maka keduanya dianggap sebagai tinta Pemakaian hapul atau kemiri bakar pada alas naskah yang terbuat dari rotan, ban1bu, atau tanduk binatang tergantung pada \Varna dasar bahan-bahan naskah tersebut. Apabila bahan naskah yang sudah ditulisi berwama hitan1 atau coklat, maka bahan ·tinta · yang dilumurkan adalah hapul. Sebaliknya, bila bahan naskah yang sudah ditulisi berwama putih. maka ' tinta ' yang dilumurkan adalah kemiri bakar.

d) T inta biasa Jenis tinta yang terakhir adalah yang sampai sekarang masih digunakan, yaitu tinta yang kita kenal sekarang. Jenis tinta ini umurnnya dipakai untuk menulis aksara pada naskah-naskah Lampung yang bahan naskahnya dari kertas biasa.
6.4 Isi Naskah Kuna Lampung Berdasarkan pengamatan dan wawancara selama penelitian di lapangan, serta lnforrnasi yang didapat dari hasil penelitian Tim Peneliti Museum Negeri Propinsi Lan1pung "Ruwa Jurai" tahun l 990 -l 992. isi naskah kuna Larnpung bermacarn-macarn. Akan tetapi, dalam hasil penelitian Tim Peneliti Museum negeri "Ruwa Jurai", pengertian mantra dan memang dirasakan sangat rancu. Padahal dalarn Kam us Besar Bahasa Indonesia (l 993 : 629), mantra berarti perkataan atau kata-kata yang dapat mendatangkan atau mengandung kekuatan gaib. Sementara itu, dari penjelasan Said Arifin, yang dimaksud dengan memang adalah doa dalam bahasa Lampung. Dengan demikian. jelas kedua kata itu sebenamya berbeda artinya. Oleh karena itu, dalam uraian ini mantra dan memang dipisahkan supaya terlihat jelas bedanya. Berikut adalah macam-macam isi naskah kuna Lampung yang dibagi dalam beberapa kategori
I) Mantra dan rajah (kha/ah) Dalam naskah kuna Lampung terdapat bermacam-macam mantra. seperti mantra pekasih (agar dicintai orang). mantra

penolak bala (agar selamat). mantra pembenci. mantra untuk mcngambil madu. mantra untuk mcngambil rotan. mantra untuk mengambil batu. mantra kekcbalan (terhadap senj ata tajam), dan sebagainya.

Mantra-mantra di atas biasanya dilengkapi dcngan gambar-gambar rajah atau khajah dalam bahasa Lampung. Rajah atau khq; ah adalah gambar-gambar abstrak yang berkonotasi magis, karena memang digunakan sebagai azimat (Depdikbud. 1991 I 1992 : 18). Kha1ah ada beberapa macam, yakni : khajah haban hakhah yai tu khajah untuk menjaga keselamatan agar terhindar dari penyakit dalam, kha;ah segugul (khajah penyakit wanita), khajah agar orang benci, khajah agar tidak diganggu hantu, khajah supaya mudah bergaul, khajah untuk ditempat angker, khajah penawar racun. khajah penolak teluh, khajah supaya tidak bertemu dengan harimau. khajah pcnyakit panas dingin. khajah untuk rumah agar seisin~ a selamat. Contoh naskah yang memuat gambar rajah (khajah) dapat dilihat pada naskah koleksi Museumnegeri Ruwajurai Nomor689. 1020. lampiran dan

2) Memang Seperti telah diungkapkan memang menurut Said Arifin adalah doa dalam bahasa Lampung. Memang yang terdapat dalam naskah kuna Lampung juga bermacam-macam. seperti : memang untuk bujang gadis agar saling mencintai, memang basa tiga be /as. yakni memang tiga belas permintaan kepada Maha Pencipta, memang untuk mencuri, agar yang dicuri terpukau. memang untuk mengobati orang yang kemasukan setan, memang haban kukha yaitu memang untuk mengobati dan mencegah agar orang terhindar dari penyakit kuning (lever), memang anak calang yaitu memang untuk mengobati anak yang menangis terus. memang agar bayinya cantik atau tampan, memang agar seorang ''anita tidak mempunyai keturunan. dan sebagainya. Contohnya adalah naskah koleksi Museum Negeri Lampung Ruwa Jurai nomor 27.

dan primbon

Selain mantra dan memang. naskah kuna Lampung juga ada yang berisi ramalan dan primbon. Dikatakan demikian,. karena berupa catatan tentang perhitungan waktu untuk bercocok tanam yang tergantung pada bintang. Contoh adalah naskah koleksi Museum Negeri Ruwa Jurai Nomor. 24 0.

4) Doa dalam bahasa Arab dan ajaran Islam N askah kuna Lampung selain berisi doa dalam bahasa Lampung juga ada yang memuat doa dalam bahasa Arab. Biasanya sekaligus juga memuat ajaran-ajaran agama Islam. seperti : ajaran tentang sifat 20, ajaran Is lam tentang hal-hal yang wajib dan terlarang. Umu tauhid, dan sebagainya. Contoh naskah bisa dilthat pada naskah kuna koleksi Museum Negeri Ruwa Jurai Nomor.240.
5) Silsilah Keturunan Menurut Said Arifin dan Razi A rifin, naskah-naskah kuna Lampung juga ada yang berisi masalah silsilah keturunan atau cikal bakal suatu wilavah tertentu.
6) Nasihat dan larangan Naskah-naskah kuna Lampung, menurut Said Arifin juga ada yang memuat nasihat atau petuah-petuah dan larangan.
7) Hukum adat dan adat istiadat Dalam khasanah pemaskahan kuna Lampung juga terdapat naskah-naskah yang memuat masalah hukum adat dan adat istiadat lampung. Sebuah contoh dari naskah kuna Lampung yang berisi masalah ini adalah naskah kuna yang berjudul Kuntara Ra;a N it i. Naskah kuna ini pemah diteliti oleh Ali Imron dan Razi Arifi n, peneliti dari Universitas Lampung Contoh dan model tulisan tulisan yang terdapat pada naskah ini dapat dilihat dalam lampi ran dan

Kan a sastra

Mcskipun naskah-naskah kuna Lampung tidak banyak yang bcrisi karya sastra. tetapi masih dapat kita temukan naskahnaskah kuna yang isinya mengandung nilai sastra yang memuat pantun- pantun. Seperti sejumlah naskah yang tersimpan di perpustakaan India dan SOAS. London (lihat Ricklefs dan Voorhoeve. 1977:95).

6.5 Penu/is Naskalt don Hurufyang Dipakai

6 5. 1 Penulis Naskah

Masalah siapakah penulis naskah-naskah kuna Lampung sebenarnya belum dapat dipastikan. Sebagian narasumber mengatakan bahwa penulis naskah kuna yang isinya berupa mantra, memang. dan cara pengobatan adalah para dukun Tetapi yang lain lagi mengatakan bahwa apapun isi naskah Lampung. penulis naskah kuna tetap seorang pecalang atau petugas yang mempunyai tugas khusus sebagai penulis naskah. Pecalang ini menulis naskah karena perintah seorang penguasa yang pada masa dahulu mungkin seorang pangeran atau kctua adat Kedudukan peca /ang mi dalam budaya Jawa dapat disamakan dengan pujangga (pengarang istana)

6. 5. :! H uru fyang Dipakai Pada kenyataannya huruf-huruf yang digunakan untuk menulis naskah-naskah kuna Lampung bukan hanya had Lampung melainkan juga ada beberapa huruf lainnya. Huruf-huruf yang terdapat dalam naskah-naskah kuna Lampung adalah
a) Aksara Lampung atau Had Lampung. Aksara Lampung atau had Lampung kebanyakan ditulis di atas naskah kuna Lampung yang alas naskahnya dari semua jcnis bahan naskah yang ditemukan di Lampung. sepcrti : kulit kayu alim. bambu. rotan. tanduk sapi. tanduk kcrbau. t:mduk mcnjangan. dan kcrtas.

yang menggunakan aksara Arab untuk menulis teksnya tidak begitu banyak. Umumnya aksara Arab digunakan untuk menuus teks-teks ajaran agama Islam dalam bahasa Arab. Aksara ini dapat ditemukan pada naskah-naskah kuna Lampung yang bahan dasarnya dari kulit kayu halim atau kertas.

c) Aksara Jawi Aksara Jawi, yaitu aksara Arab bahasa Melayu. Aksara Jawi umumnya ditemukan pada naskah-naskah kuna Lampung yang alas naskahnya dari kertas dan isinya tentang pantun-pantun.
d) Aksara Peg on Jika aksara Jawi adalah aksara Arab bahasa Melayu, maka Pegon adalah aksara Arab bahasa daerah. Untuk aksara pegon yang ditemukan di Lampung adalah aksara. Arab yang bahasanya Jawa Banten atau Lampung. Aksara Pegon meskipun juga tidak begitu banyak ditemukan dalarn naskah-naskah kuna Lampung tetapi masih dapat kita jumpai juga. Aksara ini biasanya ditemukan pada naskah kuna yang bahan dasarnya dari kertas. Sebuah contoh pemakaian aksara pegon dalam naskah kuna Lampung adalah naskah Kuntara Raja Niti.
6.6 Tempat Penyimpanan Naskah Kuna Lampung Secara umum dapat dikatakan bahwa tempat penyimpanan naskah kuna Lampung ada di dua tempat, yaitu di masyarakat dan di lembaga- lembaga pemerintah.
6. 6. J Masyarakat Naskah-naskah kuna Lampung yang ada di masyarakat biasanya disimpan oleh para ketua adat p11nyimbang pangeran. dan dukun. Naskah-naskah kuna yang berisi silsilah. doa dan ajaran agama Islam, petuah/ nasihat/larangan. adat istiadat dan hukum adat biasanya disimpan oleh para ketua adat. punyi mbang, dan pangeran. Sedangkan naskah-naskah kuna yang berisi mantra, memang. ramalan, dan primbon dis impan oleh para dukun.

yakin betu l bah\ a mereka mengena l kita atau tahu bahwa kita mampu membaca tuli san yang tcrdapat dalam naskah-naskah kuna mcrcka

6. 6. 2 L embaga Resmi Mencari naskah-naskah kuna Lampung yang lcbih mudah bisa ki ta tempuh dengan mengunjung i beberapa lembaga resmi yang mcnyimpan naskah-naskah kuna tersebut. Beberapa lernbaga yang dapat disebutkan sebagai tempat yang menyimpan naskah-naskah kuna Lampung adalah sebagai berikut.
a) Museum Negeri Propinsi Lampung '·Ruwa Jurai·'. Menurut informasi petugas setempat, di museum ini tersimpan lebih kurang 20 naskah kuna Lampung dari kulit ka)U.
b) Perpustakaan Nasional Jakarta Mcnurut informasi lmron dan Ari fin ( 199 1 • 6 5), Museum Nasional menyimpan sekitar 200 naskah kuna Lampung. T etapi sejak tahun 1988 Naskah-naskah itu telah dipindahkan dan dis impan di Perpustakaan Nasional Jakarta.
c) Perpustakaan Uni versitas Leiden (UB), Belanda Bcrdasarkan penelitian mengena i naskah kuna Lampung yang dilakukan oleh van der T uuk (1 868) dapat diduga naskahnaskah kuna Lampung yang tersimpa n di Perpusta kaan Universitas Leiden, Bclanda cukup banyak. Akan tetapi. karena infom1asi mcngenai hal ini belurn didapatkan. maka jumlah naskah kuna Lampung yang bcrada di sana belum dapat diperkirakan.
d) Perpustakaan India (India office Library). London Bcrdasarkan in forma si Ricklefs dan Yoorhoeve ( 1977). pcrpustakaan India juga menyimpan sebuah naskah kuna Lampung. Naskahnya beri si pantun. dalam bahasa Lampung dan

Jawi. Bahan naskalmya disebutkan kertas Inggns dengan cap kertas : .. Kingsford 1808" '.

e) Perpustakaan SOAS (School of Oriental and African Studies). London. J ika perpustakaan India hanya menyimpan satu buah naskah. maka perpustakaan Soas menyimpan lima naskah kuna Lampung. Dua dari lima naskah itu menggunakan bahan naskah kertas Eropa, sedangkan sisanya tidak dijelaskan identitasnya (Ricklefs dan Voorhoeve, 1977 : 95).
6. 7 Peneliti dan Basil Penelitian Masalah bahasa dan aksara Lampung cukup banyak menarik perhatian para peneliti untuk menggelutinya, tidak demikian halnya dengan naskah kuna Lampung. Para peneliti yang telah meneliti naskah Lampung masih sangat sedikit jumlahnya. Hal itu disebabkan sumber tertulis sulit diperoleh. Namun demikian, dari yang sedikit itu kita masih dapat mengetahui dan membaca hasil laporan dari beberapa orang peneliti naskah kuna Lampung tersebut. Berikut adalah beberapa peneliti yang pemah menyibukkan dirinya menggeluti naskah-naskah kuna Lampung dan informasi singkat hasil penelitiannya. ,,
1) Van der Tuuk Peneliti pertama yang patut disebut namanya dalam masalah naskah kuna Lampung adalah van der Tuuk. Karangan yang merupakan hasil penelitiannya itu telah diterbitkan dengan judul Les manuscrits Lampongs. en Possesion de M. Le Baron S!oet van de Beele. pada tahun 1868. Ia meneliti enam naskah kuna Lampung yang menjadi milik M. Le Baron Sloet van ·de Beele, 9ubemur Jenderal Hindia Belanda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keenam naskah yang ditelitinya memiliki gaya tulisan yang berbeda. Menurut perkiraan van der Tuuk. variasi bentuk tulisan itu muncul karena pengaruh zaman.
2) Said Arifin Said Arifin adalah peneliti yang juga punyimbang adat, gelarnya adalah Raja Perbasa la dapat membaca dengan baik bermacam-

brcna itu ia rnenjadi anggota Tim pencliti naskah-nash:ah kuna Lampung Museum Ncgcri Propin s1 Lampung Rtma 1urai Beberapa hasil penelitian yang diker1akan bersama dcngan t11n pcncliti lainnya adalah alih aksara dan ter_1emahan ernpat naskah kuna Lampung yang tcrsimpan di Museum negen Ruwa Jurai. Kcempat naskah itu adalah naskah-naskah bernomor 27. 240. 689. dan I 02 0 yang dikcrjakan sclama tahun l 990 -199 2.

3) Ali lmron dan Razi Ari fin Kcduanya pcneliti dari Uni\'ersitas Lampung ini telah rneneliti naskah kuna yang bcrjudul Kuntara Raja Ni ti. Laporan penelitiaimya dibcn Judul ·· Kuntara Raja Niti (Transkripsi Naskah Kuno dan Analisis Sejarahf Naskah kuna Kunrara Rajaniti yang diteliti Ali lmron dan Razi Arifin adalah naskah kuna milik Hasan Basri yang bergelar Radin lmba Kusuma dari kampung Kuripan, kecamatan Penengahan. Lampung Selatan. Naskahnya ditulis dengan dwi aksara, yaitu pegon (tulisan Arab bahasa Jawa Banten) dan had Lampung kuna bahasa Lampung Dari bentuk tulisannya, kedua peneliti ini memperkirakan bah\a tulisan pada naskah itu adalah gaya tulisan Lampung abad 15 -18. Menu rut mereka. naskah Kuntara Raja Ni ti ini sebenamya terdiri dari tiga teks. yaitu : Kunrara. artin~a yang ditemukan. merupakan kitab undangundang yang berlaku di Majapahit: Ra/anitr. artinya yang jadi penyebab rnenjadi undangundang di Pajajaran: J11g11/m11da. artinya mencari latar belakang, merupakan undangundang yang berlaku di Lampung.

PANDANGAN MASYARAKA T LAMPUNG KINI TERHADAP AKSARA DAN NASKAH KUNA LAMPUNG

7.1 Pandangan Negatif Imron dan Arifin dalam laporan hasil penelitian mereka mengatakan bahwa aktivitas manusia yang saling berinteraksi dalam berkomunikasi, sering menimbulkan gagasan dan konsep baru. Beberapa di antaranya bahkan ada yang mendapat tempat dalam adat dan sistem budaya manusia yang saling berinteraksi dan berkomunikasi itu. Bagaimanakah halnya dengan aksara dan naskah kuna Lampung ? Pada masa lalu, keduanya memang merupakan sarana masyarakat Lampung asli untuk sating berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi bagaimanakah nasibnya kini ? Dari pembahasan sebelumnya, sedikit banyak telah tersirat masalah-masalah yang berhubungan dengan aksara dan naskah kuna Lampung. Namun, secara khusus keterkaitan masalah aksara dan naskah kuna Lampung dengan pandangan masyarakat Lampung asli masa kin ! akan dibicarakan dalam bab ini. Berdasarkan kenyataan yang terlihat di lapangan, ada beberapa ha! yang patut dicatat dan diperhatikan. Adanya perbedaan keadaan masyarakat Lampung masa lalu yang menganggap aksara dan naskah kuna Lampung sebagai sesuatu yang sangat dihargai di satu pihak dengan masyarakat Lampung masa kini

Oleh karena itu. tidak mengherankan apabila para pemerhati aksara dan naskah kuna Lampung pada saat ini merasa ditinggalkan oleh masyarakatnya kini. Namun demikian, dari kebanyakan masyarakat Lampung asli yang ·dianggap · sudah tidak perduli lagi pada keadaan aksara dan naskah kuna Lampung itu, masih dapat dijumpai sejumlah orang Lampung asli yang justru sangat perduli dan berusaha untuk tetap mel estarikannya. Di tengah situasi yang kontradiktif ini akan kita lihat bagaimana sesungguhnya pandangan masyarakat Lampung asli kini terhadap aksara dan naskah kuna yang menjadi milik mereka.

Pandangan negatif terhadap aksara dan naskah kuna Lampung umumnva diperoleh dari kalangan muda. Kebanyakan mereka bersikap tidak perduli pada keadaan aksara Lampung. Ketidakperdulian itu tercermin dalam sikap, sebagai berikut.

a) enggan mempelajarinya
b) menganggapnya tidak penting
c) tidak sesuai lagi dengan zaman. Kesederhanaan, kelmvesan. dan kepraktisan aksara Latin tidak dapat dipungkiri telah menggantikan eksistensi aksara Lampung. Nanmn demikian. sangat disayangkan kalau kalangan muda tidak lagi mau perduli kepada aksara milik bangsanya sendiri. Adapun pandangan mereka mengenai naskah kuna Lampung lebih menyedihkan lagi. karena kebanyakan mereka tidak mengetahui atau tidak menghargainya sebagai benda budaya yang menyimpan informasi penting. Ada dua sikap yang dapat ditarik dari kesan mereka terhadap naskah kuna. Pertama. adalah sikap takut dan menganggapnya sebagai benda keramat. Pada kalangan muda yang tidak mengetahui dan tidak dapat memanfaatkannya, naskah kuna hanya dianggap sebagai benda keramat. Akibatnya, naskah kuna akan disimpan atau diserahkan kepada orang lain yang dianggap mampu mera\atnya. Kedua. adalah sikap memanfaatkan untuk mencari keuntungan. Sikap ini lebih bcrbahaya dari yang pertama, karena mereka sadar bahwa scbagai bcnda kcramat. naskah kuna merupakan

yang mcmiliki nilai jual ~ang tinggi Akibatnya_ scbagian naskah kuna pindah tcmpat kc toko-toko barang antik yang bukan saja di Lampung tctapi juga di Jakarta dan dijual dcngan harga cukup tinggi.

Pandangan kalangan muda yang bcrkesan negatif tcrhadap aksara dan naskah kuna Lampung agaknya tidak bisa dilepaskan dari peranan orang-orang tua di kalangan masyarakat lampung scndiri. Keadaan serba canggih dan tuntutan pemcnuhan kebutuhan materi telah melclahkan mereka untuk membagi -,, ari san budaya-yang dimiliki kepada generasinya yang lcbih muda. Aki batnya. ter:jadi kesenjangan pemaha man budaya diantara generasi yang tua dan muda. !tu sebabnya. tidak mudah memperoleh naskah kuna Lampung di masyarakat karena orang tua-tua yang menyimpan atau memilikinya bersikap sangat menghargai. Mereka kha\vatir benda budaya penyimpan informasi berharga itu akan diperlakukan dengan cara yang kurang baik oleh orang-orang yang tidak mengetahuinya.

  1. 2 Pandangan Positif Di antara masyakarat Lampung kini yang berpandangan negatif atau tidak perduli terhadap aksara dan naskah kuna Lampung masih a da lingkungan atau individu yang berusaha menjaga dan melestarikannya. Berbagai cara diusahakan agar aksara dan naskah kuna Lampung tetap eksis di kalangan masyarakatnya sendiri Beberapa hal yang pantas disampaikan adalah sebagai berikut
    I) Adanya program pemerintah untuk memasukkan aksara daerah sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Diharapkan_ dimasa yang akan datang_ pandangan kalangan muda Lampung terhadap aksara Lampung akan berubah.
    2) Munculnya perlombaan membaca dan menulis aksara Lampung, seca ra tidak langsung tclah menggairahkan minat generasi muda Lampung untuk kembali sadar akan kekayaan budaya mereka
    3) Di kccamatan Labuhan Maringgai _ Lampung Tcngah terdapat scbuah upacara tradisional membaca naskah kuna untuk upacara yang bcrkenaan dcngan masalah lingkaran h1dup manusia (life cycle).

para du kun yang tetap mcnggunakan aksara dan membaca naskah kuna Lampung untuk keperluan kcscphtcraan masyarakat itu scndiri. sepcrti mcngobati orang sakit dan lain scbagainya.

5) Kcbanyakan p11ny1111hang. ketua adat dan pc\rnris kcdudukan adat lainnya tctap menjaga kepandaian mereka menuhs dan membaca aksara Lampung scrta menyimpan dengan baik naskah-naskah kuna yang mereka miliki. Karena kcdua hal itu sekaligus dapat dijadikan scbagai bukti kcmampanan kedudukan mereka di dalam adat.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dibicarakan di atas kiranya perlu disadari bahwa mempelajari dan menekuni masalah budaya Lampung masih banyak yang harus dikerjakan. Bukan hanya masalah bahasa, adat istiadat, dan masyarakatnya yang patut dibahas melainkan juga masalah lain banyak yang perlu ditangani.

Masalah aksara Lampung dan naskah kunanya sesungguhnya merupakan lahan subur yang sampai kini tetap sebagai hutan belantara yang belum banyak digali. Terbukti dari masih sangat sedikitnya sumber tertulis mengenai ha! ini. Oleh karena itu, penelitian mengenai aksara dan naskah kuna Lampung sebaiknya lebih digencarkan lagi.

Masalah bentuk aksara yang dikemukakan oleh van der T uuk dan Said Arifin yang mengatakan bahwa variasi gaya tulisan disebabkan oleh pengaruh zaman, kiranya tidak cukup diterima begitu saja. Penelitian paleografis sangat diperlukan untuk mendukung pendapat

  1. Demikian juga penuturan Said Arifin mengenai cara-cara penulisan had lampung yang dikenal oleh kalangan muda-mudi Lampung di masa dahulu. kiranya perlu dibakukan. Perlu disadari bairn a apa yang telah terjadi di masa lalu hampir tidak dikenal lagi pada masa kini, sementara hal itu merupakan sesuatu yang sangat bernilai. setidaknya menunjukkan tingkat kreatifitas masyarakat pada masa lalu.

Pcnelitian naskah kuna Lampung perlu dilakukan yang lcbih giat lagi. Sesungguhnya masih banyak naskah kuna Lampung yang belum tcrgarap sehingga infonnasinya pun masih tetap tersimpan. Masalah isi naskah, sampai sekarang masih banyak yang belum diketahui. apalagi masalah bahan dan cara pembuatannya, ramuan tinta yang dipakai, dan lain-lainnya, semua masih menunggu uluran tangan para peneliti.

Kcadaan ini menjadi semakin genting karena para narasumber yang dapat dijadikan tumpuan sumber informasi telah semakin langka dijumpai. Saat ini sudah tidak banyak lagi orang Lampung asli yang dapat diharapkan mampu memecahkan persoalan ini. Kebanyakan orang-orang tua, meskipun sebenarnya masih menguasai tulisan aksara Lampung lama tetapi karena sudah lanjut usia mereka tidak mampu lagi membaca tulisannya.

Berdasarkan hal-hal di atas, sekarang terpulang pada para peneliti aksara dan naskah kuna Lampung itu sendiri. Karena mereka harus berlomba dengan waktu, akankah segera bekerja untuk dapat mengabadikannya atau membiarkan semua tetap tinggal dalam kegelapan.