i;,epartemen P dan K Ttd k di rdagar gkan Untuk mum
Babad Timbanganten
Museum Nasional
n Dlrektorat ' endidikan dan Kebudayaan ·tbudayaan
.222 w
']. ) (~ ' ) ( ~ .· : "
f.\ .. \
MUSEUM NASIONAL
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PROYEK PENERBIT AN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1982
- Pangkur .......................................... 69
..
Naskah Wawacan Babad Timbanganten dengan nomor kode Pit. 37 ini diambil dari koleksi Museum Nasional, yang tersimpan dalam peti-peti dan belum dikatalogisasi. Ditulis dengan huruf Latin, bahasa Sunda, berbentuk puisi (wawacan). Ukuran 34 x 20,5 em, 32- 33 baris, 57 halaman. Kertasnya masih baik tulisan jelas terbaca. Isinya menceritakan tentang Ratu Pasehan dari Timbanganten yang meminta seorang putra prabu Siliwangi untuk dijadikan penggantinya kelak. Cerita tentang Ratu Pasehan ini terdapat pula dalam naskah Pit. 42 yaitu yang menceritakan tentang silsilah para bupati Bandung. Cerita tentang Ratu Pasehan dalam Silsilah para bupati Bandung itu agak berbeda dengan Wawacan Timbanganten. Dalam Silsilah para bupati Bandung, ia bernama Dalem Pasehan dan merupakan salah seorang keturunan raja Babar Buwana dari Timbanganten. Dalem Pasehan mempunyai 6 orang putra dan seorang putri yang bernama Maraja lnten Dewata yang kemudian kawin dengan prabu Siliwangi dari Pajajaran. Sedangkan dalam Wawacan Babad Timbanganten, Ratu Pasehan disebutkan tidak mempunyai putra. Kemudian ia mendapat salah seorang putra prabu Siliwangi yang akan dijadikan penggantinya kelak. Ratu Pasehan mempunyai seorang adik perempuan bernama Maraja Inten Dewata yang kawin dengan prabu Siliwangi. Disebutkan pula tentang Sunan Burung Baok, yaitu salah seorang putra prabu Siliwangi yang buruk perangainya. Mula- mula ia diserahkan kepada Ratu Pasehan untuk dijadikan penggantinya kelak.Namun karena perangainya buruk lalu ia dihukum oleh Ratu Pasehan. Pada akhir cerita, Sunan Burung Baok bertaubat dan menjadi pemuda yang baik. la diganti namanya menjadi Gagak Lumayung atau Prabu Santang Pertala. Sedangkan dalam Silsilah para bupati Bandung, ia bernama Ratu Burung Baok dan tidak disebutkan menjadi Gagak Lumayung atau Keyan Santang. Walaupun dalam naskah ini banyak terdapat cerita mito-
NO. NASKAH: PLT. 37
Isinya :
Menceritakan tentang negeri Timbanganten yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran yang mempunyai raja bematna Ratu Pasehan. Baginda mempunyai seorang adik perempuan. yang menikah dengan Prabu Siliwangi dari Pajajaran, bemama Gusti Ayu Lara Ratu Maraja Inten J:?ewata. Adapun Ratu Pasehan ini tidak dikaruniai putra walau pun baginda sudah lanjut usianya. Karena merasa khawatir tidak ada yang akan menggantikannya kelak di atas tahta, Ratu Pasehan minta bantuan Prabu Siliwangi agar memberikan salah seorang putranya. Segera dikirim seorang utusan ke Pajajaran untuk menyerahkan sepucuk surat kepada Prabu Siliwangi. Setelah utusan itu tiba di Pajajaran, mereka disambut oleh Prabu Siliwangi serta segera dibaca sura"£ dari Ratu Pasehan itu. Prabu Siliwangi dapat menyetujui permintaan saudara iparnya itu dan segera bermusyawarat dengan patih Arga, siapa yang akan diserahkannya. Kemudian diputuskan, bahwa Prabu Siliwangi akan memberikan seorang putranya yang bemama Sunan Burung Baok atau Jebih dikenal dengan sebutan Pangeran Brahma. Penunjukan itu berdasarkan atas pertimbangan, bahwa selama ini tingkah laku Pangeran Brahma sangat menyusahkan Prabu Siliwangi serta banyak merugikan rakyat Pajajaran. Tingkah laku Pangeran Brahma itu sangat buruk. Ia suka menyiksa rakyat tanpa dosa, tidak mendengarkan nasehat raja, dan selalu menimbulkan keri- butan dalam istana. Ia hanya takut kepada patih Arga. Menurut cerita, Pangeran Brahma ini adalah putra Prabu Siliwangi dengan seorang putri jin, yang kemudian menyerahkan putranya itu kepada baginda untuk dipelihara. Prabu Siliwangi mem- beri nama kepada putranya itu Sunan Burung Baok atau Pangeran Brahma. Sebagai keturunan dari seorang jin, Pangeran Brahma memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun di samping itu ia
Prabu Siliwangi sangat susah hatinya memikirkan kelakuan Pangeran Brahma selama ini. Oleh karena itu dengan adanya permintaan dari Ratu Pasehan, hati Prabu Siliwangi sangat gembira, seolah-olah m'Cndapat jalan untuk melepaskan Pangeran Brahma dari tanggung jawabnya. Kepada Pangeran Brahma, baginda memberitahukan maksud Ratu Pasehan serta menasehatkan putranya itu agar merubah kelakuannya yang buruk, agar kelak menjadi raja yang adil dan bijaksana. Pacta hari yang telah ditentukan, Pangeran Brahma dengan diiringkan oleh Patih Arga berangkat menuju Timbanganten. Kebetulan pada saat mereka tiba di Timbanganten, Ratu Pasehan sedang dihadap oleh para pembesar istana. Kemudian patih Arga menyerahkan surat Prabu Siliwangi serta menyampaikan pesan baginda bahwa Ratu Pasehan berhak sepenuhnya mendi- dik Pangeran Brahma dan menghukumnya bila membuat kesa- lahan. Setelah dijamu makan dan minum secukupnya, Patih Arga ber- mohon kepada Ratu Pasehan akan kembali ke Pajajaran. Pangeran Brahma menetap di Timbanganten dan dipersiapkan untuk menjadi raja, mengantikan Ratu Pasehan kelak. Setelah 3 minggu berada di Timbanganten, Pangeran Brahma dipanggil oleh Ratu Pasehan untuk diberi beberapa wejangan. Karena se\:lagai cal on raja yang besar, Pangeran Brahm a harus memiliki ilmu dan moral yang tinggi. Tidak cukup hanya mempunyai ilmu kesaktian saja, tapi ia juga harus berbudi luhur, mematuhi tatakrama dan adat istiadat istana, harus selalu melindungi rakyatnya, harus sabar menghadapi hasutan-hasutan, dan juga jangan bersikap sombong serta ta- kabur. Pokoknya, sebagai seorang raja, ia harus memerintah rakyatnya dengan adil dan bijaksana, sehingga rakyat merasa hi- dupnya tentram dan damai. Namun rupanya semua nasehat Ratu Pasehan itu tidak ada yang meresap kedalam hatinya. Ini terbukti beberapa hari kemudian, ketika Pangeran Brahma dititahkan keliling negeri oleh baginda.
Pangeran Brahma semakin murka dan mengancam akan membunuh mereka. Kejadian itu segera dilaporkan kepada Ratu Pasehan, karena menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat. Oleh baginda, Pangeran Brahma diberi hukuman dengan jalan menitahkan masuk ke dalam sebuah gua dan berdiam di sana selama 40 hari. Hukuman ini dimaksudkan agar Pangeran Brahma menjalani tapa selama 40 hari. Namun berkat kesaktiannya, Pangeran Brahma dapat melari- kan diri ke Pajajaran melalui lorong gua itu. Setiba di hadapan Prabu Siliwangi, Pangeran Brahma mengadukan halnya kepada baginda. Ia memfitnah Ratu Pasehan dengan mengatakan telah menghukum dia dengan sewenang-wenang. Rupanya Prabu Siliwangi terkena hasutan putranya itu serta lupa akan janjinya dahulu; baginda menjadi murka kepada Ratu Pasehan serta me- merintahkan untuk membawanya ke Pajajaran. Untunglah datang pertolongan dari ayah Ratu Pasehan yang sakti serta bantuan patih Arga sehingga Ratu Pasehan dapat terhindar dari hukuman Prabu Siliwangi. Bantuan patih Arga adalah mengingatkan kembali janji Prabu Siliwangi kepada Ratu Pasehan, bahwa baginda tak akan ikut campur lagi dalam urusan Pangeran Brahma. Akhirnya Prabu Siliwangi insaf dan mengakui kekhilafannya itu. Baginda berjanji akan menyerahkan putranya yang masih berada dalam kandungan permaisuri Maraja Inten Dewata kepada Ratu Pasehan. Putra inilah yang kelak akan menjadi raja di Timbanganten, menggantikan Ratu Pasehan. Beberapa lama kemudian, Maraja Inten Dewata melahir- kan seorang putra yang sangat tampan dan diberi nama Raden Sunan Panggung. lbunya mengharapkan, Raden Sunan Panggung akan menjadi seorang raja besar yang berbudi luhur, adil dan bijaksana memerintah rakyatnya. Ketika Ratu Pasehan mendengar berita kelahiran itu, baginda
pepnaisuri Maraja Inten Dewata. Dan menetaplah Raden Sunan Panggung di Timbanganten, di- didik akan menjadi calon raja. Setelah dewasa, ia dinikahkan dengan putri patih Imbang Jaya dan menggantikan Ratu Pasehan menjadi raja di Timbanganten. Diceritakan pula tentang Pangeran Brahma yang kini telah insaf dan mematuhi segala perintah Prabu Siliwangi. Oleh baginda, Pangeran Brahma dititahkan menaklukkan Baraja Denda yaitu raja dari Galuh. Baraja Denda ini tidak mau mengakui kekuasaan Prabu Siliwangi. Denda, Pangeran Brahma
| Sebelum | pergi menaklukkan Baraja |
|---|---|
| diganti namanya Pert ala. | menjadi Gagak Lumajang atau Prabu Santang |
| Akhimya Gagak | Lumajang dapat menaklukkan Baraja Denda |
serta menyerahkan kerajaan Galuh kepada Prabu Siliwangi. Pada waktu itu, Gagak Lumajang masih beragama Hindu. Selanjut- nya ia menjadi tumpuan kekuatan dari kerajaan Pajajaran, karena ia mempunyai kesaktian yang luar biasa. Pada akhir cerita disebutkan bahwa permaisuri Maraja lnten Dewata dengan Prabu Siliwangi masih mempunyai dua orang putra lagi, yaitu seorang putri yang bemama Rara Santang dan seorang putra bemama Raden Walang Sungsang. Mereka semua- nya menetap di kerajaan Pajajaran.
Jakarta, Maret 1983
PUPUH ASMARANDANA
- Kaula mimiti muji, nyebut jenengan Pangeran, nu murah ka mahluk kabeh, bumi langit jeung eusina, sawargajeung naraka, ngan Gusti Allah nu agung, nu teu aja papadana.
2. Jeung mugi ka para Nabi,
kakasihna Gusti Allah, jeung para sahabat kabeh, jeung para Wali sadaya, seja nyuhunkeun sapaat, rehna bade mangun catur, ngadadar dongeng baheula.
3. Mugi ageng pangaksami,
nu ngaos _iyeu carita, jeung nu ngadangukeun oge, mugi ageng pala marta, dunya dugi ing aherat, sareng rebu unjuk nuhun, ka sadaya anu maca,
- Ari iyeu nu digurit, carita jaman baheula, Aya hiji nagri gede, Timbanganten nagarana, rajana Sultan Pasehan, yuswana geus tengah tuwuh, kaereh ku Pajajaran.
- Ku Perebu Siliwangi, ka purba ka parentahna, ka jiwa bumi sakabeh,
Pasehan, ratu jroning manah ngang-luh, rehna teu kagungan putra.
- Kagungan saderek istri, sahiji didama dama, enggeus kagungan carage, nya Perebu Pajajaran, ari jeneng anana, Gusti Ayu Lara Ratu, Maraja Inten Dewata,
7. Ari dina mang-sa hiji,
eta Sang ratu Pasehan, kagungan manah rumaos, yen geus sepuh salirana, taya nu baris narima, ngagentos jumeneng ratu, di Timbanganten nagara.
8. Lajeng ngutus hiji mantri,
ka nagara Pajajaran, jalma nu baleg perlente, serta bari maw a surat, nyuhunkeun dipasihan, nu baris jumeneng ratu, ngagentos anjeunanana.
9. Ungelna serat ditulis;
" Konjuk ka ing kangjeng gusti, Perbu Pajajaran katon, ingkang mangkon karajaan, saubeng ing carita, ingkang kasebut wong mantun, kasusarab jana priya,"
- Kaula-nun abdi gusti,
"Sumeja unjuk uninga, rehing abdi enggeus kolot, rumaos kirang tanaga, sinareng teu gaduh anak, geus rumaos diri gabug, sumeja ngambangkeun kersa."
- Sakitu ungeling tulis, Mantri Pasehan geus linggar, di margina teu dicrios, Ka-kocapkeun enggeus dongkap, ka nagara Pajajaran, geus marek ka payun Perbu, ratu kasondong keur lenggah.
- Kangjeng Perbu Siliwangi, seug mariksa ka nu dongkap: "utusan ti mana maneh?" Mantri utusan unjukan : "dawuh parios Sang Raja, abdi gusti kaulanun, ngabantun komara raka."
- ''Ti Timbanganten nagari, sumedja nyembahkeun serat." Enggalna eta Sang Katon, mundut serat ti utusan, Enggal mantri baktos serat, geus katampi ku Sang Perbu, enggalna serat dibuka.
- Teras diaos sakali, saungeling lebet serat, ku Sang Perbu geus kahartos, mundut keur ipukan menak, di Timbanganten nagara, Enggalna eta Sang Perbu, geus nyaur Papatih Arga.
Hal. 4
15., Engga1na eta Den Patil1, geus marek payuneun raja, Sang Siliwangi nyarios: "he Arga Taji Malela, iyeu kadongkapan serat, ti akang Pasehan Ratu, mundut keur ipukan menak."
16. Di Timbanganten nagari, ayeuna kuma rempugna, anu pantes mangkon kraton, di Timbanganten nagara." Cong piunjuk Patih Arga, ngiring sakersa Sang Perbu, teu hilap kersa Sang Raja. 1 7. Enggal Perbu Siliwangi "kumaha mun anak urang, eta Sunan Burung Baok, tatapi eta je1ema, aya ge di Pajajaran, eta saumuma hirup, matak barobah nagara.
18. "Be yak karep nya cilimit, henteu beunang ku pangwarah, wani ka budak ka kolot, telenges jeung ham pang tangan, bedegong taya ka gila, mana ayeuna teh sukur, aya nu butuh keur menak."
19. Kudu pasrahkeun ku patih, ka akang Ratu Pasehan, sin a diwarah nu angot, sugan ari di ditu mah
Hal. 5 "di jero pangumbaraan, sugan ka pangwarah turut, lamun teu beunang diwarah."
- "Akadkeun bae sakali, ka akang Ratu Pasehan, iyeu lamun masih bangor, teu turut kana pangwarah, hirup ge taya gunana, pasrah diterapan hukum, dumugi ka ditelasan.''
- "Kitu akadkeun ku patih, tah kitu akang saksian, eta kapasrahan hati." Den Patih unjuk : "Sumangga, sareng nyaksi tekad raja, di ahir alam kapayun, mun aya kitu kiyeuna."
- Patih Arga anu nyaksi, Teu lami deui waktuna, geus disaur Burung Baok. Teu lami jol ngadeuheusan, eta ka payun ramana, brigidig taya kabau, ta ka gila ku menak,
- Taya ka siyeun ka isin, najan ku sentor ramana, jeung ku Sunan Burung Baok, geus henteu dipikaserab, ngan aya oge ~yeunna, ku Patih Arga mah taluk, nu matak miwarang eta,
- Enggal Perbu Siliwangi, seug ngadawuhan ka putra,
"He maneh Sunan Barahma, maneh teh kudu iskola, jaga pageto kapayun, di Timbanganten nagara."
2 5. "Lamun turut sarta rnikir, jro iskola ka-menakan, maneh tangtu jadi katon, di Timbanganten nagara, eta teh nagara tengah, nagri kaliung kasiput, ku patih maneh dijajap."
- Pangeran Brahma ngalahir, ka rama : "Unjuk sumangga." Eta Sunan Burung Baok, barang geus unjuk sumangga, teu lami deui waktuna, ti Pajajaran geus kondur, sareng Arya Patih Arga.
- Jeung ka tilu eta mantri. Teu kawarti di jalanna, gancang ing nu mangun crios, geus sumping ka nagri tengah, ka Timbanganten nagara, kasondong Pasehan Ratu, eukeur lenggah di pamengkang,
- Keur dideuheusan ku patih, ngaran Patih lmbang Jaya, Ratu Pasehan ngaseret, ka Papatih Paj~jaran, Geuwat dipapag ka latar, jeung Imbang Jaya teu kantun, nu sumping sami dihormat.
Patih Arga geus gek calik, ngarendengjeung Imbang Jaya, tilu Sunan Burung Baok, Piunjuk Den Patih Arga: "Abdi teu kantos dipriksa, nu mawi marek ka ratu, ngemban dawuh kangjeng raja."
- "Kangjeng Perbu Siliwangi, nyembahkeun sahiji putra, yeu Pangeran Burung Baok, buwat pimenakeun teya, di Timbanganten nagara, sinarengjangji sang Perbu, abdi dalem nyaksi pisan."
- "Lamun di barang-kang-kalih, kitu kiyeu tuwang putra, iyeu Sunan Burung Baok, henteu turut ka piwejang, kana marga bener teya, upama lakuna burung, gusti ulah asa-asa."
- "Najang ditelasan pati, balik ngaran ka Pakuan, iyeu Sunan Burung Baok, kantenan katampi suka, kitu dawuh Sri Nalendra." Ku Raden lmbang kadangu, nyaksi kecap Patih Arga.
- Ratu Timbanganten Aji, geus nguping Papatih Arga, nampi pangistren Sang Katon, Dawuhan Ratu Pasehan:
Pangeran Anom Barahma.
II. PUPUH SINOM
- Tembang Sinom kapiyarsa, Sanggeus putus unjuk warti, sor panyuguhan sadiya, dek taruwang leueut patih, Sanggeus tuwang leueut deui, Den Patih Arga piunjuk; pamit wangsul ka Pakuan, Ratu Pasehan geus idin, Raden Arga ti Timbanganten geusjengkar.
- Nu mulih hanteu dicarita. Kantun putra Siliwangi, nya eta Sunan Barahma, harita geus tetep linggih, di Timbanganten nagari, antara geus tilu minggu, eta Pangeran Barahma, disaur ka pancaniti, enya eta ku Sri Nalendra Pasehan.
- Diwuruk tata karama, tata titi uda nagri: "jeung deui ama teh ujang, dek nurunkeun ngllmu budi, di Timbanganten nagari, menggah anu jadi ratu, kudu apik sing sampurna, ulah dek guguan teuing, kana marga nu matak pondok baraya."
"Hade digugu ku ujang, eta kana marga becik, go god a nu jadi pangkat. Hal. 9 "Eta hanteu aya <:!eui, pitenah jalanna manis, sing a was dina sakitu, ulah dek beunang kagoda, ku nu manis malar saji, montong uwel ujang teh ku lepas basa."
- "Wireh lain ka sasama, basa anu akur ta'dim, mowal pupul kapangkatan, kamatikan kitu deui, sok tara apes ku lantip, tara ngewa ka nu lungguh, nu sok kabendon cilaka, lantaran nu geus kabukti, ngagedekeun rahul bohong pal a cidra."
- "Nya nyaah ka nu ti handap, atawa ka pan~at leutik; anu matak kudu nyaah, eta teh ka anu leutik, bandana teu aya deui, ngan bodo wurukeun wungkul, sabab pintema di menak, enggon bodo di nu leutik, kahilapan nu leutik perlu ditimban1 "
- Mun nyaah ka nu tihandap, sok matak diasih deui, ku nu saluhureunana, Geus kitu adil yang widi, kaula kalawan gusti, menggah anu jadi ratu, nu matak disebut menak,
kaula."
Hal. 10
- "Eta sabab aya menak, kaula kalawan gusti, gusti kalawan kaula, hartina gitik ginitjk, marga kanimatan diri, sukana nu jadi ratu, kalawan anu ti handap, ngulap masil mangku bumi, eta kitu piwuruk am a ka ujang."
- "Di Timbanganten nagara, ujang lamun jadi Aji, kudu ka Timbangantenan, manah masing lantip budi, carek basa cohag geuning, ulah arek "gede hulu". Sok matak deukeut pitenah, ·ku sabab tilar pamilih, hartina teh ujang ka Timbangantenan.
- "Enya eta anu sa bar, henteu belik ku kanyeri, mun aya nu nganiaya, ngawiwirang kana diri, kudu darnel nimat basil, eta matak panjang umur, sabar sobatna darana, ari ka nu tara belik, dipigeugeut ku mahluk saalam dunya."
- "Tah sakitu heula-anan, piwuruk am a sing harti, ka nu saluhureun ujang,
Perebu nu agung, em bung akur tatakrama, cara singa manggih kambing Hal. 11 jol dirontok taya terang ka nu boga."
- "Nu boga kambing teu suka, tinangtu eta dibedil, Tah kitu upama urang, telenges yen ka nu leutik, eta nu ngayakeun diri, tangtuna nerapan hukum, sok loba nu tanpadaksa, ku lantaran tina bengis, 1olong pengkor teu bisa nyabak sorangan."
- "Tah ujang sing inget pisan, ulah cara dangu tadi, keur waktu di Pajajaran, loba-loba nu ka kuping, eta ama hanteu ngiring, mun ad at cara kapungkur, heug ayeuna geura jajah, iyeu wawangunan negri, wakil ama heug ronda iyeu jro kota." 4 7. Iring ku duwa ponggawa, saksian ku duwa mantri, helos ujang geura angkat." Jung angkat putra Siliwangi, teu nyembah adatna masih, teu nyangkol eta pangwuruk. Diiring ku mantri duwa, pelesir ka jero nagri nu ngaliwat hareupeunana disepak.
Patih: "duh gusti juragan abdi, Raja Sinatria Agung, Hal. 12 masing emut ka piwejang, nya eta anu teu idin, lampah kitu anu dilarang ku rama."
- Seug malik Sun an Barahma: "aing teh teu hayang teuing, diwuruk ku pantar siya, siya lamun mindo deui, dek ngomonganan ka aing, siya ge dicabok tangtu. Sumawon ku pantar siya, nyawad pikarepeun aing, najan rama Sri Maha Ratu Pasehan."
- ''Teu dek turut ka piwejang, aing oge geus mangarti, aing teu dek pindah adat, resep nurut adat aing, di Pajajaran ge aing, lamun ama nyegah kitu, ditugel Nata janggana." Kaget mantri putra patih, tuluy medal sila haturan ka raja.
- Geus dongkap ka payun raja, mantri unjukan ka gusti, dicarios Sunan Brahma, salaku lan1pahna tadi, seep ditutur ku mantri, ti awal dongkap ka tutup. Kakuping ku Sang Pasehan
Patih dawuh ratu: "geuwat saur Sunan Brahma."
Enggal dados Patih lmbang, ku manten nyaur nu plesir, Geus kasusul seug dicandak, ka payuneun Sri Bopati,
Hal. 13 adatna eta teu leungit, teu pisan nyangkol pangwuruk. Dimanah ku Patih Imbang, "kawas iyeu lain milik, kana pimenakeun Timbanganten teya."Sunan Barahma seug mandap, mando di payuneun gusti. Ngadawuh Ratu Pasehan: "atuh mun kitu mah Patih, pantes dipanjara beusi, sabab anu laku kitu, eta teh hukumanana, nanding ka jalma teu eling. Kitu deui ama teh teu weleh sugan."
- "Teu turut bageur ayeuna, sugan bageur isuk deui. Tatapi ujang ayeuna, kudu turut ka wawangsit, ayeuna baris diganti, pangwarah ama ka enung, ayeuna baris dikiyas, ditutup di jero bumi, di Cawene koneng sajero ing guha."
- "Saolah olah tatapa, di jro guha kudu mikir, sajro opat puluh dina, pikeun dilanglangan patih.
enggeus kapikir, sanajan karek saminggu, teu kedah pat puluh dina, ti guha dilaan deui, eta kitu ama teh nerapkeun kiyas
III. PUPUH KINANTI
Hal. 14
- Kinanti panglejar kalbu, Sunan Burung Baok ngalahir, ngiring sakersa bendara. Enggalna teu lami deui, Raden Patih Imbang Jaya, ti payun angkatna gasik.
- Ka Ciwedang enggeus cunduk, dek ngadamel tutup kai, pikeun eta tutup guha. Teu lami waktuna deui, tutup guha geus sadiya, ngali bumi geus sayagi.
- Teu lami deui geus cunduk, Ratu Pasehan geus sumping, sareng Pangeran Barahma, Ratu Pasehan ngalahir: "he ujang Sunan Barahma, ka guha geura pek manjing.
- Enggal Sunan Brahma turut, geus asup ka jero bumi, nya-eta ka jero guha, Lajeng ditutup sakali, sayagi bok bilih medal, cui ditilarkeun sakali.
Menak Timbanganten ratu, enggal mulih sareng patih, geus sum ping ka jro nagara, diraraoskeun jeung patih. Sinigeug Ratu Pasehan, nu keur ngetang dinten wengi
Hal. IS
- Nyarioskeun nu ditutup, Pangeran Barahma Sakti, nu aya di jero guha, Ceuk sakaol pancakaki, eta Perbu Pajajaran, Maha Raja Siliwangi.
- Pangkagungan putra kitu, sababna ibuna teh jin, asalna tina nyupena, pang kagungan geureuha jin, dumugi kagungan putra kayaktosan eta bukti,
- Ayajin istri nu cunduk, eta ti Jabalkap nagri, pokna teh masrahkeun anak, iyeu putra Siliwangi. Sanggeusna masrahkeun putra, eta jin istri seug batik.
- Putrana lajeng dikukut, ku Perebu Siliwangi, nya-eta Sunan Barahma, Kitu ceuk sakaol tadi. kocap lampahna jro guha, eta Sunan Brahma Sakti.
- Wantuning rembes ing madu,,
Sunan Brahma ana bijil.
Metuna di Duren Sewu, di Pajajaran negari,
Hal. 16 tuluy marek ka ramana, ka Perabu Siliwangi, Kaget Sunan Pajajaran, ningal putra Brahma Sakti.Enggal diprios ku Perbu, ''na maneh Barahma Sakti kapan di Ratu Pasehan, di Timbanganten negari, ayeuna didiyeu aya, na kumaha mana balik?"
- Sunan Burung Baok matur: "sumuhun pariksa gusti, abdi anu matak mulang, ti Timbanganten nagari, eta ku Ratu Pasehan, lain ngawarah utami."
- "Lain ngawarah keur ratu, mana horeng jisim abdi, dipake panjer nagara, diruwang ka jero bumi, eta di guha Ciwedang, asup kaparentah nagri."
- "Putra teh ngadon di hukum, di Timbanganten nagari, teu nyanten dek ditelasan, ku Ratu Pasehan Aji,
Sliwangi."
- "Putra trus ka Duren Sewu, ti Ciwedang nerus bumi, Sadaya-daya kang putra, nu mawi marek ka gusti, supados rama seninga,
Hal. 17 "Kitu margina sim abdi."
72. Perbu Siliwangi bendu,
sanggeus nguping Brahma Sakti: " Lamunna kitu petana, Ratu Pasehan ka aing, tipu daya ngarah anak, mun taya Barahma Sakti."
- "Meureun ama nu dikitu, dihukum diarah pati, eta ku Ratu Pasehan, kurang ajar kumawani, nya ayeuna diri ama, nempuh ka hiji bapati."
- Enggalna Batara tujuh disaur ku Siliwangi, eta nu tujuh Batara, senapati ing nagari. Nu hiji Batara Gangga, ka duwa Batara Geni.
- Ka tilu Batara Lindu, Ka opat Tangtung Buwana, ka lima lder-buwana. ka genep ka tujuh deui, nu nulis hilap ngaranna, duwa Batara teu uning.
- Eta teh batara tujuh,
Pajajaran, ngutus ka tujuh batari,: "ayeuna tujuh batara, maneh leumpang masing gasik.
Tangkepan Pasehan Ratu
Hal. 18 "Di Timbanganten nagari, sarta kudu dicangkalak, enggeus montong tata deui, dongkapkeun ka Pajajaran, mun ngalawan teguh jurit.""Helos bae buru-buru." Batara tujuh seug pamit, terus dangdan ka bumina, Geus sadiya bral arindit, sadiya kaperjuritan, rantenna enggus sajagi.
- Sinigeug Batara tujuh, lalampahan keur di margi, Kocap deui Sunan Brahma, sanggeus unjukan seug nyingkir, masisian ti nagara, teu dikocap tempat calik.
- Ayeuna diganti catur, aya deui nu kawarti, padukuhan Lebak Jaya, Panembahan Sunan Sandi, awas sadurung winara, enggeus jadi maha resi.
- Tegesna Pandita wiku, duwa saderek teu ganti, Anu hiji Sembah Dora, lawan Kuwu Kandang Sakti.
Sunan Sandi teya, ramana Pasehan Aji.
Rehing Sunan Brahma kitu, Sunan Sandi geus ningali, Gancang ngutus hiji jalma, putra Kuwu Kandang Sakti
Hal. 19 nyaur Pasehan Narpati ka Timbanganten nagari.Anu diutus geus kondur, di margina teu diwarti, Kocapkeun Ratu Pasehan, geus nampi panyaur gasik, enggalna ~atu Pasehan, ti Timbanganten nagari.
84. Ka Lebak Jaya geus rawuh,
ngadeuheus ka Sunan Sandi, Panembahan Pager Jaya, karantenan Sunan Sandi, ka putra enggeus ningalan, nya eta Pasehan Aji :
- "He Raden Pasehan Ratu, ama anu mawi ngangkir, hidep teh geus tangtu pisan, bakal dicangkalak diri, ti nagara Pajajaran, utusan Sang Siliwangi."
- "Ulah kajongjonan enung, reh ing dek datang balai." Kaget nguping Sang Pasehan, nyembah matur naros tadim; "putra teh naon margina, anu matak Siliwangi."
- Ka putra dek ngabelengu."
Sunan Sandi seug ngalahir; "eta Perbu Siliwangi, reh dongkap Barahma putra nerus bumi ti Ciwedang ka Pajajaran geus bijil.
Hal. 20
Ka ramana seug wawadul, dipake panjer negari, margi Perbu Pajajaran, sanget benduna ka pati, ari anu bakal dongkap, batara tujuh geus pasti.
IV. PUPUH DANGDANGGULA
Dangdanggula kasepeting galih, Sri Nalendra Sang Ratu Pasehan, ka rama kalih pinaros : "nun rama ageng bebendu, sadaya-daya sim abdi, reh putra rek mendak papa, jiyad rama ulun, supados wilujeng putra, mugi-mugi pangnyinglarkeun eta blahi, neda hibar kangjeng rama."
- Sunan Sandi ka putra ngalahir: "iyeu bae duwa kukuk bawa, ari iyeu nu hijj teh, cicikeun di Burungayun, ti diyeu eureun sakali, iyeu engke cai teya, anu tina kukuk, sanggeus dicicikeun teya, kana lemah ku maneh kudu ditelik, naon kajadianana."
"nyobi nge1mu wiku. 1amun pareng kajadian, ditarima kabodoan pangabakti, ilmu buda ku yang maha."
92. Tangtu ama mowa1 ngambang pikir,
pangabakti ilmu ka budaan,
los bae ayeuna Raden! Engga1na Pasehan Ratu, geus mios ti Sunan Sandi, liren tina Pasir Handap enya eta Hunyur, wetaneun Pasir Suriyan,. Saenggeusna menak Timbang,anten 1inggih ne1ah Pasir Pangcalikan.
- Saengga1na anu mangun gurit, Kangjeng Ratu Pasehan geus dongkap, eta ka nu dibujeng teh, nya-eta ka Burungayun, Engga1 dicicikeun cai, eta tina kukuk teya, seep tina kukuk, cai 1eungit tanpa musna, saenggeusna eta nyerep kana bumi, kakirut cai jro 1emah.
- Nya1ampeurkeun sakabeh ka asih, geus ka kirut yen ku cai tawa, campur jadi cai gede, beletuk ti Burungayun,
Pasehan ningalan, rendah manah, enggalna ti dinya mulih, baris unjukan ka rama.
Hal. 22
- Teu dicatur di margina deui. Kocap sumping yen ka Lebak Jaya, ka rama ngadeuheus mando, geus payuneun rama ulun, Sunan Sandi geus ningali, Sang Pasehan dipariksa, "cing kumaha enung, naon kajadianana, miceun cai eta nu kapanggih bukti?" Dalem Pasehan unjukan:
- "Jiyad ama parantos kabukti, barang seep eta cai tawa, kana lemah seep kabeh, nya eta di Burungayun, beletuk aya nu bijil, jad i sirah cai loba." Sunan Sandi nyaur,: "tah eta jadi pertanda, kabersihan diri maneh cara cai, maneh kudu wuwuh sabar."
- "Saha engke anu jadi aji, kawuwuhan anu lantip sabar, nya-eta Timbanganten teh, geus nyata tunman isun, saha anu jadi aji, bedegong nu teu kaopan, kaselapan Hindu,
Pajajaran, lamun aya anu matuh milu cicing, menak serang Pajajaran."
98. Tatapina ku ama ka uji,
lamun Nyai Maraja Inten Dewata, boga anak ti Pakuan, sarta mun lalaki tangtu, eta anu boga milik. Hal. 23 "di Timbanganten nagara, adatna geus tangtu, jadi meunang kabauran, bedegongna kapan ayeuna kapanggih, cacak ka maneh dahuwan."
99. "Hanteu tata hurmatna yen leungit,
lamun Maraja Inten Dewata, boga anak jadi katon, di Timbanganten ngaratu, tangtu iyeu ngaran ratu nagri, jadi meunang duwa ngaran, sabab adat campur, Tarogong kabedegongan, Timbanganten kalulusan budi lantip, kajaba mun lmbang Jaya."
l 00. "Saturunan tangtu manls,
muga masing katerasan,
nu nu run salasawios,
pcndekna ayeuna enung, iyeu kukuk eusi cai, seug bawa ka Pajajaran, mun maneh geus cunduk, ka nagara Pajajaran, iyeu kukuk bikcun ka Parameswari, ka Maraja Inten Dcwata."
l 0 l. "Sing dileueut ku Sang Sliwangi,
tujuh." Sang Ratu Pasehan nyembah, matur tadim: "neda jiyad rama gusti." Sunan Sandi sambung dunga.
Hal. 24 I 02. Saenggalna Sang Pasehan Aji, enggeus jengkar ti payun ram a, di margina teu diwartos, Ka Timbanganten geus rawuh, antara engg~us sawengi, linggihna menak Pasehan. Batara nu tujuh, enggeus dongkap ka pamengkang serta eta sadiya dongdos j iris, rante beusina sadiya.
I 03. Kangjeng ratu Pasehan ningali, mesem manah anjeunna sadiya, geus parantos nganggo-nganggo, barina mayunan kukuk. Enggalna Pasehan Aji, mariksa ka tamu teya, "haturan tatamu, carakep teuing sadiya, matak teuing pikareuwaseun pikir, siyeun ku beunang sadiya."
- "J eungna deui henteu samar galih, kawas kawas nu ti Pajajaran, utusan Perbu Pakuan." Cong nyembah batara tujuh: "Jeres satimbalan gusti,
Perbu, kedah nalenan bendara, enya iyeu ku belenggu rante beusi, duka teu terang margin a."
Kangjeng ratu Pasehan ngalahir : "teu sawios sumawon andika, najan diri kaula ge, tunggal kapurba nu agung, kaprentah ka jiwa bumi."
Hal. 25 "ka nagara Pajajaran, masrahkeun sakujur, sumawonten ditalenan, najan sanget diri ditelasan pati, masrahkeun diri kapurba."Kawuwuhan harita geus burit, sukur pisan teu era ngaliwat, sumangga geura borogod. Engga1na batara tujuh, geus rap na1enan Sang Aji, eta Sang Ratu Pasehan, ngutus mawa kukuk, eta ka Batara Gangga. Seug dicandak kukukna enggeus dicangking, Ratu Pasehan geus jengkar.
V. PUPUH MIJIL- Tembang mijil menak rara tangis, lampahna nu mios, urang Timbanganten kabeh, teu uninga menak leungit, · ponggawa jeung mantri, leupas menak ngangluh.
Anu terang ingon-ingon gusti, titiran kumeyor, hayam jago bodas koneng, pamatuk jeung suku kuning, ningal nu lumaris, hayam teh kumeruk.
Sok katunda menak keur lumaris, ganti nu dicriyos, Ka-kocapkeun di kaputren, garwa Perbu Siliwangi, Maraja Inten Dewata
Hal. 26 anjeuna ngadangu.Saderekna Sang Pasehan Aji, bakal kenging bendon, keur dirawat dek dirante, baris ditelasan pati, ku Sang Siliwangi, ku putra kawujuk.
111. Hanteu emut kana kedal jangji,
ka Sunan Brung Baok, kana lakuna teu sae, kari-kari Siliwangi, lepat kana jangji, siyeun kasiku.
- Ku yang Jagat Pramesti, dewa pada nongton, ka nu medal ti kaputran, Maraja Inten Dewata, samargi-margi, narirna lumayu.
- Pameswari ka raka teu pamit, maling-maling mios, hoyong nepangan saderek,
Pasehan Aji, sigeug nu keur mios, nu prihatin manahna teh. Ganti deui nu kawarti, menak nu prihatin, jeung batara tujuh.
Enggeus sumping ka sirah negari
Hal. 27 Pajajaran katon, seug liren dina saketeng, 1eson teu nangan seug ca1ik. Teu )ami waktuna deui, Gusti Lara RatuKa saketeng harita geus sumping. jeung raka barang gok, ngarontok jeung nangis bae, Maraja Inten prihatin; "duh raka dipati, haturan nu rawuh."
- Kangjeng Ratu Pasehan ngalahir : "duh yayi Karaton, naha bet kitu nyai tch, kawas anu maling-maling, ti raka teu pamit, naha mana kitu."
- Maraja Inten matur jeung nangis : "abdi geus rumaos, tina geus iklas hate, reh rayi ngadangu warti, yen raka dipati, ku Sang Maha Prabu."
"Baris diterapan hukum pati, rayi tungtung sono, bilih teu patepang bae, anu mawi maling-maling, lamun di jro nagri, waktu kang dihukum."
" Bilih rayi ku Perbu teu idin, hoyong tepang nongton, dina waktuna engke teh,". Ratu Pasehan ngalahir:
Hal. 28 he Maraja Putri, meugeus ulah kitu.""Aye una mah kiyeu bae nyai, mulang deui ~elos, iyeu kukuk ku nyai teh, buru-buru candak mulih, ka Perbu Sliwangi, sanggakeun ku enung."
- "Pangintunan ama Sunan Sandi iyeu tilam sono, nuhun lamun dileueut teh." Maraja Inten Dewati manahna geus surti; enggal nyandak kukuk.
- Lajeng mulih seug muru negari. Sumping ka karaton, Sang Perbu Siliwangi teh, kasondong eta keur linggih, dina korsi gading, eukeur gun em catur.
- Dideuheusan ku patih jeung mantri, barang ret Sang Katon, ningali ka garwana teh,
Sawargi, eta tina kukuk.
- Kawuwuhan Kangjeng Sitiwangi, ngetab hoyong ngarot, Kangjeng Perbu Si1iwa ngi teh, seug nyaur ka prameswari : "na timana nyai eta nyandak kukuk Hal. 29
- Seug piunjuk eta prameswari: "sumuhun parios, iyeu teh diarot samemeh marios cai." Engga1na S1iwangi, eta nyandak kukuk.
- Seug diarot saka1angkung wangi, amis tiis raos, bakating ku raosna teh, ratu satengah teu e1ing, nimat ngarot cai, seep dina kukuk.
- "Aduh biyang nyai nimat teuing, engkang teh pinaros, cai ti mana iyeu teh, saumur kakara teuing mendak nima t cai, mun tiap sabuyung."
- Nyai Ratu ka raka ngalahir : "sumuhun parios, iyeu anu dileueut teh, kikintun raka dipati ti Timbanganten nagari
Pasehan Ratu
VI. PUPUHPANGKUR
- Tembang pangkur talipurna, hurip war_as Sang Perebu Siliwangi, ka garwana mindo nyaur: "naha kang Ratu Pasehan, na di mana naha bet nyai geus weruh." Maraja In ten .Dewata, ka raja seug matur deui. Hal. 30
- Sumuhun di kaca kaca, sirah dayeuh Pajajaran ing negari margina sim abdi tepung, bi1ih engke teu patepang, sareng akang Pasehan mun geus dihukum." Engga1 sang Perbu namba1ang: "Pa1ang-siang eta rayi."
- "Kang Pasehan dibabandan." Carek Nyai Maraja Inten Dewati: "Kayaktosan ditambalung." Sang Perebu Pajajaran, seug nimba1an ka Patih Arga, carek u1ah dibabandan, kudu dilaan ku patih.
- Sang-geus putus ngadawuhan, Patih Arga enggal1inggaring 1umaris, ka sirah dayeuh geus cunduk, nyaram ratu dibabandan, kudu 1aan rante beusina tambalang. Engga1na Batara Gangga, seug ngalaan rante beusi.
- Geus ucu1 eta rantena,
"Na kumaha yayi ratu,
pun engkang nem be uninga,
anu matak iyeu kenging ditambalang." Ratu Pasehan nambalang: "Kantenan engke ge rayi.
Diparios ku Sri Maha, ditu bae tataros teh raka patih, ka anu kagungan bendu, Kangjeng Perbu Pajajaran, ayeuna mah kapalang geus caket rawuh, sumangga bae ayeuna,
Hal. 31 urang ngadeuheus ka gusti."Enggalna jung pacta angkat, Hanteu lami eta waktuna di margi, geus sumping ka payun Perbu, kasondong raja keur lenggah, dina tempat karajaan bale agung, wasta bale Majapura, Ratu Pasehan geus linggih.
- Sareng eta Patih Arga, sami pacta calik dina korsi gading, Perbu Siliwangi ngadawuh: "Haturan raka Pasehan." Enggal menak Timbanganten nampi nuhun: "Kasuhun kalingga murda, kacangreud pangasih gusti,"
- "Nu agung di Pajajaran, anu murba marentah ka jiwa bumi." Perbu Siliwangi nyaur: "He raka menak Pasehan, anu matak raka disaur ku tujuh, ulah dek nyeri dek reuwas, kajabi mun yaktos sidik."
"Sarehna geus kalaporan, nya-eta ku Sunan Barahma Sakti, lain muruk bakal ratu, ka eta Sunan Barahma, anu puguh ngahukum dipenta umur, dipake panjer nagara, lamun henteu pinter nyingkir."
Tangtu kalebon patiya, rasa rayi yen ditipu daya pati, nu matak kang rayi bendu, ka salira kang Pasehan,
Hal. 32 coba akang ka rayi geura manyaut." Ratu Pasehan unjukan: "Nyanggakeun seca perniti.""Pun raka teu pisan pisan, gaduh tekad miwah ti pikir sajati, namung pangwarah nu unggul, tina teu kenging ku basa, ku pun raka ditutup sina ngawiku, di jero guha Ciwedang, disepi supados mikir."
- "Reh geus aya talma hina, loba abdi dibiti sareng tampiling, nu matak eta ditutup, maksud opat puluh dina, awon sae nutupkeun pangwarah angut, sakitu pun raka dosa, kasembahkeun nu sayakti."
- "Lamun jadi kaawonan, pun raka teh sadaya-daya angiring, nyanggakeun duta panglawuh, Kangjeng Perbu Pajajaran, seug ngadawuh ka Patih Arga nu madum: "Pek patih geura hukuman,
bukti."
- "Enggeus mangaku ngabuwang." Patih Arga enggal nigaskeun perkawis: "iyeu nu kudu dihukum, Kangjeng Perbu Pajajaran, Geus teu beunang sanajan ninggang di Perbu, asup kana paribasa, tamiang meulit ka bitis."
"Geus teu kenging diawahan, bakal mendak neukteuk curuk dina pingping.
Hal. 33 nu matak kedah Sang Perbu, nu meunang iyeu hukuman, sabab nyorang cidra gede teu kaemut, mungguh nu jadi nalendra, geus durnita ku pangesti.""Sakecap mungguh ing raja, duwa kecap mungguh ing di bapa deui, eta basa nu sakitu, kudu jadi kapatihan, lamun cidra matak pinanggih dihukum, saperti gusti ayeuna, anu nyorang cidra jangji."
- "Ku satadi Sunan Brahma, mun teu beunang diwarah marga utami, najan dite1asan pupus, lantaran teu kabageuran, nampi suka, Kitu jangji Kangjeng Perbu, kapan mundut disaksian, ka papatih kangjeng gusti."
- "Jenengan Ratu Pasehan, anu pantes ditaur raksa ku abdi, terah ing sunan tur mutus, ratu tegesing budiman,
lantip."
- Kangjeng Perbu Pajajaran, ngarumpuyuk midanget hukuman patih, bakating reuwas jeung ratug, ngageuwat ampun-ampunan: "duh cilaka kaula lamunna kitu, perkara iyeu hukuman, ayeuna ku kula patih.
- "Ulah pinanggih ka kula, da asal ge iyeu nu mere kasakit, Sunan Barahma nu burung, nu miceun kacilakaan, ayeuna mah kudu dibalikeun hukum, tuluskeun Sunan Barahma, kudu ditelasan pati."
- "Tatapi sadaya-daya, sumawona mungguh Si Barahma Sakti, sanajan kula nu merbu, iyeu nu nigas hukuman, liyan patih eta oge pon nya kitu, pek bae Sunan Barahma, kudu telasan ku patih."
- "U1ah mateni ka kula, kajeun anak tiningal kaula rna ti, jeung sanajan oge hirup, eta Si Sunan Barahma, rna tak risi nyilakakeun ka perebu, henteu kaop kaluhuran, ka bapa ge rek nampiling."
- "Mana mending dipaehan, eta kitu paneja kaula patih, tah kitu menta diturut,"
"sumangga sakersa ratu, sadaya-daya dawuhan, siang wengi seja ngiring."
VII. PUPUH ASMARANDANA
Kasmaran pujaning ati, Kangjeng Perbu Pajajaran, siloka parahu dengdek, meh ti lebuh ku lampahna, tilar pamilih duduga
Hal. 35 malik reuwasna kapayun, tingga1 manah kapiyarsa.Emut ka manah utami, ninga1 ka Da1em Pasehan, mandap manahna rumaos; "he raka Ratu Pasehan, kimg rayi neda hampura, neda agung nya bebendu, nyanggakeun seca pramarta.
- "Sarengna hatur tingali, nu baris ngagentos menak, di nagara Timbanganten, reh Mraja Inten Dewata, keur bobot tereh ngawona, eta putrana geus tangtu, teu hilap kersa kersa kang raka."
- "Baris nu jeneng bupati, di Timbanganten nagara, tapi 1amunna geus ngawo, sarta pameget putrana, ku raka kudu jenengan, kakasihna Sunan Panggung,
Panggung Pakuan."
- "Tatapi engke pandeuri, henteu nyarengan jeung engkang, engke dina waktu mios, ti diyeu baris dijajab, jeung mowal sina badarat, miosna turut istijrad, dijajap batara tujuh ngambah sajroning buntala."
Teges pikeun nerus bumi, ari kang Ratu Pasehan
Hal. 36 "mios teh ti payun bae, ka Timbanganten nagara." Matur Sang Ratu Pasehan: "pun raka barebu nuhun, ngajeng-ngajeng diwaktuna."Gancangna nu mangun gurit, Ratu Pasehan pamitan, baris jengkar arek mios, Kangjeng Perbu Pajajaran, idin ka raka rek linggar, sampoyong ratu seug munjung, ka Perbu sareng ka Arya.
- Teu 1ami waktuna deui, Dalem Pasehan seugjengkar, di margina teu dicrios, ka-kocapkeun geus sumpingna, ka Timbanganten negara, sa1amet nuhun rahayu, berkah ka Timbangantenan.
- Geus tetep ngadaton deui, Sinigeug Ratu Pasehan, ganti deui nu dicrios,
"di diyeu paman cicing teh,
dagoan mun tacan datang kaula di diyeu betah, dago dina pucuk gunung, mangke ku kula diteang."
- "Sabab iyeu Gunung Geulis, patempatan kula, kula jaganing pageto, di diyeu hayang ngayangan, wayahna paman dagoan." Seug matur Batara Lindu; "nun gusti unjuk sumangga."
- "Siang wengi seja ngesti, tatapi diri pun paman, neda salin rupi bae, ulah katawis manusa kudu mindah maliwarna." Maraja In ten Sang Ayu, seug nepak hiji batara.
Urut metu Maraja Dewati, bijil cai langkung herang, diinum ku badak cekong, cai teh les deui musna, teu kungsi seubeuh ngawedang, kari-kari eta banyu Hal. 38 seug bijil deui nembongan.
- Barang dek diinum deui, les deui banyu teu aya, disebut ku badak cekong: "iyeu Ci-sakti ngaranna." Sigeug batara nu tinggal, Maraja lnten kacatur, geus karaos arek ba bar.
- Bijil tina jero bumi, sarengna genep batara, eta di Munjul Panembong, liren di Mandala Puntang, di imahna Teguh Jaya, babar Sang Ratu Ayu, di imah Nyi Teguh Jaya.
- Ari nu jadi paraji, nya-eta nini Marana, saumurna tukang nganteh, dulur Nini Teguh Jaya. ~ini Teguh Jaya teya,
Sunan Sandi, sarawuh Ratu Pasehan, babuna nya-eta keneh, nya ku Nini Teguh Jaya. Kocapkeun eta nu babar putrana pameget alus, batara genep .ubiyag.
Bungbeng pada ngala cai, dina kukuk jajambaran, aya ku lodong ku kele batara genep daratang
Hal. 39 marawa cai sadiya, nya-eta buwat wawasuh,. Ari ngarala caina.Nyeta di Ci1aki-paksi, barangna dek diwasuhan, Nyi Ratu teu kersa bae', sabab hanyir cai teya, seug mundut cai nu enya, pra batara deui tuluy, ngala cai pabarencai.
- Ti kulah ti sunge deui, aya nu tina bangawan, Ci-beureum ngalana teh sakabeh geus pada datang. Barang dianggo wasuhan, eta nu kaanggo banyu, cai ti Cibeureum teya.
- Rabu1 pada nga1a deui, cai ti Ci-beureum teya, batara marawa 1odong,.
40 putri barang geus siram teh, harampang taya kasawat, harampang cara teu babar, raraosan Rara Ratu, harampang cara parawan.
- Sanggeus ditumbal ku aki, tirap tum hal kajayaan, Kocapkeun eta putra teh, ku ibuna dijenengan, ari kakasihna putra Kangjeng Raja Sunan Panggung sareng aki Teguh Jaya. I 80. Maparin deui kakasih, Kangjeng Raja Sunan Puntang, najan aki Marana ge, pada maparin jenengan, Rahaden Imbang Nagara, nini Teguh Jaya kitu, jeung nini Marana teya. 18 I. Ari panglandi pun nini,
"iyeu teh kakasihna teh, Kangjeng Raja Purba Ningrat." Ari ceuk nini Marana; mana bae anu matuh, eta anu kajadian."
- "Kula ge neundeun kakasih, Raden Wilaga kusuma." Maraja Inten ngawalon: "cing sugan ari seueur mah, iyeu jenengan si ujang, malah mandar panjang umur, nyarengan loba putrana. Hal. 41
- Ceuk aki Marana deui,: "muga-muga raja putra, lamun dek loba putra teh, putrana muga sing warna, anu segut nu kumisan, kajeun teuing loba bulu, godeg bewos rna sing gagah,"
- Kawantu nyangking negari, sing aya sena patina, Maraja Inten Karaton, manahna asa disuwat, ku aki Marana teya,. Emutanana Nyi Ratu; "lamun Ki Panggung Pakuan."
- Beunangna mangku negari, mun kasartaan jeung gagah, aing genah temen hate, mun boga anak kusuma," Mikir sajeroning manah
"cing nini aki sadaya, kau1a menta pirempug, ari ras ku nu nonoman.
VIU. PUPUH SINOM
Sinom pamedaring manah, pirempagna raja putri, ka pra sepah-sepah: cing mun iyeu murangkalih
Hal. 42 "lamun ditilar ku kuring, kumaha iyeu nya nyusu, kinten mowal aya sabab, nu matak jadi hawatir." Pok haturan Teguh Jaya jeung Marana:"Najan baheula ibuna, Nyi Ratu keur jabang bayi, wi1ujeng dipinareupan, eta ku cisusu sapi, atawa cisusu kambing, henteu burung panjang umur." Maraja Inten Dewata, padang galih nguping nini. Lajeng bae mangkon orok disesepan.
- Sarta bari dititimang, diciuman bari nangis; "ujang muga sing taweka1, ayeuna ibu rek pamit,
raja."
- "Di Timban_ganten nagara, tuturunan nini aki, iyeu nyusu panungtungan, mowal nyusu-nyusu deui, lamun tacan ngajadi, si ujang jumeneng raja di Timbanganten negara, ibu mowa1 waka ba1ik, ngadeuheusan ka nagara Pajajaran."
"Eh ujang ibu ayeuna, neneda ka Yang Permesti.
Hal. 43 "muga muga diri ujang, salamet jauh ba1ahi, nya cicing di nini aki, Teguh Jaya maha wiku, turut sapiwurukna, · poma u1ah gindi pikir muga-muga ujang bisa jadi raja."Diusapan diciuman, murubut cisoca bijil, ngangres manah kawalahan, ngemutkeun putra sahiji, hanteu kendat-kendat nangis, putra bari dipapangku raos bakal papisah, tacan tangtu tepang deui, ngan paneda banget ka batara, dewa.
- "Mugi-mugi iyeu budak, jeung diri kuring pirbadi,
karantenan."
- Lajeng Sang Putri Maraja, ngahaturkeun murangkalih, sasauran dumareuda, murubut cisoca bijil, ka aki jeung ka nini, unjukan nu 1emah-1embut, hurmat dadasarna menak, heg nitipkeun murangkalih: "iyeu aki, nini kuring pasrah budak." Hal. 44
- "Geus sadaya-daya pisan, masrahkeun siarig 1an wengi, kuring teh mun kaparengan, di dunya panjang nya hurip, papada hayang papanggih, Si ujang geus jadi ratu, di Timbanganten nagara, tapi poma pisan nini, papacuan ulah rek loba rasiah."
- "Kuring ayeuna dek ilang, nilarkeun ujang di nini, engke mun engkang Pasehan, marioskeun jisim kuring, sebatkeun bae ku nini, ilang teu kantenan pupus, ajal teu kantenan wapat, teu jasa nerangkeun sidik, nu kaunjuk ilang jatining sam puma."
"Samalah ayeuna pisan, baris rek ical ti nini, ari nu genep batara, kantun di diyeu lalinggih, unjukan heula ka nagri, ka akang Pasehan Ratu, panjang pariksa ka paman, jawab sakumaha tadi, mun geus lulus kawilujengan pariksa."
"Ujang mun geus ditarima, ku Ratu Pasehan Aji, iyeu nu genep batara, gede katineung ka kuring, hade pisan geura sungsi, paman lamun kantun, teang badak cekong teya, eta dina Gunung Geulis
Hal. 45 "geus tinangtu jadi Sangiang Batara."Batara genep unjukan: "unjuk sumangga pilahir, katampi kalih talinga, dicangreud ku pucuk remi, seja ngesto siyang wengi, ku lingga murda kasuhun, menggah di pun paman teya, teu rek kapalang nya ngiring, seja bela tumutur ti Pajajaran."
- "Sabab lamun laku paman, pegat ngiring raja putri, seug mulang ka Pajajaran, kantenan Bendu Sliwangi, anggur kajeun suka ngiring, paeh hirup seja tumut, Maraja Inten Dewata,
"rebu nuhun sareng iyeu ka sadaya."
- "Sapu nyere pegat simpay, atuh ayeuna sim kuring, ngahaturkeun pangampura, sarehna dikantun linggih, mugi diwuwuhan deui, nu tilar sareng nu kantun." Maraja Inten Dewata, barangna tutup wawarti, dibarengan anjeuna ngaraga sukma.
Les ilang tanpa karana, leungit ti payuneun nini, Nini aki Teguh Jaya, ngalahir sajro prihatin; "pileuleuyan raja putri, dungakeun anu dikantun."
1al. 46 Kebat lampahna meswara, Maraja Inten Dewata,. Kacaturkeun geus aya di nu diseja.Eta Sangiang Batara, salebaking Gunung Geulis, ku anjeunna geus kapendak nekung brantang muja semedi, seug digoda ku meswari, bari ditepak ti pungkur, gurubug Sang Yang Batara, jadi badak cekong deui, ditunggangan ku Maraja Inten Dewata.
- Badak cekong terus mangkat. Dongkap ka sapucuk wukir, beh tempat kalangkung sima, dina pucuk Gunung Geulis. Geus lungsur eta sang putri,
kit Suralaya marulih;
Eta anu dicalikan, enya eta Gunung Geulis, sukaeun dititih putri, ayeuna eta teh gunung, carek saunggeling beja, eta lain Gunung Geulis, tina sabab ayeuna enggeus kapurba.
- Ku Maraja Inten Dewata, ayeuna mah Gunung Putri, di Timbanganten nagara,
Panggung, eta teh sok dilanglangan utusan sang raja putri enya eta ku badak cekong Sangiang.
- Sigeug anu keur tatapa, eta dina Gunung Geulis, keur meujeuhna nekung brantrang, banget anu muja semedi. Ganti nu kacatur deui, Dalem Pasehan dicatur; geus kalaporan batara reh gusti parameswari, enggeus ngalih ti nagara Pajajaran.
Linggih di Mandala Pun tang, geus babar putra lalaki.
Hal. 48 jenengan Panggung Pakuan, putra katilar prihatin, ibuna geus tanpa lebih, duka ngaler duka duka ngidul, nya ilang tanpa karana, nu kantun putra prihatin, dirorokna ku pun nini Teguh Jaya,Mesem Sang Ratu Pasehan, nguping batara pilahir, nyaur sajeroning manah: "di Timbanganten negari, lamun henteu kitu mikir, lain anak maha wiku, di Timbanganten negara, terah ing an dana wari." Saenggalna Ratu Pasehan narirna.
- Batara genep amitan,
Pajajaran, Ratu Pasehan ngidinan, Gancang ing nu mangun gurit, batara genep geus mundur, ngabujeng parameswara, nu tapa di Gunung Geulis, enggeus pada jadi Sang Yang Batara.
- Sinigeug genep batara,. Kocapkeun Pasehan Aji, budal sawargi-wargina, ngalayad putra meswari, di Mandala Puntang nini, nyandak eta Sunan Panggung, Sumping ka Mandala Puntang tidinya keresa aji dialihkeun ka Dayeuh Manggung nagara Hal. 49
- Tetep jeung Ratu Pasehan. ngarorok pu tra meswari, nyeta raja sinatriya, di Dayeuh Manggung negari, putra kalangkung prihatin, ayana di Dayeuh Manggung, ti alit dongkap ka bujang. Gancangna nu mangun gurit, beuki ageung Rahaden Panggung Pakuan.
IX. PUPUH KINANTI
21 5. Kinanti pangeba t ca tur, ayeuna malikan deui, putra Perbu Pajajaran, nu goreng adat berewit, nya-eta Sunan Barahma,
Sunan Brahma geus uninga, bak~l ditangkep ku patih, sarta baris ditelasan, Rahaden Barahma Sakti.
- Anjeunna seug geuwat kabur, sarta lari nerus bumi, ngambah sajroning buntala,. Teu lila waktuna deui, Ta Pangeran Barahma, bijil di Cikali-paksi.
Sisi bangawan Ci-manuk, nya-eta palebah Sanding, rek mubus ka Dayeuh Handap, ka eta Baraja Keling. Kocap Raden Patih Arga
Hal. 50 nu dek nangkep Brahma Sakti.Nu dek ditangkep geus kabur, ditutur lacakna sidik, nerus sajroning buntala, ngahuleng Rahaden patih lajeng ngawatek ajina, seug dikirut eta bumi.
- Didamellemah sagandu, manjur ajina papatih, ajina Taji-malela. Kocap Sunan Brahma Sakti, rasana mah jongjon angkat, bijil ti Cikali-paksi.
- Puguh malik deui linglung,
Pajajaran, Sunan Barahma ningali, rumpuyuk sila jeung nyembah, pasrah jeung nyanggakeun diri.
- Den patih deui ngadawuh: na kumaha Brahma Sakti, maneh mana bet bantahan, teu turut ka Siliwangi, sumawon pantar andika, wajib hurmat .beurang peuting,"
- "Cacakan kami ge turut, marentah ka perbupati, di sajero Pulo Jawa, eta kabeh unjuk warti, ka Sang Ratu Pajajaran, kaprentah ka jiwa bumi. Hal. 51
- "Na ari maneh teu turut, sagala pituwah mungkir, coba kami menta sabab, maneh anu matak mungkir, teu turut ka Pajajaran, menta jawab anu sidik.
- Sunan Brahma nyembah ·:matur, "sumuhun dawuh mang patih, nyanggakeun dikaireugan, margina teu turut abdi, ka Perebu Pajajaran, abdi aya nu dipamrih."
- "Menggah ka Sliwangi Perbu, geus mowal bae sim abdi, turut kana sawurukna,
diri."
- "Kadigjayan nu ditumut, nu dipake pasang giri." Patih Arga seug mariksa,: "da ayeuna maneh pasti, diri maneh ditelasan. hukuman Perbu Sliwangi."
- "Dosa maneh anu tangtu, ngabarubahkeun negari, wani ngabohong ka raja, mitenah hiji bopati, menak bener disasalah eta mowal enya teuing."
Sunan Barahma piunjuk,: "panuhun jisim abdi ulah cios ditelasan,
Hal. 52 "ditukeur bae ku abdi, sakasusah Pajajaran, di tanggel ku j isim abdi.""Siang wengi seja tumut, sanggem jadi senapati, naon kasusahna raja, baris diiring ku abdi." Dawuh Arya Patih Arga: "mun kitu mah maneh pikir."
- "Hayu ngadeuheus ka Parbu," Matur: manga Brahma Sakti. Gancang ing nu dicarita, terus ngadeuheus ka gusti, Geus sumping ka payun raja. Kocap Perbu Siliwangi.
Patih Arga ngadawuh : 'na kumah,a Raden Patih, kapan kudu ditelasan, bet ayeuna masih hirup? Enggal rna tur Pa tih Arga: "sumuhun timbalan gusti."
- "lyeu menta tukeur umur, sanggup jadi sena-pati, tadah sakawegah tuwan, siyang wengi seja ngiring; Kangjeng Perbu Pajajaran buligah manahna gusti:
- "Lamun sanggup kitu sukur, ayeuna diperih pati, eta di Galuh negara, putra Perbu Braja Sakti jenengan Baraja Denda eta teu taluk ka kami Hal. 53
- "Ari tempo ram a parbu, Kangjeng Perbu Mundingwangi kabawah ku kangjeng rama, ayeuna ka kami mungkir, tibatan daek ngawula, anggur sanggup wani jurit."
- "Ayonan ku maneh kudu, lamun enggeus taluk jurit, ka diyeu ku maneh bawa, kaduwa di Majapait, eta Perebu Wiyangga. ku maneh talukeun deui."
- Rahaden Barahma matur: " ngiring sakeresa gusti,
dm abdi ayeuna,
ti gusti neda pertawis, nawiskeun utusan tuwan, nambut pajenengan gusti."
- "Makuta wakil perebu." Kangjeng Perbu Siliwangi, mupakat ka Patih Arga, reh kitu unjukna deui, matur Raden Patih Arga: "idinan bae ku gusti."
- "Leres pisan eta kitu, samalah kedah disalin, iyeu pajenengan putra." Dawuh Perbu Siliwangi, "ngiring rempag Patih Arga, geus teu ngaborongkeun patih."
Asta karajaan Parbu dipasihkeun ku Sliwangi, ka eta Pangeran Brahma
Hal. 54 enggeus dianggo sayagi, enggal digentos jenengan, ku Rahaden Arga Patih.Pangeran Gagak Lumayung, jeneng di sajro wawakil, Parabu Santang Pertala, nalukeun ka Pulo Jawi. Teu !ami deui waktosna geus pamit ti payun gusti.
- Pangeran Gagak Lumayung, melesat ti payun gusti, angkat ngambah madea gantang kawantuna terahing jin, Teu !ami deui waktuna,
"iyeu teh anu ti mana, tarojog tanpa wiyarti."
X. PUPUH PANGKUR
- Pangkur ngayuda kenaka, Braja Denda mariksa ka nu sumping; "nu ti mana iyeu ratu, hanteu gugur hanteu hujan, jol payuneun sumangga gancangkeun maksud, aya naon nya keresa, sareng kalih naros deui."
- "Banjarkarang panglayungan tuwang bumi nya bali geusan ngajadi?" 55 Matur Pangeran Lumayung: "iyeu Perbu Kean Santang, senapati Pajajaran ngambah utus, seja nalukeun bendara, Brajadenda senapati."
- "Reh tempo Prabu Janggala, daek tumurut ka Perebu Munding Wangi, Ratu Galuh tumut taluk, ayeuna Baraja Denda, henteu taluk ka Siliwangi abong pamuk." Baraja Denda nambalang: "eh Kean Santang perjurit."
- "Iyeu pun Baraja Denda, besuk taluk wus pecah dada saiki,"
Nambalang Gagak Lumayung: "naon ku Baraja Denda, nu dianggo pikeun pasanggiri cucuk?" Ceuk Ratu Baraja Denda; "iyeu pedang reujeung keris."
- "Mun teu teurak ka andika, nyata estu turunan kamulyan aji." Enggal duhungna dicabut, seug ditewekeun ka Santang, henteu teurak duhung Braja Denda ngeluk, duwa tilu kali newekna, batan teurak kalah ngelik.
- Kerisna Baraja Denda, geus merengkel murungkut cara titinggi, Enggal diganti pangbunuh, Braja Denda nyandak pedang, dibunuhkeun jekuk ka Gagak Lumayung meunang sapuluh bunuhan tanggah Santang hanteu busik. Hal. 56
- Kalah parotong pedangna enggeus raceng ting baliyur kana bumi, Baraja Denda ngadawuh: "geura males Kean San tang." Enggal males Pangeran Gagak Lumayung, dicekel Baraja Denda ngoceak tobat teu wani.
- Raosna Baraja Denda, keur dicekel asa seuneu tutung diri. Enggalna anjeunna taluk, harita enggeus dicandak, beng ka wetan ka tempat denta dicandak. beng ka wetan ka Ampel denta dijugjug Geus sumping ka Ampeldenta,
ditikahkeun ka Ratna Dewata Ayu, putra Patih lmbang Jaya, Patih Timbanganten nagri.
- Nitis rembesing kusuma warna na teh ratu budiman perniti dasar ibu jadi wiku, barang putra geus ngaraja, Maraja Inten lungsur tapa ti gunung dipapag ku Pa tih Arga, ka Pajajaran geus mulih.
- Lami-lami prameswara, gaduh deui duwa putra ti Siliwangi, anu hiji istri punjul, kakasihna Rara Santang, nu pameget Raden Walangsungsang bagus, tetepna di Pajajaran, putra putri berebudi.
TAMAT