SATYA ZINE
VOL 3
生
ANGGAP SAJA KATA PENGANTAR
Perihal kehilangan, siapa yang bisa disalahkan? Aku rasa tidak ada. Aku rasa hidup memang hanya untuk melihat,merasakan,dan memaknai kehilangan;apapun itu. Itu semua dimulai sejak kita kecil, kehilangan mainan, kehilangan uang saku sekolah, kehilangan teman bermain yang akhirnya pindah entah kemana, kehilangan nilai nilai yang apik. Lalu ketika tumbuh semakin dewasa, kita semakin dalam merasakan kehilangan. Dimulai dari kehilangan kekasih,kehilangan sahabat, kehilangan pekerjaan,kehilangan minat, kehilangan rasa, kehilangan orang tua, kehilangan nafsu untuk hidup,dan mungkin sama hal nya dengan zine ini, aku bisa saja kehilangan minat untuk melanjutkan membuat zine. Lagi lagi semua hanya lah sementara, maka nikmati lah!
Semua nya terserah kalian, ingin membaca sampai habis,mengacuhkan,atau mengolok-olok zine ini. Toh ini semua hanya sementara, sebelum akhirnya benar benar hilang
putri tercinta 14 minggu sirna megaphone duka bunga mekar disepanjang jalan menuju pemakaman ah lagi lagi uang kematian
gotong royong kesadaran pukul 3 pagi
apakah aku akan abadi di pelukan ibu?
rokok,kopi,dan gelak tawa di kerumunan yang
berkabung 2022,2527,3juta rupiah untuk membayar doa hutang online di sepanjang 6 tahun anak ku bersekolah apakah aku mati karena uang haram? 0,1 jumbo diantar dengan rasa was was teman ku abadi di kamar mandi rumah nya sebab menanggung rasa malu pak bu, kematian adalah algoritma
selamat datang badai
hidup lah bu, meski aku tak sempat mengusap air mata mu
Kehilangan masih kalang kabut sehari hari
Sedang aku disini menghembuskan asap yang hanya sesaat
Dengan harap aku juga ikut sesaat
Agar lebih dalam memaknai mati
Ibu masih bolak balik dengan air mata
Senyum nya di pagi hari memanipulasi kesedihan
Sudah lah bu, kita tidak perlu berpura pura tegar
Toh memang kehilangan adalah cara menyicil sepi, tak bisa dipungkiri
Kau ingat kan saat ayah benar benar menyerah dan orang orang berbondong bondong memberikan bela sungkawa,memeluk kita dan mengucapkan "yang kuat ya"
Apakah kamu benar benar merasakan efek nya? Aku rasa tidak Bagaimana mungkin kamu kuat? Separuh atmosfir mu telah benar benar gugur
Bagaimana mungkin kamu tersenyum? Jikalau alasan mu tersenyum kini benar benar terbujur kaku
Aku? Jangan mengandalkan ku bu, aku pun sudah sangat jauh tersesat
Mencoba lari dari hingar bingar kesedihan di rumah kita
Mencoba mencari cara untuk menertawakan kematian
Aku sudah sangat jauh bu!
Maka dari itu tetaplah bersedih, jika itu cara mu untuk tetap merasa hidup!
benarkah kita berujung sia-sia?
Secara tiba tiba semua nya berubah menjadi lebih putih Dengan segelas air putih dingin kesukaan kita, Dan cuaca yang tak pernah berhenti mengkhianati kita berdua Semua nya menjadi putih dan sunyi di waktu yang sama Kenangan yang menempel di dinding paling pucat sepanjang abad ini Aku atau kamu yang tak pernah berhenti menyaksikan estafet derita dan pertanyaan Disaat aku berduka dan kau diburu realita, kita seakan tau bahwasanya hidup berakhir dalam tanda koma di langit langit mata ibu kita Tetapi menikmati nya hanyalah syarat semata, setelah nya kita bebas mengadu lara Entah di hotel sepanjang baturaden atau di dalam nya sisa orgasme kita berdua Jemari mu yang lembut memunggungi batang penisku Sedang aku yang sibuk menyalurkan benci di kedua puting mu yang paling rupiah Kita seakan benar benar hilang dalam ingatan kawan kawan kita, sembari tetap mengingat jalan pulang
"aku benci, payudara ku terlalu kecil untuk kau genggam"
Lagi lagi terlahir sebuah pertanyaan "apakah aku benar benar harus menikmati payudara yang besar-besar saja?
Tapi dengan sangat naif aku menjawab
"ini lebih dari sekedar cukup, aku bosan dengan yang brutal namun berakhir di pelelangan cinta"
Lalu kau menjawab dengan senyum yang paling birahi
Detak detak selanjutnya, kita menghabiskan malam dengan cara yang paling individu
Kau dengan kelelahan yang berputar di situ situ saja
Sedang aku dengan pesta kematian di seisi kepala
Dialog terjadi pukul 10 malam, dengan bumbu eksistensi dan kesetiaan
Apakah kita benar benar membutuhkan teman?
Atau hanya ingin aman dari cemooh kawan kawan kita?
Pertanyaan dan derita selesai dengan cara nya sendiri
Akankah kita sama?
bu, sudah sejauh mana kau membebaskan luka?
secarik puisi di pangkuan ibu serta suara kita yang memerah kapan aku temukan dekap ayah?
di tumpukan kabel? dilorong-lorong lokalisasi? atau dikenangan ibu yang paling pucat?
hidup adalah sederet momen yang babak belur dan aku sudah hafal betul lagu lagu duka akankah ibu selalu berakhir menjadi angrek di pekarangan rumah kita?
maka izinkan aku menjadi puisi sejenak membekas dan dilantunkan ibu dengan merdunya tiap malam tiba
mengikhlaskan rasa asing
aku ingin pasrah saja seperti debu jalanan menyadarkan mu sejenak atas bagaimana perih nya yang sudah terjadi setelah nya terbasuh jauh sekali jarak nya, aku hanya ingin mengikhlaskan diri pada yang memaksaku tunduk "jangan menyerah" samar namun jelas
aku ingin seperti gagak mengelilingi mu, tanpa paham cerita dibawah mu yang jelas, pesan sampai dengan tepat dan berani, bagaimana alam raya mengisahkan hanya gagak yang berani mematuk paruh elang yang perkasa aku ingin mencabik habis kesedihan mu yang membuat mu menangis sepanjang malam
sesekali omong kosong bersemayam dalam pembicaraan kita masing masing dari kita memuntahkan kegelisahan sebelum bibir kita sama sama bisu dan darah adalah kenangan dari masing masing kepala kita dan aku katakan sekali lagi, bahwasanya aku sempat benar benar mencintai mu
ME & YOU TOGETHER SONG
I can't remer have a top on references w e to think bee drink? She 7" And I said "lt's we're ma
WHERE
cool"a I think our story needs more pages. R
I've been in love with her for ages
sesaknya juanda dan malaikat di pelupuk mata
Sibuk kah kau disurga sana? Tapi ingat lah sayang ku
Kita adalah hasil romansa dari Vicky sianipar malam itu
Membatu pada segala yang hilir mudik di setiabudi
Dan aku menyuapi mu semangkuk cerita dari apotik diujung fatmawati
Berakhir dengan "hati hati ya,awas nabrak" di imbuhi dengan senyuman yang tak pernah aku lupa sampai detik aku menulis tulisan ini, senyum yang mengejakan jalan pulang untuk ku
Kita sempat panjang dan rumit
Aku dengan ketakutan yang aku bukukan
Sedang kau sibuk dengan kepalsuan yang singgah diantara keringat mu lalu mengalir diantara payudara mu
Sungguh brengsek!
Tapi kita benar benar romantis dan tumbuh kekal bersama dongeng romantisme di sepanjang manhattan atau kesedihan yang berkamuflase dilorong-lorong gang mangga
Kita sempat pernah sama sama tersesat dipersimpangan
Setelah sibuk bercengkrama dengan aroma roti bakar kesukaan kita, aku dengan keju dan gosong, sedang kau burju dan ovomaltine diatasnya
Kita sama sama dipaksa bersembunyi
Megap megap disepanjang lenteng agung-margonda
Lalu akhirnya kita terpencar
Sama sama lebur di jejak masing masing
Dan membuahkan pertanyaan yang tak pernah berhasil terjawab "kamu dimana? Aku rindu"
6 tahun sudah
Lenteng agung sudah tak pernah penuh pada diri ku
meski hilir mudik selalu padat, dan ada saja romantisme di gang tembus atau kebencian di jalan gardu
tapi aku sayang ku, aku masih saja sepi disini
meski sepanjang monginsidi menawari ku beribu kenangan
meski in my eyes favorit mu masih tegas dilantunkan ian mackaye di otak ku
meski dongeng mu tentang bagaimana riuh nya hullabaloo masih menikam jelas di ingatan
aku masih tetap saja sepi sayang ku
sayang ku, kabar kehilangan sudah lebih dulu hilir mudik pada kita
sebelum menyatakan makna "hampa"
lalu aku terperosok
dan semangat yang turut gugur
kehampaan ini rapi terekam pada ingatan kawan kawan kita
jadi, bisakah nanti nya kita sama sama menyaksikan hasil nya?
TERROR CO
bisakah semuanya benar benar lenyap?
Hari hari tidak pernah berjalan biasa biasa saja, juga tidak baik baik selalu. Tentu, banyak alasan mengapa kalimat kalimat itu terbentuk. Aku banyak dihabiskan waktu dan ketakutan menderu yang tak kunjung reda. Sebenarnya aku harus tiarap atau berbalik mendekap kedua nya itu?
Hidup itu sungguh hal yang sia sia ;sebahagia apapun itu, tentu tidak semua orang setuju dengan kalimat yang barusan. Aku sungguh tak peduli, aku lebih memilih bercumbu dengan rokok dan beberapa gram kokain dan tentu sembari menunggu terjadinya diseksi aorta karena tekanan ketakutan itu ikut menyelinap bersama aliran darah. Sebenarnya aku diburu ketakutan atau justru aku yang memburu ketakutan? Y Bertubi-tubi pertanyaan tentang masa yang ingin aku lupakan selalu datang disaat aku sudah hampir sampai pada titik lupa itu. Bukan tidak ingin menjawab nya satu persatu atau sekaligus, tetapi akuharus kembali merobek dan mengorek pembuluh darah agar aku kembali ke masa yang ingin aku lupakan itu. Sebenarnya mereka hanya sekedar ingin tau atau memang peduli? Jika memang mereka peduli, apa yang mereka pedulikan? Toh sampai kapan pun, kepedulian selalu pudar dan musnah.
Aku sungguh tak ingin berspekulasi tentang mereka, tentu bukan salah mereka. Tetapi aku hanya ingin menasehati mereka agar cepat bunuh diri dan mati secara tragis.
心
Berbicara tentang menghargai perasaan,
aku bisa melihat diri ku sendiri melakukan kebohongan mega dahsyat sepanjang 22 tahun ini. Kebohongan yang seharusnya bisa menjadi perisai atas kesenangan orang lain, namun kenyataan ia dipenuhi dengan jutaan ranjau yang siap membantu ku bunuh diri. Entah tenggelam dalam pembuluh darah yang sudah banyak goresan nya atau membusuk dalam ruangan dengan aroma apek yang tak pernah hilang. Aku seharusnya tidak memaksa biru pada langit abu abu kelam
Entah lah, aku tak pernah paham
bagaimana aku mengupamakan diriku sendiri. Pasal nya aku benar benar hafal secara detail atas topeng yang berupa rupa dikenakan oleh para pengunjung pagelaran sandiwara tahunan ini, dan aku benar benar tau siapa dalang dibalik topeng itu. Tapi bagaimana pun aku tak pernah bisa menghentikan pagelaran nya, sebab mungkin aku lah pemakai topeng yang tak pernah bisa terbongkar oleh siapapun.Aku seharusnya tidak pernah memutus benang merah yang menjadikan nya raga.
Ujung tempat rahasia
Aku menjadikan diri ku sebagai rahim,
atas individu individu yang tak didekap cahaya Manakala jurang kejujuran adalah penjemputan nyawa Maka aku dan aku haruslah nyata Meski sama sama rapuh Meski sama sama dipenuhi peluh Tetap tersenyum lah meski terbunuh
hidupilah hari hari mu dengan dendam, selamat bertumbuh gadis kecil ku
selamat datang yang dihiasi kehilangan yang merah mengejakan rasa benci untuk ku tapi ibu mu jauh lebih brengsek memaknai kehilangan bagaimana rasanya tumbuh besar dengan rasa asing namun benci menggerayangi tubuh mu? tikam saja aku suatu saat
memori yang meledak rasa rindu yang tiba tiba jakarta mungkin benar benar gelap untuk mu
tapi ibu mu, menyala terang
menuntun kekecewaan mu
semilir angin yang tak ramah hujan yang tak kunjung reda di hari hari mu gelap yang tak pernah surut di pelupuk mata mu tapi jauh dari itu aku beranian u n tu k m en g a k s a r a k an kelahiran mu yang samar samar meski hujan selalu deras sederas kesepian mu
Now On Display!
lenyap lah disekitar kebencianmu
Pelan pelan tuju nya hilang Kemudian hidup nya justru semakin panjang Orang orang menyalahkan jejak yang telah kita buat Sebenarnya apa yang kita syukuri setiap hari nya?
Pelan pelan tuju nya hilang Kemudian diputuskan hidup sampai sini saja Orang orang menyalahkan jejak yang telah kita hentikan Nanti kita akan mengantarkan diri pada ajal di sebuah pohon cemara, tepat pada pukul 1 siang
Diluar zona pohon cemara berdarah Orang orang kembali menyalahkan jejak yang telah kita tinggalkan Sebenarnya nikmat nya itu nyata atau imajinasi semata?
Ruang ruang terus melontarkan kalimat kalimat yang memuak kan Aku memesan sebuah pedang pada malaikat disini kanan Dan kau memesan mesin penggiling pada malaikat disisi kiri Sebenarnya ada apa dengan mereka? Mari kita bantu sadarkan dan pulangkan Aku kuliti terlebih dahulu, lalu memotong nya menjadi beberapa bagian Tugas mu adalah menggiling mereka hingga menjadi serbuk serbuk Lalu kita menaburi nya pada sebuah tanah lapang
rampung
matursembah suwun