WAWACAN CARIOS MUNADA.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Milik Depdikbud Tidak diperdagangkan
WAWACAN CARIOS MUNADA
Pengkaji Dr. Edi S. Ekadjati Ors. Aam Masduki
Penyempurna : Ora. Tatiek Kartikasari
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBODAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA 1993
KATA PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah naskah lama diantaranya naskah Jawa Barat (Sunda) yang berjudul Wawacan Carios Munada isinya tentang Pembunuhan Residen Nagel di Bandung, oleh orang Cina yang telah memeluk agama Islam yang bernama Munada.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai nilai kepemimpinan dan kesatriaan yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kele mahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.
Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbang an yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wa wasan budaya bagi para pembaca.
iii
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mere ka yang telah membantu terwujudnya buku ini.
Jakarta, Juli 1993 Pemimpin Bagian Proyek Penelitian Dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
... f
Sri Mintosih NIP. 130 358 048
iv
SAMBUTAN DIREKTU R JENDERAL KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudaya an yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala pandangan nya.
Untuk membantu mempermudah pembinaan saling penger tian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Peneliti an dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang ha ti menyambut terbitnya buku yang berjudul Wawacan Carlos Munada. Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka peng galian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tra disional maupun dalam wujud ke budayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan
v
| sehingga | tujuan | pembinaan | persatuan | dan kesatuan | bangsa | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai. | ||||||
| Namun penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudaya | demikian | perlu | disadari bahwa | buku-buku | hasil | |
| an Nusantara ini lemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam pener | baru merupakan | langkah | awal. Kiranya ke | |||
| bitan | ini dapat | disempurnakan | di masa | yang | akan | datang. |
| Akhirnya pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. | saya | mengucapkan | terima | kasih kepada | semua |
Direktur Jenderal Kebudayaan
2;/j
Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902
vi
DAFTAR ISi
Hal am an
KA TA PENGANT AR............................. iii SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN.. v DAFTAR ISi................................... vii
BAB I DESKRIPSI NASKAH .....................
I. I Pendahuluan ..........................
1.2 Keterangan Keberadaan Naskah ........... 4
1.3 Naskah Sekunder ..................... .5
1.3.1 Sejarah Timbanganten ............ 5
1.3.2 Kitab Pancakaki ................. 8 I .3 .3 Babad Raden Adipati Aria Marta-
nagara ......................... 9
1.4 Naskah Primer : Wawacan Carlos Munada
....................................I7
I .4. I Keadaan Fisik Naskah ........... .17
I .4.2 Data Isi Naskah .................
18
I .4.3 Status Naskah ...................
24
- 4.4 Ringkasan Isi Naskah .............
25
I. 5 Perbandingan Isi Naskah ................ .31
vii
1.6 Identitas Pelaku Utama Lain 34
1. 7 Fungsi Naskah dan Nilai Budaya yang
Dikandung di Dalamnya................. 36
BAB II PENYAJIAN TEKS ................... 40
2.1 Keterangan tentang Penyajian Teks 40
2.2 Penyajian Teks........................ 41
BAB III PENY AJIAN TERJEMAHAN TEKS 263
3.1 Keterangan tentang Terjemahan........... 263
3.2 Penyajian Terjemahan Teks 263
DAFTAR PUSTAKA............................ 486
· · · ·
.
viii
BABI DESKRIPSI NASKAH
1.1 Pendahuluan Pada akhir tahun 1986, tatkala sedang menelusuri naskah dan dokumen di perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut
| dan dokumen | di perpustakaan KITLV | (Koninklijk Instituut | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| voor Taal-, petugas di sana bahwa ada sebuah dokumen tentang Bandung. | Land-, | end | Volkenkunde), | kami diberi tahu oleh | ||
| Temyata | dokumen | dimaksud | adalah | sebuah | laporan | tulisan |
| tangan | berupa | statistik | mengenai | administrasi | pemerintahan | |
| dan ekonomi Asisten (Statistieke Sttat | daerah Residen Bandung bernama C.W .A. Nagel tahun | Kabupaten | Bandung | yang | dibuat oleh | |
| Membaca | nama pembuat | laporan tersebut, | saya langsung | |||
| teringat Bagian Naskah Timur Perpustakaan Universitas Leiden. Sebuah | kepada | naskah | (WCM) | |||
| cerita dung Nagel yang dilakukan oleh Munada, seorang Cina. Sejak itu dimulailah penggarapan atas naskah WCM walaupun berjalan tersendat-sendat. | mengenai peristiwa | pembunuhan Asisten ·Residen Ban | (Cod. Or. | |||
| Berdasarkan | petunjuk | Drewes | ||||
| mengenai peristiwa pembunuhan dan identitas yang korbannya | Den | Haag, | negeri | Belanda | terdapat | dokumen |
1845 1845 door C.W.A. Nagel). Wawacan Carios Munada di
6482),
(1 985 : 420) di Algemeen Rijksarchief
lengkapnya bemama Carl Wilhelm August Nagel. Ternyata dokumen dimaksud adalah arsip nomor 3092 b 499 dari bagian Ministerie van Kolonien. Di dalam dokumen itu antara lain ter tulis Gebeurtenis van de moord van Assistent Resident Ban doeng C. W.A. Nagel om 27 December 1845 (Peristiwa pembu nuhan Asisten Residen Bandung C.W .A. Nagel terjadi tanggal 27 Desember 1845). Mengenai identitas Nagel, sesungguhnya dokumen itu mengutip dari berita yang tertera dalam dua buah penerbitan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda, yaitu Betaviasche Courant (BC. 1816-1 828) dan Javasche Courant (JC. 1828- 1 940). Menurut dokumen dan kedua penerbitan resrni itu, C.W.A. Nagel dilahirkan di Hoyel, Hannover, Jerman pada tanggal 10 Maret 1 794. Ia tiba di Indonesia (Hindia Belanda) tahun 1819. Mula-mula ia diangkat sebagai pegawai kantor pos (postkommies) di Keresidenan Priangan (Bataviasche Courant, 39, 23 September 1820 : 1 ), tentu berkedudukan di aanjur. Selanjutnya, jabatan-jabatan yang pernah dipegang nya adalah Komis 3 Kelas 2 pada Kantor Keresidenan Priangan di Oanjur, Kepala Gudang Garam di Oanjur, (BC, 33, 14 Agustus 1824 : 3), Asisten Kelas 3 Tanaman Kopi di Kabupaten Cianjur (BC, 33, 17 Agustus 1825 : 3), Asisten Kelas 3 Tanaman Kopi di Kabupaten Cianjur (BC, 33, 17 Agustus 1825 : 2), Pengawas Tanaman Kopi Kelas 2 di Kabupa ten Bandung (Javasche Courant, 92, 6 Agustus 1829 : 1 ), Pengawas Tanaman Kopi Kelas 1 di Kabupaten Bandung (JC, 10, 22 Januari 1831 : 1 ), dan Asisten Residen Bandung (JC, 139, 22 Nopember 1832 : 2). Pada tahun 1844 atas izin peme rintah (surat. keputusan Norn. 8 Tanggal 31 Agustus 1844), ia mendapat penghargaan dari raja Hannover berupa Ridder der Guelphen-orde. Akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1846), akibat menderita luka oleh percobaan pem bunuhan (JC, 8, 1846). Data-data tersebut di atas, didapatkan pula dalam Regerings Almanak van Nederlandsch-Indie tahun 1830: 45; 1831: 47, 65; 1843: 47; 1845 :40.
Mengenai tewasnya Asisten Residen Bandung C.W .A. Nagel pada tanggal 3 Januari 1846 diperkuat oleh data yang tertera dalam Almanak en Naamregister van Nederlandsch
Indie (AN!) yang memuat data-data tahun sebelumnya, karena diterbitkan pada awal tahun bersangkutan. Pada Almanak tahun 1846 trtera nama C.W .A. Nagel sebagai Asisten Residen
| trtera | nama | C.W .A. Nagel sebagai | Asisten | Residen | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bandung | namun | pada | Almanak | tahun | tertera | nama | |
| C.A.W. Nagel sebagai | Asisten | Residen | Bandung, namun pada | ||||
| Almanak dipegang oleh V.P.G. de Seriere | tahun | jabatan | Asisten | Residen | Bandung telah |
1874 (AN! voor het Jaar 1846, 1846 1846: 47;ANivoorhetJaar1847, 1847: 47).
Sementara itu, dalam sebuah cerita berjudul Rasiah Priangan (Rahasia Priangan) disebut bahwa yang menjadi Asisten Residen waktu itu bernama Nagel (Kartadinata, 1921. : 3). Cerita terse but menuturkan tentang peristiwa perlawanan komplotan pim pinan Raksapraja pada tahun 1842 (Hilman, 1983; Yuniadi, 1981 ). Sayang sekali identitas lebih lanjut mengenai tokoh Munada tidak ditemukan dalam dokumen yang primer statusnya. Memang dalam dokumen-dokumen pemeriksaan beberapa tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu, yaitu Natawijaya, Nyai Raden Sarimantri, Ba Arab, Rana Jibja, dan Ba Kamit (Besluit, 10 Februari 1849, nomor 12), ditemukan tokoh bernama Munada sebagai pelaku pembunuhan. Namun, lebih jauh identitasnya tak satu pun menjelaskannya. Ternyata, peristiwa pembunuhan Asisten Residen Bandung
C.A.W. Nagel menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat Bandung, terutama kalangan bangsawannya. Terbukti, lebih dari 50 tahun kemudian tetap masih menjadi bahan pembicara an kalangan bangsawan Bandung, bahkan lebih dari 100 tahun ceritanya masih dikenal secara lisan. Rupanya peristiwa itu dipandang sebagai peristiwa besar di daerah Bandung. Penelusuran literatur dan naskah mengungkapkan bahwa cerita hal itu ditemukan pada beberapa naskah lain. Bedanya ragam ceritanya bervariasi dari sudut kuantitas cerita dan dari titik berat ceritanya.
1.2 Keterangan Keberadaan Naskah Sejauh basil penelusuran saya, peristiwa yang bertalian dengan tokoh Mu nada yang membunuh Asisten Residen Ban dung Nagel diabadikan dalam empat naskah. Keempat naskah dimaksud adalah masing-masing berjudul : ( l) Wawacan Carlos Munada (Wawacan Cerita Munada), (2) Sajarah Timbanganten (Sejarah Timbai;iganten), (3) Kitab Pancakaki (Kitab Silsilah), dan ( 4) Ba bad Raden Aria Adipati Martanagara. Naskah pertama berisi cerita tersebut secara penuh dan mandiri serta dituturkan secara panjang lebar sehingga judul karangan dalam naskahnya pun mencerminkan isi naskah demikian, yaitu Wawacan Carlos Munada (WCM). Di sini peris tiwa itu dikemukakan secara rinci dan kronologis sejak latar belakang, kemudian peristiwa sampai akibatnya. Di dalam naskah kedua cerita mengenai Munada dan Nagel hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan isi naskah. Isi naskahnya sendiri berupa kumpulan cerita yang bertalian de ngan daerah Timbanganten, suatu daerah pendahulu Kabupaten Bandung yang kini lokasinya terletak di kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut (lihat De Haan, 1912). Bagian cerita menge nai tokoh Munada dan Nagel diberi judul Elingan Toeman Wilem Hodep Nagel (kenangan Tuan Wilem Hodep Nagel). Kauntitas ceritanya pendei<: saja. Peristiwa yang menimpa Asisten Bandung Nagel hanya dica tat sangat singkat dalam naskah Kitab Pancokaki. Yaitu pada bagian naskah yang mencatat peristiwa-peristiwa yang rupanya dianggap pen ting oleh pencatatnya, seperti Gunung Galunggung meletus. Catatannya dibuat pada kolom-kolom yang diisi oleh tahun terjadinya dan peristiwanya sendiri. Dalam Babad Raden Arya Asipati Martanagara peristiwa yang dialami Nagel dan Munada diungkapkan secara selintas, di dalam kerangka mengutarakan peristiwa serupa (rencana pembunuhan) yang hampir dialami oleh para pejabat (residen, asisten residen, bupati) di Bandung tahun 1893. Karangannya sendiri berisi otobiografi R.A.A. Martanagara, bupati Bandung tahun 1893-1919.
Kecuali Babad RAA. Martanagara yang dicetak sehingga tentu jumlahnya banyak, ketiga naskah lainnya hanya ditemui masing-masing satu naskah (unicum). Memang Kttab Pancakaki ada dua naskah, yaitu satu lagi yang berada di Sumedang sebagai koleksi Yayasan Pangeran Sumedang (ekadjati, 1982 :
28), namun pada naskah disebut kemudian berjudul Kitab Sajarah Sumedang tak dijumpai bagian catatan. yang antara lain mencantumkan tentang peristiwa Munada membunuh Asisten Residen Bandung Nagel. Berdasarkan ruang lingkup isi dan status isi naskah, maka WCM dijadikan naskah primer atau utama dalam studi ini yang akan disajikan teks dan terjemahannya teksnya. Sedangkan tiga naskah lainnya hanya dijadikan naskah sekw1der atau pe n unjang, namun teks disajikan juga agar jelas gambarannya.
1.3 Naskah Sekunder
1.3. I Sajarah Timbanganten Naskah Sajarah Timbanganten (ST) yang sekarang berada di Bagian Naskah Perpustakaan Nasional Jakarta berasal dari koleksi naskah C.M. Pleyte. Di dalam koleksi Pleyte naskah ini terdapat dalam peti nomor 121 dengan nomor kode 124. Naskahnya sendiri ditulis pada kertas bergaris berwarna keco klatan dengan ukuran folio atau 35 x 21,3 cm. Tebal naskah 39 halaman dan tiap halaman berisi tulisan 36 baris. Karangan di dalam naskah ST ditulis dengan menggunakan huruf Latin dan bahasa Sunda serta bentuk karangan prosa. Berdasarkan jenis kertas yang digunakan dan isi karangannya, tampaknya karangan dalam naskah ini ditulis pada akhir abad ke-19 Masehi. Cerita tentang Nagel tertera pada halaman 19-21. Menurut keterangan penulisnya, bagian cerita ini disusun berdasarkan sumber yang berada pada naskah Soiarah Batulayang (Sejarah Batulayang). Batulayang adalah nama daerah kabupaten yang terletak di sebelah selatan kabupaten Bandung dengan ibukota nya terletak di pinggir Sungai Citarum di Mahmud, sekitar
Margayu sekarang. Kabupaten Batulayang dibubarkan oleh pe merintah kolonial pada tahun 1802 dan wilayahnya digabung kan dengan wilayah Kabupaten Bandung (De Haan, I, 1910 : 137, III, 1912: 95). Judul lengkap bagian karangan ini ialah Elingan Toewan Wilem Hodep Nagel 28 Desember 1845 (kenangan Tuan Wilem Hodep Nagel 28'Desember 1845). Penanggalan tersebut agaknya menunjuk.kan waktu terjadinya peristiwa yang menimpa Nagel itu.
Adapun teks bagian cerita tentang Nagel itu yang ejaannya telah diubah dengan ejaan sekarang adalah sebagai berikut: ' 'Asisten Residen di Nagara Bandung Dipaehan di Nagara Bandung
Ari jalanna dipaehan dina karuhun, tapi lain tina hawu atawa damar, dihaja disudut. Ari eta imah nu disudut beunang meuli ti sahiji jalma mualap Cina ngaran si Munada. Sanggeusna dibeuli, tuluy dihuru supaya Asisten Residen datang kana eta kahuruan, malah si Munada rnilu maehan. Ari luluguna anu nitah rnaehan Raden Demag Mangunagara, hoof d-jaksa. Ari nu dititah rnaehan ( 1) Narajibja, (2) Nataw:ijaya lyong, dulurna Jibja, (3) Sumamanggala, pacalang Cibadak,
(4) Ba Kento, pacalang distrik Majalaya, (5) si Munada. Ari nu dibuang kasangkut perkara, kajaba nu 4, oge ( 1) Raden Dernang Mangunagara, hoofd-jaksa Bandung, nu nitah maehan, dibuang ke Surabaya, pupus di ditu, (2) Raden Puspa yuda, (3) Raden Sastradireja, (4) Raden Padrnakusumah, saderek Dernang Jaksa, pansiun medali ernas, (5) Raden Sasmi tadireja, saderek Demang Jaksa, pansiun rnadali emas. Ari si Munada rnaehan di malern Jum 'ah, ari rnalern Saptu dipaehan dina jero peti geledeg. Ari si Munada tea sanggeusna rnaehan diasupkean kana jero peti gledeg, tuluy bae dipaehan sekali. Anu matak si Munada heunteu beunang hirupna, sabab dipaehan dina jero peti geledeg, tuluy bae diruang jeung petina. Ari beunangna eta si Munada geus 2 taun heubeulna, kakara dikali beunang petina. Peti rnasih hade, sabab kaina jati kakara 2
taun heubeulna. Ana dibuka enggeus beak dagingna, ngan kari tulang wungkul. Malah kerisna anu dipake maehan si Munada dina jero peti, nya eta ngaranna Jibja. Ari anu nuduhkeun si Munada diruangna di dinya, geureu
| hana Demang | Jaksa | anu anom, | wastana | Sarimantri, |
|---|---|---|---|---|
| ibu Raden | Rangga | Mangunagara, | onderlekteur | Bandung•. |
hana Demang Jaksa anu anom, wastana Raden Sarimantri,
Terjemahan teks: Asisten Residen di daerah Bandung dibunuh di kota Bandung.
Adapun caranyya dibunuh (yaitu) pada waktu (terjadi) kebakar an, tetapi bukan (kebakaran) pada tungku atau pelita, melain kan (kebakaran yang ) disengaja. Adapun rumah yang dibakar (itu ialah) hasil pembelian dari seorang Cina yang masuk Islam bemama Munada. Sesudah (rumah itu) dibeli, kemudian dibakar agar Asisten Residen datang ke tempat kebakaran. Bakan si Munada ikut membunuh. Adapun pemimpin yang menyuruh membunuh (ialah) Raden Demang Mangunagara, Jaksa Kepala (Bandung). Adapun yang disuruh membunuh (ialah) (1) Narajibja, (2) Natawijaya lyong, saudaranya Jibja, (3) Sumamanggala, petugas keamanan Cibadak, (4) Ba Kento,petugas keamanan Kewadanan Majalaya, (5) si Munada. Adapun yang dihukum buang (karen) terlibat perkara itu, selain yang empat prang (tersebut pertama di atas), juga:
(1) Raden Demang Mangunagara, Jaksa Kepala Bandung, yang menyuruh membunuh, dibuang ke Surabaya, meninggal di sana.
(2) Raden Puspayuda,
(3) Raden Sastradireja,
(4) Raden
| Padmakusumah, | sodra Demang | Jaksa pensiun, |
|---|---|---|
| (penerima) medali emas, | ||
| (pene | ||
| rima) medali emas. |
(5) Raden Sasmiadireja, sodara Demang Jaksa pensiun,
Adapun si Munada membunuh (Asisten Residen Nagel ialah) pada malam Jum' at, sedangkan pada malam Sabtu (ia) dibunuh di dalam peti besar. Adapun si Munada itu, sesudah membunuh (Asisten Residen Nagel) dimasukkan ke dalam peti besar, kemu dian seklaigus dibunuh. Itulah sebabnya, si Munada tidak ter tangkap hid up-hid up, karena dibunuh di dalam peti besar. Kemudian (dia) ?ikubur bersama petinya.
Adapun terbongkarnya perkara si Munada (ialah) sesudah dua tahuh lamanya (sejak peristiwanya), baru petinya dibong kar. Peti itu masih bagus, karena (terbuat) dari kayu jati (pada hal) dikubumya baru dua tahun lamanya. Tatkala (peti itu) di buka, (temyata) daging (pada tubuh si Munada) telah habis, (yang) tertinggal hanya tulang-tulangnya saja. Bahkan keris yang dipakai membunuh si Munada (masih ada) di dalam peti. (Keris itu) ialah kepunyaan (orang) yang bernama Jibja.
Adapun yang memberitahukan (bahwa) si Munada dikubur nya di tempat itu ialal1 isteri muda Demang Jaksa (yang) nama nya Raden Sarimantri, ibu Raden Rangga Mangunagara, onder kolektor Bandung.
1.3.2 Kitab Pancakaki Sekarang Kitab Pancakaki berada di Bagian Naskah-naskah Timur Perpustakaan Universitas Leiden Oestersche Af deeling Bibliotheek Leiden) di negeri Belanda. Naskah ini diberi nomor kode Cod. Or. 6499. Naskah ini pada mulanya berasal dari Sumedang, kemudian jatuh ke tangan Dr. G.A.J. Hazeu sekitar tahun 1904 -1911 dan akhirnya diserahkan ke Perpustakaan Uriiversitas Leiden (Ekadjati, 1982: 22-24, 99,102). Naskah Kitab Pancakaki ditulis oleh Raden Natadimaja di Sumedang sejak tanggal 1 Ramadhan 1262 Hijrah atau 24 Agustus 1846 Masehi. Raden Natadimaja adalah seorang bangsawan Sumedang, keturunan kelima Bupati Sumedang Pangeran Panembahan yang memerintah tahun 1646 - 1706. Ia yang lahir tanggal 11 Agustus 1814 pemah menjabat jurutulis cutak (1836), jurutulis bupati, kepala gudang, dan jurutulis
asisten residen (sejak 1842) di daerah Kabupaten Sumedang. Karangan dalam naskah ini ditulis pada kertas tulis bergaris dengan menggunakan huruf Arab, bahasa Jawa, dan bentuk
| dengan | menggunakan | huruf Arab, | bahasa Jawa, | dan bentuk | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| karangan ukuran runag tulisan 30 halaman ditulis sebanyak 32 bagian sudah agak rusak (Ekadjati, 1982 : 22-23). | prosa. | Naskahnya | sendiri 19 cm, tebalnya 100 halaman, tiap baris, dan kondisi kertasnya se | berukuran 31 | 21 cm, | |
| Dalam naskah | ini | informasi | mengenai peristiwa yang me | |||
| nimpa yang berbentuk berita. Catatan dimaksud bersama-sama dengan | Asisten | Residen | Bandung | Nagel hanya berupa catatan | ||
| catatan mengenai | peristiwa-peristiwa | lainnya tertera pada ha | ||||
| laman | 83-84. | Di situ | hanya dikemukakan | peristiwa pembu | ||
| nuhan tanggal 28 Desember 1845. | Asisten | Residen Bandung | Nagel | oleh Munuda pada |
x x
1.3.3 Babad Raden Adipati Aria Martanagara Babad ini telah dicetak berwujud buku dan diterbitkan oleh Adrora Drukkerij di Bandung tahun 1923. Penerbitannya menggunakan huruf Latin dengan ejaan yang berlaku waktu itu serta tebalnya 51 halaman. Babad ini yang berjudul lengkap Babad Adipati Aria Marta nagara Regent Pansioen Bandoeng di Soemedang (Babad Adipati Aria Martanagara Mantan Bupati Bandung di Sume dang) merupakan otobiografi R.A.A. Martanagara. Dalam kolo ponnya terdapat keterangan bahwa babad ini disusun oleh Adipati Aria Martanagara di Burujul, kota Sumedang, dan sele sai pada bulan Oktober 1923 (Martanagara, 1923: 51). R.A.A. Martanagara adalah seorang bangsawan Sumedang, cucu Bupati Sumedang R.A. Kusumahyuda yang memerintah tahun 1828-
1836. Ia dilahirkan di Sumedang tahun 1845 dan pemah menjadi bupati Bandung (1893-1918). Setelah terlebih dahulu menjabat Camat Cikadu di Sumedang (1864-1865), Kaliwon Kota Sumedang (1865-1869), Wedana Kota Sumedang (1869- 1884 ), dan Patih Afdeling Mangunreja (1884-1893 ). Ia pun ter golong jajaran sastrawan Sunda dengan karya-karya tulisnya antara lain Wawacan Batara Rama (1887),-Wawacan Angling Do.rm.a (1902), Baba.d Sumedang (1921). Babad R.A.A. Marta-
nagara merupakan karya tulis terakhimya, karena tiga tahwi kemudian (1926) beliau meninggal dwiia di Sumedang (Eka djati, 1982: 246-147; Rosidi, 1966: 13; Drewes, 1951 : 229).
Dalam Babad R.A.A. Martanagara cerita yang bertaliart dengan peristiwa pembunuhan Asisten Residen Bandung Nagel di kemukakan pada bagian akhir karangan (haiaman 46-51 ). Sesungguhnya "bagian cerita tersebut merupakan tambahan cerita, karena telah dinyatakan sebelumnya (alinea pertama ha laman 45) bahwa kisah mengenai riwayat hidup pengarang telah berakhir (Martanagara, 1923 : 45 ). Hanya rupanya ke mudian ia teringat kepada cerita tentang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Bandung sehubungan dengan kasus kerusuh an di Bandung yang dialami sendiri ketika baru saja ia dilan tik menjadi Bupati Bandung (17 Juli 1893). Setelah perkara kerusuhan tersebut yang dilatarbelakangi oleh ketidakpuas an sekelompok penduduk Bandung karena yang diangkat menja di bupati Bandung bukan dari kalangan bangsawan Bandung, selesai ditangani, maka ia diberi tugas oleh Residen Priangan Harders untuk mencari tahu kepada orang-orang tua di Bandung tentang kerusuhan-kerusuhan yang pernah terjadi di daerah Bandung pada masa lalu. Dalam arsip negara sendiri ditemukan kasus kerusuhan yang dilancarkan oleh Raksapraja dan Ambu Hawuk. R.A.A. Martanagara berhasil memperoleh cerita lisan mengenai kerusuhan yang melibatkan Munada dan mengaki batkan tewasnya Asisten Residen Nagel dari Raden Demang Natanagara, mantan Kepala Kumetir (Hoofd Koemetir) Kopi Bandung Kidul yang adalah putera Bupati Bandung yang disebut Dalem Karanganyar (Martanagara, 1923 : 45-46). Dalem Karanganyar atau Raden Adipati Wiranatakusumah III memerintah Kabupaten Bandung tahun 1829-1846 (Ekadjati, 1982; 250-251 ). Cerita lisan tersebut dituturkan kembali secara tertulis oleh R.A.A. Martanagara sebagai berikut :
"Anu jadi Regent Bandung jenenganana Dalem Adipati Wiranatakusumah, anu disebut Dalem Karanganyar, ari anu jadi jaksa ngaranna Raden Naranata. Eta regen jeung jaksa tunggal wargina; kapernah- sabraynya nindo. Ari eta jaksa tea adatna kurang pantes, adigung jeung ana ngomong
ka baraya-baraya songong. Lila-lila kalakuanana jaksa kitu teh katingali ku Dalem jeung ku Tuan Asisten anu jenenga nana Tuan Nagel. Tuluy eta jaska dibarengpugkeun baris · dipecat.
Kacaritakeun aya mualap Cina ngaranna Munada, ci cingna di pasar Bandung, dagang leuleutikan bae rupaning boeh, totopong nu bangsa marurah. Dina hiji mangsa eta Munada boga hutang lelang, ajen-ajen dua atawa 30 rupia, geus Iiewat tempona tacan mayar. Tuluy disaur ku Tuan Asisten, disabab jeung dicarekan. Kusabab bangsa Cina tea, manehna ngalawan ka Tuan Asisten, ninggang Tuan Asisten na gede napsu, eta Munada ditinggang ku kor si datang ka rubuh.
Sorena jaksa meunang beja, yen Munada ditinggang ku korsi datang ka rubuh. Tuluy eta jaksa indit kaimah Muna da. Ari catuma kieu : "Lamun maneh- bisa mah Munada, coba eta Asisten jeung Regent paehan bae, mangke dewek anu nulung maneh".
Walon Munada : "Lamun kitu sumangga pisan mangke subuh-subuh kuring rek nyieun kaharuan di pasar Ciguriang sakulonenun kabupaten ".
Gancangna waktu subuh der aya kahuruan, mimitina ti imah randa. Tuan Asisten jeuang Kangjeng Dalem pada serumping kana eta kahuruan. Kanjung Dalem ti beulah ki dul angkat ka kaler, ari Tuan Asisten ti kaler ka kidul. Anu pangheulana sumping kana kahuruan Tuan Asisten, saheulaeunana leumpang huji upas bari nyoren pedang. Barang Munada disingkirkeun ku eta upas, manehna newek ku keris keuna kana leungeun upas. Tuan Asisten maju rek nulungan, tapi Munada newek ka Tuan Asisten keuna kana hariguna tuluy rubuh. Harita sidik katingali kacaangan ku seuneµ kahuruan anu newek ka anjeunna, tuluy ngago rowok : "Tangkep si Munada!".
Ari Munada lumpat ka beh kidul, papanggih jeung Lurah Pasar, bangsa Jawa. Barang Munada rek newek, dipiheulaan newekna ku Lurah, rumpuyuk Munada rubuh, tapi barang rek ditewak, Munada luncat, ngan beunang kerisna bae. Jadi aya dua keris anu boborot ku getih, nu hiji keris Munada, pinuh ku getih Tuan Asisten, nu hiji
deui keris Lurah Pasar, pinuh ku getih Munada. Tapi hiji jelema oge, sakitu ratusan, taya nu nyaho, yen Munada ngamuk. Ngan Tuan Asisten bae anu ningali sidik teh, ·tapi teu lila lajeng wapat dina eta tempat kahuruan. Upas anu ditewek leungeunna tea henteu nyahoeun saha anu newek ka manehna, samalah Lurah Pasar oge henteu terang eun di jalmana, sangkilang kerisna beunang. Ngan isukna rea nu nerangkeun yen eta keris bogana Munada.
Ti dinya tuluy Munada ditareangan ku jelema ratus ratus, tapi weleh henteu kapanggih.
Kacaturkeun waktu tadi di pasar Ciguriang aya kahu ruan, watara pukul 7 isuk-isuk, aya menak nonoman nitih kuda sarta panganggona ginding, menta dipeuntaskeun di Citarum lebah Dayeuhkolot, sabab jaman harita acan aya jambatan di Citarum teh. Ari omongna eta nu tumpak kuda teh : "Geuwat ieu dewek peuntaskeun, nya dewek nu kongas bobotoh ngadu hayam Kangjeng Dalem tea".
Ari jaman harita samangsa bobotoh ngadu hayam Kangjeng Dalem sok pada ngajenan.
Tuluy dipeuntaskeun sarta ti lembur ka lembur deui menta dianteurkeun, kitu bae nepi ka sore, terus mapay jalan ka Tarogong.
Kira geus tengah poe menruc-menak jeung pulisi-pulisi di .Kota Bandung pada meunang beja yen Muna
Ti harita jalma sakabupaten Bandung pada ngarah <.ti lembur-lembur, di leureung-leuweung, nepi .ka aua bulan lilana teu manggih bae .Katerangan. Lilalila aya urang Ta rogong anu ngomong, yen eta mah anu tumpak 1mga, anu dianteur Ku urang Majalaya, Raden Wiria, jutulis jaksa. Ti dinya tuluy dipasiksa sarta ditepungkeun jeung tUAang meuntaskeun Ji Citarum DayeunKolot ta, jeung anu ngi ringkeun ti lembur .i.Ce lebur deui, ana dipariksa kaben pada nujul, yen eta anu nguu Munada teh. Barang dipasiKsa eta
Raden wiria, pokna meunang parentah ti jaksa. Gancangna jaksa ditakep, tuluy diiangkeun ka Surabaya sarta teu kacatur balina deui ka Bandung. Geus nepi ka 7 bulan ti wates Tuan Asisten · Nagel dipaehan, teu aya keneh bae katerangan, ka mana bralna eta Munada. Tuluy Asisten anyar nyanggakeun voorstel ka gou vernement supaya Ragen Bandung Raden Adipati Wiran atakusumah dilerenkeun tina jadi bupatina, lantaran katem puhan pedah familina. Henteu sabaraha lilala datang lepasan sarta dialihkeun linggihna ka Cianjur. Meunang lim atauh di Cianjur-na, mulih-mulih sanggeus putrana jumeneg bupati Bandung, anu disebut Dalem Bintang tea. Sanggeus Jaksa Bandung nu ngaran Narantata tea dibuang ka Surabaya, geus duaan anu ngaganti jagi jaksa, tapi teu kamanah bae ku asisten anyar teh. Tuluy gou vernement ngangkat Raden Suriadilaga, ajun jaksa di Purwa karta, jadi jaksa di Bandung. Sanggeus tetap dina pangaweanana kabeneran aya randa, urut bojona jaksa anu dibuang ka Surabaya tea, tuluy ditikah. Ti bojona anu anyar te jaksa teh meunang katerang an, sihoreng teh pangna eta Munada henteu bae katangkep, disumputkeun ku Jaksa Naranata. Sanggeusna Munada mae han Tuan Asisten nagel, Waktu subuh-subuh tea dina kahu ruan, sorena poe eta keneh, eta Munada ditanya ku jaksa anu dibuang, naha mending dihukum gantung atawa rek maehan maneh bae. Ari jawabna Munada : "Kuring mah hayang dipaehan ku Juragan Jaksa bae". Kira tengah peurting tuluy Munada diasupkeun kana peti geledeg, beuheungna dicangreudan ku tali, sanggeus paeh tuluy digotong ku opat jalma dipalingkeun ka Citarum. Semet kitu cariosan Munada teh teu aya deui kebatna, tapi eta katerangan beunang jaksa nu asal ti Purwakarta tea, geus leuwih ti dua taun ti wates Tuan Asisten Nagel dipaehan".
Terjemahan teks di atas adalah "Yang menjadi bupati Bandung namanya Dalem Adipati wiranatakusumah, yang dijuluki Dalem Karanganyar. Adapun yang menjadi jaksa namanya Raden Naranata. Bupati dan jaksa tersebut masih bersaudara, hubungannya sodara satu kakek-nenek. Ada pun jaksa itu memiliki tabiat kurang pan tas, som bong dan suka bicara kasar terhadap kerabatnya. Lama kelamaan perilaku jaksa itu diketahui oleh bupati dan asis ten (residen) yang namanya Nagel. Kemudian (perangai) jaksa itu dimusyawarahkan (dan sepakat bahwa dia) akan dipecat (dari jabatannya). Tersebutlah seorang Cina yang masuk Islam namanya Munada. (la) menetap di sekitar pasar Bandung, berdagang kecil-kecilan (barang dagangannya) seperti kain boeh, tutup kepada,yang harganya murah. Pada suatu waktu dia terbelit utang lelang, sebanyak 20-30 rupiah, telah habis waktunya belum saja melunasi utangnya. Lalu (ia) dipanggil oleh Tuan Asisten, diminta tanggungjawab dan dimarahi. Karena bang sa Cina, dia melawan terhadap Tuan Asisten. Kebetulan Tuan Asisten itu amarahnya besar (sehingga) Munada di pukuli dengan kursi sampai jatuh. Sore harinya jaksa mendapat berita bahwa Munada di pukul dengan kursi sampai jatuh. Latu jaksa itu pergi ke ru mah Munada. Katanya begini "Jika kamu (mau dan) mam pu, cobalah bunuh asisten (residen) dan bupati itu, kelak aku akan menolong kamu. ' Jawab Munada: "Kalau begitu, baiklah (saya bersedia), esok pagi saya akan berbuat sesuatu sehingga terjadi keba karan di pasar Cuguriang sebelah barat pendopo
Segeralah pada waktu subuh terjadi kebakaran, bermula dari rumah seorang janda Tuan Asisten dan Kangjeng Bupati mendatangi kebakaran itu,. Kangjeng Bupati datang dari arah selatan menuju ke utara, sedangkan Tuan Asisten datang dari utara menuju ke selatan.
Yang paling dahulu tiba di tempat kebakaran (ialah) Tuan Asisten. Di depannya berjalan seorang ajudan (upas) sambil membawa pedang. Ketika Munada disuruh minggir oleh ajudan itu, dia menikam dengan keris dan mengenai tangan ajudan. Tuan Asisten bergerak maju dengan maksud akan menolong (ajudannya), tetapi Munada menikam Tuan Asisten dan kena pada iganya, lalu tersungkur. Waktu itu jelas kelihatan (oleh Tuan Asisten), karena diterangi oleh nyala api dari kebakaran, siapa yang menikam dirinya itu, kemudian dia berteriak. "Tangkap si Munada!" Adapun Munada lari ke arah selatan, (tetapi) kepergok oleh Lurah Pasar, orang Jawa. Ketika Munada akan meni kam, didahului (ditikam) oleh lurah, segera Munda ter sungkur. Tetapi ketika akan ditangkap Munada meloncat (kabur), hanya terebut kerisnya. Jadi, ada dua bilah keris yang berlumuran darah, pertama milik Munada penuh oleh darah Tuan Asisten, keris lain milik Lurah Pasar, penuh darah Munada. Namun seorangpun, dari ratusan orang, tak ada yang tahu, bahwa Munada mengamuk. Hanya Tuan Asisten meli hat jelas, namun tak lama kemudian ia meninggal dunia di tempat kebakaran. Ajudan yang ditikam tanggannya, tidak mengetahui, siapa yang menikam dirinya. Bahkan Lurah Pasar pun tidak mengetahui (identitas) orangnya, meskipun kerisnya dapat direbut. Hanya esok paginya banyak yang menerangkan bahwa keris itu kepunyaan Munada. Sejak itu Munada dicari terus menerus oleh ratusan orang, tapi tak ditemukan. Tersebutlah ketika di pasar Cuguriang terjadi kebakar an, sekitar pukul 7 pagi ada seorang bangsawan muda naik kuda dan berpakaian rapih, minta diseberangkan di Sungai Citarum, sekitar Dayeuhkolot karena waktu itu di Citarum belum ada jembatan. Ada pun kata yang naik kuda itu. "Ce pat saya seberangkan! Saya itu bernama Munada, pedagang
di pasar Bandung dan terkenal pendukung adu ayarn kang jeng Bupati!" Waktu itu settap pendukung adu ayam Kangjeng Bupati biasa dihormati. Kemudian orang itu diseberangkan dan dari kampung ke kampung minta diantarkan. Begitulah seterusnya sampai sore hari, mengikuti jalan ke Tarogong Sekitar tengah hari para pembesar dan polisi di kota Bandung mendapat berita bahwa Munada telah menyebe rang Sungai Citarum dari Dayeuhkolot serta mengaku men jadi pendukung adu ayam Kangjeng Bupati. Sejak itu be rangkatlah kaum lelaki sekota Bandung menyusul (Munada) sambil membawa perkakas (masing-masing). Tetapi (Muna da) tidak tersusul, sebab terlambat sekali. Munada menye berang Sungai Citarum sekitar pukul 07 .00, sedangkan yang menyusul tiba di sana sudah lewat waktu dzuhur. Sejak itu orang-orang sekabupaten Bandung mengeledah di kampung-kampung di hutan-hutan, sampai dua bulan lamanya, (tapi) tak menjumpai keterangan. Lama-kelarnaan ada seorang penduduk Tarogong yang menyatakan bahwa yang naik kuda itu yang diantar oleh ,orang Majalaya, Raden Wiria, jurutulis jaksa. Dari situ lalu Raden Wiria diperiksa dan dipertemukan dengan orang yang biasa me nyeberangkan di Citarum, Dayeuhkolot serta dengan yang mengantarkan dari kampung ke kampung. Tatkala (mereka) diperiksa seluruhnya membenarkan bahwa dialah yang mengaku Munada itu Ketika Raden Wiria diperiksa, jawabnya bahwa dia mendapat perintah dari jaksa. Segera jaksa ditangkap, lalu dibuang ke Surabaya, dan tidak diberitakan kembali ke Bandung. Sampai 7 bulan dari peristiwa Tuan Asisten Nagel dibunuh, belum ada saja keterangan ke mana Munada pergi. Selanjutnya asisten (residen) baru menyampaikan usul kepada pemerintah (pusat) agar bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah diberhentikan dari jabatannya, karena bertanggungjawab (atas) kerabatnya (yang berbuat rusuh). Tak lama kemudian datanglah surat pemberhentian serta (dia) dipindahkan tempat tinggalnya ke Cianjur. Sampai 5 tahun (ia) menetap di Cianjur Baru dapat pulang
(ke Bandung), setelah puteranya menduduki jabatan bupati Bandung yang (kelak) dijuluki Dalem Bintang.
Setelah Jaksa Bandung yang bernama Naranata dibuang ke Surabaya, telah dua orang diangkat untuk·menggantikan kedudukan jaksa (Bandung), tetapi selalu tidak disetujui oleh asisten (residen) baru. Kemudian pemerintah (kolonial) mengangkat Raden Suriadilaga, jaksa pembantu di Purwa karta, menjadi jaksa di Bandung.
Sesudah (Raden Suriadilaga) tetap dalam dinasnya, kebetulan acia seorang janda, bekas istri jaksa yang dibuang ke Surabaya. Kemudian (janda itu) ditikah (oleh jaksa Bandung). Dari istri barunya itu jaksa mendapat keterangan, bahwa sebabnya Munada tidak dapat ditangkap itu, karena disembunyikan oleh Jaksa Narata. Setelal1 Munada membu nuh Tan Asisten Residen Nagel pada pagi hari waktu terja di kebakaran, sore harinya Munada ditanya oleh jaksa yang dihukum buang itu, pilihlah mau dihukum gantung atau akan membunuh diri saja.
Adapun jawab MunaJa: "Hamba ingin dibunuh oleh Bapak Jaksa saja."
Sekitar tengal1 malam, lalu Munada dimasukkan ke da lam peti besar. Lehernya diikat dengan tali. Sesudah mati, lalu (dia) digotong oleh empat orang (dan lalu) dihanyutkan ke Sungai Citarum. Sampai situ cerita Munada itu, tiada lagi lanjutannya. Tetapi keterangan itu (baru bernasil) diWlgkapkan oleh jaksa yang berasal dari Purwakarta setelah lebih dari dua tahun sejak Tuan Asisten Nagel dibunuh. "
1.4. Naskah Primer: Wawacan Carios Munada
1.4.1. Keadaan Fisik Naskah Naskah yang akan diterbitkan ini sekarag disimpan di Bagian Naskah Perpustakaan Universitas Leiden (Oostersche Hand schrif ten Afdeeling Universiteits-Bibliotheek Leiden) di negeri Belanda. Naskahnya diberi nomor kode Mal. 1612 dan Cod. Or.
6484. Artinya, pada mulanya naskah ini digolongkan ke dalam
kelompok naskah Melayu yang diberi nomor urut 1612; kemu dian digolongkan ke dalam kelompok naskah Timur (Ooster sche) dengan nomor urut 6482.
Naskah ini ditulis pada kertas berukuran folio (34 x 22 cm). Ada tiga macam kertas yang digunakan untuk menuliskan nas kah ini. Ketiga piacam kertas dimaksud adalah (1) kertas ber garis membayang (2) kertas tak bergaris yang halus (licin), dan
(3) kertas gambar tebal. Pada bagian kertas bergaris membayang terdapat tulisan berbunyi ''G. Kolff & Co, Batavia". Tampak juga ada garis dengan pensil yang dijadikan pedoman untuk menulis naskah. Ker tas itu berwarna kecoklatan, mu ngkin karena usianya yang lebih dari 80 tahun. Naskah ini dijilid de ngan karton cukup tebal yang dibungkus dengan kertas ber warna biru. Pada jilid depan bagian dalam terdapat tulisan (cap) yang berbunyi "Taslim Boekbinderij Salemba G. Paseban", kiranya menunjukkan perusahaan yang menjilid naskah itu. Kondisi kertasnya masih baik dan keseluruhan naskahnya masih utuh. Tinta untuk menuliskan naskah ini adalah tinta berwarna hitam. Hurufnya berupa tulisan yang tertulis rapih sehingga mudah dibaca. Sistem penulisannya tidak bolakbalik. Naskah ini tebalnya I 77 halaman. Tiap halaman naskah merupakan satu lembar. Ukuran ruang tulisannya adalah sekitar 32 x 18 cm.
1. 4. 2. Data Isi Naskah Di dalam naskah ini terdapat ringkasan isi karangan yang bentuk tulisannya berbeda dengan teks inti naskah. Bentuk tulisannya lebih kecil ukurannya dan le bih tipis bekas penanya daripada teks inti naskah. Ringkasan isi itu didasarkan atas nomor halaman nas kah. Penulisan naskah ini menggunakan huruf Latin. Si!tem ejaan yang digunakannya ialah ejaan yang berlaku pada awal abad ke-20. Menurut ejaan ini, antara lain u ditulis oe, j ditulis ·dj, ditulis tj, dan y ditulis j. Dalam pada itu, tea ditulis teja, biasa ditulis bijasa, dua ditulis doewa, balai ditulis balahi, ieu ditulis ijeu, rai ditulis raji. Di samping itu, dalam teks naskah ini ter-
tera sejumlah kata yang ditulis dengan memperlihatkan penga ruh bahasa dan ejaan bahasa Belanda, seperti : resident untuk residen, dicember untuk desember, koffij untuk kopi, doctor untuk dokter, civir untuk sipir, disctrict untuk distrik, proces verbaal untuk proses verbal, landraad untuk landrad, percent untuk persen, accoer untuk akur, gouvernement untuk guper nemen. Dilihat dari sudut ejaan terdapat pula beberapa kesalah an cara menulis, misalnya : ngoenjoekeun seharusnya ngunjuk keun, ladang namah, seharsnya ladangna mah, romana seharus nya romanna, sa kalang koeng seharusnya sakalangkung, noeri kip seharusnya nu rikip. Kata atau sukukata yang diulang ditu lis dengan menggunakan angka 2, seperti ngadjoeg 2 · untuk ngajugjug, ngawang2 untuk ngawang-ngawang, tak2na untuk taktakna. Teks dalamnaskah ini menggunakan bahasa Sunda. Tampak sekali bahwa bahasa yang digunakannya itu mengandung unsur tingkatan bahasa (undak-usuk basa). Tatkala Asisten Residen Nagel memarahi Munada, ia menggunakan bahasa kasar; begitu pula ketika Bupati Bandung Wiranatakusunah memeriksa nenek-nenek yang menjadi jurukunci suatu tempat di Majalaya, beliau menggunakan bahasa kasar. Percakapan se baliknya, dari Munada kepada Asisten Residen dan dari juru kunci (rakyat biasa) kepada Bupati menggunakan bahasa halus. Karangan dalam naskah ini menggunakan bentuk puisi. Tegasnya, bentuk tem'bang, yaitu bentuk pu isi tradisional yang telah mempunyai aturan-aturan tertentu yang baku baik me ngenai jumlah baris per bait, jumlah sukukata per baris, maupun bunyi vokal pada setiap ujung baris (lihat: Satjadi brata, 1931 ). Cerita yang disusun dalam bentuk tembang, dalam khazanah sastra Sunda disebut wawacan. Demikian pula, karangan dalam naskah ini adalah tergolong wawacan. Hal itu diakui sendiri oleh pengarangnya sebagaimana dinyatakan dalam judul karangannya. Pada jilid naskah depan bagian luar tertera judul naskah yang berbunyi 219 Wawatjan tjarios Moenada anoe prantos kadjadian hoeroe-hara di negeri Bandoeng di kaping 30 boelan
December tahoen 1842 (219 Wawacan Cerita Munada, suatu peristiwa huru-hara yang terjadi di kota Bandung tanggal 30 Desember 1842i Angka 219 kiranya menunjukkan nomor nas kah yang dibuat oleh mungkin redaktur atau tata usaha Balai Pusataka di Jakarta. Rupanya naskah ini, bersama sejumlah naskah lainnya, pada mulanya dikirim oleh pengarangnya ke Bale Pustaka di" Jakarta (waktu itu : Batavia) untuk mohon diterbi tkan. Namun agaknya karangan itu tergolong yang di tolak oleh redaksi Bale Pustaka untuk diterbitkan sehingga kemudian dikirimkan ke Leiden. Alasan penolakan, tampaknya karena isi karangannya mengungkapkan kekurangpatutan prilaku dan kelemahan pejabat pemerintah kolonial yang adalah orang Eropa.
Bahwa naskahini diperuntukkan bagi Balai Pustaka, badan penerbitan yang diselenggarakan oleh pemerintah, terlihat juga dari pernyataan pengarang yang sesuai dengan kebijakan peme rintah (kolonial) waktu itu dalam bidang penerbitan buku, yaitu menciptakan keadaan masyarakat dan negara yang ter tib dan aman (rust en orde ). Di situ (bait 1002-1005) dike mu kakan, selain pengarang mengakui kekuasaan pemerintah (kolonial) yang dipegang oleh Maharatu Wihelmina di Nederlan dan raja Hindia Kanjeng Tuan Besar Gubernur Jenderal, juga menyanjungnya dengan menyatakan bahwa Maharatu Nederlan itu bijaksana dan raja Hindia itu adil, berbudi dan sayang ter hadap rakyat. Di samping itu pengarang mengajukan bukti kemurahan pemerintah terhadap rakyatnya berupa sekolah-se kolah yang didirikan di tiap distrik (kewadanaan), onderdistrik (kecamatan), dan bahkan tiap desa yang membawa masyara kat pintar dan kreatif; serta memberi petuah kepada pembaca (masyarakat pribumi) agar segala kemurahan pemerintah itu diterima dengan penuh kesadaran dengan cara giat bekerja dan mengabdi, serta setia kepada pemerintah secara swigguh sungguh dan bersih hati.
Pada halaman 1 di atas teksnaskah tertera tambahan judul berbunyi Beresna oeroesan dina tahoen 1845. Dikarang sareng didangding koe W. P. Tj. M. Kartadinata di Banontjinaw Prea-
ngan (Perkaranya diselesaikan pada tahun 1845. Dikarang dan digubah ol eh W.P. Tj M. Kartadinata di Banoncinawi, Priangan). Dari keterangan mengenai judul naskah tersebut, dapat dike tahui bahwa judul karangan yang terdapat pada-naskah itu yang kemudian dipakai judul dalam penerbitan naskah ini ad alah Wawacan Carias Munada (Wawacan Cerita Munada). Di samping itu, dapat diketahui pula bahwa karangan itu menuturkan peris tiwa huru-hara yang terjadi di Bandung pada tanggal 30 De sember 1842 yang perkaranya baru diselesaikan pada tahun
- Karangan itu disusun dalam bentuk puisi oleh Mas karta dinata di Banoencinawi, Priangan. Sampai sekarang belum dapat diidentifikasikan, di mana lokasi Banoncinawi itu berada. Baik berdasarkan keterangan yang tertera pada halaman I naskah maupun menurut keterangan pada kolofon naskah, karangan di dalam naskah ini (Wawacan Carlos Munada) disusun oleh Mas Kartadinata. Ia adalah seorang yang bekerja ia ling kungan Perusahaan Negara Kereta Api Staatspoorwagon yang biasa disingkat SS). la pemah menduduki jabatan Kepala Stasiun (Cheps Stations) Kereta Api Rajapolah, sebuah stasiun kereta api ya ngterletak di jalur jalan kereta api Bandung-Tasikmalaya. Rajapolah adalah sebuah kota kecamatan di daerah Kabupaten Tasikmalaya (dulu : Sukapura). Sejauh pengetahuan saya, Mas Kartadinata mengarang pula sebuah wawacan lain berjudul Rasiah Priangan (Rahasia Priangan). Karangan ini selesai disusun pada tanggal 24 Maret 1916 dan di terbi tkan oleh Bale Poestaka pada tahun 19 21. Rasiah Priangan berisi cerita tentang kerusuhan yang terjadi di daerah selatan Kabupaten Bandung yang dilancarkan oleh sekelompok masyarakat pimpinan Raksapraja dan di belakang nya terlibat Patih Bandung RadenRangga Adikuswnah yang berambisi ingin menjadi Bupati Bandung. Jadi, karangan ini menuturkan kisah yang bertalian dengan menak (bangsawan) Bandung, seperti juga akan terlihat nanti pada isi karangan Wawacan Crios Munada. Dilihat dari sudut ini, di mana Mas Kartadinata sangat tertarik dan mengetahui benar seluk-beluk kehidupan para menak Bandung, tampaknya ia berasal dari
lingkungan ya ng dekat hubungannya dengan menak Bandung. Gelar mas di depan namanya bukan menunjuk kepada identitas menak, melainkan merupakan ciri keturunan orang Jawa yang telah bermukim lama di Priangan dan kedudukan sosialnya lebih tinggi dari masyarakat biasa, lebih-lebih karena dia menjadi pegawai perusahaan negara dan pernah menduduki pimpinan betapa pun rendahnya. Keseluruhan iru WCM disusun dengan mengguna kan 12 jenis pupuh. Ke-12 jenis pupuh dimaksud adalah (l) Asmarandanda, (2) Sinom, (3) Dadanggula, (4) Kinanti, (5) Mijil, (6) Pangkur, (7) Pucung, (8) Megatru, (9) Durma, (10) Gambuh, (11) Wirangrong, dan (12) Balakbak. Penggunaan pupuh-pupuh tersebut dilakukan secara berselang-seling tanpa aturan tertentu. Dalam pada itu, karakter pupuh terkaitan dengan isi cerita kurang mendapat penekanan sehingga tak jelas pemakaiannya (Ekadjati, 1988: 134 ). Pupuh Asmaran dana, misalnya, tidak selamanya dipakai untuk mengungkapkan suasana percintaan, dirundung asmara, melain kan juga suasana sedih dan hanya untuk menyebutkan nama nama tokoh beserta jabatannya. Pupuh Balakbak juga tidak selalu digunakan untuk menggambarkan suasana lucu atau lawakan; melainkan juga untuk. menggambarkan suasana duk.a. Pupuh Asmarandana digunakan sebanyak 5 kali dan berjum lah 159 bait, yaitu bait-bait ke-: 1-25, 340-363, 551-555, 801-832, dan 917-965. Sinom dipakai sebanyak 7 kali dan berj.lmlah 16 0 bait, yaitu bait-bait ke-: 26-50, 285-309, 413-434, 580-609, 708-750, 902-916, dan 986-1006. Dandanggula digunakan sebanyak 4 kali dan berjumlah 111 bait, yaitu bait-baiat ke-: 51-74. 224-254, 489-517, dan 681- 707. Kinanti dipakai sebanyak 3 kali dan berjumlah 85 bait, yaitu bait-bait ke-: 75-103, 388--412, dan 833-863. Mijil dipakai sebanyak 4 kali dan berjumlah 83 bait, yaitu bait-bait ke-: 104-123, 655-680, 886-901, dan 1007. Pangkur digunakan sebanyak 3 kali dan berjumlah 93 bait, yaitu bait-bait ke-124-157, 310-339. dan 460--488. Pucung digunakan sebanyak 3 kali dan bei:iurnlah 104 bait, yaitu
bait-bait ke-: 158-206, 518-550, dan 864-885. Magatru digunakan sebanyak 1 kali clan berjumlah 17 bait, yaitu baik bait ke- : 207-223. Durma dipakai sebanyak 3 kali dan berjum lah 105 bait, yaitu bait-bait ke-: 255-284, 435'.-459, dan 751-
- Gambuh dipakai sebanyak 1 kali dan berjumlah 45 bait, yaitu pada bait-bait ke 610-654; Wirangrong sebanyak 1 kali dan berjumlah 24 bait, yaitu pada bait-bait ke-364-387; serta Balakbak sebanyak 1 kali dan berjumlah 20 bait, yaitu bait-bait ke- 966-985. Menarik perhatian bahwa di dalam naskah WCM terdapat sejumlah gambar yang terletak pada halaman-halaman tertentu di sebelah teks sehingga diberi nomor kode tambah a. Gambar gambar dimaksud yang hitam -putih beserta lokasi penempatan nya mencerminkan gambaran isi cerita. Dengan demikism, daftar urutan gambar sesuai dengan urutan jalan cerita. Tiap gambar dilengkapi dengan keterangan singkat. Seluruhnya ada 28 buah gambar. Ke-28 gambar itu terletak pada halaman halaman : 4a, lOa, l 3a, 20a, 23a, 26a, 30a, 34a, 37a, 39a, 42a, 51 a, 54a, 57a, 66a, 75a, 79a, 88a, 92a, I Ola, 105a, l l 2a, 117a, I26a, 135a, 140a, 148a, dan I54a, Bebe rapa buah gambar beserta keterangannya antara lain tertera di bawah ini : (I) Munada atau Llem Siang sewaktu muda, rambutnya tampak dikucir, suatu cara penataan rambut model lama bagi orang Cina; (2) Munada sedang ditagih utang oleh Asisten Re siden Nagel; (3) Munada sedang dijamu maka oleh Wendana Blubur-Llmbangan Arsean, sementara wedana sendiri membaca surat Asisten Residen Nagel; (4) Bupati Bandung yang didam pingi permaisurinya sedang memeriksa selirnya yang mengan dung oleh Asisten Residen Nagel; (5) Aom Eros, putra Asisten Residen Nagel dari selir bupati sedang bermain burung di taman belakang pendopo kabupaten; (6) Bapak Ujer melapor kepada patih tentang pembunuhan Nyi Asmah oleh suami nya; (7) Mas Surudireja, suami Nyi Asmah .dimasukkan ke dalam penjara; (8) R. Surya Kusumahdinata menikah dengan
R.A. Rajapamerat, puteri bupati Bandung; (9) Munada sedang menggiring kerbau dan kuda; (10) Bupati Bandung dengan Wedana Majalaya yang dikenai sangsi; (11) Jaksa Surialaga
sedang membujuk R. Salimantri, istri muda jaksa Bandung; (12) Bupati Bandung didampingi Jaksa Surialaga melapor ke pada Rasiden Colemburg di loji Bandung; (13) R. Ditakusumah mendorong mayat Munada; (14) Bupati Bandung Dahm Karanganyar berunding dengan tigi orang puteranya.
1.4.3 Status Naskah Di dalam naskah WCM Cod. Or. 6482 ini terdapat sejumlah kesalahan tulis yang tampaknya tidak disengaja, melainkan karena kekeliruan, kelupaan, atau kesalahan biasa. Beberapa kesalahan tulis antara lain sebagai berikut. Ada kata dan sejum lah kata yang dicoret, kiranya karena dianggap salah, seperti pada bait ke-48 tertulis : "setan iblis, moal lami ge maehan, Munada ka la'nat iblis"; bait ke-51 : lain noe aing ge noe boga"; bait ke-597 : "eureun kareta teu laju, mundut cai demang jaksa, ngaleguk hanaang teuing ". Ada pula kesalahan tulis yang lang sung diperbaiki, seperti "dipentjit peuntjit"; bait ke- " ... kedah oendjoekan, ka gamparan anoe binangkit, wawarti ka nya ka gamparan ... ". Ditemukan dittografi (ditulis ulang), pada halaman. 57-58, yaitu "dilari henteu 11 henteu katimu ... ". Kenyataan-kenyataan tersebut di atas, menimbulkan dugaan bahwa naskah WCM itu berstatus salinan, bukan naskah asli. Dugaan ini diperkuat oleh bukti-bukti lain, yaitu adanya ring kasan isi yang bentuk tulisannya berbeda dengan bentuk tulisan inti naskah. Selain itu, adanya keterangan mengenai pokok isi naskah, nama penyusun karangan, dan tempat karangan disu sun, yang menurut isi dan bentuk teksnya dibuat bukan oleh pengarang WCM, melainkan oleh orang lain. Rupanya naskah aslinya masih berada di tangan pengarang nya atau di staf redaksi Balai Pustaka. Namun penelusuran di Bandung dan di Kantor Balai Pustaka dewasa ini tidak men jumpai informasi lebih jauh mengenai naskah WCM itu. Semua yang dihubungi tidak mengetahui sama sekali mengenai naskah WCM itu. Beberapa orang tua kalangan bangsawan Bandung masih ingiat akan kasus Munada itu berdasarkan cerita lisan orang tua mereka.
1.4.4 Ringkasan Isi Naskah Pada tahun 1842 jabatan-jabatan : residen Priangan dipe gang oleh Klomberg, bupati Cianjur oleh R.A. Surya Kusumah Adiningrat, dan bupati Bandung oleh R. A. Wiranatakusumah. Raden Suriakartahadiningrat, putera bupati Bandung yang menjadi Kumetir Pakopen, menikah dengan R. Ayu Ratna ningrat, saudar bupati Cianjur. Adalah seorang Cina yang berasal dari Kudus bernama Lie m Siang. Ia menetap di Cianjur. Perawakannya gagah (sem bada), tampan (perlente), dan pandai bicara (capetang). Ia menjadi pedagang kuda, kerbau, dan dokar untuk keperluan kereta pos. Liem Siang masuk Islam dengan nama baru Munada. Setelah beragama Islam, ia suka berpakaian cara mu slim dan beribadat menurut ajaran Islam (solat, puasa). Tetapi kebiasaan suka mengisap candu dan bermain judi tidak diting galkannya. Bahkan dia pun suka main perempuan. Kesukaannya itu dirumuskan dalam ungkapan 4 m, yaitu maen (berjudi), madat (mengisap candu), madon (main perempuan), dan maling (mencuri/menipu ). Selanjutnya, Munada pindah dari Cianjur ke Bandung. Usahanya tetap sebagaipedang, tapi bukan saja berdagang ker
bau, kuda, juga berdagang kain. Ia berhasil mendekati Asisten Residen Bandung Nagel sehingga mendapat kesempatan menjadi perantara (anemer) yang dapat mengisi kerbau, kuda dan dokar bagi keperluan jalan raya pos negara. Dari berjualan kain (laken,. madras, encit, kanteh, batik), Munada dapat berkenalan dengan para priyayi Bandung. Dagangannya sangat laku sehingga ia memperoleh keuntungan besar. Namun sayang sekali keuntung an yang diperolehnya itu selalu habis begitu saja, karena diguna kan untuk berfoya-foya, seperti mengisap candu, main judi (sintir, dadu, kartu, angkong 31), dan main perempuan. Akibat nya, Munada terlihat hutang lelang kepada negara sebesar tiga ratus gulden (f.300,00). Asisten Residen Nagel yang memegang kekuasaan lelang menagih utang kepada Munada melalui upasnya bernama Baron. Berhubung dengan Munada tak mempunyai uang untuk
melunasi hutangnya, ia menghadap sendiri Asisten Residen Nagel. Ia mohon bantuan kepada Asisten Residen Nagel agar hutangnya itu dilunasi dulu oleh Asisten Residen dan nanti ia akan membayamya. Asisten Residen Nagel mengabulkan permohonan Munada, namun dengan syarat Munada mau di suruh untuk menjual kerbau milik Asisten Residen Nagel se banyak 6 pasang di Blubur Limbangan. Dalam pada itu, untuk membayar hutangnya Manuda akan diberi kesempatan (order) lagi mengisi kuda dan kerbau untuk keperluan pos. Temyata baik uang hasil penjualan kerbau milik Asisten Residen Nagel maupun komisi pelaksana order dihabiskan oleh Munada semua nya di meja judi dan di tempat hiburan (ronggeng) dan pela curan.
Asisten Residen Nagel yang perawakannya tampan masih bujangan. Ia memerlukan teman berkencan, karena itu ia memohon seorang wanita dari bupati Bandung. Bupati Bandung menyerahkan seorang selirnya untuk digunakan oleh Asisten Residen Nagel. Selir tersebut setiap malam pergi ke loji (rumah Asisten Residen), sedang siang harinya kembali ke pendopo kabupaten. Lama-kelamaan selir itu mengandung. Nagel tidak mau mengakui anaknya, karena ia merasa belum nikah. Atas hasil musyawarah dengan bupati, akhirnya tercapai kata sepakat bahwa selir itu dinikah oleh bupati dan bayi dalam kandungan nya pun diakui sebagai putera bupati Bandung. Selir itu sendiri diberi hadiah uang sebesar f. 100,00 oleh Asisten Residen Nagel sesuai dengan janjinya. Dari kandungan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Adilaga. Raden Adilaga menjadi pemuda yang ganteng, pin tar, dan kulitnya putih seperti orang Belanda. Ia kemudian menjadi wedana Ujungberung.
Raden Demang Mangunagara menduduki jabatan (Hoof djaksa) jaksa kepala Bandung. Ia dibantu oleh seorang juru simpen bemama Mas Suradireja. Rumahtangga Mas Suradireja tidak serasi, karena isterinya yang bernama Nyi Asmah cere wet. Tiba-tiba Nyi Asmah meninggal dunia. Kabamya terkena
wabah penyakit. Tetapi Patih Bandung mendapat keterangan bahwa kematian Nyi Asmah disebabkan oleh racun yang sengaja diusahakan oleh suaminya sendiri. Keterangan tersebut disam paikan kepada patih oleh Pak Ujer, pacalang desa Kajaksan Girang, yang mendapat keterangan pula dari pembantu rumah tangganya. Selanjutnya, Mas Suradireja ditangkap dan ditahan di penjara. Jaksa R. D. Mangunagara merasa tidak senang atas penahanan juru simpennya, karena tanpa pemberitahuan dulu kepadanya. Ia menaruh dendam terhadap patih dan asisten residen Bandung. Sementara itu, Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah mempunyai seorang anak wanita yang cantik sekali bernama Ratna Ayu Rajapamerat. Demang Biskal Mangunagara menaruh hati kepada putera bupati itu. Alih-alih Ratna. Ayu itu ditikah kan kepada Raden Suriakusumah Adinata, putera bupati Sumedang, yang menjadi kumetir kopi di Cianjur. R. Suriaku kumah Adinata, kemudian diangkat bupati Sumedang, meng gantikan ayahnya. Demang Biskal Mangunagara merasa sakit hati atas perkawinan Ratna Ayu Rajapamerat dan menaruh dendam pada bupati Bandung.
Munada dicari oleh petugas keamanan dan dijumpai sedang berkencan dengan ronggeng sambil main judi. Ia ditangkap, kemudian disiksa dan ditahan di penjara sebelah timur Gka pundung. Di dalam penjara ia bertemu dengan Mas Suradireja. Mereka mengungkapkan pengalaman dan perasaannya masing masing. Munada merasa sakit hati dan menaruh dendam ter hadap Asisten Residen Nagel.
Tiga bulan kemudian Munada dilepaskan dari penjara. Ia kembali ke rumahnya di Desa Cibadak, termasuk daerah kota, kira-kira I /2 pal sebelah barat mesjid. Munada menemui Jaksa R.D. Mangunagara di rumahnya di Kajaksan. Ia mem beritahu bahwa telah bertemu dengan Mas Suradireja dan ingin membalas dendam terhadap Asisten Residen Nagel. Sementara jaksa Mangunagara.
| mengungkapkan rasa sakit | hatinya | terhadap | Bupati | Bandung | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| di hadapan merencanakan | Munada. | Keduanya akan membunuh bupati Bandung, dan Asisten | mencapai | kata sepakat | dan | |
| Residen Nagel. duduki jabatan bupati. | Jaksa sendiri mempunyai | ambisi untuk | men | |||
| Pada nagara, Munada: dan 11 orang anggota komplotannya dibicara | pertemuan | berikutnya | yang dihadiri | Jaksa | Mangu | |
| kan dua pembesar itu. Di s<>mping itu, Jaksa dan Munada mengang kat sumpah di hadapan kitab suci al-Qur'an oleh Adapun pembunuhan itu akan dilaksanakan dengan cara mem | lebih jauh para: hadirin bahwa keduanya akan menyimpan rahasia. | mengenai | cara | melaksanakan | pembunuhan dengan disaksikan | |
| bakar rumah yang terletak di kampung Kaum, | desa | Cibadak, | ||||
| sebelah barat | mesjid. Pada | waktu Asisten Residen Nagel dan | ||||
| Bupati | Bandung | ke luar untuk | melihat | tempat | kebakaran, | |
| Munada yang dibakar adalah rumah milik Den Tanek. Rumah itu dibeli | akan | membunuh | kedua pejabat tersebut. | Bangunan | ||
| oleh Jaksa Mangunagara. | Munada dengan | harga | 4 ringgit. | Uangnya | berasal dari | |
| Pada | malam | Sabtu tanggal | 30 Desember | 1842 | terjadilah | |
| kebakaran di kampung kebakaran, Asisten Residen Nagel segera ke luar dari loji dan | Kaum. Mendengar | laporan terjadinya | ||||
| menuju sampai di tempat kejadian Asisten seseorang | tempat dengan pedang. la roboh bermandikan darah. Upas | kebakaran | dengan | naik Residen Nagel ditebas oleh | kereta kuda. | Begitu |
| Baron, | ajudannya yang | akan melindungi tuannya terkena te | ||||
| basan | pedang | pula tangannya. | Asisten Residen | Nagel | segera | |
| dibawa | ke loji' (tempat | tinggalnya). | Keesokan harinya ia me | |||
| ninggal | dunia. | Sebelum | menghembuskan napasnya, ia sempat | |||
| memberi | tahu | bahwa yang | membunuhnya itu ialah Munada. | |||
| la dikuburkan | di Sentiong, | Bandung. | Usaha pembunuhan | |||
| terhadap | bupati | Bandung | mengalami | kegagalan, | karena | ber |
| hasil | dihalangi | oleh Bapak | Unit, | kopral prajurit kabupaten. | ||
| Munada | beserta | komplotannya | segera | melarikan | diri. | |
| Namun | mereka sempat | dipergoki | oleh beberapa | penjaga pos | ||
| ronda, oleh para penjaga pos ronda. Pada pukul 6 pagi Munada sampai ke dalam rumah Demang Jaksa, ia | bahkan | keris dan | pedang | Munada melaporkan bahwa Asisten | berhasil | dirampas |
Residen Nagel berhasil dibunuh, tetapi pembunuhan terhadap bupati Bandung mengalami kegagalan. Demang Jaksa merasa kesal atas kegagalan itu.
Peristiwa pem bu nuhan Asisten Residen Nagel segera dila porkan ke Residen Priangan di Cianjur. Kemudian laporan itu diteruskan ke Gubernur Jenderal di Bogor dan kepada Direktur Pemerintah Kolonia! di Betawi (Jakarta). Pemerintah kolonial segera mengirim dokter untuk menolong jiwa Nagel dan mengi rim pejabat-pejabat pemerintah kolonial (Residen Priangan dan Tuan ldelir) untuk mengusut peristiwa itu. Di samping itu, para jaksa di seluruh Priangan dipanggil ke Bandung guna me meriksa masalah itu.
Sementara itu, kelompok pengacau (barandal) yang ber jumlah 11 orang bekumpul di rurnah Demang Jaksa untuk mem bicarakan kelanjutan sikap da n tindakan mereka tentang peris tiwa itu. Mereka sepakat akan menghilangkan jejak tindakan mereka. Caranya ialah dengan menugaskan Sastradireja, anggota komplotan, agar mengaku-aku sebagai Munada dan pergi ke Majalaya, Leles, Tarogong. Sementara Munada sendiri bersem bunyi di dalam peti di rumah Demang Jaksa. Tapi tak lama ke mu dian atas permintaan sendiri Munada dibunuh oleh komplo tannya dan mayatnya dibuang ke Sungai Gkapundung. Pertemuan pejabat-pejabat pemerintah memutuskan agar segera mencari dan menangkap Munada. Untuk itu kegiatan ronda ditingkatkan, menungask Jaksa Bandung Demang Mangunagara dengan disertai pasukan mencari Munada ke arah Majalaya dan Jaksa Purwakarta Surialaga diberi tugas mencari Munada di dalam kota Bandung. Dalam rangka pencarian De mang Jaksa Mangunagara memfitnah Wedana Majalaya sehingga ia ditahan di Cianjur selama 2 tahun. Ia difitnah menyembunyi kan Munada.
Sebaliknya, Jaksa Purwakarta Surialaga menyangka Jaksa Bandung menyembunyikan Munada di rumahnya. Segera rumah Demang Jaksa digeledah. Peti tempat persembunyian Munada ditemukan, dahm keadaan kosong, hanya bercium bau pesing. Sangkaaan tersebut dilaporkan kepada bupati Bandung. La-
poran tersebut diteruskan kepada Residen Priangan. Residen Priangan memerintahkan agar penyelidikn diteruskan sampai tuntas. Biaya penyelidikan diserahkan kepada Jaksa Surialaga sebesar f. 1000,00. Sementara Demang Jaksa Mangunagara di beri tugas melelang kerbau milik Asisten Residen Nagel almarhum di Blubur Limbangan.
Tatkala Jaksa Mangunagara keluar kota, Jaksa Surialaga bertemu ke rumah DemangJaksa. Ia yang masih muda dan ganteng itu merayu istri Demang Jaksa yang bernama Raden Salimantri dengan maksud agar rahasia suaminya terbongkar. Usaha tersebut berhasil. Segala sesuatu yang direncanakan dan dilakukan oleh Demang Jaksa dan komplotannya terung kapkan. Segera hal itu dilaporkan kepada bupati Bandung. Laporan itu diteruskan oleh Bupati Bandung ke Residen Priang an yang melanjutkannya ke pemerintah pusat di Batawi.
Berdasarkan laporan Jaksa Surialaga, Demang Jaksa Mangu nagara ditangkap, kemudian ditahan di Cianjur. Anggota-ang gota komplotan lainnya pun segera ditangkapi. Semua tertuduh diperiksa dan perkaranya diproses. Ternyata mereka terbukti bersalah. karena itu dijatuhi hukuman buang ke Makasar, Ambon, dan Ternate selama 20 tahun, kecuali Demang Bis kal dihukum buang ke Surabaya selama 25 tahun.
Jaksa Purwakarta Surialaga diangkat menjadi Jaksa Bandung sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Ia menjadi seorang yang kaya sekali di Bandung. Namun karena kekayaannya, maka ia difitnah oleh Istor Aban Sarean sehingga ia ditahan di Cianjur. Berhubung dengan ia berhasil meyakinkan Gubernur Jenderal dalam suatu audiensi, maka ia dibebaskan dari hu kuman, kemudian diangkat menjadi Jaksa di Balitung. Sedang kan Istor Sarean akhirnya dihukum, karena diketahui berbuat jahat. Di samping itu, Upas Baron yang menderita luka, ak:ibat kena bacokan sewaktu akan melindungi Asisten Residen Nagel telah sembuh kembali, wal311pun mengalami cacat seumur hi dup. Ia dipensiun dari pekerjaannya dengan mendapat uang tunjangan dan kedudukannya digantikan oleh puteranya.
| Secara | eksplisit dikemukakan | bahwa apa ang | dituturkan | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| oleh pengarang itu dengan cerita ini dapat menjadi contoh serta | ||||||
| pegangan bagi pembaca bahwa perbuatan baik seseorang akan | ||||||
| membuahkan yang baik pula dan perbuatan jahat betapapun | ||||||
| dirahasiakannya | akhirnya | akan | diketahui | dan | membuahkan | |
| yang | tidak | menyenangkan. | Kesetiaan | seseorang, | terutama | |
| pegawai tungan di kemudian hari. | negeri, | terhadap | tugasnya | akan | mendapat | keberun |
1.5. Perbandingan Isi Naskah. Dari empat naskah yang mengungkapkan peristiwa pembu nuhan Asisten Residen Bandung Nagel oleh Munada itu, satu nas kah di antaranya, yaitu Kitab Pancakaki hanya berupa pembe ritaan dalam beberapa kata, sedangkan tiga naskah lainnya berupa cerita. Sehubungan dengan hal itu, dalam pembicaraan perbandingan isi naskah, Ki tab Pancakaki tak diikut-sertakan. Dilihat dari sudut inti cerita, isi ketiga naskah itu sama, yaitu menuturkan cerita sekitar peristiwa Munada membunuh Asisten Residen Bandung Nagel. Kiranya hal itu dimungkinkan, karena ketiga naskah itu mengemukakan obyek cerita yang sama, yaitu sebuah peristiwa sejarah yang terjadi di Bandung pada masa lebih lampau dari waktu penyusunan karangan. Namun dalam hal detail-detail cerita, baik bentuk karangan, jalan cerita, sikap dan tindakan pelaku, kuantitas cerita maupun nama pelaku, terdapat perbedaan-perbedaan nyata diantara ketiga naskah. Kiranya perbedaan-perbedaan dimaksud dise babkan oleh faktor-faktor :
(1) jarak waktu yang cukup jauh dan berbeda waktu antara peristiwa (1845) dengan waktu penyusunan karangan (akhir abad ke-19 l;>agi Sajarah Timbanganten, 1923 bagi &bad
R.A.A. Martanagara, dan 1910 bagi WCM. ialah sekitar 50 tahun, 78 tahun. dan 65 tahun.
(2) sumber yang digunakan berbeda, yaitu pengetahuan penga rang sendiri bagi penyusun dalam Sajarah Timbanganten, informasi lisan dari Raden Demang Natanagara, seorang
pensiunan Kapala Kwnetir Tanaman Kopi Bandung Selatan dan juga putera Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah Ill (1829-1846), waktu peristiwanya terjadi ia menjabat
| (1829-1846), | waktu | peristiwanya | terjadi | ia menjabat | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| sebagai jmutulis (Martanagara, | l 923 | : 46), serta informasi | ||||
| tersebut penyusunan | disampaikan dalam Babad R.A.A. | pada bulan | Desember | l 893 | bagi | |
| masi lisan | dari | beberapa | orang tua, | terutama Raden Yu | ||
| dasastra, ko ta Bandung yang disampaikan menjelang penyusunan ka rangan bagi W CM. bagian dari sebuah keseluruhan karangan bagi Sojarah Tim utama yang mandiri bagi WCM. nangan (elingan) atas peristiwa it u bagi Sajarah Timbangan | seorang bangsawan semacam | laporan | Bandung atas tugas | yang yang diembannya | bermukim di | dari |
| Residen | Priangan, | walaupun | tugas | itu diberikan | tahun | |
| 1893 ingintahu mengenai peristiwa masa lampau itu bagi WCM (bait ke-1 - 5). Cerita mengenai Munada dan Asiten Residen Nagel diung | (Martanagara, 1923 dan | menyajikan | : 45), bagi .Babad R.A.A. Marta bahan | bacaan bagi | siapa | yang |
| kapkan prosa, lebih bersifat penuturan | dalam naskah Sajarah | Timbananten biasa, langsung tentang peris | dalam | bentuk | ||
| tiwanya, ceritanya pendek (hanya 3 halaman) dan penyajiannya berupa penuturan kuantitas ceritanya lebih panjang (5 halaman cetak) serta penya | berdasarkan saja. Sedangkan dalam Babad R.A.A. | pengetahuannya. | Karena itu, kuantitas | |||
| jiannya | berupa penuturan | dan juga | dialog, walaupun sama | |||
| berbentuk | prosa. Adapun | kuantitas | ceritanya paling | |||
| panjang | (177 halaman), | penyajiannya | berupa | penuturan, | ||
| dialog, dan Dalam pada itu, tampak sekali meski menyatakan | juga bahwa karangannya bersifat sejarah, namun tak | menolong, serta | bentuk karangannya puisi. | pengarangnya sendiri | ||
| ajal lagi | WCM itu | tergolong | pula karya | sastra, karena | jelas |
(3) Kedudukan karangan tersebut yang berbeda, yaitu hanya
(4) Tujan karangan disusun berbeda pula, yaitu sebagai ke
Martanagara, dan infor
banganten dan Babad R.A.A. Martanagara, namun karangan
ten, nagara,
Martanagara WCM
me ngandung alur cerita, tema, gaya bahasa yang metaporis dan simbolis, dan juga amanat atau pesan yang ingin disampai kan (Wellek & Austin Warren, 1973 : 15-28). Kiranya lebih tepat WCM digolongkan sebagai karya sastra sejarah (Llhat : Te euw, 1974).
Sejwnlah perbedaan yang nyata di antara ketiga naskah itu tampak jelas pada skema di bawah ini.
IWCM II BRAAM III ST
Bupati Bandung Raden Adipati Wi-Adipati Wiranta-(tidak disebu t)
rana1akusumah kusumah (Dalem Karanganyar)Jaksa Bandung R. Demang Raden Naranta R. Demang
Mangunagara MangunaJaksa Purwakarta R. Surialallll R. Suriadilallll Demang Jaksa
- Istri Jaksa R. Salimantri (tak disebu t nama-R. Srimantri Bandung namanya)
- Besar umng f. 300,00 f. 20-30,00 (tidak disebu t) Munada
Rumah yang milik R. Tanek Rumahjanda Rumah yang dibeli dipakai Munada yang dibeli oleh oleh Munada
oleh MunadaSenja1a yang pedang keris ( tidak disebu t) dipakai Munada
- Cara rahasia Jaksa Surialaga Jaksa Suriadilaga Demang Jaksa pembunuhan ter berkencan dengan menikah dengan menikah denl!Jln bongkar istri muda Jaksa eks istri Jaksa eks istri Jaksa
Bandung Bandung Bandung
9 Waktu peristiwa 30 Desember 1842 25 Desember -- 1845 (tidak disebut
- Jarak waktu ra-3 tahun (1845) 2 tahun 2 1ahun hasia terbongkar.
- Jumlah k omplotan 13 orang 7 orang 10 orang panbunuh.
1.6. Identitas Pelaku Utama Lain Dalam WCM disebutkan nama sejumlah pejabat di wilayah Priangan, baik priburrii maupun kolonial, yang memangku tugas pada waktu menjelang peristiwa pembunuhan Asisten Residen Bandung Nagel terjadi, di sini disebut tahun 1842. Di bawah ini diungkapkan identifikasi mereka secara selintas berdasarkan dokumen sejarah untuk membuktikan apakah pelaku tersebut historis atau bukan. Pada waktu itu yang menjadi Residen Priangan yang berke dudukan di Cianjur disebut Tuan Klomberg (bait 12 ). Mungkin yang dimaksud dengan Tuan Klomberg itu ialah O.C. Holmberg de Beckfelt. Ia tercatat telah menjadi Residen Priangan pada tahun 1832 (Almanak en Naamregister Nederlandsch lndie, 1832; 48). Pada Almanak en Naamregister Nederlandsch Indie (ANI) tahun 1846 yang mencatat data tahun 1845 disebutkan bahwa Residen Priangan ini diduduki oleh J.B. Oearens (ANI, 1846; 46). Jurutulis pertama di Kantor Asisten Residen Bandung disebut Tuan Van den Broek (bait 32). Kiranya, tokoh ini sama dengan J. Van den Broek yang menjabat Commies voor de Comptabiliteit di Kabupaten Bandung (ANI, 1846: 47). Jaksa Bandung dikatakan bernama Raden Demang Mangu nagara, sama seperti pada ANI (1846 : 4 7). Pada ANI tahun 1847 jabatan Jaksa (Hoofddjaksa) Bandung tak ada yang men duduki (kosong). Pada ANI tahun berikutnya (1848), jabatan Jaksa Bandung telah terisi lagi, yaitu diduduki oleh Raden Demang Suriadi Loga (Ani, 1848: 48). Tak tercatatnya R.D. Mangunagara sebagai jaksa Bandung tahun 184 7, mungkin karna waktu itu ia sudah dipecat dari jabatannya, karena kom plotan rahasianya terbongkar. Dalam pada itu, Raden Demang Suriadilaga pada mulanya menjabat jaksa di Krawang (ANI, 1846: 46). Pada Regeeringsalmanak (RA) tahun 1865 tercatat bahwa Radhen Soeria dhi Laga sejak tanggal 29 Agustus 1859 menduduki jabatan jaksa (Hoofddjaksa) Billiton (Belitung) (RA, 1865: 248 ), termasuk wilayah Sumatera. Rupanya
Raden Demang Suriadilaga sudah berhenti dari kedudukannya sebagai jaksa Bandung sejak tahun 1854, karena dalam RA tahun 1855 jabatan jaksa Bandung te lah diduduki oleh Raden Suriadipraja (RA, 1855 :57). Ternyata perpindahan tempat bertugas Raden Demang Suriadilaga sesuai dengan yang ditu turkan dalam WCM (bait 902-950).
Dalam WCM diungkapkan tiga orang bupati Bandung, yaitu (1) Raden Adipat Wiranatakusumah yang memerintah sekitar peristiwa Munada dan sesudah meninggal terkenal de ngan sebutan Dalem Karanganyar (bait 19 dan bait 805), (2) Raden Suriakarta Hadiningrat, putera nomor 1 yang bergelar sebutan Dalem Bintang dan meninggal tahun 1874 (bait 710- 714, 806-807, 817), (3) Adipati Kusumahdilaga, adik nomer 2 dan meninggal tahun 1893 (bait 818, 886-888). Ketiga bupati tersebut tercatat dalam dokumen sejarah ANI dan RA. Dalam ANI (1832 : 48; 1833: 50; 1846 : 47) dicatat bupati Bandung itu bernama Radin Adipattie Wira Natta Koesoema. Sedangkan dalam ANI 184 7 : 4 7 bupati Bandung itu telah diduduki oleh Radin Tommongong Soeria Karta Adiningrat. Yang dimaksud kiranya Raden Tumenggung Suriakarta Hadiningrat. Nama bupati Bandung terse but tertera pula dalam ANI 1850: 50; 1851; 48; 1852 :47; 1854 : 55; dan 1855 : 55;juga dalam RA tahun 1855; 57. Jadi, pada tahun 1846 telah terjadi pergantian bu pati Bandung dari Raden Adipati Wiranatakusumah, di kalangan masyarakat setempat disebut Raden Adipati Wiranatakusumah III, kepada Raden Tumenggung Suriakarta Hadiningrat. Dalam RA tahun l 859 halaman 72 tertera nama bupati Bandung itu ialah Radhen Adhipati Wira Nata Koesoema; kira nya sama dengan Raden Adipati Wiranatakusumah dalam sebutan kalangan bangsa pribumi.
Per bedaan nama bupati Bandung pada dua dokumen sejarah tersebut, bukan berarti telah terjadi pergantian bupati Bandung; me lainkan yang terjadi hanyalah pergantian nama yang dise babkan oleh perolehan gelar barn (Lihat : Berg, 1902). Dalam ha1 ini, Raden Tumenggung Suriakarta Hadiningrat mendapat gelar adipati dan kemudian namanya diganti menjadi Raden
Adipati Wiranatakusumah, mengam bil dari nama leluhurnya. Dalam urutan bupati Bandung secara tradisional, ia biasa dise but Raden Adipati Wiranatakusumah IV. Dalam RA tahun 1874 jabatan bupati Bandung masih di duduki olh Raden Adipati Wiranatakusumah (IV), namun dalam RA tahun 1875 yang menjadi bupati Bandung tercatat bemama Raden Tumenggung Kusuma di Laga. Jadi pada tahun 1874 telah terjadi pergantian bupati Bupati Bandung dari R.A. Wim natakusumah IV kepada R. T. Kusumadilaga. Ternyata R. T. Kusumadilaga adalah adik R.A. Wiranatakusumah IV (Hadja saputra, 1985 : 82, 105).
- 7 Fungsi Naskah dan Nilai Budaya yang Dikandung di Dalamnya. Di muka (1.4.2) telah dikemukakan bahwa kemungkinan besar naskah WCM dibuat untuk menjadi induk bagi buku yang diharapkan dicetak dan. diterbitkan oleh Balai Pusataka. Namun karena sesuatu alasan, penerbitan naskah tersebut tak dapat dilaksanakan, bahkan naskahnya kemudian dikirim ke negeri Belanda. Dalam hal ini tampak adanya tujuan pengarang WCM (Mas Kartadinata) untuk menciptakan benda (naskah, buku) yang dapat dijadikan media atau pegangan guna (1) mengabadi kan peristiwa Munada dan sekaligus (2) menjadi sum ber infor masi mengenai peristiwa tersebut. Dikatakan peristiwa, karena menurut pandangan pengarangnya, WCM itu yang dinamainya hikayat (bait 9) dan wawacan (bait 987) berisi kisah tentang peristiwa yang 1erjadi pada masa lampau (sejarah). Bahwa karangannya diyakini sebagai sejarah, karena kisahnya itu didasarkan atas informasi yang diperoleh dari orang-orang tua waktu itu (1910) yang dianggap mengetahui dan bisa jadi juga menyaksikan peristiwanya (bait 5-6, bait 987-988). Salah seorang informan paling 1 utama ialah Raden Yudasastra, yang dikatakannya seorang tua yang rajin dan panjang ingatan serta bertempat tigal di desa Pungkur (bait 988). Desa Pung kur tentu terletak tak jauh di belakang (bahasa Sunda halus:
pungkur) kompleks pendopo K.abupaten Bandung. Kini di se ki tar lokasi tersebut terdapat jalan bemama jalan Pungkur.
Memang pengarang sendiri mengakui bahwa karangannya itu mengandung kelemahan dan kesalahan, karena sumber yang digunakannya berupa sumber lisan bisa jadi telah mengandung kelemahan. Soalnya, pengarang secara sadar mengetahui tradisi penyampaian sumber lisan, berita lisan itu biasa disampaika n secara beranting dari satu generasi ke generasi berikutnya de ngan mengalami perubahan yang berasal da ri penyampai berita (bait 7-8). Pengakuan dan pendapat pengarang tersebut, kira nya dimungkinkan karna alam pikirannya telah dipengaruhi oleh pengertian sejarah berdasarkan konsep Barat (Carr, 1973) yang waktu itu memang tel ah memasuki masyarakat pribumi (Indonesia) terpelajar lewat bahan bacaan dan penjelasan guru-guru di sekolah serta bahwa bacaan lainnya. Namun pe ngarang WCM ini menjamin bahwa walaupu n demikian, isi karangannya itu lebih banyak benamya daripada salahnya (bait 8). Selain itu pengarang dengan hati lapang memberi ke sempatan kepada pembacanya untuk memperbaiki karangan nya, jika didapatkan kesalahan, kekurangan, dan atau kele bihan (bait 986 ). Sejajar dengan fungsi naskah WCM sebagai benda, isi nas kahnya (karangannya) pun berfungsi (1) untuk mengabdikan peristiwa-peristiwa Munada dan (2) untuk menjadi sumber in forrnasi mengenai peristiwa tersebut. Selian itu, isi WCM dirnak sudkan pengarangnya agar karyanya itu (1) berlaku sebagai arnal ibadah yang mendapat ganjaran secara religius (bait 9-
10), (2) rnenjadi alat pendidikan bagi anak-anak yang sudah akil baleg (dewasa) karena di dalarnnya rnengandung gambaran tentang karakter, sikap, dan perilaku orang yang baik yang pa tut diteladani serta yang buruk yang patut dihindari. Dengan rnernbaca karangan ini diharapkan pernbaca akan rnengetahui dan rnernahami antara yang salah dan yang benar serta yang rnenguntungkan dan yang rnerugikan bagi dirinya (bait 985, 989-991). Karangan ini diharapkan pengarang menjadi bahan bacaan yang dapat rnenuntun generasi berikut ke jalan kebaikan
melalui contoh kehidupan perilakunya sehingga mereka menca pai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup lahir batin. Jika hal itu yang terjadi, maka akan terciptalah masyarakat dan negara yang aman, tenteram, dan sejahtera (bait 1001-1002). Melalui karanganannya, pengarang merekayasa agar tampak secara tersurat dan tersirat kemanfaatan bagi pembacanya. Manfaat dimaksud berupa memperoleh pengetahuan (bait 989). dan pedoman hidup (bait 989-991 ). Kisah tentang peristiwa Munada yang dituturkan secara kronologis sejak dari latarbela kang, peristiwanya, dan dampaknya memberi bahan pengetahu an,. Norma-norma da nilai-nilai sosial budaya yang berlaku pada masa peristiwanya (1845) dan pada masa karangan itu disusun (1910), baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif memberi pilihan alternatif bagi pedoman hidup kita sekarang dan masa datang. Beberapa norma dan nilai sosial buaaya dimaksud adalah sebagai berikut:
- Berbohong dan menipu seperti yang dilakukan oleh tokoh Munada adalah perbuatan buruk dan akan membuahkan celaka bagi yang melakukannya.
- Perbuatan-perbuatan: berjudi (maen), mengisap candu (madat), mencuri (maling), dan main perempuan (madon) yang dirumuskan dalam konsep 4 M adalah jelek dan harus dihindari, karena akan mendatangkan bencana bagi diri pribadi, baik secara individu maupun secara sosial.
- Tekun bekerja, jujur, dan setia kepada atasan dan pemerin tah adalah karakter manusia yang baik yang akhirnya pasti membawa pada kehidupan bahagia dan sejahtera, sebagaimana dicontohkan oleh karakter dan perilaku Jaksa Surialaga, B_upati Bandung R.A. Wiranatakusumah.
- Pengorbanan seseorang dalam menjalankan tugas merupakan sesuatu yang baik yang akan terpetik juga buah usahanya itu, seperti dialami oleh tokoh Upas Baron.
5. Menghasut, membuat fitnah, dan mencelakakan orang lain
merupakan perbuatan buruk yang betapapun dirahasiakan nya akhirnya akan ketahuan um um juga dan akan membawa celaka bagi dirinya, seperti diperbuat dan dialami oleh to koh-tokoh: Munada, Demang Jaksa Bandung, Mas Suradire ja, Abang Sarean.
- Karakter, sikap, dan perilaku manusia yang dipandang posi tif masa itu ialah pandai bicara (pertentangan), berpenam pilan tampan (perlente), setia, bijaksana, berilmu, baik hati, menyayangi sesama. Sedangkan yang sebaliknya yang jangan diikuti ialah dengki terhadap sesama suka memusuhi orang, tinggi hati, tak senang melihat orang lain maju, dan meng anggap diri paling unggul serta orang lain rendah (bait
954).
BAB II PENY AJIAN TEKS
2.1 Keterangan tentang Penyajian Teks Di depan (1.2) telah dikemukakan bahwa hingga kini naskah WCM baru ditemukan satu buah. Jadi, naskahnya tunggal (uni cum). Sehubungan dengan hal itu, makii penyajian teksnyapun berdasarkan satu naskah saja. Sementara itu, karena naskah WCM ditulis dengan menggu nakan huruf latin, maka tidak dilakukan alih huruf. Yang di ubah hanya ejaannya, yaitu dari ejaan huruf latin yang berlaku tahun 1910 menjadi ejaan sekarang yang terkenal dengan sebut an Ejaan Yang disempurnakan (EYD). Dalam hubungan ini, ba nyak ditemukan kosakata dan ejaan bahasa Sunda yang berasal dan dipengaruhi oleh bahasa Belanda. Hal itu dapat dipahami, karena pengarangnya, Mas Kartadinata, seorang pegawai perusa haan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang tentu banyak berhubungan dengan orang Belanda dan membuat laporan de ngan menggunakan istilah bahasa Balanda. Dalam kasus ini dilakukan penyesuaian dengan bahasa Sunda, jika sudah menjadi kosakata bahasa Sunda, misalnya: gouvernement menjadi gu pernemen, district menjadi distrik, dibenoomd menjadi dibe num, afdeeling menjadi af de ling,
40
| Karena WCM disusun dalam bent | puisi (tembang) yang | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| susunanya | berdasarkan | aturan-aturan | tertentu | (jumlah | baris |
| perbait baris}, maka dilakukan sejumlah perbaikan tek!? sepanjang tidak | jumlah sukukata per baris, dan bunyi vokal pada akhir | ||||
| mengubah | makna, | baik kata | kalimat. | Misalnya: |
maupun prantos---> p (a) rantos, residen->res (i) den, anjeun --> anjeun (na). Jika ada kata yang ditulis tidak sempurna, diperbaiki dengan disempurnakan, misalnya: angeus ---> eng
(g) eus. Urutan pupuh yang digunakan diberi nomor urut dengan menggunakan angka romawi. Dalam hal ini, dari nomor urut I sampai dengan XXXVI. Urutan bait diberi nomor angka Arab tanpa membedakan berdasarkan pupuh, sehingga dari nomor urut I sampai dengan .nomor urut 1007. Kedua nomor terse but diletakkan di sebelah kiri teks. Sedangkan angka Arab yang ter letak di sebelah kanan teks menunjukkan nomor urut halaman pada naskah.
Tanda ( ..... ) menunjukkan tambahan (huruf, sukukata,
kata) guna menyempurnakan teks. Tanda < ..... > menunjuk
kan pengurangan (huruf, sukukata, kata) guna menyempurna kan teks.
2.2 Penyajian Teks
WAWACAN CARIOS MUNADA
11Anu parantos kajadian huru-hara di negeri Bandung di kaping 30 bulan Desember tahun 1842. Beresna urusan di tahun 1845.
I. Pupuh Asmarandana
1. Kawitan purwa di anggit
di dangding didamel tembang manawi suka nu ngaos kana carios Munada tangtu rea nu palay anu anom anu sepuh hikayatna anu terang.
- Malah dugi ka kiwari Munada jadi babasan jadi ciciren nu jentre dianggo kana dugaan diaranggo ngetang yuswa upami rek neang umur umur si anu sabraha.
- Kumaha baheula geuning keur basa jaman Munada anjeun kumaha geus gede jawabna teh rupa-rupa aya nu geus sawawa ceuk sawareh masih lembut ceuk nu sejen tacan aya.
- Dietang tahun nu pasti tiwangkid jaman Munada dumugi ka ayeuna teh sak itu tahun lilana ditambah ku umuma jaman Munada sakitu kira tahun teh yuswana.
- Dijumlahkeun jadi hiji sakitu puluh tahunna tah ki tu biasana teh ieu oge caritaan anu dikarang ku kula sanes tina kitab buku kenging kukumpul tatanya.
- Ti sepuh-sepuh nu ngarti ti Rahaden Yudasastra sareng ti sepuh nu sanes nu terangmn cariosna ku kula dicatetan
IIdikwnpulkeun jadi buku dikarang sabisa-bisa.
- Kantenan sisipna pasti lepatna geus moal gagal mugi hapunten sakabeh geuning biasa beja mah hiji sok jadi dua dua sok jadi sepuluh sasiku jadi sadeupa.
- Beja dibejakeun deui eta kitu teh lwnbrahna ieu ge nu dikarang teh manawina cara eta tapi najan salahna tangtu rea anu estu loba bener batan salah.
- Maksud ati mugi jadi ngadadar ieu hikayat anu sakalangkung aheng endahna kabina-bina muga aya sapaat sapaatna Kanjeng Rasul Muhamad dinil mustopa.
- Sareng pitulung Yang Widi Allah anu murbeng alam nu kagungan maksud kabeh mugi maparinan rahmat pitulung ka kaula bisa ngalajukeun catur ngebatkeun ieu carita.
- Ayeuna nu jadi kawit di ieu tanah Priangan
dina tahun nu kacrios sarewu dlapan ratusna sareng opat puluh dua tahunna anu kasebut Desem ber nuju sasihna.
- Nu jadi karaton nagri Kanjeng Residen calikna di Cianjur harita teh Tuan Kl om berg resdenna nu ngaheuyeuk nagara Tuan kon adil mashur sabar darana plamarta.
- Ari nu jadi bupati di Cianjur teh re genna dina waktu harita teh Raden Adipati Surya Kusumah Adiningrat um bang dedeg kasep segut moncorong cahaya serab.
- Susah nyiar pilih tanding romanna kanjeng bupatya segut dedeg sarta // obyor kaumbang ku kapinteran pangaruh mancawama ruhiyat nurbuat luhung ngentra matak kasima.
Jeung eta Kanjeng Bupati kagungan saderek tunggal putri langkung endahna teh Raden Ayu Ratnaningrat estu tunggal sarama putra bupati Cianjur regen Prawiradireja.
Bupa itanu sawargi Kanjeng Dalem Kaum tea demi eta gan putri teh parantos kagungan raka ka sinatria binekas anu kasep cahya mancur rat Priangan moal mendak.
- Nu kasep lenjang jalantir nncong mancur nurbuatna lir dewa sawarga bae kamajaya manil oka turun ka mercapada estu satria pinunjul lalanang jagat Priangan.
- Waktu harita teu manggih pameget nu cara eta kasep taya tandingna teh anu ngawonkeun Arjuna sang panengah Pendawa surem cahyana kaungkul kahandapan ku satria.
- Sinatria Bandung wingit putrana kanjeng bupatya kanjeng dipati kasohor sabar plamarta jeung beunghar Raden Adipati Wira Natakusumah nu luhung Bupati Bandung narita.
- Kakasih satria wingit // jenenganana ti rama ,· anu parantos kasohor Rahaden Suriakarta Hadiningrat pinulya
pangkatna kumetir kidul kumetir pakopen tea.
- Jadi basa den kometir cocog ka putri garwana anu geulis kanu kasep pinulya sang sinatria lir Dewa Kamajaya jeung Supraba sami lucu matak resep anu ningal.
- Rea istri nu kapilis rea juwita kabengbat rea enden nu kapelet nyimas-nyimas kaedanan gandrung ka sinatria tapi sadayana lapur da prantos aya jodona.
- Satria Raden Kumetir lulut layeut jeung garwana sami pada asihna teh tayoh sarua bogohna wan tu sami mustika emas nmpur sami ngempur inten campur jeung berlian.
- Sumawon rama bupati Dipati Bandung teu kira asih nyaah ka putra teh dienod didama-dama gadangan gentos rama welas asih jeung kayungyun benten ti putra nu loba.
- Kitu deui raka gusti Dalem Cianjur nagara
welas asih ka s (s) < e > derek nyaah teh kaduanana henteu aya bentenna siang dalu henteu jauh nu anom geugeut kacida.
II. Pupuh Sinom
- Ayeuna gentos nu kocap hiji 11 jalma urang asing Cina dedegna santosa jangkung gede badan ramping wastana nu kawarti babah Liem Siang nu nyebut ari pagaweanana nya jual meuli balantik kuda munding jeung sejen-sejen ti dinya.
- Harita gentos agama nya agama Kanjeng Nabi Muhamad dinil mustopa salalahu liwasalim jadi Islam geus ganti mualap rupana segut kulit koneng semu bodas kumis godegna ngajedig bisa ngomoug perlente sarta cape tang.
Pake-pake cara Islam ditotopong jeung disamping baju takwa jeung kabaya mawa tasbe cara santri budi niron kiai daek salat lima waktu pasujudan henteu tinggal nyampay dina taktak ngawir salamina cetaan Islam nu enya.
Ganti ngaranna Munada tapi kalakuan tadi nyeret jeung nginum madatna teu pisan eureun saeutik tetep kumaha tadi maen kartu maen dadu di Cianjur teh cicingna tapi henteu kungsi lami ti Cianjur pindah ka Bandung nagara.
- Demi pagaweanana masih keneh jual meuli kuda mun ding baris kahar kahar pos bager nagari Munada geus ngajadi jadi annem < m > er nu baku ngasupan munding jeung kuda nya eta ka pos nadari gede pisan untungna Kai Munada. //
- Ari nu jadi kawasa meulian kuda jeung munding nu baris kana pos tea Tuan Asisten pribadi jenenganana kawarti Tuan Nagel anu mashur Asisten Residen ongas dedeg pangadeg respati sedeng ageng sedang jangkung tur jatnika.
- Jrutulis nomer hijina Tuan van den Broek nu lami jurutulis nomer dua Tuan van Nenda berbudi doktorna nu kawarti Tuan Dibben anu matuh sakitu pangkat Walanda
nu aya di Bandung nagri Jurutulis Sunda Mas Raksawijaya.
- Bupatina enya eta Kanjeng Dalem Adipati Wira Natadikusumah ramana agan kumetir di Cianjur nu tadi anu parantos dicatur ari mungguh papatihna patih di Bandung nagari nu jenengan den Arya Adinagara.
- Patih nu yasa mapatah ka ponggawa mantri titih titih lampah tur jatnika sabudi-budina manis tumut sakersa gusti rumawat jeung estu turut kanjeng bupati kalintang nymaah ka Raden Patih kitu deui den patih langkung satia.
- Ari anu jeneng biskal jaksa ageng di nagari den Demang Mangunagara nu pinter// sarta berbudi bijaksana binangki t nu nyekel sagala hukum jaksa anu kawasa anu ngahukumkeun adil m urba pisan wises a jaksa hari ta.
- Ari wadana di Lembang bawahan Bandung nagari den Demang Ardikusumah menak lantip sarta manis
titih sagala budi taya damel anu kusut satia tur bijaksana teu ngetang babaya pati eta putra Rahaden Ariya Patya.
- Demi jurutulis jaksa den Puspayuda kahiji jurutulis namer dua den Sasmi tadirja rajin aya deui jrutulis nyaeta jrutulis katilua Raden Padmakusumah ari jrutulis bupati saharita Rahaden Sacakusumah.
- Kutu deui panghuluna den Haji Muhamad Ardi jadi kapala agama di jero kaum nagari nyekel agama suci saparentah nabi rasul Islam ati Islam lisan panghulu langkung berbudi lengket cepel birahi kana ibadah.
Jeung aya pangkat baheula um bul jangkol eta pas ti wasta Raden Natasura mantri besar di nagari harita nu kawarti den Sastranagara pamuk nu gagah rongkah tanaga segut godeg kumis muntif enya eta putrana kanjeng bupatya.
Wadana waktu harita nu di Majalaya distrik den Rangga // Anggawireja putrana kanjeng bupati Prakanmuncang nagari nu sumare di Karukut ari Wadana Banjaran nu kawasa nreh distrik eta Raden Aria Sacanagara.
- Sajawi ti dinya pangkat ku kula henteu kadangding margi kirang katerangan teu aya warta nu sidik leu ge seuseut teuning kenging katrangan sakitu anu sakitu lamina genep puluh tahun leuwih langkung tujuh tahun..dugi ka ayeuna.
- Beureum paneureuy nya peta ngorehan nu selap-selip anu prantos katindihan ku kalakay lapis-lapis uyuhan oge katungtik ngan bawaning banget maksud ngadadar carita lawas ngabang.seukeun dongeng aki muka crita tuturanna lampah em bah.
- Ayeuna lajengkeun crita ialaon Munada tadi muala (p) < f > nu Islam anyar nu di Bandung enggeus lami rea sobatna dalit menak-menak anu wawuh wadana mantri jeung camat
lurah-lurah jeung patinggi sami wawuh ka Ki Muala (p) < f > Munada.
- Kulantaran tina dagang laken madras sareng encit kanteh jeung batik-batikan Munada dagangna raris rea pangkat anu meuli kawantu jaman kapungkur // henteu loba anu dagang madras sabaju saringgit keper minyak sabaju sapuluh perak.
- Rea-rea kauntungan harita datangna duit ka Ki Muala (p) < f > Munada tapi henteu jadi sugih lantaran lampah rujit henteu eureun ngisep candu nyeples nyanda nginum madat peler peureum suka ati sukma ilang ngalayang rasa ka sorga.
- Lamun henteu nginum madat nya ngabojred maen sintir maen dadu kartu engas angkong tilu puluh hiji atuh mutuh teh teuing sakabeh lampahna kusut cucud milampah gorengna geus taya salahsahiji ibadah mah geus cul henteu inget pisan. 4 7. Ngan baheula keur anyaran basa di Ci.anjur nagri sok daek salat sembahyang berjamaah ka masigit
puasa nyenen kemis sumawon puasa -perdu siam anu sabulan Munada leket teh teuing pasujudan sareng tasbeh henteu tinggal.
- Tapi ari ayeuna mah di Bandung jadi tibalik robahna kabina-bina ngan wungkul lampah idajil pamawa setan iblis madat maen madon lacur moal lami ge maehan Munada kalanat iblis kulantaran napsuna henteu dirangah. //
- Eta muala (p) < f >Munada boga hutang ka nagari enya eta hutang lelang reana anu kawarti nya tilu ratus rispis tempona prantos kalangkung ari nu kawasa lelang nya Tuan Nagel pribadi notarisna Asisten Residen tea.
- Lajeng eta Kanjeng Tuan miwarangan upas hiji ngaran upas Baron kocak asalna urang Batawi dedeg luhur kumis galing bosongot semuna segut kakasihna Kanjeng Tuan nyaur Munada geus indit diteangan Munada manis kapendak
III. Pupuh Dandanggula
- Kanjeng Tuan Asisten ngalahir he Munada kuma hutang lelang tilu ratus dengdeng keneh enggeus satengah tahun genep bulan oge geus leuwih ayeuna geuwat bayar anu tilu ratus surat kudu impas pisan tangtu maneh nyaho eta uang nag ri lain aing nu boga
- Ki Munada walon nyembah tadim kaulanun lahiran gamparan ku abdi prantos kahartos amung sim abdi ewuh saayeuna teu gaduh duit bade mayar ka lelang anu tilu ratus eta geus sadaya-daya neda idin bade balangsiar duit neda hibar gamparan. //
- Dawuh Tuan Asisten teu idin da geus lila geus liwat tempona ayeuna mah bayar lengen duit nu tili.l ratus Ki Munada pek nyem bah deui agung duduka tuan mugi ulah bendu abdi gaduh nya unjukan mugi-mugi aya sih gamparan gusti kawelas ka abdina.
- Manawi mah gamparan miasih jisim abdi neda sih piwelas
nambut ka gamparan bae artos nu tilu ratus mangke nyanggakeun ka gusti supanten heres eta lelang tilu ratus engke abdi moal lila caos gentos artos tilu ratus rispis munahan ka gamparan.
- Kanjeng Tuan Nagel teu ngalahir huleng jentul ngamanahan eta piunjuk ki Munada teh geus Jami pek ngadawuh he Munada aing ngaharti sapiunjuk manehna boa enya kitu lamun maneh moal cidra ngagantian engke teh maneh ka aing tilu ratus rupia.
- Hade aing mere nganjuk munding munding aing di Blubur Limbangan maneh nyokot genep sele hargana tilu ratus geuwat jual eta teh munding jual ka tukang jagal gancang mun geus payu duitna teh enggal bawa ladang munding anu tilu ratus rispis urang munahan lelang.
- Tapi mangke mun geus punah bersih // hutang lelang maneh gancang-gancang ku aing dibere gawe nya eta maneh kudu nyiar kuda sarawuh munding ngajaga kakurangan
pikeun pos nu bairn batina keur mayar hutang enya eta mayar tilu ratus rispis supaya ulah beurat.
- Hengkop ieu suratna ti aing keur ka Raden Wadana Limbangan Munada nampi ku atoh unjuk sem bah kasuhun abdi nuhun tarima kasih kana pitulung tuan nu ageng sakitu Munada tigas timbalan nyembah pamit mundur sarta emut manis ngagalenyu bear manah.
- Gadag-gidig ti loji geus indit cen tang dangah bungah jeung mancangah leber hate ku wawanen ngarasa aing punjul pinter bisa ngabujuk manis Asisten lejar manah dugi suka nulung genep munding teh anuna bagja aing engke tangtu boga duit keur nyeples ngisep madat.
Di jalanna suka manis seuri andolengah dangah kakawihan pokna aing untung gede paingan teuing atuh peuting kamar bet ngimpi lintar dina walungan meunang kancra tilu jeung tawes sapirang-pirang lauk emas nilem sagegede bitis // tah ieu balukama.
Kakocapkeun Munada geus nepi ka Limbangan ka Ki Mas Wa_dana barang beh dihorrnat gede calik papayun-payun diamparan paramedani ngarotna ge satata tuangna ny a kitu saparan tos dijam una Ki Munada nyanggakeun serat pertawis kanjeng asisten tea.
- Pek diaos ku ki jurutulis da wadana henteu yasa maca jurutulis ngaosna teh bedas sarta kadangu ku wadana eusining tulis ungelna eta surat genep munding kudu hu kabiri sakabehna hade bikeun ka ieu Munada gasik dipiwarang dijual.
- Ari wasta wadana di distrik Mas Arsaen harita wastana asal urang Bandung keneh kana aksara luput sumawonna kana nulis nandana tapak jalak kruis enggeus baku Mas Muhaen teh camatna eta oge kana aksara teu ngarti sami bae jeung wadana.
- Kai Kopral ngaranna Artasim taram oge kana angka ku patlot make dilamot campur jeung luah ciduh
jagasatruna kawarti ngaranna Ki Muhasan kabayan kasebut ngaranna Kai Nurwiyan // sadayana sami henteu bisa nulis nu bisa mung jrutulisna.
- Geus kahartos salebeting tulis lahir Ki Mas Wadana he kakang mangga geura nyandak bae ku anjeun tuh di ditu dina kandang saratus munding lalintuh sadayana taya anu kuru Ki Munada enggal ngejat buru-buru milih genep nu kabiri lintuh hideung sadaya.
- Kubawaning lintuh eta munding mani datar tonggongna teh rata pageuh la.mun neundeun endog pupundakan ngahunyud kawas banteng jarah nu bengis langkung atoh Munada rasana teh timu teu boga rasa ngahutang sumawonna mun boga ingetan pikir yen mangke bakal mayar.
- Malah-malah ingetanna iblis lelang oge teu niat dibayar karepna teh arek ngencod enggalna munding payu tilu ratus rupia leuwih ngajualna ka jagal teu dongkap ka Bandung eureun di sajalan-jalan
maen kartu di Cigunung Agung le dis eleh salawe perak.11
- Majeg ronggeng ngaranna Nyi Oyi demplon montok mohmoy kulit bodas ronggeng kaetang nu sae sapeutingna teh sapuluh opat ringgit teu kurang deui rasana eukeur beunghar pependeman timu sumawonna udud madat henteu eureun memang eta teh kabeuki kitu lampah Ki Munada.
- Dina Warung Peuteuy eureun deui tuluy maen jeung batur-baturna dinya kawon deui bae meh seep lima puluh tapi taya semu gimir sumawon ringrang manah Munada nu nyucud pek leumpang atrok-atrokan ka Banjaran Kopo Rongga Cisondari Ciparay jeung Majalaya
Prantos lami ngadeuheusan gasik ka paduka tuan Nagel enggal mando payuneun asisten Kanjeng Asisten nyaur he Munada (mana eta) duit ladang mun ding urang anu tilu ratus kadieukeun geuwat-geuwat urang pake mayar lelang sangkan bersih maneh ulah11 boga hutang.
Ki Munada myembah honnat tadim kaulanun duduka gamparan mugi ulah bendu bae munding teh tacan payu engke oge tan wande gasik kasanggakeun sadaya uang tilu ratus saprantos pajeng mundingna gamparan teh mudi montong semang galih sing percanten nya manah.
- Dawuh Kanjeng Asisten nu manis he Munada lamun kitu eta kudu jual age-age jeung deui kami mundut galeuheun kuda jeung munding baris narik kareta bager di Cinunuk reujeung di pos Sindanglaya reana teh kira dua belas munding jeung dua welas kuda.
- Haregana kumaha paranti sabiasa nu katukang-tukang Ki Munada nyembah walon nun dawuhan kasuhun unjuk sumangga sim abdi numutkeun katimbalan sakumaha dawuh saren gm ugi aya jiad pangestuna kuda munding enggal kenging sapamundut -gamparan.
- Ki Munada prantos nyembah pamit enggeus indit ti payunan tuan 11 ngagidig ti loji leos barina mikir tipu
tipu muslihat nu matih ku hayang deui meunang anu gede untung nipu ka tuan kawasa Tuan Nagel Asisten Residen nagri Munada kanti heula.
IV. Pupuh Kinan ti
- Kanjeng Asisten kacatur tuan Nagel anu wingit yuswana sedeng nonoman dedeg lenjang slira ramping cam bang seden g rum bah n m bat parangi lemes tur manis.
- Teu kagungan nyonya baku nyonya anu prantos kawin salamina bubujangan kadang-kadang ari wengi sok nyelir oge wanodya istri anu budi manis.
- Ari dina hiji waktu mundut ka kanjeng bupati hiji ti kraton seliran tapi ulah ganti-ganti sina matuh bae eta hiji selir anu geulis.
Wastana henteu disebut eta selir anu hiji seliran kanjeng bupatya disaur ari keur wengi ti beurang di kenyapura wengi disaur ka loji.//
Teu beunang kersa yang agung titis tulis nu sajati kersana Allah taalah geus ditulis ti ajali ayeuna mung bukti nyata nyi selir jadi mutiktrik.
- Bobot prantos lima santun tetela lamun dieusi Kanjeng Tuan sasauran nepangan Kanjeng Bupati ayeuna kuma petana rehna eta nyi mas selir. 81 Bet dikersakeun yang agung ku Gusti Allah nu rahim geuning aya kajadian di jero beuteungna sidik melendung dieusi budak kajadian beunang mesin 82 Dalem ngawalonan imut salahiran Tuan tadi eta henteu pisan lepat yaktos dijro beuteung eusi kajadian mesin Tuan memang ayeuna geus yakin.
- Ayeuna kula miunjuk kumaha nu dipigalih perkawis eta seliran engke upama geus bijil geus babar kaluar budak kumaha nu dipigalih.
- Bade diangken saestu rek dipiputra sajati
dipiara ku gamparan atanapi kuma galih kaula seja ngiringan ku sobat nu dipigalih.
- Aiss ten Nagel teh im u t niat kula dina pikir kula teh moal miara ka eta budak nu bijil tangtu kaula teh era da kaula tacan kawin.
- Ayeuna upama rempug sareng Raden Adipati selir teh sumangga // tikah 19 upami engke geus lahir eta angk.en putra sobat kitu lamun rujuk galih.
- Kanjeng Bupati ngawangsul mun kitu rem pug teh teuing mangga ku kula ditikah sartana mangke mun lahir diaku putra kaula sarta jadi ahli waris. 88: Dua pangageng geus akur badami pran tos ngajadi tinya lajeng tatabean Asisten mulih ka loji Kanjeng Dalem madaleman dipapag ku prameswari.
- Parameswari miunjuk tadi teh dalem badami jeung tuan asisten lila naon anu dipilahir
dibarempagkeun ku tuan abdi seja hoyong nguping.
- Geus lenggah dalem teh nyaur he eulis parameswari tadi teh lahiran tuan selir anu sok diangkir ayeuna bet kakandungan ngabendeyang enggeus buncir.
- Duh gamparan atuh sukur lahiran parameswari saladina abdi niat miunjuk ka kanjeng gusti tina hal eta seliran bobotna prantos katawis.
- Ayeuna prantos kabitur ku kanjeng tuan pribadi sinareng prantos barempag abdi ngiring suka galih mangga tikah ku gamparan lajeng disaur nyi selir. //
- Selir dongkap mando tungkul 20 dawuhan parameswari naha maneh eta enya bet beuteung siga mutiktrik teu hed geus sabraha bulan jeung rupa maneh teh lus.
Nyi selir nyembah piunjuk kaulanun abdi gusti teu palangan lima bulan kulit beuteung geus tararik saren g sanes raraosan yaktos reuneuh jisim abdi.
Nyaur deui nyai ratu sukur teh kaliwat saking maneh teh reuneuh ku saha anu karasa ku diri nyi parekan ngawalonan sumuhun dawuhan gusti.
- Taya sanes anu estu any karaos ku abdi nya eta ku kanjeng tuan Asisten Residen sidik tuan Nagel nu karasa henteu aya sanes deui.
- Malah abdi geus miunjuk kinten prantos tujuh wengi ka kanjen g tuan earl ta beuteung abdi ditingali lahirannana teh enya beuteung maneh reuneuh sidik.
- Lahiran tuan teh sukur maneh baris meunang mukti darajat gede kacida mangke mun budak geus lahir tur hirup kasalametan aing rek meresen duit.
- Reana uang sarewu rewu rupia geus pasti keur ganjaran ka manehna kitu timbalan ka abdi eta teh sadaya-daya // ngambangkeun ka kersa gusti. 21 I 00. Prameswari alon nyaur heueuh sukuma teh teuing
ayeuna tim balan tuan Asisten ka kanjeng gusti maneh teh kudu ditikah ku Kanjeng Dalem Dipati.
- Sartana kudu diaku putrana Kanjeng Bupati diislamkeun lebet putra sarta jadi ahli waris beuki untung teh manehna darajat gede teh teuing.
- Lajeng nyaur den pangulu kalipah sinareng modin prantos dongkap ngadeuheusan lajeng nikah kanjeng gusti ka nyai mas selir tea selir bungah liwat saking.
- Pangulu lajeng ngariung kalipah sumawon modin malah den patih ge aya sinareng ponggawa mantri lulus laku lampah nikah nu ngariung prantos bijil
V. Pup uh Mijil Lami-lami eta nyi mas selir bobotna geus abot geus salapan sasih bobotna teh malah-malah prantos leuwih waktuna dum ugi babarna teh mulus.
Putra teh pameget ku wingit cahaya moncorong bodas ngeplak lir walanda bae suci bersih sarta wingit kasep m urangkalih wantu 11 turas luhung. 22 I 06. Jegur maryem teh sapuluh kali dayeuh mani genjlong pada kaget abdi-abdi kabeh aya naon mariyem nitir diwartosan sidik nyi mas selir mulus. I 07. Ba bar putra pameget respati tinya pada nyaho abdi-abdi ngiring suka kabeh pek ngalahir sang sri bopati ieu murangkalih kudu disarebut. I 08. Dijenenganan ieu sakali wasta Agan Eros Eros eta kembang nu mencenges anu seungit sok ngadalingding kembangna jro puri Eros anu alus.
- Geus nyakseni ponggawa pra mantri ngiringan sang katong jegur deui diseungeut maryem teh reana sapuluh kali tawis jeneng nami gamelan gong ngungkung.
- Kanjeng Dalem miwarangan patih unjuk hatur wartos
ka kanjeng tuan asisten yen putra tuan geus lahir pameget ku wingit cahayana ngempur.
- Kanjeng Tuan Nagel sukagalih kenging eta wartos buru-buru angkat ka saketeng ngalayad ka murangkalih gogodeg ningali langkung suka kalbu.
- Pek maparin artos ka nyi selir nu jangji bareto lima lam bar uang kertas kabeh salambarna teu kirang deui dua ratus rispis lima teh sarewu.
- Tah nyi selir kami naur jangji carita bareto ieu uang lima // lambar kabeh 23 kabeh ajang nyai pribadi panyecep ti kami reh maneh ngajuru.
- Ari eta anu boga milik putra sang bupatos maneh mah ngan jadi babu bae unjuk nuhun walonan selir abdi trima kasih pasihan kasuhun.
- Sanggeus heres Asisten pek m ulih ti lebet geus leos murangkalih diurus dineng\Jle diugung dipusti-pusti
mulus murangkalih teu bancang pakewuh.
- Kanjeng bupati ka murangkalih kalangkung dienod nyaah asih ka eta putra teh sakahoyong dipaparin henteu kenging tebih ti jero kadatun. 11 7. Ki tu deui kanjeng prameswari nyaah ka gan Eros kawas ka putrana bae henteu benten jeung raka gusti ngadama ngaasih maparin nya kitu.
- Beuki lami ageng murangkalih geus lebet ka kantor dasar turas Eropa gegeden calakan ku padang ati manahna ku ngarti ka sagala elm u.
- Cacak masih keneh murangkalih jaga mah geus komo malah jadi biwir jalma kabeh pada muji ka kersa widi ngadamel ajaib hal eta nu lucu.
Kajadian eta anu bukti kersana Yang Manon matak // heran sarta aneh mana lucu-lucu teuing al us m uran gjcalih kasep roman segut.
Eta kitu pituturna aki dongeng bapa kolot duka yaktos duka crios bae wantu mungguh kula pribadi ngan bejana deui wartosna yen kitu.
- Tapi sugan sahenteuna aki meureun tangtu nyaho salah oge sugan moal gede kapan nyata ningal bukti sakur nu tin gali gan Eros nu segut.
- Geuning tacan lami-lami teuing eta agan Eros sadayana oge terangkabeh sumawonna abdi-abdi nu aya di distrik Jungberung kapungkur. VI. Pupuh Pangkur
- Ayeuna sanes nu kocap nyarioskeun aya sempalan deui hiji jalma kaom mashur kaomna Demang J aksa Demang Biskal Hoofd Jaksa ageng di Bandung kagungan juru simpenna bujang anu nyangking kunci.
- Ngaran Mas Suradireja kapercanten Demang Biskal nu nyangking barang kasar barang lembut mas inten sareng uang kadaharan gula beas sareng lauk
Suradireja nu nyandak simpen di sepen dikunci.
- Bojona Suradireja Nyi Mas Asmah wastana nu kawarti henteu pisan runtut raut sami pada rewelna raka rai pasea rusuh 11 jeung guyur 25 padaahli tim buruan laki rabi henteu rapih.
- Tapi duka bet kumaha ku tatangga tadina teu katawis yen sering bancang pakewuh Mas Sura rikip pisan yasa nyimpen rasiah nu gede langkung nyi Mas Asmah kapaehan kawas nu maot lastari.
- Sadaya sami percaya yen nyi Asmah maotna ku panyakit henteu aya kieu kitu tatapi mungguh lampah anu awon anu sae pon nya kitu dibuka ku Gusti Allah Allah anu sifat adil.
Allah teu jauh ti urang geraj budi ku kudratna Yang Widi Allah Anu Maha Agung ngaliputan mahlukNa sadayana katingal teu bisa nyumput da teu beunang disumputan Gusti Anu Maha Adil.
Ieu Mas Suradireja teu kuhanteu juligna bet katungtik ku hiji pacalang kampung desa Kajaksan Girang Bapa Ujer pacalang anu geus mashur kenceng pulisiannana rupet rumpil sok katungtik
- Pa Ujer meunang katran angin-angin pulisian geus sidik tina seukeutna pangdan gu kaaneu peledekna yen Nyi Asman paehna estu diracun dibaruang ku Mas Sura Suradireja salaki. 13 2. Pacalang Ujer teh gancang gura-giru lapor ka Raden Patih // Aria Patih di Bandung 26 Arya Adinagara Kiai Patih ka pacalang rusuh nyaur Bapa Ujer hiap geuwat kawas aya rusuh teuing.
- Pa Ujer diuk nyaketan kaulanun aya rasiah gusti Ki Patih kaget ngaranjug atuh maneh pacalang hayu maneh ka dieu ka pangkeng singkur pan to pangkeng dipeundeutan malah dikonci sakali.
- Cek Patih Ujer geura prak naon tea rasiah anu tadi Ki Ujer nyembah piunjuk nu perkawis rasiah Suradireja wengi tadi geus ngaracun
ngabaruang pamajikan nyi Asmah dugi ka mati.
- Paehna teh dibaruang ku Mas Suradireja baruang matih ayeuna bade dikubur disebutkeun kadadak tatanggana sadya batur salembur percaya Asmah kasibat dumugi nekanan pati.
- Abdi kenging kumisian ti si Urmi lanjangna budak leutik nu umur sapuluh tahun sarengan ti si Saan bujang Sura umur genep welas tahun gamparan teh kedah enggal bisi kabujeng si mayit. 13 7. Dikubur ayeuna pisan wantu Suradireja teh gasik-gasik // mayit rusuh rek dikubur 27 numawi abdi gamparan enggal lumpat lapor ka gamparan rusuh ari lapor ka Biskal mah hamo dimanah sim abdi.
- Wantu Sura barayana kulawedet anjeunna teh pribadi jeung kapercantenan es tu jadi tukang simpenna tangtos pisan piunjuk abdi nalapung kadang-kadang ngabenduan napsu ka abdi pribadi.
- Raden Patih sajongjongan teu ngandika ngahuleng bari mikir
atuh ieu matak bingung ari teu dipilampah perekara gede eta teh hal bunuh wajib dijalankeun enggal namer satu hal pulisi.
- Ari ras ka Demang Jaksa tangtu pisan kagepak ieu perkawis tapi dalah kumaha atuh da geus kieu jalanna aing inget kana sumpah nu disuhun Qur'anul adim nalika aing jumeneng papatih.
- He Bapa Ujer pacalang sukur man eh enggeus lapar ka kami tapi maneh ulah geruh sing ringkip nyimpen rasiah anggur bari neangan katrangan cukup // Bapak Ujer prantas mulang 28 mundur ti payuneun patih.
- Patih nyaur Ki Mas Kapral Surapati Kapral Kajaksan Hilir anu dedeg segut manggut kumisna sangga dulang kumis bapang melengkung lir kuwung-kuwung kapral kantrak gagah rongkah nu bisa kenceng mulisi.
Geus manda payuneun patya Arya Patih ngalahir sarta manis Ki Mas Kapral ser ka payun aya crita rasiah hal ki Suradireja tadi geus ngaracun ngabaruang pamajikan malah nyi Asmah geus mati.
Ayeuna kumisi sing trang sing tetela dudukna anu bukti saksi-saksina ya kitu Surapati unjukan kaulanun sadawuh bade ditumut sim abdi tigas tim balan bade numutkeun pilahir.
- Surapati Kopral gagah tutas dawuh pamit ti payun patih semprung kawas pelor mabur bijil tina senapan siet kenceng kawas dadali nu nyemprung lir japati ngawang-ngawang cepetna Ki Surapati.
- Arya Patya pek unjukan ngadeuheusan ka Kanjeng Dalem Dipati kasondong keur di kadatun // barang beh digupayan 29 Raden Patih gek calik nyembah di payun Kanjeng Dipati mariksa aya naon Arya Patih.
- Arya Patih unjukan kaulanun nyanggakeun bebendu gusti Pa Ujer tadi pinjuk ngunjukkeun kajadian Suradireja bojona prantos dibunuh ku baruang matih pisan malah dumugi ka pati.
- Ayeuna keur dipariksa ku ki Kopral Surengrana Surapati Kanjeng Bupati ngadawuh patih enggal unjukan geuwat-geuwat ka kanjeng Asisten kudu
nyanggakeun tabe kaula bari piunjuk sakali.
- Kiai Patih geus mangkat tugas dawuh amit ti payun gusti ka Kanjeng Asisten cunduk enggal patih unjukan sakumaha rasiah tadi kasebut Tuan Asisten lahima geuwat tangkep ku den Patih.
- Eta si Suradireja jeung asupkeun bae ka jero bui nya eta pariksa jauh jeung neangan katrangan sarta jieun proses perbalna nu baku carita saksi-saksina mangke dihukumkeun adil. //
- Den Patih tabe ka tuan 30 prantos mios ti loji gadag gidig cara tumenggung malayu Kalana Jayajatra segut manggut anu arek nempuh musuh diiring kopral pacalang sarawuh para pulisi.
- Suradireja kasampak di imahna eukeur nguruskeun mayit kaget pulisi bet ngabrul rasuh Aria Patya Suradireja ngadegdeg bawaning gugup beungeut pias teu getihan badan kanyos kawas mayi t.
- Dawuh Patih ka Ki Sura maneh Sura kudu nyandang tatali
ku kami ditangkep kudu tim balan Dalem Bupatya reujeung dawuh Tuan Asisten di Bandung sabab maneh boga dosa ngaracun nepi ka mati.
- Surapati gabrug newak jeung Ki Suralaksana kopral deui jeung Surentempuh Pakewuh kopral Astana Anyar ku tiluan Suradireja digugulung disered ka pangbuian Suradireja jebeng ceurik.
- Mayit Asmah dipariksa ku Sang Tuan Dibben doktor nagari nyata eta teh diracun baruangna dikompa // diubaran ku landong nu matih es tu 31 pamaeh kana baruang Nyi Asmah di rumah sakit.
- Bawaning pinter doktoma mayi t tadi ayeuna hirup deui meh-mehan cilaka terus lamun teu kaburu mah nyai Asmah paehna di jero kubur da geus sadia pasaran liang kubur geus tarapti.
- Kira dina dua bulan Nyai Asmah bet bisa cageur deui Suradireja tunggu hukum tangtuna ge dibuang ayeuna mah di jero bui ngaringkuk nalangsa sarta sangsara jamedud jeung mucung budi.
VII. Pupuh Pucung
- Demang Jaksa mucung budina jamedud hal Suradireja ditangkep teu mere nyaho henteu terang-terang acan perkarana.
- Malah waktu Ki Sura bade dihukum Raden Demang Jaksa teu widi jadi asisor sabab wargi nya eta ka pasakitan.
- Mindel manah ka Aria Patih tangtu najan ka bupatya sumawonna ka asisten henteu ngeunah tina teu dibawa-bawa.
- Samalahan Demang Biskal jadi bendu dina bade landrad geus saged batik jeung bendo didawuhan ku asisten kudu mulang.
- Demang Biskal tangtu bae nyimpen kolbu salamina dendam ka koleha nu gegeden geus jamakna kapala kitu jalanna.
- Ayeuna teh urang aya deui catur kembanging carita tunggal dahan-dahan keneh tina pancer // galur lalakon Munada. 32
Kanjeng Dalem Adipati nu kacatur di Bandung nagara kagungan putri ku aheng nu jatnika endah taya sasamina.
Geulis luis ampuh lungguh sarta lucu teu aya tandingna estu punjul ti sakabeh saderekna sadaya kawon cahyana.
- Agan putri saestuning ayu punjul ngider di rat jagat tangtu moal mendak bae anu endah geulis kawas putri eta..
- Sarat Bandung Priangan ge moal nimu kageulisanana lir Dewi Rengganis bae anu endah direngga ku mamanisna.
- Rea raja satria anu kaduyung nu hoyong ka agan putri anu langkung aheng kaendanan ku peta polah juwita.
- Nu jenengan agan putri Ratna Ayu gan Raja Pamerat nu mancur cahaya ngencong raray bodas kawas bulan lima welas.
- Cek sawareh Dewi Ratih anu turun ti sawargaloka ratu wedadari kabeh di kahyangan Sanghiyang Guru Manikmaya. 1 71. Geulisna teh turunan ti bu den ayu den Biol Kusumah disarebat empuh ongkoh nu bumina asal ti Cipatik Rongga.
- Putra Raden Ayu Biol aya tilu hiji enya eta
putri Raja Pamerat teh kaduana Surya Kartahadiningrat. //
- Nya Kumetir di Cianjur nu kasebut tadi diwiwitan jeung aya deui saderek katiluna Raden Kusumah Dilaga.
- Jadi pangkat Kumetir Kopi di Bandung dedeg segut pisan godeg galing langkung aheng rumbah bapang muridingmatak kasima.
- Estu segut meh taya banding di Bandung ana keur tatandang estu teu aya nu nendeng pangpunjulna menak anom anu gandang.
- Ramana teh nya Kanjeng Bupati Bandung Dalem Karang Anyar Rahaden Adipati teh Wiranata Kusumah bupati kongas.
- Kakocapkeun Kajaksan girang kamashur aya kraton endah perbuatan langkung aheng enya eta karatonna Demang Biskal.
- Raden Demang Mangunagara nu mashur ponggawa binekas anu kagungan kraton teh cinta manah birahi ka putri endah.
Kaedanan gandrung-gandrung kapirangu gan Raja Pamerat nu geulis katingal bae sang mustika pupujan di pajuaran.
Dina manah ngarep-ngarep sarta maksud hoyong kapiduryat agan putri jadi jodo da karaton padaleman geus sadia.
- Sugan-sugan nya awak kauntun tipung laksana ka juag anu denok kapijodo lah mustika agan dunungan pun kakang. //
- Saban-saban keur ngawayang di kadatun 34 di kanjen g bupatya atawa ngersakeun nopeng atanapi nuju eukeur ngabadaya.
- Demang Biskal nepangan emban di pungkur Nyai Emban Marmah jeung Nyi Em ban Ambu Juhe pangatikna gan putri Raja Pamerat.
- Lahir Demang Jaksa em ban maneh sukur tepang reujeung kula ieu teh kula mihape hiji surat dieusi uang karetas.
- Pangnyanggakeun ka agan putri retnayu den Raja Pamerat poma kudu rikip maneh ieu surat eusina saratus perak.
- Cek Bi Marmah sareng Ambu Juhe nuhun seja mangga pisan rek disanggakeun ka enden tangtos bungah nampi serat ti gamparan.
- Dawuh Demang Jaksa bibi atuh nuhun pangdong (kang) keun pisan
ka agan ieu serat teh keur bibi mah ieu persen dua pasmat.
- Cek Nyi Marmah gamparan geura ka payun itu gulang-gulang Bapa Kiwud jeung Pa Tuheng godeg jembros sarta anu pangbengisna. 18 9. Dem ang J aksa gura-giru pek ka payun senang mamanahan sanapsuna budal kabeh dina surat dikarang ku guguritan.
- Dua emban Marmah Ambu Juhe bingung auy kuma petana // ieu surat ti jaksa teh 35 da urang mah teu wani nyanggakeun inya.
- Mun ku urang disanggakeun ka gan ayu urang teh cilaka dilaporkeun ka pagusten moal salah urang dibui dibuang.
- Cek Nyi Marmah ayeuna mah lamun rempug hayu urang buka surat disewek kerewek ana beh teh dua lam bar uang kertas.
- Salem barna haregana lima puluh tah euy eek Nyi Marmah lima puluh keur Bu Juhe nu salambar lima puluh ajang urang.
Ari lapor ka Demang Jaksa sing rempug paran tos eek urang geus disanggakeun ka enden dawuh rayi nya puji alhamdulillah.
Urang nyieun roko torosna nu al us make diseungitan ku kayu garu roko teh jeung torosna ulas ku minyak kananga.
- Prantos rempug duaan em ban rek nipu enggaling carita teu lami pek nanggap topeng topeng Cerbon ngaranna Garn buh Asmara.
- Geus karumpul patih sareng den pangulu Raden Man tri Besar Demang Jaksa prantos jogo sakumaha biasa nu ngadeuheusan.
- Demang Biskal nyalindung deui ka pungkur nepangan nyi em ban Bibi Marmah Ambu Juhe pek nyanggakeun toros roko ka juragan. //
- Pok Nyi Marmah ieu roko teh kahatur 36 ti rayi gam paran gan putri juwita anom dupi serat jeung uang alhamdulillah.
- Lahir Raden Demang Jaksa langkung sukur ari geus kacandak serat ku juag nu aheng jeung uangna kertas nu saratus perak. 20 I. lyeu aya deui serat sing kahatur di jero amplopna nya uang keneh karetas eusina teh dalapan puluh rupia.
- Em ban nyembah nampi serat pek disuhun atohna kacida
datang deui rejeki teh
geuning anu sejen mah maling ngabongkar.
- Da ieu mah rejeki nu datang sadu datang ku pangemat uang nyampeurkeun ku maneh pameletna dunungan urang mustika.
- Cek nyi emban gamparan teh geura mundur ulah lila-lila Bapa Kiwud Bapa Tuheng gulang-gulang bisi nangkep ka gamparan.
- Kitu lampah Demang Biskal nu kacatur lami ditipuna tapi teu katara bae uangna mah sarewu perak ge beak.
Da kumaha ngabuktikeunnana bingung tacan tepang pisan sekali ge teu pasondong .. purwa henteu jadi pegat bobogohan. //
VIII. Pupuh Magatru
Aya hiji satria anu kacatur 37 pangkatna kumetir kopi di kota nagri Cianjur sanes deui an u ta di ieu nembean kacrios.
Jangjing langsit estu satria pinunjul lir Arayana mamanis putra Mandura nu lucu anu ladak sarta wingit kasep gumebyar moncorong.
Rea randa Cianjur anu kaduyung parawan nu muntit-muntit sore isuk dipalupur sangkan juragan kumetir anu dipalar kabongroy.
- Tapi Raden Kumetir mah jongjon suhud kana damel teu gumingsir ngurus padamelan baku istri teu pisan ditolih nyi mas nyi mas arolohok.
.211. Den Kumetir jenengannana kasebut nu nelah dina bisluit pasihan ti rama prabu paduka kanjeng bupati Regen Sumedang nu sohor
.212. Raden Surya Kusumahdinata luhung nu rajin sarta berbudi artu getol temen suhud ku Kanjen g Resden diasih sareng ku kanjeng bupatos.
.213. Buru enggal ayeuna anu dicatur eta teh raden kumetir ku kersana rama ibu ditikahkeun ka gan putri Raja Pamerat nu anom. Agan putri mustika nagara Bandung sarat jagat moal manggih anu geulis cara kitu ayeuna mendakan // tanding 38 emas duket teh ditelon.
Lulus mulus enggening anu ngadahup Arjuna mendak Srikandi mutuh teuing sami lucu kasep geulis pada tanding sami pada emas obyor.
- Istri geulis putrina Bupati Bandung raka kumetir nu tadi anu parantos dicatur pameget putra narpati Bupati Sumedang kahot. 21 7. Engkena teh eta kumetir geus tangtu ngagentos rama bupati jumeneng deui para bu eta di Sumedang nagri jumeneng kanjeng bupatos.
- Malah-malah kenging nugraha nu agung pangkat pangeran bupati Sumedang bupati agung teh kitu carios putri dongengna ti kolot-kolot.
- Nu kedanan Demang Biskal nu nga < ha > (la ) mun nu ngalamun unggal wengi malah sering sok ngalindur ngagundamkeun raden putri ngimpen mah prantos ngagoyot.
Kari-kari ayeuna bet kop ku batur lah badan nalang;;a teuing naha nyeri pisan kalbu nya ati asa disiksik pesak mah mani geus kosong.
Atuh tambah-tambah deui ti kapungkur kapungkur geus nyeri ati lantaran Sura ngaracun henteu dibawa n gumisi kagungan raos diperong.
- Kaduana ayeuna langkung ti kitu geus henteu kedah di 11 wincik 39 kanyeriannana kalbu da meureun sadaya ngarti urang oge tangtu sewot.
- Ayeuna teh jadi nyimpen dendam kalbu kanyeri dua perkawis disim pen nu buni es tu kaluar henteu katawis amis pasemon teu serong. IX. Pupuh Dangdanggula
- Ayeuna teh malikan nu tadi Ki Munada anu nyiar kuda sareng munding prantos jogo sareng prantos kahatur ka mandor pas anu geus nampi Cinunuk Sindanglaya Distrik Ujungberung demi uang ladangna mah dibayama ti kantor ku uang nagri katampa ku Munada.
- Ta pi sanes ku tuan pribadi Asisten mah eta teu uninga ngan Tuan Jrutulis bae nyeta Tuan Van den Broek
jeung Van Nenda deui jrutulis eta duka kumaha anu mawi kitu nepi ka henteu unjukan bade mayar ka Munada eta duit bawaning bisa Munada.
- Tayoh-tayoh eta titis tulis sugan-sugan nu jadi lantaran di Bandung teh aya cekcok tinya Asisten nyaur ka eta dua jrutulis Van den Broek jeung Van Nenda he jrutulis baku kuma duit ladang kuda reujeung ladang munding geus dibayar bersih ku maneh ka Munada.
- Walon eta dua jrutulis kaulanun sadawuh gamparan ku abdi dibayar kabeh langkung tina sarewu prantos bersih teu kakantun duit eta sadaya-daya nyembahkeun bebendu abdi teu unjukan heula rehing sanget panuhun Munada mugi neda dibayar enggal.
- Tuan Nagel ngalahima bengis naha maneh bet langkung gagabah mayar duit gupememen ka kami teu miunjuk padahal mah karep kami eta teh si Munada ka kami ngajeblug tacan mayar hutang lelang
reujeung deui tacan mayar ladang mun ding nu genep ti Limbangan.
- Jurutulis salah liwat saking si Munada masih gede hutang ku kami arek dipotong bet dibayar sarewu jurutulis ngawalon tadim eta sadaya-daya nyanggakeun bebendu lepat neda pangampura sih haksami gamparan ka jisim abdi rumaos kalepatan
- Tuan Nagel Asisten ngalahir hayo maneh geuwat nyieun surat ka para wadana kabeh si Munada disaur enggal-enggal kudu kapanggih sarta sanggakeun gancang jurutulis mundur nyieun surat geugeuwatan geus trapti dihaturkeun pek ditawis ku tuan Asisten tea. 11
Surat iang bungbeng teh ka distrik 41 henteu lami Munada kapendak ti Banjaran eukeur mogor ka ronggeng reujeung ngadu diiringkeun ku ki pulisi ku kopral jeung pacalang Bandung nu dijugjug mawa serat ti wadana enggal crita ka nagari enggeus nepi disanggakeun ka paseban
Diunjukkeun ka Aria Patih Ki Munada diuk sila honnat Den Patih ngalahir alon Ki Munada disaur ku Kanjeng Asisten gasik hayu reujeung kula Raden Patih tuluy Munada ngiring di tukang enggal Raden Patih ka Ioji geus nepi sarawuh Ki Munada.
- Kiai Patih sanggeus ta be calik pek unjukan kulanun gamparan jisim abdi medekan teh nyembahkeun nu dipunduk Ki Munada itu kairing Tuan Asisten enggal Munada disaur geus diuk payuneun tuan sarta honnat mando meh ante! ka lampit rumaos gaduh dosa.
- Tuan Nagel pek ngalahir bengis Ki Munada mana ladang kuda eujeung ladang mun ding ongkoh duit anu sarewu coba kami hayang ningali anu en ggeus dibayar ku Tuan van den Broek reujeung ku Tuan van Nenda coba bilang ku maneh duit sing bukti anu sarewu perak. // 23 5. Ki M unada tungkul langkung isin 42 pek unjukan semu dumareuda nyanggakeun bebendu gede artos an u sarewu
prantos seep ku jisim abdi dianggo mayor kuda ka anu garaduh sinareng mayar mundingna ka sadaya nu ngajual abdi-abdi prantos beres sadaya.
- Tuan Asisten ngalahir deui mana duit pikeun mayar lelang nu tilu ratus perak teh reujeung dengdana kudu sapuluh persen geus pasti tilu puluh rupia eta enggeus tangtu kudu dibayar ayeuna sabab enggeus elat teuing eta duit hutang teh kana lelang. 23 7. Reujeung deui mana ua ng kami ladang mun ding anu genep tea nu ti Limbangan ku maneh hargana tilu ratus kadieukeun eta teh duit sababna eunggeus lila eta duit kudu ayeuna kudu dibayar da aing mah mere soteh nganjuk rounding ladangna keur mayar lelang.
- Ki Munada ngawalon deui menggah eta geus sadaya-daya nyanggakeun bebendu bae bapunten nu disuhun pangaksami kanjeng gusti nadahan ka duduka bebendu nu ag ung perkawis artos kagungan
tilu ratus rupia nu ladang munding 11 eta seep sadaya.
- Ku sim abdi dianggo balantik jual meuli munding sareng kuda pinju rugel sakabeh modal nu tilu ratus rugel rugi mani serepin abdi teu yasa peta ngagen tos sakitu tina margi karugian diri abdi ngambangkeun ka kersa gusti eta sadaya-daya.
- Kanjeng Tuan Asisten ngagidir ku bawaning amarahna rongkah lenglengan paningal koneng napusuna nguwung-nguwung amarahna henteu kacangking ditahan teu katahan napsuna teh mabur Ki Munada ditarajang pek dibanting ku korsi duduk tibalik Munada cuplak udengna.
Ki Munada hudang diuk deui ku Asisten lajeng ditalipak dijejek mani ngajolor disurilam sapatu henteu ngalawan saeutik wantu tarima dosa jeung badanna lesu wantu tacan ngisep madat awakna teh teunangan leuleus laletih estu geus taya guam.
Arya Patih ningali hookeun kana peta anu kajadian di payuneunana jentre manahna langkung bingung geus teu yasa temah wawadi nu aya wungkul reuwas naha eta kitu gusti alah-alah tobat naha ieu bet kajadian mustahil di payunan abdina.
- Kanjeng Tuan nimbalanna gasik Upas Baron tangkep si Munada ku upas pek diborogod suratna kudu gusur gancang asupkeun ka bui bui masih di wetan sisi Cikapundung11 Munada geus direreyang ku pra upas pek diasupkeun ka bui 44 di jero kamar gelap.
- Ki Munada sanggeus di jro bui dina kamar pabuen patepang jeung sakitan anu sanes Suradirja kapun gkur nu ditangkep ku Raden Patih ngaracun pamajikan seja rek ngpbunuh di dinya patanya-tanya wan tu-wan tu wawuh tina jaman tadi lain anyaran tepang.
- Suradirja nanya langkung manis Kang Munada na kunaon dosa anu mawi di bui teh Munada walon imut
akang kenging bebendon gusti disiksa dipergasa ku Asisten Bandung ditajongan dijejekan geuning ieu barareuh tarang jeung pi pi awak mani barohak.
- Heuheuh akang naha bengis teuing Tuan Asisten Nagel nu gakang sim kuring ge dibui teh estu teu puguh-puguh henteu gaduh dosa sim kuring nepi ka disang;ara dibui teu puguh henteu gaduh dosa sim kuring nepi ka disan g;;ara dibui teu puguh ayeuna katambah akang Kang Munada salira bijilan getih naha moal males akang. 24 7. Cek Munada sugan bae adi akang bisa dipareng ku Allah sugan bisa males engke siug nu gunem catur Ki Munada di jero bui kocapkeun Arya Patya ti loji geus mu ndur enggal-enggal ngadeuheusan kanjeng dalem nuju lenggah di sitinggil lenggah di prabayasa. I I
- Raden Patih cong sembah gek calik 45 di payuneunnana sang bupatya bupati ngandika alon aya naon piunjuk Patih semu aya kasisip
kawas aya kareuwas cing geuwat piunjuk Rahaden Patih cong nyembah abdi dalem nadah dudukaning gusti muga ulah rejag manah.
- Tadi abdi ngemban dawuh gusti geus nyanggakeun Munada mualap ka Kanjeng Tuan Asisten dupi dongkap ka ditu kanjeng tuan benduna leuwih reh uang henteu aya lelang tilu ratus sinareng ladang mundingna genep munding_harga tilu ratus rispis eta sadaya teu aya.
- Tina bawaning benduna leuwih si Munada dumugi disiksa dijejek saren g di tajon g disepak ku sapatu sareng dibanting ku korsi lajengna diraponan ku upas digusur dibantun ka pabuian eta kitu supaya uninga gusti tadi nu kajadian.
- Kanjeng Dalem Dipati ngalahir dalah kumaha atuh petana da Munada enya bangor hutang lelang ngajeblug tam bah-tam bah ku ladang munding yakin Munada bangsat geus pernah diki tu da geus moal aya dua
tukang madat maen madon sarta maling nu cara si Munada.
- Saprantosna pamit raden patih tigas dawuh nyembah ti payunan Den Patih ti lebet leos manahna kalangkabut ari ras ningal nu tadi geus sum ping ka bumina manah rada ngangluh ku kareureuwasan manah // tapi henteu ka garwa oge ngalahir 46 rasiah di jero manah.
- Kanjeng Tuan Asisten geus lilir manah reuwas amarah geus budal harita geus seep kabeh semu rada kaduhung da sok miwarangan asring upas Baron utusan ka jro bui asup na kumaha si Munada enggeus cag;!ur raraheutna dina pipi reujeung dina awakna.
- Dilaporkeun ku upas nu bukti tac an cageur malah babareuhan beungeutna bengep sakabeh awakna ge baritu kanjeng tuan oge hawatir miwarang diubaran ka ki sipir kudu Munada kudu rawatan kai sipir ngarawatan ati-ati teu meunang mundur Munada.
X. Pupuh Dunna
255. Ayeuna teh urang kocapkeun Munada ayana di jero bui langkung sakit manah nyeri kabina-bina ku Kangjeng Asisten yakin estu nalangia ngurel meulit dina peujit.
256. Adat jalma najan salahna sorangan em bungeun narima sisip muntangul duk sura henteu rumasa lepat ngan wungkul dijieun delit budi rumasa henteu aya salah aing. //
257. Sumawonna ieu mah Ki Mas Munada 47 tukang badeg tukang julig tukan g nyandu pamadatan tukang maen jeung perdaya tukan g kartu tukan g sin tir hutang teu mayar dilawan ku julig dengki.
258. Sanggeus tilu bulan di jero buina Kanjeng Asisten ngalahir ka ki sipir enggal eta teh si Munada leupaskeun ti jero bui sipir unjukan sumangga sadawuh gusti.
259. Ku ki sipir geus dileupaskeun Munada sarta Munada geus indit
balik ka imahna di jro desa Cibadak di lebet kota nagari beulah kulonna seten gah pal ti masigit.
- Mikir-mikir Munada jero hatena kuma piakaleun aing hayang mayar hutang tapi lain hutang uang hayang mayar nyeri ati hutang sangrnra anu karasa ku aing.
- Enya eta ka Asisten Nagel gangas nu geus nyiksa diri aing awak asa bejad hulu mah asa bencar kulit daging langkung nyeri kabina-bina pelekik teh ieu aing.
- Tinya indit Munada leumpang ka wetan ka imah sobatna dalit Ki Darum ngaranna tukang cet nu geus lawas imahna di jero nagri desa Kajaksan di kampung Cipurut cicing.
Nu ayeuna didamel rum ah Baraga Munada enggeus nepi tepung jeung sobatna nu ngaran Darum II Jawa asal urang Kudus nagri dinya Munada geus diuk kuma paranti.
Najan Munadana ge asal-asalna nya ti Kudus nagari tayoh paranakan anak ti tanah Jawa sanes sengke ti nagari margi kacida ka Darum sobatna dalit.
- Cacarita jeung Darum kuma biasa tepung jeung so bat dalit Ki Munada nanya he Kang Darum kumaha akang em bok teh walagri kasalametan wilujeng sarenang galih.
- Walon Darum berkah kakang jeung embokna pangestu hingkang rayi wilujeng sadaya dina waktu ayeuna malah barudak laleutik cageur sadaya es tu berkah ingkan g rayi
- Cek Munada rayi naros ka kang raka kumaha juragan mantri man rl besar tea Raden Sastranagara naha keur linggih di bumi atawa angkat manawi kakang tingali.
- Darum walon bejana ka Sukapura eta teh raden mantri Den Sastranagara bejana mah garwaan ka putra rahaden patih
patih naa di Sukapura rek kawin.
- Cariosna geus lima peuting lamina kitu ungeling warti duka mun ayeuna geus sum ping atawa tacan eek Munada nuhun rayi dicariosan rayi seja pamit indit.
- Enggeus iang ti imah Darum Munada gadag gidig cara Bali dangah lir Malaka tandang cara Madura bengis budina lir Bugis beureum matana lir buta rek dahar daging. //
- Anu mawi nanyakeun Sastranagara rehna eta teh mantri putrana buptya Dalem Bandung nagara nu geus kongas gagah sakti putra prawira sinatria pilih tanding.
- Bejana mah henteu teurak ku pakarang bedas taya nu nanding kabraniannana susah pikeun lawanna lir upami mun dibanding di jaman wayang lir Pangeran Pringgandani.
- Raden Mantri lir kadya Sang Gatotgaca Munada pikir miris
sieunna kacida ku Den Sastranagara numawi dipapay sidik malahan nanya ka garwana raden mantri.
- Tilu istri garwa Den Sastranagara anu hiji enden Salwi Cianjur asalna istri endah jatnika neng Lasiah nomer kalih manis rupina wantu keur rumaja putri.
- Enden Enot garwa anu katiluna eta oge istri manis jadi nu ayeuna nibh di Sukapura garwa nomer opat yakin Rahaden Sas tra Mantri Besar di nagari.
- Ku Munada garwa tilu teh dipapay naroskeun rahaden mantri walonna sarua mantri ka Sukapura enggeus meunang lima peuting eukeur garwaan nikah ka putrana patih.
Nyariosna ditu rek satengah bulan kakara lima wengi ari nu n giringna Bapa Kawijem tea Munada ngawalon seuri gaduh dagangan piraksukaneun taloki. //
Parnit indit ti garwa den mantri gancang gadag gidig anggrag inggrig m uru ka Kajaksan ka kraton Demang Jaksa sem una bade wawarti bang<;a rasiah rasiah ngajak balai.
- Dumadakan Den DemangJaksa kasampak keur calik di jero bumi bagea Munada kumaha salamet awak Munada ngawalon tadim berkah garnparan wilujeng salamet diri.
- Dawuh Demang Jaksa he maneh Munada ka dieu ka pangkeng suni maneh aya beja sem u beja rasiah walon Munada sayakti abdi unjukan kedah dina pangkeng bumi.
- Ki Munada ngaharewos lalaunan abdi ku nyeri ati eek Suradireja basa di pabuian kedah unjukan wawarti nya ka garnparan anu yasa nyait diri.
- Nu kumaha lahiran Den Demang Jaksa nu ku Munada dipikir urut disang<;ara turta teu boga dosa atas hutang eta sipil
henteu mupakat maneh kudu diirik.
- Ki Munada ngawalon.haharewosan nya eta jisim abdi hayang males inya hutang Iara bayar Iara malah ku niat sim abdi mungguh si eta bade diarah pati.
- Cek Ki Demang Jaksa kami ngarempugan eta rempug teh teuing tatapi sing bisa // dina metakeunnana rasiah gede sing rikip 51 urang sarumpah nu anom naruhkeun pati. XI. Pupuh Sinom
- Den Demang Mangunagara Jaksa di Bandung nagari harita geus ngangkat sumpah nyuhun wal Kuranul adim rek nyimpen rasiah rikip geus moal bitu ka batur najan nandan g Iara badan atawa nekanan pati kitu deui pada sumpah jeung Munaa.
- Sanggeus sami sumpah Kuran Den Jaksa alon ngalahir he Munada urang terang kami langkung sakit ati nya eta ka bupati
anu jadi re gen Bandung Den Wiranatakusumah anu nyieun nyeri ati saperkara lantaran Suradireja.
- Kami henteu dibabawa samalah rek Landraad kami ditolak kami teu meunang Asisten teh nitah balik es tu wirang diri kami saumur hirup mo lipur ku Asisten Nagel tea kaduana ku bopati malah-malah aya deui teh tam bahna.
- Kai tung nomer dua anu jadi nyeri ati lantaran Rajapamerat putri anu geus ngajadi tundangan diri kami kami suka itu purun tanda surat-surat urang ku agan putri ditampi sumawonna kintunan uang karetas. //
- Sarewu perak ge beak 52 mahugi ka agan putri tandana kersa ka urang surat jeung duit di tam pi pamalesna kitu deui roko pirang-pirang ratus ku urang anu katampa roko seungit ngadalingding ti juwita anu dikintun ka urang.
- Ari ahirna mah salah dibikeun ka sejen jinis
Suryakusumahdinata pangkatna kumetir kopi di Cianjur nagari geus nikah ka raden ayu Den Ajeng Rajapamerat teh nu jadi pikir kami ngenes nyeri nalangsa kabina-bina.
- Ki Munada ngawalonan yaktos eta kitu geuning teu salah lahir gamparan tangtos jadi nyeri galih sumawonna sim abdi sakalangkung nyeri kalbu ras ku Tuan Nagel nyiksa tangtos kedah males abdi hutang wirang kedah dibayar ku wirang.
- Sanajan dongkap ka ajal suka lilah jisim abdi ngabelaan ka gamparan sareng naur nyeri ati ayeuna niat sim abdi nu dua teh urang bunuh suganna jadi sampuma mangke gamparan ngaganti nu jumeneng bupati ratu nalendra.
Lahiran den Demang Jaksa sukur lamun kitu pikir bela patina Munada ku kami eta katampi ayeuna maneh balik mulang deui poe isuk pasosore pukul opat urang badami //nu pasti reujeung batur-batur urang sapeketan.
Ki Munada pamit mulang sarta dipaparin duit ku Rahaden Demang Jaksa Ki Munada api-api inditna teu katawis wantu rada nyumput-nyumput Demang Biskal pek nyauran sanak kadang kulawargi nu katimbang sapeket sarta gumela. 29 5. Kocapkeun bae isukna geus kumpul sakulawargi sumawonna Ki Munada dina pangkeng anu suni Demang Jaksa geus calik Raden Sasmita katilu kaopatna Raden Padma kalima Ngabehi J uri sipir bui nu ngaran Wiradinata.
- Katujuh Sastradireja pangkat jurutulis distrik Wadana Ujungbrung Wetan jeung kadalapanna deui Mas Raksamanggala nami harita kumpul sakitu sadaya sami sarumpah naruhkeun badan jeung pa ti seja belapati ka Den Demang Jaksa.
- Ku badamian harita ayeuna akal nu rikip pokna mualap Munada geus kapikir ku sim abdi sim abdi bade meuli imah nu di kampung Kaum bawahan desa Cibadak
di sakuloneun masigit eta imah nu Den Tanek rek dijual.
- Hargana salapan pasmat mangke Jamun geus dibeuli urang hum eta imah supaya nu dua sumping ku abdi rek diintip didodoho rek dibunuh kitu Jamun karempagan sadaya kudu caringcing urang ngamuk dina waktu kahuruan.
- Prantos rempug Demang Biskal 54 sinareng kabeh para lid Munada dileler uang reana salapan ringgit tinya bubar marulih Munada oge geus tuluy ngajugjug desa Cibadak // ka nyi Raden Tanek nepi pangapunten pokna Kai Mas Munaa.
- Enden seja naros kakang wartosna teh ieu bumi bejana bade dijual naha yaktos ieu nyai. ku kakang rek dibeuli enden Tanek walon imut yaktos ieu rek dijual · mun pajeng salapan ringgit rehna kuring bade pindah ka Kajaksan.
- Cek Munada sukur pisan ieu ku kakang dibeuli tapi ieu teh panjerna ayeuna teh opat ringgit
pageto nu sapalih nu lima ringgit kahatur ku Den Tanek geus ditampa duit anu opat ringgit poe isuk eek Tanek kuring rek pindah.
- Geus salse nu rneuli irnah Munada ti dinya parnit boga bati lima pasmat buru-buru barang beuli nu geus biasa kabeuki enya eta madat candu nyeplos barina nangkarak Ieng kapidara teu eling elingan teh sukma ngambah ngawang-ngawang.
- Da geus kitu tabeatna Munada teu bisa ganti ku lampah anu sampurna geus nyandu ngajadi hiji Nyai Rara Ireng geulis sumurup ka balung sungmm sumarambah kana bayah meulit dalit kana peujit api un teh dianggap pasihan dewa.
Sanggeus seubeuh udud madat Munada teh gancang indit ngadeuheus ka Dernang Biskal di dinya prantos sayagi kurnpulan para lid-lid anu kamari kasebut ayeuna aya tambahna lid anyar anu berbudi nu satia // nu parantos nanggung surnpah.
Natawijaya santana gandek nu estu berbudi jeung Pa Ken to gulang-gulang kajineman jaga bui kongas gagah barani Pa Kento romanna segut dedeg siga Citrayuda nu jadi kapala baris nu elehan kumendang nagri Astina.
- Jeng Raden Wirakusumah jurutulis potong mun ding ayeuna jadi sawelas lid rasiah anu buni estuning enggeus gilig mangke dina malem Saptu dina ping tilupuluhna Desember anu kawilis srewu dlapan ratus opat puluh dua.
- Badamina hal pakean kudu pada hideung sami baju hideung sarerea calanana hideung deui pokek luhureuh bitis sarta iket kudu wulung ditaregos saputangan saputangan bodas sami nyoren keris jeung nyungkelang gobang panjang.
- Nyumanggakeun sadayana badami enggeus ngajadi kumpulanana rasiah ayeuna enggalkeun dangding didangdang geus ngadingding dina malem Saptu dangdung
kohkol ditakol nongtrongan jeung nuju keur gede angin muntab seuneu hi bar taya nu mindingan.
3 09. Guyur di jero nagara genjlong eusi Bandung nagri di Cibadak kahuruan di sakuloneun masigit // imahna hiji istri 56 enden Tanek anu gaduh nu dijual ka Munada nu dipanjer opat ringgit sami muru taya nu mungkur saurang.
XII. Pupuh Pangkur
3 I 0. Urang kocapkeun ayeuna menak-menak guyur di jero nagri kanjeng tuan buru-buru Asisten Nagel dangdan sakumaha sikep dangdos muru rusuh lajeng nitihan kareta upas Baron anu ngirin g.
- Jeger pecutna disada tanda kusir nginditkeun kareta gasik kuda mabur nu dipecut seok keusikna disada kaliwatan ku kareta mangprung rusuh alun-alun. geus kaliwat kana tempat seuneu neppi.
- Kareta eureun di jalan dina lebah nu kahuruan tadi tuan Nagel tacan turun masih dina kareta
ujug-ujug aya jalma nu nyuruwuk bet ngadek ka kanjeng tuan asisten keuna sakali.
- Dina lebah palipisan Upas Baron turun muru gasik-gasik tuan tina kreta lung;ur si barandal teh narajang ngadek deui ka Upas Baron teh ngulung meunang tilu kali pisan sarta keuna raheut nyeri.11
- Sakali raheut tak takna 57 kaduana leungeun kenca nyebrot getih katilu leungeun katuhu Upas Baron kapidara enggeus rubuh Upas Baron teh ngudupung barandal narajang tuan Nagel dikadekna tarik.
- Keuna tilu kali pisan mastakana jeung rarayna pin uh getih getih mancawura nyem bur taarna raheut beulah henteu tahan raheut getih mani ngucur kanjeng tuan kapidara rubuh mani henteru eling.
- Kokosodan dina lemah gulang guling ngagoler sisi kikis tadi basa eukeur turun ku bang5at dibongohan pek dikadek ti pungkur bari disurung tuan henteu bisa peta disumputan ti nu suni.
3 1 7. Kakocapkeun wadya bala perejurit dikumendir ti tang;i indit manggul bedil ngabrul pandeuri darongkapna wan tu tempat tang;i Lengkong radajauh ari loji asisten mah caket alun-alun nagri
- Geus dongkap ka tempat medan ku sarean dikumendir perjurit nulung seuneu anu hurung ari beh kaget kacida mendak kanjeng tua asisten ngudupung ngalung;ar di sisi jalan ante! kana pager kikis.
- Upasna deui ngajopak Kai Baron ngajehjer henteu eling perejurit lajeng muru nulungan kanjeng tuan bang;atna mah dilari henteu // katimu 58 ti dinya sumping bupatya dina kareta pandeuri.
- Barang jut tina kareta si barandal muru deui ti nu suni barandal teh nggadek nyumput dalem teh rek dibinasa karepna mah regen teh bade dibunuh kahuruan rusuh pisan huru-hara raja pati.
- Dumadak kersaning Allah bet diburu ku ki kopral perjurit ngaran Bapa Unit segut dihalang ku bedilna
gobang tarik keuna kana bedil ngebul bijil seuneu ngaburinyay dalem salamet nya diri.
- Gancang nitih deui kreta kanjeng tuan Asisten henteu ditolih karetana mundur nyemprung mulih ka datulaya ka karaton kabopaten prantos asup mintu anjeun dina kamar sarta manah langkung risi. 3 23. Sinigeug kanjen g bupatya kakocapkeun si barandal nu julig nu ngadek tarik kaburu dihalang ku bedilna Bapa Unit kopral perjurit nu tangguh nu gagah sarta wanian harita nulungan gusti. 3 24. Barandal mindo ngadek keuna kana taktak kopral ku tarik henteu teurak anggur ngebul dipindo ku barandal ngadek tarik keuna kana topi ancur topi mecat beulah dua tapi teu teurak ka kuli t. I I
Saiamet sirahna kopral estu gagah weduk si Bapa Unit 59 ki kopral males ngaburu ditonjok ku bedilna ku ba Unit keuna ma tan a katuh u nyuridat kana halisna trus kana tarangna deui.
Si barandal tinya ngejat pek diburu dipeupeuh tonggong ku bedil lumpat ngulon brandal mabur datang ki ngabehi Jawa anu ngaran Rono Sentono nu jangkung kapapag reujeung si bangsat awas si Munada sidik.
- Munada gancang ngadekna Ki Mas Rono Sentono nakisna gasik gobangna dipeupeuh ucul lesot tina leungeunna sanggeus lesot ku Rono dirontok gabrug gelut patelak Munada Ki Munada nyabut keris.
- Dasar Mas Behi nu gagah keris brandal si Munada anu julig ditewak bae dipaut lesot tina leungeunna gampang bae kawantu Mas Behi pamuk Munada kalah digjaya ku Ki Mas Ngabehi.
- Kerisna jadi butamal jadi bukti mangke balakang kalih sidik anu boga duhung nya eta si Munada loba saksi anu nyaho eta estu wangkingan anu Munada Munada lumpatna ngacir.
- Lumpat ngidul gagancangan kira pukul satengah lima leuwih mapay jalan besar ngidul lebah garduh Darpiah
diparegat ku dua nu jaga garduh Mertawana Raksajaya dihordahkeun // henteu muni.
- Dipegat bae ku cagak ngagurinjal ngalawan bari bijil ku tukang garduh dituyung diteunggeul ku duaan ku gegendir anu gede puhu ruyung keuna leungeunna Munada gobang ragrag pin uh getih.
- Ki Munada tuluy lumpat gobangna mah dilapor jadi bukti pinuh getih rada tuhur Mertawana Raksajaya terang pisan yen eta Munada es tu sabab wawuh ti tadina jeung Munad tukang julig.
- Munada lumpat ka wetan tina garduh asisten mengkol deui ti desa Ciateul terus ngaler cepet lumpatna liwat Lengkong ka jajahan Randu Kurung pukul genep ka Kajaksan ka Demang Biskal geus nepi.
Keur ngalantung Demang Jaksa dina tepas bumina keur ngulinting barang b (4) eh Munada jebul bangunna semu reuwas baju hideung totopongna hideung wulung pinuh saluar awakna bobolokot pinuh getih
Ku Demang dihiap-hiap Ki Munada asup ka pangkeng buni tempat rasiah berhimpun anu biasa tea geus gok tepung duaan paungku-ungku nyaritakeun lalampahan pokna teh ngan kenging hiji.
- Ngan rubuh nu kaler tea kapisanan rasa moal hirup deui 11 ari nu kidul mah lapur 61 hanjakal henteu beunang sakitu ge seuseut seuat langkung ripuh da batur-batur teu aya nulungan ka jisim abdi.
- Lahir Raden Demang Jaksa bo hanjakal naha ngan beunang hiji anu kidul langkung perlu tapi dalah kumaha ayeuna mah maneh teh geus kudu nyumput asup kana peti urang geledeg teh peti kai.
- Peti anu geus sadia si Munada geus as up ka jero peti ti luhuma pek dirungkup ku kasur sepre dipan teu katara Munada di dinya nyumput siga dipan pangcalikan paranti ki Demang linggih.
- Munada salse nyumputna eungapna mah kawantu di jro peti awak cape sarta tunduh jeung sieunna kacida
wantu boga dosa gedena sagunung karasa lam un hanjakal kasmaran pisan nya pikir.
XIII. Pupuh Asmarandana
- Kasmaran pisan nya ati sadaya nu ngaruninga ka kanjen g tu an asis ten ngalung;ar bandusanana kokosodan dina lemah raheut salirana ripuh getihna teh ngalam burah.
- Digugulung ku perjurit tinya sumping Den Aria Arya Patih langkung kaget pek di // tulung kanjeng tuan diangkat kana kareta jeung Raden Patih geus tuluy enggalna ka loji dongkap.
- Diebogkeun dina katil getihna diberesihan raden patih tinya mios angkat ka lebet unjukan geus tepang jeung bupatya Rahaden Arya miunjuk supaya Dalem uninga.
- Tuan Asisten balahi salirana resak pisan taar mastaka dikadek ayeuna geus ka bumina bieu dina kareta
ku abdi dalem diurus diebogkeun dina ranjang.
- Kanjeng Dalem gasik-gasik ti Datulaya geus angkat ngalayad tuan asisten diiring ku Raden Arya sarawuh para ponggawa ka loji dalem geus cunduk ngalayad anu cilaka.
- Geus nyondong tuan jrutulis nya eta Van Den Broek tea jeung tuan Van Nenda ongkoh tuan doktor mah teu aya diben keur di Sumedang ti dinya dalem barempug enggal kudu nyieun surat.
- Ngunjukeun ieu perkawis hal ieu kacilakaan ka kanjeng residen enggalna parantos serat didamel geus sadia ditawis ku Dalem Bandung pek dipasihkeun ka upas. 34 7. Upas tumpak kuda indit sigeug upas keur di jalan ayeuna nu kacarios Upas Baron geus dibawa nya eta ka imahna di kampung Kajaksan matuh raheutna teh rada payah. //
- Urang ngocapkeun nu tadi 63 hukuman Suradireja
ayeuna geus dongkap pones dibuang ka Surabaya dua tahun lilana eta nu jadi pupucuk bi bit kana huru hara.
- Ari upas anu tadi ka Cianjur mawa surat dongkap ka Tuan Residen Tuan Residen kagetna estu teu kira-kira bet aya rusuh di Bandung asistenna dipaehan.
- Kanjeng Residen teh gasik ngadamel serat laporan ka tuan besar di Bogor Kanjeng Gupemur Jendral reujeung ka Batawina ka kanjeng tuan direkteur Binenlandseu Besteur tea.
- Jeung ngangkir doktor Batawi surat-surat eta iyang ku bager pos enggal leos sigeug pos anu di jalan Residen deui kocap nyriosan Dalem Cianjur di Bandung aya barandal.
Geus angkat Residen gasik nitih kareta pos gancang ka Bandung sum ping Residen kinten pukul opat asar ngalayad nu cilaka kasondong asisten ripuh siga moal yasa menyat.
Isukna doktor Batawi ka Bandungna prantos dongkap // jeung Kanjeng Tuan Ideler pek di bersihan getihna nu aya di uteukna tatapi bet tam bah rip uh barang rek hos teh ngandika.
- Tangkep si Munada gasik. ngan sakitu nyariosna lenggerek asisten maot kaget guyur sadayana pupusna Kanjeng Tuan Asisten Nagel di Bandung geus mulang ka rahmattulah.
- Nya maca innalilahi wa ina ilaihina rajiun maca sakabeh kanjeng tuan geus wistura musna ilang arwahna dikubur Santiong Bandung ayeuna nu kacarita.
- Geus nyerat Residen gasik nyaur para jaksa-jaksa jaksa disaur sakabeh Rahaden Tisna Dilaga jaksa karesidenan jaksa ageng di Cianjur kudu enggal-enggal dongkap.
- Jeng jaksa Garut nagari sareng jaksa Sumedang jaksa Sukapura ongkoh sareng jaksa Purwakarta
Rahaden Suryalaga eta sadaya disaur ka Bandung kudu arenggal.
- Surat panyaur arindit ayeuna masih di jalan engke sakedap kacrios ayeuna Raden Ariya Patih Adinagara Demang // Jaksa teh disaur 65 ka loji waktu harita.
- Demang Jaksa prantos sumping bangunna muringis pias barangna ka loji geus jol disabab ku Arya Patya naha teu enggal-enggal den jaksa ka Ioji muru kana papaten gedena.
Sakabeh eng (g) eus sarumping kaget pada ngaralayad ngan den Demang Jaksa bae nu henteu muru ngalayad lamun teu disaur mah tayohna mah moal muru eta matak jadi heran. 36 l. Jaksa walon jeung muringis aeh sanes kitu kakang kang rai teh udur gede bet nyeri waos ku ulam nyeri kabina-bina langkung nyerina nyumaut tah kitu pambenganana.
Numawi teu gasik rai ka Joji teu enggal-enggal rai teh n gan e bog bae nya ngaraoskeun kasawat wengi ge teu ngalayad henteu muru nu kahuru waos rai keur karasa.
- Saur Raden Arya Patih ayeuna kudu teangan si Munada brandal gede tah eta anu maehan tuan asisten tea nya si Munada nu ngamuk urang ulah meunang wirang. // XIV. Pup uh Wirangrong
- Kocap malikan nu tadi 66 bas a M unada karek jol dina pukul genep jebul memeh asup kana peti lid sawelas pada dongkap kumpul di kamar rasiah.
- Sadaya sami badami ulah arek Juas-Jeos Munada teh kudu nyumput di nu buni jero peti sabab mun Munada ingkah geus tangtu urang cilaka.
- Nu matak ka jero peti Munada nyumput ngarengkol reh sadayana pirempug
Munada teh ulah indit anggur urang nyieun akal sahiji lid kudu leumpang.
- Ka Majalaya sing gasik malah ka Leles Tarogong dirina teh kudu ngaku ngakukeun Munada kami supayana pada terang Munada ka Majalaya.
- Miceun salasah sing rikip sangkan sadayana moro ka Majalaya nyarusul ari anu kudu indit ieu lid Sastradireja nu kudu ngaku Munada.
- Ieu aka! es tu Ian tip geus moal bae katembong mangke urang anu nyebut yen Munada sidik indit minggatna ka Majalaya tuduhkeun ku sarerea. 3 70. Sanggeusna bentik pasini pasusuguhna enggeus jol bibika ketan kurupuk11 lodeh sareng en dog asin 67 ngariung harita hajat nyalametkeun sarerea.
- Nu ngadoaan kiai Raden Puspayuda kolot pek dahar ketan kurupuk reujeung ngaleueut ci kopi
anu medok nganggo gula nya ubar tunduh lumayan.
3 72. Kawantu sapeuting tadi lid-lid teh pada molotot teu aya nu ngageledug estuning nyaring sapeuting dina rusuh kahuruan sadaya lid oge aya.
- Sanggeus ngaleueut cikopi lid-lid budal ting laleos ngan si Munada nu asup nya eta ka jero peti diamparan sepre dipan dicalikan Demang Biskal. 3 74. Kocap Mas Sastra eta lid lid pakumpulan garelo geus indit ti dayeuh Bandung ka Majalaya geus nepi mondokna di kadatuan ngakukeun ngaran Munada. 3 75. Sanggeus meunang hiji peuting Sastradireja ngaleos ka Leles an u dijugjug sajajalanna ngecewis ngakukeun ngaran Munada mondok di jro pikampungan.
Ka distrik Tarogong nepi masih keneh bae bohong di dinya ge ngaku-ngaku yen ieu Munada aing kabeneran bet kapendak jeung ngaran J ayadiraksa. //
Anu wawuh sarta dalit ka Mas Sastra prantos wanoh pok naha Mas Sastra kitu omongan teh ulad-alid kapan sampean Mas Sastra. 3 78. Mas Sastra ngejat ngabecir ti Tarogong geus ngaleos gancangna mulang ka Bandung leumpangna teh sapeupeuting ti beurang mah susumputan ata sare ngageubra. 3 79. Ka Bandungna pran tos nepi jeung Demang Biskal geus amprok beres pisan tipu alus estuning henteu katawis mung di Tarogong kabetak ku ngaran Jayadiraksa.
- Tapi henteu kungsi sidik abdi kabujeng ngaleos ngejat gancang ti nya rusuh jadi henteu kantos sidik sukur dawuh Demang Jaksa ari geus beres mah Sastra.
- Urang kudu taki-taki ulah nepi ka kadongdon sagala aka! jeung tipu kudu petakeun ku elid ayeuna nyarieun surat tempel dina unggal pilar.
- Unina Munada sidik ayeuna enggeus ngaleos terang geus eindit ti Bandung
nya eta poe kamari sejana ka Majalaya ti kadatuan sobatna.
- lsuk-isuk enggeus jadi ran tab surat geus katem bong narapel di tihang garduh dina pilar kitu deui ay a nu di tihang sasak unina surat sarupa.
- Tah kitu aka! nu jahil sanajan // kitu katembong awal ahir ge kabitur da gusti Allah teu idin ka jalma anu hianat geus tangtu kabuka terang.
- Gusti Allah Maha Suci moal cidra da teu bodo saha nu milampah alus dibalesna alus deui saha nu milampah dosa dibales deui k\l siksa.
- Lamun hoyong senang galih ulah sok milampah serong ulah sok ngagugu napsu napsu pangajakna iblis salamina nan dang reuwas gumebeg nya mamanahan.
- Eta kitu kumpulan lid lid rasiah nu barodo pakumpulan jalma gejul jalma nu kurang berbudi
kitu kajadiannana kinanti ngagentos tembang.
XV. Pupuh Kinan ti
- Kocap guyurna di Bandung para pulisi ngilari mualap ngaran Munada anu geus hianat julig nu lancang wan tun nelasan eropa pangageng nagri.
- Unggal-unggal tern pat garduh dijaga ku jalmi-jalmi pakarangna tum bak cagak bedog go bang sekin keris bedil sarawuh pestolna saboga-bogana jalmi.
- Saban parapatan pinuh ku pulisi nu ngajagi ti peuting najan ti beurang henteu suwung nu ngajagi malah kabeh // padamelan 70 sakur herendiens brenti.
- Kocapkeun anu disaur jaksa-jaksa sejen nagri ayeuna prantos darongkap ngadareuheusan ka gusti ka Kanjeng Dalem Dipatya trus ka Residen di loji.
- Nya eta jaksa Cianjur Den Tisna Dilaga nami didawuhan kedah ngetan
ka Ujungberung ngumisi sarta mawa wadya bala ratus-ratus pra pulisi.
- Jaksa Sumedang diutus ka Rongga jeung Cisondari diiring bala tantara pulisi carakep ginding pacalang jeung kopral-kopral segut nyoren gobang keris. 3 94. Demi Raden Jaksa Garu t ka Banjaran Kopo distrik teangan Munada jahat poma kudu sing kapanggih garadah saksrak siing beunang pembunuh mualap dengki.
- Jaksa Manonjaya kudu Rajamandala Cimahi mawa kopral jeung pacalang jeung pra pulisi binangkit anu geus kongas aturan bisa mulisi nu jahil.
- Jaksa Purwakarta kudu ngilari di jero nagri Rahaden Surialaga kaetang pangna berbudi jaksa kongas bijaksana nu lantip sarta binangkit.
- Kudu di jro dayeuh Bandung ngilari jalan pulisi numawi // ka pilih eta eta anu geus kawarti
kakontrak ka janapria jaksa Ian tip surti ngarti.
- Geus prak nembean di Bandung digaradah pra pulisi dina unggal imah jalma tapi weleh teu kapanggih saban peuting saban beurang abrul-abrulan pulisi.
- Karareueung dayeuh Bandung guyur jalma tapi tiis combrek dina bawa rasa rasa teh sedih prihatin nalangsa nya mamanahan dangiang nagara leungit.
- Keur wengi di alun-alun di unggal tangkal caringin manuk tuweuw disarada sinareng manuk laleutik heulang ngagelik nalangsa semu nu milu prihatin. 40 I. Lamun siang ungkut-ungkut ngunggut disada nirilik cokekekna patembalan bebence sada ti peuting semuna milu nalang;a prihatin katinggal gusti.
Saeran disada subuh disada mani ngecewis mun kaharti omongna mah montong jauh-jauh teuing Munada mah henteu nyingkah aya di jero nagari.
Tah eta manuk teh kitu ngan hanjakal teu kaharti // urang taya anu bisa ka basa saeran gunting kakuping ngan matak waas disadana ting caruwit.
- Surialaga manekung. mumujana ka Yang Widi neda pitulunging Allah karamat mujijat nabi Muhamad dinil mustapa salalahu Iiwasalim.
- Sok mugi aya pitulung dibukakeun hal pulisi buka kaawonannana tembongkeun jalma nu julig dibukakeun rasiahna jalma anu hiri dengki.
- Kapendak di unggal juru surat dijepit ku awi nerangkeun eta Munada ti Bandungna enggeus indit minangkana eta surat mun ayeuna mah anonim.
- Ku Suryalaga kama lum eta teh surat anonim geus kasangka dina manah eta perbuatan sidik lain jalma samanea anu nyarieun anonim.
- Tangtu jalma pangkat luhur jeung lain jalma sahiji
buktina dina aksara tulisannana teu sarni geus terang sanes saurang anu nyieun surat julig.
- Ieu katerangan cukup Munada teh tacan tebih masih aya di nagara iyeu mah surat // parnancing 73 tetela miceun salasah mipahokan ka pulisi
- Eta surat nu dimaksud sangkanna bingung pulisi tapi manah Suryalaga raos dituduhkeun sidik yen Munada masih aya sarta deukeut liwat saking.
- Kocap jaksa nu jarauh prantos sarumpirtg ka distrik geus prak anu ngagaradah disaksrak diburak-barik taya imah nu kaliwat dikorehan ku pulisi.
- Di nu bala unggal rungkun dikoreh dialak-ilik apik anu nareangan tatapi henteu kapanggih ka Sumedang Sukapura nu sepuh anom ngilari.
XVI. Pupuh Sinom
- Sinom ngocapkeun Munada anu dina jero peti kinten saminu lilana susah kiih susah ngising kesel eungap dina peti wan u peti pondok lembut sangsara kabina-bina hangseur bau liwat saking Ki Munada di dunya nandang naraka.
- Ti jero Munada ngucap pokna gam paran sim abdi nyuhunkeun bae paehan tina geus teu kiat diri cicing di jero peti saminggu asa sawindu langkung sae ditelasan henteu kiat // lami-lami 74 saomongna kadangu ku Demang Biskal.
- Dina peuting eta pisan Ki Demang J aksa teh gasik pek nyauran lid rasiah nya eta Ngabehi Juri Pa Kento disaur gasik Nata Wijaya katilu kaopat Mas Surareja opat lid geus dongkap sami ka payunanana Raden Demang Biskal
- Kumpul opat lid rasiah Ki Demang Jaksa ngalahir he ieu lid anu opat ayeuna pamenta kami bijilkeun tina peti
Munada bawa ka ditu sabab menta dipaehan ayeuna bawa ti peuting meungpeung poek pukul dua sarta hujan.
- Lid opat unjuk sumangga harita dibuka peti Munadana pek diangkat teu aya daya saeutik leuleus satulang sandi malah henteu bisa nangtung pek digotong ku opatan rancatan taraje awi dibawana ka slokan Kajaksan Girang
- Pukul dua ramang-ramang dina hujan rincik-rincik geus nepi kana solokan Munada dugi ka jangji jangjining ti Ajali ti loh mahpud nu geus tangtu nepi kana gurat awak Munada // lajeng dipeuncit 75 ku Pa Ken to ku gobang nu seukeut pisan.
- Pokna Bapa Kento ngucap he Kang Munada sim kuring seja neda pangampura rehna kuring kumawani kakang bade dipeuncit rehna kuring kudu nurut katitahan Demang Biskal Munada walon ngalengis Bapa Kento kakang seja pasrah pisan.
- Sebret gobangna geus ngabar ngaburinyay matak risi
gobang buatan Cisurat seukeutna kaliwat saking wantu beunang ngasah tadi basana rek perang rusuh harita go bang geus nyangsan g ka beuheung Munada culik maca bismillah bari ngesetkeun gobang.
- Ngesetkeun gobang kacida sapat beuheungna sakali henteu mindo dikesetna sirah geus misah ti diri meureun eta saperti Menak Jingga nu kapungkur raja nagri Balangban gm ku Damarwulan dipeuncit kawon perang kawon kadigjayanana.
- Getihna palid sadaya kana solokan nu tadi da meuncit tengah solokan di luhur taraje tadi ari sirahna dicangl
Tuluy digulung ku samak pek mayit digotong deui ku jalma anu opatan dibawa ka sisi cai Cikapundung di jro nagri le bah leuwi bantar liuh bet aya tangkal Kiara gerewong akama canir leuwi j@ro santa suni le bah di nya
Barang eta mayit tea keur digarotong ka cai dina taraje cikrakna kanyoan ku hiji jalmi ronda kampung ngajagi Kajaksan kampung minatu ngaranna Ki Sacawana tapi Ki Saca teu wani nanya eta sieun ngadegdeg awakna.
- Ngan ngawaskeun nu opatan Saca nyumput di nu buni bari ngadegdeg awakna ku nu opat teu katawis barang ka cai geus nepi awak mayit geus ngecebur ragrag lebah leuwi tea dina gerewong na canir geus ngagubrag mayit kana cai cacah.
- Sirahna oge dibalang kana eta tengah cai dina girangeun awakna Munada prantos lastari geus palid dina cai palid ngambang bari ngalun tah kitu eta buktina // jalma madat maen maling 77 sarta madon tungtungna lajeng maehan.
- Lid rasiah nu opatan ti sisi cai baralik ka pakarangan Ki Biskal Sacawana oge balik tapi henteu pupulih da sieun langkung ku maung nya eta ku Demang Biskal
kacrios opatan nepi geus unjukan ka Rahaden Demang Jaksa.
- Kaulanun sadawunhan eta parantos lastari dipeuncitna Ki Munada malahan parantos palid dina cai ageng tarik di wahangan Cikapundung cai keur caah umpalan Demang Jaksa imut manis sukur pisan Munada enggeus sampurna.
- Tangtu urang pada senang Munada moal kapanggih da geus teu aya di dunya moal enya hirup deui pam uga masing buni poma ulah pisan betus walon lid anu opat sami emut sumpah abdi gamparan teh muga ulah semang manah.
- Den Jaksa ngodok sakuna lajeng maparinkeun duit opatan saratus perak saurang sapuluh ringgit // duit geus ditarampi 78 sami mulang bedug subuh rasa senang ayeuna mah da moal kacekel bukti Ki Munada musnah ilang geus sampuma.
- Henteu ngira aya jaksa Batara Kresna Drewati nu boga gambar lupian Jaksa Purwakarta nagri
nu kongas rajin binangkit Raden Suryalaga puput wicaksana trus kusumah menak lantip budi surti anu yasa mukakeun elid rasiah.
- Kacarios Demang Jaksa Mangunagara geus pulih geus damang tina kasawat manjrat ngabrigidig diri geus cageur awak aing hayu najan aing ngapung ayeuna mah henteu bingbang sanajanna nerus bumi hayu bae da geus teu aya kamelang.
- Ayeuna mah ka paseban kumaha tali paran ti paparentahna neangan Munada kudu kapanggih unjukan ka den patih yen kang rayi bade nyusul Munada ka Majalaya rehna beja prantos sidik Ki Munada lama teh ka Majalaya.
- Raden Ariya walonna sumangga kang rayi indit rek nyusul ka Majalaya // sukur masingna kapanggih 79 ari ka dalem dipati ku kakang mangke kaunjuk Demang Biskal tinya mangkat ti paseban gasik indit prantos miso sarta ngagedur manahna.
XVII. Pupuh Dunna
- Raden DemangJaksa geus mepek balana lir Demang toh bahu sidik Demang tanpa naha sadia pulisina Ki Mas Kopral rujak beling jeung Ki Pacalang kajineman songgalangit.
- Sumawonna lid-lid kumpulan rasiah nya eta Ngabehi Juri jeung Natawijaya sumawonna nu gagah Pa Kento tatamengjurit tan dang ngalaga anu parangas-puringis. 43 7. Sareng Raden Wirakusumah pahlawan Wiradinata sipir Mas Sastradireja tatameng ingalaga pamindingna perang tanding brani perkosa tandang lir Jayang kumitir.
- Kopral Jaksa tandangna lir layang setra bara (ga) dag-birigidig teu aya kagila kawas nu gagah rongkah Raden Padma oge sami tandang ngalaga petang-petan g peting // gin ding. 80
- Sumawonna Mas Surareja buringas nyangkok nyeta batik Madrim ieu pahlawanna
Demang Mangunagara ieu anu teuas kulit patih nu gagah nagara Malawapati.
- Geus sadia kawas nu angkat < an > (ka) perang ka Majalaya arindit di jalan tatandang neangan tanding pedang arek pe rang ieu aing neangan lawan Majalaya nu disungsi.
- Barang dongkap ka kota distrik Ciparay Rahaden Abu Kari wadana di dinya mapag ka Demang Biskal geus dilinggi.hkeun ka loji ka kawadanan balad di paseban baris.
- Alun-alun pinuh ku balad iringan rancung tum bak jeung kuli bedilna ngajajar pirang-pirang lobana sumawonna gobang keris bedog jeung pedang petel reujeung gegendir.
Raden Demang Biskal alon ngandika he Raden Wadana misti ngi.ring ka kaula ngarurug Majalaya nempuh si Munada julig rehna geus terang ti Bandungna teh geus indit.
Wadanana den Rangga Anggawireja taledorna liwat saking di jero distrikna aya pembunuh jahat nepi ka henteu kapanggih ku den wadana kawas anu kongkol dengki. 11
- Anu matak enggal-enggal sing sadia 81 pamatang kabeh kerid sina tumpak kuda urang ngarah-ngarah tegal rungkun buni urang suni koreh teangan masing mawa rewu jalmi ..
- Den Wadana ngawalon unjuk sumangga ka paseban ngagidig nimbalan kabayan n garan Suramanggala nakol bende sina nitir eta tengara kumpulan para pulisi. 44 7. Raden Demang Biskal mah dihormat-hornrnt tuang leueut di bumi bistik opor hayam sambel goreng jeung em pal tuangna cikruh teh teuing mamayu dahar urutna teu damang tadi.
- Nyeri waos ku ulam ayeuna daman galih risi enggeus leungit kantun mamayuna malah dina wengina
dihonnat nayub nribing di jro paseban ronggeng Nyi Kejer nu geulis.
- Pada ngibing sami pada sukan-sukan sumawonna para lid kumpulan rasiah sami arak-arakan nawiskeun barungah galih tipu muslihat tipu lantip rekep rikip.
- Kakocapkeun isukna prantos sadia wadya bala pulisi sarawuh pamatang pakean sabiasa anu rek tanding ngajurit rek nempuh uncal nyaroren gobang garinding.
- Demang Jaksa ti Ciparay lajeng // angkat 82 rewu jalma anu ngiring eundeur surak wadya ngaliwat Cirasea Magungbiru kitu deui waru satangkal ka Ciwalengke geus nepi.
Kaget urangMajalaya baruringas sartana bari caringcing naon eta nu surak sora ambal-ambalan ngaguruh lir gunung jadi kaget sadaya Raden Wadana geus nguping.
Sikep dangdan Wadana Anggawareja kitu deui Jaksa Distrik Mas Wirasaraya dangdos kaperjuritan ngajaga musuh nu sumping nyoren duhungna pusaka keris ti aki.
- Duhung ladrang nu disimpen ti baheula turunan pusaka distrik nagri Mandabaya jaman sapuluh raja raja Islam nu mimiti di Mandabaya prabu-prabu nyakrawati.
- Nu disimpen di ati rompe ayeuna pusaka anu geus lami eta harita mah ku Mas Wirasaraya dianggo sakur nu matih kawantu eta jaksa anu boga milik
- Ti nu sapuluh raja anu baheula turunannana nu bukti nu aya harita eta Mas Wirasaraya Mandabaya tulen yakti eta mas jksa ka alun-alun geus bijil.
- Sikep pedang ngajaga musuh rek datang sarawuh para pulisi Kopral Surajaya geus dangdan kadinesan Jagasatru Mertapati
sikep ngajaga di paseban tata baris. //
- Kabayanna Karetajayamanggala geus dangdan nyoren badi reujeung Kai Lurah Lurah Jero ngajaga anu ngaran Bapa Sakim dangdananana baju poleng sarung Jurik.
- Geus sadia Kai Lurah Panayagan nya eta Bapa Arjim jeung Indramanggala rawuh batur-baturna nabeuh di paseban leutik Pa Isan re ba b Pa Mungkus teu mungkur deui. XVIII. Pupuh Pangkur
- Prantos sumping Demang Biskal jeung wadana balad prantos ngabaris alun-alun mani pinuh kuda pating haroang ratus-ratus kuda pamatang jarangkung baladna sikep tatandang Pa Ken to jeung Juri.
Muril kumis sangga dulang digoengkeun kumisna mani centik nepi kana ceuli luhur ngangsar-ngangsar pedangna jeung susumbar dina tengah alun-alun hayo bijilkeun Munada urang diadu jeung aing.
Mas Jaksa Wirasaraya mani panas cepil asa disebit dina manah ngmtab hurung tandangka tengah medan pek nyampeurkeun ka Ngabehi Juri pamuk jeung ka Pa Ken to pahlawan nu tatandang ieu aing.
- Ngomong naon teh andika nyebut-nyebut Munada enggeus sidik pagah di
- Ngabehi Juri narajang 84 Jaksa maneh ngomong teh wani-wani ieu teh utusan ratu neangan jalma jahat ari maneh kawas anu ambek napsu mangke geura maneh salah ku aing maneh digodi.
- Cek Jaksa dewek ge terang tapi dewek ceuceub ka maneh Juri ka si Ken to ge nya kitu kawas gagah sorangan ieu aing pedah pulisi ti Bandung tinggal ti tatakarama rek nyieun rusuh di distrik.
- Den Rangga Anggawireja Den Wadana Majalaya teh indit Ki Mas J aksa ulah ki tu keun kumaha buktina da urangmah teu boga dosa sarambut
moal bodo Gusti Allah nu nangtayungan ka diri
- Ti dinya lajeng arangkat Raden Wadana jeung Mas Jaksa Distrik ka Den Demang Biskal muru Demang Biskal baeud ngentak he Wadana kami anu matak cunduk ka dieu nyusul Munada reh Munada enggeus sidik.
- Nu matak ka dieu datang ngemban dawuh Kanjeng Dalem Dipati nya eta Bupati Bandung baris nangkep Munada sidik terang kasebut di kampung matuh di jro lembur kadatuan deukeut Rajadesa sidik.
- Kusabab eta ayeuna cing tembongkeun ku wadana sing bukti // da eta terang yen kitu 85 malah rea nu terang anu nyaho Munada di dinya nyumput Natawijaya ka tengah Pa Kento reujeung Pa Juri.
- Eta sumuhun timbalan henteu lepat Munada eta sidik ku panyariosan kitu malah-malah mondokna di imahna sahiji awewe dukun Ambu Sairun ngaranna dukun tukang norah jalmi. 4 71. Den Rangga Anggawireja walon unjuk ka Raden Biskal tadim
kulanun dawuh bebendu eta teh caritaan estu bohong pitenah bae malulu Munada mah henteu aya parantos diubrak abrik.
4 72. Weleh bet henteu kapendak geus disaksrak di unggal abdi-abdi di nu bala dungus-dungus di leuweung di tegalan teu kaliwat najan saeutik gurumbul wahangan kabeh kasorang tapi weleh teu kapanggih.
4 73. Am bu Sairun geus dongkap nu kasebut dukun tumbal praji matih ku Demang Biskal disaur don gkap caket ka payunan lahir Demang Biskal he dukun Sairun aing nanya ka manehna maneh unjuk masing sidik.
4 74. Bareto teh si Munada sanggeus boga dosa ti jero nagri geus kabur ti dayeuh Bandung minggat ka Majalaya malah mondok di imah Ambu Sairun meunang dua peuting pisan ti maneh kakara indit. //
- Maneh unjukan nu trus trang 86 mangka maneh diganjar teh ku gusti ku Kanjeng Bupati Bandung balik lamun mindingan henteu salah tangtu maneh teh dihukum coba geura ngawalonan ka kami anu trang sidik.
4 76. Arnbu Sairon walonna menggah abdi teu trang sama sakali di ngaran Munada estu sumawon kapondokan seja sumpah abdi ka payunan ratu sok mugi ulah jamuga ulah salamet nya diri.
- Arnung kapungkurna aya anu dongkap eta sahiji jalmi abdi gamparan ti Bandung wasta Natawijaya pokna eta neda jampe-anu lepus jampe pamelet panmat panmatkeun Nyai Galing.
- Ronggeng kagungan gamparan ronggeng jero nu sok dianggo ngibing nu sering dianggo nayub rehna Natawijaya sakalangkung kapelet ku Galing giung ku abdi sabisa-bisa dijampean dina lepit. 4 79. Kajadiannana beunan g eta ronggeng nu ngaran Nyai Galing ku Nata Galing kapincut dum ugi ka di tikah malah geuning donglcap ka ayeuna matuh Nyi Galing masih lakian Natawijaya pulisi.
- Demang Biskal lajeng nyentak sia ngaco si dukun nini-nini aing lain nanya kitu nanyakeun si Munada hay oh aku ku sia Arn bu Sairun
walonna sadaya-daya hen teu terang jisim abdi. //
- Demang Biskal ngejat nyepak Mu Sairun dijejek teh tiguling disepakan ku sapatu dipaksa kudu terang tapi weleh Mu Sairun henteu ngaku pokna najan dipaehan moal ngaku jisim abdi.
- Natawijaya narajang Mu Sairun ditampiling ngajungking getih bijil tina irung ngabudah teh sungutna samping baseuh ku cikiih mani cipruk ceurik barina sasambat mangga peuncit ieu kuring.
- Kuring montong dihirupan tinimbangna kudu bohongjisim kuring teu wantun pisan ngawadul suka paeh ayeuna bari ceurik nini ngawak aduh-aduh aki ieu nini tiwas dibinasakeun nya diri.
- Nini teh ceurik midangdam lewa lewa biwir nini murilit jebengna bari jamedud datang Ki Surareja nini dukun keur ceurik tuluy dibanjur ku cai sajajam baran ditambah deui sakendi.
- Nini dukun kabulusan mani ribug jeung burah-bareh getih
Mas Wirasaraya muru J aksana Majalaya pek megatan ka kaom jalma garejul pokna he naha sampean rek maehan nini-nini.
- Jalma henteu gaduh dosa tur awewe geus kolot kurang budi naha mana kararitu maksa-maksa jalema najan Kanjeng Dalem Dipati di Bandung da moal enya ngidinan sampean ngarusak jalmi.
- Ti dinya lajeng bubaran nini Sairun // ku Mas Jaksa diiring 88 sina enggal-enggal wangml diiring ku kabayan reujeung kopral sarawuh pacalang tilu dianteurkeun ka imahna ka salakina si nini-nini.
- Anu nganteur soteh rea lain sieun si nini dukun ngacir dijaga soteh sakitu bisi aya nu megat ku baladna Demang Biskal urang Bandung bisina dikaniaya wan tu nu ngadang-ngadang dengki. XIX. Pupuh Dangdanggula
- Isukna teh pek arindit deui sarerea neangan Munada ka kadatuan teh rame jalma bareru-rewu
ari abdi-abdi pribumi jalma di desa-desa din a unggal lem bur nyadiakeun pasuguhan sangu lauk sinarengan deungeun ngopi sadia di golodogna.
- Ari dongkap eta pra pulisi pada nyokot pasuguhan tea paerebutna mani retop malahan kebon tiwu eukeur umur tujuh sasih di kampung Lio Wetan dinya aya lembur dina sisi Citangkurak kira-kira lima bau oge leuwih Abang Rame nu boga.
- Eta tiwu diranjah ku jalmi sabaturna jalma anu loba tiwu teh diruksak kabeh dituar dibarantun didalahar ku jalmi-jalmi mani seep sadaya amung kantun tunggul hookeun si anu boga Abang Rame nalang;a ati ngalengis ngahurun balung kutulang. //
- Karugian harga ratus leuwih 89 modal batur heug kenging nginjeuman ayeuna mah atuh poos geus hamo bisa naur lamun henteu mayar ku duit tan gtuna ku borgna sawah lima bau rugi lantaran Munada
ayeuna teh anu loba pra pulisi geus dongkap ka kadatuan.
- Dinya mendak aya hiji jalmi nranna teh Ki Astakarama di tuduh ku jalma kabeh kapalana nu nuduh Bapa Kento Ngabehi Juri di lingl.rnng eta jalma ku bedil saratus pokna sia geura peran g si Munada ku silaing geus kapanggih di man a si M unada.
- Walon Asta henteu terang abdi si Munada mani lepat pisan bedil teh beuki n garon om jeun g pada nunjuk-nunjuk hayoh aku ku silaing lamun sia teu terang sia teh dibunuh ku ba waning kasi eunan batan paeh angguran wawadul sidik bohong nylametkeun awak.
Haperkawis Munada kapanggih ku sim abdi di din ten mangkukna Munada neuleumkeun maneh kana rawa di ditu em bel jero liwat sakin g tinya tuluy sadaya embel nu dijugjug barang geus dongkap ka rawa eta jalma Astakarama nu tadi di ti tah kudu teuleuman.
Geus lep teuleum Ki Asta ka cai teuteuleuman si Asta sorangm ti isuk dugi ka sore kalangkung //Asta ripuh kabulusan mani ngagidir ngahodhod teh awakna tirisna kalan gkun g di ton gton ku sarerea pran tos ken gin g til u din ten As ta ni tir neuleuman eta rawa.
- Kapalana urang Bandungnagri pakumpulan para lid rasiah demi pran tos op at p oe den Deman g Biskal wan g;ul prantos mulih ka Bandungnagri seja bade laporan mi tenah nu es tu rek nyilakakeun wadana enggeus budal jeungpara wadya pulisi rawuh para lid rasiah.
- Sasumpina ka Bandungnaga ri ngadeuheusan ka Dalem Dipatya k calik lakotoy mando kanjengdalem ngadawuh Demang Jaksa bagea sum ping kumaha earl taan Munada katimu Demang Jaksa walon nyembah kaulanun perkawis Munada sidik geus liwat di Majalaya.
- Mondokna ge dina imah nini Mu Sairun praji tukan g tum bal dua wengi mondokna teh tapi Ambu Sairun
sakalintang bae nya mungkir sieuneun ku wadana numawi teu nku saren g aya hiji jalma anu was ta Astakarama lalaki teranun Munada liwat.
- Jawi tinya rea deui abdi nu nerangkeun yen Munada enya di Majalaya eta teh11 91 henteu metakeun pulisi numawi trus kabur reh wadana taledoma eta yakin hen teu bis a n gajaga.
- Kanjeng Dalem nyaur Arya Patih Raden Adinagara geus dongkap ka payunanana pagusten lajeng dalem n gadawuh he patih pek geura nulis nyeieun surat laporan nyanggakeun piunjuk salapoma Deman g J aksa yen Munada di Majalaya us sidik tatapi hen.teu beunan g
Kulan taran kapala di dis trik wadanana Den An ggadireja eta nu estu taledor teu ngaja sungguh-sungguh henteu metakeun pulisi nepi ka henteu beunang Munadana kabur tah ki tu unjukanana reujeung deui nyeieun surat ka bupati ka dalem Sukapura.
Hatur untuk Munada geus lari prantos liwat distrik Majalaya jaga kudu atos-atos Rahaden Patih mundur DemangJaksa kitu deui geus mulih ka bumina senangsuka kalbu bungah manah andolengah tipu manjur muslihat kaliwat matih ayeuna kajadian.
- Serat salse ditawis ku gusti prantos mies dibantun ku camat disang,gakeun ka // residen 92 enggal putusan jebul surat sekors enggeus bijil Rangga Anggawireja buan g ka Cianjur dua tahun teh lamina den wedana geus disaur ka nagari ngadeuheus ka bupatya.
- Barangdongkap medekan ka gusti geus cong nyembah mando di payunan tun gkul lan gkun g ajrihna teh hiji perkawis ratu raja Bandung sarat nagari kaduana mertua eta dalem Bandung sabab garwa Raden Rangga putra teges eta teh dalem dipati Raden Ayu Rajaningrat.
- Malah geus kagun gm putra istri jeung pameget Raden Natadigja ari nuju bureyna teh Aom Waktura disebut
sabab waktu raja sumping bejana ti Nederland hikayatna kitu aom dibabarkeunana kaduana putrana teh anu istri Den Maraja In ten tea.
- Katiluna Raden Nim ban pistri jeungNyi Raden Kombara Intenna putra Raden Rangga kabeh tah putrana sakitu anu mawi ajrihna leuwih ari eta Den Ran ramana kacatur nya Kanjeng Dalem Dipatya Suryanata Kusumah dalem dipati nagara Parakan Mun can g
- Rama Dalem pek alon ngalahir he Ki Ran gga Wadana ayeuna ieu di jero surat teh dibuangka Cianjur dua tahun lilana pas ti ari di Majalaya di distrik nu tun ggu jadi wakilna wadana enya eta Mas Astareja patinggi pa tin ggina Bojon g desa. I I
- Walon unjuk Raden Rangga tadim 93 unjuk mangga sadawuh paduka abdi dalem tumut bae amung agung bebendu dosa teu gaduh saeutik estuning ku hianat DemangJaksa malsu ron ah dadamelanana
estu wantun unjukan dora ka gu sti saestu dadamelan.
- Dawuh dalem masingsabar ati kudu trim a kersa Yang Sukma Gusti Allah anu murbeng sababna ieu tan gtu dipariksa jalan nu adil lamun henteu salah mah Raden Rangga wangml reujeun g diri salametna ayeuna mah didoakeun singlastari masingsalamet awak. 5 11. Cumalim ba Raden Ran gga pami t bari nyembah nyium ka sampean nyuhunkeun jiad sangkatong Raden Rangga ge us mundur parantos mulih ka bumi lajeng dan gios sadia an gkat ka Cianjur nalang5a anu dibuang teu ngaraos kagungan dosa saeutik mungsaestu ku pitenah.
Kacaria; nu aya di dis trik Majalaya di tin ggal wadana distrik mani sepi combrek di kaum asa suwun g di paseban tiiseun sepi Ki Mas J aksa nalan g;a Ki Kopral ngaheluk sumawonna Ki Kabayan Bapa Arjim mani riwih-rawah ceurik Ki Lurah panayaga n.
Bapa Sakim lurah jero deui pek midangdam pokna duh// juragan Eyah oge milu leweh Mu Arib ge nya kitu Ambu Acip oge ceurik tukan g ny an gu juragan kabeh eusi dapur ear reangsadayana duh juragan ieu ngiringjisim abdi teu kiat abdi ditinggal.
- Anu jadi wakil suka galih Mas Patin ggi Ki Mas Astareja geus prak sawadana bae es tuning sun gguh-sun gguh n gajadikeun harjanin g dis trik n gadamel jalan besar di wates Citarum dugi wates Cicalengka jalan awon dumugi ka sae bersih jalan nepi kajadian. 5 15. Saren g nyieun perjalanan cai sl okan-sl okan galalede pis an eta solokan Cikaro ninggang rewuan bau jadi sawah teu kurangcai reujeungsejen solokan Rancajigang Srudut sarta sajaba ti dinya tegal-tegal dibedah katindih cai nya eta jaradi sawah.
- Kebon-kebon pinuh ku nu hasil pepelakan jam be jeun g kalapa jam bu bol jeun g sejen-sejen peuteuy jengkol jeunglimus
diprentahkeun ka abdi-abdi Majalaya jadi harja distrik jadi gemuh abdi-abdi pada cekap estu rajin Mas Astareja berbudi n gamajukeun dis trikna.
- Ku pangagen g kamanah teh teuin g tina bisa satya kumawula es tunin g ka puji gede ku scmahan katurut // sagpla damelna jadi 95 beuran g peuting suhud Majalaya jadi kon gps kamashurkeun sugih mukti abdi-abdi teu pisan mucung budina. XX Pupuh Pucung
- Kakocapkeun Suriala di Bandung j aksa Purwakarta anu ngumisi teu weleh enyay-enyay geus ngolebat pulisian.
- Hal Munada sapeketna es tu teguh gegedugna tea Demang Biskal anu kongkol jeung baturna nu asup ka lid rasiah.
- Keur diusut mung ayeuna tacan bitu malah digaradah petina Demang Biskal teh enggeus kosong mung hangseur bau kacida.
- Tapi pageuh manahna jaksa teh kudu neken keras pisan
teu salah demangjaksa teh yen anjeunna anu kagungan buatan.
- Lajeng angkat den jaksa ka jro kadatun seja ngadeuheusan ka payun kanjeng bupatos aya untuk rasiah kabina-kabina
- Kanjmg Dalem ka Surialaga nyaur he rahaden jaksa ka dieu sing deukeut le_ngen beja naon hayang lJ!Ura pok nyarita
- Piunjukna Raden Jaksa kaulanun ngunjukkeun rasiah kedah di ditu di pangkeng bilih aya laleur putih di diru mah.11
- Kanjeng dalem jeung jaksa ka pangkeng asup 96 geus calik duaan pun jaksa unjukan alon abdi dalem seja ngunjukkeun katrangan 526 "Hal Munada ieu perkawis kausut siga Demang Jaksa anu ka Munada kongkol sareng rencangna kumpulan lid rasiah.
- Amung ayeuna teh teu acan kausut henteu acan terang amung he nteu salah bae moal gagal per buatan Demaang J aksa.
Ayeuna teh abdi dalem teh panuhun manawi pasihan sarewu reana artos bade ongkos-ongkos sepion mukana
Sinarengan ka kanjeng tuan kaunjuk Kanjeng Resden enggal eta pun Demang Jaksa teh Raden Mangunagara teh sina enggaL
- Sabab upami aya keneh di Bandung abdi henteu luas ngumisina ta ngtu kagok angel pisan kana kenging ka terangan.
- Sah arita Kanjeng Dalem enggal lungsur ka loji unjukan ka Kanjeng Tuan Residen sapiunjuk den J aksa Surialaga.
- Sareng jaksa pek dipaparin sarewu uangna karetas nagadawuh tuan Residen hade pisan isuk urang rek nimbalan.
- Prantos kondur kanjeng dalem ka kadatun jaksa // prantos mulang 97 kocapkeun isukna bae geus kumpulan di payunan kanjeng tuan.
- Kanjeng Tuan Residen alon ngadawuh he Tuan Romenda uruskeun lelang sakabeh maneh anu kudu jadi notarisna.
- Sapi rounding nu reana ratus-ratus di Blubur Limbangan eta kudu jual kabeh nu kagungan tuan Nagel anu tilar.
- Ari batur Arya Patih milu ngurus reujeung Demang Jaksa
ayeuna arindit lengen ngalelangkeun kudu di distrik Limbangan.
- Tabe unjuk Tuan Romenda pek mundur. rawuh Demang Biskal Arya Patih nyembah leos sadayana angkat ka distrik Limbangan.
- Geus sarumping anu tiluan pangagung ka distrik Limbangan jeung wadana geus pasondong nu jenengan Mas Arsaen wadanana.
- Sigeug eta urang kocapkeun di Bandung J aksa Surialaga anu ngumisi keur ngeleg eukeur ngolo ka garwana Demang Biskal.
- Ngotok ngowo Raden Jaksa henteu jauh ti eta istrina Raden Salimantri anom. garwa Demang Jaksa anu pawarangna. //
- Bobogohan jeung Suralaga gulung 98 Dasar Sury alaga lenjang anom serta kasep paromanna kawas panengah pendawa.
- Aya pamor pulisi nu endah lucu roman lir Arjuna Suryalaga lenjang koneng estu matak kabiteun para nyi mas.
Enden Salimantri bogohna saestu ka Surialaga demi tepang ngagalentor anu sono birahi kabina-kabina.
Dipahugi ku Suryalaga saratus atoheun kacida dasar istri mah teu saeh henteu kuat ku panggodana satria.
- Pek ngalahir Suryalaga manis imut duh juwag dunungan nu denok enden nu maher anu jadi pupujan awak pun kakang.
- Engkang naros ka salira eulis eneng naha sili timbang bobotna engkang jeung eneng atanapi beurat sabeulah ti engkang. 54 7. Da engkang mah abotna sarewu gunung nya bogoh ka agan teus taya bandingna bae bari engok Salimantri diciuman.
- Lajeng ebog duaan prantos sakasur sinareng sabantal gugulingna geus digedeng Salimantri sukana marwatasuta.
- Subuh-subuh Suryalaga geus wangsul kitu pangolona Nyi Salimantri dioleg pangolona cara Raden Dananjaya.11
- Mahugina aya opat lima puluh 99 dina sakalina duit sarewu meh seep tambah manah Nyi Salimantri kasmaran.
XXI. Pupuh Asmarandana
- Nuju dina mangsa huji Nyi Salimantri unjukan jisim abdi seja naros kuma pikersaeun engkang naha bade mimanah ka abdi nu goreng patut kersa ngamanah lumayan.
- Atanapi nu digalih mung sakieu nu dimanah diri abdi anu awon abdi seja hoyong terang kana manah gamparan sukur mun kauntun tipung laksana jadi duriat.
- Sarehing diri sim abdi salamina disangsara ngan dipangwayuhkeun bae dua tilu dugi opat sareng kirang sugema kawantu anu diwayuh sok sono ka anu ngora.
- Nagebeg Den Jaksa nguping ngucap dina jero manah eta geuning sugan bae nya eta anu diteda ieu wakca ti heula mugi pitulung yang agung enggal bukakeun rasiah.
- Sah dunungan anu geulis dunungan engkang nu lenjang // sadaya prantos kahartos 100
engkang narima kacida numawi bebeakan engkang komo lipet ratus nya kasukaan ka agan.
- Numawi sakiue geuning ba waning engkang ku suka bade migarwa ka enden da engkang teu gaduh garwa cikeneh pepegatan ayeuna mendakan madu nu bela ka awak kakang. 5 5 7. Kakang seja belapati rek mikanyaah ka agan ku anu satia hate mung engkang tacan kapaham kuma piakaleunana rehna eulis kapan ridu tuang raka Demang Biskal.
- Tur enden garwa kahiji agan padmi pawarangna geus tangtu enden dienod ku raka dihormat-hormat eta nu jadi sesah tungtungna engkang nu ripuh naha barangta ku agan.
Tangtos jadi nyatu ati kedanan sesah landongna margi bogoh ka nu rebo mihayang ka nu kagungan tur saluhureun engkang eta tangtu matak bingung ngabingbangkeun awak kakang.
Nyi Sali ngarontoh nangis nyuuh kana pangkon raka duh engkang nu matak nyedet hate asa dikeureutan badan raos papisah tulang sumsum asa ajur ari ras lahiran engkang.
- Mun kitu engkang nya galih rek mikanyaah rayinta abdi seja bela gede sanajanna Demang Biskal eta taya halangan da diri abdi geus embung nya badan geus henteu duka. //
- Teu suka lantaran rujit 101 awon lalampahanana kawas sanes pangkat gede boga lampah ngabarandal ngesu sarta maehan diri abdi mah palaur sok sieun kabawa-bawa.
- Den Jaksa mani mutiding cengkat bulu salirana sisiakan salira kabeh Salimantri diusapan dilalahun ditimang duh juag maduning ratu ratu istri mercapada.
- Nu geus lungsur Rarashati ti sawargamaniloka buktina nya ieu enden sang widadari menjelma eukeur ngaraja badan
engkang kahujanan madu maduning sarina kembang.
- Lajengkeun eulis nu geulis ulah alang kumapalang trustrang teh enden nu jentre sangkan engkang aya jalan mikanyaah ka agan miasih saumur hirup jeung moal ngawayuh engkang.
- Dasar pangwujuk nu manis bisana Surialaga ka awewe ngolo-ngolo dasar mungguh awewe mah uduh kabina-bina teu kaop pisan ngadangu kapangwujuk manis ngeunah.
- Nun engkang yaktosna abdi terang lampah Demang Jaksa jeung Munada teh sailon sareng salapan batuma sapuluh sareng Munada sawelas anu kaitung nyeta Raden Demang Biskal. //
- Ngadamel aturan kongsi 102 nyeta kumpulan rasiah badami di huji pangkeng pangkeng eta nu di tengah dinya tempat barempag jalemana teh disebut anu sawelas lid tea.
- Ditrangkeun lampahna julig maehan asisten tea
eta si Munada yaktos piwarang ku Demang J aksa samalah kedah dua jeung Kanjueng Bupati Bandung ngan eta mah henteu beunang.
- Geus Munada ngarah pati disimpen ku Demang Biskal di jro peti kai gede anu prantos digaradah tatapi henteu aya da Munada geus dibunuh ku pamentana sorangan.
- Nu meuncit Ngabehi Juri kaduana Surareja katiluna bapak Kento ka opat Natawijaya dipeuncit dina solokan sosokan nu ngocor ngidul ari bangkena dibalang.
- Ka jero wahangan cai ka Cikapundung keur caah lajeng dipalidkeun bae tah kitu nu sayaktosna anu mawi Munada sanajan mangtahun-tahun dilari moal kapendak.
Nuhun putri laksa keti geus nyariosan ka engkang mangga engkang teh meresen ieu artos eukeur jajan bade ngagaleuh sinjang sareng encit nu lalucu ieu lima ratus perak. //
Kararima liwat saking mugi-mugi Gusti Allah enggal marengkeun ngajodo engkang ka salira agan Salimantri walonna rai langkung rewu nuhun kana pasihan kang raka.
- Malah itu hiji abdi ku engkang mangga pariksa Ambu Ciut babu eneng eneng Gilar eta putra eta nyahoeun pisan dongkapna teh isuk-isuk Munada ka dieu jolna.
- Tuluy asup kana peti Mu Ciut oge ningalan Raden J aksa nyaur alon he Ambu Ciut kumaha naha maneh teh terang piunjukna teh sumuhun terang sakumaha eta.
- Mu Ciut dileler duit dua puluh lima perak Mu Ciut mani ngadegdeg tayoh saumur dumelah teu acan nampa uang reana uang saratus saratus tatalen perak.
- Kinten tabuh tilu wengi Surialaga pamitan pokna he nu geulis enden engkang teh pamit rek mulang aya perlu di imah
isuk ge engkang rek muru ka dieu ka agan nganjang.
- Mangga saur Salimantri tapi masih wengi pisan engke prantos siang bae dawuh raka kajeun agan isuk ge moal gagal engkang teh ka diue muru Jaksa Anom prantos mulang. ! ! XXII. Pupuh Sinom
Jaksa Anom lajeng mulang
104 Suralaga binangkit cara Rahaden Arjuna maranan ti Banowati kalangkung suka galih ka lebet rahaden muru ngageuingkeun gulang-gulang unjukkeun ka Kanjeng Gusti Kanjeng Dalem Dipati harita gugah.Raden Jaksa pok unjukan kaulanun Kanjeng Gusti perkawis teh prantos terang anu maehan geus sidik si Munada nu julig tatapi eta pangjurung dititah ku Demang J aksa geus ngadamel hiji kongsi pakumpulan rasiah sawelas jalma
- Diunjukkeun sadayana sapiunjuk Salimantri sareng piunjuk babuna
Ambu Ciut nu ngingali asupna ka jero peti Munada teh isuk-isuk sinareng geus seep uang meresen ka Salimantri wengi ieu nya lima ratus rupia.
- Mu Ciut sapuluh pasmat artos geus seep beresih prantos dianggo sadaya nu dilari prantos hasil lahiran Kanjeng Gusti sukur bagja rewu nuhun perkara eta geus terang sarta enggeus meunang saksi langkung bungah manah kula kacida.
- Ari perkara uang mah masih keneh kula sugih najan salaksa rupia di kula masih sayagi 11 asal perkara hasil 105 kajeun beak puluh rewu tah ieu den Suryalaga kula teh paparin deui sarewu perak eukeur ongkos Raden Jaksa.
Ku jaksa geus ditampanan uang nu sarewu rispis diasupkeun ka pesakna uang keretas laleutik dawuhan sang bupati Raden J aksa hayu milu urang ngadareuheusan ka Kanjeng Residen di loji Kanjeng Dalem jeuang jaksa prantos arangkat.
Digugahkeun kanjeng tuan residen parantos calik tatabean jeung bupatya ka jaksa nyakitu deui lajeng Dalem ngalahir sadayana kapiunjuk yen per kawis prantos terang lajeng Tuan Residen nulis ka Batawi ngadamel serat laporan.
- Ngunukkeun eta katrangan Demang J aksa anu julig Rahaden Mangunagara anu prantos awon galih nu ngajurung ngarah pati Asisten Nagel dibunuh malah reujeung bupatina ngan henteu kenging bupati prantos terang ti Salimantri bojona.
- Sareng ti babuna budak anak demang anu leutik Ambu Ciut teh wastana geus terang kaliwat saking ari eta nu kenging katrangan nu leuwih nyumput rasiah Surialaga // J aksa Purwakarta nagri 106 nu pangkatna masih kenenh ajun jaksa.
- Ayeuna eta diteda jadi jaksa Bandung nagri ngagentos Mangunagara reh ieu pinter berbudi cukup pikeun di nagri jemeneng jaksa di Bandung ngadamel serat geus tamat
da henteu karulem deui Tuan Residen Bupati sinareng J aksa.
- Surat ka Batawi iyang harita geus indit gasik demi enjingna geus beurang tuan Residen ngalahir Sarean Upas kakasih ngaran Mas Istor nu segut godeg jeung simbar dada dawuh tuan maneh indit bawa surat ieu ka Blubur Limbangan. 59 l. Saur enggal Demang J aksa sarawuh Ariya Patih ayeuna kudu kabawa tumpak kareta pos misti kudana genep narik nu genep kudu diuyun sangkan kreta bisa gancang saban pos kudu diganti parentahkeun ka mandor pos sing sadia.
- Ku Kanjeng Dalem ditambah huji abdi nu berani wasta Raden Natasura umbul Janggol di nagari jangkung dedeg ngalinggirik Natasura segut pamuk tanaga nandingan badak banteng ngamuk ge dibanting di Bandungna jadi kekentong pahlawan. //
- Lajeng dibahanan surat
107 baris ka Den Arya Patih jeuang ka Raden Demang Biskal Sarean jeung umbul indit
tumpak karet pos tarik saban pos diganti rusuh genep-genep kudana ka Blubur limbangan nepi kin ten tabuh dua welas waktu siang.
- Karaget Rahaden Demang Demang Biskal Arya Patih Sarean jeung Natasura tarurun rusuh ngagedig nyanggakeun serat gasik ti Kanjeng Resden di Bandung geus ditampa ku duaan unina disaur gasik Ariya Patih sara wuh Den Demang Jaksa.
- Kudu enggal-enggal pisan ka Bandung kudu baralik ari surat ka patih mah poma jaga ati-ati Den Demang J aksa cangking poma ulah bisa kabur ka Cianjur terus ba wa jeung Natasura ngajagi katiluna Sarean Istor sing yatna.
Kamanah ku Raden Arya Arya Patih nu berbudi jaksa diajakan gancang karetana prantos indit Demang Biskal ngalahir naha bet disaur rusuh aya naon ieu kakang saur patih duka teuing da kakang ge weleh teu ngarti pisan.
Unggal pos enggeus sadia kuda genep tilu baris sadia beunang makean jol kareta prak diganti atuh bet henteu lami ka dayeuh Bandung geus cunduk liwat kaca-kaca wetan // ka pengkolan enggeus nepi 108 di palebah pengkolan warung Mu Alan.
- Nu ayana lebah Br aga nyeta lebah toko de Vris Demang Biskal gegeroan eureunkeun kareta kusir ngagugu kai kusir eureun kareta teu laju mundut cai Demang Jaksa diberean dina kendi ku Mu Alan anu boga warung eta.
- Ngaleueut Ki Demang Jaksa ngaleguk hanaang teuing karepna mah arek luncat bari ngagilirkeun keris ditewak ku Arya Patih duhungna lajeng dialung ditampanan ku Sarean diteundeutkeun jaksa calik ku Den Patih jeung ku Raden Natasura.
- Tuan Resden gegeroan sarawuh Dalem Dipati geuwat-geuwat masing gancang naha kreta eureun lami kareta geus indit deui geus ngalangkung alun-alun ngaliwat ka kampung Pacinan
malah geus ngalangkung Andir ari resden tadi ngagentraannana.
60 I. Ngarandeg di tengah jalan lebah alun-alun nagri bari marayun ka wetan ka Mu Alan henteu tebih wara-wiri abdi-abdi sapanjangna jalali pin uh ku jalma anu naringal anu nongton heurin usik abdi-abdi nu lalajo Demang Biskal
- Kocap reang nu midangdam narangis pameget istri rame // di bumi kajaksan 109 istri-istri sami nangis gandek badega careurik tangis sadaya ngaguruh sumawon di kapatihan reang mani ting jarerit wanti teu terang di jalan-jalanna.
- Sinigeug nu keur nalangsa nu prihatin sami nagis kocap sakitan di jalan sakitan Mangunagara jaksa digoendeng pa (pa) tih teu melang da patih segut dedeg cakep sarta gagah sanajanna Biskal budi moal kuat ngalawan Adinagara.
- Di lebah sasak Ciokan kira dinya tengah peuting Demang Jaksa arek ngejat rek lumpat ka tengah cai
katewak ku den patih ku Natasura diburu jeung Bang Istor Sarean jaksa diteundeutkeun calik ulah kitu saur Raden Arya Patya.
- Adi teh kudu ngawula Ka prentah Dalem Dipati jeung parentah Kanjeng Tuan Residen kawasa nagri eta nu nyekel adil anu matak kudu nurut Demang Jaksa teu ngajawab mung sumegruk bae nangis geus ngaraos yen kabuka rasiahna.
- Kinten dina pukul dua nepi ka Cianjur nagri nagri Bandung geus katukang Kanjeng Dalem Adipati sarawuh Raden Patih wadana sareng panghulu mantri jeung camat nagara geus sayagi nganti-nganti ngadagoan dongkapna Mangunagara. //
Barengna jeger kareta 110 dordar pecut lapor kusir sami caricing saya enggeus moal salah deui eta sakitan pasti Ki Demang J aksa ti Bandung barang jrut ge pada nema digondeng ku Raden Patih patih Cianjur jeung Raden Wadana kota.
Dilebetkeun kana kamar anu disarigsig beusi kamar beunang ngadangdanan parentah Kanjeng Dipati dawuhan Residen nagri Demang Jaksa prantos asup kana eta pangberokan dijaga ku perejurit tilupuluh perjurit anu ngajaga.
- Arya Adinagara reujeung Natasura sami katilu Abang Sarean harita pada marulih dina kareta deui geus dongkap ka nagri Bandung unjukan ka Kanjeng Tuan sareng ka Dalem Dipati tambuh polah urang Bandung sadayana. XXIII. Pupuh Gambuh
- Ngocapkeun anu kapungkur bangke Munada nu galun di Cipaundung keur palid ngocor ngetan Cikapundung memeh ngocor ngidul ngulon.
Palid ngambang bangke ngalun ku caah umpalan ngambul ka Karees bangke palid nyangsang di tampian nanggul mayit malang ngajoropong. //
Nu boga jam ban kasebut Den Ditakusumah sepuh nuju Raden Dita gering kasawatna panas ripuh di bumina teh ngarengkol 613 Lanjangna teh budak lembut ngaran si Asmi geus matuh ka cai rek nyeuseuh samping barangna nepi ngaranjung manggih bangke ngaja manggih bangke ngajoropong.
- Nyangsang dina regang haur sisi Asmi lupat ka lembur ka Raden Dita pupulih Den Dita ngeureuyeuh muru neang nu nyangsang ngajolor.
- Carek jalma anu nyebut anu paeh ngopet ngarun urang desa Cipaganti peuting tadi ting galedug hujan angin gelap dordar.
- Enggeus lalesotan bungkus la won jeung samak geus ucul si mayit teh geus buligir clana sontog baju kutung beuheungna urut dipotong.
Ba rang Raden Dita jebul kaget manina ngarangjung mayit teh tetela sidik dedeg gede jangkung luhur kulit mayit koneng obyor.
Dita Kusumah geus nangguh nu nyangsang di regang haur eta Munada geus sidik katara badanna alus Munada eta katembong.
- J euang Dita prantos ngadangu hawar-hawar angin Bandung Munada enggeus dipeuncit nu matak harita nangguh yen ieu Munada yaktos.11
- Mayit teh tuluy disurung dirojok ku gantar haur si mayit teh enggeus palid henteu kungsi Iila jebul sirahna datang ngaleong.
- Eta nyangsang deui hulu dina eta bungbun haur bungkusna mah prantos leungit ku Raden Dita diburu tetela Munada yaktos.
- Disurungkeun eta hulu kahilir geus ngagulusur dina cai balik deui manawi kabawa liuh tapi panonna molotot.
Cek Den Dita ulah kitu Kang Munada geura tuluy masing pasrah ka Yang Widi da prantos dugi kawaktu Kang Munada masing jongjon.
Sabalikna kuring nuhun jeung akang rai patepung rai neda pangaksami hapunten anu disuhun ayeuna mah mangga leos.
- Ti dinya hulu teh tuluy di Cikapundung geus ngalun ka hilir palid di cai Den Dita balik ka lembur tatapina henteu ngomong.
- Dongkap ka bumi deui dug ngedeng deui wanti udur panas tiris dina diri ayeuna bangke kacatur badan jeung sirah ngaleong.
- Kocap aya huji kuwu lurah Tegalluar kudul desa Margacin ta sari lembur sisi Cikapundung datang anakna nu lapor.
Pokna teh bapa di ditu di tampian Cikapundung bet nyangsang sahuji mayit mayit jalma anu ngarun ngajulor dina golodog. 6 2 9. Mas W angsamanggala ku wu enggal bae muru-muru ka tampian enggeus tepi // caah cai Cikapundung 113 tetela bangke ngalonjor.
Ku Wangsamanggala tuluy ditegeskeun enggeus puguh sigana teh .eta mayit nyangka Munada saestu bet dumadak harita jol.
- Sirahna · Munada ngalun tetela kaliwat langkung lebah dinya nyangsang deui ku Ki Lurah teh disurung ku gantar sina ngaleos. 63 2. Awakna anggur ngaliuh teu daekeun palid tuluy Wangsa inget deui ati yen Munada teh kapungkur mihapekeun kuda belo
- Dua kudana jaralu di Ki Lurah geus satahun tuluy Mas Lurah ngalahir Kang Munada neda malum hampura lahir jeung batos.
- Ari kuda nu jaralu kuring neda idin kalbu bade dijual ku kuring duitna dianggo tangtu sidekah kakang nu maot.
Tiluna tujuhna tangtu matang puluh sareng natus eta kitu niat kuring mugi Kang Munada luntur neda pasrah lahir ba tos.
Prantos kitu sirah tuluy jeung badan ka hilir ngalun panon peureum buncelik raos manah Ki Mas Kuwu Munada prantos ngaleos.
- Wangsamanggala pek wangsul kudana dijual terus payu genep puluh rispis uangna anu sakitu dianggo sidekah yaktos. //
- Tatapi eta Mas Kuwu I 14 sidem henteu pisan betus sumawon lapor ka nagri ka para pangageng Bandung sidekah ge ting harewos.
- Sieunna kaliwat Jangkung upami Japor ka Bandung geus tangtu gujrud pulisi Jeuheung basa lamun lulus mun salah sieun diberok
Ditakusumah kacatur tuluy nyieun serat rusuh ka Arya Patih di nagri ngunjukkeun yen prantos nimu mayit Munada ngaleong. 641. Seratna teh prantos tuluy nu mawana bujang baku ngaranna teh si Muhalim ka paseban prantos cunduk ku patih ditrima geus top
Geus dibaca surat tuluy diasupkeun kana saku pek maneh Muhalim balik si Muhalim prantos wangsul · ka karees deui geus jol. 643 Cek Dita kumaha dawuh eek Muhalim henteu puguh lahirna ngan hempek balik taya lian ti sakitu Dita ewed teu ngahartos. 644 Heuleut kinternna saminggu Dita pek deui piunjuk ku serat nu cara tadi ki Muhalim indit rusuh ka Arya Patih prantos jol.
Suratna ditampa tuluy diasupkeun kana saku teu diwaca ku den patih ka Ki Muhalim ngadawuh Ki Dita saur didago
115Enggal Muhalim wangsul // diunjuk ka Dita kitu Ki Duta enggalna indit ka paseban prantos cunduk Den Arya ngandika alon. 64 7. Ha Dita surat piunjuk eta kula ewed langkung maneh enggeys manggih mayit tapi ku Dita disurung mayit teh sina ngaleong.
Naha atuh henteu guyur gendongan harita kudu mayit tahan ulah palid supaya menak karumpul kana mayit pada nongtong.
- Lamun kitu tangtu alus maneh kapuji satuhu kadangkala meunang puji ku dalem meureun disaur tangtu dileler totopong.
- Ku Kanjeng Resden Cianjur tangtuna Dita dineum diangkat nya jadi mantri jeneng jadi mantri ulu atawa jadi kaliwon
- Ayeuna mah henteu ujur nyaritakeun henteu puguh taya bukti taya saksi disusul moal katimu kadang mayit ajur amoh
- Dita helos geura wangsul Ki Dita geus yembah mundur ka karees prantos nepi bet dipikir enya atuh naha mun lapor bareto
Hanjakal kaliwat langkung meureun aing meunang untung ganjaran ngajadi mantri aing ginding jadi ulu dasar darajat moyodok11
Dupi Mas Wangsa kuwu henteu lapor sidem wungkul sok sieun diu tik utik bisi kacokel si jalu sieun bijil kuda belo. XXIV Pupuh Mijil
- Kocap Raden Suryalaga deui jaksa pinter an om prak nangkepan para lid sakabeh nya eta Ngabehi Juri Bapa kento sami geus nyandang belenggu
- Natawijaya elid nu julig geus pada dibrogod dilebetkeun kana bui gede dina kamar gelap dikunci geus ngarasa nyeri dosana kabitur
Ngararomong dina jero pikir aduh aing komo modol deui di nagri Bandung teh teu nyangka pisan nya ati ieu kapulisi naha bet kabitur 658 Da nya eta bongan saha geuning istri sina nyaho awewe mah nyiru rombgengeun teh babari kabujuk manis lewa-lewe biwir cara nyiru butut
Kaopatna Den Sasmita sami lima Padma ongkoh kagenepna Surareje leweh tujuh Sastra jurutulis kadalapan elid Den Wira kasebut
- Puspayuda nomor salapan lid eta geus diberok diasupkeun ka bui tangsi teh di Lengkong bui perjurit misah hiji-hiji teu kenging pacampur.
- Genep sakitan dinya geus nyepi nalangsa ngarengkol langkung langkung // kaduhungna hate 117 anu mawi menggahing jalmi ulah arek julig diahir kabitur
- Kanjeng Nabi Muhamad ngalihir dina hadis tangtos saha -saha nu milampah goreng sanajan oge saeutik dibalesna pasti ku nu awon tangtu.
- Kitu deui kasaean sami ku Gusti Yang Manon moal salah yen dibalesna teh ku kasaeana deui m·ugi emut sami sakur jalma hirup.
- Sanggeus salse nangkepan para lid kabeh geus diberok
prantos kenging sakur jalma goreng kanjeng Residen geus mulih malah jeung bupati kanjeng Dalem Bandung.
- Ka Cianjur parantos sarumping residen bupatos palay pisan urut aamel gede eukeur ngatur hal pulisi prantos senang galih da mung kantun mutus.
- Kakocapkeun geus bijil bisluit Suryalaga atoh geus ngajadi jaksa di Bandung teh Jajeng nungting perkawis ditulis diwincik daptarna diatur.
- Proses verbal hal eta perkawis didamelna jongjon sareng Arya Patih bae anu geus beres ditulis disanggakeun gasik ka Resden Cianjur
- Sanggeus beres daptaran pulisi sadaya parantos Demang Biskal // di Cianjur bae 118 didamel priksaan titi aturan nu adil nu beres saestu
- Tina sadaya p (a) rantas bersih malah geus dilapor Demang J aksa rek diiyangkeun teh Iajeng ngunjukkeun perkawis
halna raja pati tegesna teh bunuh
6 70. Pokna jaksa ka residen tadim abdi unjuk wartos seja ngunjukkeun ariya anom putra Dalem Bandung kahiji cikalna lalaki diogo dijuju.
- Angganagara eta geus sidik maehan sayaktos ngaran Retal dumugi ka paeh pamatang uncal nu brani imah tempat cicing desa Buahbatu.
- Dipeuncitna ku arya pribadi di tegal keur moro Tegalluar nuju moro rame eta dugi ka kiwari teu jadi perkawis musnah da ditutup
Sabab putra bupati kaasih nu langkung dienod sakarsana ge diogo bae najanna maehan jalmi teu jadi perkawis da putrana ratu
674.Dupi menggahing di diri abdi naha bet diberok sapadahal teu gaduh salah teh teu aya dosa saeutik demi anu sidik dosana ngabunuh //Dawuh Kanjeng Tuan Res den pasti eta rek diprios sakumaha piunjuk demang teh ku kami dipriksa titi engke lamun bukti aria dihukum.
- Demang Biskal pek unjukan deui abdi henteu hartos si Munada tetela geus jentre di Majalaya geus sidik emutan sim abdi wadanana cam pur
- Da abdi mah teu terang saeutik ka Munada gelo eta estu pitnah bae nu ngewa ka jisim abdi teu trima teh teuing jisim abdi campur
- Dawuh Tuan Res den eta deui wadana sailon Raden Rangga Anggawireja teh memang eta teh ku kami geus disaur gasik ka nagri Cianjur.
- Ayeuna mah demang kudu indit henteu meunang mogok Demang Biskal diiyangkeun bae ka Batawi pek dibui di bui Batawi tunggu priksa jauh
- Ngantos prios di rad van yustisi lami ngantos-ngantos
papriosan lami tacan salse wantu perekawis rumpil agengna perkawis Dangdanggula nunggu.
XXV. Pupuh Dangdanggula
- Kanjeng Tuan Residen ngalihir ka bupati Cianjur marentah saur Raden Ariya Anom putrana // Regan Bandung 120 Raden Angganagara gasik srawuh saksi saksina kabeh kudu saur jeung ahli warisna Reta] nu geus paeh nu dibinasa dipeuncit ku Arya Angganagara.
- Reujeung Jaksa Cianjur nagari enggal saur reh ieu geus beunang hal Munada enggeus heres eta jaksa Cianjur sina nyieun priksaan titi Raden Angganagara kasebut ngabunuh piunjuk dalem sumangga lajeng dalem miwarang ka patih ka Patih Bandung Ariya.
- Nyaur Raden Arya Anom gasik jeung saksina rawuh kulawarga si Retal nu enggeus paeh engalna surat tuluy gancangna ka Bandung nepi ka Rahaden Ariya Raden Patih Bandung dipetakeun saparentah
sadayana nu disaur prantos dugi ka paseban kumpulna.
- Kacarios jaksa sanes nagri geus marulang ka nagri-nagrina Sumedang jeung Garut oge Manonjaya Cianjur mung Purwakarta teu mulih di Bandung jadi jaksa eta geus dibenum sugih mukti beurat beunghar mulya suci ku gupernemen kapuji hal bijaksana satia.
- Ari nyai Raden Salimantri teu ditulis ku Surialaga da tadi oge ngan ngolo supaya bisa bitu rasiahna // anu buni 212 Salimantri ngarasa yen keuna ku tipu kaduhung kabina bina ra lami Demang Biskal prantos palid raka anyar teu laksana.
Enggal crios ka Cianjur sumping Arya Anom jeung saksi saksina samalah oge saderek eta oge ka Cianjur Raden Anggadireja rai rai Angganagara sarama saibu sarawuh ahli warisna Kai Retal pamatang anu geus lalis harita geus sadita.
Geus kempelan di jro srimanganti Kanjeng Tuan Residen geus lenggah sarawuh Kanjeng Bupatos sareng jaksa Cianjur kanjeng Residen ngalahir he Arya Angganagara raden geus kasebut ku Demang Mangunagara Raden enggeus maehan sahiji jalmi pamatang ngaran Retal.
- Dipaehan ku raden dipeuncit misan pisan sawkatu harita naha enya etaraden perkarana ditutup henteu dijalankeun adil kitu dakwana demang raden nu kasebut Ariya Anom ngajawab dawuh gusti Kanjeng Residen nu adil abdi teu pisan pisan
- Hal perkawis eta anu yakti saawitna pun Anggadireja adi sim abadi sayaktos dina sahiji waktu di Tegalluar ngaberik sahiji uncal bikang harita kaburu dikadek uncal ngajopak dongkap // hiji pamatang Retal ngaberik 122 muru uncal nu geus beunang.
- Pek dipeucnit ieu ku pun adi ku ki Angadireja harita barangna harita rek cet Retal enggal ngarebut
miheulaan manehna meuncit kana beuheungna uncal tapi tina rusuh keuna ka leungeun Ki Angga ramo tilu sapatna samasakali ku go bangna Kai Retal.
- Pun adi teh ngaguling teu eling ngajolopong teu emut harita ka was anu maot bae ti dinya jalma guyur katinggal pisan ku abdi jisim abdi teh enggal ka dinya pek muru tina kuda gegeroan na kunaon eta kitu adi aing bari ngalumpatkeun kuda.
- Dupi eta pun Retal teh miris ku bawaning reuwas jeung sieunna ningal pun adi ngagoler marukanna geus pupus sinarengan sieun ku abdi marukan rek diruksak bet manehna jekuk newek beuteungna ku gobang newek maneh ku pakarangna pribadi ngalungsar maot harita.
- Abdi dongkap pun Retal lastari prantos hilang maehan sorangan saksi pada terang kabeh sahiji Kai Daud kaduana Bapa Mustari // katilu Raksaguna 123 kalima Astaparana
eta kutu sadayana terang sidik lalakon pun Retal hilang.
- Pek dipriksa Raden Angga rai unjuk trus trang sakumaha eta ramona nu rampal oge harita pek diunjuk terang yakin cinggir jariji harita henteu aya yaktos ramo buntung katingal ku Kanjeng Tuan salajengna diparios saksi-saksi sarawuh ahli warisna.
- Piunjukna eta saksi-saksi yaktos pisan pamatang pun Retal estuna maehan maneh sanes di peehan batur pada disarumpah saksi sadaya nyuhun Qur-an nu nyumpah pangulu samalah ahli warisna piunjukna yaktos pun Reta! pribadi newek beuteung sorangan.
Jisim abdi ieu ahli waris henteu pisan dakwa panasaran sanajana ti bareto abdi teu pisan maksud teu rek dakwa ka hukum adil da prantos terang pun Reta] maotna saestu sanens pisan dipergasa ku nu sanes da Reta] mah estu yakin maehan diri sorangan.
Raden J aksa ngagurtutna nulis pek nuliskeun caritaannana sapiunjukna sakabeh saparantosna putus Kanjeng Residen ngalahir hade bae marulang kaidinan wangsul ieu perkara geus terang // lain pisan pembunuhan anu yakin 124 bohon unjuk Demang J aksa.
- Nyembah pamit sadaya arindit ti payuneun kanjeng pangadilan Rahaden Aria Anom prantos mulih ka Bandung sasarengan sareng kang rai Raden Anggadireja saksina nya kitu sarawuh ahli warisna sami mulang ka Bandung prantos nepi sigeung sami slametna.
- Ayeuna teh urang kocap deui Raden J aksa Suradilaga jaksa anyar Bandung sohor proses verbaal kahatur pariksaan sakitan saksi geus salse sadayana malah geus kaunjuk ka Kanjeng Residen geus tamat sadayana geus kakintun ka Batawi kantun ngantos putusan.
- Mangga enggalkeun crios Batawi Raden Demang Biskal rek dipriksa di Batawi kantor gede dibui meh satahun
barang ka kantor geus nepi geus naek kana tangga tangga gedong luhur nya eta gedong bicara dumadakan den jaksa tuluy tiguling ragrag pek kapaehan.
- Mani henteu pisan usik-usik saharita estu matak reuwas ti nya enggal sumping doktor mariksa nu ngudupung P,eus heres dipriksa titih sarta jeung dilandongan ku do ktor diurus dipriksa saluar bada lahir doktor ieu teh lantaran // nyeri 125 tina kurang senang manah.
- Kurang sare kurang dahar deui wantu jalma nu biasa mulya meunang siksa nu teu raos enggalna teh geus mundur dibawa deui ka bui teu lami jol putusan dua puluh tahun dibuang ka Surabaya gancang crios Raden Demang Biskal indit ngalakonan hukuman.
- Sinarengan pones enggeus bijil ti Batawi anu dihukuman ka jalma sakitan kabeh anu salah di Bandung lid rasiah anu jarulig geus nampa pangadilan buang ka nu jauh sahuji Natawijaya
ka Makasar dua puluh tahun pasti make kongkorong waja.
- Kaduana Bapa Kento sami ka Makasar dibuangna eta duapuluh tahun keneh sareng anu katilu nya eta Ngabehi J uri ka Ambon dibuangna dua puluh tahun kaopat Sastradireja ka Makasar du puluh tahun pasti jeung dirante beuheungna.
- Kalimana den Sasmita sami ka Makasar dibuangna tea dua puluh tahun oge Wirakusumah tangtu ka Ternate nagara tebih dua puluh tahunna lilana di ditu katujuh Mas Suradireja ka Makasar eta oge henteu leuwih dua puluh tahun rata. //
Raden Puspayuda dalapan lid 126 dua puluh tahun teh lilana ka nae;ri Makasar keneh lid salapan kase but Raden Padma oge sami nya ka nagri Makasar dua puluh tahun sadaya dikongkongrongan rante beusi dina beuh.eungna geus meulit geus iyang ceurik sakitan.
Tah sakitu bukti jalma julig nu hianat ka pada kawula di dunyana ge kabendon Iara masakat tangtu waduratna kaliwat saking minggalkeun rumah tangga nu aya di Bandung sanak kadang muga-muga dijauhkeun lampah hiri dengki ati nu anom masing iyatna: XXVI. Pupuh Sinom
- Ayeuna gentos nu kocap Kanjeng Dalem Bandung nagri Sang Dipati Wiranata Kusumah anu berbudi kenging putusan Batawi liren tina jeneng prabu ambahudenda ditunda sarta henteu kenging mulih kedah matuh di nagri Cianjur lenggah.
- Ti dinya dalem kumpulan putra tilu p,eus ngabaris Rahaden Sastranagara Raden Ary a An om linggih Den Anggadireja rai rawuh Raden Pangulu barempag reh liren pangkat sareng henteu kenging mulih kuma akal unjukan ka nu kawasa.
- Dupi menggahing gentosna nya eta putra kakasih Rahaden Suriakarta
Hadiningrat teh kumetir nya eta kumetir kopi Cianjur sabeulah // kidul bisluitna prantos dongkap sukabungah den kumetir gentos rama jumeneng raja nalendra.
- Disaur ku Kanjeng Tuan ku residen teh ka loji nampi bisluit aptina tabe calik dina korsi Tuan Resden ngalahir Rahaden Kumetir benum bupati Bandung nagara kudu enggal-enggal indit geura tampi damel ti patih aria. 71 2. Den kumetir lajeng nampa bisluit prantos ditampi tarima kasih ka tuan residen anu miasih anu ngajungjungkeun linggih nuhun laksa rewu-rewu diiring alhamdulilah pangasih ka diri abdi samalihna neda berkah Kanjeng Tuan.
Enggalna bae carita kanjeng dalem angkat gasik ngantun Cianjur nagara ka dayeuh Bandung geus sumping dipapag arya patih sarawuh ponggawa agung geus lebet ka datulaya sarta digentos kakasih ku jenengan rama dalem nu nyampurna
Nya Wiranatakusumah tumenggung Bandung nagari ponggawa suka sadaya diupatian ku wargi tunggal pisan sajinis turas kusumah hing Bandung suma won raden aria najan geus sepuh nya diri masih kuat jagjag waringkas salira
- Lami-lami kacarita kenjeng dalem adipati dalem rama ngabagawan anu masih keneh linggih dua taun geus leuwih lenggah di nagri Cianjur lajeng unjukan harita ku tuan besar pribadi neda idin ngalih ka Bandung nagara. //
- Sarta seja caos uang 128 nyanggakeun kana kas nagri reana teh opat laksa opat puluh rewu rispis ku gupememen ditampi uang opat puluh rewu dalem prantos kaidinan ngalih ka Bandung nagari ngaraton (n) a kiduleun lebet nu lawas. 71 7. Didamel karaton anyar saadat kraton bupati tapi dinya henteu lila karaton teh ngalih deui margina rada sepi henteu rame wantu pungkur dalem sepuh henteu betah
di tinya tch ngalih deui ka babakan nu disebut Karang Anyar.
- Tina alun-alun ngetan nu aycuna jadi resmi jadi hokl Homan endah jeung kantor residen deui dinya karaton narpati kanjeng Bupati nu sepuh ari aturannana nganggo d ua la wang kori pangjagaan gulang upacara.
- Karana taya bedana jeung karaton (na) bupati dalem anyar hingkang putra dina kaprahon bupati lopercsna sayagi gulang-iwlang reujeung umbul sumawon In) a parekan masih kcnch ratus istri harkat rama dalem saestu teu kirang.
- Samalah kraton kadua di Buahhatu sahuji endahna kahina-bina direka d ircsmi-resmi paranti plcsir gusti nutug karsa nurut napsu kitu dcui rnoro uncal teu beda ti jaman tadi dihormat ku wadana camat lurah. //
- Ka distrik-distrik mun angkat 129 henteu hcnten ti sasari ngolah marak di walungan dihormati dipusti-pusti
dalem sepuh suka galih reh ku putra teu digauggu nya eta ku dalem anyar sakarsa rama dipusti tayan pisan kahoyongna nu dipungpang.
- 1..amun milet di wahangan di Citarum tilu wengi kadang sok dugi kaopat kulemna di luhur cai dina bandungan nu resmi dipasang lima parahu nganggo saung salimar tetabahna satra-sutri sutra endah diwangga kasumba mulya.
- Murub ngempur ngelab-ngelap mendung katebak ku angin tiis raos kasalira ngadalingding angin leutik di jerona pin uh istri parekan nu mohmoy lucu nu endah geulis jatnika baheula harkat bupati nanding raja sang Arjuna Bahusastra.
Kitu bae salawasna mungguh di Bandung nagari aya bupati dua tapi henteu jadi risi da mungguh abdi-abdi sadaya tetep sumujud ka rama sareng ka pu tra taya bencongna saeutik kitu deui rama putra lulus pisan.
Amung aya saperkara eta naha duka teuing nu ngarang teu pati terang kana eta hal sahiji hiji putra narpati // nya putrana dalem sepuh 130 sederekna dalem anyar pangkatna mantri nagari nu jenengan Rahaden Sastranagara.
- Anu kakongaskeun gagah sakti weduk pilih tanding teuas kulit henteu teurak ku pakarang pedang keris eta raden mantri anu geus kocap kapungkur dipisieun ku Munada samemehna ngarah pati nu didongdon ngan Mantri Sastranagara.
- Demi saujaring beja eta teh rahaden mantri saprantos jadi rakana kumetir jadi bupati ku residen diangkir disauma ka Cianjur bade didamel gentosna ngajadi kumetir kopi entos Raden Suryakarta Hadiningrat.
- Tapi anjeunna teu kersa anggur nyuhunkeun paidin liren tina padamelan tina damelna kumetir lajeng angkat ka nagri ka Mekah Madinah munjung jiarah ka makam-makam
ka makamna Kanjeng Nabi di Madinah Muhamad dinil mustapa.
- Sareng makam-makam lian sinarengan munggah haji enggalkeun bae criosan harita geus sumping deui ka Bandung geus jadi haji jenengannana disebut sinareng gelaran rangga kasebat Haji Gajali Raden Rangga Haji Gajali wastana.11
- Ku bejana teh disangka 131 lambangsari sareng istri prameswari dalem anyar sinarengan mangsa huji ku panyebut pulisi pagah ngabar gobang ngempur di buruan datulaya disangka rek ngarah pati tambah-tambah aya surat andar-andar.
- Datangna teh surat tea nya bijilna ti pos nagri unina surat panangtang nya ngajakan perang tanding ka urang Bandung nagri surat kacandak ku prabu nya ku dalem anyar tea ti dinya dalem badami jeung ponggawa mantri anu sararepah.
- Enggalna dalem unjukan ka tuan residen gasik yen eta rayi saurang nyuhunkeun dibucal tebih
sarta bade digajih tujuh puluh lima tangtu tujuh puluh lima perak gajihna dina sasasih neda tulung ku gupememen pasihan.
- Mangke bade digentosan potong ti aprek (i) (e) n kopi ku gupememen dimanah eta Raden Rangga haji dibuangna geus indit ka nagri Ambon nu jauh teu puguh jangji lilana kitu saujaring warti mange kocap mun geus pupus dalem eta.//
- Roman (n) a Sastranagara 132 jangkung ageng slira gilig godeg cambang lir Purbaya kumis ngajedig dipuril matak ajirh nu ningali segut manggut sarta lucu nyata menak Melajang tengah satria putra Arimbi Gatotgaca ngahiang ti Bandung mangkat.
Sakalangkung brangta manah ngantunkeun bali ngajadi tanah pusaka nagara Bandung nu asal dikari tapi najan prihatin da kedah bae diturut sakarsa anu kawasa gupememen anu adil nu ngahukum kaadilan nu sampuma.
Ari garwa nu dicandak mung sahiji eneng Uci istri Cianjur asalna gandekna lalaki hiji Mas Elom anu ngiring nu suhud bela tumutur ka eneng Uci sabrayna lastari anu geus indit tunggang kapal ngelab-ngelab teh layarna. 73 7. Ayeuna kebat carita ngocapkeun deui nu tadi geus lami teuing ditinggal di Cianjur bae linggih dua tahun meh leuwih ayeuna teh idin mundur den Rangga Anggadireja cutak Majalaya distrik henteu salah mung kapungkur ku pitenah. 73 8. Geus mulang ka Majalaya ngajadi wadana deui ngaheunyeuk distrik nu lawas kumaha tali paranti ari nu jadi wakil patinggi Bojong kapungkur ngaran (n) a Mas Astareja dumadak lantaran istri Raden Ayu Mantisah garwa kadua. //
- Ma'lum nu diwayuh tea 133 jeung nyi Mas Bunga nu geulis ga"rwana nu sepuh asal istri asalna ti Suci neng mantri nyeri galih da kabayahkeun ku maru ngentab panas dina bayah
nyeri meulit dina peujit siang wengi mikir sangkan meunang jalan.
- Bet beh mendakan pikiran lajeng den mantri ka nagri nepangan den Raja Ningrat reh saderek Raden Mantri ka Raja Nigrat istri eta saderek saibu putra Raden Ayu Puspa den Puspa istri ti Suci putra patih baheula Raden Surangga.
- Barang dongkap ka nagara disambat diajak cali.k deudeuh ayi nyi Mantisah geuwat nyai geura calik aceuk sono teh teuing geus heubeul henteu ka Bandung den mantri coeng nyembah hormat ka kang raka langkung tadim geus caralik papayun-payun duaan.
- Den Raja Ningrat ngandika aya beja naon ayi kawas nu semu rareuwas den Mantri ngawalon manis sapi lahir aceuk sidik abdi teh gaduh kabingung ku salaki disangsara tilu bulan teu di gilir teu balanja teu ngalongok //-longok acan. 134
- Pikir abdi kalepasan hutang nyeri taur nyeri hutang lara bayar lara
kasrengenan teuing ati seja hatur wawarti rasiah ageng kalangkung eta teh pun Astareja salaki abdi patinggi wakil wadana di distrik Majalaya.
- Kalakuannana mahiwal teu biasa sareng wargi sabab gaduh sesertfbahan
- nya efa sahiji kai kai suren ngajegir dipager ku haur cucuk di tern bur Bojong ayana deuk eut imah sisi.gawir caket pi san ka roromp ok Astareja.
- Manehna nyembah ka dinya saban malem Senen Kemis jadi teu nyem bah ka Alloh ka Gusti Nu Mahasuci henteu ka Kangjeng Nabi Muhammad imamna rosul Astareja estu Buda nyata Agama Majusi. malah-malah eta teh jadi dagangan.
Jalma nu ti mana-mana tina sejen kampung distrik ka dinya pada mumuja sarta pada mere dui t genep baru genep ketip sag (ul) den salapan baru jaba congcot jeung bakakak kuncen indungna pribadi eta kitu peta laku Astareja.//
Neda tuhmg aceuk pi8an hawelas menggah ka abdi unjukkeun enggal-enggalan ka Kangjeng Dalem Bupati hal eta ki patinggi boga laku nu teu umum Raden Raja Ningrat jawab eta mah iJimpang teh teuing keun ku aceuk diunjukkeun enggal-enggal.
- Kacarioskeun isukna ti bumi lajeng arindit Raden Ayu Raja Ningrat sareng Raden Ayu Mantri ka lebet prantos dugi kangjeng dalem pek ngadawuh embok Raja Ningrat enggal den Ayu gek ho rmat calik calik mando kumaha adat biasa.
- Rai dalem pek ngandika aya naon embok warti rai geus heubeul teu tepang ka embok sono teh teuing ulah sok lami-lami ka lebet teh kedah larsup cara baheula ka ama ayeuna rai ngaganti ka saderek ulah arek asa-asa.
- Nuhun unjuk enden Raja ngunjukkeun perkawis tadi sapiunjuk den Mantisah henteu kaliwat saeutik malah ieu pun adi enden Mantisah dibantun
lajeng ku da lem dipriksa tetes perlente lir tadi geus kadangu nu ngagedur manah panas.//
XXVII. Pupuh Durma
- Kangjeng Dalem Sang Tumenggung Wiranata 136 Kuswnah nu binangkit alon angandika he embok Raja Ningrat sarawuh eta nyi Mantri hade marulang ku rai prantos kaharti.
- Hal perkara memang eta teu biasa jalma nyem bah ka kai cara jalma Buda Majusi agamana mangke diurus sing tertib ku rai pisan krana eta hal pulisi.
- Hiji menak nu jadi wakil wadana bet nyembah kana kai sartana merdaya nyieun bodo jelema. nu muja merere duit congcot bakakak. eta henteu pantes teuing.
- Raden Raja Ningrat jeung Raden Raja Mantisah ti lebet geus marulih mulih ka bum ira di kampung Ciguriang desa Kawn jero nagri seja ngantosan kana karesana gusti.
755 .. Demi et a Raden Ayu Raja Ningrat harita anu kawarti geus misah jeu ng raka jeung den Anggadireja geus dikeser waktu tadi basa di buang ka Cianjur memeh in dit.
- Gentes raka ka Raden Kerta Kusumah kandruan mantri nagri kenging dua rutra istri dan Dewi Endah // jadi garwa Raden Patih 1.37 Tasikmalaya saderek misan kahiji.
- Rahaden Demang Suriajanagara putra cikal kahiji arya anom tea Raden Angganagara putra nu hiji deui den Raja Ningrat den Moon Jayanagari.
- Den Rangga mah Anggadireja kagungan garwa ka enden Garmi istri bijaksana kalangkung pinter binekas di Randu Kurung nya bumi Lengkong desana jro kota Bandung nagari.
- Nu dicandak ngalih teh ka Majalaya nya eta enden Garmi dumugi ka wapat tahun genep puluh slapan
mung ku kersana Yang Widi henteu putraan den rangga ti enden Garmi.
- Amung aya putu nu jadi sosoca pameget hiji wingi t kakasihna eyang wasta Raden Mubarak agan Ateng murangkalih ari ibuna den Marajainten istri.
- Putra Raden Rangga anu nomer dua ibuna anu tadi Raden Raja Ningrat ari rarnana eta rama agan murangkalih Rahaden Wangsa Kusumah anu binangkit.
- Nu ngagentos pangkatna jadi wadana di Majalaya distrik eta teh putrana den Rangga Natadigjaya anu geus // kasebut tadi 138 nuju bureyna Aom Waktura kakasih.
Ibuna teh nya i Raden Raja Ningrat kalangkung suka galih abdi Majalaya da gentos teh putrana Majalaya sugih mukti bareurat beunghar malah dugi ka ki wari.
Majalaya asal-esal ti baheula ti jaman Buda nagri ngaran Mandabaya nagara di Priangan ningal tanda-tanda bukti ti panganggona raja baheula nu sakti
- Di Rumbia pakeun karuhun Buda prabot genta pedang bedil jeung jaba ti dinya rawuh kitab-kitabna daun lontar teh ditiir sae kacida aksara siga diukir.
- Eta tanda ti karuhun raja Buda sapuluh nu kawarti Sanghiang Wiruna dewa ngajadi jalma jumeneng ratu narpati di Mandabaya anu kasebut ku aki.
- Nu kahiji Prabu Mrajan Inten raja kaduana kawarti Parebu Rawana ieu sanes Rahwana tilu Prabu Jem bul Putih nu jadi raja di Mandabaya nagari.
- Kaopatna Sang Parabu Puspalaya anu jeneng narpati nagri Mandabaya ari nu kalirnana anu ngawasana nagri
Bujanggalawa prabu anu mahasakti.//
- Kagenepna Sang Parabu Mandabaya ratu nu gagah sakti mungguh katujuhna di dinya jadi raja Prabu Wastu Agung Aji raj a prawira pilih bobot pilih tanding.
- Kadalapan Sang Parabu Panglimanan eta ge Buda sakti dupi kasalapan Sang Parabu Sandaan tunggal raja gagah sakti kasa pul uhna ieu anu kawarti.
- Jadi Raja Sang Parabu Pananyaan tah sapuluh kawarti sok pakeannana disimpen di Rum bia agama Buda diganti nya ta ku Islam nya mualap abdi-abdi.
- Eta kitu panyariosan pun eyang tahunna nu kawarti mimiti lslamna tahun (n) a nu kaetang srewu lima ratus leuwih sareng punjulna dua puluh lima warsi.
- Jadi urang Majalaya mualapna meh opat ratus warsi
kirang lima belas eta kitu bejana leresna mah duka teuing da kula beja ti aki anu wa warti.
- Lami-lami nagara ngajadi cutak cutak nya eta distrik mungguh ayeuna mah distrik ge geus teu aya geus ngajadi inder distrik kitu gerakna gerakna dunya nu mutir.//
- Ayeuna teh urang kocap delem tea 140 isukna ge teu lami gurudug pek angkat delm nitih kareta ka Mahalaya geus sumping henteu ngiberan-sangkana ulah katawis
- Pek ka Bojong kanjeng dalern pura-pura nyalira gadag gidig ka lemburna tea dumadak kasodong sidik uibu Mas Asta kucen eta tangkal kai.
Keur sasapu di hadapeun suren tea lenang mani lalening dalem jol ka dinya sarta alon ngandika he ibu ieu sim kuring seja rek muja kana ieu tangkal kai.
Kuring urang Bandung hayang jadi pangkat tah ieu saperak duit nyeta pupulurna neda kabul paneja walon nini sukur teuing lah hayu ujang urang nyembah kana kai.
- Lajeng angkat dalem sareng kuncen tea ka eta handapeun kai barang jol ka dinya nini andeprok nyembah duh Gusti Nu Maha Sakti ieu putuna nyuhunkeun jadi priyayi
- Nini ngukus ngebulna ngabulak-bulak pokna. he ujang yakin dikabul paneja ujang ngjadi pangkat I 1 dalem nyakakak nyikikik atuh geus nyata kontan ayeuna ge jadi.
- Anu nyamar ngamdika ka kuncen tea he ibu kuncen nini iteu nu dipuja nu dina kai tea jenengannana nu pasti eta teh saha hayang terang kuring nini.
- Kuncen walon ngaharewos henteu bedas pokna tebepun teuing neda pangampura ka iteu nu kawasa
ka nu linggih dina kai nini cucungah nyebut jenengan nu suci
- Wasta eta Sembah Dalem Kalurahan jenengan (n) ana nu sakti ceuk karuhun urang Sanghiang Prabu Raja Jembul Putih ratu sakti anu baheula nu ngahiang ka sawargi.
- Mulih deui ti nagri sawargaloka nya pek lenggah dina kai dongkap ka ayeuna jadi juru slametna nu nulungan abddi-abdi kana paneja dikabulkeun ku nu sakti.
- Sanggeus terang kanjeng Dalem angandika he nini ieu kami mun nini teu terang ieu teh awak kula nya eta kula bupati dalem nagara karaton di Bandung nagri.
Nini-nini ngadegdeg lajeng kasima ngarumpuyuk ceurik jebi bari totobatan seja neda hampura nyembah sujud bari ceurik kana sampean neda hapunten jeng gusti.
Dawuh dalem kula seja ngahampura pek geura balik nini ka itu ka imah kai arek dituar dalem nyaur abdi-abdi. geus pada dongkap suren ngagedor ku patik.
- Suren rubuh geus dituar ku sadaya dipotongan disiksik // haurna dibukbak 142 wareguna jajam baran piring urut kukusna dibasmi teu ngajanggari
- Geus salese nuar suren dalem mangkat ka Majalaya mulih ki Mas Astareja dilirenkeun harita tina dame! jadi wakil najan pangkatna eureun ti pangkat patinggi.
- Nya ditampi padamelan ku den Rangga Anggawireja deui di distrik Majalaya camatna deui kawarti harita anyar ngangentos camat nu lami.
Raden Wangsadireja jenengan camat putrana wadana distrik Wadana Banjaran Arya Sacanagara di Majalaya geus tiis taya karingrang wadana jeung camat rapih.
Astareja kaduhung kabina-kabina kenging bebendon gusti hanjakal kacida ras ku gawena rongkah ngajadikeun jalan cai nyieun solokan nyieun jalan gede deui. 793 Prantos dua anu dibuka rasiah panegerna teh ku istri tadi Demang Biskal ku Salimantri garwa dibukar-bokarna sidik kabeh rasiah nya jadi cilaka diri.
- Mendak deui ieu nyi Raden Mantisah muka rasiah salaki nepi ka babarna dipocot panjenengan tah kitu eta nu bukti hade contona ulah mercanten 11 ka istri. 143
- Poma-poma sadaya masing iasa nyimpen rasiah sing rikip istri ulah terang jeung lamun trang istrina hatena kudu kabeuli sangkana bela mun sukaeun moal meuncit.
- Kocap nyai Mantisah waktu harita istri masih murangkalih yuswana nonoman rupina jatnika endah geus dikeser talaj hiji
ku Astareja geus randa nyi Raden Manti.
- Prak ditikah ku Raden Wangsadireja camat Majalaya distrik nu anyaran tea ka dinya duriatna laki rabi kungsi lami branahan putra pameget sinareng istri.
- Pangkatna ge dugi ngagentos kang rama jadi wadana di distrik nya eta Banjaran dumugi pansiunna ka Arab rek munggah haji ditu ajalna pupus di Mekah lastari.
- Ari camat gentosna di Majalaya nya eta hiji mantri Ma Muhamad Hamdan ti kopo mantri gudang camat Majalaya distrik langkung kamanah sagala damelan jadi.
- Caringinna alun-alun M'ajalaya bejana teh diganti saprantos Munada tahunna mun teu salah opat puluh genep warsi dugi ayeuna masih sarae caringin. I I
xxvm. Pupuh Asmarandana
80 I Ayeuna anu kawarti kanjeng dalem sepuh tea di Bandung keur ngangluh gede kasawat wales kacida diriung para putra putra putu sami kumpul ngalayad dalem teu damang.
- Dirjo puri heurin usik dukun paraji darongkap sanajanna tuan doktor landong taya anu mental dasar mahlukna Alloh lamun (n) a nepi ka waktu henteu beunang dihalangan. 803 Geus dongkap ka titis tulis dalem dumugi ka ajal langgerek nu pupus saleh kawas anu kulem tibra ngalempreh mancur cahya anu alus nguwung-nguwung mayit cahaya gumilang.
- Ear istri nu narangis garwa putra maridangdam dadasar mungguh urang teh sok hayang ulah patinggal aya bae di dunya bukti lamun anu pupus sok rame ditarangisan.
- Pek dipulasara mayit kumaha adat biasa ari dimakamkeunna teh
di jero desa Cibadak di lebet dayeuh pisan nelah anu nyararebut maka Dal em Karang Anyar. 11
- Sigeung anu geus lastari kocap kanjeng dalem putra sakalangkungna kasohor nampi pirang-pirang bintang bintang singa Nederlan jeung bintang Oostenrijk luhung srawuh bintang ti Parasman.
- Nelah dugi ka kiwari nu nyarebat Dalem Bintang koncarana ka sakabeh sareng kabeungharanana taya anu nandingan antara Regen di Bandung uangna puluhan laksa.
- Putrana anu kawincik anu katerang nu ngarang pembarepna teh Rahaden Suryakarta Hadiningrat patih di Cicalengka anu ayeuna pan(g) siun nu kenging gelaran arya.
Tur beungharna sugih mukti taya kakiranganana demi putra kadua teh rahaden rangga wadana den Wiranata Ningrat distrik Cisondari Bandung prantos pan(g) siun ayeuna.
Putrana pameget deui gan Uwi Natanagara anu geus jadi haji teh sareng rai eta dua pameget sadayana jenengannana kasebut Rahaden Wiranagara.
- Raina deui sahiji gan Yahya Natanagara jadi Iima pameget teh ari istrina mah opat hiji agan Lembana kaduana agan Galuh katiluna agan Legan
- Kaopatna putra istri agan Sumarni bureyna prameswari bupatos jadi garwa dalem Lebak ayeuna langkung muliya kenging pan(g)siun di Bandung tur beunghar 11 taya kakirang 146
- Istri anu sugih mukti beurat beunghar rea banda gedong sakalintang sae estuning karang kaputran dasar masih nonoman tur binangkit yasa ngatur ngatur beberes di latar.
- Jumlahna teh opat putri sinareng lima sa tria jadi salapan putra teh putrana sang Dalem Bintang
ayeuna hikayatna urang ringkeskeun nu alus tong panjang teuing criosna.
- Ayeuna kaselang deui ku carios anu lian bisi hoyong anu ngaos kocapna anu ka tukang nya agan Eros kembang ayeuna mah prantos sepuh nya Rahaden Adilaga.
- Pangkat wadana di distrik distrik Ujungberung Wetan teu lami ngalih ka Peser nya jadi keneh wadana kenging gelaran rangga dedeg jangkung tegep segut paroman siga Eropa. 81 7. Ayeuna carios deui Dalem Bintang urang kocap nya urang pendekkeun bae tahun tujuh puluh opat di dinya teh mangsana Kanjeng Dalem Bintang pupus makamna di Karang Anyar. I I
Henteu lami jol bisluit 147 anu diangkat harita nu jadi ganti bupatos rai saibu sarama sadedegan sarimbag enya eta patih Bandung Demang Kusumahdilaga.
Nu pinter sarta berbudi bijaksana tur perkasa kana damel langkung getol anu nyaah ka abdina geter pater nagara ngaguruh di dayeuh Bandung den Demang Patih diangkat.
- Du pi nu jadi papatih patih di Bandung gentosna nya eta rakana keneh saderek dalem sarama patih ti Cicalengka ngalih jadi patih Bandung Demang Wiradikusumah.
- Krana eta raden patih pang (ng)alih ti Cicalengka harita mah gajih naek kana tilu ratus perak da di Cicalengka mah dua ratus Iima puluh bayaran dina sabulan.
- Ari anu jadi patih di Af de ling Cicalengka Wadaha Kota Rahaden Suryakarta Hadiningrat putrana Dalem Bintang tadi anu geus dicatur kitu karsa nu kawasa.
- Ngocapkeun rahaden patih tadi ku kula kaliwat ayeuna nembe dicrios kawantu carita butbat matak bingung pikiran //
22&
ayeuna nembe dicatur crios Raden Arya Patya.
- Nya eta Rahaden Patih Ariya Adinagara saparantos ku putrana ku wadana di Lem bang eta jadi patih Bandung den Demang Ardikusumah.
- Darnel cara rama tadi tatas patitis sampurna bijaksana tur perlente lami jadi papatihna geus pupus digentosna ku kumetir kopi mashur Demang Kusumah Dilaga.
- J adi patihna binangki t yasa ngurus padamelan sadaya katiten kabeh henteu aya nu kaliwat sarta getol ibadah ka masigit unggal waktu netepan barajamaah.
- Matak gila nu ninggali lamu n dina kahuruan pedang ngabar ngidul ngaler muntir cara sisintiran tandangna matak gila camb ang galing rumbah na nggung ma tak serab nu ninggalan.
- Panganggona Raden Patih ari dina kahuruan lancingan bodas ngajepret
raksukan hideung potongan brendel kancing welemna pecis pasmen mas ngagebur nyoren pedang ngangsar-ngangsar.
- Pedangna dibubat-babit sinarengan gegeroan marentah jalma sakabe h kudu pada maju me ta mareuman seuneu tea den demang es tuning pamuk lir Amir (H)amjah keur perang. //
- Lajengna kocap nu tadi ngajadi bupati tea tujuh puluh opat tomper tahun (n) a waktu harita Bandung gemah raharja sugih muk ti abdi jegud pamarentahan kareta. 831. Murah manah welas asih ka abdina nu ti han dap taya pisan manah awon mun nyeuseul ka priyayina sanggeusna diupahan ku panganggo nu aralus atawa diganjar uang.
- Aya ganjaran nu mukti sok di taek (k) eun pangkatna malah sareng diperesen kitu pangadatana jauh ti ngabinasa priyayi salamet mulus da teu dijieun salahna.
XXIX. Pupuh Kinanti
- Kocap Kanjeng Dalem Bandung kenging pangkat adipa ti Kanjeng Kusumah Dilaga lami ngajadi bupati ngadamel pesta santosa ramena kaliwa t saking.
- Pestana langkung saminggu ongkos (na) anu katulis sabelas rewu reana punjul opat ratus rispis tahun dlapan puluh lima sakitu seepna dui t.
- Jadi mung sawelas tahun dina tu menggung bupati numawi pesta kacida dalem langkung // suka galih 150 menak-menak sadayana wareg tuang leueut amis.
- Kueh nu dianggo nyuguh kapadina jeung perstik kueh nganggo es sadaya tuan-tuan ti Batawi nu ngurusna katuangan. leueutan mah puguh deui.
Sapanjang dalem ngadatun di Bandung teh suka sugih ay euna ringkes carita dalem langkung maksad galih ku hoyong kagungan putra reh dalem gapong teh teuing.
Neda-neda ka Yang Agung ka Gusti Allah Nu Suci sareng ka Nabi Muhammad ka kuruhun kitu deui luluhur Bandung sadaya nyuhunkeun karamat Nabi.
- Gusti Allah Maha I..uhur ngabulkeun paneja ati kawantu Allah mah murah asal urang bersih pikir nedana anu sampurna tangtu dikabul ku Gusti.
- Ari garwana sang ratu enya eta tilu istri hiji anu pawarangna jencngan putri Retnadi nu endah sarta jatmika sabudi-budina manis.
- Salamina eta lapur teu kagungan putra hiji gapong-kosong salawasna ari eta den Retnadi putra dalem Cianjur tea Prawiradirja <.ipati. //
- Garwa nu dua kacatur 151 enden Ugi anu geulis putrana Raden Kwnendang Indra Kuswnah perjurit di Bandung kapala perang eta jadi garwa gusti.
- Garwana nu nomer tilu enden Sukarsih nu manis
nu endah sarta jatnika sarta pinter lantip surti nu bijaksana sampuma pantes garwana bupati.
- Demi eta enden ayu Nyi Raden Ayu Sukarsih putra den Prayaciipura linggihna di Bandung nagri ari eta den Paraya ramana ieu di tulis.
- Jenengannana kasebut Den Adiwirja kumetir taneman kopi di Lembang ramana kasebat deui Rahaden Prayamanggala pangkatna eta patinggi.
- Di desa Cikupa mashur bawahan Banjaran distrik ari eta teh ramana den Prayadipura deui pangkatna ngabehi cutak di Dayeuhkolot nagari.
- Ramana eta dicatur ieu teh anu diwincik Rahaden Sutadiraksa wadana di lebet nagri Dayeuhkolot teh baheula geus saratus tahun leuwih.
- Kitu deui nu kasebut dina jarah ditulis putrana dalem baheula Raksakusumah bupati
nagri Cikupa Banjaran kitu katrangan ti aki.
- Den Praja nu tadi catur ramana enden Sukarsih kagungan sederek // tunggal 152 sai bu sarama pas ti wasta Raden Yudasastra pangkat mantri gudang kopi.
- Di Cirateun bawah Bandung saderekna mung sahiji ayeuna deui nu kocap garwa kadua neng Ugih eta teu kagungan putra gapong lir juran dipati.
- Garwa katilu kacatur nu wasta enden Sukarsih prantos tilu sasih ngidam dalem langkung suka galih hajat nadar saban Jum'ah ngariung para kiai.
- Nuju dina tujuh santun nya hajat tingkeban deui sami ngiring ngadudunga mugi dika bul Yang Widi enden babar putra mulya pameget mu gi sing wingi t.
Enden Sukarsih kacatur ngimpen meh di saban wengi awit karagragan bulan bulan ninggang kana diri jeung ngimpen ngadahar kembang kembang anu sarareungit.
Ny eta katurunan wahyu anugrah ti Maha Suci pasihan Allah taala Neng Sukarsih pranta> dugi salapan sasih brag hlbar putra pameget respati.
- Dalem langkung suka kalbu muji sukur ka Yang Widi ka Allah Nu Maha Murah ngabulkeun paneja diri harita teh enggal hajat nyalametkeun murangkalih. //
- Kangjeng Bupati ngadawuh 153 ieu wasta murangkalih jenengan Aom Muharam nyandak ti ey ang suwargi Kanjeng Dalem Karang Anyar kakasihna nuj u alit.
- Mariem diseungeut jegur jumegur sawidak kali eundeur sajero nagara pada terang abdi-abdi sadaya marwatasuta bungah sagunung geh leuwih.
- Demi dina hiji waktu sanggeus ageng murangkalih Dalem Kusumahdilaga angkat ka Cianjur nagri tepang jeung dalem dipatya dalem Cianjur nagari.
- Bupati anu geus luhung Prawiradireja gusti
anu rea kahonnatan aria jeung cdipati bintang emas rupa-rupa sinarengan payung kuning.
- Dalem Bandung alon saur ngandika kalangkung manis lahiran (n) ana kang rama kagungan pu tra lalaki jenengannana Muharam umur tujuh tahun leuwih.
- Mangga bebesanan atuh ti kang pitra putri istri pamegetna ti kang rama dalem Cianjur ewed galih kumaha pikeun ngajawab da teu boga putra istri.
- Aya oge hiji pitu eta prantos laki rabi tapi pek bae nga jawab suman ngiring teh teuing tumut sakarsa kang rama ti kang putra mangke istri.
- Saparantosna dirempug // tuang leueut bojakrami 154 parantos tuang bubaran mucung budi bari mulih Dalem Kusumahdilaga ka Bandung parantos nepi. XXX. Pupuh Pucung
- Kacarios anu keur jaman kapungkur ayeuna kac[a] rita
saenggeus dalem sumeren Dalem Bintang parantos taya di dunya.
- Raden Rangga Sastranagara kacatur tadi henteu kocap anjeunna pang katna naek nya kumentir kopi Bandung ka kidulna.
- Sarta kenging gelaran rangga kasebut ayeuna teh kocap di nagara Ambon kosen kana pangkat kapalana leknan rang.
- Kenging gajih hiji sisih lima puluh ti anu kawasa paparin ti gupernemen ngaretakeun prusuhan Ambon barandal.
- Dina tahun tujuh puluh lima catur lajeng diseretan ku dalem Bandung saderek nya ku Kangjeng Dalem Kusumahdilaga.
- Enggal mulih ti Ambon teh buru-buru prantos nunggang kapal di kapal dihormat gede sabab nganggo-nganggo dangdos leknan perang.
- Kapal dongkap ka born Batawi palabuh lajeng lungsur dinya bet tepang sareng saderek nyai Raden Rajamirah teh ti Mekah. //
Di Batawi sami nganjrek dua kumpul 155 Pintu Kecil tempat di mandor Dipa linggih teh dua tilu dinten ngaleureuhkeun slira.
Kocap Raden Muhamad Hamim di Bandung den pangulu landrad Cicalengka apdeling teh enggal angkat ka Batawi mapag rama.
- Nya ramana anu tadi geus dicatur eta Raden Rangga Sastranagara nu kosen dumadakan tepang di kareta rembay.
- Kreta setum ti Kota maju ka kidul gekna antel pisan den rangga panganggo kosen pek mariksa rahaden anu ti mana.
- Den pangulu ngawalonan bari imut kuring bade mapag rama nu rek sumping tereh ti nagara Ambon Den Sastranagara.
- Raden Rangga Sastranagara teh imut aduh ieu anak bareto mah leutik keneh tapi henteu trus terang di waktu harita.
- Den pangulu panglingna kaliwat langkung reh eta ramana janggot godeg mani laer beureum ngempur tayoh nganggo dipacaran.
- Lamina teh dua puluh hiji tahun henteu pisan tepang ti dinya rama ngandika Ion raden teang ka imah mandor dipati.
- Pek papisah ti dinya teh ngaler // ngidul 156 enggal sami dongkap
kana eta tempat mondok di dinya mah sill (h) aku rama putra.
- Dangding tembang ayeuna diburu rusuh kapanjangan c[a] rita enggalna geus sumping bae ka Bandung (dugi) Raden Sastranagara.
- Prantos tepang sereng Rai Dalem Bandung Kusumahdilaga silih ron tok jeung saderek langkung sono tina prantos kalamian
- Pahorrnatan tuang leueutna murubul ngariung taruang sinareng para saderek saparantos masing-masing bubar mulang.
- Dipernahkeun ku dalem beulah ti kidul dina sisi jalan sakiduleun balong gede uang bodel dipasrahkeun sadayana.
- Mun teu salah sarewu dalapan ratus jawi paparinna rai dalem rupi artos panganggo mah sapirang-pirang reana.
- Senang galih ayeuna aya di Bandung kumpul garwa putra malah dumugi sumeren pupus ajal nu bijil ti dunya [nu] pana. XXXI. Pupuh Mijil
- Kocap Kanjeng Dalem Aciipati di Bandung bupatos
Dalem Kusumahdilaga teh geus nepi ka titis tulis dalem geus lastari harita geus pupus. //
- Dimakamkeun dina tempat tadi 157 Cibadak nu tangtos sareng rama sinareng saderek slapan puluh tilu warsi waktu pupus gusti munna teu kaliru.
- Jadi jumenengana adipati anu kacarios tujuh welas (lami) tahunna teh lamina jadi bu pa ti di Bandung nagari estuning rahayu
- Ngan tun hiji putra masih alit nya eta aom taya deui putrana mung saese Aom Muharam nu wingit terahing narpati rembes kusumahgung.
- Hingkang ibu langkung welas asih kang putra dienod sakola na nya di Bandung keneh lami-lami aom ngalih ka nagri Batawi sakola na luhur.
- Sarta aya anu mikaasih nya eta (ka) aom manguruskeun sagalana bae bareto anu miasin
tuan Senuk mufti nu miwelas tuhu.
- Saparantos tuan Senuk mulih nya aya panggentos tuan Hazeu anu nyaaheun teh karsa ngurus murangkalih estu dipiasin di tun tun rahayu.
- Kocap Kanjeng Dalem Adipati Cianjur kacarios garwana teh dua istri aheng Raden Ayu Napsiah wingit gapong teu dieusi teu putraan gabug.
- Nu kadua Enden Yaya manis eta anu rebo geus kagungan putra istri // dua putri langkung g eulis 158 nya agan Wiyarsih yuswa d lapan tahw1.
- Ari nu kadua gan Sutarsin eta sami elok mancur cahya putri marencenges wan tu putrana narpati terahing sajati turunan nu luhung.
Dupi eta putri gan Wiyarsih karsa rama katong enggal ditikahkeun bae pedah tadi pran tos jangji rama dalem lahir Kanjeng Dalem Bandung.
Nya Aom Muharam ngajadi nikahna parantos dina tahun eta harita teh srewu slapan ratus warsih jeung punjulna deui nyeta opat tahun.
- Sakola mah aom eta masin di Batawi jongjon demi dina tahun sapuluh teh Aom Muharam geus bijil sakola Batawi geus mulih ka Bandung.
- Da mertua sang dalem dipati geus pupus bupatos dalem Cianjur geus beres tacan aya nu ngaganti ari aom jadi jrutulis diben um.
- Jurutulis distrik Tanjungsari nya Sumedang kahot aom gentos jenengannana teh nyandak ti eyang suwargi rama uwa deui eta nu ditumut.
- Raden Wiranatakusumah ganti eta teh panggentos // garwana mah keur iskola keneh 159 di Bandung sakola padri di Cloester Walandi anom tolab elmu.
XXXII. Pupuh Sin om
- Urang kocap nu katukang jaksa Bandung nu binangkit Rahaden Surialaga disebut dina bisluit nalika basa jadi diangkat jaksa di Bandung dibarengan ku aria n ugrah gupernemen adil disebatna Arya Jaksa Suryalaga.
- Lami-lami kacarita linggih di Bandung nagari lintang kabeungharannana sasama taya nu nanding ngadamel srimanganti kraton gedong langkung alus harita taya tandingna dicet jeung diermas kuning tempatna teh di desa Suniaraja.
- Pasarbaru beulah wetan mayun ngaler langkung re.smi mayunan jalan ka wetan nu ayeuna bras ka bui estuning suka sugih Suryalaga di Bandung mancangkrama bojakrama murah pependeman duit anu jadi jalan tina kapinteran.
- Pakarangan nganggo lawang nyeta dua lawang kori nganggo tempat jaga-jaga niron saperti perjurit pacalang jero nagri
bagilir ngajaga baku di lawangna kori tea kopral-kopral nu ngumendir kitu peta Arya Jaksa Suryalaga. //
- Di payuneun pakarangan 160 nganggo babancong nu resmi jeung nganggo hiji paseban sarta ageng tur respati pase ban salendro degung ditabeuhna saban Ahad ngungkung ditabeuh ti enjing Raden Arya Jaksa bari bojakrama.
- Sumawonna tatayuban heuleut dua tilu wengi rencangna jeung menak-menak Jawa pasar oge ngiring ronggengna oge geulis Nyai Golek anu lucu kadua Nyimas Juwita kalangenan jaksa resmi langkung suka nu ngibing arak-arakan.
- Mun teu nayub sok ngawayang dina wengi wayang kulit wayang golek lamun siang dalangna anu binangkit Pa Konca anu nami anu disebut Paresut hade sora bisa peta atanapi dalang deui Ki Rumiang dalang Jawa nagri Tega!.
- Sareng dalang Pakalongan Ki Sawat dalang binangkit eta dianggo sadaya
ditanggapna ganti-ganti aria suka galih nutug napsu karep kalbu sakahoyong dilakonan namatkeun sakarsa galih amung lacur ka istri mah henteu pisan.
- Dupi kebeungharanana ratus-ratus sapi munding kuda domba pirang-pirang sawahna nyakitu deui saratus bahu leuwih unggal desa unggal kampung situ-situna puluhan pare ratus caeng leuwih warung sewa ngembat dina sisi jalan. 911. Kauntungan pirang-pirang saban bulan nampi duit sarewu perak ge aya untungna arya sesasih // kudana paburu deui 161 unggal distrik puluh-pulun moro uncal saban bulan ku deeng uncal ge sugih Jaksa Suryalaga estu beurat beunghar.
Titihanana kareta milor tenda sareng ancis kuda hideung masang-masang kuda dawuk ceplak sami sapasang deui gambir tilu pasang kuda alus ginding-gandang tur pertentang Raden Arya sugih mukti tinekanan kabeh saniat mananna.
Ari mungguh jrutulisna sahiji Raden Sadeli alias Sastrawilaga putrana arya pribadi kadua jurutulis den Kartadipura jangkung alona aria jaksa ti Purwakarta nagari katiluna jrutulis wasta Mas Jenal.
- Demi putrana kadua den Pangulu Landraad nagri di nagara Purwakarta putra nu katilu nami ieu anu .kawincik dina hikayat kasebut den Rangga Kartakusumah wadana Cikalong distrik nu dibawah nya ku Cianjur nagara.
- Kaopatna hingkang putra nyai Raden Inda istri ari kalima putrana den Sumadipura nami eta jadi priyayi camat Palumbon Cianjur tah sakitu putra lima ari eta anu istri rakana teh Rahaden Puranagara.
- Jumeneng camat Campaka bawahan Cikondang distrik tunggal Cianjur nagara anu kitu eta yakin bukti // jalma berbudi 162 berakal sarta berelm u kajadianana mulya
sugih banda rea duit rea putra kasmaran jaradi pangkat.
XXXlll. Pupuh Asmarandana
91 7. Kacrios aya pulisi pulisian di Priangan sosoca Kanjeng Residen biasa waktu harita ngilari kaawonan bisi aya anu nyumput kaawonan para menak.
- Wastana anu mulisi Sarean karesidenan nu jenengan Abang Istor rencangna Abang Campaka sareng Asep Maeran Agus Jereng oge milu ngider satanah Priangan.
- Barang ka Bandung narepi dinya aya· pependakan Arya Jaksa beunghar gede ku pulisi diteangan tina jalan-jalanna dicatet dikumpul-kumpu1 pamendak pulisi tea.
Perkawis(na) teu diwincik duka naon perkarana di dieu teu dicarios lajeng dilaporkeun enggal ka nu maha kawasa Kanjeng Residen Cianjur kalepatan Arya Jaksa.
Geus kenging tarima kasih Istor sareng kolehana malahan kenging peresen ongkos pangganti bekelna bang Istor geus marulang sarta bari unjuk nuhun kapasihan Kanjeng Tuan.
- Sanggeus Kanjeng Resden nepi catetan hal arya jaksa pek ngada // mel serat bae 163 ka regen Bandung harita nyaur deui Arya Jaksa kudu enggal ka Cianjur surat ka Bandung geus dongkap.
- Katampi ku sri bopati geus kamanah sadayana dalem angandika alon He emang Aria J aksa ieu bet aya surat emang teh enggal disaur ku Kanjeng Residen enggal.
- Ka Cianjur gasik-gasik Arya Jaksa ngawalonan kulanun seja tumaros abdi dalem tacan terang disaur bab naon tea marga kedah ka Cianjur abdi dalem hayang terang.
- Hariring dalem ngalahir duka kula henteu terang ayeuna mah mangga bae emang arya geura enggal Kanjeng Residen deuheusan
Arya Jaksa pamit mundur nyem bah ti payun baginda.
- Barang geus sumping ka bumi cacarios ka garwana sareng ka putrana kabeh yen disaur enggal-enggal akang teu raos rasa tangtuna aya nu hasud mitenah ka awak urang.
- Garwa putra sami nangis tina rakana nalangsa amung dipasrahkeun bae ka Gusti Allah taala memang Aria J aksa elmu hak sampuma cukup tutas-tutas geus ma'ripat.
- Enggalna aria indit nitih kareta pos enggal gancangkeun // geus sumping bae 164 ka residen ngadeuheusan lahiran Kanjeng Tuan Raden Aria disaur ayeuna timbalan kula.
- Aria teh kudu cicing di dieu saheulaanan mernah di den jaksa bae den aria lajeng nyembah mios ti payun tuan ngabujeng jaksa Qanjur geus tepang jeung Raden Jaksa.
- Aria dinya geus linggih geus mernah di Raden Jaksa
Raden Aria disekor Kanjeng Resden kacarita ngintunkeun srat catetan miwarang ka Regen Bandung ieu teh kudu dipriksa.
- Catetanana pulisi palanggaran Arya J aksa ieu buktikeun sakabeh ku dalem kudu pariksa sarta mundut laporna kacandak ku Regen Bandung eta serat parentahan.
- Dipariksa halna pulisi sakur jalma nu kasebat teu kaliwat hiji oge didamel proses verbalna demi salse sadaya pek dicandak ka Cianjur KU dalem ku anjeun pisan.
- Geus tepang kanjeng bupati tabe sareng kanjeng tuan tuan residen teh alon nyanggakeun salamet datang pek nyandak papriksaan Aria J aksa disaru nyocogkeun proses verbalna. //
Enggalkeun bae nya dangding 165 papariksaan geus iyang ka Batawi ka gegeden sareng panyatanana Rahaden Arya J aksa gupernemen jol putusan gupernur General ti Batavia.
Unggelna eta bisluit Aria Jaksa dilepas tina jaksa Bandungna teh serta henteu widi mulang ka Bandung ka bumina kudu matuh di Cianjur kitu kaputusannana.
- Den Arya Jaksa geus linggih di Cianjur genah-genah demi bandana sakabeh nu di Bandung dijualan uangna geus dicandak reana teh laksa rewu di Cianjur na ge mulya.
- Bumina di Selakopi dina caket kaca-kaca kaca-kaca beulah kulon dasar menak nu budiman sastrawan jeung hartawan di Cianjur wuwuh cukup tambah kabeungharannana.
- Barang prantos lami-lami dikinten dua tahun mah lajeng rahaden arya teh odensi Ka Tuan Besar ngunjukkeun hal ihwalna teu gaduh lepat sarambut amung ku bangeting pitnah.
- BuKtina da abdi-abdi sahiji taya nu dakwa najan diparios oge ku Dalem Bandung dipriksa eta mungkir sadaya
wondening siJn abdi cukup ku gemi ge.met kacida. //
- Ngajadikeun rejeki teu royal dimonyah-monyah eta nu jadi panastren sasama abdi sadaya lantaran abdi boga gede imah pake cukup sanes kenging ngarah-ngarah. 94 1. Da geus dadasaring abdi eta ka etang lumrahna ka nu cukup sok panastren sirik pidik ka nu senang sok ngewa ka nu boga hasud ka jalema cukup eta teh sadaya-daya.
- Sinareng pahala abdi anu ngengingkeun Munada anu ngabunuh asisten diBandung ngajadi kerta nya ku sim abdi pisan tatapi ahima kitu abdi pagah jalma jahat.
- Hal menggah eta perkawis jisim abdi serah badan nyuhunkeun timbangan gede kaadilan nu kawasa angrahan sampuma sadaya-daya kaunjuk ka Baginda Tuan Besar.
- l.ahiran di audensi tunggu Raden Arya Jaksa
ayeuna mah mulang bae mundur Rahaden Aria ti Batawi geus mulang jauh cunduk ka Cianjur anggang datang ka nagara
- Nu agung prantos ngagalih estu Raden Arya Jaksa sapiunjukna teu bohong jalma satia perceka yasa ngeuyeuk nagara beres roes sarta cukup tanda bisa bijaksana.
- Henteu kantos lami deui bisluit ganjaran dongkap jadi // Hoofd jaksa nu gede 167 di Balitung nagri peuntas gen tos gelaranana ayeuna titel tumenggung Tumenggung Surialaga.
- Ti Cianjur prantos indit ka Batawi enggal-enggal lajeng ngadeuheusan bae ka paduka tuan besar unjuk nuhun kasembah rewu laksa nya sumujud ngajungjung kana kurnia.
Ti Batawi prantos ngalih ka nagri Balitung peuntas cariosna gajihna ge mani tilu ratus perak gajih dina sabulan nu beunghar Kawuwuu cUKup cuKup cekap tambah mulya.
Kahoi:matan tambih deui langkung ti jaman ka tukang ku bangsa Eropa kabeh dipisobat dipihonnat tina lantip budina Raden Tumenggung Balitung termashur antaro dunya.
- Malah henteu ngalih deui di Balitung dugi ajal m ulih ka kalanggengan teh jinajah dihormat-hormat ku sadaya pra menak pangkat Walanda nya kitu jajap nganteur Ka kuburan.
- leu deui nyata bukti kitu kajadianana menak pertentang perlente satia tur bijaksana sampurna pangartina nyata dumugi ka pupus teu weleh mulya dihormat.
- Kedah emut murangkalih nyandak kias jeung ibarat dadasar teh hade hate kudu nyaah ka jelema miasih mere ngeunah dibalesan ku Yang Agung11 ku Allah Nu Kawasa. 168
953.· Olah sirikan ka jalmi cedikan sarta ngewaan teu kaop nenjo nu heres ngewa ka jalema gandang cua ka anu boga
adat luhur batan gunung karepna mapakan mega.
- Ka jalema miskin sedih ka nu beunghar sumawonna ka nu pinter langkung rehe da aing menak sorangan putraning sang nalendra lamun kitu estu cucud tangtu kabendu ku Allah.
- Sanajan putra bupati tangtu lapur teu laksana mo bisa nampi karaton kacandak ku anu lian nu berbudi sampurna eta kitu nu kapungkur carita jaman baheula.
- Nu aranom sing gumati nya pikeun ngajaga manah sanajan palinter oge ana henteu kasartaan ku kaalusan manah eta teu jadi jumungjung kana kamulyaan slira.
- Demi jrutulis nu hiji Rahaden Kartadipura jadi ajun jaksa gede lami-lami jadi jaksa ngalih sejen nagara jumeneng jaksa di Garut malah dugi pangsiunna.
- Jaksana Bandung diganti ku Raden Suryadipraja
Mantri Gudang kopi Ngan tong// eta mantri pipilihan pinter tur bijaksana ngantong teh bawahan Bandung nya Tarogong teh distrikna.
- Alo Demang Biskal tadi enya eta ti ibuna ibu jaksa (nu) anyar teh Nyai Rahaden Asmara saderek Demang Biskal Mangunagara kapungkur nu iang ka Surabaya.
- Jadina jaksa teh lami dumugi ka nampi bintang bin tang emas anu obyor sinareng gelaran rangga sareng gelaran demang kitu pangasih nu agung ka Rahaden Demang Jaksa. 961. Tilu puluh tahun leuwih dinesna den Demang J aksa dumugina kana liren pansiunan saban bulan di Bandung teh linggihna suka sugih lulus mulus diriung ku putu putra.
Amung di ahir pinanggih kacilakaan salira Rahaden Demang Jaksa teh kedah ngalih ti Bandungna ka nagri Pontianak di ditu dugi ka pupus duJca naon perkawisna.
Anu ngarang teu ngaharti henteu acan kenging warta tina pasal hal eta teh duka ku naon sababna estu poekeun pisan lebah dinya neda ma'lum teu acan kenging katrangan
- Anjeun(na) oge diganti ngagentos Kartadipura nyeta tina pangkat meester di Bandung gugu sakola Raden Suyakusumah jadi mantu Dalem Bandung Kanjeng Dalem Karanganyar.11
- Ge us tetep tumetep deui 170 pangkat-pangkat sadayana sirn::1 palipurna beres di Bandung taya kakirang sugih abdi beunghar menak Jul us rahayu nya laku salamet nagri marakbak XXXIV. Pupuh Balakbak
- Kacarios Upas Baron nu cilaka, dikadek ku Munada basa dina kahuruan, ngajongkeng digarotong ku perjurit ka imahna, di kaler. or.,7. Lami-lami cageur eta Ki Mas Upas, geus sae,
1.Jilandongan ku Tuan Doktor nagara, upas teh, tapi jadi cacad mungguhing awakna, leungeun teh. Jadi henteu bisa maju pagawean, Baron teh liren bae inansiun waktu harita, dipersen, kahirupan sapuluh perak sabulan, teu geseh.
Kapangkatan digentosna ku anakna, eta teh anu ngaran Upas Ujang sarta gandang, medengkreng, anu ngora make-make kaupasan, mentereng.
- Da turunan kumaulana ka menak, teu geseh singer bageur satia cara bapana, ujang teh, eta langkung-langkung kamanah kacida, kapake.11 971. Ayeuna teh ngocapkeun Abang Sarean, Istor teh 1 71 di Cianjur Sarean anu kamanah, ku Resden, sanggeus gentos Residen Klomberg tea, geus sejen.
- Jadi kurang pamoma teh kamatihan, kasakten henteu cara jaman Klomberg Resdenna, geus cebleh kehirupanana oge jadi kurang, geus meeng.
- Bejana mah ki Istor lampah teu halal, bet sedeng kolehana anu tadi disebatan, bet goreng maliara bangsat-bangsat jurujana, bet nyopet.
- Maralingan munding-mundingna di Rongga, parelen jeung ti distrik Rajamandala ku rea, munding teh, kitu deui ti distrik Gandasolina, Palered.
- Dibaw.ana eta munding-munding gelap, sakabeh ka Cianjur ka Abang Istor Sarean. Residen ku Bang Istor dijualna teh ka jagal. digesel.
- Kitu beja lalampahana Sarean, katangen ku Rahaden Demang Jaksa Suryapraja, dikeceng tina seukeut Demang Jaksa eta beunang, dirante.
Hukum landrat buang ka sejen nagara, Istor teh jeung batuma nu ngaran Abang Campaka, jeung Jereng srawuh Asep Maeran oge teu tinggal dirante.II
Anu nongton randa lanjang jeung parawan, cawen_e anu deog anu sengkal jeung nu pohang, porenges anu kampreng jaung anu ingkud-ingkudan, nu kampeng.
- Menak kuring kaget ningali sakitan, Istor teh kusababna di Priangan panggagahna, kasakten anu matih pangpangna anu dimanah, ku Resden.
- Ahir-ahir pinanggih kawiwirangan, dirante eta sugan babalesna ti Pangeran, Nu Murbeng reh gawena nu purah nyieun cilaka, ka kabeh.
- Kitu beja caritana ka nu ngarang, pokna teh nanging duka leres henteuna mah eta, beja teh lamun yaktos sumangga anggo tuladan, diri teh.
- Bukti nyata kaayaannajalema, nu goreng dibalesna ku Allah ku kagorengan, eta teh ageng alit kumaha timbang dosana, teu benceng.
- K.itu deui kahadean henteu salah, eta ge pamalesna ti Allah Anu Kawasa, geus jentre upas Baron hirup senang salawasna, dileler.
- Keur balanja uang teh sapuluh perak, senang ge pakokolot pansiunna saban bulan, nampi creng, tina jalan kabersihan kumawula, teu sedeng.
- Basil pisan ieu aoseun barudak, crios teh sangkanna teh terang nu bener nu salah, nya hate // kapanggihna untung rugi ku manehna, teu geseh. 173 XXXV. Pupuh Sinom
- Agung pralun pangampura neda hapunten sim abdi
rehing wantun kumalancang ngarang Munada didangJing tina sagala: sisip kantenan kirang jeung langkung sumerah ka an u ma ca mangga coret sareng tambih kirang langkung eta geus sadaya-daya
- Geus ditrangkeun di wiwitan yen ieu sesal1 teh teuing kenging kukumpul tatanya ayeuna ngajadi hiji wawacan hiji jilid lumayan pikeun ngalagu dupi ieu teh gambarna damel C.S. kreta api Rajapolan wastana Kartawinata.
- Dupi nu mere katrangan rereana nu kadangding ieu ku kula dikarang // ti hiji sepuh nu rajin 174 di Bandung anu linggih nu aya di desa Pungkur wasta Raden Yudasastra dina notana ditulis sepuh rajin sinareng panjang emutan.
Pamaksadan malak mandar aya gunana saeutiK pikeun tuladan sadaya Ka anu tolabul elmi nya eta murangkali.h anu ahir baleg cukup ieu rea keur ibarat awon sae geus kawincik ,l)ikeun conto slira urang salawasna.
Da ieu pepek sadaya waon sae warni-warni mapan geus terang tetela carios nu prantos bukti eta lintang utami nya nyandak conto ti batur teu kalampahan ku urang jadi teu karasa nyeri nu nyerina batur nu prantos milampah.
- Nu mawi rasa kaula ieu berguna teh teuing sugan aya mangpaatna kana manah murangkalih ka ieu muri-muri nilad nurun laku sepuh da ieu teh sepuh urang anu dikarang digending sanes tina cariosan dalang wayang.
- Kuraos kula nembean aya karangan jeung dangding hikayat karuhun urang sabab adat Sunda yakin tahayulna teh teuing teu kaop nyebut karuhun mungguh kajenenganana pagah matak hapa hui lamun melak hui sok tara beutian.
- Hartosna matak doraka lamun urang wani-wani nyebut jenengan kruhunna nu gelar sareng nu lalis aya oge nu wani nyembah jeung pokna tabepun kakara nyebut jenengan
eta kitu nu geus galib adat Sunda eta kitu ti baheula.
- Sesah pisan dirobahna lamun perlu liwat saking aya caritaannana ting harewos ting kecewis // semuna langkung inggis 175 ngawedar lampah karuhun bener ari hormat temah meman sepuh eta misti dihormatna ku urang incu-putuna.
- Tatapi geuning nabi mah salalahu liwasalim muhamad dinil mustapa eta teh kedah dipuji disebut jenengan nabi Muhamad sing ratus-ratus nya eta maca salawat muji ka jenengan nabi sareng dikir muki ka jenengan Allah.
- Kitu deui muga-muga putra-putu anu bakti nu gelar aya ayeuna nu sae atawa sisip mugi ulah rengat galih sakumaha nu kasebut awon saena beheula eta mah geus sanes deui nu baheula sanes sareng nu ayeuna.
- Baheula kajeung baheula ayeuna geus sanes deui bentenna kabina-bina mawi ulah jadi galih
anggor dimanah lantip ku kassatiaan kalbu nya ku manah narawangan eta nu jadi utami lamun bendu eek kula salah kacida.
- Da ieu oge carita lrnla henteu nganggung yakin kana pibeneranana dan kawantu kenging nganggit beunang tatanya deui nya eta di sepuh-sepuh sanajan carita wayang kanda dua tilu rupi kanda Cerbon kanda Tega! Pakalongan. OQ() (•»lining da l''ll sampa padahal galur mah huj1 tatapi henteu sarua rah ieu nyakitu deui meureun l·ek sepuh hij1 1 7(1 M:unada nitana kitu :.:ek sepuh anu saurang ih t'ta mah lain deui ..:uning k1eu ,·arita t.'ta Munada l 000 1\1ua-muga ka payunn
hayang mungtun kasaean ka sanak ka kulawargi kana jalan ·nu suci sangkan pianggih rahayu salamet raharja badan sugih mukti senang galih enya eta tina rea babacaan.
l 002. Upami salamet sadaya tangtos jadi repeh nagri nagara jadi kareta abdi-abdina basuki tangtu nyenangkeun gusti gusti urang nu disuhun sri baginda maharaja ratu wicaksana leuwih Maharatu Wihelmina di Nederlan.
1 003. Sareng sri baginda raja raja Hindia nu adil Kanjeng Gupernemen Jendral Tuan Besar nu berbudi tinangtos senang galih lamun abdina rahayu mapan ayeuna buktina sakolaan unggal distrik unggal onderdistrik sareng unggal desa.
Eta tanda kanyaahna gupernemen anu adil ka abdina bumi putra rea sakolaan abdi I I urang pada mumugi 177 ka Gusti Yang Maha Agung dilaksanakeun paneja sing palinter sing binangkit panarima tanda urang dipiwelas.
Urang ulah salah sangka dipiasih nyiliwuri dipinyaah bet joledar ka nu asih kana diri trimakeun sing gumati ku suhud beresih kalbu sing temen nya kumawula reujeung kasatya (a) n galih
eta dasar haat jalan kasaean .........................Ayeuna carios tamat nuju dina malem Kemis kaping dua puluh lima Agustus sasih Walandi ijrah tahun Masehi sarewu salapan ratus sareng sapuluh punjulna di tabuh sawelas wengi anu ngarang nyembahkeun sembah panghormat. XXXVI. Pupuh Mijil
- Mijil sumeja hatur pangbakti ku sembah pangbaktos ka sadaya ieu nu ngaos teh sinareng ka anu nguping neda pangaksami hapunten disuhun. Tam at Wal ( 1) ahu alam
W.P.T.J. M. Kartadinata di Banoncinawi, Priangan.
BAB III PENY AJIAN TERJEMAHAN TEKS
3.1 Keterangan tentang Terjemahan Guna menjangkau pembaca lebih luas, teks WCM yang disusun dalam bahasa Sunda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penterjemahan diusahakan sedapat mungkin secara harfiah. Namun bagaimana pun struktur bahasa masing-masing dan makna keseluruhan kalimat mendapat perhatian utama pu la, sehingga tetap sesuai dengan maksud pikiran pengarangnya. Dalam perterjemahan dicoba diusahakan berbentu puisi pula, namun kiranya hal itu sulit dicapai. Karena itu penter jemahannya lebih banyak mencerminkan tujuan pengalihan makna daripada bentuk.
3.2 Penyajian Terjemahan Teks II CERITA MUNADA (WAWACAN) Cerita tentang peristiwa yang terjadi di kota Bandung pada tanggal 30 Desember 1842. Penyelesaian masalah (peristiwa) itu pada tahun 1845.
263
I. Pupuh Asmarandana
I. Pertama sebab ditulis, digubah dibuat sajak, barangkali pembaca suka, akan cerita Munada. Tentu banyak yang ingin (tahu), yang tua maupun muda, ten tang jelasnya cerita. Malah sampai saat ini, Munada jadi buah bibir, jadi pertanda yang jelas; dipakai mengira-ngira, dipakai menghitung umur. kalau mau menghitung usia. si A berapa umurnya... Bagaimana dulu itu. ketika jaman Munada. apakah Anda sudah besar· Jawabannya macam-macam. ada yang sudah dewasa. kata sebagian masih keci1. kata ang lain belum lahir
4. Dihitung tahun yang pasti. sejak jaman Munada. sampai pada saat ini. sekian tahun lamanya. ditambah dengan umurnya. jaman Munada sekian, (sekian) tahun kira-kira usianya.
5. Dijumlahkan menjadi satu, sekian puluh tahun (umurnya). Begitulah biasanya !
lni juga cerita, yang dikarang oleh saya, bukan berdasarkan sumber tertulis, (tapi) hasil mengumpulkan, wawancara.
Dari para tetua yang paham. dari Raden Yudasastra. juga dari yang lainnya. yang tahu cerita ini. Olehku dibuat catatan. // dihimpun menjadi buku.
"l (lantas) dikarang sebisanya.Kekurangan itu pasti. kesalahan tentu ada. Mohon maaf (pada) semuanya. bukankah cerita itu biasa. satu bisa jadi dua. dua menjadi sepuluh. sehasta jadi sedepa.
- Kabar dikabarkan lagi. begitulah biasanya. ( Kisah) yang ditulis ini pun. kiranya seperti itu. Tapi walau ada salahnya. benarnya pun tentu banyak. lebih banyak benar daripada salah.
- Maksud hati semoga bukti. mengungkapkan kisah ini. yang sangat menakjubkan. indahnya tiada tara. Semoga ada safaat. safaat Rosullullah. Muhammad dinilmustofa.
I 0. Dengan pertolongan Allah. penguasa jagat raya. pemilik semua makhluk. semoga memberi rakhmat. pertolongan kepadaku. dapat melanjutkan kisah. menuntaskan cerita ini.
- Yang menjadi awal cerita.
1 .2. Tempat keraton negeri. tempat tinggalnya residen. waktu itu di Cianjur. Residen Tuan Kolm berg. yang mengelola negeri. tuan yang tennashur adil. sabar serta bijaksana.
- Ada pun yang jadi bu pa ti. bupati di Cianjur itu. tatkala waktu itu. Raden Adipati Surya, Kusumah Adiningrat. Badannya kekar tampan tegap. parasnya bersinar terang.
- Sulit memilih tanding. parasnya raden bupati. kekar tampan dan 11 berseri. 3 Tersepuh oleh kepandaian, pengaruh berbagai ilmu,
cahaya ilmu yang luhung, suaranya menjadikan (orang) terkesima.
- Dan raden bupati itu, punya saudara tunggaL putri sungguh cantik. Raden Ayu Ratnaningrat. Ia saudara seayah. putra bupati Cianjur. Bupati Prawiradireja.
- Bupati yang almarhum. yaitu Kangjeng Dalem Kaum. Adapun raden putri itu. ia telah bersuami. dengan satria yang tampan. yang ganteng bersinar terang. se-Priangan tiada bandingan.
- Yang tampan tinggi semampai. berkilau-kilau sinarnya. bagaikan dewa kahyangan. Kamajaya swargaloka. turun ke marcapada. Sungguh satria yang unggul. lelaki jagat Priangan.
- Saat itu tak menemukan lelaki seperti dia. tampan tiada bandingannya, yang mengalahkan Arjuna. sang penengah pendawa, redup sinarnya terkalahkan, kalah oleh kesatria (ini).
- Satria Bandung (yang) mempersona, putranya dalem bupati,
dalem bupati termashur. sabar bijak juga kaya, Raden Adipati Wira natakusumah yang mulia, Bupati Bandung waktu itu.
- Nama satria yang mempesona. // namanya dari ayahnya, 4 yang sudah termashur, Raden Surakarta Hadiningrat yang mulia. pangkatnya kumetir kidul, yaitu kumetir kebun kopi.
- Jadi ketika raden kumetir. cocok dengan istrinya. yang cantik kepada yang tampan. mulia sang ksatria. bagaikan Dewa Kamajaya dan Supraba sama manis. menyenangkan yang melihat. .,,, Banyak gadis yang tertarik. banyak juwita tergoda. banyak wanita terpikat, nona-nona tergila-gila. rindu pada ksatria. tapi semua gigit jari. karea (ia) telah ada jodohnya.
Satria raden kumetir. seiring sejalan dengan istrinya. sama saling mengasihi. kiranya sama-sama cinta. sebab sama-sama mutiara. emas berkilau sama berkilau. intah bercampur berlian.
Begitu pula ayahnya, bupati (itu), Dipati Bandung tak terkira, mengasihi (dan) menyayangi putranya. (Putranya itu) disanjung setulus hati, diajangkan sebagai pengganti ayahnya, penyayang pengasih dan terpuji, berbeda dengan kebanyakan putra (yang lain).
Begitu pula kakaknya. Dalem Kabupaten Cianuur kasih sayang pada saudara menyayangi keduanya. tidak ada bedanya. siang malam tak jauh. yang muda
Berpakaian ala Islam, memakai tutup kepala dan bersarung, baju takwa dan kebaya membawa tasih seperti santri. berprilaku meniru kiai. mau salat lima waktu. sajadah tak pernah tinggaL dilekatkan pada bahu. Selaku (ia) berprilaku seperti muslim sungguhan.
- (la) berganti nama (menjadi) Munada. tapi kelakuan asaL menipu dan mengisap madat. sedikit pun tidak berhenti, tetap seperti semula, hermain kartu bermain dadu. (la) bertempat tinggal di Cianjur. Hanya tidak lama kemudian, (ia) berpindah ke kota Bandung.
- Adapun pekerjaannya. masih tetap berjual beli, kuda kerbau untuk sado, sado pos bagi pemerintah. Munada telah berhasil. menjadi pemborong yang tetap, memasok kerbau dan kuda, yaitu ke pos pemerintah, besar sekali keuntungan Munada. //
- Adapun yang memiliki wewenang, 6 membeli kuda dan kerbau, untuk keperluan itu, Tuan Asisten (Residen) sendiri, namanya yang dikenal, Tuan Nagel yang termashur, Asisten Residen yang tenar,
potonan badannya tampan, besar dan tinggi tubuhnya sedang serta mulia.
3 2. Jurutulis nomor satu, Tuan van den Broek yang (sudah) lama. Jurutulis nomor dua, Tuan van Nenda yang baik budi. Dokternya yang terceritakan, Tuan Dibben yang biasa. Sekian pejabat (orang) Belanda, yang berada di kota Bandung. Jurutulis (orang) Sunda Mas Raksawijaya.
- Bupatinya adalah, Kangjeng Dalem Adipati, Wiranatadikusumah, ayahnya Juragan Kumetir, di Cianjur yang (tersebut) tadi, yang sudah di ceritakan. Adapun patihnya, patih di kota Bandung, yang bemama Raden Arya Adinegara.
- Patih yang bisa memberi petuah, kepada µ:mggawa mantri dengan bijaksana, kelakuan baik serta mulia, setiap budi pekertinya manis, taat terhadap kehendak atasan, apik da n sangat menurut, Kangjeng Bupati sangat, sayang kepada Raden Patih; begitu pula Den Patih semakin setia.
- Adapun yang menjadi biskal, jaksa agung di kabupaten, Den Demang Mangunagara, yang pintar // serta berduri, 7
bijaksana (dan) kreatif, yang memegang segala hukum. Jaksa yang berkuasa, yang mengatur keadilan, sangat berkuasa jaksa pada waktu itu.
- Adapun wedana di Lembang, bawahan Kabupaten Bandung, Den Demang Ardikusumah, menak baik budi serta manis, berhati-hati akan segala ur usan, tiada pekerjaan yang kusut, setia dan bijaksana, tak memperhitungkan bahaya maut, dia (adalah) putera Raden Aria Patih.
- Ada pun jurutulis jaksa, pertama Den Puspayuda. jurutulis nomor du a. Den Sasmitadirja (yang) rajin. Ada lagi jurutulis, yaitu jurutulis ketiga, Raden Padmakusumah. Ada pun jurutulis bupati. Waktu itu (ialah) Raden Sacakusumah.
Begitu pula penghulunya, Raden Haji Muhammad Ardi, menjadi kepala agama, di dalam kaum kabupaten. (la) memegang agama (yang) suci, sebagaimana perintah nabi rosul, Islam (dalam) hati (dan) Islam (dalam) lisan, penghulu yang sangat berbudi, sangat kuat kecintaannya terhadap ibadah.
Dan ada Oagi) pangkat dahulu, itu pasti umbul Jangkol, nama Raden Natasura, mantri besar di kabupaten. Yang terceritakan waktu itu, Den Sastranagara (yang) gagah, yang gagah besar tenaga, gesit berjambang (dan) berkumis, dia putera Kangjeng l:bpati.
- Wedana pada waktu itu, yang (berkedudukan) di Kewadanaan Majalaya, Raden Rangga // Anggawireja, puteranya Kangjeng Bupati, Kabupaten Parakanmuncang, yang dimakamkan di Karukut (Batavia). Adapun wedana Banjaran, yang berkuasa mengatur kewadanaan, yaitu Raden Arya Sacanagara.
- Kecuali pangkat itu, oleh saya tidak di tulis, karena datanya kurang, tak ada berita yang jelas. (Data) ini pun sulit sekali. Untuk mendapatkan keterangan sekian, (memakan) waktu lama. enam puluh tahun lebih, lebih tujuh tahun sampai (saat) ini.
- Alat menelan (pun) menjadi merah, (karena) mencari (data) yang terselip-selip, yang sudah tertimbun, oleh daun kering berlapis-lapis. Diketemukan (sekian) pun untung, oleh karena keinginan besar, mengisahkan cerita lama,
menuturkan dongeng kakek, membuka cerita perilaku leluhur.
- Sekarang melanjutkan cerita, (tentang) kisah Munada tadi, mualaf yang baru (masuk) Islam. (Ia) sudah lama (tinggal) di Bandung, sahabat dekatnya banyak, kalangan menak yang kenal, wedana mantri dan cam at, lurah-lurah dan patinggi, semua kenal pada Munada (yang) rnualaf.
- Berkat dari berdagang, laken, madras dan encit, benang dan macam-macam batik, Munada dagangnya laku. Banyak pembesar membel karena jaman dahulu // tidak banyak yang berdagang, 9 (kain) madras sebaju seringgit, (kain) keper minyak sebaju sepuluh ringgit
- Banyak (diperoleh) keuntungan. Waktu itu uang berdatangan, kepada Munada (yang) mualaf, tapi tidak menyebabkan makmur, karena prilaku buruk. (la) tak berhenti menghisap candu, bersandar meminum madat, nikmat (mata) terpejam senang hati, sukma hilang melayang serasa ke sorgi.
- Kalau tidak menghisap madat, ia berjudi main sintir, main dadu (dan) kartu as, (main) angkong tiga puluh satu.
Ya, sudah barang tentu, semua prilakunya kacau, terus-menerus melakukan kejelekan, sudah tiada satu pun (yang baik), ibadat sudah ditinggalkan tak ingat sama sekali.
4 7. Han ya dulu waktu baru (masuk Islam), waktu di kota Cianjur, (ia) suka sembahyang, berjamaah ke masjid, berpuasa (hari) senin kamis, apalagi puasa wajib, berpuasa selama sebulan, Munada taat sekali, sajadah dan tasbih tak tertinggal.
- Tapi, adapun sekarang, di Bandung (ia) jadi terbalik, berubahnya amat sangat. (la) hanya berkelakuan idajil, yang dibawa syaitan iblis, bermadat berjudi (dan) main perempuan, tiada berapa lama membunuh. Munada terkutuk iblis; karena nafsunya tak terkendali. //
Mualap Munada itu, IO punya utang kepada negara, yaitu utang lelang. Banyaknya (utang) tersebut, yaitu ti ratus rispis. Batas waktu (harus membayar) sudah terlewat. Adapun yang berkuasa melelang, yaitu Tuan Nagel sendiri, (dan) notaris asisten residen.
Kemudian Tuan Asisten (Residen) itu, memerintahkan seorang upas, bernama upas Baron, asalnya orang Beta wi, badan tinggi kumis keriting, (muka) serarn tampangnya git, dikasihi Tuan Asisten Residen. (la) diminta memanggil Munada (dan) sudah pergi. Munada dicari (dan) ketemu. Ill Pupuh Dangdanggula
- Kanjeng Tuan Asisten berkata : "Hai Munada bagaimana hutang lelang (itu)? Tigaratus (rupiah) masih nunggak, sudah setengah tahun, enam bulan pun telah lebih. Sekarang lekas bayar. yang tigaratus. serta harus lunas sekali. Tentu kamu tahu (bahwa) itu (adalah) uang negara, bukan milik saya" 5:2. Munada menjawab (sambil) menyembah takdim. ''Tuanku, kehendak Tuan, sudah di pahami oleh hamba. hanya hamba (merasa) bingung, pada saat ini tak punya uang, untuk membayar (utang) lelang, yang (berjumlah) tiga ratus itu. (Hamba) sudah pasrah, (hanya) mo hon izin rnau berusaha mencari uang, mohon restu Tuan". //
- Kata Tuan (Residen): "Tak diizinkan, 11 karena waktunya sudah lewat, sekarang harus mem bayar pinjaman,
uang yang tiga ratus itu,,. Munada lalu menyampaikan permohonan lagi : ''mo hon pertimbangan Tuan. Semoga (Tuan) tidak marah. Hamba punya sesuatu untuk dikatakan. Semoga ada belas kasihan Tuan, menyayangi hambanya.
- Barangkali Tuan masih (percaya ). Hamba mohon belas kasihan. (Hamba) meminjam (uang) kepada Tuan saja. Uang yang ti ratus, nanti dikembalikan kepada Tuan, agar urusan itu be res, tentang lelang tiga ratus. Nanti hamba tak akan lama, memberi ganti uang tiga ratus rispis, melunasi (utang) kepada Tuan".
- Tuang Nagel tak (segera) menjawab, oingung memikirkan, permohonan Munada itu. Setelah (berpikir) lama, lalu berkata : "Hei, Munada aku mengerti, apa yang disampaikan olehmu. Mungkin benar begitu. Kalau kamu tidak akan ingkar Ganji), nanti mengganti (uang pinjaman) kepadaku, tiga ratus rupiah.
- baiklah aku memberi pinjaman (berupa) kerbau. Kerbauku di Blubur limbangan, kamu ambil enam pasang, harganya tiga ratus. Lekas jual kerbau itu ! Jual ke jagal ! Kalau sudah laku,
uangnya segera bawa (kepadaku) ! Hasil (penjualan) kerbau yang tiga ratus rispis, kita (gunakan buat) melunasi (ufang) lelang.
- Tapi nanti kalau sudah lunas betul, // utang lelang kamu dengan segera, 12 olehku (kamu) diberi pekerjaan. Yaitu kamu harus, mencari kuda dan kerbau (buat) menjaga kekurangan, untuk pos yang biasa. Keuntungannya untuk membayar utang, yaitu membayar yang tiga ratus rispis, agar tidak (t erasa) berat. 5 8. Inilah surat dari saya, untuk Raden Wedana di Limbangan". Munada menerima dengan gembira : "Hamba sampaikan hormat. Hamba ucapkan terima kasih, atas pertolongan Tuan, yang begitu besar". Setelah berkata, Munada menyembah, berpamitan, mundur serta senyum manis, tersenyum senang hati.
Dengan bersemangat (munada) keluar dari loji. Tegap tangadah (ia) bergembiran dan besar hati, (merasa) pintar bisa membujuk dengan manis, Asisten (Residen sampai) lemah hatinya, sampai-sampai mau menolong, sampai-sampai mau menolong, (dengan) enam (pasang) kerbau miliknya. Aku bahagia, nanti tentu punya uang, untuk berjudi (dan) mengisap madat.
Di perjalanan (Munada) tertawa berseri-seri, bergembira, tengadah bernyanyi-nyai. Katanya : "Aku beruntung besar. Pantas saja, malam kemarin (aku) bermimpi, menjalan ikan di sungai, mendapat kancra tiga (ekor), iakan mas, nilem, sebesar-besar betis. // Nah, inilah buktinya. 13
- Dikisahkan Munada sudah sampai, ke Limbangan kepada Mas Wedana. Sesamapainya (di sana) (ia) sangat dihormat. Duduk berhadap-hadapan. dialasi permadani, minumnya bersama-sama, makannya pun begitu. Sesudahnya dijamu, Munada menyampaikan surat. (dari) Asisten Residen.
- l.alu dibaca oleh jurutulis, karena wedana tidak bisa membaca. Jurutulis membaca surat itu, keras sehingga terdengar, oleh wedana (tentang) semua isinya. Maksud surat itu, (ialah) enam kerbau harus, yang dikebiri semuanya, sebaiknya lekas berikan kepada Munada, disuruh untuk dijual.
- Ada pun nama wedana di kewadanan itu, waktu itu bernama Mas Arsaen, masih ber berasal dari Bandung. (la) tak tahu aksara, lebih-lebih menulis,
tanda tangannya (seperti) bekas cakar burung jalak, seperti yang sudah biasa. Mas Muhaen (adalah) camatnya, ia pun tak mengerti aksara, sama saja dengan wedana.
- Kopral bemama Artasim sedikit tahu pada angka. (Bila menulis) dengan potlot biasa dijilat, bercampur dengan ludah menyirih. Ajudannya yang tersebut, namanya Ki Muhasan. Pelayanannya yang tersebut, namanya Ki Nurwiyan. // Semuanya sama-sama tidak bisa menulis, 14 yang bisa hanya jurutulisnya.
- Setelah mengerti isi yang ditulis, kata Mas Wedana : "Hei, Kakang, silakan segera ambil saja, oleh Anda di sana, di kandangnya (ada) seratus (ekor) kerbau. Semuanya gemuk, tidak ada yang kurus". Munada lekas pergi. Cepat-cepat (ia) memilih enam (ekor) yang kebiri, gemuk (dan) semuanya hitam.
- Karena kerbaunya sangat gemuk, punggungnya datar dan rata, dapat dipakai menyimpan telur. Pundaknya besar dan tebal, bagaikan banteng liar yang galak, Betapa gembiranya Munada. (Kerbau itu) serasa nemu. (la) tak merasa mengutang.
Apalagi kalau (ia) punya ingatan, bahwa nanti harus membayar.
- Bahkan (muncul) pikiran iblisnya, lelang pun tak berniat dibayar. kehendaknya akan ingkar janji. Risangkasnya (cerita) kerbau itu laku, tiga ratus rupiah lebih, menjualnya ke jagal. (la) tidak (langsung) datang ke Bandung. (melainkan) berhenti (dulu) di sepanjang jalan, (untuk) berjudi kartu di Cigunung Agung. Habis kalah dua puluh lima rupiah. //
- Membayar ronggeng bernama Nyi Oyi. l 5 berbadan montok berkulit putih, terhitung ronggeng yang bagus. semalam sepulu h (rupiah), empat ringgit tak kurang lagi. Rasanya (Munada) sedang kaya. (oleh) temuan simpanan (harta). Begitu pula mengisap madat, tidak berhenti karena memang kesenangannya. Begitulah kalakuan Munada.
Di warung Peuteuy (ia) berhenti lagi, lalu berjudi dengan teman-temannya. Di situ (ia) kalah lagi. hampir habis lima puluh. tapi tak kelihatan takut, apalagi bimbang hati. Munada yang terus-menerus (berkelakuan buruk), kemudian pergi mengembara. ke Banjaran Kopo Rongga Cisondari, Ciparay dan Majalaya.
Setelah lama (mengembara, ia) segera menghadap, kepada Tuan Nagel, duduk di depan asisten. Tuan Asisten (Residen) berkata : "Hei, Munada (mana) uang. hasil (menjual) kerbauku, yang tiga ratus itu? Lekas berikan kepadaku ! Kita pakai membayar lelang agar heres. (agar) kamu jangan 11 mempunyai utang. 16
- Munada menyembah hormat takdim : "Ya Tuan mohon pertimbangan. Semoga (Tua) tidak marah. Kerbau itu belum laki. Nanti pun tentu segera, diberikan semuanya, setelah laku kerbaunya. Semoga Tuan tidak was-was hati. Yakinkanlah hati Tuan!
- Kata Tuan Asisten yang baik : "Hai Munada, kalau begitu, harus cepat-cepat jual, dan lagi saya meminta, (sediakan) kuda dan kerbau untuk dibeli, buat menarik kereta. kereta pos di Cinunuk, dan pos di Sindanglaya, banyaknya kira-kira dua belas (ekor) kerbau, dan dua belas (ekor) kuda.
- Harganya sebagaimana biasa, seperti (waktu) yang sudah-sudah. Munada menyembah (dan) menjawab : "Pesanan, hamba terima.
Hamba bersedia melaksanakannya, menurut perintah (Tuan), sebagaimana (Tuan) katakan. Dan mohon do.a restu (agar) kuda dan kerbau lekas di dapat, ebagaimana permintaan Tuan".
- Setelah Munada menghormat. (lalu) pamit. Sudah pergi dari hadapan tuan. ! ! (ia) pergi dari koji, 17 sambil berpikir (untuk) menipu, tipu muslihat yang manjur. Betapa ingin mendapatkan lagi, keuntungan yang besar, (hasil) menipu pada tuan kuasa, Tuan Asisten Residen Nagel. Munada ditunda dulu. IV. Pupuh Kinanti
- Tersebutlah Tuan Asisten, Tuan Nagel yang tampan, usianya setengah baya, badan semampai dan ramping, jambang sedang kumis panjang, perangai halus serta manis.
- (la) tidak punya istri sah, istri yang telah ditikah. Selamanya (ia hidup) membujang. Kadang-kadang pada malam hari, (ia) suka mengambil perempuan, perempuan yang cantik manis.
- Ada pun pada suatu waktu, (ia) meminta kepada Kangjeng Bupati,
seorang selir dari pendopo. Ta pi jangan ganti-ganti, hendaknya tetap dia saja, seorang selir yang cantik.
- Namanya (selir itu) tak disebutkan. Selir yang satu in1, selir kangjeng bupati. Bila malam dipanggil. Siang (dia) di kabupaten, malam dipanggil ke loji. //
- Kehendak Yang Agung tak bisa (dihindari), 18 suratan takdir sejati. kehendak Allah taala, telah dicatat di azali. sekarang hanya buktinya. Nyi Selir menjadi hamil.
- Hamil sudah lima bulan, jelasnya ia mengandung. kangjeng Tuan berkata, (ketia) menemui kangjeng bupati : "Sekarang harus bagaimana, berhubung dengan Nyi Selir itu,
- dikehendaki Yang Agung Allah Maha Pengasih. ternyata ada peristiwa, di dalam perutnya jelas, mengembung terisi anak, terjadi karena 'mesin '".
- Dalem menjawab sambil tersenyum : "Apa yang Tuan katakan tadi, sama sekali tidak salah. Betul di dalam rahim berisi,
terjadi karena 'me sin' Tuan, sekarang memang sudah yakin.
- Sekarang saya bertanya. Bagaimana pendapat (Tuan), tentang (anak) selir itu, nanti bila sudah lahir? Setelah melahirkan, keluar anak, bagaimana pendapat (Tuan)?
- Akan diakui sebenarnya, dianggap anak sejati, dipelihara oleh Tuan, atau bagaimana pikiran (Tuan)? Saya akan mengikut, (a pa pun) pendapat sahabat."
- Asisten Nagel tersenyum: "Niat saya dalam pikir. Saya tak akan memelihara, anak yang dilahirkan itu. Tentu saya malu, sebab saya belum kawin.
- Sekarang bila setuju, dengan Raden Adipati, selir itu sialkan // tikah. 19 Bila nanti sudah Jahir, akuilah dia itu putra ka wan. Begitu bila sependapat."
Kangjeng Bupati menjawab: "Bila demikian setuju sekali. Baik oleh saya akan ditikah, serta nanti bila (anak itu) lahir, (akan) diaku anak saya, serta menjadi ahli waris (saya)."
Kedua pembesar sudah sepakat, rundingan sudah membuahkan hasil. Kemudian (mereka) saling memberi hormat. Asisten pulang ke loji. Kangjeng Dalem masuk ke dalam, dijemput oleh prameswari.
- Prameswari berkata: "Tadi Dalem berunding, lama dengan Tuan Asisten. Apa yang dibicarakan, dirundingkan oleh Tuan? Saya ingin mendengarkan."
- Setelah duduk, Dalem berkata: "Hai prameswari yang cantik! Tadi Tuan mengemukakan, (bahwa) selir yang biasa dipanggilnya. ternyata sekarang mengandung, perutnya besar sudah hamil."
- "Duh, Paduka terima kasih", kata prameswari, "Seula saya berniat, mengatakan kepada Kangjeng Gusti, tentang perihal selir, hamilnya sudah tampak.
- Sekarang sudah diketahui, oleh Kangjeng Dalem sendiri, dan sudah dirundingkan. Saya ikut senang hati. Silakan tikah oleh paduka ". Kemudian selir dipanggil.//
- Selir datang tunduk menghadap. 20 Kata Prameswari :
"Apakah kamu betul, perut seperti yang mengembung, tidak haid sudah berapa bulan, dan wajahmu nampak bersih?"
- Nyi Selir menyembah (dan) berkata : "Benar padukaku. (Hamba) tidak haid lima bulan, dan perasaan berbeda. Memang benar saya hamil".
- Berkata lagi Nyai Ratu : "(Saya) sangat bersyukur. Kamu hamil oleh siapa, yang terasa oleh diri?" Nyi Selir menjawab : "Betul apa yangpaduka katakan.
- Tiada lain yang sebenarnya, yang terasa oleh hamba, yaitu oleh Kangjeng Tuan, Asisten Residen pasti, Tuan Nagel yang terasa, tak ada yang lain lagi.
- Bahkan hamba sudah mengemukakan, kira-kira sudah tujuh malam. Kepada Kangjeng Tuan berkata. Perut hamba diperiksa. Katanya benar, perut kamu pasti hamil.
- Tuan menyatakan syukur. kamu akan mendapat anugerah, derajat yang besar sekali. Nanti bila anak sudah lahir,
serta hidup selamat, saya akan memberi hadiah uang.
- Banyaknya uang seribu, seribu rupiah sudah pasti, untuk hadiah kepada hamba. Begitulah perkataannya kepada hamba. (Hal) itu terserah paduka. // (Hamba) mengikuti keinginan paduka". 21 l 00. Prameswari berkata pelan : "Ya, bersyukur sekali. Sekarang kehendak Tuan Asisten kepada Kangjeng Gusti (Bupati), kamu harus dinikahi, oleh Kangjeng Dalem Dipati. I 0 l. Serta (anak itu) harus diakui, (sebagai) anak Kangjeng Bupati. Anak itu di-Islamkan, serta menjadi ahli waris (bupati). Bertarnbah untunglah kamu, (mendapat) derajat besar sekali".
- Lalu penghulu dipanggil, kalipah dan modin. Sudah (mereka) menghadap, kemudian Kangjeng Gusti menikah dengan Nyi Mas Selir itu. Selir bahagia sekali.
- Penghulu lalu berkumpul, kalipah beserta modin, bahkan den patih pun ada, serta penggawa mantri. Beres urusan pernikahan, yang berkumpul kemudian bubar.
V. Pupuh Mijil
104. Lama-kelamaan Nyi Mas Selir itu, kandungannya sudah besar, hamilnya sudah sembilan bulan, bahkan sudah lebih, sampailah waktunya, melahirkannya dengan mulus.
105. Anaknya lelaki (sungguh) mempesona, sinamya berkilauan, putih bersih bagaikan (orang) Belanda saja, suci bersih dan mempesona. Anak itu tampan, karena // keturunan pembesar.
106. Gelegar (suara) meriam sepuluh kali. (Penduduk) kota ribut, semua rakyat merasa kaget. "Ada apa meriam terus-01enerus berbunyi?" Diberitakanlah dengan jelas, (bahwa) Nyi Mas Selir (melahirkan) selamat.
107. Melahirkan anak leli:iki yang tam pan. Sejak itu banyak yang tahu, rakyat semua ikut bergem bira. Kemudian sang sri bupati berkata: "Anak ini, harus disebut,
108. Dinamai sekalian, namanya Agan Eros. Eros adalah bunga ya ng mungil, yang harurn semilir angin, bunga di dalam puri, eros yang oogus.
- Telah menyaksikan ponggawa (dan) mantri, mengikuti sang bupati. Gelegar lagi meriam dinyalakan, banyaknya sepuluh kali, pertanda resminya nama, gamelan gong dibunyikan.
- Kangjeng Dalem menyeluruh patih, menyampaikan berita, kepada Kangjeng Tuan Asisten, bahwa anak tuan sudah lahir, laki-laki mempesona, cahayanya berkilauan.
- Kangjeng Tuan Nagel senang hati, mendengar berita itu, segera (ia) pergi ke pendopo, menjenguk puteranya. (Ia) menggeleng-gelengkan kepala (ketika) melihat (puteranya itu ). (la) sangat senang hati.
- Lalu (ia) memberikan uang kepada uyi selir, yang dijanjikan dahulu. Lima lembar uang kertas semua, selem barnya tidak kurang, dua ratus rupiah, lima Qembar) seribu (rupiah).
"Nih, Nyi Selir saya memenuhi janji, yang dikatakan dahulu. Ini uang lima // lembar semuanya. Semua untuk Nyai pribadi,23 pemberian dari saya, sehubungan dengan kamu melahirkan.
Adapun yang memiliki, anak itu (ialah) sang bupati. Kamu hanya menjadi pengasuh saja". "Terima kasih", kata selir, "Saya berterima kasih, pemberian (Tuan) diterima".
- Setelah beres (urusan) asisten pulang. Dari pendopo (ia) sudah pergi. Anak itu diurus hati-hati, dimanja diagung-agungkan. Anak itu sehat, tak kurang sesuatu apa pun.
- Terhadap anak itu, kangjeng bupati, sangat memanja, kasih sayang terhadap anak itu. Apa yang diinginkan dipenuhi. (Anak itu) tidak boleh jauh, dari dalam pendopo.
- Begitu pula kangjeng prameswari, sayang terhadap Gan Eros, seperti kepada anaknya sendiri, tidak berbeda dengan suaminya, mem anja kasih, memberi (apa) pun begitu.
- Makin lama anak itu makin besar, (la) telah bekerja di kantor. Karena turuna n pem besar Eropa, (ia) mudah mengerti terang hati, hatinya cepat mengerti, (tentang) berbagai ilmu.
- Walau masih anak-anak, apalagi nanti,
malah jadi bibir semua orang. Semua memuji kehendak Allah, membuat keajaiban, tentang (anak itu)yang mengagumkan.
- Kejadian itu suatu bukti, kehendak Ilahi, mengherankan // serta menalrjubkan. Alangkah manisnya, bagus anak itu, parasnya tampan dan tangkas.
- Begitulah kisah kakek, cerita ayah, orang tua. Entah betul entah hanya cerita, karena sesungguhnya bagi saya sendiri, hanya dari berita lagi, ceritanya begitu.
- Tetapi barangkali setidaknya kakek, mungkin tentu tahu, walau salah mungkin tidak besar, kan (ia)jelas melihat bukti Semua yang rnenyaksikan, (tentang) Gan Eros yang tangkas.
- Bukankah belum begitu lama, (akan) Gan Eros itu. Semuanya sudah mengetahui, termasuk rakyat biasa, yang berada di kewadanaan, Ujung Berung dahulu. VI. Pupuh Pangkur
- Sekarang lain yang terceritakan, menceritakan bagian (cerita lain) lagi.
Seorang kerabat termashur, kerabat Demang Jaksa, Demang Biskal jaksa kepala di Bandung, mempunyai juru simpen, pembantu yang memegang kunci.
- Namanya Mas Suradireja, kepercayaan Demang Biskal, yang memegang benda kasar benda halus, mas, intan, dan uang, makanan, gula, beras, serta ikan. Suradireja membawa, menyimpan di tempat penyirnpanan (dan) dikunci.
- Isterinya Suradireja, Nyi Mas Asmah, namanya tersebut, (rumah-tangganya) tidak ada keselarasan, sama-sama rewel. Suami-istri bertengkar ribu // dan menghebohkan, 25 keduanya suka slling cemburu, rumah-tangga tidak rapi. 12 7. Ta pi entah bagaimana, semula deh tetanggany tidak tampak, bahwa sering terjadi keributan, Mas Sura rapi sekali, bisa menyimpan rahasia yang besar sekali. Nyi Mas Asmah pingsan, seperti yang te lah meninggal.
Semua pada percaya, bahwa Nyi Asmah meninggal karena sakit, tak ada itu dan ini. Namun adapun kelakuan, yang buruk dan begitu pula yang baik, dibuka cl.eh Allah taala, Allah yang bersifat adil.
Allah tidak jauh darikita, gerak oleh akal kudratnya Yang Widi, Allah Yang Maha Agung, menguasai makhluk-Nya. Semuanya tampak, tak bisa bersembunyi, Allah Yang Maha Adil.
- Mas Suradireja ini, tak terelakkan dengkinya ketahuan, oleh seorang pacalang (petugas keamanan) kampung, Desa Kajaksan Girang, Bapak Ujer, polisi kampung yang mashur. (la) cepat dalam mencari jejak, (betapapun) sulitnya suka ketemu.
- Pak Ujer mendapat keterangan, penelusuran kabar angin sudah jelas, karena tajamnya pendengaran. Tercium jejaknya, bahwa matinya Nyi Asmah karena diracun, diracun oleh Mas Sura, Suradireja itulah.
- Pacalang Ujer itu lekas, cepat-cepat melapor kepada raden patih. // Arya Patih di Bandung, Arya Adinagara, Ki Patih lekas memanggil pacalang : "Bapak Ujer mari cepat, seperti ada (sesuatu)yang penting sekali".
- Pak Ujer duduk mendekat : "Benar, ada rahasia, Paduka". Ki Patih kaget dan terkejut. "Ya kamu pacalang. Mari kamu ke sini ke kamar rahasia".
Pintu kamar ditutup, malah kemudian dikunci.
- Kata patih : "Ujer katakanlah! Apa rahasia yang disebutkan tadi itu?" Ki Ujer menghormat (dan) berkata: "Suradireja, tadi malam, telah meracun, meracun istrinya, (yaitu) Nyi Asmah sampai mati.
- Meninggalnya diracun, oleh Mas Suradireja (oleh) racun mematikan. Sekarang (mayatnya) akan dikubur. dise butkan (karena) sakit mendadak. Tetangganya, semua teman sekampung, percaya bahwa Asmah sakit mendadak, sampai menemui ajal.
- Saya mendapat khabar, dari Si Utni, babunya, anak kecil, yang berumur sepuluh tahun, dan dari Si Saan, pembantu Sura yang berumur enam belas tahun. Paduka harus segera (berangkat) kalau-kalau si mayat,
- dikubur sekarang juga, karena Suradireja itu cepat, // mayat lekas akan dikubur. 27 Oleh karena itu hamba, segera lari melapor kepada Paduka cepat-cepat. Jika melapor ke biskal, saya tidak akan dianggap.
- Karena Sura (adalah)saudaranya, kehlarga ia sendiri, dan kepercayaannya,
menjadi bendaharanya, tentu saja apa yang saya katakan dibantah, mungkin (ia) memarahi, marah kepada saya sendiri.
- Raden Patih sebentar, tidak berkata, termenung sambil berpikir. "Masalah ini membingungkan. Kalau tidak dikerjakan, (hal) itu perkara besar (karena) tentang pembunuhan. Wajib dilaksanakan segera, nomor satu mengenai penyelidikan (perkara).
- Kalau teringat kepada Demang Jaksa, pasti terlibat perkara ini. tetapi bagaimana lagi, karena sudah begini jalannya, saya ingat akan sumpah yang diperkuat, (oleh) Qur'anul Adim, ketika saya (dilantik) menjadi patih.
- Hai pacalang, Bapak lijer, syukurlah kamu sudah melapor keµidaku. Tetapi kamu jangan banyak bicara, hendaknya rapi menyimpan rahasia. Lebih baik (kamu) mencari keterangan yangcukup". // Bapak Ujer lalu pulang, mundur dari hadapan patih.
Patih memanggil Ki Mas KopraL Kopral Surapati dari Kejaksaan Hi1ir, yang berbadan kekar (dan) dinamis, kumis tebal panjang, kumis tebal melengkung bagaikan pelangi, kopral kontrak (yang) gagah perkasa, yang bisa cepat memeriksa (perkara).
(Surapati) sudah duduk di depan patih. Arya Patih berkata dengan manis. Ki Mas Kopral maju ke deµm. Ada cerita rahasia, tentang Ki Suradireja tadi (yang) telah rreracun, meracuni i>trinya, malah Nyi Asmah telah tiada.
- Sekarang selidiki yang jelas, agar jelas duduknya perkara (sesuai) bukti, begitu pula saksi-saksinya". Surapati berkata: "Ya, semua yang dikatakan akan diturut. Saya mohon parrit, akan melaksanakan perintah".
- Kapral Surapati (yang) gagah, sele;ai pembicaraan berpamitan dari hadaµm patih (la) sekali pergi bagaikan peluru lepas, keluar dari senapan, cepat bagaikan elang terbang, bagaikan merpati terbang melayang, cepatnya Ki Surapati (melaksanakan perintah).
- Arya Patih kemudian melapor, menghadap kepada Kangjeng Dalem Dipati. (Dalem Dipati) kebetulan sedang ada di pendopo. // 13egitu tampak, (patih) segera dipanggil. 29 Raden Patih duduk di depan Oalu) menghormat. Kangjeng Dipati bertanya : "Ada apa Arya Patih?".
- Arya Patih menjawab: "Ya, mohon maaf Paduka. Pak Ujar ta di melapor, melaporkan peristiwa, istri Suradireja telah dibunuh,
oleh racun yang sanat mematikan, malah sampai menemui ajal.
- Sekarang sedang diperiksa, oleh Kapral Surengrana Surapati. Kangjeng Bupati berkata : "Patih harus segera laporkan, lekas-lekas kepada Kangjeng Asisten. Sampaikan salamku, sambil sekalian laporan.
- Kiai Patih sudah pergi. Selesai melapor, (ia) berpamitan dari hadapan bupati. Sampailah ia pada Tuhan Asisten. Segera patih menyampaikan, sebagaimana rahasia (yang) tadi disebutkan. Tuan Asisten berkata : "l..ekas;tangkap ol eh Raden Patih,
- Si Suradireja itu! Dan masukkan dia ke dalam penjara ! Periksalah seteliti mungkin, dan cari keterangannya, serta buat proses verbalnya yang biasa ! (Cari) keterangan-keterangan saksinya! Nanti h'tlkum (dia) dengan adil!" //
Patih me'nghormat tuan, 30 (lalu) pergi dari loji terburu-buru, bagaikan tumenggung melayu, Kelana Jayajatra. Sigap, cekatan (seperti) yang akan menyerbu musun, (ia) diiringi kopral pacalang, beserta para polisi.
Suradireja tampak, di rumahnya sedang mengurus jenazah (la) kaget karena polisi berdatangan, bersama Arya Patih. Suradireja terkesima karena gugup, muka pucat tak berdarah, badan lemah bagaikan mayat.
- Kata Patih pada Ki Sura: 'Kamu, Sura harus diikat, olehku (kamu) harus ditangkap, (ini) perintah Dalem Bupati, serta perintan Tuan Asisten di Bandung, sebab kamu bersalah, meracun (orang) sampai tewas' .'
- Surapati segera menangkap, bersama Kapral Ki Suralaksana, dan S.ureng menempuh cara itu (pula), Kapral Astana Anyar. Oleh bertiga Suradireja ditangkap, diseret ke penjara Suradireja menangis
- Jenazah Asmah diperiksa, oleh dokter pemerintah, Tuan Dibben Terbukti dia diracun Racunya dipompa, // (lalu) diobati dengan obat yang manjur, penawar terhadap racun. Nyi Asmah dirawat di rumah sakit.
- Karena doktemya pandai, kini mayat (Asmah) hidup lagi hampir saja celaka, kalau tidak segera,
Nyi Asmah tentu mati di dalam kubur, karena telah tersedia usungan mayat, liang lahat sudah siap pakai.
- Dalam (waktu) sekitar dua bulan, Nyai Asmah ternyata bisa sembuh lagi Suradireja menunggu diadili, tentu saja dihukum buang Sekarang (ia) mendekam dalam penjara, menderita serta sengsara, ketus dan bermuka masam. VII. Pupuh Pucung
- Demang Jaksa ketus muka masam, tentang Suradireja, ditangkap tanpa memberi tahu, sama sekali tak tahu (duduk) perkaranya.
- Malah waktu Ki Sura akan diadili, Raden Demang Jaksa, tidak diijinkan menjadi asisor, sebab (ia) bersaudara dengan terdakwa.
- Tentu (ia) marah terhadap Arya Patih, demikian pada bupati, begitu pula kepada asisten (Ia) tidak senang karena tidak diikut-sertakan
- Malah Demang Biskal sangat marah, (karena) pada waktu akan sidang, sudah siap berpakaian batik dan tutup kepala, disuruh oleh asisten harus pulang.
- Demang Biskal ten tu saja menyimpan hati, selamanya dendam,
kepada teman (sesama) pembesar, sudah biasa atasan begitu caranya.
- Sekarang ada cerita lagi, bunganya cerita, masih satu alur, dari pokok // alur cerita Munada.
- Kangjeng Dalem Adipati yang tersebut, di Kabupaten Bandung, punya anak perempuan yang menakjubkan, yang mulia, cantik tiaa bandingan.
- Cantik jelita, lugu serta menarik, tiada tandingannya, oenar-benar unggul dari semuanya, semua saudaranya kalah sinar wajahnya.
- Agan puteri sungguh unggul cantik Mencari di seluruh dunia, tentu tidak akan menemukan, yang cantik seperti puteri ini. l 67. Seantero Bandung Priangan pun tidak akan menemukan Kecantikannya, bagaikan Dewi Rengganis saja, yang indah dihias oleh kemanisannya.
- Raja-raja satria yang terpikat, yang menginginkan agan puteri yang sangat menakmubkan, tergila-gila oleh perilaku j uwita,
yang bernama puteri Ratna Ayu Gan Raja Pamerat, yang sinar cahayanya gemerlapan, wajah putih bagaikan bulan (tanggal) lima belas.
Kata sebagian (orang) bagaikan Dewi Ratih yang turun, dari swargaloka, ratu semua bidadari, di Kahyangan Sanghyang Guru Manikmaya.
- Kecantikannya turunan dari ibunya, Raden Ayu Biol Kusumah, juga disebut"Empuh, yang berasal dari Cipatik Rongga.
- Anak Raden Ayu Biol ada tiga (orang), pertama adalah, puteri Raja Pamerat itu; keduanya Surya Kartahadiningrat,11
- yaitu kumetir di Cianjur yang telah disebut, 33 tacti di perm ulaan, dan ada lagi saudaranya, ketiganya, Raden Kusumah Dilaga,
- Menduduki jabatan Kumetir Kopi, berbadan tegap sekali, jam bang keriting lebih menakjubkan, kumis panjang bisa menyebabkan terkesima.
- Sungguh (ia) tegap tiada bandingan di Bandung. Bila sedang tampil, sungguh (ia) tidak ada yang menandingi, paling unggul (di antara) menak muda yang bergaya.
- Ayahnya itu ialah Kangjeng Bupati Bandung, Dalem Karang Anyar, Dalem Adipati, wiranatakusumah, bupati termashur.
- Tersebutlah (di) Kejaksaan Girang termashur, ada rumah indah,
(hasil) pekerjaan yang sangat menakjubkan, yaitu rumah Demang Biskal.
- Raden Demang Mangunagara yang mashur, pembesar kreatif, yang memiliki rumah itu, mencintai (dan) menginginkan puteri yang cantik. I 79. {Dia) tergila-gila terpincut. (oleh) Raja Pamerat, yang cantik selalu terbayang, sang mustika pujaan di tempat tidur.
- Dalam hati sangat mengharap dan bermaksud, ingin dicintai. agar puteri jadi jodoh, kalaulah terlaksana, pekerjaan sudah punya.
- Barangkali ada nasib baik, tercapai kepada puteri bupati, yang molek menjadi jodoh, ya, mustika menjadi istri kakak. //
- Setiap mempertunjukkan wayang di pendopo, 34 pada Kangjeng Bupati, atau menanggap topeng, atau sedang mempertunjukkan tarian.
- Demang Biskal (suka) menemui dayang di belakang, Nyai Dayang Marmah, dan Nyi Dayang Ambu Juhe, pengasun puteri Raja Pamerat.
Kata Demang Jaksa: "Dayang, kamu beruntung, bertemu dengan saya. Nih, saya menitip, sepucuk surat berisi uang kertas.
Tolong sampaikan kepada puteri Ratna Ayu, Raden Raja Pamerat ! Awas harus hati-hati! Surat ini berisi seratus rupiah".
Kata Bi Marmah dan Ambu Juhe: ''Terima kasih, akan dilaksanakan, akan diberikan kepada Enden
. Tentu (ia) gembira menerima surat dari paduka".Kata Demang Jaksa: "Bibi terima kasih. Tolong sampaikan, surat ini kepada agan ! Untuk bibi sendiri ini hadiah dua pasmat.
- Kata Nyi Marmah: "Paduka segera (pergi) ke depan ! Llhatlah penjaga keamanan, Bapak Kiwud dan Pak Tuheng, berjambang lebat serta paling bengis!
- Demang Jaksa segera (pergi) ke depan. Hati senang, semua hasrat sudah kelaur, di dalam surat, dikarang dalam puisi.
- Oua dayang, Marmah dan Ambu June bingung "Hai. harus dibagaimanakan, // surat dari jaksa itu, 35 karena kita (benar-benar) tidak berani menyampaikannya.
- Kalau disampaikan oleh kita kepada gan ayu, kita akan celaka. (karena akan) dilaporkan kepada paduka (bupati). Tak kan salah. kita (akan) dihukum buang
- Kata Nyi Marmah: "Sekarang bila setuju, mari kita buka (surat itu)!"
Surat disobek. Begitu (dibuka), terlihat dua lembar uang kertas.
- Selem bar berharga lima puluh rupiah 1 Nih," kata Nyi Marmah, 1lima puluh untuk Ambu Juhe, yang selembar untuk saya.
- Adapun laporan kepada Demang Jaksa harus kompak. Katakan saja sudah, sudah diberikan (surat itu) kepada enden ". Kata adik: "Puji syukur alhamdulillah.
- Mari kita buatkan rokok yang bagus bungkusnya ! Memakai wewangian, dengan kayu garu rokok itu, dan bungkusnya ulasi dengan min yak kenanga ".
- Sudah sepakat kedua dayang akan menipu Singkatnya cerita, tak lama kemudian menanggap topeng, topeng Cirebon, bemama Gambuh Asmara
- Sudah berkumpul patih dan penghulu, Raden Mantri Besar, Demang Jaksa sudah datang, sebagaimana yang bertamu.
- Demang Biskal menyelinap lagi ke belakang, menemui nyi dayang Bibi Marmah, Ambu Juhe, lalu memberikan bingkisan rokok kepadajaksa.
Berkata Nyi Marmah: "Rokok itu pemberian, dari adik paduka, gan puterijuwita muda. Adapun surat dan uang, katanya, alhamdulillah."
Kata Raden Demang Jaksa: ''Terima kasih banyak, kalau sudah diterima, surat itu oleh juga yang menakjubkan, dan uang kertas yang seratus rupiah. 20 I. lni ada lagi surat untuk disampaikan Di dalam amplopnya, berisi uang lagi, isinya delapan pulun rupiah."
- Dayang menghormat menerima surat lalu di letakkan di atas kepala. A,langkah gembiranya, rejeki itu datang lagi. Bukankah yang lain itu (sampai) mencuri membongkar.
- Sedangkan ini rejeki jinak datang Datang oleh daya tarik cinta, uang datang sendiri Daya tariknya ialah majikan kita mustika.
- Kata nyi dayang: 'Nfohon paduka segera pergi ! Jangan lama-lama Bapak Kiwud, Bapak Tuheng, gulang-gulang itu, kalau-kalau menangkap paduka ".
- Begitulah perilaku Demang Biskal yang terse but Lama ditipunya, tapi selalu tak ketahuan Uangnya seribu rupiah juga ha bis.
- Karena bagaimana membuktikannya, sulit Tak pernah bertemu sama sekali, sekali pun tak pernah jumpa, asal tidak menjadi putus bercinta. //
VIII. Pupuh Magatru
- Tersebutlah ada seorang satria, jabatannya kumetir kopi, di kota kabupaten Cianjur (Orang ini) bukan yang tadi, (tapi) baru dikisahkan.
- Badan langsing, sungguh satria unggul, bagaikan Arayana yang manis, anak Mandura yang lucu, yang gagah dan mempesona, tampan sinarnya berkilauan.
- Banyak janda Cianjur yang terpikat, banyak gadis yang membuntuti Sore pagi pakai bedak, agar juragan kumetir, diharapkan terpikat.
- Tapi raJen k.umetir tetap sungguh-sungguh, pada pekerjaan tidak seenaknya, menggarap pekerjaan tetap. Wanita sama sekali tidak diperhatikan, nona-nona merasa heran.
- Den kumetir namanya yang tersebut, yang tercantum dalam bisluit, pemberian ayahnya, bupati, paduka kangjeng bupati, bupati Sumedang yang termashur.
Raden Suryakusumahdinata yang mulia, yang rajin serta berbudi, yang rajin teguh (dan) sungguh-sungguh. Oleh kangjeng residen disayang, serta oleh kangjeng bupati.
Sekarang singkatnya yang diceritakan, raden kumetir itu, karena keinginan orang tua, ditikahkan dengan gan puterL Raja Pamerat yang belia.
- Agan puteri mustika Kabupaten Bandung. Sejagat tak kan menemukan, yang cantik seperti dia. Sekarang menemukan pendamping, // emas mumi itu bersanding. 38
- Lan car selamat yang menikah, (bagaikan) Arjuna ketemu Srikandi, keduanya sama manis, tampan (dan) cantik sebanding, sama-sama mas berkilau.
- Gadis cantik puteri bupati Bandung, kaka1'flya kumetir yang tadi, yang telah diceritakan, lelaki putera narpati, bupati Sumedang yang sudah tua.
- Kelak kumetir tersebut sudah tentu, mengganti ayah (sebagai) bupati, menjadi lagi prabu, di Kabupaten Sumedang, menjadi kangjeng bupati.
Malah mendapat anugerah atasan, berpangkat pangeran bupati, bupati Sumedang agung. Begitulah cerita puter, (menurut) cerita orang-orang tua.
Yang tergila-gila Demang Biskal melamun, melamun setiap malam. malah sering mengigau. mengigaukan raden puteri. mimpi telah bersatu.
- Tapi kini dipetik oleh yang lain. raga alangkah sedihnya, mengapa sangat sakit ha ti, hati serasa diiris, (isi) saku sudah kosong.
- Betapa bertambah sakit (hatinya) dari dulu Dulu sudah sakit hati, karena Sura meracun, tidak dibawa berunding, punya sangka dicurigai.
- Kedua, sekarang lebih dari itu, sudah tak perlu diuraikan lagi, // (batapa) sakitnya hati, 39 karena barangkali semua maklum, kita pun ten tu marah.
- Sekarang (ia) menyimpan hati dendam, sakit hati oleh dua hal, disimpan rapi sekali, tak tampak keluar, mimik manis tak tersem bunyi. I X. Pupuh Dangdanggula
- Sekarang kembali pada yang tadi, Ki Munada yang mencari kuda, dan kerbau, sudah tiba, serta telah diberikan,
kepada mandor pos (dan) sudah diterima, (di) Cinunuk Sindanglaya, Kewedanaan Ujungberung Adapun uang hasilnya, dibayar dari kantor dengan uang negara, diterima (oleh) Munada.
- Tapi bukan (diterima) oleh tuan sendiri, asisten (residen) tidak mengetahui, hanya tuan jurutulis saja, yaitu Tuan Van den Broek, dan Van Nenda, jurutulis lain. En tah bagaimana, hal itu sampai begitu, sampai tidak memberi tahu, akan membayarkan uang kepada Munada, (kiranya) karena kelihaian Munada.
.2.26. Barangkali suratan takdir, kemungkinan yang menjadi penyebab, di Bandung ada perselisihan Lalu asisten memanggil. kedua jurutulis itu, Van den Broek dan Van Nenda : •Hai, jurutulis, apakah uang pembelian ku 2.27. Jawab kedua jurutulis itu;
- Benar apa yang Paduka katakan Oleh saya su
Saya tidak memberi tahu dulu, karena Munada sangat memohon, min ta dibayar segera.
- Tuan Nagel berkata rnarah: 'Mengapa kamu begitu gegabah, membayarkan uang negara, tidak memberi tahu kepadaku. Padahal maksud saya, Si Munada itu, belum membayar, belum membayar utang lelang, lagi pula belum membayar hasil menjual kerbau, yang enam (ekor) dari Limbangan.
- Jurutulis salah sekali, Si Munada masih punya ut_ang besar Olehku hendak dipotong, (ta pi) justru dibayar seribu s. Jurutulis menjawab hormat. 'Hal itu bagaimana Tuan, terse rah pada Tuan, (saya) mohon maaf. Mo hon pertim bangan Tuan kepada say a. Say a terima salan' .'
Tuan Asisten Nagel berkata: 'Ayo kamu segera membuat surat, kepada semua wedana! Si Munada cari, harus lekas-lekas ketemu. serta cepat serahkan ! " Juru tulis mundur, membuat surat dengan segera, Setelah selesai, diberikan lalu ditandatangani oleh Tuan Asisten itu. //
Surat dikirim ke (tiap) distrik Tidak lama (kemudian) Munada ketemu, di Banjaran sedang menginap, di ronggeng dan (sedang) berjudi (Dia) digiring oleh polisi, olen kopral dan pacalang. (Mereka) menuju Bandung. membawa surat dari wedana Singkat cerita. ke kota suJah tiba. (la) serahkan ke paseban,
dihaJapkan kepada patih Ki Munada duduk bersila hormat Raden Patih berkata lembut: 'Ki Munada dipanggil, segera oleh Kangjeng Asisten Mari dengan saya". Raden ikut di belakang, segera raden patih sudah tiba di loji, bersama Ki Munada.
- Ki patih setelah menghormat (lalu) duduk: Paduka, saya akan lapor. Saya menghadap ini, (untuk menyerahkan yang diminta Ki Munada bisa dibawa' .' Tuan Asisten segera, memanggil Munada. (Munada) sudah duduk di hadapan tuan, sambil duduk menunduk hampir kena tikar, menyadari bersalah.
- Tuan Nagel lalu berkata marah: Ki Munada, mana basil penjualan kuda, dan juga hasil penjualan kerbau, uang yang seribu itu ? Saya (juga) ingin melihat,
yang sudah dibayar, oleh Tuan Van den Broek, serta oleh Tuan Van Nenda. Coba kamu katakan uang itu, sampai bukti yang seribu rupian."11
- Ki Munada menunduk sangat malu. Lalu (ia) berkata sambil akan menangis. ' Sangat mohon maaf. Uang yang seribu. sudah habis oleh saya, dipakai membayar kuda, kepada para pemiliknya. Dan juga membayar kerbau, pada semua rakyat yang menjual, Semua (pembayaran) sudah selesai ''.
- Tuan Asisten berkata lagi: 'Mana uang untuk mem bayar lelang, yang tiga ratus rupiah itu? Dan dendanya juga harus (dibayar), sepuluh persen sudah pasti, tiga puluh rupiah tentu (Utang) itu harus dibayar sekarang, sebab uang itu sudah terlalu lambat, utang kepada lelang itu.
Dan lagi mana uang saya! Hasil menjual kerbau yang enam itu, oleh kamu dari Llmbangan itu, harganya tiga ratus! Kemari.Kan uang itu, karena sudah terlalu lama! Uang itu harus, sekarang harus dibayar! Karena saya hanya meminjamkan kerbau, (yang)hasil penjualannya untuk membayar lelang.•
Ki ... Munada menjawab lagi: ''Ten tang itu (saya) sudah pasrah. (Saya) mohon pertimbangan, mohon maaf, pertim bangan kangjeng gusti (Saya) menerima apa pun, hukuman yang agung. Tentang uang paduka, yang tiga ratus rupiah hasil penjualan kerbau, // semuanya habis. 43
- Oleh saya dipakai (modal) dagang, jual beli kerbau dan kuda Semua sedang merugi Modal yang tiga ratus, rugi semua habis Saya tidak bisa apa-apa, (untuk) mengganti sekian, sebab kerugian. Saya serahkan kepada kehendak paduka (Say a) pasrah ".
- Kangjeng Tuan Asisten gemetar, karena sangat marah, (kepala terasa) pening (dan) penglillatan (serasa) kuning. Nafsu bergolak. kemarahan tak terbendung, ditahan tak tertahan, nafsunya lepas. Ki Munada diserang, akan dibanting dengan kursi terbalik, tutup kepala Munada tanggal.
- Ki Munada bangun, duduk lagi. Oleh asisten lalu diinjak, ditendang sampai terjatuh, ditendang dengan sepatu.
Sedikit pun (Munada) tak melawan, karena menyadari salah, dan badannya lemah, karena belum menghisap madat. Badannya lemah, letih, lesu, sungguh sudah tak berdaya.
- Arya Patih melihat bengong, akan peristiwa yang terjadi, jelas di hadapannya. Pikirannya sangat bingung, sudah tidak punya pertimbangan, yang ada hanya (perasaan) takut. Mengapa paduka begitu. Ya, ampun. Mengapa terjadi peristiwa yang tak terduga, terjadi di hadapan bawahannya.
- Kangjeng Tuan cepat memerintah : "Upas Baron, tangkap Si Munada ! Lalu borgol olehmu, serta harus digusur! Lekas masukkan ke penjara. Penjara itu masih (ada) di tumur, pinggir (suangai) Cikapundung. // Munada sudah dipegang. 44 Oleh para upas dimasukkan ke penjara, di dalam kamar gelap.
- Ki Munada sudah ada di dalam penjara, di dalam penjara (ia) bertemu, dengan narapidana yang lain, Suradireja yang dulu, yang ditangkap oleh raden patih, (karena) meracun istrinya, maksudnya akan membunuh. Di situ saling sapa,
karena sudah kenal sejak waktu lalu, bukan baru bertemu.
- Suradireja menyapa sangat manis : "Kak Munada karena dosa apa, yang menyebabkan dipenjara?" Munada menjawab (sambil) tersenyum : "Kakak kena marah tuan, disiksa dibinasa oleh Asisten Bandung, ditendang, disepak berkali-kali, l,ihatlah kening dan pipi bengkak, badan penuh luka".
- "Betulkah, mengapa begitu bengis, Tuan Asisten Nagel yang galak". "Sungguh tak jelas alasannya, saya tidak punya salah, tapi disiksa, dipenjara, tak jelas (aturannya). Sekarang kakak lagi, Kak Munada, badan kakak bercucuran darah. Apakah tak kan membalas?" 24 7. Kata Munada : "Mudah-mudahan saja adik, kakak bisa ditakdirkan Allah, semoga nanti bisa membalas". Tinggalkan yang sedang berbincang-bincang, Ki Munada di dalam penjara. Tersebutlah Arya Patih, dari loji sudah keluar, cepat-cepat menghadap, Kangjeng Dalem yang sedang duduk di sitinggil, duduk di tempat rapat.11
- Raden Patih menghormat, lalu duduk, 45 di hadapan sang bupati. Bupati berkata lembut :
"Ada apa menghadap, Patih seperti ada kesusahan, seperti ada ketakutan? Coba lekas katakan ! " Raden Patih menghormat : "Paduka, hamba mohon kebijaksanaan paduka. Semoga tidak kaget.
- Tadi hamba melaksanakan perintah paduka. Telah mengantarkan mualaf Munada. kepada Kangjeng Tuan Asisten. Adapun setibanya di sana, Kangjeng Tuan sangat marah, karena uang tidak ada, (uang) lelang tiga ratus. dan hasil penjualan kerbau, enam kerbau seharga tiga ratus rupiah. semuanya itu tidak ada.
- Begitu sangat marahnya, sehingga Si Munada disiksa, diinjak dan ditendang, disepak dengan sepatu, dan dibanting dengan kursi, selanjutnya (ia) dikeroyok. oleh upas digusur, dibawa ke penjara. Begitulah agar paduka mafhum, tentang peristiwa tadi.
- Kangjeng dalem bupati berkata : ''Yah, bagaimana lagi upayanya, karena Munada memang nakal. Utang lelang tak dibayar. Tambah lagi utang hasil penjualan kerbau. Yakin Munada pencuri. sudah pernah (berkelakuan) begitu,
(dan) tak akan ada duanya, mengisap madat berjudi main perempuan serta mencuri, yang seperti Si Munada".
- Setelah raden patih mohon diri, selesai melapor (lalu) menghormat terhadap bupati, (dan) patih dari dalam (pendopo) keluar. Hatinya gundah-gulana, bila ingat pada peristiwa tadi. Setelah tiba di rumah, hatinya agak tak enak, akibat keterkejutan hati. // Namun kepada istrinya (ia) tak memberi tahu, 46 dirahasiakan di dalam hati.
- Kangjeng Tuan Asisten sudah sadar. Hatinya kecut (dan) nafsu sudah keluar. Saat itu (nafsunya) sudah hilang. (la) seperti agak menyesal. Segera (ia) menyuruh tengok, (pada) Upas Baron, utusannya, (agar) masuk ke dalam penjara. Bagaimana Si Munada itu, sudah sembuh Iuka di pipi. serta di badannya.
- Dilaporkan oleh upas seadanya, belum sembuh malah membengkak, mukanya semua bengkak, badannya pun pada luka. Kangjeng Tuan juga (merasa) khawatir. (Ia) menyuruh (Munada) diobati, kepada ki sipir (pegawai penjara), Munada harus dirawat. Ki sipir merawat berhati-hati, Munada tak boleh jauh.
X. Pupuh Durma
255. Sekarang marl kita kisahkan Munada, berada di dalam penjara, sangat sakit hati, sakit tiada tara. Yakin (sakit hati) oleh asisten. (Munada) sungguh menderita, mual melilit dalam usus.
256. Sifat manusia walau salah sendiri, tidak mau menerima kalah. Keras hati membatu, tidak menyadari kesalahan, hanyalah dijadikan sakit hati, hati merasa, saya tidak bersalah. I I
257. Apalagi Ki Mas Munada, 47 biasa mencuri, biasa hianat, biasa menghisap madat. biasa berjudi dan menipu, biasa berjudi dengan kartu dan sintir. (Punya) utang (ia) tak membayar, (bahkan) dilawan dengan hianat dan dengki.
258. Setelah tiga bulan (Munada) di dalam penjara, kangjeng asisten berkata. kepada ki sipir : "Cepat si Munada itu, lepaskan dari penjara ! " Sipir menjawa b : "Say a laksanakan semua perintah paduka ".
259. Oleh sipir, Munada telah dilepaskan, serta Munada sudah pergi, pulang ke rumahnya, di Desa Cibadak,
di dalam pusat kota, sebelah barat, setengah pal dari mesjid.
- Munada berpikir di dalam hati : "Bagaimana aka! saya, untuk membayar utang. Tetapi bukan utang uang, melainkan mau membayar sakit hati. utang sengsara, yang terasa oleh saya".
- lalah kepada Asisten Nagel yang bengis, yang telah menyiksa diriku. Badan terasa linu, kepala serasa pecah, kulit daging sangat sakit, (sakit) sekali. (Munada) merasa diri unggul lebih dari yang lain.
- Dari situ Munada pergi berjalan ke timur, ke rumah kawan karibnya, namanya Ki Darum tukang cat yang sudah lama, rumahnya di dalam kota, (di) Desa Kajaksan, tinggal di kampung Cipurut
yang sekarang dibuat rumah Braga, Munada sudah sampai, bertemu dengan temannya, yang bemama Darun Jawa, // berasal dari daerah Kudus. 48 Di sana Munada, duduk sebagaimana biasa.
Sebetulnya Munada pun berasal yaitu dari daerah Kudus. Sebetulnya (ia) peranakan, anak dari tanah Jawa, bukan Cina totok dari negerinya. Karenanya alangkah akrabnya dengan Darum.
- (la) ngobrol dengan Darum sebagaimana biasa, bertemu dengan sahabat karib. Ki Munada bertanya : "Hai, Kak Darum bagaimana kakak dan istri sehat-sehat saja, selamat, selamat ( dan) bahagia?"
- Jawab Darum : "Alhamdulillah kakak dan istri sehat-sehat saja, Dik. sehat wal afiat semua pada waktu ini, malah anak-anak pun, sehat-sehat semua, sungguh berkat (doa) Adik".
- Kata Munada : "Adik bertanya kepada Kakak. Bagaimana juragan mantri, mantri besar, Raden Sastranagara, apakah sedang berada di rumah, atau sedang bepergian? Barangkali Kakak tahu".
- Jawab Darum : "Katanya ke Sukapura, Raden Mantri itu, Raden Sastranagara. kabamya menikah, dengan anak raden patih,
patih nagara, akan menikah di Sukapura.
- Katanya, lamanya sudah lima malam, begitulah ceritanya. Entah kalau sekarang, sudah datang atau belum ". Kata Munada : "Terima kasih, adik diberi tahu, adik bermaksud mohon izin pergi".
- Munada sudah pergi dari rumah Darum, brjalan cepat seperti (orang) Bali, membusungkan dada bagaikan (orang) Malaka, menantang seperti (orang) Malaka, menantang seperti (orang) Madura, bertampang begis bagaikan (orang) Bugis. Matanya merah, bagaikan raksasa akan memakan daging. I I
- Sebabnya menanyakan Sastranagara. 49 karena ia (adalah) mantri, puteranya bupati, Dalem Kabupaten Bandung, yang termashur gagah sakti, anak perwira, satria jarang tandingnya.
Khabarnya (ia) tidak tembus senjata tajam. bertenaga besar tiada yang menandingi, keberaniannya, susah mencari tandingannya. Kalau dibandingkan, (dengan) jaman pewayangan, bagaikan Pangeran Pringgandani.
Raden mantri bagaikan Sang Gatotkaca. Munada ciut hatinya, sangat takut, oleh Raden Sastranagara. Oleh karena itu, (ia) ditelusuri terus, malah bertanya, kepada istri raden mantri.
- Tiga orang istri Raden Sastranagara (itu). Pertama, Enden Salwi, berasal dari Cianjur, wanita cantik mulia. Nomor dua Neng Lasiah, manis parasnya, karena masih remaja.
- Enden Enot istri yang ketiganya. (la) pun wanita manis. J adi yang sekarang, dinikahi di Sukapura, yakin istri nomor empat, Raden Sastra, mantri besar kabupaten.
- Oleh Munada ketiga istri (Raden Sastra) itu didatangi, (untuk) menanyakan raden mantri. Jawabannya sama. mantri ke Sukapura, lamanya sudah lima hari, sedang menikah. nikah kepada putera patih.
- Pesannya, di sana akan (tinggal) selama setengah bulan, (sekarang) baru lima hari. Adapun pengiringnya (adalah) Bapak Kawijem. Munada menjawab terkekeh :
''(Saya) punya barang dagangan, bahan tolaki untuk baju. //
- (Munada) berpamintan (dan) segera pergi dari istri 50 raden mantri. (la) tergopoh-gopoh pergi, menuju Kajaksan, ke rumah demang jaksa, seperti akan memberi khabar, berupa rahasia, yang (akan) membawa celaka.
- Kebetulan demang jaksa sedang ada, sedang duduk di dalam rumah. "Selamat datang Munada ! Bagaimana keadaan kamu?" Munada menjawab hormat : "Berkat paduka. selamat diri (hamba)."
- Kata demang jaksa : "Hai kamu Munada ! Kemarilah kamu ke kamar rahasia ! Ada berita. Seperti berita rahasia?" Kata Munada serius : "Hamba berbicara, harus di kamar rahasia".
Ki Munada berbisik pelan : "Hamba sangat sakit hati. Kata Suradireja, kata Suradireja, ketika berada di penjara, harus memberitahukan, kepada paduka, yang bisa menolong diri (hamba)".
"Kenapa begitu?" Kata demang jaksa. Yang dimaksud Munada, karena disengsara, dan tak merasa berutang saat itu. "(Memang) tidak pantas. kamu harus diinjak-injak".
- Ki Munada menjawab berbisik. "Karena itu hamba. sungguh ingin membalas. Utang derita bayar derita. Bahkan maksud hamba, demi orang itu. akan saya bun uh".
- Kata ke demang jaksa : "Sa ya menyetujui. (Saya) sangat setuju. Te ta pi hendaklah (kamu) lihai, // dalam menjalankannya! 51 (Suatu) rahasia besar hendaknya rapi (melaksanakannya)! (Mari) kita bersumpah, yang muda menaruhkan jiwa!" XI. Pupuh Sinom
Raden Demang Mangunagara, jaksa di Kabupaten Bandung, waktu itu telah mengucapkan sumpah, (sambil) mengangkat Al Qur'anul adim. (Bahwa) akan menyimpan rahasia dengan rapi, tak akan memberitahukan kepada orang lain, walau badan menderita, atau mengalami ajal. Begitu pula mereka bersumpah bersama Munada.
Setelah sama-sama bersumpah dengan Al Qur'an, jaksa bicara pelan : "Hai Munada, kita sama-sama (senasib ). Saya sangat sakit hati. yaitu kepada bupati, yang menjadi bupati Bandung, Raden Wiranatakusumah. Yang membuat (saya) sakit hati, pertama karena (masalah) Suradireja.
- Saya tidak dibawa-bawa. Malah waktu akan diadili, sya ditolak tidak boleh (menghadiri sidang). Asisten itu menyuruh (saya) pulang. Sungguh malu diriku, Selama hidup tak akan lupa, oleh Asisten Nagel itu, keduanya oleh bupati. Bahkan ada lagi tambahannya,
- terhitung nomor dua, yangmenjadikan sakit hati, karena Raja Pamerat, puteri yang telah menjadi, kekasih saya. Saya suka (dia) mau. Tandanya surat-surat saya, oleh puteri diterima, begitu pun pemberian, uang kertas. //
- Sudah habis seribu rupiah, 52 memberi kepada agan puteri. Tandanya mau kepada saya, surat dan uang diterima. Balasannya begitu pula, rokok beratus-ratus (batang), diterima oleh saya.
Rokok harus semerbak, yang dikirim juwita kepada saya.
- Tetapi akhirnya lain, (ia) diberikan kepada orang lain, (kepada) Suryakusumahdinata, pengakatnya kumetir kopi, di Kabupaten Cianjur. (Sekarang ia) sudah menikah dengan Raden Ayu Ajeng Raja Pamerat. Itulah yang menjadi pemikiran saya. mengenaskan, menyakitkan, alangkah sedihnya".
- Ki Munada menjawab : "Betul sungguh begitu, Tak salah apa yang paduka katakan. tentu menyakitkan hati. Begitu pula saya, lebih-lebih sakit hati, kalau ingat disiksa oleh Tuan Nagel, tentu saya hams membalas. Utang malu hams dibayar dengan malu.
- Waiau sampai pada ajal, saya rela, membela paduka, dan membalas sakit hati. Sekarang niat saya, yang dua orang itu akan saya bunuh, Mudah-mudahan berhasil, kelak paduka bisa mengganti. menjadi bupati kepala daerah yang memegang kakuasaan".
- Kata raden demang jaksa : "Syukur kalau berpikir begitu. Pembelaan Munada,
oleh saya diterima. Sekarang kamu pulang! Kembali lagi (kamu) besok, sore hari pukul empat! Kita berembug yang pasti, // dengan teman-teman kita yang sehaluan ". 53
- Ki Munada berpamitan pulang, serta diberi uang, oleh raden demang jaksa, Ki Munada berhati-hati perginya tak kelihatan, karena agak sembunyi-sembunyi. Demang Biskal kemudian memanggil, sanak saudara keluarga, yang dikira sehaluan dan membela.
- Diceritakan keesokan harinya, sanak saudara sudah berkumpuL apalagi Ki Munada, (berada) di dalam kamar rahasia, demang jaksa sudah duduk, ketiga Raden sasmita, keempat Raden Padma, kelima Ngabehi J uri, pegawai penjara yang bernawa Wi radinata.
Ketujuh Sastradireja, pangkatnya jrutulis kewedanan, Keredanan Ujungberuang Wetan. Dan kedelapan lagi, bernama Mas Raksamanggala. Waktu itu yang berkumpul sebanyak itu. Semua sama-sama bersumpah, menaruhkan jiwa dan raga, bermaksud membela demang jaksa.
Berkat pembicaraan waktu itu. "Sekarang siasat yang rapi". kata Mualaf Munada. "sudah dipikirkan oleh saya. Saya akan membeli rumah di kampung Kaum. termasuk Desa Cibadak. di sebelah barat mesjid. Rumah itu kepunyaan Raden Tanek {dan) akan dijual.
- harganya sembilan pasmat. Nanti kalau sudah dibeli. kita bakar rumah itu. supaya yang dua (orang) itu datang. oleh saya akan diintip. didekati untuk dibunuh. Begitulah kalau setuju. Semua hams siap-siap. kita amuk pada waktu (terjadi) kebakaran.
- Demang Biskal telah setuju, beserta semua anggota kelompok. Munada diberi uang, banyaknya sembilan ringgit. Setelah itu (lalu) bubar pulang. Munada pun sudah pergi. menuju Desa Cibadak, I I Sampailah (ia) kepada Nyi Raden Tanek. 54 "Permisi'', kata Ki Mas Munada.
- "Enden, kakak mau bertanya. Kata orang rumah ini, katanya akan dijual. Apakah itu betul, Nyai? Oleh kakak akan dibeli. Enden Tanek menjawab sambil senyum. "Betul (rumah) ini akan dijual,
kalau laku sembilan ringgit, karena saya akan pindah ke Kajaksan".
- Kata Munada : "Bersyukur sekali. Rumah ini oleh kakak dibeli, tapi ini (hanya) panjar
- Setelah selesai membeli rumah, Munada lalu berpamitan. (la) punya untung lima pasmat. Segera berbelanja, yang sudah biada (menjadi) kesengangan, yaitu madat candu. (la) mengisap (cantu) sambil tiduran. Pening semaput (ia) tak sadar, yang ingat sukma melayang.
- Karena sudah begitu kebiasaannya, Munada tak bisa mengubah. dengan kelakuan yang sempurna. Sudah bersatu dengan menyandu, Nyai Lara Ireng yang cantik, masuk ke tulang sumsum. merambah ke dalam paru-paru, melilit membelit usus, candu itu diaanggap anugerah dewa.
- Setelah puas mengisap madat, Munada lekas pergi, mendatangi Demang Biskal. Di sana sudah siap, pertemuan para anggota, yang disebut kemarin.
Sekarang ada tambahnya, anggota baru yang berbudi,11 yang setia dan sudah mengangkat umpah.
- Natawijaya Santana pembantu yang sungguh berbudi, dan Pak Kento gulang-gulang, penjaga yang menjaga tahanan, terkenal gagah berani. Pak Kento tampangnya tangkas, badan seperti Citrayuda, yang menjadi kepala pasukan, yang sering kalah, komandan Negeri Astina.
- Dan Raden Wirakusuma11, jurutulis potong kerbau. Sekarang menjadi sebelas, anggota rahasia yang tersembunyi. Sungguh telah siap sedia, nanti pada Jum'at malam, pada tanggal tiga puluh, tercatat bulan Desem ber, seribu delapan ratus empat puluh dua.
- Merundingkan ten tang pakaian, harus berpakaian seragam hi tam. Berbaju hitam semua, juga berbaju hitam, (celana) pendek di atas betis, serta ikat kepala harus hitam, dibalut saputangan, saputangan putih semua. membawa keris dan gobang panjang.
- Semuanya menyanggupi, berdamai sudah membuahkan basil, pertemuannya secara rahasia.
Sekarang singkatnya cerita, diceritakan sudah siap. Ceritanya pada Jumat malam, kohkol dipukul bertalu-talu, serta waktu angin besar. api membakar dahsyat tiada yang menghalangi.
- Ribut di dalam kota, ramai penduduk kota Bandung. Di Cibadak (ada) kebakaran, di se belah barat mesjid,11 rumah seorang perempuan, milik Enden Tanek, yang dijual kepada Munada. yang (telah) dipanjar empat ringgit. Semua memburu (tempat kebakaran) seorang pun tak ada yang tinggal. XIL Pupuh Pangkur
- Sekarang mari kita ceritakan, pembesar-pembesar ribut di dalamkota, cepat-cepat Kangjeng Tuan, Asisten Nagel berdandan, se bagaimana berdandan yang tergesa-gesa Lalu (ia) naik kereta, Upas Baron yang mengiringi.
Lecut cambuk berbunyi, tanda kusir menjalankan kereta (kuda) dengan cepat. Kuda yang dicambuk melejit Gemercik pasir berbunyi, terlewati oleh kereta yang melesat cepat Alun-alun sudah terlewat, sampailah (kereta) di tempat kebakaran.
Kereta berhenti di jalan, di dekat (tempat) kebakaran tadi. Tuan Nagel belum turun, masih di dalam kereta. Tiba-tiba ada orang menyerang, )alu membacok kangjeng tuan. Asisten itu kena (bacok) sekali, 3 13. pada pelipisnya. Upas Baron turun (lalu) memburu cepat Tuan turun dari kereta Si penjahat menyerang, membacok Upas Baron berkali-kali, kena sampai tiga kali, serta (yang) kena luka (dan) sakit.11
- Pertama luka bahunya, 57 keduanya (kena) lengan kiri (sehingga) darah menyembur, ketiga (kena) lengan kanan Upas Baron pingsan Setelah roboh, Upas Baron tersungkur Pengacau menyerang tuan (lagi) (Tuan) Nagel dibacok keras,
- kena sampai tiga kali Kepala dan mukanya berlumur darah, darah menyem bur keluar Keningnya luka (sampai) belah, tak tertahan darah mengalir deras dari Iuka Kangjeng (tuan) yang pingsan, roboh tak sadarK:an diri.
- Menggelepar-gelepar di tanah, bergulingan tergeletak di sisi pagar. Tadi ketika sedang turun, oleh pengacau disergap, lalu dibacok dari belakang sambil didorong
Tuan tidak bisa bertindak, (karena) dibokong dari tempat gelap.
- Tersebutlab pasukan, prajurit diperintah dari tangsi, berangkat beriringan (sambil) memanggul senjata. (Mereka) datangnya belakangan, karena lokasi tangsi agak jauh Adapun loji asiten, dekat alun-alun kota.
- Setibanya di tempat kejadian, oleh sarean (para) prajurit dikomando, mema
- Opasnya pun tergeletak, Ki Baron membujur tak sadarkan diri. Prajurit lalu memburu, menolong kangjeng tuan. Panjahatnya dicari tak ketemu. // Kemudian datang bupati, 58 naik kereta (datangnya) belakangan.
- Begitu turun dari kereta, si pengacau menyerang lagi dari tern pat gelap. Pengacau akan membacok sembunyi-sembunyi. Bupati akan dianiaya. Maksudnya bupati itu akan dibunuh. Kebakaran itu kacau balau, 11uru-hara (dan) pembunuhan.
- Tiba-tiba karena kehendak Allah, bupati diburu oleh ki kopral prajurit,
bemama Bapak Unit (yang gesit, (lalu bupati) dihalangi oleh senapannya. Pedang mengenai senapan (begitu) keras sampai berasap, keluar api berkilauan. Bupati terselamatkan jiwanya.
- Cepat (ia) naik kereta lagi. Kangjeng Tuan Asisten tidak diperhatikan Keretanya mundur (lalu) melejit, pulang ke tempat tinggal, ke pendopo kabupaten. Setelah masuk, (bu pa ti) mengunci diri di dalam kamar, dan ha ti sangat hawatir.
- Tunda cerita kangjeng bupati. Tersebutlah si pengacau yang hianat, yang membacok keras (tapi) keburu, terhalang oleh senapan, Bapak Unit kopral prajurit yang tangguh, yang gagah serta pemberani, waktu itu menolong bupati.
- Pengacau membacok lagi, kena pada bahu kopral keras sekali, (tapi-tidak Iuka malah berasap. Diulangi lagi oleh pengacau itu, membacok dengan keras (tapi) kena pada topi (sarnpai) hancur. Topi terlempar (dan) pecah (menjadi) dua, tapi tidak tern bus pada kulit. 11
- Kepala kopral selamat. Si Bapak Unit sungguh gagah (dan) kebal. 59 Ki kopral balas menerjang Dijotos oleh senapan, oleh Pak Unit kena (pada) mata kanannya,
menggaris pada alisnya, lalu pada keningnya.
- Si pengacau cepat lari, lalu diburu (dan) dipukul, punggungnya dengan senapan. (pengacau) kabur lari ke arah barat Datanglah Ki Ngabehi Jawa, yang bernama Rono Sentono yang tinggi, berpapasan dengan si penghianat. Kelihatan jelas Munada.
- Munada cepat membacok dia, Ki Mas Rono Sentono cepat menangkisnya. Pedang (Munada) dipukul (hingga) lepas, lepas dari tangannya. Setelah lepas (Munada) ditubruk oleh Rono Munada berkelahi duel. Ki Munada men ca but keris.
- Memang Mas Behi yang gagah, keris pengacau Si Munada yang jahat, ditangkap lalu ditarik Lepas dari tangannya, (dengan) mudah saja karena (ngabehi) perkasa, Ki Mas Ngabehi Rono.
- Kerisnya menjadi terambil, menjadi bukti nanti di akhir, jelas yang mempunyai keris itu, yaitu Si Munada. Banyak saksi yang tahu (keris) itu betul, kepunyaan Munada. Munada lari tunggang-langgang.
- (la) lari ke arah selatan cepat-cepat, kira-kira pukul setengah lima Iebih,
(ia) menyusuri jalan besar ke selatan Tepat (pada) gardi Darpiah, dicegat oleh dua (orang) yang menjaga gardu, Mertawana Raksajaya,11 ditanya tak dapat menghindar. 60
- Uicegat saja dengan (ancaman) senjata. (Ia) berupaya melawan sambil menghindar (dari cegatan) oleh penjaga gardu ditahan, dipukul oleh dua orang, dengan gada besar (terbuat dari) pangkal ruyung, kenalah tangan Munada. .latuhlah pedang yang penun darah.
- Ki Munada segera lari. Pedangnya diserahkan jadi bukti, yang pen uh darah agak kering Mertawana Raksajaya, tahu sekali bahwa dia Munada, sebab sebelumnya (sudah) kenal, dengan Munada orang yang suka hianat. 3 3 3. M unada lari ke arah tim ur Dari gard un asisten (ia) mem belok lagi Dari desa Ciateul lalu, (ia) menuju arah utara larinya cepat, lewat Lengkong ke daerah Randu Kurung. Pukul enam ke Kajaksan, (ia) sudah sampai ke demang jaksa.
Demang jaksa sedang berjalan, sedang berputar-putar di ruang depan rumahnya. lkgitu melihat Munada datang, mimiknya nampak cemas. Baju (dan) tutup kepala (Munada) hitam, seluruh tubuhnya penun, berlumuran penun darah.
Oleh demang dipersilakan, Si Munada masuk ke kamar, tempat berkumpul secara rahasia, yang biasa itu. Setelah bertemu keduanya sating rangkul, (lalu) menceritakan kegiatan. Katanya: "Hanya dapat satu orang.
- Hanya roboh yang (tinggal) di utara itu, tersungkur rasanya tidak akan hid up lagi.11 Adapun yang di selatan gagal, 61 sayang tidak berhasil. ltu pun sangat sulit sangat berat, karena orang lain tidak ada, yang membantu saya' .'
- Kata Raden Demang Jaksa:
- Yah, sayang mengapa hanya dapat seorang, yang di selatan justru lebih pen ting, tetapi yah bagaimana lagi. Sudahlah sekarang kamu harus bersembunyi, masuk ke dalam peti saya' .' Peti (besar) adalah peti terbuat dari Kayu,
- peti yang sudah disediakan, Si Munada sudah masuk ke dalam peti, di atasnya lalu ditutup, dengan kasur, seprai, dan dipan Tak kentara bersembunyi di situ, (karena) seperti dipan tempat duduk, tempat ki demang du
- Munada bersembunyi santai, (walau) sesak napas karena di dalam peti, badan lelah serta ngantuk, dan alangkah takutnya, karena pun ya kesalahan sangat besar,
terasa bila menyesal, alangkah kelirunya pikiran.
XIII. Pupuh Asmarandana
- Alangkah ngenasnya hati, semua mengetahui, ten tang kangjeng tuan asisten, tergeletak mayatnya, menggelepar-gelepar, badannya Iuka parah, darahnya mengalir keluar.
- Mayat diperiksa oleh prajurit, lalu datang den arya, arya patih sangat terkejut,11 segera kangjeng tuan ditolong, 62 diangkat ke dalam kereta, beserta raden patih pergi. Singkatnya (mereka) datang ke loji.
- Ditidurkan (tuan) pada ranjang, darahnya dibersihkan. Dari situ raden patih pergi, pergi ke bupati melapor. Sesudah bertemu dengan bupati, raden arya melapor, agar dalem maklum.
s Tuan Asisten celaka, badannya rusak sekali, kening (dan) kepala dibacok. Sekarang sudah dibawa ke rumahnya, barusan dalam kereta. Oleh saya (telah) diurus, ditidurkan pada ranjang".
Kangjeng Dalem cepat-<:epat, dari pendopo berangkat, menengok tuan asisten, didampingi raden arya, serta para ponggawa. (MereKa) sudah tiba di loji, menengok yang celaka.
- Tuan jurutulis sudah diundang, yaitu Tuan Van den Broek, dan Tuan Van Nenda juga, (adapun) tuan dokter tak ada, Dibben sedang di Sumedang Kemudian dalem berunding Lekas narus membuat surat.
- memberitahukan perkara ini, hal kecelakaan ini. kepada kangjeng tuan residen Singkatnya surat selesai. ditulis sudah siap, ditandatangani oleh dalem.Bandung, lalu diberikan kepada upas. 34 7. Upas berangkat naik kuda Tunda cerita upas dalam perjalanan Sekarang yang diceritakan, Upas Baron sudah dibawa, yaitu ke rumahnya, yang berada di kampung Kajaksan. Lukanya agak berat. //
- (Mari) kita kisahkan yang tadi, 63 terhukum Suradireja, sekarang nukuman sudah jatuh, diasingkan ke Surabaya, lamanya dua tahun.
Dialah yang menjadi pangkal, asal timbul huru-hara.
- Ada pun upas yang tadi, membawa surat ke Cianjur, sampai ke tuan residen, kekagetan tuan residen, sunggun tiada tara. Tiba-tiba ada kerusw1an di Bandung, asisten dibunuh.
- Kangjeng residen cepat, membuat surat laporan, kepada tuan besar di Bogor, kangjeng gubernur jenderal, serta ke BetawL kepada kangjeng tuan direktur, pemerintahan dalam negeri.
- Dan (ia) mengundang dokter (dari) Betawi Surat-surat tersebut dikirim, karena baiknya (tukang) pos (surat) segera diberangkatkan. Tunda (surat) pos yang sedang dalam perjalanan tersebutlah residen lagi, memberi tahu bupati Cianjur, (bahwa) di Bandung muncul perusuh. 3 5 2. Residen sudah pergi dengan segera, naik kereta pos cepat-cepat. Residen tiba di Bandung, kira-kira pukul empat sore, (untuk) menengok yang celaka Terlihat asisten payah, mungkin tak akan hidup lagi.
- Besoknya dokter Betawi, sudah datang di Bandung,11
beserta Kangjeng Tuan Idelir, segera darahnya dibersihkan, yang ada pada lukanya. Namun temyata bertambah parah. Sesaat akan meninggal (ia) berkata:
- "Segera tangkap Si Munada !" Hanya sekian berbicaranya. Terkulai asisten meninggal. Semua terkejut dan ribut, (atas) meninggalnya kangjeng tuan Asisten Nagel di Bandung, te1ah kembali ke rahmatullah.
- Mengucapkan innalillahi, wainna ilaihi, rojiun. Semua mengucapkannya. Kangjeng tuan sudah meninggal, hilang musnah jiwanya, dikubur (di) Santiong Bandung. Sekarang dikisahkan.
- residen segera menulis (surat), memanggil para jaksa, jaksa dipanggil semua. Raden Tisnadilaga, jaksa keresidenan, jaksa agung di Cianjur, harus cepat-cepat datang.
- Dan jaksa Kabupaten Garut, serta jaksa Sumedang, juga jaksa Sukapura, dan jaksa Purwakarta, Raden Suryalaga; (mereka) semua dipanggil, ke Bandung harus cepat-cepat (datang).
358. Surat panggilan bertebaran,
sekarang masih dalam perjalanan, nanti sebentar (lagi) diceritakan (lanjutannya). Sekarang (dikisahkan) Raden Arya Patih Adinagara, // demang jaksa dipanggil, 65 ke loji waktu itu.
359. Demang jaksa sudah datang,
tampaknya meringis pucat Setibanya di loji, ditanya oleh arya patih:
- Mengapa tidak lekas-lekas, Raden Jaksa datang ke loji, pada musibah yang besar
360. Semua sudah datang,
kaget semua menengok, hanya raden demang jaksa saja, yang tidak cepat melayat. Kalau tidak dipanggil, mungkin tidak akan datang Itulah yang mengherankan' .'
361. Jaksa menjawab sambil meringis:
'Eh, bukan begitu kakak, adik ini sakit parah, sakit gigi kena ulam. Sakitnya amat sangat, alangKah sakitnya, Begitulah alasannya.
362. kenapa adik tidak.segera,
(adik) tidak segera datang ke loji Adik hanya tidur saja, merasakan penyakit. Malamnya pun tidak menengok,
tak datang pada kebakaran, gigi adik sedang terasa sakit".
Kata raden arya patih: "Sekarang harus dicari, Si Munada perusuh besar ! Dialah yang membunuh, tuan asisten itu. Si Munadalah yang mengamuk, kita jangan (sampai) mendapat malu."11
XN. Pupuh Wirangrong 66
Tersebutlah kembali pada (cerita) yang tadi, ketika Munada (baru) datang, pada pukul enam, sebelum masuk ke dalam peti, anggota kelompok se be las berdatangan, berkumpul di kamar rahasia.
- Semua berembug J angan bepergian, Munada harus bersembunyi, di tempat tersembunyi di dalam peti, sebab kalau Munada bepergian, sudah tentu kita (akan) celaka.
- Sebabnya ke dalam peti, Munada bersembunyi berbaring, karena semua sepakat, (bahwa) Munada jangan pergi, le bih baik kita menyusun siasat, salah seorang anggota (kelompok) harus pergi,
- ke Majalaya cepat-cepat, bahkan (terus) ke Leles Torogong
la harus mengaku, mengaku diri Munada, agar semua tahu, Munada ke Majalaya.
- Menghilangkan jejek dengan rapi, agar semua memburu, ke Majalaya (untuk) menyusul. Adapun yang harus pergi, adalah anggota (kelompok) Sastradireja, yang harus mengaku (diri) Munada.
- Siasat ini sungguh baik, pasti tidak akan ketahuan. Nanti kita yang mengatakan, bahwa Munada (jelas) pergi, kabarnya ke Majalaya, katakan oleh semuanya.
- Setelah bulat kesepakatan, suguhannya sudah muncul, bibika ketan, kerupuk, // lodeh dan telur asin, 67 saat itu berkumpul pesta, selamatan semuanya.
- Yang mendoanya kyai, sesepuh Raden Puspayuda. Lalu (mereka) makan ketan, kerupuk, dan minum air kopi, yang kental memakai gula. Lumayan obat ngantuk.
- Karena semalam tadi, anggota kelompok itu berjaga, tak ada yang tertidur, benar-benar berjaga semalaman.
Pada waktu musuh kebakaran, semua anggota juga ada.
- Setelah minum kopi, para anggota bubar keluar, hanya Munada yang masuk, yaitu ke dalam peti, dialasi seprai dipan. (Peti itu) diduduki Demang Biskal.
- Tersebutlah Mas Sastra anggota kelompok itu, anggota perkumpulan gila, sudah pergi dari kota Bandung, sudah sampai ke Majalaya, tidumya di pendopo, (dan) mengaku bernama Munada.
- Setelah tidur satu malam. Sastradireja pergi, ke Leles yang dituju. Sepanjang perjalanan (ia) berkata, mengaku bemama Munada.
- Sesudah sampai ke Kewedanan Tarogong, masih saja (ia) membohong, di sana pun mengaku-aku. bahwa dirinya Munada. Kebetulan (ia) bertemu. ctengan (yang) bemama Jayadiraksa. //
yang kenal serta akrab, 68 kepada Mas Sastradireja. Kata Jayadiraksa: "Kenapa Mas Sastra berkata begitu? Berka ta itu jangan bohong. Kok, mengaku diri Munada. Bukankah anda Mas Sastra '?
Mas Sastra lari tunggang langgang, dari Taro gong sudah pergi, cepat kemhali ke Bandung. berjalannya semalam suntuk, siang hari semhunyi-semhunyi, atau sore hari tidur lelap. 3 79. Ke Bandung ia sudah sampai. Dengan Demang Biskal (ia) sudah hertemu "Sangat heres tipunya hagus. Sungguh tidak ketahuan, hanya di Tarogong kepergok, oleh (yang) bernama Jayadiraksa.
- Tapi tidak sampai jelas, saya sudah terlehih dahulu pergi, segera menjauh dari sana cepat-cepat. Jad1 tidak sampai terhongkat." "Syukur", kata demang jaksa, 'Sastra kalau sudah heres.
- Kita harus berjaga-jaga, jangan sampai terhongkar! Segala akal dan tipuan, harus dilakukan oleh anggota. Sekarang semua (anggota) membuat selebaran. Tempelkan (sele baran itu) pada setiap pilar.
- Bunyinya Munada pasti, sekarang sudah pergi, jelas sudah pergi dari Bandung, yaitu hari kemarin. Tujuannya ke Majalaya, ke rumah kawannya".
- Pagi-pagi sudah selesai, berjejer seleharan sudah tampak,
menempel di tiang gardu, begitu pula pada pilar, ada yang pada tiang jembatan, isi selebarannya sama.
- Begitulah akal yang hianat. // Walaupun tampaknya begitu, 69 awal akhir juga terbongkar, karena Allah tidak menghendaki, pada orang yang hianat, sudah ten tu pasti terbongkar. 3 85. Allah Maha Suci, tak kan ingkar karena tidak bodon. Siapa yang beramal baik, dibalasnya dengan baik lagi. Siapa yang melakukan dosa, dibalas lagi dengan siksa.
- Bila ingin senang hati, jangan berbuat serong, jangan suka menurut nafsu, nafsu pengajak iblis. Selamanya merasa takut, hati merasa gundah.
- Begitulah kumpulan anggota itu, anggota rahasia yang bodoh, perkumpulan orang-orang kurang waras, manusia yang kurang berbudi. Begitulah kejadiannya ! Kinanti mengganti lagu. XV. Pupuh Kinanti
- Tersebutlah heboh di Bandung, para polisi mencari,
mualaf bemama Munada yang telah berhianat dengki, yang lancang berani membunuh, pembesar orang Eropa.
- Setiap tern pat gardu, dijaga oleh orang-orang, senjaa tombak cagak, golok pedang pisau keris, senapan dan pistolnya, sepunya-punyanya orang.
- Setiap perempatan penuh, oleh polisi yang menjaga, malam maupun siang, tidak lowong oleh yang menjaga, // malah semua pekerjaan, 70 setiap kerja wajiiJ berhenti.
- Tersebutlah yang dipanggil, jaksa-jaksa kabupaten lain, sekarang sudah tiba, menghadap kepada paduka, kepada kangjeng bupati, terus ke residen di loji.
- Yaitu jaksa Cianjur, bemama Raden Tisnadilaga, disuruh harus ke timur, menyelidiki ke Ujungberung, serta membawa pasukan, beratus-ratus polisi.
- Jaksa Sumedang disuruh, ke Rongga dan Cisondari, diiring balatentara, polisi berpakaian rapi,
pacalang dan kopral-kopral, sigap menyandang pedang keris.
- Adapun Raden Jaksa Garut, ke Kewadanan Banjaran Kopo. ' Cari Munada sang penjahat ! Awas harus ketemu. Geladah (setiap tempat) sampai dapat, pembunuh mualaf (yang) dengki.
- Jaksa Manonjaya harus, (ke) Rajamandala Cimahi, membawa kopral dan pacalang, dan para polisi kreatif, yang telah paham aturan. bisa meneliti yang jahat.
- Jaksa Purwakarta harus. mencari di dalam kota. Raden Suryalaga, terhitung paling berbudi. jaksa terkenal bijaksana. yang cerdas dan cekatan.
- Harus di dalam kota Bandung. (ia) mencari jalan meneliti. // sebabnya ia terpilih, karena sudan terkenal, Kesohor ke mana-mana, jaksa cerdas bijaksana pin tar.
Sudah mulai di Bandung, digeladah para polisi, di setiap rumah orang, tapi tetap tak ketemu, setiap siang setiap malam, polisi jalan bergerombol.
Kata Bandung menakutkan, orang heboh tapi sunyi, sepi setiap rumah orang, perasaan jelas prinatin, hati menderita, pamor kota hilang.
- Pada malam hari di alun-alun, pada setiap pohon beringin, burung tuweuw bersuara, dan burung-burung kecil, e lang bersuara nelangsa, seperti ikut prihatin.
- Kalau siang hari (burung) ungkut-ungkut, mengangguk bemyanyi terus, (burung) cokek bersahutan, bebencet berbunyi malam hari, seperti ikut bersedih, prinatin ditinggalkan tuan.
- Saerah bersuara subuh, berbunyi sangat nyaring, jika btmyinya ( dapat) dimengerti, tak perlu jauh sekali. Munada itu tidak kabur, ada di dalam kota.
- Begitulah menurut kata burung, ta pi sayang tidak ( dapat) dimengerti,11 kita tidak paham, 72 pada bahasa daerah gun ting, terdengar hanya menimbulkan hati teriris, bersuaranya terang.
- Suryalaga duduk tepekur, memuja pada Yang Widi,
mohon pertolongan Allah, keramat mujizat nabi, Muhammad dinilmustafa, solallahu alaihi wasalam.
- Semoga datang pertolongan, dibukakan hal menyelidiki Bukakanlah kejahatannya ! Perlihatkan orang yang hianat ! Dibukakan rahasianya, orang yang jahat !
- Ditemukan di tiap sudut, selebaran dijepit oleh bambu, (yang) menerangkan Munada itu, dari Bandung sudah pergi. Surat itu. kalau sekarang anonim.
- Oleh Suryalaga dimaklumi, selebaran itu surat kaleng. Sudah dikira dalam ha ti, perbuatan itu jelas, bukan orang sembarangan, (yang) membuat surat kaleng.
- Tentu orang berpangkat tinggi, dan bukan hanya satu orang. Buktinya dalam aksara, tulisannya tidak sama. Sudah jelas bukan seorang, yang membuat surat hianat.
- Keterangan ini cukup, Munada itu (sesungguhnya) belum jauh, masih berada di dalam kota. // (Selebaran) ini adalah pemancing, 73
jelas menghilangkan jejak, mengecohkan polisi.
- Yang dimaksud dengan selebaran itu, agar polisi bingung · Namun hati Suryalaga, serasa diberi petunjuk, bahwa Munada masih ada, serta begitu deKat.
- Tersebutlah jaksa-jaksa yang jauh, sudah datang ke kewadanaan, sudah mulai menggeladah, oigeladah diporak-porandakan. Tiada rumah yang terlewat, diteliti oleh polisi.
- Di tempat rindang setiap semak. dikorek seteliti mungkin. Teliti yang mencari (itu), tetapi tidak ketemu. Ke Sumedang Sukapura. tua-muaa sama-sama mencari. XVI. Pupuh Sinom
Sinom menceritakan Munada, yang berada di da lam peti, kira-kira seminggu lamanya, sulit kencing sulit berak, kesal pengap dalam peti, krna peti pendek kecil. Sengsara amat sangat, alangkah bau pesingnya. Munada merasakan neraka dunia.
Dari dalam (peti) Munada berteriak. Katanya : "Paduka, hamba, minta dibunuh saja, karena sud ah tidak tahan, diam di dalam peti, seminggu serasa sewindu. Lebih baik dibunuh,II tida k tahan lama-lama. " Apayang dikatakan (Munada) terdengar oleh Demang Biskal.
- Pada malam itu juga, ki demang jaksa segera, ak an memanggil kelompok rahasia, yaitu Ngabehi Juri, Pak Kanto dipanggil cepat, Natawijay ketiga, keempat Mas Suradireja. Keempat anggota sama-sama sudah datang, ke hadapan Raden Demang Biskal.
- Keempat anggota rahasia berkumpul, ki demang jaksa berkata : "Hai, anggota yang em pat, sekarang permintaan saya, eluarkan dari dalam peti, Munada iu bawa ke sana, sebab ia minta dibunuh. Sekarang l>awa malam ini, selagi gelap dan hujan (nanti) pukul dua.
- Anggota yang empat orang menyanggupi. Saat itu peti dibuka. Munada lalu diangkat, sedikit pun tak berdaya, lelah badannya, malah tidak bisa berdiri.
Lalu (ia) digotong oleh empt orang. dengan tang ga bambu, di bawa ke parit Kajaksaan Girang.
- Pukul dua (malam) remang-remang. pada waktu hujan rintik-rintik, (mereka) sudah sampai ke parit. Manada sampai pada janjinya, janji dari azali, dari lohmahfud yang pasti, sampai pada takdirnya, // Munada lalu disembelih, oleh Pak Kento dengan pedang yang sangat tajam.
- Kata Pak Kento: "Hai Kak Munada seadarlah ! Mohon maaf, karena saya sudah berani, kakak akan di sembelih. Karna saya harus menurut, terhadap perintah Demang Biskal. " Munada menjawab memelas. "Bapak Kento, kakang pasrah sekali."
- Pedang sudah dicabut, bersinar mengetarkan hati, pedang buatan Cisuriat, ketajamannya amat sangat, sebab tadi sudah diasah, sewaktu akan timbul kerusuhan. Saat itu pedang sudah menempel, pada leher Munada (yang) jahat. (Pak Kento) mengucapkan bismillah sambil mengeratkan pedang.
- (Pak Kento) menggerakkan pedang sangat keras, leher (Munada) putus samasekali.
tanpa mengulangi gerakan pedangnya, kepala suda h berpisah dengan badan. Barangkali Qial) itu seperti, Menak Jinggo yangdulu, raja negeri Blambangan, dipenggal oleh Damarwulan, kalah perang kalah kesaktiannya.
- Darahnya hanyut semua, ke dalam parit tadi, sebab menyembelih di tengah parit, di atas tangga tadi. Adapun kepalanya dipegang, oleh Pak Kento diambiL dibungkus dengan kain putih. // Badannya pun begitu pula, 76 saat itu dibungkus dengan kain putih,
- lalu dibungkus lagi dengan tikar. Mayatnya digotong lagi, oleh empat orang, dibawa ke pinggir sungai, Cikapundung di dalam kota, di Leuwi Bantar yang artinya berputar, ada pohon kiara, akar p:>hon berlubang menyosok ke dalam, di sana lubuknya dalam serta sepi.
- Ketika mayat itu, sedang digotong ke sungai, pada tangga pengusungnya, terlihat oleh seorang, ronda kampung yang menjaga, Kajaksaan Kampung Minatu, namanya Ki Sacawana. Namun Ki Sa ca tidak berani,
bertanya pada (orang-orang) itu, malah gemetar badannya.
- (la) hanya menperhatikan yang empat orang, Saca rsembunyi di tempat gelap, sambil badannya gemetar. Oleh yang empat orang tak ketahuan. Begitu sampai di sungai, mayat sudah mencebur, jatuh ke lubuk itu, pada lubang akar (kiara). Mayat sudah jatuh ke sungai yang sedang banjir.
- Kepalanya pun dilemparkan, ke tengah-tengah sungai itu, di sebelah hulu badannya. Munada telah meninggal, hanyut dalam air. hanyut mengambang di permukaan air. Begitulah bu ktinya, // orang yang suka mengisap madat, berjudi (dan) 77 men curi, juga berjina, akhirnya kemudian membunuh.
- Kelompok rahasia yang empat orang,
- "Atas permintaan Paduka, ia sudah meninggal, dipenggal Ki Munada.
Bahkan (ia) sudah hanyut, dalam air yang besar dan deras, di Sungai Cikapundung, (tatkala) air sedang banjir besar. Demang jaksa tersenyum manis: "Syukur sekali Munada telah tiada.
- Tentu kita sama-sama senang, Munada tidak akan ietemu, sebab sudah tak ada di dunia, tentu tidak akan hidup lagi. Semoga tersembunyi. Awas jangan sampai rahasia bocor." Kata anggota yang empat orang: "Kami semua ingat sumpah, semoga paduka tidak kecil hati".
- Raden jaksa memasukkan tangan ke sukunya, lalu memberi uang, empat orang seratus rupiah, seorang sepuluh ri1git. // Uang sudah di terima, 78 waktu subuh sama-sama pulang. Sekarangterasa senang, kama tak akan terbongkar bukti, Ki Munada musnah hilang sudah sempurna.
Tidak mengira ada jaksa, Betara Kresna Derwati, yang pun ya gambar lopian. Jksa Kabupaten Purwakarta, yang terkenal rajin (dan) cerdik, Raden Suryalaga, bijaksana keturunan bangsa wan, menak bijak berbudi dan pintar, yang dapat membuka rahasia anggota kelompok.
Tersebutlah Demang Jaksa, Mangunagara sudah sembuh, sudah sembuh dari penyakit. (penyakit) takut, bergetar badan. "Sudah sembuh badanku. Siap seda walau saya (harus) terbang. Sekarang tidak bingbang, Waiau (harus) menembus bumi. Siap sa ja kama tidak ada yang dikuatirkan".
- Sekarang ke JllSeban, seperti biasanya. perintahnya mencari, Munada harus ketemu, lapor pada raden patih, bahwa adik akan menyusul, Munada ke Majalaya. Karena berita sudah jela>, Ki Munada melewat ke Majalaya.
- Jawab Raden Arya : "Silakan adik pergi, me nyusul ke Majalaya. // Syukur, semoga ketemu. Adapun kepada dalem dipati, oleh kakak nanti disampaikan." 79 Demang Biskal kemudian berangkat. Jari paseban cepat pergi. (Demang Biskal) su
- Raden Demang Jaksa sudah menyiapkan pasukan, seperti Demang yang sudah mengetahui musuh. Tanpa memp ersoalkan (kebenarannya) Demang,
mempersiapkan polisi, ke Elas Kopral yang sakti (?), dan Ki Pacalang.
- Begitu pun par a anggota µerkumpulan rahasia, yaitu Ngabehi Juri, dan Natawijaya, oegi tu pula yang gagah, Pak Kento benteng perang, siaga berlaga, yang ketakutan.
- Sera pahlawan Raden Wirakusumah, Wiradinata sipr, Mas Sastradireja, tameng di medan perang, pelindung perang tanding, berani perkasa, siaga bagaikan la yang kumetir (? ).
Kopral jak sa sigap bagaikan layang serta (?),
· ppetentang-petenteng, tak ada perasaan takut, seperti yang gagah perkasa. Raden Pamda juga sama, sigap berlagak. berlagak (dan) berpakaian // rapi 80Begi tu pula Mas Suradireja beris, mirip batik Madrid, dialah pahlawannya. Demang Mangunagara, dia yang keras kulit, patih yang gagah, (seperti) path negara Malawa.
Sudah siap seperti yangberangkat ke (medan) perang, berngkat ke Majalaya. Dijalan (mereka) berlagak, encari tandingan pedang. Ini saya akan perang; encari lawan, yang dituju Majalaya.
- Beg itu datang ke kota kewedanan, Raden Abu Kari, Wedana di situ, menjemput Demang Biskal. (Mereka) sudah dipersilahkan duduk ke loji, anggota rombongan berbaris di paseban.
- Alm-alun penuh oleh para pr ajurit pengiring. tombak dan kuli mngarah ke atas, senapan berderet, alangkah banyaknya, begitu pula pedang dan keris. golok dan belati. petel dan pemukul.
- Raden Demang Biskal berkata lembut : "Hai Raden Wedana hams, ikut dengan saya, mengepung Majalaya, (untuk) menyergap Si Munada hianat. Sebabnya sudah jelas, dari Bandung (ia) sudah pergi.
- Wedana Raden Rangga Anggawireja, amat sanga t lengah. Di dalam (wilayah) kewedanaannya, da pembunuh yang jahat, sampai tidak tertangkap,
oleh raden wedana, seperti sekongkol jahat. //
- Karena itu segeralah siap-sedia ! Pemburu semua bawa, mesti naik kuda ! Kita rrenjelajah tegalan ! Semak belukar kita periksa, korek cari ! Bawalah orang-orang pemburu !"
- Raden Wedana menjawab : "Baiklah." (Ia) pergi ke paseban (ruang pertemuan), menyuruh pesuruh, namanya Suramenggala, (untuk) memukul gong bertalu-talu, sebagai rtanda, rapat (bagi) µara polisi (petugas keamanan). 44 7. Raden Demang Biskal di terima baik. makan minum di rumah, (dengan) liistik opor ayam, samba! goreng dan gulai daging. Makannya sangat lahap, merasa enak makan, karena baru saja sembuh dari sakit.
- Sakit gigi karena ulam karang sudah sembuh, ha ti taku t sudah hilang. Yang tertinggal perasaan enak makan. Bahkan pada malam harinya, di suguhi nayub menari, di dalam paseban, dengan penari Nyi Kejer yang cantik.
- Semua menari bersuka ria, begitu pula para anggota kelompok,
kumpulan rahasia, sama-sama suka ria, menandakan suka hati. Tipu muslihat (mereka), tipuan tertib (dan) rapi.
450 Tersebutlah keesokan harinya sudah siap, anggota pasukan polisi, bes er ta i:emburu, pakaian (mereka) seperti biasa, akan memburu kijmg, berselendang pedang gagah.
- Demang jaksa dari Ciparay melanjutkan (perjalanan ). 11 Ribuan orang yang mengiringi, 82 sorak rnereka bergerna, rnelewati Cirasea, oegitu pula Magung Diru, Waru Satangkal, ke Ciwalengke sudah sampai.
- Masyarakat Majalaya kaget terkejut, serta saml>il berjaga-jaga. Siapa yang bersorak-sorai, suara bersahutan, gemuruh bagai gunung muncul. Semua kaget, Raden Wedana sudah rnendengar.
Wedana Angawireja sigap berdandan, begi tu pun jaksa kewedanan. Mas Wirasaraya, berpakaian ke prajuritan, menjaga musuh datang, membawa keris, pusaka ketis dari kakek.
Keris ladrang yang disimpan sejak dulu, keturunan pusaka kewedanaan, negeri Mandabaya, jaman sepuluh raja. raja lslam pertama, di Mandalabaya, para prabu menguasa.
- Yang sekarang disimpan hati-hati (pada) rompi. Pusaka yang sudah lama, waktu itu, oleh Mas Wirasaraya, dipakai semua (pusaka) yang manjur. Karena dialah, jaksa yang memiliki untung.
- Dari yang tua raja dulu. keturunannya yang nyata, ialah Mas Wirasaraya, sungguh asli Mandabaya. (Adapun) jaksa itu, sudah berangkat ke alun-alun.
- Siaga pedang menjaga musuh datang, beserta para polisi. Kopral Suradijaya, sudah berdandan (pakaian) dinas. Jagasatru (penjaga keamanan) Mertapati, oersikap menjaga, diatur berbaris di paseban. //
- Pesuruh Kerta Jayamanggala, 83 sudah berdandan memakai belati, dan kai lurah, lurah dalam menjaga, yang bemama Bapak Sakim,
pakaiannya, berbaju poleng bersarung lurik.
- Lurah nayaga (yang) .sudah siap, yaitu Bapak Arjim, dan lndramanggala, beserta teman-temannya (Mereka) menabuh (gamelan) Pak lsan (menggesek) rehab, Pak Mungkus pun tak ketinggalan. XVIII. Pupuh Pangkur
- Oemang Biskal sudah datang, dan anggota pasukannya sudah berbaris. Alun-alun penuh sesak. kuda-kuda berhingkik, beratus-ratus kuda (dengan) pemburu tinggi, pasukannya bersikap berlagak, Pak Kento rian Juri,
- memutar kumis lebat panjang, diputarkan kumisnya sampai melengkung, sampai pada sebelah atas telinga, pedangnya hampir sampai pada tanah. dan sesumbar di tengah alun-alun. ' 'Ayo keluarkan Munada ! Mari bertan ding dengan say a".
- Mas Jaksa Wirasaraya, telinga terasa panas serasa dikerat, dalam hati bernyala-nyala, berlagak ke tengah medan. Lalu (ia) mendekat pada Ngabehi J uri (yang) gagah, dan Pak Kento pahlawan, yang berlagak dan sombong.
463.' 'Berkata apa kamu? menyebut-nyebut Munada itu sud.ah pasti, bahwa Munada bersembunyi di sini. Sampai-sampai kamu berani menyebut begitu. Saya sendiri tidak tahu. Munada ada di sini ". //
464. Ngabehi Juri menerjang. 84 'Jaksa, kamu berani berkata begitu. Kami ini utusan bupati. (untuk) mencari orang jahat. Namun kamu seperti marah bernafsu Nanti kamu disalahkan. oleh saya kamu dilaporkan ".
465. Kata jaksa: "Saya juga tahu. Tapi saya benci padamu. Juri. pada Si Ken to juga begitu. seperti yang gagah sendiri. (Merasa) saya ini dari Bandung, meninggalkan tatakrama. (seperti) akan membuat kerusuhan di kewedanaan ".
466. Raden Rangga Anggadireja, Wedana Majalaya itu pergi (mendekati). 'K'i Mas Jaksa jangan begitu. Biarkan bagaimana buktinya, karena kita tidak bersalah sedikit pun. Gusti Allah tidak bodoh. yang melindungi
ke sini menyusul Munada, karena Munada sudah jelas (pergi ke sini).
- (Saya) datang ke sini. mengemban perintah Kangjeng Dalem Di!)ati, yaitu bupati Bandung, untuk mena11gkap Munada. Jelas tera11g bersembunyi menetap di kampung, di dalam kampung Kadatuan. jelas dekat Rajadesa.
- Oleh karena itu sekarang, tunjukkanlah oleh wedana buktikan ! // Karena hal itu jelas begitu. 85 malah banyak yang tahu, yang mengetahui Munada bersembunyi di situ". Natawijaya bergerak ke tengah, Pak Kento dan Pak Juri. 4 70. "Memang betul yang dikatakan itu, tidak salah jelas Munada, begitulah yang dikatakan orang-orang, malah bermalamnya (pun), di rumah dukun perempuan, namanya Ambu Sairun. dukun yang biasa meramal orang". 4 71. Raden Rangga Anggawireja, mengatakan dengan takdim kepada Raden Biskal. 'l>aduka semoga tidak menjadi marah. itu hanya khabar, sungguh bohong fitnah saja semata-mata. Munada itu tidak ada, sudah digeladah (ke mana-mana), 4 72. tetap saja tidak ketemu. Sudah dicari di setiap (rumah) penduduk,
di tempat semak belukar, di hutan di tanah lapang, tak terlewat walau (tanah) gundul, sungai-sungai semua didatangi. tapi tetap tidak ketemu ".
- Ambu Sairun sudah tiba, yang dikenal dukun (dan) dukun beranak manjur. Oleh Demang Biskal dipanggil. (la) datang mendekat ke hadapan (Demang Biskal). Kata Demang Biskal: "Hai dukun Sairun, saya bertanya kepada kamu. Kamu katakan sejelas mungkin.
- Dulu Si Munada itu, setelah punya kesalahan di dalam kota. melarikan diri dari kota Bandung, kabur ke Majalaya, malah bermalam di rumah Ambu Sairun, lamanya dua malam. Barulah (ia) pergi dari (rumah) kamu. // 4 75. Kamu bicara yang terus terang. 86 Nanti kamu diberi hadiah oleh paduka, oleh Kangjeng Bupati Bandung. Jika (kamu) menutupi sebaliknya, tak salah tentu kamu dihukum. Cobalah segera jawa, kepada kami yang jelas benar".
- Jawab Ambu Sairun: Adapun saya samasekali tidak mengetahui, yang bemama Manada. Apalagi disinggahi bermalam, saya bersumpah di hadapan paduka. Semoga tidak sejahtera, tidak selamat diri saya.
4 77. Memang (benar) dulu ada, yang datang seseorang, rakyat paduka dari Bandung. namanya Natawijaya. Katan ya min ta jam pi. yang manjur. jampi pemikat penarik. Mohon Nyai Galing dipikat !
- Ronggeng kepunyaan paduka, ronggeng dalam yang biasa diajak menari, yang sering diajak nayuban Karena Natawijaya, alangkah terpikat oleh Galing (sampai) pening. oleh saya sebisanya. jampi yang dikenakan pada gulungan sirih. 4 79. Akhirnya berhasil, ronggeng yang bernama Nyi Galing itu. oleh Natawijaya tertarik. sampai dikawini. malah buktinya sampai sekarang tetap, Nyi Gating masih bersuamikan. polisi Natawijaya ':
- Demang Biskal lalu membentak: Kamu ngawur dukun nenek-nenek, saya tidak bertanya begitu. (Saya) menanyakan Si Munada. Ayo akui oleh kamu Ambu Sairun!" Jawabannya: "Ya, bagaimana paduka, saya tidak tahu".
- Demang Biskal loncat menyepak, Ambu Sairun disepak terguling. 87 Ditendang-tendang dengan sepatu, dipaksa harus mengaku, tetapi tetap Ambu Sairun tidak mengaku.
Katanya: "Walau dibunuh, saya tidak akan mengaku".
- Natawijaya menerjang. Ambu Siron ditempeleng terjatuh, darah keluar dari hidung, mulutnya berbusa, kain basah dengan air kencing, menangis sambil memelas. "Silakan saya sembelih
- Saya jangan dihidupi. Daripada saya harus berbohong, tak berani membohong sama sekali. le bih senang mati sekarang'. Sambi! menangis (ia) mengaduh. "Kakek. ini nenek celaka. Diri saya dibinasa".
- Nenak itu menangis sambil memelas. bibirnya bergerak-gerak, bibimya terbuka dan mukanya masam. Ki Su radireja datang. Nenek yang sedang menangis itu diguyur. oleh air seperiuk. di tambah lagi sekendi.
- Nenak dukun kedinginan. basah kuyup dan berlumuran darah. Mas Wiarasaraya memburu. jaksa Majalaya.. Lalu (ia) menghalangi pada orang-orang jahat. Katanya : "Hai mengapa kalian. mau membunuh nenek-nenek?
- Orang tidak bersalah, perempuan tua serta kurang pendidikan.
· Mengapa kalian begitu? Memaksa orang (mengaku). Kangjeng Dalem Dipati di Bandung pun, tidak akan mengijunkan. kalian menyiksa orang".
- Selanjutnya bu bar, // Nini Sairun oleh Mas Jaksa diantar. 88 agar cepat-cepat pulang. diiringi oleh pesumh. dan kopral serta tiga (orang) pacalang. diantarkan ke rumahnya. kepada suaminya nenek itu.
- Adapun pengantarnya banyak. bukan (karena) takut si nenek kabur. Dijaga seperti itu. takut ada yang mencegat. oleh temannya Demang Biskal orang Bandung. takut disiksa. karena (merekal beritikad jahat. XIX. Pupuh Dangdanggula
- Keesokan harinya pergi lagi. semua mencari Munada, ke Kedatuan ramai, orang beribu-ribu. Adapun rakyat pribumi. orang di desa-desa. di setiap kampung,, menyediakan suguhan. nasi ikan dan makanan ringan. tersedia di depan mmah mereka.
- Begitu tiba para polisi itu, (mereka) mengambil makanan itu,
berebutan sangat ramai, Malah kebun tebu. yang berumur tujuh bulan. di kampung Lio Wetan. di situ ada kampung. di pinggir Citangkurak. kira-kira lima bahu lebih. kepunyaan A bang Rame.
- Tebu itu dijarah orang. sekelompok orang banyak. tebu dirusak semua. ditebang diambil. dimakan oleh orang-orang itu. 11abis semua. Yang tertinggal hanya tunggul. pemiliknya (merasa) tercengang. Abang Rame bersedih hati memelas. diam bersedih hati. I/
- Kerugian berharga ratusan (rupiah) lebih. 89 Modal orang lain basil meminjam. sekarang habis. sudah tentu tak akan bisa membayar. Kalau tidak membayar dengan uang. tentu harus dengan tanahnya, sawah lima bahu. rugi karena Munada. Sekarang polisi yang banyak itu, sudah tiba di Kadatuan.
- Di sana menemukan seseorang, namanya Ki Astakarama, dituduh oleh banyak orang, kepala penuduhnya. Bapak Kento NgabehiJuri, Orang itu dikelilingi,
oleh senapan seratus. Katanya : "Kamu harus jelaskan, Si Munada sudah ditemukan oleh kamu. Di mana Si Munada itu?"
- Jawa Asta : "Saya tidak tahu". Alangkah salahnya Si Munada. senapan itu makin didekatkan. dan banyak yang manunjuk-nunjuk. ''Ayo akui oleh kamu. Kalau kamu tidak tahu. kamu akan dibunuh ··. Karena takut sekali. daripada mati lebih baik berbohong. Berbohong (untuk) menyelamatkan diri.
- "Perkara Munada ditemukan. oleh saya pada hari kemarin dulu. Munada menenggelamkan diri. pada rawa di sana. di rawa yang dalam sekali". Kemudian semua (orang), menuju rawa itu. Begitu tiba di rawa, orang yang bernama Asta tadi, disuruh menyelami.
Ki asta sudah menyelam ke dalam air. menyelamnya seorang diri, dari pagi hingga sore.11 Alangkah repotnya Asta. 90 kedinginan gemetar, kedinginan badannya. Alangkah dinginnya. (Asta) ditonton oleh semua orang. Asta sudah tiga hari berturut-turut, menyelami rawa itu.
Kepalanya orang kota Bandung. perkumpulan kelompok rahasia itu, sudah empat hari, Raden Demang Biskal pulang. Sudah pulang ke kota Bandung, bermaksud hendak melapor, yang sesungguhnya hendak memfitnah, akan mencelakakan wedana. para prajurit dan polisi sudah bubar, dan para anggota kelompok rahasia.
- Setibanya ke kota Bandung. (mereka) menghadap Dalem Dipati. Lalu (mereka) duduk bersimpuh. Kangjeng Dalem berkata : "Demang Jaksa selamat datang. Bagaimana khabarnya, Munada ketemu?" Demang Jaksa menjawab hormat : "Paduka, perihal Munada jelas. (ia) sudah melewati Majalaya.
- Bermalamnya pun di rumah nenek-nenek, Ambu Sairun dukun tumbal, bermalamnya dua malam, tapi Ambu Sairun memungkiri. Takut oleh wedana, ia tidak mengaku. Dan ada seseorang, lelaki yang bemama Astakarama, mengetahui Munada lewat.
- Selain itu banyak lagi penduduk, yang menerangkan bahwa Munada betul (ada), di Majalaya itu. 11 Wedana tidak memperhatikan (hal itu), tidak memerintahkan polisi.
Karena itu (Munada) terus kabur, sebab jelas keteledoran wedana, tidak mampu menjaga.
50 I. Kanjeng Dal em mema nggil Arya Patih. Raden Adinagara sudah datang, ke hadapan paduka. Lalu dalem berkta: "Hai patih tulislah segera, buat surat laporan, enyampaikan khalbar, sebagaimana laporan demang jaksa Bahwa Munada jelas (ada) di Majalaya, tetapi tidak tertangkap.
- Karena pimpinan di kewedanan (itu), Wedana Raden Anggadireja, betul-betul lengah. (la) tidak menjaga dengan sungguh-sungguh, tidak menggunakan polisi, sampai (Munada) tidak tertangkap, Munada kabur. Begitulah laporannya, dan lagi membuat surat kepada bupati, kepada dalem Sukapura.
(Saya) memberitahukan (bahwa) Munada sudah lari, sudah lo}()) dari Kewedanaan Majalaya, (agar) menjaga hati-hati."' Raden patih keluar. demang jaksa begitu pula. (la) suiah pulang ke rumahnya, hati alangkah senangnya, gembira teramat sangat. Tipuan manjur, muslihat sangat mujarab. sekarang berhasil.
Sur at itu selesai ditandatangani oleh paduka, sudah dibawa oleh camat, // disampaikan kepada residen. Denan cepat keputusan keluar, surat penghukuman sudah keluar. Rangga Anggadireja, di buang ke Cianjur, lamanya dua tahun. Raden Wedana dipanggil ke kota, (agar) menghadap bupati.
- Begitu tiba (ia) menghadap paduka, lalu hormat di hadapannya, merunduk alangkah segannya. Pertama perkara kedudukan, bupati Bandung penguasa daerah tertinggi. Keduany a (adalah) mertua, dalam Bandung itu, sebab istri Raden Rangga, anak kandung dalem diµiti, Raden Ayu Rajaningrat.
- Malah sudah punya anak, perempuan dan laki-laki. Raden Natadigja, (yang) ketika masih kecil, disebutnya Aom Waktura, sebab waktu raja datang, katanya dari Nederland, oegi tu ceritanya, dilahirkannya Aom. Keduanya, anak yang perempuan, (ialah) Raden Maraja Inten.
- Ketiganya Raden Nimbang Istri, dan Nyi Raden Kombara Inten, semua anaknya Raden Rangga,
sekianlah anak.nya. Oleh karena itu alangkah segannya (dia). Adapun Demang Rangga itu, ayahnya yang disebutkan, yaitu Kangjeng Dalem Dipati Kabupaten Parakanmuncang.
- Dalem mertua itu lalu berkata pelan : "Hai Ki Rangga Wedana, sekarang (isi) surat itu, (kau) dibuang ke Cianjur, lamanya (pasti) dua tahun. Adapun di Majalaya, di kewedanaan yang menjabat, jadi wakil wedana. yaitu patinggi Mas Astareja, patinggi desa Bojong itu."11
- Raden Rangga menja wab takdim: 93 "(Saya) terima apa yang paduka katakan. Saya menurut saja. Hanya mohon maklum, (saya) tidak bersalah sedikit pun, benar-benar oleh penghianatan. Demang Jaksa memalsu, pekerjaannya sangat besar. Karena (iya) rupanya melaporkan keailxm pada paduka, hal itu sungguh dibuat-buat".
- Kata Dalem: "Sabarlah hati ! (Kau) harus menerima kehendak Yang Widi, Gusti Allah yang menguasai (alam). Sebab hal itu tentu, diperiksa dengan jalan yang adil. Kalau tidak bersalah, Raden Rangga (akan) kembali, dengan diri selamat.
Sekarang (terima) dihukum dengan tenang, semoga selamat diri".
- Raden Rangga pamit dengan sedih, sambil menghatur sembah mencium kaki, memohon doa paduka. Raden Rangga lalu ke luar, sudah pulang ke rumahnya. Lalu (ia) berdandan bersedia, pergi ke Cianjur. Bersedih yang dibuang, tidak merasa bersalah sedikit pun, hanya sungguh akibat fitnah. 5 12. Dikisahkan yang ada di kewedanaan Majalaya ditinggalkan wedananya, kewedanaan sunyi sepi, di kaum terasa kosong, di paseban terasa sepi, ki mas jaksa bersedih. ki kopral melamun, begitu pula ki kabayan (pesuruh), Pak Arjain menangis sedu-sedan, pemimpin penabuh gamelan.
Bapak Sakim kepala rumah tangga wedana, menangis sambil berkata: "Duh // paduka, Eyah juga ikut menangis, yang lain begitu pula. Am bu Acip juga menangis, tukang memasak (di dapur) paduk. "Duh paduka saya ikut". Semua pekerja dapur, ramai menangis semua, "Duh paduka kami ikut, tak tahan kami di tinggal' '.
Yang menjadi wakil suka hati. Mas Patinggi Ki Mas Astareja, sudah bekerja seperti wedana saja, melakukan deng an sungguh-sungguh, menjadikan kewedanaan sejahtera; membuat jllan besar, di perbatasan Citarum, sampai perbatasan Cicalengka. Jalan jelek (diperbaiki) sampai menjadi baik, jalan menjadi terwujud.
- Dan membuat saluran air, parit-parit besar sekali. Parit Cikaro itu, mengairi ribuan bahu, menjadikan sawah tak kekurangan air. Dan parit-parit lain. rawa Jigang Surudut, serta selain itu. tegalan clibelah dilintasi air, yaitu menjadi sawah.
- Kebun-kebun penuh dengan yang menghasilkan, pepohonan pinang dan kelapa, jambu bol dan lain-lain, petai dan kol serta (mangga) limus, diperintahkan (ditanam) kepada rakyat. Majalaya menjadi sejahtera, kewedanaan menjadi makmur, rakyat berkecukupan. Sungguh Mas Astareja rajin dan berbudi, memajukan daerah kewedanaannya. 51 7. Oleh atasan sangat terpakai, karena µmdai (dan) setia mengabdi, sungguh sangat terpuji, oleh rakyat ditaati //
segala pekerjaan membuahkan hasil, karena rajin sekali, siang malam (bekerja) sungguh-sungguh. Majalaya jadi terkenal, tennashur kaya raya masyarakatnya, sama sekali tidak jelek budi mereka.
XX. Pupuh Pucung
- Dikisahkan Suryalaga di Bandung, jaksa Purwakarta, yang irenyelidiki terus-menerus, sedikit sudah terang has il penyelidikannya.
- Tentang Munada sikapnya sungguh teguh, pemimpinnya itu, Demang Biskal yang sekongkol, dengan temannya yang termasuk anggota pe:rkumpulan rahasil.
- Sedang diusut hanya sekarang belum diungkapkan, bahkan digeladah. Peti Demang Biskal itu, sudah kosong hanya alangkah bau pesingnya.
- Tetapi sikap jaksa itu harus teguh, menekan terus-menerus, Demang jaksa itu tak salah, bahwa dia yang berbuat itu.
Lalu Raden Jaksa masuk ke dalam pendopo, bermaksud menghadap, ke hadapan bupati, ada yang akan disampaikan yang sangat rahasia.
Kangjeng Dalem memanggil &tryalaga: "Hai raden jaksa, ke sini mendekat ! (Ada) berita apa (ingin) segera sampaikan".
- Kata Raden Jaksa: "Paduka, (saya) ingin melaporkan rahasia". "Harus di sana di kamar, kalau-kalau ada yang mendengar bil a di sini ". I I 5 25. Kangjeng dalem dan jaksa masuk ke dalam kamar. 96 Sesudah duduk berdua, jaksa mengatakan pelan. "Hamba hendak menyampaikan keterangan. 5 26. Perkara Munada itu terusut, sepertinya Demang Jaksa, yang sekongkol dengan Munada. beserta temannya anggota perkumpulan rahasia.
- Hanya sekarang belum ter usut, belum jelas, hanya tidak akan salah, tidak akan keliru (itu) perbuatan Demang Jaksa
- Sekarang hamba memohon. Semoga diberi, uang ranyaknya seribu, untuk biaya penyelidikan membuka (rahasia itu).
- Serta melaporkan kepada kangjeng tuan, Kangjeng Residen segera, Demang Jaksa itu, Raden Mangunagara itu disuruh segera (pergi ).
- Sebab kalau masih ada di Bandung, saya 1idak berani,
menyelidikinya tentu canggung, (untuk) segera mendapat keterangan".
- Serentak kangjeng dalem segera turun, ke loji melapor, kepada Kangjeng Tuan Residen, apa yang dikatakan Raden Jaksa Suryalaga.
- Dan jaksa lalu diberi (uang) senbu, uang ker tas, Berkata tuan residen: "Bagus sekali besok saya akan memerintahkan".
- Kangjeng Dalem sudah pulang ke pendopo, jaksa sudah pulang. // Dikisahkan keesokan harinya saja, 97 sudah berkumpul di hadapan kangjeng tuan.
- Kangjeng Tuan Res iden berkata pelan: "Hai Tuan Romenda, uruskan semua lelang, kamu harus menjadi notarisnya!
- Sapi kerbau yang banyaknya beratus-ratus, di Balubur Limbangan, harus dijual semua, milik Tuan Nagel almarhum.
- Adapun teman Arya Patih ikut menguruskan, bersama Demang Jaksa. Sekarang pergj segera, harus melelangkan di Kewedanaan Limbangan".
"Tabik", kata Tuan Romenda lalu mundur, beserta Demang Biskal, Arya Patih menghormat pamit. Semua pergi ke Kewedanaan Limbangan''.
Pembesar yang tiga or ang sudah datang, ke Kewedanaan Limbangan, dengan wedana sudah bertemu, wedana yang bernama Arsaen.
- Tunda dulu. Kita ceritakan (yang ada) di Bandung, Jaksa Suryalaga, yang mengusut dang merayu, sedang membujuk istri Demang Biskal.
- Demang Jaksa berada terus tidak jauh, dari istri (Demang Biskal) itu, Raden Salimantri (yang) mu da, istri Demang Jaksa yang tua. //
- (la) berpacaran dengan Suryalaga, 98 karena Suryalaga. oadan semampai muda serta tampan. Wajahnya mirip penengah pendawa.
- Ada penampilan polisi yang indah (dan) menarik, wajah seperti Arjuna, Suryala semampai (berkulit) kuning, sungguh memikat hati para wanita.
- Enden Salimantri sangat mencintai, pada Suryalaga. Setiap bertemu (ia) menciumi, (seperti) yang rindu amat tergj.ur.
(la) diberi uang (pemikat)seratus (rupiah) oleh Suryalaga. Alangkah senangnya! Memang wanita itu tidak kukuh, tidak kuat menahan penggoda satria.
Suryalaga lalu berkata lembut: "Duh, pujaan, enden yang cantik dan pintar. yang menjadi pujaan diri kakak.
- Kakak bertanya pada dirimu. Apakah seimbang. berat rasa (sayang)kakak dengan adirxla, atau berat sebelah pada kakak? 54 7. Karena beratnya (rasa sayang) kakak seribu gunung. Ya, cinta (kakak) kepada ad inda. sudah tiada bandingannya ". (Kata Suryalaga) sambil menciumi Salimantri.
- Lalu (mereka) tidur berdua sekasur. dan sebantal, guling sudah di samping. Salimantri senang tiada terkira.
- Subuh-subuh Suryalaga sudah pulang. Begitulah bujukannya. Nyi Salimantri dirayu, bujukannya seperti Raden Dananjaya. //
- Memberi hadiahnya ada empat lima puluh (rupiah), 99 setiap kali memberi. Uang seribu (rupiah) hampir habis. Bertambahlah hati Nyi Salimantri terpikat asmara. XXL Pupuh Asmarandana
- Pada suatu waktu, Nyi Salimantri berkata. "Saya hendak bertanya.
Bagaimana maksud kakak, apakah akan meminang, kepada saya yang buruk rupa, hendak memperistri erang sederhana?
- Ataukah yang dikehendaki, hanya seampai seperti ini, (pada) diri saya yang buruk? Saya bermaksud ingin tahu, tentang maksud paduka. Syukurlah kalau terbelit tepung, tercapai menjadi jodoh.
- Karena diri saya, selamanya disiksa batin, terus-menerus dimadu, uua tiga sampai cmpat (orang), dan kurang puas, berhubung dengan dimadu, suka rindu pada yang belia.
- Terkejutlah Raden Jaksa mendengar (-nya). Derkata di dalam hati. "Ya barangkali saja, itulah yang diharapkan, ia mem buka (rahasia)
"Pujaan yang cantik, pujaan kakak yang semampai, // semua (kakak) sud ah mengerti. I 00 Kakak sangat menerima, itulah sebabnya kakak hab is-habisan (mem beri uang). Apalagi kak ak beratus lipat, kecintaan kakak kepada adinda.
(Berubuat) begini pun, karena kakak sangat senang, akan memperistri adinda. Karena kakak tidak pun ya istri, baru saja bercerai. Sekarang mendapat maJu, yang membela diri kakak.
- Kakak hendak mempertaruhkan jiwa, akan sayang pada adinda, kepada yang setia hati. Hanya kakak belum ketemu, bagaimana akalnya, karena adinda kan bersuami, suamimu Demang Biskal.
- Lagi pula adinda istri pertama. agan istri padmi. sudah tentu disayang, oleh suami dihormat-hormat. itulah yang susah, akhirnya kakak yang repot, merana oleh adinda.
- Tentu menjadi rindu-dendam, tergila-gila susah akibatnya, karena cinta pada ang bersuami, menginginkan (orang) yang sudah ada pemiliknya, lagi pula lebih tinggi dari kakak. Tentu hal itu membiHgungkan, membingungkan diri kakak."
- Nyai Salimantri merangkul menangis, bersujud pada pangkuan kekasih. "Duh, kakak menyedihkan hati, hati serasa diiris, raga serasa berpisah,
tulang sums um terasa hancur, mendengar perkataan kakak.
- Jika pikiran kakak begitu, akan menyayangi adinda, saya ak an membela, Walaupun Demang Biskal, itu tak ada halangan, :arena diriku sudah enggan. //
- Tidak suka sebab jijik, jelek kelakuannya, JOI seperti bukan orang eerpangkat tinggi, oerkelakuan penjahat, menipu serta memounuh. Diri saya rnerasa khawa tir, taktt terbawa-lJawa."
- Raden Jaksa merasa merinuing, uerdiri bu!Lt kuduknya, terasa panas iingin. Salimantri diusap-usaµ, Jipangku ditimang-timang. ''Duh, adik madunya ratu, ratunya wanita di dunia.
- Yang sudah turun Rarashati; dari swarga maniloka, buktinya yakni aJinda, jelmaan sang bidadari, sedang rersanding badan, bkak terguyur madu, madunya sari bunga.
- Teruskanlah adik yang cantik ! Jangan kepalang tanggung ! Terus teranglah yang jelas,
agar kakak ada jalan, menyayangi agan, mengasihi seumur hidup Jan kakak tak akan memadu cinta. "
- Berkat bujukan yang manis, lihainya Suryalaga, pada perempuan membujuk, Bagaimana pun perempuan itu, alangkah mudahnya, oiasa tak tahan mendengar, µembujuk manis (dan) menyenangkan.
- "Jika kakak (vercaya) sesungguhnya saya, mengetahui perbuatan Demang Jaksa, uan Munada sekongkol, dengdn sembilan orang temannya. sepulah dengan Munada, sebelas yang berhitung, yaitu (dengan) Raden Demang Biskal. //
- Membuat kesepakatan beriama, 102 yaitu perkumpulan rahasia, berunding di sebuah kamar, kamar yang tengah itu. Di situ tempat berembung, orang-orang yang disebut, anggota yang sebelas itu.
Diterangkan perbuatan jahat mereka, membunuh asisten it u. Si Munada itu betul, disuruh oleh Demang Jaksa. bahkan harus dua ( orng), dengan Kangjeng Bupati Bandung, hanya beliau tidak terbunuh.
Setelah Munada membunuh, disembunyikan oleh Demang Biskal, di dalam peti kayu besar, yang sudah digeladah. (itu ), tapi tak dijumpai, karena Munada sudah dibunuh, atas permintaan sendiri.
- Yang menyembelihnya Ngabehi Juri, kedua Surareja, ketiganya Bapak Kento, keempat Natawijaya. Dipenggalnya di parit, di parit yang mengalir ke selatan, Adapun mayatnya dilemparkan, 5 72. ke dalam sungai, ke (sungai) Cikapundung waktu banjir. Lalu (ia) dihanyutkan saja. Begitulah yang sesungguhnya. Oleh karena itu Munada, walaupun bertahun-tahun, dicari tidak akan ketemu."
- "Beribu-ribu terima kasih putri, sudah mengatakan pada kakak. lnilah kakak memberi hadiah, ini uang untuk jajan, buat membeli kain, dan encit yang menarik. Ini uang lima ratus rupiah."11
- "Diterima dengan senang hari, 103 semoga Allah, cepat menghendaki menjadi jodoh, kakak kepada diri Agan." Jawab Salimantri.
'i-\dik le bih ban yak terima kasih, atas pemberian kakak.
- Malah itu seorang µem ban tu, oleh kakak silakan periksa. Ambu Ciut pembantu eneng, Eneng Gilar putri (adik) dia tahu persis, datangnya pagi-oagi, Munada ke sini datangnya.
- Lalu (dia) masuk ke dalam peti. Ambu Ciutjuga melihat." Raden Jaksa memanggil pelan. 'Hai Ambu Ciut bagaimana, apakah kamu itu tahu?" Katanya: "Betul, tahu sebagaimana (dikemukakan) itu
- Ambu Ciut diberi uang, dua puluh lima rupiah. Ambu Ciut menggigil, karena seumur hidup, belum pernah menerima uang, banyaknya uang seratus, seratus talen perak.
- Kira-kira pukul tiga malam, Suryalaga berpami tan. Katanya: Hai enden yang cantik, kakak permisi akan pulang, ada keperluan di rumah. Besok pun kakak akan datang, ke sini menemui Agan.''
- 'Silakan, s Kata Salimantri, ' 'tetapi masih terlalu malam.
Nani saja (jika) sudah siang. Ka ta kakak: "Bia t Agan, besok pun tidak akan bohong. Kakak pun datang ke sini. Jaksa muda sudah pulang. //
XXII. Pupuh Sinom 104
- Jaksa muda lalu pulang, Suryalaga yang kreatif, bagaikan Raden Arjuna, p ulang dari Banowa ti. Alangkah suka hati, raden memburu ke Jalam (pendopo), membangunkan gulang-gularig. "Lapirkan pada Kangjeng Bu pa ti!" Kangjeng Dalem Dipati waktu itu (iuga) bangun. 5 81. Raden jaksa berkata: "Paduka Kangjeng Gusti. perkara itu sudah jelas, yang membunuh sudahjelas, Si Munada yang jahat, tetapi ia suruhan,. disuruh oleh Demang Jaksa. (Mereka) sudah membentuk satu perkumpulan, perkumpulan rahasia sebelas orang.
Disampaikan semuanya, yang dikatakan Salimantri, dan laporan pembantunya, Ambu Ciut yang melihat, masuknya Ke dalam peti, Munada itu pagi-pagi, Dan uang sudah habis, (untuk) memberi hadiah pada Salimantri, malam itu yaitu (sebanyak) lima ratus rupiah.
Ambu Ciut sepupuh pasmat, uang sudah habis bersih, sudah dipakai semua, yang dicari sudah berhasil (dibongkar). '' Kata Kangjeng Bupati: "'Syukur bahagia beribu terima kasih, perkara itu sudah jelas, serta sudah menemukan saksi, sangat gembira hati saya.
- Adapun perkara uang, say masih kaya. Walau sepuluh ribu rupiah, masih ada pada say a.I I Asal perkara sudah hasil (terbongkar), 105 biar habis pupuhan ribu. Nah ini Suryalaga, saya memberi lagi, seribu rupiah untuk ongkos Raden Jaksa.
- Oleh jaksa sudah diterima, uang yang seribu rupiah, dimasukan ke sakunya. Uang kertas kecil-kecil. Kata-sang bupati: "Raden Jaksa ayo ikut ! Kita menghadap, kepada Kangjeng Residen di loji, Kangjeng Dalem dan jaksa sudah berangkat.
- Dibangunkanlah kangjeng tuan. Residen sudah duduk, menghormat kangjeng bupati, jaksa pun begitu pula. Kemudian dalem melaporkan, sem disampaikan, bahwa perkara sudahjelas.
Lalu tuan residen menulis, membuat laporan tertulis ke Betawi.
- Memberitahukan keterangan itu, Demangjaksa yangjahat, Raden Mangunagara, yang hatinya sudah jahat, yang mendorong pembunuhan. Asisten Nagel dibunuh, malah bersama bupatinya, hanya bupatinya tidak kena. (Semua itu) sudahjelas dari Salimantri, istinya.
- Serta dari pengasuh anaknya, anak demang yang kecil. Am bu Ciut namanya. Sudah sangat jelas. Adapun yang memperoleh keterangan yang lebih tersembunyi, rahasia itu (adalah) Suryalaga, // Jaksa Kabupaten Purwakarta. 106 yang pangkatnya masih pembantu jaksa. 5 89. Sekarang ia dimin ta, menjadi jaksa Kabupaten Bandung, mengganti Mangunagara, Karena (ia) pitar (dan) baik budi, cukup untuk di Kabupaten. diangkat jaksa di Bandung Membuat surat sudah selesai. (Mereka) tidak tidur lagi, tuan residen, bupati serta jaksa.
- Surat ke Betawi (sudah) berangkat. Waktu itu sudah dikirim dengan cepat. Adapun keesokannya ssesudah siang, tuan residen berkata:
'Upas,' 'Sarean tersayang, namanya Mas Istor yang tegap, jambang lebat dan dada bidang, perintah tuan "Kamu harus pergi, bahwa surat ini ke Balubur Llmbangan!
Panggil lekas Demang Jaksa, beserta Arya Patih. Sekarang harus terbawa, mesti naik kereta pos, kuda penariknya enam, yang enam harus dipilih(?), agar kereta bisa cepat! setiap pos harus diganti Perin tahkan kepada mandor pos agar siap sedia ! •
Olah Kangjeng Dalem ditambah, seorang prajurit yang berani, bernama Raden Natasura, umbul di daerah Janggol, tinggi besar badannya. Natasura tegap gagah, tenaga setanding badak. Banteng mengamuk pun dibanting. Di Bandung (ia) menjadi pemimpin pah.lawan.//
Lalu (mereka) diberi surat, 107 untuk (disampaikan) pada Raden Arya Patih, dan untuk Raden Oemang Biskal. Sarean dan umbul pergi. naik kereta pos cepat.. Setiap pos (kudanya) diganti segera, kudanya enam-enam. Sampailah ke Balubur Llmbangan, kira-kira pukul dua belas siang.
Raden Demang kaget, Demang Biskal (dan) Arya Patih, Sarean dan Natasura, turun berjalan terburu-buru, (Mereka) segera menyampaikan surat, dari Kangjeng Residen di Bandung. (Surat) sudah diterima berdua, isinya, dipanggil dengan segera, Arya Patih beserta Raden Demang Jaksa.
- Harus segera sekali, harus pulang ke Bandung. Adapun isi surat untuk patih. Awas jaga hati-hati,. kuasai Raden Demang Jaksa! Awas jangan sampai kabur! Bawalah langsung ke Cianjur! Dan Natasura menjaga, 1
- Terpahami oleh Raden Arya, Arya Patih yang baik budi. Jaksa diajak segera. Keretanya sudah berangkat. Demang Biskal berkata: s Kena pa dipanggil terburu-buru? Ada apa Kakak?" Jawab patih: "Tidak tahu, karena kakak pun tetap sangat tidak mengerti.
- Setiap pos sudah tersedia, kuda enam ekor tiga baris. (Sudah) tersedia memakai perlengkapan. Datang kereta segera (kudanya) diganti, sehingga tidak lama, sudah sampai ke kota Bandung, mekewati batas kota di timur ,//
ke belokan sudah sampai, di betulan belokan warung Mu Alan.
- Yang berada di Braga, yaitu di betulan toko de Vries, Demang Biskal berteriak-teriak. "Hen tikan kere ta sais ! " Sais menurut. Kereta berhenti tidak maju. Demang Jaksa meminta air. (Air) diberi dari kendi, oleh Mu Alan yang mempunyai warung itu.
- Minumlah Ki Demang Jaksa. (la) min um karena sangat haus. Maksudnya akan meloncat, sambil memindahkan keris. (Tetapi) ditahan oleh Arya Patih. Kerisnya lalu dilemparkan, ditangkap oleh Sarean. Jaksa dipaksa duduk lagi, oleh Raden Patih dan Raden Natasura.
- Tuan Residen memanggil-manggil, beserta Dalem dipati. "Lekas-lekaslah segera ! Kenapa kereta berhenti lama?" Kereta sudah pergi lagi, sudah melewati alun-alun, melewati Kampung Pacinan, malah sudah melewati Andir. Adapun residen memanggil-manggil tadi,
- berhenti di tengah jalan, di betulan alun-alun kabupaten, sambil menghadap ke timur, ke Mu Alam tidak jauh.
Penduduk ke sana ke mari, sepanjang jalan penuh, oleh orang-orang yang melihat. Yang menonton susah gerak, rakyat yang menonton Demang Biskal.
- Dikisahkan ban yak yang menangis, pria wanita menangis, // ramai di rumah Kajaksan. 109 Perempuan-perempuan sama menangis, para pembantu menangis, tangisan semua bergemuruh. Begitu puladi kapatihan, ramai menjeriterit, oleh karena tidak tahu duduk soalnya.
- Tunda yang sedang menderita, yang prihatin sama menangis. Tersebutlah tahanan di perjalanan, tahanan Mangunagara, jaksa dikawal Patih. Tidak khawatir karena patih tangkas, badan tegap serta gagah. Walaupun Biskal melawan, tidak akan kuat melawan Adinagara.
Di betulan jembatan Cisokan, kira-kira di sana tengah malam, Demang Jaksa akan meloncat, akan melompat ke dalam air. Ditahan oleh raden patih, oleh Natasura diburu, dan oleh Bang Is tor Sarean. Jaksa dipaksa duduk. s Jangan begitu, s kata Raden Arya Patih.
"Adik itu harus taat, pada perintah Dalem Dipati, dan perintah Kangjeng Tuan. Residen yang menguasai negara, yang memegang keadilan. Oleh karena itu harus taat." Demang Jaksa tidak menjawab, hanya menangislah terisak-isak, sudah merasa bahwa rahasianya terbongkar.
- K.ira-kira pada pukul dua, sampai ke Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung sudah terlewat. Kangjeng Dalem Adipati, beserta Raden Patih, wedana serta penghulu, mantri dan camat, sudah sedia menunggu-nunggu, menunggu datangnya Mangunagara. //
- Begitu suara lecutan pecut kereta terdengar, 110 ramai suara pecut (tanda) sais melapor. Semua sama-sama siap-sedia, tidak akan salah lagi, itu pasti tahanan, Ki .Demang Jaksa dari Bandung. Begitu turun (dia) dijemput, diapit oleh Raden Patih, Patih Cianjur dan Raden Wedana kota.
- (la) dimasukkan ke dalam kamar, yang berjeruji besi. Kamar yang telah disiapkan, atas perintah Kangjeng Dipati, (dan) perintah Residen. Demang Jaksa sudah masuk, ke dalam kamar tahanan itu.
(Dia) dijaga oleh pr ajurit, tiga puluh prajurit yang menjaga (itu ).
- Aria Adina gar a, beserta Natasuara sama-sama, ketiga Abang Sarean, waktu itu juga pulang, na ik kereta lagi. Sudah tiba ke kota Bandung, (mereka) melapor kepada Kangjeng Tuan, serta ke Dalem Dipati. Sia-sia perbuatan orang Bandung semuanya. XXID. Pupuh Gambuh
- (Kita) Ceritakan yang dulu, mayat Munada yang hanyut, sedang hanyut di Cikapundung. Cikapundung yang mengalir ke arah timur, sebelum mengalir ke arah barat laut.
- Mayat hanyut mengambang, oleh banjir yang meluap. Mayat hanyut ke Karees, terpaut di jamban bertanggul, mayat melintang memanjang. //
- Yang mempunyai jam ban tersebut, 111 Raden Ditakusumah seorang tua. Raden Dita sedang sakit,. penyakitnya panas parah. Di rumahnya (ia) meringkuk.
- Pembantunya itu anak kecil, namanya Si Asmi sudah bi asa, ke sungai akan mencuci kain.
Begitu tiba (di sungai) terkejut, menemukan mayat terbentang,
- terpaut pada ranting bambu. Si Asmi lari ke kampung, memberi tahu kepada Raden Dita, Raden Dita memaksakan memburu, melihat yang terpaut tergeletak.
- Kata orang yang mengatakan, (itu) yang mati karena memburu harta cara tidak baik, orang dari de sa Cipaganti. (Tandanya) malam tadi banyak guntur, hujan angin guntur bersahutan.
- Pembungkusnya sudah tanggal, kain dan tikar sudah lepas, mayat itu sudah telanjang, celana pendek baju pendek, lehernya bekas di penggal.
- Begitu Raden Dita tiba, (ia) terkejut terperanjat. Maya t itu jelas terlihat, badan besar (dan) tinggi, kulit mayat kuning berkilau.
- Ditakusumah sudah menduga, yang terpaut di ra nting bambu, itu sudah jelas Munada. Terbukti badannya bagus, Munada itu terlfuat.
- Dan Dita sudah mendengar, suara bisik-bisik di Bandung, (bahwa) Munada sudah disembelih.
Oleh karena itu (ia) menduga, bahwa dia betul Munada. //
- Mayat itu lalu didorong, ditusuk ranting bambu, si mayat sudah hanyut Oagi). Tidak lama kemudian datang, kepalanya datang hanyut.
- Kepala itu terpaut lagi, pada rumpun bambu, bungkusnya sudah hilang. Oleh Raden Dita diburu, jele5 betul Munada.
- Kepala itu dioorong, ke hilir sudah hanyut, (namun) dalam air kembali lagi, barangkali terbawa air berputar, tetapi matanya melotot.
- "Jangan begitu. "Sahut Raden Dita, "Kak Munada segeralah pergi, pasrahlah kepada Yang Widi, karena !lldah sampai pada saatnya, Kak Munada semoga tentram.
- Sebaliknya saya bersyukur, dengan kakak adik (bisa) bertemu. Adik mohon, maaf yang dipinta. Sekarang silakan pergi".
- Kemudian kepala itu berlalu, sudah hanyut di Sungai Cikapundung, hanyut dalam air ke hilir.
Raden Dita pulang ke rumah, tapi tidak mengatakan apa-apa.
- Datang ke rumah tidur lagi, tidur lagi karena sakit, badannya panas dingin. Sekarang tersebutlah mayat itu, badan dan kepala hanyut.
- Tersebutlah ada seorang kepala desa, kepala desa Tegalbar selatan, desa Margacintasari, pemukiman pinggir Cikapundung, anaknya da tang melapor.
- Katanya: "Bapak di sana, di jamban Qkapundung, ada mayat terpaut, mayat manusia yang mencari harta karun, terlentang di bawah tangga".
- Kuwu Mas Wangsamanggala, segera saja memburu. Ke jamban (ia) sudah tiba. // Air Cikapundung banjir, 113 temyata bangkai terlentang.
- Oleh Wangsamanggala lalu diperhatikan sudah jelas, sepertinya mayat itu, mengira benar Munada. Kebetulan saat itu tiba,
- Kepala Munada (yang) hanyut. Sangat jelas sekali, di betulan itu (kepala) terpaut lagi.
Oleh ki lurah (mayat itu) didorong, dengan tongkat agar hanyut.
- Badannya malah berputar, tidak mau terus hanyut. Wangsa ingat lagi, bahwa Munada itu dulu, menitipkan anak kuda.
- Dua kudanya (yang) jantan, di ki lurah sudah setahun. Lalu mas lurah berkata: "Kang Munada mohon maklum, mohon maaflahir batin.
- Ada pun kudanya yang jantan, saya mohon kerelaan hati. (Kuda itu) akan dijual oleh saya. Uangnya tentu (akan) dipakai, sedekah Kakak yang meninggal,
- tentu (sedekah) tiga hari, tujuh hari, empat puluh dan seratus hari. Begitulah niat saya. Semoga Kakak Munada rela, mohon pasrah lahir batin".
- Setelah itu kepalanya melaju, beserta badan hanyut ke hilir. (Ki lurah) mata merah melotot. Senang hati ki mas kuwu,. Munada telah hanyut. 63 7. Wangsamanggala lalu pulang. Kudanya lalu dijual, laku enam puluh rispis.
Uangnya yang sebanyak itu, benar-benar dipakai sekedah. //
- Tetapi mas kuwu itu, I 14 diam tak menceritakan sama sekali, apalagi melapor ke pemerintah, kepada para pembesar Bandung. Sedekah pun (dilaksanakan) secara diam-diam.
- (Mas kuwu) itu sangat takut, bila melapor ke Bandung. Sudah tentu polisi heboh, mendingan kalau selamat, kalau (dipandang) salah takut dipenjara
- Dikisahkan Ditakusumah, lalu membuat surat tergesa-gesa, pada Arya Patih di kota, melaporkan bahwa sudah menemukan, mayat Munada (yang) hanyut.
- Suratnya sudah dibawa, yang membawanya pembantu, namanya Si Muhalim. Ke paseban sudah tiba, surat itu sudah diterima oleh pa tih.
- Setelah dibaca surat itu lalu, dimasukkan ke dalam saku. "Pergilah kamu Muhalim pulang!" Si Muhalim sudah pulang, ke Karees lagi ia sudah tiba.
- Tanya Dita: "Bagaimana katanya?" Jawab Muhalim: "Tidak jelas. Katanya hanya pergilah pulang!
Tidak ada lagi hanya itu". Di ta tingung tidak mengerti.
- Selang kira satu minggu, Dita rremberitahukan lagi, dengan surat yang seperti dulu. Ki Muhalim pergi terburu-buru. Tiba (ia) pada Arya Patih.
- Suratnya lalu diterima, dimasukkan ke dalam saku, tidak dibaca oleh raden patih. Pada Muhalim (patih) berkata. "Ki Dita dipanggil, ditunggu!"
- Segera Muhalim pulang, // diberitahukan kepada Dita begitu. 115 Singkatnya Ki Dita pergi, ke paseban telah sampai. Ki Arya (Patih) berkata pelan:
- "Hai Dita (atas) surat laporan, saya sangat bingung. Kamu sudah menemukan mayat, tapi olehmu didorong, mayat itu agar hanyut.
- Me ngapa tidak ribut? Waktu itu harus (diberitahukan dengan memukul) kentongan. Mayat tahan jangan sampai hanyut, agar pejabat berkumpul, (untuk) menyaksikan mayat itu.
- Kalau begitu tentu bagus, kamu terpuji setia.
Mungkin (kamu) mendapat pujian. Oleh bupati mungkin dipanggil, tentu diberi {hadiah) ikat kepala.
- Oleh Kangjeng Residen Cianjur, tentu Dita diangkat, diangkat menjadi mantri, menjadi mantri ulu, atau menjadi kaliwon.
- Sekarang tidak je las, menceritakan tidak karuan, tiada bukti tiada saksi, disusul tidak akan ketemu, mungkin mayat sudah hancur.
- Dita rgilah segera pulang!" Ki Dita sudah menghonnat pamit, ke Karees sudah sampai. ''Kalau dipikir memang betul, mengapa tidak melapor?
- Sayang alangkah sayangnya! Barangkali saya mendapat keuntungan, ganjaran menjadi mantri. Saya tampan menjadi ulu. Dasar (saya) derajat rendah. //
- Adapun Kuwu Mas Wangsa, 116 tidak melapor diam me lulu, takut diungkit-ungkit Kalau-kalau terkorek si jantan, takut lepas anak kuda.
XXIV. Pupuh Mijil
65 5. Dikisahkan Raden Suryalaga lagi, jaksa muda pintar, mulailah menangkapi para anggota kelompok semua, yaitu Ngibehi Juri, sama Bapak Kento, sudah diika t belenggu.
- Natawijaya anggota yang jahat, sudah diborgol, dimasukkan ke dalam penjara besar, di kamar gelap dikunci. (la) sudah merasa sedih, kesalahannya terbongkar.
- Berkata di dalam hati. "Aduh apalagi say a, malu lagi di Kabupaten Bandung it u * Tak mengira hati saya, (perkara) ini terselidiki, mengapa kok terbongkar.
- Yang salah siapa, istri dibiarkan tahu. Wanita itu suka gampang mengatakan sesuatu. Mudah terbujuk (bujukan) manis. Mudah bergerak bibir, bagiikan nyiru rusak."
Keempatnya Raden Sasmita, juga kelimanya Padama, keenam Su rareja menangis, tujuh Jurutulis Sastra, anggota kedelapan, tersebut Raden Wira.
Puspayuda anggota nomor sembilan. la SU dah di tahan, dimasukkan ke dalam tahanan tangsi, di tahanan prajurit (di) 1.engkong. (Merek a) terpisah seorang-seorang, tidak boleh bercampur.
Enam tahanan sudah berdiam di situ * (Mereka) meringkuk nelangsa, alangkah menyesalnya. // Oleh karena manusia itu, jangan berbuat jahat, (karena) akhimya ten tu terbongkar.
11 7Kangjeng Nabi Muhammad bersabda, tentu dalam hadis. Barang siapa yang melakukan kejelekan, walaupun sedikit, balasannya tentu, oleh kejelekan lagi.
- Begitu juga kebaikan sama; oleh Allal1 Yang Mahatahu, tak akan salah bahwa balasannya, dengan kebaikan lagi. Semua sama ingat, (bagi) setiap orang yang hidup.
- Setelah selesai menangkapi para anggota (komplotan), semua sudah dit ahan. Semua orang jahat sudah ditangkap. Kangjeng Residen sudah pulang, malah beserta bupati, Kangjeng Dalem Bandung,
- sudah datang ke Cianjur. Residen (dan) Bupati,
sangat lelah (karena) habis mengerjakan urusan besar, untuk mengatur penyelidikan (perkara). (Mereka) sudah senang hati, karena hanya tinggal.memutuskan.
- Dikisahkan setelah keluar surat keputusan, Suryalaga senang, sudah menjadi jaksa di Bandung, lalu (ia) meneliti perkara, ditulis satu per satu, daftarnya diatur.
- Proses verbal perkara itu, dibuat dengan tenang, bersama Arya Patih saja Yang sudah selesai disusun, disampai kansegera, kepada Residen Cianjur.
- Setelah heres susunan penyelidikan, semua sudah selesai. Demang Biskal di Cianjur, // diperiksa dengan teliti, 118 (berdasarkan) aturan yang adil, yang sungguh heres.
- Karena semua sudah beres, malah sudah dilaporkan, Demang Jaksa yang akan diberangkatkan itu, lalu membukakan perkara, mengenai pembunuhan. Tegasnya itu pembunuhan.
- Kata jaksa kepada Residen (dengan) hormat. "Saya sampaikan berita, akan memberitahukan (tentang) arya.muda, putra pertama dalem Bandung,
sulungnya lelaki, dimanja disayang.
- Sudah nyata Angganagara, benar membunuh, yang bbernama Retal sampai tewas, pemburu uncal yang berani, rumah tempat tinggalnya, (di) desa Buahbatu 11-
- Dipenggal lehernya oleh arya sendiri, ditegal rumput sedang berburu, tgal luar (ketika) sedang ramai berburu >1 tegal luar (ketika) sedang ramai berburu * Hal itu sampai sekarang, tidak menjadi perkara, hilang karena ditutup.
- Karena putra bupati yang disayang, yang sangat dimanja, segala permintaannya diturut saja. Walau membunuh orang, tidak menjadi perkara, karena putra penguasa.
- Sedangkan (kena) pada diri saya, mengapa ditahan, padahal tida k memiliki kesalahan, tidak bersalah sedikit pun? Adapun yang sudah jelas, dosanya membunuh.I I
- Kata Kangjeng Tuan Residen pasti : 119 Hal itu akan diperiksa. Seperti yang dikatakan demaang itu, oleh saya akan diperiksa-hati-hati.
Nanti kalau terbukti, Arya (akan) dihukum
67 6. Demang Biskal berkata "Saya tidak mengerti, Si Munada sudah nyata jelas, sudah jelas (berada) di Majalaya (Menurut) pikiran saya, wedana (Majalaya) ikut campur.
677.Adapun saya sedikit pun tak tahu, pada Munada yang gila, itu sungguh fitnah saja, yang benci kepada saya. Saya tidak menerima, (bahwa) saya ikut campur."
678. Kata Tuan Residen lagi. "Wedana sekongkol. Raden Rangga Anggawireja itu, memang oleh saya, sudah dipanggil segera, ke kota Cianjur."
679. Sekarang Demang harus pergi, tidak boleh mogok. Demang Biskal diberangkatkan saja, ke Betawi akan dipenjara, di penjara Betawi. Menunggu pemeriksaan lebih jauh.
680. Menunggu pemeriksaan sidang pengadilan, lama menunggu-nunggu, pemeriksaan lama belum selesai, karena perkkara rumit, (dan) perkara besar. Dangdanggula menunggu "'
XXV. Pupuh Dangdanggula
- Kangjeng Tuan Residen ber kata, kepada bupati Cianjur memerintah. "Panggil Raden Arya Anom,I I putra bupati Bandung, 120 Raden Angganagara lekas, besera sak si-sak sinya, harus dipanggil semua, bersama ahli waris Reta!, yang sudah dibinasa dipenggal, oleh Arya Angganagara.
- Dan jaksa Kabupaten Cianjur, lekas panggil karena ini sudah dapat, perkara Munada sudah selesai. Jaksa Cianjur itu, harus membua t pemeriksaan yang teliti. Raden Angganagara, tergolong mem bunuh. Jaw ab dalem: " Siap !" Kemudian dalem menyunih menulis pada patih, pada Arya Patih Bandung.
- Cepat-cepat memanggil Arya Anom. dan sak sinya bersama keluarga, Si Retal yang sudah meninggal. singkatnya surat dikirmkan. Cepatnya (surat) ke Bandung sam pai, kepada Raden Arya, Raden Pattih Bandung. Dikerjakan sebagaimana perintah. Semua yang dipaanggil sudah sampai, ke paseban kumpulnya.
- Tersebutlah ja ksa kabupaten lain, sudah pulang ke kabupaten masing-masing,
Sumedang dan Garu t juga, manonjaya Cianjur, hanya jaksa Purwakarta tidak pulang, (karena) menjadi jaksa di Bandung. Ia sudah diangkat, menjadi makmur kaya raya, mulia suci terpuji oleh pemerintah, karena kebija ksanaan dan kesetiaannya.
- Adapun Nyai Raden Salimantri, tidak ditikah oleh Suiyalaga, karena tadinya pun hanya membujuk, agar bisa keluar, // rahasia yang tersembunyi. 121 Salimantri merasa, bahwa terkena tipuan. Alangka h (ia) menyesal. Suami lama Demaang Biskal sudah lepas, suami baru tidak jadi.
- Singkat cerita sudah sampai ke Cianjur, Arya Anom beserta saksi-saksinya. Bahkan juga saudaranya, ia juga ke Cianjur. Adiknya Raden Anggadireja, adik Angganagara, seayah seibu, beserta ahli waris, Ki Retal, pemburu yang sudah mati, waktu itu sudah berkumpul.
- Sudah berkumpul di dalam srimanganti (tempat kumpul an), Kangjeng Tuan Residen sudah duduk, beserta Kangjeng Bupati, dan jaksa Cianjur. Kangjeng Residen berkata:
"Hai Arya Angganagara, Raden sudah disebut, oleh Demang Mangunagara Raden sudah membunuh seseorang, pemburu bernama Retal.
- Dibunuh oleh Raden disembelih, ma ti pada saat itu juga Apakah benar itu Raden, perkaranya ditutup, tidak dijalankan secara adil ? Begitu dakwaan demang, Raden yang disebut Arya Anom menjawab: "P aduka Kangjeng Residen yang adil. Saya sama sekali tidak (berbuat itu).
- Perkara itu yang sebenamya, asalnya Anggadireja, adik saya yang sebetulnya, pada suatu waktu, di Tegal Luar memburu, seekor kijang betina. Waktu itu (kijang) terburu, dibacok kijang menggeletak. I/ Datang seorang pemburu, Retal memburu * 122 {la) memburu kijang yang sudah ditebas.
- Kijang itu disembelih oleh adik saya, waktu itu oleh Ki Anggadireja Begitu akan disembelih, Retal cepat merebut. Mendahului ia menyembelih. pada leher kijang itu * Tetapi karena terburu-buru, kena pada tangan Ki Angga.
Tiga jari Ki Angga pu tus, oleh pedang Ki Retal.
- Adik saya tersungkur tidak sadar, tergeletak tidak ingat pada waktu itu, seperti yang (sudah) mati saja. Setelah itu orang-orang ribut, terlihat oleh saya. Saya cepat-cepat, memburu ke situ. Dari atas kuda memanggil-manggil, apa yang terjadi dengan adik saya, sambil melarikan kuda.
- Adapun Retal itu ketakutan, ka rena terkejut dan ta kut, melihaat adik saya tergeletak. dikira sudah tewas, dan lagi ta kut oleh saya, dikira akan dibinasa. Tiba-tiba dia menusuk perutnya dengan pedang, menusuk dirinya dengan senjata sendiri. (la) meninggal seketika.
Saya datang Retal meninggal dunia, sudah tewas bu nuh diri, semua saksi sama-sama tahu "' Pertama Ki Dauda, keduanya Bapak Mustari,I I ketiganya Raksaguna, 123. keempat Ki Mas Tanu, kelima Astaparana. Begitulah semuanya tahu persis, (tentang) kisah Retal mati."
l.alu adik Raden Angga diperiksa. (la) berkata terus terang yang sebenarnya. Jarinya yang putus pun, saat itu diperlihatkan. Jelaas yakin kelingk ing (dan) jari manis, tidak ada waktu itu * Jelas jari-jari putus, terlihat oleh Kangjeng Tuan. Selanju tn ya saksi-saksi diperiksa, beserta ahli warisnya.
- Kata sakki-saksi itu: "Betul sekali pemburu Retal, sungguh bunuh diri, bukan di bunuh orang lain." Saksi semua disumpah, semua mengangkat Qur'an. Yang menyumpah penghulu, malah ahli warisnya (p un), mengatakan betul, Retal menusuk perut sendiri. 696 "' Saya ini ahli warisnya, tidak akan mendakwa karena penasaran. Walau sejak dulu (pun), saya tidak bermaksud, tidak akan mendakwa pada hukum adil, karena sudah tahu Retal, matinya benar-benar, bukan dibinasa, oleh oranglain karena Retal betul yakin, membunuh diri sendiri.
- Raden jaksa segera menulis, menuliskan perkataan mereka, apa yang dikatakan sem ua. Setelah diputuskan,
Kangjeng Residen berkata: "Baiklah pulang saja ! (Semua) diijinkan pulang. Perkara ini sudah jelas, // nyata bukan pe mbunuhan. 124 Laporan demang jaksa bohong.
- Semua menghormat pamit (lalu) pergi, dari hadapan Kangjeng Residen, Raden Arya Anom, sudah pulang ke Bandung, bersama-sama dengan adiknya, Raden Anggadireja. Saksinya begitu, beserta ahli warisnya, sama-sama pulang (dan) telah sampai ke Bandung. Dikisahkan sama-sama selamat.
- Sekarang kita kisahkan lagi. Raden J aksa Suryadilaga, jaksa Bandung (yang) baru (dan) terkenal, proses verbal diberikan, (hasil) pemeriksaan saksi (dan) tahanan, semuanya sudah beres, malah sudah disampaikan, kepada Kangjeng Residen sudah sampai. Semua sudah dikirim ke Betawi, tinggal menunggu putusan.
- Mari kita singkat cerita (di) Betawi. Raden Demang Biskal akan diperiksa, di kantor besar di Betawi, dipenjara sudah hampir set ahun. Begitu tiba di kantor, (ia) naik pada tangga, tangga gedung tinggi, yaitu gedung bicara,
Tiba-tiba Raden J aksa terjatuh; jatuh lalu pingsan.
70 1. Sama sekali tidak bergerak. Ketika itu sungguh mengkhawatirkan. Kemudian segera dokter datang, memeriksa yang jatuh. Sudah selesai diperiksa, serta diiobati, oleh dokter diurus, diperiksa seluruh bagian luar badan. Kata dokter: ' Sebab dia ini sakit,11 11 akibat kurang senang hati. 125
- Kurang tidur juga kurang makan, oleh karena orang yang biasa m ulia. mendapat siksaan yang tidak enak." Singkatnya sudah mundur, dibawa lagi ke tahanan. Tidak lama datang keputusan, dua puluh tahun, dibuang ke Surabaya. Singkatnya cepat Raden Demang Biskal pergi, menjalahi hukuman.
Sei:ta hukuman sudah keluar, dari Betawi (untuk) yang dihukum, (dikenakan) pada semua tahanan, yang bersalah di Bandung, anggota rahasia yang jahat, sudah menerima putusan, dibuang ke tern pat jauh. Pertama Natawijaya, dibuang ke Makasar dua puluh tahun, (dan) memakai kalung waja.
Keduanya Bapak Kento sarna, ke Makasar dibuangnya, (larnany) dua puluh tahunjuga. Dan yang ketiga, yaitu Ngabehi Juri, dibangnya ke Ambon, dua puluh tahun. Keempat Sastradireja, (dibuang) ke Makasar pastinya dua puluh tahun, serta lehernya dirantai.
- Kelimanya Raden Sasmita sama, ke Makasar dibuangnya, dua puluh tahun juga. Wirakusumah tentu, ke Ternate pulauh jauh, dua puluh tahun, lamanya di sana, Ketuhuh Mas Suradireja, ke Makasar juga (dibuangnya) tidak lebih, sama dua puluh tahun.
- Raden Puspayuda anggota kedelapan, 126 lamanya dua puluh tahun, masih ke Makasar. Anggota kesembilan tercatat, Raden Padma juga sama, yaitu ke Makasar, dua puluh tahun (juga). Semuanya dikalungi, rantai besi sudah melilit di leher mereka Narapidana berangkat, (mereka) menangis.
- Nah, sekian bukti orang jahat, yang berhianat ke pada sesama, di dunia kena hukuman, tentu merasa menderita,
sengsara amat sanga t, meninggalkan rumah tangga, yang berada di Bandung. Semoga sanak keluarga, dijauhkan dari perilaku iri dan sirik. Yang muda semoga siap sedia.
XXVI. Pupuh Sinom
- Sekarang berganti yang dikisahkan, Kangjeng Dalem Kabupaten Bandung, Sang Dipati Wiranata Kusumah yang baik budi, mendapat keputusan dari Betawi, berhenti dari jabatan bupati, kekuasannya dilepas, serta tidak boleh pulang, harus tinggal menetap di kota Cianjur.
- Kemudahan dalem berkumpul, ketiga putranya sudah hadir, Raden Sastranegara, Raden Arya Anom duduk, adiknya Den Anggadireja, beserta Raden Penghulu, berunding akan berhenti dari jabatan, serta tidak boleh pulang, bagaimana akalnya menyampaikan kepada penguasa.
- Adapun sebagai penggantinya, yaitu putera tersayang, Rahaden Suriakarta Hadiningrat (yang telah menjadi) kumetir, yaitu kumetir kopi, di Cianjur // selatan. 127 Surat keputusan sudah sampai.
Riang gembira Raden Kumetir, (yang) menggantikan ayahanda menjadi bupati.
- (la) dipanggil oleh Kangjeng Tuan, oleh residen ke loji, (untuk) menerima surat keputusan. (la) menghormat (dan) duduk di kursi. Tuan Residen berkata : "Raden Kumetir diangkat, (menjadi) bupati Bandung. (Raden) harus segera berangkat! Terimalah jabatan (itu) dari Patih Aria!"
- Raden Kumetir lalu menerima, Surat keputusan Sudah di tangan. "(Saya haturkan) terima kasih kepada Tuan Residen yang mengasihi, yang menaikkan kedudukan (saya), teriring alhamdulillah, pemberiah kepada dirisaya. Selanjutnya mohon berkat Kangjeng Tuan".
- Cerita ini dipercepat, Kangjeng Dalem segera berangkat, meninggalkan kota Cianjur. Ia sudah tiba di kota Bandung, dijemput Arya Patih, beserta para pembesar. (Is) sudah menempati pendopi, serta diganti nama, (mengambil) nama ayahanda yang sempurna,
- yaitu Wiranatakusumah, tumenggung Kabupaten Bandung. Semua pembesar (merasa) senang, dipimpin oleh (anggota) keluarga, sama-sama seketurunan,
darah bangsa wan di Bandung. Lebih-lebih Raden Aria, walaupun usia sudah tua, (tapi) dirinya (merasa) masih kuat (dan) segar-bugar.
- Lama-kelamaan terberitakan, Kangjeng Dalem Adipati, bupati lama hidup menyendiri, lamanya lebih dua tahun, dan masih menetap, tinggal di kota Cianjur. Kemudian (ia) menghadap, pada Tuan Besar pribadi. (la) mohon izin pindah ke Kota Bandung.//
Serta (ia-bermaksud menyediakan uang, 128 menyetorkan pada kas negara, banyaknya empat laksa, empat puluh ribu rupiah. Oleh pemerintah diterima, uang empat puluh ribu itu. Dalem sudah diizinkan, pindah ke kota Bandung, menetapnya di sebelah selatan (pendopo) yang lama. 71 7. Dibanun rumah barn, sesuai dengan pendopo bupati. Tapi di situ tidak lama, rumahnya itu pindah lagi, karena agak sepi, tidak ramai karena di belakang. Dalem tua tidak kerasan, dari situ pindah lagi. ke pemukiman barn yang disebut Karang Anyar.
Dari alun-alun ke arah timur, yang sekarang menjadi nyaman, jadi Hotel Homan indah, dan juga kantor residen. Di situ rumah bupati, Kangjeng Bupati yang tua. Adapun modelnya, menggunakan dua pintu gerbang, tempat menjaga gulang-gulang pada waktu upacara.
- Karena tidak berbeda, dengan pendopo bupati, Di pendopo kabupaten, prajuritnya sedia, gulang-gulang dan umbul, begitu juga selir, masih beratus-ratus wanita, derajat ayah bupati sungguh tidak berkurang.
- Malah pendopo kedua, satu di Buah batu, indahnya tiada tara, diatur dirapi-rapi. Tempat bersenang-senang bupati, mengantar keinginan menurut nafsu. Begitu pula (bupati) memburu uncal, tiada berbeda dengan jaman
- Bila (ia) mendatangi kewedanan-kewedanan, 129 tiada berbeda dari biasa. Bahkan (bila ia) menangkap ikan di sungai, dihormat dipuja-puja, Dalem Tua senang hati, karena oleh putera tidak diganggu, yaitu oleh bupati barn,
sekehendak ayah dihormati, tak ada keinginan yang disanggah.
- Kalau (ia) menangkap ikan di sungai, tiga malam di Citarum, kadangkala sampai empat malam. Tidurnya di atas air, pada bangunan yang rapi, dipasang lima perahu, memakai saung tempat duduk, alasnya kain sutra, sutra dewangga indah mulia berwarna kesumba.
- Cahaya berkilau melambai-lambai, melambai tertempa tiupan angin. Dingin terasa pada badan, semilir hembusan angin, di dalamnya pen uh oleh istri, selir yang manis, yang indah cantik dan pintar. Oulu derajat bupati, sebanding dengan raja Sang Arjuna Sastrabahu.
- Begitu saja selanjutnya, nyata di Kabupaten Bandung, ada dua bupati, tapi tidak mengkhawatirkan, karena pada dasarnya rakyat, semua tetap menghormat, kepada ayah dan putra, tiada bengkok sedikit pun. Begitu pula anak dan ayah seiring sekali.
- Hanya ada satu masalah, mengapa begitu tidak tahu, pada masalah tersebut.
Seorang putra bupati, // yaitu putra bupati tua, saudaranya bupati muda, pangkatnya mantri nagara, yang bernama Raden Sastranagara.
- Yang terkenal gagah, sakti kebal sulit tandingnya, kulitnya keras tidak tembus, oleh senjata pedang (dan) keris. Raden Mantri dimaksud, yang sudah diceritakan dulu, ditakuti oleh Munada, sebelum (munada) membunuh, yang ditakuti hanya Mantri Sastranagara.
- Adapun menurut berita, Raden Mantri itu, setelah kakaknya, kumetir menjadi bupati, oleh residen dipanggil, dipanggil ke Cianjur, akan dijadikan penggantinya, menjadi kumetir kopi, pengganti Raden Suryakarta Hadiningrat.
Tapi ia tidak mau, malah meminta izin, berhenti dari pekerjaan, dari pekerjaan kumetir. Lalu (ia) pergi ke (luar) negri, beribadat ke Mekah ke Medinah, ziarah ke makan-makan, ke makan Kangjeng Nabi, Muhammad dinil mustofa di Medinah.
dan makam-makam lain, beserta naik haji. Dipercepat saja cerita, waktu itu (ia) sudah datang lagi, ke Bandung sudah menjadi haji, hamanya disebut, bersama gelar rangga, tersebut Haji Gajali, Raden Rangga Haji Gajali namanya. //
- Menurut berita (ia) disangka, 13 l menyeleweng dengan wanita, prameswari bupati baru. Dan pada suatu waktu, oleh tuduhan polisi, katanya (ia) mengancam dengan pedang berkilauan, di halaman pendopo, disangka akan me mbunuh, tambahan, ada surat kaleng.
- Datangnya surat itu, berasal dari kantor pos negara. Isinya (berupa) surat tantangan, yaitu mengajak perang tanding, kepada orang Bandung. Surat tertangkap oleh bupati, yaitu oleh bupati baru itu. Kemudian bupati berunding, dengan ponggawa mantri yang dituakan.
- Segera bupati melapor, ke Tuan Residen cepat, Bahwa adik yang seorang, minta dipindahkan jauh, serta akan digaji, tujuh puluh lima rupiah,
gajinya dalam sebulan, memohon tolong dikabulkan oleh pemerintah.
- Nanti akan diganti, dipotong dari perhitungan (hasil) kopi. Oleh pemerintah dimengerti. Raden Rangga Haji itu, dibuangnya sudah pergi, ke Pulau Ambon yang jauh. Tidak jelas jadi (tentang) lamanya. Be gitulah menurut berita, nanti diceritakan setelah bupati itu meninggal. //
- Penampilan Sastranagara, 132 tinggi besar badannya kekar, jambang le bat bagaikan Purabaya, kumis tebal dilengkungkan, menyebabkan segan yang melihat, sigap sopan serta menyenangkan, persis menak Melajang Tengah, satria putra Arimbi, Gaotgaca menghilang pergi dari Bandung. 73 5. Alangkah gundahnya ha ti, me ninggalkan tempat asal, tanah pusaka negara, Bandung tempat asal tinggal. Tapi walaupun sedih, harus saja diturut, sekehendak penguasa, pemerintah yang adil, yang menentukan keadilan yang sempurna.
- Adapun istri yang dibawa, hanya satu Eneng Uci, istri yang berasal dari Cianjur. Pembantunya lelaki seorang,
Mas Elom yang ikut, yang rajin bekerja setia membela. Kepada Eneng Uci (adalah) saudara misan. Terlaksana yang sudah berangkat, naik kapal melambai-lambai.
73 7. Sekarang cerita berlanjut, menceritakan lagi yang tadi, sudah terlalu lama ditinggalkan, menetap terus di Cianjur, hampir lebih dua tahun. Sekarang (mohon) izin pindah, Raden Rangga Anggadireja, cutak Kewedanan Majalaya, (karena) tidak bersalah
- Sudah pulang ke Majalya, menjadi wedana lagi, mengurus kewedanan yang
Maklum yang dimadu, 133 dengan Nyi Mas Bunga yang cantik, istri pertamanya berasal, istri yang berasal dari Suci. Neng Mantri sakit hati, karena terkalahkan oleh madu, membawa panas dalam hati, sakit melilit dalam usus, siang malam berpikir untuk mendapat jalan (keluar dari penderitaan).
Tiba-tia (ia) menemukan jalan. Kemudian Raden Mantri ke kota, menemui Raden Raja Ningrat, karena saudara Raden Mantri, pada Raja Ningrat itu. (la) saudara seibu, putra Raden Ayu Puspa. Raden Puspa wanita (berasal) dari suci, putera patih dulu Raden Surangga.
- Begitu tiba di kota, disambut diajak duduk. "Adik Nyi Mantisah sayang, silakan nyai cepat duduk ! Kakak rindu sekali, sudah lama tidak ke Bandung." Raden Mantri menghormat sembah, kepada kakak hormat sekali. (Mereka) berdua sudah duduk berhadapan.
- Raden Rajaningrat berkata : "Ada berita apa adik, seperti yang agak cemas? ,. Raden Mantri menjawab manis : "Apa yang kakak katakan benar. Saya merasa bingung, oleh suami ditelantarkan, tiga bulan tidak didatangi. tidak (diberi uang) belanja, // menengok pun tidak.
- Pikiran saya lepas be bas, utang sakit bayar sakit, utang derita bayar derita, (sudah) telalu sakit hati. (Saya) bermaksud menceritakan, rahasia yang sangat besar,
Astrareja itu, patinggi suami saya, wakil wedana di Kewedanan Majalaya,
- kelakukannya lain dari yang lain, tidak sama dengan saudara, sebab punya (benda) sembahan, yaitu sepotong kayu, kayu suren yang besar, dipagar oleh bambu berduri, adanya di kampung Bojong, dekat rumah pinggir jurang, dekat sekali dengan rumah Astareja.
- Dia menyembah ke situ, setiap malam Senin-Kamis. Jadi (ia) tidak menyembah Allah, pada Tuhan Yang Mahasuci, tidak (taat) pada Kangjeng Nabi, Muhammad imamnya rosul, Astareja sungguh Budha, yaitu agama Majusi, malah hal itu menjadi dagangan.
- Orang yang dari mana-mana, dari kampung kerwedanan lain, ke sana (mereka) memuja, serta memberi uang, enam baru enam ketip, serupiah sembilan baru, selain nasi tumpeng dan panggang ayam Juru kuncinya ibunya sendiri. Begitulah perlaku Astareja. //
- (Saya) sangat mohon pertolongan kakak, 135 menaruh kasihan pada saya. Sampaikan dengan segera,
kepada Kangjeng Dalem Bupati, tentang ki patinggi itu, mempunyai perilaku yang tidak umum". Raden Rajaningrat menjawab : "Hal itu sangat mudah. Nanti oleh kakak segera dilaporkan".
- Dikisahkan keesokan harinya, dari rumah lalu pergi, Raden Ayu Rajaningrat, serta Raden Ayu Mantri. (Mereka) sudah sampai ke pendopo. Kangjeng Dalem lalu berkata : "Embok Rajaningrat segelah!" Raden Ayu duduk (lalu) menghormat, duduk menunduk sebagaimana biasa.
- Dalem Bupati lalu berkata : "Ada berita apa kakak? Adik sudah lama tidak bertemu, pada kakak rindu sekali. J anangan terlalu jarang, ke sini itu harus sering-sering, seperti dulu pada ayah. Sekarang adik menggantikan (ayah). Kepada Saudara jangan merasa canggung." 7 50. "Terima kasih ", kata En den Raja. (la) melaporkan perihal yang tadi, apa yang dikatakan Raden Mantisah, tidak terlewat sedikit pun.. "Bahkan ini adik saya, Enden Mantisah di bawa". Lalu (ia) oleh dalem diperikas. J elas perkataannya seperti tadi. setelah terdengar hati menjadi panas berkobar.//
XXVII. Pupuh Durma
7 51. Kangjeng Dalem Sang Tumenggung Wiranata, Kusumah yang kreatif, pelan berkata : "Hai Embok Rajaningrat, beserta Nyi Mantri; lebih baik pulang saja, oleh adik sudah dimengerti.
- Perkara itu memang tidak umum. Manusia menyembah kayu, seperti orang Budha, beragama Majusi, nanti diuruskan sampai tertib, oleh adik sendiri, karena itu perkara polisi.
- Seorang menak yang menjadi wakil wedana. kenapa menyembah kayu, serta berupaya, membuat orang-orang menjadi bodoh. Yang memuja mengasih uang, tumpeng dan panggang ayam. (Hal) itu sangat tidak pantas"
- Raden Rajaningtar dan Raden Ayu Mantisah, dari pendopo sudah pulang, pulang ke rumahnya, di kampung Ciguriang, Desa Ka um di dalam kota. (Mereka) mau menunggu, pada perin tah bu pa ti.
- Adapun Raden Ayu Rajaningrat itu, yang dikisahkan saat itu, sudah bercerai dengan suami,
denga:n Raden Aggadireja, sudah dicerai dulu, waktu (ia) dibuang, sebelum berangkat ke Oanjur.
- Berganti suami kepada Raden Kertakusumah, kanduruan mantri negeri, punya dua anak, perempuan Raden Dewi Endah. // yang menjadi istri Raden Patih. 137 Tasikmalaya, saudara sepupu pertama.
- Raden Demang Suryanagara. nak sulung pertama, dialah Arya Anom itu. Raden Angganagara. Putra yang satu lagi, Raden Rajaningrat, Raden Moon Jayanagara.
- den Rangga Anggadireja mcmpunyai, stri pada Enden Garmi, stri bijaksana, sangat pintar (dan) cerdik. rumahnya di Randu Kurw1g. desanya Lengkong, di dalam kota Bandung.
- Yang dibawa pindah ke Majalaya, yaitu Enden Garmi, sampai wafat, tahwi enam puluh sembilan. Hanya kehendak Yang Widi. tidak berputra, Raden Rangga dari En den Garmi.
7 60. Han ya ada cucu yang disayang, seorang lelaki yang mempesona, yang disayang kakek, namanya Raden Mubarak, Anak Agan Ateng, adapun ibunya, Enden Maraja Inten.
- Putra Raden Rangga yang nomor dua, ibunya yang tadi, Raden Rajaningrat. Adapun ayahnya, ayah anak itu, Raden Wangsa, Kusumah yang kreatif.
- Yang menggantijabatan menjadi wedana, di Kewedanan Majalaya, adalah putranya, Raden Rangga Natadigjaya, yang sudah disebut tadi. // Waktu masih kecil. 138 Aom waktura namanya.
- lbunya yaitu Nyai Raden Rajaningrat, Alangkah senang ha ti, rakyat Majalaya, karena yang mengganti wedana itu putranya. Majalaya sejahtera, kaya raya, malah sampai sekarang.
- Asal-muasal Majalaya dulu, dari jaman negara Budha, namanya Mandabaya, negara di Priangan, melihat tanda-tanda bukti,
dari kebiasaannya, raja dulu yang sakti.
- Di Rumbia pakaian leluhur Budha, perkakas gen ta pedang dan senapan, dan selain dari itu, beserta kitab-kitabnya, daun lontar yang ditusuk, alangkah bagusnya, aksara seperti diukir.
- Itu tanda dari leluhur raja Bud.ha, sepuluh yang tercatat, Sanghyang Wiruna, dew a menjadi man usia, menjadi raja berkuasa, di Mandabaya, yang diceritakan oleh kakek.
- Yang pertama Raja Prabu Maraja Inten, keduanya yang disebut, Prabu Rawana. Ia bukan Rahwana, Tiga Prabu Jembul Putih, yang menjadi raja, di negara Mandabaya.
- Keempatnya Sang Prabu Puspalaya, yang menjadi penguasa, di negara Mandabaya. Adapun yang kelima, yang menguasai negeri, Bujanggalawa, prabu yang mahasakti.11
- Keenam Sang Prabu Mandabaya, 139 ratu yang gagah sakti.
Adapun yang ketujuh; di situ menjadi raja, raja prawira, sangat gagah sulit tandingnya.
- Kedelapan Sang Prabu Panglimanan. Dia pun (beragama) Budha sakti. Adapun yang kesembilan, Sang Prabu Sandaan, sama raj a gagah sakti. Kesepuluhnya, ia yang tersebut,
- menjadi raja Sang Prabu Pananyaan. Nah, sepuluh yang tersebut, pakaian mereka, aisimpan di Rumbia, agama Budha digan ti, yaitu dengan agama Islam, rakyat menjadi mualap.
- Begitulah cerita kakek saya, tahunnya yang tercatat, mulai masuk Islam, tahun yang terhitung, seribu lima ratus lebih, dan le bihnya, dua puluh Jima tahun.
Jadi mualapnya orang Majalaya, hampir empat ratus tahun, kurang Jima belas. Begitulah beritanya. Betul - (tidak) nya entahlah, karena saya pun berita, dari kakek yang memberi tahu.
Lama kelamaan negara menjadi cutak, cutak yaitu kewedanan, kalau sekarang. Kewedanan pun sudah tidak ada, sudah menjadi kecamatan. Begitulah bergeraknya, gerak dunia yang berputar. //
- Sekarang kita kisahkan bupati itu. 140 Keesokan harinya pw1 tak lama. setera berangkat, bupati naik kereta (kuda), ke Maj ala ya sudah sampai. (la) tidak memberi tahu dulu, agar tidak ketahuan.
- Lalu Kangjeng Dalem pura-pura ke Bojong, sendiri jalan kaki, ke kampungnya, Ki Astareja itu. Kebetulan (ia) sedang ada. ibu Mas Asta, jurukunci pohon kayu itu,
- sedang menyapu di bawah pohon suren itu, resik sangat bersih. Bupati datang ke situ, serta berkata pelan. 'Hai ibu saya ini, bermaksud hendak memuja, pada pohon kayu ini.
- Saya orang Bandung ingin menjadi pejabat. Inilah uang serupiah, yaitu pemanjarnya, mohon dibukakan keinginan •. Jawab nenek: "Syukur sekali,
mari ujang, .kita menyembah kayu".
- Lalu bupati pergi dengan jurukunci itu, ke bawah pohon kayu itu. Begitu tiba di situ, nenek duduk menyembah. 'Duh Gusti Yang Mahasakti, inilah cucu, memohon menjadi priyayi ".
- Nenek membakar dupa asapnya bolak-balik. Katanya: "Hai ujang yakin, dikabulkan permintaan. Ujang menjadi yang berpangkat". Bupati tertawa-tawa. // Sungguh sudah nyata, kontan sekarang juga jadi.
- Yang menyamar berkata kepada jurukunci itu. "Hai ibu jurukunci, nenek, yang dipuja ini, yang (ada) pada kayu itu, namanya yang pasti, itu serupa? Saya ingin tahu nenek' .'
- Jurukunci menjawab berbisik. Katanya: "Mohon ampun, mohon maaf, kepada yang kuasa ini, yang tinggal pada kayu. Nenek tidak sopan, menyebut nama yang suci.
- Nama itu Sembah Dalem Kalurahan, ·nama yang pasti,
kata Ielullur kita, Sanghyang Prabu Raja, Jembul Putih ratu sa.kti, yang dulu, menghilang naik ke sorga.
Kembali lagi (ia) dari swargaloka, lalu menetap pada kayu, sampai sekarang. Menjadi juru selamat,
. yang menolong masyarakat Terhadap pennintaan (mere.tea), dikabulkan oleh yang sakti".Setelah tahu Kangjeng Dalem berkata: "Hai nenek, saya ini, kalau nenek tidak tahu, diri saya ini, adalan bupati, kepala daerah, pendopo di kota Bandung ·:
- Nenek-nenek gemetar lalu terkesima. Badannya le mah dan menangis. (Ia) sambil mengatakan tobat berulang-ulang, memohon maaf, bersujud semban sambil menangis, pada kaki (bupati). 'Mohon maaf Kangjeng Bupati ".
- Jawab bupati: · "Saya memaafkan. Pulanglah nenek segera, ke sana ke rumah ! Pohon a.kan ditebang". Bupati memanggil rakyat.
Sesudah semua datang, pohon ditebang oleh kampak besar.
- Pohon suren roboh sudah ditebang oleh semua, dipotong-potong dibelah-belah. // Rumpun bambunya ditebang habis, 142 rumpun waregunya dibabad. Cowet jembangan piring, bekas perapian dimusnahkan, dibasmi tidak berbeKas.
- Setelah selesai menebang suren bupati pergi, pt.dang ke Majalaya. Ki Mas Astareja, diberhentikan waktu itu (juga), dari pekerjaannya menjadi wakil (wedana). Walaupun jabatannya, berhenti dari jabatan patinggi,
- pekerjaan itu diterima oleh Raden Rangga, Anggadireja lagi. (Ia) menjadi wedana lagi,. di kewedanan Majalaya. Camatnya tersebut lagi, waktu itu (camat) baru, mengganti camat yang lama. 791. Wangsadireja namanya camat, putra wedana, wedana Banjaran, Arya Sacanagara. Di Maj ala ya s udah tenang, tiada kekhawatiran, wedana dan camat rapi.
- Astareja sangat menyesal, mendapat marah bupati.
Alangkah menyesalnya, ingat pada pekerjaan besar, membuat saluran air, membuat parit, dan juga membuat jalan besar.
- Sudah dua orang yang dibuka rahasia (-nya), laki-laki oleh istrinya. Tadi Demang Biskal, oleh Salimantri istrinya. Jelas dibongkarnya, sem ua rahasia, akibatnya diri menjadi celaka.
- Lagi Nyi Raden Mantisah, membuka rahasia suami, sampai celaka, dicopot jabatannya. Begitulah yang bukti, hati-hati akan contoh itu, jangan (terlalu) percaya pada wanita. //
- Hati-hati semua hendaknya bisa, 143 menyimpan rahasia yang rapi, istri jangan (sampai) tahu. Dan kalau sampai istrinya tahu, hatinya harus terbeli, agar (ia) membela. Kalau merasa senang (ia) tidak akan berkhianat.
- Tersebutlah Nyai Mantisah saat itu,. istri masih muda, usianya remaja, parasnya indah mulia, sudah dicerai talak satu, oleh Astareja. Nyi Raden Mantri sudah menjadi janda.
'442
- Lalu (ia)
- Pangkatnya pun sampai mengganti ayahnya, menjadi wedana, yaitu di kewedanan Banjaran. Sampai pensiun, (ia pergi) ke Arab akan naik haji. Di sana ajalnya, (ia) meninggal di Mekah,
- Adapun camat pengganti di Majalaya, yaitu seorang mantri, Mas Muhammad Hamdan, man tri gudang dari Ko po. Camat kewedanan Majalaya, le bih terpakai, segala pekerjaannya menghasilkan.
- Beringin di alun-alun Majalaya, khabarnya diganti, setelah (peristiwa) Munada, tahunnya kalau tak salah, tahun empat puluh enam. Sampai sekarang, (pohon-pohon) beringin i tu masih bagus. 11 XXVIII. Pupuh Asmarandana
- Sekarang yang diceritakan, 144 kangjeng dalem yang tua itu,
di Bandung sedang sakit keras, penyakit parah sekali, dikelilingi putra-putranya, anak-cucu sama-sama berkumpul, menengok dalem saklt.
- Di dalam rumah susah gerak, dukun-dukun datang, walaupun oleh tuan dokter, obat tidak ada yang manjur. Memang makhluk-Nya Allah, kalau sudah sampai waktunya, tidak akan dapat dihalangi.
- Sudah sampai pada ketentuan, dalem sampai pada ajal. Dalem menghembuskan nafas terakhir dengan tenang, seperti yang tidur nyenyak, terkulai cahayanya terang. Yang bagus bersinar lengkung, maya t bercahaya terang.
Wanita-wanita riuh menangis, istri dan putra menangis sambil mengucapkan sesuatu. Karena kita itu, ingin jangan berpisah, hidup terus di dunia. Buktinya bila ada yang meninggal, ramai di tangisi.
. 805. Kemudian jenazah diurus, sebagaimana adat kebiasaan. Adapun dimakamkannya, di desa Cibadak, di tengah-tengah kota. Terkenal yang menyebut, makam Dalem Karang Anyar. IITunda yang sudah meninggal. Dikisahkan kangjeng dalem putra, sangat tersohor, menerima berbagai bintang, bintang singa Nederland, dan bintang kerajaan timur, beserta bintang dari Perancis.
- Terkenal sampai sekarang, yang menyebut Dalem Bintang. Terkenalnya ke seluruh (negeri), serta kekayaannya, tiada yang menandingi. Harta bupati Bandung, uangnya puluhan laksa (ratusan ribu).
- Putranya yang terdaftar, yang diketahui pengarang, yang sulung itu Raden Suryakarta Hadiningrat, patih di Cicalengka, yang sekarang pensiun, yang memperoleh gelar arya.
- lagi pula kaya subur makmur, tiada kekurangan sesuatu. Adapun anak kedua itu, Raden Rangga Wedana, Raden Wiranataningrat, Kewedanan Cisondari Bandung, sekarang (ia) sudah pensiun.
- Putranya laki-lak i lagi, Gan Wiranatanagara, yang sudah menjadi haji. Dan dua adiknya, semua laki-laki,
namanya tersebut, Raden Wiranagara.
- Adiknya seorang lagi, Gan Yahya Natanagara. Jadi, lima (anak) lelaki (s emuanya) itu. Adapun (anak) perempuannya empat. Pertama Agan Lembana, kedua Agan Galuh,, ketiganya Agan Legan.
- Keempatnya anak perempuan, Agan Sumarni yang paling kecil, prameswari bupati, jadi istri bupati Lebak. Sekarang lebih mulia, mendapat pensiun di Bandung, lagi pula kaya // tidak kekurangan 146
- Wanita yang subur makmur, kaya raya banyak hartanya, gedung alangkah bagusnya, sungguh seperti keraton putri. Oleh karena ia masih muda, serta kreatif bisa mengatur, menga tur merapikan halaman.
- Jumlahnya empat putri, dan lima pria. Jadi, putranya sembilan, puteranya Sang Dalem Bintang. Sekarang hikayatnya, ki ta ringkas yang bagus, jangan terlalu panjang ceritanya.
- Sekarang terselang lagi, oleh cerita yang lain,
barangkali pem baca mau. Dikisahkan yang di belakang, yaitu Agan Eros Kembang. Sekarang (ia) sudah tua, yaitu Raden Adilaga,
- berpangkat wedana di kewedanan, Kewedanaan Ujung Berung Wetan. Tidak lama kemudian (ia) pindah ke Peser, (?) masih tetap jadi wedana, mendapat gelar rangga. Badan (-nya) tinggi tampan sigap, wajahnya seperti (orang) Eropa.
- Sekarang dikisahkan lagi, Dalem Bintang kita ceritakan, kita pendekkan saja. Tahun tujuh puluh empat, waktu itu saatnya, Kangjeng Dalem Bintang wafat, makamnya di Karang Anyar. //
- Tak lama datang surat keputusan, 147 yang diangkat waktu itu, yang jadi pengganti bupati, adik seibu seayah, tinggi badan sama wajah serupa, dialah patih Bandung, Demang Kusumahdilaga.
Yang pin tar serta baik budi, bijaksana dan perkasa, pada pekerjaan lebih rajin, yang sayang pada mkyatnya. Menggetar seluruh wilayah, gemuruh di kota Bandung, Raden Demang Patih diangkat.
Adapun yang menjadi patih, pengga nti patih di Bandung, yaitu masih kakaknya, sauda ra dalem seayal}, patih dari Cicalengka, pindah jadi patih Bandung, Dcmang Wiradikusumah.
- Seba lrnya Raden Patih itu, pindah dari Cicalengka, wakl u it u gajinya naik, menjadi tiga ratus rupiah. Ada pu 11 di Cicalengka, dua rat us lima puluh, gajinya dalam sebulan.
- Ada pun yang menjadi patih, di /\fdl'ling Cicalengka, (ialah) wedana kota, Raden Suryakarta Hadiningrat, put ra Dal em Bandung. Yang 1adi sudah diceritakan. Bcgilulah kehendak yang kuasa.
- Mengisahkan raden patih, tadi okh saya terlewat, sekarang baru diceritakan, karl'na erita bermacam-macam, suka ml·mbingungkan pikiran. // Sekarang baru dituturkan, 148 cerita Raden Arya Patih,
- yaitu Raden Patih, Arya /\dinagara. Setelah ia meninggal, digant i oleh putranya, oleh wedana di Lembang.
Ia menjadi patih Bandung, Raden Demang Ardikusumah.
- Ia bekerja seperti ayahnya, tingkah lakunya sempuma, bijaksana serta cerdik. Lama (ia) menjadi patih. Setelah wafat (ia) diganti, oleh kometir kopi yang mashur, Demang Kusumah Dilaga.
- Menjadi patihnya kreatif, dapat mengurus pekerjaan, semua terawasi, tidak ada yang terlewat, serta rajin beribadat, ke mesjid setiap waktu, shalat berjamaah.
- Menakutkan yang melihat, bila ada kebakaran, pedang menyilang ke utara ke selatan, berputar bagaikan kincir, penampilannya menakutkan, cambang keriting janggut lebat, menyilaukan yang melihat.
- Sikapnya raden patih, bila terjadi kebakaran, celana putih ketet, baju hitam bermode, banyak kancing Wilemnya, pecis pasmen mas berkilau, menyoren pedang hampir kena tanah.
- Pedang disabet-sabet, sambil berteriak-teriak,
memerintah semua orang, harus maju bertindak, me madamkan api itu, Raden Demang sungguh gagah, bagaikan Amir Hamzah sedang berperang. //
- Lanjutnya, dikisahkan yang tadi, 149 yang menjadi bupati itu, tahun tujuh puluh empat akh ir, tahunnya saat itu, Bandung gemah raharja, kaya raya rakyat cukup, pemerintahan aman.
- Murah hati pengasih, pada rakyat di bawah, tiada ha ti jelek sedikit pun. Bila marah pada bawahannya, sesudahnya dibujuk, dengan paka ian yang bagus, at au di beri uang.
- Ada ganjaran yang baik, suka dinaikkan pangkatnya, malah sambil diberi hadiah. Begitulah kebiasaannya, jauh dari niat menjatuhkan. Priyayi selamat sentosa, karena kesalahannya tidak dibuat-buat. XXlX. Pupuh Kinanti
- Tersebutlah Kangjeng Dalem Bandung, memperoleh pangkat adipati, Kangjeng Kusumah Dilaga, (karena) lama menjadi bupati.
(la) mengadakan pesta sentosa, alangkah ramainya.
- Pestanya lebih seminggu, ongkosnya yang tercatat, banyaknya sebelas ribu, lebih empat ratus rispis, tahun delapan puluh lima, sekian habisnya uang.
- Jadi hanya sebelas tahun, menjabat tumenggung bupati, oleh karena itu pesta sangat ramai. Bupati sangat suka hati, // menak-menak semuanya, 150 kenyang makan dan mirrum.
- Kue yang dipakai menyuguhi, kapadina dan perstik, kue memakai es semua, tuan-tuan dari Betawi, yang mengurusi makanan, minuman apalagi.
Selama dalem menjabat, di Bandung suka dan kaya. Sekarang singkat cerita, hati dalem sangat ingin, ingin mempunyai anak, karena dalem tak punya anak sama sekali. 83 8. Memohon pada Yang Agung, pada Allah Yang Pengasih, serta pada Nabi Muhammad, kepada leluhur begitu pula, leluhur Bandung semua, memohon keramat nabi.
Gusti Allah Maha Luhur, mengabulkan hasrat hati, karena Allah Maha Pemurah, asal kita bersih pikirn, memohon dengan sempurna, tentu dikabulkan Tuhan.
- Adapun istri bupati, ada tiga orang istri. Pertama permaisurinya, bernama putri Retnadi, yang indah serta mulia, perilakunya menarik. 84 l. Selamanya ia luput, tidak punya anak seorang pun, mandul kosong ·selamanya. Adapun Raden Retnadi itu, putra dalem Cianjur, Dipati Prawiradireja. //
- Istri kedua tersebut, 151 Enden Ugi yang cantik, putranya Raden Kumendang, Prajurit Indra Kusumah, di Bandung jadi panglima perang. Ia menjadi istri bupati.
- Istrinya yang nomor tiga, Enden Sukarsih yang manis, yang indah dan mu lia, serta pintar teliti cerdas, yang bijaksana sempurna, pantas sebagai istri bupati.
- Adapun Enden Ayu, Nyi Raden Ayu Sukarsih,
putra Raden Prajadipura, tempat tinggalnya di kota Bandung. Adapun Raden Praja, ayahnya ditulis berikut.
- Nama yang tersebut, Raden Adiwirja kumetir, tanaman kopi di Lem bang, ayahnya tersebut lagi, Raden Prajamanggala, jabatannya patinggi,
- di desa Cikupa termashur, termasuk kewedanan Banjaran. Adapun ayahnya dia lagi, Raden Prajadipura, jabatan ngabehi cutak, di daerah Dayeuhkolot.
- Dikisahkan ayahnya dia, yang diperinci (berikut) ini. Raden Sutadiraksa, wedana di daerah, Dayeuhkolot dahulu, sudah lebih seratus (tahun).
- Begitu pula yang tersebut, tertulis dalam sejarah, putra bupati dahulu, (adalah) Raksakuswnah bupati, daerah Cikupa Banjaran. Begitu (-lah) keterangan dari kakek.
- Raden Praja yang tadi tersebut, ayahnya Enden Sukarsih, me mpun yai seorang saudara, // seibu-seayah pasti, 152
bernama Raden Yudasastra, jabatan(-nya) mantri gudang kopi,
- di Cirateun daerah Bandung, saudaranya hanya seorang. Sekarang yang dikatakan lagi, istri kedua (adalah) Neng Ugih. Dia tidak punya putra, mandul seperti Juragan Dipati.
- Istri ketiga (yang) diceritakan, yang bernama Enden Sukarsih, telah tiga bulan mengidam. Alangkah suka hatinya bupati! Selamatan nazar setiap Jum'at, para kyai berkumpul.
- Pada umur tujuh bulan, (diadakan) selamatan tujuh bulan (tingkeban). Bersama-sama ikut mendoakan, semoga dikabul Yang Widi, enden melahirkan anak yang mulia, (anak) lelaki (yang) mempesona.
Dikisahkan Enden Sukarsih, bermimpi hampir setiap malam. Pertama (bermimpi) kejatuhan bulan, bulan jatuh pada badan, dan bermimpi memakan bunga, ounga-bunga yang harum. 854, Berarti (akan) mendapatkan keselamatan, anugerah dari Maha Suci, pemberian Allah Taala. Sampailah saatnya Neng Sukarsih, (mengandung) sembilan bulan lalu melahirkan, (melahirkan) anak lelaki (yang) tampan.
Dalem sangat suka hati, memuji syukur Yang Widi, pada Allah Yang Maha Pemurah, (yang telah) mengabulkan permohonannya. Waktu itu segera (mengadakan) upacara, selamatan (bagi) sang putra. //
- Kangjeng rupati berkata: 153 "Nama anak ini, bernama Aom Muharam, mengambil dari nama kakeknya almarhum, Kangjeng Dal em Karang Anyar, namanya ketika masih kecil".
- Meriam ditembakkan gemuruh, menggelegar enam puluh kali. Terguncang seluruh kota, kalangan rakyat tahu, semua bergembira ria, gembira melebihi besarnya gunung.
- Adapun pada suatu waktu, setelah anak itu besar, Dalem Kusumah Dilaga, pergi ke Kabupaten Cianjur, bertemu dengan dalem dipati, bupati Kabupaten Cianjur.
- Bupati yang sudah tinggi harkatnya, Bupati Prawiradireja, yang (telah mendapat) banyak gelar kehormatan, arya dan adipati, aneka macam bintang mas, beserta )llyung kuning.
- Dalem Bandung berkata pelan, berkata dengan sangat manis.
Katanya: "Ayahanda, mempunyai putra lelaki, namanya Muharam, umurnya tujuh tahu11 lebih.
- Mari (ki ta) berbesanan, dari ananda wanita, lelakinya dari ayahanda. Dalem Cianjur susah hati, bagaimana menjawabnya, karena tidak punya putra wanita.
- Ada juga seorang cucu, tapi (ia) telah berumah tangga. Namun lalu (ia) menjawab: "Ya (saya) ten tu mengikuti, ikut sekehendak ayahanda, dari ananda nanti wanita". ·863. Setelah disetujui,11 (lalu) makan minum bersenang-senang. 154 Setelah selesai makan bubar (pertemuan). Dalem Kusumah Dilaga, sudah tiba ke Bandung. XXX. Pupuh Pucung
- Dikisahkan zaman dulu, sekarang diceritakan, setelah dalem menyerahkan kekuasaan, Dalem Bintang sudah wafat.
Raden Rangga Sastranagara dituturkan, tadi tidak diceritakan, sekarang pangkatnya naik, yaitu (menjadi) kumetir kopi Bandung sebelah selatan,
serta mendapatkan gelar disebut rangga. Sekarang dikisahkan, di daerah Ambon (dia) gagah, (mendapat) pangkat kepalanya letnan perang.
- Mendapatkan gaji seb ulan lima puluh, dari yang berkuasa, pemberian pemerintah, menumpas kaum perusuh Ambon.
- Diceritakan pada tahun tujuh puluh lima, lalu disurati, oleh dalem Bandung, saudara(-nya), yaitu oleh Kang jeng Kusumah Dilaga.
- Segeralah (ia) kembali dari Ambon cepat-cepat. (la) sudah naik kapal, di dalam kapal sangat dihormat, sebab memakai seragam letnan perang.
- Kapa! tiba di pelabuhan Betawi, lalu (ia) turun di situ. Tiba-tiba bertemu dengan saudara, Nyai Raden Raja yang pulang dari Mekah. //
- Di Betawi kedua-duanya bermalam bersama, 155 tempatnya di Pintu Kecil, di Mandor Dipa tinggal, dua tiga hari mengistirahatkan diri.
- Dikisahkan Raden Muhamad Hamim di Bandung, Raden Penghulu Landrad, afdeling Cicalengka, segera berangkat ke Betawi menjemput ayah.
- Yaitu ayah yang sudah diceritakan tadi, yaitu Raden Rangga,
Sastranagara yang gagah, kebetulan bertemu di dalam kereta rembay.
- Kereta setum dari Kota menuju ke arah selatan, duduknya dekat sekali. Raden Rangga berpakaian gagah. Lalu bertanya: "Raden dari mana?"
- Raden penghulu menjawab sambil tersenyum: "Saya akan menjemput, ayah saya yang akan segera datang, dari Ambon, (bernama) Raden Sastranagara".
- Raden Sastranagara tersenyum. "Aduh, ini anak(-ku). Oulu kan masih kecil!'' Tapi tidak berterus terang saat itu.
- Raden penghulu sangat merasa kesamaran, bahwa dia ayahnya, (karena) janggut dan jambang sangat panjang, mer ah padam pakai pacar,
- (juga karena) lamanya dua puluh satu tahun, sama sekali tidak bertemu. Kemudian ayahnya berkata pelan: "Raden tengok ke rumah mandor dipati!"
- Dari sana (mereka) berpisah (yang satu) ke utara // (yang satu) ke selatan. 156 Segera (mereka) sama-sama tiba, ke tempat pemondokan itu. Di situlah ayah dan anak sating mengaku.
- Syair lagu sekarang dipercepat, ceritanya terlalu panjang.
Singkatnya telah tiba saja, Raden Sastranagara ke Bandung.
- (la) telah bertemu dengan adik(-nya), Dalem Bandung, Kusumahdilaga. Saling rangkul dengan saudara, alangkah rindunya karena (mereka) sudah lama sekali (tidak bertemu).
- Penghormatan (berupa) makanan minuman berdatangan, berkumpul satu ruangan, dengan sanak saudara. Setelah (selesai mereka) masing-masing pulang.
- (Raden Sastranagara) ditempatkan oleh bupati di (pendo po) sebelah selatan, di pinggir jalan, sebelah selatan kolam besar. Uang bodel (?) aiserahkan semua (padanya),
- kalau tidak salah (sebesar) seribu delapan ratus. Selain pemberian, adik dalem berupa uang, (berupa) pakaian alangkah banyaknya.
- Senang hati sekarang (ia) ada di Bandung, berkumpul dengan anak istri, malah sampai berhenti dari jabatan. (Ia) wafat tiba azal keluar dari dunia fana. XXXI. Pupuh Mijil
- Dikisahkan Kangjeng Raden Adipati, bupati di Bandung, Dalem Kusumahdilaga itu,
sudah sampai pada takdir. Dalem sudah tiba azalnya,11 waktu itu sudah wafat.
- Dimakamkan di tern pat (terse but) tacii. tentu di Gbadak, bersama ayah dan saudara. Tahun sembilan puluh tiga, waktu paduka wafat, kalau tak keliru.
- Jadi menduduki jabatan adipati. yang dikisahkan, tujuh belas tahun. Selamanya menjadi bupati, di Kabupaten Bandung, sungguh sejahtera.
- (Beliau) meninggalkan seorang putra masih keciL yaitu Aom, tiada lagi puteranya hanya seorang, Aom Muharam yang mempesona. keturunan satria. keturunan bangsawan yang mulia.
- lbundanya sangat mengasininya, putranya dimanja, sekolahnya masih di Bandung. Lama-kelamaan Aom pindah, ke kota Betawi, karena sekolahnya (lebih) tinggi.
- Serta ada yang mengasihi, yaitu (mengasihi) Aom segalanya, menguruskan segala sesuatunya saja. Oulu yang mengasihi itu,
Tuan Temuk Maefti, yang benar-benar mengasihi.
- Setelah Tuan Temuk kembali (ke negerinya), ada penggantinya, yang mengasini itu Tuan Hazeu, serta mengurus anak itu, sungguh dikasihi, dituntun (ke jalan) keselamatan.
- Dikisahkan Kangjeng Dalem Dipati, (bupati) Cianjur terceritakan. Istrinya dua orang. (Pertama) Raden Ayu Napsiah yang mempesona, kosong tak berisi, tidak mempunyai putra mandul.
- Yang kedua Enden Yaya yang manis. Dialah yang banyak (putra). (Ia) sudah punya putra wanita. Dua orang perempuan sangat // cantik, yaitu Agan Wiyarsih, usianya delapan tahun.
- Adapun yang kedua Gan Sutarsih, Ia ama cantik, terang bercahaya (wajah) putri itu. karena putra bupati, Keturunan sejati, keturunan yang mulia.
Adapun putra (yang bemama) Gari Wiyarsih, kehendak ayahnya, segera ditikahkan saja, karena dulu sudah berjanji, dengan ayah dalem, Kangjeng Dalem Bandung.
Maka Aom Muharam terlaksana, menikahnya sudah, pada tahun saat itu, tahun seribu sembilan ratus, dan lebihnya lagi, yaitu empat tahun.
- Aom itu masih terus sekolah, tenang di Betawi. Adapun pada tahun sepuluh, Aom Muharam telah keluar, (dari) sekolah di Betawi, sudah pulang ke Bandung.
- Karena mertua sang dalem dipati, bupati sudah wafat. Bupati Cianjur sudah tiada, belum ada yang menggantikan. Adapun Aom menjadi, diangkat (sebagai) juru tulis.
- Juru tulis Kewedanaan Tanjungsari, (di) Sumedang (yang sudah) lama. Aom mengganti nama, mengambil nama dari kakek almarhum, uaknya pula. Itulah yang diikuti.
- Berganti (menjadi) Raden Wiranatakusumah. Itulah penggantinya // Istrinya mash'l sedang sekolah, di Bandung sekolah paderi, di Cloester Belanda, masih muda menuntut ilmu.
XXXII. Pupuh Sinom
- Kita ceritakan yang di belakang. Jaksa BanJw1g yang kreatif, Raden Suryalaga, disebutkan oalam surat keputusan, ketika jadi, diangkat (sebagai) jaksa di Bandung, diiringi gelar arya, anugerah pemerin tah yang adil. Disebutnya Arya Jaksa Suryalaga.
- Lama-kelamaan aiceritakan, bertempat di kota Bandung, Kecuali keKayaannya, sesamanya tiada yang menandingi, (ia) membangun srimanganti. gedW1g keraton sangat bagus. Waktu itu tiada tandingnya, oicat dan dilapisi mas kuning. Lokasinya di Desa Suniaraja.
- Pasar Baru sebelah timur, menghadap ke utara sangat asri, menghadapi jalan Ke timur, yang sekarang men uju ke penjara. Sw1gguh senang dan kaya, Suryalaga di Bandung, bercengkrama bersenang-senang, gampang simpanan uang, yang menjadi jalan (kesejahteraan) berkat kepintaran.
- Halaman (rumah) memakai pin tu, yaitu dua pin tu gerbang, memakai rumah jaga, (penjaga) meniru seperti prajurit, pacalang di dalam kota,
menjaga biasa bergiliran. Di pin tu gerbang itu, kopral-kopral yang mengomando. .Begitulah perilaku Jaksa Suryalaga. //
- Di de pan halaman (rumah ), 160 terdapat babancong yang asri, dari tempat menghadap (paseban ), yang besar dan menarik. Paseban itu diisi, oleh degung pelog (dan) salendro, ditabuhnya setiap (hari) Minggu, berbunyi ditabuh sejak pagi. Raden Arya Jaksa sambil berkumpul.
- Apalagi mempertunjukkan tayuo, selang dua tiga malam, temannya para bangsawan, (orang) Jawa pasar juga ikut, ronggengnya yang can tik, Nyai Golek yang menarik, kedua Nyi Mas J uwita. Kesenangan jaksa yang biasa, i;angat menyenangk
Kalau tidak mengadakan tayuban suka mempertunjukkan wayang. Pada malam hari (mempertunjukkan) wayang kulit, wayang golek bila siang hari. Dalangnya yang kreatif, Pak Konco namanya, yang disebut Paresut, suaranya baik mempermainkan (wayangnya) terampil. Atau dalang yang lain, Ki Rumiang dalang dari daerah Tegal.
Serta dalang (dari) Pekalongan, Ki Sawat dalang kreatif. Mereka semua diundang, mempertunjukkannya berganti-gati. Arya senang hati, mengantar nafsu kesenangan hati, semua keinginan dikerjakan, memenuhi semua keinginan hati, hanya main perempuan tidak pernah sama sekali.
- Adapun kekayaannya, beratus-ratus sapi dan kerbau, kuda (dan) domba sangat banyak, sawahnya begitu juga, seratus bahu lebih, (di) tiap desa tiap kampung, kolam besarnya puluhan, padi ratusan ikat lebih, warung sewaan berjejer di pinggir jalan.
- Keuntungan sangat banyak, setiap bulan menerima uang, seribu rupiah pun ada, keuntungan arya sebulan.// Kuda pemburu juga, 161 setiap kewedanaan berpuluh-puluh, memburu kijang setiap bulan, dendeng (daging) kijang juga melimpah. Jaksa Suryalaga sungguh kaya raya.
- Kendaraan kereta, milor, tenda serta ancis, kuda hitam berpasang-pasang, kuda belang (dawuk) rata sama, sepasang lagi (berbulu) merah (gambir). Tiga pasang kuda bagus. Bergaya gagah pintar bicara,
Raden Arya kaya sejahtera. Terlaksana semua keinginan hatinya.
- Adapun juru tulisnya, pertama Raden Sadeli, atau Sastrawilaga, putra arya sendiri. Kedua jurutulis Raden Kartadipura (yang) tinggi (badannya). Keponakan Arya Jaksa, dari Kabupaten Purwakarta. Ketiga, juru tulis bemama Mas Jenal.
- Adapun putra kedua, Raden Penghulu Pengadilan Negeri, di Kabupaten Cianjur. Putra ketiga bernama. yang didaftarkan, dalam hikayat tersebut, Raden Rangga Kartakusumah, Wedana Kewedanan Cikalong, yang berada di bawah Kabupaten Cianjur.
- Putranya yang keempat, perempuan Nyai Raden Inda. Adapun putra kelima, bernama Raden Sumadipura, ia menjadi bangsawan, Camat Palumbon Cianjur. Nah sekianlah kelima putranya. Adapun yang perempuan, kakaknya itu Raden Puranagara,
- menjadi camat Cempaka, bawahan Kewedanan Cikondang, masih Kabupaten Cianjur. Yang begitu yakin,
bukti // orang yang baik budi, berakal serta berilmu. Hsilnya mulia, kaya harta banyak uang, banyak anak senang sekali menjadi pangkat.
XXXIII. Pupuh Asmarandana
91 7. Dikisahkan ada polisi, menyelidik di Priangan, mata-mata Kangjeng Residen, waktu itu biasa, mencari kesalahan, kalau-kalau ada yang tersebumnyi, kesalahan para menak.
91 8. Namanya yang menyelidiki, sersan keresidenan, yang bemama Abang Istor, temannya Abang Cempaka, dan Asep Maeran, Agus Jereng juga ikut, berkeliling ke seluruh tanah Priangan.
- Waktu sampai di Bandung, di situ ada temuan, Arya Jaksa sangat kaya, Oleh polisi diselidiki, jalannya sampai (menjadi kaya), dicatat dikumpulkan, penemuan polisi itu.
- Perkara itu tidak dirinci, entah apa sebabnya, di sini tidak diungkapkan. Lalu (perkara itu) segera dilaporkan, kepada yang berkuasa,
Kangjeng Residen Cianjur, kesalahan Arya Jaksa.
- Telah mendapat (ucapan) tarima kasih, Istor beserta temannya, malahan mendapat hadiah, ongkos pengganti biaya. Bang Istor sudah pulang, serta sambil berterima kasih, (atas) pemberian Kangjeng Tuan.
- Setelah sampai pada Kangjeng Residen, catatan perihal Arya Jaksa, lalu (tinggal) membuat // sruat saja, 163 pada bupati Bandung saat itu. Memanggil lagi Arya Jaksa. harus cepat ke Cianjur. Surat sudah tiba di Bandung,
- diterima oleh Sri Bupati. Sudah dimengerti semua isi surat. Dalem berkata pelan : "Hai Paman Arya Jaksa, kok ini ada surat. Paman dipanggil segera, oleh Kangjeng Residen,
ke Cianjur cepat-cepat". Arya Jaksa menjawab. "Paduka ingin bertanya, saya belum tahu, dipanggil perkara apa, sebab (saya) harus ke Cianjur?
. Saya ingin tahu,.Terdengar Dalem berkata : "Entah saya tidak tahu.
Sekarang silakan saja, Paman Arya lekas-lekas, temui Kangjeng Residen ". Arya Jaksa mohon pamit, · menghormat di hadapan paduka.
- Begitu sampai di rumah, bercerita pada istrinya, dan kepada semua putranya, bah wa dipanggil dengan segera. "Kakak tidak enak perasaan, ten tu ada yang hasud, memfitnah pada diri kakak".
- Istri (dan) putra sama menangis, karena suaminya bersedih. Namun diserahkan saja, kepada Allah Taala, memang Arya Jaksa, ilmu hak sempumanya cukup, sudah tamat pada ma 'rifat.
- Ringkasnya Arya berangkat, naik kereta pos cepat. Ringkasnya // sudah tiba saja, 164 kepada Residen menghadap. Kata Kangjeng Tuan : "Raden Arya dipanggil. Sekarang perintah saya,
Arya harus tinggal, sementara di sini (di Cianjur). Diam di Raden Jaksa saja ... Raden Arya lalu menghormat sembah, pergi dari hadapan tuan, menuju jaksa Cianjur. Sudah be rt emu (ia) dengan. Raden J aksa ( Ganjur ).
Arya di situ sudah menetap, sudah tinggal di Raden Jaksa, Raden Arya dihukum sementara. Diceritakan Kangjeng Residen, mengirimkan surat catatan. (la) meminta pada bupati Bandung, (agar) surat itu harus diperiksa.
- Catatan polisi, pelanggaran Arya Jaksa, semua ini harus dibuktikan. Oleh dalem harus diperiksa, serta meminta laporannya. Di bawa oleh bupati Bandung, surat perintah itu. 93 2. Diperiksa perihal perkara (pelanggaran ), setiap orang yang disebut, tak terlweat seorang pun, dibuat proses verbalnya. Setelah selesai semua, lalu dibawa ke Cianjur, oleh dalem sendiri.
- Kangjeng Bupati sudah bertemu, tabik padakangjeng tuan. Tuan Residen pelan, menyampaikan ucapan selamat datang. Lalu (ia) mengambil hasil pemeriksaan. Arya Jaksa dipanggil, (untuk) mencocokkan proses verbalnya. //
- Ringkasnya puisi ini, 165 hasil pemeriksaan sudah diberangkatkan, ke Betawi kepada pembesar, serta pernyataannya, Raden Arya J aksa.
Keputus(ln pemerintah datang (dari) gubernur jenderal dari Batavia.
- Bunyinya surat keputusan itu, Arya Jaksa diberhentikan, dari jabatan jaksa di Bandung, serta tidak diicinkan pulang, ke Bandung ke rumahnya, harus menetap di Canjur. Begitu keputusannya.
- Raden Arya Jaksa sudah menetap, enak-enak di Cianjur. Adapun semua harta kekayaannya, yang di Bandung dijual (semua). Uangnya sudah dibawa, banyaknya laksa ribu; Di Cianjur juga (ia hidup) mulia.
- Rumahnya di Selakopi, di dekat perbatasan, perbatasan sebelah barat, Karena menak budiman, sastra wan dan harta wan, di Cianjur bertambah cukup, bertambah kekayaannya.
- Ketia sudah lama, kira-kira dua tahun, lalu Raden Arya itu, menghadap kepada Tuan Besar. (la) menyampaikan masalahnya. ' (saya) tidak mempunyai kesalahan sedikit pun, hanya karena fitnah besar saja.
- Buktinya karena rakyat, seorang pun tidak ada yang mendakwa.
Walaupun diperiksa oleh dalem Bandung, mereka mungkir semua. Adapun saya hidup cukup, karena hemat sekali (hidup saya). //
- Mengguna kan rizki, ki6 tidak boros dibuang percuma, Itulah yang menjadikan iri. sesama teman saya. Karena saya kaya, rumah besar pakaian cukup, bu kan hasil dari jalan salah. 94 l. Karena sudah nasib saya, sudah terbilang biasanya. pada yang berkecukupan suka iri. sirik pada yang senang. suka benci pada yang kaya, hasud pada orang berkcukupan. Semua itu (saya) terima,
serta ganjaran (kepada) saya, yang membong kar (k asus) Munada, yang membunuh asisten (residen), 'di Bandung yang menjadi berita, justru oleh saya sendiri. Tetapi akhirnya kok begitu, say a dituduh orang jahat. 943 Hal perkara itu, saya menyerahkan raga, mohon pertimbangan besar, keadilan yang berkuasa, anugarah sempurna, apa adanya saya haturkan, kepada Baginda Tuan Besar."
Jawaban pada pertemuan: "Tunggu Raden Arya Jaksa ! Sekarang pulang saja." Raden Ayat (pamit) mundur, dari Betawi sudah pupang. Jauh sampai ke Cianjur, tak dekat datang ke negara.
- Pembesar sudah menimbang. Sungguh Raden Arya Jaksa, apa yang dikemukakan tak bohong. Seorang setia pintar dan tangkas, bijaksaja (dalam) mengolah negara, tertib teratur serta cukup (baik). Ciri (ia) dapat (berbuat) bijaksana.
- Tidak sampai lama lagi, surat keputusan datang,I I (la diangkat) menjadi jaksa kepala. 16 7 di Balitung negeri seberang. (la) berganti gelarnya, sekarang bergelar tumenggung, Tumenggung Surialaga.
- Dari Ciajur (ia) sudah berangkat, cepat-cepat ke Betawi, Lalu (ia) menghadap saja, kepada Paduka Tuan Besar. (ia) menyampaikan terima kasih (dan) hormat. beribu-ribu rasa syukur, menerima at as anugerah.
- Dari Betawi (ka) sudah pindah, ke negeri sebrang Balirung. Katanya gajinya pun, sampai tiga ratus rupiau, gaji dalam sebulan.
Yang kaya bertambah cukup. cukup makin bertambah mulia.
- Kehor matan bertambah lagi, leb ih da ri masa lalu, oleh semua bangsa Eropa, diakui sahabat (dan) dihormati, karena baik perangainya, Raden Tumenggung Balitung, termashur di mana-mana.
- Bahkan tidak pindah lag i, di Balitung sampai ajal, kem bali ke alam baqa, jenazah (-nya) dihormati, oleh semua bangsawan, pejabat Belan da begitu pun. mengantarkan ke kuburan.
- Hal ini menjadi buk ti lagi, begitu kenyataannya, menak pandai bicara (dan) ta mpan. setia clan bijaksana, sempurna penget ahuannya. Terbuk ti sampai (ia) wafat. tak hentinya dipuja dihonnat.
- Harus ingat anak-anak, mengambil kiasan dan ibarat, dasarnya baik hati, harus sayang pada orang, mengasihi memberi ketenteraman, // akan dibalas ol eh Yang Agung, 168 oleh Allah Yang Kuasa.
- Jangan suka iri pada orang, suka mencela serta membenci.
Tidak tahan melihat yang rap i, benci pada orang yang berpakaian bagu s, benci pada yang kaya, perilaku tinggi melebihi gunung. kehendak menyamai awan.
- Pada oa ng miskin merasa benci, pada yang kaya begitu pula, pada yang pintar memperolok, karena saya sendiri menak, pu tranya yang berkuasa. Kalau perilaku begitu terns, tentu dibenci oleh Allah.
- Walaupun anak bupati, tentu lepas tak akan tercapaL tak akan menrima kedudukan, terambil oleh yang lain, yang sempurna berbudi. Begitulah (yang berlaku) dulu, cerita jaman ba heula. 95 6 Yang muda agar raj in teliti, untuk menjaga perasaan, walau pintar-pintar pun, ap abila tidak disertai, dengan kebaikan hati, (karena kebaikan hati) itu menjadi pengangka !. pada kemuliaan diri.
- Adapun juru tulis yang seorang, Raden Kartadipura, yang menjadi pembantu jaksa besar, berpindah ke lain daerah, menjadi jaksa di Garut, malah sampai pensiun.
9S :;Jaksa Bandung diganti, oleh Raden Suryadipraja,// mantri gudang kopi Ngantong, mantri itu terpilih,. pintar dan bijaksana, Ngantong itu bagian da ri Bandung.
- Keponakan Demang Biskal tadi, yaitu dari ibunya, ibu jaksa baru itu, Nyai Raden Asmara, saudara Demang Biskal. Manguangara dulu, (yang) pergi ke Surabaya.
- Menjadi jaksa lama, sampai memperoleh bintang. bintang mas yang berkilauan. beserta gelar rangga, dan gelar demang. Begitulah pengasih yang berkuasa, kepada Raden Demang Jaksa.
- Tiga puluh tahun lebih, dinasny a demang jaksa, sampai berhenti, pensiun setiap bulan. (la) bertempat tinggal di Bandung, senang kaya selamat sejahtera, dikelilingi anak cucu ,.
- Hanya pada akhimya menemui, kecelakaan diri, Raden demang Jaksa itu, harus pindah dari Bandung, ke kota Pontianak.
Di sana (ia tinggal)sampai wafat, Entah apa sebabnya.
- Yang mengarang tidak mengerti, belum mendapat berita, tentang perso alan itu :i. Entah kenapa sebabnya, sungguh gelap sekali. Dalam hal itu mohon maklum, belum memperoleh keterangan
- Beliau juga diganti, mengganti Kartipura, yaitu dari pangkat mister, guru sekolah di Bandung. Raden Suryakusumah menjadi menantu dalem Bandung, Kangjeng Dalem Karang Anyar.I I
- Sudah tetap stabil Iagi. uo pangkat-pangkat semuanya, selesai heres padipuma, di Bandung tida kekurangan, rakyat makmur menak kaya. Perjalanan selamat sejahtera. Selamat, negeri terang-benderang. XXXIV. Pupuh Balakbak 966 "Dikisahkan Upas Balon yang celaka dibacok, oleh M.mada pada waktu (terjadi) kebakaran, tergeletak, (la) digotong oleh para pr ajurit ke.mmahnya di sebelah Utara
Lama kelama an Ki Mas Upas sudah sembuh. Upas itu diobati oleh Tuan Dokter negara, tetapi badan clan tangannya menjadi caca t
Jadi Baron itu tidak bisa (lagi.) melakukan pekerjaan. (ia) berhent i saja penssun saat itu dipersen, persen biaya hidup sepuluh rupiah sebulan tak kurang.
- Kedudukannya dit i oleh anaknya, yang bernama Upas Qang yang gagah dan berlagak, yang muda makai seragam upas (nampak) mentereng.
- Karena turunan pengabdiannya terhadap menak tak ber ubah, cekatan baik setia seperti ayahnya Si Ujang itu, dia sangat disayang dan terpuji (pekerjaannya). //
- Sekarang mencer itakan Istor. Abang Sarean. 171 Sarean terpakai oleh Res iden di Cianjur. Setelah Res iden Klomberg berganti (keadaan) jidi lain,
- pamornya menjadi kurang manjur (dan) sakti, tidak seperti jaman Klomberg, Residen (sekarang) sudah menu run. Kehidupan pun menjadi berkurang, rrerosot.
Kabarnya Ki Istor berbuat yang tak halal menyeleweng, teman dekatnya yang tadi disebut menjadi buruk (laku), banyak pencuri, penjahat, juga pencopet. 97 4. (Mereka) mencar i kerbau-kerbau jantan di Rongga, dan kerbau itu banyak dar i Kewedanan Rajamandala, begitu pula dari Kewedanan Fandasoli Plered. 97 5. Kerbau-kerbau itu semua dibawa secara sembunyi, dibawa ke Cianjur kepada Abang Istor Sarean (di) res iden, dijual oleh Bang Istor kepada pemotong hewan (untuk) disem belih. 97 6 llf>erbuatan Sarean begitu (akhirnya) ketahuan, oleh Raden Demang J aksa Suryapraja diperhatikan. oleh karena tajamnya Demang Jaksa, ia berhasil dirantai
Keputusan Pengadilan Negeri Is tor i 111 dibuang ke tempat lain, bersama temannya yang bernama Ahang Cemaka dan Jereng serta Asep Maeran pun tak ketinJ'.alan diran)Y4
//Yang meliha t janda wanita dan gad i",// 172 yang pincang yang timpang da•J'. '1porenges" yang cacat tangan Iuka kaki.dan ka111 pl ng.
- Menak dan rakyatkaget melihat pl'sakiran Istor itu, oleh karena di Prlangan (lstor) kesak liannya paling gagah, yang manjur, terutama yang disay a11v olch residen.
980., Akhirnya bertemu dengan (orang 1 y au mengaibkan dirantai, itu barangkali pembalasan dari T11h;111 Yang Maha Kuasa, karena perbuatannya suka memhm I n-laka pad a banyak orang. - Begitu berita yang sampai J?ada pnwarang ini, tapi entah betul salahnya berita it 11, bila betul silakan jadikan taulada11 diri,
- Bukti nyata keadaan orang jelck, dibalas oleh Allah Yang Kuasa de1wa11 kcjelekan, besar kecil bagaimana timbangan tlosanya tiada beda
- Begitu juga kebaikan tidak salah. pembalasannya dari Allah Yang K11asa sudah jelas, Upas Baron hidup senang !elama11y;1 tliganjar.
Untuk belanja uang sepuluh rupiah. sl'nang juga, generasi tua menerima pensiun tunai sctiap bu lan, betkat sikap atas kebersihan menga hdi, tid.K hianat
Bagus sekali ceirta ini untuk bacaan anak-anak, agar mengetahui yang salah yang benar dalam hati. // ketemu untung ruginya oleh sendiri, tak berkurang. XXXV. Pupuh Sinom
- Mohon maaf sekali, saya mo hon maaf, karena telah bernai lancang, mengarang Munada dibuat syair, dari segala kekurangan atau pun kelebihan, kuserahkan pada pem baca. Silakan kurangi dan tambah, kurang lebih sudah kuserahkan apa adanya.
- Sudah dijelaskan sejak semula, bahwa cerita ini susah sekali, hasil mengumpulkan wawancara, sekarang menjadi satu, wawacan satu jilid, lumayan untuk tembang. Adapun (ini adalah) gambarnya, basil C.S. kereta api, Rajapolah bernama Kartadinata.
Adapun yang memberi keterangan, kebanyakan yang dibuat sayir, ynag oleh saya dikarang, // dari seorang tua yang rajin, 174 yang tinggal di Bandung, yang berada di desa Pungkur, bernama Raden Yudasastra, yang tertulis dalam catatannya, orang tua rajin serta panjang ingatan.
Maksud saya mudah-mudahan, ada sedikit gunanya, untuk teladan semua, pada yang mencari ilmu, yaitu anak-anak, yang akhimya cukup dewasa. (Dalam cerita) ini banyak ibarat, baik-buruk sudah terpaparkan, untuk contoh bagi kita semua.
- Karena (cerita) ini semua padat, baik buruk aneka wama, semua sudah sangat jelas. Cerita yang telah terbukti, i tu alangkah utamanya. Jika mengambil contoh dari yang lain, tidak dilakukan oleh ki ta, jadi tidak terasa sakit, kalau sakit (tak lebih) dari orang yang melakukannya.
Oleh karena itu menurut hemat saya, (cerita) ini sangat berguna. Barangkali ada manfaatnya, pada hati anak-anak, pada murid-murid ini, men con toh meniru perilaku orang tua, karena (mereka) itu orang tua kita. yang dikarang dibuat syair, bukan dari cerita dalang wayang.
.Menurut hemat saya baru pertama kali, ada karangan dan syair, kisah leluhur kita. Sebab adat Sunda yak.in, tahayul sekali, tidak boleh menyebut leluhur.
Kalau (menyebut) namanya, katanya bisa menyebabkan celaka. Kalau menanam ubi suka tidak menghasilkan apa-apa.
- Artinya menyebabkan dosa, kalau kita berani-berani, menyebut nama leluhur, yang ada atau yang tiada. Ada juga yang berani, menghormat dan katanya mohon maaf, barulan menye but nama. Begitulah yang telah menjadi kebiasaan,, adat Sunda begitu dari dahulu.
- Sulit sekali diubahnya; kalau pun alangkah perlunya, ada ceritanya, saling berbisik, // seperti (merasa) cemas sekali, 175 memaparkan perilaku leluhur. Memang benar (mereka) harus dihormat, memang orang tua mesti (dipandang begitu), dihormat oleh kita anak cucunya.
- Tetapi (bertalian dengan) Nabi, salallahu alaihi wasalam, Muhammad dinil mustofa, beliau harus dipuji, disebut nama nabi, Muhammad seratus-ratus (kali). Yaitu membaca shalawat, memuji asmanya nabi, dan dzikir memuji kepada asmanya Allah.
- Begitu juga semoga, anak-anak yang berbakti, yang hidup sekarang (ini),
yang baik atau yang buruk, semoga tidak sakit hati. Sebagaimana telah diutarakan, baik-buruknya dahulu, (hal) itu sudah lain lagi, yang dulu lain dengan yang sekarang.
- Dahulu biarlah dahulu, sekarang sudah lain lagi, bedanya amat-sangat. Oleh karna itu jangan menjadi pikiran. Sebaiknya dipkirkan masak-masak, dengan kesetiaan hati, dengan hati lepas be bas .. Itulah yang pen ting, kalau marah menurut saya alangkah salahnya.
- Karena cerita ini pun, saya .tidak menanggung yakin, akan kebenarannya. Karena hasil mengarang, hasil wawancara pula, yaitu dari orang-orang tua. Walaupun cerita wayang, ada dua-tiga versi, versi Ci re bon versi Te gal.
Begitulah kan tidak sama, padahal patokannya itu satu, tetapi (versinya) tidak sama. · Nah ini pun begitu pula. // Barangkali kata seorang tua, 176 Munada ceritanya begitu. Kata seorang tua lain. Ih (cerita) itu lain lagi. Begitulah cerita Munada itu.
Moga-moga ke depan, ada pertolongan Yang Widi, rakhmat Allah kepada saya, dan safaat Kangjeng_ Na bi, Muhammad yang terpilih, dan berkah para leluhur, saya bisa mengarang lagi, lakon cicit dan kakek, lakonnya perjalanan (hidup) orang dahulu. 100 I. Menurut pikiran saya, besar sekali hasrat hati, ingin menuntun (pada) kebaikan, kepada sanak-saudara, agar menemukan kemuliaan, selamat sejahtera diri, kaya raya senang hati, yaitu berkat banyak membaca.
- Jika selamat semua, tentu negara menjadi tentram, negara menjadi berkecukupan, rakyat banyak menjadi baik, ten tu menyenangkan paduka, paduka kita yang dihormat, Sribaginda Maharaja, ratu yang sangat bijaksana, Maha Ratu Wilhelmina di Nederlan.
- Dan Sri Baginda Raja. raja Hindia yang adil, Kangjeng Gubernur Jenderal, Tuan Besar yang baik budi, ten tu senang hati, .kalau rakyat selamat. Bukankah sekarang buktinya,
sekolah-sekolah (di) setiap kewedanaan, setiap kecamatan setiap desa.
1004 ltu tanda kasih sayang, pemerintah yang adil, pada masyarakat bumiputra, banyak sekolah rakyat. // Kita sama-sama berdo'a, 177 pada Allah Yang Maha Agung, (semoga) dilaksanakan permohonan, gar semua pin tar (dan) kreatif, (sebagai) tanda terima kita dikasihi.
100 5. Ki ta jangan salah sangka, dikasihi malah membenci, disayang malah menjadi renggang, kepadas yang mengasihi diri. Terimalah dengan teliti, dengan sungguh-sungguh dan bersih hati. Rajin-rajinlah dalam mengabdi, serta kesetiaan hati. ltulah dasar kasih (dan)jalan kebaikan.
- Sekarang tamatlah cerita, pada malam Kamis, tnggal dua puluh lima, Agustus bulan Belanda, hitungan tahun Masehi, seribu sembilan ratus, dan sepuluh le bihnya. Pengarang menghaturkan salam hormat. XXXVI. Pupuh Mijil
- Mijil hendak menghaturkan bakti, dengan sembah pembakti,
kepada semua pembaca (karangan) ini, dan kepada yang mendengarkan, mohon maaf, maaf yang dimin ta.
Tamat. Wallahu'alam
W.P.T.J. M. Kartadinata di Banoncinawi, Priangan.
DAFI'AR PUSTAKA
A. Buku Berg, L.W.C. van. 1902 De lnlandsche Rangen Titles op Java en Ma
doera. 's-Gravenhage: Martin us Nijhoff. Carr, E.R 1973 Wahat is History ? London: Penguin Boo.ks. De Haan, F. 1910; Priangan. Deel I, III. Batavia: BGKW. 1912 Drewes, G.WJ. 1951; "Autobiografieen van lndonesiers". BKI, 107, 2e en 3e Aflevering.
1985 "The Life-Story of an Old-time Priangan Regent as Told by Himself. BKI, 141, 4e Aflevering. Ekadjati, E. Suhardi. 1982 Ceritera Dipati Ukur : Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.
1988 "Carlos Munada: Antara Karya Sastra dan Karya Sejarah". Dalam: Nuansa-mansa Pelangi Bu daya. (Jlenyunting: Kusman Mahmud, et.al).. Bandung: Pustaka Karsa Sunda dan Ikatan Alumni Fakultas Sastra Unpad, hal. 133-147.
Hardjasaputra, A. Sobana. 1985 Bupati-bupati Priangan; Kedudukan dan Pe ranannya pada Abad Ke-19. Tesis. Y ogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Hihnan, Iman. 1983 Peristiwa Pembunuhan Asisten Residen Nagel Tahun 1845. Makalah pada Seminar Sejarah Nasional Ke-3. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Departemen Pen didikan dan Kebudayaan. Kartadinata, Mas. 1921 Rasiah Priangan. Weltevreden: Bale Poestaka. Martanagara, RA.A. 1923 Babad Raden Arya Adipati Martanagara. Ban dung: Adrora Drukkerij. Rosidi, Ajf>. 1966 Kesusastraan Sunda Dewasa lni. Djirebon: Tjupu Manik. Satjadibrata, R. 1931 Rasiah Tembang Soenda. Batavia: Bale Poes taka. Serie No. 940.
Teeuw, A. 1974 Some remarks on the Study of so-called His torical texs in Indonesian Languanges. IAHA. Panel III, No. 7, Yogyakarta. Yuniadi, Agus Manon. 1981 Tinjauan Sejarah: Rasiah Priangan. Skripsi. Bandung: Fakultas Sastra Unpad:
B. Almanah dan Suratblm Almanah en· Naamregister van Nederlandsch-Indie, 183 2; 1846;
184 7; 1848; 1850; 1851; 1852; 1854.; 1855. Regeringsalmanak van Nederlandsch-Indie, 1830; 1831; 1834; 1845; 1855; 1859. Bataviasche Courant, 39, 23 September 1820; 33, 14 Agustus 1824; 33, 17 Agustus 1825. Javasc:he Courant, 10, 22 Januari 1831; 13 9, 22 Nopember 1832; 8, 18 46.
C. Arsip Ministerie van Kolonien. Algemeen Rijksarchief. Den Haag.
No. 3092 b 499. Besluit No. 12, 10 Februari 1849. Arsip Nasional Jakarta. Nagel, CW.A. 1845 Statistieke Staat 1845. Regentschap van Ban doeng. Preanger Regentschappen. Dokumen KITLV.
D. Naslmh Ki tab Pancakaki: Cod. Or. 6499. Rijksuniversiteit Leide >
Nederland. Sejarah. Timbanganten: Peti Nomor 121, kode 124. Bagi.an Naskah Perpustakaan Nasional, Jakarta. Wawacan Carlos Munada: Cod. Or .. 64 82. Rijksuniversiteit Leiden, Nederland.