Baca PDF (OCR): WAWACAN PERBU KEAN SANTANG

228 halaman · 228 halaman diproses dengan OCR· 196465 ms

Daftar isi
  1. WAWACAN PERBU KEA SANTANG
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  3. WAWACAN PERBU KEAN SANTANG
  4. Jakarta, Nopember 1992
  5. Direktur Jenderal Kebudayaan
  6. DAFTAR ISi
  7. l .2 M.asalah
  8. H. Pupuh Dangdaageuta
  9. mujijat dari kangjeng leluhur
  10. kepada semua keluarga
  11. dan para juragan 6 )
  12. digariskan pada tanah bumi
  13. 382. Lama sekali Kanjeng Nabi
  14. 383. Tentang nasehat gusti
  15. 384. "Hanya kita sangat khawatir (pada)
  16. 386. Malaikat menyaksikan
  17. I) pupuh asmarandana 98 bait
  18. 3) pupuh kinanti 118 bait
  19. 6) pupuh durma 18 bait dan
  20. 3 .2 Ringkasan Cerita
  21. nurut perintah ayahnya. Layang Kamuning dipaksa harus jadi

WAWACAN PERBU KEA SANTANG

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Milik Depdikbud Tidak diperdagangkan

WAWACAN PERBU KEAN SANTANG

Oleh: Surlina Marzuki

H.R. Suryana Siti Maria Editor: Rosyadi
DEPAR TEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA TAHUN 1992 I 1993

KATA PENGANTAR

Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusan tara Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah kuno Sunda (Jawa Barat) yang ber judul Wawacan Perbu Kean Santang, isinya tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai keagamaan, nilai pendidikan dan kepemimpinan yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.

Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kele mahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.

Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sum · bangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.

iii

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mereka yang telah membantu terwujudnya buku ini.

Jakarta, November 1992 Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Ke budayaan Nusantara

Sri Mintosih, BA. NIP. 130 358 048

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAY AAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan dae rah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemi kian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etnosentris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sumbangannya dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa Untuk membantu mempennudah pembinaan sating pengerti an dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat ma jemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Ba gian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Wawacan Perb u Kean Santang.

v

Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini, maka peng galian nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkat kan sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.

Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudaya an Nusantara ini baru merupakan langkah awal, dan ada ke mungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharap kan hal ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan peng ungkapannya.

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.

Jakarta, Nopember 1992

Direktur Jenderal Kebudayaan

Ors. Poeger NIP. 130 204

vi

DAFTAR ISi

Halaman iii
Kata Pengantar..................................
Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan............. v
Dafvii
tar Isi.......·...............................

1.
Bab Pendahuluan..............................

I.I La.·......·............ I tar Belakang Masalah.
1.2Masalah............................... 2
1.3............................... 2 Tujuan.
1.4.......................... 3 Ruang Lingkup
1.5........................ 3 Metode Penelitian
2... 5
Bab Allah Aksara dan Alih Bahasa...............

2.I........................ 5
Alih Aksara....

2.2............................ 96 Alih Bahasa
3.......190
Bab Tinjauan Umum.....................

3.1.................. 190
Deskripsi Naskah......

3.2...... 191
Cerita.........
Ringkasan..........

4................................... I99
Bab Analisis

4.1..... 199
Analisis Struktur..........
.........

vii

Daftar Isi. vii
Bab 1 Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang Masalah . 1
1.2 Masalah 2
4.1.1 ................................. 199
4.1.2 4.1.3 4.1.4 . 200

Judul.
Terna..............................
............... 202
Penokohan dan Perwatakan.
.... 205
Plot atau Alur.....................

. 207
4.2........................
Analisis Isi......
208

4.2.l Nilai Keagamaan........................
..

4.2.2. 209
Nilai Pendidikan.....................
.

4.2.3 211
Nilai Kepemimpinan....................

S Bab Relevansi dan Peranan Naskah dalam Pembinaan dan
............. 213
Pengembangan Kebudayaan Nasional

.

6............................... 216
Bab Kesimpulan 2 7
................................... I
Daftar Pustaka

viii

BAB I PENDAHULU AN

1 .1 Latar Be/akang Masalah

Kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi ter wujudnya kebudayaan nasional yang memberikan corak dan ka rakteristik kepribadian bangsa, karena unsur-unsur budaya daerah memberikan corak monopluralistik budaya Indonesia. Oleh karena itu, dalam upaya menggali kebudayaan daerah di perlukan data dan informasi yang lengkap sehingga keanekara gaman kebudayaan daerah dapat mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Salah satu sumber informasi kebudayaan daerah yang sangat penting artinya adalah naskah-naskah lama. Naskah-naskah lama ini merupakan arsip kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi kebudayaan daerah yang beciangkutan, karena di dalamnya mengandung nilai dan penge tahuan budaya yang luhur, seperti berbagai gagasan, ilmu penge tahuan, ajaran-ajaran, adat istiadat maupun sejarah lokal masya rakat yang bersangkutan. Sehubungan dengan hal itu, ada kecenderungan tersisihnya naskah-naskah lama sejalan dengan giatnya usaha transformasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang merujuk pada budaya asing yang memang diperlukan untuk mempercepat proses pem bangunan. Akan tetapi, proses itu akhirnya menuntut penye-

suaian sosial budaya dalam proses penyerapannya, sehingga menghindari timbulnya kesenjangan budaya (cultural lag). Dalam hal ini, naskah-naskah lama selain menyediakan data-data informasi tentang kondisi sosial budaya masyarakat, juga memiliki kekayaan rohani yang dapat menjadi penangkal terhadap ekses-ekses yang ditimbulkan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan modem. Oleh karena itulah, naskah-naskah lama sangat penting artinya sebagai sumber potensial yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan (term of reference) bagi sua tu pengambil keputusan, di samping naskah lama itu sendiri merupakan obyek pembangunan, dalam arti sasaran yang harus dikaji dan dilestarikan keberadaannya.

Salah satu naskah lama yang berasal dari daerah Jawa Barat yaitu Wawacan Perbu Kean Santang yang merupakan sebuah karya sastra lama dan banyak memuat nilai-nilai luhur berupa petunjuk-petunjuk dan ajaran-ajaran agama Islam.

l .2 M.asalah

membahas

Dalam naskah Wawacan Perbu Kean Santang
permasalahannya dalam naskah tersebut dan sejauh mana relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah Wawacan Perbu Kean Santang da lam pembangunan, khususnya dalam keagamaan. adalah nilai-nilai apa yang

terkandung di

1.3 Tujuan
naskah

Tujuan Pengkajian dan Penganalisisan Wawacan
Perbu Kean Santang ini, yakni :
l) menggali nilai lama dan asli yang terkandung dalam naskah
Wawacan memberi masukan bangan kebudayaan daerah, Perbu Kean Santang sebagai dasar yang dapat dalam usaha pembinaan dan pengem
untuk yang terdapat di dalam naskah W awacan Perbu Kean San tang karena dengan terungkapnya nilai-nilai luhur ini di harapkan dapat memperluas cakrawala berpikir masyarakat mengungkapkan dan mendeskripsikan nilai-nilai

2)

dalarn menghadapi transfonnasi budaya yang tengah ber langsung,

3)hasil kajian dan analisis naskah Wawacan Perbu Kean San tang ini untuk memberikan infonnasi tentang kebudayaan daerah Sunda dan dapat melengkapi khasanah kepustakaan sastra, khususnya sastra Sunda dalam rangka pembinaan, pengembangan dan pelestarian sastra itu sendiri.
1.4 Ruang Lingkup Pada dasarnya naskah Wawacan Perbu Kean Santang terdiri atas dua aspek yakni aspek bentuk dan isi. Adapun aspek ben tuk adalah cara pengarang dalam menyampaikan ide-ide atau gagasannya. Sedangkan yang dimaksud dengan aspek isi adalah
· ide-ide atau gagasan yang ingin disampaikan.

Ruang lingkup penulisan ini dibatasi pembahasannya pada analisis isi, yaitu menitikberatkan pada pengungkapan ide-ide atau gagasan.

l .5 Metode Pene/itian

Dalam mengkaji Wawacan Perbu Kean Santang ini dipergu nakan metode content-analysis yakni suatu pendekatan untuk mengungkapkan nilai-nilai dalam suatu karya sastra yang ber fokus pada pemahaman isi pesan atau gagasan pengarang. Ada pun langkah pertama yang dilakukan adalah penelitian kepusta kaan dengan mempelajari berbagai literatur yang dijadikan pe nunjang untuk memperkuat landasan teoritis setiap pernyataan dalam menganalisis naskah tersebut. Seperti yang dikatakan Gorys Keraf ( 1980: 166) bahwa dengan penelitian kepustakaan dapat melatih lebih peka serta kritis dalam memilih, menim bang, menentukan serta menyusunnya, sehingga dapat dime ngerti dan diterima oleh pembaca.

Dalam penulisan dibedakan antara kajian dengan analisis. Pengkajian ditujukan pada pemahaman ke dalam ide atau gagas an pengarang yang dituangkan dalam karyanya. Sedangkan da lam analisis pemahaman isi gagasan dihubungkan dengan realitas

sosial budaya yang melingkungi pengarang yakni masyarakat Sunda.

Dalam kajian Wawacan Perbu Kean Santang ini, yang men jai perhatian adalah nilai yang terkandung di dalam cerita ini atau nilai yang disuratkan dan disiratkan oleh pengarang yang mempunyai ide atas dasar pengetahuan yang dimilikinya. Wawa can Perbu Kean Santang merupakan korespondensi di mana beberapa unsur mewujudkan bangun sebuah cerita sehingga menjadi puisi itu puisi bercerita atau puisi naratif. Puisi yang demikian itu seakan serupa dengan bentuk cerita, prosa, karena itu dalam hal mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diperlukan bantuan kajian struktur prosa. Mengenai unsur unsur aspek struktur prosa yang diperlukan yaitu unsur Iatar penokohan, perkembangan agama Islam. Dari kajian unsur unsur itu akan lebih jelaslah bagaimana perkembangan agama Islam di Jawa Barat. Dalam kaitan kajian ini akan diketahui nilai-nilai, dan dalam mengkaji struktur cerita Wawacan Perbu Kean Santang terlebih dahulu akan dibuat ringkasan cerita untuk mempermudah menganalisis.

BAB II AUH AKSARA DAN ALIH BAHASA

2.1 Alih Aksara
WAWACAN PERBU KEAN SANTANG

I. Pupuh Asmarandana
I. Bimillahirrahmannirrahirn anu rnaca ieu babad enya eta babad Gadog kedah anu gaduh abdas anu sepuh nu nonoman atawa anu geus sepuh eta kudu gaduh abdas

  1. Bakuna mah kudu tartib ulah pake lalawora masing, estu dina hate · wantuning Susunan Rahmat wakil j'eng Nabi Muhammad eta utusan yang agung nu kagungan burni alarn
    5

3.Maca taud nu mimiti terus Jéng maca bismillah jeung patnan deui ongkoh kuiha eujeung palak bimas geus puguh maca salawar rehuyna humuimuplinn maca istgpar sing loba

H. Pupuh Dangdaageuta

4.Daugdanggula anu manis baudi paniedirab wong samada tegesna yer samada teh awit dengengna karuhun karuhun anu berbudi katampa ko ki bujengga ki bunangga luhong ani tegesna bujanyga ann sidik wewēngkon karuhua surni kah hatena ufama Anu matak aya kaul deui ti nampaid bupangsa pertanda sareng hanteu sapagodes sabab anu matak kitu saupama ki maranggi pada baga ukuran euweuh mu ten hucu pinter teh rajin agaranns Dereeka na hsl naksed liwrae sakirg tata hiyanat jeuug kiman Saenyana snye amatenl tan tamayang nganulengkeon sabda, hulmmmna nu bener kabch. ari anu geus tsngtu bener tina loba kawi

da ari kebatna mah eta keneh malum saperti mungguhing gajah sipat sato aya hulu buntut deui amung ngaranna mah gajah

  1. Hulu buntut sareng suku deui kabeh eta saperti bujangga pertanda lobaning kaul sumangga mana4 nu estu nya bujangga nya musinap antukna mah nya satunggal anu matak kitu reyaning kaul bujangga pertandana elmuning Pangeran sugih euweuh eukeur ngaumpama
  2. Raos gelap anu jadi manis dongeng pikeun purwaning carita wiwitan nu dicarios namung ampun nya paralun sarehing ieu sim kuring da lain maksa ku bisa weruh tampa guru atawa nyanyahowanan tobat pisan manawi sulaya kaur mugi agung dihampura
  3. Tina yaktos kaleresan surti hanteu salah ieu teh sajarah mugi diuwuhan bae mujijat kangjeng luluhur dipadangkeun nya birahi ti nu enggeus kenging rahmat agungnya panuhun ditarima kumaula mugi-mugi dijauhkeun nya balahi parek rizki lawan rahmat.

  4. Mugi asih sanak kulawargi kitu deui mugi katetepan tekad anu leuwih saleh ka sakabeh dulur-dulur hamo pegat pancakaki ka dulur sakabehna teu pisah karuhun mana kuring nurut hibar ka sadaya kulawarga nu utami miwah ka para juragan 11. Lahiriyah kaulaning gusti abdi seja nyalindungkeun awak, saking ku rumaos bodo, dunungan kuring nu agung, hirup katungkul ku pati, batin kaulaning Allah, kitu deui nuhun ka gusti nu sipat rahman, atawana ka gusti nu sipat rahim, mugi Allah ngahampura.

  5. Kakajengna ieu nu digurit, nyarioskeun eta nu baheula, aya sahiji karaton, ngabawah ka pararatu, nama Perbu Siliwangi, di Pakuan nu kadua, Pada jeneng ratu, karaton nu kahijina Pajajaran Sewu teya nu ka warti kitu ungeling carita
  6. Nu katilu nagri Majapahit nu ngaranna Perbu Hariyangbanga Pajajaran wetan karaton damelna waktu perang pupuh

sami merbu raka jeung rayi Hiji mangsa di Pakuan gaduh putra pamuk · pangeran Gagaklumajang kagagahannana geus taya nu nanding lir pendak taji malela

  1. Enggeus mashur yen sapulo Jawi samalahna Pajajaran wetan Majapait enggeus kawon sanggeus jumeneng pamuk sakabeh taluk ajurit taya nu mangga puliya ka Gagaklumayung malah enggeus kenging nama wakil rama sanggeus jadi senopati nama Perbu Kean Santang
  2. Saumuma jadi Senapati hen teu terang ti getih sorangan jeg kumaha rupina teh pesena kaliwat langkung anu jadi kapigalih siang wengi manahna sakitu nya maksud hayang terang getih sorangan kitu manah nu antek kaliwat saking teu acan seubeuh ngalaga
  3. Lian tiny a kapigalih deui, umur ngora hanteu gaduh garwa. taya kapetolan kabeh, tedakna agama Hindu, mangsa harita di J awi teu aya agama Islam nalangmang mulung mung pangeran Gagaklumajang kalangkung manahna takabur ati pesen getih sorangan.

  4. Saumuma teu terang di getih, enya-eta getih salirana nu matak teu uninga teh, saking ku tina pamuk, teu teurak ku pedang keris, enggalna Gagaklumajang, harita keur ngangluh, payuneun perbu Pakuan Siliwangi mariksa alon jeung manis, "eh Raden Gagaklumajang"

  5. "Pun mama teh rek nanya nu yakin pasemonan Raden kawas susah coba ama geura walon naon nu dianggo ngangluh bilih palay putri geulis da moal datang ka susah da Raden nu gaduh sumawon palay ngaraja apan eta ku ama dianggo wakil sanajan kabeh raraja
  6. "Beunang Raden nu nalukeun ajurit anu matak Raden meunang nama Perbu Kean Santang kahot pangeran Gagaklumayung ngauban sapulo J awi saking ku ama teh nyaah eta Raden kitu" tinya, Raden cedak nyembah bari mando Gagaklumayung ka gusti Kinanti unjukan terang

III. Pup uh Kinan ti

  1. Piunjuk Gagaklumayung "kaulanun rama gusti kang putra sanes ti eta lain hayang gaduh rabi lain hayang jadi raja dalalahna milik abdi''
  2. "Jadi senapati pamuk ayeuna eureun ngajurit jadi alang kumapalang tacan seubeuh maju jurit susah henteu mendak lawan inarengan jisim abdi.
  3. Saumur gumelar hirup pesen ku getih nya diri can terang .getih sorangan cindkna piunjuk abdi ayeuna neda·mupakat pikeun pimusuhan abdi.
  4. Perbu Siliwangi nyaur ka Raden Arga papatih: eh ayeuna patih Arga kumpulkeun pernujum sidik atawana pararaja pikeun neguh perejurit
  5. Ayeuna euweuh nu pamuk matur mangga Raden Patih geus putus timbalan angkat enggalna lampah Den patih sakabeh nujum geus dongkap sakur nu aya di nagri

  6. Geus marek kabeh pamujum enggal Perbu Siliwangi lajeng mariksa harita ka sakabeh·nujum sidik "iyeu kabeh para raja sakur para nujum sidik

  7. Ayeuna kudu piunjuk iyeu diwewengkon J awi dikira saha jalmana nu ngelehkeun balad aing". Sadaya taya nu jawab pada repeh bae sami
  8. Ka Raden Gagaklumayung geura unjukeun kakasih pemujum tungkul sadaya kabeh sami pada mikir sarusah arek unjukan ku sabab tacan kaeling.
  9. Kocap aya hiji nujum milu campur nyiliwuri hanteu wawuh jeung nu rea tegesna malak Jibrail baris nanggalkeun lantaran seug unjukan aki-aki
  10. "Sumuhun dawuhan ratu ari emutan sim abdi ngorehan di pulo J awa tangtu moal aya tanding nu unggul cumah ngan putra Perbu Kean Santang aji
  11. Ngan aya oge geus tangtu pilawaneun putra Gusti sanes jero pulo J awa

ayana di Mekah nagri ngaranna Alimurtada Baginda Ali bin Tolib

  1. "Amung tebih liwat langkung ayana di puser bumi pulo Mekah nagri Arab malah ceuk sakaol deui geus kasebut masa Allah amung sareng putra gusti
  2. Itu ieu tacan puguh nu unggul ngalingga jurit duka mana anu kalah ngan geus tangtu mendak tanding sakitu abdi unjukan ka gusti di Siliwangi
  3. Ngadawuh deui ka nujum "terangkeun bae sakali tiap maneh bisa norah pilawaneun kitu deui tangtu kapanggih ayeuna coba pek sebutkeun deui
  4. "Baris lawan anu unggul mana anu baris tanding" Ki nujum barang dipaksa teu kungsi unjukan deui ilang leungit tanpa musna ti payuBeung Siliwangi
  5. Pemujum pada piunjuk duka teuing teu tingali malah hanteu wawuh pisan eujeung eta aki-aki malah waktu cacampuran jol sorangan nyiliwuri

  6. Hanteu wawuh jeung nu kumpul nu aya payuneun gusti ari abdi kabeh rempag sareng batur-batur abdi nyanggakeun dikabodoan geus teu bisa norah deui 3 7. Hookeun Gagaklumayung geus hanteu ngisukeun deui unjukeun bae harita "jisim abdi neda idin dek miyos ka nagri Mekah mendakan Bagenda-ali

  7. "Ayeuna baris dijugjug panorah aki nu leungit Hyang terang nya hanteuna ngayonan Bagenda-ali" Perbu Siliwangi jawab "efa kuma karep pikir
  8. "Ngan sambung salamet maksud" Enggaling nu mangun gurit sang Perebu Kean Santang teu wantun ngisukeun deui enggal bae dangdan-dangdan sanggeus dangdan lajeung indit
  9. Amung Siliwangi Perbu siang wengi pasang kuping kocapkeun Gagaklumajang kebat lampahna nu gasik ngaler ngulon lalampahna nyorang hiji tempat resik
  10. Pan tes dianggo menekung liren dina tempat buni nya-eta di Hujung-kulon

lajeng heula muja calik tidinya muja ka dewa paneda na muja sari

  1. Ka dewa nu maha weruh ka jiwa sasanga deui "jisim kuring neda terang mun yaktos di puseur bumi aya pikeun tanding lawan nu ngaran Bagenda-ali"
  2. "Mugi diparinan tuduh Teu lami waktuna deui sowara hanteu katingal: "he Gagak Lumayung jurit atawa Garantang Setra ayeuna panglandih kami"
  3. Lain dewa Marawelu ieu kami nu ngalandi sora hanteu katingalan perkara maneh rek ngusir nya-eta ka tanah Mekah ngabujeng Bagenda Ali
  4. "Ayeuna aya diditu maneh geus tinangtos panggih sareng ngaran maneh pisan ku kami mana dilandi ny a-eta Garantangsetra tegesna Setra beresih"
  5. "Tegesna Garantang maksud tangtu papanggih jeung suci helas maneh geura iyang kebatkeun saniat tadi". Korejat Gagaklumajang ti Hujung1mlon geus indit

4 7. Geus sum ping ka sisi laut teu kaduga ningal cai tuluy bae tapak kancang najan ngapung nerus bumi jadi geus taya halangan istijabna kang dumadi.

  1. Sigeugkeun Gagaklumayung eukeur ngambah di jaladri katunda lampah di jalan gentos anu kocap deui kangjeng gusti Rasullullah nalika di Mekah linggih
    IV. Pupuh Sin om

  2. Kangjeng gusti Rasullullah, dideuheusan para mumin sarawuh para sahabat Abubakar, Umar, Ali Usman sarawuh ratu jin para mumin pada kumpul, anu eukeur berhimpunan, kersana teh kangjeng Gusti dek ngadamel tambah tihang Masjidilharam.

  3. Tujuh tihang nu ditambah, harita ngan kurang hiji tatapi gusti geus mendak tihang kuning ti ratu jin pangaosna tacan jadi kamanahna mah geus puguh diparios pangaosna nya-eta ku kangjeng Nabi ratu jin teh teu acan wantun unjukan.

  4. Kangjeng gusti seug mariksa ka para sahabat mumin unjukna para sahabat ngiring galih kangjeng gusti kangjeng Nabi seug ngalahir gentrana manis jeung arum nya eta Nabi ratuna kersana teh Kangjeng Nabi dek maparin uwang emas harga tihang

  5. Tapi eta tihang tea hargana teh tacan sidik ceuk sakaol saratus dinar sarebu rupia leuwih jadi opat rebu leuwih opat rebu lima ratus ratu jin seug unjukan ari piunjuk ratu jin najan gusti maparin uwangna salksa 5 3. Mo al kasanggakeun pis an amung paneja sim abdi "lamun saabatna tihang seja ngiring jisim abdi sareng teu tangtu ku duit sarupa naon bae nun supaya kabobot tihang kadangu ku kangjeng Nabi enggal nyandak kertas sinareng mangsina
  6. Kangjeng Nabi enggal nyerat ungel lapad bismilahi nya eta buat nimbangan eta tihang ti ratu jin ku kersana kangjeng Nabi gerat tihangna di unggul nim bang ku lap ad bismillah hampang tihang batan tulis tihang ti jin hantu kuwat ka mu 'jijat

  7. Ratu jin sujud unjukan "seja nyanggakeun sim abdi eta teh perkawis tihang jisim abdi seja bakti" Geus narima kangjeng Nabi ka sahabatna ngadawuh "isukan kabeh sahabat Abukabar, Umar, Ali reujeung Usman isukan kudu kumpulan"

  8. Urang terus ngadegkeun tea sarengna deui ka Ali isuk kudu nyandak tungkat teteken ulah dek lali" Persahabat unjuk ta'dim sumangga dawuhan Rasul" Parantos kenging dawuhan bubar marulih pramumin kitu deui persahabat wangsul heula
  9. Enggaling iyeu carita reup peuting geus isuk deui Kocapkeun Gusti Baginda tabuh lima geus sayagi seug nyandak teteken Nabi barangna eta dek langsur jol sumping sahiji malak malaikat J abarail seug megatan Baginda ke heulaan
  10. Ulah waka kenceng mangkat bener jangji kangjeng Nabi jam tujuh kudu geus aya kudu sadia di masjid kaula nanggel ka Ali bilih kabendon ku rasul kudu geus tabuh dalapan waktu tidieu nya indit anu matak antara tabuh dalapan"

  11. Sabab bakal aya semah tatamu ngajugjug Ali tatamu ti Pulo J awa geus kudu bae dianti wayahna antos ku Ali ngan upama enggeus tepung sakalian kudu candak ngadeuheus ka kanjeng Nabi saupama teu dongkap tabuh dalapan"

  12. "Eta tamu hanteu dongkap Ali hade bae indit kencengkeun ngadegkeun tea" Sanggeus wuwuruk J abarail musna harita teh leungit ku gusti Ali diturut ngantosan tamu nu dongkap jeung manah Bagenda Ali aya manah kaduhung teu neros heula
  13. Pikarepeun tamu tea J abarail kaburu mulih parandene teu kumaha manahna Bagenda Ali beunang ku engke deui ditaros maksud tatamu tatamu sumping harita waktuna eta geus sumping enggeus manjing waktuna tabuh dalapan.
  14. Harita tatamu dongkap lieuk deui lieuk deui nyeri beuheung sosonggetan manahna teh Gusti Ali gaduh timuru saeutik kanu maparin pituduh palangsiang rancana setan ngagoda ka aing Gusti Ali bari jengkar ti bumina.

  15. Barang geus sumping kajalan dijalan perok bae panggih jeung Parebu Kean Santang ningali ka Baginda Ali tapi teu acan tingali disipatna tacan weruh celuk Perbu Kean Santang ka eta Bagenda Ali "huh ! kaula dagoan heula ku bapa"

  16. Reg Gusti Ali ngantosan bari nyandak teken kai ditancebkeun kana limah Perbu Kean Santang sumping caket jeung Bagenda Ali Pangeran Gagak Lumayung tumaros kieu sauma: "maap bae bapa kuring bade aya anu ditaros ka bapa"
  17. Mugi bapa tuduh jalan pakuwon Bagenda Ali eta di mana tempatna mugi tuduhkeun sim kuring kakuping ku Baginda Ali kaget manahna kalangkung: "engke agus heulaanan pun bapa teh tampasari rangah reungeuh ditaros kitu ku ujang
  18. "Karana ieu di Mekah sakabeh pada ningali pakuwon Alimurtada ngan ujang anyar pinanggih jeung bapa nembe ningali na timana ari agus banjar karang panglayungan nya bali geusan ngajadi" Pek Perbu Kean Santang ngawalonan

V. Pupuh Pangkur
67. Pangeran Gagak Lumajang sakalangkung gonjlengna kaliwat saking "he bapa lamun teu weruh kaula teh urang J awa ngaran kaula ieu teh Gagak Lumayung nya eta Gagak Lumajang Perbu Kean Santang aji
68. Nu gagah di Pulo Jawa Garantang Setra enya keneh ngaran kuring nu mawi jauh dijugjug anggang-anggang diteang anu ngaran Baginda Ali siga pamuk kaula hayang ngayonan kadigjayan Bagenda Ali"
.69. "Sabab kaula di J awa enggeus garung eweuh pilawaneun jurit kitu margina dijugjug tah kitu bapa nya maksud niat kula "Baginda Ali ngarungu seug maca alhamdulillah lajeung hirabila lamin
70. Sujud sukur ka yang sukma amung tekad Bagenda Ali nu lantip hanteu pisan-pisan kitu, ngagungkeun yen kagagahan teu rumaos nu gagah amung yang agung raga nyawa gagaduhan titipan nu murba diri
71. Bagenda Ali ngandika "atuh agus mangga pun bapa teh ngiring sumangga aya pituduh geus tinangtos agus tepang

tatapina engke dipayuneun rasul sareng Bagenda Ali tea keur ngadegkeun ontob masjid

  1. Jung angkat Gagak Lumajang ingkeun bapa engke anu tuduh margi Gagak Lumajang ti pungkur antara geus sapapatah tebihna teh emut kana tungkat kantun Bagenda Ali ret katukang barina lajeng ngalahir
  2. "Masaallah agus hilap pun bapa teh tinggaleun tongkat pandeuri abong-abong enggeus pikun Raden pangnyandakeun heula krana Allah" Enggalna Gagak Lumayung wangsul deui nyandak tungkat geus sumping ka urut tadi
  3. Tungkat keur nanceb di tanah seug dicandak di jurang ku tengan kari barang jung eta dicabut tungkat pageuh hanteu beunang dodogeran pangeran Gagak Lumayung tapi weleh hanteu beunang Perbu Kean Santang pusing 7 5. J eung maca Astagaillah kurang ajar tukem ngawawanen teuing moal sabaraha teguh Raden nyingkilkeun raksukan duwanana rap tangan kenca katuhu dicabut pageuh teu beunang bedasna nu nyabut tarik

  4. Pageuhna tungkat ka lemah hanteu beunang kalah ambles eta sikil sampean Gagak Lumayung semet tuur duanana ka jro taneuh seep tanagana lesu geus seep kadigjayaan lalesu nya tulang sendi

  5. Karinget tina salira metu darah ting peletik bijil getih rumpuyuk Gagak Lumayung saumur kakara ningal rnetu darah lomokot sabulu-bulu ngaraos apes istijrad duh cilaka awak aing
  6. Angen sasambat ka dewa kitu pokna: "duh jiwa da sangamalih lan rnalih dewa merwolu hamba tulung kadigjayan Keyan Santang beunang sasambat kitu teunekan istijradna lalesu nya tulang sendi
  7. Kabujeng bae ku bapa "rnasa allah naha mana lami teuing" Ngajawab Gajah Lurnayung: ''bapa kula hanteu kiat nyabut ieu tungkat pageuh teu kacabut" carek bapa: "na kumaha kapan agus jalrni sakti
  8. Kari-kari teu kajungkat "rnaka kalah naha bapa heran teuing" Pangeran Gagak Lumayung sakalangkung tarnpa wirang carek bapa: "cing ku bapa urang cabut" Barina maca kalimah kalawan salawat deui

  9. "Allohumma salli ala Muhamadi ala ali Muhamad deui, laillaha-illellohu waashadu ana Muhammad, rasullah'', Gusti Ali maea tutug maea kalimah sahadat, seug dicabut tungkat kenging.

  10. Sareng Keyan Santangjagjag, langkung bengong ngupingkeun kalimah kalih Gagak Lumayung seug nyaur: "palakiah naon bapa anu bieu eta teh na matak nulung tungkat beunang kula jagjag Gusti Ali walon aris

  11. "Bisi agus teu uninga nu dibaea palakiah anu tadi paranti ngapeskeun musuh" eek Raden : "astagaillah kutan kitu kabuktian bapa estu engke kula arek nanya, Pok deui ka Bagenda Ali
  12. "Tapi eta palakiah, aya deui karepna salian jurit salian pangapes musuh j eung ungel bapa kumaha palakiah soteh basa kuring sebut enggal bapa teh ngandika eek bapa mah aya deui
  13. Eta teh pikukuh selam enya eta ngaranna kalimah kalih ari papakem nu luhur enya eta kitab kuran saha-saha anu teu make eta tangtu dihisab diarah mahsar teu diaku umat Nabi

  14. Aya didasar naraka Raden Gagak Lumajang prihatin nguping rumaos agama Hindu enggalna ieu carita saparantos Kean Santang naros kitu kebat angkatna jeung bapa ngadeuheus ka kangjeng Nabi

  15. Sum ping ka Masjidilharam Kangjeng Nabi kasondong jeung para mu'min miwah sahabat sarawuh Abubakar, Umar, Usman engeus pada nyandak tihang anu tujuh ngan kantun sahiji tihang sabab ngantos Baginda Ali
  16. Kangjeng Nabi seug mariksa: "naha Ali mana kalamian teuing diantos ku batur-batur na aya naon halangan ? " Tungkul mando Bagenda Ali piunjuk sumuhun dawuh pariksa mendak halangan sim abdi"
  17. Kabujeng tamu di Jawa taya sanes anu dibujeng sim abdi maksudna anu geus tangtu tina geus garung di J awa taya dua nu gagah unggul ti batur wasta Perbu Kean Santang Pangeran Gagak Lumiring
  18. "Atawa Gagak Lumayang pangkadieu hayang ngayonan sim kuring sareng agamana Hindu Kean Santang kaget pisan yen ngupingkeun Bagenda Ali miunjuk noel barina ngandika: "kutan bapa Bagenda Ali"

  19. Lamun tadi ngaku nama meureun kuring teh moal isin kangjeng Nabi nyaur arum eta aya tamu gagah maksudna teh engke bae urang catur kitu jeung Na bi ngandika ka eta Bagenda Ali

  20. Ayeuna perasahabat menta tulung ngajungjungkeun tihang masjid Perbu Kean Santang nyaur: "sumangga ngiring timbalan Kean Santang Pangeran Gagak Lumayung geus rek nyandak hiji tihang tihang pikeun tihang masjid
  21. Kitu deui persahabat Abubakar, Umar, Ali pada nyangking barang tihang rek dijungjung sakabeh maca kalimah geus jung ngadeg amung hiji tacan nangtung nya eta perbu Kean Santang dodogeran teu kaindit
  22. Kean Santang dodogeran eta tihang kuning anu ti ratu jin tibatan tihang kajungjung sampean amles ka lemah cikaringet barijil sabulu-bulu sarta cikaringet darah Perbu Kean Santang muni
  23. Tulung teu kabawa beurat Bagenda Ali gumejeng bari ngalahir "boro gagah teu kajungjung" Mesem galih persahabat Bagenda Ali geus kek nema tihang agung barina macam kalimah jeung kaluhur durma galih

VI. Pupuh Durrna

  1. Kabeh tihang geus ngadeg geus didangdosan ceuk sakaol hanteu sami loba nu ngabantun dalah darongkap sorangan dongkapna teh eta kai ngan geus sampurna geus parantos ontob masjid
  2. Kacaturkeun eta.Perbu Kean San tang wirangna kaliwat saking mikir sajeroning manah wiwirang nu dibelaan "homo teuing engke aing geus prak ngayonan gagahna Bagenda Ali"
  3. "Aye up.a ge geus wirang ku istijradna, komo teuing geus prak jurit aing geus taya untupan, ngalawan dina ngalaga" Perbu Kean Santang singkil, niat rek minggat eta seja kabar mulih
  4. Nepak bumi dek kabur ka awang-awang, barang deuk ngapungna tarik, teu kebat ka awang-awang, kasiku ku Rasullullah, geuwat deui kana bumi, Den Santang ragrag, biur deui ragrag deui. I 00. Tujuh kali maburna teu bisa kebat, kasiku ku kangjeng Nabi cambal kasaktenna, geus rumasa Keyan Santang

ngaluhuran kangjeng Nabi apes jayana, tinya hayang nerus bumi

  1. Sang Lumajang rek nerus bumi kahandap barang dek bus kana bumi, bumi hanteu suka susah Perbu Kean Santang datang lesu liwat saking taya tanaga leuleus kabeh tulang sendi l 02. Raraosan lir bentang gering pat bulan ukur bisa usik malik teu aya tanaga lamun seug aya tanaga meureun lumpat suku aing manahna Santang nyaur dina jero ati l 03. Tina sabab kasiku ku Rasullullah ti harita urang J awi sihir-sihir kagagahan, satiap dongkap ka Mekah kudu bae apes sihir Gagak Lumayang sumping pikiran birahi l 04. Kean San tang nyaur dina jero manah "ieu lalampahan aing kasiku ku Rasullaullah sanajan mulang ka Jawa enggeus tangtu awak aing cilaka cam bal diri wirang awak rujit
  2. "Ayeuna mah anggur aing rek tabeat. agama Hindu teu hasil

jaga geus komo cilaka cacak ayeuna ge wirang Perbu Kean Santang indit seug ngadeuheusan kapayuneun kangjeng Nabi

  1. Kangjeng Nabi mariksa ka Kean Santang gentrana arum jeung manis ma tak bingbang manah "He Perbu Kean -San tang naon maksud Raden galih pang ngadeuheusan" Kean Santang unjuk ta'dim
  2. "Kaulanun agung bebendu gamparan mugi idin kersa gusti nyanggakeun dikaireugan gusti nu langkung waspada seja ngiring agama suci sumeja tabeat sareng deui jisim abdi
  3. "Paneja abdi mo mulang ka tanah Jawa seja ngiring dampal gusti Kangjeng Nabi narima lnsa Allah Kean Santang ari geus dongkap birahi sinareng ihias ulah sok tuturut munding"
  4. "Pikir ulah kabawa ku kaba-kaba" Kean Santang matur ta'dim: "tobat hanteu pisan jisim abdi enggeus pasrah" enggal bae Kangjeng Nabi dek minulangan sahadat kalimah kalih

  5. Kean Santang tumut kana piwurukna · kawuwuh terap birahi Kangjeng Nabi ngadunga neda ka Yang Maha mulya dipadangkeun caang pikir manah Kean Santang putus panedana Nabi

  6. Cara koneng katetesan apu tea satekane kang dumadi diginuluran kersana siang wengi hanteu kendat wahyu ti yang maha suci sagala kersana ka Nabi Rasul kakasih
  7. Kean San tang sawuruk Nabi kamanah serta geus terap birahi geus padang manahna dibukak ku yang sukma Kangjeng Nabi geus ngalahir ka Abubakar He ki Abubakar Sidik
  8. "Singna terus ieu Raden Kean Santang wuruk kur'an sina ngaji" Abubakar anarima miwah sahabat sadaya ngiring satimbalan gusti Gagak Lumajang manahna kasmaran galih

VII. Pupuh Asmarandana

  1. Enggalna nu mangun jurit Siang wengi Kean Santang hanteu weleh-weleh ngaos dibanding para sahabat pada asih sadayana kawuwuhan ku jeng Rasul kakasihna Keang_Santang 11 5. Carlos nu mangun gurit sanggeus tetep Kean Santang beurang peuting getol ngaos pitulung yang maha mulya katambahan ku mujijat tina kakasih nu luhur aosannana geus paham
  2. Lamina dicatur deui ngaosna di nagri Mekah gues sataun lamina teh sagala aosan paham taya kitab nu kaliwat wantuning ditempat makbul mustajab sapanejana 11 7. Saparantos kitab deui seug ngaos tatakrama honnat tilawat sakabeh tiba teu kendat berjumah siang wengi ngadeuheusan satuluyna mah tabaruk satariyah nakasbandiah
  3. Guru tarekat ka Nabi kantun tetep ibadahna lima waktu langkung getol geus pugµh hujung puhuna

sahadat jeung sajatina sakalangkung matak lucu asih sakabeh sahabat

  1. Sumawon Bagenda Ali asihna kabina-bina cara katurunan bae Abubakar, Umar, Usman siang wengi teu papisah kawuwuhan ku luluhur Gusti jeng Na bi Muhamad
  2. Siang wengi dipiasih hanteu beda ka sahabat samalah jenengana teh geus lain jenengan San tang atawa Gagak Lumajang sumawon Gagak Lumayung ari kakasihna dua
  3. Sunan Rahmat gentos kasih atawa Sunan Bidayah kocap mangsa harita teh jeung sadaya persahabat Ali, Abubakar, Usman ngaberes payuneun Rasul serawuh Umar bin Hatab
  4. Kangjeng Nabi seug ngalahir marios ka Sunan Rahmat "Cing ayeuna arek naros rehing geus salin agama wirasat kuma raosna menggahing agama Hindu sinareng agama Islam"

  5. "Ayeuna di tan ding pikir karana urang teu maksa seug coba mana nu enteng mana nu karasa senang upama maneh tibelat ka eta agama Hindu ku urang moal dipaksa

  6. Sunan Rahmat matur ta'dim : "sumuhun dawuh timbalan ayeuna jisim abdi teh sumawonna tineung tea ka agama Hindu Jawa kawasna saumur hirup moal emut-emut acan
  7. Sumawonna abdi eling sahingga ka tanah J awa sim abdi geus moal bae geus hanteu hayang nyoreang sumawonna nineung tea sanajan dumuk ka umur teu hayang nilarkeun Mekah.
  8. Kangjeng Nabi nyaur manis: cing kieu ari ayeuna tanda teu dek nyoreang teh yen nilar ka pulo J awa cing coba maca kalimah serta bari mepet bayu peureum sahingga geus tamat
  9. Ku Raden beuntakeun deui kuma eta wirasatna raraosan anu yaktos Sunan Rahmat matur "mangga" sot tasbeh sareng sajadah simpen heulanan dipayun dek Raden maca kalimah

  10. Nya eta kalimah kalih ashad u allaillaha illellohu nu diaos waashaduana Muhamad-Rasullullah kitu macana barangna parantos putus mepet bayu geuwat beunta

  11. Kersa Allah geus pinasti geus ras eling Sunan Rahmat sakalangkung bengongna teh anjeunna aya di Jawa di tempat Karang Pakuan segruk nangis bari nyuuh dastarna dianggo pisan
  12. "Aduh gusti Kangjeng Nabi jisim abdina kumaha bet pertela ieu yaktos bet jadi aya di J awa serta di Karang Pakuan bari nangis segrak-segruk kaserep ku Rasullullah
  13. Jisim abdi geus teu sudi aya deui di Pakuan teu nyanten abdi kabendon mugi gusti ngahampura nu asih ka umat tuan ti luhur sahibas rambut ti handap sahibas dampal
  14. Sunan Rahmat keur prihatin kareueung nineung nya rasa raos titingalan oge ningal ka Karang Pakuan hanteu sudi-sudi acan reup peuting asa ngalindur rarasaan asa gundam

  15. Ti peuting osok kaimpi ti beurang kantun waasna diupamakeun kabogoh istri geulis sarta lenjang atawa ku pamajikan papisah katinggal umur ditandingkeun reujeung eta.

  16. Sajerena geus mo tepi kakeueung kanineungan ageung keneh ka papagon euweuh eukeur ngaupama lamun ku Rasullullah mah komo mun katilar pupus cacak papisah ka J awa
  17. Sakieu wirasat diri beak umur kaedanan Sunan Rahmat bari mios angkat hanteu puguh losna taya jalma nu mendakan diayana ge nu wawuh sahingga urang Pakuwan
  18. Kawantu rupina haji marukanna lain Santang taya jalma anu nyaho kebat Sunan Rahmat angkat lalakon nu kaedanan enggaling nu mangun catur bijilna di ujung kulon

VIII. Pupuh Mijil

  1. Sunan Rahmat barangna ras eling manahna tawalo jeung deui barang ngareret mendak tempat anu suni tinya liren calik minangka tapakur
  2. Siang wengi hanteu kendat muji saking ti rumaos kaireugan katalingeuhan bae teu jadi manah nu suci mantep ka yang widi sidakep tumungkul
  3. Amateni kang patang perkawis kang pinendeng urang pengucap lan talingane paningal karana malih sawiji tan kenang pati pek matiya nagung
  4. Angilone paesan satunggil kasmaran rupi kang yaktos ya iku tan kenang paten manjing metu ing apesi Sunan Rahmat anglilir kaya mentas turu
  5. Kuwung-kuwung melengkung meg langit teja mayang katon lain sejane kang tingale Sunan Bidyah ras eling raos ka babawa impi jeung deui dicatur

  6. Lamina teh didinyana ngancrik kira sataon nya raos hanteu tuang hanteu sare sarena pada tingali ku antek nya ati hayang deui tepung

  7. Sareng pangkon kangjeng gusti nabi, Rasullullah angot kocapkeun siji mangsa teh barangna reup deui peuting peuting geus beurang deui kira wanci subuh
  8. Eukeur maca muji ka yang widi pitulung yang manon tina kamurahanana teh sumawon nu laku becik hingga ala deui murahna yang agung
  9. aya sowara tan katingali unggeling sorane He Sunan Bidayah maneh lamun hayang tepung deui jeung Nabi kang sinepi Kangjeng Nabi rasul
  10. Reujeung deui mun maneh teu ngarti pertandana yaktos mujijatna kangjeng Nabi teh ngungkulan ti para Nabi panguluna para Nabi sirahing para Rasul 14 7. Makutana ambiya sakalir kakasih yang manon cing ayeuna coba maneh teh

geura maca kalimah kalih sing es tu jero ati serta masing suhud

  1. Nya eta maca kalimah kalih sanggeus beunta panon kumaha wirasat maneh tangtu ku maneh kapikir reujeung kasmaran galih tambah mendak makbul
  2. Ngan sakitu soara les gaib tuduhna nu yaktos ras eling Sunan Rahmat teh muji sukur ka yang widi alhamdullillahi robil a'lamin mimitina maca taud
  3. Sunan Rahmat enggal maca gasik meungpeung tacan poho nya-eta maca kalimah kalih teh ashadu allaillaha illellohi waashadu ana deui Muhamad Rasullullahu
  4. Metu napas bari ret ningali kersaning yang manon Sunan Rahmat rurat reret bae barengna enggeus ningali enggeus dipayuneun Nabi kangjeng gusti Rasul
  5. Persahabat ngaberes digigir urut bieu yaktos katingali sajadah tasbe teh da puguh ge urut tadi geus kasmaran galih Raden lajeng sujud

  6. Kasampeyan jeng gusti sinelir kanjeng Nabi naros kuma raraosan maneh ayeuna sinareng tadi mana anu gampil Islam sareng Hindu

  7. Sunan Rahmat unjuk bari ta'dim sumuhun patios sumwonten ras jisim abdi teh ditetelakeun ka gusti wirasat di abdi najan teu piunjuk 15 5. Kangjeng gusti nu langkung tingali ratuning waspaos sumawonten umat kabeh pitung bumi pitung langit sawarga aras jeung korsi naraka pon kitu
  8. Amung gusti nu langkung tingali ngan abdi teh helok seja tumaros abdi teh pisah ti gusti ka J awi dicatet ku abdi lamina satahun
  9. Nya teu tepang sareng pangkon gusti amung abdi helok kari-kari ditingal tasbe teh sajadah nya kitu deui kawas urut tadi jeng Nabi ngadawuh
  10. Eta bae sahabat ku rayi coba seug parios engkang mah sakieu bae

bade ngawalon ka rayi poe ieu naon rayi tanggal bulan taun

159, Nu sakieu ieu abdi-abdi geura pek marios tuh ka paman nya marios teh Abubakar imut manis seug ngawejang deui ka Gagak Lumayung

  1. He Sunan Rahmat anaking maneh masing ngartos eta apan tasbe saksina teh tacan ganti beurang peuting bulan kitu deui sumawonna tahun
  2. Sareng dei manah masing lantip ulah salah raos ulah jadi helok jro manah teh manahan masing ka surti talek masing sidik ngelmuna sing timu
  3. Sunan Rahmat tungkul bari mikir teu lami po walon geus kahartos sauma teh kabeh saur Abubakar Sidik manawi kairing mujijat luluhur
  4. Persahabat ger gumujeung manis ngiringan geus cocog Sunan Rahmat langkung sukana teh keleresan ku permumin cari ta birahi kinantinya kalbu

IX. Pupuh Kinanti

l 64. Kangjeng gusti Nabi Rasul enggalna mariksa deui nya-eta ka Sunan Rahmat: engkang teh dek nanya deui kumaha di tanah J awa menakna jeung abdi-abdi

  1. Agamana masih Hindu. atawa campur agami Hindu jeung agama Islam loba mana mun ditanding coba engkang menta terang Sunan Rahmat matur ta'dim
  2. Sumuhun timbalan Rasul yaktosna di tanah Jawi Hindu pisan sadayana agama Hindu dipuhit sumambatna ngan ka Dewa jeung seweng cegahan Nabi
  3. Taya murat taya makeruh batal haram kitu deui tina saking ku teu aya hadis pangandika Nabi dalil pangadilan Allah agama Islam teu manggih
  4. Kadangu ku kangjeng Rasul sakalangkung welas galih hawatos ka para umat umat nu aya di Jawi cing Raden ari ayeuna ku engkang didamel wakil

  5. Sumawonna rayi purun ngambah deui tanah Jawi teu purun diteda suka kudu bae angkat deui nya-eta ka tan ah J awa ku engkang didamel wakil

  6. Sau pama Raden purun di dam el wakil ka J awi nyelamkeun di pulo J awa sing maca kalimah kalih kieu perjangjian engkang sumawonna diri rayi
  7. Saha-saha anu nurut barangkali engkang rayi kana kaluputanana jaga ditanggung di Batin dijauhkeun kanaraka pinanjing janatun naim
  8. Geura seug sing deukeut dangu ku rayi manah sing lantip dalil pangandika Allah salirana ieu pulih jeung deuina anu nyerat hatur paneda sim kuring
  9. Satu muni salah nyebut pajahati mugi-mugi perulama sadaya atawa kapala santri kema Allah didangdosan kieu pangandika Nabi
  10. Abin sani mu'minun ala insani mumin2 walharama ati Islam

apallahu linnasi walmuslimina walmuslimat ilia ipwa mu 'minin

  1. Wajibuli yapalu ayuhal mina ami kobla almaot badal maota gaeru illal munapikin munapikin ilia insan jahilin illa P.inarin
  2. Ari paeh moal burung taya gede taya leutik taya kolot taya ngora taya menak taya kuring taya gagah taya kurang taya cageur taya gering 1 77. Ka agama masing suhud ulah bosen beurang peu ting jeung masing gumati pisan ka agama kangjeng Nabi lamun geten ka agama pasti eta mulya diri
  3. Sunan bidayah seug tungkul ngupingkeun piwuruk Nabi ngeunah jeung gen tra tetela isin pabaur jeung ngerik matak ngabingbangkeun susah teu kandeg ngupingkeun gusti
  4. Jadi sungsuam jeung balung surup kulit kana dagmg sumarambah kana bayah terus kana sanubari Sunan Rahmat unjuk sembah nuhun satimbalan gusti

  5. Pirang-pirang abdi untung diasih ku dampal gusti kasuhun ka lingga murda kacangcang ku duwa kuping kacangreud ku tungtung rema nuhun salaksa lumiring

  6. Siang wengi seja tumut kana satimbalan gusti sumeja ngemban timbalan angjeng Nabi nyaur deui sukur Raden Sunan RC}hmat sambung dunga siang wengi
  7. Jeung deuilla bisi ripuh engke teh di pulo J awi nu enteng bae pilihan jeung saha di pulo J awi anu jadi gegedena nu mangku di pulo Jawi
  8. Piunjuk Gagak Lumayung nuhun timbalan jeng gusti ngan nagara Pajajaran nama Perbu Siliwangi Dawuh kangjeng Rasullullah tah eta heulakeun rayi l 84. Lamun enggeus puguh tumut abdi tangtunage gampil kumpulkeun ku rajana geus kantenan ngariring kana satimbalan tah kitu entengna rayi
  9. Sunan Rahmat pek piunjuk ngiring sadawuhan gusti tegas timbalan jeng tu wan

bade mios jisim abdi abdi gusti neda jiyad nyuhunkeun mujijat gusti

  1. Sunan Rahmat enggal sujud ka dampal sampean gusti ku Nabi seug diladonan hurmatna silaturahmi lajeng bae Sunan Rahmat geus munjung ka kangjeng Nabi
  2. Ngalirik deui ka pungkur munjung ka Bagenda Ali ka Umar sareng ka Usman jeung ka Abubakar Sidik Sunan Rahmat seug ngadunga jeung maca kalimah kalih
  3. Laillaha illallohu Muhamad Rasullullahi socana peureum teu ningal tekadna nu lantip budi maca kalimah tabeat minangka mujijat gusti
  4. Kersaning Allah nu agung Sunan Rahmat keur diasih karamat Rahmat mujijat barang bray beunta ningali Sunan Rahmat geus di Jawa manjur karamat kakasih
  5. Barang ngalirik ka payun Sunan Rahmat seug ningali beh karaton Pajajaran malah Perbu Siliwangi harita keur magelaran ponggawa Mantri Bopati

  6. Di paseban pepek pinuh harita Sang Siliwangi taya sanes nu diwejang naha kalamian teuing lam pah Perbu Kean San tang rada sumelang nya diri

  7. Barang keur guneman catur Perbu Kean Santang sumping geus dongkap payun ramana kaget sadaya ningali sakedap bengong teu awas ku sabab panganggo haji
  8. Geus lami sadaya emut ka eta Gagak Lumiring sakabeh nyebut haturan kocap Perbu Siliwangi naha Raden Kean Santang mana kalamian teuing
  9. Sampe meunang dua taun ama hayang pisan nguping ama anu sayaktosna kumaha Bagenda Ali eta diay onananana ? nu kocap kapungkur jurit
    X. Pupuh Pangkur
    19 5. Sunan Rahmat seug haturan piunjukna ka Perbu Siliwangi kang putra hatur piunjuk perkawis putra ngajonan enggeus niat jeung Bagenda Ali pamuk eta beja kayaktosan perkawis Bagenda Ali

  10. Eta teh bangsa karamat kawuwuhan ku mujijat kangjeng Nabi nu kakasih maha luhur perkawis putera tea sumawonna nepi kana perang pupuh cacakan ku karamatna putra teh geus apes diri

  11. Cindekna putra teu kiat moat aya nu mental Bagenda Ali ka kasih kangjeng luluhur tina putra geus teu kiat manjing selam teu guna agama Hindu hanteu nineung hanteu melang matak disiksa di batin
  12. Karana mungguhing urang paeh tea tara dua tilu kali ngan sakali enggeus tangtu saupama diri urang lamun wafat teu mawa iman geus tangtu dikubuma ge disiksa ku Munkar jeung Wanakir
  13. Suinawon diarah Mahasar enggeus tangtu lamun teu nurut ka nabi kana agama luluhur menggah kangjeng nabi tea geus kasebut makutana para Rasul nu kagungan alam dunya pitung bumi pitung langit
  14. Sawarga sareng naraka sumawonna sakabeh eusina deui jin, setan sakabeh makhluk sakabeh asal tidinya mana putra ayeuna nu mawi cunduk yaktosna ngemban timbalan ka J awa wakil jeng nabi

  15. Ngislamkeun ieu di Jawa mugi-mugi kangjeng rama Siliwangi ayeuna teh kudu taluk miceun Hindu manjing Islam parmanahna ulah bareurit sing nurut ayeuna teh tuang putra hukum mula tambah suci

  16. Jeung kabeh kaula warga kawuwuhan dikersakeun jadi wakil wawakil kangjeng luluhur coba putra seug walonan saupama putra ayeuna teh kudu kuma kersa purunna maha kang putra seja dek ngiring
  17. Cindekna mah ka sadaya saha-saha anu teu nurut ka kami nu kitu beunang disebut jadi satru kabuyutan Siliwangi hookeun reuwas kalangkung naha ieu Kean Santang kawas jalma nu teu eling
  18. Datang ti Mekah teh edan atawana ieu jalma selang-seling ku Sunan Rahmat kadangu lamun kieu petana Pajajaran ayeuna tangtu diamuk dijieun lemah irengan rajana tangtu dibasmi
  19. Atina teuas siluman lain aya pikiran kadua lantip pituduh nu matak makbul kalah ngangaranan edan Siliwangi geuwat ngawalonan arum hekang putra Kean Santang engke ulah waka pusing

  20. Perkawis nalukeun Se lam ama nanya pertanda nu jadi wakil mana piagem ti ditu coba ama ningalan Sunan Rahmat ngajawab ka sang Perebu henteu nganggo piagemna karana hanteu maparin

  21. Tina kalangkung percaya Siliwangi ka Santang ngajawab deui cindekna iau teu puguh mama teh kirang percaya mun geus ningal piagemna ti luluhur ama teh tangtu didinya kari arek mikir-mikir
  22. Pangandika Sunan Rahma t mun kitu mah puguh pikiraneun deui ulah ngangaranan burung pasaling piagem gampang Kian Santang bari neneda ka Rasul ayeuna dek nyokot heula ka Mekah dek balik deui 209, Kebat lampah Sunan Rahmat enggeus mundur ti payuneun Siliwangi ,i jalan hanteu dicatur Ji,lgan kocap bae geus dongkap
    S.unan Rahmat harita enggeus dipayun ¥gjeng Nabi seug mariksa kumana bejana rayi
  23. Sunan Rahmat unjuk sembah nuq sumuhun perkawis dawuhan gusti sim ,a;bdi can hasil maksud abdi kalah cacarita ku kang rama di Siliwangi Perebu abdUh dipenta tanda piagem wakil ti gusti

  24. Kangjeng nabi ngadawuhan miwarangan nyandak kertas jeung mangsi piwarangan enggeus cunduk kangjeng nabi enggal nyerat hanteu lami nyerat piagem geus tutup dipasihkeun ka Seh Rahmat ku Seh Rahmat geus ditampi

  25. Serta guligah manahna Sunan Rahmat tidinya teh lajeng amit ti payuneun kangjeng ratu kangjeng nabi seug mariksa Insa Allah rai Sunan Rahmat agus sing canduk ka tanah J awa Sunan Rahmat tungkul ta'dim
  26. Ngupingkeun eta pidunga suka ati Sunan Rahmat seug ngalirik kersa Allah enggeus cunduk sakiceup dibawa mulang enggeus aya di negeri Pakuwan datun dina lebah kaca-kaca nya-eta di sirah negeri
  27. Sunan Rahmat barang ningal kana batu lempar alus liwat saking patlot mangsina dicampur tulisan aksara J awa Sunan Rahmat ngadamel bari ngadekul eta batu dingaranan nelah ngaran batu tulis
  28. Anu matak Sunan Rahmat eta nyerat kersana di batu tulis supaya pada weruh menak di Pajajaran yen anjeunna jadi wawakil luluhur mangsana eta keur nyerat nuju jalma wara wiri

  29. Nya eta nu rek kumpulan para mantri panggawa para bupati aya hiji Mantri weruh mariksa ka nu keur nyerat eukeur naon eta nulls dina batu dijawab ku Sunan Rahmat syukur nanya maneh Mantri

  30. lyeu kami mana nyerat eukeur nyieun tanda wawakilna nabi nya kami wakil luluhur ngislamkeun di Pajajran enya eta nyalinan agama Hindu gen tos ku agama Islam saha-saha bae jalmi
  31. Anu teu turut ka urang enggeus tinantos napsuna ka anu mungkir diayonan moal mundur kakuping ku mantri tea jeung ditinggal bet Raden Gagak Lumayung Mantri geugeuwatan angkat nguninga ka Siliwangi
  32. Teu lila mantri geus dongkap Sang Perbu kasondong jeung Perbopati mangsana eukeur berhim pun taya sanes nu diwejang rehna eta anu dek nalukeun Hindu mupakat jeung para raj a purun teu purun nya galih
  33. Rehna kitu Kean Santang Perbupati tungkul teu jawab sahiji barang keur ngadawuh kitu torojol Mantri unjukan piunjukna Mantri dipayuneun ratu sim abdi unjuk uninga mendak putra eukeur nulis

  34. Pangeran Gagak Lumajang ngadamel nyerat dina batu tulis sarta bari nuduh-nuduh supayana pada terang kudu Islam nyalinan agama Hindu jeung aya anu dicandak ku anom piagem wakil
    XI. Pupuh Sinom

  35. Kakuping ku Sang Pakuan piunjukna eta mantri kaget Ratu Pajajaran ngadawuh ka perbopati barina jeung nguncung pikir cing kumaha para ratu rempagna teh ieu urang karana geus datang deui Kean San tang eta si Gagak Lumajang

  36. Perbopati piunjukna ari menggah jisim abdi asup kana paribasa taya sanes nu diiring siang wengi kangjeng Gusti nu diwereg lampah ratu sumawonna abdi tea kamana-mana ge abdi hanteu niat nyalinan deui agama
  37. Lamun ku dawuhan tuan menggah abdi seja ngiring seug Siliwangi ngandika he ayeuna para mantri ari pikiran kami temen kula-para ratu papada oge mupakat

pikir mah kalangkung mungkir ngadenge ge najis ka omongannana

  1. Kula hanteu seja pisan leuwih sangeuk liwat saking make nyebut ditakonan ku Munkar eujeung Wanakir anut ka agama Nabi jeung ngomong-ngomong dikubur baroraah niat tea· anggur cua liwat saking majar gada sereg di langit gedena
  2. Nyebut paeh ditakonan omo)lgna bangsa teu harti jeung menggah nu mati tea dikubur di jero bumi kubur teh dangan saeutik sapira lega di kubur katurug make tamela di jero teh beuki heurin kari2 make nyebut ditakonan
  3. Najis teh jeung mawa-mawa siga titiran hanjeli barina ngomong sorangan haruwas-harewos leutik jeung nyambut ka Kangjeng Nabi beleke bae nu burung lamun seug taya haianean ngan ku geus beunang jurit mani pikir hayang nalipak sing modar
  4. Cindekna ayeuna urang saha teu anut agami nya eta ka nabi tea ponggawa atawa Mantri

atawa Jaksa jeung Patih ka raden Gagak Lumayung montong sieun montong reuwas ari nurut mah ka kami ayeuna mah bisi kaburu ku Santang

  1. Kaburu datang ka urang tiningal anut agami kajeun ninggalkeun nagara urang kabur bae nyingkir balik ka asal tadi muru Pajajaran hayu ari kula sorangan arek jalan nerus bumi ieu kraton urang cipta jieun alas
  2. Ari sakabeh para raja jeung ieu punggawa Mantri kabeh kudu mindah rupa jadi macan warna wami Piunjuk ponggawa Mantri kabeh kudu ngiring ratu enggalna ratu Pakuan nyandak tukem ki lagondi diguratkeun kana tanah padaleman
  3. Istijadna tinekanan karaton geus salin rupi jadi leweung jujumplukan kitu deui Perbupati diteunggeul ku kilagoni sakabeh geus jadi maung ari nu jadi ratuna ratu Batulajang aji enggeus budal kabeh maruru Sancang

  4. Ari geus dongkap ka Sancang seug salin jenengan deui ratu Patek salin nama Kocap Raden Arga Patih teu milu jeung Perbupati jajatena hanteu campur Perebu Taji Malela anu diangkat Papatih mindo rupa jadi manjangan Kancana

  5. Tapi sejeroning angkat manahna kadua leutik tibelat ka Sunan Rahmat ngan mugi kapayun deui ditepungkeun diri aing jeung Rden Gagak Lumayung mugi saputra putrana eta Perbu Siliwangi sing sapikir reujeung Perbu Kean Santang
  6. Oge turunan timana naha paman beda pikir kocap bae Patih Arga ka Pajajaran geus sumping tepung jeung celeng sareuri enya eta jaden Galuh Pajajaran sewu tea tetep eta Raden Patih leungit mencek tanggal deui patih arga
  7. Kocap deui Sang Pakuan atawana Siliwangi nerus bumi ti Pakuan kocap Sunan Rahma t deui barang sumping ka jero puri hookeun kaliwat langkung karaton bet jadi alas naha rama Siliwangi antukna mah dongkap ka kieu-kieuna

  8. Hanjakal teu tepang heula leu Perbu Siliwangi batan daek ka agama kalah minggat ti nagari jadi rutuning silemin dilari lacakna Perbu urut nerapkeun istijrad Sunan Rahmat pantes galih panasaran daek teu daek agama 23 7. Geus kacipta ku wirasat jalanna nerus ka bumi coba ku aing dipegat panasaran tacan panggih sing teh sakali deui ari geus tangtu mah puguh daek teu daek agama geus jongok mah kajeun teuing Sunan Rahmat lajeng muntang ka karamat

  9. Ditelik lampah nu minggat enggeus tinangtu bakal bijil dina lebah Tegalluwar Sunan Rahmat tungkul muji · jeung maca kalimah kalih sahingga eta geus tutup Sunan Rahmat beray beunta satkanan kang dumadi ngan sakiceup geus aya di Tegalluwar
  10. Kocapkeun ratu Pakuan samemeh anjeunna bijil istijadna nu tiheula lemah nyungkur munjul bumi teu lila anjeunna bijil jeung Sunan Rahmat gok tepung cing ayeuna enggeus tepung jeung piagem ieu bukti ayeuna mah putra ngupingkeun sakersa

  11. Dek taluk atawa moal menta jawab anu yakin Siliwangi hanteu jawab lep deui anems bumi tina saking ku teu sudi Sunan Rahmat imut kantun enya teuas ati rama tinya mah Gagak Lumiring lajeung angkat lampahna sawenang-wenang 241. Kocap Perbu Pajajaran kebat lampah nems bumi manahna anu di seja rek mum Cikaso nagri rek nyampeurkeun wana tadi aya di Ratu manaun Sang Perbu Pajajaran munjul deui lemah miring dinya munjulnya eta Munjul-suriyan 24 2. Barang bijil Sang Pakuan ngagebeg basa gok panggih reujeung Perbu kean Santang ngadegdeg kaliwat saking raosna Sang Siliwangi eta teh Gagak Lumayung dipayuneunnana pisan tur ta hanteu aya sepi ngan ku bakat karamatna Sunan Rahmat

  12. Eta Perbu Pajajaran lep deui anems bumi arek mum ka putraita langkung Pakuan diusir nu aya di Sunan Sandi di nagara dayeuh Manggung geus bijil Ratu Pakuwon munjul deui tina bumi sawetaneun padarek eta munjulna

  13. Barang elol Sang Pakuan ngagebeg deui Siliwangi geus singsieuneun ku Santang Iep deui anerus bumi tidinya ma kebat indit bijilna di Duren-sewu gok tepung jeung Patih Arga Siliwangi suka ati langkung manis geus tetep di Pajajaran
    XII. Pupuh Dangdanggula

  14. Kasigeugkeun Perbu Siliwangi nu geus tetep sareng garwa putra di Pajajaran Sewu teh gentos deui nu dicatur kocap Sunan Rahmat deui ngubek di Pakuan turut-turut lembur nyelamkeunnana teh senang henteu cara menak Pajajaran brewit lajeng kana pigunungan

  15. Sakapendak di tegalan jalmi anu nyawah sareng nu ngahuma eta diselamkeun bae amung harita nu tangtu ngan maca kalimah kalih hanteu acan disunatan sabab tacan weruh pilemburan pigunungan nu diambah nu heula anut agami para menakna diliwat 24 7. Sabab lingas enggeus meunang warti unggal nagri diayaan serat serat ti Siliwangi teh

nu mawi loba nu nyumput para Mantri geus muringis amung abdi-abdina nu taretep lalungguh hanteu gedag kalinduan geus bagjana pinanggih reujeung agami sarta pikir taillbah senang

  1. Kabungahan ku kalimah kalih hanteu ridu dibawa-bawana nu nyawah di kebon jongjon Pangeran Gagak Lumayung top nandakna buku alit ditungkut jeung ditulisan sakur nu geus anut nu unggel dina catetan nummer satu ngaranna teh eta jalmi ka dua ngaran lembuma
  2. Kitu deui umuma ditaksir kolot budak anu geus mistina
  • • tegesna anu geus baleg geus ditulis dina buku kitu deui nu ditulis eta teh sadayana dijumlah diitung enggeus puguh di Pakuan ngalih deui lajeng ka sanes nagari tanapi ka pigunungan
  1. Mapay2 ti gunung ka nagri saayana kabeh anut Islam nyeta di Batulayang teh tidinya ka lebak agung atawa ka lebak wangi nyeta curug Dogdog tea sareng curug sempur satu nagri opat ngaran

wantu-wantu eukeur jaman anu tadi aya anu jadi raja

  1. Dinya aya putra Siliwangi nama raden Santang Pertama putra ti Batulayang teh jeung Sunan Rahmat geus tepung saklangkung suka ati sarta geus masup islam SOF1ona hanteu dicatur wantu panjang keneh maksad Sunan Rahmat saderekna suka galih bagjana Santang pertala

  2. Sunan Rahmat seug netepkeun rayi jadi pangkat rehna seweng raja jadi ratu curug Dogdog jumeneng Dipati Ukur Sunan Rahmat hanteu lami ti curug Dogdog geus jengkar geus ngalih ngajugjug ' turut lamping nyorang tegal enggeus nyorang lebak gunung Malasari wates ka Timbangantenan 25 3. Tuluy nyorang ka pinggir nagarai enya eta dayeuh Pangadegan ngajeujeuh ka lembur bae nu aya sadaya anut. amung menakna sarepi geus putus di Pangadegan sor deui ka payun nyorang dayeuh Tambakbaja kitu deui abdina dipinggir nagri nu aya geus manjing selam

  3. Menak didinya hanteu kawarti Sunan Rahmat nyorang Korobokan rawuh bae anjeunna teh

  4. Ti awitna dumugi ka ahir yen anjeunna terang ka lenggah eyang jadi wakil luluhur teh para eyang anu tilu sami runtut pada ngiring enggeus pada manjing Selam sukana ka langkung amung ieu Sunan Rahmat malum pisan didinya teh hanteu lami kalangkung sebab sono mah

  5. Kajeun teuing engke calik deui tina tacan seep di maksad carios enggalna bae Sunan Rahmat enggeus mundur ti payuneun Sunan Sandi nu sono kantun wayahna eyang na di kentun ti Lebakjaya geus dongkap kebat ngidul sukapunten nu di usir teu samar ka Kadung heula
    XIII. Pup uh Asmarandana

  6. Di Kadungheula teu lami Sukapunten geus kejajah lajeng kebat ka Malere ti Malere deui kebat seug make ka Singapama geus dongkap ka Batununggul terus ka Tawanggantungan

  7. Tinya lajeng nerus deui seja nerus mapay-mapay leuwi Seeng Cipatenggeng leuwi heulang Cicarulang beletuk ka bakatulan

kelepu kalapa sewu gelor batang timbang sano

  1. Didinya deui teu lami barang dek ka Galuh angkat hanteu cios kebat ngaler kebat sasab ka Parakan nya nelah Parakan nyasab ka Pageragung dijugjug barangna dongkap kadinya
  2. Di Pageragung teu lami barangna dek ka talaga Sunan Rahmat hanteu cios lajeng mapay di Cikidang ngarandeg di Tegallaja terus angkat ka Panjalu di Panjalu kenging siram
  3. Emut ka Cihaur deui malik deui Sunan Rahmat enggeusna teh ngulon ngaler ka Haurbeuti geus dongkap dinya aya satu ajar guruna anu kapungkur nama Perbu Tajimalela
  4. Geus tepang jeung Ajar Taji Sunan Rahmat langkung mandap Sang Ajar kaget ngarontok bagja Gagak Lumajang Raden geura mulang tamba meungpeung eyang tacan pupus geura pek Raden nyarita
    '

  5. Pun eyang hayang nguping purwana lami teu datang Sunan Rahmat matur alun

para menak saruwung kumpulan ka Siliwangi ka Pajajaran sewu nagara abdina nu kantun sadaya geus anut Selam sadayana nu euweuh tangtu disungsi ngubek di Timbangantenan

25 5. Kandangserong rawuh Cilageni dayeuh handap karabur basana panunggangan Cikupa teh terus ka Sangkanluhur Limus haseum kasorang deui lajeng deui angkatna ka Ciparay terus tuluy mapay jalan 11aga ka Cikaso di Pagedeng kenging ngancik wantuning loba nagara

  1. Terus ngetan tepung gelang deui Perbasana dua kali nyorang trus deui neang saderek ka nagara dayeuh Manggung barang sumping eta sepi panggung Pakuan teu aya kabeh geus kasaur nya-eta ka Pajajaran ngan abdina sakur nu kasorang tadi enggeus pada anut Selam
  2. Tidinya mah tuluy angkat deui turut2 dayeuh Manggung tea pikampungannana bae abdina pada aranut manjing Selam parantos suci Sunan Rahmat enggeus kebat geus lunta ti panggung kapungkur panggung nagara

enggeus nyorang ka lebahna dayeuh deui nyeta jaya karantenan

  1. Enya eta nama Sunan Sandi eukeur calik ngariung didinya calikna pada ngaberes jeung saderekna nu bungsu sembah kuwu kandang sakiti patinggina para Sunan nya eta sembahna kuwu ari Sunan sandi tea Pagerjaya martuana Siliwangi ramana Dalem Pasehan
  2. Menakna di Timbanganten nagri nya eta sembah Dalem Pasehan nagara pangnengahna teh nagri rame liwat langkung sugih dunya rea abdi hanteu aya kakurangan ari pasejakan ratu ngancikna dilebak J aya teu kasampeur keu Perebu Siliwangi kocap deui Sunan Rahmat
  3. Enggeus sumping ka Susunan Sandi pangandika Sunan Pagerjaya baeu banggut kangjeng teh aduh haturan kang putu Sunan Rahmat suka galih tegep beunangna ngunjungan tadimna kalangkung lajeng Ienggah para eyang enggeus pada sili taros anu yakti Sunan Rahmat Seug miwejang

rek ambengan cacarita nu mawi lawas teu tepang yen jadi wakil luluhur wakil Gusti Rasullullah

  1. Kudu ngislamkeun di Jawi ajar Taji enggeus Selam tidinya lajeng marios meujeuh ulah tutuluyan jeung kudu nguninga heula ka gusti kangjeng luluhur sareh leres sakersana
  2. Sareng deui Raden gampil merelukan anu lian heulakeun putra saderek pikeun baris awak-awak pikeun halipah agama tapi ciptaan nu hurup pantes ki Panggungnagara
  3. Nyeta putu Sunan Sandi tedak ka Timbangantenan nu cocog saderek eneng lian ti Panggung Pakuan Sunan Rahmat seug haturan teu aya di dayeuh Manggung keur aya di Pajajaran
  4. Pangandika ajar Taji tapi panyana eyang mah putra Siliwangi kabeh enggeus oge diajiran daek2 rabah manah karamat randen geus kudu cacak buktina dieyang

  5. Sanes pikiran jeung tadi nu parantos ku pun eyang lantaran ti pangkon Raden ari cindekna ayeuna eyang raraosan senang mugia Gagak Lumayung geura ngadeuheusan heula

  6. Unjukkeun anu geus kenging bukuna nu manjing Selam Sunan Rahmat unjuk alon nuhun timbalan jeung eyang putu ayeuna dek kebat ngadeuheus ka Kangjeng Rasul leos Sunan Rahmat angkat
  7. Muji tadim ka yang Widi angkatna satengah pana teu uninga kidul kaler arina satadina mah dek angkat ka J awa wetan parengna maksud teu tulus nu heula di Jawa Tengah
  8. Ari eta orang Jawi enya eta J awa wetan nu matak urang wetan teh jiga bengong babasaan tatapi bener kacida nyebutna ge paman gunung sabab asal pusakana
  9. Timbanganten awit kawi pangheulana aya Selam jeung deui pusakana ge karuhuna Ramadewa nu ngancik di Lokapala wiwitanna duk rumuhun asal saking J awi tengah

  10. Ku margi ke Siliwangi malah sadayana raja maranjing siluman bae jadi makhluk jero alas Siliwangi kakaburan menakna mah tacan anut loba anu susumputan

  11. Amung abdina teu ngiring ngan ngiring timbalan tuan jalmana anu sawareh pitulung Allah Taala sadaya ngeunah pikiran mung abdi gaduh piunjuk sareng para eyang2
  12. Saregep ngiring agami hanteu asa eujeung jiga mungguh di Lebakjaya panembahna karantenan salalangkung suka manah Kangjeng Nabi seug ngadawuh nuhun eta tuang eyang
  13. Kedah damel wakil rayi eta sahabat ulama minangka lawang pararos upama anu unjukan pasrahkeun ka tu ang eyang samemeh jeung rayi tepung sing tepung heula jeung eyang
  14. Sunan Rahmat unjuk tadim sumangga timbalan tuan sareng jeu sim abdi teh sumeja unjuk uninga bakuna nu anut islam ku kangjeng Nabi dipundut buku catetan ditingal

  15. Kocap Sunan Rahmat deui barang emut tina pana enggeus jol di Mekah bae sarta dipayuneun pisan payun Gusti Rasullullah sareng sahabat karumpul Abubakar, Umar, Usman

  16. Sumawon Bagenda Ali Sunan Rahmat seug munjungan ka pangkon Kangjeng Nabi teh Kangjeng Nabi Ulamana emut bari jeung nyauma haturan bagea tepung Sunan Rahmat matur mandap
  17. Nuhun sadawuhan Gusti kasuhun kalingga murda tidinya Sunan Rahmat teh munjung ka para sahabat ka Abubakar jeung Usman ari saparantos munjung anjeunna seug ngadeuheusan
  18. -Kanjeng nabi seug ngalahir cing rayi geura unjukan kuma eta di J awa teh leres hanteu atawana Sunan Rahmat seug unjukan nun sumuhun Kangjeng rasul berkah Gusti kaleresan
  19. Abdi2 nu kapanggih sadayana ngiring Selam abdi teu sawios2 nu aya di J awa Tengah ka Jawa Wetan teu acan nu lapur teu daek anut Perbu Siliwangi tea

289.Sakalangkung suka galih gusti beuki tambah welas ka susunan Rahmat Raden Kangjeng Nabi seug ngaridika ayeuna teh sakalian luluhur serepna agung he rayi ulah kapalang
300. Ieu kabeh abdi2 anu geus maca kalimah ku rayi teh terus bae galihan deui Susunan pertanda manjing Selam wayahna di pake makbul jadi paraji nyunatan
301. Ieu para bot sayagi babango sareng pesona Sunan Rahmat unjuk alon sumuhun timbalan tuan sumangga ngiring dawuhan seug parabotna dibantun teu ganti deui unjukan
XIV. Pupuh Kinan ti

  1. Pangeran Gagak Lumayung geus amit ti payun gusti jeung Nabi jumurung dunga tuluy pidunga jeung Nabi dalil luluhur geus dongkap lunta ti pangkon jeng gusti
  2. dongkap ka paguban mahjud kelar ningal eta nagri minangkana j alan cagak nyatuluy ras ka Tanaim sumawonna nu kacida Sunan Badiyah seug mikir

  3. Tumungkul muji ka rasul taya deui nu dipikir nya eta anu diseja lamun hanteu jadi wakil sumingkin arek ka J awa jeung kelar ningali margi

  4. Rea pisan nu ka emut rusras dina jero ati pirang2 pikeun jarah sumawon ka taip deui Raden tacan jarah2 ngan pamugi sihing gusti
  5. Satimbalan gusti Rasul mugi dienggalkeun hasil barang seep ngamanahan ret deui ningal ka gigir satadina Sunan Rahmat lebah Bubah mahjud linggih
  6. Kersaning yang maha luhur bet geus jol di tanah Jawi di Puger Sokawajana gok tepang jeung jalmi2 nu satu jenenganana Rahaden Layang Kamuning
  7. Putrana Dipati Ukur ari anu hiji deui nama raden Tanjunglaya putrana Layang Kamuning Sunan Bidayah ngandika ka raden Layang Kamuning
  8. Jeung adek kamana maksud seug matur Layang Kamuning sim abdi ti Sempur girang putrana Ukur Narpati

ari ngaran anu nelah sim abdi Layang Kamuning

  1. Ari ieu nu dipungkur Tanjunglaya anak abdi sim abdi hatur uninga geus rumaos ireug abdi baha ka kersa rama teu turut papatah hasil
  2. Babasan anu nawuku eta rama jisim abdi nu welas dipulang salah nambuku nampik pangasih Sunan Bidayah ngandika na kumaha asal tadi
  3. Nu matak rumaos kitu seug matur Layang Kamuning sumuhun timbalan tuan awit asal jisim abdi mungpang dawuhan jeung rama abdi nampik ka pangasih
  4. Kersa rama enggeus sem puh teu kenging narah sim abdi ari ieu teh pun anak ku ama didamel wakil jadi kapala agama namung henteu daek nampi
  5. Jisim abdi ge nya kitu teu sanggup jadi narpati tina teu purun teu niat tuluy kabur jisim abdi leumpang sakaparan-paran mesem Sunan Rahmat nguping

  6. Na kumaha mana kitu bet salah dipikaasih cik pikiran sekedap mah bet hanjakal liwat saking naon anu rek dipandang teu daek jadi bopati

  7. Layang Kamuning seug matur leres pisan jisim abdi pun anak pang teu sanggemna rumaos teu bisa ngaji nu mawi abur-aburan nyepeng kapala agama
  8. Lahirna nu mawi em bung sieun ditanya ku jalmi ditanyana hal agama ku abdi nu geus berbudi upama teu bisa wirang wirangna kaliwat saking
  9. Ka dawuhan hanteu purun sumawonna jisim abdi ari pang yaktos-yaktosna eta anu dipieling putra eyang ti Pakuan anu geus poho agami 31 9. J eung u wa Gagak Lumayung nu mukim di Mekah nagri jadi wakil Rasullullah anu geus kenging birahi abdi kasengsrem ku eta ku hayang guguru ngaji
  10. Sok kajeun teu jadi ratu supaya birahi ngaji kakuping ku Sunan Rahmat

dirontok bari ngalahir aduh Raden anak uwa mun kitu mah sukur teuing

  1. Nya ieu uwa teh enung keur ngemban dawuhan gusti nyunatan di tanah Jawa cing uwa Layang Kamuning jeung incu pun Tanjung Laya ayeuna los terus indit
  2. Jugjug Esam-baya-nahun upama di Mekah sidik sadayana urang mekah taya anu teu tingali kabeh geus pada uninga percayaan Kangjeng Nabi
  3. Guru ngaji kuran husus he suratna ieu cangking engke sanggakeun ku ujang unjukkeun surat ti jawi cedok nyembah Raden putra nuhun dawuh rama aji
  4. Suratna enggeus dibantun neda jiad rama aji ayeuna putra dek kebat satimbalan mugi hasil cedok pada marunjungan geus munjungan lepas indit
  5. Ngajugjung Seh Bayanahun sigeugkeun Layang Kamuning nu kenging dunga Seh Rahmat kocap Sunan Rahmat deui jengkar ti Sokawayana di jalan teu weleh mikir

  6. Sunan Rahmat Sang Lumayung hilap hanteu naros tadi kumaha ari nyunatan peso jeung babango deui kumaha metakeunana leuwih susah lewat saking

  7. Rusuh teuing aing kitu teu seep naros ka gusti ieu jadi lalampahan asup ka cacandran aki jauh-jauh panjang gagang jadi kaduhung pandeuri
  8. Larnun weruh tanpa guru lalakon jadi paraji tangtu pabaur jeung samar kitu deui ieu aing hayang nyaho bae mecak dikira-kira ku pikir
  9. Kalawan nu tanpa guru dikira. ajina runtik taya kajadianana kajadian lampah aing Sunan anom lajeng angkat bujeng Pangadegan nagri
    XV. PUPUH SINOM

  10. Sunan Rahamat turut tegak pinggir pangadegan nagri neangan jalrna nu nunggal tegesna jalma sahiji sauparna eta manggih jalrna nunggal taya batur seja dek mecak nyunatan waktuna harita deui seug mendakan dipayun jalrna saurang

  11. Di tegal Leles Cipancar pinggir Pangadegan nagri eta jalma hanteu samar anu ngislamkeun ka aing enggeus cageur eta jalmi jeung Sunan Rahmat geus tepung geus munjungan dipariksa ditanya sukana deui rehna eta jalma bade disunatan

  12. Nandakeunana geus Islam eta jalma suka ati supaya slamet Islam ka Sunan masrahkeun diri enggal Sunan Rahmat gasik peso nu ti kangjung Rasul dicandik rek marajian sakalangkung tacan ngarti rarangan teh diteuteuk rampung sampisan
  13. Jalma nunggal tuluy wapat Sunan Rahmat reuwas nangis ngadaregdeg salirana cul peso babango deui ditinggalkeun deukeut mayit Raden rewasna kalangkung kebat nguninga ka Mekah sakalangkung welas galih gagancangan ku hayang geura gok tepang
  14. Sareng pangkon Rasullullah eukeur ngangluh salah tampi ku Jabrail malaikat enggal ditepungkeun deui digancangkeun ku J abrail ngan sakilat Raden tuluy tuluy bae ngadeuheusan geus munjung seug linggih deui ku jeng Na bi diprios Sunan Rahmat

  15. Cing rayi geura nyarita Sunan Rahmat unjuk tadim sumuhun patios tuan jisim abdi rusuh teuing tacan puguh mangarti kari-kari gancang tuluy ari dongkap ka waktuna sim abdi jadi paraja jadi bingung hilap naroskeun larapnya

  16. Ari prak sik abdi mecak nyunatan teh tuluy mati mecak jalma anu nunggal jadi reuwas jisim abdi tina sebab tuluy mati Kangjeng Nabi seug ngadawuh kumaha metakeunana nu geus ka jalankeun tadi anu matak tuluy ma ti jalma nunggal
  17. Seug unjukan Sunan Rahmat sumuhun timbalan Gusti diteukteuk sama sapisan jeng Nabi seug ngalahir paingan kitu mah rayi jadi salah larap kitu jadi eta hiji jalma meunang salamet di batin reh ti heula di J awa teh Salam nunggal
  18. Saenggalna Sunan Rahmat diwurukan ku Jeng Nabi petana laku nyunatan babango ti heula pasti kakara tap peso deui kulit nu dikeureut semprung Sunan Rahmat geus pertela geus sidik dipuwuruk Nabi nuhun gusti ayeuna kahartos pisan

  19. Kangjeng Nabi ngadawuhan tina ayeuna geus ngarti sarnangsa enggeus di Jawa uparna geus cape teuing hade ge seug nyieun wakil supayana ulah ripuh najan puluhan ratusan anu dijeun paraji hade pisan arnrih terehna nyunatan 340 .. Sunan Rahmat hatur "mangga" jeng nabi ngadawuh deui ka eta Den Sunan Rahmat "mangga kudu gaduh rayi supaya merenah calik" Sunan Rahmat lajeng matur sumangga ngiring timbalan ayeuna sim abdi arnit rek ngajengkeun nyunatan deui ka Jawa

  20. Sunan Rahmat seug munjungan peureum jeung barina tadim bareng parantos munjungan cengkat barina ningali geus aya di tanah J awi saking diasih luluhur kararnatna manjur pisan sahabat wall kakasih Kacaturkeun Den Rahmat aya di Jawa
  21. Mimitina ti Jaketra nyunatan teh terus hasil salarnetnya lalarnpahan ti J aketra ma pay deui terus ka Pakuan sumping di Pakuan teh pahibut nyunatan taya eureunna arnung mantri ngalingkir nyarumput sarieuneun disunatan

  22. Enggeus putus di Palman l•,'L'; ;,.., ,.. terus ka Cikole sumpung di Cikole teh nyunatan•' .• 1 ! ... '', .. serta ngadamel wawakil paham biasa paraji di Cikole enggeu putus aya oge anu tinggalI ' lo • J b, ,l. dituluykeun ku wawakil Sunan Rahmat geus tuluy ka Batulayang

  23. Didinya kenging sabulan Sunan Rahmat terus deui ka Curug Sempur nagara nepangan Ukur Narpatif,1 I enggeus tepang sareng rayi nu sono kaliwat langkung samalahna karajaan geus kaluar ti Narpati sakur menak anu enggeus asup 8elam
  24. Kabeh pada dipotongan ku Perebu Siliwangi salosna pun anak taya kang rayi langkung prihatin samalahna ieu nagri.• 'l ' ·. •;. ku rayi bade dikantun·-' ii kang rayi dek ngiring pisan ... '· jeung kang raka moal geunti
    Sunan Rahmat ngiring sakersana Gandang ..... · ! ' <

  25. Tatapi digentos nama ayeuna ku engkang rayi Sang Kiyai Agus Daka nuhun pihatur Narpati tr• f'
    I 1 \, Sunan Rahmat matur eling,,1: 1.: l putrana teh dipicatur _.; ... ' ·t / Raden putra Tanjunglaya Jeung Raden Layang ICamuning ... f '.t enggeus mukim nya eta di tanah Mekah

:79

  1. Kakuping ku Bagus Daka'.; trir\ o•:r!,._;? 'l·; ..
,:i-.:,
sakalangkung suka galih i;·;;.i;;,;:,
rayi bakti tambah ngeunah
mugi-mugi anak rayi ,;_ »;nv\'f J;:;;-:, ;:•,;;; 1.i
sing aya rahmating gusti •·:: . 'L' :mi,
hibaring rahmat luluhur :!C·1:.u; u.:;_
mugi sing jadi oliya . •:. ,1t,;; :::'..;ii :.:lil'i:r;,J
ditedakeun siang wengi .i:n.: rn:·;c..•''''
ku ama teh nu gandang di tanah '!wa· -! ,,1.-·.A -;u-i;,-:: !f:\11:u:· tini.!i··.r:JiJ;!

1.1 •• • t·m,h.\f,;
.1 ·. 11·1i .>L:L>;•'J'i' :i/•;G
i .... LxgCl

d..it: I .,iJ1:.i
,,

..
XVI. Pupuh Dangd_"-""--:, .....
'

  1. Sunan Rahmat Bagus Daka indit enggal angkat ti nagara eta sinareng Bagus Daka teh
    ; i '. anjeunna taya karidu. : "; I. wantu rakana geus mati putra putu geus teu aya· •rC geus talabul ngelmu ninggal karaton teu meunang. .-: i '.
  • ' '..
    aya hiji mantri anu pasang telik terang nu miceun nagara
  1. Salos raj a anjeunna seug manjing ka karaton nyandak panganggOJ'\ di karaton aya kabeh hiji mantri suka langkung panganggona ka bopati tuluy dianggo sapisan
tuluy dianggo sapisan
teu aya nu weruh "1 ,.,,'...! ·'.'--; rti,ffJ'··.1:' >ii,;'...ri •,; .:·
tuluy bae jadi raja m · .r;niL w ·•·1
serta ngagentos anjeunna teh kaksih .
Dipati Ukur panghibat ·it11''',. ·! ':LiF .!;;,\L• 1 ::,.._,;·
abdi-abdi di jero nagara 1.;1ii(!.;1:_,,r :u·g .. ;:
geus taya sawios-wios
sigeug anu jadi ratu

';;;. ;: ... · _: ·'"' · · ·<.-···/(11!i .:!' ·11

  1. Enggeus tetep salamet nu ngandih·•·1n;rr1! ..
    ., · ·

kocap Sunan Rahmat deui anjeunna sajalan-jalan saban mendak lembur henteu elat pek nyunatan si bae gus Daka jadi paraji beuki jauh anu angkat

  1. Sumping deui kaurut nu tadi nyorang pangadeg nagara turut-turut tegal Leles sumping kaurut kapungkur waktu kawitan maraji among eta jalma nunggal aya keneh wujud layon enggeus jadi budak tuluy bae dipulasara sakali dikubur dina urutna
  2. Dipelakan tangkal salam hiji dina lebah pakuburannana sareng urut ngeureut peso Den Rahmat wakil luluhur seug ngadunga bari calik mugi ieu pajaratan di ahirna tangtu jadi lembur rame pisan didinya teh mugi2 masing yakin ngaran lembur Salam nunggal
    ·

  3. Lajeng Sunan Hidayat maraji sinarengan rayu Bagus Daka ngidul ngetan leuweung bae ana liren dina gunung dina alas leuweung tiis nelalma Sangiyang tapak Sang Gagak Lumayung ngareunah anu lalengah keur hareudang angin tiis ngadalingding eta gunung dingaranan

  4. Anu matak nelah leuweung tiis ti harita dongkap ka ayeuna Sunan Rahmat cacarios reh emut dawuhan Rasul kudu nyeleng gaduh rayi dimana engkang garwaan Bagus Daka ma tur : "da lamun kaleresan mah aya hiji jenengan Nyi Pugerwangi geus teu ibu henteu rama

  5. Eta istri alo ibu rayi putra Bibi eyang nu geus wapat saderek dalem Pagedeng di puger enggeus pahatu Sunan Rahmat seug ngalahir dimana bae parengna ngan ulah teu tumut kana sagala dawuhan ari menggah kangjeng Nabi Rasullullah pang aya dawuhanana
  6. Teu boborong tangtuna kapanggih eta dina piahireunana mana poma ulah poho karana kangjeng luluhur bisi rayi henteu harti eta kakasihing Allah rehing geus kase but makutana pra ambiya ana angkat make putih tara tanti eta pajeng salanggengna
  7. Kitu deui eta Kangjeng Nabi henteu aya wawayanganana teu aya kalangkang tembong tah eta nu matak kitu

pertanda manusa leuwih mana pajeng mega bodas pertanda luluhur bumi langit jeung eusina jeung sawarga naraka jeung aras kursi nya eta anu kagungan

3 5 8. Lan sakehing kang ana galering nya tidinya eta teh asalna mana urang sing rumaos dijero waktu keur hirup dilainkeun modal lain urang hukum ngadunungan samangsa keur hirup keur betah oge didunya ari enggeus tepi mah kana perjangji lah mahpud anu nalangan

  1. Kudu bae urang sieun mati henteu bisa nyebutkeun keur betah geus tepi mah ka papasten sakitu Den Rahmat nyaur urang kudu batik deui tambak baya kaliwat Bagus Daka nyaur sumangga atuh ngiringan geus jung indit dongkap ka Cigunung tiis didinya teh lajeng siram
  2. Jeung ngilangkeun sakabehna sihir nu katukang kabeh kawedukan ari nu dipetakeun teh karamat Sunan luluhur seug ngadunga bari calik ieu cai masing caah seja miceun weduk bisi aya tutunggakan

teu lami jol caah gede lewat saking Bagus Daka trus palidna

  1. Geus cumekak kabawa ku cai wantu-wantu cai eukeur caah cai liwat langkung gede anu palid beuki jauh Bagus Daka seber pikir ngarero ka Sunan Rahmat bari tulung-tulun_g! Sunan Rahmat seug nulungan tapi ngadeg gumujeng bari ningali bari metekeun karamat
  2. Seug ditepak cai jadi kendi sanget ningal batur hawatosna Bagus Daka seug nyarande kaget barina gumuyu ningal kramat Sunan wakil jauhna geus sapamanah harita geus tepung eta cai tuluy nelah satadina Bgawan Cigunung tiis ayeuna Cikawedukan
  3. Sunan Rahmat Bagus Daka deui enggeus dongkap kana Tambakbaya didinya nyunatan bae saban-saban mendak lembur Bagus Daka jadi paraji pigunungan pilemburan didinya geus putus kebat ka puger angkatna hayang dongkap ka Puger kangungan rayi ke neng Puger wangi nama

  4. Lamina teh di Cihaur beuti papanganten ngan kenging sabulan garwana teh tuluy bobot lamina bobot dicatur lawasna sapuluh sasi dumungi ka babarna putrana kembar lucu ibuna mah lajung wapat eukeur nuus lajung dipulasara mayit kasmaran katingal garwa
    XVIl. Pupuh Asmarandana

  5. Sunan Rahmat keur prihatin sareh ing katilar garwa kantun putra nu prihatos putra katilar ibuna eta putra jadi Iara aya deui nu kacatur saderekna Bagus Daka

  6. Saderek saibu istri nya kitu katilar putra Den Rahmat nyelehkeun orok nu ngalorok langkung suka rehing aya gegentosna beuki lami putra lulus lajeng seug dijenenganan
  7. Ari nu ti heula bijil eta disebut rakana jeung ari kakasihna teh Pangeran Ali Muhamad anu rayi Ali nama eta putra langkung lulus lami-lami Sunan Rahmat

  8. Ka Sindangbarang geus tepi Susunan Rahmat didinya barang damel enggeus heres nya eta wakil nyunatan ka unggal pulo geus dongkap ka Puwa-puwa di jugjug ti kandang sabrang geus jengkar

  9. Bagus Daka henteu kanti mapay-mapay pilemburan enggalkeun ieu c.arios saurut tadi ngajajah Cilageni, karobokan Dayeuh handap, dayeuh Manggung Purbasana,Panunggangan
  10. Jaba eta Cimalati Ciraseja jeung Cikupa nu geus kasorang ta di teh Mester, Cibeureum, Batara Haurpanggung, Cilolohan Parung,Kawali,Cununuk Sukapunten, Kandunghalang
  11. terus ka Cihaurbeuti tidinya teh Sunan Rahmat jeung rayi seug pada mios Rai ayeuna teh engkang di J awa geus kalamian wayahna rayi dikantun di Puger jeung anak engkang
  12. Itungan ngarorok diri baring sukapagi yuswana dipanjangkeun umurna teh da rayi teh tunggal putra geus teu hilap ngawurukan jaga pageto dikantun dipanterehkeun ka Mekah

  13. Engkang ayeuna teh rayi bade unjukan ka Mekah engkang engke diditu teh ngajurungkeun tuang putra sarta eta tuang putra, tetep di Syeh Bayanahu ngaraosna sareng putra

  14. Malah geus gentos kakasih tuang putu Tanjunglaya, ari jenengannana teh, jenengan Syeh Abdulpatah, Layang Kamuning ngaranna, tina ngaos enggeus khusus nama Syeh Sedanagara
  15. Syeh Abdulpatah jeung deui, gawena eta di Mekah barina eta ngaraos, selang-selang ngaji Qur'an budakna Syeh Baya nulah, putrana Syeh Baya nuhu, kakuping ku Bagus Daka
  16. Sakalangkung bungah galih, Bagus Daka seug unjukan: "Ku perkawis kang rayi teh, bade ditilar ka Mekah, Insa Allah tumut pisan, mugi pidunga nu makbul, ditarima ka Islaman
  17. Sunan Rahmat nyaur deui, atuh ayeuna teh engkang geus mustari bade mios Bagus Daka seug munjungan, geus munjungan enggal angkat Bagus Daka anu kantun, di Puger jeung saderekna

  18. Kocap Sunan Rahmat deui, tidinya enggeus bral angkat, di jalan teu kacarios, geus dipayun Rasullullah, mangsa eukeur di Madinah, Syeh Rahmat seug lajeng munjung, ka pangkon jeung Rasullullah

  19. Geus munjung ti kangjeng Nabi lajeng ka para sahabat Abubakar, Umar Farok ka Ali sareng ka Usman geus munjung seug deui lenggah barina nyanggakeun buku buku batetan ditinggal
  20. Geus kamanah ku jeng Nabi Sunan langkung diasihna jeung para sahabat kabeh geugeut asih ngiring nyaah Bagenda Ali lir ka putra lamun ka Gagak Lumayung sakalangkung pangasihna
  21. Jeung eta Syeh Rahmat deui geus tetap jenengannana wakil luluhur nu kahot, sareng deui panganggona, kana hideung kameumeutna, dastar ju bah, seput kayu, laken Mesir anu herang.
  22. Lami-lami Kangjeng Nabi, ka Sunan Rahmat mariksa, "cing kumaha ayeuna teh, tekad an u ka tangtuan, suka betah teh di mana?" Gagak Lumayung seug matur "Sumuhun timbalan tuan"

  23. "Manawi piwejang Gusti suka betah teh di Mekah geus puguh di Madinah teh ngiring caket darn pal tuan" Kangjeng Nabi seug ngandika, "engkang ka eta piunjuk, unjukan tarima pis an".

  24. "Ngan urang langkung hawatir, umat nu aya di Jawa, margi dijieuri wakil ge, hidep teh pikeun di J awa, poma hidep ulah samar, sanajan di Jawa tangtu, engke nu pikeun narima ".
  25. "Kana ibadah nu suci, sumawon ujang sorangan, abdi-abdi saha bae anu nurut lampah ujang, kana margina waluya, mangga di aherat anggung, barangna Nabi ngandika.
  26. Malaikat pada nyaksi, pra wali kabeh nyaksian, saur kakasih yang manon, wakil luluhur unjukan, "sumangga timbalan tuan, abdi teh surneja tumut, kana dawuhan gamparan.
  27. Pirang-pirang diri abdi, kauntungan ti gamparan, darajat diri abdi teh, nembe tepang jeung mustajab, gusti nu langkung waspada, sanajan di Mekah dumuk, mun gusti henteu narima.

  28. Cilakana diri abdi, hawelas katampi salah, eta bodo katoloyoh, suhun pangasih gamparan, kasuhun kalingga murda, dicangreud saujung rambut, seja nuhun ka gamparan

  29. Jeng Nabi ngadawuh deui, mun owel ku tanah Mekah, ti dieu teh mawa bae, tah ieu enggeus sadia, taneuh mekah dipetian, jadi ieu tanah makbul, jeung deui ieu baturna.
  30. Jero peti buli-buli, eusina eta er jamjam, di jero buli-buli teh, sareng aya deui tanah, dina luhur peti tea, ieu tanah pucuk gunung, dina luhur peti numpang. 39 l. Eta tanah pucuk jagi, lamun dibawa setiya hidep ulah arek kaget, ieu pangtia dinya, pikeun tempat praoliya, jaganing pageto tangtu kaponakan hidep psan
  31. Kapanggih jaradi wali, dina lebah tanah tiya, sareng ieu jangjina teh, lamun nepi enggeus gancang celuk teu beunang dipodah, hidep kudu dinya turun, pikeun dumuk hidep pisan.

  32. Papada eta di Jawi, kumaha ieu gojlogan, gojelog di jro peti teh, didinya hidep nya tempat, ngajalankeun teh ibadah, saha jalma anu weruh, kana tempat hidep tea

  33. Tengtu meunang mulya diri, dijauhkeun balahina, yen meunang sapaat gede, tua anom kuring menak, yen tangtu meunang kurnia, sapaat tina luluhur, dijungjungkeun sapaatna.
  34. Kocap deui rafu ning jin, ngiring nyambungan ka jalma, pikeun tutungganganna teh, samparani hejo kuda, kuda tedaking jabalkap, kuda nu sok bisa mabur, dimomotkeun peti tea.
  35. Dinyana parabot deui, saperetos kuda umbal, geus sadia pakuna teh, pangandika Ratu l\jrak anjeunna tonggongeun kuda, wakil luluhur seug nyaur, palaniyang ieu beurat.
  36. Nya dimomot nya dititih, ari saur Ratu Ajrak, lain anjeun anu momot, tibatan capeeun kuda, anggur beungang katitihan, karamat anjeun keur manjur, kagentos anu mujijat.

XVIII. Pupuh Kinan ti

  1. Wakilna eta luluhur nya eta ka ratuning jin, naha teu dikadalian, ratu jin emut ngalahir, najan teu dikadalian, moal burung nyaho margi
  2. Apan kadali mah matuh, karama t lian kadali, najan nepi ka akherat, batan pegat kalah ngunci, nya kitu deui sumangga, nya-eta sara kadli.
  3. Seug dikadalian putus, kadali kalangkung leutik, mani ngan sagede kawat, pangandika ra tuning jin, bapa jangji kana kuda, lamun kuda enggeus leungit.
  4. Tantu kadalina kantun, lamun teu make kadali, ieu kuda milu betah, ka Raden di tanah J awa, nuhun saur Sunan Rahmat, putus pangasih ratu jin.
  5. Kangjeng Nabi seug ngadawuh, gentrana arum jeung manis, maneh sing tetep di Jawa, eta engkena ku kami, mo diantep salawasna, najan seuweu putu kami.

  6. Jaganing pageto cunduk, tangtuna aya di Jawi, sok maneh bisi teu genah, ka kuping ku wakil gusti, teu kira-kira sukana, sukana teu aya tanding

  7. Bungangang manah kalangkung, seug naros deui ka gusti, jisim abdi gaduh anak, dipasantrenkeun ku abdi, ayeuna di nagri Mekah, Syeh Abdulpatah panglandi
  8. "Ngaosna Syeh Baya Nuhun, mugi aya wangsit gusti, eta sing mulang ka Jawa" Pangandika kanjeng Nabi: "montong melang kumaonam, tangtu dijurung ka J awi.
  9. Najan putra Baya Nuhun, diahirna mugi-mugi, siang aya niat ka Jawa, Los Raden dijurung indit, wakil luluhur geus mando, jiad Gusti abdi amit
  10. Colodok munjung ka Rasul, geus munjung ti Kangjeng Nabi, tuluy ka para sahabat, Abubakar, Umar, Ali ka Usman ka ratu Ajrak, persahabat pada ngasih.
  11. Bagenda Ali keur kantun, nangis barina ngalahir, mugi anak incu bapa,

clipareng jarah ka Jawi, los Raden disambung dunga, sing lulus aya di J awi

  1. Wakil luluhur geus putus, kenging jiad ti jeng Nabi, sarawuh para sahat, lepas lamahna nu miris, geus kaluar ti nagara, seug dititih samparani
  2. Barang kaclak sempung mabur, sakilat lampahing angin tumurun di pulo Selan, petina gojlog sakali, kuda masih keneh aya, pucuk gunungjati masih
  3. Ti Sumatra deui mabur sakilat lampahing angin, tumurun di Hujungkulon, petina gojlog sakali, kuda masih keneh aya, pucuk gunungjati masih
  4. Ti Hujungkulon seug mabur, sakilat lampahing angin, jol tumurun di Jaketra, petina gujlog sakali, kuda masih keneh aya, pucuk gunungjadi masih.
  5. Ti Jaketra deui mabur, sakilat lampahing angin, jut di Bageda 5elam, petina gojlog sakali, kuda masih keneh aya, pucuk gunung jati masih.

  6. Ti Bageda Selam mabur, sakilat lampahing angin, turun ti gunung amparan, petina gojlog sakali, pucuk Gunung jati ragrag, nepi tempating perwali.

  7. J aganing page to tangtu, bakal aya parawali nya-eta di nagri Cempa, akhir nelah Gunung Jati, amung kuda masih aya, ti amparan deui nyirig.
  8. Langkung seput kuda mabur, sakilat lampahing angin, seug turun eta di Karang, petina gojlog sakali, kuda masih keneh aya, di karang teh henteu lami.
  9. Tidinya seug deui mabur, sakilat lampahing angin, tumurun di Guwah Rahmat, petina gojlog sakali, kuda masih keneh aya, di Guwah Rahmat teu lami.
  10. Ti Guwah deui seug mabur, sakilat lampahing angin, kuda teh beuki kacida, hohowang pun sambarani, petina gojlog jeung, tumurun di Gunung Suci.
  11. Sawetaneun Dayeuh-manggung peti gojlog kuda leungit, sambarani ilang musna

anu kantun ngan kadali sarawuh jeung parabotna, petina engab sakali

  1. Sumerep kangjeng luluhur seug dibuka eta peti eusina teh tanah mekah sareng hiji buli-buli eusina eta er jamjam jeung beh surat dina peti
  2. Ungelna surat ka malum kieu unina teh tulis ieu taneuh nu dibawa bisi hidep teu tingali tapel kubur hidep tea, didieu di Gunung Suci
  3. leu er jam.jam disebut nu dijero buli-buli pcrta.ndana I-lidu tea tina tumurun ka ka Nabi sumerah agama Islam tegesna murid mukamil
  4. Palinggih hidep disebut Godog asal gojlog peti ari harti gojlog tea lalampahan anu linggih tina geus asrah nya manah ngimankeun papakon nabi
  5. Geus kasebut wali luhur sababna wawakil nabi sakitu ungelna surat, geus tutur didinya linggih mangsa harita matapan ngancik pirang-pirang sasi

  6. Sumana geus kenging tahun kakara yen kenging warti pada sum ping menembahan ti Lebak Jaya nu ngungsi pada dongkap sadayana sembah kuwu Kandang Sakti

  7. Sembah Dora nu katilu pada ngedeuheusan sami wakil luluhur ningalan disembah diasih-asih he sakabeh panembahan kang putu geus dumuk linggih
  8. Urang bakal seueur tamu, geus kitu tidinya deui kabeh para panembahan, seug marunjung pada tadim, ngaberes hunnat ngajajar, caralik sami ngabaris.
    2.2 Alih Bahasa
    WAWACANPERBUKEANSANTANG

  9. Bismillahirrahmannirrahim yang membaca babad ini yakni babad gadog hams yang mempunyai wudu baik tua maupun yang muda atau yang sudah tua semuanya harus mempunyai wudu

  10. Terutama harus tertib janganlah digunakan sembarangan harus diresapkan dalam hati dikarenakan Sunan Rahma t

(adalah) wakil Kangjeng Nabi Muhammad beliau itu adalah utusan yang agung yang mempunyai bumi dan alam

  1. Pertama-tama membaca taud1) lalu membaca Bismillah dan fatihah dilanjutkan dengan kulhu dan palak binas salawat tentunya selanjutnya hululmuplihun dan membaca istigfar yang banyak
    II. Pupuh Dandanggula

  2. Dangdanggula yang manis budi pamedirah wong samada jelasnya bahwa samada itu adalah cerita yang i-rasal dari leluhur lelunur yang berbu .i dan diterima oleh puji: igga, ki pujangga yang luhung2 ) jelasnya pujangga itu berasal dari daerah leluhumya yakni pengulu yang berhati mulia

  3. Oleh karena itu ia bersukur sejak pujangga menerima pertanda dan tidak sependapat dikarenakan seandainya ki maranggagi3 ) mempunyai ukuran tidak ada yang tidak lucu pintar itu rajin namanya pintar adalah maksudnya berhasil
    4 tidak hianat dan kitman )

1 )taud adalah nama lapad yang bunyinya "A'udzubillahiminassysyaithoni'rrajim".

2) luhung, artinya orang yang berhati mulia tetapi penuh dengan ilmu 3 )ki maranggi, yaitu tukang yang membuat sarung keris 4 )Kitman = salingkilh = tidak terus terang

  1. Sebenamya ia tidak mati tetapi pergi meninggalkan sabda bahwa hukumnya semua benar dan jelas tentunya benamya dari kebanyakan para pujangga karena sesungguhnya masih itu juga, maklumlah seperti halnya gajah sifat binatang ada ekor di kepala lagi tetapi namanya juga gajah
  2. Kepala, ekor dan kaki semua itu seperti pujangga tandanya banyak mempunyai maksud marilah kita hayati baik pujangga maupun musinap5 ) akhirnya ya satu karena itu banyak pujangga yang "kaul" tandanya Pangeran kaya dengan ilmu yang tidak ada bandingannya
  3. Perasaan gelap menjadi manis dongeng untuk memulai cerita permulaan yang akan diceritakan tetapi sebelumnya maafkan dan ampunilah bahwasanya saya ini bukan memaksa karena bisa tahu tanpa guru atau berlagak tahu beribu-ribu maaf mungkin ada kesalahan semoga besar dimaafkan
  4. Karena kebetulan mengerti tidak salah ini adalah sejarah semoga bertambah saja
    S)musinap, yakni orang yang memberi keterangan

mujijat dari kangjeng leluhur

diterangkan segalanya dari yang sudah mendapat rahmat besarnya rasa terima kasih diterima mengabdi semoga dijauhkan dari bala (mara bahaya) didekatkan rezki serta rahmat

  1. Semoga sanak keluarga mendapat asih begitu pula semoga mendapat ketetapan tekad yang lebih saleh kepada semua saudara janganlah putus kekeluargaan kepada semua saudara jangan pisah dengan para leluhur apalagi menurut kabar terutama ·

    kepada semua keluarga

dan para juragan 6 )

  1. Secara lahiriah hamba ini gusti saya minta berlindung dikarenakan merasa bodoh "dunungan" saya yang agung hidup itu lanjutannya ma ti batin ini ya Allah begitu pula terimakasih kepada Gusti (Allah Swt) yang sifatnya rahman a tau kepada Gusti yang sifatnya rahim semoga Allah mengampuni
  2. Kepada kanjeng yang akan digurit 7) menceriterakan pada jaman dahulu ada sebuah kerajaan yang membawahi para raja bemama Prabu Siliwangi
    6)juragan, sebutan kepada orang yang dihormat
    7)digurit, asal kata dari gurit, artinya cerita pendek yang ditembangkan

di Pakuan yang kedua namanya raja juga kerajaan yang pertama (yakni) Pajajaran Sewu begitulah ceritanya

  1. Yang ket(-:i:a negeri Majapahit yang namanya Perbu Hariyangbanga, kerajaan Pajajaran di sebelah timur kejadiannya pada waktu perang pupuh sama menjadi raja kakak dan adik suatu waktu di Pakuan mempunyai putra yang menjadi senapati (namanya) Pengeran Lumajang kegagahannya tiada bandingannya ibarat taji malela
  2. la (Pangeran Lumajang) sudah termashur di pulau Jawa apalagi Pajajaran disebelah timur Majapahit sudah kalah Setelah ia (Pangeran Lumajang) terkenal menjadi senapati semua takluk berperang karena tidak ada yang dapat menandinginya kegagahan Gagaklumajang apalagi setelah mendapatkan nama menjadi wakil rama (Siliwangi) setelah menjadi senopati namanya menjadi Perbu Kean Santang
  3. Selama ia (Perbu Kean santang) menjadi Senapati tidak tahu darahnya sendiri seperti apa rupa darahnya pesannya sudah lama sekali yang menjadi idamannya baik siang maupun malam begitulah maksud hatinya ingin mengetahui darahnya sendiri begitu keinginan hatinya belum kenyang berlaga

  4. Selain dari keingintahuannya itu usia muda belum mempunyai istri semua tidak ada yang menarik hatinya Ia (Perbu Kean Santang) adalah turunan agama Hindu pada waktu itu di Jawa tidak ada agama Islam nalangmang mulung mung Pangeran Gagaklumajang hatinya sudah takabur memesan darah sendiri

  5. Seumur-umur ia (Perbu Kean San tang) belum tahu darah yakni darah dirinya sendiri oleh karena belum mengetahui dikarenakan ia adalah senapati yang tidak tembus (kebal) oleh pedang keris singkatnya Gagaklumajang waktu itu sedang mengeluh di hadapan Prabu Pakuan Prabu Siliwangi menanyainya dengan manis: "eh Raden Gagaklumajang
  6. Ayahanda ingin bertanya dengan jelas wajah raden seperti sedang susah coba jawablah dengan segera apa yang menyebabkan mengeluh apa ingin putri yang cantik tidak akan susah Raden yang punya apabila ingin menjadi raja kan oleh ayah sudah dijadikan wakil walaupun semua menjadi raja
  7. "I tu semua adalah hasil raden yang menalukkannya yang menjadikan Raden mendapat nama Prabu Kean Santang yang terkenal Pangeran Gagaklumayung

yang berpengaruh di pulau J awa itu semua dikarenakan ayah sangat sayang yang jelas Raden begitu kemudian Raden menyembah sambil mando 8 ) Gagaklumajang kepada Prabu Siliwangi selanjutnya dijelaskan dalam hinanti

III. Pupuh Kinanti

  1. Berkata Gagaklumajang "rama gusti bukanlah itu yang ananda maksud bukan karena ingin mempunyai istri bukan pula ingin menjadi raja memang itu semua milikku"
  2. menjadi kepala perang (senapati) sekarang telah berhenti berperang jadi sudah kepalang tanggung belum kenyang maju untuk perang susah tidak mendapatkan lawan yang setanding dengan diri saya
  3. Seumur hidup mesan darahnya sendiri belum tahu darah sendiri singkatnya maksud saya sekarang min ta mufakat (ingin mencari) yang akan menjadi musuh hamba
  4. Prabu Siliwangi berkata kepada patih Raden Arga eh Patih Arga, sekarang kumpulkan semua ahli nujum atau para raja untuk menerka yang menjadi ahli perang 8 )mando = dudulc di bawah sarnbil membungkulckan badan tanda honnat.

  5. Sekarang tidak ada yang pamuk Raden Patih menyanggupi setelah berkata lalu Raden Patih berangkat singkatnya perjalanan Raden patih semua ahli nujum telah tiba semuanya yang ada di (penjuru) nagri

  6. Setelah kumpul semua ahli nujum singkatnya Prabu Siliwangi pada waktu itu juga langsung memeriksa semua ahli nujum "kepada semua para raja setiap para ahli nujum
  7. Sekarang harils menunjukan ini di daerah J awa siapa kira-kira orangnya yang dapat mengalahkan prajuritku" (Prabu Kean Santang) semuanya tidak ada yang menjawab tidak bersuara
  8. Kepada Raden Gagaklumayung coba segera perlihatkan semua ahli nujum menundukkan kepalanya semuanya berpik.ir susah untuk menjawabnya oleh karena belum dapat mengingat
  9. Diceritakan ada salah seorang ahli nujum yang turut bergabung diantara para ahli nujum dan para raj a (tetapi) tidak kenal dertgan semua orang yang hadir jelasnya (ia adalah) malaikat Jibrail yang bakal menjadikan asal muasal lalu kakek-kakek itu berkata,
  10. "Benar sabda raj a Prabu menurut pendapat saya mencari lawan di pulau Jawa

tentunya tidak ada yang dapat menandingi yang unggul hanya putranda, Perbu Kean Santang sakti

  1. Hanya yang jelas tentunya ada yang menjadi lawan putra Gusti (tetapi) bukan berasal dari pulau Jawa adanya di negeri Mekah namanya Alimurtada Bagenda Ali bin Tolib
  2. Tetapi negeri itu jauh sekali adanya di pusat bumi Mekah adanya di negeri Arab bahkan menurut kata orang jauhnya. dapat disebut masa Allah tetapi dengan putra gusti (Kean Santang)
  3. Itu belumlah tentu yang unggul dari bagian perang tidak tahu mana yang kalah hanya yang jelas tentunya bakal setanding begitulah menurut saya (kata kakek-kakek itu) kepada Prabu Siliwangi
  4. Prabu Siliwangi berkata lagi pada ahli nujum (kakek-kakek) "jelaskanlah sekali lagi setiap engkau dapat meramalnya (menujum) yang menjadi lawan begitu pula tentunya akan bertemu sekarang coba sebutkan sekali lagi
  5. "untuk lawan yang unggul dalam pertandingan ini" ketika ki nujum (kakek-kakek) itu dipaksa (untuk berkata) tidak sempat berkata lagi ia hilang musna tanpa bekas dari hadapan Prabu Siliwangi

  6. Para ahli nujum memberitahu bahwa tidak ada yang mengetahui bahkan tidak kenal sama sekali dan lagi dia itu (kakek-kakek) ketika sedang berkumpul datang sendiri membayangi

  7. Tidak kenal dengan yang sedang berkumpul yang ada di depan gusti kami semua serempak dengan kawan-kawan yang lainnya menghaturkan kebodohannya sudah tidak bisa menujum/meramal lagi
  8. Gagaklumayung heran tidak ditunda sampai besok hari berkatalah ia pada waktu itu juga "hamba mohon ijin akan pergi ke negeri Mekah untuk menemui Bagenda Ali
  9. "Sekarang juga akan didatangi apa yang diramalkan oleh kakek yang menghilang itu ingin mengetahui ada tidaknya akan melawan Bagenda-ali Perbu Siliwangi menjawab "itu terserah (Gagaklumayung) saja
  10. Hanya semoga selamat apa yang dimaksud cepatnya ini cerita sang Perbu Kean Satang tidak berani mengesakan lagi secepatnya ia berpakaian sesudah itu lalu pergi
  11. Tetapi Perbu Siliwangi siang dan malam pasang telinga tersebutlah Gagaklumajang

terus berjalan dengan cepat berjalan ke arah utara dan selatan tiba di suatu tempat yang "resik" (bersih)

  1. (Tempat tersebut) pantas untuk digunakan mengheningkan cipta (lalu ia) berhenti di tempat yang tidak mudah terlihat yaitu di Hujung-kulon lalu duduk sambil memuja yakni memuja kepada dewa semoga yang dipuja
  2. Kepada dewa yang maha tahu kepada jiwa yang sembilan juga "diri hamba ingin mengetahui jika betul di pusat bumi ada yang menjadi lawan bertanding yang namanya Bagenda-ali
  3. Semoga diberi petunjuk tidak lama kemudian ada suara tapi tidak tampak "he prajurit Gagak Lumayung atau Garantang Setra sekarang julukan kami
  4. Bukan dewa Marawelu ini kami yang menjuluki bersuara tapi tidak tampak perkara engkau akan mengusir yakni ke tanah Mekah menemui Bagenda Ali
  5. Sekarang ia (Bagenda Ali) berada di sana engkau (Prabu Kean Santang) tentu bakal bertemu dan namamu oleh kami namamu diganti yakni Garantang.5etra jelasnya Setra itu bersih"

  6. Jelasnya yang dimaksud oleh Garantang tentu akan bertemu dengan yang suci kasihan pada engkau cepatlah pergi teruskan niat yang dimaksud tadi Gagaklumajang terbangun lalu dari Hujungkulon ia sudah berangkat

  7. Sesampainya di pinggir laut ia tidak kuat melihat air lalu berjalan di atas permukaan air walaupun terbartg menembus bumi sudah tidak menjadi rintangan (dikarenakan) istijabnya kang dumadi
  8. Tunda dulu cerita Gagaklumayung yang sedang menyendiri di samudra lautan hentikan dahulu ten tang perjalanannya, ganti cerita.lagi, (yakni cerita tentang) kangjeng gusti Rasullullah yang sedang berdiam di Mekah
    IV. Pupuh Sin om

  9. Kangjeng gusti Rasullullah sedang kedatangan para mumin dan para sahabat Abubakar, Umar, Ali Usman dan ratu jin para mumin itu sedang berkumpul untuk menghimpun maksud kangjeng Gusti, yakni akan membuat dan menambah tiang Masjidilharam

  10. Tujuh tiang yang ditambah waktu itu kurang satu tetapi Gusti (kangjeng Nabi) sudah mendapatkannya (yakni) tiang kuning dari ratu jin

harganya belum ditentukan tetapi hatinya sudah pasti ditanya harganya oleh Kanjeng Nabi ratu jin belum berani mengatakan

  1. Kangjeng Nabi lalu bertanya kepada para mu 'min sahabatnya para sahabat mengatakan bahwa ia (para sahabat) akan menuruti saja apa kata gusti kangjeng Nabi lalu berkata suaranya manis dan arum yakni Nabi rajanya keinginan Kangjeng Nabi, yakni akan memberi uang emas sebagai harga tiang
  2. Tapi tiang itu harganya belum jelas kata orang seratus dinar seribu rupiah lebih
    · jadi empat ribu lebih empat ribu lima ratus ratu jin terus mengatakan menurut ratu jin meskipun kangjeng Nabi memberi uang sa/aksa9)

  3. Tidak akan memberikan tetapi menurut hamba (raja jin) "apabila saabatna tiang diri hamba mempunyai maksud dan tidak usah dengan uang berupa apa saja supaya senilai dengan tiangnya terdengar oleh kangjeng Nabi kemudian ia (Kangjeng Nabi) cepat mengambil kertas dan tintanya
    9) salaksa = sepuluh lempeng

  4. Kangjeng Nabi terns menulis "lap ad" bismillah yakni untuk mengimbangi tiang dari raja jin oleh karena keinginannya kangjeng Nabi tiangnya unggul oleh lapad bismillah tiangnya ringan daripada nulls tiang dari jin kuat oleh mu'jijat

  5. Raja jin sujud sambil mengatakan "hamba mengharutkan hal mengenai tiang diri hamba menghaturkan bakti" diterima oleh Kangjeng Nabi kepada sahabatnya berkata "besok semuanya Abubakar, Umar, Ali dan Usman hams berkumpul
  6. Kita terus mendirikan tiang dan kepada Ali besok hams membawa tongkat jangan lupa tongkat semua sahabat berkata dengan tadim menyanggupi perintah Rasul setelah mendapat perinta¥ para mumin bubar dan pulang begitu pula para sahabat pulang dahulu
  7. Cepatnya ini cerita malam sudah pagi kembali diceritakan Gusti Baginda jam lima sudah siap dengan membawa tongkat yang diperintahkan Kangjeng Nabi ketika akan berangkat

datanglah seorang malaikat, malaikat Jibril untuk mencegah Bagenda Ali jangan dulu pergi

  1. Jangan dulu cepat berangkat betul itu janji Kangjeng Nabi jam tujuh harus sudah ada di tempat yakni harus ada di mesjid saya bertanggungjawab atas Ali bila dimarahi rasul Bagenda Ali harus sudah pukul delapan berangkatnya dari sini karena antara jam delapan
  2. Akan ada tamu yang dituju adalah Ali tamu itu berasal dari Pulau Jawa jelasnya harus ditunggu terpaksa harus ditunggu oleh Ali hanya jika sudah bertemu sekalian tamu itu harus dibawa untuk menemui kangjeng Nabi seandainya tidak datang pukul delapan
  3. tamu tersebut tidak datang Ali sebaiknya berangkat saja cepatlah dirikan tiang itu Sesudah menasehati, Jibril ia hilang pada waktu itu juga Gusti Ali menurut pada nasehatnya dan menunggu tamu yang bakal datang dan dalam hati Baginda Ali ada rasa menyesal tidak bertanya dahulu
  4. Apa keinginan tamu itu Jibril terlalu cepat pulang tetapi walaupun bagaimana kata Baginda Ali dalam hatinya

dapat dinantikan lagi dan ditanya maksud kedatangannya tamu datang pada waktu itu juga waktu yang sudah ditentukan yakni sudah waktunya jam delapan

  1. Pada waktu itu juga tamu yang dinanti datang Bagenda Ali nengok lagi nengok lagi sampai sakit leher sosonggetan
    10 )

dalam hati Gusti Ali mempunyai rasa· cemburu sedikit kepada yang memberi petunjuk mempunyai rasa khawatir pada rencananya mungkin se tan menggoda kepadaku kata Gusti Ali dalam hati sambil berangkat dari rumahnya

  1. Sesampainya di jalan di jalan bertemu dengan Prabu Kean Santang Prabu Kean Santang melihat Baginda Ali tapi ia (Kean Santang) belum pemah melihat Baginda Ali karena belum mengenalnya lalu Prabu Kean San tang memanggilnya kepada Bagenda Ali "huh! tunggulah saya sebentar bapa"
  2. Berhentilah Gusti Ali menunggu panggilan itu sambil membawa tongkat kayu lalu ditancapkan pada tanah Prabu Kean Santang datang menghampiri Baginda Ali Pangeran Gagak Lumayung bertanya, begini katanya "maatkan saya bapa ada yang akan ditanyakan kepada bapa"
    10) sosonggetan = untuk menunjukkan mengharap orang yang akan datang,
    serta tidak berhenti-hentinya menengok.

  3. Semoga bapa memberi petunjuk jalan rumahnya Baginda Ali dimanakah letaknya semoga saya mendapat petunjuk terdengar oleh Baginda Ali hatinya kaget bukan kepalang "tunggu sebentar agusI1) bapa terima dengan senang bapa merasa heran ditanya begitu oleh ujangl2) (Kean San tang)

  4. "Karena ini di Mekah semua orang mengetahuinya rumah Alimurtada hanya ujang baru bertemu dan bapa baru melihat agus berasal dari mana banjar karang panglayungan nya bali geusan ngajadi" lalu Perbu Kean Santang menjawab
    V. Pupuh Pangkur
    6 7. Pangeran Gagak Lumajang sangat terkejut "he bapa apabila belum tahu say a ini orang J awa nama saya Gagak Lumayung yaitu Gagak Lumajang Prabu Kean Santang sakti

  5. Yang gagah di Pulau Jawa Garantang Setra itu juga nama say a karena itu jauh-jauh juga say a datangi bermaksud akan mencari

bermaksud akan mencari
Panggilan/sapaan dari orang tua kepada orang yang jauh lebih muda
l2) dengan.Agus

11) agus : sama

yang bernama Baginda Ali yang seperti senapati saya ingin melawannya kehebatan Baginda Ali"

  1. "Oleh karena saya dari Jawa sudah tidak ada lagi yang dapat menandingi karena itu saya datangi saja nah itulah maksudku niat saya, Baginda Ali mendengarnya lalu membaca alhamdullillah terus hirabilla 1amin
  2. Sembah sukur kepada yang sukma tapi tekad Bagenda Ali yang panjang pikirannya sama sekali tidak begitu menganggungkan kegagahannya tidak merasa gagah namun yang agung raga dan nyawa kepunyanNya titipan yang murba diri 71. Baginda Ali berkata "agus silahkan, bapa hanya mengikuti adanya petunjuk sudah tentu agus akan bertemu tetapi nanti di hadapan rasul (bertemu) dengan yang namanya Baginda Ali yang sedang mendirikan tiang mesjid
  3. Silakan pergi Gagak Lumajang nanti bapa yang menunjukkan Gagak Lumajang mengikutinya dari belakang baru saja beberapa saat berjalan Baginda Ali teringat pada tongkat yang tertinggal Bagenda Ali menengok kebelakang sambil berkata
  4. "Masaallah agu.s bapa (Baginda Ali) lupa bapa ketinggalan tongkat di belakang

mentang-mentang sudah pikun Raden tolong ambilkan dulu karena Allah" cepatnya Gagak Lumayung kembali lagi untuk mengambil tongkat setelah sampai di tern pat yang semula

  1. (Tampak) tongkat sedang menancap di tanah lalu diambil Kean Santang ketika akan dicabut tongkat tidak tercabut Pangeran Gagak Lumayung berusaha mencabutnya tetapi tetap tidak dapat Prabu Kean Santang pusing
  2. Dengan membaca Asatagaillah kurang ajar tongkat ini berani sekali tidak akan seberapa kuat Raden menyingkilkan bajunya dengan kedua tangannya dicabut kembali tetapi tetap tidak dapat tenaganya terkuras untuk mencabut
  3. Kencangnya tongkat menancap di tanah tetap tidak dapat dicabut malahan kaki yang turu ambalas kaki Gagak Lumayung sampai dengkul dua-duanya (turut amblas ke dalam tanah) Gagak Lumajang kehabisan tenaganya lesu sudah hilang kedigjayaannya lesu tulang sendinya
  4. Keringat dari badannya berupa darah merembes keluar robohlah Gagak Lumayung seumur hidup baru melihat darah keluar di seluruh-badan merasa apes istijradnya aduh celaka badan saya

  5. Lalu menyambat pada dewa begi.ni katanya: "duh jiwa dan sangamalih lan malih dewa merwolu tolonglah kedigjayaan saya begitulah Kean Santang menyambat istijradnya ditekan tulang sendinya lesu

  6. Tapi Bagenda Ali keburu datang "masa Allah kenapa lama sekali" Gagak Lumayurrg menjawab. "bapa saya tidak kuat mencabut tongkat yang tertancapnya sangat kuat kata bapa (Bagenda Ali: "bagaimana kan agus orang sakti
  7. Tapi tidak dapat mencabut "malah kalah kenapa, bapa sangat heran" Pangeran Gagak Lumayung merasa sangat malu kata bapa: "coba oleh bapa dicabut sambil membaca kalimah ditambah salawat
  8. "Allohumma salli ala Muhammadi ala ali Muhamad laillaha-illellohu waashadu ana Muhammad, rasullah Gusti Ali membaca sampai akhir selesai membaca kalimah sahadat lalu tongkat dicabut dan berhasil
  9. Dan Kean Santang kembali sehat Kean Santang sangat kaget mendengar kalimah kalih Gagak Lumayung terus berkata pa/akiyah
    13 ) itu apa bapa

13)palakiyah = akal atau tarekah

yang tadi itu yang dapat menolong tongkat dapat dicabut dan saya (Kean Santang) kembali seha t" lalu Gusti Ali berkata pelan

  1. "Jika agus tidak tahu yang dibaca pa/akiyah itu tadi untuk mengapeskan musuh kata Raden : "astagaillah kiranya itulah kebuktiannya menurut bapa nanti saya (Kean Santang) mau bertanya lagi berkata lagi Baginda Ali
  2. "Tetapi itu palakiyah ada lagi niatnya selain untuk perang selain untuk mengapeskan/mensialkan musuh dan menurut bapa bagaimana palakiyah itu yang saya sebut cepatlah bapa sebutkan lagi kata bapa ada lagi
  3. ltu adalah patokan Islam yakni namanya kalimah kalih kalau patokan/pegangan yang luhur yakni kitab Qur'an barang siapa yang tidak menggunakan itu tentunya akan dihisab dan diarah di padang mahsar tidak diakui umat Nabi
  4. adanya di dalam neraka Raden Gagak Lumajang prihatin mendengamya merasa dirinya agama Hindu cepatnya ini cerita setelah Kean Santang bertanya tentang hal itu lalu berangkat dengan Bagenda Ali untuk menemui kangjeng nabi
  5. · Sampai di Masjidilharam Kangjeng nabi nampak dengan para mumin dan sahabatnya Abubakar, Umar, Usman

sudah pada membawa tiang yang tujuh ;ianya tinggal satu tiang sebab menunggu Baginda ali

  1. Kangjeng Nabi terus bertanya: "kenapa Ali kelamaan sekali ditunggu oleh teman-teman ada halangan apa? tunduk mando 1 4) Baginda Ali sambil menceritakan menghaturkan sembah hamba mendapat rintangan
  2. Kedatangan tamu dari Jawa tiada lain yang dituju adalah saya sendiri maksudnya sudah jelas yakni orang sakti yang sudah tidak mempunyai lawan dari Jawa tiada duanya yang unggul gagahnya dari orang lain namanya Perbu Kean Santang Pangeran Gagak Lumiring
  3. Atau Gagak Lumajang yang menyebabkan kesini iogin melawan saya dengan agama Hindunya Kean Santang sangat terkejut mendengar cerita Baginda Ali dicoleknya Baginda Ali sambil berkata: "tak disangka bapa yang namanya Bagenda Ali"
  4. Seandainya tadi mengaku nama Bagenda Ali mungkin saya tidak malu Kangjeng Nabi berkata dengan manisnya ada tamu yang gagah maksudnya nanti saja kita bercerita begitulah Nabi berkata kepada Bagenda Ali 1 4) rnando = duduk di bawah sarnbil rnernbungkukan badan tanda horrnat

  5. Sekarang para sahabat min ta tolong mengangkatkan tiang mesjid Perbu Kean Santang berkata : "ya saya turut pada perintah Kean Santang atau Pangeran Gagak Lumayung sudah akan membawa satu tiang tiang untuk tiang mesjid

  6. Begitu pula para sahabat yang lain Abubarakar, Umar, Ali pada memegang ketika tiang akan diangkat semua mengucapkan sahadat semua tiang berdiri namun ada satu yang belum berdiri yaitu yang dipegang oleh Prabu Kean Santang Kean Santang mengangkat sekuat tenaga tapi tidak terangkat
  7. Kean Santang menarik dengan kuatnya tiang kuning kepunyaan Raja Jin daripada tiang terangkat malah kakinya amblas ke tanah air keringat muncul disekujur tubuhnya disertai keringat darah Prabu Kean Santang berteriak pelan sekali
  8. Tolong tidak terbawa berat sekali Bagenda Ali tersenyum sambil berkata "pada11al gagah tapi tidak terangkat" para sahabat hatinya mesem Bagenda Ali sudah memegang tiang agung sambil membaca kalimah dengaa memasrahkan hatinya kepada yang kuasa

VI. Pupuh Dunna

  1. Semua tiang sudah berdiri Ka ta orang lain tidak sama banyak orang yang membawa pada datang dengan sendirinya datangnya itu kayu sudah sempuma selesai membuat tiang mesjid
  2. Tersebutlah Prabu Kean San tang bukan main malunya ia (Kean Santang) berpikir dalam hati malu yang akan dibela bagaimana nanti saya mulai melawan kegagahan Bagenda Ali
  3. "Sekarang juga sudah malu oleh kemukjijatannya apalagi melawannya saya sudah tidak sanggup melawan dalam berlaga Prabu Kean Santang bangkit, niatnya akan kabur membawa kabar pulang
  4. Menepuk bumi akan kabur ke angkasa ketika akan terbang kencang tidak terus ke awang-awang kena sikunya Rasullullah cepat lagi ke bumi Den Santang jatuh terbang lagi jatuh lagi I 00. Sud ah tujuh kali kabumya tidak bisa terlaksana kena sikunya Kangjeng Nabi hilang kesaktiannya Kean Santang sudah merasa

akan meluhuri Kangjeng Nabi hilang jayanya ia berniat akan menembus bumi

  1. Sang Lumajang yang akan menembus bumi ketika akan memasuki bumi bumi tidak menyukainya Prabu Kean San tang merasa susah datang lesunya bukan kepalang tidak bertenaga lemas semua tulang persediannya
  2. Perasaannya seperti bin tang yang sakit em pat bulan hanya dapat bergerak dan membalik tidak bertenaga apabila ada tenaga mungkin lari kakiku dalam hati Santang berkata dalam hatinya
  3. Dikarenakan kena sikunya Rasullullah sejak itu orang Jawa sihir-sihir kegagahan setiap yang datang ke Mekah harus saja hilang/apes sihirnya Gagak Lumayung kemudian tim bullah pikirannya
  4. Kean Santang berkata dalam hati "inilah tingkah lakuku kena siku Rasullullah walaupun akan kembali ke Jawa sudah tentu badanku akan celaka dan hilang kesaktiannya diri mendapat malu badan kotor sekali
  5. "Sekarang lebih baik aku akan berubah tabiat agama Hindu tidak berhasil nanti sudah pasti, mendapat celaka

sedang sekarang saja sudah malu Prabu Kean Santang pergi akan menghadap/menemui ke hadapan Kangjeng Nabi

  1. Kangjeng Nabi memperhatikan Kean Santang suaranya lembut dan manis membuat hati bimbang "He Perbu Kean Santang apa maksud Rad.en terpikir sehingga menghadap Kean Santang bercerita dengan ta'dim
  2. Hamba menghaturkan kemarahan Kangjeng Gusti semoga Kangjeng Gusti mau mengijinkan saya memasrahkan akan kebodohan saya Gusti yang lebih waspada saya ingin mengikuti agama suci dan mempunyai maksud merubah tabiat begitu pula diri saya (kean Santang) l 08. "Maksudnya say a tidak akan kembali ke tanah J awa hamba akan ikut gusti Kangjeng Nabi menerima lnsya Allah Kean Santang apabila sudah datang kecintaan dan pula ikhlas tetapi jangan suka ikut-ikutan I 09. Pikir dahulu jangan terbawa oleh kehendak Kean San tang menghaturkan dengan ta 'dim "ampun tidak sama sekali diri hamba sudah pasrah" secepatnya Kangjeng Nabi akan memulai mengucapkankan sahadat

  3. Kean Santang menurut pada nasehatnya keinginannya (hasratnya) semakin bertambah Kangjeng Nabi berdoa kepada Yang Maha Mulia supaya diterangi pikiran dan hatinya Kean Santang begitulah harapan Nabi

  4. Ibarat kunyit ditetesi kapur momohon kepada Yang Kuasa supaya dilaksanakan keinginannya siang malam tidak henti-hentinya memohon wahyu dari Yang Maha Suci segala keinginannya kepada Nabi sebagai Rasul kekasih Gusti
  5. Nasehat Nabi kepada Kean Santang masuk dalam hatinya serta sudah semakin tetap hasratnya sudah terang hatinya dibukakan oleh Yang sukma Kangjeng Nabi sudah mengatakan kepada Abubakar He ki Abubakar Sidik
  6. "teruskan Raden Kean San tang ini ajarkan Qur'an supaya ngaji Abubakar menerimanya beserta sahabatnya semua mengikuti perkataan gusti Gagak Lumajang hatinya senang sekali
    VII. Pupuh Asmarandana

  7. Pendeknya yang menjadi lakon siang malam Kean Santang tidak henti-hentinya mengaji para sahabat

semuanya sayang padanya apa lagi oleh Kangjeng Rasul Kean Santang adalah kesayangannya

  1. Diceritakan yang punya cerita setelah Kean Santang mempunyai ketetapan siang malam rajin mengeaji berkat pertolongan yang maha mulia ditambah oleh kemukjizatan dari kekasih yang agung bacaannya sudah paham
  2. Lamanya diceritakan ngajinya di negeri Mekah sudah satu tahun segala bacaan sudah paham tidak ada kitab yang terlewat dikarenakan maksudnya dikabul mustajab keinginannya
  3. Sesudah kitab ini faham dilanjutkan dengan pelajaran tatakrama yakni tilawat 15) sebagai hormat kepada semua tidak henti-hentinya berjemaah siang malam mendatanginya selanjutnya untuk mendapatkan berkah satariyah nakasbandiah
  4. Bergum tarekat kepada Nabi agar tetap kewajiban ibadahnya, yakni Hrna waktu harus lebih rajin sudah tentu ujung pangkalnya sahadat diresapkan selebihnya yang membuat lucu semua sahabat menyayanginya 15) tilawat = nama bacaan untuk hadiah kepada orang yang telah meninggal

  5. Apalagi Bagenda Ali sayangnya sangat melebihi seperti kepada anaknya saja Abubakar, Umar, Usman siang malam tidak berpisah ditambah oleh "leluhur" Gusti Kangjeng Nabi Muhamad

  6. Siang malam dicintai tidak bedanya pada sahabat bahkan namanya sudah bukan Santang lagi namanya atau Gagak Lumajang atau Gagak Lumayung, (tetapi) namanya menjadi dua
  7. Yakni menjadi Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah diceritakan pada waktu itu juga dan semua para sahabat Ali, Abubakar, Usman berjajar di hadapan Rasul disertai Umar bin Hatab
  8. Kangjeng Nabi lalu berkata kepada Sunan Rahmat "coba sekarang mau tertanya dikarenakan sudah ganti agama bagaimana firasat dan perasaannya dari hal agama Hindu dengan agama Islam
  9. "Sekarang pikiran perbandingannya karena kita tidak memaksa coba pikir mana yang ringan mana yang terasa senang apabila kau (Kean Santang) ingat saja kepada agama Hindu oleh kami tidak dipaksa

  10. Sunan Rahmat menghaturkan dengan tadim "ya, katanya sekarang diri saya ini sebaliknya dari ingat kepada agama Hindu di J awa sepertinya seumur hidup tidak akan ingat-ingat lagi

  11. Sebaliknya hamba insaf sehingga pada tanah J awa saya sudah tentu tidak akan sudah tentu tidak ingin melihat lagi dan tidak akan terkenang walaupun sampai habis umur tidak mau meninggalkan Mekah
  12. angjeng Nabi berkata dengan manis: coba begini sekarang sebagai tanda tidak akan lagi mengingat yakni meninggalkan pulau J awa coba baca kalimat sahadat sambil memanggil angin pejamkan mata sampai selesai membacanya
  13. Setelah itu oleh Raden buka lagi matanya bagaimana firasatnya rasakan dengan yakin Sunan Rahmat menghaturkan lalu tasbih dan sejadah (seperangkat alat sembahyang) simpan dahulu di depan/hadapan Raden (Sunan Bidayah) lalu membaca kalimah
  14. Yakni sahadat ashadu allaillaha illellohu yang dibaca waashaduana Muhammad-Rasullullah begitulah bacanya selesai membaca kalimah tadi menyambat angin lalu matanya dibuka

  15. Karena Allah yang sudah menentukan Sunan Rahmat sudah ingat kembali terkejut sekali ia sudah ada di J awa di Karang Pakuan lalu menangis sambil sujud sorbannya sudah dikenakan

  16. "Aduh Gusti Kangjeng Nabi diri hamba ini bagaimana nampaknya ini bukti masa jadi ada di J awa serta di Karang Pakuan sambil menangis ia (Kean Santang) tersedu-sedu kesirep Rasullullah
  17. diri hamba sudah tidak sudi ada lagi di Pakuan. tak menyangka saya kena marah semoga gusti mengampuni yang asih pada umatnya dari atas di ujung rambut sampai ke telapak kaki
  18. Sunan Rahmat sedang prihatin syunyi sepi terkenang rasanya enak penglihatannya juga melihat ke Karang Pakuan tidak suka sama sekali malam tiba merasa mengigau perasaannya merasa gundam
  19. Bila malam suka bermimpi bila siang tinggal kenangan diibaratkan pada kekasih, (yakni) wanita cantik serta ramping atau pada istrinya yang berpisah karena ditinggal usia ini diibaratkan dengan hal tersebut

  20. Ketika dala, keperihatinan kesunyian akan kenangan masih besar pada patokan tidak dapat untuk di umpamakan/ibaratkan apabila diumpamakan pada Rasullullah apalagi jika ditinggal ma ti pada hal baru berpisah ke Jawa

  21. Beginilah firasat diri habis umur kareqa teringat saja Sunan Rahmat lalu pergi pergi dengan tidak tentu tujuannya tidak ada orang yang mengenalnya jika ada yang dikenal tapi tidak tahu namanya sehingga orang Pakuan
  22. Dikarenakan sudah haji dikiranya bukan Santang tidak ada orang yang tahu lalu Sunan Rahmat pergi yang punya cerita sedang tergila-gila tersebutlah yang dicertakan munculnya di ujung Barat
    VIII. Pupuh Mijil

  23. Sunan Rahmat ketika ingat kembali hatinya insaf {mengerti betul) dan lagi ketika dilihat mendapat tempat yang tersembunyi disitu ia berhenti dan duduk ibarat sedang tafakur

  24. Siang malam tidak berhenti memuji dikarenakan sangat merasa akan kebodohannya saja

tidak masuk dalam hati yang suci mantap hatinya pada yang widi (Allah) tangannya sidakep 1 6) sambil tunduk

  1. Ia sedang membunuh tentang hal empat perkara yakni pandang luar ucapan dan telinga penglihatan dan lagi bersatu tidak mematikan menjadikan diri satria agung
  2. berkata dengan satu kaca ia kasmaran kepada pribadi kebenaran yakni tidak akan pemah mati keluarlah keapesannya Sunan Rahmat terbangun seperti bangun tidur 14 l. Ketumbiri melengkung di langit · ibarat melihat bunga kelapa bukan maksudnya kang tingale Sunan Bidyah lalu eling (insaf) karena enak terbawa mimpi dan diceritakan lagi
  3. Lamanya ditempat yang sunyi itu kira-kira setahun rasanya tidak makan tidak tidur jika tidur semuanya terbayang karena keinginannya yang kuat ingin bertemu kembali
  4. Dengan Kangjeng Gusti Nabi Rasullullah yang telah memberi petunjuk diceritakan pada suatu hari ketika malam kembali 1 6) sidakep = tangan yang disilangkan seperti orang yang sedang sembahyang.

dan malam sudah siang lagi kira-kira menjelang subuh

  1. Ketika sedang membaca puji-pujian kepada Yang Widi berkat pertolongan dari Yang Mahakuasa (Gusti Allah) dari kemurahanNya apalagi nu laku becik sampai kembali lagi karena kemurahan dari yang agung
  2. Ada suara tapi tidak tampak katanya begini He Sunan Bidayah kamu apabila ingin bertemu lagi dengan Nabi akan disampaikan kepada Kangjeng Nabi Rasul
  3. Dan lagi apabila kau tidak mengerti tandanya yakin akan kemukjizatan Kangjeng Nabi itu melebihi dari para Nabi paling unggul diantara para Nabi kepalanya para Rasul
  4. Mahkotanya para Nabi kekasihnya Gusti Allah sekarang cobalah olehmu cepat baca sahadat sampai meresap dalam hati dengan disertai kesungguhan
  5. Yakni baca sahadat setelah mata dibuka bagaimana firasatnya tentunya olehmu akan terpikir dan senang hati ditambah akan menemui kabulnya

  6. Hanya itu perkataannya lalu suaranya hilang secara gaib menunjukkan keyakinan Sunan Rahmat terus eling, muji sukur kepada Gusti Allah alhamdullillahi robil a Jamin pada mulanya membaca taud

  7. Sunan Rahmat lalu cepat membacanya mungpung belum lupa yakni membaca kalimah sahadat ashadu allaillaha illellohu waashad u ana lagi Muhamad Rasullullahu
  8. Napasnya keluar sambil melihat karena kekuasaan Gusti Allah Sunan Rahmat tengok kanan-tengok kiri bersamaan dengan setelah menengok sudah berada di hadapan Nabi yakni Kangjeng Gusti Rasul
  9. Para sahabat berjajar di samping seperti sebelumnya terlihat sejadah dan tasbih karena jelas bekas tadi sudah senang hatinya Raden lalu sujud
  10. Ke hadapan Kangjeng Gusti Kangjeng Nabi bertanya bagaimana perasannya sekarang dengan yang tadi mana yang mudah Islam dengan Hindu
  11. Sunan Rahmat berkata sambil ta'dim ya, setelah saya rasakan sebaliknya diri hamba ini

dijelaskan pada gusti firasat pada diri saya ini walaupun tidak dikatakan

15 5. Kangjeng Gusti yang lebih mengetahui tidak ada tandingannya berwaspada jangankan semua umat bumi ketujuh langit ketujuh semuanya singgasana Allah beserta krusinya begitu pula neraka

  1. Namun Gusti yang maha melihat hanya saya itu heran maksud pertanyaan saya ini berpisah dengan Gusti ke Jawa dicatat oleh saya lamanya setahun
    . 15 7. Tidak bertemu dengan gusti namun saya heran tiba-tiba dilihat ada tasbih sejadah, ya begitu pula seperti bekas sebelumnya Kangjeng Nabi berkata
  2. "Begini saja rayi coba perhatikan engkang 1 7) masih begini saja mau menjawab pada rayi
    1 8) hari ini hari apa dik tanggal bulan tahun

  3. Hanya kami-kami inilah cobalah tanyakan itu kepada paman bertanyanya Abubakar tersenyum manis 1 7 ) engkang = kakak 1 8 ) rayi
    = adik

terus menasehati lagi pada Gagak Lumayung

  1. He Sunan Rahmat anakku kau tentunya mengerti itu tasbih saksinya belum ganti siang dan malam begitu pula bulan apalagi tahun
  2. Dan lagi hatinya harus panjang pikiran jangan salah perasaan jangan menjadi heran dalam hati hati harus mengerti yang dimaksud tanya yang jelas berilmulah sampai dapat
  3. Sunan Rahmat tunduk sambil berpikir tak lama kemudian menjawab sudah mengerti semua katanya kata Abubakar Sidik mudah-mudahan dapat mengikuti mujijat dari yang Kuasa/ Agung
  4. Para sahabat tertawa manis ikutan karena sudah cocok Sunan Rahmat senang sekali kebetulan oleh para mumin bercerita tentang kecintaan kinanti yang mengena kalbu
    IX. Pupuh Kinanti

  5. Kangjeng Gusti Nabi Rasul cepat berkata lagi kepada Sunan Rahmat: engkang akan bertanya lagi bagaimana (keadaan) di tanah Jawa bangsawan dan para abdinya

  6. Agamanya masih Hindu atau campur agamanya Hindu dengan agama Islam banyak yang mana jika dibandingkan coba engkang ingin mengetahui Sunan Rahmat menghaturkan dengan t'dim

  7. "Ya" Rasul,jawabnya tentunya di tanah J awa semuanya menganut Hindu agama Hindu yang dipuja menyembahnya hanya kepada Dewa dan tidak ada larangan Nabi 16 7. Tidak ada murat tidak ada makruh apalagi batal dan haram dikarenakan tidak ada sama sekali tentang hadis perintah Nabi dalil keadilan Allah agama Islam tidak ada
  8. Terdengar oleh Kangjeng Rasul hatinya merasa kasihan kasihan kepada para umat umat yang ada di Jawa coba Raden sekarang oleh engkang dijadikan wakil
  9. Seandainya rayi bersedia pergi lagi ke tanah J awa jika tidak ingin tapi dimohon harus kembali lagi, yakni kembali ke tanah J awa oleh engkang dijadikan wakil
  10. seandainya Raden mau dijadikan wakil di Jawa untuk mengislamkan di pulau J awa

suruh baca kalimat sahadat begini perjanjian engkang begitu pula diri rayi

  1. Siapa-siapa yang menurut kemungkinan engkang atau rayi tidak akan lepas dari kesalahan nantinya ditanggung oleh Batin dijauhkan dari neraka pinanjing janatun naim
  2. Coba mendekatlah dan dengarkan oleh rayi resapkan dalam hati dalil sabda Allah badannya kembali sehat dan lagi pula yang nulis menghaturkan sembah dari saya
  3. Satu surat salah sebut katanya dalarn hati moga-moga para ulama semua atau kepala santri karena Allah didandani begini jawaban Nabi 17 4. Ab in sani mu 'minun ala insani mumin2 walharama ati Islam apallahu linnasi walmuslimina walmuslimat ilia ipwa mu 'minin
  4. Wajibuli yapalu ayuhal mina ami kobla almaot badal maota qaeru ilia/ munapikin munapikin ilia insan jahilin ilia pinarin

  5. Bila mati tentunya tidak yang besar tidak yang kecil tidak ada tua tidak ada muda tidak ada bangsawan tidak ada yang bukan bangsawan tidak ada gagah tidak ada kurang tidak ada sehat tidak ada sakit

  6. pada agama hams benar-benar diikuti jangan bosan siang maupun malam dan harus hati-hati sekali pada agama kangjeng Nabi jika telaten pada agama pasti dirinya mulia
  7. Sunan Bidayah lalu tunduk mendengarkan nasihat Nabi suaranya terang dan enak didengar malu bercampur dengan terharu membuat bimbang dan susah tidak dapat laju mengengarkan gusti I 79. Meresap ke dalam tulang sumsum masuk ke kulit dan daging dan menghimpit ke dalam jantung terus menusuk ke dalam sanubari Sunan Rahmat menghaturkan sembah terimakasih atas petuah gusti
  8. Betapa untungnya saya dicintai oleh Gusti keterima dengan segala kehormatan terikat oleh kedua kuping diikat oleh ujung rambut beribu-ribu terimakasih
  9. Siang malam hamba akan taat pada perintah gusti akan mengem ban perin tah

kangjeng Nabi berkata lagi sukur Raden Sunan Rahmat saya doakan siang dan malam

18 2. Dan lagi pula jika re pot nan ti di pulau J awa yang mudah saja dahulu dipilih dan siapa di pulau J awa yang menjadi pembesarnya yang memangku di pulau Jawa

  1. Gagak Lumayung berkata terimakasil). perintah Kangjeng Gusti hanya negara Pajajaran namanya Prabu Siliwangi Kangjeng Rasullullah berkata nah itu dahulukan rayi
  2. Jika sudah benar-benar taat rakyat tentunya akan mudah kumpulkan oleh rajanya sudah tentu mengikuti pada perintahnya nah itulah mudahnya rayi
  3. Sunan Rahmat lalu mengatakan menurut kepada apa yang dikatakan Kangjeng Gusti jawabnya dengan tegas pada Kangjeng saya akan berangkat saya minta mantra gusti minta mujijat dari gusti
  4. Sunan Rahmat cepat sujud ke kakinya gusti kangjeng oleh Nabi terus dibalasnya hormatnya silaturahmi lalu Sunan Rahmat setelah bersalaman dengan kangjeng Nabi

  5. Melirik ke belakang dan salam pada Bagenda Ali pada Umar dan Usman dan ke Abubakar Sidik Sunan Rahmat terus berdoa dan membaca kalimat sahadat

  6. Laillaha illallohu Muhamad Rasullullahi matanya terpeja1:11 tidak melihat tekad budinya yang luas membaca kalimah sebagai pembukaan untuk mendapatkan kemujijatan gusti
  7. Karena Allah yang agung Sunan Rahmat sedang dikasihi keramatnya Sunan Rahmat, mujijat ketika mata dibuka Sunan Rahmat sudah berada lagi di Jawa keramat kecintaannya manjur
  8. Ketika menlirik ke depan Sunan Rahmat melihat kraton Pajajaran bahkan Prabu Siliwangi pada waktu itu semuanya sedang berkumpul ponggawa, Mantri dan bupati
  9. Di paseban1 9) pen uh sekali waktu itu Prabu Siliwangi tiada lain yang sedang dibincangkan kenapa lama sekali perjalanan Prabu Kean Santang Siliwangi agak khawatir
    19) paseban, yakni tempat menghaturkan segala sesuatu kepada raja

  10. Ketika sedang berembuk Prabu Kean Santang datang sudah datang di hadapan ayahandanya semua yang melihat terkejut sejenak bengong kurang begitu awas melihat dikarenakan Kean Santang berpakaian haji

  11. Setelah lama semuanya tersenyum kepada Gagak Lumiring semuanya mengatakan selamat datang kata Prabu Siliwangi kenapa Raden Kean Santang ke mana lama sekali
  12. Sarnpai dua tahun bapak ingin sekali mendengar apa yang sebenamya terjadi bagaimana dengan yang namanya Bagenda Ali yang akan dilawannya itu yang dulu dikatakan tukang perang
    X. Pupuh Pangkur
  13. Sunan Rahmat menghaturkan berkatalah ia kepada Prabu Silfwangi kang putra menghaturkan berita tentang putra akan melawan itu sudah menjadi niat dengan senapati Bagenda Ali itu berita benar-benar ada tentang yang narnanya Bagenda Ali
  14. Itu kan bangsa keramat ditambah oleh kemujijatan kangjeng Nabi kekasihnya Maha Agung tentang puteranda

apalagi sampai pada perang pupuh baru saja oleh keramatnya diri putra sudah mendapat sial (apes)

  1. Singkatnya putra tidak kuat lagi tidak ada yang menandingi Bagenda Ali kekasih kangjeng leluhur karena ananda sudah tidak kuat karena itu masuk Islam agama Hindu tidak ada gunanya tidak terkenang dak merasa susah yang menjadikan batin ini disiksa
  2. Karena dari diri kita mati itu tidak dua atau tiga kali yang jelas hanya satu kali seandainya diri kita jika mati tidak membawa iman sudah tentu dikuburnya juga disiksa oleh Munkar dan Wanakir
  3. Apalagi diarah ke padang Mahsar sudah tentu jika tidak menurut pada nabi pada agama leluhur dari hal kangjeng Nabi sudah kesebut mahkotanya para Rasul yang mempunyai alam dunia dari ujung bumi sampai ke ujung langit
  4. Surga dan neraka beserta semua isinya jin, setan dan semua mahluk semua berasal dari Nya karena itu putra (Kean Santang) sekarang sudah sampai waktunya yang sebenarnya mengemban perintah datang ke Jawa sebagai wakil Nabi

  5. Untuk mengislamkan di Jawa semoga kangjeng rama Siliwangi sekarang memasrahkan diri membuang Hindu dengan mengganti Islam jangan berat hati harus turut sekarang putranda hukum

  6. Dan kepada semua rakyat karena saya menjadi wakil wakil kangjeng leluhur coba putra jawab seandainya putra sekarang itu hams bagaimana maunya "maha" (Kangjeng Rasul) putranda bermaksud akan ikut
  7. Ringkasnya kepada semua siapa-siapa yang tidak menurut kepada kami yang begitu dapat disebut menjadi musuh seturunan Siliwangi heran dan kaget sekali kenapa ini Kean Santang seperti orang yang tidak waras
  8. Datang dari Mekah jadi edan ataukah ini orang kurang ingatannya oleh Sunan Rahmat terdengar apabila begini keadaannya Pajajaran sekarang juga tentu diamuk dibuat tanah kancah rajanya tentu dibasmi
  9. hatinya keras seperti siluman bukannya ada pikiran yang panjang padahal nasehat yang membawa kabul malah disebut edan Siliwangi cepat menjawab dengan manisnya Hei putranda Kean Santang nan ti jangan dulu pusing

  10. Perkara memasrahkan diri masuk Islam ayah ingin bertanya apa tandanya ananda jadi wakil mana piagam dari sana coba ayah melihatnya Sunan Rahmat menjawab pada sang Prabu tidak memakai piagam karena tidak diberi

  11. Karena sangat percaya Siliwangi menjawab lagi kepada Santang singkatnya ini tidak yakin ayah ini kurang percaya jika sudah melihat piagam dari leluhur ayahanda tentu akan tinggal berpikir-pikir
  12. Menjawablah Sunan Rahmat kalau begitu yang menjadi pikiran lagi jangan hanya namanya saja tentang piagam gampang Kean Santang akan meminta kepada Rasul sekarang akan mengambil dulu ke Mekah mau kembali lagi
  13. Lalu ceritanya Sunan Rahmat sudah mundur dari hadapan Siliwangi di jalan tidak diceritakan lagi hanya diceritakan sudah sampai Sunan Rahmat pada waktu itu sudah di hadapan kangjeng Nabi lalu bertanya bagaimana kabamya rayi 2 10. Sun an Rahma t menghaturkan sem bah "nun sumuhun" 20) ten tang kata-kata gusti diri hamba ini belum berhasil maksudnya saya hanya bercerita saja oleh ayahanda Prabu Siliwangi
    20) nun sumuhun : nun = dikatakan untuk menjawab

say a ini dimin ta tanda piagam wakil dari gusti

  1. Kangjeng nabi memerintah mengambil kertas dan tinta yang diperintah sudah datang kangjeng nabi lalu nulis tidak lama menulis piagam sudah ditutup lalu diberikan pada Seh Rahmat oleh Seh Rahmat diterima
  2. Dan ha tin ya merasa senang Sunan Rahmat dari sini lalu pamit dari hadapan kangjeng ratu kangjeng nabi lalu berkata Insa Allah rayi Sunan Rahmat harus sampai ke tanah Jawa Sunan Rahmat tunduk tadim
  3. Mendengarkan doa itu senanglah hati Sunan Rahmat terns melirik karena Allah sudah datang waktunya sekejap saja dibawa pulang sudah ada di kraton Pakuan tidak jauh dari batas Pakuan yakni perbatasan negeri Pakuan
  4. Sunan Rahmat ketika melihat pada batu yang sangat halus dan rata pinsil tintanya dicampur lalu menulis huruf Jawa Sunan Rahmat membuat sambil mendekul batu itu diberi nama yakni nama batu ini batu tulis
  5. Oleh karena Sunan Rahmat nulisnya itu ingin di batu tulis. supaya semua tahu bangsawan yang ada di Pajajaran
    L

bahwa dialah (Sunan Rahmat) yang menjadi wakil leh.ihur waktu sedang menulis sedang banyak orang yang lalu lalang

  1. Yakni yang akan kumpulan para mantri, ponggawa, para bupati ada satu Mantri yang mengetahuinya lalu memperhatikan pada yang sedang nulis sedang menulis apa dibatu dijawab oleh Surian Rahmat syukur bertanya kau Marttri.
  2. Ini kami mangkanya menulis sedang membuat tanda sebagai wakilnya nabi kamilah wakil leluhur mengislamkan di Pajajaran yakni mengganti agama Hindu gantinya oleh agama Islam siapa-siapa saja orangnya
  3. Yang tidak.menurut kepadaku sudah tentu marahnya kepada yang mungkir dilawan tidak akan mundur terdengar oleh mantri dan dilihat temyata Raden Gagak Lumayung Mantri cepat-cepat pergi untuk memberi kabar pada Siliwangi
  4. Tak lama kemudian mantri sudah datang Sang Prabu nampak dengan para bupati ketika sedang berkumpul tiada lain yang dibicarakan perihal ada yang akan menaklukkan Hindu mufakat dengan para raja mau tidak mau

  5. Kiranya begitulah maksud Kean Satang Para bupati tunduk tidak menjawab satupun ketika sedang berkata begitu muncullah Mantri membawa berita pemberitaan mantri di hadapan raja diri hamba (Mantri) memberi kabar mendapatkan putra (Kean Santang) sedang nulis

  6. Pangeran Gagak Lumajang sedang menulis di batu tulis serta sambil menunjuk-nunjuk
    · supaya semua tahu harus Islam untuk menggantikan agama Hindu dan ada yang dibawa oleh pangeran yakni piagam wakil

XI. Pupuh Sin om

  1. Terdengar oleh Sang Pakuan mengenai pemberitaan mantri Raja Pajajaran terkejut berkatalah beliau pada para bupati sambil pikirannya kacau coba bagaimana para raja kesepakatan kita dikarenakan sudah datang lagi Kean Santang, itu si Gagak Lumajang
  2. Para bupati berkata hal itu menurut diri saya masuk dalam pribahasa tiada lain yang diikuti siang malam Kanjeng Gusti yang diikuti petunjuk raja apalagi saya ini kemanapun juga saya tidak niat mengganti lagi agama

  3. Apabila perintah tuan hamba jelasnya saya diharuskan turut lalu Siliwangi berkata he sekarang para mantri jika pikiran saya betul-betul saya dengan para raja semuanya juga mufakat dipikir sudah tidak akan mungkir mendengarnya juga najis pada omongannya

  4. Saya tidak mempunyai maksud sama sekali malahan makin tidak mau sama sekali pakai nyebut dikubur segala oleh Munkar dan Nakir menganut pada agama nabi dan berbicara dikubur segala jangankan timbul niat malah lebih benci katanya gada sempit dari langit yang besar
  5. Menyebut mati akan ditanya oleh Munkar dan Wanakir bicaranya ngawur tidak dimengerti dan jelasnya ten tang hal mati itu dikubur di dalam tanah kuburan itu hanya sedikit tidak seberapa luasnya dikubur ditambah pakai peti mati di dalam itu makin sempit pakai nyebut akan ditanya segala
  6. Najis harus membawa tasbih segala seperti hanjeli yang dirangkai sambil bicara sendiri berguman kecil dan menyebut kangjeng Nabi seperti orang gila

apabila tidak ada rintangan dikarenakan sudah menjadi senapati dipikir ingin menghajar sampai mati

  1. Singkatnya sekarang kita siapa yang tidak menganut agama yaitu kepada nabi ponggawa atau mantri a tau jaksa dan patih pada raden Gagak Lumayung jangan takut jangan kaget apabila nurut kepada kami nanti keburu datang Santang
  2. Datang menuju kita daripada menganut agama lebih baik tinggalkan negara kita kabur saja menyingkir kembali ke asal tadi ayo memburu Pajajaran sedang saya sendiri (Prabu Siliwangi) akan jalan menembus bumi keraton ini kita ciptakan menjadi hutan
  3. Adapun semua para raja dan lagi punggawa Mantri semua harus ganti rupa jadi macan berwarna-wami beritahu ponggawa mantri semua harus turut raja singkatnya raja Pakuan mengambil tongkat lagondi
    21)

    digariskan pada tanah bumi

  4. Istijadnya terkabul keraton sudah ganti rupa menjadi hutan rimba
    21) lagondi, adalah nama pohon kecil

begitu pula para bupati dipukul oleh kilagondi semuanya sudah menjadi harimau yang menjadi rajanya ratu Batulajang sudah keluar semuanya menuju Sancang

23 2. Setelah sampai di Sancang terus ganti nama Ratu Patek ganti nama diceritakan Raden Arga Patih tidak ikut dengan Para bupati kesaktiannya tidak tercampur Prabu Taji Malela yang diangkat patih ganti rupa menjadi kijang Kencana

  1. Tapi selama dalam perjalanan ia merasa berkecil hati teringat pada Sunan Rahmat hanya semoga yang akan datang dipertemukan diriku (Arga Patih) dengan Raden Gagak Lumayung semoga putra-putranya itu Prabu Siliwangi jadi satu pikiran dengan Perbu Kean Santang
  2. Juga turunan dari mana kenapa paman pikirannya berbeda diceritakan saja Patih Arga sudah sampai di Pajajaran ia bertemu dengan celeng/bagong yang tertawa yakni jaden 22) Galuh dari Pajajaran Sewu itu Raden Patih tidak berubah hilang kijang berubah lagi menjadi patih arga
    22) jaden= jadi-jadian

  3. Diceritakan lagi Sang Pakuan atau Siliwangi nembus bumi dari Pakuan dan diceritakan pula Sunan Rahmat ketika sampai ke dalam purl sangat terkejut keraton menjadi hutan kenapa ayahanda Siliwangi akhirnya datang sampai begini

  4. Menyesal tidak bertemu dulu dengan Perbu Siliwangi daripada mau ke agama Islam malah meninggalkan negeri jadi raja siluman dicnnya bekas tapak Prabu bekas memasang istijzad Sunan Rahmat dalam hatinya berpikir penasaran mau tidak mau pada agama suci
  5. Sudah tergambarkan oleh firasat caranya nembuus ke bumi coba akan saya cegat penasaran belum bertemu dicoba sekali lagi jika sudah menentukan akan kejelasan mau tidak mau ganti agama jika sudah bertemu masa bodo Sunan Rahmat terus berpegang pada kekeramatan
  6. Diawasi tingkah laku yang minggat sudah tentu akan muncul tidak jauh dari Tegalluwar Sunan Rahmat tunduk sambil memuji dan membaca kalimat sahadat seetelah selesai membaca Sunan Rahmat membuka matanya dikabulkan oleh Yang Maha Suci hanya sekejap sudah ada di Tegalluwar

  7. Diceritakan raja Pakuan sebelum beliau muncul istijadnya yang terdahulu tidak mujarab tersungkur ke bumi tidak lama kemudian beliau muncul dengan Sunan Rahmat bertemu coba sekarang sudah bertemu ini piagam sebagai bukti sekarang putranda (Sunan Rahmat) ingin mendengar ke mauan ayah

  8. Mau menyerah atau tidak minta jawaban yang jelas Siliwangi tidak menjawab masuk lagi menembus bumi dikarenakan sama sekali tidak sudi Sunan Rahmat mesem memang keras hati ayahnya (Prabu Siliwangi) dari sini Gagak Lumiring lalu pergi semaunya
  9. Diceritakan Perbu Pajajaran jalan terus menembus bumi hatinya yang dimaksud akan menuju negeri Cikaso mau mendatangi hutan tadi ada di raja menahun Sang Perbu Pajajaran muncul kembali di tanah daerah itu dikenal dengan nama Munjul-suriyan
  10. Ketika Sang Palman muncul terkejut karena bertemu lagi dengan Perbu Kean Santang ia (Prabu Siliwangi) sangat gemetar perasaan Sang Siliwangi bahwa itu adalah Gagak Lumayung

sudah berada dihadapannya tanpa ada yang memisahkan dikarenakan keramatnya Sunan Rahmat

  1. Adapun raja Pajajaran masuk lagi menembus bumi akan memburu ke putranya lewat Pakuan diusir adanya di Sunan Sandi di negara dayeuh Manggung sudah muncul Ratu Pakuwon muncul lagi dari dalam bumi di sebelah timur munculnya
  2. Ketika Sang Pakuan akan keluar terkejut lagi Siliwangi karena sudah ketakutan oleh Santang lalu masuk lagi menembus bumi selanjutnya pergi lagi. muncul di Duren-sewu bertemu dengan Patih Arga Siliwangi senang sekali saking senangnya sudah menetap di Pajajaran
    XII. Pupuh Dangdanggula

  3. Sampai di sini dahulu cerita Perbu Siliwangi yang sudah menetap dengan anak isteri di Pajajaran Sewu ganti lagi yang diceritakan diceritakan Sunan Rahmat yang sedang menjelajahi di Pakuan orang-orang kampung pada turut mereka senang diislamkan tidak seperti bangsawan Pajajaran lalu Sunan Rahmat menuju ke pegunungan

  4. Bertemu dengan orang yang ada di tegalan yang sedang bersawah dan berhuma mereka diislamkan tetapi yang jelas pada waktu itu hanya membaca kalimah sahadat tetapi belum disunat karena belum tahu di kampung, di pegunungan yang diislamkan terlebih dahulu sedangkan para bangsawannya dilewati

  5. Karena sulit disebabkan sudah mendapat berita setiap negeri diedarkan surat berita yakni surat edaran dari Siliwangi karena itulah banyak yang bersembunyi para Mantri sudah ketakutan akan tetapi para abdi-abdinya tetap berdiam diri tidak goyah sedikitpun dikarenakan sudah mendapat agama serta pikiran menjadi tambah terang
  6. kegembiraan oleh sahadat karena tidak repot dibawanya yang bersawah di kebun tidak terganggu Pangeran Gagak Lumayung lalu mengambil buku kecil sedikit-sedikit dituliskan setiap yang sudah menganut yang tertulis di dalam catatan pertama nama orang kedua nama kampung
  7. Begitu pula usianya dikira-kira baik tua maupun anak-anak yang sudah seharusnya jelasnya yang sudah akil balig (dewasa) ditulis dalam buku begitu pula yang ditulis

itu semuanya dijumlah dan dihitung sudah tentu di Pakuan pindah lagi lalu ke negri lain atau ke pegunungan

  1. Menyusuri dari mulai gunung ke negri yang ada semua masuk Islam yakni di Batulayang dari situ ke Lebak Agung atau ke Lebak Wangi yakni Curug Dogdog .dan Curug Sempur satu negri empat nama dikarenakan pada jaman itu ada yang menjadi raja 251. Y akni putra Siliwangi bernama raden Santang yang pertama putra dari Batualayang Raden Santang dengan Sunan Rahmat sudah bertemu ia sangat senang hatinya serta sudah masuk Islam rindunya tidak dapat diceritakan dikarenakan masih panjang maksudnya Sunan Rahmat saudaranya senang hatinya tandanya Santang senang
  2. Sunan Rahmat memastikan adiknya menjadi raja karena tidak ada raja untuk jadi raja Curug Dogdog bernama Dipati Ukur Sunan Rahmat tidak lama dari curug Dogdog lalu pergi sudah pindah daerah jelajahnya mengikuti lereng gunung menelusuri tegalan sudah ke lebak gunung Malasari perbatasan Timbangantenan

  3. Terus menuju ke pinggir negri yakni di kota Pangadegan menjelajah/"menggarap" kampung itu (hingga) yang ada semua menganut namun bangsawannya tidak ada setelah selesai di Pangadegan lalu maju lagi menuju kota Tambakbaja begitu pula abdinya di pesisian sudah masuk Islam

  4. Di sini bangsawannya tidak ada kabar Sunan Rahmat menuju ke Korobakan kedatangannya beliau ini para menak tidak apa-apa mereka sedang kumpulan ke Siliwangi ke negara Pajajaran yang tinggal hanya para abdinya semua sudah masuk·agama Islam semua yang tidak ada tentu dicari menelusuri Timbangantenan
  5. Kandangserong datang Cilageni Kata handap karabur basana panunggangan akupa dilanjutkan ke Sangkanluhur Limus Haseum dilalui lagi terus berangkat lagi ke Ciparay lalu mengikuti jalan telaga ke Cikaso di. Pagedeng mendapat ketetapan dikarenakan banyak negara
  6. Lalu ke timur bertemu lagi peribahasanya dua kali ditempuh terus mencari lagi saudaranya ke negara dayeuh Manggung

ketika sampai, kota itu sepi bangunan Pakuan tidak ada semua sudah dipanggil yakni ke Pajajaran hanya tinggal para abdinya sudah pada menganut Islam

25 7. Dari situ terus pergi lagi mengikuti dayeuh Manggung di perkampungannya saja para abdi pada menganut sudah masuk Islam dan Sunan Rahmat sudah pergi lagi sudah pergi dari panggung dahulu panggung negara sudah menuju ke kota lagi yaitu jay a karantenan

  1. Yakni nama Sunan Sandi sedang duduk berkumpul di situ duduknya tertib dengan saudaranya yang bungsu sedang menghaturkan sem bah kepada kuwu petingginya para Sunan yakni yang disembahnya kuwu sedangkan Sunan Sandi itu (adalah) Pagerjaya mertuanya Siliwangi ayahnya Dalem Pasehan
  2. Bangsawan dari negri Timbanganten yakni Dalem Pasehan negara panengah/pusatnya negri itu ramai sekali kaya harta banyak abdinya tidak ada kekurangan sesuatupun adapun tempat tinggalnya raja berdiamnya di lebak Jaya tidak tercapai oleh Perbu siliwangi diceritakan lagi Sunan Rahmat

  3. Sudah datang ke Sunan Sandi berkatalah Sunan Pagerjaya marilah kangjeng selamat datang cucuku Sunan Rahmat senang hatinya sikapnya baik ketika dikunjungi Sunan Rahmat sangat tadim lalu duduk dengan para eyang sudah pada sating bertanya dengan yakin Sunan Rahmat lalu memberi wejangan

  4. Dari mulai awal sampai akhir bahwa ia tahu kedudukan eyang jadi wakil leluhur para eyang yang tiga sama runtut turut sudah pada masuk Islam ia sangat senang sekali namun Sunan Rahmat dari situ tidak lama walaupun masih sangat rindu sekali
  5. Biar nanti kembali lagi karena yang dimaksud belum selesai cepatnya ini cerita Sunan Rahmat sudah mundur dari hadapan Sunan Sandi yang ditinggal masih rindu eyangnya/kakeknya ditinggal dari Lebakjaya sudah sampai tapi terus ngidul sukapunten yang diusir tidak ragu ke Kadung dulu

XIII. Pupuh Asmarandana

  1. Di Kadungheula tidak lama Sukapunten sudah terjelajahi lalu terus ke Malere dari Malere terus lagi ke Singaparna sudah sampai ke Batununggal pergi lagi ke Tawanggantungan
  2. Dari situ dilanjutkan lagi maksudnya menyusuri sungai Seeng Cipatenggang dan sungai heulang Cicarulang beletuk ka bakatulan kelepu kalapa sewu gelor batang timbang sano
  3. Di situ tidak lama ketika akan berangkat ke Galuh tidak jadi meneruskannya tapi tersasar ke Parakan maka daerah itu disebut Parakan nyasak ke Pager agung yang dituju ketika sampai di sana
  4. Di Pageragung tidak lama ketika akan ke telaga Sunan Rahmat tidak jadi tapi terus menyusur di Cikadang berhenti di Tegallaji lalu pergi lagi ke Panjalu di Panjalu mendapat pemandian
  5. Di sini Sunan Rahmat teringat ke Cihaur lagi lalu kembali lagi Sunan Rahmat sesudahnya ke barat-timur ke Haurbeuti sudah sampai

disitu ada satu guru gurunya Sunan Rahmat yang dahulu namanya Perbu Tajimalela

  1. Setelah bertemu dengan Ajar Taji Sunan Rahmat membungkukkan badan tanda hormat Sang Guru terkejut dan merangkulnya Gagak Lumajang senang Raden cepatlah kembali untuk obat pelipur mungpung eyang belum meninggal cepatlah Raden bercerita
  2. Eyang ingin mendengar sebabnya lama tidak datang Sunan Rahmat berkata pelan berceritera sambil jalan dikarenakan lama tidak berjumpa Sunan Rahmat bercerita bahwa ia jadi wakil leluhur wakil Gusti Rasullullah
  3. Harus mengislamkan di Jawa Guru Taji sudah Islam dari situ terus bertanya sudah janganlah keterusan dan juga harus tahu dahulu kepada Gusti kangjeng leluhur karena benar semua kehendaknya
  4. Dan pula Raden mudah perlukan yang lain dahulukan putra saudara (famili) untuk membentuk barisan buat halipah agama tapi pikirkan yang enak pantasnya ki Panggungnagara

  5. Yakni cucu Sunan Sandi turunan Tembangantenan yang cocok memperlihatkan persaudaraan ainnya dari Panggung Pakuwon Sunan Rahmat lalu berceritera tidak ada di kota Manggung sedang berada di Pajajaran

  6. Menjawablah guru Taji tapi dikira eyang putra Siliwangi semua sudah ditandai mau merubah hatinya kerama t rad en sudah harus walaupun buktinya di eyang
  7. Bukan pikiran dengan yang tadi yang sudah-sudah oleh eyang dikarenakan dari pangkuan Raden yang jelasnya sekarang perasaan eyang senang semoga Gagak Lumayung segera menemui dahulu
  8. Tunjukkan yang sudah didapat catatan bukunya yang masuk Islam Sunan Rahmat berkata pelan terimakasih jawaban eyang cucu sekarang akan melanjutkan untuk menemui Kangjeng Rasul pergilah Sunan Rahmat
  9. Muji tadim kepada Yang Widi perginya sambil setengah berpikir tidak tahu selatan utara maksud semula mau pergi ke Jawa Timur kebetulan maksudnya tidak jadi terlebih dahulu sampai di Jawa Tengah

1"59

  1. Tetapi itu orang Jawa yaitu Jawa Timur oleh karena itu orang dari timur seperti kaget pribahasanya tetapi merasakan betul nyebutnya juga paman Gunung sebab asal leluhumya
  2. Timbanganten asalnya paling dulu ada Islam dan lagi pusakanya juga leluhur Ramadewa yang berdiam di Lokapala asal usul leluhumya berasal dari J awa Tengah
  3. Diceriterakan lagi Sunan Rahmat ketika ingat pada sesuatu perkara sudah tiba di Mekah serta persis hadapan di depan Gusti Rasullullah dengan sahabat berkumpul Abubakar, Umar, Usman
  4. Apalagi Bagenda Ali Sunan Rahmat lalu bersalaman kepada Kangjeng Nabi Kangjeng Nabi ulamanya senyum sambil berkata selamat bertemu Sunan Rahmat menghaturkan hormat 281. Terimakasih jawab Gusti Kangjeng keterima dengan segala hormat dari situ Sunan Rahmat bersalaman dengan para sahabat kepada Abubakar dan Usman setelah memberi salam beliau lalu menghadap

  5. Kangjeng Nabi lalu berkata coba rayi cepat ceriterakan bagaimana keadaan di J awa betul tidak atau bagaimana Sunan Rahmat lalu berceritera ya Kangjeng Rasul berkah dari Gusti kebetulan

  6. Para abdinya yang ketemu semuanya turut Islam para abdinya tidak apa-apa yang ada di Jawa Tengah ke Jawa sebelah timur belum yang kabur tidak mau anut apalagi Perbu Siliwangi
  7. Karena oleh Siliwangi malah semua raja berubah menjadi siluman menjadi mahluk dalam hutan Siliwangi kabur-kaburan bangsawan belum anut banyak yang bersembunyi
  8. Namun rakyatnya tidak mau turut hanya turut pada perintah tuan yakni separuh berkat pertolongan Allah Taala semua menjadi enak pikiran hanya saya punya cerita dengan para eyang
  9. Siap turut agama tidak ragu-ragu dari hal di Lebakjaya Para sesembahannya apalagi sangat senang hatinya kangjeng Nabi lalu berkata terimakasih pada eyang

1.61
287. mereka harus dijadikan wakil oleh rayi (Sunan Rahmat) · mereka sahabat ulama ibarat pintu bertanya seandainya ada yang berceritera serahkan pada eyang sebelum dengan rayi bertemu biar ketemu dahulu dengan eyang
288. Sunan Rahmat berkata dengan tadim ya, jawabnya dan ini diri saya punya maksud menceriterakan terutama yang menganut Islam oleh Kangjeng Nabi diminta buku catatan untuk dilihat
289. Kangjeng Nabi sangat senang hatinya dan gusti makin tambah asihnya pada Sunan Rahmat Raden kangjeng Nabi lalu berkata sekarang sekalian saja leluhur termasuk yang besar he rayi (Sunan Rahmat) jangan tanggung-tanggung *)
300 ............

*) pada naskah asli hilang 10 pada

  1. lni semua rakyat yang sudah membaca kalimah (sahadat) oleh rayi diteruskan saja pikirkan lagi kelompoknya tandanya masuk Islam terpaksa melaksanakan untuk menjadi paraji sunat
  2. lni alatnya sudah sedia babango 23) pisaunya Sunan Rahmat berkata pelan ya jawabnya saya turut perintah lalu peralatannya dibawa dan tidak bertanya lagi
    XIV. Pupuh Kinanti

  3. Pangeran Gagak Lumayung sudah pamit dari hadapan gusti dan Nabi mendoakan lalu doa dari Nabi dalil leluhur sudah tiba pergi dari hadapan Kangjeng Gusti

  4. Datang ke Paguban Mahjud teringat pada kenangan ketika melihat negri itu diumpamakan jalan yang ujungnya jadi dua (bercabang) lalu ingat ke Tanaim apalagi yang paling diingat Sunan Bidayah lalu berpikir
  5. Tunduk muji kepada Rasul tidak ada lagi yang dipikir yakni yang dimaksud
    23) babango, yaitu nama alat untuk menyunat.

apabila tidak menjadi wakil ditambah-tambah akan ke Jawa dan teringat pada asal usulnya

  1. Banyak sekali yang terpikir terasa dalam hati banyak sekali untuk jarah apalagi ke taip Raden belum jarah-jarah hanya semoga gusti
  2. apa yang diperintahkan gusti Rasul semoga cepat berhasil ketika selesai memikirkan menengok lagi ke pinggir sebelumnya Sunan Rahmat di Bubah mehjud duduk
  3. Berkat kekuasaan Yang Maha Luhur Sunan Rahmat sudah ada di tanah J awa di Puger Sokawayana bertemu dengan orang-orang yang satu namanya Raden Layang Kamuning
  4. Putrall;ya Dipati Ukur yang satunya lagi bemama Raden Tanjunglaya putranya Layang Kamuning Sunan Bidayah berkata kepada Raden Layang Kamuning
  5. Akan ke mana maksud Raden lalu berceritera Layang Kamuning saya ini dari Sempur Girang putranya Ukur Narpati jika namanya yang dikenal diri saya adalah Layang Kamuning

  6. Jika ini yang dibelakang Tanjunglaya anak hamba diri hamba memberitahukan dikarenakan sudah merasa bodoh saya ini tidak menurut kepada perintah rama tidak menurut hasil pepatah

  7. Ibarat yang berjibun itu rama bahwa diri saya yang asih dikembalikan salah menampik yang mengasihi Sunan Bidayah berkata bagaimana asalnya tadi
  8. Yang menyebabkan merasa begitu lalu Layang Kamuning bercerita ya, jawabnya asal mulanya diri saya melawan perintah rama/ayah saya menolak pada kasih sayangnya
  9. Karena ayah sudah tua saya tidak boleh menolak jika ini anak saya oleh ayah dijadikan wakil menjadi kepala agama tetapi ia tidak mau menerima
  10. Diri hamba juga begitu tidak sanggup jadi narpati (raja) karena tidak mau juga tidak mempunyai niat lalu saya kabur berjalan tidak tentu tujuan mesem Sunan Rahmat mendengamya. 3 15. Bagaimana bisa begi tu jadi salah yang dicintai (dikasihi) coba pikirkan sebentar

sungguh sayang apa yang dipandang jika tidak mau menjadi bupati

  1. La yang Kamuning lalu berka ta betul sekali diri saya sebabnya anak tidak sanggup dikarenakan merasa tidak dapat mengaji oleh karena itu saya kabur-kaburan memegang kepala agama
  2. Secara lahiriah tidak mau takut ditanya oleh orang ditanya mengenai agama oleh rakyat yang sudah mempunyai pikiran yang mulia seandainya tidak dapat akan malu sangat malu sekali 3 18. Pada peritah tidak mau apalagi diri saya kalau yang sebenar-benarnya itu yang diingat putra eyang di Pakuan yang sudah lupa pada agama 3 1 9. Dan uwa Gagak Lumayung yang bermµkim di negeri Mekah menjadi wakil Rasullullah yang sudah mendapat kecintaan saya terkesan oleh itu saking inginnya belajar ngaji
  3. Biar tidak menjadi raja supaya senang ngaji terdengar oleh Sunan Rahmat lalu dipeluknya sambil berkata aduh Raden anak uwa jika begitu sukurlah

  4. Ya ini uwa itu enung24) sedang mengemban perintah dari gusti menyunat di tanah J awa coba uwa Layang Kamuning dan cucunya Tanjung Laya sekarang terns pergi

  5. Menuju Esam-baya-nahun apabila di Mekah jelas semua orang Mekah tidak ada yang tidak melihat semua sudah pada tahu kepercayaan Kangjeng Nabi
  6. Khususnya guru ngaji Quran ini suratnya pegang
    . nanti berikan oleh ujang25) katakan surat dari Jawa lalu Raden putra menyembah terimakasih rama

  7. Suratnya sudah dibawa minta doa rama raji sekarang putra mau terus perintahnya semoga berhasil lalu bersalaman sesudah bersalaman lalu berangkat

  8. menuju Seh Bayanahun sampai di sini dahulu cerita Layang Kamuning yang mendapat doa dari Seh Rahmat diceriterakan lagi Sunan Rahmat yang pergi dari Sokawayana di jalan ia (Sunan rahmat) berpikir terus
    24).enung, yaitu sebutan kepada buah hati (anak perempuan
    )

25)ujang, sebutan untuk anak laki-laki.

  1. Sunan Rahmat Sang Lumayung lupa tidak bertanya tadi bagaimana cara menyunat dengan alat pisau dan babango lagi bagaimana mempraktekkannya lebih susah sekali
  2. Tergesa-gesa sekali saya kalau begitu tidak banyak bertanya kepada Gusti itulah jadinya ke.lakuan masuk ke cacandran 26) aki jauh-jauh yang dimaksud tapi tidak hasil maksudnya jadi menyesal akhirnya
  3. Bila tahu tanpa guru yang puny a cerita jadi paraji tentunya bercampur dengan yang tidak nyata begitu pula diri saya ingin tahu saja saya pikir dikira-kira
  4. Oleh karena tanpa guru dikira ajinya runtik tidak ada kejadiannya kejadian kelakuan saya Sunan muda lalu berangkat menuju negeri Pangadegan
    XV. Pupuh Sinom

  5. Sunan Rahmat menjalankan perintah di pinggir tempat berdirinya negara mencari orang yang tunggal jelasnya satu orang
    26) cacandran ialah cerita dari karuhun (nenek moyang) yang menggambarkan
    keadaan yang bakal dijalani.

seandainya nanti bertemu dengan orang yang tunggal dan tidak berteman maksudnya akan mencoba menyunati pada waktu itu juga lalu bertemu dihadapannya dengan seseorang

  1. Di tegal Leles Cipancar pinggir negeri Pangadegan orang itu tidak salah lagi yang telah mengislamkan saya sudah sembuh orang itu dengan Sunan Rahmat sudah bertemu setelah bersalaman lalu ditanya yang ditanya senang sebabnya orang itu akan disunat
  2. Sebagai tanda stldah Islam orang itu senang hati supaya selamat Islamnya pada Sunan menyerahkan diri dengan cepatnya Sunan Rahmat pisau yang dari kangjeng Rasul diambilnya dan akan menyunati oleh karena tidak (belum) mengerti cara-caranya "larangannya" dipotong habis sama sekali
  3. Orang yang tunggal itu lalu meninggal Sunan Rahmat terkejut lalu menangis badannya gemetar pisau dan babango ditinggalkan ditinggalkan dekat mayat Raden sangat kaget sekali terns menceritakannya ke Mekah (hatinya) sangat kasihan sekali ia cepat-cepat pergi karena ingin segera bertemu
    ..

  4. Dengan Rasullullah ia sedang prihatin karena salah menggunakannya oleh Malaikat Jibril cepat dipertemukan lagi dipercepat oleh Jibril hanya sekilat Raden lalu sudah menghadap sudah bersalaman dan sudah duduk lagi oleh Kangjeng Nabi ditanya Sunan Rahmat

  5. Coba rayi cepat ·ceritakan Sunan Rahmat berkata dengan tadim ya, jawabnya diri hamba terlalu tergesa-gesa belum begitu mengerti karena terlalu cepat-cepat berlalu ketika datang pada waktunya diri saya jadi paraji (dukun sunat) menjadi bingung lupa menanyakan caranya
  6. Ketika mulai saya laksanakan menyunati lalu orang yang disunat meninggal orang itu yang tunggal jadi kaget diri saya dikarenakan lalu meninggal Kangjeng Nabi lalu menjawab bagaimana mempraktekkannya yang sudah dijalankan tadi y;mg menyebabkan lalu mati orang yang nunggal
  7. Sunan Rahmat lalu berceritera ya, perintah gusti dipotong habis sama sekali Kangjeng Nabi lalu berkata pantas kalau begitu rayi jadi salah caranya kalau begitu jadi orang itu mendapat keselamatan di batinnya sebabnya orang pertama diJawa yang masuk Islam

  8. Secepatnya Sunan Rahmat dinasehati oleh Kangjeng Nabi caranya melakukan sunat yang pasti babango dahulu baru pisaunya kulit yang dipotong Sunan Rahmat sekarang sudah tahu sudah jelas yang dinasehati Nabi terimakasih gusti sekarang saya mengerti sekali

  9. Kangjeng Nabi perintahkan karena sekarang sudah mengerti sewaktu sudah di J awa apabila sudah lelah sekali sebaiknya membuat wakil supaya jangan repot walaupun puluhan dan ratusan yang dijadikan paraji itu lebih baik supaya selesai menyunati
  10. Sunan Rahmat mengiakan Kangjeng Nabi memerintah lagi kepada Den Sunan Rah.mat agar Sunan Rahmat mempunyai rayi (istri) supaya betah duduknya Sunan Rahmat lalu berkata ia mengiakan turut perintah sekarang diri saya mohon pamit akan melanjutkan menyunat lagi ke Jawa
  11. Sunan Rahmat lalu bersalaman mata terpejam sambil tadim ketika selesai bersalaman lalu bangkit sambil melihat sudah ada di tanah J awa dikarenakan sangat diasih oleh leluluhur keramatnya manjur sekali sahabat plus kekasih wali kec.eritakan Den Rahmat ada di Jawa

1 71

  1. Dimulainya dari Ja,ketra menyunat lalu berhasil selamat perbuatannya dari J aketra menyusuri lagi lalu ke Pakuan datang di Pakuan sibuk sekali menyunat tiada hentinya tapi mantri menyingkir sembunyi takut disunat
  2. Selesai di Pakuan terns ke Cikole datang di Cikole menyunat lagi serta membuat wakil paraji sudah paham di Cikole setelah selesai ada juga yang tertinggal dilanjutkan oleh wakil Sunan Rahmat sudah melanjutkan ke Batulayang
  3. Di situ mendapat satu bulan Sunan Rahmat melanjutkan lagi ke negara Curug Sempur menemui Ukur Narpati selesai bertemu dengan rayi yang sangat rindu sekali malah kerajaan setelah keluar dari Narpati semua bangsawan yang sudah masuk Islam
  4. Semua pada dipotong oleh Perbu Siliwangi seperginya anaknya kang rayi lebih prihatin apalagi negeri ini oleh rayi akan ditinggalkan kakak ini ingin iku t dengan kakak tidak akan ganti Sunan Rahmat turut semuanya

  5. Tetapi namanya diganti sekarang oleh kakak, Sang Kiyai Agus Daka menghaturkan terimakasih Narpati Sunan Rahmat menghaturkan diceriterakan putranya Raden putra Tanjunglaya dengan Raden Layang Kamuning sudah bermukim yakni di tanah Mekah 34 7. Terdengar oleh Bagus Daka sangat senang hatinya adik berbakti bertambah senang moga-moga anak rayi mendapat rahmat gusti mendapat hibar rahmat leluhur semoga menjadi para wali didoakan siang dan malam oleh ama yang "gandang di tanah Jawa
    XVI. Pupuh Dangdanggula

  6. Sunan Rahmat Bagus Daka pergi cepat pergi meninggalkan negara itu dan lagi pula Bagus Daka tidak ada yang diberatkan dikarenakan kakaknya sudah mati anak cucu sudah tidak ada sudah mencari ilmu dilihat keraton tidak dapat adalah seorang mantri yang mengawasi ia mengetahui yang membuang negara

  7. Seperginya raja ia lalu pergi ke keraton mengambil pakaiannya di keraton ada semua mantri itu sangat senang sekali

pakaiannya bupati lalu dipakai karen tidak ada yang tahu lalu menjadikan dirinya raja serta mengganti beliau Dipati Ukur yang paling he bat

  1. Setelah yang mengambil alih itu selamat para abdi di dalam negara tidak ada yang menghalangi cerita mantri yang menjadi raja ditunda dahulu keceritakan Sunan Rahmat lagi beliau berjalan-jalan setiap menemui kampung tidak telat menyunat sama halnya dengan gus Daka yang jadi paraji makin jauh beliau pergi
  2. Kembali lagi ke tempat yang asal menempuh negri pangadeg tahu-tahu tiba di tegal Leles datang ke tempat semula waktu pertama kali menjadi paraji tetapi orang yang nunggal itu · masih ada ujudnya jasadnya sudah menjadi budak lalu diurus semestinya dikubur di tempat asalnya
  3. Ditanami pohon salam satu di dekat kuburannya dengan bekas motong pisau Den Rahmat wakil leluhur lalu berdoa sambil duduk semoga ini kuburan diakhirnya tentu menjadi kampung yang ramai sekali dan di situ nanti moga-moga masing yakin dan kampung itu dinamakan kampung Salam nunggal

  4. Lalu Sunan Hidayat melakukan sunatan bersama dengan rayi Bagus Daka ke selatan ke timur hutan semua ketika berhenti di gunung di leuweung tiis terkenalnya Sangiyang tapak Sang Gagak Lumayung merasa lega sedang panas datang semilir angin dingin itu namanya gunung

  5. Karena itu terkenal dengan nama "leuweung tiis" sejak itu sampai sekarang Sunan Rahma t berkata lalu ingat pada perintah Rasul harus segera mempunyai istri bilamana kakak beristri Bagus Daka menghaturkan: "jika kebetulan ada orang yang namanya Nyi Pugerwangi sudah tidak beribu dan berbapa
  6. Itu wanita keponakan ibu adik (saya) · putra bibi eyang yang sudah meninggal saudaranya dalem Pagedeng di puger sudah piatu Sunan Rahmat lalu berkata terserah dimana saja hanya jangan tidak menurut kepada segala perintah dari hal Kangjeng Nabi Rasullullah dikarenakan ada perintahnya
  7. suatu ketika tentunya ketemu nanti diahirnya jangan sampai lupa karena kangjeng luluhur
    L

jika rayi tidak mengerti ia adalah kekasih Allah dikarenakan telah kesebut mahkotanya para ambiya berangkat memakai putih tidak ganti itu payung selamanya

  1. Begitu pula dengan Kangjeng Nabi tidak afia yang menirunya tidak ada bayangan yang terlihat oleh karena itu tandanya manusia lebih nama payung mega putih pertanda leluhur bumi langit dan isinya dan sorga neraka dengan singgasana Allah itu kepunyaannya
  2. Lan sakehing kang ana galering ya dari' situ asalnya karena itu kita harus merasa semasa kita masih hidup · lain daripada yang lain kita hukumnya di bawah perintah semasa hidup walau sedang betah di dunia Bila sudah tiba saatnya. /ah mahpud anu nalangan
  3. Kita harus takut mati tidak bisa mengatakan sedang betah Bila sudah sampai pada kepastian begitu Den Rahmat berkata kita harus kembali lagi tambakbaya sudah terlewati Bagus Daka berkata ya, saya turut setelah pergi, sampailah di Cigunung Tiis di situ ia terus mandi

  4. Dengan menghilangkan semua sihir yang sebelumnya dianggap kekuatan tapi yang diperlihatkannya keramat Sunan leluhur lalu berdoa sambil duduk ini air biar banjir bermaksud membuang kekuatan sihir takut ada yang ketinggalan tidak lama kemudian. air mengalir derasnya Bagus Daka terus terbawa arus

  5. Sudah terseret terbawa air dikarenakan air sedang pasang airnya sangat besar yang terbawa arus makin jauh Bagus Daka merasa takut memanggil Sunan Rahmat sambil berteriak minta tolong Sunan Rahmat lalu menolongnya tapi berdiri tersenyum sambil melihat sambil mengeluarkan keramatnya
  6. Lalu ditepuk air menjadi kendi karena sangat kasihan melihat temannya Bagus Daka lalu bersender kaget sambil tertawa melihat keramatnya wakil Sunan jauhnya sudah tidak dapat dikatakan waktu itu juga sudah bertemu itu air lalu dinamai tadinya Bagawan Cigunung Tiis sekarang bernama Cikawedukan
  7. Sunan Rahmat Bagus Daka sudah sampai ke Tambakbaya di situ ia menyunati lagi setiap ketemu dengan orang di kampung

Bagus Daka menjadi paraji (tukang sunat) di pegunungan_, di kampung di situ sudah selesai lalu berangkat lagi ke puger ingin datang ke Puger kepunyaan adiknya ke neng Puger Wangi namanya

  1. Lamanya di Cihaur Beuti menjadi pengantin mendapat sebulan istrinya lalu hamil lamanya hamil diceritakan lamanya sepuluh bulan sampai melahirkan putranya kembar dan lucu tetapi ibunya terns wafat setelah itu lalu diurus mayatnya Sunan Rahmat kasmaran ditinggal istri
    XVII. Pupuh Asmarandana

  2. Sunan Rahmat sedang prihatin karena istrinya meninggal hanya putranya yang kasihan anak yang ditinggal ibunya itu anak menjadi Iara ada lagi yang diceritakan saudaranya Bagus Daka

  3. Saudara dari istrinya yang seibu ya begitu pula kematian anaknya Den Rahmat memasrahkan bayi yang diserahi senang sekali dikarenakan ada gantinya makin lama putranya besar lalu diberi nama

36 7. Yang lahir pertama itu disebut kakaknya dan namanya yakni Pangeran Ali Muhamad jika adiknya Ali namanya tu putranya lebih bagus lama Sunan Rahmat di situ

  1. lalu pergi ke Sindangbarang dan sudah sampai Sunan Rahmat di situ semua pekerjaannya sudah heres ya_kni sebagai wakil dalam menyunat ke setiap pulau sudah didatangi ke Puwa-puwa di datangi dari Kandangsabrang sudah pergi
  2. Bagus Daka tidak pula ketinggalan menelusuri kampung cepatnya ini cerita bekas didatangi, yakni Cilageni, karobokan Dayeuh handap, dayeuh Manggung Purbasana,Panunggangan
  3. Selain Cimalati Ciraseja dan Cikupa yang sudah dikunjungi tadi Mester, Cibeureum, Batara Haurpanggung, Cilolohan Parung, Kawali, Cinunuk Sukapunten, Kandunghalang 3 71. Terus ke Cihaurbeuti dari situ Sunan Rahmat dan adiknya lalu pergi Rai sekarang ini kakak di J awa sudah terlalu lama karena itu rayi akan ditinggal di Puger dengan anak kakak

  4. Hitung-hitung memelihara diri meskipun umumya masih kecil semoga dipanjangkan usianya kan adik putra tunggal sudah tidak lupa menasehati suatu waktu-waktu akan ditinggal pergi akan cepat pergi ke Mekah 3 7 3. Kakak sekarang ini dik mau pergi ke Mekah kakak nanti di sana menyuruh anakmu serta i tu anak tetap di Syeh Bayanahu mengajinya dengan putra

  5. Malah sudah ganti nama cucu Tanjunglaya kalau namanya bemama Syeh Abdulpatah Layang Kamuning namanya dari mengaji sudah khusus nama Syeh Sedanagara
  6. Syeh Abdulpatah lagi kerjanya di Mekah mengaji kadang-kadang mengaji Quran anaknya Syeh Bayanulah putranya Syeh Bayanuhu oleh Bagus Daka terdengar
  7. Sangat senang hatinya Bagus Daka lalu berkata mengenai rayi yang mau ditinggal ke Mekah Insya Allah akan menurut semoga doanya dimakbul diterima keislamaimya

  8. Sunan Rahmat berkata lagi jadi sekarang ini kakak sudah waktunya mau pergi Bagus Daka lalu bersalaman setelah bersalaman cepat pergi Bagus Daka yang tinggal di Puger dengan saudaranya

  9. Diceritakan Sunan Rahmat lagi dari situ sudah berangkat lagi di jalan tidak diceritakan sudah berada di hadapan Rasullullah waktu sedang berada di Madinah Syeh Rahmat Ialu bersalaman ke hadapan Kangjeng Rasullullah
  10. Setelah bersalaman dengan Kanjeng Nabi Ialu ke para sahabat Abubakar, Umar Farok ke Ali dan ke Usman setelah bersalaman lalu duduk sambil memberikan buku buku catatan diperlihatkannya
  11. Kangjeng Nabi sudah berkenan di hati Sunan makin lebih dikasihi juga oleh para sahabat semua cinta kasih diiringi sayang Bagenda Ali ibarat ke putranya saja namun pada Bagak Lumayung sangat mencintainya (mengasihinya) 38 I. Dan Syeh Rahmat juga sudah tetap namanya sebagai wakil luluhur yang terkenal dan Iagi pakaiannya warna hitam adalah kesayangannya sorban ju bah, seput kayu Iaken Mesir yang mengkilap

382. Lama sekali Kanjeng Nabi

kepada Sunan Rahmat bertanya "coba bagaimana sekarang niat yang pasti betah di mana Gagak Lumayung lalu berkata "ya, perintah tuan

383. Tentang nasehat gusti

lebih betah di Mekah sudah tentu di Madinah turut dekat kaki tuan Kangjeng Nabi lalu berkata "apa yang dikatakan pada kakak di terima sekali

384. "Hanya kita sangat khawatir (pada)

umat yang berada di Jawa karena itu dibuat wakil juga kau (Sunan Rahmat) untuk wakil di Jawa ingatlah kau (Sunan Rahmat) jangan salah terima walaupun di Jawa tentunya nanti untuk menerima"

  1. Pada ibadah yang suci apalagi ujang sendirian para abdi siapa saja yang turut pada perbuatan ujang semoga selamat di akherat ditanggung ketika Nabi berkata demikian

    386. Malaikat menyaksikan

para wali semua juga menyaksikan kata kekasih yang Maha Kuasa wakil leluhur berkata, "ya, perintah tuan saya mau turut saja pada perintah "gamparan" (Kangjeng Nabi)

J.82
387. Sekurang-kurangnya diri say a mendapatkan keuntungan dari gamparan (Kangjeng Nabi) derajat diri saya ini baru mendapatkan kemustajaban gusti yang lebih waspada walaupun tinggal di Mekah bila gusti tidak menerima
388. Celakanya diri saya kasihan keterima salah itu kebodohannya karena kecintaan gamparan keterima pada kebaikan diikat di ujung rambut menghaturkan terimakasih pada gamparan
389. Kanjeng Nabi bersabda lagi jika ingin tanah Mekah dari sini saja bawa nah ini sudah sedia tanah Mekah dipetikan jadi ini tanah makbul dan lagi ini temannya
390. Dalam peti buli-buli isi peti air jam-jam di dalam cepuk (buli-buli) itu. dan ada lagi tanah di atas peti itu tanah ini pucuk gunung di atas peti
391. Itu tanah pucuk jati bila dibawa setia kamu jangan kaget ini pangtia dinya untuk tempat para wali sekarang atau lusa tentunya keponakan kam u

  1. akan ketemu menjadi wali dari tanah itu dan ini janjinya itu, kalau sudah sampai cepatlah sebut namanya tidak dapat dipodah engkau (Sunan Rahmat) di situ harus turun untuk tempat tinggal kau
  2. Sama-sama dari Jawa bagaimana gojlogannya gojlog di dalam peti di situ tempat kamu menjalankan ibadah siapa orang yang mengetahui pada tempat itu
  3. Tentunya akan mendapatkan kemuliaan diri dijauhkan dari mara bahaya akan mendapatkan manfaat besar tua, muda, bangsawan atau para abdi tentunya akan mendapat kumia manfaat dari leluhur ditinggikan keberkahannya
  4. Diceritakan lagi ratu jin turut menghubungi orang untuk tunggangannya kudu sembrani wama hijau kuda tedaking jabalkap kuda yang suka kabur dimuatkannya peti itu
  5. Dikira perabot lagi seperti kuda umbal sudah sedia pakunya pangandika Ratu Ajrak beliau di punggung kuda wakil leluhur lalu berkata hawatir ini berat

  6. Ya dimuati ya ditunggangi kata Ratu Ajrak bukan kau yang menjadi muatan daripada kuda lelah lebih baik ditunggangi keramat engkau sedang manjur diganti oleh mujijat
    XVIII. Pupuh Kinanti

  7. Wakilnya itu leluhur yakni kepada raja jin kenapa tidak memakai kendali ratu jin tersenyum walaupun tidak memakai kendali ia akan tahu sebab

  8. Kan kendali itu sudah tentu keramat lain kendali ini walaupun sampai ke ahirat dari pada putus malah mengunci kalau begitu lagi baiklah yaitu sara kedali
  9. Lalu kendali putus kendali lebih kecil hanya sebesar kawat berkata ratu jin bapa janji pada kuda bila kuda sudah hilang 40 I. Ten tu tali kendalinya tertinggal bila tidak memakai tali kendali ini kuda turut betah ke Raden di tanah J awa terimakasih kata Sunan Rahmat putus pengasih ratu jin

  10. Kangjeng Nabi Jalu berkata, suaranya Jembut dan manis kamu harus menetap di J awa nanti oleh saya (kangjeng Nabi) tidak akan dibiarkan selamanya meskipun anak cucu kami

  11. Bila sampai waktunya tentu ada di Jawa jika kamu tidak·senang hati akan terdengar oleh wakil gusti tidak terkirakan senangnya senang yang tidak ada bandingannya
  12. Senang hatinya tiada tara Jalu bertanya Jagi ke gusti diri saya (Sunan Rahmat) mempunyai anak dipesantrenkan oleh saya sekarang ada di negeri Mekah Syeh Abdulpatah namanya
  13. "Dibacanya Syeh Baya Nuhun semoga ada wangsit gusti supaya kembali ke Jawa" Berkata kanjeng Nabi: "janganlah khawatir ten tu akan disuruh kembali ke J awa
  14. Walaupun putra Baya Nuhun diakhirnya nanti semoga ada niat untuk kembali ke Jawa lalu Raden disuruh pergi wakil leluhur sudah mando Gusti saya mohon pamit
  15. Bersalamanlah (ia) kepada Rasul setelah bersalaman dengan Kanjeng Na bi lalu ke para sahabat

(yakni) Abubakar, Umar, Ali Usman juga ratu Ajrak semua sahabat mengasihinya

  1. Bagenda Ali yang (akan) ditinggalkannya menangis sambil berkata semoga anak cucu bapa mendapat perkenan (Tuhan) dapat mengunjungi tanah Jawa pergilah Raden, (aku) mendoakanmu biar selamat sampai di Jawa
  2. Wakil Jeluhur setelah itu mendapat jiad dari kangjeng Na bi dan para sahabat maka pergilah (ia) dengan tertib meninggalkan negara (Mekah) Jalu (ia) menunggangi kuda sembrani
  3. Seketika (ia) menaiki (kuda itu) maka terbanglah sekilat bagai angin (kemudian) turun di pulau Selan dan peti pun bergerak satu kali kuda sembrani masih ada (berwujud) pucuk gunung jati masih ada
  4. Dari Sumatera (ia bersama kudanya) lari lagi sekilat bagai angin (kemudian) turun di Ujungkulon dan peti pun bergerak satu kali kuda sembrani masih berwujud pucuk gunung jati masih ada
  5. Dari Ujungkulon (ia bersama kudanya) lari lagi sekilat bagai angin (kemudian) turun di Jaketra dan peti pun bergerak sekali kuda sem brani masih berwujud pucuk gunung jati masih ada
    ..

  6. Dari Jaketra (ia bersama kudanya) la lagi sekilat bagai angin (kemudian) turun di Bagenda Selam dan peti pun bergerak sekali kuda sembrani masih berwujud pucuk gunung jati masih ada

  7. Dari Bagenda Selam (ia bersama kudanya) lari Jagi sekila t bagai angin (kemudian) turun di gunung Amparan dan peti pun bergerak sekali pucuk gunung jati jatuh Tiba di tempat para wali
  8. suatu saat nanti akan ada para wali yakni di negeri Cempa yang kemudian disebut Gunung Jati tetapi (sampai saat itu) kuda (nya) masih berwujud dari Amparan (ia) berangkat lagi
  9. Kuda larinya cepat luar biasa sekilat bagaikan angin (kemudian) turun di Karang dan peti pun bergerak satu kali serta kuda sembrani masihberwujud di Karang tidak lama
  10. Dari sana (ia bersama kudanya) terus berlari sekilat bagai angin (kemudian) turun di Guwah Rahmat peti pun bergerak satu kali kuda sembrani masih berwujud di Guwah Rahmat tidak lama
  11. Dari Guwah (ia bersama kudanya) berlari lagi sekilat bagai angin kuda larinya sangat kencang

dan kudapun meringkik keras dan peti pun ergerak lagi turun di Gunung Suci

  1. Di sebelah timur Dayeuhmanggung peti itu bergerak-gerak dan kuda lenyap kuda sembrani hilang lenyap yang tertinggal hanyalah kendalinya serta semua peralatan berikut peti tadi
  2. Sumerep kanjeng luluhur lalu dibukanya peti itu isinya yakni tanah Mekah serta sebuah buli-buli yang isinya air jam-jam serta surat dalam peti
  3. lsinya surat yang tertulis yakni, begini isinya ini tanah yang dibawa jika kamu (Sunan Rahmat) tidak dapat melihat sampai kamu (Sunan Rahmat) mati di sini di Gunung Suci
  4. lni yang disebut air jam-jam yang terdapat di dalam buli-buli tandanya Hindu itu berasal dari turun temurun lalu ke Nabi berserah pada agama Islam jlasnya murid mukamil
  5. Tempat tinggal kamu (Sunan Rahmat) disebut Godog asal dari gerakan peti artinya gerakan itu yakni tingkah laku dari sudah asrahnya hati mengimankan papakon nabi

  6. Sudah disebut wali luhur sebab wakilnya kanjeng Na bi begitulah isi surat itu setelah dibaca lalu di situlah ia berdiam pada waktu itu ia bertekad bulat berdiam berbulan-bulan

  7. Setelah mendapat setahun baru mendapat kabar banyak yang mendatangi dari Lebak Jaya yang mengungsi semuanya pada datang sembah kuwu Kandang Sakti
  8. Sembah Dora yang ketiga sama pada mendatanginya wakil leluhur melihat disembah dan disayang (diasih) semua penembahan cucu sudah berdiam (bertempat tinggal)
  9. Kita bakal banyak kedatangan tamu sudah begitu semua para panembahan lalu bersalamanlah berjajar baris memberi honnat dan duduk berbaris

BAB Ill

TINJAUAN UMUM

3.1 Deskripsi Naskah Naskah Wawacan Perbu Kean Santang merupakan salah satu naskah dari koleksi Perpustakaan Nasional dengan nomor Pit 33 Peti 121. Bahasa yang dipergunakan dalam naskah ini adalah bahasa Sunda yang ditulis dengan huruf Latin dan bentuk tulisannya ramping agak condong. Tulisannya baik dan teratur, hanya mengenai tanda baca kurang diperhatikan. Keadaan nas kah tersebut baik, dalam arti belum banyak terdapat kerusakan, baik yang berupa halaman robek, berlubang seperti yang nam pak pada sejumlah naskah. Hanya ada dua halaman hilang (bait 290 sampai dengan 299). Meskipun demikian tidak mengganggu jalannya cerita. Oleh sebab itu naskah Wawacan Perbu Kean Santang mudah dibaca dan dipelajari isinya. Naskah ini merupakan suatu karya sastra Sunda yang ber nama wawacan, yakni hikayat yang ditulis dalam bentuk puisi tertentu yang dinamakan dangding. Adapun yang dimaksud dangding yaitu ikatan puisi yang sudah tertentu untuk melukis kan hal-hal yang sudah tertentu pula dan dangding ini terdiri dari beberapa buah bentuk puisi yang disebut pupuh. Pada kesu sasteraan Sunda terdapat I 7 belas macam pupuh. Masing-masing pupuh sudah mempunyai ketentuan dalam hal jumlah baris
190

pada setiap bait, jumlah suku kata pada setiap baris, dan bunyi akhir pada setiap baris.

Naskah Wawacan Perbu Kean Santang terdiri dari 427 bait dengan menggunakan 7 bangun pupuh yang dimulai dengan pu puh asmarandana. Adapun ketujuh bangun pupuh yang diguna kan pada naskah ini perinciannya sebagai berikut:

I) pupuh asmarandana 98 bait

2) pupuh dangdanggula 51 bait

3) pupuh kinanti 118 bait

4 )· pupuh sinom 59 bait

5) pupuh pangkur 56 bait

6) pupuh durma 18 bait dan

7) pupuh mijil 27 bait Pemakaian pupuh ini ada yang berbeda dan ada yang ber ulang, karena disesuaikan dengan fungsi pupuh di daJam meng gambarkan situasi episode atau keadaan suasana peristiwa yang terjadi. Jumlah bait (427 bait) kesemuanya ini sating berkaitan. Adapun kaitan antara kata dengan kata, yang kata-katanya ter sebut sudah merupakan pilihan kata JaJu diJanjutkan dengan

sebut sudah merupakan pilihan kata JaJu diJanjutkan dengan
hubungan antara Jirik-Jirik ditambah dengan gaya bahasa dan
tehnik wujud suatu cerita yang dalam hal ini adalah Wawacan Perbu Kean Santang. Keindahan puisi wawacan yang berupa pupuh pupuh tersebut akan lebih nampak biJa membacanya dilakukan secara bertem bang. penceritaan sehingga muncul rasa keindahan dan

ter

3 .2 Ringkasan Cerita

Naskah ini berisi cerita tentang seorang tokoh yang bernama Kean Santang. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu ada lah Gagak Lumajang, Gagak Lumayung, Garantang Setra, Pa ngeran Gagak Lumiring, Sunan Rahmat dan Suna Bidayah.

Kean Santang adalah putra Prabu Siliwangi dari Keraton Pajajaran Sewu. Ia terkenal amat gagah. Tidak ada seorang pun di Pulau J awa yang dapat menandinginya.

Pada suatu hari, Kean Santang menghadap ayahandanya, Ada sesuatu yang ingin disampaikannya, yakni hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri. Prabu Siliwangi tertegun mendengar keinginan putranya itu. Kemudian, baginda me manggil patih Raden Arga untuk mengumpulkan para ahli nujum. Setelah semua ahli nujum berkumpul, Prabu Siliwangi menanyakan siapa gerangan orang yang sanggup memenuhi ke inginan Kean Santang seperti yang diucapkannya itu.

Ternyata para ahli nujum tidak dapat menjawab pertanyaan raja. Namun, ada seorang kakek yang sudah tua renta datang menghadap baginda dan mengatakan bahwa ada orang yang dapat memperlihatkan darah raja putra, ialah Bagenda Ali yang berada di Mekah. Setelah mengucapkan itu, kakek tersebut lenyap dari pandangan. Menurut yang empunya cerita, kakek itu tidak lain adalah Malaikat Jibril yang menyamar menjadi se orang kakek-kakek. Nama Bagenda Ali terkesan pada hati Kean Santang. Ia ingin mencari orang yang.mempunyai nama itu, ke Mekah. Lalu ia minta izin dari Prabu Siliwangi untuk berangkat. Raja Pajajaran pun menyetujuinya dan Kean Santang berangkat menuju Mekah tetapi ia belum tahu jalan ke Mekah. Dalam perjalanan, di suatu tempat ia mengheningkan cipta mohon petunjuk kepada dewa (Kean Santang turunan Hindu). Kemudian ada suara tapi tidak menampakkan diri, yang memberi petunjuk untuk meneruskan perjalanannya dan nama Kean Santng diganti menjadi Garan tang yang artinya bersih.

Tersebutlah Kangjeng Nabi sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Mereka berkumpul untuk merencanakan/membuat dan menambah tiang Masjidilharam. Setelah mufakat akan men dirikan tiang pada keesokan harinya, lalu Kangjeng Nabi meme san agar semua sahabatnya yakni Abubakar, Umar, Ali dan Us man untuk berkumpul. Dan kepada Bagenda Ali dipesankan un tuk membawa tongkat, setelah mendapat perintah, para mu'min bubar. Diceritakan paginya, Baginda Ali sudah siap dengan membawa tongkat akan berangkat. Ketika akan mengeluarkan tongkat datang malaikat Jibril mencegah Baginda Ali agar ja-

Prabu Kean Santang. Prabu Kean Santang melihat Baginda Ali akan tetapi ia belum pernah mengenalnya. Lalu disapanya Baginda Ali dan berkata: "He Bapa (Baginda Ali) tunggulah!". Baginda Ali berhenti menunggu sambil menancapkan tongkat pada tanah. Kean Santang minta ditunjukkan rumahnya baginda Ali. Baginda Ali terkejut karena dirinya yang dimaksud, karena semua orang sudah mengenalnya.

Adapun Kean Santang menyebutkan, bahwa ia berasal dari Jawa. Maksud kedatangannya tidak lain akan mencari Baginda Ali untuk mengajak bertarung mengadu kekuatan, karena di Jawa sudah tidak ada yang dapat menandingi kegagahannya. Baginda Ali berjanji akan mempertemukannya di hadapan Ra- sul, lalu ia mengajak Kean santang untuk menemuinya. Dalam perjalanan, Baginda Ali teringat pada tongkat yang tertancap di tanah tempat tadi itu. Lalu ia menyuruh Kean Santang meng- ambilnya. Kean Santang mencoba mencabut tongkat yang di- tancapkan oleh orang tua tadi (Baginda Ali) tetapi tidak berha- sil. Keringat dari badannya yang berupa darah merembes ke luar, robohlah ia dan menyerah. Baginda Ali mencabut tongkat sambil mengucapkan kalimah sahadat, "Allahumma salli ala Muhamadi ala ali Muhammad laillaha-illellohu waashadu ana Muhammad Rasullullah".

Setelzh menr,ucapkan itu, Kean Santang kembali sehat. Kean Santang terkejut mendengar kalimah kalih (Sahadat) yang dibacakan Bagenda Ali, dan oleh Bagenda Ali diterangkan mak- nanya. Setelah diketahui bahwa orang itu tak lain adalah Baginda Ali, Kean Santang pun menyatakan takluk dan kemudian mau memeluk agama Islam serta berganti nama menjadi Sunan Rah- mat atau Sunan Bidayah. Ia diangkat sebagai sahabat Nabi.

Pulau J awa untuk menyebarkan agama Islam. Ia disuruh memejamkan matanya dan tatkala ia membuka matanya lagi ternyata dirinya telah berada di Pulau Jawa. Namun, karena Sunan Rahmat sudah tidak dikenal lagi sebagai Kean Santang oleh orang Pakuan, ia berniat ingin kembali ke Mekah untuk mene- mui Kangjeng Nabi. Setelah membaca syahadat, Kean Santang serta merta berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad.

Nabi tetap memberi tugas kepada Kean Santang agar meng- islamkan penduduk Pulau Jawa. Oleh karena itu, Kean Santang berangkat lagi menuju Pulau J awa. Sekarang ia langsung meng- hadap Prabu Siliwangi.

Waktu Sunan Rahmat memberitahukan tentang tugas yang diberikan Nabi kepadanya, Prabu Siliwangi tidak segera percaya. Raja itu menanyakan Piagam Pengangkatan Kean Santang sebagai wakil nabi di Pulau Jawa.

Menginsyafi bahwa ia belum mempunyai tanda penguat sebagai orang yang harus menyebarkan Islam, terpaksa ia meng- hadap lagi kepada Nabi. Kemudian, Nabi Muhammad memberi sebuah kitab suci Al Quran dan tanda pengangkatan.

Setibanya kembali ke Pajajaran, segera ia menuliskan bunyi tanda pengangkatan sebagai wakil Nabi Muhammad df Pulau Jawa pada batu tulis. Setelah bukti-bukti lengkap bahwa Kean Santang telah diangkat sebagai wakil Nabi dan bertugas menyebarkan agama Isfam, Prabu Siliwangi menolak. Baginda tidak mau memeluk agama itu. Kemudian, dengan jalan menembus bumi Raja Pajajaran itu pergi dari Pajajaran Sewu. Sementara itu, para bangsawan Pajajaran beralih rupa menjadi bermacam- macam jenis harimau, sedangkan keraton kembali menjadi hutan belantara. Konon kabarnya, harimau-harimau itu menuju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi. Sunan Rahmat segera mengejar Prabu Siliwangi, di Tegallu- war ia dapat menyusulnya, tetapi raja itu tetap menolak bergan- ti agama. Baginda terus melarikan diri melewati tempat-tempat yang bernama Cikaso, Dayeuh Manggung, Duren Sewu. Semen-

Padusunan. Adik Sunan Rahmat diserahi daerah Curug Dogdog. Dikemudian hari, terkenal dengan nama Dipati Ukur. Kemudian, Sunan Rahmat menyebarkan agama Islam di Malasari, Timbangantenan, Dayeuh Pangadegan, Dayeuh Tam- baja, Cilageni, Cikupa, Sangkanluhur, Ciparay, Talaga, Cikaso, Pagedeng, Dayeuh Manggung, Panggung, Lebakjaya dan Ka- rangtenang. Di Pagerjaya Sunan Rahmat bertemu dengan Sunan Sandi, yakni ayah mertua Prabu Siliwangi dan ayah Dalem Pasehan.

Penyebaran agama Islam yang dijalankan oleh Sunan Rahmat terus berlangsung. Rakyat yang pada waktu itu diislamkan ialah yang bertempat tinggal di Sukapunten, Kedunghalang, Malere, Singaparna, Batununggal, Tawanggantungan, Cipateng- gang, Cicarulang, Galuh, Parakan, Pageragung, Cikidang, Tegal- laja, Panjalu, dan Cihaurbeuti.

Pada suatu hari SunaQ Rahmat berjumpa dengan Prabu Taji Malela yang kemudian menyatakan ingin memeluk agama Islam. Taji Malela berkata kepada Sunan Rahmat bakwa sebaiknya yang harus didahulukan diajak masuk Islam itu adalah saudara- saudara Sunan Rahmat sendiri. Taji Malela pun berpendapat bahwa pada akhimya mereka akan menganut agama Islam. Setelah bailyak orang-orang Jawa memeluk agama Islam, Sunan Rahmat berangkat lagi ke Mekah untuk melaporkan hasil usahanya kepada Nabi Muhammad.

"Pulau Jawa bagian bara tdan dengan penduduknya telah menyatakan masuk Islam, tinggal rakyat yang berada di Pulau Jawa bagian timur. Adapun Prabu Siliwangi sampai saat ini be- lum mau menerima Islam," demikian laporan Sunan Rahmat kepada Nabi Muhammad seraya menyerahkan catatan nama-nama orang yang telah menjadi muslim. -

Nabi amat gembira mendengar berita itu, kemudian beliau berkata, "Mereka telah masuk Islam dengan membaca syahadat saja, sekarang orang-orang itu harus dikhitan".

Sunan Rahmat menerima alat mengkhitan dari Nabi Muhammad yang harus digunakan nanti di Pulau Jawa. Setelah itu ia pun pulang kembali ke Pulau J awa menjalankan tugasnya walaupun hatinya merasa masih senang tinggal di Mekah.

Sekarang Sunan Rahmat berangkat menuju Sokawayana. Di sana ia bertemu dengan Raden Layang Kamuning dan anaknya yang bernama Raden Tanjung Laya. Layang Kamuning itu ada- lah putra Dipati Ukur.

Kedua orang itu sedang melarikan diri karena tidak mau me-

nurut perintah ayahnya. Layang Kamuning dipaksa harus jadi

bupati di Curug Sempur, sedangkan Tanjung Laya harus menja- di wakilnya. Mereka menolak menerima jabatan itu karena merasa bodoh dan tidak pandai membaca Quran. Kemudian, mereka ingin berguru kepada Sunan Rahmat.

"Bila demikian halnya, se baiknya kalian pergi ke Mekah untuk belajar agama Islam," ujar Sunan Rahmat. Kemudian, ia menulis surat yang akan dititipkan kepada kedua orang itu agar disampaikan kepada Bayanahu yang tinggal di Mekah.

Sunan Rahmat kembali lagi kepada tugasnya semula, yaitu memperbanyak penganut agama Islam. Sesuai dengan perintah Nabi, sekarang ia mengkhitan orang-0rang yang telah menyata- kan masuk Islam. Akan tetapi, waktu berada di Mekah ia lupa bertanya kepada Nabi Muhammad cara mengkhitan orang. Oleh karena itu yang dikhitan di Pangadegan," Leles dan Ciparay meninggal dunia. Hal itu terjadi karena Sunan Rahmat main potong begitu saja terhadap batang zakar laki-laki.

Tentu saja Sunan Rahmat terkejut melihat peristiwa itu. Segera ia berangkat lagi ke Mekah untuk menanyakan cara mengkhitan orang tidak sampai mati. Nabi Muhammad mene- rangkan hal itu dengan seksama; beliau dengan tegas menyata- kan bahwa mereka yang te~as waktu dikhitan Sunan Rahmat akan masuk surga. Selain itu, Nabi pun berpesan kepada Sunan Rahmat agar segera mempunyai istri dan mempunyai tempat tinggal sendiri.

Kembali Sunan Rahmat ke Pulau Jawa dengan pengetahuan baru. Ia singgah di iakarta, kemudian menuju ke Karang Paku an, Cikole, Batulayang dan Curug Sempur. Di tempat yang ter akhir ini ia bertemu dengan Narpati Ukur, adiknya.

Sunan Rahmat menceritakan hal ihwal Raden Layang Ka muning dan Raden Tenjo Laya -- anak dan cucu Narpati Ukur yang pada saat itu telah bermukim di Mekah untuk memper dalam agama Islam. Kemudian, Sunan Rahmat mengajak Narpa ti Ukur untuk bersama-sama berusaha menyebarkan agama Islam. Ajakannya itu mendapat sambutan baik.

Narpati Ukur menyerahkan kendali pemerintahan kepada salah seorang bawahannya, karena ia telah berketetapan hati akan mengikuti jejak Sunan Rahmat. Sejak saat itu Narpati Ukur berganti nama menjadi Sang Kyai Bagus Daka. Selanjut nya Sunan Rahmat dan Bagus Daka mengembangkan agama di Salam Nungga! dan Gunung Tiis. Di Salam Nunggal terjadi lagi peristiwa adanya orang yang meninggal dunia karena dikhitan. Peristiwa lain yang dialami oleh kedua penyiar agama itu adalah pertemuannya dengan tukang-tukang sihir. Mereka yang meme gang ilmu hitam itu dapat ditaklukkan oleh Sunan Rahmat dan Bagus Daka; mereka mati lemas terbawa hanyut. Sunan Rahmat segera menolongnya dengan jalan menepuk permukaan air. Dengan seketika air pun terbelah dan surut, yang tinggal hanya lah batu-batunya saja. Menurut cerita, demikianlah riwayat terjadinya Cikawedukan di Leuweung Tiis. Waktu kedua pemuka agama itu tiba di Tambakbaya, Sunan Rahmat teringat akan pesan Nabi Muhammad yang menganjur kan agar ia mempunyai istri. Di sana ia kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari Puger Wangi, Sunan Rah.mat oeroleh anak kembar laki-laki, kakaknya bernama Pangeran Ali Muhammad dan adiknya bemama Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali, tak lama kemudian, setelah melahirkan, Nyi Puger Wangi itu meninggal dunia.

Dalam kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rahmat terus menyiarkan agama Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh

Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haurpanggung, Cilolohan, Warung Cimanuk, Kedung halang dan Cihaurbeuti. Di tempat yang disebut terakhir ini Ba gus Daka disuruh tinggal dan diberi tugas mendidik anak-anak Sunan Rahmat. Sunan Rahmat sendiri berangkat lagi ke Mekah menemui Nabi Muhammad. Waktu akan pulang kembali ke Jawa, Sunan Rahmat dibe kali tanah Mekah yang dimasukkan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli yang berisi air zam-zam. Selain itu, Sunan Rahmat diberi hadiah seekor kuda semprani oleh ratu jin dari Jabalkap. Pesan Nabi Muhammad kepada Sunan Rahmat ialah bila pe ti itu bergoyang di suatu tempat di Pulau Jawa, itulah tandanya Sunan Rahmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim. Menurut cerita, tempat bergoyangnya peti itu adalah di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rahmat yang asalnya bernama Kean Santang dimakamkan di Godog, Garut.

BAB IV

ANALISIS

4.1 Analisis Struktur Nakah Wawacan Perbu Kean Santang merupakan suatu kar ya Sastra Sunda klasik. Semula Wawacan Perbu Kean Santang ini merupakan sastra lisan yang disampaikan dari mulut ke mu lut. Pada bab ini diketengahkan analisis struktur yang meliputi: judul, tema, penokohan dan perwatakan, plot atau alur.
4.1.1 Judul Pemberian judul sebuah karya tidak lepas dari tema atau pokok pikiran yang terkandung dalam karya sastra bersangkut an. Bahkan judul juga dapat menyiratkan isi sebenarnya karya sastra itu. Seperti pemberian judul pada karya sastra Perbu Kean San tang ini. Dalam Wawacan Perbu Kean Santang, tokoh yang berperan mendominasi isi cerita adalah Perbu Kean Santang sendiri. De ngan pemberian judul Perbu Kean Santang, dapat dipastikan bahwa judul tersebut merupakan nama tokoh nama dari karya sastra ini. Perbu Kean Santang adalah sebutan atau nama bagi Pangeran Gagak Lumajang putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Ia bernama Perbu Kean Santang setelah diangkat menjadi sena pti atau kepala angkatan perang. Dengan demikian penamaan nya sebagai Perbu Kean San tang disesuaikan dengan jabatannya sebagai senapati.
199

Penamaan sebagai Perbu Kean Santang, menggambarkan seorang senapati yang kuat dan gagah berani. Namun dibalik kegagahannya itu, ia menjadikan dirinya memiliki sifat som bong dan takabur. Oleh karena itu Gusti Allah melalui Kangjeng Nabi Muhammad menguji Perbu Kean Santang agar tidak taka bur. Ia menjadi sadar bahwa kesaktiannya dan kegagahannya tidak seberapa, namun yang agung raga dan nyawa adalah kepu nyaan Gusti Allah. Kemudian Perbu Kean Santang memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah. Ia diangkat sebagai sahabat Kangjeng Nabi Muhammad dan diutus untuk mengislamkan penduduk di Pulau Jawa. Di samping itu juga mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

4.1.2 Tema Terna merupakan ide pusat yang terdapat dalam cerita. atau pokok pikiran yang utama atau terpenting. Pokok pikiran yang utama dalam wawacan Perbu Kean Santang ini, adalah kemam puan Prabu Kean Santang dalam mengislamkan penduduk Pulau Jawa dengan menyebarkan, mengajarkan dan mengembangkan ajaran-ajaran agama Islam. Pada mulanya Perbu Kean Santang beragama Hindu, kemu dian memeluk agama Islam setelah bertemu Baginda Ali dan berhadapan dengan Kangjeng Nab! Muhammad di Mekah. Beradanya Perbu Kean San tang (disebut juga Garan tang Setra) di Mekah, tujuan semula adalah hendak mengadu kekuat an dengan Baginda Ali, karena di tanah Jawa sudah tidak ada yang dapat menandingi kegagahannya. Atas saran seorang ahli nujum yang merupakan jelmaan dari malaikat Jibril, hanya di negeri Mekah-lah Perbu Kean Santang punya lawan yang dapat menandinginya yakni Baginda Ali. Ternyata ketika ia barn ber temu saja Baginda Ali yang mempunyai kekuatan agama Islam, Perbu Kean Santang sudah kalah, apalagi hendak berlaga. Setelah itu Perbu Kean Santang dihadapkan kepada Kang jeng Nabi Muhammad oleh Baginda Ali. Di situ ia melihat bagai mana Kangjeng Nabi Muhammad dengan agama suci Islam mem-

punyai kemampuan dalam berbagai hal. Sehingga ia terpesona, dan merasa malu dengan kemampuannya dalam agama Hindu yang tidak ada apa-apanya. Atas kesadarannya sendiri Perbu Kean Santang beralih ke agama suci Islam. Kemudian ia men dapat ajaran-ajaran Islam dari Kangjeng Nabi Muhammad dan para sahabat. Perbu Kean Santang cepat paham akan ajaran ajaran itu. Sehingga ia disayang oleh para sahabat dan Kangjeng Nabi Muhammad. Namanya diganti menjadi Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah. Walaupun telah beragama Islam, Perbu Kean Santang atau Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah masih mendapat ujian dari Kangjeng Nabi Muhammad dan para sahabat. Maksudnya agar Prabu Kean Santang benar-benar tetap hatinya akan Islam, dan dapat membandingkan agama mana yang lebih sempurna Islam ata u Hindu. Prabu Kean San tang ternyata benar-benar telah yakin akan agama Islam. Oleh karena itu Kangjeng Nabi Mu hammad berani menunjuk Prabu Kean Santang untuk menjadi wakil dalam mengislamkan penduduk Pulau Jawa. Menurut nasehat Kangjeng Nabi Muhammad kepada Perbu Kean Santang atau Sunan Rahmat, untuk mengislamkan suatu negara harus diislamkan dulu pemimpinnya, baru kemudian di ikuti para rakyatnya. Temyata untuk mengislamkan raja Pajajar an yaitu Prabu Siliwangi, Prabu Kean Santang atau Sunan Rah mat mendapat kesulitan. Hal ini, karena Prabu Siliwangi ingin melihat bukti berupa piagam bahwa Perbu Kean Santang itu benar-benar wakil Kangjeng Nabi. Namun setelah ditunjuki bukti tersebut, Prabu Siliwangi juga para punggawa, mantri dan bupati tetap beragama Hindu. Untuk menghin'dar dari Per bu Kean Santang atau Sunan Rahmat, Prabu Siliwangi pergi meninggalkan kerajaan Pajajaran yang telah dirubah menjadi hutan rimba. Sedangkan Prabu Siliwangi dan para pengikutnya berpindah-pindah tempat dan menyalin rupa menjadi harimau. Sementara itu Perbu Kean Santang atau Sunan Rahmat berusaha mengislamkan para abdi dari satu kampung ke kam pung lain. Akhirnya semua abdi telah beragama Islam. Selanjut nya Perbu Kean Santang atau Sunan Rahmat mengajarkan dan

mengembangkan ajaran-ajaran Islam kepada mereka, antara
lain dengan mengaji atau membaca Quran dan disunat. Perbu
Kean ajaran-ajaran Islam ini telah memiliki beberapa wakil. Sehingga dalam waktu yang tidak lama ajaran-ajaran Islam tersebut telah dipenuhi atau dijalani oleh para abdi. Berkat ketekunan, kesabaran dan keyakinannya Perbu Kean Santang atau Sunan Rahmat dalam mengembangkan
Santang atau Sunan Rahmat mampu mengislamkan dan me
ngembangkan yang terdapat dalam Wawacan Perbu Kean Santang tersebut. ajaran Islam di Pulau Jawa. Demikianlah tema

4.1.3 Penokohan dan Perwatakan Dalam karya sastra, kehadiran tokoh memegang peranan penting. Karena tokoh sebagai sarana bagi pengarang untuk menjalin peristiwa-peristiwa serta mengarahkan jalan cerita me nuju suatu tujuan. Dalam wawacan Perbu Kean Santang, tokoh yang ditampil kan dan berperan terus-menerus adalah Perbu Kean Santang. Jadi Perbu Kean Santang merupakan tokoh utamanya. Peranan yang dilakukan Perbu Kean Santang disesuaikan dengan nama nama yang diberik:ln padanya. Seperti nama Gagak Lumajang atau Gagak Lumayung atau Gagak Lumiring merupakan nama yang sering digunakan pada waktu masih menjadi pangeran (anak dari Perbu Siliwangi). Kemudian nama Perbu Kean San tang setelah diangkat menjadi senopati atau kepala perang. Ketika Perbu Kean Santang akan berangkat ke Mekah ia men dapat nama sebagai Garantang Setra; Setra yang artinya bersih, karena akan bertemu dengan yang suci. Sedangkan penamaan sebagai Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah atau Sunan Hidayat diberikan setelah Perbu Kean Santang memeluk agama Islam dan benar-benar yakin dan paham akan agama itu. Di samping itu sebenarnya ada tokoh-tokoh lain yang dapat dikatakan cukup mendukung jalan cerita ini, yaitu Prabu Sili wangi, Kangjeng Nabi Muhammad, Bagenda Ali, Narpati Ukur, dan Nyi Puger Wangi. Namun demikian, peranan mereka hanya

selintas dan tertutup oleh peranan yang dimainkan Perbu Kean Santang. Jadi mereka dapat dianggap hanya sebagai tokoh pendukung dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi. Kehadiran tokoh sebenamya selalu diikuti penampilan wa tak tokoh. Dalam Wawacan Perbu Kean Santang ini watak to koh cukup jelas. terutama yang berperan sebagai tokoh utama. Sedangkan perwatakan tokoh pendukung tidak jelas a tau samar samar. Perwatakan Perbu Kean Santang sebagai tokoh utama dapat dipandang dari segi fisik, psikis dan sosiologis.

Pada segi fisik dapat diketahui bahwa Perbu Kean Santang atau Gagak Lumajang itu sangat gagah yang dilukiskan dalam pupuh Dangdanggula nomor 13 bait 8 seperti. Pangeran Gagak Lumajang, kagagahannana geus taya nu nanding, Ur ibarat taji male/a (Pangeran Gagak Lumajang, kegagahannya tiada tanding annya, ibarat taji malela). Selain itu Perbu Kean Santang juga masih berusia muda, yang dapat diketahui dalam pupuh Dang danggula nomor 16, seperti umur ngora hanteu gaduh garwa (usia muda belum mempunyai istri). Jadi dapatlah diketahui bahwa Prabu Kean Santang ini, seorang yang sangat gagah de ngan usia yang masih muda dan belum mempunyai istri. Dari segi psikis diketahui perwatakan Perbu Kean Santang mencer minkan seorang yang berani, yang tercermin dalam pupuh ki nanti nomor 21, jadi senapati pamuk, ayeuna eureun ngajurit, jadi alang kumapalang, tacan seubeuh maju jurit, susah henteu mendak /awan, sinarengan jisim abdi (menjadi kepala perang, sekarang berhenti berperang, jadi sudah kepalang tanggung, be lum kenyang maju untuk perang, susah tidak menemukan lawan yang setanding, dengan diri sendiri). Namun dibalik keberanian nya itu ia juga mencerminkan sifat yang sombong dan takabur, seperti tercermin dalam kata-kata pada pupuh kinanti nomor 22 berikut ini, saumur gumelar hirup, pesen ku getihnya diri, can terang getih sorangan, cindekna piunjuk abdi, ayeuna neda mupakat, ·pikeun pimusuheun abdi (seumur hidup, ingin meme san darahnya sendiri, karena belum tahu darah sendiri. Singkat nya menurut hamba, sekarang minta mufakat, ingin mencari yang akan menjadi musuh hamba). Kesombongan atau ketaka-

buran Perbu Kean Santang juga tercermin ketika bertemu de ngan Bagenda Ali. Di sini Pangeran Gagak Lumajang atau Perbu Kean Santang sangat terkejut ketika Bagenda Ali tidak menge nal dirinya, seperti yang terdapat dalam pupuh Pangkur nomor 67 - 68. Pangeran Gagak Lumajang, sakalangkung gonjlengna kaliwat saking, "he bapa lamun teu weruh, kaula teh urang Jawa, ngaran kaula ieu teh Gagak Lumayung, nya eta Gagak Lumajang, Perbu Kean Santang sakti, nu gagah di Pulo Jawa, Garantang Setra itu juga nama saya, numawi jauh-jauh dijugjug, anggang anggang diteang, anu ngaran Baginda Ali siga pamuk, kaula hayang nayonan. (Pangeran Gagak Lumayung sangat terkejut seketika, "he bapa apabila belum tahu saya ini orang Jawa, nama saya Gagak Lumayung yaitu Gagak Lumajang, Prabu Kean Santang yang gagah di Pulo Jawa, Garantang Setra itu juga nama say a, karena itu jauh-jauh juga saya datang bermaksud akan mencari yang namanya Baginda Ali yang katanya sakti, saya ingin bertanding kehebatan.

Kesombongan dan ketakaburan Perbu Kean Santang akhir nya menjadikan dirinya insaf setelah bertemu dengan Bagenda Ali. Hal ini, karena ia merasa ti9ak mempunyai kemampuan apa-apa dibanding dengan Bagenda Ali. Seperti yang disebutkan dalam pupuh Durma nomor 97-98, di sini diceritakan bahwa Perbu Kean Santang sangat malu sekali, ia berpikir dalam hati malu yang dibela apalagi nanti aku sudah melawan kegagahan Bagenda Ali. Ia merasa malu akan kemujizatan Bagenda Ali dan malu pada tingkah lakunya. Sedangkan dari segi sosiologis, perwatakan Perbu Kean San tang diketahui sebagai orang yang cukup mempunyai kharisma dan disegani di Pulau J awa. Hal ini karena Perbu Kean Santang sudah termashur kegagahannya bahkan setelah menjadi senapati semuanya tunduk padanya.

4.1.4 Plot atau Alur Pada hakikatnya plot atau alur adalah dasar yang mengge rakkan suatu cerita, yang berbicara mengenai sebab musabab atau Iatar belakang tertentu yang menimbulkan peristiwa. Kare na itu plot tidak hanya merupakan rangkaian tapi sebab-bab yang mengakibatkan timbulnya rangkaian itu. Rangkaian peris tiwa-peristiwa atau susunan kejadian-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis, dan rangkaian kejadian itu saling terjalin dalam hubungan kausalitas. Plot dalam wawacan Perbu Kean Santang termasuk plot longgar dan plot erat. Dalam plot longgar peristiwa-peristiwa dijalin dengan jalan peranan hero dalam ceri ta itu membawa peristiwa demi peristiwa. Seperti adanya peran an hero yang dimainkan oleh tokoh Perbu Kean Santang dalam berbagai peristiwa. Sedangkan plot erat peristiwa-peristiwa yang terjalin dalam wawacan Perbu Kean Santang itu merupakan satu kesatuan atau antara peristiwa yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Wawacan Perbu Kean Santang ini kalau dilihat berdasarkan kuantitas termasuk ke dalam plot atau alur tunggal yaitu ceri tanya hanya menampilkan satu masalah yang menjadi titik pu sat pembicaraan. Karena pusat pembicaraan ada pada diri tokoh utama, yaitu Perbu Kean Santang. Tampilnya cerita-cerita mau pun tokoh pendukung berfungsi untuk menambah kesan bahwa Perbu Kean Santang menduduki tempat yang sangat penting da lam wawacan Perbu Kean Santang ini. Berdasarkan rentetan peristiwanya wawacan Perbu Kean Santang beralur lurus, karena rentetan peristiwa yang terjalin saling berkaitan. Peristiwa satu disusul peristiwa lain, demikian seterusnya. Kalau dilihat pemecahan penyelesaian akhir cerita nya dapat dikatakan wawacan Perbu Kean Santang ini meng gunakan alur terbuka. Dalam pembagian struktur dimulai dengan melukiskan ke adaan, yang sebelumnya didahului dengan pembukaan yang berupa syarat-syarat sebelum membaca yakni dengan puji-pujian akan kebesaran Allah Swt. dengan diiringi permohonan ijin dan

ampun. Adapun pelukisan keadaan yakni dimulai dengan ada nya Kerajaan Pajajaran, dengan rajanya bernama Perbu Siliwa ngi. Perbu Siliwangi mempunyai putra bernama Gagak Luma jang. yang kemudian diangkat menjadi senapati dan namanya diganti dengan nama Perbu Kean Santang. Ia sangat gagah bera ni dan termashur di Pulau Jawa.

Karena kegagahan dan keberaniannya itu ia selalu ingin ber perang. dan hat ini dikatakannya kepada Perbu Siliwangi. ayah andanya. Perbu Siliwangi lalu mengumpulkan para ahli nujum dan menanyakan siapa yang pantas berperang dengan anaknya Perbu Kean San tang, ternyata Perbu Kean San tang hanya pantas bertanding dengan Baginda Ali yang bermukim di Mekah.

Dari sinilah tokoh utama cerita memulai pengembaraannya. Perbu Kean Santang berangkat menuju negeri Mekah untuk berhadapan atau bertanding dengan Baginda Ali. Di negeri ini ia bertemu dengan Bagenda Ali dan menyatakan dirinya sebagai orang yang akan menantang untuk membandingkan kehebatan nya. Kesombongan dan ketakaburan dari Perbu Kean Santang oleh Bagenda Ali dihadapi dengan kesabarannya.

Kemudian diuraikan keadaan yang mulai memuncak, di ma na Perbu Kean Santang yang beragama Hindu berhadapan de ngan Bagenda Ali yang beragama Islam. Belum bertanding nam pak Perbu Kean Santang sudah kalah. Keadaan ini diketahui ketika Bagenda Ali menyuruh Perbu Kean Santang untuk meng am bilkan tongkatnya yang tertancap di tanah. Perbu Kean San tang yang merasa sebagai orang yang tiada tandingan berusaha sekuat tenaga untuk mencabut tongkat itu, tetapi tidak berhasil. Walaupun sudah mengeluarkan keringat darah dan menyembah kepada Dewa tetap tak berhasil mencabutnya. Akhirnya Bagen da Ali yang mencabut tongkat dengan membaca kalimat Saha dat dan Salawat, ternyata hanya dengan kekuatan membaca kalimat sahadat dan salawat itu, tongkat dapat tercabut oleh Bagenda Ali. Di sini secara tersirat digambarkan bahwa kedu dukan dan kekuatan agama Islam seolah-0lah lebih tinggi dan lebih ampuh dari agama Hindu yang dianut Perbu Kean Santang dalam mengatasi atau menghadapi suatu peristiwa.

Suasana atau keadaan memuncak digambarkan dengan Per bu Kean Santang yang menyatakan dirinya untuk masuk agama Islam dan namanya diganti menjadi Sunan Bidayah atau Sunan Rahmat. Hal ini karena kagum akan kekuatan dan keampuhan dari ajaran agama Islam yang dilihatnya sendiri melalui Baginda Ali. Untuk menganut agama Islam Perbu Kean Santang banyak mendapat ujian dari Kangjeng Nabi Muhammad, agar ia benar benar yakin akan agama itu. Walaupun dengan berbagai macam ujian yang ditempuh, Perbu Kean Santang (Sunan Bidayah atau Sunan Rahmat) tetap tidak merubah pikiran dan tetap hatinya. Setelah berhasil dengan berbagai ujian itu, Perbu Kean Santang menjadi faham dan berusaha terus mempelajari agama Islam. Sampai ia mampu untuk menyebarkan dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam terse but ke Pulau J awa.

Pada bagian terakhir dari cerita atau pemecahan cerita se bagai penutup digambarkan Perbu Kean Santang yang telah ber hasil menyebarkan dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Pulau Jawa, lalu ia berangkat lagi ke Mekah setelah istrinya meninggal dunia dan putra kembarnya dititipkan kepada adik nya. Tetapi kemudian kembali lagi ke Pulau Jawa dan menetap di Godog sampai akhir hayatnya.

4.2 Ana/isis /si Wawacan Perbu Kean Santang merupakan salah satu karya yang terdapat di lingkungan masyarakat yang berlatar belakang budaya Sunda. Kandungan nilai-nilai yang terdapat pada karya sastra lama ini memiliki sifat-sifat atau hal-hal yang penting dan berguna. Pada bagian terdahulu telah dikemukakan tentang ringkasan isi dari Wawacan Perbu Kean Santang yakni Perbu Kean Santang yang memeluk agama Islam dan kemudian ia menyebarkan dan mengembangkan ajaran-ajaran agama Islam di pulau Jawa, ter utama di daerah Jawa Barat. Selanjutnya, pada bagian lain di kemukakan tentang tokoh cerita yang mempunyai watak ke pemimpinan. Oleh karena itulah apabila kita analisis, isi naskah tersebut pada dasarnya mengandung beberapa unsur karena nas-

kah ini terdiri dari bagian-bagian cerita yang berkaitan. Adapun nilai-nilai yang _terkandung dalam naskah Wawacan Perbu Kean Santang pada setiap pupuh menekankan nilai-nilai maknawi se perti nilai keagamaan, pendidikan dan kepemimpinan.

4.2.1 Nilai Keagamaan Wawacan Perbu Kean Santang sebagai salah satu corak un tuk mengungkapkan tentang ajaran-ajaran keagamaan dalam kesusastraan. Dalam kaitannya dengan itu, maka wawacan ter se but mengungkapkan tentang penyebaran dan pengembangan ajaran-ajaran agama Isam. Nilai-nilai keagamaan dalam wawacan Perbu Kean Santang ini adalah mengenai unsur kehidupan agama Islam yang mengu pas ayat-ayat suci Al Quran, karena semua ajaran dalam Wawa can ii:li bersumber. Keesaan dan kebesaran Allah Swt. nampak pada kemukjijatan kalimat sahadat: bahwa "tiada Tuhan selain daripada Allah". Beberapa bait yang dapat mengungkapkan aspek keagamaan tentang kemukjijatan kebesaran Allah Swt. yang dapat menanamkan rasa iman dan taqwa dapat dilihat pa da pupuh sinom nomor 54. Pupuh ini memperlihatkan keam puhan lapad "Bismillah" yang ditulis oleh Kangjeng Nabi Mu hammad untuk tiang mesjid yang mengakibatkan tiang terse but menjadi ringan. dan mudah diangkat. Begitu pula keampuhan surat salawat yakni, ''Allahumma salli ala Muhammad, ala-ali Muhammad laillahaillallahu waa.shadu anna Muhammad Rasul /ul/ah ". Ayat-ayat suci ini selain untuk melumpuhkan lawan juga dapat menolong orang yang mendapat kesulitan. Seperti di ceritakan ketika Perbu Kean Santang akan mencabut tongkat yang tertancap dengan sekuat tenaga tetapi tidak tercabut bah kan badannya turut amblas. Tetapi setelah Bagenda Ali meno longnya dengan membaca Sahadat ditambah Salawat tongkat tercabut dengan mudahnya dan Kean Santang kembali pulih. Hal seperti tersebut di atas memperlihatkan bahwa Allah itu Maha Besar, Maha Kuasa dan Maha Segalanya. Oleh karena itu dalam kedudukannya sebagai hamba Allah, manusia adalah pengemban amanah Allah yang harus diyakini kebesaran-Nya.

Seperti halnya pada pupuh Asmarandana bagian VII diceritakan Perbu Kean Santang hatinya telah tetap dan yakin berkat per tolongan dari Yang Maha Mulia, Kean Santang dapat paham mengajinya dikarenakan keyakinannya. Dalam surat Al Baqarah ayat l-2 Allah berfirman: "bahwa Allah yang mengetahui maksudnya. Demikianlah kitab suci Al Quran itu (sumber aga ma Islam itu) janganlah engkau ragukan akan kebenaran-Nya dan janganlah engkau ragu-ragukan pada-Nya, karena Al Quran itu (ajaran/peraturan agama Islam itu) adalah menjadi petun juk dan pedoman bagi orang-orang yang taqwa ". Al Quran se bagai kitab suci agama Islam perlu dibaca dan diresapi makna nya. karena di dalamnya tersimpan semua dalil-dalil dan jangan ditinggalkan ibadah, yakni solat lima waktu sehari semalam (asmarandana nomor 116 ). Oleh karena itulah, agama Islam se bagai tuntunan harus kita lakukan, karena di dalamnya semua dalil tersimpan.

Sifat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dapat dibuktikan bilamana kita bermohon dengan karena penuh ke yakinan disertai keihlasan yang mendalam, niscaya doanya akan diterima dan didengar. Hal seperti ini diceritakan ketika Perbu Kean Santang ingin bertemu dengan Nabi Muhammad karena kerinduannya, lalu ia memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa (Pupuh Mijil bagian VIII), juga ketika Kean Santang men dapat kesulitan dalam menyebarkan agama Islam. Dengan demikian jelaslah bahwa Wawacan Perbu Kean Santang mengandung unsur keagamaan, karena agama meme gang peranan yang penting dalam kehidupan tokoh sentral pada naskah ini. Tuhan menjadi tempat memohon dari hamba-Nya dan tempat segala mahluk menggantungkan hidup. Dalam aga ma Islam kitab suci itu bemama Al Quran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

4.2.2 Nilai Pendidikan Pendidikan adalah suatu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, seseorang bukan hanya sekedar mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi lebih dari itu

yaitu mendapatkan pengarahan dan bimbingan serta menempa mental dan ahlak. Sastra dengan pendidikan mempunyai hubungan yang sa ngat erat. Karya sastra wawacan Perbu Kean Santang tersebut, dapat digunakan sebagai sarana penyampaian nilai-nilai pendi dikan. Nilai pendidikan yang tercermin dalam wawacan Perb Kean Santang bila kita analisis mengandung pesan-pesan dan amanat yang berisi ajaran-ajaran untuk menuju pada keutamaan hidup seperti belajar mengajL belajar salat (sembahyang), tawa kal dan sabar. Maksudnya setiap orang harus mempelajari mak na yang terdapat dalam Al Quran dan melakukan salat. Dengan mempelajari maknanya, maka kita dengan sendirinya akan sadar bahwa ada yang Maha Kuasa yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Keimanan merupakan pangkal dari dasar nya keyakinan, dengan kata lain bila iman kuat maka akan sadar bahwa sifat-sifat sombong, iri dan takabur merupakan hal-hal yang harus dihindarkan.

Belajar mengaji dan salat (sembahyang) adalah sebagai salah satu sarana pendidikan · dalam menempa mental dan ahlak. Da lam naskah ini diceritakan Perbu Kean Santang yang semula memeluk Hindu kemudian memeluk agama Islam menempa ahlaknya dengan belajar mengaji, salat lalu dilanjutkan dengan mempelajari budi pekerti. Ia (Kean Santang) sangat mengagumi Nabi Muhammad Saw. karena kesabarannya dalam membim bing. Selain dari hal tersebut di atas, juga mengandung unsur pendidikan untuk belajar bergotong-royong, seperti diceritakan ketika Nabi Muhammad akan mendirikan tiang mesjid Masjidil haram, beliau bersama para sahabatnya bersama-sama melaku kan untuk mendirikan tiang tersebut.

Jadi dengan demikian, jelaslah bahwa Naskah Wawacan Perbu Kean Santang merupakan salah satu naskah yang dapat dijadikan bahan menyampaikan nilai-nilai pendidikan, karena di dalamnya banyak hal yang dapat dipelajari untuk dijadikan dasar pendidikan yang positif.

2 I I

4.2.3 Nilai Kepemimpimm Dalam naskah wawacan Perbu Kean Santang selain terkan dung nilai keagamaan dan pendidikan juga mengandung nilai kepemimpinan. Pada naskah ini diceritakan bahwa tokoh utama yakni Perbu Kean Santang adalah seorang pemimpin kepala perang, ia seorang pemberani yang gagah dan tiada bandingan nya, semua tunduk padanya. Hal ini karena kepemimpinan ada lah sentral bagi kelompok masyarakat dan menunjuk pada suatu kedudukan sosial serta mempunyai kriteria-kriteria tertentu yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pada bagian Jain dari isi naskah ada tokoh yang menjadi panutan dalam hal kepemimpinan. Ia seorang pemimpin umat Islam yakni Kangjeng Nabi Muhammad Saw. Di dalam wawacan ini beliau dipersonifikasi pada pribadi seorang kepala, mahkota para nabi (pupuh Mijil nomor 145-147). Majijatna Kangjeng Nabi teh ngungkulan ti para Nabi, panguluna para Nabi, sirahing para Rasul, Makutana ambia
· saka/ir, kakasih yang. manon. ( Kemukjijatan 'Kangjeng Nabi itu, melebihi dari para Nabi, paling unggul di antara para Nabi, kepalanya para Rasul, Mahko tanya para Nabi, kekasihnya Gusti Allah).

Makna dari kalimat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muham mad adalah seorang pemimpin yang menunjuk pada sifat-sifat, kriteria-kriteria tertentu yang dimiliki oleh seorang pemimpin. jelasnya dalam hal etika kepemimpinan, persyaratan yang di utamakan bagi seorang pemimpin adalah keteguhan agamanya (Islam), kualitas pribadi seorang pemimpin diukur dari ketaatan nya beragama, keturunannya, kejujurannya, keberanian dan kepintaran. Selain itu bersifat mengayomi dan kesabaran dalam memimpin dan membimbing. Hal seperti terse but nampak pada diri Kangjeng Na bi Mu hammad Saw. sebagai seorang pemimpin umat Islam ketika mem beri nasehat pada Perbu Kean San tang (Sunan Bi day ah atau Sunan Rahmat) dapat dilihat pada pupuh Kinanti nomor 178-179.

Sunan Bidayah seug tungkul, ngupingkeun piwurnk Nabi, ngeunah jeung gentra tetela, isin pabaur jeung ngerik, matak ngabingbangkeun susah, teu kandeg ngupingkeun gusti. Jadi sungsuam jeung balung, surnp kulit kana daging, sumarambah kana bayah, terus kana sanubari, Sunan Rahmat unjuk sembah, nuhun satimbalan gusti. (Sunan Bidayah lalu tunduk, mendengarkan nasihat Nabi, suaranya terang dan enak didengar, malu bercampur menjadi satu. membuat bimbang dan susah, meresap ke dalam tulang sumsum. masuk ke kulit dan daging, merambah ke dalam jan tung, lalu menusuk ke dalam sanubari, Sunan Rahmat meng haturkan sembah, terima kasih atas, jawaban Gusti). Maka kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Kangjeng Nabi Muhammad seorang pemimpin yang berwibawa, arif lagi bijaksana dan sangat dihormati. Beliau menjadi panutan Perbu Kean Santang karena kesabarannya dalam membimbing ketika memberikan pengarahan tentang ajaran-ajaran agama Islam. Kemudian Perbu Kean Santang dipercaya oleh Kangjeng Nabi Muhammad Saw. untuk dijadikan wakil di Pulau Jawa. Dan di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat Kean Santang memelopori dan memperkenalkan ajaran-ajaran agama Islam yang walaupun mendapat hambatan tetapi karena ketekunannya ia berhasil. Jadi jelaslah nilai yang terkandung dalam naskah ini juga terdapat nilai kepemimpinan yang mempunyai makna dan arti tersendiri bahwa seseorang yang menjadi pemimpin harus dapat memenuhi kewajiban-kewajiban dengan kriteria-kriteria tertentu yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

BAB V RELEVANSI DAN PERANAN NASKAH DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL

Dalam rangka program Pembangunan Nasional yang diarah kan untuk mencapai keseimbangan dan keselarasan kemajuan baik material maupun spiritual, maka diperlukan adanya suatu perencanaan kebudayaan (cultural planning). Garis-garis Besar Haluan Negara menyebutkan bahwa nilai-nilai budaya Indonesia perlu terns dibina dan dikembangkan guna memperkuat kepri badian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan

badian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan
nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan nasional. Oleh kare
na itu apa yang dimaksudkan dengan nilai budaya adalah
gagasan tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial budaya. Gagasan ini kiranya banyak ditemukan, salah satu diantaranya bersum ber dari naskah-naskah lama. Dewasa ini sejalan dengan arusnya era globalisasi karena ke majuan ilmu pengetahuan dan teknologi (lptek), bukan tidak yang menjadi sumber atau orientasi pada sikap dan
mungkin tidak baik dari luar lambat laun melunturkan atau mengganti terjadi penetrasi unsur- unsur/nilai-nilai budaya yang
kan nilai-nilai sehingga budaya yang baik asli di antaranya naskah-naskah lama daerah (luhur) dari budaya asli setempat,
kurang mendapat perhatian. Padahal dalam naskah tersebut
banyak menyimpan nilai-nilai luhur yang sangat diperlukan
213

untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan serta dapat dijadikan sebagai sumber informasi perumusan kebijaksanaan pembangunan. khususnya di sektor kebudayaan. Oleh karena itu perlu kiranya menggali nilai-nilai budaya daerah yang ber sumber dari naskah-naskah lama. Punahnya naskah lama dapat berarti hilangnya secara keseluruhan unsur budaya terse but di dalam penghayatan seti(!,p pendukungnya. Selain itu tetapi da pat pula berarti mempermiskin khasanah budaya bangsa. fadi dengan demikian pelestarian kebudayaan nasional ini harus di bina dan dikembangkan, karena pengetahuan dan pemahaman tentang kebudayaan adalah bahagian integral yang tidak dapat dipisahkan daripada kehidupan manusia.

Dalam ha! ini naskah wawacan Perbu Kean santang dapat menunjukkan fungsinya sebagai suatu naskah lama yang di da lamnya menyimpan berbagai nilai luhur. Naskah Wawacan Per bu Kean Santang dapat memberikan sumbangan yang sangat besar artinya dalam kehidupan manusia yang sedang dilanda krisis nilai. Selain itu naskal1 lama ini tidak kecil artinya, karena dari naskah inilah kita dapat memperoleh informasi kebudayaan di masa lampau yang bernilai Iuhur serta merupakan khasanah data yang dapat mendorong perkembangan penelitian sejarah pada umumnya dan khususnya pertumbuhan pemikiran keseja rahan yang lebih mendasarkan dirinya pada pengkajian sumber secara ilmiah dan membaurkan dongeng dengan sejarah.

Naskah Wawacan Perbu Kean Santang memuat tentang pe nyebaran dan perkembangan ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran ajaran tersebut berisikan tentang keagamaan (keimanan), pen didikan dan kepemimpinan yang dapat dijabarkan secara luas, yang merupakan sumbangan dalam mengembangkan kebudaya an nasional. Dan sebagai naskah lama yang di dalamnya me nyimpan nilai-nilai luhur, dapat menuntun ke arah pembangun an Manusia Indonesia seutuhnya. Isi yang terkandung dalam naskah tersebut merupakan informasi dan keterangan tentang kebudayaan di masa lampau yang dapat memberikan sumbang an bagi pengembangan kebudayaan nasional. Seluruh nilainilai Juhur yang terkandung dalam naskah, merupakan aspek kehi-

dupan yang positif dan dinamis serta dapat memperkaya khasa nah kebudayaan nasional.

Hal ini, dikarenakan gagasan-gagasan dalam pembinaan ah lak dan mental yang dilandasi pendidikan Islam khususnya, me rupakan banteng yang ampuh dalam melaksanakan roda peme rintahan bagi negara yang sedang membangun. Jadi dengan de mikian naskah wawacan Perbu Kean Santang memberikan sum bangan yang sangat besar arti dan rnaknanya dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan untuk tujuan-tujuan yang luhur. Relevansinya adalah bahwa keseluruhan isi naskah me ngandung nilai-nilai luhur yang dapat memperkuat kepribadian bangsa dan merupakan sumbangan dalam perkembangan kebu dayaan nasional seperti dalam meningkatkan keimanan, taqwa dan tidak takabur.

BAB VI

KESIMPULAN

Naskah Wawacan Perbu Kean Santang adalah sebuah karya sastra lama Sunda yang terdiri dari 427 bait dengan 7 bangun pupuh. ditulis dalam huruf Latin dengan berbahasa Sunda. Ditinjau dari isinya, wawacan Perbu Kean Santang dapat digolongkan ke dalam jenis sastra keagamaan karena petunjuk yang disampaikan dalam wawacan ini mengac1;1 pada satu nilai Islam. Naskah tersebut menguraikan tentang Perbu Kean San tang yang memeluk agama Islam dan namanya menjadi Sunan Rahmat atau Sunan Bidayah, lalu ia mempelajari ajaran-ajaran tersebut dan kemudian disebarkan dan dikembangkannya ajaran ajaran agama Islam itu di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat. Ajaran-ajaran itu mengajarkan tentang keimanan, ketaqwaan, kesabaran dalam pembinaan ahlak dan mental.

Jadi pada dasamya nilai-nilai yang terkandung pada naskah wawacan Perbu Kean Santang dapat digolongkan ke dalam tiga nilai pokok yakni nilai keagamaan, pendidikan dan kepemim pinan. Ketiga nilai itu terjalin erat yang membangun wawacan ini sebagai suatu karya sastra yang bukan sekedar menonjolkan nilai estetisnya.

DAFT AR PUST AKA

Ekadjati. Edi S. t. al.. 1985. Naskah Sunda Lama Kelompok Babad. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Harsoyo. 1975. "Kebudayaan Sunda". Dalam Manusia dan Ke budayaan di Indonesia (Koentjaraningrat). Jakarta: Jambatan. Kosim E, et al. 1984. Sejarah Kebudayaan daerah (Sundal Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sundanologi). Rusyana. Yus. et al. I 988--I 989. Pandangan Hidup Orang Sunda. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebuda yaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Seja rah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengka jian Kebudayaan Sunda. Saad, Sabirin dan Marsoedi, 1972. Budi Pekerti. Widyarta. Satjadibrata, R. 1954. Kamus Basa Sunda. Jakarta: Perpustaka an Perguruan Kementerian P dan K. cetakan ke-2. Sutaarga, Moh Amir. 1984. Prabu Siliwangi. Bandung: Pustaka Jay a.

Pendidikan Kebudayaan Sunda untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). 1986. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian. Ungkapan Tradisional Dae rah Jawa Barat. 1983 -1984. De-·':1 partemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Inventa- risasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.