ut Zahrina, dkk
TAUHID DAN THAHARAH
(Kajian Kontemporer Naskah Kuno Akhbarul Karim)
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional
Banda Aceh
Akhbarul Karim
Teungku di Seumatang
Alih Aksara, Alih Bahasa dan Pengkajian: Cut Zahrina, S.Ag Istiqamah, S.Hum
Tauhid dan Thaharah (Kajian Kontemporer Naskah Akhbarul Karim)
Editor : Prof. DR. Amirul Hadi, MA
Diterbitkan oleh BALAI PELESTARIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BANDA ACEH
Teungku di Seumatang Akhbarul Karim-Banda Aceh : Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2009 Vii, 235 hlm; 21 cm
Bibliografi : 216 hlm. Akhbarul Karim
Tauhid dan Thaharah Oleh :
Alih Bahasa : Cut Zahrina, S.Ag dan Istiqamah, S.Hum Diterbitkan Oleh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh Cetakan Pertama : 2009 M / 1430 H Setting Tulisan : Piet Rusdi, S.Sos Design Cover : Lizar Andrian ISBN : © All Rights Reserved Dilarang Mengutip Atau Memperbanyak Sebagian Atau Seluruh Isi Buku Ini Tanpa Izin Tertulis Dari Penerbit/Penulis Versi Digital download : www.bpsnt_bandaaceh.com
ii
Sambutan
KEPALA BALAI PELESTARIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BANDA ACEH
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional merupakan salah satu instansi yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pengamatan dan menganalisa data budaya dan sejarah serta mengkaji nilai tradisional daerah yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya da tradisi lisan. Alih aksara dan Alih Bahasa (transliterasi) tárhadap naskah kuno merupakan salah satu usaha untuk mengungkap nilai-nilaitradisional yang terkandung didalamnya. Nanggroe Aceh Darùssalam dapát dikatakan sebagai daerah yang memiliki berbagai kàrya sastra berpotensi, diantaranya adalah manuskrip / naskah kuno. Penelitian kali ini berjudul " Akhbarul Karim". Naskah Akhbarul Karim ini dikarang oleh seorang ulama Aceh terkemuka pada masa dulu yang bergelar Teungku di Seumatang, sebuah kampung di Negeri Geudong Pase. Naskah tersebut telah dialih- aksarakan, dialih-bahasakan dan dikaji isinya yang dikerjakan oleh tim peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Pengalih-aksaraan dan pengkajian naskah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelestarian pengembangan kebudayaan, terutama bagi peminat sastra nusantara yang kurang mampu membaca aksara Arab Jawi. Di sisi lain penerbitan buku ini juga bertujuan untuk
iii
mempercepat proses pengenalan kebudayaan antar etnik di tanah air kita, Indonesia. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam penulisan buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaannya. Kepada Prof.DR. Amirul Hadi, MA kami ucapkan penghargaan yang setulus-tulusnya atas t dan bantuandan kesediaannyamengedit menyempurnakan isi naskah ini. Selanjutnya kepada semua pihak yang telah turut membantu terlaksgnanya penerbitan buku ini kami ucapkan terima kasih.
MBanla Aceh, April 2009
BALAIPELESTARIAN
白
BANDAACEH
SEJARAH DAN NILAI FRADSIONM
.Sos Djun NI789809 DAN
iv
DAFTAR ISI
Sambutan iii
Daftar Isi ..
BABI PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah. 1
B. Maksud dan Tujua... 4
C.Ruang Lingkup dan Penelitin..., 4
D. Metode Penelitian.. 7
E. Pertanggungjawaban Penulisan... 8
F. Penutup..... 9
V
BAB II ALIH AKSARA.. 10 BAB III ALIH BAHASA... 66 132 BAB IV KAJIAN / ISI NASKAH ..
A. Nilai Tauhid.... 132
139
b. Peringatan.... 140
c. Argumen Ketauhidan.. 141
d. Sebuah Kejadian.. 143
a. Sebab-Sebab Penyimpangan..
e. Tidak Adanya Jejak dan Tanda-Tanda
Tuhan Lain....
B. Nilai-Nilai Thaharah.
V
a. Suci Secara Lahir.. 158
b. Suci Secara Batin... 161
BAB V ANALISIS RELEVANSI NILAI TAUHID DAN THAHARAH DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN 163 MASA KINI.. 163
A. Budaya Hidup Suf... a. Kehidupan Yang Memabukkan.., 164
b. Mahkota Sufi.... 168
c. Tujuan Akhir.... 195 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN.... 214
DAFTAR PUSTAKA. 216
vi
BABI PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Nilai tauhid dan thaharah merupakan satu rangkaian yang saling berhubungan. Tauhid adalah keesaan Allah yang meliputi hubungan manusia dengan sang pencipta. Hubungan tersebut dapat terwujud apabila manusia berada dalam keadaan suci, baik jasmani maupun rohani. Thaharah yang dimaksudkan adalah kebersihan jasmani dan rohani sehingga manusia itu bisa dekat dengan Allah. Nilai tauhid tidak lepas dari mengenal sifat Allah, (ma'rifatillahi) ta'ala. Ada tiga jenis sifat Allah yang wajib untuk kita ketahui, yaitu : sifat wajib, mustahil dan sifat jaiz. Sifat wajib disebut juga dengan sifat dua puluh. Sifat mustahil berlawanan dengan wajib, sedangkan jaiz yaitu harus, misalnya sikap menciptakan alam dan isinya. Dalil-dalil adanya Allah dibuktikan dengan hasil tiap- tiap ciptaannya, diantaranya adalah arasy dan kursi, bumi dan langit, jin, manusia dan malaikat. Dalilnya Wallaahulladzi khalaqas samaawaati wal ardhi wama bainahuma, maksudnya Allah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi beserta dengan isinya. Allah adalah penguasa langit dan bumi, tidak ada yang dapat melebihinya. Apabila ia berkehendak untuk menjadikan sesuatu terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mampu untuk menghalang-halangi. Jadi janganlah sekali-sekali kita menyombongkan diri karena kepandaian dan kehebatan yang kita miliki, karena apa yang
Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Akhbarul Karim kita peroleh belum sebanding dengan kepandaian dan kehebatan Allah. Apabila sifat sombong dan takabur telah hinggap di badan hingga menjadi penyakit bathin, berarti kita termasuk manusia yang ingkar dan tidak pernah mengsyukuri apa yang telah Allah berikan. Sejarah perkembangan Islam dimulai dari sejarah bangsa Arab. Kehidupan nomadik yang keras membutuhkan perjuangan untuk mempertahankan diri demi kelangsungan hidupnya. Begitulah realita yang sekarang ini kita dapatkan dalam masyarakat Islam, sejarah pahit pada masa dahulu telah berulang kembali. Pada masa-masa nomadik yang lalu, kepentingan suku selalu harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Setiap anggota suku mengetahui bahwa mereka saling bergantung satu sama lain, dengan tujuan untuk mempertahankan hidup. Akibatnya mereka mempunyai kewajiban untuk memperhatikan orang miskin dan lemah dalam kelompok etnik mereka. Kini, individualisme telah mengantikan nilai-nilai komunal dan persaingan berkembang menjadii norma. Masing-masing individu mulai mengumpulkan kekayaan pribadi dan tidak peduli kepada orang-orang disampingnya yang lemah. Jika fenomena itu telah terjadi, maka manusia tidak lagi meletakan nilai transenden lain di pusat kehidupan mereka dan telah menaklukkan egoisme serta ketamakan merajalela. Akibat dari semua itu, masyarakat akan terpecah belah secara moral dan politik dari perselisihan yang keras. Apabila kekayaan telah menjadi topik inti dari kehidupan, ini pertanda suatu kesyirikan karena manusia tidak lagi dekat dengan sang pencipta bahkan mereka disibukkan dengan kebendaan sebagai wujud dari kesuksesan hidupnya. Manusia yang melenceng dari norma-norma kehidupan yang Islami perlu untuk diluruskan kembali jalan hidupnya. Langkah yang harus ditempuh adalah mendekatkan diri kepada Allah
Tauhid dan Thaharah
sehingga manusia itu sadar bahwa Allah yang paling hebat, bukan dirinya. Selanjutnya adalah melalui thaharah yaitu, bersuci. Thaharah mengandung nilai-nilai kebersihan, baik kebersihan jiwa maupun raga. Kebersihan merupakan wujud dari nilai-nilai budaya Islam. Sebuah hadits mengatakan bahwa kebersihan itu sebahagian dari iman. Kandungan- kandungan inilah yang akan penulis uraikan dalam penelitian naskah Akhbarul Karim ini. Sehubungan dengan penjelasan di atas, maka upaya alih aksara, penterjemahan dan pengkajian naskah kuno (manuskrip) seperti Akhbarul Karim ini mutlak diperlukan, agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat diungkap. Isi naskah ini perlu diresapi karena yang mengandung nilai-nilai budaya yang dapat menjadi pegangan hidup lahir batin. Daya tarik isi naskah itu tidak hanya diminati generasi tua, akan tetapi juga generasi muda, sejarah tidak terhalang oleh kesulitan membaca aksara dan memahami maknanya. Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, maka masalah yang timbul sekarang ini antara lain adalah:
- Sebagian besar naskah-naskah itu masih tetap tertulis dalam aksara Arab-Melayu dan belum dilakukan alih aksara kedalam huruf latin. Keadaan ini menghambat generasi muda untuk mampu meresapi nilai-nilai budaya dari naskah kuno karena dewasa ini mayoritas generasi muda di Indonesia hanya mengenal aksara latin.
- Cukup banyak naskah kuno yang belum diterjemahkan dari bahasa-bahasa daerah ke dalam bahasa Nasional. Bila hal itu tidak diupayakan pelaksanaannya, tentu bisa memperlambat arus perkenalan antar budaya dari berbagai suku bangsa di Indonesia.
Akhbarul Karim
- Tradisi menulis dan membaca naskah lama semakin jarang dilakukan orang. Terkikisnya tradisi ini menjadi akar penyebab semakin renggangnya interaksi antar generasi, yakni antara generasi tua dengan generasi muda karena mereka sudah kurang saling memahami.
B. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dalam penelitian naskah Akhbarul Karim ini adalah : - Melakukan alih aksara (huruf jawi ke huruf latin) dan alih bahasa (bahasa Aceh ke bahasa Indonesia) pada naskah Akhbarul Karim.
- Mengungkapkan kajian isi naskah menjadi suatu bacaan populer yang bermanfaat dan menarik.
- Mengkaji secara mendalam isi yang terdapat di dalam naskah ini dan kemudian dikaitkan dengan nilai-nilai budaya yang sedang berkembang dalam masyarakat dewasa ini. Adapun nilai-nilai budaya yang dikaji dihubungkan dengan nilai-nilai ketauhidan dan kebersihan.
C. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian naskah ini tidak terlepas dari ilmu Codycologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang naskah. Adapun objek dari mempelajari naskah adalah untuk mempelajari sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, tempat naskah dan penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog dan penggunaan naskah. Tujuan yang lebih sempit dari codycologi adalah memahami sejauh mungkin kebudayaan suatu bangsa melalui hasil sastranya, baik lisan maupun tulisan, memahami makna dan fungsi teks bagi
Tauhid dan Thaharah
masyarakat penciptanya, mengungkapkan nilai-nilai budaya lama sebagai alternatif, menyunting sebuah teks yang dipandang paling dekat dengan teks aslinya, mengungkap proses munculnya sebuah teks dan perkembangannya, dan mengungkapkan resepsi atau respons pembaca pada setiap kurun pembacanya. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam meneliti naskah ini adalah dengan mengidentifikasinya naskah Akhbarul Karim ini. Naskah Akhbarul Karim merupakan kitab yang ditulis dalam bentuk sanjak Aceh dan berbentuk hikayat yang isinya merupakan capita selekta dari pelajaran tauhid dan syari'a. Kitab ini adalah salah satu naskah kuno koleksi Museum Aceh dengan No. Investaris
- Naskah yang penulis ambil ini tergabung dengan naskah hikayat Tambih Tujuh Belas. Naskah Akhbarul Karim dikarang oleh seorang ulama Aceh terkemuka pada masanya yang bergelar Teungku di Seumatang, sebuah kampung di Negeri Geudong Pase. Tidak diketahui tahun penulisan karyà ini dan juga tidak disebutkan nama asli dari pengarang naskah ini, kecuali gelarnya saja. Menurut Prof. Ali Hajsmy dalam bukunya Kebudayaan Aceh Dalam Lintasan Sejarah bahwa Teungku di Seumatang hidup kira- kira semasa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1286-1290 = 1870-1874), yakni Sultan Aceh pertama yang
serangan mempertahankankerajaanAcehdari pemerintahHindia Belanda pada tahun 1873. Naskah ini ditulis di atas kertas tebal polos dengan menggunakan kertas Eropa dengan cap kertasnya Bulan Tsabit Tersenyum Dalam Perisai'. Karena pada masa itu tidak ada mesin cetak ataupun pulpen dan tinta seperti sekarang ini, maka untuk penulisan naskah ini para ulama dulu mengunakan pena dari lidi pohon enau (aren), yang
Akhbarul Karim
dalam bahasa Aceh disebut “Bak Jok". Tintanya menggunakan bahan tradisional berwarna hitam dan merah. Tinta merah dibuat dari bumbu masak yang berasal dari India yang disebut dengan “Majakaní”, biasa digunakan oleh orang Aceh dalam memasak daging. Getah cengkeh juga dapat digunakan untuk tinta. Tinta hitam dibuat dari "Keumeureueng" atau “Adang”, yaitu sisa pembakaran kayu memasak pada tungku dapur. Bahan tinta inilah yang digunakan untuk menulis kitab Akhbarul Karim dengan huruf Jawi tulisan Arab dalam bahasa Melayu. Beberapa kata dari bahasa arab yang juga kata-kata penting ditulis dengan tinta merah yang berjumlah 390 kata. Naskah hikayat Akhbarul Karim merupakan salah satu naskah hikayat yang ditulis dalam bahasa Melayu, huruf Arab Jawi, dalam bahasa Aceh dan termasuk salah satu hikayat lama, yang terdiri dari 10 pasal. Isi teks dari naskah tentang masalah agama yaitu nadham fiqh dan tauhid yang terdiri dari sepuluh pasal, kesepuluh nama pasal dan penutup ditulis dalam bahasa Arab, yang di dalamnya menjelaskan tentang sifat Allah, dalil-dalil tentang adanya Allah yang bersumber dari Al Quran dan Hadits, pasal yang wajib pada mukallaf, pasal rukun-rukun Islam, pasal bersuci dan pembagian air, pasal najis dan cara bersuci, pasal bersuci, pasal qadha hajat, pasal berwudhu', dan pasal sembahyang. Namun disini penulis hanya mengambil dan mengembangkan pasal tentang tauhid dan thaharah saja. Masing-masing bab tersebut nantinya akan dikaji dalam kaitannya dengan nilai- nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat masa kini. Naskah terdiri dari 10 Bab atau pasal yang tebalnya 63 halaman dengan ukuran besar lembaran halaman kitab 25x17,6 cm. Ukuran tulisan di dalamnya adalah 19,3x6cm, ukuran tulisan terpanjang 6,2 cm dan yang terpendek 1,2 cm.
Tauhid dan Thaharah
Setiap halaman terdiri dari 23 baris dan baris halaman pertama terdiri dari 14 baris. Pada setiap halaman tidak diberikan nomor halaman tetapi ditulis dengan kata terakhir dari halaman sebelah ditulis ke halaman berikutnya. Inipun ditulis selang satu halaman. Bagian dari naskah ini yang tidak dipahami maknanya ditulis di bagian luarnya. Banyak bagian naskah ini yang sudah mengalami kerusakan berat, seperti di bagian pinggir kertas agak rapuh dan banyak yang robek. Karena kertasnya sudah rapuh maka harus sangat berhati-hati ketika memegangnya. Kertas yang sudah berlubang adalah akibat dimakan oleh ikan perak atau disebut juga dengan "Silver Fish", yaitu binatang sejenis rayap yang ekornya bercabang seperti ekor ikan dan berwarna perak sehingga disebut dengan ikan perak. Ada juga bagian naskah yang dimakan oleh serangga yang berjenis kutu buku, dan ada juga kertasnya yang sudah hilang seperti kulit naskahnya tidak ada lagi sehingga tidak diketahui lagi nama penyalin kitab hikayat ini. Adapun bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Aceh, tetapi ada juga bahasa Arab dan bahasa Melayu, namun lebih menonjol ke bahasa Acehnya. Tulisan yang digunakan dalam naskah ini adalah tulisan campuran antara Naskhi dan Farisi, namun dan tulisan naskhi lebih dominan.
D. Metode Pengkajian Untuk mempermudah dalam membaca dan meneliti naskah ini, penulis menggunakan naskah salinan lain yang serupa, yaitu naskah yang bersih dan sudah dicetak. Cetakan baru ini disebut dengan cetakan batu atau disebut juga dengan "Littho Graphi" yang diteliti atau ditashih dan disalin ulang oleh Teungku Teuku Usman Fauzi di pesantren Darul 'Ulum Lueng I Ingin Jaya Aceh Besar. Naskah ini dicetak oleh Al-
Akhbarul Karim Maktabah Saqafiyah Surabaya pada tanggal 12 Rabi'ul Awal 1398 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Maret 1978 M. Naskah ini sudah bersih dan sudah dibandingkan dengan naskah Akhbarul Karim yang sama, dan sekarang sudah banyak dicetak dan dijual di toko-toko buku dan kitab. Selain itu penulis juga menggunakan koleksi Teuku Abdullah Sakti. Salah satu naskah salinan Akhbarul Karim yang berupa tulisan tangan didapatkan dari Amiruddin Hasan Teupin Raya Pidie, dengan nomor investarisnya 07.668 koleksi T.A.2005 yang ditulis di atas kertas Eropa dengan tinta tradisional hitam dan merah. Sampulnya berupa kertas surat pajak (belasting) tahun 1913 M, dari 25 mukim Aceh Besar, dan naskah ini masih bagus dan kuat. Ada juga naskah Akhbarul Karim yang ditulis seperti tulisan biasa tidak ditulis dalam bentuk nadham dan hikayat. Oleh sebab itu jika dilihat dari gaya bahasa dan isi naskah Akhbarul Karim ini banyak terjadi perubahan antara naskah yang satu dengan yang lainnya. Di samping itu, penulis juga menambahkan literatur buku perpustakaan yang berkaitan dengan ungkapan dan pengkajian naskah Akhbarul Karim, sehingga dapat membantu upaya penelitian ini.
E. Pertanggungjawaban Penulisan Dalam penggarapan penelitian naskah ini, Tim Peneliti terdiri dari dua orang yaitu:
1. Cut Zahrina, sebagai penanggungjawab penulisan, melakukan alih bahasa dari bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia, mengumpulkan naskah dan merangkap sebagai pengkaji nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah ini dan penganalisa naskah.
Tauhid dan Thaharah
- Istiqamah, yang bertugas sebagai pengumpul naskah, pengumpul bahan literature, melakukan alih aksara dari huruf Arab-Melayu ke dalam huruf latin, alih bahasa (penerjemah) dari bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia.
F. Penutup Demikianlah latar belakang penelitian ini, atas perhatian dan pertimbangannya kami haturkan terima kasih.
BAB II
ALIH AKSARA
Bismillahirrahmanirrahim Akhbarul karim ku calitra Awal wajeeb bak mukallaf Mengucap Syahadat kalimah dua Ku ek syaksi Po ku Tuhan Hana laen si bagoenya Zat ngon sifeut na bak Tuhan Hana saban miseu hamba Suroh Tuhan bak jen insan Troeh bak ikan yang mee donya Bak binatang kayee batee
Troeh panghulee keupadanya
Nabi Muhammad aneuk Abdullah Di nanggroe Mekkah asal mula Kusyik' neuh geuhoi ‘Abdul Muthaleb Bangsa Arab nabi mulia Ma neuh geuhoi tuan Aminah Siti Halimah² yang pelihara
Kusyik yaitu kakek 2 Siti Halimah adalah perempuan yang menyusukan Nabi yang disebut dengan ibu susuan selain ibu kandung. Hal ini merupakan tradisi masyarakat Arab. Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tauhid dan Thaharah
Nyan yang peumom rasulullah
Meunan peuneugah dum ulama Rupa nabi sangat indah Siulah-ulah buleuen purnama Soe yang pandang mata lazat
Pinsan rakyat ji eu rupa
Kulet puteh jampu mirah Sang siulah bungong jeumpa³ Lama peut ploh thon neudong di makkah U madinah teuma neubungka Teutap nabi di madinah Peurintah Allah ‘azawajalla Neu ibadat hana khali Neu prang kafe hana reuda Nabi nyang laen meulaksa-ribee Leubeh panghulee nabi kita Yang awai phoen Nabi Adam Keusudahan nabi musthafa Kubu nabi di madinah
Ureueng ziarah meuribee laksa⁴ Allah bri beurekat bak geutanyoe
Seubab dua droe ureuëng mulia Habéh haba makna syahdat Ma'rifat jinou ta kira
3 Jeumpa adalah Bunga Cempaka, yaitu sejenis pohon yang bunganya berwarna putih atau kuning, ia adalah bunga kebanggaan orang Aceh. 4 Laksa (sangsekerta) adalah bilangan selaksa = sepuluh ribu.
Akhbarul Karim
Jinoe lon boh maseng pasai Mangat ta keunal maséng tangga Geunap siploh pasal disinoe Tango ado ku calitra
Alfashlul Auwalu Fibayaani Makrifatillahi Ta'ala
Pasal yang phon wahe sahbat Ma'rifat lon peunyata Ma'rifat keu Tuhan ngon keu nabi Na lhee bagi bek meuhingga Wajeb mustahe teuma ngon jaez T'lhee beuhabeh ta keunai nyata Soe han keunal sifeuet Tuhan Page zameun lam neuraka Sifeuet wajeb le bak Tuhan Hana ensan ek ji hingga Seubab hana ta teumee dali Han brat neubri ubak hamba Sifeuet dua ploh wajeb tahwi Sebab ta teumee dali jih na Toh dua ploh wahe taulan Jinoe lon kheun ta bileung sa Sifeut yang phon nama Wujud Makna lanjut han ku bawa Hareuti Wujud na zat Tuhan Sifeuet jih meunan nafsi nama Wujud Tuhan han ek kheuen kri Han so tune asal mula Kedua Qadim sifeuet Tuhan Makna taulan ku calitra
魯
Tauhid dan Thaharah
Hareuti Qadim na dileekon Hana meuphon han meumasa Nabi dan wali hantroeh ma'rifat Bak kon hi zat Allah Ta'ala Hana sidroe na troeih pike ‘Eleumee terhenti kepada-Nya Keu Ihee Baqa sifeut Potallah Makna lon peugah ubak gata Hareuti Baqa hana ubah Kekal Allah rok-rok masa Ban yang awai meunan cit akhee Hantroh pike ngon bicara Bicara tan pike singkat ‘Akai dahsyat pungo gila Sifeut nyang peuet Mukhalafah Makna lon peugah ku calitra
Hareuti Mukhalafah bersalahan
Hana saban Tuhan ngon hamba Hana saban na mee taboh Han sapeu roh mee ta peusa Miseue pihtan teuladan han Wujud Tuhan yang seudia Keulimong sifeuet Qiyamuhu Lon kheun laku deungo makna Qiyamuhu lon kheun arti
Neudong keudroe Allah Ta'ala
Hana neu kheundak nyan keu teumpat Tuhan yang that amat kaya Han neu kheundak zat ngon Fa'il Hana sabe Allah Ta’ala
Akhbarul Karim
Keunam Wahdaniah sifeut Tuhan Makna jinoe ku calitra Arti Wahdaniah sidroe Tuhan Han bilangan sa ngon dua Han sikutu han sibagi Maha Suci Tuhan Esa Daim Qaim sit sidroe Hana sapeue yang na seureuta Arasy⁵ goh na kurusi goh lom Qadim Tuhan sit ka lama Yang limong nyan beuta turi Sifeut Salbi ku boh nama Hareuti Salbi tulak lawan Sifeut yang tan bak Allah Ta’ala Tujoh sifeuet nan jih Hayat Ta ngo sahbat ku boh makna Hareuti Hayat hudep Tuhan Hana badan hana nyawa
Adat hudep badan ngon nyawong
Ka sibandeng ngon manusia Hana layak neumeusifeuet laen Wujud Tuhan teuh yang Esa Lapan sifeut nanIlmu Ta ngo laku lon boh makna Areuti Ilmu neu teumuban Dum seukaliah habeh nyata Neu teumuban han ngon akai Hana sagai ngon bicara
5 Arasy adalah tahta Tuhan.
Tauhid dan Thaharah
Neu teumuban cit ngon 'Ilmu Meunan yang mee ta percaya Adat neu teumuban nyan ngon ‘akai Ka keuh jawai saboh masa Sikureueng sifeuet nan Qudrat Taklok meuhat maseng tangga Hareuti Qudrat kuasa Tuhan Neupeuna neupeutan sikleb mata Hana tuleung hana urat Kuasa that Allah Ta'ala Adat kuasa tuleung ngon urat lemah lembot akhe neurasa Keusiblah Sama'kuasa Tuhan Dengon qudrah meunan meuhat ta percaya Keusiploh sifeut nan Iradah Taklok meuhat maseng tangga Areuti Iradat neumeukheundak Peu yang layak neukaronya Neumeukheundak han ngon nafsu Han sikutu ngon manusia Keusiblah Sama'sifeut Tuhan Taklok jih nyan bak maujuda Areuti Sama'neumeudengoe Get yang meusu get yang hana Wujud yang na dum sekalian Deungoe Tuhan nantiasa Potallah hana geulunyueng Dum sibarang neungo suara Yang neumeungo cit ngon Sama' Meunan ijma' dum ulama
Akhbarul Karim
Dua blah Bashar sifeut Tuhan Taklok jih nyan miseu yang ka Hareuti Bashar neukeumalon Di Arasy kon tahta tsara Hana bacut pih meusile Han ban lagee kalon mata Karena mata han bak Tuhan Neu eu seukalian dum ngon Bashar Lhee blah Kalam sifeut Tuhan Taklok jih nyan bak lhee yang ka Areuti Kalam marit Allah Hana huruf han suara Adat neumarit nyan ngon lidah Ka meuhuruf kalam yang Esa Suci Tuhan nibak meunan 'Akai waham sia-sia
Yang neu marit cit gon kalam Meunan ta pham ta percaya Yang tujoh nyan na taturi Sifeut ma'ni he syedara Hareuti ma'ni yang dong bak zat Miseu Hayat yang sedia Maknawiyah jinoe lon peugah Gaseh Allah yang percaya
Peuet blah sifeuet nan jih Hayyon
Meuato turon lon calitra Hareuti Hayyon zat nyang hudep Meunan wajeb sa boh nama Pakri neuhudep tuhan sidroe
Ngon hudep droe seulama-lama
Tauhid dan Thaharah
Laen bandum seukalian Jen ngon insan hudep ngon nyawa Bayang-bayang wujud Tuhan Bak nyawong seukalian 'alam donya Meung ka hudep dumna geutanyoe Geunap nanggroe segala donya Habeh hudep gadoh kuat Meu woe Hayat Allah Ta'ala Sifeuet 'Alimon geunap limong blah Makna jih jeulah ku calitra Hareuti Alimon nyang teumuban Nama Tuhan yang seudia Pakri neuteumuban Tuhan sidroe Ngon tuban droe seulama-lama Jen ngon insan neubri eleumee Ka neubri tahwi sagala donya Bayang-bayang eleumee Tuhan Neubri ta tuban dumna hamba Meungka ta tuban dum na geutanyoe Geunap nanggroe asoe doenya Habeh ta tuban gadoh lagee Meuwoe eleumee Allah Ta'ala Sifeuet Muridon geunap nam blah Meunoe syekh neuboh makna Hareuti Muridon nyang beurkeheundak Peu yang layak neu karoenya
Pakri neu meukheundak Tuhan sidroe
Ngon kheundak droe silama-lama Laen bandum sekalian kheundak Tuhan segala doenya
Akhbarul Karim
Bayang-bayang kheundak Tuhan Neubri seukalian dum bak hamba Habeh kheundak gadoh ibarat Meuwo Iradat Allah Ta'ala Tujoh blah sifeut nan Qadiron Meunan taulan lam calitra Hareuti Qadiron zat nyang kuat Kuasa that Allah Ta'ala Pakri kuasa Tuhan teu sidroe Ngon kuasa droe seulama-lama Laen bandum seukalian Nibak Tuhan bri kuasa Bayang-bayang kuasa Tuhan Bak seukalian manusia Habeh kuasa gadoh kuat Meuwoe Qudrat Allah Ta'ala Sifeuet Sami’on geunap lapan blah Muwafakat syekh meunan makna Hareuti Sami’on yang meungo Han meulumo dumn suara Pakri neu meungo Tuhan teu sidroe Ngon deungoe droe rok-rok masa Laen nibak nyan peundeungaran Karonya Tuhan dum keu hamba
Bayang-bayang peuneungo Tuhan
Neubri seukalian dum bak hamba Habeh peundeungo teuka tuloe Sami'on meuwoe bak Allah Ta'ala Sifeuet Bashiron kureueng sa dua ploh Ta ngo lon boh jinoe makna
Tauhid dan Thaharah
Hareuti Bashiron yang keumalon Dum seukalian padok hana Pakri neu keumalon Tuhan sidroe Ngon kalon droe seulama-lama Laen bandum seukalian Karoenya Tuhan kalon mata Bayang-bayang keumalon Tuhan Neuhantarkan dum teurata Meung ka keumalon dum geutanyoe Geunap nanggroe seugala doenya
Habeh keumalon dum seukalian Meuwoe bashiron bak Allah Ta'ala Dua ploh sifeuet Mutakallimon Ta ngo dalem lon boh makna Hareuti Mutakallimon Tuhan marit Beuthat keubit ta pareksa Pakri neu marit Tuhan sidroe Ngon narit droe teu seulama-lama Laen bandum seukalian Karoenya tuhan marit rata Bayang-bayang marit Tuhan Neubri lidah nyan juru bahsa Habeh narit gadoh ngon pham Meuwoe kalam bak Allah Ta'ala Troh ngon ajai sampoe Tanggoh pinjaman tujoh geucok bak gata Habeh meuwo pinjaman tujoh Tinggai tuboh han kon guna Kakeuh teuduek miseu bateueng Han sigupang le hareuga
Akhbarul Karim
Teuka wareh asoe gampoeng Geujak kunjong mayet gata Teuma geuboh lam lieng leuhad Teuma troeh lam jeurat sidroe gata Adat han amal keubajikan Sidroe taulan lam keureunda Seupot pih that kubu arat Leumah tempat lam Nuraka Teuka‘azeub meubagoe-bagoe Beu nyum tawoe ulam doenya Nyoh nyan teulah ta seusal droe Taduek ta moe lam keureunda Lailahaillallah Kubu luah soe tem kata ‘Ohnoe habeh saboh tambeh Laen ureh jinoe ta kira Sifeuet yang wajeb ka taturi Yang Mustahe pakri rupa Hareuti mustahe hana patot Tuto karot han meubuka Yang mustahe wahe thalib Lawan wajeb tapareksa Miseu hana takheun Tuhan Ngon bahru nyan takheun nyata Miseu fana takheun dudoe Sang geutanyoe takheun rupa Miseue neu dong ngon soe laen Meubilangan takheun dua Miseue mate takheun Tuhan Han neu tuban dum perkara
Tauhid dan Thaharah
Miseue benci dum keu umat Leumoh Qudrat takheun kata
Han neu meungo ngon keumalon Ngon klo Tuhan buta mata
Nyan keuh taulan yang mustahe
Beu ta pike dum teurata Nyang mustahe ka keu habeh Jinoe Jaez lon calitra Hareuti jaez haroh bak Tuhan Meuna meutan neukerija
Miseue jaez nyan bak Tuhan Neu peujeuet ‘alam dum barang na
Sah neu peuna sah neu peutan Ban yang maklum bak Rabbana Miseu neubri kaya gasien Saket badan mangat pih na Miseu mukmin neuboh lam Jannah Mee neu pinah lam neuraka Miseue kafe neubri lam azeueb Mee lam nikmat neu karoenya Meunan taulan bak Aqeuli Bak syar-i laen kira Bak syar-i wajeb meuhat Mukmin teumpat lam Syureuga Miseue kafe page dudoe Wajeb geupasoe lam Nuraka Jaez bak aqeuli ngon syar-i Miseu ashi daroehaka
Haroh neupeu ampon ngon han taubat Roe yang umat daroehaka
Akhbarul Karim
Meunan taulan bak Aqeuli Ngon syar-i sajan dua Nyan keu miseu jaez bak Tuhan Ka ku simpan lhee peukara 'Oh noe habeh saboh pangkat Meu'arifat saboh Tangga Pasal yang phon oh no keumah Jinoe lon tamah pasal dua
Alfashlus Tsani Fibayanid Dalili Wujudillahi Ta'ala Pasai yang dua jinoe lon peugah Dali na Allah ku peunyata Laen nibak nyan sinoe sajan Sifeuet Tuhan taklok jih na Lon boh soal jaweueb sajan Sifeut Tuhan neu eu nyata Toh keu dali wahe taulan Wujud Tuhan yang takheun na Zat ngon sifeuet hana meukri Hantom ji eu uleh mata Barang gasoe han tom ji kalon Pakri takheun wujud neu na Zat han meu kri sifeuet han meuban Leumah pi tan ta eu rupa Tangoe Teungku lon peugah kri Wujud dali zat nyang esa Dali wujud na zat Tuhan Bahru ‘alam sigom donya Toh roe ‘alam cuba peugah Lon deungo sah Ta peunyata
Tauhid dan Thaharah
Tiep-tiep maujud laen bak Allah Nyan keuh yang sah ‘alam nama Miseu ‘Arasy ngon kurusi
Miseue bumi langet ngon doenya
Jen ngon insan malaikat Jeuneh lat batat asoe donya Nyan keuh ‘alam ka lon peugah Ladom leumah ladom hana Miseu nanggroe likot buket qaf luah-luah nabi peuhaba Pat beuta thee bahru alam Peugah taulan kungo nyata Gata goh na jih kadilee Pat beuta thee bahru nyata Miseue langet nyan ngon bumo Goh na geutanyoe jih sit kana Teungku deungo lon peugah kri Yang jeud dali bahru nyata Lazem bak alam ‘aradh yang bahru Yan keuh teungku jeut keu tanda Tohri ‘aradh han ku turi Pakri-pakri saleh rupa ‘Aradh jidong cit bak jirem Miseue teu khem manusia
Miseue puteh bak keureutah Miseue mirah bak keuseumba
Miseue rasa bak makanan Miseue beebeewan dong bak bunga Miseue tutong dong bak apui Miseue dirui angen bawa
Akhbarul Karim
Miseue eleumee dong bak ensan Miseue saketan bak anggeeta Nyan keuh Aradh ka lon peugah Ladom leumah ladom hana Pat beuta thee bahru Aradh Toh peungeunai cuba nyata Teungku deungo ulon peugah Ubah-ubah rok-rok masa Meujan meu iem meujan meu grak Dilee budak dudoe tuha Siat sijuek siat tutong Ladom seudong ladom naga Meujan ji ek meujan ji tron Kaya gasien agam dara Miseue riyeuek ngon geulumbang Miyub manyang ta eu rupa Jipoet ribut jibeudoh geulumbang Cit tapandang dengon mata Siat hujeuen siat keumaroe Meunan lagee dum peukara Hudep mate dum seukalian Na nibak tan ‘alam doenya Nyan keuh dali bahru⁶ Aradh Sempurna ‘akai soe tem kira Nyan keuh lon kheun dali na Tuhan Bahru ‘alam sigom doenya Sifeuet dua ploh wajeb ta tahwi Seubab ta teumee dali jih na
Bahru (Melayu, baharu) bermakna hasil ciptaan atau buatan
Tuhan (Tauhid).
Tauhid dan Thaharah
Toh keu dali yang jeuet ta tahwi Pakri elemee cuba nyata Jinoe lon kheun wahe sahbat Dali na tlhee pat bek meuhingga Siploh sifeuet ‘alam dali Tadeugo ku kheun kri ta bileueng sa Sifeuet Wujud ngon Wahdaniah Keu tlhee seubut Hayat nama Qudrat Iradat 'Elmu Hayyon Qadiron Muridon sikureueng ka Geunap siploh sifeuet 'Alimon Dali ‘alam ban sabe na Adat hana siploh sifeuet ‘Alam han jeut neu peurupa Nyan keu sapat dali ku peugah Jinoe lon kisāh tema yang dua Yang nam sifeuet dali kitab Hadih ijeumak kheun ulama Meureud kitab firman Allah Meureud Hadih kheun Ambia Meureud Ijeumak muafakat Syekh Hana ubah bak bicara Yang nam sifeuet cuba peugah Takheun beusah ku ngo nyata Samak Bashar keu tlhee Kalam Keupeut Sami’on sifeuet Mulia Limong Bashar nam Mutakallem Dum tasseulem maseng tangga Adat hana hadih fireuman Sifeuet yang nam hansoe thee na
Akhbarul Karim
Dua yang ka jinoe keu tlhee Maseng lagee teumpat jih na Peuet sifeuet treuk sifeuet Tuhan Dali jih nyan dua perkara Durtasalsul mustahe bak Tuhan Nyan taulan dalil dua Hareuti do peurhentian Meugisa ban ilang sutra Peuet sagoe jeh ji meu preh-preh Peu han jadeh lom ta bungka Peuet sagoe jeh tulak deungki Ji kheun peureugi dilee gata Teuma jijak meukawan-kawan Sajan-sajan meugisa-gisa Ban peuet dilee ban peuet dudo Pike adoe gon bicara Ban dum dilee ji aku droe Ban dum dudoe ji meuda-wa Jih nyan han ta sawo Ban lagee droe saboh rupa Meunan mise saboh ato laen pih le bak bicara Hana meuri phon ngon akhe Nyan keu mise lon calitra Areuti Tasalsul peraturan
Habeh jikheun bek tahingga
Miseue jih nyan riyeuek laot Meuta-turot hana reuda Meualon-alon seun-seun saboh Hana teudoh laen teuka
Tauhid dan Thaharah
Maseng-maseng na soe ikot Nibak laot dum ji teuka Ji seumpom droe seun-seun saboh Akai gadoh bak tahingga Buet tasalsul han seuneulheueh Maken ateuh maken banja Tuhan geutanyoe hana bahru Han ban lagee miseu yang ka Yang peut sifeuet phon jih Qadim Teulhee nibak nyan teuma Baqa Mukhalafah Qiyamuhu cit teurteuntu Ka sampoerna Habeh hisab ban dua ploh Tanda lon boh pi ka langka Sifeuet dua ploh ka taturi turi Habeh dali pih ka nyata Taklok jih ho masok jih pat Peugah sahbat ta calitra Tadeungoe jino ulon peugah Masok siblah bak Istighna Areuti Istighna kaya Tuhan Nibak ‘alam dum barang na Hana sapat neutueng mamfaat Kaya meuhat nantiasa Langet bumoe ureueng seumah Han bube zarrah meuteume mulia Adat han sidroe ureung seumah Han bube zarrah kureueng mulia Nyan keuh yang nyoe kaya muteulak Hana kheundak ubak hamba
Akhbarul Karim
Jinoe lon peugah sifeut siblah Deungoe beusah adoe raja Pertama Wujud keudua Qidam Lhee nibak nyan teuma baqa Mukhalafatuhu Qiyamuhu Beu meulaku tapham makna Sama' Bashar lapan Kalam Sikureueng Sami'on sifeuet mulia Siploh sifeuet nan bashiron Mutakallem kasempurna Adat hana sifeuet siblah Han sah Allah ta kheun kaya Sifeuet siblah ka tapeugah Masok jih sah bak Istighna Sikureung sifeut hoe ji tamong peugah beukeunong bek meugisa Bak Iftiqar masok sikureueng Deungoe lon bileueng hai syedara Areuti iftiqar berkheundak Alam Ubak Tuhan yang that kaya Sifeut siblah ji meukheundak Hana han cit sagai hana reuda Hudep mate saket mangat Bak hadharat yang kuasa Jinoe lon boh keusikureueng Sira bileung lon kheun nama Pertama Hayat duaElmu Iradat teungku yang keutiga
Keu peuet Qudrah keulimong Hayyon
Nam Muridon geuboh nama
Tauhid dan Thaharah
Tujoh Alimon lapan Qadiron Maknawiyon geukheun nama Sikureueng sifeuet Wahdaniah Habeh keumah ku-calitra Adat hana sikureueng sifeuet Alam han jeut neu peurupa Meuroe leumoh ngon jahe Han keu hase alam donya Jinoe donya ka tapandang Dum sibarang leumah nyata Nyan keuh dali kuasa Tuhan Sifeuet sikureueng wajeb kana Wajeb bak alam dum beurkheundak U bak zat Haq Po Yang Esa Nyoe sikureuenng dile siblah Bak jeumeulah dua ploh ka Oh noe teu duek ho ji masok Hoe ji taklok jinoe takira Sifeuet dua ploh nam nyang taklok Ta deu ngoe beutroek ku calitra Han bak wajeb ngon mustahe Beu that cathi tapham makna Bak wajeb han taklok Qudrat Kareuna meuhat wujud kana Adat taklok Qudrah keunan Jeut wajeb nyan jaez nama Bak mustahe pihan taklok Karena seuntok dijih hana Adat taklok Qudrat keunan Jiba keunan jaez pula
Akhbarul Karim
Adat meunan nyan ta peugah Taklok jih sah bak mumken na Areuti mumken sah dua ban Mee naa mee tan bak takira Miseue neupeujeut uleh Allah Saboh gajah badan raya Seribee ulee dua ribee gadeng Hana bandeng dalam doenya Neuboh sayeuep ban geulayang Jiteureubang u udara Lailahaillallah Kuasa Allah barang keureuja Miseu neu peujeut saboh gunong Hireuen teuceungong ta eu rupa Tanoh jih meuh batee jih intan kayee jih nyan pirak safa On jih pirak nyang ladom meuh Jeuoh peungeuh jiplung cahya Cicem pile tan teuladan Ladom intan ladom meutia ‘Akai teucengong hireuen dahsyat Bak but Qucrat Allah Ta'ala Mumken bak pho barang kheundak Ilahon haq hana dua Jipot angen umbak meualon Rijeuek jitron ineula-lumba Qudrat Allah dum sagai don Lahe bak ureung nyang aulia Oh noe habeh haba mumken Jinoe laen lon calitra
佛
Tauhid dan Thaharah
Samak Bashar taklok bak maujud Got yang sukut got nyang hana Han bak makdum ngon mustahe Beutapike bak bicara Tiep-tiep yang na leumah neukalon Meski tan lee meurupa Miseu suara nyang bak insan Miseu beebeewan dum aneka Miseu rasa bak makanan Meukri lakuan neu eu rupa Meuhat puteh meuhat itam Kalon tuhan nyang meuhingga Sidom jijak teungoh malam Lam batee hitam diyup donya Leumah neukalon uleh Tuhan Bak lakuan neu eu rupa Nyang na wujud dum neu dengo Meski bunyoe sigo le suara Miseu batee yang lam pante Miseu pike manusia Dum neu deungoe oleh tuhan Bahle bak tan meusuara Adat na su han peu peugah Deuh bak Allah neu deungoe suara Wujud yang tan sikali-kali Miseu mustahe nyan bit hana
Neu dengoe han neu kalon tan
Ban dua nyan wujud hana Samak Bashar ‘oh noe keumah Jinoe lon tamah laen pula
Akhbarul Karim
‘Elmu kalam taklok lhee pat Deungoe sahbat lon calitra Pertama bak wajeb dua mustahe Keu lhee hase jaez nama Kalam Tuhan han meu fatah Hana haraf hana suara Adat na haraf kalam Tuhan Ka sa ensan bak berkata Bukon ‘ajam bukon arab Han ngon ikrab han bahasa Hana dilee hana dudoe Hana sapeu ngon ta peusá Wa'ad Wa'id Amar Nahi Kalam Rabbi sigo saja Sinan keuh tapham amar nahi Dum ngon janji syuruga nuraka 'Oh noe habeh haba kalam ‘Elmu Tuhan pakri rupa maknanya 'Elmu Tuhan han ek kheun kri Neu keutahwi dum perkara Peu lom Arasy ngon kurusi Langet bumi habeh nyata Nyang na neuthee nyang han neuthee Han meu silee bak rabbana Anoe batee meudum bileueng Ie laot ie krueng meu ‘oh hingga Dum bak kaye lam luak gle Neuleung di pante jeueb-jeueb donya Meuhat bileung meu oh sukat 'Elmu hadharat han ek hingga
Tauhid dan Thaharah
Hana padok uroe malam Peu nyang ensan hoji cita Ho jibalek tuboh Tuhan Neu thee tuhan peue keureuja Lailaha illallah Hatee lidah bek ta lupa Got ngon jahat dalam khimad Oh kiamat neupeunyata Soe nyang tha’at dum geutanyoe Page dudo lam syiruga Oh noe habeh makna ilmu Tuhan neuthee dum perkara Yang nam sifeut taklok meuhat Hayat syarat ban sineuna Laen nibak nam taklok jih han Sifeuet tuhan han ek hingga Haba taklok oh noe simpan Sifeut Tuhan teuh nyang Esa Sifeuet dua ploh meuhimpon saho U bak zat po Tuhan Esa Dali saboh madlul saboh Pham beuteugoh bek meuriba ‘Alam dali Allah maudlul Dalam ushui lahe nyata Phon tateumee dali ‘alam Teulheuh nibak nyan teuma Asma T’lheuh Asma teuma sifeut Dudoe teuma zat Allah Ta’ala Tateumee zat seubab sifat Qudarat Iradat Elmu-Nya nyata
Akhbarul Karim
Tateumee sifat seubab isem Nama Tuhan yang mulia Qadiron Muridon Alimon Hayyon Sebab ‘alam tathee asma
T’lheuh boh dali meu-teumee bak ‘alam Hase nibak tan dali Qadiran Nyang donya nyoe cit dilee tan Kuasa Tuhan nyang peunyata Adat han kuasa Tuhan sidroe Dum alam nyoe hana nyata Nyankeuh geukheun hase nibak tan Dali Qadiran Allah Ta’ala Keudua tertentu dali Muridan Puteh hitam maseng wareuna Rupa neubri meuhat-meuhat Hana cacat ta-eu rupa Puteh pimee hitam pimee Maseng teunte neuboh rupa Nyang ka puteh hanjeut hitam
Nyang ka agam hanjeut dara
Paneuk pimee panyang pimee Tuhan teunte meuhat jangka
Nyang ka paneuk hanjeuet panyang
Maseng timang bak Rabbana Ban nyang kheundak but Iradat
Meuhat-meuhat neu karonya
Nyang keuh geukheun dali Muridan
Maseng lakuan ta peu nyata T’lheuh teuma perusahan Dali Aliman Allah Ta'ala
Tauhid dan Thaharah
Rupa ‘alam le ban neuboh Tanda utoh Allah Ta'ala Rupa binatang hana saban Miseu insan dum hana sa Nyang dikaye leue ban bangon Miseu bungong leue wareuna Peuna peutan nyan but Qudrat Laot darat neu peunyata Meu’um angen meugrum bakat dum but qudrat Allah Ta'ala Mate sabe prang meu-jeupheuek Rimueng badeuk Tuhan peuna Prang meuhubo mate pih le rakyat tahe buet rabbana Meugruk reudok meugrum ujeun Angen tauphan laot keunong sa Khueng pih seuntok mate uteuen Dum pucok krueng habeh len mata Langet meupayong bumo meulayang Laot meulinteung gunong meulingka Tanda na Allah han ek bileueng Deuh bak ureung nyang na mata Seukalian dum but Allah Neupeulemah tanda mata Oh noe habeh makna Qudrat Di Iradat jinoe takira Maseng teuntee but Iradat Meuhat-meuhat han meutuka Yang ka kafee han Islam Yang ka jahannam han syiruga
Akhbarul Karim
Yang keu Nabi han keu umat Yang keu rakyat han keu raja Yang ka geuchik han keu tandi Yang ka waki han bintara Yang bahgia han keu rugoe Yang geu-pujo han geu-cela Yang ka ‘alem han keu jahe Yang ka faki han keu jaya Yang ka puteh han keu hitam Meuhat tanggam meuoh tangga Makna Iradat ‘ohnoe dilee Di 'Eleumee teuma takira Peurusahan dalil 'Eleumee Laen lagee neu eu rupa Bangon neuboh rupa leu ban Miseu insan dum hana sa Maseng kaom maseng nashab Ladom Arab ladom Jawa Ladom Aceh ladom Jawoe Le that bagoe laen pih na Rupa binatang le ban neuboh Tanda utoh Allah Ta'ala Bangon siwah han miseu leuek Bangon beureujuek han cempala Bangon keubeu han sang leumo Bangon bubiri han sang unta Bangon cagee han sang lutong Bangon seudong han sang naga Miseu kaye le ban lage Tuhan peuteuntee maseng rupa
Tauhid dan Thaharah
Bangon pineung han sang bayah Bangon birah han sang kala Bangon awe han sang urot Bangon bak crot han sang buga Bangon uleu han sang ulat Bangon pacat han sang naga Meunan dum peurusahan Dali Tuhan ‘alam raya 'Ohno habeh maknaEleumee Dali jih kalheuh lon penyata Di Qadiran dali Qudrat Meunan sahbat lon peunyata Di Muridan dali Iradat Meunan meuhat tapham makna Di 'Aliman dali 'Eleumee Meunan yang mee ta percaya Qudrat Iradat dali Hayyon Keunan meuhimpon saboh tanda Teuma di Hayyon dali Hayyat Semua dali Zat Haq Ta'ala Zat ngon sifeuet meuphom saboh Pham beuteugoh kheun ulama Asshifatu Wal Maushufu Wahidun Meunan sabet meuphom makna Sifeuet zat ngon meuphom saboh Pham beuteugoh didalam dada Hareuti zat nyang dong keudroe Hana sapeu hajat jih na Hareuti sifat nyang na hajat Jidong bak zat nantiasa
Akhbarul Karim
Bit pi meunan hantom na cree Ji meusabee sajan dua Miseu laot nyang meualon Kayem meuhimpon sajan dua Nyan keuh lon kheun meuphom saboh Pham beuteugoh bek meuriba Bak meunan dum keu dali zat Lengkap Shamad 'alam doenya Kareuna Tuhan neupeumeujeut Ngon sifeut peut hase nyata Adat kureung saboh sifeut Syarat peumeujeut han sampoerna Meuna han samporna syarat peumeujeut Han ase buet ‘alam donya Saboh syarat beuna hat Ureung mate but jih hana Bak keumeung but meugrak pih tan Hanpeu taulan ta bicara Keudua syarat beunaEleumee Ureung deungoe utoh hana Hanji tu’oh peu hase but Han sapeu jeut na ji kira Kayee teuboh rumoh hanjeut Patah ngon pheut cumeh mata Meunan miseu bak makhluk Nyang sabee duk ateuh doenya Keu lhee syarat beuna Iradat
Supaya meuhat buet keureuja Ureung han kheundak but han ase Han ji tukri ji bicara
Tauhid dan Thaharah
Keu peut syarat beuna Qudrat Ureung leumoh that han kuasa Han keu na ek ji peubuet-buet Badan pijuet tuboh tuha Tuhan geutanyoe Khaliqun ‘Alam Sifeut sekalian dum sampoerna Nyan keuh seubab ta thee na Tuhan Seubab ‘alam dum ka nyata Ek neu peuna ek neu peutan Dum seukalian ‘alam doenya Nyan keuh alam jeut keu dali Tuhanku Rabbi meudului Laailaahaillallah Pujoe Allah Tuhan Esa Pasai dua oh noe simpan Nyang keu lhee taulan jinoe takira
Wa Alfashlul Khamisu Fibayanith Thaharatillaty Aqsamil Mai Pasai yang limong jinoe lon kheun kri Ta meusuci jinoe nyata Ngon bagi ie lon boh sinoe Ta deungoe adoe lon calitra Suci hate saboh bahagi Nibak deungki deungon riya ‘Ujub teukaboe ku'eh dendam Ureueng Islam dum neu ceula Yang nyan beu geet hai boh hate Dum ta woe sare bek ta lupa
Akhbarul Karim Nyan ta pubuet kareuna Allah Bek bube drah kareuna muka Pubut ibadat karena Allah Bek bube drah kareuna donya Soe han suci najis Qalbi Sembahyang haji han sakon guna Dua bahagi suci badan Ilat jih nyan dua perkara ilat yang phon tanoh suci Dua bahgi tanoh safa Ie sah ta ngui beurang gajan Ie sah taulan meukeutika Tuboh saket ie han sapat Nyoh nyan siat tanoh mulia Mita tanoh meunyucikan Tayamum taulan yoh nyan sigra Laen nibak nyan yang rhah najis Laen nibak nyan cemar leuta Miseu anjing ban ngon babi Han sah suci meungkon dua Meunkon ta jampu tanoh sajan Han sah taulan suci gata Soe han turi hukom thaharah Sia ibadah han sakon guna Jinoe lon peugah hukom thaharah Suci jasad nibak cemar Fardhu suci na lhee ban Deungoe taulan lon calitra Bee bak gadoh rasa bak hilang Rupa ta pandang pih beunyata
Tauhid dan Thaharah
Syarat suci ie muthlak Cit meunampak hana cidra Ie mutlak tujoeh bagoe Dengoe jinõe lon peunyata Saboh bagoe ie mutlak Hujeun tron bak langeet donya Keudua geukheun ie meualon Umbak yang tron meula lumba Keulhee bagoe ie sungai Yang jeut manoe hana ceumar Keupeuet bagi ie mon luah Dua kulah asoe jih na Ie mata ie limong bagoe Nibak bumo yang keulua Bagi yang nam geukeun ie embon Ie yang ditroen di udara Tujoh bagoe nyan ie beuku Habeh ‘oh noe lon calitra Meunghimpon ie dum peuet bagi Deungoe lon kheun kri sinoe nyata Bahagi phon ie mutlak Tujoh teuratak bagi jinoe Ie yang suci menyucikan Meukroeh jih han soe yang bawa Ie mutlak meunyucikan Ngon rah badan nibak cemar Ie sembahyang ngon tamanoe Suci asoe jib anggota Ie mutlak yang troh kulah Hana ubah najis teuka
Akhbarul Karim
Hana ubah rasa ngon bee Miseu lagee yoh pertama Dua qulah ie deungoe lon kheun had Adat tasipat taboh hingga Adat beujana yang peuet sagoe Sihah nam jaroe jib-jib punca Lhok pih ‘oh nan na di dalam Ie nyan tapham dua qulah na Adat bunta beujana nyan Taklok di sinan dua hasta Luah babah pih na sihah Dua qulah ie sinan na Dua bagi ie yang meukroh Ta deugoe lon boh lam calitra Yang jeud meukroh seubab jih lhee Bak geu adee yang pertama Dalam beujana keunong palee Sinan geu adee syarat keudua Bek jipakek oleh insan 'Oh nan sampek syarat keutiga Yang keulhee syarat hase meukroh Ta takot tuboh supak teuka Ie sijuk that ngon tutong that Nyan pih meuhat meukroh jihna Seugala ie mon di nánggroe timur Ie gampong Luth meukroh raya Seubab salah asoe nanggroe Tuhan sidroe pih murka Ie yang meukroh jinoe ta simpan Yang keulhee tuan jinoe takira
Tauhid dan Thaharah
Keulhee bagi ie musta'mal Han sah ta ngui ngon istinja' Han sah wudhu' ngon tamanoe Ngon ta rhah droe pat yang leuta Ie musta'mal yang ka kungui Bak fardhu yang ka kuba Laku kureueng dua qulah Yan keuh han sah angkat pula Ie musta'mal habeh ‘oh noe Yang peut jinoe teuma takira Keupeuet bagi ie yang najis Lagi jenis cemar lata Ie hod najis yang troeh qulah Seubab ubah najis teuka Peuet bahagi ie dua han sah Wajeb ta kubah bek ta lunda Ie yang najis ngon musta'mal Wajeb ta tinggal bek ta bawa Ie yang meukroh ta ngui jan dak Ie mutlak beuthat ta kira Meung kon ngon nyan han sah meusuci Kheun Syafi'i imam kita Miseu ie u ngon ie teubee Adat seuribee qulah jih na Han sah suci ngon dua nyan Peu yang laen sibagoenya Ie yang kureueng dua qulah Nyan pih hansah angkat pula Saboh syarat tangui dilee Bak fardhee yang ka kuba
Akhbarul Karim
Dua syarat teuka najis Nyoh nyan ubah cemar lata Han sah wudhu' ngon tamanoe Ngon ta rah droe pat yang lata Seubab najis roh dalam nyan Seubab nyan han sah ta istinja' Adat bangke yang han darah Na cit meuah kheun ulama Miseu sidom kumbang denden Peu yang laen sibagoenya Syarat meuah ubah jih han Lom nibak nyan kon ta sahaja Hukom suci wajeb ta tuban Seuteungoh iman hase keu gata Miseu sabda Nabiyullah Jinoe lon peugah ubak gata Atthaharatu Nisful Iman Nabi meunan neu meusabda Ta meusuci seubab iman Sah seubab nyan ‘amal gata Yang le insan masa jinoe Han meurunoe bak ulama ‘Oh na ji eu ie mon bacut Ngon nyan pih jeut le istinja' Sembahyang han sah manoe han hase Ureueng jahee tan agama Ie sembahyang hana putoh Adat tuboh pih han reuda Seumbahyang na tinggai han padoe Jih lam rugoe sangka laba
Tauhid dan Thaharah
Peu keuh seubab nyan jeued meunan Teuma ie han suci safa Beuranggajan pajoh najis Seubab ji rah ngon ie cemar Pat ji teumeu ie si jupak Pat meurumpok lueng sideupa Ji meusuci le di sinan Najih badan han jikira Jaroe meunajih ija meulinggan Jiwoe nyoh nyan rumoh tangga Jimat le batee kunyeet jipeh Jaroeh han gleh mantoeng cemar Untong-untong ji khanduri Habeh pike pajoh cemar Jih meudesya gob meulinggan Han jitanyoeng bak ulama Pajoh cemar hareum meuhat Page teumpat lam Neuraka Miseu neukheun oleh Nabi Lafadz lon bri sajan makna Ayyu Lahmin Nabata Min Harami Fan Nahlu Aula Bihi Nabi kheun asoe jeut bak hareum Neuraka Jahannam page mita Pat jiteumee ji pajoh le Siksa page lam Neuraka Makanan get ie pih meunan Seubab han suci jeuet keu desya Makanan haleue jeut keu hareum Seubab ji akan sajan cemar
Akhbarul Karim
Jimat najih jimat cawan Jirhah han jan jicok sira Jirah le breueh jaroe meu abee Kalang gukee meukutee na Meunan pasal ureueng jahil Hana meusampee dum but sia Nyan keuh taulan ta meurunoe Pat ta deungoe dum ulama Makna ilmu jeuet meusuci Deungoe lon kheun kri saboh bicara
Lon peuingat meuengsoe pateh
Gaseh Allah soe tem bawa Badan beusuci ija beu gleh Ngon tika eh bek na lata Geupet guci beuna tatob Bek manok grob tikoh cuca Cawan pingan beuget tarah 'Oh takubah tatob beuna
Sira engkot lheuh peumajoh
Beugeet ta taroh tatob sigra Bek roh iek tikoh ngon eek cicak Bek ta roeng jak abeh cemar
Laen nibak nyan bandum bak gleh
Batee neupeh ta peulihara Jaroe suci dumpeue tarhah Dua qulah ie ta mita
Meueng na meunan wahe taulan
Suci makanan hana cemar Makanan suci hate peungeueh Badan teuh phui mangat rasa
Tauhid dan Thaharah
Hate peungeueh rezeuki mudah Allah tambah beurkah teuka Ureueng suci gaseh Tuhan Nabi meunan neu meusabda Adat na jan hal u taprah Kulet peunurah ta peulihara Ta taroeh bak get ngon meukaku Bek jak ase keunan teuka Haba lon nyoe sang ‘azimat Soe yang ingat jeued bahgia Teutapi maklum dum bak sahbat Lon peuingat bek meutuka Haba maklum narit jamak Lon boh mani' meueng sibanja Bak beurunyong timoh di gunong Hanyuet bungoeng u kuala Wajeb taulan ta teumanyong Pat han keunoeng ta pareksa Timu Barat baroh tunong Ta teumanyong bak ulama Keu seunampong bak seuntuan Cok saluran di ateuh sungai Hukom suci wajeb ta tuban Dumna tuan ta meurunoe Angen tunong jipot laju Angen timu meujan-jan uroe Adat hanjeuet tabeuet nawu Mee bak teungku kitab jawoe Beukit han pheuet beuna keurudoe Beukit han taloe beuna tima
Akhbarul Karim Adat han jeut tabeuet jawoe Tameurunoe bak ulama Ureueng ‘ibadat ilmee jih tan Han ubah ban weng meugisa Keubeue jijak han berheunti Pulang pergi rok-rok masa Beungoh jijak seupot jidom Jih hana tom troh jibungka Ho yang jijak keunan jiwoe Seupot uroe teuka senja Geunap uroe ji cok teumpat Hana siat jarak tangga 'Ibadat na beuranggajan Maksiat keu Tuhan pih han reuda Nyan keueh ureueng sang si suwe Jih lam sabe angeen timpa Meunan keueh tamse ureueng bingong Tuboh dan nyawong jih lam seksa Laailahaillallah Laailahaillallah Gaseh Allah yang percaya Pasai yang limong jinoe seleuso Yang nam jinoe teuma takira
Alfashlus Sadisu Fibayanin Najasati Wa Izalatiha
Pasai yang nam jinoe peugah Najis ngön rah sajan dua Tip-tip yang caye lagi mabok najis suntok geuboh nama Laen nibak nyan keumih tahi Anjing babi arak pula
Tauhid dan Thaharah
Neubahgi najih na lhee cabeung Sajan bileung lon kheun nama Bahgi yang phon Mutawassitah Mughalladhah dua perkara Keulhee najis Mukhaffafah Hukmiyah peut perkara Nyan keuh najis na peut pangkat Maseng syarat ngon srah jih na Beukit najis mutawassitah Syarat tasrah na lhee perkara Bee beugadoh rasa beuhilang Rupa tapandang pih beu nyata Miseu iek ek aneuk hewan Tuak taulan arak pula Beukit najis mughalladzah Syarat meutamah sinan dua Ta cuco ie tujoh kali Tanoh suci sajan serta Tanoh saboh lam seukali Han peu lagee le tabawa Miseu anjing nyan ngon babi Peu yang jadi nibak dua Beukitnajih mukhaffafah Syarat tasrah ie beurata Get na ile get tan ile Tempat yang hase suci jih ka Yang mise iek aneuk agam Yang teungoh mom mantong bak ma Makan minum pih hana lom Umur dua thon goh sampurna
Akhbarul Karim
Pasal yang nam ohnoe simpan Tujoh taulaan jinoe takira
Alfashlus Sabi'u Fi Bayani Ma Yujibul Ghusla Wa
Syurubihim Pasal yang tujoh lon boh jinoe Wajeb manoe ku penyata Wajeb manoe u bak insan Na keu nam ban bak calitra Yang awai phon mate insan Wajeb taulan peumanoe sigra Keudua hedh keulhee nifas Keupeut wiladah budak nyata Keulimong jima'ngon isteri Keluar mani nam perkara Nyan keuh seubab wajeb manoe Abeh ‘ohnoe lon calitra Fardhu manoe na dua ban Ta deungoe taulan ku calitra Pertama taboh hadast Teuma ta srah phon anggot Dua perkara ie beulengkap Jeub-jeub jasad ie beurata Jeu-jeub anggota yang meulipat Dalam pusat ie beurata Lam ok sanggoi lam gaki crah Bibi babah ie beurata Nyan fardhu jinoe sunat Deungo amanat kamoe bak gata
Tauhid dan Thaharah
‘Oh sare ka junub badan Wajeb insan manoe sigra Sare putoh nifas ngon hedh Neupeuhasel le ngon teuma Beudak ulee kruet bebewan Sunat meunan ta keurija Ta mita ie menyucikan Ta srah badan sigra-sigra Sunat manoe tung ie sembahyang Meunan abang phon ta mula “Oh lheuh uneun teuma blah kiri Ulu kaki ie beurata Ta kumur ie dalam babah Sunat ta srah tiga-tiga Gosok pih lhee sampoh pih lhee Ubak ulee kruet pih beuna Manoe pih lheuh do'a pih hasel Ta baca lee bek ta lupa Nyan keuh do'a hai sahabat Neuboh u barat yoh ta baca Asyhadual La Ilahaillallah Wahdahula Syarikalahu Wa Asyhaduanna Muhammadar 'Abduhu Warasuluh Allahhummajalni Minat Tawwabina Waj'alni Minal Mutathahhirina Subhanaka Allahhumma Wa Bihamdika Asyhadual La Ilahailla Anta Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika Wa Sallallahu 'Ala Sayyidina Muhammaadin
Akhbarul Karim
Wa'ala Alihi Wasahbihi Wa Sallam Ka lheuh lon kheun bak gata Fardhu sunat kaku peugah Jinoe faedah ku calitra Soe yang seugera manoe janabat Hase rahmat raya pahla Jeub-jeub titek ie nibak jasad Malaikat Tuhan peuna Malaikat lake ampon Keu ureung manoe seugra Ji ucap tasbeh nyan keu Tuhan Pahala jih nyan dum keugata Phon jinoe troh ‘an page Karoenya hadharat han ek hingga Jeub-jeub lengkap hase pangkat Atoet urat ampon teuka Gaseh Allah ngon Malaikat Ri yang umat manoe seugra Soena meunan le faedah Soe han salah raya desya Soe yang akhe manoe janabah Desya le that han ek kira Dum on kayee keunong uroe Na dum anoe naleung doenya Blang pih teu im kayee pih neuboh Adat leumah tamon desya Soe yang lambat manoe janabah Gadoh berkat bak areuta
Tauhid dan Thaharah
Makan minum lam janabah Nyan keuh yang that rijang fana Soe yang hantom manoe janabah Di akhirat teuma geu syeksa Geupeumanoe teuma dudo Ngon ie apui lam neuraka Geuplee ulee teubit rot punggong Habeh tutong dum anggota Prut dum putoh habeh meuree-ree Paleng paloe lam neuraka Jan kiamat teuma dudoe Jaroe u taku teuma geusingkla Ngon rante apui neuraka jahannam Muka lembam hango neuraka Laen nibak nyan desya ku peugah Malaikat hafadhah meuseurapa Seubab hanjeut neupeurab insan Geuteuka ban meuseurupa Kareuna najih badan insan Teudong yoh nyan nibak hawa U langeet han troh u bumo han troh Meunan geu teuka ban meuseurupa Tuhan teurimong do'a malaikat Ingat sahabat duna gata Habeh ku peugah laba rugoe Ban dua peu pahala syeksa La Ilahaillallah Karoenya Allah ampon desya Pasal tujoh ‘oh noe sampo jinoe lapan teuma takira
Akhbarul Karim
Alfashlus Tsaaminul Fil Bayani Qadhail Hajati Pasal lapan jinoe meuhat Qadha hajat lon boh sinoe Qadha hajat na lhee ban Tadeungo aturan adun adoe Hareum meukroh keulhee sunat Beu ta ingat gata keu nyoe Qadha hajat hareum ta mee surat Miseu azimat yang tapakek Miseu taduek nab u Barat Timu teupat tapaleng droe Miseu ta hadap uroe ngon buleun Nyan nyoe geukheun hareum cit raya Ban yang hareum jinoe makroh Ta deungo lon boh meuduk adoe Qadha meukroh tentang jalan Bak rot insan jijak jiwoe Bak simpang rot tunong baroh Bak peuniyoh hujeun ngon uroe Di yub jamboe bak meusilee Di yub kayee bak piyoh droe Di yub kayee yang pajoh bu Jeub-jeub lampoeh soh bak adee droe Bak leung tika tempat meuadee Bak duk jamee teumpat laloe Di yub kayee bandar peukan Diyub hasan bineh nanggroe Bak uruk lhok baak tanoh crah Bak ie sarah tepi sungai
Tauhid dan Thaharah
That sira tadong yang meukroeh that Saket tuboh meuah deumpeu Tempat yang meuqadha hajat Jamboe adat ngon meutajoe Tempat judi ngon meutaroeh Sinan haroh taboe duroe ‘Ohnoe habeh habe makroeh Ngon yang haroeh ban dua peu Jinoe lon peugah but yang sunat Lon peuingat so yang pakoe Sunat neumee ie ngon batee Neutop ulee keulubong droe Tamong bagan dilee kiri Jarop gaki beutapakek 'Oh tatamong dalam bagan Tabacakan do'a lee nyoe Bismillahi Allahumma Inni A'uzubika Minal khubsi Wal Khabaaits ‘Ohnoe habeh do'a sinoe Do'a pih lheuh ka kusimpan Duk lam bagan teuma sidroe Wi ngon uneun bek ta pandang Langeet manyang ban kalon droe Barat bek teupat timu bek teunang Sirong genteng ta paleng droe Qadha hajat sudah ie pih hase Istinja’ lee peusuci droe ‘Oh ka suci nab ngon likot Sunat tabaca le do'a nyoe
Akhbarul Karim
Allahumma Thahhir Qalbi Minan Nifaqi Wa Hassin Farji Minal Fawahisi Teuma berdiri ka seuleuso Lheuh nyan teuma bak berdiri Do'a nyoe baca sinan Alhamdulillahil Ladzi Azhaba 'Anil Adha Wa Afani Meunan do’a bak berdiri Teuma pergi keuluar droe Teubit sinan uneun dilee Yu panghulee nabi geutanyoe La Ilahaillallah Nikmat meutamah soe yang pako Nyoe na saboh panton Aceh Lafadz sareh makna tunai Narit meupaadan haba meusambot Rijang lagot hana pakoe Takoh bak jok ta rah keu lham Ngon kuh kulam tempat manoe Yoh ka balegh aneuk Islaam Wajeb ji pham dum hukom nyoe Peurdhee suci qadha hajat Cit wajeb that tameurunoe Takoh bak jok peuget meunasah Mita ilah taboe taloe Ta meuguree ubak syekh Beu tapeusah hukom manoe Bek jeut gata sang heawan Bek miseu ban kameng pindoe
Tauhid dan Thaharah
Fardhu manoe pih tan teupat Karang syahadatpih tan meuproe Nyan keuh hudep sang bak kayee Jeut keu jujee akhe dudoe Bak peunteut di bineh blang Bak keutapang diteungoh nanggroe Meuyoe hanjeut syahadat alang Lam maboek bang teungoh uroe Takoh tarhom pageu nawah Benteng jiboh tareung sinaroe Akhee doenya kureueng tuwah Soh meunasah jeub-jeub nanggroe Aneuk mit beut hana sapat ‘Oh katroek had troek bak gantoe Buleun Sa'adah yoh Ramadhan Ramee yoh nyan Sallu Alaihi Puasa pih lheuh fitrah pih hase Teuma teuduk le binasah sagoe Jinoe yang ramee beuranggapat Jamboe madat ngon meutajoe Laen nibak nyan teumpat pirsan Ramee siann malam uroe Beungoh seupoet maen galak Khem meuhak hak cula calo Dara ngon agam meunan Jipateh han kupeurunoe Pat na ji deungoe permainan Tempat jih han malam uroe Meugrum gendrang meutum beudee Ji dengoe le sare sagoe
Akhbarul Karim Ladom sawak ija panyang Meuhei le bang ladom adoe Yang ri gasin jak mandang Sawak ija ruya rayoe Diureung lakoe di jih saban Jak meukawan le meutaloe Hei sagoe nyoe hei sagoe jeh Qiyam bunyi jeub-jeub nanggroe Jeub-jeub jamboe ji meugendrang Jeub geulanggang ramee tajoe
Jeub-jeub bineh krueng jeub bineh blang
Jak meureuntang sit meutajoe Keunan bimbang dumna rakyat Bak meumadat ngon meutajoe Keu Potallah han ji ingat Keu ‘ibadat han ji pakoe Ladom galak bak ji meukat
Ji hareukat jeub-jeub nanggro Jimee meuneukat peu meuteumeu Mita pineung keudeh keunoe
Ureung sulet mit neuteupat Meunan ‘adat akhe nanggroe Laba ji teumeu bak meunakat
Teuam ji lipat le bak tajoe
Meunan ladoem seugala rakyat Maken leukat syetan peulaloe
Nit meunanoe hana teupat
Meu’arifat pih tan meuproe Rukon sembahyang han ji sasat
Rukon syahadat han ji teupeu
Tauhid dan Thaharah
Dok laloe bak hareukat Yang le rakyat laloe keudroe Ladom sit sajan Ulee Balang Sinan bimbang malam uroe.
Seubab ji kalon adoe angkat
Ireng rakyat malam uroe
Teuma ji pajoh peu yang geubri
Ji pancuri akhe dudoe Haba maklum dum bak sahbat
Lon peuingat meug bek laloe
Laloe ngon padoek dok geundrang
Lam perhasan malam uroe Ladom mabok hate bimbang Ladom Tuhan han ji tusoe
Dok ngon teupeun laloe ngon ireun
Peugeuh buleun ji meunyanyi Hate maboek meukhem kakalonn Hana heran ji meurunoe
Duek meutumpoek poh beureukah
Haba ji peugah meudeh meunoe
Tuboh mangat hana susah
Tuwoe keu Allah si aneuk beuso Soe yang paleh lam neupeutan
Kekal sinan malam uroe
Soe meutuwah rijang ji ingat
Seugeura ji taubat nibak laloe
Akhbarul Karim
La Ilahaillallah Pujoe Allah malam uroe Pasal lapan ‘oh noe bileung Jinoe sikureung ta deungoe adoe
Alfashlu Tasi'u Fil Bayanil Wudhu'I Fi Furu'ihi Pasal sikureung jinoe sahbat Wudhu' meuhat lon calitra Syarat wudhu' bak kri nam Yang phoen Islam ‘akal dua Keulhee syarat ie beusuci Keupeut lagi geutah bek na Kalang gukee gapu geutah Tempat tasrah lhee nyan bakna Kelimong suci nifas ngon heid Keunam hase ‘ilmee gata Beu ta beda fardhu ngon sunat Bak meuri had taboeh hingga Syarat jih nam fardhu pih nam Jinoe ta pham lon calitra Pertama nit angkat hadah Keudua troeh rata muka Keulhee tasrah jaroe sengkee Keupeut lagee sapu keupala Keulimong tasrah dua gaki Tertib lagee nam perkara Fardhu jih nam binasa limong Ta deungoe beu kong ku calitra Pertama keluar najis insan Nibak jalan dua rongga
Tauhid dan Thaharah
Keudua tamat faraj insan Ngon tapak tangan atau zakar Atau ngon pruet aneuk jaroe Nyan pih adoe wudhu' binasa Keulhee teupeeh ureung lakoe Ngon ureung binoe kon syedara Keupeut gadoh ‘akal insan Keulimong tidoeran tempat goga Nyan keuh limong binasaan Ban lakuan ta keurija ‘Oh troeh watee ie beuhase Tagantung le deungon tima Lheuh nibak nyan teuma na siat Duek bak teumpat ri yang safa Nab u Barat tung ie sembahyang Hate beuseunang hadap esa Teulheuh ta ucap ngon Bismillah A’udzubillah sajan serta Teulheuh nyan ta srah dua jaroe Sunat sinoe teuma ngon do’a Allahumma Inni As Alukal Yamiina Wal Barakati Wa A'udzubika Minas suui Wal Halki Sunat tatambah angkat hadats Masa tasrah jaroe dua Sunat meunan beuranggajan Boeh srah tangan hingga muka Tempat yang wajeb muqarranah Han meumunah nibak muka
Akhbarul Karim
‘Oh lheuh jaroe tasrah babah Mubalaghah sunat pula Meunan neukheun do'a sinan Nabi meunan neumeusabda Allahumma A'inni 'Ala Tilawatil Kitabika Wa Kashrati Dzikrika Lheuh nyan taboeh ie lam hidong Sinan pih lom sunat doa Tuhanku neubri lon teumeucom Dum bee harom laam syuruga Beuna ridha gata keulon Beuna ampon barang desya ‘Oh keulua ie alm hidoeng Meunoe takheun sinan do'a Tuhanku padok bak hidoeng lon Bek roeh lon com bee neuraka Lheuh nyan tanit angkat hadats Masa tasrah ie bak muka Do'a sinan meuno takheun Beuranggajan bek ta lupa Tuhanku neubri puteh muka Uroe tahimpoen dumna hamba Miseu puteh muka wali
Yang ka neubri nikmat syurga
Bek neubri hitam muka lon Miseu kaom yang ceulaka Lheuh nyan tasrah jaroe uneun Meunoe takheun sinan do'a Tuhanku neubri uroe kiamat Kalon surat yang bahagia
Tauhid dan Thaharah
Neubri lon cok dungoen uneun Neuhisab lon ngon seujahtera Lheuh nyan tasrah mula oh seungkee Meunoe lagee sinan do'a Neupadoek lon nibak sisat Nibak surat yang ceulaka Bek neubri surat wi ngon likoet Neugaseh that kemoe hamba Lheuh nyan taboeh ie bak ulee Meunoe lagee lafadz do'a Tuhanku neubri kaya lon that Deungoen rahmat nibak gata Nupeulheuh lon nibak saket Nibak ghareb ‘azeub neuraka Beuneupeutoren keulon berkah Neubri seulamat dum perkara Peulindoeng lon diyub ‘Arasy Uroe tumpah jue kepala Lheuh nyan neusrah na sapat
Yang na nawong uroe tutoeng jue kepala
Lheuh nyan tasrah ngon geuluyueng Sunat neukheun sinan do'a Neupeujeut keulon geuluyueng peungeuh Lon deungoe deuh Quran mulia Neubri ku amal yang tasuroeh Kupeujeuoh yang tham gata Neubri lon deungoe su dimanyang Geuhoi ureueng lam syuruga Neubri meutamoeng kamoe u dalam Serta Islam sajan serta
Akhbarul Karim
‘Oh sare lheuh tasrah gaki Sunat lagi sinan do’a Tuhanku neubri teutap gaki Ateuh titi bak neuraka ‘Oh sare lheuh tabaca do'a Sunan sinan tabaca do'a Asyhaduallaa Ilaaha Illallaah Wahdahulaa Syariikalahu Wa Asyhaadu Anna Muhammadan Abduhu Warasuluhu Allaahummaj'alnii Minat Tawwaabiina Waj'alni Minal Mutathahhiriina Wa Shallallaahu 'Ala Sayyidinaa Muhammadin Wa'ala aalihi Wa shahbihi Wa Sallim Taleueng jaroe nab u barat Rahoeb meuhat ubak muka 'Ohnoe habeh do'a sembahyang Wahe abang bek talupa Baranggasoe baca do'a nyoe Desya jinoe ampoen seugeura Desya habeh leungkap badan Yoh miseu ban pandang doenya Laen nibak nyan pahala bak Tuhan Syurga lapan pintoe terbuka Tatamoeng le ri yang kheundak Yang na galak hate suka La Ilahaillallah Peurintah Allah tamoeng meushila Pasal sikureung ‘Ohnoe teudoeh Jinoe siploeh lon peunyata
Tauhid dan Thaharah
Janji jadeeh awai hikayat Jinoe troeh hajat Allah karoenya Janji dilee siploeh pasal Teumpat takeunai maseng tangga Ngon pasai nyan troeh bak janji Karoenya Rabbi Tuloeng hamba Kareuna janji jeud keu utang Meunan abang kheun ulama Baranggasoe ubah janji Page bak titi hiatm muka Hitam pih that puteh han sagai Ban peu pasal han sempurna Wajeb itiqeud wahe taulan wajeb ta iman dum na rata Akhbarul karim kakeuh tamat Waktu meuhat uroe seulasa Wabillahi Taufiq Wa Shallallahhu Ala Khairul Khalqi Muhammad Wa 'Ala Alihi Wasahbihi Ajama'in
BAB III ALIH BAHASA
Bismillahirrahmanirrahim Akhbarul karim ku cerita Awal wajib bagi mukallaf Mengucap dua kalimat syahadat Syahadat tauhid syahadat rasul Dalam ilmu ushul jelas sekali Asyhadual lailahaillallah
Waasyhadu anna muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah
Zat dan sifat yang ada pada Tuhan
Tidak sama dengan hamba
Tidak ada tangan dan tidak ada kaki Maha suci Allah Ta'ala
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
Utusan Allah ke dunia
Perintah Tuhan bagi jin dan manusia Sampai pada ikan yang mendukung dunia
Pada binatang kayu dan batu Datang panghulu kepadanya
Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tauhid dan Thaharah
Nabi Muhammad anak Abdullah Di negeri Mekkah asal mula Kakeknya Abdul Muthalib Bangsa Arab Nabi mulia
Ibunya Siti Aminah Siti Halimah yang pelihara Dia yang menyusui Rasulullah Begitulah kata para ulama
Rupa Nabi sangat indah Seolah-olah bulan purnama Siapa yang pandang menjadi senang Pinsan rakyat melihat rupanya
Kulit putih bercampur merah Seolah-olah bunga cempaka Lamanya empat puluh tahun di Mekkah Kemudian hijrah ke Madinah
Tetap Nabi di Madinah Perintah Allah Azawajalla Beribadah tanpa henti Memerangi kafir tidak pernah reda
Nabi yang lain berlaksa ribu Lebih pangkat Nabi kita Yang pertama Nabi Adam Yang terakhir Nabi Mustafa
Kubur Nabi di Madinah Orang ziarah beribu laksa
Akhbarul Karim
Allah memberi berkat bagi kita Karena dua orang yang mulia
Selesailah makna syahadat Sekarang ma'rifat yang kita kira Sekarang saya jelaskan masing-masing pasal Biar masing-masing lebih mudah kita tahu Ada sepuluh pasal di sini Dengarkanlah saya jelaskan
Alfashlul Awwalu Fibayaan Makrifatillahi Ta'ala
(Pasal yang pertama menjelaskan tentang mengenal Allah)
Pasal yang pertama wahai sahbat Ma'rifat saya jelaskan Ma'rifat pada Allah dan pada Nabi Ada tiga jenis pembagiannya
Wajib mustahil beserta jaiz Ketahuilah dengan jelas Siapa yang tidak kenal sifat Allah Di hari kiamat dalam neraka
Sifat wajib banyak pada Allah
Tidak ada manusia yang dapat menghitungnya
Tidak wajib kita ketahui semua Seperti diungkapkan dengan nyata
Sebab tidak didapatkan dalil Tidak diberatkan bagi si hamba Sifat dua puluh wajib diketahui Sebab kita didapatkan dalilnya
Tauhid dan Thaharah
Yang mana sifat dua puluh Sekarang saya bilang satu persatu Sifat yang pertama namanya wujud Sekarang saya jelaskan maknanya
Arti wujud ada Tuhan Sifat yang demikian nafsi nama Wujud Tuhan tidak dapat digambarkan Tidak ada yang tahu asal mula
Dua qidam sifat Tuhan Maknanya saya jelaskan Arti qadim yang terdahulu Tiada permulaan tiada penghabisan
Nabi dan wali tidak sanggup memahami Mengenai zat Allah Ta'ala Tidak ada seorangpun yang sampai akal Tentang asal Allah Ta'ala Akal dan pikiran tidak mampu menjangkau Ilmu pengetahuanpun buntu kepadanya
Ketiga baqa sifat Allah Makna saya jelaskan kepada anda Arti baqa tidak berubah Kekal Allah selama-lama Bagaimana awal begitu juga akhir
Tidak sanggup kita pikir dan Tidak sanggup kita ungkapkan Dijelaskan keliru dipikirkan buntu Akal gila jika dipaksakan
Akhbarul Karim Sifat yang empat mukhalafah Makna akan saya jelaskan Arti mukhalafah bersalahan Tidak sama Tuhan dengan hamba Tidak ada yang dapat menyamai Tak suatupun dapat dipersamakan Contoh tidak ada teladan pun tiada Wujud Tuhan yang sedia Kelima sifat qiyamuhu Saya katakan dengarlah maknanya Qiyamuhu saya artikan Berdiri sendiri Allah Ta’ala Tidak membutuhkan tempat Tuhan yang paling Maha Kaya Tidak berkehendak zat dan fail Tidak serupa Allah Ta’ala Keenam wahdaniyah sifat Tuhan Makna taulan saya jelaskan Arti wahdaniyah Esa Tuhan Tidak dapat dihitung satu dan dua Tidak ada sekutu tidak ada bagi Maha suci Allah Ta’ala Sejak semula memang Esa Tidak ada apapun yang menyertainya Arasy dan kursi belum ada Qadim Tuhan memang telah lama Yang lima itu wajib kita ketahui Sifat salbi kuberi nama
Tauhid dan Thaharah
Arti salbi berlawana Sifat yang tidak ada pada Allah
Tujuh sifat namanya hayat Dengar sahbat saya jelaskan makna Arti hayat Tuhan itu hidup Tiada berbadan tiada bernyawa
Kalau mempunyai badan dan nyawa Itu sebanding dengan manusia Tidak layak Tuhan bersifat begitu Wujud Tuhan yang Esa Kedelapan sifat adalah ilmu Dengar lagi saya beri makna Arti ilmu mengetahui Segala hal semua nyata Mengetahui bukan dengan akal Bukan juga dengan bicara Mengetahui hanya dengan ilmu Demikian yang patut di percaya Kalau mengetahui dengan akal Pikunlah Tuhan di suatu masa Sembilan sifat adalah iradat Termasuk kedalam sifat mumkin Arti iradat berkehendak Apa yang layak diberikan Berkehendak bukan dengan nafsu Tidak sekutu dengaan manusia
Akhbarul Karim
Berkehendak dengan iradat Begitu sahabat kita percaya Kalau berkehandak dengan nafsu Bersekutu dengan manusia
Sepuluh sifat adalah qudrah Termasuk dalam contoh sebelumnya Hareuti qudrat kuasa Tuhan Arti qudrah kuasa Tuhan Menciptakan atau mentiadakan Dengan sekejap mata Bukan dengan tulang bukan dengan urat Sangat kuasa Allah Ta'ala
Kalau kuasa tulang dan urat Akan lemah di suatu masa Sebelas sama' sifat Tuhan Termasuk juga ke sifat maujuda
Arti sama' yang mendengar Baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara Wujud yang ada sekalian Didengar Tuhan senantiasa
Allah itu tiada bertelinga Namun'mendengar segala suara Allah mendengar dengan sama' Begitu sepakat para ulama
Dua belas bashar sifat Tuhan Tergolong ia pada yang telah ada Arti bashar yang melihat Dari arasy keseluruh penjuru
Tauhid dan Thaharah
Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi Tidak seperti yang dilihat mata Karena mata tidak ada pada Tuhan Semuanya dilihat dengan bashar
Tiga belas kalam sifat Tuhan Termasuk ia ketiga yang dulu Arti kalam Allah berbicara Bukan dengan huruf dan juga suara
Ia berbicara bukan dengan lidah Bukan dengan mulut Ia bersuara Kalau berbicara dengan lidah Mengucapkan huruf Tuhan Esa Maha suci Allah dari sifatnya Akal sangka sia-sia Berbicara dengan kalam Begitu diketahui kita percaya
Yang tujuh itu anda kenal Sifat ma'ni wahai saudara Arti ma’ni berdiri pada zat Misal hayat yang mulia Maknawiyah sekarang saya jelaskan Kasih Allah bagi yang percaya
Empat belas sifat namanya hayyon Berurutan saya jelaskan Arti hayyon zat yang hidup Begitu wajib satu nama
Akhbarul Karim
Bagaimana hidup ia sendiri Dengan hidup-Nya selama-lama
Sekalian lain semua Jin dan insan hidup dengan nyawa
Bayang-bayang hidup Tuhan Pada nyawa sekalian alam dunia Kalau hidup seperti kita Setiap negeri isi dunia
Kalau mati hilang kuat Kembali hayat pada Allah Ta'ala
Sifat ‘alimon genap lima belas Maknanya jelas saya jelaskan Arti alimon yang mengetahui Nama Tuhan yang ada
Bagaimana tahu ia sendiri Dengan paham-Nya selama-lama Jin dan manusia diberi ilmu Diberi tahu segala isi dunia
Bayang-bayang ilmu Tuhan Diberitahukan bagi setiap hamba Jika kita semua sudah mengetahui Genap negeri isi dunia
Setelah tahu hilang tingkah
Kembali Ilmu Allah ta’ala Sifat muridon genap enam belas Begini syiah berikan makna
Tauhid dan Thaharah
Arti muridon yang berkehendak Apa yang layak diberikan Bagaimana berkehendak Tuhan itu sendiri Dengan kehendak-Nya selama-lama
Sekalian lain semuanya Kehendak Tuhan seluruh dunia Bayang-bayang kehendak Tuhan Diberikan semua pada hamba
Setelah kehendak hilang ibarat Kembali ke iradat Allah Ta'la
Tujuh belas sifat namanya qadiron Berurutan saya jelaskan Arti qadiron zat yang kuat Kuasa amat Allah Ta’ala
Bagaimana kuasa Ia sendiri Dengan kuasa-Nya senantiasa Sekalian lain semuanya Pada Tuhan yang memberikan kuasa
Bayang-bayang kuasa Tuhan Bagi sekalian manusia Habis kuasa hilang harakat Kembali qudrat Allah Ta'ala
Sifat sami’on genap delapan belas Mufakat syiah begini makna Arti sami'’on yang mendengar Tidak ada yang tidak terdengar semua suara
Akhbarul Karim Bagaimana mendengar ia sendiri Dengan dengar-Nya sepanjang masa Lain daripada itu pendengaran Karunia Tuhan kepada setiap hamba
Bayang-bayang pendengaran Tuhan Diberikan sekalian untuk hamba Habis mendengar datang tuli Sama'kembali pada Allah ta'ala
Sifat bashiron kesembilan belas Dengar sekarang saya berikan makna Arti bashiron yang melihat Tiada yang tersembunyi sedikitpun Bagaimana melihat Tuhan itu sendiri Dengan lihat-Nya selama-lama Sekalian lain semuanya Karunia Tuhan melihat dengan mata
Bayang-bayang melihat dengan mata Dihantarkan semua rata Maka melihatlah kiat semua Tiap negari seluruh dunia Setelah melihat sekalian Kembali bashiron pada Allah ta'ala Dua puluh sifat mutakalliman Dengarkan abang saya beri makna Arti mutakalliman tuhan berkata Betul-betul kita periksa
南
Tauhid dan Thaharah
Bagaimana berkata Tuhan itu sendiri Dengan bicara-Nya nantiasa Sekalian lain semuanya
Karunia Tuhan melalui berkata Bayang-bayang bicara Tuhan Diberikan lidah sebagai juru bahasa Sesudah berkata hilang paham
Kembali kalam pada Allah Ta'ala Sampai waktu ajal tiba Pinjaman tujuh diambil dari anda Sesudah kembali pinjaman tujuh
Tinggal tubuh tidak ada gunanya Sudah terbujur seperti kayu mati Tiada harga walau sekupang Datang orang seisi kampung
Mengunjungi mayat anda Kemudian dimasukkan dalam liang lahad Dalam kubur sendirian Kalau tidak ada amal kebajikan
Sendiri taulan dalam kerenda Kubur gelap lagi sempit Terlihat tempat dalam neraka Datang azab bermacam-macam
Rasanya ingin kembali ke dunia Saat itu menyesali diri Duduk menangis dalam kerenda Lailaha Illallah
Akhbarul Karim
Kubur luas bagi siapa yang berzikir Sampai disini usai satu peringatan Sekarang lain kita kira
Sifat yang wajib sudah kita kenal Yang mustahil bagaimana Arti mustahil tidak patut Perkataan tak masuk akal dan tak pantas
Yang mustahil wahai pelajar
Lawan wajib kita periksa Misalnya mengatakan Tuhan tiada Dengan baharu disebut sama
Umpama ada permulaan dan penghabisan Seperti kita ada rupa
Misalnya berdiri dengan yang lain
Berbilangan Tuhan dua
Misal Tuhan itu mati Tidak mengetahui semua perkara Misal benci kepada makhluk Lemah qudrat Allah ta'ala
Tidak dapat mendengar dan melihat Tuli Tuhan buta mata Itulah taulan yang mustahil
Perlu dipikirkan semua perkara
Yang mustahil sudah habis Sekarang jaiz saya jelaskan Arti jaiz harus pada Tuhan Ada tak ada dikerjakaan
傷
Tauhid dan Thaharah
Misal jaiz pada Tuhan Dijadikan alam dengan isinya Sah diada sah ditiadakan
Itu yang maklum bagi rabbana Umpama diberikan kaya dan miskin
Sakit badan enakpun ada Misal mukmin dimasukkan dalam syurga Bisa juga dipindahkan kedalam neraka
Misal kafir diberikannya azab Diberi nikmat dapat juga Begitu taulan pada aql i Pada syar-'i lain dikira Pada syar-i wajib juga Mukmin tempat dalam syurga Misal kafir dihari kiamat
Wajib dimasukkan kedalam neraka Jaiz pada aqli dan syar-i Seperti 'ashi yang durhaka Boleh diampuni walau tidak bertaubat
Memang umat yang durhaka Begitulah pada aqli Dengan syar-i begitu juga Itulah contoh jaiz pada Tuhan
Sudah sempurna tiga perkara
Selesai sudah satu pangkat Persoalan ma'rifat wahai saudara
Akhbarul Karim
Pasal yang pertama sampai disini Sekarang taulan pasal yang dua
Alfashlus Tsani Fibayanid Dalili Wujudillahi Ta'ala (Pasal dua pada menyatakan dalil-dalil dan bagiannya)
Pasal yang dua sekarang saya jelaskan Dalil adanya Allah saya tunjukan Selain itu juga saya katakan Sifat Tuhan termasuk kemana Saya berikan soal jawab segera
Sifat Tuhan lihat dengan nyata
Mana dalil wahai taulan
Wujud Tuhan yang dikatakan ada Zat dan sifat tidak jelas Tidak pernah dilihat oleh mata Siapapun tidak pernah melihatnya
Bagaimana kita katakan wujud itu ada
Zat tidak jelas sifatpun tidak Rupanya saja tidak pernah nampak Teungku dengarlah saya uraikan Yang menjadi dalil zat yang Esa Dalil wujud ada zat Tuhan
Baharu Alam terciptanya dunia ini
Yang mana alam coba sebutkan
Saya dengar sah tolong jelaskan
Tiap-tiap ciptaan beda pada Allah Itulah yang sah alam nāma Seperti arasy dan kursi
Tauhid dan Thaharah
Misalkan bumi dan langit dunia Jin dan manusia serta malaikat Segala jenis benda isi dunia Itulah alam yang sudah saya jelaskan
Ada yang nampak ada yang tidak Seperti negeri di belakang bukit qaf Luas-luas Nabi cerita Bagaimana diketahui alam itu bahru
Terangkan taulan saya dengarkan Anda belum ada dia sudah ada Di mana bukti baru nyata Seperti langit dengan bumi Sebelum kita ada dia sudah ada Teungku dengar saya jelaskan Yang jadi dalil bahwa alam itu ada Lazim pada alam ‘aradh yang bahru
Itulah teungku yang menjadi tanda Mana 'aradh tidak nampak Entah bagaimana rupanya
'Aradh berdiri pada jirem Seperti senyum pada manusia Seperti putih pada kertas Seperti merah pada pohon kesumba
Seperti rasa pada makanan Seperti wangi-wangian pada bunga Seperti panas pada api Seperti sejuk angin bawa
Akhbarul Karim
Seperti ilmu pada manusia Seperti sakit pada anggota
Itulah ‘aradh saya bilang Sebagian lemah sebagian tidak Dimana kita tahu bahru 'aradh Mana buktinya coba katakan
Teungku dengar saya katakan Berubah-ubah tiap-tiap masa Kadang diam kadang bergerak Semula bayi kemudian tua
Sebentar sejuk sebentar panas Sebagian ular kobra sebagian ular biasa Kadang naik kadang turun Kaya miskin laki-laki dan perempuan
Seperti riak dan gelombang
Ada yang rendah ada yang tinggi
Sebentar hujan sebentar kemarau Bermacam ragam kejadiaannya
Hidup mati sekalian Ada pada alam dunia Itulah dalil bahru aradh Sempurna akal bagi yang mau berpikir
Itulah saya katakan dalil adanya Tuhan Bahru alam segala dunia Sifat dua puluh wajib kita ketahui Sebab didapatkan dalilnya
Tauhid dan Thaharah
Yang mana dalil yang wajib kita tahu Bagimana ilmu coba jelaskan Sekarang saya bilang satu wahai sahabat Dalil ada tiga yang tertentu
Sepuluh sifat dalil alam Dengar saya jelaskan satu persatu Sifat wujud dengan wahdaniah
Ketiga sifat hayat namanya Qudrah iradah ilmu hayon Qadiron muridon yang kesembilan Sepuluh sifat namanya alimon
Dalil alam semuanya Kalau tidak ada sepuluh sifat Alam ini tidak bisa diciptakan Itulah dalil yang pertama saya jelaskan
Sekarang saya jelaskan yang kedua Yang enam sifat dalil kitab
Hadits ijma' yang mulia Maksud kitab firman Allah Maksud hadits perkataan Nabi Maksud ijma' mufakat syiah
Tidak ada ubah pada penjelasan Yang enam sifat saya jelaskan Katakan yang sah saya dengarkan Sama' bashar ketiga kalam
Akhbarul Karim
Empat sami’on sifat mulia Lima bashar enam mutakallimon Semua masuk kebagiannya masing-masing Jika tidak ada hadits firman
Sifat yang enam tidak ada yang mengetahui Dua sudah sekarang yang ketiga Masing-masing tempatnya ada Empat lagi sifat Tuhan
Dalil itu dua perkara Durtasalsul dan mustahil Pada dalil dua perkara Arti dur perhentian
Berputar-putar seperti alat tenun sutra Empat segi itu menunggu-nunggu Apakah tidak jadi aku dibawa Empat sudut lain saling mempersilahkan
Dikatakan pergi duluan anda Kemudian datang bersama-sama Sama-sama berputar-putar Keempat duluan keempat kemudian
Pikir adik kalau bicara Semua yang awal mengaku diri Semua yang akhir medakwa diri Dakwanya tidak pernah sampai
Tergantung pada perhentian dur Begitu contoh satu aturan
Tauhid dan Thaharah
Lainpun masih banyak satu bicara
Tidak nampak awal dan akhir
Itulah contoh saya jelaskan Arti tasalsul peraturan Setelah itu tak terhingga Seperti riak di laut
Beratur urut tidak reda Beralun-alun satu persatu Tidak henti yang lain datang
Masing masing ada yang ikuti
Di tepi laut ia datang Dihempaskan diri satu persatu Hilang akal jika dikira Pekerjaan tasalsul tiada berakhir
Makin atas makin berganda-ganda
Tuhan kita tiada bahru Tiada dia seperti sebelumnya
Yang empat sifat yang pertama qadim
Setelah itu adalah baqa Mukhalafatuhu qiyamuhu
Keempat sudah sempurna Habis semua dua puluh
Tandanya pun sudah saya berikan
Sifat dua puluh sudah saya kenal
Habis dalil semua nyata Takluk di mana masuk kemana
Akhbarul Karim Katakan sahabat diceritakan Dengarlah sekarang saya katakan Yang sebelas pada istaghna Arti istaghna kaya Tuhan Pada alam semuanya Tidak ada tempat diambil manfaat Sangat kaya nantiasa Langit dan bumi orang sembah Tiada sezarrahpun lebih mulia Walaupun tidak ada orang yang menyembahnya Tiada berkurang kemuliaannya Itulah yang disebut kaya mutlak Tidak berkehendak pada hamba Sekarang saya jelaskan sifat yang kesebelas Dengar dengan sah adik raja Pertama wujud kedua qadim Setelah itu adalah baqa Mukhalafatuhu qiyamuhu Paham yang benar arti maknanya Sama' bashar lapan kalam Sembilan sami’on sifat mulia Sepuluh sifat namanya bashiron Mutakallem sudah sempurna Kalau tidak ada sifat sebelas Tidak sah Allah dikatakan kaya Sifat sebelas sudah saya jelaskan
Tauhid dan Thaharah
Masuk dia pada istighna Pada iftiqar masuk sembilan Dengar saya hitung wahai saudara Arti iftiqar kehendak alam Pada Tuhan yang amat kaya Berkehendak pada tiap-tiap masalah Tidak pernah ia reda Hidup mati sakit dan sehat Pada hadhrat yang kuasa Sekarang saya jelaskan sifat sembilan Sambil menghitung saya sebut nama Pertama hayat dua elmu Tiga iradat yang kita kira Keempat qudrat kelima Hayyon Enam muridon diberi nama
Ketujuh alimon kedelapan qadiron Maknawiyon disebutkan nama Sembilan sifat wahda niyah Habis semua saya jelaskan Jika tidak ada sembilan sifat Tiada satupun dapat diciptakan-Nya Kalau lemah dengan bodoh Tidak ada hasil alam dunia
Sekarang dunia sudah kita pandang Segalanya nampak nyata Itulah dalil kuasa Tuhan Sifat sembilan wajib ada
Akhbarul Karim
Wajib pada alam semua berkehendak Pada zat haq Tuhan Yang Esa Sekarang sembilan sebelumya sebelas Menjadi jumlah dua puluh genap
Selesai ini taklok kemana Kemana masuk sekarang kita kira Sifat dua puluh enam yang masuk Dengarlah dengan jelas saya katakan
Tidak pada wajib dan mustahil Sungguh-sungguhlah pahami makna Pada wajib tidak takluk qudrah Karena ia sujud sudah duluan ada
Pada mustahil juga tidak takluk Karena benar-benar ia tidak ada Jika takluk qudrat pada mustahil Maka berubah ia menjadi jaiz
Jika itu anda katakan Takluknya sah pada mukmin Arti mumkena ada dua macam Boleh ada boleh tidak
Misal diciptakan oleh Allah Seekor gajah yang berbadan besar Seribu kepala dua ribu gading Tiada banding didalam dunia
Diberi sayap seperti layang Lalu terbang ke udara
Tauhid dan Thaharah
Lailaha Illallah Kuasa Allah dengan apa yang dilakukannya Misalnya diciptakan sebuah gunung Heran tercengang kita melihatnya
Tanahnya emas batunya intan Kayunya perak safa Daunnya sebagian perak sebagian emas Cahaya terang kemana-mana
Banyak burung tanpa bandingan Sebagian intan sebagian mutia Akal tercengang amat sangat heran Pada perbuatan qudrat Allah Ta'ala
Mukmin pada Tuhan yang berkehendak Allah yang haq tiada dua Bertiup angin ombak beralun Riak turun berlomba-lomba
Qudrat Allah total seluruhnya Lahir dari parą aulia Sampai disini masalah mukmin Sekarang yang lain saya katakan
Sama'bashar takluk pada maujud Baik yang nampak maupun tidak Tidak pada makưum dan mustahil Kita pikirkan kalau bicara
Tiap-tiap yang nampak dilihat Walaupun sudah tiada berbentuk
Akhbarul Karim
Seperti suara pada insan
Seperti wangi-wangian yang beraneka
Seperti rasa pada makanan
Jelas kelakuan nampak rupanya Tentu putih ataukah hitam Penglihatan Tuhan yang sempurna Semut berjalan di tengah malam
Dalam batu hitam didalam tanah Nampak dilihat oleh Allah Bentuk rupa dan tabiatnya Setiap wujud bunyi Allah mendengarnya
Meski bunyi hanya sekali Misal batu yang dipantai Misal pikir manusia Semua didengar oleh Allah
Baik bersuara ataupun tidak Apalagi jika ada suara Jelas bagi Allah mendengarnya
Wujud yang tidak ada sama sekali Misal mustahil yang sungguh-sungguh tak ada Tiada mendengar dan melihat Keduanya tak berwujud
Sama'bashar sampai disini Sekarang saya tambah lain pula Ilmu kalam takluk tiga dan empat Dengar sahabat saya jelaskan
Tauhid dan Thaharah
Pertama pada wajib dua pada mustahil Yang ketiga pada jaiz Kalam Tuhan tiada berucap Tiada berhuruf lagi tak bersuara
Kalau ada huruf kalam Tuhan Sudah serupa dengn insan dia berbicara Bukan bahasa Ajam bukan pula bahasa Arab Bukan dengan ikrab juga bukan bahasa
Tidak diawal dan juga diakhir Tidak ada sesuatu yang serupa Wa'ad wa'id amar ma'ruf Kalam rabbi sepatah saja
Disitulah kita pahami amar nahi Dengan janji syurga neraka Selasai disini tentang kalam
Ilmu Tuhan bagaimana rupa maknanya Ilmu Tuhan tidak sanggup kita katakan Tuhan ketahui segala perkara Apalagi 'arasy dan kursi
Langit bumi semua nyata Yang kita ketahui ataupun tidak Tiada yang tersembunyi pada Rabbana Pasir batu dapat dihitung
Air laut air sungai dapat diketahui jumlahnya Semua pohon dalam gunung Rumput dipadang seluruh dunia Tertentu jumlah serta sukatan
Akhbarul Karim
Ilmu hadharat tiada terhingga Tidak terhijab siang dan malam Apa yang dicita-citakan oleh insan Kemanapun dibalik tubuh insan Diketahui Tuhan apa yang dikerjakannya Lailaahaillallah Hati lidah jangan dilupa Baik dan buruk dalam khitmad Sampai kiamat akan terbukti
Siapapun kita yang berbuat taat Hari akhirat dalam syurga Sampai disini makna ilmu Tuhān tahu semua perkara
Keenam sifat takluknya sudah pasti Pada hayat semuanya Selain itu tiada takluk Sifat Tuhan tiada terhingga
Kisah takluk sampai disini Sifat Rabbi Tuhan yang Esa Sifat dua puluh berhimpun Satu Pada zat Tuhan Yang Esa
Dalil satu madlul Satu Paham dengan sungguh jangan ragu Dalil alam Allah madlul Dalam asal – uşul telah ada
Pertama kita ketahui dalil alam Kemudian pada asmanya
高
Tauhid dan Thaharah
Setelah asma kemudian dengan sifat Dalil yang terakhir zat Allah Ta'ala
Didapatkan zat karena sifat Qudrat Iradat ilmunya nyata Didapatkan sifat sebab isim Nama Tuhan yang Mulia
Qadiron muridon 'alimon hayyon Sebab alam diketahui asma Tiga buah dalil ditemukan pada alam Semula tak ada pertanda kuasa
Dunia ini pada awalnya tidak ada Kuasa Tuhan yang menjadikan Kalau tiada kuasa Tuhan sendiri Seluruh alam ini tidak nyata
Makanya dikatakan semula tidak ada Dalil qadiran Allah Ta'ala Kedua dalil muridun telah tertentu Putih hitam masing – masing warna
Rupa diberi telah tertentu Tiada yang cacat pada rupanya Putih bisa hitampun boleh Masing tentu diberi rupa
Yang putih tidak bisa menjadi hitam
Yang laki-laki tidak bisa menjadi perempuan Pendek boleh tinggipun boleh Tuhan tentukan ukurannya
Akhbarul Karim
Yang pendek tidak bisa menjadi panjang
Masing-masing imbang pada Rabbana Seperti yang berkehendak pada iradat Pasti-pasti karunianya
Itulah yang dikatakan dalil muridan Masing-masing kelakuan dinyatakan Yang ketiga permasalahannya Dalil A'limon Allah Ta'ala
Rupa alam banyak ragam diciptakan Tanda pandai Allah Ta'ala Rupa binatang tiada yang sama Seperti insan juga tidak sama
Pohon kayu juga banyak macam Seperti bunga banyak warna Diciptakan dan ditiadakan itu oleh qudrat Laut darat semua nyata
Suara angin dan gemuruh gelombang
Semua ciptaan Allah Ta’ala
Banyak mati waktu perang
Harimau badak juga Tuhan ciptakan
Perang berkecamuk banyak yang mati Rakyat heran karena Rabbana Geledek menggeluntur hujanpun turun
Angin taupan laut bergelombang besar
Kemarau panjang matilah hutan Semua hulu sungai habis mata airnya
Tauhid dan Thaharah
Langit berpayung bumi melayang Laut melintang gunung melingkar Pertanda adanya Allah tidak dapat dihitung Nampak bagi orang yang punya mata
Sekalian ini diciptakan Allah Diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya Sampai disini makna qudrah Sekarang iradat saya katakan
Masing tentu kerja iradat Sudah pasti tidak tertukar Yang sudah menjadi kafir tidak akan Islam Yang dalam jahannam tidak di syurga
Yang menjadi Nabi takkan menjadi umat Yang jadi rakyat takkan menjadi raja Yang jadi keuchik takkan menjadi tandi Yang jadi wakil takkan jadi bintara
Yang bahagia takkan menjadi rugi Yang sudah dipuji takkan dicela Yang alim takkan menjadi jahil Yang sudah fakir takkan menjadi kaya
Yang putih takkan hitam Tertentu patokan jelas tangganya Sampai disini makna iradat Sekarang ilmu yang kita kira Masalah dalil ilmu Lain macam diciptakan
Akhbarul Karim Bentuk dan rupa banyak macam Seperti insan tidak semua yang sama Masing kaum masing nasab Sebagian Arab sebagian Jawa Sebagian Aceh sebagian Jawoe Banyak lagi ragam lainya Rupa binatang banyak macam diciptakan Tanda pandai Allah Ta'ala Laksana rajawali tak semisal perkutut Seperti murai tak sama dengan nuri Seperti kerbau beda dengan lembu Laksana biri-biri tidak serupa unta Seperti beruang tak seperti lutung Seperti kobra tak samā dengan naga Seperti kayu banyak macam Tuhan tentukan masing-masing rupa Seperti pinang beda dengan bayah Seperti keladi beda dengan kala Seperti rotan beda dengan tumbuhan jalar Umpama selada air tak sama dengan kaktus Seperti ular beda dengan ulat Seperti pacat tak serupa naga Begitulah keadaan masalahnya Dalil Tuhan alam raya Selesai disini makna ilmu Dalilnya telah saya nyatakan
Tauhid dan Thaharah
Di qadiran dali qudrah Begitulah sahbat saya nayatkan Di muridan dali iradat Begitulah kita pahami makna
Di 'aliman dalil ilmu Begitulah yang harus kita percaya Qudrat iradat dalil hayyon Disana terhimpun satu tanda
Lalu hayyon dalilnya hayat Semua dalil zat haq Allah Ta'ala Zat dengan sifat artinya Satu Pahami sungguh-sungguh kata ulama
Asshifatu wal maushufu wahidun Begitulah sahabat arti maknanya Zat dan sifat maknanya Satu Pahami sungguh-sungguh di dalam dada
Arti zat yang berdiri sendiri Tidak ada keinginan apa-apa Arti sifat yang ada hajat Bergantung pada zat senantiasa
Walaupun begitu tidak pernah bercerai Dia berkumpul keduanya Seperti laut dengan alun Sering berhimpun keduanya
Itulah saya katakan maknanya Satu
Pahami dengan sungguh-sungguh jangan keliru
Akhbarul Karim
Begitulah semua dalil zat Lengkap shamad alam dunia
Karena Tuhan maha menciptakan Dengan sifat empat hasil nyata Seandainya kurang satu sifat Syarat pencipta tidak sempurna
Kalau tak sempurna syarat pencipta Tak berhasil kerja pencipta alam dunia Syarat pertama harus ada hayat Orang mati tidak bisa bekerja
Jangankan bekerja bergerakpun tidak Tak usah taulan kita jelaskan lagi Syarat kedua harus ada ilmu Orang dungu tak ada kepandaian
Tak tahu menyelesaikan kepandaian Tak tahu apa yang bisa dipikirkan Kayu terbuang rumahpun tak jadi Patah pahat cacat matanya
Begitulah contoh pada makhluk Yang sama berdiam atas dunia Yang ketiga harus ada iradat Supaya dapat menentukan pekerjaan
Orang yang tidak punya kehendak Tak tahu apa yang dibicarakan takkan berhasil Tidak sanggup melakukan apa-apa
Tauhid dan Thaharah
Badan kurus tubuhnya lemah Tuhan kita khaliqul 'alam Sifat sekalian amat sempurna Sebab itulah kita ketahui adanya Tuhan
Karena alam seluruhnya sudah nyata
Sanggup mengadakan dan sanggup mentiadakan
Segala urusan alam dunia Alam itulah sebagai dalil
Tuhanku Rabbi madlul-nya Lailahaillallah Puji Allah Tuhan Yang Esa Pasal kedua sampai di sini Ketiga taulan sekarang kita kira
Alfashlul Khamisu Fibaynith Thaharatillaty Wa Aqsamil
Ma-i
(Pasal yang lima menjelaskan tentang cara bersuci dan
macam-macam airnya) Pasal kelima saya terangkan Kita bersuci bagaimana caranya Pembagian air saya sebutkan disini Dengarlah adinda saya nyatakan
Saya cerita tentang suci Dua bahagian saya cerita Suci hati satu bagian Dari dengki dengan busuk riya
Ujub takabur dengki dan dendam Orang Islam dilarang mencela
Akhbarul Karim
Itu harus kita lakukan dengan baik Jangan lupa bahwa kita akan kembali kepadanya
Wahai si buah hati Beribadahlah karena Allah Jangan sekecil zarrah pun sebab dunia Siapa tidak suci qalbi
Sembahyang dan haji tiada berguna Bagian kedua suci badan Ilatnya itu dua perkara Ilat pertama tanahnya suci
Hal kedua air yang bersih Air yang sah dipakai kapan saja Tanah taulan sekali-kali Tubuh sakit airpun tiada
Saat itu tanah mulia Cari tanah untuk menyucikan Tayammumlah taulan dengan segera Selain itu untuk membersihkan najis
Yang sangat kotor menjijikkan Seperti anjing dengan babi Tidak suci kalau tidak ada macam itu Kalau tidak dicampur tanah bersama air
Tidak sahlah kita bersuci Siapa tak ketahui hukum thaharah
' Sekali-kali bila terpaksa, (dharurat)
Tauhid dan Thaharah
Sia-sia ibadat tidak berguna
Sekarang saya jelaskan hukum thaharah
Suci jasad (tubuh) dari kotoran Fardhu bersuci ada tiga macam
Dengar taulan saya cerita
Bau dan rasa harus hilang
Rupa dipandang tak nyata lagi Syarat bersuci dengan air mutlak Harus tampak tiada cela Air mutlak tujuh bagian
Dengar sekarang saya nyatakan Bagian pertama air mutlak Hujan yang turun dari langit Kedua air laut beralun
Ombak yang turun berlomba-lomba
Bagian ketiga dengan air sungai Yang bisa mandi tiada cemar Keempat dengan air sumur besar
Dua kulah harus ada isinya Air mata air bagian kelima Yang keluar dari bumi
Bagi yang keenam air embun Air yang turun dari udara
Bagian ketujuh air yang beku Sudah habis saya cerita Semua air berhimpun empat bagian
Akhbarul Karim
Dengar sekarang saya nyatakan
Bagian pertama air mutlaq Tersusun tujuh bagiannya Air suci lagi menyucikan
Untuk bersihkan badan dari kotoran Air untuk sembahyang dan mandi Suci badan tiap-tiap anggota Air muthlak yang sampai kulah
Tidak berubah walau najis jatuh kesitu Tidak ubah rasa dan bau Umpama seperti kala pertama Dua kulah air dengar kunyatakan
Bila diukur dibertakarannya Andai bejana persegi empat
Satu hasta enam jari tiap-tiap penjuru
Kedalamannya juga begitu
Air yang begitu dua kulah adanya Andai bulat bejana itu Dalam disitu dua hasta Luas mulutnya satu hasta
Dua kulah air ada disitu Dua bagian air yang makruh
Dengar saya bubuhi dalam cerita
Yang menyebabkan makruh ada tiga
Karena dijemur yang pertama Dalam bejana sudah kena palu
Tauhid dan Thaharah
Disitu sudah syarat kedua Oleh insan sudah dipakai
Disini selesai syarat ketiga Ketiga syarat itu sudah makruh Ditakuti tubuh akan supak air sangat dingin dan sangat panas
Itupun air makruh adanya segala air Sumur Negeri Samud Air Kampung Luth² makruh sekali Karena salah isi negeri
Tuhan sendiri memurkanya Air yang makruh sampai disini Yang tiga taulan sekarang dikira Bagian ketiga air Mustakmal
Tak sah dipakai dengan istinja Tidak sah wudhu dan mandi Dan membersihkan diri dari kotoran
Air mustakmal yang sudah bekas dipakai Digunakan untuk sesuatu keperluan Lagi kurang dari dua kulah Air itu tidak sah untuk digunakan
Air mustakmal selesai disini Keempat sekarang kita kira (kaji)
² Kampung Luth adalah kampung nabi Luth, yaitu dimana pada masa Nabi Luth kaumnya melakukan hubungan seksual dengan sesama
jenis, yang disebut dengan Liwath
Akhbarul Karim
Bagian keempat air yang bernajis Air khabis jenis cemar dan kotor
Air menjadi najis walau dalam kulah Sebab berubah bau dan warna Sekiranya kurang dua kulah Yang berubah tercemar
Dari empat bagian air dua bagian tidak sah Wajib ditinggal jangan dipakai Air najis dan mustakmal Wajib ditinggal jangan digunakan
Air makruh digunakan bila darurat Air mutlaq harus didahulukan Jika bukan air dipakai tidak sah bersuci Kata Syafi'i Imam kita
Umpama air kelapa dan air tebu Walaupun seribu kulah adanya Tidak sah bersuci dengan keduanya Dan yang lain sebagainya Air yang kurang dua kulah
Itupun tidak sah mensucikan diri Sebab najis jatuh kesitu Karena itu tidak sah beristinja Andai bangkai yang tak berdarah
Ada maaf kata ulama Umpama semut kumbang dan capung Juga yang lain sebagainya Dimaafkan dengan syarat air itu tidak berubah
Tauhid dan Thaharah
Selain itu bukan disengaja Hukum bersuci wajib diketahui Setengah daripada iman pahala kita Seperti sabda Nabi
Dengarkanlah saya jelaskan Ath Thaharatu Nisful Iman Begitulah Nabi telah besabda Bersuci itu separuh dari iman
Sebab karenanya sah amal anda Sekarang banyak insan kita lihat Tidak belajar pada ulama Bila dilihat air walaupun sedikit
Dengan itupun bisa ia istinja Sembahyang bisa mandipun sudah Orang bodoh tak berulama Selalu mandi setiap hari
Namun dia junubnya tak suci Air sembahyang tidak putusnya Hadas di tubuhpun setiap saat Sembahyang selalu namun tidak sah
Dia dalam rugi disangka laba Apa sebab dia begitu Karena air tidak bersih dan suci Senantiasa makan yang najis
Akhbarul Karim
Karena dibersihkan dengan air tercemar Di mana ditemui air secupak³ Di mana bertemu selikan sedepa⁴ Diapun bersuci disitu
Najis dibadan tidak dipikirkan Tangan bernajis kainpun kotor tercemar Pulanglah ia ke rumah tangga Dipegang batu menggiling kunyit
Tangan tidak bersih masih cemar Kadang-kadang dia kenduri Semua fakir miskin makan makanan cemaran Dia berdosa orang lainpun berdosa
Tidak bertanya pada ulama Haram sekali makan makanan cemar Akhirat nanti dalam neraka Seperti disabdakan Nabi
Lafal saya beri beserta makna Ayyu lahmin nabata mun harami Fan nahlu aula bihi Dikatakan tubuh yang terdiri dari barang haram
Akhirat nanti di dalam neraka Apapun ditemui dimakan segera Disiksa nanti dalam neraka Makanan yang halal menjadi haram
3 Secupak yaitu seliter 4 Sedepa yaitu seliter
Tauhid dan Thaharah
Karena dimakan bersama kotoran Dipegang najis dipegang cawan Tangan dicuci tidak sempat Dipegang beras yang berdebu
Kotoran kuku banyak sekali Begitulah pekerjaan orang jahil Tiada kesampaian segala kerja Wahai kawan belajarlah
Di mana terdengar adanya ulama Makna ilmu bisa bersuci Dengarkan saya ucapkan pesan Saya ingatkan barang sepatah Dikasihi Allah siapa yang peduli Badan dan kain harus suci bersih Dan tempat tidur jangan kotor Kendi guci harus ditutup
Jangan ayam lompat tikus mengaduk guci Lain daripada itu semua bersih Batu giling terpelihara (cobek) Tangan suci segala disuci Air dua kulah cari segera Waktu ambil air diingat Jangan sentuh tangkai timba Dalam bejana air diisi Baik tangan jangan campur Atau dalam bambu air kita isi
Akhbarul Karim
Janganlah jatuh kecemaran Barangkali tangan tercemar
Baiklah taulan kita pelihara Kalau sudah begitu wahai teman Suci makanan tiada cemar kotoran Makanan suci menjadikan suci
Tidak meski enak rasanya Hati terang rezkipun mudah Allah tambah berkahnya tiba Orang yang suci disayang Tuhan
Begitulah Nabi pernah bersabda Andai ada waktu kelapa diperah Kulit peuneurah perlu dijaga Simpan yang baik dari tempatnya
Jangan sampai dijilat anjing Pesanku ini ibarat ajimat Siapa yang ingat akan bahagia Memang telah sahabat maklumi
Diingatkan agar tidak lupa Kabar lama kisah yang akrab Saya syairkan sebaris saja Pohon berunyong tumbuh digunung
Hanyut bunga kekuala (muara) Wajib tuan kita bertanya Di mana tak paham kita periksa Timur barat utara dan selatan
Tauhid dan Thaharah
Bertanyalah pada ulama Potong pohon laseu batang sentuan Batang ijuk saluran di atas sungai Hukum bersuci wajib diketahui
Semua tuan harus belajar Angin selatan bertiup terus Angin timur kadang-kadang siang Kalau tak bisa mengaji nahwu
Bawa pada teungku kitab jawoe
Kalau tiada pahat cukup ada gurdi⁵
Biarlah tiada tali ada timbanya Andai tak bisa mengaji Melayu⁶
Belajarlah pada ulama Orang beribadat tiada ilmu Tak ubahnya seperti roda jantera terputar Kerbau berjalan tiada berhenti
Pulang pergi sepanjang masa Pergi pagi malam menginap Tak pernah sampai ke tujuan pergi Kemana dia pergi kesitu dia pulang
Sore hari malam tiba Genap hari berpindah tempat Tak sejenakpun jarang tangga Umpamanyā begitu orang dungu
Gurdi yaitu Bor, sejenis perkakas. 6 Melayu adalah bahasa Melayu atau bahasa jawi
Akhbarul Karim
Tiada ilmu semua kerja sia-sia Dia beribadat senantiasa Maksiatpun tidak pernah reda Itulah orang laksana kincir Dia selalu tertimpa angin
Angin teduh iapun diam Nyawapun hancur Dia dalam keadaan disiksa Laailaahaillallah Laailaahaillallah Laailaahaillallah Kasih Allah siapa yang percaya
Alfashlu Sadisu Fibayanin Najasati Waizalatihi (Pasal yang keenam pada menyatakan tentang najis dan pembagiannya) Pasal kelima telah selesai Enam sekarang kita ceritakan
Pasal keenam sekarang saya nyatakan
Najis dicuci dengan dua cara
Tiap-tiap yang cair lagi memabukkan Tetap najis diberi nama Selain itu kemih dan tahi Anjing babi serta arak
Bagian najis ada empat macam Dengan bilangan saya beri nama Bagian pertama najis muthawasithah Najis mughalladhah yang kedua
Ketiga najis mukhafafah Najis hukmiah yang keempat
Tauhid dan Thaharah
Itulah keempat derajat najis Masing-masing dia disucikan ada syaratnya Bila najis muthawasithah
Tiga perkara syarat membersihkannya Harus hilang bau dan warnanya Bila dipandang tak lupa nyata Umpama kencing dan tahi hewan
Tuak tuan dan arak pula Andai najis mughalladhah Disitu bertambah dua syarat Tujuh kali dibersihkan dengan air
Bersama dengan tanah yang suci Cukup sekali menaruh campur tanah Tak usah digunakan berkali-kali Umpama anjing dengan babi
Apa yang terjadi antara keduanya Sekiranya najis mukhafafah Syarat disuci rata dengan air Baik mengalir maupun tidak
Tempat ini sudah dinyatakan suci Misalnya kencing anak lelaki Yang masih hanya menyusui pada ibunya Belum pernah makan dan minum
Umur dua tahun belum sempurna Jika najis hukmiah Syaratnya harus rata air menyucinya Lagi mengalir air ditempat itu
Akhbarul Karim
Syarat itu sudah sempurna Pasal enam sudah selesai Tujuh sekarang dibicarakan
Alfashlu Sabi'u Fi Bayani Ma Yajibul Ghusla Wa Syurubihim (pasal yang ketujuh pada menyatakan wajib mandi dan serta syarat dan fardhunya) Pasal tujuh dengarkan kini Wajib mandi saya uraikan Wajib mandi pada insan Ada enam macam wahai saudara
Pertama sekali meninggalnya insan Wajib kawan mandikan segera Kedua haid ketiga nifas Keempat wiladah sehabis bersalin
Kelima jimak dengan isteri Keluar mani enam perkara Itulah sebab wajibnya mandi Habis di sini saya cerita Fardhu mandi itu ada dua Dengar kawan saya terangkan Pertama niat membuang hadas Bersamaan saat menyiramkan ke anggota Kedua air harus rata lengkap Seluruh tubuh harus rata airnya Wajib rata air tiap-tiap bulu Dalam kuku jangan ada kotoran
B
Tauhid dan Thaharah
Tiap anggota yang berlipat Dalam pusat air diratakan
Dalam sanggul rambut dan telapak pecah
Bibir merah air juga diratakan
Itu yang fardhu sekarang sunat Dengar saya amanat kepada anda Setelah selesai setubuh badan Wajib insan mandi segera
Hingga habis masa haid dan nifas
Siapkan segera air Bedak kepala jeruk purut wewangian Sunat begitu dikerjakan
Carilah air yang menyucikan Bersihkan badan cepat segera Sunat mandi berwudhu dulu
Begitu abang pertama kita mulai
Setelah itu hadap kiblat
Menghadap kiblat yang mulia Selesai mengguyur air di badan
Sunat sebelah kanan mulai pertama
Setelah kanan baru ke kiri Dari kepala ke kaki air perlu rata Berkumur-kumur air dalam mulut Sunat dibersihkan tiga kali
Kumur dan disapu juga tiga kali
Berlangir pakai jeruk purut di kepala
Akhbarul Karim
Mandi dudah do'apun selesai Dibacakan jangan sampai lupa
Fardhu dan sunat sudah saya jelaskaň Sekarang faedahnya saya ceritakan Siap yang segera mandi janabat
Besar pahala beserta rahmat Mandi fardhu harus dikerjakan Awal waktu terbitnya fajar Tiap-tiap titik air pada jasad
Tuhan menghadirkan malaikat Malaikat itulah yang meminta ampunan Kepada hamba yang bersegera mandi Mereka bertasbih kepada Tuhan
Pahalanya untuk anda semua Dari sekarang hingga kiamat nanti Karunia hadharat tiada terhingga Setiap langkah menghasilkan rahmat
Sendi dan urat ampun dosa Kasih Allah dengan malaikat Mana yang dikerjakan ummat Siapa uang mandi banyak faedah
Sesiapa yang taksah besar dosanya Sesiapa yang lambat mandi janabat Dosa banyak tak terhingga Sebanyak daun kayu dirimba
Tauhid dan Thaharah
Sebanyak rumput gunungpun penuh
Sekiranya nampak kita saksikan dosa Sesiapa yang terlambat mandi janabat Di akhirat terkena siksa
Dimandikan nanti di akhirat Dengan air api dalam neraka Disiram dari kepala keluar ke dubur Terbakar habis semua anggota
Perut usus putus terburai semua Paling sial dalam neraka Ketika kiamat kemudia nanti Tangan ke leher kaki terbelit
Rante api neraka jahannam Muka memar hangus neraka Lain daripada itu dosa kujelaskan Lain malaikat hafadlah menutu serapah
Sebab beliau tak bisa mendekat kesitu Ketika itu dalam junub anda berada Sebab bernajis badan insan Terhenti beliau seketika kebumipun begitu
Malaikat seketika mengetuk serapah Tujuh terima doa malaikat Ingat sahabat yang bahagia Sudah saya bicarakan laba rugi Kedua hal pahala dan siksa
Akhbarul Karim
Laailaahaillallah Karunia Allah diampuni dosa Pasal ke tujuh sampai disini Sekarang delapan yang kita kira
Alfashlu Tsaaminul Fil Bayani Qadlail Hajati (Pasal kedelapan yang menjelaskan tentang qadha hajat) Pasal delapan sekarang tentu Qadla hajat saya perjelas disini
Tahukah anda buang hajat Dengarkan taulan abang adik Haram makruh ketiga sunat Perlu diingat penjelasan saya
Saat buang hajat haram bawa suratan Seperti azimat yang kita pakai Jangan didik menghadap kiblat Lurus ke timur palinglah anda
Tak berbatas pasanglah dinding Sebagai pelindung dari pandangan Begitu pula menghadap matahari-bulan Seperti itu juga menjadi haram
Haram pula di atas makanan Di bawah pohon buah-buhan Buah-buahan yang boleh dimakan Termasuk pula berbagai pohon gulai
Semisal tebu dan pohon gambas Termasuk kacang panjang atau turi
Tauhid dan Thaharah
Atau lainnya yang bisa dimakan Bermacam ragam hukumnya sama
Itulah yang haram sekarang makruh Dengarlah saya uraikan wahai adik
Makruh buang hajat di atas jalan Tempat manusia berlalu -lalang Dipersimpangan selatan utara Tempat berteduh hujan dan panas
Di bawah pondok tempat berlindung Di bawah pohon orang istirahat Di bawah pohon yang dapat dimakan Di kebun kosong tempat berjemur
Tempat tikar untuk berjemur Tempat tamu tempat bersantai Di bawah pohon di pasar kota Di bawah batang asam dipinggir desa
Jangan dilobang dan tanah retak Jangan ditepi sungai yang dangkal Sambil berdiri sangat makruh Bila sakit tubuh dimaafkan
Tempat yang pantas buang hajat Pondok candu dan adu ayam Tempat judi dan bertaruh Disitu harus ditabur duri
Tempat main catur dan padoek Tempat sepak raga yang melalaikan
Akhbarul Karim
Sudah habis tempat yang makruh Serta yang boleh keduanya
Kini diterangkan perbuatan sunat Saya ingatkan siap mau perduli Sunat membawa air dengan gayung Tutup kepala selubung diri
Masuk kakus duluan kiri Terompah? kaki harus dipakai Waktu masuk ke dalam kakus bacakan do'a ini dulu
Bismillahi Allahumma inni A'uzubika minal khubsi Waal khabaits Sampai disini selesai doa
Doapun selesai sudah Duduk sendiri dalam kakus Jangan memandang kiri dan kanan langit tinggi jangan dilihat
Jangan lurus timur dan barat Palingkan diri agak serong Selesai buang hajat air pun siap Segera istinja supaya bersih diri
Setelah suci depan dan belakang Sunat dibaca doa ini
7 Maksud Terompah adalah alas kaki
Tauhid dan Thaharah
Allahumma thahhir qalbi Minan nifaqi wa hassin farji Minal fawahisi
Habislah lalu bangun dan berdiri
Kemudian saat berdiri Do'a ini dibacakan Alhamdulillahilladhi azhaba 'Anil adha wa 'afani
Begitulah do’a waktu berdiri Lantas keluar dari situ Dahulukan kaki kanan
Anjuran Nabi penghulu kita
Laailaahaillallah
Nikmat bertambah siapa yang perduli
Inilah sebaik pantun Aceh Lafal terang maknanya jelas
Bicara yang pantas ucapan bersambut Cepat laku siapa yang perduli
Potong pohon ijuk bikin tembilang
Gali kolam tempat permandian Bila anak Islam telah sampai baligh
Wajib ketahui semua hukum Islam
Fardhu suci membuang hajat Wajib sekali dipelajari Potong kayu bikin meunasah
Cari helah dengan tali Bergurulah pada syiah
Akhbarul Karim
Harus diperjelas hukum mandi Jangan jadi anda seperti hewan
Seumpama kambing liar Fardhu mandi tidak diketahui
Sebagiannya syahadat pun tak terperi
Itulah hidup laksana pohon kayu Dijadikan mangsa api
Pohon peuteuet di tengah sawah
Pohon ketapang di tengah negeri
Mandi dan bersyahadat tak beres Selalu bimbing malam hari
Potonglah tunas pagar lawah Rajut jubah benang semua Akhir dunia berkurang tuah Sepi meunasah tiap-tiap tempat
Tidak lagi ada anak-anak mengaji Timur dan barat semua negeri Cuma yang ramai di mana-mana Bila telah sampai hari pekan
Bulan saadah ketika Ramadhan Ramai ketika itu shallu 'alaih Puasa selesai fitrahpun beres Lalu meunasah sepi kembali
Sekarang yang ramai dimana-mana Pondok madat dan arena bertaruh Selain itu ditempat pertunjukan kesenian Ramai di sana siang dan malam
Tauhid dan Thaharah
Sampai pagi masih bermain Galak tawa terbahak-bahak Perempuan dan lelaki sama begitu Takkan patuh walau dinasehati Di mana terdengar ada pertunjukan Bergadang siang dan malam Suara gendrang bedil berdentang Segera dengar di mana tempatnya Sebagian nyandang kain panjang Panggil abang sebagian sang adik Yang nampak miskin dari jalang Kain dipinggang compang kusam Orang lelaki juga begitu Pergi mereka beramai-ramai Teriak di sini panggil di sana Riuh bunyi setiap negeri Tiap-tiap barak ditabuh genderang Tiap gelanggang ramai bertaruh taji⁸ Sepanjang tepi sungai dan pinggir sawah Marak berjajar untuk sibertaruh Di situ bimbang semua rakyat Menghisap candu dan sabung ayam Kepada Allah tidak diingat Untuk ibadat mereka tak peduli
8 Tajoe atau Taji artinya bagian dari kaki ayam yang runcing yang digunakan untuk senjata / proteksi.
Akhbarul Karim
Sebagian suka pada jualan Berniaga ke berbagai negeri Mereka berdagang apa saja Pinang dicari tiap-tiap kesana kemari
Orang dusta sedikit kita tahu Begitu kebiasaan di akhir masa Bila diperoleh laba berniaga Lalu dihabiskan pada sabung ayam
Begitulah suasana segenap rakyat Semua sesat dalam tipuan setan Niat mandi tidak benar Makrifat tidak diketahui
Rukun sembahyang tidak mengerti Rukun syahadatpun tidak dikenal Sibuk untuk bekerja Lebih banyak rakyat lalai sendiri
Sebagian bersama hulubalang Di situ bimbang malam siang Sebab dia lihat adik angkat Terlalai rakyat siang malam
Lalu dimakan apa yang diberi Dia akhirnya jadi pencuri Memang sudah maklum pada anda Saya ingatkan jangan lalai sekali
Sibuk memancing sibuk nonton genderang Dalam pertunjukan siang malam
Tauhid dan Thaharah
Hati mabuk tertawa gelak terbahak Tidak peduli untuk belajar
Duduk berkumpul bercengkrama Bicara ngawur kemana-mana Tubuh sehat hati tak gundah Lupa pada Allah anak durhaka
Siapa tak bertuah dalam hal ini Kekal di sana malam dan siang Siapa bertuah cepat sadar Segera bertaubat dari kelalaian
Laailaahaillallah Puji Allah siang malam Pasal delapan terbilang selesai dihitung Sekarang sembilan dengar adinda
Alfashlu Tasi'u Fil Bayanil Wudhu’i Fi Furu'ihi (Pasal kesembilan yang menjelaskan tentang wudhu) Pasal sembilan sekarang sahabat Tentang berwudhu saya uraikan Syarat berwudhu ada enam
Yang pertama Islam kedua berakal Ketiga harus dengan air yang suci Keempat lagi jangan ada getah Kotoran kuku kapur dan getah
Tempat itu hendak dicuci Sehingga sirna yang tiga perkara Kelima suci dari haid dan nifas Keenam sempurna ilmu anda
Akhbarul Karim
Harus dibedakan antara fardhu dan sunat
Betul-betul jelas beda keduanya
Syarat enam fardhunya juga enam
Sekarang fahami saya terangkan
Pertama niat mengangkat hadast Kedua membasuh muka dengan rata Ketiga membasuh tangan hingga siku Terus keempat menyapu kepala
Kelima membasuh kedua kami Tertib pada Nabi enam perkara Fardhu enam batalnya lima Dengar baik-baik saya uraikan
Pertama keluar najis insan
Pada jalan dua rongga9
Kedua terkena dengan tapak tangan
Faraj insan atau zakar1o
Ketiga menyentuh orang laki-laki Dengan perempuan yang bukan muhrim Keempat hilangnya akal insan
Lima tidur tidak tetap
Itulah lima kebinasaan Bagaimana caranya mengerjakan
Bila sampai waktunya airpun ada
Kita gantung dengan timba
9 Rongga dua melalui dua jalur antara Qubur dan Dubur.
° Faraj adalah kemaluan perempuan, sedangkan Zakar yaitu
kemaluan laki-laki.
Tauhid dan Thaharah
Kemudian setelah itu Duduk pada tempat mana yang kita suka Hadap kebarat waktu mengambil wudhu' Hati gembira menghadap yang Esa
Haram pada orang tidak berwudhu Dengar abang saya terangkan Itu namanya berhadas kecil Haram kerjakan tiga perkara
Haram yang pertama kerjakan sembahyang Apa saja yang berkaitan dengannya Misal sujud Tilawatil Qur'an Sujud syukur juga haram hukumnya
Demikian pula sembahyang jenazah Baca khutbah Jum'at sama juga Haram kedua keliling ka'bah Berniat thawaf wahai saudara
Ketiga haram pegang Al-Qur'an Menyentuhnya haram juga Segala isi ayat Al-Qur'an Haram sekalian kita sentuhnya
Seperti disimpan didalam peti Haram juga menyentuh dia Tak boleh dipegang peti itu lagi Rehalpun hukumnya demikian pula
Jika pada batu Allah ditulis Harap pula batu itu dibawa
Akhbarul Karim Sebagaimana firman Tuhan sendiri Lihatlah adik di sini nyata
Makna diketahui para ulama Tidaklah boleh tersentuh Al-Qur'an Kecuali anda sudah suci Arti suci dengarlah kusebutkan Suci dari hadats besar dan kecil Itu firman Allah sekarang hadist Dengarkan seksama saya uraikan Nabi demikian telah bersabda
Jangan dipegang Al-Qur'an itu Kalau tidak suci dari hadatsnya Boleh dibawa Al-Qur'an tersebut Beserta barang dagangan lainnya Jika diniat sebagai barang Bila demikian boleh dibawa Sekarang kembali kepangkal semula Ke asal-usul pokok bicara
Bila sampai waktu air disiapkan Gantungkanlah dengan timba Setelah itu diam sebentar Duduk di tempat yang bersih dan suci Kita berwudhu menghadap ke barat Harus senang hati menghadap yang Esa Setelah itu diucapkan a'uzubillah Serta bismillah jangan lupa
Tauhid dan Thaharah
Setelah membasuh kedua tangan Sunat disini mengucapkan dia Wajib berniat mengangkat hadats Waktu membasuh kedua tangan
Begitulah niat waktu kapanpun Jangan lupa niat saat membasuh tangan Niat jangan putus ambil air sembahyang Mulai tangan hingga muka
Tempat wajib mukaranah Tidak berpindah dari muka Sesudah tangan cucikan mulut Mubalaqah sunat pula
Begini doa kita ucapkan Begitulah Nabi bersabda Setelah itu membasuh hidung Begini kita membaca do'a
Tuhanku berilah saya kesempatan mencium Semua bau harum dalam surga Kabulkan ya Allah doa hamba Ampuni juga semua dosa
Waktu keluar air dari hidung Begini ucapan doa di sana Tuhanku lindungi hidung hamba Jangan sampai tercium bau neraka
11Mubalaqah artinya berkumur-kumur.
Akhbarul Karim
Setelah berniat mengangkat hadast Waktu membasuh pada muka Do'anya begini kita baca Sepanjang masa jangan dilupa
Tuhan putihkanlah mukaku Hari berhimpun dipadang mahsyar Umpama putihnya muka wali Begitulah engkau beri kepada hamba
Jangan Kau beri hitam mukaku Seperti kaum yang celaka Seperti itu membasuh lengan kanan Begini kita baca doa
Tuhanku berilah kepadaku Hari kiamat surat bahagia Izinkan kuambil dengan tangan kanan Niscaya saya dengan sejahtera
Setelah itu basuh lengan kiri sampai siku Di sini begini doanya Jauhkan saya dari kesesatan Pada surat yang celaka
Jangan izinkan kiri dan membelakangi hamba Kasihanilah kepada kami Beginilah lafal doanya Tuhanku berilah kepada hamba
Dengan gharib datang azab Tuhanku beri kami di hari kiamat
Tauhid dan Thaharah
Lepaskanlah saya dari sakit Dari siksaan azab neraka
Turunkan berkat untuk hamba Dengan rahmat darimu Beri keselamatan semua hal Lindungi saya dibawah 'arasy
Hari terik setentang kepala Tiada satupun tempat bernaung Hari terik panas sangat mendidih kepala Yang ada naungan di bawah 'arasy
Di tempat lain terbuka hampa belaka Lalu membasuh kedua telinga Di sana dibaca begini dianya Jadikanlah perdengaran saya yang tajam
Hingga saya dapat mendengar Qur'an mulia Jadikanlah saya pengemar perintah-Mu Jauhkanlah dari larangan-Mu Perdengarkanlah suara yang maha tinggi
Memanggil orang ke dalam surga Perkenankanlah kami memasukinya Bersama sesama Islam Kemudian membasuh kedua kaki
Sunat lagi doa dibaca Tuhanku berilah kaki ku tetap Atas jembatan pada neraka Biar tergelincir semua kafir
Akhbarul Karim Semua terjerumus dalam neraka Selesai mengambil wudhu Sunat kita baca doa
Asyhadual Laailaahaillallah Wahdahula syarikalahu Wa asyhaduanna Muhammadan abduhu Warasuluhu Allahummaj 'alni Minat tawwabina waj'alni Minal mutathahhirina wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammadin Wa'ala alaihi wasahbihi Wa Sallim
Sampai disini do'a sembahyang
Wahai abang jangan dilupakan Barang siapa habis doanya Dosa bersih pada anggota
Dosapun hilang seluruh badan
Bagaikan baru memandang dunia
Selain itu pahala dari Tuhan Surga delapan pintu dibuka
Kita memasuki kini mana yang siksa
Yang disukai hati kita
Laailaahaillallah
Perintah Tuhan masuki surga
Pasal sembilan sampai disini Sekarang sepuluh saya nyatakan Janji dahulu di awal hikayat ini
Tauhid dan Thaharah
Terpenuhi kini Allah karunia Janji dahulu sepuluh pasal Biar kita ketahui satu persatu Dengan pasal ini sampai sepenuh janji Karunia
Rabbi menolong hamba Karena janji itu jadi utang Begitulah abang kata Ulama Barang siapa mengubah janji
Di jembatan¹² akhirat nanti hitam muka Muka hitam tak putih sedikitpun Inilah banyak pasal sudah selengkapnya Khabar syurga sudah selesai
Semua itu harus kita ketahui ada Wajib i'tiqad wahai taulan Wajib kita iman semua rata
Akhbarul Karim sudah tamat Waktunya di hari Selasa Wabillahi Taufiq wa Shallallahhu 'alai Khairul Khalqi Muhammad wa ala Alihi wasahbihi Ajama'in
12 Titi Akhirat artinya sirathal mustaqim.
BAB IV KAJIAN ISI NASKAH
A. Nilai-Nilai Tauhid Isi naskah Akhbarul Karim ini tidak berbeda jauh dengan naskah-naskah sejenis lainnya. Isi Pokok dari naskah mengandung nilai nasehat, peringatan dan pembelajaran norma-norma dalam Islam. Adapun nilai pengkajian tersebut diperuntukkan bagi manusia yang hidup didunia ini. Seperti pada pasal pertama disini dijelaskan tentang sifat-sifat Allah dan dalil tentang adanya Allah. Semua ini masuk kebahagian ketauhidan di mana disini kita diajarkan untuk mengenal Allah mulai dari bahagian terbesar sampai kebahagian terkecil sekalipun. Secara universal penjabaran nilai-nilai tauhid, sangat luas. Pertama sekali kita harus mengetahui apa yang dinamakan Tauhid. Tauhid adalah pengenalan terhadap Tuhan. Kenal merupakan sebuah prinsip awal yang selalu akan dilewati oleh seorang manusia. Manusia harus mengenal penciptanya, lingkungannya bahkan dia juga harus mengenal dirinya sendiri. Kita kenal makanya kita jadi tahu, cinta dan juga sayang. Pengenalan terhadap Tuhan merupakan kaitan prinsip penalaran terhadap keberaaan sesuatu pasti memiliki sebab atau asal usulnya. Keyakinan dan ketentuan ini jelas sampai-pada sebuah contoh apabila kita meniup wajah seorang bayi, sekalipun secara perlahan, bayi tersebut akan membukakan matanya dan menengok kekanan dan kekiri
Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tauhid dan Thaharah
untuk mencari sebab munculnya angin yang telah menerpa wajahnya. Secara hakikat dimensi ketauhidan, istilah tauhid memiliki makna yang sangat agung dan luas. Kalangan cendikiawan Muslim pada umumnya menggolongkan jenis- jenis ketauhidan menjadi “ tauhid dalam zat “ (dzati), "tauhid dalam sifat “(sifati), dan "tauhid dalam perbuatan" (fi'li). Namun, ternyata ada sebahagian pihak yang justru menyalahgunakan istilah suci ini sebagaimana mereka juga sering melakukannya terhadap berbagai hal suci lainnya. Mereka menjadikan istilah tauhid sebagai slogan semata, seperti masyarakat tauhid, tentara tauhid dan sebagainya. Padahal, sesungguhnya mereka hendak menggunakan semua itu sebagai pembenaran terhadap sistem sosial komunisme yang mereka junjung tinggi, berupa kepemilikan bersama dan penghapusan kasta (penyamarataan). Akan tetapi, berkat perjuangan ilmiah Imam Khomeini, tokoh pemimpin revolusi dan kalangan cendekiawan lainnya tersingkaplah hakikat kelompok minoritas tersebut dan terselamatkanlah istilah suci ini Arti tauhid dari penyalahgunaan dan penyelewengan. adalah mengakui hanya Allah-lah "Raja bagi manusia", beriman kepada ketunggalan Allah dan menyakini Allah itu Esa. Dalam maknanya yang lain, tauhid berarti menafikan berbagai nafsu. Seseorang yang memuja nafsunya berarti telah keluar dari lingkup ketauhidan, seperti firman Allah dalam surat al-Jatsiyah : 23), yang artinya "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan-Nya". Orang-orang yang tunduk pada desakan hawa nafsunya, apalagi hawa nafsu yang keliru, pada hakikatnya telah menuhankan hawa nafsu itu sendiri. Tauhid berarti pula penolakan dan penentangan terhadap kepemimpinan tirani dan lalim. Slogan dan tujuan
Akhbarul Karim para Nabi adalah: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu (al-Nahi: 36). Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa setelah Imam Ali Ridha menerima dengan penuh keterpaksaan jabatan waliy al-ahd (putra mahkota) dari Makmun, beliau menyampaikan sebuah pernyataan yang sangat tegas dalam suatu pertemuan yang diadakan secara terang-terangan dan dihadiri seluruh masyarakat. Pernyataan tersebut pada intinya menegaskan bahwa dalam hal ini beliau tidak mau ikut campur tangan dalam urusan pengangkatan atau pemecatan seseorang. Tauhid juga bermakna tidak mengakui berbagai hal yang digariskan pihak Barat maupun Timur dan menghalangi serta menolak mentah-mentah keberadaan sistem yang dibangun berdasarkan konsep pemikiran orang-orang serakah. Makna tauhid lainnya adalah merobek dan memutuskan seluruh jalinan berbagai faktor yang menyebabkan kaum Muslimin terpinggirkan dan jatuh di bawah penguasaan orang lain. Tauhid juga bisa dimaknai dengan tidak mengabulkan segenap perintah yang bertentangan dengan perintah Allah. Makna lain dari tauhid adalah menerima kepemimpinan para individu yang disepakati dan diabsahkan Allah. Dalam pengertian lain, tauhid berarti tidak melanggar segenap perintah Allah; menyerahkan diri secara total dan menjadi hamba-Nya. Tauhid juga bisa dimengerti sebagai upaya merontokkan seluruh berhala yang bersemayam di dalam dan di luar diri; berhala gelar, titel, kedudukan, materi, harta (yang mana semua itu berpotensi untuk menghalangi kita menerima dan berada dalam kebenaran). Akhirnya, tauhid adalah tidak adanya hubungan dan keterikatan dengan berbagai pihak yang memaksa kita untuk meniti jalan kebatilan dan kerusakan. Hubungan dan keterikatan yang dijalin hanya
Tauhid dan Thaharah dilakukan terhadap mereka yang membimbing manusia di atas jalan dan kerelaan Allah. Sistem ekonomi bernuansa tauhid akan senantiasa menyandarkan proses produksi, pemasaran, pengkonsumsian, dan pengelolaan kepada syariat Allah semata. Barisan tentara beratribut tauhid akan selalu konsisten dalam menjaga dan ilmu pengetahuan, berbagai mempertahankan berpengalaman, memiliki kemahiran dalam menyerang, serta ahli taktik dan strategi perang. Di samping itu, tentara tauhid senantiasa memperhatikan tuntunan dan tuntutan Ilahi dalam berbagai kondisi, baik ketika marah atau gusar, maupun dalam keadaan tenang. Prinsip dan tujuan yang mendasari gerak-gerik tentara tauhid bukanlah egoisme, balas dendam, perluasan negeri, ataupun pengerukan keuntungan, namun semata-mata demi menegakkan kalimat yang haq (benar) dan memperluas pengamalan ajaran-ajaran Ilahi." Tujuannya hanyalah menjadikan orang-orang yang tadinya lalim untuk melaksanakan hukum-hukum Allah. Selain pula bertujuan untuk menolong kaum yang tertindas, mempertahankan kehormatan, harta, jiwa, dan raga, diri sendiri serta keluarga, dan berusaha keras menjaga wilayah perbatasan (negara). Seorang komandan tentara tauhid memiliki hubungan dengan wakil imam yang ma 'sum (suci dari dosa), berorientasi pada tujuan yang benar, serta menjadikan pasukannya rela mati syahid. Karir ketentaraan orang semacam itu jelas merupakan sebuah ibadah. Makna sesungguhnya dari tentara tauhid bukanlah dengan menghapus dan meniadakan hierarki kepangkatan dan kelebihan masing-masing serdadu (umpama dalam hal pengalaman, keahlian, kecakapan, dan ketangkasan bertempur) atau bahkan berani membangkang perintah atasan.
Akhbarul Karim Memang kita tak bisa menutup mata terhadap adánya sejumlah pihak yang berniat jahat dengan mengatasnamakan tentara tauhid. Pada hakikatnya, mereka bertujuan hendak melunturkan wibawa dinas ketentaraan itu sendiri. Berkat pertolongan Allah serta kecakapan pemimpin revolusi yang agung (Imam Khomeini), semua itu berhasil digagalkan. Masyarakat bertauhid merupakan masyarakat yang dipimpin seseorang yang memang telah memenuhi pelbagai syarat dan standar Ilahi (ilmu, takwa, jihad, pengalaman, amanat, kecakapan, dan kemampuan). Dengan kata lain, penentuan figur pemimpin masyarakat bertauhid tidak boleh mengacu pada pelbagai kriteria non-Ilahi (seperti tekanan, kesukuan, teman dekat, dan sejenisnya) Dalam masyarakat bertauhid, undang-undang yang diberlakukan hanyalah undang-undang yang bersumber dari Allah semata. Semua masyarakat tentu wajib mematuhi dan melaksanakannya. Dalam pada itu, semua orang, tanpa pandang bulu, memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Pemberlakuan undang-undang tersebut pada gilirannya akan melenyapkan segenap tujuan yang sia-sia, selain mencegah terjadinya perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Nampaknya, berbagai bentuk pengertian tauhid di atas sudah komprehensif, sempurna, luas, dan benar. Persoalannya sekarang, siapakah orang atau masyarakat yang telah mencapai peringkat tauhid semacam itu? Juga, bagaimana cara mencapai puncaknya? Kita tentu tidak bisa menganggap mudah sabda Rasul S.a.w. "Ucapkanlah, tiada Tuhan selain Allah, maka kalian akan mendapatkan kemenangan." Hasil yang akan dipetik dari menggaungkan dan mewujudkan slogan tersebut adalah tuflihu (maka kalian akan mendapatkan kemenangan). Al-Quran menegaskan bahwa hasil akhir dari semua upaya tersebut tak lain kecuali kemenangan. Karenanya, kita dapat memahami bahwa tujuan
Tauhid dan Thaharah
seluruh peribadahan adalah demi menggapai ketakwaan sejati. "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa". (al-Baqarah: 21); Ketakwaan itu sendiri bukanlah sebuah fase perjalanan paling akhir. Ketakwaan tidak lebih dari sebuah
pintu gerbang yang harus dilalui demi meraih kemenangan
akhir. Semua itu sesuai dengan pernyataan yang termaktub dalam al-Quran: "Maka bertakwa-lah kepada Allah, hai
orang-orang yang berakal, agar kalian mendapatkan pemenang". (al-Maidah: 100) Wahai para pemilik akal,
bertakwalah kalian kepada Allah agar buah kemenangan dapat diraih. Pada dasarnya, jagat alam ini dianugerahkan untuk kita (manusia), sebagaimana penegasan al-Quran, sakhkhara lakum (Dia telah menundukkan bagi kalian), atau khalaqa lakum (Dia telah menciptakan bagi kalian). Sementara itu, kita diciptakan hanya untuk beribadah dan menapaki jalan Allah. Adapun ibadah itu sendiri dipraktikan demi menggapai ketakwaan. Dan ketakwaan tidak lebih dari gerbang atau mukadimah dalam meraih falah (yang secara
harfiah berarti dhafar atau kemenangan/ keberhasilan). Dengan demikian, alur kehidupan kita menjadi begitu gamblang; jagat raya ini untuk kita, kita untuk beribadah, beribadah untuk ketakwaan, dan ketakwaan demi meraih kemenangan. Darinya kita pun menjadi tahu apa arti penting dari falaah (kemenangan). Kemenangan yang dimaksud
adalah keterbebasan dari pelbagai belenggu dan ikatan, baik
dari musuh luar maupun dalam. Tatkala menjelaskan arti kalimat "tiada Tuhan selain Allah" dalam suatu kesempatan di dalam kelas seorang murid membuat sebuah ilustrasi. Dia
menggambar sebutir biji yang diatasnya ditaburi tanah.
Setelah itu, ia pun tumbuh dan menghijau. Berdasarkan itu,
Akhbarul Karim dia mengatakan bahwa demi membebaskan diri dari timbunan tanah, biji tersebut harus melewati tiga tahap perjalanan; yaitu :
- Mengikatkan dan menghujamkan akar-akarnya ke dalam tanah.
- Menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah.
- Mendorong dan menyibakkan serpihan-serpihan tanah yang menutupi dirinya. Kemudian, berdasarkan argumen tersebut di atas telah dinyatakan bahwa jika manusia berkeinginan untuk tumbuh dan berkembang maka harus melintasi tiga fase yang tidak dipisahkan satu sama lain :
- Pertama-tama, ia mesti memiliki akidah dan ideologi fun- damental, yang ditopang oleh pelbagai argumen yang masuk.
- la harus memiliki sejumlah sarana dan tenaga yang memadai untuk mendorong dan mendukung kemajuan serta perkembangan dirinya.
- la juga harus menyingkirkan pelbagai rintangan yang melintang di tengah jalan yang sedang dilaluinya sehingga menjadi leluasa dalam meraih ketauhidan. Apabila salah satu dari ketiga fase perjalanan tersebut tidak dilampaui, maka kita tidak akan pernah mengalami perkembangan, kalau bukan malah akan celaka. Seandainya akidah kita begitu rapuh dan tidak disangga oleh ilmu dan argumen yang tepat, serta tidak memiliki sarana dan tenaga yang memadai untuk itu, niscaya diri kita perlahan-lahan akan rusak, keropos, dan kemudian mati membusuk. Ini sebagaimana nasib sebutir biji-bijian yang di tanam di dalam
Tauhid dan Thaharah tanah; menjadi busuk ketika salah satu dari tiga fase perjalanan hidupnya luput dilewati.
a. Sebab-sebab Penyimpangan Penyebab seseorang menyeleweng dari garis Allah dan ketauhidan antara lain:
1. Tirani dan penindasan. Kedua bentuk perilaku tersebut merupakan faktor pemicu terjadinya pengalihan rasa takut dalam diri masyarakat (yang tadinya harus semata- mata ditujukan kepada Allah, kini beralih kepada para tirani dan pihak penindas. Al-Quran menukil ucapan Fir'aun yang menyatakan bahwa siapa saja yang mengakui dan menerima adanya Tuhan dan kekuatan selain dirinya, maka ia akan menjebloskannya ke dalam penjara. Lantaran rasa takut yang begitu mencekam, akhirnya masyarakat bersikap pasrah dan menyerahkan dirinya menjadi budak dan hamba Fir'aun.
2.Cinta dan kesukaan. Terkadang, proses mencintai dan menyukai sesuatu dapat menyebabkan seseorang lupa kepada Allah. Dalam keadaan demikian, orang tersebut hanya mencurahkan perhatiannya kepada sesuatu atau seseorang yang dicintai dan disukainya. Bahkan tak jarang, sesuatu tersebut menjadi garis orbit aktivitas kecintaan dan kebenciannya. Kasus semacam itu dilustrasikan dengan begitu indah oleh al-Quran. Dikatakan bahwa orang-orang Yahudi kerap menjadikan para rahibnya sebagai Tuhan mereka, seraya mengesampingkan keberadaan Allah. Disebabkan kecintaan serta kesukaan, mereka menjadi begitu patuh pada perintah dan larangan para rahibnya yang berpura- pura cerdik dan pandai. Padahal, para rahib tersebut
Akhbarul Karim menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah.
- Berpengharapan tidak pada tempatnya. Kondisi demikian akan menyebabkan seseorang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tumpuan harapan demi memperoleh bantuan, pertolongan, atau kemuliaan. Dalam al-Quran dinyatakan bahwa sebagian orang sesungguhnya tengah berjalan menuju kepada selain Allah, seraya berharap akan mendapat pertolongan. Dan dalam ayat lainnya dikatakan bahwa mereka berharap kepada selain Allah dalam menginginkan kemuliaan.
b. Peringatan Dalam usahanya membelokkan umat manusia dari garis lurus dan lingkaran ketauhidan, mereka (musuh-musuh ketauhidan) senantiasa menggembar-gemborkan berbagai propaganda dan slogan yang sedemikian memikat, sembari pula menebar janji-janji membuai. Akan tetapi, al-Quran mengatakan bahwa semua itu pada hakikatnya nihil, tidak memiliki arti, dan hanya sebentuk istilah-istilah belaka. Pada masa sekarang, kita bisa menjumpai berbagai istilah yang pada dasarnya membalut usaha diam-diam untuk menyelewengkan umat manusia dari garis perjalanan Islam. Beberapa di antaranya adalah kebebasan, demokrasi, hak asasi, undang-undang internasional, majelis permusyawaratan
dan sejenisnya. Padahal, semua itu tak lain hanyalah peristilahan yang tidak memiliki fungsi sama sekali kecuali untuk menjadikan kita supaya menjadi sibuk dan terlena.
Tauhid dan Thaharah
c. Argumen Ketauhidan Keserasian Bukti termudah dan tergamblang tentang ketauhidan adalah keserasian dan keteraturan yang terjalin di antara berbagai ciptaan yang tersebar di jagat alam. Umpamanya, keserasian yang terdapat pada sebuah bangunan dan tulisan dalam sebuah buku atau surat. Semua itu merupakan bukti nyata yang menunjukkan bahwa masing-masing darinya pasti disusun atau ditulis oleh satu orang. Dengan kata lain, semua itu mustahil dilakukan oleh lebih dari satu orang. Sebagai contoh, tiga orang pelukis yang masing-masing hendak melukis bagian-bagian dari tubuh seekor ayam jantan yang sama. Sang pelukis pertama melukiskan bagian kepalanya. Sedangkan pelukis kedua melukis kakinya. Dan pelukis ketiga melukiskan potongan tubuhnya. Setelah itu, ketiga lembar lukisan tersebut kita gabungkan. Pastilah ketiga bagian lukisan ayam tersebut tidak harmonis dan tidak beraturan. Dengan begitu, keserasian, keteraturan, serta keseimbangan yang saling jalin- menjalin dalam pelbagai ciptaan ini merupakan bukti terbaik dan termudah bagi ketunggalan Sang Pencipta. Kelemahan dan kekuatan, penyerangan dan pertahanan, kekerasan dan kelembutan, semuanya memang terjalin dalam suatu kesatuan yang membingungkan. Biarpun begitu, kesemuanya ternyata merangkai sebuah sistem yang betul-betul harmonis. Kita bisa saksikan bagaimana seorang bayi yang lemah dan rapuh dilindungi oleh kekuatan kedua orang tua. Juga kita saksikan bersama bagaimana batu besar meteor yang jatuh mengarah ke permukaan bumi, namun disebabkan adanya lapisan kuat dan panas yang mengelilingi bumi, menjadikannya tertahan dan terbakar sejak masih di lapisan atmosfer. Atau juga, bagaimana manusia mengeluarkan karbon-dioksida (CO2)
Akhbarul Karim
yang kemudian dihisap tetumbuhan, yang pada gilirannya menghembuskan oksigen (O2). Pada prinsipnya, seluruh keberadaan dalam kehidupan ini pasti tak luput dari harmoni dan keteraturan. Dalam hal penglihatan, mata seseorang harus bekerja sama dengan cahaya yang memancar. Ketika menghadapi berkas cahaya yang begitu kuat, lensa mata seseorang dengan serta merta akan mengecil. Sedangkan kalau pancaran cahaya yang diterima sedemikian lemah, otomatis ia akan membesar. Sementara itu, kelopak mata serta bulu mata yang hitam dan indah berfungsi sebagai penapis jatuhnya cahaya, untuk kemudian ditransmisikan ke alat penglihatan (biji mata). Air mata yang terasa asin dan air liur di mulut yang serasa manis pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan dan komposisi tubuh. Kekekaran dan ketegasan kaum laki-laki, serta kelemah- lembutan perempuan berfungsi untuk menyeimbangan dan menyerasikan kehidupan yang mereka arungi bersama. Perhatikanlah secara cermat pelbagai ihwal yang terdapat dalam kehidupan ini. Semuanya terjalin secara paksa dan alamiah dalam sebuah tatanan yang rapi, harmonis, dan seimbang. Bayi yang mungil dan air susu ibu diciptakan oleh Pencipta Yang Satu. Sebabnya, begitu bayi terlahir ke dunia, dengan serta merta air susu akan keluar dari payudara sang ibu. Begitu pula dengan proses siklus alam. Matahari memancar-kan cahayanya ke permukaan bumi; lautan membubungkan uap air ke angkasa; kemudian berkat daya gravitasi bumi, uap tersebut ditarik kembali ke permukaan bumi; akar tetumbuhan menghisap sari-sari makanan dari perut bumi; tidakkah semua keserasian ini merupakan bukti atas adanya kekuasaan atau kekuatan pemelihara adikodrati yang tidak terbatas. Pada hasilnya, perbandingan antara wawasan pengetahuan kita dengan lubang gelap
Tauhid dan Thaharah
ketidaktahuan kita, ibarat setetes air di hadapan lautan yang menghampar. Di jagat alam ini, jutaan rahasia masih tersimpan rapi. Bagaimanapun canggihnya teknologi dan ilmu yang dirumuskan, sampai saat ini belum seorangpun yang mampu menyingkapkan keseluruhan hubungan yang terjalin dalam ekosistem secara utuh dan tuntas.
d. Sebuah Kejadian Seperti yang diutarakan oleh Prof Muhsin Qiraati bahwa pernah pada suatu hari seorang pemuda menemui saya. Pemuda tersebut baru mempelajari beberapa istilah saja, namun kemudian menjadi sombong dan lupa diri karenanya ia berkata kepada saya, "Kenapa shalat subuh hanya dua rakaat?" Saya menjawab, "Saya tidak tahu, yang jelas, pasti ada dalilnya. Akan tetapi kita tidak harus mengetahui dalil yang mendasari seluruh perintah Allah. Apalagi kalau kita menginginkan dalil-dalil tersebut diketahui sekarang ini juga. Dalam al-Quran, kita membaca bahwa tatkala posisi kiblat kaum Muslimin dipindahkan, Allah hendak mengetahui siapakah di antara mereka (yang setelah perpindahan kiblat itu) masih tetap mengikuti Nabi, dan siapa yang mencari-cari
alasan dan membangkang perintah tersebut. "Dan Kami tidak
menetapkan kiblat yang menjadi kiblat-mu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot". (al-Baqarah :
143). Apakah dalam al-Quran tidak termaktub perintah
kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih puteranya sendiri, Ismail? Berkenaan dengan perintah tersebut, al-Quran mengemukakan bahwa semua itu dilakukan agar
diketahui siapakah yang memang bersedia berkorban demi-
Nya? (al-Shaffat: 105). Kemudian saya berkata kepada
Akhbarul Karim
pemuda itu, Sebagaimana di alam materi ini terdapat berbagai formula, yang sekiranya tidak diperhatikan secara rinci dan seksama niscaya seseorang tidak akan memperoleh hasil yang sesuai dengan keinginannya, begitu pula dengan alam maknawiah. Di alam tersebut, besar kemungkinan memang terkandung pelbagai formula bagi kebahagiaan kekal dan abadi. Seandainya formula tersebut diabaikan, tentu kebahagiaan abadi tersebut mustahil bisa diwujudkan. Sebagai contoh, andaikata seseorang mengatakan kepada Anda bahwa dalam seratus langkah ke depan tertanam seonggok harta karun, namun Anda menapaknya sampai seratus sepuluh langkah, tentunya Anda tidak akan menjumpai apapun di situ, sekalipun Anda menggali tanah tersebut dalam-dalam. Dalam hal ini, Anda mesti memperhatikan ukuran dan jarak yang diinstruksikan. Penggunaan telepon memerlukan ketelitian dalam memencet tombol angka-angkanya. Kalau sampai terjadi kekurangan atau kelebihan, tentu tidak akan terjadi kontak dengan kota atau tempat tujuan. Perhatikanlah sebatang kunci pintu rumah atau kunci mobil. Apabila salah satu geriginya patah, atau lebih panjang atau lebih pendek, pasti pintu mobil tersebut tidak dapat dibuka dan mesinnya pun mustahil bisa dinyalakan. Namun, kenyataannya bahwa sekalipun deretan contoh semacam itu telah dikemukakan secara gamblang, namun lantaran titel dan tingkat pendidikan tinggi yang berhasil ditempuhnya, tidak sedikit orang-orang yang terdidik menjadi takabur dan sombong. Akibatnya, dirinya menjadi enggan menerima dan mengakui pelbagai persoalan yang menyangkut ta 'abbudi (penghambaan). Padahal, sebagaimana diketahui bersama, tanpa mengarungi sungai taslim (penyerahan diri), seseorang mustahil mampu menggapai kesempurnaan dirinya. Pintu eksistensinya tidak akan pernah terbuka hanya dengan
Tauhid dan Thaharah menggunakan kunci akal dan ilmu yang serba terbatas semacam ini. Di jagat alam yang penuh rahasia dan misteri ini, kita tidak akan memperoleh apapun selain keragu-raguan dan kebimbangan.
e.Tidak Adanya Jejak dan Tanda-tanda Tuhan Lain Argumen pertama menegaskan tentang adanya keserasian dan harmoni dalam berbagai ciptaan di alam ini. Argumen kedua berkaitan erat dengan penjelasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, yang juga menyertakan himbauan agar kita betul-betul memperhatikannya. Bunyinya seperti ini; seandainya memang terdapat Tuhan lain (selain Tuhan yang Tunggal), tentu Dia juga akan mengutus para Nabi dan menunjukkan jejak serta tanda-tanda kekuasaannya. "Apabila Tuhanmu memiliki sekutu, niscaya engkau akan ditemui para utusan-Nya dan melihat tanda-tanda kerajaan-Nya." Anggapan tentang adanya dua bentuk kekuatan (Tuhan) tersebut juga meniscayakan keterbatasan eksistensial masing-masing, yang karenanya menjadikan keduanya sebagai "bukan Tuhan". Kekuatan yang serba terbatas, yang menuju titik ketiadaan (fana), jelas mustahil disandang Tuhan. Dan jika kedua kekuatan tersebut dikatakan "tidak terbatas", maka yang ada bukan lagi "dua kekuatan" melainkan satu kekuatan. Seperti ungkapan salah seorang cendekiawan, "Apabila Anda mengatakan kepada seorang ahli bangunan untuk membangun sebuah rumah yang luasnya meliputi seluruh tanah di permukaan bumi ini, pasti ia hanya akan membangun sebuah rumah saja, karena sudah tak ada lagi tempat baginya untuk membangun rumah yang lain." Contoh yang lain lagi, apa mungkin akal kita dapat menerima pandangan bahwa anggota tubuh bagian
Akhbarul Karim permukaan diciptakan oleh Sang Pencipta, sementara bagian organ pencernaan tidak ?. Selama ini kita telah menyakini bahwa keteraturan yang terdapat pada diri seseorang mencerminkan adanya perasaan dalam dirinya. Lalu, apakah keteraturan yang berlangsung di alam semesta ini tidak merefleksikan adanya (pencipta yang memiliki) perasaan?, sehingga bagaimana mereka bisa menggantikan (pencipta alam ini) dengan berbagai sebab-sebab serta hukum-hukum alam?. Pada hal kita mengetahui bahwa hanya untuk hakikat dari keberadaan dari salah satu hukum-hukum alam menghabiskan waktu yang berpuluh-puluh tahun bagi seorang cendikiawan. Ringkasnya, apabila ciri-ciri utama yang melekat pada pandangan dunia terbaik selaras dengan prinsip-prinsip akal, maka sejak pertama sekali akal kita telah menyaksikan adanya sistem (keteraturan) serta perhitungan yang rinci di jagad alam ini. Sekaligus kita telah memberikan sebuah keyakinan bahwa alam semesta merupakan hasil ciptaan suatu kekuatan yang memiliki perasaan. Melalui rumus akal tersebut, Allah memberikan sederet jawaban atas berbagai keraguan yang melandanya, setelah melakukan observasi terhadap alam semesta dan mengetahui adanya berbagai keteraturan serta perhitungan yang amat rinci di dalamnya. Maka di sini kita akan terbawa pada pandangan dunia Ilahiah. Inilah suatu pertanda adanya kebenaran dalam cara memandang dan berpikir.
Pertanda lain yang menunjukkan kebenaran
pandangan dunia Ilahiah adalah kesesuaiannya dengan keberadaan fitrah. Fitrah identik dengan kata khilqah, yang memiliki arti “ciptaan"; suatu bentuk perasaan yang terdapat dalam diri manusia bentuk perwujudannya tidak memerlukan latihan serta pengajaran dari seorang pendidik atau pengajar dan perasaan tersebut senantiasa bersemayam dalam jiwa seluruh manusia di berbagai tempat dan masa. Perasaan
Tauhid dan Thaharah
tersebut terkadang disebut fitrah dan terkadang pula disebut gharizah (instink). Instink merupakan perasaan serta berbagai kecenderungan yang selain terdapat dalam diri manusia, juga perasaan itu dimiliki oleh para hewan. Tentu jelas bahwa salah satu pertanda bahwa sesuatu hal yang bersifat fitriah adalah apabila keberadaannya bersifat universal. Misalnya kecintaaan seorang ibu terhadap anaknya yang merupakan suatu yang bersifat fitrah; perasaan kasih sudah tertanam dalam jiwa sang ibu, sehingga untuknya tidak diperlukan bimbingan atau pengajaran. Hal ini sangat bersifat universal. Dalam arti, apabila kita menelusuri berbagai tempat dan masa, berbagai bentuk dan sistem pemerintahan, maka kita akan mendapatkan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Akan tetapi, terdapat juga sejumlah faktor yang menyebabkan kuat dan lemahnya perasaan (fitrah) tersebut. Boleh jadi suatu perasaan yang terdapat dalam jiwa seseorang berhasil mengalahkan perasaan yang lain. Misalnya dalam diri manusia terdapat rasa cinta terhadap harta, kesenangan atau keselamatan."Akan tetapi, bobot dari masing-masing bentuk perasaan yang terkandung dalam diri setiap individu tersebut tidaklah sama persis. Sebahagian orang rela mengorbankan nyawa demi hartanya, sementara sebahagian lainnya rela mengorbankan harta demi nyawanya. Sebagaimana pernah terjadi pada suatu masa, seorang ayah demi mempertahankan harga diri (dikarenakan anggapan yang berkembang waktu itu bahwa memiliki anak perempuan merupakan suatu kehinaan dan cela) sampai-sampai harus memutuskan rasa cintanya kepada anak (perempuannya). Jadi dengan tangannya sendiri, ia tega mengubur hidup-hidup anaknya sendiri. Karena itu, keberadaan fitrah tidak meniscayakan semua manusia memiliki sikap yang sama. Sebabnya, banyak sekali fitrah yang terabaikan oleh kepentingan lain. Salah satu fitrah yang
Akhbarul Karim
dihasilkan adalah rasa bangga diri. Seseorang yang hidup digaris fitrah, akan memiliki jiwa yang tenang.. Seorang ibu yang suka menggendong anaknya akan merasa bangga terhadap anaknya itu dan dia akan marah ketika menyaksikan seorang ibu tidak mengasihi anaknya sendiri. Dengan demikian rasa bangga dan marah tersebut merupakan bentuk sikap yang dihasilkan oleh fitrah. Namun sekarang akan kita ungkap bahwa apakah pengenalan terhadap Tuhan merupakan suatu yang bersifat fitrah atau bukan ?. Kita sekarang akan bertanya kepada setiap manusia yang ada di setiap tempat, masa serta pemerintahan : "apakah yang kalian rasakan dalam kehidupan di alam semesta ini ?, apakah kalian merasa diri kalian benar-benar bebas?, ataukah kalian merasakan dalam diri terdapat suatu keterikatan?". Maka jawaban yang akan kita dapatkan tak seorangpun yang mengatakan bahwa "di alam semesta ini saya benar-benar merasa bebas". Setiap orang pasti akan merasakan bahwa di dalam dirinya terdapat suatu ikatan. Namun, perasaan yang benar semacam ini bisa terpenuhi dalam dua bentuk : perasaan yang benar dan dipenuhi dengan cara yang benar dan perasaan yang benar
dan dipenuhi dengan cara yang keliru (kebohongan). Seumpama, seorang bayi yang menangis karena
merasa lapar. Perasaan lapar tersebut merupakan sesuatu
yang benar. Namun, terkadang pemenuhan tuntutan perasaan tersebut dilakukan dengan cara menghisap susu ibunya yang
penuh dengan air susu. Tentunya, pemenuhan semacam ini dilakukan dengan cara yang benar. Terkadang pemenuhan
perasaan tersebut dipenuhi dengan cara menghisap puting
susu plastik tiruan (dot). Sebagaimana dikemukakan bahwa dalam diri manusia benar-benar terdapat rasa keterikatan. Rasa keterikatan itu meliputi kekuatan pada Tuhan dan
Tauhid dan Thaharah
kekuatan pada alam. Sebagaimana yang terdapat dalam sejarah Islam bahwa langkah pengenalan terhadap Tuhan adalah melalui misi kenabian, mulai dari Nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad S.a.w yang dilanjutkan oleh warisatul ambiya'. Hal ini kadangkala ada dibenak kita bahwa ajakan para Nabi serta berbagai mazhab samawi untuk menyembah kepada Allah semata menjadi perbuatan yang bertentangan dengan kebebasan manusia. Namun, perlu diperhatikan bahwa susunan tubuh manusia telah diciptakan sedemikian rupa, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa cinta, kasih, peribadahan dan harapan. Rasa cinta dan kegemaran beribadah telah tertanam dalam jiwa manusia. Jika perasaan tersebut tidak ditundukkan di bawah bimbingan para Nabi, akibatnya manusia akan menjadi penyembah patung berhala, benda-benda langit, sesamanya, serta para pemimpin yang zalim. Karena itu, penghambatan dan peribadahan kepada Allah merupakan suatu cara permuasan yang benar, dapat menghalangi berbagai bentuk pemuasan semu (keliru), sekaligus menyelamatkan jalur cinta dan peribadahan dari berbagai penyimpangan. Pandangan dunia Ilahiah dan iman kepada Allah berakar pada keberadaan fitrah. Perasaan serta keterikatan pada kekuatan adikodrati yang tidak terbatas sudah tentu terdapat dalam jiwa setiap manusia. Namun, sekalipun kita mampu memastikan adanya kekuatan tidak terbatas itu, maka seseorang akan mengalami kekeliruan dalam menentukan kekuatan manakah yang bersifat Ilahiah dan mana yang bersifat alamiah. Perasaan dan hubungan semacam itu benar-benar ada. Oleh karena itu, pandangan terhadap dunia Ilahiah menyakini bahwa seluruh keberadaan di jagad raya ini terikat dengan suatu kekuatan adikodrati tanpa batas dan memiliki perasaan. Ini sesuai dengan fitrah manusia. Inilah bukti lain yang berkenaan dengan kebenaran pandangan dunia Ilahiah.
Akhbarul Karim
Ciri lain yang melekat pada pandangan paling baik yang dapat melahirkan rasa cinta, harapan dan tanggung jawab dalam diri manusia adalah apabila seorang pelajar di sebuah sekolah mengetahui bahwa berbagai usahanya tidak akan sia-sia. Maka seperseratus dari nilainya akan diperhitungkan dan seluruh alasan yang masuk akal akan diterima. Tentu ia akan terus belajar dengan semangat yang luar biasa. Berkat pandangan dunia Ilahiah, manusia akan memiliki keyakinan bahwa setiap detik dari kehidupannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah. Dengan pandangan tersebut, setiap alasan keberadaannya juga akan diterima. Setiap perbuatan baik dan buruk sekecil apapun tidak akan diabaikan bahkan perbuatan baiknya akan dibeli Allah, harga dari nyawa dan hartanya akan dibayar oleh kenikmatan surgawi. Memiliki keyakinan bahwa pada satu sisi dirinya acapkali memperoleh pertolongan gaib. Sementara pada sisi lain kita akan memperoleh sarana pendidikan yang bebas dari keraguan, kekeliruan serta kealpaan. Ala kulli hal, semua itu akan menjadi pelita harapan yang paling benderang yang akan menerangi hati manusia. Dalam al-Quran terdapat berbagai kritikan atas berbagai bentuk iman serta kecenderungan yang dimiliki oleh manusia, antara lain yaitu :
- Berbagai kecenderungan yang bersifat musiman (angin- anginan). Sebagai contoh, seseorang yang pada suatu ketika merasakan dirinya tengah berada dalam bahaya, di mana kapal yang ditumpanginya akan tenggelam. Maka pada saat itu, ia segera menyebut, "ya Allah". Akan tetapi, begitu terlepas dari kesulitan tersebut dan ia melihat kapal yang ditumpanginya tengah mendekati pantai, seketika itu pula ia kembali menyerahkan dirinya
Tauhid dan Thaharah
kepada selain Allah, ini merupakan suatu perbuatan yang syirik. Seperti firman Allah pada surat al-Ankabut : 65, yang artinya : "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan niat ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)".
- Keimanan serta kecenderungan ikut-ikutan terhadap keyakinan orang tua dan para pendahulu. Kecenderungan semacam ini biasanya tidak didasari pada argumentasi atau dalil yang rasional. Keimanan ini serupa dengan keimanan yang dimiliki para penyembah berhala. Tatkala menjawab pertanyaan para Nabi, mereka mengatakan bahwa“ keyakinan kami dalam menyembah berhala ini diwarisi dari para pendahulu kami. “Berkenaan dengan ini, seperti firman Allah dalam surat al-Syu'ara : 74, yang artinya : "mereka menjawab, (bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".
- Keimanan dan kecenderungan yang hanya kulit luarnya saja dan belum menembus kedalam lubuk hati, ruh serta jiwa. Sekelompok orang Arab menemui Rasul S.a.w dan mereka mengatakan : "Kami semua telah beriman. "Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Muhammad
S.a.w : "Katakanlah kepada mereka, keimanan kalian sekarang ini masih belum membekas dalam hati kalian. Kalian hanya sekedar mengungkapkan rasa keimanan saja. Orang-orang Badui itu berkata : "kami telah
beriman. Katakanlah (kepada mereka) : Kamu belum
beriman, tetapi katakanlah, kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. (al-Hujurat : 14)
Akhbarul Karim
- Keimanan yang kosong dari amal perbuatan yang baik. Orang yang memiliki keimanan ini adalah orang yang berpengetahuan namun enggan mengamalkannya. Sehingga dalam al-Quran banyak sekali terdapat kecaman terhadap orang-orang yang semacam ini. Dengan kita mengenal Tuhan, maka kita akan beriman kepada -Nya. Setiap saat kita akan berusaha menjauhkan diri dari larangan-Nya dan mengerjakan perintahnya. Adapun hasil dari keimanan terhadap Allah adalah; munculnya perasaan cinta dan semangat. Seseorang akan mengetahui secara pasti bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah, sembari menyakini bahwa tidak ada satupun dari amal perbuatannya akan musnah dan semua usahanya akan diganjar Allah dengan surga dan ridhwan (kerelaan Allah). Bahkan, sekalipun ia hanya memiliki niat semata dan tidak berusaha, Allah akan menganugerahkan pahala dan ganjaran kepadanya. Seseorang yang mengetahui semua itu pasti akan menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan cinta; menjauhkan diri dari tipu muslihat, kehinaan moral dan pelecehan hak. Seseorang yang menyadari diri serta perbuatannya berada di bawah pengawasan serta kekuasaan Allah, maka dirinya tidak akan melakukan berbagai bentuk penipuan; keagungan. Seseorang yang bersedia menjadi hamba-Nya tidak akan bersedia tunduk pada kekuatan lain. Ia akan memandang seluruh keberadaan selain-Nya sama seperti dirinya yaitu sebagai hamba; tidak akan melakukan pekerjaan yang merugikan. Dikarenakan setiap perbuatan baik yang dikerjakannya akan mendapat pahala serta ganjaran yang kekal dan abadi, mereka tidak akan pernah bersandar kecuali kepada-Nya dan senantiasa menjauhkan diri dari berbagai kecenderungan kepada selain-Nya; merasakan ketenangan jiwa.
Tauhid dan Thaharah Di sini kita akan melihat berbagai faktor penyebab munculnya rasa gelisah dan guncangan jiwa. Darinya, kita dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana keimanan kepada Allah mampu menciptakan ketenangan dalam jiwa. Apabila kita melanggar keimanan kepada Allah, maka jiwa kita akan terguncang. Adapun faktor-faktor penyebab guncangan jiwa adalah :
- Gunjangan jiwa dan rasa gelisah timbul akibat keadaan yang dialami di masa lalu. Pada umumnya, hal ini berkaitan dengan berbagai kekeliruan yang dilakukan pada masa silam. Akan tetapi, apabila kita mengingat serta menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, keadaan jiwa semacam ini niscaya akan berubah. Dari sikap yang gelisah menjadi penuh dengan ketenangan. Sebabnya, Allah Maha Pengampun terhadap berbagai kekeliruan dan perbuatan dosa serta Allah Maha Penerima taubat.
- Guncangan jiwa serta kegelisahan bersumber dari rasa terasing (kesendirian). Dalam hal ini, keimanan kepada Allah yang Maha Ada dan Maha Menyaksikan akan mengubah menyenangkan dan disenangi; Allah maha Mendengar suara hambanya; Allah menyaksikan segenap perbuatan hambanya; Allah mengasihi dan menyayangi hambanya.
- Guncangan jiwa terjadi akibat adanya anggapan bahwa kehidupan tidak memiliki arti apa-apa serta nihil dari tujuan. Akan tetapi, dengan keimanan kepada Allah yang Maha Bijaksana telah menciptakan segala sesuatu di jagad raya ini berdasarkan kebijakan dan masing-masing memiliki rasa tujuan, kadar dan masa yang telah
Akhbarul Karim diperhitungkan secara cermat dan rinci dari berbagai bentuk guncangan jiwa semacam ini niscaya akan lenyap.
Adakalanya rasa gelisah dan gunjangan jiwa tersebut
tidak berhasil muncul dikarenakan seseorang menyenangkan semua orang. Maka ia akan merasa sedih, "mengapa si fulan atau golongan fulan merasa kecewa kepadaku?". Akan tetapi, sesuai dengan prinsip keimanan bahwa kita hanya diharuskan untuk membuat Allah rela dan senang, di mana keagungan serta kehinaan hanya berada dalam genggaman-Nya. Seluruh kegelisahan dan guncangan tersebut niscaya akan pudar, seperti firman Allah dalam surat al-Ra'd :28 yang artinya : Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, hati menjadi tentram". Ini merupakan kenyataan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa dengan mengingat dan menyebut nama Allah hati kita akan menjadi tentram. Apabila, ada di antara kita yang tidak beriman kepada Allah, maka mereka akan mengalami kekosongan iman. Kehidupannya berdasarkan pada prinsip :tidak memiliki prinsip dan tujuan hidup. Baginya, kehidupan hanyalah ditujukan untuk meraih kebahagian yang bersifat material. Keberadaannya tidak ubah seperti seekor hewan.
- setiap aktivitas yang dilakukannya diyakini bersifat paksaan belaka (baik oleh masyarakat maupun kasta).
- Rumah masa depannya adalah kebinasaan. Sebabnya, ia tidak menyakini adanya kehidupan pascakematian serta adanya kekekalan ruh.
- para pembimbingnya terdiri dari orang-orang zalim. Selain itu, ia tunduk di bawah kemauan hawa nafsu.
Tauhid dan Thaharah
(dikarenakan tidak menyakini
- ruang kehidupannya adanya wahyu dan keberadaan para nabi yang maksum) sarat dengan berbagai keragu-raguan, keterbatasan,. kekurangan dan kekeliruan.
- mengalami kebingungan yang luar biasa dalam upayanya memahami eksistensi alam ini. Ia sama sekali tidak mengetahui, kenapa dirinya terlahir ke alam ini? Mengapa kemudian setelah itu dirinya pergi entah kemana? Apa sebenarnya tujuan kehidupan ini? Berdasarkan uraian diatas, maka seluruh pemikirannya hanya tertumpu pada, "bagaimanakah cara meraih kehidupan duniawi yang lebih baik," bukannya pada “ apakah tujuan kehidupan ini?" Ya, demikianlah sejumlah karakter khas dari seseorang yang nihil dari pandangan dunia Ilahiah dan akidah Islam. Dengan melakukan perbandingan antara wajah orang beriman kepada Allah dengan wajah orang tidak beriman kepada Allah, sehingga kita dapat mengetahui dengan jelas fungsi penting dari sebuah keimanan.
B. Nilai – Nilai Thaharah Selain penulis memaparkan tentang nilai-nilai tauhid yang terkandung dalam naskah Akhbarul Karim, di sini juga penulis akan mengkaji nilai-nilai thaharah yang terkandung di dalamnya. Thaharah, menurut bahasa berarti bersuci. Thaharah sering kali dilalui dalam kaitan berwudhu', sehingga berwudhu' memiliki arti bersuci, karena dapat membersihkan mutawadhi' (orang yang berwudhu') dari keadaan sebelumnya yang dianggap tidak suci. Thaharah merupakan ciri terpenting dalam Islam, yang berarti bersih atau sucinya seorang wanita Muslimah secara lahir maupun batin. Islam menuntut wanita muslimah untuk membersihkan
Akhbarul Karim
hatinya dari syirik, dengki dan iri hati. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syu'ara : 88 -89) menegaskan, yang artinya : "Pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". Dan juga firman Allah surat Al-Isra: 36 dan 53), yang artinya : "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, kesemuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabnya" (36), dan "Katakanlah kepada para hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)"
(53).
Bagi setiap Muslim yang beriman diwajibkan untuk mensucikan badan dan pakaian serta tempat sholatnya dari najis yang bersifat lahir, agar sejalan dengan pensucian hati. Dari Abu Hurairah r.a Nabi Muhammad S.a.w bersabda : "Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila berhadats, sehingga ia berwudhu' (HR. Bukhari). Kemudian ditambah lagi oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa : "kesucian itu sebagian dari iman. Bacaan Alhamdulillah memenuhi timbangan. Subhanallah wa Alhamdulillah memenuhi apa yang berada di antara langit dan bumi. Sedangkan shalat adalah pelita, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah cahaya dan al-Qur'an adalah hujjah yang membenarkan atau menyalahkanmu.
Setiap orang yang pergi pagi hari dan menjajakan diri
(berkorban di jalan Allah), maka ia telah memerdekakan atau justru akan membinasakannya. Hadits yang telah diuraikan diatas sangatlah penting nilainya di samping menjadi salah satu dari pokok ajaran Islam, yang meliputi beberapa kaidah penting. Asy-Syathru memiliki arti bahwa kelipatan pahala yang terdapat di dalamnya berakhir sampai hitungan setengah dari nilai pahala iman. Namun terdapat juga posisi iman itu seharusnya
Tauhid dan Thaharah
melalui beberapa tingkatan. Begitu juga sifatnya wudhu', yang tidak sah kecuali disertai dengan iman. Kesucian merupakan syarat sahnya shalat, sehingga kesucian ini menjadi seperti bahagian yang bernilai setengahnya. Di sini tidak berarti bahwa setengah dalam arti sebenarnya. Ini merupakan sebuah ungkapan yang lebih mendekati pada kebenaran di antara ungkapan-ungkapan yang ada. Ini berarti bahwa iman yang dibenarkan dengan hati dan diwujudkan dalam kepatuhan secara lahir, keduanya bernilai sebagian dari iman. Begitu pula dengan thaharah (bersuci) yang termasuk bagian dalam shalat, di mana ia merupakan wujud kepatuhan secara lahiriyah. Melaksanakan wudhu' pada setiap menunaikan shalat merupakan hal yang disunnatkan. Para ulama telah bersepakat mengharamkan shalat tanpa bersuci terlebih dahulu, baik dengan menggunakan air maupun debu. Dalam kaitan berwudhu' ini tidak ada perbedaan bersuci antara shalat fardhu, shalat sunnat, sujud tilawah, sujud syukur dan shalat jenazah. Apabila melakukan shalat dalam keadaan berhadats secara sengaja dan tanpa adanya alasan, maka kita telah melakukan perbuatan dosa. Demikianlah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sebagaimana diceritakan dari Abu Hanifah Rahimahullah :“ bahwa orang yang dengan sengaja meninggalkan (menolak) wudhu' dikategorikan sebagai kafir. Karena, perbuatannya itu telah mempermainkan kewajiban yang telah ditetapkan". Sementara dalil yang melandasinya adalah kufur itu merupakan persoalan keyakinan, di mana keyakinan orang (yang meninggalkan wudhu') tersebut mengenai shalat tanpa wudhu' adalah tidak benar (karena ia menyakini sebagai perbuatan yang dapat dibenarkan). Pernyataan ini berlaku jika orang yang mengerjakan shalat dalam keadaan berhadats tidak mempunyai alasan yang
Akhbarul Karim
tepat. Sedangkan bagi orang yang benar-benar mempunyai alasan pasti, misalnya tidak adanya air maupun debu, maka dalam hal ini terdapat empat pendapat yang dikemukan oleh Imam Asy-Syafi'i r.a, yang sekaligus merupakan pendapat para ulama, yang masing-masing mengatakan : Pertama, orang tersebut wajib mengerjakan shalat dengan kondisi yang dialaminya dan ia harus mengulangi shalatnya apabila telah memungkinkan baginya untuk bersuci; kedua, dilarang mengerjakan shalat. pada saat itu, akan tetapi ia harus mengqadhanya; ketiga, disunnatkan baginya mengerjakan shalat dan tetap harus mengqadhanya di lain waktu, keempat, ia harus mengerjakan shalat pada saat itu dan tetap harus mengqadhanya pada waktu yang lain. Allah S.W.T tidak akan menerima shalat hambanya apabila ia mengerjakannya dalam keadaan berhadats, sehingga ia berwudhu' atau bertayamum. Adapun bersuci dapat dibagi menjadi dua bahagian yaitu suci secara lahir dan suci secara batin.
a. Suci secara lahir Suci secara lahir adalah suci dari segala macam kotoran atau suci dari hadats. Bersuci dari kotoran dapat dilakukan dengan cara menghilangkan seluruh najis yang menempel dengan menggunakan air yang bersih, baik dari pakaian, badan maupun tempat shalat. Sedangkan bersuci dari hadats adalah dengan berwudhu', mandi atau bertayamum. Ada beberapa perkara yang akan digunakan dalam proses bersuci, diantaranya :
1. Air mutlak Air mutlak adalah air yang suci dan mensucikan. Yaitu air yang masih murni dan belum atau tidak tercampur oleh sesuatu (najis). Air ini terdiri dari beberapa macam,
Tauhid dan Thaharah
diantaranya; air laut, air hujan (salju dan embun), air zamzam, air yang berubah karena lama tidak mengalir.
2. Debu yang suci
Yaitu debu suci yang berada di permukaan tanah, pasir, dinding atau batu.
- Air yang tercampur oleh sesuatu yang suci Sesuatu yang suci, misalnya sabun, minyak za'faran, tepung dan lain sebagainya yang memang secara dzat ia terpisah dari air, maka hukum air ini adalah suci selama masih terjamin kemutlakannya. Jika telah keluar dari kemutlakkannya, di mana tidak dapat lagi disebut sebagai air mutlak, maka air tersebut tetap suci akan tetapi tidak dapat mensucikan.
- Air dalam jumlah yang banyak apabila berubah warnanya karena tidak mengalir Menurut kesepakatan ulama, jika air telah berubah karena tersimpan dan terdiam di suatu tempat (tertutup), maka ia tetap suci adanya. Adapun air pada sungai yang mengalir, jika diketahui bahwa airnya berubah karena tercampur oleh benda najis, maka air sungai itu menjadi najis. Apabila tercampuri oleh sesuatu yang suci dan sesuatu yang najis membuat kondisi jadi berubah, akan tetapi masih diragukan perubahannya, maka tidak dapat disebut najis hanya karena bersandar pada keraguan semata.
- Air Musta'mal Air musta'mal adalah air yang sudah terpakai atau jatuh dari anggota badan orang yang berwudhu'. Untuk itu hendaknya kita mengetahui bahwa air seperti ini tetap suci keberadaannya sebagaimana air mutlak dan tidak ada satu dalil pun yang mengeluarkan dari kesuciannya (menyatakan tidak suci).
Akhbarul Karim
- Air yang terkena najis. Mengenai air yang terkena najis ini ada dua macam keadaan, yaitu pertama, jika najis yang mengenai air itu merubah rasa, warna atau baunya. Menurut kesepakatan ulama air yang berada dalam kondisi seperti itu tidak boleh dipergunakan untuk bersuci. Kedua, jika air masih tetap dalam keadaan suci dan mensucikan, di mana salah satu dari ketiga sifatnya (rasa, warna dan bau) itu tidak ada yang berubah. Pada keadaan seperti ini, air tetap suci dan mensucikan.
- Air yang jumlahnya mencapai dua kulah Hadits dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Nabi Muhammad S.a.w bersabda bahwa :“ apabila jumlah air itu mencapai jumlah dua kulah, maka air itu tidak mengandung kotoran (tidak najis)" (HR. Khamsah) Sanad dan matan hadits ini berstatus mudhtharib (kontradiksi). Dalam mukaddimah kitabnya, Ibnu Abdil Barri mengatakan : “ yang menjadi landasan dari pendapat Imam Asy-Syafi'i mengenai hadits dua kullah ini merupakan pendapat yang lemah dari sisi teori dan tidak permanen dari sisi atsar. Kemudian Imam Asy-Syafi'i menetapkan air yang tidak menjadi najis karena terkena atau bercampur benda najis, yaitu selama tidak berubah sifatnya sebanyak dua kullah atau lima geribah. Sementara para sahabat menafsirkan dengan lima ratus ritl (1 ritl = 2568 gram). Sedangkan para penganut mazhab Hanafi menetapkan dua kulah itu sama dengan tempat air yang besar yang satu sisinya tidak goyang apabila sisi lainnya digerakkan. Mereka yang tidak menggunakan ukuran dua kulah terpaksa menggunakan ukuran semisal dengannya dalam menetukan jumlah air yang banyak. Misalnya penganut mazhab Maliki
Tauhid dan Thaharah
melakukan rukshah (keringanan) pada telaga di padang pasir yang terkena tahi unta.
- Air yang tidak diketahui kedudukannya Rasulullah pernah melakukan suatu perjalanan pada malam hari, di mana beliau dan para sahabat melewati seseorang yang tengah duduk di pinggir kolam yang berisi air. Kemudian Umar r.a. bertanya :" Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu ini pada malam hari?" Rasulullah berkata :" Wahai pemilik kolam, janganlah engkau beritahukan kepadanya (Umar) karena hal itu suatu hal yang keterlaluan (mempersulit diri sendiri). Demikian juga terhadap air yang berada di jalanan, selama kita tidak mengetahui kedudukannya. Karena itu, apabila kita menemukan atau melihat air di suatu tempat, sedang kita tidak mengetahui kesuciannya, maka air tersebut tetap suci. Allah S.W.T tidak membebani kita untuk mencari hakikat air tersebut.
b. Suci secara batin Suci secara batin berarti bahwa kita telah membersihkan jiwa dari dosa dan semua perbuatan maksiat, yaitu dengan cara bertaubat secara sungguh-sungguh dari segala macam dosa dan perbuatan maksiat. Membersihkan hati dari perasaan syirik, keragu-raguan, dengki, iri hati, tipu daya, kesombongan, ‘ujub, riya' kepada kebaikan, kelembutan, kejujuran, tawadhu' (rendah hati) serta senantiasa menghendaki keridhaan Allah dalam segala bentuk niat yang dimunculkan dan mengerjakan amal-amal shalih seperti shalat. Taubat berarti kembali kepada Allah dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat pada hari-hari mendatang. Allah senantiasa menerima taubat
Akhbarul Karim
hamba-Nya apabila kita mau benar-benar kembali kepada-Nya. Perbuatan dosa dikategorikan menjadi dua macam, pertama; dosa yang terjadi antara seorang hamba dengan Allah, di mana untuk bertaubat dari dosa ini adalah dengan beristighfar yang disertai rasa penyesalan dan bertekad (berusaha dengan sungguh-sungguh) untuk tidak mengulanginya lagi. Sedangkan yang lainnya adalah dosa yang terjadi antara seorang hamba terhadap hamba yang lainnya. Taubat dari dosa ini adalah dengan cara meminta maaf dan ridha dari orang yang menjadi objek perbuatan dosa tersebut. Oleh karena sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa para hamba-Nya secara keseluruhan. Seorang ulama telah mengatakan bahwa taubat itu dikenal dalam empat bentuk. Salah satunya adalah dengan cara menahan lidah dari melakukan ghibah dan berdusta, kedua, dengan cara tidak mendengki dan memusuhi orang lain, ketiga, dengan cara menghindari orang-orang yang berbuat kejahatan dan yang keempat adalah dengan cara mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan menyesali serta memohon ampunan atas semua perbuatan dosa yang telah dilakukan dan berusaha untuk taat kepada Allah.
BAB V ANALISIS RELEVANSI NILAI TAUHID DAN THAHARAH DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN MASA KINI
A. Budaya Hidup Sufi Berbicara tentang budaya hidup Sufi, maka sangat berpengaruh pada kepemimpinan atau jabatan guru. Guru Sufi adalah seorang konduktor, pemimpin dan instruktur (pelatih) bukan orang yang didewakan oleh para pengikutnya. Pemujaan pribadi dilarang dalam Sufisme. Oleh karena itu Maulana Jalaluddin ar-Rumi mengatakan: "Janganlah melihat bentuk luarku, tetapi ambil apa yang ada dalam tanganku," dan Jurjani mengatakan: "Kerendahan hatiku yang engkau sebut adalah tidak ada, karena engkau telah terpengaruh olehnya. Hal itu ada karena alasannya sendiri." Bagaimana pun kepribadian yang menarik bagi orang biasa dan para pengganti guru-guru Sufi telah cenderung menghasilkan hal – hal yang lebih baik daripada penerapan kehidupan atas prinsip-prinsip berpikir, sistem-sistem hagiografi, ganjil dan kurang sempurna. Tema mengenai sifat kesementaraan dari "kepompong" ulat gemar dilupakan. Karena itu tetap dibutuhkan suatu teladan baru. Pengkajian tentang Sufisme sulit untuk dilakukan. Dari satu sisi adalah sistem mistikal yang dirancang untuk menghasilkan ketenangan jiwa dan didasarkan atas konsep-
Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisienal Banda Acch
Akhbarul Karim
konsep teologis. Sebagaimana sebuah puisi Sufi oleh Omar Khayyam, menyatakan : Di dalam bilik kecil dan beranda biara, Di dalam biara kristen dan gereja yahudi, Di sini orang merasa takut akan neraka, Lainnya bermimpi tentang surga. Tetapi ia yang tahu rahasia-rahasia kebenaran dari Tuhannya Tidak menanam benih-benih seperti itu di dalam hatinya. Berikutnya ini, akan kita paparkan beberapa hal yang menyinggung tentang budaya Sufi, diantaranya adalah :
a. Kehidupan yang memabukkan Setiap rangsangan yang dialami manusia melalui makanan dan minuman sebenarnya merupakan kemabukan tingkat kecil. Bahkan bukan saja makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, semua yang ia lihat, ia dengar, dan ia sentuh mempunyai pengaruh dan efek pada diri manusia dan dapat memabukkannya. Bahkan udara yang ia hirup dari pagi hingga malam terus-menerus dapat memberinya rangsangan atau stimulus serta ‘candu'. Jika benar demikian, kapankah manusia tidak berada dalam pengaruh ‘candu'? Tenggelamnya seseorang ke dalam berbagai urusan kehidupannya juga membuatnya kecanduan,selain kecanduan akan pekerjaan dan semua urusannya, pikirannya pun turut hanyut. Ia menjadi sangat sayang pada dirinya, simpati dengan dirinya." "candu" seperti ini membuat seseorang menjadi egois, tamak, dan zalim terhadap orang-orang di sekitarnya. Efek dari kecanduan ini adalah ia terus-menerus merasa, berpikir dan bertindak dengan gagasan di dalam pikirannya, apa yang menjadi kepentingannya, apa yang dapat memberinya keuntungan. Candu inilah yang membuat
Tauhid dan Thaharah seseorang berkata, "Orang ini teman saya dan orang itu musuh saya. Orang ini yang saya harapkan dan orang itu bertentangan dengan saya." Candu ini membangun ego di dalam diri manusia, ego manusia yang sesat. Karena manusia yang kecanduan tidak benar-benar mengetahui apa yang menguntungkannya, maka ego di dalam keegoannya tidak pernah tahu atau memahami apa yang benar-benar menguntungkannya. Di saat-saat tenang ia merasa heran, "Jika ini candu', maka apakah realitas itu?" Tetapi untuk mengetahui realitas seseorang tidak hanya membutuhkan mata dan telinga, namun ia juga membutuhkan ketenangan agar ia dapat melihat dan mendengar lebih baik. Ada suatu kerinduan dalam batin setiap manusia terhadap kepuasan tertentu yang tidak disadari oleh manusia. Kepuasan inilah yang sebenarnya ia cari. Seringkali kebahagiaan yang dicari manusia justru menimbulkan kekecewaan. Ini menunjukkan bahwa usahanya selama ini berada di arah yang salah. Untuk itu, yang pertama harus disadari manusia adalah mengetahui bahwa ada sesuatu yang disebut "candu". Di lain sisi, cukup sulit menemukan ketenangan. Efek "candu" kehidupan ini menyimpangkan manusia dari pemahaman yang sesungguhnya. Oleh karenanya, betapa pun jauh tingkat kehidupan spiritual seseorang, ia tidak pernah bisa memastikan bahwa ia tidak akan merasa kecanduan, karena ia mengalami kecanduan dalam segala sesuatu yang ia lakukan. Itulah mengapa ia tidak bisa terlalu berhati-hati. Banyak orang yang bingung, yang tidak mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan, namun orang yang bersikap hati-hati tidak akan merasa ragu. Ia selalu sadar dan mengetahui apakah tindakannya benar atau salah. Ia mengerjakan apa yang ia percaya itu benar, dan bila ada kesalahan ia akan
Akhbarul Karim memperbaikinya di lain waktu. Kecanduan yang lebih tinggi tidak dapat dibanding-bandingkan dengan kecanduan yang lebih rendah. Toh ia tetap dinamakan "candu". Apakah nikmat itu, apakah marah itu, apakah perasaan sayang, atau pendirian yang teguh itu? Semua itu memiliki efek dari anggur kehidupan, semua menghasilkan "candu". Di dalam memahami misteri ini, kaum Sufi meniti budayanya di atas prinsip "candu". Mereka menamakan "candu" ini sebagai Hal, dan Hal secara harfiah berarti kondisi atau keadaan. Ada ungkapan Sufi bahwa, "manusia berbicara dan bertindak menurut keadaan atau kondisinya." Manusia tidak mungkin bertindak berbeda disebabkan dari ‘anggur’ yang telah diminumnya. Orang yang meminum ‘anggur amarah' akan berkata dan bertindak dengan rasa dongkol. Orang yang meminum anggur keteguhan di dalam ucapannya, pemikirannya dan tindakannya, maka akan berada dalam kondisi teguh. Begitu juga orang yang meminum ‘anggur kasih sayang’ akan menarik hati semua orang. Segala yang manusia katakan dan kerjakan sesuai dengan anggur yang telah diminumnya. Seorang Sufi berkata : "surga dan neraka berada di tangannya, jika ia mengetahui misterinya." Bagi Sufi, dunia ini seperti gudang anggur, di dalamnya berbagai jenis anggur tersedia. Ia harus memilih anggur mana yang hendak ia minum dan anggur mana yang akan memberinya kepuasan atas kerinduan jiwanya. Ada suatu perasaan halus yang dimiliki oleh setiap jiwa, sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, sebuah perasaan yang membuat orang lebih nyaman berada di atas kursi goyangnya di rumah ketimbang berdiri di hadapan ribuan orang untuk memberikan penghormatan kepadanya. Seorang yang kaya, namun pada saat-saat tertentu ia mengesampingkan kekayaannya, lalu duduk
Tauhid dan Thaharah
seorang diri untuk meluangkan waktu sejenak, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dengan bebas. Saat inilah ia memiliki kesempatan untuk merenung. Bukankah Nabi Muhammad Saw telah bersabda : "Merenung sesaat lebih baik daripada beribadah (sunnah) setahun penuh." Mungkin kita pernah merasakan perasaan cinta yang tumbuh kuat di dasar kalbu kita sehingga hati kita menjadi lembut dan indah, penuh perhatian kepada orang-orang yang memang membutuhkan rengkuhan cinta dan kasih sayang kita, memiliki kekuatan penuh memeluk orang-orang yang menderita dan tertindas. Namun kita juga pernah mengalami saat-saat ketika kita seolah-olah tidak memiliki perasaan atau perasaan hampa, dan inilah saat-saat buruk yang sering tidak kita sadari. Ini menunjukkan bahwa seluruh kehidupan ini menarik, karena semuanya mengandung candu dan memabukkan, tetapi yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa hanya satu : yaitu ketenangan. Melalui ketenanganlah manusia dapat lebih fokus, lebih tersadarkan akan keadaannya (Hal). Lalu apakah ketenangan ini sebenarnya dan bagaimana seseorang dapat memperoleh atau mengalaminya? Manusia dapat mengalaminya melalui meditasi dan konsentrasi. Dan keduanya dapat Anda peroleh lewat shalat tahajjud di tengah malam yang hening. Ini mesti dilakukannya, agar hidupnya dapat lebih terarah dan tersadarkan. Dan ingat! Jangan jadikan shalat ini sebagai rutinitas belaka. Oleh karena itu renungi, dalami, dan camkan dengan kesungguhan yang besar. Ini menjadi keharusan karena manusia telah banyak menghirup “candu" dalam hidupnya, sehingga ia menjadi mabuk berat. Begitulah kondisi kebanyakan jiwa di dunia ini, mereka telah mabuk kepayang oleh anggur kehidupan. Maka ia pun harus mencari sekilas ketenangan, suatu momen ketika ia merasakan tanpa
Akhbarul Karim
rasa. Oleh karenanya budaya Sufi didesain untuk mengalami ketenangan tersebut. Tentu saja sangat sulit untuk menjelaskan bagaimana mencapai ketenangan ini. Tetapi sebenarnya suatu tindakan yang paling sederhana melarang orang agar tidak kecanduan lagi terhadap alkohol atau lain sebagainya. Cicero mengatakan : "Suatu pencarian, bahkan atas barang-barang terbaik, mesti dilakukan dengan tenang dan hening". Maulana Jalaluddin Ar-Rumimengatakan,"Pengalaman menunjukkan bahwa ruh tiada lain kecuali kesadaran. Barangsiapa yang memiliki kesadaran yang lebih besar, ia memiliki ruh yang lebih besar, ketika ruh semakin besar dan melebihi segala batasan, ruh segala sesuatu menjadi tunduk kepadanya.
b. Mahkota Sufi Ayat cahaya dalam al-Qur'an sendiri (Q.s. an-Nur: 35) menyatakan bahwa ia adalah sebuah kiasan dan bahwa makna batinnya harus dipahami secara metaforis. Ide iluminisme dan khususnya analogi Pelita dalam Sufisme dan turunannya berasal dari ayat ini. Itulah pemindahan makna alegoris pelita yang membentuk sebagian pengalaman esoteris Sufi, karena Pelita harus dialami, segera setelah kesadaran individual mampu memahaminya. Bunyi Ayat Cahaya itu sebagai berikut: "ALLAH adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya-Nya laksana sebuah lampu di dalam ceruk. Pelita itu berada di dalam kristal, cahayanya laksana sebuah Bintang yang berkilauan. Pelita itu menyala dari minyak sebuah pohon berkah, yaitu pohon zaitun yang tidak (tumbuh) di Timur dan di Barat. Minyaknya menyala dengan sendirinya meskipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya."
Tauhid dan Thaharah Ayat ini menunjukkan esensi Sufisme dan mengungkapkan watak kognisi dari dimensi ekstra kesadaran manusia yang berasal dari luar intelek. Itulah pokok kajian dari karya agung al-Ghazali, Misykat al-Anwar, seorang Sufi klasik. Adapun beberapa bahagian yang menarik yang kita dapatkan dalam pengenalan budaya Sufi. Diantaranya, yaitu : Guru Sufi Dalam diri manusia ada sebuah "khazanah". Ini hanya bisa ditemukan dengan mencarinya. Khazanah itu seolah-olah berada di dalam sebuah rumah (pola pikir yang baku) yang harus dibongkar sebelum dicari. Di dalam rumah "gajah di kegelapan", Jalaluddin ar-Rumi mengajarkan bahwa, "jika ada cahaya di dalam rumah itu"; keberagaman mungkin tampak dalam apa yang sebenarnya kesatuan. Sementara manusia hanya melihat bagian-bagian dari sesuatu karena pikirannya dibakukan dalam sebuah pola yang dirancang untuk melihat sesuatu yang terbagi-bagi. Satu tugas guru adalah mengembangkan fakta ini bagi muridnya. Ar-Rumi menggunakan hal ini dalam sebuah syair: Bongkarlah rumahmu, karena terpendam khazanah di dalamnya, Dan engkau akan mampu membangun beribu-ribu rumah. Khazanah terpendam di bawahnya, tidak ada pertolongan untuk menggalinya, Janganlah engkau mengabaikannya dan janganlah serampangan mengambilnya! Hadiah itu adalah imbalan setelah membongkar rumah. "Manusia tidak akan mendapatkan apa-apa jika ia tidak bekerja."
Akhbarul Karim
Dan engkau akan menggigit jari serta berseru, "Sayang! Bulan purnama itu tersembunyi di balik awan. Aku tidak berbuat apa yang dianggap mereka sebagai kebaikanku, Kini rumah dan khazanah hilang, tanganku hampa." Ada tiga "generasi" dan "gelombang" keguruan selama periode klasik. Setiap Sufi percaya bahwa mereka penerima barakah yang diakumulasikan oleh para guru yang menjadi para leluhur spiritual mereka. Generasi pertama : Abu Bakar, Umar, Ali, Bilal, Ibnu Riyah, Abu Abdullah, Salman al-Farisi (Tujuh Guru Agung). Generasi kedua : Uwais al-Qarni, Hiran bin Haya, Hasan al-Bashri; Empat Pembimbing ("Para Mahkota"). Generasi ketiga : Habib Ajami, Malik bin Dinar, Imam Abu Hanifah, Dawud ath-Tha'i. Dzun-Nun al-Mishri, Ibrahim bin Adham, Abu Yazid, Sari as-Saqati, Abu Hafa, Ma'ruf al-Karkhi, Junaid (Sebelas Syekh penerus). Para guru inilah yang mengkonsentrasikan berbagai ajaran dan mengembangkannya dengan suatu cara untuk.memungkinkan pembangunan berbagai sekolah yang kemudian lahir sebagai tarekat-tarekat darwis. Dalam ajaran Sufi, ada beberapa sosok orang suci yang tidak tampak yang dinamakan dengan ("wali") ini sesuai dengan kebutuhan manusia pada suatu representasi kegiatan fisik atau psikologis dalam setiap masyarakat.
Demikianlah menurut ajaran Sufi yang menghubungkan
konsep ini secara lebih dekat dengan gagasan umum tentang siapa dan seperti apa sosok mereka, sebuah ajaran yang sangat penting adalah keberadaan orang suci yang tidak dikenal. Di bumi ini selalu ada empat ribu orang suci yang demikian dikatakan, tidak dikenal. Merekalah yang dilahirkan dengan anugerah alam yang memberkati mereka tanpa upaya seperti kebanyakan pekerja berusaha mencapai
Tauhid dan Thaharah
suatu keadaan dengan sia-sia. Kesetiaan, gagah, tidak egois, diberkati dengan suatu intuisi alamiah tentang kebaikan dan suatu kecenderungan alamiah untuk mengikutinya, lemah- lembut dan menyenangkan, sehingga mereka menikmati anugerah dari masyarakat mereka, dan ketika mereka wafat, nama mereka mungkin tercatat dalam hati seorang atau lebih yang mencintainya. Kebaikan spontan ini tidak diberikan dengan berbagai kaidah dan bentuk, kecenderungan batiniah dan bukan peraturan lahiriah adalah sumber dari kebaikan mereka. Perlawanan demikian tidak mengenal aturan, mereka mempunyai sebuah standar pemikiran dan karakter mereka sendiri, kebebasan murni dari pujian atau celaan dari "orang-orang lahiriah". Khaja Syamsuddin Hafizh (secara harfiah Guru Matahari Keimanan, sang Pelindung, Sosok yang memahami al-Qur'an) wafat tahun 1389. Sebagai salah satu penyair terbesar Persia, karyanya dikenal sebagai Penafsir Berbagai Rahasia dan Percakapan tentang Yang Tak Tersentuh. Hari kematiannya tersembunyi dalam sebuah syair yang tertera di pusaranya di mana ia sendiri memberikan petunjuk tentang fakta bahwa dirinya merahasiakan sandi angka yang digunakan para Sufi: "Jika engkau ingin mengetahui ketika ia mencari tempat di keremangan Mushalla, carilah tanggal (kematiannya) di keremangan Mushalla." "Keremangan Mushalla" (khak-i-Mushalla) mengungkapkan rahasia angka 791, angka yang sesuai dengan kalender Muslim untuk tahun
- Hafizh adalah guru dari para raja, namun tetap dicintai masyarakat. Pengaruhnya masih tak tertandingi dalam kesusastraan Persia. Husain bin Manshur al-Hallaj adalah martir Sufi yang Agung. Seperti kebanyakan Orang Bijak, ia menggunakan sebuah istilah keahlian sebagai nama keluarganya, yaitu
Akhbarul Karim Hallaj, pemintal wool atau pemakai bahan kapas, sehingga banyak pengulas berasumsi bahwa hal ini menunjukkan bahwa ia pedagang atau sebagai nama keluarga. Jubah kelompok Sufi dan majelis mereka dengan tabir organisasi serikat adalah salah satu alasan pilihan nama itu. Al-Ghazali, sang Pemintal dan Aththar, sang Kimiawan adalah contoh lain. Namun para Sufi selalu memilih nama-nama keahlian yang (melalui makna gandanya) bisa diasosiasikan dengan komitmen mereka. Nama Hallaj dipilih karena hubungan wool (shuf) dengan keahlian itu, dan karena sebuah makna alternatif untuk akar kata HLJ dalam bahasa Arab adalah "berjalan perlahan" atau "membiarkan penerangan keempat". Meskipun ia populer dengan nama Manshur, sebenarnya ini adalah nama ayahnya, seorang Majusi kuno. Ia dihukum mati pada tahun 922 atas pernyataannya, "Akulah Kebenaran" (Ana al-Haqq), dan penolakan untuk mengakui kesalahannya, menjadi ungkapan hujjahnya yang terakhir. Ia dinyatakan sebagai ahli alkimia seperti kebanyakan Sufi dan permusuhan kesusastraan yang luas menuduhnya sebagai sosok munafik yang licik. Bagi para Sufi, di antara beberapa sosok terbesar dari sahabat dan orang sezamannya, ia adalah salah seorang guru terbesar mereka. Ia melaksanakan berbagai pertemuan rahasia di rumahnya dan menjadi sangat kuat karena ajarannya serta mempunyai berbagai mukjizat. Pendek kata, ia adalah ancaman politik. Ia mengajarkan bahwa Sufisme adalah kebenaran internal dari semua agama sejati, dan karena ia menekankan arti penting Yesus sebagai seorang Guru Sufi ia dituduh sebagai penganut fanatik ajaran rahasia Kristen. Salah satu tuduhan terhadapnya adalah bahwa dirinya mempunyai sejumlah buku yang secara menakjubkan diberi lambang dan dihiasi. Pernyataannya bahwa Haji bisa
Tauhid dan Thaharah
dilaksanakan di mana pun dengan berbagai pengabdian dan persiapan yang sesuai, dianggap sebagai bid'ah yang mustahil. Al-Hujwiri (Kasyful Mahjub) secara otoritatif membela al-Hallaj dengan dasar-dasar bahwa semua hal yang dilakukan atau dinyatakan para Sufi tidak bisa ditafsirkan dengan kriteria yang lebih rendah. Menurutnya, upaya mengungkap realitas dengan istilah-istilah biasa adalah suatu kemustahilan. Demikian pula, upaya itu tidak akan menghasilkan makna. Pada hari Selasa, 26 Maret 922, al-Hallaj berjalan ke tempat eksekusi karena menerima hukuman mati dari Khalifah al-Muqtadir. Ia disiksa dan dianiaya, namun tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Berikut ini doa terakhirnya ketika ia masih bisa berbicara: "Ya Allah, aku bersyukur atas barakah yang Engkau anugerahkan, sehingga aku mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Misteri-misteri keTuhanan yang haram bagi orang lain adalah halal bagiku. Ampunilah dan berilah kasih sayang atas hamba-hambaMu yang bermaksud membunuhku ini. Apabila Engkau mengungkapkan kepada mereka apa yang Engkau ungkapkan kepadaku, mereka tidak akan melakukan hal ini." Mullah Nuruddin Abdurrahman Jami (secara harfiah Guru Cahaya Iman, Hamba Kasih Sayang) lahir di Khurasan pada tahun 1414 dan wafat di Herat pada tahun 1492. Menurut kepercayaannya sendiri, Jami disucikan oleh kedatangan sekilas Guru besar Muhammad Parsa, yang melalui tempat kelahirannya ketika penyair ini masih bocah. Ia adalah seorang guru dari Tarekat Naqsyabandiyah. Ajaran Sufinya kadangkala ditampakkan dan kadangkala disembunyikan dalam karya puitis atau lainnya yang luar biasa. Di antara karya-karyanya, ada roman Salman dan
Akhbarul Karim Absal, kisah epik Yusuf dan Zulaikha, kisah-kisah alegoris yang di antaranya termasuk karya tulis terbesar dalam kesusastraan Persia. Karyanya Abode of Spring mengandung materi pembaiatan yang sangat penting. Jami adalah seorang pengembara yang agung, teolog, ahli tata bahasa dan ahli sajak maupun sebagai teorisi musik. Kemampuan intelektualnya muncul setelah belajar di bawah bimbingan Guru Ali dari Samarkand dan segera diakui oleh ilmuwan besar Romawi sebagai mengungguli dirinya. Dalam sebuah pertemuan akbar, ilmuwan Romawi itu berkata, "Sejak pembangunan kota yang sama sekali tidak sejalan dengan pikirannya, Jami muda pernah melewati Oxus menuju Samarkand." Jami memilih nama tempat kelahirannya sebagai nama samaran karena mengungkapkan rahasia angka 54 yang bisa ditulis kembali dengan ND. Bahasa Meskipun mendalami dengan baik bahasa Arab, banyak Manusia Bijak Sufi menolak untuk menggunakannya kecuali ketika mereka ingin menggunakannya untuk tujuan khusus. Secara tradisional, mereka mematuhi praktik ini, bahkan dalam lingkungan-lingkungan tempat sebuah pengetahuan tentang bahasa Arab yang dianggap sebagai hal sangat penting bagi seorang yang berbudaya dan terpelajar. Akibatnya, beberapa guru terbesar dari waktu ke waktu dianggap kurang berpendidikan oleh para pengamat sastra. Ada banyak kisah tentang hal ini. Alasan-alasan tidak menggunakan bahasa Arab itu adalah: (1) Jika Sufi mengikuti "langkah tercela" pada saat tertentu, maka ia menganggap hal itu penting untuk menguji perasaan yang berlawanan dari para pendengarnya. Ini adalah hal terbaik untuk suatu kesadaran bahasa yang tinggi dari orang-orang seperti bangsa Arab, tanpa berbicara dengan bahasa mereka dari sudut
Tauhid dan Thaharah
pandang mereka yang mempunyai kelemahan serius. (2) Karena supremasi gagasan baku dari bahasa Arab, Sufi harus membebaskan individu dari asumsi bahwa setiap tokoh harus berbicara dengan bahasa Arab. (3) Sufi tidak bisa dipaksa mengikuti pola budaya skolastik yang dirancang orang lain tanpa menyesuaikan ajarannya sendiri. (4) Tidak ada keadaan-keadaan yang sangat berbeda ketika komunikasi tidak diindikasikan secara verbal melalui metode biasa. "Keadaan" Sufi itu menunjukkan kepadanya tentang hal ini. Untuk manusia biasa, pemurnian persepsi itu tidak mungkin. Oleh karena itu, ia berlaku serampangan untuk mengomunikasikan informasi dan gagasan dengan asumsi bahwa ketika orang-orang bertemu, kemampuan linguistik mereka adalah sesuatu yang baik dan penting. Menurut sebuah riwayat, Sufi dan Syekh besar dari Khurasan, Abu Hafs al-Haddadi tidak mengetahui bahasa Arab. Ia berbicara melalui para penerjemah. Namun ketika ia pergi ke Baghdad mengunjungi sejumlah tokoh seperti Junaid, ia berbicara dengan bahasa Arab secara sangat fasih sehingga dirinya tidak tertandingi. Ini adalah kisah tipikal. Karena Sufisme lebih penting, daripada hal lainnya, Sufi akan menerapkan teknik tersebut untuk pengembangan dirinya sendiri dan menkombinasikannya dengan dampak yang dihasilkan dengan cara lain. Bantuannya tidak pernah ditujukan untuk mencapai reputasi akademis. Mereka yang memandang Sufisme sebagai sebuah budaya Persia dengan penganutnya yang menunjukkan kebencian kepada orang-orang Arab dan berupaya mereduksi arti penting bahasa Arab sebagai salah satu teknik mereka, sebenarnya keliru memahami peran bahasa dalam Sufisme. Sementara beberapa teknik serupa ternyata menggunakan bahasa selain bahasa Arab.
Akhbarul Karim Dzikir Kata dzikir (dilafalkan dalam bahasa non-Arab dengan zikr) mengacu pada latihan tertentu yang dilakukan sejak permulaan pendidikan darwis. Pada dasarnya kata ini berarti "mengingat", dan maknanya adalah mengingat, memperingati, berdoa. Oleh karena itu, "mengingat" juga didefinisikan sebagai istilah dasar untuk aktivitas religius para darwis. Tahap pertama adalah mengingat diri setelah fungsi perubahan untuk satu keselarasan dengan kesadaran yang lebih agung. Murid harus berdzikir dan mengingat diri dengan berbagai cara, dengan melakukan latihan ini dalam bentuk yang paling awal, atau ia menjadi sebuah "sebab yang tak dapat diharapkan". Beberapa imitator Sufisme yang menyaksikan majelis Sufi, telah meniru teknik ini. Hakim Sanai yang Agung menentang terlalu banyak berdzikir, hal ini menunjukkan bahwa dzikir hanya digunakan pada tahap pertama: Zikr juz dar rahi mujahid nist; Zikr dar majlisi musyahid nist.
"Dzikir harus dilakukan tanpa kecuali dalam perjuangan; Dzikir, pengulangan tidak terdapat dalam majelis
pengalaman." (Taman Kebenaran Berdinding). QALB Kata Arab QLB tidak dinyatakan dalam pengertian bentuk kata QaLB (hati), salah satu bentuk kata yang sangat populer. Dalam pengertian Sufi, QLB dianggap mempunyai arti-arti sebagai berikut, yaitu berdasarkan semua akar kata dari tri-aksara: QaLaB = membalik sesuatu. Sebuah referensi 二 pada diktum Sufi: "Dunia ini terbalik".QaLaB mengeluarkan sumsum pohon palem (kurma). Sebagaimana tercatat di tempat lain, pohon palem adalah istilah Sufi untuk barakah dan segi lima belas magis yang mengandung
Tauhid dan Thaharah
diagram serta matematika Sufi. Sementara "sumsum" digunakan dalam pengertian hakiki, bagian vital. QaLaB = menjadi merah. Diterapkan pada tanggal-tanggal, hasil pohon palem. Sebuah kiasan dari proses Sufī akhirnya diasosiasikan dengan teori alkimia tentang "pergantian merah". AQLaB = dibakar satu bagian. Digunakan untuk roti dan dalam pengertian khas Sufi, mendenotasikan proses perkembangan transformasi, analog dengan mengubah sesuatu (tepung) menjadi apa yang tampak lain (roti). TaqaLLaB = gelisah. Digunakan untuk orang yang tidur, gelisah dalam tidurnya. Digunakan sebagai sebuah istilah teknis Sufi untuk menyatakan ketidakpastian yang dirasakan orang biasa yang, menurut tradisi Sufi, ia "tertidur". QaLB = terbalik; berputar; sisi yang keliru. Kata ini juga diasosiasikan dengan "papan tembok" dan sebuah matriks (QALiB), perangkat formatif QaLB = hati, pikiran, jiwa; pemikiran mendalam; sumsum, inti; bagian terbaik. Digunakan juga dalam kata majemuk qalb al-mugaddas, secara harfiah berarti "Hati Suci", bermakna bagian manusia yang termasuk esensi keTuhanan. Hasil penjumlahan huruf Q + L + B adalah 132, sama dengan hasil penjumlahan kata Muhammad (M + H + M + M + D), Logos atau esensi Muhammad. Sementara tiga puluh dua ditambah seratus adalah sepertiga dari jumlah sifat Tuhan, "sembilan puluh sembilan Asma'ul Husna".
Quthub Istilah ini adalah pusat yang tak tampak dari semua Sufi. Kata ini secara harfiah berarti Kutub Magnetik, Sumbu, Pedoman, Pemimpin. Ditransposisikan ke dalam berbagai gambar, jumlahnya 111 --satu diulang tiga kali, tritunggal, tritunggal afirmasi kebenaran, yaitu sebuah kesatuan. Jika
Akhbarul Karim
jumlah ini diurai dalam 100, 10, 1 dan disubstitusikan, maka muncul huruf Q, Y dan A. Kata QYAA, dilafalkan dari tiga huruf, berarti "kosong, dibatalkan". Itulah hampa, "rumah" yang dibersihkan agar mendapatkan barakah (kesadaran manusia). Sejalan dengan Sufisme, apa yang biasanya digunakan sebagai terminologi agama, yaitu ruh, adalah suatu substansi dengan ciri fisik, suatu jasad yang lembut. Substansi ini dianggap sebagai sesuatu yang abadi. Ia ada sebelum pembentukan tubuh manusia (Hujwiri, Kasyful Mahjub). Setelah kematian, jiwa substansial itu tetap hidup dalam salah satu bentuk yang terdiri dari sepuluh bentuk, masing-masing berhubungan dengan pembentukan yang dicapai selama kehidupan. Dalam hal ini, ada sepuluh tahap - -pertama adalah "ketulusan", tahap kesepuluh adalah tahap sang Sufi berubah karakternya melalui perkembangan duniawinya. Jadi ruh selalu tampak. Lantaran terpesona oleh misteri lahiriah dari kehidupan Timur, atau tenggelam dalam berbagai langgam dari kepustakaan yang mengandung kiasan teologis dan historis, kebanyakan murid Sufi dari Barat, terutama para akademisi, tampak terhenti pada tataran pengalaman yang lebih awal dalam ajaran Sufi dibandingkan bisa mendatangkan manfaat kepada mereka. Seorang pengembara mutakhir (1962) di Afrika Utara yang telah meluangkan beberapa waktu dengan para Sufi, membawa kembali suatu pengertian sasaran itu dari Tunisia yang mungkin kedengaran aneh bagi sarjana tradisional: Murid harus melakukan latihan-latihan memori dan meditasi, mengembangkan konsentrasi dan refleksi. Namun, murid yang lain tampaknya tetap melakukan jenis latihan pemikiran dan kerja, maupun berbagai latihan seperti dzikir, semuanya adalah suatu bagian.
Tauhid dan Thaharah
Setelah beberapa hari, suasana misterius dan aneh yang saya rasakan, berganti dengan suatu sensasi. Meskipun praktik-praktik ini mungkin tampak begitu aneh bagi pengamat, namun praktisinya tidak memandangnya sebagai kejadian supranatural sebagaimana kita mungkin menggunakan istilah itu. Sebagaimana Syekh Arif pernah berkata : "kita sedang melakukan sesuatu yang biasa, hasil dari penelitian dan praktik dalam perkembangan masa depan ummat manusia. Kita sedang membentuk manusia baru. Namun kita melakukannya bukan untuk mendapatkan upah." Jadi inilah sikap mereka. Simurgh (tiga puluh burung) adalah lambang rahasia yang bermakna perkembangan jiwa melalui "Cina". Cina terletak di antara Persia dan Arab. Tujuan lambang ini adalah mengungkapkan konsep meditasi dan metodologi Sufi. Aththar yang Agung menerapkan ajaran ini dalam sebuah kisah alegoris: "Pada suatu hari, dari kegelapan, Simurgh menampakkan diri di Cina. Salah satu bulunya jatuh ke bumi: sebuah lukisan yang pernah dibuat dan sekarang masih ada di galeri seni Cina. Karena itulah kemudian dikatakan bahwa, "Carilah ilmu pengetahuan walau sampai ke Cina." Seandainya Simurgh ini tidak ada di Cina, maka tidak akan ada klaim tentang dunia rahasia. Jadi, indikasi ringkas tentang realitasnya adalah salah suatu bukti keagungannya. Setiap jiwa membawa gambar umum dari bulu itu. Sementara materi deskripsinya tidak pernah dimulai atau berakhir. Kini para pengikut tarekat memilih jalan ini dan mulailah perjalananmu." Berikut ini satu cara menjelaskan: 'Ada potensialitas dalam jiwa manusia. Dalam satu kesempatan, ia bisa aktif, melalui bentuk konsentrasi mendalam dan upaya tertentu. Tanpa upaya ini, tidak ada potensialitas untuk perkembangan. Setiap orang mempunyai kemampuan itu
Akhbarul Karim dalam suatu bentuk embrionik. Ia adalah sesuatu yang berhubungan dengan keabadian. Dalam tradisi Darwis thariqat adalah Jalan dan juga berarti pemimpin kelompok, di mana transmisi berlangsung. Ia adalah sebuah aturan hidup, sebuah ketentuan lunak dalam kehidupan biasa, kadangkala dilestarikan melalui nada musik, diungkapkan secara visual melalui pohon palem. Thariqat sendiri membuka Jalan, dan berhubungan dengan meditasi, pemikiran rahasia, seperti ketika seseorang duduk berdoa selama ketenangan malam. Keduanya adalah tujuan dan metode." [Nishan-Namah (Kitab Simbol) dari perkumpulan Sufi, oleh Amiruddin Syadzili]. Ada empat "kondisi" utama manusia. Setiap manusia berada pada salah satunya. Sesuai dengan kondisi-kondisi ini, individu harus merencanakan kemajuan dalam hidupnya. Ia akan melalui jalan yang berbeda, mungkin tampil sebagai sosok yang berbeda, mengambil keputusan sesuai dengan kondisi dan tingkatan yang telah dicapainya. Menurut ajaran Sufi, tidak setiap orang mencapai setiap tingkatan itu. Dalam formulasi Sufi, perbedaan itu bergantung pada eksistensi dari berbagai kondisi tersebut, kesempurnaannya dan hubungan mereka dengan kemanusiaan. Shah Mohammad Gwath, dalam Secrets of the Naqshbandi Path, mengungkapkan berbagai kondisi itu dalam istilah-istilah keagamaan berikut ini:
- Kemanusiaan (nasut), kondisi biasa.
- Tarekat (Thariqat), sama dengan "malaikat-malaikat" dalam pengertian kosmik.
- Kekuatan, sama dengan apa yang disebut sebagai "daya" (jabarut), atau kemampuan sejati.
- Kekhusyu'an (lahut), mengacu pada kondisi "keTuhanan" di alam lain.
Tauhid dan Thaharah
NSYR NaSyaR = menyebarkan, memperluas, memperlihatkan. 二menyebarkan, menggergaji kayu, NaSyaR menghamburkan. NaSyaR = menjadi subur setelah hujan, merindang (daun- daunan). NaSyaR = menghidupkan kembali, membangkitkan (setelah kematian). NaSyiR = menghabiskan malam di padang rumput. NaSyr = hidup, senyum manis, kesuburan setelah hujan. YaUM An-NuSyuR = Hari Kebangkitan. NuSyaRa = serbuk gergaji. MiNSyaR = gergaji. Judul syair Ibnu Arabi diturunkan dari akar kata yang sama seperti kata benda "gergaji" dan dipilih sesuai dengan pemakaian Sufi. Sebagaimana kita melihat daftar turunan kata dari akar kata NSyR di atas, risalah Sufi menkombinasikan penyebaran Sufisme, menghidupkan pengetahuan, kesegaran setelah hujan (barakah) bagi pengobatan. "Menggergaji kayu" juga diambil untuk mengacu pada upaya yang dilakukan dalam kehidupan Sufi, maupun produksi sesuatu yang baru (serbuk kayu) dari bahan material (kayu); suatu variasi dari transmutasi atau "formasi" analogi yang digunakan oleh para Sufi. Dalam alkimia, ada transmutasi kimiawi; dalam akar kata QLB, ada pengertian "pembentukan, penyusunan"; sementara dalam akar kata NSyR, ada pengertian produksi, serbuk gergaji. Kiasan ini tentu saja menunjukkan perubahan manusia dan ketika para Sufi melestarikan konsep lentur ini, dalam masyarakat
Akhbarul Karim lainnya, suatu aspek tunggal (seperti alkimia dan transmutasi) telah dibakukan serta mematuhi sepenuhnya konsep sempit dari alkimikalisasi. Hitam dan Bijaksana Pemakaian ungkapan "hitam" (black) di Eropa untuk mendenotasikan sesuatu yang tidak menyenangkan telah mengaburkan makna khasnya, teknik pemakaian selama Abad Pertengahan. Banyak referensi yang telah dibuat untuk menggunakan ide "gelap" (dark), sihir, untuk sesuatu yang tersembunyi berkaitan dengan perluasan makna dan kepemimpinan. Ka'bah (bangunan berbentuk kubus, yang Suci) di Mekkah dilapisi warna hitam, secara esoterik ditafsirkan sebagai suatu permainan kata FHM yang dilafalkan dalam bahasa Arab, makna lainnya "hitam" atau "bijaksana", "pemahaman". Sementara kata Sayyid (pangeran) dikaitkan dengan akar kata lain untuk arti kata hitam, yaitu SWD. Demikian pula panji bendera Nabi Muhammad saw yang orisinal berwarna hitam, secara kolektif berarti kebijaksanaan, kekuasaan. Hubungan berbagai pengertian ini tentu saja tidak diperhatikan dalam terjemahan ungkapan Sufi: "Di dalam Kegelapan, ada Tarekat" (Dark tariki, thariqat). Dampak pandangan hitam-putih (cahaya-pemahaman-berasal dari kegelapan) yang menurut riwayat diwarisi para Sufi dari kejayaan masa kuno, menyimbolkan dualitas ini. Dengan berbagai cara, ritual pertemuan Sufi melestarikan perubahan cahaya dan kegelapan, hitam dan putih. Satu metode semacam ini adalah menghamparkan pakaian hitam-putih di lantai ruang pertemuan. Cara lain adalah memadamkan dan menghidupkan lampu.
Tauhid dan Thaharah Kematian dan Kelahiran Kembali Tema bahwa manusia harus "mati sebelum ia mati" (Muhammad) atau bahwa ia harus "lahir kembali" dalam kehidupan nyatanya, terdapat dalam banyak bentuk kewaspadaan awal. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, pesan ini dipahami secara simbolis atau dipahami sebagai sebuah ritual semata. Para Sufi percaya bahwa mereka bisa memahami maksud orisinal dari ajaran ini. Untuk itu mereka menandai tiga tahap utama dari inisiasi dalam proses "kematian" itu. Dalam hal ini, sang calon murid harus melalui beberapa pengalaman khas (secara teknik diistilahkan "kematian"). Upacara inisiasi itu hanyalah memperingati secara sederhana tidak ini dan kejadian mendramatisasikannya sebagai sebuah simbol. Tiga "kematian" itu adalah:
- Mati Putih
- Mati Hijau
- Mati Hitam Pencapaian pengalaman spiritual yang mengacu pada berbagai "kematian" itu adalah serangkaian latihan psikologis atau latihan lainnya yang mencakup tiga faktor berikut ini:
- Menahan nafsu dan mengendalikan fungsi fisik.
- "Kemelaratan", mencakup ketidaktergantungan pada hal- hal material.
- Pembebasan emosi melalui beberapa latihan seperti mengatasi berbagai rintangan yang bisa dihindari dan "memainkan sebuah peran" untuk mengamati berbagai reaksi lainnya. Pendidikan murid di bawah seorang guru dengan memberikan berbagai kesempatan untuk melatih kesadarannya dalam tiga tahapan itu. Ini disebabkan oleh
Akhbarul Karim Sufisme menggunakan penataan "dunia" secara normal sebagai sebuah latihan dasar, maka tiga tahap "kematian" itu selalu melibatkan upaya-upaya khas dalam komunitas manusia, dengan mencapai pengalaman spiritual yang ditandai tiga kematian dengan "kelahiran kembali" atau transformasi yang dihasilkannya. Kesadaran Komunikasi antara pikiran yang dibangun oleh Sufisme mempunyai beberapa aspek. Dalam latihan tasawuf yang "mencerahkan" individualitas, ada sebuah interaksi pikiran. Hal ini digunakan oleh para Sufi untuk pengobatan. Melalui teknik inilah sebagian besar cara pengobatan yang mereka lakukan sangat efektif, di samping terdapat beberapa penerapan teknik sederhana. Sementara teori Jung tentang kesadaran kolektif telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd dari Spanyol (1126-1198). Ia juga sering mengacu pada pemikiran ar-Rumi tentang makna dan kekuatan adalah pokok perhatian para Sufi. Rumi mencatat bahwa fenomena ini merupakan salah satu kesadaran yang lebih tinggi: "Sifat kebinatangan adalah bagian dari ruh; ruh manusia mempunyai satu jiwa". Ini secara umum mengacu pada apa yang disebut sebagai "jiwa yang agung". Budaya Malaikat Merak Malak thawuus yang berarti Malaikat Merak, sebenarnya berarti: MaLaK, homonim MaLiK ("Raja", istilah tradisional untuk seorang Sufi); dan ThAWUUS (Merak), yang juga mempunyai kesamaan lafal dengan ThÀWUUS (Tanah Hijau). "Bila tercatat bahwa MaLaK (Malaikat) digunakan dalam pengertian al-Ghazali bahwa "malaikat adalah tingkatan yang lebih tinggi dalam diri manusia", mungkin bisa dipahami bahwa berhala kalangan Yezidi yang
Tauhid dan Thaharah terkenal itu hanyalah suatu kiasan dari dua semboyan Sufi- perluasan "tanah", pikiran, melalui fakultas-fakultas yang lebih tinggi itu. Dua kata ini digunakan secara lahiriah dalam budaya Yezidi. Kalangan Yezidi terbagi dalam berbagai kelompok yang menggunakan gelar-gelar Sufi seperti pir (yang lebih tua), Fakir, Baba (pemimpin). Lady Drower, yang mempelajari kelompok Merak dari Iraq dalam lingkungan tertutup itu, berpendapat tentang pendiri kelompok ini, yaitu Syekh Adi bin Musafir (Putra sang Pengembara, sebuah gelar Sufi): "Tidak ada yang bisa diketahui tentangnya, ia hanya berbicara tentang ortodoksi. Namun ia adalah seorang Sufi, sementara ajaran-ajaran rahasia Sufisme selalu dianggap sebagai pantheisme dan sekte-sekte Sufi dari agama kuno." Dalam menambahkan lambang merak itu, kalangan Yezidi menggunakan gambar ular yang diwarnai hitam pekat. Warna hitam ini menyimbolkan kata FAHM (arang, karbon). Jauh dari fungsi sebagai simbol kejahatan atau tradisi regenerasi kulit kuno sebagaimana diyakini, ular sendiri dipilih dengan dasar-dasar yang sama seperti pemakaian lambang merak. Dalam bahasa Arab, ular adalah HaYYaT Kata ini dekat dengan sebuah lafal dari kata lain, yaitu HaYYAt yang artinya kehidupan, dan menggunakan huruf Arab yang sama. Jadi arti ular hitam adalah "Kebijaksanaan Hidup". Seperti dalam organisasi Sufi lainnya, sistem Yezidi berkembang luas di luar konteks budayanya dan menjadi suatu tiruan di berbagai daerah. Sebuah cabang budaya yang sebenarnya muncul untuk menentang lambang "malaikat merak", itulah kemerosotan simbolologi yang direfleksikan dalam berbagai perhimpunan asing di Barat. Perkembangan maksud yang sebenarnya itu selanjutnya menjadi wahana
Akhbarul Karim yang digunakan untuk menghasilkan emosi komunal yang menggantikan pengalaman batiniah. Lathaif Lathaif adalah pengaktifan organ-organ persepsi khas, ini merupakan bagian dari metodologi Sufi yang seringkali dirancukan dengan sistem chakra dalam Yoga. Padahal ada beberapa perbedaan penting. Dalam Yoga, chakra dan padma dipahami sebagai pusat-pusat fisik di dalam tubuh yang berhubungan dengan urat saraf atau jaringan saraf yang tidak tampak. Para Yogi pada umumnya tidak mengetahui bahwa pusat-pusat ini hanyalah titik-titik perhatian, formulasi- formulasi yang sesuai untuk pengaktifan itu sebagai bagian dari hipotesis kerja teoritis. Baik Sufisme maupun Kristianitas mempergunakan suatu teori serupa dari segi ajaran esoteris dan menkombinasikannya dengan latihan tertentu. Pergantian berbagai warna yang dipandang oleh ahli alkimia dalam kepustakaan Barat dapat dipandang sebagai pengacuan pada konsentrasi atas lokalisasi jasmaniah tertentu bila kita membandingkannya dengan kepustakaan Sufi tentang berbagai latihan itu. Hal ini secara mengejutkan mudah dibuktikan, meskipun tampaknya tak seorang pun di Barat telah mencatat hubungan ini. Jadi dalam Sufisme, lathaif terletak pada: Hati (qalb), warnanya kuning dan tempatnya di sisi kiri tubuh. Jiwa (ruh), warnanya merah dan tempatnya di sisi kanan tubuh. Kesadaran (sirr), warnanya putih dan tempatnya di jaringan urat-urat. Intuisi (khafi), warnanya hitam dan tempatnya di dahi. Persepsi kesadaran yang mendalam (ikhfa), warnanya hijau dan tempatnya di pusat dada. Dalam alkimia Barat, "pergantian warna yang manifes" adalah sangat penting. Di kalangan ahli alkimia Kristen, pergantian hitam-putih-kuning-merah sangat dikenal. Suatu waktu akan dicatat bahwa pergantian yang
Tauhid dan Thaharah ditransposisikan ke dalam kesamaan fisik ini membentuk tanda Salib. Oleh karena itu, latihan-latihan dalam bidang alkimia membantu mengaktifkan warna (lokasi-lokasi = lathaif) dalam pembentukan salib itu sendiri. Ini adalah sebuah adaptasi dari metode Sufi, yaitu sesuai dengan pengaktifan: kuning-merah-putih-hitam-hijau. Sekali lagi, dalam alkimia, pergantian itu kadangkala diberikan sebagai warna hitam (abu-abu yang lebih gelap = perkembangan parsial dari fakultas hitam, dahi) putih (jaringan urat, poin kedua dari tanda Salib) hijau (sebuah alternatif Sufi untuk sisi kanan dada) sitrin (sisi kiri dada, "hati") merah (sisi kanan dada). Kadangkala pada tahap kedua, sang "merak" (ragam warna) tampil dalam kesadaran. Tanda yang dianggap penting oleh ahli alkimia ini dikenal oleh para Sufi sebagai suatu kondisi khas, tak ternilai dan terdapat di dalam pikiran ketika kesadaran dipenuhi oleh pergantian warna atau photisme. Itulah suatu tingkatan sebelum stabilisasi kesadaran dan dengan langkah tertentu bisa dibandingkan dengan warna ilusi yang dihasilkan halusinogen. Para Sufi mengenakan pakaian (seringkali surban) dengan warna itu dan berkaitan dengan perkembangan mereka dalam sistem khas ini. Sementara para mahasiswa di bidang kimia dibiarkan meraba-raba sebuah misteri yang sebenarnya tidak rumit jika makna riilnya dipahami. Individu yang dibesarkan dalam latar belakang budaya Barat seringkali tidak mempunyai kemampuan ketika dihadapkan pada masalah pengetahuan, karena terpaku pada persoalan "menguasai dan dikuasai", di mana ia memberikan tekanan yang kuat dan tanpa membeda-bedakan. Ia seringkali menyadari "masalah" ini hanya dalam bentuk kasar ("menguasai atau dikuasai"), dan akar keahlian sastra serta
Akhbarul Karim filsafatnya memberikan sedikit kemampuan untuk memahami bahwa masalah itu berkisar pada asumsi bahwa tidak ada kemampuan yang lebih kecil dibandingkan "perjuangan atau diperjuangkan untuk". Sementara beberapa pengamat Barat telah mencatat krisis esensial ini. Dengan judul utama "Masalah Irasionalitas", para editor sebuah simposium mengacu pada kaitan karakteristik berikut ini: ".. ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai hasrat orang itu. Sebaliknya, kekhawatiran dikontrol orang lain dengan konsekuensi kehilangan otonomi diyakini sebagai hal fundamental bagi konsepsi diri. Naqsyabandiyah Naqsyabandiyah adalah salah satu Tarekat Sufi. Nama Naqsyabandi secara literal berarti Pemahat, berdasar pada analogi dari berbagai perkumpulan dan kelompok para Sufi klasik awal, seperti Para Pembangun (al-Banna). Tarekat ini mempunyai suatu cabang rahasia dan terbuka. Para penyair Persia menggunakan kata naqsy (diagram, gambar, peta, dan sebagainya) untuk mendenotasikan sebuah hubungan antara para Sufi ini dengan seluruh "rancangan" perkembangan manusia di mana Sufisme diyakini bisa membantunya. Ar-Rumi menggunakan kata NAQSY jauh sebelum pendiri tarekat terkenal ini (Bahauddin Naqsyabandi) mengajar di Bukhara. Ia menyatakan, 'Aku seorang pemahat (NaQQASY), setiap saat aku mencipta patung." Bahkan secara lebih awal Khayyam menggunakan citra yang sama: "Dunia ini seperti cincin, tentu saja kita adalah citra (NAQSY) dari untaiannya." Tarekat Nagsyabandiyah mempunyai rantai asal-usul spiritual kepada Nabi Muhammad saw melalui sebagian besar guru klasik. Tarekat ini menyadari dipengaruhi oleh seorang Sufi, hanya sebagian diungkapkan dalam bentuk lahiriah sebagai sebuah madzhab
Tauhid dan Thaharah
darwis, yang membantu melestarikan identitas budaya masyarakat. Ia sangat berpengaruh di Turki hingga revolusi republik, dan sebelumnya Turki dikuasai dinasti Ottoman maupun Mogul dari masa ke masa. Ciri temporer dari madzhab Sufī ini, yang menimbulkan pembentukan kembali dan perbedaan penampilan dalam berbagai bidang, diacu oleh Rumi ketika ia mengatakan, "Aku bukan air atau api, bukan pula angin topan. Aku bukan citra dari tanah liat (MUNaQQISY) : Aku menertawakan mereka semua." Para Hanif Hilangnya silsilah Sufi dalam berbagai madzhab metafisika, dengan kekeliruan yang diakibatkan madzhab-madzhab ini dalam menyampaikan suatu pelaksanaan tugas bagi para pengikut, dianggap oleh para Sufi sebagai satu sebab pencarian, untuk mencari seorang guru, yang telah menarik perhatian begitu banyak orang pada masa-masa kuno. Beberapa sahabat Nabi Muhammad saw sendiri menyatakan bahwa pencarian ini juga dilakukan mereka sendiri. Salah seorang di antara mereka adalah Salman al-Farisi. Ia menyatakan bagaimana dirinya sudah jenuh dengan berbagai ritual pengikut Zoroaster dan berangkat menuju selatan untuk mencari kepercayaan dan praktik para Hanif. Pertama kali dirinya tertarik kepada seorang guru Kristen, kemudian kepada guru lainnya. Ketika sang guru akhirnya meninggal, ia menasihati Salman untuk pergi ke selatan mencari seorang tokoh dari tradisi rahasia Hanif. Setelah menjadi tawanan dan dijual untuk dijadikan hamba sahaya, ia menemukan lingkungan sederhana dari para murid Muhammad di Madinah. Apa praktik para Hanif itu yang disamakan dengan Sufisme oleh para Sufi?
Akhbarul Karim Pilihan kata ini, sebagaimana seringkali dilakukan hanya untuk menyampaikan variasi makna dari satu akar kata, diyakini oleh para Sufi untuk menjelaskan dirinya sendiri. Tiga huruf akar kata ini, yaitu HNF, pada dasarnya dikaitkan dengan konsep "berpaling pada satu sisi" suatu acuan pada gerakan-gerakan ritmis para Sufi. Sebuah kata turunan dari HNF adalah TaHaNNaF, yang artinya "berbuat seperti kalangan Hanafiyah" dan tahannaff berarti "melakukan sesuatu dengan tepat". Dalam hal ini, kita mempunyai sebuah gambaran tentang berbagai latihan yang dijalankan sesuai dengan sebuah kerangka, namun juga secara potensial "pada satu sisi" di mana para Sufi mengajarkan maknanya dalam bentuk yang eksentrik sebagaimana dalam pola gerakan ritmik. Demikian pula, dari akar kata yang sama, kata hanif adalah sebuah kata benda. Ia juga berarti "lurus menuju ke depan (ketulusan)". Variasi makna ini tampaknya mengherankan jika tidak disadari bahwa gagasan-gagasan itu seperti "melakukan sesuatu dengan akurat" dan "berpaling pada satu sisi" bisa disamakan dengan sebuah sistem tertentu, yaitu sistem para Sufi. Tentu saja ini bukan berarti bahwa bentuk akar kata itu ditemukan oleh para Sufi atau bahkan makna kata "lurus menuju ke depan" itu tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa bagi para Sufi kata-kata tertentu dipilih untuk menjelaskan sejumlah gagasan rumit yang sesuai dengan sejumlah gagasan dan praktik Sufi serta dalam ujian tertutup bertujuan membuat kata gambaran. Demikianlah, anggap saja kita menggunakan sebuah kata dalam bahasa Inggris, satu kata dengan sejumlah arti, dan menggunakannya karena di dalamnya terdapat beberapa makna yang secara terpadu mengandung pesan atau perbedaan dari beberapa esensi. Prosedur ini agak lebih elaboratif dibandingkan rima puisi yang sederhana atau
Tauhid dan Thaharah
rumit. Hal ini memperluas berbagai dimensi makna sebagaimana aslinya, melalui akar kata dan kata turunannya.
Tarian Sufi Menggapai Wilayah Nun Tari sufi pada awalnya diperkenalkan oleh kelompok Mevlevi Order yang dipimpin tokoh sufi Jalaludin ar-Rumi (1207-1273). Sufi Mehfil lebih merupakan sebuah perayaan seorang "pencari" menemukan "kekasihnya" melalui tubuh diri sendiri. Pencapaian tertinggi seorang sufi ketika ia berhasil menyatukan zatnya dengan Sang Khalik. Bukankah menyatukan diri dengan waktu atau menjadi waktu itu sendiri juga pencapaian spiritual tertinggi? Karena itu berarti seseorang akan terbebas dari segala macam ikatan duniawi, termasuk kematian dan kelahiran. Adakah sesuatu yang lebih tua dari waktu? Mungkin nun, yang terbebaskan dari segala keinginan. Kiranya itulah yang belum dicapai oleh pementasan tarian Sufi. Sementara pementasan tarian ini benar-benar menjadikan tarian sebagai ritual untuk mencari "Yang Sejati". untuk Tarian Sufimasihterperangkap
mempertentangkan antarapencapaian agamadan
spiritualisme. Padahal, bukankah inti dari semua ajaran, semua gerakan, semua penghayatan, bahkan komposisi adalah spiritualisme? Tarian Sufi telah menghilangkan sekat- sekat yang menyebabkan kita terjebak dalam ketidakstabilan emosional. Sufi adalah salah satu dari bentuk pencapaian spiritualisme itu. Pada hakikatnya ajaran Sufi tetap bermuara pada kesempurnaan dalam pengertian yang paling luas, yaitu roh yang kudus. Tarian sufi, yang dikenal juga sebagai "the
darvishes' whirling" merupakan salah satu jalan di antara
banyak jalan untuk menumbuhkan rasa kasih.
Akhbarul Karim Tarian ini dipopulerkan oleh kelompok Mevlevi Order yang dipimpin oleh Jalaluddin ar-Rui (1207-1273) ratusan tahun yang lalu. Sebagai sebuah pesta, Sufi Mehfil adalah perayaan ketika seorang "pencari" bertemu "Kekasih itu sendiri" yang ternyata berada di dalam diri. Inilah untuk pertama kalinya Anand Ashram menggelar tarian sufi ini untuk khalayak umum. Biasanya, tarian ini hanya dilakukan dalam lingkungan terbatas, sebagai latihan spiritual untuk hidup secara meditatif. Menurut seorang pelaku meditasi dari Anand Ashram, meditasi memang bukan sekedar duduk diam selama berjam-jam. "Meditasi adalah sikap hidup, yang harus mewarnai setiap pikiran, perkataan dan tindakan kita. Hidup penuh kasih adalah hidup yang meditatif." Ketika seseorang merasakan cinta yang meluap-luap, tak bisa lain, ia akan merayakan cintanya itu. Ia akan berpesta. Dan sungguh, itu bukan sebuah pesta biasa. Itulah pesta para sufi. Pesta para Sufi sengaja dipersembahkan bagi masyarakat luas karena keprihatinan yang mendalam terhadap masih besarnya ancaman perpecahan masyarakat akibat pengkotak-kotakkan berdasarkan suku, etnis maupun agama, hingga saat ini yang disebabkan karena merosotnya kesadaran akan kehalusan jiwa atau "Rasa" dalam diri manusia. Sufi Mehfil, sebenarnya, hanyalah salah satu bentuk seni bernafaskan spiritualitas dari sekian banyak bentuk lain yang banyak berkembang di bumi Nusantara sejak dahulu kala yang bertujuan: membangkitkan "Rasa", ataupun "Kasih" dalam diri." Kebangkitan "Rasa", semestinya menjadi fungsi sekaligus tujuan seni dan budaya dalam membangkitkan kembali peradaban suatu bangsa. Kendati berasal dari tradisi Turki, Tarian Sufi menyampaikan pesan universal yang sangat penting bagi terciptanya landasan sejati persatuan dan kesatuan Indonesia.
Tauhid dan Thaharah
Tarian ini, serta nyanyian dari tradisi lain yang juga akan ditampilkan, diharapkan menjadi inspirasi bagi terjadinya kerekatan beragam budaya yang "hidup" di Indonesia saat ini, baik yang datang dari tradisi "lokal" maupun dari "luar". Persatuan dan kesatuan di Bumi Pertiwi memang tak seharusnya terperangkap dalam pandangan nasionalisme sempit. Sebagaimana Ibu Pertiwi selama ini memperlakukan mereka yang lahir, datang maupun berkembang di pangkuannya tanpa pilih kasih. Pengalaman kebersamaan inilah yang dipersembahkan melalui Sufi Mehfil, yang dibawakan oleh mereka yang datang dari beragam suku, etnis dan agama Tiga penari dan satu menara. Sementara musik yang tenang dan lengkingan-lengkingan manusia di kejauhan seperti membuka ruang lebar-lebar untuk impresi-impresi magis. Selama lebih dari tiga puluh menit, terus-menerus hanya lengkingan dan gerak-gerak halus yang terjadi di panggung. Menara yang menjulang dan lampu yang temaram membawa kita terhanyut dalam gelombang yang tercipta karena getaran "aneh". Itulah cara Muhamad "Cilay" Ichlas membuka pentas tarinya yang berjudul "Dalam Waktu Itu", Kamis (6/11) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memberi tema pentas tari yang berlangsung selama dua hari itu "Pentas Tari Sufi". Hari kedua, Jumat, tampil kelompok Anand Ashram yang membawakan tari Sufi Mehfil atau Pesta Para Sufi. Suasana tenang dan temaram itu, sebagaimana menjadi ciri para sufi, memang tidak dipertahankan Cilay sampai akhir pertunjukan. Sebagian, terutama di bagian tengah, tiba-tiba gerak tari dan alunan musik cenderung dibiarkan "liar". Delapan penari bergerak secara bebas.
Akhbarul Karim Mereka tidak mementingkan keseragaman, tetapi situasi mendekati trance yang tumbuh dari dalam. Puncak dari pentas ini terjadi ketika sang tokoh "mencapai" tingkatan seorang sufi setelah melewati berbagai godaan duniawi. Tubuhnya bergetar dan pikirannya divisualisasi dengan tujuh penari berjubah putih yang bergerak dari arah penonton, perlahan berjalan seperti mengambang menuju ke nun, ke wilayah sangkan para ning dumadi, wilayah yang entah. Dia sebuah ruang terbuka tak berbatas, di mana bintang- gemintang menjadi titik-titik kecil. Manusia hanya debu di hadapan jagat raya. Itulah kenyataan manusia di hadapan Sang Khalik. Cilay memang berangkat dari seni Berzanji yang hidup subur di wilayah Sumatera Barat sebagai media yang memberi siraman rohani. Menurut dia, sufi memang tidak sebatas "penyatuan" diri dengan zat Yang Agung, tetapi penyeimbangan antara kehidupan horizontal dan vertikal. "Saya tidak setuju kalau dikatakan sufi itu penyatuan manusia dengan Sang Khalik. Tidak mungkin itu terjadi. Baru dekat dengan Matahari saja, kita pasti sudah terbakar," kata Cilay. Karena antara manusia dan Pencipta sudah jelas memiliki perbedaan zat, maka dalam pementasannya Čilay mengaku tidak mau mempergunakan ayat-ayat kitab suci. "Yang saya ambil untuk membangun suasana religius adalah nuansa- nuansa seperti lengkingan atau dengung-dengung itu," katanya. Terkadang memang terdengar alunan irama Gregorian, tetapi lain waktu kita seperti berada di pedesaan yang dipenuhi oleh orkestra religius. Kendati kemudian tarian dikomposisi dalam pengertian diciptakan dengan urut-urutan tertentu, seperti yang dilakukan Cilay, suasana trance tetap menjadi bentuk paling sublim dari penghayatan. "Tadi penari saya juga
Tauhid dan Thaharah
trance. Itulah satu bukti tari menjadi upaya untuk mendekatkan diri dengan Sang Khalik," kata Cilay. Dalam karya ini, Cilay ingin menunjukkan perjalanan manusia menggapai tataran sufi. Sufi dalam pengertian ini tidak saja berarti sebuah "ajaran", tetapi dapat berarti perjalanan anak manusia mencapai makrifat. Maka, tokoh yang memerankan sufi, di dalam perjalanan mencapai kematangan rohani, senantiasa menemui godaan-godaan. Cilay memvisualisasi hal itu dengan menggambarkan manusia-manusia yang saling berebut. Para penggoda berusaha menjatuhkan keinginan sang tokoh agar tidak mencapai makrifat. Namun, kemudian ia berhasil naik ke atas menara dan mengenakan jubah putih. Itulah puncak pencapaiannya sebagai seorang sufi. Ketika seorang penari benar-benar mencapai titik itu, maka sekeras apa pun gerakan yang dilakukan, bukan lagi menjadi gerakan sekadar tubuh. Tokoh sufi tadi berputar- putar puluhan kali tanpa harus merasa pusing. Ia terus berputar seperti waktu."Hal itu makin tampak jelas pada kelompok Anand Ashram, di mana para penari "berpusing" lebih dari 15 menit secara terus-menerus. Berputar dengan poros kaki, dalam sufi disimbolkan sebagai kesediaan seorang "pencari" untuk memasuki dirinya sendiri. Pencarian ke dalam diri tiada lain untuk menemukan "diri yang sejati". Inilah ekstase yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
c. Tujuan Akhir Individu Sufi berupaya untuk melampaui dari satu tingkatan kondisi itu ke tingkatan lainnya. Guru bertanggung jawab dalam mencapai hal itu melalui berbagai latihan yang diberikannya. Sang Murid bertanggung jawab untuk menghubungkan kemajuan individual dengan kebutuhan total
Akhbarul Karim
kemanusiaan. Banyak teknik dan aktivitas Sufi akhirnya berkaitan dengan penerapan konsep ini, yaitu;
- Titik Di antara para Sufi, NQTh "titik", "poin", kadangkala berarti "singkatan" mempunyai suatu nilai penting dalam penyampaian ajaran. Dalam satu segi, hal ini berhubungan dengan bidang matematis Sufisme. Kata -kata dalam bahasa Arab untuk "ahli geometri" atau "arsitek". adalah muhandis. Kata ini tersusun dari huruf-huruf M, H, N, D, S, yang ekuivalen dengan angka-angka 40, 5, 50, 4, 60. Jumlah dari angka-angka ini adalah 159. Secara konvensional jumlah ini dapat dipecahkan menjadi ratusan, puluhan dan satuan sebagai berikut : 100=Q 50 =N
9 = Th
Tiga konsonan yang dikombinasikan dengan urutan 2, 1, 3, membentuk akar kata NQTh. Makna akar kata ini adalah "titik", "poin". Oleh karena itu, dalam pemakaian seremonial tertentu, kata "poin" digunakan untuk menyampaikan kata yang tersembunyi, yaitu muhandis, Pembangun Utama. Ada banyak susunan lain dalam pengelompokan angka. Sebagai contoh berikut ini: Dua huruf pertama (Q, N) dalam bahasa Arab artinya adalah "meditasi mendalam", sebuah kata untuk Sufisme. Sementara huruf yang tersisa, yaitu T, dalam bahasa Arab berarti "okultis" yang mengacu pada "pengetahuan batiniah". Karena itu, dalam situasi tertentu, dialog khusus dilakukan. Sebagai contoh adalah ketika seseorang yang masuk pada tataran keanggotaan awal diuji pengetahuan formalnya tentang bagaimana kata sandi berlaku. Dialog mungkin berlangsung sebagai berikut:
Tauhid dan Thaharah
Penguji: "Apa makna muhandis?" Anggota: "Saya direpresentasikan dengan kata titik (NQTh)." Penguji: "Bagaimana mengejanya?" Anggota: "Seperti sebuah titik." Penguji: "Apa yang terjadi setelah meditasi?" Anggota: "Pengetahuan mendalam (huruf Th)." Penguji: "Bisakah Anda menjelaskannya?" Anggota: "Saya hanya mempunyai dua huruf awal N dan Q" Penguji: "Saya mempunyai huruf ketiga Th, berarti untuk kata 'tersembunyi'."
- Tujuh Diri (Nafsu) Pengembangan diri di Jalan Sufi mensyaratkan Salik untuk melampaui tujuh tahap persiapan, sebelum individualitas siap menunaikan tugasnya secara utuh. Tahap-tahap itu yang kadangkala disebut "manusia" adalah tingkatan dalam transmutasi kesadaran, istilah teknis untuk nafs, jiwa. Pendek kata, tahap-tahap perkembangan itu, masing-masing memungkinkan kekayaan batin lebih lanjut di bawah bimbingan seorang guru praktis, adalah:
- Nafs al-ammarah (nafsu merusak, menguasai diri)
- Nafs al-lawwamah (nafsu tercela)
- Nafs al-mulhimah (jiwa yang rakus)
- Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang)
- Nafs ar-radiyah (jiwa yang tulus)
- Nafs al-mardiyah (jiwa yang terbebaskan)
7. Nafs ash-shafiyah wa kamilah (jiwa yang suci dan
sempurna).
Akhbarul Karim Nafs disyaratkan melalui proses yang diistilahkan "kematian dan kelahiran kembali". Proses pertama, yaitu Mati Putih, menandai tingkat perkembangan awal murid, ketika ia mulai membangun kembali nafs spontan dan emosional, sehingga hal ini selanjutnya akan menyediakan suatu sarana untuk menjalankan kegiatan kesadaran, yaitu nafs kedua. Sifat-sifat jiwa "tenang, terbebaskan", dan sebagainya, mengacu pada dampak terhadap individu maupun kelompok dan masyarakat secara umum, dan berbagai fungsi yang sangat jelas pada setiap tahap. Fenomena penting dari tujuh tahap dalam latihan-latihan Sufi itu adalah sebagai berikut:
- Lepas kendali diri, mempercayai diri sebagai personalitas koheren, mulai belajar bahwa ia mempunyai berbagai kemampuan personal, sebagai individu yang berkembang.
- Permulaan kesadaran diri dan "penentuan", dimana pemikiran secara spontan melihat apa itu kesadaran diri.
- Permulaan integrasi mental, ketika jiwa mempunyai kemampuan memasuki tahap yang lebih tinggi dibandingkan kebiasaan sebelumnya.
- Kedamaian, keseimbangan individualitas.
- Kemampuan melakukan tugas, tahap pengalaman baru yang tidak bisa dideskripsikan di luar analogi yang sejalan.
- Aktivitas dan tugas baru, termasuk di luar dimensi individualitas.
- Pemenuhan tugas rekonstitusi, kemampuan mengajar orang lain, daya bagi pemahaman obyektif.
Tauhid dan Thaharah
- Unsur-unsur Sufisme Sepuluh Unsur Sufisme mengacu pada kerangka kerja individual, di mana sebagai Salik, ia menggali potensi untuk bangun atau hidup dalam dimensi yang lebih agung dan berada di luar pengalaman biasa. Al-Farisi mencatatnya sebagai berikut:
- Pemisahan dari kesatuan.
- Persepsi pendengaran.
- Persahabatan dan asosiasi.
- Preferensi yang benar.
- Penyerahan pilihan.
- Pencapaian secara cepat "keadaan" tertentu.
- Penetrasi pemikiran, pengujian diri.
- Perjalanan dan gerakan.
- Kepasrahan dalam menerima rezeki.
- Pembatasan keinginan atau ketamakan. Latihan dan pelatihan Sufi berdasar pada sepuluh
unsur ini. Sesuai dengan kebutuhan murid, guru akan memilihkan program-program studi dan tindakan untuknya dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk melaksanakan berbagai fungsi yāng terangkum dalam unsur-unsur itu. Oleh karena itu, faktor-faktor ini adalah dasar persiapan individu menuju perkembangan di mana apabila ia tidak bisa mengalami atau merasakan ia dibiarkan mencapainya sendirian. Lantaran Sufisme didasarkan pada realisasi kebenaran, maka wawasan para Sufi tidak bisa berubah, meskipun penampilannya mungkin berubah. Metode pengajarannya beragam, sesuai dengan berbagai kondisi budaya. Dalam sistem lainnya, itulah
wawasan madzhab filosofis yang mempunyai variasi. Ini adalah "signifikansi sangat penting dalam menelusuri asal-
Akhbarul Karim usul Jalan Sufi. Ia menunjukkan bahwa meskipun dalam perkembangan sejarah wawasan ajaran filosofis lainnya berubah sesuai dengan lingkungan, namun ideal-ideal Sufi tetap mengacu pada bentuk asal dalam menerapkan konsepsi kesadaran tanpa batas." (Sirdar Ikbal Ali Shah, Islamic Sufism, London, 1933, hlm. 10). Karena terbiasa memandang filsafat sebagai suatu pengganti sementara, dalam mencapai kebenaran, berubah sesuai dengan pemerolehan informasi belaka, dewasa ini ada beberapa orang yang bahkan bisa memahami pernyataan bahwa ada suatu kebenaran terakhir di mana segala sesuatu bisa diukur dan diakses manusia.
B. Budaya Hidup Bersih "Kebersihan adalah sebagian daripada iman". Ini adalah sebuah nasehat tentang pentingnya kebersihan. Bukan sekedar ungkapan dari masyarakat awam tetapi merupakan ungkapan yang dilontarkan oleh Nabi Muhammad SAW, seorang utusan Allah yang baik akhlaknya dan indah rupanya. Perkataan beliau selalu singkat, tapi padat, mengandung banyak arti. Beliau memang dikenal pendiam, hanya berkata yang perlu dan hanya yang baik-baik saja. Dalam sejarahnya Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai sosok yang hidup bersahaja, tapi mampu "menaklukkan" dunia dalam waktu yang cukup singkat, 25 tahun. Maka tak heran jika Michael Hart memasukkan beliau ke dalam urutan nomor satu dalam "A Hundred of The Most Influenced People in History", (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah). Apabila kita telusuri makna hadits diatas, kesucian
dan kebersihan tidak cukup hanya dalam pandangan lahir saja, tetapi, kebersihan mencakup dua-duanya, lahir dan bathin, perilaku, amal perbuatan manusia. Bahkan, di setiap
Tauhid dan Thaharah
pusat kehidupan kita lebih mengutamakan bersih dari segala keburukan. Ini yang disebut dengan kebersihan di atas. Lebih jelasnya, poros-poros kebersihan ada enam:
- kebersihan tubuh.
- kebersihan iklim, cuaca dan udara dari polusi.
- kebersihan tempat dan lingkungan dari segala sesuatu yang membahayakan.
- kebersihan air, sungai, dan laut.
- kebersihan anggota badan dari amal buruk dan maksiat.
- kebersihan bathin dari akhlak tercela. Kalau masyarakat menginginkan hidup lebih baik dan nyaman dari segala penyakit, maka tentunya mereka harus memenuhi kebersihan enam hal di atas. Mereka harus takhali (membersihkan diri dari segala macam keburukan atau kejahatan). Kalau tahap ini sudah terpenuhi, maka masyarakat kita tinggal melangkah ke fase selanjutnya, yaitu tahalli (menghiasi diri dengan amal kebajikan atau fadhilah-fadhilah). Tentunya tak mungkin memakai make-up (tahalli) sebelum membersihkan muka terlebih dahulu (takhalli). Fadhilah adalah keutamaan-keutamaan dalam ibadah. Kita mengenal arti wajib, yaitu "sesuatu yang harus kita lakukan". Kita juga tahu makna hak yaitu "sesuatu yang wajar kita terima". Nah, fadhilah adalah kualitas amal kebajikan yang eksistensinya berada satu tangga di bawah kewajiban. Dalam bahasa Inggris biasanya disebut dengan virtue, morality atau moral excellence. Masyarakat kita lebih mengenalnya dengan "sunnah". Contohnya dapat kita temukan dalam setiap aktifitas sosial, misalnya: membantu sesama, menjadi relawan, sering membantu kegiatan amal, dan banyak lagi yang lainnya. Dalam ritual ibadah: shalat sunnah (sebelum atau sesudah shalat wajib), shalat tahajjud, shalat Dhuha, shalat tasbih dan lain-lain. Jadi, fadhilah-fadhilah itu harus
Akhbarul Karim
dilakukan sesudah melakukan pembersihan badan, lingkungan, jiwa, dan hati seperti di atas. Di berbagai tempat Rasulullah SAWtelah menerangkan keutamaan-keutamaan bersuci dan hidup bersih. Misalnya saja beliau menjelaskan keutamaan berwudhu dan pengaruhnya kelak di alam Akhirat. Konon pada suatu saat anggota badan kita bersinar-sinar, penuh cahaya karena wudhu. Rasulullah bersabda: Pada hari Kiamat umatku dikembalikan ke dalam telaga. Dan akulah orang yang paling menjaganya, seperti seseorang menjaga onta lainnya, daripada ontanya sendiri. Para sahabat bertanya, "wahai Rasulallah, apakah engkau mengenal kami?". Rasulullah menjawab, "Benar. Untuk kalian, meskipun bukan salah seorang dari kalian, kalian akan dikembalikan kepadaku dalam keadaan buta dan tak beralas kaki karena bekas wudhu. Dan menghalang-halangi dariku salah satu kelompok kalian dan mereka tidak menunaikan sholat. Maka aku berkata, "Ya Tuhan, mereka adalah sahabat-sahabatku". Malaikat menjawab, "Apakah kamu tahu apa yang terjadi setelahmu?". Dalam Hadis lain Rasulullah bersabda: Barangsiapa berwudhu dengan sebaik-baiknya, kemudian ia menunaikan shalat dua rakaat, jiwanya tidak dikotori sesuatupun yang bersifat duniawi, maka keluarlah
dosa-dosanya bagai hari kelahirannya dari rahim ibunya. Di sini Islam juga mengajak para generasi muda
untuk menjaga perilakunya agar tidak mengganggu lalu lintas di jalan. Budaya mejeng dipinggir-pinggir jalan mulai dari sore hari hingga malam sebetulnya bukan budaya yang berasal dari Islam. Sebab selain hanya menghambur-
Tauhid dan Thaharah
hamburkan waktu, banyak efek negatif lain yang
ditimbulkannya. Beberapa penelitian banyak mengungkapkan
sisi negatif tersebut. Contoh kecilnya adalah sampah yang
berserakan dan mengganggu orang yang lewat. Pada suatu hari Rasulullah menyaksikan para sahabat
'lagi duduk-duduk' di jalan. Karena kebetulan sedang
melewati tempat itu, Rasulullah memberi nasehat, "kalian jangan duduk-duduk di jalan". Para sahabat menyahut, "kami tidak punya pilihan lagi. Ini adalah tempat kami berbincang- bincang". Lantas Rasulullah berkata lagi, "kalau kalian menolak kecuali tetap duduk di situ, maka berikanlah hak jalan". Para sahabat kebingungan dan tidak mengerti. "Hak jalan yang dimaksud apa, wahai Rasulullah?", tanya sahabat kemudian. Sambil tersenyum Rasulullah bersabda, "menjaga pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, menyuruh berbuat berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar". Kesungguhan untuk senantiasa hidup bersih lahir dan batin merupakan salah satu cara untuk meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Al-Quran menuturkan: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya." (Q.S. Al-Baqarah:222). Dalam Islam, setiap akan melakukan shalat, kita diwajibkan untuk bersuci. Bukan hanya suci tubuh, tapi juga suci pakaian, tempat ibadah, bahkan suci hati. Bagaimana orang akan tenteram dalam salat jika hatinya lalai, pikirannya "berkeliling" ke mana-mana? Suci tubuh dan hati adalah jembatan menuju kesempurnaan ibadah. Prinsip bersuci dalam Islam tidak hanya dalam rangkaian ibadah, namun dapat kita temukan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari, dalam berniaga, berumah tangga, bergaul, bekerja, belajar, dan lain-lain. Di semua tempat itu kita diajarkan bersikap hidup suci. Menjauhkan
Akhbarul Karim
diri dari dusta, kezaliman, menipu, khianat atau bahkan sikap bermuka dua (munafik). Itulah sesungguhnya hakikat pola hidup bersih seorang mukmin. Melatih diri untuk senantiasa hidup bersih lahir batin adalah suatu tuntunan yang harus dijalani. Namun langkah itu sangat bergantung pada keseriusan dan tekad diri kita sendiri. Pola hidup bersih harus berawal dari diri sendiri. Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap dan tindakan. Berusahalah agar setiap untaian kata yang keluar dari lisan kita penuh makna. Hindari kata-kata kotor, keji dan tidak senonoh, sebab setiap kali kita bicara kotor, lay-out wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk. Menurut suatu penelitian, untuk sebuah senyuman dibutuhkan tujuh belas tarikan otot wajah. Sedangkan jika wajah masam, cemberut atau marah, kita memerlukan tarikan tiga puluh dua otot. Secara fisik tentu jelek, apalagi dihitung dari sudut kesucian hati. Makin hidup kita bersih, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Tapi kalau cermin kotor, penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah. Makin bersih diri kita, Insya Allah kita akan lebih peka melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Bahkan kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan juga ilmu. Sebaliknya, bagi yang kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang ląin, melihat kekurangan diri saja tidak mampu. Orang yang hidup kotor, sekalipun sering melanggar larangan Allah, tidak pernah merasa diri banyak dosa. Dia tidak pernah merasa bersalah dan mempunyai kekurangan. Kesalahan selalu dia limpahkan kepada orang lain. Itulah buah dari hidup kotor. Harta kotor, pikiran kotor, dan kelakuan kotor menghasilkan "cermin" kotor. Hidup seperti ini tentu sangat jauh dari kebahagiaan dan kemuliaan. Nabi
Tauhid dan Thaharah
Muhammad saw. adalah figur pribadi yang bersih tubuh, bersih pikiran, bersih ucapan, dan bersih hati. Tutur kata beliau penuh makna, jauh dari sia-sia. Tapi sikap dan penampilan beliau juga senantiasa rapi, bersih dan bersahaja. Setiap kali berwudhu Rasulullah selalu bersiwak (menggosok gigi). Sesudah makan beliau juga bersiwak dan menjelang tidur pun beliau bersiwak. Rasulullah tekun memelihara kebersihan tubuhnya. Tidak ada satu pun keterangan menyebutkan bahwa tubuh beliau kotor dan kusam. Bahkan keringatnya pun harum, sehingga menurut salah satu riwayat, sampai-sampai istri beliau sangat ingin menampung keringatnya. Dalam urusan- urusan kecil pun Rasulullah senantiasa memberikan keteladanan. Beliau menganjurkan kita agar menggunting kuku serta membersihkan bulu-bulu tubuh. Paling tidak hal itu dilakukan setiap hari Jumat. Dalam hadis Rasulullah saw. Bersabda : "Sesungguhnya Allah itu Baik dan menyukai kebaikan; (Allah) Bersih dan menyukai kebersihan, (Allah) Pemurah dan senang pada kemurahan hati, (Allah) Dermawan dan senang kepada kedermawanan". (H.R. at-Tirmidzi). Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda hidup bersih. Mari kita budayakan kebersihan dalam rumah kita. Meski rumah itu sederhana, yang penting bersih. Jangan biarkan sampah berserakan, sebab Allah akan "mengutus" lalat sebagai peringatan bahwa rumah kita kotor. Atau nanti Allah menggerakkan tikus-tikus untuk mengerubungi rumah kita. Rumah harus bersih dari sampah, tapi lebih dari itu rumah juga harus bersih dari
barang-barang yang bukan hak kita. Berhati-hatilah! Contoh sederhana, jangan membawa barang-barang kantor sekecil
apa pun ke dalam rumah, asbak, penggaris, spidol, isolatip,
Akhbarul Karim atau sekadar kertas. Jika itu bukan hak kita, nanti tidak berkah. Begitu pula saat pergi ke masjid. Jika melihat ada mukena atau sandal bagus, jangan sekali-kali ditukar. Itu termasuk perbuatan curang dan shalat kita bisa tidak diterima karenanya. Ada kesempatan menginap di hotel berbintang. Handuk, sarung bantal, korek api, sabun, pisau dan benda- benda milik hotel lainnya, jangan sampai terbawa pulang. Atau bagi mereka yang suka pinjam buku-buku perpustakaan, harus amanah. Buku itu mungkin tidak pernah atau selesai dibaca, namun berat untuk dikembalikan. Demikian pula halnya dengan barang-barang tetangga yang kita pinjam atau masih tersimpan di rumah kita. Segera kembalikan, sebab barang sekecil apa pun yang kita simpan, jika itu milik orang lain bisa menghalangi jalan rezeki kita. Mulailah membersihkan rumah dari barang-barang yang bukan hak kita. Termasuk juga barang-barang yang bisa membuat kita riya dengan pujian dari orang lain. Mulailah menciptakan rumah yang bersih dari barang-barang yang tidak terpakai. Sebab tidak sedikit yang menjadi kesenangan mengumpulkan barang-barang bekas. Dipakai tidak muat, diberikan kepada orang lain sayang. Akhirnya malah mubazir. Sebenarnya tidak ada larangan bagi kita untuk mencari kehidupan duniawi. Dunia ini boleh buat kita, mau beli apa saja silakan, asal halal. Namun terlalu cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Dan yang paling penting adalah diri kita lebih bagus daripada barang duniawi yang kita miliki. Bersyukurlah jika memang ditakdirkan menjadi orang yang berkecukupan, karena sahabat-sahabat Rasul seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar Ash-Siddiq, atau Usman bin Affan, juga memiliki kekayaan duniawiah. Tapi mereka memiliki kemampuan untuk mengelola kekayaannya demi
Tauhid dan Thaharah
kemaslahatan umat, sehingga mereka dihormati bukan lantaran kekayaannya melainkan karena kedermawanannya. Selain bersih dari harta haram dan barang sia-sia, kita harus juga mulai membersihkan pikiran. Jangan membiasakan diri berpikir kotor. Nilai kita di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta kita. Nabi Muhammad juga hidupnya sangat sederhana, namun tidak kurang kemuliaannya. Jika dititipi kekayaan, janganlah hati menjadi terikat oleh kekayaan. Orang yang tidak zuhud itu kekayaan duniawinya disimpan dalam hati. Orang yang zuhud itu, bila dianugerahi kekayaan dunia, tetapi tidak pernah terikat, bagi dia seribu, sejuta, seratus juta sama saja, sama-sama milik Allah. Tentang membersihkan badan akan "Bersihkanlah badan maka Allah membersihkan kamu. Maka sesungguhnya tidak ada seorang 'abdi (Muslim) yang tidur dalam keadaan bersih/suci kecuali tidur bersamanya, pada rambut-rambutnya, malaikat yang tidak ada henti-hentinya mendoa. Ya Allah ampunilah, abdimu ini karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci/bersih." (HR Thabrani, Ibnu Hibban).
Tentang bersih sebelum tidur "Tidak ada seorang Muslim yang tidur dalam keadaan suci/bersih kemudian ia bangun (shalat malam) memohon kepada Allah akan kebaikan di
dunia dan diakhirat kecuali Allah
memberikannya kepada orang tersebut" (HR Abu Dawud). Nabi mewariskan doa untuk selalu bersih "Ya Allah bersihkanlah aku dengan salju dan
embun dan dengan air yang sejuk" (HR Muslim).
Memelihara kebersihan ketika buang hajat Dari
Akhbarul Karim
Makhul ra. Berkata : Rasulullah SAW telah melarang kencing di dekat pintu masjid (HR Dawud). Dilarang buang air kecil di air yang tidak mengalir. Dari Jubair ra dari Nabi SAW, sesungguhnya Nabi melarang kencing di air yang tidak mengalir. (HR Muslim, Ibn Majah dan Nasai). Perintah membersihkan air kencing Dari Anas RA berkata, telah bersabda Rasulullah SAW "Bersihkanlah (sesuatu) dari air kencing. Karena umumnya azab kubur karena urusan buang air" (HR Daruquthni). Tentang membersihkan masjid Dari A'isyah RA berkata : "Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami untuk membangun masjid di tempat-tempat tinggal dan agar selalu dibersihkan serta diberi wangi- wangian." (HR Ahmad, Tirmidzi, lbn Majah dan Abu Dawud). Membersihkan tangan setelah tidur "Dari Abi Hurairah, Rasul bersabda: "Apabila salah seorang di antaramu bangun dari tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya kepada wadah (yang ada makanannya) sebelum ia mencucinya tiga kali. Maka sesungguhnya ia tidak tahu ke mana tangannya itu pada waktu ia tidur" (Muttafaqun 'alaihi).
Tauhid dan Thaharah Membersihkan gigi Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW: "Kalau seandainya tidak akan merepotkan ummatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka membersihkan gigi pada setiap wudhu" (HR Thabrani). Dari Abi Huraerah RA 'sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : "Seandainya tidak akan merepotkan ummatku, maka aku akan untuk kepada mereka perintahkan membersihkan gigi pada setiap akan shalat". (HR Bukhari dan Muslim). Ini sebagian kecil dari hadist-hadist Nabi SAW yang mengharuskan umat Islam gemar akan kebersihan dan berusaha mewujudkan kebersihan serta mengajak orang lain agar cinta kebersihan dan berusaha mewujudkan kebersihan. Mari kita lihat lingkungan kita. Sudahkah kita bersungguh- sungguh dalam membudayakan hidup bersih? Hidup bersih harus menjadi budaya kita, mewujudkan kebersihan menjadi bagian dari ibadah kita. Menyuruh orang lain supaya bersih, mencegah orang lain dari tidak bersih, termasuk amar ma'ruf nahi munkar. Mengobsesikan sebuah kota yang bersih dan indah adalah sebuah cita-cita luhur. Kita tahu kebersihan memiliki korelasi terhadap banyak aspek kehidupan, antara lain kesehatan. Dan, kesehatan menjadi salah satu indikator penting bagi kesejahteraan masyarakat. Kalau Wali Kota Banda Aceh memiliki obsesi menjadikan Kota Banda Aceh sebagai kota bersih dan indah, tentu bukan hanya karena di masa kepemimpinannya Banda Aceh sempat mendapat predikat salah satu kota terkotor di Indonesia, dan juga bukan sekadar ingin mendapatkan Adipura, sebuah
Akhbarul Karim itu, tentu sangat tergantung pada seberapa kompleks persoalan kebersihan di rumah tersebut. Dan, hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah tanpa memiliki sikap hidup bersih, upaya membuat rumah menjadi bersih dan indah juga bisa menjadi tidak efektif. Membangun sikap hidup bersih merupakan sebuah pembentukan kepribadian. Pembentukan kepribadian adalah sebuah proses pendidikan. Pembentukan sebuah kepribadian idealnya dimulai sejak dini di dalam keluarga, selanjutnya di sekolah dan masyarakat. Tantangan yang paling sulit dalam konteks keluarga adalah pada keluarga yang karena berbagai keterbatasan belum memiliki sikap hidup bersih. Sulit dibayangkan seorang anak dari keluarga yang tidak memiliki sikap hidup bersih berkembang menjadi anak yang memiliki sikap hidup bersih. Di sekolah, tantangannya adalah pembentukan sikap pada anak didik masih cenderung verbalisme. Kegagalan Pendidikan Moral Pancasila adalah contoh konkret kegagalan pendidikan kita dalam membangun sikap anak didik. Anak-anak diajarkan dan diperintahkan menghafal sikap-sikap yang baik, tetapi anak-anak tidak melihat sikap-sikap yang baik itu dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk bahkan oleh gurunya sendiri. Oleh sebab itu, membangun sikap hidup bersih melalui pendidikan di sekolah tidak perlu dengan menambahkan mata pelajaran baru, tetapi cukup dengan contoh-contoh konkret yang diberikan oleh para pendidik di sekolah yang dengan mudah bisa diteladani oleh para siswa. Di lingkungan masyarakat, tantangannya adalah belum membudayanya sikap hidup bersih, sehingga anak-anak kita tidak selalu bisa melihat contoh-contoh sikap hidup bersih di lingkungan masyarakatnya. Dari beberapa hal yang
Tauhid dan Thaharah
dipaparkan di atas dapat dikemukakan setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengoptimalkan upaya membangun kota menjadi bersih dan indah. Pertama, harus ada upaya mendorong lembaga pendidikan untuk mengintensifkan pembentukan sikap hidup bersih kepada anak didik. Untuk itu harus ada konunikasi yang baik antara pemerintah kota dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk merumuskan program-program yang relevan bagi pembentukan sikap hidup bersih. Di samping itu, kampanye yang intensif pada masyarakat tentang pentingnya membangun sikap hidup bersih. Kedua, harus ada political will dari pemerintah kota untuk secara terus-menerus menyiapkan anggaran yang memadai untuk program-program meinbangun Kota Banda Aceh sebagai kota yang bersih dan indah sekaligus mengawasi dengan serius penggunaan anggaran agar betul-betul efektif dan efisien. Dengan demikian, Kota Banda Aceh yang bersih dan indah yang dikampanyekan itu tidak hanya sebatas membangun image, tetapi betul-betul menjadi
kenyataan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat
Banda Aceh saat ini dan di masa yang akan datang.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil kajian terhadap naskah Akbarul Karim, peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut
- Akbarul Karim merupakan karya sastra zaman dahulu yang berisikan ajaran-ajaran agama, berupa nilai-nilai tauhid dan kebersihan. Ini merupakan suatu bentuk kehidupan masyarakat Aceh pada masa dahulu yang mendalami bidang agama dan segala aspek yang berhubungan dengannya. Sehingga perlu dikaitkan dengan kondisi kehidupan saat sekarang ini dengan harapan agar naskah ini dapat dimanfaatkan.
- Pentingnya mengetahui nilai-nilai ketauhidan dan kebersihan yang diutarakan dalam naskah ini, dengan didukung oleh ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi. Semua itu telah menyatu sehingga menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang disampaikan melalui pesan yang terdapat di dalam naskah Akbarul Karim. Untuk menuju kebahagiaan dunia dapat dicapai dengan ilmu pėngetahuan, dan untuk kebahagiaan akhirat juga dengan ilmu pengetahuan, dengan demikian untuk mencapai kebahagian kedua-duanya maka kita harus memiliki ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
- Tauhid adalah mengakui hanya Allah-lah "Raja bagi manusia". Manusia diwajibkan untuk beriman kepada ketunggalan Allah dan menyakini Allah itu Esa, dalam pengertian bahwa tauhid dapat menafikan berbagai hawa
Baiai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Tauhid dan Thaharah nafsu kejahatan. Apabila ada seseorang yang sangat memuja hawa nafsunya berarti ia telah keluar dari lingkup ketauhidan.
- Thaharah adalah bersuci. Thaharah merupakan ciri terpenting dalam Islam, yang berarti bersih atau sucinya seorang Muslim secara lahir maupun bathin. Islam menuntut kaum Muslim untuk membersihkan hatinya dari kesyirikan, dengki dan iri hati, sehingga bagi setiap muslim yang beriman diwajibkan untuk mensucikan badan dan pakaian serta tempat sholatnya dari najis yang bersifat lahir agar sejalan dengan pensucian hati.
- Dengan kita menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari, maka kehidupan kita jadi berarti. Kaum Sufi sudah membudayakan kehidupannya dengan budaya-budaya Sufi, hidup terasa indah apabila kaum Sufi sudah mencapai tingkatan akhir yang akan mereka lewati.
- Rasul pernah bersabda bahwa kebersihan itu sebahagian dari pada iman. Makna dari hadits tersebut dianjurkan kepada kita semua untuk menjaga kebersihan mulai dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan masyarakat. Dari sekarang marilah kita upayakan kebersihan itu menjadi suatu budaya, sehingga masyarakat selalu menjaga kebersihan. Setelah mengkaji, meneliti dan menganalisa seluruh isi naskah Akbarul Karim, maka berikut ini peneliti menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait sebagai berikut :
1. Akbarul Karim berisikan ajaran-ajaran dan pengetahuan
yang sangat berguna bagi setiap orang, dapat segera
Akhbarul Kafim
diterbitkan supaya dapat dijadikan tuntunan dalam kehidupan.
- Rendahnya minat baca dan kajian para generasi muda terhadap kesusastraan Aceh, maka karya sastra itu perlu dikemas lagi dalam bentuk buku yang menarik dan dengan bahasa yang sederhana.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Faqih, Di Bawah Pintu Ka'bah, Gresik : Bintang Pelajar, 1995. Abdullah Bin Husin, Terjemah Sulam Taufiq, Surabaya : Mutiara Ilmu, 1994. Damanhuri Basyir, Langkah Awal Memahami Ilmu Tasawıf. Banda Aceh : Tanpa Penerbit, 1999.
Hasbi ash-Shiddieqi, Al-Islam, Semarang : Pustaka Rizki
Putra, 1987. Husain Afandi Al-Djasr, Theologie Islam, Surabaya : Al-Ma'arif, 1969. Hafizh Bin Ahmad Hakami, 222 Kunci Aqidah yang Lurus. Jakarta Selatan : Mustaqiim, 2004.
Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita, Jakarta : Pustaka
Al-Kausar, 1998
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Bandung : Mizan, 2004.
Muhsin Qiraati, Mencari Tuhan, Bogor : Yayasan IPABI,
2002.
M. Yusuf, Zinatul Muwahhidin Karya Hamzah Fansuri,
Banda Aceh: Dinas Kebudayaan, 2005. Ilmu Saifullah Al-Aziz Senali, Risalah Memahami Tashawwuf, Surabaya : Terbit Terang, 1988.
Balai Peiestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Akhbarul Karim
Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Bahagian I, II, III
dan IV, Jakarta : Pustaka Tarbiyah, 1999.
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah II, II, Bandung : PT Al-Ma’arif,
1987.
T.A. Sakti,dkk, Hikayat Muda Balia, Banda Aceh : Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2006 www Neosufisme acced on 4 September 2007 www Kebersihan acced on 5 September 2007 www Tarian Sufi acced on 5 September 2007